Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Kisah Para Sahabat’ Category

Memang benar, bahwa kepintaran manusia itu mempunyai akibat yang merugikan dirinya sendiri. Dan orang-orang yang mempunyai bakat-bakat istimewa, banyak yang harus membayar mahal, justru pada waktu ia patut menerima ganjaran dan peng­hargaan ….

Shahabat mulia Abu Hurairah termasuk salah seorang dari mereka . .. . Sungguh dia mempunyai bakat luar biasa dalam kemampuan dan kekuatan ingatan … Abu Hurairah r.a. mem­punyai kelebihan dalam seni menangkap apa yang didengarnya, sedang ingatannya mempunyai keistimewaan dalam seni meng­hafal dan menyimpan . . . . Didengarnya, ditampungnya lalu terpatri dalam ingatannya hingga dihafalkannya, hampir tak pernah ia melupakan satu kata atau satu huruf pun dari apa yang telah didengarnya, sekalipun usia sertambah dan masa pun telah berganti-ganti. Oleh karena itulah, ia telah mewakafkan hidupnya untuk lebih banyak mendampingi Rasulullah sehingga termasuk yang terbanyak menerima dan menghafal Hadits, Serta meriwayatkannya.

Sewaktu datang masa pemalsu-pemalsu hadits yang dengan sengaja membikin hadits-hadits bohong dan palsu, seolah-olah berasal dari Rasulullah saw. mereka memperalat nama Abu Hurairah dan menyalahgunakan ketenarannya dalam meriwayatkan Hadits dari Nabi saw., hingga sering mereka mengeluarkan sebuah “hadits”, dengan menggunakan kata-kata:  ”Berkata Abu Hurairah . . . “.

Dengan perbuatan ini hampir-hampir mereka menyebabkan ketenaran Abu Hurairah dan kedudukannya selaku penyampai Hadits dari Nabi saw. menjadi lamunan keragu-raguan dan tanda tanya, kalaulah tidak ada usaha dengan susah payah dan ketekunan yang luar biasa, serta banyak waktu yang telah di­habiskan oleh tokoh-tokoh utama para ulama Hadits yang telah membaktikan hidup mereka untuk berhidmat kepada Hadits Nabi dan menyingkirkan setiap tambahan yang dimasukkan ke dalamnya.’

Di sana Abu Hurairah berhasil lolos dari jaringan kepalsuan dan penambahan-penambahan yalkg sengaja hendak diselundup­kan oleh kaum perusak ke dalam Islam, dengan mengkambing ­hitamkan Abu Hurairah dan membebankan dosa dan kejahatan mereka kepadanya ….

Setiap anda mendengar muballigh atau penceramab atau khatib Jum’at mengatakan kalimat yang mengesankan “dari Abu Hurairah r.a. berkata ia, telah bersabda Rasulullah saw.

Saya katakan ketika anda mendengar nama ini dalam rangkaian kata tersebut, dan ketika anda banyak menjumpainya, yah … banyak sekali dalam kitab-kitab Hadits, sirah, fikih serta kitab-kitab Agama pada umumnya, maka ketahuilah bahwa anda sedang menemui suatu pribadi antara sekian banyak pribadi yang paling gemar bergaul dengan Rasulullah dan mendengarkan sabdanya …. Karena itulah perbendaharaannya yang mena’jubkan dalam hal Hadits dan pengarahan-pengarahan penuh hikmat yang dihafalkannya dari Nabi saw. jarang diperoleh bandingannya . . . . Dan dengan bakat pemberian Tuhan yang dipunyainya beserta perbendaharaan Hadits tersebut, Abu Hurairah merupa­kan salah seorang paling mampu membawa anda ke hari-hari masa kehidupan Rasulullah saw. beserta para shahabatnya r.a. dan membawa anda berkeliling, asal anda beriman teguh dan berjiwa siaga, mengitari pelosok dan berbagai ufuk yang membuktikan kehebatan Muhammad saw. beserta shahabat-shahabat­nya itu dan memberikan makna kepada kehidupan ini dan memimpinnya ke arah kesadaran dan pikiran sehat. Dan bila garis-garis yang anda hadapi ini telah menggerakkan kerinduan anda untuk mengetahui lebih dalam tentang Abu Hurairah dan mendengarkan beritanya, maka silakan anda memenuhi keinginan anda tersebut . . . .

Ia adalah salah seorang yang menerima pantulan revolusi Islam, dengan segala perubahan mengagumkan yang diciptakan­nya. Dari orang upahan menjadi induk semang atau majikan . . . . Dari seorang yang terlunta-lunta di tengah-tengah lautan manusia, menjadi imam dan ikutan. Dan dari seorang yang sujud di hadapan batu-batu yang disusun menjadi orang yang beriman kepada Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa . . . . Inilah dia sekarang bercerita dan berkata:

“Aku dibesarkan dalam keadaan yatim, dan pergi hijrah dalam keadaan miskin . . . . Aku menerima upah sebagai pem­bantu pada Busrah binti Ghazwan demi untuk mengisi perutku…! Akulah yang melayani keluarga itu bila mereka sedang menetap dan menuntun binatang tunggangannya bila sedang bepergian . . . . Sekarang inilah aku, Allah telah menikahkanku dengan putri Busrah, maka segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Agama ini tiang penegak, dan menjadikan Abu Hurairah ikutan ummat …

Ia datang kepada Nabi saw. di tahun yang ke tujuh Hijrah sewaktu beliau berada di Khaibar; ia memeluk Islam karena dorongan kecintaan dan kerinduan . . . . Dan semenjak ia ber­temu dengan Nabi saw. dan berbaiat kepadanya, hampir-hampir ia tidak berpisah lagi daripadanya kecuali pada saat-saat waktu tidur . . . . Begitulah berjalan selama masa empat tahun yang dilaluinya bersama Rasulullah saw. yakni sejak ia masuk Islam sampai wafatnya Nabi, pergi ke sisi Yang Maha Tinggi. Kita katakan: “Waktu yang empat tahun itu tak ubahnya bagai suatu usia manusia yang panjang lebar, penuh dengan segala yang baik, dari perkataan, sampai kepada perbuatan dan pen­dengaran.

