Feeds:
Posts
Comments

Menurut kaum materialis, alam semesta memiliki dimensi tidak terbatas, tidak memiliki awal dan akan tetap ada untuk selamanya atau mereka menyebutnya ‘steady-state’. Mereka juga berpendapat bahwa keteraturan dan keseimbangan yang ada di alam semesta ini terbentuk melalui serangkaian peristiwa kebetulan. Pendapat ini bertahan selama beberapa abad lamanya.

Namun pada tahun 1929, seorang astronom Amerika bernama Edward Hubble menemukan suatu temuan penting yang sangat berlawanan dengan teori para kaum materialis. Melalui pengamatan intensif dengan bantuan teleskop raksasa dan dibuktikan melalui hukum-hukum fisika yang telah diakui umum, terbukti bahwa bintang dan galaksi bergerak saling menjauhi. Artinya, alam semesta tidak statis melainkan senantiasa memuai bagaikan balon yang ditiup. Temuan ini mengawali lahirnya teori yang dikenal dengan nama ‘Big Bang’ atau ‘Dentuman Besar’, yaitu teori yang menyatakan adanya ledakan dasyat yang terjadi sekitar 4.5 miliar tahun yang lalu yang menandakan awal terbentuknya alam semesta. Dari sini kemudian terbentuk bumi dan benda-benda langit  lainnya.

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”(QS.Al-Anbiyaa(21):30). 

Jadi alam semesta muncul dari ketiadaan atau dengan kata lain alam semesta diciptakan secara sengaja, bukan secara kebetulan. Kebetulan yang diikuti begitu banyak kebetulan-kebetulan lain hingga membentuk kesempurnaan adalah sesuatu yang mustahil. Alam semesta terlalu sempurna untuk  kejadian seperti itu.

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.” (QS.Al-Mulk(67):3-4). 

Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun?” (QS.Qaaf(50):6). 

Rupanya Sang Maha Pencipta telah mempersiapkan salah satu bagian dari alam semesta ini sebagai tempat tinggal manusia, yaitu planet bumi yang akan ditempati hingga waktu yang telah ditentukan. Kita tahu, salah satu kebutuhan utama manusia adalah keberadaan air. Ilmu pengetahuan sains membuktikan bahwa dalam tata surya kita, Bima Sakti, air berwujud cair hanya ditemukan di bumi. Bahkan 70% permukaan bumi tertutup air. Begitu pula halnya dengan Oksigen yang merupakan kebutuhan vital bagi pernafasan. Oksigen tidak ditemukan keberadaannya di satupun planet lain kecuali planet bumi.

Selain air dan Oksigen, manusia juga membutuhkan panas matahari yang pas. Ternyata jarak antara bumi dan matahari (147.072.376 kilometer), kecepatan bumi mengelilingi matahari (107.000 km/jam), kecepatan rotasi bumi (1.674,38 km/jam) serta derajat kemiringan sumbu bumi terhadap bidang orbitnya, yang  23.5 derajat ke kanan tersebut memberi pengaruh terhadap suhu dan musim yang ada di bumi ini sehingga menjadi sangat ideal untuk kehidupan.

Bahkan bila saja kecepatan bumi mengelilingi matahari itu kurang dari 107.000 km/jam bumi kita ini akan tersedot oleh matahari. Sebaliknya bila lebih dari itu bumi akan terpental dari orbit dan ntah hilang kemana!

Perumpamaan perputaran bumi terhadap matahari, perputaran bumi terhadap dirinya sendiri serta kemiringan posisi bumi terhadap porosnya dapat dibayangkan layaknya  bumi sebagai sebuah wajan berisi masakan yang dibolak-balik secara berkala agar isi wajan tersebut matang secara rata dan tidak gosong sebelah dimana matahari berfungsi sebagai tungkunya!

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?”. Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. AL-Qashasah (28):71-72).

Inilah sesungguhnya yang menyebabkan timbulnya siklus di permukaan bumi yang menghasilkan  musim dan cuaca yang bergantian hingga menumbuhkan panen yang beraneka ragam pula.

Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya), dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk”. (QS.An-Nahl(16):11-16). 

Kemudian dengan adanya lapisan ozon, maka manusia dan juga mahluk lainnya terlindung dari bahaya sinar ultraviolet yang dipancarkan matahari. Sedangkan sabuk magnet ‘Van Allen’, yaitu daerah medan magnet yang terdapat pada lapisan teratas atmosfer bumi, melindungi bumi dari bahaya jatuhnya benda-benda langit seperti meteorit dan sebagainya, yang diketahui sering menimpa planet-planet lain. Inilah yang disebut ‘atap yang terpelihara’ dalam ayat Al-Quran.

“Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya.”(QS.Al-Anbiyaa(21):32).   

          Ilustrasi kedudukan planet Bumi di dalam tata surya / Solar System.

Bumi terletak di lintasan ke 3 dari Matahari.

 

Dia juga tidak lupa untuk memikirkan sumber makanan bagi kelangsungan hidup mahlukNya. Angin dan air ditundukkanNya untuk  bekerja sama agar tumbuh-tumbuhan dapat hidup dan berkembang biak. Agar baik hewan terutama  manusia dapat mengambil manfaatnya sebagai rezeki dan karunia dari Nya.

 “Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya…….”(QS.Az-Zumar(39):21).

Begitulah Allah, Dia mempersiapkan segala sesuatunya dengan rinci dan teliti. Setelah bumi beserta segala isinya, mulai dari sempurnanya keadaan cuaca dan suhunya agar manusia nyaman hidup didalamnya hingga makanan dan tumbuhan yang sengaja dipersiapkan bagi kelangsungan hidup manusia, isi bumi yang disediakan-Nya agar manusia dapat mengolah dan memanfaatkannya, agar memudahkan hidupnya dan juga fasilitas-fasilitas lainnya, baru Dia turunkan manusia sebagai sang khalifah untuk memelihara serta menjaga bumi ini. Yang dengan demikian bumi sebagai salah satu anggota alam semesta ini dapat bergabung dengan anggotanya yang lain seperti bintang dan matahari untuk terus berzikir mengikuti aturan dan sistim yang telah ditetapkannya. Untuk itu Dia  tidak lupa  menyertakan buku petunjuk, pedoman bagi sang khalifah, yang diturunkan-Nya melalui para Rasul dan Nabi yang terus diperbaruinya sesuai dengan zaman. Al-Quranul Karim  yang disampaikan melalui Muhammad SAW itulah buku petunjuk terakhir bagi umat manusia hingga akhir zaman nanti.

*************

untuk kembali ke daftar isi buku ” Perjalanan Sang Khalifah – The True Game – 1″ click : https://vienmuhadisbooks.com/2009/11/18/daftar-isi-perjalanan-sang-khalifah-the-true-game-1/

Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya.” (QS. Al-Hajj (22):5). 

Diawali dengan adanya penemuan Hukum Penurunan Sifat pada tahun 1865 M oleh seorang ahli botani Austria bernama George Mendel, ilmu genetika berkembang secara amat pesat. Berbagai percobaan terus dilakukan khususnya oleh para ahli genetika. Bahkan saat ini kita tahu bahwa mereka menyatakan telah berhasil meng’klon’ seekor anak kambing ‘Dolly’ yang merupakan hasil rekayasa ilmu genetika. 

Namun adakah bukti bahwa mereka telah memasukkan ‘ruh’ kehidupan kedalam anak kambing tersebut? Mungkin benar secara fisik mereka telah berhasil ‘mengutak-ngatik proses penciptaan alami’ walaupun itupun sebenarnya mereka tetap menggunakan ‘bahan dasar’ yang diambil dari sel mahluk hidup itu sendiri. Jadi ‘ciptaan’ tersebut tetap tidak  dapat dikatakan ‘penciptaan murni’

Melalui ilmu kedokteran pula, kita mengetahui proses awal penciptaan manusia. Manusia diciptakan dari setetes nuftah (mani atau sperma) yang membuahi sel telur (ovum) dalam saluran indung telur hingga akhirnya membentuk zygote (campuran antara sperma dan ovum) yang kemudian dengan pengaruh dorongan bulu-bulu halus dalam saluran tersebut akan mencapai rahim dan kemudian melekat pada dindingnya. 

 Ini yang dalam Al-Quran disebut ‘’Al-aqah’ atau gumpalan darah. Fase ini terjadi pada awal minggu ke 2 sejak pembuahan terjadi. Pada hari ke 20 hingga ke 30 pembuahan, gumpalan darah  terus berproses hingga membentuk gumpalan daging atau Al-Quran menyebutnya ‘Mudghoh’. Fase ini disebut juga fase pembentukan daging yang belum sempurna. Rasulullah mengungkapkan : “ Ketika nuftah berada rahim, Allah SWT mengutus malaikat; (malaikat) bertanya : “ Ya Rabb, apakah disempurnakan atau tidak ?”. JIka Allah SWT mengatakan tidak, maka ia akan gugur bersama rahim hingga menjadi darah. 

Dalam kenyataan, pembentukan zygote baik yang alami maupun buatan (misal dalam proses bayi tabung, dimana  dokter ahli memilah-milah sperma dengan kualitas yang baik dan sehat  untuk dipertemukan dengan ovum) tidak selalu dengan sendirinya diikuti proses pembuahan, terbukti dengan hancurnya gumpalan darah dan dinding rahim tempat ia melekat menjadi darah yang keluar pada awal minggu ke 5. Ibnu Mas’ud  RA meriwayatkan bahwa  Rasulullah SAW bersabda : ”Sesungguhnya kalian diciptakan sebagai nuftah yang (disimpan) di dalam rahim selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging;…..” 

Jelas hal ini bukan merupakan peristiwa kebetulan, sebaliknyanyalah jelas ada ‘kekuasaan’ yang  mempunyai hak mutlak memberikan ‘izin’ agar pembuahan dapat berlanjut. 

 Selanjutnya bila zygote terus bertahan, proses pembentukan organ tubuh baru akan dimulai pada awal minggu ke 5 sampai akhir bulan ke 3  hingga terbentuk  daging yang semakin sempurna. Tulang-belulang dan kemudian daging yang akan melindunginya terbentuk pada minggu ke 6 dan ke7. 

 “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging.”(QS.Al Mukminun(23):12-14).   

Pada  sekitar akhir bulan ke 3, detak jantung mulai teraba dan indra pendengaranpun mulai berfungsi. Itulah awal suatu kehidupan dan terbentuknya  mahluk yang berbentuk lain dan baru ( dari darah), yaitu janin

“Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS.Al Mukminun(23):14).   

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam(tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya”. (QS.As-Sajdah(32):9). 

Dan sebagaimana penemuan ilmiah yang mengatakan bahwa indra pendengaran janin berkembang lebih dahulu dibanding indra penglihatan, maka begitu pula hikmah yang banyak tertulis dalam Al-Quran yang selalu mendahulukan kata ‘pendengaran’ daripada kata ‘penglihatan’ dalam proses penciptaan. 

“.. dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati;”.(QS.As-Sajdah(32):9). 

“Katakanlah:”Dialah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur”. (QS.Al-Mulk(67):23). 

Melalui ilmu genetika kita juga mengetahui bahwa sperma menyimpan 2 macam kromosom, yaitu kromosom laki-laki (Y) dan kromosom perempuan (X). Sedangkan ovum hanya menyimpan 1 macam kromosom yaitu kromosom perempuan (X). Pada peristiwa pembuahan, bila sperma berkromosom Y membuahi ovum maka janin yang terbentuk adalah laki-laki. Dan bila sperma berkromosom X yang berhasil membuahi ovum maka janin dapat dipastikan perempuan. 

