Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Zionis Yahudi’

” Bagaimana persiapanmu  Mad? Tiket ngga lupa? Visa? Yakin ngga perlu uang rupiah disamping  dollar ?”, berondong ibu.

“ Kayaknya udah beres semua deh… “, jawabku sambil mencoba mengingat-ingat segala keperluanku.

Ibu nyusul langsung ke airport aja  ya… sori, ibu bener-bener ngga bisa ninggalin urusan ibu”, mohon ibu dengan suara menyesal.

Ngga apa bu, Mada ngerti koq. Yang penting doain aja semoga semua urusan beres “,   kataku memaklumi ibu seperti biasa..

“ Tante denger dari beberapa  teman, katanya masuk Yerusalem ngga gampang lho..”, sambung tante Rani  yang dari tadi menemaniku sarapan.. “ malah ada yang ditolak tanpa sebab yang jelas”, katanya meneruskan..

” Ngga’ lah tan, tenang aja… katanya biasanya cuma   Muslim aja koq  yang dipersulit”, kataku menenangkan.

Beberapa jam kemudian dengan diantar tante Rani dan Lukman, aku tiba di airport Cengkareng. Ayah tidak mengantar karena sedang ke luar kota. Tapi tadi sepuluh menit sebelum kami meninggalkan rumah ayah sempat menelpon. Ia berpesan agar aku berhati-hati selama berada di negri orang. Akan halnya ibu, aku tidak berharap terlalu banyak ia dapat menyusul karena seperti biasa ibu  pasti terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga tidak mungkin sempat menyusul ke airport.

Namun ternyata dugaanku kali ini salah. Ibu muncul beberapa detik sebelum aku boarding. Dengan berlari kecil ibu berteriak memanggilku sambil melambai-lambaikan tangannya. Kamipun berpelukan. Bahagia aku rasanya ternyata ibu masih menyempatkan memikirkan diriku. “ Ati-ati nak ya, jangan ikut-ikut kegiatan yang membahayakan dirimu. Kamu disana  sendiri lho, kalau ada apa-apa ngga ada yang bisa dimintai tolong….janji ya?”, ujar ibu menasehatiku. Aku terharu. Seingatku ibu tidak pernah begitu mengkhawatirkan diriku seperti hari ini.

Pesawat Royal Jordan, sebuah maskapai penerbangan milik pemerintah Yordania jurusan Amman, Yordania   yang kutumpangi, lepas landas sesuai dengan jadwal. Untuk tiba di Yerusalem masih harus mengendarai kendaraan selama kurang lebih 1 jam menuju perbatasan Israel. Memang tidak banyak pilihan untuk pergi menuju negri yang penuh masalah tersebut. Rencananya dari Amman  aku akan dijemput oleh seseorang. Dari sana aku akan diantar langsung menuju Yerusalem untuk tinggal di rumah seorang keluarga dokter. Keluarga inilah akan menjadi keluargaku selama 3 minggu aku berada disana.

Aku masih diseliputi keheranan akan sikap ibu. Tiba-tiba aku merasa jangan-jangan ibu mendapat firasat  buruk terhadap perjalananku ini. Lukman sering menasehati agar aku mencoba memperbaiki hubungan dengan ibu. Karena menurut ajarannya kesuksesan seseorang itu amat tergantung dengan  hubungan anak dengan kedua orang-tuanya terutama ibu. Ia  tahu bahwa hubungan kami tidak terlalu baik. Aku memang pernah  mengeluhkan sikap ibu yang cuek sehingga aku merasa ibu tidak menyayangiku atau bahkan mungkin aku ini cuma anak pungut, begitu keluhku.

Seorang ibu dimanapun berada tidak mungkin tidak menyayangi anaknya”, begitu kata  Lukman. “Mungkin ibumu hanya terlalu sibuk aja Mad, jangan pernah suu’dzon gitu ah… ngga’ baik”, tambahnya.  Tanpa kusadari maka akupun segera  berdoa sebisaku. Aku berharap semoga aku masih bisa berjumpa dengan ibuku dan memperbaiki hubungan kami.

***

Sekitar pukul 10 pagi keesokan harinya aku telah berada di bandara Queen Alia, Amman. Di ruang kedatangan aku dikejutkan oleh banyaknya pengunjung berwajah khas Melayu. Dari pembicaraan ternyata mereka memang dari Indonesia dan Malaysia. Mereka datang dari bandara Jedah setelah selesai menunaikan ibadah umrah di Mekah. Tujuan mereka adalah mengunjungi  Masjidil Aqsho di Yerusalem. Kebanyakan mereka baru sekali ini datang ke tempat tersebut. Dari mereka aku tahu bahwa masjid tersebut adalah masjid ketiga terpenting bagi umat Islam  setelah  Masjidil Haram di Mekah dan  Masjid Nabawi di Madinah. Karena dari masjid tersebutlah nabi mereka, nabi Muhammad melakukan perjalanan ke langit menuju Tuhannya. Aku kembali teringat pada presentasiku ketika aku masih di bangku SMA beberapa tahun yang lalu.

