Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Equal Right Act’

Menurut berbagai sumber, gerakan Feminis terbagi atas 3 gelombang. Gelombang pertama terjadi antara akhir abad 19 dan awal abad 20. Gelombang ke 2 antara tahun 1960 dan tahun 1980 sedangkan gelombang ke 3 atau terakhir dimulai sejak tahun 1990an hingga saat ini. Banyak sekali hal-hal yang diperjuangkan gerakan ini, mulai dari tuntutan hak atas perlindungan perempuan dari kekerasan rumah-tangga, pelecehan seksual dan perkosaan, persamaan hak perempuan dalam bidang pekerjaan termasuk cuti hamil dan persamaan gaji, hak politik seperti hak dalam pemilu dan hak mendapatkan kedudukan di parlemen hingga hak ‘pribadi keperempuanan’ seperti hak untuk menggugurkan kandungan, penggunaan alat kontrasepsi serta hak mendapatkan pelayanan pasca melahirkan yang berkwalitas. Pencetus ide dan pemikiran-pemikiran diatas sebagian besar adalah perempuan-perempuan kelas menengah Inggris, Perancis dan Amerika Serikat.

Adalah Sojouner Truth, seorang bekas budak kulit hitam berkewarga-negaraan Amerika. Dialah yang pertama kali menyuarakan dan membeberkan bagaimana perbudakan, terutama perbudakan perempuan di negaranya telah begitu mendarah daging. Ia menceritakan bahwa sejak kecil(kedua orangtuanya juga budak) telah dijadikan budak yang dengan semena-mena dapat dan boleh diperjual belikan. Ia telah diperlakukan dengan tidak adil seolah-olah ia bukan manusia yang juga memiliki kemauan dan keinginan tertentu.

Pada tahun 1851, Truth berpidato didepan khalayak ramai di Akron, Ohio dan pidatonya ini menjadi amat terkenal dengan sebutan ” Ain’t I a Woman?”. Masa inilah yang kemudian disebut sebagai gelombang pertama gerakan Feminis. Padahal dunia Islam 14 abad silam telah memperingatkan hal ini. Islam memang tidak secara langsung menghapus perbudakan karena perbudakan telah begitu mendarah daging di seluruh belahan dunia. Disamping itu, perbudakan pada masa lalu kadang kala bisa saling menguntungkan, dengan catatan bila keduanya saling menghormati dan tidak berlebihan. Oleh karenanya Islam menghapus perbudakan ini dengan cara bertahap. Diantaranya yaitu dengan mengganjar pahala yang banyak bagi orang yang mampu memerdekakan seorang budak.

“…sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa”. ( QS.Al-Baqarah(2):177).

Sedangkan gelombang ke dua terjadi antara tahun 1960an hingga tahun 1980an. Gelombang ini di Amerika Serikat semakin keras bergaung dengan diterbitkannya buku “The Feminine Mystique” yang ditulis pada tahun 1963 oleh Betty Friedan, seorang tokoh Feminis, penulis berkebangsaan Amerika. Ia memprotes mengapa perempuan hanya ditugasi pekerjaan mengurus anak dan pekerjaan tetek bengek rumah tangga. Buku ini ternyata berdampak luas, lebih-lebih setelah Friedan membentuk organisasi wanita bernama ”National Organization for Woman“ (NOW) di tahun 1966.

Gemanya kemudian merambat ke segala bidang kehidupan. Dalam bidang perundangan, tulisan Fredman berhasil mendorong dikeluarkannya ”Equal Pay Right” sehingga kaum perempuan bisa menikmati kondisi kerja yang lebih baik dan memperoleh gaji sama dengan laki-laki untuk pekerjaan yang sama, dan ”Equal Right Act” dimana kaum perempuan mempunyai hak pilih secara penuh dalam segala bidang. Pada masa ini pula terbentuk organisasi perempuan terbesar di dunia yaitu ” Women’s Liberation” pada tahun 1964.

Yang tak kalah menarik adalah sebuah peristiwa yang terjadi pada tahun 1968. Pada saat itu sedang berlangsung pemilihan Miss America, sebuah kontes pemilihan ratu kecantikan se-Amerika di Atlantic City, AS. Tiba-tiba ratusan aktifis yang menamakan dirinya dari gerakan feminis memprotes kegiatan pemilihan tersebut. Mereka beranggapan bahwa pemilihan tersebut sangat merendahkan martabat perempuan.

