Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hikmah’ Category

Berkah Sepatu Usang

taman Al-Azhar CairoSeorang Syeikh yang alim tengah berjalan santai bersama seorang murid di taman kota Cairo, sebuah kota indah di tepi sungai Nil. Keduanya melihat sepasang sepatu yang sudah usang dan lusuh. Mereka berdua yakin kalau itu adalah sepatu milik pekerja kebun yang sebentar lagi akan menyelesaikan pekerjaannya.

Sang murid melihat kepada syeikhnya seraya berkata :
Bagaimana kalau kita candai tukang kebun ini dengan menyembunyikan sepatunya, kemudian kita bersembunyi di belakang pepohonan. Nanti ketika dia datang, kita lihat bagaimana dia kaget serta cemas karena kehilangan sepatunya.”

Sang syeikh menjawab:
“Anakku, tidak pantas kita menghibur diri dengan mengorbankan orang miskin. Kamu kan seorang yang kaya dan kamu bisa saja menambah kebahagiaan untuk dirinya. Sekarang cobalah kamu masukkan beberapa  lembar uang kertas ke dalam sepatunya, kemudian saksikan bagaimana respons dari tukang kebun miskin itu?”

Sang murid sangat takjub dengan usulan syeikhnya. Ia langsung  memasukkan beberapa lembar uang ke dalam sepatu tukang kebun itu. Setelah itu ia bersembunyi di balik semak-semak bersama sang syeikh sambil mengintip apa yang akan terjadi dengan tukang kebun itu.

Tak berapa lama datanglah tukang kebun itu, sambil mengibas-ngibaskan kotoran debu dari pakaiannya, dia menuju ke tempat dia meninggalkan sepatunya. Ketika ia memasukkan kakinya ke dalam sepatu, ia menjadi terperanjat, karena ada sesuatu yang mengganjal di dalamnya.

Saat ia keluarkan, ternyata, uang. Ia memeriksa sepatu yang satunya lagi, ternyata juga berisi uang. Ia memandangi uang itu berulang-ulang seolah ia tidak percaya dengan penglihatannya. Iapun memutar pandangannya ke segala penjuru namun ia tidak melihat seorang pun.

Sambil menggenggam uang itu lalu ia berlutut sambil menengadah ke langit ia berucap :
“Aku bersyukur kepada-Mu, ya Allah. Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Wahai Yang Maha Tahu, istriku sedang sakit dan anak-anakku  kelaparan, mereka belum mendapatkan makanan hari ini. Engkau telah menyelamatkanku, anak-anakku dan istriku dari penderitaan”.

Dengan kepolosannya ia terus menangis terharu sambil memandangi ke langit sebagai ungkapan rasa syukurnya atas karunia dari Allah Yang Maha Pemurah.

Sang murid sangat terharu atas pemandangan yang dilihatnya dari balik persembunyian itu. Air matanya berlinang tanpa dapat ia bendung.

Sang syeikh yang bijak berkata kepada muridnya :
“Bukankah sekarang kamu merasakan kebahagiaan yang lebih dari pada kamu melakukan ide pertama untuk menyembunyikan sepatu tukang kebun miskin itu?”

Sang murid menjawab :
“Aku telah mendapatkan pelajaran yang tidak akan aku lupakan seumur hidupku. Sekarang aku paham makna kalimat, “Ketika kamu memberi, kamu akan memperoleh kebahagiaan yang lebih banyak daripada ketika kamu diberi”.

Sang syeikh melanjutkan nasehatnya,

Ketahuilah bahwa bentuk pemberian itu bermacam-macam:

  • Memaafkan kesalahan orang di saat kamu mampu melakukan balas dendam, adalah suatu “pemberian”.
  • Mendoakan teman dan saudaramu di belakangnya_ (tanpa sepengetahuannya) itu adalah juga “pemberian”.
  • Berusaha berbaik sangka dan menghilangkan prasangka buruk,_ juga suatu “pemberian.”
  • Menahan diri dari membicarakan aib sesama kita di belakangnya adalah “pemberian” juga.

