Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Palestina’

Februari 2002, beberapa bulan lagi ujian akan tiba. Seluruh murid disibukkan dengan bimbel disamping pelajaran sekolah, ulangan dan tugas-tugas harian yang makin menumpuk. Belum lagi berbagai try-out yang belakangan ini makin sering diadakan. Aku bersyukur sudah tidak lagi  disibukkan dengan urusan Kira maupun cewek lain. Aku pikir tugasku sudah cukup banyak tidak perlu lagi menambah urusan lain yang kurang terlalu penting.

Syukur Kira memutuskanku. Kuakui aku memang kurang tegas dalam menghadapinya. Aku tahu Kira ingin memanfaatkanku dalam pelajaran bahasa Perancis sekaligus mengantar-antarnya pergi ke tempat-tempat yang dianggapnya penting. Disamping itu aku juga merasa tidak ada kecocokan antara aku dengannya. Namun aku tidak tega memutuskannya. Aku hanya main kucing-kucingan dengan mengatakan bahwa aku sibuk dan aku  harus banyak mengurusi urusan bisnis ayahku. Akhirnya ia marah dengan harapan aku mau membujuknya. Namun aku diam saja, aku pikir justru ini yang kuharapkan. Maka dengan segala kebenciannya iapun akhirnya memutuskan hubungan kami. Syukurlah …..

Akan tetapi belum sebulan berlalu,  tiba-tiba kami dikejutkan dengan sebuah berita tidak sedap. Pada upacara Senin pagi itu, diberitakan bahwa ada seorang murid yang terpaksa dikeluarkan dari sekolah. Pihak sekolah mengingatkan bahwa walaupun ujian telah dekat tidak berarti sekolah tidak akan berani mengambil keputusan tegas. Murid yang telah mengumpulkan peringatan  lebih dari 2000 poin sesuai ketentuan terpaksa harus keluar dari sekolah. Maka sekolahpun heboh. Masing-masing mencari tahu siapa kiranya yang dikeluarkan pada saat-saat menjelang ujian seperti ini  dan atas dasar melanggar poin apa.

Ternyata Kira! Kaget aku dibuatnya apalagi setelah mengetahui penyebabnya. Kira dikabarkan hamil. Usut punya usut ternyata selama ini ia telah menduakan aku. Kata teman yang bisa aku percaya, dia telah lama berpacaran dengan seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi. Temanku itu sebenarnya ingin mengingatkanku namun tidak enak. Puji Tuhan, untung aku tidak benar-benar jatuh cinta padanya.

***

Agustus 2002 adalah hari istimewa baik bagiku. Betapa tidak setelah sebelumnya aku dinyatakan lulus SMA, bulan ini aku kembali mendapat berita gembira bahwa aku diterima di fakultas Sosial sebuah universitas negri terkenal di Jakarta!  Horeee… alangkah gembiranya hati ini  Ayah sebetulnya kurang menyetujui pilihanku ini. Ia lebih menginginkan aku kuliah di jurusan bisnis., ” Sebagai anak satu-satunya, wajar bila ayah berharap kamu dapat meneruskan usaha yang telah lama dirintis ayah dan kakek buyutmu dengan susah payah ini, Mad”, begitu alasan ayah. Namun aku betul-betul tidak tertarik dengan dunia bisnis. Disamping itu ibupun membebaskanku untuk memilih kuliah dimanapun yang aku suka. Akhirnya ayah menyerah. Tapi ia juga tidak gembira akan keberhasilanku diterima di jurusan pilihanku ini. Apa boleh buat…..

Bersama sejumlah teman yang diterima di perguruan tinggi negri, hari itu kami merayakan kegembiraan kami di Dufan. Semua permainan aku jalani dengan senang hati. Padahal sebelumnya aku tidak pernah  berminat mencoba ’Tornado’ yang baru membayangkannya sajapun bisa bikin perutku mual.

***

Tanggal 27 Agustus mahasiswa baru fakultas Sosial menjalani hari pertama kuliah. Ini adalah hari perkenalan dan silaturahmi antara mahasiswa dan dosen. Di hari tersebut pihak universitas mengundang  seorang tamu istimewa. Ia seorang pemerhati masalah sosial yang memiliki nama cukup populer di kalangan orang muda. Dalam acara sambutannya ada hal yang menarik perhatianku. Dengan berseloroh dan nada bercanda ia menanyakan apakah ada diantara  kami yang mempunyai tetangga yang telah menikah. Belum selesai kami berpikir, ia kembali melontarkan pertanyaan aneh, apakah istri tetangga tersebut mempunyai jari kaki dan tangan lengkap, apakah tubuhnya sexi, bagaimana dengan hidungnya? Pesek atau mancungkah?

Tentu saja kami semua tertawa mendengar gurauan tersebut. Setelah seluruh hadirin berhenti tertawa , sang tokoh populer tersebut kembali melanjutkan perkataannya. Kali ini dengan nada lebih serius. Katanya ” Sebagai tetangga yang baik dan berakhlak tentunya kita tidak perlu mengomentari istrinya tersebut, bukan?  Mana ada suami yang rela istrinya dibilang jelek biarpun  hidungnya pesek, bibirnya dower, jarinya jebret semua ”. Hahaha…. lucu juga orang ini kataku dalam hati sambil terus penasaran menebak-nebak kemana arah pembicaraannya.

” Makanya jangan suka usil ngurusin agama orang lain. Agama itu sama dengan istri. Mana ada orang mau agamanya dibilang jelek. Biar sajalah….”, begitu katanya. Oooo, gitu.., pikirku ragu karena kurang setuju.

***

Hari-hari berikutnya aku  mulai disibukkan dengan jadwal  kuliahku yang benar-benar padat. Untuk menghemat waktu dan tenaga sekaligus tentu saja uang transport, dengan persetujuan ayah dan ibu, aku memutuskan untuk  kos di dekat kampus. Hanya butuh waktu 10 menit dan cukup dengan berjalan kaki pula untuk sampai ke gedung kampus. Malah ternyata pihak universitas menyediakan sepeda khusus gratis selama kita menggunakannya di dalam lingkungan kampus.

Aku bersyukur ternyata aku tidak salah memilih jurusan ini. Aku benar-benar menikmati hampir semua pelajaran yang diberikan. Yang menjadi mata pelajaran favoritku adalah sejarah peradaban dunia. Peradaban kuno seperti peradaban Maya di Amerika Latin, peradaban Sumeria, Assyria dan Mesopotamia di Syria, peradaban Fir’aun di Mesir  adalah makananku sehari-hari. Bahkan aku merasa apa yang diberikan dosen di kampus kurang dapat memuaskan rasa keingin-tahuanku yang begitu tinggi.  Untung ada internet di kamarku. Aku bisa berjam-jam menghabiskan waktu untuk sekedar surfing didepan kotak kaca ajaib tersebut.

Begitu juga masalah-masalah sosial seperti isu pemanasan global, kemiskinan, korupsi, politik  hingga berbagai konflik yang belakangan makin sering terjadi terutama di kawasan Timur Tengah. Perang Chechnya, Afganistan dan pendudukan Palestina oleh Yahudi adalah contohnya. Dari internet ini jugalah aku baru tahu ternyata kawasan ini sudah sejak lama telah menjadi saksi bisu berbagai peperangan dan permusuhan yang didasarkan agama. Menurutku Perang Salib adalah perang yang paling heboh dan menggelikan. Bagaimana mungkin hanya disebabkan perbedaan agama dan kepercayaan saja orang rela mengorbankan keluarga bahkan nyawa!

Ketertarikan pada berbagai masalah sosial dan agama inilah  yang menyebabkanku mengikuti lomba karya tulis yang diadakan sebuah surat kabar ternama dan didukung sejumlah kedutaan di Jakarta. Hadiahnya pun tak tanggung-tanggung, selain sejumlah uang juga hadiah home-stay selama 3 minggu di  kota tua historis Yerusalem!

***

” Mad, gile lo … udah lihat pengumuman di koran hari ini ? ”, pekik Lukman, sahabat baruku di universitas. ” Elo keluar juara I ….. wah..wah !”

” Yang bener ? ”, sahutku setengah tak percaya sambil menyambar selembar koran yang dipegangnya. Benar,  namaku tercantum pada baris pertama, artinya aku mendapat hadiah utama.

” Ga salah deh elo ya bolos beberapa hari buat nyelesein tulisan elo..”,  kata Lukman sambil menyelamatiku. Aku cuma senyum-senyum gembira membayangkan hadiah yang bakal kutrima.

” Traktir dong, Mad..”, lanjut sahabatku yang memang doyan makan itu. ” Iya, iya..tapi tunggu dulu dong sampe gue bener-bener di telpon…jangan-jangan salah cetak lagi ”, kilahku.

”Ya udah, yang penting lo musti bersyukur dulu Mad …kalo bukan karena rahmat Allah ga mungkin lo menang tuh!!”. ” Dasar uztad ”, gerutuku senang. Anehnya, aku tidak menolak ketika ia mengajakku untuk mensyukuri kemenanganku itu dengan shalat di masjid kampus dimana ia biasa shalat. Aku hanya sekedar mengikuti gerakan-gerakannya membungkuk-bungkukkan badan layaknya orang senam. Namun demikian terus terang ada semacam kesejukkan dan rasa haru menyelinap ke dalam dada ini, terutama ketika bersujud mencium tanah. Dari dulu aku selalu merasa takjub ketika menyaksikan orang dalam posisi demikian. Aku pikir ini sungguh sebuah penyembahan total kepada Sang Pencipta.

Seusai shalat., Lukman kembali menyalamiku sambil berkata pelan ” Semoga elo dapat hidayah”, begitu katanya. Aku hanya manggut-manggut tak tahu apa maksudnya.

***

Keesokan harinya  aku sudah berada di kantin kampus dengan beberapa teman dekatku untuk merayakan kemenanganku. Aku telah menerima telepon dari panitia bahwa aku berhak mengantongi hadiah utama ke Yerusalem. ” Jadi ga salah kan pengumuman kemarin ”, seru Lukman ikut gembira sambil menepuk-nepuk  pundakku. Tak lama kemudian Lukman memanggil  Nisa dan  Icha  yang kebetulan lewat di depan kantin Dua gadis manis bersahabat ini adalah teman Lukman sewaktu SMA. Nisa kuliah  di fakultas Kedokteran dan Icha di fakultas Hukum. Lukman tahu benar bahwa aku diam-diam menaruh perhatian pada Nisa.

