Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Hermeuneutika’

  “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan”.(QS.Al-An’am(6):112-113). 

Allah SWT telah mengabulkan permintaan Iblis agar hukuman yang diberikan sebagai akibat atas pembangkangannya terhadap perintah-Nya untuk tunduk dan bersujud kepada Adam AS itu ditunda hingga hari akhir. Dan Allah SWT juga telah mengizinkan Iblis untuk mencari teman dalam menjalani hukumannya di neraka jahanam kelak yaitu dengan terus menerus mengganggu seluruh keturunan Adam dari atas, bawah, kiri dan kanannya.

 “Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at)”.(QS.Al-A’raaf(7):16-17). 

Berbagai cara dilakukannya, namun pada pokoknya bertujuan untuk mengalihkan dan memalingkan agar manusia menyembah dari yang selain Allah SWT, itulah dosa syirik, suatu dosa besar yang sama sekali tidak terampunkan. Diantaranya yaitu dengan menuhankan hawa nafsu, patung-patung dan berhala, jin dan malaikat, para nabi, para orang alim dan thoghut. 

Iblis yang kemudian beranak-pinak tersebut kemudian memerintahkan anak keturunannya agar membantu melaksanakan cita-cita besarnya yaitu menjerumuskan manusia ke dalam api neraka. Pasukan Iblis ini terdiri dari bangsa jin itu sendiri dan juga bangsa manusia yang mau bersekongkol dengan dirinya. Pasukan inilah yang disebut syaitan. Syaitan mengganggu manusia dengan cara membisik-bisikkan perkataan yang indah-indah tentang kehidupan dunia sehingga manusia pada akhirnya lupa akan kehidupan akhirat. Bisikkan ini masuk melalui pintu hati manusia. Jadi pintu-pintu inilah yang terutama harus dijaga ketat. Al-Ghazali membagi pintu-pintu besar yang sering kali lolos dari pengawasan ini atas 11 kategori, diantaranya yaitu pintu amarah dan syahwat; iri dan dengki; kekenyangan dalam makanan; suka berhias baik dengan perabotan, pakaian maupun rumah; tamak; buruk sangka; terburu-buru; gila harta dan kekuasaan serta takut miskin. 

“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma`siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,”(QS.Al-Hijr(15):39). 

1. Pembunuhan pertama di muka bumi.  

Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.(QS.Al-Maidah(5):27). 

Nabi Adam as dikaruniai 6 pasang anak kembar. Mereka inilah cikal bakal nenek moyang manusia. Syariat Allah waktu itu mengharuskan seorang anak harus mengawini saudaranya lawan jenis namun tidak boleh kembarannya. Qabil dan Habil adalah dua anak pertama Adam as. Namun Qabil menginginkan kembarannya sendiri sebagai istrinya yang secara hukum adalah menjadi hak saudaranya, yaitu Habil. 

Sebagai anak yang shaleh, Habil menolak kemauan kakaknya tersebut. Kemudian ia mengusulkan agar mereka berdua menyelenggarakan upacara kurban, siapa yang kurbannya diterima Allah SWT berarti dialah yang berhak melaksanakan keinginannya.Ternyata domba kurban Habil yang diterima Allah SWT karena domba yang dikurbankan Habil adalah domba yang selain gemuk dan sehat juga bagus sedangkan Qabil memilih domba yang sangat jelek untuk dikurbankan. Karena hikmah dari berkurban sesungguhnya adalah ke-ikhlas-an seseorang dalam memenuhi perintah Allah SWT. Ini yang dinilai oleh-Nya. Tentu saja Dia mengetahui apa berada yang dibalik hati manusia. 

Namun karena bujukan syaitan jua, Qabil tidak mau menepati perjanjian. Sebaliknya ia malah membunuh saudaranya itu. Inilah peristiwa pembunuhan pertama yang terjadi di muka bumi. 

 “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal”. (QS.Al-Maidah(5):31). 

2. Pengkultusan dan penyembahan dewa-dewa. 

Pada umumnya setiap manusia membutuhkan sesuatu yang dapat dijadikannya idola, panutan, pujaan dan akhirnya sembahan. Sesuatu yang dapat memberinya rasa aman, senang dan nyaman. Sesuatu yang dirasa dapat memberinya pertolongan terutama ketika ia dalam kesulitan. Ini adalah fitrah manusia. 

”Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo`a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo`a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan”.(QS. Yunus(10):12). 

Namun sayang, tanpa bimbingan ilmu yang benar, seseorang akan mudah tersesat. Penyembahan yang semula dilakukan dengan harapan dapat memberinya rasa aman sebaliknya malah menyusahkannya. Pada puncaknya penyembahan dilakukan hanya sebagai kebiasaan dan tradisi yang diwarisi secara turun-temurun dari nenek-moyang mereka tanpa adanya usaha untuk mempertanyakan apakah yang disembahnya tersebut dapat memberinya manfaat. Ini adalah sebuah kebodohan yang nyata.

 ”Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kamu sembah?”. Mereka menjawab: “Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya”.Berkata Ibrahim: “Apakah berhala-berhala itu mendengar (do`a) mu sewaktu kamu berdo`a (kepadanya)? atau (dapatkah) mereka memberi manfa`at kepadamu atau memberi mudharat?”. Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian ”.(QS.Asysyu’ara (26):69-74). 

Ironisnya, hampir di setiap bagian belahan bumi ini orang mengenal dewa-dewi mereka masing-masing. Dewa-dewi ini biasanya melambangkan kekuatan alam yang dikaguminya, seperti matahari, angin, air dan sebagainya. Orang-orang Yunani kuno sejak lama telah mengenal dewa-dewi seperti Zeus, Hera dan lain-lain, masyarakat Romawi kuno mengenal dewa Yupiter sedangkan di Persia orang mengenal dewa Mithra, di Syria mereka menamakannya Tammuz, Mesir memanggilnya Osiris dan orang-orang Arab mengenal Hubal, Latta dan ‘Uzza sebagai sesembahan mereka. Bahkan di tanah Jawa dan Balipun hingga detik ini masih terdapat sekelompok masyarakat yang masih mempercayai Dewi Sri sebagai dewi padi, lambang kemakmuran. Dewa-dewi ini mereka puja dan sembah dengan harapan dapat memberikan kebaikan dan menolak keburukan dalam kehidupan mereka. 

