Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Hikmah’ Category

segelas susuAda sebuah kisah terkait dengan amanah yang tidak akan pernah dilupakan oleh sejarah Islam. Kisah tentang Umar bin Khattab dan seorang gadis penjual susu yang jujur. Kisah ini terjadi ketika Umar bin Khattab diamanahi menjadi Khalifah sepeninggal wafatnya Rasulullah. Kala itu Umar bin Khattab sangat terkenal dengan kegiatannya beronda pada malam hari. Beliau akan mengawasi daerah-daerah pimpinannya dikarenakan khawatir ada rakyatnya yang sengsara.

Beliau juga beronda sendirian sekaligus menyamar sebagai rakyat biasa dengan pakaian compang-camping untuk menutupi identitasnya. Dikarenakan beliau ingin memeriksa sendiri dan memastikan bahwa rakyatnya bisa hidup layak. Beliau khawatir jika hanya mengutus ajudannya, ajudannya tidak akan menceritakan keadaan yang sebenarnya kepadanya. Beliau menutupi identitas aslinya pun agar tidak diketahui oleh rakyatnya sehingga beliau tidak harus dihormati sebagai kepala pemerintahan.

Pada suatu malam ketika beliau sedang bertugas malam beliau mendengar dialog seorang anak perempuan dan ibunya, seorang penjual susu yang miskin.

Wahai anakku, segeralah kita tambah air dalam susu ini supaya terlihat banyak sebelum terbit matahari”, berkata sang ibu dengan suara perlahan.

Kita tidak boleh berbuat seperti itu ibu, Amirul Mukminin melarang kita berbuat begini”, jawab anaknya.

Tidak mengapa, Amirul Mukminin tidak akan tahu”,  desak ibuya lagi.

Jika Amirul Mukminin tidak tahu, tapi Tuhan Amirul Mukminin tahu”, jawabnya si anak berkeras.

Umar yang mendengar percakapan itu kemudian menangis. Betapa mulianya hati anak gadis itu, ia tetap mempertahankan kejujurannya. Amanah Amirul Mukminin ia tunaikan meskipun sang Amirul Mukminin tidak melihatnya. Hal ini ia lakukan karena ia tahu Allah lah yang senantiasa mengawasinya, apakah amanah itu ia tunaikan? Apakah ia tetap mempertahankan kejujuran meskipun kala itu ia sedang diberi ujian kemiskinan? Tetapi ternyata gadis ini memang berhati mulia, karena ia masih punya iman amanah yang disampaikan kepadanya ia tunaikan.

Jika saja saat ini orang-orang masih meninggikan keimanannya kepada Allah, tentu saja tidak akan ada amanah yang diabaikan. Meskipun sang pemberi amanah tidak selalu mengawasinya tetapi ia sadar Allah akan selalu mengawasinya. Karena ia pun takut akan hukuman yang Allah berikan, bukan takut kepada hukuman manusia semata. Apalagi bahaya lebih besar yang ditakutkannya pada hari kiamat yang akan menghampirinya jika amanah itu diabaikan.

Keesokan paginya, Umarpun memanggil putranya, Ashim bin Umar. Diceritakannya tentang gadis jujur penjual susu itu.

Anakku menikahlah dengan gadis itu. Ayah menyukai kejujurannya,” kata Khalifah Umar. “Di zaman sekarang, jarang sekali kita jumpai gadis jujur seperti dia. Ia bukan takut pada manusia. Tapi takut pada Allah yang MahaMelihat.” Ashim bin Umar menyetujuinya.

Beberapa hari kemudian Ashim melamar gadis itu. Betapa terkejut ibu dan anak perempuan itu dengan kedatangan putra khalifah. Mereka mengkhawatirkan akan ditangkap karena suatu kesalahan.

Tuan saya dan anak saya tidak pernah melakukan kecurangan dalam menjual susu. Tuan jangan tangkap kami,” mohon sang ibu ketakutan.

Putra khalifah hanya tersenyum. Lalu mengutarakan maksud kedatangannya hendak menyunting anak gadisnya.

“Bagaimana mungkin? Tuan adalah seorang putra khalifah, tidak selayaknya menikahi gadis miskin seperti anak saya … ” tanya ibu dengan perasaan ragu.

“Khalifah adalah orang yang tidak membedakan manusia. Sebab, hanya ketakwaanlah yang meninggikan derajat seseorang di sisi Allah,” kata Ashim sambil tersenyum.

