Feeds:
Posts
Comments

Prilaku perempuan sejak dahulu kala, diakui maupun tidak diakui, secara fitrah hampir selalu memberi pengaruh yang tidak sedikit terhadap prilaku lelaki. Pengaruh ini bisa pengaruh positif bisa juga pengaruh negatif. Ironisnya, hanya  lelaki yang memiliki keimanan ekstra tinggi saja yang mampu terhindar dari pengaruh negatif perempuan. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa berada dalam lindungan Allah swt. Contohnya adalah nabi Nuh as dan  nabi Luth as. Prilaku  kedua istri nabi ini sangat buruk sehingga Allah swt mengazab keduanya dengan azab yang amat pedih. Ada pula kisah Zulaikha, seorang istri pejabat Negara yang tidak tahan terhadap ketampanan nabi Yusuf as dan kemudian menggodanya. Sebaliknya prilaku baik seorang perempuan tidak akan mampu mempengaruhi tindak tanduk lelaki tidak beriman yang keras kepala. Contohnya adalah Asiya, istri Fir’aun.

Allah swt mengabadikan kisah mereka melalui firman-Nya dalam Al-Qur’an agar menjadi peringatan bagi kaum perempuan untuk selalu berhati-hati dan memperhatikan prilaku dan tindak tanduk mereka. Perempuan adalah sumber  fitnah terbesar bagi lelaki. Karena pada umumnya lelaki sekuat dan seperkasa apapun cenderung selalu ingin menyenangkan dan menuruti kemauan istri/kaum perempuan walaupun seringkali keinginan tersebut tidak sesuai dengan syariah.

Rasulullah bersabda : ”Aku tidak meninggalkan fitnah yang paling berbahaya bagi kaum lelaki kecuali fitnah yang datang dari perempuan”.

Itu sebabnya mengapa mendidik anak perempuan dengan baik dapat menyelamatkan seseorang dari api neraka.

Barangsiapa yang merawat atau membesarkan kedua anak perempuannya maka aku dan dia masuk surga secara bersama-sama, seraya nabi memberi isyarat seperti dua jari tangannya” (HR Muslim).

Dalam tulisan ini, penulis membagi keteladanan perempuan atas 3 kelompok. Yang pertama yaitu kelompok perempuan yang hidup di masa Rasulullah dan generasi para sahabat. Berikutnya kelompok perempuan masa kini dan terakhir kelompok perempuan yang hidup dalam lingkungan kekuasaan/kerajaan.

I. Perempuan generasi Rasulullah dan para sabahat.

Ada banyak perempuan tangguh dari kalangan sahabat  yang patut dijadikan suri teladan. Mereka hidup pada zaman dimana Islam baru mulai tumbuh. Pada masa itu kaum Muslimin  sedang mengalami tekanan, siksaan dan permusuhan yang begitu hebat dari kaum musryikin Mekah, kaum Yahudi Yathrib dan para kafirin. Dimana-mana terjadi peperangan. Mereka ini bahkan harus mengalami permusuhan, dijauhi serta dibuang dari keluarga yang dicintainya.

1. Khadijah binti Khuwailid ra,  Ummul Mukminin.

Ia adalah seorang perempuan dari kalangan elite Quraisy yang  dikenal sebagai sosok yang dermawan, jujur dan luhur budi pekertinya.  Oleh karenanya ia dijuluki Ath-Thahirah (perempuan suci). Ia adalah seorang perempuan yang cerdas yang  menguasai ilmu perniagaan dengan sangat baik. Ia adalah seorang saudagar perempuan sukses yang sangat dihormati dan amat dikenal. Ketertarikannya kepada Muhammad muda bermula ketika ia mendengar  berita bahwa Muhammad adalah seorang yang jujur dan tidak suka menghamburkan waktunya sebagaimana umumnya pemuda-pemuda Quraisy kala itu.

Ketika akhirnya mereka menikah, ketertarikan ini makin hari makin meningkat menjadi kekaguman, kecintaan, dan penghormatan yang tinggi walaupun usia Rasullullah jauh lebih muda dari dirinya sendiri. Khadijah mempercayakan seluruh urusan perniagaan ke tangan sang suami tercinta yang dengan kejujurannya berhasil mengembangkan urusannya hingga mengalami perkembangan yang pesat.  Khadijah sendiri sekarang dapat berkonsentrasi mengurusi urusan rumah tangga, ke 4 putri dan 2 putranya serta ke 2 putra dari suami sebelumnya.

Sementara itu di waktu-waktu luangnya, Khadijah    mendapati bahwa sang suami  sering merenung dan berusaha berpikir siapakah sebenarnya Sang Pencipta yang patut disembah dan diagungkan. Muhammad muda senantiasa menjauhkan diri dari ritual penyembahan berhala yang lazim dilakukan kaumnya yang dalam kesesatan. Semua ini tak terlepas dari pengamatan Khadijah. Hal ini  menimbulkan kekaguman dan kesan mendalam di hati sang istri tercinta. Oleh karenanya ia tidak pernah menghalangi kepergian suaminya bermunajat di gua Hira dalam rangka merenung dan memikirkan penciptaan bumi, langit beserta seluruh isinya.

Itu sebabnya ketika sang suami dengan menggigil ketakutan pulang ke rumah sambil menceritakan bahwa ia telah didatangi ’mahluk yang memenuhi langit’ ( malaikat Jibril as), Khadijah tidak mencemoohkannya bahkan langsung mempercayainya. Beliaulah orang yang pertama beriman dan langsung mempercayai kerasulan Muhammad saw disaat yang lain masih mengingkari dan mencemoohnya.

Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat ”.(QS.An-Najm (53) : 1-5).

Khadijah segera menyelimuti dan menghibur sang suami dengan kata-kata yang menyejukkan dan menenangkan hati. Dalam  keadaan inilah turun ayat berikut :

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. ” . (QS.Al-Muzzammil(73):1-4).

Maka sejak saat itu,  Khadijahpun selalu bersiap diri rela mengorbankan waktu, jiwa serta seluruh hartanya untuk dakwah Rasullullah Muhammad SAW,  sang suami tercinta.

2.  Aisyah ra, Ummul Mukminin.

Ia adalah putri Abu Bakar ra, sahabat Rasulullah saw sekaligus khalifah pertama. Di usianya yang masih belia Aisyah telah dikenal sebagai periwayat hadis yang handal. Ia telah meriwayatkan  2210 hadis, 297 diantaranya terdapat di dalam kitab Hadis Bukhari-Muslim. Hafalannya sungguh luar biasa. Banyak sahabat Rasulullah yang sering menanyakan asal usul suatu hadis kepadanya, termasuk juga Umar bin Khatab, sang khalifah.

Istri Rasulullah ini belajar dan mendalami ajaran Islam langsung dari mulut Rasulullah,  di dalam rumah kenabian di mana wahyu turun dan Al-Quran dibaca siang dan malam. Ia dikenal sebagai sosok perempuan cerdas, pandai berdiplomasi, memiliki lisan yang fasih dan jika  berbicara mampu menarik setiap telinga yang mendengarnya.

Pada masa hidup Rasulullah, kaum perempuan memang memiliki semangat yang tinggi untuk belajar hingga mendorong mereka meminta agar disediakan majlis dan waktu khusus untuk mereka meskipun di dalam masjid mereka juga telah mendengar nasehat yang disampaikan Rasulullah.

Urwah bin Az-Zubair ra  suatu ketika pernah berkata : ” Aku tidak melihat ada seseorang yang lebih pandai dalam ilmu agama, lebih pandai dalam bidang kedokteran dan lebih pandai dalam bidang syair daripada  Sayyidah Aisyah ra. ”

Pada perang Khandaq, diberitakan bahwa Umar bin Khatab terpaksa menegur Aisyah karena keberaniannya  yang luar biasa maju menerobos ke bagian depan barisan pasukan hingga membahayakan keselamatan dirinya.

Anas bin Malik ra meriwayatkan, ia berkata : ”Sungguh aku menyaksikan Aisyah binti Abu Bakar ra dan Ummu Sulaim, sambil menyingsingkan baju sampai di atas mata kaki, mereka berdua mengambil air minum lalu mereka menghidangkannya kepada pasukan, kemudian mereka berdua kembali lagi untuk   mengambil air minum lalu memberikannya lagi kepada mereka ”.

Aisyah berpendapat bahwa beraktifitas adalah merupakan keharusan dan tuntutan bagi setiap perempuan. Setiap perempuan tidak boleh hanya duduk di dalam rumah tanpa berpikir untuk melakukan sesuatu yang berguna yang dapat membantu meringankan beban lingkungannya  namun tentu saja tanpa mengabaikan peran utamanya di rumah dan mendidik anak-anaknya.  Allah swt memang tidak menganugerahi Aisyah seorangpun anak.  hingga dengan demikian ia dapat secara maksimal mencurahkan seluruh        kehidupannya bagi masyarakat dan lingkungannya.

