Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Anti Semit’

Suatu pagi di musim semi yang cerah, murid-murid sebuah sekolah dikejutkan oleh rentetan panjang peluru yang berhamburan dari sebuah senjata api yang ditembakkan orang tak dikenal. Azriel terhenyak. Saat itu ia baru saja masuk kelas untuk meletakkan tas sekolahnya. Ia segera berlari menuju jendela kelas. Dari sana ia melihat seorang lelaki berhelm menutup kepala dan wajah, dengan senjata api di tangan bergegas menuju sebuah motor kemudian dengan cepat melesat meninggalkan area sekolah dimana ia dan adik satu-satunya menuntut ilmu. Tiba-tiba ia teringat adiknya yang baru berumur 8 tahun itu. Bergegas iapun ke luar kelas dan menuruni tangga menuju pekarangan.

Disana ia melihat guru-guru, orang-tua dan siswa sekolah histeris. Ia melihat ada beberapa kerumunan, beberapa orang tergeletak bersimbah darah. Ia hanya berhenti dan melihat sepintas, pikirannya tertuju kepada Gabriel, adiknya.

“ Azriel, adikmu tertembak !”, teriak seorang teman mengagetkannya.

Azriel segera menghambur ke arah suara tersebut, ke arah kerumunan orang yang sedang berusaha menolong adiknya yang sedang terkapar. Ia segera menyeruak dan memeluk tubuh adiknya yang menangis kesakitan.

“ Ya ampun Gabriel, apa yang terjadi, tenaang, jangan menangis yaa, kamu g akan mati koq”, hibur Azriel.

Peristiwa nahas ini terjadi pada bulan Maret 2012 di sebuah  sekolah Yahudi dibawah yayasan Ozar Hatorah di kota Toulouse, Perancis. Seorang rabbi dan 6 orang murid dikabarkan meninggal tertembak sementara 5 orang lainnya terluka parah.

Beruntung Gabriel tertolong, peluru yang mengenai bahu kanannya dapat segera di keluarkan. Namun gadis kecil itu masih terguncang hingga beberapa bulan ke depan. Demikian pula sebagian besar murid sekolah tersebut, termasuk Azriel yang 6 tahun lebih tua dari adiknya.

Dari peristiwa tragis tersebut, Azriel menjadi bertambah yakin bahwa Islam adalah agama teroris. Bagaimana tidak, dari media ia mendengar bahwa lelaki berdarah dingin yang menembaki adik dan teman-temannya itu adalah seorang Muslim. Ia melakukan itu semua dengan dalih kesal melihat Muslim di Palestina sering diperlakukan tidak adil oleh pemerintah Yahudi Israel.

“ Aneh .. sama sekali g masuk akal”, gerutunya keheranan.

Sebaliknya Azriel juga tahu apa itu antisemit, yaitu sikap permusuhan dan tidak suka seseorang/kelompok terhadap bangsa Yahudi. Kelompok tersebut bukan Muslim. Mereka orang kulit putih juga, biasanya fans berat Nazi. Ia dan teman-temannya sesama Yahudi sempat juga merasakan hal ini, tanpa tahu apa penyebabnya.

“ Anti-Semit di Perancis adalah yang paling liar.  Tinggalkan negara ini, kita telah punya Israel Raya yang aman bagi kita”, umbar PM Israel Ariel Sharon sebelum komanya selama 8 tahun.

“ Kau harus selalu ingat Azriel apa itu Holocaust. Shoah kita menyebutnya. Bagaimana kejamnya Nazi terhadap kita. Jutaan orang mereka bantai selama PD II hanya karena mereka iri terhadap kesuksesan Yahudi. Bagaimanapun Yahudi adalah ras tertinggi, ras paling mulia yang ada di muka bumi ini“, jelas ibunya berulang kali.

“ Tempat yang paling aman bagi kita adalah Yerusalem di Israel dimana ribuan tahun lalu berdiri kuil kuno Solomon. Disana Tuhan kita, Yahweh, akan senantiasa memberkati kaum Yahudi. Untuk itu apapun harus kita lakukan, surga adalah jaminannya, bukan cuma di dunia tapi juga di akhirat ”, kata-kata itu selalu terngiang di telinga Azriel.

Dengan bekal semangat dan rasa dendam membara di dada inilah Azriel dan sebagian besar remaja Yahudi dimanapun berada, bercita-cita tinggi ingin menjadi tentara Zionis. “ Aku harus menjadi tentara Zionis, demi terciptanya Negara Yahudi Raya”.

Ozar Hatorah sendiri adalah sebuah organisasi Yahudi ortodoks yang bergerak dalam bidang pendidikan, didirikan pada tahun 1945 di Yerusalem, dan didanai oleh komite Yahudi Amerika. Organisasi ini memulai kiprahnya dengan membangun 29 sekolah Yahudi di tanah pendudukan Palestina. Selanjutnya dibangun pula puluhan sekolah ke Negara-negara Muslim di Timur Tengah dan Afrika Utara dimana komunitas Yahudi berada, seperti di Iran, Suriah, Libia dan Maroko, dengan total sekitar 17 ribu siswa.

Kemudian pada tahun 1971, ketika orang-orang  Yahudi bermigrasi dari Afrika Utara ke Perancis, Ozar Hatorah membuka sekolah di beberapa kota besar Perancis, hingga kini mencapai 20 sekolah, salah satunya yaitu sekolah dimana Azriel berada. Jumlah Yahudi di Perancis memang adalah yang terbanyak di Eropa, yaitu lebih dari 550 ribu. Namun kini sebagian sudah banyak yang berpindah ke Israel.

***

Azriel lahir dari seorang ibu keturunan Spanyol berdarah Yahudi. Nenek moyang dari pihak ibunya lari dari Spanyol menuju Perancis paska terjadinya Reconquista  pada tahun 1492. Ketika itu   ratu Isabela dan raja Ferdinand dari Aragon yang berhasil menaklukan Granada, kerajaan Islam terakhir di Spanyol, mengusir orang-orang Islam dan Yahudi yang tinggal di tanah tersebut. Setelah sempat berpindah-pindah kota akhirnya mereka menetap di Montauban, sebuah kota tak jauh dari Toulouse,  hingga sekarang ini.

Sementara ayahnya adalah imigran Iran yang menetap di Pau, kota kecil sekitar 200 km barat daya Toulouse, paska revolusi Iran oleh Khomeini pada tahun 1979 lalu. Ketika itu ayah Azriel baru berusia 5 tahun.  Ayah Azriel bersekolah di kota tersebut hingga lulus SMA.

Ayah bertemu dengan ibu karena sama-sama kuliah di universitas Toulouse, salah satu universitas tertua di Eropa. Universitas ini didirikan pada tahun 1229. Mereka saling jatuh cinta dan akhirnya menikah meski berbeda keyakinan. Ayah dan keluarga besarnya seperti juga sebagian besar orang Iran adalah pemeluk Islam.

Tapi ayah  kelihatannya tidak begitu peduli dengan agama yang dipeluknya itu. Setidaknya itulah yang terkesan oleh Azriel. Namun ia tahu persis bahwa ayahnya selalu membawa-bawa batu khusus kemanapun ia pergi. Ayahnya yang jarang di rumah karena kesibukan pekerjaannya bahkan sering mengolok-olok Islam.

“ Payah pemerintah Arab Saudi, jenggot aja di urus. Heran, kenapa orang-orang bodoh terbelakang itu masih mau saja dibohongi pergi haji ke Mekah. Haji itu ya di Karbala dimana sayidina Husein dimakamkan”, gerutu ayahnya ketika terjadi kecelakaan maut di Mina pada musim haji lalu.

“ Bukannya memang Islam itu agama terbelakang, batu koq disembah, persis seperti batu jimatmu itu  ”, sambar ibunya sinis.

“ Jaga mulutmu Giselle .. Haji itu akal-akalannya Arab Saudi yang ingin memeras uang orang-orang Islam yang tidak berpendidikan” , hardik ayah yang merasa tersinggung dengan komentar pedas ibu.

Azriel segera masuk kamar, menutup pintunya rapat-rapat. Ia tutup kedua telinganya dengan head phone bersuara musik keras sekencang-kencangnya. Ia hafal betul kalau sudah begitu pasti bakal panjang urusannya, dan ia tidak ingin mendengarnya.

Sementara itu hubungan ayah dengan keluarga besarnya juga sangat rapuh.

“ Kau nikahi perempuan Yahudi. Kau sekolahkan anakmu di sekolah Yahudi. Sekarang kau tinggalkan pula agama nenek moyang kita. Enyahlah kau anak durhaka dengan tanah Karbalamu itu. Syiah bukan Islam, pahami itu  !”, kalimat itu didengar Azriel diucapkan oleh kakeknya dengan gusar. Ketika itu ia dan ayahnya sedang berlibur dengan mengunjungi kakek dan neneknya di Pau.

