Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Novel ‘Seberkas Cahaya Di Palestina’ ( base on true story)’ Category

Malam itu aku tidak dapat memejamkan mata barang sedikitpun. Besok  pukul 4 sore, aku sudah harus meninggalkan kota yang banyak meninggalkan kenangan tersebut. Pesawat yang akan menbawaku pulang ke tanah air menurut jadwal akan terbang pukul 9 malam langsung menuju Jakarta. Namun semalaman aku hanya dapat membalik-balikkan tubuhku ke kiri dan ke kanan. Aku berusaha memejamkan mata namun pikiranku terus mengembara. Aku merasakan  adanya  beban berat yang menekan dadaku dengan kuat . ” Aku harus mengambil keputusan…sekarang atau tidak sama sekali ”, pikirku menahan kantuk.

( Taman itu begitu luas dan indah. Kesejukkan dan keasriannya masih ditambah lagi dengan kehadiran air mancur dengan kolam-kolamnya dimana berbagai jenis ikannya yang berwarna-warni  berenang kian kemari. Didepan sana aku melihat beberapa gerbang megah berwarna kehijauan. Aku berjalan mendekati gerbang termegah dan terbesar yang kuyakin pasti terdapat kedamaian di dalam sana. Diatas gerbang  kuperhatikan terdapat tulisan indah berukir  ” Laa illaha Illa Allah wa ashadu anna Muhammad Rasulullah”.

Namun ketika aku hampir mencapai gerbang  dan tengah berusaha mendorongnya  tiba-tiba secara perlahan gerbang  terbuka dengan sendirinya. Bersamaan dengan itu muncul pula seberkas cahaya yang sangat menyilaukan mata. Aku tak sanggup menjangkau bahkan memandang gerbang yang kelihatannya   begitu dekat itu. Padahal aku yakin gerbang tersebut telah terbuka begitu  lebar. Aku terpaksa mundur  beberapa langkah sambil memalingkan wajah. Selanjutnya aku berusaha menuju ke gerbang lain yang tak jauh dari gerbang pertama. Namun ketika aku hampir mencapainya kembali terjadi kejadian  seperti  sebelumnya.

Terpaksa akupun membatalkan keinginanku. Kini aku melayangkan pandanganku pada gerbang di sebelahnya  lagi. Dengan setengah berlari aku menuju gerbang tersebut  berharap  kali ini aku akan berhasil memasukinya. Namun hasilnya sama, aku selalu terhalang oleh  cahaya misterius itu. Keringatku mulai bermunculan. Aku tidak ingin menyerah. Aku terus berlari dan berlari  menuju  gerbang satu  ke gerbang yang lain. Ternyata gerbang tersebut ada 8 jumlahnya. Namun dari kedelapan gerbang tersebut tak satupun yang berhasil aku lalui.

Aku menjadi frustasi. Muncul bayangan kegelapan. Perlahan ia menghampiri. Semakin lama semakin cepat. Ia  menerpaku seolah ingin menyedot dan melumatku dalam-dalam. Aku benar-benar diselimuti ketakutan yang amat sangat. Akupun segera berlari sambil berteriak histeris meminta tolong… )

Tiba-tiba aku terbangun dan terduduk kaku.. ” Oh mimpi..., syukurlah ” bisikku  bergidik ngeri. Kerongkonganku benar-benar tersekat. Aku melirik jam yang tergantung di dinding kamarku.  ” Baru pukul 12.30”, pikirku.. Aku termenung sejenak sambil sekali-sekali menyeka keringat dingin sebesar biji-biji jagung yang terus menetes dari tubuhku.  Aku mencoba untuk menetralkan nafasku yang tersengal-sengal.  Akhirnya aku memutuskan untuk mencoba menghubungi telpon selular Karim melalui telpon selularku. Setelah beberapa kali gagal akhirnya aku mendengar suara Karim yang terdengar setengah mengantuk di ujung sana.

Maaf mengganggumu Karim ”, kataku setengah menyesal.  ”Ada apa ”, jawab Karim terdengar agak kesal.” Aku ingin memeluk  Islam ”, kataku mantap. Sesaat hening. Aku tak tahu bagaimana reaksi Karim namun aku tak peduli. ”Karim… kau dengar aku? ”,   ucapku setengah berteriak.

Allahu Akbar … ya yaa … aku dengar Mada. Sudah kuterka beberapa hari ini ….”, sahut Karim setelah beberapa detik berlalu. ”  Namun apa yang kau harap dapat aku lakukan di tengah malam ini ?”, tanya Karim. ” Tak dapatkah kau menunggu hingga esok hari ?”, lanjutnya. ” Aku… aku takut terlambat … tak mungkinkah kau mengantarku malam ini juga memasuki Masjidil Aqsho’ untuk berikrar ?”, tanyaku penuh harap.

Gila kau… Ini Yerusalem..lupakah kau bahwa ini kota pendudukan dimana jam malam berlaku ketat? ”, jawab Karim. ” Aku janji esok pagi akan mengantarmu .. jam 10 ”, katanya  memastikan. ” Tak dapatkah lebih pagi lagi ”tanyaku mencoba menawar.

Itu adalah jam terpagi yang bisa aku tawarkan… Bahkan bisa jadi mereka membuka gerbang Aqsho’ lebih siang lagi…sabar dan shalatlah semampumu..Lakukan seperti yang pernah kau lakukan tempo hari bersamaku … InsyaAllah Allah  akan menenangkan hatimu..Aku turut bersyukur atas hidayah yang diberikan kepadamu Mada ”, kata Karim mengakhiri percakapan.

***

Pukul 7 esok paginya, aku sudah terbangun dalam keadaan segar. Aku bersyukur mau mengikuti saran Karim malam tadi. Setelah melakukan shalat semampuku aku segera tertidur pulas. Pukul 10 kurang sedikit  aku sudah berada di dalam masjid Al-Aqsho. Aku telah memberitahukan niatku itu kepada keluarga Benyamin ketika kami sedang sarapan. Di luar dugaanku mereka tampak ikut senang melihat kebahagiaanku.

”Setidaknya kau telah berada dilingkup agama samawi, Mada”, sambut ibu Benyamin. ” Ya, apa yang dikatakan ibuku benar ”, sambung Benyamin. ” Aku yakin, sesungguhnya Islam, Nasrani dan Yahudi adalah tiga agama yang berasal dari sumber yang sama. Yang hingga kini aku tidak mengerti mengapa sebagian orang harus saling membenci gara-gara berbeda keyakinan. Pasti ada yang sesuatu yang tidak beres. Aku harap suatu saat kelak engkau dapat memberikan jawaban yang memuaskanku”,  kata Benyamin serius.

Kau adalah orang luar dan kau pasti masih bersih dari pengaruh lingkungan. Pasti kau tidak akan berpihak dengan  sembarangan. Berjanjilah pada kami bahwa kau akan segera memberitahu kami begitu kau menemukan jawaban yang meyakinkan ”, pinta ibu Benyamin tak kalah seriusnya dengan Benyamin. ” Ya, aku janji. Doakan semoga aku mampu memecahkan tabir misteri itu”, jawabku tidak begitu yakin.  Sementara aku perhatikan ayah Benyamin hanya diam memperhatikan percakapan kami. Benyamin memang pernah bercerita bahwa sejak pecah perang tahun 1967 ayahnya jadi berubah  tidak begitu peduli terhadap urusan agama walaupun tidak sampai menjadi atheis.

Prosesi ikrar yang kujalani ternyata cukup singkat dan sederhana. Mula-mula aku disuruh berwudhu sebelum memasuki masjid. Karim yang membimbingiku. Sambil menunggu kedatangan imam besar masjid, Syeikh Muhammad Husein, Karim mengajariku beberapa hal penting mengenai shalat, seperti persyaratan sebelum shalat, apa yang membatalkannya, berapa kali sehari harus shalat dan lain-lain. Aku mencatat apa yang diterangkannya kedalam sebuah buku kecil.

Shalat adalah tiang agama. Ini yang pertama kali harus kau pelajari. Shalat adalah hubungan langsung dengan Tuhan,  Allah swt. Keluarkan segala masalah  yang ada dalam hatimu dan mohonlah bantuannya. Ialah yang menciptakanmu maka Ia tahu pula apa yang baik bagimu. Berbaik sangkalah pada-Nya karena Ia akan mengikuti persangkaanmu itu”, jelas Karim.

Beberapa saat kemudian imam yang ditunggupun datang. Dengan disaksikan sejumlah jamaah yang kebetulan  hadir di dalam masjid ketiga tersuci tersebut, akupun berikrar dengan mengikuti kata-kata sang Imam bahwa ” Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya”. Hanya itu. Setelah itu Syeikh Husein dan Karimpun diikuti para  saksi menyalamiku dengan penuh rasa persaudaraan. Seperti kebiasaan orang Arab lainnya, mereka mencium pipiku tiga kali.  Masing-masing memberi nasehat atau mungkin doa karena mereka berbahasa Arab yang tentu saja tidak kumengerti. Namun tetap saja terharu aku dibuatnya.

Kau kini bagian dari Islam dan seluruh umat Islam dimanapun berada adalah bersaudara. Dengan saling mengingatkan dan saling menasehati dalam hal kebaikan berarti kita telah menegakkan kebesaran Allah ”, nasehat Syeikh.

Saudara-saudaraku seiman, saksikanlah bahwa hari ini saudara kita Mada telah menerima hidayah-Nya. Mada adalah orang yang beruntung. Ia adalah satu dari setengah bagian hamba yang mulanya  tidak mengakui-Nya namun kemudian ditakdirkan menjadi satu dari 2/3 hamba tersebut yang terpilih untuk bersujud hanya kepada-Nya ”, demikian khutbah sambutan yang diberikan Syeikh di depan jamaah. ” Namun ingat, hadis yang ditujukan kepada kita sebagai setengah bagian seluruh hamba  yang mulanya bersujud hanya kepada-Nya ini berkata bahwa pada akhirnya, ada 1/3 bagian darinya yang ditakdirkan akan murtad. Naudzubillah min dzalik…Semoga kita bukan satu diantaranya”, sambungnya lagi.

Untuk itu, janganlah kita terbuai. Teruslah memperbarui dan memperdalam keimanan dan pengetahuan kita . Khusus untuk Mada, bila ingin menjadi Muslim yang baik, banyak yang harus kau pelajari. Begitu sampai di negrimu, carilah seorang imam atau uztad yang benar-benar mengerti ilmu agama Islam, yang menguasai dalil-dalil yang tercantum dalam Al-Quran dan hadis. Ingatlah, sekarang ini banyak orang merasa dirinya pintar dan merasa telah menguasai agama dengan baik padahal ia adalah sesat. Jangan berjalan sendiri, bergabunglah dalam  jamaah, semoga engkau selalu dalam lindungan-Nya, amin. Yang terakhir tolong sampaikan pesanku mewakili seluruh umat Islam Palestina kepada saudara-saudara kami seiman di negrimu, bantulah kami mempertahankan masjid ke tiga tersuci ini dari serangan Zionis Yahudi ”, ujar sang imam menutup khutbah singkatnya.

***

Tepat pukul 4 sore, aku telah berada di kendaraan menuju Amman, Yordania. Karim berada di belakang kemudi, Benyamin duduk disebelahnya sementara aku duduk diam di kursi di belakang mereka. Kedua tanganku  mendekap erat Al-Quran dengan terjemahan bahasa Inggris yang tadi pagi diberikan kepadaku oleh seorang mualaf Jerman yang kebetulan ikut menyaksikan ikrarku di dalam masjid. ” Sekarang kitab ini telah menjadi  kitab suciku”, bisikku dalam hati. Pikiranku melayang kemana-mana sementara mataku memandang ke luar jendela menatap kota tua, The Old Yerusalem yang telah memberiku cahaya kebenaran. Aku terus menatap ujung kubah emas, kubah Al-Aqsho dan pelatarannya  hingga akhirnya benar-benar lenyap dari pandanganku.

Selamat jalan, Mada. Jangan lupa beri kabar setibamu di Jakarta”, kata Benyamin dengan suara agak tersekat. ” Walaupun hanya tiga minggu namun aku merasa akan sangat kehilangan dirimu ”, lanjutnya.

Aku segera merangkulnya. ” Akupun merasa demikian, Benyamin. Aku sangat berterima-kasih atas kesediaanmu dan keluargamu menampung diriku selama berada di Yerusalem”, sahutku. ” Aku janji akan terus menjaga persahabatan kita.. sampaikan juga salamku untuk kedua orang-tuamu. Katakan juga maafkan aku bila selama berada di rumahmu aku telah membuat kalian repot dan bahkan mungkin menyakiti hati kalian ”, kataku tulus.

Selanjutnya aku merangkul Karim erat. Ia menepuk-nepuk bahuku pelan. ” Terima-kasih, Karim. Melalui perantaraanmulah aku terbebas dari kesesatan. Doakan aku semoga aku dapat menjadi Muslim yang baik”, kataku penuh haru.

Alhamdulillah, Allah bless you. You are my brother now, Mada”, jawab Karim. ” Jangan lupa pesanku dan juga   khutbah Syeikh Husein tadi pagi, segera cari seseorang yang dapat membimbingmu ”, lanjutnya.

***

Advertisements

Read Full Post »

Lega rasanya tiba di rumah kembali, kembali ke kehidupan normal. Keadaan rumah masih tidak berubah. Ibu dengan kesibukan kantornya, ayah dengan bisnisnya dan tante Rani dengan piano dan ritualnya. Kangen rasanya aku  dengan teman-teman kuliahku terutama Lukman. Aku ingin segera berbagi cerita dengannya. Pasti ia terkejut kegirangan mengetahui ke-Islamanku. Aku tahu sebenarnya sudah sejak lama  ia ingin agar aku memikirkan baik-baik ajaranku yang dianggapnya tidak cocok untuk orang-orang yang dapat berpikir normal sepertiku. Namun ternyata ia baru saja berangkat ke kampungnya di Lahat, Sumatra Selatan dalam rangka menyambut Ramadhan yang tinggal sepuluh hari itu. Dua tahun belakangan ini ia memang terbiasa melakukan hal tersebut. Kebetulan kampus memang  libur selama 10 hari.

Untuk menghindari kemacetan luar biasa menjelang Lebaran ”, begitu kilahnya ketika kutanyakan mengapa ia tidak pulang di hari Lebaran saja sebagaimana umumnya dilakukan orang-orang. ” Sebenarnya hanya orang Indonesia saja lho yang mewajibkan diri pulang kampung di hari Lebaran. Bagus-bagus aja sih untuk menjaga silaturahmi. Tapi aku tak tahan macetnya itu lho…” , jelasnya lagi.

Jadi selama 10 hari itu aku memutuskan untuk tetap tinggal di rumah, tidak kembali kekosan dulu. Kesempatan itu aku pergunakan untuk bolak balik ke toko buku mencari buku-buku untuk memperdalam ilmuku tentang Islam. Hingga suatu hari, sepulangku dari sebuah toko buku, aku mampir ke masjid karena aku dengar azan telah dikumandangkan. Selama aku menunggu shalat, ada seseorang yang menghampiriku dan memperkenalkan namanya sebagai Nasir. Ia mengajakku mengobrol kesana kemari. Setelah mengetahui bahwa aku adalah seorang mualaf segera selesai shalat ia mengajakku ke suatu tempat dimana aku bisa berkonsultasi mengenai Islam. Tentu saja aku senang dibuatnya.

Namun setelah beberapa kali pertemuan, akhirnya aku merasa ada yang tidak beres dengannya. Lelaki setengah baya yang selalu berpeci ini sering mengajakku mangkir shalat. ” Perintah shalat baru datang setelah kita hijrah ”, begitu alasannya. ” Tugas kita yang utama saat ini adalah  membentuk negara Islam dengan sistim hukum Islam pula. Contohnya adalah negara Madinah yang dibentuk Rasulullah. Kita harus hijrah karena tempat ini sudah tidak memenuhi persyaratan Islam. Kemungkaran seperti korupsi dan perzinahan meraja- lela. Ini adalah bagian dari jihad. Itu sebabnya kita harus mencari dana yang tidak sedikit, ” jelasnya lagi.

