Feeds:
Posts
Comments

Pada tahun ke 3 hijriyah, beberapa utusan dari kabilah ‘Udal dan Qarah mendatangi Rasulullah saw. Mereka mengabarkan bahwa mereka telah mendengar tentang Islam . Untuk itu mereka  meminta Rasulullah agar mengirim utusan supaya mereka bisa mempelajari Islam dengan lebih baik lagi.

Maka Rasulullahpun mengutus 10 sahabat untuk memenuhi permintaan tersebut. Rasulullah menunjuk Ashim bin Tsabit sebagai amir mereka.  Namun di suatu tempat di antara ‘Usfan dan Mekkah, kelompok kecil ini diintai oleh sekitar 100 pemanah dari bani Lihyan.  Mengetahui hal tersebut, Ashim segera memerintahkan teman-temannya agar segera berlindung ke sebuah bukit kecil di sekitar daerah tersebut.

Sebenarnya Ashim dan kawan-kawan berhasil mengelabui pasukan pemanah Musryik tersebut. Namun Allah swt berkehendak lain. Biji-biji kurma Madinah, bekal yang mereka bawa dari Madinah dan  tercecer di sepanjang perjalanan, memberi petunjuk keberadaan rombongan Ashim. Akhirnya ke sepuluh sahabat itupun terkejar.

“ Kami berjanji tidak akan membunuh seorangpun diantara kalian jika kalian menyerah”, teriak salah seorang Musyr ik  yang mengepung mereka.

“ Kami tidak akan menerima perlindungan orang kafir. Ya Allah, sampaikan berita kami kepada Nabi-Mu”, balas Ashim tegar.

Maka rombongan Musyrik itupun menyerang dan berhasil membunuh Ashim dan 6 sahabat lain hingga tinggallah Khubaib bin Adi, Zaid bin Datsinah dan seorang sahabat. Orang-orang musyrik itu kemudian menangkap dan mengikat ketiganya.

Namun sahabat yang tidak diketahui namanya itu kemudian memberontak sambil berteriak : “ Ini adalah pengkhianatan pertama !” serunya sambil berusaha melawan. Maka syahidlah ia. Selanjutnya Khubaib dan Zaid dibawa ke Mekah dan dijual sebagai budak.

Sementara itu, bani al-Harits yang selama ini menyimpan dendam kesumat terhadap Khubaib mendengar berita tertangkapnya Khubaib. Rupanya nama Khubaib  telah mereka hafal luar kepala karena Khubaiblah yang membunuh  Harits bin Amir, seorang pemuka Mekah, pada perang Badar. Maka dengan penuh antusias Khubaibpun mereka beli.

Maka jadilah Khubaib bulan-bulanan seluruh anggota al-Harits. Setiap hari sahabat Anshar  yang dikenal bersifat bersih, pemaaf, teguh keimanan dan taat beribadah ini harus menerima siksaan. Hingga suatu hari salah seorang putri keluarga tersebut berteriak terkejut , memberitakan bahwa budak sekaligus tawanan mereka sedang santai dan tenang-tenang memakan buah anggur. Padahal buah tersebut sedang tidak musim di Mekah dan Khubaibpun diikat tangannya dengan rantai besi!

“ … … … . Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab”.(QS.Ali Imran(3):37).

Ya itulah yang terjadi pada diri Khubaib, hamba Allah yang senantiasa bertasbih pagi dan petang, mendirikan shalat di malam hari dan berpuasa di setiap siangnya. Khubaib tidak pernah putus asa dari mengharap pertolongan dan perlindungan Sang Khalik.

Mengetahui hal ini, dengan tujuan untuk menakuti-nakuti, keluarga al-Harits segera menceritakan bahwa saudara sekaligus sahabat Khubaib, Zaid yang juga dibeli keluarga Mekah lainnya, telah dieksekusi. Ia telah dibunuh dengan cara ditusuk tombak dari lubang dubur hingga tembus ke dadanya ! Astaghfirullah halladzim ..

Namun berita kejam nan sadis ini ternyata tidak berhasil membuat hati Khubaib ketakutan apalagi berpaling dari keimanannya.  Sebaliknya hal ini justru membuat dirinya lebih pasrah terhadap ketentuan-Nya. Akhirnya keluarga al-Haritspun putus asa. Mereka memutuskan untuk segera mengeksekusi tawanannya yang tegar itu.

Namun sebelum eksekusi dijalankan, Khubaib memohon agar diperbolehkan melakukan shalat terlebih dahulu. Maka shalatlah Khubaib 2 rakaat. Usai shalat, Khubaib menoleh kepada para algojo yang mengawasinya sambil berkata : “Seandainya bukan karena dikira takut mati, maka aku akan menambah jumlah rakaat shalatku”. Inilah shalat sunnah pertama yang dilakukan seorang Muslim ketika akan menghadapi kematian.

Kemudian Khubaib melantunkan sebuah puisi :

Mati bagiku tak menjadi masalah

Asalkan ada dalam ridla dan rahmat Allah

Dengan jalan apapun kematian itu terjadi

Asalkankerinduan kepada-Nya terpenuhi

Kuberserah menyerah kepada-Nya

Sesuai dengan taqdir dan kehendak-Nya

Setelah itu Khubaibpun disalib pada sebuah tiang. Lalu tanpa sedikitpun rasa belas kasih pasukan pemanah menghujaninya dengan anak panah.  Dalam keadaan demikian,   seorang pemuka Quraisy menghampirinya dan berkata : “ Sukakah engkau bila Muhammad menggantikanmu sementara kau sehat walafiat bersama keluargamu?” .

“ Demi Allah, tak sudi aku bersama anak istriku selamat menikmati kesenangan dunia sementara Rasulullah terkena musibah walau oleh sepotong duri !”, jawabnya sontak, seolah tersengat aliran listrik ribuan watt.  Sebuah jawaban yang persis dikatakan Zaid menjelang kematiannya.

“ Demi Allah, belum pernah aku melihat manusia lain, seperti halnya sahabat-sahabat Muhammad terhadap Muhammad “, itu yang dikatakan Abu Sufyan suatu hari mengenai para sahabat.

Maka tanpa ampun lagi, pedang sang algojopun menghabisi  Khubaib. Namun sebelumnya, Khubaib sempat berucap kepada Tuhannya: “

“Ya Allah kami telah menyampaikan tugas dari Rasul-Mu, maka mohon disampaikan pula kepadanya esok, tindakan orang-orang itu terhadap kami “.

Setelah itu orang-orang  Musryik meninggalkan tubuh Khubaib dalam keadaan tetap tersalib di tiangnya. Sementara  burung-burung buas pemangsa yang sejak tadi telah berputar-putar menanti mangsanya tiba-tiba juga meninggalkannya. Rupanya Sang Khalik tidak ridho hamba-Nya yang taat itu menjadi mangsa burung-burung.

Demikian pula doa yang dipanjatkan seorang hamba kepada Sang Pemilik dalam keadaan pasrah dan ridho pada ketetapan-Nya. Tampak jelas bahwa Sang Khalik tidak tega menolaknya. Itu sebabnya, Rasulullah yang ketika itu berada di Madinah secara mendadak mengutus Miqdad bin Amar dan Zubair bin Awwam untuk segera menyusul   ke tempat Khubaib disalib. Padahal ketika itu tak seorangpun orang Madinah yang mengetahui peristiwa nahas tersebut. Allahuakbar ..