Maka sejak itulah hubungan ayah dan keluarga besarnya terputus. Tidak pernah lagi Azriel maupun ayah ibunya berkunjung ke rumah kakek nenek yang dulu sangat memanjakannya itu. Rumah berhalaman luas dengan pemandangan deretan pegunungan Pirenea itu sekali-sekali masih suka terbayang di pelupuk mata Azriel. Namun apa mau dikata, bahkan adiknya, Gabriel, sama sekali tidak mengenal siapa kakek dan nenek dari ayahnya.

Kini, Azriel telah lupa bahwa ia punya keterikatan dengan Muslim. Pelajaran dan pergaulannya di sekolah serta ibu dan keluarga besarnya begitu besar mempengaruhi hidupnya.

***

Malam itu Azriel terlihat serius di depan komputernya. Ia harus menyelesaikan tugas sekolah yang harus dikumpulkan besok lusa. Sejak beberapa hari terakhir ini ia memang sibuk mengumpulkan data-data untuk tugas yang menjadi syarat wajib mengikuti ujian akhir SMAnya. Tugas itu berkaitan dengan peristiwa yang pernah dialaminya 3 tahun lalu yaitu penembakan di sekolahnya.

Beberapa kali Azriel yang telah tumbuh menjadi seorang pemuda berusia 17 tahun itu terlihat tegang.  Wajahnya mengernyit menunjukkan ekspresi seolah tidak percaya campur heran kaget.

“The Hoax of the 20th Century: The case against the presumed extermination of European Jewry”, begitulah judul tulisan di depan layar komputer yang terpampang di depan matanya.

Azriel segera mengunci pintu kamarnya, khawatir ibunya memergoki apa yang sedang dibacanya.

Menurut berita tersebut, pada tahun 1976 Arthur Butz, seorang profesor teknik dari Northwestern University, menyatakan bahwa gas Zyklon-B yang selama ini dipercaya sebagai zat pembunuh orang-orang Yahudi pada peristiwa Holocaust sebenarnya tidak pernah digunakan untuk membunuh satu orangpun Yahudi. Zat itu hanya digunakan untuk proses menghilangan bakteri yang ada pada pakaian.

Selanjutnya,  Azriel menemukan artikel yang ditulis oleh Paul Rassinier, korban Holocaust yang selamat. Pada tahun 1964, ia menerbitkan sebuah buku berjudul “The Drama of European Jews”. Isi buku ini mempertanyakan apa yang diyakini dari Holocaust selama ini. Dalam bukunya, ia mengklaim bahwa sebenarnya tak ada kebijakan pemusnahan massal oleh Nazi terhadap Yahudi, tak ada kamar gas, dan jumlah korban tidak sebesar itu (5,6 – 5,9 juta orang).

Tulisan lain yang memperkuat “kebohongan holocaust” adalah tulisan seorang Winston Churchill, PM Inggris yang memainkan peran penting terjadinya PD II. Dalam karya monumentalnya,”The Second World War”, ia tidak menyebut sedikitpun tentang program Nazi dalam pembantaian orang Yahudi. Meski tak bisa disangkal bahwa Nazi memperlakukan Yahudi dengan buruk, kejam, dan bengis.

Disamping itu Azriel juga menemukan berita mengenai Nicolas Anelka dan Dieudonné M’bala. Anelka adalah seorang pesepak bola Perancis. Sedangkan Dieudonné  adalah seorang komedian Perancis, sekaligus aktor dan aktivis politik. Keduanya ditangkap dan diamankan polisi karena dianggap telah melakukan prilaku Antisemit.

Anelka melalui gerakan hormat spontan pada salah satu pertandingan yang dilakukannya, namun mengaku tidak tahu apa maknanya. Sementara Dieudonné yang sudah beberapa kali dihukum karena sikap antisemit-nya, diamankan polisi gara-gara sikapnya yang dianggap memihak terorisme. Terorisme yang dimaksud adalah tragedi penembakan di kantor berita satir Charlie’s Hebdo di Paris pada Januari 2015 lalu.

***

“ Selamat jalan nak, jangan lupa kabari kami disini. Semoga sukses dan Yahweh selalu menyertaimu”, ucap ibu Azriel sambil memeluknya erat.

Siang itu ayah, ibu, Gabriel, kakek nenek dan beberapa teman dekat Azriel melepas keberangkatan Azriel ke Jerusalem di Israel. Ia diterima di Hebrew university of Jerusalem melalui program beasiswa yang diberikan sekolahnya. Pengumuman itu ditrimanya hanya beberapa hari setelah hari kelulusannya.

Sebenarnya kuliah baru akan dimulai awal September namun ia ingin memanfaatkan liburan panjangnya dengan mengenal lebih dahulu Jerusalem, sejarah maupun penduduknya. Kota ini selama beberapa waktu memang telah begitu menyita perhatiannya. Jerusalem kota suci dimana dulu pernah berdiri bait suci umat Yahudi dan kini direbut umat Islam. Dengan semangat inilah Azriel memasuki kota suci 3 agama terbesar di dunia tersebut.

Pesawat mendarat di bandara Ben Gurion yang terletak sekitar 40 km baratlaut Jerusalem pada pukul 17.15 waktu setempat. Jerusalem sebenarnya mempunyai bandara sendiri, namun ditutup sejak tahun 2000 karena alasan keamanan.

Dari bandara Azriel langsung menumpang kereta api cepat menuju pusat kota Jerusalem. Rencananya ia akan langsung ke hotel. Dari hotel setelah cek-in dan meletakkan koper, ia akan berjalan-jalan sekitar hotel dimana ia tinggal. Untuk itu ia sengaja memilih hotel di pusat kota. Besok agak siang ia baru akan mengunjungi kota tua Jerusalem timur dimana Tembok Ratapan berada.

Tanpa sadar Azriel berdecak kagum. Ia tidak pernah berpikir bahwa Jerusalem yang dikabarkan sering terjadi kericuhan itu ternyata kota yang maju dan modern. Gedung-gedung tinggi pencakar langit, stasiun kereta api dan jembatannya yang merupakan gerbang masuk kota terlihat indah dan megah. Jalan rayanya mulus, besar dan bersih. Demikian pula rumah penduduknya yang rata-rata di cat putih, terlihat rapi dan teratur.

Maka malam itu jadilah Azriel berbaur di sebuah kafe diantara turis-turis manca negara yang memenuhi kota tersebut. Suara musik hingar bingar terdengar sahut menyahut dari kafe dan pub di sekitarnya. Tidak terkesan sedikitpun bahwa Jerusalem adalah kota suci seperti yang ia pahami selama ini.

“ Kalau ingin menyaksikan kesucian kota ini pergilah ke kota tua anak muda”, begitu jawaban pelayan sambil meletakkan bir pesanannya.

***

Esok harinya, sekitar pukul 11 siang Azriel sudah bersiap meninggalkan hotel. Tujuannya adalah kota tua. Rencananya ia akan berdoa dulu di Tembok Ratapan, setelah itu baru berjalan-jalan melihat sekelilingnya. Kebetulan halte bus yang menuju tempat tujuannya tidak jauh dari hotel tempat ia bermalam.

Tak lama kemudian Azriel sudah berada di dalam bus yang dipenuhi turis. Rupanya keberuntungan sedang berada di pihak pemuda tersebut, karena ada guide yang sedang memandu sekelompok turis di dalam bus tersebut. Dengan demikian ia bisa ikut menguping penjelasannya.

“ Di depan sebelah kiri kita itu adalah universitas Hebrew of Jerusalem. Ini adalah universitas kedua tertua di Israel, dibangun pada tahun 1918. Albert Einstein dan Sigmund Freud adalah alumni universitas ini”, jelas sang guide sambil menunjuk ke sebuah bangunan megah di depan sana.

Azriel segera mengalihkan pandangannya ke gedung dimana ia akan menuntut ilmu nanti. Sebuah kompleks gedung dengan taman yang cukup luas terbentang di hadapannya.  Rasa senang dan bangga segera menyelimuti hati Azriel. Senyum simpul menghiasi wajah bertopi kecil khas Yahudi yang bertengger di kepala Azriel.

Bus berhenti sebentar di depan sebuah halte yang ada di seberang kampus. Tampak beberapa pasang muda mudi, tampaknya mahasiswa,  mengantri untuk menaiki bus. Azriel dan para penumpang bus yang sebagian besar turis tak mau melewatkan kesempatan tersebut. Mereka segera mengambil foto bangunan bergengsi tersebut.

“ Di sebelah kanan anda, di atas bukit, adalah kompleks Temple Mount. Orang Islam menyebutnya Haram Asy-Syarif. Bangunan berkubah kuning adalah apa yang disebut Dome of the Rock”,  terdengar suara guide mengingatkan.

Serentak para penumpang termasuk Azriel menoleh ke arah kanannya. Dome of the Rock yang fenomenal, dengan kubah kuning keemasannya terlihat mencolok.