”Nis, Cha… hari ini lo boleh makan apa aja… ada  yang mau traktir lo berdua…”, teriaknya berisik sambil menunjukku dengan jempol gendutnya.

” Ulang tahun nih?”, seru mereka hampir bersamaan. ”Mada menang lomba karya tulis tuh..  kasih selamat dong”, sambung Hari, salah satu temanku. ” Oh gitu….hebat… selamat ya”, kata Icha dengan kenes sambil menjulurkan tangannya. ” Selamat juga Mad, ya..”, sambung Nisa. Kali ini aku tidak perlu menjulurkan tangan karena hampir semua orang juga tahu bahwa Nisa tidak pernah mau bersalaman dengan teman lelakinya. Kata Lukman itu adalah ajaran Islam yang benar. ”Hanya muhrim, yaitu bapak, saudara-saudara, paman dan suaminya yang diperbolehkan menyentuh seorang perempuan disamping mahluk perempuan lainnya tentu saja”, jelas Lukman..

Gadis tinggi semampai ini telah mencuri perhatianku pada hari pertama aku melihatnya di depan fakultas yang kebetulan bersebrangan dengan fakultasku. Lukman yang mengenalkanku dengannya. Dengan jilbab hijau pupus yang menutupi rambutnya, ia tetap terlihat cantik dan menarik. Wajahnya mengingatkanku kepada salah seorang pemain sinetron indo arab yang sering muncul di layar kaca. Mungkin juga jilbabnyalah yang mengesankan wajah ke-arab-araban.

Namun begitu jilbabnya itu tidak menghalanginya untuk beraktifitas. Ia bahkan bintang di lapangan  basket. Disamping itu dengan kacamatanya ia terlihat  pintar dan cerdas. Kata Lukman di SMA dulu ia adalah ketua OSIS. Pada acara-acara khusus gadis ini sering di daulat untuk memamerkan kepiawaiannya dalam bermain gitar. Banyak cowok yang naksir padanya tapi ia terlihat santai dan cuwek saja. Lukman  sering mengomporiku agar mau ’menembak’nya. Tapi aku tak punya nyali.  Mana mungkin aku berani menembaknya bila bahkan membalas tatapanku saja ia tidak mau. Namun demikian aku masih punya harapan karena aku perhatikan Nisa memang tidak pernah memandang  lawan jenisnya lebih dari sekedar yang diperlukan. Walau kadang-kadang aku merasa bahwa sebenarnya Nisa suka mencuri pandang padaku bila aku sedang tidak memandangnya.   “ Semoga aku tidak GR….. ehk..”, pikirku penuh harapan.

***

Head line mengenai perang yang meletus  antara Israel dan Libanon merenggut perhatianku. ” Gila”, kataku dalam hati. ” Hanya gara-gara 1 orang prajurit yang diculik Hizbullah, sebuah kelompok perlawanan Libanon, sebagai permintaan ganti tebusan ribuan laki-laki dan perempuan Libanon dan Palestina yang dijadikan tawanan oleh Israel, bisa mengakibatkan perang meletus ? ”.

Aku memang berusaha sebanyak mungkin mendapatkan berita yang berhubungan dengan Yerusalem. Rencananya aku akan diberangkatkan Juli tahun ini. Artinya aku masih memilki waktu sekitar 4 bulan. Selain melalui internet aku berburu berita melalui berbagai buku mengenai Israel, Palestina,  Timur tengah dan sekitarnya di toko buku. Atas rekomendasi Lukman dan beberapa teman aku juga membeli  ”Yerusalem, satu kota tiga iman” sebuah buku yang ditulis oleh penulis kenamaan Inggris, Karen Amstrong. Ia adalah seorang pemerhati agama.

Dari buku tersebut aku jadi tahu banyak tentang Yerusalem dan Perang Salibnya atau yang dikenal dengan nama The Crusader. Kenanganku kembali melayang ke Museum Du Louvre di Paris beberapa tahun yang lalu dimana  aku, Hans dan Kaori menyaksikan pameran tentang Yerusalem dan perang Salib dimasa Sultan Salahuddin. Kota tua yang hingga saat ini masih menjadi rebutan ketiga agama terbesar  dunia ini ternyata menyimpan sejarah yang begitu fenomenal.

Betapa tidak, Islam meng-klaim bahwa kota ini suci bagi mereka karena Yerusalem khususnya Masjidil Aqsho adalah kiblat pertama mereka sebelum Kabah di Mekah. Di tempat ini pula nabi mereka, Muhammad melakukan perjalanan semalam dari Mekah ke Yerusalem kemudian diangkat menuju ke Arsy-Nya di langit, singgasana Allah, Tuhannya orang Islam. Pada saat itulah Muhammad menerima perintah shalat.

Sementara  bagi umat Nasrani, Yesus, Tuhan mereka, dilahirkan sekaligus berdakwah di negri tersebut. Di tempat ini pula ia disalib dan kemudian dikuburkan. Di lain pihak, orang Yahudi berkeyakinan nabi mereka, Daud dan Sulaiman adalah pemilik dan pendiri tanah Yerusalem dimana Haekel berdiri ribuan tahun yang lalu. Haekel adalah  tempat orang Yahudi melakukan ritual keagamaan untuk  menyembah Tuhannya.

Sementara itu dari berbagai referensi yang aku baca, ternyata Yerusalem memang sejak dahulu sering berada dibawah kekuasaan asing. Tanah Palestina dan Yerusalem khususnya, diperkirakan telah didiami manusia sejak sekitar 3000 SM. Tanah ini juga sering dinamakan dengan sebutan tanah Kana’an. Mereka adalah bangsa Filistin. Pada sekitar 1000-500 an SM negri ini berada dibawah kekuasaan kerajaan Yahudi dengan nabi Daud dan Sulaiman sebagai rajanya. Kemudian masuk berturut-turut Nebukadnezar, raja Babilonia kemudian bangsa Persia dan Romawi Nasrani.  Hingga akhirnya pada sekitar tahun 600 an masuklah  Islam. Ini terjadi pada zaman kekhalifahan Umar Bin Khatab, seorang pemimpin Islam yang dikenal adil, bijaksana,  shalih dan sangat bersahaja. Hanya pada periode dibawah pemerintahan Islam selama 450 tahun inilah ketiga penganut agama bebas menjalankan agama dan kepercayaannya masing-masing.

Kemudian pada tahun 1099 pecah Perang Salib yang diprakasai oleh seorang uskup Nasrani di Clermont,  Perancis. Penyebabnya adalah adanya isu bahwa penguasa Yerusalem bermaksud menghancurkan salah satu gereja yang dianggap keramat umat Nasrani. Oleh sebab itu Sang uskup mengumumkan perlunya perang suci mempertahankan gereja. Maka dengan berbondong-bondong menyerbulah  pasukan yang dinamakan Pasukan Salib ini dari seluruh penjuru Eropa menuju kota Yerusalem.

Sebagai warga  yang telah ratusan tahun menempati kota maka seluruh  penduduk baik pemeluk Islam, Nasrani maupun  Yahudi, mereka bersatu untuk mempertahankan kota melawan pasukan musuh sebagai pendatang yang menyerbu. Namun pasukan Salib yang sebagian kelak dikenal dengan sebutan Ksatria Templar itu akhirnya berhasil merebut Yerusalem dengan penuh kekerasan.  Masjid-masjid dibakar dan hampir seluruh  penduduk kota tua tersebut, dewasa maupun anak-anak, laki-laki maupun perempuan, Islam, Nasrani maupun Yahudi, semua dibantai. Bahkan dikabarkan 10.000 orang Muslim yang berusaha berlindung di atap masjid Al-Aqshopun tidak luput dari pembantaian.

Dalam bukunya, Karen Amstrong mengutip kata-kata Raymond dari Aguilles, seorang saksi dari Perancis yang mengatakan : ” Tumpukan kepala, tangan dan kaki dapat terlihat”, ”…para pria berjalan dengan darah yang naik hingga ke lutut dan tali kekang kuda mereka …”. Dengan cara seperti itulah Yerusalem jatuh ke tangan pihak Nasrani Eropa.

Delapan puluh delapan tahun kemudian dalam pertempuran yang terkenal dengan nama pertempuran Hittin,  pasukan Muslim dibawah Salahuddin Al-Ayyubi,  seorang sultan Mesir berhasil merebut kembali Yerusalem dari tangan pihak Nasrani. Hebatnya tidak ada dendam dalam perang ini. Tak satupun orang non Muslim  yang dibunuh. Sultan hanya membunuh orang yang benar-benar  dianggap keterlaluan jahatnya dan kemudian hanya mengusir orang Nasrani yang tergabung dalam pasukan Salib saja. Selebihnya diperbolehkan tetap tinggal di kota dan menjalankan kepercayaan masing-masing seperti ketika belum terjadi Perang Salib. Artinya tanpa memperhatikan agama dan kepercayaannya, seluruh penduduk asli apapun agamanya tetap diizinkan tinggal di Yerusalem.

Tiba-tiba ingatanku melayang pada film ” The Kingdom of Heaven” yang disutradarai oleh Sir Ridley Scott dan dibintangi aktor kenamaan Orlando Bloom. Film ini mengisahkan terjadinya perang Salib yang terjadi pada tahun 1187  tersebut. Sedangkan pasukan Templar mengingatkanku pada film ” Da Vinci Code ”yang sempat heboh beberapa tahun yang lalu. Aku baru menyadari rupanya film-film tersebut sebenarnya adalah kisah nyata yang mungkin mengalami sedikit modifikasi dan bumbu. Perang Salib terjadi hingga 9 kali, namun pasukan Salib hanya mengalami kemenangan sekali itu saja, yaitu pada Perang Salib I.