Namun disamping itu, ada pula para pemimpin dan raja yang menganggap dirinya adalah Tuhan, baik secara terang-terangan seperti para Fir’aun di Mesir maupun secara tidak langsung seperti para kaisar Romawi dan juga raja Kisra’ dari Persi. Mereka memaksa rakyatnya agar menyembah dan memujanya. Bila ada rakyat yang menolak dapat dipastikan mereka akan dijatuhi hukuman. Padahal ini hanya sebuah tipuan agar para pemimpin dan para raja dapat terus mempertahankan kekuasaan. Syaitanlah sesungguhnya yang telah membisikkan kedalam hati manusia agar mereka melakukan itu semua. 

Bahkan ketika suatu masyarakat telah didatangi utusan Allah dan dengan izin-Nya utusan tersebut berhasil mengajak mereka untuk menyembah kepada Tuhan yang sesungguhnya, Tuhan yang telah menciptakannya yaitu Allah SWT. Dengan berlalunya waktu seringkali merekapun kembali memuja, mengkultuskan dan bahkan menyembah yang selain Allah SWT. Yang disembahnya itu bisa jadi berhala, Nabi dan Rasul, malaikat bahkan para pemimpin mereka, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal seperti ini kerap sekali terjadi. Diantaranya adalah apa yang dilakukan  bangsa Yahudi.  

Bangsa ini berabad-abad yang lalu  pernah diselamatkan Allah swt dari perbudakan dan penganiayaan Firaun melalui Musa as.  Alih-alih bersyukur dan membela serta mengikuti ajaran yang dibawa rasul-Nya, mereka malah menjadi sombong dan congkak. Mereka merasa dirinya bangsa pilihan hingga meyakini bahwa  Allah tidak akan menghukum ketika mereka berbuat kesalahan. Mereka bahkan membunuh dan mencoba membunuh sejumlah nabi dan rasul termasuk Rasulullah Muhammad saw. Selain menyembah patung-patung, seperti orang Nasrani mereka juga menganggap bahwa Tuhan mempunyai anak! 

 ”Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At-Taubah (9):30). 

Sedangkan yang terjadi pada kaum Nasrani 1.5 abad yang silam adalah sebagai berikut : Jauh sebelum Isa as lahir, orang-orang Romawi telah terbiasa menyembah Dewa Matahari. Sejak lama mereka meyakini bahwa dewa ingin menyelamatkan dan mengampuni dosa-dosa manusia dengan cara berinkarnasi menjadi manusia. Manusia anak dewa ini dipercaya akan lahir pada hari Minggu (Sunday ; Sun = matahari dan day = hari) tanggal 25 Desember sebagai hari dan tanggal yang memiliki arti khusus bagi mereka. Disamping itu diantara para penyembah matahari ini hidup pula para penganut agama Yahudi. Dalam keadaan seperti inilah Isa as datang untuk mendakwahkan ajaran Tauhidnya. Ketika Isa as wafat dan kemudian diangkat kesisi-Nya, pengikutnya memang hanya sedikit. 

”dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, `Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) `Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat `Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(QS.An-Nisa’(4):157-158). 

Namun pada sekitar tahun 325 M keadaan telah berubah. Pengikut Isa as makin lama makin banyak. Mereka mengikuti ajaran dengan benar, yaitu ajaran Monotheisme dan menempatkan Isa pada posisi yang sebenarnya, yaitu Rasul Allah. Mereka ini hidup bersebrangan dengan rakyat dan juga para penguasa yang mayoritas adalah penyembah matahari, yang notebene adalah ajaran Paganisme dan Polytheisme. Namun karena sering mendengar kehebatan mukjizat yang dimiliki Rasul Allah ini, merekapun segera menganggap bahwa Isa adalah anak dewa matahari yang selama ini mereka nanti-nantikan. 

Melihat suasana yang demikian para penguasa Romawi selain merasa khawatir akan terjadinya kekacauan juga merasa ketakutan dan khawatir bakal kehilangan pamor dan kekuasaan. Maka pihak kekaisaranpun cepat mengambil tindakan. Romawi yang waktu itu dibawah kekuasaan Konstantin I segera membentuk semacam dewan dan menghasilkan sebuah deklarasi yang dikenal dengan nama ’deklarasi Nicene’ (’Nicene Creed’). Deklarasi ini intinya menetapkan bahwa Isa AS bukanlah utusan Tuhan namun anak Tuhan sebagai ganti anak dewa matahari yang ditunggu-tunggu sebagian masyarakat Romawi. 

Mereka juga menetapkan bahwa anak Tuhan ini lahir sesuai dengan kehendak dewa mereka yaitu Minggu, 25 Desember. Mereka jugalah yang kemudian memprakarsai penggambaran Isa as dengan ganbar sinar matahari yang mengitari kepala Isa / Yesus sebagai lambang anak dewa mereka, Tuhan mereka yang sebenarnya. Dengan cara ini kekaisaran dapat terus dipertahankan. Dan siapapun yang menentang hasil deklarasi harus dibunuh, dijauhkan dan dibuang ke negri lain. Dibawah perintah raja Konstantin ini pulalah daging babi dihalalkan, tempat ibadah dengan bentuk gereja seperti sekarang ini didirikan,  tata cara shalat dirubah hingga seperti yang bisa disaksikan sekarang ini. 

”Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”.(QS.At-Taubah(9):31). 

Al-Quran menerangkan bahwa orang-orang yang menjadikan pemimpin-pemimpin mereka bagaikan tuhannya sebagai pengikut Thagut. Thagut adalah segala sesuatu yang dijadikan pemimpin, pelindung, penolong dan sembahan. Thagut tidak selalu dalam bentuk manusia namun bisa juga materi seperti uang, pekerjaan dan lain-lain. Segala sesuatu yang dapat memalingkan seseorang dari menyembah dan berhukum hanya kepada Allah SWT. 

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”.(QS.An-Nisa’(4):60). 

