Feeds:
Posts
Comments

Semua Muslim pasti mengenal nama ini, ya, ia adalah sepupu sekaligus sahabat dan menantu Rasulullah saw, suami dari Fatimah Az-Zahra, putri tercinta Rasulullah. Ali adalah putra Abi Thalib, paman nabi saw yang pernah mengasuh beliau sejak wafatnya Abdul Muthalib, sang kakek yang sangat mencintai nabi. Atas jasa sang paman inilah Rasulullah dapat berdakwah tanpa khawatir disakiti secara berlebihan. Dan nyatanya memang begitu Abi Thalib tiada, maka orang-orang musyrik Quraisypun berani berkomplot untuk membunuh beliau.

Jadi bukan hal yang mengherankan ketika suatu saat sebagai balas kasih, Rasulullah mengangkat Ali sebagai anak angkat. Ini beliau lakukan setelah 10 tahun menikah dengan istri tercinta Khadijah dan mendapati bahwa keadaan sang paman yang memiliki banyak anak itu makin hari makin sulit. Untuk itu rasulpun mengajak Abbas, paman beliau yang lain, untuk  membantu meringankan beban Abi Thalib, yaitu dengan mengangkat masing-masing satu anak. Maka jadilah Abbas mengambil Jaffar dan Rasulullah mengambil Ali yang ketika itu masih berumur 4 tahun. Kebetulan ketika itu Allah swt memang tidak menganugerahi Rasulullah seorangpun anak lelaki.

Di dalam rumah bersuasana kenabian inilah akhirnya Ali tumbuh, menjadi salah satu saksi turunnya ayat-ayat suci Al-Quran dari malaikat Jibril as kepada ayah angkatnya. Pada usia yang masih belia, Ali tercatat sebagai orang pertama yang bersyahadat, setelah Khadijah.

Memasuki usia remaja, Ali telah ikut terlibat dalam peperangan meski mengawalinya hanya dengan sebagai pembawa anak panah. Itupun setelah ia merengek kepada Rasulullah agar diizinkan ikut berperang demi tegaknya Islam. Ali mempunyai andil besar ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, hingga lolos dari usaha pembunuhan yang dilakukan orang-orang musrik Quraisy. Ia mendapat tugas menggantikan posisi Rasulullah tidur di atas pembaringan sementara Rasulullah sendiri ditemani Abu Bakar diam-diam meninggalkan Mekah menuju Madinah.

Menginjak usia dewasa, Ali mendambakan Fatimah Az-Zahra, putri kesayangan Rasulullah, sebagai pendamping hidupnya. Namun ia tidak pernah berani mengungkapkan keinginan tersebut kalau saja seorang sahabat yang mengetahui hal ini tidak mendorongnya. Ketika akhirnya ia datang menemui Rasulullah dengan tujuan meminangnya, tak satu patahpun kata keluar dari mulutnya. Beruntung Rasulullah yang ternyata memang ingin menikahkan Ali dengan sang putri tercinta dapat mengetahui isi hati sang calon menantu yang juga amat beliau cintai itu.

“ Apakah engkau memiliki sesuatu untuk dijadikan mahar ?”, tanya Rasulullah lembut.

Tidak”, jawab Ali tertunduk malu.

Apa yang terjadi dengan pedang yang pernah aku berikan padamu”, tanya Rasulullah lagi.

Maka jadilah dengan pedang bernama Zulfikar tersebut, Alipun resmi menjadi suami Fatimah Az-Zahra yang terus setia mendampinginya hingga akhir hayat sang istri tercinta. Sementara itu, Ali memilih Abu Turab sebagai julukan kesukaannya. Hal ini berawal ketika suatu ketika Rasulullah mencari Ali dan mendapatinya sedang tertidur dengan debu mengotori punggungnya yang tersingkap. Rasulpun lalu duduk dan membersihkan punggung Ali sambil berkata, “Duduklah wahai Abu Turab, duduklah.”  Turab dalam bahasa Arab adalah  tanah.

Tak lama setelah Ali menikah, pecah perang pertama dalam sejarah Islam yaitu perang Badar. Di usianya yang relative masih muda Ali, disamping Hamzah paman Rasul  saw, telah membuktikan ketangguhannya dalam berperang. Namun kehebatan pedang Ali baru benar-benar terlihat mencolok ketika pecah perang Khandak. Perang Khandak atau yang juga sering disebut perang parit karena parit yang dibangun kaum Muslimin atau perang Ahzab yang artinya sekutu atau gabungan karena musuh yang dihadapi kaum Muslimin ketika itu adalah pasukan gabungan Quraisy Mekah dan Yahudi bani Nadir.

Adalah Amar bin Abdi Wud, jago pedang Quraisy yang dijuluki sebagai orang yang mempunyai 1000 kekuatan. Ia berhasil melompati parit pemisah yang sengaja dibangun di bagian utara Madinah untuk melindungi kota dari serangan pasukan gabungan tersebut.