“ Bait Solomon”, bisik Azriel dalam hati dengan mata berbinar.

Ingatannya segera melayang kepada cerita para guru dan rabbi di sekolahnya.

“ Dimanapun kita berada selalu saja ditindas. Dan ini terjadi sejak ribuan tahun lalu. Begitulah kehendak Yahweh, agar kita selalu ingat untuk terus berjuang. Jadi jangan merasa takut, Yahweh senantiasa melindungi kita, umat Yahudi. Kita adalah umat terbaik, termulia, tak ada yang dapat mengalahkan kita”, jelas rabbi menggebu-gebu.

“ Yahweh, Tuhan kita  telah menetapkan tanah Jerusalem yang diberkati, dimana Bait Solomon ke 1 dan 2 pernah berdiri dan dihancurkan, adalah milik kita. Untuk itu harus kita rebut kembali dari para perampasnya. Bait Solomon ke 3, bait terakhir itu harus segera didirikan berapapun banyak dan mahalnya yang harus kita korbankan”, tambahnya lagi.

Bus terus melaju perlahan, menyusuri bagian timur dan tenggara bukit dimana Temple Mount yang berdiri megah dikelilingi tembok raksasa mirip benteng itu berada. Membuat puas mata yang memandangnya. Beberapa menit kemudian buspun berhenti. Didepan sana terlihat antrian bus-bus besar turis diparkir.

“ Kita sudah sampai. Mari kita turun, jangan sampai tertinggal barang-barang anda. Jangan lupa ini bus umum”, teriak sang guide memperingatkan rombongan yang dipimpinnya.

“ Satu lagi, kita saat ini berada di pintu selatan, kalau sampai nanti ada yang tersesat kita berkumpul lagi di pintu ini”, tegasnya.

Azriel segera turun dari bus dan bergegas menuju pintu gerbang lalu mengantri dibelakang deretan antrian ratusan turis yang sudah tiba lebih dulu. Setelah melalui pemeriksaan ketat polisi Israel Azriel akhirnya sudah berada di pelataran raksasa kompleks Temple Mount.

Angin kencang segera menerpa wajahnya. Di depannya terbentang pelataran luas berlantai batu semacam kapur berwarna keputihan. Di sebelah kanannya terlihat sedikit menyembul kubah berwarna abu-abu. Berdasarkan buku panduan yang diambilnya di hotel, itu adalah Masjidil Aqsho. Sedangkan agak jauh ke depan terlihat jelas kubah  Dome of the Rock yang sudah terlihat sejak dari kejauhan.

Azriel dengan mantab melangkahkan kakinya menuju Tembok Ratapan yang terletak tidak jauh dari pintu gerbang yang dimasukinya tadi. Tembok Ratapan sebenarnya nama yang diberikan oleh orang non-Yahudi, karena disanalah orang Yahudi meratap sebagai bagian dari ibadah. Sekaligus untuk meratapi kehancuran kuil. Orang Yahudi sendiri menamakannya dengan bahasa Ibrani Kotel HaMaaravi atau Tembok Barat. Tembok ini mereka yakini sebagai sisa-sisa salah satu dinding Bait Solomon yang telah hancur ribuan tahun silam.

Azriel segera berdoa sebagaimana orang-orang yang ada di sekitarnya. Ia sempat melihat banyak diantara mereka yang meratap sambil membenturkan-benturkan kepalanya ke tembok di depannya. Ia juga sempat melihat orang-orang menyelipkan kertas kecil ke celah-celah tembok.

“ Orang yang tidak dapat berdoa langsung di tembok dapat mengirimkan doa atau menggunakan Kaddish, sebuah doa khusus. Kita tuliskan doa tersebut dalam sebuah kertas kemudian diselipkan di celah-celah dinding, Kvitelach namanya, oleh orang yang sempat ke sana”, tiba-tiba terngiang suara rabbinya di telinga Azriel ketika di kelas dulu.

Azriel segera teringat titipan doa ibu, nenek dan tantenya. Iapun segera melakukan hal yang sama. Ada sedikit rasa ragu terselip di hatinya “ apakah Tuhan membaca surat ?”, tapi ia tidak ingin memperpanjangnya.

Tak lama setelah itu Azriel pergi meninggalkan lokasi dan pergi menuju ke sebuah lorong. Menurut peta yang ada di tangannya itulah jalan menuju Dome of the Rock. Mulanya ia agak ragu, lorong tersebut agak sempit dan gelap. Terlihat pintu besi di depannya dan sebuah pos penjagaan polisi meski saat itu pintu terbuka dan tak terlihat adanya polisi di dalamnya.

Setelah ia berada didalam lorong ia baru menyadari bahwa daerah tersebut adalah daerah Muslim. Ia baru teringat kota tua Jerusalem memang terbagi-bagi berdasarkan kelompok agama. Ada sedikit rasa was-was. Para rabbi dan guru di sekolah juga ibunya selalu mengingatkan bahwa orang Muslim sangat membenci mereka. Apalagi di kota tua ini. Itu sebabnya ia selalu diwanti-wanti agar berhati-hati dan tidak menjalin komunikasi terhadap mereka.

“ Orang-orang Islam itu teroris. Mereka adalah perampas tanah dan kuil suci kita. Jangan pernah berbicara apalagi bersentuhan dengan mereka, mereka adalah najis”, ujar ibu memperingatkan sesaat sebelum keberangkatannya kemarin.

Secara spontan Azriel segera melepas topi kecil khas Yahudinya. Ia baru sadar tak satupun rombongan turis yang ada di sekelilingnya. Ia ingin berbalik tapi ternyata keingin-tahuannya mencapai Dome of the Rock lebih besar dari rasa khawatirnya.

Apalagi ia juga tidak melihat wajah-wajah jahat mengancamnya. Sebaliknya ia justru melihat banyak anak-anak kecil berwajah ceria berlarian, berbaur dengan laki-laki dewasa dan perempuan-perempuan berjilbab berbondong-bondong menuju arah yang sama dengan dirinya. Deretan kios sederhana yang berada di sepanjang jalan yang dilaluinya juga sibuk menutup kios mereka dan segera bergabung dengan yang lainnya. Azriel sempat berpikir jangan-jangan sedang ada acara khusus kaum Muslimin.

Azriel memang tidak tahu bahwa hari Jumat adalah hari istimewa bagi umat Islam, bahwa setiap hari besar tersebut kaum Muslimin mendirikan shalat berjamaah. Ia juga tidak tahu bahwa para pemandu memilih menghindar dari keramaian shalat Jumat. Atau bila sang pemandu kebetulan seorang Muslim biasanya ia minta digantikan dengan teman lain yang bukan beragama Islam.

Azriel terus berjalan berbaur bersama rombongan kaum Muslimin yang rupanya hendak shalat Jumat di Majidil Aqsho dan masjid As-Sakrah, nama lain Dome of the Rock, tanpa ia mengetahuinya. Hingga ketika rombongan besar ini mencapai pintu gerbang pelataran besar dimana kedua masjid itu berada terjadilah keributan.

Ia melihat puluhan tentara Israel berjaga-jaga di depan gerbang yang di beri barikade kawat berduri. Tentara-tentara bersenjata lengkap, berhelm dan tameng tersebut terlihat sedang memeriksa dan menggeledah tubuh dan tas yang dibawa orang-orang yang kelihatannya memaksa masuk tersebut.

Selanjutnya terjadilah adu mulut, diikuti dengan aksi dorong mendorong. Bahkan akhirnya adegan menjambak jilbab para perempuan dan juga pukulan gagang senapan terhadap para pemudapun tak terhindarkan. Ternyata hanya orang-orang tua dan anak kecil saja yang diizinkan masuk.

Kekacauan ini terjadi selama beberapa menit hingga kemudian terdengar suara dari pengeras suara di dalam masjid, yaitu azan panggilan shalat. Dan secara spontan sebagian besar orang-orang yang tadi memaksa masukpun langsung menggelar sajadah dan duduk di pelataran, tidak mempedulikan para tentara yang terlihat menahan amarah. Masih terlihat ada sebagian yang memaksa masuk namun tidak lagi sebanyak tadi. Hingga berselang sekitar setengah jam kemudian orang-orang mulai berdiri dan melakukan gerakan-gerakan khusus secara bersamaan, dengan tanpa suara sedikitpun.

Azriel yang sejak tadi berdiri di sebuah sudut yang agak terlindung, memperhatikan semua yang terjadi di depannya, terkesima. Lautan manusia terlihat memenuhi pelataran luas tersebut. Ia memang tidak pernah tahu apalagi melihat orang Islam bersembahyang. Karena meskipun ayahnya mengaku Islam ia tidak pernah sekalipun melihat ayahnya itu shalat.

