Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Perempuan bekerja dalam pandangan Islam’ Category

Khilafah Islamiyah adalah kekuasaan Islam yang membentang dari Andalusia di Spanyol, sepanjang Afrika Utara, Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Kecil, Eropa Timur dan Yunani hingga perbatasan timur negri China. Sebagian wilayah tersebut dahulunya dikuasai pihak kafir, seperti  Turki dibawah kekuatan Barat (Kristen)  dan Persia yang dibawah kekuatan Timur (Majusi). Kejayaaan ini berlangsung secara bertahap mulai abad ke 7 pada era Khulafaul Rashidin yang empat (Abu Bakar ra, Umar Bin Khattab ra, Ustman Bin Affan ra dan Ali Bin abu Thalib ra)hingga awal abad ke 20. Kejayaan tersebut juga kemudian hancur  secara bertahap hingga akhirnya lenyap sama sekali pada tahun 1923 ketika berada  dibawah kekuasaan khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Konstatinopel (sekarang Istambul) di   Turki. Namun tidak berarti selama masa kejayaan yang amat panjang tersebut sama sekali tidak terjadi gangguan yang serius.

Pada tahun 637 M, 15 tahun setelah wafatnya Rasulullah saw, pasukan Islam mengepung kota Yerusalem. Setelah 4 bulan dikepung, akhirnya kota ini menyerah dengan syarat hanya khalifah Umar bin Khatab yang datang sendiri untuk menerima kunci kota suci tersebut. Kota ini jatuh ke tangan Islam tanpa peperangan sedikitpun. Bahkan perjanjian yang dibuat antara Umar dan mantan pemimpin Kristen  Yerusalem memberikan kebebasan penganut  Nasrani maupun Yahudi untuk menjalankan ajaran agamanya masing-masing dengan syarat mereka membayar jiziyah sebagaimana seorang Muslim wajib mengeluarkan zakat.

Namun 350 tahun kemudian, dipicu kesalah-fahaman antar penduduk Yerusalem, Paus Urban yang berkedudukan di Perancis selatan menyeru umat Kristen agar mereka merebut Yerusalem dari tangan pasukan Muslim. Maka pada tahun 1099 pasukan yang kemudian dikenal dengan nama Pasukan Salib tersebut berhasil menguasai kota setelah berperang selama 3 hari dengan membantai lebih dari 30.000 penduduknya, termasuk perempuan dan anak-anak Muslim yang berlindung di dalam masjid Al-Aqsa. Mereka juga membunuhi kaum Yahudi dan Nasrani yang bermukim disekitar kota tua tersebut dan juga kaum Yahudi yang hidup di perkampungan sepanjang perjalanan mereka dari Perancis menuju Yerusalem secara kejam.

Kemudian pada tahun 1187, dibawah kekuasaan Sultan Salahuddin, pasukan Muslim kembali berhasil menguasai Yerusalem. Dan sebagaimana pendudukan Yerusalem oleh pasukan Muslim pada kali pertama, kali inipun tidak terjadi pembantaian. Bahkan para penguasa yang ditaklukkan tersebut selain diampuni juga diberi keleluasaan untuk meninggalkan kota dengan membawa seluruh harta bendanya. Peristiwa ini pada tahun 2005 pernah diabadikan dengan sangat baik dalam film “The Kingdom of a Heaven” yang disutradarai oleh Sir Ridley Scott dan dibintangi aktor kenamaan Orlando Bloom. Peperangan yang kemudian dikenal dengan nama “Perang Salib” ini terus terjadi hingga beberapa kali selama hampir 200 tahun namun pihak Salib tidak pernah berhasil menguasai kembali Yerusalem.

Merekapun akhirnya menyadari bahwa pasukan Muslim tidak akan pernah dapat dikalahkan melalui perang terbuka. Perang di jalan Allah untuk mempertahankan kebenaran bagi umat Islam adalah jihad, imbalan bagi mereka adalah surga, kemenangan yang hakiki adalah di akhirat. Oleh sebab itulah mereka tidak mengenal kata takut mati. Sebaliknya pihak Kristen, mereka mendambakan kemenangan dunia. Kematian adalah kekalahan dan amat menakutkan. Jadi mereka mengambil kesimpulan bahwa untuk mengalahkan umat Islam harus dicari cara lain, bukan dengan perang senjata secara terbuka. Tipu daya apakah yang sebenarnya mereka rencanakan itu?

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(QS.Al-Baqarah(2):109)

Dan mereka memang ternyata berhasil. Sayangnya, umat Islam tidak menyadarinya. Apa yang sebenarnya mereka lakukan?

Yerusalem dibawah kekuasaan khilafah Islamiyah sejak abad 7 memang tidak pernah tertutup bagi umat agama lain. Mereka bebas mengunjungi kota suci bagi 3 agama besar didunia ini. Namun ia tidak hanya menarik karena sejarah ritualnya namun juga karena kota ini pada waktu itu telah berkembang menjadi  kota intelektual. Ilmu berkembang pesat disini. Orang-orang Kristen datang tidak hanya sekedar untuk melakukan ibadah dan kunjungan keagamaan melainkan juga untuk mempelajari ilmu lain seperti ilmu hukum termasuk juga belajar tentang Islam dan Al-Quran.

Namun sebenarnya tujuan para Orientalis ini adalah untuk mencari celah agar dapat menyerang akidah Islam secara diam-diam. Dari sini mereka kemudian menyusun dan melemparkan berbagai pemikiran dan ideologi yang sifatnya sangat keduniawian. Pemikiran dan ideologi yang tidak saja tidak menomor satukan dan mengutamakan Sang Khalik namun malah melecehkan-Nya. Pada intinya, berbagai pemikiran tersebut bertujuan  untuk melepaskan  keterikatan dan kedekatan Muslim dari ajaran dan Tuhannya. Dengan kelihaiannya mereka dengan sengaja mengaduk-aduk dan memutar balikkan arti sebuah kebenaran.

Feminisme , demokrasi, sekulerisasi (pemisahan agama dari Negara), sukuisme, nasionalisme, kapitalisme dan materialisme adalah beberapa contoh pemikiran yang berlebihan  berdasarkan kacamata Islam. Beberapa diantara pemikiran tersebut sebenarnya masih bisa diterima. Namun karena tidak dibangun diatas dasar pemikiran bahwa kebenaran hukum Allah adalah di atas segalanya maka pemikiran-pemikiran tersebut menjadi menyimpang dari akidah Islam. Inilah sebenarnya yang mereka tuju. Pemikiran yang dikemas dengan baik namun dengan dasar menyesatkan, yaitu menjauhkan umat dari Al-Qur’anul Karim.

Demokrasi dalam Islam adalah pilihan terakhir setelah tidak tercapai musyawarah. Prinsip Demokrasi sebenarnya setali tiga uang dengan ” siapa kuat dia menang, yang banyak dia yang menang”. Dengan demikian jelas, ini adalah  hukum rimba.

Dengan alasan kebebasan dan hak berpendapat, pemikiran-pemikiran tersebut berusaha menyalahkan ajaran Islam. Dengan alasan ini  pula pemerintah Perancis mengeluarkan larangan resmi pemakaian jilbab bagi perempuan yang bekerja di instansi pemerintah, termasuk pula murid sekolah negri. Begitupun di Australia belakangan ini, perempuan berjilbab bakal dilarang mengemudikan kendaraan.

Lebih jauh lagi, mereka juga sengaja melemparkan  fitnah yang keji baik terhadap nabi Muhammad SAW maupun terhadap ajaran itu sendiri. Denmark adalah salah satu negara yang dikenal sering sekali melecehkan ajaran Islam melalui karikatur Rasulullah. Diantaranya yang sangat menyakitkan adalah karikatur Rasulullah dengan bom diatas serban beliau ataupun dengan gambar kepala babi. Dan dengan dalih kebebasan berekspresi pula saat ini salah satu partai di negara tersebut  menggunakan gambar Rasulullah sebagai lambang partai mereka! Padahal mereka tahu bahwa hal tersebut sangat menyakitkan hati umat Islam karena Islam memang melarang penggambaran/ilustrasi Rasulullah dalam bentuk apapun.

Mereka juga menuduh bahwa Islam adalah agama pedang, Islam disebarkan dengan cara paksa dan kekerasan. Hal tersebut disengaja untuk menyakiti dan memancing emosi umat Islam. Dari  sinilah mereka mencoba menaklukkan Islam sebagai ganti kekalahan mereka pada perang-perang yang terjadi sebelumnya. Mereka mencoba mengusik rasa kesatuan, keimanan dan kebanggaan umat Islam  terhadap agamanya dengan berbagai cara dengan maksud dan harapan akan menghilanglah rasa persatuan Islam. Inilah yang kelak disebut  Perang Pemikiran atau Al-Ghazw Al-Fikri.

Dengan dalih demi kemajuan, kebebasan dan modernisasi, penyerbuan peradaban ini masuk secara sistematis, perlahan namun pasti sehingga umat pada umumnya tidak menyadarinya. Hal ini menyusup melalui media cetak dan elektronik, slogan-slogan  pendidikan dan  hiburan yang jauh dari ajaran Islam. Umat terus dicekoki dengan pemikiran, nilai dan norma Barat yang cenderung bebas dan materialistis sebagaimana halnya dengan ekonomi kapitalis yang samasekali tidak Islami hingga akhirnya umat melupakan seluruh nilai-nilai dan sendi-sendi Islam.

“…….. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”(QS.Al-Baqarah(2):120).

Seakan belum puas dengan semua ini, terakhir dimunculkan sebuah serangan psikologi mutakhir yang sangat dasyat yaitu serangan 11 September 2001 dengan mengatas namakan Islam. Maka jadilah isu Terorisme dan Extrimisme. Umat dipojokkan seakan ajaran Islam  identik dengan kekerasan. Jihad mereka artikan identik dengan kekerasan dan harus dienyahkan. Mereka terus mencekoki umat bahwa jihad sama dengan tidak menghargai nyawa manusia yang juga berarti melanggar hak asasi manusia sebagai simbol peradaban modern.

Padahal HAM atau Hak Azazi Manusia yang selama di gembar-gemborkan  tidak mereka jalankan dengan adil. Karena mereka ini sesungguhnya menggunakan standard ganda dalam menerapkan hak-hak manusia. Hak azazi menurut kaca mata mereka adalah hak azazi yang berlaku bagi mereka yang mau tunduk dan patuh  terhadap aturan dan hukum yang mereka adakan demi kepentingan pribadi mereka atau kepentingan partai serta  kelompoknya sendiri. Jadi bukan hak manusia secara umum apalagi manusia yang taat terhadap Dia, Yang Memiliki Jiwa dan memberi kehidupan.

Cara tersebut ternyata terbukti ampuh. Karena risih dan sungkan akhirnya sebagian besar pemimpin Islam pun mengumumkan bahwa karena Islam adalah agama perdamaian maka sedikit demi sedikit istilah jihadpun dihapuskan dan dipinggirkan. Kaum Musliminpun akhirnya menjadi lupa akan sumpah setia mereka kepada Sang Pencipta, Allah SWT untuk menegakkan ajaran Tauhid, untuk menegakkan kebenaran. Pasukan Muslimin telah dengan sukarela melepaskan kekuatan jihad yang sangat ditakuti musuh. Inilah yang ditunggu dan diharapkan!  Padahal mereka tetap mempersiapkan diri untuk berperang.

Bagi umat yang kurang keimanannya hal ini dapat menyebabkan mereka menjadi benci dan malu terhadap agama mereka sendiri dan mereka menjadi tidak percaya diri yang pada akhirnya dapat mengakibatkan kemurtadan. Ini adalah akibat sampingan namun fatal.

Selain itu tampak bahwa negara-negara Islam juga dihambat kemajuannya agar mereka tetap terus dalam kemiskinan dan terus bergantung bantuan kepada Barat hingga akhirnya mereka jatuh dan takluk pada kepada kemauan Barat. Amerika Serikat adalah negara besar yang sering membanggakan diri sebagai sebuah negara yang mengedepankan keadilan, kedamaian dan keamanan. Namun  sesungguhnya justru negara inilah yang menjadi penyulut peperangan di berbagai tempat, seperti di Irak, Afganistan dan Palestina. Hal ini terlihat nyata dengan bungkamnya negara tersebut atas tindakan sekutu dekatnya, Israel yang jelas-jelas merebut tanah Palestina dari penduduknya. Negara ini tengah melempar batu sembunyi tangan. Negara-negara Muslim tersebut adalah korban sebuah adu domba yang disaksikan sang sutradara, Amerika Serikat, sebuah negara  produsen senjata terbesar di dunia yang pasti merasa paling diuntungkan dengan terus terjadinya peperangan..

Namun sesungguhnya serangan yang bertubi-tubi tersebut bila dihadapi umat Islam secara kompak dan bersatu tentu mereka tidak akan mampu melumpuhkan dan mengalahkan umat ini. Bila saja umat memiliki sikap, keteguhan dan keimanan sebagaimana para sahabat di masa lampau tentu kita akan mampu menghadapi serangan pemikiran  dan ideologi mereka.

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” .(QS.At-Taubah(9):100).

Advertisements

Read Full Post »

Rasulullah saw bersabda, ”Pernikahan adalah sunnah-ku, karena itu barangsiapa yang tiada menyukainya maka ia bukan termasuk umatku .

Sunnah terbagi atas dua jenis sebagaimana sabda Rasulullah:  ”Sunnah itu ada dua macam : (1) sunnah yang merupakan suatu kewajiban, yang jika diikuti niscaya beroleh petunjuk dan jika ditinggalkan niscaya tersesat. Dan (2) sunnah yang bukan kewajiban, yang bilamana dikerjakan niscaya mendapat pahala (keutamaan) dan jika ditinggalkan bukan merupakan suatu kesalahan.”

Pernikahan dalam Islam hukumnya adalah sunnah yang termasuk dalam sunnah kelompok pertama, yaitu  jika diikuti niscaya beroleh petunjuk dan jika ditinggalkan niscaya tersesat. Artinya, Allah swt mengganjar hambanya yang mau menikah bukan saja dengan pahala yang banyak namun lebih utama lagi beroleh petunjuk. Karena menikah  dapat menjauhkan seseorang dari perbuatan zina yang sangat dilaknati dan dimurkai-Nya.

Namun demikian, hukum ini tidak bersifat kaku dan mengikat sehingga dapat menyulitkan para hamba-Nya.  Karena pada dasarnya Allah menghendaki agar manusia hidup bahagia. Karenanya bila ada sebagian kecil manusia yang disebabkan satu dan lain hal merasa tidak sanggup menikah, hal ini masih dapat dibenarkan. Contohnya adalah  orang  yang sakit  parah dan  laki-laki impoten. Sebagian ulama bahkan berpendapat haram hukumnya. Sebab hal ini dapat  mengakibatkan timbulnya pertengkaran dan ketidak bahagiaan sepihak.

Pernikahan juga berarti  membentuk keluarga, yang merupakan bagian atau kelompok terkecil dari sebuah masyarakat. Dalam rangka menciptakan masyarakat yang adil dan tenang inilah, Islam mengajarkan agar perempuan dan laki-laki yang telah cukup umur segera melangsungkan pernikahan.

” Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS.Ar-Rum(30):21).

Dengan adanya ikatan pernikahan yang dilangsungkan dengan mengharap ridho’ Allah SWT, akan tercipta sebuah rumah tangga bahagia yang dipenuhi rasa kasih sayang, saling menghormati, saling mengingatkan dan  saling mengerti. Hubungan seksual yang dilakukan dalam bingkai ikatan antara suami istri inilah yang akan mendatangkan kenikmatan, kesenangan serta kebahagiaan yang sesungguhnya bukan semu dan sesaat.

Rasullullah bersabda: “ Pilihlah untuk benih-benih kalian, karena sesungguhnya keturunan itu direncanakan”.

