Feeds:
Posts
Comments

AisyaNamanya adalah Juwairiyyah binti Al-Harits bin Abi Dhirar bin ‘Aidz bin Malik bin Khuzaimah, berasal dari Bani Mushthaliq. Nama aslinya adalah Barrah. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberinya nama Juwairiyyah. Suaminya dahulu bernama Musafi’ bin Shafwan Al-Musthaliqi yang mati dalam keadaan kafir saat perang Muraisi’. Ada juga yang menyatakan bahwa suaminya yang dulu adalah Shafwan bin Malik bin Khuzaimah, yang merupakan anak dari pamannya.

Jumhur (mayoritas) ulama mengatakan bahwa Juwairiyyah meninggal dunia pada Rabi’ul Awwal tahun 56 H di masa Khalifah Mu’awiyah.

Menjadi Tawanan Saat Perang Muraisi’

Suatu saat pemimpin Bani Musthaliq, ayah dari Barrah (Juwairiyyah) berencana untuk menyerang kaum Muslimin di Madinah. Bani Musthaliq berniat untuk mengalahkan pasukan tentara Islam dan mengambil alih kekuasaan di antara suku-suku Arab. Rencana itu pun sampai ke telinga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pertempuran tentara Islam melawan kaum kafir dari Bani Musthaliq itu dikenal sebagai perang Perang Muraisi’, terjadi di suatu tempat yang terdapat air bernama Muraisi’ dan terjadi pada bulan Sya’ban tahun keenam Hijriyah. Dalam pertempuran itu, umat Islam meraih kemenangan. Pemimpin bani Musthaliq, Al-Harits melarikan diri dari medan peperangan dan suami Barrah tewas terbunuh.

Seluruh penduduk yang selamat, termasuk Barrah menjadi tawanan. Sebagai seorang terpelajar, mengetahui dirinya menjadi tawanan, Barrah mengajukan tawaran untuk membebaskan diri. Ia lalu mencoba bernegosiasi dan meminta bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika ia ingin bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aisyah sudah penuh khawatir karena melihat manis dan cantiknya Juwairiyah, tiada seorang pun yang melihatnya melainkan akan jatuh hati kepadanya. Tatkala Juwairiyyah meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membebaskan dirinya, Aisyah merasa cemburu.

Tetap Juwairiyyah bisa bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika ia bertemu Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia pun memperkenalkan diri bahwa ia adalah puteri Al-Harits bin Abi Dhirar yang menjadi pemuka di kaumnya.

Tentang Juwairiyah, Aisyah mengemukakan cerita sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menawan wanita-wanita Bani Musthaliq, kemudian beliau menyisihkan seperlima dari mereka dan membagikannya kepada kaum muslimin. Bagi penunggang kuda mendapat dua bagian, dan lelaki yang lain mendapat satu bagian. Juwairiyah jatuh ke tangan Tsabit bin Qais bin Samas Al-Anshari.”

Keutamaan Juwairiyyah binti Al-Harits

1- Pernikahan Juwairiyyah dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dibebaskannya ia dari tawanan menyebabkan kaum Bani Musthaliq masuk Islam, bahkan seluruh tawanan Bani Musthaliq dibebaskan. Inilah keberkahan yang ada dari pernikahan Juwairiyyah dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Saat Juwairiyah jatuh ke tangan Tsabit bin Qais bin Samas Al-Anshari. Beliau menulis untuk Tsabit bin Qais (bahwa beliau hendak menebus dirinya), kemudian mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mau menolong untuk menebus dirinya. Maka menjadi ibalah hati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kondisi seorang wanita yang mulanya adalah seorang sayyidah merdeka (pemuka di kaumnya) yang mana dia memohon beliau untuk mengentaskan ujian yang menimpa dirinya. Maka beliau bertanya kepada Juwairiyyah, “Maukah engkau mendapatkan hal yang lebih baik dari itu?” Maka dia menjawab dengan sopan, “Apakah itu, Ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Aku tebus dirimu kemudian aku nikahi dirimu!” Maka tersiratlah pada wajahnya yang cantik suatu kebahagiaan sedangkan dia hampir-hampir tidak perduli dengan kemerdekaan dia karena remehnya. Beliau menjawab, “Mau Ya Rasulullah”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Aku telah melakukannya.”

Tersebarlah berita kepada manusia bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menikahi Juwairiyyah binti Al-Harits bin Abi Dhirar. Maka orang-orang berkata, “Kerabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Lantas mereka melepaskan tawanan perang yang mereka bawa.” Maka sungguh dengan pernikahan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Juwairiyyah menjadi sebab dibebaskannya seratus keluarga dari Bani Mushthaliq. Maka aku tidak pernah mengetahui seorang wanita yang lebih berkah bagi kaumnya daripada Juwairiyyah. (HR. Ibnu Ishaq dalam As-Siyar wa Al-Maghazi, 263; Abu Daud, no. 3931; Ahmad, 6:277. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani.)

2- Juwairiyyah dikenal rajin ibadah dan rajin berdzikir. Sehabis Shubuh ia punya kebiasaan berdiam di masjidnya, menyibukkan diri dengan dzikir hingga matahari meninggi (hingga siang).

