Feeds:
Posts
Comments

PENDAHULUAN 

Bab I.         Asal Muasal Tahun Gajah 

Bab II.       Silsilah Rasulullah

Bab III.      Kelahiran dan Masa Kecil 

Bab IV.       Masa Remaja 

Bab V.        Pernikahan dengan Khadijah dan Datangnya Wahyu Pertama

Bab VI.      Dakwah Secara Rahasia ( Sirriyatud -dakwah/

Bab VII.     Dakwah Secara Terang-terangan (Jahriyatud Dakwah)

Bab VIII.   Penolakan Orang-orang Musyrik Mekah Terhadap Islam

Bab IX.      Pengucilan dan Boikot Ekonomi Terhadap Kaum Muslimin ( Hijrah Pertama).

Bab X.        Tahun Duka Cita ( Amul Huzni dan Peristiwa di Thaif )

Bab XI.       Peristiwa Isra-Mi’raj dan Persiapan Madinah sebagai Tempat Hijrah

Bab XII.      Baiat Aqabah dan Hijrahnya Para Sahabat

Bab XIII.    Hijrah ke Madinah

Bab XIV.    Pembentukan Masyarakat  Madinah

Bab XV.      Perang Badar, Perang Pertama dalam Sejarah Islam

Bab XVI.     Pengkhianatan Pertama Yahudi dan Munculnya Tanda-tanda Kemunafikan

Bab XVII.   Perang Uhud dan Hikmah Diperintahkannya Berperang (bag-1)

Bab XVII.   Perang Uhud dan Hikmah Diperintahkannya Berperang (bag-2)

Bab XVIII.  Dakwah Kepada Ahli Kitab (bag-1)

Bab XVIII . Dakwah Kepada Ahli Kitab (bag-2)

Bab XIX.    Pengkhianatan Yahudi Bani Nadhir dan Dampaknya

Bab XX.      Jihad fi Sabilillah (1).

Bab XX.      Jihad fi Sabilillah (2)

Bab XX.      Jihad fi Sabilillah (3)

Bab XXI.     Perdamaian Hudaibiyah dan Baitur Ridwan

Bab XXII.    Perang Khaibar

Bab XXIII.   Dakwah Kepada Raja-raja

Bab XXIV.   Perang Mu’tah

Bab XXV.    Penaklukkan Mekah ( Fathu Makkah) (1)

Bab XXV.    Penaklukkan Mekah ( Fathu Makkah) (2)

Bab XXV.    Penaklukkan Mekah ( Fathu Makkah) (3)

Bab XXVI.   Perang Hunain

Bab XXVII.  Perang  Tabuk dan Kisah 3 Orang Sahabat

Bab XXVIII. Haji Wada, Khutbah Rasulullah dan Tanda Sempurnanya Islam

Bab XXIX.    Rasulullah dan Pernikahan 

Bab XXX.     Hari-hari Akhir Rasulullah saw(1)

Bab XXX.     Hari-hari Akhir Rasulullah saw (2)

Bab XXX.     Hari-hari Akhir Rasulullah saw(3)

PENUTUP

Catatan. Mulai Oktober 2019 buku dapat dipesan sebagai POD ( Print On Demand) melalui link berikut :

Sirah Nabawiyahhttps://bitread.id/book_module/book/view/1382/sirah_nabawiyah/

https://ebooks.gramedia.com/id/buku/sirah-nabawiyah

“Life begins at 40”.

“Life begins at 40” yang diartikan dalam bahasa Indonesia dengan “hidup dimulai pada usia 40” adalah pepatah Barat yang tidak asing di telinga kita. Ini untuk menggambarkan bahwa orang di usia 40 mulai matang, siap memasuki tahapan yang stabil baik secara finansial maupun emosional. Menandakan pada usia inilah karier seseorang mulai menanjak pesat.  

Namun siapa sangka ternyata pepatah Barat diatas sesuai dengan ajaran Islam sebagaimana ayat 15 surat Al-Ahqof berikut :

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, “ … … sehingga apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai EMPAT PULUH TAHUN ia berdo`a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni`mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Ayat di atas menunjukkan bahwa orang di usia 40 akan mengalami kematangan jiwa. Ia baru menyadari betapa banyak nikmat yang Allah swt telah ia dapatkan. Mulai dari nikmat dalam perut ibu yang telah mengandung dan menyusuinya selama 30 bulan ( dalam kandungan antara 6-9 bulan dan menyusui maksimal 24 bulan) hingga ia dewasa menikah dan mendapat keturunan. Untuk itu maka ia bertobat dan memohon petunjuk kepada Sang Pencipta bagaimana cara mensyukuri nikmat tersebut.    

Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-’Adhim (7/280) berkata, “Umur 40 tahun adalah umur dimana akal seseorang menjadi sempurna, pemahamannya lebih matang dan cenderung lebih bijak”. 

Tak heran bila Allah swt mengangkat nabi Muhammad ﷺ  menjadi rasul pada usia 40 tahun. Dengan demikian dapat disimpulkan, selain kematangan finansial dan emosional, kematangan spritualpun dialami oleh orang di usia 40.

Usia 40 tahun adalah usia yang istimewa dan mengandung banyak rahasia maupun hikmah. Pada usia 40 biasanya seseorang telah berkeluarga dan memiliki anak usia remaja, sementara kedua orangtuanyapun kemungkinan besar masih ada. Hingga dengan demikian dalam waktu bersamaan ia memiliki dua generasi yang menjadi tanggung jawabnya. Yaitu anak dan dua orang tua.

Tanggung jawab yang cukup berat, karena seperti kita ketahui bersama anak usia remaja dalam rangka mencari jatinya adalah usia yang penuh tantangan. Sering kali anak suka memberontak dan melawan perintah dan keinginan orang-tua. Saat itulah ia akan teringat betapa sulitnya dulu kedua orang-tua mendidiknya.

