Feeds:
Posts
Comments

PENDAHULUAN 

Bab I.         Asal Muasal Tahun Gajah 

Bab II.       Silsilah Rasulullah

Bab III.      Kelahiran dan Masa Kecil 

Bab IV.       Masa Remaja 

Bab V.        Pernikahan dengan Khadijah dan Datangnya Wahyu Pertama

Bab VI.      Dakwah Secara Rahasia ( Sirriyatud -dakwah/

Bab VII.     Dakwah Secara Terang-terangan (Jahriyatud Dakwah)

Bab VIII.   Penolakan Orang-orang Musyrik Mekah Terhadap Islam

Bab IX.      Pengucilan dan Boikot Ekonomi Terhadap Kaum Muslimin ( Hijrah Pertama).

Bab X.        Tahun Duka Cita ( Amul Huzni dan Peristiwa di Thaif )

Bab XI.       Peristiwa Isra-Mi’raj dan Persiapan Madinah sebagai Tempat Hijrah

Bab XII.      Baiat Aqabah dan Hijrahnya Para Sahabat

Bab XIII.    Hijrah ke Madinah

Bab XIV.    Pembentukan Masyarakat  Madinah

Bab XV.      Perang Badar, Perang Pertama dalam Sejarah Islam

Bab XVI.     Pengkhianatan Pertama Yahudi dan Munculnya Tanda-tanda Kemunafikan

Bab XVII.   Perang Uhud dan Hikmah Diperintahkannya Berperang (bag-1)

Bab XVII.   Perang Uhud dan Hikmah Diperintahkannya Berperang (bag-2)

Bab XVIII.  Dakwah Kepada Ahli Kitab (bag-1)

Bab XVIII . Dakwah Kepada Ahli Kitab (bag-2)

Bab XIX.    Pengkhianatan Yahudi Bani Nadhir dan Dampaknya

Bab XX.      Jihad fi Sabilillah (1).

Bab XX.      Jihad fi Sabilillah (2)

Bab XX.      Jihad fi Sabilillah (3)

Bab XXI.     Perdamaian Hudaibiyah dan Baitur Ridwan

Bab XXII.    Perang Khaibar

Bab XXIII.   Dakwah Kepada Raja-raja

Bab XXIV.   Perang Mu’tah

Bab XXV.    Penaklukkan Mekah ( Fathu Makkah) (1)

Bab XXV.    Penaklukkan Mekah ( Fathu Makkah) (2)

Bab XXV.    Penaklukkan Mekah ( Fathu Makkah) (3)

Bab XXVI.   Perang Hunain

Bab XXVII.  Perang  Tabuk dan Kisah 3 Orang Sahabat

Bab XXVIII. Haji Wada, Khutbah Rasulullah dan Tanda Sempurnanya Islam

Bab XXIX.    Rasulullah dan Pernikahan 

Bab XXX.     Hari-hari Akhir Rasulullah saw(1)

Bab XXX.     Hari-hari Akhir Rasulullah saw (2)

Bab XXX.     Hari-hari Akhir Rasulullah saw(3)

PENUTUP

Catatan. Mulai Oktober 2019 buku dapat dipesan sebagai POD ( Print On Demand) melalui link berikut :

Sirah Nabawiyahhttps://bitread.id/book_module/book/view/1382/sirah_nabawiyah/

https://ebooks.gramedia.com/id/buku/sirah-nabawiyah

Hafshah adalah putri ‘Umar Abu Hafsh, Amirul Mukminin. Nama lengkap dengan nasabnya adalah Hafshah Hafshah binti ‘Umar bin Al-Khatthab bin Nufail bin Nufail bin ‘Abdil ‘Uzza bin Rabah bin ‘Abdillah bin Qurth bin Razah bin ‘Adi bin Ka’ab bin Lui bin Ghalib Al-Qurasyi Al-‘Adawi. Ibunya adalah Zainab binti Mazh’un bin Hubaib bin Wahb bin Hudzafah bin Juma’.

Hafshah lahir lima tahun sebelum nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat menjadi nabi dan dibangun Ka’bah. Sebelumnya ia telah menikah dengan Khunais bin Hudzafah bin Qais. Keduanya sempat berhijrah ke Habasyah untuk menyelamatkan agamanya dari serangan orang-orang Quraisy. Lalu mereka kembali untuk selanjutnya hijrah menuju Madinah.

Pada usia Hafshah yang ke 18 tahun, Khunais bin Hudzafah mengikuti perang Badar dan meninggal dunia setelah perang Badar dikarenakan luka parah yang ia alami. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyolatkannya dan memakamkannya di pekuburan Baqi’ di samping sahabat yang agung, Utsman bin Mazh’un, saudara ibu Hafshah.

Umar radhiyallahu ‘anhu sungguh terpukul menerima nasib putrinya  yang harus menjadi janda dalam usia sangat muda. Untuk itu ia menawarkan putri tercintanya tersebut kepada Abu Bakar maupun Utsman bin ‘Affan untuk dinikahi. Namun keduanya enggan karena tahu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan melamarnya.

Akhirnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Hafshah pada tahun 3 H (sebelum perang Uhud) dengan mahar sebesar 400 dirham. Saat itu pula, Utsman bin Affan menikahi Ummu Kultsum setelah meninggalnya Ruqayyah, putri rasulullah, yang menjadi istri Utsman sebelumnya.

Setelah Umar menikahkan Hafshah, Abu Bakar menemuinya dan menyampaikan alasannya mengapa ia menolak Hafshah, َ“Jangan kesal kepadaku, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyebut nama Hafshah. Aku tidak mau mengungkapkan rahasia beliau. Dan seandainya beliau meninggalkannya, niscaya aku menikahinya.” (HR. Bukhari, no. 5122).

Keutamaan Hafshah binti ‘Umar.

Pertama: Ia sangat mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Buktinya adalah Hafshah selalu mencari ridha Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjalankan apa yang ia inginkan, juga menjauhi apa yang beliau benci. Hafshah tidak pernah surut dalam upaya membahagiakan dan menggembirakan beliau. Setiap saat yang ia lalui disamping Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu ia manfaatkan untuk semakin mendekat dan mendekat lagi kepada Allah. Ia mempelajari semua bentuk ketaatan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendekatkannya kepada Allah.

Seperti itulah kehidupan suami istri yang mewujudkan kebahagiaan yang selalu menyeruak di rumah mereka. Apa yang dijalankan Hafshah ingin merealisasikan hadits berikut ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR. An-Nasa’i, no. 3231dan Ahmad, 2:251. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Kedua: Hafshah dikenal sangat cerdas karena ia diajarkan khusus oleh Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam, sampai ia mahir dalam kitabah (penulisan) karena diajarkan oleh Asy-Syifa’ binti ‘Abdillah.