Dari Juwairiyyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar dari sisinya pada pagi hari setelah shalat Shubuh, sedangkan Juwairiyyah berada di tempat shalatnya. Setelah itu, beliau pulang setelah tiba waktu Dhuha sedangkan Juwairiyyah masih dalam keadaan duduk. Lalu beliau bertanya, “Apakah engkau tetap dalam keadaan ketika aku tinggalkan?” Ia menjawab, “Ya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, aku telah mengucapkan setelahmu empat kalimat sebanyak tiga kali, yang jika ditimbang dengan yang engkau ucapkan sejak tadi tentu akan menyamai timbangannya yaitu,

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ: عَدَدَ خَلْقِهِ، وَرِضَا نَفْسِهِ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

“SUBHAANALLOHI WA BI-HAMDIH, ‘ADADA KHOLQIH, WA RIDHOO NAFSIH, WA ZINATA ‘ARSYIH, WA MIDAADA KALIMAATIH. (Artinya: Mahasuci Allah. Aku memuji-Nya sebanyak makhluk-Nya, sejauh kerelaan-Nya, seberat timbangan ‘Arsy-Nya, dan sebanyak tinta tulisan kalimat-Nya).” (HR. Muslim, no. 2726)

Ia pun dikenal semangat berpuasa, sampai-sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menegurnya ketika mengetahui Juwairiyyah berpuasa pada hari Jumat.

Dari Juwairiyah binti Al Harits radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَهِيَ صَائِمَةٌ فَقَالَ أَصُمْتِ أَمْسِ قَالَتْ لا قَالَ تُرِيدِينَ أَنْ تَصُومِي غَدًا قَالَتْ لا قَالَ فَأَفْطِرِي وَقَالَ حَمَّادُ بْنُ الْجَعْدِ سَمِعَ قَتَادَةَ حَدَّثَنِي أَبُو أَيُّوبَ أَنَّ جُوَيْرِيَةَ حَدَّثَتْهُ فَأَمَرَهَا فَأَفْطَرَتْ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemuinya pada hari Jumat dan ia dalam keadaan berpuasa, lalu beliau bersabda, “Apakah engkau berpuasa kemarin?” “Tidak”, jawabnya. “Apakah engkau ingin berpuasa besok?”, tanya beliau lagi. “Tidak”, jawabnya lagi. “Batalkanlah puasamu”, kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hammad bin Al-Ja’d, ia mendengar Qotadah, Abu Ayyub mengatakan padanya bahwa Juwairiyah berkata bahwa ia membatalkan puasanya ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan. (HR. Bukhari, no. 1986)

Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Dimakruhkan menyendirikan puasa pada hari Jumat saja kecuali jika bertepatan dengan kebiasaan berpuasa seperti berpuasa Daud, yaitu sehari berpuasa sehari tidak, lalu bertepatan dengan hari Jumat atau bertepatan dengan kebiasaan puasa di awal, akhir atau pertengahan bulan.” Lihat Al-Mughni, 3:53.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata dalam Syarh Al-Mumthi’ (6:465), “Dikecualikan dari larangan ini adalah jika berpuasa sebelum atau sesudah Jumat, atau bertepatan dengan kebiasaan puasa seperti berpuasa pada ayyamul bidh, atau bertepatan dengan puasa Arafah, atau karena puasa nadzar.”

3- Kehidupannya begitu sederhana sebagaimana istri-isti Nabi lainnya. Di antara buktinya,

أَنَّ عُبَيْدَ بْنَ السَّبَّاقِ قَالَ إِنَّ جُوَيْرِيَةَ زَوْجَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- دَخَلَ عَلَيْهَا فَقَالَ « هَلْ مِنْ طَعَامٍ ». قَالَتْ لاَ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عِنْدَنَا طَعَامٌ إِلاَّ عَظْمٌ مِنْ شَاةٍ أُعْطِيَتْهُ مَوْلاَتِى مِنَ الصَّدَقَةِ. فَقَالَ « قَرِّبِيهِ فَقَدْ بَلَغَتْ مَحِلَّهَا »

‘Ubaid bin As-Sabbaq menyatakan bahwa Juwairiyyah—istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—pernah mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemuinya lalu menanyakan, “Apakah ada makanan di rumah?” Ia menyatakan, “Tidak ada wahai Rasulullah, kami tidak memiliki makanan selain tulang kambing yang didapati dari bekas budakku dan itu dari harta sedekah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Bawa sini karena sedekah itu tidak masalah lagi bagiku (artinya: sudah berubah hukumnya karena sudah dimiliki oleh yang menerima sedekah, maka bebas ia berikan kepada lainnya, pen.).” (HR. Muslim, no. 1806)

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 3 Mei 2019.

Vien AM.

Diambil dari:

https://rumaysho.com/16953-faedah-sirah-nabawiyah-istri-nabi-juwairiyyah-binti-al-harits.html

rukanah-adu-gulat-bersama-rasulullahGulat disebut sebagai olahraga tertua di dunia yang dikompetisikan. Olahraga gulat telah muncul di lukisan-lukisan Mesir kuno yang berusia 5000-an tahun. Konon, gulat sudah menjadi mata pelajaran di Tiongkok sejak 2050 SM. Tidak heran, dalam adegan kolosal, para kesatria sering adu tanding gulat untuk menunjukkan kehebatan mereka.