Dengan fitrahnya yang kuat, Abu Hurairah mendapat ke­sempatan yang besar yang memungkinkannya untuk memain­kan peranan penting dalam berbakti kepada Agama Allah.

Pahlawan perang di kalangan shahabat, banyak ….

Ahli fiqih, juru da’wah dan para guru juga tidak sedikit ….

Tetapi lingkungan dan masyarakat memerlukan tulisan dan penulis. Di masa itu golongan manusia pada umumnya, jadi bukan hanya terbatas pada bangsa Arab Saja, tidak mementing­kan tulis-menulis. Dan tulis-menulis itu belum lagi merupakan bukti kemajuan di masyarakat manapun.

Bahkan Eropah sendiri juga demikian keadaannya sejak kurun waktu yang belum lama ini. Kebanyakan dari raja-rajanya, tidak terkecuali Charlemagne sebagai tokoh utamanya, adalah orang-orang yang buta huruf tak tahu tulis baca, padahal me­nurut ukuran masa itu, mereka memiliki kecerdasan dan kemampuan besar ….

Kembali kita pada pembicaraan semula untuk melihat Abu Hurairah, bagaimana ia dengan fitrahnya dapat menyelami kebutuhan masyarakat baru yang dibangun oleh Islam, yaitu kebutuhan akan orang-orang yang dapat melihat dan memelihara peninggalan dan ajaran-ajarannya. Pada waktu itu memang ada para shahabat yang mampu menulis, tetapi jumlah mereka sedikit sekali, apalagi sebagiannya tak mempunyai kesempatan untuk mencatat Hadits-hadits yang diucapkan oleh Rasul.

Sebenarnya Abu Hurairah bukanlah seorang penulis, ia hanya seorang ahli hafal yang mahir, di samping memiliki kesempatan atau mampu mengadakan kesempatan yang diperlukan itu, karena ia tak punya tanah yang akan digarap, dan tidak pula perniagaan yang akan diurus… .

Ia pun menyadari bahwa dirinya termasuk orang yang masuk Islam belakangan, maka ia bertekad untuk mengejar ketinggalan­nya, dengan cara mengikuti Rasul terus-menerus dan secara tetap menyertai majlisnya . . .. Kemudian disadarinya pula adanya bakat pemberian Allah ini pada dirinya, berupa daya ingatannya yang luas dan kuat, Serta semakin sertambah kuat, tajam dan luas lagi dengan do’a Rasul saw., agar pemilik bakat ini diberi Allah berkat.

Ia menyiapkan dirinya dan menggunakan bakat dan kemampuan karunia Ilahi untuk memikul tanggung jawab dan meme­lihara peninggalan yang sangat penting ini dan mewariskannya kepada generasi kemudian ….

Abu Hurairah bukan tergolong dalam barisan penulis, tetapi sebagaimana telah kita utarakan, ia adalah seorang yang terampil menghafal lagi kuat ingatan . . . . Karena ia tak punya tanah yang akan ditanami atau perniagaan yang akan menyibukkannya, ia tidak berpisah dengan Rasul, baik dalam perjalanan maupun di kala menetap ….

Begitulah ia mempermahir dirinya dan ketajaman daya ingatnya untuk menghafal Hadits-hadits Rasulullah saw. dan pengarahannya. Sewaktu Rasul telah pulang ke Rafikul ‘Ala (wafat), Abu Hurairah terus-menerus menyampaikan Hadits-­hadits, yang menyebabkan sebagian shahabatnya merasa heran sambil bertanya-tanya di dalam hati, dari mana datangnya Hadits-hadits ini, kapan didengarnya dan diendapkannya dalam ingatannya ….

Abu Hurairah telah memberikan penjelasan untuk menghilangkan kecurigaan ini, dan menghapus keragu-raguan yang menulari para shahabatnya, maka katanya: “Tuan-tuan telah mengatakan bahwa Abu Hurairah banyak sekali mengeluarkan Hadits dari Nabi saw. . . . Dan tuan-tuan katakan pula orang-­orang Muhajirin yang lebih dahulu daripadanya masuk Islam, tak ada menceritakan Hadits-hadits itu … ? Ketahuilah, bahwa shahabat-shahabatku orang-orang Muhajirin itu, sibuk dengan perdagangan mereka di pasar-pasar, sedang shahabat-shahabatku orang-orang Anshar sibuk dengan tanah pertanian mereka …. Sedang aku adalah seorang miskin, yang paling banyak menyertai majlis Rasulullah, maka aku hadir sewaktu yang lain absen .. dan aku selalu ingat seandainya mereka lupa karena ke­sibukan ….