3. Perang Pemikiran ( Al-Ghazwl Fikri ).

Khilafah Islamiyah adalah kerajaan Islam yang menaungi negara-negara Islam di dunia, yang membentang dari Andalusia di Spanyol, sepanjang Afrika Utara, seluruh semenanjung Arab, Asia Kecil, Asia Tengah, Eropa Timur dan Yunani hingga perbatasan timur negri China juga termasuk didalamnya daerah-daerah yang dahulunya dikuasai pihak kafir, yaitu kekuatan Barat (Nasrani) di Turki dan kekuatan Timur (Majusi) di Persia.( lihat bab ‘Khilafah Islamiyah’). Kejayaaan ini berlangsung secara bertahap mulai abad ke 7 hingga awal abad ke 20. Kejayaan tersebut juga kemudian hancur secara bertahap hingga akhirnya lenyap sama sekali pada tahun 1923 ketika berada dibawah kekuasaan khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Konstatinopel atau yang sekarang dinamakan Istambul, Turki. 

Namun tidak berarti selama masa kejayaan yang amat panjang tersebut sama sekali tidak terjadi gangguan yang serius. Adalah Paus Urban, seorang pemimpin  yang berkedudukan di Perancis Selatan. Ialah yang menyeru umat  di seluruh dunia  agar merebut Yerusalem dari tangan pasukan Muslim. Hal ini terjadi sekitar 350 tahun setelah pasukan Muslim tanpa kekerasan berhasil menguasai kota suci tersebut. Bahkan dikabarkan pemuka  Yerusalem yang berkuasa ketika itu menyerahkan kunci kota secara khusus langsung kepada   Umar bin Khatab RA. Didampingi pemuka  tersebut, sang khalifah  memasuki gerbang kota dengan penuh kedamaian. 

Akan tetapi apa yang terjadi pada tahun 1099 adalah kebalikannya. Pasukan  bentukan Paus Urban yang kemudian dikenal dengan nama Pasukan Salib  memang  berhasil menguasai Yerusalem. Namun  setelah berperang selama 3 hari 3 malam dengan membantai lebih dari 30.000 penduduk kota, termasuk perempuan dan anak-anak Muslim yang berlindung di dalam masjid Al-Aqsa. Mereka juga membunuhi kaum Yahudi dan  yang bermukim disekitar kota tua tersebut dan juga kaum Yahudi yang hidup di perkampungan sepanjang perjalanan mereka dari Perancis ke Yerusalem secara brutal dan kejam. 

Delapan puluh delapan tahun kemudian yaitu pada tahun 1187, dibawah kekuasaan Sultan Salahuddin, pasukan Muslim kembali berhasil menguasai Yerusalem. Dan sebagaimana pendudukan Yerusalem oleh pasukan Muslim pada kali pertama, kali inipun tidak terjadi pembantaian. Bahkan para penguasa yang ditaklukkan tersebut selain diampuni juga diberi keleluasaan untuk meninggalkan kota dengan membawa seluruh harta bendanya. Peristiwa bersejarah ini pada tahun 2005 pernah diabadikan dengan sangat baik dalam film “The Kingdom of a Heaven” yang disutradarai oleh Sir Ridley Scott dan dibintangi aktor kenamaan Orlando Bloom. Peperangan yang kemudian dikenal dengan nama “Perang Salib” ini terus terjadi hingga beberapa kali selama hampir 200 tahun namun pihak Salib tidak pernah berhasil menguasai kembali Yerusalem. 

Sesungguhnya perseteruan antara Islam dan para ahli kitab telah terjadi sejak masa awal kerasulan di Madinah. Orang-orang Yahudi dan  yang ketika itu memang banyak bermukim di kota tersebut amat kecewa ketika mengetahui bahwa nabi yang dijanjikan dalam kitab mereka, Taurat (dan juga Injil) ternyata bukan datang dari kaum mereka, melainkan datang dari bangsa Arab, bangsa yang selama ini mereka remehkan. Inilah bibit awal kebencian dan kedengkian sebagian ahli kitab. 

 Namun mereka akhirnya menyadari bahwa pasukan Muslim tidak akan pernah dapat ditaklukan secara perang terbuka. Perang di jalan Allah untuk mempertahankan kebenaran bagi umat Islam adalah jihad, imbalan bagi mereka adalah surga, kemenangan yang hakiki adalah di akhirat. Oleh sebab itu mereka tidak mengenal kata takut mati. Sebaliknya pihak Nasrani (bergabung dengan orang-orang Yahudi) mereka mendambakan kemenangan dunia. Kematian adalah kekalahan dan amat menakutkan. Jadi mereka mengambil kesimpulan bahwa untuk mengalahkan umat Islam harus dicari jalan lain, bukan dengan perang senjata secara terbuka. Tipu daya apakah yang sebenarnya mereka rencanakan itu? 

 “Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(QS.Al-Baqarah(2):109). 

Dan mereka memang ternyata berhasil. Sayangnya, umat Islam tidak menyadarinya. Apa yang sebenarnya mereka lakukan? 

Yerusalem dibawah kekuasaan khilafah Islamiyah sejak abad 7 memang tidak pernah tertutup bagi umat agama lain. Mereka bebas mengunjungi kota suci bagi 3 agama besar didunia ini. Namun ia tidak hanya menarik karena sejarah ritualnya namun juga karena kota ini pada waktu itu telah berkembang menjadi kota intelektual. Ilmu berkembang pesat disini. Orang-orang Nasranidatang tidak hanya sekedar untuk melakukan ibadah dan kunjungan keagamaan melainkan juga untuk mempelajari ilmu lain seperti ilmu hukum termasuk juga belajar tentang Islam dan Al-Quran. 

Namun sebenarnya tujuan mereka adalah untuk mencari celah dan kemudian menyerang Islam secara diam-diam. Mereka kemudian melemparkan fitnah yang keji baik terhadap nabi Muhammad SAW maupun terhadap ajaran itu sendiri. Mereka menuduh bahwa Islam adalah agama pedang, Islam disebarkan dengan cara paksa dan kekerasan. Hal tersebut disengaja untuk menyakiti dan memancing emosi umat Islam. Dari sini mereka mencoba menaklukkan Islam sebagai ganti kekalahan mereka pada perang-perang yang terjadi sebelumnya. Mereka mencoba mengusik rasa kesatuan, keimanan dan kebanggaan umat Islam terhadap agamanya dengan berbagai cara. 

