Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Nagasaki’

 “Sesungguhnya syaitan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya”. (QS.An-Nahl(16):99).

 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan”. (QS.Al-Maidah(5):35). 

Sesungguhnya bila manusia selalu waspada dan senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, kekuasaan syaitan terhadap diri manusia itu tiadalah berarti. Ini adalah janji Allah SWT. 

“Dia (iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil“.(QS.Al-Israa’(17):62). 

Namun sayangnya kebanyakan manusia terlalu berlebihan dalam mencintai kehidupan dunia dan mereka terlalu menurutkan hawa nafsunya. Ini yang mengakibatkan syaitan, sebagai pasukan dan pemuja Iblis, mudah mengganggu, mengelabui dan akhirnya menyesatkan manusia. Karena memang inilah tujuan syaitan, yaitu agar manusia menemani Iblis dalam siksa neraka jahanam. 

“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga)……”.(QS.Al-‘Araf(7):176). 

 “Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi”. (QS.Mujadillah(58):19). 

1. Jihad Psikis / Spiritual.

 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka”. (QS.Al-Hujuraat(49:15). 

Kata Jihad sering kali diartikan sebagai perang bersenjata menghadapi musuh secara terbuka di medan perang. Padahal bila kita perhatikan ayat-ayat Al-Quran sebenarnya tidak selalu demikian. Jihad juga dapat diartikan membelanjakan dan mengorbankan harta di jalan Allah sebagai perang melawan keserakahan. Zakat dan infak adalah contoh dari jihad dengan harta. Disamping itu, Islam mengenal jihad melawan hawa nafsu. Berbagai hawa nafsu seperti nafsu syahwat, nafsu amarah, sombong, dengki dan iri hati, bermalas-malas, makan berlebihan dan juga nafsu untuk selalu melawan perintah Allah adalah beberapa contoh nafsu yang harus diperangi, harus dikendalikan. Inilah yang dimaksud dengan jihad spiritual atau jihad psikis. Pada intinya dalam jihad spiritual yang harus dilawan adalah bisikan syaitan karena memang dialah yang ingin agar Allah memurkai kita, agar kita menemaninya ke neraka kelak. 

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS.Al-Ankabuut(29):45). 

Dan hanya dengan berpegang kepada tali Allah sajalah kita akan mampu melawan bisikan tersebut, yaitu dengan jalan membaca dan memahami Al-Quran dan kemudian mengamalkannya, diantaranya yaitu dengan shalat yang dikerjakan dengan hati yang bersih 

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya………”. (QS.Az-Zumar(39):23). 

Jadi untuk memenangkan permainan “The True Game” yang diciptakan-Nya tidak ada kata lain selain harus mengikuti aturan-aturan-Nya. Walaupun sebenarnya Dia tidak menjadikan aturan, baik itu larangan maupun perintah, tanpa hikmah. Contohnya sbb : 

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.Al-Baqarah(2):173). 

Berdasarkan pengamatan dan penelitian yang dilakukan belakangan ini ternyata terbukti bahwa babi adalah binatang yang lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya. Berbagai penyakit dibawanya, diantaranya kolera babi dan keguguran nanah yang dapat menyebabkan gangguan pada persendian. Penelitian ilmiah modern di Cina dan Swedia menyatakan bahwa daging babi merupakan penyebab utama kanker anus dan usus besar. Bahkan beberapa ilmuwan mengemukakan kecurigaan mereka bahwa ada kemungkinan daging babi adalah penyebab berbagai penyakit misterius seperti SARS/flue burung

Dan bila kita amati cara kehidupan babi dibanding binatang lain sebenarnya sungguh buruk. Binatang ini suka memakan segala kotoran termasuk kotoran manusia dan kotorannya sendiri. Bahkan dalam keadaan tertekan iapun tega memakan daging anaknya sendiri! Binatang ini juga diketahui suka melakukan hubungan sesama jenis alias homosex/lesbian dan tidak seperti binatang lain yang cenderung “sangat pencemburu”, babi tidak merasa keberatan bila betinanya diganggu jantan lain. Selain itu lemak babi adalah lemak yang paling tinggi kolesterolnya dibanding lemak binatang lain demikian pula darahnya, uric acid atau asam uratnya paling tinggi. Patut diketahui, sejak zaman nabi Musa as babi telah diharamkan untuk dikosumsi. (Imamat 11: 7-8). Demikian pula dengan masalah khamar

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Dan ta`atlah kamu kepada Allah dan ta`atlah kamu kepada Rasul (Nya) dan berhati-hatilah”. (QS.Al-Maidah(5):90-92).

 Pemakaian khamar (alkohol) dan berjudi disamping melalaikan manusia dari mengingat Allah sebetulnya juga memberikan kerugian yang banyak baik bagi sang pelaku maupun bagi orang disekitarnya. Itu sebabnya Allah SWT berfirman untuk menghindarinya agar kita beruntung. Dan Allah SWT juga mengingatkan kita agar supaya berhati-hati menghadapinya. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita mendengar berbagai keributan dan juga kecelakaan kendaraan yang disebabkan oleh para pemabuk. Mereka adalah para peminum segala macam alkohol yang memabukkan, yang membuat mereka kehilangan keseimbangan dan akal sehat. Berbagai kejahatan mulai pertengkaran, perselisihan, perselingkuhan hingga pembunuhan diawali oleh pengaruh alkohol. Jadi sungguh dampak pemakaian zat ini sebenarnya sudah demikian parah dan merisaukan masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Di sejumlah negara Barat yang notabene terbiasa mengkonsumsi alkohol, belakangan ini mulai mengawasi para pengendara kendaraannya dalam hal pemakaian alkohol. 

