Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Perempuan bekerja dalam pandangan Islam’ Category

Pengantar

Pendahuluan

Bab I Tindak Kekerasan terhadap perempuan dan anak

Bab II Kenakalan anak dan krisis identitas

Bab III   Citra   Perempuan masa kini.

Bab IV Lahirnya gerakan Feminisme .

Bab V Perang Pemikiran, Westernisasi dan dampaknya

Bab VI Perkawinan dan Poligami

Bab VII Perempuan, keluarga dan perannya dalam Islam

Bab VIII Pengaruh dan keteladanan perempuan

Bab IX. Keteladanan Rasulullah SAW

Penutup

Daftar Referensi

Advertisements

Read Full Post »

Ibnu Al Jauzi berkata: ”Anak laki-laki dianggap sudah baligh apabila sudah pernah ’mimpi basah’, berumur  15 tahun dan tumbuh rambut di sekitar kemaluannya. Sedangkan perempuan diangggap baligh apabila telah mengalami hal yang sama dengan laki-laki ditambah dengan haid dan hamil. Oleh karenanya apabila perempuan telah mengalami salah satu keadaan tadi maka ia telah dianggap dewasa dan sebagai konsekwensinya apabila ia meninggalkan kewajiban maka ia berdosa. Inilah arti kedewasaan seseorang”.

Sementara itu undang-undang no 4 tahun 1979 menyebutkan bahwa anak adalah mereka yang berumur sampai dengan 21 tahun. Sedangkan kenakalan remaja yang dimaksud dalam bab ini adalah kenakalan anak berusia13 – 21 tahun atau mereka yang masuk kategori dewasa berdasarkan perkataan Ibnu Al Jauzi diatas. Namun ini tidak berarti bahwa anak dibawah kriteria diatas bebas dari permasalahan. Bahkan belakangan ini diberitakan  anak-anak usia tersebutpun  banyak yang telah terjerat masalah rokok, penganiayaan dan pelecehan ringan.

Sebut saja ’ Smack Down’ misalnya,   pertunjukkan adu otot  ini ternyata telah menimbulkan korban yang tidak sedikit dari kalangan anak usia taman kanak-kanak. Juga menjamurnya rental ’Play station’ yang dituduh banyak menyumbangkan  penyebab anak malas ke sekolah. Belum lagi acara-acara TV yang dinilai sangat kurang memberikan pendidikan, seperti sinetron yang banyak menampilkan adegan kekerasan, saling bentak, pacaran, perselingkuhan dan sebagainya.

Kenakalan remaja dapat dikategorikan ke dalam perilaku menyimpang.  Perilaku menyimpang dapat dianggap sebagai sumber masalah karena dapat membahayakan tegaknya sistem hukum. Prilaku menyimpang ini ada  yang tidak disengaja dan ada yang disengaja, diantaranya mungkin karena si pelaku kurang memahami aturan-aturan yang ada. Remaja inilah yang pada umumnya mengalami berbagai masalah dan krisis diantaranya; krisis identitas, kecanduan narkotika dan obat-obatan/narkoba, kenakalan remaja, tidak dapat menyesuaikan diri di sekolah, konflik mental dan puncaknya adalah keterlibatan dalam kejahatan.

Kenakalan remaja terbagi atas 3 tingkatan. Pertama : kenakalan umum, seperti suka berbohong, menyontek, suka berkelahi, suka keluyuran, membolos sekolah, pergi dari rumah tanpa pamit. Kedua, kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan seperti tawuran, mengendarai mobil tanpa SIM, mengambil barang orang tua tanpa izin, nonton video porno dan yang terakhir adalah  kenakalan khusus seperti minum-minuman keras, penyalahgunaan narkotika,  hubungan seks diluar nikah, pemerkosaan dll.

Menurut data statistik setiap hari ada 40 orang meninggal akibat narkoba. Padahal dampak pemakaian obat2an terlarang ini bermacam-macam, tidak hanya kematian semata. Cacat mental seperti hilangnya fungsi tubuh dan otak adalah hanya satu diantaranya. Di sisi lain, pengobatan dan penyembuhan kecanduan narkoba sangat sulit karena narkoba membuat korbannya kecanduan. Mereka harus masuk rehabilitasi dan dijauhkan dari lingkungan lamanya.

Hal lain yang juga memprihatinkan adalah adanya  beberapa laporan tentang  ditemukannya sejumlah remaja yang telah berani ’kumpul kebo’, istilah bagi mereka yang hidup bersama tanpa ikatan penikahan! Sebuah fenomena yang jika terus didiamkan akan membahayakan baik bagi pelaku, keluarga, maupun masyarakat. Karena disamping bakal meningkatkan kemungkinan terjangkitnya virus HIV/AID, di kemudian hari juga dapat menimbulkan masalah sosial yang semakin kompleks.

Menurut dr Boyke Dian Nugroho, SpOG MARS jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia saat ini mencapai 500-600 ribu orang dimana 40% diantaranya adalah remaja. Ada dua penyebab utama terjadinya percepatan penularan HIV/AIDS yaitu perilaku seks bebas (30%) dan peredaran narkoba terutama yang menggunakan jarum suntik (50%). Badan Narkotika Nasional bahkan mengatakan bahwa pada tahun 2003 hampir 10 juta orang Indonesia telah menjadi korban barang haram ini.

Namun mengapa  dampak terbesar terjadi pada remaja? Secara kejiwaan usia remaja memang mengalami fase ketidakstabilan emosional. Sifat agresif dan tingkat emosional yang tinggi menyebabkan remaja cenderung sering mengambil tindakan cepat tanpa pertimbangan yang matang.  Dan akibat kelemahan prinsip hidup dan keterbatasan bekal hidup yang dimiliki,  remaja ketika menghadapi permasalahan, ia  mengalami kebingungan. Mereka merasa lebih aman bersama teman-temannya dan tinggal di luar rumah dari pada bercengkrama dengan keluarga di rumah. Lingkungan negatif inilah yang rentan membawa remaja kepada pergaulan bebas, seks bebas, narkoba dan tertularnya penyakit HIV/AIDS.

Ironisnya, gejala tersebut tidak hanya terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya misalnya, namun juga ke pelosok-pelosok daerah. Malah tahun-tahun belakangan ini banyak kita dengar berita mengenai maraknya kasus bunuh diri di kalangan remaja.

Penyebabnyapun rata-rata hanya masalah sepele, seperti dilarang pergi keluar malam, orang-tua tidak mampu membayar SPP, tidak memilki HP dll.  Berdasarkan penelitian, seorang pecandu narkoba memiliki kecenderungan dan keinginan untuk juga melakukan tindakan bunuh diri. Tampaknya remaja sekarang telah terjatuh dalam krisis identitas akut. Rasa percaya diri mereka dan terutama keimanan mereka patut dipertanyakan.

