Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Aisyah ra’

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (QS.An-Nisaa(4):3).

Ayat inilah yang sering dijadikan pegangan bagi orang-orang yang menerapkan poligami. Padahal ayat ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya yang bila diperhatikan lebih seksama akan memberikan pengertian lain. Bunyi ayat tersebut adalah sebagai berikut :

“Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar”.(QS.An-Nisaa(4):2).

Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud serta At-Turmuzy meriwayatkan bahwa Urwah ibn Zubair bertanya kepada Aisyah ra mengenai ayat tersebut diatas. Aisyah menjawab bahwa ayat tersebut berkaitan dengan anak yatim yang berada dalam pengawasan seorang wali, dimana hartanya bergabung dengan sang wali. Kemudian karena tertarik akan kecantikan dan terutama karena hartanya, sang wali bermaksud mengawininya dengan tujuan agar ia dapat menguasai hartanya. Ia juga bermaksud tidak memberikan mahar yang sesuai. Aisyah kemudian melanjutkan penjelasannya bahwa setelah itu beberapa sahabat bertanya kepada rasulullah saw mengenai perempuan. Maka turunlah ayat 127 surat An-Nisaa sebagai berikut :

“Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Qur’an (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya”.

Pada waktu ayat ini diturunkan, dalam tradisi Arab Jahiliah, para wali anak yatim sering mengawini anak asuhnya disebabkan tertarik akan harta dan kecantikannya, namun bila si anak yatim tidak cantik ia menghalangi lelaki lain mengawini mereka karena khawatir harta mereka terlepas dari tangan para wali. Karena itulah Allah berfirman “jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya)”,( kamu dalam ayat ini maksudnya ditujukan kepada para wali anak yatim),” maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat….”

Begitulah penjelasan Aisyah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ayat 3 tersebut diatas bukanlah anjuran untuk berpoligami. Dan lagi pada kenyataannya poligami telah dikenal dan dipraktekan berbagai lapisan masyarakat di berbagai penjuru dunia, baik dunia Barat maupun Timur, sejak dahulu kala dengan jumlah yang tak terbatas pula. Bahkan sebagian para nabi sebelum rasulullahpun seperti Ibrahim as, Musa as dan Daud as juga berpoligami.

Jadi bukan agama Islam yang mengajarkan hal tersebut. Islam memang membolehkan namun hanya sebagai jalan keluar bagi yang memerlukannya, tergantung situasi dan kondisi, apakah lebih banyak manfaat atau mudharatnya. Itupun dengan syarat yang tidak mudah dan membatasinya tidak lebih dari 4.  Seorang suami sekaligus ayah dalam Islam wajib bertanggung jawab terhadap perbuatan dan kebutuhan semua istri dan anak yang dimilikinya, secara adil.

Namun, bila ditelaah lebih lanjut, ”jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja,… . Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”, menunjukkan bahwa dengan tidak berpoligami adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. Karena dengan begitu, seorang suami tidak perlu merasa ada kekhawatiran berbuat tidak adil terhadap istri maupun anaknya.

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri- isteri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS.An-Nisaa(4):129).

Dengan demikian jelas Poligami hanya kebolehan, bukan sunah apalagi kewajiban. (Sebagai catatan tambahan, jangankan poligami, menikah dengan satu orangpun tidak selamanya hukumnya wajib. Ada beberapa penyebab haramnya menikah bagi seseorang). Dan lagi bila alasannya ingin meneladani rasulullah, perlu diingat bahwa beliau lebih lama ber-monogami daripada ber-poligami. Pada saat poligami adalah suatu hal yang lumrah di tanah Arab, dimana kebanyakan laki-laki beristri hingga lebih dari 10, rasulullah lebih memilih untuk bermonogami bersama istri tercinta, Siti Khadijjah ra, selama lebih kurang 25 tahun, hingga akhir hayat sang istri.

Padahal usia rasulullah saat menikah baru 25 tahun, usia dimana dorongan syahwat seorang laki-laki sedang tinggi-tingginya, sementara Siti Khadijjah sendiri telah berusia 40 tahun. Dan kalaupun rasulullah memang menghendakinya, beliau dapat dengan mudah menikah lagi dengan banyak perempuan tanpa melanggar adat dan tradisi yang berlaku pada masa itu. Rasulullah baru menikah lagi kurang-lebih 2 tahun setelah wafatnya Siti Khadijjah, yaitu pada periode Madinah, periode yang penuh peperangan.