Di antara bukti kecerdasan Hafshah pula dapat dilihat dari peristiwa berikut. Hafshah pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, “Aku berharap tidak ada seorang pun yang masuk neraka dengan kehendak Allah bagi yang menghadiri perang Badar dan menghadiri Hudaibiyah.” Kalimat tersebut terasa aneh oleh Hafshah karena seolah-olah bertentangan dengan ayat, “Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.” (Terjemah QS.Maryam(19):71). [Di antara tafsiran ayat ini adalah orang beriman akan melewati shirath pada hari kiamat]. Hafshah membacakan ayat ini pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat kepada Hafshah, “Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.”(Terjemah QS. Maryam(19):72).

Akhirnya Hafshah memahami apa yang dimaksud dengan ayat tersebut. (HR. Ibnu Majah, no.3473. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Ketiga: Hafshah jadi sebab turunnya ayat, “Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Tahrim: 1).

Dalam Shahihain dari hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum madu di tempat Zainab binti Jahsy dan tinggal bersamanya. Aku membuat kesepakatan dengan Hafshah bahwa siapa pun dari kami yang ditemui beliau hendaknya ia menanyakan kepada beliau, apakah engkau makan maghafir? Aku mencium bau maghafir darimu. Beliau pun mengatakan, “Tidak, akan tetapi aku minum madu di tempat Zainab binti Jahsy. Aku tidak akan mengulangi lagi. Aku pun sudah bersumpah. Jangan diberitahukan itu kepada siapa pun.” (HR. Bukhari, no. 4912 dan Muslim, no. 1474).

Kemudian Allah pun menurunkan ayat (yang artinya), “Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.At-Tahrim: 1).

Keempat: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mentalak Hafshah lalu rujuk lagi dan Hafshah diberikan kabar gembira menjadi istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga.

Kelima: Hafshah dikenal rajin beribadah, rajin shalat malam dan rajin berpuasa di siang harinya. Dalam hadits dari Anas bin Malik dan Qais bin Zaid, Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda,  “Jibril berkata kepadaku, ‘Kembalilah (rujuklah) kepada Hafshah karena ia adalah wanita yang rajin berpuasa, rajin shalat malam, dan ia akan jadi istrimu di surga.’” (Diriwayatkan oleh As-Suyuthi dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir, no. 6061.Hadits ini shahih)

Keenam: Sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihiwa sallam, Hafshah tetap dikenal rajin dalam ibadah termasuk juga rajin bersedekah pada fakir miskin yang membutuhkan. Ia juga sering jadi tempat bertanya para sahabat lainnya.

Al-Qur’an yang telah dikumpulkan berawal dari masa Abu Bakr, lalu berpindah pada Umar. Lalu setelah bapaknya wafat, Al-Qur’an tersebut berpindah pada Hafshah.

Wafatnya.

Hafshah meninggal dunia tahun 45 Hijriyah pada khilafah Mu’awiyah. Yang menyolatkannya ketika meninggal dunia adalah Marwan bin Al-Hakam yang menjabat di Madinah ketika itu. Yang menurunkan jenazahnya dalam kubur ketika itu adalah dua saudaranya ‘Abdullah bin ‘Umar dan ‘Ashim bin ‘Umar, juga putra-putra dari Ibnu ‘Umar yaitu Salim, ‘Abdullah, dan Hamzah.

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Vien AM.

Jakarta, 26 September 2025.

Referensi:

Click to access Belajar-dari-Istri-Nabi-serial-ke-4-Hafshah-binti-Umar-1.pdf

Tragedi Al-Aqsho (1).

Untuk pertama kalinya sejak 1967, Masjidil Aqsho di Al-Quds (Yerusalem)  yang merupakan masjid tersuci ke 3 setelah Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah, ditutup. Penutupan oleh otoritas Israel ini dimulai pada 28 Februari 2026  bertepatan dengan 10 Ramadhan 1447 H. Penutupan tersebut berlanjut hingga akhir Ramadhan membuat ribuan warga Palestina tidak bisa menunaikan shalat Iedul Fitri yang merupakan hari raya umat Islam terpenting disamping hari raya Iedul Adha.

Syekh Ekrima Sabri, khatib Masjid Al-Aqsho dan mantan mufti besar Yerusalem, mengeluarkan fatwa agar umat Islam melaksanakan shalat Ied di titik terdekat yang bisa dijangkau dari masjid tersebut. Namun, kehadiran militer yang masif di lorong-lorong Kota Tua membuat situasi tetap mencekam dan rawan bentrokan.

Penutupan dengan dalih keamanan yang diberlakukan tepat pada saat dimulainya serangan AS-Israel ke Iran tersebut tentu saja memicu kemarahan dan kesedihan tidak saja warga Yerusalem namun juga umat Islam seluruh dunia. Hamas menilai penutupan itu sebagai bagian dari kebijakan sistematis yang bertujuan memaksakan kendali penuh atas kompleks Al-Aqsha yang selama 60 tahun berada dibawah kendali otoritas Palestina.

Negara2 Arab tetangga seperti Yordania, Arab Saudi, Qatar, UAE, Kuwait, Bahrain dll segera mengutuk tindakan yang dinilai melanggar kesepakatan internasional tersebut. Sayangnya seperti juga tindakan brutal dan biadab yang selama ini dilakukan Israel terhadap Palestina, Gaza khususnya, Lebanon, Yaman dll hanya sekedar dikutuk tanpa tindakan nyata dan upaya serius untuk menghentikannya. Bahkan atas izin negara-negara teluk dimana pangkalan militer  AS bercokol, AS bisa leluasa menyerang Iran.

Itu sebabnya kemudian Iran menyerang balik pangkalan-pangkalan militer tersebut. Namun sayangnya sekali lagi, negara-negara teluk berpenduduk mayoritas Islam tersebut tidak mau trima,  dengan alasan serangan Iran menimpa sejumlah fasilitas vital meski Iran menyangkalnya. Belakangan terbukti bahwa itu adalah perbuatan sengaja AS !! Sungguh sebuah upaya adu domba yang tidak lucu.   

Ajaibnya lagi tanpa sedikitpun rasa malu Israel mengadu kepada PBB bahwa Iran telah melanggar perjanjian internasional dengan mengebom kota-kota Israel hingga mengakibatkan korban sipil. Lupa seolah dunia tidak melihat apa yang dilakukannya di Gaza dimana kota luluh lantak, puluhan ribu korban meninggal sebagian besar anak-anak dan perempuan.    