Untuk yang kesekian kalinya dalam seminggu, aku kembali menyerahkan sejumlah uang kepadanya. ” Kau tak usah khawatir.. uang yang kau berikan kepada kami akan dicatat di akhirat  sebagai amal ibadah yang tak terhitung pahalanya ”, kata salah seorang seorang teman Nasir  yang mengaku sebagai bendahara Negara Islam Indonesia yang mereka bentuk  beberapa tahun yang lalu itu.

Mulanya walau dengan berat hati aku masih bisa menerima alasan-alasan mereka. Tetapi ketika mereka mulai memaksaku untuk mengambil paksa harta kekayaan orang-tuaku, aku mulai ragu.” Harta kekayaan yang kita miliki hanyalah titipan Allah. Jadi kalau suatu saat Ia menghendaki, harus kita ambil walaupun secara paksa. Ini semua demi terbentuknya  negara Islam yang dikehendaki-Nya”. Yang lebih lagi membuatku pusing adalah kenyataan bahwa aku tidak hanya dilarang mengerjakan shalat namuh juga puasa serta  berhubungan dengan orang-orang yang kukenal. Padahal bulan Ramadhan telah tiba. Aku sangat mengharapkan bulan ini akan menjadi bulan pertamaku menjalankan salah satu kewajibanku sebagai seorang Muslim.

Maka dengan nekat, aku menghubungi Lukman secara diam-diam. Beruntung ia telah kembali dari kampungnya. Aku ceritakan semua kepadanya. Ia tampak sangat terkejut. ” Itu adalah aliran sesat. Bagus kau segera menghubungiku. Kau harus segera menghindar dari mereka. Namun berhati-hatilah…mereka sangat berbahaya. Tak mungkin kau dibiarkan begitu saja membocorkan rencana keji mereka ”, katanya khawatir.

Malam itu aku tak dapat memejamkan mata sedikitpun. Hatiku gelisah. Aku merasa menyesal  mengapa aku begitu mudah percaya kepada orang yang sama sekali tak kukenal. Aku merasa telah mengecewakan Karim dan Syeikh Husein yang berkali-kali mengingatkanku untuk segera mencari orang yang menguasai Islam dengan baik. Aku juga telah mengecewakan   orang-orang yang telah menjadi saksi ketika aku berikrar di Al-Aqsho tempo hari. Lebih dari itu aku bahkan telah menyia-nyiakan hidayah-Nya kepadaku.

Aku tersungkur, menangis tersedu-sedan diatas sajadah yang terbentang di hadapanku. Aku bertobat, memohon ampunan dan petunjuk untuk keluar dari masalah ini. Aku tak tahu pukul berapa tepatnya aku jatuh tertidur di atas sajadah tersebut  ketika tahu-tahu aku terbangun mendengar azan subuh dikumandangkan. Aku segera masuk kamar mandi, mencuci muka, berwudhu dan segera shalat.

Ketika itulah tiba-tiba aku mendengar ada yang menggedor pintu kamarku. Sebelum aku menyadari apa yang terjadi,  tahu-tahu ayahku telah berdiri dihadapanku. ” Apa-apaan ini ”, teriaknya menggelegar, memecahkan  pagi yang senyap itu. Walaupun  terkejut, aku memaksakan diri untuk menyelesaikan shalatku yang tinggal satu rakaat itu.

Hei…tulikah kau?”. serunya kali ini sambil mendorong tubuhku dengan kasar. Aku berusaha untuk bertahan. Namun ketika ia mulai menendang kakiku maka  akupun terjatuh dan menyerah.

Sejak kapan kamu berani meninggalkan ajaran leluhurmu hah ? ”, katanya geram. ” Ini pasti gara-gara kepergianmu ke negri terkutuk itu”, serunya lagi. Ibu dan tante Rani segera datang berlarian ke kamarku. Tante Rani langsung memelukku sambil berkata  ” Apa yang terjadi ?”tanyanya dengan nada khawatir.   ” Lihat apa  yang dilakukannya! ” jawab ayah sambil menunjuk sajadahku. ” Anak tak tahu diri… susah-payah dikasih makan, dididik, di biayai, di sekolahkan…tahu-tahu berkhianat… Ini gara-gara kamu tidak becus mendidik anak ini ”, semprot ayah penuh emosi sambil menunjuk muka ibu..

Jangan salahkan ibu ”, belaku. ” Aku memilih memeluk Islam bukan untuk mengkhianati leluhur kita apalagi mengkhianati ayah-ibu. Aku memilih agama ini karena kebenaran. Cobalah mengerti ayah. Islam adalah agama  yang datang dari Sang Pencipta untuk kita semua.. ”, aku berkata memelas. ”Keterlaluan kamu … anak bau kencur berani-beraninya mengkuliahi  orang-tua …”, serunya sambil mengangkat tangan hendak menamparku. Ibu segera menahan tangan ayah yang tinggal beberapa senti lagi  mengenai wajahku. ” Jangan pernah berani menyentuh anak ini. Tampar saja aku yang sudah kebal terhadap tanganmu yang menjijikkan itu”, tantang ibu.

Aku benar-benar terkejut melihat keberanian ibu melawan ayah. ” Tidak…tidak…ibu tidak bersalah”, kataku mencoba berdiri.” Awas kau Mada … Kuperingatkan, kalau kau tetap mencoba mengabaikan ajaran lelulur kita …. jangan pernah kau berharap bisa menginjakkan kembali kakimu ke rumah ini. Lupakah kau siapa ayahmu ini?Apa yang harus kukatakan pada keluarga besar kita…Harus kuletakkan dimana muka ini, hah?”, teriaknya memekakkan telingaku.

” Dan ingat, kalau kau sampai minggat…Jangan membawa apapun yang pernah kuberikan padaku”, ancamnya sambil meninggalkan kamar dan membanting pintu kamar.

Aku terhenyak. Belum sempat aku bernafas normal tiba-tiba dengan muka merah padam aku lihat  ibupun segera pergi meninggalkanku. Tinggal tante Rani yang menatapku tajam seolah menanti penjelasan. Namun aku diam saja. Aku terlalu shock melihat suasana yang tiba-tiba terjadi tersebut. Tanpa berkata sepatah katapun, tak lama kemudian iapun meninggalkanku sendirian dikamar.

***

Pukul  8 pagi itu aku telah berada di kamar Lukman. Dengan hanya membawa sepasang pakaian oleh-oleh dari tante Rani ketika ia pulang dari luar negri, aku memutuskan untuk meninggalkan rumah Aku melakukan semua ini dengan pertimbangan yang benar-benar matang. Aku sadar bahwa cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi. Aku tahu persis bahwa orang tua manapun pasti akan kecewa mengetahui anaknya tidak lagi mau mengikuti  kemauan dan kehendak mereka. Yang aku tidak siap adalah waktunya. Aku tidak mengira waktunya akan secepat ini.

Mulai detik ini hidupku berubah. Aku tidak lagi memiliki siapa-siapa, tidak punya tempat tinggal, tidak punya uang sepeserpun dan yang paling menyedihkan aku terpaksa harus meninggalkan bangku kuliahku. Mana mungkin aku mampu membayar biayanya, bisikku sedih.

Aku turut bersedih atas apa yang menimpamu, Mada, Namun yakinlah, ini semua sudah diatur-Nya. Ini demi kebaikanmu. Bukankah engkau sudah melakukan shalat istikharah malam sebelum kejadian? Jadi inilah jawabannya. Dengan begini kau terhindar dari aliran sesat yang baru saja mengintaimu ”, hibur Lukman.

Dan lagi aku pikir ini belum seberapa Mada. Aliran sesat yang kau hadapai tergolong kurang canggih kalau tidak mau dikatakan agak kasar. Orang yang memiliki akal pasti akan segera berpikir bahwa sebuah agama tidak mungkin mengajarkan sesuatu yang tidak terpuji, seperti mengambil harta tanpa izin siempunya dll.  Betul kan ? “, tanya Lukman.

Aku hanya mengangguk pelan.

 Itu masih lumayan. Ada lagi aliran yang sangat mengedepankan akal dan pikiran. Aliran ini berpangkal dari pemikiran barat yang cenderung selalu ingin kritis. Orang-orang JIL, contohnya. Sepintas mungkin kedengarannya memang bagus. Tetapi tampaknya mereka lupa,  agama bukan sains yang harus dapat dibuktikan dengan bukti-bukti indrawi. Agama adalah sesuatu yang memiliki keterikatan dengan sesuatu yang ghaib. Ini adalah keyakinan”, jelas Lukman.

” Betul pada tahap tertentu kita harus menggunakan akal. Tidak hanya mengekor pada tradisi dan kebiasaan. Namun setelah itu ada banyak hal yang tidak mungkin kita mampu memikirkannya. Allah swt hanya memberi kemampuan berpikir seorang manusia sebatas indra kita. Itu sebabnya Ia mengutus para nabi dan Rasul. Mereka adalah manusia pilihan yang wajib kita jadikan contoh dan keteladanan“, lanjut Lukman lagi setelah berhenti beberapa saat, dan mengambil nafas dalam-dalam.

Namun apa yang terjadi .. dengan berbagai dalih banyak orang Islam sekarang ini yang tidak mau mencontoh Rasulullah Muhammad saw.  Kau pernah dengar nama Rasyad Khailfah?”, tanya Lukman.

Aku menggeleng pelan namun kemudian aku teringat penjelasan Karim tempo hari tentang mukjizat angka 19.  Tanpa menunggu jawabanku Lukman meneruskan penjelasannya. ” Ia adalah seorang cendekiawan Mesir yang banyak terpengaruh pemikiran barat. Dengan izin-Nya, ia berhasil menemukan apa yang kemudian disebutnya Al-Quran Interlocking System.  Anehnya .. temuan tersebut bukannya makin mempertebal imannya. Yang ada dia malah mengaku bahwa dirinya adalah Rasul “.

Sampai disini aku benar-benar terkejut. ” Benarkah demikian ? “, tanyaku. “ Aku pernah diberi tahu sedikit tentang apa yang ditemukannya. Dan terus terang itu adalah salah satu penyebab mengapa aku kagum pada Al-Quran”.

Begitulah .. ia gegabah mentakwilkan ayat-ayat Al-Quran. Mungkin ketika itu keimanannya belum terlalu  kuat tertanam dalam dadanya. Itulah hasil pengaruh teman-teman dan didikan baratnya yang terlalu mengagungkan pemikiran manusia. Syaitan yang membisiki hatinya hingga ia menjadi congkak dan merasa dirinya adalah utusan Tuhan. Anehnya, pengikut ajaran ini banyak. Yaitu  orang-orang yang merasa diri pintar dan cenderung tidak ingin menjadikan nabi Muhammad saw sebagai panutan.  Mereka itulah yang disebut sebagai Ingkar Sunnah, orang yang tidak mempercayai sunnah atau hadist“, lanjutnya getir..

Akupun  termenung dibuatnya. Aku merasa bersyukur Allah swt telah berkenan menghindarkanku dari aliran pemikiran tersebut. Setelah hening sesaat Lukman berkata lagi, seperti berkata kepada sediri : ” Belum lagi ajaran Syiah dan Ahmadiyah, yang sudah jelas-jelas ditetapkan sesat oleh MUI tapi tetap saja diminati. Syiah dengan bermacam tingkat kesesatannya seperti menuhankan Ali bin Abi Thalib, para imam yang maksum, penistaan istri-isti nabi dan sahabat, nikah mutah dll. Sementara Ahmadiyah menganggap pemimpin mereka, Ahmah Gulam sebagai nabi”.

Aku hanya bisa terheran-heran mendengar penjelasan Lukman tak tahu harus berkata apa.

Aah, sudahlah Mada… yang penting kau sudah selamat, tak usah terlalu dipikirkan”, sambung Lukman menyadari temannya yang kelihatan bingung, tidak mengerti apa yang dibicarakannya.

” Kebetulan aku punya kenalan  uztad yang  menjadi pembimbing sebuah pesantren di Cisarua, Bogor. Aku yakin ia akan mampu mencarikanmu jalan keluar”,sambungnya memulai percakapan baru.

Dengan mengendarai angkot, pagi itu juga kami berdua pergi meninggalkan kosan Lukman menuju Cisarua, Bogor. Di sepanjang perjalanan kami hanya diam,  tak berkata sepatah katapun. Ingatanku masih berada pada kejadian pagi tadi. Aku teringat ekpresi wajah ayah. Ia kelihatan begitu terluka. Heran juga aku, seingatku ayah hampir tidak pernah melakukan ritual leluhurnya, tetapi ia marah besar ketika aku meninggalkan ajarannya. Aku hanya bisa berharap semoga penyakit jantungnya tidak kumat.

Akan halnya ibu. Terus-terang aku cukup kaget melihat reaksi ibu dalam melindungiku. Yaah…pikirku, bagaimanapun aku adalah anaknya. Namun sebegitu bencinyakah ibu pada ayah? Tidakkah ia dapat memaafkannya? Kasihan ibu…pikirku sedih. Bagaimana pula dengan tante Rani ? Pasti ia kecewa sekali. Pasti ia merasa telah gagal total dalam mendidik keponakan satu-satunya ini. ” Maafkan aku, tante ”, bisikku.

Setelah berganti angkot dan bus beberapa kali, tanpa terasa kami memasuki daerah Puncak. Udara sejuk pegunungan  yang menerpa wajahku memberi semangat baru padaku.

Kita makan dulu disini ”, ajak Lukman begitu turun dari angkot sambil menuju ke sebuah warteg tak jauh dari sana.” Jangan menolak, aku yang akan mentraktirmu….. aku tahu kau tak membawa cukup uang. Oleh karenanya kau harus menghemat uang yang tersisa di dompetmu itu ”, kata Lukman ketika aku hendak  merogoh dompet di saku celanaku..

Kau benar, Lukman. Maaf jadi merepotkanmu..”, kataku pasrah. ” Sudahlah… jangan  begitu.. kita sudah lama bersahabat. Dulu ketika kita masih berlainan kepercayaanpun kita sudah saling membantu. Apalagi sekarang, kita adalah bersaudara ”, tepuknya pelan dipundakku.

Untuk pertama kalinya aku merasa benar-benar bersyukur mempunyai sahabat seperti Lukman. Ia memang agak pemarah  namun hatinya baik. Tanpa diminta ia sering membantu teman-teman yang dalam kesulitan. Padahal aku tahu uang yang dikirim orang tuanya di kampung hanya pas-pasan. Namun tak pernah kulihat ia sedikitpun mengeluh.

Kami berjalan menyusuri sebuah jalan kecil di sebelah stasiun angkot. Lukman menawarkan untuk menumpang ojek karena perjalanan masih agak jauh. Namun aku menolaknya, aku tidak mau terlalu membebaninya.  Setengah jam kemudian kami tiba di sebuah persawahan yang luas. Di hadapanku terlihat gunung  Salak berdiri dengan gagahnya. Sebuah pemandangan yang menakjubkan. Tiba-tiba aku merasa gembira. Aku seolah-olah sedang pulang kampung, pulang kedalam pelukan alam  milik  Allah yang luas nan tentram.

Pesantren itu berada di balik sana. Aku yakin kau akan senang ditempat itu. Walaupun tentu saja kamarmu tak akan sebagus kamar di rumahmu…”, kata Lukman menggodaku. Aku hanya tersenyum saja, tidak ingin menanggapinya. ”Para pembimbingnyapun baik dan sabar. Ilmunya amat luas. Banyak orang-tua di kota-kota besar yang mengirim anak-anaknya ke pesantren ini”, jelasnya.

Dan yang terpenting….ini kau harus tahu Mada walaupun kau orang baru…jangan sembarangan memilih pesantren. Sekarang ini demi mencari perhatian dan mengharap bantuan keuangan pihak Barat, banyak intelektual Muslim  yang menggadaikan pemikiran Islam. Dengan bantuan keuangan yang tentu saja jumlahnya sangat besar mereka mendirikan atau bekerja sama dengan pesantren untuk mencetak anak didik yang ke-barat-baratan. Mereka tidak mengajarkan agama Islam yang murni melainkan disesuaikan dengan pemikiran sang penyuntik dana. Contohnya adalah pemahaman  Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme seperti orang-orang JIL dan si Rasul palsu Rasyad Khalifa tadi ”, jelas Lukman.