Kemudian pada tahun 1250an, Hulagu Khan seorang pemimpin dari dinasti China yang juga cucu Kubilai Khan,  kembali memporak-porandakan tanah Syam, termasuk Palestina dan Yerusalemnya. Dengan penuh kekejaman ia menghancurkan dan membumi hanguskan wilayah tersebut. Tetapi tak lama kemudian pada perang Ain Jalut yang terjadi di Palestina, pasukan Muslim Mameluk dari Mesir berhasil secara gemilang menaklukkan dan mengusir pasukan Mongol yang dikenal sangat bengis dan belum pernah kalah dalam pertempuran  itu.

Selanjutnya selama hampir 500 tahun di bawah kekuasaan Ustmani Ottoman yang Islam, Yerusalem mengalami masa kejayaannya. Hingga akhirnya kekhilafahan ini kalah dalam Perang Dunia I pada tahun 1917 dan pada tahun  1923 kekhalifahan ini benar-benar terhapus. Maka Yerusalempun berpindah ke tangan kerajaan Inggris. Dan berdasarkan perjanjian Balfour tahun 1917 yang disetujui PBB, tanah ini pada tahun 1947 resmi akan diberikan kepada pihak Yahudi Zionis yang bercita-cita akan mendirikan negara Israel Raya yang penuh masalah. Yang tidak menginginkan sebuah negri yang berbagi dengan etnis apalagi agama lain karena ia merasa sebagai bangsa terbaik dan bangsa pilihan!

Sejarah membuktikan bahwa perasaan superior ini membuat orang Yahudi dimanapun berada dibenci dan dimusuhi. Kelompok yang membenci orang-orang ini belakangan diberi nama Anti Semit. Seringkali orang-orang Yahudi ini diusir dan dijadikan bulan-bulanan kelompok yang membencinya. Pembantaian pada Perang Salib-Jerman pada tahun 1096, pengusiran orang-orang Yahudi dari tanah Inggris pada 1290, dari tanah Spanyol pada tahun 1492, dari Portugal pada tahun 1497 adalah contoh ekstrimnya. Dan yang paling spektakuler adalah peristiwa Holocaust selama Perang Dunia II oleh Nazi Jerman pimpinan Hitller. Peristiwa inlah yang kemudian dijadikan alasan untuk menarik simpati dunia sekaligus rasa bersalah Eropa untuk membenarkan berdatangannya orang Yahudi ke tanah Palestina dan membangun rumah serta menyerobot hak penduduk asli.

.Lebih dari itu, orang Yahudi merasa bahwa mereka adalah pemilik asli tanah Palestina. Karenanya ketika pihak Inggris sebelumnya menawarkan tanah Kenya, mereka menolak. Meski demikian sebenarnya perjanjian Balfour yang ditanda-tangani pihak Inggris dan Zionis itu telah mensyaratkan adanya keadilan bagi penduduk yang sebelumnya telah tinggal di negri tersebut.  Satu hal yang hingga detik ini jelas-jelas telah dilanggarnya terang-terangan di depan mata dunia tanpa ada satupun negara yang berani menegurnya!

Apa rahasianya? Dari banyak sumber kuketahui ternyata hal ini berkat kehebatan para pelobby yang mereka miliki.  Adalah AIPAC, kependekkan American Israel Public Affairs Committee, sebuah dewan resmi Amerika yang menangani masalah Yahudi. Dewan ini telah berdiri sejak lama dan berkedudukan di Washington DC. Orang Yahudi telah lama dikenal sebagai bangsa yang pandai, ulet sekaligus licik dan suka melanggar janji. Gabungan bakat tersebut menyebabkan bangsa ini sukses dalam berbagai bentuk bisnisnya. Bermula dari  kekayaannya yang melimpah, dewan pelobby Yahudi  berhasil masuk serta mempengaruhi dan bahkan menyelinap ke dalam jajaran penting  kekuasaan pemerintahan negara adi daya Amerika Serikat ‘ si penguasa dunia’.

Bahkan rumor yang telah sejak lama beredarpun mengatakan bahwa adalah Dr.Chaim Wiezmann, seorang ahli kimia warga-negara Inggris-Yahudi yang menjadi wakil pembicara Zionis di Inggris. Berkat jasanya dalam membuat senjata kimia yang menjadi penentu kemenangan Inggris pada PD I maka sebagai kompensasinya bangsa Yahudi yang tadinya hidup bertebaranpun mendapat hadiah tanah milik bangsa Palestina.

Yang menjadi pertanyaanku dan juga  banyak orang, atas dasar pertimbangan apa sebuah tanah / negri dapat diberikan begitu saja kepada pihak asing. Pihak Yahudi mengklaim bahwa Palestina adalah tanah leluhur mereka. Sementara pada kenyataannya penduduk Palestina yang mayoritas etnis Arab dengan agama yang berbeda-beda tersebut telah menempatinya beratus-ratus bahkan ribuan tahun lamanya.  Lalu berapa lama sepantasnya seseorang dapat dianggap bahwa ia penduduk sebuah negri tanpa perlu merasa khawatir bakal diusir ? Disamping itu bukankah mustinya berdirinya sebuah negri adalah dalam rangka memberikan rasa aman kepada penduduknya, bukan malah menteror apalagi mengusirnya ??

Sebagai bekal nanti, aku terus  berusaha untuk mengingat lokasi dan kejadian  yang dianggap penting  bagi masing-masing pemeluk ke tiga agama  ini, yaitu tempat-tempat ritual yang biasa dikunjungi para wisatawan asing yang datang baik berdasarkan agamanya ataupun sekedar rasa keingin-tahuan semata. Rasanya aku sudah tak sabar lagi untuk segera terbang dan mewujudkan apa yang berada dalam bayanganku.

***

Advertisements

Read Full Post »

Beberapa hari sebelum kepulanganku ke tanah air, aku diajak Benyamin mengunjungi kota Hebron yang terletak di Tepi Barat, untuk melihat makam nabi Ibrahim. Sama halnya dengan kota-kota penting lain di Palestina, penjagaan dan pemeriksaan ketat juga diberlakukan untuk memasuki kota dimana makam nabi Ismail, nabi Ishak dan nabi Yakub  ini berada. Ternyata  hanya untuk melakukan ziarah ke makam yang terletak di dalam masjid inipun dilakukan pemeriksaan super ketat. Tidak hanya para perempuan bahkan bayipun harus digeledah!

Makam para nabi Allah ini terletak didalam naungan masjid yang diperkirakan dibangun 1000 tahun silam. Namun fondasi dasarnya kemungkinan telah ada jauh sebelum itu. Masjid ini berdiri di ketinggian 15 m dari permukaan tanah dan dikelilingi dinding raksasa dengan stuktur dasar menyerupai dinding kuno di Haram Al-Syarif.

Sejak lama makam ini menjadi rebutan antara pihak Palestina dan pihak otoritas Israel. Lihat   pagar besi yang melintang persis diatas makam tersebut. Itu adalah makam nabi Ibrahim. Pagar tersebut memisahkan makam menjadi 2 bagian,  1 bagian berada di wilayah Palestina dan  1 bagian lainnya milik Israel”, jelas  Karim.

Pihak Israel tidak akan pernah puas dengan apa yang telah dikuasainya sekarang ini. Sedikit demi ia terus memperluas daerah jajahannya dan merebutnya dari tangan Palestina. Hebron adalah milik bangsa Palestina namun lihatlah, pemerintah Israel saat ini terus membangun perumahan Yahudi di sela-sela perkampungan Palestina. Rakyat  Palestina tidak mampu melawan kediktatoran mereka. Yang lebih mengesalkan lagi, pemukiman Yahudi itu dibangun  di atas perbukitan diatas perkampungan kumuh Palestina.  Kemudian dengan sengaja dan secara provokatif para penghuni di atas bukit sering melempar barang-barang tak berguna mereka ke arah perkampungan di bawahnya! Benar-benar keterlaluan…”, kata Benyamin geram.

***

Suatu hari, usai mengikuti kunjungan  ke beberapa tempat penting dan terkenal seperti gedung Parlemen dan lain-lain bersama rombongan, Benyamin tidak terlihat di tempat biasa ia menantikanku selama ini. Ini adalah hari terakhirku di Yerusalem.” Benyamin ada kuliah  tambahan hari ini hingga sore hari. Tadi ia lupa mengatakan padamu”, jelas Karim.

Siang itu Karim mengajakku  berkunjung  ke masjid  Salman Al Farisy. ” Siang ini aku kedatangan rombongan tamu dari Perancis. Mereka baru pulang dari menunaikan umrah di Mekkah. Pemandu  yang mustinya bertugas mengantar mereka kebetulan sedang sakit. Ia memintaku agar menggantikannya mengantar tamu-tamu tersebut mengunjungi makam Salman Al-Farisy, seorang tokoh legendaris sekaligus  pejuang Islam kenamaan”, terang Karim. ” Bila kau mau, kau bisa ikut bergabung”, ajaknya.

Maka tak sampai satu jam kemudian akupun sudah berada diantara sekitar 20-an tamu Perancis dengan Karim sebagai pemandunya. Makam Salman Al-Farisy berada di dalam masjid yang  sama dengan namanya. Masjid yang tidak tampak istimewa ini berada diatas sebuah bukit di pinggir sebuah jalan yang menanjak diantara pemukiman penduduk.

Salman adalah seorang pemuda Persia berusia belasan tahun. Dulunya ia tinggal di sebuah desa bernama Jayy, Isfahan di  Persia. Keluarganya adalah penganut agama Majusi, penyembah api. Salman muda sejak remaja telah ditugasi ayahnya untuk menjaga nyala api sesembahan agar tidak sampai padam. Suatu hari karena bosan, tanpa sepengetahuan ayahnya, ia meninggalkan tugasnya dan berjalan-jalan. Di jalan ia melewati sebuah gereja dimana orang-orang didalamnya sedang beribadah. Salman merasa bahwa agama ini lebih baik dari agama nenek moyangnya. Ia kemudian memutuskan untuk berganti agama.”, jelas Karim dalam  Inggris  kepada tamu-tamu Perancisnya.