Pernikahan dalam pandangan Islam bukan sekedar penyaluran dorongan hawa nafsu semata  akan tetapi jauh lebih mulia dari itu. Pernikahan adalah sebuah perencanaan masa depan berjangka panjang dalam rangka membentuk keturunan serta masyarakat yang adil dan makmur.  Tujuan utama terkecil pernikahan adalah membentuk keluarga yang sakinah, mawardah wa rahmah. Yaitu keluarga yang tenang, terhormat, aman, penuh cinta serta kasih sayang, mantap dan memperoleh pembelaan baik dari pasangan maupun dari masyarakat serta lingkungannya. Tanda keluarga yang demikian terlihat dengan antara lain adanya kesetiaan dari masing-masing pasangan, anak-anak yang berbakti kepada kedua orang-tuanya serta lingkungan sosial yang sehat serta rizki yang dekat.

“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki” (QS.Al-Baqarah(2):223).

Ayat diatas adalah sebuah perumpamaan yang menerangkan bahwa laki-laki adalah bagaikan seorang petani penggarap yang menanam bibit tanaman atau bercocok tanam pada ladang yang dimilikinya, yaitu istrinya.  Itulah sebabnya  bila si petani menanam bibit kromosom Y di ladangnya maka buahnya pasti juga berkromosom Y alias janin laki-laki, sebaliknya bila ia menanam bibit kromosom X maka buahnya  juga  dapat dipastikan berkromosom X alias janin perempuan. Artinya si petani memiliki 2 macam bibit kromosom, yaitu X dan Y. Bibit inilah yang nantinya menentukan hasilnya.

Saat ini ilmu genetika telah membuktikan teori ayat yang telah berumur ribuan tahun tersebut. Walaupun dalam prakteknya, jelas, si petani alias  si lelaki sama sekali tidak memiliki kekuasaan untuk memilih bibit kromosom mana yang ia kehendaki untuk ditanam didalam ladangnya. Kecuali dalam proses bayi tabung yang dilakukan oleh dokter ahli.

Hadis yang diriwayatkan oleh Tsauban RA mengatakan:           “Air (mani) laki-laki berwarna putih dan air (mani) perempuan berwarna kekuningan. Jika keduanya bercampur dan air mani laki-laki mengalahkan air mani perempuan, maka (akan membentuk) jenis kelamin laki-laki dengan izin Allah SWT, namun jika air mani perempuan mengalahkan air mani laki-laki, maka (akan membentuk) jenis kelamin perempuan dengan izin Allah SWT.”

Rasullullah juga pernah berkata : ”Barangsiapa ingin bertemu dengan Allah dalam keadaan suci & mensucikan maka hendaklah ia mengawini wanita yang menjaga kehormatannya”.

”Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta`at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta`atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS.An Nisaa’ (4):34).

Perbuatan nusyuz adalah perbuatan-perbuatan  istri yang tidak mau  menyenangkan hati suami, termasuk menolak hubungan seksual tanpa alasan yang jelas alias mengada-ada.

Rasulullah dalam khutbah Haji Wada’ juga bersabda :” …….. Sesungguhnya kalian mempunyai hak atas para istri kalian dan mereka mempunyai hak atas kalian. Hak kalian atas mereka ialah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang tidak kalian sukai kedalam rumah kalian. Jika mereka melakukan hal itu, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak membahayakan. Adapun hak mereka atas kalian ialah kalian harus memberi nafkah dan pakaian kepada mereka secara baik…” .

Namun sayang, ada sebagian   lelaki secara seenaknya menafsirkan  ayat diatas.  Padahal dalam khutbah Haji Wada’ diatas dengan jelas dikatakan bahwa pukulan yang diperbolehkan bagi istri yang nusyuz adalah pukulan yang samasekali tidak membahayakan dan bila ia bertaubat tidak akan mengulanginya lagi tidak ada alasan  bagi si suami untuk menyakitinya. Pukulan yang tidak menyakitkan adalah pukulan yang tidak meninggalkan bekas dan tidak menyakitkan. Pada hadis lain juga ditambahkan tidak memukul pada bagian muka /wajah.

Sebaliknya, setiap perempuan mustinya memaklumi bahwa hubungan seksual terutama bagi laki-laki adalah sebuah kebutuhan berkala  yang memerlukan  penyaluran. Ilmu kedokteran belakangan ini membuktikan bahwa laki-laki dewasa yang tidak dapat mengeluarkan  sperma dari tubuhnya secara berkala beresiko terserang suatu penyakit tertentu dan yang bila terus diabaikan dapat beresiko lebih fatal.

Islam dengan jelas mengharamkan perbuatan onani maupun masturbasi apalagi perbuatan zina. Maka tidak ada jalan lain, satu-satunya yang dapat menolongnya hanya sang istri tercinta! Atau dapat juga dengan berpuasa dan mengalihkan perhatian ke kegiatan yang memerlukan energi extra. Maka dengan izin-Nya saja seorang lelaki dapat terhindar dari penyakit.

Jadi sebenarnya hubungan seksual, sekali lagi, bukan sekedar pemenuhan hawa nafsu. Ini adalah kebutuhan alami. Islam bahkan mengajarkan sebuah nilai tambah bahwa bila perbuatan ini dilakukan dengan suami/istrinya dan dalam rangka mencari ridho’-Nya maka ini adalah bagian dari ibadah. Disamping itu, demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan Islam mengajarkan agar hamba-hamba-Nya, baik laki-laki maupun perempuan untuk mengendalikan nafsu syahwatnya dengan berbagai cara. Mulai dari menahan pandangan, menutup aurat hingga berpuasa.

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, ……”.(QS.An-Nuur(24):30-31).

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka“. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu”.(QS.Al-Ahzab(33:59).

Sedangkan bagi mereka yang belum mampu membina keluarga, Islam menyuruh mereka untuk bersabar dan menjaga kesucian dirinya, yaitu menjauhkan diri dari segala yang menjurus pada perbuatan zina. Hingga dengan demikian Allah swt  akan memampukan mereka dengan karunia jodoh dan rezeki yang baik.

“Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri) nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya”.(QS.An-Nuur(24):33).

Karena berbagai alasan Islam memang tidak melarang hambanya yang ingin memiliki istri lebih dari 1 orang.

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat………”.(QS.An-Nisa’(4):3).

Namun ini bukan berarti bahwa Islam menganjurkan poligami karena jauh sebelum Islam datangpun orang-orang yang hidup pada peradaban masa lalu telah melakukannya. Itupun tidak terbatas hanya pada kalangan raja-raja namun juga  masyarakat biasa bahkan para Rasul Allah. Kitab Injil  mencatat hal tersebut dan tak satupun ayatnya  yang mengecam atau menilainya sebagai tindakan yang salah, bermaksiat apalagi dosa.

Ayat-ayat tersebut diantaranya memberitakan bahwa nabi Ibrahim as mempunyai dua istri, yaitu Sara dan Hagar. Disamping itu Ibrahim disebut juga mempunyai gundik yang bernama Kentura. Begitu pula nabi-nabi lain diantaranya adalah nabi Yakub as. Beliau memiliki empat istri, yaitu Lea, Rahel, Bilha dan Zilpa. Nabi Musa berpoligami dengan mengawini dua istri. Salah satunya bernama Zipora. Sedangkan Salomo atau Nabi Sulaiman diceritakan mempunyai 700 istri dan 300 gundik. Nabi Daud memiliki banyak istri dan gundik, diantaranya Ahinoam, Abigail, Maacha, Hadjit, Edjla, Michal dan Batsyeba.

Walaupun begitu sekali lagi, ayat diatas bukanlah suatu anjuran agar seorang mukmin berpoligami. Ayat ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya yang bila diperhatikan akan memberikan pengertian lain yang berbeda dan lebih jelas.

“Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar”.(QS.An-Nisaa(4):2).

Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud serta At-Turmuzy meriwayatkan bahwa Urwah ibn Zubair bertanya kepada Aisyah ra mengenai ayat tersebut diatas. Aisyah menjawab bahwa ayat tersebut berkaitan dengan anak yatim yang berada dalam pengawasan seorang wali, dimana hartanya bergabung dengan sang wali. Kemudian karena tertarik akan kecantikan dan terutama karena hartanya, sang wali bermaksud mengawininya dengan tujuan agar ia dapat menguasai hartanya. Ia juga bermaksud tidak memberikan mahar yang sesuai. Aisyah kemudian melanjutkan penjelasannya bahwa setelah itu beberapa sahabat bertanya kepada rasulullah saw mengenai perempuan. Maka turunlah ayat 127 surat An-Nisaa sebagai berikut:

Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Qur’an (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya”.

Perlu diketahui, pada waktu ayat ini diturunkan, dalam tradisi Arab Jahiliah, para wali anak yatim sering mengawini anak asuhnya disebabkan tertarik akan harta dan kecantikannya, namun bila si anak yatim tidak cantik ia menghalangi lelaki lain mengawini mereka karena khawatir harta mereka terlepas dari tangan para wali. Karena itulah Allah berfirman jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya)”, (kamu dalam ayat ini maksudnya ditujukan kepada para wali anak yatim),” maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat….”

Allah SWT memberikan batasan maximal empat istri karena pada waktu itu (tidak hanya dunia Arab namun juga Eropa termasuk Romawi dan Yunani) hampir sebagian besar lelaki memiliki istri yang tidak terbatas.

”…,..Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”.(QS.An-Nisa’(4):3).

Namun Ia menegaskan bahwa satu adalah lebih baik bila seorang suami khawatir tidak dapat berbuat adil terhadap mereka. Karena tanggung-jawab seorang suami selain harus menanggung hidup istrinya juga harus mampu mengayomi, membahagiakan serta mendidiknya menjadi wanita shalehah. Dan kelak ia harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya.

Alkisah terjadi perselisihan antara khalifah Abu Jafar Al-Manshur dengan istrinya, Al-Hurrah. Sang khalifah bermaksud menikah lagi namun Al-Hurrah keberatan. Kemudian keduanya sepakat menjadikan Imam Abu Hanifah sebagai penengah diantara keduanya. Imam yang dikenal dengan sebutan Imam Hanafi ini bernama asli Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit Al Kufi. Ia lahir di Irak pada tahun 80 Hijriah (699 M), pada masa kekhalifahan Bani Umayyah Abdul Malik bin Marwan. Ia diberi gelar Abu Hanifah (suci, lurus) karena kesungguhannya dalam beribadah, berakhlak mulia serta menjauhi perbuatan dosa dan keji. Dari namanyalah  muncul  Mazhab Hanafi.

Abu Hanifah berkata ” Silahkan bicara, wahai Amirul Mukminin ”. Al-Manshurpun memulainya ” Berapa perempuan yang boleh dinikahi laki-laki dalam satu waktu ?” Abu Hanifah mejawab :” Empat.” ”Apakah boleh seseorang mengatakan pendapat yang bertentangan dengan yang demikian ?” Abu Hanifah kembali menjawab : ” Tidak”. Segera Al-Manshurpun menoleh kepada istrinya seraya berkata :” Engkau mendengar itu, wahai istriku?”

Namun Abu Hanifah segera menegaskan : ” Allah menghalalkan itu hanya untuk lelaki yang adil. Barangsiapa tidak berbuat adil atau takut tidak berbuat adil maka selayaknya tidak lebih dari satu orang saja. Kita selayaknya bertindak dengan adab yang diajarkan Allah dan mengikuti nasihat-Nya.” Mendengar itu maka Al Manshur segera meninggalkan tempat tersebut. Jadi tidak benar jika ada yang menyatakan bahwa Islamlah yang mengajarkan praktek Poligami. Karena Islam sesungguhnya hanya mengaturnya.

Namun harus diyakini bahwa hukum Allah pasti tidak akan salah. Lelaki dan perempuan pada setiap zaman secara normal pasti akan saling membutuhkan. Dan pada saat-saat tertentu pasti akan selalu datang saat dimana jumlah perempuan lebih banyak dari lelaki. Yaitu  ketika terjadi peperangan. Maka ketika itulah seorang lelaki diizinkan mengawini lebih dari seorang perempuan

Inilah yang dicontohkan Rasulullah saw. Pada masa muda hingga awal kerasulannya di Mekah, beliau tetap beristrikan seorang saja, yaitu Khadijah ra yang kemudian memberinya 4 putri dan 2 putra.  Padahal ketika itu Rasulullah masih berusia  25 tahun sementara Khadijah sendiri berusia hampir 40 tahun.  Keadaan ini terus berlangsung selama 25 tahun hingga Khadijah wafat 2  tahun sebelum hijrah.

Rasulullah saw mulai berpoligami ketika usia beliau mencapai 52 tahun yaitu setelah hijrah ke Madinah pada 622 M. Ketika itu peperangan  mulai berkecamuk. Dengan banyaknya lelaki yang meninggal dunia akibatnya banyak  perempuan menjadi janda. Rasulullah menikahi janda-janda tersebut dengan berbagai motivasi. Hafsah binti Umar, Ummu Salamah dan Ummu Habibah adalah Umirul Mukminin yang dinikahi Rasulullah sebagai penghormatan dan balas jasa suami mereka yang syahid dalam perang melawan musuh Islam. Sedang Shafiyyah binti Huyay, seorang keturunan bangsawan Yahudi yang kemudian memeluk Islam, dan Juwairiyah binti Al-Harits, keduanya menebus diri mereka sebagai tawanan perang melalui pernikahannya dengan Rasulullah. Selanjutnya sebagai putri seorang kepala suku, pernikahan Juwariyah menjadi tali pengikat kekeluargaan yang mengakibatkan sebagian besar sukunya berpindah memeluk Islam.

Sementara Zainab binti Jahsy dinikahi Rasulullah atas perintah langsung Allah melalui ayat  37 surat Al-Ahzab sebagai berikut :

” …… Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu’min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi”.

Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan isteri-isteri (yang lain), meskipun kecantikannya menarik hatimu kecuali perempuan-perempuan (hamba sahaya) yang kamu miliki. Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu”. (QS.Al-Ahzab(33):52).

Namun setelah turun ayat diatas, Rasulullah tidak lagi menikahi perempuan lain. Ini menunjukkan bahwa Rasulullah berpoligami dan tidak berpoligami bukan semata keinginan pribadi melainkan dalam rangka melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Rasulullah terakhir menikah dengan Maimunah binti Al-Harits ra pada tahun 7 H. Berarti selama 5 tahun terakhir kehidupannya, Rasulullah tidak menikah lagi. Beliau tetap berumah-tangga bersama para Umirul Mukminin yang dinikahinya selama 7 tahun penuh peperangan. Itupun diantara sejumlah istri yang ketika dinikahi Rasulullah masih perawan hanya seorang saja, yaitu Aisyah binti Abu Bakar, putri sahabat terdekat beliau, khalifah Abu Bakar ra. Itupun tetap karena  Rasulullah memerintahkannya. Perintah ini datang melalui malaikat Jibril as yang menghampiri Rasulullah dengan membawa gambar Aisyah. Inilah salah satu penyebab Aisyah bangga akan pernikahannya dengan Rasulullah.

Rasulullah saw memang memiliki istri lebih dari empat. Ini adalah sebuah kekhususan bagi beliau, tidak berlaku bagi yang lain. Bahkan Allah swt sesungguhnya telah mengizinkan Rasulullah untuk menikahi semua perempuan yang menyerahkan diri kepada beliau tanpa batas, tanpa mahar, juga menikahi para keponakannya sekalipun serta para hamba sahayanya, bila Rasul menghendaki. Namun Rasulullah lebih senang tidak melakukan hal tersebut karena khawatir menyakiti hati mereka. Dan yang terpenting karena hal tersebut bukan sebuah perintah dari-Nya. Padahal sejarah bersaksi betapa banyak perempuan yang rela bahkan merengek-rengek untuk dinikahi Rasulullah!

”Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mu’min yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mu’min. ………..”. (QS.Al-Ahzab(33):50).

Read Full Post »

Syahdan, Jum’at (18/3/2005), adalah hari ‘bersejarah‘ bagi umat Islam. Bagaimana tidak? Setelah kurang lebih 14 abad lamanya, semenjak Islam lahir, baru kali ini ada seorang perempuan tampil menjadi khatib, sekaligus imam shalat jum’at!

