Feeds:
Posts
Comments

PENDAHULUAN 

Bab I.         Asal Muasal Tahun Gajah 

Bab II.       Silsilah Rasulullah

Bab III.      Kelahiran dan Masa Kecil 

Bab IV.       Masa Remaja 

Bab V.        Pernikahan dengan Khadijah dan Datangnya Wahyu Pertama

Bab VI.      Dakwah Secara Rahasia ( Sirriyatud -dakwah/

Bab VII.     Dakwah Secara Terang-terangan (Jahriyatud Dakwah)

Bab VIII.   Penolakan Orang-orang Musyrik Mekah Terhadap Islam

Bab IX.      Pengucilan dan Boikot Ekonomi Terhadap Kaum Muslimin ( Hijrah Pertama).

Bab X.        Tahun Duka Cita ( Amul Huzni dan Peristiwa di Thaif )

Bab XI.       Peristiwa Isra-Mi’raj dan Persiapan Madinah sebagai Tempat Hijrah

Bab XII.      Baiat Aqabah dan Hijrahnya Para Sahabat

Bab XIII.    Hijrah ke Madinah

Bab XIV.    Pembentukan Masyarakat  Madinah

Bab XV.      Perang Badar, Perang Pertama dalam Sejarah Islam

Bab XVI.     Pengkhianatan Pertama Yahudi dan Munculnya Tanda-tanda Kemunafikan

Bab XVII.   Perang Uhud dan Hikmah Diperintahkannya Berperang (bag-1)

Bab XVII.   Perang Uhud dan Hikmah Diperintahkannya Berperang (bag-2)

Bab XVIII.  Dakwah Kepada Ahli Kitab (bag-1)

Bab XVIII . Dakwah Kepada Ahli Kitab (bag-2)

Bab XIX.    Pengkhianatan Yahudi Bani Nadhir dan Dampaknya

Bab XX.      Jihad fi Sabilillah (1).

Bab XX.      Jihad fi Sabilillah (2)

Bab XX.      Jihad fi Sabilillah (3)

Bab XXI.     Perdamaian Hudaibiyah dan Baitur Ridwan

Bab XXII.    Perang Khaibar

Bab XXIII.   Dakwah Kepada Raja-raja

Bab XXIV.   Perang Mu’tah

Bab XXV.    Penaklukkan Mekah ( Fathu Makkah) (1)

Bab XXV.    Penaklukkan Mekah ( Fathu Makkah) (2)

Bab XXV.    Penaklukkan Mekah ( Fathu Makkah) (3)

Bab XXVI.   Perang Hunain

Bab XXVII.  Perang  Tabuk dan Kisah 3 Orang Sahabat

Bab XXVIII. Haji Wada, Khutbah Rasulullah dan Tanda Sempurnanya Islam

Bab XXIX.    Rasulullah dan Pernikahan 

Bab XXX.     Hari-hari Akhir Rasulullah saw(1)

Bab XXX.     Hari-hari Akhir Rasulullah saw (2)

Bab XXX.     Hari-hari Akhir Rasulullah saw(3)

PENUTUP

Catatan. Mulai Oktober 2019 buku dapat dipesan sebagai POD ( Print On Demand) melalui link berikut :

Sirah Nabawiyahhttps://bitread.id/book_module/book/view/1382/sirah_nabawiyah/

https://ebooks.gramedia.com/id/buku/sirah-nabawiyah

Tanpa banyak tanya, Uwais menunjukkan lengannya ketika Umar, sang khalifah memintanya.  Tanpa diduga, Umarpun langsung memeluknya begitu menyaksikan lengan bertanda tersebut, seraya berkata, “Engkaulah orang yang diceritakan Nabi dan kucari-cari selama ini. Berdoalah dan mintakanlah aku ampunan dari Allah.”

Wahai Amirul Mukminiin, apakah aku harus memohon supaya engkau diampuni?”, tanya Quwais keheranan. “Benar”, tukas Umar.

Pertanyaannya, siapa Uwais Al-Qarni ini hingga namanya disebut oleh Nabi dan seorang khalifah sekaliber Umar bin Khattabpun mencari-carinya demi memohon doa darinya?

Dikisahkan dari hadis Riwayat Muslim dari Ishak bin Ibrahim, pada zaman hidup Rasulullah SAW, hidup seorang pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Pemuda fakir dan yatim ini tinggal di negeri Yaman, bersama ibunya yang lumpuh dan buta.

Uwais Al-Qarni bekerja sebagai seorang penggembala domba. Hasil usahanya hanya cukup untuk makan ibunya sehari-hari. Bila ada kelebihan ia gunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin. Uwais Al-Qarni dikenal seorang yang taat beribadah dan sangat patuh pada ibunya. Ia juga dikenal sering sekali berpuasa.

Pemuda tersebut menyimpan keinginan membuncah agar suatu hari nanti dapat bertemu dengan Rasulullah. Itu sebabnya ia sangat sedih setiap kali melihat tetangganya berjumpa dengan sang kekasih, nabi Muhammad SAW. Kecintaannya yang begitu mendalam mampu membuatnya ikut mematahkan giginya dengan batu. Ini dilakukannya ketika mendengar kabar bahwa gigi sang Rasul patah karena dilempari batu oleh penduduk Thaif yang enggan mengikuti ajakan Rasulullah untuk ber-Islam.  

Uwais sangat merindukan Rasulullah, kerinduan karena iman kepada Allah dan Muhammad sebagai rasulnya. Hingga suatu hari, karena tak dapat membendung lagi kerinduannya, ia mendekati ibunya dan mengeluarkan isi hatinya, memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah.

Begitu ibunya mengizinkannya dengan syarat agar tidak berlama-lama meninggalkannya, Uwaispun segera pergi menempuh perjalanan jauh ke Madinah.  Sayangnya ketika ia tiba di tujuan, rupanya Rasulullah sedang memimpin jihad di luar Madinah. Ia hanya bertemu Aisyah ra, istri Rasulullah, yang tentu saja tidak dapat memastikan kapan dan berapa lama Rasulullah akan kembali.

Sementara itu terngiang pesan ibunya tercinta yang telah renta agar tidak berlama-lama meninggalkannya. Akhirnya karena ketaatannya kepada sang ibu, ia  mengalahkan keinginan menggebunya untuk menunggu dan berjumpa dengan sang kekasih, Muhammad SAW. Uwaispun kembali ke Yaman.

Beberapa lama kemudian Rasulullah pulang dari medan pertempuran. Sesampainya di rumah Rasulullah menanyakan kepada Aisyah tentang orang yang mencarinya. Aisyah menjelaskan bahwa memang benar ada yang mencarinya, tetapi tidak menunggu dan segera kembali ke Yaman karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.

Mendengar itu Rasulullah berkata bahwa orang itu penghuni langit. Nabi menceritakan kepada para sahabatnya, “Kalau kalian ingin berjumpa dengannya, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di lengannya. Apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan bumi.”

Uwais pergi berhaji.

Anakku, mungkin ibu tak lama lagi akan bersamamu. Ikhtiarkan agar ibu dapat mengerjakan haji,” pinta sang ibu suatu hari.

Mendengar ucapan sang ibu tercinta, Uwais termenung. Perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh, melewati padang tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Lantas bagaimana hal itu dilakukan Uwais yang sangat miskin dan tidak memiliki kendaraan? Uwais terus berpikir mencari jalan keluar.

Tak lama iapun membeli seekor anak lembu. Kemudian ia membuatkan kandang di puncak bukit untuk anak lembu tersebut. Setiap pagi ia bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit.