Orang-orang yang notabene adalah para intelektual Muslim ini sebenarnya tidak PD pada ajarannya sendiri. Ajaran Islam diartikan hanya sebatas ritual saja. Baju Islam hanya dikenakan ketika masuk masjid untuk melaksanakan shalat. Begitu keluar masing-masing segera mengenakan bajunya sendir-sendiri. Baju politik, baju budaya, baju demokrasi dan lain-lain adalah contohnya. Jamaah yang kompak dibawah pimpinan satu imam hanya berlaku didalam masjid. Diluar itu masing-masing berjalan semaunya sendiri. Hukum Islam diabaikan dan sebagai gantinya hukum Barat dengan teori Kapitalis dan Materialistislah yang didirikan dan dipuja”, tambahnya. Aku hanya manggut-manggut mencoba memahami penjelasannya. Aku menegaskan pada diriku sendiri bahwa aku tak mau lagi salah dan tersesat untuk kedua kalinya.

***

Sudah seminggu aku mondok di pesantren Al-Huda. Aku bersyukur akhirnya diberi kesempatan oleh-Nya untuk merasakan Ramadhan dengan suasana yang benar-benar Islami. Bersama puluhan santri disitu aku tahajud, sahur, mengaji, berbuka dn shalat tarawih. Di tengah pemandangan alamnya yang begitu memukau membuatku benar-benar jatuh hati pada tempat ini. Lukman benar. Aku betah dan yang terpenting di tempat ini aku dapat menimba ilmu yang luas. Uztad dan para pembimbing di pesantren ini membiasakan santrinya untuk aktif bertanya. Semua penjelasan selalu diberikan lengkap dengan ayat-ayat Al-Quran dan hadisnya bila ada. Sedikit demi sedikit aku mulai mengenal  huruf Arab. Mulanya aku agak malu karena hampir semua santri sudah lancar membaca Al-Quran. Namun berkat dorongan mereka pula akhirnya hilang rasa malu itu.

Satu hal yang mengganjal di hati. Rasanya aku tak nyaman  makan, minum dan tidur tanpa sedikitpun mengeluarkan uang untuk semua keperluan itu. Bisa dibilang aku adalah santri tertua karena sebagian besar santri adalah lulusan  tsanawiyah atau SMP yang berarti sekitar umur 15 tahunan sedangkan aku tahun ini sudah memasuki usia  20 tahun.. Aku ingin bekerja mencari uang. Kuutarakan keinginanku itu kepada uztad Abdullah, pembimbingku.

”  Kalau kau benar-benar ingin bekerja sambil terus meneruskan belajar di pesantren ini, aku rasa hanya lowongan  sopir angkot yang memungkinkan”, katanya menanggapi keinginanku. ” Kau bisa tetap mondok di pesantren ini, pagi setelah subuh kau berangkat mengambil angkot di terminal dan bekerja hingga pukul 3 untuk kemudian meneruskan pelajaranmu bersama santri kelas sore”, lanjutnya.

Aku segera menerima baik usulannya tersebut. Maka beberapa hari kemudian setelah mengurus SIM dan keperluan-keperluan lainnya akupun sudah dapat memulai babak baru kehidupanku sebagai santri merangkap sopir angkot jurusan Cisarua – Bogor. Walaupun upahku tak seberapa apalagi dibanding  pemberian uang ayahku dulu, aku dapat menikmatinya dengan senang.  Bahkan demi menunaikan zakat, setiap harinya aku selalu berusaha menyisihkan sebagian rezekiku itu. Aku benar-benar bersyukur diberi kesempatan untuk merasakan kebahagiaan tersendiri ketika melihat ekspresi orang yang menerima zakat yang tidak seberapa itu.

Sementara itu, selama 6 bulan aku nyantri, aku telah beberapa kali menulis surat kepada kedua orangtuaku dan tante Rani. Aku sengaja tidak menuliskan alamatku, khawatir mereka menyusulku dan memaksaku pulang ke rumah. Dalam suratku yang pertama, aku hanya memohon maaf kepada mereka karena telah meninggalkan rumah dan membuat mereka kecewa atas prilaku. Aku juga mengabarkan bahwa aku dalam keadaan baik dan sehat.

Sedangkan surat keduaku berbunyi sebagai berikut :

Yang kucintai ayah, ibu dan tante Rani,

Aku selalu berdoa semoga ayah, ibu dan tante dalam keadaan sehat dan baik. Saat ini aku mondok  di sebuah pesantren di bilangan Jawa Barat. Sementara aku tidak bisa mengatakan alamatnya, semoga kalian mau memakluminya.

Tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat dan terima-kasihku terhadap jasa ayah dan ibu, untuk sementara aku sudah bisa mencari sedikit uang untuk sekedar hidup. Jadi aku harap ayah, ibu dan tante tidak perlu terlalu mengkhawatirkan keadaan keuanganku.

Ayah, ibu dan tante Rani yang amat kusayangi,

Banyak yang kudapat dari pesantren…

Islam mengajarkan bahwa yang menciptakan kita adalah zat yang sama dengan yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya…Dialah yang memberi kita hidup. Dialah yang memberi kita rezeki, yang memberi kita kesehatan, yang menjaga kita, yang menimbulnya rasa kasih sayang diantara kita dan Dia juga yang mematikan kita nanti.

Ayah dan ibu yang kuhormati,

Islam juga mengajarkan bahwa ridho-Nya tergantung ridho kedua orang-tua. Oleh karenanya, aku memohon ya ayah dan ibu…. ridhoilah aku memeluk agama Islam … Aku mohon dengan sangat….

Salam hormatku,

Mada.

Surat keduaku itu kutulis di pagi buta usai mengerjakan shalat tahajud. Kutulis dengan setulus hatiku. Aku benar-benar sedih mendengar penjelasan uztad ketika ia menjelaskan bahwa Islam mengajarkan seseorang untuk mencari ridho kedua orang-tuanya. Yah…semoga Allah, Tuhanku berkenan membuka hati mereka berdua. ” Ya Allah, kabulkanlah permintaan hambamu yang hina  ini ”.

***

Read Full Post »

Suatu hari datang beberapa orang tamu dari Jakarta. Mereka adalah anggota salah satu LSM ( Lembaga Swadaya Mayarakat) yang bergerak di bidang kesehatan. Biasanya LSM ini memberikan bantuan darurat khusus kepada para korban perang. Rupanya kedatangan mereka berhubungan dengan rencana keberangkat mereka menuju Tepi Barat di Palestina. Demi keberhasilan misinya  mereka mencari relawan yang bersedia ikut membantu tugas mulia mereka. Maka tanpa ditanya dua kali aku segera menyatakan kesediaanku untuk bergabung. Sebetulnya ada 15 orang yang berminat  untuk ikut serta namun setelah melalui sejumlah wawancara akhirnya hanya 3 orang yang lolos, termasuk aku.

Sebelum berangkat aku menyempatkan diri untuk menulis surat kepada ayah dan ibu memohon  doa restu mereka berdua agar di negri orang nanti aku selalu  dalam lindungan-Nya. Sebaliknya aku juga memohon bila terjadi sesuatu kepadaku nanti ayah dan ibu mau memaafkan aku.

***

Sebulan kemudian setelah mendapatkan pelatihan   selama kurang lebih 2 minggu di kantor LSM tersebut, bersama 30 orang lainnya kamipun berangkat ke tempat tujuan. Tidak seperti kedatanganku kali pertama ke Palestina, kali ini dari Amman, Yordania kami langsung naik bus menuju kota Nablus  di Tepi Barat, sekitar 60 km utara Yerusalem. Di luar persangkaanku Nablus ternyata adalah sebuah kota industri yang cukup besar. Kota ini terkenal di manca negara akan produksi eksport sabunnya  yang terbuat dari minyak zaitun. Sayang, sejak pendudukan Israel pada tahun1948, lebih dari separuh pabriknyapun gulung tikar karena bangkrut. Ini terjadi hampir di seluruh sektor industri di seluruh negri termasuk Nablus.

Nablus juga mempunyai universitas yang cukup besar, namanya An-Najah National University. Universitas ini adalah universitas  terbesar di Tepi Barat. Dibangun pada tahun 1918 sebagai sekolah An-Najah akhirnya berkembang menjadi universitas  yang memiliki banyak fakultas diantaranya fakultas kedokteran, kedokteran hewan, kedokteran mata, farmasi, tehnik, hukum Islam  dan lain-lain. Pada tahun 1988 universitas ini sempat ditutup oleh otoritas Israel karena dianggap melawan kebijakan pemerintahan pendudukan.

Rasanya belum ada catatan dalam sejarah dimana sebuah kota dikelilingi lebih dari 100 cekpoint. Namun begitulah Nablus. Di kota ini tak seorangpun dapat pergi dan pulang ke rumahnya  sendiri tanpa harus melewati pos pemeriksaan dimana tentara Israel lengkap dengan senjatanya memeriksa tubuh dan bawaan mereka, setiap hari! Nablusi memiliki  6 rumah sakit besar disamping pula  4 kamp yang dihuni sekitar 35.000 pengungsi.

Di kota inilah kami disambut perwakilan organisasi induk yang khusus menangani bantuan kesehatan darurat pasca perang. Kelompok kami dipecah menjadi 10 tim untuk kemudian digabung dengan tim gabungan dari berbagai negara. Kemudian tiap tim yang terdiri dari 20 orang itu, dua diantaranya dokter, satu dokter umum dan satu lagi dokter bedah, plus peralatan medisnya langsung diterjunkan ke daerah-daerah rawan seperti kamp Balata , Ramalah.dan lain-lain.

Aku sendiri di tempatkan di sebuah desa kecil bernama Azmut sekitar 5 kilometer timur laut dari Nablus. Desa ini terletak di kaki bukit dimana pendatang sekaligus pemerintah ilegal Israel mendirikan permukiman Yahudi, sebuah perumahan mewah bernama Elon Moreh. Dengan mengendarai tiga jip terbuka tim kami tiba  di tempat tersebut menjelang ashar. Kami segera mendirikan empat buah tenda. Satu tenda besar untuk menampung korban, tiga tenda sedang  masing-masing untuk menyimpan obat-obatan dan segala perlengkapan lainnya sedang dua tenda sisanya untuk ditempati tim medis dan para relawan.

Selama kami bekerja, di kejauhan aku dapat mendengar suara desingan peluru di udara. Dari seorang kenalan baruku, seorang relawan Amerika bernama Mahmud, hampir setiap hari terjadi pertempuran di daerah itu. Mahmud yag bernama asli Michael Reed ini adalah seorang mualaf yang telah beberapa kali ikut menjadi relawan didaerah pergolakan. Ia pernah diperbantukan di Afganistan dan  Libanon. Jalur Gaza baginya adalah yang ketiga.

Di tengah keasyikanku mendengar cerita dan pengalaman beberapa kenalan baruku, tiba-tiba datang seorang pejuang Palestina yang menggandeng temannya yang luka parah pada tempurung lutut kanannya. Darah segar mengucur deras dari lukanya, membasahi  celananya. Kamipun segera bubar memberikan pertolongan. Ini adalah kali pertama aku melihat darah sebanyak itu keluar dari sebuah luka. Seketika perasaan mual menyerang perutku namun sedapat mungkin kutahan. Aku tak ingin terlihat tolol ditengah para relawan terutama para pejuang yang dengan begitu gagah berani mempertaruhkan nyawa demi membela bangsa dan keyakinannya itu.

Dengan cekatan dokter Yatim Razak, seorang dokter bedah tulang  berkebangsaan Indonesia dibantu dokter Pierre Orsolini, dokter umum belia  berkebangsaan Kanada beserta tim, segera  mempersiapkan operasi untuk mengeluarkan peluru yang rupanya masih bersarang di lutut kanan mujahidin tersebut. Dengan sigap tim bekerja sama dan dalam waktu tidak lebih dari 45 menit operasipun selesai.

Namun belum sempat kami bernafas lega, tiba-tiba datang lagi dua orang mujahid. Kali mereka datang sambil membopong seorang temannya yang terluka di dada kirinya. “ Jantungnya “, kata  Mahmud pelan di telingaku. Kembali tim disibukkan dengan operasi berikutnya. “ Alhamdulillah”, kata  dokter Yatim lega. “ Hanya menyerempet jantungnya”.

Selanjutnya  berturut-turut datang  sejumlah  pejuang membawa teman-temannya yang menjadi korban tembakan. Di kejauhan tampak bunga api terus berpijaran menerangi langit malam sementara suara tembakan yang mengiringinya memecah keheningan malam. Keadaan seperti ini terus berlangsung hingga pukul 2 dinihari. Setelah itu tembakan hanya terdengar sekali-sekali, itupun dari tempat yang benar-benar sangat  jauh. Menurut beberapa pejuang pasukan lawan sementara dapat ditundukkan.

Mereka mundur untuk sementara. Namun kita tetap tidak boleh lengah. “, kata seseorang yang aku perkirakan sebagai pemimpin para pejuang itu. “ Mereka akan datang lagi begitu mendapatkan bantuan senjata dari pusat”, kata seorang yang lain lagi.

Bayangkan, dengan persenjataan terbatas… itupun hanya senjata rongsokan yang kami beli secara gelap dari pihak tertentu…kami harus melawan persenjataan modern dan canggih yang mereka datangkan khusus dari Amerika Serikat”, keluh sang pemimpin. “ Namun sampai kapanpun, Demi Allah, kami harus melawan….. ini adalah rumah kami, tanah yang telah ratusan bahkan ribuan tahun lamanya kami tempati secara turun temurun”, lanjutnya lagi dengan berapi-api. Tak sedikitpun tampak  rasa takut maupun lelah pada wajahnya. Kagum aku dibuatnya.

Beberapa lama kemudian,  rasanya belum setengah jam aku berusaha untuk memejamkan mata, terdengar di kejauhan azan subuh berkumandang. Segera  secara berkelompok dan bergantian, kami meninggalkan tenda menuju tempat berwudhu.  Begitu ke luar tenda, kurasakan angin dingin menerpa serasa menusuk tulang rusuk dadaku. Padahal aku mengenakan jaket yang cukup tebal. Belum lagi ketika  air dingin menyentuh jari-jari ke dua tangan, lengan, muka serta kedua kakiku.

Bbrr...”, aku berusaha menahan rasa beku itu sambil berdoa memohon pada-Nya agar bangsa Palestina segera keluar dari kemelut berkepanjangan ini. Aku sungguh tak dapat  membayangkan bagaimana perasaan rakyat Palestina selama 60 tahun di bawah cengkeraman penjajahan Israel. Belum lagi membayangkan cuaca negri ini yang antara siang dan malamnya seperti langit dan bumi.

Tak lama kemudian aku sudah berada di dalam shaf shalat subuh berjamaah kelompok pertama sementara kelompok berikutnya tetap berjaga-jaga.

Begitu yang diajarkan Islam”, kata Naji Zuhair, sang pemimpin yang malam itu memang ikut tidur di tenda kami. “ Walaupun kita harus melaksanakan kewajiban dari-Nya, tidak berarti kita lalai menghadapi musuh”.

***

Tiga minggu kemudian karena persediaan obat mulai menipis, aku dan  Mahmud dengan dipandu  Handala Assus, seorang relawan  Palestina mendapat tugas untuk mengambil  obat-obatan di kantor pusat. Untuk itu kami bertiga harus menempuh perjalanan sekitar 25 km dengan berjalan kaki keluar masuk hutan selama lebih dari 15  jam !

Sebenarnya jarak desa tempat kami bertugas dengan kantor pusat tidak seberapa jauh. Namun sejak didirikannya tembok yang oleh pihak Israel disebut sebagai tembok pengaman, sementara pihak rakyat setempat bertanya-tanya pengaman dari apa, jarak antara keduanya menjadi jauh karena terpaksa harus berputar.

Namun demikian aku perhatikan di beberapa tempat, dimana pemisah hanya terbuat dari kawat berduri, rakyat memotong kawat pemisah tersebut. Hingga dengan demikian mereka tidak  perlu berputar terlalu jauh. Bahkan selama perjalanan itu aku sempat berpapasan dengan seorang ibu muda yang sedang hamil  tua, dengan di bimbing dua orang remaja belasan tahun, terpaksa bersusah payah  menerobos pagar kawat yang sudah diputus itu.