Marilah kita saling “memberi & berbuat baik”, niscaya “hidup kita akan menjadi lebih indah”.

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. ( Terjemah QS. Al-Baqarah (2):261).

Salinglah memberikan hadiah di antara kalian, niscaya kalian akan saling menyayangi.” (HR. Bukhari).

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani di dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 13280, 12: 453. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al Jaami’ no. 176).

 

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 12 Juni 2017.
Vien AM.
Diambil dari:
https://id-id.facebook.com/kisahsejarahislam/posts/791430144268058 dengan tambahan ayat dan hadist yang sejalan.
Advertisements

Read Full Post »

segelas susuAda sebuah kisah terkait dengan amanah yang tidak akan pernah dilupakan oleh sejarah Islam. Kisah tentang Umar bin Khattab dan seorang gadis penjual susu yang jujur. Kisah ini terjadi ketika Umar bin Khattab diamanahi menjadi Khalifah sepeninggal wafatnya Rasulullah. Kala itu Umar bin Khattab sangat terkenal dengan kegiatannya beronda pada malam hari. Beliau akan mengawasi daerah-daerah pimpinannya dikarenakan khawatir ada rakyatnya yang sengsara.

Beliau juga beronda sendirian sekaligus menyamar sebagai rakyat biasa dengan pakaian compang-camping untuk menutupi identitasnya. Dikarenakan beliau ingin memeriksa sendiri dan memastikan bahwa rakyatnya bisa hidup layak. Beliau khawatir jika hanya mengutus ajudannya, ajudannya tidak akan menceritakan keadaan yang sebenarnya kepadanya. Beliau menutupi identitas aslinya pun agar tidak diketahui oleh rakyatnya sehingga beliau tidak harus dihormati sebagai kepala pemerintahan.

Pada suatu malam ketika beliau sedang bertugas malam beliau mendengar dialog seorang anak perempuan dan ibunya, seorang penjual susu yang miskin.

Wahai anakku, segeralah kita tambah air dalam susu ini supaya terlihat banyak sebelum terbit matahari”, berkata sang ibu dengan suara perlahan.

Kita tidak boleh berbuat seperti itu ibu, Amirul Mukminin melarang kita berbuat begini”, jawab anaknya.

Tidak mengapa, Amirul Mukminin tidak akan tahu”,  desak ibuya lagi.

Jika Amirul Mukminin tidak tahu, tapi Tuhan Amirul Mukminin tahu”, jawabnya si anak berkeras.

Umar yang mendengar percakapan itu kemudian menangis. Betapa mulianya hati anak gadis itu, ia tetap mempertahankan kejujurannya. Amanah Amirul Mukminin ia tunaikan meskipun sang Amirul Mukminin tidak melihatnya. Hal ini ia lakukan karena ia tahu Allah lah yang senantiasa mengawasinya, apakah amanah itu ia tunaikan? Apakah ia tetap mempertahankan kejujuran meskipun kala itu ia sedang diberi ujian kemiskinan? Tetapi ternyata gadis ini memang berhati mulia, karena ia masih punya iman amanah yang disampaikan kepadanya ia tunaikan.

Jika saja saat ini orang-orang masih meninggikan keimanannya kepada Allah, tentu saja tidak akan ada amanah yang diabaikan. Meskipun sang pemberi amanah tidak selalu mengawasinya tetapi ia sadar Allah akan selalu mengawasinya. Karena ia pun takut akan hukuman yang Allah berikan, bukan takut kepada hukuman manusia semata. Apalagi bahaya lebih besar yang ditakutkannya pada hari kiamat yang akan menghampirinya jika amanah itu diabaikan.

Keesokan paginya, Umarpun memanggil putranya, Ashim bin Umar. Diceritakannya tentang gadis jujur penjual susu itu.

