Feeds:
Posts
Comments

Hari ini hari Jum’at, hari libur bagi rata-rata negara Timur Tengah.  Namun demikian suasana kampus tidak banyak berbeda dari suasana hari-hari biasa. Bedanya bila pada hari biasa adalah sekitar ruang belajar-mengajar  yang ramai maka pada hari Jumat adalah areal sekitar masjid kampus yang ramai. Biasanya para mahasiswa yang tinggal di asrama dan apartemen sekitar kampuslah yang memadati areal ini. Banyak kegiatan yang mereka lakukan sebelum shalat Jumat dimulai.

Untuk menghindari kejenuhan kuliah para mahasiswa biasanya memanfaatkan hari tersebut dengan berbagai kegiatan olahraga. Kegaduhan sudah terlihat begitu shalat subuh selesai. Kegiatan olah-raga tertutup dipusatkan di Ruang Serba Guna yang letaknya tidak terlalu jauh dari lokasi Masjid. Banyak fasilitas yang terdapat di ruang ini. Ada futsal, pingpong, bulu-tangkis, tinju, karate dan lain-lain. Sedangkan bagi yang menyukai kegiatan olah-raga di ruang terbuka, pihak kampus menyiapkan lapangan sepak bola, lapangan tenis juga jogging track dengan kwalitas yang sangat baik.

Sementara banyak pula mahasiswa yang memilih mengikuti acara kajian khusus dengan materinya yang beragam. Acara ini boleh diikuti umum dan biasanya diselenggarakan di kelas-kelas kecil di ruang bawah tanah Masjid. Untuk membahas masalah-masalah sosial dan politik nasional maupun internasional yang sedang hangat terjadi biasanya mahasiswa mendatangkan tamu khusus dari luar kampus.

Selesai melakukan berbagai kegiatan di atas, para mahasiswa termasuk aku biasanya melakukan kegiatan pribadi sehari-hari seperti mencuci pakaian, memasak dan  berbelanja sebelum azan shalat Jumat dikumandangkan,.

***

Tanpa terasa 6 bulan telah berlalu ketika suatu hari aku terkejut menerima sepucuk surat dari Jakarta. Agak terkejut aku dibuatnya karena setahuku aku tak memberitahukan alamatku selama aku berada di Madinah kepada siapapun. Namun aku senang karena surat itu ternyata dari tante Rani. Dengan nekat ia hanya menuliskan nama panjangku beserta kewarnegaraanku dan alamat universitas dimana aku kuliah di atas amplopnya. Alhamdulillah bisa sampai, pikirku.

Dengan terburu-buru aku segera membuka  surat tersebut. Hatiku berdebar kencang, menduga-duga apa yang menyebabkan tante Rani yang selama ini tidak pernah membalas surat-surat yang kukirimkan tiba-tiba mengirim surat.

Jakarta, Desember 2007.

Mada  anakku,

Pasti kau terkejut menerima surat ini. Tante  nekat mengirim surat ini ke alamat kampus yang tertera di suratmu yang terakhir kau kirimkan beberepa waktu lalu. Maaf baru kali ini tante membalasnya. Bagaimana kabarmu ? Tante harap kau baik-baik saja dan selalu dalam lindungan Allah swt, amin.

Mada, ada dua hal penting yang ingin tante sampaikan padamu. Yang satu kabar baik sementara yang lain kabar buruk

Kabar baiknya, berkat doamu yang tulus akhirnya tante menyadari kesalahan tante. Dari semula tante tahu, kau adalah anak baik dan  jujur. Pikiranmu  bersih dan jauh dari prasangka buruk. Tante yakin itulah sebabnya Allah swt memilihmu untuk mendapatkan hidayah-Nya.

Ketahuilah Mada, beberapa hari yang lalu, mengikuti jejakmu tante telah bersyahadat di depan imam masjid Istiqlal untuk menyatakan keislaman tante.

( Masya Allah, pujiku dengan dada sesak menahan emosi. Aku langsung bersujud  syukur kepada-Nya , Terima-kasih Ya Allah Ya Tuhanku… telah kau kabulkan salah satu doaku, bisikku lirih).

Keputusan tersebut tante ambil setelah berbulan-bulan lamanya mencari keterangan dari berbagai sumber yang pantas dipercaya. Surat-suratmu adalah yang merupakan pemicu semua itu, terima-kasih anakku. Alhamdulillah.

Sedangkan kabar buruk yang ingin tante sampaikan adalah mengenai kedua orangtuamu. Sejak surat yang kau kirim mengenai keberangkatanmu ke Tepi Barat beberapa bulan yang lalu, ayahmu terus uring-uringan. Ia menyalahkan ibumu yang dianggapnya tidak dapat mendidikmu dengan baik. Ia makin sering pulang larut malam dalam keadaan mabuk dan dalam keadaan setengah sadar sering memukuli ibumu. Aku benar-benar kasihan pada ibumu.  Sebenarnya aku ingin sekali menasehatinya agar minta cerai saja. Bagaimana menurut pendapatmu, salahkah tante?

Mada anakku,

Masih ingatkah kau dulu sering bertanya padaku mengapa  ibumu tidak terlihat menyayangimu? Bahkan kau merasa bahwa kau hanyalah seorang anak angkat.. Sekarang kau sudah dewasa. Jadi tante rasa tidak ada lagi yang perlu disembunyikan darimu.

Ketahuilah olehmu nak, ibumu melahirkanmu pada  usia yang masih belia. Ia menikah dengan ayahmu karena terlanjur hamil dirimu. Ketika itu ayahmu yang usianya jauh lebih tua dari ibumu dalam keadaan mabuk menggauli ibumu. Sebenarnya ibumu mencintai ayahmu yang waktu itu memang merupakan sepasang kekasih namun ia tidak pernah menyangka dan sama sekali berharap bahwa ayahmu melakukan hal buruk yang sungguh memalukan tersebut. Ia selalu bermimpi bahwa perkawinan adalah sesuatu yang suci dan sakral.

Itulah sebabnya ibumu mulai kehilangan rasa cinta, simpatik sekaligus kasih sayang pada ayahmu justru pada awal pernikahan mereka. Sungguh ironis….

Maafkan tante Mada, bila hal ini menyakitkanmu namun itulah kenyataannya. Namun tante yakin di dalam hati ibumu yang paling dalam pasti tersimpan kasih sayang  yang teramat besar padamu, anak kandungnya.

Wasswrwb,

Tante Rani.

Pelan kulipat surat tersebut. Aku menarik nafas  panjang. Terngiang suara ibu “ Jangan pernah sakiti anakku” teriaknya sambil menangkis tangan ayah dari menampar pipiku. Itulah satu-satunya peristiwa yang membuatku merasa dicintainya. Terbayang wajah ibu yang hampir tak pernah ceria. Jadi inilah  yang menyebabkan wajah cantik ibu tampak tertelan oleh sesuatu yang menyelimutinya, sungguh ironis, pikirku sedih. Aku yakin inilah salah satu alasan mengapa Islam melarang orang berpacaran dan berkhalwat atau berduaan dengan lawan jenis. Godaan syaitan membangkitkan hawa nafsu birahi manusia terlalu kuat untuk dilawan.

Namun yang dapat kulakukan? Ayah  adalah orang yang keras  kepala dan tak pernah mau mendengar pendapat orang lain     apalagi aku anaknya, terlebih setelah dianggapnya sebagai anak durhaka.  Tetapi kasihan ibu, aku harus membela dan menghiburnya. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk membuktikan bahwa pengorbanannya melahirkanku bukanlah hal yang sia-sia. Ya, aku bertekad, aku harus melindunginya.

Yang kusayangi Tante Rani,

Alhamdulillah, puji syukur kupanjatkan hanya kepada-Mu Ya Rabb….