Beberapa lama kemudian, setelah urusan keimigrasian selesai , aku celingukan mencari penjemputku. Tak lama  aku melihat spanduk bertuliskan namaku. Akupun  segera menghampirinya  dan memperkenalkan diriku. Diluar perkiraanku, ternyata yang menjemputku adalah anak keluarga yang akan kutumpangi selama aku berada di Yerusalem nanti.

”Hey, nice to meet you. I’am Benyamin.”, dengan  ramah  ia memperkenalkan dirinya  “ From now on,  you will be my brother… Wellcome, brother..”, tambahnya. Kemudian ia memperkenalkan supir sekaligus guide-nya, yang bernama Karim.” Nice to meet you too”, jawabku.

Benyamin seorang pemuda berperawakan  jangkung yang ramah dan menyenangkan. Aku perkirakan ia seumur denganku. Dengan penuh semangat ia menceritakan bahwa ia lahir dan dibesarkan di Yerusalem. Itu sebabnya  selama dalam perjalanan ia lancar menceritakan kota kelahirannya ini.

Tak sampai 1 jam kemudian kamipun memasuki perbatasan antara Yordania dan Israel. Benyamin mengingatkanku  untuk tidak mengambil gambar baik foto maupun video. Ia mengisyaratkan dengan dagunya bahwa menara-menara  tinggi yang banyak berada di sepanjang jalan yang kami lalui adalah pos-pos militer Zionis yang mengawasi gerak gerik setiap orang yang melalui wilayah tersebut. ”Mereka siap menghentikan dan merampas kamera orang yang berani-beraninya mengambil gambar di wilayah tersebut. Bahkan bila harus menembak mereka akan selalu siap melakukannya! ”, begitu katanya dengan nada sinis. Terdengar jelas rasa antipatinya terhadap pemerintah yang disebutnya sebagai pemerintah pendudukan Zionis itu.

Ia bercerita, dulu ketika orangtuanya  masih muda kota Yerusalem adalah kota yang damai. Penduduknya rukun dan damai. walaupun agama mereka berbeda. Mereka saling menghargai dan mengasihi. Keluarga Benyamin sendiri adalah penganut Nasrani yang taat. Ia menyebut dirinya sebagai warga Arab. Penduduk kota tersebut memang  dibedakan antara warga Arab dan warga Yahudi. Warga Arab ada yang beragama Nasrani ada yang beragama Islam sementara warga Yahudi hampir dapat dipastikan beragama Yahudi. Namun mereka semua bersatu dibawah bendera Palestina.

Ketika akhirnya pecah perang Arab-Israel pasca penyerahan tanah tersebut dari Inggris kepada Zionis Yahudi pada 1947, banyak rakyat Palestina yang terpaksa mengungsi dan pergi meninggalkan tanah airnya menuju Yordania dan negri-negri di sekitarnya. Sementara itu orang-orang Yahudi Palestina banyak yang dipaksa berpihak kepada Zionis Yahudi demi mendapatkan  tanah untuk ditinggali etnis dan kepentingan agama mereka sendiri.

Banyak keluargaku yang dipaksa pergi meninggalkan rumah dan kampung kelahiran mereka. Bahkan hingga saat inipun mereka tetap tinggal dalam kamp pengungsi yang keadaannya sangat menyedihkan. Mereka itu beranak pinak dalam keadaan amat miskin dan hidup amat mengenaskan. Padahal banyak diantara mereka yang ketika masih  di Palestina hidup berkecukupan. Malah ada adik ibuku yang tadinya adalah seorang dokter ternama yang kaya raya dan terhormat ikut menjadi korban. Bahkan hingga saat ini ayah dan ibuku tidak pernah tahu akan keberadaan mereka”, jelas Benyamin sedih.

Benyamin juga menceritakan betapa sadisnya cara Zionis mengusir warga Arab dari tanah Palestina. Beberapa perkampungan di pinggir pantai dijadikan proyek percontohan. Dengan cara provokatif para perempuan diperkosa didepan anggota keluarganya, rumah-rumah dibakar. Kemudian penduduknya diusir dan dipaksa pergi berjalan menuju  pantai untuk kemudian ditembaki dari belakang!