Jadi sungguh mustahil bila ada yang berpendapat bahwa rasulullah berpoligami demi mengejar kesenangan duniawi belaka. Perlu diingat, bahwa semua perempuan yang menjadi istri rasulullah adalah janda, kecuali Aisyah ra, dan kesemuanya adalah untuk tujuan menyukseskan dakwah dan membantu menyelamatkan dan mengangkat derajat perempuan-perempuan yang kehilangan suami.

Bahkan sebenarnya, Allah swt telah memberikan Rasulullah keleluasaan untuk menikahi perempuan manapun yang beliau sukai, bila beliau mau. Ini benar-benar kekhususan yang hanya diberikan Sang Khalik kepada beliau, tidak kepada yang lain. Namun kenyataannya Rasulullah tidak mau memanfaatkan kesempatan tersebut. Karena beliau tahu persis betapa sulit dan beratnya tanggung jawab sebagai seorang suami.

Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mu’min yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mu’min. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS.Al-Ahzab(33):50).

Berikut istri-istri rasulullah dan sedikit latar belakang mengapa rasulullah menikahinya.

1.Khadijjah binti Khuwailid ra.

Ia adalah seorang saudagar perempuan kaya-raya yang dikenal berahlak mulia dan terhormat. Ia mengetahui bahwa Muhammad adalah seorang pemuda yang jujur dan berahlak mulia, oleh sebab itu ia mempercayakan perniagaannya dibawa oleh pemuda tersebut. Nabi saw menerima wahyu pertama 15 tahun setelah perkawinannya dengan Khadijjah ra.

Ialah orang pertama yang membenarkan, mendukung dan mempertaruhkan seluruh kekayaannya demi kelancaran dakwah Islam. Ia terus mendampingi rasulullah sebagai satu-satunya istri hingga wafatnya pada usia 65 tahun. Khadijah adalah satu-satunya istri Rasulullah yang mendapat kepercayaan dari Sang Khalik untuk melahirkan putra-putri Rasulullah kecuali Maryah Al-Qibthiyyah yang melahirkan seorang putra. Namun meninggal dunia ketika masih bayi.  Dari rahim Khadijahlah, Rasullullah dikarunia 4 putri dan 2 putra, yaitu Zainab, Ruqayah, Ummi Kultsum, Fatimah Az-Zahra, Qasim dan Ibrahim. Namun kedua putra Rasulullah meninggal ketika masih bayi.

2.  Saudah binti Zam’ah ra.

Ia seorang janda berumur yang ditinggal wafat suaminya ketika mereka hijrah ke Habasyah(Ethiopia) guna menghindari serangan kaum musyrik. Ia terpaksa kembali ke Mekah sambil menanggung beban kehidupan anak-anaknya dengan resiko dipaksa murtad oleh kaumnya. Rasulullah menikahinya dalam keadaan demikian.

3. Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.

Ia satu-satunya istri rasulullah yang ketika dinikahi masih gadis. Abu Bakarlah yang membujuk rasulullah agar mau mengawini putrinya tersebut, karena ia tidak tega melihat rasulullah terus bersedih hati ditinggal wafat Khadijjah.

Riwayat lain mengatakan bahwa pernikahan Rasulullah adalah atas petunjuk  Jibril as. Malaikat Jibrillah yang memperlihatkan gambar Aisyah kepada Rasulullah untuk dinikahi beliau sepeninggal Khadijah.

4. Hafsah binti Umar Ibnul Khatab ra.

Ayahnya sangat bersedih hati ketika suami Hafsah wafat. Ia ‘menawarkan’ agar Abu Bakar mau menikahinya, namun tidak ada jawaban. Demikian juga ketika Umar kembali ‘menawarkan’ kepada Usman bin Affan. Ketika kemudian ia mengadukan kesedihan ini kepada rasulullah, beliau menghiburnya dengan menikahi putrinya itu sekaligus sebagai penghargaan beliau atas sang ayah.

5. Hind binti Abi Umayyah atau Ummu Salamah ra.

Juga seorang janda berumur. Suaminya luka parah dalam perang Uhud kemudian gugur tak lama kemudian. Rasulullah menikahinya sebagai penghormatan atas jasa suaminya dan demi menanggung anak-anaknya.