Namun demikian ada sekelebat bayangan suasana mirip apa yang dilihatnya saat itu. Azriel berusaha keras mengingat dimana ia pernah melihat hal seperti itu. Akhirnya ia berhasil, bayangan itu adalah bayangan sepuluh tahun yang lalu, yaitu ketika ia diajak ayah menengok kakek dan neneknya di Pau. Di sebuah masjid kecil yang terletak tidak jauh dari rumah mereka. Tiba-tiba saja Azriel rindu kepada suasana yang tidak pernah lagi dirasakannya itu. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasa bahwa ia bukanlah seorang Yahudi tulen, paling tidak sebenarnya ia mempunyai ikatan batin dengan dunia Muslim, yaitu melalui darah ayahnya.

Lamunan Azriel segera buyar ketika tiba-tiba terdengar suara tembakan menggema di udara. Di ujung sana, terjadi kegaduhan. Shalat baru saja usai, orang-orang yang mulai membubarkan diri itupun terlihat panik. Azriel melihat puluhan tentara Israel sedang berusaha memasuki masjid secara paksa, membuat jamaah yang masih berada di dalam masjid berusaha menutup pintu masjid dari dalam. Selanjutnya dengan bekal batu seadanya jamaah yang berada di dalam masjid tadi mengadakan perlawanan terhadap tentara Israel tersebut. Tak ayal batu-batupun beterbangan melalui jendela-jendela masjid yang sebentar-sebentar dibuka dan ditutup.

Belum hilang keterkejutan Azriel terdengar pula tembakan senjata dari bagian lain pelataran tersebut. Ternyata suara tembakan berasal dari suatu tempat di dekat Masjid As-Sakrah. dimana kaum perempuan mendirikan shalat Jumat. Masjid As-Sakrah dan Masjidil Aqsho terletak pada satu garis lurus menuju Masjdil Haram di Mekah dimana Ka’bah yang merupakan kiblat umat Islam, berada.

Azriel segera menghambur ke sana, untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Disana ia melihat sesosok tubuh anak perempuan berusia sekitar 8  tahun terkapar, persis seperti apa yang terjadi pada adiknya 3 tahun lalu. Seorang ibu dengan air mata bercucuran, dibantu beberapa orang lainnya berusaha menggangkat tubuh gadis kecil tersebut.

Ironisnya semua itu berlangsung dibawah todongan moncong senjata beberapa tentara yang mengepung mereka. Orang-orang yang berusaha menerobos kepungan tersebut demi memberikan bantuan segera ditendangi dan dipukuli tentara-tentara tersebut.  Termasuk Azriel yang tidak tahan untuk berdiam diri dan hanya menonton saja. Kepala anak muda tersebut dipukul dengan gagang senapan hingga bocor. Dan dalam keadaan demikian ia masih harus menerima hantaman keras di perut dan tendangan sepatu tentara di bagian belakang tubuhnya, menyebabkannya terjatuh.

***.

Azriel terhenyak, ia mendapati dirinya terbaring di dalam sebuah ruangan sederhana berpenerangan sangat redup yang sama sekali tak dikenalnya. Ia berusaha bangkit untuk duduk namun kepalanya terasa berat hingga jatuh terbaring kembali.

Sayup-sayup terdengar suara indah keluar dari mulut seorang perempuan. Nada suara tersebut begitu mendayu menghujam langsung ke sanubarinya. Azriel tidak dapat mengenali bahasa dari suara tersebut. Ia berusaha menolehkan kepalanya untuk mengetahui dari mana suara tersebut berasal.

Di ujung ruangan itu samar-samar ia melihat dua bayangan orang, satu besar satu kecil, sedang berdiri berdampingan. Bayangan yang lebih kecil mengikuti bayangan orang yang lebih besar. Setelah berpikir sejenak Azriel teringat itu adalah gerakan shalat orang Islam seperti yang tadi siang dilihatnya.

Tiba-tiba ia teringat apa yang dialaminya siang tadi. Ya ia sedang berusaha membantu anak kecil yang tertembak ketika tiba-tiba kepalanya dihantam gagang senapan dan terjatuh. Tapi mengapa ia sekarang berada di tempat ini, pikirnya berusaha mengingat.

Beberapa menit kemudian ia melihat gadis kecil yang tadi shalat itu sudah berdiri di depannya, sambil tersenyum mengulurkan segelas air. Azriel menggelengkan kepalanya perlahan. Walau bagaimanapun kecurigaan masih menyelimuti hatinya. Bagaimana bila minuman itu diisi racun, bisiknya dalam hati.

Tak lama kemudian muncul 3 orang laki-laki kedalam ruangan tersebut.

“ Assalamualaykum”, serentak terdengar suara ketiganya begitu mereka memasuki ruangan.

“ Waalaykum salam”, jawab  si gadis kecil yang bergegas menyambut dan  mencium tangan salah satu orang yang datang. Azriel menduga ayahnya.

“ Waalaykum salam”, susul perempuan yang lebih besar yang tadi dilihat Azriel sedang shalat, juga sambil mencium tangan ayah gadis tadi, suaminya, duga Azriel kali ini. Selanjutnya Azriel juga melihat dua orang yang datang bersama sang bapak, mencium tangan ibunya. Anak-anaknya, tebak Azriel lagi, dalam hati.

Tak lama setelah terdengar percakapan dalam bahasa yang tidak dimengertinya, merekapun menghampiri Azriel yang kali ini berusaha untuk duduk. Rasa sakit di sekujur tubuhnya masih terasa mengganggunya.

“ Siapa kalian, dan mengapa aku berada di tempat ini?”, tanyanya pelan.

“ Tenang saja, kami bukan orang jahat. Kami menolong dan membawamu ke rumah kami karena kau tak sadarkan diri setelah terkena hantaman popor senapan tentara Israel siang tadi”, jawab salah seorang laki-laki tadi dengan bahasa Inggris yang cukup bagus.

“ Kami akan mengantarmu ke tempat yang kau mau sesegera mungkin …  tapi bila kau belum sanggup dan untuk sementara ingin tinggal di rumah kami yang sederhana ini, silahkan saja”, lanjutnya, menterjemahkan apa yang dikatakan ayahnya.

“ Maaf hanya aku yang bisa berbahasa Inggris di keluarga kami. Panggil aku Azis”, katanya sambil mengulurkan tangan penuh persahabatan.

“ Aku Azriel. Trima-kasih banyak sudah menyelamatkanku”, jawab Azriel, setelah ragu sejenak, sambil menyambut uluran tangan Azis.

Beberapa menit kemudian, Azriel yang memilih untuk pulang itu, sudah berada di kegelapan lorong-lorong Jerusalem bersama Azis, yang mengantarnya pulang ke hotel dimana ia tinggal. Dan tak lama kemudian keduanyapun berpisah di perempatan jalan setelah saling tukar nomor selular.

“ Hotelmu tak jauh dari lampu merah seberang jalan itu, belok ke kiri sekitar 50 m dari sana. Maaf aku tidak mengantarmu sampai tujuan, terlalu beresiko, beberapa menit lagi tentara Israel akan segera menutup gerbang menuju rumahku, bisa-bisa aku tidak bisa pulang kalau sampai terlambat”, ucap Azis.

“ Selain itu sebentar lagi waktu shalat Isya tiba”, sambungnya sambil  melirik jam tangannya. “ Kalau perlu sesuatu hubungi aku ”,  teriaknya setengah berlari.

Tak sampai 10 menit kemudian Azriel sudah sampai di hotel. Setelah membersihkan diri dan memesan makan malam, ia segera memeriksa isi tasnya untuk memastikan tidak ada barang yang hilang. Dan untuk kesekian kalinya ia harus mengakui bahwa selama ini ia, keluarganya dan mungkin sebagian orang Barat telah salah menilai orang Islam. Tak satupun barang di dalam tasnya hilang termasuk laptop dan hpnya.

Malam itu Azriel tidak dapat memejamkan matanya dengan baik. Terlalu banyak hal dan pengalaman baru di dapatnya hari itu.  Yang pasti perkenalannya dengan Azis hari itu telah membuahkan tali persahabatan yang erat di antara keduanya. Azis tidak pernah menanyakan apakah teman barunya itu seorang Yahudi atau bukan. Azriel sendiri juga tidak pernah berniat menceritakannya.

                                                                 ***

Hari demi hari berlalu minggu-minggupun demikian. Azriel telah memulai perkuliahannya dan mulai tinggal di asrama mahasiswa. Beberapa kali Azriel mengunjungi Azis, dan tak jarang memintanya berkeliling Jerusalem dan kota-kota sekitarnya. Kota-kota yang telah rusak berat akibat bom-bom yang berjatuhan menimpa rumah-rumah penduduk, sekolah, rumah sakit dan fasilitas umum lainnya.