Berbekal pengalaman buruk yang sengaja terus diceritakan orang-orang Yahudi dan juga dari mulut ke  mulut penduduk itu sendiri,  akhirnya membuat hampir seluruh  penduduk tanah tersebut tanpa perlawanan pergi meninggalkan rumah mereka sendiri. Di bawah todongan senjata tanpa membawa sepeserpen uang dan bekal mereka berbondong-bondong berjalan ratusan bahkan ribuan mil menuju negara tetangga. Kalaupun ada sebagian rakyat yang memberontak mereka harus menghadapi pertempuran yang sama sekali tidak seimbang.

Bayangkan”, kata Benyamin emosi. ” Senjata mutakhir super canggih yang didatangkan dari Amerika Serikat harus dilawan senjata rongsokan bekas perang yang dibeli secara gelap oleh rakyat !”, tambahnya. Karim dibelakang kemudipun sekali-sekali ikut mengomentari dan membenarkan cerita Benyamin.

Sungguh ironis, bagaimana mungkin kaum Yahudi yang mulanya hanya menguasai 5 % tanah Palestina tiba-tiba bisa mendapatkan hampir 33% tanah kami padahal jumlah mereka hanya kurang dari 10 % total penduduk Palestina. Bahkan seterusnya secara resmi PBB meningkatkan pemberiannya menjadi 60 % ! Sungguh menyakitkan…”, tambah Karim.

Masih belum puas juga, melalui Perang 6 hari , The Sixth Day War, iblis tersebut kini bahkan berhasil merampas Yerusalem dari tangan kami, mencaplok Tepi Barat dari Yordan, Jalur Gaza dari Mesir serta dataran tinggi Golan dari Suriah hingga akhirnya total mereka  menguasai 78 % tanah Palestina ”, sela Benyamin.

Setelah hening beberapa saat, Benyamin kembali berkata, ” Kau tentu pernah mendengar pasukan Intifada kan Mada?”,Pasukan pelempar batu itu, bukan ?”, jawab Mada merasa bersyukur pernah membaca berita tersebut hingga tidak terlihat bodoh. ”Ya…sesungguhnya mereka itu baru ada sejak hak-hak mereka tidak diperhitungkan dunia internasional. Namun seperti yang kau ketahui mereka ini diberitakan  seakan-akan  sebuah kelompok penjahat dan perusuh ”, sambung Karim geram.

Tanpa terasa kami tiba di pos pemeriksaan. Di tempat itu kuamati disamping adanya sejumlah tentara bersenjata, banyak sekali petugas berpakaian sipil dengan senjata di pinggang lengkap dengan kacamata gelapnya. Di depan pintu masuk tergantung spanduk raksasa bertuliskan sebuah nama berbau Islam. Rupanya itu adalah nama seseorang yang sedang dicari pemerintah. Di dalam spanduk tersebut dicantumkan sejumlah besar uang sebagai imbalan bagi orang yang dapat memberikan informasi keberadaan orang yang dicari itu.

Kami bertiga segera turun dari kendaraan. Awalnya koper dan barang bawaankupun diminta untuk diturunkan dan digeledah. Namun berkat perdebatan alot antara Karim yang kudengar berbicara dalam bahasa yang tidak kukenal, kupastikan sebagai bahasa Ibrani, bahasa resminya  orang  Yahudi, dengan pegawai pemeriksaan, akhirnya aku batal menurunkan barang-barangku.

Sebaliknya, ketika aku berdiri dalam antrian pemeriksaan, aku melihat sejumlah koper bahkan beberapa galon berisi  air ikut mengantri. Ternyata barang-barang ini adalah bawaan orang-orang Indonesia dan Malaysia yang kutemui di bandara Queen Alia Amman tempo hari. Dari pembicaraan aku baru tahu ternyata galon-galon itu adalah galon-galon  air zam-zam, oleh-oleh khas haji dari Mekah.

Biasanya, air zam-zam itu urusan bimbingan haji yang memandu para jamaah. Mustinya mereka langsung mengirimnya ke tanah air. Jadi jemaah tidak perlu repot membawanya kesana kemari. Belum nanti kalau bocor…”, keluh pah Thamrin, salah satu jemaah yang mengobrol denganku.

Lagian ngapain air aja pake diperiksa … nyusahin aja..”, timpal jemaah lain yang lebih muda. ”Dasar paranoid..”, sungutnya.” Ya begitulah orang kalau jahat  hobbymya bikin orang lain susah,  bawaannya jadi curiga melulu… Lihat aja, mereka buang-buang waktu meriksa semua orang berkali-kali..kayak kita ini penjahat aja…”, kata jemaah yang berdiri di belakangku geram.

