Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

164013294-288-k884574Aisyah ra adalah seorang perempuan berparas cantik dengan kulit putih dan pipi kemerahan hingga Rasulullah saw sering memanggilnya dengan nama kesayangan “Humairah” yang berarti yang kemerahan. Selain cantik, Aisyah juga dikenal sebagai seorang perempuan cerdas yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersiapkannya untuk menjadi pendamping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengemban amanah risalah yang akan menjadi penyejuk mata dan pelipur lara bagi diri beliau saw.

Suatu hari Jibril memperlihatkan (kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) gambar Aisyah pada secarik kain sutra berwarna hijau sembari mengatakan, “Ia adalah calon istrimu kelak, di dunia dan di akhirat.” (HR. At-Tirmidzi (3880), lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi (3041))

Putri Abu Bakar ra, sahabat Rasulullah saw sekaligus khalifah pertama ini dinikahi Rasulullah ketika berusia 18 tahun, bukan 6 tahun seperti yang selalu diberitakan selama ini. Berikut adalah hasil penelitian Maulana Habibur Rahman Siddiqui Al-Kandahlawi, seorang ulama hadist dari tanah Hindustan yang lahir di Kandahla-India, tahun 1924, tentang usia Aisyah ketika dinikahi Rasulullah saw.  Tulisan tersebut diambil dari hasil riset Dr.M. Syafii Antonio dalam bukunya, “Muhammad saw, The Super Leader Super Manager”. (2007).

https://bin99.wordpress.com/about/meluruskan-riwayat-pernikahan-rasulullah-saw-aisyah-r-a/comment-page-1/#comment-1550

Berdasarkan hasil penelitian tersebut disimpulkan bahwa perawi yang menceritakan tentang usia Aisyah ketika menikah hanyalah perawi-perawi Iraq. Padahal sebagaimana kita ketahui  Iraq adalah markas Syiah yang sangat membenci para sahabat sejati termasuk Aisyah. Dengan kejinya mereka bahkan tega menuduh Aisyah adalah pelacur. Na’udzubillah min dzalik …  Dapat dibayangkan bagaimana perasaan Rasulullah bila masih ada di antara kita dan mendengar fitnah jahat yag menimpa istri yang paling dicintainya tersebut.

Aisyah adalah satu-satunya perempuan mulia yang dinikahi Rasulullah dalam keadaan gadis, hal yang sangat dibanggakannya. Namun demikian tak urung kecemburuannya pada istri satu-satunya Rasulullah hingga wafatnya yaitu Khadijah ra tak mampu disembunyikannya. Padahal ketika dinikahi Rasulullah Khadijah tidak lagi muda, yaitu 40 tahun dan sudah pernah menikah 2 x pula.

Aisyah berkata, “Dulu Rasulullah saw setiap keluar rumah, hampir selalu menyebut Khadijah dan memujinya. Pernah suatu hari beliau menyebutnya sehingga aku merasa cemburu. Aku berkata, ‘Apakah tiada orang lagi selain wanita tua itu. Bukankah Allah telah menggantikannya dengan yang lebih baik?’

Lalu, Rasulullah marah hingga bergetar rambut depannya karena amarah dan berkata, ‘Tidak, demi Allah, tidak ada ganti yang lebih baik darinya. Dia percaya padaku di saat semua orang ingkar, dan membenarkanku di kala orang-orang mendustakanku, menghiburku dengan hartanya ketika manusia telah mengharamkan harta untukku. Dan Allah telah mengaruniaiku dari rahimnya beberapa anak di saat istri-istriku tidak membuahkan keturunan.’ Kemudian Aisyah berkata, ‘Aku bergumam pada diriku bahwa aku tidak akan menjelek-jelekannya lagi selamanya.”