“Ya. Aku lihat anakmu sangat jujur,” kata Khalifah Umar. Anak gadis itu saling berpandangan dengan ibunya. Bagaimana khlaifah tahu? Bukankah selama ini ia belum pernah mengenal mereka. “Setiap malam aku suka berkeliling memeriksa rakyatku. Malam itu aku mendengar pembicaraan kalian,” jelas Khalifah Umar.

Alangkah bahagianya ibu dan gadis tersebut.Khalifah Umar ternyata sangat bijaksana dalam menilai seseorang, bukan dari kekayaan tapi dari kejujurannya. Maka menikahlah Ashim dengan si gadis penjual susu. Pasangan tersebut sangat bahagia dan berhasil membahagiakan kedua orangtuanya. Beberapa tahun kemudian mereka dikaruniai anak dan cucu yang kelak menjadi orang besar dan memimpin bangsa Arab, yakni Umar bin Abdul Aziz, yang sering disebut sebagai khalifah ke lima berkat kearifannya.

https://vienmuhadi.com/2009/11/17/keteladanan-umar-bin-abdul-aziz-amirul-mukminin/

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 5 Januari 2017.

Vien AM.

Disarikan dari :

http://www.pksbandungkota.com/2016/10/kisah-umar-bin-khattab-dan-gadis.html

http://permatafm.com/secangkir-kopi/kisah-sayyidina-umar-bin-khattab-dan-gadis-penjual-susu-yang-jujur/

Read Full Post »

KISAH HIKMAH, suatu ketika Rasulullah saw bermain tebak-tebakan dengan para sahabat. Bertanya Rasulullah,

“Tahukah kalian, mereka-mereka yang keimanannya membuatku kagum?”.

“Aku tahu ya Rasulullah”, seru salah seorang sahabat. “Mereka yang engkau maksud itu tentulah para malaikat“.

“Mengapa engkau berpikir demikian?”, tanya Rasulullah kembali.

“Karena para malaikat selalu mematuhi semua perintah Allah. Mereka tidak sekalipun pernah melanggar aturan Allah”, jawab sahabat.

“Tapi para malaikat memang ditakdirkan untuk selalu mematuhi perintah Allah. Mereka tidak diberi kelengkapan hawa nafsu seperti layaknya kita. Dan tempat mereka dekat dengan Allah. Wajar jika mereka selalu beriman. Keimanan para malaikat tersebut, sama sekali tidak membuatku kagum”, bantah Rasulullah.

Para sahabat termangu-mangu dengan jawaban Rasulullah tersebut. Mereka terdiam sejenak, memikirkan jawaban apa kiranya yang dikehendaki oleh Rasulullah. Tiba-tiba, salah seorang sahabat berseru,

“Aku tahu ya Rasulullah, yang Rasulullah maksudkan tentu para nabi dan rasul utusan Allah. Mereka manusia biasa seperti kita, namun mereka selalu mematuhi apapun yang Allah perintahkan, apapun resikonya”.

Rasulullah tersenyum, “Betul mereka manusia biasa seperti kita, namun mereka mendapatkan petunjuk langsung dari Allah swt. Mereka menerima wahyu dan mendapatkan mukzizat. Wajar jika karena semua itu, mereka beriman kepada Allah”. “Keimanan mereka sama sekali tidak membuat aku kagum”, bantah Rasulullah sekali lagi.

Kembali para sahabat ternganga dengan bantahan Rasulullah tadi. Mereka saling berpandangan lalu kembali tenggelam memikirkan jawaban pertanyaan Rasulullah.

“Ah…, sekarang saya tahu ya Rasulullah”, kata salah seorang sahabat dengan muka berseri-seri. “Mereka yang Rasulullah maksudkan itu tentulah kami, para sahabatmu. Kami manusia biasa, kami juga tidak menerima wahyu, dan sama sekali tidak dikaruniai mukzizat apapun. Meskipun demikian, kami berjanji untuk selalu mematuhi segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya”, jelas sahabat tersebut dengan senyum mengembang diwajahnya.

Kembali Rasulullah tersenyum mendengar jawaban salah seorang sahabat tadi,

“Betul kalian memang tidak menerima wahyu dan sama sekali tidak dikaruniai mukzizat, namun kalian kan melihat dengan mata kepala sendiri, mukzizat yang aku terima. Kalian juga mendengar dengan telinga kalian sendiri ketika wahyu Allah aku bacakan. Wajar jika karena itu, kalian beriman kepada Allah. Keimanan kalian, sama sekali tidak membuatku kagum”.