Hadis yang diriwayatkan oleh Tsauban RA mengatakan:           “Air (mani) laki-laki berwarna putih dan air (mani) perempuan berwarna kekuningan. Jika keduanya bercampur dan air mani laki-laki mengalahkan air mani perempuan, maka (akan membentuk) jenis kelamin laki-laki dengan izin Allah SWT, namun jika air mani perempuan mengalahkan air mani laki-laki, maka (akan membentuk) jenis kelamin perempuan dengan izin Allah SWT.” 

 “Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki” (QS.Al-Baqarah(2):223). 

Ayat dan hadis di atas memiliki hubungan yang saling berkaitan erat. Keduanya secara jelas menerangkan bahwa laki-laki adalah bagaikan seorang petani penggarap yang menanam bibit tanaman atau bercocok tanam pada ladang yang dimilikinya, yaitu istrinya.  Itulah sebabnya  bila sang petani menanam bibit kromosom Y di ladangnya maka buahnya pasti juga berkromosom Y alias janin laki-laki, sebaliknya bila sang petani menanam bibit kromosom X maka buahnya  juga  dapat dipastikan berkromosom X alias janin perempuan. Memang dalam kenyataannya sang petani yaitu sang lelaki tidak memiliki kekuasaan untuk memilih bibit kromosom mana yang ia kehendaki untuk ditanam didalam ladangnya. 

Namun dengan makin majunya ilmu pengetahuan belakangan ini, sekarang kita telah mengenal adanya istilah bayi tabung.  Berdasarkan teori inilah para dokter menerapkan ilmu pengetahuannya, ilmu yang membutuhkan waktu sangat lama untuk dibuktikan dan tentu saja membutuhkan suatu keseriusan dan ketelitian. 

Berkenaan dengan sifat gen dalam kromosom ini pulalah, Al-Qur’an sejak awal telah melarang manusia melakukan perkawinan antar keluarga. Dan ternyata hal ini memang sesuai dengan lmu Genetika yang  menyatakan  bahwa perkawinan keluarga atau incest, yaitu perkawinan antra anggota keluarga beresiko menurunkan penyakit bawaan. Bahkan diperkirakan dapat menyebabkan kematian anak pada usia sebelum usia matang/baligh. 

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan;…………” (QS.An-Nisaa’(4):23). 

Lalu bagaimana mungkin Rasulullah Muhammad saw yang hidup pada abad ke 7 dapat mengetahui rahasia tersebut, kalau bukan karena Sang Pencipta itu sendiri yang menyampaikannya ? Maha Suci  Allah, Dialah Sang Alim yang Maha Mengetahui segala sesuatu.       

“Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah”. (QS.Fathiir(35):11). 

Telah menjadi ketetapan, semua manusia lupa bahwa pada suatu saat dulu ketika ia masih berada di alam ruh, sebelum ia dilahirkan ke muka  bumi, ia pernah bersumpah di dunia nanti  ia tidak akan lupa bahwa Allah swt adalah yang menciptakan dirinya dan dengan demikian ia akan selalu menyembah, patuh dan taat  hanya kepada-Nya. 

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi“. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. (QS.Al-A’raaf(7):172). 

Melalui ayat di atas dapat dipastikan bahwa sesungguhnya setiap jiwa sebelum lahir ke muka bumi ini telah memiliki kehidupan lain di suatu alam, yaitu alam ruh. Jiwa-jiwa inilah yang diambil kesaksiannya dan membuat pengakuan bahwa Allah swt adalah  Tuhan. Tuhan Yang Esa, yang menciptakan mereka, yaitu Allah Azza wa Jalla, Sang Khalik. Dan hanya Dialah yang patut dan berhak disembah. Maka dengan demikian,  sesungguhnya setiap jiwa itu pada fitrahnya adalah bersih. Perjalanan hiduplah yang dapat menjadikannya  kotor dan akhirnya kafir terhadap-Nya.     

Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah bersabda: “Setelah Allah menciptakan Adam, maka Dia mengusap punggungnya, maka berjatuhanlah dari punggungnya itu setiap jiwa. Dialah Pencipta jiwa-jiwa dari keturunannya hingga hari kiamat”. (HR Tirmidzi).

*************

untuk kembali ke daftar isi buku ” Perjalanan Sang Khalifah – The True Game – 1″ click : https://vienmuhadisbooks.com/2009/11/18/daftar-isi-perjalanan-sang-khalifah-the-true-game-1/

“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir ”. (QS.Al-Hasyr(59):21).

Rupanya telah menjadi takdir bahwa manusialah yang bakal memegang tugas tertinggi dan termulia di muka bumi ini yaitu sebagai khalifah bumi. Namun jangan lupa tugas seorang khalifah adalah tugas yang amat berat, terbukti bahwa mahluk lain yang sebelumnya juga telah ditawari jabatan tersebut menolaknya.

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.(QS Al-Ahzab (33):72).

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, “ Allah berfirman kepada Adam, “ Sesungguhnya Aku telah menawarkan amanat kepada    langit, bumi dan gunung-gunung. Semuanya tidak sanggup. Apakah kamu  sanggup memegang teguh perkara yang terdapat di balik amanat itu ? “. Adam berkata : “ Ya Tuhanku, apakah yang ada di baliknya?” .Allah berfirman “ Jika kamu berbuat baik maka mendapat imbalan dan jika kamu berbuat buruk maka mendapat hukuman. Kemudian Adam mengambilnya lalu memikulnya  “.

Jadi amanat yang dimaksud dalam ayat diatas adalah amanat untuk bertakwa kepada Allah SWT, yaitu amanat atau tugas untuk menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dan sebagai imbalannya bila manusia melaksanakan perintah dengan baik maka bagi mereka kedudukan yang mulia baik di dunia maupun akhirat kelak yaitu surga sebaliknya bila manusia lalai maka tempat kembali mereka adalah neraka jahanam dan di duniapun hidup mereka tidaklah nyaman.

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya”. (QS. Ath-Thalaq(65):(2-3).

Dan sebagai konsekwensi atas diterimanya amanat tersebut maka seluruh manusia, yaitu anak-cucu Adam dan seluruh keturunannya, mulai dari zaman awal penciptaan hingga akhir zaman nanti tanpa kecuali, wajib melaksanakan amanat tersebut. Dan karena amanat ini selain maha berat juga sulit, maka Allah SWT mengatakan bahwa manusia sesungguhnya amat zalim dan bodoh karena mau menerima amanat tersebut. Tampaknya Adam telah terperdaya oleh iming-iming imbalan yang ditawarkan Allah swt padahal Ia telah mengingatkan  dengan jelas bahwa langit, bumi dan gunung-gunungpun tidak menyanggupinya. Namun apa daya dengan izin-Nya semua telah terjadi.

Maka agar supaya kita berhasil meraih imbalan yang dijanjikan serta terhindar dari hukuman yang telah diancamkan  tersebut, kita harus mengetahui bagaimanakah isi amanat tersebut, apa saja perintah dan larangan yang dimaksudkan akan menuju ketakwaan kepada-Nya itu. Dan agar perintah dirasa tidak terlalu memberatkan  ada baiknya bila kita terlebih dahulu memahami hak dan kewajiban kita sebagai manusia. Sebenarnya memang agak sulit untuk memisah dan memilah antara hak, kewajiban dan tugas tersebut. Namun demi mempermudah gambaran suatu tugas dan amanat yang amat berat ini, penulis berupaya untuk mengelompokkan tugas, hak dan kewajiban manusia sebagai berikut, semoga Allah SWT meridhoi upaya ini.

Hak adalah segala sesuatu yang bila dikerjakan akan memberi keuntungan bagi si pelaku namun bila tidak ia lakukan maka dirinya sendirilah yang akan merugi, namun walaupun begitu tidak ada paksaan dan sanksi baginya. Sebaliknya kewajiban, adalah segala sesuatu yang harus ia laksanakan yang bila tidak dilakukan ia akan menerima sanksi atau hukuman dari si pemberi kewajiban. Sebagai akibat dari terpenuhinya hak dan kewajiban, seseorang diharapkan mampu melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya, yaitu tugas kekhalifahan.

Hak dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu:

–     Hak mengenal diri.

–     Hak mengenal Sang Maha Pencipta melalui ayat-ayat yang tersebar dialam semesta.

–     Hak mengenal Sang Maha Pencipta melalui Al-Quran dan As-Sunnah.

–     Hak mengenal Sang Maha Pencipta melalui Asma dan Sifat-SifatNya.

–     Hak mengenal Sang Maha Pencipta melalui pribadi Rasulullah, Muhammad SAW.

Kewajiban terbagi atas 2 kelompok:

–     Meyakini Rukun Iman dan

–     Menjalankan Rukun Islam.

Dan tugas manusia dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu :

–     Menjaga hubungan dengan Sang Khalik yaitu dengan hanya menyembah-Nya.

–     Menjaga hubungan antar sesama manusia.

–     Menjaga serta mengelola agar kelestarian alam dan keseimbangannya tetap terjaga.

Namun mengingat bahwa hak, kewajiban dan tugas manusia sangat banyak sehingga memerlukan dalil-dalil dan pembahasan yang juga banyak maka untuk menjaga agar isi buku tidak terlalu luas dan rumit, atas saran beberapa kenalan  dan saudara maka penulis memisahkan bab ini pada  buku jilid 2 dengan judul yang sama.

Semoga Allah swt meridhoi’ usaha ini, amin.

Click di sini untuk membaca ” Perjalanan Sang Khalifah 1″  :

DAFTAR ISI ” PERJALANAN SANG KHALIFAH – THE TRUE GAME – 1 | Segala Amal Perbuatan Tergantung Niatnya

  “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan”.(QS.Al-An’am(6):112-113). 

Allah SWT telah mengabulkan permintaan Iblis agar hukuman yang diberikan sebagai akibat atas pembangkangannya terhadap perintah-Nya untuk tunduk dan bersujud kepada Adam AS itu ditunda hingga hari akhir. Dan Allah SWT juga telah mengizinkan Iblis untuk mencari teman dalam menjalani hukumannya di neraka jahanam kelak yaitu dengan terus menerus mengganggu seluruh keturunan Adam dari atas, bawah, kiri dan kanannya.

 “Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at)”.(QS.Al-A’raaf(7):16-17). 

Berbagai cara dilakukannya, namun pada pokoknya bertujuan untuk mengalihkan dan memalingkan agar manusia menyembah dari yang selain Allah SWT, itulah dosa syirik, suatu dosa besar yang sama sekali tidak terampunkan. Diantaranya yaitu dengan menuhankan hawa nafsu, patung-patung dan berhala, jin dan malaikat, para nabi, para orang alim dan thoghut.

Iblis yang kemudian beranak-pinak tersebut kemudian memerintahkan anak keturunannya agar membantu melaksanakan cita-cita besarnya yaitu menjerumuskan manusia ke dalam api neraka. Pasukan Iblis ini terdiri dari bangsa jin itu sendiri dan juga bangsa manusia yang mau bersekongkol dengan dirinya. Pasukan inilah yang disebut syaitan. Syaitan mengganggu manusia dengan cara membisik-bisikkan perkataan yang indah-indah tentang kehidupan dunia sehingga manusia pada akhirnya lupa akan kehidupan akhirat. Bisikkan ini masuk melalui pintu hati manusia. Jadi pintu-pintu inilah yang terutama harus dijaga ketat. Al-Ghazali membagi pintu-pintu besar yang sering kali lolos dari pengawasan ini atas 11 kategori, diantaranya yaitu pintu amarah dan syahwat; iri dan dengki; kekenyangan dalam makanan; suka berhias baik dengan perabotan, pakaian maupun rumah; tamak; buruk sangka; terburu-buru; gila harta dan kekuasaan serta takut miskin.