Senang sekali aku mendengar bahwasanya Allah swt telah memberi hidayah dan petunjuk-Nya kepada tante. Aku akan terus berdoa semoga Dia terus melindungi dan membimbing tante ke jalan yang dikehendaki-Nya. Teruslah mencari dan belajar …..jangan pernah merasa cukup…

Untuk ayah dan ibu, aku telah mengirim surat kepada ibu. Semoga Allah memberi jalan kepadanya. Terima-kasih banyak tante sudah mau menceritakan segalanya kepadaku. Titip ibu tante ya …

Wasswrwb.

Mada.

Kepada ibu aku menulis demikian :

Ibu yang kucintai,

Berkat doamu , aku dalam keadaan baik-baik saja.

Semoga ibu tidak marah karena tante Rani telah menceritakan apa  yang terjadi dengan ibu. Sebelumnya aku mohon semoga ibu mau memaafkanku karena aku telah membuat hidup ibu menjadi kacau dan menderita.

Ibu, banyak yang kupelajari dari ajaran baruku. Tahukah kau ibu? Ternyata Islam sangat menjunjung tinggi dan menghormati kaum perempuan terutama kaum ibunya. Seorang ibu patut mendapatkan kehormatan tiga kali lebih tinggi dari ayah karena pertama, seorang ibu dengan susah payah telah merelakan perutnya dititipi janin yang makin lama makin besar dan berat, kedua, dengan menahan rasa sakit yang sangat seorang ibu telah melahirkan anaknya dan ketiga, dengan penuh kesabaran dan kasih sayang ia telah menyusui serta mendidik anaknya.

Oleh karenanya seorang ibu tidak patut mendapatkan perlakuan kasar baik dari anak maupun suaminya apalagi orang lain. Dalam Islam, seorang suami wajib menyayangi, melindungi serta mengayomi istri dan anak-anaknya. Mereka berhak mendapatkan pendidikan sebagaimana kaum lelaki. Seorang suami harus bersyukur kepada istrinya karena pertama, istrinya telah menghalanginya dari  perbuatan zina, kedua, istrinya telah mengandung, melahirkan dan memelihara anak yang dikandung dari benihnya dan  ketiga, istrinya telah menunggui, menjaga harta dan kehormatannya serta menyiapkan makanan baginya.

Sebaliknya, lelaki sebagai seorang suami dan ayah yang telah bersusah payah membanting tulang bekerja mencarikan nafkah bagi  keluarganya, ia patut mendapatkan perhatian, kasih sayang dan rasa terima-kasih dari istri dan anaknya.

Ibu yang tersayang,

Maafkan bila aku belum sempat membalas segala jerih payah dan pengorbanan ibu selama ini tetapi aku janji suatu hari nanti aku akan membalasnya, insya-Allah.

Salam,

Mada.

Namun untuk sementara aku belum mempunyai keberanian untuk menulis surat khusus kepada ayah apalagi yang berkenaan dengan kasus ibu. Tetapi aku berharap semoga suatu saat nanti aku bisa melakukannya.

***

Pagi ini aku mendapat giliran memberikan kuliah subuh di masjid kampus. Kegiatan ini telah lama dilakukan, jauh sebelum aku datang bergabung di asrama mahasiswa ini. Secara bergilir setiap mahasiswa wajib melakukan hal ini.

“ Ini untuk  kepentingan kita sendiri. Sebagai seorang muslim adalah wajib hukumnya berdakwah, mengajak manusia dalam berbuat kebaikan dan melarang berbuat keburukan. Sampaikan walau hanya satu ayat, begitu Rasulullah bersabda dalam salah satu hadisnya. Apalagi kita sebagai seorang mahasiswa yang memang secara khusus dididik agar kelak menjadi seorang da’i. Berbicara di depan umum harus dibiasakan”, kata seorang seniorku di hadapan jamaah masjid kampus kami.

“Demi Allah, wahai paman! sekiranya mereka letakkan matahari di sebelah kananku dan bulan disebelah kiriku dengan maksud agar aku tinggalkan pekerjaan ini (menyeru mereka kepada agama Allah) sehingga ia tersiar (dimuka bumi) atau aku akan binasa karenanya, namun aku tidak akan menghentikan pekerjaan ini”.

Aku mengawali kuliah subuhku dengan kata-kata diatas. Pernyataan  ini adalah jawaban Rasulullah atas permintaan Abu Thalib, paman Rasul yang memintanya menghentikan dakwahnya.

Abu Thalib adalah paman Muhammad saw yang selama ini selalu melindungi dakwah Rasulullah. Namun karena terus menerus ditekan dan didesak masyarakatnya akhirnya ia meminta keponakan kesayangannya itu menghentikan dakwahnya. Namun setelah mendengar jawaban Rasul yang memperlihatkan keteguhan pendiriannya itu Abu Thalib sadar bahwa ponakannya itu tidak mungkin dihentikan. Maka akhirnya ia pun memutuskan untuk terus melindungi dakwah Rasulullah hingga akhir hayatnya “, kataku sambil memperbaiki letak peciku.

Adalah Abu Lahab salah satu paman Rasulullah. Ia adalah seorang yang terkenal sangat membenci ajaran Islam. Dialah yang kemanapun Rasulullah berjalan selalu menguntit sambil menjelek-jelekkan ajaran beliau. Orang ini pulalah yang menjadi salah satu pemrakarsa rencana busuk  terhadap  Rasulullah. Ia memprovokasi agar Rasulullah dibunuh walaupun akhirnya gagal. Sebagai seorang yang memiliki pengaruh dan jabatan penting di kota Mekkah pantas bila ia mentah-mentah menolak ajakan ponakannya itu. Ia sangat khawatir dan takut akan kehilangan kekuasaan dan jabatan. Karena dalam Islam yang patut ditakuti, disegani sekaligus dihormati hanyalah Allah swt “, demikian aku menutup kultumku yang merupakan singkatan dari kuliah tujuh menit, sebuah istilah yang diberikan teman-teman dari Indonesia untuk latihan berdakwah singkat di depan umum. Aku melirik jam tanganku “ Tak lebih dari lima menit. Tak apalah, lumayan untuk dakwah pertamaku” begitu pikirku menghibur.

***

Hampir setahun sudah aku tinggal di Madinah namun aku belum sempat juga memenuhi panggilan-Nya untuk berhaji. Aku merasa belum benar-benar siap menunaikan ibadah haji yang merupakan rukun Islam ke 5 yang wajib dikerjakan sekali seumur hidup bila mampu tersebut. Aku tidak ingin melakukan kesalahan dalam pelaksanaan ritual  ibadah ini karena kudengar  banyak orang yang merasa tidak puas melaksanakan ibadah haji sepulang dari Makkah padahal mereka telah mengeluarkan harta dan tenaga yang tidak sedikit. Ini yang ingin kuhindari.

Namun begitulah, orang hanya mampu berencana dan Allahlah yang  menentukannya. Beberapa hari yang lalu aku menerima surat dari tante Rani yang mengabarkan bahwa dirinya dan ibu yang telah menyusulnya bersyahadat, akan melaksanakan haji tahun ini. Allahu akbar!! O betapa lega dan senangnya hati ini mendengar kabar menyenangkan ini. Mereka berdua berharap dengan sangat agar aku dapat menemani mereka menunaikan ibadah haji tersebut. Tentu saja dengan alasan apapun tak kuasa aku menolaknya. Aku terlalu gembira, aku merasa sedang dimanjakan oleh-Nya. Dan sebagai rasa syukurku akupun segera berbenah diri membekali babak penting dalam hidupku ini.

***

Musim hajipun tiba. Tante Rani mengabari bahwa mereka akan datang ke Makkah 5 hari sebelum hari H nya. Mereka akan datang bersama kloter 85 dari DKI Jakarta. Beruntung aku dapat mengatur kedatanganku beberapa hari sebelum mereka datang. Jadi aku berkesempatan terlebih dahulu mengenal liku-liku kota Makkah.

