Feeds:
Posts
Comments

Februari 2002, beberapa bulan lagi ujian akan tiba. Seluruh murid disibukkan dengan bimbel disamping pelajaran sekolah, ulangan dan tugas-tugas harian yang makin menumpuk. Belum lagi berbagai try-out yang belakangan ini makin sering diadakan. Aku bersyukur sudah tidak lagi  disibukkan dengan urusan Kira maupun cewek lain. Aku pikir tugasku sudah cukup banyak tidak perlu lagi menambah urusan lain yang kurang terlalu penting.

Syukur Kira memutuskanku. Kuakui aku memang kurang tegas dalam menghadapinya. Aku tahu Kira ingin memanfaatkanku dalam pelajaran bahasa Perancis sekaligus mengantar-antarnya pergi ke tempat-tempat yang dianggapnya penting. Disamping itu aku juga merasa tidak ada kecocokan antara aku dengannya. Namun aku tidak tega memutuskannya. Aku hanya main kucing-kucingan dengan mengatakan bahwa aku sibuk dan aku  harus banyak mengurusi urusan bisnis ayahku. Akhirnya ia marah dengan harapan aku mau membujuknya. Namun aku diam saja, aku pikir justru ini yang kuharapkan. Maka dengan segala kebenciannya iapun akhirnya memutuskan hubungan kami. Syukurlah …..

Akan tetapi belum sebulan berlalu,  tiba-tiba kami dikejutkan dengan sebuah berita tidak sedap. Pada upacara Senin pagi itu, diberitakan bahwa ada seorang murid yang terpaksa dikeluarkan dari sekolah. Pihak sekolah mengingatkan bahwa walaupun ujian telah dekat tidak berarti sekolah tidak akan berani mengambil keputusan tegas. Murid yang telah mengumpulkan peringatan  lebih dari 2000 poin sesuai ketentuan terpaksa harus keluar dari sekolah. Maka sekolahpun heboh. Masing-masing mencari tahu siapa kiranya yang dikeluarkan pada saat-saat menjelang ujian seperti ini  dan atas dasar melanggar poin apa.

Ternyata Kira! Kaget aku dibuatnya apalagi setelah mengetahui penyebabnya. Kira dikabarkan hamil. Usut punya usut ternyata selama ini ia telah menduakan aku. Kata teman yang bisa aku percaya, dia telah lama berpacaran dengan seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi. Temanku itu sebenarnya ingin mengingatkanku namun tidak enak. Puji Tuhan, untung aku tidak benar-benar jatuh cinta padanya.

***

Agustus 2002 adalah hari istimewa baik bagiku. Betapa tidak setelah sebelumnya aku dinyatakan lulus SMA, bulan ini aku kembali mendapat berita gembira bahwa aku diterima di fakultas Sosial sebuah universitas negri terkenal di Jakarta!  Horeee… alangkah gembiranya hati ini  Ayah sebetulnya kurang menyetujui pilihanku ini. Ia lebih menginginkan aku kuliah di jurusan bisnis., ” Sebagai anak satu-satunya, wajar bila ayah berharap kamu dapat meneruskan usaha yang telah lama dirintis ayah dan kakek buyutmu dengan susah payah ini, Mad”, begitu alasan ayah. Namun aku betul-betul tidak tertarik dengan dunia bisnis. Disamping itu ibupun membebaskanku untuk memilih kuliah dimanapun yang aku suka. Akhirnya ayah menyerah. Tapi ia juga tidak gembira akan keberhasilanku diterima di jurusan pilihanku ini. Apa boleh buat…..

Bersama sejumlah teman yang diterima di perguruan tinggi negri, hari itu kami merayakan kegembiraan kami di Dufan. Semua permainan aku jalani dengan senang hati. Padahal sebelumnya aku tidak pernah  berminat mencoba ’Tornado’ yang baru membayangkannya sajapun bisa bikin perutku mual.

***

Tanggal 27 Agustus mahasiswa baru fakultas Sosial menjalani hari pertama kuliah. Ini adalah hari perkenalan dan silaturahmi antara mahasiswa dan dosen. Di hari tersebut pihak universitas mengundang  seorang tamu istimewa. Ia seorang pemerhati masalah sosial yang memiliki nama cukup populer di kalangan orang muda. Dalam acara sambutannya ada hal yang menarik perhatianku. Dengan berseloroh dan nada bercanda ia menanyakan apakah ada diantara  kami yang mempunyai tetangga yang telah menikah. Belum selesai kami berpikir, ia kembali melontarkan pertanyaan aneh, apakah istri tetangga tersebut mempunyai jari kaki dan tangan lengkap, apakah tubuhnya sexi, bagaimana dengan hidungnya? Pesek atau mancungkah?

Tentu saja kami semua tertawa mendengar gurauan tersebut. Setelah seluruh hadirin berhenti tertawa , sang tokoh populer tersebut kembali melanjutkan perkataannya. Kali ini dengan nada lebih serius. Katanya ” Sebagai tetangga yang baik dan berakhlak tentunya kita tidak perlu mengomentari istrinya tersebut, bukan?  Mana ada suami yang rela istrinya dibilang jelek biarpun  hidungnya pesek, bibirnya dower, jarinya jebret semua ”. Hahaha…. lucu juga orang ini kataku dalam hati sambil terus penasaran menebak-nebak kemana arah pembicaraannya.

” Makanya jangan suka usil ngurusin agama orang lain. Agama itu sama dengan istri. Mana ada orang mau agamanya dibilang jelek. Biar sajalah….”, begitu katanya. Oooo, gitu.., pikirku ragu karena kurang setuju.

***

Hari-hari berikutnya aku  mulai disibukkan dengan jadwal  kuliahku yang benar-benar padat. Untuk menghemat waktu dan tenaga sekaligus tentu saja uang transport, dengan persetujuan ayah dan ibu, aku memutuskan untuk  kos di dekat kampus. Hanya butuh waktu 10 menit dan cukup dengan berjalan kaki pula untuk sampai ke gedung kampus. Malah ternyata pihak universitas menyediakan sepeda khusus gratis selama kita menggunakannya di dalam lingkungan kampus.

Aku bersyukur ternyata aku tidak salah memilih jurusan ini. Aku benar-benar menikmati hampir semua pelajaran yang diberikan. Yang menjadi mata pelajaran favoritku adalah sejarah peradaban dunia. Peradaban kuno seperti peradaban Maya di Amerika Latin, peradaban Sumeria, Assyria dan Mesopotamia di Syria, peradaban Fir’aun di Mesir  adalah makananku sehari-hari. Bahkan aku merasa apa yang diberikan dosen di kampus kurang dapat memuaskan rasa keingin-tahuanku yang begitu tinggi.  Untung ada internet di kamarku. Aku bisa berjam-jam menghabiskan waktu untuk sekedar surfing didepan kotak kaca ajaib tersebut.

Begitu juga masalah-masalah sosial seperti isu pemanasan global, kemiskinan, korupsi, politik  hingga berbagai konflik yang belakangan makin sering terjadi terutama di kawasan Timur Tengah. Perang Chechnya, Afganistan dan pendudukan Palestina oleh Yahudi adalah contohnya. Dari internet ini jugalah aku baru tahu ternyata kawasan ini sudah sejak lama telah menjadi saksi bisu berbagai peperangan dan permusuhan yang didasarkan agama. Menurutku Perang Salib adalah perang yang paling heboh dan menggelikan. Bagaimana mungkin hanya disebabkan perbedaan agama dan kepercayaan saja orang rela mengorbankan keluarga bahkan nyawa!

Ketertarikan pada berbagai masalah sosial dan agama inilah  yang menyebabkanku mengikuti lomba karya tulis yang diadakan sebuah surat kabar ternama dan didukung sejumlah kedutaan di Jakarta. Hadiahnya pun tak tanggung-tanggung, selain sejumlah uang juga hadiah home-stay selama 3 minggu di  kota tua historis Yerusalem!

***

” Mad, gile lo … udah lihat pengumuman di koran hari ini ? ”, pekik Lukman, sahabat baruku di universitas. ” Elo keluar juara I ….. wah..wah !”

” Yang bener ? ”, sahutku setengah tak percaya sambil menyambar selembar koran yang dipegangnya. Benar,  namaku tercantum pada baris pertama, artinya aku mendapat hadiah utama.

” Ga salah deh elo ya bolos beberapa hari buat nyelesein tulisan elo..”,  kata Lukman sambil menyelamatiku. Aku cuma senyum-senyum gembira membayangkan hadiah yang bakal kutrima.

” Traktir dong, Mad..”, lanjut sahabatku yang memang doyan makan itu. ” Iya, iya..tapi tunggu dulu dong sampe gue bener-bener di telpon…jangan-jangan salah cetak lagi ”, kilahku.

”Ya udah, yang penting lo musti bersyukur dulu Mad …kalo bukan karena rahmat Allah ga mungkin lo menang tuh!!”. ” Dasar uztad ”, gerutuku senang. Anehnya, aku tidak menolak ketika ia mengajakku untuk mensyukuri kemenanganku itu dengan shalat di masjid kampus dimana ia biasa shalat. Aku hanya sekedar mengikuti gerakan-gerakannya membungkuk-bungkukkan badan layaknya orang senam. Namun demikian terus terang ada semacam kesejukkan dan rasa haru menyelinap ke dalam dada ini, terutama ketika bersujud mencium tanah. Dari dulu aku selalu merasa takjub ketika menyaksikan orang dalam posisi demikian. Aku pikir ini sungguh sebuah penyembahan total kepada Sang Pencipta.

Seusai shalat., Lukman kembali menyalamiku sambil berkata pelan ” Semoga elo dapat hidayah”, begitu katanya. Aku hanya manggut-manggut tak tahu apa maksudnya.

***

Keesokan harinya  aku sudah berada di kantin kampus dengan beberapa teman dekatku untuk merayakan kemenanganku. Aku telah menerima telepon dari panitia bahwa aku berhak mengantongi hadiah utama ke Yerusalem. ” Jadi ga salah kan pengumuman kemarin ”, seru Lukman ikut gembira sambil menepuk-nepuk  pundakku. Tak lama kemudian Lukman memanggil  Nisa dan  Icha  yang kebetulan lewat di depan kantin Dua gadis manis bersahabat ini adalah teman Lukman sewaktu SMA. Nisa kuliah  di fakultas Kedokteran dan Icha di fakultas Hukum. Lukman tahu benar bahwa aku diam-diam menaruh perhatian pada Nisa.

”Nis, Cha… hari ini lo boleh makan apa aja… ada  yang mau traktir lo berdua…”, teriaknya berisik sambil menunjukku dengan jempol gendutnya.

” Ulang tahun nih?”, seru mereka hampir bersamaan. ”Mada menang lomba karya tulis tuh..  kasih selamat dong”, sambung Hari, salah satu temanku. ” Oh gitu….hebat… selamat ya”, kata Icha dengan kenes sambil menjulurkan tangannya. ” Selamat juga Mad, ya..”, sambung Nisa. Kali ini aku tidak perlu menjulurkan tangan karena hampir semua orang juga tahu bahwa Nisa tidak pernah mau bersalaman dengan teman lelakinya. Kata Lukman itu adalah ajaran Islam yang benar. ”Hanya muhrim, yaitu bapak, saudara-saudara, paman dan suaminya yang diperbolehkan menyentuh seorang perempuan disamping mahluk perempuan lainnya tentu saja”, jelas Lukman..

Gadis tinggi semampai ini telah mencuri perhatianku pada hari pertama aku melihatnya di depan fakultas yang kebetulan bersebrangan dengan fakultasku. Lukman yang mengenalkanku dengannya. Dengan jilbab hijau pupus yang menutupi rambutnya, ia tetap terlihat cantik dan menarik. Wajahnya mengingatkanku kepada salah seorang pemain sinetron indo arab yang sering muncul di layar kaca. Mungkin juga jilbabnyalah yang mengesankan wajah ke-arab-araban.

Namun begitu jilbabnya itu tidak menghalanginya untuk beraktifitas. Ia bahkan bintang di lapangan  basket. Disamping itu dengan kacamatanya ia terlihat  pintar dan cerdas. Kata Lukman di SMA dulu ia adalah ketua OSIS. Pada acara-acara khusus gadis ini sering di daulat untuk memamerkan kepiawaiannya dalam bermain gitar. Banyak cowok yang naksir padanya tapi ia terlihat santai dan cuwek saja. Lukman  sering mengomporiku agar mau ’menembak’nya. Tapi aku tak punya nyali.  Mana mungkin aku berani menembaknya bila bahkan membalas tatapanku saja ia tidak mau. Namun demikian aku masih punya harapan karena aku perhatikan Nisa memang tidak pernah memandang  lawan jenisnya lebih dari sekedar yang diperlukan. Walau kadang-kadang aku merasa bahwa sebenarnya Nisa suka mencuri pandang padaku bila aku sedang tidak memandangnya.   “ Semoga aku tidak GR….. ehk..”, pikirku penuh harapan.

***

Head line mengenai perang yang meletus  antara Israel dan Libanon merenggut perhatianku. ” Gila”, kataku dalam hati. ” Hanya gara-gara 1 orang prajurit yang diculik Hizbullah, sebuah kelompok perlawanan Libanon, sebagai permintaan ganti tebusan ribuan laki-laki dan perempuan Libanon dan Palestina yang dijadikan tawanan oleh Israel, bisa mengakibatkan perang meletus ? ”.

