Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hikmah’ Category

rukanah-adu-gulat-bersama-rasulullahGulat disebut sebagai olahraga tertua di dunia yang dikompetisikan. Olahraga gulat telah muncul di lukisan-lukisan Mesir kuno yang berusia 5000-an tahun. Konon, gulat sudah menjadi mata pelajaran di Tiongkok sejak 2050 SM. Tidak heran, dalam adegan kolosal, para kesatria sering adu tanding gulat untuk menunjukkan kehebatan mereka.

Olahraga ini juga cukup populer di masa-masa Islam. Masa saat Rasulullah ﷺ masih hidup dan berinteraksi dengan masyarakat Arab kala itu. Di masa beliau ﷺ ada seorang pegulat yang dikenal sebagai juara. Ia sangat sulit ditaklukkan. Tidak ada seorang pun yang berhasil menempelkan perutnya ke tanah saat bergulat. Namanya adalah Rukanah.

Siapakah Rukanah?

Namanya adalah Rukanah bin Abdu Yazid bin Hisyam bin Abdul Muthalib bin Abdu Manaf al-Muthallibi. Ia adalah seorang pemimpin Arab yang terkenal dengan kekuatannya. Walaupun badannya kekar dan besar, Rukanah tetap lincah dalam berkuda.

Rukanah adalah seorang laki-laki kuat. Ia masih dalam kemusyrikan di awal-awal datangnya risalah kenabian Muhammad ﷺ. Ia begitu tenar sebagai seorang pegulat hebat. Tidak ada seorang pun yang mampu menguncinya hingga tergeletak di tanah. Postur tubuh dan perawakannya yang besar tampak begitu kentara. Terlihat mencolok dibanding orang-orang di sekelilingnya.

Ototnya yang kekar tidak menghalangi Rasulullah ﷺ untuk membuka hatinya tentang kebenaran Islam. Dan di antara variasi dakwah Rasulullah ﷺ adalah beliau menempuh pendekatan dalam bidang olahraga. Beliau ﷺ berduel gulat dengan Rukanah. Subhanallah…

Ibnul Atsir mengatakan, “Rukanah adalah seseorang yang pernah duel gulat dengan Nabi ﷺ. Beliau mengalahkannya dua atau tiga kali. Padahal ia termasuk laki-laki Quraisy yang paling kuat. Hidayah Islam baru ia sambut ketika penaklukkan Kota Mekah. Ia wafat di masa kekhalifahan Utsman. Ada juga yang mengatakan ia wafat pada tahun 42 H. Di masa kekhalifahan Muawiyah radhiallahu ‘anhu.” (al-Isti’ab oleh Ibnu Abdil Bar hal: 801 dan Asadul Ghabah oleh Ibnul Atsir, hal: 1708).

Rukanah Adu Gulat Dengan Nabi ﷺ

Ibnu Ishaq mengatakan, “Abu Ishaq bin Yasar berkata kepadaku: Rukanah bin Abdu Yazid bin Hisyam bin Abdul Muthallib bin Abdu Manaf adalah orang Quraisy yang paling kuat. Suatu hari ia bersama Rasulullah ﷺ di suatu kampung Mekah (sebelum hijrah).

Rasulullah ﷺ berkata kepadanya: Wahai Rukanah, tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dan menerima dakwahku?

Rukanah menjawab: Seandainya aku mengetahui apa yang engkau serukan itu adalah kebenaran, pasti aku akan mengikutimu.

Rasulullah menimpali: Bagaimana kiranya kukalahkan engkau dalam gulat. Apakah engkau akan meyakini kebenaran perkataanku?

Rukanah menjawab: Iya.

Rasulullah berseru: Ayo berdiri. Akan kukalahkan engkau.”

Abu Ishaq melanjutkan kisahnya, “Rukanah pun menyambut tantangan itu. Keduanya pun duel gulat. Rasulullah ﷺ menyergapnya dan berhasil menjatuhkannya. Rukanah pun tak berdaya.

Penasaran dengan kekalahannya, Rukanah berkata: ‘Kita ulangi wahai Muhammad’. Keduanya pun kembali bergulat.

Rukanah kembali berkata: ‘Wahai Muhammad, luar biasa, kau berhasil mengalahkanku!’

Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Yang lebih luar biasa dari ini pun akan kutunjukkan jika engkau mau. Jika engkau bertakwa kepada Allah dan menaatiku’.

‘Apa itu?’ Tanya Rukanah.

Nabi ﷺ menjawab: ‘Akan kupanggil pohon yang engkau lihat itu. Dan dia akan datang kepadaku’.

‘Panggillah’, tantang Rukanah.

Pohon itu pun datang hingga ke hadapan Rasulullah ﷺ. Kemudian Rasulullah ﷺ berkata kepada pohon itu: ‘Kembalilah ke tempatmu’. Pohon itu pun kembali ke tempatnya semula.

Rukanah pun pergi menuju kaumnya. Ia berkata, ‘Wahai anak-anak Abdu Manaf, mereka telah menyihir masyarakat. Demi Allah, aku tidak pernah melihat penyihir yang lebih sakti darinya’. Kemudian Rukanah mengabarkan apa yang ia lihat.” (Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, tahqiq al-Halabi, 1: 390-391).

Dalam riwayat al-Baladzuri disebutkan bahwa Rukanah-lah yang menantang Rasulullah ﷺ bergulat. Ia dikabarkan tentang Nabi ﷺ. Lalu Rukanah menemui beliau di salah satu bukit di Mekah. Rukanah mengatakan, “Wahai anak saudaraku –karena sama-sama bani Abdu Manaf-, telah sampai kabar tentangmu kepadaku. Aku tidak mengenal engkau sebagai pembohong. Jika engkau mengalahkanku (dalam gulat), maka aku yakin engkau orang yang benar”. Nabi ﷺ pun bergulat dengannya sebanyak tiga kali.