Orang sering  menyebut kota suci ini dengan sebutan Tanah Haram karena tanah atau tempat tersebut  diharamkan bagi umat lain, selain umat Muslim. Didalam kota inilah bangunan persegi empat Ka’bah yang menjadi  kiblat umat Islam berdiri sejak ribuan tahun lamanya.

Saat ini bangunan tersebut berada di tengah-tengah lingkungan yang disebut dengan  Masjid Al Haram yang luasnya 356.800 meter persegi. Masjid yang mempunyai 4 pintu utama dan 45 pintu biasa serta biasanya buka 24 jam sehari ini  mampu menampung 1 juta  jamaah dalam satu waktu sholat berjamaah. Dengan demikian masjid ini  menjadi masjid  no 1 terbesar di dunia. Bila shalat di dalam masjid Nabawi memiliki keutamaan seribu kali dibanding masjid lain maka shalat di masjid Al-Haram ini seratus ribu kali lebih utama dari pada  shalat di masjid lain.

Jamaah haji Indonesia adalah jamaah terbesar di dunia. Hampir setiap tahun kwota  Indonesia yang 200 ribu itu selalu terisi penuh. Bahkan tahun-tahun belakangan ini seorang calon haji bisa-bisa harus mengantri 2 sampai 3 tahun sebelum akhirnya diberangkan ke tanah suci. Sebenarnya aku juga heran bagaimana mungkin ibu dan tanteku bisa secepat itu mendapatkan kesempatan emas ini. Itulah salah satu rahasia Ilahi yang selalu membuatku takjub. Ia dapat berbuat apapun yang dikendaki-Nya. Sungguh Allah Maha Besar.

Pertama kali aku melihat Kabah dengan mata kepalaku sendiri, terharu aku dibuatnya. Inilah lambang rumah Allah yang setiap hari dijadikan kiblat seluruh umat Islam di  dunia. Hari ini aku berada diantara ratusan ribu saudaraku seiman yang memadati  seluruh penjuru masjid dan pelataran masjid besar  ini. Kami semua berada di tempat ini untuk bertasbih memuji kebesarannya.

Labbaikka Allah humma labaik ….Aku sengaja memilih tawaf yaitu mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali pukul 2 dini hari agar tidak terlalu sesak. Namun ternyata perkiraanku salah. Masjidil Haram terutama di waktu musim haji tidak mengenal jam dan waktu. Jam berapapun sama keadaannya. Baik dini hari maupun di siang hari bolong ketika matahari sedang terik-teriknya membakar, pelataran masjid tetap penuh sesak. Orang terus bergantian tanpa henti bertawaf sambil memuji dan meng-agungkan-Nya. Dialah Allah azza wa Jalla, satu-satunya tuhan yang patut disembah. Tiada sekutu bagi-Nya. Mustahil bagi-Nya beranak dan diperanakkan. Tiada satupun yang menyerupai-Nya.

Esoknya, aku dikabari bahwa kloter ibu dan tanteku telah datang. Dengan hati berdebar aku segera mendatangi alamat mereka. Tak lama aku menunggu di lobby pemondokkan maka muncullah dua orang yang paling kusayang di dunia ini. Dengan mengenakan pakaian muslimah  berwarna putih lengkap dengan jilbab yang menutupi kepala, leher dan dada mereka, nyaris aku tak mengenali mereka. Aku segera mencium tangan dan memeluk keduanya.

Allahu Akbar”, pujiku, “ selamat ibu dan tante ya…sungguh merupakan hadiah besar buatku berjumpa dalam keadaan seperti ini”, kataku terharu.

Alhamdulillah”, sambut ibu terisak. “ Belum pernah aku merasa sebahagia ini”. Aku perhatikan ibu memang terlihat lebih kurus dari yang terakhir aku ingat namun sinar wajahnya sungguh berbeda. Sementara tante Rani terlihat lebih gemuk dari biasanya. Ia kelihatan sehat dan gembira sekali.

Kami mengobrol cukup lama. Aku bercerita banyak tentang pengalamanku selama  di Palestina. Sementara ibu lebih banyak diam dan mendengarkan ceritaku. Tante sekali-sekali mengomentari  ceritaku. Namun keduanya tak sedikitpun berbicara mengenai ayah. Jadi akupun tak berani bertanya khawatir mengganggu keceriaan kami.

***

Hari  ini adalah hari Arafah, hari puncak kegiatan haji. Rasulllah bersabda : “ Haji adalah Arafah “. Artinya kehadiran seorang jamaah haji di Arafah adalah mutlak. Bila  tidak maka batallah hajinya. Arafah adalah sebuah padang luas yang dikelilingi bukit-bukit. Di tempat inilah pada setiap tanggal 9 bulan Zulhijjah Allah swt datang secara  khusus mendekati tamu-tamu-Nya yang  berdatangan dari seluruh penjuru dunia  untuk memenuhi panggilan-Nya. Padahal nabi Musa suatu ketika dahulu pernah memohon agar diizinkan bertemu dengan-Nya. Namun ketika Dia baru menampakkan cahaya-Nya saja bahkan gunungpun hancur karena tak sanggup menerima Nur-Nya. Disalah satu bukit inipulah umat Islam meyakini bahwa nabi Adam as bertemu kembali dengan Siti Hawa untuk pertama kalinya setelah mereka diturunkan ke muka bumi.

Maka pada hari tersebut selepas subuh kamipun  bersiap-siap meninggalkan pemondokan haji. Tak satupun yang ingin tertinggal bahkan yang sedang sakit sekalipun akan dibawa menuju padang Arafah ini dengan mengendarai ambulans.  Dapat dibayangkan bagaimana lambat dan padatnya perjalanan  Makkah ke padang luas yang sebenarnya hanya berjarak 7 [i1] km ini bila sekitar 2 juta jamaah bergerak secara bersamaan menuju ke satu tujuan. Waktu tempuh yang dalam keadaan normal hanya memerlukan waktu beberapa menit itupun  berubah bisa menjadi hitungan jam.

Jalanan tersebut  tidak hanya  disesaki para jamaah yang berjalan kaki namun juga ratusan  bus yang atapnya disesaki jamaah dan puluhan  kendaraan pribadi. Laki-laki, perempuan dan anak-anak semua bercampur menjadi satu seolah membentuk lautan putih gelombang manusia. Pada waktu haji jamaah lelaki hanya diperbolehkan mengenakan 2 lembar kain tak berjahit. Satu lembar untuk menutup bagian bawah tubuh dan satu lagi untuk menutup tubuh bagian atas. Ini adalah sebuah cerminan kelak  ketika kita dikumpulkan di alam barzah, alam setelah manusia dibangkitkan kembali dari kematiannya setelah terjadinya hari akhir yaitu  hari kiamat. Imbalan berhaji  adalah surga bila Allah swt ridho terhadap ritual haji yang dikerjakannya tersebut. Inilah yang dinamakan haji mabrur.

Ya Allah terimalah amalan haji kami ini. Ya Allah berilah ridho-Mu pada kami bertiga. Masukkanlah kami kelak  kedalam surga-Mu dan mudahankanlah segala urusan dunia kami, amin Ya Robbal ‘alamin“, mohonku dengan khusuk.

***

Prof, betulkah bahwa fenomena yang terjadi di  Palestina saat ini  merupakan salah satu tanda makin dekatnya hari kiamat? Bagaimanakah bunyi hadis yang memperkuat hal tersebut ?“ tanya seorang mahasiswa  asal  Malaysia pada suatu hari di kelas hadis.

Pembahasan mengenai tanda-tanda hari akhir dan masalah Palestina adalah salah satu topik yang selalu menarik perhatian dan memancing banyak pertanyaan mahasiswa.