Dengan pongah Amar berkoar : “ Adakah satu diantara kalian yang berani menghadapi kehebatan pedangku? “.

Hingga 3 kali ia berteriak-teriak seperti itu, dan 3 kali itu pula Ali memohon kepada Rasulullah agar diizinkan menjawab tantangan tersebut.

“ Dia Amar. Tetaplah di tempatmu”, begitu jawaban Rasulullah, menyadari bahwa Amar bukanlah orang yang mudah dikalahkan.

“Mana surga yang menurut kalian akan kalian masuki bila kalian tewas sebagai syuhada?”, teriak Amar lagi, membuat Ali dan siapapun yang mendengarnya semakin panas.

Pada permohonan Ali ke 3 inilah akhirnya Rasulullah mengizinkan menantunya itu menghadapi tantangan Amar. Mulanya Amar melecehkan kemampuan Ali yang dianggapnya terlalu muda dan mudah untuk dikalahkan. Namun nyatanya dalam sekali gebrakan saja, berkat Zulfikar, pedang pemberian Rasulullah yang amat disayanginya itu,  Ali dapat melumpuhkan musuhnya.

Sementara dalam perang Khaibar, perang melawan Yahudi dimana mereka bertahan di dalam benteng bernama Khaibar, Nabi saw bersabda:

“Besok, akan aku serahkan bendera kepada seseorang yang tidak akan melarikan diri, dia akan menyerang berulang-ulang dan Allah akan mengaruniakan kemenangan baginya. Allah dan Rasul-Nya mencintainya dan dia mencintai Allah dan Rasul-Nya”.

Esoknya, “Panggilkan Ali untukku”, lalu Ali datang dengan matanya yang sakit, kemudian Rasulullah mengusap kedua mata tersebut dengan ludah beliau saw., lalu memberikan panji kepadanya.

Maka, seluruh sahabat yang tadinya berangan-angan mendapatkan kemuliaan tersebut terdiam. Ali yang bernama asli Haydar, singa dalam bahasa Arab, akhirnya memimpin pertempuran sengit tersebut hingga pasukan Muslimpun mencapai kemenangan gemilang.

Dalam perjanjian Hudaibiyah, perjanjian antara kaum Muslimin dan kaum Musrikin Mekah, Rasulullah memerintahkan Ali sebagai juru tulis, mewakili kaum Muslimin. Ketika Rasulullah mendiktekan Ali kalimat “Bismillahir rahmanir rahim”, Suhail bin Amr, wakil dari Musyirikn Mekah, langsung menyela “ Ar-Rahman, demi Allah aku tidak tahu siapa dia. Karena itu, tulislah ‘Bismika Allahumma”. Berikut petikan kisah yang tercatat dalam hadist riwayat Muslim,

« Tulislah syarat antara kami dengan mereka dengan Bismillahirrahmanirrahim, ini adalah hasil keputusan yang ditetapkan oleh Muhammad Rasulullah. Maka orang-orang Musyrik berkata kepada beliau,  “ Sekiranya kami mengetahui kalau kamu adalah Rasulullah, niscaya kami akan mengikutimu, akan tetapi tulislah Muhammad bin Abdullah”Lalu beliau menyuruh Ali supaya menghapusnya, namun Ali berkata, “Demi Allah, aku tak akan menghapusnya”. Kemudian Rasulullah bersabda: « Beritahukanlah kepadaku tempat yang kamu tulis tadi ».

Ali bin Abi Thalib tak diragukan lagi adalah sosok yang patut menjadi panutan. Tidak hanya keberanian dan kepiawaiannya dalam berperang namun terlebih lagi karena ketakwaan dan ke-zuhud-annya, seperti juga akhlak sebagian sabahat, karena memang begitulah yang dicontohkan Rasulullah saw. Apalagi Ali yang sejak kecil telah tinggal bersama nabi, menjadi bukti betapa suasana dan didikan rumah kenabian telah begitu dalam tertancap di lubuk sanubarinya.

Dikisahkan suatu hari, Ali mendengar kabar bahwa telah datang ke Madinah sejumlah tawanan perang. Maka Alipun datang memohon kepada Rasulullah agar diberi satu diantara mereka agar dapat membantu meringankan pekerjaan Fatimah, sang istri tercinta, yang terlihat sangat lelah mengerjakan pekerjaan sehari-harinya. Sementara Ali sendiri sibuk bekerja di perkebunan sebagai pemetik kurma untuk menafkahi keluarganya.

Namun ternyata Rasulullah tidak berkenan mengabulkan permohonan tersebut. Beliau malah menasehati pasangan muda tersebut agar bersabar menghadapi kesulitan kehidupan dunia. Karena yang demikian justru bisa mendekatkan diri pada Allah Azza wa Jalla. Dan sebagai gantinya Rasulullah bersabda: “Sebelum tidur, bacalah Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali dan Allahuakbar 33 kali. Yang demikian akan lebih baik daripada seorang pelayan”.(HR.Bukhari).

