Feeds:
Posts
Comments

PENDAHULUAN 

Bab I.         Asal Muasal Tahun Gajah 

Bab II.       Silsilah Rasulullah

Bab III.      Kelahiran dan Masa Kecil 

Bab IV.       Masa Remaja 

Bab V.        Pernikahan dengan Khadijah dan Datangnya Wahyu Pertama

Bab VI.      Dakwah Secara Rahasia ( Sirriyatud -dakwah/

Bab VII.     Dakwah Secara Terang-terangan (Jahriyatud Dakwah)

Bab VIII.   Penolakan Orang-orang Musyrik Mekah Terhadap Islam

Bab IX.      Pengucilan dan Boikot Ekonomi Terhadap Kaum Muslimin ( Hijrah Pertama).

Bab X.        Tahun Duka Cita ( Amul Huzni dan Peristiwa di Thaif )

Bab XI.       Peristiwa Isra-Mi’raj dan Persiapan Madinah sebagai Tempat Hijrah

Bab XII.      Baiat Aqabah dan Hijrahnya Para Sahabat

Bab XIII.    Hijrah ke Madinah

Bab XIV.    Pembentukan Masyarakat  Madinah

Bab XV.      Perang Badar, Perang Pertama dalam Sejarah Islam

Bab XVI.     Pengkhianatan Pertama Yahudi dan Munculnya Tanda-tanda Kemunafikan

Bab XVII.   Perang Uhud dan Hikmah Diperintahkannya Berperang (bag-1)

Bab XVII.   Perang Uhud dan Hikmah Diperintahkannya Berperang (bag-2)

Bab XVIII.  Dakwah Kepada Ahli Kitab (bag-1)

Bab XVIII . Dakwah Kepada Ahli Kitab (bag-2)

Bab XIX.    Pengkhianatan Yahudi Bani Nadhir dan Dampaknya

Bab XX.      Jihad fi Sabilillah (1).

Bab XX.      Jihad fi Sabilillah (2)

Bab XX.      Jihad fi Sabilillah (3)

Bab XXI.     Perdamaian Hudaibiyah dan Baitur Ridwan

Bab XXII.    Perang Khaibar

Bab XXIII.   Dakwah Kepada Raja-raja

Bab XXIV.   Perang Mu’tah

Bab XXV.    Penaklukkan Mekah ( Fathu Makkah) (1)

Bab XXV.    Penaklukkan Mekah ( Fathu Makkah) (2)

Bab XXV.    Penaklukkan Mekah ( Fathu Makkah) (3)

Bab XXVI.   Perang Hunain

Bab XXVII.  Perang  Tabuk dan Kisah 3 Orang Sahabat

Bab XXVIII. Haji Wada, Khutbah Rasulullah dan Tanda Sempurnanya Islam

Bab XXIX.    Rasulullah dan Pernikahan 

Bab XXX.     Hari-hari Akhir Rasulullah saw(1)

Bab XXX.     Hari-hari Akhir Rasulullah saw (2)

Bab XXX.     Hari-hari Akhir Rasulullah saw(3)

PENUTUP

Catatan. Mulai Oktober 2019 buku dapat dipesan sebagai POD ( Print On Demand) melalui link berikut :

Sirah Nabawiyahhttps://bitread.id/book_module/book/view/1382/sirah_nabawiyah/

Muslimahdaily – Suatu hari Rasulullah bertemu dengan seorang Arab Badui. Beliau segera mengambil kesempatan untuk mendakwahinya. Nabiyullah pun memanggil si pria Badui dan berkata,

Wahai orang Badui, engkau hendak ke mana?” sapa nabi.

Pulang ke rumah,” ujarnya singkat.

Rasulullah kemudian bertanya lagi, “Apakah kau ingin kebaikan?”

Pria Badui itu pun penasaran, “Kebaikan apa?

Nabiyullah lalu berkata, “Engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, dan bersaksi bahwa aku adalah utusan-Nya.”

Arab Badui itu pun tak lekas bersyahadat. Ia tak mudah percaya meski yang diajak bicara adalah Al Amin. Ia lantas menanyakan sebuah bukti ataupun saksi.

Siapa yang menjadi saksi atas apa yang kau katakan itu?” tanyanya.

Pohon ini,” Rasulullah menunjuk sebuah pohon, ada yang berpendapat bahwa itu adalah pohon kurma. Pohon itu berdiri tegak di atas akarnya, di tepi sebuah lembah.

Begitu Rasulullah menunjuknya, pohon itu tiba-tiba bergerak. Dengan ajaib, pohon kurma itu berjalan menuju Rasulullah kemudian berhenti tepat di hadapan nabiyullah. Pohon itu pun kemudian merunduk di hadapan sang kekasih.

Rasulullah lalu meminta pohon tersebut untuk bersaksi tiga kali sebagaimana sabda beliau. Yakni bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah. Pohon itu pun melakukannya. Ia bersyahadat tiga kali.