“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma`siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,”(QS.Al-Hijr(15):39). 

1. Pembunuhan pertama di muka bumi.  

Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.(QS.Al-Maidah(5):27). 

Nabi Adam as dikaruniai 6 pasang anak kembar. Mereka inilah cikal bakal nenek moyang manusia. Syariat Allah waktu itu mengharuskan seorang anak harus mengawini saudaranya lawan jenis namun tidak boleh kembarannya. Qabil dan Habil adalah dua anak pertama Adam as. Namun Qabil menginginkan kembarannya sendiri sebagai istrinya yang secara hukum adalah menjadi hak saudaranya, yaitu Habil.

Sebagai anak yang shaleh, Habil menolak kemauan kakaknya tersebut. Kemudian ia mengusulkan agar mereka berdua menyelenggarakan upacara kurban, siapa yang kurbannya diterima Allah SWT berarti dialah yang berhak melaksanakan keinginannya.Ternyata domba kurban Habil yang diterima Allah SWT karena domba yang dikurbankan Habil adalah domba yang selain gemuk dan sehat juga bagus sedangkan Qabil memilih domba yang sangat jelek untuk dikurbankan. Karena hikmah dari berkurban sesungguhnya adalah ke-ikhlas-an seseorang dalam memenuhi perintah Allah SWT. Ini yang dinilai oleh-Nya. Tentu saja Dia mengetahui apa berada yang dibalik hati manusia.

Namun karena bujukan syaitan jua, Qabil tidak mau menepati perjanjian. Sebaliknya ia malah membunuh saudaranya itu. Inilah peristiwa pembunuhan pertama yang terjadi di muka bumi.

 “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal”. (QS.Al-Maidah(5):31). 

2. Pengkultusan dan penyembahan dewa-dewa.

Pada umumnya setiap manusia membutuhkan sesuatu yang dapat dijadikannya idola, panutan, pujaan dan akhirnya sembahan. Sesuatu yang dapat memberinya rasa aman, senang dan nyaman. Sesuatu yang dirasa dapat memberinya pertolongan terutama ketika ia dalam kesulitan. Ini adalah fitrah manusia.

”Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo`a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo`a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan”.(QS. Yunus(10):12). 

Namun sayang, tanpa bimbingan ilmu yang benar, seseorang akan mudah tersesat. Penyembahan yang semula dilakukan dengan harapan dapat memberinya rasa aman sebaliknya malah menyusahkannya. Pada puncaknya penyembahan dilakukan hanya sebagai kebiasaan dan tradisi yang diwarisi secara turun-temurun dari nenek-moyang mereka tanpa adanya usaha untuk mempertanyakan apakah yang disembahnya tersebut dapat memberinya manfaat. Ini adalah sebuah kebodohan yang nyata.

 ”Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kamu sembah?”. Mereka menjawab: “Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya”.Berkata Ibrahim: “Apakah berhala-berhala itu mendengar (do`a) mu sewaktu kamu berdo`a (kepadanya)? atau (dapatkah) mereka memberi manfa`at kepadamu atau memberi mudharat?”. Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian ”.(QS.Asysyu’ara (26):69-74). 

Ironisnya, hampir di setiap bagian belahan bumi ini orang mengenal dewa-dewi mereka masing-masing. Dewa-dewi ini biasanya melambangkan kekuatan alam yang dikaguminya, seperti matahari, angin, air dan sebagainya. Orang-orang Yunani kuno sejak lama telah mengenal dewa-dewi seperti Zeus, Hera dan lain-lain, masyarakat Romawi kuno mengenal dewa Yupiter sedangkan di Persia orang mengenal dewa Mithra, di Syria mereka menamakannya Tammuz, Mesir memanggilnya Osiris dan orang-orang Arab mengenal Hubal, Latta dan ‘Uzza sebagai sesembahan mereka. Bahkan di tanah Jawa dan Balipun hingga detik ini masih terdapat sekelompok masyarakat yang masih mempercayai Dewi Sri sebagai dewi padi, lambang kemakmuran. Dewa-dewi ini mereka puja dan sembah dengan harapan dapat memberikan kebaikan dan menolak keburukan dalam kehidupan mereka.

Namun disamping itu, ada pula para pemimpin dan raja yang menganggap dirinya adalah Tuhan, baik secara terang-terangan seperti para Fir’aun di Mesir maupun secara tidak langsung seperti para kaisar Romawi dan juga raja Kisra’ dari Persi. Mereka memaksa rakyatnya agar menyembah dan memujanya. Bila ada rakyat yang menolak dapat dipastikan mereka akan dijatuhi hukuman. Padahal ini hanya sebuah tipuan agar para pemimpin dan para raja dapat terus mempertahankan kekuasaan. Syaitanlah sesungguhnya yang telah membisikkan kedalam hati manusia agar mereka melakukan itu semua.

Bahkan ketika suatu masyarakat telah didatangi utusan Allah dan dengan izin-Nya utusan tersebut berhasil mengajak mereka untuk menyembah kepada Tuhan yang sesungguhnya, Tuhan yang telah menciptakannya yaitu Allah SWT. Dengan berlalunya waktu seringkali merekapun kembali memuja, mengkultuskan dan bahkan menyembah yang selain Allah SWT. Yang disembahnya itu bisa jadi berhala, Nabi dan Rasul, malaikat bahkan para pemimpin mereka, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal seperti ini kerap sekali terjadi. Diantaranya adalah apa yang dilakukan  bangsa Yahudi.

Bangsa ini berabad-abad yang lalu  pernah diselamatkan Allah swt dari perbudakan dan penganiayaan Firaun melalui Musa as.  Alih-alih bersyukur dan membela serta mengikuti ajaran yang dibawa rasul-Nya, mereka malah menjadi sombong dan congkak. Mereka merasa dirinya bangsa pilihan hingga meyakini bahwa  Allah tidak akan menghukum ketika mereka berbuat kesalahan. Mereka bahkan membunuh dan mencoba membunuh sejumlah nabi dan rasul termasuk Rasulullah Muhammad saw. Selain menyembah patung-patung, seperti orang Nasrani mereka juga menganggap bahwa Tuhan mempunyai anak!

 ”Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At-Taubah (9):30).

Sedangkan yang terjadi pada kaum Nasrani 1.5 abad yang silam adalah sebagai berikut : Jauh sebelum Isa as lahir, orang-orang Romawi telah terbiasa menyembah Dewa Matahari. Sejak lama mereka meyakini bahwa dewa ingin menyelamatkan dan mengampuni dosa-dosa manusia dengan cara berinkarnasi menjadi manusia. Manusia anak dewa ini dipercaya akan lahir pada hari Minggu (Sunday ; Sun = matahari dan day = hari) tanggal 25 Desember sebagai hari dan tanggal yang memiliki arti khusus bagi mereka. Disamping itu diantara para penyembah matahari ini hidup pula para penganut agama Yahudi. Dalam keadaan seperti inilah Isa as datang untuk mendakwahkan ajaran Tauhidnya. Ketika Isa as wafat dan kemudian diangkat kesisi-Nya, pengikutnya memang hanya sedikit.

”dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, `Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) `Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat `Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(QS.An-Nisa’(4):157-158).

Namun pada sekitar tahun 325 M keadaan telah berubah. Pengikut Isa as makin lama makin banyak. Mereka mengikuti ajaran dengan benar, yaitu ajaran Monotheisme dan menempatkan Isa pada posisi yang sebenarnya, yaitu Rasul Allah. Mereka ini hidup bersebrangan dengan rakyat dan juga para penguasa yang mayoritas adalah penyembah matahari, yang notebene adalah ajaran Paganisme dan Polytheisme. Namun karena sering mendengar kehebatan mukjizat yang dimiliki Rasul Allah ini, merekapun segera menganggap bahwa Isa adalah anak dewa matahari yang selama ini mereka nanti-nantikan.

Melihat suasana yang demikian para penguasa Romawi selain merasa khawatir akan terjadinya kekacauan juga merasa ketakutan dan khawatir bakal kehilangan pamor dan kekuasaan. Maka pihak kekaisaranpun cepat mengambil tindakan. Romawi yang waktu itu dibawah kekuasaan Konstantin I segera membentuk semacam dewan dan menghasilkan sebuah deklarasi yang dikenal dengan nama ’deklarasi Nicene’ (’Nicene Creed’). Deklarasi ini intinya menetapkan bahwa Isa AS bukanlah utusan Tuhan namun anak Tuhan sebagai ganti anak dewa matahari yang ditunggu-tunggu sebagian masyarakat Romawi.

Mereka juga menetapkan bahwa anak Tuhan ini lahir sesuai dengan kehendak dewa mereka yaitu Minggu, 25 Desember. Mereka jugalah yang kemudian memprakarsai penggambaran Isa as dengan ganbar sinar matahari yang mengitari kepala Isa / Yesus sebagai lambang anak dewa mereka, Tuhan mereka yang sebenarnya. Dengan cara ini kekaisaran dapat terus dipertahankan. Dan siapapun yang menentang hasil deklarasi harus dibunuh, dijauhkan dan dibuang ke negri lain. Dibawah perintah raja Konstantin ini pulalah daging babi dihalalkan, tempat ibadah dengan bentuk gereja seperti sekarang ini didirikan,  tata cara shalat dirubah hingga seperti yang bisa disaksikan sekarang ini.

”Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”.(QS.At-Taubah(9):31). 

Al-Quran menerangkan bahwa orang-orang yang menjadikan pemimpin-pemimpin mereka bagaikan tuhannya sebagai pengikut Thagut. Thagut adalah segala sesuatu yang dijadikan pemimpin, pelindung, penolong dan sembahan. Thagut tidak selalu dalam bentuk manusia namun bisa juga materi seperti uang, pekerjaan dan lain-lain. Segala sesuatu yang dapat memalingkan seseorang dari menyembah dan berhukum hanya kepada Allah SWT.

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”.(QS.An-Nisa’(4):60). 

3. Perang Pemikiran ( Al-Ghazwl Fikri ).

Khilafah Islamiyah adalah kerajaan Islam yang menaungi negara-negara Islam di dunia, yang membentang dari Andalusia di Spanyol, sepanjang Afrika Utara, seluruh semenanjung Arab, Asia Kecil, Asia Tengah, Eropa Timur dan Yunani hingga perbatasan timur negri China juga termasuk didalamnya daerah-daerah yang dahulunya dikuasai pihak kafir, yaitu kekuatan Barat (Nasrani) di Turki dan kekuatan Timur (Majusi) di Persia.( lihat bab ‘Khilafah Islamiyah’). Kejayaaan ini berlangsung secara bertahap mulai abad ke 7 hingga awal abad ke 20. Kejayaan tersebut juga kemudian hancur secara bertahap hingga akhirnya lenyap sama sekali pada tahun 1923 ketika berada dibawah kekuasaan khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Konstatinopel atau yang sekarang dinamakan Istambul, Turki.

Namun tidak berarti selama masa kejayaan yang amat panjang tersebut sama sekali tidak terjadi gangguan yang serius. Adalah Paus Urban, seorang pemimpin  yang berkedudukan di Perancis Selatan. Ialah yang menyeru umat  di seluruh dunia  agar merebut Yerusalem dari tangan pasukan Muslim. Hal ini terjadi sekitar 350 tahun setelah pasukan Muslim tanpa kekerasan berhasil menguasai kota suci tersebut. Bahkan dikabarkan pemuka  Yerusalem yang berkuasa ketika itu menyerahkan kunci kota secara khusus langsung kepada   Umar bin Khatab RA. Didampingi pemuka  tersebut, sang khalifah  memasuki gerbang kota dengan penuh kedamaian.