Pertanyaannya mengapa dan siapakah yang bersalah dan harus bertanggung-jawab? Tegakah  kita menyaksikan anak-anak yang dititipkan-Nya kepada kita, yang hadir  dari buah kasih sayang ayah ibunya dan bahkan dilahirkan melalui sebuah perjuangan yang tidak mudah  melangkah ke jurang kehancuran di depan mata  kita?

Diriwayatkan oleh Ahmad, Ath-Thabrani, Ibnu Hibban dan Al Baihaqi, Rasululah bersabda : ” Pendidikan seseorang diantara kalian terhadap anaknya lebih baik daripada ia bersedekah setengah sha’ setiap harinya kepada orang miskin”.

Dari Ibnu Umar ra, ia berkata, Rasulullah bersabda : ” Didiklah anakmu karena kamu akan dimintai pertanggung-jawaban : bagaimana kamu mendidiknya dan apa saja yang kamu ajarkan kepadanya. Dia juga akan dimintai pertanggung-jawaban seberapa jauh seorang anak berbakti dan taat kepadamu”.

Read Full Post »

Dewasa ini dapat dilihat secara kasat mata bahwa kaum perempuan dari semua lapisan, baik formal maupun informal,  ke luar rumah untuk bekerja. Pekerjaan mereka sangat bervariasi, mulai hanya sebagai PRT (Pembantu Rumah Tangga), buruh pabrik, karyawan perusahaan, artis, staf pengajar, konsultan, perawat, dokter hingga staf ahli  bahkan jabatan setingkat mentri. Alasan mereka bekerjapun beraneka-ragam. Ada yang memang karena kebutuhan hidup, ada yang sekedar untuk menambah pendapatan suami/keluarga, ada yang untuk mengisi waktu luang, ada yang dengan tujuan mengamalkan ilmu dan ada pula yang demi mengejar karier dan cita-cita. Tetapi ada juga yang sekedar menuruti kemauan suami.

Namun disisi lain pengangguranpun merebak dimana-mana. Penyebabnya bermacam-macam. Mulai dari adanya kasus PHK (Pemutusan Hubungan Kerja),  lapangan kerja yang terbatas, rendahnya tingkat pendidikan, kurangnya ketrampilan atau pengalaman hingga sekedar alasan kemalasan semata! Padahal normalnya laki-laki dalam Islam seharusnya bertanggung-jawab atas ekonomi keluarganya. Bahkan wajib hukumnya. Jadi sungguh berdosa besar laki-laki yang tidak mau menafkahi keluarganya kecuali dengan alasan cacat atau sakit yang tidak memungkinkannya bekerja.

Dari sini terkesan bahwa telah terjadi persaingan tersembunyi antara laki-laki dan perempuan dalam mendapatkan pekerjaan. Fenomena inilah yang mengusik hati penulis untuk mencoba mencari jawabnya.

Allah swt menciptakan manusia laki-laki dan perempuan sebagai pasangan. Sang Pencipta menghendaki agar mereka hidup berdampingan, saling membantu, saling melengkapi dan saling mengisi. Ini adalah bagian dari aturan/sistim Allah, sebuah fitrah. Perumpamaannya seperti tangan kanan dengan tangan kiri atau kaki kanan dengan kaki kiri. Atau pembagian tugas antara jantung, paru-paru, ginjal dll. Masing-masing memiliki tugas yang khas yang tidak mungkin saling menggantikan. Begitu juga halnya mengapa Ia menciptakan matahari dan bulan  yang bekerja sama dalam sebuah tatanan yang rapi dan teratur. Tidak mungkin keduanya saling iri atas tugas masing-masing. Matahari tidak mungkin mendahului bulan apalagi menggantikan fungsinya demikian pula sebaliknya.

Begitupun  alam semesta dan segala isinya. Bila aturan dan sistim ini dilanggar maka akan terjadi kerusakan yang dampaknya bisa jadi baru terasa puluhan tahun kemudian. Inilah yang sedang terjadi di bumi kita tercinta. Exploitasi alam diantaranya  penggalian barang-barang tambang, pengerukkan  pasir sungai dan pantai secara sembarangan memberikan dampak kerusakan yang luar biasa. Lingkungan dan ekosistim alam menjadi terganggu. Para ilmuwan sepakat bahwa hal ini adalah salah satu penyebab terjadinya pemanasan global dewasa ini.

Menurut pendapat penulis, persaingan mencari lapangan pekerjaan diantara laki-laki dan perempuan yang tejadi belakangan ini juga berpotensi merusak keseimbangan sistim alam/fitrah manusia. Sungguh tidak masuk akal, kedua jenis kelamin berlawanan ini berkutat pada satu bidang yang sama, yaitu mencari nafkah. Sementara bidang lain yang bisa dikatakan bahkan jauh lebih penting justru diterbengkalaikan. Perempuan bagaimanapun juga adalah kaum ibu yang sangat  diharapkan keberadaannya sebagai pendidik awal anak, sebagai pewaris generasi. Ini adalah sebuah kehormatan yang tidak seharusnya disia-siakan.

Jepang dikenal sebagai salah satu negara termaju  di dunia. Tahukah rahasia mereka? Ternyata bangsa ini adalah bangsa yang sangat menghargai kaum ibu. Mereka menganggap bahwa keberhasilan bangsa mereka disebabkan peran ibu dalam mendidik anaknya. Peran ganda seorang perempuan sebagai seorang ibu, terutama bagi anaknya yang masih balita, sekaligus sebagai perempuan pekerja dianggap ‘chuto hanpa’,  yaitu peran tanggung yang  tidak populer. Mereka lebih senang memilih menjadi ibu atau tidak sama sekali!

Jadi ibu adalah pilihan profesional.Hal ini didukung secara resmi oleh pemerintah. Oleh karenanya hak dan kewajiban masing-masing dilindungi oleh undang-undang. Dan demi mendukung kesuksesan masing-masing karir yang dipilih, pemerintah menyediakan sarana dan prasarana yang sama besarnya. Perempuan yang tidak/belum  menikah ataupun ibu yang tidak memiliki anak namun mempunyai minat, kepandaian dan kemampuan untuk berprestasi besar, mereka diberi kesempatan untuk menduduki  jabatan tinggi. Sementara perempuan yang mempunyai anak dan memilih menjadi ‘ibu’, pemerintah menyediakan fasilitas yang baik agar mereka dapat mendidik anak-anaknya tanpa khawatir kekurangan materi. Tak heran jika anak-anak di Jepang , laki-laki maupun perempuan, sangat menyayangi dan mengagumi ibu-ibu mereka. Para ibu dianggap sebagai jelmaan Dewi Amaterasu yang dipuja oleh bangsa Jepang.

”Barangsiapa yang mempunyai dua saudara perempuan atau anak perempuan kemudian ia berbuat baik kepada mereka selama bersamanya maka aku dan dia masuk surga seperti ini, sambil memperagakan kedua jari tangannya”. (HR Al Khathib).

