Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Tepi Barat’

Beberapa hari sebelum kepulanganku ke tanah air, aku diajak Benyamin mengunjungi kota Hebron yang terletak di Tepi Barat, untuk melihat makam nabi Ibrahim. Sama halnya dengan kota-kota penting lain di Palestina, penjagaan dan pemeriksaan ketat juga diberlakukan untuk memasuki kota dimana makam nabi Ismail, nabi Ishak dan nabi Yakub  ini berada. Ternyata  hanya untuk melakukan ziarah ke makam yang terletak di dalam masjid inipun dilakukan pemeriksaan super ketat. Tidak hanya para perempuan bahkan bayipun harus digeledah!

Makam para nabi Allah ini terletak didalam naungan masjid yang diperkirakan dibangun 1000 tahun silam. Namun fondasi dasarnya kemungkinan telah ada jauh sebelum itu. Masjid ini berdiri di ketinggian 15 m dari permukaan tanah dan dikelilingi dinding raksasa dengan stuktur dasar menyerupai dinding kuno di Haram Al-Syarif.

Sejak lama makam ini menjadi rebutan antara pihak Palestina dan pihak otoritas Israel. Lihat   pagar besi yang melintang persis diatas makam tersebut. Itu adalah makam nabi Ibrahim. Pagar tersebut memisahkan makam menjadi 2 bagian,  1 bagian berada di wilayah Palestina dan  1 bagian lainnya milik Israel”, jelas  Karim.

Pihak Israel tidak akan pernah puas dengan apa yang telah dikuasainya sekarang ini. Sedikit demi ia terus memperluas daerah jajahannya dan merebutnya dari tangan Palestina. Hebron adalah milik bangsa Palestina namun lihatlah, pemerintah Israel saat ini terus membangun perumahan Yahudi di sela-sela perkampungan Palestina. Rakyat  Palestina tidak mampu melawan kediktatoran mereka. Yang lebih mengesalkan lagi, pemukiman Yahudi itu dibangun  di atas perbukitan diatas perkampungan kumuh Palestina.  Kemudian dengan sengaja dan secara provokatif para penghuni di atas bukit sering melempar barang-barang tak berguna mereka ke arah perkampungan di bawahnya! Benar-benar keterlaluan…”, kata Benyamin geram.

***

Suatu hari, usai mengikuti kunjungan  ke beberapa tempat penting dan terkenal seperti gedung Parlemen dan lain-lain bersama rombongan, Benyamin tidak terlihat di tempat biasa ia menantikanku selama ini. Ini adalah hari terakhirku di Yerusalem.” Benyamin ada kuliah  tambahan hari ini hingga sore hari. Tadi ia lupa mengatakan padamu”, jelas Karim.

Siang itu Karim mengajakku  berkunjung  ke masjid  Salman Al Farisy. ” Siang ini aku kedatangan rombongan tamu dari Perancis. Mereka baru pulang dari menunaikan umrah di Mekkah. Pemandu  yang mustinya bertugas mengantar mereka kebetulan sedang sakit. Ia memintaku agar menggantikannya mengantar tamu-tamu tersebut mengunjungi makam Salman Al-Farisy, seorang tokoh legendaris sekaligus  pejuang Islam kenamaan”, terang Karim. ” Bila kau mau, kau bisa ikut bergabung”, ajaknya.

Maka tak sampai satu jam kemudian akupun sudah berada diantara sekitar 20-an tamu Perancis dengan Karim sebagai pemandunya. Makam Salman Al-Farisy berada di dalam masjid yang  sama dengan namanya. Masjid yang tidak tampak istimewa ini berada diatas sebuah bukit di pinggir sebuah jalan yang menanjak diantara pemukiman penduduk.

Salman adalah seorang pemuda Persia berusia belasan tahun. Dulunya ia tinggal di sebuah desa bernama Jayy, Isfahan di  Persia. Keluarganya adalah penganut agama Majusi, penyembah api. Salman muda sejak remaja telah ditugasi ayahnya untuk menjaga nyala api sesembahan agar tidak sampai padam. Suatu hari karena bosan, tanpa sepengetahuan ayahnya, ia meninggalkan tugasnya dan berjalan-jalan. Di jalan ia melewati sebuah gereja dimana orang-orang didalamnya sedang beribadah. Salman merasa bahwa agama ini lebih baik dari agama nenek moyangnya. Ia kemudian memutuskan untuk berganti agama.”, jelas Karim dalam  Inggris  kepada tamu-tamu Perancisnya.

Namun begitu ayahnya mengetahui hal tersebut, ia marah besar dan mengurung Salman dalam kamarnya. Salman tidak putus asa. Beberapa hari kemudian dengan bantuan teman-teman baru Nasraninya, Salman berhasil melarikan diri. Selanjutnya selama beberapa tahun Salman taat mengikuti ajaran baru tersebut hingga ajal mendekati uskup gerejanya. Berkat kasih sayangnya, sang uskup berkata bahwa ia telah menitipkan Salman ke uskup lain yang dipercayanya. Ia  berpesan : ” Salman, berhati-hatilah dalam menuntut ilmu. Sekarang ini banyak pemimpin agama yang tidak menyampaikan  ajarannya dengan benar. Maka teruslah memohon kepada Allah agar jangan disesatkan.”, Salmanpun mentaatinya dan ia mengikuti uskup yang telah ditunjuk uskup yang shaleh tersebut”, Karim berhenti sejenak.