Belakangan ini, tersebar berita bahwa Ratu Inggris berkenan untuk menganugerahkan gelar kehormatan “Sir” kepada pengarang buku “Ayat-ayat Setan “atau yang di Barat dikenal “The Satanic Verses”, Salman Rushdi. Padahal buku karangannya tersebut jelas-jelas melecehkan ajaran Islam dan telah melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia sehingga bekas pimpinan tertinggi Iran, Ayatullah Khomeini memberikan fatwa hukuman mati bagi pengarang tersebut. Lalu apa sesungguhnya kepentingan dan keinginan pemerintah Inggris dengan adanya pemberian penghargaan tersebut ?? 

Mereka juga menyerang dengan terobosan-terobosan baru dalam bidang kebudayaan dan peradaban, yaitu dengan melontarkan berbagai pemikiran seperti feminisme , demokrasi, sekulerisasi (pemisahan agama dari Negara), sukuisme, nasionalisme dll.  Beberapa diantara pemikiran tersebut sebenarnya masih bisa diterima. Namun karena tidak dibangun diatas dasar pemikiran bahwa kebenaran hukum Allah adalah di atas segalanya maka pemikiran-pemikiran tersebut menjadi menyimpang dari akidah Islam. Inilah sebenarnya yang mereka tuju. Pemikiran yang dikemas dengan baik namun dengan dasar menyesatkan, yaitu menjauhkan umat dari Al-Qur’anul Karim.   

Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka ………Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka) .(QS.Al-Fushilat(41):25-26). 

Dengan alasan itu pula pemerintah Perancis belakangan ini mengeluarkan larangan resmi pemakaian jilbab bagi perempuan yang bekerja di instansi pemerintah, termasuk pula murid sekolah negri. Juga di Denmark, salah satu negara Skandinavia ini dikenal sering sekali memancing emosi kaum Muslim dengan berbagai karikatur Rasulullah. Bahkan saat ini salah satu partai di negara tersebut, dengan dalih kebebasan berpendapat, mereka menggunakan gambar Rasulullah sebagai lambang partai mereka! Padahal mereka tahu bahwa hal tersebut sangat menyakitkan hati umat Islam karena Islam memang melarang penggambaran/ilustrasi Rasulullah dalam bentuk apapun. Berbagai hal diatas sengaja dilakukan dengan maksud dan harapan agar rasa persatuan Islam menghilang. Ini yang kelak disebut Perang Pemikiran atau Al-Ghazw Al-Fikri. 

Saat ini dapat kita amati dengan jelas hampir semua negara-negara Islam di dunia memiliki wajah baru yang tidak sedikitpun menyisakan ke-Islam-annya. Budaya Barat telah jauh merasuk kedalam kehidupan masyarakat. “Barangsiapa yang menyerupai (kebiasaan jelek) suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka”. (HR Ibnu Daud). 

Dengan dalih demi kemajuan, kebebasan dan modernisasi penyerbuan peradaban ini masuk secara sistematis, perlahan namun pasti sehingga umat pada umumnya tidak menyadarinya. Hal ini menyusup melalui media cetak dan elektronik, slogan-slogan pendidikan dan hiburan yang jauh dari ajaran Islam. Umat terus dicekoki dengan pemikiran, nilai dan norma Barat yang cenderung bebas dan materialistis sebagaimana halnya dengan ekonomi kapitalis yang samasekali tidak Islami hingga akhirnya umat melupakan seluruh nilai-nilai dan sendi-sendi Islam. 

“…….. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”(QS.Al-Baqarah(2):120). 

Hal ini pula yang sebenarnya mempercepat kejatuhan kekhilafahan Ustmaniyah pada masa lalu selain tentunya berbagai penyebab seperti ketidak-adilan, perpecahan antar umat, tidak majunya ilmu pengetahuan dan juga kebobrokan iman sebagian pemimpinnya. Mereka telah menukar keimanan dengan keduniawian. 

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”(QS.Al-Maidah(5):50). 

Dan seakan belum puas dengan semua ini, saat ini kaum kafir tengah  menambah gempurannya dengan serangan psikologi mutakhirnya yaitu dengan melempar isu Terorisme dan Extrimisme seperti tercermin dengan adanya peristiwa biadab  11 September 2001. Umat dipojokkan seakan ajaran Islam  identik dengan kekerasan. Jihad mereka artikan identik dengan kekerasan dan harus dienyahkan. Mereka terus mencekoki umat bahwa jihad sama dengan tidak menghargai nyawa manusia yang juga berarti melanggar hak asasi manusia sebagai simbol peradaban modern. 

Padahal ini adalah fitnah besar. Sesungguhnya tidak saja sebagian besar muslimin yang meyakini bahwa peristiwa tersebut adalah sebuah rekayasa, namun juga sejumlah pakar sains. Salah satunya adalah Professor Thomas W Eager, seorang guru besar Material Engineering and Engineering System pada sebuah institut terkenal di Amerika Serikat. Berdasarkan pengalamannya sebagai peneliti struktur bangunan baja, ia berpendapat bahwa mustahil sebuah bangunan sekokoh menara WTC dapat ambruk hanya dikarenakan ditabrak 2 pesawat komersial. Bahkan sebenarnya  dari cara Pemerintahan Bush membersihkan lokasi reruntuhanpun terkesan begitu terburu-buru sehingga menimbulkan kecurigaan seolah-olah ia ingin segera menghilangkan bukti-bukti penting. 

Cara tersebut ternyata terbukti ampuh. Karena risih dan sungkan akhirnya sebagian besar pemimpin Islam pun mengumumkan bahwa karena Islam adalah agama perdamaian maka sedikit demi sedikit istilah jihadpun dihapuskan dan dipinggirkan. Kaum Musliminpun akhirnya menjadi lupa akan sumpah setia mereka kepada Sang Pencipta, Allah SWT untuk menegakkan ajaran Tauhid, untuk menegakkan kebenaran. Pasukan Muslimin telah dengan sukarela melepaskan kekuatan jihad yang sangat ditakuti musuh. Inilah yang ditunggu dan diharapkan! Padahal mereka tetap mempersiapkan diri untuk berperang. Namun kali ini mereka tidak perlu lagi khawatir terhadap perang senjata secara terbuka. Bagi umat yang kurang keimanannya hal ini dapat menyebabkan mereka menjadi benci dan malu terhadap agama mereka sendiri dan mereka menjadi tidak percaya diri yang pada akhirnya dapat mengakibatkan kemurtadan. Ini adalah akibat sampingan namun fatal. 