Sementara orangtua yang sudah lanjut usia dan sudah pensiun, bisa jadi selain membutuhkan bantuan keuangan juga menginginkan perhatian lebih. Sedangkan ia sendiri sedang menuju puncak karier yang pasti memerlukan tenaga dan waktu yang tidak sedikit.   

Maka tak heran bila kemudian ia tersadar bahwa ia butuh “sesuatu” yang mampu membantunya menyelesaikan permasalahannya. Itulah kebutuhan spiritual. Itu sebabnya para ulama sepakat bahwa usia 40 tahun dapat menentukan masa depan seseorang, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Bila ia bertobat dan segera memperbaiki kesalahannya, ia akan selamat. Sebaliknya bila ia tetap dalam keburukan dan kesesatannya, celakalah ia … Na’udzu billah min dzalik …

Ibnu ‘Abbās berkata, “Barang siapa telah mencapai umur 40 tahun, sedangkan perbuatan baiknya belum dapat mengalahkan perbuatan jahatnya, maka hendaklah ia bersiap-siap untuk masuk neraka.”

Diriwayatkan dari al-Qasim bin ‘Abdurrahman bahwa ia bertanya kepada Maruq, “Kapan seseorang dihukum karena dosa-dosanya?” Beliau berkata, “Jika anda sudah sampai umur 40 tahun, maka berhati-hatilah.”

Berkata al-Hajaj bin ‘Abdullah al-Hakami, salah satu Amir bani Umayah di Damaskus, “Saya meninggalkan maksiat dan dosa selama 40 tahun karena malu kepada masyarakat. Setelah itu, saya meninggalkan maksiat dan dosa, karena malu kepada Allah.”

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah membagi periode kehidupan manusia dalam 4 (empat) periode, yaitu: 1. periode kanak kanak/thufuliyah (mulai lahir hingga baligh), 2. periode muda/syabab (mulai dari usia baligh sampai 40 tahun), 3. periode dewasa/kuhulah(40 tahun sampai 60 tahun) dan 5. periode tua/syaikhukhah(60-70 tahun).

Dengan kata lain, usia 40 tahun adalah usia ketika manusia benar-benar meninggalkan masa kecil dan mudanya, dan beralih menapaki masa dewasa penuh yang disebut dengan usia dewasa madya (paruh baya) atau kuhulah. Situasi kejiwaan yang paling menarik pada usia 40 tahun adalah meningkatnya minat seseorang terhadap agama/spiritualisme dibanding masa-masa sebelumnya. Para pakar psikologi menyebutnya sebagai “least religious period of life”. Usia 40 tahun merupakan titik balik untuk introspeksi dan meningkatkan produktivitas dalam berbagai bidang kehidupan yang positif tidak hanya demi masa depan dunianya tapi juga untuk bekal kehidupan di akhirat kelak.

Kabar baiknya lagi bila seseorang telah mencapai usia 40 segera bertobat dan istiqomah melakukan kebaikan maka ketika di hari tuanya  ia tidak lagi mampu melakukan kebaikan-kebaikan yang biasa dilakukannya, mungkin karena sakit, pikun dll, maka Allah swt tetap mencatat kebaikan tersebut.

Ditambah lagi ketika ia meninggal nanti jika semasa hidupnya ia melakukan 3 hal yaitu sadaqah jariyah ( seperti membangun masjid yang selalu ramai digunakan, menanam pohon yang bermanfaat, membuat pompa air, dll), ilmu yang bermanfaat atau anak saleh yang mendoakannya maka pahalanya akan terus ia dapatkan.

“Apabila manusia meninggal dunia terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya”. (HR. Muslim dari Abū Hurairah).

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 22 Januari 2026.

Vien AM.

Dari Abdullah bin Abi Aufa, rasulullah bersabda:

Wahai sekalian manusia, janganlah kalian berharap untuk bertemu dengan musuh, dan mintalah keselamatan kepada Allah. Tetapi jika kalian bertemu dengan musuh, hendaknya kalian bersabar. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya surga itu di bawah kilatan pedang”. (Hadis sahih) – (Muttafaq ‘alaih).

Hadist ini sering digunakan untuk menyerang Islam dengan cara dipotong bagian awalnya hingga seolah Islam adalah ajaran pedang alias kekerasan. Inilah yang dijadikan pegangan bahwa Islam adalah ajaran penuh kebencian hingga menyebabkan Islamophobia akut di kalangan Barat. Islam bagi mereka adalah teroris.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya surga itu di bawah kilatan pedang”.

Padahal bila kita baca dan perhatikan secara utuh, hadist tersebut justru mengajarkan kesabaran. Menariknya lagi, dengan adanya panggilan “wahai sekalian manusia” bukan “wahai sekalian orang beriman” di awal kalimat, menunjukkan bahwa hadis ini mengajarkan agar seluruh manusia, bukan khusus umat Islam atau orang beriman, untuk selalu berbaik sangka, tidak mencari permusuhan dan keributan. Berdoa selalu kepada Allah swt agar diberi keselamatan.

Akan tetapi bila ternyata ada orang datang mengganggu, memusuhi,  apalagi memerangi, hendaknya bersabar. Namun bersabar bukan berarti diam, pasrah akan tetapi wajib melawan sekuat tenaga, bahkan hingga mati. Mati demi membela diri dan keimanan, keluarga, darah dan harta, syurga adalah balasannya. Itulah mati syahid. Kata pedang digunakan karena perang pada waktu itu biasanya menggunakan pedang. Kilatan pedang menunjukan kedasyatan perang.   