Akan tetapi apa yang terjadi pada tahun 1099 adalah kebalikannya. Pasukan  bentukan Paus Urban yang kemudian dikenal dengan nama Pasukan Salib  memang  berhasil menguasai Yerusalem. Namun  setelah berperang selama 3 hari 3 malam dengan membantai lebih dari 30.000 penduduk kota, termasuk perempuan dan anak-anak Muslim yang berlindung di dalam masjid Al-Aqsa. Mereka juga membunuhi kaum Yahudi dan  yang bermukim disekitar kota tua tersebut dan juga kaum Yahudi yang hidup di perkampungan sepanjang perjalanan mereka dari Perancis ke Yerusalem secara brutal dan kejam.

Delapan puluh delapan tahun kemudian yaitu pada tahun 1187, dibawah kekuasaan Sultan Salahuddin, pasukan Muslim kembali berhasil menguasai Yerusalem. Dan sebagaimana pendudukan Yerusalem oleh pasukan Muslim pada kali pertama, kali inipun tidak terjadi pembantaian. Bahkan para penguasa yang ditaklukkan tersebut selain diampuni juga diberi keleluasaan untuk meninggalkan kota dengan membawa seluruh harta bendanya. Peristiwa bersejarah ini pada tahun 2005 pernah diabadikan dengan sangat baik dalam film “The Kingdom of a Heaven” yang disutradarai oleh Sir Ridley Scott dan dibintangi aktor kenamaan Orlando Bloom. Peperangan yang kemudian dikenal dengan nama “Perang Salib” ini terus terjadi hingga beberapa kali selama hampir 200 tahun namun pihak Salib tidak pernah berhasil menguasai kembali Yerusalem.

Sesungguhnya perseteruan antara Islam dan para ahli kitab telah terjadi sejak masa awal kerasulan di Madinah. Orang-orang Yahudi dan  yang ketika itu memang banyak bermukim di kota tersebut amat kecewa ketika mengetahui bahwa nabi yang dijanjikan dalam kitab mereka, Taurat (dan juga Injil) ternyata bukan datang dari kaum mereka, melainkan datang dari bangsa Arab, bangsa yang selama ini mereka remehkan. Inilah bibit awal kebencian dan kedengkian sebagian ahli kitab.

 Namun mereka akhirnya menyadari bahwa pasukan Muslim tidak akan pernah dapat ditaklukan secara perang terbuka. Perang di jalan Allah untuk mempertahankan kebenaran bagi umat Islam adalah jihad, imbalan bagi mereka adalah surga, kemenangan yang hakiki adalah di akhirat. Oleh sebab itu mereka tidak mengenal kata takut mati. Sebaliknya pihak Nasrani (bergabung dengan orang-orang Yahudi) mereka mendambakan kemenangan dunia. Kematian adalah kekalahan dan amat menakutkan. Jadi mereka mengambil kesimpulan bahwa untuk mengalahkan umat Islam harus dicari jalan lain, bukan dengan perang senjata secara terbuka. Tipu daya apakah yang sebenarnya mereka rencanakan itu?

 “Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(QS.Al-Baqarah(2):109). 

Dan mereka memang ternyata berhasil. Sayangnya, umat Islam tidak menyadarinya. Apa yang sebenarnya mereka lakukan?

Yerusalem dibawah kekuasaan khilafah Islamiyah sejak abad 7 memang tidak pernah tertutup bagi umat agama lain. Mereka bebas mengunjungi kota suci bagi 3 agama besar didunia ini. Namun ia tidak hanya menarik karena sejarah ritualnya namun juga karena kota ini pada waktu itu telah berkembang menjadi kota intelektual. Ilmu berkembang pesat disini. Orang-orang Nasranidatang tidak hanya sekedar untuk melakukan ibadah dan kunjungan keagamaan melainkan juga untuk mempelajari ilmu lain seperti ilmu hukum termasuk juga belajar tentang Islam dan Al-Quran.

Namun sebenarnya tujuan mereka adalah untuk mencari celah dan kemudian menyerang Islam secara diam-diam. Mereka kemudian melemparkan fitnah yang keji baik terhadap nabi Muhammad SAW maupun terhadap ajaran itu sendiri. Mereka menuduh bahwa Islam adalah agama pedang, Islam disebarkan dengan cara paksa dan kekerasan. Hal tersebut disengaja untuk menyakiti dan memancing emosi umat Islam. Dari sini mereka mencoba menaklukkan Islam sebagai ganti kekalahan mereka pada perang-perang yang terjadi sebelumnya. Mereka mencoba mengusik rasa kesatuan, keimanan dan kebanggaan umat Islam terhadap agamanya dengan berbagai cara.

Belakangan ini, tersebar berita bahwa Ratu Inggris berkenan untuk menganugerahkan gelar kehormatan “Sir” kepada pengarang buku “Ayat-ayat Setan “atau yang di Barat dikenal “The Satanic Verses”, Salman Rushdi. Padahal buku karangannya tersebut jelas-jelas melecehkan ajaran Islam dan telah melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia sehingga bekas pimpinan tertinggi Iran, Ayatullah Khomeini memberikan fatwa hukuman mati bagi pengarang tersebut. Lalu apa sesungguhnya kepentingan dan keinginan pemerintah Inggris dengan adanya pemberian penghargaan tersebut ??

Mereka juga menyerang dengan terobosan-terobosan baru dalam bidang kebudayaan dan peradaban, yaitu dengan melontarkan berbagai pemikiran seperti feminisme , demokrasi, sekulerisasi (pemisahan agama dari Negara), sukuisme, nasionalisme dll.  Beberapa diantara pemikiran tersebut sebenarnya masih bisa diterima. Namun karena tidak dibangun diatas dasar pemikiran bahwa kebenaran hukum Allah adalah di atas segalanya maka pemikiran-pemikiran tersebut menjadi menyimpang dari akidah Islam. Inilah sebenarnya yang mereka tuju. Pemikiran yang dikemas dengan baik namun dengan dasar menyesatkan, yaitu menjauhkan umat dari Al-Qur’anul Karim.

Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka ………Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka) .(QS.Al-Fushilat(41):25-26).

Dengan alasan itu pula pemerintah Perancis belakangan ini mengeluarkan larangan resmi pemakaian jilbab bagi perempuan yang bekerja di instansi pemerintah, termasuk pula murid sekolah negri. Juga di Denmark, salah satu negara Skandinavia ini dikenal sering sekali memancing emosi kaum Muslim dengan berbagai karikatur Rasulullah. Bahkan saat ini salah satu partai di negara tersebut, dengan dalih kebebasan berpendapat, mereka menggunakan gambar Rasulullah sebagai lambang partai mereka! Padahal mereka tahu bahwa hal tersebut sangat menyakitkan hati umat Islam karena Islam memang melarang penggambaran/ilustrasi Rasulullah dalam bentuk apapun. Berbagai hal diatas sengaja dilakukan dengan maksud dan harapan agar rasa persatuan Islam menghilang. Ini yang kelak disebut Perang Pemikiran atau Al-Ghazw Al-Fikri.

Saat ini dapat kita amati dengan jelas hampir semua negara-negara Islam di dunia memiliki wajah baru yang tidak sedikitpun menyisakan ke-Islam-annya. Budaya Barat telah jauh merasuk kedalam kehidupan masyarakat. “Barangsiapa yang menyerupai (kebiasaan jelek) suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka”. (HR Ibnu Daud). 

Dengan dalih demi kemajuan, kebebasan dan modernisasi penyerbuan peradaban ini masuk secara sistematis, perlahan namun pasti sehingga umat pada umumnya tidak menyadarinya. Hal ini menyusup melalui media cetak dan elektronik, slogan-slogan pendidikan dan hiburan yang jauh dari ajaran Islam. Umat terus dicekoki dengan pemikiran, nilai dan norma Barat yang cenderung bebas dan materialistis sebagaimana halnya dengan ekonomi kapitalis yang samasekali tidak Islami hingga akhirnya umat melupakan seluruh nilai-nilai dan sendi-sendi Islam.

“…….. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”(QS.Al-Baqarah(2):120). 

Hal ini pula yang sebenarnya mempercepat kejatuhan kekhilafahan Ustmaniyah pada masa lalu selain tentunya berbagai penyebab seperti ketidak-adilan, perpecahan antar umat, tidak majunya ilmu pengetahuan dan juga kebobrokan iman sebagian pemimpinnya. Mereka telah menukar keimanan dengan keduniawian.

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”(QS.Al-Maidah(5):50). 

Dan seakan belum puas dengan semua ini, saat ini kaum kafir tengah  menambah gempurannya dengan serangan psikologi mutakhirnya yaitu dengan melempar isu Terorisme dan Extrimisme seperti tercermin dengan adanya peristiwa biadab  11 September 2001. Umat dipojokkan seakan ajaran Islam  identik dengan kekerasan. Jihad mereka artikan identik dengan kekerasan dan harus dienyahkan. Mereka terus mencekoki umat bahwa jihad sama dengan tidak menghargai nyawa manusia yang juga berarti melanggar hak asasi manusia sebagai simbol peradaban modern.

Padahal ini adalah fitnah besar. Sesungguhnya tidak saja sebagian besar muslimin yang meyakini bahwa peristiwa tersebut adalah sebuah rekayasa, namun juga sejumlah pakar sains. Salah satunya adalah Professor Thomas W Eager, seorang guru besar Material Engineering and Engineering System pada sebuah institut terkenal di Amerika Serikat. Berdasarkan pengalamannya sebagai peneliti struktur bangunan baja, ia berpendapat bahwa mustahil sebuah bangunan sekokoh menara WTC dapat ambruk hanya dikarenakan ditabrak 2 pesawat komersial. Bahkan sebenarnya  dari cara Pemerintahan Bush membersihkan lokasi reruntuhanpun terkesan begitu terburu-buru sehingga menimbulkan kecurigaan seolah-olah ia ingin segera menghilangkan bukti-bukti penting.

Cara tersebut ternyata terbukti ampuh. Karena risih dan sungkan akhirnya sebagian besar pemimpin Islam pun mengumumkan bahwa karena Islam adalah agama perdamaian maka sedikit demi sedikit istilah jihadpun dihapuskan dan dipinggirkan. Kaum Musliminpun akhirnya menjadi lupa akan sumpah setia mereka kepada Sang Pencipta, Allah SWT untuk menegakkan ajaran Tauhid, untuk menegakkan kebenaran. Pasukan Muslimin telah dengan sukarela melepaskan kekuatan jihad yang sangat ditakuti musuh. Inilah yang ditunggu dan diharapkan! Padahal mereka tetap mempersiapkan diri untuk berperang. Namun kali ini mereka tidak perlu lagi khawatir terhadap perang senjata secara terbuka. Bagi umat yang kurang keimanannya hal ini dapat menyebabkan mereka menjadi benci dan malu terhadap agama mereka sendiri dan mereka menjadi tidak percaya diri yang pada akhirnya dapat mengakibatkan kemurtadan. Ini adalah akibat sampingan namun fatal.

Selain itu tampak bahwa negara-negara Islam juga dihambat kemajuannya agar mereka tetap terus dalam kemiskinan dan terus bergantung kepada Barat hingga akhirnya mereka jatuh. Padahal sebaliknya, mari kita perhatikan. Amerika Serikat adalah sebuah negara besar yang sering membanggakan diri sebagai sebuah negara yang mengedepankan kedamaian dan keamanan. Namun sesungguhnya justru negara inilah yang menjadi penyulut peperangan di berbagai tempat, seperti di Irak, Afganistan dan Timur Tengah. Mereka tengah melempar batu sembunyi tangan.

