Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Novel ‘Seberkas Cahaya Di Palestina’ ( base on true story)’ Category

Tanpa terasa waktu cepat berlalu. Tiga bulan lamanya aku berada di Palestina. Banyak pengalaman dan pelajaran berharga yang kudapatkan. Aku sungguh bersyukur  ketika itu cepat memutuskan bergabung dengan lembaga masyarakat yang bergerak dalam bidang bantuan  kesehatan bagi para korban perang ini. Rasanya banyak yang belum aku lakukan dan korbankan demi menegakkan ajaran-Nya. Aku tidak ada apa-apanya dibanding para mujahid yang dengan gagah berani rela mengorbankan jiwa dan raganya.

Suatu hari Mahmud memperkenalkanku dengan salah satu kenalannya. Ia adalah seorang doktor lulusan universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Ia khusus datang mengunjungi para relawan di kamp-kamp Palestina untuk memberikan dorongan. Dr Ibrahim yang bernama asli David Gray ini adalah teman lama Mahmud ketika mereka masih mukim di New Jersey, Amerika Serikat. Aku sempat berbincang-bincang lama dengannya.

Darinya aku mengetahui bahwa universitas tempat ia menimba ilmu keislaman menyediakan beasiswa bagi siapa yang berminat. Aku segera mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan keperluan tersebut seperti persyaratan, orang-orang yang dapat aku hubungi dan sebagainya.

***

Sepulangku dari Palestina, aku segera menyampaikan keinginanku kepada uztad Abdullah pembimbingku di pesantren untuk kuliah di universitas Madinah. Aku juga menceritakan kepadanya bahwa aku telah memiliki keterangan lengkap mengenai perguruan tinggi tersebut lengkap dengan keterangan mengenai beasiswa yang dikeluarkan mereka. Dengan penuh antusias uztad Abdullah menyambut gembira keinginanku tersebut.

Beberapa minggu kemudian dengan bantuannya aku berhasil mendapatkan beasiswa yang sangat kuharapkan tersebut. ” Alhamdulillah”, pujiku. Aku mendapat bimbingan kilat khusus bahasa Arab percakapan dari teman uztad Abdullah yang pernah lama menetap di Madinah. Aku terpaksa berhenti menjadi sopir angkot karena waktunya sangat mendesak. Aku bersyukur para guru, pembimbing dan bahkan teman-teman di pesantren dapat memaklumi kesibukan baruku itu.

Setelah semua keperluan administrasi lengkap baik untuk urusan perkuliahan maupun urusan tiket, paspor berikut visanya akupun menyempatkan diri menulis surat untuk kedua orang-tuaku dan juga tante Rani.

Yang tercinta ayah, ibu dan tante Rani.

Alhamdulillah sekembaliku dari Palestina beberapa minggu yang lalu aku dalam keadaan baik dan sehat. Semoga begitu juga keadaan ayah, ibu dan tante.

Kali ini aku ingin mengabarkan bahwa aku mendapatkan beasiswa untuk belajar dan menuntut ilmu keislaman di salah sebuah universitas terbaik di Madinah, Arab Saudi. Walaupun kepercayaan kita sekarang untuk sementara tidak sama namun aku tetap memohon doa restu kalian bertiga. Rencana aku akan berangkat Senin depan ini.

Dengan memperdalam kepercayaan baruku di tempat lahirnya, aku akan membuktikan  bahwa Islam bukanlah agama teror sebagaimana yang sering diisukan pihak Barat.

Salam,

Mada.

***

Universitas Islam Madinah adalah sebuah universitas Islam tertua di Saudi Arabia, yang sering didatangi oleh utusan berbagai negara. Perguruan tinggi Islam yang letaknya  tidak  seberapa jauh dari Masjid Nabawi ini terdaftar memiliki mahasiswa asal Indonesia lebih banyak dibandingkan dengan mahasiswa yang belajar di Universitas Saudi lainnya. Data terakhir menunjukkan jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di universitas ini lebih dari 130 orang.

IUM ( Islamic University of Madinah ) memiliki lima fakultas yaitu fakultas Syariah, fakultas Dakwah dan Ushuluddin, fakultas Al-Qur’an dan Dirasah Islamiyah, fakultas Bahasa Arab, dan fakultas Hadits dan Dirasah Islamiyah. Aku mulanya tidak tahu harus memilih fakultas yang mana. Namun berkat bimbingan dan arahan teman-teman baru Indonesiaku di tempat ini, akhirnya aku memutuskan untuk belajar di fakultas Al-Quran dan Dirasah Islamiyah.

Selama aku menuntut ilmu di Madinah ini, aku akan menempati sebuah kamar berdua dengan seorang teman yang juga dari Indonesia di asrama mahasiswa yang didominasi oleh mahasiswa dari Asia Tenggara. Sementara itu untuk sekedar menambah uang saku, aku telah didaftarkan teman sekamarku, Sofyan, sebagai pegawai tak tetap di sebuah biro perjalanan haji dan umrah yang berpusat di Paris, Perancis.. Tugasku nantinya adalah menjadi sopir cadangan bila sewaktu-waktu sopir yang sebenarnya berhalangan hadir. Tentu saja aku akan didampingi seseorang yang mengenal baik liku-liku jalan di kota Madinah ini karena aku masih baru di kota ini.

Namun begitu aku juga bertanya-tanya mengapa aku yang dipilih? Ternyata karena aku menguasai bahasa Perancis jadi sewaktu-waktu nanti bisa jadi tugasku akan merangkap menjadi sopir sekaligus penerjemah bagi jamaah asal negrinya Zinedin Zidane ini. Sungguh aku bersyukur atas semua berkah dan kemudahan yang dilimpahkan-Nya kepadaku.

Hari-hari  pertamaku ketika aku menginjakkan kaki di kota Rasulullah ini aku pergunakan untuk ziarah ke makam Rasulullah saw. Di  luar dugaanku sama sekali ternyata makam ini terletak di dalam masjid Nabawi, masjidnya Rasulullah yang merupakan masjid  tertua di Madinah diluar masjid Quba. Tanpa kesulitan kita akan tahu persis letak makam tersebut karena makam yang diapit dua sahabat terbaik Rasulullah itu, yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khatab, dinaungi kubah yang berbeda dengan kubah lainnya. Kubah ini berwarna hijau tua. Arealnya disebut  Raudhah.

Berdasarkan data yang kudapat, Masjid Nabawi yang luasnya  98.000m2 ini mampu menampung sekitar 167.000 jemaah dilantai dasar dan sekitar  90.000 jemaah di lantai atas. Sementara apabila ditambah dengan halaman masjid, sekitar 650.000 jamaah bisa tertampung pada hari-hari biasa dan lebih dari 1.000.000 jamaah pada musim haji atau bulan Ramadhan. Untuk pengaturan udara dalam masjid yang sangat luas ini dibangun 27 ruang terbuka disamping  9 buah atap berbentuk kubah yang dapat dibuka dan ditutup secara  otomatis.

Masjid megah yang seluruh pintu-pintunya dilapisi emas ini mempunyai 10 buah menara termasuk 2 menara besar yang mengapit pintu gerbang utama. Sementara itu pada ketinggian 87m dipasangi sinar laser yang memancarkan cahaya kearah Mekah sejauh 50 km untuk menunjukan arah kiblat dan dinyalakan pada waktu tertentu terutama di waktu-waktu  shalat.

Demi memanjakan jamaah pula, pihak kerajaan Arab Saudi yang bertanggung-jawab atas lancarnya penyelenggaraan haji dan umrah bagi jamaah yang datang dari berbagai sudut dunia ini mengalirkan air zam-zam dari Mekah ke Madinah yang jaraknya sekitar 450 km. Disamping itu kerajaan juga membangun tempat parkir mobil dibawah masjid untuk lebih dari 10.000 mobil dengan jalan akses langsung ke luar kota Madinah sehingga tidak mengganggu lalu lintas sekitar masjid.

.***

Aku sangat menyukai suasana kampus baruku.  Jika tidak ada keperluan mendesak yang mengharuskanku harus tetap di kampus ketika azan berkumandang, aku pergi ke masjid Nabawi untuk melaksanakan kewajiban shalat 5 waktu secara berjamaah. Jarak yang lumayan dekat antara keduanya memungkinkanku melaksanakan hal tersebut. Kebetulan pula asramaku terletak di dalam area yang sama dengan kampus. Begitu pula dengan materi kuliah, dosen dan teman-teman yang semuanya menurutku menarik. Bahkan baru 1 bulan aku kuliahpun aku sudah dapat merasakan manfaat langsung dari kuliahku disini.