Di saat yang sama ketika perhatian dunia tersedot ke arah perang AS-Israel melawan Iran, pemukim Yahudi dengan dibantu tentara Israel seenaknya menyerobot lahan dan rumah penduduk Palestina di kota-kota Tepi Barat serta mengusir sang pemilik bahkan menganiaya dan membunuhnya. Mereka juga seenaknya memasuki area Masjidil Aqsho dan melakukan ritual agama mereka.

Begitupun Gaza yang katanya sedang dalam keadaan genjatan senjata, namun tak henti-hentinya pasukan Israel menjatuhinya bom hingga detik ini. Truk-truk bantuan makanan dan obat-obatan yang merupakan bagian dari perjanjian genjatan senjata  juga mengalami pemblokiran membuat rakyat Gaza terus menderita kelaparan akut dan kesengsaraan berkepanjangan.    

Sejumlah ulama spesialis akhir zaman, termasuk Shamsi Ali, imam besar asal Indonesia yang berdomisili di New York, Amerika Serikat, secara tegas menyatakan bahwa tindakan provokatif Israel merupakan usaha demi terwujudnya impian Zionis yaitu Israel Raya dengan Yerusalem sebagai ibukota. Lebih khusus lagi demi tegaknya kembali the Kingdom of David alias Temple of Solomon yang berdiri tepat di atas Masjidil Aqsha, persis prediksi Rasulullah s.a.w ribuan abad silam.  

Padahal perbuatan biadab dan kekejian yang dilakukan Yahudi Israel dibantu sekutu sejatinya AS yang sudah sangat keterlaluan itu, sesungguhnya hanyalah akan mempercepat datangnya siksaan dan hukuman Allah sebagaimana ayat 7 surat Al-Isra’ berikut,

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai”.

Ayat diatas memastikan akan lenyapnya bangsa Yahudi dari permukaan bumi ini. Maha Suci Allah yang memberitahukan kepada kaum Muslimin bahwa kaum Muslimin akan memasuki Masjidil Aqsa, sebagaimana pertama kali dahulu (di masa pemerintahan Umar bin Khathab r.a menaklukan bumi Palestina). Namun dengan catatan bila kaum Muslimin bersatu sebagaimana penaklukan pertama. Allah swt bahkan telah menjanjikan pertolongan dengan batu yang dapat berbicara.

“Kaum Yahudi nanti akan memerangi kalian. Akan tetapi, kalian (diberi kekuatan) menguasai (mengalahkan) mereka, kemudian (sampai) batu pun berkata, ‘Wahai Muslim, ada orang Yahudi di belakangku, bunuhlah dia.‘” (HR Tirmidzi No. 2236).

Dr. Bassam Nahad Jarrar dalam buku terjemahan “Kehancuran Israel tahun 2022” menguraikan bahwa dua janji Allah kepada Bani Israil yang diturunkan dalam kitab Taurat dan Al-Quran baru terlaksana sekali. Berarti masih akan terjadi sekali lagi. Menurutnya, dalam Kitab Taurat, Allah telah memutuskan bahwa bani Israil akan memasuki bumi yang diberkati, yaitu Palestina. Bahkan di sana mereka akan mendirikan pemerintahan. Tetapi kemudian mereka membuat kerusakan besar sehingga menyebabkan Allah swt menghukum mereka dengan cara mengirim hamba-hamba-Nya yang tangguh, itulah umat Islam. Setelah kerajaan mereka binasa, mereka diusir dan dicerai-beraikan.

Masalahnya, akankah umat Islam bersatu, dalam waktu dekat ini?? Sampai kapan umat Islam akan terus tunduk dan mengekor AS dan Israel yang saat ini memang sedang diberi Allah swt kejayaan yang menyesatkan??  Padahal negara-negara Nato sekutu dekat AS seperti Spanyol, Italia, Inggris, Perancis dan Jermanpun sudah menyatakan kemuakannya dan tidak ingin telibat perang melawan Iran. Dan Iranpun sudah secara terbuka mengajak negara-negara Muslim untuk bersatu melawan kejahatan AS dan Israel.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Ali Imran (3):51).

Atau akankah Iran yang dengan gagah berani sendirian terus menghadapi Yahudi Israel hingga memborong balasan pahala tertinggi dari-Nya tanpa satupun kita mendapatkan bagian pahala? Alangkah meruginya !!! Karena sesungguhnya ketetapan Allah Azza wa Jala pasti terjadi meski tak satupun manusia di dunia ini berpartisipasi.

Kami tidak berniat hendak memerangi Abrahah karena kami tidak memiliki kekuatan untuk itu. Rumah suci itu ( Ka’bah) adalah milik Allah yang dibangun oleh nabi Ibrahim a.s.  Jika Allah  hendak mencegah penghancurannya itu adalah urusan Pemilik Rumah suci itu tetapi jika Allah hendak membiarkannya dihancurkan orang maka kami tidak sangggup mempertahankannya”.

Itulah jawaban pemuka Quraisy penguasa Mekah  penjaga Ka’bah, Abdul Mutthalib kakek Rasulullah Muhammad s.a.w atas tantangan Abrahah penguasa Yaman yang datang ke Mekah dengan pasukan gajahnya yang bertujuan menghancurkan Ka’bah. Maka Allah swt mendatangkan pertolonganNya sebagaimana terekam dalam surat Al-Fill berikut,

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka`bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”.  

Akhir kata, semoga kita bisa mengambil hikmahnya, menjadi bagian kemenangan semampu kita meski hanya dengan doa yang sejatinya adalah senjata terkuat umat Islam, aamiin …

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 26 Maret 2026 / 6 Syawal 1447 H.

Vien AM.

Pada Kamis 9 April 2026, tepat 40 hari setelah ditutup, penjajah Israel membuka kembali Masjidi Aqsho, Alhmdulillah wa syukurillah.  Hal ini dilakukan bersamaan dengan genjatan senjata antara AS-Israel vs Iran setelah perang berlangsung selama 40 hari. Memang karena alasan itulah Israel menutup masjid ke 3 tersuci tersebut. Selain Masjidil Aqsho mereka juga menutup gereja Makam Kudus yang merupakan salah satu situs paling suci bagi umat Kristen, selama periode yang sama dan alasan yang sama.