Dari Ali pula muncul aneka ajaran tarekat dan sufisme yang memang menomer-satukan kesederhanaan, hidup jauh dari kemewahan duniawi dan materialisme. Ali memilih tidur di atas pasir tanpa alas dan mengenakan pakaian yang terbuat dari goni sebagai cara hidupnya. Suatu hari Ali berkata : “Oh dunia, enyahlah kau dari penglihatanku. Oh dunia, kau tidak akan mampu membuatku tertipu, pergilah mencari orang lain ! ».

Kaum sufi menyebut “Karamallahu wajhah” di belakang nama Ali, yang artinya semoga Allah memuliakan wajahnya, karena Ali pernah bersumpah tidak akan menggunakan wajahnya untuk melihat hal-hal yang buruk. Sementara orang-orang Syiah memilih sebutan “Alaihi salam” di belakang nama Ali sebagaimana penyebutan para nabi, karena mereka beranggapan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah nabi. Sedangkan kaum Sunni menambah sebutan “ Radiaallahu anhu ( ra)” di belakang nama Ali sebagaimana penghormatan terhadap ke 3 Khulafaul Rashidin lainnya, yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Ustman bin Affan.

Patut diketahui, Ali bin Abi Thalib di mata Rasulullah memang memiliki kedudukan istimewa. Ini terbukti dari  hadist shahih riwayat Bukhari, juga Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad, seperti berikut ini :

Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah dari Al Hakam dari Mush’ab bin Sa’ad dari bapaknya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menugasi Ali bin Abi Thalib untuk menjaga kaum muslimin ketika terjadi perang Tabuk.” Ali berkata; “Ya Rasulullah, mengapa engkau hanya menugasi saya untuk menjaga kaum wanita dan anak-anak?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Tidak inginkah kamu hai Ali memperoleh posisi di sisiku seperti posisi Harun di sisi Musa, padahal sesudahku tidak akan ada nabi lagi?”. (HR. Shahih Bukhari 4064, Shahih Muslim 4/1870).

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.(Terjemah QS.Al-Ahzab(33):40).

Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah ter-putus, maka tidak ada rasul dan nabi sesudahku.”. (HR. Turmudziy).

Ironisnya, keistimewaan ini di kemudian hari justru membawa petaka. Dan Rasulullah pernah memperingatkan hal ini. ( dari “Ali bin Thalib, Le heroes de la chevalerie” karya Recit Haylamaz).

“ Ya Ali, nasibmu kelak akan seperti Isa bin Maryam, dimana sebagian umat Yahudi membangkang dan melontarkan fitnah kejam terhadap ibunya, sementara sebagian umat Nasrani secara berlebihan memujanya hingga di luar batas”. ( al-Baihaqi, as-Sunnanu’l-Kubra, 5/137(8488).)

( Bersambung).

Wallahu’alam bis shawwab.

Jakarta, 18 Oktober 2025.

Vien AM.

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfa’at kepadanya? “. (Terjemah QS.Abasa (80):1-4).

Ayat diatas turun di Mekkah sebelum hijrahnya Rasulullah saw. Ketika itu Rasulullah sedang menghadapi sekelompok pemuka Quraisy untuk menyampaikan ajaran Islam. Tiba-tiba datang seorang buta mendekati Rasulullah dan terus menanyakan sesuatu.

Tentu saja Rasulullah merasa terganggu karena Rasulullah sangat berharap para pemuka Quraisy itu mau mendengar paparan beliau mengenai Islam kemudian memeluk Islam dan memerintahkan kaumnya untuk mengikutinya. Tak heran ketika kemudian Rasulullah menanggapi orang tersebut dengan muka yang masam.

Namun ternyata Allah swt menegurnya melalui ayat 1-4 di atas. Dapat dibayangkan betapa terkejutnya Rasulullah. Pada ayat 3 di atas Allah swt menerangkan bahwa pemuda buta tersebut datang menemui Rasulullah untuk mempelajari Islam demi untuk membersihkan diri/hati dari segala dosa.   Rasulullahpun segera menyadari kekhilafan beliau. Membersihkan hari adalah hal yang sangat penting bahkan termasuk pokok Islam.

Rasulullah bersabda, “… Ketahuilah sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal darah. Apabila dia baik, maka menjadi baik pula semua anggota tubuhnya. Dan apabila rusak, maka menjadi rusak pula semua anggota tubuhnya. Ketahuilah dia itu adalah hati.’” (Muttafaq ‘alaihi)

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat”. ( Terjemah QS.Al-‘Ala(87):14-15).

Siapa sebenarnya pemuda buta yang dimaksud Allah swt pada surat Abasa diatas?? Ia adalah Abdullah bin Ummi Maktum, anak dari saudari Khadijah binti Walid, istri Rasulullah saw. Tidak banyak kisah tentang keponakan Rasul yang buta sejak lahir tersebut.

