Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Perjalanan Sang Khalifah 1 – The True Game’ Category

  “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan”.(QS.Al-An’am(6):112-113). 

Allah SWT telah mengabulkan permintaan Iblis agar hukuman yang diberikan sebagai akibat atas pembangkangannya terhadap perintah-Nya untuk tunduk dan bersujud kepada Adam AS itu ditunda hingga hari akhir. Dan Allah SWT juga telah mengizinkan Iblis untuk mencari teman dalam menjalani hukumannya di neraka jahanam kelak yaitu dengan terus menerus mengganggu seluruh keturunan Adam dari atas, bawah, kiri dan kanannya.

 “Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at)”.(QS.Al-A’raaf(7):16-17). 

Berbagai cara dilakukannya, namun pada pokoknya bertujuan untuk mengalihkan dan memalingkan agar manusia menyembah dari yang selain Allah SWT, itulah dosa syirik, suatu dosa besar yang sama sekali tidak terampunkan. Diantaranya yaitu dengan menuhankan hawa nafsu, patung-patung dan berhala, jin dan malaikat, para nabi, para orang alim dan thoghut. 

Iblis yang kemudian beranak-pinak tersebut kemudian memerintahkan anak keturunannya agar membantu melaksanakan cita-cita besarnya yaitu menjerumuskan manusia ke dalam api neraka. Pasukan Iblis ini terdiri dari bangsa jin itu sendiri dan juga bangsa manusia yang mau bersekongkol dengan dirinya. Pasukan inilah yang disebut syaitan. Syaitan mengganggu manusia dengan cara membisik-bisikkan perkataan yang indah-indah tentang kehidupan dunia sehingga manusia pada akhirnya lupa akan kehidupan akhirat. Bisikkan ini masuk melalui pintu hati manusia. Jadi pintu-pintu inilah yang terutama harus dijaga ketat. Al-Ghazali membagi pintu-pintu besar yang sering kali lolos dari pengawasan ini atas 11 kategori, diantaranya yaitu pintu amarah dan syahwat; iri dan dengki; kekenyangan dalam makanan; suka berhias baik dengan perabotan, pakaian maupun rumah; tamak; buruk sangka; terburu-buru; gila harta dan kekuasaan serta takut miskin. 

“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma`siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,”(QS.Al-Hijr(15):39). 

1. Pembunuhan pertama di muka bumi.  

Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.(QS.Al-Maidah(5):27). 

Nabi Adam as dikaruniai 6 pasang anak kembar. Mereka inilah cikal bakal nenek moyang manusia. Syariat Allah waktu itu mengharuskan seorang anak harus mengawini saudaranya lawan jenis namun tidak boleh kembarannya. Qabil dan Habil adalah dua anak pertama Adam as. Namun Qabil menginginkan kembarannya sendiri sebagai istrinya yang secara hukum adalah menjadi hak saudaranya, yaitu Habil. 

Sebagai anak yang shaleh, Habil menolak kemauan kakaknya tersebut. Kemudian ia mengusulkan agar mereka berdua menyelenggarakan upacara kurban, siapa yang kurbannya diterima Allah SWT berarti dialah yang berhak melaksanakan keinginannya.Ternyata domba kurban Habil yang diterima Allah SWT karena domba yang dikurbankan Habil adalah domba yang selain gemuk dan sehat juga bagus sedangkan Qabil memilih domba yang sangat jelek untuk dikurbankan. Karena hikmah dari berkurban sesungguhnya adalah ke-ikhlas-an seseorang dalam memenuhi perintah Allah SWT. Ini yang dinilai oleh-Nya. Tentu saja Dia mengetahui apa berada yang dibalik hati manusia. 

Namun karena bujukan syaitan jua, Qabil tidak mau menepati perjanjian. Sebaliknya ia malah membunuh saudaranya itu. Inilah peristiwa pembunuhan pertama yang terjadi di muka bumi. 

 “Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal”. (QS.Al-Maidah(5):31). 

2. Pengkultusan dan penyembahan dewa-dewa. 

Pada umumnya setiap manusia membutuhkan sesuatu yang dapat dijadikannya idola, panutan, pujaan dan akhirnya sembahan. Sesuatu yang dapat memberinya rasa aman, senang dan nyaman. Sesuatu yang dirasa dapat memberinya pertolongan terutama ketika ia dalam kesulitan. Ini adalah fitrah manusia. 

”Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo`a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo`a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan”.(QS. Yunus(10):12). 

Namun sayang, tanpa bimbingan ilmu yang benar, seseorang akan mudah tersesat. Penyembahan yang semula dilakukan dengan harapan dapat memberinya rasa aman sebaliknya malah menyusahkannya. Pada puncaknya penyembahan dilakukan hanya sebagai kebiasaan dan tradisi yang diwarisi secara turun-temurun dari nenek-moyang mereka tanpa adanya usaha untuk mempertanyakan apakah yang disembahnya tersebut dapat memberinya manfaat. Ini adalah sebuah kebodohan yang nyata.

 ”Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang kamu sembah?”. Mereka menjawab: “Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya”.Berkata Ibrahim: “Apakah berhala-berhala itu mendengar (do`a) mu sewaktu kamu berdo`a (kepadanya)? atau (dapatkah) mereka memberi manfa`at kepadamu atau memberi mudharat?”. Mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian ”.(QS.Asysyu’ara (26):69-74). 

Ironisnya, hampir di setiap bagian belahan bumi ini orang mengenal dewa-dewi mereka masing-masing. Dewa-dewi ini biasanya melambangkan kekuatan alam yang dikaguminya, seperti matahari, angin, air dan sebagainya. Orang-orang Yunani kuno sejak lama telah mengenal dewa-dewi seperti Zeus, Hera dan lain-lain, masyarakat Romawi kuno mengenal dewa Yupiter sedangkan di Persia orang mengenal dewa Mithra, di Syria mereka menamakannya Tammuz, Mesir memanggilnya Osiris dan orang-orang Arab mengenal Hubal, Latta dan ‘Uzza sebagai sesembahan mereka. Bahkan di tanah Jawa dan Balipun hingga detik ini masih terdapat sekelompok masyarakat yang masih mempercayai Dewi Sri sebagai dewi padi, lambang kemakmuran. Dewa-dewi ini mereka puja dan sembah dengan harapan dapat memberikan kebaikan dan menolak keburukan dalam kehidupan mereka. 

Namun disamping itu, ada pula para pemimpin dan raja yang menganggap dirinya adalah Tuhan, baik secara terang-terangan seperti para Fir’aun di Mesir maupun secara tidak langsung seperti para kaisar Romawi dan juga raja Kisra’ dari Persi. Mereka memaksa rakyatnya agar menyembah dan memujanya. Bila ada rakyat yang menolak dapat dipastikan mereka akan dijatuhi hukuman. Padahal ini hanya sebuah tipuan agar para pemimpin dan para raja dapat terus mempertahankan kekuasaan. Syaitanlah sesungguhnya yang telah membisikkan kedalam hati manusia agar mereka melakukan itu semua. 

Bahkan ketika suatu masyarakat telah didatangi utusan Allah dan dengan izin-Nya utusan tersebut berhasil mengajak mereka untuk menyembah kepada Tuhan yang sesungguhnya, Tuhan yang telah menciptakannya yaitu Allah SWT. Dengan berlalunya waktu seringkali merekapun kembali memuja, mengkultuskan dan bahkan menyembah yang selain Allah SWT. Yang disembahnya itu bisa jadi berhala, Nabi dan Rasul, malaikat bahkan para pemimpin mereka, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal seperti ini kerap sekali terjadi. Diantaranya adalah apa yang dilakukan  bangsa Yahudi.  

Bangsa ini berabad-abad yang lalu  pernah diselamatkan Allah swt dari perbudakan dan penganiayaan Firaun melalui Musa as.  Alih-alih bersyukur dan membela serta mengikuti ajaran yang dibawa rasul-Nya, mereka malah menjadi sombong dan congkak. Mereka merasa dirinya bangsa pilihan hingga meyakini bahwa  Allah tidak akan menghukum ketika mereka berbuat kesalahan. Mereka bahkan membunuh dan mencoba membunuh sejumlah nabi dan rasul termasuk Rasulullah Muhammad saw. Selain menyembah patung-patung, seperti orang Nasrani mereka juga menganggap bahwa Tuhan mempunyai anak! 

 ”Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At-Taubah (9):30). 

Sedangkan yang terjadi pada kaum Nasrani 1.5 abad yang silam adalah sebagai berikut : Jauh sebelum Isa as lahir, orang-orang Romawi telah terbiasa menyembah Dewa Matahari. Sejak lama mereka meyakini bahwa dewa ingin menyelamatkan dan mengampuni dosa-dosa manusia dengan cara berinkarnasi menjadi manusia. Manusia anak dewa ini dipercaya akan lahir pada hari Minggu (Sunday ; Sun = matahari dan day = hari) tanggal 25 Desember sebagai hari dan tanggal yang memiliki arti khusus bagi mereka. Disamping itu diantara para penyembah matahari ini hidup pula para penganut agama Yahudi. Dalam keadaan seperti inilah Isa as datang untuk mendakwahkan ajaran Tauhidnya. Ketika Isa as wafat dan kemudian diangkat kesisi-Nya, pengikutnya memang hanya sedikit. 

”dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, `Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) `Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah `Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat `Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(QS.An-Nisa’(4):157-158). 

Namun pada sekitar tahun 325 M keadaan telah berubah. Pengikut Isa as makin lama makin banyak. Mereka mengikuti ajaran dengan benar, yaitu ajaran Monotheisme dan menempatkan Isa pada posisi yang sebenarnya, yaitu Rasul Allah. Mereka ini hidup bersebrangan dengan rakyat dan juga para penguasa yang mayoritas adalah penyembah matahari, yang notebene adalah ajaran Paganisme dan Polytheisme. Namun karena sering mendengar kehebatan mukjizat yang dimiliki Rasul Allah ini, merekapun segera menganggap bahwa Isa adalah anak dewa matahari yang selama ini mereka nanti-nantikan. 

Melihat suasana yang demikian para penguasa Romawi selain merasa khawatir akan terjadinya kekacauan juga merasa ketakutan dan khawatir bakal kehilangan pamor dan kekuasaan. Maka pihak kekaisaranpun cepat mengambil tindakan. Romawi yang waktu itu dibawah kekuasaan Konstantin I segera membentuk semacam dewan dan menghasilkan sebuah deklarasi yang dikenal dengan nama ’deklarasi Nicene’ (’Nicene Creed’). Deklarasi ini intinya menetapkan bahwa Isa AS bukanlah utusan Tuhan namun anak Tuhan sebagai ganti anak dewa matahari yang ditunggu-tunggu sebagian masyarakat Romawi. 

Mereka juga menetapkan bahwa anak Tuhan ini lahir sesuai dengan kehendak dewa mereka yaitu Minggu, 25 Desember. Mereka jugalah yang kemudian memprakarsai penggambaran Isa as dengan ganbar sinar matahari yang mengitari kepala Isa / Yesus sebagai lambang anak dewa mereka, Tuhan mereka yang sebenarnya. Dengan cara ini kekaisaran dapat terus dipertahankan. Dan siapapun yang menentang hasil deklarasi harus dibunuh, dijauhkan dan dibuang ke negri lain. Dibawah perintah raja Konstantin ini pulalah daging babi dihalalkan, tempat ibadah dengan bentuk gereja seperti sekarang ini didirikan,  tata cara shalat dirubah hingga seperti yang bisa disaksikan sekarang ini. 

”Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”.(QS.At-Taubah(9):31). 

Al-Quran menerangkan bahwa orang-orang yang menjadikan pemimpin-pemimpin mereka bagaikan tuhannya sebagai pengikut Thagut. Thagut adalah segala sesuatu yang dijadikan pemimpin, pelindung, penolong dan sembahan. Thagut tidak selalu dalam bentuk manusia namun bisa juga materi seperti uang, pekerjaan dan lain-lain. Segala sesuatu yang dapat memalingkan seseorang dari menyembah dan berhukum hanya kepada Allah SWT. 

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”.(QS.An-Nisa’(4):60). 

3. Perang Pemikiran ( Al-Ghazwl Fikri ).

Khilafah Islamiyah adalah kerajaan Islam yang menaungi negara-negara Islam di dunia, yang membentang dari Andalusia di Spanyol, sepanjang Afrika Utara, seluruh semenanjung Arab, Asia Kecil, Asia Tengah, Eropa Timur dan Yunani hingga perbatasan timur negri China juga termasuk didalamnya daerah-daerah yang dahulunya dikuasai pihak kafir, yaitu kekuatan Barat (Nasrani) di Turki dan kekuatan Timur (Majusi) di Persia.( lihat bab ‘Khilafah Islamiyah’). Kejayaaan ini berlangsung secara bertahap mulai abad ke 7 hingga awal abad ke 20. Kejayaan tersebut juga kemudian hancur secara bertahap hingga akhirnya lenyap sama sekali pada tahun 1923 ketika berada dibawah kekuasaan khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Konstatinopel atau yang sekarang dinamakan Istambul, Turki. 

Namun tidak berarti selama masa kejayaan yang amat panjang tersebut sama sekali tidak terjadi gangguan yang serius. Adalah Paus Urban, seorang pemimpin  yang berkedudukan di Perancis Selatan. Ialah yang menyeru umat  di seluruh dunia  agar merebut Yerusalem dari tangan pasukan Muslim. Hal ini terjadi sekitar 350 tahun setelah pasukan Muslim tanpa kekerasan berhasil menguasai kota suci tersebut. Bahkan dikabarkan pemuka  Yerusalem yang berkuasa ketika itu menyerahkan kunci kota secara khusus langsung kepada   Umar bin Khatab RA. Didampingi pemuka  tersebut, sang khalifah  memasuki gerbang kota dengan penuh kedamaian. 

Akan tetapi apa yang terjadi pada tahun 1099 adalah kebalikannya. Pasukan  bentukan Paus Urban yang kemudian dikenal dengan nama Pasukan Salib  memang  berhasil menguasai Yerusalem. Namun  setelah berperang selama 3 hari 3 malam dengan membantai lebih dari 30.000 penduduk kota, termasuk perempuan dan anak-anak Muslim yang berlindung di dalam masjid Al-Aqsa. Mereka juga membunuhi kaum Yahudi dan  yang bermukim disekitar kota tua tersebut dan juga kaum Yahudi yang hidup di perkampungan sepanjang perjalanan mereka dari Perancis ke Yerusalem secara brutal dan kejam. 

Delapan puluh delapan tahun kemudian yaitu pada tahun 1187, dibawah kekuasaan Sultan Salahuddin, pasukan Muslim kembali berhasil menguasai Yerusalem. Dan sebagaimana pendudukan Yerusalem oleh pasukan Muslim pada kali pertama, kali inipun tidak terjadi pembantaian. Bahkan para penguasa yang ditaklukkan tersebut selain diampuni juga diberi keleluasaan untuk meninggalkan kota dengan membawa seluruh harta bendanya. Peristiwa bersejarah ini pada tahun 2005 pernah diabadikan dengan sangat baik dalam film “The Kingdom of a Heaven” yang disutradarai oleh Sir Ridley Scott dan dibintangi aktor kenamaan Orlando Bloom. Peperangan yang kemudian dikenal dengan nama “Perang Salib” ini terus terjadi hingga beberapa kali selama hampir 200 tahun namun pihak Salib tidak pernah berhasil menguasai kembali Yerusalem. 

Sesungguhnya perseteruan antara Islam dan para ahli kitab telah terjadi sejak masa awal kerasulan di Madinah. Orang-orang Yahudi dan  yang ketika itu memang banyak bermukim di kota tersebut amat kecewa ketika mengetahui bahwa nabi yang dijanjikan dalam kitab mereka, Taurat (dan juga Injil) ternyata bukan datang dari kaum mereka, melainkan datang dari bangsa Arab, bangsa yang selama ini mereka remehkan. Inilah bibit awal kebencian dan kedengkian sebagian ahli kitab. 

 Namun mereka akhirnya menyadari bahwa pasukan Muslim tidak akan pernah dapat ditaklukan secara perang terbuka. Perang di jalan Allah untuk mempertahankan kebenaran bagi umat Islam adalah jihad, imbalan bagi mereka adalah surga, kemenangan yang hakiki adalah di akhirat. Oleh sebab itu mereka tidak mengenal kata takut mati. Sebaliknya pihak Nasrani (bergabung dengan orang-orang Yahudi) mereka mendambakan kemenangan dunia. Kematian adalah kekalahan dan amat menakutkan. Jadi mereka mengambil kesimpulan bahwa untuk mengalahkan umat Islam harus dicari jalan lain, bukan dengan perang senjata secara terbuka. Tipu daya apakah yang sebenarnya mereka rencanakan itu? 

 “Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma`afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(QS.Al-Baqarah(2):109). 

Dan mereka memang ternyata berhasil. Sayangnya, umat Islam tidak menyadarinya. Apa yang sebenarnya mereka lakukan? 

Yerusalem dibawah kekuasaan khilafah Islamiyah sejak abad 7 memang tidak pernah tertutup bagi umat agama lain. Mereka bebas mengunjungi kota suci bagi 3 agama besar didunia ini. Namun ia tidak hanya menarik karena sejarah ritualnya namun juga karena kota ini pada waktu itu telah berkembang menjadi kota intelektual. Ilmu berkembang pesat disini. Orang-orang Nasranidatang tidak hanya sekedar untuk melakukan ibadah dan kunjungan keagamaan melainkan juga untuk mempelajari ilmu lain seperti ilmu hukum termasuk juga belajar tentang Islam dan Al-Quran. 

Namun sebenarnya tujuan mereka adalah untuk mencari celah dan kemudian menyerang Islam secara diam-diam. Mereka kemudian melemparkan fitnah yang keji baik terhadap nabi Muhammad SAW maupun terhadap ajaran itu sendiri. Mereka menuduh bahwa Islam adalah agama pedang, Islam disebarkan dengan cara paksa dan kekerasan. Hal tersebut disengaja untuk menyakiti dan memancing emosi umat Islam. Dari sini mereka mencoba menaklukkan Islam sebagai ganti kekalahan mereka pada perang-perang yang terjadi sebelumnya. Mereka mencoba mengusik rasa kesatuan, keimanan dan kebanggaan umat Islam terhadap agamanya dengan berbagai cara. 

Belakangan ini, tersebar berita bahwa Ratu Inggris berkenan untuk menganugerahkan gelar kehormatan “Sir” kepada pengarang buku “Ayat-ayat Setan “atau yang di Barat dikenal “The Satanic Verses”, Salman Rushdi. Padahal buku karangannya tersebut jelas-jelas melecehkan ajaran Islam dan telah melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia sehingga bekas pimpinan tertinggi Iran, Ayatullah Khomeini memberikan fatwa hukuman mati bagi pengarang tersebut. Lalu apa sesungguhnya kepentingan dan keinginan pemerintah Inggris dengan adanya pemberian penghargaan tersebut ?? 

Mereka juga menyerang dengan terobosan-terobosan baru dalam bidang kebudayaan dan peradaban, yaitu dengan melontarkan berbagai pemikiran seperti feminisme , demokrasi, sekulerisasi (pemisahan agama dari Negara), sukuisme, nasionalisme dll.  Beberapa diantara pemikiran tersebut sebenarnya masih bisa diterima. Namun karena tidak dibangun diatas dasar pemikiran bahwa kebenaran hukum Allah adalah di atas segalanya maka pemikiran-pemikiran tersebut menjadi menyimpang dari akidah Islam. Inilah sebenarnya yang mereka tuju. Pemikiran yang dikemas dengan baik namun dengan dasar menyesatkan, yaitu menjauhkan umat dari Al-Qur’anul Karim.   

Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka ………Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka) .(QS.Al-Fushilat(41):25-26). 

Dengan alasan itu pula pemerintah Perancis belakangan ini mengeluarkan larangan resmi pemakaian jilbab bagi perempuan yang bekerja di instansi pemerintah, termasuk pula murid sekolah negri. Juga di Denmark, salah satu negara Skandinavia ini dikenal sering sekali memancing emosi kaum Muslim dengan berbagai karikatur Rasulullah. Bahkan saat ini salah satu partai di negara tersebut, dengan dalih kebebasan berpendapat, mereka menggunakan gambar Rasulullah sebagai lambang partai mereka! Padahal mereka tahu bahwa hal tersebut sangat menyakitkan hati umat Islam karena Islam memang melarang penggambaran/ilustrasi Rasulullah dalam bentuk apapun. Berbagai hal diatas sengaja dilakukan dengan maksud dan harapan agar rasa persatuan Islam menghilang. Ini yang kelak disebut Perang Pemikiran atau Al-Ghazw Al-Fikri. 

Saat ini dapat kita amati dengan jelas hampir semua negara-negara Islam di dunia memiliki wajah baru yang tidak sedikitpun menyisakan ke-Islam-annya. Budaya Barat telah jauh merasuk kedalam kehidupan masyarakat. “Barangsiapa yang menyerupai (kebiasaan jelek) suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka”. (HR Ibnu Daud). 

Dengan dalih demi kemajuan, kebebasan dan modernisasi penyerbuan peradaban ini masuk secara sistematis, perlahan namun pasti sehingga umat pada umumnya tidak menyadarinya. Hal ini menyusup melalui media cetak dan elektronik, slogan-slogan pendidikan dan hiburan yang jauh dari ajaran Islam. Umat terus dicekoki dengan pemikiran, nilai dan norma Barat yang cenderung bebas dan materialistis sebagaimana halnya dengan ekonomi kapitalis yang samasekali tidak Islami hingga akhirnya umat melupakan seluruh nilai-nilai dan sendi-sendi Islam. 

“…….. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”(QS.Al-Baqarah(2):120). 

Hal ini pula yang sebenarnya mempercepat kejatuhan kekhilafahan Ustmaniyah pada masa lalu selain tentunya berbagai penyebab seperti ketidak-adilan, perpecahan antar umat, tidak majunya ilmu pengetahuan dan juga kebobrokan iman sebagian pemimpinnya. Mereka telah menukar keimanan dengan keduniawian. 

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”(QS.Al-Maidah(5):50). 