Ia berkata : ” Alat tenun di tangan seorang perempuan bisa bernilai lebih baik dari tombak di tangan orang yang berjuang dijalan Allah SWT ”.

3. Ummu Habibah ra, Ummul  Mukminin

Nama aslinya adalah Ramlah binti Abu Sufyan. Ayahnya, yaitu Abu Sufyan adalah seorang pemuka dan pembesar Quraisy yang sangat dienggani dan ditakuti masyarakatnya. Ia bahkan baru masuk Islam setelah Fathu Makkah. Sebelumnya ia adalah salah seorang yang amat memusuhi Islam. Hanya karena keyakinannya yang begitu kuat terhadap kebenaran Islam, Ramlah berani mengambil resiko dimusuhi dan dibuang keluarga besarnya.

Untuk menghindari  paksaan keluarganya agar ia kembali musyrik, bersama sejumlah sahabat Ramlah beserta suaminya rela ikut berhijrah ke Habasyah meninggalkan segala yang dicintainya di Makkah. Tatkala itu kekejaman orang-orang musyrik  atas kaum muslimin telah mencapai puncaknya, Di negri inilah ia melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Habibah hingga akhirnya ia lebih dikenal dengan nama Ummu Habibah. Sebaliknya di negri ini pula, ia diuji dengan sebuah cobaan yang lebih berat lagi. Suaminya murtad dan selanjutnya ia terus menerus mendesak Ummu Habibah agar mengikuti jejaknya.

Dengan keteguhannya ia bertahan bahkan dengan penuh kesabaran ia berusaha menyadarkan suaminya agar kembali ke jalan yang benar. Rupanya daya tarik syaitan lebih menarik hati suaminya hingga akhirnya ia meninggal dunia karena terlalu banyak mengkonsumsi khamr. Alangkah bersedihnya Ummu Habibah. Ia yang ketika mudanya terbiasa hidup bergelimang kekayaan dan kemewahan serta dimanja ayah-ibunya, kini harus hidup sendiri di negri orang sambil menanggung seorang anak yang masih balita.

Namun Ummu Habibah begitu yakin dengan adanya ayat 2 surat At-Thalaq bahwa Allah swt pasti akan memberinya jalan keluar.

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberikan rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.Dan berangsiapa yang telah bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”.( QS. At-Thalaq(65):2-3).

Atas kehendak-Nya, suatu ketika ia bermimpi bahwa Rasulullah melamarnya. Dan hal ini memang benar-benar terjadi. Beberapa saat setelah masa iddahnya, melalui raja Habasyah yang telah memeluk Islam,  yaitu raja  Najasyi, Rasulullah mengajukan lamaran terjadap dirinya. Bahkan raja ini dengan suka hati menawarkan uang sejumlah 400 dinar bagi Ummu Habibah sebagai mahar pernikahan mulia tersebut. Rasulullah sendiri baru bertemu dengan Ummu Habibah usia perang Khaibar pada akhir tahun 6 H. Maka pada usia 40 tahun, Ummu Habibah resmi menjadi salah satu Ummul Mukminin.

Ummu Habibah adalah seorang yang dikenal sangat wara’ (loyalitas hanya untuk Allah dan Rasul-Nya bukan untuk seorangpun selaiin keduanya). Hal tersebut dibuktikan dengan sikapnya terhadap ayahnya, Abu Sufyan, tatkala suatu ketika ayahnya itu datang dan masuk ke rumahnya di Madinah. Sang ayah datang untuk meminta bantuannya agar menjadi perantara antara dirinya dengan Rasulullah saw dalam rangka memperbaharui perjanjian Hudaibiyah yang telah dikhianati sendiri oleh orang-orang musyrik. Abu Sufyan ingin duduk diatas tikar Rasulullah, namun tiba-tiba dilipat oleh Ummu Habibah.

Maka Abu Sufyan bertanya dengan penuh keheranan: “Wahai putriku aku tidak tahu mengapa engkau melarangku duduk di tikar itu, apakah engkau melarang aku duduk diatasnya?”. Ummu Habibah  menjawab dengan keberanian dan ketenangan tanpa ada rasa takut terhadap kekuasaan dan kemarahan ayahnya: “Ini adalah tikar Rasulullah. Sedangkan engkau adalah orang musyrik yang najis, aku tidak ingin engkau mengotorinya”. Bahkan ketika kemudian Abu Sufyan melaknati putrinya tersebut, ia dengan segera menjawab bahwa apa yang disembah ayahnya hanyalah patung yang sama sekali tidak dapat memberi baik manfaat maupun mudharat.

Beberapa tahun kemudian setelah Rasulullah menghadap ar-Rafiiqul A’la, Ummu Habibah lebih lagi menekuni  ibadahnya. Ia tidak keluar rumah kecuali untuk shalat dan  tidak meninggalkan Madinah kecuali untuk haji hingga wafatnya di usia  70 tahun-an. Tampak bahwa  ia betul-betul memahami isi Al-Quranul Karim.

Dan barangsiapa di antara kamu sekalian (isteri-isteri Nabi) tetap taat pada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezki yang mulia………dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta`atilah Allah dan Rasul-Nya………”.(QS.Al-Ahzab(33):31-33).

4. Asma binti Yazid bin Sakan (Ummu Salamah), perempuan Anshar, ahli pidato.

Asma binti Yazid bersama suaminya termasuk yang berhijrah ke Habasyah demi menghindari makin sengitnya kaum Quraisy memusuhi kaum Muslimin. Pada hijrahnya yang kedua yaitu ke Madinah, ia dipersulit oleh keluarganya hingga akhirnya ia terpaksa merelakan suaminya pergi sendiri ke Madinah sementara anak mereka disandera oleh keluarganya sendiri di Makkah. Hal ini berlangsung selama 1 tahun hingga akhirnya dengan tekad yang bulat ia  bersama anaknya berhasil menyusul suaminya itu ke Madinah.

Perempuan yang kemudian biasa dipanggil dengan nama Ummu Salamah ini dikenal karena kepiawaiannya dalam berkutbah. Ia adalah juru bicara kaum perempuan pada masa hidup Rasulullah. Disamping itu ia juga  meriwayatkan 80 hadis. Suatu ketika didorong keinginannya yang begitu besar untuk ikut berjihad bersama kaum lelaki, ia pernah bertanya kepada Rasulullah :

Wahai Rasulullah , sesungguhnya aku adalah utusan bagi seluruh muslmah di belakangku, seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan dan seluruhnya berpendapat sesuai dengan pendapatku. Sesungguhnya Allah Ta`ala mengutusmu bagi seluruh laki-laki dan perempuan, kemudian kami beriman kepadamu dan membai`atmu. Adapun kami para perempuan terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum lelaki, dan kami adalah tempat melampiaskan syahwat mereka, kamilah yang mengandung anak-anak mereka, akan tetapi kaum lelaki mendapat keutamaan melebihi kami dengan shalat jum`at, mengantar jenazah dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad kamilah yang menjaga harta mereka, yang mendidik anak-anak mereka, maka apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?

Rasulullah tersentak mendengar pertanyaan tersebut. Beliau menoleh kepada para sahabat dan bersabda : “Pernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang perempuan tentang dien yang lebih baik dari apa yang dia tanyakan?”. Para sahabat menjawab, “Benar, kami belum pernah mendengarnya ya Rasulullah!”. Kemudian sambil tersenyum Rasulullah bersabda : ” Wahai Asma, kembalilah dan beritahukanlah kepada para perempuan  yang berada di belakangmu bahwa perlakuan baik salah seorang diantara mereka kepada suaminya, dan meminta keridhaan suaminya, mengikuti (patuh terhadap) apa yang ia disetujuinya, itu semua setimpal dengan seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum lelaki”.

Namun demikian, keinginan kuat yang begitu menggebu dalam dada Asma untuk ikut andil dalam berjihad tidak dapat dipadamkan begitu saja. Beberapa tahun kemudian setelah wafatnya Rasulullah saw, bersama para muhajirin dengan gagah berani ia berhasil melaksanakan niat tersebut, yaitu pada perang Yarmuk.  Bersama para muslimah lainnya, ia  berada di belakang para mujahidin untuk membantu jalannya peperangan. Mereka mencurahkan segala kemampuan dengan membantu mempersiapkan senjata, memberi minum dan mengobati yang terluka serta memompa semangat juang kaum muslimin. Bahkan dalam perang besar tersebut ia berhasil membunuh 9  tentara Romawi yang ketika itu sedang dalam persembunyian.

Ibnu Katsir mengisahkan bahwa pada perang Yarmuk banyak muslimah yang ikut andil dan ambil bagian. Ia menulis : “Para perempuan menghadang mujahidin yang lari dari berkecamuknya perang dan memukul mereka dengan kayu dan melempari mereka dengan batu.” Adapun Khaulah binti Tsa`labah berkata: “Wahai kalian yang lari dari perempuan  yang bertakwa .Tidak akan kalian lihat tawanan. Tidak pula perlindungan. Tidak juga keridhaan”.

