Feeds:
Posts
Comments

PENDAHULUAN 

Bab I.         Asal Muasal Tahun Gajah 

Bab II.       Silsilah Rasulullah

Bab III.      Kelahiran dan Masa Kecil 

Bab IV.       Masa Remaja 

Bab V.        Pernikahan dengan Khadijah dan Datangnya Wahyu Pertama

Bab VI.      Dakwah Secara Rahasia ( Sirriyatud -dakwah/

Bab VII.     Dakwah Secara Terang-terangan (Jahriyatud Dakwah)

Bab VIII.   Penolakan Orang-orang Musyrik Mekah Terhadap Islam

Bab IX.      Pengucilan dan Boikot Ekonomi Terhadap Kaum Muslimin ( Hijrah Pertama).

Bab X.        Tahun Duka Cita ( Amul Huzni dan Peristiwa di Thaif )

Bab XI.       Peristiwa Isra-Mi’raj dan Persiapan Madinah sebagai Tempat Hijrah

Bab XII.      Baiat Aqabah dan Hijrahnya Para Sahabat

Bab XIII.    Hijrah ke Madinah

Bab XIV.    Pembentukan Masyarakat  Madinah

Bab XV.      Perang Badar, Perang Pertama dalam Sejarah Islam

Bab XVI.     Pengkhianatan Pertama Yahudi dan Munculnya Tanda-tanda Kemunafikan

Bab XVII.   Perang Uhud dan Hikmah Diperintahkannya Berperang (bag-1)

Bab XVII.   Perang Uhud dan Hikmah Diperintahkannya Berperang (bag-2)

Bab XVIII.  Dakwah Kepada Ahli Kitab (bag-1)

Bab XVIII . Dakwah Kepada Ahli Kitab (bag-2)

Bab XIX.    Pengkhianatan Yahudi Bani Nadhir dan Dampaknya

Bab XX.      Jihad fi Sabilillah (1).

Bab XX.      Jihad fi Sabilillah (2)

Bab XX.      Jihad fi Sabilillah (3)

Bab XXI.     Perdamaian Hudaibiyah dan Baitur Ridwan

Bab XXII.    Perang Khaibar

Bab XXIII.   Dakwah Kepada Raja-raja

Bab XXIV.   Perang Mu’tah

Bab XXV.    Penaklukkan Mekah ( Fathu Makkah) (1)

Bab XXV.    Penaklukkan Mekah ( Fathu Makkah) (2)

Bab XXV.    Penaklukkan Mekah ( Fathu Makkah) (3)

Bab XXVI.   Perang Hunain

Bab XXVII.  Perang  Tabuk dan Kisah 3 Orang Sahabat

Bab XXVIII. Haji Wada, Khutbah Rasulullah dan Tanda Sempurnanya Islam

Bab XXIX.    Rasulullah dan Pernikahan 

Bab XXX.     Hari-hari Akhir Rasulullah saw(1)

Bab XXX.     Hari-hari Akhir Rasulullah saw (2)

Bab XXX.     Hari-hari Akhir Rasulullah saw(3)

PENUTUP

Catatan. Mulai Oktober 2019 buku dapat dipesan sebagai POD ( Print On Demand) melalui link berikut :

Sirah Nabawiyahhttps://bitread.id/book_module/book/view/1382/sirah_nabawiyah/

Dalam “Arriyadh Annadhirah Fi Manaqibil Asyarah“ tertulis, dari sahabat Abu Dzar ra, bahwa Rasulullah masuk ke rumah Aisyah ra dan bersabda: “Wahai Aisyah, inginkah engkau mendengar kabar gembira?” Aisyah menjawab : “Tentu, ya Rasulullah.” Lalu Nabi saw bersabda, ”Ada sepuluh orang yang mendapat kabar gembira masuk surga, yaitu : Ayahmu masuk surga dan kawannya adalah Ibrahim; Umar masuk surga dan kawannya Nuh; Utsman masuk surga dan kawannya adalah aku; Ali masuk surga dan kawannya adalah Yahya bin Zakariya; Thalhah masuk surga dan kawannya adalah Daud; Azzubair masuk surga dan kawannya adalah Ismail; Sa’ad masuk surga dan kawannya adalah Sulaiman; Said bin Zaid masuk surga dan kawannya adalah Musa bin Imran; Abdurrahman bin Auf masuk surga dan kawannya adalah Isa bin Maryam; Abu Ubaidah ibnul Jarrah masuk surga dan kawannya adalah Idris Alaihissalam.”

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS.At-Taubah(9):100).

Itulah janji Sang Khalik terhadap para sahabat yang selama hidup sejak mereka memeluk Islam hingga akhir hayat senantiasa membela Rasulullah dengan taruhan seluruh jiwa raga, mengorbankan harta dan rela berperang demi menegakkan ajaran Islam. Sebuah ganjaran yang amat pantas. Sebaliknya, sungguh tak pantas bila kemudian ada orang yang meragukan keimanan para sahabat tersebut.

Namun nyatanya itulah yang terjadi. Sejumlah sahabat dekat seperti Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra dan Ustman bin Affan ra difitnah telah murtad tak lama setelah Rasulullah wafat. Khalifah ke 3, Ustman bin Affan ra bahkan dianggap telah memanipulasi dan merekayasa isi ayat-ayat Al-Quran hingga sesuai dengan keinginan beliau dan kelompoknya, yaitu suku Quraisy. Sesuatu yang benar-benar tidak masuk akal. Lupakah mereka bahwa justru orang-orang Quraisy, penentang terbesar Rasulullah pada masa awal keislaman, inilah penyebab hijrahnya kaum Muhajirin ? Dan bukankah Allah swt sendiri yang menjamin pemeliharaan kitab suci umat Islam ini?

“ Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.(QS. AL Hijr (15):9).

Ironisnya, penyebar fitnah tersebut adalah orang-orang yang mengaku Islam !

Adalah kaum Khawarij, mereka adalah kaum yang pertama kali tercatat sebagai penyebar fitnah dalam tubuh Islam. Mereka adalah kaum yang memberontak terhadap pemerintahan Ustman bin Affan ra hingga menyebabkan terbunuhnya sang khalifah. Kaum yang mulanya membela kubu Ali bin Thalib ra, pengganti khalifah terbunuh, akhirnyapun membelot.  Mereka mulai mengkafirkan Ali dan sahabat-sahabat lain.

Parahnya lagi, hingga detik ini, fitnah keji tersebut  dipercaya dan diterima oleh sejumlah kelompok yang juga mengaku Islam. Diantaranya yaitu cendekiawan Muslim yang belajar dan menimba ilmu keagamaan Islam di Barat. Barat yang notabene Kristen dan memandang Islam sebagai ancaman, melihat jelas perpecahan di dalam tubuh Islam ini. Alhasil, dengan cepat merekapun memanfaatkan kesempatan tersebut dengan terus mengipasi umat Islam.

Kata “kritis” adalah kunci dasar pemikiran Barat. Maka dengan penuh percaya diri, para “cendekiawan” yang menamakan kelompoknya sebagai kelompok pembaharu itu, mulai nekad meng-“kritis”-i ( baca meragukan) ayat-ayat suci Al-Quranul Karim. JIL ( Jaringan Islam Liberal) adalah hanya satu diantara beberapa kelompok yang memiliki paham sesat tersebut.

Sementara kelompok Syiah, aliran Islam tertua yang berkembang pesat di Iran dan memiliki banyak pengikut di negri para mullah ini, terang-terangan mengajarkan ritual untuk mengutuk dan menghujat para sahabat. Bahkan dua istri Rasulullah, ibu umat Islam, yaitu Aisyah ra, putri Abu Bakar ra dan Hafsah ra, putri Umar bin Khattab,  tak luput pula dari fitnah keji yang mereka lemparkan. Yaitu, selain sebagai pelacur, na’udzubillah min dzalik, juga dituduh sebagai penyebab wafatnya Rasulullah saw, yaitu dengan cara meracuni Rasulullah !

( Untuk catatan, Syiah masuk kedalam kelompok aliran sesat diantaranya karena memiliki beberapa kitab suci disamping Al-Quran, diantaranya yaitu mushab Fatimah. Kitab ini, menurut mereka, berisikan firman Allah swt yang khusus  diturunkan kepada Fatimah ra, putri Rasulullah dan ditulis oleh Ali bin Abu Thalib ra, menantu Rasulullah.)

Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka…. “.(QS.Al-Ahzab(33):6).

« Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.(QS.Al-Ahzab(33) :57).

Bila Rasulullah saw masih ada, tak dapat dibayangkan betapa akan sakit hatinya beliau mendengar fitnah yang menimpa orang-orang yang beliau sayangi tersebut.

Adanya ritual keji ini diakui sendiri oleh pengikut Syiah yang tampaknya masih mempunyai hati nurani. Karena betapapun buruknya sebuah ajaran, mengutuk dan menghujat sesama manusia bukanlah hal yang terpuji. Rasulullah saw tidak pernah mengajarkan hal seperti itu.

Penyebab awal kebencian Syiah, sejatinya adalah tentang hak kepemimpinan. Menurut kelompok ini hanya garis keturunan Husein bin Ali bin Thalib sebagai cucu Rasulullah saw, yang berhak meneruskan kepemimpinan pasca wafatnya Rasulullah. Itu sebabnya mereka tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar, Umar bin Khattab maupun Ustman bin Affan. Dengan teganya, Abu Lu’lua, yang membunuh Umar ketika khalifah ke dua ini sedang shalat Subuh, bahkan mereka elu-elukan sebagai pahlawan. Selanjutnya, hadits-hadits yang bukan berasal dari Ali bin Abu Thalib dan dianggap tidak memihak kepentingan mereka, tidak mereka jadikan pegangan.

Keyakinan tersebut berdasarkan keyakinan kepada apa yang dikatakan Rasulullah pada suatu hari yang kelak mereka namakan Idul Ghadir, yang mereka rayakan setiap tahun, tak terkecuali di Republik tercinta ini. Ketika itu mereka mendengar bahwa Rasulullah telah menunjuk Ali bin Abu Thalib sebagai pengganti Rasulullah bila wafat nanti. Peristiwa itu terjadi pada perjalanan pulang Rasulullah dari Haji Wa’da dimana berkumpul ratusan ribu kaum Muslimin dari segala penjuru.  Kalau memang Rasulullah menghendaki Ali sebagai pengganti beliau saw, tentu akan beliau ungkapkan pada Haji Wa’da bukan sepulangnya, ketika sebagian besar kaum Muslimin telah berpencar pulang ke rumah masing-masing.