Olahraga ini juga cukup populer di masa-masa Islam. Masa saat Rasulullah ﷺ masih hidup dan berinteraksi dengan masyarakat Arab kala itu. Di masa beliau ﷺ ada seorang pegulat yang dikenal sebagai juara. Ia sangat sulit ditaklukkan. Tidak ada seorang pun yang berhasil menempelkan perutnya ke tanah saat bergulat. Namanya adalah Rukanah.

Siapakah Rukanah?

Namanya adalah Rukanah bin Abdu Yazid bin Hisyam bin Abdul Muthalib bin Abdu Manaf al-Muthallibi. Ia adalah seorang pemimpin Arab yang terkenal dengan kekuatannya. Walaupun badannya kekar dan besar, Rukanah tetap lincah dalam berkuda.

Rukanah adalah seorang laki-laki kuat. Ia masih dalam kemusyrikan di awal-awal datangnya risalah kenabian Muhammad ﷺ. Ia begitu tenar sebagai seorang pegulat hebat. Tidak ada seorang pun yang mampu menguncinya hingga tergeletak di tanah. Postur tubuh dan perawakannya yang besar tampak begitu kentara. Terlihat mencolok dibanding orang-orang di sekelilingnya.

Ototnya yang kekar tidak menghalangi Rasulullah ﷺ untuk membuka hatinya tentang kebenaran Islam. Dan di antara variasi dakwah Rasulullah ﷺ adalah beliau menempuh pendekatan dalam bidang olahraga. Beliau ﷺ berduel gulat dengan Rukanah. Subhanallah…

Ibnul Atsir mengatakan, “Rukanah adalah seseorang yang pernah duel gulat dengan Nabi ﷺ. Beliau mengalahkannya dua atau tiga kali. Padahal ia termasuk laki-laki Quraisy yang paling kuat. Hidayah Islam baru ia sambut ketika penaklukkan Kota Mekah. Ia wafat di masa kekhalifahan Utsman. Ada juga yang mengatakan ia wafat pada tahun 42 H. Di masa kekhalifahan Muawiyah radhiallahu ‘anhu.” (al-Isti’ab oleh Ibnu Abdil Bar hal: 801 dan Asadul Ghabah oleh Ibnul Atsir, hal: 1708).

Rukanah Adu Gulat Dengan Nabi ﷺ

Ibnu Ishaq mengatakan, “Abu Ishaq bin Yasar berkata kepadaku: Rukanah bin Abdu Yazid bin Hisyam bin Abdul Muthallib bin Abdu Manaf adalah orang Quraisy yang paling kuat. Suatu hari ia bersama Rasulullah ﷺ di suatu kampung Mekah (sebelum hijrah).

Rasulullah ﷺ berkata kepadanya: Wahai Rukanah, tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dan menerima dakwahku?

Rukanah menjawab: Seandainya aku mengetahui apa yang engkau serukan itu adalah kebenaran, pasti aku akan mengikutimu.

Rasulullah menimpali: Bagaimana kiranya kukalahkan engkau dalam gulat. Apakah engkau akan meyakini kebenaran perkataanku?

Rukanah menjawab: Iya.

Rasulullah berseru: Ayo berdiri. Akan kukalahkan engkau.”

Abu Ishaq melanjutkan kisahnya, “Rukanah pun menyambut tantangan itu. Keduanya pun duel gulat. Rasulullah ﷺ menyergapnya dan berhasil menjatuhkannya. Rukanah pun tak berdaya.

Penasaran dengan kekalahannya, Rukanah berkata: ‘Kita ulangi wahai Muhammad’. Keduanya pun kembali bergulat.

Rukanah kembali berkata: ‘Wahai Muhammad, luar biasa, kau berhasil mengalahkanku!’

Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Yang lebih luar biasa dari ini pun akan kutunjukkan jika engkau mau. Jika engkau bertakwa kepada Allah dan menaatiku’.

‘Apa itu?’ Tanya Rukanah.

Nabi ﷺ menjawab: ‘Akan kupanggil pohon yang engkau lihat itu. Dan dia akan datang kepadaku’.

‘Panggillah’, tantang Rukanah.

Pohon itu pun datang hingga ke hadapan Rasulullah ﷺ. Kemudian Rasulullah ﷺ berkata kepada pohon itu: ‘Kembalilah ke tempatmu’. Pohon itu pun kembali ke tempatnya semula.

Rukanah pun pergi menuju kaumnya. Ia berkata, ‘Wahai anak-anak Abdu Manaf, mereka telah menyihir masyarakat. Demi Allah, aku tidak pernah melihat penyihir yang lebih sakti darinya’. Kemudian Rukanah mengabarkan apa yang ia lihat.” (Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, tahqiq al-Halabi, 1: 390-391).

Dalam riwayat al-Baladzuri disebutkan bahwa Rukanah-lah yang menantang Rasulullah ﷺ bergulat. Ia dikabarkan tentang Nabi ﷺ. Lalu Rukanah menemui beliau di salah satu bukit di Mekah. Rukanah mengatakan, “Wahai anak saudaraku –karena sama-sama bani Abdu Manaf-, telah sampai kabar tentangmu kepadaku. Aku tidak mengenal engkau sebagai pembohong. Jika engkau mengalahkanku (dalam gulat), maka aku yakin engkau orang yang benar”. Nabi ﷺ pun bergulat dengannya sebanyak tiga kali.