Dan seakan belum puas dengan semua ini, saat ini kaum kafir tengah  menambah gempurannya dengan serangan psikologi mutakhirnya yaitu dengan melempar isu Terorisme dan Extrimisme seperti tercermin dengan adanya peristiwa biadab  11 September 2001. Umat dipojokkan seakan ajaran Islam  identik dengan kekerasan. Jihad mereka artikan identik dengan kekerasan dan harus dienyahkan. Mereka terus mencekoki umat bahwa jihad sama dengan tidak menghargai nyawa manusia yang juga berarti melanggar hak asasi manusia sebagai simbol peradaban modern. 

Padahal ini adalah fitnah besar. Sesungguhnya tidak saja sebagian besar muslimin yang meyakini bahwa peristiwa tersebut adalah sebuah rekayasa, namun juga sejumlah pakar sains. Salah satunya adalah Professor Thomas W Eager, seorang guru besar Material Engineering and Engineering System pada sebuah institut terkenal di Amerika Serikat. Berdasarkan pengalamannya sebagai peneliti struktur bangunan baja, ia berpendapat bahwa mustahil sebuah bangunan sekokoh menara WTC dapat ambruk hanya dikarenakan ditabrak 2 pesawat komersial. Bahkan sebenarnya  dari cara Pemerintahan Bush membersihkan lokasi reruntuhanpun terkesan begitu terburu-buru sehingga menimbulkan kecurigaan seolah-olah ia ingin segera menghilangkan bukti-bukti penting. 

Cara tersebut ternyata terbukti ampuh. Karena risih dan sungkan akhirnya sebagian besar pemimpin Islam pun mengumumkan bahwa karena Islam adalah agama perdamaian maka sedikit demi sedikit istilah jihadpun dihapuskan dan dipinggirkan. Kaum Musliminpun akhirnya menjadi lupa akan sumpah setia mereka kepada Sang Pencipta, Allah SWT untuk menegakkan ajaran Tauhid, untuk menegakkan kebenaran. Pasukan Muslimin telah dengan sukarela melepaskan kekuatan jihad yang sangat ditakuti musuh. Inilah yang ditunggu dan diharapkan! Padahal mereka tetap mempersiapkan diri untuk berperang. Namun kali ini mereka tidak perlu lagi khawatir terhadap perang senjata secara terbuka. Bagi umat yang kurang keimanannya hal ini dapat menyebabkan mereka menjadi benci dan malu terhadap agama mereka sendiri dan mereka menjadi tidak percaya diri yang pada akhirnya dapat mengakibatkan kemurtadan. Ini adalah akibat sampingan namun fatal. 

Selain itu tampak bahwa negara-negara Islam juga dihambat kemajuannya agar mereka tetap terus dalam kemiskinan dan terus bergantung kepada Barat hingga akhirnya mereka jatuh. Padahal sebaliknya, mari kita perhatikan. Amerika Serikat adalah sebuah negara besar yang sering membanggakan diri sebagai sebuah negara yang mengedepankan kedamaian dan keamanan. Namun sesungguhnya justru negara inilah yang menjadi penyulut peperangan di berbagai tempat, seperti di Irak, Afganistan dan Timur Tengah. Mereka tengah melempar batu sembunyi tangan. 

Negara-negara Muslim tersebut tengah diadu domba disaksikan sang sutradara, Amerika Serikat, sebuah negara produsen senjata terbesar di dunia. Menurut harian The Strait Times, 24 Mei 2007, negara ini pada 2001 meraup US$ 10 milyar hingga US$ 13 milyar dari penjualan senjata. Dan angka ini terus melonjak tiap tahunnya. Negara adi kuasa, mitra kental Yahudi ini memang punya kepentingan pribadi dengan adanya perang yang terus diupayakan terjadi agar keuntungan yang diraihnya terus berkepanjangan setelah sebelumnya mencekoki rakyatnya dengan barang-barang kebutuhan sehari-hari produksi mereka. Sebuah modus yang mirip dengan produsen obat-obatan terlarang yang dilakukannya ke berbagai negara. Jadi siapakah sesungguhnya sang raja teroris? 

Namun sesungguhnya serangan yang bertubi-tubi tersebut bila dihadapi umat Islam secara kompak dan bersatu tentu mereka tidak akan mampu melumpuhkan dan mengalahkan umat ini. Bila saja umat memiliki sikap, keteguhan dan keimanan sebagaimana para sahabat di masa lampau tentu kita akan menang. 

Rasulullah SAW bersabda : ”Aku memohon kepada Tuhanku atas tiga perkara. Maka Allah mengabulkan dua perkara untukku sedangkan yang satu ditolak. Aku memohon kepada Tuhanku agar jangan membinasakan umatku dengan musim paceklik maka Dia mengabulkannya. Aku memohon kepada Tuhanku agar jangan membinasakan umatku dengan air bah (banjir bandang) maka Dia mengabulkannya. Aku mohon pada-Nya agar tidak menjadikan mereka saling berperang namun Dia menolak permohonanku itu”. (HR Muslim).  

Akan tetapi hadis diatas bukanlah alasan bagi kita untuk terus menjadi pasrah dan menerima kenyataan tersebut. Seharusnya kita malah lebih berhati-hati agar perbedaan yang ada tidak menjadikan kita ber-perang sendiri sehingga kita mudah dikalahkan. 

Beruntung Allah SWT berkenan menepati janji-Nya untuk terus menegakkan Islam dimuka bumi. Hal ini terbukti dengan malah makin banyaknya orang yang berpindah dan memeluk agama Islam secara sukarela. 

“Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.”(QS.Ash-Shaff(61):8). 

Dan kebanyakan dari mereka ini justru lebih baik akidah dan keimanannya daripada orang-orang yang terlahir Islam. Lalu kita sebagai umat yang disebut belakangan ini alias Islam ‘terlahir’ bagaimanakah sikap kita? Akankah kita ini hanya menjadi bagian dari yang menyaksikan kebesaran Islam tanpa ikut serta didalamnya?? 

 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan  menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”(QS.Al-Maidah(5):51). 

4. Serangan kaum Munafik.  

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda : Tanda-tanda orang munafik itu tiga; bila berkata ia bohong, bila berjanji ia mengingkari dan bila dipercaya ia mengkhianati”. 

Munafik adalah orang yang memperlihatkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran. Hadis diatas adalah sebuah peringatan keras bagi para Mukmin untuk tidak bersikap satupun diantara sikap-sikap diatas karena yang demikian akan menjerumuskannya kedalam kemunafikan sejati meskipun ia seorang yang membenarkan bahkan mungkin menjalankan syari’at Islam. 

Beberapa tahun belakangan ini muncul gagasan tentang konsep keberagamaan, yaitu Pluralisme, Sekularisme dan Liberalisme. Hal ini timbul disebabkan adanya rasa toleransi antar agama yang berlebihan. Dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk, perbedaan adalah suatu hal yang biasa dan lumrah. Pada Zaman Rasullullah pun hal tersebut pernah terjadi yaitu pada awal periode Madinah. Pada saat itu kaum Muslimin hidup berdampingan dengan kaum musyrik penyembah berhala, Yahudi dan Nasrani. Mereka menjalankan ibadahnya dengan caranya masing-masing. 

“Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah  Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku“.(QS.Al-KaaFiruun(109):1-6).  

Namun Allah SWT menghendaki agar Dakwah Islam terus berlanjut karena Islam bukan hanya merupakan hak istimewa dan monopoli bangsa Arab. Allah SWT menghendaki agar semua manusia didunia ini tanpa kecuali berhak menerima kebenaran dari-Nya. 

“(Al Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”.(QS.Ali-Imraan (3):138). 

Manusia diberi kesempatan untuk memilih, percaya atau tidak, takwa atau durhaka, tidak ada paksaan baginya. Namun begitu seseorang telah menentukan pilihannya maka hukumpun berlaku baginya. Demi effektifitas sebuah ajaran agama maka terpaksa atau tidak seseorang harus menerima resiko serta pilihannya itu. Allah SWT telah memberi batasan yang jelas, apa akibat dari pilihan tersebut. Pengusiran dan peperangan yang akhirnya terjadi terhadap kaum Yahudi disebabkan karena mereka terus-menerus melanggar perjanjian yang telah disetujui kedua belah pihak. Mereka terus merongrong dan mengancam tidak saja jiwa Rasulullah SAW namun juga kelangsungan ajaran yang masih seumur jagung tersebut. 

Islam tidak pernah mengajarkan pemisahan antara hubungan manusia dengan Tuhannya, hubungan antar sesama manusia maupun hubungan manusia dengan mahluk lainnya termasuk hubungannya dengan alam semesta. Islam adalah pandangan hidup, Way Of Life. Ia mengatur seluruh aspek kehidupan, mulai hal-hal kecil seperti menjaga kebersihan, tata-krama dan kesopan-santunan hingga masalah-masalah perdagangan dan ekonomi bahkan kemasyarakatan dan kenegaraan. Oleh karena itu Islam tidak mengenal istilah Sekulerisasi. Rasulullah SAW dengan Madinahnya adalah contoh nyata. Beliau adalah seorang utusan Allah sekaligus pimpinan suatu negara yang juga seorang ayah dan suami yang sangat patut dijadikan teladan. 

Namun saat ini, toleransi antar agama yang muncul tidak lagi sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya. Belakangan ini malah muncul berbagai aliran atau isme seperti Pluralisme(Semua agama sama), Sekularisme(Agama dipisahkan dari kehidupan sehari-hari ) dan Liberalisme (Kebebasan untuk menafsirkan ayat-ayat suci). 

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”(QS.Ali Imraan(3):7). 

Saat ini sejumlah perguruan tinggi Islam marak mengajarkan sebuah ilmu yang notabene anyar yaitu Hermeuneutika. Ajaran ini masuk ke Indonesia mulanya melalui para cendekiawan Muslim yang menuntut berbagai ilmu Islam di Barat. 

Ilmu ini mengajarkan cara menafsirkan Al-Quran. Namun cara tersebut sama sekali tidak sesuai dengan apa yang telah di contohkan dan diajarkan Muhammad SAW, Sang Penyampai dan Pembawa Al-Quran yang pastinya lebih memahami apa yang ingin disampaikan-Nya melalui Al-Quran, dan juga para sahabat, murid yang mendapatkan pengajaran langsung dari beliau. Ayat Al-Quran diatas jelas menegaskan bahwa hanya orang-orang yang hatinya condong pada kesesatan sajalah yang mencoba menta’wilkan ayat-ayat Al-Quran yang mutasyabihat. Tujuannya tak lain hanyalah untuk menimbulkan fitnah dan perpecahan diantara ummat. Padahal untuk mempelajari Al-Quran secara benar sesungguhnya hanya dapat melalui 5 tahapan, yaitu : melalui ayat Al-Quran itu sendiri (kesinambungan antar ayatnya), melalui apa yang telah dicontohkan Rasulullah, melalui para sahabat, melalui para tabi’in dan ulil amri dan terakhir baru melalui sudut bahasanya. 

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.(QS.Al Baqarah(2):208). 

Disamping itu, untuk mencapai suatu kebenaran, kadang perdebatan memang sukar dihindari. Yang diperlukan adalah kedewasaan, sikap untuk saling terbuka, sikap untuk mau menerima kenyataan bahwa sesuatu yang sudah terbiasa dan lama diyakini ‘benar’ belum tentu kebenarannya, kalau memang itu terbukti tidak benar. Suatu sikap lapang dada untuk menerima kesalahan dan kekhilafan dengan penuh kesadaran. Disamping itu yang benarpun tidak perlu merasa congkak dan arogan, karena yang dicari adalah kebenaran. Jadi bukan masalah kalah menang ataupun mengalah. 

“Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (`Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti `Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka”.(QS.An-Nisaa(4):159). 

Sebaliknya dengan mengambil sikap jalan tengah seperti menyamakan semua agama ataupun menyatakan bahwa semua agama adalah benar tentu berbahaya. Hal ini akan berakibat sangat buruk karena pada akhirnya mereka hanya mementingkan keimanan saja tanpa keharusan untuk melaksanakan kewajiban / syariat suatu agama. Padahal Rasulullah jelas datang dengan membawa ajaran, lengkap dengan hukum-hukum yang harus dipatuhi dan dilaksanakan. 

 “Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi”.(QS.Al-Maidah(5):5). 

Pluralitas atau keberagaman dalam Islam memang telah dikenal sejak lama akan tetapi bukan Pluralisme

“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS.Al-Baqarah(2):62). 

Ayat inilah yang sering dijadikan pegangan bagi mereka yang bersiteguh bahwa semua agama adalah sama dan benar disisi Allah SWT. Padahal yang dimaksud ayat diatas adalah orang-orang Yahudi,  dan Shabiin yang mengimani seluruh rasul dan kitab termasuk Muhammad SAW dan Al-Quranul Karim. Atau bagi mereka yang hidup pada zaman sebelum Islam datang, ketika mereka belum merubah-rubah kitab suci mereka yaitu Taurat maupun Injil yang dibawa Musa AS maupun Isa AS. Atau bagi mereka yang belum sampai satupun petunjuk tentang Islam. 

 “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”.(QS.Ali Imran(3):85). 

Lebih dari itu, mereka juga menyebar bibit fitnah berkenaan dengan urutan ayat Al-Quran yang tidak sesuai dengan urutan turunnya. Mereka menuduh Rasulullah SAW dan para sahabat telah ikut campur dalam penyusunan Al-Quran sehingga dengan demikian kitab ini sudah tidak suci dan murni lagi! 

“Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam. Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al Qur’an ini?” (QS.Al-Waqiyah(56):75-81). 

Berkenaan dengan ayat diatas, Ad-Dhahak meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra : Al-Quran diturunkan secara keseluruhan dari sisi Allah, dari Lauh  Mahfuz, melalui duta-duta malaikat  penulis wahyu, ke langit dunia, lalu para malaikat tersebut menyampaikannya kepada Jibril secara berangsur-angsur selama 20 malam dan selanjutnya diturunkan pula oleh Jibril as kepada Rasulullah SAW secara berangsur-angsur  selama 23 tahun”. Itu pula yang ditafsirkan Mujahid, Ikrimah, As-Sidi dan Abu Hazrah. 

Ayat diturunkan kepada Rasulullah sedikit demi sedikit berdasarkan situasi, seringkali turun sebagai jawaban atas suatu permasalahan dengan hikmah tertentu. Oleh sebab itu turunnya ayat tidak berurutan. Yang dimaksud ” tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan” adalah Al-Quran yang berada di Lauh Mahfuz, karena Al-Quran yang ada di dunia, yang jumlahnya  tak terhitung banyaknya ini dapat disentuh oleh semua orang, baik Muslimin yang suci maupun yang tidak suci juga Kafirin. 

Selanjutnya dengan petunjuk Jibril as, setiap ayat yang turun diletakkan dan diatur sesuai dengan Al-Quran yang berada di Lauh-Mahfuz. Jadi bukan atas kehendak Rasulullah SAW! Adapun tentang adanya perbedaan jumlah ayat dalam Al-Quran, hal ini disebabkan adanya pengulangan. Hitungan 6236 ayat adalah hitungan tanpa memperhitungkan pengulangan ayat yang ada, sedangkan 6666 ayat bila dihitung semua ayat-ayatnya.  

Ironisnya bila pada Perang Pemikiran atau Al-Ghazw Fikri, musuh adalah jelas, yaitu orang-orang kafir, orang yang tidak mau dan enggan mengakui keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT, tidak demikian dengan hal diatas. Isu Pluralisme, Sekularisme dan Liberalisme justru dilemparkan oleh orang-orang yang mengaku dirinya Muslim. Mereka ini bahkan adalah orang-orang yang notabene berpendidikan tinggi dalam ilmu agama Islam. Kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang mendapatkan pendidikan Islamnya di negara Barat. Dari sanalah mereka mendapatkan tokoh dan panutan baru, yaitu Nasr Hamid Abu Zayd, seorang guru besar di Leiden, Belanda. Abu Zayd adalah intelektual asal Mesir. Ia menyelesaikan pendidikannya hingga S3 di Universitas Kairo, Mesir jurusan sastra Arab dan sempat mengabdi sebagai dosen di almamaternya. Pada tahun 1978, ia memperoleh beasiswa untuk penelitian doktoralnya di Institute of Middle Eastern Studies, University of Pennsylvania, Amerika Serikat. Sekembali dari negri ini, Abu Zayd menulis sejumlah buku. Pada tahun 1992 ia mengajukan promosi untuk menjadi guru besar di Universitas Kairo namun ditolak. Ia dianggap tidak layak menjadi professor karena buku-buku yang ditulisnya banyak yang melecehkan ajaran Islam. Salah satu oleh-oleh yang dibawanya adalah ilmu Hermeunetika. Ia kemudian protes dan membawa masalahnya ke pengadilan, namun kalah. 

Dan tak lama kemudian para khatib di sejumlah mesjid-mesjid besar Mesirpun menyatakan bahwa Abu Zayd telah murtad. Merasa tidak lagi diterima di negerinya, Abu Zayd beserta keluarganya pergi menuju Spanyol kemudian menetap di Belanda. Ironisnya di Negara tersebut ia justru disambut sebagai pahlawan dan langsung ditawari kursi professor prestisius di universitas di Leiden! Tak hanya itu, selang beberapa waktu kemudian perguruan-perguruan tinggi di Berlin dan Amerika Serikatpun tidak mau ketinggalan, mereka ikut menawarkan jabatan-jabatan penting di kampus-kampus mereka. 

“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul“, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu”.(QS.An-Nisa’(4):61). 

Rasulullah bersabda, bahwa umat Islam akan terpecah kedalam 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu yaitu, “kelompok yang mengikuti apa yang aku (Rasulullah) dan sahabatku lakukan”. 

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka ”. ( QS. An-Nisa’(4):145). 

5. Munculnya perpecahan dan  nabi-nabi palsu. 

Dari Irbadh bin Sariyah ra, ia berkata :” Pada suatu hari setelah shalat Subuh Rasulullah saw menasehati kami dengan suatu nasehat yang membuat kami menangis dan sedih. Lalu ada seorang yang berkata  : “ Ya, Rasulullah ini adalah pesan perpisahan, lalu apa yang anda wasiyatkan kepada kami ? Rasulullah menjawab :”Aku wasiyatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah swt dan selalu mendengar dan taat (kepada pemimpin) meskipun pemimpin itu seorang budak Habasyi. Maka barangsiapa yang hidup (panjang umur) akan melihat banyak ihtilaf (perbedaan), maka berhati-hatilah terhadap hal-hal yang baru (bid’ah), karena sesungguhnya bid’ah itu sesat. Maka barangsiapa diantara kalian yang menjumpai masa itu maka berpegang-teguhlah dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’Arrosyidiyin, peganglah erat-erat dan jangan sampai lepas”. 

Hadis diatas menunjukkan bahwa perbedaan diantara   sesama umat Islam memang tidak  dapat dihindarkan. Namun perbedaan yang beresiko memunculkan perpecahan  apalagi yang tidak sesuai lagi dengan sunnah Rasulullah dan apa yang telah dicontohkan para Khulafa’Arrasyidin ( Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra, Ustman bin Affan ra dan Ali bin Abi Thalib ra)  harus dihindari. Perpecahan ini bahkan sesungguhnya telah mulai terlihat begitu  Rasulullah memasuki hari-hari akhirnya. 

“Sesungguhnya akan ada tiga puluh orang pendusta di tengah umatku. Mereka  semua mengaku nabi. Padahal, aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi sesudahku.” 

Hadits ini diriwayatkan lebih dari satu orang diantaranya adalah Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Bukhari-Muslim juga meriwayatkannya walaupun  dengan redaksi berbeda. 

Pada masa akhir kerasulan, di Yaman muncul seorang yang mengaku bahwa dirinya telah mendapatkan wahyu untuk meneruskan ajaran Rasulullah. Namun tak lama kemudian nabi palsu tersebut segera ditangkap dan diadili. Kemudian muncul lagi  dari Bani Asad, seorang bernama Thulaihah bin Khuwailid bin Naufal. Pada tahun 9 H, dia datang bersama kaumnya kepada Rasulullah saw dan menyatakan keislamannya. Ketika Rasulullah sakit keras, ia memproklamirkan dirinya sebagai nabi.   Thulaihah dan pasukannya pernah beberapa kali bertempur dengan kaum Muslimin namun selalu kalah. Kemudian bersama istrinya, ia melarikan diri ke Syam. Beruntung di tempat tersebut ia mendapatkan hidayah dan kembali ke pangkuan Islam. Thulaihah mati syahid dalam Perang Nahawand tahun 21 H. 

Nabi palsu yang paling sering disebut-sebut namanya adalah Musailimah bin Tsumamah bin Habib Al-Kadzdzab, seorang laki-laki dari Yamamah. Ia berhasil mendapat pendukung yang banyak hingga dikhawatirkan membahayakan ajaran dan aqidah Islam. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, orang tersebut memberontak dan menolak perintah zakat hingga Abu Bakar terpaksa mengirim pasukan untuk memeranginya. Dalam peperangan ini pihak Muslim kehilangan banyak sekali penghafal Al-Quran. Ini yang menyebabkan Umar bin Khattab menyarankan Abu Bakar agar segera memerintahkan para sahabat mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran yang kemudian pada masa Ustman bin Affan dibukukan hingga seperti sekarang ini. 

 Pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan Al-Umawi, juga ada nabi palsu bernama Al-Harits bin Said Al-Kadzdzab. Dulunya, ia adalah seorang zuhud yang ahli ibadah. Namun sayang, ia tergelincir dari jalan Allah dan mengikuti jalan setan. Ia didatangi iblis dan diberi ‘wahyu.’ Ia bisa membuat keajaiban2 laksana mukjizat seorang nabi. Saat musim panas, ia datangkan buah-buahan yang hanya ada pada musim dingin. Dan ketika musim dingin, ia datangkan buah-buahan musim panas. Sehingga, banyak orang yang terpesona dan mengikuti kesesatannya. Akhirnya ia ditangkap dan oleh Khalifah Abdul Malik disuruh bertaubat. Sejumlah ulama didatangkan untuk menyadarkannya. Namun peringatan  tersebut tidak diindahkannya hingga khalifah terpaksa membunuhnya. Hal ini dilakukan agar menjadi peringatan bagi yang lain karena dapat merusak aqidah dan ajaran Islam yang sesungguhnya. 