Abu al-Yaqzhan mengatakan: Ketika Rukanah datang kepada Nabi ﷺ untuk memeluk Islam di hari Fathu Mekah, ia berkata, “Demi Allah, aku mengetahui jika engkau bergulat denganku, engkau akan mendapat pertolongan dari langit”. Kemudian ia pindah ke Madinah dan tinggal di sana hingga wafat di awal pemerintahan Muawiyah radhiallahu ‘anhu (Ansabul Asyraf oleh al-Baladzuri, 1: 155, 9: 392-392. Ia memiliki penguat dalam riwayat at-Tirmidzi 1784, Abu Dawud 4078, dan al-Hakim 5903).

Anak Rukanah Bergulat dengan Nabi ﷺ

Selain bergulat dengan Rukanah, Nabi ﷺ pun pernah berduel dengan orang-orang selain Rukanah. Di antaranya adalah anak dari Rukanah. Namanya Yazid bin Rukanah. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengisahkan, “Yazid bin Rukanah datang menemui Nabi ﷺ dengan membawa 300 ekor domba. Ia berkata, ‘Wahai Muhammad, apakah engkau mau duel gulat denganku?’

Nabi ﷺ menjawab, ‘Apa hadiahnya jika aku mengalahkanmu?’

‘100 domba ini’, jawabnya. Keduanya pun bergulat. Dan Nabi ﷺ yang menang.

Yazid kembali menantang Rasulullah. Ia berkata, ‘Maukah engkau adu gulat (sekali) lagi?’

Nabi ﷺ menjawab, ‘Apa imbalannya?’

Yazid menjawab, ‘100 domba lainnya’. Keduanya pun bergulat. Lagi-lagi Nabi mengalahkannya. Disebutkan bahwasanya keduanya bergulat sampai tiga kali.

Yazid berkata, ‘Wahai Muhammad, sebelumnya tidak ada yang mampu membuat perutku menempel dengan tanah kecuali dirimu. Dan tidak ada yang paling aku benci pula selain dirimu. Namun sekarang aku bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah kecuali Allah. Dan engkau adalah utusan Allah’. Kemudian Rasulullah ﷺ mengembalikan semua dombanya.” (Ibnu Abdil Bar dalam al-Isti’ab 2770, Ibnul Atsir dalam Asadul Ghabah 5544, Ibnu Hajar dalam al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah 9279, dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Irawa’ al-Ghalil 1503).

Pelajaran

Pertama: Metode dakwah Rasulullah yang variatif. Beliau berdakwah berceramah. Beliau berdakwah dengan cara bersedekah. Dengan akhlak yang mulia. Dengan pendekatan kultural. Sampai dengan pendekatan dalam bidang olahraga. Namun pendekatan dakwah beliau tidak menerabas sesuatu yang Allah larang.

Kedua: Nabi ﷺ tidaklah menginginkan harta dunia dari hasil duelnya dengan Rukanah dan anaknya, akan tetapi beliau menginginkan hidayah.

Ketiga: Betapa pun orang-orang musyrik sombong dalam menolak Islam, Rasulullah tidak menyerah mendakwahi mereka. Fitrah mereka tetap ingin keluar dari gelapnya kesyirikan.

Keempat: Terkadang seseorang malu menerima dakwah dengan metode ceramah. Namun ia akan mengakui keunggulan dan kebenaran yang dibawa orang lain apabila bisa mengalahkannya dalam bidang yang ia geluti. Oleh karena itu, terkadang seseorang lebih menerima orang yang seprofesi dengannya ketika mendakwahinya. Dosen dengan dosen. Pegawai pabrik dengan pegawai pabrik. Mantan artis dakwah kepada artis. Dll.

Kelima: Meskipun orang-orang musyrik berlaku sombong dan kasar terhadap Nabi ﷺ, namun beliau tetap berlaku ramah. Sehingga mereka tidak segan mengajukan pertanyaan bahkan mengajak adu gulat sekalipun.

Sumber:

–http://islamstory.com/ar/%D8%B1%D8%B3%D9%88%D9%84-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D9%88%D8%B1%D9%83%D8%A7%D9%86%D8%A9

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

Artikel http://www.KisahMuslim.com

Diambil dari :

https://kisahmuslim.com/5028-rukanah-adu-gulat-dengan-rasulullah-%EF%B7%BA.html

Jakarta, 15 Januari 2019.

Vien AM.

Advertisements

Read Full Post »

Berkah Sepatu Usang

taman Al-Azhar CairoSeorang Syeikh yang alim tengah berjalan santai bersama seorang murid di taman kota Cairo, sebuah kota indah di tepi sungai Nil. Keduanya melihat sepasang sepatu yang sudah usang dan lusuh. Mereka berdua yakin kalau itu adalah sepatu milik pekerja kebun yang sebentar lagi akan menyelesaikan pekerjaannya.

Sang murid melihat kepada syeikhnya seraya berkata :
Bagaimana kalau kita candai tukang kebun ini dengan menyembunyikan sepatunya, kemudian kita bersembunyi di belakang pepohonan. Nanti ketika dia datang, kita lihat bagaimana dia kaget serta cemas karena kehilangan sepatunya.”

Sang syeikh menjawab:
“Anakku, tidak pantas kita menghibur diri dengan mengorbankan orang miskin. Kamu kan seorang yang kaya dan kamu bisa saja menambah kebahagiaan untuk dirinya. Sekarang cobalah kamu masukkan beberapa  lembar uang kertas ke dalam sepatunya, kemudian saksikan bagaimana respons dari tukang kebun miskin itu?”

Sang murid sangat takjub dengan usulan syeikhnya. Ia langsung  memasukkan beberapa lembar uang ke dalam sepatu tukang kebun itu. Setelah itu ia bersembunyi di balik semak-semak bersama sang syeikh sambil mengintip apa yang akan terjadi dengan tukang kebun itu.