Anakku menikahlah dengan gadis itu. Ayah menyukai kejujurannya,” kata Khalifah Umar. “Di zaman sekarang, jarang sekali kita jumpai gadis jujur seperti dia. Ia bukan takut pada manusia. Tapi takut pada Allah yang MahaMelihat.” Ashim bin Umar menyetujuinya.

Beberapa hari kemudian Ashim melamar gadis itu. Betapa terkejut ibu dan anak perempuan itu dengan kedatangan putra khalifah. Mereka mengkhawatirkan akan ditangkap karena suatu kesalahan.

Tuan saya dan anak saya tidak pernah melakukan kecurangan dalam menjual susu. Tuan jangan tangkap kami,” mohon sang ibu ketakutan.

Putra khalifah hanya tersenyum. Lalu mengutarakan maksud kedatangannya hendak menyunting anak gadisnya.

“Bagaimana mungkin? Tuan adalah seorang putra khalifah, tidak selayaknya menikahi gadis miskin seperti anak saya … ” tanya ibu dengan perasaan ragu.

“Khalifah adalah orang yang tidak membedakan manusia. Sebab, hanya ketakwaanlah yang meninggikan derajat seseorang di sisi Allah,” kata Ashim sambil tersenyum.

“Ya. Aku lihat anakmu sangat jujur,” kata Khalifah Umar. Anak gadis itu saling berpandangan dengan ibunya. Bagaimana khlaifah tahu? Bukankah selama ini ia belum pernah mengenal mereka. “Setiap malam aku suka berkeliling memeriksa rakyatku. Malam itu aku mendengar pembicaraan kalian,” jelas Khalifah Umar.

Alangkah bahagianya ibu dan gadis tersebut.Khalifah Umar ternyata sangat bijaksana dalam menilai seseorang, bukan dari kekayaan tapi dari kejujurannya. Maka menikahlah Ashim dengan si gadis penjual susu. Pasangan tersebut sangat bahagia dan berhasil membahagiakan kedua orangtuanya. Beberapa tahun kemudian mereka dikaruniai anak dan cucu yang kelak menjadi orang besar dan memimpin bangsa Arab, yakni Umar bin Abdul Aziz, yang sering disebut sebagai khalifah ke lima berkat kearifannya.

https://vienmuhadi.com/2009/11/17/keteladanan-umar-bin-abdul-aziz-amirul-mukminin/

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 5 Januari 2017.

Vien AM.

Disarikan dari :

http://www.pksbandungkota.com/2016/10/kisah-umar-bin-khattab-dan-gadis.html

http://permatafm.com/secangkir-kopi/kisah-sayyidina-umar-bin-khattab-dan-gadis-penjual-susu-yang-jujur/

Read Full Post »

KISAH HIKMAH, suatu ketika Rasulullah saw bermain tebak-tebakan dengan para sahabat. Bertanya Rasulullah,

“Tahukah kalian, mereka-mereka yang keimanannya membuatku kagum?”.

“Aku tahu ya Rasulullah”, seru salah seorang sahabat. “Mereka yang engkau maksud itu tentulah para malaikat“.

“Mengapa engkau berpikir demikian?”, tanya Rasulullah kembali.

“Karena para malaikat selalu mematuhi semua perintah Allah. Mereka tidak sekalipun pernah melanggar aturan Allah”, jawab sahabat.

“Tapi para malaikat memang ditakdirkan untuk selalu mematuhi perintah Allah. Mereka tidak diberi kelengkapan hawa nafsu seperti layaknya kita. Dan tempat mereka dekat dengan Allah. Wajar jika mereka selalu beriman. Keimanan para malaikat tersebut, sama sekali tidak membuatku kagum”, bantah Rasulullah.

Para sahabat termangu-mangu dengan jawaban Rasulullah tersebut. Mereka terdiam sejenak, memikirkan jawaban apa kiranya yang dikehendaki oleh Rasulullah. Tiba-tiba, salah seorang sahabat berseru,

“Aku tahu ya Rasulullah, yang Rasulullah maksudkan tentu para nabi dan rasul utusan Allah. Mereka manusia biasa seperti kita, namun mereka selalu mematuhi apapun yang Allah perintahkan, apapun resikonya”.

