Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Kumpulan Cerpen’ Category

Mirna duduk manis di dalam bus kota Paris. Hatinya sungguh bahagia. Ia telah ditrima sebagai mahasiswi Sorbonne University.  Betapa tidak, Sorbonne University adalah salah satu universitas tertua di Perancis, dan tidak mudah untuk  ditrima sebagai mahasiswa disini, bahkan untuk penduduk asli sekalipun.

Matanya menerawang jauh. Kata-kata ibu beberapa bulan yang lalu masih terdengar mengiang kuat di telinganya. Ketika itu ayah dan ibunya mengantar dirinya ke bandara Sukarno Hatta, untuk melepas kepergiannya ke Paris, Perancis.

Hati-hati jauh dari tanah air, sanak saudara dan handai taulan. Jaga iman dan islammu. Jaga kesehatan. Juga pergaulanmu di tengah lingkungan barumu », bisik ibu sambil memeluk erat dirinya.

Ini memang bukan kali pertama Mirna menginjakkan kaki di kota pusat mode dunia ini. Selama 3 tahun ia pernah tinggal di Paris bersama ke dua orang-tuanya. Kebetulan ayah mendapat tugas di kota ini. Waktu itu dirinya masih berumur 7 tahun. Ia tidak pernah menyangka bahwa ia akan kembali menjejakkan kakinya di kota ini, sebagai mahasiswi Sorbonne pula !

«  Alhamdulillah », bisiknya dalam hati.

Mata Mirna tidak lepas dari jendela bus di sisinya. Ini adalah rute nostalgia yang dulu sering dijalaninya bersama ibu tercinta. Bus bernomor 73 ini berjalan melintasi Arch de Triomphes, tugu kemenangan bangsa Perancis, masuk ke Champs Elysees, boulevard terkenal di Paris dimana berjajar butik-butik kenamaan. Kemudian melewati Place de la Concorde, pelataran terkenal dimana sejumlah tokoh kenamaan Perancis di ‘guilotine’ alias di hukum pancung pada era revolusi Perancis di tahun 1793. Kabarnya 1300 an korban diguilotine dalam waktu 1 bulan, termasuk diantaranya raja Perancis Louis XVI dan permaisurinya yang berasal dari Austria ratu Marie Antoinette.

place de la concordeDi areal Place De La Concorde ini berdiri dua buah air mancur cantik yang mengapit Obelisk, tugu setinggi 23 meter, pemberian penguasa Ottoman di Mesir ( Pasha) Muhammad Ali. Tugu yang menjadi lambang perdamaian ini, di letakkan pada tahun 1836, di lokasi bekas eksekusi hukum pancung, tak lama setelah berakhirnya tragedi mengerikan tersebut. Konon, tugu yang ujungnya berbentuk lancip itu adalah menandakan jarum milik Cleopatra,  ratu legendaris Mesir yang terkenal kecantikannya itu. Tugu ini dipenuhi inskripsi zaman kejayaan raja Mesir Ramses II.

IMG_3478Pandangan Mirna terpaku lurus menatap tugu  Arc de Triomphes di ujung sana. Kebetulan ia duduk menghadap ke belakang. Inilah axe historis yang kontroversial itu, bisiknya dalam hati. Axe Historis adalah garis lurus dari Grand d’Árch,   Arc de Triomphes menyusuri Champs Elyses, Place De La Concorde,  Arc de Triomphes du Caroussel yang merupakan miniatur  Arc de Triomphes hingga jardin Tuleries.

Dikatakan kontroversial karena sumbu prestis kota Paris tersebut kabarnya menuju satu titik yang sangat dibenci Barat, yaitu Mekah, dimana Ka’bah berdiri ! Dapat dibayangkan alangkah kecewa dan marahnya orang-orang yang sangat membenci ajaran Islam, bila hal ini benar.

Itu semua bisa terjadi kabarnya karena besarnya perhatian dan simpati Napoleon Bonaparte, kaisar Perancis pendiri Emporium Perancis, terhadap Islam, khususnya terhadap nabi Muhammad saw. Mirna tiba-tiba teringat pertemuannya dengan Miriam gadis blasteran Perancis Rusia mualaf yang bernama asli Maria, beberapa waktu lalu. Dalam pertemuannya itu Miriam menunjukkan sebuah buku berjudul Journal de Sainte-Hélène yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Ini adalah  semacam buku harian milik sang kaisar selama di pengasingannya di pulau Santa Helena. Ditulis oleh salah satu jendral kepercayaannya, Baron Gourgaud, di tahun 1815-1818, dan dicetak untuk pertama kalinya pada tahun 1944.

Alinea yang telah diberi stabilo kuning oleh Miriam itu kembali terbayang di mata Mirna :

I like the Mohammedan religion best. It has fewer incredible things in it than ours” , dan “the Mohammedan religion is the finest of all”.

Dalam buku lain berjudul ‘Bonaparte et I’Islarn” oleh Cherlifs, yang juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Miriam memberi stabilo alinea berikut :

“I hope the time is not far off when I shall be able to unite all the wise and educated men of all the countries and establish a uniform regime based on the prinsiples of the Qur’an wich alone can lead men to happiness.”

 “Tahukah kau apa itu Napoleon Code? », tanya Miriam suatu hari. Mahasiswi kedokteran yang dikenalnya di Mosquee de Paris di suatu Jumat ini dengan penuh semangat.  Gadis ini memang sangat menyukai buku. Itu sebabnya ia memilih bekerja sambilan di sebuah toko buku Islam tidak jauh dari masjid terbesar di Paris tersebut. Toko tersebut milik seorang lelaki asal Suriah yang menikah dengan seorang perempuan asli Perancis. Mirna pernah bertemu dengan keduanya. Ia memang sering berkunjung ke toko buku yang memiliki banyak koleksi buku-buku Islam pelbagai bahasa itu.

 “ Napoleon Code adalah undang-undang Perancis yang disusun oleh Napoleon pada masa kekuasaannya”, lanjut Miriam membuyarkan lamunan Mirna.

“ Meski undang-undang ini bukan yang pertama di dunia, namun ia dianggap sebagai undang-undang sipil pertama yang berhasil dan sangat memengaruhi perundang-undangan di banyak Negara. Undang-undang ini diantaranya memuat aturan tentang toleransi beragama dan menghapuskan feodalisme yang tadinya sudah membudaya di negerinya”, ucap Miriam penuh semangat.

Namun tahukah kau darimana ide itu semua datang » ?, tanyanya.

Mirna menggeleng.

« Piagam Madinah yang disusun oleh Rasulullah Muhammad dan Al-Quran ! Ini berkat persahabatan sang kaisar dengan teman-teman Muslim yang dibinanya selama beberapa tahun di Mesir. Salah satu orang kepercayaannya yaitu jenderal Jacques Menou bahkan mendahuluinya bersyahadat”, lanjut Miriam lagi.

Mirna tiba-tiba terngiang cerita tantenya yang telah lama menetap di Paris. “ Di dindingnya tergantung lukisan beberapa orang sahabat Bonaparte dengan sorban mirip sorban orang Turki”, “ Yang lebih mengagetkan lagi, di langit-langit ruang tersebut ada kaligrafi yang sangat mirip tulisan La illaha illa Allah”. Itu adalah cerita tante Sofie, istri adik ibu Mirna yang asli Perancis itu, tentang kunjungannya ke rumah seorang duta besar Jerman di Paris beberapa waktu lalu. Tante Sofie yang masuk Islam sejak menikah dengan om Rahmat  ini memang rajin mengikuti kegiatan yang diselenggarakan asosiasi pendatang di Paris dimana ia tercatat sebagai anggotanya.

P1020434blogicon1Bus berhenti di halte ujung pelataran yang saat ini sering dipakai untuk upacara kemerdekaan. Sepasang turis setengah umur yang tadi duduk di kursi paling belakang terlihat turun di halte tersebut. Tak lama kemudian buspun berjalan kembali, berbelok ke kanan, menyusuri sungai Seine. Di sebelah kiri tampak Jardin de Tulerie serta Musee du Louvre dimana dipajang koleksi barang-barang berharga terkenal manca Negara diantaranya yaitu lukisan Monalisa. Di dalam musium ini terdapat pula divisi Islam yang memajang berbagai koleski peninggalan Islam.

Mirna tetap duduk di dalam bus hingga bus tiba di halte Pont Neuf, jembatan tertua kota Paris. Di  jembatan ini berdiri patung raja Perancis Henry IV yang sedang duduk di atas kudanya.

Mirnapun kemudian turun dari bus. Cuaca di awal musim gugur hari itu sangat cerah. Temperatur sekitar 18 derajat Celcius, temperatur yang sangat ideal untuk berjalan-jalan. Agak dingin mungkin bagi orang Indonesia, namun dengan jaket tipis atau sweater masih enak untuk dinikmati.

Mirna berjalan perlahan menyeberangi sungai yang terbelah dua, mengapit dataran kecil memanjang yang membentuk delta. Delta inilah yang dinamakan ile de la cite, yang pada abad pertengahan merupakan pusat kota. Bangunan-bangunan tua khas Perancis yang berdiri berjejer di sepanjang pulau kecil ini dengan jelas mencerminkan keadaan tersebut. Mirna berhenti di bawah patung Henry IV yang berdiri tepat di tengah, di antara dua sungai.

« S’íl vous plait mademoiselle » , ujar seorang turis Asia sambil menyodorkan kamera ke arah Mirna. Mirna mahfum bahwa turis tersebut meminta tolong agar Mirna memotret pasangan muda tersebut. Ia sudah sangat sering melakukan hal tersebut. Paris memang benar-benar pantas dijadikan tujuan bulan madu. Romantic city, kata orang.

IMG_4679Setelah puas memandang keindahan Seine dengan latar belakang Eiffel di kejauhan, Mirna berjalan menyusuri ile de la cite hingga tiba di Conciergeri. Bangunan tua abad pertengahan ini dulunya adalah istana yang kemudian berubah fungsi menjadi penjara bagi orang-orang kenamaan, diantaranya sang ratu sendiri, Mary Antoinette. Ini terjadi pada era revolusi Perancis yang memakan korban puluhan ribu orang.

Dari tempat inilah para penghuni penjara dijemput dengan kereta kuda, kemudian diarak di sepanjang jalan menuju lokasi eksekusi. Sebagian besar di Place de la Concorde yang baru dilalui Mirna tadi.

Mirna bergidik membayangkan peristiwa mengerikan tersebut. Ia segera melanjutkan langkahnya, melewati hotel de la justice hingga akhirnya tiba depan Notre Dame de Paris. Pelataran katedral yang menjadi salah tujuan utama turis ini penuh dijejali turis. Terlihat antrian panjang mengular menuju gerbang katedral.

Mirna terus mengayunkan langkahnya menyusuri pinggir sungai Seine. Sekali-sekali bersama turis lain, ia melambaikan tangan ke arah bateau mouche, kapal turis yang menyusuri Seine, yang penuh turis itu. Deretan kotak hijau sepanjang sungai, berisi barang-barang bekas, kebanyakan koleksi buku-buku lama, piringan hitam, poster dll, terlihat sedikit mengganggu pandangan kearah sungai. Namun bagi para pemburu barang kuno dan pecinta buku, bisa jadi mereka menemukan barang yang telah lama mereka cari.

Sampai di jembatan berikutnya, Mirna menyeberang jalan ke arah kiri jalan. Dari kejauhan terlihat mencolok kubah Pantheon, bekas gereja yang telah berubah fungsi menjadi mausoleum, yaitu makam orang-orang ternama seperti Voltaire, Victor Hugo dan Alexandre Dumas. Universitas Sorbonne terletak tidak jauh dari sana. Inilah yang disebut latin quarter yang menjadi tujuan turis. Area ini terletak di Paris 5.

Mirna tiba di Place St Michel. Terlihat kerumunan orang. Mirna bisa menebak pasti para turis itu sedang menonton para lulusan lyceen, alias murid SMA yang sedang menjajakan buku-buku mereka.

Kalo saja para anggota terhormat DPR mau datang ke Paris bukan cuma untuk mencari hiburan ke Moulin Rouge, belanja di Lafayette atau sekedar berjalan-jalan, namun juga ke tempat ini untuk melihat apa yang dilakukan para lulusan SMA ini, pasti mutu pendidikan kita akan jauh lebih daripada sekarang ini”, komentar ayah suatu hari.

Tidak seperti di tanah air, buku pelajaran di Perancis memang bisa turun menurun. Ini disebabkan kebijaksanaan  pemerintah yang tidak sering mengganti-ganti kurikulum. Jadi tidak heran bila tiap akhir tahun para lulusan SMA tersebut melelang bukunya. Karena memang bisa digunakan adik kelas. Itupun tidak semua buku karena justru sebagian besar dipinjamkan oleh pihak sekolah.

Di tempat ini pula beberapa waktu lalu teman-teman Mirna menyelenggarakan acara berjudul “ Save Palestine”.

« Mir, kami akan menyelenggarakan acara peduli Palestina. Kami ingin menggalang dana dan bantuan untuk rakyat Palestina, tanpa peduli apa ras dan agamanya. Kalau kamu tertarik bisa gabung dengan kami”, ucap Daniel, seorang mahasiswa asal Swiss yang merupakan aktifis kampus.

Tanpa banyak berpikir dan bertanya Mirna segera memutuskan mengikuti acara tersebut. Ia tahu mahasiswa Sorbonne memang banyak yang peduli terhadap nasib Palestina. Ini bukan untuk pertama kali mereka menggelar acara seperti ini.