Namun sejak memeluk Islam ia dikenal sebagai pribadi yang taat. Buta tidak menjadi penghalang baginya untuk berperang menghadapi musuh-musuh Islam. Pada perang  Qadariyah yang dipimpin panglima Saad bin Abi Waqqash, ia menjadi salah satu pemegang panji Islam. Dengan membawa bendera hitam dan memakai baju perang Abdullah berperang dengan gagah berani. Namun setelah kepulangannya dari peperangan tersebut, di Madinah ia wafat.

Hebatnya lagi, Abdullah bin Ummi Maktum ternyata tidak hanya ditakuti musuh nyata tapi juga oleh Iblis. Diriwayatkan ketika  Abdullah bin Ummi Maktum dalam perjalanan menuju masjid, ia tersandung batu hingga terluka dan mengeluarkan darah yang cukup banyak. Akan tetapi Abdullah tetap melangkahkan kaki ke masjid.

Menariknya, setelah kejadian tersebut setiap hari ada orang yang selalu membantunya berjalan menuju masjid. Beberapa kali Abdullah menanyakan nama orang tersebut dengan maksud agar dapat ia mendoakannya. Namun tidak pernah dijawab. Hingga suatu hari orang tersebut menjawab, “Wahai Abdullah Ummi Maktum, ketahuilah sesungguhnya aku adalah Iblis.”

Abdullah tersentak, “Kalau memang iblis, mengapa engkau menolong dan mengantarku ke masjid? Bukankah seharusnya engkau mencegahku ke sana?”

Iblispun menerangkan bahwa ialah yang suatu hari menjegalnya hingga jatuh dan terluka, dengan harapan Abdullah membatalkan niatnya shalat di masjid. Namun nyatanya tidak. Oleh sebab itu Allah mengampuni separuh dosa Abdullah. Maka sejak itu ia bersumpah akan menjaganya agar tidak terjatuh karena khawatir Allah swt akan mengampuni dosanya yang separuh lagi. “ Maka, sia-sialah kami setan menggodamu selama ini,” lanjut iblis tersebut.

Selain diberi tugas Rasulullah sebagai muadzin Abdullah bin Ummi Maktum juga pernah mendapat kehormatan menjadi imam shalat, yaitu ketika Rasulullah berperang bersama sahabat yang lainnya. 

Kebersihan hati itulah kekuatan Abdullah bin Ummi Maktum. Buta matanya tidak menghalangi kemampuannya untuk melihat kebenaran. Yaitu melalui kebersihan hati yang telah dimilikinya sebelum Islam datang dan mengantarkannya melihat keindahan ajaran ini. Bagi Abdullah tidak ada yang lebih penting dan lebih indah daripada menemui Sang Khalik di surgaNya. Itu sebabnya tidak ada sedikitpun rasa takut mati dalam hatinya.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 30 Juli 2025.

Vien AM.

Kehidupan pernikahan.

Allah swt menganugerahi pasangan muda tersebut dua orang putra yaitu Hasan dan Husein, dan dua orang putri yaitu Zainab dan Ummu Kultsum. Keluarga tersebut hidup bahagia meski dalam kemiskinan. Fatimah tidak pernah mengurangi rasa hormat dan cintanya kepada sang suami. Kesetiaan dan perhatian yang ia berikan menggambarkan betapa ia menghargai peran Ali sebagai pemimpin keluarga.

Ada sebuah kisah menarik ketika suatu hari Fathimah menemui ayahnya untuk meminta bantuan. Ia tahu bahwa ayahnya sering memberikan tawanan perang kepada para sahabat untuk dijadikan sebagai pelayan rumah tangga. Fathimah yang merasa kelelahan karena banyak pekerjaan dan tugas rumah tangga yang harus dilakukan, berharap agar ayahnya berkenan memberinya pula seseorang yang dapat membantunya menyelesaikan pekerjaan di rumah.

Namun apa jawaban sang ayah ?? Alih-alih memberinya pelayan, Rasulullah malah mengajarkan putri tercintanya itu dzikir untuk dibaca di malam hari sebagai berikut:

Maukah kalian berdua aku ajari apa yang lebih baik dari apa yang kalian berdua minta kepadaku, jika kalian berdua hendak tidur, bertakbirlah tiga puluh empat kali, bertasbihlah tiga puluh tiga kali dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali, ia lebih baik bagi kalian berdua daripada pembantu.

Sebagai seorang ibu, tidak ada yang mampu menyangkal bahwa Fathimah adalah seorang ibu yang patut diteladani. Dengan kelembutannya ia membesarkan dan mendidik putra-putrinya. Ia menanamkan sikap qana’ah atau rasa cukup. Ia mengajarkan nilai-nilai keutamaan yang lebih berharga daripada harta, sehingga mereka tumbuh menjadi generasi yang teguh dalam iman dan akhlak. Di kemudian di hari terbukti ke empat putra-putrinya tercatat sebagai pribadi-pribadi yang mengagumkan.