Asma juga adalah masuk satu dari sedikit sekali perempuan yang berbait pada bait pertama Islam yang terjadi pada tahun pertama hijriyah. Pada kesempatan tersebut Rasulullah saw membaiat para perempuan  dengan ayat yang tersebut dalam surat Al-Mumtahanah.

“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatupun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akn membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Mumtahanah(60) : 12).

Baiat  Asma binti Yazid adalah jujur dan ikhlas. Ini disebutkan  riwayatnya dalam kitab-kitab sirah bahwa Asma mengenakan dua gelang emas yang besar, maka Nabi saw bersabda:  “Tanggalkanlah kedua gelangmu wahai Asma,  tidakkah kamu takut jika Allah mengenakan gelang kepadamu dengan gelang dari api neraka?”.

Maka dengan segera Asmapun mengikuti perintah Rasululah untuk melepas kedua gelang besarnya. Tanpa ragu dan tanpa komentar ia meletakkannya di depan Rasulullah saw.

5. Nasibah binti Ka’ab (Ummu Imarah), perempuan Anshor pertama yang berbaiat kepada Rasulullah.

Ia lebih dikenal dengan nama  Ummu Imarah. Ia adalah seorang perempuan pejuang terhormat serta  mulia dari kaum Anshor. Ia adalah saksi dari berbagai peristiwa penting dalam sejarah Islam seperti  baiat Aqobah, perang Uhud, perjanjian Hudaibiyah, perang Hunain serta  perang Yamamah.

Ia adalah satu diantara dua perempuan yang ikut hadir pada peristiwa Aqobah yang terjadi pada  tahun 622 M. Bersama rombongan haji yang terdiri dari  75 orang muslim,  73 kaum lelaki  dan 2  orang perempuan. mereka datang menemui Rasulullah saw di bukit Aqobah secara rahasia.  Pada peristiwa  yang kemudian dikenal dengan nama baiat Aqobah tersebut, lahir kesepakatan untuk mewujudkan ajaran Islam sebagai batu pondasi dan pilar pertama pendirian Daulah Islam, yaitu suatu negara yang menerapkan Islam di masyarakat, membawa risalahnya ke seluruh manusia, memelihara alam sekaligus menghilangkan segala perintang dan hambatannya.

Ummu Imarah adalah seorang perempuan yang gagah berani. Ini terbukti dengan keterlibatannya dalam beberapa kali peperangan bersama Rasulullah. Tugasnya antara lain menolong para mujahidin yang terluka, menyiapkan perbekalan, mengobarkan semangat dan keberanian para mujahidin  bahkan bila perlu ia akan mengangkat senjata.

Pada perang Uhud, Ummu Imarah ikut berperang bersama suami dan kedua anak lakinya. Ketika sebagian besar muslimin khilaf dan berbalik untuk memperebutkan ghanimah, dengan penuh keberanian bersama Mush’ab bin Umair ia turut mengangkat pedang dan busur panah guna menghalau kaum kafir yang ingin mendekati dan membunuh Rasulullah. Ia berhasil melindungi Rasulullah  dari sabetan pedang tentara Quraiys bernama Ibnu Qamiah, padahal saat itu dia dalam kondisi luka parah. Ia terluka pada leher dan punggungnya.“Setiap kali aku melihat kanan-kiriku, kudapati Ummu Imarah membentengiku pada Perang Uhud,” kenang Rasulullah saw.

Begitulah ketangguhan Ummu Imarah. Ia adalah contoh seorang ibu sekaligus seorang pejuang perempuan yang dengan penuh ketegaran menyuruh anak lelakinya yang telah cedera untuk tidak lari dari perang dan bahkan kembali ke medan pertempuran demi membela agama dan menegakkan kebenaran sesuai dengan apa yang telah dijanjikannya pada baiat Aqobah.

II. Perempuan masa kini.

Perempuan-perempuan ini patut dijadikan keteladanan karena mereka tetap memegang teguh keimanan walaupun lingkungan mereka mencemooh ke-Islaman mereka. Mereka bahkan merasa tertantang untuk tetap konsiisten menyumbangkan tenaga dan pemikiran mereka agar dijadikan contoh betapa Islam amat peduli terhadap perdamaian, persamaan hak dan pendidikan yang baik bagi perempuan khususnya.  Mereka ini dengan penuh percaya diri bahkan memproklamirkan  keislaman dan kecintaannya terhadap perintah Yang Maha Kuasa dengan konsisten mengenakan jilbabnya di depan umum.

1. Amena Haq, seorang dokter keturunan India warga negara Amerika Serikat

Amena tinggal di Florida Selatan, Amerika Serikat. Ia adalah seorang dokter berusia 50 tahun yang rajin berkeliling melakukan kunjungan terhadap  orang-orang sakit untuk diobati, tidak peduli apapun agamanya.  Bahkan sebagian besar pasiennya adalah pemeluk Yahudi dan Nasrani. Mereka menyukai dokter ini karena perhatian dan ketelitiannya dalam memeriksa pasien. Malah diantara mereka ada yang sering meminta saran non medis darinya. Orang melihatnya seperti seorang kakak yang mengayomi adik-adiknya. Oleh sebab itu ia dijuluki Apu, yang berarti kakak tertua.

Sebelum peristiwa 11 September 2001, kemanapun Amena pergi tidak pernah ia mengalami kesulitan. Namun setelah itu, rasa curiga terhadapnya sering mengikutinya. Walaupun begitu Amena tetap tidak ingin melepas jilbab yang membuatnya dikenal sebagai muslimah dan yang menyebabkannya dimusuhi dan dicurigai.  Ia bahkan bertekad akan menunjukkan bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang mengedepankan amal dan kebajikan bukan penyebar teror sebagaimana tudingan umumnya warga Amerika.

2. Samirah binti Jackie Dean Todd, seorang mualaf  Indian  Amerika.

Ia resmi menjadi Muslimah pada usia 33 tahun, beberapa bulan setelah peristiwa 11 September 2001.  Sebelumnya ia adalah seorang penganut Kristen. Ia berasal dari keluarga yang berantakan dan tidak pernah merasakan kasih sayang yang cukup dari kedua orangtuanya. Ia merasa bahwa ajarannya  tidak dapat menyelesaikan segala permasalahan hidup yang dialaminya.

Kemudian ia mulai mempelajari  beberapa ajaran agama selain Kristen. Ternyata usahanya tersebut membuahkan hasil, hidayah Allah menghampirinya. Walaupun banyak yang harus dikorbankannya, Samirah ridho menerimanya karena ia menyadari bahwa Islam adalah sebuah kebenaran sejati. Tak ada satupun yang bisa dimintai pertolongan kecuali Dia. Tidak ada perantara dalam beribadah.  Penyembahan dan pengabdian hanya patut dipersembahkan dan  ditujukan kepada Tuhan Yang Satu, Allah swt.

Dengan keyakinan barunya ini, Samirah melangkah  pasti, menghadapi segala cobaan dan kesulitan hidup dengan tenang dan tabah.  Ibunya menganggap bahwa dirinya  telah mengalami ’ brain wash’ alias pencucian otak. Ia tidak mau bertemu kembali dengan dirinya kecuali ia kembali ke Kristen. Ibunya juga telah mempengaruhi  anak tertua Samirah agar menjauhi dan meninggalkannya. Tragisnya, ketika ia mengajukan gugatan perceraian, pengadilan memutuskan bahwa anak-anaknya harus diserahkan ke bawah pengawasan mantan suaminya dengan alasan agama yang dianutnya, yaitu Islam!

Negaranya, Amerika dan seluruh perangkat peradilannya plus sebagian besar masyarakatnya tampak jelas memusuhi Islam dan menganggapnya sebagai agama teror.  Negara yang menggembar-gemborkan diri sebagai Negara Demokrasi dan Liberal ini nyatanya malah menghambat kebebasan berpikirnya. Namun Samirah tak bergeming, ia tetap pada pendiriannya. Ia bahkan tak gentar memperlihatkan keislamannya tersebut dengan terus mengenakan jilbabnya. Ia yakin dengan pertolongan Allah swt ia akan mampu memenangkan dirnya dari kesesatan.

3. Sara ( Christine ) Murray, seorang mualaf  Inggris.

Sara adalah seorang perempuan Skotlandia. Ibunya adalah seorang anggota gereja yang secara rutin mengajak seluruh anggota keluarganya menghadiri gereja dan sekolah minggu pada setiap hari Minggu. Namun setelah remaja Sara tidak lagi melakukan rutinitas tersebut. Ia lebih memilih hidup berhura-hura bersama sebagian besar temannya. Ia sangat menikmati lirikan-lirikan kaum lelaki yang mengaguminya. Namun demikian makin hari ia makin merasa bahwa ada sesuatu yang hilang pada dirinya.