Abu al-Yaqzhan mengatakan: Ketika Rukanah datang kepada Nabi ﷺ untuk memeluk Islam di hari Fathu Mekah, ia berkata, “Demi Allah, aku mengetahui jika engkau bergulat denganku, engkau akan mendapat pertolongan dari langit”. Kemudian ia pindah ke Madinah dan tinggal di sana hingga wafat di awal pemerintahan Muawiyah radhiallahu ‘anhu (Ansabul Asyraf oleh al-Baladzuri, 1: 155, 9: 392-392. Ia memiliki penguat dalam riwayat at-Tirmidzi 1784, Abu Dawud 4078, dan al-Hakim 5903).

Anak Rukanah Bergulat dengan Nabi ﷺ

Selain bergulat dengan Rukanah, Nabi ﷺ pun pernah berduel dengan orang-orang selain Rukanah. Di antaranya adalah anak dari Rukanah. Namanya Yazid bin Rukanah. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengisahkan, “Yazid bin Rukanah datang menemui Nabi ﷺ dengan membawa 300 ekor domba. Ia berkata, ‘Wahai Muhammad, apakah engkau mau duel gulat denganku?’

Nabi ﷺ menjawab, ‘Apa hadiahnya jika aku mengalahkanmu?’

‘100 domba ini’, jawabnya. Keduanya pun bergulat. Dan Nabi ﷺ yang menang.

Yazid kembali menantang Rasulullah. Ia berkata, ‘Maukah engkau adu gulat (sekali) lagi?’

Nabi ﷺ menjawab, ‘Apa imbalannya?’

Yazid menjawab, ‘100 domba lainnya’. Keduanya pun bergulat. Lagi-lagi Nabi mengalahkannya. Disebutkan bahwasanya keduanya bergulat sampai tiga kali.

Yazid berkata, ‘Wahai Muhammad, sebelumnya tidak ada yang mampu membuat perutku menempel dengan tanah kecuali dirimu. Dan tidak ada yang paling aku benci pula selain dirimu. Namun sekarang aku bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah kecuali Allah. Dan engkau adalah utusan Allah’. Kemudian Rasulullah ﷺ mengembalikan semua dombanya.” (Ibnu Abdil Bar dalam al-Isti’ab 2770, Ibnul Atsir dalam Asadul Ghabah 5544, Ibnu Hajar dalam al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah 9279, dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Irawa’ al-Ghalil 1503).

Pelajaran

Pertama: Metode dakwah Rasulullah yang variatif. Beliau berdakwah berceramah. Beliau berdakwah dengan cara bersedekah. Dengan akhlak yang mulia. Dengan pendekatan kultural. Sampai dengan pendekatan dalam bidang olahraga. Namun pendekatan dakwah beliau tidak menerabas sesuatu yang Allah larang.

Kedua: Nabi ﷺ tidaklah menginginkan harta dunia dari hasil duelnya dengan Rukanah dan anaknya, akan tetapi beliau menginginkan hidayah.

Ketiga: Betapa pun orang-orang musyrik sombong dalam menolak Islam, Rasulullah tidak menyerah mendakwahi mereka. Fitrah mereka tetap ingin keluar dari gelapnya kesyirikan.

Keempat: Terkadang seseorang malu menerima dakwah dengan metode ceramah. Namun ia akan mengakui keunggulan dan kebenaran yang dibawa orang lain apabila bisa mengalahkannya dalam bidang yang ia geluti. Oleh karena itu, terkadang seseorang lebih menerima orang yang seprofesi dengannya ketika mendakwahinya. Dosen dengan dosen. Pegawai pabrik dengan pegawai pabrik. Mantan artis dakwah kepada artis. Dll.

Kelima: Meskipun orang-orang musyrik berlaku sombong dan kasar terhadap Nabi ﷺ, namun beliau tetap berlaku ramah. Sehingga mereka tidak segan mengajukan pertanyaan bahkan mengajak adu gulat sekalipun.

Sumber:

–http://islamstory.com/ar/%D8%B1%D8%B3%D9%88%D9%84-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D9%88%D8%B1%D9%83%D8%A7%D9%86%D8%A9

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

Artikel http://www.KisahMuslim.com

Diambil dari :

https://kisahmuslim.com/5028-rukanah-adu-gulat-dengan-rasulullah-%EF%B7%BA.html

Jakarta, 15 Januari 2019.

Vien AM.

Abdurrahman bin Auf dan Thalhah bin Ubaidillah adalah sahabat dari golongan Al-Sabiqun Al-Awwalun‎ (orang-orang terdahulu yang pertama kali memeluk Islam) dari kaum Muhajirin. Keduanya berasal dari keluarga terpandang Quraisy, yang sampai akhir hayatnya tetap dikenal sebagai orang kaya raya berkat bakat dagang yang dikaruniakan Allah swt. Mereka adalah Pebisnis sukses, kata orang zaman sekarang.

Abdurrahman dan Thalhah dilahirkan dan tumbuh di lingkungan kota Mekah pada masa kejahiliyahan meraja lela. Pada saat itu penyembahan berhala, kebiasaan minum khamar, perzinahan, para perempuan mengumbar aurat, anak perempuan dikubur hidup-hidup, mengundi nasib, sistim riba, balas dendam dll adalah sesuatu yang biasa.

