Feeds:
Posts
Comments

PENDAHULUAN 

Bab I.         Asal Muasal Tahun Gajah 

Bab II.       Silsilah Rasulullah

Bab III.      Kelahiran dan Masa Kecil 

Bab IV.       Masa Remaja 

Bab V.        Pernikahan dengan Khadijah dan Datangnya Wahyu Pertama

Bab VI.      Dakwah Secara Rahasia ( Sirriyatud -dakwah/

Bab VII.     Dakwah Secara Terang-terangan (Jahriyatud Dakwah)

Bab VIII.   Penolakan Orang-orang Musyrik Mekah Terhadap Islam

Bab IX.      Pengucilan dan Boikot Ekonomi Terhadap Kaum Muslimin ( Hijrah Pertama).

Bab X.        Tahun Duka Cita ( Amul Huzni dan Peristiwa di Thaif )

Bab XI.       Peristiwa Isra-Mi’raj dan Persiapan Madinah sebagai Tempat Hijrah

Bab XII.      Baiat Aqabah dan Hijrahnya Para Sahabat

Bab XIII.    Hijrah ke Madinah

Bab XIV.    Pembentukan Masyarakat  Madinah

Bab XV.      Perang Badar, Perang Pertama dalam Sejarah Islam

Bab XVI.     Pengkhianatan Pertama Yahudi dan Munculnya Tanda-tanda Kemunafikan

Bab XVII.   Perang Uhud dan Hikmah Diperintahkannya Berperang (bag-1)

Bab XVII.   Perang Uhud dan Hikmah Diperintahkannya Berperang (bag-2)

Bab XVIII.  Dakwah Kepada Ahli Kitab (bag-1)

Bab XVIII . Dakwah Kepada Ahli Kitab (bag-2)

Bab XIX.    Pengkhianatan Yahudi Bani Nadhir dan Dampaknya

Bab XX.      Jihad fi Sabilillah (1).

Bab XX.      Jihad fi Sabilillah (2)

Bab XX.      Jihad fi Sabilillah (3)

Bab XXI.     Perdamaian Hudaibiyah dan Baitur Ridwan

Bab XXII.    Perang Khaibar

Bab XXIII.   Dakwah Kepada Raja-raja

Bab XXIV.   Perang Mu’tah

Bab XXV.    Penaklukkan Mekah ( Fathu Makkah) (1)

Bab XXV.    Penaklukkan Mekah ( Fathu Makkah) (2)

Bab XXV.    Penaklukkan Mekah ( Fathu Makkah) (3)

Bab XXVI.   Perang Hunain

Bab XXVII.  Perang  Tabuk dan Kisah 3 Orang Sahabat

Bab XXVIII. Haji Wada, Khutbah Rasulullah dan Tanda Sempurnanya Islam

Bab XXIX.    Rasulullah dan Pernikahan 

Bab XXX.     Hari-hari Akhir Rasulullah saw(1)

Bab XXX.     Hari-hari Akhir Rasulullah saw (2)

Bab XXX.     Hari-hari Akhir Rasulullah saw(3)

PENUTUP

Catatan. Mulai Oktober 2019 buku dapat dipesan sebagai POD ( Print On Demand) melalui link berikut :

Sirah Nabawiyahhttps://bitread.id/book_module/book/view/1382/sirah_nabawiyah/

Surat Al-Kahfi adalah surat ke 18 dari 114 surat yang terdapat dalam Al-Quranul Karim. Surat yang terletak pada akhir juz 15 dan awal juz 16 ini termasuk dalam golongan surat Makkiyah. Golongan surat Makkiyah adalah surat yang turun sebelum Rasulullah saw hijrah ke Madinah.

Semua surat dalam Al-Quran sudah pasti memiliki banyak kebaikan bahkan ada yang mempunyai keistimewaan. Demikian pula surat Al-Kahfi sebagaimana hadist-hadist berikut :

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri ra., dari Ibnu Umar ra., mengatakan bahwa “Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua Jum’at.’”.

Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi).

Siapa yang membaca surat Al-Kahfi, maka jadilah baginya cahaya dari kepala hingga kakinya, dan siapa yang membaca keseluruhannya maka jadilah baginya cahaya antara langit dan bumi.” (HR Ahmad).

Seperti juga surat lain dalam Al-Quran, Al-Kahfi juga menceritakan banyak kisah hikmah. Surat Al-Kahfi dibuka dengan penegasan bahwa Al-Quran adalah kitab yang lurus, tidak ada kebengkokan di dalamnya. Ia adalah petunjuk, bimbingan sekaligus peringatan bahwa orang beriman dan beramal sholeh, tempatnya kelak adalah surga. Sedangkan orang kafir yaitu orang-orang yang berkeyakinan bahwa Allah Subhana wa ta’ala mempunyai anak, tempatnya adalah neraka.

Setidaknya ada 4 kisah menarik dalam surat ini, yaitu kisah tentang pemuda penghuni gua Kahfi, kisah 2 pemilik kebun, kisah nabi Musa dengan nabi Khidir, dan terakhir kisah raja Dzulkarnaen, dan sedikit kaitannya dengan Yajuj Majuj yang akan muncul di akhir zaman nanti.

Ke 4 kisah tersebut menunjukkan bahwa manusia dalam mengarungi hidupnya akan menghadapi berbagai fitnah dan cobaan. Siapa yang berhasil lolos mereka akan masuk surga sedangkan yang kalah akan masuk neraka. Fitnah dan cobaan yang harus dihadapi manusia paling tidak ada 4, yaitu fitnah agama sebagaimana yang dihadapi para pemuda Kahfi, fitnah kekayaan sebagaimana kisah 2 pemilik kebun, fitnah ilmu seperti kisah nabi Musa yang berguru kepada nabi Khidir, serta fitnah kekuasaan yang dikisahkan melalui raja alim Dzukarnaen.