Katanya ia sedang menuju ke dusun sebelah untuk konsultasi dokter, sementara suaminya sedang ikut berjuang bersama warga lain. Aku dengar, sejak berdirinya tembok pemisah tersebut banyak korban  berjatuhan. Pasalnya orang yang dalam keadaan sakit keras  dan memerlukan pelayanan kesehatan segera terpaksa menempuh jarak lebih jauh dan lebih lama  hingga terlambat mendapatkan pertolongan

Suatu ketika, ketika kami tengah berjalan menyebrangi sebuah padang rumput, terdengar keributan. Kami segera mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Terkejut kami  dibuatnya. Hanya beberapa meter dihadapan kami terlihat  serombongan anak sekolah Palestina sedang didorong-dorong serombongan anak-anak Israel. Padahal anak-anak itu didampingi guru-guru mereka. Bahkan sang guru yang mengenakan jilbab panjang itupun tak luput dari serangan. Mereka terlihat sedang berusaha menuju  satu-satunya tangga curam yang terbuat dari tanah liat licin karena memang hanya itulah satu-satunya jalan untuk menempuh jalan pulang dan pergi dari dan ke sekolah.

Lebih parah lagi, bahkan anak-anak yang kuperkirakan  berumur antara 10-11 tahun itu, ketika sedang berusaha turun tanggapun terlihat dilempari batu-batu kecil dari arah  bawah tangga oleh anak-anak  Israel layaknya anjing yang diperlakukan dengan kasar. Sementara polisi yang berjaga di sekitar mereka lengkap dengan panser yang diparkir di dekat lokasi malah berusaha melindungi anak-anak Israel itu dari kemarahan guru-guru Palestina.

Kami bertiga segera berusaha melindungi anak-anak Palestina yang malang itu dari lemparan batu namun tak urung kamipun terkena  lemparan batu batu juga. Aku tak habis pikir apa doktrin yang diselipkan ke balik otak anak-anak Israel itu.

Sementara itu aku jadi teringat pada sebuah gerakan yang dikenal dengan nama intifada. Intifada adalah perbuatan melempar batu yang dilakukan oleh anak-anak muda Palestina ke arah tank-tank pasukan Israel. Ini karena rakyat Palestina merasa tidak mendapatkan perlindungan dan pembelaan dari negara-negara Arab sebagaimana sebelumnya karena negara-negara tersebut sedang disibukkan urusan negri masing-masing.

Merasa tidak memiliki sesuatu apapun untuk membela  dan  mempertahankan diri dan tanah mereka dari agresi Israel maka merekapun melakukan pelemparan batu.  Aku pikir di Indonesia mungkin sama dengan senjata bambu runcing dalam menghadapi penjajah Belanda.

Lepas dari tempat tersebut kami meneruskan perjalanan. Di sepanjang jalan yang kami lewati, aku menghitung ada lebih dari 15 pos pemeriksaan. Di setiap pos tersebut aku melihat  antrean panjang  orang-orang  yang hendak pergi bekerja maupun pergi ke sekolah.

Inilah yang terjadi setiap hari ”, omel sejumlah orang yang kutanyai mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

Setiba di pos pemeriksaan yang diberi nama Huwwara, terjadi masalah. Pos ini untuk sementara ditutup dengan alasan keamanan. Kami tdak diizinkan masuk kota walaupun Handala menerangkan bahwa kedatangan kami hanya untuk mengambil obat-obatan untuk orang yang sakit di luar kota. Aku memandang sekelilingku. Terlihat puluhan penduduk Palestina, ada laki-laki, perempuan, anak-anak maupun orang-tua. Sejumlah truk besar ikut mengantri di depan pos tersebut.

Truk itu berisi peralatan bantuan medis”, terang Handala “. Aku perhatikan memang ada spanduk besar Unicef di samping truk.  “ Dan yang itu “, tunjuk Mahmud seolah tak mau kalah sambil menunjuk truk di belakangnya, “ berisi bantuan makanan….biasanya roti “. “ Hal sepert inilah yang menyebabkan Nablus dan desa-desa kecil sekitarnya sering kekurangan makanan “, lanjut Handala dengan nada kesal.

Setelah menanti hampir 3 jam tanpa tanda-tanda dibukanya pintu  pos, Handala pergi menghampiri sopir truk yang membawa perbekalan makanan. Terjadi percakapan diantaranya keduanya. Tak lama kemudian sopir truk tersebut pergi ke bagaian belakang truk dan mengeluarkan  beberapa kotak besar makanan. Setelah itu Handala menghampiri sopir truk yang membawa peralatan medis. Tak lama kemudian sopir melakukan hal yang sama dengan sopir sebelumnya. Aku dan Mahmud hanya memperhatikan apa yang dilakukan Handala dari kejauhan tanpa tahu apa maksudnya.

Tak lama kemudian sambil membopong sejumlah kotak-kotak tersebut,  Handala  segera berjalan cepat menuju pintu pos pemeriksaan sambil berteriak :

Do like what I do Mada and  Mahmud ! “.  Maka tanpa berpikir dua kali aku dan Mahmudpun  segera meniru perbuatan Handala  dan cepat menyusulnya menuju pintu pos.

Setelah sunyi sebentar, mungkin para penjaga agak kaget melihat apa yang kami lakukan, terdengar teriakkan : “ Hey hey…stop…what are  you doing?  where will you go ?” . “Go inside”, jawab Handala tanpa sedikitpun menoleh. “ Itu dilarang… kalian tidak diperbolehkan masuk “, seru si penjaga yang kuperkirakan usianya baru 16 tahunan.

So.. you will shoot us ? Shoot…”, tantang Handala lagi sambil membalikkan badannya hingga menghadap ke arahnya. Si penjaga dengan wajah lugunya itu hanya bisa terdiam dan membiarkan kami bolak-balik melakukan  hal yang sama selama 3 kali.

Setelah itu Handala berkata “ Aku kira cukup untuk kali ini”, katanya kepada kami. “ Syukron. “,  katanya sambil menepuk bahu sang penjaga bersenapan panjang itu santai.” Ingatlah…. di dalam sana banyak yang membutuhkan barang-barang tersebut  “.

Beberapa menit kemudian kami telah berbalik arah sambil membopong beberapa kotak obat dan satu kotak makanan untuk dibawa ke pos kami di Azmut. Namun gara-gara pos yang ditutup tersebut,  langkah kamipun ikut tertunda. Kami bertiga  terbentur dengan jam malam yang telah berlaku sejak tahunan lamanya itu.

Akhirnya Handala memutuskan untuk sementara menginap di kamp terdekat, yaitu kamp Balata yang hanya berjarak beberapa km dari tempat kami berdiri. Yang dinamakan kamp disini jangan dibayangkan seperti kemah atau tenda besar dengan kuali-kuali besar berisi masakan. Karena telah bertahun-tahun kamp ini berdiri, bangunan kamp adalah sudah setengah permanen. Buatku ini adalah pengalaman yang tak akan terlupakan.

Kami didalam kamp berdesakan dengan keluarga-keluarga yang telah lama tingggal di tempat tersebut. Bahkan banyak diantara mereka yang lahir dan besar di kamp ini. Dengan penerangan yang amat minim dapat aku dengar sayup-sayup di kejauhan suara orang melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Mungkin dari arah masjid yang tak begitu jauh dari kamp. Ingatanku melayang ke Yerusalem. Sungguh syahdu perasaanku.

Namun di tengah-tengah keadaan seperti itu, tiba-tiba terdengar suara-suara berisik mengganggu mendekati kamp dimana aku berada. “ Suara apakah itu ? “, tanyaku pada Handala. “ Lihat “, seru Mahmud sebelum Handala sempat menjawab  pertanyaanku.  Aku segera mendekati jendela dan melihat ke arah Mahmud menunjukkan jarinya. Aku lihat di ujung sana sejumlah  jip tentara , tank dan buldozer mendekati kamp.

Apa mau mereka ?” tanyaku khawatir. “ Inilah yang terjadi setiap hari “, jelas Handala. “ Mereka  ingin menakuti-nakuti warga supaya kami mau meninggalkan tempat ini. Sering kali secara tiba-tiba mereka itu bahkan membuldozer sejumlah rumah ditengah malam ketika penghuninya sedang tidur nyenyak”.

Belum selesai Handala melanjutkan penjelasannya tiba-tiba terdengar suara tembakan dan granat yang meledak di udara. “ Duarrr.…”, berdiri seluruh bulu kudukku. Beberapa detik kemudian muncul kesunyian.  Setelah menunggu beberapa saat , aku  kembali menghampiri jendela ingin melihat apa yang  terjadi. Dibalik kepulan asap yang membumbung tinggi aku melihat jip, tank dan buldozer tadi  pergi meninggalkan kamp.

Kami semua menghela nafas lega. Sambil mengangkat kedua tangannya  Handala berkata : “ Kami sudah terbiasa menghadapi semua ini  Hampir setiap hari ada saja teman dan saudara yang tertembak, terbunuh, terluka, diculik atau dipenjarakan. Tapi demi Allah kami tidak akan menyerahkan tanah ini kepada orang-orang kafir itu. Sabar, shalat dan berjuang adalah moto kami. Dengan demikian Insya Allah pertolongan-Nya pasti datang. Ini adalah jihad dalam rangka menegakkan kebenaran”, jelas Handala sambil menguap menahan kantuk.

***

Keesokan paginya, ketika hendak berwudhu, Handala mengingatkan aku dan Mahmud untuk menghemat air. “ Air disini sangat berharga. Gunakan secukupnya saja “. Pemerintah Israel memang sudah kelewatan. Pemakaian air sangat dibatasi namun wargapun dilarang membangun sumur. Alasannya tanah tempat mereka berdiam adalah tanah kamp milik tentara Israel. Artinya membangun sumur berarti perbuatan ilegal yang beresiko mendapatkan hukuman kurungan penjara. Begitu Handala memberikan penjelasan.

Usai mendirikan shalat subuh, kami bertiga segera pergi meninggalkan kamp Balata dan menuju Azmut. “ Mereka pasti sudah menunggu kita. Obat-obatan ini sangat dibutuhkan para korban yang pasti hari ini sudah makin bertambah banyak  ”, jelas Handala.

Sambil membopong kotak berisi obat-obatan kami melanjutkan perjalanan. Kami melewati beberapa desa yang telah kosong ditinggalkan penduduknya sementara itu terlihat jelas rontokan bangunan yang telah hancur di gempur bom dari udara. Menurut Handala, sebagian besar penduduk Palestina hingga saat ini hidup di dalam pengungsian.

Kamp Balata yang baru saja kami tinggalkan pagi tadi hanyalah salah satu diantara banyak kamp pengungsi yang tersebar di seluruh Palestina. Bagi yang cukup memiliki uang dan sanak saudara di luar Palestina, mereka memilih pergi dan hidup di pengasingan. Yordania dan Mesir adalah yang paling menjanjikan kehidupan yang lebih baik dibanding hidup di dalam kamp dalam negri yang bahkan fasilitas listrik dan airnyapun sangat terbatas.

Di tengah perjalanan, ketika kami hampir mencapai perbukitan  dekat pemukiman Yahudi Elon Moreh, terdengar kegaduhan. Setelah kami dekati ternyata itu adalah suara seorang warga Palestina yang bermaksud memanen buah zaitun dari kebun yang telah lama dinantikannya dengan dua orang tentara Israel. Dari percakapan yang kami tangkap, tentara Israel tersebut berusaha melarang  warga Palestina itu untuk memanen buah zaitunnya meskipun itu adalah kebunnya sendiri.

Aneh…, bukankah itu kebunnya sendiri ?”, tanyaku heran pada Handala. “ Ya begitulah….alasannya adalah penghuni pemukiman Yahudi di bukit diatas”, kata Handala sambil menunjuk ke pemukiman yang terlihat mewah itu. “ Mereka pasti akan merasa terganggu dan menjadi marah”. Aku sama sekali tak mengerti arah pembicaraannya namun aku tidak bertanya lagi.

Untung   tak lama kemudian muncul polisi internasional yang memang bertugas menjaga keamanan wilayah itu. Merekalah yang kemudian mengizinkan  warga Palestina itu memanen buahnya dengan syarat tidak terlalu lama. Tak lama kemudian baik polisi maupun tentara Israel itupun pergi meninggalkan sang warga Palestina memanen zaitunnya. Kamipun segera meneruskan perjalanan kami.

Namun belum 15 menit kami berlalu tiba-tiba terdengar bunyi benda keras  yang ditabrakkan. Kami segera berbalik arah menuju ke tempat datangnya suara untuk melihat apa yang terjadi. Dari  kejauhan terlihat sebuah jip sedang  menabrakkan kendaraannya secara berkali-kali ke arah pick-up tua milik  warga Palestina yang tadi sedang memetik  buah zaitunnya!

Setengah berlari kami menuju tempat tersebut. Menyadari ada orang mendekat, jip segera menderu meninggalkan  tempat kejadian. Syukur alhamdulillah tidak ada yang terluka.

Ya Allah Ya Robbi, lihatlah apa yang diperbuat para pendatang itu. Mereka tidak hanya menzalimi diri kami tetapi juga menzalimi diri mereka sendiri. Ya Allah saksikanlah bahwa kami adalah termasuk hamba-hamba-Mu yang bersabar atas cobaan yang Engkau datangkan kepada kami “, begitu ratapan istri pemilik kebun itu. Terus terang aku terkagum-kagum mendengar isi ratapannya.

Aku lihat bapak pemilik kebun sedang memeriksa kerusakan mobil tuanya sementara ketiga anak perempuannya yang masih berumur belasan tahun itu saling berpelukan sambil menangis. Handala mendekati pick-up yang rusak berat sambil menghibur si empunya sementara aku dan Mahmud memunguti buah zaitun yang  berserakan di tanah. Aku tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun, rasanya kelu bibir ini. “Sungguh perbuatan biadab…Semoga Allah SWT membalasnya ”, kutukku dalam hati.

***

Read Full Post »

Tanpa terasa waktu cepat berlalu. Tiga bulan lamanya aku berada di Palestina. Banyak pengalaman dan pelajaran berharga yang kudapatkan. Aku sungguh bersyukur  ketika itu cepat memutuskan bergabung dengan lembaga masyarakat yang bergerak dalam bidang bantuan  kesehatan bagi para korban perang ini. Rasanya banyak yang belum aku lakukan dan korbankan demi menegakkan ajaran-Nya. Aku tidak ada apa-apanya dibanding para mujahid yang dengan gagah berani rela mengorbankan jiwa dan raganya.

Suatu hari Mahmud memperkenalkanku dengan salah satu kenalannya. Ia adalah seorang doktor lulusan universitas Islam Madinah, Arab Saudi. Ia khusus datang mengunjungi para relawan di kamp-kamp Palestina untuk memberikan dorongan. Dr Ibrahim yang bernama asli David Gray ini adalah teman lama Mahmud ketika mereka masih mukim di New Jersey, Amerika Serikat. Aku sempat berbincang-bincang lama dengannya.

Darinya aku mengetahui bahwa universitas tempat ia menimba ilmu keislaman menyediakan beasiswa bagi siapa yang berminat. Aku segera mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan keperluan tersebut seperti persyaratan, orang-orang yang dapat aku hubungi dan sebagainya.

***

Sepulangku dari Palestina, aku segera menyampaikan keinginanku kepada uztad Abdullah pembimbingku di pesantren untuk kuliah di universitas Madinah. Aku juga menceritakan kepadanya bahwa aku telah memiliki keterangan lengkap mengenai perguruan tinggi tersebut lengkap dengan keterangan mengenai beasiswa yang dikeluarkan mereka. Dengan penuh antusias uztad Abdullah menyambut gembira keinginanku tersebut.

Beberapa minggu kemudian dengan bantuannya aku berhasil mendapatkan beasiswa yang sangat kuharapkan tersebut. ” Alhamdulillah”, pujiku. Aku mendapat bimbingan kilat khusus bahasa Arab percakapan dari teman uztad Abdullah yang pernah lama menetap di Madinah. Aku terpaksa berhenti menjadi sopir angkot karena waktunya sangat mendesak. Aku bersyukur para guru, pembimbing dan bahkan teman-teman di pesantren dapat memaklumi kesibukan baruku itu.