Coba kalian buka buku hadisnya. Siapa yang mau sukarela membaca hadis di hal 178 mengenai bab Hari Kiamat?”, tanya prof  Ali Yusuf menanggapi pertanyaan mahasiswanya.

Saya akan bacakan prof”, jawab Hanafi, seorang mahasiswa kulit putih asal Australia lantang. “ Dari Mu’adz bin Jabal. Aku  bertanya kepada Muhammad saw ,” Ya, Rasulullah terangkanlah kepada kami beberapa tanda-tanda kedatangan kiamat.”, Nabi saw bersabda : Setelah pembangunan Bait Al-Maqdis berarti itu adalah kehancuran Yatsrib ( Madinah). Dan setelah kehancuran Yatsrib itu berarti penaklukan Konstantin. Dan setelah penaklukan Konstantin itu berarti keluarnya Dajjal. Hadis diriwayatkan oleh  Ahmad dan Abu Dawud  “.

Hadis yang baru saja selesai dibacakan tadi banyak dikisahkan  di buku-buku yang membahas masalah hari akhir dan hubungannya dengan situasi belakangan ini, terutama yang terjadi di Palestina saat ini. Namun banyak diantara mereka yang tidak memandangnya sebagai sebuah situasi yang berkesinambungan. Padahal nabi sendiri mengatakan bahwa setiap peristiwa menyebabkan kemunculan peristiwa lainnya secara berurutan. Jadi ini adalah sebuah mata rantai. Perumpamaannya seperti untaian kalung yang lepas dari ikatannya. Jatuhnya sangat cepat tapi tetap dalam urutannya ”, terang prof sambil berjalan menuju jendela. Diluar tampak matahari menyorotkan sinarnya yang sangat panas.

Sebenarnya cukup banyak hadis yang menerangkan hari Kiamat dan hubungannya dengan prilaku orang-orang Yahudi saat ini. Coba perhatikan lagi hadis berikut” lanjut  prof..

Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga (bangsa) Rum telah sampai di A’maq dan Dabiq untuk menyerang kamu. Maka datanglah suatu pasukan yang akan menghadapi mereka dari kota Madinah, yang mana waktu itu adalah manusia-manusia terbaik di muka bumi ini ”.

Sebentar, prof “ sela seorang mahasiswa sambil mengangkat tangannya. “ Ya ?”, jawab profesor kurang senang karena mahasiswa tersebut memotong hadis yang sedang dibacakannya. “ Aku pernah membaca, katanya yang dimaksud A’maq dan Dabiq adalah dua  kota yang sekarang ini berada di Syria. Benarkah ?”.

Ya benar. Sebaiknya aku terangkan dulu hadis yang terpotong tadi ”, ucap prof setengah menyindir. “ Begini…hadis tadi sebenarnya kalau dibaca lengkap panjang sekali dan agak rumit. Hadis tersebut berasal dari Abu Hurairah dan diriwayatkan oleh shahih Muslim. Namun pada intinya hadis tersebut  sama isinya dengan yang pertama dibacakan tadi. Perbedaannya, pada hadis  kedua tidak diceritakan peristiwa pembangunan Al-Maqdis. Mengapa? Karena pada saat Abu Hurairah meriwayatkan  hadis tersebut, pembangunan Masjidil Aqsha yang memang telah  jatuh ke tangan Muslim telah terjadi. Bahkan pembangunan dan renovasi tersebut terjadi lebih dari satu kali yaitu pada masa Umayyah, Abbasiyah dan beberapa kerajaan yang pernah menguasai lokasi tersebut “, prof berhenti sebentar untuk meneguk air mineral yang ada dalam gelasnya.

“ Dalam hal ini Abu Hurairah tidak keliru. Yang diluar perkiraannya, pembangunan yang dimaksud hadis tersebut bukanlah pembangunan yang telah disaksikannya saat itu melainkan pembangunan yang kelak akan dilakukan oleh kaum Yahudi ratusan bahkan ribuan tahun setelah masa hidupnya. Apa alasannya ? Karena pembangunan yang telah disaksikan Abu Hurairah dan juga beberapa renovasi yang terjadi sesudahnya terbukti tidak mengakibatkan hancur dan runtuhnya kota Madinah. Buktinya ya ini… hingga detik ini kita masih berkumpul di Madinah bahkan tengah membahas hadis tersebut”, terang  prof.

“ Dengan kata lain, apa yang kita saksikan saat ini, yaitu usaha Zionis Israel untuk merebut Yerusalem serta  usahanya untuk menghancurkan pelataran Haram As-Syarif sekaligus menggantikannya dengan bangunan kuil mereka adalah sebuah fenomena awal yang dimaksud hadis-hadis di atas. Begitukah prof ?”, tanyaku tidak dapat menahan kesabaran untuk diam dan menunggunya melanjutkan  penjelasannya.

“ Ya, tepat sekali “, jawabnya. “ Jadi  pada dasarnya ada 5 hal pokok yang harus  kita cermati. Pertama  pembangunan Bait al-Maqdis oleh pihak Yahudi. Kedua kehancuran Yatsrib atau Madinah. Ketiga terjadi pertempuran antara pasukan Muslim dan pasukan Rum atau pasukan Yahudi dan tentu saja semua yang mendukungnya. Keempat penaklukan Konstantin atau Istambul sekarang ini dan kelima atau terakhir adalah munculnya Dajjal “.

“  Lalu apa yang dapat kita lakukan? Mungkinkah kita dapat mencegah atau minimal  mengulur  waktu terjadinya ? “ tanya seorang mahasiswa.

“ Mencegah pasti tidak mungkin. Ini  adalah ketetapan Allah. Namun mengulurnya….aku pikir mungkin saja. Menghambat agar untaian kalung tidak segera terurai dan berhamburan. Artinya kita, umat Islam harus sekuat tenaga  mencegah agar kaum Yahudi tidak masuk apalagi merusak Masjidl Aqsho dan sekitarnya.  Jangan lupa tanah Palestina adalah milik Muslim sejak ribuan tahun lalu. Kita tidak merebutnya dari tangan Yahudi atau siapapun karena ketika pasukan Khalid bin Walid  menaklukkan  daerah tersebut, Al-Aqsho dan sekitarnya adalah daerah  yang terbengkalai dan sama sekali tidak terawat. Bahkan pemimpin tertinggi Nasrani sebagai penguasa sebelum masuknya pasukan Islam, menyerahkan dengan sukarela kunci kota Yerusalem kepada khalifah  Umar bin khattab dengan syarat kaum Yahudi dilarang tinggal di sekitar kota”, tanggap sang  professor  menggebu-gebu.

Dan lagi, sepengetahuan saya, bukankah resolusi Dewan Keamanan tahun 1967 menegaskan bahwa Yerusalem adalah milik bangsa Arab atau minimal milik  internasional? ” , tanyaku.

Ya begitulah watak Yahudi, persis seperti yang disifatkan Al-Quran, keras kepala dan tidak suka memenuhi janji “, jawab prof geram.

Kembali ke hadis. Pada pertempuran yang  terjadi antara pasukan Rum  dan pasukan Muslimin nanti, Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah mengutarakan bahwa 1/3 tentara Muslim akan melarikan diri sementara  1/3 lainnya mati syahid dan 1/3 sisanya lagi akan memperoleh kemenangan. Sementara hadis lain dengan muatan yang kurang lebih sama menceritakan bahwa di tengah suasana pertempuran antara kaum Muslimin dan pasukan Rum nanti akan terjadi banyak kemurtadan. Hadis ini berasal dari Jabir dan diriwayatkan oleh Muslim”, lanjut prof.