Kali ini para sahabat betul-betul terhenyak dengan bantahan Rasulullah barusan. Dengan perasaan putus asa karena sudah kehabisan akal, akhirnya mereka menyerah,

“Kiranya hanya Allah dan rasul-Nya saja yang tahu jawaban pertanyaan Rasulullah tadi”, kata salah seorang sahabat.

“Sesungguhnya, mereka yang keimanannya membuatku kagum adalah mereka-mereka yang tidak sekalipun pernah berjumpa denganku. Mereka sama sekali tidak pernah melihat diriku dengan mata kepala mereka sendiri. Mereka juga tidak sekalipun pernah mendengar suaraku. Dan yang lebih hebat lagi, mereka berabad-abad jaraknya dariku. Tapi kecintaan mereka kepadaku, tak sekalipun perlu aku ragukan”, jawab Rasulullah.

“Mereka itulah, yang keimanannya sungguh-sungguh membuat aku kagum”, sambung Rasulullah menegaskan.

*****Mereka yang dimaksud oleh Rasulullah dalam kisah diatas, tak lain dan tak bukan, adalah kita semua. Tentu dengan syarat, jika kita bersungguh-sungguh mencintai Rasulullah saw dengan setulus hati kita. Semoga Allah selalu memberikan kita kekuatan untuk dapat selalu mencintai Rasulullah dengan sebenar-benarnya cinta. Amin …  

Jakarta, 24 April 2016.

Vien AM.

Sumber:http://kisah-yang-penuh-hikmah.blogspot.co.id/2015/01/keimanan-yang-paling-rasulullah-kagumi.html

Read Full Post »

Dakwah dan Ukhuwah

( Oleh uztazd HM Arifin Ilham)

Dikisahkan dalam sebuah sirah bahwa nabi hari itu terlihat sumringah. Meluncur dari lisan fasihnya, untaian cinta yang menghangatkan telinga si pendengarnya,

« Selamat datang duhai orang yang karenanya aku ditegur oleh Rabbku !»

Sang nabi sendiri selalu tersenyum ketika melafalkan kalimat itu. Dan, orang yang dimaksudpun juga tersipu. Padahal ia berpenghalang dengan penglihatannya alias buta. Ke arah Majelis Nabawi itu  Abdullah ibn Ummi Maktub, pemilik nama itu, tertatih mendekat. Lalu, Rasulullah bersegera mengulurkan tangan, menggandengnya, menggenggam jemari lelaki ini erat-erat, dan mendudukannya di sebelah beliau.

Teguran Allah pada beliau itu sudah lama sekali. Tetapi sang nabi tak pernah melupakannya. Beliau pernah bermasam muka, merasa enggan dan mengalihkan wajah dari   Abdullah ibn Ummi Maktub. Tak sepenuhnya abai sebenarnya. Hanya saja,saat itu Rasulullah saw sedang berada dihadapan para pembesar Quraisy, dan sedang membacakan ayat-ayat Allah pada mereka. Saat itu teramat tinggi hasrat sang nabi agar para pemuka itu mau menerima dakwah beliau.

Maka kedatangan  Abdullah ibn Ummi Maktub yang buta, yang lemah, yang pinggiran, dan tanpa kuasa itu terasa seperti usikan kecil bagi asa dakwah beliau. Kehadirannya seolah menjadi citra bahwa yang mengikuti Muhammad adalah orang-orang dhuafa dan fakir, orang-orang belakang dan pandir. Itu pasti akan membuat para pemuka Quraisy tak nyaman dan makin enggan. Jadi beliau bermasam muka dan berpaling. Lalu Allah menegurnya : “

 “ Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya”. (QS.Abasa (80):1-2).

Tak ada yang salah dengan hasrat kuat sang nabi agar pembesar Quraisy itu segera beriman. Allah memang telah mengamanahi beliau untuk menyeru mereka kepada hidayah. Dan secara pribadi, sang nabipun sama sekali tak punya benci, jijik, atau risih kepada Ibn Ummi Maktub ini. Beliau hanya merasa kemunculannya terjadi pada saat yang tak tepat.