Dalam keadaan hening itulah  tiba-tiba aku mendengar bisik-bisik di sebelahku. Aku baru menyadari rupanya ada beberapa tamu yang kurang memahami apa yang dikatakan Karim. Perlahan aku segera mendekati beberapa  tamu yang berbisik-bisik tersebut dan  berkata pelan :  “ Voulez-vous  que je traduise l’explication , mesdames  messieurs ? «  tanyaku sopan menawarkan apakah mereka mau aku menterjemahkan apa yang dikatakan Karim. Ternyata dengan senang hati mereka menerima tawaranku itu. Karimpun  rupanya menyadari hal tersebut. Ia memberi isyarat bahwa ia menyetujuinya. Kemudian ia meneruskan penjelasannya dengan lebih lambat memberiku kesempatan untuk  menterjemahkannya.

Namun hal itu tidak berlangsung lama karena tak lama kemudian uskup kepercayaan itupun juga meninggal dunia. Maka Salmanpun mulai mengembara mencari uskup yang sesuai dengan apa yang telah diajarkan uskup lamanya. Beberapa kali Salman bertemu dengan uskup namun didapatinya uskup tersebut mengajarkan hal yang tidak sesuai dengan ajaran yang telah diterimanya. Hingga suatu hari ia tiba di sebuah kota di Arabia. Belakangan ia baru tahu bahwa kota tersebut bernama Yathrib yang dikemudian hari diganti menjadi Madinah. Di tempat ini ia dizalimi seseorang yang pada akhirnya mengakibatkan ia dijual dan dijadikan budak seorang Yahudi”, Karim berhenti sejenak memberi kesempatan tamu-tamunya mengambil gambar keranda anak muda tersebut.

Baru  beberapa hari tinggal di rumah orang Yahudi tersebut, Salman mendengar berita bahwa ada seorang nabi baru muncul. Ia dikejar-kejar dan dimusuhi kaum dan kerabatnya sendiri. Namun justru di kota Yathrib ini ia diterima. Salman merasa penasaran dengan berita tersebut. Ia teringat kata-kata uskupnya bahwa kitabnya telah memberitahukan kedatangan nabi baru tersebut. Ia juga teringat akan pesan dan ciri-ciri utusan Allah yang tertulis dalam kitabnya”, lanjut Karim.

Selanjutnya  Salmanpun berusaha menemui nabi baru tersebut. Ia ingin mencocokkannya dengan ciri-ciri yang diketahuinya. Dan setelah akhirnya ia benar-benar yakin bahwa memang dialah nabi yang dimaksud dalam kitab yang diajarkan uskup gerejanya waktu itu, tanpa sedikitpun keraguan Salmanpun segera mengikrarkan diri menjadi pengikut dan pemeluk nabi baru tersebut. Itulah Islam”, kata Karim menutup penjelasannya.

Mr. Karim, apakah Salman yang anda ceritakan ini sama dengan Salman, sahabat Rasulullah Muhammad saw  yang memberikan usulan dibangunnya parit dalam perang Ahzab?”, tanya  seorang jamaah di depanku  dengan bahasa Inggris beraksen Perancis yang terbata-bata.

Anda benar sekali. Salman inilah yang memberikan usulan tersebut. Ketika itu banyak sahabat yang tidak begitu mempercayainya bahkan beberapa mempertanyakan mengapa Rasulullah mau mempercayai dan mau menerima usulan  yang datang dari seorang non Arab”, jawab Karim

Padahal itulah salah satu kehebatan Islam. Islam tidak pernah membeda-bedakan bangsa, warna kulit maupun ras seseorang. Islam adalah rahmatan lilalamin”, sahut seorang peranakan Arab-bule disampingku.

Betul. Rasulullah dalam hadisnya pernah bersabda ambillah segala yang baik walaupun datangnya dari orang Yahudi sekalipun, sebaliknya buanglah sesuatu yang buruk sekalipun datangnya dari sesama Muslim,” sambung Karim lagi.

Aku hanya termangu-mangu mendengar semua percakapan tersebut. Aku merasa semakin takjub terhadap ajaran agama ini. Sebaliknya jauh di dalam hatiku, aku merasa  dikucilkan dan ditinggalkan. Bagaimana mungkin aku yang sejak kecil bahkan lahir di negri yang mayoritas Muslim bisa tidak mengenal agama ini. Sebaliknya bule-bule Perancis yang hidup di lingkungan  non Muslim bisa lebih dahulu mengetahui ajaran Islam. Aku pikir orang-orang yang terlebih dahulu beruntung mengetahui sebuah kebenaran seharusnya bertanggung-jawab memberitahukan apa yang telah didapatnya itu kepada yang belum menemukannya. Namun demikian kisah Salman Al-Farisy yang baru saja diceritakan Karim membuatku malu. ” Salahku sendiri.. mengapa aku tidak mencari tahu ”, kataku dalam hati.

Tak berapa lama kemudian, rombongan melanjutkan perjalanan menelusuri situs peninggalan lain. Pukul 18.25 ketika terdengar azan Magrib, rombongan segera meninggalkan masjid Umar yang terletak di lorong diantara pemukiman yang padat penduduk itu. Aku perhatikan ada sebagian yang mengambil wudhu di masjid tersebut. Kemudian setengah berlari mereka pergi menuju Masjidil Aqsho yang terletak agak jauh dari masjid Umar ini.