Tak berapa lama datanglah tukang kebun itu, sambil mengibas-ngibaskan kotoran debu dari pakaiannya, dia menuju ke tempat dia meninggalkan sepatunya. Ketika ia memasukkan kakinya ke dalam sepatu, ia menjadi terperanjat, karena ada sesuatu yang mengganjal di dalamnya.

Saat ia keluarkan, ternyata, uang. Ia memeriksa sepatu yang satunya lagi, ternyata juga berisi uang. Ia memandangi uang itu berulang-ulang seolah ia tidak percaya dengan penglihatannya. Iapun memutar pandangannya ke segala penjuru namun ia tidak melihat seorang pun.

Sambil menggenggam uang itu lalu ia berlutut sambil menengadah ke langit ia berucap :
“Aku bersyukur kepada-Mu, ya Allah. Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Wahai Yang Maha Tahu, istriku sedang sakit dan anak-anakku  kelaparan, mereka belum mendapatkan makanan hari ini. Engkau telah menyelamatkanku, anak-anakku dan istriku dari penderitaan”.

Dengan kepolosannya ia terus menangis terharu sambil memandangi ke langit sebagai ungkapan rasa syukurnya atas karunia dari Allah Yang Maha Pemurah.

Sang murid sangat terharu atas pemandangan yang dilihatnya dari balik persembunyian itu. Air matanya berlinang tanpa dapat ia bendung.

Sang syeikh yang bijak berkata kepada muridnya :
“Bukankah sekarang kamu merasakan kebahagiaan yang lebih dari pada kamu melakukan ide pertama untuk menyembunyikan sepatu tukang kebun miskin itu?”

Sang murid menjawab :
“Aku telah mendapatkan pelajaran yang tidak akan aku lupakan seumur hidupku. Sekarang aku paham makna kalimat, “Ketika kamu memberi, kamu akan memperoleh kebahagiaan yang lebih banyak daripada ketika kamu diberi”.

Sang syeikh melanjutkan nasehatnya,

Ketahuilah bahwa bentuk pemberian itu bermacam-macam:

  • Memaafkan kesalahan orang di saat kamu mampu melakukan balas dendam, adalah suatu “pemberian”.
  • Mendoakan teman dan saudaramu di belakangnya_ (tanpa sepengetahuannya) itu adalah juga “pemberian”.
  • Berusaha berbaik sangka dan menghilangkan prasangka buruk,_ juga suatu “pemberian.”
  • Menahan diri dari membicarakan aib sesama kita di belakangnya adalah “pemberian” juga.

Marilah kita saling “memberi & berbuat baik”, niscaya “hidup kita akan menjadi lebih indah”.

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):261).

Salinglah memberikan hadiah di antara kalian, niscaya kalian akan saling menyayangi.” (HR. Bukhari).

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani di dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 13280, 12: 453. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al Jaami’ no. 176).

 

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 12 Juni 2017.
Vien AM.
Diambil dari:
https://id-id.facebook.com/kisahsejarahislam/posts/791430144268058 dengan tambahan ayat dan hadist yang sejalan.

Read Full Post »

Madinah yang merupakan pusat bermulanya Islam sebelum berkembang ke seluruh dunia di mana ia menjadi tempat kelahiran pertama masyarakat Islam. Oleh itu menjadi suatu kemestian untuk mendapat gambaran yang tepat mengenai kedudukan bandar ini dari segi peradaban, kemasyarakatan, ekonomi, hubungan antara qabilah, markaz Yahudi, ketenteraan dan juga suasana yang menjadikan bandar ini mewah dan kaya serta menjadi pusat pertemuan berbilang agama, pelbagai kebudayaan dan masyarakat. Ia berlainan dengan Mekah yang hanya mempunyai satu tabiat, satu agama yang dikongsi bersama oleh semua warganya. Madinah lebih banyak terdapat air, iklimnya lebih sejuk daripada Mekah dan tabiat penduduknya lembah-lembut sesuai dengan kehidupan kaum tani. Sebagai ringkasannya maka keadaan dan suasana Yathrib sebelum kedatangan Islam adalah sebagaimana fakta dan gambaran yang akan disebut dibawah.

a. Kaum Yahudi di Madinah
Menurut ahli sejarah kedatangan kaum Yahudi ke Yathrib selepas peperangan antara bangsa antara Yahudi dengan Rome pada tahun 70 masihi yang berkesudahan dengan musnahnya Palestin dan runtuhnya Haikal atau biara utama Yahudi di Baitul Maqdis. Kaum Yahudi ini terdiri dari tiga qabilah yang terbesar iaitu qabilah Qainuqa’, al-Nadhir dan Quraidzah di mana hubungan antar ketiga qabilah tersebut amat tegang di mana berlaku peperangan sesama mereka yang berterusan sejak peperangan Bu’ath. Mereka tinggal di pelbagai perkampungan khas seperti bani Qainuqa’ tinggal dalam bandar Madinah, bani Nadhor tinggal di sebelah atas luar Madinah di mana kawasan mereka subur dengan tanaman kurma dan tanaman bermusim manakala bani Quraidzah pula tinggal di kawasan yang bernama Mahzur yang jaraknya beberapa batu di selatan Madinah.

Kaum Yahudi memiliki beberapa kubu dan benteng serta kampung di mana mereka hidup berjauhan dan berkelompok yang menyebabkan mereka tidak mampu mendirikan pemerintahan Yahudi sebaliknya terpaksa membayar upeti setiap tahun kepada ketua-ketua beberapa qabilan Arab sebagai perlindungan dari gangguan Arab badwi.

Bangsa Yaudi menyifatkan diri mereka sebagai suatu bangsa yang ahli dalam pengetahuan agama dan syariat di mana mereka mempunyai pusat pengajian sendiri untuk perkara tersebut disamping belajar mengenai sejarah lampau mereka khususnya berkenaan rasul dan nabi mereka. Mereka juga mempunyai tempat khusus untuk beribadat di mana disitulah mereka berkumpul untuk berbincang mengenai agama dan keduniaan mereka. Mereka juga mempunyai perundangan dan tatacara hidup tersendiri yang sebahagiannya diambil daripada kitab suci mereka dan sebahagian lagi dibuat oleh pendeta mereka. Disamping itu mereka mempunyai hari-hari perayaan tertentu, hari-hari tertentu untuk mereka berpuasa seperti hari ‘Asyura.