Aku memang berusaha sebanyak mungkin mendapatkan berita yang berhubungan dengan Yerusalem. Rencananya aku akan diberangkatkan Juli tahun ini. Artinya aku masih memilki waktu sekitar 4 bulan. Selain melalui internet aku berburu berita melalui berbagai buku mengenai Israel, Palestina,  Timur tengah dan sekitarnya di toko buku. Atas rekomendasi Lukman dan beberapa teman aku juga membeli  ”Yerusalem, satu kota tiga iman” sebuah buku yang ditulis oleh penulis kenamaan Inggris, Karen Amstrong. Ia adalah seorang pemerhati agama.

Dari buku tersebut aku jadi tahu banyak tentang Yerusalem dan Perang Salibnya atau yang dikenal dengan nama The Crusader. Kenanganku kembali melayang ke Museum Du Louvre di Paris beberapa tahun yang lalu dimana  aku, Hans dan Kaori menyaksikan pameran tentang Yerusalem dan perang Salib dimasa Sultan Salahuddin. Kota tua yang hingga saat ini masih menjadi rebutan ketiga agama terbesar  dunia ini ternyata menyimpan sejarah yang begitu fenomenal.

Betapa tidak, Islam meng-klaim bahwa kota ini suci bagi mereka karena Yerusalem khususnya Masjidil Aqsho adalah kiblat pertama mereka sebelum Kabah di Mekah. Di tempat ini pula nabi mereka, Muhammad melakukan perjalanan semalam dari Mekah ke Yerusalem kemudian diangkat menuju ke Arsy-Nya di langit, singgasana Allah, Tuhannya orang Islam. Pada saat itulah Muhammad menerima perintah shalat.

Sementara  bagi umat Nasrani, Yesus, Tuhan mereka, dilahirkan sekaligus berdakwah di negri tersebut. Di tempat ini pula ia disalib dan kemudian dikuburkan. Di lain pihak, orang Yahudi berkeyakinan nabi mereka, Daud dan Sulaiman adalah pemilik dan pendiri tanah Yerusalem dimana Haekel berdiri ribuan tahun yang lalu. Haekel adalah  tempat orang Yahudi melakukan ritual keagamaan untuk  menyembah Tuhannya.

Sementara itu dari berbagai referensi yang aku baca, ternyata Yerusalem memang sejak dahulu sering berada dibawah kekuasaan asing. Tanah Palestina dan Yerusalem khususnya, diperkirakan telah didiami manusia sejak sekitar 3000 SM. Tanah ini juga sering dinamakan dengan sebutan tanah Kana’an. Mereka adalah bangsa Filistin. Pada sekitar 1000-500 an SM negri ini berada dibawah kekuasaan kerajaan Yahudi dengan nabi Daud dan Sulaiman sebagai rajanya. Kemudian masuk berturut-turut Nebukadnezar, raja Babilonia kemudian bangsa Persia dan Romawi Nasrani.  Hingga akhirnya pada sekitar tahun 600 an masuklah  Islam. Ini terjadi pada zaman kekhalifahan Umar Bin Khatab, seorang pemimpin Islam yang dikenal adil, bijaksana,  shalih dan sangat bersahaja. Hanya pada periode dibawah pemerintahan Islam selama 450 tahun inilah ketiga penganut agama bebas menjalankan agama dan kepercayaannya masing-masing.

Kemudian pada tahun 1099 pecah Perang Salib yang diprakasai oleh seorang uskup Nasrani di Clermont,  Perancis. Penyebabnya adalah adanya isu bahwa penguasa Yerusalem bermaksud menghancurkan salah satu gereja yang dianggap keramat umat Nasrani. Oleh sebab itu Sang uskup mengumumkan perlunya perang suci mempertahankan gereja. Maka dengan berbondong-bondong menyerbulah  pasukan yang dinamakan Pasukan Salib ini dari seluruh penjuru Eropa menuju kota Yerusalem.

Sebagai warga  yang telah ratusan tahun menempati kota maka seluruh  penduduk baik pemeluk Islam, Nasrani maupun  Yahudi, mereka bersatu untuk mempertahankan kota melawan pasukan musuh sebagai pendatang yang menyerbu. Namun pasukan Salib yang sebagian kelak dikenal dengan sebutan Ksatria Templar itu akhirnya berhasil merebut Yerusalem dengan penuh kekerasan.  Masjid-masjid dibakar dan hampir seluruh  penduduk kota tua tersebut, dewasa maupun anak-anak, laki-laki maupun perempuan, Islam, Nasrani maupun Yahudi, semua dibantai. Bahkan dikabarkan 10.000 orang Muslim yang berusaha berlindung di atap masjid Al-Aqshopun tidak luput dari pembantaian.

Dalam bukunya, Karen Amstrong mengutip kata-kata Raymond dari Aguilles, seorang saksi dari Perancis yang mengatakan : ” Tumpukan kepala, tangan dan kaki dapat terlihat”, ”…para pria berjalan dengan darah yang naik hingga ke lutut dan tali kekang kuda mereka …”. Dengan cara seperti itulah Yerusalem jatuh ke tangan pihak Nasrani Eropa.

Delapan puluh delapan tahun kemudian dalam pertempuran yang terkenal dengan nama pertempuran Hittin,  pasukan Muslim dibawah Salahuddin Al-Ayyubi,  seorang sultan Mesir berhasil merebut kembali Yerusalem dari tangan pihak Nasrani. Hebatnya tidak ada dendam dalam perang ini. Tak satupun orang non Muslim  yang dibunuh. Sultan hanya membunuh orang yang benar-benar  dianggap keterlaluan jahatnya dan kemudian hanya mengusir orang Nasrani yang tergabung dalam pasukan Salib saja. Selebihnya diperbolehkan tetap tinggal di kota dan menjalankan kepercayaan masing-masing seperti ketika belum terjadi Perang Salib. Artinya tanpa memperhatikan agama dan kepercayaannya, seluruh penduduk asli apapun agamanya tetap diizinkan tinggal di Yerusalem.

Tiba-tiba ingatanku melayang pada film ” The Kingdom of Heaven” yang disutradarai oleh Sir Ridley Scott dan dibintangi aktor kenamaan Orlando Bloom. Film ini mengisahkan terjadinya perang Salib yang terjadi pada tahun 1187  tersebut. Sedangkan pasukan Templar mengingatkanku pada film ” Da Vinci Code ”yang sempat heboh beberapa tahun yang lalu. Aku baru menyadari rupanya film-film tersebut sebenarnya adalah kisah nyata yang mungkin mengalami sedikit modifikasi dan bumbu. Perang Salib terjadi hingga 9 kali, namun pasukan Salib hanya mengalami kemenangan sekali itu saja, yaitu pada Perang Salib I.

Kemudian pada tahun 1250an, Hulagu Khan seorang pemimpin dari dinasti China yang juga cucu Kubilai Khan,  kembali memporak-porandakan tanah Syam, termasuk Palestina dan Yerusalemnya. Dengan penuh kekejaman ia menghancurkan dan membumi hanguskan wilayah tersebut. Tetapi tak lama kemudian pada perang Ain Jalut yang terjadi di Palestina, pasukan Muslim Mameluk dari Mesir berhasil secara gemilang menaklukkan dan mengusir pasukan Mongol yang dikenal sangat bengis dan belum pernah kalah dalam pertempuran  itu.

Selanjutnya selama hampir 500 tahun di bawah kekuasaan Ustmani Ottoman yang Islam, Yerusalem mengalami masa kejayaannya. Hingga akhirnya kekhilafahan ini kalah dalam Perang Dunia I pada tahun 1917 dan pada tahun  1923 kekhalifahan ini benar-benar terhapus. Maka Yerusalempun berpindah ke tangan kerajaan Inggris. Dan berdasarkan perjanjian Balfour tahun 1917 yang disetujui PBB, tanah ini pada tahun 1947 resmi akan diberikan kepada pihak Yahudi Zionis yang bercita-cita akan mendirikan negara Israel Raya yang penuh masalah. Yang tidak menginginkan sebuah negri yang berbagi dengan etnis apalagi agama lain karena ia merasa sebagai bangsa terbaik dan bangsa pilihan!

Sejarah membuktikan bahwa perasaan superior ini membuat orang Yahudi dimanapun berada dibenci dan dimusuhi. Kelompok yang membenci orang-orang ini belakangan diberi nama Anti Semit. Seringkali orang-orang Yahudi ini diusir dan dijadikan bulan-bulanan kelompok yang membencinya. Pembantaian pada Perang Salib-Jerman pada tahun 1096, pengusiran orang-orang Yahudi dari tanah Inggris pada 1290, dari tanah Spanyol pada tahun 1492, dari Portugal pada tahun 1497 adalah contoh ekstrimnya. Dan yang paling spektakuler adalah peristiwa Holocaust selama Perang Dunia II oleh Nazi Jerman pimpinan Hitller. Peristiwa inlah yang kemudian dijadikan alasan untuk menarik simpati dunia sekaligus rasa bersalah Eropa untuk membenarkan berdatangannya orang Yahudi ke tanah Palestina dan membangun rumah serta menyerobot hak penduduk asli.

.Lebih dari itu, orang Yahudi merasa bahwa mereka adalah pemilik asli tanah Palestina. Karenanya ketika pihak Inggris sebelumnya menawarkan tanah Kenya, mereka menolak. Meski demikian sebenarnya perjanjian Balfour yang ditanda-tangani pihak Inggris dan Zionis itu telah mensyaratkan adanya keadilan bagi penduduk yang sebelumnya telah tinggal di negri tersebut.  Satu hal yang hingga detik ini jelas-jelas telah dilanggarnya terang-terangan di depan mata dunia tanpa ada satupun negara yang berani menegurnya!

Apa rahasianya? Dari banyak sumber kuketahui ternyata hal ini berkat kehebatan para pelobby yang mereka miliki.  Adalah AIPAC, kependekkan American Israel Public Affairs Committee, sebuah dewan resmi Amerika yang menangani masalah Yahudi. Dewan ini telah berdiri sejak lama dan berkedudukan di Washington DC. Orang Yahudi telah lama dikenal sebagai bangsa yang pandai, ulet sekaligus licik dan suka melanggar janji. Gabungan bakat tersebut menyebabkan bangsa ini sukses dalam berbagai bentuk bisnisnya. Bermula dari  kekayaannya yang melimpah, dewan pelobby Yahudi  berhasil masuk serta mempengaruhi dan bahkan menyelinap ke dalam jajaran penting  kekuasaan pemerintahan negara adi daya Amerika Serikat ‘ si penguasa dunia’.

Bahkan rumor yang telah sejak lama beredarpun mengatakan bahwa adalah Dr.Chaim Wiezmann, seorang ahli kimia warga-negara Inggris-Yahudi yang menjadi wakil pembicara Zionis di Inggris. Berkat jasanya dalam membuat senjata kimia yang menjadi penentu kemenangan Inggris pada PD I maka sebagai kompensasinya bangsa Yahudi yang tadinya hidup bertebaranpun mendapat hadiah tanah milik bangsa Palestina.

Yang menjadi pertanyaanku dan juga  banyak orang, atas dasar pertimbangan apa sebuah tanah / negri dapat diberikan begitu saja kepada pihak asing. Pihak Yahudi mengklaim bahwa Palestina adalah tanah leluhur mereka. Sementara pada kenyataannya penduduk Palestina yang mayoritas etnis Arab dengan agama yang berbeda-beda tersebut telah menempatinya beratus-ratus bahkan ribuan tahun lamanya.  Lalu berapa lama sepantasnya seseorang dapat dianggap bahwa ia penduduk sebuah negri tanpa perlu merasa khawatir bakal diusir ? Disamping itu bukankah mustinya berdirinya sebuah negri adalah dalam rangka memberikan rasa aman kepada penduduknya, bukan malah menteror apalagi mengusirnya ??

Sebagai bekal nanti, aku terus  berusaha untuk mengingat lokasi dan kejadian  yang dianggap penting  bagi masing-masing pemeluk ke tiga agama  ini, yaitu tempat-tempat ritual yang biasa dikunjungi para wisatawan asing yang datang baik berdasarkan agamanya ataupun sekedar rasa keingin-tahuan semata. Rasanya aku sudah tak sabar lagi untuk segera terbang dan mewujudkan apa yang berada dalam bayanganku.

***

” Bagaimana persiapanmu  Mad? Tiket ngga lupa? Visa? Yakin ngga perlu uang rupiah disamping  dollar ?”, berondong ibu.

“ Kayaknya udah beres semua deh… “, jawabku sambil mencoba mengingat-ingat segala keperluanku.

Ibu nyusul langsung ke airport aja  ya… sori, ibu bener-bener ngga bisa ninggalin urusan ibu”, mohon ibu dengan suara menyesal.

Ngga apa bu, Mada ngerti koq. Yang penting doain aja semoga semua urusan beres “,   kataku memaklumi ibu seperti biasa..

“ Tante denger dari beberapa  teman, katanya masuk Yerusalem ngga gampang lho..”, sambung tante Rani  yang dari tadi menemaniku sarapan.. “ malah ada yang ditolak tanpa sebab yang jelas”, katanya meneruskan..

” Ngga’ lah tan, tenang aja… katanya biasanya cuma   Muslim aja koq  yang dipersulit”, kataku menenangkan.

Beberapa jam kemudian dengan diantar tante Rani dan Lukman, aku tiba di airport Cengkareng. Ayah tidak mengantar karena sedang ke luar kota. Tapi tadi sepuluh menit sebelum kami meninggalkan rumah ayah sempat menelpon. Ia berpesan agar aku berhati-hati selama berada di negri orang. Akan halnya ibu, aku tidak berharap terlalu banyak ia dapat menyusul karena seperti biasa ibu  pasti terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga tidak mungkin sempat menyusul ke airport.