Pembukaan kembali masjid tepat di waktu azan Subuh  tersebut disambut penduduk dengan perasaan lega. Banyak diantara mereka yang menitikan air mata dan melakukan sujud Syukur. Dengan berbondong-bondong mereka memasuki masjid untuk melakukan shalat Subuh berjamaah.  

Namun demikian patut dicermati bahwasanya masjid dibuka dan ditutup sesuka pihak penjajah Israel. Imam masjidil Aqsho memang sempat meminta perhatian kaum Muslimin agar ikut berpikir dan bertanggung jawab atas penutupan masjid tersebut. Namun nyatanya Masjidil Aqsho dibuka kembali  tanpa satupun campur tangan atau tekanan berarti dari kaum Muslimin.

Artinya bukan mustahil Israel suatu saat akan menutupnya kembali sesuka mereka. Apalagi beberapa hari sebelum Israel memutuskan membukanya, mentri Israel secara terbuka telah berani terang-terangan meminta dunia internasional agar umat Yahudi dapat melakukan ibadah di dalam masjid tersebut. Sebelumnyapun beberapa kali ia telah memprovokasi pemukim Israel melakukan hal tersebut. Bahkan pada Agustus 2024, di bawah perlindungan polisi Israel pula, ia memimpin ratusan orang Yahudi memasuki kompleks masjid Aqsho untuk melakukan ritual Yahudi. Dengan sesumbar ia juga mengatakan akan membangun rumah suci di kompleks tersebut.

Kita harus memenangkan perang ini. Kita harus menang dan tidak pergi ke perundingan di Doha atau Kairo,” serunya, menunjukkan jelas tujuan sebenarnya perang melawan Palestina.  

Sontak kementerian Luar Negeri Yordania tegas mengutuk hal tersebut, dan menyebutnya sebagai pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional. Yordania adalah penanggung-jawab situs-situs suci di Yerusalem termasuk kompleks Masjidil Aqsho. Hal itu disepakati pada perjanjian damai Yordania-Israel tahun 1994. Status tersebut diperkuat lagi dalam perjanjian Yordania-Palestina pada tahun 2013, yang menegaskan raja Yordania sebagai penjaga situs suci di Yerusalem yang bertugas melindungi, melestarikan, mengelola, dan mewakili kepentingan situs suci pada forum internasional.

Namun kenyataanya Zionis Yahudi Israel tidak pernah berhenti berusaha untuk mencaplok dan merubah status kompleks Masjidil Aqsho, bahkan semakin hari semakin mencolok. Sejumlah arkeolog melaporkan bahwa saat ini sebagian struktur Masjid Al-Aqsa berpotensi mengalami keruntuhan. Ini disebabkan aktivitas penggalian yang dilakukan otoritas Israel di sekitar kompleks suci dan kawasan Kota Tua Yerusalem. Dengan dalih penelitian arkeologis, sejak beberapa tahun terakhir, otoritas Israel secara sistematis menggali terowongan di bawah Al-Aqsa dan sekitarnya.

Lebih parah lagi tidak hanya kompleks masjid namun juga tanah Palestina secara keseluruhan. Ini terbukti dari beredarnya peta baru Israel dengan nama Israel Raya yang wilayahnya meliputi seluruh Israel, Tepi Barat, Gaza, Suriah, Yordania, Lebanon, Mesir dan Arab Saudi.

Jadi apa yang dituduhkan kepada Zionis Israel bahwa mereka sedang melakukan genosida terhadap rakyat Palestina memang sangat masuk akal. Pada akhir Januari 2026 jumlah korban meninggal tercatat mencapai 72 ribu padahal genjatan senjata diberlakukan sejak Oktober 2024. Sementara ribuan korban hilang tak berbekas tak dapat ditemukan hingga hari ini. Itupun masih terus bertambah karena hampir setiap hari secara sporadis tentara Israel terus melakukan pembunuhan hingga detik ini, tidak hanya di Gaza tapi juga di kota-kota Tepi Barat.      

Ditambah lagi dengan adanya Board of Peace buatan Trump serta adanya proposal  “Gaza Reconstitution, Economic Acceleration and Transformation Trust”, atau GREAT, yang berisi tentang rencana gila Trump untuk menyulap Jalur Gaza menjadi resor mewah Riviera Timur Tengah.

https://www.antaranews.com/berita/5078313/trump-siapkan-skema-relokasi-gaza-dengan-token-digital-dan-subsidi

Alasan AS dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari lalu karena nuklir hanyalah mengada-ada. Persis yang pernah dilakukan AS terhadap Irak pada 2003. Ironisnya lagi serangan pertama ke Teheran tersebut menyasar sekolah anak perempuan usia SD hingga menewaskan ratusan siswanya. Demikian juga serangan Israel ke Lebanon yang dilakukan hanya selang beberapa jam usai genjatan senjata hingga memakan korban lebih 2000 rakyat sipil serta hilangnya ratusan kota/desa di Lebanon, tak syak lagi adalah bagian dari realisasi peta tersebut.        

Maka tak heran bila hari ini negara-negara sekutu Nato mulai menunjukkan keengganannya mengabulkan permintaan Trump agar membantu memboikot Iran. Sejak beberapa hari lalu orang nomor 1 AS tersebut memblokade selat Hormuz setelah gagalnya negosiasi antar ke 2 negara tersebut. Trump menyebutnya sebagai bagian upayanya untuk “mengambil kembali selat Hormuz” yang ditutup Iran, dan memboikot ekonomi Iran.

Anehnya justru negara-negara tetangga Timur Tengah berpenduduk mayoritas Islam yang malah bersekutu membela AS dan Israel. Termasuk juga negara kita tercinta Indonesia. Buktinya cukup banyak, diantaranya dengan tetap menjadi anggota BoP, pidato yang jelas mengatakan “ Israel harus dijamin keselamatannya”, tidak mengutuk langsung AS dan Israel atas gugurnya 3 prajurit TNI yang tergabung dalam Pasukan Perdamaian PBB (UNIFIL)  di Lebanon Selatan, tidak spontan menyampaikan duka cita atas gugurnya pimpinan tertinggi Iran. Belakangan bahkan mengecam Iran keras kepala karena tidak mau tunduk kepada AS yang langsung dibalas pejabat Iran karena mereka punya martabat … Masya Allah ..  

Sejarah mencatat bagaimana nasib pemimpin negara yang tidak mau tunduk pada kemauan dan dominasi AS. Diantaranya adalah Fidel Castro dari Kuba (1961), Raja Faisal bin Abdulaziz Al Saud dari Arab Saudi (1973), Saddam Hussein dari Irak (2003),  Muammar Gaddafi dari Libia (2011) dan terakhir Nicolas Maduro serta istri dari Venezuela ( 2026).

https://www.detik.com/sumbagsel/berita/d-8412000/11-pemimpin-dunia-yang-pernah-dikudeta-atau-diserang-amerika-serikat.