Antara dakwah dan ukhuwah. Ya, kedua materi ini seprti dua mata perkuliahan yang hendak Allah hendak sampaikan kepada nabi-Nya supaya lebih bijak mendudukannya. Hari itu, nabi seperti merasakan gelombang hikmah dari teguran Allah. Gelombang keinsyafan dari untaian salam nabi kepada Abdullah ibn Ummi Maktub di atas begitu terasa.

Beliau seperti sedang dididik untuk lebih adil dan tak membeda-bedakan sikap. Baik kepada pemuka kaya atau kepada yang buta papa. Sikap cinta dan mesra beliau harus serupa. Begitulah seharusnya kita, para juru dakwah. Ikhtiar dalam dakwah dan tetap berupaya melebarkan ukhuwah.

 Wallahu’alam.

Diambil dari kolom Hikmah, Khazanah –  Republika, Jumat 8 November 2013/ 4 Muharam 1435 H.

Read Full Post »

Inspirasi Hadits

Suatu ketika, ada seorang sahabat yang mengalami kemiskinan luar biasa. Beberapa hari terlewat tanpa ada sesuatu yang bisa diberikan kepada anak atau istrinya.

Keadaan ini membuat si istri menyarankan agar meminta bantuan Rasulullah saw. Siapa tahu beliau memberikan jalan keluar. Toh, selama ini tak ada seorangpun pernah ditolak permintaannya.

Sahabat tersebutpun kemudian membenarkan perkataan istrinya. Karena itu, ia bergegas pergi menuju rumah Rasulullah saw.

Di tengah jalan, tiba-tiba ia teringat hadits Rasulullah saw “Barangsiapa memohon pertolongan kepadaku akan kuberi ia pertolongan. Dan barangsiapa yang mencukupkan diri maka Allah swt akan mencukupkan dirinya”.

Entah mengapa dengan teringat hadits ini, sahabat tersebut mengurungkan niatnya untuk pergi ke rumah Rasulullah saw. Ia kembali ke rumah.

Namun sesampainya di rumah, sahabat ini mendapati dirinya diliputi kemelaratan dan ketidak berdayaan. Tak ada jalan pemecahan. Karena itu, ia kembali bermaksud menemui Rasulullah saw untuk minta bantuan.

Tetapi di tengah jalan ia kembali berhenti. Ia urung menghadap Rasulullah saw. Ingatannya kembali ke hadits tadi. Tiba-tiba dalam perenungannya, terbersit ketenangan melanda batinnya, ada kesadaran baru menghinggapi jiwanya. Sebenarnya kunci pembuka keluar dari kemiskinan hidup sudah ada di tangannya sendiri.

Pantang diriku untuk meminta tolong kepada sesama manusia. Satu-satunya tempat bersandar adalah Allah swt. Aku mesti minta tolong pada-Nya. Cukuplah Dia sebagai tempatku mengadu. Allah swt telah memberikan kekuatan dan menyediakan alam, tinggal diriku berjuang mengatasi masalah yang kuhadapi. Tiada pemberi kekuatan kecuali Allah swt”, tekad sahabat itu di dalam hati.

Lantas pertanyaan lain menggelayut di pikirannya. « Apa pekerjaan yang bisa aku lakukan ? »

DSC04074Setelah lama berpikir apa yang dibutuhkan masyarakat dan kemampuan yang dimiliki, sabahat itupun memilih pekerjaan mencari kayu bakar. Yang dimulainya dengan meminjam kapak tetangga, ia berangkat ke padang, dikumpulkannya sejumlah kayu, selanjutnya dibawanya ke kota untuk dijual.

Lama-kelamaan usaha ini mengalami perkembangan yang tak terduga. Mula-mula hasil penjualan kayu bakar itu bisa mencukupi kebutuhan keluarga, kemudian bisa digunakan membeli unta dan memperkerjakan orang, dan akhirnya kekayaannya terus bertambah berlipat-lipat. Iapun menjadi orang terkaya.

Hingga pada suatu hari ia bertemu Rasulullah saw. Maka diceritakannya bagaimana dulu ia dalam keadaan miskin, berniat minta bantuan beliau namun urung dilakukannya karena teringat hadits.

Sabda Rasulullah saw, « Memang aku pernah berkata seperti itu, siapa saja yang memohon kepadaku akan kutolong dia. Dan siapa saja yang mencukupkan dirinya maka Allah swt akan mencukupinya ».