Dari sini jelas terlihat bahwa perang dengan pedang/kekerasan adalah jalan terakhir ketika jalan damai tidak dapat dilakukan. Ini menunjukkan bahwa perang dalam Islam adalah defensive/bertahan bukan ofensif/menyerang. Perang cara ini adalah demi tegaknya keadilan di atas muka bumi. Sementara perang dengan lisan dan pena yaitu dengan perkataan dan tulisan adalah demi tegaknya kalimat Laa ilaha ila Allah, tiada tuhan selain Allah.  

Islam adalah agama yang damai, agama yang tidak menyukai peperangan kecuali terpaksa. Ayat 32 surat Al-Maidah  berikut secara jelas menerangkan membunuh 1 orang tanpa sebab maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi”.

Ayat Al-Quran diatas menyebut dengan jelas, bani Israil, namun sebenarnya juga berlaku bagi umat nabi Muhammad saw yaitu umat Islam. Ironisnya, hari ini seluruh dunia bisa melihat dengan jelas bagaimana Zionis Israil melakukan kebiadaban yang benar-benar di luar nalar manusia. Lebih dari 50 ribu penduduk Gaza mereka bantai, tidak peduli laki perempuan, tua muda, anak kecil. Bahkan sekolah, rumah sakit dan penampunganpun mereka bombardir. Pun setelah adanya perjanjian genjatan senjata tanpa rasa malu mereka langgar.

Bandingkan dengan apa yang terjadi pada peristiwa penaklukkan Yerusalem di tahun 637 di zaman khalifah Umar bin Khattab ra atau pada salah satu perang Salib (pertempuran Hittin ) pada tahun 1187 di masa sultan Salahuddin Al-Ayyubi.

Pada akhir ayat di atas, dapat kita ketahui pula bahwa orang-orang Israil sejak dulu memang  suka berbuat kerusakan di muka bumi, termasuk membunuh para nabi. Rasulullahpun tak luput dari percobaan pembunuhan, bahkan hingga beberapa kali. Pengusiran yang dilakukan Rasulullah terhadap bani Israil seperti bani Qainuqa’, bani Quraizhah dan bani Nadhir dari Madinah ( dulu Yastrib) karena berkali-kali mereka melanggar piagam Madinah, bukan hanya karena mereka Yahudi.

Piagam Madinah adalah piagam perdamaian yang dibuat Rasulullah agar penduduk Madinah hidup damai, saling menghargai dan menghormati apapun agama maupun suku mereka. Piagam ini juga menerangkan bagaimana berinteraksi antar pemeluk agama yang berbeda. Para pakar politik dunia saat ini mengakui bahwa piagam Madinah adalah konstitusi pertama dunia yang menjadi sumber inspirasi untuk membangun masyarakat yang pluralistik, memiliki relevansi yang kuat dengan perkembangan masyarakat internasional dan menjadi pandangan hidup modern berbagai negara di dunia.

Siapa yang tidak sempurna imannya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Seseorang yang tetangganya tidak merasa aman atas kejahatannya.” (HR al-Bukhari).

Perang yang terjadi selama masa kerasulan ( perang pertama baru terjadi pada tahun ke 2 hijriyah, atau 15 tahun setelah masa kerasulan) sebenarnya juga bukan perang panjang dengan korban massif. Perang-perang tersebut berlangsung hanya dalam hitungan hari dengan adanya jeda waktu. Bandingkan dengan sejumlah perang yang pernah terjadi di dunia yang bisa mencapai tahunan bahkan ratusan tahun sebagaimana tercantum pada link berikut :

https://databoks.katadata.co.id/demografi/statistik/0a0b2090f28488f/daftar-perang-terpanjang-dalam-sejarah-hingga-lebih-dari-700-tahun

Melansir dari World Atlas, perang dengan periode terlama yang dicatat sejarah adalah Reconquista, yakni berlangsung selama 781 tahun. Perang Reconquista atau Perang Salib Iberia merupakan perang antara Portugis dan Spanyol dengan Kekhalifahan Kordoba. Perang-perang lain adalah Perang Dunia I (4 tahun), Perang Dunia II (6 tahun), perang Seratus Tahun antara Inggris dan Perancis dll.

Perang di masa hidup Rasulullah yang jumlahnya 27 kali ( mulai tahun ke 2 H hingga tahun ke 10 H), bila ditotal jumlahnya tidak lebih dari 540 hari ( kurang dari 1.5 tahun). Korbannyapun tidak pernah menyasar warga sipil apalagi anak-anak. Demikian pula perintah perang dalam Al-Quran yang sering dituding oleh musuh-musuh Islam sebagai biang kekerasan, sebenarnya hanya 7% dari total ayat yang ada dalam Al-Quran. Itupun dengan berbagai persyaratan. Diantaranya  adalah sebagai berikut:

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa membunuh seorang kafir dzimmi, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun”. (HR. An Nasa’i).

Selebihnya bermacam-macam, antara lain yang paling utama adalah tentang tauhid ( bahwa Tuhan adalah satu), berbagai perintah ( seperti shalat, zakat, infak sedekah, haji, berbuat baik pada orang-tua/manusia/mahluk dll, berbagai larangan ( seperti minum khamr/alcohol, makan babi, zina dll), sains dan kedasyatan alam semesta, kisah orang-orang terdahulu, nabi, rasul dll.     

Dari Abdullah ibnul Mishwar, ia berkata, “Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Seorang yang beriman tidak akan kekenyangan sedangkan tetangganya dalam keadaan lapar”.

Anehnya ada saja orang yang saat ini masih juga membela Israel yang jelas-jelas telah melakukan genosida terhadap rakyat Palestina, Gaza khususnya, bahkan menyebar Islamophobia yang jelas-jelas menjadi korban kebiadaban Israel.   