Namun begitu ayahnya mengetahui hal tersebut, ia marah besar dan mengurung Salman dalam kamarnya. Salman tidak putus asa. Beberapa hari kemudian dengan bantuan teman-teman baru Nasraninya, Salman berhasil melarikan diri. Selanjutnya selama beberapa tahun Salman taat mengikuti ajaran baru tersebut hingga ajal mendekati uskup gerejanya. Berkat kasih sayangnya, sang uskup berkata bahwa ia telah menitipkan Salman ke uskup lain yang dipercayanya. Ia  berpesan : ” Salman, berhati-hatilah dalam menuntut ilmu. Sekarang ini banyak pemimpin agama yang tidak menyampaikan  ajarannya dengan benar. Maka teruslah memohon kepada Allah agar jangan disesatkan.”, Salmanpun mentaatinya dan ia mengikuti uskup yang telah ditunjuk uskup yang shaleh tersebut”, Karim berhenti sejenak.

Dalam keadaan hening itulah  tiba-tiba aku mendengar bisik-bisik di sebelahku. Aku baru menyadari rupanya ada beberapa tamu yang kurang memahami apa yang dikatakan Karim. Perlahan aku segera mendekati beberapa  tamu yang berbisik-bisik tersebut dan  berkata pelan :  “ Voulez-vous  que je traduise l’explication , mesdames  messieurs ? «  tanyaku sopan menawarkan apakah mereka mau aku menterjemahkan apa yang dikatakan Karim. Ternyata dengan senang hati mereka menerima tawaranku itu. Karimpun  rupanya menyadari hal tersebut. Ia memberi isyarat bahwa ia menyetujuinya. Kemudian ia meneruskan penjelasannya dengan lebih lambat memberiku kesempatan untuk  menterjemahkannya.

Namun hal itu tidak berlangsung lama karena tak lama kemudian uskup kepercayaan itupun juga meninggal dunia. Maka Salmanpun mulai mengembara mencari uskup yang sesuai dengan apa yang telah diajarkan uskup lamanya. Beberapa kali Salman bertemu dengan uskup namun didapatinya uskup tersebut mengajarkan hal yang tidak sesuai dengan ajaran yang telah diterimanya. Hingga suatu hari ia tiba di sebuah kota di Arabia. Belakangan ia baru tahu bahwa kota tersebut bernama Yathrib yang dikemudian hari diganti menjadi Madinah. Di tempat ini ia dizalimi seseorang yang pada akhirnya mengakibatkan ia dijual dan dijadikan budak seorang Yahudi”, Karim berhenti sejenak memberi kesempatan tamu-tamunya mengambil gambar keranda anak muda tersebut.

Baru  beberapa hari tinggal di rumah orang Yahudi tersebut, Salman mendengar berita bahwa ada seorang nabi baru muncul. Ia dikejar-kejar dan dimusuhi kaum dan kerabatnya sendiri. Namun justru di kota Yathrib ini ia diterima. Salman merasa penasaran dengan berita tersebut. Ia teringat kata-kata uskupnya bahwa kitabnya telah memberitahukan kedatangan nabi baru tersebut. Ia juga teringat akan pesan dan ciri-ciri utusan Allah yang tertulis dalam kitabnya”, lanjut Karim.

Selanjutnya  Salmanpun berusaha menemui nabi baru tersebut. Ia ingin mencocokkannya dengan ciri-ciri yang diketahuinya. Dan setelah akhirnya ia benar-benar yakin bahwa memang dialah nabi yang dimaksud dalam kitab yang diajarkan uskup gerejanya waktu itu, tanpa sedikitpun keraguan Salmanpun segera mengikrarkan diri menjadi pengikut dan pemeluk nabi baru tersebut. Itulah Islam”, kata Karim menutup penjelasannya.

Mr. Karim, apakah Salman yang anda ceritakan ini sama dengan Salman, sahabat Rasulullah Muhammad saw  yang memberikan usulan dibangunnya parit dalam perang Ahzab?”, tanya  seorang jamaah di depanku  dengan bahasa Inggris beraksen Perancis yang terbata-bata.

Anda benar sekali. Salman inilah yang memberikan usulan tersebut. Ketika itu banyak sahabat yang tidak begitu mempercayainya bahkan beberapa mempertanyakan mengapa Rasulullah mau mempercayai dan mau menerima usulan  yang datang dari seorang non Arab”, jawab Karim

Padahal itulah salah satu kehebatan Islam. Islam tidak pernah membeda-bedakan bangsa, warna kulit maupun ras seseorang. Islam adalah rahmatan lilalamin”, sahut seorang peranakan Arab-bule disampingku.

Betul. Rasulullah dalam hadisnya pernah bersabda ambillah segala yang baik walaupun datangnya dari orang Yahudi sekalipun, sebaliknya buanglah sesuatu yang buruk sekalipun datangnya dari sesama Muslim,” sambung Karim lagi.

Aku hanya termangu-mangu mendengar semua percakapan tersebut. Aku merasa semakin takjub terhadap ajaran agama ini. Sebaliknya jauh di dalam hatiku, aku merasa  dikucilkan dan ditinggalkan. Bagaimana mungkin aku yang sejak kecil bahkan lahir di negri yang mayoritas Muslim bisa tidak mengenal agama ini. Sebaliknya bule-bule Perancis yang hidup di lingkungan  non Muslim bisa lebih dahulu mengetahui ajaran Islam. Aku pikir orang-orang yang terlebih dahulu beruntung mengetahui sebuah kebenaran seharusnya bertanggung-jawab memberitahukan apa yang telah didapatnya itu kepada yang belum menemukannya. Namun demikian kisah Salman Al-Farisy yang baru saja diceritakan Karim membuatku malu. ” Salahku sendiri.. mengapa aku tidak mencari tahu ”, kataku dalam hati.

Tak berapa lama kemudian, rombongan melanjutkan perjalanan menelusuri situs peninggalan lain. Pukul 18.25 ketika terdengar azan Magrib, rombongan segera meninggalkan masjid Umar yang terletak di lorong diantara pemukiman yang padat penduduk itu. Aku perhatikan ada sebagian yang mengambil wudhu di masjid tersebut. Kemudian setengah berlari mereka pergi menuju Masjidil Aqsho yang terletak agak jauh dari masjid Umar ini.

Shalat di dalam Masjid Al-Aqsho lebih besar keutamaannya. Ganjarannya adalah 500 kali lipat shalat di masjid biasa ”, begitu Karim memberi alasan ketika aku bertanya mengapa mereka tidak shalat di masjid terdekat saja.

Pahala bagi orang yang melaksanakan shalat didalam masjid dalam rangka mencari ridho-Nya padahal ia sedang sibuk melaksanakan jual beli atau sedang sibuk dengan urusan dunianya adalah rezeki yang tak terbatas ”, tambah Karim lagi menjawab pertanyaanku mengapa seorang Muslim harus shalat di masjid tidak di rumah saja..

Selesai mengerjakan shalat, rombongan berpisah. Karim mengajakku untuk mampir ke rumah orang-tuanya yang  katanya tidak terlalu jauh dari situ. Kamipun kembali menelusuri lorong gelap kota tua Yerusalem. Dibawah cahaya lampu yang sangat minim, aku dapat menyaksikan betapa keadaan di kompleks pemukiman Muslim ini sungguh jauh berbeda dengan  keadaan rumah Benyamin di Yerusalem Barat.

Semenjak pendudukan Zionis Israel 60 tahun lalu, keadaan kaum Muslimin makin terpuruk. Jangankan untuk keluar mencari kerja bahkan untuk sekedar keluar masuk kota saja sulit.  Pemerintahan Israel sengaja  membangun tembok pembatas sekeliling  kota untuk memisahkan dan menjauhkan warga Palestina  dari kehidupan. Profesi sebagai guide adalah profesi  yang paling mudah untuk melewati tembok pembatas. Itupun harus diperpanjang tiap3 bulan untuk mendapat izin ”, terang Karim.

” Mereka ingin membunuh kami secara perlahan. Ini terbukti dengan tidak adanya  perhatian pemerintah atas pelayanan kesehatan, kesejahteraan dan pemukiman kami yang makin lama makin sesak dan  kumuh. Bayangkan, dalam sebuah keluarga dengan 6 orang anak, kami harus berdesakan tinggal dalam 1 rumah sempit  dengan 1 kamar tidur”, tambahnya.

” Kami benar-benar terkurung di dalam kota lama tanpa pendapatan sepeserpun. Tidak ada transaksi jual beli kecuali antar warga sendiri. Bahkan pasokan listrik dan airpun mereka batasi dan awasi dengan amat ketat. Bayangkan bila musin dingin tiba….  Ini terjadi di semua pelosok Palestina”, katanya berang .

Aku hanya diam membisu. Aku saksikan sendiri di sepanjang lorong temaram ini memang banyak berjejer toko kelontong yang menjajakan barang-barang sederhana kebutuhan sehari-hari. Barang-barang tersebut tidak istimewa dan tidak menarik. Padahal banyak tamu dari mancanegara yang mengunjungi tempat tersebut. Mustinya ini bisa menjadi pendapatan mereka. Namun mereka  tidak memiliki modal dan memang sengaja tidak dimodali untuk mengembangkan usaha mereka. Disamping itu kelihatannya turis memang tidak dianjurkan membelanjakan uangnya di tempat mereka. Ini adalah sebuah pembunuhan terselubung kalau tidak mau dikatakan sebuah genocide terhadap ras Arab Palestina, kataku dalam hati, miris.

Kami terus menaiki dan menuruni jalan setapak  lorong-lorong panjang temaram yang  berkelak-kelok  tersebut hingga akhirnya kami tiba di tempat yang dituju. Berdiri di sebuah pintu yang sedikit terbuka, sejenak aku  tertegun. Yang dimaksud oleh Karim sebagai rumah kedua-orang tuanya ternyata hanyalah sebuah ruang gelap yang diberi penyekat untuk membedakan antara ruang tidur, ruang tamu serta dapur.

Assalamu’alaikum, yaa ummi yaa abi”, sapa Karim sambil mengetuk pintu dan perlahan mendorong daun pintu yang nyaris lepas dari engselnya tersebut.