Banyak kejadian tak terduga yang dilihatnya. Seperti seorang perempuan di stasiun yang ditembaki tentara Israel hanya gara-gara tidak mau membuka jilbabnya, orang-tua yang dipukuli beramai-ramai karena membela seorang anak yang tertangkap tentara Israel membawa batu, anak-anak yang ditangkap dan dimasukkan secara paksa ke dalam jip tentara Israel sementara orang-tuanya hanya bisa memandang, menyemangati dan mendoakan anak-anak tersebut agar sabar dan selalu memohon pertolongan Tuhannya.

Namun ironisnya, berita yang tersebar dan tampaknya dipercaya Barat, itu semua karena mereka membawa senjata seperti pisau, batu dan lain-lain untuk menyerang para tentara Israel. Padahal ia melihat sendiri tidak demikian. Memang perlawanan itu ada, dunia Islam menamakannya Intifadha 3, yaitu gerakan kebangkitan rakyat Palestina dengan batu sebagai senjatanya.

“ Kami hanya rakyat biasa yang menuntut keadilan, pembebasan negeri kami dari pendudukan Zionis Israel. Kau lihat sendiri betapa susahnya hidup kami. Air, listrik semua dijatah. Tanah kami diserobot. Dengan seenaknya mereka membangun perumahan mewah sementara kami makin terpinggirkan hidup di tempat pengungsian. Dimana letak keadilan. Katanya bendera  Palestina telah berkibar di PBB, namun apa arti semua ini bagi kami, tetap saja kami hidup tertindas dan menderita. Siapa yang peduli terhadap nasib kami??”, keluh Azis.

“ Bandingkan dengan tragedi berdarah yang baru saja terjadi di Paris yang dalam hitungan jam dunia langsung bereaksi. Kami mengalami hal seperti itu setiap hari, kau melihat sendiri kan? Kami sejak lahir sudah terbiasa hidup dalam ketakutan, bom yang tiba-tiba meledak ketika kami sedang tidur nyenyak, kekhawatiran tiba-tiba pintu rumah digedor dan anggota keluarga kami diambil secara paksa”, lanjutnya geram.

“ Menurutmu bagaimana seharusnya kami bersikap, diam saja dan pasrah hingga kami semua binasa satu demi satu hingga lenyap bangsa kami dari bumi ini ???”, desisnya.

Azriel hanya bisa diam tidak tahu harus berkata apa. Ia sendiri sudah mulai merasa muak dengan tingkah laku para tentara Israel, terselip rasa bersalah dan malu. Bahkan tanpa sadar sedikit demi sedikit ia mulai malas pergi berdoa ke Tembok Ratapan seperti sebelumnya.

Hingga suatu hari ketika Asis berhasil mengajak Azriel masuk ke Dome of the Rock, hal yang tidak mudah terjadi, Azis tiba-tiba menyodorkannya sebuah kitab. Kitab kecil itu dihiasi kaligrafi indah di sampulnya.

“ Barangkali kau ingin melihat-lihat. Itu adalah Al-Quran dengan terjemah bahasa Perancis. Aku baru melihatnya hari ini. Mungkin itu tamu Muslim yang membawakannya khusus untukmu”, kata Azis sambil tertawa kecil dan mengedipkan sebelah matanya.

Secara spontan, Azriel segera menerima dan membukanya dengan hati-hati, secara acak :

“ Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu)”.

Azriel terhenyak, serasa ditampar tepat di wajahnya. Apa ini maksudnya, pikirnya terkejut. Ia sebenarnya ingin segera menutup dan mengembalikannya kembali kepada Azis. Namun ia merasa ada kekuatan yang memaksanya terus melanjutkan 3 hingga 4 ayat berikutnya. Setelah itu dengan cepat ia mengembalikan kitab suci tersebut kepada Azis, tanpa sepatah katapun.

“ Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari`at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan: “Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Kalimat-kalimat itu terus terngiang hingga sore hari ketika ia tiba di kamar asramanya. Azriel segera membuka laptopnya. Berbagai pertanyaan memenuhi isi kepalanya.

“Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu”. Terbayang di kepalanya berbagai prilaku brutal tentara Israel selama beberapa bulan ia di kota ini. Padahal selama ini berita yang beredar adalah orang-orang Yahudilah yang tertindas bukan sebaliknya. Tiba-tiba ia teringat berita mengenai kebohongan Holocaust yang pernah dibacanya. Terbayang pula peristiwa Reconquesta yang menyebabkan nenek moyangnya keluar dari Spanyol menuju ke Perancis.

“ Apa kesalahan bangsa Yahudi? Mungkinkah semua ini kutukan Tuhan kepada Yahudi?” pikirnya.

Itulah awal pencarian Azriel. Di tengah kesibukannya kuliah, dengan bantuan laptopnya, ia sempatkan mempelajari Alquran dengan terjemahan bahasa Perancis. Bila menemui kesulitan ia tak segan-segan googling di dunia maya untuk mencari jawabannya. Ia buka pula kitab sucinya, untuk dijadikan bahan perbandingan.

“Orang-orang non-Yahudi harus dijauhi, bahkan lebih daripada babi yang sakit.” (Orach Chaiim 57, 6a)

“Tuhan (Yahweh) tidak pernah marah kepada orang-orang Yahudi, melainkan hanya (marah) kepada orang-orang non-Yahudi.” (Talmud IV/8/4a).

“ Hemm pantas saja para tentara Yahudi suka berbuat semena-mena terhadap rakyat Palestina”, pikir Azriel yang mulai dilanda kegundahan hebat. Ia juga baru tahu bahwa sejak dulupun bangsanya itu sering membantah perintah Tuhannya, bahkan nabi-nabipun dibunuh!

Hingga suatu hari di musim panas 1.5 tahun sejak kedatangannya, ia mendengar professor Moshe Sharon, seorang professor sejarah Universitas Hebrew, Yerusalem, berkata :

“ Pada dasarnya semua sejarah adalah sejarah Islam. Artinya, semua tokoh-tokoh terkemuka dalam sejarah pada dasarnya adalah Muslim. Dari Adam hingga ke zaman kita, termasuk juga raja Solomon, raja David serta para nabi seperti Ibrahim, Ishak maupun Yesus.

Sebenarnya, sejak penciptaan dunia ini, hanya ada satu agama, yaitu agama Islam. Jadi jika ada yang berkata tempat ini berkaitan dengan Solomon, ini adalah tempat di mana dulu Kuil Solomon berdiri, seorang Muslim akan berkata, “Ya, tentu saja, memang benar.”

Oleh karenanya, tidak ada penjajahan Islam yang ada hanyalah pembebasan oleh Islam”.

Azriel benar-benar terkesima mendengar pernyataan professor tersebut. Baginya ini benar-benar hal baru. Malam itu iapun segera menghubungi Azis agar hari Sabtu nanti bisa menemuinya di depan pintu gerbang menuju Dome of the Rock. Ia ingin tahu bagaimana tanggapan sahabat Muslimnya itu.

                                                                           ***

“ Betul sekali apa yang dikatakan profesormu itu Azriel. Itu adalah perkataan Alquran”, “, jawab Azis mantab ketika Azriel pagi itu memperdengarkan rekaman pernyataan professor Moshe Sharon.

“ Yuk kita lihat ayatnya “, lanjut Azis sambil berjalan menuju rak dimana sejumlah buku dan  Al-Quran diletakkan. Ia segera mengambil Al-Quran dengan terjemahan Perancis yang beberapa bulan lalu pernah diperlihatkan dan dibacanya.

“ Bacalah terjemahan ini Azriel, ini adalah ayat 136 surat Al-Baqarah,

“ Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya`qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

“ Tunduk patuh itu dalam bahasa Arab adalah Muslim, akar kata yang sama dengan Islam. Dengan kata lain Muslim atau pemeluk agama Islam itu adalah orang yang tunduk patuh kepada Tuhannya, Tuhan Yang Satu, Tuhan seluruh alam semesta, Tuhan kita semua, aku dan kamu, Tuhan yang menamakan dirinya Allah Azza wa Jala”, jelas Azis.

“ Aku bacakan juga ya sebuah hadist:

“Aku ( Muhammad) adalah orang yang paling dekat dan paling mencintai Isa bin Maryam ( Yesus) di dunia maupun di akhirat. Para nabi itu adalah saudara seayah walau ibu mereka berlainan, dan agama mereka adalah satu.” (HR. Bukhari no. 3443 dan Muslim no. 2365)

“ Masalahnya Taurat maupun Injil itu telah dirubah dan diacak-acak sedemikian rupa hingga tidak  lagi seperti aslinya. Apalagi Talmut, kitab yang menjadi pegangan para pemimpin agamamu”, tambah Azis lagi.