Peristiwa langka ini terjadi di Amerika Serikat. Perempuan yang memancing berita kontroversial itu  bernama Amina Wadud. Dia adalah seorang profesor Studi Islam di Virginia Commonwealth University, AS. Bertempat di sebuah bangunan gereja Anglikan di New York, karena sejumlah masjid di negara tersebut menyatakan penolakan terhadap diadakannya shalat jum’at yang dipimpin seorang perempuan, Wadud memimpin sekitar 100 jamaah laki-laki dan perempuan yang dikabarkan bercampur dalam shaf yang sama dimana sebagian jamaah perempuannya juga dikabarkan tanpa menutup kepala mereka sebagaimana lazimnya muslimah shalat.

Ada apakah ini? Lupakah kita bahwa dalam urusan ibadah ritual / syariat,  kita ( baik lelaki maupun perempuan) harus tunduk tanpa syarat pada apa yang diperintahkan-Nya dalam Al-Qur’an dan Hadis?  Tidak cukupkah perintah Allah SWT yang mengatur masalah duniawi, yang menyangkut hubungan sosial / mu’amalah, kita boleh berlomba-lomba untuk terus berkarya, dan berkreasi?

Tidakkah kita dapati bahwa hal tersebut sungguh amat bijak dan sangat sarat dengan nuansa perikemanusiaan? Allah tidak menghendaki hambanya menanggung beban berat dalam hal ibadah, apalagi sampai menyusahkan diri sendiri dalam hal-hal yang sudah jelas digariskan-Nya. Masih dirasa kurangkah tanggung jawab perempuan hingga harus melibatkan  dengan hal yang bukan menjadi tanggungannya?

Rasulullah memang pernah mengizinkan seorang muslimah yang ahli ibadah, Umm Waraqah menjadi imam shalat fardhu dalam  keluarganya yang terdiri dari lelaki dan perempuan. Namun lelaki yang dimaksud dalam keluarga tersebut adalah seorang lelaki tua, yang kemungkinan telah tidak memiliki tenaga dan ilmu yang cukup untuk mengimami keluarganya. Ini adalah sebuah pengecualian. Disamping itu, Umm Waraqah  memang dikenal sebagai salah seorang pengumpul/penghafal  Al-Quran yang sangat sholehah.

Islam dengan jelas menerangkan bahwa lelaki adalah pemimpin bagi kaum perempuan. Ini adalah ketentuan Allah swt. Oleh karena itulah  secara umum Ia menciptakan fisik lelaki  lebih kuat dan perkasa daripada perempuan. Sebenarnya secara naluripun orang yang berakal pasti faham bahwa dalam suatu sistim (apapun) tidak mungkin ada dua orang pemimpin. Karena keberadaan 2 orang pimpinan akan melahirkan ketidak teraturan bahkan pertentangan. Namun ini bukan berarti bahwa Allah lebih menyayangi kaum lelaki daripada kaum perempuan. Bukan pula berarti bahwa lelaki lebih terhormat daripada perempuan. Sebaliknya ini justru tugas dan beban bagi lelaki.

Masyarakat Arab sebelum Islam datang 1400 tahun silam, terbiasa mengubur bayi perempuan  yang baru dilahirkan ibunya. Hal ini mereka lakukan karena di benak mereka telah tertanam kuat pemikiran bahwa memiliki anak perempuan adalah hina. Melahirkan bayi perempuan adalah hal memalukan, suatu hal yang dapat menurunkan derajat dan martabat keluarga. Dalam pikiran mereka, hanya dengan memiliki anak lelaki sajalah martabat dapat diwariskan. Kebiasaan mereka menjelang kelahiran, istri diajak ke tempat terpencil dan sunyi. Dan bila ternyata yang lahir adalah bayi perempuan, si suami dengan segera melemparkan dan menguburkan bayi tersebut hidup-hidup kedalam lubang yang telah disiapkan terlebih dahulu! Namun begitu Islam datang, perbuatan  tersebut dikutuk dan dilarang.

” apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh,”(QS.At-Takwir(81):8-9).

Ironisnya, berabad-abad kemudian perempuan Eropa pada abad pertengahan masih juga berkubang dalam kegelapan dan keterbelakangan. Ketika itu bahkan pihak gerejapun pernah mempertanyakan hakikat perempuan. Mereka mempertanyakan apakah perempuan itu termasuk mahluk?? Perlukah orang berbuat baik terhadap mereka? Perempuan dianggap sesuatu yang menyesatkan dan harus disingkirkan. Mereka dimasukkan kedalam kategori syaitan.

Jean d’Arch adalah salah satu contoh perempuan muda Eropa yang mengalami tuduhan tersebut. Dengan menyamar sebagai seorang pemuda, gadis Perancis berusia 17 tahun ini berhasil memimpin pasukan negri tersebut dari cengkeraman Inggris. Menurut kabar, gadis ini adalah seorang yang taat akan agamanya. Namun hanya karena ia adalah perempuan, kerajaan dan gereja menuduh Jean sebagai tukang tenung hingga akhirnya ia harus menjalani hukuman bakar hidup-hidup. Ini terjadi pada tahun 1431 M.

Ada pula suatu masa dimana perempuan hanya dianggap sebagai  pemuas nafsu lelaki. Perempuan bebas dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan seks lelaki. Bahkan Sigmund Freud, pendiri aliran Psikoanalisa, seorang dokter syaraf Yahudi berkebangsaan Austria yang hidup di awal tahun 1900an mengambil kesimpulan bahwa nafsu seksual tidak boleh dihalangi karena akan menyebabkan timbulnya suatu penyakit. Nafsu ini harus disalurkan dan ironisnya perempuan-perempuan ini digauli tanpa ada kewajiban harus dinikahi terlebih dahulu. Berbagai pesta yang sering kali diadakan oleh pihak penguasa selalu melibatkan sejumlah perempuan sebagai penghibur laki-laki.

Sebenarnya ini adalah dampak dari vonis gereja masa lalu yang mengumumkan bahwa perempuan adalah mahluk jahat yang harus dijauhi dan disingkirkan. Akibatnya kaum lelakipun harus  kehilangan pasangan, teman dan tempat dimana ia dapat berbagi termasuk dalam hal penyaluran seksual sebagai fitrah manusia.

Fenomena ini masih terlihat hingga detik ini. Sayangnya, sebagian perempuan tidak menyadari bahwa sesungguhya mereka sedang dimanfaatkan. Dengan dalih kebebasan dan persamaan hak, mereka dicekoki pemikiran bahwa permainan tersebut tidak hanya menyenangkan dan menguntungkan kaum lelaki namun juga kaum perempuannya. Padahal kenyataannya kaum perempuanlah yang menderita. Merekalah yang harus menanggung resiko kehamilan, melahirkan, membesarkan dan menanggung beban hidup bayi yang dilahirkannya, yang tentunya jumlahnya tidak sedikit. Belum lagi berbagai penyakit yang mengancam hidup mereka seperti AIDS, berbagai penyakit kelamin dan sebagainya.

Lebih celakanya lagi, masih menurut teori Freud, bayi memilki insting cemburu terhadap orang-tuanya. Bila bayi itu laki-laki, ia menginginkan kedudukan ayahnya agar ia dapat memiliki ibunya secara ’lahir-batin’ sebaliknya bila bayi itu perempuan, ia menginginkan kedudukan sang ibu agar ia dapat memiliki ayahnya secara ’lahir-batin’. Inilah yang disebutnya Oedipus Complex. Pemikiran ini sesungguhnya diinspirasi oleh mitos Yunani kuno, yaitu Oedipus, seorang raja Yunani yang demi keinginan menikahi sang ibu, Jocasta, ia tega membunuh ayah kandungnya sendiri. Ini adalah sebuah pembenaran dari sebuah penyimpangan. Tampaknya sial betul nasib perempuan sebagai ibu!

Tidak demikian dengan  Islam. Banyak sekali ayat-ayat Al-Quran yang menerangkan betapa Islam begitu menghargai dan mengagungkan perempuan, apalagi kaum ibu. Bahkan pada khutbah hari Arafah, hari-hari akhir kehidupan Rasulullah, beliau dengan serius mengingatkan bahwa umat Islam, khususnya kaum lelaki  harus  memperhatikan kedudukan, kehormatan dan hak kaum perempuan. Berikut petikan khutbah beliau :

”……… Takutlah pada Allah dalam memperlakukan kaum perempuan karena kalian mengambil mereka sebagai amanat Allah dan kehormatan mereka dihalalkan bagi kalian dengan nama Allah…….”.

Dalam hadisnya, Rasululah menegaskan bahwa kaum ibu memiliki hak 3 tingkatan lebih tinggi dibanding  kaum bapak. Karena ibu telah mengandung, melahirkan dan menyusui anak-anaknya. Sesuatu yang mustahil dapat dilakukan kaum lelaki.

Dari Bahaz bin Hakim dari ayahnya dari neneknya ra, ia berkata, aku bertanya : Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus baik?”. Beliau bersabda: ”Ibumu”. Aku bertanya lagi: ”Kemudian siapa?. Beliau bersabda: ”Ibumu”.  Aku bertanya lagi :”Kemudian siapa?”. Beliau bersabda: ”Ibumu”. Aku bertanya lagi : ”Kemudian siapa?”.Beliau bersabda : “ Ayahmu, kemudian yang lebih dekat”. (HR Abu Dawud dan Tarmidzi).

“Dan telah Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu,hanya kepada-Kulah kembalimu”.(QS. Luqman( 31):14)

Ali bin Abu Thalib ra adalah salah satu sahabat yang tidak suka ketika seseorang tidak menghargai perempuan, apalagi bila orang itu adalah istrinya sendiri. Suatu hari, ia berpapasan dengan seorang perempuan berjalan gontai kesana kemari seakan sedang mencari seseorang.

Ali kemudian menegurnya,  ”Siapa yang sedang anda cari ?”.Aku mencari seorang laki-laki yang dapat melindungiku dari ancaman suamiku ”, jawabnya dengan suara bergetar. ” Ia telah berulang kali menampar dan memukulku ”, tambahnya memberi alasan. ” Sungguh terkutuk ! Antar aku ke rumahmu! ” seru menantu Rasulullah itu. Setelah melewati beberapa lorong sempit, akhirnya tibalah keduanya didepan sebuah rumah. Ali segera mengetuk pintu rumah tersebut sementara perempuan tadi terlihat ingin menyembunyikan diri dibalik Ali.

Tak lama kemudian pintu terbuka dan muncul seorang lelaki berwajah kasar, berperawakan kekar di depan pintu. Dengan tenang namun tegas Ali bertanya ” Engkaukah lelaki yang suka menganiaya istrimu padahal setiap malam kau rasakan kehangatan tubuhnya ?”

Apa urusanmu dengan istriku ?” seru lelaki itu  geram. Rupanya ia tidak mengenali wajah sahabat Rasulullah itu.

” Tidak perlu engkau banyak bertanya, rasakanlah  balasan ini ! ”, seru Ali sambil mengayunklan gagang pedangnya . Seketika  jatuhlah  tubuh kekar tersebut. ” Demi Allah, jika kau masih mengulangi lagi perbuatan busuk itu, aku tebas batang lehermu!” tambah Ali.

Dengan sempoyongan lelaki tadi berusaha berdiri. Perlahan ia  mengenali wajah lelaki di hadapannya, Ali bin Thalib! Karena malu dan takut, akhirnya lelaki tersebut mengakui perbuatannya dan berjanji tidak akan lagi berlaku sewenang-wenang terhadap istrinya.

Keluarga adalah satuan terkecil dalam masyarakat. Dari rumah tangga yang seperti ini pulalah akan lahir anak-anak yang akan menambah kebahagiaan dan keceriaan sebuah keluarga. Islam mengajarkan hubungan yang sangat baik antara ayah, ibu dan anak. Islam  mengajarkan betapa pentingnya menyayangi anak dan memperlihatkan kasih sayang tersebut.

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : ” Rasulullah saw mencium Hasan bin Ali dan disisinya ada Al Aqro bin Habis At-Tamimi sedang duduk. Lalu Al Aqro berkata : ” Sesungguhnya aku mempunyai 10 anak. Aku tidak mencium salah seorangpun dari mereka”. Lalu Rasulullah memperhatikan Aqro kemudian berkata: ”Barangsiapa tidak menyayangi tidak akan disayangi.”

Begitu pula sebaliknya, Al-Quran dengan tegas melarang seorang anak berkata-kata dengan kasar apalagi membentak terhadap kedua orang-tuanya terutama ketika  mereka  telah lanjut usia, bahkan  berkata “ ah”  sajapun Allah SWT melarangnya.

” ……. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia ”. (QS.Al-Isra’(17):23).

Tidak seperti hubungan antara suami-istri yang bisa saja tidak kekal dan abadi, hubungan antara anak dan kedua orang-tuanya mustahil terputus. Itu sebabnya Islam melarang adopsi atau mengangkat anak. Memelihara anak yatim piatu dan memperlakukannya seperti anak sendiri apalagi di rumah sendiri pula   memang sangat mulia namun bukan mengakuinya sebagai anak kandung. Hak dan kewajiban manusia selaku anak kandung maupun selaku orangtua dan ibu yang pernah melahirkan seorang anak tidak pernah mungkin bisa dicabut. Hal ini terlihat jelas ketika seorang anak, terutama anak perempuan akan menikah, juga dalam hal waris.

“Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; …… dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. …… Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu”.(QS.AlAhzab(33):4).

Dalam dunia kesehatan modern, pelarangan adopsi dengan menghilangkan asal usul keluarga aslinya, terbukti sangat penting. Ini terkait ketika anak adopsi akan melakukan pernikahan. Karena perkawinan incest / perkawinan antar anggota keluarga yang memiliki hubungan darah yang dekat dapat mengakibatkan penyakit / cacat seumur hidup. Ini bisa saja terjadi diantaranya karena ketidak tahuan bahwa calon pasangan pengantin tersebut mungkin sebenarnya bersaudara. Karena salah satu diantara mereka   adalah anak adopsi yang tidak diketahui asal-usul kedua orang-tuanya.

Jadi jelas, dalam Islam tidak hanya kedudukan laki-laki dan perempuan yang sama, namun anakpun memiliki hak yang sama sebagaimana orang tua dalam mendapatkan perhatian dan kasih sayang.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka(adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh(mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (At Taubah 9:71)

Pada tahun ke 8 H, pada  peristiwa penaklukan kota Makkah (Fathu-Makkah) yang ketika itu masih merupakan pusat perlawanan terhadap Islam, Rasulullah melakukan pembaiatan, yaitu janji untuk senantiasa mendengar dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Selesai Rasulullah membaiat kaum lelaki, Rasulullah membaiat kaum perempuan.  Dalam baiat/sumpah  tersebut, dinyatakan bahwa mereka tidak akan pernah mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak mereka dan tidak berbohong. Peristiwa ini menunjukkan betapa Rasulullah sangat menghargai kaum perempuan sehingga beliau merasa harus membaiat kaum perempuan secara khusus dan terpisah.

Namun sebagaimana firman-Nya bahwa Ia menciptakan segala yang ada di alam semesta ini dalam bentuk  berpasang-pasangan, begitu juga manusia.  Laki-laki dan perempuan adalah pasangan. Adalah mustahil bagi segala sesuatu yang berpasangan itu sama. Jelas mereka harus dan pasti berbeda. Allah menjadikan mereka dengan tujuan yang sama namun dengan fungsi yang berbeda agar dapat saling melengkapi dan menutupi.

Bila salah satunya tidak berfungsi dengan baik maka akan terjadi ketimpangan yang berakibat rusaknya tatanan kehidupan ini. Mereka adalah bagaikan matahari dan bulan. Diperlukan pengaturan dan kerja sama yang sempurna diantara keduanya. Mustahil bagi mereka untuk saling ingin mendahului, saling bertukar tempat dan merasa lebih hebat karena masing-masing telah memiliki jalur dan jalannya masing-masing.

”Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya”. (QS. Yaasiin (36):40).