Namun pada saat datangnya Islam, Allah swt memudahkan Abdurrahman dan saudara-saudaranya untuk bersegera menjadi pengikut setia Rasulullah saw. Usia Abdurrahman ketika itu 30 tahun. Itu semua berkat ajakan Abu Bakar Siddiq, sahabat nabi sejak kecil yang langsung beriman begitu nabi memberitahukan Kerasulannya. Abu Bakar ketika itu memang dikenal sebagai orang sukses, kaya raya, didengar dan dipercaya baik karena akhlak maupun kejujurannya dalam berdagang.

Demikian pula Thalhah yang ketika itu baru berusia 16 tahun. Ia memeluk Islam berkat Abu Bakar. Namun sebelumnya ia pernah mendengar berita tentang datangnya seorang nabi baru.  Ketika itu ia sedang di Syam mengikuti kafilah dagang. Tiba-tiba seorang rahib mendatangi kafilahnya dan menanyakan apakah mereka sudah mendengar berita kedatangan seorang nabi dari semenanjung Arabia. Nabi tersebut bernama Ahmad. Sang rahib menyarankan agar mereka segera mengikutinya. Itu sebabnya begitu Thalhah kembali ke negrinya ia langsung mendatangi Abu Bakar untuk menanyakan hal tersebut.

Maka sejak itu, baik Abdurrahman maupun Thalhah, bersama sahabat yang waktu itu baru berjumlah 40 orang selalu mengikuti majlis nabi, mulai dari Al-Arqam yang merupakan majlis pertama umat Islam, hingga wafatnya Rasulullah di Madinah. Keduanya juga tercatat tidak pernah ketinggalan dalam berbagai perang baik selama hidup Rasulullah maupun setelahnya.

Seperti juga rata-rata sahabat yang kaya raya, Abdurrahman dan Thalhah dikenal sebagai orang yang tawadhu. Meski mereka sibuk dengan perniagaan, rasa takut, harap dan cinta kepada Sang Khalik tetap tertanam kuat di dalam hati sanubari mereka. Mereka menginfakkan sebagian besar kekayaan mereka untuk membebaskan budak dan berbagai kebutuhan umat demi kemajuan Islam. Tak heran bila Rasulullah menyebut kedua sahabat tersebut sebagai 2 dari 10 sahabat nabi yang telah dijanjikan surga.

Paska wafatnya Rasulullah Abdurrahman bahkan pernah menduduki posisi tinggi sebagai calon khalifah menggantikan Umar bin Khattab yang terbunuh. Namun ia menarik diri demi memberi kesempatan Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib untuk bertarung. Sementara Thalhah yang mempunyai julukan Perisai Rasulullah berkat sepak terjangnya dalam melindungi Rasulullah dalam perang Uhud hingga harus menerima 70 tusukan tombaknya di lengannya, bersama sahabat lain merupakan penasehat khalifah. Thalhah wafat sebagai mujahidin dalam perang Jamal yang sarat muatan politik.

Namun kisah menarik yang akan dipaparkan di bawah ini adalah kisah perselisihan antara keduanya yang sangat patut kita jadikan keteladanan. Alkisah Abdurrahman dan Thalhah mempunyai sebidang tanah yang letaknya bersebelahan. Suatu hari Abdurrahman bermaksud mengairi tanahnya lewat tanah Thalhah. Tapi oleh suatu sebab Thalhah tidak mengizinkannya. Abdurrahmanpun mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah saw. Namun apa jawaban Rasulullah ?

“Bersabarlah, Thalhah adalah seseorang yang telah wajib baginya surga”.  

Abdurahmanpun menahan diri. Ia lalu mendatangi Thalhah dan mengabarkan apa yang disampaikan Rasulullah.

“Wahai saudaraku, apakah harta ini sampai membuatmu mengadukannya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam?!?”, tanya Thalhah.

“Tadinya memang begitu”, jawab Abdurahman tersipu.

“Aku bersaksi kepada Allah, dan kepada Rasullulah  bahwa harta itu menjadi milikmu wahai saudaraku”, seru Thalhah kemudian.

Masya Allah …  Padahal Abdurrahman ketika itu sedang kesal. Tapi dengan besar hati ia tetap menyampaikan berita gembira bagi orang yang telah membuatnya kesal. Sementara Thalhah begitu menerima kabar gembira langsung menghadiahkan tanah yang sebelumnya untuk dilewati airnya saja tidak rela.  Begitulah sahabat mengakhiri perselisihan, alangkah indahnya …

Dari kisah diatas dapat disimpulkan :

  • Pengikut awal Rasulullah bukan melulu orang-orang lemah, miskin dan tertindas, seperti yang selama ini digembar-gemborkan.
  • Untuk menjadi ahli surga tidak cukup hanya sebagai ahli ibadah. Ke 10 sahabat yang dijanjikan surga dalam hadist, selain ahli ibadah mereka sangat peduli kepada nasib dan masa depan umat Islam. Termasuk dalam hal kepemimpinan, untuk memilih maupun dipilih. Dengan penuh ikhlas mereka mempertaruhkan jiwa dan harta mereka.

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”.( Terjemah QS. At-Taubah (9):100).

“Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad dari Abdurrahman bin Humaid dari ayahnya dari Abdurrahman bin ‘Auf dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Abu Bakar masuk surga, Umar masuk surga, Utsman masuk surga, Ali masuk surga, Thalhah masuk surga, Zubeir masuk surga, Abdurrahman bin ‘Auf masuk surga, Sa’ad masuk surga, Sa’id masuk surga dan Abu Ubaidah bin Jarrah masuk surga.” [HR At Tirmidzi (3747), hadits shahih.]