Selain itu tampak bahwa negara-negara Islam juga dihambat kemajuannya agar mereka tetap terus dalam kemiskinan dan terus bergantung kepada Barat hingga akhirnya mereka jatuh. Padahal sebaliknya, mari kita perhatikan. Amerika Serikat adalah sebuah negara besar yang sering membanggakan diri sebagai sebuah negara yang mengedepankan kedamaian dan keamanan. Namun sesungguhnya justru negara inilah yang menjadi penyulut peperangan di berbagai tempat, seperti di Irak, Afganistan dan Timur Tengah. Mereka tengah melempar batu sembunyi tangan. 

Negara-negara Muslim tersebut tengah diadu domba disaksikan sang sutradara, Amerika Serikat, sebuah negara produsen senjata terbesar di dunia. Menurut harian The Strait Times, 24 Mei 2007, negara ini pada 2001 meraup US$ 10 milyar hingga US$ 13 milyar dari penjualan senjata. Dan angka ini terus melonjak tiap tahunnya. Negara adi kuasa, mitra kental Yahudi ini memang punya kepentingan pribadi dengan adanya perang yang terus diupayakan terjadi agar keuntungan yang diraihnya terus berkepanjangan setelah sebelumnya mencekoki rakyatnya dengan barang-barang kebutuhan sehari-hari produksi mereka. Sebuah modus yang mirip dengan produsen obat-obatan terlarang yang dilakukannya ke berbagai negara. Jadi siapakah sesungguhnya sang raja teroris? 

Namun sesungguhnya serangan yang bertubi-tubi tersebut bila dihadapi umat Islam secara kompak dan bersatu tentu mereka tidak akan mampu melumpuhkan dan mengalahkan umat ini. Bila saja umat memiliki sikap, keteguhan dan keimanan sebagaimana para sahabat di masa lampau tentu kita akan menang. 

Rasulullah SAW bersabda : ”Aku memohon kepada Tuhanku atas tiga perkara. Maka Allah mengabulkan dua perkara untukku sedangkan yang satu ditolak. Aku memohon kepada Tuhanku agar jangan membinasakan umatku dengan musim paceklik maka Dia mengabulkannya. Aku memohon kepada Tuhanku agar jangan membinasakan umatku dengan air bah (banjir bandang) maka Dia mengabulkannya. Aku mohon pada-Nya agar tidak menjadikan mereka saling berperang namun Dia menolak permohonanku itu”. (HR Muslim).  

Akan tetapi hadis diatas bukanlah alasan bagi kita untuk terus menjadi pasrah dan menerima kenyataan tersebut. Seharusnya kita malah lebih berhati-hati agar perbedaan yang ada tidak menjadikan kita ber-perang sendiri sehingga kita mudah dikalahkan. 

Beruntung Allah SWT berkenan menepati janji-Nya untuk terus menegakkan Islam dimuka bumi. Hal ini terbukti dengan malah makin banyaknya orang yang berpindah dan memeluk agama Islam secara sukarela. 

“Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.”(QS.Ash-Shaff(61):8). 

Dan kebanyakan dari mereka ini justru lebih baik akidah dan keimanannya daripada orang-orang yang terlahir Islam. Lalu kita sebagai umat yang disebut belakangan ini alias Islam ‘terlahir’ bagaimanakah sikap kita? Akankah kita ini hanya menjadi bagian dari yang menyaksikan kebesaran Islam tanpa ikut serta didalamnya?? 

 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan  menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”(QS.Al-Maidah(5):51). 

4. Serangan kaum Munafik.  

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda : Tanda-tanda orang munafik itu tiga; bila berkata ia bohong, bila berjanji ia mengingkari dan bila dipercaya ia mengkhianati”. 

Munafik adalah orang yang memperlihatkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran. Hadis diatas adalah sebuah peringatan keras bagi para Mukmin untuk tidak bersikap satupun diantara sikap-sikap diatas karena yang demikian akan menjerumuskannya kedalam kemunafikan sejati meskipun ia seorang yang membenarkan bahkan mungkin menjalankan syari’at Islam. 

Beberapa tahun belakangan ini muncul gagasan tentang konsep keberagamaan, yaitu Pluralisme, Sekularisme dan Liberalisme. Hal ini timbul disebabkan adanya rasa toleransi antar agama yang berlebihan. Dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk, perbedaan adalah suatu hal yang biasa dan lumrah. Pada Zaman Rasullullah pun hal tersebut pernah terjadi yaitu pada awal periode Madinah. Pada saat itu kaum Muslimin hidup berdampingan dengan kaum musyrik penyembah berhala, Yahudi dan Nasrani. Mereka menjalankan ibadahnya dengan caranya masing-masing. 

“Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah  Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku“.(QS.Al-KaaFiruun(109):1-6).  

Namun Allah SWT menghendaki agar Dakwah Islam terus berlanjut karena Islam bukan hanya merupakan hak istimewa dan monopoli bangsa Arab. Allah SWT menghendaki agar semua manusia didunia ini tanpa kecuali berhak menerima kebenaran dari-Nya. 

“(Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”.(QS.Ali-Imraan (3):138). 

Manusia diberi kesempatan untuk memilih, percaya atau tidak, takwa atau durhaka, tidak ada paksaan baginya. Namun begitu seseorang telah menentukan pilihannya maka hukumpun berlaku baginya. Demi effektifitas sebuah ajaran agama maka terpaksa atau tidak seseorang harus menerima resiko serta pilihannya itu. Allah SWT telah memberi batasan yang jelas, apa akibat dari pilihan tersebut. Pengusiran dan peperangan yang akhirnya terjadi terhadap kaum Yahudi disebabkan karena mereka terus-menerus melanggar perjanjian yang telah disetujui kedua belah pihak. Mereka terus merongrong dan mengancam tidak saja jiwa Rasulullah SAW namun juga kelangsungan ajaran yang masih seumur jagung tersebut. 