Aku segera mengedarkan pandangan kesekelilingku. Bangunan tak berjendela ini mengingatkanku pada suatu tempat, ntah itu  gudang yang sudah tak terpakai atau stasiun kereta api atau mungkin malah bekas bungker tentara. Dikelilingi tembok tinggi berwarna putih tanpa satupun jendela apalagi  hiasan dinding, bangunan yang disangga beton-beton besar ini mengesankan suasana yang jauh dari nyaman kalau tidak mau dikatakan menegangkan. Untung mereka tidak lupa menyalakan pendingin udara model kuno yang banyak tergantung  di dindingnya itu.

Mataku beralih pada para pegawainya. Setengah terkejut, baru kusadari bahwa semua pegawai di ruangan tersebut adalah kaum hawa. Namun demikian, dengan seragam mirip tentara berwarna khaki lengkap dengan sepatu boot dan pistol di pinggang, penampilan mereka mirip laki-laki. ” Bukan cuma di sini mas… Sejak masuk perbatasan tadipun hampir semua penjaga posnya kan juga perempuan ”, tanggap  pak Thamrin yang berdiri di depanku ketika aku mengomentari hal tersebut.

Hampir dua jam lamanya aku berada dalam keadaan seperti itu padahal antrian tidak terlalu panjang. Selama itu aku terlibat percakapan dengan pak Thamrin. Darinya aku banyak memperoleh pengetahuan baru diantaranya cerita tentang asal muasal air zam-zam. Aku kembali tercengang dibuatnya. Ternyata sejak awal, Islam telah memiliki keterikatan yang erat dengan Ibrahim, nabi yang sering diaku umat Nasrani maupun  Yahudi sebagai penganut agama mereka. Ritual haji yang merupakan kewajiban umat Islam yang mampu adalah sebuah ritual lama yang telah ada sejak nabi tersebut ada.

” Ibrahim adalah kakek moyang ketiga agama besar itu. Ia adalah ayah dari nabi Ismail yang merupakan kakek moyang nabi Muhammad dan  juga ayah dari nabi Ishak yang merupakan kakek moyang nabi-nabi Nasrani dan Yahudi. Dengan kata lain , Ibrahim adalah bapak para nabi. Ia bukan penganut Nasrani maupun Yahudi. Sebaliknya menurut  ajaran Islam, seluruh nabi adalah Islam karena Islam adalah berarti tunduk menyerahkan diri kepada kekuasaan Tuhan yang satu, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, yaitu Allah. Dialah Tuhannya semua manusia, Tuhan yang menciptakan langit, bumi dan seluruh isinya”, begitu pak Thamrin memberi penjelasan kepadaku.

Tanpa kusadari aku melirik Benyamin. Ia berada dalam antrian khusus untuk warga Arab Palestina sambil santai membaca buku. Pasti ia sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini, pikirku. Beberapa lama kemudian setelah akhirnya lolos pemeriksaan, aku mendengar keluhan beberapa jemaah haji. Mereka mengeluh  bahwa teman-teman mereka yang mempunyai nama berbau Islam dan umurnya masih dibawah 30 tahunan ternyata dipersulit. Mereka bolak balik harus keluar masuk ruangan pemeriksaan. Aku dengar tamu-tamu dari Malaysia nasibnya lebih sial lagi. Mereka ditolak masuk negri tersebut bahkan tanpa pemeriksaan sama sekali!

Itu karena Malaysia dianggap sebagai negara yang sama sekali tidak  menunjukkan dukungan terhadap berdirinya negara Israel ini”, kata pak Thamrin menjelaskan ketidak mengertianku.

Lebih dari itu, para pemimpinnya bahkan jelas-jelas mengutuk dan memusuhi  segala sesuatu yang berasal dari negri terkutuk ini. Ngga kayak negri kita  yang plintat plintut. Katanya  tidak mendukung…  tapi bersikap keras juga tidak”, katanya lagi dengan nada skeptis.

Ya, betul. Tapi kali ini kita diuntungkan..makanya kita diperbolehkan masuk kesini walaupun juga dipersulit”, seseorang di belakangku menimpalinya.

Memasuki jam ketiga, aku, Benyamin dan  Karim  sudah  berada kembali di dalam kendaraan menuju Yerusalem. Cuaca ketika itu cukup cerah. Suhu udara sekitar 30 derajat Celcius hampir sama dengan Jakarta. Kami memasuki pegunungan pasir berbatu. Sebuah pemandangan yang menakjubkan sekaligus membuat hati miris. Makin lama makin jelas terlihat gubuk-gubuk yang begitu sederhana di daerah kering kerontang tersebut. Terlihat sejumlah kambing kurus berkeliaran diantara gubuk-gubuk itu.