Namun ternyata dugaanku kali ini salah. Ibu muncul beberapa detik sebelum aku boarding. Dengan berlari kecil ibu berteriak memanggilku sambil melambai-lambaikan tangannya. Kamipun berpelukan. Bahagia aku rasanya ternyata ibu masih menyempatkan memikirkan diriku. “ Ati-ati nak ya, jangan ikut-ikut kegiatan yang membahayakan dirimu. Kamu disana  sendiri lho, kalau ada apa-apa ngga ada yang bisa dimintai tolong….janji ya?”, ujar ibu menasehatiku. Aku terharu. Seingatku ibu tidak pernah begitu mengkhawatirkan diriku seperti hari ini.

Pesawat Royal Jordan, sebuah maskapai penerbangan milik pemerintah Yordania jurusan Amman, Yordania   yang kutumpangi, lepas landas sesuai dengan jadwal. Untuk tiba di Yerusalem masih harus mengendarai kendaraan selama kurang lebih 1 jam menuju perbatasan Israel. Memang tidak banyak pilihan untuk pergi menuju negri yang penuh masalah tersebut. Rencananya dari Amman  aku akan dijemput oleh seseorang. Dari sana aku akan diantar langsung menuju Yerusalem untuk tinggal di rumah seorang keluarga dokter. Keluarga inilah akan menjadi keluargaku selama 3 minggu aku berada disana.

Aku masih diseliputi keheranan akan sikap ibu. Tiba-tiba aku merasa jangan-jangan ibu mendapat firasat  buruk terhadap perjalananku ini. Lukman sering menasehati agar aku mencoba memperbaiki hubungan dengan ibu. Karena menurut ajarannya kesuksesan seseorang itu amat tergantung dengan  hubungan anak dengan kedua orang-tuanya terutama ibu. Ia  tahu bahwa hubungan kami tidak terlalu baik. Aku memang pernah  mengeluhkan sikap ibu yang cuek sehingga aku merasa ibu tidak menyayangiku atau bahkan mungkin aku ini cuma anak pungut, begitu keluhku.

Seorang ibu dimanapun berada tidak mungkin tidak menyayangi anaknya”, begitu kata  Lukman. “Mungkin ibumu hanya terlalu sibuk aja Mad, jangan pernah suu’dzon gitu ah… ngga’ baik”, tambahnya.  Tanpa kusadari maka akupun segera  berdoa sebisaku. Aku berharap semoga aku masih bisa berjumpa dengan ibuku dan memperbaiki hubungan kami.

***

Sekitar pukul 10 pagi keesokan harinya aku telah berada di bandara Queen Alia, Amman. Di ruang kedatangan aku dikejutkan oleh banyaknya pengunjung berwajah khas Melayu. Dari pembicaraan ternyata mereka memang dari Indonesia dan Malaysia. Mereka datang dari bandara Jedah setelah selesai menunaikan ibadah umrah di Mekah. Tujuan mereka adalah mengunjungi  Masjidil Aqsho di Yerusalem. Kebanyakan mereka baru sekali ini datang ke tempat tersebut. Dari mereka aku tahu bahwa masjid tersebut adalah masjid ketiga terpenting bagi umat Islam  setelah  Masjidil Haram di Mekah dan  Masjid Nabawi di Madinah. Karena dari masjid tersebutlah nabi mereka, nabi Muhammad melakukan perjalanan ke langit menuju Tuhannya. Aku kembali teringat pada presentasiku ketika aku masih di bangku SMA beberapa tahun yang lalu.

Beberapa lama kemudian, setelah urusan keimigrasian selesai , aku celingukan mencari penjemputku. Tak lama  aku melihat spanduk bertuliskan namaku. Akupun  segera menghampirinya  dan memperkenalkan diriku. Diluar perkiraanku, ternyata yang menjemputku adalah anak keluarga yang akan kutumpangi selama aku berada di Yerusalem nanti.

”Hey, nice to meet you. I’am Benyamin.”, dengan  ramah  ia memperkenalkan dirinya  “ From now on,  you will be my brother… Wellcome, brother..”, tambahnya. Kemudian ia memperkenalkan supir sekaligus guide-nya, yang bernama Karim.” Nice to meet you too”, jawabku.

Benyamin seorang pemuda berperawakan  jangkung yang ramah dan menyenangkan. Aku perkirakan ia seumur denganku. Dengan penuh semangat ia menceritakan bahwa ia lahir dan dibesarkan di Yerusalem. Itu sebabnya  selama dalam perjalanan ia lancar menceritakan kota kelahirannya ini.

Tak sampai 1 jam kemudian kamipun memasuki perbatasan antara Yordania dan Israel. Benyamin mengingatkanku  untuk tidak mengambil gambar baik foto maupun video. Ia mengisyaratkan dengan dagunya bahwa menara-menara  tinggi yang banyak berada di sepanjang jalan yang kami lalui adalah pos-pos militer Zionis yang mengawasi gerak gerik setiap orang yang melalui wilayah tersebut. ”Mereka siap menghentikan dan merampas kamera orang yang berani-beraninya mengambil gambar di wilayah tersebut. Bahkan bila harus menembak mereka akan selalu siap melakukannya! ”, begitu katanya dengan nada sinis. Terdengar jelas rasa antipatinya terhadap pemerintah yang disebutnya sebagai pemerintah pendudukan Zionis itu.

Ia bercerita, dulu ketika orangtuanya  masih muda kota Yerusalem adalah kota yang damai. Penduduknya rukun dan damai. walaupun agama mereka berbeda. Mereka saling menghargai dan mengasihi. Keluarga Benyamin sendiri adalah penganut Nasrani yang taat. Ia menyebut dirinya sebagai warga Arab. Penduduk kota tersebut memang  dibedakan antara warga Arab dan warga Yahudi. Warga Arab ada yang beragama Nasrani ada yang beragama Islam sementara warga Yahudi hampir dapat dipastikan beragama Yahudi. Namun mereka semua bersatu dibawah bendera Palestina.

Ketika akhirnya pecah perang Arab-Israel pasca penyerahan tanah tersebut dari Inggris kepada Zionis Yahudi pada 1947, banyak rakyat Palestina yang terpaksa mengungsi dan pergi meninggalkan tanah airnya menuju Yordania dan negri-negri di sekitarnya. Sementara itu orang-orang Yahudi Palestina banyak yang dipaksa berpihak kepada Zionis Yahudi demi mendapatkan  tanah untuk ditinggali etnis dan kepentingan agama mereka sendiri.

Banyak keluargaku yang dipaksa pergi meninggalkan rumah dan kampung kelahiran mereka. Bahkan hingga saat inipun mereka tetap tinggal dalam kamp pengungsi yang keadaannya sangat menyedihkan. Mereka itu beranak pinak dalam keadaan amat miskin dan hidup amat mengenaskan. Padahal banyak diantara mereka yang ketika masih  di Palestina hidup berkecukupan. Malah ada adik ibuku yang tadinya adalah seorang dokter ternama yang kaya raya dan terhormat ikut menjadi korban. Bahkan hingga saat ini ayah dan ibuku tidak pernah tahu akan keberadaan mereka”, jelas Benyamin sedih.

Benyamin juga menceritakan betapa sadisnya cara Zionis mengusir warga Arab dari tanah Palestina. Beberapa perkampungan di pinggir pantai dijadikan proyek percontohan. Dengan cara provokatif para perempuan diperkosa didepan anggota keluarganya, rumah-rumah dibakar. Kemudian penduduknya diusir dan dipaksa pergi berjalan menuju  pantai untuk kemudian ditembaki dari belakang!

Berbekal pengalaman buruk yang sengaja terus diceritakan orang-orang Yahudi dan juga dari mulut ke  mulut penduduk itu sendiri,  akhirnya membuat hampir seluruh  penduduk tanah tersebut tanpa perlawanan pergi meninggalkan rumah mereka sendiri. Di bawah todongan senjata tanpa membawa sepeserpen uang dan bekal mereka berbondong-bondong berjalan ratusan bahkan ribuan mil menuju negara tetangga. Kalaupun ada sebagian rakyat yang memberontak mereka harus menghadapi pertempuran yang sama sekali tidak seimbang.

Bayangkan”, kata Benyamin emosi. ” Senjata mutakhir super canggih yang didatangkan dari Amerika Serikat harus dilawan senjata rongsokan bekas perang yang dibeli secara gelap oleh rakyat !”, tambahnya. Karim dibelakang kemudipun sekali-sekali ikut mengomentari dan membenarkan cerita Benyamin.

Sungguh ironis, bagaimana mungkin kaum Yahudi yang mulanya hanya menguasai 5 % tanah Palestina tiba-tiba bisa mendapatkan hampir 33% tanah kami padahal jumlah mereka hanya kurang dari 10 % total penduduk Palestina. Bahkan seterusnya secara resmi PBB meningkatkan pemberiannya menjadi 60 % ! Sungguh menyakitkan…”, tambah Karim.

Masih belum puas juga, melalui Perang 6 hari , The Sixth Day War, iblis tersebut kini bahkan berhasil merampas Yerusalem dari tangan kami, mencaplok Tepi Barat dari Yordan, Jalur Gaza dari Mesir serta dataran tinggi Golan dari Suriah hingga akhirnya total mereka  menguasai 78 % tanah Palestina ”, sela Benyamin.

Setelah hening beberapa saat, Benyamin kembali berkata, ” Kau tentu pernah mendengar pasukan Intifada kan Mada?”,Pasukan pelempar batu itu, bukan ?”, jawab Mada merasa bersyukur pernah membaca berita tersebut hingga tidak terlihat bodoh. ”Ya…sesungguhnya mereka itu baru ada sejak hak-hak mereka tidak diperhitungkan dunia internasional. Namun seperti yang kau ketahui mereka ini diberitakan  seakan-akan  sebuah kelompok penjahat dan perusuh ”, sambung Karim geram.

Tanpa terasa kami tiba di pos pemeriksaan. Di tempat itu kuamati disamping adanya sejumlah tentara bersenjata, banyak sekali petugas berpakaian sipil dengan senjata di pinggang lengkap dengan kacamata gelapnya. Di depan pintu masuk tergantung spanduk raksasa bertuliskan sebuah nama berbau Islam. Rupanya itu adalah nama seseorang yang sedang dicari pemerintah. Di dalam spanduk tersebut dicantumkan sejumlah besar uang sebagai imbalan bagi orang yang dapat memberikan informasi keberadaan orang yang dicari itu.

Kami bertiga segera turun dari kendaraan. Awalnya koper dan barang bawaankupun diminta untuk diturunkan dan digeledah. Namun berkat perdebatan alot antara Karim yang kudengar berbicara dalam bahasa yang tidak kukenal, kupastikan sebagai bahasa Ibrani, bahasa resminya  orang  Yahudi, dengan pegawai pemeriksaan, akhirnya aku batal menurunkan barang-barangku.

Sebaliknya, ketika aku berdiri dalam antrian pemeriksaan, aku melihat sejumlah koper bahkan beberapa galon berisi  air ikut mengantri. Ternyata barang-barang ini adalah bawaan orang-orang Indonesia dan Malaysia yang kutemui di bandara Queen Alia Amman tempo hari. Dari pembicaraan aku baru tahu ternyata galon-galon itu adalah galon-galon  air zam-zam, oleh-oleh khas haji dari Mekah.

Biasanya, air zam-zam itu urusan bimbingan haji yang memandu para jamaah. Mustinya mereka langsung mengirimnya ke tanah air. Jadi jemaah tidak perlu repot membawanya kesana kemari. Belum nanti kalau bocor…”, keluh pah Thamrin, salah satu jemaah yang mengobrol denganku.

Lagian ngapain air aja pake diperiksa … nyusahin aja..”, timpal jemaah lain yang lebih muda. ”Dasar paranoid..”, sungutnya.” Ya begitulah orang kalau jahat  hobbymya bikin orang lain susah,  bawaannya jadi curiga melulu… Lihat aja, mereka buang-buang waktu meriksa semua orang berkali-kali..kayak kita ini penjahat aja…”, kata jemaah yang berdiri di belakangku geram.

Aku segera mengedarkan pandangan kesekelilingku. Bangunan tak berjendela ini mengingatkanku pada suatu tempat, ntah itu  gudang yang sudah tak terpakai atau stasiun kereta api atau mungkin malah bekas bungker tentara. Dikelilingi tembok tinggi berwarna putih tanpa satupun jendela apalagi  hiasan dinding, bangunan yang disangga beton-beton besar ini mengesankan suasana yang jauh dari nyaman kalau tidak mau dikatakan menegangkan. Untung mereka tidak lupa menyalakan pendingin udara model kuno yang banyak tergantung  di dindingnya itu.

Mataku beralih pada para pegawainya. Setengah terkejut, baru kusadari bahwa semua pegawai di ruangan tersebut adalah kaum hawa. Namun demikian, dengan seragam mirip tentara berwarna khaki lengkap dengan sepatu boot dan pistol di pinggang, penampilan mereka mirip laki-laki. ” Bukan cuma di sini mas… Sejak masuk perbatasan tadipun hampir semua penjaga posnya kan juga perempuan ”, tanggap  pak Thamrin yang berdiri di depanku ketika aku mengomentari hal tersebut.

Hampir dua jam lamanya aku berada dalam keadaan seperti itu padahal antrian tidak terlalu panjang. Selama itu aku terlibat percakapan dengan pak Thamrin. Darinya aku banyak memperoleh pengetahuan baru diantaranya cerita tentang asal muasal air zam-zam. Aku kembali tercengang dibuatnya. Ternyata sejak awal, Islam telah memiliki keterikatan yang erat dengan Ibrahim, nabi yang sering diaku umat Nasrani maupun  Yahudi sebagai penganut agama mereka. Ritual haji yang merupakan kewajiban umat Islam yang mampu adalah sebuah ritual lama yang telah ada sejak nabi tersebut ada.