Adalah Germaine Greer, seorang jurnalis berkewarga-negaraan Australia yang pertama kali mempertanyakan kepentingan seorang perempuan mengenakan ‘bra’. Sesuatu yang dianggapnya merepotkan. Pada peristiwa tersebut dilaporkan bahwa mereka membakar sejumlah perangkat ’kecantikan perempuan yang membebani ’ mereka, diantaranya yaitu sejumlah sepatu berhak tinggi, ’wig’ alias rambut palsu, kosmetika, ’korset’ dan lain-lain termasuk ’bra’! Mereka membuang barang-barang tersebut kedalam sebuah wadah yang mereka namai ‘ The Freedom Trash Can’ sebelum membakarnya. Peristiwa yang kemudian dikenal dengan nama ‘The Bra Burning’ ini mengawali sebuah trend dimana kaum perempuan memilih ber‘less-bra’.

Gerakan Feminis gelombang ke tiga pada tahun 1991, ditandai dengan dimenangkannya sebuah kasus yang memperkarakan seorang calon anggota the US Supreme Court yang melakukan pelecehan tehadap perempuan. Salah satu pendiri gerakan gelombang ini adalah Rebecca Walker, seorang penulis Yahudi lesbian berkebangsaan Amerika. Dalam perjalannya gerakan ini terus berkembang sesuai tuntutan dan kebutuhan. Gerakan ini memiliki filosofi dan aliran yang amat beragam, diantaranya yaitu Feminis Contemporary, Feminis Liberal, Feminis Post Modern, Feminis Anarkis, Feminisme Radikal dan lain-lain.

Sebagai contoh Feminis Anarkis. Aliran ini sebenarnya sebuah paham politik yang mencita-citakan masyarakat sosialis dan menganggap negara dan laki-laki adalah sumber permasalahan yang sesegera mungkin harus dihancurkan. Sedangkan Feminisme Liberal ialah pandangan untuk menyadarkan bahwa akar ketertindasan dan keterbelakangan pada perempuan sebenarnya disebabkan oleh kesalahan perempuan itu sendiri. Perempuan harus mempersiapkan diri agar mereka bisa bersaing di dunia dalam kerangka ’persaingan bebas’ dan punya kedudukan setara dengan lelaki.

Aliran ini berhasil menggiring kaum perempuan keluar rumah, berkarier dengan bebas dan tidak tergantung lagi pada lelaki. Akar teori ini bertumpu pada kebebasan dan kesetaraaan rasionalitas. Perempuan adalah makhluk rasional, kemampuannya sama dengan laki-laki, sehingga harus diberi hak yang sama dengan laki-laki. Menurut penganut aliran ini permasalahan terletak pada kebijakan negara yang bias gender. Oleh karena itu, pada abad 18 sering muncul tuntutan agar perempuan mendapat pendidikan yang sama, di abad 19 banyak upaya memperjuangkan kesempatan hak sipil dan ekonomi bagi perempuan, dan di abad 20 organisasi-organisasi perempuan mulai dibentuk untuk menentang diskriminasi seksual di bidang politik, sosial, ekonomi, maupun personal.

Sedangkan Feminis Radikal, tujuan utamanya adalah melawan kekerasan seksual dan industri pornografi. Aliran ini bertumpu pada pandangan bahwa penindasan terhadap perempuan terjadi akibat sistem patriarki. Tubuh perempuan merupakan objek utama penindasan oleh kekuasaan laki-laki. Oleh karena itu, feminisme radikal mempermasalahkan antara lain tubuh serta hak-hak reproduksi, seksualitas (termasuk lesbianisme) dan seksisme.

Di Indonesia, nampaknya gerakan Feminis belum sejauh gerakan teman-teman mereka di Barat. Namun bila tidak di antisipasi dengan baik tidak mustahil akan menyamai rekor mereka. Saat ini yang jelas telihat mencolok dan hampir merata di seluruh pelosok tanah air adalah mewabahnya perempuan pergi bekerja. Tidak peduli apakah ia dari kalangan berpendidikan maupun tidak, dari kalangan mampu maupun tidak, dengan tujuan mencari uang, mengejar karir maupun sekedar mengisi waktu luang.

Diluar itu, gerakan Feminis Indonesia tidak terlalu menonjol atau minimal hanya terdapat di kota-kota besar tertentu. Diantaranya adalah dengan terjun kedalam dunia politik, membantu kaumnya melek hukum, memberikan konsultasi kesehatan, mengantisipasi kekerasan terhadap kaumnya dll.

Ada beberapa alasan mengapa perempuan Indonesia merasa harus bekerja di luar rumah, diantaranya : 1. Karena tidak ada laki-laki dalam keluarga. (bisa perempuan lajang atau janda). 2. Suami tidak bekerja. 3. Suami bekerja namun tidak mencukupi kebutuhan. 4. Ingin mengamalkan ilmu. 5. Tidak ingin tergantung suami.6. Atas kemauan suami. 7.Mengisi waktu luang 8. Lain2.

Advertisements

Read Full Post »