Namun tampaknya baru kali ini ada seorang pemimpin yang berani secara terbuka mengecam perbuatan ala preman jalanan tersebut. Ia adalah Lukashenko, presiden Belarusia. Di dalam negri AS rakyat sudah mulai muak dengan prilaku presiden mereka. Demo “No King” yang ditujukan kepada kediktatoran Trump merebak di berbagai kota besar AS.

Sementara banyak pimpinan tertinggi negara-negara Barat seperti Spanyol, Irlandia, Norwegia, Belanda dll mengecam tindakan brutal Israel. Apalagi setelah parlemen Israel pada awal April ini mengesahkan undang-undang yang sangat kontroversial mengenai hukuman mati bagi tahanan Palestina tanpa perlu proses pengadilan. Untuk diingat,  jumlah tahanan Palestina di penjara Israel per April 2026 dilaporkan melampaui 9.600 orang termasuk perempuan dan anak-anak.      

Menjadi seorang pemimpin memang maha berat apalagi dalam pandangan Islam. Tanggung-jawabnya tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat.  Pemimpin harus bisa bersikap adil, jujur, dan tidak semena-mena, tidak boleh zalim. Pemimpin tidak boleh menyusahkan rakyat dan bangsanya.

”Sesungguhnya, dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.”(Terjemah QS. Asy-Syura : 42).

“Ya Allah, siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku kemudian dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku dan memudahkan mereka, maka mudahkanlah dia.” (HR Muslim).

Umar bin Khattab ra adalah contoh pemimpin terbaik yang pernah dimiliki dalam Sejarah Islam. Khalifah ke dua ini tidak saja piawai dalam memimpin negara yang wilayah kekuasaannya sangat luas, namun juga seorang ahli ibadah yang jujur, amanah dan sangat peduli kepada rakyatnya. Dibawah kekuasaannya Islam mencapai kejayaannya.

Pada masa itu pula Palestina dibawah panglima perang Khalid bin Walid ditaklukan dengan cara damai. Sang khalifah dengan pakaian lusuh datang dari Madinah dengan mengendarai kuda memasuki Yerusalem dengan hanya ditemani seorang ajudannya. Beliau datang untuk memenuhi permintaan Sophronius, patriarch (uskup agung) Yerusalem sekaligus panglima Romawi yang meminta agar perjanjian penyerahan Yerusalem ditandatangani langsung oleh sang khalifah.

Perjanjian tersebut menjanjikan jaminan keamanan penduduk Yerusalem. Tidak ada pertumpahan darah, tidak ada gereja yang dimusnahkan, tidak ada paksaan untuk memeluk Islam. Dan Umarpun memenuhinya hingga Sophroniuspun tanpa ragu menyerahkan kunci kota langsung ke tangan Umar. Penaklukan yang terjadi pada tahun 637 M (15 H) inilah yang membuka jalan bagi penyebaran Islam di Palestina dan menjadikannya wilayah aman di bawah naungan kekhalifahan Islam.

Demikian juga dengan Shalahuddin Al-Ayyubi, penguasa Mesir yang menaklukkan Palestina untuk kedua kalinya. Penaklukan berlangsung dengan damai, menunjukkan perbedaan mencolok antara penaklukan Islam dan penaklukan Salib 88 tahun sebelumnya.

Masjidil Aqsha adalah satu dari tiga masjid paling mulia dalam Islam, tempat yang Allah kaitkan langsung dengan perjalanan Isra’rasulullah. Di tanah suci ini para nabi pernah hidup, berdakwah, bahkan dimakamkan, menjadikannya pusat sejarah dan peradaban tauhid. Masjidil Aqsho Adalah kiblat pertama umat Islam sebelum Allah swt memerintahkannya berpindah ke Masjidil Haram di Mekah.

Janganlah kalian menempuh perjalanan jauh kecuali menuju ke tiga masjid: masjidku ini (Masjid Nabawi), masjid Al Haram, dan masjid Al Aqsha” (HR. Bukhari no. 1115 dan Muslim no. 1397).

Sholat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu kali lipat daripada sholat di masjid-masjid lainnya. Sholat di Masjid Nabawi lebih utama seribu kali lipat. Dan sholat di Masjidil Aqsa lebih utama lima ratus kali lipat.” (HR Ahmad dari Abu Darda).

Adalah tanggung jawab kaum Muslimin, bukan hanya penduduk Palestina, untuk menjaga dan membela Masjidil Aqsha sebagai amanah hingga akhir zaman. Jadi sungguh tidak pantas ketika masjid agung tersebut ditutup oleh penjajah Israel kita hanya berdiam diri bahkan tidak peduli.

Semoga Allah swt ridho membuka hati kaum Muslimin dimanapun berada agar mau bersatu dan berani melawan penjajah Israel dan sekutunya. Kalaupun tidak seberani dan sedasyat saudara-saudara kita di Gaza dan Iran setidaknya seperti mereka yang saat ini berpartisipasi dalam Global Sumud Flotilla yang didukung lebih dari 70 kapal dan sekitar 1.000 peserta dari berbagai negara. Karena tidak perlu menjadi Islam untuk membela rakyat Palestina dan memahami kejahatan Zionis Israel.

Wallahu ‘alam bi shawwab.

Jakarta, 21 April 2026/ 4 Dzulkaedah 1447H.

Vien AM.    

Tanpa banyak tanya, Uwais menunjukkan lengannya ketika Umar, sang khalifah memintanya.  Tanpa diduga, Umarpun langsung memeluknya begitu menyaksikan lengan bertanda tersebut, seraya berkata, “Engkaulah orang yang diceritakan Nabi dan kucari-cari selama ini. Berdoalah dan mintakanlah aku ampunan dari Allah.”

Wahai Amirul Mukminiin, apakah aku harus memohon supaya engkau diampuni?”, tanya Quwais keheranan. “Benar”, tukas Umar.

Pertanyaannya, siapa Uwais Al-Qarni ini hingga namanya disebut oleh Nabi dan seorang khalifah sekaliber Umar bin Khattabpun mencari-carinya demi memohon doa darinya?

Dikisahkan dari hadis Riwayat Muslim dari Ishak bin Ibrahim, pada zaman hidup Rasulullah SAW, hidup seorang pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Pemuda fakir dan yatim ini tinggal di negeri Yaman, bersama ibunya yang lumpuh dan buta.