” Ibrahim adalah kakek moyang ketiga agama besar itu. Ia adalah ayah dari nabi Ismail yang merupakan kakek moyang nabi Muhammad dan  juga ayah dari nabi Ishak yang merupakan kakek moyang nabi-nabi Nasrani dan Yahudi. Dengan kata lain , Ibrahim adalah bapak para nabi. Ia bukan penganut Nasrani maupun Yahudi. Sebaliknya menurut  ajaran Islam, seluruh nabi adalah Islam karena Islam adalah berarti tunduk menyerahkan diri kepada kekuasaan Tuhan yang satu, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, yaitu Allah. Dialah Tuhannya semua manusia, Tuhan yang menciptakan langit, bumi dan seluruh isinya”, begitu pak Thamrin memberi penjelasan kepadaku.

Tanpa kusadari aku melirik Benyamin. Ia berada dalam antrian khusus untuk warga Arab Palestina sambil santai membaca buku. Pasti ia sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini, pikirku. Beberapa lama kemudian setelah akhirnya lolos pemeriksaan, aku mendengar keluhan beberapa jemaah haji. Mereka mengeluh  bahwa teman-teman mereka yang mempunyai nama berbau Islam dan umurnya masih dibawah 30 tahunan ternyata dipersulit. Mereka bolak balik harus keluar masuk ruangan pemeriksaan. Aku dengar tamu-tamu dari Malaysia nasibnya lebih sial lagi. Mereka ditolak masuk negri tersebut bahkan tanpa pemeriksaan sama sekali!

Itu karena Malaysia dianggap sebagai negara yang sama sekali tidak  menunjukkan dukungan terhadap berdirinya negara Israel ini”, kata pak Thamrin menjelaskan ketidak mengertianku.

Lebih dari itu, para pemimpinnya bahkan jelas-jelas mengutuk dan memusuhi  segala sesuatu yang berasal dari negri terkutuk ini. Ngga kayak negri kita  yang plintat plintut. Katanya  tidak mendukung…  tapi bersikap keras juga tidak”, katanya lagi dengan nada skeptis.

Ya, betul. Tapi kali ini kita diuntungkan..makanya kita diperbolehkan masuk kesini walaupun juga dipersulit”, seseorang di belakangku menimpalinya.

Memasuki jam ketiga, aku, Benyamin dan  Karim  sudah  berada kembali di dalam kendaraan menuju Yerusalem. Cuaca ketika itu cukup cerah. Suhu udara sekitar 30 derajat Celcius hampir sama dengan Jakarta. Kami memasuki pegunungan pasir berbatu. Sebuah pemandangan yang menakjubkan sekaligus membuat hati miris. Makin lama makin jelas terlihat gubuk-gubuk yang begitu sederhana di daerah kering kerontang tersebut. Terlihat sejumlah kambing kurus berkeliaran diantara gubuk-gubuk itu.

” Gubuk-gubuk itu milik pengungsi orang-orang Afrika. Aku tak tahu mengapa mereka memilih daerah seperti ini. Mungkin karena keadaannya mirip dengan keadaan daerah asal mereka”, jelas Karim menjawab keherananku atas keberadaan gubuk-gubuk tersebut..

Lihat!”, seru Benyamin sambil menunjuk ke suatu tempat jauh di atas bukit. ” Tenda-tenda besar  itu adalah tenda-tenda pengungsi rakyat Arab Palestina yang tadi aku ceritakan ”, kata Benyamin. Sayangnya aku tidak berhasil mencermati keberadaan tenda yang dimaksudnya tersebut karena terlalu jauh dari pandangan.

Ketika Karim melalui suatu kelokan tajam menanjak tiba-tiba mataku menangkap suatu kilatan di balik bukit. Aku segera memperhatikan kilatan tersebut. ” Wow..”, seruku takjub mengagetkan dua orang disampingku. ”Itu kubah emas  The Dome Of The Rock bukan? ”, tanyaku untuk meyakinkan sambil mengarahkan kameraku ke sasaran.

Atas permintaanku, mobilpun berhenti sejenak. Angin segar segera menerpa wajahku. Udara ternyata cukup dingin mungkin sekitar 24 derajat Celcius.  Dari kejauhan terlihat            kubah itu berada di pelataran yang dikelilingi tembok bata merah besar layaknya sebuah benteng raksasa. Didalam benteng kuno tersebut terlihat dua buah kubah. Yang pertama adalah kubah kuning keemasan The Dome Of The Rock atau  Kubah Batu.  Bangunan ini berada di sayap timur agak sedikit ke bagian tengah .  Sedang yang satu lagi adalah kubah abu-abu  Masjid Al-Aqsho’ yang berdiri di ujung sebelah  barat  kawasan tersebut.

Diantara kedua kubah tersebut tampak adanya pelataran luas dengan taman dan pepohonannya yang rindang. Disana sini tampak beberapa kubah kecil yang indah. Sementara diantara aku berdiri dengan kawasan tersebut terbentang lembah yang ditanami pepohonan. Dari Karim aku tahu bahwa pelataran tersebut terletak di  sebuah bukit yang diberi nama bukit Zion sementara tempatku berdiri bernama bukit Zaitun.

Ini yang dinamakan ” The Old City of Yerusalem ” alias kota tua,” jelas Benyamin. ” Tempat ini adalah tempat paling bersejarah bagi kehidupan keberagamaan  di muka bumi. Tiga agama terbesar di muka bumi yaitu Nasrani, Islam dan Yahudi saling mengklaim bahwa mereka adalah yang paling berhak atas  kota tua ini. Sekarang ini Yerusalem dibagi menjadi 4 distrik sesuai agama masing-masing. Distrik Islam terletak di bagian Timur Kubah Batu, distrik Nasrani menempati bagian dimana gereja Makam Kudus berada, orang-orang Yahudi menempati daerah sekitar tembok ratapan di sebelah barat Kubah Batu. Sementara diantara pemukiman  Yahudi dan Nasrani terletak pemukiman Armenia”, lanjut Karim.

 

“ Kota tua yang berada di sebelah timur Yerusalem sekarang ini  dikelilingi sebuah tembok sepanjang kurang lebih 4 kilometer dengan 14  pintu gerbang dan 34 menara namun hanya beberapa pintu yang masih berfungsi”, sambung Benyamin.

Rasanya aku sudah  tak sabar untuk mendekati dan memasuki pelataran tersebut. Setelah puas mengambil gambar dan menikmati segarnya udara perbukitan kamipun meneruskan perjalanan. Sayang baik Benyamin maupun Karim tidak mengabulkan keinginanku untuk segera mengunjungi kubah-kubah tersebut. Mereka ingin agar aku istirahat  di  rumah dulu. Disamping kedua orangtua Benyamin memang telah menanti kedatanganku. Aku pikir alasan tersebut sangat masuk akal. Aku jadi malu sendiri dibuatnya. Aku merasa seolah tidak memiliki sopan-santun. Maka segera aku meminta maaf atas kelakuanku itu.

”No. It’s okay. I can understand. If I were you I think I’ll do the same thing. But don’t worry. You  have a lot of time”, kata Benyamin menghibur.

Keluarga Benyamin bukan saja  keluarga kaya raya namun juga terhormat dan terpelajar. Ayahnya adalah seorang dokter spesialis tulang.  Walaupun cukup ramah namun ia bukan tipe orang yang banyak  bicara. Ketika aku tiba di rumah ia sedang bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Ia sempat meminta maaf padaku karena tidak dapat mengajakku mengobrol. Perawatnya baru saja menelpon mengabarkan bahwa ia telah ditunggu beberapa pasiennya di rumah sakit. Sedangkan ibu Benyamin adalah  seorang perempuan yang ramah dan terlihat senantiasa menjaga penampilan. Ia mengajakku mengobrol tentang keluargaku dan keadaan di Indonesia.

***

 

Esoknya bersama Benyamin aku pergi ke kampus dimana ia menuntut ilmu. Sekarang aku baru tahu rupanya salah satu alasan mengapa aku tinggal di keluarga ini adalah karena aku akan mempelajari ilmu di tempat Benyamin belajar. Sama seperti rumah tinggal mewah keluarga Benyamin, Hebrew University juga terletak di Yerusalem Barat sebuah wilayah di sebelah barat  Yerusalem  yang diduduki Israel. Keadaan kota di bagian ini jauh berbeda dengan keadaan di YerusalemTimur. Gedung-gedung tinggi dan rumah mewah bertebaran disini. Rumah-rumah tersebut rata-rata terbuat dari batu putih. Hal ini mengingatkanku akan kota Amman di Yordania yang menamakan dirinya dengan nama The White City karena memang hampir seluruh bangunan di kota tersebut terbuat dari batu pualam putih seperti rata-rata bangunan Mediteranian, di pesisir pantai  laut Tengah. Ini adalah ciri khas mereka. Aku teringat pada video film yang sering diputar di toko-toko penjual pesawat televisi di mal-mal di Jakarta.  Rupanya disinilah lokasi pembuatan film tersebut. Atau paling tidak di negara-negara sekitarnya, mungkin Yunani, tebakku.

Hebrew University sendiri adalah sebuah gedung tinggi dengan arsitektur kental barat modern. Universitas ini adalah universitas milik pemerintah Israel. Setelah memberitahu kemana aku harus menuju, aku dan Benyaminpun berpisah. Benyamin menuju ke gerbang utara sementara aku ke gerbang utama. Bersama beberapa orang dari sejumlah  negara  yang juga mendapatkan hadiah lomba sebagaimana yang aku menangkan, kami  mengikuti kelas di salah satu  ruang universitas tersebut. Di kelas ini, mula-mula seorang pengajar menerangkan sejarah berdirinya  perguruan tinggi tertua milik Yahudi tersebut. Selanjutnya kami diajak berkeliling melihat-lihat gedung dan fasilitas yang dimilikinya. Aku perhatikan hampir disetiap lantai terpasang gambar raksasa maket “ Great Israel” di dinding.  Disamping itu  tergantung pula gambar rancangan “ Haekel” baru. Dalam hati  aku bertanya-tanya bagaimana komentar  Benyamin dan keluarganya  nanti ketika aku menanyakan hal tersebut.

Siangnya kulihat Benyamin sudah menanti di pelataran besar universitas. Setelah makan siang ia berjanji akan menemaniku masuk ke dalam tembok Yerusalem kuno. Kami masuk melalui pintu Singa atau  Lion Gate yang terletak di sebelah timur laut pelataran, tentu saja setelah melalui pos pemeriksaan polisi Israel. Padahal wilayah tersebut katanya di bawah kekuasaan pihak Palestina.  Heran aku dibuatnya. Sayang aku lupa menanyakan hal tersebut pada Karim ataupun Benyamin. Di tempat ini semua orang yang ingin  masuk tempat tersebut diharuskan mengeluarkan dan memperlihatkan seluruh isi tas, bawaan bahkan kantong baju dan celananya!

“ Gila… emang dikira  orang  mau shalat  bawa pistol apa? “, aku mendengar seseorang  berbicara dalam bahasa Indonesia di arah belakangku. Secara otomatis aku segera menengok ke arah suara tersebut datang. Ternyata memang  rombongan dari Indonesia. Tetapi bukan rombongan yang kemarin bersamaku di bandara Amman. Karim menerangkan bahwa hampir setiap hari ada rombongan Indonesia yang datang mengunjungi tempat ini. Uniknya rombongan tersebut biasanya datang berkelompok atas dasar agamanya. Ada rombongan pengunjung beragama Nasrani ada rombongan pengunjung beragama Islam.  Biasanya mereka memang bukan pelancong biasa melainkan para peziarah.

Obyek yang biasa diziarahi para pezirah kota kuno ini banyak sekali jumlahya. Uniknya, rata-rata peziarah Nasrani dan Yahudi hanya mengunjungi situs-situs agamanya sesuai kitab  perjanjian lama dan perjanjian baru sementara peziarah Muslim mengunjungi hampir seluruh situs yang merupakan situs ketiga agama. Bahkan gereja Church Of The Holy Sepulchre, gereja yang dipercaya sebagai tempat dimana Yesus  disalib sekaligus dimakamkanpun  dikunjungi umat Islam.

Karena meyakini seluruh nabi dan rasul yang diturunkan Allah adalah bagian dari Rukun Iman yang enam. Umat Islam wajib meyakininya dan tidak boleh membeda-bedakan mereka. Kami wajib menghormati mereka semua “, begitu penjelasan Karim atas pertanyaanku.

Beruntung aku didampingi Karim. Ia mengajakku mengunjungi hampir seluruh situs yang biasa dikunjungi baik umat Islam, Nasrani maupun Yahudi. Setelah berhasil melewati gerbang Singa, bertiga kami menelusuri sebuah jalan yang dinamakan via dolorosa atau jalan penderitaan. Disebut demikian karena jalan ini sejak abad 14 atau juga berarti sekitar 1400 tahun setelah kejadian sebenarnya,  ditetapkan sebagai rute prosesi perjalanan Yesus menuju ke penyalibannya di bukit Golgotha. Di lokasi penyaliban tersebut sekarang telah berdiri sebuah gereja yang diberi nama Church Of The Holy Sepulchre atau gereja Makam Kudus.