Mata pelajaran yang paling aku sukai adalah Sirah Nabawiyah, yaitu sejarah tentang Rasulullah Muhammad saw. Pribadi beliau memang benar-benar cerminan Al-Quran berjalan. Bahkan semenjak kecilpun pribadi itu telah terlihat jelas. Rupanya Allah swt memang telah mempersiapkannya sebagai  calon nabi besar.

“ Penduduk Mekah jauh sebelum Rasulullah dilahirkan sebenarnya telah mengenal Allah sebagai Pencipta Alam Semesta dan isinya. Mereka bahkan juga percaya bahwa rezeki yang mereka terima adalah dari Allah, Tuhan mereka. Namun sayangnya mereka menduakan Allah dengan sesembahan lain, yaitu berhala-berhala Hubal, Latta dan Uzza. Mereka menyembah dan memohon kepada berhala-berhala itu disamping kepada Allah walaupun dengan dalih hanya sebagai perantara. Itu sebabnya mereka dinamakan kaum Musyrik atau kaum yang syirik. Nah.. di tengah kaum yang seperti itulah Muhammad dilahirkan “,ujar Syeikh Al-Qathan, seorang professor asli Saudi yang mengajar pelajaran Sirah Nabawiyah.

Pada zaman itu hampir semua pemuda terbiasa hidup berfoya-foya, bermabuk-mabukan, berjudi dan bermain-main dengan perempuan. Namun Muhammad remaja tidak pernah tertarik untuk ikut-ikutan melakukan semua perbuatan tersebut. Bahkan untuk sekedar kongkow-kongkowpun ia tidak mau. Menurutnya hal itu hanya membuang-buang waktu percuma ”, lanjutnya.

Ia berhenti sebentar untuk memberi kesempatan salah satu mahasiswa yang mengangkat tangannya  untuk bertanya.

Bisakah keadaan ketika itu disamakan dengan keadaan sekarang ini, prof? Bukankah saat inipun banyak orang yang mengaku menyembah Allah namun tetap percaya kepada ramalan, tukang tenung, sihir, dukun dan lain-lain. Perlakuan merekapun banyak yang buruk. Korupsi dimana-mana, perzinahan merajalela bahkan orang yang jujur dan baikpun  dianggap aneh “, tanya seorang siswa asal Korea.

Ya, betul sekali “, jawab prof. “ Keadaan ketika itu bisa dibilang sama dengan keadaan sekarang ini. Bedanya mungkin kalau zaman dahulu orang yang terang-terangan ingin menjadi pengikut Rasulullah, ingin memurnikan agama dengan hanya menyembah kepada Allah, ia akan disiksa seperti halnya Bilal, Amar dll maka orang pada zaman  sekarang tidak mengalami hal seburuk itu lagi ”, jawabnya mantap.

Secara tidak sengaja tiba-tiba kejadian pahit di kamarku nyaris setahun yang lalu terlintas di kepalaku. Namun aku memilih untuk diam. Biarlah  kenangan buruk itu tetap berada di benakku. Lagipula bila dibanding penderitaan para sahabat di masa lampau kejadian tersebut tidak ada apa-apanya.  Tetapi aku juga tiba-tiba teringat bahwa orang-orang yang tinggal di bekas jajahan Rusia seperti Tajikistan, Turbekiztan dan lain-lain beberapa  tahun yang lalu masih mengalami perlakuan buruk bila pemerintah komunis tersebut mendapati ada penduduknya yang ketahuan beragama Islam apalagi bila kepergok sedang menjalankan shalat!

“ Suatu hari saking seringnya melihat teman-temannya keluar malam, Muhammad muda akhirnya tergoda juga untuk pergi menyaksikan sebuah pertunjukkan hiburan di malam hari. Karena tidak terbiasa tidur larut malam sementara ia khawatir mengantuk ketika sedang menonton pertunjukkan maka  Muhammadpun memutuskan  sore itu pergi tidur terlebih dahulu. Namun apa yang terjadi? Muhammad tidak terbangun hingga keesokkan harinya sehingga ia batal  menonton pertunjukkan  malam itu “.

“ Karena  penasaran, esoknya Muhammad melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Hingga 3 hari berturut-turut ia melakukan hal itu namun selalu berakhir sama yaitu tertidur. Akhirnya Muhammad sadar bahwa ia memang tidak  diperbolehkan melakukan hal buruk yang biasa dilakukan para teman-temannya itu. Maka sejak saat itu Muhammad tidak pernah lagi memiliki keinginan untuk melakukan hal yang tidak bermanfaat”.

***

Hari ini ada pelajaran Fikih Dakwah. Mata pelajaran ini mengajarkan bagaimana caranya mengajak  seseorang agar mau mengikuti petunjuk Allah dalam melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah. Terus-terang aku menyukai semua pelajaran yang diberikan kampus ini. Karena apa yang diajarkan selalu disertai dalil-dalil yang kuat, baik berdasarkan Al-quran maupun hadis.

Dan tak pelak lagi, Rasulullah adalah betul-betul contoh yang amat mulia. Dalam berdakwah tidak pernah Rasulullah memaksakan kemauan dan kehendak pribadinya. Hebatnya lagi, para sahabatpun tidak pernah berusaha mendebat bila perintah tersebut bersumber  dari Al-Quranul Karim.

Pada suatu hari dalam salah satu perang besar, yaitu  perang Badr dikisahkan bahwa Rasulullah memerintahkan pasukannya untuk berhenti di suatu lokasi tertentu “, demikian prof Syeikh Yusuf Nasruddin memulai penjelasannnya.” Ketika itu salah satu sahabat bertanya apakah perintah tersebut merupakan wahyu Allah atau ijtihaj Rasulullah. Ketika Rasul menjawab bahwa itu adalah ijtihaj Rasulullah sebagai manusia biasa maka sahabat tersebut dengan sopan mengatakan bahwa berdasarkan pengalaman perangnya berhenti di tempat sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah adalah kurang tepat. Ia mengusulkan tempat lain sebagai strategi perang bila ingin memenangkan peperangan. Maka dengan bijaksana setelah dipikirkan kembali bahwa hal itu adalah benar Rasulpun  meralat keputusannya dan mengikuti usul sahabat tadi. Rasul sama sekali tidak berpendapat bahwa hal tersebut dapat menurunkan kewibawaannya. Dan yang terjadi memang  sebaliknya. Para sahabat justru makin menghormatinya”, lanjut prof.

Rasulullah adalah seorang pribadi yang lembut dan penuh perhatian. Bila ada salah satu jamaah yang terbiasa shalat bersama tiba-tiba tidak hadir beliau akan menanyakan keadaannya. Dan bila ternyata orang itu sakit beliau akan menjenguknya. Begitu pula terhadap musuh yang membencinya. Beliau tidak pernah dendam terhadap musuh yang sering menyakitinya. Beliau bahkan mendoakan orang tersebut agar Allah swt mau mengampuni dan memberinya petunjuk serta hidyah. Inilah rupanya salah satu kunci keberhasilan dakwah Islam “, prof meneruskan penjelasannya setelah berhenti sejenak untuk meneguk air dalam gelasnya.

Penaklukan kota Makkah adalah salah satu buktinya. Makkah dikepung ketika pasukan Islam pimpinan Rasulullah sedang kuat-kuatnya. Dengan kekuatan besar tersebut tak syak lagi Makkah pasti dapat dihancur leburkan apalagi sebagian besar pasukan ketika itu adalah penduduk Makkah yang pernah diusir keluar dari kota tersebut dengan cara amat zalim. Namun kenyataannya hanya 4 orang  saja yang dihukum mati. Itupun dengan pertimbangan karena kejahatan mereka sudah melampaui batas. Sedangkan yang lain dibebaskan bahkan Abu Sufyan yang tadinya juga begitu memusuhi Islam mendapat kehormatan bahwa siapapun yang masuk ke rumahnya terbebas dari hukuman. Begitupun istrinya“, ujar  prof sambil mengeluarkan lap kacamata dan membersihkan kecamatanya yang tebal itu.