Uwais Al-Qarni bekerja sebagai seorang penggembala domba. Hasil usahanya hanya cukup untuk makan ibunya sehari-hari. Bila ada kelebihan ia gunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin. Uwais Al-Qarni dikenal seorang yang taat beribadah dan sangat patuh pada ibunya. Ia juga dikenal sering sekali berpuasa.

Pemuda tersebut menyimpan keinginan membuncah agar suatu hari nanti dapat bertemu dengan Rasulullah. Itu sebabnya ia sangat sedih setiap kali melihat tetangganya berjumpa dengan sang kekasih, nabi Muhammad SAW. Kecintaannya yang begitu mendalam mampu membuatnya ikut mematahkan giginya dengan batu. Ini dilakukannya ketika mendengar kabar bahwa gigi sang Rasul patah karena dilempari batu oleh penduduk Thaif yang enggan mengikuti ajakan Rasulullah untuk ber-Islam.  

Uwais sangat merindukan Rasulullah, kerinduan karena iman kepada Allah dan Muhammad sebagai rasulnya. Hingga suatu hari, karena tak dapat membendung lagi kerinduannya, ia mendekati ibunya dan mengeluarkan isi hatinya, memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah.

Begitu ibunya mengizinkannya dengan syarat agar tidak berlama-lama meninggalkannya, Uwaispun segera pergi menempuh perjalanan jauh ke Madinah.  Sayangnya ketika ia tiba di tujuan, rupanya Rasulullah sedang memimpin jihad di luar Madinah. Ia hanya bertemu Aisyah ra, istri Rasulullah, yang tentu saja tidak dapat memastikan kapan dan berapa lama Rasulullah akan kembali.

Sementara itu terngiang pesan ibunya tercinta yang telah renta agar tidak berlama-lama meninggalkannya. Akhirnya karena ketaatannya kepada sang ibu, ia  mengalahkan keinginan menggebunya untuk menunggu dan berjumpa dengan sang kekasih, Muhammad SAW. Uwaispun kembali ke Yaman.

Beberapa lama kemudian Rasulullah pulang dari medan pertempuran. Sesampainya di rumah Rasulullah menanyakan kepada Aisyah tentang orang yang mencarinya. Aisyah menjelaskan bahwa memang benar ada yang mencarinya, tetapi tidak menunggu dan segera kembali ke Yaman karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.

Mendengar itu Rasulullah berkata bahwa orang itu penghuni langit. Nabi menceritakan kepada para sahabatnya, “Kalau kalian ingin berjumpa dengannya, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di lengannya. Apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan bumi.”

Uwais pergi berhaji.

Anakku, mungkin ibu tak lama lagi akan bersamamu. Ikhtiarkan agar ibu dapat mengerjakan haji,” pinta sang ibu suatu hari.

Mendengar ucapan sang ibu tercinta, Uwais termenung. Perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh, melewati padang tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Lantas bagaimana hal itu dilakukan Uwais yang sangat miskin dan tidak memiliki kendaraan? Uwais terus berpikir mencari jalan keluar.

Tak lama iapun membeli seekor anak lembu. Kemudian ia membuatkan kandang di puncak bukit untuk anak lembu tersebut. Setiap pagi ia bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit.

Uwais gila … Uwais gila …” kata orang-orang yang melihat tingkah laku Uwais yang aneh tersebut. Tak pernah satu haripun terlewat ia menggendong lembu naik-turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar pula tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi. Setelah 8 bulan berlalu, sampailah pada musim haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kilogram, begitu juga otot Uwais yang makin kuat.  

“ Alhamdulillah, trimakasih yaa Allah”, puji Uwais kepada Tuhannya.

Rupanya selama 8 bulan tersebut, ia sedang melatih dirinya agar mampu menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah! Masya Allah, sungguh besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya. Uwais berjalan tegap menggendong ibunya wukuf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata melihat Baitullah.

Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa. “Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais. “Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang Ibu keheranan. Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga”, jawab Uwais tulus dan penuh cinta.

Allah subhanahu wata’ala pun memberikan karunia untuknya. Uwais seketika itu juga sembuh dari penyakit sopak yang selama itu diderita seluruh tubuhnya. Yang tertinggal hanya bulatan putih di lengannya. Itulah tanda yang dimaksudkan Rasulullah agar para sahabat dapat mengenali Uwais, yang di kemudian hari akhirnya ditemukan khalifah Umar bin Khattab yang setiap waktu haji dan datangnya kafilah dagang dari Yaman, rela mencarinya. Allahu Akbar …

Akan halnya pertemuannya dengan khalifah Umar bin Khattab bertahun-tahun kemudian adalah sebagai berikut: 

Uwais pergi berdagang ke Madinah.

Suatu hari setelah ibu Uwais wafat, bersama  rombongan kafilah dagang, Uwais tiba di kota Madinah. Seperti biasa, melihat ada rombongan kafilah yang baru datang dari Yaman segera Khalifah Umar dan juga Ali bin Abi Thalib mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu Umar dan Ali segera pergi menjumpainya dan memberinya salam.

Umar kemudian menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah”. Mendengar jawaban Uwais, Umar dan Ali tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al Qarni”.

Selanjutnya Umar meminta agar Uwais bersedia memperlihatkan lengannya. Maka begitu keduanya melihat tanda putih di lengan tersebut, sontak keduanya memeluk dan meminta Uwais untuk mendoakan keduanya.

Wafatnya Uwais.

Ketika Uwais wafat di rumahnya yang sederhana di Yaman, orang-orang tak dikenal  dari segala penjuru berbondong-bondong datang untuk memandikan, mengkafani, menyalati hingga mengantarnya ke pemakaman. Masyarakatpun gempar. Mereka saling bertanya-tanya, “Siapakah sebenarnya engkau Wahai Uwais Al Qarni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai pengembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatnya, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya.

Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al Qarni disebabkan permintaan Uwais sendiri kepada khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib agar merahasiakan tentang dirinya. Di hari wafatnya itulah mereka baru mengetahui bahwa Uwais Al Qarni adalah seorang penghuni langit.

Begitulah Uwais Al Qarni, sosok yang sangat berbakti kepada orang tua, dan itu sesuai dengan sabda Rasulullah ketika beliau ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR Ibnu Majah).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 27 Maret 2026 / 7 Syawal 1447H.

Vien AM.