Setelah semua keperluan administrasi lengkap baik untuk urusan perkuliahan maupun urusan tiket, paspor berikut visanya akupun menyempatkan diri menulis surat untuk kedua orang-tuaku dan juga tante Rani.

Yang tercinta ayah, ibu dan tante Rani.

Alhamdulillah sekembaliku dari Palestina beberapa minggu yang lalu aku dalam keadaan baik dan sehat. Semoga begitu juga keadaan ayah, ibu dan tante.

Kali ini aku ingin mengabarkan bahwa aku mendapatkan beasiswa untuk belajar dan menuntut ilmu keislaman di salah sebuah universitas terbaik di Madinah, Arab Saudi. Walaupun kepercayaan kita sekarang untuk sementara tidak sama namun aku tetap memohon doa restu kalian bertiga. Rencana aku akan berangkat Senin depan ini.

Dengan memperdalam kepercayaan baruku di tempat lahirnya, aku akan membuktikan  bahwa Islam bukanlah agama teror sebagaimana yang sering diisukan pihak Barat.

Salam,

Mada.

***

Universitas Islam Madinah adalah sebuah universitas Islam tertua di Saudi Arabia, yang sering didatangi oleh utusan berbagai negara. Perguruan tinggi Islam yang letaknya  tidak  seberapa jauh dari Masjid Nabawi ini terdaftar memiliki mahasiswa asal Indonesia lebih banyak dibandingkan dengan mahasiswa yang belajar di Universitas Saudi lainnya. Data terakhir menunjukkan jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di universitas ini lebih dari 130 orang.

IUM ( Islamic University of Madinah ) memiliki lima fakultas yaitu fakultas Syariah, fakultas Dakwah dan Ushuluddin, fakultas Al-Qur’an dan Dirasah Islamiyah, fakultas Bahasa Arab, dan fakultas Hadits dan Dirasah Islamiyah. Aku mulanya tidak tahu harus memilih fakultas yang mana. Namun berkat bimbingan dan arahan teman-teman baru Indonesiaku di tempat ini, akhirnya aku memutuskan untuk belajar di fakultas Al-Quran dan Dirasah Islamiyah.

Selama aku menuntut ilmu di Madinah ini, aku akan menempati sebuah kamar berdua dengan seorang teman yang juga dari Indonesia di asrama mahasiswa yang didominasi oleh mahasiswa dari Asia Tenggara. Sementara itu untuk sekedar menambah uang saku, aku telah didaftarkan teman sekamarku, Sofyan, sebagai pegawai tak tetap di sebuah biro perjalanan haji dan umrah yang berpusat di Paris, Perancis.. Tugasku nantinya adalah menjadi sopir cadangan bila sewaktu-waktu sopir yang sebenarnya berhalangan hadir. Tentu saja aku akan didampingi seseorang yang mengenal baik liku-liku jalan di kota Madinah ini karena aku masih baru di kota ini.

Namun begitu aku juga bertanya-tanya mengapa aku yang dipilih? Ternyata karena aku menguasai bahasa Perancis jadi sewaktu-waktu nanti bisa jadi tugasku akan merangkap menjadi sopir sekaligus penerjemah bagi jamaah asal negrinya Zinedin Zidane ini. Sungguh aku bersyukur atas semua berkah dan kemudahan yang dilimpahkan-Nya kepadaku.

Hari-hari  pertamaku ketika aku menginjakkan kaki di kota Rasulullah ini aku pergunakan untuk ziarah ke makam Rasulullah saw. Di  luar dugaanku sama sekali ternyata makam ini terletak di dalam masjid Nabawi, masjidnya Rasulullah yang merupakan masjid  tertua di Madinah diluar masjid Quba. Tanpa kesulitan kita akan tahu persis letak makam tersebut karena makam yang diapit dua sahabat terbaik Rasulullah itu, yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khatab, dinaungi kubah yang berbeda dengan kubah lainnya. Kubah ini berwarna hijau tua. Arealnya disebut  Raudhah.

Berdasarkan data yang kudapat, Masjid Nabawi yang luasnya  98.000m2 ini mampu menampung sekitar 167.000 jemaah dilantai dasar dan sekitar  90.000 jemaah di lantai atas. Sementara apabila ditambah dengan halaman masjid, sekitar 650.000 jamaah bisa tertampung pada hari-hari biasa dan lebih dari 1.000.000 jamaah pada musim haji atau bulan Ramadhan. Untuk pengaturan udara dalam masjid yang sangat luas ini dibangun 27 ruang terbuka disamping  9 buah atap berbentuk kubah yang dapat dibuka dan ditutup secara  otomatis.

Masjid megah yang seluruh pintu-pintunya dilapisi emas ini mempunyai 10 buah menara termasuk 2 menara besar yang mengapit pintu gerbang utama. Sementara itu pada ketinggian 87m dipasangi sinar laser yang memancarkan cahaya kearah Mekah sejauh 50 km untuk menunjukan arah kiblat dan dinyalakan pada waktu tertentu terutama di waktu-waktu  shalat.

Demi memanjakan jamaah pula, pihak kerajaan Arab Saudi yang bertanggung-jawab atas lancarnya penyelenggaraan haji dan umrah bagi jamaah yang datang dari berbagai sudut dunia ini mengalirkan air zam-zam dari Mekah ke Madinah yang jaraknya sekitar 450 km. Disamping itu kerajaan juga membangun tempat parkir mobil dibawah masjid untuk lebih dari 10.000 mobil dengan jalan akses langsung ke luar kota Madinah sehingga tidak mengganggu lalu lintas sekitar masjid.

.***

Aku sangat menyukai suasana kampus baruku.  Jika tidak ada keperluan mendesak yang mengharuskanku harus tetap di kampus ketika azan berkumandang, aku pergi ke masjid Nabawi untuk melaksanakan kewajiban shalat 5 waktu secara berjamaah. Jarak yang lumayan dekat antara keduanya memungkinkanku melaksanakan hal tersebut. Kebetulan pula asramaku terletak di dalam area yang sama dengan kampus. Begitu pula dengan materi kuliah, dosen dan teman-teman yang semuanya menurutku menarik. Bahkan baru 1 bulan aku kuliahpun aku sudah dapat merasakan manfaat langsung dari kuliahku disini.

Mata pelajaran yang paling aku sukai adalah Sirah Nabawiyah, yaitu sejarah tentang Rasulullah Muhammad saw. Pribadi beliau memang benar-benar cerminan Al-Quran berjalan. Bahkan semenjak kecilpun pribadi itu telah terlihat jelas. Rupanya Allah swt memang telah mempersiapkannya sebagai  calon nabi besar.

“ Penduduk Mekah jauh sebelum Rasulullah dilahirkan sebenarnya telah mengenal Allah sebagai Pencipta Alam Semesta dan isinya. Mereka bahkan juga percaya bahwa rezeki yang mereka terima adalah dari Allah, Tuhan mereka. Namun sayangnya mereka menduakan Allah dengan sesembahan lain, yaitu berhala-berhala Hubal, Latta dan Uzza. Mereka menyembah dan memohon kepada berhala-berhala itu disamping kepada Allah walaupun dengan dalih hanya sebagai perantara. Itu sebabnya mereka dinamakan kaum Musyrik atau kaum yang syirik. Nah.. di tengah kaum yang seperti itulah Muhammad dilahirkan “,ujar Syeikh Al-Qathan, seorang professor asli Saudi yang mengajar pelajaran Sirah Nabawiyah.

Pada zaman itu hampir semua pemuda terbiasa hidup berfoya-foya, bermabuk-mabukan, berjudi dan bermain-main dengan perempuan. Namun Muhammad remaja tidak pernah tertarik untuk ikut-ikutan melakukan semua perbuatan tersebut. Bahkan untuk sekedar kongkow-kongkowpun ia tidak mau. Menurutnya hal itu hanya membuang-buang waktu percuma ”, lanjutnya.

Ia berhenti sebentar untuk memberi kesempatan salah satu mahasiswa yang mengangkat tangannya  untuk bertanya.

Bisakah keadaan ketika itu disamakan dengan keadaan sekarang ini, prof? Bukankah saat inipun banyak orang yang mengaku menyembah Allah namun tetap percaya kepada ramalan, tukang tenung, sihir, dukun dan lain-lain. Perlakuan merekapun banyak yang buruk. Korupsi dimana-mana, perzinahan merajalela bahkan orang yang jujur dan baikpun  dianggap aneh “, tanya seorang siswa asal Korea.

Ya, betul sekali “, jawab prof. “ Keadaan ketika itu bisa dibilang sama dengan keadaan sekarang ini. Bedanya mungkin kalau zaman dahulu orang yang terang-terangan ingin menjadi pengikut Rasulullah, ingin memurnikan agama dengan hanya menyembah kepada Allah, ia akan disiksa seperti halnya Bilal, Amar dll maka orang pada zaman  sekarang tidak mengalami hal seburuk itu lagi ”, jawabnya mantap.

Secara tidak sengaja tiba-tiba kejadian pahit di kamarku nyaris setahun yang lalu terlintas di kepalaku. Namun aku memilih untuk diam. Biarlah  kenangan buruk itu tetap berada di benakku. Lagipula bila dibanding penderitaan para sahabat di masa lampau kejadian tersebut tidak ada apa-apanya.  Tetapi aku juga tiba-tiba teringat bahwa orang-orang yang tinggal di bekas jajahan Rusia seperti Tajikistan, Turbekiztan dan lain-lain beberapa  tahun yang lalu masih mengalami perlakuan buruk bila pemerintah komunis tersebut mendapati ada penduduknya yang ketahuan beragama Islam apalagi bila kepergok sedang menjalankan shalat!

“ Suatu hari saking seringnya melihat teman-temannya keluar malam, Muhammad muda akhirnya tergoda juga untuk pergi menyaksikan sebuah pertunjukkan hiburan di malam hari. Karena tidak terbiasa tidur larut malam sementara ia khawatir mengantuk ketika sedang menonton pertunjukkan maka  Muhammadpun memutuskan  sore itu pergi tidur terlebih dahulu. Namun apa yang terjadi? Muhammad tidak terbangun hingga keesokkan harinya sehingga ia batal  menonton pertunjukkan  malam itu “.

“ Karena  penasaran, esoknya Muhammad melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Hingga 3 hari berturut-turut ia melakukan hal itu namun selalu berakhir sama yaitu tertidur. Akhirnya Muhammad sadar bahwa ia memang tidak  diperbolehkan melakukan hal buruk yang biasa dilakukan para teman-temannya itu. Maka sejak saat itu Muhammad tidak pernah lagi memiliki keinginan untuk melakukan hal yang tidak bermanfaat”.

***

Hari ini ada pelajaran Fikih Dakwah. Mata pelajaran ini mengajarkan bagaimana caranya mengajak  seseorang agar mau mengikuti petunjuk Allah dalam melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah. Terus-terang aku menyukai semua pelajaran yang diberikan kampus ini. Karena apa yang diajarkan selalu disertai dalil-dalil yang kuat, baik berdasarkan Al-quran maupun hadis.

Dan tak pelak lagi, Rasulullah adalah betul-betul contoh yang amat mulia. Dalam berdakwah tidak pernah Rasulullah memaksakan kemauan dan kehendak pribadinya. Hebatnya lagi, para sahabatpun tidak pernah berusaha mendebat bila perintah tersebut bersumber  dari Al-Quranul Karim.

Pada suatu hari dalam salah satu perang besar, yaitu  perang Badr dikisahkan bahwa Rasulullah memerintahkan pasukannya untuk berhenti di suatu lokasi tertentu “, demikian prof Syeikh Yusuf Nasruddin memulai penjelasannnya.” Ketika itu salah satu sahabat bertanya apakah perintah tersebut merupakan wahyu Allah atau ijtihaj Rasulullah. Ketika Rasul menjawab bahwa itu adalah ijtihaj Rasulullah sebagai manusia biasa maka sahabat tersebut dengan sopan mengatakan bahwa berdasarkan pengalaman perangnya berhenti di tempat sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah adalah kurang tepat. Ia mengusulkan tempat lain sebagai strategi perang bila ingin memenangkan peperangan. Maka dengan bijaksana setelah dipikirkan kembali bahwa hal itu adalah benar Rasulpun  meralat keputusannya dan mengikuti usul sahabat tadi. Rasul sama sekali tidak berpendapat bahwa hal tersebut dapat menurunkan kewibawaannya. Dan yang terjadi memang  sebaliknya. Para sahabat justru makin menghormatinya”, lanjut prof.

Rasulullah adalah seorang pribadi yang lembut dan penuh perhatian. Bila ada salah satu jamaah yang terbiasa shalat bersama tiba-tiba tidak hadir beliau akan menanyakan keadaannya. Dan bila ternyata orang itu sakit beliau akan menjenguknya. Begitu pula terhadap musuh yang membencinya. Beliau tidak pernah dendam terhadap musuh yang sering menyakitinya. Beliau bahkan mendoakan orang tersebut agar Allah swt mau mengampuni dan memberinya petunjuk serta hidyah. Inilah rupanya salah satu kunci keberhasilan dakwah Islam “, prof meneruskan penjelasannya setelah berhenti sejenak untuk meneguk air dalam gelasnya.

Penaklukan kota Makkah adalah salah satu buktinya. Makkah dikepung ketika pasukan Islam pimpinan Rasulullah sedang kuat-kuatnya. Dengan kekuatan besar tersebut tak syak lagi Makkah pasti dapat dihancur leburkan apalagi sebagian besar pasukan ketika itu adalah penduduk Makkah yang pernah diusir keluar dari kota tersebut dengan cara amat zalim. Namun kenyataannya hanya 4 orang  saja yang dihukum mati. Itupun dengan pertimbangan karena kejahatan mereka sudah melampaui batas. Sedangkan yang lain dibebaskan bahkan Abu Sufyan yang tadinya juga begitu memusuhi Islam mendapat kehormatan bahwa siapapun yang masuk ke rumahnya terbebas dari hukuman. Begitupun istrinya“, ujar  prof sambil mengeluarkan lap kacamata dan membersihkan kecamatanya yang tebal itu.

“ Padahal perempuan ini pernah mengaduk-ngaduk isi perut Hamzah bin Abu Thalib, paman Rasulullah yang syahid dalam perang Badar. Dengan penuh kebencian istri orang terpandang Qurasy ini mengambil hati Hamzah untuk dikunyah dan  ditelannya mentah-mentah! Dendamnya begitu membara karena kedua anak lelakinya terbunuh oleh paman Rasul yang terkenal gagah berani tersebut  dalam peperangan melawan  Islam. Ini yang membuat perempuan bernama Hindun Binti Uthbah berlaku seperti orang kerasukan  setan!”, terus prof.

“ Namun mengapa ia bisa bebas dari hukuman mati ? “, tanyaku keheranan.

“ Karena ia menyesal dan mengakui perbuatan biadab tersebut disamping waktu itu ia memang belum mengenal ajaran Islam. Setelah itu ia benar-benar bertaubat dan  berjanji tidak akan lagi berbuat keji. Dan ini memang terbukti benar. Sejak ia masuk Islam pasca penaklukan Makkah ia berubah menjadi muslimah yang shalehah”, jawab prof.

Aku hanya bisa diam termangu mendengar jawaban tersebut.

“ Meski begitu mengapa Barat selalu menganggap bahwa Islam adalah agama pedang, agama yang menurut  mereka disebarkan dengan cara  kekerasan ? “, tanya Ali, mahasiswa Mesir yang duduk paling belakang tanpa dapat menutupi rasa keingin-tahuannya yang tinggi.

Sebenarnya isu yang dihembuskan Barat itu hanyalah bagian dari provokasi mereka. Mereka tidak ingin Islam maju dan berkembang. Sebenarnya mereka sangat takut akan kekuatan dan persatuan Islam. Cobalah pelajari sejarah dunia dan sejarah Islam khususnya. Sejak Islam lahir 1400 tahun yang silam, sebetulnya baru belakangan ini saja Barat dapat mengungguli Islam. Itupun karena umat Islam saat ini tidak lagi bersatu disamping juga karena umat Islam belakangan ini malas dan tidak lagi memegang ajaran dengan teguh “, terang prof Yusuf setengah mengeluh.

