Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Yerusalem’

Suatu pagi di musim semi yang cerah, murid-murid sebuah sekolah dikejutkan oleh rentetan panjang peluru yang berhamburan dari sebuah senjata api yang ditembakkan orang tak dikenal. Azriel terhenyak. Saat itu ia baru saja masuk kelas untuk meletakkan tas sekolahnya. Ia segera berlari menuju jendela kelas. Dari sana ia melihat seorang lelaki berhelm menutup kepala dan wajah, dengan senjata api di tangan bergegas menuju sebuah motor kemudian dengan cepat melesat meninggalkan area sekolah dimana ia dan adik satu-satunya menuntut ilmu. Tiba-tiba ia teringat adiknya yang baru berumur 8 tahun itu. Bergegas iapun ke luar kelas dan menuruni tangga menuju pekarangan.

Disana ia melihat guru-guru, orang-tua dan siswa sekolah histeris. Ia melihat ada beberapa kerumunan, beberapa orang tergeletak bersimbah darah. Ia hanya berhenti dan melihat sepintas, pikirannya tertuju kepada Gabriel, adiknya.

“ Azriel, adikmu tertembak !”, teriak seorang teman mengagetkannya.

Azriel segera menghambur ke arah suara tersebut, ke arah kerumunan orang yang sedang berusaha menolong adiknya yang sedang terkapar. Ia segera menyeruak dan memeluk tubuh adiknya yang menangis kesakitan.

“ Ya ampun Gabriel, apa yang terjadi, tenaang, jangan menangis yaa, kamu g akan mati koq”, hibur Azriel.

Peristiwa nahas ini terjadi pada bulan Maret 2012 di sebuah  sekolah Yahudi dibawah yayasan Ozar Hatorah di kota Toulouse, Perancis. Seorang rabbi dan 6 orang murid dikabarkan meninggal tertembak sementara 5 orang lainnya terluka parah.

Beruntung Gabriel tertolong, peluru yang mengenai bahu kanannya dapat segera di keluarkan. Namun gadis kecil itu masih terguncang hingga beberapa bulan ke depan. Demikian pula sebagian besar murid sekolah tersebut, termasuk Azriel yang 6 tahun lebih tua dari adiknya.

Dari peristiwa tragis tersebut, Azriel menjadi bertambah yakin bahwa Islam adalah agama teroris. Bagaimana tidak, dari media ia mendengar bahwa lelaki berdarah dingin yang menembaki adik dan teman-temannya itu adalah seorang Muslim. Ia melakukan itu semua dengan dalih kesal melihat Muslim di Palestina sering diperlakukan tidak adil oleh pemerintah Yahudi Israel.

“ Aneh .. sama sekali g masuk akal”, gerutunya keheranan.

Sebaliknya Azriel juga tahu apa itu antisemit, yaitu sikap permusuhan dan tidak suka seseorang/kelompok terhadap bangsa Yahudi. Kelompok tersebut bukan Muslim. Mereka orang kulit putih juga, biasanya fans berat Nazi. Ia dan teman-temannya sesama Yahudi sempat juga merasakan hal ini, tanpa tahu apa penyebabnya.

“ Anti-Semit di Perancis adalah yang paling liar.  Tinggalkan negara ini, kita telah punya Israel Raya yang aman bagi kita”, umbar PM Israel Ariel Sharon sebelum komanya selama 8 tahun.

“ Kau harus selalu ingat Azriel apa itu Holocaust. Shoah kita menyebutnya. Bagaimana kejamnya Nazi terhadap kita. Jutaan orang mereka bantai selama PD II hanya karena mereka iri terhadap kesuksesan Yahudi. Bagaimanapun Yahudi adalah ras tertinggi, ras paling mulia yang ada di muka bumi ini“, jelas ibunya berulang kali.

“ Tempat yang paling aman bagi kita adalah Yerusalem di Israel dimana ribuan tahun lalu berdiri kuil kuno Solomon. Disana Tuhan kita, Yahweh, akan senantiasa memberkati kaum Yahudi. Untuk itu apapun harus kita lakukan, surga adalah jaminannya, bukan cuma di dunia tapi juga di akhirat ”, kata-kata itu selalu terngiang di telinga Azriel.

Dengan bekal semangat dan rasa dendam membara di dada inilah Azriel dan sebagian besar remaja Yahudi dimanapun berada, bercita-cita tinggi ingin menjadi tentara Zionis. “ Aku harus menjadi tentara Zionis, demi terciptanya Negara Yahudi Raya”.

Ozar Hatorah sendiri adalah sebuah organisasi Yahudi ortodoks yang bergerak dalam bidang pendidikan, didirikan pada tahun 1945 di Yerusalem, dan didanai oleh komite Yahudi Amerika. Organisasi ini memulai kiprahnya dengan membangun 29 sekolah Yahudi di tanah pendudukan Palestina. Selanjutnya dibangun pula puluhan sekolah ke Negara-negara Muslim di Timur Tengah dan Afrika Utara dimana komunitas Yahudi berada, seperti di Iran, Suriah, Libia dan Maroko, dengan total sekitar 17 ribu siswa.

Kemudian pada tahun 1971, ketika orang-orang  Yahudi bermigrasi dari Afrika Utara ke Perancis, Ozar Hatorah membuka sekolah di beberapa kota besar Perancis, hingga kini mencapai 20 sekolah, salah satunya yaitu sekolah dimana Azriel berada. Jumlah Yahudi di Perancis memang adalah yang terbanyak di Eropa, yaitu lebih dari 550 ribu. Namun kini sebagian sudah banyak yang berpindah ke Israel.

***

Azriel lahir dari seorang ibu keturunan Spanyol berdarah Yahudi. Nenek moyang dari pihak ibunya lari dari Spanyol menuju Perancis paska terjadinya Reconquista  pada tahun 1492. Ketika itu   ratu Isabela dan raja Ferdinand dari Aragon yang berhasil menaklukan Granada, kerajaan Islam terakhir di Spanyol, mengusir orang-orang Islam dan Yahudi yang tinggal di tanah tersebut. Setelah sempat berpindah-pindah kota akhirnya mereka menetap di Montauban, sebuah kota tak jauh dari Toulouse,  hingga sekarang ini.

Sementara ayahnya adalah imigran Iran yang menetap di Pau, kota kecil sekitar 200 km barat daya Toulouse, paska revolusi Iran oleh Khomeini pada tahun 1979 lalu. Ketika itu ayah Azriel baru berusia 5 tahun.  Ayah Azriel bersekolah di kota tersebut hingga lulus SMA.

Ayah bertemu dengan ibu karena sama-sama kuliah di universitas Toulouse, salah satu universitas tertua di Eropa. Universitas ini didirikan pada tahun 1229. Mereka saling jatuh cinta dan akhirnya menikah meski berbeda keyakinan. Ayah dan keluarga besarnya seperti juga sebagian besar orang Iran adalah pemeluk Islam.

Tapi ayah  kelihatannya tidak begitu peduli dengan agama yang dipeluknya itu. Setidaknya itulah yang terkesan oleh Azriel. Namun ia tahu persis bahwa ayahnya selalu membawa-bawa batu khusus kemanapun ia pergi. Ayahnya yang jarang di rumah karena kesibukan pekerjaannya bahkan sering mengolok-olok Islam.

“ Payah pemerintah Arab Saudi, jenggot aja di urus. Heran, kenapa orang-orang bodoh terbelakang itu masih mau saja dibohongi pergi haji ke Mekah. Haji itu ya di Karbala dimana sayidina Husein dimakamkan”, gerutu ayahnya ketika terjadi kecelakaan maut di Mina pada musim haji lalu.

“ Bukannya memang Islam itu agama terbelakang, batu koq disembah, persis seperti batu jimatmu itu  ”, sambar ibunya sinis.

“ Jaga mulutmu Giselle .. Haji itu akal-akalannya Arab Saudi yang ingin memeras uang orang-orang Islam yang tidak berpendidikan” , hardik ayah yang merasa tersinggung dengan komentar pedas ibu.

Azriel segera masuk kamar, menutup pintunya rapat-rapat. Ia tutup kedua telinganya dengan head phone bersuara musik keras sekencang-kencangnya. Ia hafal betul kalau sudah begitu pasti bakal panjang urusannya, dan ia tidak ingin mendengarnya.

Sementara itu hubungan ayah dengan keluarga besarnya juga sangat rapuh.

“ Kau nikahi perempuan Yahudi. Kau sekolahkan anakmu di sekolah Yahudi. Sekarang kau tinggalkan pula agama nenek moyang kita. Enyahlah kau anak durhaka dengan tanah Karbalamu itu. Syiah bukan Islam, pahami itu  !”, kalimat itu didengar Azriel diucapkan oleh kakeknya dengan gusar. Ketika itu ia dan ayahnya sedang berlibur dengan mengunjungi kakek dan neneknya di Pau.

Maka sejak itulah hubungan ayah dan keluarga besarnya terputus. Tidak pernah lagi Azriel maupun ayah ibunya berkunjung ke rumah kakek nenek yang dulu sangat memanjakannya itu. Rumah berhalaman luas dengan pemandangan deretan pegunungan Pirenea itu sekali-sekali masih suka terbayang di pelupuk mata Azriel. Namun apa mau dikata, bahkan adiknya, Gabriel, sama sekali tidak mengenal siapa kakek dan nenek dari ayahnya.

Kini, Azriel telah lupa bahwa ia punya keterikatan dengan Muslim. Pelajaran dan pergaulannya di sekolah serta ibu dan keluarga besarnya begitu besar mempengaruhi hidupnya.

***

Malam itu Azriel terlihat serius di depan komputernya. Ia harus menyelesaikan tugas sekolah yang harus dikumpulkan besok lusa. Sejak beberapa hari terakhir ini ia memang sibuk mengumpulkan data-data untuk tugas yang menjadi syarat wajib mengikuti ujian akhir SMAnya. Tugas itu berkaitan dengan peristiwa yang pernah dialaminya 3 tahun lalu yaitu penembakan di sekolahnya.

Beberapa kali Azriel yang telah tumbuh menjadi seorang pemuda berusia 17 tahun itu terlihat tegang.  Wajahnya mengernyit menunjukkan ekspresi seolah tidak percaya campur heran kaget.

“The Hoax of the 20th Century: The case against the presumed extermination of European Jewry”, begitulah judul tulisan di depan layar komputer yang terpampang di depan matanya.

Azriel segera mengunci pintu kamarnya, khawatir ibunya memergoki apa yang sedang dibacanya.

Menurut berita tersebut, pada tahun 1976 Arthur Butz, seorang profesor teknik dari Northwestern University, menyatakan bahwa gas Zyklon-B yang selama ini dipercaya sebagai zat pembunuh orang-orang Yahudi pada peristiwa Holocaust sebenarnya tidak pernah digunakan untuk membunuh satu orangpun Yahudi. Zat itu hanya digunakan untuk proses menghilangan bakteri yang ada pada pakaian.

Selanjutnya,  Azriel menemukan artikel yang ditulis oleh Paul Rassinier, korban Holocaust yang selamat. Pada tahun 1964, ia menerbitkan sebuah buku berjudul “The Drama of European Jews”. Isi buku ini mempertanyakan apa yang diyakini dari Holocaust selama ini. Dalam bukunya, ia mengklaim bahwa sebenarnya tak ada kebijakan pemusnahan massal oleh Nazi terhadap Yahudi, tak ada kamar gas, dan jumlah korban tidak sebesar itu (5,6 – 5,9 juta orang).

Tulisan lain yang memperkuat “kebohongan holocaust” adalah tulisan seorang Winston Churchill, PM Inggris yang memainkan peran penting terjadinya PD II. Dalam karya monumentalnya,”The Second World War”, ia tidak menyebut sedikitpun tentang program Nazi dalam pembantaian orang Yahudi. Meski tak bisa disangkal bahwa Nazi memperlakukan Yahudi dengan buruk, kejam, dan bengis.

Disamping itu Azriel juga menemukan berita mengenai Nicolas Anelka dan Dieudonné M’bala. Anelka adalah seorang pesepak bola Perancis. Sedangkan Dieudonné  adalah seorang komedian Perancis, sekaligus aktor dan aktivis politik. Keduanya ditangkap dan diamankan polisi karena dianggap telah melakukan prilaku Antisemit.

Anelka melalui gerakan hormat spontan pada salah satu pertandingan yang dilakukannya, namun mengaku tidak tahu apa maknanya. Sementara Dieudonné yang sudah beberapa kali dihukum karena sikap antisemit-nya, diamankan polisi gara-gara sikapnya yang dianggap memihak terorisme. Terorisme yang dimaksud adalah tragedi penembakan di kantor berita satir Charlie’s Hebdo di Paris pada Januari 2015 lalu.

***

“ Selamat jalan nak, jangan lupa kabari kami disini. Semoga sukses dan Yahweh selalu menyertaimu”, ucap ibu Azriel sambil memeluknya erat.

Siang itu ayah, ibu, Gabriel, kakek nenek dan beberapa teman dekat Azriel melepas keberangkatan Azriel ke Jerusalem di Israel. Ia diterima di Hebrew university of Jerusalem melalui program beasiswa yang diberikan sekolahnya. Pengumuman itu ditrimanya hanya beberapa hari setelah hari kelulusannya.

Sebenarnya kuliah baru akan dimulai awal September namun ia ingin memanfaatkan liburan panjangnya dengan mengenal lebih dahulu Jerusalem, sejarah maupun penduduknya. Kota ini selama beberapa waktu memang telah begitu menyita perhatiannya. Jerusalem kota suci dimana dulu pernah berdiri bait suci umat Yahudi dan kini direbut umat Islam. Dengan semangat inilah Azriel memasuki kota suci 3 agama terbesar di dunia tersebut.

Pesawat mendarat di bandara Ben Gurion yang terletak sekitar 40 km baratlaut Jerusalem pada pukul 17.15 waktu setempat. Jerusalem sebenarnya mempunyai bandara sendiri, namun ditutup sejak tahun 2000 karena alasan keamanan.

Dari bandara Azriel langsung menumpang kereta api cepat menuju pusat kota Jerusalem. Rencananya ia akan langsung ke hotel. Dari hotel setelah cek-in dan meletakkan koper, ia akan berjalan-jalan sekitar hotel dimana ia tinggal. Untuk itu ia sengaja memilih hotel di pusat kota. Besok agak siang ia baru akan mengunjungi kota tua Jerusalem timur dimana Tembok Ratapan berada.

Tanpa sadar Azriel berdecak kagum. Ia tidak pernah berpikir bahwa Jerusalem yang dikabarkan sering terjadi kericuhan itu ternyata kota yang maju dan modern. Gedung-gedung tinggi pencakar langit, stasiun kereta api dan jembatannya yang merupakan gerbang masuk kota terlihat indah dan megah. Jalan rayanya mulus, besar dan bersih. Demikian pula rumah penduduknya yang rata-rata di cat putih, terlihat rapi dan teratur.

Maka malam itu jadilah Azriel berbaur di sebuah kafe diantara turis-turis manca negara yang memenuhi kota tersebut. Suara musik hingar bingar terdengar sahut menyahut dari kafe dan pub di sekitarnya. Tidak terkesan sedikitpun bahwa Jerusalem adalah kota suci seperti yang ia pahami selama ini.

“ Kalau ingin menyaksikan kesucian kota ini pergilah ke kota tua anak muda”, begitu jawaban pelayan sambil meletakkan bir pesanannya.

***

Esok harinya, sekitar pukul 11 siang Azriel sudah bersiap meninggalkan hotel. Tujuannya adalah kota tua. Rencananya ia akan berdoa dulu di Tembok Ratapan, setelah itu baru berjalan-jalan melihat sekelilingnya. Kebetulan halte bus yang menuju tempat tujuannya tidak jauh dari hotel tempat ia bermalam.

Tak lama kemudian Azriel sudah berada di dalam bus yang dipenuhi turis. Rupanya keberuntungan sedang berada di pihak pemuda tersebut, karena ada guide yang sedang memandu sekelompok turis di dalam bus tersebut. Dengan demikian ia bisa ikut menguping penjelasannya.

“ Di depan sebelah kiri kita itu adalah universitas Hebrew of Jerusalem. Ini adalah universitas kedua tertua di Israel, dibangun pada tahun 1918. Albert Einstein dan Sigmund Freud adalah alumni universitas ini”, jelas sang guide sambil menunjuk ke sebuah bangunan megah di depan sana.

Azriel segera mengalihkan pandangannya ke gedung dimana ia akan menuntut ilmu nanti. Sebuah kompleks gedung dengan taman yang cukup luas terbentang di hadapannya.  Rasa senang dan bangga segera menyelimuti hati Azriel. Senyum simpul menghiasi wajah bertopi kecil khas Yahudi yang bertengger di kepala Azriel.

Bus berhenti sebentar di depan sebuah halte yang ada di seberang kampus. Tampak beberapa pasang muda mudi, tampaknya mahasiswa,  mengantri untuk menaiki bus. Azriel dan para penumpang bus yang sebagian besar turis tak mau melewatkan kesempatan tersebut. Mereka segera mengambil foto bangunan bergengsi tersebut.

“ Di sebelah kanan anda, di atas bukit, adalah kompleks Temple Mount. Orang Islam menyebutnya Haram Asy-Syarif. Bangunan berkubah kuning adalah apa yang disebut Dome of the Rock”,  terdengar suara guide mengingatkan.

Serentak para penumpang termasuk Azriel menoleh ke arah kanannya. Dome of the Rock yang fenomenal, dengan kubah kuning keemasannya terlihat mencolok.

“ Bait Solomon”, bisik Azriel dalam hati dengan mata berbinar.

Ingatannya segera melayang kepada cerita para guru dan rabbi di sekolahnya.

“ Dimanapun kita berada selalu saja ditindas. Dan ini terjadi sejak ribuan tahun lalu. Begitulah kehendak Yahweh, agar kita selalu ingat untuk terus berjuang. Jadi jangan merasa takut, Yahweh senantiasa melindungi kita, umat Yahudi. Kita adalah umat terbaik, termulia, tak ada yang dapat mengalahkan kita”, jelas rabbi menggebu-gebu.

“ Yahweh, Tuhan kita  telah menetapkan tanah Jerusalem yang diberkati, dimana Bait Solomon ke 1 dan 2 pernah berdiri dan dihancurkan, adalah milik kita. Untuk itu harus kita rebut kembali dari para perampasnya. Bait Solomon ke 3, bait terakhir itu harus segera didirikan berapapun banyak dan mahalnya yang harus kita korbankan”, tambahnya lagi.

Bus terus melaju perlahan, menyusuri bagian timur dan tenggara bukit dimana Temple Mount yang berdiri megah dikelilingi tembok raksasa mirip benteng itu berada. Membuat puas mata yang memandangnya. Beberapa menit kemudian buspun berhenti. Didepan sana terlihat antrian bus-bus besar turis diparkir.

“ Kita sudah sampai. Mari kita turun, jangan sampai tertinggal barang-barang anda. Jangan lupa ini bus umum”, teriak sang guide memperingatkan rombongan yang dipimpinnya.

“ Satu lagi, kita saat ini berada di pintu selatan, kalau sampai nanti ada yang tersesat kita berkumpul lagi di pintu ini”, tegasnya.

Azriel segera turun dari bus dan bergegas menuju pintu gerbang lalu mengantri dibelakang deretan antrian ratusan turis yang sudah tiba lebih dulu. Setelah melalui pemeriksaan ketat polisi Israel Azriel akhirnya sudah berada di pelataran raksasa kompleks Temple Mount.

Angin kencang segera menerpa wajahnya. Di depannya terbentang pelataran luas berlantai batu semacam kapur berwarna keputihan. Di sebelah kanannya terlihat sedikit menyembul kubah berwarna abu-abu. Berdasarkan buku panduan yang diambilnya di hotel, itu adalah Masjidil Aqsho. Sedangkan agak jauh ke depan terlihat jelas kubah  Dome of the Rock yang sudah terlihat sejak dari kejauhan.

Azriel dengan mantab melangkahkan kakinya menuju Tembok Ratapan yang terletak tidak jauh dari pintu gerbang yang dimasukinya tadi. Tembok Ratapan sebenarnya nama yang diberikan oleh orang non-Yahudi, karena disanalah orang Yahudi meratap sebagai bagian dari ibadah. Sekaligus untuk meratapi kehancuran kuil. Orang Yahudi sendiri menamakannya dengan bahasa Ibrani Kotel HaMaaravi atau Tembok Barat. Tembok ini mereka yakini sebagai sisa-sisa salah satu dinding Bait Solomon yang telah hancur ribuan tahun silam.

Azriel segera berdoa sebagaimana orang-orang yang ada di sekitarnya. Ia sempat melihat banyak diantara mereka yang meratap sambil membenturkan-benturkan kepalanya ke tembok di depannya. Ia juga sempat melihat orang-orang menyelipkan kertas kecil ke celah-celah tembok.

“ Orang yang tidak dapat berdoa langsung di tembok dapat mengirimkan doa atau menggunakan Kaddish, sebuah doa khusus. Kita tuliskan doa tersebut dalam sebuah kertas kemudian diselipkan di celah-celah dinding, Kvitelach namanya, oleh orang yang sempat ke sana”, tiba-tiba terngiang suara rabbinya di telinga Azriel ketika di kelas dulu.

Azriel segera teringat titipan doa ibu, nenek dan tantenya. Iapun segera melakukan hal yang sama. Ada sedikit rasa ragu terselip di hatinya “ apakah Tuhan membaca surat ?”, tapi ia tidak ingin memperpanjangnya.

Tak lama setelah itu Azriel pergi meninggalkan lokasi dan pergi menuju ke sebuah lorong. Menurut peta yang ada di tangannya itulah jalan menuju Dome of the Rock. Mulanya ia agak ragu, lorong tersebut agak sempit dan gelap. Terlihat pintu besi di depannya dan sebuah pos penjagaan polisi meski saat itu pintu terbuka dan tak terlihat adanya polisi di dalamnya.

Setelah ia berada didalam lorong ia baru menyadari bahwa daerah tersebut adalah daerah Muslim. Ia baru teringat kota tua Jerusalem memang terbagi-bagi berdasarkan kelompok agama. Ada sedikit rasa was-was. Para rabbi dan guru di sekolah juga ibunya selalu mengingatkan bahwa orang Muslim sangat membenci mereka. Apalagi di kota tua ini. Itu sebabnya ia selalu diwanti-wanti agar berhati-hati dan tidak menjalin komunikasi terhadap mereka.

“ Orang-orang Islam itu teroris. Mereka adalah perampas tanah dan kuil suci kita. Jangan pernah berbicara apalagi bersentuhan dengan mereka, mereka adalah najis”, ujar ibu memperingatkan sesaat sebelum keberangkatannya kemarin.