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar?Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”. ( Terjemah QS. Al-Hajj (22):46).

Wallahu’alam bish shawwab.

Vien AM.

Jakarta, 9 April 2025.

Hafshah adalah putri ‘Umar Abu Hafsh, Amirul Mukminin. Nama lengkap dengan nasabnya adalah Hafshah Hafshah binti ‘Umar bin Al-Khatthab bin Nufail bin Nufail bin ‘Abdil ‘Uzza bin Rabah bin ‘Abdillah bin Qurth bin Razah bin ‘Adi bin Ka’ab bin Lui bin Ghalib Al-Qurasyi Al-‘Adawi. Ibunya adalah Zainab binti Mazh’un bin Hubaib bin Wahb bin Hudzafah bin Juma’.

Hafshah lahir lima tahun sebelum nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat menjadi nabi dan dibangun Ka’bah. Sebelumnya ia telah menikah dengan Khunais bin Hudzafah bin Qais. Keduanya sempat berhijrah ke Habasyah untuk menyelamatkan agamanya dari serangan orang-orang Quraisy. Lalu mereka kembali untuk selanjutnya hijrah menuju Madinah.

Pada usia Hafshah yang ke 18 tahun, Khunais bin Hudzafah mengikuti perang Badar dan meninggal dunia setelah perang Badar dikarenakan luka parah yang ia alami. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyolatkannya dan memakamkannya di pekuburan Baqi’ di samping sahabat yang agung, Utsman bin Mazh’un, saudara ibu Hafshah.

Umar radhiyallahu ‘anhu sungguh terpukul menerima nasib putrinya  yang harus menjadi janda dalam usia sangat muda. Untuk itu ia menawarkan putri tercintanya tersebut kepada Abu Bakar maupun Utsman bin ‘Affan untuk dinikahi. Namun keduanya enggan karena tahu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan melamarnya.

Akhirnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Hafshah pada tahun 3 H (sebelum perang Uhud) dengan mahar sebesar 400 dirham. Saat itu pula, Utsman bin Affan menikahi Ummu Kultsum setelah meninggalnya Ruqayyah, putri rasulullah, yang menjadi istri Utsman sebelumnya.

Setelah Umar menikahkan Hafshah, Abu Bakar menemuinya dan menyampaikan alasannya mengapa ia menolak Hafshah, َ“Jangan kesal kepadaku, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyebut nama Hafshah. Aku tidak mau mengungkapkan rahasia beliau. Dan seandainya beliau meninggalkannya, niscaya aku menikahinya.” (HR. Bukhari, no. 5122).

Keutamaan Hafshah binti ‘Umar.

Pertama: Ia sangat mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Buktinya adalah Hafshah selalu mencari ridha Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjalankan apa yang ia inginkan, juga menjauhi apa yang beliau benci. Hafshah tidak pernah surut dalam upaya membahagiakan dan menggembirakan beliau. Setiap saat yang ia lalui disamping Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu ia manfaatkan untuk semakin mendekat dan mendekat lagi kepada Allah. Ia mempelajari semua bentuk ketaatan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendekatkannya kepada Allah.

Seperti itulah kehidupan suami istri yang mewujudkan kebahagiaan yang selalu menyeruak di rumah mereka. Apa yang dijalankan Hafshah ingin merealisasikan hadits berikut ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR. An-Nasa’i, no. 3231dan Ahmad, 2:251. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Kedua: Hafshah dikenal sangat cerdas karena ia diajarkan khusus oleh Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam, sampai ia mahir dalam kitabah (penulisan) karena diajarkan oleh Asy-Syifa’ binti ‘Abdillah.

Di antara bukti kecerdasan Hafshah pula dapat dilihat dari peristiwa berikut. Hafshah pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Aku berharap tidak ada seorang pun yang masuk neraka dengan kehendak Allah bagi yang menghadiri perang Badar dan menghadiri Hudaibiyah.” Kalimat tersebut terasa aneh oleh Hafshah karena seolah-olah bertentangan dengan ayat, “Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.” (Terjemah QS.Maryam(19):71). [Di antara tafsiran ayat ini adalah orang beriman akan melewati shirath pada hari kiamat]. Hafshah membacakan ayat ini pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat kepada Hafshah, “Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.”(Terjemah QS. Maryam(19):72).

Akhirnya Hafshah memahami apa yang dimaksud dengan ayat tersebut. (HR. Ibnu Majah, no.3473. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Ketiga: Hafshah jadi sebab turunnya ayat, “Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Tahrim: 1).

Dalam Shahihain dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum madu di tempat Zainab binti Jahsy dan tinggal bersamanya. Aku membuat kesepakatan dengan Hafshah bahwa siapa pun dari kami yang ditemui beliau hendaknya ia menanyakan kepada beliau, apakah engkau makan maghafir? Aku mencium bau maghafir darimu. Beliau pun mengatakan, “Tidak, akan tetapi aku minum madu di tempat Zainab binti Jahsy. Aku tidak akan mengulangi lagi. Aku pun sudah bersumpah. Jangan diberitahukan itu kepada siapa pun.” (HR. Bukhari, no. 4912 dan Muslim, no. 1474).

Kemudian Allah pun menurunkan ayat (yang artinya), “Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.At-Tahrim: 1).

Keempat: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mentalak Hafshah lalu rujuk lagi dan Hafshah diberikan kabar gembira menjadi istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga.