Negara-negara Muslim tersebut tengah diadu domba disaksikan sang sutradara, Amerika Serikat, sebuah negara produsen senjata terbesar di dunia. Menurut harian The Strait Times, 24 Mei 2007, negara ini pada 2001 meraup US$ 10 milyar hingga US$ 13 milyar dari penjualan senjata. Dan angka ini terus melonjak tiap tahunnya. Negara adi kuasa, mitra kental Yahudi ini memang punya kepentingan pribadi dengan adanya perang yang terus diupayakan terjadi agar keuntungan yang diraihnya terus berkepanjangan setelah sebelumnya mencekoki rakyatnya dengan barang-barang kebutuhan sehari-hari produksi mereka. Sebuah modus yang mirip dengan produsen obat-obatan terlarang yang dilakukannya ke berbagai negara. Jadi siapakah sesungguhnya sang raja teroris?

Namun sesungguhnya serangan yang bertubi-tubi tersebut bila dihadapi umat Islam secara kompak dan bersatu tentu mereka tidak akan mampu melumpuhkan dan mengalahkan umat ini. Bila saja umat memiliki sikap, keteguhan dan keimanan sebagaimana para sahabat di masa lampau tentu kita akan menang.

Rasulullah SAW bersabda : ”Aku memohon kepada Tuhanku atas tiga perkara. Maka Allah mengabulkan dua perkara untukku sedangkan yang satu ditolak. Aku memohon kepada Tuhanku agar jangan membinasakan umatku dengan musim paceklik maka Dia mengabulkannya. Aku memohon kepada Tuhanku agar jangan membinasakan umatku dengan air bah (banjir bandang) maka Dia mengabulkannya. Aku mohon pada-Nya agar tidak menjadikan mereka saling berperang namun Dia menolak permohonanku itu”. (HR Muslim).  

Akan tetapi hadis diatas bukanlah alasan bagi kita untuk terus menjadi pasrah dan menerima kenyataan tersebut. Seharusnya kita malah lebih berhati-hati agar perbedaan yang ada tidak menjadikan kita ber-perang sendiri sehingga kita mudah dikalahkan.

Beruntung Allah SWT berkenan menepati janji-Nya untuk terus menegakkan Islam dimuka bumi. Hal ini terbukti dengan malah makin banyaknya orang yang berpindah dan memeluk agama Islam secara sukarela.

“Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.”(QS.Ash-Shaff(61):8). 

Dan kebanyakan dari mereka ini justru lebih baik akidah dan keimanannya daripada orang-orang yang terlahir Islam. Lalu kita sebagai umat yang disebut belakangan ini alias Islam ‘terlahir’ bagaimanakah sikap kita? Akankah kita ini hanya menjadi bagian dari yang menyaksikan kebesaran Islam tanpa ikut serta didalamnya??

 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan  menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”(QS.Al-Maidah(5):51). 

4. Serangan kaum Munafik.  

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda : Tanda-tanda orang munafik itu tiga; bila berkata ia bohong, bila berjanji ia mengingkari dan bila dipercaya ia mengkhianati”. 

Munafik adalah orang yang memperlihatkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran. Hadis diatas adalah sebuah peringatan keras bagi para Mukmin untuk tidak bersikap satupun diantara sikap-sikap diatas karena yang demikian akan menjerumuskannya kedalam kemunafikan sejati meskipun ia seorang yang membenarkan bahkan mungkin menjalankan syari’at Islam.

Beberapa tahun belakangan ini muncul gagasan tentang konsep keberagamaan, yaitu Pluralisme, Sekularisme dan Liberalisme. Hal ini timbul disebabkan adanya rasa toleransi antar agama yang berlebihan. Dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk, perbedaan adalah suatu hal yang biasa dan lumrah. Pada Zaman Rasullullah pun hal tersebut pernah terjadi yaitu pada awal periode Madinah. Pada saat itu kaum Muslimin hidup berdampingan dengan kaum musyrik penyembah berhala, Yahudi dan Nasrani. Mereka menjalankan ibadahnya dengan caranya masing-masing.

“Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah  Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku“.(QS.Al-KaaFiruun(109):1-6).  

Namun Allah SWT menghendaki agar Dakwah Islam terus berlanjut karena Islam bukan hanya merupakan hak istimewa dan monopoli bangsa Arab. Allah SWT menghendaki agar semua manusia didunia ini tanpa kecuali berhak menerima kebenaran dari-Nya.

“(Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”.(QS.Ali-Imraan (3):138). 

Manusia diberi kesempatan untuk memilih, percaya atau tidak, takwa atau durhaka, tidak ada paksaan baginya. Namun begitu seseorang telah menentukan pilihannya maka hukumpun berlaku baginya. Demi effektifitas sebuah ajaran agama maka terpaksa atau tidak seseorang harus menerima resiko serta pilihannya itu. Allah SWT telah memberi batasan yang jelas, apa akibat dari pilihan tersebut. Pengusiran dan peperangan yang akhirnya terjadi terhadap kaum Yahudi disebabkan karena mereka terus-menerus melanggar perjanjian yang telah disetujui kedua belah pihak. Mereka terus merongrong dan mengancam tidak saja jiwa Rasulullah SAW namun juga kelangsungan ajaran yang masih seumur jagung tersebut.

Islam tidak pernah mengajarkan pemisahan antara hubungan manusia dengan Tuhannya, hubungan antar sesama manusia maupun hubungan manusia dengan mahluk lainnya termasuk hubungannya dengan alam semesta. Islam adalah pandangan hidup, Way Of Life. Ia mengatur seluruh aspek kehidupan, mulai hal-hal kecil seperti menjaga kebersihan, tata-krama dan kesopan-santunan hingga masalah-masalah perdagangan dan ekonomi bahkan kemasyarakatan dan kenegaraan. Oleh karena itu Islam tidak mengenal istilah Sekulerisasi. Rasulullah SAW dengan Madinahnya adalah contoh nyata. Beliau adalah seorang utusan Allah sekaligus pimpinan suatu negara yang juga seorang ayah dan suami yang sangat patut dijadikan teladan.

Namun saat ini, toleransi antar agama yang muncul tidak lagi sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya. Belakangan ini malah muncul berbagai aliran atau isme seperti Pluralisme(Semua agama sama), Sekularisme(Agama dipisahkan dari kehidupan sehari-hari ) dan Liberalisme (Kebebasan untuk menafsirkan ayat-ayat suci).

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”(QS.Ali Imraan(3):7). 

Saat ini sejumlah perguruan tinggi Islam marak mengajarkan sebuah ilmu yang notabene anyar yaitu Hermeuneutika. Ajaran ini masuk ke Indonesia mulanya melalui para cendekiawan Muslim yang menuntut berbagai ilmu Islam di Barat.

Ilmu ini mengajarkan cara menafsirkan Al-Quran. Namun cara tersebut sama sekali tidak sesuai dengan apa yang telah di contohkan dan diajarkan Muhammad SAW, Sang Penyampai dan Pembawa Al-Quran yang pastinya lebih memahami apa yang ingin disampaikan-Nya melalui Al-Quran, dan juga para sahabat, murid yang mendapatkan pengajaran langsung dari beliau. Ayat Al-Quran diatas jelas menegaskan bahwa hanya orang-orang yang hatinya condong pada kesesatan sajalah yang mencoba menta’wilkan ayat-ayat Al-Quran yang mutasyabihat. Tujuannya tak lain hanyalah untuk menimbulkan fitnah dan perpecahan diantara ummat. Padahal untuk mempelajari Al-Quran secara benar sesungguhnya hanya dapat melalui 5 tahapan, yaitu : melalui ayat Al-Quran itu sendiri (kesinambungan antar ayatnya), melalui apa yang telah dicontohkan Rasulullah, melalui para sahabat, melalui para tabi’in dan ulil amri dan terakhir baru melalui sudut bahasanya. 

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.(QS.Al Baqarah(2):208).

Disamping itu, untuk mencapai suatu kebenaran, kadang perdebatan memang sukar dihindari. Yang diperlukan adalah kedewasaan, sikap untuk saling terbuka, sikap untuk mau menerima kenyataan bahwa sesuatu yang sudah terbiasa dan lama diyakini ‘benar’ belum tentu kebenarannya, kalau memang itu terbukti tidak benar. Suatu sikap lapang dada untuk menerima kesalahan dan kekhilafan dengan penuh kesadaran. Disamping itu yang benarpun tidak perlu merasa congkak dan arogan, karena yang dicari adalah kebenaran. Jadi bukan masalah kalah menang ataupun mengalah.

“Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (`Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti `Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka”.(QS.An-Nisaa(4):159). 

Sebaliknya dengan mengambil sikap jalan tengah seperti menyamakan semua agama ataupun menyatakan bahwa semua agama adalah benar tentu berbahaya. Hal ini akan berakibat sangat buruk karena pada akhirnya mereka hanya mementingkan keimanan saja tanpa keharusan untuk melaksanakan kewajiban / syariat suatu agama. Padahal Rasulullah jelas datang dengan membawa ajaran, lengkap dengan hukum-hukum yang harus dipatuhi dan dilaksanakan.

 “Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi”.(QS.Al-Maidah(5):5).

Pluralitas atau keberagaman dalam Islam memang telah dikenal sejak lama akan tetapi bukan Pluralisme.

“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS.Al-Baqarah(2):62). 

Ayat inilah yang sering dijadikan pegangan bagi mereka yang bersiteguh bahwa semua agama adalah sama dan benar disisi Allah SWT. Padahal yang dimaksud ayat diatas adalah orang-orang Yahudi,  dan Shabiin yang mengimani seluruh rasul dan kitab termasuk Muhammad SAW dan Al-Quranul Karim. Atau bagi mereka yang hidup pada zaman sebelum Islam datang, ketika mereka belum merubah-rubah kitab suci mereka yaitu Taurat maupun Injil yang dibawa Musa AS maupun Isa AS. Atau bagi mereka yang belum sampai satupun petunjuk tentang Islam.

 “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”.(QS.Ali Imran(3):85). 

Lebih dari itu, mereka juga menyebar bibit fitnah berkenaan dengan urutan ayat Al-Quran yang tidak sesuai dengan urutan turunnya. Mereka menuduh Rasulullah SAW dan para sahabat telah ikut campur dalam penyusunan Al-Quran sehingga dengan demikian kitab ini sudah tidak suci dan murni lagi!

“Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam. Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al Qur’an ini?” (QS.Al-Waqiyah(56):75-81).

Berkenaan dengan ayat diatas, Ad-Dhahak meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra : Al-Quran diturunkan secara keseluruhan dari sisi Allah, dari Lauh  Mahfuz, melalui duta-duta malaikat  penulis wahyu, ke langit dunia, lalu para malaikat tersebut menyampaikannya kepada Jibril secara berangsur-angsur selama 20 malam dan selanjutnya diturunkan pula oleh Jibril as kepada Rasulullah SAW secara berangsur-angsur  selama 23 tahun”. Itu pula yang ditafsirkan Mujahid, Ikrimah, As-Sidi dan Abu Hazrah.

Ayat diturunkan kepada Rasulullah sedikit demi sedikit berdasarkan situasi, seringkali turun sebagai jawaban atas suatu permasalahan dengan hikmah tertentu. Oleh sebab itu turunnya ayat tidak berurutan. Yang dimaksud ” tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan” adalah Al-Quran yang berada di Lauh Mahfuz, karena Al-Quran yang ada di dunia, yang jumlahnya  tak terhitung banyaknya ini dapat disentuh oleh semua orang, baik Muslimin yang suci maupun yang tidak suci juga Kafirin.

Selanjutnya dengan petunjuk Jibril as, setiap ayat yang turun diletakkan dan diatur sesuai dengan Al-Quran yang berada di Lauh-Mahfuz. Jadi bukan atas kehendak Rasulullah SAW! Adapun tentang adanya perbedaan jumlah ayat dalam Al-Quran, hal ini disebabkan adanya pengulangan. Hitungan 6236 ayat adalah hitungan tanpa memperhitungkan pengulangan ayat yang ada, sedangkan 6666 ayat bila dihitung semua ayat-ayatnya.

