Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘gereja Makam Kudus’

” Bagaimana persiapanmu  Mad? Tiket ngga lupa? Visa? Yakin ngga perlu uang rupiah disamping  dollar ?”, berondong ibu.

“ Kayaknya udah beres semua deh… “, jawabku sambil mencoba mengingat-ingat segala keperluanku.

Ibu nyusul langsung ke airport aja  ya… sori, ibu bener-bener ngga bisa ninggalin urusan ibu”, mohon ibu dengan suara menyesal.

Ngga apa bu, Mada ngerti koq. Yang penting doain aja semoga semua urusan beres “,   kataku memaklumi ibu seperti biasa..

“ Tante denger dari beberapa  teman, katanya masuk Yerusalem ngga gampang lho..”, sambung tante Rani  yang dari tadi menemaniku sarapan.. “ malah ada yang ditolak tanpa sebab yang jelas”, katanya meneruskan..

” Ngga’ lah tan, tenang aja… katanya biasanya cuma   Muslim aja koq  yang dipersulit”, kataku menenangkan.

Beberapa jam kemudian dengan diantar tante Rani dan Lukman, aku tiba di airport Cengkareng. Ayah tidak mengantar karena sedang ke luar kota. Tapi tadi sepuluh menit sebelum kami meninggalkan rumah ayah sempat menelpon. Ia berpesan agar aku berhati-hati selama berada di negri orang. Akan halnya ibu, aku tidak berharap terlalu banyak ia dapat menyusul karena seperti biasa ibu  pasti terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga tidak mungkin sempat menyusul ke airport.

Namun ternyata dugaanku kali ini salah. Ibu muncul beberapa detik sebelum aku boarding. Dengan berlari kecil ibu berteriak memanggilku sambil melambai-lambaikan tangannya. Kamipun berpelukan. Bahagia aku rasanya ternyata ibu masih menyempatkan memikirkan diriku. “ Ati-ati nak ya, jangan ikut-ikut kegiatan yang membahayakan dirimu. Kamu disana  sendiri lho, kalau ada apa-apa ngga ada yang bisa dimintai tolong….janji ya?”, ujar ibu menasehatiku. Aku terharu. Seingatku ibu tidak pernah begitu mengkhawatirkan diriku seperti hari ini.

Pesawat Royal Jordan, sebuah maskapai penerbangan milik pemerintah Yordania jurusan Amman, Yordania   yang kutumpangi, lepas landas sesuai dengan jadwal. Untuk tiba di Yerusalem masih harus mengendarai kendaraan selama kurang lebih 1 jam menuju perbatasan Israel. Memang tidak banyak pilihan untuk pergi menuju negri yang penuh masalah tersebut. Rencananya dari Amman  aku akan dijemput oleh seseorang. Dari sana aku akan diantar langsung menuju Yerusalem untuk tinggal di rumah seorang keluarga dokter. Keluarga inilah akan menjadi keluargaku selama 3 minggu aku berada disana.

Aku masih diseliputi keheranan akan sikap ibu. Tiba-tiba aku merasa jangan-jangan ibu mendapat firasat  buruk terhadap perjalananku ini. Lukman sering menasehati agar aku mencoba memperbaiki hubungan dengan ibu. Karena menurut ajarannya kesuksesan seseorang itu amat tergantung dengan  hubungan anak dengan kedua orang-tuanya terutama ibu. Ia  tahu bahwa hubungan kami tidak terlalu baik. Aku memang pernah  mengeluhkan sikap ibu yang cuek sehingga aku merasa ibu tidak menyayangiku atau bahkan mungkin aku ini cuma anak pungut, begitu keluhku.

Seorang ibu dimanapun berada tidak mungkin tidak menyayangi anaknya”, begitu kata  Lukman. “Mungkin ibumu hanya terlalu sibuk aja Mad, jangan pernah suu’dzon gitu ah… ngga’ baik”, tambahnya.  Tanpa kusadari maka akupun segera  berdoa sebisaku. Aku berharap semoga aku masih bisa berjumpa dengan ibuku dan memperbaiki hubungan kami.

***

Sekitar pukul 10 pagi keesokan harinya aku telah berada di bandara Queen Alia, Amman. Di ruang kedatangan aku dikejutkan oleh banyaknya pengunjung berwajah khas Melayu. Dari pembicaraan ternyata mereka memang dari Indonesia dan Malaysia. Mereka datang dari bandara Jedah setelah selesai menunaikan ibadah umrah di Mekah. Tujuan mereka adalah mengunjungi  Masjidil Aqsho di Yerusalem. Kebanyakan mereka baru sekali ini datang ke tempat tersebut. Dari mereka aku tahu bahwa masjid tersebut adalah masjid ketiga terpenting bagi umat Islam  setelah  Masjidil Haram di Mekah dan  Masjid Nabawi di Madinah. Karena dari masjid tersebutlah nabi mereka, nabi Muhammad melakukan perjalanan ke langit menuju Tuhannya. Aku kembali teringat pada presentasiku ketika aku masih di bangku SMA beberapa tahun yang lalu.

Beberapa lama kemudian, setelah urusan keimigrasian selesai , aku celingukan mencari penjemputku. Tak lama  aku melihat spanduk bertuliskan namaku. Akupun  segera menghampirinya  dan memperkenalkan diriku. Diluar perkiraanku, ternyata yang menjemputku adalah anak keluarga yang akan kutumpangi selama aku berada di Yerusalem nanti.

”Hey, nice to meet you. I’am Benyamin.”, dengan  ramah  ia memperkenalkan dirinya  “ From now on,  you will be my brother… Wellcome, brother..”, tambahnya. Kemudian ia memperkenalkan supir sekaligus guide-nya, yang bernama Karim.” Nice to meet you too”, jawabku.