Anak pertama yaitu Hasan, setelah sempat 6 bulan menggantikan ayahnya sebagai khalifah, memilih mengundurkan diri dari kedudukan tertinggi dari dunia Islam tersebut. Hal ini demi mencegah pertumpahan darah antar sesama umat Islam. Adik Hasan yaitu Husain, dikenal sebagai simbol keberanian dan keteguhan dalam membela kebenaran. Husain syahid dalam tragedi Karbala yang mengenaskan.

Sementara anak ke tiga, Zainab, dikenal sebagai perempuan  pemberani yang memainkan peran penting setelah tragedi Karbala. Dengan lantang ia menyuarakan kebenaran dan membongkar kezaliman Bani Umayyah di pengadilan Yazid bin Muawiyah. Selanjutnya bungsu Ummu Kultsum yang merupakan istri khalifah Umar bin Khattab dikenal sebagai seorang yang juga memiliki peran penting dalam menjaga warisan keluarga Rasulullah SAW.

Suatu hari Fathimah mendapat kabar bahwa suaminya telah meminang salah seorang putri Abu Jahal. Abu Jahal adalah seorang yang sangat memusuhi Islam dan Rasulullah.  Oleh sebab itu ketika Fathimah mengadukan hal tersebut Rasulullahpun terdiam kemudian bersabda: “Demi Allah tidak akan berkumpul putri Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam dan putri musuh Allah pada satu orang lelaki”.

Fathimah adalah bagian dari diriku, barang siapa yang menyakitinya maka ia telah menyakitiku”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mendengar itu Ali segera membatalkan lamarannya. Maka hingga akhir hayatnya Fathimah tetap menjadi satu-satunya istri Ali bin Abi Thalib. Anehnya orang-orang Syiah menjadikan hadist tersebut sebagai dalil bahwa Fathimah adalah seorang yang maksum ( tidak pernah melakukan kesalahan). Mereka mengartikan bahwa jika Fathimah sakit hati tidak saja Rasulullah yang sakit tapi juga Allah swt. Mereka menggunakan hadist tersebut untuk menyerang khalifah Abu Bakar ketika terjadi permasalah antara sang khalifah dengan Fathimah mengenai hal waris. Padahal itupun akhirnya telah selesai dengan baik.       

Fathimah dan wafatnya Rasulullah.

Fathimah adalah satu-satunya putri Rasulullah yang menjadi saksi wafatnya sang ayah tercinta. Ketika sakit Rasulullah makin hari makin bertambah Fathimah setiap hari datang menjenguk. Setiap kali datang menjenguk, diciumnya putri kesayangan tersebut. Namun ketika sakit Rasul makin berat, Fathimahlah yang mencium ayahnya tercinta.

Selamat datang, puteriku“, sambut Rasul. Dengan wajah menahan duka Fathimahpun duduk disamping ayahnya. Tak lama kemudian Rasul membisikkan sesuatu ke telinga Fathimah. Seketika Fathimah tertawa. Wajahnya langsung berubah cerah. Tetapi beberapa saat kemudian setelah  Rasulullah kembali membisikan sesuatu, Fathimahpun menangis sedih.

Aisyah kemudian bertanya, apa yang dikatakan ayahnya itu. Fatimah hanya menjawab pendek : ”Aku tidak akan membuka rahasia ayahku “.

Di kemudian hari, setelah Rasulullah wafat, Fathimah mengatakan, bahwa ayahnya membisikkan kata  bahwa dirinya adalah orang pertama dari pihak keluarga yang akan menyusul Rasulullah wafat. Itu sebabnya ia tertawa. Selanjutnya ketika Rasulullah berbisik bahwa beliau akan wafat disebabkan  sakitnya itu, iapun tak tahan untuk tidak menangis.

Enam bulan kemudian Fathimah wafat. Ia wafat pada tahun 11 Hijriyah pada bulan Ramadan kemudian dimakamkan di pemakaman Baqi’ di Madinah.

Kisah hidup  Fathimah Az-Zahra yang dipenuhi dengan tantangan dan pengorbanan, mengajarkan kita makna sejati dari keberanian, kesederhanaan, dan kasih sayang. Ia tidak hanya diingat sebagai putri Rasulullah Muhammad SAW, tetapi juga sebagai seorang pribadi yang mencerminkan cinta, keadilan, dan komitmen pada kebenaran.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 7 Juni 2025.

Vien AM.

Fathimah Az-Zahra adalah putri bungsu, putri ke 4 dari 6 bersaudara yang lahir dari rahim seorang perempuan mulia  Khadijah ra, istri tercinta Rasulullah Muhammad SAW. Putri Rasulullah ini makin istimewa kedudukannya di hati kaum Muslimin karena ia juga adalah istri dari Ali bin Abi Thalib, salah satu sahabat dekat dan sepupu Rasulullah.  

Sebaik-baik wanita penghuni surga adalah Khadijah binti Khuawilid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah binti Muzahim, istrinya Fir’aun.” (HR. Ahmad)

Fathimah lahir di Makkah pada sekitar tahun 605 Masehi dan wafat pada tahun 632 Masehi di Madinah. Fathimah memiliki akhlak dan kepribadian yang sangat mulia.  Ia adalah seorang yang rendah hati, murah hati dan penuh kasih sayang. Terhadap orang miskin ia sangat peduli dan selalu berusaha untuk membantu.  