Suatu hari ia menemukan sebuah brosur yang memuat ayat Al-Qur’an dengan terjemahan bahasa Inggris. Ayat tersebut menerangkan bahwa hanya orang shaleh saja yang berhak mendapatkan surga. Tiba-tiba ia merasa bahwa ini adalah sebuah panggilan yang harus dipenuhi. Beberapa hari kemudian ia langsung memutuskan untuk pergi ke masjid dan berikrar ” Ashhadu ala ilaha ilallah wa ashhadu anna Muhammada Rasulullah ”. Tak lama setelah itu iapun memutuskan untuk mengenakan hijab. Ia tahu bahwa orang-orang disekitarnya memandangnya dengan aneh namun sebaliknya ia justru merasa mendapatkan kebebasannya. Dengan berhijab ia merasakan adanya suatu perlindungan khusus dan keyakinan bahwa dirinya tidak diperuntukkan bagi semua lelaki.

Dua tahun kemudian ia meminta agar dicarikan suami sebagaimana yang diajarkan syariah Islam, yaitu tanpa proses berpacaran, suatu hal yang sama sekali tidak lazim dilakukan orang Barat. Setelah melalui beberapa kali perkenalan dengan beberapa pemuda  akhirnya ia mendapatkan kecocokan dengan seorang ekonom Mesir yang sholeh. Setelah menjalani pernikahan, atas dorongan suaminya Sara terus melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi.

Kini mereka telah dikaruniai seorang remaja putri yang mereka didik secara Islami. Sara sangat menikmati hari-harinya sebagai ibu rumah tangga yang selalu mendahulukan kepentingan keluarga. Namun ia tidak menampik bila suatu hari nanti ia ingin bekerja asakan suaminya mengizinkannya. Walaupun begitu, bekerja yang dimaksud Sara bukan bekerja untuk menyaingi suami dalam hal mencari nafkah namun bekerja sebagai bagian dari amal ibadah untuk membantu meringankan kesulitan orang lain.

4. Amatullah (Jylly ) Amstrong, seorang mualaf sufi dari Sydney, Australia.

Sejak kecil Jylly dan keluarga terbiasa memuja sesuatu atau seseorang. Ini adalah kebutuhan yang dirasakan seluruh keluarga. Itu sebabnya mereka terbiasa pergi ke gereja dan sekolah minggu. Disamping itu seperti ayahnya, Jylly juga amat mencintai berbagai bentuk kesenian. Oleh sebab itu Jylly kecil telah mengenal puisi-puisi karya nama-nama besar diantaranya Umar Khayam, seorang sufi terkenal. Setelah agak besar, Jylly mulai belajar balet. Maka dunia baletpun berpindah menguasai pikirannya. Menjelang remaja, sebagaimana jutaan  remaja pada masa itu, Jylly tergila-gila pada kelompok musik The Beatles.

Seiring dengan bertambahnya usia, kegandrungannya pada sesuatu   berubah sedikit demi sedikit. Ia mulai menyukai yoga, musik klasik serta berbagai kebudayaan, diantaranya adalah peradaban kuno Mesir dan Arab. Dari sini ia mulai mengenal dunia Islam walaupun masih sebatas budaya dan seninya. Masih panjang perjalanan yang harus dilaluinya untuk betul-betul mengenal ajaran Islam yang sebenarnya. Bertahun-tahun lamanya, bahkan setelah ia menikah, ia hanya merasa jatuh cinta kepada  Islam sebagai seni dan budaya yang sangat tinggi nilainya.

Dengan tetap mengenakan rosarionya, Jylly terbiasa menghabiskan berjam-jam    waktunya untuk mempelajari ajaran Islam. Ia sangat terobsesi dengan cara hidup para sufi yang mengorbankan hidup demi kecintaan dan penghambaannya pada Tuhannya. Iapun mulai terbiasa melafalkan ayat-ayat suci Al-Quran sekaligus menghafalkannya! Tanpa mengetahui maknanya, sambil berjalan-jalan sendirian di antara semak belukar di sekitar kediamannya, Jylly sering belajar mengucapkan kalimat ” La ilaha ilallah, Muhammadarasulullah ”. Ia tidak menyadari bahwa dengan mengucapkan  kalimat tersebut sesungguhnya dirinya  telah menjadi muslimah. Dengan tuntunan sebuah buku yang didapatnya ketika ia dan suami bepergian ke sebuah negri Islam, ia bahkan mulai mempelajari gerakan  shalat.

Perjalanan spiritual Jylly mencapai puncaknya  ketika ia berusia 35 tahun. Ia bersyahadat secara resmi di sebuah masjid di Sydney. Sebagai seorang Muslimah yang memiliki pengetahuan yang luas ia menyadari bahwa perkawinannya yang telah mencapai usia 14 tahun bakal kandas. Karena dengan keislamannya ini maka suaminya yang non muslim kini menjadi haram baginya. Namun beruntunglah ia, sebab cahaya Islam rupanya telah pula meneranginya. Sang suami yang seorang pematung itupun berbaiat menuju Islam.

Kini Jylly dan suaminya  menjalani hidup secara amat bersahaja. Mereka menanggalkan berbagai  koleksi antik mereka, seperti patung, lukisan serta foto-foto. Bahkan musik klasik yang selama bertahun-tahun menemani hidup Jyllypun ia tinggalkan. Ia merasa kesenangannya itu cenderung mengganggu keasyikannya untuk mengingat Allah. Ia berprinsip kepada  hadis yang dihafalnya di luar kepala  :    ”Aku berlindung kepada Allah dari pengetahuan yang tidak beguna ”. Hidup mereka kini dipenuhi dengan zikir. Semua kegiatan hidup adalah ibadah dalam rangka mengingat Allah. Alam semesta adalah masjid yang agung.

5. Edina, seorang jurnalis merangkap Direktur Komunikasi The Muslim Public Affairs Council di Washington, Amerika Serikat.

Edina adalah seorang imigran Bosnia. Ketika itu negaranya masih berada dibawah bendera Yugoslavia yang sekuler, sebuah pemerintahan dibawah kepemimpinan Josep Broz Tito yang berusaha menghilangkan agama termasuk Islam. Karena pengaruh inilah maka kedua orangtuanya tidak pernah mengajarkan Edina dan adik-adiknya untuk menutup auratnya dengan jilbab. Baru setelah Edina duduk di bangku kuliah di UCLA ( University of California at Los Angeles) ia mengenakan hijab. Ketika itu ia baru mempelajari Islam secara sungguh-sungguh karena ia melihat beberapa teman kuliahnya mengenakan hijab yang di negaranya dahulu berusaha dihilangkan.

Ironisnya, justru hijab ini pula yang menghalangi cita-cita Edina menjadi  seorang jurnalis. Beberapa kali ia ditolak bos pertelevisian hanya karena hijabnya itu. Namun dengan penuh kesabaran dan keteguhan ia bersikeras mempertahankan pendirian dan ajarannya hingga akhirnya tercapailah cita-cita tersebut. Saat ini Edina dan teman-temannya melalui The Muslim Public Affairs Council siap berdakwah menghadapi masa sulit menghadapi  pandangan sinis masyarakat Amerika yang umumnya menganggap ajaran Islam sebagai agama terror .

III. Perempuan dalam lingkungan kekuasaan dan jabatan.

Penulis sengaja memisahkan kisah para perempuan yang hidup di lingkungan kekuasaan dan jabatan karena perempuan-perempuan ini ternyata terbukti dapat mempengaruhi prilaku pasangan hidupnya. Ada yang dapat dijadikan  contoh baik tetapi ada juga yang sebagai contoh buruk. Hal ini perlu dikemukakan mengingat  pada era globilisasi ini  banyak perempuan yang  menyenangi  kekuasaan dan ikut terlibat  serta melaju ke dalam dunia politik. Penulis hanya ingin mengingatkan bahwa sebagai seorang muslimah, seyogyanya  contoh keberhasilan dan keteladanan bukan hanya diambil dari keberhasilan pemimpin-pemimpin perempuan non Islam baik dari dunia barat maupun timur,  seperti Margareth Tacher dari Inggris ataupun  Indira Gandhi dari India namun juga mengambil hikmah dari sejarah sebagaimana berikut  ini :

1. Ratu Bilqis dari kerajaan Sa’ba. (sekarang Yaman).

Barat mengenalnya dengan nama Ratu Sheba. Ia memerintah kerajaan Sa’ba yang sekarang ini adalah negri Yaman, di selatan jazirah Arab. Ketika masih berada dibawa kekuasaannya,negri ini juga meliput Etiopia di benua Afrika. Ia diperkirakan memerintah pada tahun 900 SM, bersamaan dengan kerajaan Sulaiman di Palestina.

”Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah “. (QS.An-Naml(27):22-24).

”Berkata Sulaiman: “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan”. Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang berserah diri “. (QS.An-Naml(27):28-31).