Uwais gila … Uwais gila …” kata orang-orang yang melihat tingkah laku Uwais yang aneh tersebut. Tak pernah satu haripun terlewat ia menggendong lembu naik-turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar pula tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi. Setelah 8 bulan berlalu, sampailah pada musim haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kilogram, begitu juga otot Uwais yang makin kuat.  

“ Alhamdulillah, trimakasih yaa Allah”, puji Uwais kepada Tuhannya.

Rupanya selama 8 bulan tersebut, ia sedang melatih dirinya agar mampu menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah! Masya Allah, sungguh besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya. Uwais berjalan tegap menggendong ibunya wukuf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata melihat Baitullah.

Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa. “Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais. “Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang Ibu keheranan. Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga”, jawab Uwais tulus dan penuh cinta.

Allah subhanahu wata’ala pun memberikan karunia untuknya. Uwais seketika itu juga sembuh dari penyakit sopak yang selama itu diderita seluruh tubuhnya. Yang tertinggal hanya bulatan putih di lengannya. Itulah tanda yang dimaksudkan Rasulullah agar para sahabat dapat mengenali Uwais, yang di kemudian hari akhirnya ditemukan khalifah Umar bin Khattab yang setiap waktu haji dan datangnya kafilah dagang dari Yaman, rela mencarinya. Allahu Akbar …

Akan halnya pertemuannya dengan khalifah Umar bin Khattab bertahun-tahun kemudian adalah sebagai berikut: 

Uwais pergi berdagang ke Madinah.

Suatu hari setelah ibu Uwais wafat, bersama  rombongan kafilah dagang, Uwais tiba di kota Madinah. Seperti biasa, melihat ada rombongan kafilah yang baru datang dari Yaman segera Khalifah Umar dan juga Ali bin Abi Thalib mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu Umar dan Ali segera pergi menjumpainya dan memberinya salam.

Umar kemudian menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah”. Mendengar jawaban Uwais, Umar dan Ali tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al Qarni”.

Selanjutnya Umar meminta agar Uwais bersedia memperlihatkan lengannya. Maka begitu keduanya melihat tanda putih di lengan tersebut, sontak keduanya memeluk dan meminta Uwais untuk mendoakan keduanya.

Wafatnya Uwais.

Ketika Uwais wafat di rumahnya yang sederhana di Yaman, orang-orang tak dikenal  dari segala penjuru berbondong-bondong datang untuk memandikan, mengkafani, menyalati hingga mengantarnya ke pemakaman. Masyarakatpun gempar. Mereka saling bertanya-tanya, “Siapakah sebenarnya engkau Wahai Uwais Al Qarni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai pengembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatnya, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya.

Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al Qarni disebabkan permintaan Uwais sendiri kepada khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib agar merahasiakan tentang dirinya. Di hari wafatnya itulah mereka baru mengetahui bahwa Uwais Al Qarni adalah seorang penghuni langit.

Begitulah Uwais Al Qarni, sosok yang sangat berbakti kepada orang tua, dan itu sesuai dengan sabda Rasulullah ketika beliau ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR Ibnu Majah).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 27 Maret 2026 / 7 Syawal 1447H.

Vien AM.

Suatu hari Ali mendapat laporan bahwa Abdullah bin Khabab dan istrinya telah dianiaya dengan begitu kejamnya hingga menemui ajal. Abdullah bin Khabab adalah salah seorang sahabat. Selain itu kelompok jahat tersebut juga membunuh tiga perempuan lain secara sadis.

Mendengar ini Ali segera mengutus seorang kepercayaannya untuk mendatangi para kawanan pembunuh tersebut, yang tak lain adalah kaum Khawarij. Namun utusan inipun langsung mereka bunuh tanpa adanya penjelasan.

Akibatnya para sahabat dan pendukung Alipun geram. Mereka menuntut Ali agar segera menangkap dan mengadili gerombolan perusuh tersebut. Maka Alipun segera bertindak, ia mempersiapkan pasukannya dan menuju ke arah Nahrawan, dengan tekad kaum Khawarij yang telah keterlaluan menantang kepemimpinannya itu harus diperangi. Ali teringat akan ucapan Rasulullah yang suatu ketika pernah berujar :

Sekelompok kaum memisahkan diri dari Muslim dan  mereka diperangi oleh salah satu dari dua kelompok yang paling dekat dengan kebenaran”.(HR. Muslim).

Namun Ali tidak pernah menyangka bahwa peristiwa itu akan terjadi pada dirinya. Tiba-tiba Ali teringat bagaimana prilaku orang-orang Khawarij terhadap hasil tahkim dalam perang Siffin yang baru lalu, padahal mereka pula yang memaksa Ali menyetujui usulan pihak Muawiyah tersebut.

Mengapa kalian menegosiasikan urusan agama Allah dengan orang-orang itu?”, protes al-Asy’ats bin Qais, seorang pentolan Khawarij ketika itu.

Ucapan itulah yang kemudian banyak ditiru para qari, alias pembaca Al-Quran yang merupakan mayoritas pendukung Khawarij. “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah”, inilah kata-kata yang kemudian menjadi senjata mereka dalam melawan kebijaksanaan Ali, sang khalifah, pemimpin mereka sendiri. Dan sejak itulah sekitar 12.000 orang yang tadinya merupakan pendukung Ali, menyatakan keluar dan memisahkan diri dari pasukan pendukung Ali. Itulah asal mulanya Khawarij.

Dan sejak itu pula dengan gencar mempropagandakan pandangan dan keyakinan mereka. Ironisnya, dengan beraninya pula mereka mengkafirkan semua orang yang berseberangan dengan pandangan mereka, termasuk Alipun, mereka kafirkan ! Mereka bahkan menuntut ponakan sekaligus menantu Rasulullah ini mengakui kekafirannya dan segera bertobat.

Tentu saja hal ini membuat Ali benar-benar prihatin. Hingga suatu saat Ali mengutus seorang sahabat, Ibn Abbas, agar menanyakan alasan mereka mengkafirkan dirinya. Ternyata salah satu alasan tersebut adalah karena pada perang Jamal yang baru lalu, Ali bukannya menawan Aisyah, umirul mukminin, tapi malah melepaskan bahkan menyuruh seseorang untuk mengawalnya pulang ke Madinah. Padahal sebagai pihak yang kalah dalam perang, sesuai ayat Al-Quran, mustinya ditawan, dibalas sesuai perbuatannya dan dijadikan budak. Mereka kemudian menyitir beberapa ayat diantaranya surat Al-Maidah ayat 45  dibawah ini,

Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”.

Ali terkesima mendengar hal tersebut. Aisyah walau bagaimanapun adalah istri Rasulullah, ibunya umat Islam, umirul mukminin. Mana mungkin ia mampu berbuat setega itu. Dan lagi perang Jamal adalah perang yang terjadi karena kesalah-fahaman, antara sesama Muslim, dan  hasil adu domba pihak tertentu.

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. … “. (QS. Al-Ahzab(33):6).

Tapi itulah sifah kaum Khawarij. Mereka menggunakan ayat-ayat Al-Quran sebagai pembenaran sikap dan langkah mereka, namun dengan pemikiran yang sangat sempit dan kaku. Yang bagi orang awam selintas kelihatannya benar. Ironisnya, pemikiran ala Khawarij ini telah merasuk ke dalam sejumlah golongan dalam Islam hingga detik ini, tanpa menyadari bahwa hal tersebut adalah tidak benar. Mereka ini menggunakan  ayat-ayat Al-Quran  tanpa mau melihat situasi dan asbabul nuzulnya.