1. Fitnah agama.

Ini adalah fitnah terbesar dan terberat dalam hidup. Tak salah bila Allah swt menempatkan kisah Pemuda Penghuni Gua Kahfi( Ashabul Kahfi) pada bagian awal surat Al-Kahfi. Kisah ini terdapat pada ayat 9 hingga ayat 26, dibuka dengan ayat tentang keheranan sebagian orang tentang bagaimana mungkin orang bisa tertidur selama ratusan tahun di dalam sebuah gua. 

Selanjutnya pada ayat 13 Allah swt menegaskan bahwa para pemuda yang ditidurkan-Nya tersebut adalah orang-orang beriman.  Mereka hidup pada saat raja dan masyarakat dimana mereka tinggal adalah kafir. Maka demi menyelamatkan aqidah mereka memilih untuk menjauh, pergi meninggalkan kota. Lalu Allah pun berkenan menyembunyikan para pemuda tersebut ke dalam sebuah gua, bahkan menidurkannya selama 300 tahun ditambah 9 tahun.

Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi)”. ( Terjemah Al-Kahfi(18):25).

Namun para pemuda tersebut tidak menyadari bahwa mereka tidur selama itu. Dan ketika akhirnya Allah swt membangunkan mereka, keadaan telah berubah. Raja dan masyarakat telah menjadi orang-orang yang beriman.

Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)”. Mereka menjawab: “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). … …”. ( Terjemah Al-Kahfi(18):19).

Banyak hikmah dari kisah di atas, namun yang terpenting adalah bahwa aqidah di atas segalanya. Kenikmatan duniawi betapa berlimpahnya tidak ada artinya tanpa aqidah yang kuat.

 dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”.  ( Terjemah Al-Kahfi(18):14).   

2. Fitnah Kekayaan.

Pada ayat 32 Allah swt memberikan perumpamaan dua orang lelaki, yang satu kaya raya yang lain tidak. Si kaya Allah anugerahi 2 buah kebun anggur  yang dikelilingi pohon-pohon kurma, dan diantara ke 2 kebun tersebut terdapat ladang. Ini masih ditambah lagi dengan mengalirnya sungai di celah-celah kebun hingga tak syak lagi selalu menghasilkan buah yang berlimpah.

Namun sayangnya si pemilik kebun adalah orang yang congkak dan sombong. Ia merasa jumawa dengan harta dan banyaknya pengikut lebih hebat dari temannya. Ia bahkan juga mendustakan hari Kiamat.

Hingga suatu hari dengan pongahnya ia memasuki kebunnya dengan maksud  untuk memanen hasilnya. Namun apa yang terjadi???

Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu ia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”.    ( Terjemah Al-Kahfi(18):42).   

Salah satu hikmah yang dapat kita petik dari kisah yang tertera dari ayat 32 hingga 46 surat Al-Kahfi di atas adalah bahwa kekayaan termasuk anak dan keluarga, tidaklah kekal. Ia hanyalah titipan yang suatu hari harus dikembalikan pada Empunya, Allah Azza wa Jala. Maka tak sepantasnya orang merasa sombong apalagi menyekutukan-Nya. 

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”. ( Terjemah Al-Kahfi(18):46).  

3. Fitnah Ilmu.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. ( Terjemah QS. Al-Alaq(96):1-5).

Ayat di atas adalah ayat yang pertama kali diturunkan Allah Azza wa Jala kepada Rasulullah saw. Maknanya, Islam mengajarkan bahwa mencari ilmu ( melalui perintah “Bacalah!”) adalah hal yang sangat penting dan utama. 

Nabi Musa alahi salam adalah salah satu dari ulul azmi yang lima, yang sudah pasti ilmunya tidak perlu lagi diragukan. Nabi Musa di anugerahi mukjizat yang sangat banyak, yang paling fenomenal adalah tongkat yang atas izin Allah swt mampu membelah laut hingga dapat menyelamatkan nabi Musa dan pengikutnya dari kejaran Fir’aun yang kejam.

Namun dalam surat Al-Kahfi kisah yang diangkat mengenai nabi Musa tidak sama dengan ayat-ayat dalam surat lain. Yaitu kisah pertemuan dengan nabi Khidir, nabi yang tidak populer dan bahkan kemungkinan tidak mempunyai pengikut. Pada ayat 66 surat tersebut diberitakan bahwa nabi Musa ingin berguru kepada nabi Khidir demi mendapatkan ilmu yang dimiliki nabi tersebut. 

Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” ( Terjemah Al-Kahfi(18):66).

Rupanya itu adalah cara Allah swt menegur nabi Musa as, karena suatu ketika nabi Musa pernah merasa dirinya adalah orang yang paling pandai.

Dari Ubay bin Ka’ab, Rasulullah bersabda, “Pada suatu ketika Musa berbicara di hadapan Bani Israil, kemudian ada seseorang yang bertanya, ‘Siapakah orang yang paling pandai itu?’ Musa menjawab, ‘Aku.’

Nabi Musapun segera menyadari kesalahannya. Maka dengan ikhlas ia mematuhi perintah Tuhannya untuk mencari nabi Khidir dan mempelajari ilmu darinya. Meski pada perjalanannya nabi Musa sering kehilangan kesabaran karena tidak mampu memahami ilmu tersebut hingga sering memprotes. Diantaranya sebagaimana ayat 71 berikut :

Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar”.  

Padahal sejak awal nabi Khidir sudah memperingatkannya bahwa ia tidak akan sabar berguru padanya.

Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku”. ( Terjemah Al-Kahfi(18):67).

“Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun“. ( Terjemah Al-Kahfi(18):69).

Tiga kali nabi Musa mempertanyakan apa yang dilakukan nabi Khidir. Hingga akhirnya nabi Khidirpun memutuskan untuk mengakhiri pertemuan mereka dan kemudian menjelaskan apa yang dilakukannya sebagaimana yang terekam dalam ayat 78-82 surat Al-Kahfi.

Banyak hikmah yang bisa diambil dari kisah di atas. Namun yang terpenting adalah bahwa ilmu adalah cobaan yang harus dipertanggung-jawabkan. Ilmu sangat banyak dan beragam tetapi yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang mampu menambah keimanan bukan malah menjadi sombong apalagi takabur.

4. Fitnah Kekuasaan.

Abu Dzarr berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Abu Dzarr, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah. Kekuasaan itu adalah amanah, dan kekuasaan tersebut pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mendapatkan kekuasaan tersebut dengan haknya dan melaksanakan kewajibannya pada kekuasaannya itu.” (HR. Muslim).

Itulah yang dikatakan Rasulullah kepada Abu Dzarr, seorang sahabat yang suatu kali pernah menanyakan mengapa Rasulullah tidak memberinya jabatan. Hadist diatas mengisyaratkan bahwa kekuasaan adalah amanah yang sangat berat pertanggung-jawabannya. Tidak banyak pemimpin dunia yang mampu lolos dari fitnah kekuasaan.   

Dalam surat Al-Kahfi Allah swt memilih Dzukarnaen, seorang raja yang alim lagi bijaksana, sebagai panutan. Dzukarnaen senantiasa menyandarkan kekuasaan dan kemampuannya sebagai seorang penguasa kepada Allah swt. Sementara dalam urusan keduniawiannya ia tidak lupa melibatkan rakyatnya agar berpartisipasi dalam menyelesaikan setiap permasalahan. Baginya kekuasaan bukan tujuan melainkan alat untuk menegakkan agama agar tercipta masyarakat beriman, aman dari segala kejahatan dan ketakutan.

Dzulkarnaen yang hidup ratusan tahun sebelum Masehi adalah seorang raja yang sangat terkenal. Terdapat beberapa pendapat tapi mayoritas ulama sepakat bahwa Dzulkarnaen yang dikisahkan Al-Quran bukanlah Aleksander Agung sebagaimana yang diyakini Barat.   

Orang-orang Quraisy pada masa awal datangnya Islam rupanya juga pernah mendengar kisah tentang raja tersebut.  Oleh sebab itu mereka menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah saw.

Maka Rasulpun menyampaikan ayat 83 hingga 98 surat Al-Kahfi. Melalui ayat-ayat di atas Allah swt menceritakan sepak terjang Dzulkarnaen, mulai dari perjalanannya dari Barat ke Timur hingga akhirnya bertemu dengan suatu kaum yang memohon pertolongannya.

Mereka berkata: “Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?” ( Terjemah Al-Kahfi(18):94).

Di dalam beberapa hadits tentang tanda-tanda hari Kiamat Kubra, disebutkan ada sepuluh tanda hari kiamat. Di antaranya adalah keluarnya Ya’juj dan Ma’juj. Pada kelanjutan ayat di atas, diterangkan bagaimana Dzulkarnaen kemudian membangun dinding tinggi terbuat dari besi yang bisa mencegah turunnya Ya’juj dan Ma’juj hingga menjelang hari Kiamat nanti.

Hingga apabila dibukakan (dinding) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah datangnya janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata), ‘Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zalim”. ( Terjemah QS. Al-Anbiya(21):96-97).

Bagi orang awam termasuk orang-orang Qurasiy yang menanyakan hal tersebut, kisah Dzulkarnaen agak sulit untuk dipahami. Bahkan hingga hari inipun siapa sebenarnya Dzulkarnaen, dari mana asalnya, apa nama kerajaannya, apakah ia nabi atau bukan, siapa pula yang dimaksud Ya’juj dan Ma’juj, dll, semua masih merupakan misteri. Para ulama berbeda pendapat. Persis seperti kisah pemuda Al-Kahfi, siapa para pemuda tersebut, dimana letak gua Kahfi, bahkan jumlah pemudanyapun masih diperdebatkan.

Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(Jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjingnya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(Jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya”. Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka”. ( Terjemah Al-Kahfi(18):22).

Kewajiban kita sebagai orang beriman adalah mempercayainya. “Kami dengar dan kami patuh”, jangan seperti kebanyakan orang Yahudi “ Kami dengar tapi tidak mau patuh”.

Meski tidak ada salahnya bila para ilmuwan, ilmuwan Muslim khususnya, berusaha memecahkan misteri tersebut, selama bisa menambah keimanan bukan malah sebaliknya. Apalagi Allah swt dalam surat Al-Kahfi, khususnya, telah memberikan sebagian tanda-tanda yang bisa menjadi kunci dibukanya misteri tersebut. Al-Quran memang bukan kitab sejarah bukan pula kitab panduan Ilmu Pengetahuan dan Sains namun demikian banyak sekali ayat-ayatnya yang mengandung ke 2 pengetahuan tersebut. 

Yang juga tak kalah pentingnya, surat Al-Kahfi ternyata dapat melindungi kita dari fitnah Dajjal yang juga merupakan salah satu dari 10 tanda-tanda besar menjelang Hari Kiamat.  

“Barang siapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka Dajjal tidak bisa memudharatkannya.” (HR Dailami).

Siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, maka ia akan terlindungi dari Dajjal.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan, “Dari akhir surat Al-Kahfi.” (HR. Muslim).