Secara spontan Azriel segera melepas topi kecil khas Yahudinya. Ia baru sadar tak satupun rombongan turis yang ada di sekelilingnya. Ia ingin berbalik tapi ternyata keingin-tahuannya mencapai Dome of the Rock lebih besar dari rasa khawatirnya.

Apalagi ia juga tidak melihat wajah-wajah jahat mengancamnya. Sebaliknya ia justru melihat banyak anak-anak kecil berwajah ceria berlarian, berbaur dengan laki-laki dewasa dan perempuan-perempuan berjilbab berbondong-bondong menuju arah yang sama dengan dirinya. Deretan kios sederhana yang berada di sepanjang jalan yang dilaluinya juga sibuk menutup kios mereka dan segera bergabung dengan yang lainnya. Azriel sempat berpikir jangan-jangan sedang ada acara khusus kaum Muslimin.

Azriel memang tidak tahu bahwa hari Jumat adalah hari istimewa bagi umat Islam, bahwa setiap hari besar tersebut kaum Muslimin mendirikan shalat berjamaah. Ia juga tidak tahu bahwa para pemandu memilih menghindar dari keramaian shalat Jumat. Atau bila sang pemandu kebetulan seorang Muslim biasanya ia minta digantikan dengan teman lain yang bukan beragama Islam.

Azriel terus berjalan berbaur bersama rombongan kaum Muslimin yang rupanya hendak shalat Jumat di Majidil Aqsho dan masjid As-Sakrah, nama lain Dome of the Rock, tanpa ia mengetahuinya. Hingga ketika rombongan besar ini mencapai pintu gerbang pelataran besar dimana kedua masjid itu berada terjadilah keributan.

Ia melihat puluhan tentara Israel berjaga-jaga di depan gerbang yang di beri barikade kawat berduri. Tentara-tentara bersenjata lengkap, berhelm dan tameng tersebut terlihat sedang memeriksa dan menggeledah tubuh dan tas yang dibawa orang-orang yang kelihatannya memaksa masuk tersebut.

Selanjutnya terjadilah adu mulut, diikuti dengan aksi dorong mendorong. Bahkan akhirnya adegan menjambak jilbab para perempuan dan juga pukulan gagang senapan terhadap para pemudapun tak terhindarkan. Ternyata hanya orang-orang tua dan anak kecil saja yang diizinkan masuk.

Kekacauan ini terjadi selama beberapa menit hingga kemudian terdengar suara dari pengeras suara di dalam masjid, yaitu azan panggilan shalat. Dan secara spontan sebagian besar orang-orang yang tadi memaksa masukpun langsung menggelar sajadah dan duduk di pelataran, tidak mempedulikan para tentara yang terlihat menahan amarah. Masih terlihat ada sebagian yang memaksa masuk namun tidak lagi sebanyak tadi. Hingga berselang sekitar setengah jam kemudian orang-orang mulai berdiri dan melakukan gerakan-gerakan khusus secara bersamaan, dengan tanpa suara sedikitpun.

Azriel yang sejak tadi berdiri di sebuah sudut yang agak terlindung, memperhatikan semua yang terjadi di depannya, terkesima. Lautan manusia terlihat memenuhi pelataran luas tersebut. Ia memang tidak pernah tahu apalagi melihat orang Islam bersembahyang. Karena meskipun ayahnya mengaku Islam ia tidak pernah sekalipun melihat ayahnya itu shalat.

Namun demikian ada sekelebat bayangan suasana mirip apa yang dilihatnya saat itu. Azriel berusaha keras mengingat dimana ia pernah melihat hal seperti itu. Akhirnya ia berhasil, bayangan itu adalah bayangan sepuluh tahun yang lalu, yaitu ketika ia diajak ayah menengok kakek dan neneknya di Pau. Di sebuah masjid kecil yang terletak tidak jauh dari rumah mereka. Tiba-tiba saja Azriel rindu kepada suasana yang tidak pernah lagi dirasakannya itu. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasa bahwa ia bukanlah seorang Yahudi tulen, paling tidak sebenarnya ia mempunyai ikatan batin dengan dunia Muslim, yaitu melalui darah ayahnya.

Lamunan Azriel segera buyar ketika tiba-tiba terdengar suara tembakan menggema di udara. Di ujung sana, terjadi kegaduhan. Shalat baru saja usai, orang-orang yang mulai membubarkan diri itupun terlihat panik. Azriel melihat puluhan tentara Israel sedang berusaha memasuki masjid secara paksa, membuat jamaah yang masih berada di dalam masjid berusaha menutup pintu masjid dari dalam. Selanjutnya dengan bekal batu seadanya jamaah yang berada di dalam masjid tadi mengadakan perlawanan terhadap tentara Israel tersebut. Tak ayal batu-batupun beterbangan melalui jendela-jendela masjid yang sebentar-sebentar dibuka dan ditutup.

Belum hilang keterkejutan Azriel terdengar pula tembakan senjata dari bagian lain pelataran tersebut. Ternyata suara tembakan berasal dari suatu tempat di dekat Masjid As-Sakrah. dimana kaum perempuan mendirikan shalat Jumat. Masjid As-Sakrah dan Masjidil Aqsho terletak pada satu garis lurus menuju Masjdil Haram di Mekah dimana Ka’bah yang merupakan kiblat umat Islam, berada.

Azriel segera menghambur ke sana, untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Disana ia melihat sesosok tubuh anak perempuan berusia sekitar 8  tahun terkapar, persis seperti apa yang terjadi pada adiknya 3 tahun lalu. Seorang ibu dengan air mata bercucuran, dibantu beberapa orang lainnya berusaha menggangkat tubuh gadis kecil tersebut.

Ironisnya semua itu berlangsung dibawah todongan moncong senjata beberapa tentara yang mengepung mereka. Orang-orang yang berusaha menerobos kepungan tersebut demi memberikan bantuan segera ditendangi dan dipukuli tentara-tentara tersebut.  Termasuk Azriel yang tidak tahan untuk berdiam diri dan hanya menonton saja. Kepala anak muda tersebut dipukul dengan gagang senapan hingga bocor. Dan dalam keadaan demikian ia masih harus menerima hantaman keras di perut dan tendangan sepatu tentara di bagian belakang tubuhnya, menyebabkannya terjatuh.

***.

Azriel terhenyak, ia mendapati dirinya terbaring di dalam sebuah ruangan sederhana berpenerangan sangat redup yang sama sekali tak dikenalnya. Ia berusaha bangkit untuk duduk namun kepalanya terasa berat hingga jatuh terbaring kembali.

Sayup-sayup terdengar suara indah keluar dari mulut seorang perempuan. Nada suara tersebut begitu mendayu menghujam langsung ke sanubarinya. Azriel tidak dapat mengenali bahasa dari suara tersebut. Ia berusaha menolehkan kepalanya untuk mengetahui dari mana suara tersebut berasal.

Di ujung ruangan itu samar-samar ia melihat dua bayangan orang, satu besar satu kecil, sedang berdiri berdampingan. Bayangan yang lebih kecil mengikuti bayangan orang yang lebih besar. Setelah berpikir sejenak Azriel teringat itu adalah gerakan shalat orang Islam seperti yang tadi siang dilihatnya.

Tiba-tiba ia teringat apa yang dialaminya siang tadi. Ya ia sedang berusaha membantu anak kecil yang tertembak ketika tiba-tiba kepalanya dihantam gagang senapan dan terjatuh. Tapi mengapa ia sekarang berada di tempat ini, pikirnya berusaha mengingat.

Beberapa menit kemudian ia melihat gadis kecil yang tadi shalat itu sudah berdiri di depannya, sambil tersenyum mengulurkan segelas air. Azriel menggelengkan kepalanya perlahan. Walau bagaimanapun kecurigaan masih menyelimuti hatinya. Bagaimana bila minuman itu diisi racun, bisiknya dalam hati.

Tak lama kemudian muncul 3 orang laki-laki kedalam ruangan tersebut.

“ Assalamualaykum”, serentak terdengar suara ketiganya begitu mereka memasuki ruangan.

“ Waalaykum salam”, jawab  si gadis kecil yang bergegas menyambut dan  mencium tangan salah satu orang yang datang. Azriel menduga ayahnya.

“ Waalaykum salam”, susul perempuan yang lebih besar yang tadi dilihat Azriel sedang shalat, juga sambil mencium tangan ayah gadis tadi, suaminya, duga Azriel kali ini. Selanjutnya Azriel juga melihat dua orang yang datang bersama sang bapak, mencium tangan ibunya. Anak-anaknya, tebak Azriel lagi, dalam hati.

Tak lama setelah terdengar percakapan dalam bahasa yang tidak dimengertinya, merekapun menghampiri Azriel yang kali ini berusaha untuk duduk. Rasa sakit di sekujur tubuhnya masih terasa mengganggunya.

“ Siapa kalian, dan mengapa aku berada di tempat ini?”, tanyanya pelan.

“ Tenang saja, kami bukan orang jahat. Kami menolong dan membawamu ke rumah kami karena kau tak sadarkan diri setelah terkena hantaman popor senapan tentara Israel siang tadi”, jawab salah seorang laki-laki tadi dengan bahasa Inggris yang cukup bagus.

“ Kami akan mengantarmu ke tempat yang kau mau sesegera mungkin …  tapi bila kau belum sanggup dan untuk sementara ingin tinggal di rumah kami yang sederhana ini, silahkan saja”, lanjutnya, menterjemahkan apa yang dikatakan ayahnya.

“ Maaf hanya aku yang bisa berbahasa Inggris di keluarga kami. Panggil aku Azis”, katanya sambil mengulurkan tangan penuh persahabatan.

“ Aku Azriel. Trima-kasih banyak sudah menyelamatkanku”, jawab Azriel, setelah ragu sejenak, sambil menyambut uluran tangan Azis.

Beberapa menit kemudian, Azriel yang memilih untuk pulang itu, sudah berada di kegelapan lorong-lorong Jerusalem bersama Azis, yang mengantarnya pulang ke hotel dimana ia tinggal. Dan tak lama kemudian keduanyapun berpisah di perempatan jalan setelah saling tukar nomor selular.

“ Hotelmu tak jauh dari lampu merah seberang jalan itu, belok ke kiri sekitar 50 m dari sana. Maaf aku tidak mengantarmu sampai tujuan, terlalu beresiko, beberapa menit lagi tentara Israel akan segera menutup gerbang menuju rumahku, bisa-bisa aku tidak bisa pulang kalau sampai terlambat”, ucap Azis.

“ Selain itu sebentar lagi waktu shalat Isya tiba”, sambungnya sambil  melirik jam tangannya. “ Kalau perlu sesuatu hubungi aku ”,  teriaknya setengah berlari.

Tak sampai 10 menit kemudian Azriel sudah sampai di hotel. Setelah membersihkan diri dan memesan makan malam, ia segera memeriksa isi tasnya untuk memastikan tidak ada barang yang hilang. Dan untuk kesekian kalinya ia harus mengakui bahwa selama ini ia, keluarganya dan mungkin sebagian orang Barat telah salah menilai orang Islam. Tak satupun barang di dalam tasnya hilang termasuk laptop dan hpnya.

Malam itu Azriel tidak dapat memejamkan matanya dengan baik. Terlalu banyak hal dan pengalaman baru di dapatnya hari itu.  Yang pasti perkenalannya dengan Azis hari itu telah membuahkan tali persahabatan yang erat di antara keduanya. Azis tidak pernah menanyakan apakah teman barunya itu seorang Yahudi atau bukan. Azriel sendiri juga tidak pernah berniat menceritakannya.

                                                                 ***

Hari demi hari berlalu minggu-minggupun demikian. Azriel telah memulai perkuliahannya dan mulai tinggal di asrama mahasiswa. Beberapa kali Azriel mengunjungi Azis, dan tak jarang memintanya berkeliling Jerusalem dan kota-kota sekitarnya. Kota-kota yang telah rusak berat akibat bom-bom yang berjatuhan menimpa rumah-rumah penduduk, sekolah, rumah sakit dan fasilitas umum lainnya.

Banyak kejadian tak terduga yang dilihatnya. Seperti seorang perempuan di stasiun yang ditembaki tentara Israel hanya gara-gara tidak mau membuka jilbabnya, orang-tua yang dipukuli beramai-ramai karena membela seorang anak yang tertangkap tentara Israel membawa batu, anak-anak yang ditangkap dan dimasukkan secara paksa ke dalam jip tentara Israel sementara orang-tuanya hanya bisa memandang, menyemangati dan mendoakan anak-anak tersebut agar sabar dan selalu memohon pertolongan Tuhannya.

Namun ironisnya, berita yang tersebar dan tampaknya dipercaya Barat, itu semua karena mereka membawa senjata seperti pisau, batu dan lain-lain untuk menyerang para tentara Israel. Padahal ia melihat sendiri tidak demikian. Memang perlawanan itu ada, dunia Islam menamakannya Intifadha 3, yaitu gerakan kebangkitan rakyat Palestina dengan batu sebagai senjatanya.

“ Kami hanya rakyat biasa yang menuntut keadilan, pembebasan negeri kami dari pendudukan Zionis Israel. Kau lihat sendiri betapa susahnya hidup kami. Air, listrik semua dijatah. Tanah kami diserobot. Dengan seenaknya mereka membangun perumahan mewah sementara kami makin terpinggirkan hidup di tempat pengungsian. Dimana letak keadilan. Katanya bendera  Palestina telah berkibar di PBB, namun apa arti semua ini bagi kami, tetap saja kami hidup tertindas dan menderita. Siapa yang peduli terhadap nasib kami??”, keluh Azis.

“ Bandingkan dengan tragedi berdarah yang baru saja terjadi di Paris yang dalam hitungan jam dunia langsung bereaksi. Kami mengalami hal seperti itu setiap hari, kau melihat sendiri kan? Kami sejak lahir sudah terbiasa hidup dalam ketakutan, bom yang tiba-tiba meledak ketika kami sedang tidur nyenyak, kekhawatiran tiba-tiba pintu rumah digedor dan anggota keluarga kami diambil secara paksa”, lanjutnya geram.

“ Menurutmu bagaimana seharusnya kami bersikap, diam saja dan pasrah hingga kami semua binasa satu demi satu hingga lenyap bangsa kami dari bumi ini ???”, desisnya.

Azriel hanya bisa diam tidak tahu harus berkata apa. Ia sendiri sudah mulai merasa muak dengan tingkah laku para tentara Israel, terselip rasa bersalah dan malu. Bahkan tanpa sadar sedikit demi sedikit ia mulai malas pergi berdoa ke Tembok Ratapan seperti sebelumnya.

Hingga suatu hari ketika Asis berhasil mengajak Azriel masuk ke Dome of the Rock, hal yang tidak mudah terjadi, Azis tiba-tiba menyodorkannya sebuah kitab. Kitab kecil itu dihiasi kaligrafi indah di sampulnya.

“ Barangkali kau ingin melihat-lihat. Itu adalah Al-Quran dengan terjemah bahasa Perancis. Aku baru melihatnya hari ini. Mungkin itu tamu Muslim yang membawakannya khusus untukmu”, kata Azis sambil tertawa kecil dan mengedipkan sebelah matanya.

Secara spontan, Azriel segera menerima dan membukanya dengan hati-hati, secara acak :

“ Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu)”.

Azriel terhenyak, serasa ditampar tepat di wajahnya. Apa ini maksudnya, pikirnya terkejut. Ia sebenarnya ingin segera menutup dan mengembalikannya kembali kepada Azis. Namun ia merasa ada kekuatan yang memaksanya terus melanjutkan 3 hingga 4 ayat berikutnya. Setelah itu dengan cepat ia mengembalikan kitab suci tersebut kepada Azis, tanpa sepatah katapun.

“ Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari`at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan: “Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Kalimat-kalimat itu terus terngiang hingga sore hari ketika ia tiba di kamar asramanya. Azriel segera membuka laptopnya. Berbagai pertanyaan memenuhi isi kepalanya.

“Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu”. Terbayang di kepalanya berbagai prilaku brutal tentara Israel selama beberapa bulan ia di kota ini. Padahal selama ini berita yang beredar adalah orang-orang Yahudilah yang tertindas bukan sebaliknya. Tiba-tiba ia teringat berita mengenai kebohongan Holocaust yang pernah dibacanya. Terbayang pula peristiwa Reconquesta yang menyebabkan nenek moyangnya keluar dari Spanyol menuju ke Perancis.

“ Apa kesalahan bangsa Yahudi? Mungkinkah semua ini kutukan Tuhan kepada Yahudi?” pikirnya.

Itulah awal pencarian Azriel. Di tengah kesibukannya kuliah, dengan bantuan laptopnya, ia sempatkan mempelajari Alquran dengan terjemahan bahasa Perancis. Bila menemui kesulitan ia tak segan-segan googling di dunia maya untuk mencari jawabannya. Ia buka pula kitab sucinya, untuk dijadikan bahan perbandingan.

“Orang-orang non-Yahudi harus dijauhi, bahkan lebih daripada babi yang sakit.” (Orach Chaiim 57, 6a)

“Tuhan (Yahweh) tidak pernah marah kepada orang-orang Yahudi, melainkan hanya (marah) kepada orang-orang non-Yahudi.” (Talmud IV/8/4a).

“ Hemm pantas saja para tentara Yahudi suka berbuat semena-mena terhadap rakyat Palestina”, pikir Azriel yang mulai dilanda kegundahan hebat. Ia juga baru tahu bahwa sejak dulupun bangsanya itu sering membantah perintah Tuhannya, bahkan nabi-nabipun dibunuh!

Hingga suatu hari di musim panas 1.5 tahun sejak kedatangannya, ia mendengar professor Moshe Sharon, seorang professor sejarah Universitas Hebrew, Yerusalem, berkata :

“ Pada dasarnya semua sejarah adalah sejarah Islam. Artinya, semua tokoh-tokoh terkemuka dalam sejarah pada dasarnya adalah Muslim. Dari Adam hingga ke zaman kita, termasuk juga raja Solomon, raja David serta para nabi seperti Ibrahim, Ishak maupun Yesus.

Sebenarnya, sejak penciptaan dunia ini, hanya ada satu agama, yaitu agama Islam. Jadi jika ada yang berkata tempat ini berkaitan dengan Solomon, ini adalah tempat di mana dulu Kuil Solomon berdiri, seorang Muslim akan berkata, “Ya, tentu saja, memang benar.”

Oleh karenanya, tidak ada penjajahan Islam yang ada hanyalah pembebasan oleh Islam”.

Azriel benar-benar terkesima mendengar pernyataan professor tersebut. Baginya ini benar-benar hal baru. Malam itu iapun segera menghubungi Azis agar hari Sabtu nanti bisa menemuinya di depan pintu gerbang menuju Dome of the Rock. Ia ingin tahu bagaimana tanggapan sahabat Muslimnya itu.

                                                                           ***

“ Betul sekali apa yang dikatakan profesormu itu Azriel. Itu adalah perkataan Alquran”, “, jawab Azis mantab ketika Azriel pagi itu memperdengarkan rekaman pernyataan professor Moshe Sharon.

“ Yuk kita lihat ayatnya “, lanjut Azis sambil berjalan menuju rak dimana sejumlah buku dan  Al-Quran diletakkan. Ia segera mengambil Al-Quran dengan terjemahan Perancis yang beberapa bulan lalu pernah diperlihatkan dan dibacanya.

“ Bacalah terjemahan ini Azriel, ini adalah ayat 136 surat Al-Baqarah,

“ Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya`qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

“ Tunduk patuh itu dalam bahasa Arab adalah Muslim, akar kata yang sama dengan Islam. Dengan kata lain Muslim atau pemeluk agama Islam itu adalah orang yang tunduk patuh kepada Tuhannya, Tuhan Yang Satu, Tuhan seluruh alam semesta, Tuhan kita semua, aku dan kamu, Tuhan yang menamakan dirinya Allah Azza wa Jala”, jelas Azis.

“ Aku bacakan juga ya sebuah hadist:

“Aku ( Muhammad) adalah orang yang paling dekat dan paling mencintai Isa bin Maryam ( Yesus) di dunia maupun di akhirat. Para nabi itu adalah saudara seayah walau ibu mereka berlainan, dan agama mereka adalah satu.” (HR. Bukhari no. 3443 dan Muslim no. 2365)

“ Masalahnya Taurat maupun Injil itu telah dirubah dan diacak-acak sedemikian rupa hingga tidak  lagi seperti aslinya. Apalagi Talmut, kitab yang menjadi pegangan para pemimpin agamamu”, tambah Azis lagi.

Azriel menganguk-angguk. Ia sedang berpikir keras apa kira-kira yang akan dilakukan ibu dan keluarga besarnya bila ia sampai berpindah kepercayaan. Namun ia juga dapat membayangkan bagaimana perasaan kakek dan neneknya di Pau sana bila suatu hari nanti ia dapat datang menebus kesalahan ayahnya. Rumah besar dengan halaman belakang pegunungan itupun kembali berkelebat di kepalanya. Celotehan kakek dan nenek serta suasana damai itu terasa begitu menjanjikan. Sejenak kemudian dengan nada mantab Azrielpun berkata :

“ Bagaimana caranya bila aku ingin memeluk Islam .. aku sudah merasakan beberapa bulan terakhir ini bahwa Islam adalah agama yang paling benar dan aku ingin menjadi bagian dari kebenaran tersebut”.

“ Allahuakbar “, seru Azis sambil memeluk Azriel erat. Ia segera  menariknya mendekati imam masjid yang kebetulan sedang berada didalam masjid berkubah kuning keemasan itu.

***

Advertisements

Read Full Post »

  “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan”.(QS.Al-An’am(6):112-113). 

Allah SWT telah mengabulkan permintaan Iblis agar hukuman yang diberikan sebagai akibat atas pembangkangannya terhadap perintah-Nya untuk tunduk dan bersujud kepada Adam AS itu ditunda hingga hari akhir. Dan Allah SWT juga telah mengizinkan Iblis untuk mencari teman dalam menjalani hukumannya di neraka jahanam kelak yaitu dengan terus menerus mengganggu seluruh keturunan Adam dari atas, bawah, kiri dan kanannya.

 “Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at)”.(QS.Al-A’raaf(7):16-17). 

Berbagai cara dilakukannya, namun pada pokoknya bertujuan untuk mengalihkan dan memalingkan agar manusia menyembah dari yang selain Allah SWT, itulah dosa syirik, suatu dosa besar yang sama sekali tidak terampunkan. Diantaranya yaitu dengan menuhankan hawa nafsu, patung-patung dan berhala, jin dan malaikat, para nabi, para orang alim dan thoghut. 