Rasulullah tersenyum, “Betul mereka manusia biasa seperti kita, namun mereka mendapatkan petunjuk langsung dari Allah swt. Mereka menerima wahyu dan mendapatkan mukzizat. Wajar jika karena semua itu, mereka beriman kepada Allah”. “Keimanan mereka sama sekali tidak membuat aku kagum”, bantah Rasulullah sekali lagi.

Kembali para sahabat ternganga dengan bantahan Rasulullah tadi. Mereka saling berpandangan lalu kembali tenggelam memikirkan jawaban pertanyaan Rasulullah.

“Ah…, sekarang saya tahu ya Rasulullah”, kata salah seorang sahabat dengan muka berseri-seri. “Mereka yang Rasulullah maksudkan itu tentulah kami, para sahabatmu. Kami manusia biasa, kami juga tidak menerima wahyu, dan sama sekali tidak dikaruniai mukzizat apapun. Meskipun demikian, kami berjanji untuk selalu mematuhi segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya”, jelas sahabat tersebut dengan senyum mengembang diwajahnya.

Kembali Rasulullah tersenyum mendengar jawaban salah seorang sahabat tadi,

“Betul kalian memang tidak menerima wahyu dan sama sekali tidak dikaruniai mukzizat, namun kalian kan melihat dengan mata kepala sendiri, mukzizat yang aku terima. Kalian juga mendengar dengan telinga kalian sendiri ketika wahyu Allah aku bacakan. Wajar jika karena itu, kalian beriman kepada Allah. Keimanan kalian, sama sekali tidak membuatku kagum”.

Kali ini para sahabat betul-betul terhenyak dengan bantahan Rasulullah barusan. Dengan perasaan putus asa karena sudah kehabisan akal, akhirnya mereka menyerah,

“Kiranya hanya Allah dan rasul-Nya saja yang tahu jawaban pertanyaan Rasulullah tadi”, kata salah seorang sahabat.

“Sesungguhnya, mereka yang keimanannya membuatku kagum adalah mereka-mereka yang tidak sekalipun pernah berjumpa denganku. Mereka sama sekali tidak pernah melihat diriku dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka juga tidak sekalipun pernah mendengar suaraku. Dan yang lebih hebat lagi, mereka berabad-abad jaraknya dariku. Tapi kecintaan mereka kepadaku, tak sekalipun perlu aku ragukan”, jawab Rasulullah.

“Mereka itulah, yang keimanannya sungguh-sungguh membuat aku kagum”, sambung Rasulullah menegaskan.

*****Mereka yang dimaksud oleh Rasulullah dalam kisah diatas, tak lain dan tak bukan, adalah kita semua. Tentu dengan syarat, jika kita bersungguh-sungguh mencintai Rasulullah saw dengan setulus hati kita. Semoga Allah selalu memberikan kita kekuatan untuk dapat selalu mencintai Rasulullah dengan sebenar-benarnya cinta. Amin …  

Jakarta, 24 April 2016.

Vien AM.

Sumber:http://kisah-yang-penuh-hikmah.blogspot.co.id/2015/01/keimanan-yang-paling-rasulullah-kagumi.html

Read Full Post »

Dakwah dan Ukhuwah

( Oleh uztazd HM Arifin Ilham)

Dikisahkan dalam sebuah sirah bahwa nabi hari itu terlihat sumringah. Meluncur dari lisan fasihnya, untaian cinta yang menghangatkan telinga si pendengarnya,

« Selamat datang duhai orang yang karenanya aku ditegur oleh Rabbku !»