“ Padahal perempuan ini pernah mengaduk-ngaduk isi perut Hamzah bin Abu Thalib, paman Rasulullah yang syahid dalam perang Badar. Dengan penuh kebencian istri orang terpandang Qurasy ini mengambil hati Hamzah untuk dikunyah dan  ditelannya mentah-mentah! Dendamnya begitu membara karena kedua anak lelakinya terbunuh oleh paman Rasul yang terkenal gagah berani tersebut  dalam peperangan melawan  Islam. Ini yang membuat perempuan bernama Hindun Binti Uthbah berlaku seperti orang kerasukan  setan!”, terus prof.

“ Namun mengapa ia bisa bebas dari hukuman mati ? “, tanyaku keheranan.

“ Karena ia menyesal dan mengakui perbuatan biadab tersebut disamping waktu itu ia memang belum mengenal ajaran Islam. Setelah itu ia benar-benar bertaubat dan  berjanji tidak akan lagi berbuat keji. Dan ini memang terbukti benar. Sejak ia masuk Islam pasca penaklukan Makkah ia berubah menjadi muslimah yang shalehah”, jawab prof.

Aku hanya bisa diam termangu mendengar jawaban tersebut.

“ Meski begitu mengapa Barat selalu menganggap bahwa Islam adalah agama pedang, agama yang menurut  mereka disebarkan dengan cara  kekerasan ? “, tanya Ali, mahasiswa Mesir yang duduk paling belakang tanpa dapat menutupi rasa keingin-tahuannya yang tinggi.

Sebenarnya isu yang dihembuskan Barat itu hanyalah bagian dari provokasi mereka. Mereka tidak ingin Islam maju dan berkembang. Sebenarnya mereka sangat takut akan kekuatan dan persatuan Islam. Cobalah pelajari sejarah dunia dan sejarah Islam khususnya. Sejak Islam lahir 1400 tahun yang silam, sebetulnya baru belakangan ini saja Barat dapat mengungguli Islam. Itupun karena umat Islam saat ini tidak lagi bersatu disamping juga karena umat Islam belakangan ini malas dan tidak lagi memegang ajaran dengan teguh “, terang prof Yusuf setengah mengeluh.

Selama 23 tahun dibawah kepemimpinan Rasulullah saw, yaitu pada periode Madinah tercatat telah terjadi kurang lebih 20 perang besar. Berdasarkan penelitian yang dilakukan seorang sejarawan bernama Dr. Muhammad Imarah ternyata jumlah korban yang jatuh selama itu hanyalah 386 orang saja, baik dari pihak Muslim maupun pihak musuh. Itupun dengan catatan Rasulullah melarang membunuh kaum perempuan, anak-anak, orang tua yang sudah uzur dan bahkan membakar pepohonan bila tidak ada manfaatnya. Bandingkan dengan perang saudara antara Katholik vs Protestan yang terjadi selama 30 tahun antara 1618-1648. Perang ini menelan korban jiwa 10 juta orang! Menurut Voltaire, seorang filsuf Perancis yang hidup antara tahun 1694-1778 jumlah tersebut sama dengan jumlah 40% penduduk Eropa Tengah pada abad pertengahan”, lanjut prof  penuh semangat.

Bandingkan juga dengan  jumlah korban yang tewas paska lahirnya UU Indian Removal Act tahun 1830 yang menyebabkan 70.000 orang Indian tewas dan terusir dari tanah airnya sendiri. Atau bandingkan dengan jumlah korban bom atom di Hirosima dan Nagasaki pada tahun 1945 oleh Amerika Serikat dibawah pimpinan Presiden F.D. Rosevelt yang katanya menjunjung tinggi nilai HAM. Dalam waktu hitungan sekian menit peristiwa biadab ini menelan korban tewas 140 ribu penduduk tak berdosa Hirosima dan 70 ribu penduduk Nagasaki. Belum lagi korban cacat akibat radiasi kimianya yang dampaknya lebih  berbahaya lagi dari sekedar kematian!”, kata prof menutup uraiannya sambil melihat jam tangannya. Tak lama kemudian bel berbunyi tanda waktu istirahat tiba.

***

Read Full Post »

Hari ini hari Jum’at, hari libur bagi rata-rata negara Timur Tengah.  Namun demikian suasana kampus tidak banyak berbeda dari suasana hari-hari biasa. Bedanya bila pada hari biasa adalah sekitar ruang belajar-mengajar  yang ramai maka pada hari Jumat adalah areal sekitar masjid kampus yang ramai. Biasanya para mahasiswa yang tinggal di asrama dan apartemen sekitar kampuslah yang memadati areal ini. Banyak kegiatan yang mereka lakukan sebelum shalat Jumat dimulai.

Untuk menghindari kejenuhan kuliah para mahasiswa biasanya memanfaatkan hari tersebut dengan berbagai kegiatan olahraga. Kegaduhan sudah terlihat begitu shalat subuh selesai. Kegiatan olah-raga tertutup dipusatkan di Ruang Serba Guna yang letaknya tidak terlalu jauh dari lokasi Masjid. Banyak fasilitas yang terdapat di ruang ini. Ada futsal, pingpong, bulu-tangkis, tinju, karate dan lain-lain. Sedangkan bagi yang menyukai kegiatan olah-raga di ruang terbuka, pihak kampus menyiapkan lapangan sepak bola, lapangan tenis juga jogging track dengan kwalitas yang sangat baik.

Sementara banyak pula mahasiswa yang memilih mengikuti acara kajian khusus dengan materinya yang beragam. Acara ini boleh diikuti umum dan biasanya diselenggarakan di kelas-kelas kecil di ruang bawah tanah Masjid. Untuk membahas masalah-masalah sosial dan politik nasional maupun internasional yang sedang hangat terjadi biasanya mahasiswa mendatangkan tamu khusus dari luar kampus.

Selesai melakukan berbagai kegiatan di atas, para mahasiswa termasuk aku biasanya melakukan kegiatan pribadi sehari-hari seperti mencuci pakaian, memasak dan  berbelanja sebelum azan shalat Jumat dikumandangkan,.

***

Tanpa terasa 6 bulan telah berlalu ketika suatu hari aku terkejut menerima sepucuk surat dari Jakarta. Agak terkejut aku dibuatnya karena setahuku aku tak memberitahukan alamatku selama aku berada di Madinah kepada siapapun. Namun aku senang karena surat itu ternyata dari tante Rani. Dengan nekat ia hanya menuliskan nama panjangku beserta kewarnegaraanku dan alamat universitas dimana aku kuliah di atas amplopnya. Alhamdulillah bisa sampai, pikirku.

Dengan terburu-buru aku segera membuka  surat tersebut. Hatiku berdebar kencang, menduga-duga apa yang menyebabkan tante Rani yang selama ini tidak pernah membalas surat-surat yang kukirimkan tiba-tiba mengirim surat.

Jakarta, Desember 2007.

Mada  anakku,

Pasti kau terkejut menerima surat ini. Tante  nekat mengirim surat ini ke alamat kampus yang tertera di suratmu yang terakhir kau kirimkan beberepa waktu lalu. Maaf baru kali ini tante membalasnya. Bagaimana kabarmu ? Tante harap kau baik-baik saja dan selalu dalam lindungan Allah swt, amin.

Mada, ada dua hal penting yang ingin tante sampaikan padamu. Yang satu kabar baik sementara yang lain kabar buruk

Kabar baiknya, berkat doamu yang tulus akhirnya tante menyadari kesalahan tante. Dari semula tante tahu, kau adalah anak baik dan  jujur. Pikiranmu  bersih dan jauh dari prasangka buruk. Tante yakin itulah sebabnya Allah swt memilihmu untuk mendapatkan hidayah-Nya.

Ketahuilah Mada, beberapa hari yang lalu, mengikuti jejakmu tante telah bersyahadat di depan imam masjid Istiqlal untuk menyatakan keislaman tante.

( Masya Allah, pujiku dengan dada sesak menahan emosi. Aku langsung bersujud  syukur kepada-Nya , Terima-kasih Ya Allah Ya Tuhanku… telah kau kabulkan salah satu doaku, bisikku lirih).

Keputusan tersebut tante ambil setelah berbulan-bulan lamanya mencari keterangan dari berbagai sumber yang pantas dipercaya. Surat-suratmu adalah yang merupakan pemicu semua itu, terima-kasih anakku. Alhamdulillah.

Sedangkan kabar buruk yang ingin tante sampaikan adalah mengenai kedua orangtuamu. Sejak surat yang kau kirim mengenai keberangkatanmu ke Tepi Barat beberapa bulan yang lalu, ayahmu terus uring-uringan. Ia menyalahkan ibumu yang dianggapnya tidak dapat mendidikmu dengan baik. Ia makin sering pulang larut malam dalam keadaan mabuk dan dalam keadaan setengah sadar sering memukuli ibumu. Aku benar-benar kasihan pada ibumu.  Sebenarnya aku ingin sekali menasehatinya agar minta cerai saja. Bagaimana menurut pendapatmu, salahkah tante?