Selama 23 tahun dibawah kepemimpinan Rasulullah saw, yaitu pada periode Madinah tercatat telah terjadi kurang lebih 20 perang besar. Berdasarkan penelitian yang dilakukan seorang sejarawan bernama Dr. Muhammad Imarah ternyata jumlah korban yang jatuh selama itu hanyalah 386 orang saja, baik dari pihak Muslim maupun pihak musuh. Itupun dengan catatan Rasulullah melarang membunuh kaum perempuan, anak-anak, orang tua yang sudah uzur dan bahkan membakar pepohonan bila tidak ada manfaatnya. Bandingkan dengan perang saudara antara Katholik vs Protestan yang terjadi selama 30 tahun antara 1618-1648. Perang ini menelan korban jiwa 10 juta orang! Menurut Voltaire, seorang filsuf Perancis yang hidup antara tahun 1694-1778 jumlah tersebut sama dengan jumlah 40% penduduk Eropa Tengah pada abad pertengahan”, lanjut prof  penuh semangat.

Bandingkan juga dengan  jumlah korban yang tewas paska lahirnya UU Indian Removal Act tahun 1830 yang menyebabkan 70.000 orang Indian tewas dan terusir dari tanah airnya sendiri. Atau bandingkan dengan jumlah korban bom atom di Hirosima dan Nagasaki pada tahun 1945 oleh Amerika Serikat dibawah pimpinan Presiden F.D. Rosevelt yang katanya menjunjung tinggi nilai HAM. Dalam waktu hitungan sekian menit peristiwa biadab ini menelan korban tewas 140 ribu penduduk tak berdosa Hirosima dan 70 ribu penduduk Nagasaki. Belum lagi korban cacat akibat radiasi kimianya yang dampaknya lebih  berbahaya lagi dari sekedar kematian!”, kata prof menutup uraiannya sambil melihat jam tangannya. Tak lama kemudian bel berbunyi tanda waktu istirahat tiba.

***

Read Full Post »

Hari ini hari Jum’at, hari libur bagi rata-rata negara Timur Tengah.  Namun demikian suasana kampus tidak banyak berbeda dari suasana hari-hari biasa. Bedanya bila pada hari biasa adalah sekitar ruang belajar-mengajar  yang ramai maka pada hari Jumat adalah areal sekitar masjid kampus yang ramai. Biasanya para mahasiswa yang tinggal di asrama dan apartemen sekitar kampuslah yang memadati areal ini. Banyak kegiatan yang mereka lakukan sebelum shalat Jumat dimulai.

Untuk menghindari kejenuhan kuliah para mahasiswa biasanya memanfaatkan hari tersebut dengan berbagai kegiatan olahraga. Kegaduhan sudah terlihat begitu shalat subuh selesai. Kegiatan olah-raga tertutup dipusatkan di Ruang Serba Guna yang letaknya tidak terlalu jauh dari lokasi Masjid. Banyak fasilitas yang terdapat di ruang ini. Ada futsal, pingpong, bulu-tangkis, tinju, karate dan lain-lain. Sedangkan bagi yang menyukai kegiatan olah-raga di ruang terbuka, pihak kampus menyiapkan lapangan sepak bola, lapangan tenis juga jogging track dengan kwalitas yang sangat baik.

Sementara banyak pula mahasiswa yang memilih mengikuti acara kajian khusus dengan materinya yang beragam. Acara ini boleh diikuti umum dan biasanya diselenggarakan di kelas-kelas kecil di ruang bawah tanah Masjid. Untuk membahas masalah-masalah sosial dan politik nasional maupun internasional yang sedang hangat terjadi biasanya mahasiswa mendatangkan tamu khusus dari luar kampus.

Selesai melakukan berbagai kegiatan di atas, para mahasiswa termasuk aku biasanya melakukan kegiatan pribadi sehari-hari seperti mencuci pakaian, memasak dan  berbelanja sebelum azan shalat Jumat dikumandangkan,.

***

Tanpa terasa 6 bulan telah berlalu ketika suatu hari aku terkejut menerima sepucuk surat dari Jakarta. Agak terkejut aku dibuatnya karena setahuku aku tak memberitahukan alamatku selama aku berada di Madinah kepada siapapun. Namun aku senang karena surat itu ternyata dari tante Rani. Dengan nekat ia hanya menuliskan nama panjangku beserta kewarnegaraanku dan alamat universitas dimana aku kuliah di atas amplopnya. Alhamdulillah bisa sampai, pikirku.

Dengan terburu-buru aku segera membuka  surat tersebut. Hatiku berdebar kencang, menduga-duga apa yang menyebabkan tante Rani yang selama ini tidak pernah membalas surat-surat yang kukirimkan tiba-tiba mengirim surat.

Jakarta, Desember 2007.

Mada  anakku,

Pasti kau terkejut menerima surat ini. Tante  nekat mengirim surat ini ke alamat kampus yang tertera di suratmu yang terakhir kau kirimkan beberepa waktu lalu. Maaf baru kali ini tante membalasnya. Bagaimana kabarmu ? Tante harap kau baik-baik saja dan selalu dalam lindungan Allah swt, amin.

Mada, ada dua hal penting yang ingin tante sampaikan padamu. Yang satu kabar baik sementara yang lain kabar buruk

Kabar baiknya, berkat doamu yang tulus akhirnya tante menyadari kesalahan tante. Dari semula tante tahu, kau adalah anak baik dan  jujur. Pikiranmu  bersih dan jauh dari prasangka buruk. Tante yakin itulah sebabnya Allah swt memilihmu untuk mendapatkan hidayah-Nya.

Ketahuilah Mada, beberapa hari yang lalu, mengikuti jejakmu tante telah bersyahadat di depan imam masjid Istiqlal untuk menyatakan keislaman tante.

( Masya Allah, pujiku dengan dada sesak menahan emosi. Aku langsung bersujud  syukur kepada-Nya , Terima-kasih Ya Allah Ya Tuhanku… telah kau kabulkan salah satu doaku, bisikku lirih).

Keputusan tersebut tante ambil setelah berbulan-bulan lamanya mencari keterangan dari berbagai sumber yang pantas dipercaya. Surat-suratmu adalah yang merupakan pemicu semua itu, terima-kasih anakku. Alhamdulillah.

Sedangkan kabar buruk yang ingin tante sampaikan adalah mengenai kedua orangtuamu. Sejak surat yang kau kirim mengenai keberangkatanmu ke Tepi Barat beberapa bulan yang lalu, ayahmu terus uring-uringan. Ia menyalahkan ibumu yang dianggapnya tidak dapat mendidikmu dengan baik. Ia makin sering pulang larut malam dalam keadaan mabuk dan dalam keadaan setengah sadar sering memukuli ibumu. Aku benar-benar kasihan pada ibumu.  Sebenarnya aku ingin sekali menasehatinya agar minta cerai saja. Bagaimana menurut pendapatmu, salahkah tante?

Mada anakku,

Masih ingatkah kau dulu sering bertanya padaku mengapa  ibumu tidak terlihat menyayangimu? Bahkan kau merasa bahwa kau hanyalah seorang anak angkat.. Sekarang kau sudah dewasa. Jadi tante rasa tidak ada lagi yang perlu disembunyikan darimu.

Ketahuilah olehmu nak, ibumu melahirkanmu pada  usia yang masih belia. Ia menikah dengan ayahmu karena terlanjur hamil dirimu. Ketika itu ayahmu yang usianya jauh lebih tua dari ibumu dalam keadaan mabuk menggauli ibumu. Sebenarnya ibumu mencintai ayahmu yang waktu itu memang merupakan sepasang kekasih namun ia tidak pernah menyangka dan sama sekali berharap bahwa ayahmu melakukan hal buruk yang sungguh memalukan tersebut. Ia selalu bermimpi bahwa perkawinan adalah sesuatu yang suci dan sakral.

Itulah sebabnya ibumu mulai kehilangan rasa cinta, simpatik sekaligus kasih sayang pada ayahmu justru pada awal pernikahan mereka. Sungguh ironis….

Maafkan tante Mada, bila hal ini menyakitkanmu namun itulah kenyataannya. Namun tante yakin di dalam hati ibumu yang paling dalam pasti tersimpan kasih sayang  yang teramat besar padamu, anak kandungnya.

Wasswrwb,

Tante Rani.

Pelan kulipat surat tersebut. Aku menarik nafas  panjang. Terngiang suara ibu “ Jangan pernah sakiti anakku” teriaknya sambil menangkis tangan ayah dari menampar pipiku. Itulah satu-satunya peristiwa yang membuatku merasa dicintainya. Terbayang wajah ibu yang hampir tak pernah ceria. Jadi inilah  yang menyebabkan wajah cantik ibu tampak tertelan oleh sesuatu yang menyelimutinya, sungguh ironis, pikirku sedih. Aku yakin inilah salah satu alasan mengapa Islam melarang orang berpacaran dan berkhalwat atau berduaan dengan lawan jenis. Godaan syaitan membangkitkan hawa nafsu birahi manusia terlalu kuat untuk dilawan.

Namun yang dapat kulakukan? Ayah  adalah orang yang keras  kepala dan tak pernah mau mendengar pendapat orang lain     apalagi aku anaknya, terlebih setelah dianggapnya sebagai anak durhaka.  Tetapi kasihan ibu, aku harus membela dan menghiburnya. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk membuktikan bahwa pengorbanannya melahirkanku bukanlah hal yang sia-sia. Ya, aku bertekad, aku harus melindunginya.

Yang kusayangi Tante Rani,

Alhamdulillah, puji syukur kupanjatkan hanya kepada-Mu Ya Rabb….

Senang sekali aku mendengar bahwasanya Allah swt telah memberi hidayah dan petunjuk-Nya kepada tante. Aku akan terus berdoa semoga Dia terus melindungi dan membimbing tante ke jalan yang dikehendaki-Nya. Teruslah mencari dan belajar …..jangan pernah merasa cukup…

Untuk ayah dan ibu, aku telah mengirim surat kepada ibu. Semoga Allah memberi jalan kepadanya. Terima-kasih banyak tante sudah mau menceritakan segalanya kepadaku. Titip ibu tante ya …

Wasswrwb.

Mada.

Kepada ibu aku menulis demikian :

Ibu yang kucintai,

Berkat doamu , aku dalam keadaan baik-baik saja.

Semoga ibu tidak marah karena tante Rani telah menceritakan apa  yang terjadi dengan ibu. Sebelumnya aku mohon semoga ibu mau memaafkanku karena aku telah membuat hidup ibu menjadi kacau dan menderita.

Ibu, banyak yang kupelajari dari ajaran baruku. Tahukah kau ibu? Ternyata Islam sangat menjunjung tinggi dan menghormati kaum perempuan terutama kaum ibunya. Seorang ibu patut mendapatkan kehormatan tiga kali lebih tinggi dari ayah karena pertama, seorang ibu dengan susah payah telah merelakan perutnya dititipi janin yang makin lama makin besar dan berat, kedua, dengan menahan rasa sakit yang sangat seorang ibu telah melahirkan anaknya dan ketiga, dengan penuh kesabaran dan kasih sayang ia telah menyusui serta mendidik anaknya.

Oleh karenanya seorang ibu tidak patut mendapatkan perlakuan kasar baik dari anak maupun suaminya apalagi orang lain. Dalam Islam, seorang suami wajib menyayangi, melindungi serta mengayomi istri dan anak-anaknya. Mereka berhak mendapatkan pendidikan sebagaimana kaum lelaki. Seorang suami harus bersyukur kepada istrinya karena pertama, istrinya telah menghalanginya dari  perbuatan zina, kedua, istrinya telah mengandung, melahirkan dan memelihara anak yang dikandung dari benihnya dan  ketiga, istrinya telah menunggui, menjaga harta dan kehormatannya serta menyiapkan makanan baginya.

Sebaliknya, lelaki sebagai seorang suami dan ayah yang telah bersusah payah membanting tulang bekerja mencarikan nafkah bagi  keluarganya, ia patut mendapatkan perhatian, kasih sayang dan rasa terima-kasih dari istri dan anaknya.

Ibu yang tersayang,

Maafkan bila aku belum sempat membalas segala jerih payah dan pengorbanan ibu selama ini tetapi aku janji suatu hari nanti aku akan membalasnya, insya-Allah.

Salam,

Mada.

Namun untuk sementara aku belum mempunyai keberanian untuk menulis surat khusus kepada ayah apalagi yang berkenaan dengan kasus ibu. Tetapi aku berharap semoga suatu saat nanti aku bisa melakukannya.

***

Pagi ini aku mendapat giliran memberikan kuliah subuh di masjid kampus. Kegiatan ini telah lama dilakukan, jauh sebelum aku datang bergabung di asrama mahasiswa ini. Secara bergilir setiap mahasiswa wajib melakukan hal ini.

“ Ini untuk  kepentingan kita sendiri. Sebagai seorang muslim adalah wajib hukumnya berdakwah, mengajak manusia dalam berbuat kebaikan dan melarang berbuat keburukan. Sampaikan walau hanya satu ayat, begitu Rasulullah bersabda dalam salah satu hadisnya. Apalagi kita sebagai seorang mahasiswa yang memang secara khusus dididik agar kelak menjadi seorang da’i. Berbicara di depan umum harus dibiasakan”, kata seorang seniorku di hadapan jamaah masjid kampus kami.

“Demi Allah, wahai paman! sekiranya mereka letakkan matahari di sebelah kananku dan bulan disebelah kiriku dengan maksud agar aku tinggalkan pekerjaan ini (menyeru mereka kepada agama Allah) sehingga ia tersiar (dimuka bumi) atau aku akan binasa karenanya, namun aku tidak akan menghentikan pekerjaan ini”.

Aku mengawali kuliah subuhku dengan kata-kata diatas. Pernyataan  ini adalah jawaban Rasulullah atas permintaan Abu Thalib, paman Rasul yang memintanya menghentikan dakwahnya.

Abu Thalib adalah paman Muhammad saw yang selama ini selalu melindungi dakwah Rasulullah. Namun karena terus menerus ditekan dan didesak masyarakatnya akhirnya ia meminta keponakan kesayangannya itu menghentikan dakwahnya. Namun setelah mendengar jawaban Rasul yang memperlihatkan keteguhan pendiriannya itu Abu Thalib sadar bahwa ponakannya itu tidak mungkin dihentikan. Maka akhirnya ia pun memutuskan untuk terus melindungi dakwah Rasulullah hingga akhir hayatnya “, kataku sambil memperbaiki letak peciku.

Adalah Abu Lahab salah satu paman Rasulullah. Ia adalah seorang yang terkenal sangat membenci ajaran Islam. Dialah yang kemanapun Rasulullah berjalan selalu menguntit sambil menjelek-jelekkan ajaran beliau. Orang ini pulalah yang menjadi salah satu pemrakarsa rencana busuk  terhadap  Rasulullah. Ia memprovokasi agar Rasulullah dibunuh walaupun akhirnya gagal. Sebagai seorang yang memiliki pengaruh dan jabatan penting di kota Mekkah pantas bila ia mentah-mentah menolak ajakan ponakannya itu. Ia sangat khawatir dan takut akan kehilangan kekuasaan dan jabatan. Karena dalam Islam yang patut ditakuti, disegani sekaligus dihormati hanyalah Allah swt “, demikian aku menutup kultumku yang merupakan singkatan dari kuliah tujuh menit, sebuah istilah yang diberikan teman-teman dari Indonesia untuk latihan berdakwah singkat di depan umum. Aku melirik jam tanganku “ Tak lebih dari lima menit. Tak apalah, lumayan untuk dakwah pertamaku” begitu pikirku menghibur.

***

Hampir setahun sudah aku tinggal di Madinah namun aku belum sempat juga memenuhi panggilan-Nya untuk berhaji. Aku merasa belum benar-benar siap menunaikan ibadah haji yang merupakan rukun Islam ke 5 yang wajib dikerjakan sekali seumur hidup bila mampu tersebut. Aku tidak ingin melakukan kesalahan dalam pelaksanaan ritual  ibadah ini karena kudengar  banyak orang yang merasa tidak puas melaksanakan ibadah haji sepulang dari Makkah padahal mereka telah mengeluarkan harta dan tenaga yang tidak sedikit. Ini yang ingin kuhindari.