Dan Nabi saw. pernah berbicara kepada kami di suatu hari, kata beliau:

“Siapa yang membentangkan serbannya hingga selesai pembicaraanku, kemudian ia meraihnya ke dirinya, maka ia takkan terlupa akan suatu pun dari apa yang telah didengarnya daripadaku … ! “

Maka kuhamparkan kainku, lalu beliau berbicara kepadaku, kemudian kuraih kain itu ke diriku, dan demi Allah, tak ada suatu pun yang terlupa bagiku dari apa yang telah kudengar daripadanya . . . ! Demi Allah, kalau tidaklah karena adanya ayat di dalam Kitabullah niscaya tidak akan kukabarkan kepada kalian sedikit jua pun! Ayat itu ialah:

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa­apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterang­an dan petunjuk, sesudah Kami nyatakan kepada manusia di dalam Kitab mereka itulah yang dikutuk oleh Allah dan dikutuk oleh para pengutuk (Malatkat-malatkat) . . . !”

Demikianlah Abu Hurairah menjelaskan rahasia kenapa hanya ia seorang diri yang banyak mengeluarkan riwayat dari Rasulullah saw.

Yang pertama: karena ia melowongkan waktu untuk me­nyertai Nabi lebih banyak dari para shahabat lainnya.

Kedua, karena ia memiliki daya ingatan yang kuat, yang telah-diberi berkat oleh Rasul, hingga ia jadi semakin kuat ….

Ketiga, is menceritakannya bukan karena ia gemar bercerita, tetapi karena keyakinan bahwa menyebarluaskan Hadits-hadits ini, merupakan tanggung jawabnya terhadap Agama dan hidup­nya. Kalau tidak dilakukannya berarti ia menyembunyikan kebaikan dan haq, dan termasuk orang yang lalat yang sudah tentu akan menerima hukuman kelalatannya. … !

Oleh sebab itulah ia harus  memberitakan, tak suatu pun yang menghalanginya dan tak seorang pun boleh melarang­nya . . . hingga pada suatu hari Amirul Mu’minin Umar berkata kepadanya: “Hendaklah kamu hentikan menyampaikan berita dari Rasulullah! Bila tidak, maka’kan kukembalikan kau ke tanah Daus … !” (yaitu tanah kaum dan keluarganya).

Tetapi larangan ini tidaklah mengandung suatu tuduhan bagi Abu Hurairah, hanyalah sebagai pengukuhan dari suatu pandangan yang dianut oleh Umar, yaitu agar orang-orang Islam dalam jangka waktu tersebut, tidak membaca dan menghafalkan yang lain, kecuali al-Quran sampai ia melekat dan mantap dalam hati sanubari dan pikiran ….

Al-Quran adalah Kitab suci Islam, Undang-undang Dasar dan kamus lengkapnya, dan terlalu banyaknya cerita tentang Rasulullah saw. teristimewa lagi pada tahun-tahun menyusul wafatnya saw., saat sedang dihimpunnya al-Quran, dapat menyebabkan kesimpangsiuran dan campur-baur yang tak berguna dan tak perlu terjadi . . . !

Oleh karena ini Umar berpesan: “Sibukkanlah dirimu dengan al-Quran karena dia adalah kalam Allah . . . “. Dan katanya lagi: “Kurangilah olehmu meriwayatkan perihal Rasulullah kecuali yang mengenai amal perbuatannya!”

Dan sewaktu beliau mengutus Abu Musa al-Asy’ari ke Irak ia berpesan kepadanya:  “Sesungguhnya anda akan mendatangi suatu kaum yang dalam mesjid mereka terdengar bacaan al­Quran seperti suara lebah, maka biarkanlah seperti itu, dan jangan anda bimbangkan mereka dengan Hadits-hadits, dan aku menjadi pendukung anda dalam hal ini …….

Al-Quran sudah dihimpun dengan jalan yang sangat cermat, hingga terjamin keasliannya tanpa dapat dirembesi oleh hal-hal lainnya …. Adapun Hadits, maka Umar tidak dapat menjamin bebasnya dari pemalsuan atau perubahahan atau diambilnya sebagai alat untuk mengada -ada terhadap Rasulullah saw. dan merugikan Agama Islam.. ..

Abu Hurairah menghargai pandangan Umar, tetapi ia juga percaya terhadap dirinya dan teguh memenuhi amanat, hingga ia tak hendak menyembunyikan suatu pun dari Hadits dan ilmu

selama diyakininya bahwa mrnyembunyikannya adalah dosa dan kejahatan.

Demikianlah, setiap ada kesempatan untuk menumpahkan isi dadanya berupa Hadits yang pernah didengar dan ditangkap­nya tetap saja disampaikan dan dikatakannya ….

Hanya terdapat pula suatu hal yang merisaukan, yang me­nimbulkan kesulitan bagi Abu Hurairah ini, karena seringnya ia bercerita dan banyaknya Haditsnya yaitu adanya tukang Hadits yang lain yang menyebarkan hadits-hadits dari Rasul saw. Dengan menambah-nambah dan melebih-lebihkan hingga para. shahabat tidak merasa puas terhadap sebagian besar dari Hadits-haditsnya. Orang itu namanya Ka’ab al-Ahbaar, seorang Yahudi yang masuk Islam.

Pada suatu hari Marwan bin Hakam bermaksud menguji kemampuan menghafal dari Abu Hurairah. Maka dipanggilnya ia dan dibawanya duduk bersamanya, lalu dimintanya untuk mengabarkan hadits-hadits dari Rasulullah saw. Sementara itu disuruhnya penulisnya menuliskan apa yang diceritakan Abu Hurairah dari balik dinding. Sesudah berlalu satu tahun, dipanggilnya Abu Hurairah kembali, dan dimintanya mem­bacakan lagi hadits-hadits yang dulu itu Yang telah ditulis oleh sekretarisnya. Ternyata tak ada yang terlupa oleh Abu Hurairah walau agak sepatah kata pun … !