Shalat di dalam Masjid Al-Aqsho lebih besar keutamaannya. Ganjarannya adalah 500 kali lipat shalat di masjid biasa ”, begitu Karim memberi alasan ketika aku bertanya mengapa mereka tidak shalat di masjid terdekat saja.

Pahala bagi orang yang melaksanakan shalat didalam masjid dalam rangka mencari ridho-Nya padahal ia sedang sibuk melaksanakan jual beli atau sedang sibuk dengan urusan dunianya adalah rezeki yang tak terbatas ”, tambah Karim lagi menjawab pertanyaanku mengapa seorang Muslim harus shalat di masjid tidak di rumah saja..

Selesai mengerjakan shalat, rombongan berpisah. Karim mengajakku untuk mampir ke rumah orang-tuanya yang  katanya tidak terlalu jauh dari situ. Kamipun kembali menelusuri lorong gelap kota tua Yerusalem. Dibawah cahaya lampu yang sangat minim, aku dapat menyaksikan betapa keadaan di kompleks pemukiman Muslim ini sungguh jauh berbeda dengan  keadaan rumah Benyamin di Yerusalem Barat.

Semenjak pendudukan Zionis Israel 60 tahun lalu, keadaan kaum Muslimin makin terpuruk. Jangankan untuk keluar mencari kerja bahkan untuk sekedar keluar masuk kota saja sulit.  Pemerintahan Israel sengaja  membangun tembok pembatas sekeliling  kota untuk memisahkan dan menjauhkan warga Palestina  dari kehidupan. Profesi sebagai guide adalah profesi  yang paling mudah untuk melewati tembok pembatas. Itupun harus diperpanjang tiap3 bulan untuk mendapat izin ”, terang Karim.

” Mereka ingin membunuh kami secara perlahan. Ini terbukti dengan tidak adanya  perhatian pemerintah atas pelayanan kesehatan, kesejahteraan dan pemukiman kami yang makin lama makin sesak dan  kumuh. Bayangkan, dalam sebuah keluarga dengan 6 orang anak, kami harus berdesakan tinggal dalam 1 rumah sempit  dengan 1 kamar tidur”, tambahnya.

” Kami benar-benar terkurung di dalam kota lama tanpa pendapatan sepeserpun. Tidak ada transaksi jual beli kecuali antar warga sendiri. Bahkan pasokan listrik dan airpun mereka batasi dan awasi dengan amat ketat. Bayangkan bila musin dingin tiba….  Ini terjadi di semua pelosok Palestina”, katanya berang .

Aku hanya diam membisu. Aku saksikan sendiri di sepanjang lorong temaram ini memang banyak berjejer toko kelontong yang menjajakan barang-barang sederhana kebutuhan sehari-hari. Barang-barang tersebut tidak istimewa dan tidak menarik. Padahal banyak tamu dari mancanegara yang mengunjungi tempat tersebut. Mustinya ini bisa menjadi pendapatan mereka. Namun mereka  tidak memiliki modal dan memang sengaja tidak dimodali untuk mengembangkan usaha mereka. Disamping itu kelihatannya turis memang tidak dianjurkan membelanjakan uangnya di tempat mereka. Ini adalah sebuah pembunuhan terselubung kalau tidak mau dikatakan sebuah genocide terhadap ras Arab Palestina, kataku dalam hati, miris.

Kami terus menaiki dan menuruni jalan setapak  lorong-lorong panjang temaram yang  berkelak-kelok  tersebut hingga akhirnya kami tiba di tempat yang dituju. Berdiri di sebuah pintu yang sedikit terbuka, sejenak aku  tertegun. Yang dimaksud oleh Karim sebagai rumah kedua-orang tuanya ternyata hanyalah sebuah ruang gelap yang diberi penyekat untuk membedakan antara ruang tidur, ruang tamu serta dapur.

Assalamu’alaikum, yaa ummi yaa abi”, sapa Karim sambil mengetuk pintu dan perlahan mendorong daun pintu yang nyaris lepas dari engselnya tersebut.

Waalaikum salam”, terdengar jawaban dari dalam. Bersamaan dengan itu muncul seorang perempuan bertubuh gemuk dengan kepala dibalut penutup kepala berwarna kusam. Walau wajah itu terlihat lelah dan renta namun dapat kurasakan matanya yang  memantulkan sinar keteduhan .

Perkenalkan ini ibuku dan ini tamu Indonesiaku yang tempo hari kuceritakan padamu, umi. Namanya Mada”, kata Karim memperkenalkan diriku.

Tak lama kemudian Karimpun terlibat percakapan akrab dengan ibunya. Aku tak memahami apa yang mereka bicarakan karena mereka berbahasa Arab. Sebelumnya Karim telah meminta maaf karena ibunya tidak bisa berbahasa selain bahasanya sendiri. Sementara itu aku hanya bisa terbengong-bengong menyaksikan betapa memprihatinkannya kehidupan mereka. Sungguh mati aku tidak pernah mengira ada kehidupan seperti ini di abad 20. Tidak ada listrik, tidak ada perabotan. Yang terlihat hanya lampu minyak yang menempel di dinding. Di ujung sebelah kananku  aku lihat sebuah sudut yang lebih bersih. Ditempat itu aku lihat sebuah sajadah sederhana terbentang.