Fitnah Dajjal adalah fitnah terberat dalam hidup karena menggabungkan sekaligus ke 4 fitnah di atas, yaitu fitnah agama, fitnah kekayaan, fitnah ilmu dan fitnah kekuasaan

Lebih mengerikannya lagi, fitnah yang disebarkannya tersebut sangat lembut hingga orang tidak merasa sedang tertipu. Kebebasan berpendapat alias demokrasi yang kebablasan diantaranya bahwa tubuh adalah milik pribadi yang adalah haknya untuk berbuat sesukanya hingga melahirkan prilaku menyimpang seperti LGBT, perzinahan, persamaan hak laki-laki dan perempuan, dll adalah salah satu contohnya. Belum lagi sistim ekonomi riba yang telah menyusup ke negara-negara mayoritas Islam tanpa pelakunya merasa sedikitpun bersalah.   

Itu sebabnya Dajjal disebut Al-Masih Al-Dajjal yang berarti Dajjal si pengusap, yang mengusap korbannya dengan penuh “kelembutan dan kasih sayang”. Sebutan yang sama dengan nabiyullah Isa Al-Masih as, namun dengan konotasi negative … Na’udzubillah min dzalik.

Untuk itu Rasulullah mengajarkan umatnya untuk senantiasa membaca doa berikut pada tahiyat akhir shalat.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 7 Agustus 2021.

Vien AM.

Muslimahdaily – Suatu hari Rasulullah bertemu dengan seorang Arab Badui. Beliau segera mengambil kesempatan untuk mendakwahinya. Nabiyullah pun memanggil si pria Badui dan berkata,

Wahai orang Badui, engkau hendak ke mana?” sapa nabi.

Pulang ke rumah,” ujarnya singkat.

Rasulullah kemudian bertanya lagi, “Apakah kau ingin kebaikan?”

Pria Badui itu pun penasaran, “Kebaikan apa?

Nabiyullah lalu berkata, “Engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, dan bersaksi bahwa aku adalah utusan-Nya.”

Arab Badui itu pun tak lekas bersyahadat. Ia tak mudah percaya meski yang diajak bicara adalah Al Amin. Ia lantas menanyakan sebuah bukti ataupun saksi.

Siapa yang menjadi saksi atas apa yang kau katakan itu?” tanyanya.

Pohon ini,” Rasulullah menunjuk sebuah pohon, ada yang berpendapat bahwa itu adalah pohon kurma. Pohon itu berdiri tegak di atas akarnya, di tepi sebuah lembah.

Begitu Rasulullah menunjuknya, pohon itu tiba-tiba bergerak. Dengan ajaib, pohon kurma itu berjalan menuju Rasulullah kemudian berhenti tepat di hadapan nabiyullah. Pohon itu pun kemudian merunduk di hadapan sang kekasih.

Rasulullah lalu meminta pohon tersebut untuk bersaksi tiga kali sebagaimana sabda beliau. Yakni bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah. Pohon itu pun melakukannya. Ia bersyahadat tiga kali.

Setelah itu, Rasulullah menyuruh pohon itu kembali ke tempatnya. Ia menuruti dan berjalan kembali ke tepian lembah. Arab Badui yang menyaksikan begitu terkejut. Ia menyaksikan keajaiban mukjizat Rasulullah dengan mata kepalanya. Pria Badui itu pun kemudian bersyahadat di hadapan nabi, saat itu juga.

Kisah tersebut diketahui dari beberapa hadits. Salah satunya hadits dari Ibnu Abbas dan diriwayatkan oleh At Tirmidzi.

Mukjizat Rasulullah

Persaksian sebuah pohon kurma hanyalah salah satu mukjizat yang dianugerahkan kepada Nabi Muhammad. Rasulullah memiliki mukjizat yang lebih besar dan lebih banyak. Bahkan mukjizat nabiyullah menandingi mukjizat-mukjizat para nabi sebelum beliau.

Sebagian ulama berpendapat bahwa mukjizat Rasulullah mencapai jumlah 3 ribu. Angka tersebut belum termasuk mukjizat Al Qur’an yang di dalamnya terdapat 60 atau 70 ribu mukjizat. Belum termasuk pula setiap perilaku, ucapan, dan sirah Rasulullah yang sejatinya menyimpan keajaiban dan kebenaran akan dakwah Islam.

Hal ini sebagaimana ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Ia berkata, “Ayat-ayat dan petunjuk yang menunjukkan kenabian Nabi kita Muhammad sangatlah banyak dan beragam, lebih banyak dan lebih agung daripada ayat-ayat nabi sebelum beliau. Perjalanan hidup Rasulullah sesungguhnya termasuk tanda kenabian. Demikian pula akhlak, sabda, perbuatan, syariat, umatnya, dan karamah-karamah orang-orang saleh dari umat beliau, semua itu termasuk ayat (tanda kenabian) beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Senada, Al Qadhi Iyadh pun menuturkan bahwasanya Nabi Muhammad merupakan nabi yang paling banyak mukjizatnya. Karena jumlahnya yang sangat banyak itu, sampai-sampai tak ada yang mampu menghitungnya. Al Qadhi berkata,

“Beliau adalah rasul yang paling banyak membawa mukjizat, paling menakjubkan tanda (kerasulannya), dan paling tampak bukti (kerasulannya)… Tidak ada tulisan yang mengumpulkan semua mukjizat beliau yang sangat banyak itu. Bahkan, satu saja dari mukjizat beliau, yaitu Al Qur’an, tidak ada yang bisa menyebutkan jumlah mukjizat yang terkandung (di dalamnya) dengan angka seribu, dua ribu, atau lebih.”