Benyamin seorang pemuda berperawakan  jangkung yang ramah dan menyenangkan. Aku perkirakan ia seumur denganku. Dengan penuh semangat ia menceritakan bahwa ia lahir dan dibesarkan di Yerusalem. Itu sebabnya  selama dalam perjalanan ia lancar menceritakan kota kelahirannya ini.

Tak sampai 1 jam kemudian kamipun memasuki perbatasan antara Yordania dan Israel. Benyamin mengingatkanku  untuk tidak mengambil gambar baik foto maupun video. Ia mengisyaratkan dengan dagunya bahwa menara-menara  tinggi yang banyak berada di sepanjang jalan yang kami lalui adalah pos-pos militer Zionis yang mengawasi gerak gerik setiap orang yang melalui wilayah tersebut. ”Mereka siap menghentikan dan merampas kamera orang yang berani-beraninya mengambil gambar di wilayah tersebut. Bahkan bila harus menembak mereka akan selalu siap melakukannya! ”, begitu katanya dengan nada sinis. Terdengar jelas rasa antipatinya terhadap pemerintah yang disebutnya sebagai pemerintah pendudukan Zionis itu.

Ia bercerita, dulu ketika orangtuanya  masih muda kota Yerusalem adalah kota yang damai. Penduduknya rukun dan damai. walaupun agama mereka berbeda. Mereka saling menghargai dan mengasihi. Keluarga Benyamin sendiri adalah penganut Nasrani yang taat. Ia menyebut dirinya sebagai warga Arab. Penduduk kota tersebut memang  dibedakan antara warga Arab dan warga Yahudi. Warga Arab ada yang beragama Nasrani ada yang beragama Islam sementara warga Yahudi hampir dapat dipastikan beragama Yahudi. Namun mereka semua bersatu dibawah bendera Palestina.

Ketika akhirnya pecah perang Arab-Israel pasca penyerahan tanah tersebut dari Inggris kepada Zionis Yahudi pada 1947, banyak rakyat Palestina yang terpaksa mengungsi dan pergi meninggalkan tanah airnya menuju Yordania dan negri-negri di sekitarnya. Sementara itu orang-orang Yahudi Palestina banyak yang dipaksa berpihak kepada Zionis Yahudi demi mendapatkan  tanah untuk ditinggali etnis dan kepentingan agama mereka sendiri.

Banyak keluargaku yang dipaksa pergi meninggalkan rumah dan kampung kelahiran mereka. Bahkan hingga saat inipun mereka tetap tinggal dalam kamp pengungsi yang keadaannya sangat menyedihkan. Mereka itu beranak pinak dalam keadaan amat miskin dan hidup amat mengenaskan. Padahal banyak diantara mereka yang ketika masih  di Palestina hidup berkecukupan. Malah ada adik ibuku yang tadinya adalah seorang dokter ternama yang kaya raya dan terhormat ikut menjadi korban. Bahkan hingga saat ini ayah dan ibuku tidak pernah tahu akan keberadaan mereka”, jelas Benyamin sedih.

Benyamin juga menceritakan betapa sadisnya cara Zionis mengusir warga Arab dari tanah Palestina. Beberapa perkampungan di pinggir pantai dijadikan proyek percontohan. Dengan cara provokatif para perempuan diperkosa didepan anggota keluarganya, rumah-rumah dibakar. Kemudian penduduknya diusir dan dipaksa pergi berjalan menuju  pantai untuk kemudian ditembaki dari belakang!

Berbekal pengalaman buruk yang sengaja terus diceritakan orang-orang Yahudi dan juga dari mulut ke  mulut penduduk itu sendiri,  akhirnya membuat hampir seluruh  penduduk tanah tersebut tanpa perlawanan pergi meninggalkan rumah mereka sendiri. Di bawah todongan senjata tanpa membawa sepeserpen uang dan bekal mereka berbondong-bondong berjalan ratusan bahkan ribuan mil menuju negara tetangga. Kalaupun ada sebagian rakyat yang memberontak mereka harus menghadapi pertempuran yang sama sekali tidak seimbang.

Bayangkan”, kata Benyamin emosi. ” Senjata mutakhir super canggih yang didatangkan dari Amerika Serikat harus dilawan senjata rongsokan bekas perang yang dibeli secara gelap oleh rakyat !”, tambahnya. Karim dibelakang kemudipun sekali-sekali ikut mengomentari dan membenarkan cerita Benyamin.

Sungguh ironis, bagaimana mungkin kaum Yahudi yang mulanya hanya menguasai 5 % tanah Palestina tiba-tiba bisa mendapatkan hampir 33% tanah kami padahal jumlah mereka hanya kurang dari 10 % total penduduk Palestina. Bahkan seterusnya secara resmi PBB meningkatkan pemberiannya menjadi 60 % ! Sungguh menyakitkan…”, tambah Karim.

Masih belum puas juga, melalui Perang 6 hari , The Sixth Day War, iblis tersebut kini bahkan berhasil merampas Yerusalem dari tangan kami, mencaplok Tepi Barat dari Yordan, Jalur Gaza dari Mesir serta dataran tinggi Golan dari Suriah hingga akhirnya total mereka  menguasai 78 % tanah Palestina ”, sela Benyamin.

Setelah hening beberapa saat, Benyamin kembali berkata, ” Kau tentu pernah mendengar pasukan Intifada kan Mada?”,Pasukan pelempar batu itu, bukan ?”, jawab Mada merasa bersyukur pernah membaca berita tersebut hingga tidak terlihat bodoh. ”Ya…sesungguhnya mereka itu baru ada sejak hak-hak mereka tidak diperhitungkan dunia internasional. Namun seperti yang kau ketahui mereka ini diberitakan  seakan-akan  sebuah kelompok penjahat dan perusuh ”, sambung Karim geram.