Maka karena mereka tidak bisa dinasehati akhirnya Alipun terpaksa memerangi mereka. Perang ini dinamakan perang Narahwan, karena terjadi di tempat tersebut. Ketika itu Ali berpidato,

Sungguh, aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Akan muncul suatu kaum dari umatku yang pandai membaca Al Qur`an. Dimana, bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan mereka. Demikian pula shalat kalian daripada shalat mereka. Juga puasa mereka dibandingkan dengan puasa kalian. Mereka membaca Al Qur`an dan mereka menyangka bahwa Al Qur`an itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Al Qur`an itu adalah (bencana) atas mereka. Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya”.

Sekiranya pasukan yang memerangi mereka tahu pahala yang telah ditetapkan bagi mereka atas lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, niscaya mereka akan berhenti beramal. Ciri-cirinya adalah bahwa di antara mereka ada seorang laki-laki yang memiliki lengan tak berhasta dan di atasnya terdapat biji seperti putting susu dan juga berbulu-bulu putih. Pergilah kalian ke Mu’awiyah dan penduduk Syam dan kalian meninggalkan mereka. Sebab, mereka akan mendatangi keluarga dan harta-harta kalian (membunuh keluarga  kalian dan menjarah harta kekayaan kalian) . Demi Allah, aku benar-benar mengharap bahwa mereka itulah kaum yang dimaksud Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena mereka telah menumpahkan darah yang haram dan mengelabui manusia. Maka, berangkatlah kalian atas nama Allah”.

Namun tampak bahwa nafsu dan bisikan syaitan telah membutakan orang-orang Khawarij. Dengan penuh semangat mereka menyambut pasukan Ali seraya berseru : “Tidak ada hukum kecuali milik Allah, ayo, songsonglah surga, sambutlah surga “.

Usai perang Nahrawan yang dimenangkan pasukan Ali, menyisakan banyak kesedihan. Pasukan Ali dilanda kelemahan dan perpecahan yang semakin parah. Suara Ali sebagai khalifah makin tidak didengarkan. Banyak diantara mereka yang tadinya mendukung dan membantu perjuangan Ali kini berbalik mengkritik dan mencelanya. Demikian juga rakyat Syria yang mustinya merupakan daerah kekuasaan Ali juga makin melecehkannya. Berkali-kali Ali berusaha membakar semangat persatuan pasukannya, agar mau memerangi rakyat Syria yang membangkang itu, namun tetap diabaikan.

Ali sungguh prihatin menghadapi cobaan berat ini. Ia menyadari bahwa waktunya akan tiba bahwa ia akan dianiaya pendukungnya sendiri, hingga suatu saat ia berkata « Jenggot ini akan berubah menjadi merah disebabkan darah yang mengucur dari kepala ini ».

Dan ini menjadi kenyataan ketika suatu hari Ali sedang menuju masjid untuk memimpin shalat Subuh. Ia dikuntit dan ditikam dengan pedang yang telah diberi racun oleh orang Khawarij bernama Abdullah bin Muljam dan 2 orang temannya. Awalnya Ali menyangka orang tersebut juga hendak sholat bersamanya.

« Hai Ali pengadilan adalah milik Tuhan, bukan milikmu atau temanmu ! », begitu pernyataan si pembunuh dengan penuh percaya diri, ketika akhirnya ditangkap, Tragedi mengenaskan ini terjadi 4 tahun setelah perang Siffin yaitu pada Jumat 17 Ramadhan tahun 40H( 661M), di usia Ali yang ke 60 tahun.

Dalam keadaan berlumuran darah hingga jenggot seperti perkiraan Ali, ia dibawa pulang ke rumah. Umi Kalsum, putri kesayangan Ali yang juga merupakan istri dari Umar bin Khattab menangis histeris melihat ayahnya pulang dalam keadaan demikian. Begitu pula orang-orang dekat Ali. Melihat keadaan Ali yang semakin parah, beberapa orang sempat menyarankan agar Ali segera menunjuk Hasan bin Ali sebagai penggantinya.

« Tidak », jawab Ali. « Aku tidak ingin memberi kalian amanat ataupun menghambat apapun keputusan kalian”.

“ Tapi apa yang akan kau katakan kepada Tuhanmu bila kau tinggalkan kami tanpa seorangpun pemimpin?”, desak mereka lagi.

“ Akan aku katakan pada-Nya bahwa aku kembali kepada-Mu seperti rasul-Mu yang kembali tanpa menunjuk seorangpun pemimpin baru”, jawab Ali meyakinkan.

Kemudian Ali menasehati, diantaranya “Puncak kekayaan adalah kecerdasan akal sedang dasar kemiskinan adalah ketidak-tahuan. Sementara puncak kejahatan adalah kesombongan, dan puncak kebaikan adalah sifat dan prilaku yang santun”.

Demikianlah akhir kehidupan Ali, sang khulafaurrasyidin ke 4 itu wafat tanpa meninggalkan wasiat siapa penggantinya. Namun pendukungnya tetap mengangkat Hasan sebagai penggantinya. Dibawah pemerintahannya pembunuh ayahandanya tersebut diganjar hukuman mati. Namun tak lama kemudian, demi mencegah perpecahan umat, dengan amat bijaksana Hasanpun mengundurkan diri, dan menyerahkan seluruh kekuasaan ke tangan Muawiyyah.

Maka sejak itu berdirilah kerajaan Islam Umayah, yang merupakan keluarga dari bani Quraisy. Kerajaan ini membentang dari Iberia di Spanyol sekarang, Afrika utara, seluruh jazirah Arab hingga ke bagian timur India, yang berdiri hingga tahun 750 M.

Sementara itu, paska terbunuhnya Ali, terbersit rasa penyesalan di hati Muawiyah yang sebenarnya memang tidak mempunyai rasa permusuhan pribadi. Itu sebabnya maka ia mengundang Saad bin Abi Waqqash, salah satu sahabat utama yang tidak berpihak baik kepada Ali maupun Muawiyyah. Selain Saad, tercatat Abdullah bin Umar, Muhammad bin Maslamah dan Usamah bin Zaid adalah beberapa sahabat yang termasuk di kelompok ini. Muawiyah memulai interogasinya dengan membacakan ayat 9 surat Al-Hujurat berikut :

”Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”.

Namun apa jawaban Saad, yang ternyata benar-benar membuat Muawiyah tercengang.

“Bagaimana mungkin aku dapat memenuhi ajakan melawan seseorang yang Rasulullah pernah bersabda “  Kau bagiku seperti Harun dengan Musa. Namun demikian tidak ada nabi setelah aku”. Kalau kau masih juga tidak percaya wahai Muawiyah, dengarlah apa yang dikatakan Rasulullah kepada Ali : “ Dimanapun engkau Ali, kau bersama keadilan, dan keadilan bersamamu!”.

Mendengar itu Muawiyah berkata: “ Apakah ada orang lain yang mendengar ini? Kau harus membuktikannya, Saad”.

Maka Saadpun menyebut beberapa nama, diantaranya umirul mukminin Ummi Kalsum. Beruntung umirul mukminin ini masih hidup hingga dapat diambil kesaksiannya. Dan ternyata memang benar ia mendengar apa yang dikatakan rasulullah, persis seperti apa yang didengar Saad. Seketika pucatlah wajah Muawiyah, dengan nada penuh penyesalan ia berkata,

“Wahai Abu Ishak ( Saad bin Abi Waqqash), aku bersumpah, demi Allah, kalau saja aku mengetahui hal ini, tidak akan aku memberontak dan berperang melawan Ali. Mulai saat ini aku tidak akan lagi mencerca perbuatan Ali yang telah lalu”.