Ia berkata tentang dirinya: — “Tak ada seorang pun dari shabat-shahabat Rasul Yang lebih banyak menghafal Hadits dari pada aku, kecuali Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, karena ia pandai menuliskannya sedang aku tidak . . . “. Dan Imam Syafi’I mengemukakan pula pendapatnya tentang Abu Hurairah: — “Ia seorang yang paling banyak hafal di antara seluruh perawi Hadits semasanya”. Sementara Imam Bukhari menyatatakan pula: Ada kira-kira delapan ratus orang atau lebih dari shahabat tabi’in dan ahli ilmu yang meriwayatkan Hadits dari Abu Hurairah”.

Demikianlah Abu Hurairah tak ubah bagai suatu perpustakaan besar yang telah ditaqdirkan kelestarian dan keabadiannya ….

Abu Hurairah termasuk seorang ahli ibadat yang mendekat­kan diri kepada Allah, selalu melakukan ibadat bersama isterinya dan anak-anaknya semalam-malaman secara bergiliran; mula­- mula ia berjaga sambil shalat sepertiga malam kemudian di­lanjutkan oleh isterinya sepertiga malam dan sepertiganya lagi dimanfaatkan oleh puterinya Dengan demikian, tak ada satu saat pun yang berlalu setiap malam di rumah Abu Hurairah, melainkan berlangsung di sana ibadat, dzikir dan shalat!

Karena keinginannya memusatkan perhatian untuk me­nyertai Rasul saw. ia pernah menderita kepedihan lapar yang jarang diderita orang lain. Dan pernah ia menceritakan kepada kita bagaimana rasa lapar telah menggigit-gigit perutnya, maka diikatkannya batu dengan surbannya ke perutnya itu dan di­tekannya ulu hatinya dengan kedua tangannya, lalu terjatuhlah ia di mesjid sambil menggeliat-geliat kesakitan hingga sebagian shahabat menyangkanya ayan, padahal sama sekali bukan … !

Semenjak ia menganut Islam tak ada yang memberatkan dan menekan perasaan Abu Hurairah dari berbagai persoalan hidupnya ini, kecuali satu masalah yang hampir menyebabkannya tak dapat memejamkan mata. Masalah itu ialah mengenai ibunya, karena waktu itu ia menolak untuk masuk Islam . . . . Bukan hanya sampai di sana saja, bahkan ia menyakitkan perasaannya dengan menjelek-jelekkan Rasulullah di depannya ….

Pada suatu hari ibunya itu kembali mengeluarkan kata-kata Yang menyakitkan hati Abu Hurairah tentang Rasulullah saw., hingga ia tak dapat menahan tangisnya dikarenakan sedihnya, lalu ia pergi ke mesjid Rasul . .. . Marilah kita dengarkan ia menceritakan lanjutan berita kejadian itu sebagai berikut:

Sambil menangis aku datang kepada Rasulullah, lalu kata­ku: — “Ya Rasulallah, aku telah meminta ibuku masuk Islam. Ajakanku itu ditolaknya, dan hari ini aku pun baru saja me­mintanya masuk Islam. Sebagai jawaban ia malah mengeluarkan kata-kata yang tak kusukai terhadap diri anda. Karenanya mohon anda doakan kepada Allah kiranya ibuku itu ditunjuki-Nya kepada Islam …

Maka Rasulullah saw. berdoa: “Ya Allah tunjukilah ibu Abu Hurairah!”

Aku pun berlari mendapatkan ibuku untuk menyampaikan kabar gembira tentang doa Rasulullah itu. Sewaktu sampai di muka pintu, kudapati pintu itu terkunci. Dari luar kedengaran bunyi gemercik air, dan suara ibu memanggilku: “Hai Abu Hurairah, tunggulah di tempatmu itu . . . !”

Di waktu ibu keluar ia memakai baju kurungnya, dan mem­balutkan selendangnya sambil mengucapkan: “Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasu­luh . . . “

Aku pun segera berlari menemui Rasulullah saw. sambil menangis karena gembira, sebagaimana dahulu aku menangis karena berduka, dan kataku padanya: “Kusampaikan kabar suka ya Rasulallah, bahwa Allah telah mengabulkan doa anda . . . , Allah telah menunjuki ibuku ke dalam Islam … “. Kemu­dian kataku Pula: “Ya Rasulallah, mohon anda doakan kepada Allah, agar aku dan ibuku dikasihi oleh orang-orang Mu’min, baik laki-laki maupun perempuan!” Maka Rasul berdoa: “Ya Allah, mohon engkau jadikan hamba-Mu ini beserta ibunyadikasihi oleh sekalian orang-orang Mu’min, laki-laki dan pe­rempuan … !”

Abu Hurairah hidup sebagai seorang ahli ibadah dan seorang mujahid . .. tak pernah ia ketinggalan dalam perang, dan tidak Pula dari ibadat. Di zaman Umar bin Khatthab ia diangkat sebagai amir untuk daerah Bahrain, sedang Umar sebagaimana kita ketahui adalah seorang yang sangat keras dan teliti terhadap pejabat-pejabat yang diangkatnya. Apabila ia mengangkat se­seorang sedang ia mempunyai dua pasang pakaian maka sewaktu meninggalkan jabatannya nanti haruslah orang itu hanya mem­punyai dua pasang pakaian juga … malah lebih utama kalau ia hanya memiliki satu pasang saja! Apabila waktu meninggalkan jabatan itu terdapat tanda-tanda kekayaan, maka ia takkan luput dari interogasi Umar, sekalipun kekayaan itu berasal dari jalan halal yang dibolehkan syara’! Suatu dunia lain . .  yang diisi oleh Umar dengan hal-hal luar biasa dan mengagumkan … !