Sang nabi sendiri selalu tersenyum ketika melafalkan kalimat itu. Dan, orang yang dimaksudpun juga tersipu. Padahal ia berpenghalang dengan penglihatannya alias buta. Ke arah Majelis Nabawi itu  Abdullah ibn Ummi Maktub, pemilik nama itu, tertatih mendekat. Lalu, Rasulullah bersegera mengulurkan tangan, menggandengnya, menggenggam jemari lelaki ini erat-erat, dan mendudukannya di sebelah beliau.

Teguran Allah pada beliau itu sudah lama sekali. Tetapi sang nabi tak pernah melupakannya. Beliau pernah bermasam muka, merasa enggan dan mengalihkan wajah dari   Abdullah ibn Ummi Maktub. Tak sepenuhnya abai sebenarnya. Hanya saja,saat itu Rasulullah saw sedang berada dihadapan para pembesar Quraisy, dan sedang membacakan ayat-ayat Allah pada mereka. Saat itu teramat tinggi hasrat sang nabi agar para pemuka itu mau menerima dakwah beliau.

Maka kedatangan  Abdullah ibn Ummi Maktub yang buta, yang lemah, yang pinggiran, dan tanpa kuasa itu terasa seperti usikan kecil bagi asa dakwah beliau. Kehadirannya seolah menjadi citra bahwa yang mengikuti Muhammad adalah orang-orang dhuafa dan fakir, orang-orang belakang dan pandir. Itu pasti akan membuat para pemuka Quraisy tak nyaman dan makin enggan. Jadi beliau bermasam muka dan berpaling. Lalu Allah menegurnya : “

 “ Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya”. (QS.Abasa (80):1-2).

Tak ada yang salah dengan hasrat kuat sang nabi agar pembesar Quraisy itu segera beriman. Allah memang telah mengamanahi beliau untuk menyeru mereka kepada hidayah. Dan secara pribadi, sang nabipun sama sekali tak punya benci, jijik, atau risih kepada Ibn Ummi Maktub ini. Beliau hanya merasa kemunculannya terjadi pada saat yang tak tepat.

Antara dakwah dan ukhuwah. Ya, kedua materi ini seprti dua mata perkuliahan yang hendak Allah hendak sampaikan kepada nabi-Nya supaya lebih bijak mendudukannya. Hari itu, nabi seperti merasakan gelombang hikmah dari teguran Allah. Gelombang keinsyafan dari untaian salam nabi kepada Abdullah ibn Ummi Maktub di atas begitu terasa.

Beliau seperti sedang dididik untuk lebih adil dan tak membeda-bedakan sikap. Baik kepada pemuka kaya atau kepada yang buta papa. Sikap cinta dan mesra beliau harus serupa. Begitulah seharusnya kita, para juru dakwah. Ikhtiar dalam dakwah dan tetap berupaya melebarkan ukhuwah.

 Wallahu’alam.

Diambil dari kolom Hikmah, Khazanah –  Republika, Jumat 8 November 2013/ 4 Muharam 1435 H.

Read Full Post »

Inspirasi Hadits

Suatu ketika, ada seorang sahabat yang mengalami kemiskinan luar biasa. Beberapa hari terlewat tanpa ada sesuatu yang bisa diberikan kepada anak atau istrinya.

Keadaan ini membuat si istri menyarankan agar meminta bantuan Rasulullah saw. Siapa tahu beliau memberikan jalan keluar. Toh, selama ini tak ada seorangpun pernah ditolak permintaannya.

Sahabat tersebutpun kemudian membenarkan perkataan istrinya. Karena itu, ia bergegas pergi menuju rumah Rasulullah saw.

Di tengah jalan, tiba-tiba ia teringat hadits Rasulullah saw “Barangsiapa memohon pertolongan kepadaku akan kuberi ia pertolongan. Dan barangsiapa yang mencukupkan diri maka Allah swt akan mencukupkan dirinya”.

Entah mengapa dengan teringat hadits ini, sahabat tersebut mengurungkan niatnya untuk pergi ke rumah Rasulullah saw. Ia kembali ke rumah.