Waalaikum salam”, terdengar jawaban dari dalam. Bersamaan dengan itu muncul seorang perempuan bertubuh gemuk dengan kepala dibalut penutup kepala berwarna kusam. Walau wajah itu terlihat lelah dan renta namun dapat kurasakan matanya yang  memantulkan sinar keteduhan .

Perkenalkan ini ibuku dan ini tamu Indonesiaku yang tempo hari kuceritakan padamu, umi. Namanya Mada”, kata Karim memperkenalkan diriku.

Tak lama kemudian Karimpun terlibat percakapan akrab dengan ibunya. Aku tak memahami apa yang mereka bicarakan karena mereka berbahasa Arab. Sebelumnya Karim telah meminta maaf karena ibunya tidak bisa berbahasa selain bahasanya sendiri. Sementara itu aku hanya bisa terbengong-bengong menyaksikan betapa memprihatinkannya kehidupan mereka. Sungguh mati aku tidak pernah mengira ada kehidupan seperti ini di abad 20. Tidak ada listrik, tidak ada perabotan. Yang terlihat hanya lampu minyak yang menempel di dinding. Di ujung sebelah kananku  aku lihat sebuah sudut yang lebih bersih. Ditempat itu aku lihat sebuah sajadah sederhana terbentang.

Beberapa menit kemudian, setelah Karim mencium  tangan kanan ibunya, kamipun berpamitan. Kami berdua kembali menelusuri lorong-lorong gelap di balik tembok tua untuk keluar menuju rumah Benyamin yang sekarang dalam bayanganku terasa seperti surga saking besar dan mewahnya. Sayup-sayup dari  kejauhan kudengar suara ayat-ayat Al-Quran berkumandang. Alunan suaranya terdengar begitu menyentuh di hati. Aku  merasa seakan ada sesuatu yang menyapa dan memanggilku. Sementara itu dari arah gereja Makam Kudus yang berada sekitar 300 an meter dariku terdengar suara lonceng berbunyi 8 kali.

Tak lama kemudian terdengar pula suara azan bersahut-sahutan. ” Waktu shalat Isya”, gumam Karim. ” Kalau kau tak keberatan kau bisa menunggu di kedai kopi Yahudi di seberang kiri sana. Aku segera akan menjemputmu begitu aku menyelesaikan shalat”, kata Karim.” Sebenarnya di samping masjid di sebelah sanapun ada juga sebuah kedai kopi. Tapi kedai itu milik orang Muslim. Jadi selama pemiliknya shalat pasti akan tutup”, lanjut Karim melihat aku agak ragu menerima usulannya. Karena tidak ada pilihan akhirnya aku memutuskan menunggu  di kedai Yahudi yang diusulkannya tersebut. Ada perasaan menyesal mengapa aku tidak ikut Karim saja  shalat di dalam masjid….

***

Read Full Post »

Malam itu aku tidak dapat memejamkan mata barang sedikitpun. Besok  pukul 4 sore, aku sudah harus meninggalkan kota yang banyak meninggalkan kenangan tersebut. Pesawat yang akan menbawaku pulang ke tanah air menurut jadwal akan terbang pukul 9 malam langsung menuju Jakarta. Namun semalaman aku hanya dapat membalik-balikkan tubuhku ke kiri dan ke kanan. Aku berusaha memejamkan mata namun pikiranku terus mengembara. Aku merasakan  adanya  beban berat yang menekan dadaku dengan kuat . ” Aku harus mengambil keputusan…sekarang atau tidak sama sekali ”, pikirku menahan kantuk.

( Taman itu begitu luas dan indah. Kesejukkan dan keasriannya masih ditambah lagi dengan kehadiran air mancur dengan kolam-kolamnya dimana berbagai jenis ikannya yang berwarna-warni  berenang kian kemari. Didepan sana aku melihat beberapa gerbang megah berwarna kehijauan. Aku berjalan mendekati gerbang termegah dan terbesar yang kuyakin pasti terdapat kedamaian di dalam sana. Diatas gerbang  kuperhatikan terdapat tulisan indah berukir  ” Laa illaha Illa Allah wa ashadu anna Muhammad Rasulullah”.

Namun ketika aku hampir mencapai gerbang  dan tengah berusaha mendorongnya  tiba-tiba secara perlahan gerbang  terbuka dengan sendirinya. Bersamaan dengan itu muncul pula seberkas cahaya yang sangat menyilaukan mata. Aku tak sanggup menjangkau bahkan memandang gerbang yang kelihatannya   begitu dekat itu. Padahal aku yakin gerbang tersebut telah terbuka begitu  lebar. Aku terpaksa mundur  beberapa langkah sambil memalingkan wajah. Selanjutnya aku berusaha menuju ke gerbang lain yang tak jauh dari gerbang pertama. Namun ketika aku hampir mencapainya kembali terjadi kejadian  seperti  sebelumnya.

Terpaksa akupun membatalkan keinginanku. Kini aku melayangkan pandanganku pada gerbang di sebelahnya  lagi. Dengan setengah berlari aku menuju gerbang tersebut  berharap  kali ini aku akan berhasil memasukinya. Namun hasilnya sama, aku selalu terhalang oleh  cahaya misterius itu. Keringatku mulai bermunculan. Aku tidak ingin menyerah. Aku terus berlari dan berlari  menuju  gerbang satu  ke gerbang yang lain. Ternyata gerbang tersebut ada 8 jumlahnya. Namun dari kedelapan gerbang tersebut tak satupun yang berhasil aku lalui.

Aku menjadi frustasi. Muncul bayangan kegelapan. Perlahan ia menghampiri. Semakin lama semakin cepat. Ia  menerpaku seolah ingin menyedot dan melumatku dalam-dalam. Aku benar-benar diselimuti ketakutan yang amat sangat. Akupun segera berlari sambil berteriak histeris meminta tolong… )

Tiba-tiba aku terbangun dan terduduk kaku.. ” Oh mimpi..., syukurlah ” bisikku  bergidik ngeri. Kerongkonganku benar-benar tersekat. Aku melirik jam yang tergantung di dinding kamarku.  ” Baru pukul 12.30”, pikirku.. Aku termenung sejenak sambil sekali-sekali menyeka keringat dingin sebesar biji-biji jagung yang terus menetes dari tubuhku.  Aku mencoba untuk menetralkan nafasku yang tersengal-sengal.  Akhirnya aku memutuskan untuk mencoba menghubungi telpon selular Karim melalui telpon selularku. Setelah beberapa kali gagal akhirnya aku mendengar suara Karim yang terdengar setengah mengantuk di ujung sana.

Maaf mengganggumu Karim ”, kataku setengah menyesal.  ”Ada apa ”, jawab Karim terdengar agak kesal.” Aku ingin memeluk  Islam ”, kataku mantap. Sesaat hening. Aku tak tahu bagaimana reaksi Karim namun aku tak peduli. ”Karim… kau dengar aku? ”,   ucapku setengah berteriak.

Allahu Akbar … ya yaa … aku dengar Mada. Sudah kuterka beberapa hari ini ….”, sahut Karim setelah beberapa detik berlalu. ”  Namun apa yang kau harap dapat aku lakukan di tengah malam ini ?”, tanya Karim. ” Tak dapatkah kau menunggu hingga esok hari ?”, lanjutnya. ” Aku… aku takut terlambat … tak mungkinkah kau mengantarku malam ini juga memasuki Masjidil Aqsho’ untuk berikrar ?”, tanyaku penuh harap.

Gila kau… Ini Yerusalem..lupakah kau bahwa ini kota pendudukan dimana jam malam berlaku ketat? ”, jawab Karim. ” Aku janji esok pagi akan mengantarmu .. jam 10 ”, katanya  memastikan. ” Tak dapatkah lebih pagi lagi ”tanyaku mencoba menawar.

Itu adalah jam terpagi yang bisa aku tawarkan… Bahkan bisa jadi mereka membuka gerbang Aqsho’ lebih siang lagi…sabar dan shalatlah semampumu..Lakukan seperti yang pernah kau lakukan tempo hari bersamaku … InsyaAllah Allah  akan menenangkan hatimu..Aku turut bersyukur atas hidayah yang diberikan kepadamu Mada ”, kata Karim mengakhiri percakapan.

***

Pukul 7 esok paginya, aku sudah terbangun dalam keadaan segar. Aku bersyukur mau mengikuti saran Karim malam tadi. Setelah melakukan shalat semampuku aku segera tertidur pulas. Pukul 10 kurang sedikit  aku sudah berada di dalam masjid Al-Aqsho. Aku telah memberitahukan niatku itu kepada keluarga Benyamin ketika kami sedang sarapan. Di luar dugaanku mereka tampak ikut senang melihat kebahagiaanku.

”Setidaknya kau telah berada dilingkup agama samawi, Mada”, sambut ibu Benyamin. ” Ya, apa yang dikatakan ibuku benar ”, sambung Benyamin. ” Aku yakin, sesungguhnya Islam, Nasrani dan Yahudi adalah tiga agama yang berasal dari sumber yang sama. Yang hingga kini aku tidak mengerti mengapa sebagian orang harus saling membenci gara-gara berbeda keyakinan. Pasti ada yang sesuatu yang tidak beres. Aku harap suatu saat kelak engkau dapat memberikan jawaban yang memuaskanku”,  kata Benyamin serius.

Kau adalah orang luar dan kau pasti masih bersih dari pengaruh lingkungan. Pasti kau tidak akan berpihak dengan  sembarangan. Berjanjilah pada kami bahwa kau akan segera memberitahu kami begitu kau menemukan jawaban yang meyakinkan ”, pinta ibu Benyamin tak kalah seriusnya dengan Benyamin. ” Ya, aku janji. Doakan semoga aku mampu memecahkan tabir misteri itu”, jawabku tidak begitu yakin.  Sementara aku perhatikan ayah Benyamin hanya diam memperhatikan percakapan kami. Benyamin memang pernah bercerita bahwa sejak pecah perang tahun 1967 ayahnya jadi berubah  tidak begitu peduli terhadap urusan agama walaupun tidak sampai menjadi atheis.