Allah berfirman: “……… Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.(QS.Thaa-haa(20):123-124). 

Allah SWT juga memperingatkan kita untuk selalu menggunakan hukum yang telah ditetapkannya. Syaitan akan senantiasa membisikkan manusia agar terus mengikuti kemauan hawa nafsunya, nafsu yang tidak didasarkan atas hukum Allah. Sesungguhnya syaitan telah masuk jauh kedalam hati orang-orang yang tidak menjadikan Al-Quran itu sebagai pegangan hidupnya. Mereka adalah sekutu iblis dari jenis syaitan manusia. Mereka ingin agar senantiasa menjadi pemimpin bagi orang-orang mukmin yang lemah. Berbagai cara akan digunakannya untuk menggiring orang-orang mukmin yang lemah ini agar dapat menemani mereka di neraka kelak. Inilah jihad yang amat sangat berat, jihad spiritual, kecuali bagi orang-orang mukmin yang berpegang kuat pada hukum-hukum Sang Maha Kuasa, Sang Maha Pencipta yang telah menjadikan manusia dan seluruh alam semesta. 

“dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka……”.(QS.Al-Maidah(5):49-51). 

2. Jihad Fisik / Jihad Jiwa. 

“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya”.(QS.At-Taubah(9):73). 

Jihad dengan jiwa adalah berperang di jalan Allah demi membela kebenaran yang hakiki, kebenaran sejati yang bukan berdasarkan pemikiran dan hawa nafsu manusia semata. Dialah yang Maha Mengetahui, Dialah Sang Pencipta segala yang ada di alam semesta ini, Dialah Sang Pemilik. Dengan demikian memang hanya Dialah Sang Kebenaran, Allah Azza wa Jalla, Tuhan Yang Satu. 

Allah SWT menyuruh manusia agar bersabar terhadap segala urusan. Sabar adalah ibadah dan Allah menyukai mahluknya yang memiliki kesabaran yang tinggi. Dan tidak seperti ibadah-ibadah lain yang memiliki ganjaran yang terbatas yaitu hingga 700 kali lipat, tidak demikian dengan sabar. 

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS.Al-Baqarah(2):261). 

Allah SWT tidak membatasi pahala orang yang bersabar karena sesungguhnya sabar adalah hakikat ibadah, yaitu inti dari ketundukkan, kepatuhan dan kepasrahan. 

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (QS.Az-Zumar(39):10). 

 Kesabaran dalam Islam tidak mengenal batas. Namun sabar yang bagaimanakah itu? Difinisi sabar dalam Islam yaitu menahan diri sesuai dengan tuntutan akal dan tuntutan syariah. Islam mengajarkan sebuah kedisiplinan yang tinggi. Islam bukan untuk dipermainkan. Siapa yang tidak mau menegakkan kebenaran dan keadilan berarti ia memusuhi Allah. Disinilah keimanan kita ditantang. 

“Barangsiapa diantaramu yang melihat kejelekan maka rubahlah dengan tangannya. Maka jika tidak sanggup maka rubahlah dengan perkataanya. Dan jika tidak sanggup rubahlah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman”.(HR Bukhari-Muslim). 

Allah SWT tidak menurunkan ayat jihad dengan jiwa pada awal diturunkannya Al-Quran. Padahal ketika itu Islam begitu dimusuhi dan ditentang. Namun Allah memerintahkan untuk tetap bersabar karena perang dalam Islam bukan ditujukan demi memenuhi nafsu amarah belaka. Sebaliknya perintah Allah untuk berperang dan memerangi orang-orang kafir baru ada setelah Rasulullah berdakwah lebih dari 12 tahun. Hal tersebut dikarenakan umat Islam tidak dapat bebas menjalankan perintah Allah SWT untuk beramal-ibadah dengan tenang. Karena dalam menjalankan ajarannya umat Islam memerlukan adanya sistim dan prinsip-prinsip Islam agar hak dan kewajiban mereka terlindungi dengan baik. Apalagi bila mereka sampai terusir dari tempat tinggalnya sendiri hanya dikarenakan mereka ingin menegakkan kalimat Tauhid maka satu-satunya jalan hanyalah melawan dan berperang. 

”Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”…..(QS.Al-Hajj(22):39-40).

 Rasulullah SAW berdakwah di Makkah secara sembunyi-sembunyi 3 tahun lamanya. Setelah itu turun ayat agar beliau berdakwah secara terang-terangan. Namun ajakannya menuju kebaikan, menuju penyembahan Tauhid yang benar, tidak disambut dengan baik. Sebaliknya Rasulullah dan para sahabat malah diejek, dilecehkan dan dianiaya. Sejumlah sahabat seperti Sumayyah dan suaminya disiksa kemudian dibunuh. Siksaan demi siksaan terus ditingkatkan. Kaum musyrikin yang keras kepala tersebut bahkan melakukan pemboikotan. Selama 2 atau 3 tahun para sahabat hidup dalam kesulitan baik dalam hal makanan dan minuman maupun berinteraksi dengan dunia luar.  Padahal mereka tidak berbuat kejahatan, mereka hanya ingin memurnikan penghambaan dan penyembahan kepada yang berhak.  Bahkan Rasulullahpun tidak luput dari ancaman pembunuhan sehingga akhirnya kaum Muslimin terpaksa menuju Madinah meninggalkan kota kelahiran mereka, Makkah, kota dimana mereka mencari nafkah kehidupan selama ini, meninggalkan sanak saudara, harta dan semua yang dicintai dan dimiliki.      