Iblis yang kemudian beranak-pinak tersebut kemudian memerintahkan anak keturunannya agar membantu melaksanakan cita-cita besarnya yaitu menjerumuskan manusia ke dalam api neraka. Pasukan Iblis ini terdiri dari bangsa jin itu sendiri dan juga bangsa manusia yang mau bersekongkol dengan dirinya. Pasukan inilah yang disebut syaitan. Syaitan mengganggu manusia dengan cara membisik-bisikkan perkataan yang indah-indah tentang kehidupan dunia sehingga manusia pada akhirnya lupa akan kehidupan akhirat. Bisikkan ini masuk melalui pintu hati manusia. Jadi pintu-pintu inilah yang terutama harus dijaga ketat. Al-Ghazali membagi pintu-pintu besar yang sering kali lolos dari pengawasan ini atas 11 kategori, diantaranya yaitu pintu amarah dan syahwat; iri dan dengki; kekenyangan dalam makanan; suka berhias baik dengan perabotan, pakaian maupun rumah; tamak; buruk sangka; terburu-buru; gila harta dan kekuasaan serta takut miskin. 

“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma`siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,”(QS.Al-Hijr(15):39). 

1. Pembunuhan pertama di muka bumi.  

Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.(QS.Al-Maidah(5):27). 

Nabi Adam as dikaruniai 6 pasang anak kembar. Mereka inilah cikal bakal nenek moyang manusia. Syariat Allah waktu itu mengharuskan seorang anak harus mengawini saudaranya lawan jenis namun tidak boleh kembarannya. Qabil dan Habil adalah dua anak pertama Adam as. Namun Qabil menginginkan kembarannya sendiri sebagai istrinya yang secara hukum adalah menjadi hak saudaranya, yaitu Habil. 

Sebagai anak yang shaleh, Habil menolak kemauan kakaknya tersebut. Kemudian ia mengusulkan agar mereka berdua menyelenggarakan upacara kurban, siapa yang kurbannya diterima Allah SWT berarti dialah yang berhak melaksanakan keinginannya.Ternyata domba kurban Habil yang diterima Allah SWT karena domba yang dikurbankan Habil adalah domba yang selain gemuk dan sehat juga bagus sedangkan Qabil memilih domba yang sangat jelek untuk dikurbankan. Karena hikmah dari berkurban sesungguhnya adalah ke-ikhlas-an seseorang dalam memenuhi perintah Allah SWT. Ini yang dinilai oleh-Nya. Tentu saja Dia mengetahui apa berada yang dibalik hati manusia. 

Namun karena bujukan syaitan jua, Qabil tidak mau menepati perjanjian. Sebaliknya ia malah membunuh saudaranya itu. Inilah peristiwa pembunuhan pertama yang terjadi di muka bumi. 

 “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal”. (QS.Al-Maidah(5):31). 

2. Pengkultusan dan penyembahan dewa-dewa. 

Pada umumnya setiap manusia membutuhkan sesuatu yang dapat dijadikannya idola, panutan, pujaan dan akhirnya sembahan. Sesuatu yang dapat memberinya rasa aman, senang dan nyaman. Sesuatu yang dirasa dapat memberinya pertolongan terutama ketika ia dalam kesulitan. Ini adalah fitrah manusia. 

”Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo`a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo`a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan”.(QS. Yunus(10):12). 

Namun sayang, tanpa bimbingan ilmu yang benar, seseorang akan mudah tersesat. Penyembahan yang semula dilakukan dengan harapan dapat memberinya rasa aman sebaliknya malah menyusahkannya. Pada puncaknya penyembahan dilakukan hanya sebagai kebiasaan dan tradisi yang diwarisi secara turun-temurun dari nenek-moyang mereka tanpa adanya usaha untuk mempertanyakan apakah yang disembahnya tersebut dapat memberinya manfaat. Ini adalah sebuah kebodohan yang nyata.

 ”Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kamu sembah?”. Mereka menjawab: “Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya”.Berkata Ibrahim: “Apakah berhala-berhala itu mendengar (do`a) mu sewaktu kamu berdo`a (kepadanya)? atau (dapatkah) mereka memberi manfa`at kepadamu atau memberi mudharat?”. Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian ”.(QS.Asysyu’ara (26):69-74). 

Ironisnya, hampir di setiap bagian belahan bumi ini orang mengenal dewa-dewi mereka masing-masing. Dewa-dewi ini biasanya melambangkan kekuatan alam yang dikaguminya, seperti matahari, angin, air dan sebagainya. Orang-orang Yunani kuno sejak lama telah mengenal dewa-dewi seperti Zeus, Hera dan lain-lain, masyarakat Romawi kuno mengenal dewa Yupiter sedangkan di Persia orang mengenal dewa Mithra, di Syria mereka menamakannya Tammuz, Mesir memanggilnya Osiris dan orang-orang Arab mengenal Hubal, Latta dan ‘Uzza sebagai sesembahan mereka. Bahkan di tanah Jawa dan Balipun hingga detik ini masih terdapat sekelompok masyarakat yang masih mempercayai Dewi Sri sebagai dewi padi, lambang kemakmuran. Dewa-dewi ini mereka puja dan sembah dengan harapan dapat memberikan kebaikan dan menolak keburukan dalam kehidupan mereka. 

Namun disamping itu, ada pula para pemimpin dan raja yang menganggap dirinya adalah Tuhan, baik secara terang-terangan seperti para Fir’aun di Mesir maupun secara tidak langsung seperti para kaisar Romawi dan juga raja Kisra’ dari Persi. Mereka memaksa rakyatnya agar menyembah dan memujanya. Bila ada rakyat yang menolak dapat dipastikan mereka akan dijatuhi hukuman. Padahal ini hanya sebuah tipuan agar para pemimpin dan para raja dapat terus mempertahankan kekuasaan. Syaitanlah sesungguhnya yang telah membisikkan kedalam hati manusia agar mereka melakukan itu semua. 

Bahkan ketika suatu masyarakat telah didatangi utusan Allah dan dengan izin-Nya utusan tersebut berhasil mengajak mereka untuk menyembah kepada Tuhan yang sesungguhnya, Tuhan yang telah menciptakannya yaitu Allah SWT. Dengan berlalunya waktu seringkali merekapun kembali memuja, mengkultuskan dan bahkan menyembah yang selain Allah SWT. Yang disembahnya itu bisa jadi berhala, Nabi dan Rasul, malaikat bahkan para pemimpin mereka, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal seperti ini kerap sekali terjadi. Diantaranya adalah apa yang dilakukan  bangsa Yahudi.  

Bangsa ini berabad-abad yang lalu  pernah diselamatkan Allah swt dari perbudakan dan penganiayaan Firaun melalui Musa as.  Alih-alih bersyukur dan membela serta mengikuti ajaran yang dibawa rasul-Nya, mereka malah menjadi sombong dan congkak. Mereka merasa dirinya bangsa pilihan hingga meyakini bahwa  Allah tidak akan menghukum ketika mereka berbuat kesalahan. Mereka bahkan membunuh dan mencoba membunuh sejumlah nabi dan rasul termasuk Rasulullah Muhammad saw. Selain menyembah patung-patung, seperti orang Nasrani mereka juga menganggap bahwa Tuhan mempunyai anak! 

 ”Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At-Taubah (9):30). 

Sedangkan yang terjadi pada kaum Nasrani 1.5 abad yang silam adalah sebagai berikut : Jauh sebelum Isa as lahir, orang-orang Romawi telah terbiasa menyembah Dewa Matahari. Sejak lama mereka meyakini bahwa dewa ingin menyelamatkan dan mengampuni dosa-dosa manusia dengan cara berinkarnasi menjadi manusia. Manusia anak dewa ini dipercaya akan lahir pada hari Minggu (Sunday ; Sun = matahari dan day = hari) tanggal 25 Desember sebagai hari dan tanggal yang memiliki arti khusus bagi mereka. Disamping itu diantara para penyembah matahari ini hidup pula para penganut agama Yahudi. Dalam keadaan seperti inilah Isa as datang untuk mendakwahkan ajaran Tauhidnya. Ketika Isa as wafat dan kemudian diangkat kesisi-Nya, pengikutnya memang hanya sedikit. 

”dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, `Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) `Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat `Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(QS.An-Nisa’(4):157-158). 

Namun pada sekitar tahun 325 M keadaan telah berubah. Pengikut Isa as makin lama makin banyak. Mereka mengikuti ajaran dengan benar, yaitu ajaran Monotheisme dan menempatkan Isa pada posisi yang sebenarnya, yaitu Rasul Allah. Mereka ini hidup bersebrangan dengan rakyat dan juga para penguasa yang mayoritas adalah penyembah matahari, yang notebene adalah ajaran Paganisme dan Polytheisme. Namun karena sering mendengar kehebatan mukjizat yang dimiliki Rasul Allah ini, merekapun segera menganggap bahwa Isa adalah anak dewa matahari yang selama ini mereka nanti-nantikan. 

Melihat suasana yang demikian para penguasa Romawi selain merasa khawatir akan terjadinya kekacauan juga merasa ketakutan dan khawatir bakal kehilangan pamor dan kekuasaan. Maka pihak kekaisaranpun cepat mengambil tindakan. Romawi yang waktu itu dibawah kekuasaan Konstantin I segera membentuk semacam dewan dan menghasilkan sebuah deklarasi yang dikenal dengan nama ’deklarasi Nicene’ (’Nicene Creed’). Deklarasi ini intinya menetapkan bahwa Isa AS bukanlah utusan Tuhan namun anak Tuhan sebagai ganti anak dewa matahari yang ditunggu-tunggu sebagian masyarakat Romawi. 

Mereka juga menetapkan bahwa anak Tuhan ini lahir sesuai dengan kehendak dewa mereka yaitu Minggu, 25 Desember. Mereka jugalah yang kemudian memprakarsai penggambaran Isa as dengan ganbar sinar matahari yang mengitari kepala Isa / Yesus sebagai lambang anak dewa mereka, Tuhan mereka yang sebenarnya. Dengan cara ini kekaisaran dapat terus dipertahankan. Dan siapapun yang menentang hasil deklarasi harus dibunuh, dijauhkan dan dibuang ke negri lain. Dibawah perintah raja Konstantin ini pulalah daging babi dihalalkan, tempat ibadah dengan bentuk gereja seperti sekarang ini didirikan,  tata cara shalat dirubah hingga seperti yang bisa disaksikan sekarang ini. 

”Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”.(QS.At-Taubah(9):31). 

Al-Quran menerangkan bahwa orang-orang yang menjadikan pemimpin-pemimpin mereka bagaikan tuhannya sebagai pengikut Thagut. Thagut adalah segala sesuatu yang dijadikan pemimpin, pelindung, penolong dan sembahan. Thagut tidak selalu dalam bentuk manusia namun bisa juga materi seperti uang, pekerjaan dan lain-lain. Segala sesuatu yang dapat memalingkan seseorang dari menyembah dan berhukum hanya kepada Allah SWT. 

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”.(QS.An-Nisa’(4):60). 

3. Perang Pemikiran ( Al-Ghazwl Fikri ).

Khilafah Islamiyah adalah kerajaan Islam yang menaungi negara-negara Islam di dunia, yang membentang dari Andalusia di Spanyol, sepanjang Afrika Utara, seluruh semenanjung Arab, Asia Kecil, Asia Tengah, Eropa Timur dan Yunani hingga perbatasan timur negri China juga termasuk didalamnya daerah-daerah yang dahulunya dikuasai pihak kafir, yaitu kekuatan Barat (Nasrani) di Turki dan kekuatan Timur (Majusi) di Persia.( lihat bab ‘Khilafah Islamiyah’). Kejayaaan ini berlangsung secara bertahap mulai abad ke 7 hingga awal abad ke 20. Kejayaan tersebut juga kemudian hancur secara bertahap hingga akhirnya lenyap sama sekali pada tahun 1923 ketika berada dibawah kekuasaan khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Konstatinopel atau yang sekarang dinamakan Istambul, Turki. 

Namun tidak berarti selama masa kejayaan yang amat panjang tersebut sama sekali tidak terjadi gangguan yang serius. Adalah Paus Urban, seorang pemimpin  yang berkedudukan di Perancis Selatan. Ialah yang menyeru umat  di seluruh dunia  agar merebut Yerusalem dari tangan pasukan Muslim. Hal ini terjadi sekitar 350 tahun setelah pasukan Muslim tanpa kekerasan berhasil menguasai kota suci tersebut. Bahkan dikabarkan pemuka  Yerusalem yang berkuasa ketika itu menyerahkan kunci kota secara khusus langsung kepada   Umar bin Khatab RA. Didampingi pemuka  tersebut, sang khalifah  memasuki gerbang kota dengan penuh kedamaian. 

Akan tetapi apa yang terjadi pada tahun 1099 adalah kebalikannya. Pasukan  bentukan Paus Urban yang kemudian dikenal dengan nama Pasukan Salib  memang  berhasil menguasai Yerusalem. Namun  setelah berperang selama 3 hari 3 malam dengan membantai lebih dari 30.000 penduduk kota, termasuk perempuan dan anak-anak Muslim yang berlindung di dalam masjid Al-Aqsa. Mereka juga membunuhi kaum Yahudi dan  yang bermukim disekitar kota tua tersebut dan juga kaum Yahudi yang hidup di perkampungan sepanjang perjalanan mereka dari Perancis ke Yerusalem secara brutal dan kejam. 

Delapan puluh delapan tahun kemudian yaitu pada tahun 1187, dibawah kekuasaan Sultan Salahuddin, pasukan Muslim kembali berhasil menguasai Yerusalem. Dan sebagaimana pendudukan Yerusalem oleh pasukan Muslim pada kali pertama, kali inipun tidak terjadi pembantaian. Bahkan para penguasa yang ditaklukkan tersebut selain diampuni juga diberi keleluasaan untuk meninggalkan kota dengan membawa seluruh harta bendanya. Peristiwa bersejarah ini pada tahun 2005 pernah diabadikan dengan sangat baik dalam film “The Kingdom of a Heaven” yang disutradarai oleh Sir Ridley Scott dan dibintangi aktor kenamaan Orlando Bloom. Peperangan yang kemudian dikenal dengan nama “Perang Salib” ini terus terjadi hingga beberapa kali selama hampir 200 tahun namun pihak Salib tidak pernah berhasil menguasai kembali Yerusalem. 

Sesungguhnya perseteruan antara Islam dan para ahli kitab telah terjadi sejak masa awal kerasulan di Madinah. Orang-orang Yahudi dan  yang ketika itu memang banyak bermukim di kota tersebut amat kecewa ketika mengetahui bahwa nabi yang dijanjikan dalam kitab mereka, Taurat (dan juga Injil) ternyata bukan datang dari kaum mereka, melainkan datang dari bangsa Arab, bangsa yang selama ini mereka remehkan. Inilah bibit awal kebencian dan kedengkian sebagian ahli kitab. 

 Namun mereka akhirnya menyadari bahwa pasukan Muslim tidak akan pernah dapat ditaklukan secara perang terbuka. Perang di jalan Allah untuk mempertahankan kebenaran bagi umat Islam adalah jihad, imbalan bagi mereka adalah surga, kemenangan yang hakiki adalah di akhirat. Oleh sebab itu mereka tidak mengenal kata takut mati. Sebaliknya pihak Nasrani (bergabung dengan orang-orang Yahudi) mereka mendambakan kemenangan dunia. Kematian adalah kekalahan dan amat menakutkan. Jadi mereka mengambil kesimpulan bahwa untuk mengalahkan umat Islam harus dicari jalan lain, bukan dengan perang senjata secara terbuka. Tipu daya apakah yang sebenarnya mereka rencanakan itu? 

 “Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(QS.Al-Baqarah(2):109). 

Dan mereka memang ternyata berhasil. Sayangnya, umat Islam tidak menyadarinya. Apa yang sebenarnya mereka lakukan? 

Yerusalem dibawah kekuasaan khilafah Islamiyah sejak abad 7 memang tidak pernah tertutup bagi umat agama lain. Mereka bebas mengunjungi kota suci bagi 3 agama besar didunia ini. Namun ia tidak hanya menarik karena sejarah ritualnya namun juga karena kota ini pada waktu itu telah berkembang menjadi kota intelektual. Ilmu berkembang pesat disini. Orang-orang Nasranidatang tidak hanya sekedar untuk melakukan ibadah dan kunjungan keagamaan melainkan juga untuk mempelajari ilmu lain seperti ilmu hukum termasuk juga belajar tentang Islam dan Al-Quran. 

Namun sebenarnya tujuan mereka adalah untuk mencari celah dan kemudian menyerang Islam secara diam-diam. Mereka kemudian melemparkan fitnah yang keji baik terhadap nabi Muhammad SAW maupun terhadap ajaran itu sendiri. Mereka menuduh bahwa Islam adalah agama pedang, Islam disebarkan dengan cara paksa dan kekerasan. Hal tersebut disengaja untuk menyakiti dan memancing emosi umat Islam. Dari sini mereka mencoba menaklukkan Islam sebagai ganti kekalahan mereka pada perang-perang yang terjadi sebelumnya. Mereka mencoba mengusik rasa kesatuan, keimanan dan kebanggaan umat Islam terhadap agamanya dengan berbagai cara. 

Belakangan ini, tersebar berita bahwa Ratu Inggris berkenan untuk menganugerahkan gelar kehormatan “Sir” kepada pengarang buku “Ayat-ayat Setan “atau yang di Barat dikenal “The Satanic Verses”, Salman Rushdi. Padahal buku karangannya tersebut jelas-jelas melecehkan ajaran Islam dan telah melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia sehingga bekas pimpinan tertinggi Iran, Ayatullah Khomeini memberikan fatwa hukuman mati bagi pengarang tersebut. Lalu apa sesungguhnya kepentingan dan keinginan pemerintah Inggris dengan adanya pemberian penghargaan tersebut ?? 

Mereka juga menyerang dengan terobosan-terobosan baru dalam bidang kebudayaan dan peradaban, yaitu dengan melontarkan berbagai pemikiran seperti feminisme , demokrasi, sekulerisasi (pemisahan agama dari Negara), sukuisme, nasionalisme dll.  Beberapa diantara pemikiran tersebut sebenarnya masih bisa diterima. Namun karena tidak dibangun diatas dasar pemikiran bahwa kebenaran hukum Allah adalah di atas segalanya maka pemikiran-pemikiran tersebut menjadi menyimpang dari akidah Islam. Inilah sebenarnya yang mereka tuju. Pemikiran yang dikemas dengan baik namun dengan dasar menyesatkan, yaitu menjauhkan umat dari Al-Qur’anul Karim.   

Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka ………Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka) .(QS.Al-Fushilat(41):25-26). 

Dengan alasan itu pula pemerintah Perancis belakangan ini mengeluarkan larangan resmi pemakaian jilbab bagi perempuan yang bekerja di instansi pemerintah, termasuk pula murid sekolah negri. Juga di Denmark, salah satu negara Skandinavia ini dikenal sering sekali memancing emosi kaum Muslim dengan berbagai karikatur Rasulullah. Bahkan saat ini salah satu partai di negara tersebut, dengan dalih kebebasan berpendapat, mereka menggunakan gambar Rasulullah sebagai lambang partai mereka! Padahal mereka tahu bahwa hal tersebut sangat menyakitkan hati umat Islam karena Islam memang melarang penggambaran/ilustrasi Rasulullah dalam bentuk apapun. Berbagai hal diatas sengaja dilakukan dengan maksud dan harapan agar rasa persatuan Islam menghilang. Ini yang kelak disebut Perang Pemikiran atau Al-Ghazw Al-Fikri. 

Saat ini dapat kita amati dengan jelas hampir semua negara-negara Islam di dunia memiliki wajah baru yang tidak sedikitpun menyisakan ke-Islam-annya. Budaya Barat telah jauh merasuk kedalam kehidupan masyarakat. “Barangsiapa yang menyerupai (kebiasaan jelek) suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka”. (HR Ibnu Daud). 

Dengan dalih demi kemajuan, kebebasan dan modernisasi penyerbuan peradaban ini masuk secara sistematis, perlahan namun pasti sehingga umat pada umumnya tidak menyadarinya. Hal ini menyusup melalui media cetak dan elektronik, slogan-slogan pendidikan dan hiburan yang jauh dari ajaran Islam. Umat terus dicekoki dengan pemikiran, nilai dan norma Barat yang cenderung bebas dan materialistis sebagaimana halnya dengan ekonomi kapitalis yang samasekali tidak Islami hingga akhirnya umat melupakan seluruh nilai-nilai dan sendi-sendi Islam. 

“…….. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”(QS.Al-Baqarah(2):120). 

Hal ini pula yang sebenarnya mempercepat kejatuhan kekhilafahan Ustmaniyah pada masa lalu selain tentunya berbagai penyebab seperti ketidak-adilan, perpecahan antar umat, tidak majunya ilmu pengetahuan dan juga kebobrokan iman sebagian pemimpinnya. Mereka telah menukar keimanan dengan keduniawian. 

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”(QS.Al-Maidah(5):50). 

Dan seakan belum puas dengan semua ini, saat ini kaum kafir tengah  menambah gempurannya dengan serangan psikologi mutakhirnya yaitu dengan melempar isu Terorisme dan Extrimisme seperti tercermin dengan adanya peristiwa biadab  11 September 2001. Umat dipojokkan seakan ajaran Islam  identik dengan kekerasan. Jihad mereka artikan identik dengan kekerasan dan harus dienyahkan. Mereka terus mencekoki umat bahwa jihad sama dengan tidak menghargai nyawa manusia yang juga berarti melanggar hak asasi manusia sebagai simbol peradaban modern. 

Padahal ini adalah fitnah besar. Sesungguhnya tidak saja sebagian besar muslimin yang meyakini bahwa peristiwa tersebut adalah sebuah rekayasa, namun juga sejumlah pakar sains. Salah satunya adalah Professor Thomas W Eager, seorang guru besar Material Engineering and Engineering System pada sebuah institut terkenal di Amerika Serikat. Berdasarkan pengalamannya sebagai peneliti struktur bangunan baja, ia berpendapat bahwa mustahil sebuah bangunan sekokoh menara WTC dapat ambruk hanya dikarenakan ditabrak 2 pesawat komersial. Bahkan sebenarnya  dari cara Pemerintahan Bush membersihkan lokasi reruntuhanpun terkesan begitu terburu-buru sehingga menimbulkan kecurigaan seolah-olah ia ingin segera menghilangkan bukti-bukti penting. 

Cara tersebut ternyata terbukti ampuh. Karena risih dan sungkan akhirnya sebagian besar pemimpin Islam pun mengumumkan bahwa karena Islam adalah agama perdamaian maka sedikit demi sedikit istilah jihadpun dihapuskan dan dipinggirkan. Kaum Musliminpun akhirnya menjadi lupa akan sumpah setia mereka kepada Sang Pencipta, Allah SWT untuk menegakkan ajaran Tauhid, untuk menegakkan kebenaran. Pasukan Muslimin telah dengan sukarela melepaskan kekuatan jihad yang sangat ditakuti musuh. Inilah yang ditunggu dan diharapkan! Padahal mereka tetap mempersiapkan diri untuk berperang. Namun kali ini mereka tidak perlu lagi khawatir terhadap perang senjata secara terbuka. Bagi umat yang kurang keimanannya hal ini dapat menyebabkan mereka menjadi benci dan malu terhadap agama mereka sendiri dan mereka menjadi tidak percaya diri yang pada akhirnya dapat mengakibatkan kemurtadan. Ini adalah akibat sampingan namun fatal. 