Laki-laki dan perempuan wajib saling mengingatkan dan saling menasehati dalam kebaikan. Mereka harus hidup saling tolong menolong karena satu sama lain saling membutuhkan. Perumpamaan mereka adalah seperti sepasang kaki atau sepasang tangan. Keduanya harus bekerja sama dalam mencapai tujuan yang sama. Namun tidak mungkin mereka  bertukar tempat karena masing-masing telah dibuat sesuai dengan kebutuhannya. Sebagaimana kaki kanan dan kaki kiri sama-sama membutuhkan sepatu namun tidak mungkin bertukar sepatu, kaki kanan tidak akan mungkin bisa mengenakan sepatu kiri dengan penuh kenyamanan begitu pula sebaliknya.

Laki-laki dan perempuan diciptakan berbeda agar saling melengkapi, saling mengisi. Fisik lelaki normalnya jauh lebih kuat dari pasangannya. Itulah sebabnya lelaki berkewajiban mencarikan nafkah, melindungi dan memberikan rasa keamanan bagi pasangan dan keluarganya.

”…… Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf ”.(QS.Al Baqarah 2:233).

Rasullullah saw bersabda :“Dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah,dinar yang kamu nafkahkan untuk budak,dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin dan dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu. Yang lebih besar pahalanya adalah yang kamu nafkahkan kepada keluargamu”.

Itu pula sebabnya utusan yang dikirim Allah SWT kepada umat manusia selalu laki-laki. Karena tugas kerasulan adalah tugas maha berat yang tidak saja memerlukan fisik yang tangguh namun juga tanggung-jawab yang besar.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka(laki-laki) atas sebagian yang lain(perempuan), dan karena mereka(laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. ” (QS.An Nisaa’ (4):34).

Sang Pencipta yang mengatur semua ini, kita, kaum perempuan tidak perlu dan tidak sepantasnya iri dan dengki. Lagipula ayat diatas sama sekali tidak mencerminkan bahwa kedudukan perempuan menjadi direndahkan. Perumpamaan rumah tangga atau keluarga adalah bagaikan kapal yang sedang berlayar mengarungi samudra luas yang penuh tantangan dan berbahaya. Bila kapal ingin berjalan selamat sampai tujuan maka diperlukan hanya seorang nakhoda dalam mengarahkan kapalnya. Namun ia tetap memerlukan wakil, penasehat yang dapat terus mendampinginya, menasehati sekaligus mengingatkannya bila ia lalai. Disinilah kedudukan perempuan.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya”.(QS.AlBaqarah(2):286)

Allah SWT tidak akan membebani mahluknya dengan sesuatu yang tidak akan sanggup ditanggungnya. Allah SWT menciptakan segala yang ada di alam semesta ini dengan penuh keseimbangan. Itulah sebabnya Allah SWT tidak memerintahkan kaum hawa untuk bekerja mencari nafkah untuk membiayai keluarganya. Ini adalah tanggung-jawab para suami sebagai seorang kepala keluarga.

Ini pula yang menyebabkan mengapa hukum waris Islam menyatakan bahwa bagian antara anak lelaki dan perempuan adalah 2 banding 1.

“Allah mensyari`atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan; ………Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.(QS.An-Nisa’(4):11).

Allah telah menetapkan bahwa pada harta dan kekayaan seorang lelaki berkeluarga ada sebagian hak dan milik istri serta anak-anaknya  yang harus dipenuhi. Sebaliknya harta dan kekayaan seorang perempuan adalah sepenuhnya milik dan hak perempuan itu sendiri.  Namun demikian, bila seorang perempuan/istri memilki harta berlebih, di lain pihak sang suami tidak memiliki apa-apa ( miskin ), si istri boleh memberikan sebagian hartanya itu kepada suami. Ini adalah bagian dari sedekah  istri.

Abu Sa’id al-Khudri ra berkata : ” Zainab, istri Ibnu Mas’ud, bertanya, Ya Nabi Allah, hari ini engkau menyuruh mengeluarkan sedekah dan aku mempunyai perhiasan yang hendak aku sedekahkan. Tetapi menurut anggapan Ibnu Mas’ud ( suaminya) , ia beserta dan anaknya adalah orang-orang yang paling berhak menerima sedekah itu dari saya. Nabi saw bersabda , ” Benarlah apa yang dikatakan Ibnu Mas’ud itu. Suami dan anakmu adalah orang yang paling berhak menerima sedekah darimu”. (HR Bukhari).

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.(QS.At-Taubah(9):60).

Laki-laki dilebihkan atas kaum perempuan, ini  dikarenakan adanya penekanan bahwa  kaum lelaki wajib bekerja mencari nafkah untuk menghidupi istri dan anak-anaknya. Lelaki, khususnya para suami  dibebani tugas semampunya untuk memberikan fasilitas sandang, pangan dan papan bagi keluarganya. Sebagai imbalan maka perempuanpun sebagai seorang istri yang baik musti mempertanggung-jawabkan apa yang telah diberikan suaminya tersebut. Ia wajib menjaga ( mempergunakan dengan baik)   harta yang dengan susah payah dicari suaminya itu. Disamping itu, selama kepergiaan suami mencari harta, si istri dituntut agar pandai menjaga dirinya.

Syahdan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab adalah seorang laki-laki yang ingin melaporkan kecerewetan istrinya kepada sang khalifah. Namun apa yang didapati lelaki  tersebut? Begitu ia sampai di depan pintu rumah Umar, ia mendengar suara istri Umar yang sedang mengomel. Suaranya begitu kencang dan penuh emosi, terdengar bahkan lebih cerewet dari istri yang ingin diadukannya. Sebaliknya tak sedikitpun terdengar suara Umar. Maka dengan diam-diam lelaki itupun pergi meninggalkan tempat tersebut. Ia berpikir dengan heran apa yang menyebabkan sang khalifah yang dikenal begitu gagah dan tegas itu diam seribu bahasa menghadapi kecerewetan istrinya itu. Dan bila Umar saja dapat bersabar menghadapi masalah tersebut mengapa pula ia harus kecewa terhadap tingkah laku istrinya?

Selidik punya selidik akhirnya ia tahu apa yang menyebabkan Umar diam. Umar berkata bahwa istri patut sekali-sekali melampiaskan kekesalannya karena tugas istri memang berat. Dan sudah sepantasnya bila si suami ridho menerimanya. Alasan pertama mengapa seorang suami harus ridho adalah karena seorang istri telah membebaskan suami dari fitnah nafsu syahwat yang senantiasa dihadapi seorang suami sebagai laki-laki ketika ia harus berada di luar rumah untuk mencari nafkah. Dengan kata lain istri adalah penghalang  api neraka.

Yang kedua, istri telah dengan susah payah selama 9 bulan mengandung anak-anaknya dan kemudian mendidiknya pula. Yang ketiga karena dengan adanya istri di rumah yang mau menjaga harta yang dengan cucuran keringat dicarinya, maka seorang suami dapat bekerja dengan tenang tanpa rasa khawatir kehilangan hartanya tersebut dan juga karena istrinya ia termotivasi untuk bekerja. Alasan terakhir, karena istrinya ia dapat pulang ke rumah dengan harapan istrinya itu akan menyambutnya dengan suka cita, memberikan perhatian, kasih sayang  sekaligus menyediakan makanan sebagai ganti energi yang telah terkuras sepanjang hari karena bekerja keras.

Disamping mencari nafkah, suami bertugas untuk mengayomi, melindungi sekaligus mendidik istri dan anak-anaknya. Sebaliknya  para istri sebagai kaum perempuan telah diciptakan-Nya  dalam keadaan memiliki kehalusan dan kelemah-lembutan yang nantinya akan diperlukan dalam rangka mendidik dan merawat anak-anaknya. Kaum ibu selain ratu dalam keluarga ia juga adalah guru dan keteladanan bagi anak-anaknya.

Itulah sebabnya perempuan harus pandai. Ia harus menuntut ilmu agar ia mengerti tugas dan tanggung jawabnya. Pendidikan moral dan etika pergaulan seperti kejujuran, kesopanan, menjaga kehormatan, menjaga hubungan baik dengan tetangga, amanah  dll adalah salah satu pendidikan penting yang harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Keimanan harus ditanamkan bahkan ketika masih didalam kandungan karena sebenarnya ketika itu bayi sudah dapat merasakan hal tersebut. Oleh sebab itu seorang ibu yang sedang mengandung dianjurkan untuk memperbanyak zikir, baik melalui shalat maupun membaca Al-Quran/mengaji.

Ilmu yang wajib dimiliki seorang perempuan sebagai ibu selain ilmu untuk mengenal Allah SWT adalah ilmu apapun yang dapat mendekatkan diri dan anak-anaknya kepada Sang Pencipta. Mengenal lingkungan, baik lingkungan tetangga maupun lingkungan alam, mencintai dan menyayangi segala yang ada di alam semesta, contohnya ilmu agama, adalah bagian dari ilmu yang harus dikuasai seorang perempuan. Karena dengan pengetahuan tersebut seorang anak dapat mengenal Tuhannya. Ilmu yang seperti ini hukumnya adalah fardhu’ ain, artinya wajib dimiliki oleh setiap diri.

Sedangkan ilmu pengetahuan umum yang sifatnya hanya untuk kepentingan duniawiyah saja seperti ilmu Matematika, ilmu Ekonomi, Fisika, Kimia, Bahasa, Sejarah dll  hukumnya adalah fardhu kifayah yaitu wajib dimiliki oleh setiap kelompok orang, bukan setiap diri. Ilmu seperti ini diperlukan karena  dapat mempermudah kehidupan dunianya. Dan tentu saja bila dengan ilmunya tersebut seseorang bisa menolong sesamanya dari kesulitan sehingga orang tersebut menjadi berusaha mendekatkan diri kepada-Nya maka Allah SWT akan membalas perbuatan tersebut dengan imbalan yang setimpal pula.

Rasullulah menegaskan, tiga hal yang tidak terputus pahalanya & terus mengalir bagi manusia walaupun ia telah tiada, yaitu : amal-shalehnya, ilmunya yang terus diamalkan untuk kebaikan umat dan doa anak yang shaleh.

Allah berfirman : ”Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya sedikitpun”.(An-Nisaa’ 4:124)

Perempuan-perempuan yang menguasai minimal ilmu pengetahuan agama kemudian mencontohkannya dalam prilaku kesehariannya dapat dipastikan kelak akan mencetak manusia-manusia berkwalitas, manusia-manusia  bermoral yang akan mampu memimpin sebuah bangsa besar. Mereka adalah bibit unggul yang akan menghasilkan benih-benih yang unggul pula. Baginya kemenangan di dunia dan di akhirat.

Tampaknya pepatah yang berbunyi “ Maju-mundurnya sebuah bangsa tergantung kaum perempuannya” ataupun “ Surga dibawah telapak kaki ibu” tidaklah keliru.

Read Full Post »

Prilaku perempuan sejak dahulu kala, diakui maupun tidak diakui, secara fitrah hampir selalu memberi pengaruh yang tidak sedikit terhadap prilaku lelaki. Pengaruh ini bisa pengaruh positif bisa juga pengaruh negatif. Ironisnya, hanya  lelaki yang memiliki keimanan ekstra tinggi saja yang mampu terhindar dari pengaruh negatif perempuan. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa berada dalam lindungan Allah swt. Contohnya adalah nabi Nuh as dan  nabi Luth as. Prilaku  kedua istri nabi ini sangat buruk sehingga Allah swt mengazab keduanya dengan azab yang amat pedih. Ada pula kisah Zulaikha, seorang istri pejabat Negara yang tidak tahan terhadap ketampanan nabi Yusuf as dan kemudian menggodanya. Sebaliknya prilaku baik seorang perempuan tidak akan mampu mempengaruhi tindak tanduk lelaki tidak beriman yang keras kepala. Contohnya adalah Asiya, istri Fir’aun.

Allah swt mengabadikan kisah mereka melalui firman-Nya dalam Al-Qur’an agar menjadi peringatan bagi kaum perempuan untuk selalu berhati-hati dan memperhatikan prilaku dan tindak tanduk mereka. Perempuan adalah sumber  fitnah terbesar bagi lelaki. Karena pada umumnya lelaki sekuat dan seperkasa apapun cenderung selalu ingin menyenangkan dan menuruti kemauan istri/kaum perempuan walaupun seringkali keinginan tersebut tidak sesuai dengan syariah.

Rasulullah bersabda : ”Aku tidak meninggalkan fitnah yang paling berbahaya bagi kaum lelaki kecuali fitnah yang datang dari perempuan”.

Itu sebabnya mengapa mendidik anak perempuan dengan baik dapat menyelamatkan seseorang dari api neraka.

Barangsiapa yang merawat atau membesarkan kedua anak perempuannya maka aku dan dia masuk surga secara bersama-sama, seraya nabi memberi isyarat seperti dua jari tangannya” (HR Muslim).

Dalam tulisan ini, penulis membagi keteladanan perempuan atas 3 kelompok. Yang pertama yaitu kelompok perempuan yang hidup di masa Rasulullah dan generasi para sahabat. Berikutnya kelompok perempuan masa kini dan terakhir kelompok perempuan yang hidup dalam lingkungan kekuasaan/kerajaan.

I. Perempuan generasi Rasulullah dan para sabahat.

Ada banyak perempuan tangguh dari kalangan sahabat  yang patut dijadikan suri teladan. Mereka hidup pada zaman dimana Islam baru mulai tumbuh. Pada masa itu kaum Muslimin  sedang mengalami tekanan, siksaan dan permusuhan yang begitu hebat dari kaum musryikin Mekah, kaum Yahudi Yathrib dan para kafirin. Dimana-mana terjadi peperangan. Mereka ini bahkan harus mengalami permusuhan, dijauhi serta dibuang dari keluarga yang dicintainya.

1. Khadijah binti Khuwailid ra,  Ummul Mukminin.

Ia adalah seorang perempuan dari kalangan elite Quraisy yang  dikenal sebagai sosok yang dermawan, jujur dan luhur budi pekertinya.  Oleh karenanya ia dijuluki Ath-Thahirah (perempuan suci). Ia adalah seorang perempuan yang cerdas yang  menguasai ilmu perniagaan dengan sangat baik. Ia adalah seorang saudagar perempuan sukses yang sangat dihormati dan amat dikenal. Ketertarikannya kepada Muhammad muda bermula ketika ia mendengar  berita bahwa Muhammad adalah seorang yang jujur dan tidak suka menghamburkan waktunya sebagaimana umumnya pemuda-pemuda Quraisy kala itu.

Ketika akhirnya mereka menikah, ketertarikan ini makin hari makin meningkat menjadi kekaguman, kecintaan, dan penghormatan yang tinggi walaupun usia Rasullullah jauh lebih muda dari dirinya sendiri. Khadijah mempercayakan seluruh urusan perniagaan ke tangan sang suami tercinta yang dengan kejujurannya berhasil mengembangkan urusannya hingga mengalami perkembangan yang pesat.  Khadijah sendiri sekarang dapat berkonsentrasi mengurusi urusan rumah tangga, ke 4 putri dan 2 putranya serta ke 2 putra dari suami sebelumnya.

Sementara itu di waktu-waktu luangnya, Khadijah    mendapati bahwa sang suami  sering merenung dan berusaha berpikir siapakah sebenarnya Sang Pencipta yang patut disembah dan diagungkan. Muhammad muda senantiasa menjauhkan diri dari ritual penyembahan berhala yang lazim dilakukan kaumnya yang dalam kesesatan. Semua ini tak terlepas dari pengamatan Khadijah. Hal ini  menimbulkan kekaguman dan kesan mendalam di hati sang istri tercinta. Oleh karenanya ia tidak pernah menghalangi kepergian suaminya bermunajat di gua Hira dalam rangka merenung dan memikirkan penciptaan bumi, langit beserta seluruh isinya.

Itu sebabnya ketika sang suami dengan menggigil ketakutan pulang ke rumah sambil menceritakan bahwa ia telah didatangi ’mahluk yang memenuhi langit’ ( malaikat Jibril as), Khadijah tidak mencemoohkannya bahkan langsung mempercayainya. Beliaulah orang yang pertama beriman dan langsung mempercayai kerasulan Muhammad saw disaat yang lain masih mengingkari dan mencemoohnya.

Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat ”.(QS.An-Najm (53) : 1-5).