Pagi itu pukul 9 pagi Mirna sudah berada di lokasi. Daniel terlihat sibuk memberi arahan teman-teman apa yang mereka harus lakukan. Dua buah meja panjang dipasang memanjang, lengkap dengan 6 kursinya. Di tengah meja disiapkan sebuah kotak surat dengan tulisan “ a messieur le president de la republique Francois Holland, a lÉlysee ».

« Boss, t-shirt pesanan kita sudah datang tuuh », lapor Ben, mahasiswa asal Amrik jurusan jurnalistik berkulit hitam itu kepada Daniel.  “Saya bagikan ya”, lanjutnya sambil membuka kotak berisi t-shirt hijau dengan tulisan besar “Save Palestine”di bagian depan, dan “Go to Hell Israel” di bagian belakang.

“ Kenapa kamu Mir”, tanya Rachel, mahasiswi asal Swedia melihat Mirna yang tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya melihat huruf-huruf besar di t-shirt tersebut. “ Mereka memang pantas go to hell koq”, lanjut Rachel tanpa menunggu jawaban Mirna. “ Lihat saja foto-foto tersebut”, sambil menunjuk ke papan yang terpasang di sisi kiri dan kanan meja panjang.

Panitia memang sengaja memajang foto-foto kekejaman tentara Israel terhadap rakyat Palestina. Masing-masing 2 papan penuh foto di kiri kanan meja. Bergidik Mirna menyaksikan foto-foto tersebut.

Tentu saja Mirna tahu persis kelakuan bejad tentara Israel yang doyan membantai rakyat Palestina, terutama Muslim Arab, dengan semena-mena, bahkan terhadap balita sekalipun! Cuma ia tidak menyangka saja teman-teman bulenya ternyata seberani itu mengexpresikan diri. Namun ia yakin kalau ini terjadi di Indonesia dan yang melakukan Muslim pasti sudah dicap terorisme. Duuh, sedihnya, batin Mirna.

Sekitar pukul 12 siang turis makin ramai memadati area pelataran. Udara cukup bersahabat, sekitar 18 derajat Celcius, matahari bersinar terang. Daniel tampaknya tidak salah memilih lokasi, turis yang lalu lalang mau tidak mau harus melewati lokasi acara mereka.

Ben dengan pengeras suara di tangan dan suaranya yang berat dan khas tidak perlu terlalu khawatir bersaing dengan suara musil break dance anak-anak muda tak jauh dari sana.

Hello dear brothers sisters, this is your chance to express your opinion about Palestine. Just take the postcard that you like, write on the other side what ever you want, and we will send it to the president of the republique, for free !”, teriaknya penuh semangat.

Ia mengulang ajakannya itu berselang-seling, bahasa Perancis dan bahasa Inggris.

Acara ini bisa dibilang sukses. Hingga acara ditutup pada pukul 8 malam, tercatat ribuan postcard siap dikirim. Daniel sebagai penanggung jawab acara dan beberapa mahasiswa lainnya akan membawanya langsung ke L’Elysee, istana kepresidenan Francois Hollande.

Pikiran Mirna melayang. Ia mencoba membayangkan bagaimana kira-kira reaksi sang presiden menerima surat tersebut. Bagimanapun masalah Palestina sangat berkaitan erat dengan dunia Islam. Islamophobia apalagi sejak peristiwa 11 September 2001 masih menghantui Barat. Sebaliknya banyak orang Barat yang akhirnya bersyahadat karena rasa penasaran dan mencari tahu kebenaran ajaran yang dibawa nabi Muhammad 14 abad silam itu.

Saat ini Islam di Barat termasuk Perancis berkembang begitu pesat, membuat pemerintah kebakaran jenggot. Hingga akhirnya keluarlah berbagai aturan yang merugikan Islam. Jilbab, pembangunan masjid dll adalah contohnya. Lupa bahwa negara ini berkoar-koar mengklaim sebagai negara yang menjunjung tinggi demokrasi dan toleransi. Sungguh ironis.

Bagaimana perasaan Napoleon ya sekiranya ia masih hidup”, pikir Mirna.

Tiba-tiba ia teringat perkataan dosen sejarah peradaban dunia di kampusnya, “ Sejarah mencatat ketika Islam memegang kekuasaan kaum minoritas jarang yang tertindas. Sebaliknya ketika Kristen mendominasi kaum minoritas hampir selalu tertindas. Penaklukan Yerusalem oleh sultan Salahuddin di abad 10 dan penaklukan kerajaan Andalusia di Spanyol di akhir abad 15 melalui peristiwa reconquista dibawah raja Ferdinand dan ratu Isabella, adalah contoh yang paling nyata”.

“Bagaimana dengan di Indonesia, aku dengar negaramu mulai diobok-obok seperti negaraku ya  ”, bisik Rukiyah, gadis Mesir yang duduk di sebelah Mirna.

“Alhamdulillah, tidak ada masalah. Kaum minoritas dapat leluasa menjalankan ajaran agama mereka. Rumah ibadah juga banyak, proposional tentunya ya, sesuai dengan  perbandingan pemeluknya. Tapi yaitulah, ada pihak yang tampaknya tidak senang dengan keadaan kami “, jawab Mirna setengah prihatin.

« Kriing », « Attention mademoiselle ! », terdengar bunyi bel sepeda dan teriakan si pengendara tepat di kiri telinga Mirna.

« Astaghfirullah », triak Mirna spontan membuyarkan lamunannya. Sebuah sepeda nyaris menyerempet dirinya. Mirna segera menepi. Namun tak urung sumpah serapah si pengendara sepeda tetap terdengar meski sepeda sudah agak jauh.

Mirna melirik jam tangan di pergelangannya, nyaris pukul 3. Pantas perutnya sudah terasa keroncongan, menandakan minta diisi. Mirna segera mengarahkan langkah kakinya menuju jalan setapak yang ramai dibanjiri turis yang ingin mencari makan.

C’est Halal mademoiselle”, seru para pelayan resto berlomba menawarkan resto mereka sambil memperlihatkan menu masakan yang mereka sajikan. Di tempat ini, restoran Halal memang banyak dijumpai. Tidak terbatas hanya resto cepat saji yang menjual kebab namun juga Tagine dan Kuskus, masakan traditional Maroko, selain masakan asli Perancis.

***

Jakarta, 16 Juni 2014.

Vien AM.

Read Full Post »

Natasya adalah namanya.  Ia dilahirkan 16 tahun yang lalu di Grosny, ibu kota Chechnya.  Namun hingga saat ini Tasya, demikian nama panggilannya, belum pernah melihat kota kelahirannya. Ibunya  telah membawanya  pergi meninggalkan kota tersebut ketika usianya 5 tahun. Kini ia tinggal di Pau, sebuah kota di Perancis Selatan. Disanalah ia mengecap bangku SMA. Tasya amat mencintai kota ini, meski  sebenarnya kisah duka lebih banyak menyelimuti hidupnya dibanding sukanya. Sejarah panjang kota tua ini telah menginspirasi dirinya agar tetap survive.

pau2Pau adalah ibu kota departemen / propinsi Pyrene Atlantik, satu dari 96 departemen yang dimiliki Perancis. Dari kota ini deretan pegunungan Pirenia yang merupakan pegunungan tertinggi ke 2 di Eropa, setelah pegunungan Alpen, jelas terlihat.  Pegunungan ini menjadi batas sebelah selatan Perancis dengan tetangganya, Spanyol. Pau, meski statusnya adalah ibu kota propinsi namun Pau bukanlah kota besar. Maklumlah Perancis yang luasnya tidak lebih dari luas pulau Kalimantan ini membagi negaranya menjadi 18 propinsi atau departemen yang dibagi lagi menjai 100 region, termasuk yang berada di luar daratan Eropa, yaitu Outre Mer.

Lamartine, penulis kenamaan sekaligus politikus Perancis, menyebut Pau « Pau est la plus belle vue de terre du monde comme Naples est la plus belle vue de mer ». Artinya, Pau adalah kota tercantik di dunia sebagaimana Napoli adalah  kota tercantik di dunia dilihat dari laut.

Mungkin agak berlebihan. Tapi tak dapat dipungkiri Pau dengan deretan pegunungan Pireneanya memang sangat cantik. Sejarah Pau memang unik. Di kota inilah lahir 2 tokoh besar Perancis.

Yang pertama Henry IV,  raja Perancis yang berkuasa pada tahun 1589 hingga 1610. Ia keturunan dari raja Louis IX. Henry IV diangkat menjadi raja ketika konflik antara pemeluk Kristen Katolik dan Kristen Protestan meraja lela. Bahkan untuk menjadi raja ia harus rela mengganti aliran kepercayaannya, dari Kristen Protestan menjadi Kristen Katolik, meski sebenarnya ketika lahir ia memang telah dibaptis sebagai Kristen Katolik.

Pada masa kekuasaannyalah Pakta Perjanjian Nantes ditanda-tangani. Ini adalah perjanjian toleransi antara ke dua aliran pemeluk Kristen yang telah berperang dan saling menumpahkan darah selama seratus tahun. Melalui perjanjian inilah akhirnya pemeluk Kristen Protestan bisa menjalankan ajarannya meski masih dibatasi.

Yang kedua adalah Jean-Baptiste Bernadotte, raja Swedia yang memerintah pada tahun 1818 hingga 1844. Laki-laki kelahiran Pau ini menjadi raja Swedia dengan gelar Charles XIV. Suatu hal yang teramat sangat langka dimana orang asing bisa diangkat sebagai raja suatu Negara. Apalagi Bernadotte sama sekali tidak memiliki darah Swedia dalam tubuhnya. Ia wafat dalam kedudukan masih sebagai raja.

Namun sejarah Pau sebenarnya jauh lebih tua dari ke 2 tokoh diatas. Bahkan lebih tua lagi dari chateau de Pau, kastil tempat tinggal  Henry IV sebelum menjadi raja Perancis. Ia menempati kastil gaya Mudejar ini ketika masih menjadi raja Navare. Kaum Mudejar adalah kaum Muslimin Spanyol  masa lalu, yang memilih tetap tinggal di tanah Andalusia pada masa-masa Reconquista (Penaklukan oleh kaum Kristen Katolik). Yaitu ketika kerajaan Islam Granada jatuh ke bawah kekuasaan raja Ferdinand II  dan ratu Isabel I.

Penguasa Kristen baru tersebut kemudian memaksa penduduk yang mayoritas Muslim itu untuk memilih satu diantara 3 pilihan, yaitu pergi meninggalkan tempat, dibunuh atau bertahan. Mereka yang bertahan ini kemudian dibagi atas 2 kelompok, Mudejar dan Mauris. Mudejar adalah mereka yang tetap Islam dan Mauris yang berhasil dipaksa masuk Kristen.

Mudejar sendiri  berasal dari kata Arab, Mudajjan, yang artinya bertahan. Orang-orang Mudejar kebanyakan adalah ahli seni. Mereka inilah yang kemudian dipaksa membangun bangunan-bangunan Kristen dengan gaya khas Islam Spanyol, itulah gaya Mudejar.

Disamping itu, jika ditilik dari posisinya yang sangat dekat dengan perbatasan Spanyol, Pau kemungkinan besar dulunya juga pernah menjadi bagian dari kerajaan Islam  Andalusia. Di masa ketika pasukan Islam hampir menaklukkan Poitier, kota di jantung Perancis, sekitar 300 km selatan Paris. Ini terjadi pada tahun 732M.

***

« Salut, je peux? », sapa Diva. Diva adalah murid baru di kelas Tasya. Pagi itu setelah memperkenalkan diri di depan kelas, wali kelas mempersilahkannya duduk di bangku yang dikehendakinya. Setelah sempat celingukan, akhirnya ia mendekati bangku Tasya. Ia meminta izin untuk duduk di bangku sebelah Tasya yang kebetulan memang kosong.  Tentu saja Tasya segera mengangguk dan menggeser duduknya.  Itulah awal persahabatan Tasya dengan Diva.

Diva berasal dari Indonesia. Gadis berjilbab ini pindah ke Pau karena ayahnya mendapat tugas di kota ini. Ia seorang gadis yang ceria dan cepat menyesuaikan diri.  Tidak heran bila dalam waktu relative singkat telah mempunyai banyak teman. Kebalikan dari Tasya yang cenderung tertutup dan pemalu. Namun ternyata hal ini tidak menghalangi persabatan mereka. Bahkan dari awal Tasya sudah dapat merasakan adanya kedekatan  emosi dengan teman barunya itu. Belakangan Tasya baru sadar bahwa persamaan tersebut adalah karena keduanya sama-sama Muslim. Hal yang sama sekali tak pernah diduga Tasya.

Oh jadi kamu orang Chenchen ?”, tanya Diva suatu hari begitu  tahu bahwa Tasya dari Chechnya.

Maaf, apakah kamu Muslim? Karena setahuku mayoritas penduduk Chechnya kan Muslim?”, tanya Diva lagi dengan mata berbinar.

Tasya hanya mengangguk pelan, tidak begitu yakin dengan dirinya sendiri, maklum ia jarang sekali shalat. Lingkungan tidak mendukung, itu yang selalu dijadikan alasan. Ibu Tasya memang shalat 5 kali sehari. Dulu ibu Tasya rajin mengingatkan putri satu-satunya itu untuk shalat, namun lama-lama ia tampak bosan karena ada saja alasan Tasya untuk menghindar kewajiban tersebut.