Islam tidak pernah mengajarkan pemisahan antara hubungan manusia dengan Tuhannya, hubungan antar sesama manusia maupun hubungan manusia dengan mahluk lainnya termasuk hubungannya dengan alam semesta. Islam adalah pandangan hidup, Way Of Life. Ia mengatur seluruh aspek kehidupan, mulai hal-hal kecil seperti menjaga kebersihan, tata-krama dan kesopan-santunan hingga masalah-masalah perdagangan dan ekonomi bahkan kemasyarakatan dan kenegaraan. Oleh karena itu Islam tidak mengenal istilah Sekulerisasi. Rasulullah SAW dengan Madinahnya adalah contoh nyata. Beliau adalah seorang utusan Allah sekaligus pimpinan suatu negara yang juga seorang ayah dan suami yang sangat patut dijadikan teladan. 

Namun saat ini, toleransi antar agama yang muncul tidak lagi sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya. Belakangan ini malah muncul berbagai aliran atau isme seperti Pluralisme(Semua agama sama), Sekularisme(Agama dipisahkan dari kehidupan sehari-hari ) dan Liberalisme (Kebebasan untuk menafsirkan ayat-ayat suci). 

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”(QS.Ali Imraan(3):7). 

Saat ini sejumlah perguruan tinggi Islam marak mengajarkan sebuah ilmu yang notabene anyar yaitu Hermeuneutika. Ajaran ini masuk ke Indonesia mulanya melalui para cendekiawan Muslim yang menuntut berbagai ilmu Islam di Barat. 

Ilmu ini mengajarkan cara menafsirkan Al-Quran. Namun cara tersebut sama sekali tidak sesuai dengan apa yang telah di contohkan dan diajarkan Muhammad SAW, Sang Penyampai dan Pembawa Al-Quran yang pastinya lebih memahami apa yang ingin disampaikan-Nya melalui Al-Quran, dan juga para sahabat, murid yang mendapatkan pengajaran langsung dari beliau. Ayat Al-Quran diatas jelas menegaskan bahwa hanya orang-orang yang hatinya condong pada kesesatan sajalah yang mencoba menta’wilkan ayat-ayat Al-Quran yang mutasyabihat. Tujuannya tak lain hanyalah untuk menimbulkan fitnah dan perpecahan diantara ummat. Padahal untuk mempelajari Al-Quran secara benar sesungguhnya hanya dapat melalui 5 tahapan, yaitu : melalui ayat Al-Quran itu sendiri (kesinambungan antar ayatnya), melalui apa yang telah dicontohkan Rasulullah, melalui para sahabat, melalui para tabi’in dan ulil amri dan terakhir baru melalui sudut bahasanya. 

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.(QS.Al Baqarah(2):208). 

Disamping itu, untuk mencapai suatu kebenaran, kadang perdebatan memang sukar dihindari. Yang diperlukan adalah kedewasaan, sikap untuk saling terbuka, sikap untuk mau menerima kenyataan bahwa sesuatu yang sudah terbiasa dan lama diyakini ‘benar’ belum tentu kebenarannya, kalau memang itu terbukti tidak benar. Suatu sikap lapang dada untuk menerima kesalahan dan kekhilafan dengan penuh kesadaran. Disamping itu yang benarpun tidak perlu merasa congkak dan arogan, karena yang dicari adalah kebenaran. Jadi bukan masalah kalah menang ataupun mengalah. 

“Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (`Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti `Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka”.(QS.An-Nisaa(4):159). 

Sebaliknya dengan mengambil sikap jalan tengah seperti menyamakan semua agama ataupun menyatakan bahwa semua agama adalah benar tentu berbahaya. Hal ini akan berakibat sangat buruk karena pada akhirnya mereka hanya mementingkan keimanan saja tanpa keharusan untuk melaksanakan kewajiban / syariat suatu agama. Padahal Rasulullah jelas datang dengan membawa ajaran, lengkap dengan hukum-hukum yang harus dipatuhi dan dilaksanakan. 

 “Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi”.(QS.Al-Maidah(5):5). 

Pluralitas atau keberagaman dalam Islam memang telah dikenal sejak lama akan tetapi bukan Pluralisme

“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS.Al-Baqarah(2):62). 

Ayat inilah yang sering dijadikan pegangan bagi mereka yang bersiteguh bahwa semua agama adalah sama dan benar disisi Allah SWT. Padahal yang dimaksud ayat diatas adalah orang-orang Yahudi,  dan Shabiin yang mengimani seluruh rasul dan kitab termasuk Muhammad SAW dan Al-Quranul Karim. Atau bagi mereka yang hidup pada zaman sebelum Islam datang, ketika mereka belum merubah-rubah kitab suci mereka yaitu Taurat maupun Injil yang dibawa Musa AS maupun Isa AS. Atau bagi mereka yang belum sampai satupun petunjuk tentang Islam. 

 “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”.(QS.Ali Imran(3):85). 

Lebih dari itu, mereka juga menyebar bibit fitnah berkenaan dengan urutan ayat Al-Quran yang tidak sesuai dengan urutan turunnya. Mereka menuduh Rasulullah SAW dan para sahabat telah ikut campur dalam penyusunan Al-Quran sehingga dengan demikian kitab ini sudah tidak suci dan murni lagi! 

“Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam. Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al Qur’an ini?” (QS.Al-Waqiyah(56):75-81). 

Berkenaan dengan ayat diatas, Ad-Dhahak meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra : Al-Quran diturunkan secara keseluruhan dari sisi Allah, dari Lauh  Mahfuz, melalui duta-duta malaikat  penulis wahyu, ke langit dunia, lalu para malaikat tersebut menyampaikannya kepada Jibril secara berangsur-angsur selama 20 malam dan selanjutnya diturunkan pula oleh Jibril as kepada Rasulullah SAW secara berangsur-angsur  selama 23 tahun”. Itu pula yang ditafsirkan Mujahid, Ikrimah, As-Sidi dan Abu Hazrah. 