Sebaliknya Rasulullah, sebagai manusia biasa, pernah dilanda kecemburuan berat akibat fitnah yang dihembuskan kaum Munafikun terhadap sang istri yang begitu dicintainya itu. Fitnah tersebut terjadi saat berakhirnya perang antara kaum muslimin dengan Bani Musthakiq pada bulan Sya’ban tahun 5 Hijriyah. Peperangan ini diikuti oleh sejumlah kaum Munafik. Ketika itu kebetulan Aisyah yang mendapat giliran tugas mendampingi Rasulullah dalam perang.

Dalam perjalanan pulang, ketika rombongan berhenti sejenak untuk beristirahat, Aisyah ikut turun dari tandu untuk buang air kecil. Namun ketika hendak kembali ke tandunya Aisyah merasa kehilangan kalung yang tadi dipakainya. Maka tanpa setahu seorangpun Aisyah mencari kalung yang hilang tersebut. Sementara itu rombongan yang tidak menyadari bahwa ummul mukminin itu masih di luar tenda melanjutkan perjalanan. Alhasil Aisyahpun tertinggal, dan dengan pasrah hanya bisa menunggu orang mencarinya.

Ketika itulah muncul   Shafwan bin Mu’athal as-Sulami adz-Dzakwani ra, seorang sahabat yang bertugas menyisir anggota rombongan yang tertinggal. Alangkah terkejutnya pemuda tersebut mendapat seorang perempuan sedang tertidur di padang pasir nan luas. Dan lebih terkejut lagi mengetahui perempuan tersebut adalah  Aisyah istri Rasulullah.

Setelah Aisyah akhirnya terbangun, Shafwanpun segera memberikan tunggangan untanya kepada Aisyah. Sementara ia sendiri berjalan kaki sambil menuntun unta yang ditunggangi Aisyah dengan rasa hormat, hingga memasuki kota Madinah. Saat itulah kaum Munafikun memanfaatkan kejadian tersebut dengan menghembuskan fitnah bahwa sang istri tercinta telah berselingkuh!.

Sayangnya Rasulullah yang memang sedang sangat lelah paska perang, termakan fitnah kejam tersebut, hingga selama 1 bulan sempat mendiamkan Aisyah, tanpa Aisyah menyadari penyebabnya. Dan tak urung menyebabkan Aisyah jatuh sakit dan memilih pulang ke rumah kedua orang-tuanya untuk beristirahat dan menenangkan pikiran. Dalam keadaan kacau itulah kemudian Allah swt menurunkan ayat 11-26 surat An-Nuur yang menerangkan bahwa perempuan muda tersebut tidaklah bersalah.

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. … … Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la`nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, … …

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)“.

Alangkah lega dan bahagianya Rasulullah mendengar itu.

“Bergembiralah, wahai Aisyah! Sesungguhnya Allah swt telah membersihkan dirimu”.

Lalu ibunda Aisyahpun berkata putrinya: “Bangunlah berjumpa Rasulullah !”.

“Demi Allah … Aku tidak akan bangun menjumpainya. Aku hanya akan memuji kepada Allah swt karena Dialah yang menurunkan ayat Al-Quran menyatakan kebersihanku”, jawab Aisyah.

Di usianya yang masih belia Aisyah telah dikenal sebagai periwayat hadis yang handal. Beliau telah meriwayatkan  2210 hadis, 297 diantaranya terdapat di dalam kitab Hadis Bukhari-Muslim. Hafalannya sungguh luar biasa. Banyak sahabat Rasulullah yang sering menanyakan asal usul suatu hadis kepadanya, termasuk juga Umar bin Khatab, sang khalifah.

Istri Rasulullah ini belajar dan mendalami ajaran Islam langsung dari lisan Rasulullah,  di dalam rumah kenabian di mana wahyu turun dan Al-Quran dibaca siang dan malam. Ia dikenal sebagai sosok perempuan cerdas, pandai berdiplomasi, memiliki lisan yang fasih dan jika  berbicara mampu menarik setiap telinga yang mendengarnya.