Khadijah segera menyelimuti dan menghibur sang suami dengan kata-kata yang menyejukkan dan menenangkan hati. Dalam  keadaan inilah turun ayat berikut :

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. ” . (QS.Al-Muzzammil(73):1-4).

Maka sejak saat itu,  Khadijahpun selalu bersiap diri rela mengorbankan waktu, jiwa serta seluruh hartanya untuk dakwah Rasullullah Muhammad SAW,  sang suami tercinta.

2.  Aisyah ra, Ummul Mukminin.

Ia adalah putri Abu Bakar ra, sahabat Rasulullah saw sekaligus khalifah pertama. Di usianya yang masih belia Aisyah telah dikenal sebagai periwayat hadis yang handal. Ia telah meriwayatkan  2210 hadis, 297 diantaranya terdapat di dalam kitab Hadis Bukhari-Muslim. Hafalannya sungguh luar biasa. Banyak sahabat Rasulullah yang sering menanyakan asal usul suatu hadis kepadanya, termasuk juga Umar bin Khatab, sang khalifah.

Istri Rasulullah ini belajar dan mendalami ajaran Islam langsung dari mulut Rasulullah,  di dalam rumah kenabian di mana wahyu turun dan Al-Quran dibaca siang dan malam. Ia dikenal sebagai sosok perempuan cerdas, pandai berdiplomasi, memiliki lisan yang fasih dan jika  berbicara mampu menarik setiap telinga yang mendengarnya.

Pada masa hidup Rasulullah, kaum perempuan memang memiliki semangat yang tinggi untuk belajar hingga mendorong mereka meminta agar disediakan majlis dan waktu khusus untuk mereka meskipun di dalam masjid mereka juga telah mendengar nasehat yang disampaikan Rasulullah.

Urwah bin Az-Zubair ra  suatu ketika pernah berkata : ” Aku tidak melihat ada seseorang yang lebih pandai dalam ilmu agama, lebih pandai dalam bidang kedokteran dan lebih pandai dalam bidang syair daripada  Sayyidah Aisyah ra. ”

Pada perang Khandaq, diberitakan bahwa Umar bin Khatab terpaksa menegur Aisyah karena keberaniannya  yang luar biasa maju menerobos ke bagian depan barisan pasukan hingga membahayakan keselamatan dirinya.

Anas bin Malik ra meriwayatkan, ia berkata : ”Sungguh aku menyaksikan Aisyah binti Abu Bakar ra dan Ummu Sulaim, sambil menyingsingkan baju sampai di atas mata kaki, mereka berdua mengambil air minum lalu mereka menghidangkannya kepada pasukan, kemudian mereka berdua kembali lagi untuk   mengambil air minum lalu memberikannya lagi kepada mereka ”.

Aisyah berpendapat bahwa beraktifitas adalah merupakan keharusan dan tuntutan bagi setiap perempuan. Setiap perempuan tidak boleh hanya duduk di dalam rumah tanpa berpikir untuk melakukan sesuatu yang berguna yang dapat membantu meringankan beban lingkungannya  namun tentu saja tanpa mengabaikan peran utamanya di rumah dan mendidik anak-anaknya.  Allah swt memang tidak menganugerahi Aisyah seorangpun anak.  hingga dengan demikian ia dapat secara maksimal mencurahkan seluruh        kehidupannya bagi masyarakat dan lingkungannya.

Ia berkata : ” Alat tenun di tangan seorang perempuan bisa bernilai lebih baik dari tombak di tangan orang yang berjuang dijalan Allah SWT ”.

3. Ummu Habibah ra, Ummul  Mukminin

Nama aslinya adalah Ramlah binti Abu Sufyan. Ayahnya, yaitu Abu Sufyan adalah seorang pemuka dan pembesar Quraisy yang sangat dienggani dan ditakuti masyarakatnya. Ia bahkan baru masuk Islam setelah Fathu Makkah. Sebelumnya ia adalah salah seorang yang amat memusuhi Islam. Hanya karena keyakinannya yang begitu kuat terhadap kebenaran Islam, Ramlah berani mengambil resiko dimusuhi dan dibuang keluarga besarnya.

Untuk menghindari  paksaan keluarganya agar ia kembali musyrik, bersama sejumlah sahabat Ramlah beserta suaminya rela ikut berhijrah ke Habasyah meninggalkan segala yang dicintainya di Makkah. Tatkala itu kekejaman orang-orang musyrik  atas kaum muslimin telah mencapai puncaknya, Di negri inilah ia melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Habibah hingga akhirnya ia lebih dikenal dengan nama Ummu Habibah. Sebaliknya di negri ini pula, ia diuji dengan sebuah cobaan yang lebih berat lagi. Suaminya murtad dan selanjutnya ia terus menerus mendesak Ummu Habibah agar mengikuti jejaknya.

Dengan keteguhannya ia bertahan bahkan dengan penuh kesabaran ia berusaha menyadarkan suaminya agar kembali ke jalan yang benar. Rupanya daya tarik syaitan lebih menarik hati suaminya hingga akhirnya ia meninggal dunia karena terlalu banyak mengkonsumsi khamr. Alangkah bersedihnya Ummu Habibah. Ia yang ketika mudanya terbiasa hidup bergelimang kekayaan dan kemewahan serta dimanja ayah-ibunya, kini harus hidup sendiri di negri orang sambil menanggung seorang anak yang masih balita.

Namun Ummu Habibah begitu yakin dengan adanya ayat 2 surat At-Thalaq bahwa Allah swt pasti akan memberinya jalan keluar.

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberikan rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.Dan berangsiapa yang telah bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”.( QS. At-Thalaq(65):2-3).

Atas kehendak-Nya, suatu ketika ia bermimpi bahwa Rasulullah melamarnya. Dan hal ini memang benar-benar terjadi. Beberapa saat setelah masa iddahnya, melalui raja Habasyah yang telah memeluk Islam,  yaitu raja  Najasyi, Rasulullah mengajukan lamaran terjadap dirinya. Bahkan raja ini dengan suka hati menawarkan uang sejumlah 400 dinar bagi Ummu Habibah sebagai mahar pernikahan mulia tersebut. Rasulullah sendiri baru bertemu dengan Ummu Habibah usia perang Khaibar pada akhir tahun 6 H. Maka pada usia 40 tahun, Ummu Habibah resmi menjadi salah satu Ummul Mukminin.

Ummu Habibah adalah seorang yang dikenal sangat wara’ (loyalitas hanya untuk Allah dan Rasul-Nya bukan untuk seorangpun selaiin keduanya). Hal tersebut dibuktikan dengan sikapnya terhadap ayahnya, Abu Sufyan, tatkala suatu ketika ayahnya itu datang dan masuk ke rumahnya di Madinah. Sang ayah datang untuk meminta bantuannya agar menjadi perantara antara dirinya dengan Rasulullah saw dalam rangka memperbaharui perjanjian Hudaibiyah yang telah dikhianati sendiri oleh orang-orang musyrik. Abu Sufyan ingin duduk diatas tikar Rasulullah, namun tiba-tiba dilipat oleh Ummu Habibah.

Maka Abu Sufyan bertanya dengan penuh keheranan: “Wahai putriku aku tidak tahu mengapa engkau melarangku duduk di tikar itu, apakah engkau melarang aku duduk diatasnya?”. Ummu Habibah  menjawab dengan keberanian dan ketenangan tanpa ada rasa takut terhadap kekuasaan dan kemarahan ayahnya: “Ini adalah tikar Rasulullah. Sedangkan engkau adalah orang musyrik yang najis, aku tidak ingin engkau mengotorinya”. Bahkan ketika kemudian Abu Sufyan melaknati putrinya tersebut, ia dengan segera menjawab bahwa apa yang disembah ayahnya hanyalah patung yang sama sekali tidak dapat memberi baik manfaat maupun mudharat.

Beberapa tahun kemudian setelah Rasulullah menghadap ar-Rafiiqul A’la, Ummu Habibah lebih lagi menekuni  ibadahnya. Ia tidak keluar rumah kecuali untuk shalat dan  tidak meninggalkan Madinah kecuali untuk haji hingga wafatnya di usia  70 tahun-an. Tampak bahwa  ia betul-betul memahami isi Al-Quranul Karim.

Dan barangsiapa di antara kamu sekalian (isteri-isteri Nabi) tetap taat pada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezki yang mulia………dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta`atilah Allah dan Rasul-Nya………”.(QS.Al-Ahzab(33):31-33).

4. Asma binti Yazid bin Sakan (Ummu Salamah), perempuan Anshar, ahli pidato.

Asma binti Yazid bersama suaminya termasuk yang berhijrah ke Habasyah demi menghindari makin sengitnya kaum Quraisy memusuhi kaum Muslimin. Pada hijrahnya yang kedua yaitu ke Madinah, ia dipersulit oleh keluarganya hingga akhirnya ia terpaksa merelakan suaminya pergi sendiri ke Madinah sementara anak mereka disandera oleh keluarganya sendiri di Makkah. Hal ini berlangsung selama 1 tahun hingga akhirnya dengan tekad yang bulat ia  bersama anaknya berhasil menyusul suaminya itu ke Madinah.

Perempuan yang kemudian biasa dipanggil dengan nama Ummu Salamah ini dikenal karena kepiawaiannya dalam berkutbah. Ia adalah juru bicara kaum perempuan pada masa hidup Rasulullah. Disamping itu ia juga  meriwayatkan 80 hadis. Suatu ketika didorong keinginannya yang begitu besar untuk ikut berjihad bersama kaum lelaki, ia pernah bertanya kepada Rasulullah :

Wahai Rasulullah , sesungguhnya aku adalah utusan bagi seluruh muslmah di belakangku, seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan dan seluruhnya berpendapat sesuai dengan pendapatku. Sesungguhnya Allah Ta`ala mengutusmu bagi seluruh laki-laki dan perempuan, kemudian kami beriman kepadamu dan membai`atmu. Adapun kami para perempuan terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum lelaki, dan kami adalah tempat melampiaskan syahwat mereka, kamilah yang mengandung anak-anak mereka, akan tetapi kaum lelaki mendapat keutamaan melebihi kami dengan shalat jum`at, mengantar jenazah dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad kamilah yang menjaga harta mereka, yang mendidik anak-anak mereka, maka apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?

Rasulullah tersentak mendengar pertanyaan tersebut. Beliau menoleh kepada para sahabat dan bersabda : “Pernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang perempuan tentang dien yang lebih baik dari apa yang dia tanyakan?”. Para sahabat menjawab, “Benar, kami belum pernah mendengarnya ya Rasulullah!”. Kemudian sambil tersenyum Rasulullah bersabda : ” Wahai Asma, kembalilah dan beritahukanlah kepada para perempuan  yang berada di belakangmu bahwa perlakuan baik salah seorang diantara mereka kepada suaminya, dan meminta keridhaan suaminya, mengikuti (patuh terhadap) apa yang ia disetujuinya, itu semua setimpal dengan seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum lelaki”.

Namun demikian, keinginan kuat yang begitu menggebu dalam dada Asma untuk ikut andil dalam berjihad tidak dapat dipadamkan begitu saja. Beberapa tahun kemudian setelah wafatnya Rasulullah saw, bersama para muhajirin dengan gagah berani ia berhasil melaksanakan niat tersebut, yaitu pada perang Yarmuk.  Bersama para muslimah lainnya, ia  berada di belakang para mujahidin untuk membantu jalannya peperangan. Mereka mencurahkan segala kemampuan dengan membantu mempersiapkan senjata, memberi minum dan mengobati yang terluka serta memompa semangat juang kaum muslimin. Bahkan dalam perang besar tersebut ia berhasil membunuh 9  tentara Romawi yang ketika itu sedang dalam persembunyian.

Ibnu Katsir mengisahkan bahwa pada perang Yarmuk banyak muslimah yang ikut andil dan ambil bagian. Ia menulis : “Para perempuan menghadang mujahidin yang lari dari berkecamuknya perang dan memukul mereka dengan kayu dan melempari mereka dengan batu.” Adapun Khaulah binti Tsa`labah berkata: “Wahai kalian yang lari dari perempuan  yang bertakwa .Tidak akan kalian lihat tawanan. Tidak pula perlindungan. Tidak juga keridhaan”.

Asma juga adalah masuk satu dari sedikit sekali perempuan yang berbait pada bait pertama Islam yang terjadi pada tahun pertama hijriyah. Pada kesempatan tersebut Rasulullah saw membaiat para perempuan  dengan ayat yang tersebut dalam surat Al-Mumtahanah.

“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akn membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Mumtahanah(60) : 12).

Baiat  Asma binti Yazid adalah jujur dan ikhlas. Ini disebutkan  riwayatnya dalam kitab-kitab sirah bahwa Asma mengenakan dua gelang emas yang besar, maka Nabi saw bersabda:  “Tanggalkanlah kedua gelangmu wahai Asma,  tidakkah kamu takut jika Allah mengenakan gelang kepadamu dengan gelang dari api neraka?”.

Maka dengan segera Asmapun mengikuti perintah Rasululah untuk melepas kedua gelang besarnya. Tanpa ragu dan tanpa komentar ia meletakkannya di depan Rasulullah saw.

5. Nasibah binti Ka’ab (Ummu Imarah), perempuan Anshor pertama yang berbaiat kepada Rasulullah.

Ia lebih dikenal dengan nama  Ummu Imarah. Ia adalah seorang perempuan pejuang terhormat serta  mulia dari kaum Anshor. Ia adalah saksi dari berbagai peristiwa penting dalam sejarah Islam seperti  baiat Aqobah, perang Uhud, perjanjian Hudaibiyah, perang Hunain serta  perang Yamamah.

Ia adalah satu diantara dua perempuan yang ikut hadir pada peristiwa Aqobah yang terjadi pada  tahun 622 M. Bersama rombongan haji yang terdiri dari  75 orang muslim,  73 kaum lelaki  dan 2  orang perempuan. mereka datang menemui Rasulullah saw di bukit Aqobah secara rahasia.  Pada peristiwa  yang kemudian dikenal dengan nama baiat Aqobah tersebut, lahir kesepakatan untuk mewujudkan ajaran Islam sebagai batu pondasi dan pilar pertama pendirian Daulah Islam, yaitu suatu negara yang menerapkan Islam di masyarakat, membawa risalahnya ke seluruh manusia, memelihara alam sekaligus menghilangkan segala perintang dan hambatannya.

Ummu Imarah adalah seorang perempuan yang gagah berani. Ini terbukti dengan keterlibatannya dalam beberapa kali peperangan bersama Rasulullah. Tugasnya antara lain menolong para mujahidin yang terluka, menyiapkan perbekalan, mengobarkan semangat dan keberanian para mujahidin  bahkan bila perlu ia akan mengangkat senjata.

Pada perang Uhud, Ummu Imarah ikut berperang bersama suami dan kedua anak lakinya. Ketika sebagian besar muslimin khilaf dan berbalik untuk memperebutkan ghanimah, dengan penuh keberanian bersama Mush’ab bin Umair ia turut mengangkat pedang dan busur panah guna menghalau kaum kafir yang ingin mendekati dan membunuh Rasulullah. Ia berhasil melindungi Rasulullah  dari sabetan pedang tentara Quraiys bernama Ibnu Qamiah, padahal saat itu dia dalam kondisi luka parah. Ia terluka pada leher dan punggungnya.“Setiap kali aku melihat kanan-kiriku, kudapati Ummu Imarah membentengiku pada Perang Uhud,” kenang Rasulullah saw.

Begitulah ketangguhan Ummu Imarah. Ia adalah contoh seorang ibu sekaligus seorang pejuang perempuan yang dengan penuh ketegaran menyuruh anak lelakinya yang telah cedera untuk tidak lari dari perang dan bahkan kembali ke medan pertempuran demi membela agama dan menegakkan kebenaran sesuai dengan apa yang telah dijanjikannya pada baiat Aqobah.