Namun di kota baru tersebut, kaum Muslimin tetap tidak dapat hidup dengan  tenang. Kali ini kaum Yahudi yang banyak menempati wilayah-wilayah tertentu di Madinah, ikut memusuhi kaum Muslimin. Mereka merasa benci dan dengki karena Sang Mesiah, utusan yang dijanjikan dalam kitab mereka, ternyata bukan datang dari kalangan mereka, melainkan dari bangsa Arab yang selama ini mereka lecehkan. Perjanjian Madinah yang isinya antara lain saling menghormati ajaran masing-masingpun mereka langgar. Orang-orang Yahudi ini malah memprovokasi penduduk Makkah dan sekitarnya agar mereka bersatu menyerang dan mengenyahkan ajaran Islam yang baru tumbuh tersebut. Akhirnya muncullah peperangan demi peperangan : Perang Badar, Perang Uhud,  Perang Parit, Perang Khaibar dan sebagainya. 

“ Jika mereka merusak sumpah (janji) nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti”.(QS.At-Taubah(9):12). 

Perang yang mendapat izin dari-Nya mulanya memang hanya untuk mempertahankan diri.  Kemudian setelah Islam  berdiri tegak, perang diperintahkan dengan tujuan untuk menghilangkan penyembahan terhadap berhala dan kembali ke ajaran Tauhid. Kecuali bila kaum atau bangsa tersebut memiliki perjanjian damai dan mereka tidak melanggar perjanjian tersebut.. Yang demikian ini, selain harus diberi kesempatan untuk mengenal ajaran Islam dengan baik mereka juga harus dilindungi. 

“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. ”.(QS.At-Taubah(9):6). 

Namun bila mereka melanggar perjanjian, mereka harus diperangi. Islam adalah ajaran yang tegas. Demi keadilan hukum harus ditegakkan. Setelah takluk dan berada di bawah kekuasaan pemerintahan Islam, sebagai jaminan perlindungan mereka wajib  membayar jiziah. Ini adalah sebuah kewajiban sebagaimana  penduduk Muslim wajib membayar uang zakat. Dan sebagai gantinya, kaum dzimmi, sebutan bagi non Muslim pembayar jiziah, hak hidup, harta dan agama mereka dilindungi oleh penguasa.   

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk ”.(QS.At-Taubah(9):29).

 Sementara bagi kaum atau bangsa yang tidak memiliki ikatan perjanjian apapun bila setelah didakwahi secara baik-baik tetap menolak dan tetap pada pendirian semula, apalagi bila mereka mengganggu dan menghalangi ajaran Islam maka mereka wajib diperangi. Namun demikian perempuan, anak-anak, orang tua bahkan tanamanpun sekalipun dilarang untuk dihancurkan kecuali karena sebab-sebab khusus. Jadi perang dalam Islam bukan untuk kepentingan pribadi, kelompok, ras maupun  golongan tertentu apalagi politik. Perang dalam Islam juga bukan untuk melampiaskan hawa nafsu, kemarahan dan yang semacamnya. Perang adalah  demi ketaatan dalam menjalankan perintah-Nya. Perang adalah pilihan terakhir demi tercapainya masyarakat yang adil, damai, tunduk dan patuh terhadap aturan Sang Pemilik Yang Tunggal. Upah dan imbalan yang diharapkanpun bukan upah duniawi!   

” Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam”.(QS.Asy-Syuara’(26):107-109). 

Demikianlah  yang dikatakan semua Rasul dan Nabi-Nya. 

Bila kita perhatikan suasana di Timur Tengah saat ini, akan terlihat nyata betapa kaum kafir telah mempermainkan, melecehkan bahkan telah sampai pada tahap penganiayaan terhadap saudara-saudara kita seiman. Rakyat Palestina telah terusir dari kampung halamannya. Mereka ditindas dan diperlakukan secara tidak adil di kampung halaman mereka sendiri. Maka wajib hukumnya bagi umat Muslim dimanapun berada untuk membela hak dan keimanan mereka. Jiwa mereka terancam, bahkan demi melaksanakan kewajiban segala perintah dan larangan-Nya. 

 “Kamu akan melihat kepada orang-orang Mukmin itu dalam hal kasih-sayang diantara mereka, dalam kecintaan dan belas kasihan diantara mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh itu merasa sakit maka akan menjalarlah kesakitan itu pada anggota tubuh yang lain dengan menyebabkan tidak dapat tidur dan merasakan demam.”(HR Bukhari). 

Jalan bagi mereka tiada kata selain berjihad dengan jiwa yaitu berperang. Musuh mereka dalam hal ini adalah musuh yang nyata, syaitan dalam bentuk manusia. Mereka adalah orang-orang kafir yang berusaha menyesatkan manusia dari menyembah hanya kepada-Nya. Dan kita sebagai saudara seiman, wajib untuk membantu dengan segala upaya karena sesama mukmin adalah saudara. Dalam jihad menghadapi orang kafir Allah SWT menghendaki agar kaum mukmin bersatu, saling membantu dan saling menasehati.

 “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. (QS.Al-Hujurat (49):10). 

