Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘lelaki’

Dewasa ini dapat dilihat secara kasat mata bahwa kaum perempuan dari semua lapisan, baik formal maupun informal,  ke luar rumah untuk bekerja. Pekerjaan mereka sangat bervariasi, mulai hanya sebagai PRT (Pembantu Rumah Tangga), buruh pabrik, karyawan perusahaan, artis, staf pengajar, konsultan, perawat, dokter hingga staf ahli  bahkan jabatan setingkat mentri. Alasan mereka bekerjapun beraneka-ragam. Ada yang memang karena kebutuhan hidup, ada yang sekedar untuk menambah pendapatan suami/keluarga, ada yang untuk mengisi waktu luang, ada yang dengan tujuan mengamalkan ilmu dan ada pula yang demi mengejar karier dan cita-cita. Tetapi ada juga yang sekedar menuruti kemauan suami.

Namun disisi lain pengangguranpun merebak dimana-mana. Penyebabnya bermacam-macam. Mulai dari adanya kasus PHK (Pemutusan Hubungan Kerja),  lapangan kerja yang terbatas, rendahnya tingkat pendidikan, kurangnya ketrampilan atau pengalaman hingga sekedar alasan kemalasan semata! Padahal normalnya laki-laki dalam Islam seharusnya bertanggung-jawab atas ekonomi keluarganya. Bahkan wajib hukumnya. Jadi sungguh berdosa besar laki-laki yang tidak mau menafkahi keluarganya kecuali dengan alasan cacat atau sakit yang tidak memungkinkannya bekerja.

Dari sini terkesan bahwa telah terjadi persaingan tersembunyi antara laki-laki dan perempuan dalam mendapatkan pekerjaan. Fenomena inilah yang mengusik hati penulis untuk mencoba mencari jawabnya.

Allah swt menciptakan manusia laki-laki dan perempuan sebagai pasangan. Sang Pencipta menghendaki agar mereka hidup berdampingan, saling membantu, saling melengkapi dan saling mengisi. Ini adalah bagian dari aturan/sistim Allah, sebuah fitrah. Perumpamaannya seperti tangan kanan dengan tangan kiri atau kaki kanan dengan kaki kiri. Atau pembagian tugas antara jantung, paru-paru, ginjal dll. Masing-masing memiliki tugas yang khas yang tidak mungkin saling menggantikan. Begitu juga halnya mengapa Ia menciptakan matahari dan bulan  yang bekerja sama dalam sebuah tatanan yang rapi dan teratur. Tidak mungkin keduanya saling iri atas tugas masing-masing. Matahari tidak mungkin mendahului bulan apalagi menggantikan fungsinya demikian pula sebaliknya.

Begitupun  alam semesta dan segala isinya. Bila aturan dan sistim ini dilanggar maka akan terjadi kerusakan yang dampaknya bisa jadi baru terasa puluhan tahun kemudian. Inilah yang sedang terjadi di bumi kita tercinta. Exploitasi alam diantaranya  penggalian barang-barang tambang, pengerukkan  pasir sungai dan pantai secara sembarangan memberikan dampak kerusakan yang luar biasa. Lingkungan dan ekosistim alam menjadi terganggu. Para ilmuwan sepakat bahwa hal ini adalah salah satu penyebab terjadinya pemanasan global dewasa ini.

Menurut pendapat penulis, persaingan mencari lapangan pekerjaan diantara laki-laki dan perempuan yang tejadi belakangan ini juga berpotensi merusak keseimbangan sistim alam/fitrah manusia. Sungguh tidak masuk akal, kedua jenis kelamin berlawanan ini berkutat pada satu bidang yang sama, yaitu mencari nafkah. Sementara bidang lain yang bisa dikatakan bahkan jauh lebih penting justru diterbengkalaikan. Perempuan bagaimanapun juga adalah kaum ibu yang sangat  diharapkan keberadaannya sebagai pendidik awal anak, sebagai pewaris generasi. Ini adalah sebuah kehormatan yang tidak seharusnya disia-siakan.

Jepang dikenal sebagai salah satu negara termaju  di dunia. Tahukah rahasia mereka? Ternyata bangsa ini adalah bangsa yang sangat menghargai kaum ibu. Mereka menganggap bahwa keberhasilan bangsa mereka disebabkan peran ibu dalam mendidik anaknya. Peran ganda seorang perempuan sebagai seorang ibu, terutama bagi anaknya yang masih balita, sekaligus sebagai perempuan pekerja dianggap ‘chuto hanpa’,  yaitu peran tanggung yang  tidak populer. Mereka lebih senang memilih menjadi ibu atau tidak sama sekali!