Masya Allah, betapa menakjubkan pengutusan Muhammad sebagai nabi dan Rasul. Maka sungguh buta orang-orang yang enggan beriman kepada beliau. Mengingat telah terang pada diri beliau sederet mukjizat yang tak terhitung jumlahnya.

Bahkan sebatang pohon pun mengaku beriman kepada nabi, sebagaimana kisah di atas. Jika pohon yang tak dianugerahi akal saja bisa memahami dan meyakini kerasulan Muhammad, bagaimana mungkin manusia yang berakal tak bisa mengimaninya?.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 24 Januari 2021.

Vien AM.

Dikutip dari : https://muslimahdaily.com/story/nabi-rasul/item/1981-mukjizat-rasulullah-dan-kisah-pohon-yang-berjalan.html

Siapa tak kenal Umar ibnul Khattab, sahabat rasul yang mempunyai julukan Al Faruq’ yang berarti Sang Pembeda atau Sang Pemisah. Rasulullah memberikan julukan tersebut berkat ketegasan Umar memisahkan antara yang hak dan yang batil.  

Ketika menggantikan Abu Bakar ash-Shiddiq sebagai khalifah, Umar tak segan-segan menindak siapa pun yang melanggar hukum.

Sekalipun aku ini keras, tapi sejak semua urusan diserahkan kepadaku, aku menjadi orang yang sangat lemah di hadapan yang hak,” ujar Umar di depan rakyatnya.

Umar sebelum masuk Islam memang dikenal sebagai orang yang sangat keras. Ia sering menyiksa orang-orang Quraisy yang kedapatan meninggalkan agama nenek moyang mereka demi memeluk Islam. Ini ia lakukan semata karena keyakinannya yang begitu kokoh terhadap berhala-berhala yang menjadi sesembahan kaumnya ketika itu.

Hingga suatu hari rasulullah berdoa memohon kepada Allah swt agar Islam diberi kekuatan dengan masuk Islamnya seorang diantara Umar, yaitu Umar ibnu Khattab atau Amr bin Hisyam alias Abu Jahal. Dan ternyata Allah swt memilih Umar ibnu Khattab sebagai kekuatan Islam.

Ya, Allah, kuatkanlah Islam dengan salah satu dari dua Umar,” ucap Rasulullah.

Umar juga dikenal sebagai orang yang sangat tawadhu ( rendah hati/tidak sombong). Sikapnya tersebut terlihat jelas dari penampilannya. Namun penampilan bersahaja tersebut sama sekali tidak mengurangi wibawanya sebagai seorang khalifah. Bahkan sikap tersebut mampu menarik musuh untuk lebih menghormatinya lagi.

Contohnya adalah Hormuzan. Hormuzan adalah panglima perang Persia yang gigih memimpin pasukannya menghadapi pasukan Islam, diantaranya yang paling sengit adalah dalam perang Jalula. Jalula adalah sebuah kota perbukitan di sebelah utara Iran.

Pasukan Hormuzan beberapa kali mengalami kekalahan. Namun Hormuzan sendiri selalu berhasil meloloskan diri. Selanjutnya setelah berhasil membangun kekuatan, ia kembali melakukan penyerangan terhadap Islam meski tetap saja kalah. Akhirnya Hormuzanpun menyerah dan menanda-tangani perjanjian damai serta menyerahkan jizyah sebagai buktinya.

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk”. (Terjemah QS. At-Taubah(9):29).

Tetapi tak lama kemudian Hormuzan melanggar perjanjian yang dibuatnya sendiri yaitu dengan memimpin pemberontakan, menyerang dan membunuh rakyat sipil.  Dua kali hal tersebut dilakukannya. Maka ketika akhirnya ia berhasil ditangkap, iapun dibawa ke Madinah untuk diserahkan kepada khalifah Umar.  

Hormuzan dibawa ke Madinah dalam keadaan masih mengenakan pakaian kebesarannya yang mewah layaknya pembesar Persia, yaitu sutra bersulam emas dan berhiaskan permata.

Selanjutnya ia dibawa ke rumah Umar, namun tidak bertemu. Rupanya sang khalifah sedang tertidur di teras masjid dengan berselimutkan sarung lusuh. Di tangannya tergenggam sebuah kantong kecil berisi jagung. Terkejut Hormuzan dibuatnya.

“ Mana pengawalnya? Mana ajudannya??” tanya Hormuzan keheranan.

“ Ia tidak punya ajudan, tidak juga pengawal, tidak juga sekretaris pribadi. Ia hidup bersahaja”, jawab Anas ibn Malik yang mengantarnya.

“Kalau begitu ia adalah seorang nabi yang suci”, seru Hormuzan tertegun.

Singkat cerita, terjadilah percakapan antara Umar dan Hormuzan.

Hai Hormuzan, tidakkah engkau saksikan akibat dari setiap tipu muslihat yang kalian lakukan terhadap Allah?” tanya Umar membuka pembicaraan.

Dulu Allah berpihak kepada kami maka kamipun dapat menaklukkan kalian. Namun kini rupanya Allah berpihak pada kalian maka kalianpun menaklukkan kami,” jawab Hormuzan.

Aku menawarkanmu memeluk Islam, sekadar saran agar engkau bisa selamat di dunia maupun di akhirat”, lanjut Umar.

Aku tidak mau. Aku akan tetap berpegang pada agama dan keyakinanku. Aku tidak mau masuk Islam karena tekanan”, balas Hormuzan.

Baik, aku tidak akan memaksamu“, jawab Umar.

” Sekarang apa yang engkau inginkan?” lanjut Umar lagi.