Sementara di sekolah, hal itu mustahil dilakukan.  Zuhur dan Ashar yang jatuh di jam sekolah otomatis Tasya lewatkan begitu saja, tanpa rasa bersalah sedikitpun. Tasya hanyalah pendatang, mungkin satu-satunya Muslim di lingkungan sekolah Kristen ini. Itu sebabnya terkejut Tasya mendengar niat Diva untuk shalat di jam-jam sekolah.

“Shalat adalah kewajiban Tas. G mungkin aku meninggalkan hal ini. Aku sudah terpaksa mengalah menanggalkam jilbabku yang sebenarnya juga wajib.  Namun apa boleh buat, daripada aku tidak sekolah  ”, ujar Diva suatu hari yang selalu membuka jilbabnya begitu turun dari bus atau mobil yang mengantarnya .

Perancis memang secara resmi melarang murid sekolah dari TK hingga SMA mengenakan jilbab. Pelarangan ini keluar pada tahun 2004, setelah adanya peristiwa September 2001.

“Itu sebabnya besok orang-tuaku akan datang menemui kepala sekolah, meminta secara resmi agar aku  diizinkan shalat di salah satu ruangan sekolah”, sambungnya.

Hal itu memang dilakukan kedua orang-tua Diva. Menurut keterangan Diva kepala sekolah bisa memahami keinginan tersebut. Ia menjanjikan jawaban secepatnya. Beberapa hari kemudian Divapun dipanggil  madame Boursier , wali kelas mereka. Ia mengizinkan Diva shalat di ruangannya.

“Alhamdulillah”, ucap Diva setelah menceritakan kabar gembira itu pada Tasya. Ia tampak begitu lega, sementara Tasya hanya terbengong-bengong.

Namun tak sampai 3 jam kemudian, ketika Diva sedang bersiap-siap melaksanakan shalat Zuhur, madame Boursier  kembali memanggilnya.

“Maafkan aku Diva. Aku mendapat laporan bahwa bila aku memberimu izin shalat di ruang ini, puluhan siswa Muslim yang ada di sekolah ini akan berbondong-bondong  shalat juga disini”, ujarnya tajam.

Dan aku tidak berani membayangkan apa  yang akan dikatakan orang. Jadi dengan terpaksa aku batalkan tawarkanku pagi tadi”, lanjutnya.

Namun bila kau tetap bersikukuh ingin shalat, kau bisa melakukannya di halaman sekolah, secara sembunyi-sembunyi”, tegasnya.

Diva hanya bisa terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Ia cukup terkejut ternyata ia tidak sendiri di sekolah ini.  Apakah itu berarti teman-teman Muslimnya selama ini juga tidak pernah shalat Zuhur dan Ashar ??

Sungguh mengerikan!”, begitu komentar ayah ibu Diva begitu mendengar laporan putrinya.

Selanjutnya Tasya melihat ibu Diva sering datang di waktu Zuhur. Diva melakukan shalatnya di dalam mobil. Sekali-sekali Diva bahkan pulang naik bus, untuk sekedar shalat, sekaligus  makan siang di rumah. Kebetulan ada beberapa hari dalam seminggu dimana jam istirahat berlangsung sekitar 2 jam.

***

Persahabatan antara Tasya dengan Diva  tanpa disadari telah membuat hidup Tasya lebih cerah dan berarti, sekaligus menantang. Tasya mulai membiasakan diri untuk shalat, dan berhati-hati dalam memilih makanan.

Kalau mau aman lebih baik memilih makanan laut”, bisik Diva suatu hari di kantin sekolah.

Selain pengetahuan mengenai keislaman, Diva yang supel juga berhasil membawa Tasya keluar dari sepinya kehidupan remajanya, masuk ke dalam pergaulan yang lebih luas. Berkatnya, Tasya jadi mengenal lebih baik Cecile, Francine dan Rukaya. Cecile adalah gadis asli Perancis, sedangkan Francine lahir dari ibu berdarah Vietnam dan ayah Perancis, sementara Rukaya adalah keturunan Mesir, Muslim, meski  jarang shalat.  Berlima mereka menjalin persahabatan.

Pernah suatu hari, Diva kelabakan mencari jilbabnya yang biasanya ia simpan di dalam tasnya. Kelima sahabat tersebut segera membantu Diva. Setelah mencari kesana kemari akhirnya mereka menemukan jilbab tersebut tergantung di kipas angin yang tergantung di atap kelas.

Pasti ini pekerjaan Kevin ! Awas, besok akan kuhajar dia !”, teriak Cecile kesal. Cecile memang seorang yang tomboy, ia jago bela diri.

Dan benar, besoknya Kevin memang ia hajar.

Jangan sekali lagi kamu berani mengerjai Diva yaa ! »bentaknya.

Sejak itu tidak ada satupun teman yang berani mengganggu Diva dan kelompok mereka.

Namun demikian Tasya belum mampu sepenuhnya membuka rahasia dirinya, terutama kepada Cecile, Francine dan Rukaya.  Diva tampaknya menyadari hal tersebut tapi tidak ingin memaksanya. Ketika mereka  ada janji untuk rendez-vous,  untuk nonton bioskop atau sekedar berkunjung ke rumah teman, misalnya, dan Diva ingin menjemput dan mengantarnya, Tasya selalu meminta untuk  tidak diantar-jemput di rumah,  melainkan di suatu tempat yang agak jauh. Padahal Tasya telah beberapa kali ke rumah Diva.

Tampaknya  Tasya tidak siap melihat reaksi dan tanggapan sahabat-sahabat barunya bila mereka mengetahui dimana Tasya tinggal selama ini. Hingga suatu hari, ketika pembagian raport, Diva menanyakan apakah ibu atau ayahnya akan datang mengambilnya.

“ Ibuku ingin berkenalan dengan ibumu Tas, datang g”?”, tanya Diva.

Ibuku tidak bisa berbahasa Perancis Div, tidak juga bahasa Inggris”, jawab Tasya pelan, sedikit malu.

“Disamping itu ibu juga kurang sehat. Biasanya ayah atau kakak lelakiku yang datang, tetapi saat ini mereka sedang tidak ada di tempat. Aku  tidak yakin apakah ibuku mau hadir atau tidak. Kalaupun mau,  berarti aku harus mendampinginya agar bisa menterjemahkan penjelasan madame Boursier nantinya”, jelas Tasya.

Diva hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Tasya, sebelum akhirnya bertanya “Kamu bicara bahasa apa di rumah, Chechnya?”, “ajari aku dong”, pintanya.

Begitulah akhirnya Tasyapun mulai bercerita banyak mengenai keluarga dan tanah airnya. Sebuah kenangan buruk  yang lama telah dikubur dalam-dalam.

***

« Terus terang aku sudah tidak ingat lagi seperti apa negriku.  Namun karena ayahibuku sering menceritakannya maka kadang timbul juga keinginanku untuk suatu hari mengunjunginya”, begitu Tasya membuka lembaran lamanya.

Chechnya, dengan Grosny sebagai ibukota,  adalah Negara pecahan Uni Sovyet.  Negara ini terletak di pegunungan Kaukasus utara, di antara laut Hitam dan danau Kaspia, berbatasan dengan Ukarina di barat laut, Dagestan di timur dan Georgia di selatan. Sama seperti Chechnya, Ukraina, Dagestan  dan Georgia, ketiganya adalah juga bekas bagian dari Uni Sovyet.

Sebelum abad 18, hubungan bangsa Chenchen yang mayoritas Muslim, dengan para tsar Moskow relative masih cukup baik. Namun setelah itu, Moskow meng-ekspansi Chechnya  secara militer. Di bawah pimpinan raja-rajanya, yaitu Peter I, kemudian Catherine II,  Chechnya yang dikenal memiliki pejuang-pejuang yang tangguh itu terpaksa takluk.

Pada tahun 1834, Imam Shamil berhasil meneruskan impian pendahulunya. Ia berhasil melawan dominasi Rusia dan mendirikan pemerintahan  Islam syariah, yang dikenal dengan nama Imamat, meski hanya bertahan   selama 27 tahun. Setelah itu Chechnya kembali jatuh. Rusia menyedot  Chechnya yang tanahnya subur dan memiliki kekayaan alam berlimpah, membiarkan rakyatnya tetap miskin.  Penjajahan juga terjadi terhadap kehidupan sosial budaya mereka.  Demi alasan persatuan, bahasa dan budaya tradisional dilarang penggunaannya. Demikian pula kehidupan beragama.  Perlawanan memang terus terjadi tetapi tanpa hasil memuaskan.

Hingga ketika PD I meletus , rakyat Chechnyapun bereaksi kembali. Namun pemerintahan kolonial tersebut menanggapinya secara kejam dan tidak berperikemanusiaan.  Mereka memerintahkan pembasmian ras alias genosida terhadap bangsa ini. Hampir 40% orang Chechnya  hilang atau tidak jelas keberadaannya.   Mereka dibunuh, diusir  atau diasingkan.

Ironisnya, mungkin karena rasa ketakutan yang amat sangat, rakyat justru terpecah. Sebagian ingin bergabung dan benar-benar takluk kepada pemerintah, sebagian lain ingin menggabungkan diri dengan Barat dan sisanya bersikukuh mempertahankan ke-islaman mereka dengan bergabung dengan Turki Ottoman. Akhirnya perang saudarapun tak terhindarkan.

Di masa pemerintahan Gorbachev yang terkenal dengan glasnost dan perestroikanya, Uni Sovyetpun hancur. Ini membuka peluang baru bagi kemerdekaan bangsa Chechen. Dipimpin oleh Jenderal Dzhokhar Dudayev, ibukota Grozny direbut pada tahun 1991. Proklamasi berhasil dikumandangkan, namun tetap tidak diakui presiden Rusia terpilih, Boris Yeltsin. Keadaan makin memanas. Pada masa-masa itulah Tasya lahir.

 “ Masa kecilku dipenuhi oleh ketakutan.  Hampir setiap hari aku mendengar berita hilangnya atau matinya saudara atau handai taulan. Ayah dan kakak lelakiku sering tidak berada di rumah karena ikut berperang. Bahkan adik kembarku yang baru berusia 3 tahunpun ikut menjadi korban”,  cerita Tasya.

Aku sedang tertidur lelap, ketika tiba-tiba terdengar suara tembakan tidak jauh dari rumahku”.

“ Bangun Tasya, bangun, cepat ! », terdengar teriakan ayah yang tiba-tiba sudah berada di depanku, dan langsung menyambarku. Ketika itu usiaku sekitar 5 tahun. Ibu segera menggendong salah satu adik kembarku, sementara kakak lelakiku, Gelayev,  menggendong kembaran yang lain.

Kami segera berlari ke belakang menuju garasi, dan bergegas masuk ke dalam mobil. Aku sempat melihat sebuah koper dan setumpuk barang di dalam mobil, tampaknya ayah memang sudah menyiapkannya sewaktu-waktu kami membutuhkannya . Ayah langsung duduk di belakang kemudi kendaraan setelah mendudukkanku  di kursi belakang, di sebelah ibu yang memangku adikku. Kakakku duduk di kursi depan di samping ayah, sambil memangku adikku yang lain.

Mobilpun cepat bergerak mundur, berputar arah dan meninggalkan rumah dengan kecepatan tinggi menembus kegelapan malam. Suara tembakan berkali-kali menggelegar di belakangku. Kedua adik kembarku terus menangis. Aku sendiri, mungkin saking  ketakutannya malah tidak bisa menangis. Aku  betul-betul merasa tegang.  Sambil memegang erat lengan ibu yang kulihat terus berdoa, berkali-kali aku menengok ke belakang , ingin memastikan tidak ada yang mengikuti kami. Aku sempat melihat bola api raksasa menjulur ke langit, kemudian terdengar ledakan dasyat.   Duuuaaar !!

“ Ya Allah, apa itu yang mereka ledakkan ? “, tanya ibu panik.

Itu tentara Mujahidin dalam serangan fajarnya”, sahut ayah, “ Kalian harus tenang.  Berdoalah semoga Allah membantu kita.  Ini saat yang sangat  genting.  Seperti  yang sudah kita rencanakan, kau, Natasya dan si kembar harus segera meninggalkan negri ini. Pasport dan semua surat-surat sudah siap. Perancis adalah tujuan kalian. Mudah-mudahan dalam waktu seminggu ini kalian sudah bisa terbang. Percayalah, ini hanya sementara. Aku dan Gelayev akan tetap bertahan disini, bersama para Mujahidin”, ayah berkata sambil terus menancapkan gas kendaraan menuju ke luar kota.

« Berapa usia Gelayev, kakakmu ketika itu  ? »potong Diva.

“ 11 tahun. Tapi penampilannya jauh lebih dewasa dari umurnya. Mungkin karena keadaan. Kami terpaut agak banyak karena ibuku pernah 2 kali keguguran”, jawab Tasya, memaklumi rasa penasaran Diva.

“ Aku tidak ingat berapa lama kami berada di dalam keadaan seperti itu. Tampaknya aku ketiduran. Tahu-tahu ketika aku terbangun sudah di berada di dalam sebuah bangunan tua, bersama beberapa orang yang tidak aku kenal, kecuali ibu dan adik kembarku.  Ayah dan Gelayev tidak terlihat”.

Ibu mengatakan bahwa kami hanya akan beberapa hari saja di tempat penampungan ini.