” Gubuk-gubuk itu milik pengungsi orang-orang Afrika. Aku tak tahu mengapa mereka memilih daerah seperti ini. Mungkin karena keadaannya mirip dengan keadaan daerah asal mereka”, jelas Karim menjawab keherananku atas keberadaan gubuk-gubuk tersebut..

Lihat!”, seru Benyamin sambil menunjuk ke suatu tempat jauh di atas bukit. ” Tenda-tenda besar  itu adalah tenda-tenda pengungsi rakyat Arab Palestina yang tadi aku ceritakan ”, kata Benyamin. Sayangnya aku tidak berhasil mencermati keberadaan tenda yang dimaksudnya tersebut karena terlalu jauh dari pandangan.

Ketika Karim melalui suatu kelokan tajam menanjak tiba-tiba mataku menangkap suatu kilatan di balik bukit. Aku segera memperhatikan kilatan tersebut. ” Wow..”, seruku takjub mengagetkan dua orang disampingku. ”Itu kubah emas  The Dome Of The Rock bukan? ”, tanyaku untuk meyakinkan sambil mengarahkan kameraku ke sasaran.

Atas permintaanku, mobilpun berhenti sejenak. Angin segar segera menerpa wajahku. Udara ternyata cukup dingin mungkin sekitar 24 derajat Celcius.  Dari kejauhan terlihat            kubah itu berada di pelataran yang dikelilingi tembok bata merah besar layaknya sebuah benteng raksasa. Didalam benteng kuno tersebut terlihat dua buah kubah. Yang pertama adalah kubah kuning keemasan The Dome Of The Rock atau  Kubah Batu.  Bangunan ini berada di sayap timur agak sedikit ke bagian tengah .  Sedang yang satu lagi adalah kubah abu-abu  Masjid Al-Aqsho’ yang berdiri di ujung sebelah  barat  kawasan tersebut.

Diantara kedua kubah tersebut tampak adanya pelataran luas dengan taman dan pepohonannya yang rindang. Disana sini tampak beberapa kubah kecil yang indah. Sementara diantara aku berdiri dengan kawasan tersebut terbentang lembah yang ditanami pepohonan. Dari Karim aku tahu bahwa pelataran tersebut terletak di  sebuah bukit yang diberi nama bukit Zion sementara tempatku berdiri bernama bukit Zaitun.

Ini yang dinamakan ” The Old City of Yerusalem ” alias kota tua,” jelas Benyamin. ” Tempat ini adalah tempat paling bersejarah bagi kehidupan keberagamaan  di muka bumi. Tiga agama terbesar di muka bumi yaitu Nasrani, Islam dan Yahudi saling mengklaim bahwa mereka adalah yang paling berhak atas  kota tua ini. Sekarang ini Yerusalem dibagi menjadi 4 distrik sesuai agama masing-masing. Distrik Islam terletak di bagian Timur Kubah Batu, distrik Nasrani menempati bagian dimana gereja Makam Kudus berada, orang-orang Yahudi menempati daerah sekitar tembok ratapan di sebelah barat Kubah Batu. Sementara diantara pemukiman  Yahudi dan Nasrani terletak pemukiman Armenia”, lanjut Karim.

 

“ Kota tua yang berada di sebelah timur Yerusalem sekarang ini  dikelilingi sebuah tembok sepanjang kurang lebih 4 kilometer dengan 14  pintu gerbang dan 34 menara namun hanya beberapa pintu yang masih berfungsi”, sambung Benyamin.

Rasanya aku sudah  tak sabar untuk mendekati dan memasuki pelataran tersebut. Setelah puas mengambil gambar dan menikmati segarnya udara perbukitan kamipun meneruskan perjalanan. Sayang baik Benyamin maupun Karim tidak mengabulkan keinginanku untuk segera mengunjungi kubah-kubah tersebut. Mereka ingin agar aku istirahat  di  rumah dulu. Disamping kedua orangtua Benyamin memang telah menanti kedatanganku. Aku pikir alasan tersebut sangat masuk akal. Aku jadi malu sendiri dibuatnya. Aku merasa seolah tidak memiliki sopan-santun. Maka segera aku meminta maaf atas kelakuanku itu.

”No. It’s okay. I can understand. If I were you I think I’ll do the same thing. But don’t worry. You  have a lot of time”, kata Benyamin menghibur.