Mada anakku,

Masih ingatkah kau dulu sering bertanya padaku mengapa  ibumu tidak terlihat menyayangimu? Bahkan kau merasa bahwa kau hanyalah seorang anak angkat.. Sekarang kau sudah dewasa. Jadi tante rasa tidak ada lagi yang perlu disembunyikan darimu.

Ketahuilah olehmu nak, ibumu melahirkanmu pada  usia yang masih belia. Ia menikah dengan ayahmu karena terlanjur hamil dirimu. Ketika itu ayahmu yang usianya jauh lebih tua dari ibumu dalam keadaan mabuk menggauli ibumu. Sebenarnya ibumu mencintai ayahmu yang waktu itu memang merupakan sepasang kekasih namun ia tidak pernah menyangka dan sama sekali berharap bahwa ayahmu melakukan hal buruk yang sungguh memalukan tersebut. Ia selalu bermimpi bahwa perkawinan adalah sesuatu yang suci dan sakral.

Itulah sebabnya ibumu mulai kehilangan rasa cinta, simpatik sekaligus kasih sayang pada ayahmu justru pada awal pernikahan mereka. Sungguh ironis….

Maafkan tante Mada, bila hal ini menyakitkanmu namun itulah kenyataannya. Namun tante yakin di dalam hati ibumu yang paling dalam pasti tersimpan kasih sayang  yang teramat besar padamu, anak kandungnya.

Wasswrwb,

Tante Rani.

Pelan kulipat surat tersebut. Aku menarik nafas  panjang. Terngiang suara ibu “ Jangan pernah sakiti anakku” teriaknya sambil menangkis tangan ayah dari menampar pipiku. Itulah satu-satunya peristiwa yang membuatku merasa dicintainya. Terbayang wajah ibu yang hampir tak pernah ceria. Jadi inilah  yang menyebabkan wajah cantik ibu tampak tertelan oleh sesuatu yang menyelimutinya, sungguh ironis, pikirku sedih. Aku yakin inilah salah satu alasan mengapa Islam melarang orang berpacaran dan berkhalwat atau berduaan dengan lawan jenis. Godaan syaitan membangkitkan hawa nafsu birahi manusia terlalu kuat untuk dilawan.

Namun yang dapat kulakukan? Ayah  adalah orang yang keras  kepala dan tak pernah mau mendengar pendapat orang lain     apalagi aku anaknya, terlebih setelah dianggapnya sebagai anak durhaka.  Tetapi kasihan ibu, aku harus membela dan menghiburnya. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk membuktikan bahwa pengorbanannya melahirkanku bukanlah hal yang sia-sia. Ya, aku bertekad, aku harus melindunginya.

Yang kusayangi Tante Rani,

Alhamdulillah, puji syukur kupanjatkan hanya kepada-Mu Ya Rabb….

Senang sekali aku mendengar bahwasanya Allah swt telah memberi hidayah dan petunjuk-Nya kepada tante. Aku akan terus berdoa semoga Dia terus melindungi dan membimbing tante ke jalan yang dikehendaki-Nya. Teruslah mencari dan belajar …..jangan pernah merasa cukup…

Untuk ayah dan ibu, aku telah mengirim surat kepada ibu. Semoga Allah memberi jalan kepadanya. Terima-kasih banyak tante sudah mau menceritakan segalanya kepadaku. Titip ibu tante ya …

Wasswrwb.

Mada.

Kepada ibu aku menulis demikian :

Ibu yang kucintai,

Berkat doamu , aku dalam keadaan baik-baik saja.

Semoga ibu tidak marah karena tante Rani telah menceritakan apa  yang terjadi dengan ibu. Sebelumnya aku mohon semoga ibu mau memaafkanku karena aku telah membuat hidup ibu menjadi kacau dan menderita.

Ibu, banyak yang kupelajari dari ajaran baruku. Tahukah kau ibu? Ternyata Islam sangat menjunjung tinggi dan menghormati kaum perempuan terutama kaum ibunya. Seorang ibu patut mendapatkan kehormatan tiga kali lebih tinggi dari ayah karena pertama, seorang ibu dengan susah payah telah merelakan perutnya dititipi janin yang makin lama makin besar dan berat, kedua, dengan menahan rasa sakit yang sangat seorang ibu telah melahirkan anaknya dan ketiga, dengan penuh kesabaran dan kasih sayang ia telah menyusui serta mendidik anaknya.

Oleh karenanya seorang ibu tidak patut mendapatkan perlakuan kasar baik dari anak maupun suaminya apalagi orang lain. Dalam Islam, seorang suami wajib menyayangi, melindungi serta mengayomi istri dan anak-anaknya. Mereka berhak mendapatkan pendidikan sebagaimana kaum lelaki. Seorang suami harus bersyukur kepada istrinya karena pertama, istrinya telah menghalanginya dari  perbuatan zina, kedua, istrinya telah mengandung, melahirkan dan memelihara anak yang dikandung dari benihnya dan  ketiga, istrinya telah menunggui, menjaga harta dan kehormatannya serta menyiapkan makanan baginya.

Sebaliknya, lelaki sebagai seorang suami dan ayah yang telah bersusah payah membanting tulang bekerja mencarikan nafkah bagi  keluarganya, ia patut mendapatkan perhatian, kasih sayang dan rasa terima-kasih dari istri dan anaknya.

Ibu yang tersayang,

Maafkan bila aku belum sempat membalas segala jerih payah dan pengorbanan ibu selama ini tetapi aku janji suatu hari nanti aku akan membalasnya, insya-Allah.

Salam,

Mada.

Namun untuk sementara aku belum mempunyai keberanian untuk menulis surat khusus kepada ayah apalagi yang berkenaan dengan kasus ibu. Tetapi aku berharap semoga suatu saat nanti aku bisa melakukannya.

***

Pagi ini aku mendapat giliran memberikan kuliah subuh di masjid kampus. Kegiatan ini telah lama dilakukan, jauh sebelum aku datang bergabung di asrama mahasiswa ini. Secara bergilir setiap mahasiswa wajib melakukan hal ini.

“ Ini untuk  kepentingan kita sendiri. Sebagai seorang muslim adalah wajib hukumnya berdakwah, mengajak manusia dalam berbuat kebaikan dan melarang berbuat keburukan. Sampaikan walau hanya satu ayat, begitu Rasulullah bersabda dalam salah satu hadisnya. Apalagi kita sebagai seorang mahasiswa yang memang secara khusus dididik agar kelak menjadi seorang da’i. Berbicara di depan umum harus dibiasakan”, kata seorang seniorku di hadapan jamaah masjid kampus kami.

“Demi Allah, wahai paman! sekiranya mereka letakkan matahari di sebelah kananku dan bulan disebelah kiriku dengan maksud agar aku tinggalkan pekerjaan ini (menyeru mereka kepada agama Allah) sehingga ia tersiar (dimuka bumi) atau aku akan binasa karenanya, namun aku tidak akan menghentikan pekerjaan ini”.

Aku mengawali kuliah subuhku dengan kata-kata diatas. Pernyataan  ini adalah jawaban Rasulullah atas permintaan Abu Thalib, paman Rasul yang memintanya menghentikan dakwahnya.

Abu Thalib adalah paman Muhammad saw yang selama ini selalu melindungi dakwah Rasulullah. Namun karena terus menerus ditekan dan didesak masyarakatnya akhirnya ia meminta keponakan kesayangannya itu menghentikan dakwahnya. Namun setelah mendengar jawaban Rasul yang memperlihatkan keteguhan pendiriannya itu Abu Thalib sadar bahwa ponakannya itu tidak mungkin dihentikan. Maka akhirnya ia pun memutuskan untuk terus melindungi dakwah Rasulullah hingga akhir hayatnya “, kataku sambil memperbaiki letak peciku.