Untuk diingat, Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali adalah khalifah terbaik sepanjang sejarah dunia.

Semoga kita dapat mengambil hikmahnya.

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 15 April 2015.

Vien AM.

Logo Muhammad sawPara sahabat sangat mencintai dan menghormati Nabi Muhammad SAW, mereka dapat menjaga sikap dan ahklak di hadapan Rosululloh SAW. Namun ada salah seorang sahabat bernama Nu’man bin Amru. Seluruh penduduk kota Madinah mengenal betul siapa Nu’man bin Amru. Pribadinya yang konyol suka bercanda dan mengerjai orang. kadang bercandanya Nu’man sangat keterlaluan.

Para sahabat sudah sering dikerjai oleh kekonyolan Nu’man ini. Bahkan Rosulullohpun diperlakukan dengan tidak hormat oleh Nu’man. Bedanya kalau para sahabat marah begitu dirinya dikerjai oleh kekonyolan Nu’man namun Rosululloh Saw tidak pernah marah akan perlakukan Nu’man tersebut.

Berulangkali para sahabat menasehati Nu’man agar tidak berbuat konyol kepada Rosululloh, karena Rosululloh adalah kekasih Alloh yang harus dihormati dan di muiakan. Tetap saja Nu’man selalu melakukan kekonyolan kepada Rosululloh dan sedikitpun nabi tidak marah kepada Nu’man. Bahkan Rosul membimbing Nu’man untuk meninggalkan sikap mengerjai orang.

Suatu hari dikota Madinah lewatlah pedagang madu yang menjajakan dagangannya. Sudah beberapa hari ini dagangannya tidak ada yang membeli. Pedagang madu tersebut begitu putus asa bercampur kesal. Wajahnya terlihat pucat, bajunya lusuh. Melihat hal itu Nu’man merasa ibah hatinya. Nu’man berniat menolongnya untuk membeli madu tersebut namun dia tidak memiliki uang.

Akhirnya muncullah sifat kekonyolannya untuk mengerjai seseorang. Dia panggil pedagang madu.

”Pak, sahabatku ingin membeli madu dan itu rumahnya”, sambil menunjuk rumah Rosululloh SAW. Lalu Nu’man mengetuk pintu rumah Rosullulloh sambil membawa madu. Rosulpun mempersilahkan Numan untuk masuk kedalam.

“Ya Rosul ini aku bawakan madu untukmu, sebagai hadiah dariku” kata Nu’man.

Setelah memberikan madu tersebut Numan pun pamit untuk pulang. Nu’man lalu menemui pedagang madu tersebut sambil berkata,

”Maaf saya mau pergi dulu ada urusan penting yang harus saya selesaikan, sahabatku sebentar lagi keluar dan membayar madumu”, lalu bergegas pergi.

Setelah sekian lama menunggu pedagang tersebut kesal, dan mengetuk dengan keras rumah Rosululloh SAW sambil berteriak,

”Wahai penghuni rumah, madu saya belum dibayar !!”.

Tentu saja Rosululloh kaget mendengar teriakan tersebut. Rosululloh tersenyum dan menyadari bahwa dirinya telah dikerjai oleh Nu’man bin Amru. Lalu Rosulpun memberikan uang pembayaran madu kepada si pedagang madu.

Hingga suatu hari Rosululloh bertemu dengan Nu’man bin Amru. Sambil tersenyum menahan tawa Rosul menegur Nu’man,

”Wahai Nu’man apa yang telah kau lakukan pada keluarga Nabi-Mu?”.

Dasar Nu’man seorang yang konyol mendengar teguran dari Rosul hanya nyengir dan berkata,

”Ya Rosululloh, saya tahu kau suka sekali madu. Saya ingin sekali membelikanmu madu dan menghadiahkannya padamu. Tapi waktu iti saya tidak punya uang sama sekali. Jadi saya hanya bisa mengantarkan madu itu ketanganmu. Semoga saya di beri hidayah Alloh atas kebaikan tersebut”, kata Nu’man.

Mendengar jawaban sahabatnya yang konyol tersebut, Rosululloh tidak marah bahkan mendo’akannya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 26 Maret 2018.

Vien AM.

Diambil dari : https://sachrony.wordpress.com/2008/09/17/kisah-sahabat-rosululloh-yang-konyol/

DASYATNYA UKHUWAH ISLAMIYAH

Suatu hari, Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu.
Tiba-tiba datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.
 
Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata :
Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!”
“Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini !”.
Umar segera bangkit dan berkata :
“Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda?”
Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata :
“Benar, wahai Amirul Mukminin.”
Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.”, tukas Umar.
Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya :
Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, ku ikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia (unta). Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera ku cabut pedangku dan kubunuh ia (lelaki tua tadi). Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini.”
Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.“, sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.
Tegakkanlah had Allah atasnya!” timpal yang lain.
Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.
 
Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat“, ujarnya.
“Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat (tebusan) atas kematian ayahmu”, lanjut Umar.
Maaf Amirul Mukminin,” sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala,
Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa”.
Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur, dan bertanggung jawab.
 
Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata :
“Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah”, ujarnya dengan tegas.
“Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash“.
“Mana bisa begitu?”, ujar kedua pemuda yang ayahnya terbunuh.
Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?”, tanya Umar.
Sayangnya tidak ada, Amirul Mukminin”.
Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggung jawaban kaumku bersamaku?“, pemuda lusuh balik bertanya kepada Umar.
Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji.” kata Umar.
Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah-lah penjaminku wahai orang-orang beriman“, rajuknya.
Tiba-tiba dari belakang kerumunan terdengar suara lantang :
Jadikan aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin“.
Ternyata Salman al-Farisi yang berkata.
Salman?” hardik Umar marah.
Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini”.
Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, yaa, Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya“, jawab Salman tenang.
Akhirnya dengan berat hati, Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.
 
Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.
 
Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman, salah satu sahabat Rasulullah S.A.W. yang paling utama.
 
Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.
 
Akhirnya tiba waktunya penqishashan. Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, karena menyaksikan orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.
 
Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.
Itu dia!” teriak Umar.
Dia datang menepati janjinya!”.
Dengan tubuhnya bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.
Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku, wahai Amirul Mukminin..” ujarnya dengan susah payah,
Tak kukira… urusan kaumku… menyita… banyak… waktu…”.
Kupacu… tungganganku… tanpa henti, hingga… ia sekarat di gurun… Terpaksa… kutinggalkan… lalu aku berlari dari sana..”
Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,
Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?” tanya Umar.
_”Aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan… di kalangan Muslimin… tak ada lagi ksatria… menepati janji…”*_ jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.
Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya :
“Lalu kau, Salman, mengapa mau- maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?”
Kemudian Salman menjawab :
_*Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”.*_
Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.
Allahu Akbar!”, Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak.
“Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.
Semua orang tersentak kaget.
 
Kalian...” ujar Umar.
“Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.
Kemudian dua pemuda menjawab dengan membahana :
_*”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya”.*_
Allahu Akbar!” teriak hadirin.
Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang.
MasyaAllah…, saya bangga menjadi muslim bersama kita ksatria-ksatria muslim yang memuliakan al islam dengan berbagi pesan nasehatnya untuk berada dijalan-Nya..
Allahu Akbar … 
 
                                                                           ********
Ukhuwah IslamiyahBeginilah layaknya contoh umat islam yg sebenarnya, bukan malah saling menghujat satu sama lainnya.  Agar umat islam INDONESIA tidak mudah di pecah belah.
 
Diriwayatkan dari Ibnu Umar, beliau berkata: “Rasulullah SAW bersabda: Seorang muslim itu adalh saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzdalimi dan meremehkannya dan jangan pula menykitinya.” (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim)

Legenda Putri Carcas.

Pada tahun 745 M pasukan gabungan Perancis dibawah Charles Martel, kakek Charlemagne kembali menyerang benteng Carcas. Terjadilah pertempuran sengit antara kedua pasukan tersebut. Dalam keadaan terjepit, sultan Carcas mengirim orang kepercayaannya untuk meminta bantuan saudaranya yang menjadi sultan Narbone, Namun pertolongan tersebut tak pernah kunjung tiba hingga sang sultanpun tewas di pertempuran.

Tinggallah permaisuri Carcas yang dengan gigih berusaha mempertahankan benteng. Seluruh warga dikerahkan, laki-laki, perempuan, tua muda. semua bersatu. Bahkan sang permaisuri sendiri terlihat  berlarian dari satu ke menara yang jumlahnya 29 itu ke menara yang lain. Dengan cerdiknya ia juga berusaha mengelabui lawan dengan membuat orang-orangan dari ijuk agar musuh mengira pasukannya masih banyak.

Namun demikian akhirnya pasukan Perancis berhasil mengepung benteng tersebut  dari luar. Walaupun pasukan ini tetap tidak berhasil mendobrak gerbang kota namun mereka berhasil membuat warga menderita kelaparan hebat. Sementara itu pasukan Perancis hanya  duduk-duduk santai menanti benteng Carcas menyerah.

Hal ini terjadi hingga 5 tahun lamanya. Akibatnya sebagian besar wargapun akhirnya mati  kelaparan. Hingga suatu ketika permaisuri Carcas menemukan sebuah ide. Ia melemparkan seekor anak babi yang ditemukannya ke luar benteng. Ia berharap agar pasukan yang menanti diluar bagai serigala kelaparan itu mengira bahwa warganya tetap bisa bertahan karena masih memiliki persediaan makanan cukup banyak. Oleh karenanya mereka masih mampu membuang seekor babi seenaknya. Padahal umat Islam memang tidak makan daging babi. Dan sebenarnya merekapun hanya tinggal memiliki sekarung kecil gandum !

Siasatnya berhasil. Charles Martel akhirnya memutuskan untuk pulang. “Percuma kita menanti berlama-lama disini. Mereka masih mempunyai persediaan makanan cukup. Mari kita tinggalkan saja kota ini”, begitu perintahnya.

Namun pada saat mereka hendak bergerak mundur tiba-tiba seluruh lonceng yang berada di kota benteng tersebut berbunyi. Rupanya sang permaisuri menghendaki adanya negosiasi.

“ Carcas  .. sonne “, begitu teriak pasukan Perancis.