Setelah itu, Rasulullah menyuruh pohon itu kembali ke tempatnya. Ia menuruti dan berjalan kembali ke tepian lembah. Arab Badui yang menyaksikan begitu terkejut. Ia menyaksikan keajaiban mukjizat Rasulullah dengan mata kepalanya. Pria Badui itu pun kemudian bersyahadat di hadapan nabi, saat itu juga.

Kisah tersebut diketahui dari beberapa hadits. Salah satunya hadits dari Ibnu Abbas dan diriwayatkan oleh At Tirmidzi.

Mukjizat Rasulullah

Persaksian sebuah pohon kurma hanyalah salah satu mukjizat yang dianugerahkan kepada Nabi Muhammad. Rasulullah memiliki mukjizat yang lebih besar dan lebih banyak. Bahkan mukjizat nabiyullah menandingi mukjizat-mukjizat para nabi sebelum beliau.

Sebagian ulama berpendapat bahwa mukjizat Rasulullah mencapai jumlah 3 ribu. Angka tersebut belum termasuk mukjizat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat 60 atau 70 ribu mukjizat. Belum termasuk pula setiap perilaku, ucapan, dan sirah Rasulullah yang sejatinya menyimpan keajaiban dan kebenaran akan dakwah Islam.

Hal ini sebagaimana ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Ia berkata, “Ayat-ayat dan petunjuk yang menunjukkan kenabian Nabi kita Muhammad sangatlah banyak dan beragam, lebih banyak dan lebih agung daripada ayat-ayat nabi sebelum beliau. Perjalanan hidup Rasulullah sesungguhnya termasuk tanda kenabian. Demikian pula akhlak, sabda, perbuatan, syariat, umatnya, dan karamah-karamah orang-orang saleh dari umat beliau, semua itu termasuk ayat (tanda kenabian) beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Senada, Al Qadhi Iyadh pun menuturkan bahwasanya Nabi Muhammad merupakan nabi yang paling banyak mukjizatnya. Karena jumlahnya yang sangat banyak itu, sampai-sampai tak ada yang mampu menghitungnya. Al Qadhi berkata,

“Beliau adalah rasul yang paling banyak membawa mukjizat, paling menakjubkan tanda (kerasulannya), dan paling tampak bukti (kerasulannya)… Tidak ada tulisan yang mengumpulkan semua mukjizat beliau yang sangat banyak itu. Bahkan, satu saja dari mukjizat beliau, yaitu Al Qur’an, tidak ada yang bisa menyebutkan jumlah mukjizat yang terkandung (di dalamnya) dengan angka seribu, dua ribu, atau lebih.”

Masya Allah, betapa menakjubkan pengutusan Muhammad sebagai nabi dan Rasul. Maka sungguh buta orang-orang yang enggan beriman kepada beliau. Mengingat telah terang pada diri beliau sederet mukjizat yang tak terhitung jumlahnya.

Bahkan sebatang pohon pun mengaku beriman kepada nabi, sebagaimana kisah di atas. Jika pohon yang tak dianugerahi akal saja bisa memahami dan meyakini kerasulan Muhammad, bagaimana mungkin manusia yang berakal tak bisa mengimaninya?.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 24 Januari 2021.

Vien AM.

Dikutip dari : https://muslimahdaily.com/story/nabi-rasul/item/1981-mukjizat-rasulullah-dan-kisah-pohon-yang-berjalan.html

Siapa tak kenal Umar ibnul Khattab, sahabat rasul yang mempunyai julukan Al Faruq’ yang berarti Sang Pembeda atau Sang Pemisah. Rasulullah memberikan julukan tersebut berkat ketegasan Umar memisahkan antara yang hak dan yang batil.  

Ketika menggantikan Abu Bakar ash-Shiddiq sebagai khalifah, Umar tak segan-segan menindak siapa pun yang melanggar hukum.

Sekalipun aku ini keras, tapi sejak semua urusan diserahkan kepadaku, aku menjadi orang yang sangat lemah di hadapan yang hak,” ujar Umar di depan rakyatnya.

Umar sebelum masuk Islam memang dikenal sebagai orang yang sangat keras. Ia sering menyiksa orang-orang Quraisy yang kedapatan meninggalkan agama nenek moyang mereka demi memeluk Islam. Ini ia lakukan semata karena keyakinannya yang begitu kokoh terhadap berhala-berhala yang menjadi sesembahan kaumnya ketika itu.

Hingga suatu hari rasulullah berdoa memohon kepada Allah swt agar Islam diberi kekuatan dengan masuk Islamnya seorang diantara Umar, yaitu Umar ibnu Khattab atau Amr bin Hisyam alias Abu Jahal. Dan ternyata Allah swt memilih Umar ibnu Khattab sebagai kekuatan Islam.