Setiba di tempat yang dimaksud, Khubaib telah tiada. Senyum kedamaian tergurat di wajahnya. Dengan menahan kedukaan yang mendalam kedua utusan tadi kemudian melepaskan sang mujahid dari tiang salib kemudian membawa dan memakamkannya di suatu tempat yang hingga detik ini tak seorangpun mengetahuinya.  Sebuah fenomena yang mirip pada apa yang terjadi pada diri nabi Isa as 14 abad sebelumnya. Tak ada sesuatupun yang mustahil bagi-Nya.

“ (Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai `Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya“. (QS.Ali Imran(3):55).

Itulah cara Sang Khalik mengabulkan doa hamba-Nya yang takwa agar dijauhkan dari tangan orang kafir. Karena sebenarnya pemuka kaum Musyrik Mekah telah menyuruh utusan agar mereka dikirimi bagian tubuh Khubaib sebagai bukti bahwa Khubaib telah di-eksekusi ! Allahu Akbar ..

“  Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”.(QS.Ali Imran(3):54).

Salam sejahtera wahai mujahid sejati !

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 3 Agustus 2020.

Vien AM.

Di copas dari :

Khubaib bin Adi, mujahid yang syahid di tiang salib.

 

 

 

Menurut Al-Waqidi dan lainnya, mereka berkata: Satu peristiwa, pada pertempuran Yarmuk, keluarlah dari barisan musuh seorang panglima besar musyrik, lalu dia menyeru Khalid bin Al-Walid untuk keluar dari barisan kaum Muslimin. Khalid pun keluar dengan kuda tangkasnya, hingga hampir-hampir kedua kuda itu berlaga kerana ketangkasannya. Maka berkatalah panglima pasukan musyrik itu yang bernama Jarjah:

Engkaukah yang dikenal Khalid, panglima pasukan ini?”.
Ya, aku Khalid pedang Allah!” jawab Khalid.
Khalid, pedang Allah?” tanya Jarjah lagi.
“Ya“, jawab Khalid. “Dan engkau siapa?
Aku Jarjah, panglima perang!”

“Apa maksudmu memanggil aku ke sini?” tanya Khalid.
Hai Khalid! Bicaralah yang benar, dan jangan berdusta! Sebab orang yang merdeka itu tidak berdusta. Dan jangan pula engkau menipuku, kerana orang yang berkedudukan seperti engkau ini tidak akan menipu yang lain, apa lagi bila hal itu ada pertaliannya dengan Allah!” Jarjah ingin menguji kejujuran Khalid.
“Baiklah”, jawab Khalid. “Aku akan berkata benar dan menjawab sesuai dengan kehendakmu!”

“Engkau mengaku diri sebagai pedang Allah, bukan?” tanya Jarjah.
Ya”, jawab Khalid pendek
Apakah Allah telah menurunkan pedang itu dari langit kepada Utusan kamu, lalu dia menyerahkan pedang itu kepadamu, dan engkau tidak akan menghunuskan kepada sesiapa pun, melainkan engkau akan mengalahkannya?” Jarjah meminta penerangan dari Khalid.
“Tidak!” jawab Khalid pendek lagi.
“Oh, tidak?!” Jarjah mengejek. “Jadi bagaimana engkau dipanggil sebagai pedang Allah? Bukankah itu ajaib sekali?!” Jarjah menambah lagi.
Tidak ajaib, jika engkau mendengar cerita yang sebenarnya!” jawab Khalid.
“Kalau begitu ceritakanlah kepadaku!” pinta Jarjah.

Sekarang dengarlah ceritanya: Sesungguhnya Allah telah mengutus kepada kita UtusanNya, lalu Beliau mengajak kami memeluk Islam, tetapi kami menjauhkan diri darinya, dan kami sekalian menyingkirkannya. Meskipun begitu ada juga setengah dari kami yang mempercayainya dan mengikutnya, manakala yang lain mendustakannya dan menentangnya, dan jika engkau ingin tahu aku adalah di antara orang-orang yang mendustakannya dan menentangnya“, Khalid menceritakan dirinya dengan jujur.

“Sesudah itu?” tanya Jarjah yang mendengar dengan penuh minat.

“Kemudian Allah telah melembutkan hati kami, dan membukakan pemikiran kami, lalu kami diberiNya petunjuk untuk memeluk Islam, dan kami pun memberikan kesetiaan kami kepadanya”, Khalid berdiam sebentar mengenang dirinya di masa lalu.
“Kemudian, apa yang berlaku?” tanya Jarjah lagl
Kerana aku memeluk Islam itulah, maka beliau berkata kepadaku: Hai Khalid! Engkau ini adalah pedang dari pedang-pedang Allah, yang dihunuskan Allah ke atas kaum musyrik, dan beliau mendoakan bagiku dengan kemenangan!” jelas Khalid.

Sebab itulah engkau dikenal dengan pedang Allah?!” tanya Jarjah.
“Ya, aku rasakan itu, dan aku orang yang paling keras di antara pasukan Islam ke atas kaum musyrik”, ‘jelas Khalid lagi.

Baiklah”, tanya Jarjah. “Engkau membawa pasukanmu ke sini itu, untuk apa?”
“Aku datang ke sini untuk menyeru orang-orang seperti kamu kepada Islam, dan mempercayai Tuhan yang Satu!” jawab Khalid.
“Tuhan yang Satu?” tanya Jarjah.
“Ya, dengan menyaksikan bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan bahwasanya Muhammad itu adalah Utusan Allah, serta meyakini bahwa apa yang dibawa Muhammad itu adalah dari Allah yang Maha Mulia“, terang Khalid.

Kalau kami tidak mahu menerimanya?”
“Bayar upeti, dan kami akan melindungi kamu!”
“Kalau kami tidak mahu membayar upeti itu?”
“Kami akan memerangi kamu habis-habisan!”

“Baiklah, apa kedudukan orang yang mengikut seruanmu itu, dan yang mendampingkan diri dalam apa yang engkau seru itu?”
‘Kedudukannya dengan kami sama tentang apa yang difardhukan Allah ke atas kami sekalian, baik dia orang berpangkat atau orang yang rendah, yang pertama memeluk Islam dan yang kebelakangan! Yakni siapa yang mengikut Muhammad sekarang ini akan memperoleh pahala yang sama dengan siapa yang telah mengikutnya lama sebelum ini, iaitu balasannya dan kelebihannya?!”
“Bagaimana itu?” Jarjah meminta penjelasan.
“Ya“, jawab Khalid, “bahkan boleh jadi lebih utama lagi”.

“Bagaimana sampai begitu? Bagaimana agamamu menyamakan orang-orang ini dengan kamu, padahal kamu sudah mendahului mereka?” tanya Jarjah.
Mudah saja!” jawab Khalid. “Kita orang-orang yang terdahulu memeluk Islam secara terpaksa, kerana kita telah menentangnya sebelum itu. Kemudian kita memberikan kesetiaan kami kepadanya sedang dia hidup di sisi kita, berita-berita langit sedang turun kepadanya, dia memberitahu kita tentang firman-firman Allah itu serta dibuktikannya dengan keterangan-keterangan yang tidak dapat diragukannya lagi“, kata Khalid.