Ayat diturunkan kepada Rasulullah sedikit demi sedikit berdasarkan situasi, seringkali turun sebagai jawaban atas suatu permasalahan dengan hikmah tertentu. Oleh sebab itu turunnya ayat tidak berurutan. Yang dimaksud ” tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan” adalah Al-Quran yang berada di Lauh Mahfuz, karena Al-Quran yang ada di dunia, yang jumlahnya  tak terhitung banyaknya ini dapat disentuh oleh semua orang, baik Muslimin yang suci maupun yang tidak suci juga Kafirin. 

Selanjutnya dengan petunjuk Jibril as, setiap ayat yang turun diletakkan dan diatur sesuai dengan Al-Quran yang berada di Lauh-Mahfuz. Jadi bukan atas kehendak Rasulullah SAW! Adapun tentang adanya perbedaan jumlah ayat dalam Al-Quran, hal ini disebabkan adanya pengulangan. Hitungan 6236 ayat adalah hitungan tanpa memperhitungkan pengulangan ayat yang ada, sedangkan 6666 ayat bila dihitung semua ayat-ayatnya.  

Ironisnya bila pada Perang Pemikiran atau Al-Ghazw Fikri, musuh adalah jelas, yaitu orang-orang kafir, orang yang tidak mau dan enggan mengakui keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT, tidak demikian dengan hal diatas. Isu Pluralisme, Sekularisme dan Liberalisme justru dilemparkan oleh orang-orang yang mengaku dirinya Muslim. Mereka ini bahkan adalah orang-orang yang notabene berpendidikan tinggi dalam ilmu agama Islam. Kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang mendapatkan pendidikan Islamnya di negara Barat. Dari sanalah mereka mendapatkan tokoh dan panutan baru, yaitu Nasr Hamid Abu Zayd, seorang guru besar di Leiden, Belanda. Abu Zayd adalah intelektual asal Mesir. Ia menyelesaikan pendidikannya hingga S3 di Universitas Kairo, Mesir jurusan sastra Arab dan sempat mengabdi sebagai dosen di almamaternya. Pada tahun 1978, ia memperoleh beasiswa untuk penelitian doktoralnya di Institute of Middle Eastern Studies, University of Pennsylvania, Amerika Serikat. Sekembali dari negri ini, Abu Zayd menulis sejumlah buku. Pada tahun 1992 ia mengajukan promosi untuk menjadi guru besar di Universitas Kairo namun ditolak. Ia dianggap tidak layak menjadi professor karena buku-buku yang ditulisnya banyak yang melecehkan ajaran Islam. Salah satu oleh-oleh yang dibawanya adalah ilmu Hermeunetika. Ia kemudian protes dan membawa masalahnya ke pengadilan, namun kalah. 

Dan tak lama kemudian para khatib di sejumlah mesjid-mesjid besar Mesirpun menyatakan bahwa Abu Zayd telah murtad. Merasa tidak lagi diterima di negerinya, Abu Zayd beserta keluarganya pergi menuju Spanyol kemudian menetap di Belanda. Ironisnya di Negara tersebut ia justru disambut sebagai pahlawan dan langsung ditawari kursi professor prestisius di universitas di Leiden! Tak hanya itu, selang beberapa waktu kemudian perguruan-perguruan tinggi di Berlin dan Amerika Serikatpun tidak mau ketinggalan, mereka ikut menawarkan jabatan-jabatan penting di kampus-kampus mereka. 

“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul“, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu”.(QS.An-Nisa’(4):61). 

Rasulullah bersabda, bahwa umat Islam akan terpecah kedalam 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu yaitu, “kelompok yang mengikuti apa yang aku (Rasulullah) dan sahabatku lakukan”. 

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka ”. ( QS. An-Nisa’(4):145). 

5. Munculnya perpecahan dan  nabi-nabi palsu. 

Dari Irbadh bin Sariyah ra, ia berkata :” Pada suatu hari setelah shalat Subuh Rasulullah saw menasehati kami dengan suatu nasehat yang membuat kami menangis dan sedih. Lalu ada seorang yang berkata  : “ Ya, Rasulullah ini adalah pesan perpisahan, lalu apa yang anda wasiyatkan kepada kami ? Rasulullah menjawab :”Aku wasiyatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah swt dan selalu mendengar dan taat (kepada pemimpin) meskipun pemimpin itu seorang budak Habasyi. Maka barangsiapa yang hidup (panjang umur) akan melihat banyak ihtilaf (perbedaan), maka berhati-hatilah terhadap hal-hal yang baru (bid’ah), karena sesungguhnya bid’ah itu sesat. Maka barangsiapa diantara kalian yang menjumpai masa itu maka berpegang-teguhlah dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’Arrosyidiyin, peganglah erat-erat dan jangan sampai lepas”. 

Hadis diatas menunjukkan bahwa perbedaan diantara   sesama umat Islam memang tidak  dapat dihindarkan. Namun perbedaan yang beresiko memunculkan perpecahan  apalagi yang tidak sesuai lagi dengan sunnah Rasulullah dan apa yang telah dicontohkan para Khulafa’Arrasyidin ( Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra, Ustman bin Affan ra dan Ali bin Abi Thalib ra)  harus dihindari. Perpecahan ini bahkan sesungguhnya telah mulai terlihat begitu  Rasulullah memasuki hari-hari akhirnya. 

“Sesungguhnya akan ada tiga puluh orang pendusta di tengah umatku. Mereka  semua mengaku nabi. Padahal, aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi sesudahku.” 

Hadits ini diriwayatkan lebih dari satu orang diantaranya adalah Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Bukhari-Muslim juga meriwayatkannya walaupun  dengan redaksi berbeda. 

Pada masa akhir kerasulan, di Yaman muncul seorang yang mengaku bahwa dirinya telah mendapatkan wahyu untuk meneruskan ajaran Rasulullah. Namun tak lama kemudian nabi palsu tersebut segera ditangkap dan diadili. Kemudian muncul lagi  dari Bani Asad, seorang bernama Thulaihah bin Khuwailid bin Naufal. Pada tahun 9 H, dia datang bersama kaumnya kepada Rasulullah saw dan menyatakan keislamannya. Ketika Rasulullah sakit keras, ia memproklamirkan dirinya sebagai nabi.   Thulaihah dan pasukannya pernah beberapa kali bertempur dengan kaum Muslimin namun selalu kalah. Kemudian bersama istrinya, ia melarikan diri ke Syam. Beruntung di tempat tersebut ia mendapatkan hidayah dan kembali ke pangkuan Islam. Thulaihah mati syahid dalam Perang Nahawand tahun 21 H. 