“ Mengapa bisa demikian,  prof ? Bukankah pada salah satu hadis yang tadi dibacakan  disebutkan bahwa  pasukan yang keluar dari Madinah dan menghadapai pasukan Rum itu adalah pasukan yang  terbaik ?” tanya Hanafi, si bule Australia  penasaran.

“ Itulah yang sering menjadi pertanyaan para ahli hadis. Mereka sering berpikir mengapa hal ini bisa terjadi. Sebagian berkesimpulan hal tersebut mungkin terjadi  sebagai dampak dari dua hal penting. Pertama yaitu dihancurkannya Masjidil Aqsho serta dibangunnya kuil Yahudi di atas lokasi bekas penghancuran dan yang kedua hancur dan jatuhnya kota Madinah yang selama ini diyakini sebagai kota suci. Bagi mereka yang kurang kuat keimanannya  kedua hal diatas  bisa jadi cukup untuk menjadikannya sebuah alasan untuk keluar dan murtad dari Islam. Bayangkan, bila pasukan terbaik dari Madinah  saja bisa murtad bagaimana dengan muslim di belahan dunia lain ?”, ujar prof dengan nada  prihatin.

“ Semoga kita dan keluarga kita bukan satu diantara mereka “, sambungnya.  “ Amin “, jawab kami serentak.

“ Professor, bagaimana pula hubungannya dengan hadist berikut … Boleh saya bacakan ? “ , tanya seorang mahasiswa dan tanpa menunggu jawaban iapun membacakan hadis berikut :

“ Suatu saat, ketika para sahabat sedang berkumpul dan berbicang perihal hari Kiamat, datanglah Rasulullah. Segera mereka menanyakan hal tersebut, maka Rasulullahpun bersabda : “Tidak akan terjadi hari Kiamat sehingga kalian melihat sepuluh tanda : Terbit Matahari dari arah Barat, Kabut, Binatang melata, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, keluarnya Isa putra Maryam, Dajjal dan tiga gerhana : gerhana di timur, di Barat, dan di jazirah Arab dan api yang keluar dari jurang Adn yang akan menggiring manusia atau mengumpulkan manusia. Api itu akan menginap bersama mereka di manapun mereka menginap dan akan beristirahat siang dengan mereka tatkala mereka tidur siang. Hadist Riwayat  Shahih Muslim”.

Setelah menghela nafas sebentar, prof Ali Yusuf berujar: “ Jumlah hadis yang meriwayatkan tanda-tanda Kiamat tak terhitumg banyaknya. Ada   tanda-tanda besar  ada tanda-tanda  kecil. Namun demikian tidak mudah menafsirkan hadis-hadis tersebut. Penyebabnya beragam. Yang jelas seringkali hadis baru dapat dimengerti setelah sebuah peristiwa  benar-benar telah terjadi. Perlu kajian khusus untuk membahasnya. Itupun bisa keliru…Butuh waktu tidak saja dalam hitungan hari namun bisa saja hingga tahunan..”, prof berkata sambil berdiri membereskan buku-bukunya yang tergeletak di meja.

Aku melirik jam tanganku, pukul 14.30. Mustinya bel waktu istirahat sudah berbunyi. Namun tampaknya para mahasiswa tidak perduli. Mereka begitu antusias mendengar penjelasan  prof  Yusuf Ali yang sungguh menarik.

“ Satu  saja lagi  pertanyaan  prof..”, seru seorang mahasiswa sambil buru-buru mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

“ Baik .. .tapi cepat”, jawab prof sambil melongokkan pandangannya keluar jendela.

“ Mengenai Hari Kiamat dan hubungannya dengan  Ya’juj dan Ma’juj yang disebut dalam ayat 94-99 surat Al-Kahfi dan ayat 96-97 surat Al-Anbiyya. Banyak ulama kontemporer yang berpendapat bahwa Ya’juj dan Ma’juj adalah bangsa bengis bermata sipit yang mendiami daerah Asia Tengah. Mereka kemungkinan adalah bangsa Mongol, Rusia, Jepang, Cina atau mungkin Korea.  Menurut para ulama ini kejahatan yang akan disebarkan mereka bukanlah kejahatan umum seperti pada masa lalu. Kejahatan yang dimaksud itu tidak lain  adalah kejahatan yang menggunakan tehnologi tinggi. Contohnya  adalah kejahatan pemikiran seperti Kapitalisme dan Materialisme. Atau bisa juga yang dimaksud adalah Cyber Crime atau kejahatan dunia maya yang memang terbukti saat ini banyak terjadi di sekitar kita. Bagaimana menurut pendapat prof?” ,tanyanya.

“ Bisa jadi”, jawab prof sambil menurunkan kembali buku-buku yang telah dijinjingnya. “ Negara-negara Asia Tengah seperti Jepang, Cina dan Korea belakangan ini memang mulai menunjukkan kemajuan yang sangat mengejutkan. Tanda-tanda akhir zaman yang telah diisyaratkan Al-Quran dan hadis memang semakin menunjukkan kebenarannya. Untuk itu mari kita sebagai umat pilihan yang telah diberi kesempatan menyaksikan kebenaran tanda-tanda tersebut segera bersiap diri. Bekal terpenting adalah ilmu yang benar disamping tentu saja  keimanan yang tinggi. Tunjukkanlah itu … songsong hari akhir dengan penuh keyakinan..Jangan berpaling dan takut mati …Tegakkan kalimat tauhid dan patuhi perintah-Nya…Allah swt pasti akan membela kita di jalan yang benar .. Allahu Akbar.. Allahu Akbar ..Allahu Akbar “, serunya menutup kuliahnya.

***

Beberapa hari yang lalu aku menerima surat dari ibu yang mengabarkan rencana ibu untuk minta cerai dari ayah. “ Uztad mengatakan bahwa Allah swt melarang perempuan menikah dengan lelaki non muslim. Artinya, dengan masuknya ibu kedalam Islam otomatis pernikahan ayah dan ibu  batal”. Itu salah satu bunyi surat ibu. Terus terang aku cukup terkejut mengetahui keseriusan ibu dalam mengamalkan ajaran yang baru dipeluknya beberapa bulan itu. Aku salut kepadanya. Tentu tidak mudah bagi seorang perempuan mengambil keputusan seperti itu, apalagi ayah dan ibu telah menikah lebih  dari 20 tahun lamanya.

Aku hanya berharap semoga ayah dapat menerima keputusan ibu. Namun tampaknya jalan hidup ayah tidaklah semulus jalanku, ibu ataupun tante Rani. Karena tak sampai sebulan setelah ibu berkirim surat, aku mendapat kabar bahwa ayah meninggal dunia karena over dosis! Aku benar-benar tak mengira bahwa akan begini akhirnya. Menurut tante Rani, ayah tak mau menerima permintaan  cerai ibu. Ayah makin sering mengamuk dan membantingi segala  yang ada di rumah.

Malam terakhir sebelum petaka itu datang, tante Rani mendengar bahwa ayah dan ibu bertikai hebat di kamar. Terdengar suara ibu menangis ketakutan sementara ayah terus berteriak-teriak mengeluarkan suara kasar dan kotor. Tante Rani tidak tahan  hanya diam di luar kamar. Ia khawatir terjadi sesuatu yang membahayakan jiwa ibu. Akhirnya dengan dibantu satpam, tante mendobrak pintu kamar ke dua orangtuaku.

Didalam kamar terlihat sebelah tangan ayah  menggenggam sebelah pisau   sementara tangan satu lagi mengcengkeram lengan ibu. Ketika ia melihat kehadiran adiknya yang secara tiba-tiba masuk, ia kelihatan bingung. “ Lepaskan pisau itu “, teriak tante Rani histeris. “ Tak tahukah betapa kau telah membahayakan  jiwa Lani, istrimu? Ibu anakmu Mada?” lanjutnya.