Rupanya sewaktu Abu Hurairah memangku jabatan sebagai kepala daerah Bahrain ia telah menyimpan harta yang berasal dari sumber yang halal. Hal ini diketahui oleh Umar, maka ia pun dipanggilnya datang ke Madinah  . . . Dan mari kita dengar­kan Abu Hurairah memaparkan soal jawab ketus yang ber­langsung antaranya dengan Amirul Mu’minin Umar;  Kata Umar: “Hai musuh Allah dan musuh kitab-Nya, apa engkau telah mencuri harta Allah?” Jawabku: “Aku bukan musuh Allah dan tidak Pula musuh Kitab-Nya …hanya aku menjadi musuh orang yang memusuhi keduanya dan aku bukanlah orang yang mencuri harta Allah . . . !”  Dari mana kau peroleh sepuluh ribu itu?  Kuda kepunyaanku beranak-pinak dan pemberian orang berdatangan . . . .  Kembalikan harta itu ke perbendaharaan negara (baitul maal) … !

Abu Hurairah menyerahkan hartanya itu kepada Umar, kemudian ia mengangkat tangannya ke arah langit sambil ber­doa: “Ya Allah, ampunilah Amirul Mu’minin …….

Tak selang beberapa lamanya. Umar memanggil Abu Hurai­rah kembali dan menawarkan jabatan kepadanya di wilayah baru. Tapi ditolaknya dan dimintanya maaf karena tak dapat menerimanya. Kata Umar kepadanya: — “Kenapa, apa sebab­nya?” Jawab Abu Hurairah: “Agar kehormatanku tidak sampai tercela, hartaku tidak dirampas, punggungku tidak dipukul … !” Kemudian katanya lagi: “Dan aku takut menghukum tanpa ilmu dan bicara tanpa belas kasih … !”

Pada suatu hari sangatlah rindu Abu Hurairah hendak ber­temu dengan Allah …. Selagi orang-orang yang mengunjunginya mendoakannya cepat sembuh dari sakitnya, ia sendiri berulang­-ulang memohon kepada Allah dengan berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku telah sangat rindu hendak bertemu dengan-Mu, Semoga Engkau pun demikian . . . !” Dalam usia 78 tahun, tahun yang ke-59 Hijriyah ia pun berpulang ke rahmatullah. Di sekeliling orang-orang shaleh penghuni pandam pekuburan Baqi’, di tempat yang beroleh berkah, di sanalah jasadnya di­baringkan . . . ! Dan sementara orang-orang yang mengiringkan jenazahnya kembali dari pekuburan, mulut dan lidah mereka tiada henti-hantinya membaca Hadits yang disampaikan Abu Hurairah kepada mereka dari Rasul yang mulia ….

Salah seorang di antara mereka yang baru masuk Islam sertanya kepada temannya: “Kenapa syekh kita yang telah berpulang ini diberi gelar Abu Hurairah (bapak kucing)? Tentu temannya yang telah mengetahui akan menjawabnya: “Di waktu jahiliyah namanya dulu Abdu Syamsi, dan tatkala ia memeluk Islam, ia diberi nama oleh Rasul dengan Abdurrahman. Ia sangat penyayang kepada binatang dan mempunyai seekor kucing, yang selalu diberinya makan, digendongnya, dibersihkannya dan diberinya tempat. Kucing itu selalu menyertainya seolah-olah bayang-bayangnya. Inilah sebabnya ia diberi gelar “Bapak kucing”, moga-moga Allah ridla kepadanya dan menjadikannya ridla kepada Allah … !

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 17 Agustus 213.

Vien AM.

 Dicopy dari: http://edywitanto.wordpress.com/2010/12/09/abu-hurairah/

Advertisements

Read Full Post »

Abu Dzar al Ghifari RA, yang nama aslinya Jundub bin Janadah berasal dari Bani Ghifar yang tinggal jauh dari kota Makkah, tetapi ia merupakan kelompok sahabat yang pertama memeluk Islam (as sabiqunal awwalun). Ia termasuk orang yang menentang pemujaan berhala pada jaman jahiliah, karena itu ia langsung tertarik ketika mendengar kabar tentang seorang nabi yang mencela berhala dan para pemujanya.

Ia merupakan orang dewasa ke lima atau ke enam yang memeluk Islam. Ketika ia menceritakan kepada Nabi SAW bahwa ia berasal dari Ghifar, beliau tersenyum penuh kekaguman. Bani Ghifar terkenal sebagai perampok yang suka mencegat kafilah dagang di belantara padang pasir. Mereka sangat ahli melakukan perjalanan di malam hari, gelap gulita bukan halangan bagi mereka, karena itu kabilah ini sangat ditakuti oleh kafilah dagang. Nabi SAW makin takjub ketika mengetahui bahwa Abu Dzar datang sendirian hanya untuk mendengar dan mengikuti risalah Islam yang beliau bawa, yang sebenarnya baru didakwahkan secara sembunyi-sembunyi. Beliau hanya bisa berkata, “Sungguh Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendakiNya…”

Setelah keislamannya, beliau menyarankan agar ia menyembunyikan keimanannya dan kembali kepada kaumnya sampai waktunya Allah memberikan kemenangan. Karena sebagai perantau yang sendirian, akan sangat berbahaya jika diketahui ia telah memeluk agama baru yang menentang penyembahan berhala. Ia bisa memahami saran beliau tersebut, tetapi jiwa seorang Ghifar yang pantang takut dan menyerah seolah memberontak, ia berkata, “Demi Tuhan yang menguasai nyawaku, aku takkan pulang sebelum meneriakkan keislamanku di Masjid.”