Kelima: Hafshah dikenal rajin beribadah, rajin shalat malam dan rajin berpuasa di siang harinya. Dalam hadits dari Anas bin Malik dan Qais bin Zaid, Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda,  “Jibril berkata kepadaku, ‘Kembalilah (rujuklah) kepada Hafshah karena ia adalah wanita yang rajin berpuasa, rajin shalat malam, dan ia akan jadi istrimu di surga.’” (Diriwayatkan oleh As-Suyuthi dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir, no. 6061.Hadits ini shahih)

Keenam: Sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihiwa sallam, Hafshah tetap dikenal rajin dalam ibadah termasuk juga rajin bersedekah pada fakir miskin yang membutuhkan. Ia juga sering jadi tempat bertanya para sahabat lainnya.

Al-Qur’an yang telah dikumpulkan berawal dari masa Abu Bakr, lalu berpindah pada Umar. Lalu setelah bapaknya wafat, Al-Qur’an tersebut berpindah pada Hafshah.

Wafatnya.

Hafshah meninggal dunia tahun 45 Hijriyah pada khilafah Mu’awiyah. Yang menyolatkannya ketika meninggal dunia adalah Marwan bin Al-Hakam yang menjabat di Madinah ketika itu. Yang menurunkan jenazahnya dalam kubur ketika itu adalah dua saudaranya ‘Abdullah bin ‘Umar dan ‘Ashim bin ‘Umar, juga putra-putra dari Ibnu ‘Umar yaitu Salim, ‘Abdullah, dan Hamzah.

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Vien AM.

Jakarta, 26 September 2025.

Referensi:

Click to access Belajar-dari-Istri-Nabi-serial-ke-4-Hafshah-binti-Umar-1.pdf

Tragedi Al-Aqsho (1).

Untuk pertama kalinya sejak 1967, Masjidil Aqsho di Al-Quds (Yerusalem)  yang merupakan masjid tersuci ke 3 setelah Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah, ditutup. Penutupan oleh otoritas Israel ini dimulai pada 28 Februari 2026  bertepatan dengan 10 Ramadhan 1447 H. Penutupan tersebut berlanjut hingga akhir Ramadhan membuat ribuan warga Palestina tidak bisa menunaikan shalat Iedul Fitri yang merupakan hari raya umat Islam terpenting disamping hari raya Iedul Adha.

Syekh Ekrima Sabri, khatib Masjid Al-Aqsho dan mantan mufti besar Yerusalem, mengeluarkan fatwa agar umat Islam melaksanakan shalat Ied di titik terdekat yang bisa dijangkau dari masjid tersebut. Namun, kehadiran militer yang masif di lorong-lorong Kota Tua membuat situasi tetap mencekam dan rawan bentrokan.

Penutupan dengan dalih keamanan yang diberlakukan tepat pada saat dimulainya serangan AS-Israel ke Iran tersebut tentu saja memicu kemarahan dan kesedihan tidak saja warga Yerusalem namun juga umat Islam seluruh dunia. Hamas menilai penutupan itu sebagai bagian dari kebijakan sistematis yang bertujuan memaksakan kendali penuh atas kompleks Al-Aqsha yang selama 60 tahun berada dibawah kendali otoritas Palestina.

Negara2 Arab tetangga seperti Yordania, Arab Saudi, Qatar, UAE, Kuwait, Bahrain dll segera mengutuk tindakan yang dinilai melanggar kesepakatan internasional tersebut. Sayangnya seperti juga tindakan brutal dan biadab yang selama ini dilakukan Israel terhadap Palestina, Gaza khususnya, Lebanon, Yaman dll hanya sekedar dikutuk tanpa tindakan nyata dan upaya serius untuk menghentikannya. Bahkan atas izin negara-negara teluk dimana pangkalan militer  AS bercokol, AS bisa leluasa menyerang Iran.

Itu sebabnya kemudian Iran menyerang balik pangkalan-pangkalan militer tersebut. Namun sayangnya sekali lagi, negara-negara teluk berpenduduk mayoritas Islam tersebut tidak mau trima,  dengan alasan serangan Iran menimpa sejumlah fasilitas vital meski Iran menyangkalnya. Belakangan terbukti bahwa itu adalah perbuatan sengaja AS !! Sungguh sebuah upaya adu domba yang tidak lucu.   

Ajaibnya lagi tanpa sedikitpun rasa malu Israel mengadu kepada PBB bahwa Iran telah melanggar perjanjian internasional dengan mengebom kota-kota Israel hingga mengakibatkan korban sipil. Lupa seolah dunia tidak melihat apa yang dilakukannya di Gaza dimana kota luluh lantak, puluhan ribu korban meninggal sebagian besar anak-anak dan perempuan.    

Di saat yang sama ketika perhatian dunia tersedot ke arah perang AS-Israel melawan Iran, pemukim Yahudi dengan dibantu tentara Israel seenaknya menyerobot lahan dan rumah penduduk Palestina di kota-kota Tepi Barat serta mengusir sang pemilik bahkan menganiaya dan membunuhnya. Mereka juga seenaknya memasuki area Masjidil Aqsho dan melakukan ritual agama mereka.

Begitupun Gaza yang katanya sedang dalam keadaan genjatan senjata, namun tak henti-hentinya pasukan Israel menjatuhinya bom hingga detik ini. Truk-truk bantuan makanan dan obat-obatan yang merupakan bagian dari perjanjian genjatan senjata  juga mengalami pemblokiran membuat rakyat Gaza terus menderita kelaparan akut dan kesengsaraan berkepanjangan.    

Sejumlah ulama spesialis akhir zaman, termasuk Shamsi Ali, imam besar asal Indonesia yang berdomisili di New York, Amerika Serikat, secara tegas menyatakan bahwa tindakan provokatif Israel merupakan usaha demi terwujudnya impian Zionis yaitu Israel Raya dengan Yerusalem sebagai ibukota. Lebih khusus lagi demi tegaknya kembali the Kingdom of David alias Temple of Solomon yang berdiri tepat di atas Masjidil Aqsha, persis prediksi Rasulullah s.a.w ribuan abad silam.  