Jadi ibu adalah pilihan profesional.Hal ini didukung secara resmi oleh pemerintah. Oleh karenanya hak dan kewajiban masing-masing dilindungi oleh undang-undang. Dan demi mendukung kesuksesan masing-masing karir yang dipilih, pemerintah menyediakan sarana dan prasarana yang sama besarnya. Perempuan yang tidak/belum  menikah ataupun ibu yang tidak memiliki anak namun mempunyai minat, kepandaian dan kemampuan untuk berprestasi besar, mereka diberi kesempatan untuk menduduki  jabatan tinggi. Sementara perempuan yang mempunyai anak dan memilih menjadi ‘ibu’, pemerintah menyediakan fasilitas yang baik agar mereka dapat mendidik anak-anaknya tanpa khawatir kekurangan materi. Tak heran jika anak-anak di Jepang , laki-laki maupun perempuan, sangat menyayangi dan mengagumi ibu-ibu mereka. Para ibu dianggap sebagai jelmaan Dewi Amaterasu yang dipuja oleh bangsa Jepang.

”Barangsiapa yang mempunyai dua saudara perempuan atau anak perempuan kemudian ia berbuat baik kepada mereka selama bersamanya maka aku dan dia masuk surga seperti ini, sambil memperagakan kedua jari tangannya”. (HR Al Khathib).

Dengan kata lain, imbalan mendidik  kaum perempuan, di dunia  adalah kunci keberhasilan sebuah bangsa sedangkan di akhirat adalah surga. Karena dengan mendidik anak perempuan sejak dini dengan baik, berarti kita telah mempersiapkan calon ibu/calon pendidik yang akan mendidik anaknya dengan baik pula. Anak adalah generasi penerus dan pewaris bangsa serta agama. Di tangan para ibulah terutama bergantung akhlak, moral  serta prilaku mereka. Oleh karenanya wajib bagi perempuan untuk menjadikan dirinya pandai, terdidik serta ketauladanan bagi anak-anaknya.

Simak surat RA Kartini yang ditulis pada tahun 1902 berikut : ”Kami di sini meminta, ya memohonkan, meminta dengan sangatnya supaya diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukanlah sekali-kali karena kami hendak menjadikan anak-anak perempuan itu saingan orang laki-laki dalam perjuangan hidup ini, melainkan karena kami, oleh sebab sangat yakin akan besar pengaruh yang mungkin datang dari kaum perempuan-hendak menjadikan perempuan itu lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan oleh Alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu-pendidik manusia yang pertama-tama”. (4 Oktober 1902 Kepada Tn Anton dan Nyonya. Habis Gelap Terbitlah Terang terjemahan Armijn Pane. PN Balai Pustaka 1985).

Allah swt menciptakan perempuan dengan ciri khas rahim yang dimilikinya. Didalam rahim inilah tumbuh awal kehidupan janin. Rahim yang berarti kasih sayang mengisyaratkan bahwa kaum perempuan  dengan kasih sayang keibuannya adalah orang yang paling tepat  dan pas untuk mendidik serta merawat anak-anaknya.

Namun demikian, ini tidak berarti Islam melarang perempuan untuk beraktifitas di luar rumah. Bahkan setelah perempuan dapat menjalankan kewajiban dan memprioritaskan dirinya sebagai istri dan ibu, ia wajib berdakwah/mengajak lingkungannya menuju  kebaikan. Ia wajib mengajarkan ilmu yang dimilikinya dengan tujuan agar terbentuk masyarakat sosial yang beradab, santun, bersih  dan sehat. Ia diizinkan meninggalkan rumah selama keadaan aman, dengan syarat ia menutup aurat, dapat menjaga dirinya dengan baik dan menjauhkan diri dari fitnah serta suami mengizinkan.

Termasuk juga bekerja mencari nafkah dalam rangka membantu suami/keluarga bila suami memang  tidak dapat mencukupi kebutuhan pokok keluarga dan mengizinkannya. Maka jika  semua ini dikerjakan dalam rangka ketakwaan dengan tujuan agar seluruh anggota keluarga dapat dengan tenang menjalankan kewajibannya untuk mencari ridho’ Allah swt., amal ibadah tersebut akan dihitung sebagai sedekah istri/anak perempuan bagi suami dan keluarganya.

Penulis berharap semoga tulisan ini dapat menggugah dan menjadi bahan renungan bagi kaum perempuan dan pemerintah khususnya. Karena hal ini ternyata sangat relevan dalam mewujudkan cita-cita  Ibu Kartini dan sejalan pula dengan UU Pernikahan RI 1974, UU Perlindungan Anak 2002 bahkan sejalan dengan ajaran Islam serta seirama dengan hati nurani kaum ibu Indonesia pada umumnya.

Wallahu’alam.

Jakarta, Juli 2008.

Advertisements

Read Full Post »