Dengan kata lain, imbalan mendidik  kaum perempuan, di dunia  adalah kunci keberhasilan sebuah bangsa sedangkan di akhirat adalah surga. Karena dengan mendidik anak perempuan sejak dini dengan baik, berarti kita telah mempersiapkan calon ibu/calon pendidik yang akan mendidik anaknya dengan baik pula. Anak adalah generasi penerus dan pewaris bangsa serta agama. Di tangan para ibulah terutama bergantung akhlak, moral  serta prilaku mereka. Oleh karenanya wajib bagi perempuan untuk menjadikan dirinya pandai, terdidik serta ketauladanan bagi anak-anaknya.

Simak surat RA Kartini yang ditulis pada tahun 1902 berikut : ”Kami di sini meminta, ya memohonkan, meminta dengan sangatnya supaya diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukanlah sekali-kali karena kami hendak menjadikan anak-anak perempuan itu saingan orang laki-laki dalam perjuangan hidup ini, melainkan karena kami, oleh sebab sangat yakin akan besar pengaruh yang mungkin datang dari kaum perempuan-hendak menjadikan perempuan itu lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan oleh Alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu-pendidik manusia yang pertama-tama”. (4 Oktober 1902 Kepada Tn Anton dan Nyonya. Habis Gelap Terbitlah Terang terjemahan Armijn Pane. PN Balai Pustaka 1985).

Allah swt menciptakan perempuan dengan ciri khas rahim yang dimilikinya. Didalam rahim inilah tumbuh awal kehidupan janin. Rahim yang berarti kasih sayang mengisyaratkan bahwa kaum perempuan  dengan kasih sayang keibuannya adalah orang yang paling tepat  dan pas untuk mendidik serta merawat anak-anaknya.

Namun demikian, ini tidak berarti Islam melarang perempuan untuk beraktifitas di luar rumah. Bahkan setelah perempuan dapat menjalankan kewajiban dan memprioritaskan dirinya sebagai istri dan ibu, ia wajib berdakwah/mengajak lingkungannya menuju  kebaikan. Ia wajib mengajarkan ilmu yang dimilikinya dengan tujuan agar terbentuk masyarakat sosial yang beradab, santun, bersih  dan sehat. Ia diizinkan meninggalkan rumah selama keadaan aman, dengan syarat ia menutup aurat, dapat menjaga dirinya dengan baik dan menjauhkan diri dari fitnah serta suami mengizinkan.

Termasuk juga bekerja mencari nafkah dalam rangka membantu suami/keluarga bila suami memang  tidak dapat mencukupi kebutuhan pokok keluarga dan mengizinkannya. Maka jika  semua ini dikerjakan dalam rangka ketakwaan dengan tujuan agar seluruh anggota keluarga dapat dengan tenang menjalankan kewajibannya untuk mencari ridho’ Allah swt., amal ibadah tersebut akan dihitung sebagai sedekah istri/anak perempuan bagi suami dan keluarganya.

Penulis berharap semoga tulisan ini dapat menggugah dan menjadi bahan renungan bagi kaum perempuan dan pemerintah khususnya. Karena hal ini ternyata sangat relevan dalam mewujudkan cita-cita  Ibu Kartini dan sejalan pula dengan UU Pernikahan RI 1974, UU Perlindungan Anak 2002 bahkan sejalan dengan ajaran Islam serta seirama dengan hati nurani kaum ibu Indonesia pada umumnya.

Wallahu’alam.

Jakarta, Juli 2008.

Read Full Post »

Kata ’Islam’ berasal dari akar kata Salima-Yaslamu  yang berarti ’selamat’, ’sentosa’. Kata ini memiliki akar kata yang sama dengan kata ’Salaam’ yang berarti ’Damai’. Sedangkan Islam sendiri  berarti ’tunduk’, ’patuh’, ’berserah diri’, atau menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah SWT, Sang Pemilik, Sang Pencipta Alam Semesta dan segala isinya, agar tercapai keselamatan dan kedamaian di muka bumi serta keselamatan dari  siksa api neraka.

Oleh karena itu perintah utama yang disampaikan oleh seluruh Nabi dan Rasul kepada umat manusia sejak zaman nabi Adam as hingga Rasulullah Muhammad SAW sebagai nabi akhir zaman, tidak pernah berubah yaitu memurnikan ketundukkan, penyembahan dan penghambaan hanya kepada-Nya, tidak ada yang selain-Nya. Ini adalah ajaran Tauhid.

Islam juga berarti ’Diin’ yang berarti ’Aturan’ atau ’Sistim’ yang diberikan Allah SWT, yang terpaksa maupun tidak terpaksa, harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh seluruh mahluk yang ada di alam semesta ini termasuk langit, bumi dan  manusia. Perputaran bumi, bulan dan matahari, pergantian siang dan malam, siklus hujan, daya tarik antara gravitasi yang cenderung menarik semua benda ke pusat dan daya tarik sentrifugal yang cenderung menarik semua benda menjauh dari pusat adalah bagian dari sistim Allah. Ini semua adalah suatu demonstrasi pengorganisasian yang amat sempurna oleh Sang Maha Pengatur (Al-Maalik), Sang Maha Sempurna (Al-Kaarim) yang Maha Cerdas ( Ar-Rasyid )!

Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati“. (QS.Al-Fushilat(41):11).

Disamping itu kata ’Diin’ juga bisa bermakna ‘Agama ‘.

”…… Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.(QS.Yusuf(12):40).

Jadi sesungguhnya semua agama yang diturunkan melalui perantaraan para Nabi dan Rasul pada dasarnya adalah satu, yaitu Islam. Yang berbeda hanyalah syariat, cara penyembahan, yang sesuai dengan zaman dimana Sang Rasul diturunkan ditengah masyarakatnya. Allah berfirman melalui surah  Al-Baqarah berikut :

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿١٣١﴾

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إَلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ ﴿١٣٢﴾

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاء إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُواْ نَعْبُدُ إِلَـهَكَ وَإِلَـهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَـهاً وَاحِداً وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ ﴿١٣٣﴾

131. Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam“.

132. Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam“.

133. Adakah kamu hadir ketika Ya`qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”

Islam yang dikenal sekarang ini adalah Islam sebagai agama yang diturunkan melalui Rasulullah Muhammad SAW  14 abad silam dengan kitabnya Al-Qur’an. Didalam kitab ini diterangkan bahwa Muhammad SAW adalah nabi sekaligus rasul penutup yang  diutus untuk seluruh umat yang ada di dunia ini. Allah SWT tidak akan mengutus lagi seorangpun Nabi maupun Rasul setelah itu.

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” .(QS.Al-Ahzab(33:40).

Artinya syariat yang dikehendaki dan diridhoi setelah adanya ajaran  Muhammad SAW hingga akhir zaman nanti hanyalah ajaran yang dibawanya tersebut. Sedangkan ajaran dan syariat yang dibawa para Nabi dan Rasul terdahulu hanya berlaku untuk masa yang telah lalu dan umat tertentu pula.

Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Al-Baqarah(2):134).

Orang yang menyerahkan diri kepada Allah SWT disebut Muslim.  Untuk menjadi Muslim seseorang wajib mengikrarkan dua kalimah shahadat ( kalimat persaksian), yaitu “Laa ilaha ilallah, Muhammadar Rasulullah” yang berarti “Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah“.

Islam adalah  sebuah agama yang universal, yang mengajarkan tata cara hidup, bagaimana membentuk masyarakat yang adil, damai dan sejahtera,  bagaimana harus menjaga alam, yang mengajarkan hubungan antara kehidupan nyata dan kehidupan akhirat. Islam  mengajarkan dan memberitahukan  bahwa kehidupan nyata di dunia ini adalah sebuah pertarungan untuk memperebutkan tiket menuju kehidupan akhirat.

Oleh karenanya seorang yang mengaku dirinya Muslim tidak mungkin dapat memisahkan kehidupan nyata di dunia ini dengan kehidupan akhirat karena akhirat adalah tujuan. Itulah satu-satunya alasan mengapa ia ada di dunia ini. Seorang Muslim minimal adalah pemimpin bagi dirinya sendirinya sendiri. Sang Pencipta telah menunjuk manusia sebagai khalifah / pemimpin bumi, oleh karenanya ia harus mempertanggung-jawabkan segala prilakunya  selama hidup di dunia ini.

Maka bagi dirinya segala sesuatu yang dikerjakan di dunia ini  adalah ibadah, suatu pekerjaan yang akan dinilai Sang Pemilik Alam Semesta, yang kemudian akan menjadi dasar pertimbangan layak dan tidak layaknya seseorang masuk surga atau neraka kelak setelah terjadinya Hari Akhir, Hari Kiamat.

Jadi jelas, Islam bukan sekedar agama sebagaimana agama lain yang dikenal umum selama ini, yang hanya mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya, yang hanya mengatur cara-cara sebuah peribadatan, yang hanya mengajarkan kehidupan sesudah mati dan memperkenalkan adanya alam ghaib yaitu alam akhirat. Singkat kata, Islam adalah panduan hidup, way of life.

Dengan demikian, maka seseorang yang mengaku dirinya Muslim atau Muslimah wajib baginya berhukum kepada hukum Islam secara keseluruhan. Ia tidak memilih-milih dan membeda-bedakan ayat dan hukum yang hanya sesuai dengan keinginan dan kepentingannya semata saat itu.

“…Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (QS.Al-An’aam(6:162).

Inilah ikrar yang diucapkan setiap Muslim/Muslimah dalam shalatnya minimal 5 kali dalam sehari ketika ia membaca do’a Iftitah pada setiap awal shalat.

Read Full Post »

Saat ini  di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, dapat kita temui sejumlah lembaga sosial yang didirikan dengan   tujuan untuk membantu para perempuan dalam menangani berbagai masalah yang berhubungan dengan keperempuanan. Sebut saja misalnya Mitrawacana, Komnas Perempuan, Yayasan Jurnal Perempuan, Rahima ( Pusat Pendidikan dan Informasi Islam & Hak-Hak Perempuan), Mitra Perempuan, Koalisi Perempuan Indonesia, Pekka (Perempuan kepala Keluarga ) dan lain-lain.

Lembaga-lembaga tersebut pada umumnya membuka berbagai bantuan layanan, diantaranya layanan hotline, konseling, konsultasi hingga pendampingan untuk bantuan medis, perlindungan dan hukum acara secara cuma-cuma kepada perempuan yang mengalami kekerasan, terutama kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga.

Keberadaan berbagai lembaga diatas tidak melulu menangani masalah kekerasan terhadap perempuan namun juga peduli terhadap masalah gender lain seperti persamaan hak baik dalam hal mendapatkan pendidikan, perkerjaan hingga permasalahan politik. Ada pula lembaga yang khusus menangani permasalahan perempuan miskin. Dilaporkan kebanyakan anggota lembaga ini adalah perempuan dengan penghasilan  dibawah Rp200 ribu perbulan padahal mereka harus menghidupi 1-6 anggota keluarga!

Disamping lembaga-lembaga keperempuanan tersebut ada pula sejumlah lembaga  yang khusus menangani masalah anak. KPA (Komnas Perlindungan Anak) pimpinan Seto Mulyadi yang dikenal dengan panggilan Kak Seto adalah salah satu contohnya.

Yang ingin dicermati sejak kapan dan mengapakah lembaga-lembaga sosial yang bergerak khusus menangani masalah perempuan dan anak ini lahir? Menurut data yang sampai ke penulis lembaga-lembaga tersebut mulai menjamur sejak tahun 1990an. Penyebabnya bermacam-macam. Namun yang pasti, hingga saat ini angka kekerasan terhadap perempuan dan anak memang tidak pernah berkurang bahkan cenderung makin meningkat. Demikian  pula  masalah  perdagangan perempuan dan anak yang tak juga kunjung usai.

Perkembangan terkini menyebutkan, sekitar 750.000 sampai 1.000.000 anak dan perempuan Indonesia diperdagangkan setiap tahunnya. Bahkan menurut catatan Kepolisian RI tahun 2000,  1.400 kasus diantaranya adalah pengiriman perempuan secara ilegal ke luar negeri. Mereka  ini di selundupkan ke  negri-negri seperti Hong Kong, Singapura, Malaysia bahkan Arab Saudi. Lebih menyedihkan lagi, sebagian besar korban tersebut diperjual-belikan sebagai pekerja seks komersial (PSK). Selebihnya, mereka dipekerjakan sebagai PRT (Pembantu Rumah Tangga), pengemis, pengedar narkotika dan obat-obatan terlarang serta bentuk-bentuk pekerjaan lain seperti eksploitasi kerja  di rumah makan, pekerja bar, karaoke, perkebunan dan sebagainya.

Tidak hanya cukup disitu, perempuan-perempuan ini juga mengalami berbagai kekerasan. Kekerasan terhadap mereka terjadi tidak saja ketika mereka telah tiba di rantau baik seorang diri maupun berkelompok, namun juga ketika mereka masih di tanah air. Kekerasannyapun bermacam-macam, mulai dengan penipuan, pelecehan hingga kekerasan fisik. Dan ketika tiba di rantau lebih parah lagi, dari tidak menerima makan dan prilaku yang pantas, kerja yang berlebihan, tidak menerima gaji, disekap, dianiaya, disiksa bahkan tidak jarang diperkosa dan dibunuh! Ironisnya, mereka tidak memiliki tempat untuk melapor dan mengadu. Mereka sebatang kara di negri orang dengan keahlian dan komunikasi yang amat minim pula.