Padahal perbuatan biadab dan kekejian yang dilakukan Yahudi Israel dibantu sekutu sejatinya AS yang sudah sangat keterlaluan itu, sesungguhnya hanyalah akan mempercepat datangnya siksaan dan hukuman Allah sebagaimana ayat 7 surat Al-Isra’ berikut,

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”.

Ayat diatas memastikan akan lenyapnya bangsa Yahudi dari permukaan bumi ini. Maha Suci Allah yang memberitahukan kepada kaum Muslimin bahwa kaum Muslimin akan memasuki Masjidil Aqsa, sebagaimana pertama kali dahulu (di masa pemerintahan Umar bin Khathab r.a menaklukan bumi Palestina). Namun dengan catatan bila kaum Muslimin bersatu sebagaimana penaklukan pertama. Allah swt bahkan telah menjanjikan pertolongan dengan batu yang dapat berbicara.

“Kaum Yahudi nanti akan memerangi kalian. Akan tetapi, kalian (diberi kekuatan) menguasai (mengalahkan) mereka, kemudian (sampai) batu pun berkata, ‘Wahai Muslim, ada orang Yahudi di belakangku, bunuhlah dia.‘” (HR Tirmidzi No. 2236).

Dr. Bassam Nahad Jarrar dalam buku terjemahan “Kehancuran Israel tahun 2022” menguraikan bahwa dua janji Allah kepada Bani Israil yang diturunkan dalam kitab Taurat dan Al-Quran baru terlaksana sekali. Berarti masih akan terjadi sekali lagi. Menurutnya, dalam Kitab Taurat, Allah telah memutuskan bahwa bani Israil akan memasuki bumi yang diberkati, yaitu Palestina. Bahkan di sana mereka akan mendirikan pemerintahan. Tetapi kemudian mereka membuat kerusakan besar sehingga menyebabkan Allah swt menghukum mereka dengan cara mengirim hamba-hamba-Nya yang tangguh, itulah umat Islam. Setelah kerajaan mereka binasa, mereka diusir dan dicerai-beraikan.

Masalahnya, akankah umat Islam bersatu, dalam waktu dekat ini?? Sampai kapan umat Islam akan terus tunduk dan mengekor AS dan Israel yang saat ini memang sedang diberi Allah swt kejayaan yang menyesatkan??  Padahal negara-negara Nato sekutu dekat AS seperti Spanyol, Italia, Inggris, Perancis dan Jermanpun sudah menyatakan kemuakannya dan tidak ingin telibat perang melawan Iran. Dan Iranpun sudah secara terbuka mengajak negara-negara Muslim untuk bersatu melawan kejahatan AS dan Israel.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Ali Imran (3):51).

Atau akankah Iran yang dengan gagah berani sendirian terus menghadapi Yahudi Israel hingga memborong balasan pahala tertinggi dari-Nya tanpa satupun kita mendapatkan bagian pahala? Alangkah meruginya !!! Karena sesungguhnya ketetapan Allah Azza wa Jala pasti terjadi meski tak satupun manusia di dunia ini berpartisipasi.

Kami tidak berniat hendak memerangi Abrahah karena kami tidak memiliki kekuatan untuk itu. Rumah suci itu ( Ka’bah) adalah milik Allah yang dibangun oleh nabi Ibrahim a.s.  Jika Allah  hendak mencegah penghancurannya itu adalah urusan Pemilik Rumah suci itu tetapi jika Allah hendak membiarkannya dihancurkan orang maka kami tidak sangggup mempertahankannya”.

Itulah jawaban pemuka Quraisy penguasa Mekah  penjaga Ka’bah, Abdul Mutthalib kakek Rasulullah Muhammad s.a.w atas tantangan Abrahah penguasa Yaman yang datang ke Mekah dengan pasukan gajahnya yang bertujuan menghancurkan Ka’bah. Maka Allah swt mendatangkan pertolonganNya sebagaimana terekam dalam surat Al-Fill berikut,

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka`bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”.  

Akhir kata, semoga kita bisa mengambil hikmahnya, menjadi bagian kemenangan semampu kita meski hanya dengan doa yang sejatinya adalah senjata terkuat umat Islam, aamiin …

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 26 Maret 2026 / 6 Syawal 1447 H.

Vien AM.

Pada Kamis 9 April 2026, tepat 40 hari setelah ditutup, penjajah Israel membuka kembali Masjidi Aqsho, Alhmdulillah wa syukurillah.  Hal ini dilakukan bersamaan dengan genjatan senjata antara AS-Israel vs Iran setelah perang berlangsung selama 40 hari. Memang karena alasan itulah Israel menutup masjid ke 3 tersuci tersebut. Selain Masjidil Aqsho mereka juga menutup gereja Makam Kudus yang merupakan salah satu situs paling suci bagi umat Kristen, selama periode yang sama dan alasan yang sama.

Pembukaan kembali masjid tepat di waktu azan Subuh  tersebut disambut penduduk dengan perasaan lega. Banyak diantara mereka yang menitikan air mata dan melakukan sujud Syukur. Dengan berbondong-bondong mereka memasuki masjid untuk melakukan shalat Subuh berjamaah.  

Namun demikian patut dicermati bahwasanya masjid dibuka dan ditutup sesuka pihak penjajah Israel. Imam masjidil Aqsho memang sempat meminta perhatian kaum Muslimin agar ikut berpikir dan bertanggung jawab atas penutupan masjid tersebut. Namun nyatanya Masjidil Aqsho dibuka kembali  tanpa satupun campur tangan atau tekanan berarti dari kaum Muslimin.