Tanpa terasa kami tiba di pos pemeriksaan. Di tempat itu kuamati disamping adanya sejumlah tentara bersenjata, banyak sekali petugas berpakaian sipil dengan senjata di pinggang lengkap dengan kacamata gelapnya. Di depan pintu masuk tergantung spanduk raksasa bertuliskan sebuah nama berbau Islam. Rupanya itu adalah nama seseorang yang sedang dicari pemerintah. Di dalam spanduk tersebut dicantumkan sejumlah besar uang sebagai imbalan bagi orang yang dapat memberikan informasi keberadaan orang yang dicari itu.

Kami bertiga segera turun dari kendaraan. Awalnya koper dan barang bawaankupun diminta untuk diturunkan dan digeledah. Namun berkat perdebatan alot antara Karim yang kudengar berbicara dalam bahasa yang tidak kukenal, kupastikan sebagai bahasa Ibrani, bahasa resminya  orang  Yahudi, dengan pegawai pemeriksaan, akhirnya aku batal menurunkan barang-barangku.

Sebaliknya, ketika aku berdiri dalam antrian pemeriksaan, aku melihat sejumlah koper bahkan beberapa galon berisi  air ikut mengantri. Ternyata barang-barang ini adalah bawaan orang-orang Indonesia dan Malaysia yang kutemui di bandara Queen Alia Amman tempo hari. Dari pembicaraan aku baru tahu ternyata galon-galon itu adalah galon-galon  air zam-zam, oleh-oleh khas haji dari Mekah.

Biasanya, air zam-zam itu urusan bimbingan haji yang memandu para jamaah. Mustinya mereka langsung mengirimnya ke tanah air. Jadi jemaah tidak perlu repot membawanya kesana kemari. Belum nanti kalau bocor…”, keluh pah Thamrin, salah satu jemaah yang mengobrol denganku.

Lagian ngapain air aja pake diperiksa … nyusahin aja..”, timpal jemaah lain yang lebih muda. ”Dasar paranoid..”, sungutnya.” Ya begitulah orang kalau jahat  hobbymya bikin orang lain susah,  bawaannya jadi curiga melulu… Lihat aja, mereka buang-buang waktu meriksa semua orang berkali-kali..kayak kita ini penjahat aja…”, kata jemaah yang berdiri di belakangku geram.

Aku segera mengedarkan pandangan kesekelilingku. Bangunan tak berjendela ini mengingatkanku pada suatu tempat, ntah itu  gudang yang sudah tak terpakai atau stasiun kereta api atau mungkin malah bekas bungker tentara. Dikelilingi tembok tinggi berwarna putih tanpa satupun jendela apalagi  hiasan dinding, bangunan yang disangga beton-beton besar ini mengesankan suasana yang jauh dari nyaman kalau tidak mau dikatakan menegangkan. Untung mereka tidak lupa menyalakan pendingin udara model kuno yang banyak tergantung  di dindingnya itu.

Mataku beralih pada para pegawainya. Setengah terkejut, baru kusadari bahwa semua pegawai di ruangan tersebut adalah kaum hawa. Namun demikian, dengan seragam mirip tentara berwarna khaki lengkap dengan sepatu boot dan pistol di pinggang, penampilan mereka mirip laki-laki. ” Bukan cuma di sini mas… Sejak masuk perbatasan tadipun hampir semua penjaga posnya kan juga perempuan ”, tanggap  pak Thamrin yang berdiri di depanku ketika aku mengomentari hal tersebut.

Hampir dua jam lamanya aku berada dalam keadaan seperti itu padahal antrian tidak terlalu panjang. Selama itu aku terlibat percakapan dengan pak Thamrin. Darinya aku banyak memperoleh pengetahuan baru diantaranya cerita tentang asal muasal air zam-zam. Aku kembali tercengang dibuatnya. Ternyata sejak awal, Islam telah memiliki keterikatan yang erat dengan Ibrahim, nabi yang sering diaku umat Nasrani maupun  Yahudi sebagai penganut agama mereka. Ritual haji yang merupakan kewajiban umat Islam yang mampu adalah sebuah ritual lama yang telah ada sejak nabi tersebut ada.

” Ibrahim adalah kakek moyang ketiga agama besar itu. Ia adalah ayah dari nabi Ismail yang merupakan kakek moyang nabi Muhammad dan  juga ayah dari nabi Ishak yang merupakan kakek moyang nabi-nabi Nasrani dan Yahudi. Dengan kata lain , Ibrahim adalah bapak para nabi. Ia bukan penganut Nasrani maupun Yahudi. Sebaliknya menurut  ajaran Islam, seluruh nabi adalah Islam karena Islam adalah berarti tunduk menyerahkan diri kepada kekuasaan Tuhan yang satu, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, yaitu Allah. Dialah Tuhannya semua manusia, Tuhan yang menciptakan langit, bumi dan seluruh isinya”, begitu pak Thamrin memberi penjelasan kepadaku.

Tanpa kusadari aku melirik Benyamin. Ia berada dalam antrian khusus untuk warga Arab Palestina sambil santai membaca buku. Pasti ia sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini, pikirku. Beberapa lama kemudian setelah akhirnya lolos pemeriksaan, aku mendengar keluhan beberapa jemaah haji. Mereka mengeluh  bahwa teman-teman mereka yang mempunyai nama berbau Islam dan umurnya masih dibawah 30 tahunan ternyata dipersulit. Mereka bolak balik harus keluar masuk ruangan pemeriksaan. Aku dengar tamu-tamu dari Malaysia nasibnya lebih sial lagi. Mereka ditolak masuk negri tersebut bahkan tanpa pemeriksaan sama sekali!

Itu karena Malaysia dianggap sebagai negara yang sama sekali tidak  menunjukkan dukungan terhadap berdirinya negara Israel ini”, kata pak Thamrin menjelaskan ketidak mengertianku.