Namun sesampainya di rumah, sahabat ini mendapati dirinya diliputi kemelaratan dan ketidak berdayaan. Tak ada jalan pemecahan. Karena itu, ia kembali bermaksud menemui Rasulullah saw untuk minta bantuan.

Tetapi di tengah jalan ia kembali berhenti. Ia urung menghadap Rasulullah saw. Ingatannya kembali ke hadits tadi. Tiba-tiba dalam perenungannya, terbersit ketenangan melanda batinnya, ada kesadaran baru menghinggapi jiwanya. Sebenarnya kunci pembuka keluar dari kemiskinan hidup sudah ada di tangannya sendiri.

Pantang diriku untuk meminta tolong kepada sesama manusia. Satu-satunya tempat bersandar adalah Allah swt. Aku mesti minta tolong pada-Nya. Cukuplah Dia sebagai tempatku mengadu. Allah swt telah memberikan kekuatan dan menyediakan alam, tinggal diriku berjuang mengatasi masalah yang kuhadapi. Tiada pemberi kekuatan kecuali Allah swt”, tekad sahabat itu di dalam hati.

Lantas pertanyaan lain menggelayut di pikirannya. « Apa pekerjaan yang bisa aku lakukan ? »

DSC04074Setelah lama berpikir apa yang dibutuhkan masyarakat dan kemampuan yang dimiliki, sabahat itupun memilih pekerjaan mencari kayu bakar. Yang dimulainya dengan meminjam kapak tetangga, ia berangkat ke padang, dikumpulkannya sejumlah kayu, selanjutnya dibawanya ke kota untuk dijual.

Lama-kelamaan usaha ini mengalami perkembangan yang tak terduga. Mula-mula hasil penjualan kayu bakar itu bisa mencukupi kebutuhan keluarga, kemudian bisa digunakan membeli unta dan memperkerjakan orang, dan akhirnya kekayaannya terus bertambah berlipat-lipat. Iapun menjadi orang terkaya.

Hingga pada suatu hari ia bertemu Rasulullah saw. Maka diceritakannya bagaimana dulu ia dalam keadaan miskin, berniat minta bantuan beliau namun urung dilakukannya karena teringat hadits.

Sabda Rasulullah saw, « Memang aku pernah berkata seperti itu, siapa saja yang memohon kepadaku akan kutolong dia. Dan siapa saja yang mencukupkan dirinya maka Allah swt akan mencukupinya ».

Jakarta, 2 April 2013.

Vien AM.

Diambil dari « Kisah paling menggugah Inspirasi Istimewa Rasulullah saw”, oleh Ma’ruf Ismail.

Read Full Post »

Jabir ra berkata, “ Suatu saat Rasulullah saw menemui kami. Beliau berkata, « Baru saja kawan setiaku, Jibril, pergi dari hadapanku.

Ia berkata kepadaku, «  Muhammad, demi dzat yang mengutusmu secara benar, sesungguhnya Allah mempunyai seorang hamba yang menyembah-Nya selama lima ratus tahun di atas sebuah gunung di  sebuah laut. Tinggi dan lebar gunung tersebut adalah tiga puluh dira’. Sedangkan laut yang mengelilinginya  seluas empat ribu farsakh.

Di dekat orang tersebut keluar sebuah mata air tawar sebesar jari tangan yang terus menerus mengalir. Mata air ini bersumber dari bawah gunung. Sementara itu diatas gunung tersebut, di dekat ahli ibadah ini, terdapat sebuah pohon apel yang setiap malam selalu berbuah. Siang dan malam orang ini terus-menerus menyembah Allah.  Jika waktu  sore tiba ia turun untuk mengambil air minum dan apel. Setelah selesai melakukan hal itu, ia meneruskan lagi ibadahnya.

Selanjutnya orang itu meminta kepada Tuhannya agar diambil nyawanya dalam keadaan sedang sujud. Dan dia meminta kepada Allah agar tidak memberikan kesempatan kepada bumi atau perkara lainnya untuk mengganggu dirinya sampai dirinya dibangkitkan nanti dalam keadaan sujud”.