Selain itu tampak bahwa negara-negara Islam juga dihambat kemajuannya agar mereka tetap terus dalam kemiskinan dan terus bergantung kepada Barat hingga akhirnya mereka jatuh. Padahal sebaliknya, mari kita perhatikan. Amerika Serikat adalah sebuah negara besar yang sering membanggakan diri sebagai sebuah negara yang mengedepankan kedamaian dan keamanan. Namun sesungguhnya justru negara inilah yang menjadi penyulut peperangan di berbagai tempat, seperti di Irak, Afganistan dan Timur Tengah. Mereka tengah melempar batu sembunyi tangan. 

Negara-negara Muslim tersebut tengah diadu domba disaksikan sang sutradara, Amerika Serikat, sebuah negara produsen senjata terbesar di dunia. Menurut harian The Strait Times, 24 Mei 2007, negara ini pada 2001 meraup US$ 10 milyar hingga US$ 13 milyar dari penjualan senjata. Dan angka ini terus melonjak tiap tahunnya. Negara adi kuasa, mitra kental Yahudi ini memang punya kepentingan pribadi dengan adanya perang yang terus diupayakan terjadi agar keuntungan yang diraihnya terus berkepanjangan setelah sebelumnya mencekoki rakyatnya dengan barang-barang kebutuhan sehari-hari produksi mereka. Sebuah modus yang mirip dengan produsen obat-obatan terlarang yang dilakukannya ke berbagai negara. Jadi siapakah sesungguhnya sang raja teroris? 

Namun sesungguhnya serangan yang bertubi-tubi tersebut bila dihadapi umat Islam secara kompak dan bersatu tentu mereka tidak akan mampu melumpuhkan dan mengalahkan umat ini. Bila saja umat memiliki sikap, keteguhan dan keimanan sebagaimana para sahabat di masa lampau tentu kita akan menang. 

Rasulullah SAW bersabda : ”Aku memohon kepada Tuhanku atas tiga perkara. Maka Allah mengabulkan dua perkara untukku sedangkan yang satu ditolak. Aku memohon kepada Tuhanku agar jangan membinasakan umatku dengan musim paceklik maka Dia mengabulkannya. Aku memohon kepada Tuhanku agar jangan membinasakan umatku dengan air bah (banjir bandang) maka Dia mengabulkannya. Aku mohon pada-Nya agar tidak menjadikan mereka saling berperang namun Dia menolak permohonanku itu”. (HR Muslim).  

Akan tetapi hadis diatas bukanlah alasan bagi kita untuk terus menjadi pasrah dan menerima kenyataan tersebut. Seharusnya kita malah lebih berhati-hati agar perbedaan yang ada tidak menjadikan kita ber-perang sendiri sehingga kita mudah dikalahkan. 

Beruntung Allah SWT berkenan menepati janji-Nya untuk terus menegakkan Islam dimuka bumi. Hal ini terbukti dengan malah makin banyaknya orang yang berpindah dan memeluk agama Islam secara sukarela. 

“Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.”(QS.Ash-Shaff(61):8). 

Dan kebanyakan dari mereka ini justru lebih baik akidah dan keimanannya daripada orang-orang yang terlahir Islam. Lalu kita sebagai umat yang disebut belakangan ini alias Islam ‘terlahir’ bagaimanakah sikap kita? Akankah kita ini hanya menjadi bagian dari yang menyaksikan kebesaran Islam tanpa ikut serta didalamnya?? 

 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan  menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”(QS.Al-Maidah(5):51). 

4. Serangan kaum Munafik.  

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda : Tanda-tanda orang munafik itu tiga; bila berkata ia bohong, bila berjanji ia mengingkari dan bila dipercaya ia mengkhianati”. 

Munafik adalah orang yang memperlihatkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran. Hadis diatas adalah sebuah peringatan keras bagi para Mukmin untuk tidak bersikap satupun diantara sikap-sikap diatas karena yang demikian akan menjerumuskannya kedalam kemunafikan sejati meskipun ia seorang yang membenarkan bahkan mungkin menjalankan syari’at Islam. 

Beberapa tahun belakangan ini muncul gagasan tentang konsep keberagamaan, yaitu Pluralisme, Sekularisme dan Liberalisme. Hal ini timbul disebabkan adanya rasa toleransi antar agama yang berlebihan. Dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk, perbedaan adalah suatu hal yang biasa dan lumrah. Pada Zaman Rasullullah pun hal tersebut pernah terjadi yaitu pada awal periode Madinah. Pada saat itu kaum Muslimin hidup berdampingan dengan kaum musyrik penyembah berhala, Yahudi dan Nasrani. Mereka menjalankan ibadahnya dengan caranya masing-masing. 

“Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah  Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku“.(QS.Al-KaaFiruun(109):1-6).  

Namun Allah SWT menghendaki agar Dakwah Islam terus berlanjut karena Islam bukan hanya merupakan hak istimewa dan monopoli bangsa Arab. Allah SWT menghendaki agar semua manusia didunia ini tanpa kecuali berhak menerima kebenaran dari-Nya. 

“(Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”.(QS.Ali-Imraan (3):138). 

Manusia diberi kesempatan untuk memilih, percaya atau tidak, takwa atau durhaka, tidak ada paksaan baginya. Namun begitu seseorang telah menentukan pilihannya maka hukumpun berlaku baginya. Demi effektifitas sebuah ajaran agama maka terpaksa atau tidak seseorang harus menerima resiko serta pilihannya itu. Allah SWT telah memberi batasan yang jelas, apa akibat dari pilihan tersebut. Pengusiran dan peperangan yang akhirnya terjadi terhadap kaum Yahudi disebabkan karena mereka terus-menerus melanggar perjanjian yang telah disetujui kedua belah pihak. Mereka terus merongrong dan mengancam tidak saja jiwa Rasulullah SAW namun juga kelangsungan ajaran yang masih seumur jagung tersebut. 

Islam tidak pernah mengajarkan pemisahan antara hubungan manusia dengan Tuhannya, hubungan antar sesama manusia maupun hubungan manusia dengan mahluk lainnya termasuk hubungannya dengan alam semesta. Islam adalah pandangan hidup, Way Of Life. Ia mengatur seluruh aspek kehidupan, mulai hal-hal kecil seperti menjaga kebersihan, tata-krama dan kesopan-santunan hingga masalah-masalah perdagangan dan ekonomi bahkan kemasyarakatan dan kenegaraan. Oleh karena itu Islam tidak mengenal istilah Sekulerisasi. Rasulullah SAW dengan Madinahnya adalah contoh nyata. Beliau adalah seorang utusan Allah sekaligus pimpinan suatu negara yang juga seorang ayah dan suami yang sangat patut dijadikan teladan. 

Namun saat ini, toleransi antar agama yang muncul tidak lagi sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya. Belakangan ini malah muncul berbagai aliran atau isme seperti Pluralisme(Semua agama sama), Sekularisme(Agama dipisahkan dari kehidupan sehari-hari ) dan Liberalisme (Kebebasan untuk menafsirkan ayat-ayat suci). 

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”(QS.Ali Imraan(3):7). 

Saat ini sejumlah perguruan tinggi Islam marak mengajarkan sebuah ilmu yang notabene anyar yaitu Hermeuneutika. Ajaran ini masuk ke Indonesia mulanya melalui para cendekiawan Muslim yang menuntut berbagai ilmu Islam di Barat. 

Ilmu ini mengajarkan cara menafsirkan Al-Quran. Namun cara tersebut sama sekali tidak sesuai dengan apa yang telah di contohkan dan diajarkan Muhammad SAW, Sang Penyampai dan Pembawa Al-Quran yang pastinya lebih memahami apa yang ingin disampaikan-Nya melalui Al-Quran, dan juga para sahabat, murid yang mendapatkan pengajaran langsung dari beliau. Ayat Al-Quran diatas jelas menegaskan bahwa hanya orang-orang yang hatinya condong pada kesesatan sajalah yang mencoba menta’wilkan ayat-ayat Al-Quran yang mutasyabihat. Tujuannya tak lain hanyalah untuk menimbulkan fitnah dan perpecahan diantara ummat. Padahal untuk mempelajari Al-Quran secara benar sesungguhnya hanya dapat melalui 5 tahapan, yaitu : melalui ayat Al-Quran itu sendiri (kesinambungan antar ayatnya), melalui apa yang telah dicontohkan Rasulullah, melalui para sahabat, melalui para tabi’in dan ulil amri dan terakhir baru melalui sudut bahasanya. 

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.(QS.Al Baqarah(2):208). 

Disamping itu, untuk mencapai suatu kebenaran, kadang perdebatan memang sukar dihindari. Yang diperlukan adalah kedewasaan, sikap untuk saling terbuka, sikap untuk mau menerima kenyataan bahwa sesuatu yang sudah terbiasa dan lama diyakini ‘benar’ belum tentu kebenarannya, kalau memang itu terbukti tidak benar. Suatu sikap lapang dada untuk menerima kesalahan dan kekhilafan dengan penuh kesadaran. Disamping itu yang benarpun tidak perlu merasa congkak dan arogan, karena yang dicari adalah kebenaran. Jadi bukan masalah kalah menang ataupun mengalah. 

“Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (`Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti `Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka”.(QS.An-Nisaa(4):159). 

Sebaliknya dengan mengambil sikap jalan tengah seperti menyamakan semua agama ataupun menyatakan bahwa semua agama adalah benar tentu berbahaya. Hal ini akan berakibat sangat buruk karena pada akhirnya mereka hanya mementingkan keimanan saja tanpa keharusan untuk melaksanakan kewajiban / syariat suatu agama. Padahal Rasulullah jelas datang dengan membawa ajaran, lengkap dengan hukum-hukum yang harus dipatuhi dan dilaksanakan. 

 “Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi”.(QS.Al-Maidah(5):5). 

Pluralitas atau keberagaman dalam Islam memang telah dikenal sejak lama akan tetapi bukan Pluralisme

“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS.Al-Baqarah(2):62). 

Ayat inilah yang sering dijadikan pegangan bagi mereka yang bersiteguh bahwa semua agama adalah sama dan benar disisi Allah SWT. Padahal yang dimaksud ayat diatas adalah orang-orang Yahudi,  dan Shabiin yang mengimani seluruh rasul dan kitab termasuk Muhammad SAW dan Al-Quranul Karim. Atau bagi mereka yang hidup pada zaman sebelum Islam datang, ketika mereka belum merubah-rubah kitab suci mereka yaitu Taurat maupun Injil yang dibawa Musa AS maupun Isa AS. Atau bagi mereka yang belum sampai satupun petunjuk tentang Islam. 

 “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”.(QS.Ali Imran(3):85). 

Lebih dari itu, mereka juga menyebar bibit fitnah berkenaan dengan urutan ayat Al-Quran yang tidak sesuai dengan urutan turunnya. Mereka menuduh Rasulullah SAW dan para sahabat telah ikut campur dalam penyusunan Al-Quran sehingga dengan demikian kitab ini sudah tidak suci dan murni lagi! 

“Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam. Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al Qur’an ini?” (QS.Al-Waqiyah(56):75-81). 

Berkenaan dengan ayat diatas, Ad-Dhahak meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra : Al-Quran diturunkan secara keseluruhan dari sisi Allah, dari Lauh  Mahfuz, melalui duta-duta malaikat  penulis wahyu, ke langit dunia, lalu para malaikat tersebut menyampaikannya kepada Jibril secara berangsur-angsur selama 20 malam dan selanjutnya diturunkan pula oleh Jibril as kepada Rasulullah SAW secara berangsur-angsur  selama 23 tahun”. Itu pula yang ditafsirkan Mujahid, Ikrimah, As-Sidi dan Abu Hazrah. 

Ayat diturunkan kepada Rasulullah sedikit demi sedikit berdasarkan situasi, seringkali turun sebagai jawaban atas suatu permasalahan dengan hikmah tertentu. Oleh sebab itu turunnya ayat tidak berurutan. Yang dimaksud ” tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan” adalah Al-Quran yang berada di Lauh Mahfuz, karena Al-Quran yang ada di dunia, yang jumlahnya  tak terhitung banyaknya ini dapat disentuh oleh semua orang, baik Muslimin yang suci maupun yang tidak suci juga Kafirin. 

Selanjutnya dengan petunjuk Jibril as, setiap ayat yang turun diletakkan dan diatur sesuai dengan Al-Quran yang berada di Lauh-Mahfuz. Jadi bukan atas kehendak Rasulullah SAW! Adapun tentang adanya perbedaan jumlah ayat dalam Al-Quran, hal ini disebabkan adanya pengulangan. Hitungan 6236 ayat adalah hitungan tanpa memperhitungkan pengulangan ayat yang ada, sedangkan 6666 ayat bila dihitung semua ayat-ayatnya.  

Ironisnya bila pada Perang Pemikiran atau Al-Ghazw Fikri, musuh adalah jelas, yaitu orang-orang kafir, orang yang tidak mau dan enggan mengakui keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT, tidak demikian dengan hal diatas. Isu Pluralisme, Sekularisme dan Liberalisme justru dilemparkan oleh orang-orang yang mengaku dirinya Muslim. Mereka ini bahkan adalah orang-orang yang notabene berpendidikan tinggi dalam ilmu agama Islam. Kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang mendapatkan pendidikan Islamnya di negara Barat. Dari sanalah mereka mendapatkan tokoh dan panutan baru, yaitu Nasr Hamid Abu Zayd, seorang guru besar di Leiden, Belanda. Abu Zayd adalah intelektual asal Mesir. Ia menyelesaikan pendidikannya hingga S3 di Universitas Kairo, Mesir jurusan sastra Arab dan sempat mengabdi sebagai dosen di almamaternya. Pada tahun 1978, ia memperoleh beasiswa untuk penelitian doktoralnya di Institute of Middle Eastern Studies, University of Pennsylvania, Amerika Serikat. Sekembali dari negri ini, Abu Zayd menulis sejumlah buku. Pada tahun 1992 ia mengajukan promosi untuk menjadi guru besar di Universitas Kairo namun ditolak. Ia dianggap tidak layak menjadi professor karena buku-buku yang ditulisnya banyak yang melecehkan ajaran Islam. Salah satu oleh-oleh yang dibawanya adalah ilmu Hermeunetika. Ia kemudian protes dan membawa masalahnya ke pengadilan, namun kalah. 

Dan tak lama kemudian para khatib di sejumlah mesjid-mesjid besar Mesirpun menyatakan bahwa Abu Zayd telah murtad. Merasa tidak lagi diterima di negerinya, Abu Zayd beserta keluarganya pergi menuju Spanyol kemudian menetap di Belanda. Ironisnya di Negara tersebut ia justru disambut sebagai pahlawan dan langsung ditawari kursi professor prestisius di universitas di Leiden! Tak hanya itu, selang beberapa waktu kemudian perguruan-perguruan tinggi di Berlin dan Amerika Serikatpun tidak mau ketinggalan, mereka ikut menawarkan jabatan-jabatan penting di kampus-kampus mereka. 

“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul“, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu”.(QS.An-Nisa’(4):61). 

Rasulullah bersabda, bahwa umat Islam akan terpecah kedalam 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu yaitu, “kelompok yang mengikuti apa yang aku (Rasulullah) dan sahabatku lakukan”. 

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka ”. ( QS. An-Nisa’(4):145). 

5. Munculnya perpecahan dan  nabi-nabi palsu. 

Dari Irbadh bin Sariyah ra, ia berkata :” Pada suatu hari setelah shalat Subuh Rasulullah saw menasehati kami dengan suatu nasehat yang membuat kami menangis dan sedih. Lalu ada seorang yang berkata  : “ Ya, Rasulullah ini adalah pesan perpisahan, lalu apa yang anda wasiyatkan kepada kami ? Rasulullah menjawab :”Aku wasiyatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah swt dan selalu mendengar dan taat (kepada pemimpin) meskipun pemimpin itu seorang budak Habasyi. Maka barangsiapa yang hidup (panjang umur) akan melihat banyak ihtilaf (perbedaan), maka berhati-hatilah terhadap hal-hal yang baru (bid’ah), karena sesungguhnya bid’ah itu sesat. Maka barangsiapa diantara kalian yang menjumpai masa itu maka berpegang-teguhlah dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’Arrosyidiyin, peganglah erat-erat dan jangan sampai lepas”. 

Hadis diatas menunjukkan bahwa perbedaan diantara   sesama umat Islam memang tidak  dapat dihindarkan. Namun perbedaan yang beresiko memunculkan perpecahan  apalagi yang tidak sesuai lagi dengan sunnah Rasulullah dan apa yang telah dicontohkan para Khulafa’Arrasyidin ( Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra, Ustman bin Affan ra dan Ali bin Abi Thalib ra)  harus dihindari. Perpecahan ini bahkan sesungguhnya telah mulai terlihat begitu  Rasulullah memasuki hari-hari akhirnya. 

“Sesungguhnya akan ada tiga puluh orang pendusta di tengah umatku. Mereka  semua mengaku nabi. Padahal, aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi sesudahku.” 

Hadits ini diriwayatkan lebih dari satu orang diantaranya adalah Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Bukhari-Muslim juga meriwayatkannya walaupun  dengan redaksi berbeda. 

Pada masa akhir kerasulan, di Yaman muncul seorang yang mengaku bahwa dirinya telah mendapatkan wahyu untuk meneruskan ajaran Rasulullah. Namun tak lama kemudian nabi palsu tersebut segera ditangkap dan diadili. Kemudian muncul lagi  dari Bani Asad, seorang bernama Thulaihah bin Khuwailid bin Naufal. Pada tahun 9 H, dia datang bersama kaumnya kepada Rasulullah saw dan menyatakan keislamannya. Ketika Rasulullah sakit keras, ia memproklamirkan dirinya sebagai nabi.   Thulaihah dan pasukannya pernah beberapa kali bertempur dengan kaum Muslimin namun selalu kalah. Kemudian bersama istrinya, ia melarikan diri ke Syam. Beruntung di tempat tersebut ia mendapatkan hidayah dan kembali ke pangkuan Islam. Thulaihah mati syahid dalam Perang Nahawand tahun 21 H. 

Nabi palsu yang paling sering disebut-sebut namanya adalah Musailimah bin Tsumamah bin Habib Al-Kadzdzab, seorang laki-laki dari Yamamah. Ia berhasil mendapat pendukung yang banyak hingga dikhawatirkan membahayakan ajaran dan aqidah Islam. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, orang tersebut memberontak dan menolak perintah zakat hingga Abu Bakar terpaksa mengirim pasukan untuk memeranginya. Dalam peperangan ini pihak Muslim kehilangan banyak sekali penghafal Al-Quran. Ini yang menyebabkan Umar bin Khattab menyarankan Abu Bakar agar segera memerintahkan para sahabat mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran yang kemudian pada masa Ustman bin Affan dibukukan hingga seperti sekarang ini. 

 Pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan Al-Umawi, juga ada nabi palsu bernama Al-Harits bin Said Al-Kadzdzab. Dulunya, ia adalah seorang zuhud yang ahli ibadah. Namun sayang, ia tergelincir dari jalan Allah dan mengikuti jalan setan. Ia didatangi iblis dan diberi ‘wahyu.’ Ia bisa membuat keajaiban2 laksana mukjizat seorang nabi. Saat musim panas, ia datangkan buah-buahan yang hanya ada pada musim dingin. Dan ketika musim dingin, ia datangkan buah-buahan musim panas. Sehingga, banyak orang yang terpesona dan mengikuti kesesatannya. Akhirnya ia ditangkap dan oleh Khalifah Abdul Malik disuruh bertaubat. Sejumlah ulama didatangkan untuk menyadarkannya. Namun peringatan  tersebut tidak diindahkannya hingga khalifah terpaksa membunuhnya. Hal ini dilakukan agar menjadi peringatan bagi yang lain karena dapat merusak aqidah dan ajaran Islam yang sesungguhnya. 

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.” (Al-Ahzab: 40). 

Namun hingga detik ini masih saja ada orang yang datang dan mengaku sebagai nabi. Ahmad Gulam Mirza adalah satu diantaranya. Ia mengaku sebagai nabi baru setelah Rasulullah saw  dan  mengaku dirinya sebagai Imam Mahdi. Ia mendirikan sebuah sekte aliran sesat bernama Ahmadiyah pada tahun 1889.  Ia lahir di India pada tahun  1835 dan meninggal pada  1908 di Lahore. Ia menafsirkan dan menambah-nambahi ayat Al-Quran hingga sesuai dengan keinginan dan kemauannya. Ahmadiyah sendiri masuk ke Indonesia pada tahun 1922. Sekte ini memiliki kitab sucinya sendiri, yaitu “Tazkirah” yang kesuciannya diakui sama dengan Al-Quran! Ia juga menyatakan bahwa ada tanah suci selain Makkah dan Madinah, yaitu Qadyani dan Rabwah di India. Sesungguhnya sekte ini awalnya dibentuk sebagai taktik politik Inggris dalam rangka menaklukkan rakyat India ketika itu. Tujuan  utamanya adalah memberantas dan membekukan ajaran jihad yang dilakukan rakyat Muslim India untuk melawan penjajahan di negrinya.  

Disamping Ahmadiyah, beberapa aliran sesat sebenarnya juga telah ada sejak lama. Khowarij dan Syi’ah adalah diantaranya. Syi’ah sendiri terpecah menjadi beberapa kelompok yang saling bertentangan. Ada yang berpendapat Syi’ah terpecah hingga menjadi 70 kelompok namun ada yang berpendapat hingga 300 kelompok. Diantara kelompok yang terbesar  adalah Az-Zaidiyyah. Hanya kelompok ini yang memiliki pemahaman sedikit mendekati Ahlu sunnah wa jamaah. Namun pada dasarnya, Syi’ah hanya mengakui ahlu bait (keluarga Rasulullah) sebagai pemimpin Islam dan Ali bin Abi Thalib adalah penerus kenabian. Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi Yaman adalah orang yang paling sering dituding sebagai penyebar aliran ini. Ialah yang menyebar fitnah bahwa para sahabat, antara lain  Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, Aisyah ra amirul mukminin adalah orang-orang yang sesat. Oleh karenanya kaum Syi’ah merasa bahwa Al-Quran yang ada saat ini tidak lagi asli karena dikumpulkan dan dibukukan pada masa pemerintahan mereka. Kaum Syi’ah juga hanya mempercayai hadis yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib.    