« Kita tunggu ayah disini, setelah itu akan pindah ke tempat yang lebih baik», begitu selalu jawaban ibu. Namun nyatanya kami cukup lama berada di tempat itu. Hingga suatu hari ketika aku sedang sibuk mengangkati jemuran pakaian, kami dikejutkan suara ledakan.  Suara itu terdengar dekat sekali. Orang-orang segera berhamburan keluar.

« Ada  ranjau meledak ! »teriak seseorang.

Disana !”, teriaknya lagi.

Tiba-tiba aku teringat bahwa adik kembarku tidak ada di dekatku. Padahal  tadi mereka sedang asik bermain tidak jauh dariku. Perasaanku segera saja menjadi tidak karuan. Bersama orang banyak aku segera ikut berlari mendekati lokasi ledakan.

“ Ya Allah, sungguh aku tidak akan bisa melupakan peristiwa tersebut. Aku melihat adikku tergeletak dalam keadaan bersimbah darah. Sementara kembarannya memandang bingung sambil memegang sesuatu di tapak tangannya. Namun sebelum aku sadar apa yang sebenarnya terjadi, seseorang segera merampas apa yang dipegang adikku dan melemparmya jauh-jauh.  Dooooaar !  Langsung benda tersebutpun meledak memekakkan telinga”.

Aku segera menarik adikku yang menangis kencang dan memeluknya erat-erat.  Tak lama kemudian orang-orangpun datang berkumpul dan melarikan adikku yang bersimbah darah tadi menuju pos P3K yang  letaknya tak jauh dari lokasi ledakan. Namun nyawanya tak tertolongkan, ranjau itu tampaknya meledak tepat ketika ia mengambilnya, menghancurkan tubuh kecilnya. Terdengas tangis ibu, yang sudah ada di sampingnya. Sekilas aku melihat pandangan ibu yang menyalahkanku. Ya Allah maafkan aku.

Kali ini Tasya benar-benar menangis, mengingat kejadian memilukan 11 tahun yang lalu. Diva segera menghibur Tasya, “Tentu ini bukan salahmu Tasya, bukankah umurmu ketika itu tidak lebih dari 5 tahun bukan?”

“Ibu memang tidak pernah menyalahkanku, tapi pandangan ibu yang hanya sekilas itu tetap saja sulit hilang dari ingatanku.  Apalagi ketika sebulan kemudian adikku meninggal karena kekurangan gizi. Maklum selama di pengungsian tersebut pasokan amat sangat terbatas. Maka ketika akhirnya ayah datang, ibu langsung setuju untuk segera pergi meninggalkan negri  kami menuju Perancis. Terlalu banyak kenangan pahit yang harus kami telan di negri kami ini ”, kata Tasya pelan, sambil mengusap air mata.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”, ucap Diva sambil mengelus pundak sahabatnya.

“Katakan aku untuk berhenti bila kau mulai bosan mendengar ceritaku Diva, tidak ada cerita yang menarik dari kehidupanku ”, kata Tasya pada Diva.

Sama sekali tidak, Tasya, justru sebaliknya.  Terus terang aku tidak mengira ada kejadian seperti dirimu di zaman modern ini”, ucap Diva.

Aku memang pernah mendengar cerita semacam itu, yaitu dari nenekku. Tapi itu di zaman negaraku  masih dijajah Belanda puluhan tahun lalu, sebelum kami merdeka », lanjut Diva lagi.

« Tapi terserah kamu Tasya, kita masih punya banyak waktu koq. Kalo kamu masih mau bercerita dengan senang hati aku mendengarkan. Tapi kalo tidak ya lain waktu saja. Mungkin ada baiknya kalo kita  refreshing dulu, kita jalan-jalan dulu yuuk ? », ajak Diva sambil menggandeng tangan Tasya.

Maka jadilah Diva dan Tasyapun berjalan-jalan.  Keduanya  menyusuri bulevard de Pyrene sambil menjilati es krim yang mereka beli di tukang es keliling yang berada di sudut taman. Udara musim semi yang mulai menghangat,  dengan aneka bunganya yang mulai berkembang indah membuat keduanya sejenak melupakan cerita kelam Tasya.

«Kami masuk ke negri ini melalui Afrika utara. Selama dua tahun kami berpindah-pindah tempat, mulai dari Malaga dan Valencia  di Spanyol, hingga akhirnya di Pau ini. Tapi jangan tanya aku mengapa kami memilih Perancis ya, aku tidak tahu sampai sekarang ini », tanpa diminta Tasya meneruskan ceritanya yang tadi terputus.

« Di pengungsian kami tidak sendiri, ada beberapa keluarga Chechnya lain selain keluarga Iran, Palestina dan lain-lain. Sementara ayah dan Gelayev  baru menyusul setelah kami 2 bulan berada di Malaga.  Namun ayah tak sampai 6 bulan sudah kembali ke Chechnya karena  pertempuran memang belum selesai. Gelayev sendiri terus bersama kami hingga kami menetap di Pau. Ia yang membantu kehidupan baru kami di kota ini. Ia benar-benar seorang anak sekaligus kakak yang patut dibanggakan. Ntah apa jadinya kalau ia tidak ada”, kenang Tasya.

Apakah setelah itu ayahmu tidak pernah menengok ibu dan dirimu lagi?”, tanya Diva penasaran.

 “ Tentu saja, tetapi setelah kami di Pau. Dan tidak pernah lama, bahkan Gelayevpun setelah itu sering kembali ke Chechnya, berjihad bersama ayah dan ribuan orang Chenchen lainnya. 3 tahun yang lalu Gelayev kehilangan salah satu kakinya, tertembak di dekat tempurung lututnya hingga terpaksa diamputasi . Namun dia tetap tegar. Ia tetap sering ikut ayah berperang, hingga detik ini», jelas Tasya dengan nada penuh kekaguman.

Bagaimana dengan ibu dan dirimu, bagaimana kalian hidup dan mencari penghasilan di tempat baru yang pasti masih asing bagi kalian?”, tanya Diva setelah lama termangu.

Mulanya kami masih bisa mengandalkan uang bekal yang dibawa. Namun setelah beberapa bulan berlalu bekal tersebutpun sudah pasti makin menipis. Gelayev segera berinisiatif untuk mencari pekerjaan. Ia mengerjakan apa saja yang ia bisa kerjakan untuk sekedar mendapat upah. Aku juga  sempat mengemis “, ujar Tasya pelan, pandangannya kosong jauh ke depan.

“ Selama beberapa tahun kami tinggal di tempat-tempat pengungsian illegal. Beberapa kali kami harus berpindah tempat karena diusir. Ibu sempat berpikir untuk kembali saja ke negri kami, namun ayah tidak setuju. Ayah meminta kami untuk bersabar. Keadaan di Chechnya benar-benar tidak kondusif. Begitu alasan ayah”, terus Tasya.

Hari mulai sore. Matahari telah condong ke barat, bersembunyi di balik awan di atas untaian pegunungan Pirene yang saljunya sudah mulai meleleh. Diva melirik ke jam tangan di pergelangan tangannya.

“Jam berapa ini Div ? Aku harus pulang nanti ibu khawatir bila aku pulang terlalu sore. Kapan-kapan aku teruskan lagi ceritaku,  kalau kau masih berminat   », kata Tasya.

Jam 5 kurang. Iya, kapan-kapan dilanjutkan ya . Kita belum shalat Ashar lho”, jawab Diva mengingatkan.

Kalo aku masih bisa di rumah, kamu gimana, mau ke rumahku dulu? Atau di sini aja? ”, tanya Diva lagi sambil celingukan mencari tempat yang agak tersembunyi untuk shalat.

Tasya termangu sejenak, sebelum akhirnya menjawab, “  Iya deh disini aja. Tapi wudhunya gimana ? »,tanyanya lagi.

« Hemm dimana yaa .. Tuuh, ada keran disana », jawab Diva lagi.

Seperti juga di kota-kota besar Eropa, Pau memiliki banyak keran air umum dengan berbagai bentuk yang indah. Airnya bisa diminum. Tapi tidak jarang pula anjing yang banyak dipelihara bule-bule itu dan diperlakukan layaknya seorang anak bahkan lebih mungkin, minum di tempat itu juga. Bahkan menjilatinya !

Eh g jadi deng, najiiiis ”, seru Diva yang tiba-tiba teringat hal itu.

Akhirmya Tasyapun hanya tayamum dan shalat sambil duduk di salah satu bangku yang ada di dekat situ. Kebetulan bangku itu agak tersembunyi, jadi gadis Checnya itu bisa tenang menjalankan shalatnya.

“ Terima-kasih ya Allah telah Kau pertemukan aku dengan Diva yang senantiasa mengingatkanku untuk shalat. Balaslah ia dengan balasan yang terbaik”, mohon Tasya pada Tuhannya, di akhir shalatnya.

Usai shalat kedua gadis tersebut meninggalkan taman dan segera menuju halte bus yang letaknya tidak jauh dari apartemen dimana Diva tinggal. Hingga di sebuah pertigaan, Tasya tiba-tiba bertanya ,

“ Ingatkah kau Div, kau pernah memergokiku di tempat ini?”.

« Tentu. Sebenarnya apa yang terjadi ketika itu? « , Diva balik bertanya.

Tentu saja ia tidak dapat melupakan kejadian beberapa bulan lalu tersebut.  Siang itu ia sedang berjalan kaki dengan ibunya  menuju pertokoan yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari kediamannya. Ketika itulah tiba-tiba ia mendengar suara kencang mobil bertabrakan. Orang-orang segera berlarian mendekati lokasi tabrakan.

Hei apa-apain ini, g bisa nyetir apa?”, teriak pengemudi Renault 407 keluaran terbaru sambil keluar dari mobil, membanting pintu dan menghampiri pengemudi  Peugeot  tua yang tampak ketakutan di dalam mobilnya.

Kalau saja orang-orang yang berada di dekat sana tidak segera melerai pasti si pengemudi Peugeot tua  sudah babak belur. Tampaknya pengemudi Peugeot tersebut adalah orang asing. Dengan terbata-bata ia meminta maaf dan berjanji akan menanggung seluruh biaya perbaikan mobil yang ditabraknya itu. Ia memohon supaya kejadian tersebut diselesaikan secara damai, tidak perlu dilaporkan ke polisi.

Namun yang mengejutkan Diva, orang yang berada di sebelah pengemudi Peugeot. Dia adalah Tasya !

Keduanya sempat beradu pandang. Tapi sebelum Diva menyadari bahwa itu sahabatnya, sahabatnya itu telah menyingkir ntah kemana.  Diva sempat berusaha mencarinya tapi tidak berhasil. Keesokan harinya ketika Diva ingin menanyakan kejadian tersebut, Tasya tampak tidak senang dan berusaha menghindar. Diva akhirnya diam saja dan berusaha melupakannya.

“ Itu ayahku  … Kami tidak mempunyai surat-surat penting, maklum kami imigran gelap, kau tahu kan sekarang”, jelas Tasya.

“ Ayah selalu memperingatkanku dan ibu untuk segera menyingkir bila harus berurusan dengan polisi. Apapun masalahnya, benar  apalagi salah, kami bisa di deportasi kalau sampai tertangkap aparat », keluh Tasya.

Diva hanya diam seribu bahasa, tidak tahu harus berkata apa. Menjadi pengungsi di negara manapun pasti tidaklah menyenangkan.  Dalam hati Diva berdoa semoga hal ini tidak akan terjadi terhadap diri, keluarga dan bangsa Indonesia.

Patut menjadi catatan, Perancis saat ini menjadi tuan rumah ribuan pengungsi dari berbagai negara. Kebanyakan mereka mengungsi karena negaranya mengalami peperangan. Dengan membawa bekal seadanya mereka rela meninggalkan kampung halaman, sanak keluarga, rumah dan harta benda mereka. Awalnya ada yang sanggup menginap di hotel selama beberapa minggu. Namun lama kelamaan bakal merekapun habis. Hingga akhirnya mereka terpaksa bertahan di kamp-kamp pengungsian yang sangat minim fasilitasnya.

Yang lebih menyedihkan lagi, mereka ini kebanyakan dari negara-negara Muslim, seperti Suriah, Mesir, Maroko dll. Dan yang paling menyakitkan lagi sebagian mereka ini adalah korban kekejaman para diktator Syiah yang memang menganggap bahwa orang-orang Sunni yang merupakan mayoritas Muslim dunia adalah musuh nomor satu mereka. Sungguh ironis !

Aku turut prihatin, alangkah beratnya penderitaanmu Tasya … “, ucap Diva akhirnya.

Tasya hanya diam. Keduanya terus berjalan hingga akhirnya tiba di halte bus dimana mereka harus berpisah.  Tak lama kemudian bus yang dinantipun tiba. Mereka segera berpelukan.

 “ A demain, sampai besok!”, seru keduanya hampir bersamaan.

Buspun berjalan meninggalkan Diva yang terus melambaikan tangannya hingga bus berbelok dan hilang dari pandangan gadis tersebut.

 ***

Di dalam bus Tasya tampak merenung.  Gadis ini sungguh merasa bersyukur bahwa Allah swt telah berkenan  mempertemukannya dengan Diva.  Hidup di rantau jauh dari akar dan budaya tempat ia dilahirkan, bukan berarti dapat menjauhkannya dari ajarannya.  Banyak yang dapat ia lakukan agar hidup ini tidak sia-sia, agar pengorbanan ayah ibu kakak dan adiknya tidak percuma.