Perlu menjadi catatan, pembunuh Ustman yang tampaknya merupakan sebuah konspirasi dasyat, hingga detik ini tetap menjadi rahasia yang tak terpecahkan, menjadi polemik bagi sebagian umat Islam. Rentetan pembunuhan Ustman dan Ali, bahkan juga mungkin Umar, disusul dengan lahirnya kelompok Syiah dan kelompok Khawarij adalah sebuah rangkaian yang tampaknya sudah direncanakan secara sistimatis dan sangat matang.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 22 Oktober 2013.

Vien AM.

Referensi:

1. Ali bin Abi Thalib, le heroes de la chevalerie karya Recit Haylamas

2. http://id.wikipedia.org/wiki/Ali_bin_Abi_Thalib

3. http://www.anneahira.com/ali-bin-abu-talib.htm

4. Kisah hidup Ali ibn Abu Thalib, karya Dr. Musthafa Murad.

5. Berbagai sumber lainnya.

Perang Siffin terjadi pada tahun 657 M di suatu daerah bernama Siffin di tepi sungai Efrat, tak lama setelah perang Jamal usai. Sebelumnya Ali sempat memindahkan pusat pemerintahan dari Madinah ke Kuffah. Tujuannya selain karena posisinya yang lebih strategis juga agar memudahkan penyerangan ke Damaskus, ibu kota Syam, yang memberontak karena menuntut sang khalifah segera menyelesaikan masalah pembunuhan Ustman bin Affan, khalifah sebelum Ali. Itu sebabnya Muawiyah, gubernur Syam menolak kekhalifahan Ali. Muawiyyah berpendapat bahwa Ali ikut terlibat dalam pembunuhan itu dan harus mempertanggung-jawabkannya kepada umat Islam.

Sebelum penyerangan dimulai, Ali mengutus Jarir bin Abdullah menemui Muawiyah, mengingatkan sekali lagi agar mau menyerah dan mengakui Ali sebagai khalifah, namun tetap ditolak. Akhirnya pecahlah perang yang sangat melelahkan dan memakan korban yang banyak itu.

Pada awalnya perang hanya berlangsung satu kali sehari, pagi setelah dhuha hingga waktu zuhur, atau ba’da zuhur hingga menjelang magrib. Namun berikutnya perang bisa terjadi 2x dalam sehari. Shalat dilakukan ke 2 belah pihak, yang memang sama-sama Muslim itu, di sela-sela perang, secara bergantian.

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka`at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. … … ”. (QS.An-Nisa(4):102).

Bulan telah berganti namun tidak ada tanda-tanda bahwa perang akan usai. Muawiyah mulai khawatir pihaknya akan kalah dan para pendukungnya mundur dan berbalik memihak Ali. Maka segera ia mencari strategi untuk melemahkan lawan, yaitu dengan menyebarkan rumor bahwa pasukannya akan menggali pinggiran sungai agar dengan demikian pasukan Ali tenggelam kedalamnya.

Mendengar  desas-desus ini pasukan Alipun panik, dan meminta Ali agar segera memindahkan posisi mereka. Namun Ali yang memang menguasai taktik perang segera berujar : “ Celakalah kalian, sesungguhnya mereka sedang menipu agar kalian pergi dari tempat ini. Posisi kita jauh lebih baik dari posisi mereka”.

Tetapi pasukan Ali yang memang suka membantah dan cenderung tidak mau mendengar suara sang pemimpin tetap berkeras meninggalkan tempat, dan meninggalkan Ali. Hingga terpaksa Alipun mengikuti kemauan mereka. Dan akhirnya pasukan Muawiyah menempati tempat itu.

“Seandainya mereka taat, tentu mereka selamat hingga Yamamah dan Syria dapat ditaklukkan, tetapi mereka menentang ucapan dan perintahku. Orang-orang bodoh itu selalu saja menentangku”, keluh Ali dikemudian hari.

Perang terus berkelanjutan hingga memasuki bulan berikutnya. Ali benar-benar prihatin menyaksikan hal ini. Maka di suatu sore, ketika matahari telah terbenam, Ali menulis surat dan mengutus seorang utusan agar menyampaikannya kepada Muawwiyah.

“Wahai Muawwiyah, mengapa kita harus membiarkan rakyat mati atas nama kita. Mari kita selesaikan masalah ini satu lawan satu. Siapa yang tetap berdiri dialah yang akan mengendalikan kekuasaan”.

Muawiyyah terdiam sejenak. Ia juga sudah mulai lelah menghadapi peperangan ini. Namun ia juga menyadari tak ada seorangpun dapat menandingi keahlian pedang Ali.  Amr bin Ash, bekas gubernur Mesir yang merupakan orang kepercayaan Muawiyyah segera berdiri.

“Ali adalah seorang yang lembut meskipun ia jago pedang, terimalah tantangannya. Aku yang akan menghadapinya”, tegasnya.

Maka terjadilah duel diantara keduanya. Dan seperti telah diperkirakan, dalam waktu singkat Amr pun tumbang. Ia terjatuh dari kudanya. Dengan sekali tebas saja mustinya selesailah pertarungan. Namun itu bukan karakter Ali. Betapa banyak sejarah mencatat Ali meninggalkan lawan yang telah dikalahkannya begitu saja, tanpa memenggal kepalanya, seperti lazimnya perang. Tampak bahwa sabda Rasulullah selalu terngiang di telinganya:

“Seorang mujahid sejati bukanlah seorang yang meneriakkan kemenangannya melainkan dia yang mampu mengatasi kemarahan pribadinya dalam kancah peperangan”.

“Apakah kau mampu membelah hatinya untuk mengetahui ia jujur atau bohong?”. Pertanyaan ini dilontarkan nabi saw kepada Usama, adik kesayangan Ali, yang suatu ketika tetap memenggal kepala orang yang dikalahkannya dalam pertempuran meski ia telah bersyahadat, dengan alasan itu hanya pura-pura.

Sebaliknya kelemah-lembutan ini pula yang menjadi pangkal kekalahan Ali. Setelah berperang selama lebih dari 1 bulan, pasukan Ali sebenarnya sudah nyaris dapat mengalahkan pasukan Muawiyyah. Namun lagi-lagi Amr bin Ash, yang memang dikenal sebagai seorang yang jago diplomasi, menawarkan Muawiyyah agar segera dilakukan tahkim, atau genjatan senjata. Caranya yaitu dengan menancapkan Al-Quranul Karim di ujung pedang setiap prajuritnya.

Cara ini ternyata terbukti ampuh. Pasukan Ali langsung terbelah saat itu juga. Sebagian ingin berhenti berperang, karena mereka berkeyakinan bahwa Al-Quran adalah hukum tertinggi, sedangkan sebagian lain tetap ingin berperang hingga usai. Ali sendiri sebenarnya merasa bahwa ini hanyalah jebakan. Namun ia tidak kuasa memaksa pasukannya untuk terus berperang, sebagaimana ia juga tidak kuasa menahan pasukannya untuk tetap bertahan di posisi mereka, padahal ketika itu mereka sudah nyaris menang.

Akhirnya terjadilah genjatan senjata. Diputuskan bahwa dalam beberapa waktu kedepan akan diadakan pertemuan antara kedua utusan untuk mencari pemecahan masalah. Maka Alipun segera menarik mundur pasukannya yang telah mulai terpecah itu ke Kuffah dan Muawiyah ke Damaskus.

Sementara itu pada hari yang ditentukan bertemulah Abu Musa bin Asya’ari sebagai wakil Ali dan Amr bin Ash sebagai wakil Muawiyah. Perundingan ini berlangsung setahun setelah terjadinya tahkim. Sebenarnya Ali tidak setuju dengan penunjukkan Abu Musa sebagai walinya, karena ia tahu bahwa Abu Musa bukanlah seorang yang pandai berdiplomasi. Namun sekali lagi, atas desakan sebagian besar pengikutnya Ali terpaksa mengalah.