Maka Allah ”, lanjut Jibril, “ mengabulkan apa yang diminta olehnya. Kami biasa melewati orang tersebut ketika kami turun dari dan naik ke langit. Kamipun berdasarkan ilmu menemukan bahwa orang ini pada hari Kiamat akan dibangkitkan”.

Ia berdiri di hadapan Allah swt. Tuhan berkata kepadanya : “ Wahai para malaikat, masukanlah hamba-Ku ini kedalam surga karena rahmat-Ku!”. Orang tersebut berkata “ Wahai Tuhanku, atas amalku ( bukan karena kasihan)”.

Allah berkata,  “ Wahai para malaikat, masukanlah hamba-Ku ini kedalam surga karena rahmat-Ku!”. Orang tersebut berkata lagi  “ Wahai Tuhanku, atas amalku (bukan karena kasihan)”.

Lalu Allah swt berkata, “ Wahai para malaikat, ukurlah amal hamba-Ku ini dengan nikmat-Ku kepadanya!”

Ternyata ditemukan bahwa sebuah nikmat dapat melihat saja telah mampu melingkup ibadahnya yang dilakukan selama 500 tahun. Kemdian ditambah nikmat jasad yang masih jauh terbandingi oleh amalnya.

“ Bawa lagi orang itu kesini!”.

Maka dihadapkan kepada Allah.  Allah  swt berfirman,

“ Wahai hamba-Ku, siapa yang menciptakanmu padahal sebelumnya engkau bukan apa-apa?”.  Ia menjawab:” Engkau, wahai Tuhanku”.

Allah bertanya lagi : “ Siapa yang memberi kekuatan kepadamu untuk ibadah selama 500 tahun ?” I a menjawab :” Engkau , wahai Tuhanku”.

Allah bertanya lagi:” Siapa yang menempatkanmu untuk berada di atas gunung yang berada di tengah-tengah lautan?  Siapa yang mengeluarkan air tawar untukmu? Siapa yang mengeluarkan apel setiap malam padahal biasanya pohon apel berbuah sekali dalam setahun ? Dan siapa yang diminta olehmu untuk dapat mencabut nyawamu pada saat sujud?”

Sang hamba tersebut menjawab, : Engkau, wahai Tuhanku!”.

“Nah, itu semua atas  rahmat-Ku dan atas rahmat-Ku pula aku memasukkan kedalam surga. Wahai para malaikat, masukkan hamba-Ku ini kedalam surga! Sungguh, engkau hamba-Ku yang paling baik !”.

Maka Allah memasukkan hamba itu kedalam surga.

Jakarta, 26 Januari 2012.

Vien AM.

Diambil dari : Kumpulan kisah dari buku-buku Al-Ghazali.

Read Full Post »

Dan jika kami melimpahkan kepadanya sesuatu rahmat dari kami, sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata “ini adalah hak-ku. … … ”. (QS. Fushshilat(41):50).

“(Qarun) berkata : sesungguhnya aku diberi harta kekayaan ini, tiada lain karena ilmu yang ada padaku. … … ” (QS. Al Qashash(28): 78).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

“Sesungguhnya ada tiga orang dari bani Israil, yaitu : Penderita penyakit kusta, orang berkepala botak, dan orang buta. Kemudian Allah Subhanahu wata’ala ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka seorang malaikat.

Maka datanglah malaikat itu kepada orang pertama yang menderita berpenyakit kusta dan bertanya kepadanya :

Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan ?”,

ia menjawab :

Rupa yang bagus, kulit yang indah, dan penyakit yang menjijikkan banyak orang ini hilang dari diriku”.

Maka diusaplah orang tersebut, dan hilanglah penyakit itu, serta diberilah ia rupa yang bagus, kulit yang indah, kemudian malaikat itu bertanya lagi kepadanya :

Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi ?”,

ia menjawab :

“Unta atau sapi

maka diberilah ia seekor onta yang sedang bunting, dan iapun didoakan :

Semoga Allah memberikan berkahNya kepadamu dengan unta ini.”