Masa Kecil.

Sejak kecil Fathimah dikenal mampu mengisi rumah Rasulullah SAW dengan kegembiraan dan keceriaan. Tak salah bila sang ayah memberinya julukan az-Zahra yang artinya yang selalu harum berseri layaknya sekuntum bunga, meski sebenarya ia tumbuh dalam keadaan yang sulit.

Fathimah yang lahir tak lama setelah ayahnya diangkat menjadi Rasul, sejak kecil menyaksikan perjuangan dakwah Islam di Makkah yang penuh dengan pengorbanan dan tantangan. Ia bahkan melihat sendiri bagaimana pamannya sendiri memusuhi Islam dan ayahnya.

Fathimah yang ketika itu baru berusia 7 tahun begitu gusar, sedih dan kecewa melihat kepala ayahnya tercinta dilumuri kotoran unta ketika sedang sujud dalam shalatnya di depan Ka’bah.  Ia segera berlari mendekati ayahnya untuk membersihkan kotoran tersebut lalu dengan penuh keberanian menghampiri kerumunan dimana paman berada dan memarahi pamannya tersebut.

Fathimah kecil bersama ibu dan 3 kakak perempuannya juga menjadi saksi sekaligus korban boikot sosial dan ekonomi yang dilakukan orang-orang Quraisy terhadap bani Hasyim, bani Muthalib dan  pengikut Rasulullah yang waktu itu masih sangat sedikit jumlahnya. Boikot ini terjadi pada tahun ke-7 kenabian tak lama setelah Umar bin Khattab yang merupakan pemuka Quraisy, memeluk Islam. Itu sebabnya para pemuka Quraisy makin kesal melihat perkembangan Islam.  

Selama kurang lebih 3 tahun mereka dikucilkan dari pergaulan dan dipaksa tinggal di sebuah celah bukit sempit di Mekah. Selama itu pula demi mempertahankan hidup mereka terpaksa memakan dedaunan kering dan kulit pepohonan.

Memasuki bulan Muharram tahun ke-10 kenabian, warga Makkah mulai kasihan terhadap mereka dan merasa tindakan Abu Lahab dan kawan-kawan sudah di luar batas kemanusiaan. Pada saat yang sama naskah boikot yang digantung para pemuka Quraisy pada dinding Ka’bah koyak. Tampak bahwa Allah SWT telah mengutus pasukan rayap untuk memakan lembar perjanjian yang dazlim tersebut. Sayang tak lama boikot usia, Fathimah harus kehilangan sang ibu tercinta yang telah berusia 80 tahun. Tak lama kemudian  Allah swt memerintahkan umat Islam untuk hijah ke Madinah.

Keadaan ini membentuk Fathimah menjadi sosok perempuan yang tangguh, kuat, dan penuh kesabaran. Kepedulian dan perhatian Fatimah kepada ayahnya mencerminkan rasa cinta yang mendalam serta keteguhannya dalam mempertahankan kebenaran yang diajarkan oleh ayahnya.

Meski hidup dalam keterbatasan dan jauh dari kemewahan, Fatimah tetap bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah SWT. Kesabarannya dalam menghadapi kesulitan hidup menjadikannya teladan yang luar biasa bagi umat Muslim, mengajarkan bahwa kekuatan iman dan rasa syukur adalah kunci dalam menjalani kehidupan.

Fathimah dan Lamaran.

Ali bin Abi Thalib telah mengenal Fathimah sejak kecil karena Ali sejak kecil memang tinggal bersama pamannya itu. Fathimah dikenal sebagai sosok anak yang sangat berbakti kepada orang tua. Ali terketuk pertama kali saat Fathimah dengan sigap membasuh dan mengobati luka ayahnya yang luka parah karena berperang. Sejak itu ia bertekad akan menikahinya. Namun demikian ia berusaha menjaga hati dan pandangannya hingga Fathimah tidak menyadarinya.

Ketika keduanya beranjak dewasa, Ali berniat menghadap Rasulullah SAW untuk melamar Fathimah. Namun terbesit sedikit keraguan karena menyadari ia hanyalah pemuda miskin yang tidak memiliki sesuatu yang berharga untuk maharnya.

Di tengah kebimbangannya, terdengar kabar bahwa Abu Bakar RA mengajukan lamaran kepada Rasulullah SAW untuk Fathimah. Kemudian disusul pula oleh Umar bin Khattab RA yang juga datang untuk melamar sang putri tercinta.

Namun tanpa disangka secara halus ternyata Rasulullah menolak lamaran kedua sahabatnya tersebut. Tak dapat disangkal Ali merasakan adanya kesempatan emas baginya. Apalagi ketika  seorang temannya berkata, “Mengapa kamu tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, kamulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.”