Prosesi ikrar yang kujalani ternyata cukup singkat dan sederhana. Mula-mula aku disuruh berwudhu sebelum memasuki masjid. Karim yang membimbingiku. Sambil menunggu kedatangan imam besar masjid, Syeikh Muhammad Husein, Karim mengajariku beberapa hal penting mengenai shalat, seperti persyaratan sebelum shalat, apa yang membatalkannya, berapa kali sehari harus shalat dan lain-lain. Aku mencatat apa yang diterangkannya kedalam sebuah buku kecil.

Shalat adalah tiang agama. Ini yang pertama kali harus kau pelajari. Shalat adalah hubungan langsung dengan Tuhan,  Allah swt. Keluarkan segala masalah  yang ada dalam hatimu dan mohonlah bantuannya. Ialah yang menciptakanmu maka Ia tahu pula apa yang baik bagimu. Berbaik sangkalah pada-Nya karena Ia akan mengikuti persangkaanmu itu”, jelas Karim.

Beberapa saat kemudian imam yang ditunggupun datang. Dengan disaksikan sejumlah jamaah yang kebetulan  hadir di dalam masjid ketiga tersuci tersebut, akupun berikrar dengan mengikuti kata-kata sang Imam bahwa ” Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya”. Hanya itu. Setelah itu Syeikh Husein dan Karimpun diikuti para  saksi menyalamiku dengan penuh rasa persaudaraan. Seperti kebiasaan orang Arab lainnya, mereka mencium pipiku tiga kali.  Masing-masing memberi nasehat atau mungkin doa karena mereka berbahasa Arab yang tentu saja tidak kumengerti. Namun tetap saja terharu aku dibuatnya.

Kau kini bagian dari Islam dan seluruh umat Islam dimanapun berada adalah bersaudara. Dengan saling mengingatkan dan saling menasehati dalam hal kebaikan berarti kita telah menegakkan kebesaran Allah ”, nasehat Syeikh.

Saudara-saudaraku seiman, saksikanlah bahwa hari ini saudara kita Mada telah menerima hidayah-Nya. Mada adalah orang yang beruntung. Ia adalah satu dari setengah bagian hamba yang mulanya  tidak mengakui-Nya namun kemudian ditakdirkan menjadi satu dari 2/3 hamba tersebut yang terpilih untuk bersujud hanya kepada-Nya ”, demikian khutbah sambutan yang diberikan Syeikh di depan jamaah. ” Namun ingat, hadis yang ditujukan kepada kita sebagai setengah bagian seluruh hamba  yang mulanya bersujud hanya kepada-Nya ini berkata bahwa pada akhirnya, ada 1/3 bagian darinya yang ditakdirkan akan murtad. Naudzubillah min dzalik…Semoga kita bukan satu diantaranya”, sambungnya lagi.

Untuk itu, janganlah kita terbuai. Teruslah memperbarui dan memperdalam keimanan dan pengetahuan kita . Khusus untuk Mada, bila ingin menjadi Muslim yang baik, banyak yang harus kau pelajari. Begitu sampai di negrimu, carilah seorang imam atau uztad yang benar-benar mengerti ilmu agama Islam, yang menguasai dalil-dalil yang tercantum dalam Al-Quran dan hadis. Ingatlah, sekarang ini banyak orang merasa dirinya pintar dan merasa telah menguasai agama dengan baik padahal ia adalah sesat. Jangan berjalan sendiri, bergabunglah dalam  jamaah, semoga engkau selalu dalam lindungan-Nya, amin. Yang terakhir tolong sampaikan pesanku mewakili seluruh umat Islam Palestina kepada saudara-saudara kami seiman di negrimu, bantulah kami mempertahankan masjid ke tiga tersuci ini dari serangan Zionis Yahudi ”, ujar sang imam menutup khutbah singkatnya.

***

Tepat pukul 4 sore, aku telah berada di kendaraan menuju Amman, Yordania. Karim berada di belakang kemudi, Benyamin duduk disebelahnya sementara aku duduk diam di kursi di belakang mereka. Kedua tanganku  mendekap erat Al-Quran dengan terjemahan bahasa Inggris yang tadi pagi diberikan kepadaku oleh seorang mualaf Jerman yang kebetulan ikut menyaksikan ikrarku di dalam masjid. ” Sekarang kitab ini telah menjadi  kitab suciku”, bisikku dalam hati. Pikiranku melayang kemana-mana sementara mataku memandang ke luar jendela menatap kota tua, The Old Yerusalem yang telah memberiku cahaya kebenaran. Aku terus menatap ujung kubah emas, kubah Al-Aqsho dan pelatarannya  hingga akhirnya benar-benar lenyap dari pandanganku.

Selamat jalan, Mada. Jangan lupa beri kabar setibamu di Jakarta”, kata Benyamin dengan suara agak tersekat. ” Walaupun hanya tiga minggu namun aku merasa akan sangat kehilangan dirimu ”, lanjutnya.

Aku segera merangkulnya. ” Akupun merasa demikian, Benyamin. Aku sangat berterima-kasih atas kesediaanmu dan keluargamu menampung diriku selama berada di Yerusalem”, sahutku. ” Aku janji akan terus menjaga persahabatan kita.. sampaikan juga salamku untuk kedua orang-tuamu. Katakan juga maafkan aku bila selama berada di rumahmu aku telah membuat kalian repot dan bahkan mungkin menyakiti hati kalian ”, kataku tulus.

Selanjutnya aku merangkul Karim erat. Ia menepuk-nepuk bahuku pelan. ” Terima-kasih, Karim. Melalui perantaraanmulah aku terbebas dari kesesatan. Doakan aku semoga aku dapat menjadi Muslim yang baik”, kataku penuh haru.

Alhamdulillah, Allah bless you. You are my brother now, Mada”, jawab Karim. ” Jangan lupa pesanku dan juga   khutbah Syeikh Husein tadi pagi, segera cari seseorang yang dapat membimbingmu ”, lanjutnya.

***

Read Full Post »

Suatu hari datang beberapa orang tamu dari Jakarta. Mereka adalah anggota salah satu LSM ( Lembaga Swadaya Mayarakat) yang bergerak di bidang kesehatan. Biasanya LSM ini memberikan bantuan darurat khusus kepada para korban perang. Rupanya kedatangan mereka berhubungan dengan rencana keberangkat mereka menuju Tepi Barat di Palestina. Demi keberhasilan misinya  mereka mencari relawan yang bersedia ikut membantu tugas mulia mereka. Maka tanpa ditanya dua kali aku segera menyatakan kesediaanku untuk bergabung. Sebetulnya ada 15 orang yang berminat  untuk ikut serta namun setelah melalui sejumlah wawancara akhirnya hanya 3 orang yang lolos, termasuk aku.

Sebelum berangkat aku menyempatkan diri untuk menulis surat kepada ayah dan ibu memohon  doa restu mereka berdua agar di negri orang nanti aku selalu  dalam lindungan-Nya. Sebaliknya aku juga memohon bila terjadi sesuatu kepadaku nanti ayah dan ibu mau memaafkan aku.

***

Sebulan kemudian setelah mendapatkan pelatihan   selama kurang lebih 2 minggu di kantor LSM tersebut, bersama 30 orang lainnya kamipun berangkat ke tempat tujuan. Tidak seperti kedatanganku kali pertama ke Palestina, kali ini dari Amman, Yordania kami langsung naik bus menuju kota Nablus  di Tepi Barat, sekitar 60 km utara Yerusalem. Di luar persangkaanku Nablus ternyata adalah sebuah kota industri yang cukup besar. Kota ini terkenal di manca negara akan produksi eksport sabunnya  yang terbuat dari minyak zaitun. Sayang, sejak pendudukan Israel pada tahun1948, lebih dari separuh pabriknyapun gulung tikar karena bangkrut. Ini terjadi hampir di seluruh sektor industri di seluruh negri termasuk Nablus.

Nablus juga mempunyai universitas yang cukup besar, namanya An-Najah National University. Universitas ini adalah universitas  terbesar di Tepi Barat. Dibangun pada tahun 1918 sebagai sekolah An-Najah akhirnya berkembang menjadi universitas  yang memiliki banyak fakultas diantaranya fakultas kedokteran, kedokteran hewan, kedokteran mata, farmasi, tehnik, hukum Islam  dan lain-lain. Pada tahun 1988 universitas ini sempat ditutup oleh otoritas Israel karena dianggap melawan kebijakan pemerintahan pendudukan.

Rasanya belum ada catatan dalam sejarah dimana sebuah kota dikelilingi lebih dari 100 cekpoint. Namun begitulah Nablus. Di kota ini tak seorangpun dapat pergi dan pulang ke rumahnya  sendiri tanpa harus melewati pos pemeriksaan dimana tentara Israel lengkap dengan senjatanya memeriksa tubuh dan bawaan mereka, setiap hari! Nablusi memiliki  6 rumah sakit besar disamping pula  4 kamp yang dihuni sekitar 35.000 pengungsi.

Di kota inilah kami disambut perwakilan organisasi induk yang khusus menangani bantuan kesehatan darurat pasca perang. Kelompok kami dipecah menjadi 10 tim untuk kemudian digabung dengan tim gabungan dari berbagai negara. Kemudian tiap tim yang terdiri dari 20 orang itu, dua diantaranya dokter, satu dokter umum dan satu lagi dokter bedah, plus peralatan medisnya langsung diterjunkan ke daerah-daerah rawan seperti kamp Balata , Ramalah.dan lain-lain.

Aku sendiri di tempatkan di sebuah desa kecil bernama Azmut sekitar 5 kilometer timur laut dari Nablus. Desa ini terletak di kaki bukit dimana pendatang sekaligus pemerintah ilegal Israel mendirikan permukiman Yahudi, sebuah perumahan mewah bernama Elon Moreh. Dengan mengendarai tiga jip terbuka tim kami tiba  di tempat tersebut menjelang ashar. Kami segera mendirikan empat buah tenda. Satu tenda besar untuk menampung korban, tiga tenda sedang  masing-masing untuk menyimpan obat-obatan dan segala perlengkapan lainnya sedang dua tenda sisanya untuk ditempati tim medis dan para relawan.