Ironisnya bila pada Perang Pemikiran atau Al-Ghazw Fikri, musuh adalah jelas, yaitu orang-orang kafir, orang yang tidak mau dan enggan mengakui keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT, tidak demikian dengan hal diatas. Isu Pluralisme, Sekularisme dan Liberalisme justru dilemparkan oleh orang-orang yang mengaku dirinya Muslim. Mereka ini bahkan adalah orang-orang yang notabene berpendidikan tinggi dalam ilmu agama Islam. Kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang mendapatkan pendidikan Islamnya di negara Barat. Dari sanalah mereka mendapatkan tokoh dan panutan baru, yaitu Nasr Hamid Abu Zayd, seorang guru besar di Leiden, Belanda. Abu Zayd adalah intelektual asal Mesir. Ia menyelesaikan pendidikannya hingga S3 di Universitas Kairo, Mesir jurusan sastra Arab dan sempat mengabdi sebagai dosen di almamaternya. Pada tahun 1978, ia memperoleh beasiswa untuk penelitian doktoralnya di Institute of Middle Eastern Studies, University of Pennsylvania, Amerika Serikat. Sekembali dari negri ini, Abu Zayd menulis sejumlah buku. Pada tahun 1992 ia mengajukan promosi untuk menjadi guru besar di Universitas Kairo namun ditolak. Ia dianggap tidak layak menjadi professor karena buku-buku yang ditulisnya banyak yang melecehkan ajaran Islam. Salah satu oleh-oleh yang dibawanya adalah ilmu Hermeunetika. Ia kemudian protes dan membawa masalahnya ke pengadilan, namun kalah.

Dan tak lama kemudian para khatib di sejumlah mesjid-mesjid besar Mesirpun menyatakan bahwa Abu Zayd telah murtad. Merasa tidak lagi diterima di negerinya, Abu Zayd beserta keluarganya pergi menuju Spanyol kemudian menetap di Belanda. Ironisnya di Negara tersebut ia justru disambut sebagai pahlawan dan langsung ditawari kursi professor prestisius di universitas di Leiden! Tak hanya itu, selang beberapa waktu kemudian perguruan-perguruan tinggi di Berlin dan Amerika Serikatpun tidak mau ketinggalan, mereka ikut menawarkan jabatan-jabatan penting di kampus-kampus mereka.

“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul“, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu”.(QS.An-Nisa’(4):61). 

Rasulullah bersabda, bahwa umat Islam akan terpecah kedalam 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu yaitu, “kelompok yang mengikuti apa yang aku (Rasulullah) dan sahabatku lakukan”.

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka ”. ( QS. An-Nisa’(4):145). 

5. Munculnya perpecahan dan  nabi-nabi palsu. 

Dari Irbadh bin Sariyah ra, ia berkata :” Pada suatu hari setelah shalat Subuh Rasulullah saw menasehati kami dengan suatu nasehat yang membuat kami menangis dan sedih. Lalu ada seorang yang berkata  : “ Ya, Rasulullah ini adalah pesan perpisahan, lalu apa yang anda wasiyatkan kepada kami ? Rasulullah menjawab :”Aku wasiyatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah swt dan selalu mendengar dan taat (kepada pemimpin) meskipun pemimpin itu seorang budak Habasyi. Maka barangsiapa yang hidup (panjang umur) akan melihat banyak ihtilaf (perbedaan), maka berhati-hatilah terhadap hal-hal yang baru (bid’ah), karena sesungguhnya bid’ah itu sesat. Maka barangsiapa diantara kalian yang menjumpai masa itu maka berpegang-teguhlah dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’Arrosyidiyin, peganglah erat-erat dan jangan sampai lepas”. 

Hadis diatas menunjukkan bahwa perbedaan diantara   sesama umat Islam memang tidak  dapat dihindarkan. Namun perbedaan yang beresiko memunculkan perpecahan  apalagi yang tidak sesuai lagi dengan sunnah Rasulullah dan apa yang telah dicontohkan para Khulafa’Arrasyidin ( Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra, Ustman bin Affan ra dan Ali bin Abi Thalib ra)  harus dihindari. Perpecahan ini bahkan sesungguhnya telah mulai terlihat begitu  Rasulullah memasuki hari-hari akhirnya. 

“Sesungguhnya akan ada tiga puluh orang pendusta di tengah umatku. Mereka  semua mengaku nabi. Padahal, aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi sesudahku.”

Hadits ini diriwayatkan lebih dari satu orang diantaranya adalah Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Bukhari-Muslim juga meriwayatkannya walaupun  dengan redaksi berbeda. 

Pada masa akhir kerasulan, di Yaman muncul seorang yang mengaku bahwa dirinya telah mendapatkan wahyu untuk meneruskan ajaran Rasulullah. Namun tak lama kemudian nabi palsu tersebut segera ditangkap dan diadili. Kemudian muncul lagi  dari Bani Asad, seorang bernama Thulaihah bin Khuwailid bin Naufal. Pada tahun 9 H, dia datang bersama kaumnya kepada Rasulullah saw dan menyatakan keislamannya. Ketika Rasulullah sakit keras, ia memproklamirkan dirinya sebagai nabi.   Thulaihah dan pasukannya pernah beberapa kali bertempur dengan kaum Muslimin namun selalu kalah. Kemudian bersama istrinya, ia melarikan diri ke Syam. Beruntung di tempat tersebut ia mendapatkan hidayah dan kembali ke pangkuan Islam. Thulaihah mati syahid dalam Perang Nahawand tahun 21 H.

Nabi palsu yang paling sering disebut-sebut namanya adalah Musailimah bin Tsumamah bin Habib Al-Kadzdzab, seorang laki-laki dari Yamamah. Ia berhasil mendapat pendukung yang banyak hingga dikhawatirkan membahayakan ajaran dan aqidah Islam. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, orang tersebut memberontak dan menolak perintah zakat hingga Abu Bakar terpaksa mengirim pasukan untuk memeranginya. Dalam peperangan ini pihak Muslim kehilangan banyak sekali penghafal Al-Quran. Ini yang menyebabkan Umar bin Khattab menyarankan Abu Bakar agar segera memerintahkan para sahabat mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran yang kemudian pada masa Ustman bin Affan dibukukan hingga seperti sekarang ini. 

 Pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan Al-Umawi, juga ada nabi palsu bernama Al-Harits bin Said Al-Kadzdzab. Dulunya, ia adalah seorang zuhud yang ahli ibadah. Namun sayang, ia tergelincir dari jalan Allah dan mengikuti jalan setan. Ia didatangi iblis dan diberi ‘wahyu.’ Ia bisa membuat keajaiban2 laksana mukjizat seorang nabi. Saat musim panas, ia datangkan buah-buahan yang hanya ada pada musim dingin. Dan ketika musim dingin, ia datangkan buah-buahan musim panas. Sehingga, banyak orang yang terpesona dan mengikuti kesesatannya. Akhirnya ia ditangkap dan oleh Khalifah Abdul Malik disuruh bertaubat. Sejumlah ulama didatangkan untuk menyadarkannya. Namun peringatan  tersebut tidak diindahkannya hingga khalifah terpaksa membunuhnya. Hal ini dilakukan agar menjadi peringatan bagi yang lain karena dapat merusak aqidah dan ajaran Islam yang sesungguhnya.

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.” (Al-Ahzab: 40).

Namun hingga detik ini masih saja ada orang yang datang dan mengaku sebagai nabi. Ahmad Gulam Mirza adalah satu diantaranya. Ia mengaku sebagai nabi baru setelah Rasulullah saw  dan  mengaku dirinya sebagai Imam Mahdi. Ia mendirikan sebuah sekte aliran sesat bernama Ahmadiyah pada tahun 1889.  Ia lahir di India pada tahun  1835 dan meninggal pada  1908 di Lahore. Ia menafsirkan dan menambah-nambahi ayat Al-Quran hingga sesuai dengan keinginan dan kemauannya. Ahmadiyah sendiri masuk ke Indonesia pada tahun 1922. Sekte ini memiliki kitab sucinya sendiri, yaitu “Tazkirah” yang kesuciannya diakui sama dengan Al-Quran! Ia juga menyatakan bahwa ada tanah suci selain Makkah dan Madinah, yaitu Qadyani dan Rabwah di India. Sesungguhnya sekte ini awalnya dibentuk sebagai taktik politik Inggris dalam rangka menaklukkan rakyat India ketika itu. Tujuan  utamanya adalah memberantas dan membekukan ajaran jihad yang dilakukan rakyat Muslim India untuk melawan penjajahan di negrinya.

Disamping Ahmadiyah, beberapa aliran sesat sebenarnya juga telah ada sejak lama. Khowarij dan Syi’ah adalah diantaranya. Syi’ah sendiri terpecah menjadi beberapa kelompok yang saling bertentangan. Ada yang berpendapat Syi’ah terpecah hingga menjadi 70 kelompok namun ada yang berpendapat hingga 300 kelompok. Diantara kelompok yang terbesar  adalah Az-Zaidiyyah. Hanya kelompok ini yang memiliki pemahaman sedikit mendekati Ahlu sunnah wa jamaah. Namun pada dasarnya, Syi’ah hanya mengakui ahlu bait (keluarga Rasulullah) sebagai pemimpin Islam dan Ali bin Abi Thalib adalah penerus kenabian. Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi Yaman adalah orang yang paling sering dituding sebagai penyebar aliran ini. Ialah yang menyebar fitnah bahwa para sahabat, antara lain  Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, Aisyah ra amirul mukminin adalah orang-orang yang sesat. Oleh karenanya kaum Syi’ah merasa bahwa Al-Quran yang ada saat ini tidak lagi asli karena dikumpulkan dan dibukukan pada masa pemerintahan mereka. Kaum Syi’ah juga hanya mempercayai hadis yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib.

Sementara kaum Khowarij adalah kelompok yang cenderung tidak mau mempercayai sunnah/hadits Rasulullah (biasa juga disebut sebagai kelompok Ingkar Sunnah) darimana dan siapapun sumbernya, baik shoheh maupun tidak. Kelompok ini terpecah menjadi beberapa kelompok lagi. Diantaranya adalah mereka yang menyebut diri sebagai Submitter. ( baca : http://vienmuhadi.com/2010/01/21/ketika-ayat-mutasyabihat-di-takwilkan-rasyad-khalifa/ )

Perpecahan terus terjadi hingga detik ini. Belakangan ini muncul ucapan dari seorang pengamat intelejen di sebuah pertemuan di kota Semarang, Jawa Tengah. Tanpa disertai bukti, ia menyatakan  bahwa zakat di Indonesia digunakan untuk membiayai kegiatan terorisme. Jelas ini adalah fitnah. Setelah jihad yang sekarang ini seolah telah menjadi momok menakutkan bahkan bagi telinga Muslim sekalipun, kali ini zakatpun tampaknya dicoba untuk diguncang dan diobok-obok keberadaannya. Padahal ayat tentang zakat jelas peruntukannya. Kembali hal ini membuktikan betapa syaitan begitu telah mampu menghalangi seluruh jalan menuju kebenaran. Hanya keimanan dan terus belajar mendalami serta mengkaji ayat-ayat Al-Quran serta sunah Rasulullah sajalah yang dapat menyelamatkan seseorang dari godaan dan bisikannya.   

*************

untuk kembali ke daftar isi buku ” Perjalanan Sang Khalifah – The True Game – 1″ click : https://vienmuhadisbooks.com/2009/11/18/daftar-isi-perjalanan-sang-khalifah-the-true-game-1/

 “Sesungguhnya syaitan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya”. (QS.An-Nahl(16):99).