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi.” (Al-Ahzab: 40). 

Namun hingga detik ini masih saja ada orang yang datang dan mengaku sebagai nabi. Ahmad Gulam Mirza adalah satu diantaranya. Ia mengaku sebagai nabi baru setelah Rasulullah saw  dan  mengaku dirinya sebagai Imam Mahdi. Ia mendirikan sebuah sekte aliran sesat bernama Ahmadiyah pada tahun 1889.  Ia lahir di India pada tahun  1835 dan meninggal pada  1908 di Lahore. Ia menafsirkan dan menambah-nambahi ayat Al-Quran hingga sesuai dengan keinginan dan kemauannya. Ahmadiyah sendiri masuk ke Indonesia pada tahun 1922. Sekte ini memiliki kitab sucinya sendiri, yaitu “Tazkirah” yang kesuciannya diakui sama dengan Al-Quran! Ia juga menyatakan bahwa ada tanah suci selain Makkah dan Madinah, yaitu Qadyani dan Rabwah di India. Sesungguhnya sekte ini awalnya dibentuk sebagai taktik politik Inggris dalam rangka menaklukkan rakyat India ketika itu. Tujuan  utamanya adalah memberantas dan membekukan ajaran jihad yang dilakukan rakyat Muslim India untuk melawan penjajahan di negrinya.  

Disamping Ahmadiyah, beberapa aliran sesat sebenarnya juga telah ada sejak lama. Khowarij dan Syi’ah adalah diantaranya. Syi’ah sendiri terpecah menjadi beberapa kelompok yang saling bertentangan. Ada yang berpendapat Syi’ah terpecah hingga menjadi 70 kelompok namun ada yang berpendapat hingga 300 kelompok. Diantara kelompok yang terbesar  adalah Az-Zaidiyyah. Hanya kelompok ini yang memiliki pemahaman sedikit mendekati Ahlu sunnah wa jamaah. Namun pada dasarnya, Syi’ah hanya mengakui ahlu bait (keluarga Rasulullah) sebagai pemimpin Islam dan Ali bin Abi Thalib adalah penerus kenabian. Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi Yaman adalah orang yang paling sering dituding sebagai penyebar aliran ini. Ialah yang menyebar fitnah bahwa para sahabat, antara lain  Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, Aisyah ra amirul mukminin adalah orang-orang yang sesat. Oleh karenanya kaum Syi’ah merasa bahwa Al-Quran yang ada saat ini tidak lagi asli karena dikumpulkan dan dibukukan pada masa pemerintahan mereka. Kaum Syi’ah juga hanya mempercayai hadis yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib.    

Sementara kaum Khowarij adalah kelompok yang cenderung tidak mau mempercayai sunnah/hadits Rasulullah (biasa juga disebut sebagai kelompok Ingkar Sunnah) darimana dan siapapun sumbernya, baik shoheh maupun tidak. Kelompok ini terpecah menjadi beberapa kelompok lagi. Diantaranya adalah mereka yang menyebut diri sebagai Submitter. ( baca : http://vienmuhadi.com/2010/01/21/ketika-ayat-mutasyabihat-di-takwilkan-rasyad-khalifa/ )

Perpecahan terus terjadi hingga detik ini. Belakangan ini muncul ucapan dari seorang pengamat intelejen di sebuah pertemuan di kota Semarang, Jawa Tengah. Tanpa disertai bukti, ia menyatakan  bahwa zakat di Indonesia digunakan untuk membiayai kegiatan terorisme. Jelas ini adalah fitnah. Setelah jihad yang sekarang ini seolah telah menjadi momok menakutkan bahkan bagi telinga Muslim sekalipun, kali ini zakatpun tampaknya dicoba untuk diguncang dan diobok-obok keberadaannya. Padahal ayat tentang zakat jelas peruntukannya. Kembali hal ini membuktikan betapa syaitan begitu telah mampu menghalangi seluruh jalan menuju kebenaran. Hanya keimanan dan terus belajar mendalami serta mengkaji ayat-ayat Al-Quran serta sunah Rasulullah sajalah yang dapat menyelamatkan seseorang dari godaan dan bisikannya.   

Advertisements

Read Full Post »

 “Sesungguhnya syaitan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya”. (QS.An-Nahl(16):99).

 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan”. (QS.Al-Maidah(5):35). 

Sesungguhnya bila manusia selalu waspada dan senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, kekuasaan syaitan terhadap diri manusia itu tiadalah berarti. Ini adalah janji Allah SWT. 

“Dia (iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil“.(QS.Al-Israa’(17):62). 

Namun sayangnya kebanyakan manusia terlalu berlebihan dalam mencintai kehidupan dunia dan mereka terlalu menurutkan hawa nafsunya. Ini yang mengakibatkan syaitan, sebagai pasukan dan pemuja Iblis, mudah mengganggu, mengelabui dan akhirnya menyesatkan manusia. Karena memang inilah tujuan syaitan, yaitu agar manusia menemani Iblis dalam siksa neraka jahanam. 

“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga)……”.(QS.Al-‘Araf(7):176). 

 “Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi”. (QS.Mujadillah(58):19). 

1. Jihad Psikis / Spiritual.

 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka”. (QS.Al-Hujuraat(49:15). 

Kata Jihad sering kali diartikan sebagai perang bersenjata menghadapi musuh secara terbuka di medan perang. Padahal bila kita perhatikan ayat-ayat Al-Quran sebenarnya tidak selalu demikian. Jihad juga dapat diartikan membelanjakan dan mengorbankan harta di jalan Allah sebagai perang melawan keserakahan. Zakat dan infak adalah contoh dari jihad dengan harta. Disamping itu, Islam mengenal jihad melawan hawa nafsu. Berbagai hawa nafsu seperti nafsu syahwat, nafsu amarah, sombong, dengki dan iri hati, bermalas-malas, makan berlebihan dan juga nafsu untuk selalu melawan perintah Allah adalah beberapa contoh nafsu yang harus diperangi, harus dikendalikan. Inilah yang dimaksud dengan jihad spiritual atau jihad psikis. Pada intinya dalam jihad spiritual yang harus dilawan adalah bisikan syaitan karena memang dialah yang ingin agar Allah memurkai kita, agar kita menemaninya ke neraka kelak. 

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS.Al-Ankabuut(29):45). 

Dan hanya dengan berpegang kepada tali Allah sajalah kita akan mampu melawan bisikan tersebut, yaitu dengan jalan membaca dan memahami Al-Quran dan kemudian mengamalkannya, diantaranya yaitu dengan shalat yang dikerjakan dengan hati yang bersih 

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya………”. (QS.Az-Zumar(39):23). 

Jadi untuk memenangkan permainan “The True Game” yang diciptakan-Nya tidak ada kata lain selain harus mengikuti aturan-aturan-Nya. Walaupun sebenarnya Dia tidak menjadikan aturan, baik itu larangan maupun perintah, tanpa hikmah. Contohnya sbb : 

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.Al-Baqarah(2):173). 

Berdasarkan pengamatan dan penelitian yang dilakukan belakangan ini ternyata terbukti bahwa babi adalah binatang yang lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya. Berbagai penyakit dibawanya, diantaranya kolera babi dan keguguran nanah yang dapat menyebabkan gangguan pada persendian. Penelitian ilmiah modern di Cina dan Swedia menyatakan bahwa daging babi merupakan penyebab utama kanker anus dan usus besar. Bahkan beberapa ilmuwan mengemukakan kecurigaan mereka bahwa ada kemungkinan daging babi adalah penyebab berbagai penyakit misterius seperti SARS/flue burung

Dan bila kita amati cara kehidupan babi dibanding binatang lain sebenarnya sungguh buruk. Binatang ini suka memakan segala kotoran termasuk kotoran manusia dan kotorannya sendiri. Bahkan dalam keadaan tertekan iapun tega memakan daging anaknya sendiri! Binatang ini juga diketahui suka melakukan hubungan sesama jenis alias homosex/lesbian dan tidak seperti binatang lain yang cenderung “sangat pencemburu”, babi tidak merasa keberatan bila betinanya diganggu jantan lain. Selain itu lemak babi adalah lemak yang paling tinggi kolesterolnya dibanding lemak binatang lain demikian pula darahnya, uric acid atau asam uratnya paling tinggi. Patut diketahui, sejak zaman nabi Musa as babi telah diharamkan untuk dikosumsi. (Imamat 11: 7-8). Demikian pula dengan masalah khamar

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Dan ta`atlah kamu kepada Allah dan ta`atlah kamu kepada Rasul (Nya) dan berhati-hatilah”. (QS.Al-Maidah(5):90-92).

 Pemakaian khamar (alkohol) dan berjudi disamping melalaikan manusia dari mengingat Allah sebetulnya juga memberikan kerugian yang banyak baik bagi sang pelaku maupun bagi orang disekitarnya. Itu sebabnya Allah SWT berfirman untuk menghindarinya agar kita beruntung. Dan Allah SWT juga mengingatkan kita agar supaya berhati-hati menghadapinya. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita mendengar berbagai keributan dan juga kecelakaan kendaraan yang disebabkan oleh para pemabuk. Mereka adalah para peminum segala macam alkohol yang memabukkan, yang membuat mereka kehilangan keseimbangan dan akal sehat. Berbagai kejahatan mulai pertengkaran, perselisihan, perselingkuhan hingga pembunuhan diawali oleh pengaruh alkohol. Jadi sungguh dampak pemakaian zat ini sebenarnya sudah demikian parah dan merisaukan masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Di sejumlah negara Barat yang notabene terbiasa mengkonsumsi alkohol, belakangan ini mulai mengawasi para pengendara kendaraannya dalam hal pemakaian alkohol. 

Allah berfirman: “……… Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.(QS.Thaa-haa(20):123-124). 

Allah SWT juga memperingatkan kita untuk selalu menggunakan hukum yang telah ditetapkannya. Syaitan akan senantiasa membisikkan manusia agar terus mengikuti kemauan hawa nafsunya, nafsu yang tidak didasarkan atas hukum Allah. Sesungguhnya syaitan telah masuk jauh kedalam hati orang-orang yang tidak menjadikan Al-Quran itu sebagai pegangan hidupnya. Mereka adalah sekutu iblis dari jenis syaitan manusia. Mereka ingin agar senantiasa menjadi pemimpin bagi orang-orang mukmin yang lemah. Berbagai cara akan digunakannya untuk menggiring orang-orang mukmin yang lemah ini agar dapat menemani mereka di neraka kelak. Inilah jihad yang amat sangat berat, jihad spiritual, kecuali bagi orang-orang mukmin yang berpegang kuat pada hukum-hukum Sang Maha Kuasa, Sang Maha Pencipta yang telah menjadikan manusia dan seluruh alam semesta. 

“dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka……”.(QS.Al-Maidah(5):49-51). 

2. Jihad Fisik / Jihad Jiwa. 

“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya”.(QS.At-Taubah(9):73). 

Jihad dengan jiwa adalah berperang di jalan Allah demi membela kebenaran yang hakiki, kebenaran sejati yang bukan berdasarkan pemikiran dan hawa nafsu manusia semata. Dialah yang Maha Mengetahui, Dialah Sang Pencipta segala yang ada di alam semesta ini, Dialah Sang Pemilik. Dengan demikian memang hanya Dialah Sang Kebenaran, Allah Azza wa Jalla, Tuhan Yang Satu. 

Allah SWT menyuruh manusia agar bersabar terhadap segala urusan. Sabar adalah ibadah dan Allah menyukai mahluknya yang memiliki kesabaran yang tinggi. Dan tidak seperti ibadah-ibadah lain yang memiliki ganjaran yang terbatas yaitu hingga 700 kali lipat, tidak demikian dengan sabar. 

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS.Al-Baqarah(2):261). 

Allah SWT tidak membatasi pahala orang yang bersabar karena sesungguhnya sabar adalah hakikat ibadah, yaitu inti dari ketundukkan, kepatuhan dan kepasrahan. 

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (QS.Az-Zumar(39):10). 

 Kesabaran dalam Islam tidak mengenal batas. Namun sabar yang bagaimanakah itu? Difinisi sabar dalam Islam yaitu menahan diri sesuai dengan tuntutan akal dan tuntutan syariah. Islam mengajarkan sebuah kedisiplinan yang tinggi. Islam bukan untuk dipermainkan. Siapa yang tidak mau menegakkan kebenaran dan keadilan berarti ia memusuhi Allah. Disinilah keimanan kita ditantang. 

“Barangsiapa diantaramu yang melihat kejelekan maka rubahlah dengan tangannya. Maka jika tidak sanggup maka rubahlah dengan perkataanya. Dan jika tidak sanggup rubahlah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman”.(HR Bukhari-Muslim). 

Allah SWT tidak menurunkan ayat jihad dengan jiwa pada awal diturunkannya Al-Quran. Padahal ketika itu Islam begitu dimusuhi dan ditentang. Namun Allah memerintahkan untuk tetap bersabar karena perang dalam Islam bukan ditujukan demi memenuhi nafsu amarah belaka. Sebaliknya perintah Allah untuk berperang dan memerangi orang-orang kafir baru ada setelah Rasulullah berdakwah lebih dari 12 tahun. Hal tersebut dikarenakan umat Islam tidak dapat bebas menjalankan perintah Allah SWT untuk beramal-ibadah dengan tenang. Karena dalam menjalankan ajarannya umat Islam memerlukan adanya sistim dan prinsip-prinsip Islam agar hak dan kewajiban mereka terlindungi dengan baik. Apalagi bila mereka sampai terusir dari tempat tinggalnya sendiri hanya dikarenakan mereka ingin menegakkan kalimat Tauhid maka satu-satunya jalan hanyalah melawan dan berperang. 

”Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”…..(QS.Al-Hajj(22):39-40).

 Rasulullah SAW berdakwah di Makkah secara sembunyi-sembunyi 3 tahun lamanya. Setelah itu turun ayat agar beliau berdakwah secara terang-terangan. Namun ajakannya menuju kebaikan, menuju penyembahan Tauhid yang benar, tidak disambut dengan baik. Sebaliknya Rasulullah dan para sahabat malah diejek, dilecehkan dan dianiaya. Sejumlah sahabat seperti Sumayyah dan suaminya disiksa kemudian dibunuh. Siksaan demi siksaan terus ditingkatkan. Kaum musyrikin yang keras kepala tersebut bahkan melakukan pemboikotan. Selama 2 atau 3 tahun para sahabat hidup dalam kesulitan baik dalam hal makanan dan minuman maupun berinteraksi dengan dunia luar.  Padahal mereka tidak berbuat kejahatan, mereka hanya ingin memurnikan penghambaan dan penyembahan kepada yang berhak.  Bahkan Rasulullahpun tidak luput dari ancaman pembunuhan sehingga akhirnya kaum Muslimin terpaksa menuju Madinah meninggalkan kota kelahiran mereka, Makkah, kota dimana mereka mencari nafkah kehidupan selama ini, meninggalkan sanak saudara, harta dan semua yang dicintai dan dimiliki.      

Namun di kota baru tersebut, kaum Muslimin tetap tidak dapat hidup dengan  tenang. Kali ini kaum Yahudi yang banyak menempati wilayah-wilayah tertentu di Madinah, ikut memusuhi kaum Muslimin. Mereka merasa benci dan dengki karena Sang Mesiah, utusan yang dijanjikan dalam kitab mereka, ternyata bukan datang dari kalangan mereka, melainkan dari bangsa Arab yang selama ini mereka lecehkan. Perjanjian Madinah yang isinya antara lain saling menghormati ajaran masing-masingpun mereka langgar. Orang-orang Yahudi ini malah memprovokasi penduduk Makkah dan sekitarnya agar mereka bersatu menyerang dan mengenyahkan ajaran Islam yang baru tumbuh tersebut. Akhirnya muncullah peperangan demi peperangan : Perang Badar, Perang Uhud,  Perang Parit, Perang Khaibar dan sebagainya. 

“ Jika mereka merusak sumpah (janji) nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar supaya mereka berhenti”.(QS.At-Taubah(9):12). 

Perang yang mendapat izin dari-Nya mulanya memang hanya untuk mempertahankan diri.  Kemudian setelah Islam  berdiri tegak, perang diperintahkan dengan tujuan untuk menghilangkan penyembahan terhadap berhala dan kembali ke ajaran Tauhid. Kecuali bila kaum atau bangsa tersebut memiliki perjanjian damai dan mereka tidak melanggar perjanjian tersebut.. Yang demikian ini, selain harus diberi kesempatan untuk mengenal ajaran Islam dengan baik mereka juga harus dilindungi. 

“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. ”.(QS.At-Taubah(9):6). 

Namun bila mereka melanggar perjanjian, mereka harus diperangi. Islam adalah ajaran yang tegas. Demi keadilan hukum harus ditegakkan. Setelah takluk dan berada di bawah kekuasaan pemerintahan Islam, sebagai jaminan perlindungan mereka wajib  membayar jiziah. Ini adalah sebuah kewajiban sebagaimana  penduduk Muslim wajib membayar uang zakat. Dan sebagai gantinya, kaum dzimmi, sebutan bagi non Muslim pembayar jiziah, hak hidup, harta dan agama mereka dilindungi oleh penguasa.   

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk ”.(QS.At-Taubah(9):29).

 Sementara bagi kaum atau bangsa yang tidak memiliki ikatan perjanjian apapun bila setelah didakwahi secara baik-baik tetap menolak dan tetap pada pendirian semula, apalagi bila mereka mengganggu dan menghalangi ajaran Islam maka mereka wajib diperangi. Namun demikian perempuan, anak-anak, orang tua bahkan tanamanpun sekalipun dilarang untuk dihancurkan kecuali karena sebab-sebab khusus. Jadi perang dalam Islam bukan untuk kepentingan pribadi, kelompok, ras maupun  golongan tertentu apalagi politik. Perang dalam Islam juga bukan untuk melampiaskan hawa nafsu, kemarahan dan yang semacamnya. Perang adalah  demi ketaatan dalam menjalankan perintah-Nya. Perang adalah pilihan terakhir demi tercapainya masyarakat yang adil, damai, tunduk dan patuh terhadap aturan Sang Pemilik Yang Tunggal. Upah dan imbalan yang diharapkanpun bukan upah duniawi!   

” Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam”.(QS.Asy-Syuara’(26):107-109). 

Demikianlah  yang dikatakan semua Rasul dan Nabi-Nya. 

Bila kita perhatikan suasana di Timur Tengah saat ini, akan terlihat nyata betapa kaum kafir telah mempermainkan, melecehkan bahkan telah sampai pada tahap penganiayaan terhadap saudara-saudara kita seiman. Rakyat Palestina telah terusir dari kampung halamannya. Mereka ditindas dan diperlakukan secara tidak adil di kampung halaman mereka sendiri. Maka wajib hukumnya bagi umat Muslim dimanapun berada untuk membela hak dan keimanan mereka. Jiwa mereka terancam, bahkan demi melaksanakan kewajiban segala perintah dan larangan-Nya. 

 “Kamu akan melihat kepada orang-orang Mukmin itu dalam hal kasih-sayang diantara mereka, dalam kecintaan dan belas kasihan diantara mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh itu merasa sakit maka akan menjalarlah kesakitan itu pada anggota tubuh yang lain dengan menyebabkan tidak dapat tidur dan merasakan demam.”(HR Bukhari). 

Jalan bagi mereka tiada kata selain berjihad dengan jiwa yaitu berperang. Musuh mereka dalam hal ini adalah musuh yang nyata, syaitan dalam bentuk manusia. Mereka adalah orang-orang kafir yang berusaha menyesatkan manusia dari menyembah hanya kepada-Nya. Dan kita sebagai saudara seiman, wajib untuk membantu dengan segala upaya karena sesama mukmin adalah saudara. Dalam jihad menghadapi orang kafir Allah SWT menghendaki agar kaum mukmin bersatu, saling membantu dan saling menasehati.

 “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”. (QS.Al-Hujurat (49):10). 

Namun  sayang  pada  kenyataannya, kaum  kafir  telah  berhasil meng-adu domba sesama  mukmin.   Tampak  nyata  bahwa zionis  Israel, dibidani para    Freemansori    yang    bersembunyi    dibalik   pemerintahan  Amerika  Serikat,  telah  berhasil  memaksakan   kemauan mereka dengan menolak  pemerintahan resmi Palestina yang nyata-nyata dimenangkan secara demokrasi hingga  menimbulkan perpecahan didalam negri tersebut. Bahkan mereka telah berhasil memaksakan boikot ekonomi terhadap negeri yang telah menjadi  sedemikian  sempit ini.  Dengan kekuatan  mereka   dibidang  penyiaran baik  penyiaran  melalui media   cetak   maupun media  elektronik,  mereka berhasil  secara  sepihak memaksakan   opini  mereka    ke pihak   lain. 

Menurut   pengakuan  seorang  warga-negara  Australia  asal Jerman, Frederick Toben, peristiwa Holocaust, yaitu peristwa pembantaian bangsa Yahudi secara besar-besaran oleh pihak Jerman di masa lalu yang menghebohkan itu, adalah suatu peristiwa yang terlalu dibesar-besarkan. Hal tersebut sengaja dilakukan sebagai alasan dan jalan untuk lebih memudahkan pihak Yahudi agar dapat membentuk negara dan kerajaan yang mereka cita-citakan di atas tanah yang lebih dari ribuan tahun telah menjadi tempat tinggal bangsa Palestina. Dengan alasan itulah Zionis berhasil mendoktrin orang Yahudi di seluruh dunia untuk ’kembali’ berkumpul di tanah yang mereka klaim sebagai tanah leluhur. Maka dengan izin dan restu PBB yang sangat pro Barat, sekarang ini Yahudi berhasil mendirikan negara Israel. Bahkan hingga detik ini dengan cara semen-mena negara ini terus berupaya memperluas wilayah kekuasaannya tanpa mau menghormati perjanjian internasional yang telah disepakati bersama.  