Adalah Abu Lahab salah satu paman Rasulullah. Ia adalah seorang yang terkenal sangat membenci ajaran Islam. Dialah yang kemanapun Rasulullah berjalan selalu menguntit sambil menjelek-jelekkan ajaran beliau. Orang ini pulalah yang menjadi salah satu pemrakarsa rencana busuk  terhadap  Rasulullah. Ia memprovokasi agar Rasulullah dibunuh walaupun akhirnya gagal. Sebagai seorang yang memiliki pengaruh dan jabatan penting di kota Mekkah pantas bila ia mentah-mentah menolak ajakan ponakannya itu. Ia sangat khawatir dan takut akan kehilangan kekuasaan dan jabatan. Karena dalam Islam yang patut ditakuti, disegani sekaligus dihormati hanyalah Allah swt “, demikian aku menutup kultumku yang merupakan singkatan dari kuliah tujuh menit, sebuah istilah yang diberikan teman-teman dari Indonesia untuk latihan berdakwah singkat di depan umum. Aku melirik jam tanganku “ Tak lebih dari lima menit. Tak apalah, lumayan untuk dakwah pertamaku” begitu pikirku menghibur.

***

Hampir setahun sudah aku tinggal di Madinah namun aku belum sempat juga memenuhi panggilan-Nya untuk berhaji. Aku merasa belum benar-benar siap menunaikan ibadah haji yang merupakan rukun Islam ke 5 yang wajib dikerjakan sekali seumur hidup bila mampu tersebut. Aku tidak ingin melakukan kesalahan dalam pelaksanaan ritual  ibadah ini karena kudengar  banyak orang yang merasa tidak puas melaksanakan ibadah haji sepulang dari Makkah padahal mereka telah mengeluarkan harta dan tenaga yang tidak sedikit. Ini yang ingin kuhindari.

Namun begitulah, orang hanya mampu berencana dan Allahlah yang  menentukannya. Beberapa hari yang lalu aku menerima surat dari tante Rani yang mengabarkan bahwa dirinya dan ibu yang telah menyusulnya bersyahadat, akan melaksanakan haji tahun ini. Allahu akbar!! O betapa lega dan senangnya hati ini mendengar kabar menyenangkan ini. Mereka berdua berharap dengan sangat agar aku dapat menemani mereka menunaikan ibadah haji tersebut. Tentu saja dengan alasan apapun tak kuasa aku menolaknya. Aku terlalu gembira, aku merasa sedang dimanjakan oleh-Nya. Dan sebagai rasa syukurku akupun segera berbenah diri membekali babak penting dalam hidupku ini.

***

Musim hajipun tiba. Tante Rani mengabari bahwa mereka akan datang ke Makkah 5 hari sebelum hari H nya. Mereka akan datang bersama kloter 85 dari DKI Jakarta. Beruntung aku dapat mengatur kedatanganku beberapa hari sebelum mereka datang. Jadi aku berkesempatan terlebih dahulu mengenal liku-liku kota Makkah.

Orang sering  menyebut kota suci ini dengan sebutan Tanah Haram karena tanah atau tempat tersebut  diharamkan bagi umat lain, selain umat Muslim. Didalam kota inilah bangunan persegi empat Ka’bah yang menjadi  kiblat umat Islam berdiri sejak ribuan tahun lamanya.

Saat ini bangunan tersebut berada di tengah-tengah lingkungan yang disebut dengan  Masjid Al Haram yang luasnya 356.800 meter persegi. Masjid yang mempunyai 4 pintu utama dan 45 pintu biasa serta biasanya buka 24 jam sehari ini  mampu menampung 1 juta  jamaah dalam satu waktu sholat berjamaah. Dengan demikian masjid ini  menjadi masjid  no 1 terbesar di dunia. Bila shalat di dalam masjid Nabawi memiliki keutamaan seribu kali dibanding masjid lain maka shalat di masjid Al-Haram ini seratus ribu kali lebih utama dari pada  shalat di masjid lain.

Jamaah haji Indonesia adalah jamaah terbesar di dunia. Hampir setiap tahun kwota  Indonesia yang 200 ribu itu selalu terisi penuh. Bahkan tahun-tahun belakangan ini seorang calon haji bisa-bisa harus mengantri 2 sampai 3 tahun sebelum akhirnya diberangkan ke tanah suci. Sebenarnya aku juga heran bagaimana mungkin ibu dan tanteku bisa secepat itu mendapatkan kesempatan emas ini. Itulah salah satu rahasia Ilahi yang selalu membuatku takjub. Ia dapat berbuat apapun yang dikendaki-Nya. Sungguh Allah Maha Besar.

Pertama kali aku melihat Kabah dengan mata kepalaku sendiri, terharu aku dibuatnya. Inilah lambang rumah Allah yang setiap hari dijadikan kiblat seluruh umat Islam di  dunia. Hari ini aku berada diantara ratusan ribu saudaraku seiman yang memadati  seluruh penjuru masjid dan pelataran masjid besar  ini. Kami semua berada di tempat ini untuk bertasbih memuji kebesarannya.

Labbaikka Allah humma labaik ….Aku sengaja memilih tawaf yaitu mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali pukul 2 dini hari agar tidak terlalu sesak. Namun ternyata perkiraanku salah. Masjidil Haram terutama di waktu musim haji tidak mengenal jam dan waktu. Jam berapapun sama keadaannya. Baik dini hari maupun di siang hari bolong ketika matahari sedang terik-teriknya membakar, pelataran masjid tetap penuh sesak. Orang terus bergantian tanpa henti bertawaf sambil memuji dan meng-agungkan-Nya. Dialah Allah azza wa Jalla, satu-satunya tuhan yang patut disembah. Tiada sekutu bagi-Nya. Mustahil bagi-Nya beranak dan diperanakkan. Tiada satupun yang menyerupai-Nya.

Esoknya, aku dikabari bahwa kloter ibu dan tanteku telah datang. Dengan hati berdebar aku segera mendatangi alamat mereka. Tak lama aku menunggu di lobby pemondokkan maka muncullah dua orang yang paling kusayang di dunia ini. Dengan mengenakan pakaian muslimah  berwarna putih lengkap dengan jilbab yang menutupi kepala, leher dan dada mereka, nyaris aku tak mengenali mereka. Aku segera mencium tangan dan memeluk keduanya.

Allahu Akbar”, pujiku, “ selamat ibu dan tante ya…sungguh merupakan hadiah besar buatku berjumpa dalam keadaan seperti ini”, kataku terharu.

Alhamdulillah”, sambut ibu terisak. “ Belum pernah aku merasa sebahagia ini”. Aku perhatikan ibu memang terlihat lebih kurus dari yang terakhir aku ingat namun sinar wajahnya sungguh berbeda. Sementara tante Rani terlihat lebih gemuk dari biasanya. Ia kelihatan sehat dan gembira sekali.

Kami mengobrol cukup lama. Aku bercerita banyak tentang pengalamanku selama  di Palestina. Sementara ibu lebih banyak diam dan mendengarkan ceritaku. Tante sekali-sekali mengomentari  ceritaku. Namun keduanya tak sedikitpun berbicara mengenai ayah. Jadi akupun tak berani bertanya khawatir mengganggu keceriaan kami.

***

Read Full Post »

Hari  ini adalah hari Arafah, hari puncak kegiatan haji. Rasulllah bersabda : “ Haji adalah Arafah “. Artinya kehadiran seorang jamaah haji di Arafah adalah mutlak. Bila  tidak maka batallah hajinya. Arafah adalah sebuah padang luas yang dikelilingi bukit-bukit. Di tempat inilah pada setiap tanggal 9 bulan Zulhijjah Allah swt datang secara  khusus mendekati tamu-tamu-Nya yang  berdatangan dari seluruh penjuru dunia  untuk memenuhi panggilan-Nya. Padahal nabi Musa suatu ketika dahulu pernah memohon agar diizinkan bertemu dengan-Nya. Namun ketika Dia baru menampakkan cahaya-Nya saja bahkan gunungpun hancur karena tak sanggup menerima Nur-Nya. Disalah satu bukit inipulah umat Islam meyakini bahwa nabi Adam as bertemu kembali dengan Siti Hawa untuk pertama kalinya setelah mereka diturunkan ke muka bumi.

Maka pada hari tersebut selepas subuh kamipun  bersiap-siap meninggalkan pemondokan haji. Tak satupun yang ingin tertinggal bahkan yang sedang sakit sekalipun akan dibawa menuju padang Arafah ini dengan mengendarai ambulans.  Dapat dibayangkan bagaimana lambat dan padatnya perjalanan  Makkah ke padang luas yang sebenarnya hanya berjarak 7 [i1] km ini bila sekitar 2 juta jamaah bergerak secara bersamaan menuju ke satu tujuan. Waktu tempuh yang dalam keadaan normal hanya memerlukan waktu beberapa menit itupun  berubah bisa menjadi hitungan jam.