Penyebab perdagangan perempuan dan anak beserta berbagai kekerasan yang menyertainya, bermacam-macam. Ada yang karena kemiskinan,  angka putus sekolah di berbagai tingkat pendidikan, menurunnya kesempatan kerja dan juga maraknya konflik sosial di berbagai daerah. Namun faktor lain yang tak kalah penting adalah semakin lemahnya peranan lembaga keluarga dan solidaritas warga masyarakat untuk melaksanakan fungsi pemenuhan kebutuhan ekonomi, sosial dan psikologis sekaligus kontrol terhadap para anggotanya.

Namun apapun faktor dan alasannya, kekerasan serta perdagangan perempuan dan anak adalah sebuah bentuk tindak pidana yang serius dan melanggar hak azazi manusia. Kejahatan ini semakin kompleks bentuk maupun teknis operasionalnya, baik yang dilakukan secara perorangan, kelompok, maupun sindikat.  Kejahatan ini juga merupakan kejahatan terorganisir dan terencana. Ironisnya, yang terlibat sering kali adalah anggota keluarganya sendiri atau minimal teman atau kenalan sekampung.

Sebagai contoh, seorang anak perempuan di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Dari pengakuan orang dekatnya, rupanya sejak usia taman kanak-kanak , anak tersebut  sudah dipersiapkan dan diincar agar nantinya dapat dijual  menjadi pelacur! Contoh lain, ada orang desa tertentu sengaja menjebak keluarga miskin yang mempunyai anak perempuan agar  berhutang dengan bunga yang tinggi sehingga tidak dapat membayar. Akhirnya keluarga tersebut terpaksa menyerahkan anak perempuannya sebagai tebusan hutangnya. Praktik kotor dan hina ini biasanya banyak terjadi di daerah dan  perkampungan miskin.

Tindak kekerasan terhadap anak (Child Abuse)  terbagi  atas 3 kelompok yaitu  tindak kekerasan fisik, tindak kekerasan psikis dan pelecehan seksual. Tindak kekerasan fisik adalah tindakan menyiksa atau menganiaya seseorang yang sifatnya menyakiti dan melukai anggota tubuh. Tindakan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan  anggota tubuh pelaku (tangan, kaki dll) atau dengan alat-alat lainnya.  Sedang tindak kekerasan psikis atau non-fisik adalah tindakan merendahkan, melecehkan, mengancam, memaksa serta tindakan-tindakan sejenis yang sifatnya melukai perasaan. Tindakan ini biasanya dilontarkan melalui perkataan.

Menurut laporan KPA, dari ketiga pengelompokan yang diterima sepanjang Januari-Agustus 2007, ternyata kekerasan psikis menduduki peringkat teratas, yaitu 47.64 %. Menariknya, 14,20 %  kasus   dilaporkan sendiri oleh anak sebagai korban dan yang dilaporkan adalah orangtuanya sendiri!

Jenis kekerasan terhadap anak secara psikis bermacam-macam.  Yang paling umum adalah jenis kekerasan emosional. Berbagai ucapan yang dilontarkan sebagai ungkapan kekesalan orangtua seperti ucapan ” Bodoh kamu !”,Dasar anak tak tahu diuntung” dll adalah diantaranya. Kekerasan seperti ini dapat membuat anak terluka secara batiniah dan cukup berpotensi mempengaruhi perkembangan kejiwaan dan mental anak di waktu mendatang. Ironisnya, masih berdasarkan laporan KPA, kasus penyiksaan terhadap anak dari tahun ke tahun makin tinggi saja. Bila pada tahun 2003 ’hanya’ ada 481 kasus maka pada tahun 2007 telah berlipat menjadi 4 kalinya, yaitu 1736 kasus.

Disamping itu tidak membekali anak dengan ilmu pengetahuan baik melalui institusi resmi maupun tidak resmi, mengexploitasi anak atau memanfaatkan anak untuk mencari uang seperti meminta-minta/ mengemis, mengikut-sertakan  anak dalam segala macam lomba secara berlebihan dengan tujuan menafkahi hidup keluarga walaupun anak tersebut mengikutinya dengan senang hati dapat dikategorikan sebagai penganiayaan terselubung ( Hidden Crime).

Sedangkan jenis kekerasan terhadap perempuan berdasarkan  yang sering dilaporkan dapat dibagi menjadi 3  kelompok besar yaitu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pelecehan seksual dan  perkosaan.

Menurut data yang diambil dari beberapa sumber pada tahun 2004, dilaporkan bahwa  jumlah kekerasan terhadap perempuan yang terbanyak adalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yaitu sebanyak 88,49% dari total kasus kekerasan yang dilaporkan. Dari prosentase tersebut 81,82% pelakunya adalah suami, mantan suami, orang tua, saudara, anak dan majikan.

Sejumlah laporan juga membuktikan bahwa latar belakang status sosial, ekonomi dan pendidikan baik korban maupun pelaku adalah beragam. Dengan demikian laporan ini menepis anggapan dan mitos bahwa KDRT maupun kekerasan anak hanya terjadi pada mereka yang mempunyai status sosial dan ekonomi rendah, tidak  bekerja dan berpendidikan rendah.

Sedangkan tindakan pelecehan seksual dilaporkan banyak terjadi di kantor-kantor, di tempat kerja juga di tempat umum. Di kantor dan di tempat kerja kebanyakan dilakukan atasan terhadap bawahan namun banyak juga terjadi pada tingkatan yang sama, yaitu antar pegawai. Sedangkan pelecehan di tempat umum banyak terjadi di tempat-tempat yang ramai dan berdesakan seperti terminal, pasar dan bus ketika penuh penumpang, biasanya pada jam-jam pulang kantor. Bentuk pelecehan bermacam-macam, bisa bersifat fisik bisa juga non  fisik.

Jenis kekerasan terakhir adalah perkosaan. Tragisnya perkosaan dilaporkan sering kali dilakukan oleh orang yang telah dikenal. Kasus ini  biasanya diawali dengan bujukan serta ancaman. Namun tidak sedikit pula laporan perkosaan yang dilakukan orang tak dikenal. Ini biasanya diawali dengan penculikan serta ancaman dan diakhiri dengan perampokan atau bisa juga diawali dengan perampokan  dan diakhiri dengan pembunuhan. Penculikan sering terjadi di tempat sepi atau malam hari ketika seorang perempuan sedang seorang diri. Namun bisa pula terjadi di siang hari ketika seorang perempuan tidak sedang sendirian!

Pertanyaannya, mengapa semua ini bisa terjadi ? Mengapa kaum perempuan dan anak-anak begitu rentan seolah mereka hidup sendiri, terpisah dari keberadaan kaum lelaki yang dalam Islam mustinya berfungsi sebagai pelindung dan pengayom bagi mereka?   Salah siapakah ini?

Read Full Post »

Indonesia adalah sebuah negara dengan penduduk mayoritas Muslim. Kita telah ketahui bersama bahwa Islam memiliki kitab pegangan, yaitu Al-Quranul Karim  yang isinya menjelaskan berbagai hal termasuk tata cara hidup bermasyarakat diantaranya bagaimana dasar hubungan  antar laki-laki dan perempuan. Disamping itu, kita juga memiliki As-Sunnah, yaitu contoh keteladanan Rasulullah SAW.