Azriel menganguk-angguk. Ia sedang berpikir keras apa kira-kira yang akan dilakukan ibu dan keluarga besarnya bila ia sampai berpindah kepercayaan. Namun ia juga dapat membayangkan bagaimana perasaan kakek dan neneknya di Pau sana bila suatu hari nanti ia dapat datang menebus kesalahan ayahnya. Rumah besar dengan halaman belakang pegunungan itupun kembali berkelebat di kepalanya. Celotehan kakek dan nenek serta suasana damai itu terasa begitu menjanjikan. Sejenak kemudian dengan nada mantab Azrielpun berkata :

“ Bagaimana caranya bila aku ingin memeluk Islam .. aku sudah merasakan beberapa bulan terakhir ini bahwa Islam adalah agama yang paling benar dan aku ingin menjadi bagian dari kebenaran tersebut”.

“ Allahuakbar “, seru Azis sambil memeluk Azriel erat. Ia segera  menariknya mendekati imam masjid yang kebetulan sedang berada didalam masjid berkubah kuning keemasan itu.

***

Read Full Post »

Februari 2002, beberapa bulan lagi ujian akan tiba. Seluruh murid disibukkan dengan bimbel disamping pelajaran sekolah, ulangan dan tugas-tugas harian yang makin menumpuk. Belum lagi berbagai try-out yang belakangan ini makin sering diadakan. Aku bersyukur sudah tidak lagi  disibukkan dengan urusan Kira maupun cewek lain. Aku pikir tugasku sudah cukup banyak tidak perlu lagi menambah urusan lain yang kurang terlalu penting.

Syukur Kira memutuskanku. Kuakui aku memang kurang tegas dalam menghadapinya. Aku tahu Kira ingin memanfaatkanku dalam pelajaran bahasa Perancis sekaligus mengantar-antarnya pergi ke tempat-tempat yang dianggapnya penting. Disamping itu aku juga merasa tidak ada kecocokan antara aku dengannya. Namun aku tidak tega memutuskannya. Aku hanya main kucing-kucingan dengan mengatakan bahwa aku sibuk dan aku  harus banyak mengurusi urusan bisnis ayahku. Akhirnya ia marah dengan harapan aku mau membujuknya. Namun aku diam saja, aku pikir justru ini yang kuharapkan. Maka dengan segala kebenciannya iapun akhirnya memutuskan hubungan kami. Syukurlah …..

Akan tetapi belum sebulan berlalu,  tiba-tiba kami dikejutkan dengan sebuah berita tidak sedap. Pada upacara Senin pagi itu, diberitakan bahwa ada seorang murid yang terpaksa dikeluarkan dari sekolah. Pihak sekolah mengingatkan bahwa walaupun ujian telah dekat tidak berarti sekolah tidak akan berani mengambil keputusan tegas. Murid yang telah mengumpulkan peringatan  lebih dari 2000 poin sesuai ketentuan terpaksa harus keluar dari sekolah. Maka sekolahpun heboh. Masing-masing mencari tahu siapa kiranya yang dikeluarkan pada saat-saat menjelang ujian seperti ini  dan atas dasar melanggar poin apa.

Ternyata Kira! Kaget aku dibuatnya apalagi setelah mengetahui penyebabnya. Kira dikabarkan hamil. Usut punya usut ternyata selama ini ia telah menduakan aku. Kata teman yang bisa aku percaya, dia telah lama berpacaran dengan seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi. Temanku itu sebenarnya ingin mengingatkanku namun tidak enak. Puji Tuhan, untung aku tidak benar-benar jatuh cinta padanya.

***

Agustus 2002 adalah hari istimewa baik bagiku. Betapa tidak setelah sebelumnya aku dinyatakan lulus SMA, bulan ini aku kembali mendapat berita gembira bahwa aku diterima di fakultas Sosial sebuah universitas negri terkenal di Jakarta!  Horeee… alangkah gembiranya hati ini  Ayah sebetulnya kurang menyetujui pilihanku ini. Ia lebih menginginkan aku kuliah di jurusan bisnis., ” Sebagai anak satu-satunya, wajar bila ayah berharap kamu dapat meneruskan usaha yang telah lama dirintis ayah dan kakek buyutmu dengan susah payah ini, Mad”, begitu alasan ayah. Namun aku betul-betul tidak tertarik dengan dunia bisnis. Disamping itu ibupun membebaskanku untuk memilih kuliah dimanapun yang aku suka. Akhirnya ayah menyerah. Tapi ia juga tidak gembira akan keberhasilanku diterima di jurusan pilihanku ini. Apa boleh buat…..

Bersama sejumlah teman yang diterima di perguruan tinggi negri, hari itu kami merayakan kegembiraan kami di Dufan. Semua permainan aku jalani dengan senang hati. Padahal sebelumnya aku tidak pernah  berminat mencoba ’Tornado’ yang baru membayangkannya sajapun bisa bikin perutku mual.

***

Tanggal 27 Agustus mahasiswa baru fakultas Sosial menjalani hari pertama kuliah. Ini adalah hari perkenalan dan silaturahmi antara mahasiswa dan dosen. Di hari tersebut pihak universitas mengundang  seorang tamu istimewa. Ia seorang pemerhati masalah sosial yang memiliki nama cukup populer di kalangan orang muda. Dalam acara sambutannya ada hal yang menarik perhatianku. Dengan berseloroh dan nada bercanda ia menanyakan apakah ada diantara  kami yang mempunyai tetangga yang telah menikah. Belum selesai kami berpikir, ia kembali melontarkan pertanyaan aneh, apakah istri tetangga tersebut mempunyai jari kaki dan tangan lengkap, apakah tubuhnya sexi, bagaimana dengan hidungnya? Pesek atau mancungkah?

Tentu saja kami semua tertawa mendengar gurauan tersebut. Setelah seluruh hadirin berhenti tertawa , sang tokoh populer tersebut kembali melanjutkan perkataannya. Kali ini dengan nada lebih serius. Katanya ” Sebagai tetangga yang baik dan berakhlak tentunya kita tidak perlu mengomentari istrinya tersebut, bukan?  Mana ada suami yang rela istrinya dibilang jelek biarpun  hidungnya pesek, bibirnya dower, jarinya jebret semua ”. Hahaha…. lucu juga orang ini kataku dalam hati sambil terus penasaran menebak-nebak kemana arah pembicaraannya.

” Makanya jangan suka usil ngurusin agama orang lain. Agama itu sama dengan istri. Mana ada orang mau agamanya dibilang jelek. Biar sajalah….”, begitu katanya. Oooo, gitu.., pikirku ragu karena kurang setuju.

***

Hari-hari berikutnya aku  mulai disibukkan dengan jadwal  kuliahku yang benar-benar padat. Untuk menghemat waktu dan tenaga sekaligus tentu saja uang transport, dengan persetujuan ayah dan ibu, aku memutuskan untuk  kos di dekat kampus. Hanya butuh waktu 10 menit dan cukup dengan berjalan kaki pula untuk sampai ke gedung kampus. Malah ternyata pihak universitas menyediakan sepeda khusus gratis selama kita menggunakannya di dalam lingkungan kampus.

Aku bersyukur ternyata aku tidak salah memilih jurusan ini. Aku benar-benar menikmati hampir semua pelajaran yang diberikan. Yang menjadi mata pelajaran favoritku adalah sejarah peradaban dunia. Peradaban kuno seperti peradaban Maya di Amerika Latin, peradaban Sumeria, Assyria dan Mesopotamia di Syria, peradaban Fir’aun di Mesir  adalah makananku sehari-hari. Bahkan aku merasa apa yang diberikan dosen di kampus kurang dapat memuaskan rasa keingin-tahuanku yang begitu tinggi.  Untung ada internet di kamarku. Aku bisa berjam-jam menghabiskan waktu untuk sekedar surfing didepan kotak kaca ajaib tersebut.

Begitu juga masalah-masalah sosial seperti isu pemanasan global, kemiskinan, korupsi, politik  hingga berbagai konflik yang belakangan makin sering terjadi terutama di kawasan Timur Tengah. Perang Chechnya, Afganistan dan pendudukan Palestina oleh Yahudi adalah contohnya. Dari internet ini jugalah aku baru tahu ternyata kawasan ini sudah sejak lama telah menjadi saksi bisu berbagai peperangan dan permusuhan yang didasarkan agama. Menurutku Perang Salib adalah perang yang paling heboh dan menggelikan. Bagaimana mungkin hanya disebabkan perbedaan agama dan kepercayaan saja orang rela mengorbankan keluarga bahkan nyawa!

Ketertarikan pada berbagai masalah sosial dan agama inilah  yang menyebabkanku mengikuti lomba karya tulis yang diadakan sebuah surat kabar ternama dan didukung sejumlah kedutaan di Jakarta. Hadiahnya pun tak tanggung-tanggung, selain sejumlah uang juga hadiah home-stay selama 3 minggu di  kota tua historis Yerusalem!

***

” Mad, gile lo … udah lihat pengumuman di koran hari ini ? ”, pekik Lukman, sahabat baruku di universitas. ” Elo keluar juara I ….. wah..wah !”

” Yang bener ? ”, sahutku setengah tak percaya sambil menyambar selembar koran yang dipegangnya. Benar,  namaku tercantum pada baris pertama, artinya aku mendapat hadiah utama.