Ya, Allah, kuatkanlah Islam dengan salah satu dari dua Umar,” ucap Rasulullah.

Umar juga dikenal sebagai orang yang sangat tawadhu ( rendah hati/tidak sombong). Sikapnya tersebut terlihat jelas dari penampilannya. Namun penampilan bersahaja tersebut sama sekali tidak mengurangi wibawanya sebagai seorang khalifah. Bahkan sikap tersebut mampu menarik musuh untuk lebih menghormatinya lagi.

Contohnya adalah Hormuzan. Hormuzan adalah panglima perang Persia yang gigih memimpin pasukannya menghadapi pasukan Islam, diantaranya yang paling sengit adalah dalam perang Jalula. Jalula adalah sebuah kota perbukitan di sebelah utara Iran.

Pasukan Hormuzan beberapa kali mengalami kekalahan. Namun Hormuzan sendiri selalu berhasil meloloskan diri. Selanjutnya setelah berhasil membangun kekuatan, ia kembali melakukan penyerangan terhadap Islam meski tetap saja kalah. Akhirnya Hormuzanpun menyerah dan menanda-tangani perjanjian damai serta menyerahkan jizyah sebagai buktinya.

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk”. (Terjemah QS. At-Taubah(9):29).

Tetapi tak lama kemudian Hormuzan melanggar perjanjian yang dibuatnya sendiri yaitu dengan memimpin pemberontakan, menyerang dan membunuh rakyat sipil.  Dua kali hal tersebut dilakukannya. Maka ketika akhirnya ia berhasil ditangkap, iapun dibawa ke Madinah untuk diserahkan kepada khalifah Umar.  

Hormuzan dibawa ke Madinah dalam keadaan masih mengenakan pakaian kebesarannya yang mewah layaknya pembesar Persia, yaitu sutra bersulam emas dan berhiaskan permata.

Selanjutnya ia dibawa ke rumah Umar, namun tidak bertemu. Rupanya sang khalifah sedang tertidur di teras masjid dengan berselimutkan sarung lusuh. Di tangannya tergenggam sebuah kantong kecil berisi jagung. Terkejut Hormuzan dibuatnya.

“ Mana pengawalnya? Mana ajudannya??” tanya Hormuzan keheranan.

“ Ia tidak punya ajudan, tidak juga pengawal, tidak juga sekretaris pribadi. Ia hidup bersahaja”, jawab Anas ibn Malik yang mengantarnya.

“Kalau begitu ia adalah seorang nabi yang suci”, seru Hormuzan tertegun.

Singkat cerita, terjadilah percakapan antara Umar dan Hormuzan.

Hai Hormuzan, tidakkah engkau saksikan akibat dari setiap tipu muslihat yang kalian lakukan terhadap Allah?” tanya Umar membuka pembicaraan.

Dulu Allah berpihak kepada kami maka kamipun dapat menaklukkan kalian. Namun kini rupanya Allah berpihak pada kalian maka kalianpun menaklukkan kami,” jawab Hormuzan.

Aku menawarkanmu memeluk Islam, sekadar saran agar engkau bisa selamat di dunia maupun di akhirat”, lanjut Umar.

Aku tidak mau. Aku akan tetap berpegang pada agama dan keyakinanku. Aku tidak mau masuk Islam karena tekanan”, balas Hormuzan.

Baik, aku tidak akan memaksamu“, jawab Umar.

” Sekarang apa yang engkau inginkan?” lanjut Umar lagi.

Sambil menatap tajam, Hormuzan menjawab, “Aku khawatir engkau akan membunuhku sebelum aku mengucapkan keinginanku”

Jangan khawatir,  katakan saja!“, balas Umar.

Hormuzan lalu mengatakan bahwa ia haus dan ingin minum. Umarpun memberinya semangkuk air.

Namun Hormuzan tidak segera meminumnya. “Aku kuatir engkau akan membunuhku sebelum aku meminum air ini”

Jangan  khawatir, minumlah!”, tegas Umar.

Hormuzanpun menegukkan minuman tersebut. Setelah itu sambil menatap Umar, ia berkata” Sungguh engkau telah nyata memberikan jaminan keselamatan padakuSekarang aku mau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, bahwa Muhammad adalah rasul Allah, dan bahwa ajaran yang dibawanya adalah benar datang dari Allah.”

Akhirnya engkau memeluk Islam. Tapi, mengapa tidak sejak tadi engkau ucapkan syahadat itu?”, tanya Umar.

Aku tidak mau orang menyangka kalau aku memeluk Islam karena takut dibunuh”, tegas Hormuzan.

Umarpun berkata, “Memang benar! Orang-orang Persia memang punya cara berpikir yang hebat. Layak kalau mereka mempunyai kerajaan besar.” Lalu Umar memerintahkan asisten-asistennya untuk menghormati dan berbuat baik kepada Hormuzan.