Nabi palsu yang paling sering disebut-sebut namanya adalah Musailimah bin Tsumamah bin Habib Al-Kadzdzab, seorang laki-laki dari Yamamah. Ia berhasil mendapat pendukung yang banyak hingga dikhawatirkan membahayakan ajaran dan aqidah Islam. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, orang tersebut memberontak dan menolak perintah zakat hingga Abu Bakar terpaksa mengirim pasukan untuk memeranginya. Dalam peperangan ini pihak Muslim kehilangan banyak sekali penghafal Al-Quran. Ini yang menyebabkan Umar bin Khattab menyarankan Abu Bakar agar segera memerintahkan para sahabat mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran yang kemudian pada masa Ustman bin Affan dibukukan hingga seperti sekarang ini. 

 Pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan Al-Umawi, juga ada nabi palsu bernama Al-Harits bin Said Al-Kadzdzab. Dulunya, ia adalah seorang zuhud yang ahli ibadah. Namun sayang, ia tergelincir dari jalan Allah dan mengikuti jalan setan. Ia didatangi iblis dan diberi ‘wahyu.’ Ia bisa membuat keajaiban2 laksana mukjizat seorang nabi. Saat musim panas, ia datangkan buah-buahan yang hanya ada pada musim dingin. Dan ketika musim dingin, ia datangkan buah-buahan musim panas. Sehingga, banyak orang yang terpesona dan mengikuti kesesatannya. Akhirnya ia ditangkap dan oleh Khalifah Abdul Malik disuruh bertaubat. Sejumlah ulama didatangkan untuk menyadarkannya. Namun peringatan  tersebut tidak diindahkannya hingga khalifah terpaksa membunuhnya. Hal ini dilakukan agar menjadi peringatan bagi yang lain karena dapat merusak aqidah dan ajaran Islam yang sesungguhnya. 

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.” (Al-Ahzab: 40). 

Namun hingga detik ini masih saja ada orang yang datang dan mengaku sebagai nabi. Ahmad Gulam Mirza adalah satu diantaranya. Ia mengaku sebagai nabi baru setelah Rasulullah saw  dan  mengaku dirinya sebagai Imam Mahdi. Ia mendirikan sebuah sekte aliran sesat bernama Ahmadiyah pada tahun 1889.  Ia lahir di India pada tahun  1835 dan meninggal pada  1908 di Lahore. Ia menafsirkan dan menambah-nambahi ayat Al-Quran hingga sesuai dengan keinginan dan kemauannya. Ahmadiyah sendiri masuk ke Indonesia pada tahun 1922. Sekte ini memiliki kitab sucinya sendiri, yaitu “Tazkirah” yang kesuciannya diakui sama dengan Al-Quran! Ia juga menyatakan bahwa ada tanah suci selain Makkah dan Madinah, yaitu Qadyani dan Rabwah di India. Sesungguhnya sekte ini awalnya dibentuk sebagai taktik politik Inggris dalam rangka menaklukkan rakyat India ketika itu. Tujuan  utamanya adalah memberantas dan membekukan ajaran jihad yang dilakukan rakyat Muslim India untuk melawan penjajahan di negrinya.  

Disamping Ahmadiyah, beberapa aliran sesat sebenarnya juga telah ada sejak lama. Khowarij dan Syi’ah adalah diantaranya. Syi’ah sendiri terpecah menjadi beberapa kelompok yang saling bertentangan. Ada yang berpendapat Syi’ah terpecah hingga menjadi 70 kelompok namun ada yang berpendapat hingga 300 kelompok. Diantara kelompok yang terbesar  adalah Az-Zaidiyyah. Hanya kelompok ini yang memiliki pemahaman sedikit mendekati Ahlu sunnah wa jamaah. Namun pada dasarnya, Syi’ah hanya mengakui ahlu bait (keluarga Rasulullah) sebagai pemimpin Islam dan Ali bin Abi Thalib adalah penerus kenabian. Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi Yaman adalah orang yang paling sering dituding sebagai penyebar aliran ini. Ialah yang menyebar fitnah bahwa para sahabat, antara lain  Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, Aisyah ra amirul mukminin adalah orang-orang yang sesat. Oleh karenanya kaum Syi’ah merasa bahwa Al-Quran yang ada saat ini tidak lagi asli karena dikumpulkan dan dibukukan pada masa pemerintahan mereka. Kaum Syi’ah juga hanya mempercayai hadis yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib.    

Sementara kaum Khowarij adalah kelompok yang cenderung tidak mau mempercayai sunnah/hadits Rasulullah (biasa juga disebut sebagai kelompok Ingkar Sunnah) darimana dan siapapun sumbernya, baik shoheh maupun tidak. Kelompok ini terpecah menjadi beberapa kelompok lagi. Diantaranya adalah mereka yang menyebut diri sebagai Submitter. ( baca : http://vienmuhadi.com/2010/01/21/ketika-ayat-mutasyabihat-di-takwilkan-rasyad-khalifa/ )

Perpecahan terus terjadi hingga detik ini. Belakangan ini muncul ucapan dari seorang pengamat intelejen di sebuah pertemuan di kota Semarang, Jawa Tengah. Tanpa disertai bukti, ia menyatakan  bahwa zakat di Indonesia digunakan untuk membiayai kegiatan terorisme. Jelas ini adalah fitnah. Setelah jihad yang sekarang ini seolah telah menjadi momok menakutkan bahkan bagi telinga Muslim sekalipun, kali ini zakatpun tampaknya dicoba untuk diguncang dan diobok-obok keberadaannya. Padahal ayat tentang zakat jelas peruntukannya. Kembali hal ini membuktikan betapa syaitan begitu telah mampu menghalangi seluruh jalan menuju kebenaran. Hanya keimanan dan terus belajar mendalami serta mengkaji ayat-ayat Al-Quran serta sunah Rasulullah sajalah yang dapat menyelamatkan seseorang dari godaan dan bisikannya.   

Read Full Post »