Sementara kaum Khowarij adalah kelompok yang cenderung tidak mau mempercayai sunnah/hadits Rasulullah (biasa juga disebut sebagai kelompok Ingkar Sunnah) darimana dan siapapun sumbernya, baik shoheh maupun tidak. Kelompok ini terpecah menjadi beberapa kelompok lagi. Diantaranya adalah mereka yang menyebut diri sebagai Submitter. ( baca : http://vienmuhadi.com/2010/01/21/ketika-ayat-mutasyabihat-di-takwilkan-rasyad-khalifa/ )

Perpecahan terus terjadi hingga detik ini. Belakangan ini muncul ucapan dari seorang pengamat intelejen di sebuah pertemuan di kota Semarang, Jawa Tengah. Tanpa disertai bukti, ia menyatakan  bahwa zakat di Indonesia digunakan untuk membiayai kegiatan terorisme. Jelas ini adalah fitnah. Setelah jihad yang sekarang ini seolah telah menjadi momok menakutkan bahkan bagi telinga Muslim sekalipun, kali ini zakatpun tampaknya dicoba untuk diguncang dan diobok-obok keberadaannya. Padahal ayat tentang zakat jelas peruntukannya. Kembali hal ini membuktikan betapa syaitan begitu telah mampu menghalangi seluruh jalan menuju kebenaran. Hanya keimanan dan terus belajar mendalami serta mengkaji ayat-ayat Al-Quran serta sunah Rasulullah sajalah yang dapat menyelamatkan seseorang dari godaan dan bisikannya.   

Read Full Post »

Namaku Mada. Sebenarnya wajahku biasa-biasa saja. Namun orang bilang aku memiliki kepribadian menarik hingga banyak orang senang berteman denganku. Aku dilahirkan 18 tahun yang lalu di sebuah kota kecil di pulau Dewata sebagai anak tunggal. Ibuku adalah seorang putri asli Bali. Sedangkan ayahku seorang warga Indonesia keturunan Cina.

Waktu aku kecil ayahku sering bercerita dengan penuh kebanggaan tentang kakek moyangnya. Kakek moyangnya tersebut adalah seorang pelaut andal. Lebih dari seratus tahun yang lalu dengan hanya mengandalkan perahu tongkang sederhana ia bersama kawan-kawannya mengarungi samudra Cina Selatan nan luas menuju ke kepulauan Indonesia selama berbulan-bulan lamanya.

Setelah mengalami beberapa kali badai dan topan akhirnya mereka terdampar di salah satu kepulauan kecil di Filipina. Dari pulau tersebut mereka kemudian berpencar. Kakek memilih melanjutkan petualangan berbahayanya hingga akhirnya dengan selamat tiba di pesisir Bali. Ia adalah hanya 3 diantara 8 kawannya yang selamat dari perjalanan maut tersebut. Di pulau inilah kakek kemudian memulai kehidupan barunya. Di tanah ini pula kakek  kemudian  menikahi seorang gadis Bali sebagaimana juga ayah yang menikah dengan ibu 18 tahun yang lalu.

Kakeklah yang mengajari ayah bagaimana caranya berbisnis.hingga akhirnya ayah seperti sekarang ini. Ayahku saat ini adalah seorang bos  perusahaan penghasil  makanan laut yang sukses. Aku sangat mengaguminya. Namun bersamaan dengan kesuksesannya  itu sesungguhnya aku justru mulai kehilangan dirinya. Dulu, ketika masih di Bali ayah sering mengajakku bermain-main air, pasir dan mencari kerang-kerangan di pantai. Bahkan pada hari-hari pertama kepindahan kami ke Jakartapun ayah masih sering mengajakku  jalan-jalan ke pasar ikan di Kamal. Kadang kami memancing kemudian  berdua kami membakar ikan-ikan hasil tangkapan kami tersebut sebelum akhirnya menyantapnya dengan lahap. Namun makin hari ayah makin sibuk sehingga akhirnya yang tertinggal hanyalah kenangan manisnya saja.

Sementara ibu, ia adalah seorang penasehat ekonomi di sebuah perusahaan swasta Perancis. Ia seorang pekerja yang tekun dan rajin. Seingatku sejak aku kecil bahkan hingga saat inipun hampir sepanjang waktu ibu dihabiskan di tempatnya bekerja. Itu sebabnya aku tidak begitu akrab dengannya. Kadang aku berpikir apakah ibu tidak menyayangiku? Beruntung  aku masih mempunyai  tante  yang amat memperhatikanku.

Tante Rani adalah adik ayah. Ia adalah tipe perempuan setia yang menjunjung tinggi arti sebuah cinta sejati. Sayang suaminya meninggal hanya beberapa bulan setelah pernikahan mereka. Ia meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat terbang. Sejak itu tante Rani tidak pernah lagi mau menikah. Waktunya hanya dihabiskannya dengan membaca dan bermain piano kesayangannya. Ia tinggal bersama kami sejak orangtuaku pindah ke Jakarta. Ketika itu aku berumur 4 tahun. Ialah yang  menemaniku melalui hari-hari pertamaku di TK. Ia pulalah yang mengajariku pentingnya arti sebuah kejujuran dan kebersihan hati. Seperti halnya kebanyakan keturunan Cina yang masih memegang teguh ajaran leluhur, tante Rani adalah seorang pemeluk agama Kong Hu Chu yang taat. Hampir setiap hari Senin dan Kamis  ia berpuasa. Itu sebabnya orangtuaku  mempercayakan pendidikan spiritualku padanya.

Darinya pula, ketika aku sudah agak besar, aku tahu bahwa ayah adalah seorang pecandu minuman keras dan doyan mabuk-mabukan. Kebiasaan buruk ini mulai  merasuki dirinya setahun sebelum ibu melahiranku. Inilah yang menyebabkan ibu lebih betah di tempatnya bekerja daripada di rumah. Aku memang sering memergoki ayah dan  ibu bertengkar, ntah apa yang diributkan. Namun dihadapanku mereka selalu berusaha menutupinya.

***

Pada suatu hari di awal tahun 2000, ibu mendapat tawaran untuk melanjutkan program pendidikan S2 di universitas Sorbonne, Paris, Perancis. Tentu saja ibu tidak menyiakan-nyiakan kesempatan emas tersebut. Ibu mengajakku untuk menemaninya selama ia menuntut ilmu di kota pusat mode dunia tersebut. Sementara ayah tetap di Jakarta.  Namun ia janji  akan sering-sering menengok kami berdua. Maka dengan penuh semangat berangkatlah kami menuju kota yang terkenal dengan menara Eiffelnya itu. Sedih juga aku terpaksa berpisah dengan ayah  terutama dengan tante Rani. Tapi itulah hidup. Dengan mata berkaca-kaca tante Rani menasehatiku banyak-banyak agar selalu berhati-hati di negri orang terutama dalam menghadapi pergaulan bebas anak-anak muda di negri yang begitu mendewakan azas demokrasi ini.

Ingatlah selalu Mada…kita ini masyarakat Timur yang masih dan senantiasa menjunjung tinggi agama, budaya dan sopan santun. Hormatilah aturan dan orang yang lebih tua”, begitu ia mewanti-wantiku.

Pesawat yang kami tumpangi menjejakkan rodanya di  Charles de Gaulle Airport Paris pada pagi hari bulan Agustus  yang cerah. Temperatur sekitar 34 derajat Celcius di siang hari. Jadi kurang lebih sama dengan  Jakarta. Di airport kami dijemput oleh sebuah kendaraan milik perusahaan dimana ibu bekerja. Kami langsung menuju apartemen dimana kami akan tinggal selama di Paris. Dengan suka cita melalui jendela mobil kami menikmati pemandangan kota yang begitu mempesona ini.

Bangunan-bangunan kuno dengan arsitektur cantik  khas Eropa berjajar dalam blok-blok yang teratur rapi. Restoran dengan meja dan kursinya yang ditata dibawah payung-payung lebar di pedestrian, jalan bagi pejalan kaki yang lebar terlihat dimana-mana. Yang juga tak kalah menarik dalam pandanganku sebagai seorang anak laki adalah mobil-mobil yang berseliweran di sepanjang jalan. Aku perhatikan rupanya sedan-sedan  mewah berbagai merk yang di Jakarta   hanya dipakai orang-orang kaya saja di kota ini dijadikan taxi!  Berbagai merek mobil mewah seperti Mercedes, Peugeout, BMW, Honda keluaran baru memenuhi jalanan, woow…

Di kota ini  aku sekolah di sebuah sekolah swasta dengan 2 bahasa pengantar yaitu Inggris dan Perancis. Ketika itu usiaku 15 tahun. Jadi aku dimasukkan ke kelas troisieme atau setingkat kelas 3 SMP di Indonesia. Di Perancis, menuntut ilmu di sekolah adalah wajib bagi seluruh warga dan gratis pula kecuali tentu saja sekolah swasta. Jadi tidak ada alasan seorang anak tidak sekolah karena alasan tidak mampu atau tidak lulus tes. Umurlah yang menentukan kelas setiap anak yang baru pindah sekolah.

Agak berbeda dengan sekolah di Indonesia, tingkat pendidikan SD atau disebut Ecole Primer lamanya hanya 5 tahun. SMP yang mereka namakan College diselesaikan dalam waktu 4 tahun dan SMA atau Lycee 3 tahun. Jadi totalnya tetap 12 tahun sama dengan di Indonesia. Namun penyebutan kelasnya sendiri tidak dibedakan antara SD, SMP atau SMA. Klas 1 SD disebut onzieme yang berarti ke 11 , klas 2 SD disebut dixieme yang berarti ke 10. Demikian seterusnya  hingga klas 2 SMA yang disebut premiere yang berarti ke 1 dan yang terakhir adalah klas terminal atau klas 3 SMA.

Sebagian besar murid sekolah yang dikenal dengan nama Ecole Active Bilingue ini adalah warga non Perancis. Bahkan di kelasku hampir setengahnya  adalah dari Asia namun sayang tak satupun yang berasal dari Indonesia. Hari-hari pertama sekolahku tak terlalu istimewa. Aku diminta memperkenalkan diri dalam bahasa Perancis namun setelah aku katakan bahwa aku tidak bisa berbahasa tersebut maka akupun memperkenalkan diriku dalam bahasa Inggris yang agak kacau. Mulanya aku agak tak percaya diri dengan kekuranganku itu. Namun setelah kusadari bahwa sebagian teman-temankupun tidak  berbahasa Inggris dengan sempurna akupun menjadi lebih tenang dan santai.

Aku selalu merasa penasaran menebak identitas diri orang asing yang baru aku temui atau aku kenal “, begitu kata wali kelasku yang asli Perancis. “ Untuk sekedar berkomunikasi dengan orang lain seseorang  tidak  harus berbicara dengan logat sesempurna orang yang menggunakan bahasa asing  tersebut sebagai bahasa ibunya. Justru disitu letak daya tariknya”, lanjut guru tersebut dengan logat bahasa Inggris yang agak aneh. Belakangan aku baru tahu bahwa logat seperti itu sangat khas logat orang Perancis berbahasa Inggris.  Maka sejak saat itu aku jadi tertarik untuk  memperhatikan logat bicara orang-orang di sekitarku terutama ketika aku harus berdesak-desakan di dalam Metro, angkutan umum masal bawah tanah Perancis.

Di  kota Paris ini kesempatan bertemu dengan orang asing sangatlah  besar. Hampir semua lapisan masyarakat kota ini baik penduduk asli maupun wisatawan asing dan lokal, pejabat maupun rakyat biasa memilih Metro sebagai alat transportasi. Karena selain lebih cepat dan tepat waktu juga lebih murah. Jadi lebih effisien dari pada menggunakan kendaraan pribadi. Di dalam metro inilah aku paling sering berjumpa wisatawan mancanegara. Mereka berbicara dalam berbagai bahasa dan logat. Dalam waktu beberapa bulan saja aku sudah dapat mengenali asal negara seseorang berdasarkan logat bahasa Inggris ataupun  Perancis yang diucapkannya.

Aku sendiri di sekolah lebih sering menggunakan bahasa Inggris. Namun untuk mempercepat kelancaran bahasa Perancisku aku memilih lebih sering berpergian ke berbagai tempat dan  bertemu dengan orang banyak daripada harus khusus mengambil kursus bahasa yang menurut banyak orang terdengar manja di telinga ini. Disamping itu dengan  banyak berkunjung ke berbagai tempat umum banyak pengalaman yang kudapat.

Museum adalah tempat yang paling menarik perhatianku. Sekolahlah yang pertama kali memperkenalkan tempat yang menyimpan bergudang-gudang  cerita dan sejarah ini. Aku mengunjungi museum untuk pertama kalinya bersama rombongan sekolah. Dengan didampingi seorang guru sejarah kami melakukan kunjungan ke museum terbesar dan  terlengkap di Paris, yaitu Musee’ Du Louvre. Sejak itu hampir sebulan sekali aku selalu pergi mengunjungi museum yang jumlahnya banyak sekali  di kota ini. Beruntung aku mempunyai  2 teman baru yang punya minat yang sama denganku.  Yaitu Kaori, seorang  gadis  Jepang  dan satu lagi  Hans, seorang pemuda Yahudi asal Jerman- Austria. Bertiga kami pergi menjelajahi museum satu ke museum yang lain. Namun tetap museum Du Louvre adalah pilihan terbaik.

Mueum ini terletak di jantung kota Paris, di sisi utara sungai Seine yang membelah kota, dengan akses yang sangat mudah. Bangunan ini  pada tahun 1190 aslinya adalah sebuah benteng kota. Beberapa ratus tahun kemudian bangunan ini kemudian berubah fungsi menjadi galeri pribadi kerajaan. Baru pada tahun 1855 museum ini akhirnya resmi dijadikan  museum Negara. Itupun pada awalnya hanya dibuka untuk umum seminggu sekali yaitu pada hari Minggu. Bangunan bergaya arsitektur Renaissance yang menempati areal seluas 210 ribu meter persegi ini belakangan diperkaya dengan sentuhan arsitektur modern di tengah arealnya. Sebuah bangunan kaca raksasa dengan bentuk piramida, karya seorang arsitek Cina-Amerika,   sejak tahun 1988   menjadi pintu masuk utama menuju museum.

Banyak koleksi terkenal yang dipajang di museum ini. Salah satunya adalah lukisan Monalisa dengan senyumnya yang misterius itu. Di museum ini pula film Da Vinci Code yang diambil dari buku karangan Dan Brown yang kontroversial itu mengambil lokasi shooting. Beberapa tema menarik yang digelar museum ini menarik perhatianku. Diantaranya adalah pameran  kapal pesiar super mewah Titanic dan pameran tentang Yerusalem yang diberi judul “ Yerusalem dan  Sultan Salahuddin Al-Ayubi, Sang Penakluk “.

Awalnya adalah Hans yang sering menceritakan kekagumannya pada kakeknya yang lama menetap di kota Yerusalem yang merupakan kota suci bagi umat Islam, Nasrani dan Yahudi tersebut. Ketika itu kami bertiga sedang bingung menentukan museum mana yang akan kami kunjungi pada hari Minggu itu. Ketika itulah Hans menemukan brosur tentang pameran Yerusalem. Maka dengan penuh antusias ia membujuk kami agar mau mengunjungi pameran tersebut.

Pameran ini diselenggarakan di ruang utama museum Du Louvre dan akan berlangsung selama 1 bulan. lamanya. Museum ini memang dikenal terbiasa menyelenggarakan pameran dengan tema-tema tertentu yang banyak menarik perhatian umum. Tokoh-tokoh terkenal manca Negara mulai pelukis kenamaan Pablo Picasso,  Salvador Dali,  janda mantan presiden AS Kennedy, Jacquelin Kenneddy Onasis dengan koleksi ribuan pakaiannya hingga tokoh-tokoh besar peradaban sejarah masa lalu seperti Ramses Sang Fir’aun dari Mesir, Harun Ar-Rasyid dengan kisah 1001 malamnya hingga  Hittler dengan nazinya pernah dijadikan  tema pameran di museum yang setiap hari dikunjungi ribuan wisatawan mancanegara ini.  Sejak pulang dari pameran tentang Yerusalem inilah aku mulai tertarik pada masalah keagamaan dan perbedaannya.

***

Read Full Post »

Februari 2002, beberapa bulan lagi ujian akan tiba. Seluruh murid disibukkan dengan bimbel disamping pelajaran sekolah, ulangan dan tugas-tugas harian yang makin menumpuk. Belum lagi berbagai try-out yang belakangan ini makin sering diadakan. Aku bersyukur sudah tidak lagi  disibukkan dengan urusan Kira maupun cewek lain. Aku pikir tugasku sudah cukup banyak tidak perlu lagi menambah urusan lain yang kurang terlalu penting.

Syukur Kira memutuskanku. Kuakui aku memang kurang tegas dalam menghadapinya. Aku tahu Kira ingin memanfaatkanku dalam pelajaran bahasa Perancis sekaligus mengantar-antarnya pergi ke tempat-tempat yang dianggapnya penting. Disamping itu aku juga merasa tidak ada kecocokan antara aku dengannya. Namun aku tidak tega memutuskannya. Aku hanya main kucing-kucingan dengan mengatakan bahwa aku sibuk dan aku  harus banyak mengurusi urusan bisnis ayahku. Akhirnya ia marah dengan harapan aku mau membujuknya. Namun aku diam saja, aku pikir justru ini yang kuharapkan. Maka dengan segala kebenciannya iapun akhirnya memutuskan hubungan kami. Syukurlah …..

Akan tetapi belum sebulan berlalu,  tiba-tiba kami dikejutkan dengan sebuah berita tidak sedap. Pada upacara Senin pagi itu, diberitakan bahwa ada seorang murid yang terpaksa dikeluarkan dari sekolah. Pihak sekolah mengingatkan bahwa walaupun ujian telah dekat tidak berarti sekolah tidak akan berani mengambil keputusan tegas. Murid yang telah mengumpulkan peringatan  lebih dari 2000 poin sesuai ketentuan terpaksa harus keluar dari sekolah. Maka sekolahpun heboh. Masing-masing mencari tahu siapa kiranya yang dikeluarkan pada saat-saat menjelang ujian seperti ini  dan atas dasar melanggar poin apa.

Ternyata Kira! Kaget aku dibuatnya apalagi setelah mengetahui penyebabnya. Kira dikabarkan hamil. Usut punya usut ternyata selama ini ia telah menduakan aku. Kata teman yang bisa aku percaya, dia telah lama berpacaran dengan seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi. Temanku itu sebenarnya ingin mengingatkanku namun tidak enak. Puji Tuhan, untung aku tidak benar-benar jatuh cinta padanya.

***

Agustus 2002 adalah hari istimewa baik bagiku. Betapa tidak setelah sebelumnya aku dinyatakan lulus SMA, bulan ini aku kembali mendapat berita gembira bahwa aku diterima di fakultas Sosial sebuah universitas negri terkenal di Jakarta!  Horeee… alangkah gembiranya hati ini  Ayah sebetulnya kurang menyetujui pilihanku ini. Ia lebih menginginkan aku kuliah di jurusan bisnis., ” Sebagai anak satu-satunya, wajar bila ayah berharap kamu dapat meneruskan usaha yang telah lama dirintis ayah dan kakek buyutmu dengan susah payah ini, Mad”, begitu alasan ayah. Namun aku betul-betul tidak tertarik dengan dunia bisnis. Disamping itu ibupun membebaskanku untuk memilih kuliah dimanapun yang aku suka. Akhirnya ayah menyerah. Tapi ia juga tidak gembira akan keberhasilanku diterima di jurusan pilihanku ini. Apa boleh buat…..

Bersama sejumlah teman yang diterima di perguruan tinggi negri, hari itu kami merayakan kegembiraan kami di Dufan. Semua permainan aku jalani dengan senang hati. Padahal sebelumnya aku tidak pernah  berminat mencoba ’Tornado’ yang baru membayangkannya sajapun bisa bikin perutku mual.

***

Tanggal 27 Agustus mahasiswa baru fakultas Sosial menjalani hari pertama kuliah. Ini adalah hari perkenalan dan silaturahmi antara mahasiswa dan dosen. Di hari tersebut pihak universitas mengundang  seorang tamu istimewa. Ia seorang pemerhati masalah sosial yang memiliki nama cukup populer di kalangan orang muda. Dalam acara sambutannya ada hal yang menarik perhatianku. Dengan berseloroh dan nada bercanda ia menanyakan apakah ada diantara  kami yang mempunyai tetangga yang telah menikah. Belum selesai kami berpikir, ia kembali melontarkan pertanyaan aneh, apakah istri tetangga tersebut mempunyai jari kaki dan tangan lengkap, apakah tubuhnya sexi, bagaimana dengan hidungnya? Pesek atau mancungkah?

Tentu saja kami semua tertawa mendengar gurauan tersebut. Setelah seluruh hadirin berhenti tertawa , sang tokoh populer tersebut kembali melanjutkan perkataannya. Kali ini dengan nada lebih serius. Katanya ” Sebagai tetangga yang baik dan berakhlak tentunya kita tidak perlu mengomentari istrinya tersebut, bukan?  Mana ada suami yang rela istrinya dibilang jelek biarpun  hidungnya pesek, bibirnya dower, jarinya jebret semua ”. Hahaha…. lucu juga orang ini kataku dalam hati sambil terus penasaran menebak-nebak kemana arah pembicaraannya.

” Makanya jangan suka usil ngurusin agama orang lain. Agama itu sama dengan istri. Mana ada orang mau agamanya dibilang jelek. Biar sajalah….”, begitu katanya. Oooo, gitu.., pikirku ragu karena kurang setuju.

***

Hari-hari berikutnya aku  mulai disibukkan dengan jadwal  kuliahku yang benar-benar padat. Untuk menghemat waktu dan tenaga sekaligus tentu saja uang transport, dengan persetujuan ayah dan ibu, aku memutuskan untuk  kos di dekat kampus. Hanya butuh waktu 10 menit dan cukup dengan berjalan kaki pula untuk sampai ke gedung kampus. Malah ternyata pihak universitas menyediakan sepeda khusus gratis selama kita menggunakannya di dalam lingkungan kampus.

Aku bersyukur ternyata aku tidak salah memilih jurusan ini. Aku benar-benar menikmati hampir semua pelajaran yang diberikan. Yang menjadi mata pelajaran favoritku adalah sejarah peradaban dunia. Peradaban kuno seperti peradaban Maya di Amerika Latin, peradaban Sumeria, Assyria dan Mesopotamia di Syria, peradaban Fir’aun di Mesir  adalah makananku sehari-hari. Bahkan aku merasa apa yang diberikan dosen di kampus kurang dapat memuaskan rasa keingin-tahuanku yang begitu tinggi.  Untung ada internet di kamarku. Aku bisa berjam-jam menghabiskan waktu untuk sekedar surfing didepan kotak kaca ajaib tersebut.