Lebih dari itu, para pemimpinnya bahkan jelas-jelas mengutuk dan memusuhi  segala sesuatu yang berasal dari negri terkutuk ini. Ngga kayak negri kita  yang plintat plintut. Katanya  tidak mendukung…  tapi bersikap keras juga tidak”, katanya lagi dengan nada skeptis.

Ya, betul. Tapi kali ini kita diuntungkan..makanya kita diperbolehkan masuk kesini walaupun juga dipersulit”, seseorang di belakangku menimpalinya.

Memasuki jam ketiga, aku, Benyamin dan  Karim  sudah  berada kembali di dalam kendaraan menuju Yerusalem. Cuaca ketika itu cukup cerah. Suhu udara sekitar 30 derajat Celcius hampir sama dengan Jakarta. Kami memasuki pegunungan pasir berbatu. Sebuah pemandangan yang menakjubkan sekaligus membuat hati miris. Makin lama makin jelas terlihat gubuk-gubuk yang begitu sederhana di daerah kering kerontang tersebut. Terlihat sejumlah kambing kurus berkeliaran diantara gubuk-gubuk itu.

” Gubuk-gubuk itu milik pengungsi orang-orang Afrika. Aku tak tahu mengapa mereka memilih daerah seperti ini. Mungkin karena keadaannya mirip dengan keadaan daerah asal mereka”, jelas Karim menjawab keherananku atas keberadaan gubuk-gubuk tersebut..

Lihat!”, seru Benyamin sambil menunjuk ke suatu tempat jauh di atas bukit. ” Tenda-tenda besar  itu adalah tenda-tenda pengungsi rakyat Arab Palestina yang tadi aku ceritakan ”, kata Benyamin. Sayangnya aku tidak berhasil mencermati keberadaan tenda yang dimaksudnya tersebut karena terlalu jauh dari pandangan.

Ketika Karim melalui suatu kelokan tajam menanjak tiba-tiba mataku menangkap suatu kilatan di balik bukit. Aku segera memperhatikan kilatan tersebut. ” Wow..”, seruku takjub mengagetkan dua orang disampingku. ”Itu kubah emas  The Dome Of The Rock bukan? ”, tanyaku untuk meyakinkan sambil mengarahkan kameraku ke sasaran.

Atas permintaanku, mobilpun berhenti sejenak. Angin segar segera menerpa wajahku. Udara ternyata cukup dingin mungkin sekitar 24 derajat Celcius.  Dari kejauhan terlihat            kubah itu berada di pelataran yang dikelilingi tembok bata merah besar layaknya sebuah benteng raksasa. Didalam benteng kuno tersebut terlihat dua buah kubah. Yang pertama adalah kubah kuning keemasan The Dome Of The Rock atau  Kubah Batu.  Bangunan ini berada di sayap timur agak sedikit ke bagian tengah .  Sedang yang satu lagi adalah kubah abu-abu  Masjid Al-Aqsho’ yang berdiri di ujung sebelah  barat  kawasan tersebut.

Diantara kedua kubah tersebut tampak adanya pelataran luas dengan taman dan pepohonannya yang rindang. Disana sini tampak beberapa kubah kecil yang indah. Sementara diantara aku berdiri dengan kawasan tersebut terbentang lembah yang ditanami pepohonan. Dari Karim aku tahu bahwa pelataran tersebut terletak di  sebuah bukit yang diberi nama bukit Zion sementara tempatku berdiri bernama bukit Zaitun.

Ini yang dinamakan ” The Old City of Yerusalem ” alias kota tua,” jelas Benyamin. ” Tempat ini adalah tempat paling bersejarah bagi kehidupan keberagamaan  di muka bumi. Tiga agama terbesar di muka bumi yaitu Nasrani, Islam dan Yahudi saling mengklaim bahwa mereka adalah yang paling berhak atas  kota tua ini. Sekarang ini Yerusalem dibagi menjadi 4 distrik sesuai agama masing-masing. Distrik Islam terletak di bagian Timur Kubah Batu, distrik Nasrani menempati bagian dimana gereja Makam Kudus berada, orang-orang Yahudi menempati daerah sekitar tembok ratapan di sebelah barat Kubah Batu. Sementara diantara pemukiman  Yahudi dan Nasrani terletak pemukiman Armenia”, lanjut Karim.

 

“ Kota tua yang berada di sebelah timur Yerusalem sekarang ini  dikelilingi sebuah tembok sepanjang kurang lebih 4 kilometer dengan 14  pintu gerbang dan 34 menara namun hanya beberapa pintu yang masih berfungsi”, sambung Benyamin.

Rasanya aku sudah  tak sabar untuk mendekati dan memasuki pelataran tersebut. Setelah puas mengambil gambar dan menikmati segarnya udara perbukitan kamipun meneruskan perjalanan. Sayang baik Benyamin maupun Karim tidak mengabulkan keinginanku untuk segera mengunjungi kubah-kubah tersebut. Mereka ingin agar aku istirahat  di  rumah dulu. Disamping kedua orangtua Benyamin memang telah menanti kedatanganku. Aku pikir alasan tersebut sangat masuk akal. Aku jadi malu sendiri dibuatnya. Aku merasa seolah tidak memiliki sopan-santun. Maka segera aku meminta maaf atas kelakuanku itu.

”No. It’s okay. I can understand. If I were you I think I’ll do the same thing. But don’t worry. You  have a lot of time”, kata Benyamin menghibur.

Keluarga Benyamin bukan saja  keluarga kaya raya namun juga terhormat dan terpelajar. Ayahnya adalah seorang dokter spesialis tulang.  Walaupun cukup ramah namun ia bukan tipe orang yang banyak  bicara. Ketika aku tiba di rumah ia sedang bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Ia sempat meminta maaf padaku karena tidak dapat mengajakku mengobrol. Perawatnya baru saja menelpon mengabarkan bahwa ia telah ditunggu beberapa pasiennya di rumah sakit. Sedangkan ibu Benyamin adalah  seorang perempuan yang ramah dan terlihat senantiasa menjaga penampilan. Ia mengajakku mengobrol tentang keluargaku dan keadaan di Indonesia.