Urwah bin Az-Zubair ra  suatu ketika pernah berkata : ” Aku tidak melihat ada seseorang yang lebih pandai dalam ilmu agama, lebih pandai dalam bidang kedokteran dan lebih pandai dalam bidang syair daripada  Sayyidah Aisyah ra. ”

Pada perang Khandaq, diberitakan bahwa Umar bin Khatab terpaksa menegur Aisyah karena keberaniannya  yang luar biasa maju menerobos ke bagian depan barisan pasukan hingga membahayakan keselamatan dirinya.

Anas bin Malik ra meriwayatkan, ia berkata : “Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. Pada hari itu, aku melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaiannya, untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb.”

Sebaliknya karena jiwa patriotnya yang sungguh menggebu itu suatu ketika ibunda kita ini pernah terpancing dalam suatu perang yaitu perang Jamal. Perang ini terjadi paska terjadinya fitnah besar yaitu terbunuhnya khalifah Ustman bin Affan. Ketika itu Aisyah ra bersama Talhah dan Zubair berperang melawan Ali bin Abu Thalib. Namun kemudian Aisyah tersadar bahwa perbuatan tersebut kurang baik hingga beliau menyesalinya dan Alipun memaafkannya.

(http://www.kompasiana.com/satriarevolusi/peperangan-ali-bin-abi-talib-dengan-aisyah-radhiallahu-anha-dalam-insiden-unta_552e29c96ea83417128b4576 )

Aisyah memang berpendapat bahwa beraktifitas adalah merupakan keharusan dan tuntutan bagi setiap perempuan. Setiap perempuan tidak boleh hanya duduk di dalam rumah tanpa berpikir untuk melakukan sesuatu yang berguna yang dapat membantu meringankan beban lingkungannya  namun tentu saja tanpa mengabaikan peran utamanya di rumah dan mendidik anak-anaknya. Allah swt memang tidak menganugerahi Aisyah seorangpun anak, hingga dengan demikian dapat secara maksimal mencurahkan seluruh kehidupannya bagi masyarakat dan lingkungannya.

Beliau berkata : ” Alat tenun di tangan seorang perempuan bisa bernilai lebih baik dari tombak di tangan orang yang berjuang dijalan Allah SWT ”.

Di pangkuannya jua Rasulullah menghembuskan nafas terakhirnya, karena memang Rasulullah menginginkannya. Diceritakan selama beberapa hari menjelang wafatnya, dalam sakitnya, Rasulullah meminta ke-ridho-an para istri agar diperbolehkan tetap tinggal di kamar Aisyah, tidak berpindah-pindah seperti biasanya, hingga Allah swt me-wafat-kannya. Di kamar Aisyah ini pulalah Rasulullah dimakamkan. Itulah Raudhah di Masjid Nabawi sekarang ini.

Aisyah sendiri wafat pada malam Selasa 17 Ramadhan 57 H di Madinah. Beliau wafat pada masa pemerintahan Muawiyah, di usianya yang ke 65 tahun, setelah berwasiat agar dishalati oleh Abu Hurairah. Lalu di makamkan di makam Baqi pada malam itu juga.

Wallahu’alam bishawab.

Jakarta, Mei 2008.

Vien AM.

Read Full Post »

Ukasyah bin Mihshan al Asadi adalah seorang sahabat Muhajirin yang berasal dari Bani Abdu Syams. Ia telah memeluk Islam pada masa-masa awal sehingga termasuk dalam as Sabiqunal Awwalin.

Suatu ketika Nabi SAW menceritakan kepada sahabat-sahabatnya, bahwa kelak di hari kiamat beliau akan memamerkan umat beliau di hadapan para pemimpin (Nabi-nabi terdahulu). Dengan bangganya beliau akan memperlihatkan umat beliau yang begitu banyak hingga memenuhi dataran dan bukit. Lalu Allah berfirman kepada Nabi SAW, “Ridhakah engkau, ya Muhammad?”

Maka Nabi SAW akan menjawab, “Aku ridha, ya Tuhanku!”