Ucapan Rasulullah itu sejatinya ditujukan untuk pasukan Ali ra yang tidak mau menuruti perintah menantu Rasulullah tersebut. Ketika itu Ali mengadu kepada Rasulullah bahwa pasukannya itu tidak mau mentaati Ali yang saat itu sedang menjalankan amanat Rasulullah di negri Yaman.

https://www.youtube.com/watch?v=pghJsKrFeNc

Apapun pendapat kelompok-kelompok yang membenci para sahabat, yang notabene adalah orang-orang Muhajirin dan Anshar, Allah telah ridho terhadap mereka dan telah memaafkan segala kesalahan mereka, yang tentu saja sangat manusiawi.

“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, “(QS.At-Taubah(9):117).

Menjadi catatan penting, menghujat apalagi meng-kafirkan para sahabat yang terbukti mendapat ampunan dan pujian dari Allah swt adalah bukan hal sepele. Ini adalah awal bencana. Karena para sahabat adalah saksi turunnya ayat-ayat suci Al-Quran kepada Rasulullah. Merekalah yang mengetahui kapan, bagaimana Rasulullah dan masyarakat menanggapi ayat-ayat tersebut.

Jangan lupa, ayat-ayat Al-Quran turun dalam bentuk lisan bukan tulisan seperti yang kita saksikan sekarang ini. Urutan turunnyapun tidak sama dengan apa yang kita baca hari ini. Para sahabatlah yang menuliskan ayat-ayat tersebut, dengan urutan sesuai petunjuk Rasulullah saw. Dengan kata lain, menghujat dan mengkafirkan para sahabat bisa beresiko pada hilangnya kepercayaan terhadap ayat-ayat  suci itu sendiri.

Sejarah mencatat, betapa tingginya keimanan para sahabat. Abu Bakar adalah seorang yang dikenal sangat jujur. Ia telah menjadi sahabat Rasulullah jauh sebelum kerasulan. Ia termasuk orang yang pertama memeluk Islam. Ia tidak pernah meragukan apapun yang dikatakan sahabatnya itu. Itu sebabnya ia mendapat julukan Ash-shiddiq. ( yang selalu membenarkan). Tak heran bila Rasulullah suatu ketika pernah mengatakan bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling beliau cintai. Ini pula yang menjadi salah satu sebab mengapa Rasulullah menikahi putrinya, Aisyah ra. Allah swt mengabadikan ketinggian keimanan Abu Bakar ra yang pernah memerdekakan 7 budak agar mereka dapat mengenal Islam dengan ayat-ayat berikut:

“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu ni’mat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan”. (QS.Al-Lail(92):17-21).

Sementara dengan Umar bin Khattab ra, sebelum memeluk Islam, Rasulullah pernah bersabda:

Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam”.

Allah swt juga beberapa kali menurunkan ayat-ayat Al-Quran berkenaan dengan sikap Umar. . Diantaranya adalah ayat 67 surat Al-anfal. Ayat ini diturunkan ketika Rasulullah meminta pendapat para sahabat tentang apa yang harus diperbuat terhadap tawanan perang Badar. Abu Bakar berpendapat bahwa sebaiknya tawanan dibebaskan dengan tebusan. Sementara Umar berpendapat sebaiknya mereka dibunuh. Awalnya Rasulullah setuju dengan Abu Bakar. Namun ternyata kemudian turun ayat 67 diatas yang isinya sesuai dengan anjuran Umar.

Namun demikian ini bukan berarti bahwa Umar adalah seorang yang sadis. Suatu ketika pada masa Umar menjadi khalifah, beliau pernah berujar : “Janganlah kamu mengira sifat kerasku tetap bercokol. Sejak awal ketika aku bersama Rasulullah saw, aku selalu menjaga keamanan dan ketentraman negri ( mentri dalam negri). Di masa Abu Bakarpun tetap demikian. Tetapi kini setelah urusan diserahkan kepadaku, akulah orang yang paling lemah dihadapan yang haq”.

Ini dibuktikannya dengan berbagai tindakannya yang sangat berpihak kepada rakyat kecil. Diantaranya yaitu dengan menyamar sebagai orang biasa dan berkeliling melihat keadaan rakyatnya.

Abbas ra berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya aku memiliki dua penasehat dari ahli langit dan dua penasehat dari ahli bumi. Yang dari langit ialah malaikat Jibril dan Mikail sedangkan yang dari bumi adalah Abu Bakar dan Umar. Merekalah pendengaran dan penglihatanku”. (HR. Alhaakim, Ibnu Asaakir dan Abu Na’ím dalam Fadhailus Sohabah).

Selanjutnya adalah Ustman bin Affan ra, sahabat sekaligus menantu Rasulullah yang di kemudian hari menjadi khalfah ke 3 dan mendapat julukan  Dzunnur’ain (seorang. yang memiliki dua cahaya) karena menikahi dua putri Rasulullah.  Ustman menikahi Ruqayah, putri ke 2 Rasulullah sebelum datangnya Islam. Kemudian setelah istrinya tercinta ini wafat, Rasulullah menikahkan beliau dengan adik Ruqayah yaitu Ummu Kaltsum.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Aisyah bertanya kepada Rasulullah Saw, ‘Abu Bakar masuk tapi engkau biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus, lalu Umar masuk engkau pun biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus. Akan tetapi ketika Utsman masuk engkau terus duduk dan membetulkan pakaian, mengapa ?’ Rasullullah menjawab, “Apakah aku tidak malu terhadap orang yang malaikat saja malu kepadanya ?”

Ustman adalah seorang kaya raya namun amat dermawan. Suatu ketika di Madinah, kaum Muslimin sedang menghadapi kesulitan air. Sebenarnya ada sebuah sumur yang diharapkan dapat memecahkan masalah tersebut. Namun  air sumur milik Yahudi tersebut diperjual belikan padahal kaum Muslimin tidak cukup memiliki uang. Maka datanglah Ustman membeli sumur tersebut dengan harga 20 ribu dirham, harga yang sangat tinggi. Hebatnya, sumur tersebut diberikan airnya kepada kaum Muslimin secara cuma-cuma.

Selain Ustman, sahabat kaya raya yang juga dikenal banyak menginfakkan hartanya untuk membantu saudara-saudaranya yang kesusahan adalah Abdul Rahman bin Auf. Juga Arqam bin Abi Arqam yang merelakan rumahnya dijadikan pusat dakwah Rasulullah. Rasulullah saw memuji Amr bin Ash dengan sabdanya: “Manusia sekedar masuk Islam, tapi Amr Bin Ash masuk Islam dengan iman”. (Hadits Shahih riwayat Ahmad dan Tirmidzi).

Akan halnya Ali bin Abu Thalib, tak satupun orang meragukan ketakwaan menantu Rasulullah yang sejak kecil telah menjadi bagian dari keluarga Rasulullah saw ini. Ali ditunjuk Rasulullah untuk tidur di atas tempat tidur beliau ketika orang-orang Quraisy bersekongkol membunuh Rasulullah. Dan Ali rela melakukan tugas mulia tersebut.

Dalam perang Khandaq, dengan agak memaksa Ali memohon agar Rasulullah mengizinkan beliau melayani tantangan Amru bin Wudd, seorang pimpinan pasukan berkuda Quraisy yang dikenal sangat kuat dan gagah perkasa.

“”Aku mengajak kamu ke jalan Allah, ke jalan Rasulullah dan kepada Islam“, seru Ali .

“Aku tidak memerlukan itu semua“, jawab Amru congkak.

“Kalau begitu, aku mengajak kamu bertempur“, tanggap Ali lagi.

“Mengapa hai anak saudaraku, demi berhala Allata aku tidak ingin membunuhmu“, jawab Amru lagi.

“Tapi demi Allah, aku ingin membunuhmu“, tantang Ali lantang.

Akhirnya terjadilah pertempuran yang mengakibatkan jatuhnya Amru dan usailah perang dimana Madinah bertahan dengan sistim paritnya yang diprakasai Salman Alfaritsi itu.

Dari pihak Anshar juga tak kalah hebatnya. Ada seorang rabbi di Madinah  yang cerdik-pandai, yaitu Abdullah bin Sallam. Setelah berkonsultasi dengan Rasulullah  iapun lalu memeluk Islam dan mengajak pula keluarganya untuk mengikuti jejaknya. Lalu merekapun bersama-sama mengikuti cahaya Islam. Sementara pada suatu peristiwa penting, yang dikenal dengan nama Baitur Ridwan ( perjanjian di bawah pohon),  para sahabat Anshar membuktikan ketakwaan mereka .

( Tentang baitur Ridwan, click :

https://vienmuhadisbooks.com/2011/06/10/xxi-perdamaian-hudaibiyah-dan-baitur-ridwan/  )

“ Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).”(QS.Al-Fath(48):18).

 “ Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (QS.An-Nisa (4): 69-70).

Menurut Masruq, kedua ayat ini diturunkan berkenaan dengan para sahabat yang suatu ketika berkata kepada Rasulullah, “ Wahai Rasulullah, kami tidak mau berpisah denganmu. Sesungguhnya jika engkau mendahului kami, engkau pasti akan mendapatkan tempat yang lebih tinggi bersama para nabi lain sehingga kami tidak akan dapat melihatmu”. (HR. Ibnu Abi Hatim).

Sungguh orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar adalah orang-orang yang dikasihi Allah swt dan patut menjadi panutan.

Wallahua’lam bish shawwab.

Paris, 8 Maret 2012.

Vien AM.

Islam memang sebuah ajaran yang unik. Ajaran yang disampaikan kepada Rasulullah saw sebagai nabi penutup, melalui malaikat Jibril as, ini mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat. Dunia adalah ladang tempat bekerja, beribadah berbuat kebaikan demi mengumpulkan bekal akhirat nanti. Karena akhirat adalah tujuan, yang ujungnya hanya 2 : surga atau neraka. Itu sebabnya, ketika lingkungan tidak memungkinkan kita untuk beribadah, bekerja dan menjalani hidup tenang dibawah aturan yang dikehendaki-Nya maka hijrah adalah solusinya.