Karim menerangkan bahwa hampir setiap saat selalu ada saja peziarah yang menyusuri rute tersebut. ” Tak jarang  peziarah Nasrani  histeris bahkan  hingga pingsan. Hari-hari besar umat Nasrani adalah puncak membludaknya peziarah. Hal ini sering mengakibatkan keributan dan bentrok dengan penduduk setempat.”, jelas Karim.  Aku dapat membayangkan situasi tersebut. Jalanan ini adalah jalanan sempit nan terjal berliku-liku dimana di kiri kanannya adalah pemukiman miskin  penduduk yang mayoritas Muslim. Mereka telah berada di tempat tersebut sejak ribuan tahun lamanya. Namun dengan besar hati mereka tetap mengizinkan umat lain yang datang dari seluruh penjuru dunia dengan penampilan yang tidak sederhana untuk melaksanakan prosesi akbar ini didepan mata mereka. Muncul simpatiku terhadap mereka.

Yang cukup mengejutkanku, bahkan penjaga gereja Makam Kudus yang merupakan gereja tersuci sebagian besar umat Nasrani adalah seorang Muslim. Adalah Wajeeh Nuseibeh, seorang lelaki setengah umur. Sejak Yerusalem jatuh ke tangan umat Islam, Umar Bin Khattab, sang khalifah yang terkenal itu, telah mempercayakan kakek moyang Wajeeh  untuk menjaga dan memelihara tempat tersebut. Keluarga inilah yang secara turun temurun menyimpan kunci dan menjadi wasit gereja yang menjadi rebutan ketujuh sekte Nasrani yang ada di Yerusalem. Tiga kelompok terkuat itu adalah Katolik Roma, Yunani, dan Armenia. “ Mereka berkata bahwa aku adalah wasit yang adil karena aku tidak memihak pada satupun sekte diantara  mereka”, begitu aku Wajeeh bangga.

Wajeeh bercerita , dulu keluarga Nuseibeh mempunyai ladang-ladang zaitun yang luas. Namun sejak pecah perang 1967, dengan berhasilnya  Israel menjajah sebagian wilayah Yordania, keluarga tersebut terpaksa kehilangan seluruh harta kekayaan mereka termasuk ladang-ladang zaitunnya. Saat ini keluarga Wajeeh hanya mengandalkan hidup dari upah sebagai penjaga gereja yang tidak seberapa disamping uang tambahan sebagai pemandu wisata. Sebagian keluarga Nuseibeh kini menjadi profesor dan pengusaha, tapi takdir Wajeeh, yang diwariskan oleh ayahnya, adalah menjaga makam suci, makam dimana dikabarkan Yesus dikuburkan setelah penyalibannya.

Benyamin melirik jam tangannya mewahnya, Rolex dengan tali kulit cokelatnya. “ Maaf, Mada. Aku ada janji dengan seseorang. Aku terpaksa tidak dapat menemanimu lebih lama lagi “, katanya dengan nada menyesal. “ Tapi tak  usah khawatir, Karim akan mengantarmu kemanapun kau ingin “, lanjutnya .

Tak apa, Benyamin. Aku yang minta maaf terpaksa membuatmu  mengantarku kesana kemari”, jawabku. “ It’s okay  Mada. Aku senang bisa memuaskanmu berjalan-jalan dan mempelajari sejarah kota kelahirkanku ini. Kita berjumpa lagi di rumah nanti malam, okay ?”, katanya menutup pembicaraan.

Akupun meneruskan perjalanan berdua dengan Karim. Sekarang kami menuju The Dome of The Rock. “ Sungguh menyedihkan”, keluh Karim. “Sejak beberapa tahun belakangan ini, pihak otoritas Israel secara provokatif telah mengumumkan terang-terangan bahwa lokasi Syarif Al-Haram adalah milik mereka. Bahkan detik inipun secara bertahap mereka sedang menghancurkan dan melenyapkan keberadaan kedua masjid tersebut untuk diganti dengan rumah ibadah mereka. Untuk menghindari cemoohan dunia internasional mereka melakukannya secara diam-diam. Inilah salah satu  bukti sifat licik kaum Yahudi”, lanjutnya sambil melompat menghindari sebuah genangan air di depannya.

“ Semestinya mereka mempelajari sejarah secara utuh. Kawasan ini adalah masa lalu mereka. Kawasan Syarif Al-Haram dimana berdiri Kubah Batu atau Dome Of The Rock dan  Masjidil Aqsho yang ada saat ini,  telah menggantikan rumah ibadah mereka sejak ribuan tahun lamanya. Kami, umat Islam yang menjaga dan merawatnya. Keduanya adalah bangunan masjid yang sejak dahulu aktif dipergunakan untuk beribadah. Kami tidak merebutnya secara paksa. Bahkan uskup Nasrani, sang penguasa Yerusalem masa lalu yang memberikan kunci kota ini kepada kaum muslim yang telah mengepung kota, berpesan agar orang Yahudi tidak diizinkan tinggal di kawasan tersebut. Itupun dalam keadaan sama sekali tidak terawat. Tumpukan sampah menggunung dimana-mana. Namun setelah sekian lamanya, bagaimana mungkin tiba-tiba mereka menghancurkannya begitu saja seolah kita ini tidak pernah  ada… ”, katanya dengan suara parau menahan emosi.

Biarlah Allah yang membalas perbuatan biadab mereka. Allah adalah Tuhan bagi seluruh penduduk bumi, langit dan segala isinya. Ialah satu-satunya pemilik semua yang ada di alam semesta ini sejak nabi Adam hingga umat akhir zaman nanti”, katanya mantap.  “ Dialah yang mengutus para nabi dan rasul termasuk Nabi Ibrahim bapak agama samawi, Musa nabinya Yahudi, Isa nabinya Nasrani  dan Muhammad saw nabinya umat Islam”, lanjutnya. “ Kita ini, seluruh manusia  diperintah untuk menyembah hanya kepada-Nya. Jadi bila ternyata sekarang ini terjadi perselisihan tajam biarlah Ia yang memutuskan perkara ini. Cobalah… sekali waktu kau bandingkan isi ketiga kitab tersebut, Mada. Aku yakin hatimu masih bersih, bedakan dan rasakanlah”, katanya mengakhiri penjelasannya begitu terdengar suara azan Magrib di kejauhan.

Dengan setengah berlari aku terpaksa mengikuti langkah-langkah lebar Karim. Melewati serta beberapa kali meloncati beberapa anak tangga sekaligus, tahu-tahu kami sudah muncul di depan pelataran Syarif Al-Haram. Terlihat sejumlah orang berbondong-bondong menuju Masjidil Aqsho. Karim langsung menuju tempat mengambil air wudhu. Tanpa sadar akupun terus mengikuti gerakannya membasuh kedua tangan, berkumur, membasuh muka, kepala dan kedua kaki. Sementara suara azan terus berkumandang di kedua telingaku. Hatiku terasa teriris-iris. Aku merasa seolah ada yang memanggil dan mengikutiku.

Selanjutnya tanpa menengok padaku, Karim masuk kedalam masjid dan langsung mengerjakan shalat. Sejenak aku termangu, teringat ketika aku shalat bersama Lukman di masjid kampus beberapa waktu yang lalu. Rasanya sudah lama sekali  hal itu terjadi. Tiba-tiba entah mengapa aku merasa bersalah. Akupun segera masuk dan mengikuti gerakan shalat Karim.

Beberapa menit kemudian, aku sudah seperti menjadi bagian dari orang-orang yang secara serentak melaksanakan shalat bersama-sama. Aku rukuk, sujud dan duduk sebagaimana mereka. Aku memang sama sekali tidak memahami apa yang dikatakan imam di depan sana namun terus terang aku dapat merasakan ketentraman yang menyelinap jauh ke dalam hati sanubari ini.

***

Genap seminggu setelah kedatanganku, aku diajak keluarga Benyamin menghadiri sebuah acara istimewa di sebuah hotel mewah di Yerusalem Barat. “ Ayolah, ini acara istimewa. Kamu beruntung bisa hadir karena di acara ini hanya orang-orang  yang dianggap penting dan punya uang saja yang bisa hadir”, bujuk Benyamin padaku sambil menarikku ke kamarnya dan menunjukkan lemarinya yang terbuka lebar agar aku mau memilih salah satu dasinya yang jumlahnya puluhan itu. Akhirnya tanpa banyak berbicara  akupun mengambil salah satunya.

Aku, Benyamin dan kedua orang-tuanya tepat pukul 7 malam memasuki  lobi hotel  Plaza Continental, sebuah hotel bintang lima paling bergengsi di Yerusalem. Kami dipersilahkan masuk ruang  The Executif Club. Disana sudah terlihat beberapa pasang tamu dengan dandanan yang chic. Para lelakinya terlihat rapi berjas hitam lengkap dengan dasi kupu-kupunya sebaliknya para perempuan tampil dengan pakaian pesta yang terbuka disana-sini memperlihatkan dengan jelas lekak lekuk tubuh mereka.

Kedua orang-tua Benyamin segera bergabung dengan mereka. Setelah aku diperkenalkan, Benyamin segera menarikku ke sudut lain ruangan yang ditata serba wah tersebut. Rupanya yang ditujunya adalah sebuah meja kecil di sudut yang agak tersembunyi di belakang meja besar berisi  penuh makanan ringan pembuka. “ Nah, disini kita aman, Mad…..”, katanya sambil melonggarkan dasinya. Akupun  segera  mengikuti kelakuannya. Dari tempat ini kami bisa bebas dan leluasa melihat ke meja tamu lain tanpa khawatir terlihat oleh pihak lain. Tak lama kemudian setelah menerima segelas soft drink yang ditawarkan seorang pelayan kami berdua sudah duduk santai sambil memperhatikan tamu-tamu yang berdatangan.

Lihat yang duduk di deretan meja terdepan sebelah kiri itu…Ia adalah mentri kebudayaan dan pariwisata Israel. Dialah penyelenggara acara ini”, terang Benyamin. “ Nah, sekarang lihat siapa yang baru masuk itu “, serunya. “ Pasti kau mengenalnya”. Ternyata dia adalah seorang aktor laga kawakan kenamaan Holywood. Ia datang didampingi istrinya yang masih keluarga mantan presiden legendaris Amerika Serikat.

Selanjutnya setelah Benyamin sibuk menunjuk kesana kemari, tiba-tiba aku dikejutkan oleh seraut  wajah khas Indonesia. Dia adalah mantan presiden negara kita yang kontroversial, yang diam-diam dikenal memiliki hubungan khusus dengan negri berlambang Segitiga Davis ini. Ia datang didampingi istri lengkap dengan sejumlah pengawal khususnya seperti biasa.   Selanjutnya aku melihat seorang personil band yang banyak digandrungi remaja tanah air saat itu. Mengenai artis ini aku pernah mendengar kabar selentingan bahwa ia memiliki hubungan istimewa dengan sesuatu  yang erat kaitannya dengan ke-Yahudi-an namun aku lupa apa detilnya.

Tepat pukul 20.00  acara resmi dibuka oleh sang mentri Pariwisata. Dari sambutan itulah aku baru tahu rupanya agenda utama pertemuan ini adalah pemberian penghormatan dan piagam bagi tokoh-tokoh yang dianggap berhasil memberikan citra  positif terhadap Israel, negara yang oleh negara-negara di Timur  Tengah dan sebagian negri Islam tidak diakui kedaulatannya itu.

***

Beberapa hari kemudian bersama rombongan teman-teman dari berbagai negara, kami pergi mengunjungi Museum Israel yang terletak di bukit yang sama dengan Hebrew University. Di areal ini terdapat sebuah gedung ultra modern, yang dikenal dengan nama The Shrine Of The Book. Di dalam bangunan berkubah putih inilah tersimpan  The Dead Sea Scroll, Gulungan Laut Mati yang spektakuler itu.

Gulungan Laut Mati adalah sekumpulan gulungan kertas yang ditemukan pada tahun 1947 mulanya oleh seorang Badui Palestina. Seterusnya hingga tahun 1956 dari sejumlah gua di sekitar daerah Qumran, dimana naskah pertama ditemukan, terkumpul ratusan potongan naskah kuno. Diantara naskah-naskah tersebut yang terpenting adalah adanya sejumlah naskah yang dipercaya sebagai potongan bagian dari Perjanjian Perjanjian Baru / Injil dan  Perjanjian Lama / Taurat. Naskah ini diperkirakan ditulis pada sekitar tahun 2 SM hingga tahun 100 an setelah Masehi.

Namun sayang baru sebagian kecil dari isi naskah yang dipublikasikan ke umum. Padahal banyak rahasia besar yang dapat diungkap kumpulan naskah tersebut. Diantaranyalah adalah apa yang diungkap seorang teolog pakar Perjanjian Baru dan Gulungan Laut Mati, Prof. DR. Barbara Tiering, dari University  of Sidney Australia. Berdasarkan penelitiannya ia mengungkapkan bahwa Yesus sebenarnya tidak hidup membujang seperti perkiraan umatnya. Ia bahkan pernah menikah sebanyak 2 atau 3 kali. Malah dikatakan 4 tahun setelah penyalibannya, salah satu istrinya itu melahirkan seorang anak pertama mereka. Artinya Yesus tidak meninggal di tiang penyaliban sebagaimana perkiraan umatnya selama ini!

Dari The Shrine Of The Book, kami pergi mengunjungi The Model of Second Temple Jerusalem atau kuil kedua Yerusalem yang memang masing berada di area yang sama yaitu Museum Israel. Ini adalah sebuah replika raksasa dari kuil Yerusalem kuno pada masa hidup Yesus. Sebuah kuil  yang mulai dibangun pada tahun 20 sebelum Masehi oleh Herod The Great yang dihancurkan hanya 6 tahun setelah selesai dibangunnya yaitu pada 70 M oleh Titus, seorang pemuka Romawi. Replika yang dibuat  pada tahun 1966 ini mulanya disembunyikan di bawah tanah sebuah hotel di Yerusalem. Namun pada tahun 2002 secara resmi dan terang-terangan, replika tersebut dipindahkan ke dalam Museum Israel. Saat ini Replika Kuil Yerusalem ke dua tersebut menjadi salah satu daya tarik wisatawan manca-negara.