***

 

Read Full Post »

Esoknya bersama Benyamin aku pergi ke kampus dimana ia menuntut ilmu. Sekarang aku baru tahu rupanya salah satu alasan mengapa aku tinggal di keluarga ini adalah karena aku akan mempelajari ilmu di tempat Benyamin belajar. Sama seperti rumah tinggal mewah keluarga Benyamin, Hebrew University juga terletak di Yerusalem Barat sebuah wilayah di sebelah barat  Yerusalem  yang diduduki Israel. Keadaan kota di bagian ini jauh berbeda dengan keadaan di YerusalemTimur. Gedung-gedung tinggi dan rumah mewah bertebaran disini. Rumah-rumah tersebut rata-rata terbuat dari batu putih. Hal ini mengingatkanku akan kota Amman di Yordania yang menamakan dirinya dengan nama The White City karena memang hampir seluruh bangunan di kota tersebut terbuat dari batu pualam putih seperti rata-rata bangunan Mediteranian, di pesisir pantai  laut Tengah. Ini adalah ciri khas mereka. Aku teringat pada video film yang sering diputar di toko-toko penjual pesawat televisi di mal-mal di Jakarta.  Rupanya disinilah lokasi pembuatan film tersebut. Atau paling tidak di negara-negara sekitarnya, mungkin Yunani, tebakku.

Hebrew University sendiri adalah sebuah gedung tinggi dengan arsitektur kental barat modern. Universitas ini adalah universitas milik pemerintah Israel. Setelah memberitahu kemana aku harus menuju, aku dan Benyaminpun berpisah. Benyamin menuju ke gerbang utara sementara aku ke gerbang utama. Bersama beberapa orang dari sejumlah  negara  yang juga mendapatkan hadiah lomba sebagaimana yang aku menangkan, kami  mengikuti kelas di salah satu  ruang universitas tersebut. Di kelas ini, mula-mula seorang pengajar menerangkan sejarah berdirinya  perguruan tinggi tertua milik Yahudi tersebut. Selanjutnya kami diajak berkeliling melihat-lihat gedung dan fasilitas yang dimilikinya. Aku perhatikan hampir disetiap lantai terpasang gambar raksasa maket “ Great Israel” di dinding.  Disamping itu  tergantung pula gambar rancangan “ Haekel” baru. Dalam hati  aku bertanya-tanya bagaimana komentar  Benyamin dan keluarganya  nanti ketika aku menanyakan hal tersebut.

Siangnya kulihat Benyamin sudah menanti di pelataran besar universitas. Setelah makan siang ia berjanji akan menemaniku masuk ke dalam tembok Yerusalem kuno. Kami masuk melalui pintu Singa atau  Lion Gate yang terletak di sebelah timur laut pelataran, tentu saja setelah melalui pos pemeriksaan polisi Israel. Padahal wilayah tersebut katanya di bawah kekuasaan pihak Palestina.  Heran aku dibuatnya. Sayang aku lupa menanyakan hal tersebut pada Karim ataupun Benyamin. Di tempat ini semua orang yang ingin  masuk tempat tersebut diharuskan mengeluarkan dan memperlihatkan seluruh isi tas, bawaan bahkan kantong baju dan celananya!

“ Gila… emang dikira  orang  mau shalat  bawa pistol apa? “, aku mendengar seseorang  berbicara dalam bahasa Indonesia di arah belakangku. Secara otomatis aku segera menengok ke arah suara tersebut datang. Ternyata memang  rombongan dari Indonesia. Tetapi bukan rombongan yang kemarin bersamaku di bandara Amman. Karim menerangkan bahwa hampir setiap hari ada rombongan Indonesia yang datang mengunjungi tempat ini. Uniknya rombongan tersebut biasanya datang berkelompok atas dasar agamanya. Ada rombongan pengunjung beragama Nasrani ada rombongan pengunjung beragama Islam.  Biasanya mereka memang bukan pelancong biasa melainkan para peziarah.

Obyek yang biasa diziarahi para pezirah kota kuno ini banyak sekali jumlahya. Uniknya, rata-rata peziarah Nasrani dan Yahudi hanya mengunjungi situs-situs agamanya sesuai kitab  perjanjian lama dan perjanjian baru sementara peziarah Muslim mengunjungi hampir seluruh situs yang merupakan situs ketiga agama. Bahkan gereja Church Of The Holy Sepulchre, gereja yang dipercaya sebagai tempat dimana Yesus  disalib sekaligus dimakamkanpun  dikunjungi umat Islam.

Karena meyakini seluruh nabi dan rasul yang diturunkan Allah adalah bagian dari Rukun Iman yang enam. Umat Islam wajib meyakininya dan tidak boleh membeda-bedakan mereka. Kami wajib menghormati mereka semua “, begitu penjelasan Karim atas pertanyaanku.

Beruntung aku didampingi Karim. Ia mengajakku mengunjungi hampir seluruh situs yang biasa dikunjungi baik umat Islam, Nasrani maupun Yahudi. Setelah berhasil melewati gerbang Singa, bertiga kami menelusuri sebuah jalan yang dinamakan via dolorosa atau jalan penderitaan. Disebut demikian karena jalan ini sejak abad 14 atau juga berarti sekitar 1400 tahun setelah kejadian sebenarnya,  ditetapkan sebagai rute prosesi perjalanan Yesus menuju ke penyalibannya di bukit Golgotha. Di lokasi penyaliban tersebut sekarang telah berdiri sebuah gereja yang diberi nama Church Of The Holy Sepulchre atau gereja Makam Kudus.