Dan nyatanya memang itulah yang terjadi. Dalam perundingan antara kedua orang yang tidak seimbang itu Ali berada di pihak yang dirugikan. Amr berhasil mendeklarasikan bahwa Muawiyah secara resmi adalah penguasa Syam dan Mesir. Sementara Ali tetap sebagai khalifah Islam di luar daerah kekuasaan Muawiyah. Inipun masih ditambah dengan perpecahan di dalam tubuh pasukan Ali yang makin lama makin parah.

Dikabarkan seusai tahkim 12 ribu personil pasukan Ali menyatakan keluar. Orang-orang ini desersi karena tidak puas terhadap hasil tahkim, dan menyalahkan Ali sebagai penyebabnya. Sejak itupun mereka selalu membuat keributan, kerusuhan dan pemberontakan. Orang-orang ini dikemudian hari dinamakan kelompok Khawarij. Sedangkan pendukung Ali yang masih setia disebut sebagai  kelompok Syiah.

Mengenai orang-orang Khawarij yang dikenal rajin shalat, berpuasa dan membaca Al-Quran ini, Rasulullah saw pernah bersabda :

“ Akan keluar pada kalian, suatu kaum yang shalat mereka mengalahkan shalat kalian, shiyam mereka mengalahkan shiyam kalian dan amal-amal mereka mengalahkan amal-amal kalian. Mereka membaca Al-Qur`an tapi tidak sampai melewati tenggorokannya, mereka keluar dari Ad-dien seperti keluarnya anak panah dari busurnya”. [HR . Bukhari dan Muslim].

Begitulah akhir perang Siffin, kepemimpinan Islam terbagi 2 dengan karakter perbedaan yang mencolok. Muawiyah yang selanjutnya berhasil membangun dinasti keluarga besar, hidup bergelimang kemegahan di istananya yang megah. Yang meski demikian berhasil mencatat kemenangan demi kemenangan serta mencatat zaman keemasan Islam yang sebelumnya belum pernah ada. Kekuasaan dinasti ini terus meluas dan ilmu pengetahuanpun berkembang pesat.

Sementara Ali, sang khalifah, tetap bertahan zuhud sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw, Abu Bakar dan Umar. Ali yang sejak kecil dibesarkan di dalam suasana kenabian yang sederhana tampak tidak mau berkompromi dengan situasi dunia Islam yang sedang menuju kejayaan. Ia tetap bertahan hidup dalam kesederhanaan dan kekurangan. Dari sini pula muncul aliran tasawuf yang mengedepankan ke-zuhud-an itu.

Disamping itu Ali juga benar-benar kecewa terhadap pendukungnya di Kuffah, baik yang sudah keluar maupun yang tinggal segelintir. Ia menyatakan kekecewaan yang sangat karena mereka tidak mau mentaati dirinya sebagai seorang pemimpin.

“ …. Kalaulah aku menguji mereka, maka tidak akan aku dapatkan selain orang-orang yang murtad dan kalaulah aku menyeleksi mereka maka tidak ada yang lolos seorangpun dari sebanyak seribu orang”.

Selama masa kekuasaannya itu pemberontakan demi pemberontakan terus terjadi. Pengikutnya terpecah menjadi 2 bagian extrim, sebagian memusuhinya dengan amat sengit, dan sebagian lain memujanya secara sangat berlebihan.

“ Ya Ali, nasibmu kelak akan seperti Isa bin Maryam, dimana sebagian umat Yahudi membangkang dan melontarkan fitnah kejam terhadap ibunya, sementara sebagian umat Nasrani secara berlebihan memujanya hingga di luar batas”. ( al-Baihaqi, as-Sunnanu’l-Kubra, 5/137(8488).)

Ali dikelilingi oleh orang-orang Khawarij yang senantiasa berkoar-koar bahwa mereka membunuh orang atas nama jihad. Mereka menyatakan bahwa orang-orang yang berbuat dosa besar, yang berpartisipasi dalam perang Jamal dan menyetujui tahkim adalah kafir dan halal darahnya. « Tidak ada pengadilan lain kecuali pengadilan Tuhan! ».

Sementara para pengikut yang memujanya secara berlebihan adalah mereka yang menjadikan Abdullah bin Saba’ sebagai pemimpin. Abdullah bin Saba’ adalah orang Yahudi yang menyusup ke dalam golongan Syiah, dan mengkalim bahwa dirinya adalah nabi dan Ali adalah Sang Pencipta !

Namun para ulama Syiah tidak mengakui hal ini, dengan alasan Abdullah bin Saba hanya tokoh bayangan yang sengaja diciptakan tokoh-tokoh Sunni untuk memojokkan Syiah sebagai kelompok yang  mengklaim sebagai kelompok pecinta ahli bait ( keluarga rasul). Meski kitab Syiah sendiri jelas-jelas menyatakan hal ini.

Dari Abu Abdullah, dia berkata, “Allah melaknat Abdullah bin Saba’ karena dia mendakwakan ketuhanan kepada Amirul mukminin alaihisalam. … … “.

Dari Abu Ja’far alaihisalam : Sesunggujnya Abdullah bin Saba’ mengaku-ngaku sebagai nabi dan mendakwakan bahwa amurul mukminin adalah Tuhan. … … “.

Dari kitab-kitab itu pula dikabarkan bahwa suatu hari Ali memanggil Abdullah bin Saba’, menyuruhnya untuk bertaubat namun menolak. Maka akhirnya Alipun terpaksa membakarnya sebagai hukuman. Ini menjadi bukti kuat bahwa Abdullah bin Saba’ adalah nyata bukan tokoh fiktif.

( Bersambung).

Pasca terbunuhnya Ustman bin Affan, penduduk Madinah sepakat mengangkat Ali bin Tahlib sebagai khalifah ke 4. Mulanya Ali menolak penunjukkan tersebut. Tetapi atas desakan para sahabat, diantaranya Tolhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam, 2 dari 10 sahabat yang dijamin Rasulullah saw masuk surga, akhirnya Alipun menyerah. Tholhah dan Zubair berpendapat bahwa kekosongan khalifah sangat rentan terhadap pemberontakan di saat-saat yang memang kritis tersebut.

Maka jadilah Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin tertinggi umat Islam di saat yang amat rawan. Pemberontakan dan boikot yang berakhir dengan dibunuhnya Ustman telah membuat umat Islam terpecah dan menimbulkan fitnah terbesar dalam sejarah Islam. Para pembunuh Ustman menyembunyikan identitas mereka dan menyelinap kedalam kelompok elit yang makin lama makin menggurita dan menciptakan persekongkolan yang membuat Ali sulit melacak siapa sebenarnya otak pembunuhan Ustman. Padahal gelombang protes menuntut agar Ali segera menemukan biang kerok kerusuhan makin hari makin meningkat.

Sementara itu, Ali juga harus bertindak cepat membuat sejumlah kebijakan baru, diantaranya yaitu menarik kembali tanah yang dihadiahkan Utsman kepada penduduk dan menyerahkan hasil pendapatannya kepada negara, mengaktifkan kembali sistem distribusi pajak tahunan seperti yang pernah diterapkan Umar dan mengganti para gubernur yang dianggap bermasalah. Memang salah satu penyebab buruk sangkanya masyarakat terhadap Ustman adalah sikapnya yang kurang tegas terhadap prilaku kurang baik sebagian gubernur yang diangkat karena kedekatan hubungan kekeluargaan itu.