 Bila diperhatikan, di Barat saat ini orang dapat dengan mudah melontarkan kritik terhadap apapun bahkan terhadap Yesus sekalipun. Namun tidak bila terhadap Holocaust maupun segala yang berhubungan dengan kebijaksanaan Israel, zionisme Yahudi khususnya. Hal tersebut terbukti nyata ketika beberapa waktu yang lalu Presiden Iran, Ahmadinejad, menyelenggarakan konferensi pers membahas tentang kebohongan Holocaust. Sontak pihak Baratpun bereaksi keras, mereka mengancam dengan menjatuhkan hukuman berat bagi para nara sumber yang turut berpartisipasi dalam konferensi tersebut. Sesuatu yang sungguh mengherankan! 

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”. (QS. Asf-Shaff(61):4).

Demikian pula keadaan negara-negara Muslim seperti Irak dan Afganistan yang telah dijajah dan diduduki oleh orang-orang kafir dengan berbagai alasannya. Allah SWT telah berulang-kali mengingatkan bahwa orang-orang kafir itu ingin menyesatkan diri orang mukmin dengan cara yang tidak kita sadari. Islam mengajarkan suatu ketegasan bila kita ingin menang dan ingin dihargai. Kita harus melawan dan menunjukkan jati diri sebagai pasukan Allah demi menumpas kemungkaran. 

 “Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong (mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong, kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. Tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka”. (QS.An-Ni’sa(4):89-90). 

Dan pahala bagi orang yang berperang karena membela agama Allah adalah pahala yang besar baik di dunia maupun di akhirat nanti. Orang-orang ini adalah orang-orang yang bertakwa, yang berperang karena mengharap ridho’-Nya, yang pantang menyerah, yang bersabar sambil senantiasa berdoa agar Allah SWT mengampuni segala kesalahan atas dosa dan tindakan yang berlebihan dalam berperang serta memohon agar teguh dalam berpendirian. 

“Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka, sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada do`a mereka selain ucapan: “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir“. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan”.(QS.Ali-Imraan (3):146-148). 

Sedangkan balasan bagi mereka yang mati syahid (dalam berperang) adalah kenikmatan di akhirat bersama para nabi. Semuanya itu disebabkan ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya. 

“Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”.(QS.An-Nisa (4):69). 

Disamping itu cobalah kita perhatikan  jumlah korban dalam sejarah peperangan Islam.  Selama hampir 23 tahun itu tercatat telah terjadi kurang lebih 20 perang besar dibawah kepemimpinan Rasulullah saw. Berdasarkan penelitian yang dilakukan seorang sejarahwan Dr. Muhammad Imarah ternyata jumlah korban yang jatuh selama itu hanyalah 386 orang saja, baik dari pihak Muslim maupun pihak musuh. Bandingkan dengan perang saudara antara Katholik vs Protestan yang terjadi selama 30 tahun antara 1618-1648. Perang ini menelan korban jiwa 10 juta orang! Menurut Voltaire (1694-1778), seorang filsuf Perancis, jumlah tersebut sama dengan jumlah 40% penduduk Eropa Tengah pada abad pertengahan. 

Bandingkan juga dengan  jumlah korban suku Indian yang tewas paska lahirnya UU Indian Removal Act tahun 1830 yang menyebabkan 70.000 orang Indian tewas dan terusir dari tempat tinggalnya sendiri. Atau bandingkan dengan jumlah korban bom atom di Hirosima dan Nagasaki pada tahun 1945 oleh pihak Amerika Serikat pimpinan Presiden F.D.Rosevelt. yang katanya menjunjung tinggi nilai HAM. Dalam waktu hitungan sekian menit peristiwa biadab ini menelan korban tewas 140 ribu penduduk tak berdosa Hirosima dan 70 ribu penduduk Nagasaki. Belum lagi korban cacat akibat radiasi kimianya yang berdampak.benar-benar berbahaya. 

Jadi jelas, jihad fisik dalam Islam bukan bentuk pemaksaan agar seseorang mau memeluk agama yang lurus ini, sebagaimana sering dituduhkan bahwa Islam adalah agama pedang. Allah SWT memang memerintahkan agar umat Islam berdakwah, yaitu menyadarkan kembali ingatan mahluknya yang lupa, mengajak sekaligus mengajarkan agar seluruh manusia kembali ke jalan yang benar, yaitu menyembah hanya kepada-Nya sebagaimana yang diajarkan Islam melalui Rasulullah SAW dan para Rasul pendahulunya sebelum diselewengkan. Karena yang demikian itu selain akan membebaskan manusia dari api neraka kelak, juga akan memancing ridho Allah agar bumi dan seluruh isinya tetap terjaga dalam keamanan, kemakmuran dan kestabilannya sebagaimana bergulirnya sistim alam semesta yang selalu dalam ketaatan dan kepatuhannya. Tidak ada paksaan dalam hal ini karena manusia memang diperbolehkan memilih, takwa atau durhaka. 

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui…”. (QS.Al-Baqarah (2): 256).

 Namun satu hal yang tidak boleh dilupakan bila seseorang telah memilih dan menentukan jalan hidupnya ia wajib mengikuti dan mematuhi aturan hukum jalan yang dipilihnya itu, terpaksa ataupun tidak terpaksa!

Read Full Post »

”…… Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”.(QS:At-Thalaq(65):2-3).

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”. (QS. Al-Ankabut(29):40).

Itulah 2 janji Allah yang pasti akan dipenuhinya. Kemudahan urusan dan kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat bagi siapa yang takwa dan kesengsaraan serta kenistaan baik di dunia apalagi di akhirat bagi siapa yang mendurhakai-Nya.

I.  Atas orang dan kaum yang taqwa.

”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“. (QS.Ibrahim(14):7).

Begitu banyak, berat dan kuat gangguan yang dihadapi manusia dalam perjalanannya menuju taqwa. Namun demikian sesungguhnya Allah SWT tetap menghendaki agar manusia dapat melewati rintangan dan hambatan-hambatan tersebut. Hal ini terbukti dengan banyaknya Nabi dan Rasul yang diutus untuk membimbing manusia menuju jalan yang lurus, yaitu untuk senantiasa menyembah kepada Allah SWT serta tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.

Pada setiap umat setiap zaman sesungguhnya Allah SWT telah mengutus seorang utusan, baik itu Nabi maupun Rasul. Untuk itulah Allah SWT mengajarkan kita agar mengadakan perjalanan di muka bumi agar kita memperhatikan dan kemudian mengambil hikmah dan pelajaran dari apa yang telah ditinggalkan-Nya di muka bumi ini, yaitu melalui peninggalan-peninggalan kuno bersejarah dan sisa-sisa ajaran terdahulu.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”. (QS.An-Nahl(16):36).

Jumlah Nabi menurut hadis (lihat bab ’Iman kepada Rasul’) adalah 124.000 orang, 315 diantaranya adalah Rasul. Sedangkan yang tersebut dalam Al-Quran hanya 25 saja. Jadi tidak mengherankan bila belakangan ini ditemukan peninggalan-peninggalan kuno dan sisa-sisa ajaran yang mencerminkan adanya ajaran Monotheisme atau Tauhid di setiap belahan dunia.

“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang  Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS.Al-Baqarah(2):62).

Ayat di atas menunjukkan bahwa siapapun yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian serta beramal saleh maka  mereka akan menerima pahala serta akan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Bahkan orang Yahudi dan Nasrani  sekalipun bila mereka beriman kepada Allah, Tuhan  yang satu, yang tidak beranak dan diperanakkan  kelak mereka akan dimasukan ke dalam surga-Nya. Jadi orang Yahudi dan Nasrani yang dimaksud ayat diatas adalah pengikut Musa as dan Isa as yang taat pada jamannya dahulu ketika ajarannya belum diselewengkan. Waraqah bin Nufail dan pendeta Bukhaira adalah salah satu contohnya.

Sedangkan yang dimaksud orang-orang Shabiin adalah penduduk negri Haran, yaitu kaum Shabi’ah. Haran adalah sebuah kota kuno di dataran Mesopotamia, kota dimana  Ibrahim as pernah menetap sebelum pindah  ke Kana’an di Palestina. Penduduk negri tersebut terpecah menjadi 2, sebagian penyembah patung dan sebagian lainnya penyembah agama tauhid yang dibawa nabi-nabi jaman dahulu. Shabi’ah kelompok kedua inilah yang djanjikan surga pada ayat di atas. Namun ada juga sebagian mufasirin yang berpendapat bahwa kaum Shabiin adalah kaum yang karena ketidak-tahuannya menyembah benda-benda langit seperti bintang dan lain-lain sebagai rasa syukur dan keyakinannya akan ke-Esa-an Sang Pencipta.

Namun memang tidak mudah mengajak manusia untuk kembali ke ajaran yang benar. Buktinya banyak diantara para Nabi dan Rasul yang dilecehkan oleh masyarakatnya hingga akhir hidup mereka sehingga ajarannyapun tidak berkembang. Banyak pula diantara mereka yang berhasil namun begitu mereka tiada ajarannyapun terhenti. Yang pasti, sebuah ajaran akan berhasil berkembang dengan baik dan memberikan hasil yang maksimal ketika pemimpinnya juga menerima dan mendakwahkan ajaran tersebut. Karena dengan demikian rakyat memiliki pelindung yang juga berpegang teguh pada hukum Allah SWT sehingga mereka dapat dengan tenang menjalankan kehidupan keberagamaan mereka.

”Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.(QS.An-Nisa’(4):59).

Berikut beberapa contoh keberhasilan orang-orang taqwa yang berhasil menjadi pemimpin masyarakat bernegara yang tercatat dalam Al-Quran dan sejarah :

1.   Kekuasaan Yusuf as, bendaharawan Mesir. (diperkirakan sekitar 2150 SM).

Nabi Yusuf as adalah putra Nabi Yaqub as bin Ishaq as bin Ibrahim as. Ketika kecil mulanya Yusuf tinggal di negeri Syam beserta ayah dan saudara-saudaranya. (Syam saat ini adalah daerah-daerah yang terletak di sekitar Syria dan Yordania). Kemudian karena saudara-saudaranya iri terhadapnya Yusuf dilemparkan kedalam sebuah sumur. Namun karena kehendak-Nya ia kemudian ditemukan serombongan kafilah yang akan menuju Mesir dan di negeri tersebut ia dijual dan dijadikan budak. Yusuf as adalah seorang yang pemuda yang sangat tampan hingga suatu ketika istri majikannyapun akhirnya tergoda dan mengganggunya untuk bermaksiat.

”Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah kesini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tiada melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih”. (QS.Yusuf(12):23-24).

Yusuf dengan bantuan Allah SWT berkat ketakwaannya, memang berhasil keluar dari fitnah namun demi membela nama baik majikannya Yusuf memilih untuk dipenjarakan. Didalam penjara inilah Yusuf berdakwah :

”Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Yusuf(12):39-40).

Hingga suatu ketika ia yang memang dikenal pandai menakwilkan mimpi, berhasil menakwilkan mimpi raja.

”Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya: “Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) menta`birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya)”. (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya”. Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur.” .(QS. Yusuf(12):45-49).

Yusuf berhasil mentakwilkan mimpi raja dengan izin Allah SWT. Melalui jalan ini Yusuf berhasil keluar dari penjara dan Allah SWT menunjuki sang raja agar memilihnya menjadi bendaharawan negara.

Dan raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku”. Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami”. Berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan”. Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana saja yang ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”. (QS.Yusuf(12):50-56).

2. Kerajaan Fir’aun Akhenaten IV (1351-1334 SM).

Akhenaten IV adalah seorang raja Mesir (fir’aun) ke 10 dari dynasty ke 18. Ia menggantikan kedudukan ayahnya, Amenhotep III pada 1351 SM ketika umurnya masih belasan tahun. Ibunyalah, Ratu Tiy yang menginginkan putranya tersebut agar menggantikan ayahnya yang meninggal. Akhenaten IV berkuasa pada masa puncak kejayaan Mesir. Permaisurinya bernama Nefertiti yang hingga saat ini dikenal sebagai ratu tercantik di dunia disamping Cleopatra. Ia memiliki 6 orang putri dan seorang selir bernama Kia.

Pada masa kekuasaannya baik nama maupun gambar ‘Amun’ dan ‘Mut’ di berbagai bangunan monumen di Mesir yang selama sejarah berabad-abad ke-fir’aun-an dikenal sebagai tuhan-tuhan yang selalu mereka sembah sama sekali tidak tampak diseluruh pelosok Mesir maupun Nubia yang pada saat itu menjadi daerah kekuasaannya. Pada tahun ke 6 kekuasaannya, Akhenaten yang memiliki nama lahir Amenhotep IV mengganti namanya menjadi Akhenaten yang berarti ‘hamba Aten’, ‘Aten’ adalah sebutan bagi Tuhan yang disembahnya, Tuhan yang memiliki Matahari. Rupanya Akhenaten sangat terobsesi dengan kehebatan Matahari dan sinarnya hingga ia memilih Matahari sebagai lambang kekuasaan Tuhan sekaligus lambang kekuasaanya. Pada saat yang sama ia juga memindahkan pusat kekuasaan dari ibu kota lama ke sebuah kota diantara Memphis dan Thebes yang diberinya nama ’Akhet-Aten’, sekarang dikenal dengan nama Amarna/Tell el-Amarna.

Sejarah mencatat, dialah satu-satunya fir’aun yang mereformasi ajaran agama, ia mengajarkan Monoteisme. Padahal sebelumnya Mesir dikenal sebagai kerajaan yang menyembah banyak tuhan, Politeisme. Ia juga tercatat dalam sejarah sebagai raja di dunia yang pertama kali memperkenalkan bahwa Tuhan hanyalah Satu, Dia yang memiliki dan menguasai alam semesta termasuk Matahari.

“Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir`aun yang menyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: “Tuhanku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu”. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta”.(QS.Al-Mukmin(40):28).

”Orang yang beriman itu berkata: “Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab. Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka? (Kenapa) kamu menyeruku supaya kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidak kuketahui padahal aku menyeru kamu (beriman) kepada Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun? Sudah pasti bahwa apa yang kamu seru supaya aku (beriman) kepadanya tidak dapat memperkenankan seruan apapun baik di dunia maupun di akhirat. Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka. Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”. Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir`aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk”. (QS.Al-Mukmin(40):38-45).

Mungkinkah Akhenaten adalah orang yang sama dengan orang mukmin yang digambarkan dalam ayat-ayat diatas? Wallahu’alam. Namun bila memang benar, dapat dipastikan bahwa Akhenaten IV adalah anak Fir’aun yang diazab dengan cara ’ditenggelamkan’ di laut karena menentang ajaran Musa as. Ketika Akhenaten membela Musa as dengan perkataan sebagaimana ayat 28 diatas, Akhenaten belum menjadi raja dan karena seluruh kaumnya adalah penyembah berhala yang juga men’Tuhan’kan ayahnya, ia terpaksa menyembunyikan keimanannya. Oleh sebab itu pula ketika ayahnya meninggal ibunya, Ratu Tiy alias Asiya, istri Fir’aun yang digambarkan Al-Quran adalah seorang hamba yang taqwa, memilih Akhenaten agar memegang kekuasaan.

”Dan Allah membuat isteri Fir`aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir`aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim”(QS.At-Tahrim(66):11).

Selama ini khalayak umum meyakini bahwa Ramses II adalah Fir’aun yang hidup di zaman Musa as. Ini adalah berdasarkan pendapat seorang pendeta Yahudi yang hidup pada tahun 300 an SM. Namun sejak tahun1960an dengan makin majunya ilmu pengetahuan, para arkeolog mulai meragukan kebenaran hal tersebut. Salah satu keraguan yang timbul adalah disebabkan tidak ditemuinya kadar garam yang tinggi pada jasad tersebut. Belakangan ini dikabarkan bahwa pemerintah setempat berencana akan meneliti ulang seluruh mumi yang ada dengan menggunakan bantuan alat super canggih, CT Scan.

Namun sayang, setelah Akhenaten dikabarkan meninggal, ajarannya yang dengan susah-payah didirikannya tersebut, juga ikut lenyap demikian juga kota Akhet-Aten. Penerusnya, Fir’aun Tutenkhamen yang juga sekaligus menantunya memerintahkan agar seluruh ajaran dan kenangan yang berhubungan dengan Akhenaten, Sang Hamba-Allah dihancurkan.

Sebaliknya para ahli sejarah Mesir hingga saat ini masih mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi terhadap keluarga kerajaan Akhenaten. Karena ternyata mumi Sang raja beserta keluarga tidak ditemukan di berbagai lokasi pyramid yang ada di seluruh Mesir. Bahkan permaisurinya, Nefertiti dikabarkan menghilang begitu saja demikian pula anak-anaknya, ibu Akhenaten; Ratu Tiy juga istri keduanya; Kia. Syahdan dikabarkan Akhenaten pernah bermimpi bahwa Tuhan menyuruhnya agar mendirikan sebuah kota diantara 2 buah gunung. Apa yang sesungguhnya terjadi dengannya?

3. Dinasti Chou (1121 SM – 256 SM).

Suatu ketika Rasulullah pernah bersabda: ”Carilah ilmu hingga ke negeri Cina”. Sebenarnya apa yang diketahui Rasulullah tentang negeri yang terletak ribuan mil jauhnya dari jazirah Arabia ini?

Cina pada masa Dinasti Chou adalah sebuah kerajaan yang mempunyai peradaban tinggi. Kerajaan ini berkuasa hingga lebih dari 8 abad lamanya. Kerajaan ini sejak lama dikenal telah memiliki pengetahuan sistim tulis-menulis yang maju. Ia juga dikenal telah memiliki pengetahuan seni dan persenjataan yang terbuat dari metal, perunggu dan besi karena memang besi dapat ditemukan dengan mudah di daerah tersebut. Mereka telah mengenal bagaimana cara melebur atau melelehkan besi untuk memenuhi segala keperluannya. Pada waktu yang sama mereka juga telah mengenal dan menggunakan ’chariot’ kereta kuda yang memiliki kekhasan Yunani kuno / Mesir.

Yang menarik, raja-raja mereka menyatakan bahwa kekuasaan yang sesungguhnya itu berada di langit, mereka menyebutnya sebagai ’Mandate of Heaven’. Tuhan berkuasa atas mereka, oleh karenanya hanya orang-orang yang mau menurut perintah Tuhannya saja yang dapat berkuasa di negeri tersebut. Raja disamping pemimpin bagi rakyatnya juga pemimpin spiritual. Mereka menyebut Tuhannya ’Tien’, yang merujuk pada kekuasaan ’langit’, Tuhan yang menguasai matahari, angin, air dan hujan di bumi ini. Mereka berkeyakinan bahwa Tuhan hanya satu. Ini berarti ajaran Monotheisme, ajaran Tauhid, agama yang diridhoi Allah SWT. Menurut ’Chinese Religion ’, kitab yang menulis riwayat tentang kehidupan keberagamaan rakyat Cina yang diterbitkan oleh penerbit Oxford, New York pada tahun 1995, pendiri Chou Dinasti dan keluarga besarnya menjadikan Ilah Yang Maha Satu sebagai sembahan. Mereka juga berhasil mengikis kepercayaan dan ritus-ritus yang berlaku semasa dinasti sebelumnya.

Yang juga tidak kalah menariknya, adalah sejarah yang menjadi saksi berdirinya sebuah tembok pertahanan di Zhengzhou, bekas ibu-kota Shang Dinasti yang berkuasa sebelum Chou Dinasti pada 1600 – 1046 SM. Kota ini terletak di selatan Anyang, ibu kota Chou Dinasti. Zhengzhou dikelilingi pegunungan-pegunungan tinggi Cina. Di kota ini berdiri tembok kuno yang sekarang menjadi salah satu bagian dari tembok Cina atau ’Great Wall of China’ dan disebut sebagai ”The Father of The Great Wall” . Tembok ini didirikan pada masa kekuasaan Shang Dinasti pada sekitar 1330 SM dengan tujuan untuk mencegah masuknya musuh-musuh mereka dari arah utara, yaitu yang berbatasan dengan Mongolia. Musuh-musuh ini mereka gambarkan sebagai musuh yang amat jahat dan bengis.

Dari data-data diatas, Hamdi bin Hamzah Abu Zaid, seorang ilmuwan berkebangsaan Saudi penulis buku yang membahas tentang kemunculan ’Ya’juj & Ma’juj ’ berani berkesimpulan bahwa sang pendiri dinasti Zhou dan raja (fir’aun) Akhenaten IV adalah orang yang sama, yaitu Dzulkarnaen, hamba Allah yang diberi kekuasaan di muka bumi sebagaimana ayat-ayat berikut :

“Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah: “Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya”. Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu maka diapun menempuh suatu jalan”.(QS.Al-Kahfi(18):83-85).

”Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu, ,demikianlah. Dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya. Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan”.(QS.Al-Kahfi(18) :89-93).

Dzulkarnaen adalah seorang yang mempunyai kekuasaan. Ia menempuh sebuah perjalanan menuju kearah terbitnya matahari , yaitu timur. Kemudian kembali lagi hingga akhirnya ia tiba di Zhengzhou, kota yang terletak diantara gunung-gunung di suatu negri yang ia tidak mengerti bahasanya, yaitu Cina. Sebagaimana kita maklumi bahasa Cina adalah bahasa yang hingga kini terkenal sulit dan rumit bahasanya. (Sejarah mencatat bahwa Akhenaten IV, sang firaun penganut Monotheisme pernah bermimpi diperintahkan Tuhannya untuk mendirikan sebuah kota diantara pegunungan. Mungkinkah oleh sebab itu para arkeolog tidak menemukan mumi Firaun tersebut karena ia memang tidak meninggal di negrinya melainkan ia pergi menuju Cina untuk memenuhi perintah Tuhannya tersebut?).

Di kota ini Dzulkarnaen dimintai tolong penduduknya agar mendirikan sebuah dinding yang dapat melindungi mereka dari musuh-musuh jahat, yaitu Ya’juj dan Ma’juj. Rupanya mereka tahu bahwa Dzulkarnaen mempunyai keahlian tersebut karena Dzulkarnaen adalah seorang raja Mesir, negri yang ketika itu telah sangat maju. Disamping itu Cina memiliki kekayaan alam berupa besi yang memungkinkan Dzulkarnaen membangun sebuah tembok kokoh yang terbuat dari potongan-potongan besi yang dilelehkan, sebuah tehnologi yang amat canggih apalagi pada masa itu.