Karim menerangkan bahwa hampir setiap saat selalu ada saja peziarah yang menyusuri rute tersebut. ” Tak jarang  peziarah Nasrani  histeris bahkan  hingga pingsan. Hari-hari besar umat Nasrani adalah puncak membludaknya peziarah. Hal ini sering mengakibatkan keributan dan bentrok dengan penduduk setempat.”, jelas Karim.  Aku dapat membayangkan situasi tersebut. Jalanan ini adalah jalanan sempit nan terjal berliku-liku dimana di kiri kanannya adalah pemukiman miskin  penduduk yang mayoritas Muslim. Mereka telah berada di tempat tersebut sejak ribuan tahun lamanya. Namun dengan besar hati mereka tetap mengizinkan umat lain yang datang dari seluruh penjuru dunia dengan penampilan yang tidak sederhana untuk melaksanakan prosesi akbar ini didepan mata mereka. Muncul simpatiku terhadap mereka.

Yang cukup mengejutkanku, bahkan penjaga gereja Makam Kudus yang merupakan gereja tersuci sebagian besar umat Nasrani adalah seorang Muslim. Adalah Wajeeh Nuseibeh, seorang lelaki setengah umur. Sejak Yerusalem jatuh ke tangan umat Islam, Umar Bin Khattab, sang khalifah yang terkenal itu, telah mempercayakan kakek moyang Wajeeh  untuk menjaga dan memelihara tempat tersebut. Keluarga inilah yang secara turun temurun menyimpan kunci dan menjadi wasit gereja yang menjadi rebutan ketujuh sekte Nasrani yang ada di Yerusalem. Tiga kelompok terkuat itu adalah Katolik Roma, Yunani, dan Armenia. “ Mereka berkata bahwa aku adalah wasit yang adil karena aku tidak memihak pada satupun sekte diantara  mereka”, begitu aku Wajeeh bangga.

Wajeeh bercerita , dulu keluarga Nuseibeh mempunyai ladang-ladang zaitun yang luas. Namun sejak pecah perang 1967, dengan berhasilnya  Israel menjajah sebagian wilayah Yordania, keluarga tersebut terpaksa kehilangan seluruh harta kekayaan mereka termasuk ladang-ladang zaitunnya. Saat ini keluarga Wajeeh hanya mengandalkan hidup dari upah sebagai penjaga gereja yang tidak seberapa disamping uang tambahan sebagai pemandu wisata. Sebagian keluarga Nuseibeh kini menjadi profesor dan pengusaha, tapi takdir Wajeeh, yang diwariskan oleh ayahnya, adalah menjaga makam suci, makam dimana dikabarkan Yesus dikuburkan setelah penyalibannya.

Benyamin melirik jam tangannya mewahnya, Rolex dengan tali kulit cokelatnya. “ Maaf, Mada. Aku ada janji dengan seseorang. Aku terpaksa tidak dapat menemanimu lebih lama lagi “, katanya dengan nada menyesal. “ Tapi tak  usah khawatir, Karim akan mengantarmu kemanapun kau ingin “, lanjutnya .

Tak apa, Benyamin. Aku yang minta maaf terpaksa membuatmu  mengantarku kesana kemari”, jawabku. “ It’s okay  Mada. Aku senang bisa memuaskanmu berjalan-jalan dan mempelajari sejarah kota kelahirkanku ini. Kita berjumpa lagi di rumah nanti malam, okay ?”, katanya menutup pembicaraan.

Akupun meneruskan perjalanan berdua dengan Karim. Sekarang kami menuju The Dome of The Rock. “ Sungguh menyedihkan”, keluh Karim. “Sejak beberapa tahun belakangan ini, pihak otoritas Israel secara provokatif telah mengumumkan terang-terangan bahwa lokasi Syarif Al-Haram adalah milik mereka. Bahkan detik inipun secara bertahap mereka sedang menghancurkan dan melenyapkan keberadaan kedua masjid tersebut untuk diganti dengan rumah ibadah mereka. Untuk menghindari cemoohan dunia internasional mereka melakukannya secara diam-diam. Inilah salah satu  bukti sifat licik kaum Yahudi”, lanjutnya sambil melompat menghindari sebuah genangan air di depannya.

“ Semestinya mereka mempelajari sejarah secara utuh. Kawasan ini adalah masa lalu mereka. Kawasan Syarif Al-Haram dimana berdiri Kubah Batu atau Dome Of The Rock dan  Masjidil Aqsho yang ada saat ini,  telah menggantikan rumah ibadah mereka sejak ribuan tahun lamanya. Kami, umat Islam yang menjaga dan merawatnya. Keduanya adalah bangunan masjid yang sejak dahulu aktif dipergunakan untuk beribadah. Kami tidak merebutnya secara paksa. Bahkan uskup Nasrani, sang penguasa Yerusalem masa lalu yang memberikan kunci kota ini kepada kaum muslim yang telah mengepung kota, berpesan agar orang Yahudi tidak diizinkan tinggal di kawasan tersebut. Itupun dalam keadaan sama sekali tidak terawat. Tumpukan sampah menggunung dimana-mana. Namun setelah sekian lamanya, bagaimana mungkin tiba-tiba mereka menghancurkannya begitu saja seolah kita ini tidak pernah  ada… ”, katanya dengan suara parau menahan emosi.

Biarlah Allah yang membalas perbuatan biadab mereka. Allah adalah Tuhan bagi seluruh penduduk bumi, langit dan segala isinya. Ialah satu-satunya pemilik semua yang ada di alam semesta ini sejak nabi Adam hingga umat akhir zaman nanti”, katanya mantap.  “ Dialah yang mengutus para nabi dan rasul termasuk Nabi Ibrahim bapak agama samawi, Musa nabinya Yahudi, Isa nabinya Nasrani  dan Muhammad saw nabinya umat Islam”, lanjutnya. “ Kita ini, seluruh manusia  diperintah untuk menyembah hanya kepada-Nya. Jadi bila ternyata sekarang ini terjadi perselisihan tajam biarlah Ia yang memutuskan perkara ini. Cobalah… sekali waktu kau bandingkan isi ketiga kitab tersebut, Mada. Aku yakin hatimu masih bersih, bedakan dan rasakanlah”, katanya mengakhiri penjelasannya begitu terdengar suara azan Magrib di kejauhan.