Namun  sayang  pada  kenyataannya, kaum  kafir  telah  berhasil meng-adu domba sesama  mukmin.   Tampak  nyata  bahwa zionis  Israel, dibidani para    Freemansori    yang    bersembunyi    dibalik   pemerintahan  Amerika  Serikat,  telah  berhasil  memaksakan   kemauan mereka dengan menolak  pemerintahan resmi Palestina yang nyata-nyata dimenangkan secara demokrasi hingga  menimbulkan perpecahan didalam negri tersebut. Bahkan mereka telah berhasil memaksakan boikot ekonomi terhadap negeri yang telah menjadi  sedemikian  sempit ini.  Dengan kekuatan  mereka   dibidang  penyiaran baik  penyiaran  melalui media   cetak   maupun media  elektronik,  mereka berhasil  secara  sepihak memaksakan   opini  mereka    ke pihak   lain. 

Menurut   pengakuan  seorang  warga-negara  Australia  asal Jerman, Frederick Toben, peristiwa Holocaust, yaitu peristwa pembantaian bangsa Yahudi secara besar-besaran oleh pihak Jerman di masa lalu yang menghebohkan itu, adalah suatu peristiwa yang terlalu dibesar-besarkan. Hal tersebut sengaja dilakukan sebagai alasan dan jalan untuk lebih memudahkan pihak Yahudi agar dapat membentuk negara dan kerajaan yang mereka cita-citakan di atas tanah yang lebih dari ribuan tahun telah menjadi tempat tinggal bangsa Palestina. Dengan alasan itulah Zionis berhasil mendoktrin orang Yahudi di seluruh dunia untuk ’kembali’ berkumpul di tanah yang mereka klaim sebagai tanah leluhur. Maka dengan izin dan restu PBB yang sangat pro Barat, sekarang ini Yahudi berhasil mendirikan negara Israel. Bahkan hingga detik ini dengan cara semen-mena negara ini terus berupaya memperluas wilayah kekuasaannya tanpa mau menghormati perjanjian internasional yang telah disepakati bersama.  

 Bila diperhatikan, di Barat saat ini orang dapat dengan mudah melontarkan kritik terhadap apapun bahkan terhadap Yesus sekalipun. Namun tidak bila terhadap Holocaust maupun segala yang berhubungan dengan kebijaksanaan Israel, zionisme Yahudi khususnya. Hal tersebut terbukti nyata ketika beberapa waktu yang lalu Presiden Iran, Ahmadinejad, menyelenggarakan konferensi pers membahas tentang kebohongan Holocaust. Sontak pihak Baratpun bereaksi keras, mereka mengancam dengan menjatuhkan hukuman berat bagi para nara sumber yang turut berpartisipasi dalam konferensi tersebut. Sesuatu yang sungguh mengherankan! 

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”. (QS. Asf-Shaff(61):4).

Demikian pula keadaan negara-negara Muslim seperti Irak dan Afganistan yang telah dijajah dan diduduki oleh orang-orang kafir dengan berbagai alasannya. Allah SWT telah berulang-kali mengingatkan bahwa orang-orang kafir itu ingin menyesatkan diri orang mukmin dengan cara yang tidak kita sadari. Islam mengajarkan suatu ketegasan bila kita ingin menang dan ingin dihargai. Kita harus melawan dan menunjukkan jati diri sebagai pasukan Allah demi menumpas kemungkaran. 

 “Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong (mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong, kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. Tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka”. (QS.An-Ni’sa(4):89-90). 

Dan pahala bagi orang yang berperang karena membela agama Allah adalah pahala yang besar baik di dunia maupun di akhirat nanti. Orang-orang ini adalah orang-orang yang bertakwa, yang berperang karena mengharap ridho’-Nya, yang pantang menyerah, yang bersabar sambil senantiasa berdoa agar Allah SWT mengampuni segala kesalahan atas dosa dan tindakan yang berlebihan dalam berperang serta memohon agar teguh dalam berpendirian. 

“Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka, sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada do`a mereka selain ucapan: “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir“. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan”.(QS.Ali-Imraan (3):146-148). 

Sedangkan balasan bagi mereka yang mati syahid (dalam berperang) adalah kenikmatan di akhirat bersama para nabi. Semuanya itu disebabkan ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya. 

“Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”.(QS.An-Nisa (4):69). 

Disamping itu cobalah kita perhatikan  jumlah korban dalam sejarah peperangan Islam.  Selama hampir 23 tahun itu tercatat telah terjadi kurang lebih 20 perang besar dibawah kepemimpinan Rasulullah saw. Berdasarkan penelitian yang dilakukan seorang sejarahwan Dr. Muhammad Imarah ternyata jumlah korban yang jatuh selama itu hanyalah 386 orang saja, baik dari pihak Muslim maupun pihak musuh. Bandingkan dengan perang saudara antara Katholik vs Protestan yang terjadi selama 30 tahun antara 1618-1648. Perang ini menelan korban jiwa 10 juta orang! Menurut Voltaire (1694-1778), seorang filsuf Perancis, jumlah tersebut sama dengan jumlah 40% penduduk Eropa Tengah pada abad pertengahan. 

Bandingkan juga dengan  jumlah korban suku Indian yang tewas paska lahirnya UU Indian Removal Act tahun 1830 yang menyebabkan 70.000 orang Indian tewas dan terusir dari tempat tinggalnya sendiri. Atau bandingkan dengan jumlah korban bom atom di Hirosima dan Nagasaki pada tahun 1945 oleh pihak Amerika Serikat pimpinan Presiden F.D.Rosevelt. yang katanya menjunjung tinggi nilai HAM. Dalam waktu hitungan sekian menit peristiwa biadab ini menelan korban tewas 140 ribu penduduk tak berdosa Hirosima dan 70 ribu penduduk Nagasaki. Belum lagi korban cacat akibat radiasi kimianya yang berdampak.benar-benar berbahaya. 