”Mereka berkata: “Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?”. Dzulqarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi” Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain: Tiuplah (api itu)”. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu”. Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya. Dzulqarnain berkata: “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar”. (QS.Al-Kahfi (18):94-98).

Walaupun di negri asalnya ia tidak begitu berhasil membangun masyrakat sebagaimana yang dikehendaki-Nya namun di negri Cina ia berhasil meletakkan dasar-dasar keimanan dan ketakwaan hingga akhirnya keturunannya berhasil mendirikan sebuah kerajaan besar yang penuh takwa, yaitu Dinasti Zhou. Kekuasaan dinasti ini bertahan hingga kurang lebih 8 abad lamanya. Terlepas apakah Dzulkarnaen, Firaun Akhenaten IV dan pendiri Zhou Dinasti adalah orang yang sama, yang pasti mereka adalah hamba-hamba Allah yang takwa, yang dengan ridho-Nya berhasil membentuk masyarakat yang menyembah Tuhan Yang Satu, Allah SWT.

4. Kerajaan Daud as dan Sulaiman as. (1010 SM – 927 SM).

Daud as dan Sulaiman as adalah dua orang hamba Allah yang diserahi tugas sebagai utusan Allah sekaligus raja bagi bangsa Yahudi. Daud diangkat menjadi raja setelah dalam pertempuran berhasil mengalahkan Jalut, musuh besar bangsa tersebut. Ketika itu kerajaan dipimpin oleh raja Thalut. Ia menjanjikan kepada siapapun yang berhasil mengalahkan Jalut maka ia berhak menggantikannya.

”Tatkala mereka nampak oleh Jalut dan tentaranya, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdo`a: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”. Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya……….”.(QS.Al-Baqarah(2):250-251).

Sebagai raja sekaligus Rasulullah, Daud menegakkan syariah Allah ditengah kekuasaannya dan Allah SWT menurunkan kitab Suci Zabur kepadanya.

”…….Dan Kami berikan Zabur kepada Daud”. (QS.An-Nisa’ (4):163).

”Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”, dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS.Saba’(34):10-11).

Daud memimpin kerajaan selama kurang lebih 40 tahun dari 1010 hingga 970 SM. Setelah meninggal dunia, putranya, yaitu Sulaiman as menggantikan kedudukan sebagai raja bagi bani Israel. Kekuasaannya bertambah luas hingga ke utara di Damaskus, Syam hingga ke Mesir di selatan.

Sulaiman as diberi kemampuan yang sebelumnya tidak pernah diberikan di dunia ini kepada siapapun, yaitu kemampuan untuk menaklukkan angin, berbicara kepada binatang bahkan menaklukkan bangsa jin.

”Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan syaitan-syaitan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu; dan adalah Kami memelihara mereka itu,”.(QS.Al-Anbiyya(21):81-82).

Pada masa ini, kota telah mencapai kemajuan sebagai kota metropolis. Kota dipenuhi dengan bangunan-bangunan tinggi dengan marmer berkwalitas.

“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku)…..”.(QS.Saba’(34):13).

Sulaiman dikenal sebagai raja yang bijaksana. Diantara tindakan Sulaiman yang terkenal adalah ketika ia harus memutuskan perkara 2 orang perempuan yang memperebutkan seorang bayi, masing-masing mengaku bahwa ia adalah ibu kandung bayi tersebut. Ketika itu Sulaiman berkata agar bayi tersebut dibelah dua saja. Perempuan pertama langsung menyetujuinya sementara perempuan kedua berkata bahwa ia lebih baik mengalah daripada harus mengorbankan hidup bayinya. Dari situ Sulaiman dapat mengetahu siapa sebenarnya ibu kandung yang asli. Selain itu Sulaiman juga dikenal karena jasanya dalam merenovasi Masjidil Aqsa di Palestina. Masjid ini didirikan oleh Ishaq as empat puluh tahun setelah Ibrahim as dan saudaranya, Ismail as membangun Ka’bah di Mekah.

Al-Quran juga menceritakan sebuah kisah tentang Sulaiman yang ketika itu sedang memimpin barisannya kemudian bertemu dengan sekelompok semut.

”Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”; maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo`a: “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni`mat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.(QS.An-Naml(27):15-19).

Meski Daud dan Sulaiman telah dianugerahi kekuasaan dan ilmu yang banyak, mereka tidak pernah lupa bersyukur kepada Allah SWT.

”Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambaNya yang beriman“. (QS.An-Naml(27):15).

Kekuasaan Sulaiman berjalan selama 40 tahun. Ia meninggal dalam keadaan duduk di singgasananya tanpa diketahui pasti kapan ia meninggal dunia. Bersamaan dengan itu lenyap pula aqidah di kerajaan tersebut. Para penggantinya adalah orang-orang yang men-sekutukan Allah SWT. Bahkan mereka telah menyebar fitnah yang sungguh keterlaluan bahwa kedua Rasul Allah tersebut adalah ahli sihir yang gemar akan perbuatan mesum dan tidak senonoh sebagaimana yang mereka gambarkan dalam kitab suci mereka.

5.   Kerajaan Ratu Balqis (sekitar 900 SM – 101 SM) dan kerajaan Himyar. (110 SM –571 M).

Barat mengenalnya dengan nama Ratu Sheba. Lokasi bekas kerajaan yang diperintah seorang ratu ini masih dipertentangkan antara Yaman sekarang atau Etiopia sekarang. Namun belakangan ini di Yaman, jazirah Arabia selatan ditemukan lokasi reruntuhan bekas peradaban kuno (diperkirakan telah berumur sekitar 3000 tahun). Kemungkinan besar ini adalah bekas kerajaan Sa’ba. Namun para arkeolog tidak menutup kemungkinan bahwa Yaman dan Etiopia pada satu masa pernah berada dibawah satu wilayah kerajaan. Kerajaan yang pada masa Sulaiman as telah ada dan telah mengadakan berbagai hubungan.

”Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai `Arsy yang besar”. (QS.An-Naml(27):22-26).

Di lokasi tersebut ditemukan reruntuhan berbagai peninggalan kuno diantaranya patung perunggu pejuang Sa’ba, patung-patung yang terbuat dari pualam putih berkwalitas serta berbagai peninggalan kuno lainnya seperti perhiasan emas, kaca dan keramik yang menunjukkan kekayaan dan ketinggian peradaban mereka. Dari tulisan-tulisan mereka diketahui bahwa pada saat itu mereka telah tinggal dibangunan-bangunan tinggi hingga dengan demikian mereka dapat mengukur dengan pas burung-burung yang terbang disekitar mereka. Mereka juga banyak memproduksi wewangian sebagai bagian kehidupan ritual keagamaan sebagai persembahan kepada berhala-berhala sesembahan mereka sebagaimana umumnya negara pagan. Disamping itu sejarah juga memperlihatkan telah adanya hubungan dagang dan ekonomi antar berbagai negara seperti kerajaan Sulaiman di utara, kerajaan Axumite di Afrika, kerajaan Romawi juga Cina dan India.

”Berkata Sulaiman: “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan”. Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang berserah diri”. (QS.An-Naml(27):28-31).

Untuk menunjukkan kekuatan dan kekuasaan kerajaannya, Sulaiman as kemudian memerintahkan agar istana sang Ratu dipindahkan ke dekat istana Sulaiman di Syam. Hal ini dapat terjadi karena Allah SWT memang telah memberinya kekuasaan dan kepercayaan dalam banyak hal sebagai cobaan baginya.(lihat bab mengenai kerajaan Sulaiman diatas).

”Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan ni`mat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (QS.An-Naml(27):40).

Kerajaan Sa’ba dengan ratunya, yaitu Ratu Balqis akhirnya tunduk kepada kekuasaan kerajaan Sulaiman. Mereka menikah namun Sulaiman as tetap membebaskan sang permaisuri bersinggasana di istananya di Sa’ba.

”Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: “Serupa inikah singgasanamu?” Dia menjawab: “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri”. Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir. Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana”. Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”. Berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam“.(QS.An-Naml(27):42-44).

Kerajaan ini bertahan lama hingga akhirnya ditaklukkan oleh kaum Tubba yang kemudian mendirikan kerajaan Himyar pada tahun 110 Sebelum Masehi. Ibnu Asakir, seorang ahli sejarah sekaligus ahli hadis menuturkan bahwa kerajaan ini pernah diperintah oleh seorang Tubba/ Raja yang bernama As’ad bin Kuraib bin Malikraba al Yamani. Ia dikenal sebagai seorang raja yang adil. Pada masanya kerajaan maju pesat terutama di bidang pertanian. Kerajaan ini memiliki hubungan yang baik dengan negara-negara di sebelah timur Afrika dan negara-negara sepanjang Laut Mediterania. Ia bahkan mengekspor gading gajah ke kerajaan Rumania. Raja ini juga dikenal sebagai seorang Yahudi yang shaleh. Suatu ketika ia pernah berkunjung ke Madinah dan menggubah sebuah syair yang kemudian disimpan secara turun temurun oleh masyarakat kota tersebut. Syair tersebut berbunyi sebagai berikut :

”Aku bersaksi bahwa Ahmad adalah seorang utusan. Allah, Pencipta semua nyawa, Kalau usiaku sampai ke masanya, niscaya aku, Menjadi pembela untuknya dan anak paman. Dan aku akan berjuang dengan pedang, Melawan musuh-musuhnya dan aku lapangkan, Segala kesusahan dari dadanya”.

Namun sayang harapan As’ad tidak terkabul, ia wafat bertahun-tahun sebelum Rasulullah SAW diutus. Sedangkan kerajaannya sendiri berakhir secara bertahap seiring dengan hancurnya waduk Ma’rib sekitar tahun 570 M. Waduk ini diberitakan memang telah mengalami kerusakan beberapa kali. Sebelumnya, waduk raksasa yang dibangun pada abad 7 SM dan dikenal sebagai sebuah waduk yang mempunyai tehnologi canggih pada masanya (diperkirakan memiliki ketinggian 30m diatas permukaan laut dan panjang 1.6km) adalah merupakan tumpuan serta sumber kehidupan masyarakat seluruh wilayah kerajaan. Inilah yang menjadi penyebab utama berakhirnya kerajaan Himyar disamping kebobrokan moral para penguasanya.

Meskipun demikian karena kasih sayangnya pula Allah SWT berkenan untuk terus memelihara salah satu kotanya yaitu Sanaa, sekarang ibukota Yaman sebagai kenangan akan ketakwaan penduduknya. Kota ini dikelilingi benteng peradaban kuno, di dalamnya terdapat gereja-gereja lama serta ratusan mesjid. Dan hingga kini bagaikan masih dalam keadaan sebuah kota 2500 tahun yang lalu. Sebuah kota yang menunjukkan adanya sisa peradaban yang telah maju dengan ratusan bangunan tinggi berarsitektur kuno sesuai pada waktunya yang telah lampau.

6.   Kerajaan Aksum, Habasyah-Ethiopia.(sekitar 400 SM – 700 M).

Terletak di sebelah utara Etiopia sekarang ini, kerajaan ini diperkirakan telah ada jauh sebelum tahun Masehi. Peninggalan bekas kejayaan kerajaan ini yang sekarang masih ada hanyalah adanya pilar-pilar raksasa dari granit dengan tinggi sekitar 33 m, yang merupakan pilar kuno tertinggi di dunia. Diperkirakan pada masa jayanya kerajaan ini telah memiliki hubungan dagang dengan kerajaan Sa’ba di Yaman dan juga kerajaan Sulaiman di Syam. Bahkan kemungkinan besar Yaman ketika itu telah masuk dalam kekuasaan kerajaan Aksum disamping juga bagian Barat Sudan, bagian selatan Mesir dan Jibuti.

Rakyat Aksum pada mulanya adalah penganut agama Aksum namun pada abad ke 4 setelah Masehi rajanya, yaitu Ezana dibawah bimbingan pendeta Syria Frumentius berpindah menjadi penganut Nasrani maka sejak itu ia memproklamirkan diri bahwa kerajaannnya adalah kerajaan Nasrani. Ini adalah kerajaan Nasrani kedua didunia setelah Armenia. Namun yang menarik, dikabarkan bahwa ajaran yang dipeluk rakyat kerajaan Aksum tidaklah sama dengan rata-rata pemeluk ajaran agama tersebut. Mereka tidak mengenal adanya doktrin ’ Tiga dalam Satu’ ataupun ’ Dua dalam Satu’ sebagaimana kebanyakan pemeluk Nasrani. Rupanya mereka tidak terpengaruh oleh deklarasi Nicene (’Nicene Creed’) yang merupakan dasar dari ’First Council of Nicaea’ yang dikeluarkan pada tahun 325 M oleh Constantine I, kaisar Romawi yang berkuasa antara 274 – 337 M tentang substansi ketuhanan mereka.(lihat bab ”Pengkultusan dan Penyembahan Dewa-Dewa”). Raja Aksum dan rakyatnya tetap berkeyakinan bahwa Tuhan adalah Esa, tidak ada yang menyerupainya, tidak beranak dan tidak berbapak. Ini adalah ajaran Tauhid yang diridhoi Allah SWT yang dibawa Isa as untuk umat Yahudi.

Itu sebabnya mengapa kaum Muslimin (diantaranya Ustman bin Affan dan istri, Ruqayah binti Muhammad SAW dan suaminya) pada awal penyebarannya ketika kaum Quraisy dengan sengit memusuhi mereka, Nabi Muhammad SAW menganjurkan agar mereka untuk sementara berhijrah ke Habasyah. Habasyah ketika itu dibawah kekuasaan raja Najasyi, seorang Nasrani yang taat. Ia dikenal sebagai raja yang sangat adil dan bijaksana. Hal ini terjadi pada sekitar tahun 617M. Ditempat ini kaum Muslimin mendapatkan perlindungannya.

Sebaliknya kaum Quraisy begitu mendengar bahwa sejumlah Muslimin telah behijrah dan meminta suaka kepada raja Najasyi langsung menyusul ke kerajaan tersebut. Mereka mengutus Amr bin Al-’Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah agar menemui rajanya. Mereka memohon agar kaum Muslimin dikembalikan ke kaumnya di semenanjung Arabia. Mereka menceritakan bahwa orang-orang yang hijrah itu adalah orang-orang yang murtad karena mereka meninggalkan agama nenek moyang mereka. Kemudian raja Najasyi minta diterangkan agama apakah yang menyebabkan mereka meninggalkan agama nenek moyang mereka itu. Maka dengan segera Ja’far bin Abu Thalibpun membacakan ayat-ayat berikut :

”Ia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”. Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!” Jibril berkata: “Demikianlah . Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan. Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh”. (QS.Maryam (19):19-22) dan seterusnya hingga ayat berikut :

Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka”. (QS.Maryam(19):30-32).

Mendengar bacaan tersebut Najasyi menangis tersedu-sedu dan ia memutuskan untuk tidak menyerahkan kaum Muslimin kepada kaumnya kembali karena mereka memang tidak bersalah. Rasulullah juga pernah mengirim surat kepada raja tersebut yang isinya mengajak untuk mengikuti ajaran Islam. Berikut isi jawaban surat raja Najasyi :

”Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang, dari Najasyi Al-Ash-ham putera Abjar, Hai Nabi utusan Allah, semoga Allah melimpahkan kesejahteraan kepada anda. Tiada tuhan selain Dia yang menunjukkan diriku kepada kebenaran Islam. Hai utusan Allah, surat anda telah kutrima, didalamnya anda menyebut masalah Isa. Demi Tuhan Penguasa Langit dan Bumi, keadaan Isa tidak lebih dari apa yang anda kirimkan kepada kami dan kamipun telah bertemu dengan saudara misan anda beserta para sahabatnya. Aku bersaksi bahwa anda benar-benar seorang utusan Allah dan kami mempercayai serta membenarkan kebenaran anda. Kami berjanji akan mendukung kebenaran anda dan apa yang telah dikatakan oleh saudara misan anda. Dengan disaksikan olehnya aku telah mengikrarkan keislamanku dan berserah diri kepada Allah Penguasa Alam semesta. Kepada anda kekirimkan Ariha Al-Ash-ham putera Al-Jabar. Hai utusan Allah bila anda menghendaki aku bersedia datang kepada anda karena aku yakin bahwa yang anda katakan adalah benar”.

Akan tetapi berbeda dengan 2 negara tetangganya, Maqura dan Alwa yang kemudian memeluk Islam pada abad 13, Kerajaan Aksum yang sekarang lebih dikenal dengan nama Etiopia hingga saat ini masih mempertahankan ajaran lama mereka. Kitab yang mereka gunakanpun dikabarkan masih tetap berbeda dengan kitab suci umat Nasrani pada umumnya. Kitab mereka masih dalam bahasa Ge’ez, bahasa Semit kuno .

7. Khilafah Islamiyah (622 M – 1923 M).

Kota Mekah terletak ditengah padang pasir yang tandus. Rupanya Allah SWT telah mempersiapkan kota ini sebagai tempat kelahiran seorang Nabi besar yang kelak akan menyatukan umat dibawah kebesaran panji Islam. Berkat ditemukannya sumber air zam-zam yang memancar deras hingga kini yaitu ketika Ismail bin Ibrahim as yang menendang-nendangkan kaki kecilnya kepasir gersang karena kehausan ribuan tahun yang lalu, Mekah lama kelamaan menjadi kota besar.

”Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”.(QS.Ibrahim(14):37).

Kota ini pada masa kelahiran Nabi Besar Rasulullah Muhammad, yaitu pada tahun 570 M dikenal sebagai kota yang menjadikan perdagangan sebagai sumber kehidupan mereka. Orang-orang Arab Quraisy terbiasa melakukan perjalanan dagang ke Yaman pada musim dingin dan ke Syam pada musim panas. Mekah sejak dahulu juga dikenal sebagai pusat peribadahan bagi kaum pagan di seluruh semenanjung Arab. Penduduk kota ini terdiri dari beberapa bani Arab yang dikenal keras kepala dan sangat fanatik dalam membela agama dan baninya masing-masing. Mereka sering berperang satu sama lain dan tidak mau bersatu. Mereka benar-benar dalam keadaan moral yang rusak dan bejat.

Dalam keadaan seperti inilah Allah SWT mengutus Rasulullah berdakwah mengajak agar manusia mau kembali kepada ajaran yang benar, yaitu menyembah Tuhan Yang Satu, Allah SWT. Setelah melalui jalan yang begitu berat akhirnya pada tahun 622M atau sekitar 12 tahun setelah kenabian, Rasulullah berhasil mendirikan dan menanamkan benih kebesaran sebuah masyarakat Islam dengan pusatnya di kota Madinah. Pada saat inilah terjadi peletakkan asas-asas masyarakat Islam yang mengagungkan ke-Esa-anNya, yang menjadikan Sang Pencipta Alam Semesta sebagai satu-satunya dasar hukum bermasyarakat yang mengurus seluruh nafas kehidupan rakyatnya termasuk ekonomi, sosial dan politik dalam rangka membentuk masyarakat yang adil dan sejahtera. Sebuah sistim pemerintahan yang sempurna.

Pemerintahan yang kemudian dikenal dengan nama Khilafah Islamiyah ini bertahan berabad-abad lamanya. Hanya dalam waktu 10 tahun sejak didirikannya, Rasulullah telah berhasil mempersatukan seluruh jazirah Arab dan kurang dari 100 tahun kemudian pemerintahan ini telah berhasil mengembangkan kekuasaan dari perbatasan Perancis selatan, Spanyol, seluruh Afrika bagian utara, Syam, wilayah Romawi di Turki , Persi hingga perbatasan barat Cina. Ibu kotanya berpindah beberapa kali, dimulai dari Madinah, Damaskus, Kufah kemudian Bagdad dan terakhir Konstatinopel.

Selama masa kekuasaan yang amat panjang tersebut masa Khulafaur Rasyidin adalah masa yang paling penting dan menentukan. Masa ini memang hanya berlangsung selama 30 tahun, yaitu pada masa setelah wafatnya Rasulullah namun sangat istimewa karena para pemimpinnya adalah para sahabat terdekat dan terbaik Rasulullah. Mereka itu adalah Abu bakar ra, Umar bin Khattab ra, Ustman bin Affan ra dan Ali bin Abu Thalib ra. Mereka ini memerintah dengan cara mengikuti manhaj Rasulullah secara sempurna sesuai dengan jalan lurus yang dikehendaki Allah SWT.

Sementara itu Harun Ar-Rasyid, khalifah terbesar dari bani Abbasiyah yang selama 23 tahun berkuasa hingga 808 M adalah seorang raja yang terkenal karena kebijaksanaannya. Pada masa ini pemerintahannya mengalami puncak kemegahan dan kesejahteraan. Sedangkan Ilmu pengetahuan berkembang dengan amat pesat pada sekitar abad 9-10 M. Ibnu Haitsam (976-1052 M), Abu Bakar Ar-Razi (873-935 M), Abul-Qashim Az-Zahrawy (….-1049 M) adalah beberapa contoh dari banyak ilmuwan Muslim yang buku-buku karangannya banyak diplagiat secara terang-terangan oleh ilmuwan Barat. Disamping itu zaman tersebut juga meninggalkan kenangan akan adanya filsuf, cendekiawan sekaligus ahli fikih kenamaan seperti Abu Hamid Al-Ghazali (1072-1127 M) dan Ibnu Qudamah (1163-1242 M) juga para ilmuwan yang diakui dunia internasional seperti Ibnu Sinna / Avicenna (980-1037 M), Ibn Rushdi / Averroes (1126-1198 M), Ibn Tufail / Abubacer (1105-1185 M) dan lain-lain.

Kejayaan Islam merosot secara bertahap hingga akhirnya lenyap pada tahun 1923 M pada masa pemerintahan Utsmaniyah dengan pusat kedudukan di Istambul, Turki. Melemahnya kekhilafahan ini disebabkan oleh banyak hal namun terutama dikarenakan para pemimpinnya tidak lagi mementingkan urusan rakyatnya, korupsi muncul dimana-mana hingga akhirnya terjadi krisis ekonomi dan sosial. Tampak jelas bahwa para penguasa lebih senang mementingkan kehidupan, kemewahan dan kenikmatan duniawi sehingga akhirnya merekapun enggan dan lupa menegakkan hukum Islam, Hukum milik Sang Pencipta, Allah SWT.