Sonne artinya berbunyi. Maksudnya warga Carcas telah menyerah. Itu sebabnya kemudian kota tersebut dinamakan Carcassonne. Dan sejak itu jatuhlah salah satu kebesaran kerajaan Islam yang pernah menguasai Perancis di pesisir selatan di 7 kotanya yaitu Narbone, Nime, Agde, Beziers, Lodeve, Carcassonne dan Maguelone. Sesuai dengan jumlahnya wilayah ini dinamai Septimania. Sept dalam bahasa Perancis artinya 7.

Bangunan peninggalan Islam ini saat ini dapat ditemui di Perancis sebelah selatan, berbatasan dengan Spanyol. Tepatnya sekitar 80 km tenggara kota Toulouse.

carcassonne 1carcassonne2carcassonne3

Untuk lengkapnya silahkan mampir di :

http://vienmuhadi.com/2010/06/07/menilik-jejak-islam-di-eropa-9-perancis-selatan-tenggara/

Semoga bermanfaat,

Jakarta, 3 Oktober 2013.

Berkah Sepatu Usang

taman Al-Azhar CairoSeorang Syeikh yang alim tengah berjalan santai bersama seorang murid di taman kota Cairo, sebuah kota indah di tepi sungai Nil. Keduanya melihat sepasang sepatu yang sudah usang dan lusuh. Mereka berdua yakin kalau itu adalah sepatu milik pekerja kebun yang sebentar lagi akan menyelesaikan pekerjaannya.

Sang murid melihat kepada syeikhnya seraya berkata :
Bagaimana kalau kita candai tukang kebun ini dengan menyembunyikan sepatunya, kemudian kita bersembunyi di belakang pepohonan. Nanti ketika dia datang, kita lihat bagaimana dia kaget serta cemas karena kehilangan sepatunya.”

Sang syeikh menjawab:
“Anakku, tidak pantas kita menghibur diri dengan mengorbankan orang miskin. Kamu kan seorang yang kaya dan kamu bisa saja menambah kebahagiaan untuk dirinya. Sekarang cobalah kamu masukkan beberapa  lembar uang kertas ke dalam sepatunya, kemudian saksikan bagaimana respons dari tukang kebun miskin itu?”

Sang murid sangat takjub dengan usulan syeikhnya. Ia langsung  memasukkan beberapa lembar uang ke dalam sepatu tukang kebun itu. Setelah itu ia bersembunyi di balik semak-semak bersama sang syeikh sambil mengintip apa yang akan terjadi dengan tukang kebun itu.

Tak berapa lama datanglah tukang kebun itu, sambil mengibas-ngibaskan kotoran debu dari pakaiannya, dia menuju ke tempat dia meninggalkan sepatunya. Ketika ia memasukkan kakinya ke dalam sepatu, ia menjadi terperanjat, karena ada sesuatu yang mengganjal di dalamnya.

Saat ia keluarkan, ternyata, uang. Ia memeriksa sepatu yang satunya lagi, ternyata juga berisi uang. Ia memandangi uang itu berulang-ulang seolah ia tidak percaya dengan penglihatannya. Iapun memutar pandangannya ke segala penjuru namun ia tidak melihat seorang pun.

Sambil menggenggam uang itu lalu ia berlutut sambil menengadah ke langit ia berucap :
“Aku bersyukur kepada-Mu, ya Allah. Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Wahai Yang Maha Tahu, istriku sedang sakit dan anak-anakku  kelaparan, mereka belum mendapatkan makanan hari ini. Engkau telah menyelamatkanku, anak-anakku dan istriku dari penderitaan”.

Dengan kepolosannya ia terus menangis terharu sambil memandangi ke langit sebagai ungkapan rasa syukurnya atas karunia dari Allah Yang Maha Pemurah.

Sang murid sangat terharu atas pemandangan yang dilihatnya dari balik persembunyian itu. Air matanya berlinang tanpa dapat ia bendung.

Sang syeikh yang bijak berkata kepada muridnya :
“Bukankah sekarang kamu merasakan kebahagiaan yang lebih dari pada kamu melakukan ide pertama untuk menyembunyikan sepatu tukang kebun miskin itu?”

Sang murid menjawab :
“Aku telah mendapatkan pelajaran yang tidak akan aku lupakan seumur hidupku. Sekarang aku paham makna kalimat, “Ketika kamu memberi, kamu akan memperoleh kebahagiaan yang lebih banyak daripada ketika kamu diberi”.

Sang syeikh melanjutkan nasehatnya,

Ketahuilah bahwa bentuk pemberian itu bermacam-macam:

  • Memaafkan kesalahan orang di saat kamu mampu melakukan balas dendam, adalah suatu “pemberian”.
  • Mendoakan teman dan saudaramu di belakangnya_ (tanpa sepengetahuannya) itu adalah juga “pemberian”.
  • Berusaha berbaik sangka dan menghilangkan prasangka buruk,_ juga suatu “pemberian.”
  • Menahan diri dari membicarakan aib sesama kita di belakangnya adalah “pemberian” juga.

Marilah kita saling “memberi & berbuat baik”, niscaya “hidup kita akan menjadi lebih indah”.

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):261).

Salinglah memberikan hadiah di antara kalian, niscaya kalian akan saling menyayangi.” (HR. Bukhari).

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani di dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 13280, 12: 453. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al Jaami’ no. 176).

 

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 12 Juni 2017.
Vien AM.
Diambil dari:
https://id-id.facebook.com/kisahsejarahislam/posts/791430144268058 dengan tambahan ayat dan hadist yang sejalan.