Jadi jelas, jihad fisik dalam Islam bukan bentuk pemaksaan agar seseorang mau memeluk agama yang lurus ini, sebagaimana sering dituduhkan bahwa Islam adalah agama pedang. Allah SWT memang memerintahkan agar umat Islam berdakwah, yaitu menyadarkan kembali ingatan mahluknya yang lupa, mengajak sekaligus mengajarkan agar seluruh manusia kembali ke jalan yang benar, yaitu menyembah hanya kepada-Nya sebagaimana yang diajarkan Islam melalui Rasulullah SAW dan para Rasul pendahulunya sebelum diselewengkan. Karena yang demikian itu selain akan membebaskan manusia dari api neraka kelak, juga akan memancing ridho Allah agar bumi dan seluruh isinya tetap terjaga dalam keamanan, kemakmuran dan kestabilannya sebagaimana bergulirnya sistim alam semesta yang selalu dalam ketaatan dan kepatuhannya. Tidak ada paksaan dalam hal ini karena manusia memang diperbolehkan memilih, takwa atau durhaka. 

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui…”. (QS.Al-Baqarah (2): 256).

 Namun satu hal yang tidak boleh dilupakan bila seseorang telah memilih dan menentukan jalan hidupnya ia wajib mengikuti dan mematuhi aturan hukum jalan yang dipilihnya itu, terpaksa ataupun tidak terpaksa!

Read Full Post »

Tanpa terasa waktu cepat berlalu. Tiga bulan lamanya aku berada di Palestina. Banyak pengalaman dan pelajaran berharga yang kudapatkan. Aku sungguh bersyukur  ketika itu cepat memutuskan bergabung dengan lembaga masyarakat yang bergerak dalam bidang bantuan  kesehatan bagi para korban perang ini. Rasanya banyak yang belum aku lakukan dan korbankan demi menegakkan ajaran-Nya. Aku tidak ada apa-apanya dibanding para mujahid yang dengan gagah berani rela mengorbankan jiwa dan raganya.

Suatu hari Mahmud memperkenalkanku dengan salah satu kenalannya. Ia adalah seorang doktor lulusan universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Ia khusus datang mengunjungi para relawan di kamp-kamp Palestina untuk memberikan dorongan. Dr Ibrahim yang bernama asli David Gray ini adalah teman lama Mahmud ketika mereka masih mukim di New Jersey, Amerika Serikat. Aku sempat berbincang-bincang lama dengannya.

Darinya aku mengetahui bahwa universitas tempat ia menimba ilmu keislaman menyediakan beasiswa bagi siapa yang berminat. Aku segera mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan keperluan tersebut seperti persyaratan, orang-orang yang dapat aku hubungi dan sebagainya.

***

Sepulangku dari Palestina, aku segera menyampaikan keinginanku kepada uztad Abdullah pembimbingku di pesantren untuk kuliah di universitas Madinah. Aku juga menceritakan kepadanya bahwa aku telah memiliki keterangan lengkap mengenai perguruan tinggi tersebut lengkap dengan keterangan mengenai beasiswa yang dikeluarkan mereka. Dengan penuh antusias uztad Abdullah menyambut gembira keinginanku tersebut.

Beberapa minggu kemudian dengan bantuannya aku berhasil mendapatkan beasiswa yang sangat kuharapkan tersebut. ” Alhamdulillah”, pujiku. Aku mendapat bimbingan kilat khusus bahasa Arab percakapan dari teman uztad Abdullah yang pernah lama menetap di Madinah. Aku terpaksa berhenti menjadi sopir angkot karena waktunya sangat mendesak. Aku bersyukur para guru, pembimbing dan bahkan teman-teman di pesantren dapat memaklumi kesibukan baruku itu.

Setelah semua keperluan administrasi lengkap baik untuk urusan perkuliahan maupun urusan tiket, paspor berikut visanya akupun menyempatkan diri menulis surat untuk kedua orang-tuaku dan juga tante Rani.

Yang tercinta ayah, ibu dan tante Rani.

Alhamdulillah sekembaliku dari Palestina beberapa minggu yang lalu aku dalam keadaan baik dan sehat. Semoga begitu juga keadaan ayah, ibu dan tante.

Kali ini aku ingin mengabarkan bahwa aku mendapatkan beasiswa untuk belajar dan menuntut ilmu keislaman di salah sebuah universitas terbaik di Madinah, Arab Saudi. Walaupun kepercayaan kita sekarang untuk sementara tidak sama namun aku tetap memohon doa restu kalian bertiga. Rencana aku akan berangkat Senin depan ini.

Dengan memperdalam kepercayaan baruku di tempat lahirnya, aku akan membuktikan  bahwa Islam bukanlah agama teror sebagaimana yang sering diisukan pihak Barat.

Salam,

Mada.

***

Universitas Islam Madinah adalah sebuah universitas Islam tertua di Saudi Arabia, yang sering didatangi oleh utusan berbagai negara. Perguruan tinggi Islam yang letaknya  tidak  seberapa jauh dari Masjid Nabawi ini terdaftar memiliki mahasiswa asal Indonesia lebih banyak dibandingkan dengan mahasiswa yang belajar di Universitas Saudi lainnya. Data terakhir menunjukkan jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di universitas ini lebih dari 130 orang.

IUM ( Islamic University of Madinah ) memiliki lima fakultas yaitu fakultas Syariah, fakultas Dakwah dan Ushuluddin, fakultas Al-Qur’an dan Dirasah Islamiyah, fakultas Bahasa Arab, dan fakultas Hadits dan Dirasah Islamiyah. Aku mulanya tidak tahu harus memilih fakultas yang mana. Namun berkat bimbingan dan arahan teman-teman baru Indonesiaku di tempat ini, akhirnya aku memutuskan untuk belajar di fakultas Al-Quran dan Dirasah Islamiyah.