Jadi, apa alasannya?” tanya Jarjah lagi.
Jadi orang-orang seperti kita ini sudah melihat semua bukti-bukti itu, dan kami mendengar sendiri darinya, sudah seharusnyalah kami mengikutnya dan menganut kepercayaannya. Tetapi kamu tidak seperti kami, kamu tidak melihat apa yang kami lihat, dan kamu tidak mendengar seperti apa yang kami dengar dan berbagai keajaiban dan bukti-bukti yang membenarkan seruan dan dakwaannya. Jadi barangsiapa yang mengikut perkara ini di antara kamu dengan kebenaran dan niat yang baik, tentulah dia lebih utama dari kami”.

Jarjah terharu dengan penerangan Khalid itu, lalu dia berkata: “Demi Allah, aku yakin engkau telah mengatakan yang benar, dan engkau tidak menipuku!”
“Demi Allah, aku telah berkata yang benar, tiada suatu pun yang aku sembunyikan, dan Allah telah membantuku untuk menjawab soalan-soalanmu itu dengan yang benar”, terang Khalid.
Kalau begitu, apa gunanya lagi aku menyandang perisai ini“, kata Jarjah, dia lalu melepaskannya, sambil memeluk Khalid dan berkata: “Hai Khalid! Ajarkanlah aku agama Islam itu!” pinta Jarjah.

Khalid Ialu mengajak Jarjah datang ke kemahnya, lalu disiramkan ke atasnya dengan qirbah air (kulit kambing yang dibuat untuk mengisi air), kemudian diajaknya Jarjah bersembahyang dengannya dua rakaat.

Akhirnya pasukan Romawi kecewa apabila Jarjah tidak kembali lagi kepada mereka. Lalu mereka memulai penyerangannya kepada pasukan Islam, dan pada mulanya mereka merasa bangga dengan kemenangan kecil di mana mereka dapat mematahkan sayap-sayap pasukan Islam, kecuali yang sedang dipertahankan oleh lkrimah bin Abu jahal ra. dan Al-Harits bin Hisyam ra. Khalid bin Walid ra. pun keluar ke medan peperangan untuk menyelamatkan pasukan Islam, dan keluar bersamanya Jarjah yang baru memeluk Islam. Keduanya pun memimpin pasukan Islam di tengah-tengah pasukan Romawi yang mencoba mengepung pasukan Islam. pasukan Islam pun berteriak semangat dan menggempur di belakang panglimanya, si pedang Allah, sehingga akhirnya pasukan Romawi tidak mampu bertahan lagi, dan mereka pun mundur kebarisan mereka yang asal.

Khalid terus berjuang pedang dengan pedang bersama-sama pasukan Islam yang telah kembali semangat perjuangannya, sedang Jarjah turut berjuang sebelah-menyebelah dengan pasukan Islam dari sejak tengah hari hingga matahari akan terbenam dan masuk waktu maghrib. Pasukan Islam bersembahyang shalat Dzhuhur dan Asar secara menunduk-nunduk saja kerana hebatnya pertarungan yang berlaku di antara dua pihak itu.

Akhimya Jarjah, moga-moga Allah merahmatinya, gugur syahid setelah mendapat luka-luka berat, dan dia tidak bersembahyang kepada Allah selain dua rakaat yang dikerjakannya dengan Khalid ra. ketika dia memeluk Islam itu.

(Al-Bidayah Wan-Nibayah 7:12 – Menurut Abu Nu’aim dalam “Dalaa’ilun Nubuwah”, nama panglima Romawi itu ialah jarjir bukan jarjah.)

( Diambil dari : http://azharjaafar.blogspot.com/2008/08/dakwah-khalid-bin-walid-ra-di-medan.html )

Dalam “Arriyadh Annadhirah Fi Manaqibil Asyarah“ tertulis, dari sahabat Abu Dzar ra, bahwa Rasulullah masuk ke rumah Aisyah ra dan bersabda: “Wahai Aisyah, inginkah engkau mendengar kabar gembira?” Aisyah menjawab : “Tentu, ya Rasulullah.” Lalu Nabi saw bersabda, ”Ada sepuluh orang yang mendapat kabar gembira masuk surga, yaitu : Ayahmu masuk surga dan kawannya adalah Ibrahim; Umar masuk surga dan kawannya Nuh; Utsman masuk surga dan kawannya adalah aku; Ali masuk surga dan kawannya adalah Yahya bin Zakariya; Thalhah masuk surga dan kawannya adalah Daud; Azzubair masuk surga dan kawannya adalah Ismail; Sa’ad masuk surga dan kawannya adalah Sulaiman; Said bin Zaid masuk surga dan kawannya adalah Musa bin Imran; Abdurrahman bin Auf masuk surga dan kawannya adalah Isa bin Maryam; Abu Ubaidah ibnul Jarrah masuk surga dan kawannya adalah Idris Alaihissalam.”

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS.At-Taubah(9):100).

Itulah janji Sang Khalik terhadap para sahabat yang selama hidup sejak mereka memeluk Islam hingga akhir hayat senantiasa membela Rasulullah dengan taruhan seluruh jiwa raga, mengorbankan harta dan rela berperang demi menegakkan ajaran Islam. Sebuah ganjaran yang amat pantas. Sebaliknya, sungguh tak pantas bila kemudian ada orang yang meragukan keimanan para sahabat tersebut.

Namun nyatanya itulah yang terjadi. Sejumlah sahabat dekat seperti Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra dan Ustman bin Affan ra difitnah telah murtad tak lama setelah Rasulullah wafat. Khalifah ke 3, Ustman bin Affan ra bahkan dianggap telah memanipulasi dan merekayasa isi ayat-ayat Al-Quran hingga sesuai dengan keinginan beliau dan kelompoknya, yaitu suku Quraisy. Sesuatu yang benar-benar tidak masuk akal. Lupakah mereka bahwa justru orang-orang Quraisy, penentang terbesar Rasulullah pada masa awal keislaman, inilah penyebab hijrahnya kaum Muhajirin ? Dan bukankah Allah swt sendiri yang menjamin pemeliharaan kitab suci umat Islam ini?

“ Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.(QS. AL Hijr (15):9).

Ironisnya, penyebar fitnah tersebut adalah orang-orang yang mengaku Islam !

Adalah kaum Khawarij, mereka adalah kaum yang pertama kali tercatat sebagai penyebar fitnah dalam tubuh Islam. Mereka adalah kaum yang memberontak terhadap pemerintahan Ustman bin Affan ra hingga menyebabkan terbunuhnya sang khalifah. Kaum yang mulanya membela kubu Ali bin Thalib ra, pengganti khalifah terbunuh, akhirnyapun membelot.  Mereka mulai mengkafirkan Ali dan sahabat-sahabat lain.