” Ga salah deh elo ya bolos beberapa hari buat nyelesein tulisan elo..”,  kata Lukman sambil menyelamatiku. Aku cuma senyum-senyum gembira membayangkan hadiah yang bakal kutrima.

” Traktir dong, Mad..”, lanjut sahabatku yang memang doyan makan itu. ” Iya, iya..tapi tunggu dulu dong sampe gue bener-bener di telpon…jangan-jangan salah cetak lagi ”, kilahku.

”Ya udah, yang penting lo musti bersyukur dulu Mad …kalo bukan karena rahmat Allah ga mungkin lo menang tuh!!”. ” Dasar uztad ”, gerutuku senang. Anehnya, aku tidak menolak ketika ia mengajakku untuk mensyukuri kemenanganku itu dengan shalat di masjid kampus dimana ia biasa shalat. Aku hanya sekedar mengikuti gerakan-gerakannya membungkuk-bungkukkan badan layaknya orang senam. Namun demikian terus terang ada semacam kesejukkan dan rasa haru menyelinap ke dalam dada ini, terutama ketika bersujud mencium tanah. Dari dulu aku selalu merasa takjub ketika menyaksikan orang dalam posisi demikian. Aku pikir ini sungguh sebuah penyembahan total kepada Sang Pencipta.

Seusai shalat., Lukman kembali menyalamiku sambil berkata pelan ” Semoga elo dapat hidayah”, begitu katanya. Aku hanya manggut-manggut tak tahu apa maksudnya.

***

Keesokan harinya  aku sudah berada di kantin kampus dengan beberapa teman dekatku untuk merayakan kemenanganku. Aku telah menerima telepon dari panitia bahwa aku berhak mengantongi hadiah utama ke Yerusalem. ” Jadi ga salah kan pengumuman kemarin ”, seru Lukman ikut gembira sambil menepuk-nepuk  pundakku. Tak lama kemudian Lukman memanggil  Nisa dan  Icha  yang kebetulan lewat di depan kantin Dua gadis manis bersahabat ini adalah teman Lukman sewaktu SMA. Nisa kuliah  di fakultas Kedokteran dan Icha di fakultas Hukum. Lukman tahu benar bahwa aku diam-diam menaruh perhatian pada Nisa.

”Nis, Cha… hari ini lo boleh makan apa aja… ada  yang mau traktir lo berdua…”, teriaknya berisik sambil menunjukku dengan jempol gendutnya.

” Ulang tahun nih?”, seru mereka hampir bersamaan. ”Mada menang lomba karya tulis tuh..  kasih selamat dong”, sambung Hari, salah satu temanku. ” Oh gitu….hebat… selamat ya”, kata Icha dengan kenes sambil menjulurkan tangannya. ” Selamat juga Mad, ya..”, sambung Nisa. Kali ini aku tidak perlu menjulurkan tangan karena hampir semua orang juga tahu bahwa Nisa tidak pernah mau bersalaman dengan teman lelakinya. Kata Lukman itu adalah ajaran Islam yang benar. ”Hanya muhrim, yaitu bapak, saudara-saudara, paman dan suaminya yang diperbolehkan menyentuh seorang perempuan disamping mahluk perempuan lainnya tentu saja”, jelas Lukman..

Gadis tinggi semampai ini telah mencuri perhatianku pada hari pertama aku melihatnya di depan fakultas yang kebetulan bersebrangan dengan fakultasku. Lukman yang mengenalkanku dengannya. Dengan jilbab hijau pupus yang menutupi rambutnya, ia tetap terlihat cantik dan menarik. Wajahnya mengingatkanku kepada salah seorang pemain sinetron indo arab yang sering muncul di layar kaca. Mungkin juga jilbabnyalah yang mengesankan wajah ke-arab-araban.

Namun begitu jilbabnya itu tidak menghalanginya untuk beraktifitas. Ia bahkan bintang di lapangan  basket. Disamping itu dengan kacamatanya ia terlihat  pintar dan cerdas. Kata Lukman di SMA dulu ia adalah ketua OSIS. Pada acara-acara khusus gadis ini sering di daulat untuk memamerkan kepiawaiannya dalam bermain gitar. Banyak cowok yang naksir padanya tapi ia terlihat santai dan cuwek saja. Lukman  sering mengomporiku agar mau ’menembak’nya. Tapi aku tak punya nyali.  Mana mungkin aku berani menembaknya bila bahkan membalas tatapanku saja ia tidak mau. Namun demikian aku masih punya harapan karena aku perhatikan Nisa memang tidak pernah memandang  lawan jenisnya lebih dari sekedar yang diperlukan. Walau kadang-kadang aku merasa bahwa sebenarnya Nisa suka mencuri pandang padaku bila aku sedang tidak memandangnya.   “ Semoga aku tidak GR….. ehk..”, pikirku penuh harapan.

***

Head line mengenai perang yang meletus  antara Israel dan Libanon merenggut perhatianku. ” Gila”, kataku dalam hati. ” Hanya gara-gara 1 orang prajurit yang diculik Hizbullah, sebuah kelompok perlawanan Libanon, sebagai permintaan ganti tebusan ribuan laki-laki dan perempuan Libanon dan Palestina yang dijadikan tawanan oleh Israel, bisa mengakibatkan perang meletus ? ”.

Aku memang berusaha sebanyak mungkin mendapatkan berita yang berhubungan dengan Yerusalem. Rencananya aku akan diberangkatkan Juli tahun ini. Artinya aku masih memilki waktu sekitar 4 bulan. Selain melalui internet aku berburu berita melalui berbagai buku mengenai Israel, Palestina,  Timur tengah dan sekitarnya di toko buku. Atas rekomendasi Lukman dan beberapa teman aku juga membeli  ”Yerusalem, satu kota tiga iman” sebuah buku yang ditulis oleh penulis kenamaan Inggris, Karen Amstrong. Ia adalah seorang pemerhati agama.

Dari buku tersebut aku jadi tahu banyak tentang Yerusalem dan Perang Salibnya atau yang dikenal dengan nama The Crusader. Kenanganku kembali melayang ke Museum Du Louvre di Paris beberapa tahun yang lalu dimana  aku, Hans dan Kaori menyaksikan pameran tentang Yerusalem dan perang Salib dimasa Sultan Salahuddin. Kota tua yang hingga saat ini masih menjadi rebutan ketiga agama terbesar  dunia ini ternyata menyimpan sejarah yang begitu fenomenal.

Betapa tidak, Islam meng-klaim bahwa kota ini suci bagi mereka karena Yerusalem khususnya Masjidil Aqsho adalah kiblat pertama mereka sebelum Kabah di Mekah. Di tempat ini pula nabi mereka, Muhammad melakukan perjalanan semalam dari Mekah ke Yerusalem kemudian diangkat menuju ke Arsy-Nya di langit, singgasana Allah, Tuhannya orang Islam. Pada saat itulah Muhammad menerima perintah shalat.

Sementara  bagi umat Nasrani, Yesus, Tuhan mereka, dilahirkan sekaligus berdakwah di negri tersebut. Di tempat ini pula ia disalib dan kemudian dikuburkan. Di lain pihak, orang Yahudi berkeyakinan nabi mereka, Daud dan Sulaiman adalah pemilik dan pendiri tanah Yerusalem dimana Haekel berdiri ribuan tahun yang lalu. Haekel adalah  tempat orang Yahudi melakukan ritual keagamaan untuk  menyembah Tuhannya.

Sementara itu dari berbagai referensi yang aku baca, ternyata Yerusalem memang sejak dahulu sering berada dibawah kekuasaan asing. Tanah Palestina dan Yerusalem khususnya, diperkirakan telah didiami manusia sejak sekitar 3000 SM. Tanah ini juga sering dinamakan dengan sebutan tanah Kana’an. Mereka adalah bangsa Filistin. Pada sekitar 1000-500 an SM negri ini berada dibawah kekuasaan kerajaan Yahudi dengan nabi Daud dan Sulaiman sebagai rajanya. Kemudian masuk berturut-turut Nebukadnezar, raja Babilonia kemudian bangsa Persia dan Romawi Nasrani.  Hingga akhirnya pada sekitar tahun 600 an masuklah  Islam. Ini terjadi pada zaman kekhalifahan Umar Bin Khatab, seorang pemimpin Islam yang dikenal adil, bijaksana,  shalih dan sangat bersahaja. Hanya pada periode dibawah pemerintahan Islam selama 450 tahun inilah ketiga penganut agama bebas menjalankan agama dan kepercayaannya masing-masing.