Begitu juga masalah-masalah sosial seperti isu pemanasan global, kemiskinan, korupsi, politik  hingga berbagai konflik yang belakangan makin sering terjadi terutama di kawasan Timur Tengah. Perang Chechnya, Afganistan dan pendudukan Palestina oleh Yahudi adalah contohnya. Dari internet ini jugalah aku baru tahu ternyata kawasan ini sudah sejak lama telah menjadi saksi bisu berbagai peperangan dan permusuhan yang didasarkan agama. Menurutku Perang Salib adalah perang yang paling heboh dan menggelikan. Bagaimana mungkin hanya disebabkan perbedaan agama dan kepercayaan saja orang rela mengorbankan keluarga bahkan nyawa!

Ketertarikan pada berbagai masalah sosial dan agama inilah  yang menyebabkanku mengikuti lomba karya tulis yang diadakan sebuah surat kabar ternama dan didukung sejumlah kedutaan di Jakarta. Hadiahnya pun tak tanggung-tanggung, selain sejumlah uang juga hadiah home-stay selama 3 minggu di  kota tua historis Yerusalem!

***

” Mad, gile lo … udah lihat pengumuman di koran hari ini ? ”, pekik Lukman, sahabat baruku di universitas. ” Elo keluar juara I ….. wah..wah !”

” Yang bener ? ”, sahutku setengah tak percaya sambil menyambar selembar koran yang dipegangnya. Benar,  namaku tercantum pada baris pertama, artinya aku mendapat hadiah utama.

” Ga salah deh elo ya bolos beberapa hari buat nyelesein tulisan elo..”,  kata Lukman sambil menyelamatiku. Aku cuma senyum-senyum gembira membayangkan hadiah yang bakal kutrima.

” Traktir dong, Mad..”, lanjut sahabatku yang memang doyan makan itu. ” Iya, iya..tapi tunggu dulu dong sampe gue bener-bener di telpon…jangan-jangan salah cetak lagi ”, kilahku.

”Ya udah, yang penting lo musti bersyukur dulu Mad …kalo bukan karena rahmat Allah ga mungkin lo menang tuh!!”. ” Dasar uztad ”, gerutuku senang. Anehnya, aku tidak menolak ketika ia mengajakku untuk mensyukuri kemenanganku itu dengan shalat di masjid kampus dimana ia biasa shalat. Aku hanya sekedar mengikuti gerakan-gerakannya membungkuk-bungkukkan badan layaknya orang senam. Namun demikian terus terang ada semacam kesejukkan dan rasa haru menyelinap ke dalam dada ini, terutama ketika bersujud mencium tanah. Dari dulu aku selalu merasa takjub ketika menyaksikan orang dalam posisi demikian. Aku pikir ini sungguh sebuah penyembahan total kepada Sang Pencipta.

Seusai shalat., Lukman kembali menyalamiku sambil berkata pelan ” Semoga elo dapat hidayah”, begitu katanya. Aku hanya manggut-manggut tak tahu apa maksudnya.

***

Keesokan harinya  aku sudah berada di kantin kampus dengan beberapa teman dekatku untuk merayakan kemenanganku. Aku telah menerima telepon dari panitia bahwa aku berhak mengantongi hadiah utama ke Yerusalem. ” Jadi ga salah kan pengumuman kemarin ”, seru Lukman ikut gembira sambil menepuk-nepuk  pundakku. Tak lama kemudian Lukman memanggil  Nisa dan  Icha  yang kebetulan lewat di depan kantin Dua gadis manis bersahabat ini adalah teman Lukman sewaktu SMA. Nisa kuliah  di fakultas Kedokteran dan Icha di fakultas Hukum. Lukman tahu benar bahwa aku diam-diam menaruh perhatian pada Nisa.

”Nis, Cha… hari ini lo boleh makan apa aja… ada  yang mau traktir lo berdua…”, teriaknya berisik sambil menunjukku dengan jempol gendutnya.

” Ulang tahun nih?”, seru mereka hampir bersamaan. ”Mada menang lomba karya tulis tuh..  kasih selamat dong”, sambung Hari, salah satu temanku. ” Oh gitu….hebat… selamat ya”, kata Icha dengan kenes sambil menjulurkan tangannya. ” Selamat juga Mad, ya..”, sambung Nisa. Kali ini aku tidak perlu menjulurkan tangan karena hampir semua orang juga tahu bahwa Nisa tidak pernah mau bersalaman dengan teman lelakinya. Kata Lukman itu adalah ajaran Islam yang benar. ”Hanya muhrim, yaitu bapak, saudara-saudara, paman dan suaminya yang diperbolehkan menyentuh seorang perempuan disamping mahluk perempuan lainnya tentu saja”, jelas Lukman..

Gadis tinggi semampai ini telah mencuri perhatianku pada hari pertama aku melihatnya di depan fakultas yang kebetulan bersebrangan dengan fakultasku. Lukman yang mengenalkanku dengannya. Dengan jilbab hijau pupus yang menutupi rambutnya, ia tetap terlihat cantik dan menarik. Wajahnya mengingatkanku kepada salah seorang pemain sinetron indo arab yang sering muncul di layar kaca. Mungkin juga jilbabnyalah yang mengesankan wajah ke-arab-araban.

Namun begitu jilbabnya itu tidak menghalanginya untuk beraktifitas. Ia bahkan bintang di lapangan  basket. Disamping itu dengan kacamatanya ia terlihat  pintar dan cerdas. Kata Lukman di SMA dulu ia adalah ketua OSIS. Pada acara-acara khusus gadis ini sering di daulat untuk memamerkan kepiawaiannya dalam bermain gitar. Banyak cowok yang naksir padanya tapi ia terlihat santai dan cuwek saja. Lukman  sering mengomporiku agar mau ’menembak’nya. Tapi aku tak punya nyali.  Mana mungkin aku berani menembaknya bila bahkan membalas tatapanku saja ia tidak mau. Namun demikian aku masih punya harapan karena aku perhatikan Nisa memang tidak pernah memandang  lawan jenisnya lebih dari sekedar yang diperlukan. Walau kadang-kadang aku merasa bahwa sebenarnya Nisa suka mencuri pandang padaku bila aku sedang tidak memandangnya.   “ Semoga aku tidak GR….. ehk..”, pikirku penuh harapan.

***

Head line mengenai perang yang meletus  antara Israel dan Libanon merenggut perhatianku. ” Gila”, kataku dalam hati. ” Hanya gara-gara 1 orang prajurit yang diculik Hizbullah, sebuah kelompok perlawanan Libanon, sebagai permintaan ganti tebusan ribuan laki-laki dan perempuan Libanon dan Palestina yang dijadikan tawanan oleh Israel, bisa mengakibatkan perang meletus ? ”.

Aku memang berusaha sebanyak mungkin mendapatkan berita yang berhubungan dengan Yerusalem. Rencananya aku akan diberangkatkan Juli tahun ini. Artinya aku masih memilki waktu sekitar 4 bulan. Selain melalui internet aku berburu berita melalui berbagai buku mengenai Israel, Palestina,  Timur tengah dan sekitarnya di toko buku. Atas rekomendasi Lukman dan beberapa teman aku juga membeli  ”Yerusalem, satu kota tiga iman” sebuah buku yang ditulis oleh penulis kenamaan Inggris, Karen Amstrong. Ia adalah seorang pemerhati agama.

Dari buku tersebut aku jadi tahu banyak tentang Yerusalem dan Perang Salibnya atau yang dikenal dengan nama The Crusader. Kenanganku kembali melayang ke Museum Du Louvre di Paris beberapa tahun yang lalu dimana  aku, Hans dan Kaori menyaksikan pameran tentang Yerusalem dan perang Salib dimasa Sultan Salahuddin. Kota tua yang hingga saat ini masih menjadi rebutan ketiga agama terbesar  dunia ini ternyata menyimpan sejarah yang begitu fenomenal.

Betapa tidak, Islam meng-klaim bahwa kota ini suci bagi mereka karena Yerusalem khususnya Masjidil Aqsho adalah kiblat pertama mereka sebelum Kabah di Mekah. Di tempat ini pula nabi mereka, Muhammad melakukan perjalanan semalam dari Mekah ke Yerusalem kemudian diangkat menuju ke Arsy-Nya di langit, singgasana Allah, Tuhannya orang Islam. Pada saat itulah Muhammad menerima perintah shalat.

Sementara  bagi umat Nasrani, Yesus, Tuhan mereka, dilahirkan sekaligus berdakwah di negri tersebut. Di tempat ini pula ia disalib dan kemudian dikuburkan. Di lain pihak, orang Yahudi berkeyakinan nabi mereka, Daud dan Sulaiman adalah pemilik dan pendiri tanah Yerusalem dimana Haekel berdiri ribuan tahun yang lalu. Haekel adalah  tempat orang Yahudi melakukan ritual keagamaan untuk  menyembah Tuhannya.

Sementara itu dari berbagai referensi yang aku baca, ternyata Yerusalem memang sejak dahulu sering berada dibawah kekuasaan asing. Tanah Palestina dan Yerusalem khususnya, diperkirakan telah didiami manusia sejak sekitar 3000 SM. Tanah ini juga sering dinamakan dengan sebutan tanah Kana’an. Mereka adalah bangsa Filistin. Pada sekitar 1000-500 an SM negri ini berada dibawah kekuasaan kerajaan Yahudi dengan nabi Daud dan Sulaiman sebagai rajanya. Kemudian masuk berturut-turut Nebukadnezar, raja Babilonia kemudian bangsa Persia dan Romawi Nasrani.  Hingga akhirnya pada sekitar tahun 600 an masuklah  Islam. Ini terjadi pada zaman kekhalifahan Umar Bin Khatab, seorang pemimpin Islam yang dikenal adil, bijaksana,  shalih dan sangat bersahaja. Hanya pada periode dibawah pemerintahan Islam selama 450 tahun inilah ketiga penganut agama bebas menjalankan agama dan kepercayaannya masing-masing.

Kemudian pada tahun 1099 pecah Perang Salib yang diprakasai oleh seorang uskup Nasrani di Clermont,  Perancis. Penyebabnya adalah adanya isu bahwa penguasa Yerusalem bermaksud menghancurkan salah satu gereja yang dianggap keramat umat Nasrani. Oleh sebab itu Sang uskup mengumumkan perlunya perang suci mempertahankan gereja. Maka dengan berbondong-bondong menyerbulah  pasukan yang dinamakan Pasukan Salib ini dari seluruh penjuru Eropa menuju kota Yerusalem.

Sebagai warga  yang telah ratusan tahun menempati kota maka seluruh  penduduk baik pemeluk Islam, Nasrani maupun  Yahudi, mereka bersatu untuk mempertahankan kota melawan pasukan musuh sebagai pendatang yang menyerbu. Namun pasukan Salib yang sebagian kelak dikenal dengan sebutan Ksatria Templar itu akhirnya berhasil merebut Yerusalem dengan penuh kekerasan.  Masjid-masjid dibakar dan hampir seluruh  penduduk kota tua tersebut, dewasa maupun anak-anak, laki-laki maupun perempuan, Islam, Nasrani maupun Yahudi, semua dibantai. Bahkan dikabarkan 10.000 orang Muslim yang berusaha berlindung di atap masjid Al-Aqshopun tidak luput dari pembantaian.

Dalam bukunya, Karen Amstrong mengutip kata-kata Raymond dari Aguilles, seorang saksi dari Perancis yang mengatakan : ” Tumpukan kepala, tangan dan kaki dapat terlihat”, ”…para pria berjalan dengan darah yang naik hingga ke lutut dan tali kekang kuda mereka …”. Dengan cara seperti itulah Yerusalem jatuh ke tangan pihak Nasrani Eropa.

Delapan puluh delapan tahun kemudian dalam pertempuran yang terkenal dengan nama pertempuran Hittin,  pasukan Muslim dibawah Salahuddin Al-Ayyubi,  seorang sultan Mesir berhasil merebut kembali Yerusalem dari tangan pihak Nasrani. Hebatnya tidak ada dendam dalam perang ini. Tak satupun orang non Muslim  yang dibunuh. Sultan hanya membunuh orang yang benar-benar  dianggap keterlaluan jahatnya dan kemudian hanya mengusir orang Nasrani yang tergabung dalam pasukan Salib saja. Selebihnya diperbolehkan tetap tinggal di kota dan menjalankan kepercayaan masing-masing seperti ketika belum terjadi Perang Salib. Artinya tanpa memperhatikan agama dan kepercayaannya, seluruh penduduk asli apapun agamanya tetap diizinkan tinggal di Yerusalem.

Tiba-tiba ingatanku melayang pada film ” The Kingdom of Heaven” yang disutradarai oleh Sir Ridley Scott dan dibintangi aktor kenamaan Orlando Bloom. Film ini mengisahkan terjadinya perang Salib yang terjadi pada tahun 1187  tersebut. Sedangkan pasukan Templar mengingatkanku pada film ” Da Vinci Code ”yang sempat heboh beberapa tahun yang lalu. Aku baru menyadari rupanya film-film tersebut sebenarnya adalah kisah nyata yang mungkin mengalami sedikit modifikasi dan bumbu. Perang Salib terjadi hingga 9 kali, namun pasukan Salib hanya mengalami kemenangan sekali itu saja, yaitu pada Perang Salib I.

Kemudian pada tahun 1250an, Hulagu Khan seorang pemimpin dari dinasti China yang juga cucu Kubilai Khan,  kembali memporak-porandakan tanah Syam, termasuk Palestina dan Yerusalemnya. Dengan penuh kekejaman ia menghancurkan dan membumi hanguskan wilayah tersebut. Tetapi tak lama kemudian pada perang Ain Jalut yang terjadi di Palestina, pasukan Muslim Mameluk dari Mesir berhasil secara gemilang menaklukkan dan mengusir pasukan Mongol yang dikenal sangat bengis dan belum pernah kalah dalam pertempuran  itu.

Selanjutnya selama hampir 500 tahun di bawah kekuasaan Ustmani Ottoman yang Islam, Yerusalem mengalami masa kejayaannya. Hingga akhirnya kekhilafahan ini kalah dalam Perang Dunia I pada tahun 1917 dan pada tahun  1923 kekhalifahan ini benar-benar terhapus. Maka Yerusalempun berpindah ke tangan kerajaan Inggris. Dan berdasarkan perjanjian Balfour tahun 1917 yang disetujui PBB, tanah ini pada tahun 1947 resmi akan diberikan kepada pihak Yahudi Zionis yang bercita-cita akan mendirikan negara Israel Raya yang penuh masalah. Yang tidak menginginkan sebuah negri yang berbagi dengan etnis apalagi agama lain karena ia merasa sebagai bangsa terbaik dan bangsa pilihan!

Sejarah membuktikan bahwa perasaan superior ini membuat orang Yahudi dimanapun berada dibenci dan dimusuhi. Kelompok yang membenci orang-orang ini belakangan diberi nama Anti Semit. Seringkali orang-orang Yahudi ini diusir dan dijadikan bulan-bulanan kelompok yang membencinya. Pembantaian pada Perang Salib-Jerman pada tahun 1096, pengusiran orang-orang Yahudi dari tanah Inggris pada 1290, dari tanah Spanyol pada tahun 1492, dari Portugal pada tahun 1497 adalah contoh ekstrimnya. Dan yang paling spektakuler adalah peristiwa Holocaust selama Perang Dunia II oleh Nazi Jerman pimpinan Hitller. Peristiwa inlah yang kemudian dijadikan alasan untuk menarik simpati dunia sekaligus rasa bersalah Eropa untuk membenarkan berdatangannya orang Yahudi ke tanah Palestina dan membangun rumah serta menyerobot hak penduduk asli.

.Lebih dari itu, orang Yahudi merasa bahwa mereka adalah pemilik asli tanah Palestina. Karenanya ketika pihak Inggris sebelumnya menawarkan tanah Kenya, mereka menolak. Meski demikian sebenarnya perjanjian Balfour yang ditanda-tangani pihak Inggris dan Zionis itu telah mensyaratkan adanya keadilan bagi penduduk yang sebelumnya telah tinggal di negri tersebut.  Satu hal yang hingga detik ini jelas-jelas telah dilanggarnya terang-terangan di depan mata dunia tanpa ada satupun negara yang berani menegurnya!

Apa rahasianya? Dari banyak sumber kuketahui ternyata hal ini berkat kehebatan para pelobby yang mereka miliki.  Adalah AIPAC, kependekkan American Israel Public Affairs Committee, sebuah dewan resmi Amerika yang menangani masalah Yahudi. Dewan ini telah berdiri sejak lama dan berkedudukan di Washington DC. Orang Yahudi telah lama dikenal sebagai bangsa yang pandai, ulet sekaligus licik dan suka melanggar janji. Gabungan bakat tersebut menyebabkan bangsa ini sukses dalam berbagai bentuk bisnisnya. Bermula dari  kekayaannya yang melimpah, dewan pelobby Yahudi  berhasil masuk serta mempengaruhi dan bahkan menyelinap ke dalam jajaran penting  kekuasaan pemerintahan negara adi daya Amerika Serikat ‘ si penguasa dunia’.

Bahkan rumor yang telah sejak lama beredarpun mengatakan bahwa adalah Dr.Chaim Wiezmann, seorang ahli kimia warga-negara Inggris-Yahudi yang menjadi wakil pembicara Zionis di Inggris. Berkat jasanya dalam membuat senjata kimia yang menjadi penentu kemenangan Inggris pada PD I maka sebagai kompensasinya bangsa Yahudi yang tadinya hidup bertebaranpun mendapat hadiah tanah milik bangsa Palestina.

Yang menjadi pertanyaanku dan juga  banyak orang, atas dasar pertimbangan apa sebuah tanah / negri dapat diberikan begitu saja kepada pihak asing. Pihak Yahudi mengklaim bahwa Palestina adalah tanah leluhur mereka. Sementara pada kenyataannya penduduk Palestina yang mayoritas etnis Arab dengan agama yang berbeda-beda tersebut telah menempatinya beratus-ratus bahkan ribuan tahun lamanya.  Lalu berapa lama sepantasnya seseorang dapat dianggap bahwa ia penduduk sebuah negri tanpa perlu merasa khawatir bakal diusir ? Disamping itu bukankah mustinya berdirinya sebuah negri adalah dalam rangka memberikan rasa aman kepada penduduknya, bukan malah menteror apalagi mengusirnya ??

Sebagai bekal nanti, aku terus  berusaha untuk mengingat lokasi dan kejadian  yang dianggap penting  bagi masing-masing pemeluk ke tiga agama  ini, yaitu tempat-tempat ritual yang biasa dikunjungi para wisatawan asing yang datang baik berdasarkan agamanya ataupun sekedar rasa keingin-tahuan semata. Rasanya aku sudah tak sabar lagi untuk segera terbang dan mewujudkan apa yang berada dalam bayanganku.

***

Read Full Post »

Malam itu aku tidak dapat memejamkan mata barang sedikitpun. Besok  pukul 4 sore, aku sudah harus meninggalkan kota yang banyak meninggalkan kenangan tersebut. Pesawat yang akan menbawaku pulang ke tanah air menurut jadwal akan terbang pukul 9 malam langsung menuju Jakarta. Namun semalaman aku hanya dapat membalik-balikkan tubuhku ke kiri dan ke kanan. Aku berusaha memejamkan mata namun pikiranku terus mengembara. Aku merasakan  adanya  beban berat yang menekan dadaku dengan kuat . ” Aku harus mengambil keputusan…sekarang atau tidak sama sekali ”, pikirku menahan kantuk.

( Taman itu begitu luas dan indah. Kesejukkan dan keasriannya masih ditambah lagi dengan kehadiran air mancur dengan kolam-kolamnya dimana berbagai jenis ikannya yang berwarna-warni  berenang kian kemari. Didepan sana aku melihat beberapa gerbang megah berwarna kehijauan. Aku berjalan mendekati gerbang termegah dan terbesar yang kuyakin pasti terdapat kedamaian di dalam sana. Diatas gerbang  kuperhatikan terdapat tulisan indah berukir  ” Laa illaha Illa Allah wa ashadu anna Muhammad Rasulullah”.

Namun ketika aku hampir mencapai gerbang  dan tengah berusaha mendorongnya  tiba-tiba secara perlahan gerbang  terbuka dengan sendirinya. Bersamaan dengan itu muncul pula seberkas cahaya yang sangat menyilaukan mata. Aku tak sanggup menjangkau bahkan memandang gerbang yang kelihatannya   begitu dekat itu. Padahal aku yakin gerbang tersebut telah terbuka begitu  lebar. Aku terpaksa mundur  beberapa langkah sambil memalingkan wajah. Selanjutnya aku berusaha menuju ke gerbang lain yang tak jauh dari gerbang pertama. Namun ketika aku hampir mencapainya kembali terjadi kejadian  seperti  sebelumnya.

Terpaksa akupun membatalkan keinginanku. Kini aku melayangkan pandanganku pada gerbang di sebelahnya  lagi. Dengan setengah berlari aku menuju gerbang tersebut  berharap  kali ini aku akan berhasil memasukinya. Namun hasilnya sama, aku selalu terhalang oleh  cahaya misterius itu. Keringatku mulai bermunculan. Aku tidak ingin menyerah. Aku terus berlari dan berlari  menuju  gerbang satu  ke gerbang yang lain. Ternyata gerbang tersebut ada 8 jumlahnya. Namun dari kedelapan gerbang tersebut tak satupun yang berhasil aku lalui.

Aku menjadi frustasi. Muncul bayangan kegelapan. Perlahan ia menghampiri. Semakin lama semakin cepat. Ia  menerpaku seolah ingin menyedot dan melumatku dalam-dalam. Aku benar-benar diselimuti ketakutan yang amat sangat. Akupun segera berlari sambil berteriak histeris meminta tolong… )

Tiba-tiba aku terbangun dan terduduk kaku.. ” Oh mimpi..., syukurlah ” bisikku  bergidik ngeri. Kerongkonganku benar-benar tersekat. Aku melirik jam yang tergantung di dinding kamarku.  ” Baru pukul 12.30”, pikirku.. Aku termenung sejenak sambil sekali-sekali menyeka keringat dingin sebesar biji-biji jagung yang terus menetes dari tubuhku.  Aku mencoba untuk menetralkan nafasku yang tersengal-sengal.  Akhirnya aku memutuskan untuk mencoba menghubungi telpon selular Karim melalui telpon selularku. Setelah beberapa kali gagal akhirnya aku mendengar suara Karim yang terdengar setengah mengantuk di ujung sana.

Maaf mengganggumu Karim ”, kataku setengah menyesal.  ”Ada apa ”, jawab Karim terdengar agak kesal.” Aku ingin memeluk  Islam ”, kataku mantap. Sesaat hening. Aku tak tahu bagaimana reaksi Karim namun aku tak peduli. ”Karim… kau dengar aku? ”,   ucapku setengah berteriak.

Allahu Akbar … ya yaa … aku dengar Mada. Sudah kuterka beberapa hari ini ….”, sahut Karim setelah beberapa detik berlalu. ”  Namun apa yang kau harap dapat aku lakukan di tengah malam ini ?”, tanya Karim. ” Tak dapatkah kau menunggu hingga esok hari ?”, lanjutnya. ” Aku… aku takut terlambat … tak mungkinkah kau mengantarku malam ini juga memasuki Masjidil Aqsho’ untuk berikrar ?”, tanyaku penuh harap.