Namun apa lacur beberapa tahun kemudian ketika Umar wafat karena dibunuh oleh seorang budak bekas Majusi Persia bernama Fairuz yang bergelar Abu Lu’luah, bekas panglima Persia itu ternyata ikut terlibat perbuatan keji tersebut. Na’udzubillah min dzalik.

Di kemudian hari kebencian orang-orang Persia yang merasa Islam telah merenggut kebesaran kerajaan mereka adalah pangkal lahirnya Syiah. Mereka sejatinya memeluk Islam karena terpaksa demi mewujudkan dendam kesumat mereka.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 19 Oktober 2020.

Vien AM.  

ISLAM telah mengatur segalanya dengan sempurna, termasuk adab memuliakan tamu. Seoranng mualaf ini tersihir dengan ajaran Islam begitu sempurna.

Wartawan cantik bernama Lauren Booth, ia pergi ke Gaza untuk meliput keadaan di Palestine. Setelah melalui berbagai pemeriksaan oleh pasukan Israel, sampai juga ia di sebuah perkampungan Palestina. Ia mengetuk pintu salah satu rumah warga setempat. Lalu pintu pun terbuka, seorang ibu keluar dengan wajah berseri-seri.

Assalamu’alaikum, tafaddhal (silahkan masuk),” ucap sang ibu dengan penuh kehangatan.

Wajahnya berseri, matanya bersinar, dia mempersilahkan saya masuk ke rumahnya seperti mempersilahkan saya masuk ke istana Taj Mahal. Seakan-akan rumahnya adalah tempat terindah di dunia,” ucap Lauren yang antusias menceritakan.

Lauren memperhatikan rumah sang ibu dengan seksama, Hanya dinding, atap, dan dua tikar terhampar. Satu tikar untuk tidur dan shalat, satu tikar untuk hidangan makanan. Tidak ada apa-apa selain itu. Lemari, kursi, apalagi televisi, tidak ada. Tapi ungkapan wajah dan bahasa tubuhnya seperti orang yang sangat berbahagia, Lauren tak habis pikir.

Mereka pun duduk di tikar. Dan ibu tersebut menyodorkan makanan, yang hanya terdiri dari roti, bumbu, dan selada. Melihat ‘menu prihatin’ itu, Lauren berulang-ulang menolak tawaran makanan itu, bukan tidak suka, tapi bagaimana mungkin ia memakan makanan orang miskin? Yang makanannya pun sangat terbatas? Hanya makanan itulah yang ibu itu punya.

Tapi ibu tersebut terus menyodorkan makanan. “Anda adalah tamu kami,” katanya. Akhirnya, untuk sekedar menghargai, dia memakan satu roti sembari mengajak makan bersama,

Mari makan bersama,” ucapnya. Akan tetapi sang Ibu menolak karena sedang puasa. Lauren merasa marah kepada ibu tersebut, “Sudah prihatin, ada makanan, akan tetapi menahan makan,” gerutunya kesal.

Saya marah kepada Islam, yang mengharuskan orang berlapar-lapar selama 30 hari. Saya marah kepada Qur’an, yang mewajibkan ibu ini menahan lapar dan dahaga, padahal mereka butuh makan-minum, dan makanan serta minuman itu ada,” sambung Lauren kembali.

Saya mersa jengkel. Maka saya pun bertanya pada ibu itu, mengapa ibu puasa? Untuk apa?,” tanya Lauren.

Kami berpuasa sebagai rasa syukur kami kepada Allah, karena bisa merasakan apa yang dialami saudara-saudara kami yang miskin,” jawab ibu dengan wajah yang begitu ramah.

Mendengar jawaban itu, Lauren tak kuasa membendung air mata. “Ibu ini tak punya apa-apa di dunia. Dia masih bersyukur dan berbagi rasa dengan orang yang lebih malang darinya,” ungkap Lauren.

Saat itu juga saya berkata dalam harti ”Jika ini Islam, saya ingin jadi Muslim,”.

Tahun 2010, Lauren muncul di saluran TV Islam dalam acara Global Peace and Unity, mengenakan busana Muslimah, dan berkata: “My name is Lauren Booth, and I am a Muslim.” []

Diambil dari :

https://www.islampos.com/lauren-booth-jika-ini-islam-saya-ingin-menjadi-muslim-15610/

Abu Qilabah merupakan seorang sahabat Nabi SAW yang banyak meriwayatkan hadits. Nama lengkapnya adalah ‘Abdullah bin Zaid al-Jarmi. Sepanjang hayatnya, sosok dari Basrah tersebut dikenal sebagai ahli ibadah yang zuhud. Ia wafat di Suriah pada tahun 104 hijriah.

Dialah sahabat Rasulullah SAW yang terakhir kali wafat. Orang-orang Muslimin yang pernah berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW sebelumnya telah terlebih dahulu berangkat ke rahmatullah. Di antara keteladanan Abu Qilabah tergambar dalam kisah yang dituturkan Abdullah bin Muhammad sebagai berikut.