Beberapa menit kemudian, setelah Karim mencium  tangan kanan ibunya, kamipun berpamitan. Kami berdua kembali menelusuri lorong-lorong gelap di balik tembok tua untuk keluar menuju rumah Benyamin yang sekarang dalam bayanganku terasa seperti surga saking besar dan mewahnya. Sayup-sayup dari  kejauhan kudengar suara ayat-ayat Al-Quran berkumandang. Alunan suaranya terdengar begitu menyentuh di hati. Aku  merasa seakan ada sesuatu yang menyapa dan memanggilku. Sementara itu dari arah gereja Makam Kudus yang berada sekitar 300 an meter dariku terdengar suara lonceng berbunyi 8 kali.

Tak lama kemudian terdengar pula suara azan bersahut-sahutan. ” Waktu shalat Isya”, gumam Karim. ” Kalau kau tak keberatan kau bisa menunggu di kedai kopi Yahudi di seberang kiri sana. Aku segera akan menjemputmu begitu aku menyelesaikan shalat”, kata Karim.” Sebenarnya di samping masjid di sebelah sanapun ada juga sebuah kedai kopi. Tapi kedai itu milik orang Muslim. Jadi selama pemiliknya shalat pasti akan tutup”, lanjut Karim melihat aku agak ragu menerima usulannya. Karena tidak ada pilihan akhirnya aku memutuskan menunggu  di kedai Yahudi yang diusulkannya tersebut. Ada perasaan menyesal mengapa aku tidak ikut Karim saja  shalat di dalam masjid….

***

Advertisements

Read Full Post »

Suatu hari datang beberapa orang tamu dari Jakarta. Mereka adalah anggota salah satu LSM ( Lembaga Swadaya Mayarakat) yang bergerak di bidang kesehatan. Biasanya LSM ini memberikan bantuan darurat khusus kepada para korban perang. Rupanya kedatangan mereka berhubungan dengan rencana keberangkat mereka menuju Tepi Barat di Palestina. Demi keberhasilan misinya  mereka mencari relawan yang bersedia ikut membantu tugas mulia mereka. Maka tanpa ditanya dua kali aku segera menyatakan kesediaanku untuk bergabung. Sebetulnya ada 15 orang yang berminat  untuk ikut serta namun setelah melalui sejumlah wawancara akhirnya hanya 3 orang yang lolos, termasuk aku.

Sebelum berangkat aku menyempatkan diri untuk menulis surat kepada ayah dan ibu memohon  doa restu mereka berdua agar di negri orang nanti aku selalu  dalam lindungan-Nya. Sebaliknya aku juga memohon bila terjadi sesuatu kepadaku nanti ayah dan ibu mau memaafkan aku.

***

Sebulan kemudian setelah mendapatkan pelatihan   selama kurang lebih 2 minggu di kantor LSM tersebut, bersama 30 orang lainnya kamipun berangkat ke tempat tujuan. Tidak seperti kedatanganku kali pertama ke Palestina, kali ini dari Amman, Yordania kami langsung naik bus menuju kota Nablus  di Tepi Barat, sekitar 60 km utara Yerusalem. Di luar persangkaanku Nablus ternyata adalah sebuah kota industri yang cukup besar. Kota ini terkenal di manca negara akan produksi eksport sabunnya  yang terbuat dari minyak zaitun. Sayang, sejak pendudukan Israel pada tahun1948, lebih dari separuh pabriknyapun gulung tikar karena bangkrut. Ini terjadi hampir di seluruh sektor industri di seluruh negri termasuk Nablus.

Nablus juga mempunyai universitas yang cukup besar, namanya An-Najah National University. Universitas ini adalah universitas  terbesar di Tepi Barat. Dibangun pada tahun 1918 sebagai sekolah An-Najah akhirnya berkembang menjadi universitas  yang memiliki banyak fakultas diantaranya fakultas kedokteran, kedokteran hewan, kedokteran mata, farmasi, tehnik, hukum Islam  dan lain-lain. Pada tahun 1988 universitas ini sempat ditutup oleh otoritas Israel karena dianggap melawan kebijakan pemerintahan pendudukan.

Rasanya belum ada catatan dalam sejarah dimana sebuah kota dikelilingi lebih dari 100 cekpoint. Namun begitulah Nablus. Di kota ini tak seorangpun dapat pergi dan pulang ke rumahnya  sendiri tanpa harus melewati pos pemeriksaan dimana tentara Israel lengkap dengan senjatanya memeriksa tubuh dan bawaan mereka, setiap hari! Nablusi memiliki  6 rumah sakit besar disamping pula  4 kamp yang dihuni sekitar 35.000 pengungsi.

Di kota inilah kami disambut perwakilan organisasi induk yang khusus menangani bantuan kesehatan darurat pasca perang. Kelompok kami dipecah menjadi 10 tim untuk kemudian digabung dengan tim gabungan dari berbagai negara. Kemudian tiap tim yang terdiri dari 20 orang itu, dua diantaranya dokter, satu dokter umum dan satu lagi dokter bedah, plus peralatan medisnya langsung diterjunkan ke daerah-daerah rawan seperti kamp Balata , Ramalah.dan lain-lain.