Aku harus jadi orang yang berguna, bermanfaat bagi diri, keluarga, lingkungan, bangsa dan agama. Aku harus menjadi seorang Muslim yang teguh pendirian, yang tidak setengah-setengah, yang bisa menjadi teladan bagi orang lain”, begitu pikir Tasya.

Tak terasa bus telah tiba di tujuan, Tasya segera turun dan berjalan cepat menuju tempat tinggalnya yang masih agak jauh dari halte tempat ia turun. Setibanya di rumah, ia melihat ibunya sedang shalat Magrib.  Tasya segera menuju kamar mandi, mencuci kaki tangannya kemudian berwudhu. Setelah itu ia masuk ke kamarnya, membuka lemari dan mencari syal yang dapat ia gunakan sebagai jilbab pertamanya. Ia mematut-matut diri di depan kaca sebelum akhirnya keluar dan menemui ibunya yang baru saja selesai shalat.

Assalamualaykum,  maaf kemaleman ya bun Tasya pulang”, ujar Tasya sambil mencium tangan ibunya yang sudah mulai dipenuhi keriput itu.

Waalaykum salam”, jawab ibu sambil memandang putri satu-satunya itu.

“ Jadi kamu tadi pergi pakai jilbab ? »tanya ibu penuh tanda tanya.

“ Ngga sih, tapi Tasya janji mulai hari ini Tasya akan pakai jilbab kalau ke luar rumah. Insya Allah ini akan jadi tanda awal Tasya untuk istiqomah. Doain bun yaa ..”, pinta Tasya.

Ibu segera menarik dan memeluk erat Tasya ke pelukannya. Air mata menetes dari sudut mata yang menyimpan seribu derita tersebut.

Subhanallah Alhamdulillah”, hanya itu yang keluar dari bibir ibu yang terlihat gemetar menahan kebahagiaan yang sungguh tak terkira.

Tiba-tiba kata-kata ayah beberapa minggu yang lalu terngiang kembali di telinga Tasya.

Negri kita saat ini, terutama Grosny, memang sudah menjadi indah dan maju. Masjid agung yang besar nan megah menghiasi kota itu. Namun sayang, penduduknya yang sudah terkontaminasi dengan slogan demokrasi dan toleransi ala Barat, hanya menggunakan rumah Allah tersebut di hari Jumat.  Sekulerisasi di segala bidang sudah menguasai cara berpikir sebagian penduduk. Sungguh tepat sekali perkiraan  rasulullah seribu empat ratus tahun yang lalu bahwa umat Islam di akhir zaman banyak tapi hanya seperti buih. Artinya mereka tidak berkwalitas, lemah dan tunduk kepada orang kafir”.

“  Aku tidak boleh dan tidak mau jadi buih itu”, bisik Tasya dalam hati.

Aku ingin agar orang-orang di sekitar sini tahu dan mengenal apa itu sesungguhnya Islam. Bumi ini milik Allah, bukan milik satu bangsa tertentu. Kami bukan pengemis apalagi  teroris yang harus dibasmi », tegasnya lagi penuh percaya diri.

Ya disinilah, di Pau, kota di Perancis sebelah selatan yang berbatasan dengan Spanyol, dimana dulu kebesaran Islam pernah mencapai kejayaan, seorang gadis Muslim imigran bernama Natasya, berjanji akan memperkenalkan indahnya Islam.  Allahuakbar …

***

Jakarta, 10 Mei 2014.

Vien AM.

Read Full Post »

Ali diam tertegun. Pagi itu seperti biasa ia bangun pukul 4 pagi. Bersama ke 3 kakak lelakinya mereka bergegas menuju masjid untuk menunaikan shalat subuh berjamaah. Ayahnya kali ini tidak menyertai mereka karena sudah beberapa hari ini ia demam tinggi, badannya menggigil. Ali dan kakak-kakaknya tidak shalat di masjidil Aqsho’ melainkan dimasjid Umar yang letaknya  lebih jauh dari masjidil Aqsho ke rumah. Namun bukan hal ini yang menyebabkan Ali diam terpaku. Karena walaupun rumah sempit yang disesaki ayah, ibu, nenek, kakek, 3 kakak lelaki, 1 adik perempuan dan 2 adik lelaki kembar ini menempel ditembok Al-Aqsho mereka nyaris tidak pernah bisa melaksanakan shalat subuh di masjid suci ke 3 didunia ini. Karena pihak pendudukan Israel tidak mengizinkannya. Dan ini telah berlaku sejak ia lahir 10 tahun yang lalu.

Bukan .. bukan itu. Lalu apa ? Ali terdiam karena jalan yang biasa dilaluinya untuk menuju sekolah ditutup. Pagar kawat setinggi 3 meter terpampang di depan matanya. Beberapa temannya yang sudah tiba terlebih dahulu juga terlihat diam terpaku. Mereka tidak berani coba-coba melintasi pagar yang kelihatannya  biasa-biasa itu. Ini bukan disebabkan sejumlah tank yang sengaja ditempatkan pemerintah Israel untuk berjaga-jaga di hadapan kawat tersebut. Tank bagi anak-anak Palestina memang bukan barang yang membuat mereka kecut namun karena anak-anak ini paham betul bahwa pagar kawat tersebut beraliran listrik !!

Tak sampai 10 menit kemudian tempat tersebut telah dipenuhi anak-anak yang hendak pergi ke sekolah. Beberapa orang tua yang mendampingi anak-anak mereka mulai berteriak-teriak : “ Hei Yahudi keparat .. apalagi mau kalian .. tidak bisakah kalian barang sedetikpun membiarkan kami tenang … !! “ ; “ Lihat anak-anak ini .. mereka hanya hendak pergi ke sekolah !! “ ; “ Astaghfirullah .. mengapa kalian tutup pintu ini  … “ ; “ Hei Yahudi .. tampakkan diri kalian .. jangan hanya bersembunyi dibalik  kendaraan besi keparat itu ..!! “

Tak ada jawaban dan reaksi sedikitpun dari balik pagar. Sementara orang-orang mulai kesal. Sebagian bayi yang berada di gendongan ibu yang mengantar anaknya sekolah mulai terdengar menangis, sejumlah balita  mulai merengek dan menarik-narik ujung celana ayah atau baju ibu mereka. Ali tetap diam menunggu dengan pandangan tegang. Ia tahu sebentar lagi pasti akan terdengar tembakan dan korbanpun bakal berjatuhan.

Mendengar keributan tersebut wargapun mulai datang berduyun-duyun. Mereka mulai memunguti apa saja yang bisa dipungut. Tak ayal lagi batu dan kayupun beterbangan menuju tank melewati pagar kawat listrik itu.

Ayo anak-anak .. kita tinggalkan tempat ini. Biarkan bapak-bapak dan kakak-kakak kalian mengurusi ini semua.”, terdengar  suara lantang uztad Hambali, guru sekolah mereka.

Tugas kalian adalah belajar, menghafal ayat –ayat Al-Quran .. kalian adalah aset Palestina yang paling berharga … ayo .. ayo ..”, serunya membangkitkan semangat.

Anak-anak menurut dan pergi meninggalkan tempat dengan segera. Sebaliknya dengan Ali. Dengan berat hati ia mentaati perintah sang guru. Sambil berjalan mundur, matanya tidak mau lepas dari tempat tersebut. Ingin rasanya ia membantu kakak-kakak dan bapak-bapak itu melawan orang-orang zalim yang telah membuat salah satu adiknya meninggal dua tahun lalu. Adik kecilnya yang baru berusia 4 tahun itu terkena ledakan bom kecil yang tercecer di pekarangan rumahnya. Ketika itu ia dan adiknya sedang bermain-main. Tiba-tiba adiknya menemukan benda berbahaya tersebut. Kemudian  menendang-nendangnya tanpa mengira bahwa barang tersebut ternyata adalah bom yang masih aktif !!

« Ayo .. cepat anak-anak .. Ali .. perhatikan langkahmu ! », teriakan kencang pak  Hambali membuyarkan ingatan Ali. Ia segera berbalik badan dan berlari menyusul teman-temannya yang sudah berjalan agak jauh meninggalkannya.

Sekitar 30 anak terkumpul sudah di dalam kelas. Mereka segera membaca surah Al-Fatihah. Setelah itu satu persatu anak maju ke depan kelas untuk menyetor hafalan mereka. Target uztad Hambali, guru yang telah berusia 75 tahun ini, anak-anak hafal seluruh isi Al-Quran akhir tahun ini. Saat ini sebagian besar anak telah hafal 25 juz.

Uztad Hambali mengajar anak-anak dengan tegas namun penuh kesabaran. Ia adalah seorang mujahid. Itu sebabnya dalam usianya yang 75 tahun itu perawakannya masih tegap meski ia telah kehilangan salah satu kakinya. Anak-anak sangat menyayangi sekaligus menghormatinya. Di sela-sela waktunya mengajar ia sering menceritakan pengalaman dan perjuangannya.

Palestina dulu dan sekarang seperti bumi dan langit « , begitu keluhan yang sering kali diucapkannya dengan nada pilu. “ Dulu Palestina tenang dan damai. Islam, Kristen dan Yahudi saling menghargai. Pemerintahan Islam yang ketika itu memegang pimpinan tahu betul apa itu Islam. Islam adalah agama yang menjunjung tinggi toleransi. Agamamu adalah agamamu dan agamaku adalah agamaku. Ingat selalu surat Al-Kafirun « , ucap pak Hambali sambil memandang ke arah jendela kelas yang terbuka lebar tanpa daun jendela.

«  Namun lihat apa yang terjadi begitu pihak Yahudi memegang kendali. Pertikaian dan permusuhan terus terjadi setiap hari setiap detik. Mereka hanya memikirkan nasib bangsa dan agamanya sendiri. Kita, umat Islam yang saat ini dalam keadan lemah menjadi sasaran empuk dan bulan-bulanan. Kita terus didesak dan dikucilkan. Tanah kita terus mereka ambili. Hak kita mereka injak-injak. Ironisnya, semua ini atas sepengetahuan PBB, badan international  yang mustinya berlaku adil terhadap semua pihak”, sekali lagi uztad Hambali memandang ke arah jendela. Namun kali ini dengan pandangan khawatir. Ali yang melihat jelas perubahan air muka gurunya itu segera ikut memandang ke arah jendela. Sebuah pesawat melintas diatas madrasah mereka. Suaranya benar-benar memekakkan telinga.

Ingat anak-anakku Allah swt telah memilih dan memuliakan kita sebagai rakyat Palestina. Tanah kita ini telah dipilih menjadi tempat dimana pertempuran akhir zaman akan terjadi. Pertempuran antara hamba yang takwa dan hamba yang mendurhakai-Nya. Antara kaum Muslimin dan kaum Yahudi terlaknat yang menjadikan Dajjal sebagai pemimpin mereka. Masjidil Aqsho adalah masjid yang harus kita pertahankan. Jangan biarkan orang-orang kafir merebutnya .. Allahuakbar .. Allahuakbar .. Allahuakbar … “. Seruannya itupun langsung  disambut oleh murid-muridnya dengan penuh antusias.

Bersamaan dengan itu tiba-tiba terdengar suara keras menggelegar di halaman samping kiri madrasah. “ Tiarap .. tiarap “,seru uztad Hambali. Anak-anak yang semula telah siap berlari berhamburan menuju pintu kelas segera membatalkan niatnya dan langsung tiarap,  sesuai perintah guru mereka.

Tak lama kemudian terdengar lagi suara pesawat berderu tepat di atas kepala mereka. Tanpa diperintah anak –anak secara otomatis berseru : “ Allahu akbar ..Allahuakbar .. “. Terdengar suara ledakan dasyat. “ Buuuummmm “ !! Kali ini bom jatuh di sisi kanan madrasah.

Lari-lari .. cepat menuju persembunyian “, teriak uztad Hambali dengan suara parau. Murid-murid segera berlari menuju ruang bawah tanah  di ujung madrasah. Ali sempat melirik ke luar. Api besar menyala dan melahap ruang kelas sebelah. Ia melihat orang-orang berlarian berusaha menyelamatkan murid-murid di tempat itu. Suara tangisan dan jerit ketakutan terdengar menggema.

Beberapa menit kemudian ruang bawah tanahpun telah sesak dijejali para murid dan guru. Suasana terasa tegang dan mencekam. Uztad Hambali segera mengajak mengucap takbir dan tahmid. Beberapa menitpun berlalu. Uztad Hambali dan seorang uztad lain keluar meninggalkan ruangan. Anak-anak tetap didalam, menanti dengan hati berdebar.

Tak lama kemudian  keduanya muncul kembali.  Wajah dan rambut mereka dipenuhi debu dan arang. Dengan lega mereka mengabarkan  bahwa untuk sementara keadaan telah aman. Anak-anak boleh keluar dan kembali ke rumah masing-masing.

Ali segera keluar. Di luar terlihat orang-orang datang berlarian. Mereka adalah para orang tua murid yang khawatir dan mencari tahu keadaan anak-anak mereka.

Astaghfirullah ….. Allahuakbar  .. Subhanallah ..” terdengar seruan di sela-sela suara anak-anak yang menangis. “Allah pasti membalas perbuatan kalian Yahudi biadab , Yahudi terkutuk !!”; “ Lawan kami secara jantan Yahudi pengecut ..satu lawan satu .. bukan begini caranya .. anak-anak kalian serang .. pengecut .. pengecut …!! ” …

Ali melihat kedua kakaknya berada diantara orang-orang yang sibuk membantu  korban yang kebanyakan anak-anak itu. Ia melihat ruang kelas sebelah telah rata dengan tanah, reruntuhan bangunan berserakan, bercak darah dimana-mana, suara jeritan dan tangisan serta debu dan arang yang berterbangan bercampur aduk.