Dari keduanya  dapat kita lihat dan ketahui bahwa Islam tidak mengenal kata diskriminasi. Laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama dalam pandangan Allah SWT. Tetapi mengapa hingga kini masih saja terjadi kekerasan dan ketidak-adilan yang kerap kali menimpa diri perempuan? Dimanakah letak kesalahannya? Pada pihak lelakinyakah atau pihak   perempuannya? Atau mungkin  keduanya? Atau ada penyebab lain?

Harus kita akui, pengetahuan maupun pemahaman kita terhadap ajaran Islam saat ini tidaklah sama dengan zaman Rasulullah dan generasi para sahabat. Saat ini kita hidup ditengah budaya Materialisme dan Kapitalisme yang begitu dominan. Hampir semua lapisan masyarakat begitu mengagungkan kekuatan materi, gemerlap dan hingar bingarnya kemewahan dunia dan segala kesenangannya. Kesibukan dalam mengejar kehidupan duniawi inilah yang pada akhirnya hanya  menyisakan waktu yang sangat minim untuk memikirkan hal lain di luar kehidupan duniawinya. Hingga akhirnya orang lupa pada hakikat hidup yang sesungguhnya.

Al-Quran dan As-Sunnah tidak lagi dijadikan pedoman dan pegangan hidup. Keduanya telah dianggap tidak lagi sesuai dengan keadaan sekarang  alias kuno dan ketinggalan zaman. Bahkan karena Islam mulanya datang dari tanah Arab dan bahasa Al-Qur’anpun adalah bahasa Arab, maka segala sesuatu yang ‘ber-bau Arab dan ke-Arab2an’ pun dianggap ‘kolot. Islam, Al-Quran dan As-Sunnah dianggap identik dengan dunia Arab. Sebagai gantinya, hukum Barat yang dijadikan patokan dan standard hidup. Inilah dunia modern dengan budaya baratnya yang serba ‘wah’ dan jauh dari keislaman.

Hijab (Jilbab) yang merupakan lambang kekuatan dan kepercayaan diri yang menjadi  identitas khas Muslimah, kaum perempuan Islam, pun mulai ditanggalkan. Kaum Muslimah mulai meyakini bahwa daya tarik keperempuanan adalah kecantikan fisik bukan lagi kekuatan hati dan pikiran. Mereka berpendapat bahwa kecantikan dan kemolekan tubuh perempuan tidak layak disembunyikan.

Terus dicekoki pemikiran bahwa tubuh adalah miliknya, bahwa kecantikan adalah anugerah Allah yang tidak boleh disembunyikan maka merekapun berpendapat adalah haknya pula untuk memperlihatkan dan mempertontonkannya sesuka mereka. Batas aurat menjadi tidak jelas dan tidak pasti.  Maka mulailah kaum perempuan  terperosok dalam lomba keberanian berbusana seronok, memamerkan keindahan dan kemolekan tubuh mereka tanpa rasa malu dan risih sedikitpun.

Di lain pihak, kaum lelaki yang mulanya ditakdirkan sebagai  pemimpin kaum perempuan, minimal bagi istri dan keluarganya tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Banyak diantara mereka  rupanya juga sudah jauh dari kehidupan religiusnya. Alih-alih menasehati dan mengingatkan, merekapun malah mulai terpedaya dengan daya tarik seksual magnetis ini.   Nafsu seksual yang memang merupakan fitrah manusia yang tadinya dijaga  sesuai syariat kini mulai kehilangan kendali. Keimanan yang dari awal memang sudah tidak begitu terpelihara sekarang makin goyah. Syaitan mulai beraksi. Ialah yang mula-mula membisikkan bahwa ajaran Islam telah menutup dan menghalangi mereka dari memandang sebuah keindahan yang sudah semestinya menjadi hak kaum lelaki. Inilah awal petaka.

Rasa saling hormat serta rasa saling kagum dari jenis yang memang berbeda ini akhirnya berubah menjadi liar dan tidak terbingkai dengan baik. Perbedaan sifat dan karakter antara keduanya akhirnya hanya menonjolkan perbedaan fisik semata. Kelembutan, kesabaran, kecekatan, sifat keibuan dan berbagai sifat  dasar dan fitrah perempuan liannya menjadi samar. Yang tampak hanya tampilan fisik yang seksi dan menggairahkan lelaki.

Maka ketika umat, baik lelaki maupun perempuan tidak lagi saling  menasehati, tidak lagi saling mengingatkan   maka Allah SWT pun berlepas diri. Tidak ada paksaan dalam Islam. Namun hukum Islam tidak lagi dapat melindungi mereka dan sebagai akibat setiap diri harus mau menerima konsekwensinya.

Saat ini umat Islam, khususnya negri kita tercinta Indonesia, telah memilih hukum Barat sebagai pedoman hidup. Budaya Materialisme menjadi pegangan dan sandaran pemikiran. Nilai sebuah keberhasilan dan kebahagiaan hidup telah bergeser. Nilai keutuhan sebuah keluarga menjadi kurang begitu diperdulikan. Menjadi kaya dengan cara apapun adalah sebuah cita-cita dan kehormatan. Karena hanya orang kayalah yang berhak  menentukan aturan.

Maka dimana-mana terlihatlah laki-laki dan perempuan berlomba bekerja keras mencari dan mengumpulkan uang. Keduanya sibuk mengurusi hal yang sama, lupa akan pembagian kerja dan tanggung jawab dalam keluarga yang mereka bina dengan susah payah. Dengan penuh ketegaan mereka tinggalkan anak-anak yang dilahirkan  atas dasar kasih sayang tersebut ke dalam pengawasan pembantu rumah tangga yang begitu doyan duduk berjam-jam di depan pesawat televisi menikmati pelbagai tayangan yang tidak mendidik. Para orangtua ini  berkeyakinan bahwa hanya dengan uang sajalah segalanya dapat tercapai. Mereka menyangka hanya uanglah sumber kebahagiaan dan ketenangan. Mereka lupa kebutuhan anak tidaklah hanya sebatas materi saja.

Sebagai akibat,   ketika harta  yang dikejar tidak kunjung selalu mencukupi segala kebutuhan yang memang sangat relatif dan cenderung selalu bertambah dan terus bertambah, karena harta berapapun banyaknya tidak akan pernah memuaskan si pemburu, maka muncul perasaan tertekan, timbul kekhawatiran yang berlebihan terhadap kegagalan dan tidak berhasilnya mendapatkan uang sebanyak mungkin. Maka muncullah  berbagai penyakit  stres. Stres inilah  yang berpotensi melahirkan berbagai kekerasan dalam rumah tangga. Hingga dapat kita dengar  hari-hari belakangan ini ada seorang ibu, bahkan  tidak hanya satu-dua kasus, yang tega membunuh anak-anaknya karena khawatir akan kelaparan dan kemiskinan!