Kemudian Allah berfirman lagi, “Sesungguhnya ada tujuh puluh ribu dari umatmu yang masuk surga tanpa hisab dengan wajah seperti bulan purnama.”

Para sahabat pun terkagum-kagum dengan cerita Nabi SAW. Namun tiba-tiba Ukasyah mendekati beliau dan berkata, “Ya Rasulullah, doakanlah aku termasuk golongan itu.”

“Engkau termasuk golongan mereka!!” Kata Nabi SAW.

Melihat tindakan Ukasyah, beberapa sahabat mendekati beliau dan meminta didoakan seperti halnya Ukasyah. Beliau tersenyum melihat reaksi para sahabat tersebut dan bersabda, “Kalian sudah didahului Ukasyah.”

Perang Badar merupakan perang yang banyak memunculkan pahlawan-pahlawan Islam. Perang pertama yang sangat menentukan, apakah Islam akan tenggelam dan lenyap selagi masih embrio, ataukah akan terus tumbuh berkembang pesat. Dan sejarah membuktikan, 313 orang yang belum cukup berpengalaman dengan persenjataan terbatas dan perbekalan seadanya, apalagi memang tidak dipersiapkan untuk bertempur tetapi hanya untuk mencegat kafilah dagang Quraisy, ternyata mampu mengalahkan seribu orang pasukan kafir Quraisy yang dipimpin Abu Jahal yang berpengalaman, dengan persenjataan lengkap dan perbekalan yang lebih banyak. Tentunya semua itu terjadi tidak lepas dari pertolongan Allah SWT.

Salah satu pahlawan yang lahir di medan perang Badar ini adalah Ukasyah bin Mihshan bin Harsan  Al-Asadi. Begitu dahsyatnya ia bertempur sehingga pedangnya pun patah. Melihat hal itu, Rasulullah SAW menghampiri Ukasyah sambil membawa sebuah ranting pohon, sambil bersabda, “Berperanglah dengan ini wahai Ukasyah.”

Begitu diterima dari Nabi SAW dan digerak-gerakkan, ranting pohon itupun berubah menjadi sebuah pedang yang panjang, kuat, mengkilat dan tajam. Ukasyahpun meneruskan pertempurannya hingga Allah memberikan kemenangan pada umat Islam.

Pedang yang kemudian diberi nama “Al ‘Aun” menjadi senjata andalan Ukasyah dalam setiap pertempuran yang diikutinya, baik bersama atau tanpa Rasulullah SAW. Begitupun ketika Ukasyah menjemput syahidnya di Perang Riddah, pedang dari ranting pemberian Nabi SAW setia menemaninya.

Pada hari-hari akhir hidup Rasulullah, Rasulullah pernah mengumpulkan para sahabat dan mempersilahkan mereka untuk meng-qishos beliau bila pernah merasa beliau zalimi. Tak ada seorangpun yang berani berdiri hingga Ukasyah akhirnya berdiri.

“Ya Rasul Allah, Dulu aku pernah bersamamu di perang Badar. Untaku dan untamu berdampingan, dan aku pun menghampirimu agar dapat menciummu, duhai kekasih Allah, Saat itu engkau melecutkan cambuk kepada untamu agar dapat berjalan lebih cepat, namun sesungguhnya engkau memukul lambung samping ku” ucap ‘Ukasyah.

Mendengar ini Nabi pun menyuruh Bilal mengambil cambuk di rumah putri kesayangannya, Fatimah. Tampak keengganan menggelayuti Bilal, langkahnya terayun begitu berat, ingin sekali ia menolak perintah tersebut. Ia tidak ingin, cambuk yang dibawanya melecut tubuh kekasih yang baru saja sembuh. Namun ia juga tidak mau mengecewakan Rasulullah. Segera setelah sampai, cambuk diserahkannya kepada Rasul mulia. Dengan cepat cambuk berpindah ke tangan ‘Ukasyah. Masjid seketika mendengung seperti sarang lebah.

Abu Bakar ra, Umar ra  dan Ali bin Abi thalib ra tentu saja kecewa dan tak tinggal diam.