II. Perempuan masa kini.

Perempuan-perempuan ini patut dijadikan keteladanan karena mereka tetap memegang teguh keimanan walaupun lingkungan mereka mencemooh ke-Islaman mereka. Mereka bahkan merasa tertantang untuk tetap konsiisten menyumbangkan tenaga dan pemikiran mereka agar dijadikan contoh betapa Islam amat peduli terhadap perdamaian, persamaan hak dan pendidikan yang baik bagi perempuan khususnya.  Mereka ini dengan penuh percaya diri bahkan memproklamirkan  keislaman dan kecintaannya terhadap perintah Yang Maha Kuasa dengan konsisten mengenakan jilbabnya di depan umum.

1. Amena Haq, seorang dokter keturunan India warga negara Amerika Serikat

Amena tinggal di Florida Selatan, Amerika Serikat. Ia adalah seorang dokter berusia 50 tahun yang rajin berkeliling melakukan kunjungan terhadap  orang-orang sakit untuk diobati, tidak peduli apapun agamanya.  Bahkan sebagian besar pasiennya adalah pemeluk Yahudi dan Nasrani. Mereka menyukai dokter ini karena perhatian dan ketelitiannya dalam memeriksa pasien. Malah diantara mereka ada yang sering meminta saran non medis darinya. Orang melihatnya seperti seorang kakak yang mengayomi adik-adiknya. Oleh sebab itu ia dijuluki Apu, yang berarti kakak tertua.

Sebelum peristiwa 11 September 2001, kemanapun Amena pergi tidak pernah ia mengalami kesulitan. Namun setelah itu, rasa curiga terhadapnya sering mengikutinya. Walaupun begitu Amena tetap tidak ingin melepas jilbab yang membuatnya dikenal sebagai muslimah dan yang menyebabkannya dimusuhi dan dicurigai.  Ia bahkan bertekad akan menunjukkan bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang mengedepankan amal dan kebajikan bukan penyebar teror sebagaimana tudingan umumnya warga Amerika.

2. Samirah binti Jackie Dean Todd, seorang mualaf  Indian  Amerika.

Ia resmi menjadi Muslimah pada usia 33 tahun, beberapa bulan setelah peristiwa 11 September 2001.  Sebelumnya ia adalah seorang penganut Kristen. Ia berasal dari keluarga yang berantakan dan tidak pernah merasakan kasih sayang yang cukup dari kedua orangtuanya. Ia merasa bahwa ajarannya  tidak dapat menyelesaikan segala permasalahan hidup yang dialaminya.

Kemudian ia mulai mempelajari  beberapa ajaran agama selain Kristen. Ternyata usahanya tersebut membuahkan hasil, hidayah Allah menghampirinya. Walaupun banyak yang harus dikorbankannya, Samirah ridho menerimanya karena ia menyadari bahwa Islam adalah sebuah kebenaran sejati. Tak ada satupun yang bisa dimintai pertolongan kecuali Dia. Tidak ada perantara dalam beribadah.  Penyembahan dan pengabdian hanya patut dipersembahkan dan  ditujukan kepada Tuhan Yang Satu, Allah swt.

Dengan keyakinan barunya ini, Samirah melangkah  pasti, menghadapi segala cobaan dan kesulitan hidup dengan tenang dan tabah.  Ibunya menganggap bahwa dirinya  telah mengalami ’ brain wash’ alias pencucian otak. Ia tidak mau bertemu kembali dengan dirinya kecuali ia kembali ke Kristen. Ibunya juga telah mempengaruhi  anak tertua Samirah agar menjauhi dan meninggalkannya. Tragisnya, ketika ia mengajukan gugatan perceraian, pengadilan memutuskan bahwa anak-anaknya harus diserahkan ke bawah pengawasan mantan suaminya dengan alasan agama yang dianutnya, yaitu Islam!

Negaranya, Amerika dan seluruh perangkat peradilannya plus sebagian besar masyarakatnya tampak jelas memusuhi Islam dan menganggapnya sebagai agama teror.  Negara yang menggembar-gemborkan diri sebagai Negara Demokrasi dan Liberal ini nyatanya malah menghambat kebebasan berpikirnya. Namun Samirah tak bergeming, ia tetap pada pendiriannya. Ia bahkan tak gentar memperlihatkan keislamannya tersebut dengan terus mengenakan jilbabnya. Ia yakin dengan pertolongan Allah swt ia akan mampu memenangkan dirnya dari kesesatan.

3. Sara ( Christine ) Murray, seorang mualaf  Inggris.

Sara adalah seorang perempuan Skotlandia. Ibunya adalah seorang anggota gereja yang secara rutin mengajak seluruh anggota keluarganya menghadiri gereja dan sekolah minggu pada setiap hari Minggu. Namun setelah remaja Sara tidak lagi melakukan rutinitas tersebut. Ia lebih memilih hidup berhura-hura bersama sebagian besar temannya. Ia sangat menikmati lirikan-lirikan kaum lelaki yang mengaguminya. Namun demikian makin hari ia makin merasa bahwa ada sesuatu yang hilang pada dirinya.

Suatu hari ia menemukan sebuah brosur yang memuat ayat Al-Qur’an dengan terjemahan bahasa Inggris. Ayat tersebut menerangkan bahwa hanya orang shaleh saja yang berhak mendapatkan surga. Tiba-tiba ia merasa bahwa ini adalah sebuah panggilan yang harus dipenuhi. Beberapa hari kemudian ia langsung memutuskan untuk pergi ke masjid dan berikrar ” Ashhadu ala ilaha ilallah wa ashhadu anna Muhammada Rasulullah ”. Tak lama setelah itu iapun memutuskan untuk mengenakan hijab. Ia tahu bahwa orang-orang disekitarnya memandangnya dengan aneh namun sebaliknya ia justru merasa mendapatkan kebebasannya. Dengan berhijab ia merasakan adanya suatu perlindungan khusus dan keyakinan bahwa dirinya tidak diperuntukkan bagi semua lelaki.

Dua tahun kemudian ia meminta agar dicarikan suami sebagaimana yang diajarkan syariah Islam, yaitu tanpa proses berpacaran, suatu hal yang sama sekali tidak lazim dilakukan orang Barat. Setelah melalui beberapa kali perkenalan dengan beberapa pemuda  akhirnya ia mendapatkan kecocokan dengan seorang ekonom Mesir yang sholeh. Setelah menjalani pernikahan, atas dorongan suaminya Sara terus melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi.

Kini mereka telah dikaruniai seorang remaja putri yang mereka didik secara Islami. Sara sangat menikmati hari-harinya sebagai ibu rumah tangga yang selalu mendahulukan kepentingan keluarga. Namun ia tidak menampik bila suatu hari nanti ia ingin bekerja asakan suaminya mengizinkannya. Walaupun begitu, bekerja yang dimaksud Sara bukan bekerja untuk menyaingi suami dalam hal mencari nafkah namun bekerja sebagai bagian dari amal ibadah untuk membantu meringankan kesulitan orang lain.

4. Amatullah (Jylly ) Amstrong, seorang mualaf sufi dari Sydney, Australia.

Sejak kecil Jylly dan keluarga terbiasa memuja sesuatu atau seseorang. Ini adalah kebutuhan yang dirasakan seluruh keluarga. Itu sebabnya mereka terbiasa pergi ke gereja dan sekolah minggu. Disamping itu seperti ayahnya, Jylly juga amat mencintai berbagai bentuk kesenian. Oleh sebab itu Jylly kecil telah mengenal puisi-puisi karya nama-nama besar diantaranya Umar Khayam, seorang sufi terkenal. Setelah agak besar, Jylly mulai belajar balet. Maka dunia baletpun berpindah menguasai pikirannya. Menjelang remaja, sebagaimana jutaan  remaja pada masa itu, Jylly tergila-gila pada kelompok musik The Beatles.

Seiring dengan bertambahnya usia, kegandrungannya pada sesuatu   berubah sedikit demi sedikit. Ia mulai menyukai yoga, musik klasik serta berbagai kebudayaan, diantaranya adalah peradaban kuno Mesir dan Arab. Dari sini ia mulai mengenal dunia Islam walaupun masih sebatas budaya dan seninya. Masih panjang perjalanan yang harus dilaluinya untuk betul-betul mengenal ajaran Islam yang sebenarnya. Bertahun-tahun lamanya, bahkan setelah ia menikah, ia hanya merasa jatuh cinta kepada  Islam sebagai seni dan budaya yang sangat tinggi nilainya.

Dengan tetap mengenakan rosarionya, Jylly terbiasa menghabiskan berjam-jam    waktunya untuk mempelajari ajaran Islam. Ia sangat terobsesi dengan cara hidup para sufi yang mengorbankan hidup demi kecintaan dan penghambaannya pada Tuhannya. Iapun mulai terbiasa melafalkan ayat-ayat suci Al-Quran sekaligus menghafalkannya! Tanpa mengetahui maknanya, sambil berjalan-jalan sendirian di antara semak belukar di sekitar kediamannya, Jylly sering belajar mengucapkan kalimat ” La ilaha ilallah, Muhammadarasulullah ”. Ia tidak menyadari bahwa dengan mengucapkan  kalimat tersebut sesungguhnya dirinya  telah menjadi muslimah. Dengan tuntunan sebuah buku yang didapatnya ketika ia dan suami bepergian ke sebuah negri Islam, ia bahkan mulai mempelajari gerakan  shalat.

Perjalanan spiritual Jylly mencapai puncaknya  ketika ia berusia 35 tahun. Ia bersyahadat secara resmi di sebuah masjid di Sydney. Sebagai seorang Muslimah yang memiliki pengetahuan yang luas ia menyadari bahwa perkawinannya yang telah mencapai usia 14 tahun bakal kandas. Karena dengan keislamannya ini maka suaminya yang non muslim kini menjadi haram baginya. Namun beruntunglah ia, sebab cahaya Islam rupanya telah pula meneranginya. Sang suami yang seorang pematung itupun berbaiat menuju Islam.

Kini Jylly dan suaminya  menjalani hidup secara amat bersahaja. Mereka menanggalkan berbagai  koleksi antik mereka, seperti patung, lukisan serta foto-foto. Bahkan musik klasik yang selama bertahun-tahun menemani hidup Jyllypun ia tinggalkan. Ia merasa kesenangannya itu cenderung mengganggu keasyikannya untuk mengingat Allah. Ia berprinsip kepada  hadis yang dihafalnya di luar kepala  :    ”Aku berlindung kepada Allah dari pengetahuan yang tidak beguna ”. Hidup mereka kini dipenuhi dengan zikir. Semua kegiatan hidup adalah ibadah dalam rangka mengingat Allah. Alam semesta adalah masjid yang agung.

5. Edina, seorang jurnalis merangkap Direktur Komunikasi The Muslim Public Affairs Council di Washington, Amerika Serikat.

Edina adalah seorang imigran Bosnia. Ketika itu negaranya masih berada dibawah bendera Yugoslavia yang sekuler, sebuah pemerintahan dibawah kepemimpinan Josep Broz Tito yang berusaha menghilangkan agama termasuk Islam. Karena pengaruh inilah maka kedua orangtuanya tidak pernah mengajarkan Edina dan adik-adiknya untuk menutup auratnya dengan jilbab. Baru setelah Edina duduk di bangku kuliah di UCLA ( University of California at Los Angeles) ia mengenakan hijab. Ketika itu ia baru mempelajari Islam secara sungguh-sungguh karena ia melihat beberapa teman kuliahnya mengenakan hijab yang di negaranya dahulu berusaha dihilangkan.

Ironisnya, justru hijab ini pula yang menghalangi cita-cita Edina menjadi  seorang jurnalis. Beberapa kali ia ditolak bos pertelevisian hanya karena hijabnya itu. Namun dengan penuh kesabaran dan keteguhan ia bersikeras mempertahankan pendirian dan ajarannya hingga akhirnya tercapailah cita-cita tersebut. Saat ini Edina dan teman-temannya melalui The Muslim Public Affairs Council siap berdakwah menghadapi masa sulit menghadapi  pandangan sinis masyarakat Amerika yang umumnya menganggap ajaran Islam sebagai agama terror .

III. Perempuan dalam lingkungan kekuasaan dan jabatan.

Penulis sengaja memisahkan kisah para perempuan yang hidup di lingkungan kekuasaan dan jabatan karena perempuan-perempuan ini ternyata terbukti dapat mempengaruhi prilaku pasangan hidupnya. Ada yang dapat dijadikan  contoh baik tetapi ada juga yang sebagai contoh buruk. Hal ini perlu dikemukakan mengingat  pada era globilisasi ini  banyak perempuan yang  menyenangi  kekuasaan dan ikut terlibat  serta melaju ke dalam dunia politik. Penulis hanya ingin mengingatkan bahwa sebagai seorang muslimah, seyogyanya  contoh keberhasilan dan keteladanan bukan hanya diambil dari keberhasilan pemimpin-pemimpin perempuan non Islam baik dari dunia barat maupun timur,  seperti Margareth Tacher dari Inggris ataupun  Indira Gandhi dari India namun juga mengambil hikmah dari sejarah sebagaimana berikut  ini :

1. Ratu Bilqis dari kerajaan Sa’ba. (sekarang Yaman).

Barat mengenalnya dengan nama Ratu Sheba. Ia memerintah kerajaan Sa’ba yang sekarang ini adalah negri Yaman, di selatan jazirah Arab. Ketika masih berada dibawa kekuasaannya,negri ini juga meliput Etiopia di benua Afrika. Ia diperkirakan memerintah pada tahun 900 SM, bersamaan dengan kerajaan Sulaiman di Palestina.

”Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah “. (QS.An-Naml(27):22-24).

”Berkata Sulaiman: “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan”. Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang berserah diri “. (QS.An-Naml(27):28-31).

Untuk menunjukkan kekuatan dan kekuasaan kerajaannya, Sulaiman as kemudian memerintahkan agar istana sang Ratu dipindahkan ke dekat istana raja Sulaiman. Hal ini dapat terjadi karena Allah SWT memang telah memberinya kekuasaan dan kepercayaan dalam banyak hal sebagai cobaan baginya.

” Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana”. Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca“. Berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”. (QS.An-Naml(27):44).

Maka sebagaimana kerajaan Sulaiman, Kerajaan Sa’bapun dengan ratunya, yaitu Ratu Balqis akhirnya mengikrarkan diri sebagai kerajaan yang hanya tunduk  kepada kekuasaan tertinggi yang sesungguhnya, yaitu kekuasaan Allah swt, Tuhan semesta alam. Selanjutnya kerajaan ini menjalankan pemerintahan hanya berdasarkan hukum-Nya dan mengalami masa kejayaan hingga berabad-abad kemudian.

2. Ratu Cleopatra dari Mesir.

Pada tahun 51 SM, Cleopatra bersama adik yang sekaligus merangkap sebagai suaminya, Ptolemee XIII, diangkat menggantikan kedudukan ayahnya sebagai firaun Mesir. Ketika itu ia baru berusia 18 tahun. Namun tak lama kemudian, terjadi pertikaian, yang mengakibatkan dibuangnya Cleopatra dari Mesir.

Tak lama setelah itu, berkat bantuan diktator Romawi, Julius Caesar, Cleopatra berhasil membunuh suaminya itu. Dengan  demikian ia berhasil mendapatkan kembali kekuasaannya. Kemudian ia kembali menikahi adiknya yang lain. Disamping itu, untuk menghindari kerajaannya dianektasi oleh Julius, sang jenderal dewa penolong, Cleopatra menjalin hubungan asmara dengannya hingga akhirnya membuahkan anak.

Akan tetapi ketika pada suatu peristiwa sang jenderal terbunuh, Cleopatra segera mendekati jenderal lain, Mark Antoine. Dengan daya tarik keperempuanannya, ratu Mesir ini berhasil membius Antoine hingga ia mabuk kepayang dan menyerahkan bagian barat kerajaannya ke bawah kekuasaan Cleopatra. Hubungan gelapnya dengan jenderal ini membuahkan 3 orang anak. Selanjutnya, terjadi pertempuran antara pihak Romawi dibawah jenderal Octavius yang kecewa dan gusar terhadap kebijakan Antoine melawan Antoine, si pengkhianat negara. Pihak Antoine memang kalah tetapi Antoine sendiri tewas bukan karena pertempuran tersebut. Ia bunuh diri dengan pedangnya karena  mendengar kabar bahwa kekasihnya, Cleopatra, bunuh diri.