Suatu kali, peperangan berkecamuk di daerah sekitar Syam. Abdullah terlepas dari sesama prajurit Muslim dan terdampar di sebuah tanah lapang dekat pesisir. Bekal yang dimilikinya kian menipis, sedangkan dia sendiri tak tahu arah. Langkah kakinya terhenti. Samar-samar, dia melihat adanya kemah yang berdiri tegar diterpa angin gurun.

Abdullah pun mendekati tenda yang terkesan kumuh itu. Di dalamnya, dia mendapati seorang tua yang kedua tangan dan kakinya tak lengkap lagi. Tidak hanya itu, Abdullah kemudian menyadari, pendengaran orang tua tersebut tidak normal. Matanya pun telah rabun. Hanya lidahnya yang masih fasih berkata.

Diam-diam, Abdullah menyimak untaian kata dari lisan pemilik tenda itu. “Wahai Allah, berilah aku petunjuk agar dapat terus memuji-Mu sehingga aku dapat menunjukkan rasa syukur atas berbagai nikmat yang telah Engkau berikan. Sungguh, Engkau telah melebihkan diriku di atas kebanyakan manusia,” demikian ujarannya berkali-kali.

Abdullah tak dapat menahan rasa heran. Bagaimana mungkin, dengan kondisi fisik yang serba kekurangan, orang tua itu tetap melihat sisi positif dari kehidupannya? Dengan pelan, dia membisikkan pertanyaan ke pemilik tenda itu, sesudah beberapa lamanya mengucapkan salam.

Wahai, Tuan. Aku mendengarmu tadi berkata demikian. Dan engkau baru saja menyatakan, Allah telah melebihkanmu atas banyak orang. Nikmat apa yang telah Rabbmu anugerahkan sehingga engkau memuji Allah atas nikmat tersebut? Apa kelebihan yang engkau maksudkan?”

Yang ditanya kemudian berkata, “Bagaimana mungkin engkau tidak melihat apa yang telah dilakukan Tuhanku kepadaku? Demi Allah, seandainya ada halilintar datang menerjangku, menghanguskan tubuhku, atau gunung-gunung diperintahkan-Nya untuk menindihku, atau laut menenggelamkanku, bumi menelan tubuhku—dengan itu semua aku akan tetap bersyukur kepada Rabbku. Bahkan, aku kian bersyukur! Sebab, Dia telah memberikan nikmat berupa lidah ini.”

Orang tua itu menunjuk pada bibirnya. Abdullah masih menunjukkan raut wajah heran.

“Wahai, hamba Allah,” lanjut sang tuan rumah, “Engkau telah datang ke dalam tendaku, mungkin engkau memerlukan bantuan?”

Sebelum Abdullah sempat menjawab, orang tua itu lebih dahulu berkata. “Kalau diriku, memang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongmu. Aku tidak mampu bergerak bahkan bila ada bahaya sampai ke tenda ini. Hanya saja, aku memiliki seorang anak laki-laki. Kepada dialah aku sering meminta pertolongan. Bila tiba waktunya shalat, dia membantuku untuk berwudhu. Kapanpun aku lapar, dia datang dengan makanan lalu menyuapiku. Ketika aku haus, dia memberiku minum,” tuturnya.

Abdullah melihat ke sekeliling bagian dalam tenda ini. Tak satupun dia melihat orang selain dirinya sendiri dan orang tua ini. Seolah-olah menjawab keheranan itu, sang pemilik tenda itu menjelaskan lagi.

Namun, sudah tiga hari belakangan ini aku tidak lagi mendengar atau melihat anakku itu. Aku kehilangan dirinya. Bila engkau berkenan, wahai musafir, apakah bisa engkau menemukannya? Semoga Allah membalas kebaikanmu,” ujar sang orang tua dengan nada meminta.

Abdullah yang awalnya datang hendak meminta pertolongan kini menjadi pihak yang menolong. Sesungguhnya, dia bisa saja mengabarkan kepada orang tua itu, betapa daerah kosong pesisir pantai ini tak dijumpainya orang satu pun. Akan tetapi, sebaiknya jangan memupus harapan sebelum benar-benar berupaya.

Abdullah pun keluar dari tenda kecil itu. Dia berjalan ke sana-kemari, mencoba menelusuri keberadaan si anak yang hilang. “Demi Allah, aku menunaikan keperluan terhadap saudaraku yang seiman. Insya Allah, Allah memberikan pahala yang besar kepadaku“, gumamnya di dalam batin.

Tiba-tiba, Abdullah mendapati jejak kaki manusia di dekatnya. Dia pun menelusuri terus. Sampailah dia pada pemandangan yang sangat memilukan. Bocah lelaki yang dicarinya itu ternyata sudah meninggal diterkam kawanan singa.

Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un! Bagaimana caranya aku memberitahukan hal ini kepada orang tua itu?”

Meski sempat terkejut, setelah beberapa saat Abdullah pun dapat meyakinkan dirinya sendiri. Bagaimanapun, orang tua itu (waktu itu Abdullah belum menyadarinya sebagai Abu Qilabah) harus mengetahui kematian anaknya ini. Biarlah Allah SWT yang menentukan bagaimana nasibnya nanti.

Assalamualaikum,” ujar Abdullah begitu memasuki tenda.

Waalaikum salam,” jawab orang tua ini, “Engkaukah itu yang tadi menemuiku?”

Ya,” kata Abdullah.

Bagaimana hasilnya dengan pencarianmu tadi? Adakah engkau berhasil menemukan anakku?

“Tuan, apakah engkau tahu tentang kisah Nabi Ayyub ‘alaihi sallam?” Abdullah mencoba membuka penjelasannya.

Tentu saja. Dia merupakan salah seorang rasul yang mulia.”

“Engkau mengetahui bagaimana Nabi Ayyub diuji oleh Allah SWT. Rabbnya telah mengujinya dengan harta, keluarga, dan anak-anaknya,” tutur Abdullah.

Tentu, aku tahu itu.

“Tahukah engkau bagaimana sikap Nabi Ayyub atas cobaan-cobaan itu?” tanya Abdullah lagi.

Ia selalu bersabar, bersyukur, dan memuji Allah,” jawab orang tua tersebut.

Sekalipun Nabi Ayyub dijauhi kerabat dan sahabat-sahabatnya?”

“Betul, ia tetap demikian, bersyukur dan memuji Allah. Langsung saja, apa maksudmu dengan menceritakan perihal Nabi Ayyub? Semoga Allah merahmatimu,” tanya orang tua itu karena merasakan ada maksud dari tamunya tersebut.

“Sungguh, aku telah menemukan putramu, tetapi dia telah meninggal dunia. Jasadnya ada di antara gundukan pasir dan diterkam kawanan binatang buas. Semoga Allah melipatgandakan pahala engkau yang bersabar atas musibah ini,” jelas Abdullah.

Segala puji bagi Allah. Dia telah menciptakan bagiku keturunan yang tidak bermaksiat kepada-Nya,” kata orang tua itu.

Tak lama kemudian, pemilik tenda tersebut menarik nafas panjang, dan meninggal dunia.

Inna lillah wa inna ilaihi roji’un….” ujar Abdullah.

***

Kini, Abdullah menjadi bingung. Apa yang akan dilakukannya terhadap jasad orang tua itu. Tidak mungkin membiarkannya begitu saja. Jangan sampai sekumpulan binatang buas mendeteksinya lalu memakannya.

Awalnya, Abdullah menutupi jasad tersebut dengan kain yang ada di dekatnya. Dia pun keluar dari tenda untuk mencari-cari bantuan. Tak disangka, Abdullah melihat dari arah nun jauh di sana. Beberapa orang sedang menunggangi kuda. Salah satu dari mereka tampak lebih rapi. Pakaiannya yang berwarna keperakan memantulkan sinar matahari. Abdullah pun berteriak dan melambaikan tangan kepada mereka. Orang-orang itu menyadari panggilan tersebut. Mereka pun mendekatinya.

Ada apa wahai hamba Allah?” tanya mereka.

Aku meminta bantuan kalian,” jawab Abdullah sambil menunjuk tenda asalnya, “Di dalam sana ada jenazah seorang tua. Dia baru saja meninggal.

Orang tua bagaimana?” tanya pria yang memakai baju mewah.

Abdullah pun menuturkan perawakan wajah serta kondisi fisik orang tua yang baru saja wafat itu. Orang-orang yang ada di hadapannya justru menjadi terkejut.

Bukankah beliau yang kita cari!?” seru salah satu di antaranya.

Mereka pun bergegas masuk ke dalam tenda. Pria yang berpakaian mewah lantas membuka penutup wajah jasad itu. Kemudian, dia memeluknya dan menangis tersedu-sedan. Menyaksikan itu, Abdullah tentu saja keheranan.

Ya Allah, Engkau telah memanggilnya. Dia yang matanya selalu jauh dari melihat hal-hal yang diharamkan-Mu. Dia yang selalu sujud tatkala orang-orang lelap tertidur,” serunya.

Siapakah orang ini. Mungkin Tuan dapat menceritakannya untukku?” tanya Abdullah. Setelah mereda tangisnya, orang itu pertama-tama memperkenalkan dirinya. Dia adalah seorang utusan raja Muslim yang memang ditugaskan untuk mencari-cari keberadaan orang tua tersebut.

Beliau yang wafat ini adalah Abu Qilabah al-Jarmi. Dia seorang sahabat Rasulullah SAW!” jawab utusan raja itu.