“Hai hamba Allah, inilah aku yang masih hidup siap menggantikan qishos Rasul, inilah punggungku, ayunkan tanganmu sebanyak apapun, deralah aku”

Namun Rasulullah mencegah para sahabat yang tak diragukan lagi kesetiaannya itu. Dengan tenamg beliau saw tetap mempersilahkan Ukasyah meneruskan niatnya.

Masjid kembali ditelan senyap. Banyak jantung yang berdegup kian cepat. Tak terhitung yang menahan nafas. ‘Ukasyah tetap tegap menghadap Nabi. Kini tak ada lagi yang berdiri ingin menghalangi ‘Ukasyah mengambil            qishos. “Wahai ‘Ukasyah, jika kau tetap berhasrat mengambil qishos, inilah ragaku,” Nabi selangkah maju mendekatinya.

“Ya Rasul Allah, saat Engkau mencambukku, tak ada sehelai kainpun yang menghalangi lecutan cambuk itu”. Tanpa berbicara, Nabi langsung melepaskan ghamisnya yang telah memudar. Dan tersingkaplah tubuh suci Rasulullah. Seketika pekik takbir menggema, semua yang hadir menangis pedih.

Melihat tegap badan manusia yang di maksum itu, ‘Ukasyah langsung menanggalkan cambuk dan berhambur ke tubuh Nabi. Sepenuh cinta direngkuhnya Nabi, sepuas keinginannya ia ciumi punggung Nabi begitu mesra. Gumpalan kerinduan yang mengkristal kepada beliau, dia tumpahkan saat itu. ‘Ukasyah menangis gembira, ‘Ukasyah bertasbih memuji Allah, ‘Ukasyah berteriak haru, gemetar bibirnya berucap sendu,

“Tebusanmu, jiwaku ya Rasul Allah, siapakah yang sampai hati mengqishos manusia indah sepertimu. Aku hanya berharap tubuhku melekat dengan tubuhmu hingga Allah dengan keistimewaan ini menjagaku dari sentuhan api neraka”.

Dengan tersenyum, Nabi berkata: “Ketahuilah duhai manusia, sesiapa yang ingin melihat penduduk surga, maka lihatlah pribadi lelaki ini”. ‘Ukasyah langsung tersungkur dan bersujud memuji Allah. Sedangkan yang lain berebut mencium ‘Ukasyah. Pekikan takbir menggema kembali.

“Duhai, ‘Ukasyah berbahagialah engkau telah dijamin Nabi sedemikian pasti, bergembiralah engkau, karena kelak engkau menjadi salah satu yang menemani Rasul di surga”. Itulah yang kemudian dihembuskan semilir angin ke seluruh penjuru Madinah.

Pembunuh Ukasyah adalah Thulaihah al Asadi yang saat itu mengaku sebagai nabi, tetapi kemudian menjadi sadar dan kembali kepada Islam dan menjadi baik keislamannya. Ketika Umar bertemu dengan Thulaihah, ia berkata, “Apakah engkau yang telah membunuh orang yang saleh, Ukasyah bin Mihshan??”

Thulaihah menjawab, “Ukasyah menjadi orang yang bahagia (menjadi syahid) karena diriku, dan aku menjadi orang celaka karena dirinya. Tetapi aku memohon ampun kepada Allah…”

Kemudian Thulaihah menyitir sabda Nabi SAW, “Surga itu diliputi oleh hal-hal yang dibenci dan neraka itu ditaburi oleh hal-hal yang disukai…”

Umar bin Khaththab hanya tersenyum dan membenarkan Thulaihah.

AllahuAkbar …

Jakarta, 29 April 2013.

Vien AM.

Dikutip dari :

http://www.sdmutiaraislam.com/2012/01/ukasyah-bin-mihshan-ra.html

http://www.suaramedia.com/sejarah/sejarah-islam/21861-ukasyah-dan-keberaniannya-mencambuk-rasulullah.html

Read Full Post »