 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan”. (QS.Al-Maidah(5):35). 

Sesungguhnya bila manusia selalu waspada dan senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, kekuasaan syaitan terhadap diri manusia itu tiadalah berarti. Ini adalah janji Allah SWT.

“Dia (iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil“.(QS.Al-Israa’(17):62). 

Namun sayangnya kebanyakan manusia terlalu berlebihan dalam mencintai kehidupan dunia dan mereka terlalu menurutkan hawa nafsunya. Ini yang mengakibatkan syaitan, sebagai pasukan dan pemuja Iblis, mudah mengganggu, mengelabui dan akhirnya menyesatkan manusia. Karena memang inilah tujuan syaitan, yaitu agar manusia menemani Iblis dalam siksa neraka jahanam.

“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga)……”.(QS.Al-‘Araf(7):176). 

 “Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi”. (QS.Mujadillah(58):19). 

1. Jihad Psikis / Spiritual.

 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka”. (QS.Al-Hujuraat(49:15). 

Kata Jihad sering kali diartikan sebagai perang bersenjata menghadapi musuh secara terbuka di medan perang. Padahal bila kita perhatikan ayat-ayat Al-Quran sebenarnya tidak selalu demikian. Jihad juga dapat diartikan membelanjakan dan mengorbankan harta di jalan Allah sebagai perang melawan keserakahan. Zakat dan infak adalah contoh dari jihad dengan harta. Disamping itu, Islam mengenal jihad melawan hawa nafsu. Berbagai hawa nafsu seperti nafsu syahwat, nafsu amarah, sombong, dengki dan iri hati, bermalas-malas, makan berlebihan dan juga nafsu untuk selalu melawan perintah Allah adalah beberapa contoh nafsu yang harus diperangi, harus dikendalikan. Inilah yang dimaksud dengan jihad spiritual atau jihad psikis. Pada intinya dalam jihad spiritual yang harus dilawan adalah bisikan syaitan karena memang dialah yang ingin agar Allah memurkai kita, agar kita menemaninya ke neraka kelak.

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS.Al-Ankabuut(29):45). 

Dan hanya dengan berpegang kepada tali Allah sajalah kita akan mampu melawan bisikan tersebut, yaitu dengan jalan membaca dan memahami Al-Quran dan kemudian mengamalkannya, diantaranya yaitu dengan shalat yang dikerjakan dengan hati yang bersih 

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya………”. (QS.Az-Zumar(39):23). 

Jadi untuk memenangkan permainan “The True Game” yang diciptakan-Nya tidak ada kata lain selain harus mengikuti aturan-aturan-Nya. Walaupun sebenarnya Dia tidak menjadikan aturan, baik itu larangan maupun perintah, tanpa hikmah. Contohnya sbb :

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.Al-Baqarah(2):173). 

Berdasarkan pengamatan dan penelitian yang dilakukan belakangan ini ternyata terbukti bahwa babi adalah binatang yang lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya. Berbagai penyakit dibawanya, diantaranya kolera babi dan keguguran nanah yang dapat menyebabkan gangguan pada persendian. Penelitian ilmiah modern di Cina dan Swedia menyatakan bahwa daging babi merupakan penyebab utama kanker anus dan usus besar. Bahkan beberapa ilmuwan mengemukakan kecurigaan mereka bahwa ada kemungkinan daging babi adalah penyebab berbagai penyakit misterius seperti SARS/flue burung.

Dan bila kita amati cara kehidupan babi dibanding binatang lain sebenarnya sungguh buruk. Binatang ini suka memakan segala kotoran termasuk kotoran manusia dan kotorannya sendiri. Bahkan dalam keadaan tertekan iapun tega memakan daging anaknya sendiri! Binatang ini juga diketahui suka melakukan hubungan sesama jenis alias homosex/lesbian dan tidak seperti binatang lain yang cenderung “sangat pencemburu”, babi tidak merasa keberatan bila betinanya diganggu jantan lain. Selain itu lemak babi adalah lemak yang paling tinggi kolesterolnya dibanding lemak binatang lain demikian pula darahnya, uric acid atau asam uratnya paling tinggi. Patut diketahui, sejak zaman nabi Musa as babi telah diharamkan untuk dikosumsi. (Imamat 11: 7-8). Demikian pula dengan masalah khamar.

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Dan ta`atlah kamu kepada Allah dan ta`atlah kamu kepada Rasul (Nya) dan berhati-hatilah”. (QS.Al-Maidah(5):90-92).

 Pemakaian khamar (alkohol) dan berjudi disamping melalaikan manusia dari mengingat Allah sebetulnya juga memberikan kerugian yang banyak baik bagi sang pelaku maupun bagi orang disekitarnya. Itu sebabnya Allah SWT berfirman untuk menghindarinya agar kita beruntung. Dan Allah SWT juga mengingatkan kita agar supaya berhati-hati menghadapinya. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita mendengar berbagai keributan dan juga kecelakaan kendaraan yang disebabkan oleh para pemabuk. Mereka adalah para peminum segala macam alkohol yang memabukkan, yang membuat mereka kehilangan keseimbangan dan akal sehat. Berbagai kejahatan mulai pertengkaran, perselisihan, perselingkuhan hingga pembunuhan diawali oleh pengaruh alkohol. Jadi sungguh dampak pemakaian zat ini sebenarnya sudah demikian parah dan merisaukan masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Di sejumlah negara Barat yang notabene terbiasa mengkonsumsi alkohol, belakangan ini mulai mengawasi para pengendara kendaraannya dalam hal pemakaian alkohol.

Allah berfirman: “……… Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.(QS.Thaa-haa(20):123-124). 

Allah SWT juga memperingatkan kita untuk selalu menggunakan hukum yang telah ditetapkannya. Syaitan akan senantiasa membisikkan manusia agar terus mengikuti kemauan hawa nafsunya, nafsu yang tidak didasarkan atas hukum Allah. Sesungguhnya syaitan telah masuk jauh kedalam hati orang-orang yang tidak menjadikan Al-Quran itu sebagai pegangan hidupnya. Mereka adalah sekutu iblis dari jenis syaitan manusia. Mereka ingin agar senantiasa menjadi pemimpin bagi orang-orang mukmin yang lemah. Berbagai cara akan digunakannya untuk menggiring orang-orang mukmin yang lemah ini agar dapat menemani mereka di neraka kelak. Inilah jihad yang amat sangat berat, jihad spiritual, kecuali bagi orang-orang mukmin yang berpegang kuat pada hukum-hukum Sang Maha Kuasa, Sang Maha Pencipta yang telah menjadikan manusia dan seluruh alam semesta.

“dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka……”.(QS.Al-Maidah(5):49-51). 

2. Jihad Fisik / Jihad Jiwa. 

“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya”.(QS.At-Taubah(9):73). 

Jihad dengan jiwa adalah berperang di jalan Allah demi membela kebenaran yang hakiki, kebenaran sejati yang bukan berdasarkan pemikiran dan hawa nafsu manusia semata. Dialah yang Maha Mengetahui, Dialah Sang Pencipta segala yang ada di alam semesta ini, Dialah Sang Pemilik. Dengan demikian memang hanya Dialah Sang Kebenaran, Allah Azza wa Jalla, Tuhan Yang Satu.

Allah SWT menyuruh manusia agar bersabar terhadap segala urusan. Sabar adalah ibadah dan Allah menyukai mahluknya yang memiliki kesabaran yang tinggi. Dan tidak seperti ibadah-ibadah lain yang memiliki ganjaran yang terbatas yaitu hingga 700 kali lipat, tidak demikian dengan sabar.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS.Al-Baqarah(2):261). 

Allah SWT tidak membatasi pahala orang yang bersabar karena sesungguhnya sabar adalah hakikat ibadah, yaitu inti dari ketundukkan, kepatuhan dan kepasrahan.

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (QS.Az-Zumar(39):10). 

 Kesabaran dalam Islam tidak mengenal batas. Namun sabar yang bagaimanakah itu? Difinisi sabar dalam Islam yaitu menahan diri sesuai dengan tuntutan akal dan tuntutan syariah. Islam mengajarkan sebuah kedisiplinan yang tinggi. Islam bukan untuk dipermainkan. Siapa yang tidak mau menegakkan kebenaran dan keadilan berarti ia memusuhi Allah. Disinilah keimanan kita ditantang.

“Barangsiapa diantaramu yang melihat kejelekan maka rubahlah dengan tangannya. Maka jika tidak sanggup maka rubahlah dengan perkataanya. Dan jika tidak sanggup rubahlah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman”.(HR Bukhari-Muslim). 

Allah SWT tidak menurunkan ayat jihad dengan jiwa pada awal diturunkannya Al-Quran. Padahal ketika itu Islam begitu dimusuhi dan ditentang. Namun Allah memerintahkan untuk tetap bersabar karena perang dalam Islam bukan ditujukan demi memenuhi nafsu amarah belaka. Sebaliknya perintah Allah untuk berperang dan memerangi orang-orang kafir baru ada setelah Rasulullah berdakwah lebih dari 12 tahun. Hal tersebut dikarenakan umat Islam tidak dapat bebas menjalankan perintah Allah SWT untuk beramal-ibadah dengan tenang. Karena dalam menjalankan ajarannya umat Islam memerlukan adanya sistim dan prinsip-prinsip Islam agar hak dan kewajiban mereka terlindungi dengan baik. Apalagi bila mereka sampai terusir dari tempat tinggalnya sendiri hanya dikarenakan mereka ingin menegakkan kalimat Tauhid maka satu-satunya jalan hanyalah melawan dan berperang.

”Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”…..(QS.Al-Hajj(22):39-40).

 Rasulullah SAW berdakwah di Makkah secara sembunyi-sembunyi 3 tahun lamanya. Setelah itu turun ayat agar beliau berdakwah secara terang-terangan. Namun ajakannya menuju kebaikan, menuju penyembahan Tauhid yang benar, tidak disambut dengan baik. Sebaliknya Rasulullah dan para sahabat malah diejek, dilecehkan dan dianiaya. Sejumlah sahabat seperti Sumayyah dan suaminya disiksa kemudian dibunuh. Siksaan demi siksaan terus ditingkatkan. Kaum musyrikin yang keras kepala tersebut bahkan melakukan pemboikotan. Selama 2 atau 3 tahun para sahabat hidup dalam kesulitan baik dalam hal makanan dan minuman maupun berinteraksi dengan dunia luar.  Padahal mereka tidak berbuat kejahatan, mereka hanya ingin memurnikan penghambaan dan penyembahan kepada yang berhak.  Bahkan Rasulullahpun tidak luput dari ancaman pembunuhan sehingga akhirnya kaum Muslimin terpaksa menuju Madinah meninggalkan kota kelahiran mereka, Makkah, kota dimana mereka mencari nafkah kehidupan selama ini, meninggalkan sanak saudara, harta dan semua yang dicintai dan dimiliki.

Namun di kota baru tersebut, kaum Muslimin tetap tidak dapat hidup dengan  tenang. Kali ini kaum Yahudi yang banyak menempati wilayah-wilayah tertentu di Madinah, ikut memusuhi kaum Muslimin. Mereka merasa benci dan dengki karena Sang Mesiah, utusan yang dijanjikan dalam kitab mereka, ternyata bukan datang dari kalangan mereka, melainkan dari bangsa Arab yang selama ini mereka lecehkan. Perjanjian Madinah yang isinya antara lain saling menghormati ajaran masing-masingpun mereka langgar. Orang-orang Yahudi ini malah memprovokasi penduduk Makkah dan sekitarnya agar mereka bersatu menyerang dan mengenyahkan ajaran Islam yang baru tumbuh tersebut. Akhirnya muncullah peperangan demi peperangan : Perang Badar, Perang Uhud,  Perang Parit, Perang Khaibar dan sebagainya.