Kami mencarinya ke mana-mana sebab raja kami hendak meminta beliau untuk menjadi kadi istana. Akan tetapi, kabar itu lebih dahulu tiba kepadanya sehingga beliau lari dari negeri kami. Dia membawa serta seorang anak laki-laki. Tadi kami menemukan jasad putranya dimakan singa,” cerita pendamping utusan raja.

Akhirnya, Abdullah menyadari. Sahabat Nabi SAW bernama Abu Qilabah ini tidak ingin terseret menjadi ulama penguasa. Maka itu, ia lebih memilih menyingkir ke padang pasir yang tandus, meski akhirnya kehilangan kedua kaki dan tangannya, serta meninggal dunia.

Ketiga orang itu lantas mengurus jenazah Abu Qilabah dan menshalatkannya. Utusan raja itu kembali ke negerinya dengan hati yang amat sedih. [yy/republika].

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 20 September 2020.

Vien AM.

Dicopas dari : https://www.fiqhislam.com/agenda/tokoh/122998-abu-qilabah-sahabat-nabi-saw-yang-terakhir-kali-wafat

Pada tahun ke 3 hijriyah, beberapa utusan dari kabilah ‘Udal dan Qarah mendatangi Rasulullah saw. Mereka mengabarkan bahwa mereka telah mendengar tentang Islam . Untuk itu mereka  meminta Rasulullah agar mengirim utusan supaya mereka bisa mempelajari Islam dengan lebih baik lagi.

Maka Rasulullahpun mengutus 10 sahabat untuk memenuhi permintaan tersebut. Rasulullah menunjuk Ashim bin Tsabit sebagai amir mereka.  Namun di suatu tempat di antara ‘Usfan dan Mekkah, kelompok kecil ini diintai oleh sekitar 100 pemanah dari bani Lihyan.  Mengetahui hal tersebut, Ashim segera memerintahkan teman-temannya agar segera berlindung ke sebuah bukit kecil di sekitar daerah tersebut.

Sebenarnya Ashim dan kawan-kawan berhasil mengelabui pasukan pemanah Musryik tersebut. Namun Allah swt berkehendak lain. Biji-biji kurma Madinah, bekal yang mereka bawa dari Madinah dan  tercecer di sepanjang perjalanan, memberi petunjuk keberadaan rombongan Ashim. Akhirnya ke sepuluh sahabat itupun terkejar.

“ Kami berjanji tidak akan membunuh seorangpun diantara kalian jika kalian menyerah”, teriak salah seorang Musyr ik  yang mengepung mereka.

“ Kami tidak akan menerima perlindungan orang kafir. Ya Allah, sampaikan berita kami kepada Nabi-Mu”, balas Ashim tegar.

Maka rombongan Musyrik itupun menyerang dan berhasil membunuh Ashim dan 6 sahabat lain hingga tinggallah Khubaib bin Adi, Zaid bin Datsinah dan seorang sahabat. Orang-orang musyrik itu kemudian menangkap dan mengikat ketiganya.

Namun sahabat yang tidak diketahui namanya itu kemudian memberontak sambil berteriak : “ Ini adalah pengkhianatan pertama !” serunya sambil berusaha melawan. Maka syahidlah ia. Selanjutnya Khubaib dan Zaid dibawa ke Mekah dan dijual sebagai budak.

Sementara itu, bani al-Harits yang selama ini menyimpan dendam kesumat terhadap Khubaib mendengar berita tertangkapnya Khubaib. Rupanya nama Khubaib  telah mereka hafal luar kepala karena Khubaiblah yang membunuh  Harits bin Amir, seorang pemuka Mekah, pada perang Badar. Maka dengan penuh antusias Khubaibpun mereka beli.

Maka jadilah Khubaib bulan-bulanan seluruh anggota al-Harits. Setiap hari sahabat Anshar  yang dikenal bersifat bersih, pemaaf, teguh keimanan dan taat beribadah ini harus menerima siksaan. Hingga suatu hari salah seorang putri keluarga tersebut berteriak terkejut , memberitakan bahwa budak sekaligus tawanan mereka sedang santai dan tenang-tenang memakan buah anggur. Padahal buah tersebut sedang tidak musim di Mekah dan Khubaibpun diikat tangannya dengan rantai besi!

“ … … … . Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab”.(QS.Ali Imran(3):37).

Ya itulah yang terjadi pada diri Khubaib, hamba Allah yang senantiasa bertasbih pagi dan petang, mendirikan shalat di malam hari dan berpuasa di setiap siangnya. Khubaib tidak pernah putus asa dari mengharap pertolongan dan perlindungan Sang Khalik.

Mengetahui hal ini, dengan tujuan untuk menakuti-nakuti, keluarga al-Harits segera menceritakan bahwa saudara sekaligus sahabat Khubaib, Zaid yang juga dibeli keluarga Mekah lainnya, telah dieksekusi. Ia telah dibunuh dengan cara ditusuk tombak dari lubang dubur hingga tembus ke dadanya ! Astaghfirullah halladzim ..