Parahnya lagi, hingga detik ini, fitnah keji tersebut  dipercaya dan diterima oleh sejumlah kelompok yang juga mengaku Islam. Diantaranya yaitu cendekiawan Muslim yang belajar dan menimba ilmu keagamaan Islam di Barat. Barat yang notabene Kristen dan memandang Islam sebagai ancaman, melihat jelas perpecahan di dalam tubuh Islam ini. Alhasil, dengan cepat merekapun memanfaatkan kesempatan tersebut dengan terus mengipasi umat Islam.

Kata “kritis” adalah kunci dasar pemikiran Barat. Maka dengan penuh percaya diri, para “cendekiawan” yang menamakan kelompoknya sebagai kelompok pembaharu itu, mulai nekad meng-“kritis”-i ( baca meragukan) ayat-ayat suci Al-Quranul Karim. JIL ( Jaringan Islam Liberal) adalah hanya satu diantara beberapa kelompok yang memiliki paham sesat tersebut.

Sementara kelompok Syiah, aliran Islam tertua yang berkembang pesat di Iran dan memiliki banyak pengikut di negri para mullah ini, terang-terangan mengajarkan ritual untuk mengutuk dan menghujat para sahabat. Bahkan dua istri Rasulullah, ibu umat Islam, yaitu Aisyah ra, putri Abu Bakar ra dan Hafsah ra, putri Umar bin Khattab,  tak luput pula dari fitnah keji yang mereka lemparkan. Yaitu, selain sebagai pelacur, na’udzubillah min dzalik, juga dituduh sebagai penyebab wafatnya Rasulullah saw, yaitu dengan cara meracuni Rasulullah !

( Untuk catatan, Syiah masuk kedalam kelompok aliran sesat diantaranya karena memiliki beberapa kitab suci disamping Al-Quran, diantaranya yaitu mushab Fatimah. Kitab ini, menurut mereka, berisikan firman Allah swt yang khusus  diturunkan kepada Fatimah ra, putri Rasulullah dan ditulis oleh Ali bin Abu Thalib ra, menantu Rasulullah.)

Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka…. “.(QS.Al-Ahzab(33):6).

« Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.(QS.Al-Ahzab(33) :57).

Bila Rasulullah saw masih ada, tak dapat dibayangkan betapa akan sakit hatinya beliau mendengar fitnah yang menimpa orang-orang yang beliau sayangi tersebut.

Adanya ritual keji ini diakui sendiri oleh pengikut Syiah yang tampaknya masih mempunyai hati nurani. Karena betapapun buruknya sebuah ajaran, mengutuk dan menghujat sesama manusia bukanlah hal yang terpuji. Rasulullah saw tidak pernah mengajarkan hal seperti itu.

Penyebab awal kebencian Syiah, sejatinya adalah tentang hak kepemimpinan. Menurut kelompok ini hanya garis keturunan Husein bin Ali bin Thalib sebagai cucu Rasulullah saw, yang berhak meneruskan kepemimpinan pasca wafatnya Rasulullah. Itu sebabnya mereka tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar, Umar bin Khattab maupun Ustman bin Affan. Dengan teganya, Abu Lu’lua, yang membunuh Umar ketika khalifah ke dua ini sedang shalat Subuh, bahkan mereka elu-elukan sebagai pahlawan. Selanjutnya, hadits-hadits yang bukan berasal dari Ali bin Abu Thalib dan dianggap tidak memihak kepentingan mereka, tidak mereka jadikan pegangan.

Keyakinan tersebut berdasarkan keyakinan kepada apa yang dikatakan Rasulullah pada suatu hari yang kelak mereka namakan Idul Ghadir, yang mereka rayakan setiap tahun, tak terkecuali di Republik tercinta ini. Ketika itu mereka mendengar bahwa Rasulullah telah menunjuk Ali bin Abu Thalib sebagai pengganti Rasulullah bila wafat nanti. Peristiwa itu terjadi pada perjalanan pulang Rasulullah dari Haji Wa’da dimana berkumpul ratusan ribu kaum Muslimin dari segala penjuru.  Kalau memang Rasulullah menghendaki Ali sebagai pengganti beliau saw, tentu akan beliau ungkapkan pada Haji Wa’da bukan sepulangnya, ketika sebagian besar kaum Muslimin telah berpencar pulang ke rumah masing-masing.

Ucapan Rasulullah itu sejatinya ditujukan untuk pasukan Ali ra yang tidak mau menuruti perintah menantu Rasulullah tersebut. Ketika itu Ali mengadu kepada Rasulullah bahwa pasukannya itu tidak mau mentaati Ali yang saat itu sedang menjalankan amanat Rasulullah di negri Yaman.

https://www.youtube.com/watch?v=pghJsKrFeNc

Apapun pendapat kelompok-kelompok yang membenci para sahabat, yang notabene adalah orang-orang Muhajirin dan Anshar, Allah telah ridho terhadap mereka dan telah memaafkan segala kesalahan mereka, yang tentu saja sangat manusiawi.

“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, “(QS.At-Taubah(9):117).

Menjadi catatan penting, menghujat apalagi meng-kafirkan para sahabat yang terbukti mendapat ampunan dan pujian dari Allah swt adalah bukan hal sepele. Ini adalah awal bencana. Karena para sahabat adalah saksi turunnya ayat-ayat suci Al-Quran kepada Rasulullah. Merekalah yang mengetahui kapan, bagaimana Rasulullah dan masyarakat menanggapi ayat-ayat tersebut.

Jangan lupa, ayat-ayat Al-Quran turun dalam bentuk lisan bukan tulisan seperti yang kita saksikan sekarang ini. Urutan turunnyapun tidak sama dengan apa yang kita baca hari ini. Para sahabatlah yang menuliskan ayat-ayat tersebut, dengan urutan sesuai petunjuk Rasulullah saw. Dengan kata lain, menghujat dan mengkafirkan para sahabat bisa beresiko pada hilangnya kepercayaan terhadap ayat-ayat  suci itu sendiri.

Sejarah mencatat, betapa tingginya keimanan para sahabat. Abu Bakar adalah seorang yang dikenal sangat jujur. Ia telah menjadi sahabat Rasulullah jauh sebelum kerasulan. Ia termasuk orang yang pertama memeluk Islam. Ia tidak pernah meragukan apapun yang dikatakan sahabatnya itu. Itu sebabnya ia mendapat julukan Ash-shiddiq. ( yang selalu membenarkan). Tak heran bila Rasulullah suatu ketika pernah mengatakan bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling beliau cintai. Ini pula yang menjadi salah satu sebab mengapa Rasulullah menikahi putrinya, Aisyah ra. Allah swt mengabadikan ketinggian keimanan Abu Bakar ra yang pernah memerdekakan 7 budak agar mereka dapat mengenal Islam dengan ayat-ayat berikut:

“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu ni’mat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan”. (QS.Al-Lail(92):17-21).

Sementara dengan Umar bin Khattab ra, sebelum memeluk Islam, Rasulullah pernah bersabda:

Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam”.

Allah swt juga beberapa kali menurunkan ayat-ayat Al-Quran berkenaan dengan sikap Umar. . Diantaranya adalah ayat 67 surat Al-anfal. Ayat ini diturunkan ketika Rasulullah meminta pendapat para sahabat tentang apa yang harus diperbuat terhadap tawanan perang Badar. Abu Bakar berpendapat bahwa sebaiknya tawanan dibebaskan dengan tebusan. Sementara Umar berpendapat sebaiknya mereka dibunuh. Awalnya Rasulullah setuju dengan Abu Bakar. Namun ternyata kemudian turun ayat 67 diatas yang isinya sesuai dengan anjuran Umar.