Untuk menunjukkan kekuatan dan kekuasaan kerajaannya, Sulaiman as kemudian memerintahkan agar istana sang Ratu dipindahkan ke dekat istana raja Sulaiman. Hal ini dapat terjadi karena Allah SWT memang telah memberinya kekuasaan dan kepercayaan dalam banyak hal sebagai cobaan baginya.

” Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana”. Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca“. Berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”. (QS.An-Naml(27):44).

Maka sebagaimana kerajaan Sulaiman, Kerajaan Sa’bapun dengan ratunya, yaitu Ratu Balqis akhirnya mengikrarkan diri sebagai kerajaan yang hanya tunduk  kepada kekuasaan tertinggi yang sesungguhnya, yaitu kekuasaan Allah swt, Tuhan semesta alam. Selanjutnya kerajaan ini menjalankan pemerintahan hanya berdasarkan hukum-Nya dan mengalami masa kejayaan hingga berabad-abad kemudian.

2. Ratu Cleopatra dari Mesir.

Pada tahun 51 SM, Cleopatra bersama adik yang sekaligus merangkap sebagai suaminya, Ptolemee XIII, diangkat menggantikan kedudukan ayahnya sebagai firaun Mesir. Ketika itu ia baru berusia 18 tahun. Namun tak lama kemudian, terjadi pertikaian, yang mengakibatkan dibuangnya Cleopatra dari Mesir.

Tak lama setelah itu, berkat bantuan diktator Romawi, Julius Caesar, Cleopatra berhasil membunuh suaminya itu. Dengan  demikian ia berhasil mendapatkan kembali kekuasaannya. Kemudian ia kembali menikahi adiknya yang lain. Disamping itu, untuk menghindari kerajaannya dianektasi oleh Julius, sang jenderal dewa penolong, Cleopatra menjalin hubungan asmara dengannya hingga akhirnya membuahkan anak.

Akan tetapi ketika pada suatu peristiwa sang jenderal terbunuh, Cleopatra segera mendekati jenderal lain, Mark Antoine. Dengan daya tarik keperempuanannya, ratu Mesir ini berhasil membius Antoine hingga ia mabuk kepayang dan menyerahkan bagian barat kerajaannya ke bawah kekuasaan Cleopatra. Hubungan gelapnya dengan jenderal ini membuahkan 3 orang anak. Selanjutnya, terjadi pertempuran antara pihak Romawi dibawah jenderal Octavius yang kecewa dan gusar terhadap kebijakan Antoine melawan Antoine, si pengkhianat negara. Pihak Antoine memang kalah tetapi Antoine sendiri tewas bukan karena pertempuran tersebut. Ia bunuh diri dengan pedangnya karena  mendengar kabar bahwa kekasihnya, Cleopatra, bunuh diri.

Padahal ratu Mesir, penggoda  lelaki yang gila kekuasaan ini sebaliknya sedang berusaha merayu musuhnya, Octavius!  Namun kali ini rayuan mautnya tidak berhasil sehingga akhirnya ia bunuh diri dengan membiarkan dirinya di gigit ular beracun sebagaimana kebiasaan orang Mesir kuno bunuh diri.

3. Asiya, istri Fir’aun dari Mesir.

Asiya adalah seorang perempuan yang terkenal disamping sangat cantik parasnya juga cantik budi pekertinya. Rasulullah pernah bersabda bahwa istri firaun ini adalah salah satu hamba Allah, disamping Khadijah ra dan Maryam ibu Isa Almasih, yang dijanjikan menjadi  penghuni surga.

Asiya seorang yang shalehah walaupun bersuamikan orang yang tidak hanya kejam dan bengis namun juga menganggap dirinya adalah Tuhan. Ia tetap tegar dan kokoh pada pendiriannya untuk  menghambakan diri hanya kepada Allah swt. Firaun tidak pernah berhasil memaksa Asiya untuk menuhankan dirinya.

”Dan Allah membuat isteri Fir`aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir`aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim”(QS.At-Tahrim(66):11).

Asiya  memang tidak bisa menyadarkan suaminya namun dalam salah satu ayat Al-Quran diceritakan bagaimana ia  membujuk suaminya itu agar tidak membunuh bayi yang ditemukannya di sungai yang mengalir hingga ke dalam istana. Ia menginginkan agar bayi tersebut tetap tinggal di istana dan diakui sebagai anak oleh pasangan tersebut. Padahal sebelumnya firaun telah memerintahkan agar seluruh bayi laki-laki yang lahir di negri tersebut dibunuh karena ia bermimpi bahwa kelak akan ada lelaki Yahudi yang akan menjatuhkan kekuasaannya.

Namun nyatanya pemimpin biadab nan kejam ini tidak kuasa menolak permintaan istrinya tercinta. Ironisnya, bayi itulah yang dikemudian hari berontak melawan kekuasaan  dan kekejamannya. Bayi itu adalah  Musa as.

4. Zulaikha, istri seorang mentri kerajaan Mesir.

Yusuf as adalah seorang pemuda tampan. Ketika kecil karena kecemburuan saudara-saudaranya terhadap prilaku ayahnya yang mereka anggap kurang adil,  ia dibuang ke dalam sumur. Tetapi berkat pertolongan-Nya, ia diselamatkan oleh kafilah yang melewati sumur dimana ia dibuang walaupûn akhirnya ia hanya dijual sebagai budak di negri Mesir. Di negri ini ia dibeli oleh sepasang suami istri yang tidak mempunyai keturunan. Si suami adalah seorang pejabat negara yang sangat sibuk dengan pekerjaan sementara Zulaikha, istrinya sering merasa kesepian di rumah.

Suatu hari ketika Zulaikha sedang sendiri di rumah ia  memperhatikan bahwa budaknya, yaitu Yusuf as,  adalah  seorang yang ketampanannya tidak tertandingi oleh siapaun. Syaitan segera bekerja, ia membisikkan agar perempuan cantik ini menggoda budaknya tersebut.

”Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah kesini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung”.(QS.Yusuf(12):23).

Yusuf segera berlari menuju pintu tetapi perempuan yang sedang dirasuki bisikan syaitan tersebut tidak mau membiarkannya. Ia menarik bagian belakang gamis Yusuf. Keika itulah muncul sang suami di depan pintu. Segera Zulaikha berlepas diri. Ia melempar fitnah bahwa budaknya itu hendak memperkosanya.

Yusuf berkata: “Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)”, dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: “Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar.” QS.Yusuf(12):26-27).

Namun tatkala suami Zulaikha mendapatkan bukti bahwa gamis Yusuf koyak di belakang, yang berarti istrinyalah yang  bersalah, ia tetap membela istrinya. Ia bahkan  malah  menghukum Yusuf. Maka Yusuf harus menjalani kurungan penjara selama beberapa tahun. Sebaliknya Zulaikha, ia segera bertaubat  dan memohon ampunan kepada-Nya. Ia menyadari kesalahannya hingga terperosok dalam bisikan syaitan. Beruntung Allah swt menerima taubatnya itu.

Sementara itu dalam suatu kisah diceritakan bahwa setelah Yusuf bebas dari penjara, suami Zulaikha telah meninggal dunia. Yang Maha Kuasa kemudian mengabulkan keinginan terpendam Yusuf yang sebenarnya ketika itu juga menyimpan keinginan terhadap Zulaikha. Namun karena rasa takutnya terhadap Sang Khalik membuatnya ia terbebas dari bisikan nafsu syaitan tersebut. Oleh karenanya dengan ridho’ Allah, merekapun akhirnya menikah dan hidup berbahagia.

5. Syajaratud Dur, seorang sultan  Mesir.

Syajaratud Dur  adalah seorang  pemimpin perempuan pertama yang berhasil menduduki kursi tertinggi pemerintahan  dalam sejarah Islam. Ini terjadi pada abad ke 12 M di Mesir.

Ketika suaminya meninggal dunia, semula ia hanya berusaha meneruskan jalannya pemerintahan. Ia menyembunyikan berita kematian suaminya tersebut dari khalayak umum. Kemudian dengan bantuan seorang anaknya, ratu ini berhasil menghadapi serangan pasukan Salib dan bahkan berhasil mengusir mereka dari tanah Mesir. Namun kemudian dorongan nafsu dan bisikan syaitan untuk meneruskan ambisi kekuasaan menguasainya. Ia  kemudian membunuh anaknya tersebut.

Beberapa lama kemudian ketika akhirnya rahasianya terbongkar, dengan kecerdikannya ia segera menikah kembali dan menjadikan suami barunya itu  sebagai sultan. Tak puas dengan  kedudukan baru yang hanya sebagai pendamping seorang sultan, iapun kembali  membunuhnya. Namun kali ini, rupanya Allah swt tidak mau lagi menyembunyikan kebusukan dirinya yang sudah keterlaluan. Rahasianya terbongkar dan masyarakat tak lagi dapat memaafkannya. Ia kemudian disingkirkan dari kursi kesultanan dan harus mempertanggung-jawabkan apa yang telah diperbuatnya selama itu.