Hasil pendapatan mereka yang terbesar ialah mengambil keuntungan dari penggadaian barang dan riba. Keadaan Madinah sebagai kawasan pertanian memberi peluang kepada mereka bergiat dengan riba terutama dari petani yang mendapatkan uang sementara menunggu musim menuai. Penggadaian bukan sahaja melibatkan uang atau harta benda sahaja tetapi wanita dan anak-anak juga dijadikan barang gadaian. Kaum Yahudi dapat menguasai ekonomi Madinah dan seterusnya dengan ekonomi yang kukuh mereka menguasai pasar-pasar tanpa bertimbang rasa, mereka menyorok barangan keperluan untuk mengaut keuntungan yang berlipat ganda sehingga mereka dibenci oleh masyarakat Arab setempat. Demi kepentingan ekonomi mereka membuat hubungan dengan kaum Aus dan Khazraj dengan mengadu-domba keduanya yang menyebabkan bangsa Arab lemah dan kaum Yahudi terus menguasai ekonomi Madinah.

Bahasa yang mereka guna ialah bahasa Arab tetapi turut bercampur dengan bahasa Ibrani. Manakala dari segi penyebaran agama Yahudi tidaklah meluas memandangkan mereka tidak berminat mengajak bangsa lain untuk menganut agama Yahudi.

b. Suku Kaum Aus dan Khazraj
Suku kaum Aus dan Khazraj merupakan penduduk berbangsa Arab yang mendiami Yathrib lanjutan daripada qabilah-qabilah al-Azdiyah di Yaman yang berpindah berulangkali dalam masa berbeza disebabkan banyak faktor antaranya kekacauan disebabkan serangan kajum Habshi di Yaman dan juga kemerosotan pengairan apabila robohnya bendungan Ma’rib. Mereka merupakan suku kaum yang mendiami Yathrib kemudian daripada kaum Yahudi.

Kaum Aus tinggal di selatan dan timur iaitu bahagian tinggi Yathrib yang merupakan kawasan pertanian yang subur manakala Kaum Khazraj berada di tengah sebelah utara iaitu bahagian rendah bandar yang merupakan kawasan kurang subur. Jumlah kaum Aus dan Khazraj menurut perkiraan berdasarkan keikut sertaan mereka dalam peperangan setelah hijrah iaitu semasa penaklukan Mekah ialah 4000 orang.

Kedudukan kaum Arab di Yathrib di masa hijrah adalah kuat di mana merekalah yang menguasai urusan di situ. Berpecahan kaum yahudi menyebabkan mereka tidak mampu menyaingi bangsa Arab terutama ada daripada mereka yang bersama kaum Aus dan ada pula bersama kaum Khazraj. Namun begitu bangsa Arab suku Aus dan Khazraj turut berperang sesama mereka di mana perang Samir merupakan peperangan pertama dan diakhiri dengan peperangan Bu’ath lima tahun sebelum hijrah. Kaum Yahudilah yang memanas-manasi mereka dan mendesak agar mereka berpecah dengan menanamkan semangat dengki. Akhirnya mereka tidak mampu menghadapi kaum Yahudi. Namun demikian, akal bulus mereka disadari oleh bangsa Arab di mana mereka men-cap kaum Yahudi sebagai ‘musang’.

c. Kedudukan Geografi Bandar Madinah
Yathrib atau Madinah ketika hijrahnya nabi s.a.w ke sana terbahagi kepada beberapa buah daerah yang didiami oleh beberapa keturunan Arab dan Yahudi di mana setiap daerah terbahagi pula kepada dua bahagian iaitu bahagain pertama meliputi tanah pertanian manakala bahagian kedua meliputi benteng dan kubu pertahanan. Benteng pertahanan ini adalah penting bagi melindungi kaum wanita, anak-anak dan orang-orang lemah ketika diserang oleh musuh. Ia juga dijadikan tempat untuk menyimpan hasil panen dan buahan kerana letak Bandar Yathrib yang terbuka dengan tempat terbuka untuk musuh menyerang dan merampas harta benda dan ia juga dijadikan tempat menyimpan harta dan senjata. Disamping mempunyai biara untuk beribadat dan tempat pengajian di dalamnya, di dalam benteng ini dipenuhi dengan peralatan rumah yang mahal serta pelbagai kitab agama. Di situ juga kaum Yahudi berkumpul dan berbincang juga bersumpah dengan kitab suci mereka ketika melakukan sesuatu perjanjian atau muafakat.

Madinah dikelilingi banyak gunung-gunung batu Harrah yang menjadi benteng pertahanan dari serangan musuh. Di sebelah utaranya terbuka untuk lintasan sementara lintasan lainnya dibentengi oleh pohon-pohon kurma yang tebal yang tidak mampu dilalui oleh tentera kecuali mengikut jalan-jalan sempit yang tidak sesuai bagi perjalanan tentera dan mengatur barisan. Bahagian-bahagian yang berhutan tebal dengan pohon-pohoin kurma itu merupakan tempat kawalan tentera yang tersembunyi dan cukup untuk mengkucar-kacirkan barisan tentera musuh dan menghalangnya daripada membuat serangan.