Jalanan tersebut  tidak hanya  disesaki para jamaah yang berjalan kaki namun juga ratusan  bus yang atapnya disesaki jamaah dan puluhan  kendaraan pribadi. Laki-laki, perempuan dan anak-anak semua bercampur menjadi satu seolah membentuk lautan putih gelombang manusia. Pada waktu haji jamaah lelaki hanya diperbolehkan mengenakan 2 lembar kain tak berjahit. Satu lembar untuk menutup bagian bawah tubuh dan satu lagi untuk menutup tubuh bagian atas. Ini adalah sebuah cerminan kelak  ketika kita dikumpulkan di alam barzah, alam setelah manusia dibangkitkan kembali dari kematiannya setelah terjadinya hari akhir yaitu  hari kiamat. Imbalan berhaji  adalah surga bila Allah swt ridho terhadap ritual haji yang dikerjakannya tersebut. Inilah yang dinamakan haji mabrur.

Ya Allah terimalah amalan haji kami ini. Ya Allah berilah ridho-Mu pada kami bertiga. Masukkanlah kami kelak  kedalam surga-Mu dan mudahankanlah segala urusan dunia kami, amin Ya Robbal ‘alamin“, mohonku dengan khusuk.

***

Prof, betulkah bahwa fenomena yang terjadi di  Palestina saat ini  merupakan salah satu tanda makin dekatnya hari kiamat? Bagaimanakah bunyi hadis yang memperkuat hal tersebut ?“ tanya seorang mahasiswa  asal  Malaysia pada suatu hari di kelas hadis.

Pembahasan mengenai tanda-tanda hari akhir dan masalah Palestina adalah salah satu topik yang selalu menarik perhatian dan memancing banyak pertanyaan mahasiswa.

Coba kalian buka buku hadisnya. Siapa yang mau sukarela membaca hadis di hal 178 mengenai bab Hari Kiamat?”, tanya prof  Ali Yusuf menanggapi pertanyaan mahasiswanya.

Saya akan bacakan prof”, jawab Hanafi, seorang mahasiswa kulit putih asal Australia lantang. “ Dari Mu’adz bin Jabal. Aku  bertanya kepada Muhammad saw ,” Ya, Rasulullah terangkanlah kepada kami beberapa tanda-tanda kedatangan kiamat.”, Nabi saw bersabda : Setelah pembangunan Bait Al-Maqdis berarti itu adalah kehancuran Yatsrib ( Madinah). Dan setelah kehancuran Yatsrib itu berarti penaklukan Konstantin. Dan setelah penaklukan Konstantin itu berarti keluarnya Dajjal. Hadis diriwayatkan oleh  Ahmad dan Abu Dawud  “.

Hadis yang baru saja selesai dibacakan tadi banyak dikisahkan  di buku-buku yang membahas masalah hari akhir dan hubungannya dengan situasi belakangan ini, terutama yang terjadi di Palestina saat ini. Namun banyak diantara mereka yang tidak memandangnya sebagai sebuah situasi yang berkesinambungan. Padahal nabi sendiri mengatakan bahwa setiap peristiwa menyebabkan kemunculan peristiwa lainnya secara berurutan. Jadi ini adalah sebuah mata rantai. Perumpamaannya seperti untaian kalung yang lepas dari ikatannya. Jatuhnya sangat cepat tapi tetap dalam urutannya ”, terang prof sambil berjalan menuju jendela. Diluar tampak matahari menyorotkan sinarnya yang sangat panas.

Sebenarnya cukup banyak hadis yang menerangkan hari Kiamat dan hubungannya dengan prilaku orang-orang Yahudi saat ini. Coba perhatikan lagi hadis berikut” lanjut  prof..

Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga (bangsa) Rum telah sampai di A’maq dan Dabiq untuk menyerang kamu. Maka datanglah suatu pasukan yang akan menghadapi mereka dari kota Madinah, yang mana waktu itu adalah manusia-manusia terbaik di muka bumi ini ”.

Sebentar, prof “ sela seorang mahasiswa sambil mengangkat tangannya. “ Ya ?”, jawab profesor kurang senang karena mahasiswa tersebut memotong hadis yang sedang dibacakannya. “ Aku pernah membaca, katanya yang dimaksud A’maq dan Dabiq adalah dua  kota yang sekarang ini berada di Syria. Benarkah ?”.

Ya benar. Sebaiknya aku terangkan dulu hadis yang terpotong tadi ”, ucap prof setengah menyindir. “ Begini…hadis tadi sebenarnya kalau dibaca lengkap panjang sekali dan agak rumit. Hadis tersebut berasal dari Abu Hurairah dan diriwayatkan oleh shahih Muslim. Namun pada intinya hadis tersebut  sama isinya dengan yang pertama dibacakan tadi. Perbedaannya, pada hadis  kedua tidak diceritakan peristiwa pembangunan Al-Maqdis. Mengapa? Karena pada saat Abu Hurairah meriwayatkan  hadis tersebut, pembangunan Masjidil Aqsha yang memang telah  jatuh ke tangan Muslim telah terjadi. Bahkan pembangunan dan renovasi tersebut terjadi lebih dari satu kali yaitu pada masa Umayyah, Abbasiyah dan beberapa kerajaan yang pernah menguasai lokasi tersebut “, prof berhenti sebentar untuk meneguk air mineral yang ada dalam gelasnya.

“ Dalam hal ini Abu Hurairah tidak keliru. Yang diluar perkiraannya, pembangunan yang dimaksud hadis tersebut bukanlah pembangunan yang telah disaksikannya saat itu melainkan pembangunan yang kelak akan dilakukan oleh kaum Yahudi ratusan bahkan ribuan tahun setelah masa hidupnya. Apa alasannya ? Karena pembangunan yang telah disaksikan Abu Hurairah dan juga beberapa renovasi yang terjadi sesudahnya terbukti tidak mengakibatkan hancur dan runtuhnya kota Madinah. Buktinya ya ini… hingga detik ini kita masih berkumpul di Madinah bahkan tengah membahas hadis tersebut”, terang  prof.

“ Dengan kata lain, apa yang kita saksikan saat ini, yaitu usaha Zionis Israel untuk merebut Yerusalem serta  usahanya untuk menghancurkan pelataran Haram As-Syarif sekaligus menggantikannya dengan bangunan kuil mereka adalah sebuah fenomena awal yang dimaksud hadis-hadis di atas. Begitukah prof ?”, tanyaku tidak dapat menahan kesabaran untuk diam dan menunggunya melanjutkan  penjelasannya.

“ Ya, tepat sekali “, jawabnya. “ Jadi  pada dasarnya ada 5 hal pokok yang harus  kita cermati. Pertama  pembangunan Bait al-Maqdis oleh pihak Yahudi. Kedua kehancuran Yatsrib atau Madinah. Ketiga terjadi pertempuran antara pasukan Muslim dan pasukan Rum atau pasukan Yahudi dan tentu saja semua yang mendukungnya. Keempat penaklukan Konstantin atau Istambul sekarang ini dan kelima atau terakhir adalah munculnya Dajjal “.

“  Lalu apa yang dapat kita lakukan? Mungkinkah kita dapat mencegah atau minimal  mengulur  waktu terjadinya ? “ tanya seorang mahasiswa.

“ Mencegah pasti tidak mungkin. Ini  adalah ketetapan Allah. Namun mengulurnya….aku pikir mungkin saja. Menghambat agar untaian kalung tidak segera terurai dan berhamburan. Artinya kita, umat Islam harus sekuat tenaga  mencegah agar kaum Yahudi tidak masuk apalagi merusak Masjidl Aqsho dan sekitarnya.  Jangan lupa tanah Palestina adalah milik Muslim sejak ribuan tahun lalu. Kita tidak merebutnya dari tangan Yahudi atau siapapun karena ketika pasukan Khalid bin Walid  menaklukkan  daerah tersebut, Al-Aqsho dan sekitarnya adalah daerah  yang terbengkalai dan sama sekali tidak terawat. Bahkan pemimpin tertinggi Nasrani sebagai penguasa sebelum masuknya pasukan Islam, menyerahkan dengan sukarela kunci kota Yerusalem kepada khalifah  Umar bin khattab dengan syarat kaum Yahudi dilarang tinggal di sekitar kota”, tanggap sang  professor  menggebu-gebu.

Dan lagi, sepengetahuan saya, bukankah resolusi Dewan Keamanan tahun 1967 menegaskan bahwa Yerusalem adalah milik bangsa Arab atau minimal milik  internasional? ” , tanyaku.