“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.( QS.Al-Ahzab(33):21).

Sebagai seorang Rasul sekaligus pemimpin umat dan  panglima perang sudah sewajarnya bila segenap perintahnya dituruti dan dipatuhi. Namun suatu ketika pada tahun ke 6 setelah hijrah, Rasulullah mengajak para sahabat untuk melaksanakan umrah ke Mekkah. Ketika itu sebagian besar kaum Quraisy penduduk Mekkah belum mau menerima ajaran Islam bahkan sangat memusuhi ajaran tersebut.  Oleh sebab itu mereka tidak mengizinkan Rasulullah beserta para pengikutnya masuk ke kota tersebut walaupun hanya untuk sekedar melaksanakan umrah.

Sebenarnya sebagian besar sahabat ketika itu tidak mau menerima sikap ini. Mereka merasa bahwa mereka berniat melakukan sesuatu yang di-ridhoi Allah SWT dan pasti Allah akan membela mereka. Jadi mereka berkesimpulan mereka harus mengambil jalan kekerasan. Namun apa yang dilakukan Rasulullah? Beliau justru menyetujui untuk menanda-tangani sebuah kesepakatan yang intinya mereka tidak mungkin melaksanakan umrah saat itu dan mereka harus mundur dan kembali.

Kemudian setelah kesepakatan tercapai, Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk menyembelih hewan kurban bawaan mereka serta bercukur layaknya orang yang telah menunaikan ibadah umrah. Ternyata walaupun Rasulullah telah mengulangi perintah tersebut hingga 3 kali tidak seorangpun sahabat yang mentaatinya. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Mungkin para sahabat benar-benar kecewa atas keputusan yang diambil Rasulullah.

Lalu apakah kemudian Rasulullah marah dan mengecam mereka? Tidak! Rasulullah hanya mengeluhkan hal tersebut kepada Ummu Salamah ra, istri Rasulullah yang ketika itu mendapat giliran untuk menemani Rasulullah menjalankan tugas. Ummu Salamah kemudian menghibur  Rasulullah agar tidak usah terlalu kecewa atas sikap para sahabat. Menurut beliau lebih baik Rasulullah langsung menyembelih kurban dan bercukur tanpa harus menunggu reaksi para sahabat. Dan memang benar ternyata para sahabat segera meniru perbuatan Rasulullah.

Hal yang penting dicermati dalam kasus ini adalah sikap Rasulullah yang mau menerima dengan lapang dada pendapat istrinya. Padahal Ummu Salamah ketika itu hanya sekedar memberikan pendapat tanpa mengajukan dalil apapun. Jelas disini bahwa Rasulullah tidak merasa rendah dan hina ketika seorang perempuan memberikan pendapatnya.

Contoh lain keteladanan Rasulullah adalah sebagai berikut. Dalam perjalanan pulang dari Perang Musthaliq, Rasulullah dan rombongan berhenti di suatu tempat untuk beristirahat.  Aisyah ra yang kali ini mendapat giliran menemani Rasulullah berperang, turun dari sekedup, tandu tertutup tempat para perempuan ketika itu duduk dalam perjalanan, untuk buang hajat kecil. Namun ketika ia kembali ke sekedupnya Aisyah baru menyadari bahwa ia kehilangan kalung yang dikenakannya. Maka tanpa sepengetahuan yang lain, Aisyahpun segera turun untuk mencari kalungnya  yang hilang tersebut. Sementara itu mengira rombongan telah lengkap, rombongan meneruskan perjalanan kembali.

Maka ketika akhirnya Aisyah kembali ke tempat dimana sebelumnya rombongan berhenti, ia mendapati bahwa ia telah tertinggal. Aisyah tidak tahu harus berbuat apa di padang pasir nan luas tersebut. Ia hanya dapat menangis dan pasrah akan keadaannya. Tak lama kemudian terlihat Shafwan bin Mu’aththal, seorang sahabat,  nampaknya ia juga tertinggal rombongan. Ketika ia mengetahui bahwa umul mukminin ini tertinggal dengan penuh kesopanan ia segera menawarkan kudanya untuk ditunggangi Aisyah. Kemudian ia menuntunnya hingga  Madinah.

Setiba di Madinah, Abdullah bin Ubay bin Salul, si Munafikun yang memang dikenal sebagai penyebar fitnah, segera memanfaatkan kesempatan itu. Ia menghembus-hembuskan berita bahwa Aisyah ra, seorang umul mikminin  telah berbuat keji dengan seorang laki-laki. Berita ini akhirnya sampai ke telinga Rasulullah SAW. Namun Aisyah sendiri tidak mendengar desas-desus busuk itu karena sekembali dari peristiwa tersebut ia jatuh sakit. Yang ia ketahui hanya perlakuan Rasulullah, suami tercintanya itu berubah 180 derajat. Ia baru menyadari penyebab perubahan sikap Rasulullah yang dingin dan tidak bersabahat itu ketika ia sembuh dan mendengar  berita miring tentang dirinya. Namun apakah Rasulullah langsung melampiaskan kemarahan tanpa mencari tahu kebenaran berita tersebut?

Sama sekali tidak, Rasulullah memang jelas amat kecewa dan marah namun beliau berusaha menahan perasaannya. Rasulullah tidak ingin bertindak gegabah. Beliau ingin memastikan dari mulut Aisyah sendiri apakah berita itu benar. Sebulan lamanya Rasulullah dalam keadaan seperti itu. Beliau menunggu hingga istri tercintanya itu sembuh. Namun belum sampai Rasulullah menanyakan hal yang sebenarnya terjadi,  turun ayat yang menerangkan tentang kebersihan dan ketidak bersalahan Aisyah.

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu’minin dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu”. (QS.An-Nur(24):11-14).

Dengan segera  Rasulullahpun meminta maaf akan kecurigaan dan perlakuan yang menyangsingkan kesetiaan istrinya itu. Inilah tauladan Rasulullah yang mustinya diambil kaum lelaki dalam menghadapi kecurigaan terhadap istrinya.

”Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik”. (QS.An-Nur(24):4).

Ayat diatas menerangkan bahwa diperlukan  paling tidak 4 orang saksi ketika seseorang menuduh seorang perempuan berbuat zina. Dan ganjaran bagi orang yang menuduh tanpa dapat mengajukan saksi adalah didera sebanyak 80 kali dera/cambukan. Sedangkan bila  yang menuduh adalah suami namun ia tidak dapat mengajukan seorangpun saksi, maka sebagai gantinya ia dapat bersumpah dengan nama Allah sebanyak 4 kali bahwa ia menyaksikan sendiri apa yang dituduhkannya itu. Kemudian ia harus menutup sumpahnya tersebut dengan sumpah ke 5 untuk menegaskan bahwa bila ia berdusta, laknat Allah akan mendatanginya.

Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa la`nat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta”.( QS.An-Nur(24):6-7).

Sebaliknya istripun diberi kesempatan untuk membela diri dengan bersumpah atas nama Allah sebanyak 4 kali sebagaimana suaminya. Sumpah ke 5 boleh di ucapkan untuk menegaskan bahwa ia tidak bersalah, dengan taruhan ia siap  dilaknat bila ia memang bersalah.

” Isterinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta dan (sumpah) yang kelima: bahwa la`nat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar”. (QS.An-Nur(24):6-9).

Rasulullah adalah seorang yang sangat menghormati kaum perempuan. Suatu ketika datang seorang perempuan tua mengunjunginya. Aisyah ra menceritakan bahwa Rasulullah segera membuka jubahnya dan menghamparkan jubah tersebut untuk diduduki perempuan tersebut. Begitu pula ketika suatu ketika Rasulullah pulang larut malam dan beliau dapati istrinya telah masuk kamar tidur. Rasulullah tidak mau mengganggunya maka beliaupun menunggu dan tidur di depan pintu hingga waktu subuh!

Suatu ketika Aisyah ra pernah berkata, agar memudahkan istrinya untuk menaiki kudanya Rasulullah terbiasa merundukkan punggungnya sebagai pijakan. Beliau juga terbiasa membantu istrinya meringankan pekerjaan sehari-hari di rumah seperti menjahit bajunya yang sobek, menambal terompah, mencuci pakaian, memerah air susu domba dll.

Dan sesungguhnya bagi kamu ( Muhammad) benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS.Al-Qalam(68):3-4).

Rasulullah saw memberi giliran diantara istrinya –istrinya  lalu menetapkannya dengan adil. Kemudian beliau berdoa, ” Ya Allah, inilah tindakanku terhadap apa yang aku miliki. Maka janganlah Engkau mencela apa yang Engkau kuasai dan yang tidak aku kuasai.” ( HR Ahmad ).