Jakarta, 2 April 2013.

Vien AM.

Diambil dari « Kisah paling menggugah Inspirasi Istimewa Rasulullah saw”, oleh Ma’ruf Ismail.

Read Full Post »

Jabir ra berkata, “ Suatu saat Rasulullah saw menemui kami. Beliau berkata, « Baru saja kawan setiaku, Jibril, pergi dari hadapanku.

Ia berkata kepadaku, «  Muhammad, demi dzat yang mengutusmu secara benar, sesungguhnya Allah mempunyai seorang hamba yang menyembah-Nya selama lima ratus tahun di atas sebuah gunung di  sebuah laut. Tinggi dan lebar gunung tersebut adalah tiga puluh dira’. Sedangkan laut yang mengelilinginya  seluas empat ribu farsakh.

Di dekat orang tersebut keluar sebuah mata air tawar sebesar jari tangan yang terus menerus mengalir. Mata air ini bersumber dari bawah gunung. Sementara itu diatas gunung tersebut, di dekat ahli ibadah ini, terdapat sebuah pohon apel yang setiap malam selalu berbuah. Siang dan malam orang ini terus-menerus menyembah Allah.  Jika waktu  sore tiba ia turun untuk mengambil air minum dan apel. Setelah selesai melakukan hal itu, ia meneruskan lagi ibadahnya.

Selanjutnya orang itu meminta kepada Tuhannya agar diambil nyawanya dalam keadaan sedang sujud. Dan dia meminta kepada Allah agar tidak memberikan kesempatan kepada bumi atau perkara lainnya untuk mengganggu dirinya sampai dirinya dibangkitkan nanti dalam keadaan sujud”.

Maka Allah ”, lanjut Jibril, “ mengabulkan apa yang diminta olehnya. Kami biasa melewati orang tersebut ketika kami turun dari dan naik ke langit. Kamipun berdasarkan ilmu menemukan bahwa orang ini pada hari Kiamat akan dibangkitkan”.

Ia berdiri di hadapan Allah swt. Tuhan berkata kepadanya : “ Wahai para malaikat, masukanlah hamba-Ku ini kedalam surga karena rahmat-Ku!”. Orang tersebut berkata “ Wahai Tuhanku, atas amalku ( bukan karena kasihan)”.

Allah berkata,  “ Wahai para malaikat, masukanlah hamba-Ku ini kedalam surga karena rahmat-Ku!”. Orang tersebut berkata lagi  “ Wahai Tuhanku, atas amalku (bukan karena kasihan)”.

Lalu Allah swt berkata, “ Wahai para malaikat, ukurlah amal hamba-Ku ini dengan nikmat-Ku kepadanya!”

Ternyata ditemukan bahwa sebuah nikmat dapat melihat saja telah mampu melingkup ibadahnya yang dilakukan selama 500 tahun. Kemdian ditambah nikmat jasad yang masih jauh terbandingi oleh amalnya.

“ Bawa lagi orang itu kesini!”.

Maka dihadapkan kepada Allah.  Allah  swt berfirman,

“ Wahai hamba-Ku, siapa yang menciptakanmu padahal sebelumnya engkau bukan apa-apa?”.  Ia menjawab:” Engkau, wahai Tuhanku”.

Allah bertanya lagi : “ Siapa yang memberi kekuatan kepadamu untuk ibadah selama 500 tahun ?” I a menjawab :” Engkau , wahai Tuhanku”.

Allah bertanya lagi:” Siapa yang menempatkanmu untuk berada di atas gunung yang berada di tengah-tengah lautan?  Siapa yang mengeluarkan air tawar untukmu? Siapa yang mengeluarkan apel setiap malam padahal biasanya pohon apel berbuah sekali dalam setahun ? Dan siapa yang diminta olehmu untuk dapat mencabut nyawamu pada saat sujud?”

Sang hamba tersebut menjawab, : Engkau, wahai Tuhanku!”.

“Nah, itu semua atas  rahmat-Ku dan atas rahmat-Ku pula aku memasukkan kedalam surga. Wahai para malaikat, masukkan hamba-Ku ini kedalam surga! Sungguh, engkau hamba-Ku yang paling baik !”.

Maka Allah memasukkan hamba itu kedalam surga.

Jakarta, 26 Januari 2012.

Vien AM.

Diambil dari : Kumpulan kisah dari buku-buku Al-Ghazali.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »