Feeds:
Posts
Comments

Ali diam tertegun. Pagi itu seperti biasa ia bangun pukul 4 pagi. Bersama ke 3 kakak lelakinya mereka bergegas menuju masjid untuk menunaikan shalat subuh berjamaah. Ayahnya kali ini tidak menyertai mereka karena sudah beberapa hari ini ia demam tinggi, badannya menggigil. Ali dan kakak-kakaknya tidak shalat di masjidil Aqsho’ melainkan dimasjid Umar yang letaknya  lebih jauh dari masjidil Aqsho ke rumah. Namun bukan hal ini yang menyebabkan Ali diam terpaku. Karena walaupun rumah sempit yang disesaki ayah, ibu, nenek, kakek, 3 kakak lelaki, 1 adik perempuan dan 2 adik lelaki kembar ini menempel ditembok Al-Aqsho mereka nyaris tidak pernah bisa melaksanakan shalat subuh di masjid suci ke 3 didunia ini. Karena pihak pendudukan Israel tidak mengizinkannya. Dan ini telah berlaku sejak ia lahir 10 tahun yang lalu.

Bukan .. bukan itu. Lalu apa ? Ali terdiam karena jalan yang biasa dilaluinya untuk menuju sekolah ditutup. Pagar kawat setinggi 3 meter terpampang di depan matanya. Beberapa temannya yang sudah tiba terlebih dahulu juga terlihat diam terpaku. Mereka tidak berani coba-coba melintasi pagar yang kelihatannya  biasa-biasa itu. Ini bukan disebabkan sejumlah tank yang sengaja ditempatkan pemerintah Israel untuk berjaga-jaga di hadapan kawat tersebut. Tank bagi anak-anak Palestina memang bukan barang yang membuat mereka kecut namun karena anak-anak ini paham betul bahwa pagar kawat tersebut beraliran listrik !!

Tak sampai 10 menit kemudian tempat tersebut telah dipenuhi anak-anak yang hendak pergi ke sekolah. Beberapa orang tua yang mendampingi anak-anak mereka mulai berteriak-teriak : “ Hei Yahudi keparat .. apalagi mau kalian .. tidak bisakah kalian barang sedetikpun membiarkan kami tenang … !! “ ; “ Lihat anak-anak ini .. mereka hanya hendak pergi ke sekolah !! “ ; “ Astaghfirullah .. mengapa kalian tutup pintu ini  … “ ; “ Hei Yahudi .. tampakkan diri kalian .. jangan hanya bersembunyi dibalik  kendaraan besi keparat itu ..!! “

Tak ada jawaban dan reaksi sedikitpun dari balik pagar. Sementara orang-orang mulai kesal. Sebagian bayi yang berada di gendongan ibu yang mengantar anaknya sekolah mulai terdengar menangis, sejumlah balita  mulai merengek dan menarik-narik ujung celana ayah atau baju ibu mereka. Ali tetap diam menunggu dengan pandangan tegang. Ia tahu sebentar lagi pasti akan terdengar tembakan dan korbanpun bakal berjatuhan.

Mendengar keributan tersebut wargapun mulai datang berduyun-duyun. Mereka mulai memunguti apa saja yang bisa dipungut. Tak ayal lagi batu dan kayupun beterbangan menuju tank melewati pagar kawat listrik itu.

Ayo anak-anak .. kita tinggalkan tempat ini. Biarkan bapak-bapak dan kakak-kakak kalian mengurusi ini semua.”, terdengar  suara lantang uztad Hambali, guru sekolah mereka.

Tugas kalian adalah belajar, menghafal ayat –ayat Al-Quran .. kalian adalah aset Palestina yang paling berharga … ayo .. ayo ..”, serunya membangkitkan semangat.

Anak-anak menurut dan pergi meninggalkan tempat dengan segera. Sebaliknya dengan Ali. Dengan berat hati ia mentaati perintah sang guru. Sambil berjalan mundur, matanya tidak mau lepas dari tempat tersebut. Ingin rasanya ia membantu kakak-kakak dan bapak-bapak itu melawan orang-orang zalim yang telah membuat salah satu adiknya meninggal dua tahun lalu. Adik kecilnya yang baru berusia 4 tahun itu terkena ledakan bom kecil yang tercecer di pekarangan rumahnya. Ketika itu ia dan adiknya sedang bermain-main. Tiba-tiba adiknya menemukan benda berbahaya tersebut. Kemudian  menendang-nendangnya tanpa mengira bahwa barang tersebut ternyata adalah bom yang masih aktif !!

« Ayo .. cepat anak-anak .. Ali .. perhatikan langkahmu ! », teriakan kencang pak  Hambali membuyarkan ingatan Ali. Ia segera berbalik badan dan berlari menyusul teman-temannya yang sudah berjalan agak jauh meninggalkannya.

Sekitar 30 anak terkumpul sudah di dalam kelas. Mereka segera membaca surah Al-Fatihah. Setelah itu satu persatu anak maju ke depan kelas untuk menyetor hafalan mereka. Target uztad Hambali, guru yang telah berusia 75 tahun ini, anak-anak hafal seluruh isi Al-Quran akhir tahun ini. Saat ini sebagian besar anak telah hafal 25 juz.

Uztad Hambali mengajar anak-anak dengan tegas namun penuh kesabaran. Ia adalah seorang mujahid. Itu sebabnya dalam usianya yang 75 tahun itu perawakannya masih tegap meski ia telah kehilangan salah satu kakinya. Anak-anak sangat menyayangi sekaligus menghormatinya. Di sela-sela waktunya mengajar ia sering menceritakan pengalaman dan perjuangannya.

Palestina dulu dan sekarang seperti bumi dan langit « , begitu keluhan yang sering kali diucapkannya dengan nada pilu. “ Dulu Palestina tenang dan damai. Islam, Kristen dan Yahudi saling menghargai. Pemerintahan Islam yang ketika itu memegang pimpinan tahu betul apa itu Islam. Islam adalah agama yang menjunjung tinggi toleransi. Agamamu adalah agamamu dan agamaku adalah agamaku. Ingat selalu surat Al-Kafirun « , ucap pak Hambali sambil memandang ke arah jendela kelas yang terbuka lebar tanpa daun jendela.

«  Namun lihat apa yang terjadi begitu pihak Yahudi memegang kendali. Pertikaian dan permusuhan terus terjadi setiap hari setiap detik. Mereka hanya memikirkan nasib bangsa dan agamanya sendiri. Kita, umat Islam yang saat ini dalam keadan lemah menjadi sasaran empuk dan bulan-bulanan. Kita terus didesak dan dikucilkan. Tanah kita terus mereka ambili. Hak kita mereka injak-injak. Ironisnya, semua ini atas sepengetahuan PBB, badan international  yang mustinya berlaku adil terhadap semua pihak”, sekali lagi uztad Hambali memandang ke arah jendela. Namun kali ini dengan pandangan khawatir. Ali yang melihat jelas perubahan air muka gurunya itu segera ikut memandang ke arah jendela. Sebuah pesawat melintas diatas madrasah mereka. Suaranya benar-benar memekakkan telinga.

Ingat anak-anakku Allah swt telah memilih dan memuliakan kita sebagai rakyat Palestina. Tanah kita ini telah dipilih menjadi tempat dimana pertempuran akhir zaman akan terjadi. Pertempuran antara hamba yang takwa dan hamba yang mendurhakai-Nya. Antara kaum Muslimin dan kaum Yahudi terlaknat yang menjadikan Dajjal sebagai pemimpin mereka. Masjidil Aqsho adalah masjid yang harus kita pertahankan. Jangan biarkan orang-orang kafir merebutnya .. Allahuakbar .. Allahuakbar .. Allahuakbar … “. Seruannya itupun langsung  disambut oleh murid-muridnya dengan penuh antusias.

Bersamaan dengan itu tiba-tiba terdengar suara keras menggelegar di halaman samping kiri madrasah. “ Tiarap .. tiarap “,seru uztad Hambali. Anak-anak yang semula telah siap berlari berhamburan menuju pintu kelas segera membatalkan niatnya dan langsung tiarap,  sesuai perintah guru mereka.

Tak lama kemudian terdengar lagi suara pesawat berderu tepat di atas kepala mereka. Tanpa diperintah anak –anak secara otomatis berseru : “ Allahu akbar ..Allahuakbar .. “. Terdengar suara ledakan dasyat. “ Buuuummmm “ !! Kali ini bom jatuh di sisi kanan madrasah.

Lari-lari .. cepat menuju persembunyian “, teriak uztad Hambali dengan suara parau. Murid-murid segera berlari menuju ruang bawah tanah  di ujung madrasah. Ali sempat melirik ke luar. Api besar menyala dan melahap ruang kelas sebelah. Ia melihat orang-orang berlarian berusaha menyelamatkan murid-murid di tempat itu. Suara tangisan dan jerit ketakutan terdengar menggema.

Beberapa menit kemudian ruang bawah tanahpun telah sesak dijejali para murid dan guru. Suasana terasa tegang dan mencekam. Uztad Hambali segera mengajak mengucap takbir dan tahmid. Beberapa menitpun berlalu. Uztad Hambali dan seorang uztad lain keluar meninggalkan ruangan. Anak-anak tetap didalam, menanti dengan hati berdebar.

Tak lama kemudian  keduanya muncul kembali.  Wajah dan rambut mereka dipenuhi debu dan arang. Dengan lega mereka mengabarkan  bahwa untuk sementara keadaan telah aman. Anak-anak boleh keluar dan kembali ke rumah masing-masing.

Ali segera keluar. Di luar terlihat orang-orang datang berlarian. Mereka adalah para orang tua murid yang khawatir dan mencari tahu keadaan anak-anak mereka.

Astaghfirullah ….. Allahuakbar  .. Subhanallah ..” terdengar seruan di sela-sela suara anak-anak yang menangis. “Allah pasti membalas perbuatan kalian Yahudi biadab , Yahudi terkutuk !!”; “ Lawan kami secara jantan Yahudi pengecut ..satu lawan satu .. bukan begini caranya .. anak-anak kalian serang .. pengecut .. pengecut …!! ” …

Ali melihat kedua kakaknya berada diantara orang-orang yang sibuk membantu  korban yang kebanyakan anak-anak itu. Ia melihat ruang kelas sebelah telah rata dengan tanah, reruntuhan bangunan berserakan, bercak darah dimana-mana, suara jeritan dan tangisan serta debu dan arang yang berterbangan bercampur aduk.

Dengan setengah berlari Ali menuju rumah. Ia melewati pagar kawat yang masih berdiri tegak, batu-batu berserakan, tank dengan moncong menghadap ke arahnya masih berada di tempatnya sementara sejumlah tentara Israel dengan senapan panjang di tangan mondar mandir di sekitar pagar.

Dari kejauhan Ali melihat beberapa pemuda Palestina dibawah ancaman senapan, tangan terikat ke belakang serta mata ditutup secarik kain digiring menuju suatu tempat. Rumahnya hanya tinggal beberapa meter saja ketika tiba-tiba ia melihat ayahnya yang sedang didorong ke luar rumah oleh dua tentara bersenjata hingga jatuh terjerembab di tanah. Sementara ibunya, sambil menggendong si bungsu yang menangis, berusaha mencegah perbuatan jahat keduanya.

Dengan susah payah ayah yang sedang dalam keadaan kurang sehat itu berusaha bangun dan berdiri kembali. Namun belum juga ayah berhasil salah seorang dari tentara biadab itu  menembakkan senapannya ke arah paha kiri ayah. Ayahpun terjatuh kembali.

« Astaghfirullah « , seru Ali terkejut. Tanpa berpikir panjang ia segera berlari menuju keduanya sambil berteriak lantang : «  Hei … hentikan .. hentikan .. hentikan itu !! ». Ia berusaha merebut senapan si tentara yang tadi menembak ayahnya.

Namun belum juga tangan Ali berhasil mencapai sasaran, sebuah pukulan keras menghamtam kepalanya. Rupanya itu adalah gagang senapan yang dihantamkan tentara yang satu lagi. Ali terhuyung. Ia berusaha menjaga keseimbangan badannya agar tidak jatuh menimpa tubuh ayahnya. Akhirnya ia terjatuh di sisi kanan ayahnya.

Dengan menyeringai lebar, si tentara mengarahkan senapan secara bergantian ke arah Ali dan ke arah ayah.

«  Jangan tembak anakku, Yahudi kotor. Tembak aku saja !!”, seru ayah menantang. «  Tidak « , teriak Ali panik. «  Ayah sedang sakit. Tembak aku saja « .” Terlaknat kau Yahudi … Jangan tembak keduanya “, terdengar suara ibu berteriak tak kalah kencang.

Sesaat si Yahudi gila terlihat ragu. Namun beberapa detik kemudian Ali melihat ia menggerakkan senapannya ke arah ayahnya. Tanpa berpikir Alipun segera melompat dan  menjatuhkan dirinya ke atas tubuh ayahnya . «  Dooorr « .

Ali mendengar suara tembakan menggema di udara. Ia merasakan sebuah benda panas menembus punggung kirinya, kedua telinganya terasa mendengung sementara pandangannya kabur. Ali tak sadarkan diri .. entah untuk berapa lamanya ….

Ali terbangun dan bergegas mengambil air wudhu. Namun tiba-tiba ia mendengar suara orang-orang bershalawat yang ditimpali isak tangis. Ibu menangiskah ? pikirnya. Ali segera menuju ruang depan. Ia melihat orang-orang berdatangan ke rumah. Ia melihat ayah, ibu, kakek, nenek, kedua kakaknya, adik perempuannya, adik kembarnya, uztad Hambali, sejumlah teman-temannya dan masih banyak lagi orang-orang yang dikenalnya dengan baik. Mereka mengerumuni sebuah keranda berbendera Palestina.  Apa yang terjadi, pikirnya .. Siapakah yang meninggal dunia .. pasti gara-gara bom disekolah pagi tadi, pikirnya lagi .. tapi mengapa di rumahku ..

Ali heran dan penasaran. Ia terus berjalan dan menghampiri keranda tersebut. Ia merasa aneh karena meskipun rumahnya disesaki banyak orang ia dapat berjalan tanpa perlu berdesakan. “ Ibu, siapa yang meninggal ?” tanyanya lirih di telinga ibunya yang sedang menangis. Ia perhatikan wajah ibu begitu menderita namun sorot matanya tetap menunjukkan ketabahan yang luar biasa. Ibunya tidak menjawab. Ganti ia bertanya kepada ayahnya kemudian kakek, nenek, kakak. Tapi tak satupun yang menjawab.

Akhirnya ia memberanikan diri membuka penutup wajah jenazah yang terbujur kaku di depan keluarga besarnya itu. “ Bismillahi rohmanirohim “, bisiknya pelan. Seraut wajah yang amat dikenalnya muncul. Bibirnya tersenyum lega. “ Aku ???” …

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un ….

Pau – France, 5 April 2010.

Vivin AM.

Bangun dan Buktikan !!

Lukman melirik jam tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul 10 pagi. Ia dijanjikan datang sekitar jam 11 untuk menemui seseorang yang dapat memberikan sejumlah dana bagi yayasan yatim-piatu yang dikelolanya. Ia segera merapikan buku dan kertas-kertas yang berserakan di atas meja dihadapannya. Ujian Akhir Semester tinggal 1 minggu lagi. Masih banyak tugas yang harus diselesaikan. Namun tugas mengurus yayasan bagaimanapun tidak kalah pentingnya. Ini adalah amanah dari kedua-orang tua bahkan para leluhurnya. Lebih penting lagi karena menyangkut nasib orang banyak. Perlahan Lukman menghela nafas….

Lukman adalah seorang pemuda yang tahun ini akan memasuki usia 19 tahun. Ia menyelesaikan pendidikan SMU nya tahun lalu. Berkat beasiswa yang diterimanya sekarang ia duduk di tahun  pertama fakultas Ekonomi di sebuah universitas negri favorit di Jakarta. Selain dikenal pintar, Lukman juga dikenal sebagai remaja yang aktif dan pandai bergaul. Disamping  juga rajin menjalankan ibadah. Ketika duduk di bangku kelas 2 SMU Lukman bahkan pernah menjabat ketua OSIS. Ia memang senang berorganisasi. Rasanya masih hangat dalam ingatan masa-masa ketika ia masih memakai seragam putih abu-abu. Pengumuman bahwa guru tidak hadir adalah hal yang paling dinanti-nanti.

***

Anak-anak, hari ini pak Samsul berhalangan hadir. Jadi anak-anak diminta belajar sendiri-sendiri dan yang paling penting dilarang  brisik”, “Horee…”, seru murid-murid serentak begitu pak Mastur menyelesaikan kata-katanya. Suasana kelaspun langsung berubah menjadi seperti pasar. Dimana-mana terdengar kegaduhan. Ada yang mengeluarkan makanan, ada yang sekedar mengobrol dengan teman sebangkunya, ada yang berjalan kesana kemari, ada pula yang iseng mencorat-coret papan tulis dengan banyolan-banyolan yang kadang agak menyerempet ke pornografi.

Terbayang pula  beberapa teman yang diam-diam keluar kelas menuju kantin dan mulai mencoba untuk merokok. Ia sendiri pada awalnya tidak berani mencobanya karena ia tahu merokok dapat membuat seseorang ketagihan.” Bila sudah ketagihan”, begitu kata ayahnya. ” Tidak saja kesehatan yang jadi taruhan tapi juga kantong  jadi bolong. Buat apa orang cape-cape kerja kalau akhirnya cuma jadi puntung rokok”, lanjutnya. Dan ia menyadari bahwa selain ia bukan berasal dari  keluarga  berlebih iapun diajari bahwa merokok adalah mubah bahkan ayahnya yang seorang kiyai berpendapat  merokok hukumnya haram. Karena akibat dari merokok lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya.

Namun karena terus dibujuk teman-temannya akhirnya pertahanannyapun runtuh. Ia mencoba mengisap sebatang Gudang Garam yang disodorkan Luki, temannya. Sontak iapun terbatuk-batuk. Teman-temannya mentertawainya. Pada saat itulah tiba-tiba  muncul bu Farikhah, guru BP alias Bimbingan Pelajar yang memang bertugas mengawasi gerak-gerik dan prilaku murid-murid. Lukman dan beberapa teman yang tertangkap tangan  sedang memegang batang rokok  langsung digiring  ke ruang BP. Di ruang tersebut mereka dikuliahi panjang lebar. ”Kamu Lukman, masak sebagai ketua OSIS  malah memberi contoh tidak baik? Ayah kamu kiyai, kamu tidak malu kalau ia sampai tahu anaknya melakukuan sesuatu yang diharamkannya?”, kata bu Farikhah sambil mengancam akan melaporkan kelakuannya kalau ia ketahuan tetap merokok.

***

Lukman tersenyum sendiri mengingat masa-masanya yang telah berlalu itu. Ia bersyukur mau mendengar kata-kata bu gurunya yang galak itu sehngga kini ia  tidak  terjebak dengan masalah rokok…

Satu jam kemudian Lukman telah berada di lantai sebuah  gedung perkantoran di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Ia menekan  angka  5 tombol lift gedung  tersebut. Dengan proposal ditangan, Lukman melihat bayangan dirinya di cermin lift tampak  3 atau 4 tahun lebih tua dari usia sebenarnya. Baru kali ini ia sendirian mencari dana. Dulu ketika masih duduk di OSIS, ia pernah beberapa kali bersama temannya melakukan hal yang sama. Namun kali ini ia merasa berbeda. Proposal yang dibawanya sekarang menyangkut  harkat hidup orang banyak.  Sejak ayahnya meninggal dunia beberapa bulan yang lalu, Lukman sebagai anak tunggal dituntut menggantikan kedudukan ayahnya sebagai penanggung jawab yayasan yatim piatu yang dikelolanya itu.

Mulanya ia ingin menolak. Rasanya ia tidak akan mampu mengemban tugas yang sedemikan berat tersebut. Namun ibu dan pamannya terus mendesaknya. Mereka berkata umur 19 tahun bukanlah umur yang terlalu belia untuk belajar memikul sebuah tanggung-jawab besar. Mereka bahkan mencontohkan Usamah bin Zaid, seorang remaja 19 tahun yang hidup pada abad ke 7 M di daratan Arabia.. Remaja tersebut pernah ditunjuk oleh Rasulullah saw menjadi panglima besar Islam. Kemudian juga remaja 19  tahun lain, yaitu putra mantan perdana mentri Pakistan, Benazir Butho yang ditunjuk menjadi penerus karir politik ibunya. Disamping itu, toh Lukman tidak sendiri. Ia  didampingi paman dan ibunya yang dapat memberikan bimbingan serta nasihat. Maka akhirnya Lukmanpun bersedia menerima tugas luhur tersebut.

Yayasan milik  keluarga ini telah berdiri sejak  puluhan tahun yang lalu. Tujuan utamanya adalah untuk membantu dan menyantuni anak-anak yatim di sekitar kampumg dimana mereka tinggal. Yayasan menyediakan pelatihan ketrampilan seperti menganyam tikar, menganyam keset, membuat sapu ijuk, sapu lidi dan semacamnya. Pelatihan ini selain diberikan kepada anak-anak tersebut juga diberikan kepada warga yang berminat. Dari keuntungan menjual hasil karyanya inilah mereka hidup. Dengan demikian kini mereka tidak perlu lagi meminta-minta dan  mengemis. Disamping itu yayasan juga mendirikan koperasi kecil  yang menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari bagi warga sekitar. Itu sebabnya yayasan harus mencari dana seperti yang dilakukan Lukman  saat ini.

Tiba-tiba terdengar bunyi ” triing” dan pintu liftpun terbuka. Tanpa terasa Lukman  sudah berada di lantai 5. ”Selamat pagi, pak Warno”, sapa Lukman  sambil melirik label nama di dada satpam yang berada di lantai tersebut. Ia teringat ayahnya yang selalu mengajarinya untuk menyapa seseorang dengan menyebut namanya. Karena dengan begitu  akan membuat orang yang disapanya merasa lebih dihargai.  “Usahakan bertanya kepada orang yang mengenalnya atau paling tidak lihat tulisan di dadanya, bila ada.. “, begitu ayah menjelaskan ketika Lukman  bertanya bagaimana ia bisa tahu nama seseorang yang tidak dikenalnya. ”Saya mencari pak Joko”, sambungnya “ Sudah ada janji ?”, tanya  satpam tersebut ramah. “Sudah pak. Nama saya Lukman dari yayasan Al-Mukaromah Kemang”, jelas Lukman.

Setelah pak satpam yang bernama pak Warno itu menghubungi pak Joko, iapun mengantar Lukman ke sebuah ruangan tamu dan mempersilahkannya duduk dan menanti. Lukman duduk sambil mengamati ruangan berpendingin udara  sejuk  tersebut. Dihadapannya tergantung 3 foto besar berbingkai kuning emas.. Foto-foto itu adalah foto-foto  pengeboran sumur lepas pantai. Dari foto itu terlihat jelas bahwa perusahaan tersebut adalah perusahaan minyak milik swata asing.

Lukman berangan-angan kelak ia dan generasinya harus memiliki perusahaan minyak yang dimiliki sepenuhnya oleh pribumi. Disamping itu mereka juga akan mendirikan rumah yatim piatu yang memiliki fasilitas yang memadai , sekolah, rumah sakit, lembaga penelitian, bank, pusat perbelanjaan dan pom bensin yang kesemuanya dilengkapi masjid atau paling tidak musholla. Dan hebatnya, semuanya itu dibangun atas dana zakat, infak, sodaqoh dan wakaf. Bukankah mayoritas penduduk Indonesia muslim? Bukan sesuatu yang mustahil, pikir Lukman yakin. Dengan demikian negri ini tidak perlu lagi mengemis dan berhutang kepada negri-negri adidaya dan kaya sehingga akhirmya hanya menyusahkan rakyat terutama rakyak kecil dan miskin. Bagaimanapun, rasanya sulit bagi pihak yang berhutang untuk  dapat mempertahankan ide dan pendapat sendiri. Yang ada kemungkinan besar malah dipaksa menerima ide dan pendapat yang memberi hutang. Secara tidak langsung ini namanya penjajahan, penjajahan pikiran, bisik  Lukman sedih dalam hati.

Tanpa disadarinya, tahu-tahu seorang pria berpakaian rapi lengkap dengan dasinya telah muncul dihadapannya. Dengan nada simpatik pria tersebut menegur sambil mengulurkan tangannya: ” Ngelamun apa pak?”. Lukman tergagap dibuatnya. ” Maaf pak… bapak Pak Joko?” tanyanya untuk menutupi rasa bersalahnya.

Setelah mengajukan beberapa pertanyaan,  akhirnya bapak  tersebut menanda-tangani proposal yang dibawa Lukman. Rupanya Lukman cukup beruntung hari itu. Pak Joko  adalah pimpinan departemen komunikasi di  perusahaan ternama tersebut. ”Sebagai bentuk partisipasi perusahaan, kami memang telah menyediakan dana untuk keperluan masyarakat sekitar. Saya tidak hafal  persis berapa jumlahnya. Tapi yang  penting saya sudah acc. Nanti nak Lukman silahkan menghubungi bu Lisa di lantai 2”, begitu penjelasan pak Joko sambil berdiri mengakhiri pertemuan.  “Sama-sama  saja,  kebetulan saya mau keluar “, katanya menawarkan lift untuk berbagi

Selama didalam lift, pak Joko menanyakan apa pekerjaan Lukman. Ketika Lukman menerangkan bahwa ia seorang mahasiswa semester 2 sebuah perguruan tinggi, pak Joko tampak tertegun sejenak.. ” Wah .. kalau begitu nak Lukman ini seumuran dengan anak saya. Apa hari ini tidak ada kuliah ?”, tanyanya ramah. ” Ada pak, jam setengah 2”, jawab Lukman tersipu. Pak Joko langsung melirik jamnya. ”Bisa terlambat dong…. ya sudah,  saya antar sebentar ke lantai ke 2 ”, katanya sambil menahan pintu lift. Kebetulan lift telah tiba di lantai 2 dan pintupun telah  terbuka. Dengan menjulurkan kepalanya pak Jokopun memanggil seseorang  ”Pak Adam, tolong sebentar pak…tolong sampaikan  proposal ini ke bu Lisa …. .katakan siang nanti hubungi saya..terima-kasih pak.”, begitu perintah pak Joko. ” Nanti  bu Lisa  yang akan menghubungi nak Lukman. Sebelum datang untuk mengambil uangnya telepon dulu, bikin janji dengannya”, tambahnya, kali ini kepada Lukman.

Lukman benar-benar bersyukur. Ia sadar jarang ada orang mau berbaik hati terhadap seseorang yang membawa proposal untuk meminta dana bantuan sebagaimana dirinya. Saking gembiranya ia mengucapkan beberapa kali terima-kasih kepada bapak  yang penuh pengertian tersebut. Dan begitu pintu lift terbuka di lantai dasar , Lukmanpun segera menghambur ke jalan raya mengejar bus yang akan mengantarnya ke kampus. Dibelakangnya tampak pak Joko  yang hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.

***

Malam harinya, Lukman kembali tenggelam di antara buku-bukunya. Ketika ia sedang asyik-asyiknya menekuni pelajaran tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu kamar. Beberapara  detik  kemudian sebelum ia sempat membuka pintu tersebut, kepala pak Mahmud, salah satu karyawannya, telah tersembul dari balik pintu. Lukman memang tidak pernah melarang orang-orang dekat disekitarnya untuk banyak berbasa-basi.