Namun demikian ini bukan berarti bahwa Umar adalah seorang yang sadis. Suatu ketika pada masa Umar menjadi khalifah, beliau pernah berujar : “Janganlah kamu mengira sifat kerasku tetap bercokol. Sejak awal ketika aku bersama Rasulullah saw, aku selalu menjaga keamanan dan ketentraman negri ( mentri dalam negri). Di masa Abu Bakarpun tetap demikian. Tetapi kini setelah urusan diserahkan kepadaku, akulah orang yang paling lemah dihadapan yang haq”.

Ini dibuktikannya dengan berbagai tindakannya yang sangat berpihak kepada rakyat kecil. Diantaranya yaitu dengan menyamar sebagai orang biasa dan berkeliling melihat keadaan rakyatnya.

Abbas ra berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya aku memiliki dua penasehat dari ahli langit dan dua penasehat dari ahli bumi. Yang dari langit ialah malaikat Jibril dan Mikail sedangkan yang dari bumi adalah Abu Bakar dan Umar. Merekalah pendengaran dan penglihatanku”. (HR. Alhaakim, Ibnu Asaakir dan Abu Na’ím dalam Fadhailus Sohabah).

Selanjutnya adalah Ustman bin Affan ra, sahabat sekaligus menantu Rasulullah yang di kemudian hari menjadi khalfah ke 3 dan mendapat julukan  Dzunnur’ain (seorang. yang memiliki dua cahaya) karena menikahi dua putri Rasulullah.  Ustman menikahi Ruqayah, putri ke 2 Rasulullah sebelum datangnya Islam. Kemudian setelah istrinya tercinta ini wafat, Rasulullah menikahkan beliau dengan adik Ruqayah yaitu Ummu Kaltsum.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Aisyah bertanya kepada Rasulullah Saw, ‘Abu Bakar masuk tapi engkau biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus, lalu Umar masuk engkau pun biasa saja dan tidak memberi perhatian khusus. Akan tetapi ketika Utsman masuk engkau terus duduk dan membetulkan pakaian, mengapa ?’ Rasullullah menjawab, “Apakah aku tidak malu terhadap orang yang malaikat saja malu kepadanya ?”

Ustman adalah seorang kaya raya namun amat dermawan. Suatu ketika di Madinah, kaum Muslimin sedang menghadapi kesulitan air. Sebenarnya ada sebuah sumur yang diharapkan dapat memecahkan masalah tersebut. Namun  air sumur milik Yahudi tersebut diperjual belikan padahal kaum Muslimin tidak cukup memiliki uang. Maka datanglah Ustman membeli sumur tersebut dengan harga 20 ribu dirham, harga yang sangat tinggi. Hebatnya, sumur tersebut diberikan airnya kepada kaum Muslimin secara cuma-cuma.

Selain Ustman, sahabat kaya raya yang juga dikenal banyak menginfakkan hartanya untuk membantu saudara-saudaranya yang kesusahan adalah Abdul Rahman bin Auf. Juga Arqam bin Abi Arqam yang merelakan rumahnya dijadikan pusat dakwah Rasulullah. Rasulullah saw memuji Amr bin Ash dengan sabdanya: “Manusia sekedar masuk Islam, tapi Amr Bin Ash masuk Islam dengan iman”. (Hadits Shahih riwayat Ahmad dan Tirmidzi).

Akan halnya Ali bin Abu Thalib, tak satupun orang meragukan ketakwaan menantu Rasulullah yang sejak kecil telah menjadi bagian dari keluarga Rasulullah saw ini. Ali ditunjuk Rasulullah untuk tidur di atas tempat tidur beliau ketika orang-orang Quraisy bersekongkol membunuh Rasulullah. Dan Ali rela melakukan tugas mulia tersebut.

Dalam perang Khandaq, dengan agak memaksa Ali memohon agar Rasulullah mengizinkan beliau melayani tantangan Amru bin Wudd, seorang pimpinan pasukan berkuda Quraisy yang dikenal sangat kuat dan gagah perkasa.

“”Aku mengajak kamu ke jalan Allah, ke jalan Rasulullah dan kepada Islam“, seru Ali .

“Aku tidak memerlukan itu semua“, jawab Amru congkak.

“Kalau begitu, aku mengajak kamu bertempur“, tanggap Ali lagi.

“Mengapa hai anak saudaraku, demi berhala Allata aku tidak ingin membunuhmu“, jawab Amru lagi.

“Tapi demi Allah, aku ingin membunuhmu“, tantang Ali lantang.

Akhirnya terjadilah pertempuran yang mengakibatkan jatuhnya Amru dan usailah perang dimana Madinah bertahan dengan sistim paritnya yang diprakasai Salman Alfaritsi itu.

Dari pihak Anshar juga tak kalah hebatnya. Ada seorang rabbi di Madinah  yang cerdik-pandai, yaitu Abdullah bin Sallam. Setelah berkonsultasi dengan Rasulullah  iapun lalu memeluk Islam dan mengajak pula keluarganya untuk mengikuti jejaknya. Lalu merekapun bersama-sama mengikuti cahaya Islam. Sementara pada suatu peristiwa penting, yang dikenal dengan nama Baitur Ridwan ( perjanjian di bawah pohon),  para sahabat Anshar membuktikan ketakwaan mereka .

( Tentang baitur Ridwan, click :

https://vienmuhadisbooks.com/2011/06/10/xxi-perdamaian-hudaibiyah-dan-baitur-ridwan/  )

“ Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).”(QS.Al-Fath(48):18).

 “ Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (QS.An-Nisa (4): 69-70).

Menurut Masruq, kedua ayat ini diturunkan berkenaan dengan para sahabat yang suatu ketika berkata kepada Rasulullah, “ Wahai Rasulullah, kami tidak mau berpisah denganmu. Sesungguhnya jika engkau mendahului kami, engkau pasti akan mendapatkan tempat yang lebih tinggi bersama para nabi lain sehingga kami tidak akan dapat melihatmu”. (HR. Ibnu Abi Hatim).

Sungguh orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar adalah orang-orang yang dikasihi Allah swt dan patut menjadi panutan.

Wallahua’lam bish shawwab.

Paris, 8 Maret 2012.

Vien AM.

Islam memang sebuah ajaran yang unik. Ajaran yang disampaikan kepada Rasulullah saw sebagai nabi penutup, melalui malaikat Jibril as, ini mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat. Dunia adalah ladang tempat bekerja, beribadah berbuat kebaikan demi mengumpulkan bekal akhirat nanti. Karena akhirat adalah tujuan, yang ujungnya hanya 2 : surga atau neraka. Itu sebabnya, ketika lingkungan tidak memungkinkan kita untuk beribadah, bekerja dan menjalani hidup tenang dibawah aturan yang dikehendaki-Nya maka hijrah adalah solusinya.