Keluarga Benyamin bukan saja  keluarga kaya raya namun juga terhormat dan terpelajar. Ayahnya adalah seorang dokter spesialis tulang.  Walaupun cukup ramah namun ia bukan tipe orang yang banyak  bicara. Ketika aku tiba di rumah ia sedang bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Ia sempat meminta maaf padaku karena tidak dapat mengajakku mengobrol. Perawatnya baru saja menelpon mengabarkan bahwa ia telah ditunggu beberapa pasiennya di rumah sakit. Sedangkan ibu Benyamin adalah  seorang perempuan yang ramah dan terlihat senantiasa menjaga penampilan. Ia mengajakku mengobrol tentang keluargaku dan keadaan di Indonesia.

***

 

Advertisements

Read Full Post »

Malam itu aku tidak dapat memejamkan mata barang sedikitpun. Besok  pukul 4 sore, aku sudah harus meninggalkan kota yang banyak meninggalkan kenangan tersebut. Pesawat yang akan menbawaku pulang ke tanah air menurut jadwal akan terbang pukul 9 malam langsung menuju Jakarta. Namun semalaman aku hanya dapat membalik-balikkan tubuhku ke kiri dan ke kanan. Aku berusaha memejamkan mata namun pikiranku terus mengembara. Aku merasakan  adanya  beban berat yang menekan dadaku dengan kuat . ” Aku harus mengambil keputusan…sekarang atau tidak sama sekali ”, pikirku menahan kantuk.

( Taman itu begitu luas dan indah. Kesejukkan dan keasriannya masih ditambah lagi dengan kehadiran air mancur dengan kolam-kolamnya dimana berbagai jenis ikannya yang berwarna-warni  berenang kian kemari. Didepan sana aku melihat beberapa gerbang megah berwarna kehijauan. Aku berjalan mendekati gerbang termegah dan terbesar yang kuyakin pasti terdapat kedamaian di dalam sana. Diatas gerbang  kuperhatikan terdapat tulisan indah berukir  ” Laa illaha Illa Allah wa ashadu anna Muhammad Rasulullah”.

Namun ketika aku hampir mencapai gerbang  dan tengah berusaha mendorongnya  tiba-tiba secara perlahan gerbang  terbuka dengan sendirinya. Bersamaan dengan itu muncul pula seberkas cahaya yang sangat menyilaukan mata. Aku tak sanggup menjangkau bahkan memandang gerbang yang kelihatannya   begitu dekat itu. Padahal aku yakin gerbang tersebut telah terbuka begitu  lebar. Aku terpaksa mundur  beberapa langkah sambil memalingkan wajah. Selanjutnya aku berusaha menuju ke gerbang lain yang tak jauh dari gerbang pertama. Namun ketika aku hampir mencapainya kembali terjadi kejadian  seperti  sebelumnya.

Terpaksa akupun membatalkan keinginanku. Kini aku melayangkan pandanganku pada gerbang di sebelahnya  lagi. Dengan setengah berlari aku menuju gerbang tersebut  berharap  kali ini aku akan berhasil memasukinya. Namun hasilnya sama, aku selalu terhalang oleh  cahaya misterius itu. Keringatku mulai bermunculan. Aku tidak ingin menyerah. Aku terus berlari dan berlari  menuju  gerbang satu  ke gerbang yang lain. Ternyata gerbang tersebut ada 8 jumlahnya. Namun dari kedelapan gerbang tersebut tak satupun yang berhasil aku lalui.

Aku menjadi frustasi. Muncul bayangan kegelapan. Perlahan ia menghampiri. Semakin lama semakin cepat. Ia  menerpaku seolah ingin menyedot dan melumatku dalam-dalam. Aku benar-benar diselimuti ketakutan yang amat sangat. Akupun segera berlari sambil berteriak histeris meminta tolong… )

Tiba-tiba aku terbangun dan terduduk kaku.. ” Oh mimpi..., syukurlah ” bisikku  bergidik ngeri. Kerongkonganku benar-benar tersekat. Aku melirik jam yang tergantung di dinding kamarku.  ” Baru pukul 12.30”, pikirku.. Aku termenung sejenak sambil sekali-sekali menyeka keringat dingin sebesar biji-biji jagung yang terus menetes dari tubuhku.  Aku mencoba untuk menetralkan nafasku yang tersengal-sengal.  Akhirnya aku memutuskan untuk mencoba menghubungi telpon selular Karim melalui telpon selularku. Setelah beberapa kali gagal akhirnya aku mendengar suara Karim yang terdengar setengah mengantuk di ujung sana.

Maaf mengganggumu Karim ”, kataku setengah menyesal.  ”Ada apa ”, jawab Karim terdengar agak kesal.” Aku ingin memeluk  Islam ”, kataku mantap. Sesaat hening. Aku tak tahu bagaimana reaksi Karim namun aku tak peduli. ”Karim… kau dengar aku? ”,   ucapku setengah berteriak.