Artinya bukan mustahil Israel suatu saat akan menutupnya kembali sesuka mereka. Apalagi beberapa hari sebelum Israel memutuskan membukanya, mentri Israel secara terbuka telah berani terang-terangan meminta dunia internasional agar umat Yahudi dapat melakukan ibadah di dalam masjid tersebut. Sebelumnyapun beberapa kali ia telah memprovokasi pemukim Israel melakukan hal tersebut. Bahkan pada Agustus 2024, di bawah perlindungan polisi Israel pula, ia memimpin ratusan orang Yahudi memasuki kompleks masjid Aqsho untuk melakukan ritual Yahudi. Dengan sesumbar ia juga mengatakan akan membangun rumah suci di kompleks tersebut.

Kita harus memenangkan perang ini. Kita harus menang dan tidak pergi ke perundingan di Doha atau Kairo,” serunya, menunjukkan jelas tujuan sebenarnya perang melawan Palestina.  

Sontak kementerian Luar Negeri Yordania tegas mengutuk hal tersebut, dan menyebutnya sebagai pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional. Yordania adalah penanggung-jawab situs-situs suci di Yerusalem termasuk kompleks Masjidil Aqsho. Hal itu disepakati pada perjanjian damai Yordania-Israel tahun 1994. Status tersebut diperkuat lagi dalam perjanjian Yordania-Palestina pada tahun 2013, yang menegaskan raja Yordania sebagai penjaga situs suci di Yerusalem yang bertugas melindungi, melestarikan, mengelola, dan mewakili kepentingan situs suci pada forum internasional.

Namun kenyataanya Zionis Yahudi Israel tidak pernah berhenti berusaha untuk mencaplok dan merubah status kompleks Masjidil Aqsho, bahkan semakin hari semakin mencolok. Sejumlah arkeolog melaporkan bahwa saat ini sebagian struktur Masjid Al-Aqsa berpotensi mengalami keruntuhan. Ini disebabkan aktivitas penggalian yang dilakukan otoritas Israel di sekitar kompleks suci dan kawasan Kota Tua Yerusalem. Dengan dalih penelitian arkeologis, sejak beberapa tahun terakhir, otoritas Israel secara sistematis menggali terowongan di bawah Al-Aqsa dan sekitarnya.

Lebih parah lagi tidak hanya kompleks masjid namun juga tanah Palestina secara keseluruhan. Ini terbukti dari beredarnya peta baru Israel dengan nama Israel Raya yang wilayahnya meliputi seluruh Israel, Tepi Barat, Gaza, Suriah, Yordania, Lebanon, Mesir dan Arab Saudi.

Jadi apa yang dituduhkan kepada Zionis Israel bahwa mereka sedang melakukan genosida terhadap rakyat Palestina memang sangat masuk akal. Pada akhir Januari 2026 jumlah korban meninggal tercatat mencapai 72 ribu padahal genjatan senjata diberlakukan sejak Oktober 2024. Sementara ribuan korban hilang tak berbekas tak dapat ditemukan hingga hari ini. Itupun masih terus bertambah karena hampir setiap hari secara sporadis tentara Israel terus melakukan pembunuhan hingga detik ini, tidak hanya di Gaza tapi juga di kota-kota Tepi Barat.      

Ditambah lagi dengan adanya Board of Peace buatan Trump serta adanya proposal  “Gaza Reconstitution, Economic Acceleration and Transformation Trust”, atau GREAT, yang berisi tentang rencana gila Trump untuk menyulap Jalur Gaza menjadi resor mewah Riviera Timur Tengah.

https://www.antaranews.com/berita/5078313/trump-siapkan-skema-relokasi-gaza-dengan-token-digital-dan-subsidi

Alasan AS dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari lalu karena nuklir hanyalah mengada-ada. Persis yang pernah dilakukan AS terhadap Irak pada 2003. Ironisnya lagi serangan pertama ke Teheran tersebut menyasar sekolah anak perempuan usia SD hingga menewaskan ratusan siswanya. Demikian juga serangan Israel ke Lebanon yang dilakukan hanya selang beberapa jam usai genjatan senjata hingga memakan korban lebih 2000 rakyat sipil serta hilangnya ratusan kota/desa di Lebanon, tak syak lagi adalah bagian dari realisasi peta tersebut.        

Maka tak heran bila hari ini negara-negara sekutu Nato mulai menunjukkan keengganannya mengabulkan permintaan Trump agar membantu memboikot Iran. Sejak beberapa hari lalu orang nomor 1 AS tersebut memblokade selat Hormuz setelah gagalnya negosiasi antar ke 2 negara tersebut. Trump menyebutnya sebagai bagian upayanya untuk “mengambil kembali selat Hormuz” yang ditutup Iran, dan memboikot ekonomi Iran.

Anehnya justru negara-negara tetangga Timur Tengah berpenduduk mayoritas Islam yang malah bersekutu membela AS dan Israel. Termasuk juga negara kita tercinta Indonesia. Buktinya cukup banyak, diantaranya dengan tetap menjadi anggota BoP, pidato yang jelas mengatakan “ Israel harus dijamin keselamatannya”, tidak mengutuk langsung AS dan Israel atas gugurnya 3 prajurit TNI yang tergabung dalam Pasukan Perdamaian PBB (UNIFIL)  di Lebanon Selatan, tidak spontan menyampaikan duka cita atas gugurnya pimpinan tertinggi Iran. Belakangan bahkan mengecam Iran keras kepala karena tidak mau tunduk kepada AS yang langsung dibalas pejabat Iran karena mereka punya martabat … Masya Allah ..  