Mekah dan Madinah meski sama-sama berada di tanah Saudi dengan jarak sekitar 450 km adalah dua kota yang benar-benar berbeda. Mekah adalah kota yang sangat gersang dan panas. Sebagian besar penduduknya hidup dari berdagang. Sedangkan Madinah adalah kota yang tanahnya subur dan relative lebih dingin dibanding Mekah. Mayoritas penduduknya hidup sebagai petani.

Tentu saja perbedaan kebiasaan ini menimbulkan permasalahan baru bagi kaum Muhajirin, baik secara ekonomi, sosial kemasyarakatan maupun kesehatan. Mereka harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Pada saat yang sama mereka juga harus mencari penghidupan, padahal mereka  tidak memiliki modal. Namun dengan semangat persaudaraan muslim yang baru saja mereka terima semua itu dapat diatasi dengan baik.

Ketika itu Rasulullah mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Diantaranya Abu Bakar dipersaudarakan dengan Kharijah bin Zaid, Umar bin Khattab dengan  Uthbah bin Malik, Utsman bin Affan dengan seorang laki-laki dari bani Zuraiq bin Sa`ad Az-Zuraqi,  Ja’far bin Abi Thalib dengan Mu’adz bin Jabal, Hamzah bin Abdul Muthalib dengan Zaid bin Zuhair, Abdul Rahman bin Auf dengan Sa’id bin Rabi’, Zubair  dengan Ka`ab bin Malik, Abdullah bin Zaid bin Tsa`labah bin Abdi Rabbih dengan Balharits bin Al-Khazraj dll.

Bahkan antara suku Aus dan suku Khazraj, dua suku penduduk Madinah yang sejak lama selalu bermusuhan, sejak datangnya Islam tidak pernah lagi bertikai. Kecuali suatu hari orang-orang Yahudi pernah mengadu-domba mereka hingga hampir saja terjadi pertumpahan darah kalau saja Rasulullah tidak segera mengingatkan bahwa sesama muslim adalah bersaudara.

“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. (QS.Al-Hujurat (49):10).

Hebatnya lagi, pada awal hijrah ikatan persaudaraan tersebut berlaku hingga ke hukum waris. Namun hal ini tak lama berlangsung karena kemudian turun ayat yang menjelaskan bahwa kerabat lebih berhak mendapatkan waris dari pada yang bukan kerabat ( Muhajirin).

“ … Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah)”.(QS.Al-Ahzab(33):6).

Zubair ra berkata:

“Allah Azza wa Jalla, menurunkan ayat khusus tentang kami orang-orang Muhajirin dan Anshar, QS. Al-Anfaal :75, “ … … Orang-orang yang mempunyai hubungan (kerabat) itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.( QS. Al-Anfaal(8) :75).

Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: “Ketika kaum Muhajirin datang ke Madinah seorang Muhajir mewarisi seorang Anshar tanpa adanya hubungan keluarga, karena Ukhuwwah yang telah dijalin oleh Nabi saw ketika turun ayat (artinya) : “Bagi tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya ….“ Terhapuslah hukum tersebut.

Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabatKami jadikan pewaris-pewarisnya. Dan (jika ada) orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, maka berilah kepada mereka bahagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.”(QS.An-Nisa(4):33).

Dari peristiwa diatas, satu lagi hikmah turunnya ayat-ayat Al-Quran secara bertahap dapat diambil. Karena ternyata ada beberapa ayat yang hanya berlaku pada saat tertentu. Itulah yang disebut ayat-ayat yang di-nasakh dan di-mansukh. Dan ini hanya dapat diketahui bila kita mempelajari Al-Quran bersamaan dengan mempelajari sejarah kehidupan Rasulullah saw ( sirah nabawiyah). Disinilah pentingnya kita mempelajari hadits. Karena ayat-ayat Al-Quran yang diturunkan selama 22 tahun 2 bulan 22 hari itu amatlah erat kaitannya dengan kehidupan Rasulullah. Hanya dengan cara inilah kita dapat mengetahui asal usul, kapan dan dalam keadaan bagaimana ayat diturunkan. Artinya, mempelajari Al-Quran ayat per ayat, surat per surat secara berurut layaknya mempelajari kitab biasa, secara otodidak pula, adalah hal yang benar-benar mustahil.

Riwayat juga menceritakan, betapa kebaikan orang-orang Anshar yang tanpa pamrih tersebut sempat membuat kaum Muhajirin merasa khawatir bahwa kasih sayang Allah swt akan terlimpah hanya kepada kaum Anshar.

Diriwayatkan dari Anas radiallahu`anhu, ia berkata:

Kaum Muhajirin datang kepada Nabi saw  seraya berkata: “Wahai Rasulullah!, kami belum pernah menemui suatu kaum yang memberikan harta mereka dalam jumlah yang banyak dan berbagi rata ketika jumlahnya sedikit. Mereka telah mencukupi keperluan kami dan ikut dalam kesusahan kami, kami khawatir hanya mereka saja yang mendapatkan seluruh pahala“. Rasulullah saw bersabda:“Kalian juga mendapatkan bagian pahala, selagi kalian ber- terima kasih dengan kebajikan mereka dan mendoa`kan mereka”. (HR. Ahmad).

Disamping itu ada lagi golongan lain, yaitu golongan Ash-Shuffa (Penghuni Shuffa). Mereka adalah orang-orang Muhajirin yang benar-benar tidak mampu. Mereka adalah golongan fakir-miskin yang membutuhkan bantuan. Untuk itu keperluan mereka ini diambilkan dari harta kaum Muslimin yang mampu, baik dari kaum Muhajirin maupun Anshor. Rasulullah menempatkan mereka di selasar masjid yaitu shuffa (bahagian mesjid yang beratap) sebagai tempat tinggal mereka. Bagi yang pernah mengunjungi Masjid Nabawi, tempat tersebut kini berada di samping Raudhah, di bagian yang sangat indah, dimana rak-rak buku tinggi berlapis kuning keemasan menghiasi dinding-dindingnya.

Namun anehnya, kebaikan dan kekhususan ikatan persaudaraan muslim di awal keislaman yang terjalin antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar ini  harus menanggung pelecehan dan penghinaan. Ironisnya lagi, ini dilakukan oleh orang-orang yang mengaku dirinya Muslim.

Menjadi catatan penting, tidak semua penduduk Madinah ketika itu, mempunyai kebaikan seperti kaum Anshor. Madinah sejak sebelum hijrahnya kaum Muslimin telah dipenuhi orang-orang Yahudi yang dikenal kaya raya. Tak heran bila pembesar-pembesar kota tersebut, meski telah memeluk Islam, tetap berhubugan baik dengan orang-orang Yahudi, meski mereka ini jelas–jelas sangat memusuhi ajaran Islam. Salah satunya yang paling mencolok adalah Abdullah bin Ubay bin Salul, seorang tokoh Munafikun Madinah yang dikenal sangat memusuhi Islam. Saking dekatnya hubungan dengan orang-orang Yahudi, ia sering mencemooh ayat-ayat yang turun kepada Rasulullah saw.

“Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kamilah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar”.(QS.Al-Baqarah(2):101).

Orang-orang munafik tersebut selain mencela dan mempermainkan ayat-ayat-Nya juga suka mencemooh apapun yang dilakukan kaum Muslimin. Untuk itu Allah swt menurunkan sejumlah ayat diantaranya adalah ayat 74 hingga 87 surat At-Taubah. Dan puncaknya, ketika akhirnya turun perintah perang, dengan berbagai alasan mereka menolak perintah tersebut.