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”. (QS.Al-‘Araf (7):34).

II. Atas orang dan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah SWT.

Banyak sekali ayat-ayat yang menunjukkan kemurkaan Allah SWT terhadap kaum yang mendustakan ayat-ayat-Nya, yang membunuh utusan-utusan-Nya, yang berbuat kejahatan serta kerusakan sehingga akhirnya Allah SWT mengazab negri mereka. Padahal negri-negri mereka ketika itu telah begitu maju. Allah menghukum mereka disebabkan kesalahan mereka sendiri.

“…… yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab, sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi”.(QS.Al-Fajr (89):11-14).

Beberapa kota atau negri ada yang telah diketahui secara pasti lokasi dan bekas-bekasnya namun tidak sedikit pula yang tidak diketahui lokasi maupun asal-usulnya. Yang pasti sejarah mencatat bahwa pada tahun 1812 Johann Ludwig Burckhardt, seorang penjelajah mualaf berkebangsaan Swis telah menemukan sebuah situs arkeologi yang amat spektakuler, yaitu Petra yang berarti batu dalam bahasa Yunani, ’The Lost City’ di Yordania. Ketika itu Burckhardt datang ke lokasi tersebut karena mendengar kabar bahwa Harun as, saudara Musa as dimakamkan ditempat itu.

Kota ini terletak beberapa km disebelah selatan laut Mati, tersembunyi dibalik pegunungan Wadi Musa, sebuah pegunungan yang penuh bebatuan raksasa. Peninggalan kota ini sungguh menakjubkan. Tampaknya mereka telah berhasil mendirikan rumah dan istana mereka di lembahnya dengan cara memahat dinding-dinding batunya. Kota ini diperkirakan dibangun pada tahun 400 SM dan mengalami beberapa gempa bumi serta banjir besar hingga akhirnya hilang dalam kegelapan sejak sekitar tahun 400M. Yang menarik mereka menyembah berhala-berhala yang mereka namakan Al-Uzza, Al-Latta dan Al-Manna. Nama berhala yang sama yang disembah orang-orang Arab termasuk suku Quraisy di Mekah dan sekitarnya.

”Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka”.(QS.An-Najm (53):19-23).

Sejarah juga mencatat bahwa pada tahun 79 M sebuah gunung bernama Vesuvius di Italia meletus dengan begitu hebatnya hingga menyebabkan kota Pompei hilang terkubur debu tebal serta lahar yang keluar dari gunung tersebut. Namun Allah SWT berkehendak agar kota tersebut tidak lenyap 100 persen. Saat ini dapat kita saksikan bahwa kota tersebut masih meninggalkan sisa-sisa yang sungguh mengerikan. Disana-sini berserakan jasad-jasad manusia yang masih dalam keadaan sempurna dengan berbagai posisi namun telah tidak bernyawa. Sejarah juga mencatat bahwa peradaban Romawi ketika itu amat bejat. Mereka gemar berbuat maksiat. Hidup mereka bergelimang dengan kemewahan namun meraka melupakan nasib rakyatnya yang miskin dan menderita kelaparan. Korupsi dan perbudakan meraja-lela. Pada masa pemerintahan ini pula dijatuhkan ’ hukuman penyaliban ’bagi Isa as, yaitu pada sekitar tahun 33 M. ( baca : http://vienmuhadi.com/2010/02/11/mengambil-hikmah-pompei-the-lost-city/ )

”dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian”.(QS.Az-Zukhruf(43):56).

Berikut beberapa contoh yang tertulis dalam Al-Quran mengenai kaum dan negri yang dimusnahkan karena berbagai sebab yang menyebabkan murka Allah datang kepada mereka.

1. Kaum Nabi Nuh as.

Kaum Nuh as diperkirakan hidup pada sekitar 4000 SM atau lebih dari 25 abad setelah Adam as. Mereka menempati wilayah sekitar sungai Tigris dan sungai Efrat di Irak. Masyarakatnya sebagian besar hidup sebagai petani. Mulanya mereka menyembah Allah SWT semata namun seiring dengan berlalunya waktu merekapun menyembah berhala dan patung-patung.

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat)”.(QS.Al-Araf(7):59).

“Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat”. (QS.Nuh(71):5-7).

Nabi Nuh as selama 950 tahun terus berdakwah mengajak kaumnya agar kembali ke jalan yang benar namun mereka tetap berkeras hidup dalam kesesatan. Hingga akhirnya Nuh as menyerah dan memohon kepada Allah SWT agar memberika hukuman kepada mereka.

“Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma`siat lagi sangat kafir..”.(QS.Nuh(71):26-27).

“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan..”(QS.Huud(11):37).

“Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.” Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.” Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.Huud (11):40-41).

”Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” Dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim”. (QS.Huud(11):44).

Begitulah akhir nasib kaum yang mendustakan Sang Khalik, Yang Maha Kuasa berbuat apapun. Kemudian dengan izin Allah, perahu besar itu terdampar di gunung Judi (pegunungan Ararat, wilayah timur Turki). Di tanah ini mereka membentuk masyarakat yang takwa dibawah bimbingan Nuh as, salah satu ulul azmi, Sang Rasul pilihan. Setelah jumlah mereka semakin banyak merekapun kemudian berpencar ke berbagai arah, sebagian pergi ke Jazirah Arab,sebagian lagi menuju ke Irak dan yang lainnya ada yang ke Utara, Barat maupun Selatan.

2. Kaum Nabi Hud as.

Kaum ini dinamakan kaum ‘Aad, kotanya dinamai kota Iram. Mereka termasuk bangsa Arab dan tinggal di kawasan Al-Ahqaaf (kini Hadramaut), Yaman. Pada masa Nabi Hud as kaum ini telah mampu membangun gedung-gedung tinggi yang mewah. Mereka adalah orang-orang pertama yang membangun gedung-gedung seperti itu. Mereka memiliki harta yang melimpah.

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum `Aad? (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain”.(QS.Al-Fajr(89):6-8).

Sayangnya mereka tidak pandai bersyukur. Sebaliknya mereka malah menyombongkan diri dan merasa diri tidak ada yang lebih kuat dari mereka.

Adapun kaum `Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya dari mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami”. (QS.Fushilat(41):15).

Bahkan penduduknya lebih memilih menyembah berhala daripada menyembah Allah SWT. Nabi Hud as datang untuk memberi peringatan tetapi mereka terlalu congkak untuk mengakui kesalahan mereka. Oleh sebab itu Allah SWT menimpakan azab kepada mereka.

“Adapun kaum `Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum `Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon korma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka”.(QS.Al-Haqqah(69):6-8).

Namun Allah SWT berkehendak agar bekas-bekas kota dimana kaum ’Aad pernah hidup tidak sama sekali lenyap. Pada tahun 1980 sekelompok peneliti yang tertarik akan keberadaan kota Iram di masa lalu, sengaja mengadakan penelitian di daerah Hadramaut. Dengan bantuan peralatan canggihnya, mereka berhasil merekam bekas kota tersebut melalui Pesawat Luar Angkasa The Challenger walaupun hanya sedikit sekali. Kota ini diperkirakan ada lebih dari 3000 tahun yang lalu di perbatasan antara Yaman dan Oman. Maha Benar Allah atas segala firman-Nya! Ini adalah peringatan bagi kaum yang akan datang.

“yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa”. (QS.Al-Ahqaaf (46):25).

3. Kaum Nabi Shaleh as.

Mereka adalah kabilah Tsamud, penduduk yang mendiami kawasan Al-‘Ala yang terletak diantara Madinah dan Tabuk. Mereka datang setelah kaum ‘Aad dan sebagaimana kaum ‘Aad mereka juga menyembah berhala-berhala. Mereka mendirikan rumah dan istana mereka dengan jalan memahat gunung-gunung.

”Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum `Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah ni`mat-ni`mat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan”. (QS.Al-Araaf (7):74).

Nabi Shaleh as diutus untuk memperingatkan mereka agar mereka tidak mencontoh perbuatan kaum ’Aad. Nabi Shaleh diberi mukjizat seekor unta yang tidak akan habis air susunya walapun diminum oleh banyak orang.

”Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Shaleh. Ia berkata. “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya, dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih“.(QS.Al-Araaf(7):73).

Namun mereka malah melecehkan peringatan Nabi Shaleh as dengan membunuh unta tersebut.

”Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: “Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)”. Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka”.(Q.Al-Araaf(7):77-78).

”Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang”.(QS.Al-Qomar(54):31).

Itulah ganjaran bagi kaum yang tidak mau memperhatikan ayat-ayat Allah SWT dan tidak dapat mengambil pelajaran dari kisah-kisah terdahulu.

”Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat“. (QS.Al-Araaf (7):79).

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”. (QS.Al-Qomar(54):32).

4. Kaum Nabi Syuaib as.

Penduduk Madyan tinggal di wilayah barat laut jazirah Arab, di wilayah antara Tabuk dan selatan Yordania. Penduduk daerah ini selain tidak mau menyembah kepada Allah juga sejak lama telah terbiasa berbuat kejahatan dan kecurangan. Perawakan mereka besar lagi kasar prilakunya. Mereka gemar mengurangi takaran dan timbangan dalam mencari keuntungan berdagang. Ditengah kaum yang seperti inilah Nabi Syuaib diutus. Ia dikenal sebagai seorang yang pandai dan penyantun di kalangan kaumnya. Keluarganya adalah keluarga yang dihormati.

”Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu`aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)”. (QS. Huud (11):84).

”Mereka berkata: “Hai Syu`aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami”. (QS. Huud (11):91).

Penduduk Madyan adalah bukan orang-orang terpelajar. Mereka mengira bahwa kedudukan dan kehormatan di dunia adalah lebih mulia daripada Tuhan, Allah SWT yang telah menciptakan mereka. Oleh karena itu mereka tidak mau dan tidak mengerti apa yang dikatakan Syuaib as. Maka mereka tetap meneruskan kebiasaan buruk mereka hingga akhirnya Allah SWT menjatuhkan hukuman bagi mereka.

”Syu`aib menjawab: “Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu? Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan”.(QS. Huud(11):92).

”Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu`aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya”. (QS. Huud(11):94).

5. Kaum Nabi Luth as.

Nabi Luth as adalah kemenakan Nabi Ibrahim as. Sebagaimana pamannya Luth juga diberi tugas ke-Rasul-an. Ia tinggal di kota Sodom, sebuah kota yang terletak di sebelah selatan Laut Mati. Masyarakat kota ini benar-benar telah tersesat jauh. Merekalah kaum pertama di dunia ini yang mempraktekkan perbuatan homoseksual, sebuah perbuatan yang sungguh hina dan nista.

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?”. Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri”. (QS.AL-A’raaf(7):80-82).

Nabi Luth berulang kali mengingatkan kaumnya agar mereka segera insyaf dan kembali ke jalan yang benar namun mereka malah berusaha mengusirnya, padahal Luth juga telah mengingatkan akan adanya azab Allah SWT yang berat. Luth sungguh merasa tidak berdaya.

”Luth berkata: “Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)”. (QS. Huud(11):80).

Akhirnya Allah SWT mengutus 2 malaikat untuk datang menemui Luth dengan menyamar sebagai manusia lelaki biasa.

”Para utusan (malaikat) berkata: “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?”. (QS. Huud(11):81).

Akan tetapi kaum yang terlaknat ini sungguh telah kehilangan akalnya. Mereka malah berusaha masuk kedalam rumah dan memaksa Luth as agar menyerahkan ke 2 tamunya tersebut. Demikian pula istri Luth as, ia termasuk orang-orang yang zalim.

”Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamunya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku”.(QS.Al-Qamar(54):37).

”Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur, ketika matahari akan terbit”.(QS.Al-Hijr(15):73).

”Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim”. (QS. Huud(11):82-83).

Itulah akhir kaum yang tidak mau menuruti hukum dan aturan-aturan Yang Menciptakannya, Yang Memilikinya, Yang Maha Berkuasa Atas Segala Sesuatu. Dan Allah SWT berkehendak agar kota tersebut menyisakan tanda-tandanya agar dijadikan pelajaran bagi kaum yang berikutnya.

”Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia)”. (QS.Al-Hijr(15):75-76).

Kota itu adalah kota Sodom, yang terletak di sebelah selatan Laut Mati. Yang hingga kini masih meninggalkan sisa-sisanya.

6. Kaum Nabi Musa as.

Nabi Musa as diutus mengajak kaum Fir’aun di Mesir yang selama berabad-abad menyembah dewa-dewa bahkan menganggap Fir’aun adalah Tuhan. Mereka adalah kaum yang amat tersesat dan tidak tahu bersyukur padahal Allah SWT telah menganugerahi negri ini dengan kekayaan yang begitu melimpah. Namun pemimpinnya sangat jahat dan keji.

”Sesungguhnya Fir`aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir`aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS.Al-Qashash(28):4).

Ketika Musa as memperkenalkan diri bahwa ia adalah utusan Allah dan Tuhan yang patut disembah hanyalah Allah SWT mereka malah mengolok-ngolok dengan membangun sebuah bangunan tinggi untuk ’melihat ’ Tuhannya Musa as.

”Dan berkata Fir`aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat, kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”.(QS.Al-Qashash (28):38).

Setelah bertahun-tahun lamanya Nabi Musa mengajak Fir’aun dan kaumnya agar kembali ke jalan yang benar tanpa hasil yang memuaskan akhirnya Musa as memohon agar Allah SWT memberi mereka pelajaran.

”Musa berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir`aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksan yang pedih“. (QS.Yunus(10):88).

Namun meskipun Allah SWT telah memberikan begitu banyak cobaan dan Musa pun telah berulang kali memperingatkan akan adanya azab Allah, Fir’aun dan kaumnya tetap membangkang. Akhirnya Musa as bermunajat agar Allah SWT mendatangkan azab yang pedih.

”Kemudian Musa berdo`a kepada Tuhannya: “Sesungguhnya mereka ini adalah kaum yang berdosa (segerakanlah azab kepada mereka)”. (Allah berfirman): “Maka berjalanlah kamu dengan membawa hamba-hamba-Ku pada malam hari, sesungguhnya kamu akan dikejar dan biarkanlah laut itu tetap terbelah. Sesungguhnya mereka adalah tentara yang akan ditenggelamkan”.(QS.Ad-Dukhan(44):22-24).

Ketika Fir’aun melihat bahwa ajalnya telah hampir tiba ia segera mengakui kesalahan dan bertaubat.

”Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir`aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir`aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami”.(QS.Yunus(10):90-92).

Namun nasi telah menjadi bubur, Allah SWT tidak menerima pengakuan dan taubat orang yang dalam sakratul maut, dimana ia telah melihat azab di pelupuk matanya, dimana ia tidak mempunyai pilihan selain bersaksi bahwa Tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah. Sebaliknya Allah SWT berkenan menjadikan Fir’aun sebagai pelajaran bagi orang-orang yang datang kemudian yaitu dengan menyelamatkan badannya. Saat ini kita dapat menyaksikan jasad Fir’aun yang baru-baru ini ditemukan setelah ribuan tahun lamanya tenggelam di telan air laut. Jasad ini diabadikan di ’Museum of Cairo’, Mesir yang dapat dikatakan masih utuh bahkan pakaiannya hanya sebagian saja yang hancur!

7. Kaum Tubba’.

Kaum Tubba’ dan kaum Saba’ adalah dari keturunan yang sama. Mereka menempati wilayah yang sama pula, yaitu Yaman (lihat bab mengenai ’Kerajaan Ratu Bilqis dan Kerajaan Himyar’). Kaum yang hidup pada zaman Ratu Bilqis disebut kaum Saba’ sedangkan kaum Tubba’ hidup pada masa kerajaan Himyar. Berkat adanya waduk raksasa Ma’rib, daerah mereka subur dan makmur namun dengan hancurnya bendungan tersebut kini Yaman adalah daerah yang tandus, kering dan gersang. Daerah tersebut hanya ditumbuhi sedikit pepohonan, itupun kurang manfaatnya.

Sejarah mencatat bahwa pada sekitar tahun 525 M, raja Himyar yang bernama Dhu Nuwas mempunyai hubungan yang buruk dengan kerajaan Kristen Aksum di Etiopia. Ia melakukan penyerangan terhadap wilayah kerajaan Aksum yang terletak di jazirah Arab, yaitu kota Najran dan Zafar. Mereka membunuhi dan membantai musuh-musuhnya secara kejam dan biadab di kedua kota tersebut.

”Apakah mereka (kaum musyrikin) yang lebih baik ataukah kaum Tubba` dan orang orang yang sebelum mereka. Kami telah membinasakan mereka karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berdosa”.(QS.Adh-Dukhan(44):37).

Akibat kebiadaban tersebut Romawi yang juga penganut Kristen menyerang Himyar hingga akhirnya kerajaan ini takluk dibawah kekuasaan Romawi. Namun beberapa waktu kemudian Abrahah, yang ketika itu adalah salah seorang raja muda kerajaan Aksum berhasil menguasai Himyar. Ia adalah seorang penganut Nasrani penyembah berhala. Raja ini mendirikan sebuah gereja besar di kota Sana’a, ibu kota Himyar. Gereja ini berdiri tinggi menjulang ditaburi dengan batu permata di setiap penjurunya dengan maksud agar dapat menyaingi Ka’bah di kota Mekkah yang ketika itu menjadi pusat pemujaan berhala di semenanjung Arab. Selanjutnya terjadilah persaingan sengit yang menjurus kepada kerusakan sehingga akhirnya Abrahah dengan membawa pasukan gajahnya berangkat ke Mekkah dengan maksud akan menghacurkan Ka’bah. Inilah yang dimaksud pasukan gajah dalam surat Al-Fiil.

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah ? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka`bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”.(QS.Al-Fiil(105):1-5).

Peristiwa ini terjadi pada tahun 570M , yaitu tahun kelahiran Rasulullah (oleh sebab itu tahun tersebut juga dikenal dengan nama tahun Gajah). Suku Quraisy tidak mampu menahan serangan pasukan Abrahah yang kuat. Abdul Muththalib, kakek Rasulullah, sebagai pemimpin ketika itu hanya mampu menyarankan agar sukunya bersembunyi. Ia mengatakan kepada Abrahah bahwa Ka’bah bukan milik suku Quraisy, Sang Pemiliklah yang akan mempertahankannya sendiri.

Setelah itu, orang-orang Quraisy yang bersembunyi di atas gua Hira’ menceritakan bahwa mereka melihat segerombolan burung-burung penyambar muncul dari arah lautan. Masing-masing burung tersebut membawa tiga buah batu, dua batu di masing-masing kedua kakinya dan satu batu lagi di paruhnya. Burung-burung tersebut menjatuhkan batu-batu yang dibawanya ke arah pasukan gajah yang dibawa Abrahah hingga sebagian besar mati. Abrahah sendiri dikabarkan pulang ke negrinya, Yaman dalam keadaan badannya hancur penuh luka bakar dan nanah. Ia tewas beberapa saat setelah tiba di tanah airnya. Dan tak berapa lama kemudian terdengar berita bahwa waduk di negri tersebut ambruk. Berita yang sampai ke Mekkah ketika itu bermacam-macam. Ada yang mengatakan waduk ambruk karena hujan yang turun terus menerus, ada pula yang mengatakan karena gempa namun ada pula yang mengatakan karena adanya wabah tikus yang menggerogoti dasar waduk!

”Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir”. (QS.Saba’(34):15-17).

Read Full Post »

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.(QS.Al-Isra’(17):36).

 Maka sebagaimana layaknya seorang pemimpin yang diangkat dan diberi mandat oleh seseorang, begitupun manusia ia harus mempertanggung-jawabkan apa yang dilakukannya kepada yang memberinya tugas, yaitu Allah SWT, Tuhan sekalian Alam, raja dari segala raja. Ia diberi kebebasan untuk memilih, menjalankan perintah atau malah membangkangnya. Tidak ada paksaannya baginya.

 “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat……” (QS.Al-Baqarah(2):256).

 Disamping kitab petunjuk yang dijamin kebenaran dan keorisinilannya, yaitu Al-Quranul Karim, Allah SWT juga telah membekali manusia dengan akal dan hati untuk dipergunakan.

 “Alif Laam Miim. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS.Al-Baqarah(2):1-5).

 Dan karena kasih sayangnya jualah, Allah SWT tidaklah membebani mahluknya apa yang tidak sanggup diembannya. Sebagai Sang Khalik tentu saja Ia tahu persis apa yang terbaik bagi mahluk ciptaan-Nya tersebut.

 Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya”.(QS.Al Baqarah (2):286).

Namun demikian harus diingat bahwa tugas kekhalifahan yang diamanatkan kepada manusia sangatlah terbatas, yaitu hingga kematian menjemputnya. Dan sayangnya, tak seorangpun mengetahui kapan ia akan mati.

  “Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan?” dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia) dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau. Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al Qur’an) dan tidak mau mengerjakan shalat bahkan ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran) kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong). Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (QS.Al-Kiyamah(75) : 26-36).

 Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda: “Pergunakanlah lima perkara sebelum datang lima perkara, yaitu : Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, kesehatanmu sebelum datang sakitmu, kekayaanmu sebelum datang kemiskinanmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu dan hidupmu sebelum datang matimu”.

 1. Alam Kubur (Barzah).

 “ Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya”.(QS.Qaaf(50):19).

 Ibnul Jauzy menulis bahwa kematian itu lebih pedih daripada sabetan pedang. Orang yang disabet pedang tentu akan berteriak dan melolong mengemis pertolongan dengan sisa-sisa tenaganya. Tetapi orang yang meninggal dunia tidak bisa berteriak lagi karena pedihnya rasa sakit yang dialaminya. Penderitaannya mencapai puncak sehingga hati dan seluruh anggota tubuhnya menjadi lemas. Ruhnya dicabut dari setiap nadi dan setiap anggota tubuhnya secara perlahan-lahan. Pada awal mula dua telapak kakinya terasa dingin, betis, paha lalu terus hingga ke kerongkongan.