Di sisi lain si kayapun karena tidak lagi memegang keimanannya dengan teguh, ia membuat aturan yang hanya menguntungkan keluarga dan kaumnya.  Maka si miskin  dan si lemah, termasuk kaum perempuan dan terutama anak-anakpun menjadi korban. Mereka makin tertindas. Kaum lelaki lupa bahwa kaum perempuan  sesungguhnya membutuhkan mereka sebagai pelindung dan pengayom bukan hanya harta dan kekayaannya. Sebaliknya kaum perempuanpun juga  lupa bahwa kaum lelaki membutuhkan cinta, hati serta perhatian mereka bukan hanya kecantikan dan daya tarik seksual semata.

Itu sebabnya perempuan yang menurut hukum Islam adalah mahluk yang diagungkan dan dimuliakan akhirnya menjadi menderita hidupnya. Padahal Islam mengajarkan, perempuan sebagai kaum calon ibu dan ibu, kedudukannya begitu dihormati. Tidak hanya kelembutan dan kasih sayangnya yang begitu diharapkan dan dinantikan namun juga kehadirannya. Ia adalah pendidik utama bagi anak-anak terutama anak-anaknya  sendiri sebagai generasi penerus. Karenanya seharusnya seorang perempuan adalah lembut, santun, pandai dan terpelajar.

Dari Bahaz bin Hakim dari ayahnya dari neneknya ra, ia berkata, aku bertanya : “ Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus baik?”. Beliau bersabda: ”Ibumu”. Aku bertanya lagi: ”Kemudian siapa?. Beliau bersabda: ”Ibumu”.  Aku bertanya lagi :”Kemudian siapa?”. Beliau bersabda: ”Ibumu”. Aku bertanya lagi : ”Kemudian siapa?”.Beliau bersabda : “ Ayahmu, kemudian yang lebih dekat”. (HR Abu Dawud dan Tarmidzi).

Bagaimana mungkin seorang yang tidak memiliki kepekaan, kelembutan serta keimanan dapat menjadi pendidik, menjadi panutan dan keteladanan bagi anak-anaknya? Bagaimana mungkin seorang yang tidak memiliki ilmu dapat  diharapkan mampu meneduhkan,  berkomunikasi dan bertukar pendapat dengan suaminya?

Bagaimana mungkin pula seorang yang diharapkan dapat mewariskan ilmu dan perhatian kepada anak-anak bangsa ini harus menguras waktunya untuk bekerja keras membanting tulang demi mendapatkan sesuap nasi atau mungkin sepiring berlian?? Pun ketika seorang yang diharapkan kehadirannya sebagai pendidik dan panutan menghabiskan waktunya diluar rumah walaupun untuk kegiatan amal dan sosial ketika putra-putrinya, terutama balita masih membutuhkannya. Sama halnya ketika seorang ibu seharian di rumah namun tidak memberikan keteladanan bagi anak-anaknya. Karena  sesungguhnya pelajaran terbaik untuk anak adalah contoh keteladanan, sikap dan prilaku yang  dilihatnya  sehari-hari.

Disamping itu, belakangan ini makin banyak perempuan yang karena tidak lagi merasa tergantung kepada lelaki secara finansial, memilih untuk hidup membujang. Sementara berdasarkan pengamatan kasar, terlihat bahwa jumlah lelaki yang menganggur dengan berbagai alasan  makin hari makin bertambah. Kondisi seperti ini tidaklah baik.  Maka kalaupun mereka menikah, umur pernikahan tersebut tidak lebih dari seumur jagung. Ini hanya salah satu contoh penyebab perceraian.

Dengan berbagai macam penyebab dan alasan, perceraian makin  meraja-lela dan telah menjadi trend. Fenomena ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar namun juga merambah hingga ke kota-kota kecil dan pedesaan di pelosok. Tampak bahwasanya perkawinan bukan lagi hal yang patut diagungkan dan disakralkan. Nilai sosial sebuah keberhasilan dan kebahagiaan hidup telah bergeser dari nilai-nilai Islam. Maka yang menjadi korban adalah anak yang tidak bersalah dan belum mengerti apa-apa.  Padahal kehidupan sekarang jauh lebih sulit dari pada masa lalu. Pergaulan bebas, bahaya narkotika dan obat terlarang, kejahatan dll  terus mengintai kehidupan sehari-hari anak-anak. Mereka masih sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang kedua orang-tuanya, terutama ibu secara nyata. Namun begitulah  potret perempuan masa kini.

Read Full Post »

Menurut berbagai sumber, gerakan Feminis terbagi atas 3 gelombang. Gelombang pertama terjadi antara akhir abad 19 dan awal abad 20. Gelombang ke 2 antara tahun 1960 dan tahun 1980 sedangkan gelombang ke 3 atau terakhir dimulai sejak tahun 1990an hingga saat ini. Banyak sekali hal-hal yang diperjuangkan gerakan ini, mulai dari tuntutan hak atas perlindungan perempuan dari kekerasan rumah-tangga, pelecehan seksual dan perkosaan, persamaan hak perempuan dalam bidang pekerjaan termasuk cuti hamil dan persamaan gaji, hak politik seperti hak dalam pemilu dan hak mendapatkan kedudukan di parlemen hingga hak ‘pribadi keperempuanan’ seperti hak untuk menggugurkan kandungan, penggunaan alat kontrasepsi serta hak mendapatkan pelayanan pasca melahirkan yang berkwalitas. Pencetus ide dan pemikiran-pemikiran diatas sebagian besar adalah perempuan-perempuan kelas menengah Inggris, Perancis dan Amerika Serikat.

Adalah Sojouner Truth, seorang bekas budak kulit hitam berkewarga-negaraan Amerika. Dialah yang pertama kali menyuarakan dan membeberkan bagaimana perbudakan, terutama perbudakan perempuan di negaranya telah begitu mendarah daging. Ia menceritakan bahwa sejak kecil(kedua orangtuanya juga budak) telah dijadikan budak yang dengan semena-mena dapat dan boleh diperjual belikan. Ia telah diperlakukan dengan tidak adil seolah-olah ia bukan manusia yang juga memiliki kemauan dan keinginan tertentu.

Pada tahun 1851, Truth berpidato didepan khalayak ramai di Akron, Ohio dan pidatonya ini menjadi amat terkenal dengan sebutan ” Ain’t I a Woman?”. Masa inilah yang kemudian disebut sebagai gelombang pertama gerakan Feminis. Padahal dunia Islam 14 abad silam telah memperingatkan hal ini. Islam memang tidak secara langsung menghapus perbudakan karena perbudakan telah begitu mendarah daging di seluruh belahan dunia. Disamping itu, perbudakan pada masa lalu kadang kala bisa saling menguntungkan, dengan catatan bila keduanya saling menghormati dan tidak berlebihan. Oleh karenanya Islam menghapus perbudakan ini dengan cara bertahap. Diantaranya yaitu dengan mengganjar pahala yang banyak bagi orang yang mampu memerdekakan seorang budak.