Selama kami bekerja, di kejauhan aku dapat mendengar suara desingan peluru di udara. Dari seorang kenalan baruku, seorang relawan Amerika bernama Mahmud, hampir setiap hari terjadi pertempuran di daerah itu. Mahmud yag bernama asli Michael Reed ini adalah seorang mualaf yang telah beberapa kali ikut menjadi relawan didaerah pergolakan. Ia pernah diperbantukan di Afganistan dan  Libanon. Jalur Gaza baginya adalah yang ketiga.

Di tengah keasyikanku mendengar cerita dan pengalaman beberapa kenalan baruku, tiba-tiba datang seorang pejuang Palestina yang menggandeng temannya yang luka parah pada tempurung lutut kanannya. Darah segar mengucur deras dari lukanya, membasahi  celananya. Kamipun segera bubar memberikan pertolongan. Ini adalah kali pertama aku melihat darah sebanyak itu keluar dari sebuah luka. Seketika perasaan mual menyerang perutku namun sedapat mungkin kutahan. Aku tak ingin terlihat tolol ditengah para relawan terutama para pejuang yang dengan begitu gagah berani mempertaruhkan nyawa demi membela bangsa dan keyakinannya itu.

Dengan cekatan dokter Yatim Razak, seorang dokter bedah tulang  berkebangsaan Indonesia dibantu dokter Pierre Orsolini, dokter umum belia  berkebangsaan Kanada beserta tim, segera  mempersiapkan operasi untuk mengeluarkan peluru yang rupanya masih bersarang di lutut kanan mujahidin tersebut. Dengan sigap tim bekerja sama dan dalam waktu tidak lebih dari 45 menit operasipun selesai.

Namun belum sempat kami bernafas lega, tiba-tiba datang lagi dua orang mujahid. Kali mereka datang sambil membopong seorang temannya yang terluka di dada kirinya. “ Jantungnya “, kata  Mahmud pelan di telingaku. Kembali tim disibukkan dengan operasi berikutnya. “ Alhamdulillah”, kata  dokter Yatim lega. “ Hanya menyerempet jantungnya”.

Selanjutnya  berturut-turut datang  sejumlah  pejuang membawa teman-temannya yang menjadi korban tembakan. Di kejauhan tampak bunga api terus berpijaran menerangi langit malam sementara suara tembakan yang mengiringinya memecah keheningan malam. Keadaan seperti ini terus berlangsung hingga pukul 2 dinihari. Setelah itu tembakan hanya terdengar sekali-sekali, itupun dari tempat yang benar-benar sangat  jauh. Menurut beberapa pejuang pasukan lawan sementara dapat ditundukkan.

Mereka mundur untuk sementara. Namun kita tetap tidak boleh lengah. “, kata seseorang yang aku perkirakan sebagai pemimpin para pejuang itu. “ Mereka akan datang lagi begitu mendapatkan bantuan senjata dari pusat”, kata seorang yang lain lagi.

Bayangkan, dengan persenjataan terbatas… itupun hanya senjata rongsokan yang kami beli secara gelap dari pihak tertentu…kami harus melawan persenjataan modern dan canggih yang mereka datangkan khusus dari Amerika Serikat”, keluh sang pemimpin. “ Namun sampai kapanpun, Demi Allah, kami harus melawan….. ini adalah rumah kami, tanah yang telah ratusan bahkan ribuan tahun lamanya kami tempati secara turun temurun”, lanjutnya lagi dengan berapi-api. Tak sedikitpun tampak  rasa takut maupun lelah pada wajahnya. Kagum aku dibuatnya.

Beberapa lama kemudian,  rasanya belum setengah jam aku berusaha untuk memejamkan mata, terdengar di kejauhan azan subuh berkumandang. Segera  secara berkelompok dan bergantian, kami meninggalkan tenda menuju tempat berwudhu.  Begitu ke luar tenda, kurasakan angin dingin menerpa serasa menusuk tulang rusuk dadaku. Padahal aku mengenakan jaket yang cukup tebal. Belum lagi ketika  air dingin menyentuh jari-jari ke dua tangan, lengan, muka serta kedua kakiku.

Bbrr...”, aku berusaha menahan rasa beku itu sambil berdoa memohon pada-Nya agar bangsa Palestina segera keluar dari kemelut berkepanjangan ini. Aku sungguh tak dapat  membayangkan bagaimana perasaan rakyat Palestina selama 60 tahun di bawah cengkeraman penjajahan Israel. Belum lagi membayangkan cuaca negri ini yang antara siang dan malamnya seperti langit dan bumi.

Tak lama kemudian aku sudah berada di dalam shaf shalat subuh berjamaah kelompok pertama sementara kelompok berikutnya tetap berjaga-jaga.

Begitu yang diajarkan Islam”, kata Naji Zuhair, sang pemimpin yang malam itu memang ikut tidur di tenda kami. “ Walaupun kita harus melaksanakan kewajiban dari-Nya, tidak berarti kita lalai menghadapi musuh”.

***

Tiga minggu kemudian karena persediaan obat mulai menipis, aku dan  Mahmud dengan dipandu  Handala Assus, seorang relawan  Palestina mendapat tugas untuk mengambil  obat-obatan di kantor pusat. Untuk itu kami bertiga harus menempuh perjalanan sekitar 25 km dengan berjalan kaki keluar masuk hutan selama lebih dari 15  jam !

Sebenarnya jarak desa tempat kami bertugas dengan kantor pusat tidak seberapa jauh. Namun sejak didirikannya tembok yang oleh pihak Israel disebut sebagai tembok pengaman, sementara pihak rakyat setempat bertanya-tanya pengaman dari apa, jarak antara keduanya menjadi jauh karena terpaksa harus berputar.

Namun demikian aku perhatikan di beberapa tempat, dimana pemisah hanya terbuat dari kawat berduri, rakyat memotong kawat pemisah tersebut. Hingga dengan demikian mereka tidak  perlu berputar terlalu jauh. Bahkan selama perjalanan itu aku sempat berpapasan dengan seorang ibu muda yang sedang hamil  tua, dengan di bimbing dua orang remaja belasan tahun, terpaksa bersusah payah  menerobos pagar kawat yang sudah diputus itu.

Katanya ia sedang menuju ke dusun sebelah untuk konsultasi dokter, sementara suaminya sedang ikut berjuang bersama warga lain. Aku dengar, sejak berdirinya tembok pemisah tersebut banyak korban  berjatuhan. Pasalnya orang yang dalam keadaan sakit keras  dan memerlukan pelayanan kesehatan segera terpaksa menempuh jarak lebih jauh dan lebih lama  hingga terlambat mendapatkan pertolongan

Suatu ketika, ketika kami tengah berjalan menyebrangi sebuah padang rumput, terdengar keributan. Kami segera mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Terkejut kami  dibuatnya. Hanya beberapa meter dihadapan kami terlihat  serombongan anak sekolah Palestina sedang didorong-dorong serombongan anak-anak Israel. Padahal anak-anak itu didampingi guru-guru mereka. Bahkan sang guru yang mengenakan jilbab panjang itupun tak luput dari serangan. Mereka terlihat sedang berusaha menuju  satu-satunya tangga curam yang terbuat dari tanah liat licin karena memang hanya itulah satu-satunya jalan untuk menempuh jalan pulang dan pergi dari dan ke sekolah.

Lebih parah lagi, bahkan anak-anak yang kuperkirakan  berumur antara 10-11 tahun itu, ketika sedang berusaha turun tanggapun terlihat dilempari batu-batu kecil dari arah  bawah tangga oleh anak-anak  Israel layaknya anjing yang diperlakukan dengan kasar. Sementara polisi yang berjaga di sekitar mereka lengkap dengan panser yang diparkir di dekat lokasi malah berusaha melindungi anak-anak Israel itu dari kemarahan guru-guru Palestina.

Kami bertiga segera berusaha melindungi anak-anak Palestina yang malang itu dari lemparan batu namun tak urung kamipun terkena  lemparan batu batu juga. Aku tak habis pikir apa doktrin yang diselipkan ke balik otak anak-anak Israel itu.

Sementara itu aku jadi teringat pada sebuah gerakan yang dikenal dengan nama intifada. Intifada adalah perbuatan melempar batu yang dilakukan oleh anak-anak muda Palestina ke arah tank-tank pasukan Israel. Ini karena rakyat Palestina merasa tidak mendapatkan perlindungan dan pembelaan dari negara-negara Arab sebagaimana sebelumnya karena negara-negara tersebut sedang disibukkan urusan negri masing-masing.

Merasa tidak memiliki sesuatu apapun untuk membela  dan  mempertahankan diri dan tanah mereka dari agresi Israel maka merekapun melakukan pelemparan batu.  Aku pikir di Indonesia mungkin sama dengan senjata bambu runcing dalam menghadapi penjajah Belanda.

Lepas dari tempat tersebut kami meneruskan perjalanan. Di sepanjang jalan yang kami lewati, aku menghitung ada lebih dari 15 pos pemeriksaan. Di setiap pos tersebut aku melihat  antrean panjang  orang-orang  yang hendak pergi bekerja maupun pergi ke sekolah.

Inilah yang terjadi setiap hari ”, omel sejumlah orang yang kutanyai mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

Setiba di pos pemeriksaan yang diberi nama Huwwara, terjadi masalah. Pos ini untuk sementara ditutup dengan alasan keamanan. Kami tdak diizinkan masuk kota walaupun Handala menerangkan bahwa kedatangan kami hanya untuk mengambil obat-obatan untuk orang yang sakit di luar kota. Aku memandang sekelilingku. Terlihat puluhan penduduk Palestina, ada laki-laki, perempuan, anak-anak maupun orang-tua. Sejumlah truk besar ikut mengantri di depan pos tersebut.

Truk itu berisi peralatan bantuan medis”, terang Handala “. Aku perhatikan memang ada spanduk besar Unicef di samping truk.  “ Dan yang itu “, tunjuk Mahmud seolah tak mau kalah sambil menunjuk truk di belakangnya, “ berisi bantuan makanan….biasanya roti “. “ Hal sepert inilah yang menyebabkan Nablus dan desa-desa kecil sekitarnya sering kekurangan makanan “, lanjut Handala dengan nada kesal.