Allahu Akbar … ya yaa … aku dengar Mada. Sudah kuterka beberapa hari ini ….”, sahut Karim setelah beberapa detik berlalu. ”  Namun apa yang kau harap dapat aku lakukan di tengah malam ini ?”, tanya Karim. ” Tak dapatkah kau menunggu hingga esok hari ?”, lanjutnya. ” Aku… aku takut terlambat … tak mungkinkah kau mengantarku malam ini juga memasuki Masjidil Aqsho’ untuk berikrar ?”, tanyaku penuh harap.

Gila kau… Ini Yerusalem..lupakah kau bahwa ini kota pendudukan dimana jam malam berlaku ketat? ”, jawab Karim. ” Aku janji esok pagi akan mengantarmu .. jam 10 ”, katanya  memastikan. ” Tak dapatkah lebih pagi lagi ”tanyaku mencoba menawar.

Itu adalah jam terpagi yang bisa aku tawarkan… Bahkan bisa jadi mereka membuka gerbang Aqsho’ lebih siang lagi…sabar dan shalatlah semampumu..Lakukan seperti yang pernah kau lakukan tempo hari bersamaku … InsyaAllah Allah  akan menenangkan hatimu..Aku turut bersyukur atas hidayah yang diberikan kepadamu Mada ”, kata Karim mengakhiri percakapan.

***

Pukul 7 esok paginya, aku sudah terbangun dalam keadaan segar. Aku bersyukur mau mengikuti saran Karim malam tadi. Setelah melakukan shalat semampuku aku segera tertidur pulas. Pukul 10 kurang sedikit  aku sudah berada di dalam masjid Al-Aqsho. Aku telah memberitahukan niatku itu kepada keluarga Benyamin ketika kami sedang sarapan. Di luar dugaanku mereka tampak ikut senang melihat kebahagiaanku.

”Setidaknya kau telah berada dilingkup agama samawi, Mada”, sambut ibu Benyamin. ” Ya, apa yang dikatakan ibuku benar ”, sambung Benyamin. ” Aku yakin, sesungguhnya Islam, Nasrani dan Yahudi adalah tiga agama yang berasal dari sumber yang sama. Yang hingga kini aku tidak mengerti mengapa sebagian orang harus saling membenci gara-gara berbeda keyakinan. Pasti ada yang sesuatu yang tidak beres. Aku harap suatu saat kelak engkau dapat memberikan jawaban yang memuaskanku”,  kata Benyamin serius.

Kau adalah orang luar dan kau pasti masih bersih dari pengaruh lingkungan. Pasti kau tidak akan berpihak dengan  sembarangan. Berjanjilah pada kami bahwa kau akan segera memberitahu kami begitu kau menemukan jawaban yang meyakinkan ”, pinta ibu Benyamin tak kalah seriusnya dengan Benyamin. ” Ya, aku janji. Doakan semoga aku mampu memecahkan tabir misteri itu”, jawabku tidak begitu yakin.  Sementara aku perhatikan ayah Benyamin hanya diam memperhatikan percakapan kami. Benyamin memang pernah bercerita bahwa sejak pecah perang tahun 1967 ayahnya jadi berubah  tidak begitu peduli terhadap urusan agama walaupun tidak sampai menjadi atheis.

Prosesi ikrar yang kujalani ternyata cukup singkat dan sederhana. Mula-mula aku disuruh berwudhu sebelum memasuki masjid. Karim yang membimbingiku. Sambil menunggu kedatangan imam besar masjid, Syeikh Muhammad Husein, Karim mengajariku beberapa hal penting mengenai shalat, seperti persyaratan sebelum shalat, apa yang membatalkannya, berapa kali sehari harus shalat dan lain-lain. Aku mencatat apa yang diterangkannya kedalam sebuah buku kecil.

Shalat adalah tiang agama. Ini yang pertama kali harus kau pelajari. Shalat adalah hubungan langsung dengan Tuhan,  Allah swt. Keluarkan segala masalah  yang ada dalam hatimu dan mohonlah bantuannya. Ialah yang menciptakanmu maka Ia tahu pula apa yang baik bagimu. Berbaik sangkalah pada-Nya karena Ia akan mengikuti persangkaanmu itu”, jelas Karim.

Beberapa saat kemudian imam yang ditunggupun datang. Dengan disaksikan sejumlah jamaah yang kebetulan  hadir di dalam masjid ketiga tersuci tersebut, akupun berikrar dengan mengikuti kata-kata sang Imam bahwa ” Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya”. Hanya itu. Setelah itu Syeikh Husein dan Karimpun diikuti para  saksi menyalamiku dengan penuh rasa persaudaraan. Seperti kebiasaan orang Arab lainnya, mereka mencium pipiku tiga kali.  Masing-masing memberi nasehat atau mungkin doa karena mereka berbahasa Arab yang tentu saja tidak kumengerti. Namun tetap saja terharu aku dibuatnya.