Namun mendengar peringatan itu bukannya sadar, ayah malah tampak lebih kacau lagi. Rupanya kata Mada membuatnya  lebih sakit hati lagi. Ia menggeram dengan amat keras dan mulai akan mengayunkan pisaunya ke arah ibu. Tanpa berpikir panjang  tante Rani segera berlari mendekati keduanya dan meraih vas besar bunga yang berada di dekatnya lalu mengayunkannya ke arah tubuh besar ayah. Sejenak ayah terhuyung kehilangan sedikit keseimbangannya. Wajahnya terlihat merah padam sementara pandangan matanya liar. Rupanya ia dalam keadaan setengah mabuk.

Lebih baik kau tinggalkan rumah ini kak “, ancam  tante Rani. “ Pergi dan bermabuk-mabukanlah di luar sana. Kelakuanmu sungguh membikin malu nama keluarga besar kita”, tambah tante lagi.

Alhamdulillah berkat pertolongan Allah jua, sambil mengomel tak karuan ayahmu yang rupanya segera tersadar, mungkin berkat pukulan keras di tubuhnya, pergi meninggalkan ruangan. Namun keesokan paginya seseorang menelpon ibumu mengabarkan bahwa ayahmu dalam keadaan sekarat di sebuah hotel berbintang. Ia meminta agar ibu segera datang dan menjemputnya. Maka aku dan ibupun segera menjemput  dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Namun sayang, sebelum tiba di tujuan ayahmu sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Berdasarakan visum dokter yang memeriksanya ayahmu meninggal karena  over dosis.

Mada anakku

Ibumu sangat berharap agar kau mau datang dan memberinya penghormatan terakhir. Walau bagaimanapun ia adalah ayahmu. Maafkanlah ia. Disamping itu tante yakin ibumu sangat  memerlukan kehadiran dan dukunganmu. Ia tampak sangat terpukul dengan peristiwa tersebut. Urus secepat mungkin tiketmu. Walaupun ayahmu bukan seorang Muslim dan kemungkinan besar keluarga besarnyapun menginginkan upacara kremasi namun ibumu sebagai seorang yang telah memeluk Islam menginginkan agar upacara penyelenggaraan jenazah dapat dilaksanakan sesegera mungkin. Apa boleh buat meskipun tidak sesuai syariat yang seharusnya tidak boleh lebih dari 24 jam sejak kematiannya.

Wasswrwb.

Tante Rani.

Aku terduduk lesu. Sungguh tak kukira akan demikian akhir nasib ayah. Terus terang aku tak setuju pada yang mengatakan bahwa ini semua adalah  kehendak-Nya. Benar bahwa Allah swt memang telah menggariskan jalan hidup setiap manusia. Namun setiap manusia tanpa kecuali dibekali akal dan kemauan. Ia memiliki  potensi untuk memilih jalan mana yang ingin ditempuhnya, ketakwaan atau kemungkaran. Hidayah Allah swt akan diberikan kepada yang mau berusaha dan mencarinya. Sebaliknya Allah akan memberikan hidayah tersebut kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Maka manusia harus segera berebut mendapatkannya.

***

Tak terasa 4 tahun telah berlalu. Berkat usahaku yang gigih selama ini serta doa ibu dan tante Rani maka ridho Allahpun datang. Lima  hari lagi aku akan diwisuda. Kegembiraanku bukan cuma berhenti disitu. Selain ibu dan tante Rani, Nisa, mahasiswi fakultas kedokteran teman Lukman, gadis impianku  yang kupendam selama ini dan telah  kunikahi beberapa hari begitu aku dinyatakan lulus, akan datang menghadiri acara wisudaku bersama kedua orang-tuanya. Terakhir aku bertemu dengannya ketika ia bersama teman-temannya hadir dalam upacara pemakaman ayah.

Lama tak berjumpa, membuatnya semakin cantik dan membuatku makin jatuh hati. Aku rasa aku telah jatuh cinta padanya pada pandangan pertama ketika aku bertemu dengannya beberapa tahun yamg  lalu. Sejak itu aku tak pernah berhenti berdoa semoga Allah memberikan gadis itu sebagai jodohku yang terbaik. Pernikahan Rasulullah dengan Ummu Habibah yang ketika itu sedang hijrah ke Habasyahlah yang memberiku inspirasi untuk melamar dan menikahinya dari jarak jauh.

Walaupun kami tidak pernah berpacaran sebagaimana kebanyakan remaja saat ini namun aku memiliki keyakinan bahwa ialah jodohku. Karena dari Lukman aku tahu bahwa gadis manis tersebut berasal dari keluarga yang memegang teguh ajaran Islam. Kasih sayang dan cinta sejati akan dilimpahkan Allah swt sebagai pemilik  hati manusia kepada mereka yang mengikatkan hati dan dirinya dalam sebuah perkawinan syah yang dilaksanakan dalam rangka memohon ridho-Nya.

Nisa yang juga telah menyelesaikan kuliahnya itu rencananya akan  mengambil spesialisasi jantung  ke universitas Taibah. Universitas yang terletak di kota Madinah ini dikabarkan mempunyai berbagai fakultas, diantaranya Sains, Kedokteran dan Ilmu Sosial. Sementara aku sendiri juga masih ingin melanjutkan  kuliah hingga ke program doktoral.

……Maka jika kamu melihatnya berbaiatlah walaupun dengan merangkak di atas salju karena dia adalah khalifah Allah, Al-Mahdi”

Hadis diatas terasa mengiang-ngiang dalam telingaku. Aku dan Nisa sepakat dan berketetapan ingin menjadi bagian dari orang-orang terbaik Madinah yang siap melaksanakan jihad dalam rangka menegakkan kalimat Allah melawan pasukan kafir pimpinan manusia iblis Ad-Dajjal di pertempuran akhir zaman di bukit Zaitun, Palestina nanti. Aku berperang dengan pedang dan Nisa, belahan jiwaku, dengan keahliannya merawat dan membantu korban perang sebagaimana.yang pernah dilakukan para sahabat lelaki dan perempuan di zaman Rasulullah 15 abad yang silam.  “ Ya Allah saksikanlah……   Masukanlah dan pertemukanlah  kami kembali kelak di surgaMu….Amin Ya Robbal ‘Alamin “. Akupun kemudian bangun dari sujudku untuk segera berkemas ke bandara.  Pesawat yang ditumpangi orang-orang yang paling kucinta akan mendarat sore nanti.

***

Aku duduk tertegun di salah satu bangku bandara Jeddah sambil memegang erat surat kabar berbahasa Arab itu. “ Pasukan Israel telah menjatuhkan bom-bomnya ke Gaza dan sekitarnya. Korban mencapai lebih dari 300 orang meninggal, 1200an luka, hampir 100 diantaranya penduduk sipil, perempuan dan anak-anak ”. Tanpa sadar aku melirik jam tanganku, Minggu, 30 Zulhijjah 1429 H. Ini adalah hari terakhir tahun 1429. Dalam hitungan beberapa jam, tahun ini akan berubah menjadi tahun 1430 H. Tahun baru Islam yang melambangkan kemenangan dan akhir zaman kejahiliyahan. Tahun ini dihitung sejak hijrahnya Rasulullah dari Mekah ke Madinah pada tahun 1622 M.

Aku kembali memandang tak percaya pada surat kabar yang sekarang tanpa kusadari telah kucengkeram erat. Jantungku berdegup kencang. Kepalaku tiba-tiba terasa berat. “ Ya, Allah, mengapa  harus hari ini?” bisikku pilu.  Aku sadar  suatu saat hal ini pasti akan tiba. Akan tetapi aku sama sekali tidak pernah mengira kalau Israel bakal begitu kasar memilih hari kemenangan umat Islam untuk memukul telak bangsa Palestina  yang sudah nyaris jatuh tersungkur. Pikirankupun segera terbang melayang menuju jalan-jalan di Palestina menghapus bayangan ibu, tante Rani, Nisa….