Akhirnya Alipun memberanikan diri menemui Rasulullah. Siapa  tahu Rasulullah berkenan menerima baju besi senilai 400 dirham, sebilah pedang dan seekor unta yang dimilikinya itu sebagai mahar, begitu ia berpikir menenangkan diri.

Betapa leganya Ali begitu mengetahui Rasulullah hanya tersenyum. Rupanya Rasulullah mengetahui bahwa kemenakannya itu telah lama mencintai putrinya. Tentang mahar, setelah Rasulullah mengetahui bahwa Fathimah bersedia menerima lamaran Ali, beliau berkata, “Tentang pedangmu, kamu tetap memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah SWT, dan untamu kamu perlukan untuk mengambil air bagi keluargamu serta untuk perjalanan jauh. Karena itu, aku akan menikahkan kamu dengan mahar baju besi. Wahai Ali, kamu wajib bergembira karena Allah SWT sebenarnya sudah lebih dulu menikahkan kamu di langit sebelum aku menikahkanmu di bumi ini.”

(Bersambung).

Jakarta, 25 Mei 2025.

Vien AM.

Umar dan Surga.

Diriwayatkan dari Sa’id bin Zain bin Amr bin Nufail, Rasulullah saw bersabda, “Ada sepuluh orang dari kaum Quraisy yang akan berada di surga. Aku di surga, Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, az-Zubair di surga, Thalhah di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Sa’d bin Abi Waqash di surga,” Sa’id pun berhenti sejenak, hingga para sahabat yang menyimak bertanya, “Siapa yang kesepuluhnya?” Sa’id pun menjawab, “Aku.”

Diriwayatkan dari Said bin al-Musayyib bahwa Abu Hurairah berkata, ketika kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

“Sewaktu tidur aku bermimpi seolah-olah aku sedang berada di surga. Kemudian aku melihat seorang wanita sedang berwudhu di sebuah istana (surga), maka aku pun bertanya, ‘Milik siapakah istana ini?’ Wanita-wanita yang ada di sana menjawab, ‘Milik Umar.’ Lalu aku teringat dengan kecemburuan Umar, aku pun menjauh (tidak memasuki) istana itu.” Umar radhiallahu ‘anhu menangis dan berkata, “Mana mungkin aku akan cemburu kepadamu wahai Rasulullah.”

Meski telah dijamin masuk surga tidak berarti Umar lengah dan bersantai-santai dengan perbuatannya. Bukti-bukti begitu banyak akan keseriusan Umar dalam hal tersebut. Salah satu mengapa ia begitu serius dalam menjalankan pemerintahan tak lepas dari hadist berikut,

“Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Muhammad SAW, ia bersabda, ‘Ada tujuh kelompok orang yang dinaungi oleh Allah pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang mengisi hari-harinya dengan ibadah, seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah di mana keduanya bertemu dan berpisah karena Allah, seorang yang dibujuk berzina oleh lawan jenis yang berpangkat dan rupawan lalu menjawab, ‘Aku takut kepada Allah,’ seseorang yang bersedekah diam-diam sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanannya, dan seseorang yang berzikir di kesunyian dengan menitikkan air mata,’” (HR Bukhari dan Muslim).

Juga kisah betapa sang khalifah mencari Uwais Al-Qarni, seorang pemuda biasa, demi mendapatkan doa darinya. Hal ini dilakukan karena Umar pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Apabila kalian bertemu dengan Uwais Al-Qarni, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan bumi. Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya.”

Dikisahkan dari hadis Riwayat Muslim dari Ishak bin Ibrahim, Uwais Al-Qarni adalah seorang pemuda fakir dan yatim, yang tinggal di negeri Yaman. Ia hidup pada zaman Rasulullah, bersama ibunya yang lumpuh dan buta. Sedangkan Uwais sendiri mempunyai penyakit sopak, penyakit semacam kekurangan pigmen yang membuat kulit sekujur tubuhnya belang-belang. 

Uwais bekerja sebagai penggembala domba dengan hasil usaha yang hanya cukup untuk makan ibunya sehari-hari. Namun demikian Uwais dikenal seorang yang taat beribadah dan sangat patuh pada ibunya. Bahkan demi memenuhi keinginan ibunya berhaji ia rela membopong ibunya dari Yaman ke Mekah. Selanjutnya sepulang haji Allah swt memberi kesembuhan penyakit sopaknya. Yang tertinggal hanya tanda putih di telapak tangannya.

Namun ada satu hal yang sangat didambakannya  yaitu bertemu Rasulullah yang amat dicintainya. Yang saking cintanya ketika mendengar gigi Rasulullah patah karena dilempari batu oleh kaum Thaif yang enggan diajak dalam dakwahnya, Uwaispun segera mematahkan giginya dengan batu. 