Itu sebabnya Ali mencopot gubernur Basrah, Yaman, Kuffah dan Mesir, dan menggantinya dengan yang baru. Demikian pula dengan Syam, namun Muawiyah, sang gubernur menolak. Hingga Ali terpaksa mengiriminya surat. namun Muawiyah, yang merupakan keponakan Ustman itu malah membalasnya dengan surat yang hanya berbunyi : « Dari Muawiyyah bin Abu Sufyan kepada Ali bin Abu Thalib ».

Dengan air mata berlinang dan senyum pedih tersungging di bibir, Ali, sang khalifah baru, langsung dapat menangkap pesan kuat tersebut. Muawiyyah tidak mengakui kekhalifahannya. Rupanya Muawiyyah tidak setuju dengan kebijakan-kebijakan yang diambilnya, terutama yaitu cara Ali menangani pembunuh Usman. Seperti juga kebanyakan sahabat dan rakyat, ia menginginkan Ali segera menangkap pembunuh tersebut. Sayangnya tidak hanya cukup disitu, Muawiyyah yang berkedudukan di Damaskus itu bahkan telah mempersiapkan pasukan besar untuk menentang Ali.

Di lain pihak, Tolhah dan Zubair, tak lama setelah membaiat Ali meminta izin pergi ke Mekah  untuk melaksanakan umrah, sekaligus menemui Aisyah  umirul Mukminin, yang saat itu sedang memimpin rombongan umrah. Rupanya kedua sahabat kental ini ingin mengetahui pendapat Aisyah mengenai terbunuhnya sang khalifah. Aisyah memang sangat terpukul mendengar kabar memilukan ini. Bagaimana mungkin pemimpin tertinggi umat Islam bisa dibunuh dengan sedemikian kejinya, didalam kamar istananya sendiri dan dijaga ketat oleh kedua putra Ali pula, yaitu Hasan dan Husein.

Aisyah memang tidak bisa menyembunyikan kekecewaan dan kemarahannya tersebut. Itu sebabnya, ia memutuskan untuk pergi bersama Thalhah dan Zubair menemui Ali.  Mereka sepakat agar Ali segera menuntut balas pembunuh Ustman. Namun sebelumnya mereka akan ke Basrah dulu, untuk mencari dukungan. Sayangnya, sekali lagi, tidak hanya ketiga sahabat ini yang bermaksud pergi ke Basrah menuntut Ali segera menyelesaikan kemelut tersebut. Namun juga rombongan umrah pimpinan Aisyah dan sejumlah kelompok lain yang makin lama makin banyak hingga mencapai kelompok besar dengan jumlah ribuan orang.

Menjelang memasuki Basrah, rombongan besar ini dicegah masuk oleh gubernur Basrah yang baru saja diangkat Ali. Mulanya memang tidak terjadi sesuatu. Namun ntah bagaimana tiba-tiba terjadi kerusuhan yang menyebabkan jatuhnya kurban.  Kejadian berdarah ini segera sampai ke telinga Ali.

Ali yang saat itu sedang memimpin pasukannya menuju Syam untuk menghadapi pasukan besar Muawiyyah benar-benar tercengang. Ia tidak menyangka Tholhah dan Zubair yang sebelumnya telah membaitnya telah berubah pikiran. Ali bukannya tidak mau menyelesaikan masalah pembunuhan Ustman.  Sebaliknya, ia tahu persis bahwa pembunuhan Ustman adalah sebuah konspirasi besar yang sangat serius. Untuk itu diperlukan dukungan penuh  dari semua wilayah negri.  Stabilitas negara harus dibenahi dahulu sebelum mencari pembunuh Ustman. Ia tidak ingin umat Islam terpecah-belah.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.(QS. Ali Imran(3):103).

Ali menyadari tampaknya ada yang mengajaknya bermain di air keruh, ada yang ingin memanfaatkan kesempatan untuk mencari keuntungan. Tampak jelas bahwa kelompok pembunuh Ustman yang belum diketahui identitasnya itu belum cukup merasa puas dengan terbunuhnya Ustman. Terpaksa Alipun merubah haluan pasukannya, dari menuju Damaskus berganti ke Basrah. Iapun segera mengutus Alqa’qa bin Amr untuk menanyakan secara langsung, sebenarnya apa maksud kedatangan rombongan Tholhah, Zubair dan Aisyah ke Basrah.

Setelah jelas permasalahannya, merekapun segera berembug. Kedua kelompok sepakat bahwa tidak perlu ada kekerasan, apalagi pertumpahan darah diantara sesama Muslim. Pembunuh Ustman harus di-qishos, namun nanti setelah kestabilan Negara tercapai. Alipun kemudian keluar untuk menemui Zubair, lalu berkata,

Wahai Zubair, tidaklah kamu mendengar sabda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ditujukkan kepada dirimu:  Sesungguhnya kamu akan memerangi Ali dan (saat itu) kamu berbuat zhalim kepadanya”.

Mendengar itu Zubair tertunduk, sadar akan kekhilafannya. Zubair segera menarik mundur pasukannya hingga ke suatu tempat dimana terdapat suatu mata air. Di tempat ini Aisyah mendengar gonggongan anjing.

“Dimanakah kita ini?”, tanya umirul Mukiminin masygul.

Ketika Aisyah tahu bahwa tempat itu adalah Hau’ab, bukan kepalang kagetnya Aisyah. Dengan dahi yang berkerut ia berkata, “Kembalikan aku, kembalikan aku !”. “ Aku mendengar Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ketika itu istri-istrinya berada di Hau’ab, siapa diantara kalian yang disalak oleh anjing Hau’ab maka kembalilah

Namun belum sempat mereka memenuhi keinginan Aisyah, menjelang Subuh dilaporkan bahwa mereka telah diserang secara diam-diam, hingga ada yang terbunuh. Dikabarkan bahwa Ali dan pasukannya telah berkhianat. Rupanya telah terjadi fitnah besar, hasutan datang dari pihak yang tidak senang dan kecewa atas batalnya perang antar bersaudara tersebut. Usaha ini tercapai, terbukti dengan segera bersiapnya kelompok Aisyah dkk untuk membalas serangan tersebut. Di lain pihak, pasukan Ali yang mendapat kabar bahwa pasukan Zubair dan kawan-kawan telah bersiap-siap menyerang, merekapun juga segera menyiapkan diri.

Tanpa dapat dielakkan lagi pecahlah pertempuran yang melibatkan ribuan personil itu. Perang dasyat yang di kemudian hari diberi nama perang Jamal ini terjadi setelah Zuhur. Baik pihak Ali maupun Zubair sebenarnya telah berusaha mengingatkan pasukan masing-masing untuk menahan diri.

“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”.(QS.Al-Hujurat(49):10).

Namun bisikan syaitan tidak mampu dicegah hingga akhirnya terjadilah perang mengerikan antara 10 ribu pendukung Ali melawan sekitar 6 ribu pendukung Aisyah, Zubair dan Tholhah. Sore harinya perang memang segera usai, namun dengan jumlah korban yang sungguh memilukan. Pertempuran selesai setelah pasukan Ali berhasil menaklukkan unta yang dikendarai Aisyah. Itu sebabnya perang ini dinamakan perang Jamal (Unta). Ketika itu salah satu pengikut Aisyah sengaja membawa keluar unta yang dikendarai Aisyah, dengan tujuan mengobarkan semangat kelompok Aisyah yang sudah hampir kalah dan patah semangat. Apalagi mengetahui bahwa Tholhah dan Zubair, pemimpin mereka telah terbunuh. Namun usaha terakhir mereka ini gagal. Pasukan Ali berhasil membuat unta Aisyah terjatuh.

Diriwayatkan dari Ali; dia berkata bahwasanya Rasulullah bersabda kepadanya: “Akan terjadi suatu masalah antara kau dan Aisyah.” Ali berkata: “Wahai Rasulullah, kalau begitu, tentu aku akan menjadi orang yang paling celaka.” Rasulullah berkata: “Tidak demikian adanya, tapi jika itu terjadi, maka kembalikanlah dia (Aisyah) ke tempatnya yang aman.”