Ini adalah takdirku, aku tidak boleh menghindar….. Aku penuhi panggilanmu Ya Allah Ya Robbi “, bisikku mantap.

Jakarta, Januari 2009 / Muharram  1430 H.

Sylvia Nurhadi

P E N G A N T A R

Dewasa ini dapat dilihat secara kasat mata bahwa kaum perempuan dari semua lapisan, baik formal maupun informal,  ke luar rumah untuk bekerja. Pekerjaan mereka sangat bervariasi, mulai hanya sebagai PRT (Pembantu Rumah Tangga), buruh pabrik, karyawan perusahaan, artis, staf pengajar, konsultan, perawat, dokter hingga staf ahli  bahkan jabatan setingkat mentri. Alasan mereka bekerjapun beraneka-ragam. Ada yang memang karena kebutuhan hidup, ada yang sekedar untuk menambah pendapatan suami/keluarga, ada yang untuk mengisi waktu luang, ada yang dengan tujuan mengamalkan ilmu dan ada pula yang demi mengejar karier dan cita-cita. Tetapi ada juga yang sekedar menuruti kemauan suami.

Namun disisi lain pengangguranpun merebak dimana-mana. Penyebabnya bermacam-macam. Mulai dari adanya kasus PHK (Pemutusan Hubungan Kerja),  lapangan kerja yang terbatas, rendahnya tingkat pendidikan, kurangnya ketrampilan atau pengalaman hingga sekedar alasan kemalasan semata! Padahal normalnya laki-laki dalam Islam seharusnya bertanggung-jawab atas ekonomi keluarganya. Bahkan wajib hukumnya. Jadi sungguh berdosa besar laki-laki yang tidak mau menafkahi keluarganya kecuali dengan alasan cacat atau sakit yang tidak memungkinkannya bekerja. Dari sini terkesan bahwa telah terjadi persaingan tersembunyi antara laki-laki dan perempuan dalam mendapatkan pekerjaan. Fenomena inilah yang mengusik hati penulis untuk mencoba mencari jawabnya.

Allah swt menciptakan manusia laki-laki dan perempuan sebagai pasangan. Sang Pencipta menghendaki agar mereka hidup berdampingan, saling membantu, saling melengkapi dan saling mengisi. Ini adalah bagian dari aturan/sistim Allah, sebuah fitrah. Perumpamaannya seperti tangan kanan dengan tangan kiri atau kaki kanan dengan kaki kiri. Atau pembagian tugas antara jantung, paru-paru, ginjal dll. Masing-masing memiliki tugas yang khas yang tidak mungkin saling menggantikan. Begitu juga halnya mengapa Ia menciptakan matahari dan bulan  yang bekerja sama dalam sebuah tatanan yang rapi dan teratur. Tidak mungkin keduanya saling iri atas tugas masing-masing. Matahari tidak mungkin mendahului bulan apalagi menggantikan fungsinya demikian pula sebaliknya.

Begitupun  alam semesta dan segala isinya. Bila aturan dan sistim ini dilanggar maka akan terjadi kerusakan yang dampaknya bisa jadi baru terasa puluhan tahun kemudian. Inilah yang sedang terjadi di bumi kita tercinta. Exploitasi alam diantaranya  penggalian barang-barang tambang, pengerukkan  pasir sungai dan pantai secara sembarangan memberikan dampak kerusakan yang luar biasa. Lingkungan dan ekosistim alam menjadi terganggu. Para ilmuwan sepakat bahwa hal ini adalah salah satu penyebab terjadinya pemanasan global dewasa ini.

Menurut pendapat penulis, persaingan mencari lapangan pekerjaan diantara laki-laki dan perempuan yang tejadi belakangan ini juga berpotensi merusak keseimbangan sistim alam/fitrah manusia. Sungguh tidak masuk akal, kedua jenis kelamin berlawanan ini berkutat pada satu bidang yang sama, yaitu mencari nafkah. Sementara bidang lain yang bisa dikatakan bahkan jauh lebih penting justru diterbengkalaikan. Perempuan bagaimanapun juga adalah kaum ibu yang sangat  diharapkan keberadaannya sebagai pendidik awal anak, sebagai pewaris generasi. Ini adalah sebuah kehormatan yang tidak seharusnya disia-siakan.

Jepang dikenal sebagai salah satu negara termaju  di dunia. Tahukah rahasia mereka? Ternyata bangsa ini adalah bangsa yang sangat menghargai kaum ibu. Mereka menganggap bahwa keberhasilan bangsa mereka disebabkan peran ibu dalam mendidik anaknya. Peran ganda seorang perempuan sebagai seorang ibu, terutama bagi anaknya yang masih balita, sekaligus sebagai perempuan pekerja dianggap ‘chuto hanpa’,  yaitu peran tanggung yang  tidak populer. Mereka lebih senang memilih menjadi ibu atau tidak sama sekali!

Jadi ibu adalah pilihan profesional.Hal ini didukung secara resmi oleh pemerintah. Oleh karenanya hak dan kewajiban masing-masing dilindungi oleh undang-undang. Dan demi mendukung kesuksesan masing-masing karir yang dipilih, pemerintah menyediakan sarana dan prasarana yang sama besarnya. Perempuan yang tidak/belum  menikah ataupun ibu yang tidak memiliki anak namun mempunyai minat, kepandaian dan kemampuan untuk berprestasi besar, mereka diberi kesempatan untuk menduduki  jabatan tinggi. Sementara perempuan yang mempunyai anak dan memilih menjadi ‘ibu’, pemerintah menyediakan fasilitas yang baik agar mereka dapat mendidik anak-anaknya tanpa khawatir kekurangan materi. Tak heran jika anak-anak di Jepang , laki-laki maupun perempuan, sangat menyayangi dan mengagumi ibu-ibu mereka. Para ibu dianggap sebagai jelmaan Dewi Amaterasu yang dipuja oleh bangsa Jepang.

”Barangsiapa yang mempunyai dua saudara perempuan atau anak perempuan kemudian ia berbuat baik kepada mereka selama bersamanya maka aku dan dia masuk surga seperti ini, sambil memperagakan kedua jari tangannya”. (HR Al Khathib).

Dengan kata lain, imbalan mendidik  kaum perempuan, di dunia  adalah kunci keberhasilan sebuah bangsa sedangkan di akhirat adalah surga. Karena dengan mendidik anak perempuan sejak dini dengan baik, berarti kita telah mempersiapkan calon ibu/calon pendidik yang akan mendidik anaknya dengan baik pula. Anak adalah generasi penerus dan pewaris bangsa serta agama. Di tangan para ibulah terutama bergantung akhlak, moral  serta prilaku mereka. Oleh karenanya wajib bagi perempuan untuk menjadikan dirinya pandai, terdidik serta ketauladanan bagi anak-anaknya.

Simak surat RA Kartini yang ditulis pada tahun 1902 berikut : ”Kami di sini meminta, ya memohonkan, meminta dengan sangatnya supaya diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukanlah sekali-kali karena kami hendak menjadikan anak-anak perempuan itu saingan orang laki-laki dalam perjuangan hidup ini, melainkan karena kami, oleh sebab sangat yakin akan besar pengaruh yang mungkin datang dari kaum perempuan-hendak menjadikan perempuan itu lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan oleh Alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu-pendidik manusia yang pertama-tama”. (4 Oktober 1902 Kepada Tn Anton dan Nyonya. Habis Gelap Terbitlah Terang terjemahan Armijn Pane. PN Balai Pustaka 1985).

Allah swt menciptakan perempuan dengan ciri khas rahim yang dimilikinya. Didalam rahim inilah tumbuh awal kehidupan janin. Rahim yang berarti kasih sayang mengisyaratkan bahwa kaum perempuan  dengan kasih sayang keibuannya adalah orang yang paling tepat  dan pas untuk mendidik serta merawat anak-anaknya.