Kemudian Malaikat tadi mendatangi orang kepalanya botak, dan bertanya kepadanya :

Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan ?

ia menjawab :

Rambut yang indah, dan apa yang menjijikan dikepalaku ini hilang

maka diusaplah kepalanya, dan seketika itu hilanglah penyakitnya, serta diberilah ia rambut yang indah, kemudian malaikat tadi bertanya lagi kepadanya :

Harta apakah yang kamu senangi ?

ia menjawab :

“Sapi atau unta

maka diberilah ia seekor sapi yang sedang bunting, seraya didoakan :

Semoga Allah memberkahimu dengan sapi ini.

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang buta, dan bertanya kepadanya :

Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?

ia menjawab :

Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang

maka diusaplah wajahnya, dan seketika itu dikembalikan oleh Allah penglihatannya, kemudian malaikat itu bertanya lagi kepadanya :

Harta apakah yang paling kamu senangi ?

ia menjawab :

“Kambing

maka diberilah ia seekor kambing yang sedang bunting.

Lalu berkembangbiaklah onta, sapi dan kambing tersebut, sehingga yang pertama memiliki satu lembah onta, yang kedua memiliki satu lembah sapi, dan yang ketiga memiliki satu lembah kambing.

Sabda Nabi Shallallahu’alaihi wasallam berikutnya :

Kemudian datanglah malaikat itu kepada orang yang sebelumnya menderita penyakit kusta, dengan menyerupai dirinya disaat ia masih dalam keadaan berpenyakit kusta, dan berkata kepadanya :

Aku seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan anda. Demi Allah yang telah memberi anda rupa yang tampan, kulit yang indah, dan kekayaan yang banyak ini, aku minta kepada anda satu ekor onta saja untuk bekal meneruskan perjalananku”,

tetapi permintaan ini ditolak dan dijawab :

Hak-hak (tanggunganku) masih banyak

kemudian malaikat tadi berkata kepadanya :

Sepertinya aku pernah mengenal anda, bukankah anda ini dulu orang yang menderita penyakit lepra, yang mana orangpun sangat jijik melihat anda, lagi pula anda orang yang miskin, kemudian Allah memberikan kepada anda harta kekayaan ?

dia malah menjawab :

Harta kekayaan ini warisan dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat”

maka malaikat tadi berkata kepadanya :

“jika anda berkata dusta niscaya Allah akan mengembalikan anda kepada keadaan anda semula”.

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya berkepala botak, dengan menyerupai dirinya disaat masih botak, dan berkata kepadanya sebagaimana ia berkata kepada orang yang pernah menderita penyakita lepra, serta ditolaknya pula permintaanya sebagaimana ia ditolak oleh orang yang pertama.

Maka malaikat itu berkata :

jika anda berkata bohong niscaya Allah akan mengembalikan anda seperti keadaan semula”.

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya buta, dengan menyerupai keadaannya dulu disaat ia masih buta, dan berkata kepadanya :

Aku adalah orang yang miskin, yang kehabisan bekal dalam perjalanan, dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga kau tidak dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini, kecuali dengan pertolongan Allah kemudian pertolongan anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan anda, aku minta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku”.

Maka orang itu menjawab :

Sungguh aku dulunya buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah apa yang anda sukai, dan tinggalkan apa yang tidak anda sukai. Demi Allah, saya tidak akan mempersulit anda dengan mengembalikan sesuatu yang telah anda ambil karena Allah”.

Maka malaikat tadi berkata :

Peganglah harta kekayaan anda, karena sesungguhnya engkau ini hanya diuji oleh Allah, Allah telah ridho kepada anda dan murka kepada kedua teman anda”.

(Hadits Riwayat. Bukhory dan Muslim).

Jakarta, 19 Januari 2012.

Vien AM.

Read Full Post »