Ia berjalan ke Masjidil Haram, dan di sana ia meneriakkan syahadat sekeras-kerasnya. Itulah teriakan dan lantunan keras syahadat yang pertama di masjidil haram, dan mungkin juga yang pertama di bumi ini. Tak ayal lagi orang-orang musyrik merubung dan memukulinya hingga ia jatuh pingsan.

Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi SAW yang mendengar kabar tersebut segera datang ke masjid, tetapi melihat kondisinya, tidak mudah melepaskan Abu Dzar dari kemarahan massa, karena itu ia berkata diplomatis, “Wahai orang Quraisy, dia adalah orang dari Kabilah Bani Ghifar. Dan kalian semua adalah kaum pedagang yang selalu melewati daerah mereka. Apa jadinya jika mereka tahu kalian telah menyiksa anggota keluarganya??”

Merekapun melepaskannya. Tetapi pada hari berikutnya, ketika Abu Dzar melihat dua wanita mengelilingi berhala Usaf dan Na-ilah sambil bermohon, lagi-lagi jiwa tauhidnya terusik. Ia mencegat dua wanita tersebut dan menghina dua berhala itu sejadi-jadinya, sehingga dua wanita itu menjerit ketakutan. Tak pelak orang-orang musyrik berkumpul dan sekali lagi menghajarnya beramai-ramai hingga pingsan. Melihat kejadian tersebut, sekali lagi Rasulullah SAW memerintahkannya untuk segera pulang ke kabilahnya.

Kembali ke daerahnya, Abu Dzar mendakwahkan risalah Islam kepada kaumnya, sehingga sedikit demi sedikit mereka memeluk Islam. Ia juga mendakwahkan kepada kabilah tetangganya, Bani Aslam, sehingga cahaya hidayah menerangi kabilah ini. Beberapa tahun kemudian ketika Nabi SAW sudah tinggal di Madinah, serombongan besar manusia datang dengan suara gemuruh, kalau tidaklah gema takbir yang terdengar, pastilah mereka mengira sedang diserang musuh. Ternyata mereka adalah Kabilah Bani Ghifar dan Bani Aslam, dua kabilah yang terkenal jadi momok perampokan kafilah dagang di belantara padang pasir, berkamuflase menjadi raksasa pembela kebenaran dan penebar kebaikan. Dan hidayah Allah tersebut datang melalui tangan Abu Dzar.

Ketika dua rombongan besar ini menghadap Nabi SAW, beliau berkaca-kaca diliputi keharuan, suka cita dan rasa kasih berlimpah. Beliau bersabda kepada Kabilah Bani Ghifar, “Ghifaarun ghafarallahu laha….” (Suku Ghifar telah diampuni oleh Allah).

Kemudian beliau berpaling kepada Kabilah Bani Aslam sambil bersabda, “Wa Aslamu Saalamahallahu….” (Suku Aslam telah diterima dengan selamat (damai) oleh Allah).

Pada perang Tabuk yang terkenal dengan nama Jaisyul Usrah (Pasukan di masa sulit), beberapa orang tertinggal dari rombongan besar Rasulullah SAW. Dan ketika ini dilaporkan, beliau bersabda, “Biarkanlah! Andaikan ia berguna, tentu akan disusulkan oleh Allah kepada kalian. Dan jika tidak, Allah telah membebaskan kalian dari dirinya.”

Salah seorang yang tertinggal tersebut adalah Abu Dzar. Keledai yang ditungganginya sangat lelah sehingga tidak bisa bergerak lagi. Berbagai cara dicoba Abu Dzar agar keledainya berjalan lagi tetapi tidak berhasil, bahkan akhirnya mati.

Sementara itu rombongan Nabi SAW sedang beristirahat ketika pagi tiba. Seorang sahabat melaporkan ada satu sosok terlihat berjalan sendiri di jauh di ufuk. Nabi SAW bersabda, “Mudah-mudahan orang itu Abu Dzar…!!”

Setelah dekat dan sampai di hadapan Nabi SAW, ternyata memang Abu Dzar-lah orangnya. Ia memanggul barang dan perbekalan di punggungnya dan meneruskan perjalanan menyusul rombongan Nabi SAW dengan berjalan kaki. Walau jelas terlihat kelelahannya, tetapi wajahnya bersinar gembira bisa bertemu dengan Nabi SAW dan anggota pasukan lainnya. Beliau menatapnya penuh takjub, kemudian dengan senyum yang santun dan penuh kasih, beliau bersabda, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya pada Abu Dzar, ia berjalan sendirian, ia meninggal sendirian, dan ia akan dibangkitkan sendirian…”

Sebuah bentuk pujian, atau sebuah ramalan, atau sebuah bentuk rasa kasihan, atau apapun itu, hanyalah sebuah gambaran tentang apa yang telah dan akan dijalani oleh Abu Dzar, bahkan pada hari kebangkitan nanti.

Dari sejak pertama memeluk Islam, keberaniannya mengeksplorasi keimanannya di saat dan tempat yang bisa membahayakan dirinya, Nabi SAW langsung mengetahui watak dan karakter Abu Dzar, apalagi dengan kondisi lingkungan Bani Ghifar yang mendidiknya. Suatu ketika Nabi SAW bersabda kepadanya, “Wahai Abu Dzar, bagaimana pendapatmu jika menjumpai para pembesar yang mengambil upeti untuk keperluan pribadinya.”