Ya begitulah watak Yahudi, persis seperti yang disifatkan Al-Quran, keras kepala dan tidak suka memenuhi janji “, jawab prof geram.

Kembali ke hadis. Pada pertempuran yang  terjadi antara pasukan Rum  dan pasukan Muslimin nanti, Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah mengutarakan bahwa 1/3 tentara Muslim akan melarikan diri sementara  1/3 lainnya mati syahid dan 1/3 sisanya lagi akan memperoleh kemenangan. Sementara hadis lain dengan muatan yang kurang lebih sama menceritakan bahwa di tengah suasana pertempuran antara kaum Muslimin dan pasukan Rum nanti akan terjadi banyak kemurtadan. Hadis ini berasal dari Jabir dan diriwayatkan oleh Muslim”, lanjut prof.

“ Mengapa bisa demikian,  prof ? Bukankah pada salah satu hadis yang tadi dibacakan  disebutkan bahwa  pasukan yang keluar dari Madinah dan menghadapai pasukan Rum itu adalah pasukan yang  terbaik ?” tanya Hanafi, si bule Australia  penasaran.

“ Itulah yang sering menjadi pertanyaan para ahli hadis. Mereka sering berpikir mengapa hal ini bisa terjadi. Sebagian berkesimpulan hal tersebut mungkin terjadi  sebagai dampak dari dua hal penting. Pertama yaitu dihancurkannya Masjidil Aqsho serta dibangunnya kuil Yahudi di atas lokasi bekas penghancuran dan yang kedua hancur dan jatuhnya kota Madinah yang selama ini diyakini sebagai kota suci. Bagi mereka yang kurang kuat keimanannya  kedua hal diatas  bisa jadi cukup untuk menjadikannya sebuah alasan untuk keluar dan murtad dari Islam. Bayangkan, bila pasukan terbaik dari Madinah  saja bisa murtad bagaimana dengan muslim di belahan dunia lain ?”, ujar prof dengan nada  prihatin.

“ Semoga kita dan keluarga kita bukan satu diantara mereka “, sambungnya.  “ Amin “, jawab kami serentak.

“ Professor, bagaimana pula hubungannya dengan hadist berikut … Boleh saya bacakan ? “ , tanya seorang mahasiswa dan tanpa menunggu jawaban iapun membacakan hadis berikut :

“ Suatu saat, ketika para sahabat sedang berkumpul dan berbicang perihal hari Kiamat, datanglah Rasulullah. Segera mereka menanyakan hal tersebut, maka Rasulullahpun bersabda : “Tidak akan terjadi hari Kiamat sehingga kalian melihat sepuluh tanda : Terbit Matahari dari arah Barat, Kabut, Binatang melata, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, keluarnya Isa putra Maryam, Dajjal dan tiga gerhana : gerhana di timur, di Barat, dan di jazirah Arab dan api yang keluar dari jurang Adn yang akan menggiring manusia atau mengumpulkan manusia. Api itu akan menginap bersama mereka di manapun mereka menginap dan akan beristirahat siang dengan mereka tatkala mereka tidur siang. Hadist Riwayat  Shahih Muslim”.

Setelah menghela nafas sebentar, prof Ali Yusuf berujar: “ Jumlah hadis yang meriwayatkan tanda-tanda Kiamat tak terhitumg banyaknya. Ada   tanda-tanda besar  ada tanda-tanda  kecil. Namun demikian tidak mudah menafsirkan hadis-hadis tersebut. Penyebabnya beragam. Yang jelas seringkali hadis baru dapat dimengerti setelah sebuah peristiwa  benar-benar telah terjadi. Perlu kajian khusus untuk membahasnya. Itupun bisa keliru…Butuh waktu tidak saja dalam hitungan hari namun bisa saja hingga tahunan..”, prof berkata sambil berdiri membereskan buku-bukunya yang tergeletak di meja.

Aku melirik jam tanganku, pukul 14.30. Mustinya bel waktu istirahat sudah berbunyi. Namun tampaknya para mahasiswa tidak perduli. Mereka begitu antusias mendengar penjelasan  prof  Yusuf Ali yang sungguh menarik.

“ Satu  saja lagi  pertanyaan  prof..”, seru seorang mahasiswa sambil buru-buru mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

“ Baik .. .tapi cepat”, jawab prof sambil melongokkan pandangannya keluar jendela.

“ Mengenai Hari Kiamat dan hubungannya dengan  Ya’juj dan Ma’juj yang disebut dalam ayat 94-99 surat Al-Kahfi dan ayat 96-97 surat Al-Anbiyya. Banyak ulama kontemporer yang berpendapat bahwa Ya’juj dan Ma’juj adalah bangsa bengis bermata sipit yang mendiami daerah Asia Tengah. Mereka kemungkinan adalah bangsa Mongol, Rusia, Jepang, Cina atau mungkin Korea.  Menurut para ulama ini kejahatan yang akan disebarkan mereka bukanlah kejahatan umum seperti pada masa lalu. Kejahatan yang dimaksud itu tidak lain  adalah kejahatan yang menggunakan tehnologi tinggi. Contohnya  adalah kejahatan pemikiran seperti Kapitalisme dan Materialisme. Atau bisa juga yang dimaksud adalah Cyber Crime atau kejahatan dunia maya yang memang terbukti saat ini banyak terjadi di sekitar kita. Bagaimana menurut pendapat prof?” ,tanyanya.

“ Bisa jadi”, jawab prof sambil menurunkan kembali buku-buku yang telah dijinjingnya. “ Negara-negara Asia Tengah seperti Jepang, Cina dan Korea belakangan ini memang mulai menunjukkan kemajuan yang sangat mengejutkan. Tanda-tanda akhir zaman yang telah diisyaratkan Al-Quran dan hadis memang semakin menunjukkan kebenarannya. Untuk itu mari kita sebagai umat pilihan yang telah diberi kesempatan menyaksikan kebenaran tanda-tanda tersebut segera bersiap diri. Bekal terpenting adalah ilmu yang benar disamping tentu saja  keimanan yang tinggi. Tunjukkanlah itu … songsong hari akhir dengan penuh keyakinan..Jangan berpaling dan takut mati …Tegakkan kalimat tauhid dan patuhi perintah-Nya…Allah swt pasti akan membela kita di jalan yang benar .. Allahu Akbar.. Allahu Akbar ..Allahu Akbar “, serunya menutup kuliahnya.

***

Beberapa hari yang lalu aku menerima surat dari ibu yang mengabarkan rencana ibu untuk minta cerai dari ayah. “ Uztad mengatakan bahwa Allah swt melarang perempuan menikah dengan lelaki non muslim. Artinya, dengan masuknya ibu kedalam Islam otomatis pernikahan ayah dan ibu  batal”. Itu salah satu bunyi surat ibu. Terus terang aku cukup terkejut mengetahui keseriusan ibu dalam mengamalkan ajaran yang baru dipeluknya beberapa bulan itu. Aku salut kepadanya. Tentu tidak mudah bagi seorang perempuan mengambil keputusan seperti itu, apalagi ayah dan ibu telah menikah lebih  dari 20 tahun lamanya.

Aku hanya berharap semoga ayah dapat menerima keputusan ibu. Namun tampaknya jalan hidup ayah tidaklah semulus jalanku, ibu ataupun tante Rani. Karena tak sampai sebulan setelah ibu berkirim surat, aku mendapat kabar bahwa ayah meninggal dunia karena over dosis! Aku benar-benar tak mengira bahwa akan begini akhirnya. Menurut tante Rani, ayah tak mau menerima permintaan  cerai ibu. Ayah makin sering mengamuk dan membantingi segala  yang ada di rumah.

Malam terakhir sebelum petaka itu datang, tante Rani mendengar bahwa ayah dan ibu bertikai hebat di kamar. Terdengar suara ibu menangis ketakutan sementara ayah terus berteriak-teriak mengeluarkan suara kasar dan kotor. Tante Rani tidak tahan  hanya diam di luar kamar. Ia khawatir terjadi sesuatu yang membahayakan jiwa ibu. Akhirnya dengan dibantu satpam, tante mendobrak pintu kamar ke dua orangtuaku.