Dan apabila diturunkan sesuatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu): “Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah beserta Rasul-Nya”, niscaya orang-orang yang sanggup di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata: “Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk“.”.(QS.Al-Baqarah(2):86).

Bahkan Abdullah bin Ubay melindungi orang-orang Yahudi yang jelas-jelas memusuhi kaum Muslimin dan menjadi duri yang sangat berbahaya bagi perkembangan Islam di Madinah. Tidak cukup itu. Aisyah ra, istri tercinta Rasulullahpun tak luput dari fitnah yang dimotori  olehnya. Namun Allah swt sendiri yang kemudian membela beliau, yaitu dengan turunnya ayat 11 hingga 20 surat An-Nuur yang menerangkan bahwa umirul mukminin yang dikenal banyak meriwayatkan hadits, dimana ayat-ayat suci sering turun di kamar beliau, adalah tidak bersalah. Dalam kesempatan itu, Allah swt bahkan membuka kedok tokoh Munafikun tersebut.

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar”.(QS.An-Nur(24):11).

Anehnya, perbuatan terkutuk tersebut tidak menjadikan orang-orang Munafik menjadi kapok. Malah dengan  wafatnya Rasulullah saw 14 abad silam, fitnah tersebut makin menjadi-jadi, hingga detik ini. Ini adalah fitnah terbesar dalam sejarah Islam. Bagaimana mungkin para sahabat seperti Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra dan Ustman bin Affan ra yang selama hidup Rasulullah telah terbukti begitu setia membela Rasulullah dan ajaran Islam dapat tiba-tiba murtad begitu Rasulullah wafat? Atas alasan apa?? Padahal Allah swt sendiri telah menjamin ampunan dan surga bagi mereka  …

“ Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah ( Muhajirin), dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan ( Anshar, kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (ni`mat) yang mulia”.( QS. Al-Anfaal(8) :74).

Wallahuálam bish shawwab.

( Bersambung)

Paris, 2 Maret 2012.

Vien AM.

Sejarah-Lahirnya-Kalender-Hijriyah(Arrahmah.com) – Kalender Hijriyah adalah identitas kaum Muslimin. Bulan-bulan yang kita kenal sekarang juga sudah dikenal oleh masayarakat Arab. Hanya saja mereka belum mengenal penahunan. Di masa itu, penamaan tahun bukan dengan angka. Tapi menggunakan peristiwa yang paling menonjol di tahun tersebut. Seperti tahun gajah. Karena diserangnya Ka’bah oleh pasukan gajah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan di dalam Al-Quran bahwa hilal, matahari, dan bulan adalah waktu untuk manusia. Seperti dalam firman-Nya,

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi.” [Quran Al-Baqarah: 197]

Demikian juga firman-Nya,

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” [Quran Yunus: 5].

Kemudian muncullah kebutuhan kaum muslimin akan adanya penamaan yang baku pada tahun. Penamaan yang urut sehingga memudahkan aktivitas dan muamalah yang mereka lakukan. Kebutuhan ini terasa begitu mendesak di zaman pemerintahan Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Kemudian ia memerintahkan untuk menyusun tahun hijriyah.

Sebelum Penyusunan

Perhitungan tahun yang hakiki adalah dimulai sejak Allah menciptakan langit, bumi, matahari, dan bulan. Tatkala Adam ‘alaihissalam turun dari surga. Kemudian lahirlah anak-anaknya, maka keturunannya menghitung waktu dari turunnya Adam tersebut. Perhitungan tersebut terus berlangsung hingga diutusnya Nuh ‘alaihissalam. Kemudian perhitungan tahun mulai dari diutusnya Nuh hingga banjir yang membuat bumi tenggelam. Kemudian perhitungan tahun mulai dari topan hingga pembakaran Ibrahim ‘alaihissalam.

Saat anak keturunan Ismail sudah banyak, mereka bermigrasi ke berbagai wilayah. Mereka menyebar. Kemudian anak keturunan Ishaq membuat penanggalan dari peristiwa pembakaran Nabi Ibrahim hingga diutusnya Yusuf. Dari diutusnya Yusuf sampai diutusnya Musa. Dari zaman diutusnya Nabi Musa hingga masa Nabi Sulaiman. Dari masa Sulaiman hingga Nabi Isa. Dari masa Nabi Isa hingga diutusnya Rasulullah, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (Ibnul Jauzi: al-Muntazham fi Tarikh al-Mulk wa-l Umam, Daru-l Kutubi-l Ilmiyah, 4/226-227).

Dulu, orang-orang Arab sebelum Islam, mereka menamai tahun dengan kejadian. Misalnya: Tahun Pembangunan Ka’bah, Tahun al-Fijar (terjadi Perang Fijar), Tahun Gajah, Tahun Sail al-Arim (Banjir Arim), dll. Kemudian setelah diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan munculnya syiar Islam di Mekah kemudian hijrah ke Madinah, kaum muslimin memiliki penamaan tersendiri. Penamaan tersebut memiliki nama-nama yang khusus juga. Seperti: Tahun al-Khandaq, dimana terjadi Perang Khandaq. Tahun Kesedihan, karena terdapat peristiwa yang begitu membuat Rasulullah sedih. Yaitu wafatnya Khadijah dan Abu Thalib. Tahun al-Wada’, tahun terjadinya haji al-wada’, Tahun ar-Ramadah (abu), karena kemarau yang panjang di tahun tersebut hingga tanah menjadi abu karena terbakar matahari. Ini terjadi di masa pemerintah Umar radhiallahu ‘anhu (Muhammad Shalih al-Munajid: Tafrigh Lihalaqat Barnamij al-Rashid, 12/54).

Yang Membuat Penanggalan Hijriyah

Tahun-tahun senantiasa disebut dengan peristiwanya hingga terjadi sesuatu di zaman pemerintahan Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Negeri-negeri banyak yang bergabung dengan Madinah. Muncullah kebutuhan untuk mengurutkan tahun. Disebutkan dalam satu riwayat bahwa ada seseorang yang mengadukan kepada Umar bin al-Khattab perihal utang-piutang. Ada seseorang yang berutang yang jatuh tempo di bulan Sya’ban. Karena ia belum membayar saat jatuh tempo tersebut, pihak pemberi utang melaporkannya kepada Amirul Mukminin Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Kemudian Umar meresponnya dengan menanyakan bulan Sya’ban tahun kapan. Dari situlah akhirnya dirumuskan permasalahan penetapan tahun.

Amirul Mukminin Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu mengumpulkan para sahabat dan berdiskusi dengan mereka. Kata Umar, “Tentukan sesuatu untuk masyarkat yang mereka bisa mengetahui waktu.” Ada yang mengatakan, “Tulislah dengan menggunakan penanggalan Romawi.” Pernyataan ini dikomentari, “Mereka itu membuat penanggalan sejak zaman Dzul Qarnain. Itu terlalu jauh masanya.”