Selama aku menuntut ilmu di Madinah ini, aku akan menempati sebuah kamar berdua dengan seorang teman yang juga dari Indonesia di asrama mahasiswa yang didominasi oleh mahasiswa dari Asia Tenggara. Sementara itu untuk sekedar menambah uang saku, aku telah didaftarkan teman sekamarku, Sofyan, sebagai pegawai tak tetap di sebuah biro perjalanan haji dan umrah yang berpusat di Paris, Perancis.. Tugasku nantinya adalah menjadi sopir cadangan bila sewaktu-waktu sopir yang sebenarnya berhalangan hadir. Tentu saja aku akan didampingi seseorang yang mengenal baik liku-liku jalan di kota Madinah ini karena aku masih baru di kota ini.

Namun begitu aku juga bertanya-tanya mengapa aku yang dipilih? Ternyata karena aku menguasai bahasa Perancis jadi sewaktu-waktu nanti bisa jadi tugasku akan merangkap menjadi sopir sekaligus penerjemah bagi jamaah asal negrinya Zinedin Zidane ini. Sungguh aku bersyukur atas semua berkah dan kemudahan yang dilimpahkan-Nya kepadaku.

Hari-hari  pertamaku ketika aku menginjakkan kaki di kota Rasulullah ini aku pergunakan untuk ziarah ke makam Rasulullah saw. Di  luar dugaanku sama sekali ternyata makam ini terletak di dalam masjid Nabawi, masjidnya Rasulullah yang merupakan masjid  tertua di Madinah diluar masjid Quba. Tanpa kesulitan kita akan tahu persis letak makam tersebut karena makam yang diapit dua sahabat terbaik Rasulullah itu, yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khatab, dinaungi kubah yang berbeda dengan kubah lainnya. Kubah ini berwarna hijau tua. Arealnya disebut  Raudhah.

Berdasarkan data yang kudapat, Masjid Nabawi yang luasnya  98.000m2 ini mampu menampung sekitar 167.000 jemaah dilantai dasar dan sekitar  90.000 jemaah di lantai atas. Sementara apabila ditambah dengan halaman masjid, sekitar 650.000 jamaah bisa tertampung pada hari-hari biasa dan lebih dari 1.000.000 jamaah pada musim haji atau bulan Ramadhan. Untuk pengaturan udara dalam masjid yang sangat luas ini dibangun 27 ruang terbuka disamping  9 buah atap berbentuk kubah yang dapat dibuka dan ditutup secara  otomatis.

Masjid megah yang seluruh pintu-pintunya dilapisi emas ini mempunyai 10 buah menara termasuk 2 menara besar yang mengapit pintu gerbang utama. Sementara itu pada ketinggian 87m dipasangi sinar laser yang memancarkan cahaya kearah Mekah sejauh 50 km untuk menunjukan arah kiblat dan dinyalakan pada waktu tertentu terutama di waktu-waktu  shalat.

Demi memanjakan jamaah pula, pihak kerajaan Arab Saudi yang bertanggung-jawab atas lancarnya penyelenggaraan haji dan umrah bagi jamaah yang datang dari berbagai sudut dunia ini mengalirkan air zam-zam dari Mekah ke Madinah yang jaraknya sekitar 450 km. Disamping itu kerajaan juga membangun tempat parkir mobil dibawah masjid untuk lebih dari 10.000 mobil dengan jalan akses langsung ke luar kota Madinah sehingga tidak mengganggu lalu lintas sekitar masjid.

.***

Aku sangat menyukai suasana kampus baruku.  Jika tidak ada keperluan mendesak yang mengharuskanku harus tetap di kampus ketika azan berkumandang, aku pergi ke masjid Nabawi untuk melaksanakan kewajiban shalat 5 waktu secara berjamaah. Jarak yang lumayan dekat antara keduanya memungkinkanku melaksanakan hal tersebut. Kebetulan pula asramaku terletak di dalam area yang sama dengan kampus. Begitu pula dengan materi kuliah, dosen dan teman-teman yang semuanya menurutku menarik. Bahkan baru 1 bulan aku kuliahpun aku sudah dapat merasakan manfaat langsung dari kuliahku disini.

Mata pelajaran yang paling aku sukai adalah Sirah Nabawiyah, yaitu sejarah tentang Rasulullah Muhammad saw. Pribadi beliau memang benar-benar cerminan Al-Quran berjalan. Bahkan semenjak kecilpun pribadi itu telah terlihat jelas. Rupanya Allah swt memang telah mempersiapkannya sebagai  calon nabi besar.

“ Penduduk Mekah jauh sebelum Rasulullah dilahirkan sebenarnya telah mengenal Allah sebagai Pencipta Alam Semesta dan isinya. Mereka bahkan juga percaya bahwa rezeki yang mereka terima adalah dari Allah, Tuhan mereka. Namun sayangnya mereka menduakan Allah dengan sesembahan lain, yaitu berhala-berhala Hubal, Latta dan Uzza. Mereka menyembah dan memohon kepada berhala-berhala itu disamping kepada Allah walaupun dengan dalih hanya sebagai perantara. Itu sebabnya mereka dinamakan kaum Musyrik atau kaum yang syirik. Nah.. di tengah kaum yang seperti itulah Muhammad dilahirkan “,ujar Syeikh Al-Qathan, seorang professor asli Saudi yang mengajar pelajaran Sirah Nabawiyah.