Mekah dan Madinah meski sama-sama berada di tanah Saudi dengan jarak sekitar 450 km adalah dua kota yang benar-benar berbeda. Mekah adalah kota yang sangat gersang dan panas. Sebagian besar penduduknya hidup dari berdagang. Sedangkan Madinah adalah kota yang tanahnya subur dan relative lebih dingin dibanding Mekah. Mayoritas penduduknya hidup sebagai petani.

Tentu saja perbedaan kebiasaan ini menimbulkan permasalahan baru bagi kaum Muhajirin, baik secara ekonomi, sosial kemasyarakatan maupun kesehatan. Mereka harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Pada saat yang sama mereka juga harus mencari penghidupan, padahal mereka  tidak memiliki modal. Namun dengan semangat persaudaraan muslim yang baru saja mereka terima semua itu dapat diatasi dengan baik.

Ketika itu Rasulullah mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Diantaranya Abu Bakar dipersaudarakan dengan Kharijah bin Zaid, Umar bin Khattab dengan  Uthbah bin Malik, Utsman bin Affan dengan seorang laki-laki dari bani Zuraiq bin Sa`ad Az-Zuraqi,  Ja’far bin Abi Thalib dengan Mu’adz bin Jabal, Hamzah bin Abdul Muthalib dengan Zaid bin Zuhair, Abdul Rahman bin Auf dengan Sa’id bin Rabi’, Zubair  dengan Ka`ab bin Malik, Abdullah bin Zaid bin Tsa`labah bin Abdi Rabbih dengan Balharits bin Al-Khazraj dll.

Bahkan antara suku Aus dan suku Khazraj, dua suku penduduk Madinah yang sejak lama selalu bermusuhan, sejak datangnya Islam tidak pernah lagi bertikai. Kecuali suatu hari orang-orang Yahudi pernah mengadu-domba mereka hingga hampir saja terjadi pertumpahan darah kalau saja Rasulullah tidak segera mengingatkan bahwa sesama muslim adalah bersaudara.

“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. (QS.Al-Hujurat (49):10).

Hebatnya lagi, pada awal hijrah ikatan persaudaraan tersebut berlaku hingga ke hukum waris. Namun hal ini tak lama berlangsung karena kemudian turun ayat yang menjelaskan bahwa kerabat lebih berhak mendapatkan waris dari pada yang bukan kerabat ( Muhajirin).

“ … Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah)”.(QS.Al-Ahzab(33):6).

Zubair ra berkata:

“Allah Azza wa Jalla, menurunkan ayat khusus tentang kami orang-orang Muhajirin dan Anshar, QS. Al-Anfaal :75, “ … … Orang-orang yang mempunyai hubungan (kerabat) itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.( QS. Al-Anfaal(8) :75).

Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: “Ketika kaum Muhajirin datang ke Madinah seorang Muhajir mewarisi seorang Anshar tanpa adanya hubungan keluarga, karena Ukhuwwah yang telah dijalin oleh Nabi saw ketika turun ayat (artinya) : “Bagi tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya ….“ Terhapuslah hukum tersebut.

Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabatKami jadikan pewaris-pewarisnya. Dan (jika ada) orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah kepada mereka bahagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.”(QS.An-Nisa(4):33).

Dari peristiwa diatas, satu lagi hikmah turunnya ayat-ayat Al-Quran secara bertahap dapat diambil. Karena ternyata ada beberapa ayat yang hanya berlaku pada saat tertentu. Itulah yang disebut ayat-ayat yang di-nasakh dan di-mansukh. Dan ini hanya dapat diketahui bila kita mempelajari Al-Quran bersamaan dengan mempelajari sejarah kehidupan Rasulullah saw ( sirah nabawiyah). Disinilah pentingnya kita mempelajari hadits. Karena ayat-ayat Al-Quran yang diturunkan selama 22 tahun 2 bulan 22 hari itu amatlah erat kaitannya dengan kehidupan Rasulullah. Hanya dengan cara inilah kita dapat mengetahui asal usul, kapan dan dalam keadaan bagaimana ayat diturunkan. Artinya, mempelajari Al-Quran ayat per ayat, surat per surat secara berurut layaknya mempelajari kitab biasa, secara otodidak pula, adalah hal yang benar-benar mustahil.

Riwayat juga menceritakan, betapa kebaikan orang-orang Anshar yang tanpa pamrih tersebut sempat membuat kaum Muhajirin merasa khawatir bahwa kasih sayang Allah swt akan terlimpah hanya kepada kaum Anshar.

Diriwayatkan dari Anas radiallahu`anhu, ia berkata:

Kaum Muhajirin datang kepada Nabi saw  seraya berkata: “Wahai Rasulullah!, kami belum pernah menemui suatu kaum yang memberikan harta mereka dalam jumlah yang banyak dan berbagi rata ketika jumlahnya sedikit. Mereka telah mencukupi keperluan kami dan ikut dalam kesusahan kami, kami khawatir hanya mereka saja yang mendapatkan seluruh pahala“. Rasulullah saw bersabda:“Kalian juga mendapatkan bagian pahala, selagi kalian ber- terima kasih dengan kebajikan mereka dan mendoa`kan mereka”. (HR. Ahmad).

Disamping itu ada lagi golongan lain, yaitu golongan Ash-Shuffa (Penghuni Shuffa). Mereka adalah orang-orang Muhajirin yang benar-benar tidak mampu. Mereka adalah golongan fakir-miskin yang membutuhkan bantuan. Untuk itu keperluan mereka ini diambilkan dari harta kaum Muslimin yang mampu, baik dari kaum Muhajirin maupun Anshor. Rasulullah menempatkan mereka di selasar masjid yaitu shuffa (bahagian mesjid yang beratap) sebagai tempat tinggal mereka. Bagi yang pernah mengunjungi Masjid Nabawi, tempat tersebut kini berada di samping Raudhah, di bagian yang sangat indah, dimana rak-rak buku tinggi berlapis kuning keemasan menghiasi dinding-dindingnya.

Namun anehnya, kebaikan dan kekhususan ikatan persaudaraan muslim di awal keislaman yang terjalin antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar ini  harus menanggung pelecehan dan penghinaan. Ironisnya lagi, ini dilakukan oleh orang-orang yang mengaku dirinya Muslim.

Menjadi catatan penting, tidak semua penduduk Madinah ketika itu, mempunyai kebaikan seperti kaum Anshor. Madinah sejak sebelum hijrahnya kaum Muslimin telah dipenuhi orang-orang Yahudi yang dikenal kaya raya. Tak heran bila pembesar-pembesar kota tersebut, meski telah memeluk Islam, tetap berhubugan baik dengan orang-orang Yahudi, meski mereka ini jelas–jelas sangat memusuhi ajaran Islam. Salah satunya yang paling mencolok adalah Abdullah bin Ubay bin Salul, seorang tokoh Munafikun Madinah yang dikenal sangat memusuhi Islam. Saking dekatnya hubungan dengan orang-orang Yahudi, ia sering mencemooh ayat-ayat yang turun kepada Rasulullah saw.

“Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar”.(QS.Al-Baqarah(2):101).

Orang-orang munafik tersebut selain mencela dan mempermainkan ayat-ayat-Nya juga suka mencemooh apapun yang dilakukan kaum Muslimin. Untuk itu Allah swt menurunkan sejumlah ayat diantaranya adalah ayat 74 hingga 87 surat At-Taubah. Dan puncaknya, ketika akhirnya turun perintah perang, dengan berbagai alasan mereka menolak perintah tersebut.

Dan apabila diturunkan sesuatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu): “Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah beserta Rasul-Nya”, niscaya orang-orang yang sanggup di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata: “Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk“.”.(QS.Al-Baqarah(2):86).

Bahkan Abdullah bin Ubay melindungi orang-orang Yahudi yang jelas-jelas memusuhi kaum Muslimin dan menjadi duri yang sangat berbahaya bagi perkembangan Islam di Madinah. Tidak cukup itu. Aisyah ra, istri tercinta Rasulullahpun tak luput dari fitnah yang dimotori  olehnya. Namun Allah swt sendiri yang kemudian membela beliau, yaitu dengan turunnya ayat 11 hingga 20 surat An-Nuur yang menerangkan bahwa umirul mukminin yang dikenal banyak meriwayatkan hadits, dimana ayat-ayat suci sering turun di kamar beliau, adalah tidak bersalah. Dalam kesempatan itu, Allah swt bahkan membuka kedok tokoh Munafikun tersebut.

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar”.(QS.An-Nur(24):11).

Anehnya, perbuatan terkutuk tersebut tidak menjadikan orang-orang Munafik menjadi kapok. Malah dengan  wafatnya Rasulullah saw 14 abad silam, fitnah tersebut makin menjadi-jadi, hingga detik ini. Ini adalah fitnah terbesar dalam sejarah Islam. Bagaimana mungkin para sahabat seperti Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra dan Ustman bin Affan ra yang selama hidup Rasulullah telah terbukti begitu setia membela Rasulullah dan ajaran Islam dapat tiba-tiba murtad begitu Rasulullah wafat? Atas alasan apa?? Padahal Allah swt sendiri telah menjamin ampunan dan surga bagi mereka  …

“ Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah ( Muhajirin), dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan ( Anshar, kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (ni`mat) yang mulia”.( QS. Al-Anfaal(8) :74).

Wallahuálam bish shawwab.

( Bersambung)

Paris, 2 Maret 2012.

Vien AM.

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS.At-Taubah(9):100).

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah ( Muhajirin) , dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan ( Anshor kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (ni`mat) yang mulia”.(QS.Al-Anfal(8):74).

Orang-orang muhajirin adalah orang-orang yang hijrah dari Mekah ke Madinah pada masa kerasulan saw 14 abad silam. Mereka adalah sahabat-sahabat sejati Rasulullah, diantaranya para cikal bakal khalifah yaitu Ustman bin Affan ra, Umar bin Khattab ra, Abu Bakar ra dan Ali bin Abu Thalib ra.

Sementara orang-orang anshar adalah penduduk Madinah yang pada masa kerasulan ridho menerima kedatangan orang-orang muhajirin yang terpaksa meninggalkan kota kelahiran mereka tercinta yaitu Mekah untuk menuju Madinah. Orang-orang anshar terdiri atas 2 suku yaitu suku Aus dan suku Khazraj yang sebelum kedatangan Islam selalu bertikai. Mereka berbondong-bondong mulai memeluk Islam berkat adanya Bai’at ( sumpah setia atau ikrar) Aqabah. Bai’at inilah yang menjadi perintis jalannya hijrah.