Padahal ratu Mesir, penggoda  lelaki yang gila kekuasaan ini sebaliknya sedang berusaha merayu musuhnya, Octavius!  Namun kali ini rayuan mautnya tidak berhasil sehingga akhirnya ia bunuh diri dengan membiarkan dirinya di gigit ular beracun sebagaimana kebiasaan orang Mesir kuno bunuh diri.

3. Asiya, istri Fir’aun dari Mesir.

Asiya adalah seorang perempuan yang terkenal disamping sangat cantik parasnya juga cantik budi pekertinya. Rasulullah pernah bersabda bahwa istri firaun ini adalah salah satu hamba Allah, disamping Khadijah ra dan Maryam ibu Isa Almasih, yang dijanjikan menjadi  penghuni surga.

Asiya seorang yang shalehah walaupun bersuamikan orang yang tidak hanya kejam dan bengis namun juga menganggap dirinya adalah Tuhan. Ia tetap tegar dan kokoh pada pendiriannya untuk  menghambakan diri hanya kepada Allah swt. Firaun tidak pernah berhasil memaksa Asiya untuk menuhankan dirinya.

”Dan Allah membuat isteri Fir`aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir`aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim”(QS.At-Tahrim(66):11).

Asiya  memang tidak bisa menyadarkan suaminya namun dalam salah satu ayat Al-Quran diceritakan bagaimana ia  membujuk suaminya itu agar tidak membunuh bayi yang ditemukannya di sungai yang mengalir hingga ke dalam istana. Ia menginginkan agar bayi tersebut tetap tinggal di istana dan diakui sebagai anak oleh pasangan tersebut. Padahal sebelumnya firaun telah memerintahkan agar seluruh bayi laki-laki yang lahir di negri tersebut dibunuh karena ia bermimpi bahwa kelak akan ada lelaki Yahudi yang akan menjatuhkan kekuasaannya.

Namun nyatanya pemimpin biadab nan kejam ini tidak kuasa menolak permintaan istrinya tercinta. Ironisnya, bayi itulah yang dikemudian hari berontak melawan kekuasaan  dan kekejamannya. Bayi itu adalah  Musa as.

4. Zulaikha, istri seorang mentri kerajaan Mesir.

Yusuf as adalah seorang pemuda tampan. Ketika kecil karena kecemburuan saudara-saudaranya terhadap prilaku ayahnya yang mereka anggap kurang adil,  ia dibuang ke dalam sumur. Tetapi berkat pertolongan-Nya, ia diselamatkan oleh kafilah yang melewati sumur dimana ia dibuang walaupûn akhirnya ia hanya dijual sebagai budak di negri Mesir. Di negri ini ia dibeli oleh sepasang suami istri yang tidak mempunyai keturunan. Si suami adalah seorang pejabat negara yang sangat sibuk dengan pekerjaan sementara Zulaikha, istrinya sering merasa kesepian di rumah.

Suatu hari ketika Zulaikha sedang sendiri di rumah ia  memperhatikan bahwa budaknya, yaitu Yusuf as,  adalah  seorang yang ketampanannya tidak tertandingi oleh siapaun. Syaitan segera bekerja, ia membisikkan agar perempuan cantik ini menggoda budaknya tersebut.

”Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah kesini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung”.(QS.Yusuf(12):23).

Yusuf segera berlari menuju pintu tetapi perempuan yang sedang dirasuki bisikan syaitan tersebut tidak mau membiarkannya. Ia menarik bagian belakang gamis Yusuf. Keika itulah muncul sang suami di depan pintu. Segera Zulaikha berlepas diri. Ia melempar fitnah bahwa budaknya itu hendak memperkosanya.

Yusuf berkata: “Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)”, dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: “Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar.” QS.Yusuf(12):26-27).

Namun tatkala suami Zulaikha mendapatkan bukti bahwa gamis Yusuf koyak di belakang, yang berarti istrinyalah yang  bersalah, ia tetap membela istrinya. Ia bahkan  malah  menghukum Yusuf. Maka Yusuf harus menjalani kurungan penjara selama beberapa tahun. Sebaliknya Zulaikha, ia segera bertaubat  dan memohon ampunan kepada-Nya. Ia menyadari kesalahannya hingga terperosok dalam bisikan syaitan. Beruntung Allah swt menerima taubatnya itu.

Sementara itu dalam suatu kisah diceritakan bahwa setelah Yusuf bebas dari penjara, suami Zulaikha telah meninggal dunia. Yang Maha Kuasa kemudian mengabulkan keinginan terpendam Yusuf yang sebenarnya ketika itu juga menyimpan keinginan terhadap Zulaikha. Namun karena rasa takutnya terhadap Sang Khalik membuatnya ia terbebas dari bisikan nafsu syaitan tersebut. Oleh karenanya dengan ridho’ Allah, merekapun akhirnya menikah dan hidup berbahagia.

5. Syajaratud Dur, seorang sultan  Mesir.

Syajaratud Dur  adalah seorang  pemimpin perempuan pertama yang berhasil menduduki kursi tertinggi pemerintahan  dalam sejarah Islam. Ini terjadi pada abad ke 12 M di Mesir.

Ketika suaminya meninggal dunia, semula ia hanya berusaha meneruskan jalannya pemerintahan. Ia menyembunyikan berita kematian suaminya tersebut dari khalayak umum. Kemudian dengan bantuan seorang anaknya, ratu ini berhasil menghadapi serangan pasukan Salib dan bahkan berhasil mengusir mereka dari tanah Mesir. Namun kemudian dorongan nafsu dan bisikan syaitan untuk meneruskan ambisi kekuasaan menguasainya. Ia  kemudian membunuh anaknya tersebut.

Beberapa lama kemudian ketika akhirnya rahasianya terbongkar, dengan kecerdikannya ia segera menikah kembali dan menjadikan suami barunya itu  sebagai sultan. Tak puas dengan  kedudukan baru yang hanya sebagai pendamping seorang sultan, iapun kembali  membunuhnya. Namun kali ini, rupanya Allah swt tidak mau lagi menyembunyikan kebusukan dirinya yang sudah keterlaluan. Rahasianya terbongkar dan masyarakat tak lagi dapat memaafkannya. Ia kemudian disingkirkan dari kursi kesultanan dan harus mempertanggung-jawabkan apa yang telah diperbuatnya selama itu.

Read Full Post »

“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.( QS.Al-Ahzab(33):21).

Sebagai seorang Rasul sekaligus pemimpin umat dan  panglima perang sudah sewajarnya bila segenap perintahnya dituruti dan dipatuhi. Namun suatu ketika pada tahun ke 6 setelah hijrah, Rasulullah mengajak para sahabat untuk melaksanakan umrah ke Mekkah. Ketika itu sebagian besar kaum Quraisy penduduk Mekkah belum mau menerima ajaran Islam bahkan sangat memusuhi ajaran tersebut.  Oleh sebab itu mereka tidak mengizinkan Rasulullah beserta para pengikutnya masuk ke kota tersebut walaupun hanya untuk sekedar melaksanakan umrah.

Sebenarnya sebagian besar sahabat ketika itu tidak mau menerima sikap ini. Mereka merasa bahwa mereka berniat melakukan sesuatu yang di-ridhoi Allah SWT dan pasti Allah akan membela mereka. Jadi mereka berkesimpulan mereka harus mengambil jalan kekerasan. Namun apa yang dilakukan Rasulullah? Beliau justru menyetujui untuk menanda-tangani sebuah kesepakatan yang intinya mereka tidak mungkin melaksanakan umrah saat itu dan mereka harus mundur dan kembali.

Kemudian setelah kesepakatan tercapai, Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk menyembelih hewan kurban bawaan mereka serta bercukur layaknya orang yang telah menunaikan ibadah umrah. Ternyata walaupun Rasulullah telah mengulangi perintah tersebut hingga 3 kali tidak seorangpun sahabat yang mentaatinya. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Mungkin para sahabat benar-benar kecewa atas keputusan yang diambil Rasulullah.

Lalu apakah kemudian Rasulullah marah dan mengecam mereka? Tidak! Rasulullah hanya mengeluhkan hal tersebut kepada Ummu Salamah ra, istri Rasulullah yang ketika itu mendapat giliran untuk menemani Rasulullah menjalankan tugas. Ummu Salamah kemudian menghibur  Rasulullah agar tidak usah terlalu kecewa atas sikap para sahabat. Menurut beliau lebih baik Rasulullah langsung menyembelih kurban dan bercukur tanpa harus menunggu reaksi para sahabat. Dan memang benar ternyata para sahabat segera meniru perbuatan Rasulullah.

Hal yang penting dicermati dalam kasus ini adalah sikap Rasulullah yang mau menerima dengan lapang dada pendapat istrinya. Padahal Ummu Salamah ketika itu hanya sekedar memberikan pendapat tanpa mengajukan dalil apapun. Jelas disini bahwa Rasulullah tidak merasa rendah dan hina ketika seorang perempuan memberikan pendapatnya.

Contoh lain keteladanan Rasulullah adalah sebagai berikut. Dalam perjalanan pulang dari Perang Musthaliq, Rasulullah dan rombongan berhenti di suatu tempat untuk beristirahat.  Aisyah ra yang kali ini mendapat giliran menemani Rasulullah berperang, turun dari sekedup, tandu tertutup tempat para perempuan ketika itu duduk dalam perjalanan, untuk buang hajat kecil. Namun ketika ia kembali ke sekedupnya Aisyah baru menyadari bahwa ia kehilangan kalung yang dikenakannya. Maka tanpa sepengetahuan yang lain, Aisyahpun segera turun untuk mencari kalungnya  yang hilang tersebut. Sementara itu mengira rombongan telah lengkap, rombongan meneruskan perjalanan kembali.

Maka ketika akhirnya Aisyah kembali ke tempat dimana sebelumnya rombongan berhenti, ia mendapati bahwa ia telah tertinggal. Aisyah tidak tahu harus berbuat apa di padang pasir nan luas tersebut. Ia hanya dapat menangis dan pasrah akan keadaannya. Tak lama kemudian terlihat Shafwan bin Mu’aththal, seorang sahabat,  nampaknya ia juga tertinggal rombongan. Ketika ia mengetahui bahwa umul mukminin ini tertinggal dengan penuh kesopanan ia segera menawarkan kudanya untuk ditunggangi Aisyah. Kemudian ia menuntunnya hingga  Madinah.

Setiba di Madinah, Abdullah bin Ubay bin Salul, si Munafikun yang memang dikenal sebagai penyebar fitnah, segera memanfaatkan kesempatan itu. Ia menghembus-hembuskan berita bahwa Aisyah ra, seorang umul mikminin  telah berbuat keji dengan seorang laki-laki. Berita ini akhirnya sampai ke telinga Rasulullah SAW. Namun Aisyah sendiri tidak mendengar desas-desus busuk itu karena sekembali dari peristiwa tersebut ia jatuh sakit. Yang ia ketahui hanya perlakuan Rasulullah, suami tercintanya itu berubah 180 derajat. Ia baru menyadari penyebab perubahan sikap Rasulullah yang dingin dan tidak bersabahat itu ketika ia sembuh dan mendengar  berita miring tentang dirinya. Namun apakah Rasulullah langsung melampiaskan kemarahan tanpa mencari tahu kebenaran berita tersebut?

Sama sekali tidak, Rasulullah memang jelas amat kecewa dan marah namun beliau berusaha menahan perasaannya. Rasulullah tidak ingin bertindak gegabah. Beliau ingin memastikan dari mulut Aisyah sendiri apakah berita itu benar. Sebulan lamanya Rasulullah dalam keadaan seperti itu. Beliau menunggu hingga istri tercintanya itu sembuh. Namun belum sampai Rasulullah menanyakan hal yang sebenarnya terjadi,  turun ayat yang menerangkan tentang kebersihan dan ketidak bersalahan Aisyah.

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu’minin dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu”. (QS.An-Nur(24):11-14).

Dengan segera  Rasulullahpun meminta maaf akan kecurigaan dan perlakuan yang menyangsingkan kesetiaan istrinya itu. Inilah tauladan Rasulullah yang mustinya diambil kaum lelaki dalam menghadapi kecurigaan terhadap istrinya.

”Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik”. (QS.An-Nur(24):4).

Ayat diatas menerangkan bahwa diperlukan  paling tidak 4 orang saksi ketika seseorang menuduh seorang perempuan berbuat zina. Dan ganjaran bagi orang yang menuduh tanpa dapat mengajukan saksi adalah didera sebanyak 80 kali dera/cambukan. Sedangkan bila  yang menuduh adalah suami namun ia tidak dapat mengajukan seorangpun saksi, maka sebagai gantinya ia dapat bersumpah dengan nama Allah sebanyak 4 kali bahwa ia menyaksikan sendiri apa yang dituduhkannya itu. Kemudian ia harus menutup sumpahnya tersebut dengan sumpah ke 5 untuk menegaskan bahwa bila ia berdusta, laknat Allah akan mendatanginya.

Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa la`nat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta”.( QS.An-Nur(24):6-7).

Sebaliknya istripun diberi kesempatan untuk membela diri dengan bersumpah atas nama Allah sebanyak 4 kali sebagaimana suaminya. Sumpah ke 5 boleh di ucapkan untuk menegaskan bahwa ia tidak bersalah, dengan taruhan ia siap  dilaknat bila ia memang bersalah.

” Isterinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta dan (sumpah) yang kelima: bahwa la`nat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar”. (QS.An-Nur(24):6-9).

Rasulullah adalah seorang yang sangat menghormati kaum perempuan. Suatu ketika datang seorang perempuan tua mengunjunginya. Aisyah ra menceritakan bahwa Rasulullah segera membuka jubahnya dan menghamparkan jubah tersebut untuk diduduki perempuan tersebut. Begitu pula ketika suatu ketika Rasulullah pulang larut malam dan beliau dapati istrinya telah masuk kamar tidur. Rasulullah tidak mau mengganggunya maka beliaupun menunggu dan tidur di depan pintu hingga waktu subuh!

Suatu ketika Aisyah ra pernah berkata, agar memudahkan istrinya untuk menaiki kudanya Rasulullah terbiasa merundukkan punggungnya sebagai pijakan. Beliau juga terbiasa membantu istrinya meringankan pekerjaan sehari-hari di rumah seperti menjahit bajunya yang sobek, menambal terompah, mencuci pakaian, memerah air susu domba dll.

Dan sesungguhnya bagi kamu ( Muhammad) benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS.Al-Qalam(68):3-4).

Rasulullah saw memberi giliran diantara istrinya –istrinya  lalu menetapkannya dengan adil. Kemudian beliau berdoa, ” Ya Allah, inilah tindakanku terhadap apa yang aku miliki. Maka janganlah Engkau mencela apa yang Engkau kuasai dan yang tidak aku kuasai.” ( HR Ahmad ).

Inilah yang dibaca Rasulullah setiap kali beliau berkeliling mengunjungi para istrinya. Rasululullah begitu khawatir bila beliau tidak dapat berbuat adil terhadap istri-istrinya. Beliau menyadari bahwa keadilan yang diberikan kepada mereka tidak mungkin  sebagaimana adilnya Allah swt. Rasullullah hanya manusia biasa yang hanya memiliki satu buah hati. Sulit bagi beliau untuk membagi hatinya sama persis bagi semua istri yang dimilikinya.

Beliau hanya sanggup berusaha membagi waktu dan perhatian yang sama dan adil. Padahal  sesungguhnya Allah telah membebaskan Rasulullah untuk  menggilir  dan menggauli mereka sesuka beliau. Tidak berdosa bila Rasulullah misalnya melebihkan sebagian waktunya untuk yang lain. Namun Rasulullah tidak mau memanfaatkan kesempatan dan kelebihan tersebut. Rasulullah tidak ingin mengecewakan dan menyakiti hati istri-istri beliau walaupun mereka mengatakan ridha’ sekalipun. Beliau sangat memahami sifat dan hati perempuan.