Pada zaman itu hampir semua pemuda terbiasa hidup berfoya-foya, bermabuk-mabukan, berjudi dan bermain-main dengan perempuan. Namun Muhammad remaja tidak pernah tertarik untuk ikut-ikutan melakukan semua perbuatan tersebut. Bahkan untuk sekedar kongkow-kongkowpun ia tidak mau. Menurutnya hal itu hanya membuang-buang waktu percuma ”, lanjutnya.

Ia berhenti sebentar untuk memberi kesempatan salah satu mahasiswa yang mengangkat tangannya  untuk bertanya.

Bisakah keadaan ketika itu disamakan dengan keadaan sekarang ini, prof? Bukankah saat inipun banyak orang yang mengaku menyembah Allah namun tetap percaya kepada ramalan, tukang tenung, sihir, dukun dan lain-lain. Perlakuan merekapun banyak yang buruk. Korupsi dimana-mana, perzinahan merajalela bahkan orang yang jujur dan baikpun  dianggap aneh “, tanya seorang siswa asal Korea.

Ya, betul sekali “, jawab prof. “ Keadaan ketika itu bisa dibilang sama dengan keadaan sekarang ini. Bedanya mungkin kalau zaman dahulu orang yang terang-terangan ingin menjadi pengikut Rasulullah, ingin memurnikan agama dengan hanya menyembah kepada Allah, ia akan disiksa seperti halnya Bilal, Amar dll maka orang pada zaman  sekarang tidak mengalami hal seburuk itu lagi ”, jawabnya mantap.

Secara tidak sengaja tiba-tiba kejadian pahit di kamarku nyaris setahun yang lalu terlintas di kepalaku. Namun aku memilih untuk diam. Biarlah  kenangan buruk itu tetap berada di benakku. Lagipula bila dibanding penderitaan para sahabat di masa lampau kejadian tersebut tidak ada apa-apanya.  Tetapi aku juga tiba-tiba teringat bahwa orang-orang yang tinggal di bekas jajahan Rusia seperti Tajikistan, Turbekiztan dan lain-lain beberapa  tahun yang lalu masih mengalami perlakuan buruk bila pemerintah komunis tersebut mendapati ada penduduknya yang ketahuan beragama Islam apalagi bila kepergok sedang menjalankan shalat!

“ Suatu hari saking seringnya melihat teman-temannya keluar malam, Muhammad muda akhirnya tergoda juga untuk pergi menyaksikan sebuah pertunjukkan hiburan di malam hari. Karena tidak terbiasa tidur larut malam sementara ia khawatir mengantuk ketika sedang menonton pertunjukkan maka  Muhammadpun memutuskan  sore itu pergi tidur terlebih dahulu. Namun apa yang terjadi? Muhammad tidak terbangun hingga keesokkan harinya sehingga ia batal  menonton pertunjukkan  malam itu “.

“ Karena  penasaran, esoknya Muhammad melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Hingga 3 hari berturut-turut ia melakukan hal itu namun selalu berakhir sama yaitu tertidur. Akhirnya Muhammad sadar bahwa ia memang tidak  diperbolehkan melakukan hal buruk yang biasa dilakukan para teman-temannya itu. Maka sejak saat itu Muhammad tidak pernah lagi memiliki keinginan untuk melakukan hal yang tidak bermanfaat”.

***

Hari ini ada pelajaran Fikih Dakwah. Mata pelajaran ini mengajarkan bagaimana caranya mengajak  seseorang agar mau mengikuti petunjuk Allah dalam melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah. Terus-terang aku menyukai semua pelajaran yang diberikan kampus ini. Karena apa yang diajarkan selalu disertai dalil-dalil yang kuat, baik berdasarkan Al-quran maupun hadis.

Dan tak pelak lagi, Rasulullah adalah betul-betul contoh yang amat mulia. Dalam berdakwah tidak pernah Rasulullah memaksakan kemauan dan kehendak pribadinya. Hebatnya lagi, para sahabatpun tidak pernah berusaha mendebat bila perintah tersebut bersumber  dari Al-Quranul Karim.

Pada suatu hari dalam salah satu perang besar, yaitu  perang Badr dikisahkan bahwa Rasulullah memerintahkan pasukannya untuk berhenti di suatu lokasi tertentu “, demikian prof Syeikh Yusuf Nasruddin memulai penjelasannnya.” Ketika itu salah satu sahabat bertanya apakah perintah tersebut merupakan wahyu Allah atau ijtihaj Rasulullah. Ketika Rasul menjawab bahwa itu adalah ijtihaj Rasulullah sebagai manusia biasa maka sahabat tersebut dengan sopan mengatakan bahwa berdasarkan pengalaman perangnya berhenti di tempat sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah adalah kurang tepat. Ia mengusulkan tempat lain sebagai strategi perang bila ingin memenangkan peperangan. Maka dengan bijaksana setelah dipikirkan kembali bahwa hal itu adalah benar Rasulpun  meralat keputusannya dan mengikuti usul sahabat tadi. Rasul sama sekali tidak berpendapat bahwa hal tersebut dapat menurunkan kewibawaannya. Dan yang terjadi memang  sebaliknya. Para sahabat justru makin menghormatinya”, lanjut prof.

Rasulullah adalah seorang pribadi yang lembut dan penuh perhatian. Bila ada salah satu jamaah yang terbiasa shalat bersama tiba-tiba tidak hadir beliau akan menanyakan keadaannya. Dan bila ternyata orang itu sakit beliau akan menjenguknya. Begitu pula terhadap musuh yang membencinya. Beliau tidak pernah dendam terhadap musuh yang sering menyakitinya. Beliau bahkan mendoakan orang tersebut agar Allah swt mau mengampuni dan memberinya petunjuk serta hidyah. Inilah rupanya salah satu kunci keberhasilan dakwah Islam “, prof meneruskan penjelasannya setelah berhenti sejenak untuk meneguk air dalam gelasnya.

Penaklukan kota Makkah adalah salah satu buktinya. Makkah dikepung ketika pasukan Islam pimpinan Rasulullah sedang kuat-kuatnya. Dengan kekuatan besar tersebut tak syak lagi Makkah pasti dapat dihancur leburkan apalagi sebagian besar pasukan ketika itu adalah penduduk Makkah yang pernah diusir keluar dari kota tersebut dengan cara amat zalim. Namun kenyataannya hanya 4 orang  saja yang dihukum mati. Itupun dengan pertimbangan karena kejahatan mereka sudah melampaui batas. Sedangkan yang lain dibebaskan bahkan Abu Sufyan yang tadinya juga begitu memusuhi Islam mendapat kehormatan bahwa siapapun yang masuk ke rumahnya terbebas dari hukuman. Begitupun istrinya“, ujar  prof sambil mengeluarkan lap kacamata dan membersihkan kecamatanya yang tebal itu.

“ Padahal perempuan ini pernah mengaduk-ngaduk isi perut Hamzah bin Abu Thalib, paman Rasulullah yang syahid dalam perang Badar. Dengan penuh kebencian istri orang terpandang Qurasy ini mengambil hati Hamzah untuk dikunyah dan  ditelannya mentah-mentah! Dendamnya begitu membara karena kedua anak lelakinya terbunuh oleh paman Rasul yang terkenal gagah berani tersebut  dalam peperangan melawan  Islam. Ini yang membuat perempuan bernama Hindun Binti Uthbah berlaku seperti orang kerasukan  setan!”, terus prof.

“ Namun mengapa ia bisa bebas dari hukuman mati ? “, tanyaku keheranan.

“ Karena ia menyesal dan mengakui perbuatan biadab tersebut disamping waktu itu ia memang belum mengenal ajaran Islam. Setelah itu ia benar-benar bertaubat dan  berjanji tidak akan lagi berbuat keji. Dan ini memang terbukti benar. Sejak ia masuk Islam pasca penaklukan Makkah ia berubah menjadi muslimah yang shalehah”, jawab prof.

Aku hanya bisa diam termangu mendengar jawaban tersebut.

“ Meski begitu mengapa Barat selalu menganggap bahwa Islam adalah agama pedang, agama yang menurut  mereka disebarkan dengan cara  kekerasan ? “, tanya Ali, mahasiswa Mesir yang duduk paling belakang tanpa dapat menutupi rasa keingin-tahuannya yang tinggi.

Sebenarnya isu yang dihembuskan Barat itu hanyalah bagian dari provokasi mereka. Mereka tidak ingin Islam maju dan berkembang. Sebenarnya mereka sangat takut akan kekuatan dan persatuan Islam. Cobalah pelajari sejarah dunia dan sejarah Islam khususnya. Sejak Islam lahir 1400 tahun yang silam, sebetulnya baru belakangan ini saja Barat dapat mengungguli Islam. Itupun karena umat Islam saat ini tidak lagi bersatu disamping juga karena umat Islam belakangan ini malas dan tidak lagi memegang ajaran dengan teguh “, terang prof Yusuf setengah mengeluh.

Selama 23 tahun dibawah kepemimpinan Rasulullah saw, yaitu pada periode Madinah tercatat telah terjadi kurang lebih 20 perang besar. Berdasarkan penelitian yang dilakukan seorang sejarawan bernama Dr. Muhammad Imarah ternyata jumlah korban yang jatuh selama itu hanyalah 386 orang saja, baik dari pihak Muslim maupun pihak musuh. Itupun dengan catatan Rasulullah melarang membunuh kaum perempuan, anak-anak, orang tua yang sudah uzur dan bahkan membakar pepohonan bila tidak ada manfaatnya. Bandingkan dengan perang saudara antara Katholik vs Protestan yang terjadi selama 30 tahun antara 1618-1648. Perang ini menelan korban jiwa 10 juta orang! Menurut Voltaire, seorang filsuf Perancis yang hidup antara tahun 1694-1778 jumlah tersebut sama dengan jumlah 40% penduduk Eropa Tengah pada abad pertengahan”, lanjut prof  penuh semangat.

Bandingkan juga dengan  jumlah korban yang tewas paska lahirnya UU Indian Removal Act tahun 1830 yang menyebabkan 70.000 orang Indian tewas dan terusir dari tanah airnya sendiri. Atau bandingkan dengan jumlah korban bom atom di Hirosima dan Nagasaki pada tahun 1945 oleh Amerika Serikat dibawah pimpinan Presiden F.D. Rosevelt yang katanya menjunjung tinggi nilai HAM. Dalam waktu hitungan sekian menit peristiwa biadab ini menelan korban tewas 140 ribu penduduk tak berdosa Hirosima dan 70 ribu penduduk Nagasaki. Belum lagi korban cacat akibat radiasi kimianya yang dampaknya lebih  berbahaya lagi dari sekedar kematian!”, kata prof menutup uraiannya sambil melihat jam tangannya. Tak lama kemudian bel berbunyi tanda waktu istirahat tiba.

***

Read Full Post »