6. Ramlah binti Abu Sufyan ra atau Ummu Habibah.

Ia meninggalkan orang-tuanya dan berhijrah ke Habasyah bersama suaminya. Namun sampai ditujuan, sang suami murtad dan menceraikannya. Untuk menghiburnya, rasulullah menikahinya sekaligus dengan harapan dapat menjalin hubungan dengan ayahnya yang waktu itu salah satu tokoh utama kaum musyrik Mekah.

7. Juwairiyah binti Al-Harits ra.

Ia seorang putri kepala suku yang tertawan dalam salah satu peperangan. Keluarganya datang untuk memohon kebebasannya. Namun dalam pertemuan tersebut ternyata mereka tertarik kepada Islam dan kemudian memeluknya, demikian juga Juwairiyah. Sebagai penghormatan rasulullah menikahinya sambil berharap seluruh anggota sukunya memeluk Islam. Ternyata harapan tersebut terlaksana.

8. Shaffiyah binti Huyaiy ra.

Ia seorang perempuan Yahudi yang tertawan dalam perang dan dijadikan hamba sahaya oleh salah seorang pasukan muslimin yang menawannya. Kemudan ia memohon kepada rasulullah agar dimerdekakan. Rasulullah mengajukan 2 pilihan ; dimerdekakan dan dipulangkan kepada keluarganya atau dimerdekakan dan tetap tinggal bersama kaum muslimin. Ternyata ia memilih tinggal dan malah memeluk Islam.  Sebagai penghargaan rasulullah menikahinya.

9. Zainab binti Jahsyi ra.

Ia sepupu rasulullah dan beliau menikahkannya dengan Zaid ibn Haritsah, bekas anak angkat dan budak beliau. Rumah tangga mereka tidak bahagia sehingga mereka bercerai dan sebagai penanggung jawab perkawinan yang gagal tersebut , rasulullah menikahinya atas perintah Allah.(lihat QS Al-Ahzab (33):37). Ayat ini sekaligus merupakan perintah Allah swt untuk membatalkan adat Arab Jahiliyah yang menganggap anak angkat sebagai anak kandung sehingga tidak boleh mengawini bekas istri mereka.

10. Zainab binti Khuzaimah  ra.

Ia seorang janda, suaminya gugur dalam perang Uhud dan tidak seorangpun dari kaum muslimin setelah itu mau menikahinya. Kemudian rasulullah menikahinya.

11. Maryah Al-Qibthiyyah ra.

Ia seorang hamba sahaya, hadiah dari penguasa Mesir, Muqauqis. Setelah dimerdekakan dan masuk Islam, rasulullah menikahinya. Ia adalah satu-satunya istri rasulullah diluar Khadijjah yang dikarunia anak walaupun kemudian meninggal ketika masih berusia 18 bulan.

Rasulullah tidak pernah lagi menikahi perempuan lain begitu turun perintah dari Sang Khalik untuk tidak lagi menambah istri. Dari sini jelas terlihat bahwa pernikahan yang dilakukan Rasulullah adalah berdasarkan perintah Allah swt, bukan atas kehendak dan kemauan sendiri.

“Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan isteri-isteri (yang lain), meskipun kecantikannya menarik hatimu kecuali perempuan-perempuan (hamba sahaya) yang kamu miliki. Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu”. (QS.Al-Ahzab(33):52).

Selanjutnya para istri Rasulullah itu diberi sebutan sebagai Ummul Mukminun atau ibu kaum Muslimin. Dan setelah wafatnya Rasulullah Allah swt memuliakan mereka dengan melarang mereka untuk menikah lagi. Dengan demikian di alam akhirat nanti mereka akan berkumpul kembali dengan suami tercinta, Rasulullah saw.

” … … Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah”. (QS.Al-Ahzab(33):53).

Jadi jelas kedudukan Ummul Mukminin sangatlah tinggi. Mereka adalah ahlul bait (keluarga nabi) yang sudah sepatutnya harus kira junjung tinggi. Bahkan Allah swt sendiri yang telah memuliakan mereka, dan memberi mereka perlakuan khusus.

Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik,

dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta`atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai AHLUL BAIT dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. ( Terjemah QS.Al-Ahzab (33):32-33).