Gila kau… Ini Yerusalem..lupakah kau bahwa ini kota pendudukan dimana jam malam berlaku ketat? ”, jawab Karim. ” Aku janji esok pagi akan mengantarmu .. jam 10 ”, katanya  memastikan. ” Tak dapatkah lebih pagi lagi ”tanyaku mencoba menawar.

Itu adalah jam terpagi yang bisa aku tawarkan… Bahkan bisa jadi mereka membuka gerbang Aqsho’ lebih siang lagi…sabar dan shalatlah semampumu..Lakukan seperti yang pernah kau lakukan tempo hari bersamaku … InsyaAllah Allah  akan menenangkan hatimu..Aku turut bersyukur atas hidayah yang diberikan kepadamu Mada ”, kata Karim mengakhiri percakapan.

***

Pukul 7 esok paginya, aku sudah terbangun dalam keadaan segar. Aku bersyukur mau mengikuti saran Karim malam tadi. Setelah melakukan shalat semampuku aku segera tertidur pulas. Pukul 10 kurang sedikit  aku sudah berada di dalam masjid Al-Aqsho. Aku telah memberitahukan niatku itu kepada keluarga Benyamin ketika kami sedang sarapan. Di luar dugaanku mereka tampak ikut senang melihat kebahagiaanku.

”Setidaknya kau telah berada dilingkup agama samawi, Mada”, sambut ibu Benyamin. ” Ya, apa yang dikatakan ibuku benar ”, sambung Benyamin. ” Aku yakin, sesungguhnya Islam, Nasrani dan Yahudi adalah tiga agama yang berasal dari sumber yang sama. Yang hingga kini aku tidak mengerti mengapa sebagian orang harus saling membenci gara-gara berbeda keyakinan. Pasti ada yang sesuatu yang tidak beres. Aku harap suatu saat kelak engkau dapat memberikan jawaban yang memuaskanku”,  kata Benyamin serius.

Kau adalah orang luar dan kau pasti masih bersih dari pengaruh lingkungan. Pasti kau tidak akan berpihak dengan  sembarangan. Berjanjilah pada kami bahwa kau akan segera memberitahu kami begitu kau menemukan jawaban yang meyakinkan ”, pinta ibu Benyamin tak kalah seriusnya dengan Benyamin. ” Ya, aku janji. Doakan semoga aku mampu memecahkan tabir misteri itu”, jawabku tidak begitu yakin.  Sementara aku perhatikan ayah Benyamin hanya diam memperhatikan percakapan kami. Benyamin memang pernah bercerita bahwa sejak pecah perang tahun 1967 ayahnya jadi berubah  tidak begitu peduli terhadap urusan agama walaupun tidak sampai menjadi atheis.

Prosesi ikrar yang kujalani ternyata cukup singkat dan sederhana. Mula-mula aku disuruh berwudhu sebelum memasuki masjid. Karim yang membimbingiku. Sambil menunggu kedatangan imam besar masjid, Syeikh Muhammad Husein, Karim mengajariku beberapa hal penting mengenai shalat, seperti persyaratan sebelum shalat, apa yang membatalkannya, berapa kali sehari harus shalat dan lain-lain. Aku mencatat apa yang diterangkannya kedalam sebuah buku kecil.

Shalat adalah tiang agama. Ini yang pertama kali harus kau pelajari. Shalat adalah hubungan langsung dengan Tuhan,  Allah swt. Keluarkan segala masalah  yang ada dalam hatimu dan mohonlah bantuannya. Ialah yang menciptakanmu maka Ia tahu pula apa yang baik bagimu. Berbaik sangkalah pada-Nya karena Ia akan mengikuti persangkaanmu itu”, jelas Karim.

Beberapa saat kemudian imam yang ditunggupun datang. Dengan disaksikan sejumlah jamaah yang kebetulan  hadir di dalam masjid ketiga tersuci tersebut, akupun berikrar dengan mengikuti kata-kata sang Imam bahwa ” Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya”. Hanya itu. Setelah itu Syeikh Husein dan Karimpun diikuti para  saksi menyalamiku dengan penuh rasa persaudaraan. Seperti kebiasaan orang Arab lainnya, mereka mencium pipiku tiga kali.  Masing-masing memberi nasehat atau mungkin doa karena mereka berbahasa Arab yang tentu saja tidak kumengerti. Namun tetap saja terharu aku dibuatnya.

Kau kini bagian dari Islam dan seluruh umat Islam dimanapun berada adalah bersaudara. Dengan saling mengingatkan dan saling menasehati dalam hal kebaikan berarti kita telah menegakkan kebesaran Allah ”, nasehat Syeikh.

Saudara-saudaraku seiman, saksikanlah bahwa hari ini saudara kita Mada telah menerima hidayah-Nya. Mada adalah orang yang beruntung. Ia adalah satu dari setengah bagian hamba yang mulanya  tidak mengakui-Nya namun kemudian ditakdirkan menjadi satu dari 2/3 hamba tersebut yang terpilih untuk bersujud hanya kepada-Nya ”, demikian khutbah sambutan yang diberikan Syeikh di depan jamaah. ” Namun ingat, hadis yang ditujukan kepada kita sebagai setengah bagian seluruh hamba  yang mulanya bersujud hanya kepada-Nya ini berkata bahwa pada akhirnya, ada 1/3 bagian darinya yang ditakdirkan akan murtad. Naudzubillah min dzalik…Semoga kita bukan satu diantaranya”, sambungnya lagi.

Untuk itu, janganlah kita terbuai. Teruslah memperbarui dan memperdalam keimanan dan pengetahuan kita . Khusus untuk Mada, bila ingin menjadi Muslim yang baik, banyak yang harus kau pelajari. Begitu sampai di negrimu, carilah seorang imam atau uztad yang benar-benar mengerti ilmu agama Islam, yang menguasai dalil-dalil yang tercantum dalam Al-Quran dan hadis. Ingatlah, sekarang ini banyak orang merasa dirinya pintar dan merasa telah menguasai agama dengan baik padahal ia adalah sesat. Jangan berjalan sendiri, bergabunglah dalam  jamaah, semoga engkau selalu dalam lindungan-Nya, amin. Yang terakhir tolong sampaikan pesanku mewakili seluruh umat Islam Palestina kepada saudara-saudara kami seiman di negrimu, bantulah kami mempertahankan masjid ke tiga tersuci ini dari serangan Zionis Yahudi ”, ujar sang imam menutup khutbah singkatnya.

***

Tepat pukul 4 sore, aku telah berada di kendaraan menuju Amman, Yordania. Karim berada di belakang kemudi, Benyamin duduk disebelahnya sementara aku duduk diam di kursi di belakang mereka. Kedua tanganku  mendekap erat Al-Quran dengan terjemahan bahasa Inggris yang tadi pagi diberikan kepadaku oleh seorang mualaf Jerman yang kebetulan ikut menyaksikan ikrarku di dalam masjid. ” Sekarang kitab ini telah menjadi  kitab suciku”, bisikku dalam hati. Pikiranku melayang kemana-mana sementara mataku memandang ke luar jendela menatap kota tua, The Old Yerusalem yang telah memberiku cahaya kebenaran. Aku terus menatap ujung kubah emas, kubah Al-Aqsho dan pelatarannya  hingga akhirnya benar-benar lenyap dari pandanganku.

Selamat jalan, Mada. Jangan lupa beri kabar setibamu di Jakarta”, kata Benyamin dengan suara agak tersekat. ” Walaupun hanya tiga minggu namun aku merasa akan sangat kehilangan dirimu ”, lanjutnya.

Aku segera merangkulnya. ” Akupun merasa demikian, Benyamin. Aku sangat berterima-kasih atas kesediaanmu dan keluargamu menampung diriku selama berada di Yerusalem”, sahutku. ” Aku janji akan terus menjaga persahabatan kita.. sampaikan juga salamku untuk kedua orang-tuamu. Katakan juga maafkan aku bila selama berada di rumahmu aku telah membuat kalian repot dan bahkan mungkin menyakiti hati kalian ”, kataku tulus.

Selanjutnya aku merangkul Karim erat. Ia menepuk-nepuk bahuku pelan. ” Terima-kasih, Karim. Melalui perantaraanmulah aku terbebas dari kesesatan. Doakan aku semoga aku dapat menjadi Muslim yang baik”, kataku penuh haru.

Alhamdulillah, Allah bless you. You are my brother now, Mada”, jawab Karim. ” Jangan lupa pesanku dan juga   khutbah Syeikh Husein tadi pagi, segera cari seseorang yang dapat membimbingmu ”, lanjutnya.

***

Read Full Post »

Suatu hari datang beberapa orang tamu dari Jakarta. Mereka adalah anggota salah satu LSM ( Lembaga Swadaya Mayarakat) yang bergerak di bidang kesehatan. Biasanya LSM ini memberikan bantuan darurat khusus kepada para korban perang. Rupanya kedatangan mereka berhubungan dengan rencana keberangkat mereka menuju Tepi Barat di Palestina. Demi keberhasilan misinya  mereka mencari relawan yang bersedia ikut membantu tugas mulia mereka. Maka tanpa ditanya dua kali aku segera menyatakan kesediaanku untuk bergabung. Sebetulnya ada 15 orang yang berminat  untuk ikut serta namun setelah melalui sejumlah wawancara akhirnya hanya 3 orang yang lolos, termasuk aku.

Sebelum berangkat aku menyempatkan diri untuk menulis surat kepada ayah dan ibu memohon  doa restu mereka berdua agar di negri orang nanti aku selalu  dalam lindungan-Nya. Sebaliknya aku juga memohon bila terjadi sesuatu kepadaku nanti ayah dan ibu mau memaafkan aku.

***

Sebulan kemudian setelah mendapatkan pelatihan   selama kurang lebih 2 minggu di kantor LSM tersebut, bersama 30 orang lainnya kamipun berangkat ke tempat tujuan. Tidak seperti kedatanganku kali pertama ke Palestina, kali ini dari Amman, Yordania kami langsung naik bus menuju kota Nablus  di Tepi Barat, sekitar 60 km utara Yerusalem. Di luar persangkaanku Nablus ternyata adalah sebuah kota industri yang cukup besar. Kota ini terkenal di manca negara akan produksi eksport sabunnya  yang terbuat dari minyak zaitun. Sayang, sejak pendudukan Israel pada tahun1948, lebih dari separuh pabriknyapun gulung tikar karena bangkrut. Ini terjadi hampir di seluruh sektor industri di seluruh negri termasuk Nablus.

Nablus juga mempunyai universitas yang cukup besar, namanya An-Najah National University. Universitas ini adalah universitas  terbesar di Tepi Barat. Dibangun pada tahun 1918 sebagai sekolah An-Najah akhirnya berkembang menjadi universitas  yang memiliki banyak fakultas diantaranya fakultas kedokteran, kedokteran hewan, kedokteran mata, farmasi, tehnik, hukum Islam  dan lain-lain. Pada tahun 1988 universitas ini sempat ditutup oleh otoritas Israel karena dianggap melawan kebijakan pemerintahan pendudukan.

Rasanya belum ada catatan dalam sejarah dimana sebuah kota dikelilingi lebih dari 100 cekpoint. Namun begitulah Nablus. Di kota ini tak seorangpun dapat pergi dan pulang ke rumahnya  sendiri tanpa harus melewati pos pemeriksaan dimana tentara Israel lengkap dengan senjatanya memeriksa tubuh dan bawaan mereka, setiap hari! Nablusi memiliki  6 rumah sakit besar disamping pula  4 kamp yang dihuni sekitar 35.000 pengungsi.

Di kota inilah kami disambut perwakilan organisasi induk yang khusus menangani bantuan kesehatan darurat pasca perang. Kelompok kami dipecah menjadi 10 tim untuk kemudian digabung dengan tim gabungan dari berbagai negara. Kemudian tiap tim yang terdiri dari 20 orang itu, dua diantaranya dokter, satu dokter umum dan satu lagi dokter bedah, plus peralatan medisnya langsung diterjunkan ke daerah-daerah rawan seperti kamp Balata , Ramalah.dan lain-lain.

Aku sendiri di tempatkan di sebuah desa kecil bernama Azmut sekitar 5 kilometer timur laut dari Nablus. Desa ini terletak di kaki bukit dimana pendatang sekaligus pemerintah ilegal Israel mendirikan permukiman Yahudi, sebuah perumahan mewah bernama Elon Moreh. Dengan mengendarai tiga jip terbuka tim kami tiba  di tempat tersebut menjelang ashar. Kami segera mendirikan empat buah tenda. Satu tenda besar untuk menampung korban, tiga tenda sedang  masing-masing untuk menyimpan obat-obatan dan segala perlengkapan lainnya sedang dua tenda sisanya untuk ditempati tim medis dan para relawan.

Selama kami bekerja, di kejauhan aku dapat mendengar suara desingan peluru di udara. Dari seorang kenalan baruku, seorang relawan Amerika bernama Mahmud, hampir setiap hari terjadi pertempuran di daerah itu. Mahmud yag bernama asli Michael Reed ini adalah seorang mualaf yang telah beberapa kali ikut menjadi relawan didaerah pergolakan. Ia pernah diperbantukan di Afganistan dan  Libanon. Jalur Gaza baginya adalah yang ketiga.

Di tengah keasyikanku mendengar cerita dan pengalaman beberapa kenalan baruku, tiba-tiba datang seorang pejuang Palestina yang menggandeng temannya yang luka parah pada tempurung lutut kanannya. Darah segar mengucur deras dari lukanya, membasahi  celananya. Kamipun segera bubar memberikan pertolongan. Ini adalah kali pertama aku melihat darah sebanyak itu keluar dari sebuah luka. Seketika perasaan mual menyerang perutku namun sedapat mungkin kutahan. Aku tak ingin terlihat tolol ditengah para relawan terutama para pejuang yang dengan begitu gagah berani mempertaruhkan nyawa demi membela bangsa dan keyakinannya itu.

Dengan cekatan dokter Yatim Razak, seorang dokter bedah tulang  berkebangsaan Indonesia dibantu dokter Pierre Orsolini, dokter umum belia  berkebangsaan Kanada beserta tim, segera  mempersiapkan operasi untuk mengeluarkan peluru yang rupanya masih bersarang di lutut kanan mujahidin tersebut. Dengan sigap tim bekerja sama dan dalam waktu tidak lebih dari 45 menit operasipun selesai.

Namun belum sempat kami bernafas lega, tiba-tiba datang lagi dua orang mujahid. Kali mereka datang sambil membopong seorang temannya yang terluka di dada kirinya. “ Jantungnya “, kata  Mahmud pelan di telingaku. Kembali tim disibukkan dengan operasi berikutnya. “ Alhamdulillah”, kata  dokter Yatim lega. “ Hanya menyerempet jantungnya”.

Selanjutnya  berturut-turut datang  sejumlah  pejuang membawa teman-temannya yang menjadi korban tembakan. Di kejauhan tampak bunga api terus berpijaran menerangi langit malam sementara suara tembakan yang mengiringinya memecah keheningan malam. Keadaan seperti ini terus berlangsung hingga pukul 2 dinihari. Setelah itu tembakan hanya terdengar sekali-sekali, itupun dari tempat yang benar-benar sangat  jauh. Menurut beberapa pejuang pasukan lawan sementara dapat ditundukkan.

Mereka mundur untuk sementara. Namun kita tetap tidak boleh lengah. “, kata seseorang yang aku perkirakan sebagai pemimpin para pejuang itu. “ Mereka akan datang lagi begitu mendapatkan bantuan senjata dari pusat”, kata seorang yang lain lagi.

Bayangkan, dengan persenjataan terbatas… itupun hanya senjata rongsokan yang kami beli secara gelap dari pihak tertentu…kami harus melawan persenjataan modern dan canggih yang mereka datangkan khusus dari Amerika Serikat”, keluh sang pemimpin. “ Namun sampai kapanpun, Demi Allah, kami harus melawan….. ini adalah rumah kami, tanah yang telah ratusan bahkan ribuan tahun lamanya kami tempati secara turun temurun”, lanjutnya lagi dengan berapi-api. Tak sedikitpun tampak  rasa takut maupun lelah pada wajahnya. Kagum aku dibuatnya.

Beberapa lama kemudian,  rasanya belum setengah jam aku berusaha untuk memejamkan mata, terdengar di kejauhan azan subuh berkumandang. Segera  secara berkelompok dan bergantian, kami meninggalkan tenda menuju tempat berwudhu.  Begitu ke luar tenda, kurasakan angin dingin menerpa serasa menusuk tulang rusuk dadaku. Padahal aku mengenakan jaket yang cukup tebal. Belum lagi ketika  air dingin menyentuh jari-jari ke dua tangan, lengan, muka serta kedua kakiku.

Bbrr...”, aku berusaha menahan rasa beku itu sambil berdoa memohon pada-Nya agar bangsa Palestina segera keluar dari kemelut berkepanjangan ini. Aku sungguh tak dapat  membayangkan bagaimana perasaan rakyat Palestina selama 60 tahun di bawah cengkeraman penjajahan Israel. Belum lagi membayangkan cuaca negri ini yang antara siang dan malamnya seperti langit dan bumi.

Tak lama kemudian aku sudah berada di dalam shaf shalat subuh berjamaah kelompok pertama sementara kelompok berikutnya tetap berjaga-jaga.

Begitu yang diajarkan Islam”, kata Naji Zuhair, sang pemimpin yang malam itu memang ikut tidur di tenda kami. “ Walaupun kita harus melaksanakan kewajiban dari-Nya, tidak berarti kita lalai menghadapi musuh”.

***

Tiga minggu kemudian karena persediaan obat mulai menipis, aku dan  Mahmud dengan dipandu  Handala Assus, seorang relawan  Palestina mendapat tugas untuk mengambil  obat-obatan di kantor pusat. Untuk itu kami bertiga harus menempuh perjalanan sekitar 25 km dengan berjalan kaki keluar masuk hutan selama lebih dari 15  jam !

Sebenarnya jarak desa tempat kami bertugas dengan kantor pusat tidak seberapa jauh. Namun sejak didirikannya tembok yang oleh pihak Israel disebut sebagai tembok pengaman, sementara pihak rakyat setempat bertanya-tanya pengaman dari apa, jarak antara keduanya menjadi jauh karena terpaksa harus berputar.

Namun demikian aku perhatikan di beberapa tempat, dimana pemisah hanya terbuat dari kawat berduri, rakyat memotong kawat pemisah tersebut. Hingga dengan demikian mereka tidak  perlu berputar terlalu jauh. Bahkan selama perjalanan itu aku sempat berpapasan dengan seorang ibu muda yang sedang hamil  tua, dengan di bimbing dua orang remaja belasan tahun, terpaksa bersusah payah  menerobos pagar kawat yang sudah diputus itu.

Katanya ia sedang menuju ke dusun sebelah untuk konsultasi dokter, sementara suaminya sedang ikut berjuang bersama warga lain. Aku dengar, sejak berdirinya tembok pemisah tersebut banyak korban  berjatuhan. Pasalnya orang yang dalam keadaan sakit keras  dan memerlukan pelayanan kesehatan segera terpaksa menempuh jarak lebih jauh dan lebih lama  hingga terlambat mendapatkan pertolongan

Suatu ketika, ketika kami tengah berjalan menyebrangi sebuah padang rumput, terdengar keributan. Kami segera mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Terkejut kami  dibuatnya. Hanya beberapa meter dihadapan kami terlihat  serombongan anak sekolah Palestina sedang didorong-dorong serombongan anak-anak Israel. Padahal anak-anak itu didampingi guru-guru mereka. Bahkan sang guru yang mengenakan jilbab panjang itupun tak luput dari serangan. Mereka terlihat sedang berusaha menuju  satu-satunya tangga curam yang terbuat dari tanah liat licin karena memang hanya itulah satu-satunya jalan untuk menempuh jalan pulang dan pergi dari dan ke sekolah.

Lebih parah lagi, bahkan anak-anak yang kuperkirakan  berumur antara 10-11 tahun itu, ketika sedang berusaha turun tanggapun terlihat dilempari batu-batu kecil dari arah  bawah tangga oleh anak-anak  Israel layaknya anjing yang diperlakukan dengan kasar. Sementara polisi yang berjaga di sekitar mereka lengkap dengan panser yang diparkir di dekat lokasi malah berusaha melindungi anak-anak Israel itu dari kemarahan guru-guru Palestina.

Kami bertiga segera berusaha melindungi anak-anak Palestina yang malang itu dari lemparan batu namun tak urung kamipun terkena  lemparan batu batu juga. Aku tak habis pikir apa doktrin yang diselipkan ke balik otak anak-anak Israel itu.

Sementara itu aku jadi teringat pada sebuah gerakan yang dikenal dengan nama intifada. Intifada adalah perbuatan melempar batu yang dilakukan oleh anak-anak muda Palestina ke arah tank-tank pasukan Israel. Ini karena rakyat Palestina merasa tidak mendapatkan perlindungan dan pembelaan dari negara-negara Arab sebagaimana sebelumnya karena negara-negara tersebut sedang disibukkan urusan negri masing-masing.

Merasa tidak memiliki sesuatu apapun untuk membela  dan  mempertahankan diri dan tanah mereka dari agresi Israel maka merekapun melakukan pelemparan batu.  Aku pikir di Indonesia mungkin sama dengan senjata bambu runcing dalam menghadapi penjajah Belanda.

Lepas dari tempat tersebut kami meneruskan perjalanan. Di sepanjang jalan yang kami lewati, aku menghitung ada lebih dari 15 pos pemeriksaan. Di setiap pos tersebut aku melihat  antrean panjang  orang-orang  yang hendak pergi bekerja maupun pergi ke sekolah.

Inilah yang terjadi setiap hari ”, omel sejumlah orang yang kutanyai mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

Setiba di pos pemeriksaan yang diberi nama Huwwara, terjadi masalah. Pos ini untuk sementara ditutup dengan alasan keamanan. Kami tdak diizinkan masuk kota walaupun Handala menerangkan bahwa kedatangan kami hanya untuk mengambil obat-obatan untuk orang yang sakit di luar kota. Aku memandang sekelilingku. Terlihat puluhan penduduk Palestina, ada laki-laki, perempuan, anak-anak maupun orang-tua. Sejumlah truk besar ikut mengantri di depan pos tersebut.

Truk itu berisi peralatan bantuan medis”, terang Handala “. Aku perhatikan memang ada spanduk besar Unicef di samping truk.  “ Dan yang itu “, tunjuk Mahmud seolah tak mau kalah sambil menunjuk truk di belakangnya, “ berisi bantuan makanan….biasanya roti “. “ Hal sepert inilah yang menyebabkan Nablus dan desa-desa kecil sekitarnya sering kekurangan makanan “, lanjut Handala dengan nada kesal.