 “…..Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata):”Keluarkanlah nyawamu” ………..” (QS.Al-An’aam(6):93).

 Pada saat itu pandangan matanya kepada dunia dan keluarga terputus dan pintu taubat sudah ditutup baginya. Rasulullah bersabda: ”Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba selagi dia belum sekarat”. (HR Tirmidzy).

 Hakikat mati adalah terpisahnya antara jasad dan ruh. Dikatakan orang yang mati akan melihat apa yang tidak dilihatnya selagi masih hidup sebagaimana orang yang terbangun dari tidur yang melihat apa yang tidak bisa dilihatnya saat tidur. Manusia layaknya sedang tidur dan jika mereka mati barulah mereka sadar.Al-Ghazali berkata: “Manusia itu dalam keadaan tidur dan bila ia telah mati terjagalah ia”.

” Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam”.(QS.Qaaf(50):22).

 Ketika seseorang mati, jasadnya akan dikuburkan sebagaimana diperlihatkan kepada Qabil, putra Adam as, bagaimana burung gagak menguburkan bangkai. Kemudian jasad itu sendiri akan hancur dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sedangkan ruh tetap kekal. Ia dapat merasakan siksa maupun nikmat, sebagaimana manusia hidup dapat merasakan berbagai kesenangan dan kegembiraan tanpa tergantung kepada anggota tubuh karena sesungguhnya hatilah yang merasakan segala perasaan tersebut. Perumpamaannya seperti seorang yang bermimpi, baik mimpi buruk maupun mimpi menyenangkan. Dalam mimpi jasmani seseorang tidak terpengaruh oleh mimpinya, ia tetap berada ditempatnya semula. Namun tidak mustahil jika ruh itu dikembalikan lagi ke jasad saat berada di kubur dan juga tidak mustahil andaikan hal itu ditunda hingga hari berbangkit. Wallahua’lam.

 Dari Abdullah Ash-Shan’any, dalam mimpi ia bertemu dan berkata-kata dengan Yazid bin Harun.Yazid berkata : “Demi Allah yang tiada Ilah selain Dia. Malaikat Munkar dan Nakir telah mendudukkan aku dan bertanya kepadaku, “Siapakah Rabb-mu? Apa agamamu? Siapa nabimu?”. Kemudian ketika jawaban Yazid memuaskan kedua malaikat maka merekapun berkata :” Tidurlah seperti tidurnya pengantin dan tidak ada yang mengagetkanmu setelah ini”.

 Rasulullah bersabda : Kubur  itu salah satu dari taman-taman surga atau salah satu dari lubang-lubang neraka”.(HR Bukhary-Muslim).

 Dari Abu Sa’id, Rasululah juga pernah bersabda : “Andaikan kalian banyak mengingat perusak kelezatan-kelezatan, tentu kalian akan sibuk mempersiapkan apa yang pernah kulihat. Maka perbanyaklah mengingat perusak kelezatan-kelezatan yaitu kematian. Tidaklah seorang hamba mendatangi kubur melainkan kubur itu berkata : “Aku adalah rumah yang asing, aku adalah rumah yang sendirian, aku adalah rumah dari tanah, aku adalah rumah yang penuh ulat”. Jika seorang hamba mukmin dikubur, maka kubur berkata, “Selamat datang. Engkau adalah orang yang paling kucintai dari orang-orang yang mendatangiku. Jika pada hari ini engkau dibawa kesini, maka engkau akan melihat apa yang kuperbuat kepadamu”. Maka dia bisa bebas mengedarkan pandangannya dan dibukakan pintu-pintu menuju surga. Jika hamba yang buruk atau kafir dikubur, maka kubur berkata kepadanya, “Tiada kuucapkan selamat datang kepadamu, karena engkau adalah orang yang paling kubenci diantara orang yang berjalan mendatangiku. Jika hari ini engkau datang kepadaku, maka engkau akan melihat apa yang kulakukan terhadapmu”. Maka ia dibaringkan dan tulang-tulang iganya berserakan”. (HR Tirmidzy).

 2. Alam Perhitungan.

 “Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka”(QS.Yaasiin (36):51).

 Ini adalah hari dimana sangkakala ditiup untuk kali kedua, yaitu hari berbangkit, hari dimana manusia kembali dihidupkan untuk mempertanggung-jawabkab apa yang telah mereka kerjakan semasa hidup di dunia. Ketika itu langit terbelah dan bumi memuntahkan segala apa yang dikandungnya termasuk mayat-mayat di dalam kubur sehingga bumipun menjadi kosong. Sedangkan tiupan pertama sebagai tanda berakhirnya hari atau hari Kiamat, suatu hari yang banyak didustakan oleh orang kafir,  telah dilaksanakan sebelum itu.

  “ Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup dan diangkatlah bumi-bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya dengan sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat. Dan terbelahlah langit  karena pada hari itu langit menjadi lemah”. ( QS. Al-Haqqah(13-16)

 Sebagaimana terjadinya penciptaan alam semesta (Big Bang) yang hanya memerlukan waktu yang hanya sekejap mata, begitu pula peristiwa penghancuran alam semesta (Big Crunch). Kedua ayat dibawah ini baru dapat dibuktikan kebenarannya 1400 tahun kemudian, yaitu dengan ditemukannya teori Big Bang dan Big Crunch berkat bantuan teleskop Hubble, pada tahun 1940-an.

 “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”.(QS.Al-Anbiya(21):30).

 “(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya “. (QS.Al-Anbiya(21):104).

Bila pada tiupan pertama semua yang ada akan mati maka sebaliknya pada tiupan kedua semua manusia mulai dari umat zaman nabi Adam as hingga umat akhir zaman akan berbangkit dan dihimpun di padang Masyar.

 Rasulullah bersabda : ”Pada hari kiamat manusia dihimpun di atas tanah putih bersih seperti bulatan yang bening”.(HR Bukhary-Muslim).

Pada hari itu, semua orang keluar dari kuburnya, mereka terbangun dari tidur panjangnya. Tak ada pengecualian, baik yang sedang mengalami siksa kubur maupun yang sedang lelap tertidur bagaikan pengantin. Pada hari itu tidak ada sedikitpun yang dapat disembunyikan, tidak pula segala prasangka yang ada dalam hati.

 “Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada, sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui keadaan mereka”.(QS.Al-‘Aadiyaat(100):9-11).

 Bila kita berpikir secara duniawi, sungguh malu tak terkira akan menghantui semua perasaan manusia. Ketika di dunia Allah SWT berkenan menutupi keburukan-keburukan bisikan hati bagi siapa yang mau memohon dan bila Ia menghendaki dikabulkan-Nya permohonan tersebut. Namun pada Hari Perhitungan tidak seorangpun manusia perduli akan hal orang lain, masing-masing diselimuti rasa ketakutan dan rasa-rasa was-was akan nasib dirinya. Allah SWT memang membebaskan manusia untuk memilih jalannya namun Dia tidak lupa untuk menempatkan para malaikat untuk mengawasi dan mencatat amal perbuatan manusia di dunia.

 “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu) yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS.Al-Infithaar(82):10-12).

 Di alam inilah catatan-catatan tersebut akan dibuka dan diperiksa. Maka tibalah hari pengadilan dimana Allah SWT sebagai Hakim Yang Maha Adil akan memutuskan segala perkara dengan seadil-adilnya.

 Rasullah bersabda : “Pada hari kiamat manusia diadili dengan tiga kali pengadilan; dua kali berupa pengajuan pertanyaan dan penyampaian alasan dan yang ketiga lembaran-lembaran berhamburan lalu ada yang mengambil dengan tangan kanannya dan ada yang mengambil dengan tangan kirinya”.(HR Tramidzy, Ahnad dan Ibnu Majah).

 “(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun”.(QS.Al-Isra’(17):71).

 “Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini),”(QS.Al-Haaqqah(69:25).

 Pada hari itu setiap manusia harus mempertanggung-jawabkan apa yang telah dilakukannya selama hidup didunia, tentang amalnya, tentang hartanya, dari mana ia mendapatkan dan bagaimana ia membelanjakan hartanya tersebut. Kemudian amal itu ditimbang bila amal kebaikannya berat maka dengan izin-Nya ia akan dimasukkan ke surga. Sedangkan bila ringan timbangan kebaikkannya maka masuklah ia ke neraka jahanam.

 “Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan) nya. maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan) nya maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah”.(QS.Al-Qaariah(101:6-9).

 3. Alam Surga dan  Neraka.

 Inilah tempat kembali yang sebenarnya, sebuah rumah tempat kepulangan yang abadi. Karena sesungguhnya kita ini sedang bepergian ke alam dunia dan setiap yang pergi pasti akan pulang dan kembali. Dan sebagaimana seorang ayah yang pulang kerja membawa uang (rezeki), seorang ibu pulang dari pasar membawa hasil belanjaan, maka seorang yang pulang dari duniapun membawa hasil pekerjaan yang dibebankan Tuannya, Allah SWT. Hasil inilah, yang dengan izin-Nya, akan menentukan tempat kembali kita, surga atau neraka. Allah SWT telah menerangkan dengan sejelas-jelasnya peraturan dari permainan-Nya, “The True Game”; barangsiapa yang menaati-Nya, itulah sang pemenang, surga adalah balasannya dan barangsiapa yang mengingkarinya, itulah pecundang, neraka balasannya. Maka tibalah hari Pembalasan yang telah dijanjikan-Nya. Tidak ada yang merasa dirugikan kecuali orang-orang yang semasa hidupnya tidak pernah mau dan tidak pernah sudi memperhatihan ayat-ayat-Nya. Mereka ini adalah orang-orang yang merugi.

 “Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang. Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya dan diperlihatkan neraka dengan jelas kepada setiap orang yang melihat. Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya)”.(QS.An-Naazi’at(79):34-41).

 Tentu saja balasan yang diterima untuk orang yang mau berbakti dan orang yang tidak mau berbakti tidak sama.

 “Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam keni’matan yang besar (surga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh keni’matan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. Dan campuran khamar murni itu adalah dari tasnim (yaitu) mata air yang minum daripadanya orang-orang yang didekatkan kepada Allah. Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman.Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mu’min, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”, padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mu’min. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”.(QS.Al-Muthaffiffin(83:22-36).

 – Alam Surga.

 “Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik, (yaitu) surga `Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka,..” (QS.Shaad (38):49-50).

 Sebagian besar ulama berpendapat bahwa  pintu surga itu ada delapan.  Umar ibnul-Khaththab berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Setiap orang di antara kalian yang setelah berwudhu dengan sempurna lalu membaca Asyhadu Anla Ilaha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadar Abduhu Wa Rasuluh (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku pun bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba sekaligus rasul utusan-Nya), niscaya dibukakan untuknya kedelapan pintu surga. la bisa masuk dari pintu yang mana pun yang ia inginkan.“. ( HR Muslim).

 Abu Bakar bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah setiap orang akan diseru dari pintu-pintu tersebut?” Beliau menjawab, “Benar, dan aku berharap kamu termasuk di antara mereka”.

Pintu surga dibedakan berdasarkan amal kebajikan tiap manusia. Ibnul Jauzi meriwayatkan bahwa ke delapan pintu surga yang disediakan bagi hamba-hamba yang takwa ini adalah pintu Shalat,  pintu Puasa ( pintu ar-Rayyan ),  pintu Zakat dan Sedekah, pintu Haji, pintu Umrah, pintu Jihad, pintu Silaturahmi dan pintu Wudhu.

 Ibnu Majah dalam kitabnya Sunan An Majah meriwayatkan  dari Abdullah bin Abdul Karim, dari Hisyam bin Khalid, dari Khalid bin Yazid bin Abu Malik, dari ayahnya, dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda, “Pada malam aku di-israkan, aku melihat tulisan pada sebuah pintu surga, ‘Satu sedekah dibalas sepuluh kali lipat, dan satu piutang dibalas delapan belas kali lipat.’ Aku bertanya kepada Jibril, “Kenapa memberikan utang itu lebih utama daripada bersedekah?” Jibril menjawab, ‘Karena orang yang meminta itu bisa jadi ia sudah punya. Tetapi, orang yang mengajukan utang itu pasti karena sangat membutuhkan”.

 Namun ada ulama yang berpendapat  pintu surga lebih dari 8 bila ditambah dengan pintu tobat atau  pintu Muhammad. Pintu yang  terkenal dengan sebutan pintu Rahmat ini khusus diperuntukkan bagi orang-orang yang pandai menahan amarah. Disamping itu ada pula ulama yang berpendapat  akan adanya pintu Shalat Dhuha.

 Diriwayatkan oleh al-Ajiri dalam kitabnya An-Nashihat alias Abul Hasan bahwa Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya di surga terdapat sebuah pintu bernama pintu Adh-Dhuha. Pada hari kiamat nanti ada malaikat yang menyeru, ‘Mana orang-orang yang tekun menunaikan shalat Dhuha? Inilah pintu kalian. Masukilah”.

       ” Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”. Dan mereka mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki.” Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal ”. ( QS. Az-Zumar (39): 73-74).

 Berdasarkan ayat di atas, sejumlah ulama berpendapat bahwa ada pintu lain disamping pintu-pintu yang telah disebutkan diatas. Pintu ini dinamakan pintu Takwa. Seperti namanya pintu ini diperuntukkan bagi hamba-hamba Allah yang takwa. Keistimewaan pintu ini dibanding pintu-pintu lain adalah siapapun yang diizinkan masuk  melalui pintu tersebut, mereka bebas memilih tempat di mana saja mereka kehendaki. Tempat kediaman mereka ini adalah surga ’Adn sebagaimana yang diterangkan  dalam surah Shaad ayat 49-50 diatas.

 Abu Isa Tirmidzi meriwayatkan dari Salim bin Abdullah, dari ayahnya bahwa Rasulullah bersabda, “Luas pintu surga tempat masuk umatku adalah sejauh perjalanan pengendara kuda yang sangat bagus selama tiga hari. Kemudian mereka berdesak-desakan memasukinya sehingga hampir-hampir pundak mereka lepas.”

 Sementara itu, surga memiliki beberapa tingkatan namun kenikmatan tertinggi yang dapat dirasakan di tempat ini adalah memandang Wajah Allah Azza wa Jalla, Sang Maha Pencipta, Sang Raja Dari Segala Raja. Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah pernah ditanya seseorang : “Wahai Rasulullah, apakah kita bisa memandang Rabb?”. Beliau menjawab: “Apakah ada yang menghalangi pandangan kalian terhadap rembulan pada malam purnama, ketika tidak terhalang awan?”. “Tidak”. Jawab orang itu. Beliau bersabda: “Begitu pula kalian memandang-Nya pada hari Kiamat”.

 Ini adalah sebuah kehormatan maha besar karena bahkan para nabipun ketika di dunia  tidak memiliki kesanggupan  memandang wajah Allah Azza wa Jalla.

 “Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (QS.Al-‘Araaf(7):143).

  Itulah  Allah, Tuhan sekalian alam, Sang Pemilik langit dan bumi serta segala isinya yang menguasai segala isi hati. Kehormatan dan kesempatan ini hanya diperuntukkan orang-orang beriman yang yakin akan keberadaan-Nya, mengerjakan amal ibadah, melaksanakan perintah serta menjauhi segala larangan-Nya. Dan semua ini dikerjakan  dalam rangka ketaatannya kepada Sang Khalik.

 Namun sesungguhnya fenomena istimewa diatas telah diberikan di dunia khusus kepada umat Muhammad saw walaupun hanya 1 arah. Artinya Allah swt mendekati manusia tanpa manusia itu harus hancur sebagaimana hancur luluhnya gunung pada ayat 143 surat Al-Araf diatas. Yaitu ketika tamu-tamu Allah datang ke padang Arafah untuk melaksanakan ibadah haji. Rasulullah bersabda :“…Ia (Allah) mendekat kepada orang-orang yang di Arafah. Dengan bangga Ia bertanya kepada para malaikat, “Apa yang diinginkan oleh orang-orang yang sedang wukuf itu?”

 Sementara Imam Muslim meriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya tujuh puluh ribu atau tujuh ratus ribu dari umatku masuk surga. Sebagian mereka saling berpegangan dengan sebagian yang lain. Yang pertama di antara mereka tidak mau masuk sebelum yang terakhir di antara mereka masuk. Wajah mereka seperti bentuk rembulan purnama.”

 Semoga kita termasuk satu diantara yang tujuh puluh ribu atau tujuh ratus ribu tersebut, amin ya robbal ’alamin.

 – Alam Neraka.

 Dan apakah neraka itu ?

 Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim”.(QS.Ali Imraan (3):151).

Neraka dalah tempat kembali  orang-orang kafir, musyrik, munafik, orang-orang yang menyombongkan diri, pemimpin yang zhalim, para pezina, kaum homosekual dan lesbian, para pemakan riba dan harta anak yatim-piatu tanpa dasar yang benar, para pembunuh orang mukmin tanpa hak, para pelaku bunuh diri, orang-orang yang meninggalkan shalat, zakat dan puasa tanpa alasan yang dibenarkan agama, orang-orang yang durhaka terhadap kedua orang-tuanya serta orang-orang yang membiarkan dosa-dosa kecilnya bertumpuk tanpa berusaha untuk bertobat dan memperbaikinya.

 ” Allah berfirman: “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala yang sangat enggan melakukan kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat”. (QS.Qaaf(50):24-26).

Dikatakan bahwa neraka  mempunyai 7 buah pintu / tingkatan, yaitu neraka Jahanam, neraka Ladza, neraka Huthomah, neraka Sa’ir, neraka Saqor, neraka Jahim serta neraka Hawiyah.. Masing-masing pintu telah ditetapkan golongan penghuninya.

 ” Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut syaitan) semuanya. Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka. (QS.Al-Hijr(15): 43-44).

 Rasulullah bersabda : Seringan-ringan siksaan penghuni neraka adalah : Apabila seseorang yang memakai terompah dari bara api sehingga menyebabkan otaknya mendidih.( HR Bukhari – Muslim).

 Allah swt telah berulang memperingatkan hamba-Nya, yaitu semua manusia tanpa kecuali bahwa siksa-Nya amatlah keras dan pedih. Dan janji Allah itu pasti akan terjadi karena Allah tidak mungkin menyalahi janji-Nya. Maka hari itu manusia yang  tidak mau dan bahkan tidak memperdulikan peringatan yang diberikan melalui  para Rasul akan menerima akibatnya. Bukan Allah yang berbuat zalim melainkan manusia itu sendiri.

     ” Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nissa’(4):56).

 ” Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa”. (QS.Al-Haqqoh(69):36-37).

 “… Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak keluar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan): “Rasailah azab yang membakar ini”.(QS.Al-Hajj(22):19-22).

Sementara itu ada sebagian hamba yang berada diantara surga dan neraka. Dengan harap-harap cemas mereka menanti keputusan Yang Maha Kuasa atas nasib mereka. Mereka sangat berharap agar pintu surga dibukakan bagi mereka dan sebaliknya pintu neraka di tutup.

 ” Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A`raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga:” Salaamun `alaikum“. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).  (QS.Al-A’raaf(7): 46).

 ” Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata:Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu“. (QS.Al-A’raaf(7):47).

Kemudian terjadilah  percakapan antara penghuni surga, penghuni neraka dan orang-orang yang masih dalam antrian  sebagai berikut : 

  (Orang-orang di atas A`raaf bertanya kepada penghuni neraka): “Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?(Kepada orang mu’min itu dikatakan): “Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati”.(QS.Al-A’raaf(7):49).

 ” Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga:Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir (yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka”. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami”.  (QS.Al-A’raaf(7):50-51).

 Itulah yang terjadi pada hari peradilan. Hari dimana manusia harus mempertanggung-jawabkan apa yang telah dilakukannya, tidak ada kata menyesal bagi siapapun. Karena pintu-pintu pengampunan telah tertutup, layar telah diturunkan dan selesai sudah segalanya. Ini adalah akhir dari permainan, “The True Game” yang diciptakan-Nya.

 “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”(QS.Al-Mukminun(23):99-100).

 4. Keluasan Rahmat Allah.

 “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina”.(QS.Al-Furqon(25): 68 – 69).

 

 Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan api atas orang yang berkata, “La ilaha illallah”, yang dengan perkataan itu dia mencari Wajah Allah”. (HR Al-Bukhary-Muslim). 

Sesungguhnya inilah inti ajaran Islam, ajaran Tauhid. Menyembah hanya kepada-Nya, Sang Khalik yang telah menciptakan langit, bumi dan segala isinya. Dialah tempat bergantung, tempat memohon, tempat mengadu. Tidak ada yang selain Dia, tidak pula yang bersama Dia. Penyembahan mutlak yang dilakukan dengan hati yang ridho’, ikhlas dan tulus hanya kepada-Nya yang bila diikuti dengan amal perbuatan shaleh kelak akan mengantarkan manusia untuk kembali ketempat yang mulia disisi-Nya, yaitu Surga. Sesungguhnya perbuatan syirik, membunuh tanpa alasan yang sesuai syariat dan berzina adalah dosa-dosa besar yang tak terampuni. Allah SWT amat murka dan tidak meridho’i manusia yang berbuat demikian. 

Namun disebabkan kecintaan Allah SWT yang begitu besar kepada manusia maka bila orang yang telah tersesat jauh tersebut mau memohon ampunan yang sebenar-benar ampunan, ampunan dan taubat yang disertai janji bahwa ia tidak ingin dan tidak akan mau mengulangi kesalahan-kesalahan tersebut serta kemudian ia mengerjakan amal saleh maka Allah SWT, Sang Pemberi Taubat akan membukakan pintu maaf dan pintu ampunan-Nya. 

”Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai……………”. (QS.At-Tahrim(66):8).

 Dan berkat kecintaan-Nya pula Allah SWT membalas perbuatan jahat yang dilakukan seseorang dengan balasan yang sama padahal perbuatan baik dibalas-Nya dengan sepuluh kali lipat perbuatan baik tersebut!

 ”Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (QS.Al-An’aam(6):160).

 Demikian pula bila seseorang berniat baik namun belum sempat dilakukannya maka Allah SWT membalasnya dengan satu pahala kebaikan sebaliknya bila seseorang berniat buruk namun belum dilaksanakan maka Allah SWT tidak membalasnya dengan apapun. (Lihat hadis pada bab Mengenal Sang Pencipta melalui ayat–ayat Al-Quran dan As-Sunnah.).