Alam asli telah menjadikan Yathrib tanah lahar muntahan gunung berapi yang menjadikan buminya amat subur selain banyak jeram dan kawasan lembah yang dapat dapat menampung air bagi perairan kurma dan tanaman lain. Wadi menjadi tempat rekreasi Madinah di mana dari wadi ini mengalir air ke ladang. Selain itu tanah Yathrib begitu sesuai untuk digali sumur dalam ladang-ladang.

d. Keadaan Agama dan Kedudukan Kemasyarakatan di Madinah
Umumnya semua bangsa Arab mengikut pegangan agama kaum Quraisy dan penduduk Mekah memandang mereka sebagai penjaga Ka’abah dan juga sebagai pemimpin dalam agama dan sebagai panutan dalam aqidah dan peribadatan. Mereka menyembah berhala Cuma hubungan mereka dengan sebahagian berhala seperti Manat lebih daripada yang lain terutama kaum Aus dan Khazraj.

Sebuah hadith riwayat Imam Ahmad dari ‘Urwah daripada Sayyidatina ‘Aisyah yang menafsirkan ayat 158 surah al-Baqarah yang bermaksud :

Sesungguhnya berjalan antara Sofa dan Marwah itu sebahagian tanda-tanda taat kepada Allah maka sesiapa yang mengerjakan haji di Baitullah atau mengerjakan umrah, maka tiada kesalahan ia berulang alik di dua tempat itu….

Kata Sayyidatina ‘Aisyah mengenai ayat ini, maksudnya : Kaum Ansar sebelum memeluk Islam memuja berhala Manat yang rupanya garang di mana mereka sembah di Musyallal. Ada di antara mereka memuja berhala itu keberatan untuk bersa’ie di Sofa dan Marwah. Mereka bertanya kepada Rasulullah s.a.w : “Wahai Rasulullah! Kami keberatan untuk bersa’ie di Sofa dan Marwah pada masa jahiliyah dahulu”. Lalu Allah menurunkan ayat di atas.

Penduduk Madinah tidak menyembah patung berhala secara meluas tidak seperti di Mekah dan sebenarnya orang-orang Madinah menyembah berhala hanya mengikut orang-orang Mekah.

Warga Madinah mempunyai dua hari perayaan iaitu hari Nauruz dan Maharjan yang mereka ambil daripada orang-orang Parsi untuk bersuka-suka tetapi setelah kedatangan Islam ia dihapuskan.

e. Keadaan Ekonomi dan Peradaban di Madinah
Bandar Yathrib atau Madinah merupakan bumi pertanian di mana kebanyakan penduduknya bergantung kepada hasil bertani dan berladang di mana hasil utamanya ialah kurma dan anggur. Pohon kurma banyak kegunaannya iaitu buahnya dijadikan makanan, batangnya dijadikan bahan bangunan, perusahaan kayu, bahan bakar dan makanan binatang ternak. Jenis bijian yang merupakan makanan asas penduduk Yathrib ialah barli kemudian gandum dan juga banyak ditanam sayuran.

Bagi mereka ada cara bertani, sewa tanah, Muzabanah iaitu menjual kurma yang masih ditandannya dengan kurma yang sudah ditimbang dengan taksiran, Muhaqalah iaitu menjual hasil tanaman barli atau gandum yang masih ditangkainya dalam ladang juga dengan taksiran, Mukhabarah dan Muzara’ah di mana kedua-duanya hampir sama iaitu pembahagian hasil tanaman antara pengusaha dengan tuan tanah sepertiga atau seperempat tetapi benih diberikan oleh tuan tanah kepada pengusaha tanaman itu. Mukhabarah ialah benih yang disediakan sendiri oleh pengusaha manakala Mu’awanah pula ialah penjualan hasil buahan selama 2 atau 3 tahun atau pun lebih. Mata uang di Mekah dan Madinah adalah sama. Dalam urusan jual beli banyak digunakan taksiran/sukatan di Madinah berbanding di Mekah kerana penduduk Madinah banyak bergantung kepada bijian dan buahan.

Kesuburan tanah Madinah masih tidak mampu menampung keperluan makanan penduduknya yang menyebabkan mereka mengimport tepung putih, minyak sapi dan madu dari Syam. Kegiatan perniagaan memang ada walau pun tidak sehebat penduduk Mekah di mana warga lembah tanpa tanaman dan tanpa air yang mencukupi maka mereka bergantung hidup kepada aktivititas perdagangan pada musim panas dan musim sejuk.

Ada perusahaan pertukangan di Madinah yang kebanyakannya diusahakan oleh kaum Yahudi di mana pada umumnya Yahudi bani Qainuqa’ adalah tukang emas. Ada beberapa pasar di Madinah milik bani Qainuqa’ menjadi pusat jual beli barang perhiasan dari emas begitu juga pasar jualan bijih-bijih benih. Kaum Yahudi sebagaimana diketahui lebih kaya daripada bangsa Arab di mana Arab dengan sifat kekampungan dan kurang berfikir serta boros dengan uang memaksa mereka bergadai dengan kaum Yahudi yang kebanyakkannya gadaian itu dikenakan riba berlipat ganda. Warga Madinah juga mempunyai harta kekayaan berupa unta, lembu dan kambing di mana mereka gunakan unta untuk pengairan tanaman. Beberapa padang ragut kepunyaan mereka di mana dari situlah mereka mendapatkan kayu api disamping mengembala binatang ternakan.

Madinah menjadi penghasil tenunan dari kapas dan sutera, bantal sandar beraneka warna dan tabir-tabir yang berlukis. Selain itu banyak peniaga minyak wangi menjual atar dan kasturi serta anbar dan raksa. Cara-cara jual beli pada masa itu ada yang dilanjutkan oleh Islam dan ada yang dilarang seperti amalan menyorok barang, lelangan barangan di mana diberikan kepada mereka yang menawarkan harga paling tinggi, menyambut dan menemui penunggang-penunggang di luar Madinah, menjual susu yang masih berada dalam unta atau kambing, menjual dengan bayaran bertangguh, menjual dengan agak-agak sahaja dan lain-lain. Ada juga kaum Aus dan Khazraj yang berurusan dengan riba tetapi jarang berbanding kaum Yahudi. Warga Madinah juga membuat kerja menjahit, menyamak kulit, membina rumah, mengukir dan sebagainya yang terkenal di masa sebelum hijrah.