Setelah menanti hampir 3 jam tanpa tanda-tanda dibukanya pintu  pos, Handala pergi menghampiri sopir truk yang membawa perbekalan makanan. Terjadi percakapan diantaranya keduanya. Tak lama kemudian sopir truk tersebut pergi ke bagaian belakang truk dan mengeluarkan  beberapa kotak besar makanan. Setelah itu Handala menghampiri sopir truk yang membawa peralatan medis. Tak lama kemudian sopir melakukan hal yang sama dengan sopir sebelumnya. Aku dan Mahmud hanya memperhatikan apa yang dilakukan Handala dari kejauhan tanpa tahu apa maksudnya.

Tak lama kemudian sambil membopong sejumlah kotak-kotak tersebut,  Handala  segera berjalan cepat menuju pintu pos pemeriksaan sambil berteriak :

Do like what I do Mada and  Mahmud ! “.  Maka tanpa berpikir dua kali aku dan Mahmudpun  segera meniru perbuatan Handala  dan cepat menyusulnya menuju pintu pos.

Setelah sunyi sebentar, mungkin para penjaga agak kaget melihat apa yang kami lakukan, terdengar teriakkan : “ Hey hey…stop…what are  you doing?  where will you go ?” . “Go inside”, jawab Handala tanpa sedikitpun menoleh. “ Itu dilarang… kalian tidak diperbolehkan masuk “, seru si penjaga yang kuperkirakan usianya baru 16 tahunan.

So.. you will shoot us ? Shoot…”, tantang Handala lagi sambil membalikkan badannya hingga menghadap ke arahnya. Si penjaga dengan wajah lugunya itu hanya bisa terdiam dan membiarkan kami bolak-balik melakukan  hal yang sama selama 3 kali.

Setelah itu Handala berkata “ Aku kira cukup untuk kali ini”, katanya kepada kami. “ Syukron. “,  katanya sambil menepuk bahu sang penjaga bersenapan panjang itu santai.” Ingatlah…. di dalam sana banyak yang membutuhkan barang-barang tersebut  “.

Beberapa menit kemudian kami telah berbalik arah sambil membopong beberapa kotak obat dan satu kotak makanan untuk dibawa ke pos kami di Azmut. Namun gara-gara pos yang ditutup tersebut,  langkah kamipun ikut tertunda. Kami bertiga  terbentur dengan jam malam yang telah berlaku sejak tahunan lamanya itu.

Akhirnya Handala memutuskan untuk sementara menginap di kamp terdekat, yaitu kamp Balata yang hanya berjarak beberapa km dari tempat kami berdiri. Yang dinamakan kamp disini jangan dibayangkan seperti kemah atau tenda besar dengan kuali-kuali besar berisi masakan. Karena telah bertahun-tahun kamp ini berdiri, bangunan kamp adalah sudah setengah permanen. Buatku ini adalah pengalaman yang tak akan terlupakan.

Kami didalam kamp berdesakan dengan keluarga-keluarga yang telah lama tingggal di tempat tersebut. Bahkan banyak diantara mereka yang lahir dan besar di kamp ini. Dengan penerangan yang amat minim dapat aku dengar sayup-sayup di kejauhan suara orang melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Mungkin dari arah masjid yang tak begitu jauh dari kamp. Ingatanku melayang ke Yerusalem. Sungguh syahdu perasaanku.

Namun di tengah-tengah keadaan seperti itu, tiba-tiba terdengar suara-suara berisik mengganggu mendekati kamp dimana aku berada. “ Suara apakah itu ? “, tanyaku pada Handala. “ Lihat “, seru Mahmud sebelum Handala sempat menjawab  pertanyaanku.  Aku segera mendekati jendela dan melihat ke arah Mahmud menunjukkan jarinya. Aku lihat di ujung sana sejumlah  jip tentara , tank dan buldozer mendekati kamp.

Apa mau mereka ?” tanyaku khawatir. “ Inilah yang terjadi setiap hari “, jelas Handala. “ Mereka  ingin menakuti-nakuti warga supaya kami mau meninggalkan tempat ini. Sering kali secara tiba-tiba mereka itu bahkan membuldozer sejumlah rumah ditengah malam ketika penghuninya sedang tidur nyenyak”.

Belum selesai Handala melanjutkan penjelasannya tiba-tiba terdengar suara tembakan dan granat yang meledak di udara. “ Duarrr.…”, berdiri seluruh bulu kudukku. Beberapa detik kemudian muncul kesunyian.  Setelah menunggu beberapa saat , aku  kembali menghampiri jendela ingin melihat apa yang  terjadi. Dibalik kepulan asap yang membumbung tinggi aku melihat jip, tank dan buldozer tadi  pergi meninggalkan kamp.

Kami semua menghela nafas lega. Sambil mengangkat kedua tangannya  Handala berkata : “ Kami sudah terbiasa menghadapi semua ini  Hampir setiap hari ada saja teman dan saudara yang tertembak, terbunuh, terluka, diculik atau dipenjarakan. Tapi demi Allah kami tidak akan menyerahkan tanah ini kepada orang-orang kafir itu. Sabar, shalat dan berjuang adalah moto kami. Dengan demikian Insya Allah pertolongan-Nya pasti datang. Ini adalah jihad dalam rangka menegakkan kebenaran”, jelas Handala sambil menguap menahan kantuk.

***

Keesokan paginya, ketika hendak berwudhu, Handala mengingatkan aku dan Mahmud untuk menghemat air. “ Air disini sangat berharga. Gunakan secukupnya saja “. Pemerintah Israel memang sudah kelewatan. Pemakaian air sangat dibatasi namun wargapun dilarang membangun sumur. Alasannya tanah tempat mereka berdiam adalah tanah kamp milik tentara Israel. Artinya membangun sumur berarti perbuatan ilegal yang beresiko mendapatkan hukuman kurungan penjara. Begitu Handala memberikan penjelasan.

Usai mendirikan shalat subuh, kami bertiga segera pergi meninggalkan kamp Balata dan menuju Azmut. “ Mereka pasti sudah menunggu kita. Obat-obatan ini sangat dibutuhkan para korban yang pasti hari ini sudah makin bertambah banyak  ”, jelas Handala.

Sambil membopong kotak berisi obat-obatan kami melanjutkan perjalanan. Kami melewati beberapa desa yang telah kosong ditinggalkan penduduknya sementara itu terlihat jelas rontokan bangunan yang telah hancur di gempur bom dari udara. Menurut Handala, sebagian besar penduduk Palestina hingga saat ini hidup di dalam pengungsian.

Kamp Balata yang baru saja kami tinggalkan pagi tadi hanyalah salah satu diantara banyak kamp pengungsi yang tersebar di seluruh Palestina. Bagi yang cukup memiliki uang dan sanak saudara di luar Palestina, mereka memilih pergi dan hidup di pengasingan. Yordania dan Mesir adalah yang paling menjanjikan kehidupan yang lebih baik dibanding hidup di dalam kamp dalam negri yang bahkan fasilitas listrik dan airnyapun sangat terbatas.

Di tengah perjalanan, ketika kami hampir mencapai perbukitan  dekat pemukiman Yahudi Elon Moreh, terdengar kegaduhan. Setelah kami dekati ternyata itu adalah suara seorang warga Palestina yang bermaksud memanen buah zaitun dari kebun yang telah lama dinantikannya dengan dua orang tentara Israel. Dari percakapan yang kami tangkap, tentara Israel tersebut berusaha melarang  warga Palestina itu untuk memanen buah zaitunnya meskipun itu adalah kebunnya sendiri.

Aneh…, bukankah itu kebunnya sendiri ?”, tanyaku heran pada Handala. “ Ya begitulah….alasannya adalah penghuni pemukiman Yahudi di bukit diatas”, kata Handala sambil menunjuk ke pemukiman yang terlihat mewah itu. “ Mereka pasti akan merasa terganggu dan menjadi marah”. Aku sama sekali tak mengerti arah pembicaraannya namun aku tidak bertanya lagi.

Untung   tak lama kemudian muncul polisi internasional yang memang bertugas menjaga keamanan wilayah itu. Merekalah yang kemudian mengizinkan  warga Palestina itu memanen buahnya dengan syarat tidak terlalu lama. Tak lama kemudian baik polisi maupun tentara Israel itupun pergi meninggalkan sang warga Palestina memanen zaitunnya. Kamipun segera meneruskan perjalanan kami.

Namun belum 15 menit kami berlalu tiba-tiba terdengar bunyi benda keras  yang ditabrakkan. Kami segera berbalik arah menuju ke tempat datangnya suara untuk melihat apa yang terjadi. Dari  kejauhan terlihat sebuah jip sedang  menabrakkan kendaraannya secara berkali-kali ke arah pick-up tua milik  warga Palestina yang tadi sedang memetik  buah zaitunnya!

Setengah berlari kami menuju tempat tersebut. Menyadari ada orang mendekat, jip segera menderu meninggalkan  tempat kejadian. Syukur alhamdulillah tidak ada yang terluka.

Ya Allah Ya Robbi, lihatlah apa yang diperbuat para pendatang itu. Mereka tidak hanya menzalimi diri kami tetapi juga menzalimi diri mereka sendiri. Ya Allah saksikanlah bahwa kami adalah termasuk hamba-hamba-Mu yang bersabar atas cobaan yang Engkau datangkan kepada kami “, begitu ratapan istri pemilik kebun itu. Terus terang aku terkagum-kagum mendengar isi ratapannya.

Aku lihat bapak pemilik kebun sedang memeriksa kerusakan mobil tuanya sementara ketiga anak perempuannya yang masih berumur belasan tahun itu saling berpelukan sambil menangis. Handala mendekati pick-up yang rusak berat sambil menghibur si empunya sementara aku dan Mahmud memunguti buah zaitun yang  berserakan di tanah. Aku tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun, rasanya kelu bibir ini. “Sungguh perbuatan biadab…Semoga Allah SWT membalasnya ”, kutukku dalam hati.

***

Read Full Post »

Khilafah Islamiyah adalah kekuasaan Islam yang membentang dari Andalusia di Spanyol, sepanjang Afrika Utara, Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Kecil, Eropa Timur dan Yunani hingga perbatasan timur negri China. Sebagian wilayah tersebut dahulunya dikuasai pihak kafir, seperti  Turki dibawah kekuatan Barat (Kristen)  dan Persia yang dibawah kekuatan Timur (Majusi). Kejayaaan ini berlangsung secara bertahap mulai abad ke 7 pada era Khulafaul Rashidin yang empat (Abu Bakar ra, Umar Bin Khattab ra, Ustman Bin Affan ra dan Ali Bin abu Thalib ra)hingga awal abad ke 20. Kejayaan tersebut juga kemudian hancur  secara bertahap hingga akhirnya lenyap sama sekali pada tahun 1923 ketika berada  dibawah kekuasaan khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Konstatinopel (sekarang Istambul) di   Turki. Namun tidak berarti selama masa kejayaan yang amat panjang tersebut sama sekali tidak terjadi gangguan yang serius.

Pada tahun 637 M, 15 tahun setelah wafatnya Rasulullah saw, pasukan Islam mengepung kota Yerusalem. Setelah 4 bulan dikepung, akhirnya kota ini menyerah dengan syarat hanya khalifah Umar bin Khatab yang datang sendiri untuk menerima kunci kota suci tersebut. Kota ini jatuh ke tangan Islam tanpa peperangan sedikitpun. Bahkan perjanjian yang dibuat antara Umar dan mantan pemimpin Kristen  Yerusalem memberikan kebebasan penganut  Nasrani maupun Yahudi untuk menjalankan ajaran agamanya masing-masing dengan syarat mereka membayar jiziyah sebagaimana seorang Muslim wajib mengeluarkan zakat.

Namun 350 tahun kemudian, dipicu kesalah-fahaman antar penduduk Yerusalem, Paus Urban yang berkedudukan di Perancis selatan menyeru umat Kristen agar mereka merebut Yerusalem dari tangan pasukan Muslim. Maka pada tahun 1099 pasukan yang kemudian dikenal dengan nama Pasukan Salib tersebut berhasil menguasai kota setelah berperang selama 3 hari dengan membantai lebih dari 30.000 penduduknya, termasuk perempuan dan anak-anak Muslim yang berlindung di dalam masjid Al-Aqsa. Mereka juga membunuhi kaum Yahudi dan Nasrani yang bermukim disekitar kota tua tersebut dan juga kaum Yahudi yang hidup di perkampungan sepanjang perjalanan mereka dari Perancis menuju Yerusalem secara kejam.

Kemudian pada tahun 1187, dibawah kekuasaan Sultan Salahuddin, pasukan Muslim kembali berhasil menguasai Yerusalem. Dan sebagaimana pendudukan Yerusalem oleh pasukan Muslim pada kali pertama, kali inipun tidak terjadi pembantaian. Bahkan para penguasa yang ditaklukkan tersebut selain diampuni juga diberi keleluasaan untuk meninggalkan kota dengan membawa seluruh harta bendanya. Peristiwa ini pada tahun 2005 pernah diabadikan dengan sangat baik dalam film “The Kingdom of a Heaven” yang disutradarai oleh Sir Ridley Scott dan dibintangi aktor kenamaan Orlando Bloom. Peperangan yang kemudian dikenal dengan nama “Perang Salib” ini terus terjadi hingga beberapa kali selama hampir 200 tahun namun pihak Salib tidak pernah berhasil menguasai kembali Yerusalem.

Merekapun akhirnya menyadari bahwa pasukan Muslim tidak akan pernah dapat dikalahkan melalui perang terbuka. Perang di jalan Allah untuk mempertahankan kebenaran bagi umat Islam adalah jihad, imbalan bagi mereka adalah surga, kemenangan yang hakiki adalah di akhirat. Oleh sebab itulah mereka tidak mengenal kata takut mati. Sebaliknya pihak Kristen, mereka mendambakan kemenangan dunia. Kematian adalah kekalahan dan amat menakutkan. Jadi mereka mengambil kesimpulan bahwa untuk mengalahkan umat Islam harus dicari cara lain, bukan dengan perang senjata secara terbuka. Tipu daya apakah yang sebenarnya mereka rencanakan itu?

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(QS.Al-Baqarah(2):109)

Dan mereka memang ternyata berhasil. Sayangnya, umat Islam tidak menyadarinya. Apa yang sebenarnya mereka lakukan?

Yerusalem dibawah kekuasaan khilafah Islamiyah sejak abad 7 memang tidak pernah tertutup bagi umat agama lain. Mereka bebas mengunjungi kota suci bagi 3 agama besar didunia ini. Namun ia tidak hanya menarik karena sejarah ritualnya namun juga karena kota ini pada waktu itu telah berkembang menjadi  kota intelektual. Ilmu berkembang pesat disini. Orang-orang Kristen datang tidak hanya sekedar untuk melakukan ibadah dan kunjungan keagamaan melainkan juga untuk mempelajari ilmu lain seperti ilmu hukum termasuk juga belajar tentang Islam dan Al-Quran.

Namun sebenarnya tujuan para Orientalis ini adalah untuk mencari celah agar dapat menyerang akidah Islam secara diam-diam. Dari sini mereka kemudian menyusun dan melemparkan berbagai pemikiran dan ideologi yang sifatnya sangat keduniawian. Pemikiran dan ideologi yang tidak saja tidak menomor satukan dan mengutamakan Sang Khalik namun malah melecehkan-Nya. Pada intinya, berbagai pemikiran tersebut bertujuan  untuk melepaskan  keterikatan dan kedekatan Muslim dari ajaran dan Tuhannya. Dengan kelihaiannya mereka dengan sengaja mengaduk-aduk dan memutar balikkan arti sebuah kebenaran.

Feminisme , demokrasi, sekulerisasi (pemisahan agama dari Negara), sukuisme, nasionalisme, kapitalisme dan materialisme adalah beberapa contoh pemikiran yang berlebihan  berdasarkan kacamata Islam. Beberapa diantara pemikiran tersebut sebenarnya masih bisa diterima. Namun karena tidak dibangun diatas dasar pemikiran bahwa kebenaran hukum Allah adalah di atas segalanya maka pemikiran-pemikiran tersebut menjadi menyimpang dari akidah Islam. Inilah sebenarnya yang mereka tuju. Pemikiran yang dikemas dengan baik namun dengan dasar menyesatkan, yaitu menjauhkan umat dari Al-Qur’anul Karim.

Demokrasi dalam Islam adalah pilihan terakhir setelah tidak tercapai musyawarah. Prinsip Demokrasi sebenarnya setali tiga uang dengan ” siapa kuat dia menang, yang banyak dia yang menang”. Dengan demikian jelas, ini adalah  hukum rimba.

Dengan alasan kebebasan dan hak berpendapat, pemikiran-pemikiran tersebut berusaha menyalahkan ajaran Islam. Dengan alasan ini  pula pemerintah Perancis mengeluarkan larangan resmi pemakaian jilbab bagi perempuan yang bekerja di instansi pemerintah, termasuk pula murid sekolah negri. Begitupun di Australia belakangan ini, perempuan berjilbab bakal dilarang mengemudikan kendaraan.

Lebih jauh lagi, mereka juga sengaja melemparkan  fitnah yang keji baik terhadap nabi Muhammad SAW maupun terhadap ajaran itu sendiri. Denmark adalah salah satu negara yang dikenal sering sekali melecehkan ajaran Islam melalui karikatur Rasulullah. Diantaranya yang sangat menyakitkan adalah karikatur Rasulullah dengan bom diatas serban beliau ataupun dengan gambar kepala babi. Dan dengan dalih kebebasan berekspresi pula saat ini salah satu partai di negara tersebut  menggunakan gambar Rasulullah sebagai lambang partai mereka! Padahal mereka tahu bahwa hal tersebut sangat menyakitkan hati umat Islam karena Islam memang melarang penggambaran/ilustrasi Rasulullah dalam bentuk apapun.

Mereka juga menuduh bahwa Islam adalah agama pedang, Islam disebarkan dengan cara paksa dan kekerasan. Hal tersebut disengaja untuk menyakiti dan memancing emosi umat Islam. Dari  sinilah mereka mencoba menaklukkan Islam sebagai ganti kekalahan mereka pada perang-perang yang terjadi sebelumnya. Mereka mencoba mengusik rasa kesatuan, keimanan dan kebanggaan umat Islam  terhadap agamanya dengan berbagai cara dengan maksud dan harapan akan menghilanglah rasa persatuan Islam. Inilah yang kelak disebut  Perang Pemikiran atau Al-Ghazw Al-Fikri.

Dengan dalih demi kemajuan, kebebasan dan modernisasi, penyerbuan peradaban ini masuk secara sistematis, perlahan namun pasti sehingga umat pada umumnya tidak menyadarinya. Hal ini menyusup melalui media cetak dan elektronik, slogan-slogan  pendidikan dan  hiburan yang jauh dari ajaran Islam. Umat terus dicekoki dengan pemikiran, nilai dan norma Barat yang cenderung bebas dan materialistis sebagaimana halnya dengan ekonomi kapitalis yang samasekali tidak Islami hingga akhirnya umat melupakan seluruh nilai-nilai dan sendi-sendi Islam.

“…….. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”(QS.Al-Baqarah(2):120).

Seakan belum puas dengan semua ini, terakhir dimunculkan sebuah serangan psikologi mutakhir yang sangat dasyat yaitu serangan 11 September 2001 dengan mengatas namakan Islam. Maka jadilah isu Terorisme dan Extrimisme. Umat dipojokkan seakan ajaran Islam  identik dengan kekerasan. Jihad mereka artikan identik dengan kekerasan dan harus dienyahkan. Mereka terus mencekoki umat bahwa jihad sama dengan tidak menghargai nyawa manusia yang juga berarti melanggar hak asasi manusia sebagai simbol peradaban modern.

Padahal HAM atau Hak Azazi Manusia yang selama di gembar-gemborkan  tidak mereka jalankan dengan adil. Karena mereka ini sesungguhnya menggunakan standard ganda dalam menerapkan hak-hak manusia. Hak azazi menurut kaca mata mereka adalah hak azazi yang berlaku bagi mereka yang mau tunduk dan patuh  terhadap aturan dan hukum yang mereka adakan demi kepentingan pribadi mereka atau kepentingan partai serta  kelompoknya sendiri. Jadi bukan hak manusia secara umum apalagi manusia yang taat terhadap Dia, Yang Memiliki Jiwa dan memberi kehidupan.

Cara tersebut ternyata terbukti ampuh. Karena risih dan sungkan akhirnya sebagian besar pemimpin Islam pun mengumumkan bahwa karena Islam adalah agama perdamaian maka sedikit demi sedikit istilah jihadpun dihapuskan dan dipinggirkan. Kaum Musliminpun akhirnya menjadi lupa akan sumpah setia mereka kepada Sang Pencipta, Allah SWT untuk menegakkan ajaran Tauhid, untuk menegakkan kebenaran. Pasukan Muslimin telah dengan sukarela melepaskan kekuatan jihad yang sangat ditakuti musuh. Inilah yang ditunggu dan diharapkan!  Padahal mereka tetap mempersiapkan diri untuk berperang.

Bagi umat yang kurang keimanannya hal ini dapat menyebabkan mereka menjadi benci dan malu terhadap agama mereka sendiri dan mereka menjadi tidak percaya diri yang pada akhirnya dapat mengakibatkan kemurtadan. Ini adalah akibat sampingan namun fatal.

Selain itu tampak bahwa negara-negara Islam juga dihambat kemajuannya agar mereka tetap terus dalam kemiskinan dan terus bergantung bantuan kepada Barat hingga akhirnya mereka jatuh dan takluk pada kepada kemauan Barat. Amerika Serikat adalah negara besar yang sering membanggakan diri sebagai sebuah negara yang mengedepankan keadilan, kedamaian dan keamanan. Namun  sesungguhnya justru negara inilah yang menjadi penyulut peperangan di berbagai tempat, seperti di Irak, Afganistan dan Palestina. Hal ini terlihat nyata dengan bungkamnya negara tersebut atas tindakan sekutu dekatnya, Israel yang jelas-jelas merebut tanah Palestina dari penduduknya. Negara ini tengah melempar batu sembunyi tangan. Negara-negara Muslim tersebut adalah korban sebuah adu domba yang disaksikan sang sutradara, Amerika Serikat, sebuah negara  produsen senjata terbesar di dunia yang pasti merasa paling diuntungkan dengan terus terjadinya peperangan..

Namun sesungguhnya serangan yang bertubi-tubi tersebut bila dihadapi umat Islam secara kompak dan bersatu tentu mereka tidak akan mampu melumpuhkan dan mengalahkan umat ini. Bila saja umat memiliki sikap, keteguhan dan keimanan sebagaimana para sahabat di masa lampau tentu kita akan mampu menghadapi serangan pemikiran  dan ideologi mereka.

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” .(QS.At-Taubah(9):100).

Read Full Post »