Jadi sungguh tidak masuk akal jika orang-orang Syiah meragukan kebersihan dan keimanan beberapa diantara Ummul Mukminin tersebut. Bahkan menganggap mereka bukan ahlul bait. Itulah sekeji-kejinya fitnah. Sungguh tak dapat dibayangkan bagaimana perasaan Rasulullah saw jika beliau masih hidup dan mengetahui fitnah keji tersebut.

( Bersambung)

Advertisements

Read Full Post »

“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.( QS.Al-Ahzab(33):21).

Sebagai seorang Rasul sekaligus pemimpin umat dan  panglima perang sudah sewajarnya bila segenap perintahnya dituruti dan dipatuhi. Namun suatu ketika pada tahun ke 6 setelah hijrah, Rasulullah mengajak para sahabat untuk melaksanakan umrah ke Mekkah. Ketika itu sebagian besar kaum Quraisy penduduk Mekkah belum mau menerima ajaran Islam bahkan sangat memusuhi ajaran tersebut.  Oleh sebab itu mereka tidak mengizinkan Rasulullah beserta para pengikutnya masuk ke kota tersebut walaupun hanya untuk sekedar melaksanakan umrah.

Sebenarnya sebagian besar sahabat ketika itu tidak mau menerima sikap ini. Mereka merasa bahwa mereka berniat melakukan sesuatu yang di-ridhoi Allah SWT dan pasti Allah akan membela mereka. Jadi mereka berkesimpulan mereka harus mengambil jalan kekerasan. Namun apa yang dilakukan Rasulullah? Beliau justru menyetujui untuk menanda-tangani sebuah kesepakatan yang intinya mereka tidak mungkin melaksanakan umrah saat itu dan mereka harus mundur dan kembali.

Kemudian setelah kesepakatan tercapai, Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk menyembelih hewan kurban bawaan mereka serta bercukur layaknya orang yang telah menunaikan ibadah umrah. Ternyata walaupun Rasulullah telah mengulangi perintah tersebut hingga 3 kali tidak seorangpun sahabat yang mentaatinya. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Mungkin para sahabat benar-benar kecewa atas keputusan yang diambil Rasulullah.

Lalu apakah kemudian Rasulullah marah dan mengecam mereka? Tidak! Rasulullah hanya mengeluhkan hal tersebut kepada Ummu Salamah ra, istri Rasulullah yang ketika itu mendapat giliran untuk menemani Rasulullah menjalankan tugas. Ummu Salamah kemudian menghibur  Rasulullah agar tidak usah terlalu kecewa atas sikap para sahabat. Menurut beliau lebih baik Rasulullah langsung menyembelih kurban dan bercukur tanpa harus menunggu reaksi para sahabat. Dan memang benar ternyata para sahabat segera meniru perbuatan Rasulullah.

Hal yang penting dicermati dalam kasus ini adalah sikap Rasulullah yang mau menerima dengan lapang dada pendapat istrinya. Padahal Ummu Salamah ketika itu hanya sekedar memberikan pendapat tanpa mengajukan dalil apapun. Jelas disini bahwa Rasulullah tidak merasa rendah dan hina ketika seorang perempuan memberikan pendapatnya.

Contoh lain keteladanan Rasulullah adalah sebagai berikut. Dalam perjalanan pulang dari Perang Musthaliq, Rasulullah dan rombongan berhenti di suatu tempat untuk beristirahat.  Aisyah ra yang kali ini mendapat giliran menemani Rasulullah berperang, turun dari sekedup, tandu tertutup tempat para perempuan ketika itu duduk dalam perjalanan, untuk buang hajat kecil. Namun ketika ia kembali ke sekedupnya Aisyah baru menyadari bahwa ia kehilangan kalung yang dikenakannya. Maka tanpa sepengetahuan yang lain, Aisyahpun segera turun untuk mencari kalungnya  yang hilang tersebut. Sementara itu mengira rombongan telah lengkap, rombongan meneruskan perjalanan kembali.

Maka ketika akhirnya Aisyah kembali ke tempat dimana sebelumnya rombongan berhenti, ia mendapati bahwa ia telah tertinggal. Aisyah tidak tahu harus berbuat apa di padang pasir nan luas tersebut. Ia hanya dapat menangis dan pasrah akan keadaannya. Tak lama kemudian terlihat Shafwan bin Mu’aththal, seorang sahabat,  nampaknya ia juga tertinggal rombongan. Ketika ia mengetahui bahwa umul mukminin ini tertinggal dengan penuh kesopanan ia segera menawarkan kudanya untuk ditunggangi Aisyah. Kemudian ia menuntunnya hingga  Madinah.