Bai’ait Aqabah terjadi pada tahun ke duabelas kerasulan ( 621 M) . Ketika itu 12 orang dari Madinah yang waktu itu masih bernama Yatsrib datang menemui Rasul untuk bertanya tentang ajaran yang dibawa beliau.. Tak lama kemudian merekapun berbai’at kepada Sang Rasul saw bahwa mereka tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, melaksanakan apapun yang diperintahkan dan meninggalkan apapun yang dilarang Sang Khalik, Azza wa Jalla.

Dengan suka cita Rasulullah langsung mengutus Mush’ab bin Umair dan Amr bin Ummi Maktum untuk segera pergi ke Madinah mendampingi ke 12 tamu dari Madinah tadi untuk mengajarkan Islam, termasuk membaca Al-Quran, shalat dsbnya.

Tahun berikutnya Mush’aib kembali ke Mekah dengan membawa 70 orang lelaki dan 2 orang perempuan dari Madinah. Kedua perempuan tersebut adalah Nusaibah bintu Ka’ab dan Asma’ bintu ‘Amr bin ‘Adiy. Mereka menghadap Rasulullah untuk menyatakan keislaman mereka. Di Aqabah, tempat di antara Mekah dan Mina, tidak jauh dari jumrah Aqabah sekarang inilah terjadi perjanjian Aqabah yang disebut Aqabah ke 2. Dengan disaksikan paman Rasulullah, ‘Abbas bin ‘Abdil Muthallib yang ketika itu belum memeluk Islam, mereka bersumpah setia untuk mendukung Rasulullah saw.

Berikut isi Bai’at Aqabah 2 :
1. Untuk mendengar dan taat, baik dalam perkara yang mereka sukai maupun yang mereka benci.
2.Untuk berinfak baik dalam keadaan sempit maupun lapang.
3.Untuk beramar ma’ruf nahi munkar.
4.Agar mereka tidak terpengaruh celaan orang-orang yang mencela di jalan Allah.
5.Agar mereka melindungi Muhammad saw sebagaimana mereka melindungi perempuan-perempuan dan anak-anak mereka sendiri.

Itu sebabnya ketika tekanan, penganiayaan dan penyiksaan orang-orang Quraisy terhadap kaum Muslimin Mekah generasi awal yang dikenal dengan sebutan Assabiqunal Awwalun (golongan yang pertama-tama masuk Islam). makin meningkat, Rasulullah memilih Madinah sebagai tempat hijrah. Ketika itu para sahabat mulai mengeluh dan memohon kepada Rasulullah agar mereka diizinkan berhijrah, kemanapun, yang penting keluar dari Mekah, agar mereka dapat menjalankan ajaran dengan sebaik mungkin. Meski harus kehilangan sanak keluarga, harta benda serta pekerjaan di kota kelahiran mereka tercinta.

“ Sesungguhnya akupun telah diberi tahu bahwa tempat kalian adalah Yatsrib. Barangsiapa ingin keluar maka hendaklah keluar ke Yatsrib”, demikian Rasulullah menanggapi permohonan para sahabat.

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.” (QS.Ali Imran(3):195).

Hijrah yang dilakukan para sahabat ke Madinah tersebut sebenarnya bukanlah hijrah pertama. Karena para sahabat sebelumnya pernah hijrah ke Habasyah ( Ethiopia). Hijrah yang terjadi pada tahun ke 5 kerasulan ini dilakukan oleh 11 lelaki dan 4 perempuan. Ustman bin Affan beserta istrinya, Ruqayah, putri Rasulullah,adalah termasuk orang-orang yang hijrah pada hijrah ini.

Hijrah ke Habasyah kedua terjadi 2 tahun kemudian, yaitu pada tahun ke 7 kerasulan. Pada tahun tersebut berangkatlah rombongan dengan jumlah yang lebih besar, yaitu 101 orang. Rombongan ini terdiri dari 83 orang laki-laki dan 18 orang perempuan. Hijrah ini dipimpin oleh Ja’far bin Abu Thalib.

Rasulullah mengizinkan para sahabat hijrah hingga 2 kali ke negri ini karena mendengar bahwa raja Habasyah ketika itu yaitu Najasyi ( Negus) adalah seorang pemeluk Nasrani yang alim, yang mau melindungi orang-orang yang dalam kesulitan. Pada peristiwa tersebut raja ini dikabarkan rela memeluk Islam andai saja berkesempatan bertemu dan mendengar dakwah Rasulullah. Ini berkat surat Maryam yang dibacakan Ja’far bin Abu Thalib di hadapan sang raja. Dengan air mata haru ia mengatakan bahwa kitabnya memang menceritakan bakal datangnya seorang rasul akhir zaman yang ternyata sesuai dengan apa yang digambarkan para sahabat yang berhijrah itu.

Click : surat Maryam

http://www.dailymotion.com/video/xdejgk_sura-maryam-19-27-65-mishary-alafas_lifestyle

Pada hijrah selanjutnya yaitu ke Madinah, Abu Salamah bin ‘Abdil Asad, Mush’ab bin ‘Umair, ‘Amr bin Ummi Maktum disusul oleh Bilal bin Rabah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Ammar bin Yasir, dan Umar bin Khatthab tercatat sebagai sebagian sahabat yang mula-mula berhijrah. Jumlah mereka ketika itu sekitar 20 orang. Mereka berhijrah ada yang secara diam-diam di malam hari ada yang terang-terangan di siang hari seperti yang dilakukan Umar bin Khattab.

“Barangsiapa ingin ibunya kehilangan anaknya, ingin istrinya menjadi janda atau ingin anaknya menjadi yatim piatu hendaklah ia menghadangku di balik lembah ini ! “, tantang calon khalifah ke 2 yang dikenal amat ditakuti musuh itu sambil mengangkat pedang, busur, panah dan tongkatnya tinggi-tinggi.

Rasulullah saw dikawal Abu Bakar ra menyusul kemudian. Setelah itu menyusul pula Ali bin Abi Thalib dan beberapa sahabat lain. Sementara itu sebagian besar penduduk Madinah yang ketika itu sudah memeluk Islam, benar-benar menepati ikrar mereka. Dengan suka cita mereka menyambut dan menerima saudara-saudara baru mereka seiman.

“Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”.(QS.Al-Hasyr(59):9).

Berkaitan dengan ayat di atas, terdapat sebuah kisah sangat masyhur yang melatar belakangi turunnya ayat tersebut. Abu Hurairah ra menceritakan: Ada seseorang yang mendatangi Rasulullah saw (dalam keadaan lapar), lalu beliau mengirim utusan ke para istri beliau. Para istri Rasulullah saw menjawab: “Kami tidak memiliki apapun kecuali air”. Rasulullah saw bersabda:“Siapakah di antara kalian yang ingin menjamu orang ini?” Salah seorang kaum Anshar berseru: “Saya“, lalu orang Anshar ini membawa lelaki tadi ke rumah istrinya, (dan) ia berkata: “Muliakanlah tamu Rasulullah“. Istrinya menjawab: “Kami tidak memiliki apapun kecuali jatah makanan untuk anak-anak”.

Orang Anshar itu berkata: “Siapkanlah makananmu itu. Nyalakanlah lampu, dan tidurkanlah anak-anak kalau mereka minta makan malam.” Kemudian, wanita itu pun menyiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya. Dia lalu bangkit, seakan hendak memperbaiki lampu dan memadamkannya. Kedua suami istri ini memperlihatkan seakan mereka sedang makan. Setelah itu mereka tidur dalam keadaan lapar. Keesokan harinya, sang suami datang menghadap Rasulullah saw, Beliau bersabda: “Malam ini Allah tertawa atau ta’jub dengan perilaku kalian berdua”. Lalu Allah Ta’ala menurunkan ayat-Nya, (yang artinya): dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung”.QS. Al-Hasyr/59 ayat 9. (HR Imam Bukhari).

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.(QS.Al-Hasyr(59:10).

Itu hanya salah satu contoh bagaimana orang-orang Anshar rela berkorban demi saudaranya yang kesulitan. Mereka dapat memahami bagaimana sulitnya harus meninggalkan tanah kelahiran dimana sanak saudara berkumpul, dimana lahan pekerjaan menanti. Tanah dimana mereka mengumpulkan harta benda sekaligus menikmati setiap tetes keringat jerih payah mereka. Uniknya, itu semua demi menegakkan ajaran yang baru mereka terima, yaitu Islam.

( Bersambung).

ummu salamahKhadijah adalah seorang perempuan Quraisy terhormat yang lahir dari keluarga kaya raya. Putri cantik Khuwailid bin Asad ini juga dikenal sebagai perempuan yang sukses meneruskan bisnis kedua orang-tuanya yang wafat ketika Khadijah masih muda belia. Ia dijuluki ‘Afifah Thahirah atau perempuan suci oleh orang-orang disekitarnya. Bunga Mekah ini pernah menikah dua kali. Keduanya wafat ketika masih berstatus sebagai suaminya. Dari suami pertamanya Khadijah mempunyai 2 orang anak. Setelah itu Khadijah memutuskan untuk tidak lagi menikah meski beberapa lelaki terhormat datang melamarnya.

Namun Allah menghendaki lain. Sejak ia mendengar sendiri laporan dari pembantu setianya, Maisaroh, tentang  bagaimana santunnya seorang pemuda bernama Muhammad bin Abdullah yang ditunjuknya untuk membantu menjalankan bisnisnya, hatinya tiba-tiba hidup kembali. Sebelum itu ia memang pernah mendengar kabar bahwa pemuda Quraisy ponakan Abu Thalib, cucu Abdul Mutthalib itu memiliki akhlak yang sungguh mulia. Ia dikenal sebagai pemuda yang jujur dan sopan  Sangat berbeda dengan kebanyakan pemuda Mekah yang gemar bermabuk-mabukan dan pesta pora.

Hal inilah yang membuat Khadijah berpikir ulang. “Pasti ada sesuatu yang istimewa dalam diri anak muda ini. Dari begitu banyak orang yang pernah aku serahi tugas menjalankan perniagaan tak satupun yang pernah pulang dengan membawa berkah yang demikian berlimpah. Dan ini semua berkat kejujuran dan kesantunannya ”, pikirnya keheranan. “Walaupun beda usia antara aku dan dirinya cukup jauh, rasanya bukan hal mustahil bagi kami untuk bersatu dalam sebuah pernikahan. Semoga firasatku ini firasat yang baik. Semoga darinya akan lahir anak-anak yang berkwalitas ”.