Dengan setengah berlari aku terpaksa mengikuti langkah-langkah lebar Karim. Melewati serta beberapa kali meloncati beberapa anak tangga sekaligus, tahu-tahu kami sudah muncul di depan pelataran Syarif Al-Haram. Terlihat sejumlah orang berbondong-bondong menuju Masjidil Aqsho. Karim langsung menuju tempat mengambil air wudhu. Tanpa sadar akupun terus mengikuti gerakannya membasuh kedua tangan, berkumur, membasuh muka, kepala dan kedua kaki. Sementara suara azan terus berkumandang di kedua telingaku. Hatiku terasa teriris-iris. Aku merasa seolah ada yang memanggil dan mengikutiku.

Selanjutnya tanpa menengok padaku, Karim masuk kedalam masjid dan langsung mengerjakan shalat. Sejenak aku termangu, teringat ketika aku shalat bersama Lukman di masjid kampus beberapa waktu yang lalu. Rasanya sudah lama sekali  hal itu terjadi. Tiba-tiba entah mengapa aku merasa bersalah. Akupun segera masuk dan mengikuti gerakan shalat Karim.

Beberapa menit kemudian, aku sudah seperti menjadi bagian dari orang-orang yang secara serentak melaksanakan shalat bersama-sama. Aku rukuk, sujud dan duduk sebagaimana mereka. Aku memang sama sekali tidak memahami apa yang dikatakan imam di depan sana namun terus terang aku dapat merasakan ketentraman yang menyelinap jauh ke dalam hati sanubari ini.

***

Genap seminggu setelah kedatanganku, aku diajak keluarga Benyamin menghadiri sebuah acara istimewa di sebuah hotel mewah di Yerusalem Barat. “ Ayolah, ini acara istimewa. Kamu beruntung bisa hadir karena di acara ini hanya orang-orang  yang dianggap penting dan punya uang saja yang bisa hadir”, bujuk Benyamin padaku sambil menarikku ke kamarnya dan menunjukkan lemarinya yang terbuka lebar agar aku mau memilih salah satu dasinya yang jumlahnya puluhan itu. Akhirnya tanpa banyak berbicara  akupun mengambil salah satunya.

Aku, Benyamin dan kedua orang-tuanya tepat pukul 7 malam memasuki  lobi hotel  Plaza Continental, sebuah hotel bintang lima paling bergengsi di Yerusalem. Kami dipersilahkan masuk ruang  The Executif Club. Disana sudah terlihat beberapa pasang tamu dengan dandanan yang chic. Para lelakinya terlihat rapi berjas hitam lengkap dengan dasi kupu-kupunya sebaliknya para perempuan tampil dengan pakaian pesta yang terbuka disana-sini memperlihatkan dengan jelas lekak lekuk tubuh mereka.

Kedua orang-tua Benyamin segera bergabung dengan mereka. Setelah aku diperkenalkan, Benyamin segera menarikku ke sudut lain ruangan yang ditata serba wah tersebut. Rupanya yang ditujunya adalah sebuah meja kecil di sudut yang agak tersembunyi di belakang meja besar berisi  penuh makanan ringan pembuka. “ Nah, disini kita aman, Mad…..”, katanya sambil melonggarkan dasinya. Akupun  segera  mengikuti kelakuannya. Dari tempat ini kami bisa bebas dan leluasa melihat ke meja tamu lain tanpa khawatir terlihat oleh pihak lain. Tak lama kemudian setelah menerima segelas soft drink yang ditawarkan seorang pelayan kami berdua sudah duduk santai sambil memperhatikan tamu-tamu yang berdatangan.

Lihat yang duduk di deretan meja terdepan sebelah kiri itu…Ia adalah mentri kebudayaan dan pariwisata Israel. Dialah penyelenggara acara ini”, terang Benyamin. “ Nah, sekarang lihat siapa yang baru masuk itu “, serunya. “ Pasti kau mengenalnya”. Ternyata dia adalah seorang aktor laga kawakan kenamaan Holywood. Ia datang didampingi istrinya yang masih keluarga mantan presiden legendaris Amerika Serikat.

Selanjutnya setelah Benyamin sibuk menunjuk kesana kemari, tiba-tiba aku dikejutkan oleh seraut  wajah khas Indonesia. Dia adalah mantan presiden negara kita yang kontroversial, yang diam-diam dikenal memiliki hubungan khusus dengan negri berlambang Segitiga Davis ini. Ia datang didampingi istri lengkap dengan sejumlah pengawal khususnya seperti biasa.   Selanjutnya aku melihat seorang personil band yang banyak digandrungi remaja tanah air saat itu. Mengenai artis ini aku pernah mendengar kabar selentingan bahwa ia memiliki hubungan istimewa dengan sesuatu  yang erat kaitannya dengan ke-Yahudi-an namun aku lupa apa detilnya.

Tepat pukul 20.00  acara resmi dibuka oleh sang mentri Pariwisata. Dari sambutan itulah aku baru tahu rupanya agenda utama pertemuan ini adalah pemberian penghormatan dan piagam bagi tokoh-tokoh yang dianggap berhasil memberikan citra  positif terhadap Israel, negara yang oleh negara-negara di Timur  Tengah dan sebagian negri Islam tidak diakui kedaulatannya itu.

***

Beberapa hari kemudian bersama rombongan teman-teman dari berbagai negara, kami pergi mengunjungi Museum Israel yang terletak di bukit yang sama dengan Hebrew University. Di areal ini terdapat sebuah gedung ultra modern, yang dikenal dengan nama The Shrine Of The Book. Di dalam bangunan berkubah putih inilah tersimpan  The Dead Sea Scroll, Gulungan Laut Mati yang spektakuler itu.