Suatu hari Ali mendapat laporan bahwa Abdullah bin Khabab dan istrinya telah dianiaya dengan begitu kejamnya hingga menemui ajal. Abdullah bin Khabab adalah salah seorang sahabat. Selain itu kelompok jahat tersebut juga membunuh tiga perempuan lain secara sadis.

Mendengar ini Ali segera mengutus seorang kepercayaannya untuk mendatangi para kawanan pembunuh tersebut, yang tak lain adalah kaum Khawarij. Namun utusan inipun langsung mereka bunuh tanpa adanya penjelasan.

Akibatnya para sahabat dan pendukung Alipun geram. Mereka menuntut Ali agar segera menangkap dan mengadili gerombolan perusuh tersebut. Maka Alipun segera bertindak, ia mempersiapkan pasukannya dan menuju ke arah Nahrawan, dengan tekad kaum Khawarij yang telah keterlaluan menantang kepemimpinannya itu harus diperangi. Ali teringat akan ucapan Rasulullah yang suatu ketika pernah berujar :

Sekelompok kaum memisahkan diri dari Muslim dan  mereka diperangi oleh salah satu dari dua kelompok yang paling dekat dengan kebenaran”.(HR. Muslim).

Namun Ali tidak pernah menyangka bahwa peristiwa itu akan terjadi pada dirinya. Tiba-tiba Ali teringat bagaimana prilaku orang-orang Khawarij terhadap hasil tahkim dalam perang Siffin yang baru lalu, padahal mereka pula yang memaksa Ali menyetujui usulan pihak Muawiyah tersebut.

Mengapa kalian menegosiasikan urusan agama Allah dengan orang-orang itu?”, protes al-Asy’ats bin Qais, seorang pentolan Khawarij ketika itu.

Ucapan itulah yang kemudian banyak ditiru para qari, alias pembaca Al-Quran yang merupakan mayoritas pendukung Khawarij. “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah”, inilah kata-kata yang kemudian menjadi senjata mereka dalam melawan kebijaksanaan Ali, sang khalifah, pemimpin mereka sendiri. Dan sejak itulah sekitar 12.000 orang yang tadinya merupakan pendukung Ali, menyatakan keluar dan memisahkan diri dari pasukan pendukung Ali. Itulah asal mulanya Khawarij.

Dan sejak itu pula dengan gencar mempropagandakan pandangan dan keyakinan mereka. Ironisnya, dengan beraninya pula mereka mengkafirkan semua orang yang berseberangan dengan pandangan mereka, termasuk Alipun, mereka kafirkan ! Mereka bahkan menuntut ponakan sekaligus menantu Rasulullah ini mengakui kekafirannya dan segera bertobat.

Tentu saja hal ini membuat Ali benar-benar prihatin. Hingga suatu saat Ali mengutus seorang sahabat, Ibn Abbas, agar menanyakan alasan mereka mengkafirkan dirinya. Ternyata salah satu alasan tersebut adalah karena pada perang Jamal yang baru lalu, Ali bukannya menawan Aisyah, umirul mukminin, tapi malah melepaskan bahkan menyuruh seseorang untuk mengawalnya pulang ke Madinah. Padahal sebagai pihak yang kalah dalam perang, sesuai ayat Al-Quran, mustinya ditawan, dibalas sesuai perbuatannya dan dijadikan budak. Mereka kemudian menyitir beberapa ayat diantaranya surat Al-Maidah ayat 45  dibawah ini,

Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim”.

Ali terkesima mendengar hal tersebut. Aisyah walau bagaimanapun adalah istri Rasulullah, ibunya umat Islam, umirul mukminin. Mana mungkin ia mampu berbuat setega itu. Dan lagi perang Jamal adalah perang yang terjadi karena kesalah-fahaman, antara sesama Muslim, dan  hasil adu domba pihak tertentu.

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. … “. (QS. Al-Ahzab(33):6).

Tapi itulah sifah kaum Khawarij. Mereka menggunakan ayat-ayat Al-Quran sebagai pembenaran sikap dan langkah mereka, namun dengan pemikiran yang sangat sempit dan kaku. Yang bagi orang awam selintas kelihatannya benar. Ironisnya, pemikiran ala Khawarij ini telah merasuk ke dalam sejumlah golongan dalam Islam hingga detik ini, tanpa menyadari bahwa hal tersebut adalah tidak benar. Mereka ini menggunakan  ayat-ayat Al-Quran  tanpa mau melihat situasi dan asbabul nuzulnya.

Maka karena mereka tidak bisa dinasehati akhirnya Alipun terpaksa memerangi mereka. Perang ini dinamakan perang Narahwan, karena terjadi di tempat tersebut. Ketika itu Ali berpidato,

Sungguh, aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Akan muncul suatu kaum dari umatku yang pandai membaca Al Qur`an. Dimana, bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan mereka. Demikian pula shalat kalian daripada shalat mereka. Juga puasa mereka dibandingkan dengan puasa kalian. Mereka membaca Al Qur`an dan mereka menyangka bahwa Al Qur`an itu adalah (hujjah) bagi mereka, namun ternyata Al Qur`an itu adalah (bencana) atas mereka. Shalat mereka tidak sampai melewati batas tenggorokan. Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya”.

Sekiranya pasukan yang memerangi mereka tahu pahala yang telah ditetapkan bagi mereka atas lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, niscaya mereka akan berhenti beramal. Ciri-cirinya adalah bahwa di antara mereka ada seorang laki-laki yang memiliki lengan tak berhasta dan di atasnya terdapat biji seperti putting susu dan juga berbulu-bulu putih. Pergilah kalian ke Mu’awiyah dan penduduk Syam dan kalian meninggalkan mereka. Sebab, mereka akan mendatangi keluarga dan harta-harta kalian (membunuh keluarga  kalian dan menjarah harta kekayaan kalian) . Demi Allah, aku benar-benar mengharap bahwa mereka itulah kaum yang dimaksud Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena mereka telah menumpahkan darah yang haram dan mengelabui manusia. Maka, berangkatlah kalian atas nama Allah”.

Namun tampak bahwa nafsu dan bisikan syaitan telah membutakan orang-orang Khawarij. Dengan penuh semangat mereka menyambut pasukan Ali seraya berseru : “Tidak ada hukum kecuali milik Allah, ayo, songsonglah surga, sambutlah surga “.