Itu sebabnya maka Khadijahpun memberanikan diri mengutus sahabatnya, Nafisah binti Muniyah, untuk menanyakan apa yang menjadi penghalang pemuda yang diam-diam telah mencuri hatinya itu, sehingga ia belum juga menikah.

Aku tidak pernah berani berpikir ke arah itu karena aku belum memiliki cukup harta untuk meminang seseorang”, begitu jawaban pendek Muhammad. Maka akhirnya ketika Nafisah memberitahukan bahwa Khadijah, yang masih memiliki hubungan kekerabatan walau jauh itu, menginginkan Muhammad melamar dirinya, Muhammad langsung setuju. Ternyata diam-diam sang pemuda juga menyimpan rasa kagum terhadap Khadijah. Itu sebabnya Muhammad segera melamarnya.

Dengan persetujuan kedua keluarga besar maka menikahlah Muhammad bin Abdullah dengan Khadijah binti Khuwailid. Ketika itu Muhammad  berusia 25 tahun sementara Khadijah 40 tahun. Perbedaan usia yang jauh serta kesenjangan ekonomi  yang lebar antara keduanya tidak menghalangi pasangan tersebut membina rumah tangga yang penuh bahagia.

Khadijah mempercayakan urusan perniagaannya kepada sang suami tercinta, dan di tangan Muhammad perniagaan Khadijah semakin lancar dan maju. Sementara Khadijah sendiri lebih fokus kepada urusan rumah tangga.  Namun  demikian ini tidak berarti bahwa Muhammad lepas tangan terhadap urusan yang umumnya dianggap sebagai urusan perempuan itu. Tidak jarang Muhammad terlihat membantu pekerjaan sehari-hari Khadijah. Pendek kata meskipun kini Muhammad telah menjadi seorang saudagar kaya raya, ia tetap sederhana dan bersahaja.

Sementara itu di waktu-waktu luangnya, Khadijah mendapati bahwa sang suami sering merenung dan berusaha berpikir siapakah sebenarnya Sang Pencipta yang patut disembah dan diagungkan. Muhammad muda senantiasa menjauhkan diri dari ritual penyembahan berhala yang lazim dilakukan kaumnya yang dalam kesesatan. Semua ini tak terlepas dari pengamatan Khadijah. Hal ini menimbulkan kekaguman dan kesan mendalam di hati sang istri tercinta. Oleh karenanya ia tidak pernah menghalangi kepergian suaminya bermunajat di gua Hira dalam rangka merenung dan memikirkan penciptaan bumi, langit beserta seluruh isinya.

Itu sebabnya ketika suatu hari suami dengan menggigil ketakutan pulang ke rumah sambil menceritakan bahwa ia telah didatangi ’mahluk yang memenuhi langit’ ( malaikat Jibril as), Khadijah tidak mencemoohkannya bahkan langsung mempercayainya. Beliaulah orang yang pertama beriman dan langsung mempercayai kerasulan Muhammad saw disaat yang lain masih mengingkari dan mencemoohnya.

Khadijah segera menyelimuti dan menghibur sang suami dengan kata-kata yang menyejukkan dan menenangkan hati. Dalam keadaan inilah turun ayat berikut :

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. ” . (QS.Al-Muzzammil(73):1-4).

Untuk menenangkan hati suaminya Khadijah mengajaknya menemui   Waraqah bin Naufal, seorang pendeta Nasrani buta sekaligus sepupunya. Di sana Khadijah menceritakan apa yang dialami Muhammad yang ketika itu belum menjadi seorang Rasul.

Itu adalah malaikat yang pernah Allah utus kepada Musa. Oh, alangkah bahagianya apabila aku masih muda dan perkasa. Alangkah bahagianya seandainya aku masih hidup tatkala kamu diusir oleh kaummu”, berkata Waraqah setelah mendengar cerita keponakannya.

Apakah mereka akan mengusirku?” tanya Muhammad, risau.

Ya, tidak ada seorangpun yang membawa seperti apa yang kamu bawa kecuali dimusuhi dan diperangi oleh kaumnya. Seandainya kelak aku masih hidup dan mengalami hari yang akan kamu hadapi itu, niscaya aku akan membantumu sekuat tenaga.”

Sayang tidak berapa lama setelah kejadian tersebut, Waraqah meninggal dunia. Sedangkan Khadijah, sejak itu selalu bersiap diri rela mengorbankan waktu, jiwa serta seluruh hartanya untuk dakwah Rasullullah Muhammad saw,  sang suami tercinta. Demikian  pula ketika kaum Quraisy memboikot Rasul dan para pengikutnya di lorong sempit rumah beliau selama kurang lebih 2 tahun, Khadijah senantiasa mendampingi dan menghibur Rasul dengan penuh kesetiaan.

Hingga akhirnya setelah 25 tahun mendampingi Rasulullah, pada usia 65 tahun Allah swt memanggil Khadijah untuk kembali kepada-Nya. Tahun tersebut di kemudian hari dikenang  dengan sebutan ‘Amul-Huzn atau Tahun Duka Cita. Karena pada tahun tersebut paman Rasulullah, Abu Thalib yang selama ini senantiasa melindungi dakwah Rasulullah juga berpulang ke rahmatullah.

Yang juga patut dicatat, selama Khadijah menjadi istri Rasulullah tidak pernah sekalipun suaminya itu memadunya, hal yang amat lazim bagi pria Arab ketika itu untuk memiliki istri lebih dari satu. Apalagi ketika itu Rasulullah masih sangat muda, namun tak pernah sekalipun mencoba menambah istri lagi, bahkan terpikirpun tidak.

Pasangan istimewa ini dikaruniai 4 putri dan 2 putra. Empat putri mereka adalah Zainab, Ruqaiah, Ummi Kultsum dan Fatimah binti Muhammad. Sedangkan dua putra mereka  adalah Abdullah dan Qasim bin Muhammad. Keduanya meninggal ketika masih kecil.

Di kemudian hari, Aisyah, istri Rasulullah yang masih belia, menunjukkan kecemburuan yang sangat karena Rasulullah memuji Khadijah, dengan kepolosannya berkata, “Bukankah dia hanya seorang yang sudah tua dan Allah SWT telah mengganti untukmu orang yang lebih baik darinya?”

Mendengar itu, wajah Rasulullah sontak memerah, dan bersabda, “Demi Allah! Allah tidak pernah menggantikan yang lebih baik darinya. Dia beriman ketika orang-orang ingkar, dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, dia membelaku dengan hartanya ketika orang-orang menghalangiku, dan aku dikaruniai Allah anak darinya, sementara aku tidak dikaruniai anak dari istri-istriku yang lain”.

Rasulullah juga pernah bersabda, “Wanita terbaik di semesta ini adalah Maryam binti ‘Imran, ‘Asiyah binti Muzahim, Khadijah binti Khuwailid dan Fathimah binti Muhammad” ( HR.At Tirmidzi).

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, April 2009.

Vien AM.

Kelahiran Tokoh Tabi’in: Amir bin Syurahbil Asy-Sya’bi

Selang enam tahun setelah masa khilafah Al-Farruq radhiyallahu ‘anhu, lahirlah seorang bayi dari keluarga Muslim. Tubuhnya begitu kurus dan mungil. Karena saudara kembarnya lebih banyak mendapatkan jatah di rahim ibunya sehingga dia tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan tubuhnya. Namun, kelak tak ada yang mampu menyamainya baik saudara kembarnya maupun orang lain dalam hal ilmu. Dialah Amir bin Syurahbil al-Humairi yang lebih dikenal dengan panggilan Asy-Sya’bi, seorang tokoh Muslimin pada zamannya.

Amir bin Syurahbil asy-Sya’bi

Beliau lahir dan dibesarkan di kota Kufah. Akan tetapi kota Madinah al-Munawarah merupakan kota yang menjadi idamannya. Beliau sering mondar-mandir ke sana untuk menuntut ilmu dari para sahabat Rasulullah, sebagaimana para sahabat juga sering bepergian ke Kufah yang menjadi pangkalan untuk jihad fii sabilillah maupun tempat untuk bermukim.

Beliau mendapat kesempatan untuk bertemu sebanyak kurang lebih 500 sahabat yang mulia. Beliau meriwayatkan dari sahabat-sahabat utama seperti Ali bin Abi Thalib, Sa’ad bin Abi Waqash, Zaid bin Tsabit, Ubadah bin Shamit, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Sa’id al-Khudri, Nu’man bin Basyir, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Adi bin Hatim, Abu Hurairah, Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anhu dan lain-lain.

Asy-Sya’bi dikenal sebagai pemuda yang cerdas, lembut hatinya, tajam analisanya, bagus pemahamannya dan kuat daya hafal dan ingatannya diriwayatkan bahwa dia berkata, “Tiada aku menulis di lembaran putih atau aku dengan hadis dari seorang melainkan aku mampu menghafalnya, dan tiada pernah aku mendengar perkataan dari orang melainkan aku tak ingin dia mengulangi ucapannya.”

Sungguh, pemuda ini sangat gemar berkutat dengan ilmu, walaupun untuk memenuhi rasa ingin tahunya itu dia harus menempuh berbagai kesulitan dan biaya yang mahal. Dia menjalaninya dengan senang hati, seperti yang beliau katakan, “Seandainya ada orang yang pergi dari ujung Syam sampai ke ujung Yaman lalu dia menghafalkan satu kalimat saja yang bermanfaat bagi dirinya, maka sungguh perjalanannya tak sia-sia.

Sehingga sampailah beliau pada tingkatan ilmu seperti yang beliau katakan: “Yang paling sedikit dari yang aku pelajari adalah kata-kata syair. Namun seandainya aku mau membacakan syair-syair yang aku ketahui, tentu akan memakan waktu sebulan penuh tanpa mengulang-ulang yang sudah aku sebutkan.”

Telah disediakan kesempatan bagi beliau untuk mengisi suatu halaqah ilmu di masjid jami’ Kufah, di mana para pengikutnya berkumpul dalam kelompok-kelompok. Padahal waktu itu masih banyak sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang hidup dan mondar-mandir di tengah-tengah umat Islam.