Kemudian ada yang mengatakan, “Tulislah dengan penanggalan Persia.” Lalu ditanggapi, “Orang-orang Persia kalau berganti raja, maka warisan (kebijakan penguasa) sebelumnya ditinggalkan.” Kemudian para sahabat bersepakat untuk menghitung, “Berapa lamakah Rasulullah tinggal di Madinah?” Lamanya adalah 10 tahun. Lalu ditulislah penanggalan dengan menghitung sejak Rasulullah berhijrah.

Permasalahan berikutnya adalah tentang awal bulan dalam satu tahun tersebut. Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata, “Ada seseorang yang datang kepada Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu, orang itu berkata, ‘Tetapkanlah penanggalan’. Umar berkata, ‘Penanggalan apa?’ Orang itu menjawab, ‘Sesuatu seperti yang dilakukan oleh orang-orang non Arab. Mereka menulis di bulan sekian pada tahun sekian’. Umar berkata, ‘Itu bagus. Tetapkanlah penanggalan’. Mereka berkata, ‘Dari bulan apa kita memulai?’ Ada yang mengatakan, ‘Bulan Ramadhan’. Ada lagi yang mengatakan, ‘Dari bulan Muharram. Karena ini adalah waktu dimana orang-orang pulang dari haji. Itulah bulan Muharram’. Mereka pun menyepakatinya.” (ath-Thabari: Tarikh ar-Rusul wa-l Mulk. Cet. Ke-3 1387 H, 2/388-389).

Pada 20 Jumadil Akhiroh 17 tahun dari hijrahnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dimulailah penggungnaan penanggalan Islam, penanggalan hijriyah (Ibnul Jauzi: al-Muntazhom fi-t Tarikh al-Mulk wa-l Umam 4/227). Peristiwa ini bertepatan dengan 15 Juli 622 M. Dan tahun ini disebut dengan tahun izin (Arab: سنة الإذن). Maksudnya diizinakannya Rasulullah dan para sahabatnya untuk hijrah dari Mekah ke Madinah (al-Mausu’ah al-Arabiyah al-Amaliyah, Hal: 2).

Digunakanlah penanggalan hijriyah dengan menjadikan bulan Muharram sebagai bulan pertama dalam setahun. Penanggalan ini sudah dikenal oleh bangsa Arab. Karena mereka orang-orang Arab menentukan waktu dengan bulan. Hari pertama dimulai dengan masuknya waktu malam. Berbeda dengan kaum lainnya yang menentukan waktu dengan matahari (Ibnul Jauzi: al-Muntazhom fi-t Tarikh al-Mulk wa-l Umam 4/228).

Tahun hijriyah ini terdiri dari 12 bulan qamariyah. Jadi satu tahun hijriyah itu sama dengan 354 hari. Dan satu bulan terdiri dari 29 atau 30 hari.

Mengapa Muharam?

Tentang awal bulan untuk tahun hijriyah, para sahabat mengajukan beberapa usulan kepada Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu. Ada yang mengusul bulan Sya’ban sebagai awal tahun. Ada yang mengajukan Ramadhan. Kemudian mengerucut ke pendapat Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, yaitu bulan Muharram. Dengan alasan karena di bulan ini jamaah haji pulang dan Muharram adalah bulan Allah. Ini alasan dari sisi syariat. Adapun dari sisi sosial-budaya, Muharam merupakan bulan yang dipilih oleh bangsa Arab untuk memulai tahun-tahun mereka sebelum Islam datang. Sehingga mereka telah terbiasa dengan keadaan ini. Setelah Islam datang, Rasulullah mengukuhkannya dengan menyebut bulan ini syahrullah (bulan Allah).

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya Allah membuka tahun dengan bulan haram. Dan tidak ada bulan setelah bulan Ramadhan yang lebih mulia di sisi Allah melebih bulan Muharram. Bulan ini dinamai dengan bulan Allah karena saking besar kemuliaannya (al-Mausu’ah al-Arabiyah al-Amaliyah, Hal: 2).

Peristiwa-Peristiwa Penting di Bulan Muharram

Bulan Muharram adalah bulan suci dalam Islam. Di bulan ini pula banyak terdapat peristiwa-peristiwa penting dalam syariat maupun dalam sejarah.

Pertama: Penting Secara Syariat

Dianjurkannya Puasa 10 Muharram

Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata,

قَدِمَ النبيُّ صلى الله عليه وسلم المدينةَ فرأى اليهود تصوم يوم عاشوراء، فقال: “مَا هَذَا؟” قالوا: هذا يومٌ صَالِح، هذا يوم نجَّى الله بني إسرائيل من عدوِّهم فصامه موسى، قال:”فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ”. فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ»

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah. Lalu beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura (10 Muharram). Beliau bertanya, ‘Mengapa demikian?’ Mereka menjawab, ‘Ini adalah hari baik. Hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka. Lalu Musa pun berpuasa di hari tersebut’. Nabi berkata, ‘Aku lebih berhak terhadap Musa dibanding kalian’. Rasulullah berpuasa dan memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa di hari itu.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab ash-Shaum 1900 dan Muslim dalam Kitab ash-Shiyam 1130)

Kedua: Peristiwa Penting dalam Catatan Sejarah

Beberapa peristiwa penting dalam catatan sejarah yang terjadi di bulan Muharram adalah datangnya orang-orang Habasyah dengan pasukan gajah mereka di Kota Mekah. Mereka dipimpin oleh Abrahah al-Asyram dengan misi merobohkan Ka’bah. Di bulan ini juga kiblat kaum muslimin berpindah. Semula di Baitul Maqdis kemudian menuju Ka’bah. Perubahan ini terjadi sekitar 16 atau 17 bulan setelah Rasulullah hijrah ke Madinah.

Pada bulan Muharram ini pula, kaum muslimin di masa kekhalifahan Umar berhasil menguasai kota penting di Irak, Bashrah. Hal ini terjadi pada tahun 14 H. Kemudian pada tahun 20 H, kaum muslimin berhasil menaklukkan Mesir dengan panglima mereka Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhu. Kemudian bulan ini juga mencatat duka dengan syahidnya cucu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Husein bin Ali radhiallahu ‘anhuma, di Karbala (al-Mausu’ah al-Arabiyah al-Amaliyah, Hal: 3).

Peristiwa-peristiwa lainnya juga yang disebut-sebut terjadi pada bulan ini adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan Nabi Nuh ‘alaihissalam dari banjir besar. Diangkatnya Nabi Idris ‘alaihissalam ke langit keempat. Padamnya api Namrud di masa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Nabi Ya’qub ‘alaihissalam yang lama berduka dipertemukan lagi dengan putranya, Nabi Yusuf ‘alaihisslam. Diterimanya taubat Nabi Dawud ‘alaihissalam. Kemudian ia dijadikan pemimpin di bumi. Dikembalikannya kekuasaan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Nabi Musa ‘alaihissalam dan kaumnya diselamatkan dari Firaun. Dan di bulan ini pula Nabi Isa ‘alaihissalam diangkat ke langit (al-Mausu’ah al-Arabiyah al-Amaliyah, Hal: 3).

Oleh Nurfitri Hadi (IG: @nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

(fath/arrahmah.com)

Disalin dari: https://www.arrahmah.com/sejarah-lahirnya-kalender-hijriyah/

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 18 April 2020.

Vien AM.