Dalam waktu yang tak lama lagi bangsa Israel tak  akan lagi hidup terlunta-lunta. Replika raksasa  yang berada dihadapan anda ini memperlihatkan  semangat bangsa kami untuk membangun kembali kejayaan yang telah hilang ribuan tahun lalu”,  jelas seorang pemandu yang menemani rombongan tamu dari berbagai negara ini dengan penuh kebanggaan.

Oh… jadi  apa  yang dikatakan Karim padaku tempo hari ternyata benar “, kataku dalam hati.

Orang-orang Yahudi, didorong oleh orang-orang Free Mason sejak 200 tahun belakangan memang terobsesi untuk pulang ke tanah yang mereka anggap sebagai rumah leluhur  mereka. Mereka bahkan tengah merencanakan  pembangunan kuil Yerusalem ketiga di atas pelataran dimana saat ini tengah berdiri masjid Kubah Batu dan Masjidil Aqsho yang sejak abad 7 telah menjadi bagian penting  kehidupan pemeluk umat Islam di seluruh dunia khususnya penduduk Palestina.

Sesuatu yang tak masuk akal. Orang-orangYahudi rupanya hidup di bawah bayang-bayang masa lalunya. Lalu mau diapakan dan dikemanakan orang-orang yang sejak ribuan tahun hingga  saat ini ada dan hidup di sekitar situs suci tersebut?”, kataku dalam hati heran.

Sekarang aku tahu mengapa banyak pemeluk  Islam yang mempunyai rasa antipati terhadap bangsa Yahudi dan sekutunya. “ Bagaimana mungkin sebuah pemerintah pendudukan bisa seenaknya  menggusur bahkan menghancurkan situs penting keagaamaan pemeluk penduduk setempat ? Ironisnya lagi, rencana tersebut didukung pula oleh sejumlah negara yang mengaku diri sebagai negara demokratis“, pikirku. Jelas, orang-orang ini sengaja mencari perkara dan penyakit.

Seorang kenalan baruku, seorang warga negara Selandia Baru, membisikiku bahwa saat inipun dengan alasan mencari peninggalan nenek moyang mereka, pihak otoritas resmi Yahudi telah membangun beberapa galian dan terowongan sepanjang tembok Barat atau yang dikenal dengan Tembok Ratapan. Terowongan ini dikabarkan bahkan telah mencapai bagian pusat  masjid Al-Aqsho hingga menyebabkan keadaan masjid menjadi rawan. Katanya hal ini memang disengaja. Jadi bila terjadi gempa sedikit saja, masjid tersebut  akan segera ambruk. Ini yang menjadi harapan mereka. Mereka sepenuhnya sadar  bahwa Yerusalem adalah  daerah rawan gempa.  Dengan demikian mereka tidak perlu merasa  dipersalahkan!

Didorong rasa keingin-tahuan yang tinggi, aku berniat sepulangku nanti  aku akan segera mendiskusikan masalah diatas dengan Benyamin dan Karim. Aku benar-benar penasaran ingin mengetahui tanggapan dan reaksi mereka berdua. Kupikir keduanya bisa mewakili pendapat dan pikiran umum rakyat Palestina sebagai pemilik resmi tanah yang menjadi rebutan itu,   dari sisi ajaran  Nasrani dan ajaran  Islam.

***

Orang Yahudi memiliki keyakinan bahwa dengan berdirinya kuil ketiga di atas pelataran Kubah Batu dan Al-Aqsho, yang mereka yakini sebagai  bekas tempat kuil kuno mereka akan mempercepat datangnya Sang Messiah. Sedangkan  umat Nasrani berkeyakinan bahwa  Messiah yang sangat mereka harapkan kedatangannya itu  sebetulnya telah datang ribuan tahun yang lalu, itulah  Yesus Kristus. Ini  adalah kenyataan yang ditolak mentah-mentah pemeluk Yahudi sejak dahulu. Itu sebabnya mengapa  kemudian Yesus disalib “, jelas Benyamin.

Namun demikian tidak semua penganut Yahudi mempunyai keyakinan bahwa berkumpul serta kembalinya umat Yahudi ke tanah leluhur serta pembangunan kuil ketiga akan mempercepat kedatangan Sang Messiah. Kelompok ini malah  berpendapat kebalikannya yaitu Tuhan memang telah mentakdirkan mereka ber-diaspora dan tidak memiliki negara.”, timpal  Karim.

Kelompok Yahudi Ortodoks  yang menamakan dirinya kelompok Yahudi Neturei Karta ini walaupun sama-sama berdarah Yahudi, orientasi perjuangannya berbeda dengan Zionis Israel.  Jika Zionis Israel sangat mengagungkan dan menyucikan Talmud sebaliknya  dengan kelompok Yahudi Ortodoks ini. Mereka menuding bahwa Talmud adalah kitab iblis yang telah ‘mencemari kesucian’ Taurat yang diturunkan Tuhan kepada Musa. Apa yang dilakukan Zionis Yahudi sekarang ini menurut mereka adalah murni politik. Alasan mencari Talmud yang hilang adalah mengada-ada”, lanjutnya lagi.

“  Betul sekali. Sejumlah rabbi tua kenalan kedua orang-tuaku sering mengatakan bahwa mereka, umat Yahudi  sebenarnya  tidak harus berkumpul dan kembali ke kota tua demi mengharap datangnya Sang Messiah”, kata Benyamin membenarkan..

“ Sebenarnya minyak adalah alasan utama Zionis Yahudi datang ke tanah Palestina”, sambungnya lagi penuh semangat. “ Mungkin kau pernah mendengar Trans Pipa Minyak Arab atau yang lebih dikenal dengan nama Tapline. Ini adalah sebuah proyek raksasa yang merupakan impian sejak  tahun 1947. Yaitu proyek pembangunan pipa minyak yang menghubungkan  kota Dammam di Saudi Arabia hingga Sidon di Palestina sepanjang 1214 km. Pengaliran minyak Irak ini rencananya akan disambungkan dari Mosul melalui Suriah dan Jordania dan berakhir di Haifa, Palestina”, lanjutnya.

Wow…sebuah pemikiran cerdas yang sempurna “, seruku sambil bersiul pelan.

Namun rencana tersebut tidak terealisasi dengan mulus. Setelah beberapa kali ditutup karena berbagai sebab dan alasan, dengan pecahnya Perang Teluk pada 1990 proyek tersebutpun  akhirnya sepenuhnya ditutup”, kata Karim melanjutkan penjelasan Benyamin..

“ Yang diberitakan memang begitu. Tapi coba kita pikirkan…sektor penting apa di dunia ini yang bukan milik Yahudi dan konco-konconya? Media, perbankan,  tehnologi, industri, swalayan, perhotelan, perumahan, perfilman, budaya, fashion bahkan ideologi … apa yang mereka tidak punya? dapatkah mereka dipercaya?? Jadi besar kemungkinan berita mengenai Tapline memang sengaja disembunyikan agar  tidak menarik  perhatian dunia… Yang pasti itu memang pernah terjadi. Bayangkan…siapa yang paling diuntungkan bila proyek ini benar-benar berjalan lancar?”, timpal Benyamin sinis..

Setelah hening beberapa saat Benyamin kembali berucap :

Lucunya lagi… bila pada awalnya Yahudi dan Nasrani sering bertikai…lain lagi sekarang ceritanya. Tampaknya sifat licik dan licin sudah menjadi watak yang melekat kuat pada diri orang Yahudi. Demi ambisi besarnya mereka sekarang merangkul kaum Nasrani, maka jadilah apa yang dinamakan Kristen Zionis. Mereka ini bukan pengikut gereja manapun. Melalui kegiatan missionarisnya mereka berusaha menjaring bukan saja umat Nasrani  tapi juga umat Islam yang lemah imannya. Menurut pemikiran ini mereka harus mendukung Yahudi Zionis agar Kuil ketiga segera berdiri. Dengan demikian maka kedatangan Yesus ke 2 akan segera tiba”, ucap  Benyamin.

“  Demi memikat  hati kaum Nasrani mereka juga  berkata bahwa usai mengantar Yahudi Zionis mendirikan Kuil yang ditunggunya, umat Kristen Zionis akan segera dipanggil Yesus untuk memasuki surga. Selanjutnya dari tempat tersebut mereka tinggal menyaksikan pertarungan seru antara Yahudi dan Islam”, tambah Karim sambil tersenyum kecut.

Benar-benar licin otak mereka ya….Namun bagaimana pula menurut pandangan Islam,  Karim?”, tanyaku penuh antusias pada Karim.

“  Islam datang setelah ajaran Yahudi yang dibawa Musa dan ajaran Nasrani yang dibawa Yesus berlalu. Ia datang pada dasarnya dengan misi yang sama yaitu mengagungkan dan meng-Esakan Allah SWT, betul-betul hanya Dia tanpa adanya sekutu. Ia tidak beranak, tidak diperanakkan dan  tidak pula  beristri. Mustahil bagi-Nya disamakan dengan apapun. Juga mengingatkan kembali  akan datangnya hari akhir, yaitu hari Kiamat. Ini adalah prinsip dasar agama samawi:  Islam, Nasrani dan Yahudi. Jadi mustinya tidak ada pertentangan diantara umat ketiga agama tersebut ”, jelas Karim sambil menghela nafas pelan.

Seperti Taurat, kitab Yahudi yang memberitahukan  akan  kedatangan seorang Mesiah, seorang utusan Allah, seorang nabi,  yaitu Isa as atau orang Nasrani menyebutnya Yesus, begitu juga Injil. Kitab umat Nasrani ini memberitahukan akan kedatangan seorang Mesiah di akhir zaman nanti. Injil menyebutnya dengan nama Ahmad. Menurut Al-Quran Ahmad itu adalah Muhammad, nabinya umat Islam yang datang pada tahun 600 an Masehi. Anehnya menurut pengakuan umat Nasrani sendiri, mereka tidak menemukan ayat tersebut.. Artinya ada sesuatu yang hilang disini.. “, Karim meneruskan penjelasannya, kali ini sambil melirik Benyamin seolah menuntut  penjelasannya.

Benyamin menarik nafas panjang sebelum akhirnya berkata  pelan, “ Aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Aku memang tidak pernah melihat keberadaan ayat tersebut. Akupun kadang merasa tidak begitu yakin pada apa yang ada padaku…..”.

“  Maaf Karim, mungkin ini menyakitkan hatimu. Namun aku ingin sebuah kejelasan.  Mengapa umat Islam bisa begitu yakin bahwa Muhammad yang jelas-jelas datang pada abad 7 itu adalah Ahmad, nabi terakhir yang namanya disebut dalam Injil dan yang  dinantikan kedatangannya oleh umat Nasrani di akhir zaman? Adakah bukti kuat  yang menunjukkan hal ini ?”, tanyaku makin penasaran.

Pertanyaan bagus, Mada”, jawab Karim senang. ”Begini…Muhammad memang telah datang 14 abad yang silam.  Namun Al-Quran mengatakan dengan jelas bahwa kami, umat Islam adalah umat akhir zaman. Apa maksudnya ? Maksudnya Al-Quran yang datang pada abad 7 ini adalah kitab yang berisi ajaran yang telah  dipersiapkan secara matang untuk menghadapi segala permasalahan  hingga akhir zaman nanti. Ia akan cocok untuk seluruh manusia apapun warna, ras, bahasa, bangsa dan tingkatan pendidikannya.  Kitab ini dapat dipastikan akan cocok dan sesuai dengan segala macam penemuan yang bakal terjadi hingga akhir zaman nanti. Dan sebagian besarnya memang  telah terbukti. Itu sebabnya mengapa Al-Quran disebut sebagai mukjizat terbesar nabi Muhammad saw ”, kata Karim penuh semangat.

“ Walaupun seperti juga nabi- nabi lain, sebenarnya Muhammadpun diberi kelebihan lain. Diantaranya yaitu keluarnya air dari jemari Rasulullah hingga cukup untuk berwudhu ratusan sahabat pada saat mereka kekurangan air, terbelahnya bulan ketika orang musyirikin menuntut tanda bahwa beliau adalah seorang Rasul. Kemudian juga terbongkarnya rahasia seorang yang bersumpah akan mengupah temannya bila ia berhasil membunuh Rasulullah padahal ketika itu tak seorangpun yang mendengar perjanjian rahasia itu. Dan masih banyak lagi. Namun Allah swt sebagai Sang Maha Pemilik yang mengetahui segala isi hati manusia, Ia telah mentakdirkan  bahwa pada akhir zaman akan banyak bermunculan ahli-ahli sihir. Maka bila mukjizat Muhammad saw sebagai nabi akhir zaman hanya mukjizat yang sifatnya spektakuler sebagaimana mukjizat nabi-nabi sebelumnya tentu akan kurang bermakna dan kurang menghujam di hati.  Sulit bagi orang awam apalagi yang tipis keimanannya untuk membedakan mana sihir mana mukjizat “, Karim berhenti sejenak menghela nafas.