Hingga suatu hari karena rindu yang tak tertahankan, ia mendekati ibunya, memohon izin agar diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah. Ibunyapun mengizinkannya. Sayang ketika Uwais tiba di Madinah, Rasulullah sedang bepergian dan hanya bertemu umirul mukminin Aisyah ra. Ia sangat ingin menunggu namun teringat pesan ibunya agar tidak berlama-lama meninggalkannya dan cepat kembali ke Yaman. Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, Uwais memutuskan untuk pulang dan mengubur keinginan menggebunya berjumpa Rasulullah.

Sementara itu Umar tidak pernah melupakan pesan Rasulullah tentang Uwais. Setiap datang rombongan kafilah dagang dari Yaman Umar selalu menanyakan  keberadaan Uwais. Umar baru menemukan Uwais setelah beberapa waktu menjadi khalifah. Dan berkat tanda di tapak tangan yang disisakan Allah swt, Umar dapat mengenalinya dan memohonnya agar mau mendoakan dan mintakan ampunan Allah untuk dirinya. Umar tidak pernah merasa lebih baik dari pemuda biasa.     

Syahidnya Umar.

Umar wafat pada bulan Muharram tahun 644 M setelah 10 tahun berkuasa. Ia ditikam menjelang siap mengimami shalat Subuh di masjid tempat ia biasa shalat, di Madinah. Pembunuhnya adalah Abu Lukluk, orang Persia yang dibawa ke Madinah paska penaklukkan Persia. Padahal selama itu Umar memperlakukannya dengan sangat baik meski ia seorang budak. Abu Lukluk melarikan diri setelah menikam Umar sambil menikam siapa saja yang menghalanginya, hingga mengenai 13 jamaah, 7 diantaranya meninggal. Ada sumber yang mengatakan setelah itu ia bunuh diri dengan cara menikamkan belati beracun yang sama ke tubuhnya sendiri.     

Pembunuhan tersebut dilatar-belakangi rasa sakit hati atas kekalahan Persia yang kala itu merupakan negara adidaya. Namun sebagian sumber menyatakan pembunuhan tersebut adalah konspirasi yang dirancang musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi dan Persia. Diantaranya adalah Hormuzan, mantan panglima Persia yang masuk Islam di hadapan khalifah Umar paska kekalahan pasukannya, kemudian ia menetap di Madinah.   

Ubaidillah putra Umar kemudian membunuhnya sebagai balas kematian ayahnya. Namun ternyata tidak semua sahabat menyetujui perbuatan Ubaidillah, termasuk Ali bin Abi Thalib. Meski  sebenarnya kesaksian dari Abdur-Rahman bin Abu Bakar dan Abdur-Rahman bin Auf cukup untuk membela perbuatan Ubaidillah. Anehnya lagi, pemeluk Syiah, hingga detik ini, malah menjadikan si pembunuh sebagai pahlawan. 

Peristiwa pembunuhan Umar telah diprediksi Rasulullah dalam hadist berikut: “Nabi saw naik ke Uhud bersamanya Abu Bakar, Umar dan Utsman. Tiba-tiba gunung berguncang. “Tenanglah Uhud!”, lalu nabi menghentakkan kakinya, “Tidaklah di atasmu melainkan seorang Nabi, As-Siddiq dan dua orang syahid.” (HR Bukhari).

Dua orang syahid tersebut adalah Umar bin Khattab dan Ustman bin Affan, khalifah pengganti Umar. Umar sendiri pernah berdoa memohon agar ia mati syahid di tanah Arab.

Umar dikebumikan disamping makam Rasulullah dan Abu Bakar di Raudhah setelah mendapatkan izin dari umirul Mukminin Aisyah ra, yang sebenarnya menginginkan tempat terhormat tersebut untuk dirinya sendiri.

Umar meninggalkan wasiat agar kekhalifahan diambil dari hasil musyawarah 6 sahabat pilihan yaitu Ustman bin Affan, Ali bin Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurahman bin Auf serta Saad bin Waqqash.  Dan ternyata musyawarah memutuskan Ustman bin Affan sebagai khalifah ke 3, menggantikan Umar. Dunia Islam sungguh berduka atas kehilangan khalifah yang amat dicintai dan dihormati seluruh rakyatnya itu.  

Diriwayatkan dari Ibnu Mulaikah, dia pernah mendengar Abdullah bin Abbas berkata, “Umar radhiallahu ‘anhu ditidurkan di atas kasurnya (menjelang wafatnya), dan orang-orang yang berkumpul di sekitarnya mendoakan sebelum dipindahkan, ketika itu aku hadir di tengah orang-orang tersebut. Aku terkejut tatkala seseorang memegang kedua pundakku dan ternyata ia adalah Ali bin Abi Thalib. Kemudian Ali berkata (memuji dan mendoakan Umar seperti orang-orang lainnya), “Engkau tidak pernah meninggalkan seseorang yang dapat menyamai dirimu dan apa yang telah engkau lakukan. Aku berharap bisa menjadi sepertimu tatkala menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demi Allah, aku sangat yakin bahwa Allah akan mengumpulkanmu bersama dua orang sahabatmu (Rasulullah dan Abu Bakar)”.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 30 Desember 2024.

Vien AM.