Sejarah mencatat bagaimana nasib pemimpin negara yang tidak mau tunduk pada kemauan dan dominasi AS. Diantaranya adalah Fidel Castro dari Kuba (1961), Raja Faisal bin Abdulaziz Al Saud dari Arab Saudi (1973), Saddam Hussein dari Irak (2003),  Muammar Gaddafi dari Libia (2011) dan terakhir Nicolas Maduro serta istri dari Venezuela ( 2026).

https://www.detik.com/sumbagsel/berita/d-8412000/11-pemimpin-dunia-yang-pernah-dikudeta-atau-diserang-amerika-serikat.

Namun tampaknya baru kali ini ada seorang pemimpin yang berani secara terbuka mengecam perbuatan ala preman jalanan tersebut. Ia adalah Lukashenko, presiden Belarusia. Di dalam negri AS rakyat sudah mulai muak dengan prilaku presiden mereka. Demo “No King” yang ditujukan kepada kediktatoran Trump merebak di berbagai kota besar AS.

Sementara banyak pimpinan tertinggi negara-negara Barat seperti Spanyol, Irlandia, Norwegia, Belanda dll mengecam tindakan brutal Israel. Apalagi setelah parlemen Israel pada awal April ini mengesahkan undang-undang yang sangat kontroversial mengenai hukuman mati bagi tahanan Palestina tanpa perlu proses pengadilan. Untuk diingat,  jumlah tahanan Palestina di penjara Israel per April 2026 dilaporkan melampaui 9.600 orang termasuk perempuan dan anak-anak.      

Menjadi seorang pemimpin memang maha berat apalagi dalam pandangan Islam. Tanggung-jawabnya tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat.  Pemimpin harus bisa bersikap adil, jujur, dan tidak semena-mena, tidak boleh zalim. Pemimpin tidak boleh menyusahkan rakyat dan bangsanya.

”Sesungguhnya, dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.”(Terjemah QS. Asy-Syura : 42).

“Ya Allah, siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku kemudian dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku dan memudahkan mereka, maka mudahkanlah dia.” (HR Muslim).

Umar bin Khattab ra adalah contoh pemimpin terbaik yang pernah dimiliki dalam Sejarah Islam. Khalifah ke dua ini tidak saja piawai dalam memimpin negara yang wilayah kekuasaannya sangat luas, namun juga seorang ahli ibadah yang jujur, amanah dan sangat peduli kepada rakyatnya. Dibawah kekuasaannya Islam mencapai kejayaannya.

Pada masa itu pula Palestina dibawah panglima perang Khalid bin Walid ditaklukan dengan cara damai. Sang khalifah dengan pakaian lusuh datang dari Madinah dengan mengendarai kuda memasuki Yerusalem dengan hanya ditemani seorang ajudannya. Beliau datang untuk memenuhi permintaan Sophronius, patriarch (uskup agung) Yerusalem sekaligus panglima Romawi yang meminta agar perjanjian penyerahan Yerusalem ditandatangani langsung oleh sang khalifah.

Perjanjian tersebut menjanjikan jaminan keamanan penduduk Yerusalem. Tidak ada pertumpahan darah, tidak ada gereja yang dimusnahkan, tidak ada paksaan untuk memeluk Islam. Dan Umarpun memenuhinya hingga Sophroniuspun tanpa ragu menyerahkan kunci kota langsung ke tangan Umar. Penaklukan yang terjadi pada tahun 637 M (15 H) inilah yang membuka jalan bagi penyebaran Islam di Palestina dan menjadikannya wilayah aman di bawah naungan kekhalifahan Islam.

Demikian juga dengan Shalahuddin Al-Ayyubi, penguasa Mesir yang menaklukkan Palestina untuk kedua kalinya. Penaklukan berlangsung dengan damai, menunjukkan perbedaan mencolok antara penaklukan Islam dan penaklukan Salib 88 tahun sebelumnya.

Masjidil Aqsha adalah satu dari tiga masjid paling mulia dalam Islam, tempat yang Allah kaitkan langsung dengan perjalanan Isra’rasulullah. Di tanah suci ini para nabi pernah hidup, berdakwah, bahkan dimakamkan, menjadikannya pusat sejarah dan peradaban tauhid. Masjidil Aqsho Adalah kiblat pertama umat Islam sebelum Allah swt memerintahkannya berpindah ke Masjidil Haram di Mekah.

Janganlah kalian menempuh perjalanan jauh kecuali menuju ke tiga masjid: masjidku ini (Masjid Nabawi), masjid Al Haram, dan masjid Al Aqsha” (HR. Bukhari no. 1115 dan Muslim no. 1397).

Sholat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu kali lipat daripada sholat di masjid-masjid lainnya. Sholat di Masjid Nabawi lebih utama seribu kali lipat. Dan sholat di Masjidil Aqsa lebih utama lima ratus kali lipat.” (HR Ahmad dari Abu Darda).

Adalah tanggung jawab kaum Muslimin, bukan hanya penduduk Palestina, untuk menjaga dan membela Masjidil Aqsha sebagai amanah hingga akhir zaman. Jadi sungguh tidak pantas ketika masjid agung tersebut ditutup oleh penjajah Israel kita hanya berdiam diri bahkan tidak peduli.

Semoga Allah swt ridho membuka hati kaum Muslimin dimanapun berada agar mau bersatu dan berani melawan penjajah Israel dan sekutunya. Kalaupun tidak seberani dan sedasyat saudara-saudara kita di Gaza dan Iran setidaknya seperti mereka yang saat ini berpartisipasi dalam Global Sumud Flotilla yang didukung lebih dari 70 kapal dan sekitar 1.000 peserta dari berbagai negara. Karena tidak perlu menjadi Islam untuk membela rakyat Palestina dan memahami kejahatan Zionis Israel.

Wallahu ‘alam bi shawwab.

Jakarta, 21 April 2026/ 4 Dzulkaedah 1447H.

Vien AM.