Namun demikian, ini tidak berarti Islam melarang perempuan untuk beraktifitas di luar rumah. Bahkan setelah perempuan dapat menjalankan kewajiban dan memprioritaskan dirinya sebagai istri dan ibu, ia wajib berdakwah/mengajak lingkungannya menuju  kebaikan. Ia wajib mengajarkan ilmu yang dimilikinya dengan tujuan agar terbentuk masyarakat sosial yang beradab, santun, bersih  dan sehat. Ia diizinkan meninggalkan rumah selama keadaan aman, dengan syarat ia menutup aurat, dapat menjaga dirinya dengan baik dan menjauhkan diri dari fitnah serta suami mengizinkan.

Termasuk juga bekerja mencari nafkah dalam rangka membantu suami/keluarga bila suami memang  tidak dapat mencukupi kebutuhan pokok keluarga dan mengizinkannya. Maka jika  semua ini dikerjakan dalam rangka ketakwaan dengan tujuan agar seluruh anggota keluarga dapat dengan tenang menjalankan kewajibannya untuk mencari ridho’ Allah swt., amal ibadah tersebut akan dihitung sebagai sedekah istri/anak perempuan bagi suami dan keluarganya.

Penulis berharap semoga tulisan ini dapat menggugah dan menjadi bahan renungan bagi kaum perempuan dan pemerintah khususnya. Karena hal ini ternyata sangat relevan dalam mewujudkan cita-cita  Ibu Kartini dan sejalan pula dengan UU Pernikahan RI 1974, UU Perlindungan Anak 2002 bahkan sejalan dengan ajaran Islam serta seirama dengan hati nurani kaum ibu Indonesia pada umumnya.

Wallahu’alam.

Jakarta, Juli 2008.

P E N D A H U L U A N

Kata ’Islam’ berasal dari akar kata Salima-Yaslamu  yang berarti ’selamat’, ’sentosa’. Kata ini memiliki akar kata yang sama dengan kata ’Salaam’ yang berarti ’Damai’. Sedangkan Islam sendiri  berarti ’tunduk’, ’patuh’, ’berserah diri’, atau menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah SWT, Sang Pemilik, Sang Pencipta Alam Semesta dan segala isinya, agar tercapai keselamatan dan kedamaian di muka bumi serta keselamatan dari  siksa api neraka.

Oleh karena itu perintah utama yang disampaikan oleh seluruh Nabi dan Rasul kepada umat manusia sejak zaman nabi Adam as hingga Rasulullah Muhammad SAW sebagai nabi akhir zaman, tidak pernah berubah yaitu memurnikan ketundukkan, penyembahan dan penghambaan hanya kepada-Nya, tidak ada yang selain-Nya. Ini adalah ajaran Tauhid.

Islam juga berarti ’Diin’ yang berarti ’Aturan’ atau ’Sistim’ yang diberikan Allah SWT, yang terpaksa maupun tidak terpaksa, harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh seluruh mahluk yang ada di alam semesta ini termasuk langit, bumi dan  manusia. Perputaran bumi, bulan dan matahari, pergantian siang dan malam, siklus hujan, daya tarik antara gravitasi yang cenderung menarik semua benda ke pusat dan daya tarik sentrifugal yang cenderung menarik semua benda menjauh dari pusat adalah bagian dari sistim Allah. Ini semua adalah suatu demonstrasi pengorganisasian yang amat sempurna oleh Sang Maha Pengatur (Al-Maalik), Sang Maha Sempurna (Al-Kaarim) yang Maha Cerdas ( Ar-Rasyid )!

Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati“. (QS.Al-Fushilat(41):11).

Disamping itu kata ’Diin’ juga bisa bermakna ‘Agama ‘.

”…… Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.(QS.Yusuf(12):40).

Jadi sesungguhnya semua agama yang diturunkan melalui perantaraan para Nabi dan Rasul pada dasarnya adalah satu, yaitu Islam. Yang berbeda hanyalah syariat, cara penyembahan, yang sesuai dengan zaman dimana Sang Rasul diturunkan ditengah masyarakatnya. Allah berfirman melalui surah  Al-Baqarah berikut :

إِ131 Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam“.

132. Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam“.

133. Adakah kamu hadir ketika Ya`qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”

Islam yang dikenal sekarang ini adalah Islam sebagai agama yang diturunkan melalui Rasulullah Muhammad SAW  14 abad silam dengan kitabnya Al-Qur’an. Didalam kitab ini diterangkan bahwa Muhammad SAW adalah nabi sekaligus rasul penutup yang  diutus untuk seluruh umat yang ada di dunia ini. Allah SWT tidak akan mengutus lagi seorangpun Nabi maupun Rasul setelah itu.

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” .(QS.Al-Ahzab(33:40).

Artinya syariat yang dikehendaki dan diridhoi setelah adanya ajaran  Muhammad SAW hingga akhir zaman nanti hanyalah ajaran yang dibawanya tersebut. Sedangkan ajaran dan syariat yang dibawa para Nabi dan Rasul terdahulu hanya berlaku untuk masa yang telah lalu dan umat tertentu pula.

Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Al-Baqarah(2):134).

Orang yang menyerahkan diri kepada Allah SWT disebut Muslim.  Untuk menjadi Muslim seseorang wajib mengikrarkan dua kalimah shahadat ( kalimat persaksian), yaitu “Laa ilaha ilallah, Muhammadar Rasulullah” yang berarti “Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah“.

Islam adalah  sebuah agama yang universal, yang mengajarkan tata cara hidup, bagaimana membentuk masyarakat yang adil, damai dan sejahtera,  bagaimana harus menjaga alam, yang mengajarkan hubungan antara kehidupan nyata dan kehidupan akhirat. Islam  mengajarkan dan memberitahukan  bahwa kehidupan nyata di dunia ini adalah sebuah pertarungan untuk memperebutkan tiket menuju kehidupan akhirat.

Oleh karenanya seorang yang mengaku dirinya Muslim tidak mungkin dapat memisahkan kehidupan nyata di dunia ini dengan kehidupan akhirat karena akhirat adalah tujuan. Itulah satu-satunya alasan mengapa ia ada di dunia ini. Seorang Muslim minimal adalah pemimpin bagi dirinya sendirinya sendiri. Sang Pencipta telah menunjuk manusia sebagai khalifah / pemimpin bumi, oleh karenanya ia harus mempertanggung-jawabkan segala prilakunya  selama hidup di dunia ini.

Maka bagi dirinya segala sesuatu yang dikerjakan di dunia ini  adalah ibadah, suatu pekerjaan yang akan dinilai Sang Pemilik Alam Semesta, yang kemudian akan menjadi dasar pertimbangan layak dan tidak layaknya seseorang masuk surga atau neraka kelak setelah terjadinya Hari Akhir, Hari Kiamat.

Jadi jelas, Islam bukan sekedar agama sebagaimana agama lain yang dikenal umum selama ini, yang hanya mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya, yang hanya mengatur cara-cara sebuah peribadatan, yang hanya mengajarkan kehidupan sesudah mati dan memperkenalkan adanya alam ghaib yaitu alam akhirat. Singkat kata, Islam adalah panduan hidup, way of life.

Dengan demikian, maka seseorang yang mengaku dirinya Muslim atau Muslimah wajib baginya berhukum kepada hukum Islam secara keseluruhan. Ia tidak memilih-milih dan membeda-bedakan ayat dan hukum yang hanya sesuai dengan keinginan dan kepentingannya semata saat itu.

“…Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (QS.Al-An’aam(6:162).

Inilah ikraryang diucapkan setiap Muslim/Muslimah dalam shalatnya minimal 5 kali dalam sehari ketika ia membaca do’a Iftitah pada setiap awal shalat.