Bahkan suatu kali Abdullah bin Umar mendengarkan Asy-Sya’bi bercerita dengan rinci tentang sejarah peperangan. Demikian mengagumkannya hingga Ibnu Umar berkata, “Aku hadir dan mendengarkannya dengan telingaku sendiri apa yang dikisahkan oleh Asy-Syab’bi, sungguh dia lebih baik periwayatannnya dariku.”

Bukti-bukti akan keluasan ilmu Asy-Sya’bi dan ketajaman ingatannya sangat banyak, di antaranya adalah kisah yang beliau ceritakan sendiri:

“Telah datang kepadaku dua orang yang saling membanggakan kaumnya. Yang satu dari Bani Amir dan satunya dari Bani Asad. Orang dari Bani Amir unggul atas lawannya dan berlaku kasar dengan menyeret orang dari Bani Asad tersebut ke hadapanku. Sementara yang diseret dengan lemah berkata, “Lepaskan aku… lepaskan aku..!”

Namun dia berkeras dan berkata, “Tidak akan kulepas sebelum diakui oleh Asy-Sya’bi bahwa kemenangan ada di pihakku.” Selanjutnya aku berkata kepadanya, “Lepaskan dulu kawanmu itu baru kalian akan aku adili.”

Terhadap orang dari Bani Asad aku katakana, “Mengapa engkau merasa lemah dan kalah di hadapannya? Sesungguhnya kalian, bani Asad, memiliki enam kebanggaan yang tak dimiliki oleh bangsa-bangsa Arab yang lain.

Pertama, di kalangan kalian ada seorang wanita yang dipinang oleh manusia yang paling mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan Allah sendiri yang menikahkannya dari atas langit-Nya yang ketujuh dan mengirimkan utusan Jibril untuk keduanya. Dialah Ummul Mukminin Zaenab binti Jahsy. Inilah kebanggan pertama bagi kaummu yang tidak dimiliki bangsa Arab lainnya.

Kedua, di antara kaum kalian ada seorang penduduk surga yang berjalan di atas muka bumi, yaitu Ukasyah bin Mihshan. Padahal tidak ada hal seperti itu pada bangsa-bangsa Arab selain kalian wahai Bani Asad.

Ketiga, panji Islam pertama telah diserahkan kepada salah seorang dari kaum kalian, yaitu Abdullah bin Jahsy.

Keempat, hasil ghanimah pertama yang dibagi-bagikan dalam Islam adalah hasil ghanimahnya.

Kelima, sahabat pertama yang mengikuti bai’atur ridhwan adalah dari kaum kalian juga. Ketika kawan kalian Abu Sinan bin Wahab mendatangi Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, ulurkan tangan Anda, aku akan membaiat Anda.”

Nabi: “Bai’at atas apa?”

Abu Sinan: “Atas apa yang ada di hati Anda.”

Nabi: “Apa yang ada di hatiku?”

Abu Sinan: “Yakni menang atau mati syahid.”

Nabi: “Benar.”

Kemudian orang-orang membai’at nabi seperti bai’atnya.Abu sinan.

Keenam, bahwa Bani Asad adalah sepertujuh dari Muhajirin yang turut dalam perang Badar.” Mendengar uraian di atas, orang dari Bani Amir terkejut dan terdiam.

Tidak diragukan lagi, dalam masalah ini Asy-Sya’bi ingin membela pihak lemah yang dikalahkan oleh kaum yang kuat. Seandainya orang dari Bani Amir yang kalah, tentu Asy-Sya’bi akan menyebutkan pula kebaikan-kebaikan kaumnya yang tak diketahui oleh keduanya.

Tatkala tampuk khilafah beralih ke tangan Abdul Malik bin Marwan, Amirul Mukminin menulis surat kepada gubernurnya di Irak, Hajjaj bin Yusuf: “Hendaknya engkau mengirim kepadaku seorang yang mahir dalam hal agama dan dunia, yang akan aku jadikan sebagai teman dan pendampingku.”

Lalu diutuslah Asy-Sya’bi dan Amirul Mukminin berkenan menjadikannya sebagai pendamping dan memanfaatkan ilmunya ketika menghadap kesulitan, memakai pandangannya setiap kali membutuhkan dan menjadikan dia sebagai utusannya untuk bernegosiasi dengan raja-raja di muka bumi.

Suatu kali Asy-Sya’bi diutus untuk urusan penting menemui Justinian kaisar Romawi. Setibanya beliau di Romawi dan setelah memberikan keterangan, Kaisar Romawi kagum akan kecerdasan dan kelihaiannya, serta takjub akan keluasan wawasan dan kekuatan daya tangkapnya.

Dia bahkan meminta kesediaan Asy-Sya’bi untuk memperpanjang kunjungannya sampai beberapa hari, sesuatu yang tidak pernah dilakukan Kaisar terhadap para utusan yang lain.

Ketika Asy-Sya’bi mendesak agar segera diizinkan pulang ke Damaskus, Justinian bertanya, “Apakah Anda dari keturunan raja-raja?” Beliau menjawab, “Tidak, saya seperti umumnya kaum muslimin.”

Setelah beliau diizinkan pulang, kaisar berkata, “Jika Anda telah sampai kepada Abdul Malik bin Marwan dan menyampaikan apa yang dikehendakinya, berikan surat ini kepadanya.

Setibanya Asy-Sya’bi di Damaskus, beliau bersegera menghadap khalifah Abdul Malik untuk melaporkan apa yang dia lihat dan dia dengar. Ketika hendak beranjak pulang, beliau berkata, “Wahai Amirul Mukminin, kaisar Romawi juga menitipkan surat ini untuk Anda,” kemudian beliau pulang.

Ketika Amirul Mukminin membaca surat tersebut, beliau berkata kepada pembantunya, “Panggillah Asy-Sya’bi kemari.” Maka Asy-Say’bi kembali menghadap khalifah.

Khalifah: “Tahukah engkau, apa isi surat ini?”

Asy-Sya’bi: “Tidak wahai Amirul Mukminin.”

Khalifah: “Kaisar Romawi itu berkata, ‘Saya heran bagaimana bangsa Arab mau mengangkat raja selain orang ini (Asy-Sya’bi)?’”

Asy-Syab’bi: “Dia berkata demikian karena belum pernah berjumpa dengan Anda. Andai saja dia pernah melihat Anda, tentulah dia tak akan berkata demikian.”

Khalifah: “Tahukah Anda, mengapa Kaisar Romawi menulis seperti ini?”

Asy-Sya’bi: “Tidak wahai Amirul Mukminin.”

Khalifah: “Dia menulis seperti itu karena iri kepadaku lantaran memiliki pendamping sepertimu, lalu dia hendak memancing kecemburuanku sehingga aku akan menyingkirkan dirimu.”

Ketika pernyataan Abdul Malik ini sampai ke telinga Justinian, dia berkata, “Demi Allah, memang tidak ada maksud lain dariku selain itu.”

Asy-Sya’bi mampu meraih derajat ilmu yang setara dengan para ulama senior pada zamannya. Az-Zuhri berkata, “Sesungguhnya ulama itu ada empat, yaitu Sa’id bin Musayyab di Madinah, Amir bin Syurahbil di Kufah, Hasan al-Bashri di Bashrah, dan Makhul di Syam.”

Hanya  karena sifat tawadhu, beliau tidak suka jika ada yang menyebutnya sebagai alim (orang yang berilmu). Pernah salah seorang dari kaumnya berkata, “Jawablah wahai faqih, wahai alim!” beliau berkata, “Janganlah memujiku dengan apa yang tidak ada padaku. Orang yang faqih adalah orang yang benar-benar menjauhi segala yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan orang alim adalah orang yang takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Manalah aku termasuk ke dalamnya?”

Suatu ketika beliau ditanya tentang suatu masalah, beliau menjawab, “Umar bin Khathab berpendapat begini, Ali bin Abi Thalib berkata begini..” Maka penanya berkata, “Lalu bagaimana pendapat Anda, wahai Abu Amru?”

Beliau tersenyum dan berkata, “Apa pula pentingnya kata-kataku bagimu padahal Anda sudah mendengar pendapat Umar dan Ali?”

Di samping itu, Asy-Sya’bi menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia dan sifat-sifat yang utama. Beliau tidak suka debat kusir dan berusaha menjauhkan diri dari pembicaraan-pembicaraan yang tak bermanfaat. Suatu kali seorang sahabatnya berkata, “Wahai Abu Amru!”

Beliau berkata, “Labbaik.” Orang itu bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang perbincangan orang berkenaan dua orang itu?” Beliau berkata, “Dua orang yang mana?” Dia menjawab, “Utsman dan Ali.”

Beliau menjawab, “Demi Allah, aku tidak ingin pada hari kiamat nanti menjadi musuh bagi Utsman bin Affan atau Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma.”

Sungguh telah berkumpul pada diri Asy-Sya’bi antara ilmu dan kelapangan dada. Diriwayatkan bahwa ada seseorang yang menuduh beliau dengan tuduhan yang keji dan memaki dengan kata-kata kotor, namun tiada yang dikatakan Asy-Sya’bi selain kalimat: “Jika memang apa yang Anda tuduhkan kepada saya itu benar, mudah-mudahan Allah mengampuni saya. Namun jika ternyata tuduhanmu dusta, maka semoga Allah mengampunimu.”

Beliau tidak segan-segan menerima ilmu dari orang-orang yang masih pemula kendati beliau sendiri telah masyhur akan keutamaan, ma’rifah, dan hikmah-hikmahnya.

Pernah suatu ketika ada orang dusun yang selalu rajin mendatangi majlisnya, tetapi orang ini banyak diamnya, sehingga suatu kali Asy-Sya’bi menegurnya, “Mengapa engkau tak pernah bicara?”

Dia berkata, “Ketika aku diam maka aku selamat, ketika aku mendengar maka aku mendapat ilmu. Hasil dari telinga akan kembali kepada dirinya sendiri, sedangkan hasil lisan akan berpindah ke orang lain. Sejak itu kalimat orang dusun tersebut selalu beliau ulang-ulang dalam hidupnya.

Meski demikian sempurna dan ketinggian kedudukannya dalam hal ilmu dan agama, Asy-Sya’bi juga mampu berbicara dalam bahasa yang mudah dipahami dan enak didengar. Sesekali beliau juga bercanda selagi masih dalam batas diperbolehkan dan bermanfaat.