 Namun Allah SWT mengingatkan Dia tidak akan menerima taubat yang dilakukan ketika seseorang dalam keadaan sakratul maut, yaitu saat-saat menjelang kematian ketika tidak ada jalan lain baginya kecuali harus menyerah dan mengakui kesalahan serta terpaksa mengakui ke-Besar-an dan ke-Esa-an-Nya.

 ”Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata: “Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah. Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir”.(QS.Al-Mukmin(40):84-85).

 Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzar ra, dia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Aku mengetahui penduduk neraka yang terakhir keluar dari neraka dan penduduk surga yang terakhir masuk ke surga. Ada seseorang ditampilkan. Allah berfirman :”Enyahkanlah dosa-dosanya yang besar dan lucutilah dosa-dosanya yang kecil”. Kemudian dikatakan kepadanya, “Kamu telah melakukan anu dan anu pada hari anu ”. Orang itu membenarkannya. Dia tidak dapat mengelak sedikitpun. Kemudian dikatakan: ” Setiap keburukanmu menjadi kebaikan”. Dia berkata : ” Ya Tuhanku, aku telah melakukan aneka kesalahan. Namun aku tidak melihatnya dalam catatan amalku ”. Maka Rasulullahpun tertawa hingga terlihat gigi taringnya.” (HR Muslim).

 Hanya berkat rahmat-Nyalah seseorang bisa masuk surga. Karena sesungguhnya sebesar apapun pahala dan amal ibadah seseorang tidak mungkin mampu menebus apa yang telah Allah SWT limpahkan kepada manusia. Bila peradilan yang diberlakukan di akhirat adalah peradilan seperti peradilan yang ada di dunia ini sekalipun peradilan tersebut adalah peradilan yang maha adil dan maha jujur maka sudah pasti malaikat yang sifatnya kaku dan keras itu akan memasukan manusia ke dalam  neraka yang membakar. Namun karena kasih sayang-Nya jua,  bila seseorang memohon ampunan kepada-Nya dan mau bertobat dengan sebenar-benar tobat,  maka Allah SWT pun berkenan memberikan pengampunan-Nya. Itulah yang dimaksud hadis diatas. Orang tersebut adalah penduduk yang terakhir keluar dari neraka dan yang terakhir masuk ke surga.

 “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.Az-Zumar(39):53).

 Demikianlah janji Allah SWT, Sang Maha Pengasih, Sang Maha Penyayang, Sang Maha Pengampun. Ia memberikan harapan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, ampunan yang seluas-luasnya sebagai tanda kasih-sayang-Nya kepada seluruh umat manusia. Allah SWT tidak menghendaki rasa putus-asa menyelimuti hati mahluk yang dicintai-Nya.

Read Full Post »

 “ dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Qur’an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya, dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus” . (QS.Al–Hajj(22):54).

Bersyukurlah  kita sebagai kaum Muslimin karena Allah swt telah berkenan memberikan kita ilmu yang benar, ilmu yang memberikan kita petunjuk kemana harus melangkah, kemana harus memohon pertolongan. Dengan adanya kitabullah, Al-Qur’anul Karim inilah kita menjadi tahu apa sesungguhnya hakekat hidup ini. Segala puji hanya bagi Allah yang telah begitu banyak memberikan kasih-sayangnya kepada kita semua. Dan Rasulullah Muhammad saw yang begitu gigih mengajak kaumnya untuk menuju kepada kebenaran sehingga hingga detik ini ajaran Islam bisa sampai kepada kita dengan izin-Nya, semoga Allah swt senantiasa memberikan balasan tertinggi baginya.

 Namun ilmu yang  benar, sekalipun itu ilmu yang berasal dari –Nya, bila  tidak membuat kita beriman, mempercayai dengan hati yang tunduk patuh serta ikhlas menyerahkan segala hajat keperluan serta mengerjakan perintah dan larangan-Nya, maka sia-sialah ilmu dan pengetahuan tersebut.  Jiwa manusia pada fitrahnya  adalah  bersih. Ini yang menyebabkannya  mampu bersumpah dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan hanya kepada-Nya ia menyembah dan mematuhi  segala  aturan-Nya. Namun dalam perjalanan hidupnya selama di dunia, dibutuhkan daya dan upaya agar ia tetap berada di jalan yang benar.

 Orang-tua dan keluarga adalah bagian terpenting dari perkembangan hidup seseorang. Berikutnya adalah lingkungan, termasuk sekolah serta pergaulannya. 

  Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Tiada anak manusia yang dilahirkan kecuali dengan kecenderungan alamiahnya (fitrah). Maka orang-tuanyalah yang membuat anak manusia itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”.

 Hidup di zaman sekarang memang berat. Padahal fasilitas dan segala kemudahan hidup telah jauh lebih baik dibanding tahun-tahun dimana orang-tua atau nenek-kakek kita hidup. Apalagi bila dibandingkan dengan masa dimana Rasulullah beserta para sahabat hidup. Namun sungguh ironis, bisa kita  lihat secara kasat mata justru mutu akhlak sebagian manusia kacau. Yang hidup berkecukupan dan berlimpah kekayaan tidak memiliki kepedulian sosial, sebaliknya yang hidup kekuranganpun enggan memohon kepada-Nya. Mereka mengerjakan shalat namun prilakunya tidak mencerminkan keislamannya yang mustinya rahmatan lilalamin. Bahkan belakangan ini tidak saja pergaulan bebas muda-mudi yang meraja-lela namun bahkan  pergaulan  sesama jenis  makin menggila!

 Iblis memang telah diberi tangguh siksanya dan ia diberi keleluasaan untuk mengganggu jalannya manusia menuju kebaikkan. Sifat Iblis memang demikian, ia keji dan mungkar. Ia tidak rela menjalani hukuman api neraka seorang diri. Dendam masa lalunya terhadap nenek moyang manusia, Adam as terus membakarnya. Itulah sebabnya ia berusaha sekuat tenaga menyesatkan manusia.

 “Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma`siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,”(QS.Al-Hijr(15):39).

 Sebaliknya bila manusia tetap berpegang teguh pada tali Allah, sesungguhnya Iblis dan bala tentaranya, yaitu syaitan baik dari jenis jin maupun dari jenis manusia tidak akan mampu menggoda dan menjerumuskan manusia. Sesungguhnya godaan syaitan hanya berhasil bila manusia memperturutkan hawa nafsu dan keinginan yang tidak didasari akal dan hati, bukan berdasarkan kebutuhan. Semakin seseorang mempercayai bisikan dan dugaan syaitan maka semakin besar pula pengaruh bisikan dan godaan syaitan tersebut. Allah mengikuti persangkaan hati manusia. Bila ia berburuk sangka pada-Nya dan berbaik sangka pada syaitan maka Allah akan mengabulkan persangkaannya tersebut. Begitupun sebaliknya.

  ”Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”.  (QS.Al-An’am (6):116).     

 Rasulullah saw diutus agar membebaskan manusia dari ketakutan dan ketaklukan kepada yang selain dari Allah swt. Pertolongan, manfaat maupun mudharat hanya bisa datang dan terjadi karena kehendak-Nya. Bahkan ahli sihir, dukun, mantera-mantera, obat-obatan, dokter, kesembuhan dan penyakit, kekayaan dan kemiskinan, rezeki, kebahagiaan maupun kecelakaan semua dapat terjadi karena izin Allah. Allah memberikan akal bagi manusia agar manusia mau mencari ilmu. Dan dengan ilmunya itu manusia harus berusaha bagaimana mencari rezeki, bagaimana agar kita hidup sehat, bagaimana agar hidup bahagia. Namun hasil dari usaha dan upayanya itu Allah yang menentukan.

 Rasulullah bersabda : “Barangsiapa menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka ia harus memiliki ilmunya; barangsiapa menghendaki (kebahagiaan) akhirat, ia harus memiliki ilmunya dan siapapun yang ingin meraih keduanya, maka ia harus memiliki ilmunya. (ilmu keduniaan dan ilmu akhirat)”.

Akhir kata, Rasulullah mengajarkan agar kita senantiasa memohon kepada-Nya agar dijauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat, ilmu yang akhirnya hanya menjadi penghancur diri manusia di akhirat kelak.

 ” Allahumma innii asaluka rizqon thoyyibaan  wa ’ilman naa fi’aan  wa ’amalaan maqbuulaan” 

  Artinya : “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada- Mu rizki yang baik dan  ilmu yang  bermanfa’at  dan amal yang diterima”.

  “Allahumma inni a’udzubika min ’ilmin laa yanfa’ wa qolbin laa yakhsya’ wa du’aain laa yusma’  wa nafsin laa tasyba’

 Artinya : ” Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang tidak berguna, hati yang tidak pernah khusu’(tenang),  doa yang  yang tidak  didengar  dan dari nafsu yang tidak pernah puas

Read Full Post »

“ Hanya  milik  Allah  asmaa-ul  husna,  maka   bermohonlah  kepada-Nya  dengan  menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran  dalam   ( menyebut )   nama-nama-Nya.  Nanti  mereka akan mendapat balasan  terhadap apa  yang telah mereka kerjakan”. (QS.Al-‘Araf(7):180).

 Tiada  kecintaan  yang  lebih  dalam,  lebih  murni  dan  lebih  suci  daripada  kecintaan terhadap Sang Maha Pencipta, Allah SWT.  Bukan  hanya  karena  Dia  telah  memberikan segalanya  kepada  mahluknya  namun  terlebih  karena  Dialah  kita  menjadi  ada. Dia  yang  memberi  kehidupan  hingga  dengan demikian kitapun berkesempatan mengenal-Nya. Dia yang membuat  kita  mengenal  dan  mengetahui  arti  sebuah  kehidupan, Dia  yang  mengajari  segala  kebaikan, kelembutan  dan kasih sayang. Dia yang  mengajari  arti  sebuah  kesabaran sekaligus  ketegasan serta kedisiplinan. Dia yang  tidak pernah bosan  merahmati  mahluknya,  membimbing  serta menunjuki jalan  yang  benar,  jalan  yang  lurus.

 Dia yang  setia setiap  waktu dan senantiasa mau menyediakan  waktu-Nya  untuk  mendengar  keluh  kesah  apapun dan dalam keadaan bagaimanapun hamba-Nya yang datang mengadu. Dan Dia yang  selalu siap  memberikan  maaf-Nya betapapun  besar  kesalahan  dan  kotornya jiwa  ini. Dia Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang, Yang Maha Berkuasa Atas  Segala Sesuatu, Yang Maha Perkasa, Yang Maha  Tinggi, Yang  Maha  Mengetahui,  Yang Maha Adil, Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Mengetahui Yang Ghaib, Yang Maha Melihat , Yang  Maha  Mendengar, Yang  Maha  Kaya, Yang  Maha Mengampuni dan Maha Menerima Taubat. Dia  Yang Memiliki 99 nama yang disebut dan sejumlah nama yang tersembunyi.   Hanya  kepada-Mu lah  semua  mahluk  kembali. Maka  kembalikanlah  kami  kelak  ke  tempat  kembali  yang mulia,  disisi-Mu  Ya Allah,  disisi kekasih-Mu  Muhammad SAW, disisi  para Rasul,  disisi para hamba-Mu yang taqwa, Yang Memuliakan-Mu, Yang Meng-Agungkan Mu.Ya Allah kabulkanlah  permohonan  kami  ini, amin  Ya Robbal  ’Alamin.   

 Sabda Rasulullah : “ Allah SWT  memiliki  Sembilan  puluh Sembilan  nama –  seratus kurang satu  –  tidaklah  menghafalnya kecuali  akan  dimasukkan  kedalam  surga,  Allah  itu  ganjil       ( tunggal )  dan  menyukai  yang  ganjil”. (HR Bukhori –Muslim).

 Rasulullah bersabda : “ Barang siapa yang banyak kesedihan  atau gundah  gulana  lalu berdo’a : “ Yaa Allah sesungguhnya  aku  adalah  hamba-Mu,  anak  hamba-Mu , ubun-ubunku ada pada tangan-Mu, keputusan-Mu berlaku atasku, ketentuan-Mu  adil untukku, aku memohon kepada-Mu dengan semua  nama-Mu  yang  engkau  namakan  kepada-Mu  atau yang  telah  engkau  ajarkan  kepada  seseorang  dari  mahluk-Mu atau  yang  telah  Engka u turunkan  didalam  kitab-Mu  atau nama yang Engkau rahasiakan didalam ilmu ghaib-Mu, jadikanlah  Al-Quran  sebagia  pelipur  lara  hatiku  dan  cahaya dadaku  dan  penghapus  kesedihan  dan  kerisaunku”,  maka pastilah Allah SWT akan menghilangkan kegalauan dan kesedihannya  dan  diberikannya  jalan  keluar”. (HR Ahmad).

  

 

 

1

Ar- Rohmaan Yang Maha Pengasih The Beneficient

2

Ar-Rohiim Yang Maha Penyayang The Merciful

3

Al-Maalik Yang Maha Berkuasa The Sovereign Lord

4

Al-Quddus Yang Maha Suci The Holy

5

As Salam Sang Maha Keselamatan The Source of Peace

6

Al Mu’min Yang Maha Mengamankan Guardian of Faith               

7

Al Muhaimin Yang Maha Merawat  The Protector              

8

Al ‘Aziz Yang Maha Gagah The Mighty

9

Al Jabbaar Yang Maha Perkasa The Compeller

10

Al Mutakabbir Sang Maha Pembesar The Majestic

 

     

11

Al Khaaliq Sang Maha Pencipta The Creator

12

Al Baari’ Sang Maha Penata The Evolver

13

Al Mushawwir Sang Maha Pelukis The Fashioner

14

Al Ghoffar Yang Maha Pengampun The Forgiver

15

Al Qohhar Sang Maha Pengunjuk Kekuatan The Subduer

16

Al Wahhaab Yang Maha Penganugerah The Bestower

17

Ar Rozzaq Sang Maha Penabur Rezeki The Provider

18

Al Fattaah Yang Maha Membuka (Hati) The Opener

19

Al  ‘Alim Yang Maha Mengetahui ; Ilmu The All-Knowing

20

 

Al Qoobidi

 

Yang Maha Mengendalikan / Menahan The Constrictor

 

 

     

21

Al Baasith Yang Maha Memperluas The Expander

22

Al Khoofidi Yang Maha Merendahkan ; Demi Keadilan The Abaser

23

 

Ar Roofi’

 

Yang Maha Mengangkat ; Demi Keadilan The Exalter

 

24

Al Mu’izz Yang Maha Membeningkan The Honorer

25

Al Mudzill Yang Maha Menyesatkan ;

Demi Keadilan

The Dishonorer

26

As Saami’ Yang Maha Mendengar The All-Hearing

27

Al Bashir Yang Maha Melihat The All-Seeing 

28

Al Hakam Yang Maha Menilai The Judge

29

Al ‘Adl Yang Maha Adil The Just

30

Al Lathiif Yang Maha  Lembut The Subtle One

31

Al Khoobir Yang Maha Waspada The Aware

32

Al Haliim Sang Maha Penyantun The Forbearing One

 

     

33

Al ‘Adhiim  Yang Maha Agung The Great One

34

Al Ghofuur Yang Maha Pengampun The All-Forgiving

35

Asy Syakuur Yang Maha Mensyukuri The Appreciative

36

A ‘Aliyy Yang Maha Tinggi The Most High

37

Al Kabiir Yang Maha Besar The Most Great

38

Al Hafiidh Yang Maha Penjaga The Presever

39

Al Muqiit Yang Maha Pemelihara The Maintainer

40

Al Hasiib Yang Maha Membuat Perhitungan The Auditor

 

     

41

Al Jaliil Yang Maha Luhur The Sublime One

42

Al Kariim Yang Maha Mulia The Generous One

43

Ar Roqiib Sang Maha Pembaca Rahasia The Watchful 

44

Al Mujiib Sang Maha Pemenuh Doa The Responsive

45

A Waasi’  Yang Maha Luas The All-Embracing

46

Al Hakiim Yang Maha Bijaksana The Wise

47

Al Waduud Yang  Maha  Penyiram kesejukan The Loving

48

Al Majiid  Yang Maha Penyondong Kemegahan Most Glorious One

49

Al Baa’its Yang Maha Membangkitkan The Resurrector

50

Asy Syahiid Yang Maha Menyaksikan The Witness

 

     

51

Al Haqq  Yang Maha Benar The Truth

52

Al Wakiil  Yang Maha Pemanggul Amanat The Trustee

53

Al Qowiyy Sang Maha Sumber Kekuatan The Most Strong

54

 

Al Matiin

 

Yang Maha Menggenggam Kekuatan The Firm One

 

55

 

Al Waliyy

 

Yang  Maha Melindungi 

 

The Protecting Friend

56

Al Hamid Yang Maha Terpuji   The Praiseworthy

57

Al Muhshiy Yang Maha Menghitung The Reckoner

58

Al Mubdi’ Yang Maha Memulai  The Originator

59

Al Mu’iid Yang Maha Mengembalikan The Restorer

60

Al Muhyi Yang Maha Menghidupkan The Giver of Life

 

     

61

Al Mumiit Yang Maha Mematikan Creator of Death

62

Al Hayy  Yang Maha Hidup The Alive

63

Al Qoyyum Yang Maha Menegakkan The Self Subsisting

64

Al Waajid Yang Maha Menemukan The Finder

65

Al Maajid Yang Maha Mulia  The Noble

 

     

66

Al Waahid Yang Maha Tunggal  The Unique

67

Al Ahad Yang Maha  Esa The One

68

Ash Shomad Yang  Maha Tidak Bergantung The Eternal

69

Al Qodir Yang Maha Menentukan The Able

70

Al Muqtadir  Yang Maha Berkuasa The Powerful

 

     

71

Al Muqoddim Yang Maha Mendahulukan  The Expediter

72

Al Mu’akhkhir Yang Maha Mengakhirkan The Delayer

73

Al Awwal Yang Maha Permulaan The First

74

Al Aakhir Yang Maha Akhir The Last

75

 

Adh Dhohir

 

Yang Maha Jelas dan Menjelaskan The Manifest

 

76

Al Bathin Yang Maha Ghaib The Hidden

77

Al Waaliy  Yang Maha Memberikan The Governer

78

Al Muta’aaliy Yang Maha Meninggikan Most Exalted

79

 

Al Barr 

 

Sang Pembawa Kebaikan

 

Source of All Goodness

80

 

Al Tawwaab

 

Yang Maha Penerima Tobat

 

Acceptor of Repentance

 

     

81

 

Al Muntaqim

 

Yang Maha Menetapkan Batasan The Avenger

 

82

Al ‘Afuww Yang Maha Pemaaf The Pardonner

83

 

Ar Ro’uuf 

 

Sang  Maha Pemancar Kasih Sayang The Compassionate

84

 

Maalikul Mulk

 

Yang Maha Mempunyai Kerajaan Eternal Owner of Sovereignity

85

 

Dzul Jalaal wa wal ikrom Yang Maha Memiliki Kebesaran serta Kemuliaan Lord of Majesty and  Bounty

86

Al Muqsith Yang Maha Menyeimbangkan The Equitable

87

Al Jaami’ Yang Maha Menghimpun The Gatherer

88

Al Ghoniyy Yang Maha Kaya The Self Sufficient

89

 

Al Mughniy

 

Yang Maha Menganugerahi Kekayaan The Enricher

 

90

Al Maani’ Yang Maha Mencegah The Preventer

 

     

91

Adh Dhaarr Yang Maha Memberi Derita The Distresser

92

An Naafi’ Yang Maha Pemberi Manfaat The Propitious

93

An Nuur Yang Maha Bercahaya The Light

94

Al Haadii Yang Maha Pemberi Petunjuk The Guide

95

 

Al Badii’

 

Yang Maha Pencipta Keindahan  The Incomparable

 

96

Al Baaqi Yang Maha Kekal The Everlasting

97

 

Al Waarits

 

Yang Maha Mewarisi  Segala Hal Supreme Inheritor

 

98

Ar Rosyiid Sang Maha Penabur Petunjuk Guide to Right Path 

99

Ash Shobuur  Yang Maha Sabar The Patient

Read Full Post »

1.  Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir oleh M.Nasib Ar-Ri’fai.

2.  Tafsir Al Misbah oleh M.Quraish Shihab.

3.  Terjemah Departeman Agama : Quran Player 2.0.

4.  Minhajul Qashidin oleh Ibnu Qudamah.

5.  Kepribadian Dai oleh Dr Irwan Prayitno.

6.  Kepribadian Muslim oleh Dr Irwan Prayitno.

7.  Intisari  Ihya’ ‘Ulumuddin Al-Ghazali oleh Sa’id Hawwa. 

8. Sirah Nabawiyah oleh Dr. M. Sa’id Ramadhan Al-Buthy.

9. Al Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Alam oleh Prof.Achmad Baiquni, MSc.PhD.

10. Menyingkap Rahasia Alam Semesta  oleh Harun Yahya.

11.Jiwa Manusia dalam sorotan Al-Quranoleh  DR. Muhammad ‘Utsman Najati.

12. Kecerdasan Emosi dan Spiritual oleh Ary Ginanjar Agustian.

13. Sejarah Islam Sejak zaman Nabi Adam hingga Abad XX oleh Ahmad al-Usairy.

14.Teori Darwin dalam Pandangan Sains&Islam oleh Drs. Rosman Yunus, M.A.Ed dkk. 

15. Hegemoni Kristen-Barat (dalam studi Islam di perguruan tinggi) oleh Adian Husaini.

16.Yerusalem Satu kota tiga iman oleh Karen Amstrong.

17.Munculnya Ya’juj dan Ma’juj di Asia oleh Syaikh Hamdi bin Hamzah Abu Zaid.

18. Cassell’s Atlas of  World History  by Barry Cunliffe.   

19. Wikipedia, the free encyclopedia ; www.wikipedia.org

20. Berbagai media cetak seperti majalah dan surat kabar.

21. Kajian di STID Al-Hikmah Mampang, Jakarta.

22. Berbagai Majelis Taklim.

Read Full Post »

« Newer Posts