Inilah yang dibaca Rasulullah setiap kali beliau berkeliling mengunjungi para istrinya. Rasululullah begitu khawatir bila beliau tidak dapat berbuat adil terhadap istri-istrinya. Beliau menyadari bahwa keadilan yang diberikan kepada mereka tidak mungkin  sebagaimana adilnya Allah swt. Rasullullah hanya manusia biasa yang hanya memiliki satu buah hati. Sulit bagi beliau untuk membagi hatinya sama persis bagi semua istri yang dimilikinya.

Beliau hanya sanggup berusaha membagi waktu dan perhatian yang sama dan adil. Padahal  sesungguhnya Allah telah membebaskan Rasulullah untuk  menggilir  dan menggauli mereka sesuka beliau. Tidak berdosa bila Rasulullah misalnya melebihkan sebagian waktunya untuk yang lain. Namun Rasulullah tidak mau memanfaatkan kesempatan dan kelebihan tersebut. Rasulullah tidak ingin mengecewakan dan menyakiti hati istri-istri beliau walaupun mereka mengatakan ridha’ sekalipun. Beliau sangat memahami sifat dan hati perempuan.

Kamu boleh menangguhkan (menggauli) siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (isteri-isterimu) dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki……..”. (QS.Al-Ahzab( 33):51).

Tidak dapat dipungkiri bahwa para sahabat dan istri beliaupun mengetahui bahwa sesungguhnya Rasulullah memiliki rasa cinta yang lebih besar terhadap Aisyah ra daripada istri-istri yang lain diluar Khadijah ra. Alkisah, suatu ketika sebagaimana sifat manusia perempuan biasa, Aisyah yang memang masih sangat muda usianya ingin agar  Rasulullah menyatakan kelebihan kecintaan tersebut di hadapan istri-istri beliau yang lain. Aisyah memohon agar Rasulullah mengumpulkan mereka semua dan mengatakan bahwa hanya dirinya yang  menerima uang sebesar 1 dinar sebagai ungkapan rasa cinta yang lebih besar.

Rasulullah  mengabulkan permintaan Aisyah. Para Umirul Mukmininpun dikumpulkan. Kemudian Rasululullah meminta agar mereka yang pagi ini menerima pemberian uang 1 dinar  dari Rasulullah mengacungkan jarinya. Maka dengan penuh rasa bangga Aisyah segera mengangkat tangannya. Namun apa yang terjadi? Ketika Aisyah menengok ke kiri dan ke kanan ternyata seluruh  Umirul Mukmininpun mengangkat jari tangannya sambil tersenyum simpul penuh arti!

Sebaliknya ketika Rasulullah memasuki sakratul maut. Beliau merasa bahwa harinya telah dekat. Maka ketika Rasulullah mulai merasakan sakit dan demam, beliau bertanya : ” Dimanakah giliranku hari ini?” . Ketika ia mendapat jawaban bahwa hari-hari akhir beliau bukan berada di rumah Aisyah, beliau meminta pengertian istri yang lain agar selama sakit beliau diizinkan untuk terus berada di rumah Aisyah. Dan dirumah inilah, di pangkuan Aisyah ra akhirnya Rasulullah menghadap Sang Khalik sambil berbisik 3 x : ” Ya Allah, Rafiqul A’la ” .

Padahal sekali lagi Rasulullah diberi kebebasan untuk menentukan kemauan dan keinginannya sendiri. Namun nyatanya demi keadilan, Rasulullah tetap merasa perlu mendapatkan izin istri-istri yang lain.  Betapa mulia keteladanan yang diberikannya. Subhanallah.

“ Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.( QS.Al-Ahzab(33):21).

P E N U T U P

“Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara,sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya”. (HR Muslim).

Sebaik-baik umat adalah yang mengajak berbuat kebaikan, mencegah kemungkaran serta meyakini bahwa dunia adalah cobaan dan ujian untuk menuju akhirat.  Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi orang lain, yang ketika hidupnya banyak bersedekah jariyah, memberikan/membagikan ilmu yang bermanfaat serta mendidik anaknya agar menjadi anak yang sholeh.

Hadis mengatakan : Hartamu adalah yang kamu makan dan telah habis atau yang telah kamu pakai dan telah rusak atau yang kamu sodaqohkan dan telah lalu. Adapun setelah itu adalah milik orang lain ( ditinggalkan untuk orang lain).”

Maknanya, harta / uang yang kita butuhkan itu adalah yang cukup membuat kita tidak kelaparan dan kedinginan hingga tubuh ini cukup kuat dan sehat agar dapat bersyukur kepada-Nya, yaitu dengan cara menjadikan diri ini bermanfaat bagi orang lain. Oleh karenanya adalah wajib hukumnya bagi seorang Muslim untuk selalu menuntut ilmu. Atau minimum menginfakkan harta kepada ilmuwan agar mereka dapat berkonsentrasi mengembangkan dan membagi ilmunya bagi kebaikan tanpa ia harus khawatir kelaparan dan hidup kekurangan.

Masalahnya sebagian besar orang saat ini telah terkena pemyakit cinta dunia yang berlebihan ( Wahn). Segala hingar-bingar, kesenangan dan kemewahan dunia telah membuat orang lupa akan tujuan hidup ini. Lelaki dan perempuan saling bersaing dan berlomba mendapatkan sebanyak mungkin kekayaan yang sifatnya  hanya sementara. Mereka lupa akan kodratnya sebagai hamba yang pada saatnya nanti harus kembali dan mempertanggung-jawabkan segala perbuatannya selama hidup di dunia yang fana ini.

Saat ini Indonesia sedang menghadapi tarik ulur tentang peraturan yang menyangkut tentang pornografi dan pornoaksi yaitu UUD Pornografi dan Pornoaksi. Tampaknya pemerintah sudah mulai melihat dan menyadari akan bahaya kedua kegiatan yang dapat merusak moral bangsa ini.

Pada dasarnya undang-undang ini melarang di-exploitasinya berbagai perbuatan yang berbau seks, cabul dan/atau erotika di depan umum. Tujuannya demi terwujudnya tatanan masyarakat  Indonesia yang serasi dan harmonis dalam keanekaragaman suku, agama, ras, dan golongan/ kelompok, diperlukan adanya sikap dan perilaku masyarakat yang dilandasi moral, etika, akhlak mulia, dan kepribadian luhur.

Sayangnya, untuk sementara ini, niat pemerintah yang mulia tersebut justru banyak ditentang oleh masyarakatnya sendiri, dan ironisnya justru sebagian besar oleh kaum hawa, yang notabene adalah kaum ibu dan calon ibu.

Namun bila ditilik kembali ke belakang, mayoritas penduduk Indonesia adalah Islam. Dan Islam jelas telah memiliki kitab pegangannya sendiri. Jadi sesungguhnya tanpa undang-undang diataspun secara otomatis seharusnya mereka tahu bahwa Islam memang melarang hal-hal diatas.

Dunia Islam  dan masyarakatnya adalah  sesuatu yang amat khas dan unik. Islam  adalah sebuah pandangan hidup. Namun ia tidak  dapat dikategorikan sebagai ideologi seperti Marxisme, Komunisme, Kapitalisme ataupun yang lain karena berbagai ideologi diatas sifatnya hanya sebatas duniawi. Pandangan hidup Islam tidak berdasarkan kepentingan seseorang maupun sekelompok atau segolongan orang tertentu. Ia juga bukanlah pandangan hidup yang diciptakan Rasulullah Muhammad SAW maupun bangsa Arab atau suku Quraisy khususnya, sebagaimana yang selama ini sering ditudingkan kaum Orientalis.

Sejarah mencatat bahwa  pada awal perkembangannya ajaran ini mendapat perlawanan yang amat keras dari suku Quraisy. Ketika itu Rasulullah dan para pengikutnya mendapat ancaman yang tidak sedikit  dari kaumnya. Sejumlah pengikut ajaran baru ini menerima berbagai siksaan hingga ada pula yang disiksa hingga mati. Bahkan Rasulullahpun tidak luput dari rencana pembunuhan yang direncanakan secara baik dan terencana matang oleh sekelompok orang yang merupakan gabungan dari seluruh unsur bani Arab yang memusuhinya.

Uniknya lagi, ajaran   ini tidak akan berubah hingga kapanpun dan dijamin pasti akan terus sesuai dan cocok bagi orang yang hidup bahkan pada akhir zaman sekalipun. Maka bila belakangan ini ada isu yang menyatakan bahwa ajaran Islam disesuaikan dengan kemauan kaum lelaki atau dengan kata yang lazim dinamakan budaya Patriakal adalah tidak benar. Islam  tidak mengenal kata diskriminasi dalam ajarannya, apalagi mengkotak-kotakkan antara kaum lelaki dan perempuan.

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta`atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.(QS.Al-Ahzab(33):35).