 

Wallahu ‘alam bish shawwab.

Jakarta, 17 Februari 2017.

Vien AM.

Di copas dari :

https://blogsirahnabi.blogspot.co.id/2008/10/madinah-sebelum-islam.html

Read Full Post »

segelas susuAda sebuah kisah terkait dengan amanah yang tidak akan pernah dilupakan oleh sejarah Islam. Kisah tentang Umar bin Khattab dan seorang gadis penjual susu yang jujur. Kisah ini terjadi ketika Umar bin Khattab diamanahi menjadi Khalifah sepeninggal wafatnya Rasulullah. Kala itu Umar bin Khattab sangat terkenal dengan kegiatannya beronda pada malam hari. Beliau akan mengawasi daerah-daerah pimpinannya dikarenakan khawatir ada rakyatnya yang sengsara.

Beliau juga beronda sendirian sekaligus menyamar sebagai rakyat biasa dengan pakaian compang-camping untuk menutupi identitasnya. Dikarenakan beliau ingin memeriksa sendiri dan memastikan bahwa rakyatnya bisa hidup layak. Beliau khawatir jika hanya mengutus ajudannya, ajudannya tidak akan menceritakan keadaan yang sebenarnya kepadanya. Beliau menutupi identitas aslinya pun agar tidak diketahui oleh rakyatnya sehingga beliau tidak harus dihormati sebagai kepala pemerintahan.

Pada suatu malam ketika beliau sedang bertugas malam beliau mendengar dialog seorang anak perempuan dan ibunya, seorang penjual susu yang miskin.

Wahai anakku, segeralah kita tambah air dalam susu ini supaya terlihat banyak sebelum terbit matahari”, berkata sang ibu dengan suara perlahan.

Kita tidak boleh berbuat seperti itu ibu, Amirul Mukminin melarang kita berbuat begini”, jawab anaknya.

Tidak mengapa, Amirul Mukminin tidak akan tahu”,  desak ibuya lagi.

Jika Amirul Mukminin tidak tahu, tapi Tuhan Amirul Mukminin tahu”, jawabnya si anak berkeras.

Umar yang mendengar percakapan itu kemudian menangis. Betapa mulianya hati anak gadis itu, ia tetap mempertahankan kejujurannya. Amanah Amirul Mukminin ia tunaikan meskipun sang Amirul Mukminin tidak melihatnya. Hal ini ia lakukan karena ia tahu Allah lah yang senantiasa mengawasinya, apakah amanah itu ia tunaikan? Apakah ia tetap mempertahankan kejujuran meskipun kala itu ia sedang diberi ujian kemiskinan? Tetapi ternyata gadis ini memang berhati mulia, karena ia masih punya iman amanah yang disampaikan kepadanya ia tunaikan.

Jika saja saat ini orang-orang masih meninggikan keimanannya kepada Allah, tentu saja tidak akan ada amanah yang diabaikan. Meskipun sang pemberi amanah tidak selalu mengawasinya tetapi ia sadar Allah akan selalu mengawasinya. Karena ia pun takut akan hukuman yang Allah berikan, bukan takut kepada hukuman manusia semata. Apalagi bahaya lebih besar yang ditakutkannya pada hari kiamat yang akan menghampirinya jika amanah itu diabaikan.

Keesokan paginya, Umarpun memanggil putranya, Ashim bin Umar. Diceritakannya tentang gadis jujur penjual susu itu.

Anakku menikahlah dengan gadis itu. Ayah menyukai kejujurannya,” kata Khalifah Umar. “Di zaman sekarang, jarang sekali kita jumpai gadis jujur seperti dia. Ia bukan takut pada manusia. Tapi takut pada Allah yang MahaMelihat.” Ashim bin Umar menyetujuinya.

Beberapa hari kemudian Ashim melamar gadis itu. Betapa terkejut ibu dan anak perempuan itu dengan kedatangan putra khalifah. Mereka mengkhawatirkan akan ditangkap karena suatu kesalahan.

Tuan saya dan anak saya tidak pernah melakukan kecurangan dalam menjual susu. Tuan jangan tangkap kami,” mohon sang ibu ketakutan.

Putra khalifah hanya tersenyum. Lalu mengutarakan maksud kedatangannya hendak menyunting anak gadisnya.

“Bagaimana mungkin? Tuan adalah seorang putra khalifah, tidak selayaknya menikahi gadis miskin seperti anak saya … ” tanya ibu dengan perasaan ragu.

“Khalifah adalah orang yang tidak membedakan manusia. Sebab, hanya ketakwaanlah yang meninggikan derajat seseorang di sisi Allah,” kata Ashim sambil tersenyum.

“Ya. Aku lihat anakmu sangat jujur,” kata Khalifah Umar. Anak gadis itu saling berpandangan dengan ibunya. Bagaimana khlaifah tahu? Bukankah selama ini ia belum pernah mengenal mereka. “Setiap malam aku suka berkeliling memeriksa rakyatku. Malam itu aku mendengar pembicaraan kalian,” jelas Khalifah Umar.

Alangkah bahagianya ibu dan gadis tersebut.Khalifah Umar ternyata sangat bijaksana dalam menilai seseorang, bukan dari kekayaan tapi dari kejujurannya. Maka menikahlah Ashim dengan si gadis penjual susu. Pasangan tersebut sangat bahagia dan berhasil membahagiakan kedua orangtuanya. Beberapa tahun kemudian mereka dikaruniai anak dan cucu yang kelak menjadi orang besar dan memimpin bangsa Arab, yakni Umar bin Abdul Aziz, yang sering disebut sebagai khalifah ke lima berkat kearifannya.

https://vienmuhadi.com/2009/11/17/keteladanan-umar-bin-abdul-aziz-amirul-mukminin/

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 5 Januari 2017.

Vien AM.