Ada apa pak ?”, tanyanya. ” Pak  Asmuri ingin ketemu mas Lukman, kelihatannya penting sekali mas ..”, jawab pak Mahmud. Lukman segera berdiri dan menemui tamunya. Ketika ditemui,  Pak Asmuri terlihat sedang panik. Ia mondar-mandir di teras rumah. Pak Asmuri segera bercerita bahwa anak perempuannya yang baru berumur 2 tahun jatuh sakit. ” Tubuhnya menggigil saking tinggi suhu tubuhnya, wajahnya pucat dan matanya kuyu”, katanya menerangkan.  Ia telah membawanya ke puskesmas namun kataya anak tersebut harus segera dirawat di rumah sakit. Padahal ia tak punya uang sepeserpun. Ia bermaksud meminjam uang yayasan. Tanpa berpikir panjang Lukman segera mengabulkan permintaan tersebut. Ia dapat mengerti betapa risaunya orang yang anaknya harus masuk rumah sakit. Oleh karenanya ia tidak ingin mempersulit dan menambah beban tetangganya itu.

Lukman sadar sepenuhnya bahwa seluruh tetangganya adalah orang yang tak punya alias miskin. Sampai kapanpun mereka tak akan sanggup membayar hutang yang mereka pinjam dari dana yayasan. Penghasilan mereka itu hanya pas untuk makan dan minum sehari, tidak lebih. Namun yang membuat hati Lukman trenyuh, walaupun mereka hidup kekurangan mereka tetap bersedia menerima anak yatim di rumah mereka. Sebenarnya sudah sejak lama, bahkan sejak kakeknya masih hidup, yayasan ingin membangun kamar-kamar untuk   anak-anak tersebut namun apa boleh buat uang yayasan tidak mencukupi.

Hal lain yang membuat  Lukman bangga adalah kenyataan bahwa tak satupun penduduk kampungnya yang menganggur apalagi jadi pengemis atau peminta-minta. Ayah dan kakek buyutnya sejak dulu selalu mengingatkan tangan diatas adalah jauh lebih baik dari tangan di bawah. Sebagai kiyai yang dihormati masyarakatnya mereka selalu mengajarkan pentingnya kejujuran, kerja keras serta  kepedulian terhadap tetangga dan sesama. Oleh karenanya rasa persaudaraan diantara penduduk  kampung tersebut sangat tinggi. Mereka hidup saling tolong menolong.

***

Lima hari kemudian ketika Lukman baru pulang dari kampus, ia kembali dihampiri pak Asmuri. Ia melaporkan bahwa keadaan anaknya bukannya membaik tetapi malah  memburuk. Anak tersebut kehilangan kesadaran. Sekarang ia harus masuk ICU. Pak Asmuri berusaha membujuk perawat di rumah sakit agar ia diizinkan membawa pulang anaknya dan membawanya berobat ke tempat lain namun tidak diperbolehkan. Pak Asmuri sadar bahwa ia tidak akan mampu membayar biaya pengobatan. Ia berencana membawa anaknya ke pengobatan alternatif yang tentu biayanya tidak semahal biaya rumah sakit. Sebaliknya pihak rumah sakit juga tidak mau disalahkan bila mereka membiarkan pasien yang dalam keadaan koma dibiarkan meninggalkan rumah sakit. ” Saya mohon  mas Lukman mau membantu. Kami betul-betul tidak tahu harus mengadu kemana …. Pihak rumah sakit meminta uang 2 juta rupiah segera. Katanya  untuk biaya city scan dan lain-lain..”, pintanya memelas. Lukman tak tahu harus berbuat apa. Ia yakin uang di kas yayasan  tidak akan mencukupi.

***

Hari ini adalah hari pertama ujian akhir semester.  Menurut jadwal pukul 1 ujian  usai. Namun pukul 5 Lukman baru tiba di rumah. Pagi tadi ia ditelpon bu Lisa yang mengatakan bahwa uang sudah bisa diambil. Oleh karenanya usai ujian Lukman langsung mampir ke kantor tersebut. Tetapi pulangnya,.ketika ia baru sampai di ujung gang kampungnya, ia melihat bendera kuning berkibar. Hati Lukman langsung berdebar kencang, warganyakah yang meninggal dunia? Jangan-jangan anak pak Asmuri, pikirnya cemas. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana  rasa bersalahnya bila benar  memang anak pak Asmuri yang meninggal.

Lukman bergegas menghampiri  orang banyak yang berkumpul tidak jauh dari hadapannya Betapa lemas kakinya ketika ia melihat orang-orang tersebut berkumpul di depan pintu rumah pak Asmuri. Tebakannya betul. Dari tetangganya ia mendengar bahwa beberapa hari sebelum anak pak Asmuri sakit, anak tersebut makan makanan yang dibeli ibunya dari pasar. Terdengar desas desus bahwa makanan tersebut adalah sampah daging!  Lukman teringat bahwa ia pernah membaca kabar tersebut di surat kabar namun tidak pernah menyangka bahwa tetangganya bakal menjadi salah satu korbannya.  Dari surat kabar, Lukman mengetahui bahwa sampah daging adalah sisa-sisa lauk-pauk yang dikais dari tempat sampah hotel. Sisa-sisa daging ayam, daging sapi, cumi ataupun udang tersebut kemudian dicampur menjadi satu, diberi bumbu kemudian digoreng dan dijual! Dengan harga yang relatif murah yaitu antara Rp 5000,- hingga Rp 8000,- per kg,  banyak warga kelas bawah yang membelinya, termasuk istri pak Asmuri yang berbuntut dengan kematian anaknya tersebut.