Suatu ketika, datanglah seseorang kepada beliau yang tengah duduk bersama istrinya. Orang itu bertanya: “Siapa di antara kalian berdua yang dipanggil Asy-Sya’bi?” Beliau menjawab, “Ini dia.” Beliau menunjuk istrinya. Yang lain lagi bertanya, “Siapa nama istri iblis itu?” Beliau menjawab, “Kami tidak menghadiri pesta pernikahannya.”

Barangkali ungkapan yang paling pas untuk menggambarkan karakter Asy-Sya’bi adalah pengakuan beliau: “Tak pernah aku bangun dari tempat dudukku untuk melakukan sesuatu agar dilihat oleh semua orang, tak pernah aku memukul budakku dan tak pernah kubiarkan sanak keluargaku meninggal dengan membawa utang melainkan kubayarkan.”

Usia Asy-Sya’bi mencapai lebih dari 80 tahun.Ketika berita tentang wafatnya sampai kepada Hasan al-Bashri, ulama Bashrah, beliau berkata, “Semoga Allah merahmati beliau, sungguh beliau memiliki ilmu yang luas, lapang dada, dan memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam.”

Sumber: Mereka adalah Para Tabi’in, Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, Cetakan VIII, 2009

Wallahu ‘alam bi shawwab.

Jakarta, 6 Januari 2020.

Vien AM.

Dicopas dari:

https://kisahmuslim.com/2831-kisah-tokoh-tabiin-amir-bin-syurahbil-asy-syabi.html

Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam, memiliki kisah menarik tentang sebuah perjuangan mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan pernah membosankan, walaupun terus diulang-ulang sepanjang zaman. Kekuatan alurnya akan membuat setiap orang tetap penasaran untuk mendengarnya.

Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda’ (putra wanita hitam). Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meinggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir.

Ketika Mekah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung Sholallahu alaihi wasallam mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib, ‘Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin al-Aswad.

Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun.

Orang-orang Islam seperti Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib masih memiliki keluarga dan suku yang membela mereka. Akan tetapi, orang-orang yang tertindas (mustadh’afun) dari kalangan hamba sahaya dan budak itu, tidak memiliki siapa pun, sehingga orang-orang Quraisy menyiksanya tanpa belas kasihan. Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas mereka sebagai contoh dan pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti ajaran Muhammad.

Kaum yang tertindas itu disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy yang berhati sangat kejam dan tak mengenal kasih sayang, seperti Abu Jahal yang telah menodai dirinya dengan membunuh Sumayyah. Ia sempat menghina dan mencaci maki, kemudian menghunjamkan tombaknya pada perut Sumayyah hingga menembus punggung, dan gugurlah syuhada pertama dalam sejarah Islam.

Sementara itu, saudara-saudara seperjuangan Sumayyah, terutama Bilal bin Rabah, terus disiksa oleh Quraisy tanpa henti. Biasanya, apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang pasir Mekah berubah menjadi perapian yang begitu menyengat, orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam yang tertindas itu, lalu memakaikan baju besi pada mereka dan membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terasa semakin terik. Tidak cukup sampai di sana, orang-orang Quraisy itu mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka mencaci maki Muhammad.

Adakalanya, saat siksaan terasa begitu berat dan kekuatan tubuh orang-orang Islam yang tertindas itu semakin lemah untuk menahannya, mereka mengikuti kemauan orang-orang Quraisy yang menyiksa mereka secara lahir, sementara hatinya tetap pasrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali Bilal-semoga Allah meridhainya. Baginya, penderitaan itu masih terasa terlalu ringan jika dibandingkan dengan kecintaannya kepada Allah dan perjuangan di jalan-Nya.

Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….” Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”

Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”

Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.

Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah2 Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.

Suatu ketika, Abu Bakar Rodhiallahu anhu mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas.

Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, “Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.”

Abu Bakar membalas, “Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya…”

Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar, “Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar.”

Ash-Shiddiq Rodhiallahu anhu menjawab, “Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah.”

Setelah Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, mereka segera berhijrah, termasuk Bilal Rodhiallahu anhu.. Setibanya di Madinah, Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan ‘Amir bin Fihr. Malangnya, mereka terkena penyakit demam. Apabila demamnya agak reda, Bilal melantunkan gurindam kerinduan dengan suaranya yang jernih,

Duhai malangnya aku, akankah suatu malam nanti. Aku bermalam di Fakh dikelilingi pohon idzkhir dan jalil. Akankah suatu hari nanti aku minum air Mijannah Akankah aku melihat lagi pegunungan Syamah dan Thafil Tidak perlu heran, mengapa Bilal begitu mendambakan Mekah dan perkampungannya; merindukan lembah dan pegunungannya, karena di sanalah ia merasakan nikmatnya iman…. Di sanalah ia menikmati segala bentuk siksaan untuk mendapatkan keridhaan Allah…. Di sanalah ia berhasil melawan nafsu dan godaan setan.

Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya, Muhammad Sholallahu alaihi wasallam.. Bilal selalu mengikuti Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam ke mana pun beliau pergi. Selalu bersamanyma saat shalat maupun ketika pergi untuk berjihad. Kebersamaannya dengan RasulullahSholallahu alaihi wasallam ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.

Ketika Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan azan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan (muazin) dalam sejarah Islam.

Biasanya, setelah mengumandangkan azan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam seraya berseru, “Hayya alashsholaati hayya alashsholaati…(Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan….)” Lalu, ketika Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat.

Suatu ketika, Najasyi, Raja Habasyah, menghadiahkan tiga tombak pendek yang termasuk barang-barang paling istimewa miliknya kepada Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam. Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam mengambil satu tombak, sementara sisanya diberikan kepada Ali bin Abu Thalib dan Umar ibnul Khaththab, tapi tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak itu kepada Bilal. Sejak saat itu, selama Nabi hidup, Bilal selalu membawa tombak pendek itu ke mana-mana. Ia membawanya dalam kesempatan dua shalat id (Idul Fitri dan Idul Adha), dan shalat istisqa’ (mohon turun hujan), dan menancapkannya di hadapan beliau saat melakukan shalat di luar masjid.

Bilal menyertai Nabi Sholallahu alaihi wasallam dalam Perang Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dan menolong tentara-Nya. Ia juga melihat langsung tewasnya para pembesar Quraisy yang pernah menyiksanya dengan hebat. Ia melihat Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf tersungkur berkalang tanah ditembus pedang kaum muslimin dan darahnya mengalir deras karena tusukan tombak orang-orang yang mereka siksa dahulu.

Ketika Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam menaklukkan kota Mekah, beliau berjalan di depan pasukan hijaunya bersama ‘sang pengumandang panggilan langit’, Bilal bin Rabah. Saat masuk ke Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah, pembawa kunci Ka’bah, Usamah bin Zaid, yang dikenal sebagai kekasih Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam dan putra dari kekasihnya, dan Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam..

Shalat Zhuhur tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam, termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam saat itu, baik dengan suka hati maupun terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam memanggil Bilal bin Rabah agar naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana. Bilal melaksanakan perintah Rasul Sholallahu alaihi wasallam dengan senang hati, lalu mengumandangkan azan dengan suaranya yang bersih dan jelas.

Ribuan pasang mata memandang ke arahnya dan ribuan lidah mengikuti kalimat azan yang dikumandangkannya. Tetapi di sisi lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak kuasa memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian telah merobek-robek hati mereka.

Saat azan yang dikumandangkan Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”. Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, “Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu…. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.” Maksudnya, adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.

Khalid bin Usaid berkata, “Aku bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan ayahku dengan tidak menyaksikan peristiwa hari ini.” Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam masuk ke kota Mekah..

Sementara al-Harits bin Hisyam berkata, “Sungguh malang nasibku, mengapa aku tidak mati saja sebelum melihat Bilal naik ke atas Ka’bah.”

Al-Hakam bin Abu al-‘Ash berkata, “Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara di atas bangunan ini (Ka’bah).”

Sementara Abu Sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata, “Aku tidak mengatakan apa pun, karena kalau aku membuat pernyataan, walau hanya satu kalimat, maka pasti akan sampai kepada Muhammad bin Abdullah.”

Bilal menjadi muazin tetap selama Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam hidup. Selama itu pula, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam sangat menyukai suara yang saat disiksa dengan siksaan yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kata, “Ahad…, Ahad… (Allah Maha Esa).”

Sesaat setelah Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam mengembuskan napas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.

Sejak kepergian Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.

Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.

Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”

Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”

Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam wafat.”

Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan azan hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal Rodhiallahu anhu setelah terpisah cukup lama.

Umar sangat merindukan pertemuan dengan Bilal dan menaruh rasa hormat begitu besar kepadanya, sehingga jika ada yang menyebut-nyebut nama Abu Bakar ash-Shiddiq di depannya, maka Umar segera menimpali,

“Abu Bakar adalah tuan kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya Bilal).”

Dalam kesempatan pertemuan tersebut, sejumlah sahabat mendesak Bilal agar mau mengumandangkan azan di hadapan al-Faruq Umar ibnul Khaththab. Ketika suara Bilal yang nyaring itu kembali terdengar mengumandangkan azan, Umar tidak sanggup menahan tangisnya, maka iapun menangis tersedu-sedu, yang kemudian diikuti oleh seluruh sahabat yang hadir hingga janggut mereka basah dengan air mata. Suara Bilal membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam..

Bilal, “pengumandang seruan langit itu”, tetap tinggal di Damaskus hingga wafat. Saat menjelang kematiannya, istri Bilal menunggu di sampingnya dengan setia seraya berkata, “Oh, betapa sedihnya hati ini….”

Tapi, setiap istrinya berkata seperti itu, Bilal membuka matanya dan membalas, “Oh, betapa bahagianya hati ini…. “.

Lalu, sambil mengembuskan napas terakhirnya, Bilal berkata lirih,

“Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih…

Muhammad dan sahabat-sahabatnya

Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih…

Muhammad dan sahabat-sahabatnya”.

Diambil dari :

http://www.suaramedia.com/sejarah/sejarah-islam/20406-kisah-bilal-bin-rabah-sang-muadzin-rasulullah.html

Aisyah ra, Ummul Mukminin.

164013294-288-k884574Aisyah ra adalah seorang perempuan berparas cantik dengan kulit putih dan pipi kemerahan hingga Rasulullah saw sering memanggilnya dengan nama kesayangan “Humairah” yang berarti yang kemerahan. Selain cantik, Aisyah juga dikenal sebagai seorang perempuan cerdas yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersiapkannya untuk menjadi pendamping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengemban amanah risalah yang akan menjadi penyejuk mata dan pelipur lara bagi diri beliau saw.