“…sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa”. ( QS.Al-Baqarah(2):177).

Sedangkan gelombang ke dua terjadi antara tahun 1960an hingga tahun 1980an. Gelombang ini di Amerika Serikat semakin keras bergaung dengan diterbitkannya buku “The Feminine Mystique” yang ditulis pada tahun 1963 oleh Betty Friedan, seorang tokoh Feminis, penulis berkebangsaan Amerika. Ia memprotes mengapa perempuan hanya ditugasi pekerjaan mengurus anak dan pekerjaan tetek bengek rumah tangga. Buku ini ternyata berdampak luas, lebih-lebih setelah Friedan membentuk organisasi wanita bernama ”National Organization for Woman“ (NOW) di tahun 1966.

Gemanya kemudian merambat ke segala bidang kehidupan. Dalam bidang perundangan, tulisan Fredman berhasil mendorong dikeluarkannya ”Equal Pay Right” sehingga kaum perempuan bisa menikmati kondisi kerja yang lebih baik dan memperoleh gaji sama dengan laki-laki untuk pekerjaan yang sama, dan ”Equal Right Act” dimana kaum perempuan mempunyai hak pilih secara penuh dalam segala bidang. Pada masa ini pula terbentuk organisasi perempuan terbesar di dunia yaitu ” Women’s Liberation” pada tahun 1964.

Yang tak kalah menarik adalah sebuah peristiwa yang terjadi pada tahun 1968. Pada saat itu sedang berlangsung pemilihan Miss America, sebuah kontes pemilihan ratu kecantikan se-Amerika di Atlantic City, AS. Tiba-tiba ratusan aktifis yang menamakan dirinya dari gerakan feminis memprotes kegiatan pemilihan tersebut. Mereka beranggapan bahwa pemilihan tersebut sangat merendahkan martabat perempuan.

Adalah Germaine Greer, seorang jurnalis berkewarga-negaraan Australia yang pertama kali mempertanyakan kepentingan seorang perempuan mengenakan ‘bra’. Sesuatu yang dianggapnya merepotkan. Pada peristiwa tersebut dilaporkan bahwa mereka membakar sejumlah perangkat ’kecantikan perempuan yang membebani ’ mereka, diantaranya yaitu sejumlah sepatu berhak tinggi, ’wig’ alias rambut palsu, kosmetika, ’korset’ dan lain-lain termasuk ’bra’! Mereka membuang barang-barang tersebut kedalam sebuah wadah yang mereka namai ‘ The Freedom Trash Can’ sebelum membakarnya. Peristiwa yang kemudian dikenal dengan nama ‘The Bra Burning’ ini mengawali sebuah trend dimana kaum perempuan memilih ber‘less-bra’.

Gerakan Feminis gelombang ke tiga pada tahun 1991, ditandai dengan dimenangkannya sebuah kasus yang memperkarakan seorang calon anggota the US Supreme Court yang melakukan pelecehan tehadap perempuan. Salah satu pendiri gerakan gelombang ini adalah Rebecca Walker, seorang penulis Yahudi lesbian berkebangsaan Amerika. Dalam perjalannya gerakan ini terus berkembang sesuai tuntutan dan kebutuhan. Gerakan ini memiliki filosofi dan aliran yang amat beragam, diantaranya yaitu Feminis Contemporary, Feminis Liberal, Feminis Post Modern, Feminis Anarkis, Feminisme Radikal dan lain-lain.

Sebagai contoh Feminis Anarkis. Aliran ini sebenarnya sebuah paham politik yang mencita-citakan masyarakat sosialis dan menganggap negara dan laki-laki adalah sumber permasalahan yang sesegera mungkin harus dihancurkan. Sedangkan Feminisme Liberal ialah pandangan untuk menyadarkan bahwa akar ketertindasan dan keterbelakangan pada perempuan sebenarnya disebabkan oleh kesalahan perempuan itu sendiri. Perempuan harus mempersiapkan diri agar mereka bisa bersaing di dunia dalam kerangka ’persaingan bebas’ dan punya kedudukan setara dengan lelaki.

Aliran ini berhasil menggiring kaum perempuan keluar rumah, berkarier dengan bebas dan tidak tergantung lagi pada lelaki. Akar teori ini bertumpu pada kebebasan dan kesetaraaan rasionalitas. Perempuan adalah makhluk rasional, kemampuannya sama dengan laki-laki, sehingga harus diberi hak yang sama dengan laki-laki. Menurut penganut aliran ini permasalahan terletak pada kebijakan negara yang bias gender. Oleh karena itu, pada abad 18 sering muncul tuntutan agar perempuan mendapat pendidikan yang sama, di abad 19 banyak upaya memperjuangkan kesempatan hak sipil dan ekonomi bagi perempuan, dan di abad 20 organisasi-organisasi perempuan mulai dibentuk untuk menentang diskriminasi seksual di bidang politik, sosial, ekonomi, maupun personal.

Sedangkan Feminis Radikal, tujuan utamanya adalah melawan kekerasan seksual dan industri pornografi. Aliran ini bertumpu pada pandangan bahwa penindasan terhadap perempuan terjadi akibat sistem patriarki. Tubuh perempuan merupakan objek utama penindasan oleh kekuasaan laki-laki. Oleh karena itu, feminisme radikal mempermasalahkan antara lain tubuh serta hak-hak reproduksi, seksualitas (termasuk lesbianisme) dan seksisme.

Di Indonesia, nampaknya gerakan Feminis belum sejauh gerakan teman-teman mereka di Barat. Namun bila tidak di antisipasi dengan baik tidak mustahil akan menyamai rekor mereka. Saat ini yang jelas telihat mencolok dan hampir merata di seluruh pelosok tanah air adalah mewabahnya perempuan pergi bekerja. Tidak peduli apakah ia dari kalangan berpendidikan maupun tidak, dari kalangan mampu maupun tidak, dengan tujuan mencari uang, mengejar karir maupun sekedar mengisi waktu luang.

Diluar itu, gerakan Feminis Indonesia tidak terlalu menonjol atau minimal hanya terdapat di kota-kota besar tertentu. Diantaranya adalah dengan terjun kedalam dunia politik, membantu kaumnya melek hukum, memberikan konsultasi kesehatan, mengantisipasi kekerasan terhadap kaumnya dll.

Ada beberapa alasan mengapa perempuan Indonesia merasa harus bekerja di luar rumah, diantaranya : 1. Karena tidak ada laki-laki dalam keluarga. (bisa perempuan lajang atau janda). 2. Suami tidak bekerja. 3. Suami bekerja namun tidak mencukupi kebutuhan. 4. Ingin mengamalkan ilmu. 5. Tidak ingin tergantung suami.6. Atas kemauan suami. 7.Mengisi waktu luang 8. Lain2.

Read Full Post »

Older Posts »