Itu sebabnya maka Ali pun melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Rasulullah kepadanya. Ia memperlakukan Aisyah dengan hormat, lalu memerintahkan seorang kepercayaannya agar mengantar Aisyah kembali ke Madinah.

Usai perang, hati Ali benar-benar hancur menyaksikan kesudahan perang saudara yang tidak seharusnya terjadi ini. Dengan hati duka Ali berkeliling dan ketika ia melihat jenazah Tholhah diantara korban bergeletakan yang jumlahnya tak terkira itu, ia  segera turun dari kudanya dan mengangkat jenazah tersebut. Sambil menangis pilu, ia berkata:

“Wahai Abu Muhammad, alangkah berat perasaan ini melihatmu meninggal tergeletak di atas tanah di bawah bintang-bintang langit. Aduhai, seandainya aku mati dua puluh tahun silam sebelum peristiwa ini”.

Ironisnya, Tholhah sebenarnya ketika itu tidak ikut berperang. Ia terbunuh ketika  sedang berusaha melerai para prajurit yang berperang. Demikian pula Zubair, ia dikuntit dan dibunuh secara diam-diam ketika berusaha meninggalkan medan perang. Ia tidak lagi berminat memerangi Ali sejak Ali mengingatkan apa yang pernah dikatakan Rasulllah saw beberapa tahun lalu.

Itu sebabnya Ali sangat kecewa dan marah mengetahui anak buahnya telah membunuh Zubair. Ketika itu datang Ibnu Jurmuz menemui Ali sambil membawa pedang milik Zubair, lalu berkata: “Aku telah membunuh Zubair, aku telah membunuh Zubair.” Mendengar  itu, Ali berkata: “Pedang ini telah begitu lama menghilangkan duka dan kesusahan Rasulullah. Berikanlah berita gembira kepada orang yang telah membunuh Ibnu Shafiyyah (yaitu Azzubeir) bahwa ia akan masuk neraka”. Dan sejakitu Ali tidak pernah lagi mengizinkan Ibnu Jurmuz menemuinya.

Beberapa hadist dengan bunyi hampir sama, mengatakan “Setiap nabi mempunyai penolong, Zubair ini adalah penolongku“, ”Setiap nabi memiliki pengikut pendamping yang setia (hawari), dan hawariku adalah Azzubair ibnul Awwam”, “ Thalhah dan Zubair adalah dua tetanggaku di surga (nanti)”.

Begitulah akhir dari perang Jamal yang sungguh memilukan itu. Dalam keadaan duka yang mendalam Ali memimpin langsung shalat jenazah bagi semua korban, tanpa kecuali. Namun demikian tidak ada waktu bagi sang khalifah yang baru saja naik jabatan itu untuk terus meratapi dan menyesali apa yang telah terjadi, kecuali menjadikannya sebagai suatu pelajaran berharga, tidak hanya bagi Ali dan yang menjadi saksi langsung kejadian tragis itu, namun juga bagi kita semua.

Ali masih harus menghadapi tantangan dasyat lain, yaitu pemberontakan gubernur Syam Muawiyyah yang tidak puas terhadap kebijakan-kebijakan khalifah yang tidak diakuinya karena dianggap tidak mau mencari dan mengadili pembunuh Ustman bin Affan, khalifah sebelum Ali. Ironisnya, pemberontakan tersebut berbuntut menjadi sekali lagi perang antar sesama Muslim, yaitu perang Siffin.

( Bersambung).

Fitnah besar terhadap Ali bin Abi Thalib ra sebagaimana telah diperkirakan Rasulullah saw baru menjadi kenyataan paska wafatnya Rasulullah. Diawali dengan berita duka itu sendiri, yang mudah diperkirakan pasti membawa kesedihan yang begitu mendalam tidak saja bagi kaum Muslimin yang ketika itu sudah mencapai ratusan ribu.  Namun lebih-lebih lagi bagi para sahabat yang selama bertahun-tahun telah menemani dan menjadi saksi turunnya ayat-ayat suci Al-Quranul Karim.

Tak urung bahkan Umar bin Khattab ra yang selama itu dikenal sebagai sosok yang  tegas dan bertemperamen keraspun tak mempercayai berita duka tersebut.

“Muhammad tak mungkin wafat. Ia hanya meninggalkan kita untuk sementara seperti juga Musa yang meninggalkan umatnya menuju bukit Sinai untuk menerima perintah Tuhannya”, seru Umar dengan suara parau, menahan emosi.

Umar terus berteriak-teriak seperti itu kalau saja Abu Bakar ra, tidak segera datang begitu mendapat laporan bahwa Umar telah kehilangan setengah kesadarannya.

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.(QS.Ali Imran(3):144).

Mendengar Abu Bakar membacakan ayat 144 surat Ali Imran diatas, Umarpun langsung tersadar, ia terhuyung dan nyaris terjatuh. Begitulah reaksi para sahabat yang tidak mengira bahwa Rasulullah yang begitu mereka cintai telah pulang menemui Tuhannya, secepat itu. Mereka benar-benar sangat terpukul. Para sahabat yang selama itu selalu berlindung dan menjadikan Rasulullah sebagai tempat bertanya ketika mereka menghadapi masalah merasa begitu kehilangan. Demikian pula dengan Ali. Sebagai sahabat sekaligus anggota keluarga terdekat, ia tidak sanggup memutuskan dan tidak tahu harus berbuat bagaimana dengan jasad Rasulullah yang telah terbujur kaku itu.

Harus menunggu 2 hari ketika akhirnya diputuskan bahwa sebagai manusia biasa jasad Rasulullah  saw wajib dimakamkan. Itupun setelah terjadi sedikit perselisihan bagaimana dan dimana tempat yang paling tepat untk dimakamkan.

“ Setiap Nabi yang diwafatkan oleh Allah pasti dikebumikan di lokasi yang beliau sukai dikubur padanya” .Maka kemudian para sahabat mengubur Rasulullah di tempat pembaringannya”. (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no:5649, dan Tirmidzi II : 242 no:1023).

( Baca  https://vienmuhadisbooks.com/2011/05/27/xxix-hari-hari-akhir-rasulullah-3/ ).

Maka akhirnya Alipun memandikan jenazah Rasulullah saw. Ia dibantu oleh Abbas bin Abdul-Muttalib, paman nabi, dan kedua puteranya, Fadzl dan Qutham serta Usama bin Zaid dan Syuqran, pembantu Nabi.

Ketika itulah terjadi perselisihan di luar sana. Umat Islam  yang baru saja mengenal dan memeluk ajaran yang dibawa Rasulullah mulai terpecah belah. Masing-masing ingin agar golongan dan keluarga mereka memimpin dan menggantikan kedudukan Rasulullah.

Dalam keadaan genting itulah orang-orang kemudian memanggil Abu Bakar agar menyelesaikan masalah kritis tersebut. Datang bersama Abu Bakar ketika itu Umar bin Khattab, Saad bin Ubadah dan beberapa sahabat lain. Setelah melalui perdebatan yang lumayan alot, akhirnya lahir kesepakatan bahwa kaum Muhajirin lebih pantas memegang kepemimpinan dibanding kaum Anshor, karena mereka lebih dulu beriman dan lebih lama mendampingi Rasulullah di awal dakwah yang sangat sulit. Maka ditunjuklah Abu Bakar yang juga merupakan besan Rasusullah ( ayah dari Aisyah ra, salah satu umirul mukminin) sebagai khalifah pertama, yang di kemudian hari dikenal dengan satu dari Khulaul Rasyidin yang 4.