Namun berita kejam nan sadis ini ternyata tidak berhasil membuat hati Khubaib ketakutan apalagi berpaling dari keimanannya.  Sebaliknya hal ini justru membuat dirinya lebih pasrah terhadap ketentuan-Nya. Akhirnya keluarga al-Haritspun putus asa. Mereka memutuskan untuk segera mengeksekusi tawanannya yang tegar itu.

Namun sebelum eksekusi dijalankan, Khubaib memohon agar diperbolehkan melakukan shalat terlebih dahulu. Maka shalatlah Khubaib 2 rakaat. Usai shalat, Khubaib menoleh kepada para algojo yang mengawasinya sambil berkata : “Seandainya bukan karena dikira takut mati, maka aku akan menambah jumlah rakaat shalatku”. Inilah shalat sunnah pertama yang dilakukan seorang Muslim ketika akan menghadapi kematian.

Kemudian Khubaib melantunkan sebuah puisi :

Mati bagiku tak menjadi masalah

Asalkan ada dalam ridla dan rahmat Allah

Dengan jalan apapun kematian itu terjadi

Asalkankerinduan kepada-Nya terpenuhi

Kuberserah menyerah kepada-Nya

Sesuai dengan taqdir dan kehendak-Nya

Setelah itu Khubaibpun disalib pada sebuah tiang. Lalu tanpa sedikitpun rasa belas kasih pasukan pemanah menghujaninya dengan anak panah.  Dalam keadaan demikian,   seorang pemuka Quraisy menghampirinya dan berkata : “ Sukakah engkau bila Muhammad menggantikanmu sementara kau sehat walafiat bersama keluargamu?” .

“ Demi Allah, tak sudi aku bersama anak istriku selamat menikmati kesenangan dunia sementara Rasulullah terkena musibah walau oleh sepotong duri !”, jawabnya sontak, seolah tersengat aliran listrik ribuan watt.  Sebuah jawaban yang persis dikatakan Zaid menjelang kematiannya.

“ Demi Allah, belum pernah aku melihat manusia lain, seperti halnya sahabat-sahabat Muhammad terhadap Muhammad “, itu yang dikatakan Abu Sufyan suatu hari mengenai para sahabat.

Maka tanpa ampun lagi, pedang sang algojopun menghabisi  Khubaib. Namun sebelumnya, Khubaib sempat berucap kepada Tuhannya: “

“Ya Allah kami telah menyampaikan tugas dari Rasul-Mu, maka mohon disampaikan pula kepadanya esok, tindakan orang-orang itu terhadap kami “.

Setelah itu orang-orang  Musryik meninggalkan tubuh Khubaib dalam keadaan tetap tersalib di tiangnya. Sementara  burung-burung buas pemangsa yang sejak tadi telah berputar-putar menanti mangsanya tiba-tiba juga meninggalkannya. Rupanya Sang Khalik tidak ridho hamba-Nya yang taat itu menjadi mangsa burung-burung.

Demikian pula doa yang dipanjatkan seorang hamba kepada Sang Pemilik dalam keadaan pasrah dan ridho pada ketetapan-Nya. Tampak jelas bahwa Sang Khalik tidak tega menolaknya. Itu sebabnya, Rasulullah yang ketika itu berada di Madinah secara mendadak mengutus Miqdad bin Amar dan Zubair bin Awwam untuk segera menyusul   ke tempat Khubaib disalib. Padahal ketika itu tak seorangpun orang Madinah yang mengetahui peristiwa nahas tersebut. Allahuakbar ..

Setiba di tempat yang dimaksud, Khubaib telah tiada. Senyum kedamaian tergurat di wajahnya. Dengan menahan kedukaan yang mendalam kedua utusan tadi kemudian melepaskan sang mujahid dari tiang salib kemudian membawa dan memakamkannya di suatu tempat yang hingga detik ini tak seorangpun mengetahuinya.  Sebuah fenomena yang mirip pada apa yang terjadi pada diri nabi Isa as 14 abad sebelumnya. Tak ada sesuatupun yang mustahil bagi-Nya.

“ (Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai `Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya“. (QS.Ali Imran(3):55).

Itulah cara Sang Khalik mengabulkan doa hamba-Nya yang takwa agar dijauhkan dari tangan orang kafir. Karena sebenarnya pemuka kaum Musyrik Mekah telah menyuruh utusan agar mereka dikirimi bagian tubuh Khubaib sebagai bukti bahwa Khubaib telah di-eksekusi ! Allahu Akbar ..

“  Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”.(QS.Ali Imran(3):54).

Salam sejahtera wahai mujahid sejati !

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 3 Agustus 2020.

Vien AM.

Di copas dari :

Khubaib bin Adi, mujahid yang syahid di tiang salib.