Sambil menatap tajam, Hormuzan menjawab, “Aku khawatir engkau akan membunuhku sebelum aku mengucapkan keinginanku”

Jangan khawatir,  katakan saja!“, balas Umar.

Hormuzan lalu mengatakan bahwa ia haus dan ingin minum. Umarpun memberinya semangkuk air.

Namun Hormuzan tidak segera meminumnya. “Aku kuatir engkau akan membunuhku sebelum aku meminum air ini”

Jangan  khawatir, minumlah!”, tegas Umar.

Hormuzanpun menegukkan minuman tersebut. Setelah itu sambil menatap Umar, ia berkata” Sungguh engkau telah nyata memberikan jaminan keselamatan padakuSekarang aku mau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, bahwa Muhammad adalah rasul Allah, dan bahwa ajaran yang dibawanya adalah benar datang dari Allah.”

Akhirnya engkau memeluk Islam. Tapi, mengapa tidak sejak tadi engkau ucapkan syahadat itu?”, tanya Umar.

Aku tidak mau orang menyangka kalau aku memeluk Islam karena takut dibunuh”, tegas Hormuzan.

Umarpun berkata, “Memang benar! Orang-orang Persia memang punya cara berpikir yang hebat. Layak kalau mereka mempunyai kerajaan besar.” Lalu Umar memerintahkan asisten-asistennya untuk menghormati dan berbuat baik kepada Hormuzan.

Namun apa lacur beberapa tahun kemudian ketika Umar wafat karena dibunuh oleh seorang budak bekas Majusi Persia bernama Fairuz yang bergelar Abu Lu’luah, bekas panglima Persia itu ternyata ikut terlibat perbuatan keji tersebut. Na’udzubillah min dzalik.

Di kemudian hari kebencian orang-orang Persia yang merasa Islam telah merenggut kebesaran kerajaan mereka adalah pangkal lahirnya Syiah. Mereka sejatinya memeluk Islam karena terpaksa demi mewujudkan dendam kesumat mereka.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 19 Oktober 2020.

Vien AM.  

ISLAM telah mengatur segalanya dengan sempurna, termasuk adab memuliakan tamu. Seoranng mualaf ini tersihir dengan ajaran Islam begitu sempurna.

Wartawan cantik bernama Lauren Booth, ia pergi ke Gaza untuk meliput keadaan di Palestine. Setelah melalui berbagai pemeriksaan oleh pasukan Israel, sampai juga ia di sebuah perkampungan Palestina. Ia mengetuk pintu salah satu rumah warga setempat. Lalu pintu pun terbuka, seorang ibu keluar dengan wajah berseri-seri.

Assalamu’alaikum, tafaddhal (silahkan masuk),” ucap sang ibu dengan penuh kehangatan.

Wajahnya berseri, matanya bersinar, dia mempersilahkan saya masuk ke rumahnya seperti mempersilahkan saya masuk ke istana Taj Mahal. Seakan-akan rumahnya adalah tempat terindah di dunia,” ucap Lauren yang antusias menceritakan.

Lauren memperhatikan rumah sang ibu dengan seksama, Hanya dinding, atap, dan dua tikar terhampar. Satu tikar untuk tidur dan shalat, satu tikar untuk hidangan makanan. Tidak ada apa-apa selain itu. Lemari, kursi, apalagi televisi, tidak ada. Tapi ungkapan wajah dan bahasa tubuhnya seperti orang yang sangat berbahagia, Lauren tak habis pikir.

Mereka pun duduk di tikar. Dan ibu tersebut menyodorkan makanan, yang hanya terdiri dari roti, bumbu, dan selada. Melihat ‘menu prihatin’ itu, Lauren berulang-ulang menolak tawaran makanan itu, bukan tidak suka, tapi bagaimana mungkin ia memakan makanan orang miskin? Yang makanannya pun sangat terbatas? Hanya makanan itulah yang ibu itu punya.

Tapi ibu tersebut terus menyodorkan makanan. “Anda adalah tamu kami,” katanya. Akhirnya, untuk sekedar menghargai, dia memakan satu roti sembari mengajak makan bersama,

Mari makan bersama,” ucapnya. Akan tetapi sang Ibu menolak karena sedang puasa. Lauren merasa marah kepada ibu tersebut, “Sudah prihatin, ada makanan, akan tetapi menahan makan,” gerutunya kesal.

Saya marah kepada Islam, yang mengharuskan orang berlapar-lapar selama 30 hari. Saya marah kepada Qur’an, yang mewajibkan ibu ini menahan lapar dan dahaga, padahal mereka butuh makan-minum, dan makanan serta minuman itu ada,” sambung Lauren kembali.

Saya mersa jengkel. Maka saya pun bertanya pada ibu itu, mengapa ibu puasa? Untuk apa?,” tanya Lauren.

Kami berpuasa sebagai rasa syukur kami kepada Allah, karena bisa merasakan apa yang dialami saudara-saudara kami yang miskin,” jawab ibu dengan wajah yang begitu ramah.

Mendengar jawaban itu, Lauren tak kuasa membendung air mata. “Ibu ini tak punya apa-apa di dunia. Dia masih bersyukur dan berbagi rasa dengan orang yang lebih malang darinya,” ungkap Lauren.

Saat itu juga saya berkata dalam harti ”Jika ini Islam, saya ingin jadi Muslim,”.

Tahun 2010, Lauren muncul di saluran TV Islam dalam acara Global Peace and Unity, mengenakan busana Muslimah, dan berkata: “My name is Lauren Booth, and I am a Muslim.” []

Diambil dari :

https://www.islampos.com/lauren-booth-jika-ini-islam-saya-ingin-menjadi-muslim-15610/

Abu Qilabah merupakan seorang sahabat Nabi SAW yang banyak meriwayatkan hadits. Nama lengkapnya adalah ‘Abdullah bin Zaid al-Jarmi. Sepanjang hayatnya, sosok dari Basrah tersebut dikenal sebagai ahli ibadah yang zuhud. Ia wafat di Suriah pada tahun 104 hijriah.