Aku sendiri di tempatkan di sebuah desa kecil bernama Azmut sekitar 5 kilometer timur laut dari Nablus. Desa ini terletak di kaki bukit dimana pendatang sekaligus pemerintah ilegal Israel mendirikan permukiman Yahudi, sebuah perumahan mewah bernama Elon Moreh. Dengan mengendarai tiga jip terbuka tim kami tiba  di tempat tersebut menjelang ashar. Kami segera mendirikan empat buah tenda. Satu tenda besar untuk menampung korban, tiga tenda sedang  masing-masing untuk menyimpan obat-obatan dan segala perlengkapan lainnya sedang dua tenda sisanya untuk ditempati tim medis dan para relawan.

Selama kami bekerja, di kejauhan aku dapat mendengar suara desingan peluru di udara. Dari seorang kenalan baruku, seorang relawan Amerika bernama Mahmud, hampir setiap hari terjadi pertempuran di daerah itu. Mahmud yag bernama asli Michael Reed ini adalah seorang mualaf yang telah beberapa kali ikut menjadi relawan didaerah pergolakan. Ia pernah diperbantukan di Afganistan dan  Libanon. Jalur Gaza baginya adalah yang ketiga.

Di tengah keasyikanku mendengar cerita dan pengalaman beberapa kenalan baruku, tiba-tiba datang seorang pejuang Palestina yang menggandeng temannya yang luka parah pada tempurung lutut kanannya. Darah segar mengucur deras dari lukanya, membasahi  celananya. Kamipun segera bubar memberikan pertolongan. Ini adalah kali pertama aku melihat darah sebanyak itu keluar dari sebuah luka. Seketika perasaan mual menyerang perutku namun sedapat mungkin kutahan. Aku tak ingin terlihat tolol ditengah para relawan terutama para pejuang yang dengan begitu gagah berani mempertaruhkan nyawa demi membela bangsa dan keyakinannya itu.

Dengan cekatan dokter Yatim Razak, seorang dokter bedah tulang  berkebangsaan Indonesia dibantu dokter Pierre Orsolini, dokter umum belia  berkebangsaan Kanada beserta tim, segera  mempersiapkan operasi untuk mengeluarkan peluru yang rupanya masih bersarang di lutut kanan mujahidin tersebut. Dengan sigap tim bekerja sama dan dalam waktu tidak lebih dari 45 menit operasipun selesai.

Namun belum sempat kami bernafas lega, tiba-tiba datang lagi dua orang mujahid. Kali mereka datang sambil membopong seorang temannya yang terluka di dada kirinya. “ Jantungnya “, kata  Mahmud pelan di telingaku. Kembali tim disibukkan dengan operasi berikutnya. “ Alhamdulillah”, kata  dokter Yatim lega. “ Hanya menyerempet jantungnya”.

Selanjutnya  berturut-turut datang  sejumlah  pejuang membawa teman-temannya yang menjadi korban tembakan. Di kejauhan tampak bunga api terus berpijaran menerangi langit malam sementara suara tembakan yang mengiringinya memecah keheningan malam. Keadaan seperti ini terus berlangsung hingga pukul 2 dinihari. Setelah itu tembakan hanya terdengar sekali-sekali, itupun dari tempat yang benar-benar sangat  jauh. Menurut beberapa pejuang pasukan lawan sementara dapat ditundukkan.

Mereka mundur untuk sementara. Namun kita tetap tidak boleh lengah. “, kata seseorang yang aku perkirakan sebagai pemimpin para pejuang itu. “ Mereka akan datang lagi begitu mendapatkan bantuan senjata dari pusat”, kata seorang yang lain lagi.

Bayangkan, dengan persenjataan terbatas… itupun hanya senjata rongsokan yang kami beli secara gelap dari pihak tertentu…kami harus melawan persenjataan modern dan canggih yang mereka datangkan khusus dari Amerika Serikat”, keluh sang pemimpin. “ Namun sampai kapanpun, Demi Allah, kami harus melawan….. ini adalah rumah kami, tanah yang telah ratusan bahkan ribuan tahun lamanya kami tempati secara turun temurun”, lanjutnya lagi dengan berapi-api. Tak sedikitpun tampak  rasa takut maupun lelah pada wajahnya. Kagum aku dibuatnya.

Beberapa lama kemudian,  rasanya belum setengah jam aku berusaha untuk memejamkan mata, terdengar di kejauhan azan subuh berkumandang. Segera  secara berkelompok dan bergantian, kami meninggalkan tenda menuju tempat berwudhu.  Begitu ke luar tenda, kurasakan angin dingin menerpa serasa menusuk tulang rusuk dadaku. Padahal aku mengenakan jaket yang cukup tebal. Belum lagi ketika  air dingin menyentuh jari-jari ke dua tangan, lengan, muka serta kedua kakiku.

Bbrr...”, aku berusaha menahan rasa beku itu sambil berdoa memohon pada-Nya agar bangsa Palestina segera keluar dari kemelut berkepanjangan ini. Aku sungguh tak dapat  membayangkan bagaimana perasaan rakyat Palestina selama 60 tahun di bawah cengkeraman penjajahan Israel. Belum lagi membayangkan cuaca negri ini yang antara siang dan malamnya seperti langit dan bumi.