Setelah menanti hampir 3 jam tanpa tanda-tanda dibukanya pintu  pos, Handala pergi menghampiri sopir truk yang membawa perbekalan makanan. Terjadi percakapan diantaranya keduanya. Tak lama kemudian sopir truk tersebut pergi ke bagaian belakang truk dan mengeluarkan  beberapa kotak besar makanan. Setelah itu Handala menghampiri sopir truk yang membawa peralatan medis. Tak lama kemudian sopir melakukan hal yang sama dengan sopir sebelumnya. Aku dan Mahmud hanya memperhatikan apa yang dilakukan Handala dari kejauhan tanpa tahu apa maksudnya.

Tak lama kemudian sambil membopong sejumlah kotak-kotak tersebut,  Handala  segera berjalan cepat menuju pintu pos pemeriksaan sambil berteriak :

Do like what I do Mada and  Mahmud ! “.  Maka tanpa berpikir dua kali aku dan Mahmudpun  segera meniru perbuatan Handala  dan cepat menyusulnya menuju pintu pos.

Setelah sunyi sebentar, mungkin para penjaga agak kaget melihat apa yang kami lakukan, terdengar teriakkan : “ Hey hey…stop…what are  you doing?  where will you go ?” . “Go inside”, jawab Handala tanpa sedikitpun menoleh. “ Itu dilarang… kalian tidak diperbolehkan masuk “, seru si penjaga yang kuperkirakan usianya baru 16 tahunan.

So.. you will shoot us ? Shoot…”, tantang Handala lagi sambil membalikkan badannya hingga menghadap ke arahnya. Si penjaga dengan wajah lugunya itu hanya bisa terdiam dan membiarkan kami bolak-balik melakukan  hal yang sama selama 3 kali.

Setelah itu Handala berkata “ Aku kira cukup untuk kali ini”, katanya kepada kami. “ Syukron. “,  katanya sambil menepuk bahu sang penjaga bersenapan panjang itu santai.” Ingatlah…. di dalam sana banyak yang membutuhkan barang-barang tersebut  “.

Beberapa menit kemudian kami telah berbalik arah sambil membopong beberapa kotak obat dan satu kotak makanan untuk dibawa ke pos kami di Azmut. Namun gara-gara pos yang ditutup tersebut,  langkah kamipun ikut tertunda. Kami bertiga  terbentur dengan jam malam yang telah berlaku sejak tahunan lamanya itu.

Akhirnya Handala memutuskan untuk sementara menginap di kamp terdekat, yaitu kamp Balata yang hanya berjarak beberapa km dari tempat kami berdiri. Yang dinamakan kamp disini jangan dibayangkan seperti kemah atau tenda besar dengan kuali-kuali besar berisi masakan. Karena telah bertahun-tahun kamp ini berdiri, bangunan kamp adalah sudah setengah permanen. Buatku ini adalah pengalaman yang tak akan terlupakan.

Kami didalam kamp berdesakan dengan keluarga-keluarga yang telah lama tingggal di tempat tersebut. Bahkan banyak diantara mereka yang lahir dan besar di kamp ini. Dengan penerangan yang amat minim dapat aku dengar sayup-sayup di kejauhan suara orang melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Mungkin dari arah masjid yang tak begitu jauh dari kamp. Ingatanku melayang ke Yerusalem. Sungguh syahdu perasaanku.

Namun di tengah-tengah keadaan seperti itu, tiba-tiba terdengar suara-suara berisik mengganggu mendekati kamp dimana aku berada. “ Suara apakah itu ? “, tanyaku pada Handala. “ Lihat “, seru Mahmud sebelum Handala sempat menjawab  pertanyaanku.  Aku segera mendekati jendela dan melihat ke arah Mahmud menunjukkan jarinya. Aku lihat di ujung sana sejumlah  jip tentara , tank dan buldozer mendekati kamp.

Apa mau mereka ?” tanyaku khawatir. “ Inilah yang terjadi setiap hari “, jelas Handala. “ Mereka  ingin menakuti-nakuti warga supaya kami mau meninggalkan tempat ini. Sering kali secara tiba-tiba mereka itu bahkan membuldozer sejumlah rumah ditengah malam ketika penghuninya sedang tidur nyenyak”.

Belum selesai Handala melanjutkan penjelasannya tiba-tiba terdengar suara tembakan dan granat yang meledak di udara. “ Duarrr.…”, berdiri seluruh bulu kudukku. Beberapa detik kemudian muncul kesunyian.  Setelah menunggu beberapa saat , aku  kembali menghampiri jendela ingin melihat apa yang  terjadi. Dibalik kepulan asap yang membumbung tinggi aku melihat jip, tank dan buldozer tadi  pergi meninggalkan kamp.

Kami semua menghela nafas lega. Sambil mengangkat kedua tangannya  Handala berkata : “ Kami sudah terbiasa menghadapi semua ini  Hampir setiap hari ada saja teman dan saudara yang tertembak, terbunuh, terluka, diculik atau dipenjarakan. Tapi demi Allah kami tidak akan menyerahkan tanah ini kepada orang-orang kafir itu. Sabar, shalat dan berjuang adalah moto kami. Dengan demikian Insya Allah pertolongan-Nya pasti datang. Ini adalah jihad dalam rangka menegakkan kebenaran”, jelas Handala sambil menguap menahan kantuk.

***

Keesokan paginya, ketika hendak berwudhu, Handala mengingatkan aku dan Mahmud untuk menghemat air. “ Air disini sangat berharga. Gunakan secukupnya saja “. Pemerintah Israel memang sudah kelewatan. Pemakaian air sangat dibatasi namun wargapun dilarang membangun sumur. Alasannya tanah tempat mereka berdiam adalah tanah kamp milik tentara Israel. Artinya membangun sumur berarti perbuatan ilegal yang beresiko mendapatkan hukuman kurungan penjara. Begitu Handala memberikan penjelasan.

Usai mendirikan shalat subuh, kami bertiga segera pergi meninggalkan kamp Balata dan menuju Azmut. “ Mereka pasti sudah menunggu kita. Obat-obatan ini sangat dibutuhkan para korban yang pasti hari ini sudah makin bertambah banyak  ”, jelas Handala.

Sambil membopong kotak berisi obat-obatan kami melanjutkan perjalanan. Kami melewati beberapa desa yang telah kosong ditinggalkan penduduknya sementara itu terlihat jelas rontokan bangunan yang telah hancur di gempur bom dari udara. Menurut Handala, sebagian besar penduduk Palestina hingga saat ini hidup di dalam pengungsian.

Kamp Balata yang baru saja kami tinggalkan pagi tadi hanyalah salah satu diantara banyak kamp pengungsi yang tersebar di seluruh Palestina. Bagi yang cukup memiliki uang dan sanak saudara di luar Palestina, mereka memilih pergi dan hidup di pengasingan. Yordania dan Mesir adalah yang paling menjanjikan kehidupan yang lebih baik dibanding hidup di dalam kamp dalam negri yang bahkan fasilitas listrik dan airnyapun sangat terbatas.

Di tengah perjalanan, ketika kami hampir mencapai perbukitan  dekat pemukiman Yahudi Elon Moreh, terdengar kegaduhan. Setelah kami dekati ternyata itu adalah suara seorang warga Palestina yang bermaksud memanen buah zaitun dari kebun yang telah lama dinantikannya dengan dua orang tentara Israel. Dari percakapan yang kami tangkap, tentara Israel tersebut berusaha melarang  warga Palestina itu untuk memanen buah zaitunnya meskipun itu adalah kebunnya sendiri.

Aneh…, bukankah itu kebunnya sendiri ?”, tanyaku heran pada Handala. “ Ya begitulah….alasannya adalah penghuni pemukiman Yahudi di bukit diatas”, kata Handala sambil menunjuk ke pemukiman yang terlihat mewah itu. “ Mereka pasti akan merasa terganggu dan menjadi marah”. Aku sama sekali tak mengerti arah pembicaraannya namun aku tidak bertanya lagi.

Untung   tak lama kemudian muncul polisi internasional yang memang bertugas menjaga keamanan wilayah itu. Merekalah yang kemudian mengizinkan  warga Palestina itu memanen buahnya dengan syarat tidak terlalu lama. Tak lama kemudian baik polisi maupun tentara Israel itupun pergi meninggalkan sang warga Palestina memanen zaitunnya. Kamipun segera meneruskan perjalanan kami.

Namun belum 15 menit kami berlalu tiba-tiba terdengar bunyi benda keras  yang ditabrakkan. Kami segera berbalik arah menuju ke tempat datangnya suara untuk melihat apa yang terjadi. Dari  kejauhan terlihat sebuah jip sedang  menabrakkan kendaraannya secara berkali-kali ke arah pick-up tua milik  warga Palestina yang tadi sedang memetik  buah zaitunnya!

Setengah berlari kami menuju tempat tersebut. Menyadari ada orang mendekat, jip segera menderu meninggalkan  tempat kejadian. Syukur alhamdulillah tidak ada yang terluka.

Ya Allah Ya Robbi, lihatlah apa yang diperbuat para pendatang itu. Mereka tidak hanya menzalimi diri kami tetapi juga menzalimi diri mereka sendiri. Ya Allah saksikanlah bahwa kami adalah termasuk hamba-hamba-Mu yang bersabar atas cobaan yang Engkau datangkan kepada kami “, begitu ratapan istri pemilik kebun itu. Terus terang aku terkagum-kagum mendengar isi ratapannya.

Aku lihat bapak pemilik kebun sedang memeriksa kerusakan mobil tuanya sementara ketiga anak perempuannya yang masih berumur belasan tahun itu saling berpelukan sambil menangis. Handala mendekati pick-up yang rusak berat sambil menghibur si empunya sementara aku dan Mahmud memunguti buah zaitun yang  berserakan di tanah. Aku tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun, rasanya kelu bibir ini. “Sungguh perbuatan biadab…Semoga Allah SWT membalasnya ”, kutukku dalam hati.

***

Read Full Post »