Dengan tegas Abu Dzar menjawab, “Demi Allah yang telah mengutus engkau dengan kebenaran, aku akan luruskan mereka dengan pedangku!”

Beliau tersenyum, kemudian bersabda, “Maukah aku beri jalan yang lebih baik dari itu…”

Abu Dzar mengangguk, Nabi SAW bersabda, “Bersabarlah engkau, sampai engkau menemui aku…!!”

Inilah gambaran situasi yang akan dihadapi oleh Abu Dzar sepeninggal Nabi SAW. Tetapi di masa khalifah Abu Bakar dan Umar, tidak ada sesuatu yang mengusik kehidupan Abu Dzar, situasi tidak jauh berbeda seperti masa hidupnya Nabi SAW.

Setelah wafatnya Umar bin Khaththab, yang memang digelari Nabi SAW dengan istilah “Pintunya Fitnah” atau “Gemboknya Fitnah”, sedikit demi sedikit fitnah duniawiah menjalari umat Islam. Apalagi wilayah Islam makin luas dan harta kekayaan melimpah ruah. Gaya hidup Romawi dan Persi sedikit demi sedikit diadopsi oleh para penguasa muslim. Jurang pemisah antara kaum fakir miskin dan penguasa atau hartawan mulai terbentuk. Pada keadaan seperti inilah jiwa Abu Dzar terusik. Abu Dzar menerawang jauh ke belakang, teringat akan waktu bersama Nabi SAW dan apa yang beliau sabdakan tentang dirinya. Beliau sudah mewasiatkan dirinya untuk bersabar dan tidak menggunakan pedangnya. Tetapi jiwa perjuangan untuk menegakkan kebenaran seakan tidak bisa terbendung. “Nabi SAW melarang aku untuk meluruskan mereka dengan pedang, tetapi beliau tidak pernah melarang untuk meluruskan dengan lidah dan nasihat,” begitu pikirnya.

Maka dimulailah babak baru perjuangannya. Abu Dzar mendatangi pusat-pusat kekuasaan dan kekayaan, para penguasa dan hartawan, khususnya yang tidak lagi meneladani Nabi SAW dalam mengemban amanat harta dan jabatan. Dalam menyampaikan kebenaran, lidahnya tak kalah tajamnya dengan pedangnya. Ia mengutip Surah at Taubah ayat 34-35, dan merangkaikannya menjadi syair singkat yang segera saja menjadi simbol perjuangannya, “Berilah kabar gembira para penumpuk harta, yang menumpuk emas dan perak, mereka akan diseterika dengan seterika api neraka, menyeterika kening dan pinggang mereka di hari kiamat….”

Segera saja Abu Dzar mendapat sambutan hangat di seluruh penjuru negeri yang dikunjunginya. Banyak sekali orang yang bergabung dan berdiri di belakangnya untuk mendukung perjuangannya. Kalau orang Islam biasa yang mengucapkan kalimat tersebut di hadapan penguasa dan para hartawan, tentulah tidak begitu besar pengaruhnya. Tetapi seorang sahabat sekaliber Abu Dzar, yang berdiri kokoh menghadapi penguasa dan hartawan, dengan tegas dan tanpa gentar sedikitpun menasehati mereka, seolah memunculkan kutub baru, kutub kaum tertindas dan teraniaya dalam negeri Islam yang begitu kaya dan melimpah.

Inilah rahasianya, kenapa Nabi SAW dalam menasehatinya langsung pada titik tertinggi, “Bersabarlah engkau, sampai engkau menemui aku…!!”

Dan beliau tidak menasehatinya untuk berjuang dengan lisannya. Kutub baru yang terjadi karena perjuangannya bisa menimbulkan fitnah baru yang lebih besar daripada fitnah yang telah ada, yakni perpecahan umat. Dan Abu Dzar menyadari satu hal, tidak semua orang tulus dan murni berjuang untuk menegakkan kalimat dan agama Allah. Ada sebagian orang yang memanfaatkan perjuangannya menegakkan kebenaran, untuk memenuhi ambisi dan keinginan nafsunya. Maka ketika Khalifah Utsman memanggilnya untuk kembali ke Madinah, ia segera memenuhinya.

Tiba di Madinah, Khalifah Utsman memintanya dengan halus untuk tinggal bersamanya, segala kebutuhannya akan dipenuhi. Tentu saja tawaran seperti itu ditolaknya, ia hanya meminta izin untuk mengasingkan diri di pedalaman padang pasir di Rabadzah. Ia ingin melaksanakan wasiat Nabi SAW kepadanya untuk bersabar di tempat terpencil, sehingga tidak terganggu dengan fitnah-fitnah yang mulai menyebar. Khalifah Utsman mengijinkannya.

Sebagian riwayat menyebutkan, Khalifah Utsman-lah yang memberikan pilihan kepadanya, tinggal di Madinah dengan segela kebutuhannya dicukupi, atau ia akan diasingkan ke pedalaman Rabadzah. Tujuan jelas, agar ia tidak lagi berkeliling wilayah Islam mendakwahi para penguasa dan hartawan. Dan Abu Dzar sebagai seorang muslim sejati tetap taat kepada Utsman sebagai Amirul Mukminin, dan mengambil pilihan ke dua.