Dialah sahabat Rasulullah SAW yang terakhir kali wafat. Orang-orang Muslimin yang pernah berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW sebelumnya telah terlebih dahulu berangkat ke rahmatullah. Di antara keteladanan Abu Qilabah tergambar dalam kisah yang dituturkan Abdullah bin Muhammad sebagai berikut.

Suatu kali, peperangan berkecamuk di daerah sekitar Syam. Abdullah terlepas dari sesama prajurit Muslim dan terdampar di sebuah tanah lapang dekat pesisir. Bekal yang dimilikinya kian menipis, sedangkan dia sendiri tak tahu arah. Langkah kakinya terhenti. Samar-samar, dia melihat adanya kemah yang berdiri tegar diterpa angin gurun.

Abdullah pun mendekati tenda yang terkesan kumuh itu. Di dalamnya, dia mendapati seorang tua yang kedua tangan dan kakinya tak lengkap lagi. Tidak hanya itu, Abdullah kemudian menyadari, pendengaran orang tua tersebut tidak normal. Matanya pun telah rabun. Hanya lidahnya yang masih fasih berkata.

Diam-diam, Abdullah menyimak untaian kata dari lisan pemilik tenda itu. “Wahai Allah, berilah aku petunjuk agar dapat terus memuji-Mu sehingga aku dapat menunjukkan rasa syukur atas berbagai nikmat yang telah Engkau berikan. Sungguh, Engkau telah melebihkan diriku di atas kebanyakan manusia,” demikian ujarannya berkali-kali.

Abdullah tak dapat menahan rasa heran. Bagaimana mungkin, dengan kondisi fisik yang serba kekurangan, orang tua itu tetap melihat sisi positif dari kehidupannya? Dengan pelan, dia membisikkan pertanyaan ke pemilik tenda itu, sesudah beberapa lamanya mengucapkan salam.

Wahai, Tuan. Aku mendengarmu tadi berkata demikian. Dan engkau baru saja menyatakan, Allah telah melebihkanmu atas banyak orang. Nikmat apa yang telah Rabbmu anugerahkan sehingga engkau memuji Allah atas nikmat tersebut? Apa kelebihan yang engkau maksudkan?”

Yang ditanya kemudian berkata, “Bagaimana mungkin engkau tidak melihat apa yang telah dilakukan Tuhanku kepadaku? Demi Allah, seandainya ada halilintar datang menerjangku, menghanguskan tubuhku, atau gunung-gunung diperintahkan-Nya untuk menindihku, atau laut menenggelamkanku, bumi menelan tubuhku—dengan itu semua aku akan tetap bersyukur kepada Rabbku. Bahkan, aku kian bersyukur! Sebab, Dia telah memberikan nikmat berupa lidah ini.”

Orang tua itu menunjuk pada bibirnya. Abdullah masih menunjukkan raut wajah heran.

“Wahai, hamba Allah,” lanjut sang tuan rumah, “Engkau telah datang ke dalam tendaku, mungkin engkau memerlukan bantuan?”

Sebelum Abdullah sempat menjawab, orang tua itu lebih dahulu berkata. “Kalau diriku, memang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongmu. Aku tidak mampu bergerak bahkan bila ada bahaya sampai ke tenda ini. Hanya saja, aku memiliki seorang anak laki-laki. Kepada dialah aku sering meminta pertolongan. Bila tiba waktunya shalat, dia membantuku untuk berwudhu. Kapanpun aku lapar, dia datang dengan makanan lalu menyuapiku. Ketika aku haus, dia memberiku minum,” tuturnya.

Abdullah melihat ke sekeliling bagian dalam tenda ini. Tak satupun dia melihat orang selain dirinya sendiri dan orang tua ini. Seolah-olah menjawab keheranan itu, sang pemilik tenda itu menjelaskan lagi.

Namun, sudah tiga hari belakangan ini aku tidak lagi mendengar atau melihat anakku itu. Aku kehilangan dirinya. Bila engkau berkenan, wahai musafir, apakah bisa engkau menemukannya? Semoga Allah membalas kebaikanmu,” ujar sang orang tua dengan nada meminta.

Abdullah yang awalnya datang hendak meminta pertolongan kini menjadi pihak yang menolong. Sesungguhnya, dia bisa saja mengabarkan kepada orang tua itu, betapa daerah kosong pesisir pantai ini tak dijumpainya orang satu pun. Akan tetapi, sebaiknya jangan memupus harapan sebelum benar-benar berupaya.

Abdullah pun keluar dari tenda kecil itu. Dia berjalan ke sana-kemari, mencoba menelusuri keberadaan si anak yang hilang. “Demi Allah, aku menunaikan keperluan terhadap saudaraku yang seiman. Insya Allah, Allah memberikan pahala yang besar kepadaku“, gumamnya di dalam batin.

Tiba-tiba, Abdullah mendapati jejak kaki manusia di dekatnya. Dia pun menelusuri terus. Sampailah dia pada pemandangan yang sangat memilukan. Bocah lelaki yang dicarinya itu ternyata sudah meninggal diterkam kawanan singa.

Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un! Bagaimana caranya aku memberitahukan hal ini kepada orang tua itu?”