Dengan setengah berlari Ali menuju rumah. Ia melewati pagar kawat yang masih berdiri tegak, batu-batu berserakan, tank dengan moncong menghadap ke arahnya masih berada di tempatnya sementara sejumlah tentara Israel dengan senapan panjang di tangan mondar mandir di sekitar pagar.

Dari kejauhan Ali melihat beberapa pemuda Palestina dibawah ancaman senapan, tangan terikat ke belakang serta mata ditutup secarik kain digiring menuju suatu tempat. Rumahnya hanya tinggal beberapa meter saja ketika tiba-tiba ia melihat ayahnya yang sedang didorong ke luar rumah oleh dua tentara bersenjata hingga jatuh terjerembab di tanah. Sementara ibunya, sambil menggendong si bungsu yang menangis, berusaha mencegah perbuatan jahat keduanya.

Dengan susah payah ayah yang sedang dalam keadaan kurang sehat itu berusaha bangun dan berdiri kembali. Namun belum juga ayah berhasil salah seorang dari tentara biadab itu  menembakkan senapannya ke arah paha kiri ayah. Ayahpun terjatuh kembali.

« Astaghfirullah « , seru Ali terkejut. Tanpa berpikir panjang ia segera berlari menuju keduanya sambil berteriak lantang : «  Hei … hentikan .. hentikan .. hentikan itu !! ». Ia berusaha merebut senapan si tentara yang tadi menembak ayahnya.

Namun belum juga tangan Ali berhasil mencapai sasaran, sebuah pukulan keras menghamtam kepalanya. Rupanya itu adalah gagang senapan yang dihantamkan tentara yang satu lagi. Ali terhuyung. Ia berusaha menjaga keseimbangan badannya agar tidak jatuh menimpa tubuh ayahnya. Akhirnya ia terjatuh di sisi kanan ayahnya.

Dengan menyeringai lebar, si tentara mengarahkan senapan secara bergantian ke arah Ali dan ke arah ayah.

«  Jangan tembak anakku, Yahudi kotor. Tembak aku saja !!”, seru ayah menantang. «  Tidak « , teriak Ali panik. «  Ayah sedang sakit. Tembak aku saja « .” Terlaknat kau Yahudi … Jangan tembak keduanya “, terdengar suara ibu berteriak tak kalah kencang.

Sesaat si Yahudi gila terlihat ragu. Namun beberapa detik kemudian Ali melihat ia menggerakkan senapannya ke arah ayahnya. Tanpa berpikir Alipun segera melompat dan  menjatuhkan dirinya ke atas tubuh ayahnya . «  Dooorr « .

Ali mendengar suara tembakan menggema di udara. Ia merasakan sebuah benda panas menembus punggung kirinya, kedua telinganya terasa mendengung sementara pandangannya kabur. Ali tak sadarkan diri .. entah untuk berapa lamanya ….

Ali terbangun dan bergegas mengambil air wudhu. Namun tiba-tiba ia mendengar suara orang-orang bershalawat yang ditimpali isak tangis. Ibu menangiskah ? pikirnya. Ali segera menuju ruang depan. Ia melihat orang-orang berdatangan ke rumah. Ia melihat ayah, ibu, kakek, nenek, kedua kakaknya, adik perempuannya, adik kembarnya, uztad Hambali, sejumlah teman-temannya dan masih banyak lagi orang-orang yang dikenalnya dengan baik. Mereka mengerumuni sebuah keranda berbendera Palestina.  Apa yang terjadi, pikirnya .. Siapakah yang meninggal dunia .. pasti gara-gara bom disekolah pagi tadi, pikirnya lagi .. tapi mengapa di rumahku ..

Ali heran dan penasaran. Ia terus berjalan dan menghampiri keranda tersebut. Ia merasa aneh karena meskipun rumahnya disesaki banyak orang ia dapat berjalan tanpa perlu berdesakan. “ Ibu, siapa yang meninggal ?” tanyanya lirih di telinga ibunya yang sedang menangis. Ia perhatikan wajah ibu begitu menderita namun sorot matanya tetap menunjukkan ketabahan yang luar biasa. Ibunya tidak menjawab. Ganti ia bertanya kepada ayahnya kemudian kakek, nenek, kakak. Tapi tak satupun yang menjawab.

Akhirnya ia memberanikan diri membuka penutup wajah jenazah yang terbujur kaku di depan keluarga besarnya itu. “ Bismillahi rohmanirohim “, bisiknya pelan. Seraut wajah yang amat dikenalnya muncul. Bibirnya tersenyum lega. “ Aku ???” …

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un ….

Pau – France, 5 April 2010.

Vivin AM.

Read Full Post »

Lukman melirik jam tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul 10 pagi. Ia dijanjikan datang sekitar jam 11 untuk menemui seseorang yang dapat memberikan sejumlah dana bagi yayasan yatim-piatu yang dikelolanya. Ia segera merapikan buku dan kertas-kertas yang berserakan di atas meja dihadapannya. Ujian Akhir Semester tinggal 1 minggu lagi. Masih banyak tugas yang harus diselesaikan. Namun tugas mengurus yayasan bagaimanapun tidak kalah pentingnya. Ini adalah amanah dari kedua-orang tua bahkan para leluhurnya. Lebih penting lagi karena menyangkut nasib orang banyak. Perlahan Lukman menghela nafas….

Lukman adalah seorang pemuda yang tahun ini akan memasuki usia 19 tahun. Ia menyelesaikan pendidikan SMU nya tahun lalu. Berkat beasiswa yang diterimanya sekarang ia duduk di tahun  pertama fakultas Ekonomi di sebuah universitas negri favorit di Jakarta. Selain dikenal pintar, Lukman juga dikenal sebagai remaja yang aktif dan pandai bergaul. Disamping  juga rajin menjalankan ibadah. Ketika duduk di bangku kelas 2 SMU Lukman bahkan pernah menjabat ketua OSIS. Ia memang senang berorganisasi. Rasanya masih hangat dalam ingatan masa-masa ketika ia masih memakai seragam putih abu-abu. Pengumuman bahwa guru tidak hadir adalah hal yang paling dinanti-nanti.

***

Anak-anak, hari ini pak Samsul berhalangan hadir. Jadi anak-anak diminta belajar sendiri-sendiri dan yang paling penting dilarang  brisik”, “Horee…”, seru murid-murid serentak begitu pak Mastur menyelesaikan kata-katanya. Suasana kelaspun langsung berubah menjadi seperti pasar. Dimana-mana terdengar kegaduhan. Ada yang mengeluarkan makanan, ada yang sekedar mengobrol dengan teman sebangkunya, ada yang berjalan kesana kemari, ada pula yang iseng mencorat-coret papan tulis dengan banyolan-banyolan yang kadang agak menyerempet ke pornografi.

Terbayang pula  beberapa teman yang diam-diam keluar kelas menuju kantin dan mulai mencoba untuk merokok. Ia sendiri pada awalnya tidak berani mencobanya karena ia tahu merokok dapat membuat seseorang ketagihan.” Bila sudah ketagihan”, begitu kata ayahnya. ” Tidak saja kesehatan yang jadi taruhan tapi juga kantong  jadi bolong. Buat apa orang cape-cape kerja kalau akhirnya cuma jadi puntung rokok”, lanjutnya. Dan ia menyadari bahwa selain ia bukan berasal dari  keluarga  berlebih iapun diajari bahwa merokok adalah mubah bahkan ayahnya yang seorang kiyai berpendapat  merokok hukumnya haram. Karena akibat dari merokok lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya.

Namun karena terus dibujuk teman-temannya akhirnya pertahanannyapun runtuh. Ia mencoba mengisap sebatang Gudang Garam yang disodorkan Luki, temannya. Sontak iapun terbatuk-batuk. Teman-temannya mentertawainya. Pada saat itulah tiba-tiba  muncul bu Farikhah, guru BP alias Bimbingan Pelajar yang memang bertugas mengawasi gerak-gerik dan prilaku murid-murid. Lukman dan beberapa teman yang tertangkap tangan  sedang memegang batang rokok  langsung digiring  ke ruang BP. Di ruang tersebut mereka dikuliahi panjang lebar. ”Kamu Lukman, masak sebagai ketua OSIS  malah memberi contoh tidak baik? Ayah kamu kiyai, kamu tidak malu kalau ia sampai tahu anaknya melakukuan sesuatu yang diharamkannya?”, kata bu Farikhah sambil mengancam akan melaporkan kelakuannya kalau ia ketahuan tetap merokok.

***

Lukman tersenyum sendiri mengingat masa-masanya yang telah berlalu itu. Ia bersyukur mau mendengar kata-kata bu gurunya yang galak itu sehngga kini ia  tidak  terjebak dengan masalah rokok…

Satu jam kemudian Lukman telah berada di lantai sebuah  gedung perkantoran di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Ia menekan  angka  5 tombol lift gedung  tersebut. Dengan proposal ditangan, Lukman melihat bayangan dirinya di cermin lift tampak  3 atau 4 tahun lebih tua dari usia sebenarnya. Baru kali ini ia sendirian mencari dana. Dulu ketika masih duduk di OSIS, ia pernah beberapa kali bersama temannya melakukan hal yang sama. Namun kali ini ia merasa berbeda. Proposal yang dibawanya sekarang menyangkut  harkat hidup orang banyak.  Sejak ayahnya meninggal dunia beberapa bulan yang lalu, Lukman sebagai anak tunggal dituntut menggantikan kedudukan ayahnya sebagai penanggung jawab yayasan yatim piatu yang dikelolanya itu.

Mulanya ia ingin menolak. Rasanya ia tidak akan mampu mengemban tugas yang sedemikan berat tersebut. Namun ibu dan pamannya terus mendesaknya. Mereka berkata umur 19 tahun bukanlah umur yang terlalu belia untuk belajar memikul sebuah tanggung-jawab besar. Mereka bahkan mencontohkan Usamah bin Zaid, seorang remaja 19 tahun yang hidup pada abad ke 7 M di daratan Arabia.. Remaja tersebut pernah ditunjuk oleh Rasulullah saw menjadi panglima besar Islam. Kemudian juga remaja 19  tahun lain, yaitu putra mantan perdana mentri Pakistan, Benazir Butho yang ditunjuk menjadi penerus karir politik ibunya. Disamping itu, toh Lukman tidak sendiri. Ia  didampingi paman dan ibunya yang dapat memberikan bimbingan serta nasihat. Maka akhirnya Lukmanpun bersedia menerima tugas luhur tersebut.

Yayasan milik  keluarga ini telah berdiri sejak  puluhan tahun yang lalu. Tujuan utamanya adalah untuk membantu dan menyantuni anak-anak yatim di sekitar kampumg dimana mereka tinggal. Yayasan menyediakan pelatihan ketrampilan seperti menganyam tikar, menganyam keset, membuat sapu ijuk, sapu lidi dan semacamnya. Pelatihan ini selain diberikan kepada anak-anak tersebut juga diberikan kepada warga yang berminat. Dari keuntungan menjual hasil karyanya inilah mereka hidup. Dengan demikian kini mereka tidak perlu lagi meminta-minta dan  mengemis. Disamping itu yayasan juga mendirikan koperasi kecil  yang menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari bagi warga sekitar. Itu sebabnya yayasan harus mencari dana seperti yang dilakukan Lukman  saat ini.

Tiba-tiba terdengar bunyi ” triing” dan pintu liftpun terbuka. Tanpa terasa Lukman  sudah berada di lantai 5. ”Selamat pagi, pak Warno”, sapa Lukman  sambil melirik label nama di dada satpam yang berada di lantai tersebut. Ia teringat ayahnya yang selalu mengajarinya untuk menyapa seseorang dengan menyebut namanya. Karena dengan begitu  akan membuat orang yang disapanya merasa lebih dihargai.  “Usahakan bertanya kepada orang yang mengenalnya atau paling tidak lihat tulisan di dadanya, bila ada.. “, begitu ayah menjelaskan ketika Lukman  bertanya bagaimana ia bisa tahu nama seseorang yang tidak dikenalnya. ”Saya mencari pak Joko”, sambungnya “ Sudah ada janji ?”, tanya  satpam tersebut ramah. “Sudah pak. Nama saya Lukman dari yayasan Al-Mukaromah Kemang”, jelas Lukman.

Setelah pak satpam yang bernama pak Warno itu menghubungi pak Joko, iapun mengantar Lukman ke sebuah ruangan tamu dan mempersilahkannya duduk dan menanti. Lukman duduk sambil mengamati ruangan berpendingin udara  sejuk  tersebut. Dihadapannya tergantung 3 foto besar berbingkai kuning emas.. Foto-foto itu adalah foto-foto  pengeboran sumur lepas pantai. Dari foto itu terlihat jelas bahwa perusahaan tersebut adalah perusahaan minyak milik swata asing.