Abu Dzar tinggal di Rabadzah bersama istri, anak dan pembantunya yang sudah tua, dan beberapa ekor unta sebagai sumber kehidupannya. Suatu ketika datang seseorang dari Bani Sulaim menemuinya dan berkata “Saya ingin tinggal bersama engkau, agar aku dapat mendalami pengetahuan tentang perintah Allah, dan juga mengenal sifat-sifat yang dimiliki Rasulullah SAW. Saya bersedia membantu hambamu yang sudah tua itu dalam memelihara onta-ontamu!”

“Aku tidak mau tinggal dengan orang yang tidak menuruti kehendakku,” Kata Abu Dzar, “Jika kamu berjanji akan melakukan apa yang suruh, aku akan mengijinkanmu tinggal bersamaku.”

“Bagaimana cara menuruti kehendak-kehendakmu?” Tanya orang Bani Sulaim itu.

“Apabila aku menyuruh membelanjakan hartaku, hendaknya engkau membelanjakan yang terbaik dari hartaku itu.” Kata Abu Dzar. Orang itu menyetujuinya, dan ia tinggal bersama Abu Dzar sambil menggembalakan unta-untanya.

Suatu ketika ada kabar bahwa ada sekelompok orang-orang miskin yang kehabisan bekal makanan, berkemah di dekat mata air. Abu Dzar memerintahkan pembantunya dari bani Sulaim untuk menyembelih satu ekor unta buat mereka. Ia memilih yang terbaik dari unta yang dimiliki Abu Dzar, dan ternyata ada dua, salah satunya tampak lebih bagus untuk ditunggangi. Karena dimaksudkan untuk bekal makanan dan akan disembelih, ia memilih unta yang satunya kemudian dibawa menghadap Abu Dzar. Ketika melihat unta tersebut, Abu Dzar berkata, “Engkau mengkhianati janjimu dulu?”

Orang tersebut sadar apa yang dimaksudkan Abu Dzar, ia membawa kembali unta tersebut dan menukarnya dengan unta yang lebih bagus untuk ditunggangi. Abu Dzar menyuruh dua pembantunya menyembelih unta tersebut dan membagikan dagingnya. Untuk keluarganya, sama banyaknya dengan keluarga dalam kelompok orang miskin tersebut.

Saat akhir kehidupannya, ketika Abu Dzar mengalami sakaratul maut, istri yang menungguinya menangis. Ia berkata, “Apa yang engkau tangisi, padahal maut itu pasti datang??”

“Bukan itu,” Kata istrinya, “Engkau meninggal, padahal tidak ada kain untuk mengkafani jenazahmu!!”

Abu Dzar tersenyum sambil matanya menerawang jauh, seolah mengingat sesuatu. Ia berkata, “Aku ingat, junjunganku, Rasulullah SAW berkata pada sekelompok sahabat termasuk aku, ‘Ada salah satu dari kalian yang meninggal di padang pasir yang liar dan terpencil, yang akan disaksikan oleh serombongan orang beriman.’ Semua sahabat yang hadir di majelis tersebut telah meninggal syahid atau di hadapan kaum muslimin, kecuali aku. Nah, kalau aku telah meninggal, perhatikanlah jalan (riwayat lain, letakkan aku di sisi jalan), agar rombongan orang beriman itu melihatku. Demi Allah aku tidak bohong, dan tidak pula dibohongi (oleh Nabi SAW)…”

Ternyata benar, tidak lama setelah kewafatannya, sebuah kafilah lewat tak jauh dari tempatnya, dan kemudian membelokkan arah menuju sosok mayat yang sedang ditangisi oleh dua orang, istri dan anak Abu Dzar, berada. Sahabat Abdullah bin Mas’ud yang memimpin rombongan tersebut langsung mengenalinya sebagai Abu Dzar. Ia berurai air mata melihat keadaan sahabatnya tersebut, sambil berkata, “Benarlah Rasulullah SAW, anda berjalan seorang diri, anda meninggal seorang diri, dan anda akan dibangkitkan pula seorang diri…”

Sebagian riwayat menyebutkan, ketika kafilah yang dipimpin Abdullah bin Mas’ud itu sampai di tempatnya, ia masih hidup dalam keadaan sakaratul maut. Ia berkata kepada mereka, “..seandainya aku dan istriku mempunyai kain, tentu aku ingin dikafani dengan kainku atau milik istriku. Tetapi aku minta dengan nama Allah, janganlah seseorang yang pernah menjabat gubernur, walikota, atau penguasa apapun yang mengafani aku!!”

Ternyata hampir semua anggota kafilah tersebut pernah memangku jabatan yang disebutkannya, kecuali satu orang sahabat Anshar. Dia berkata, “Wahai pamanku, akulah yang tidak pernah menjabat seperti yang engkau sebutkan, aku yang akan mengafani jenazahmu dengan sorbanku dan dua bajuku yang ditenun sendiri oleh ibuku!!”

“Hanya engkau yang boleh mengafani jenazahku,” Kata Abu Dzar.

Setelah Abu Dzar wafat, mereka merawat jenazahnya dan sahabat Anshar tadi yang mengafaninya. Setelah itu mereka pulang ke Madinah dengan gembira, terutama sahabat Anshar tersebut, karena mereka telah masuk dalam bagian dari realisasi sabda Nabi SAW seperti yang disampaikan Abu Dzar. Dan kegembiraan apalagi yang lebih besar, bahwa Nabi SAW menyebut dan menjamin mereka sebagai “rombongan orang beriman.”

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Juni 2018.

Vien AM.

Diambil dari https://kisahsahabat-nabi.blogspot.com/2017/02/abu-dzar-al-ghifari-ra.html

 

Read Full Post »