Namun begitulah, orang hanya mampu berencana dan Allahlah yang  menentukannya. Beberapa hari yang lalu aku menerima surat dari tante Rani yang mengabarkan bahwa dirinya dan ibu yang telah menyusulnya bersyahadat, akan melaksanakan haji tahun ini. Allahu akbar!! O betapa lega dan senangnya hati ini mendengar kabar menyenangkan ini. Mereka berdua berharap dengan sangat agar aku dapat menemani mereka menunaikan ibadah haji tersebut. Tentu saja dengan alasan apapun tak kuasa aku menolaknya. Aku terlalu gembira, aku merasa sedang dimanjakan oleh-Nya. Dan sebagai rasa syukurku akupun segera berbenah diri membekali babak penting dalam hidupku ini.

***

Musim hajipun tiba. Tante Rani mengabari bahwa mereka akan datang ke Makkah 5 hari sebelum hari H nya. Mereka akan datang bersama kloter 85 dari DKI Jakarta. Beruntung aku dapat mengatur kedatanganku beberapa hari sebelum mereka datang. Jadi aku berkesempatan terlebih dahulu mengenal liku-liku kota Makkah.

Orang sering  menyebut kota suci ini dengan sebutan Tanah Haram karena tanah atau tempat tersebut  diharamkan bagi umat lain, selain umat Muslim. Didalam kota inilah bangunan persegi empat Ka’bah yang menjadi  kiblat umat Islam berdiri sejak ribuan tahun lamanya.

Saat ini bangunan tersebut berada di tengah-tengah lingkungan yang disebut dengan  Masjid Al Haram yang luasnya 356.800 meter persegi. Masjid yang mempunyai 4 pintu utama dan 45 pintu biasa serta biasanya buka 24 jam sehari ini  mampu menampung 1 juta  jamaah dalam satu waktu sholat berjamaah. Dengan demikian masjid ini  menjadi masjid  no 1 terbesar di dunia. Bila shalat di dalam masjid Nabawi memiliki keutamaan seribu kali dibanding masjid lain maka shalat di masjid Al-Haram ini seratus ribu kali lebih utama dari pada  shalat di masjid lain.

Jamaah haji Indonesia adalah jamaah terbesar di dunia. Hampir setiap tahun kwota  Indonesia yang 200 ribu itu selalu terisi penuh. Bahkan tahun-tahun belakangan ini seorang calon haji bisa-bisa harus mengantri 2 sampai 3 tahun sebelum akhirnya diberangkan ke tanah suci. Sebenarnya aku juga heran bagaimana mungkin ibu dan tanteku bisa secepat itu mendapatkan kesempatan emas ini. Itulah salah satu rahasia Ilahi yang selalu membuatku takjub. Ia dapat berbuat apapun yang dikendaki-Nya. Sungguh Allah Maha Besar.

Pertama kali aku melihat Kabah dengan mata kepalaku sendiri, terharu aku dibuatnya. Inilah lambang rumah Allah yang setiap hari dijadikan kiblat seluruh umat Islam di  dunia. Hari ini aku berada diantara ratusan ribu saudaraku seiman yang memadati  seluruh penjuru masjid dan pelataran masjid besar  ini. Kami semua berada di tempat ini untuk bertasbih memuji kebesarannya.

Labbaikka Allah humma labaik ….Aku sengaja memilih tawaf yaitu mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali pukul 2 dini hari agar tidak terlalu sesak. Namun ternyata perkiraanku salah. Masjidil Haram terutama di waktu musim haji tidak mengenal jam dan waktu. Jam berapapun sama keadaannya. Baik dini hari maupun di siang hari bolong ketika matahari sedang terik-teriknya membakar, pelataran masjid tetap penuh sesak. Orang terus bergantian tanpa henti bertawaf sambil memuji dan meng-agungkan-Nya. Dialah Allah azza wa Jalla, satu-satunya tuhan yang patut disembah. Tiada sekutu bagi-Nya. Mustahil bagi-Nya beranak dan diperanakkan. Tiada satupun yang menyerupai-Nya.

Esoknya, aku dikabari bahwa kloter ibu dan tanteku telah datang. Dengan hati berdebar aku segera mendatangi alamat mereka. Tak lama aku menunggu di lobby pemondokkan maka muncullah dua orang yang paling kusayang di dunia ini. Dengan mengenakan pakaian muslimah  berwarna putih lengkap dengan jilbab yang menutupi kepala, leher dan dada mereka, nyaris aku tak mengenali mereka. Aku segera mencium tangan dan memeluk keduanya.

Allahu Akbar”, pujiku, “ selamat ibu dan tante ya…sungguh merupakan hadiah besar buatku berjumpa dalam keadaan seperti ini”, kataku terharu.

Alhamdulillah”, sambut ibu terisak. “ Belum pernah aku merasa sebahagia ini”. Aku perhatikan ibu memang terlihat lebih kurus dari yang terakhir aku ingat namun sinar wajahnya sungguh berbeda. Sementara tante Rani terlihat lebih gemuk dari biasanya. Ia kelihatan sehat dan gembira sekali.

Kami mengobrol cukup lama. Aku bercerita banyak tentang pengalamanku selama  di Palestina. Sementara ibu lebih banyak diam dan mendengarkan ceritaku. Tante sekali-sekali mengomentari  ceritaku. Namun keduanya tak sedikitpun berbicara mengenai ayah. Jadi akupun tak berani bertanya khawatir mengganggu keceriaan kami.

***

Read Full Post »

Hari  ini adalah hari Arafah, hari puncak kegiatan haji. Rasulllah bersabda : “ Haji adalah Arafah “. Artinya kehadiran seorang jamaah haji di Arafah adalah mutlak. Bila  tidak maka batallah hajinya. Arafah adalah sebuah padang luas yang dikelilingi bukit-bukit. Di tempat inilah pada setiap tanggal 9 bulan Zulhijjah Allah swt datang secara  khusus mendekati tamu-tamu-Nya yang  berdatangan dari seluruh penjuru dunia  untuk memenuhi panggilan-Nya. Padahal nabi Musa suatu ketika dahulu pernah memohon agar diizinkan bertemu dengan-Nya. Namun ketika Dia baru menampakkan cahaya-Nya saja bahkan gunungpun hancur karena tak sanggup menerima Nur-Nya. Disalah satu bukit inipulah umat Islam meyakini bahwa nabi Adam as bertemu kembali dengan Siti Hawa untuk pertama kalinya setelah mereka diturunkan ke muka bumi.

Maka pada hari tersebut selepas subuh kamipun  bersiap-siap meninggalkan pemondokan haji. Tak satupun yang ingin tertinggal bahkan yang sedang sakit sekalipun akan dibawa menuju padang Arafah ini dengan mengendarai ambulans.  Dapat dibayangkan bagaimana lambat dan padatnya perjalanan  Makkah ke padang luas yang sebenarnya hanya berjarak 7 [i1] km ini bila sekitar 2 juta jamaah bergerak secara bersamaan menuju ke satu tujuan. Waktu tempuh yang dalam keadaan normal hanya memerlukan waktu beberapa menit itupun  berubah bisa menjadi hitungan jam.

Jalanan tersebut  tidak hanya  disesaki para jamaah yang berjalan kaki namun juga ratusan  bus yang atapnya disesaki jamaah dan puluhan  kendaraan pribadi. Laki-laki, perempuan dan anak-anak semua bercampur menjadi satu seolah membentuk lautan putih gelombang manusia. Pada waktu haji jamaah lelaki hanya diperbolehkan mengenakan 2 lembar kain tak berjahit. Satu lembar untuk menutup bagian bawah tubuh dan satu lagi untuk menutup tubuh bagian atas. Ini adalah sebuah cerminan kelak  ketika kita dikumpulkan di alam barzah, alam setelah manusia dibangkitkan kembali dari kematiannya setelah terjadinya hari akhir yaitu  hari kiamat. Imbalan berhaji  adalah surga bila Allah swt ridho terhadap ritual haji yang dikerjakannya tersebut. Inilah yang dinamakan haji mabrur.

Ya Allah terimalah amalan haji kami ini. Ya Allah berilah ridho-Mu pada kami bertiga. Masukkanlah kami kelak  kedalam surga-Mu dan mudahankanlah segala urusan dunia kami, amin Ya Robbal ‘alamin“, mohonku dengan khusuk.

***

Prof, betulkah bahwa fenomena yang terjadi di  Palestina saat ini  merupakan salah satu tanda makin dekatnya hari kiamat? Bagaimanakah bunyi hadis yang memperkuat hal tersebut ?“ tanya seorang mahasiswa  asal  Malaysia pada suatu hari di kelas hadis.

Pembahasan mengenai tanda-tanda hari akhir dan masalah Palestina adalah salah satu topik yang selalu menarik perhatian dan memancing banyak pertanyaan mahasiswa.

Coba kalian buka buku hadisnya. Siapa yang mau sukarela membaca hadis di hal 178 mengenai bab Hari Kiamat?”, tanya prof  Ali Yusuf menanggapi pertanyaan mahasiswanya.

Saya akan bacakan prof”, jawab Hanafi, seorang mahasiswa kulit putih asal Australia lantang. “ Dari Mu’adz bin Jabal. Aku  bertanya kepada Muhammad saw ,” Ya, Rasulullah terangkanlah kepada kami beberapa tanda-tanda kedatangan kiamat.”, Nabi saw bersabda : Setelah pembangunan Bait Al-Maqdis berarti itu adalah kehancuran Yatsrib ( Madinah). Dan setelah kehancuran Yatsrib itu berarti penaklukan Konstantin. Dan setelah penaklukan Konstantin itu berarti keluarnya Dajjal. Hadis diriwayatkan oleh  Ahmad dan Abu Dawud  “.

Hadis yang baru saja selesai dibacakan tadi banyak dikisahkan  di buku-buku yang membahas masalah hari akhir dan hubungannya dengan situasi belakangan ini, terutama yang terjadi di Palestina saat ini. Namun banyak diantara mereka yang tidak memandangnya sebagai sebuah situasi yang berkesinambungan. Padahal nabi sendiri mengatakan bahwa setiap peristiwa menyebabkan kemunculan peristiwa lainnya secara berurutan. Jadi ini adalah sebuah mata rantai. Perumpamaannya seperti untaian kalung yang lepas dari ikatannya. Jatuhnya sangat cepat tapi tetap dalam urutannya ”, terang prof sambil berjalan menuju jendela. Diluar tampak matahari menyorotkan sinarnya yang sangat panas.

Sebenarnya cukup banyak hadis yang menerangkan hari Kiamat dan hubungannya dengan prilaku orang-orang Yahudi saat ini. Coba perhatikan lagi hadis berikut” lanjut  prof..

Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga (bangsa) Rum telah sampai di A’maq dan Dabiq untuk menyerang kamu. Maka datanglah suatu pasukan yang akan menghadapi mereka dari kota Madinah, yang mana waktu itu adalah manusia-manusia terbaik di muka bumi ini ”.

Sebentar, prof “ sela seorang mahasiswa sambil mengangkat tangannya. “ Ya ?”, jawab profesor kurang senang karena mahasiswa tersebut memotong hadis yang sedang dibacakannya. “ Aku pernah membaca, katanya yang dimaksud A’maq dan Dabiq adalah dua  kota yang sekarang ini berada di Syria. Benarkah ?”.

Ya benar. Sebaiknya aku terangkan dulu hadis yang terpotong tadi ”, ucap prof setengah menyindir. “ Begini…hadis tadi sebenarnya kalau dibaca lengkap panjang sekali dan agak rumit. Hadis tersebut berasal dari Abu Hurairah dan diriwayatkan oleh shahih Muslim. Namun pada intinya hadis tersebut  sama isinya dengan yang pertama dibacakan tadi. Perbedaannya, pada hadis  kedua tidak diceritakan peristiwa pembangunan Al-Maqdis. Mengapa? Karena pada saat Abu Hurairah meriwayatkan  hadis tersebut, pembangunan Masjidil Aqsha yang memang telah  jatuh ke tangan Muslim telah terjadi. Bahkan pembangunan dan renovasi tersebut terjadi lebih dari satu kali yaitu pada masa Umayyah, Abbasiyah dan beberapa kerajaan yang pernah menguasai lokasi tersebut “, prof berhenti sebentar untuk meneguk air mineral yang ada dalam gelasnya.

“ Dalam hal ini Abu Hurairah tidak keliru. Yang diluar perkiraannya, pembangunan yang dimaksud hadis tersebut bukanlah pembangunan yang telah disaksikannya saat itu melainkan pembangunan yang kelak akan dilakukan oleh kaum Yahudi ratusan bahkan ribuan tahun setelah masa hidupnya. Apa alasannya ? Karena pembangunan yang telah disaksikan Abu Hurairah dan juga beberapa renovasi yang terjadi sesudahnya terbukti tidak mengakibatkan hancur dan runtuhnya kota Madinah. Buktinya ya ini… hingga detik ini kita masih berkumpul di Madinah bahkan tengah membahas hadis tersebut”, terang  prof.

“ Dengan kata lain, apa yang kita saksikan saat ini, yaitu usaha Zionis Israel untuk merebut Yerusalem serta  usahanya untuk menghancurkan pelataran Haram As-Syarif sekaligus menggantikannya dengan bangunan kuil mereka adalah sebuah fenomena awal yang dimaksud hadis-hadis di atas. Begitukah prof ?”, tanyaku tidak dapat menahan kesabaran untuk diam dan menunggunya melanjutkan  penjelasannya.

“ Ya, tepat sekali “, jawabnya. “ Jadi  pada dasarnya ada 5 hal pokok yang harus  kita cermati. Pertama  pembangunan Bait al-Maqdis oleh pihak Yahudi. Kedua kehancuran Yatsrib atau Madinah. Ketiga terjadi pertempuran antara pasukan Muslim dan pasukan Rum atau pasukan Yahudi dan tentu saja semua yang mendukungnya. Keempat penaklukan Konstantin atau Istambul sekarang ini dan kelima atau terakhir adalah munculnya Dajjal “.

“  Lalu apa yang dapat kita lakukan? Mungkinkah kita dapat mencegah atau minimal  mengulur  waktu terjadinya ? “ tanya seorang mahasiswa.

“ Mencegah pasti tidak mungkin. Ini  adalah ketetapan Allah. Namun mengulurnya….aku pikir mungkin saja. Menghambat agar untaian kalung tidak segera terurai dan berhamburan. Artinya kita, umat Islam harus sekuat tenaga  mencegah agar kaum Yahudi tidak masuk apalagi merusak Masjidl Aqsho dan sekitarnya.  Jangan lupa tanah Palestina adalah milik Muslim sejak ribuan tahun lalu. Kita tidak merebutnya dari tangan Yahudi atau siapapun karena ketika pasukan Khalid bin Walid  menaklukkan  daerah tersebut, Al-Aqsho dan sekitarnya adalah daerah  yang terbengkalai dan sama sekali tidak terawat. Bahkan pemimpin tertinggi Nasrani sebagai penguasa sebelum masuknya pasukan Islam, menyerahkan dengan sukarela kunci kota Yerusalem kepada khalifah  Umar bin khattab dengan syarat kaum Yahudi dilarang tinggal di sekitar kota”, tanggap sang  professor  menggebu-gebu.

Dan lagi, sepengetahuan saya, bukankah resolusi Dewan Keamanan tahun 1967 menegaskan bahwa Yerusalem adalah milik bangsa Arab atau minimal milik  internasional? ” , tanyaku.

Ya begitulah watak Yahudi, persis seperti yang disifatkan Al-Quran, keras kepala dan tidak suka memenuhi janji “, jawab prof geram.