Disarikan dari :

http://www.pksbandungkota.com/2016/10/kisah-umar-bin-khattab-dan-gadis.html

http://permatafm.com/secangkir-kopi/kisah-sayyidina-umar-bin-khattab-dan-gadis-penjual-susu-yang-jujur/

Read Full Post »

KISAH HIKMAH, suatu ketika Rasulullah saw bermain tebak-tebakan dengan para sahabat. Bertanya Rasulullah,

“Tahukah kalian, mereka-mereka yang keimanannya membuatku kagum?”.

“Aku tahu ya Rasulullah”, seru salah seorang sahabat. “Mereka yang engkau maksud itu tentulah para malaikat“.

“Mengapa engkau berpikir demikian?”, tanya Rasulullah kembali.

“Karena para malaikat selalu mematuhi semua perintah Allah. Mereka tidak sekalipun pernah melanggar aturan Allah”, jawab sahabat.

“Tapi para malaikat memang ditakdirkan untuk selalu mematuhi perintah Allah. Mereka tidak diberi kelengkapan hawa nafsu seperti layaknya kita. Dan tempat mereka dekat dengan Allah. Wajar jika mereka selalu beriman. Keimanan para malaikat tersebut, sama sekali tidak membuatku kagum”, bantah Rasulullah.

Para sahabat termangu-mangu dengan jawaban Rasulullah tersebut. Mereka terdiam sejenak, memikirkan jawaban apa kiranya yang dikehendaki oleh Rasulullah. Tiba-tiba, salah seorang sahabat berseru,

“Aku tahu ya Rasulullah, yang Rasulullah maksudkan tentu para nabi dan rasul utusan Allah. Mereka manusia biasa seperti kita, namun mereka selalu mematuhi apapun yang Allah perintahkan, apapun resikonya”.

Rasulullah tersenyum, “Betul mereka manusia biasa seperti kita, namun mereka mendapatkan petunjuk langsung dari Allah swt. Mereka menerima wahyu dan mendapatkan mukzizat. Wajar jika karena semua itu, mereka beriman kepada Allah”. “Keimanan mereka sama sekali tidak membuat aku kagum”, bantah Rasulullah sekali lagi.

Kembali para sahabat ternganga dengan bantahan Rasulullah tadi. Mereka saling berpandangan lalu kembali tenggelam memikirkan jawaban pertanyaan Rasulullah.

“Ah…, sekarang saya tahu ya Rasulullah”, kata salah seorang sahabat dengan muka berseri-seri. “Mereka yang Rasulullah maksudkan itu tentulah kami, para sahabatmu. Kami manusia biasa, kami juga tidak menerima wahyu, dan sama sekali tidak dikaruniai mukzizat apapun. Meskipun demikian, kami berjanji untuk selalu mematuhi segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya”, jelas sahabat tersebut dengan senyum mengembang diwajahnya.

Kembali Rasulullah tersenyum mendengar jawaban salah seorang sahabat tadi,

“Betul kalian memang tidak menerima wahyu dan sama sekali tidak dikaruniai mukzizat, namun kalian kan melihat dengan mata kepala sendiri, mukzizat yang aku terima. Kalian juga mendengar dengan telinga kalian sendiri ketika wahyu Allah aku bacakan. Wajar jika karena itu, kalian beriman kepada Allah. Keimanan kalian, sama sekali tidak membuatku kagum”.

Kali ini para sahabat betul-betul terhenyak dengan bantahan Rasulullah barusan. Dengan perasaan putus asa karena sudah kehabisan akal, akhirnya mereka menyerah,

“Kiranya hanya Allah dan rasul-Nya saja yang tahu jawaban pertanyaan Rasulullah tadi”, kata salah seorang sahabat.

“Sesungguhnya, mereka yang keimanannya membuatku kagum adalah mereka-mereka yang tidak sekalipun pernah berjumpa denganku. Mereka sama sekali tidak pernah melihat diriku dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka juga tidak sekalipun pernah mendengar suaraku. Dan yang lebih hebat lagi, mereka berabad-abad jaraknya dariku. Tapi kecintaan mereka kepadaku, tak sekalipun perlu aku ragukan”, jawab Rasulullah.

“Mereka itulah, yang keimanannya sungguh-sungguh membuat aku kagum”, sambung Rasulullah menegaskan.

*****Mereka yang dimaksud oleh Rasulullah dalam kisah diatas, tak lain dan tak bukan, adalah kita semua. Tentu dengan syarat, jika kita bersungguh-sungguh mencintai Rasulullah saw dengan setulus hati kita. Semoga Allah selalu memberikan kita kekuatan untuk dapat selalu mencintai Rasulullah dengan sebenar-benarnya cinta. Amin …  

Jakarta, 24 April 2016.

Vien AM.

Sumber:http://kisah-yang-penuh-hikmah.blogspot.co.id/2015/01/keimanan-yang-paling-rasulullah-kagumi.html

Read Full Post »

Dakwah dan Ukhuwah

( Oleh uztazd HM Arifin Ilham)

Dikisahkan dalam sebuah sirah bahwa nabi hari itu terlihat sumringah. Meluncur dari lisan fasihnya, untaian cinta yang menghangatkan telinga si pendengarnya,

« Selamat datang duhai orang yang karenanya aku ditegur oleh Rabbku !»

Sang nabi sendiri selalu tersenyum ketika melafalkan kalimat itu. Dan, orang yang dimaksudpun juga tersipu. Padahal ia berpenghalang dengan penglihatannya alias buta. Ke arah Majelis Nabawi itu  Abdullah ibn Ummi Maktub, pemilik nama itu, tertatih mendekat. Lalu, Rasulullah bersegera mengulurkan tangan, menggandengnya, menggenggam jemari lelaki ini erat-erat, dan mendudukannya di sebelah beliau.