Kamu boleh menangguhkan (menggauli) siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (isteri-isterimu) dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki……..”. (QS.Al-Ahzab( 33):51).

Tidak dapat dipungkiri bahwa para sahabat dan istri beliaupun mengetahui bahwa sesungguhnya Rasulullah memiliki rasa cinta yang lebih besar terhadap Aisyah ra daripada istri-istri yang lain diluar Khadijah ra. Alkisah, suatu ketika sebagaimana sifat manusia perempuan biasa, Aisyah yang memang masih sangat muda usianya ingin agar  Rasulullah menyatakan kelebihan kecintaan tersebut di hadapan istri-istri beliau yang lain. Aisyah memohon agar Rasulullah mengumpulkan mereka semua dan mengatakan bahwa hanya dirinya yang  menerima uang sebesar 1 dinar sebagai ungkapan rasa cinta yang lebih besar.

Rasulullah  mengabulkan permintaan Aisyah. Para Umirul Mukmininpun dikumpulkan. Kemudian Rasululullah meminta agar mereka yang pagi ini menerima pemberian uang 1 dinar  dari Rasulullah mengacungkan jarinya. Maka dengan penuh rasa bangga Aisyah segera mengangkat tangannya. Namun apa yang terjadi? Ketika Aisyah menengok ke kiri dan ke kanan ternyata seluruh  Umirul Mukmininpun mengangkat jari tangannya sambil tersenyum simpul penuh arti!

Sebaliknya ketika Rasulullah memasuki sakratul maut. Beliau merasa bahwa harinya telah dekat. Maka ketika Rasulullah mulai merasakan sakit dan demam, beliau bertanya : ” Dimanakah giliranku hari ini?” . Ketika ia mendapat jawaban bahwa hari-hari akhir beliau bukan berada di rumah Aisyah, beliau meminta pengertian istri yang lain agar selama sakit beliau diizinkan untuk terus berada di rumah Aisyah. Dan dirumah inilah, di pangkuan Aisyah ra akhirnya Rasulullah menghadap Sang Khalik sambil berbisik 3 x : ” Ya Allah, Rafiqul A’la ” .

Padahal sekali lagi Rasulullah diberi kebebasan untuk menentukan kemauan dan keinginannya sendiri. Namun nyatanya demi keadilan, Rasulullah tetap merasa perlu mendapatkan izin istri-istri yang lain.  Betapa mulia keteladanan yang diberikannya. Subhanallah.

“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.( QS.Al-Ahzab(33):21).

Read Full Post »

“Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara,sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya”. (HR Muslim).

Sebaik-baik umat adalah yang mengajak berbuat kebaikan, mencegah kemungkaran serta meyakini bahwa dunia adalah cobaan dan ujian untuk menuju akhirat.  Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi orang lain, yang ketika hidupnya banyak bersedekah jariyah, memberikan/membagikan ilmu yang bermanfaat serta mendidik anaknya agar menjadi anak yang sholeh.

Hadis mengatakan : Hartamu adalah yang kamu makan dan telah habis atau yang telah kamu pakai dan telah rusak atau yang kamu sodaqohkan dan telah lalu. Adapun setelah itu adalah milik orang lain ( ditinggalkan untuk orang lain).”

Maknanya, harta / uang yang kita butuhkan itu adalah yang cukup membuat kita tidak kelaparan dan kedinginan hingga tubuh ini cukup kuat dan sehat agar dapat bersyukur kepada-Nya, yaitu dengan cara menjadikan diri ini bermanfaat bagi orang lain. Oleh karenanya adalah wajib hukumnya bagi seorang Muslim untuk selalu menuntut ilmu. Atau minimum menginfakkan harta kepada ilmuwan agar mereka dapat berkonsentrasi mengembangkan dan membagi ilmunya bagi kebaikan tanpa ia harus khawatir kelaparan dan hidup kekurangan.

Masalahnya sebagian besar orang saat ini telah terkena pemyakit cinta dunia yang berlebihan ( Wahn). Segala hingar-bingar, kesenangan dan kemewahan dunia telah membuat orang lupa akan tujuan hidup ini. Lelaki dan perempuan saling bersaing dan berlomba mendapatkan sebanyak mungkin kekayaan yang sifatnya  hanya sementara. Mereka lupa akan kodratnya sebagai hamba yang pada saatnya nanti harus kembali dan mempertanggung-jawabkan segala perbuatannya selama hidup di dunia yang fana ini.

Saat ini Indonesia sedang menghadapi tarik ulur tentang peraturan yang menyangkut tentang pornografi dan pornoaksi yaitu UUD Pornografi dan Pornoaksi. Tampaknya pemerintah sudah mulai melihat dan menyadari akan bahaya kedua kegiatan yang dapat merusak moral bangsa ini.

Pada dasarnya undang-undang ini melarang di-exploitasinya berbagai perbuatan yang berbau seks, cabul dan/atau erotika di depan umum. Tujuannya demi terwujudnya tatanan masyarakat  Indonesia yang serasi dan harmonis dalam keanekaragaman suku, agama, ras, dan golongan/ kelompok, diperlukan adanya sikap dan perilaku masyarakat yang dilandasi moral, etika, akhlak mulia, dan kepribadian luhur.

Sayangnya, untuk sementara ini, niat pemerintah yang mulia tersebut justru banyak ditentang oleh masyarakatnya sendiri, dan ironisnya justru sebagian besar oleh kaum hawa, yang notabene adalah kaum ibu dan calon ibu.

Namun bila ditilik kembali ke belakang, mayoritas penduduk Indonesia adalah Islam. Dan Islam jelas telah memiliki kitab pegangannya sendiri. Jadi sesungguhnya tanpa undang-undang diataspun secara otomatis seharusnya mereka tahu bahwa Islam memang melarang hal-hal diatas.

Dunia Islam  dan masyarakatnya adalah  sesuatu yang amat khas dan unik. Islam  adalah sebuah pandangan hidup. Namun ia tidak  dapat dikategorikan sebagai ideologi seperti Marxisme, Komunisme, Kapitalisme ataupun yang lain karena berbagai ideologi diatas sifatnya hanya sebatas duniawi. Pandangan hidup Islam tidak berdasarkan kepentingan seseorang maupun sekelompok atau segolongan orang tertentu. Ia juga bukanlah pandangan hidup yang diciptakan Rasulullah Muhammad SAW maupun bangsa Arab atau suku Quraisy khususnya, sebagaimana yang selama ini sering ditudingkan kaum Orientalis.

Sejarah mencatat bahwa  pada awal perkembangannya ajaran ini mendapat perlawanan yang amat keras dari suku Quraisy. Ketika itu Rasulullah dan para pengikutnya mendapat ancaman yang tidak sedikit  dari kaumnya. Sejumlah pengikut ajaran baru ini menerima berbagai siksaan hingga ada pula yang disiksa hingga mati. Bahkan Rasulullahpun tidak luput dari rencana pembunuhan yang direncanakan secara baik dan terencana matang oleh sekelompok orang yang merupakan gabungan dari seluruh unsur bani Arab yang memusuhinya.

Uniknya lagi, ajaran   ini tidak akan berubah hingga kapanpun dan dijamin pasti akan terus sesuai dan cocok bagi orang yang hidup bahkan pada akhir zaman sekalipun. Maka bila belakangan ini ada isu yang menyatakan bahwa ajaran Islam disesuaikan dengan kemauan kaum lelaki atau dengan kata yang lazim dinamakan budaya Patriakal adalah tidak benar. Islam  tidak mengenal kata diskriminasi dalam ajarannya, apalagi mengkotak-kotakkan antara kaum lelaki dan perempuan.

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta`atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.(QS.Al-Ahzab(33):35).

Laki-laki dan perempuan dalam ajaran Islam adalah sama di hadapan Allah SWT. Mereka diciptakan untuk saling melengkapi, saling menyayangi, saling tolong-menolong dan saling mengingatkan dalam hal kebenaran dan kesabaran. Keduanya mempunyai tugas utama yang sama, yaitu menciptakan kedamaian, keamanan, ketenangan, kesejahteraan dan  keadilan berdasarkan rasa tunduk dan patuh hanya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, dengan menaati hukum-Nya.

Satu-satunya persaingan yang ada hanyalah persaingan positif untuk memperebutkan tiket ke surga dan itupun Allah SWT sama sekali tidak membatasi jumlahnya.

Laki-laki dan perempuan adalah mitra yang saling melengkapi dan membutuhkan. Perumpamaan mereka bagaikan  anggota tubuh, seperti jantung, otak, hati, paru-paru, ginjal, kaki dan tangan  yang bekerja sama dalam rangka membentuk satu tubuh yang sehat dan kuat. Ini adalah perumpamaan dalam skala terkecil, yaitu keluarga. Sedang dalam skala yang lebih luas, keduanya memiliki tugas masing-masing yang berbeda satu sama lain dalam membentuk masyarakat yang adil, tenang, aman dan damai dengan berpegang pada hukum-Nya.

Jadi isu  yang belakangan ini sering bergaung di masyarakat seperti isu Persamaan Hak Perempuan, Liberalisasi atau apapun yang senada dengannya sesungguhnya tidak perlu terjadi dalam dunia Islam. Karena Islam telah dengan jelas menerangkan bahwa laki-laki dan perempuan memang tidak sama! Seharusnya kita tidak boleh terpancing dan ikut-ikutan dengan hal-hal yang telah jelas hukumnya.

Saat ini terlihat dengan jelas, tampak ada pihak yang diuntungkan dengan terjadinya perpecahan antara kaum laki-laki dan kaum perempuan. Tampak bahwa Persatuan Islam sedang dicoba untuk diguncangkan dan dihancurkan!

Allah SWT sebagai Sang Pencipta, Sang Pemilik segala yang ada di alam semesta, segala yang ada di bumi dan langit telah menciptakan sebuah sistim. Sistim ini  tidak saja hanya berlaku bagi alam semesta,  yaitu berputarnya bumi terhadap dirinya sendiri (evolusi), berputarnya bumi mengelilingi matahari ( rotasi), berputarnya tata surya, galaksi terhadap pusatnya.

Juga siklus yang menjadikan terjadinya hujan, siklus matahari dan bulan, pergantian siang dan malam, siklus hidup seluruh tumbuhan dan binatang serta siklus kehidupan manusia. Ini semua sesungguhnya adalah sebuah demonstrasi kekuasaan, kecerdasan dan ketinggian-Nya. Tidak ada sesuatu atau seorangpun yang bakal mampu bertindak keluar dari sistim tersebut kecuali ia akan hancur dan binasa.

Begitu pula sistim pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan. Allah dengan jelas telah berfirman bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan. Ia bertanggung jawab penuh terhadap perempuan dan keluarganya dalam hal mencari nafkah. Sedang perempuan bertanggung-jawab menjaga kelancaran urusan dalam rumah-tangganya.   Ia harus mentaati suaminya selama suami tetap berpegang teguh pada aturan dan sistim Yang Menciptakannya.

Seterusnya seorang anak wajib mentaati kedua orang tuanya terutama ibunya selama mereka  tetap berpegang teguh pada aturan dan sistim Yang Menciptakannya. Dengan kata lain, kepatuhan dan ketaatan yang dibangun adalah dalam rangka mematuhi dan mentaati Sang Pemilik Kekuasaan tertinggi, yaitu Allah Azza wa Jalla.

Namun apa  yang umum terjadi di seluruh pelosok  dan penjuru dunia saat ini tidaklah demikian. Sebagian besar lelaki kalaupun ia bekerja untuk menafkahi keluarga, ia melakukannya bukan karena ketundukkan kepada-Nya. Ia tidak memahami bahwa kewajibannya  selain mencari nafkah juga mendidik istri dan anaknya. Akibatnya istripun tidak memahami kehendak   Sang Pemilik.

Dipicu pemahaman yang salah, pemahaman dan pendapat sesama hamba yang tidak memiliki ilmu yang memadai, yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya, maka perempuan berbondong-bondong pergi meninggalkan ’pos utamanya’ untuk bekerja mencari nafkah. Akibatnya istri tidak lagi merasa tergantung terutama secara finansial terhadap suami. Dengan demikian sikap hormat terhadap suamipun akhirnya tanpa disadari berangsur-angsur hilang hingga mengakibatkan berkurangnya wibawa suami sebagai kepala keluarga.

Maka  timbullah  masalah-masalah baru, diantaranya  perselisihan dan percekcokkan antar suami–istri yang seharusnya tidak perlu, anak yang kurang terurus, kurang perhatian serta  kasih sayang terutama ibunya, berkurangnya komunikasi antara suami-istri dll. Akhirnya perceraianpun tidak dapat dihindari. Ironisnya yang menjadi korban terutama adalah tentu saja anak-anak.

Sebaliknya ketika seorang perempuan/ibu telah menunaikan  kewajiban dan masih merasa memiliki kemampuan, ilmu ataupun tenaga  yang dapat disalurkan kepada  masyarakat atau lingkungannya tentu hal tersebut sangat terpuji.  Yang dibutuhkan bagi perempuan seperti ini hanya izin dan kerelaan suami. Ini adalah perintah Allah dan  dalam rangka melaksanakan perintah-Nya pula. Oleh karenanya bila demi  tujuan mulia sang suami tidak memberikan izin, seorang istri tetap dapat dan berhak melakukan hal yang diperintahkan-Nya untuk dikerjakan. Contohnya adalah  pergi menunaikan haji tanpa suami maupun izinnya.

Diluar itu banyak pekerjaan mulia di sisi Allah yang dapat dilakukan seorang Muslimah. Dunia Muslimah adalah dunia yang sangat spesifik. Muslimah dimana dan kapanpun berada senantiasa membutuhkan pelayanan dari sesama Muslimah lain. Oleh karenanya alangkah mulianya bila tenaga medis (dokter, perawat, radiologis dll ),  tenaga pengajar ( guru, dosen, pendidik, pelatih, konsultan dll) serta segala macam hal yang membutuhkan penanganan, tatapan serta  sentuhan langsung adalah dari  seorang muslimah juga.

Patut pula diperhatikan masalah transportasi dan keamanan. Bahkan sejumlah negara yang penduduknya notabene bukan mayoritas Muslimpun, seperti Jepang, Rusia dan Korea Selatan sejak beberapa waktu lalu telah menerapkan angkutan  transportasi khusus perempuan. Dengan demikian selain syariah terjaga, perempuan tidak perlu lagi berdesak-desakan, terdesak hingga memungkinkankan mudahnya terjadi pelecehan terutama pelecehan seksual, keamananpun mustinya lebih terjamin pula.

Wallahua’lam bishawab.

Read Full Post »

DAFTAR REFERENSI  :

1.  Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir oleh M.Nasib Ar-Ri’fai.

2.  Tafsir Al Misbah oleh M.Quraish Shihab.

3.  Terjemah Departeman Agama : Quran Player 2.0.

4.  Minhajul Qashidin oleh Ibnu Qudamah.

5.  Kepribadian Dai oleh Dr Irwan Prayitno.

6.  Kepribadian Muslim oleh Dr Irwan Prayitno.

7.  Intisari  Ihya’ ‘Ulumuddin Al-Ghazali oleh Sa’id Hawwa.

8.  Dilema Wanita di Era Modern oleh M Al Ghazali

9.  The Great Woman oleh Shaikh M. Husain

10. Misteri Muslimah – Kehidupan luar biasa Muslimah Amerika – oleh Donna Gehrke-White

11. Sirah Nabawiyah oleh Dr. M. Sa’id Ramadhan Al-Buthy.

12. Psikologi dalam Perspektif Hadis  oleh   DR.M. ‘Utsman Najati.

13. Hegemoni Kristen-Barat (dalam studi Islam di perguruan tinggi) oleh Adian Husaini.

14.Yerusalem Satu kota tiga iman oleh Karen Amstrong.

15.Wikipedia, the free encyclopedia ; www.wikipedia.org

16. http://suara-santri.tripod.com/files/muslimah/muslimah1.htm

17.http://halalsehat.com/index.php?option=com_content&task=view&id=36&Itemid=35.

18. Kajian di berbagai  Majelis Taklim

Jakarta, Juni 2008

Read Full Post »

« Newer Posts