Kembali ke hadis. Pada pertempuran yang  terjadi antara pasukan Rum  dan pasukan Muslimin nanti, Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah mengutarakan bahwa 1/3 tentara Muslim akan melarikan diri sementara  1/3 lainnya mati syahid dan 1/3 sisanya lagi akan memperoleh kemenangan. Sementara hadis lain dengan muatan yang kurang lebih sama menceritakan bahwa di tengah suasana pertempuran antara kaum Muslimin dan pasukan Rum nanti akan terjadi banyak kemurtadan. Hadis ini berasal dari Jabir dan diriwayatkan oleh Muslim”, lanjut prof.

“ Mengapa bisa demikian,  prof ? Bukankah pada salah satu hadis yang tadi dibacakan  disebutkan bahwa  pasukan yang keluar dari Madinah dan menghadapai pasukan Rum itu adalah pasukan yang  terbaik ?” tanya Hanafi, si bule Australia  penasaran.

“ Itulah yang sering menjadi pertanyaan para ahli hadis. Mereka sering berpikir mengapa hal ini bisa terjadi. Sebagian berkesimpulan hal tersebut mungkin terjadi  sebagai dampak dari dua hal penting. Pertama yaitu dihancurkannya Masjidil Aqsho serta dibangunnya kuil Yahudi di atas lokasi bekas penghancuran dan yang kedua hancur dan jatuhnya kota Madinah yang selama ini diyakini sebagai kota suci. Bagi mereka yang kurang kuat keimanannya  kedua hal diatas  bisa jadi cukup untuk menjadikannya sebuah alasan untuk keluar dan murtad dari Islam. Bayangkan, bila pasukan terbaik dari Madinah  saja bisa murtad bagaimana dengan muslim di belahan dunia lain ?”, ujar prof dengan nada  prihatin.

“ Semoga kita dan keluarga kita bukan satu diantara mereka “, sambungnya.  “ Amin “, jawab kami serentak.

“ Professor, bagaimana pula hubungannya dengan hadist berikut … Boleh saya bacakan ? “ , tanya seorang mahasiswa dan tanpa menunggu jawaban iapun membacakan hadis berikut :

“ Suatu saat, ketika para sahabat sedang berkumpul dan berbicang perihal hari Kiamat, datanglah Rasulullah. Segera mereka menanyakan hal tersebut, maka Rasulullahpun bersabda : “Tidak akan terjadi hari Kiamat sehingga kalian melihat sepuluh tanda : Terbit Matahari dari arah Barat, Kabut, Binatang melata, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, keluarnya Isa putra Maryam, Dajjal dan tiga gerhana : gerhana di timur, di Barat, dan di jazirah Arab dan api yang keluar dari jurang Adn yang akan menggiring manusia atau mengumpulkan manusia. Api itu akan menginap bersama mereka di manapun mereka menginap dan akan beristirahat siang dengan mereka tatkala mereka tidur siang. Hadist Riwayat  Shahih Muslim”.

Setelah menghela nafas sebentar, prof Ali Yusuf berujar: “ Jumlah hadis yang meriwayatkan tanda-tanda Kiamat tak terhitumg banyaknya. Ada   tanda-tanda besar  ada tanda-tanda  kecil. Namun demikian tidak mudah menafsirkan hadis-hadis tersebut. Penyebabnya beragam. Yang jelas seringkali hadis baru dapat dimengerti setelah sebuah peristiwa  benar-benar telah terjadi. Perlu kajian khusus untuk membahasnya. Itupun bisa keliru…Butuh waktu tidak saja dalam hitungan hari namun bisa saja hingga tahunan..”, prof berkata sambil berdiri membereskan buku-bukunya yang tergeletak di meja.

Aku melirik jam tanganku, pukul 14.30. Mustinya bel waktu istirahat sudah berbunyi. Namun tampaknya para mahasiswa tidak perduli. Mereka begitu antusias mendengar penjelasan  prof  Yusuf Ali yang sungguh menarik.

“ Satu  saja lagi  pertanyaan  prof..”, seru seorang mahasiswa sambil buru-buru mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

“ Baik .. .tapi cepat”, jawab prof sambil melongokkan pandangannya keluar jendela.

“ Mengenai Hari Kiamat dan hubungannya dengan  Ya’juj dan Ma’juj yang disebut dalam ayat 94-99 surat Al-Kahfi dan ayat 96-97 surat Al-Anbiyya. Banyak ulama kontemporer yang berpendapat bahwa Ya’juj dan Ma’juj adalah bangsa bengis bermata sipit yang mendiami daerah Asia Tengah. Mereka kemungkinan adalah bangsa Mongol, Rusia, Jepang, Cina atau mungkin Korea.  Menurut para ulama ini kejahatan yang akan disebarkan mereka bukanlah kejahatan umum seperti pada masa lalu. Kejahatan yang dimaksud itu tidak lain  adalah kejahatan yang menggunakan tehnologi tinggi. Contohnya  adalah kejahatan pemikiran seperti Kapitalisme dan Materialisme. Atau bisa juga yang dimaksud adalah Cyber Crime atau kejahatan dunia maya yang memang terbukti saat ini banyak terjadi di sekitar kita. Bagaimana menurut pendapat prof?” ,tanyanya.

“ Bisa jadi”, jawab prof sambil menurunkan kembali buku-buku yang telah dijinjingnya. “ Negara-negara Asia Tengah seperti Jepang, Cina dan Korea belakangan ini memang mulai menunjukkan kemajuan yang sangat mengejutkan. Tanda-tanda akhir zaman yang telah diisyaratkan Al-Quran dan hadis memang semakin menunjukkan kebenarannya. Untuk itu mari kita sebagai umat pilihan yang telah diberi kesempatan menyaksikan kebenaran tanda-tanda tersebut segera bersiap diri. Bekal terpenting adalah ilmu yang benar disamping tentu saja  keimanan yang tinggi. Tunjukkanlah itu … songsong hari akhir dengan penuh keyakinan..Jangan berpaling dan takut mati …Tegakkan kalimat tauhid dan patuhi perintah-Nya…Allah swt pasti akan membela kita di jalan yang benar .. Allahu Akbar.. Allahu Akbar ..Allahu Akbar “, serunya menutup kuliahnya.

***

Beberapa hari yang lalu aku menerima surat dari ibu yang mengabarkan rencana ibu untuk minta cerai dari ayah. “ Uztad mengatakan bahwa Allah swt melarang perempuan menikah dengan lelaki non muslim. Artinya, dengan masuknya ibu kedalam Islam otomatis pernikahan ayah dan ibu  batal”. Itu salah satu bunyi surat ibu. Terus terang aku cukup terkejut mengetahui keseriusan ibu dalam mengamalkan ajaran yang baru dipeluknya beberapa bulan itu. Aku salut kepadanya. Tentu tidak mudah bagi seorang perempuan mengambil keputusan seperti itu, apalagi ayah dan ibu telah menikah lebih  dari 20 tahun lamanya.

Aku hanya berharap semoga ayah dapat menerima keputusan ibu. Namun tampaknya jalan hidup ayah tidaklah semulus jalanku, ibu ataupun tante Rani. Karena tak sampai sebulan setelah ibu berkirim surat, aku mendapat kabar bahwa ayah meninggal dunia karena over dosis! Aku benar-benar tak mengira bahwa akan begini akhirnya. Menurut tante Rani, ayah tak mau menerima permintaan  cerai ibu. Ayah makin sering mengamuk dan membantingi segala  yang ada di rumah.

Malam terakhir sebelum petaka itu datang, tante Rani mendengar bahwa ayah dan ibu bertikai hebat di kamar. Terdengar suara ibu menangis ketakutan sementara ayah terus berteriak-teriak mengeluarkan suara kasar dan kotor. Tante Rani tidak tahan  hanya diam di luar kamar. Ia khawatir terjadi sesuatu yang membahayakan jiwa ibu. Akhirnya dengan dibantu satpam, tante mendobrak pintu kamar ke dua orangtuaku.

Didalam kamar terlihat sebelah tangan ayah  menggenggam sebelah pisau   sementara tangan satu lagi mengcengkeram lengan ibu. Ketika ia melihat kehadiran adiknya yang secara tiba-tiba masuk, ia kelihatan bingung. “ Lepaskan pisau itu “, teriak tante Rani histeris. “ Tak tahukah betapa kau telah membahayakan  jiwa Lani, istrimu? Ibu anakmu Mada?” lanjutnya.

Namun mendengar peringatan itu bukannya sadar, ayah malah tampak lebih kacau lagi. Rupanya kata Mada membuatnya  lebih sakit hati lagi. Ia menggeram dengan amat keras dan mulai akan mengayunkan pisaunya ke arah ibu. Tanpa berpikir panjang  tante Rani segera berlari mendekati keduanya dan meraih vas besar bunga yang berada di dekatnya lalu mengayunkannya ke arah tubuh besar ayah. Sejenak ayah terhuyung kehilangan sedikit keseimbangannya. Wajahnya terlihat merah padam sementara pandangan matanya liar. Rupanya ia dalam keadaan setengah mabuk.

Lebih baik kau tinggalkan rumah ini kak “, ancam  tante Rani. “ Pergi dan bermabuk-mabukanlah di luar sana. Kelakuanmu sungguh membikin malu nama keluarga besar kita”, tambah tante lagi.

Alhamdulillah berkat pertolongan Allah jua, sambil mengomel tak karuan ayahmu yang rupanya segera tersadar, mungkin berkat pukulan keras di tubuhnya, pergi meninggalkan ruangan. Namun keesokan paginya seseorang menelpon ibumu mengabarkan bahwa ayahmu dalam keadaan sekarat di sebuah hotel berbintang. Ia meminta agar ibu segera datang dan menjemputnya. Maka aku dan ibupun segera menjemput  dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Namun sayang, sebelum tiba di tujuan ayahmu sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Berdasarakan visum dokter yang memeriksanya ayahmu meninggal karena  over dosis.

Mada anakku

Ibumu sangat berharap agar kau mau datang dan memberinya penghormatan terakhir. Walau bagaimanapun ia adalah ayahmu. Maafkanlah ia. Disamping itu tante yakin ibumu sangat  memerlukan kehadiran dan dukunganmu. Ia tampak sangat terpukul dengan peristiwa tersebut. Urus secepat mungkin tiketmu. Walaupun ayahmu bukan seorang Muslim dan kemungkinan besar keluarga besarnyapun menginginkan upacara kremasi namun ibumu sebagai seorang yang telah memeluk Islam menginginkan agar upacara penyelenggaraan jenazah dapat dilaksanakan sesegera mungkin. Apa boleh buat meskipun tidak sesuai syariat yang seharusnya tidak boleh lebih dari 24 jam sejak kematiannya.

Wasswrwb.

Tante Rani.

Aku terduduk lesu. Sungguh tak kukira akan demikian akhir nasib ayah. Terus terang aku tak setuju pada yang mengatakan bahwa ini semua adalah  kehendak-Nya. Benar bahwa Allah swt memang telah menggariskan jalan hidup setiap manusia. Namun setiap manusia tanpa kecuali dibekali akal dan kemauan. Ia memiliki  potensi untuk memilih jalan mana yang ingin ditempuhnya, ketakwaan atau kemungkaran. Hidayah Allah swt akan diberikan kepada yang mau berusaha dan mencarinya. Sebaliknya Allah akan memberikan hidayah tersebut kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Maka manusia harus segera berebut mendapatkannya.

***

Read Full Post »

Tak terasa 4 tahun telah berlalu. Berkat usahaku yang gigih selama ini serta doa ibu dan tante Rani maka ridho Allahpun datang. Lima  hari lagi aku akan diwisuda. Kegembiraanku bukan cuma berhenti disitu. Selain ibu dan tante Rani, Nisa, mahasiswi fakultas kedokteran teman Lukman, gadis impianku  yang kupendam selama ini dan telah  kunikahi beberapa hari begitu aku dinyatakan lulus, akan datang menghadiri acara wisudaku bersama kedua orang-tuanya. Terakhir aku bertemu dengannya ketika ia bersama teman-temannya hadir dalam upacara pemakaman ayah.

Lama tak berjumpa, membuatnya semakin cantik dan membuatku makin jatuh hati. Aku rasa aku telah jatuh cinta padanya pada pandangan pertama ketika aku bertemu dengannya beberapa tahun yamg  lalu. Sejak itu aku tak pernah berhenti berdoa semoga Allah memberikan gadis itu sebagai jodohku yang terbaik. Pernikahan Rasulullah dengan Ummu Habibah yang ketika itu sedang hijrah ke Habasyahlah yang memberiku inspirasi untuk melamar dan menikahinya dari jarak jauh.

Walaupun kami tidak pernah berpacaran sebagaimana kebanyakan remaja saat ini namun aku memiliki keyakinan bahwa ialah jodohku. Karena dari Lukman aku tahu bahwa gadis manis tersebut berasal dari keluarga yang memegang teguh ajaran Islam. Kasih sayang dan cinta sejati akan dilimpahkan Allah swt sebagai pemilik  hati manusia kepada mereka yang mengikatkan hati dan dirinya dalam sebuah perkawinan syah yang dilaksanakan dalam rangka memohon ridho-Nya.

Nisa yang juga telah menyelesaikan kuliahnya itu rencananya akan  mengambil spesialisasi jantung  ke universitas Taibah. Universitas yang terletak di kota Madinah ini dikabarkan mempunyai berbagai fakultas, diantaranya Sains, Kedokteran dan Ilmu Sosial. Sementara aku sendiri juga masih ingin melanjutkan  kuliah hingga ke program doktoral.

……Maka jika kamu melihatnya berbaiatlah walaupun dengan merangkak di atas salju karena dia adalah khalifah Allah, Al-Mahdi”

Hadis diatas terasa mengiang-ngiang dalam telingaku. Aku dan Nisa sepakat dan berketetapan ingin menjadi bagian dari orang-orang terbaik Madinah yang siap melaksanakan jihad dalam rangka menegakkan kalimat Allah melawan pasukan kafir pimpinan manusia iblis Ad-Dajjal di pertempuran akhir zaman di bukit Zaitun, Palestina nanti. Aku berperang dengan pedang dan Nisa, belahan jiwaku, dengan keahliannya merawat dan membantu korban perang sebagaimana.yang pernah dilakukan para sahabat lelaki dan perempuan di zaman Rasulullah 15 abad yang silam.  “ Ya Allah saksikanlah……   Masukanlah dan pertemukanlah  kami kembali kelak di surgaMu….Amin Ya Robbal ‘Alamin “. Akupun kemudian bangun dari sujudku untuk segera berkemas ke bandara.  Pesawat yang ditumpangi orang-orang yang paling kucinta akan mendarat sore nanti.

***

Aku duduk tertegun di salah satu bangku bandara Jeddah sambil memegang erat surat kabar berbahasa Arab itu. “ Pasukan Israel telah menjatuhkan bom-bomnya ke Gaza dan sekitarnya. Korban mencapai lebih dari 300 orang meninggal, 1200an luka, hampir 100 diantaranya penduduk sipil, perempuan dan anak-anak ”. Tanpa sadar aku melirik jam tanganku, Minggu, 30 Zulhijjah 1429 H. Ini adalah hari terakhir tahun 1429. Dalam hitungan beberapa jam, tahun ini akan berubah menjadi tahun 1430 H. Tahun baru Islam yang melambangkan kemenangan dan akhir zaman kejahiliyahan. Tahun ini dihitung sejak hijrahnya Rasulullah dari Mekah ke Madinah pada tahun 1622 M.

Aku kembali memandang tak percaya pada surat kabar yang sekarang tanpa kusadari telah kucengkeram erat. Jantungku berdegup kencang. Kepalaku tiba-tiba terasa berat. “ Ya, Allah, mengapa  harus hari ini?” bisikku pilu.  Aku sadar  suatu saat hal ini pasti akan tiba. Akan tetapi aku sama sekali tidak pernah mengira kalau Israel bakal begitu kasar memilih hari kemenangan umat Islam untuk memukul telak bangsa Palestina  yang sudah nyaris jatuh tersungkur. Pikirankupun segera terbang melayang menuju jalan-jalan di Palestina menghapus bayangan ibu, tante Rani, Nisa….

Ini adalah takdirku, aku tidak boleh menghindar….. Aku penuhi panggilanmu Ya Allah Ya Robbi “, bisikku mantap.

Jakarta, Januari 2009 / Muharram  1430 H.

Sylvia Nurhadi

Read Full Post »

« Newer Posts