Meski sempat terkejut, setelah beberapa saat Abdullah pun dapat meyakinkan dirinya sendiri. Bagaimanapun, orang tua itu (waktu itu Abdullah belum menyadarinya sebagai Abu Qilabah) harus mengetahui kematian anaknya ini. Biarlah Allah SWT yang menentukan bagaimana nasibnya nanti.

Assalamualaikum,” ujar Abdullah begitu memasuki tenda.

Waalaikum salam,” jawab orang tua ini, “Engkaukah itu yang tadi menemuiku?”

Ya,” kata Abdullah.

Bagaimana hasilnya dengan pencarianmu tadi? Adakah engkau berhasil menemukan anakku?

“Tuan, apakah engkau tahu tentang kisah Nabi Ayyub ‘alaihi sallam?” Abdullah mencoba membuka penjelasannya.

Tentu saja. Dia merupakan salah seorang rasul yang mulia.”

“Engkau mengetahui bagaimana Nabi Ayyub diuji oleh Allah SWT. Rabbnya telah mengujinya dengan harta, keluarga, dan anak-anaknya,” tutur Abdullah.

Tentu, aku tahu itu.

“Tahukah engkau bagaimana sikap Nabi Ayyub atas cobaan-cobaan itu?” tanya Abdullah lagi.

Ia selalu bersabar, bersyukur, dan memuji Allah,” jawab orang tua tersebut.

Sekalipun Nabi Ayyub dijauhi kerabat dan sahabat-sahabatnya?”

“Betul, ia tetap demikian, bersyukur dan memuji Allah. Langsung saja, apa maksudmu dengan menceritakan perihal Nabi Ayyub? Semoga Allah merahmatimu,” tanya orang tua itu karena merasakan ada maksud dari tamunya tersebut.

“Sungguh, aku telah menemukan putramu, tetapi dia telah meninggal dunia. Jasadnya ada di antara gundukan pasir dan diterkam kawanan binatang buas. Semoga Allah melipatgandakan pahala engkau yang bersabar atas musibah ini,” jelas Abdullah.

Segala puji bagi Allah. Dia telah menciptakan bagiku keturunan yang tidak bermaksiat kepada-Nya,” kata orang tua itu.

Tak lama kemudian, pemilik tenda tersebut menarik nafas panjang, dan meninggal dunia.

Inna lillah wa inna ilaihi roji’un….” ujar Abdullah.

***

Kini, Abdullah menjadi bingung. Apa yang akan dilakukannya terhadap jasad orang tua itu. Tidak mungkin membiarkannya begitu saja. Jangan sampai sekumpulan binatang buas mendeteksinya lalu memakannya.

Awalnya, Abdullah menutupi jasad tersebut dengan kain yang ada di dekatnya. Dia pun keluar dari tenda untuk mencari-cari bantuan. Tak disangka, Abdullah melihat dari arah nun jauh di sana. Beberapa orang sedang menunggangi kuda. Salah satu dari mereka tampak lebih rapi. Pakaiannya yang berwarna keperakan memantulkan sinar matahari. Abdullah pun berteriak dan melambaikan tangan kepada mereka. Orang-orang itu menyadari panggilan tersebut. Mereka pun mendekatinya.

Ada apa wahai hamba Allah?” tanya mereka.

Aku meminta bantuan kalian,” jawab Abdullah sambil menunjuk tenda asalnya, “Di dalam sana ada jenazah seorang tua. Dia baru saja meninggal.

Orang tua bagaimana?” tanya pria yang memakai baju mewah.

Abdullah pun menuturkan perawakan wajah serta kondisi fisik orang tua yang baru saja wafat itu. Orang-orang yang ada di hadapannya justru menjadi terkejut.

Bukankah beliau yang kita cari!?” seru salah satu di antaranya.

Mereka pun bergegas masuk ke dalam tenda. Pria yang berpakaian mewah lantas membuka penutup wajah jasad itu. Kemudian, dia memeluknya dan menangis tersedu-sedan. Menyaksikan itu, Abdullah tentu saja keheranan.

Ya Allah, Engkau telah memanggilnya. Dia yang matanya selalu jauh dari melihat hal-hal yang diharamkan-Mu. Dia yang selalu sujud tatkala orang-orang lelap tertidur,” serunya.

Siapakah orang ini. Mungkin Tuan dapat menceritakannya untukku?” tanya Abdullah. Setelah mereda tangisnya, orang itu pertama-tama memperkenalkan dirinya. Dia adalah seorang utusan raja Muslim yang memang ditugaskan untuk mencari-cari keberadaan orang tua tersebut.

Beliau yang wafat ini adalah Abu Qilabah al-Jarmi. Dia seorang sahabat Rasulullah SAW!” jawab utusan raja itu.

Kami mencarinya ke mana-mana sebab raja kami hendak meminta beliau untuk menjadi kadi istana. Akan tetapi, kabar itu lebih dahulu tiba kepadanya sehingga beliau lari dari negeri kami. Dia membawa serta seorang anak laki-laki. Tadi kami menemukan jasad putranya dimakan singa,” cerita pendamping utusan raja.

Akhirnya, Abdullah menyadari. Sahabat Nabi SAW bernama Abu Qilabah ini tidak ingin terseret menjadi ulama penguasa. Maka itu, ia lebih memilih menyingkir ke padang pasir yang tandus, meski akhirnya kehilangan kedua kaki dan tangannya, serta meninggal dunia.

Ketiga orang itu lantas mengurus jenazah Abu Qilabah dan menshalatkannya. Utusan raja itu kembali ke negerinya dengan hati yang amat sedih. [yy/republika].

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 20 September 2020.

Vien AM.

Dicopas dari : https://www.fiqhislam.com/agenda/tokoh/122998-abu-qilabah-sahabat-nabi-saw-yang-terakhir-kali-wafat