Lain halnya dengan Al-Quran. Cobalah sekali-sekali buka Al-Quran terjemahan. Disitu akan kau dapati bagaimana Allah SWT menerangkan cara penciptaan alam semesta yang ternyata sesuai dengan temuan Sains yang belakangan dikenal dengan istilah “ Big Bang’. Demikian juga penghancuran alam semesta yang di dunia sains dikenal dengan nama “Big Crunch”. Disitu akan kau temui pula bagaimana proses terjadinya hujan, bagaimana langkah penciptaan manusia termasuk tanda-tanda yang sesuai dengan  adanya temuan mutakhir tentang DNA sebagai sifat dasar manusia dan banyak lagi hal-hal yang sebenarnya baru terungkap di akhir abad ini. Seperti sabuk medan magnit “ Van Allen”, gunung-gunung yang berjalan seperti jalannya awan, jalan-jalan di langit, sifat besi dan lain-lain lagi. Padahal Al-Quran telah turun ribuan tahun sebelumnya”, kata Karim lagi sambil menarik kursi dan kemudian mendudukinya.

“ Belum lama ini dengan makin majunya ilmu dan teknologi, seorang ilmuwan muslim bernama Rasyad Khalifah berhasil membuktikan  bahwa Al-Quran ternyata  mempunyai kunci pengaman yang sungguh unik dan canggih  yaitu  angka 19. Kunci ini dinamakan Al-Quran Interlocking System. Angka ini menunjukan jumlah huruf bahasa Arab dalam ucapanBismillahirrohmanirrohim”  yang berarti Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dan juga ucapan Laa haula wa laa quwwata illaa billahyang berarti Tiada daya untuk memperoleh manfaat dan upaya untuk menolak kesukaran kecuali dengan bantuan Allah SWT “.

Bagi orang awam, mungkin angka 19 tidak menunjukkan keistimewaan apa-apa. Namun dalam dunia inteligen, angka 19 adalah sebuah angka bilangan prima yang sangat istimewa. Bahkan Pentagon sekalipun dikabarkan memilih salah satu bilangan prima sebagai kunci pengaman sistim komputernya! “, jelas Karim. 

“ Boleh aku tahu contohnya?”, tanyaku penasaran. “Maaf bila aku jadi  menyusahkanmu”, sambungku cepat.

“ Oh tentu saja tidak”, jawab Karim. “ Akan kucoba semampuku. Begini. Masih berdasarkan penelitian Rasyad Khalifah, ternyata jumlah masing-masing kata : Allah, ArRahman dan ArRahim yang merupakan dua sifat utama Allah SWT, yang tertulis di dalam Al-Quran, adalah merupakan angka yang habis dibagi angka 19.  Apa artinya? Artinya orang tidak mungkin sembarangan menambah atau mengurangi kata-kata dalam kitab suci tersebut. Itulah  salah satu sebab mengapa Al-Quran tidak mungkin dipalsukan”.

“ Betulkah demikian ? “, terdengar Benyamin bertanya dengan nada setengah tidak percaya.

Ya, padahal kitab itu diturunkan jauh sebelum orang mengenal komputer. Bila kau tertarik akan kehebatan Al-Quran secara matematis kau bisa mencari buku mengenai hal tersebut. Kau akan temui banyak hal mencengangkan yang hanya mungkin bisa tejadi karena bantuan komputer. Contoh sederhana. Di dalam Al-Quran terdapat sebuah surat bernama Maryam. Maryam adalah ibu nabi Isa alias Yesus Kristus”, lanjut Karim sabar.

“ Surat ini adalah surat ke 19. Di dalam surat tersebut disebutkan  kata “Adam “ dan “Yesus”. Percaya atau tidak, kedua nama tersebut adalah  untuk yang ke 19 kalinya disebut dalam Al-Quran! Adam pada ayat 34 sementara Yesus pada ayat 58. Perhatikan pula selisih antara 34 dan 58, yaitu 25. Menandakan apakah ini? Setelah diteliti angka 25 adalah jumlah penyebutan baik Adam maupun Yesus didalam Al-Quran secara keseluruhan! Tahukah kau, mengapa 25, Benyamin? “ tanya Karim sambil memandang Benyamin.

Benyamin cepat menggeleng. “ 25 adalah jumlah rasul- Allah. Adam rasul pertama dan Muhammad adalah rasul terakhir”, kali ini terdengar jelas bahwa Karim tidak mampu menyembunyikan kekagumannya.

“ Dan  mengapa harus Adam dan Yesus?”, kali ini tanpa menanti jawaban Karim langsung menjawab pertanyaannya sendiri “ Karena penciptaan Adam dan Yesus hampir sama. Keduanya ada tanpa kehadiran bapak!”.

Woow..!” aku dan Benyamin tanpa sengaja secara bersamaan berdecak kagum.

 “ Itu belum seberapa sobat, masih banyak lagi kejutan lain”, kata Karim lagi.

Setelah hening sejenak kembali Karim meneruskan penjelasannya, “Nabi Muhammad saw dalam hadisnya juga pernah bersabda bahwa jarak hari akhirat dengan masa kehidupan beliau ketika itu seperti jari tengah dan telunjuk. Artinya sudah dekat sekali. Namun bila kenyataannya hingga hari ini saat itu belum juga tiba…. ingatlah bahwa hitungan dunia ini tidak sama dengan hitungan-Nya. Menurut salah satu ayat, satu hari di akhirat  sama dengan seribu tahun di dunia….Bayangkan!,” lanjut Karim lagi.

Aku diam termang-mangu begitu juga Benyamin. Masing-masing dengan pikirannya sendiri-sendiri. Beberapa saat kemudian terdengar Benyamin bertanya :“ Bagaimana pula pendapat Islam mengenai kebangkitan Yesus di akhir zaman nanti. Apakah mereka mempercayai hal tersebut? “.

“ Al-Quran memang tidak pernah  menuliskannya namun hadis ya. Rasulullah pernah  bersabda bahwa salah satu tanda dekatnya hari Kiamat adalah datangnya para pendusta besar, mereka adalah para penyihir yang sangat lihai.  Diantara mereka yang terbesar adalah manusia setan Dajjal. Dengan tipuannya yang maha dasyat ia akan mempengaruhi sebagian besar manusia  agar menuhankannya, memalingkan manusia dari penyembahan hanya kepada Allah swt, Tuhan yang sebenarnya”,   jawab Karim sambil memperbaiki duduknya.

Maka pada saat genting seperti itulah, muncul Isa Al-Masih putra Maryam. Nabi Allah inilah yang  akan mengalahkan Dajjal sekaligus menjadi saksi perselisihan yang terjadi diantara ahli kitab. Ia akan menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi sebelum dan sesudah ia diangkat. Menjelaskan apakah benar ia telah disalib, menjelaskan benarkah ia  Tuhan ”, lanjut Karim.

Dengan kata lain berarti bahkan nabimupun sebenarnya mengakui Yesus Kristus  bukan ?“, sahut Benyamin sambil menyipitkan matanya.

Dengar Benyamin, kami, umat Islam seperti juga Rasul kami, Muhammad saw,  diajarkan untuk meyakini seluruh rasul dan nabi yang dikirim-Nya kemuka bumi ini. Adam, Nuh, Yakub, Yusuf, Musa, Daud, Sulaiman, Zakariya, Yahya dan lain-lain adalah para Rasul Allah yang agung dan suci. Begitu pula Yesus atau Isa putra Maryam, kami mengakuinya  sebagai  salah satu Rasul utusan Allah, tidak lebih. Inilah yang menjadi perbedaan yang mencolok antara agamamu dan agamaku”, jelas Karim tajam.

Setelah hening agak lama, akhirnya aku mencoba  mencairkan suasana dengan berkata : “ Tapi  pada dasarnya ketiga agama tersebut adalah benar datangnya dari Sang Pencipta Yang Menciptakan manusia, langit dan bumi. Bukankah demikian ? “.

Baik Benyamin maupun Karim tidak menjawab, mereka hanya  mengangguk-anggukan kepala pelan.  Sebaliknya aku makin merasa yakin bahwa aku telah berada di jalan yang tepat dalam mencari sebuah kebenaran. Diam-diam aku merasa bersyukur melihat kenyataan ini. Tiba-tiba ingatanku melayang kepada ayah ibuku juga tante Rani. Sadarkah mereka bahwa selama ini mereka termasuk aku telah tersesat?

***

Beberapa hari sebelum kepulanganku ke tanah air, aku diajak Benyamin mengunjungi kota Hebron yang terletak di Tepi Barat untuk melihat makam nabi Ibrahim. Sama halnya dengan kota-kota penting lain di Palestina, penjagaan dan pemeriksaan ketat juga diberlakukan untuk memasuki kota dimana makam nabi Ismail, nabi Ishak dan nabi Yakub  ini berada. Ternyata  hanya untuk melakukan ziarah ke makam yang terletak di dalam masjid inipun dilakukan pemeriksaan super ketat. Tidak hanya para perempuan bahkan bayipun harus digeledah!

Makam para nabi Allah ini terletak didalam naungan masjid yang diperkirakan dibangun 1000 tahun silam. Namun fondasi dasarnya kemungkinan telah ada jauh sebelum itu. Masjid ini berdiri di ketinggian 15 m dari permukaan tanah dan dikelilingi dinding raksasa dengan stuktur dasar menyerupai dinding kuno di Haram Al-Syarif.

Sejak lama makam ini menjadi rebutan antara pihak Palestina dan pihak otoritas Israel. Lihat   pagar besi yang melintang persis diatas makam tersebut. Itu adalah makam nabi Ibrahim. Pagar tersebut memisahkan makam menjadi 2 bagian,  1 bagian berada di wilayah Palestina dan  1 bagian lainnya milik Israel”, jelas  Karim.

Pihak Israel tidak akan pernah puas dengan apa yang telah dikuasainya sekarang ini. Sedikit demi ia terus memperluas daerah jajahannya dan merebutnya dari tangan Palestina. Hebron adalah milik bangsa Palestina namun lihatlah, pemerintah Israel saat ini terus membangun perumahan Yahudi di sela-sela perkampungan Palestina. Rakyat  Palestina tidak mampu melawan kediktatoran mereka. Yang lebih mengesalkan lagi, pemukiman Yahudi itu dibangun  di atas perbukitan diatas perkampungan kumuh Palestina.  Kemudian dengan sengaja dan secara provokatif para penghuni di atas bukit sering melempar barang-barang tak berguna mereka ke arah perkampungan di bawahnya! Benar-benar keterlaluan…”, kata Benyamin menggeram.

***

Beberapa hari sebelum kepulanganku ke tanah air, aku diajak Benyamin mengunjungi kota Hebron yang terletak di Tepi Barat, untuk melihat makam nabi Ibrahim. Sama halnya dengan kota-kota penting lain di Palestina, penjagaan dan pemeriksaan ketat juga diberlakukan untuk memasuki kota dimana makam nabi Ismail, nabi Ishak dan nabi Yakub  ini berada. Ternyata  hanya untuk melakukan ziarah ke makam yang terletak di dalam masjid inipun dilakukan pemeriksaan super ketat. Tidak hanya para perempuan bahkan bayipun harus digeledah!

Makam para nabi Allah ini terletak didalam naungan masjid yang diperkirakan dibangun 1000 tahun silam. Namun fondasi dasarnya kemungkinan telah ada jauh sebelum itu. Masjid ini berdiri di ketinggian 15 m dari permukaan tanah dan dikelilingi dinding raksasa dengan stuktur dasar menyerupai dinding kuno di Haram Al-Syarif.

Sejak lama makam ini menjadi rebutan antara pihak Palestina dan pihak otoritas Israel. Lihat   pagar besi yang melintang persis diatas makam tersebut. Itu adalah makam nabi Ibrahim. Pagar tersebut memisahkan makam menjadi 2 bagian,  1 bagian berada di wilayah Palestina dan  1 bagian lainnya milik Israel”, jelas  Karim.

Pihak Israel tidak akan pernah puas dengan apa yang telah dikuasainya sekarang ini. Sedikit demi ia terus memperluas daerah jajahannya dan merebutnya dari tangan Palestina. Hebron adalah milik bangsa Palestina namun lihatlah, pemerintah Israel saat ini terus membangun perumahan Yahudi di sela-sela perkampungan Palestina. Rakyat  Palestina tidak mampu melawan kediktatoran mereka. Yang lebih mengesalkan lagi, pemukiman Yahudi itu dibangun  di atas perbukitan diatas perkampungan kumuh Palestina.  Kemudian dengan sengaja dan secara provokatif para penghuni di atas bukit sering melempar barang-barang tak berguna mereka ke arah perkampungan di bawahnya! Benar-benar keterlaluan…”, kata Benyamin geram.

***

Suatu hari, usai mengikuti kunjungan  ke beberapa tempat penting dan terkenal seperti gedung Parlemen dan lain-lain bersama rombongan, Benyamin tidak terlihat di tempat biasa ia menantikanku selama ini. Ini adalah hari terakhirku di Yerusalem.” Benyamin ada kuliah  tambahan hari ini hingga sore hari. Tadi ia lupa mengatakan padamu”, jelas Karim.

Siang itu Karim mengajakku  berkunjung  ke masjid  Salman Al Farisy. ” Siang ini aku kedatangan rombongan tamu dari Perancis. Mereka baru pulang dari menunaikan umrah di Mekkah. Pemandu  yang mustinya bertugas mengantar mereka kebetulan sedang sakit. Ia memintaku agar menggantikannya mengantar tamu-tamu tersebut mengunjungi makam Salman Al-Farisy, seorang tokoh legendaris sekaligus  pejuang Islam kenamaan”, terang Karim. ” Bila kau mau, kau bisa ikut bergabung”, ajaknya.

Maka tak sampai satu jam kemudian akupun sudah berada diantara sekitar 20-an tamu Perancis dengan Karim sebagai pemandunya. Makam Salman Al-Farisy berada di dalam masjid yang  sama dengan namanya. Masjid yang tidak tampak istimewa ini berada diatas sebuah bukit di pinggir sebuah jalan yang menanjak diantara pemukiman penduduk.