Teguran Allah pada beliau itu sudah lama sekali. Tetapi sang nabi tak pernah melupakannya. Beliau pernah bermasam muka, merasa enggan dan mengalihkan wajah dari   Abdullah ibn Ummi Maktub. Tak sepenuhnya abai sebenarnya. Hanya saja,saat itu Rasulullah saw sedang berada dihadapan para pembesar Quraisy, dan sedang membacakan ayat-ayat Allah pada mereka. Saat itu teramat tinggi hasrat sang nabi agar para pemuka itu mau menerima dakwah beliau.

Maka kedatangan  Abdullah ibn Ummi Maktub yang buta, yang lemah, yang pinggiran, dan tanpa kuasa itu terasa seperti usikan kecil bagi asa dakwah beliau. Kehadirannya seolah menjadi citra bahwa yang mengikuti Muhammad adalah orang-orang dhuafa dan fakir, orang-orang belakang dan pandir. Itu pasti akan membuat para pemuka Quraisy tak nyaman dan makin enggan. Jadi beliau bermasam muka dan berpaling. Lalu Allah menegurnya : “

 “ Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya”. (QS.Abasa (80):1-2).

Tak ada yang salah dengan hasrat kuat sang nabi agar pembesar Quraisy itu segera beriman. Allah memang telah mengamanahi beliau untuk menyeru mereka kepada hidayah. Dan secara pribadi, sang nabipun sama sekali tak punya benci, jijik, atau risih kepada Ibn Ummi Maktub ini. Beliau hanya merasa kemunculannya terjadi pada saat yang tak tepat.

Antara dakwah dan ukhuwah. Ya, kedua materi ini seprti dua mata perkuliahan yang hendak Allah hendak sampaikan kepada nabi-Nya supaya lebih bijak mendudukannya. Hari itu, nabi seperti merasakan gelombang hikmah dari teguran Allah. Gelombang keinsyafan dari untaian salam nabi kepada Abdullah ibn Ummi Maktub di atas begitu terasa.

Beliau seperti sedang dididik untuk lebih adil dan tak membeda-bedakan sikap. Baik kepada pemuka kaya atau kepada yang buta papa. Sikap cinta dan mesra beliau harus serupa. Begitulah seharusnya kita, para juru dakwah. Ikhtiar dalam dakwah dan tetap berupaya melebarkan ukhuwah.

 Wallahu’alam.

Diambil dari kolom Hikmah, Khazanah –  Republika, Jumat 8 November 2013/ 4 Muharam 1435 H.

Read Full Post »

Inspirasi Hadits

Suatu ketika, ada seorang sahabat yang mengalami kemiskinan luar biasa. Beberapa hari terlewat tanpa ada sesuatu yang bisa diberikan kepada anak atau istrinya.

Keadaan ini membuat si istri menyarankan agar meminta bantuan Rasulullah saw. Siapa tahu beliau memberikan jalan keluar. Toh, selama ini tak ada seorangpun pernah ditolak permintaannya.

Sahabat tersebutpun kemudian membenarkan perkataan istrinya. Karena itu, ia bergegas pergi menuju rumah Rasulullah saw.

Di tengah jalan, tiba-tiba ia teringat hadits Rasulullah saw “Barangsiapa memohon pertolongan kepadaku akan kuberi ia pertolongan. Dan barangsiapa yang mencukupkan diri maka Allah swt akan mencukupkan dirinya”.

Entah mengapa dengan teringat hadits ini, sahabat tersebut mengurungkan niatnya untuk pergi ke rumah Rasulullah saw. Ia kembali ke rumah.

Namun sesampainya di rumah, sahabat ini mendapati dirinya diliputi kemelaratan dan ketidak berdayaan. Tak ada jalan pemecahan. Karena itu, ia kembali bermaksud menemui Rasulullah saw untuk minta bantuan.

Tetapi di tengah jalan ia kembali berhenti. Ia urung menghadap Rasulullah saw. Ingatannya kembali ke hadits tadi. Tiba-tiba dalam perenungannya, terbersit ketenangan melanda batinnya, ada kesadaran baru menghinggapi jiwanya. Sebenarnya kunci pembuka keluar dari kemiskinan hidup sudah ada di tangannya sendiri.

Pantang diriku untuk meminta tolong kepada sesama manusia. Satu-satunya tempat bersandar adalah Allah swt. Aku mesti minta tolong pada-Nya. Cukuplah Dia sebagai tempatku mengadu. Allah swt telah memberikan kekuatan dan menyediakan alam, tinggal diriku berjuang mengatasi masalah yang kuhadapi. Tiada pemberi kekuatan kecuali Allah swt”, tekad sahabat itu di dalam hati.

Lantas pertanyaan lain menggelayut di pikirannya. « Apa pekerjaan yang bisa aku lakukan ? »

DSC04074Setelah lama berpikir apa yang dibutuhkan masyarakat dan kemampuan yang dimiliki, sabahat itupun memilih pekerjaan mencari kayu bakar. Yang dimulainya dengan meminjam kapak tetangga, ia berangkat ke padang, dikumpulkannya sejumlah kayu, selanjutnya dibawanya ke kota untuk dijual.

Lama-kelamaan usaha ini mengalami perkembangan yang tak terduga. Mula-mula hasil penjualan kayu bakar itu bisa mencukupi kebutuhan keluarga, kemudian bisa digunakan membeli unta dan memperkerjakan orang, dan akhirnya kekayaannya terus bertambah berlipat-lipat. Iapun menjadi orang terkaya.

Hingga pada suatu hari ia bertemu Rasulullah saw. Maka diceritakannya bagaimana dulu ia dalam keadaan miskin, berniat minta bantuan beliau namun urung dilakukannya karena teringat hadits.

Sabda Rasulullah saw, « Memang aku pernah berkata seperti itu, siapa saja yang memohon kepadaku akan kutolong dia. Dan siapa saja yang mencukupkan dirinya maka Allah swt akan mencukupinya ».

Jakarta, 2 April 2013.

Vien AM.

Diambil dari « Kisah paling menggugah Inspirasi Istimewa Rasulullah saw”, oleh Ma’ruf Ismail.

Read Full Post »

Older Posts »