Kemudian pada tahun 1099 pecah Perang Salib yang diprakasai oleh seorang uskup Nasrani di Clermont,  Perancis. Penyebabnya adalah adanya isu bahwa penguasa Yerusalem bermaksud menghancurkan salah satu gereja yang dianggap keramat umat Nasrani. Oleh sebab itu Sang uskup mengumumkan perlunya perang suci mempertahankan gereja. Maka dengan berbondong-bondong menyerbulah  pasukan yang dinamakan Pasukan Salib ini dari seluruh penjuru Eropa menuju kota Yerusalem.

Sebagai warga  yang telah ratusan tahun menempati kota maka seluruh  penduduk baik pemeluk Islam, Nasrani maupun  Yahudi, mereka bersatu untuk mempertahankan kota melawan pasukan musuh sebagai pendatang yang menyerbu. Namun pasukan Salib yang sebagian kelak dikenal dengan sebutan Ksatria Templar itu akhirnya berhasil merebut Yerusalem dengan penuh kekerasan.  Masjid-masjid dibakar dan hampir seluruh  penduduk kota tua tersebut, dewasa maupun anak-anak, laki-laki maupun perempuan, Islam, Nasrani maupun Yahudi, semua dibantai. Bahkan dikabarkan 10.000 orang Muslim yang berusaha berlindung di atap masjid Al-Aqshopun tidak luput dari pembantaian.

Dalam bukunya, Karen Amstrong mengutip kata-kata Raymond dari Aguilles, seorang saksi dari Perancis yang mengatakan : ” Tumpukan kepala, tangan dan kaki dapat terlihat”, ”…para pria berjalan dengan darah yang naik hingga ke lutut dan tali kekang kuda mereka …”. Dengan cara seperti itulah Yerusalem jatuh ke tangan pihak Nasrani Eropa.

Delapan puluh delapan tahun kemudian dalam pertempuran yang terkenal dengan nama pertempuran Hittin,  pasukan Muslim dibawah Salahuddin Al-Ayyubi,  seorang sultan Mesir berhasil merebut kembali Yerusalem dari tangan pihak Nasrani. Hebatnya tidak ada dendam dalam perang ini. Tak satupun orang non Muslim  yang dibunuh. Sultan hanya membunuh orang yang benar-benar  dianggap keterlaluan jahatnya dan kemudian hanya mengusir orang Nasrani yang tergabung dalam pasukan Salib saja. Selebihnya diperbolehkan tetap tinggal di kota dan menjalankan kepercayaan masing-masing seperti ketika belum terjadi Perang Salib. Artinya tanpa memperhatikan agama dan kepercayaannya, seluruh penduduk asli apapun agamanya tetap diizinkan tinggal di Yerusalem.

Tiba-tiba ingatanku melayang pada film ” The Kingdom of Heaven” yang disutradarai oleh Sir Ridley Scott dan dibintangi aktor kenamaan Orlando Bloom. Film ini mengisahkan terjadinya perang Salib yang terjadi pada tahun 1187  tersebut. Sedangkan pasukan Templar mengingatkanku pada film ” Da Vinci Code ”yang sempat heboh beberapa tahun yang lalu. Aku baru menyadari rupanya film-film tersebut sebenarnya adalah kisah nyata yang mungkin mengalami sedikit modifikasi dan bumbu. Perang Salib terjadi hingga 9 kali, namun pasukan Salib hanya mengalami kemenangan sekali itu saja, yaitu pada Perang Salib I.

Kemudian pada tahun 1250an, Hulagu Khan seorang pemimpin dari dinasti China yang juga cucu Kubilai Khan,  kembali memporak-porandakan tanah Syam, termasuk Palestina dan Yerusalemnya. Dengan penuh kekejaman ia menghancurkan dan membumi hanguskan wilayah tersebut. Tetapi tak lama kemudian pada perang Ain Jalut yang terjadi di Palestina, pasukan Muslim Mameluk dari Mesir berhasil secara gemilang menaklukkan dan mengusir pasukan Mongol yang dikenal sangat bengis dan belum pernah kalah dalam pertempuran  itu.

Selanjutnya selama hampir 500 tahun di bawah kekuasaan Ustmani Ottoman yang Islam, Yerusalem mengalami masa kejayaannya. Hingga akhirnya kekhilafahan ini kalah dalam Perang Dunia I pada tahun 1917 dan pada tahun  1923 kekhalifahan ini benar-benar terhapus. Maka Yerusalempun berpindah ke tangan kerajaan Inggris. Dan berdasarkan perjanjian Balfour tahun 1917 yang disetujui PBB, tanah ini pada tahun 1947 resmi akan diberikan kepada pihak Yahudi Zionis yang bercita-cita akan mendirikan negara Israel Raya yang penuh masalah. Yang tidak menginginkan sebuah negri yang berbagi dengan etnis apalagi agama lain karena ia merasa sebagai bangsa terbaik dan bangsa pilihan!

Sejarah membuktikan bahwa perasaan superior ini membuat orang Yahudi dimanapun berada dibenci dan dimusuhi. Kelompok yang membenci orang-orang ini belakangan diberi nama Anti Semit. Seringkali orang-orang Yahudi ini diusir dan dijadikan bulan-bulanan kelompok yang membencinya. Pembantaian pada Perang Salib-Jerman pada tahun 1096, pengusiran orang-orang Yahudi dari tanah Inggris pada 1290, dari tanah Spanyol pada tahun 1492, dari Portugal pada tahun 1497 adalah contoh ekstrimnya. Dan yang paling spektakuler adalah peristiwa Holocaust selama Perang Dunia II oleh Nazi Jerman pimpinan Hitller. Peristiwa inlah yang kemudian dijadikan alasan untuk menarik simpati dunia sekaligus rasa bersalah Eropa untuk membenarkan berdatangannya orang Yahudi ke tanah Palestina dan membangun rumah serta menyerobot hak penduduk asli.

.Lebih dari itu, orang Yahudi merasa bahwa mereka adalah pemilik asli tanah Palestina. Karenanya ketika pihak Inggris sebelumnya menawarkan tanah Kenya, mereka menolak. Meski demikian sebenarnya perjanjian Balfour yang ditanda-tangani pihak Inggris dan Zionis itu telah mensyaratkan adanya keadilan bagi penduduk yang sebelumnya telah tinggal di negri tersebut.  Satu hal yang hingga detik ini jelas-jelas telah dilanggarnya terang-terangan di depan mata dunia tanpa ada satupun negara yang berani menegurnya!

Apa rahasianya? Dari banyak sumber kuketahui ternyata hal ini berkat kehebatan para pelobby yang mereka miliki.  Adalah AIPAC, kependekkan American Israel Public Affairs Committee, sebuah dewan resmi Amerika yang menangani masalah Yahudi. Dewan ini telah berdiri sejak lama dan berkedudukan di Washington DC. Orang Yahudi telah lama dikenal sebagai bangsa yang pandai, ulet sekaligus licik dan suka melanggar janji. Gabungan bakat tersebut menyebabkan bangsa ini sukses dalam berbagai bentuk bisnisnya. Bermula dari  kekayaannya yang melimpah, dewan pelobby Yahudi  berhasil masuk serta mempengaruhi dan bahkan menyelinap ke dalam jajaran penting  kekuasaan pemerintahan negara adi daya Amerika Serikat ‘ si penguasa dunia’.

Bahkan rumor yang telah sejak lama beredarpun mengatakan bahwa adalah Dr.Chaim Wiezmann, seorang ahli kimia warga-negara Inggris-Yahudi yang menjadi wakil pembicara Zionis di Inggris. Berkat jasanya dalam membuat senjata kimia yang menjadi penentu kemenangan Inggris pada PD I maka sebagai kompensasinya bangsa Yahudi yang tadinya hidup bertebaranpun mendapat hadiah tanah milik bangsa Palestina.

Yang menjadi pertanyaanku dan juga  banyak orang, atas dasar pertimbangan apa sebuah tanah / negri dapat diberikan begitu saja kepada pihak asing. Pihak Yahudi mengklaim bahwa Palestina adalah tanah leluhur mereka. Sementara pada kenyataannya penduduk Palestina yang mayoritas etnis Arab dengan agama yang berbeda-beda tersebut telah menempatinya beratus-ratus bahkan ribuan tahun lamanya.  Lalu berapa lama sepantasnya seseorang dapat dianggap bahwa ia penduduk sebuah negri tanpa perlu merasa khawatir bakal diusir ? Disamping itu bukankah mustinya berdirinya sebuah negri adalah dalam rangka memberikan rasa aman kepada penduduknya, bukan malah menteror apalagi mengusirnya ??

Sebagai bekal nanti, aku terus  berusaha untuk mengingat lokasi dan kejadian  yang dianggap penting  bagi masing-masing pemeluk ke tiga agama  ini, yaitu tempat-tempat ritual yang biasa dikunjungi para wisatawan asing yang datang baik berdasarkan agamanya ataupun sekedar rasa keingin-tahuan semata. Rasanya aku sudah tak sabar lagi untuk segera terbang dan mewujudkan apa yang berada dalam bayanganku.

***

Read Full Post »