Usai perang Nahrawan yang dimenangkan pasukan Ali, menyisakan banyak kesedihan. Pasukan Ali dilanda kelemahan dan perpecahan yang semakin parah. Suara Ali sebagai khalifah makin tidak didengarkan. Banyak diantara mereka yang tadinya mendukung dan membantu perjuangan Ali kini berbalik mengkritik dan mencelanya. Demikian juga rakyat Syria yang mustinya merupakan daerah kekuasaan Ali juga makin melecehkannya. Berkali-kali Ali berusaha membakar semangat persatuan pasukannya, agar mau memerangi rakyat Syria yang membangkang itu, namun tetap diabaikan.

Ali sungguh prihatin menghadapi cobaan berat ini. Ia menyadari bahwa waktunya akan tiba bahwa ia akan dianiaya pendukungnya sendiri, hingga suatu saat ia berkata « Jenggot ini akan berubah menjadi merah disebabkan darah yang mengucur dari kepala ini ».

Dan ini menjadi kenyataan ketika suatu hari Ali sedang menuju masjid untuk memimpin shalat Subuh. Ia dikuntit dan ditikam dengan pedang yang telah diberi racun oleh orang Khawarij bernama Abdullah bin Muljam dan 2 orang temannya. Awalnya Ali menyangka orang tersebut juga hendak sholat bersamanya.

« Hai Ali pengadilan adalah milik Tuhan, bukan milikmu atau temanmu ! », begitu pernyataan si pembunuh dengan penuh percaya diri, ketika akhirnya ditangkap, Tragedi mengenaskan ini terjadi 4 tahun setelah perang Siffin yaitu pada Jumat 17 Ramadhan tahun 40H( 661M), di usia Ali yang ke 60 tahun.

Dalam keadaan berlumuran darah hingga jenggot seperti perkiraan Ali, ia dibawa pulang ke rumah. Umi Kalsum, putri kesayangan Ali yang juga merupakan istri dari Umar bin Khattab menangis histeris melihat ayahnya pulang dalam keadaan demikian. Begitu pula orang-orang dekat Ali. Melihat keadaan Ali yang semakin parah, beberapa orang sempat menyarankan agar Ali segera menunjuk Hasan bin Ali sebagai penggantinya.

« Tidak », jawab Ali. « Aku tidak ingin memberi kalian amanat ataupun menghambat apapun keputusan kalian”.

“ Tapi apa yang akan kau katakan kepada Tuhanmu bila kau tinggalkan kami tanpa seorangpun pemimpin?”, desak mereka lagi.

“ Akan aku katakan pada-Nya bahwa aku kembali kepada-Mu seperti rasul-Mu yang kembali tanpa menunjuk seorangpun pemimpin baru”, jawab Ali meyakinkan.

Kemudian Ali menasehati, diantaranya “Puncak kekayaan adalah kecerdasan akal sedang dasar kemiskinan adalah ketidak-tahuan. Sementara puncak kejahatan adalah kesombongan, dan puncak kebaikan adalah sifat dan prilaku yang santun”.

Demikianlah akhir kehidupan Ali, sang khulafaurrasyidin ke 4 itu wafat tanpa meninggalkan wasiat siapa penggantinya. Namun pendukungnya tetap mengangkat Hasan sebagai penggantinya. Dibawah pemerintahannya pembunuh ayahandanya tersebut diganjar hukuman mati. Namun tak lama kemudian, demi mencegah perpecahan umat, dengan amat bijaksana Hasanpun mengundurkan diri, dan menyerahkan seluruh kekuasaan ke tangan Muawiyyah.

Maka sejak itu berdirilah kerajaan Islam Umayah, yang merupakan keluarga dari bani Quraisy. Kerajaan ini membentang dari Iberia di Spanyol sekarang, Afrika utara, seluruh jazirah Arab hingga ke bagian timur India, yang berdiri hingga tahun 750 M.

Sementara itu, paska terbunuhnya Ali, terbersit rasa penyesalan di hati Muawiyah yang sebenarnya memang tidak mempunyai rasa permusuhan pribadi. Itu sebabnya maka ia mengundang Saad bin Abi Waqqash, salah satu sahabat utama yang tidak berpihak baik kepada Ali maupun Muawiyyah. Selain Saad, tercatat Abdullah bin Umar, Muhammad bin Maslamah dan Usamah bin Zaid adalah beberapa sahabat yang termasuk di kelompok ini. Muawiyah memulai interogasinya dengan membacakan ayat 9 surat Al-Hujurat berikut :

”Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”.

Namun apa jawaban Saad, yang ternyata benar-benar membuat Muawiyah tercengang.

“Bagaimana mungkin aku dapat memenuhi ajakan melawan seseorang yang Rasulullah pernah bersabda “  Kau bagiku seperti Harun dengan Musa. Namun demikian tidak ada nabi setelah aku”. Kalau kau masih juga tidak percaya wahai Muawiyah, dengarlah apa yang dikatakan Rasulullah kepada Ali : “ Dimanapun engkau Ali, kau bersama keadilan, dan keadilan bersamamu!”.

Mendengar itu Muawiyah berkata: “ Apakah ada orang lain yang mendengar ini? Kau harus membuktikannya, Saad”.

Maka Saadpun menyebut beberapa nama, diantaranya umirul mukminin Ummi Kalsum. Beruntung umirul mukminin ini masih hidup hingga dapat diambil kesaksiannya. Dan ternyata memang benar ia mendengar apa yang dikatakan rasulullah, persis seperti apa yang didengar Saad. Seketika pucatlah wajah Muawiyah, dengan nada penuh penyesalan ia berkata,

“Wahai Abu Ishak ( Saad bin Abi Waqqash), aku bersumpah, demi Allah, kalau saja aku mengetahui hal ini, tidak akan aku memberontak dan berperang melawan Ali. Mulai saat ini aku tidak akan lagi mencerca perbuatan Ali yang telah lalu”.

Perlu menjadi catatan, pembunuh Ustman yang tampaknya merupakan sebuah konspirasi dasyat, hingga detik ini tetap menjadi rahasia yang tak terpecahkan, menjadi polemik bagi sebagian umat Islam. Rentetan pembunuhan Ustman dan Ali, bahkan juga mungkin Umar, disusul dengan lahirnya kelompok Syiah dan kelompok Khawarij adalah sebuah rangkaian yang tampaknya sudah direncanakan secara sistimatis dan sangat matang.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 22 Oktober 2013.

Vien AM.

Referensi:

1. Ali bin Abi Thalib, le heroes de la chevalerie karya Recit Haylamas

2. http://id.wikipedia.org/wiki/Ali_bin_Abi_Thalib

3. http://www.anneahira.com/ali-bin-abu-talib.htm

4. Kisah hidup Ali ibn Abu Thalib, karya Dr. Musthafa Murad.

5. Berbagai sumber lainnya.