Tak lama kemudian aku sudah berada di dalam shaf shalat subuh berjamaah kelompok pertama sementara kelompok berikutnya tetap berjaga-jaga.

Begitu yang diajarkan Islam”, kata Naji Zuhair, sang pemimpin yang malam itu memang ikut tidur di tenda kami. “ Walaupun kita harus melaksanakan kewajiban dari-Nya, tidak berarti kita lalai menghadapi musuh”.

***

Tiga minggu kemudian karena persediaan obat mulai menipis, aku dan  Mahmud dengan dipandu  Handala Assus, seorang relawan  Palestina mendapat tugas untuk mengambil  obat-obatan di kantor pusat. Untuk itu kami bertiga harus menempuh perjalanan sekitar 25 km dengan berjalan kaki keluar masuk hutan selama lebih dari 15  jam !

Sebenarnya jarak desa tempat kami bertugas dengan kantor pusat tidak seberapa jauh. Namun sejak didirikannya tembok yang oleh pihak Israel disebut sebagai tembok pengaman, sementara pihak rakyat setempat bertanya-tanya pengaman dari apa, jarak antara keduanya menjadi jauh karena terpaksa harus berputar.

Namun demikian aku perhatikan di beberapa tempat, dimana pemisah hanya terbuat dari kawat berduri, rakyat memotong kawat pemisah tersebut. Hingga dengan demikian mereka tidak  perlu berputar terlalu jauh. Bahkan selama perjalanan itu aku sempat berpapasan dengan seorang ibu muda yang sedang hamil  tua, dengan di bimbing dua orang remaja belasan tahun, terpaksa bersusah payah  menerobos pagar kawat yang sudah diputus itu.

Katanya ia sedang menuju ke dusun sebelah untuk konsultasi dokter, sementara suaminya sedang ikut berjuang bersama warga lain. Aku dengar, sejak berdirinya tembok pemisah tersebut banyak korban  berjatuhan. Pasalnya orang yang dalam keadaan sakit keras  dan memerlukan pelayanan kesehatan segera terpaksa menempuh jarak lebih jauh dan lebih lama  hingga terlambat mendapatkan pertolongan

Suatu ketika, ketika kami tengah berjalan menyebrangi sebuah padang rumput, terdengar keributan. Kami segera mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Terkejut kami  dibuatnya. Hanya beberapa meter dihadapan kami terlihat  serombongan anak sekolah Palestina sedang didorong-dorong serombongan anak-anak Israel. Padahal anak-anak itu didampingi guru-guru mereka. Bahkan sang guru yang mengenakan jilbab panjang itupun tak luput dari serangan. Mereka terlihat sedang berusaha menuju  satu-satunya tangga curam yang terbuat dari tanah liat licin karena memang hanya itulah satu-satunya jalan untuk menempuh jalan pulang dan pergi dari dan ke sekolah.

Lebih parah lagi, bahkan anak-anak yang kuperkirakan  berumur antara 10-11 tahun itu, ketika sedang berusaha turun tanggapun terlihat dilempari batu-batu kecil dari arah  bawah tangga oleh anak-anak  Israel layaknya anjing yang diperlakukan dengan kasar. Sementara polisi yang berjaga di sekitar mereka lengkap dengan panser yang diparkir di dekat lokasi malah berusaha melindungi anak-anak Israel itu dari kemarahan guru-guru Palestina.

Kami bertiga segera berusaha melindungi anak-anak Palestina yang malang itu dari lemparan batu namun tak urung kamipun terkena  lemparan batu batu juga. Aku tak habis pikir apa doktrin yang diselipkan ke balik otak anak-anak Israel itu.

Sementara itu aku jadi teringat pada sebuah gerakan yang dikenal dengan nama intifada. Intifada adalah perbuatan melempar batu yang dilakukan oleh anak-anak muda Palestina ke arah tank-tank pasukan Israel. Ini karena rakyat Palestina merasa tidak mendapatkan perlindungan dan pembelaan dari negara-negara Arab sebagaimana sebelumnya karena negara-negara tersebut sedang disibukkan urusan negri masing-masing.

Merasa tidak memiliki sesuatu apapun untuk membela  dan  mempertahankan diri dan tanah mereka dari agresi Israel maka merekapun melakukan pelemparan batu.  Aku pikir di Indonesia mungkin sama dengan senjata bambu runcing dalam menghadapi penjajah Belanda.

Lepas dari tempat tersebut kami meneruskan perjalanan. Di sepanjang jalan yang kami lewati, aku menghitung ada lebih dari 15 pos pemeriksaan. Di setiap pos tersebut aku melihat  antrean panjang  orang-orang  yang hendak pergi bekerja maupun pergi ke sekolah.

Inilah yang terjadi setiap hari ”, omel sejumlah orang yang kutanyai mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

Setiba di pos pemeriksaan yang diberi nama Huwwara, terjadi masalah. Pos ini untuk sementara ditutup dengan alasan keamanan. Kami tdak diizinkan masuk kota walaupun Handala menerangkan bahwa kedatangan kami hanya untuk mengambil obat-obatan untuk orang yang sakit di luar kota. Aku memandang sekelilingku. Terlihat puluhan penduduk Palestina, ada laki-laki, perempuan, anak-anak maupun orang-tua. Sejumlah truk besar ikut mengantri di depan pos tersebut.