Gulungan Laut Mati adalah sekumpulan gulungan kertas yang ditemukan pada tahun 1947 mulanya oleh seorang Badui Palestina. Seterusnya hingga tahun 1956 dari sejumlah gua di sekitar daerah Qumran, dimana naskah pertama ditemukan, terkumpul ratusan potongan naskah kuno. Diantara naskah-naskah tersebut yang terpenting adalah adanya sejumlah naskah yang dipercaya sebagai potongan bagian dari Perjanjian Perjanjian Baru / Injil dan  Perjanjian Lama / Taurat. Naskah ini diperkirakan ditulis pada sekitar tahun 2 SM hingga tahun 100 an setelah Masehi.

Namun sayang baru sebagian kecil dari isi naskah yang dipublikasikan ke umum. Padahal banyak rahasia besar yang dapat diungkap kumpulan naskah tersebut. Diantaranyalah adalah apa yang diungkap seorang teolog pakar Perjanjian Baru dan Gulungan Laut Mati, Prof. DR. Barbara Tiering, dari University  of Sidney Australia. Berdasarkan penelitiannya ia mengungkapkan bahwa Yesus sebenarnya tidak hidup membujang seperti perkiraan umatnya. Ia bahkan pernah menikah sebanyak 2 atau 3 kali. Malah dikatakan 4 tahun setelah penyalibannya, salah satu istrinya itu melahirkan seorang anak pertama mereka. Artinya Yesus tidak meninggal di tiang penyaliban sebagaimana perkiraan umatnya selama ini!

Dari The Shrine Of The Book, kami pergi mengunjungi The Model of Second Temple Jerusalem atau kuil kedua Yerusalem yang memang masing berada di area yang sama yaitu Museum Israel. Ini adalah sebuah replika raksasa dari kuil Yerusalem kuno pada masa hidup Yesus. Sebuah kuil  yang mulai dibangun pada tahun 20 sebelum Masehi oleh Herod The Great yang dihancurkan hanya 6 tahun setelah selesai dibangunnya yaitu pada 70 M oleh Titus, seorang pemuka Romawi. Replika yang dibuat  pada tahun 1966 ini mulanya disembunyikan di bawah tanah sebuah hotel di Yerusalem. Namun pada tahun 2002 secara resmi dan terang-terangan, replika tersebut dipindahkan ke dalam Museum Israel. Saat ini Replika Kuil Yerusalem ke dua tersebut menjadi salah satu daya tarik wisatawan manca-negara.

Dalam waktu yang tak lama lagi bangsa Israel tak  akan lagi hidup terlunta-lunta. Replika raksasa  yang berada dihadapan anda ini memperlihatkan  semangat bangsa kami untuk membangun kembali kejayaan yang telah hilang ribuan tahun lalu”,  jelas seorang pemandu yang menemani rombongan tamu dari berbagai negara ini dengan penuh kebanggaan.

Oh… jadi  apa  yang dikatakan Karim padaku tempo hari ternyata benar “, kataku dalam hati.

Orang-orang Yahudi, didorong oleh orang-orang Free Mason sejak 200 tahun belakangan memang terobsesi untuk pulang ke tanah yang mereka anggap sebagai rumah leluhur  mereka. Mereka bahkan tengah merencanakan  pembangunan kuil Yerusalem ketiga di atas pelataran dimana saat ini tengah berdiri masjid Kubah Batu dan Masjidil Aqsho yang sejak abad 7 telah menjadi bagian penting  kehidupan pemeluk umat Islam di seluruh dunia khususnya penduduk Palestina.

Sesuatu yang tak masuk akal. Orang-orangYahudi rupanya hidup di bawah bayang-bayang masa lalunya. Lalu mau diapakan dan dikemanakan orang-orang yang sejak ribuan tahun hingga  saat ini ada dan hidup di sekitar situs suci tersebut?”, kataku dalam hati heran.

Sekarang aku tahu mengapa banyak pemeluk  Islam yang mempunyai rasa antipati terhadap bangsa Yahudi dan sekutunya. “ Bagaimana mungkin sebuah pemerintah pendudukan bisa seenaknya  menggusur bahkan menghancurkan situs penting keagaamaan pemeluk penduduk setempat ? Ironisnya lagi, rencana tersebut didukung pula oleh sejumlah negara yang mengaku diri sebagai negara demokratis“, pikirku. Jelas, orang-orang ini sengaja mencari perkara dan penyakit.

Seorang kenalan baruku, seorang warga negara Selandia Baru, membisikiku bahwa saat inipun dengan alasan mencari peninggalan nenek moyang mereka, pihak otoritas resmi Yahudi telah membangun beberapa galian dan terowongan sepanjang tembok Barat atau yang dikenal dengan Tembok Ratapan. Terowongan ini dikabarkan bahkan telah mencapai bagian pusat  masjid Al-Aqsho hingga menyebabkan keadaan masjid menjadi rawan. Katanya hal ini memang disengaja. Jadi bila terjadi gempa sedikit saja, masjid tersebut  akan segera ambruk. Ini yang menjadi harapan mereka. Mereka sepenuhnya sadar  bahwa Yerusalem adalah  daerah rawan gempa.  Dengan demikian mereka tidak perlu merasa  dipersalahkan!

Didorong rasa keingin-tahuan yang tinggi, aku berniat sepulangku nanti  aku akan segera mendiskusikan masalah diatas dengan Benyamin dan Karim. Aku benar-benar penasaran ingin mengetahui tanggapan dan reaksi mereka berdua. Kupikir keduanya bisa mewakili pendapat dan pikiran umum rakyat Palestina sebagai pemilik resmi tanah yang menjadi rebutan itu,   dari sisi ajaran  Nasrani dan ajaran  Islam.

***

Read Full Post »