Didalam kamar terlihat sebelah tangan ayah  menggenggam sebelah pisau   sementara tangan satu lagi mengcengkeram lengan ibu. Ketika ia melihat kehadiran adiknya yang secara tiba-tiba masuk, ia kelihatan bingung. “ Lepaskan pisau itu “, teriak tante Rani histeris. “ Tak tahukah betapa kau telah membahayakan  jiwa Lani, istrimu? Ibu anakmu Mada?” lanjutnya.

Namun mendengar peringatan itu bukannya sadar, ayah malah tampak lebih kacau lagi. Rupanya kata Mada membuatnya  lebih sakit hati lagi. Ia menggeram dengan amat keras dan mulai akan mengayunkan pisaunya ke arah ibu. Tanpa berpikir panjang  tante Rani segera berlari mendekati keduanya dan meraih vas besar bunga yang berada di dekatnya lalu mengayunkannya ke arah tubuh besar ayah. Sejenak ayah terhuyung kehilangan sedikit keseimbangannya. Wajahnya terlihat merah padam sementara pandangan matanya liar. Rupanya ia dalam keadaan setengah mabuk.

Lebih baik kau tinggalkan rumah ini kak “, ancam  tante Rani. “ Pergi dan bermabuk-mabukanlah di luar sana. Kelakuanmu sungguh membikin malu nama keluarga besar kita”, tambah tante lagi.

Alhamdulillah berkat pertolongan Allah jua, sambil mengomel tak karuan ayahmu yang rupanya segera tersadar, mungkin berkat pukulan keras di tubuhnya, pergi meninggalkan ruangan. Namun keesokan paginya seseorang menelpon ibumu mengabarkan bahwa ayahmu dalam keadaan sekarat di sebuah hotel berbintang. Ia meminta agar ibu segera datang dan menjemputnya. Maka aku dan ibupun segera menjemput  dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Namun sayang, sebelum tiba di tujuan ayahmu sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Berdasarakan visum dokter yang memeriksanya ayahmu meninggal karena  over dosis.

Mada anakku

Ibumu sangat berharap agar kau mau datang dan memberinya penghormatan terakhir. Walau bagaimanapun ia adalah ayahmu. Maafkanlah ia. Disamping itu tante yakin ibumu sangat  memerlukan kehadiran dan dukunganmu. Ia tampak sangat terpukul dengan peristiwa tersebut. Urus secepat mungkin tiketmu. Walaupun ayahmu bukan seorang Muslim dan kemungkinan besar keluarga besarnyapun menginginkan upacara kremasi namun ibumu sebagai seorang yang telah memeluk Islam menginginkan agar upacara penyelenggaraan jenazah dapat dilaksanakan sesegera mungkin. Apa boleh buat meskipun tidak sesuai syariat yang seharusnya tidak boleh lebih dari 24 jam sejak kematiannya.

Wasswrwb.

Tante Rani.

Aku terduduk lesu. Sungguh tak kukira akan demikian akhir nasib ayah. Terus terang aku tak setuju pada yang mengatakan bahwa ini semua adalah  kehendak-Nya. Benar bahwa Allah swt memang telah menggariskan jalan hidup setiap manusia. Namun setiap manusia tanpa kecuali dibekali akal dan kemauan. Ia memiliki  potensi untuk memilih jalan mana yang ingin ditempuhnya, ketakwaan atau kemungkaran. Hidayah Allah swt akan diberikan kepada yang mau berusaha dan mencarinya. Sebaliknya Allah akan memberikan hidayah tersebut kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Maka manusia harus segera berebut mendapatkannya.

***

Read Full Post »

Tak terasa 4 tahun telah berlalu. Berkat usahaku yang gigih selama ini serta doa ibu dan tante Rani maka ridho Allahpun datang. Lima  hari lagi aku akan diwisuda. Kegembiraanku bukan cuma berhenti disitu. Selain ibu dan tante Rani, Nisa, mahasiswi fakultas kedokteran teman Lukman, gadis impianku  yang kupendam selama ini dan telah  kunikahi beberapa hari begitu aku dinyatakan lulus, akan datang menghadiri acara wisudaku bersama kedua orang-tuanya. Terakhir aku bertemu dengannya ketika ia bersama teman-temannya hadir dalam upacara pemakaman ayah.

Lama tak berjumpa, membuatnya semakin cantik dan membuatku makin jatuh hati. Aku rasa aku telah jatuh cinta padanya pada pandangan pertama ketika aku bertemu dengannya beberapa tahun yamg  lalu. Sejak itu aku tak pernah berhenti berdoa semoga Allah memberikan gadis itu sebagai jodohku yang terbaik. Pernikahan Rasulullah dengan Ummu Habibah yang ketika itu sedang hijrah ke Habasyahlah yang memberiku inspirasi untuk melamar dan menikahinya dari jarak jauh.

Walaupun kami tidak pernah berpacaran sebagaimana kebanyakan remaja saat ini namun aku memiliki keyakinan bahwa ialah jodohku. Karena dari Lukman aku tahu bahwa gadis manis tersebut berasal dari keluarga yang memegang teguh ajaran Islam. Kasih sayang dan cinta sejati akan dilimpahkan Allah swt sebagai pemilik  hati manusia kepada mereka yang mengikatkan hati dan dirinya dalam sebuah perkawinan syah yang dilaksanakan dalam rangka memohon ridho-Nya.

Nisa yang juga telah menyelesaikan kuliahnya itu rencananya akan  mengambil spesialisasi jantung  ke universitas Taibah. Universitas yang terletak di kota Madinah ini dikabarkan mempunyai berbagai fakultas, diantaranya Sains, Kedokteran dan Ilmu Sosial. Sementara aku sendiri juga masih ingin melanjutkan  kuliah hingga ke program doktoral.

……Maka jika kamu melihatnya berbaiatlah walaupun dengan merangkak di atas salju karena dia adalah khalifah Allah, Al-Mahdi”

Hadis diatas terasa mengiang-ngiang dalam telingaku. Aku dan Nisa sepakat dan berketetapan ingin menjadi bagian dari orang-orang terbaik Madinah yang siap melaksanakan jihad dalam rangka menegakkan kalimat Allah melawan pasukan kafir pimpinan manusia iblis Ad-Dajjal di pertempuran akhir zaman di bukit Zaitun, Palestina nanti. Aku berperang dengan pedang dan Nisa, belahan jiwaku, dengan keahliannya merawat dan membantu korban perang sebagaimana.yang pernah dilakukan para sahabat lelaki dan perempuan di zaman Rasulullah 15 abad yang silam.  “ Ya Allah saksikanlah……   Masukanlah dan pertemukanlah  kami kembali kelak di surgaMu….Amin Ya Robbal ‘Alamin “. Akupun kemudian bangun dari sujudku untuk segera berkemas ke bandara.  Pesawat yang ditumpangi orang-orang yang paling kucinta akan mendarat sore nanti.

***

Aku duduk tertegun di salah satu bangku bandara Jeddah sambil memegang erat surat kabar berbahasa Arab itu. “ Pasukan Israel telah menjatuhkan bom-bomnya ke Gaza dan sekitarnya. Korban mencapai lebih dari 300 orang meninggal, 1200an luka, hampir 100 diantaranya penduduk sipil, perempuan dan anak-anak ”. Tanpa sadar aku melirik jam tanganku, Minggu, 30 Zulhijjah 1429 H. Ini adalah hari terakhir tahun 1429. Dalam hitungan beberapa jam, tahun ini akan berubah menjadi tahun 1430 H. Tahun baru Islam yang melambangkan kemenangan dan akhir zaman kejahiliyahan. Tahun ini dihitung sejak hijrahnya Rasulullah dari Mekah ke Madinah pada tahun 1622 M.

Aku kembali memandang tak percaya pada surat kabar yang sekarang tanpa kusadari telah kucengkeram erat. Jantungku berdegup kencang. Kepalaku tiba-tiba terasa berat. “ Ya, Allah, mengapa  harus hari ini?” bisikku pilu.  Aku sadar  suatu saat hal ini pasti akan tiba. Akan tetapi aku sama sekali tidak pernah mengira kalau Israel bakal begitu kasar memilih hari kemenangan umat Islam untuk memukul telak bangsa Palestina  yang sudah nyaris jatuh tersungkur. Pikirankupun segera terbang melayang menuju jalan-jalan di Palestina menghapus bayangan ibu, tante Rani, Nisa….

Ini adalah takdirku, aku tidak boleh menghindar….. Aku penuhi panggilanmu Ya Allah Ya Robbi “, bisikku mantap.

Jakarta, Januari 2009 / Muharram  1430 H.

Sylvia Nurhadi

Read Full Post »

« Newer Posts