Salman adalah seorang pemuda Persia berusia belasan tahun. Dulunya ia tinggal di sebuah desa bernama Jayy, Isfahan di  Persia. Keluarganya adalah penganut agama Majusi, penyembah api. Salman muda sejak remaja telah ditugasi ayahnya untuk menjaga nyala api sesembahan agar tidak sampai padam. Suatu hari karena bosan, tanpa sepengetahuan ayahnya, ia meninggalkan tugasnya dan berjalan-jalan. Di jalan ia melewati sebuah gereja dimana orang-orang didalamnya sedang beribadah. Salman merasa bahwa agama ini lebih baik dari agama nenek moyangnya. Ia kemudian memutuskan untuk berganti agama.”, jelas Karim dalam  Inggris  kepada tamu-tamu Perancisnya.

Namun begitu ayahnya mengetahui hal tersebut, ia marah besar dan mengurung Salman dalam kamarnya. Salman tidak putus asa. Beberapa hari kemudian dengan bantuan teman-teman baru Nasraninya, Salman berhasil melarikan diri. Selanjutnya selama beberapa tahun Salman taat mengikuti ajaran baru tersebut hingga ajal mendekati uskup gerejanya. Berkat kasih sayangnya, sang uskup berkata bahwa ia telah menitipkan Salman ke uskup lain yang dipercayanya. Ia  berpesan : ” Salman, berhati-hatilah dalam menuntut ilmu. Sekarang ini banyak pemimpin agama yang tidak menyampaikan  ajarannya dengan benar. Maka teruslah memohon kepada Allah agar jangan disesatkan.”, Salmanpun mentaatinya dan ia mengikuti uskup yang telah ditunjuk uskup yang shaleh tersebut”, Karim berhenti sejenak.

Dalam keadaan hening itulah  tiba-tiba aku mendengar bisik-bisik di sebelahku. Aku baru menyadari rupanya ada beberapa tamu yang kurang memahami apa yang dikatakan Karim. Perlahan aku segera mendekati beberapa  tamu yang berbisik-bisik tersebut dan  berkata pelan :  “ Voulez-vous  que je traduise l’explication , mesdames  messieurs ? «  tanyaku sopan menawarkan apakah mereka mau aku menterjemahkan apa yang dikatakan Karim. Ternyata dengan senang hati mereka menerima tawaranku itu. Karimpun  rupanya menyadari hal tersebut. Ia memberi isyarat bahwa ia menyetujuinya. Kemudian ia meneruskan penjelasannya dengan lebih lambat memberiku kesempatan untuk  menterjemahkannya.

Namun hal itu tidak berlangsung lama karena tak lama kemudian uskup kepercayaan itupun juga meninggal dunia. Maka Salmanpun mulai mengembara mencari uskup yang sesuai dengan apa yang telah diajarkan uskup lamanya. Beberapa kali Salman bertemu dengan uskup namun didapatinya uskup tersebut mengajarkan hal yang tidak sesuai dengan ajaran yang telah diterimanya. Hingga suatu hari ia tiba di sebuah kota di Arabia. Belakangan ia baru tahu bahwa kota tersebut bernama Yathrib yang dikemudian hari diganti menjadi Madinah. Di tempat ini ia dizalimi seseorang yang pada akhirnya mengakibatkan ia dijual dan dijadikan budak seorang Yahudi”, Karim berhenti sejenak memberi kesempatan tamu-tamunya mengambil gambar keranda anak muda tersebut.

Baru  beberapa hari tinggal di rumah orang Yahudi tersebut, Salman mendengar berita bahwa ada seorang nabi baru muncul. Ia dikejar-kejar dan dimusuhi kaum dan kerabatnya sendiri. Namun justru di kota Yathrib ini ia diterima. Salman merasa penasaran dengan berita tersebut. Ia teringat kata-kata uskupnya bahwa kitabnya telah memberitahukan kedatangan nabi baru tersebut. Ia juga teringat akan pesan dan ciri-ciri utusan Allah yang tertulis dalam kitabnya”, lanjut Karim.

Selanjutnya  Salmanpun berusaha menemui nabi baru tersebut. Ia ingin mencocokkannya dengan ciri-ciri yang diketahuinya. Dan setelah akhirnya ia benar-benar yakin bahwa memang dialah nabi yang dimaksud dalam kitab yang diajarkan uskup gerejanya waktu itu, tanpa sedikitpun keraguan Salmanpun segera mengikrarkan diri menjadi pengikut dan pemeluk nabi baru tersebut. Itulah Islam”, kata Karim menutup penjelasannya.

Mr. Karim, apakah Salman yang anda ceritakan ini sama dengan Salman, sahabat Rasulullah Muhammad saw  yang memberikan usulan dibangunnya parit dalam perang Ahzab?”, tanya  seorang jamaah di depanku  dengan bahasa Inggris beraksen Perancis yang terbata-bata.

Anda benar sekali. Salman inilah yang memberikan usulan tersebut. Ketika itu banyak sahabat yang tidak begitu mempercayainya bahkan beberapa mempertanyakan mengapa Rasulullah mau mempercayai dan mau menerima usulan  yang datang dari seorang non Arab”, jawab Karim

Padahal itulah salah satu kehebatan Islam. Islam tidak pernah membeda-bedakan bangsa, warna kulit maupun ras seseorang. Islam adalah rahmatan lilalamin”, sahut seorang peranakan Arab-bule disampingku.

Betul. Rasulullah dalam hadisnya pernah bersabda ambillah segala yang baik walaupun datangnya dari orang Yahudi sekalipun, sebaliknya buanglah sesuatu yang buruk sekalipun datangnya dari sesama Muslim,” sambung Karim lagi.

Aku hanya termangu-mangu mendengar semua percakapan tersebut. Aku merasa semakin takjub terhadap ajaran agama ini. Sebaliknya jauh di dalam hatiku, aku merasa  dikucilkan dan ditinggalkan. Bagaimana mungkin aku yang sejak kecil bahkan lahir di negri yang mayoritas Muslim bisa tidak mengenal agama ini. Sebaliknya bule-bule Perancis yang hidup di lingkungan  non Muslim bisa lebih dahulu mengetahui ajaran Islam. Aku pikir orang-orang yang terlebih dahulu beruntung mengetahui sebuah kebenaran seharusnya bertanggung-jawab memberitahukan apa yang telah didapatnya itu kepada yang belum menemukannya. Namun demikian kisah Salman Al-Farisy yang baru saja diceritakan Karim membuatku malu. ” Salahku sendiri.. mengapa aku tidak mencari tahu ”, kataku dalam hati.

Tak berapa lama kemudian, rombongan melanjutkan perjalanan menelusuri situs peninggalan lain. Pukul 18.25 ketika terdengar azan Magrib, rombongan segera meninggalkan masjid Umar yang terletak di lorong diantara pemukiman yang padat penduduk itu. Aku perhatikan ada sebagian yang mengambil wudhu di masjid tersebut. Kemudian setengah berlari mereka pergi menuju Masjidil Aqsho yang terletak agak jauh dari masjid Umar ini.

Shalat di dalam Masjid Al-Aqsho lebih besar keutamaannya. Ganjarannya adalah 500 kali lipat shalat di masjid biasa ”, begitu Karim memberi alasan ketika aku bertanya mengapa mereka tidak shalat di masjid terdekat saja.

Pahala bagi orang yang melaksanakan shalat didalam masjid dalam rangka mencari ridho-Nya padahal ia sedang sibuk melaksanakan jual beli atau sedang sibuk dengan urusan dunianya adalah rezeki yang tak terbatas ”, tambah Karim lagi menjawab pertanyaanku mengapa seorang Muslim harus shalat di masjid tidak di rumah saja..

Selesai mengerjakan shalat, rombongan berpisah. Karim mengajakku untuk mampir ke rumah orang-tuanya yang  katanya tidak terlalu jauh dari situ. Kamipun kembali menelusuri lorong gelap kota tua Yerusalem. Dibawah cahaya lampu yang sangat minim, aku dapat menyaksikan betapa keadaan di kompleks pemukiman Muslim ini sungguh jauh berbeda dengan  keadaan rumah Benyamin di Yerusalem Barat.

Semenjak pendudukan Zionis Israel 60 tahun lalu, keadaan kaum Muslimin makin terpuruk. Jangankan untuk keluar mencari kerja bahkan untuk sekedar keluar masuk kota saja sulit.  Pemerintahan Israel sengaja  membangun tembok pembatas sekeliling  kota untuk memisahkan dan menjauhkan warga Palestina  dari kehidupan. Profesi sebagai guide adalah profesi  yang paling mudah untuk melewati tembok pembatas. Itupun harus diperpanjang tiap3 bulan untuk mendapat izin ”, terang Karim.

” Mereka ingin membunuh kami secara perlahan. Ini terbukti dengan tidak adanya  perhatian pemerintah atas pelayanan kesehatan, kesejahteraan dan pemukiman kami yang makin lama makin sesak dan  kumuh. Bayangkan, dalam sebuah keluarga dengan 6 orang anak, kami harus berdesakan tinggal dalam 1 rumah sempit  dengan 1 kamar tidur”, tambahnya.

” Kami benar-benar terkurung di dalam kota lama tanpa pendapatan sepeserpun. Tidak ada transaksi jual beli kecuali antar warga sendiri. Bahkan pasokan listrik dan airpun mereka batasi dan awasi dengan amat ketat. Bayangkan bila musin dingin tiba….  Ini terjadi di semua pelosok Palestina”, katanya berang .

Aku hanya diam membisu. Aku saksikan sendiri di sepanjang lorong temaram ini memang banyak berjejer toko kelontong yang menjajakan barang-barang sederhana kebutuhan sehari-hari. Barang-barang tersebut tidak istimewa dan tidak menarik. Padahal banyak tamu dari mancanegara yang mengunjungi tempat tersebut. Mustinya ini bisa menjadi pendapatan mereka. Namun mereka  tidak memiliki modal dan memang sengaja tidak dimodali untuk mengembangkan usaha mereka. Disamping itu kelihatannya turis memang tidak dianjurkan membelanjakan uangnya di tempat mereka. Ini adalah sebuah pembunuhan terselubung kalau tidak mau dikatakan sebuah genocide terhadap ras Arab Palestina, kataku dalam hati, miris.

Kami terus menaiki dan menuruni jalan setapak  lorong-lorong panjang temaram yang  berkelak-kelok  tersebut hingga akhirnya kami tiba di tempat yang dituju. Berdiri di sebuah pintu yang sedikit terbuka, sejenak aku  tertegun. Yang dimaksud oleh Karim sebagai rumah kedua-orang tuanya ternyata hanyalah sebuah ruang gelap yang diberi penyekat untuk membedakan antara ruang tidur, ruang tamu serta dapur.

Assalamu’alaikum, yaa ummi yaa abi”, sapa Karim sambil mengetuk pintu dan perlahan mendorong daun pintu yang nyaris lepas dari engselnya tersebut.

Waalaikum salam”, terdengar jawaban dari dalam. Bersamaan dengan itu muncul seorang perempuan bertubuh gemuk dengan kepala dibalut penutup kepala berwarna kusam. Walau wajah itu terlihat lelah dan renta namun dapat kurasakan matanya yang  memantulkan sinar keteduhan .

Perkenalkan ini ibuku dan ini tamu Indonesiaku yang tempo hari kuceritakan padamu, umi. Namanya Mada”, kata Karim memperkenalkan diriku.

Tak lama kemudian Karimpun terlibat percakapan akrab dengan ibunya. Aku tak memahami apa yang mereka bicarakan karena mereka berbahasa Arab. Sebelumnya Karim telah meminta maaf karena ibunya tidak bisa berbahasa selain bahasanya sendiri. Sementara itu aku hanya bisa terbengong-bengong menyaksikan betapa memprihatinkannya kehidupan mereka. Sungguh mati aku tidak pernah mengira ada kehidupan seperti ini di abad 20. Tidak ada listrik, tidak ada perabotan. Yang terlihat hanya lampu minyak yang menempel di dinding. Di ujung sebelah kananku  aku lihat sebuah sudut yang lebih bersih. Ditempat itu aku lihat sebuah sajadah sederhana terbentang.

Beberapa menit kemudian, setelah Karim mencium  tangan kanan ibunya, kamipun berpamitan. Kami berdua kembali menelusuri lorong-lorong gelap di balik tembok tua untuk keluar menuju rumah Benyamin yang sekarang dalam bayanganku terasa seperti surga saking besar dan mewahnya. Sayup-sayup dari  kejauhan kudengar suara ayat-ayat Al-Quran berkumandang. Alunan suaranya terdengar begitu menyentuh di hati. Aku  merasa seakan ada sesuatu yang menyapa dan memanggilku. Sementara itu dari arah gereja Makam Kudus yang berada sekitar 300 an meter dariku terdengar suara lonceng berbunyi 8 kali.

Tak lama kemudian terdengar pula suara azan bersahut-sahutan. ” Waktu shalat Isya”, gumam Karim. ” Kalau kau tak keberatan kau bisa menunggu di kedai kopi Yahudi di seberang kiri sana. Aku segera akan menjemputmu begitu aku menyelesaikan shalat”, kata Karim.” Sebenarnya di samping masjid di sebelah sanapun ada juga sebuah kedai kopi. Tapi kedai itu milik orang Muslim. Jadi selama pemiliknya shalat pasti akan tutup”, lanjut Karim melihat aku agak ragu menerima usulannya. Karena tidak ada pilihan akhirnya aku memutuskan menunggu  di kedai Yahudi yang diusulkannya tersebut. Ada perasaan menyesal mengapa aku tidak ikut Karim saja  shalat di dalam masjid….

***