Lukman berangan-angan kelak ia dan generasinya harus memiliki perusahaan minyak yang dimiliki sepenuhnya oleh pribumi. Disamping itu mereka juga akan mendirikan rumah yatim piatu yang memiliki fasilitas yang memadai , sekolah, rumah sakit, lembaga penelitian, bank, pusat perbelanjaan dan pom bensin yang kesemuanya dilengkapi masjid atau paling tidak musholla. Dan hebatnya, semuanya itu dibangun atas dana zakat, infak, sodaqoh dan wakaf. Bukankah mayoritas penduduk Indonesia muslim? Bukan sesuatu yang mustahil, pikir Lukman yakin. Dengan demikian negri ini tidak perlu lagi mengemis dan berhutang kepada negri-negri adidaya dan kaya sehingga akhirmya hanya menyusahkan rakyat terutama rakyak kecil dan miskin. Bagaimanapun, rasanya sulit bagi pihak yang berhutang untuk  dapat mempertahankan ide dan pendapat sendiri. Yang ada kemungkinan besar malah dipaksa menerima ide dan pendapat yang memberi hutang. Secara tidak langsung ini namanya penjajahan, penjajahan pikiran, bisik  Lukman sedih dalam hati.

Tanpa disadarinya, tahu-tahu seorang pria berpakaian rapi lengkap dengan dasinya telah muncul dihadapannya. Dengan nada simpatik pria tersebut menegur sambil mengulurkan tangannya: ” Ngelamun apa pak?”. Lukman tergagap dibuatnya. ” Maaf pak… bapak Pak Joko?” tanyanya untuk menutupi rasa bersalahnya.

Setelah mengajukan beberapa pertanyaan,  akhirnya bapak  tersebut menanda-tangani proposal yang dibawa Lukman. Rupanya Lukman cukup beruntung hari itu. Pak Joko  adalah pimpinan departemen komunikasi di  perusahaan ternama tersebut. ”Sebagai bentuk partisipasi perusahaan, kami memang telah menyediakan dana untuk keperluan masyarakat sekitar. Saya tidak hafal  persis berapa jumlahnya. Tapi yang  penting saya sudah acc. Nanti nak Lukman silahkan menghubungi bu Lisa di lantai 2”, begitu penjelasan pak Joko sambil berdiri mengakhiri pertemuan.  “Sama-sama  saja,  kebetulan saya mau keluar “, katanya menawarkan lift untuk berbagi

Selama didalam lift, pak Joko menanyakan apa pekerjaan Lukman. Ketika Lukman menerangkan bahwa ia seorang mahasiswa semester 2 sebuah perguruan tinggi, pak Joko tampak tertegun sejenak.. ” Wah .. kalau begitu nak Lukman ini seumuran dengan anak saya. Apa hari ini tidak ada kuliah ?”, tanyanya ramah. ” Ada pak, jam setengah 2”, jawab Lukman tersipu. Pak Joko langsung melirik jamnya. ”Bisa terlambat dong…. ya sudah,  saya antar sebentar ke lantai ke 2 ”, katanya sambil menahan pintu lift. Kebetulan lift telah tiba di lantai 2 dan pintupun telah  terbuka. Dengan menjulurkan kepalanya pak Jokopun memanggil seseorang  ”Pak Adam, tolong sebentar pak…tolong sampaikan  proposal ini ke bu Lisa …. .katakan siang nanti hubungi saya..terima-kasih pak.”, begitu perintah pak Joko. ” Nanti  bu Lisa  yang akan menghubungi nak Lukman. Sebelum datang untuk mengambil uangnya telepon dulu, bikin janji dengannya”, tambahnya, kali ini kepada Lukman.

Lukman benar-benar bersyukur. Ia sadar jarang ada orang mau berbaik hati terhadap seseorang yang membawa proposal untuk meminta dana bantuan sebagaimana dirinya. Saking gembiranya ia mengucapkan beberapa kali terima-kasih kepada bapak  yang penuh pengertian tersebut. Dan begitu pintu lift terbuka di lantai dasar , Lukmanpun segera menghambur ke jalan raya mengejar bus yang akan mengantarnya ke kampus. Dibelakangnya tampak pak Joko  yang hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.

***

Malam harinya, Lukman kembali tenggelam di antara buku-bukunya. Ketika ia sedang asyik-asyiknya menekuni pelajaran tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu kamar. Beberapara  detik  kemudian sebelum ia sempat membuka pintu tersebut, kepala pak Mahmud, salah satu karyawannya, telah tersembul dari balik pintu. Lukman memang tidak pernah melarang orang-orang dekat disekitarnya untuk banyak berbasa-basi.

Ada apa pak ?”, tanyanya. ” Pak  Asmuri ingin ketemu mas Lukman, kelihatannya penting sekali mas ..”, jawab pak Mahmud. Lukman segera berdiri dan menemui tamunya. Ketika ditemui,  Pak Asmuri terlihat sedang panik. Ia mondar-mandir di teras rumah. Pak Asmuri segera bercerita bahwa anak perempuannya yang baru berumur 2 tahun jatuh sakit. ” Tubuhnya menggigil saking tinggi suhu tubuhnya, wajahnya pucat dan matanya kuyu”, katanya menerangkan.  Ia telah membawanya ke puskesmas namun kataya anak tersebut harus segera dirawat di rumah sakit. Padahal ia tak punya uang sepeserpun. Ia bermaksud meminjam uang yayasan. Tanpa berpikir panjang Lukman segera mengabulkan permintaan tersebut. Ia dapat mengerti betapa risaunya orang yang anaknya harus masuk rumah sakit. Oleh karenanya ia tidak ingin mempersulit dan menambah beban tetangganya itu.

Lukman sadar sepenuhnya bahwa seluruh tetangganya adalah orang yang tak punya alias miskin. Sampai kapanpun mereka tak akan sanggup membayar hutang yang mereka pinjam dari dana yayasan. Penghasilan mereka itu hanya pas untuk makan dan minum sehari, tidak lebih. Namun yang membuat hati Lukman trenyuh, walaupun mereka hidup kekurangan mereka tetap bersedia menerima anak yatim di rumah mereka. Sebenarnya sudah sejak lama, bahkan sejak kakeknya masih hidup, yayasan ingin membangun kamar-kamar untuk   anak-anak tersebut namun apa boleh buat uang yayasan tidak mencukupi.

Hal lain yang membuat  Lukman bangga adalah kenyataan bahwa tak satupun penduduk kampungnya yang menganggur apalagi jadi pengemis atau peminta-minta. Ayah dan kakek buyutnya sejak dulu selalu mengingatkan tangan diatas adalah jauh lebih baik dari tangan di bawah. Sebagai kiyai yang dihormati masyarakatnya mereka selalu mengajarkan pentingnya kejujuran, kerja keras serta  kepedulian terhadap tetangga dan sesama. Oleh karenanya rasa persaudaraan diantara penduduk  kampung tersebut sangat tinggi. Mereka hidup saling tolong menolong.

***

Lima hari kemudian ketika Lukman baru pulang dari kampus, ia kembali dihampiri pak Asmuri. Ia melaporkan bahwa keadaan anaknya bukannya membaik tetapi malah  memburuk. Anak tersebut kehilangan kesadaran. Sekarang ia harus masuk ICU. Pak Asmuri berusaha membujuk perawat di rumah sakit agar ia diizinkan membawa pulang anaknya dan membawanya berobat ke tempat lain namun tidak diperbolehkan. Pak Asmuri sadar bahwa ia tidak akan mampu membayar biaya pengobatan. Ia berencana membawa anaknya ke pengobatan alternatif yang tentu biayanya tidak semahal biaya rumah sakit. Sebaliknya pihak rumah sakit juga tidak mau disalahkan bila mereka membiarkan pasien yang dalam keadaan koma dibiarkan meninggalkan rumah sakit. ” Saya mohon  mas Lukman mau membantu. Kami betul-betul tidak tahu harus mengadu kemana …. Pihak rumah sakit meminta uang 2 juta rupiah segera. Katanya  untuk biaya city scan dan lain-lain..”, pintanya memelas. Lukman tak tahu harus berbuat apa. Ia yakin uang di kas yayasan  tidak akan mencukupi.

***

Hari ini adalah hari pertama ujian akhir semester.  Menurut jadwal pukul 1 ujian  usai. Namun pukul 5 Lukman baru tiba di rumah. Pagi tadi ia ditelpon bu Lisa yang mengatakan bahwa uang sudah bisa diambil. Oleh karenanya usai ujian Lukman langsung mampir ke kantor tersebut. Tetapi pulangnya,.ketika ia baru sampai di ujung gang kampungnya, ia melihat bendera kuning berkibar. Hati Lukman langsung berdebar kencang, warganyakah yang meninggal dunia? Jangan-jangan anak pak Asmuri, pikirnya cemas. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana  rasa bersalahnya bila benar  memang anak pak Asmuri yang meninggal.

Lukman bergegas menghampiri  orang banyak yang berkumpul tidak jauh dari hadapannya Betapa lemas kakinya ketika ia melihat orang-orang tersebut berkumpul di depan pintu rumah pak Asmuri. Tebakannya betul. Dari tetangganya ia mendengar bahwa beberapa hari sebelum anak pak Asmuri sakit, anak tersebut makan makanan yang dibeli ibunya dari pasar. Terdengar desas desus bahwa makanan tersebut adalah sampah daging!  Lukman teringat bahwa ia pernah membaca kabar tersebut di surat kabar namun tidak pernah menyangka bahwa tetangganya bakal menjadi salah satu korbannya.  Dari surat kabar, Lukman mengetahui bahwa sampah daging adalah sisa-sisa lauk-pauk yang dikais dari tempat sampah hotel. Sisa-sisa daging ayam, daging sapi, cumi ataupun udang tersebut kemudian dicampur menjadi satu, diberi bumbu kemudian digoreng dan dijual! Dengan harga yang relatif murah yaitu antara Rp 5000,- hingga Rp 8000,- per kg,  banyak warga kelas bawah yang membelinya, termasuk istri pak Asmuri yang berbuntut dengan kematian anaknya tersebut.

Lukman merinding mendengar berita tersebut. Hatinya miris betapa miskinnya warganya sehingga demi melawan kelaparan mereka tidak mampu berpikir secara rasional. Bagaimana mungkin  daging dijual dibawah Rp 10.000,- per kg ? Bahkan dari apa yang didengarnya daging tersebut rupanyapun tidak karuan. Namun begitulah yang terjadi. Tetapi yang lebih disesalinya  mengapa ia tidak dapat membantu meminjamkan uang yang dibutuhkan pakAsmuri untuk menyembuhkan anaknya tersebut.  Tiba-tiba Lukman menyadari bahwa saat ini ia bahkan masih menggenggam sejumlah uang sumbangan dari perusahaan yang baru saja diambilnya. Terlambat, pikirnya lemas.

Malam harinya, setelah ikut membantu berbagai persiapan pemakaman yang akan dilaksanakan esok hari, Lukman berusaha keras untuk memusatkan perhatian dan pikiran pada pelajarannya . Besok ia masih harus menjalani ujian akhir semesternya. Ia tidak boleh gagal! Banyak yang harus dipelajari. Ia tidak ingin warganya terus didera kemiskinan dan kebodohan. Ia merasa bahwa ia dan generasinya harus mencari jalan keluar. Ia sudah meminta izin dan menerangkan panjang lebar  bahwa besok ia tidak dapat mengikuti pemakaman. Ia berusaha untuk tidak peduli terhadap pandangan sinis  beberapa tetangganya. Ia sadar dan yakin bahwa mereka tidak mengerti pentingnya mengejar ilmu. Namun ia bertekad bahwa ia akan membuktikannya. Bangun dan buktikan!, bisiknya pelan.

Jakarta, September 2008.

Read Full Post »

Untuk kesekian kalinya, lensa kacamataku kembali pecah. Dan kali ini bukan hanya lensanya yang pecah namum juga bingkainya rusak. Kacamataku  terinjak teman yang lewat di atas sajadahku ketika aku sedang shalat berjamaah di sekolah. Temanku itu terburu-buru karena hampir ketinggalan 1 rakaat sehingga tidak memperhatikan langkahnya. Ketika shalat aku memang selalu melepas kacamata dan meletakkannya di atas sajadah.  Salahkah aku ?  Beberapa kali aku merengek  agar diizinkan memakai soft lens saja. Alasanku, memakai kacamata tidak nyaman dan seringkali  pecah atau rusak bingkainya  disamping juga mengganggu kebebasanku bergerak. Hobbiku memang berolah raga terutama main basket.

Ayah dan ibu berjanji memenuhi keinginan tersebut asalkan aku juga berjanji mau menghapus berbagai kebiasaan burukku diantaranya yaitu tidak teledor, rajin merapikan kamar tidur dan lemari serta  bangun  tidur tidak lebih dari jam 8 pagi. Biasanya setiap hari libur setelah dibangunkan untuk shalat subuh aku memang selalu tidur lagi dan bangun hingga tengah hari atau bila perutku mulai terasa lapar!.

Mata itu sangat rapuh dan sensitif ”, begitu ibu menguliahiku. ” Selama kamu masih jorok dan malas menjaga kebersihan, lebih baik jangan memakai softlens. Bahaya…., bisa-bisa malah infeksi”. Kemudian ibu bercerita. Suatu hari ketika ibu masih kuliah, ia pernah melihat seorang remaja yang mencari softlensnya yang jatuh di atas angkot. Dengan tangannya ia meraba-raba lantai angkot dan begitu menemukannya ia langsung memasang benda super tipis tersebut ke matanya!   ”Bayangin…. kayak apa tuh kotornya…..iihh… tiap hari berapa puluh kaki yang naik turun angkot dengan sepatu atau sandal yang kemungkinan besar pasti pernah nginjak kotoran di tanah …”, lanjut ibu menakut-nakutiku.