Laki-laki dan perempuan dalam ajaran Islam adalah sama di hadapan Allah SWT. Mereka diciptakan untuk saling melengkapi, saling menyayangi, saling tolong-menolong dan saling mengingatkan dalam hal kebenaran dan kesabaran. Keduanya mempunyai tugas utama yang sama, yaitu menciptakan kedamaian, keamanan, ketenangan, kesejahteraan dan  keadilan berdasarkan rasa tunduk dan patuh hanya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, dengan menaati hukum-Nya. Satu-satunya persaingan yang ada hanyalah persaingan positif untuk memperebutkan tiket ke surga dan itupun Allah SWT sama sekali tidak membatasi jumlahnya.

Laki-laki dan perempuan adalah mitra yang saling melengkapi dan membutuhkan. Perumpamaan mereka bagaikan  anggota tubuh, seperti jantung, otak, hati, paru-paru, ginjal, kaki dan tangan  yang bekerja sama dalam rangka membentuk satu tubuh yang sehat dan kuat. Ini adalah perumpamaan dalam skala terkecil, yaitu keluarga. Sedang dalam skala yang lebih luas, keduanya memiliki tugas masing-masing yang berbeda satu sama lain dalam membentuk masyarakat yang adil, tenang, aman dan damai dengan berpegang pada hukum-Nya.

Jadi isu  yang belakangan ini sering bergaung di masyarakat seperti isu Persamaan Hak Perempuan, Liberalisasi atau apapun yang senada dengannya sesungguhnya tidak perlu terjadi dalam dunia Islam. Karena Islam telah dengan jelas menerangkan bahwa laki-laki dan perempuan memang tidak sama! Seharusnya kita tidak boleh terpancing dan ikut-ikutan dengan hal-hal yang telah jelas hukumnya.

Saat ini terlihat dengan jelas, tampak ada pihak yang diuntungkan dengan terjadinya perpecahan antara kaum laki-laki dan kaum perempuan. Tampak bahwa Persatuan Islam sedang dicoba untuk diguncangkan dan dihancurkan!

Allah SWT sebagai Sang Pencipta, Sang Pemilik segala yang ada di alam semesta, segala yang ada di bumi dan langit telah menciptakan sebuah sistim. Sistim ini  tidak saja hanya berlaku bagi alam semesta,  yaitu berputarnya bumi terhadap dirinya sendiri (evolusi), berputarnya bumi mengelilingi matahari ( rotasi), berputarnya tata surya, galaksi terhadap pusatnya.

Juga siklus yang menjadikan terjadinya hujan, siklus matahari dan bulan, pergantian siang dan malam, siklus hidup seluruh tumbuhan dan binatang serta siklus kehidupan manusia. Ini semua sesungguhnya adalah sebuah demonstrasi kekuasaan, kecerdasan dan ketinggian-Nya. Tidak ada sesuatu atau seorangpun yang bakal mampu bertindak keluar dari sistim tersebut kecuali ia akan hancur dan binasa.

Begitu pula sistim pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan. Allah dengan jelas telah berfirman bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan. Ia bertanggung jawab atas segala kebutuhan keluarga. Dosa bila ia mengabaikannya kecuali memang betul-betul tidak mampu karena berbagai alasan. Sementara perempuan bertanggung-jawab menjaga kelancaran urusan dalam rumah-tangganya. Ia harus mentaati suaminya selama suami tetap berpegang teguh pada aturan dan sistim Yang Menciptakannya. Bila ia yang harus bekerja, menafkahi anak-anak dan suaminya yang tidak mampu bekerja Allah swt akan mencatatnya sebagai sedekah yang tinggi pahalanya. Anak adalah titipan dari Allah swt yang wajib dididik, diperhatikan dan dinafkahi. Tidak boleh mereka ditinggalkan dalam keadaan lemah. Karena yang demikian sangat dekat dengan kekafiran.

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar“. ( QS. An-Nisa (4):9).

Akan halnya sang anak, ia wajib mentaati kedua orang tuanya terutama ibunya, selama keduanya tunduk patuh pada aturan Sang Pencipta. Dengan kata lain, kepatuhan dan ketaatan yang dibangun adalah dalam rangka mematuhi dan mentaati Sang Pemilik Kekuasaan tertinggi, yaitu Allah Azza wa Jalla.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.‘” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Namun apa  yang umum terjadi di seluruh pelosok  dan penjuru dunia saat ini tidaklah demikian. Sebagian besar lelaki kalaupun ia bekerja untuk menafkahi keluarga, ia melakukannya bukan karena ketundukkan kepada-Nya. Ia tidak memahami bahwa kewajibannya  selain mencari nafkah juga mendidik istri dan anaknya. Akibatnya istripun tidak memahami kehendak   Sang Pemilik.

Dipicu pemahaman yang salah, pemahaman dan pendapat sesama hamba yang tidak memiliki ilmu yang memadai, yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya, maka perempuan berbondong-bondong pergi meninggalkan ’pos utamanya’ untuk bekerja mencari nafkah. Akibatnya istri tidak lagi merasa tergantung terutama secara finansial terhadap suami. Dengan demikian sikap hormat terhadap suamipun akhirnya tanpa disadari berangsur-angsur hilang hingga mengakibatkan berkurangnya wibawa suami sebagai kepala keluarga.

Maka  timbullah  masalah-masalah baru, diantaranya  perselisihan dan percekcokkan antar suami–istri yang seharusnya tidak perlu, anak yang kurang terurus, kurang perhatian serta  kasih sayang terutama ibunya, berkurangnya komunikasi antara suami-istri dll. Akhirnya perceraianpun tidak dapat dihindari. Ironisnya yang menjadi korban terutama adalah tentu saja anak-anak.

Sebaliknya ketika seorang perempuan/ibu telah menunaikan  kewajiban dan masih merasa memiliki kemampuan, ilmu ataupun tenaga  yang dapat disalurkan kepada  masyarakat atau lingkungannya tentu hal tersebut sangat terpuji.  Yang dibutuhkan bagi perempuan seperti ini hanya izin dan kerelaan suami. Ini adalah perintah Allah dan  dalam rangka melaksanakan perintah-Nya pula. Oleh karenanya bila demi  tujuan mulia sang suami tidak memberikan izin, seorang istri tetap dapat dan berhak melakukan hal yang diperintahkan-Nya untuk dikerjakan. Contohnya adalah  pergi menunaikan haji tanpa suami maupun izinnya.

Diluar itu banyak pekerjaan mulia di sisi Allah yang dapat dilakukan seorang Muslimah. Dunia Muslimah adalah dunia yang sangat spesifik. Muslimah dimana dan kapanpun berada senantiasa membutuhkan pelayanan dari sesama Muslimah lain. Oleh karenanya alangkah mulianya bila tenaga medis (dokter, perawat, radiologis dll ),  tenaga pengajar ( guru, dosen, pendidik, pelatih, konsultan dll) serta segala macam hal yang membutuhkan penanganan, tatapan serta  sentuhan langsung adalah dari  seorang muslimah juga.

Patut pula diperhatikan masalah transportasi dan keamanan. Bahkan sejumlah negara yang penduduknya notabene bukan mayoritas Muslimpun, seperti Jepang, Rusia dan Korea Selatan sejak beberapa waktu lalu telah menerapkan angkutan  transportasi khusus perempuan. Dengan demikian selain syariah terjaga, perempuan tidak perlu lagi berdesak-desakan, terdesak hingga memungkinkankan mudahnya terjadi pelecehan terutama pelecehan seksual, keamananpun mustinya lebih terjamin pula.

Wallahua’lam bishawab.

DAFTAR REFERENSI

DAFTAR REFERENSI  :

1.  Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir oleh M.Nasib Ar-Ri’fai.

2.  Terjemah Departeman Agama : Quran Player 2.0.

3.  Minhajul Qashidin oleh Ibnu Qudamah.

4.  Kepribadian Dai oleh Dr Irwan Prayitno.

5.  Kepribadian Muslim oleh Dr Irwan Prayitno.

6.  Intisari  Ihya’ ‘Ulumuddin Al-Ghazali oleh Sa’id Hawwa.

7.  Dilema Wanita di Era Modern oleh M Al Ghazali

8.  The Great Woman oleh Shaikh M. Husain

9. Misteri Muslimah – Kehidupan luar biasa Muslimah Amerika – oleh Donna Gehrke-White

10. Sirah Nabawiyah oleh Dr. M. Sa’id Ramadhan Al-Buthy.

11. Psikologi dalam Perspektif Hadis  oleh   DR.M. ‘Utsman Najati.

12. Hegemoni Kristen-Barat (dalam studi Islam di perguruan tinggi) oleh Adian Husaini.

13.Yerusalem Satu kota tiga iman oleh Karen Amstrong.

14.Wikipedia, the free encyclopedia ; www.wikipedia.org

15. http://suara-santri.tripod.com/files/muslimah/muslimah1.htm

16.http://halalsehat.com/index.php?option=com_content&task=view&id=36&Itemid=35.

17. Kajian di berbagai  Majelis Taklim

Jakarta, Juni 2008