Setiba di Madinah, Abdullah bin Ubay bin Salul, si Munafikun yang memang dikenal sebagai penyebar fitnah, segera memanfaatkan kesempatan itu. Ia menghembus-hembuskan berita bahwa Aisyah ra, seorang umul mikminin  telah berbuat keji dengan seorang laki-laki. Berita ini akhirnya sampai ke telinga Rasulullah SAW. Namun Aisyah sendiri tidak mendengar desas-desus busuk itu karena sekembali dari peristiwa tersebut ia jatuh sakit. Yang ia ketahui hanya perlakuan Rasulullah, suami tercintanya itu berubah 180 derajat. Ia baru menyadari penyebab perubahan sikap Rasulullah yang dingin dan tidak bersabahat itu ketika ia sembuh dan mendengar  berita miring tentang dirinya. Namun apakah Rasulullah langsung melampiaskan kemarahan tanpa mencari tahu kebenaran berita tersebut?

Sama sekali tidak, Rasulullah memang jelas amat kecewa dan marah namun beliau berusaha menahan perasaannya. Rasulullah tidak ingin bertindak gegabah. Beliau ingin memastikan dari mulut Aisyah sendiri apakah berita itu benar. Sebulan lamanya Rasulullah dalam keadaan seperti itu. Beliau menunggu hingga istri tercintanya itu sembuh. Namun belum sampai Rasulullah menanyakan hal yang sebenarnya terjadi,  turun ayat yang menerangkan tentang kebersihan dan ketidak bersalahan Aisyah.

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu’minin dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu”. (QS.An-Nur(24):11-14).

Dengan segera  Rasulullahpun meminta maaf akan kecurigaan dan perlakuan yang menyangsingkan kesetiaan istrinya itu. Inilah tauladan Rasulullah yang mustinya diambil kaum lelaki dalam menghadapi kecurigaan terhadap istrinya.

”Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik”. (QS.An-Nur(24):4).

Ayat diatas menerangkan bahwa diperlukan  paling tidak 4 orang saksi ketika seseorang menuduh seorang perempuan berbuat zina. Dan ganjaran bagi orang yang menuduh tanpa dapat mengajukan saksi adalah didera sebanyak 80 kali dera/cambukan. Sedangkan bila  yang menuduh adalah suami namun ia tidak dapat mengajukan seorangpun saksi, maka sebagai gantinya ia dapat bersumpah dengan nama Allah sebanyak 4 kali bahwa ia menyaksikan sendiri apa yang dituduhkannya itu. Kemudian ia harus menutup sumpahnya tersebut dengan sumpah ke 5 untuk menegaskan bahwa bila ia berdusta, laknat Allah akan mendatanginya.

Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa la`nat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta”.( QS.An-Nur(24):6-7).

Sebaliknya istripun diberi kesempatan untuk membela diri dengan bersumpah atas nama Allah sebanyak 4 kali sebagaimana suaminya. Sumpah ke 5 boleh di ucapkan untuk menegaskan bahwa ia tidak bersalah, dengan taruhan ia siap  dilaknat bila ia memang bersalah.

” Isterinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta dan (sumpah) yang kelima: bahwa la`nat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar”. (QS.An-Nur(24):6-9).

Rasulullah adalah seorang yang sangat menghormati kaum perempuan. Suatu ketika datang seorang perempuan tua mengunjunginya. Aisyah ra menceritakan bahwa Rasulullah segera membuka jubahnya dan menghamparkan jubah tersebut untuk diduduki perempuan tersebut. Begitu pula ketika suatu ketika Rasulullah pulang larut malam dan beliau dapati istrinya telah masuk kamar tidur. Rasulullah tidak mau mengganggunya maka beliaupun menunggu dan tidur di depan pintu hingga waktu subuh!

Suatu ketika Aisyah ra pernah berkata, agar memudahkan istrinya untuk menaiki kudanya Rasulullah terbiasa merundukkan punggungnya sebagai pijakan. Beliau juga terbiasa membantu istrinya meringankan pekerjaan sehari-hari di rumah seperti menjahit bajunya yang sobek, menambal terompah, mencuci pakaian, memerah air susu domba dll.