Truk itu berisi peralatan bantuan medis”, terang Handala “. Aku perhatikan memang ada spanduk besar Unicef di samping truk.  “ Dan yang itu “, tunjuk Mahmud seolah tak mau kalah sambil menunjuk truk di belakangnya, “ berisi bantuan makanan….biasanya roti “. “ Hal sepert inilah yang menyebabkan Nablus dan desa-desa kecil sekitarnya sering kekurangan makanan “, lanjut Handala dengan nada kesal.

Setelah menanti hampir 3 jam tanpa tanda-tanda dibukanya pintu  pos, Handala pergi menghampiri sopir truk yang membawa perbekalan makanan. Terjadi percakapan diantaranya keduanya. Tak lama kemudian sopir truk tersebut pergi ke bagaian belakang truk dan mengeluarkan  beberapa kotak besar makanan. Setelah itu Handala menghampiri sopir truk yang membawa peralatan medis. Tak lama kemudian sopir melakukan hal yang sama dengan sopir sebelumnya. Aku dan Mahmud hanya memperhatikan apa yang dilakukan Handala dari kejauhan tanpa tahu apa maksudnya.

Tak lama kemudian sambil membopong sejumlah kotak-kotak tersebut,  Handala  segera berjalan cepat menuju pintu pos pemeriksaan sambil berteriak :

Do like what I do Mada and  Mahmud ! “.  Maka tanpa berpikir dua kali aku dan Mahmudpun  segera meniru perbuatan Handala  dan cepat menyusulnya menuju pintu pos.

Setelah sunyi sebentar, mungkin para penjaga agak kaget melihat apa yang kami lakukan, terdengar teriakkan : “ Hey hey…stop…what are  you doing?  where will you go ?” . “Go inside”, jawab Handala tanpa sedikitpun menoleh. “ Itu dilarang… kalian tidak diperbolehkan masuk “, seru si penjaga yang kuperkirakan usianya baru 16 tahunan.

So.. you will shoot us ? Shoot…”, tantang Handala lagi sambil membalikkan badannya hingga menghadap ke arahnya. Si penjaga dengan wajah lugunya itu hanya bisa terdiam dan membiarkan kami bolak-balik melakukan  hal yang sama selama 3 kali.

Setelah itu Handala berkata “ Aku kira cukup untuk kali ini”, katanya kepada kami. “ Syukron. “,  katanya sambil menepuk bahu sang penjaga bersenapan panjang itu santai.” Ingatlah…. di dalam sana banyak yang membutuhkan barang-barang tersebut  “.

Beberapa menit kemudian kami telah berbalik arah sambil membopong beberapa kotak obat dan satu kotak makanan untuk dibawa ke pos kami di Azmut. Namun gara-gara pos yang ditutup tersebut,  langkah kamipun ikut tertunda. Kami bertiga  terbentur dengan jam malam yang telah berlaku sejak tahunan lamanya itu.

Akhirnya Handala memutuskan untuk sementara menginap di kamp terdekat, yaitu kamp Balata yang hanya berjarak beberapa km dari tempat kami berdiri. Yang dinamakan kamp disini jangan dibayangkan seperti kemah atau tenda besar dengan kuali-kuali besar berisi masakan. Karena telah bertahun-tahun kamp ini berdiri, bangunan kamp adalah sudah setengah permanen. Buatku ini adalah pengalaman yang tak akan terlupakan.

Kami didalam kamp berdesakan dengan keluarga-keluarga yang telah lama tingggal di tempat tersebut. Bahkan banyak diantara mereka yang lahir dan besar di kamp ini. Dengan penerangan yang amat minim dapat aku dengar sayup-sayup di kejauhan suara orang melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Mungkin dari arah masjid yang tak begitu jauh dari kamp. Ingatanku melayang ke Yerusalem. Sungguh syahdu perasaanku.

Namun di tengah-tengah keadaan seperti itu, tiba-tiba terdengar suara-suara berisik mengganggu mendekati kamp dimana aku berada. “ Suara apakah itu ? “, tanyaku pada Handala. “ Lihat “, seru Mahmud sebelum Handala sempat menjawab  pertanyaanku.  Aku segera mendekati jendela dan melihat ke arah Mahmud menunjukkan jarinya. Aku lihat di ujung sana sejumlah  jip tentara , tank dan buldozer mendekati kamp.

Apa mau mereka ?” tanyaku khawatir. “ Inilah yang terjadi setiap hari “, jelas Handala. “ Mereka  ingin menakuti-nakuti warga supaya kami mau meninggalkan tempat ini. Sering kali secara tiba-tiba mereka itu bahkan membuldozer sejumlah rumah ditengah malam ketika penghuninya sedang tidur nyenyak”.

Belum selesai Handala melanjutkan penjelasannya tiba-tiba terdengar suara tembakan dan granat yang meledak di udara. “ Duarrr.…”, berdiri seluruh bulu kudukku. Beberapa detik kemudian muncul kesunyian.  Setelah menunggu beberapa saat , aku  kembali menghampiri jendela ingin melihat apa yang  terjadi. Dibalik kepulan asap yang membumbung tinggi aku melihat jip, tank dan buldozer tadi  pergi meninggalkan kamp.