Dipilihnya Abu Bakar bukannya tanpa alasan yang tidak jelas. Semua sahabat mahfum bahwa pada hari-hari akhir Rasulullah, Rasulullah menunjuk Abu Bakar agar memimpin shalat, menggantikan posisi Rasul yang waktu itu dalam keadaan sakit keras. Abu Bakar pula yang dipilih Rasulullah untuk menemani beliau saw saat hijrah ke Madinah. Meskipun ini tidak dapat dijadikan tanda yang jelas bahwa Rasulullah telah menetapkan pengganti beliau saw.

Semua sahabat terkemuka seperti Ali bin Thalib, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan,  Abdul Rahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Khalid bin Walid, Zaid bin Haritsah, Amr bin Ash dan lain lain tentu saja  mempunyai kelebihan masing-masing. Mereka adalah bagian dari kaum Muhajirin dan kaum Anshor yang telah teruji keimanan dan ketakwaannya. Namun mereka harus memilih seorang pemimpin yang diharapkan dapat menyatukan kaum Muslimin yang ketika itu telah mencapai lebih dari 100 ribu orang.

Sebagai catatan, kaum Muhajirin adalah kaum Muslimin Mekah yang hijrah ke Madinah bersama Rasulullah. Sedangkan kaum Anshor adalah kaum Muslimin Madinah yang menerima saudaranya dari Mekah yang ketika itu hijrah bersama Rasulullah. Allah swt memuliakan kedua kaum ini karena ketakwaan mereka. Mereka rela berjihad demi membela agama dan melindungi Rasul-Nya.

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”.(QS.At-Taubah(9):100).

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah ( Muhajirin), dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan ( Anshor kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (ni`mat) yang mulia”.(QS.Al-Anfal(8):74).

Setelah memerintah kurang lebih 2 tahun ( 632-634 M) Abu Bakar wafat pada usia 63 tahun. Dalam sakitnya ia sempat mengumpulkan pemuka-pemuka Muhajirin dan Anshor, termasuk Ali bin Thalib, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan dan Thulhah bin Ubaydillah. Pertemuan ini untuk membicarakan siapa yang paling pantas menggantikan dirinya. Abu Bakar mengajukan pertanyaan bagaimana Umar bin Khattab menurut pendapat mereka. Sementara kepada Ali, Abu Bakar mengajukan pertanyaan yang agak berbeda,

“Bagaimana pendapatmu jika aku memilih salah seorang sahabat Rasulullah sebagai penggantiku?”.

Maka jawaban Ali adalah, “Aku tidak setuju, kecuali orang itu adalah Umar bin Khatab.”

Setelah semua sepakat dengan jawaban tersebut, Thalhah menganjurkan agar Abu Bakar menanyakan langsung kepada umat Islam mengenai rencana pengangkatan Umar bin Khattab bila ia meninggal nanti. Maka dengan itu, Umar yang juga merupakan besan Rasulullah ( ayah dari Hafsah, salah satu umirul mukminin)  menggantikan kedudukan Abu Bakar sebagai khalifah kedua. Ia memerintah hingga 10 tahun 6 bulan lamanya.

Perlu menjadi catatan, selama pemerintahan Abu Bakar dan Umar bin Khattab, Ali tetap menjadi orang yang memiliki kedudukan istimewa di mata ke 2 khalifah tersebut.  Ia seringkali dimintai pendapat dan pikirannya dalam memutuskan berbagai perkara kekhalifahan. Memang sebelumnya, Ali sempat menjauhkan diri dari segala perkara duniawi karena kesedihannya yang mendalam ditinggalkan Rasulullah yang sudah dianggapnya seperti ayah sendiri. Namun setelah wafatnya Fatimah sang istri tercinta, 6 bulan setelah kepergian Rasulullah saw, Alipun kembali bergabung dengan para sahabat.

Hingga akhirnya suatu hari Umar ditikam oleh seorang lelaki Persia ketika ia akan memimpin shalat subuh. Pembunuh bernama Abu Lukluk ini kabarnya adalah seorang budak Persia yang merasa dendam karena negaranya ditaklukan Islam.

Selanjutnya melalui musyawarah,  Utsman bin Affan terplih sebagai khalifah ke 3. Ketika itu ada enam orang calon yang diajukan, yaitu Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdul Rahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Selanjutnya Abdul Rahman bin Auff, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah mengundurkan diri hingga hanya Utsman dan Ali yang tertinggal. Suara masyarakat pada saat itu cenderung memilih Utsman menjadi khalifah. Maka diangkatlah Utsman yang ketika itu telah berumur 70 tahun menjadi khalifah ketiga, Utsman menjadi khalifah di saat pemerintah Islam telah mapan dan memiliki kekuasaan sangat luas.

Ia memerintah selama 12 tahun. Ketika akhirnya ia terbunuh, kekuasaannya telah mencapai Syiria, Afrika Utara, Persia, Khurasan, Armenia, Palestina dan Siprus. Di masa kekhalifahannya itu pula Al-Quran dikumpulkan dalam satu mushaf. Dan ini disaksikan oleh para sahabat senior.

Namun pada separuh akhir masa kekuasaan Ustman, pemberontakan, kerusuhan dan fitnah meraja lela. Dan ternyata hal ini telah diprediksi Rasulullah saw. Abu Hurairah telah meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan menjumpai setelahku fitnah dan perselisihan atau perselisihan dan fitnah.” Maka berkata salah seorang, “Lalu kepada siapa kami akan memihak?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berpegangteguhlah kalian kepada al-Amiin ini dan sahabat-sahabatnya.” Lalu beliau mengisyaratkan kepada Utsman.”

Sayangnya, khalifah yang memiliki julukan Dzunnurain yang berarti “yang memiliki dua cahaya” karena Rasulullah saw telah menikahkannya dengan kedua putri Rasulullah yaitu Ruqayah dan Ummu Kaltsum, dikabarkan kurang tegas. Ustman memang dikenal sebagai sosok yang santun dan pemalu.

Di riwayatkan dalam sebuah hadist, Rasulullah saw pernah berbaring di rumah Aisyah dan kedua betisnya terungkap. Ketika Abu Bakar dan Umar bin Khattab masuk, beliau tetap dalam keadaan semula. Namun ketika Utsman masuk, beliau duduk dan membetulkan pakaian beliau. Ketika Aisyah bertanya tentang hal itu beliau menjawab, “Apakah aku tidak malu terhadap orang yang malaikat saja malu kepadanya?” (HR. Imam Ahmad).

Gubernur yang ditunjuk Ustman dari kalangan keluarga banyak yang kurang disukai penduduk hingga menimbulkan fitnah. Akibatnya Ustmanpun menerima banyak kritikan bahkan ancaman pembunuhan. Di hari-hari akhirnya ia bahkan sempat diboikot oleh pemberontak selama 40 hari di dalam kamarnya sendiri. Hingga suatu hari seorang pengkhianat berhasil menyelinap ke dalam kamar yang terkunci tersebut dan membunuhnya. Ketika itu Ustman sedang membaca Al-Quran.

Padahal ketika itu, Ali bin Thalib yang merasa prihatin dan merasa ikut bertanggung-jawab atas keselamatan sang khalifah, telah memerintahkan dua putranya yaitu Husein dan Hassan untuk menjaga kamar khalifah dari segala kejahatan. Maka begitu mendapat kabar bahwa khalifah telah terbunuh, dengan kecewa dan gusar Alipun  berseru kepada kedua putranya itu : “  Jika kalian berdua tidak mampu menjaga khalifah, seharusnya kalian berduapun mati bersama khalifah !”.

( Bersambung).