Mata adalah benda lunak seperti agar-agar. Ia rapuh tidak hanya terhadap benda tajam saja namun bahkan debu sekecil atom sekalipun berpotensi merusak bahkan mengoyaknya. Lebih parah lagi, tanpa penglihatan bagaimana kita dapat melihat dan memandang keindahan alam semesta ini. Tanpa  mata yang sehat bagaimana kita dapat membaca, menulis dan menonton film yang memang menjadi kesukaanku. Singkat kata, tanpa mata dan tentu saja penglihatannya hidup jadi kurang bermakna. Dan lebih jelasnya lagi bagiku, agar ayah dan ibu mau membelikan sepasang softlens berarti aku harus terlebih dahulu merubah kebiasaan-kebiasaan  burukku. Dalam hati aku berdoa semoga motivasi tersebut cukup kuat untuk merubahku.   

Tami.…bangun dong sayang…masa’ udah jam 10 gini masih tidur sih,  nak??”, terdengar suara ibu membangunkanku sambil mematikan pendingin ruang tidur. “Uuhh….”, kataku dalam hati, ” ibu mengganggu mimpiku saja nih……”

Namun bukannya bangun aku malah menarik selimut menutupi seluruh tubuh dan bahkan wajahku. Sepuluh menit kemudian terdengar kembali suara ibu memanggil dari  ruang makan : “ Tamiii…mie gorengnya udah siap tuh, dingin ntar  ngga enak lho… “, kali ini nada ibu terdengar jengkel.  Dengan masih menahan kantuk aku berusaha bangun dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi.

“ Kapan sih Tam, mau berubah?… koq setiap hari kalo ngga’ dibangunin ngga mau bangun… “, omel ibu.

Kadang-kadang aku berpikir koq ibu ngga’ bosen-bosennya ngebangunin dan ngomelin aku. Sebaliknya aku sendiri juga heran kenapa aku begitu bebal dan malas, rasanya nikmat bisa tiduur teruus sampai tengah hari. Sebenarnya bukan cuma urusan  itu yang sering menjadi  sumber kejengkelan ibu, namun juga kemalasanku untuk merapikan ruang  tidur dan segala isinya. Sering aku kerepotan mencari jilbab juga  kaos kaki ketika aku terburu-buru hendak berangkat sekolah. Kalau sudah begini tentu ibu akan kembali mengomeliku, ” Aduuh Tami….gimana kamu bisa nyari barang-barang kamu … lemari udah kayak   kapal pecah gini..”.

Kuakui lemariku memang penuh dan berantakan hingga sering  kali ketika aku mencari sesuatu selalu kesulitan menemukannya. Ibu sudah berulang kali mengingatkanku bahwa ibu hanya mau membelikanku baju baru bila aku mau menyingkirkan sebagian baju yang tak lagi terpakai untuk diberikan kepada anak-anak yatim yang membutuhkannya. Namun pada waktunya tetap saja akhirnya ibu yang menyeleksi baju-bajuku. Biasanya aku melepas baju-baju tersebut dengan merengut karena terpaksa. Karena meskipun aku jarang memakainya kadang aku masih ingin menyimpan dan sekali-sekali memandangnya. Tetapi ibu berkeras bahwa hal tersebut adalah mubazir, tidak ada gunanya sementara banyak orang yang lebih  membutuhkannya.

Hingga suatu saat di bulan Ramadhan, ibu mengajakku ke sebuah yayasan yatim piatu  dengan membawa beberapa kotak karton berisi baju-baju bekas layak pakai dan buku-buku  yang sudah tak terpakai . Dengan mengendarai mobil, ibu berputar-putar beberapa kali di sekitar kawasan elite Kemang. ”Ibu ngga salah, nyari yatim piatu di daerah ini ?”, tanyaku  penasaran.  ” Mana mungkin sih bu?”. ” Ibu juga baru sekali ini mau nyumbang ke tempat ini. Kata temen ibu di belakang rumah-rumah mewah ini  ada daerah miskin sekali.”, jawab ibu enteng.

Setelah ibu menjalankan mobil dengan perlahan akhirnya terlihat sebuah papan kecil bertuliskan ”Yayasan Yatim Piatu Al-Mukaromah”. Dibawah papan tersebut terlihat sebuah tanda panah yang menunjukkan  arah dan jarak tempat tersebut. Ibu segera berbelok dan berjalan mengikuti arah panah. Jalanan makin lama makin kecil dan menyempit. Melalui sebuah jembatan sungai kecil jalan tiba-tiba menikung ke arah kanan. Dihadapan kami terlihat jalanan rusak dan menurun tajam. Kami ragu apakah kendaraan bisa masuk atau tidak. Ibu memperlambat jalannya mobil sambil celingukan mencari papan nama yayasan. Kepada seorang penjaja sol sepatu yang kebetulan melintas di depan kami, ibu bertanya keberadaan yayasan yang kami cari tersebut.

Mobil ngga bisa masuk bu. Diparkir aja deket sini. Ibu jalan ke arah lapangan di sebelah sana. Dari sana ada jalan nanjak ,ibu tanya lagi aja ke orang di sana.”, terang orang tersebut sambil mengarahkan jari tangannya ke suatu arah. Maka ibupun mencari tempat parkir yang cukup aman di tepi jalan sementara aku menatap sekelilingku. Aku serasa berada di dunia yang berbeda. Di hadapanku terbentang tanah kosong dan agak jauh di ujung sana terlihat perkampungan yang kelihatan agak kumuh. Sementara ketika aku mendongakkan sedikit kepalaku ke atas terlihat atap-atap genteng  dan tembok-tembok  rumah mewah bertingkat mengelilinginya. ”Sungguh sebuah pemandangan yang sangat kontras”,  pikirku. 

Kami turun dari mobil sambil membawa bawaan kami. Segera sejumlah anak kecil berlarian menuju arah kami. Melewati sebuah lapangan kami berjalan menuju  jalan tanah menanjak, menjauh dari arah perkampungan yang tadi terlihat dari kejauhan. Anak-anak itu rupanya tahu tujuan kami. Merekalah yang menjadi penunjuk jalan. Setelah melewati tanjakan, kami memasuki  gang sempit dimana rumah-rumah petak  saling berdempetan  di kiri kanannya.

Tak lama kemudian kami tiba di sebuah rumah yang lebih besar dibanding  rumah-rumah disekitarnya. Bangunan tersebut tampak bersih dan terawat. Inilah yayasan yang dituju. Di tempat itu kami disambut oleh seorang anak muda berumur sekitar 3 atau 4 tahun diatasku, jadi  kira-kira sekitar 19-an tahun. Rupanya dialah yang menjadi penanggung jawab yayasan.     Penampilan pemuda tersebut bersih dan ramah serta kelihatan seperti pemuda terpelajar.

Tanpa diminta ia segera bercerita bahwa yayasan tersebut adalah yayasan milik keluarga. Ayah dan kakek buyutnya adalah para kyai yang disegani orang kampung disitu. Sejak puluhan tahun  mereka telah mengajari penduduk sekitar untuk belajar selain mengaji juga  belajar bagaimana caranya agar mereka dapat  hidup mandiri. Itu  sebabnya kini penduduk  kampung tersebut  walaupun miskin  tetapi tak satupun diantara mereka yang hidup dari meminta-minta apalagi mengemis. Mereka diajari bahwa tangan diatas adalah lebih baik daripada tangan di bawah. Bahwa agama adalah untuk menyempurnakan akhlak dan kebersihan adalah bagian dari keimanan. Oleh karenanya  orang tidak cukup hanya bisa mengaji dan mengerjakan shalat saja namun  juga harus jujur,  pandai menjaga kebersihan, mempererat tali silaturahmi serta disiplin dan gemar kerja keras.

Kakek buyut Lukman, demikian anak muda tersebut memperkenalkan dirinya, mendirikan yayasan Al-Mukaromah untuk membantu dan mendidik anak-anak di sekitar kampung yang telah ditinggal orang-tuanya. Yayasan memang tidak mampu menyediakan tempat berteduh bagi mereka namun yayasan berhasil membuka hati penduduk kampung yang miskin tersebut agar bersedia menampung anak-anak tersebut di gubuk-gubuk sempit mereka. Lalu bersama orang dewasa anak-anak tersebut diberi berbagai bekal ketrampilan seperti  menganyam tikar, menganyam keset, membuat sapu ijuk , sapu lidi dan sebagainya. Dengan hasil yang tidak seberapa itu sedikit demi sedikit anak-anak dapat membantu meringankan beban orang tua angkat mereka. Bahkan sekarang anak-anak tersebut mulai bisa pergi ke sekolah. Anak-anak juga dituntut supaya rajin belajar agar sekolah mau memberi mereka beasiswa.

Lukman sendiri saat ini  terdaftar sebagai mahasiswa sebuah universitas negri di Jakarta. Karena prestasinya sewaktu di pesantren ia mendapat beasiswa untuk kuliah di fakultas ekonomi yang sejak lama diminatinya. Dengan penuh semangat ia menceritakan impiannya yang menggebu-gebu agar kelak ia bersama generasinya dapat membangun sebuah masyarakat adil dan makmur dengan basis ekonomi syariah, sebuah sistim ekonomi yang berpihak kepada masyarakat kecil. Cita-cita besarnya adalah membangun rumah sakit, sekolah, lembaga penelitian, bank bahkan pusat perbelanjaan dan pom bensin lengkap dengan masjid atau musholanya yang semuanya berdasarkan atas  ekonomi syariah. Ia berkeyakinan dengan cara seperti itu negri  yang dicintainya ini tidak lagi akan terpuruk.

Karena menurutnya hutanglah yang menjadi penyebab utama kemiskinan negri ini. ” Dengan dana zakat dan wakaf yang dikumpulkan  dari seluruh penduduk yang mayoritas Muslim seharusnya kita tidak perlu lagi mengemis dan berhutang kepada negara-negara kaya dan adidaya ”, imbuhnya yakin dan penuh semangat.  Sayang zakat dan wakaf yang ada selama ini berjalan sendiri-sendiri. Seharusnya pemerintah ikut terlibat sehingga zakat dan wakaf tidak hanya bersifat konsumtif dan kurang terlihat pengaruhnya.      

Namun demikian ia mengaku bahwa ia tidak akan meninggalkan tugas dan tanggung-jawab yang diberikan orang-tuanya untuk terus mengurus yayasan yatim piatu yang saat ini dikelolanya. Ia mengingatkan bahwa yang dibutuhkan anak-anak tersebut bukan hanya makan, minum dan pakaian saja namun lebih lagi pendidikan baik pendidikan moral maupun pendidikan akademik.                 

Aku hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasannya. Tak lama kemudian setelah menyerahkan bawaan kami, kamipun berpamitan. Dalam perjalanan menuju mobil aku  baru sempat memperhatikan bahwa perkampungan miskin tersebut ternyata sebenarnya bersih dan asri. Disepanjang gang yang sempit itu terlihat berderet, sejajar dengan selokan yang relatif bersih, tanaman hijau yang mulai menampakkan bunganya yang berwarna-warni. Dalam hati aku merasa malu terhadap diriku sendiri sekaligus kagum terhadap kepedulian dan  perhatian masyarakat  yang begitu besar terhadap kebersihan lingkungannya. 

Aku tiba-tiba teringat betapa aku sering merengek kepada ayah-ibuku agar dibelikan segala macam tetek bengek yang kupikir sekarang sebenarnya tidak terlalu penting. Betapa jauhnya perbedaan antara rumah di perkampungan tadi dengan  rumahku. Betapa bedanya prilakuku dengan  prilaku Lukman, padahal ia hanya 3 tahun lebih tua dariku. Dalam usianya yang relatif masih muda, ia telah dapat memberikan manfaat yang begitu banyak terhadap masyarakatnya. Bahkan cita-citanyapun terdengar begitu agung dan mulia. Sungguh malu aku dibuatnya. Aku jadi berpikir alangkah kasihannya kedua orangtuaku terutama ibu yang setiap hari harus kesal melihat kemalasan dan kejorokanku.

Aku berniat dalam hati bahwa mulai detik ini aku harus berubah menjadi Tami yang berbeda. Tami yang rajin dan pembersih. Tami yang peduli terhadap lingkungan dan Tami yang dapat menyenangkan hati kedua orang-tuanya walaupun mereka  tidak mengabulkan rengekannya untuk dibelikan softlens. Karena bila Tami berubah menjadi pribadi yang baik tanpa diminta  ayahibu manapun  pasti akan dengan senang hati mengabulkan permintaan anaknya, tentu saja selama permintaan tersebut tidak mengada-ada dan mereka mampu mengabulkannya. Pasti…..

Eh, Tami… tumben pagi-pagi udah bangun…, mau kemana ?”, selidik ayah sambil menyikat roda motor Harley kesayangannya.  ” Mau basket yah..”, jawabku tersipu sambil tersenyum penuh arti ketika tatapanku bertabrakan dengan tatapan ibu.  ” Ini  baru awal perubahanku”,  janjiku dalam hati penuh tekad. Setelah mengencangkan pengikat  kacamatanya agar tidak mudah terjatuh  Tamipun segera menaikkan tubuhnya ke atas sepeda dan mengayuhnya  dengan rasa lebih optimis memandang perjalanan hidupnya yang masih panjang. ” Suatu hari nanti orang akan mengenangku sebagai seorang dokter perempuan yang gemar membantu rakyat miskin dan orang  kecil ”, bisikku. 

Jakarta, September 2008.

Sylvia  Nurhadi.

Read Full Post »

« Newer Posts