Kau kini bagian dari Islam dan seluruh umat Islam dimanapun berada adalah bersaudara. Dengan saling mengingatkan dan saling menasehati dalam hal kebaikan berarti kita telah menegakkan kebesaran Allah ”, nasehat Syeikh.

Saudara-saudaraku seiman, saksikanlah bahwa hari ini saudara kita Mada telah menerima hidayah-Nya. Mada adalah orang yang beruntung. Ia adalah satu dari setengah bagian hamba yang mulanya  tidak mengakui-Nya namun kemudian ditakdirkan menjadi satu dari 2/3 hamba tersebut yang terpilih untuk bersujud hanya kepada-Nya ”, demikian khutbah sambutan yang diberikan Syeikh di depan jamaah. ” Namun ingat, hadis yang ditujukan kepada kita sebagai setengah bagian seluruh hamba  yang mulanya bersujud hanya kepada-Nya ini berkata bahwa pada akhirnya, ada 1/3 bagian darinya yang ditakdirkan akan murtad. Naudzubillah min dzalik…Semoga kita bukan satu diantaranya”, sambungnya lagi.

Untuk itu, janganlah kita terbuai. Teruslah memperbarui dan memperdalam keimanan dan pengetahuan kita . Khusus untuk Mada, bila ingin menjadi Muslim yang baik, banyak yang harus kau pelajari. Begitu sampai di negrimu, carilah seorang imam atau uztad yang benar-benar mengerti ilmu agama Islam, yang menguasai dalil-dalil yang tercantum dalam Al-Quran dan hadis. Ingatlah, sekarang ini banyak orang merasa dirinya pintar dan merasa telah menguasai agama dengan baik padahal ia adalah sesat. Jangan berjalan sendiri, bergabunglah dalam  jamaah, semoga engkau selalu dalam lindungan-Nya, amin. Yang terakhir tolong sampaikan pesanku mewakili seluruh umat Islam Palestina kepada saudara-saudara kami seiman di negrimu, bantulah kami mempertahankan masjid ke tiga tersuci ini dari serangan Zionis Yahudi ”, ujar sang imam menutup khutbah singkatnya.

***

Tepat pukul 4 sore, aku telah berada di kendaraan menuju Amman, Yordania. Karim berada di belakang kemudi, Benyamin duduk disebelahnya sementara aku duduk diam di kursi di belakang mereka. Kedua tanganku  mendekap erat Al-Quran dengan terjemahan bahasa Inggris yang tadi pagi diberikan kepadaku oleh seorang mualaf Jerman yang kebetulan ikut menyaksikan ikrarku di dalam masjid. ” Sekarang kitab ini telah menjadi  kitab suciku”, bisikku dalam hati. Pikiranku melayang kemana-mana sementara mataku memandang ke luar jendela menatap kota tua, The Old Yerusalem yang telah memberiku cahaya kebenaran. Aku terus menatap ujung kubah emas, kubah Al-Aqsho dan pelatarannya  hingga akhirnya benar-benar lenyap dari pandanganku.

Selamat jalan, Mada. Jangan lupa beri kabar setibamu di Jakarta”, kata Benyamin dengan suara agak tersekat. ” Walaupun hanya tiga minggu namun aku merasa akan sangat kehilangan dirimu ”, lanjutnya.

Aku segera merangkulnya. ” Akupun merasa demikian, Benyamin. Aku sangat berterima-kasih atas kesediaanmu dan keluargamu menampung diriku selama berada di Yerusalem”, sahutku. ” Aku janji akan terus menjaga persahabatan kita.. sampaikan juga salamku untuk kedua orang-tuamu. Katakan juga maafkan aku bila selama berada di rumahmu aku telah membuat kalian repot dan bahkan mungkin menyakiti hati kalian ”, kataku tulus.

Selanjutnya aku merangkul Karim erat. Ia menepuk-nepuk bahuku pelan. ” Terima-kasih, Karim. Melalui perantaraanmulah aku terbebas dari kesesatan. Doakan aku semoga aku dapat menjadi Muslim yang baik”, kataku penuh haru.

Alhamdulillah, Allah bless you. You are my brother now, Mada”, jawab Karim. ” Jangan lupa pesanku dan juga   khutbah Syeikh Husein tadi pagi, segera cari seseorang yang dapat membimbingmu ”, lanjutnya.

***

Read Full Post »