Dan sesungguhnya bagi kamu ( Muhammad) benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS.Al-Qalam(68):3-4).

Rasulullah saw memberi giliran diantara istrinya –istrinya  lalu menetapkannya dengan adil. Kemudian beliau berdoa, ” Ya Allah, inilah tindakanku terhadap apa yang aku miliki. Maka janganlah Engkau mencela apa yang Engkau kuasai dan yang tidak aku kuasai.” ( HR Ahmad ).

Inilah yang dibaca Rasulullah setiap kali beliau berkeliling mengunjungi para istrinya. Rasululullah begitu khawatir bila beliau tidak dapat berbuat adil terhadap istri-istrinya. Beliau menyadari bahwa keadilan yang diberikan kepada mereka tidak mungkin  sebagaimana adilnya Allah swt. Rasullullah hanya manusia biasa yang hanya memiliki satu buah hati. Sulit bagi beliau untuk membagi hatinya sama persis bagi semua istri yang dimilikinya.

Beliau hanya sanggup berusaha membagi waktu dan perhatian yang sama dan adil. Padahal  sesungguhnya Allah telah membebaskan Rasulullah untuk  menggilir  dan menggauli mereka sesuka beliau. Tidak berdosa bila Rasulullah misalnya melebihkan sebagian waktunya untuk yang lain. Namun Rasulullah tidak mau memanfaatkan kesempatan dan kelebihan tersebut. Rasulullah tidak ingin mengecewakan dan menyakiti hati istri-istri beliau walaupun mereka mengatakan ridha’ sekalipun. Beliau sangat memahami sifat dan hati perempuan.

Kamu boleh menangguhkan (menggauli) siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (isteri-isterimu) dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki……..”. (QS.Al-Ahzab( 33):51).

Tidak dapat dipungkiri bahwa para sahabat dan istri beliaupun mengetahui bahwa sesungguhnya Rasulullah memiliki rasa cinta yang lebih besar terhadap Aisyah ra daripada istri-istri yang lain diluar Khadijah ra. Alkisah, suatu ketika sebagaimana sifat manusia perempuan biasa, Aisyah yang memang masih sangat muda usianya ingin agar  Rasulullah menyatakan kelebihan kecintaan tersebut di hadapan istri-istri beliau yang lain. Aisyah memohon agar Rasulullah mengumpulkan mereka semua dan mengatakan bahwa hanya dirinya yang  menerima uang sebesar 1 dinar sebagai ungkapan rasa cinta yang lebih besar.

Rasulullah  mengabulkan permintaan Aisyah. Para Umirul Mukmininpun dikumpulkan. Kemudian Rasululullah meminta agar mereka yang pagi ini menerima pemberian uang 1 dinar  dari Rasulullah mengacungkan jarinya. Maka dengan penuh rasa bangga Aisyah segera mengangkat tangannya. Namun apa yang terjadi? Ketika Aisyah menengok ke kiri dan ke kanan ternyata seluruh  Umirul Mukmininpun mengangkat jari tangannya sambil tersenyum simpul penuh arti!

Sebaliknya ketika Rasulullah memasuki sakratul maut. Beliau merasa bahwa harinya telah dekat. Maka ketika Rasulullah mulai merasakan sakit dan demam, beliau bertanya : ” Dimanakah giliranku hari ini?” . Ketika ia mendapat jawaban bahwa hari-hari akhir beliau bukan berada di rumah Aisyah, beliau meminta pengertian istri yang lain agar selama sakit beliau diizinkan untuk terus berada di rumah Aisyah. Dan dirumah inilah, di pangkuan Aisyah ra akhirnya Rasulullah menghadap Sang Khalik sambil berbisik 3 x : ” Ya Allah, Rafiqul A’la ” .

Padahal sekali lagi Rasulullah diberi kebebasan untuk menentukan kemauan dan keinginannya sendiri. Namun nyatanya demi keadilan, Rasulullah tetap merasa perlu mendapatkan izin istri-istri yang lain.  Betapa mulia keteladanan yang diberikannya. Subhanallah.

“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.( QS.Al-Ahzab(33):21).

Read Full Post »