Kami semua menghela nafas lega. Sambil mengangkat kedua tangannya  Handala berkata : “ Kami sudah terbiasa menghadapi semua ini  Hampir setiap hari ada saja teman dan saudara yang tertembak, terbunuh, terluka, diculik atau dipenjarakan. Tapi demi Allah kami tidak akan menyerahkan tanah ini kepada orang-orang kafir itu. Sabar, shalat dan berjuang adalah moto kami. Dengan demikian Insya Allah pertolongan-Nya pasti datang. Ini adalah jihad dalam rangka menegakkan kebenaran”, jelas Handala sambil menguap menahan kantuk.

***

Keesokan paginya, ketika hendak berwudhu, Handala mengingatkan aku dan Mahmud untuk menghemat air. “ Air disini sangat berharga. Gunakan secukupnya saja “. Pemerintah Israel memang sudah kelewatan. Pemakaian air sangat dibatasi namun wargapun dilarang membangun sumur. Alasannya tanah tempat mereka berdiam adalah tanah kamp milik tentara Israel. Artinya membangun sumur berarti perbuatan ilegal yang beresiko mendapatkan hukuman kurungan penjara. Begitu Handala memberikan penjelasan.

Usai mendirikan shalat subuh, kami bertiga segera pergi meninggalkan kamp Balata dan menuju Azmut. “ Mereka pasti sudah menunggu kita. Obat-obatan ini sangat dibutuhkan para korban yang pasti hari ini sudah makin bertambah banyak  ”, jelas Handala.

Sambil membopong kotak berisi obat-obatan kami melanjutkan perjalanan. Kami melewati beberapa desa yang telah kosong ditinggalkan penduduknya sementara itu terlihat jelas rontokan bangunan yang telah hancur di gempur bom dari udara. Menurut Handala, sebagian besar penduduk Palestina hingga saat ini hidup di dalam pengungsian.

Kamp Balata yang baru saja kami tinggalkan pagi tadi hanyalah salah satu diantara banyak kamp pengungsi yang tersebar di seluruh Palestina. Bagi yang cukup memiliki uang dan sanak saudara di luar Palestina, mereka memilih pergi dan hidup di pengasingan. Yordania dan Mesir adalah yang paling menjanjikan kehidupan yang lebih baik dibanding hidup di dalam kamp dalam negri yang bahkan fasilitas listrik dan airnyapun sangat terbatas.

Di tengah perjalanan, ketika kami hampir mencapai perbukitan  dekat pemukiman Yahudi Elon Moreh, terdengar kegaduhan. Setelah kami dekati ternyata itu adalah suara seorang warga Palestina yang bermaksud memanen buah zaitun dari kebun yang telah lama dinantikannya dengan dua orang tentara Israel. Dari percakapan yang kami tangkap, tentara Israel tersebut berusaha melarang  warga Palestina itu untuk memanen buah zaitunnya meskipun itu adalah kebunnya sendiri.

Aneh…, bukankah itu kebunnya sendiri ?”, tanyaku heran pada Handala. “ Ya begitulah….alasannya adalah penghuni pemukiman Yahudi di bukit diatas”, kata Handala sambil menunjuk ke pemukiman yang terlihat mewah itu. “ Mereka pasti akan merasa terganggu dan menjadi marah”. Aku sama sekali tak mengerti arah pembicaraannya namun aku tidak bertanya lagi.

Untung   tak lama kemudian muncul polisi internasional yang memang bertugas menjaga keamanan wilayah itu. Merekalah yang kemudian mengizinkan  warga Palestina itu memanen buahnya dengan syarat tidak terlalu lama. Tak lama kemudian baik polisi maupun tentara Israel itupun pergi meninggalkan sang warga Palestina memanen zaitunnya. Kamipun segera meneruskan perjalanan kami.

Namun belum 15 menit kami berlalu tiba-tiba terdengar bunyi benda keras  yang ditabrakkan. Kami segera berbalik arah menuju ke tempat datangnya suara untuk melihat apa yang terjadi. Dari  kejauhan terlihat sebuah jip sedang  menabrakkan kendaraannya secara berkali-kali ke arah pick-up tua milik  warga Palestina yang tadi sedang memetik  buah zaitunnya!

Setengah berlari kami menuju tempat tersebut. Menyadari ada orang mendekat, jip segera menderu meninggalkan  tempat kejadian. Syukur alhamdulillah tidak ada yang terluka.

Ya Allah Ya Robbi, lihatlah apa yang diperbuat para pendatang itu. Mereka tidak hanya menzalimi diri kami tetapi juga menzalimi diri mereka sendiri. Ya Allah saksikanlah bahwa kami adalah termasuk hamba-hamba-Mu yang bersabar atas cobaan yang Engkau datangkan kepada kami “, begitu ratapan istri pemilik kebun itu. Terus terang aku terkagum-kagum mendengar isi ratapannya.

Aku lihat bapak pemilik kebun sedang memeriksa kerusakan mobil tuanya sementara ketiga anak perempuannya yang masih berumur belasan tahun itu saling berpelukan sambil menangis. Handala mendekati pick-up yang rusak berat sambil menghibur si empunya sementara aku dan Mahmud memunguti buah zaitun yang  berserakan di tanah. Aku tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun, rasanya kelu bibir ini. “Sungguh perbuatan biadab…Semoga Allah SWT membalasnya ”, kutukku dalam hati.

***

Read Full Post »