“ Jika mereka merusak sumpah (janji) nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti”.(QS.At-Taubah(9):12).

Perang yang mendapat izin dari-Nya mulanya memang hanya untuk mempertahankan diri.  Kemudian setelah Islam  berdiri tegak, perang diperintahkan dengan tujuan untuk menghilangkan penyembahan terhadap berhala dan kembali ke ajaran Tauhid. Kecuali bila kaum atau bangsa tersebut memiliki perjanjian damai dan mereka tidak melanggar perjanjian tersebut.. Yang demikian ini, selain harus diberi kesempatan untuk mengenal ajaran Islam dengan baik mereka juga harus dilindungi.

“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. ”.(QS.At-Taubah(9):6).

Namun bila mereka melanggar perjanjian, mereka harus diperangi. Islam adalah ajaran yang tegas. Demi keadilan hukum harus ditegakkan. Setelah takluk dan berada di bawah kekuasaan pemerintahan Islam, sebagai jaminan perlindungan mereka wajib  membayar jiziah. Ini adalah sebuah kewajiban sebagaimana  penduduk Muslim wajib membayar uang zakat. Dan sebagai gantinya, kaum dzimmi, sebutan bagi non Muslim pembayar jiziah, hak hidup, harta dan agama mereka dilindungi oleh penguasa.

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk ”.(QS.At-Taubah(9):29).

 Sementara bagi kaum atau bangsa yang tidak memiliki ikatan perjanjian apapun bila setelah didakwahi secara baik-baik tetap menolak dan tetap pada pendirian semula, apalagi bila mereka mengganggu dan menghalangi ajaran Islam maka mereka wajib diperangi. Namun demikian perempuan, anak-anak, orang tua bahkan tanamanpun sekalipun dilarang untuk dihancurkan kecuali karena sebab-sebab khusus. Jadi perang dalam Islam bukan untuk kepentingan pribadi, kelompok, ras maupun  golongan tertentu apalagi politik. Perang dalam Islam juga bukan untuk melampiaskan hawa nafsu, kemarahan dan yang semacamnya. Perang adalah  demi ketaatan dalam menjalankan perintah-Nya. Perang adalah pilihan terakhir demi tercapainya masyarakat yang adil, damai, tunduk dan patuh terhadap aturan Sang Pemilik Yang Tunggal. Upah dan imbalan yang diharapkanpun bukan upah duniawi!

” Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam”.(QS.Asy-Syuara’(26):107-109). 

Demikianlah  yang dikatakan semua Rasul dan Nabi-Nya.

Bila kita perhatikan suasana di Timur Tengah saat ini, akan terlihat nyata betapa kaum kafir telah mempermainkan, melecehkan bahkan telah sampai pada tahap penganiayaan terhadap saudara-saudara kita seiman. Rakyat Palestina telah terusir dari kampung halamannya. Mereka ditindas dan diperlakukan secara tidak adil di kampung halaman mereka sendiri. Maka wajib hukumnya bagi umat Muslim dimanapun berada untuk membela hak dan keimanan mereka. Jiwa mereka terancam, bahkan demi melaksanakan kewajiban segala perintah dan larangan-Nya.

 “Kamu akan melihat kepada orang-orang Mukmin itu dalam hal kasih-sayang diantara mereka, dalam kecintaan dan belas kasihan diantara mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh itu merasa sakit maka akan menjalarlah kesakitan itu pada anggota tubuh yang lain dengan menyebabkan tidak dapat tidur dan merasakan demam.”(HR Bukhari).

Jalan bagi mereka tiada kata selain berjihad dengan jiwa yaitu berperang. Musuh mereka dalam hal ini adalah musuh yang nyata, syaitan dalam bentuk manusia. Mereka adalah orang-orang kafir yang berusaha menyesatkan manusia dari menyembah hanya kepada-Nya. Dan kita sebagai saudara seiman, wajib untuk membantu dengan segala upaya karena sesama mukmin adalah saudara. Dalam jihad menghadapi orang kafir Allah SWT menghendaki agar kaum mukmin bersatu, saling membantu dan saling menasehati.

 “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. (QS.Al-Hujurat (49):10). 

Namun  sayang  pada  kenyataannya, kaum  kafir  telah  berhasil meng-adu domba sesama  mukmin.   Tampak  nyata  bahwa zionis  Israel, dibidani para    Freemansori    yang    bersembunyi    dibalik   pemerintahan  Amerika  Serikat,  telah  berhasil  memaksakan   kemauan mereka dengan menolak  pemerintahan resmi Palestina yang nyata-nyata dimenangkan secara demokrasi hingga  menimbulkan perpecahan didalam negri tersebut. Bahkan mereka telah berhasil memaksakan boikot ekonomi terhadap negeri yang telah menjadi  sedemikian  sempit ini.  Dengan kekuatan  mereka   dibidang  penyiaran baik  penyiaran  melalui media   cetak   maupun media  elektronik,  mereka berhasil  secara  sepihak memaksakan   opini  mereka    ke pihak   lain.

Menurut   pengakuan  seorang  warga-negara  Australia  asal Jerman, Frederick Toben, peristiwa Holocaust, yaitu peristwa pembantaian bangsa Yahudi secara besar-besaran oleh pihak Jerman di masa lalu yang menghebohkan itu, adalah suatu peristiwa yang terlalu dibesar-besarkan. Hal tersebut sengaja dilakukan sebagai alasan dan jalan untuk lebih memudahkan pihak Yahudi agar dapat membentuk negara dan kerajaan yang mereka cita-citakan di atas tanah yang lebih dari ribuan tahun telah menjadi tempat tinggal bangsa Palestina. Dengan alasan itulah Zionis berhasil mendoktrin orang Yahudi di seluruh dunia untuk ’kembali’ berkumpul di tanah yang mereka klaim sebagai tanah leluhur. Maka dengan izin dan restu PBB yang sangat pro Barat, sekarang ini Yahudi berhasil mendirikan negara Israel. Bahkan hingga detik ini dengan cara semen-mena negara ini terus berupaya memperluas wilayah kekuasaannya tanpa mau menghormati perjanjian internasional yang telah disepakati bersama.

 Bila diperhatikan, di Barat saat ini orang dapat dengan mudah melontarkan kritik terhadap apapun bahkan terhadap Yesus sekalipun. Namun tidak bila terhadap Holocaust maupun segala yang berhubungan dengan kebijaksanaan Israel, zionisme Yahudi khususnya. Hal tersebut terbukti nyata ketika beberapa waktu yang lalu Presiden Iran, Ahmadinejad, menyelenggarakan konferensi pers membahas tentang kebohongan Holocaust. Sontak pihak Baratpun bereaksi keras, mereka mengancam dengan menjatuhkan hukuman berat bagi para nara sumber yang turut berpartisipasi dalam konferensi tersebut. Sesuatu yang sungguh mengherankan!

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”. (QS. Asf-Shaff(61):4).

Demikian pula keadaan negara-negara Muslim seperti Irak dan Afganistan yang telah dijajah dan diduduki oleh orang-orang kafir dengan berbagai alasannya. Allah SWT telah berulang-kali mengingatkan bahwa orang-orang kafir itu ingin menyesatkan diri orang mukmin dengan cara yang tidak kita sadari. Islam mengajarkan suatu ketegasan bila kita ingin menang dan ingin dihargai. Kita harus melawan dan menunjukkan jati diri sebagai pasukan Allah demi menumpas kemungkaran.

 “Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong (mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong, kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. Tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka”. (QS.An-Ni’sa(4):89-90). 

Dan pahala bagi orang yang berperang karena membela agama Allah adalah pahala yang besar baik di dunia maupun di akhirat nanti. Orang-orang ini adalah orang-orang yang bertakwa, yang berperang karena mengharap ridho’-Nya, yang pantang menyerah, yang bersabar sambil senantiasa berdoa agar Allah SWT mengampuni segala kesalahan atas dosa dan tindakan yang berlebihan dalam berperang serta memohon agar teguh dalam berpendirian.

“Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka, sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada do`a mereka selain ucapan: “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir“. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan”.(QS.Ali-Imraan (3):146-148).

Sedangkan balasan bagi mereka yang mati syahid (dalam berperang) adalah kenikmatan di akhirat bersama para nabi. Semuanya itu disebabkan ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya.

“Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”.(QS.An-Nisa (4):69). 

Disamping itu cobalah kita perhatikan  jumlah korban dalam sejarah peperangan Islam.  Selama hampir 23 tahun itu tercatat telah terjadi kurang lebih 20 perang besar dibawah kepemimpinan Rasulullah saw. Berdasarkan penelitian yang dilakukan seorang sejarahwan Dr. Muhammad Imarah ternyata jumlah korban yang jatuh selama itu hanyalah 386 orang saja, baik dari pihak Muslim maupun pihak musuh. Bandingkan dengan perang saudara antara Katholik vs Protestan yang terjadi selama 30 tahun antara 1618-1648. Perang ini menelan korban jiwa 10 juta orang! Menurut Voltaire (1694-1778), seorang filsuf Perancis, jumlah tersebut sama dengan jumlah 40% penduduk Eropa Tengah pada abad pertengahan.

Bandingkan juga dengan  jumlah korban suku Indian yang tewas paska lahirnya UU Indian Removal Act tahun 1830 yang menyebabkan 70.000 orang Indian tewas dan terusir dari tempat tinggalnya sendiri. Atau bandingkan dengan jumlah korban bom atom di Hirosima dan Nagasaki pada tahun 1945 oleh pihak Amerika Serikat pimpinan Presiden F.D.Rosevelt. yang katanya menjunjung tinggi nilai HAM. Dalam waktu hitungan sekian menit peristiwa biadab ini menelan korban tewas 140 ribu penduduk tak berdosa Hirosima dan 70 ribu penduduk Nagasaki. Belum lagi korban cacat akibat radiasi kimianya yang berdampak.benar-benar berbahaya. 

Jadi jelas, jihad fisik dalam Islam bukan bentuk pemaksaan agar seseorang mau memeluk agama yang lurus ini, sebagaimana sering dituduhkan bahwa Islam adalah agama pedang. Allah SWT memang memerintahkan agar umat Islam berdakwah, yaitu menyadarkan kembali ingatan mahluknya yang lupa, mengajak sekaligus mengajarkan agar seluruh manusia kembali ke jalan yang benar, yaitu menyembah hanya kepada-Nya sebagaimana yang diajarkan Islam melalui Rasulullah SAW dan para Rasul pendahulunya sebelum diselewengkan. Karena yang demikian itu selain akan membebaskan manusia dari api neraka kelak, juga akan memancing ridho Allah agar bumi dan seluruh isinya tetap terjaga dalam keamanan, kemakmuran dan kestabilannya sebagaimana bergulirnya sistim alam semesta yang selalu dalam ketaatan dan kepatuhannya. Tidak ada paksaan dalam hal ini karena manusia memang diperbolehkan memilih, takwa atau durhaka.

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui…”. (QS.Al-Baqarah (2): 256).

 Namun satu hal yang tidak boleh dilupakan bila seseorang telah memilih dan menentukan jalan hidupnya ia wajib mengikuti dan mematuhi aturan hukum jalan yang dipilihnya itu, terpaksa ataupun tidak terpaksa!

*************

untuk kembali ke daftar isi buku ” Perjalanan Sang Khalifah – The True Game – 1″ click : https://vienmuhadisbooks.com/2009/11/18/daftar-isi-perjalanan-sang-khalifah-the-true-game-1/