Suatu hari Jibril memperlihatkan (kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) gambar Aisyah pada secarik kain sutra berwarna hijau sembari mengatakan, “Ia adalah calon istrimu kelak, di dunia dan di akhirat.” (HR. At-Tirmidzi (3880), lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi (3041))

Putri Abu Bakar ra, sahabat Rasulullah saw sekaligus khalifah pertama ini dinikahi Rasulullah ketika berusia 18 tahun, bukan 6 tahun seperti yang selalu diberitakan selama ini. Berikut adalah hasil penelitian Maulana Habibur Rahman Siddiqui Al-Kandahlawi, seorang ulama hadist dari tanah Hindustan yang lahir di Kandahla-India, tahun 1924, tentang usia Aisyah ketika dinikahi Rasulullah saw.  Tulisan tersebut diambil dari hasil riset Dr.M. Syafii Antonio dalam bukunya, “Muhammad saw, The Super Leader Super Manager”. (2007).

https://bin99.wordpress.com/about/meluruskan-riwayat-pernikahan-rasulullah-saw-aisyah-r-a/comment-page-1/#comment-1550

Berdasarkan hasil penelitian tersebut disimpulkan bahwa perawi yang menceritakan tentang usia Aisyah ketika menikah hanyalah perawi-perawi Iraq. Padahal sebagaimana kita ketahui  Iraq adalah markas Syiah yang sangat membenci para sahabat sejati termasuk Aisyah. Dengan kejinya mereka bahkan tega menuduh Aisyah adalah pelacur. Na’udzubillah min dzalik …  Dapat dibayangkan bagaimana perasaan Rasulullah bila masih ada di antara kita dan mendengar fitnah jahat yag menimpa istri yang paling dicintainya tersebut.

Aisyah adalah satu-satunya perempuan mulia yang dinikahi Rasulullah dalam keadaan gadis, hal yang sangat dibanggakannya. Namun demikian tak urung kecemburuannya pada istri satu-satunya Rasulullah hingga wafatnya yaitu Khadijah ra tak mampu disembunyikannya. Padahal ketika dinikahi Rasulullah Khadijah tidak lagi muda, yaitu 40 tahun dan sudah pernah menikah 2 x pula.

Aisyah berkata, “Dulu Rasulullah saw setiap keluar rumah, hampir selalu menyebut Khadijah dan memujinya. Pernah suatu hari beliau menyebutnya sehingga aku merasa cemburu. Aku berkata, ‘Apakah tiada orang lagi selain wanita tua itu. Bukankah Allah telah menggantikannya dengan yang lebih baik?’

Lalu, Rasulullah marah hingga bergetar rambut depannya karena amarah dan berkata, ‘Tidak, demi Allah, tidak ada ganti yang lebih baik darinya. Dia percaya padaku di saat semua orang ingkar, dan membenarkanku di kala orang-orang mendustakanku, menghiburku dengan hartanya ketika manusia telah mengharamkan harta untukku. Dan Allah telah mengaruniaiku dari rahimnya beberapa anak di saat istri-istriku tidak membuahkan keturunan.’ Kemudian Aisyah berkata, ‘Aku bergumam pada diriku bahwa aku tidak akan menjelek-jelekannya lagi selamanya.”

Sebaliknya Rasulullah, sebagai manusia biasa, pernah dilanda kecemburuan berat akibat fitnah yang dihembuskan kaum Munafikun terhadap sang istri yang begitu dicintainya itu. Fitnah tersebut terjadi saat berakhirnya perang antara kaum muslimin dengan Bani Musthakiq pada bulan Sya’ban tahun 5 Hijriyah. Peperangan ini diikuti oleh sejumlah kaum Munafik. Ketika itu kebetulan Aisyah yang mendapat giliran tugas mendampingi Rasulullah dalam perang.

Dalam perjalanan pulang, ketika rombongan berhenti sejenak untuk beristirahat, Aisyah ikut turun dari tandu untuk buang air kecil. Namun ketika hendak kembali ke tandunya Aisyah merasa kehilangan kalung yang tadi dipakainya. Maka tanpa setahu seorangpun Aisyah mencari kalung yang hilang tersebut. Sementara itu rombongan yang tidak menyadari bahwa ummul mukminin itu masih di luar tenda melanjutkan perjalanan. Alhasil Aisyahpun tertinggal, dan dengan pasrah hanya bisa menunggu orang mencarinya.

Ketika itulah muncul   Shafwan bin Mu’athal as-Sulami adz-Dzakwani ra, seorang sahabat yang bertugas menyisir anggota rombongan yang tertinggal. Alangkah terkejutnya pemuda tersebut mendapat seorang perempuan sedang tertidur di padang pasir nan luas. Dan lebih terkejut lagi mengetahui perempuan tersebut adalah  Aisyah istri Rasulullah.

Setelah Aisyah akhirnya terbangun, Shafwanpun segera memberikan tunggangan untanya kepada Aisyah. Sementara ia sendiri berjalan kaki sambil menuntun unta yang ditunggangi Aisyah dengan rasa hormat, hingga memasuki kota Madinah. Saat itulah kaum Munafikun memanfaatkan kejadian tersebut dengan menghembuskan fitnah bahwa sang istri tercinta telah berselingkuh!.

Sayangnya Rasulullah yang memang sedang sangat lelah paska perang, termakan fitnah kejam tersebut, hingga selama 1 bulan sempat mendiamkan Aisyah, tanpa Aisyah menyadari penyebabnya. Dan tak urung menyebabkan Aisyah jatuh sakit dan memilih pulang ke rumah kedua orang-tuanya untuk beristirahat dan menenangkan pikiran. Dalam keadaan kacau itulah kemudian Allah swt menurunkan ayat 11-26 surat An-Nuur yang menerangkan bahwa perempuan muda tersebut tidaklah bersalah.

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. … … Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la`nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, … …

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)“.

Alangkah lega dan bahagianya Rasulullah mendengar itu.

“Bergembiralah, wahai Aisyah! Sesungguhnya Allah swt telah membersihkan dirimu”.

Lalu ibunda Aisyahpun berkata putrinya: “Bangunlah berjumpa Rasulullah !”.

“Demi Allah … Aku tidak akan bangun menjumpainya. Aku hanya akan memuji kepada Allah swt karena Dialah yang menurunkan ayat Al-Quran menyatakan kebersihanku”, jawab Aisyah.

Di usianya yang masih belia Aisyah telah dikenal sebagai periwayat hadis yang handal. Beliau telah meriwayatkan  2210 hadis, 297 diantaranya terdapat di dalam kitab Hadis Bukhari-Muslim. Hafalannya sungguh luar biasa. Banyak sahabat Rasulullah yang sering menanyakan asal usul suatu hadis kepadanya, termasuk juga Umar bin Khatab, sang khalifah.

Istri Rasulullah ini belajar dan mendalami ajaran Islam langsung dari lisan Rasulullah,  di dalam rumah kenabian di mana wahyu turun dan Al-Quran dibaca siang dan malam. Ia dikenal sebagai sosok perempuan cerdas, pandai berdiplomasi, memiliki lisan yang fasih dan jika  berbicara mampu menarik setiap telinga yang mendengarnya.

Urwah bin Az-Zubair ra  suatu ketika pernah berkata : ” Aku tidak melihat ada seseorang yang lebih pandai dalam ilmu agama, lebih pandai dalam bidang kedokteran dan lebih pandai dalam bidang syair daripada  Sayyidah Aisyah ra. ”

Pada perang Khandaq, diberitakan bahwa Umar bin Khatab terpaksa menegur Aisyah karena keberaniannya  yang luar biasa maju menerobos ke bagian depan barisan pasukan hingga membahayakan keselamatan dirinya.

Anas bin Malik ra meriwayatkan, ia berkata : “Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. Pada hari itu, aku melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaiannya, untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb.”

Sebaliknya karena jiwa patriotnya yang sungguh menggebu itu suatu ketika ibunda kita ini pernah terpancing dalam suatu perang yaitu perang Jamal. Perang ini terjadi paska terjadinya fitnah besar yaitu terbunuhnya khalifah Ustman bin Affan. Ketika itu Aisyah ra bersama Talhah dan Zubair berperang melawan Ali bin Abu Thalib. Namun kemudian Aisyah tersadar bahwa perbuatan tersebut kurang baik hingga beliau menyesalinya dan Alipun memaafkannya.

(http://www.kompasiana.com/satriarevolusi/peperangan-ali-bin-abi-talib-dengan-aisyah-radhiallahu-anha-dalam-insiden-unta_552e29c96ea83417128b4576 )

Aisyah memang berpendapat bahwa beraktifitas adalah merupakan keharusan dan tuntutan bagi setiap perempuan. Setiap perempuan tidak boleh hanya duduk di dalam rumah tanpa berpikir untuk melakukan sesuatu yang berguna yang dapat membantu meringankan beban lingkungannya  namun tentu saja tanpa mengabaikan peran utamanya di rumah dan mendidik anak-anaknya. Allah swt memang tidak menganugerahi Aisyah seorangpun anak, hingga dengan demikian dapat secara maksimal mencurahkan seluruh kehidupannya bagi masyarakat dan lingkungannya.

Beliau berkata : ” Alat tenun di tangan seorang perempuan bisa bernilai lebih baik dari tombak di tangan orang yang berjuang dijalan Allah SWT ”.

Di pangkuannya jua Rasulullah menghembuskan nafas terakhirnya, karena memang Rasulullah menginginkannya. Diceritakan selama beberapa hari menjelang wafatnya, dalam sakitnya, Rasulullah meminta ke-ridho-an para istri agar diperbolehkan tetap tinggal di kamar Aisyah, tidak berpindah-pindah seperti biasanya, hingga Allah swt me-wafat-kannya. Di kamar Aisyah ini pulalah Rasulullah dimakamkan. Itulah Raudhah di Masjid Nabawi sekarang ini.

Aisyah sendiri wafat pada malam Selasa 17 Ramadhan 57 H di Madinah. Beliau wafat pada masa pemerintahan Muawiyah, di usianya yang ke 65 tahun, setelah berwasiat agar dishalati oleh Abu Hurairah. Lalu di makamkan di makam Baqi pada malam itu juga.

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, Mei 2008.

Vien AM.