Lukman merinding mendengar berita tersebut. Hatinya miris betapa miskinnya warganya sehingga demi melawan kelaparan mereka tidak mampu berpikir secara rasional. Bagaimana mungkin  daging dijual dibawah Rp 10.000,- per kg ? Bahkan dari apa yang didengarnya daging tersebut rupanyapun tidak karuan. Namun begitulah yang terjadi. Tetapi yang lebih disesalinya  mengapa ia tidak dapat membantu meminjamkan uang yang dibutuhkan pakAsmuri untuk menyembuhkan anaknya tersebut.  Tiba-tiba Lukman menyadari bahwa saat ini ia bahkan masih menggenggam sejumlah uang sumbangan dari perusahaan yang baru saja diambilnya. Terlambat, pikirnya lemas.

Malam harinya, setelah ikut membantu berbagai persiapan pemakaman yang akan dilaksanakan esok hari, Lukman berusaha keras untuk memusatkan perhatian dan pikiran pada pelajarannya . Besok ia masih harus menjalani ujian akhir semesternya. Ia tidak boleh gagal! Banyak yang harus dipelajari. Ia tidak ingin warganya terus didera kemiskinan dan kebodohan. Ia merasa bahwa ia dan generasinya harus mencari jalan keluar. Ia sudah meminta izin dan menerangkan panjang lebar  bahwa besok ia tidak dapat mengikuti pemakaman. Ia berusaha untuk tidak peduli terhadap pandangan sinis  beberapa tetangganya. Ia sadar dan yakin bahwa mereka tidak mengerti pentingnya mengejar ilmu. Namun ia bertekad bahwa ia akan membuktikannya. Bangun dan buktikan!, bisiknya pelan.

Jakarta, September 2008.

Aku harus berubah

Untuk kesekian kalinya, lensa kacamataku kembali pecah. Dan kali ini bukan hanya lensanya yang pecah namum juga bingkainya rusak. Kacamataku  terinjak teman yang lewat di atas sajadahku ketika aku sedang shalat berjamaah di sekolah. Temanku itu terburu-buru karena hampir ketinggalan 1 rakaat sehingga tidak memperhatikan langkahnya. Ketika shalat aku memang selalu melepas kacamata dan meletakkannya di atas sajadah.  Salahkah aku ?  Beberapa kali aku merengek  agar diizinkan memakai soft lens saja. Alasanku, memakai kacamata tidak nyaman dan seringkali  pecah atau rusak bingkainya  disamping juga mengganggu kebebasanku bergerak. Hobbiku memang berolah raga terutama main basket.

Ayah dan ibu berjanji memenuhi keinginan tersebut asalkan aku juga berjanji mau menghapus berbagai kebiasaan burukku diantaranya yaitu tidak teledor, rajin merapikan kamar tidur dan lemari serta  bangun  tidur tidak lebih dari jam 8 pagi. Biasanya setiap hari libur setelah dibangunkan untuk shalat subuh aku memang selalu tidur lagi dan bangun hingga tengah hari atau bila perutku mulai terasa lapar!.

Mata itu sangat rapuh dan sensitif ”, begitu ibu menguliahiku. ” Selama kamu masih jorok dan malas menjaga kebersihan, lebih baik jangan memakai softlens. Bahaya…., bisa-bisa malah infeksi”. Kemudian ibu bercerita. Suatu hari ketika ibu masih kuliah, ia pernah melihat seorang remaja yang mencari softlensnya yang jatuh di atas angkot. Dengan tangannya ia meraba-raba lantai angkot dan begitu menemukannya ia langsung memasang benda super tipis tersebut ke matanya!   ”Bayangin…. kayak apa tuh kotornya…..iihh… tiap hari berapa puluh kaki yang naik turun angkot dengan sepatu atau sandal yang kemungkinan besar pasti pernah nginjak kotoran di tanah …”, lanjut ibu menakut-nakutiku.

Mata adalah benda lunak seperti agar-agar. Ia rapuh tidak hanya terhadap benda tajam saja namun bahkan debu sekecil atom sekalipun berpotensi merusak bahkan mengoyaknya. Lebih parah lagi, tanpa penglihatan bagaimana kita dapat melihat dan memandang keindahan alam semesta ini. Tanpa  mata yang sehat bagaimana kita dapat membaca, menulis dan menonton film yang memang menjadi kesukaanku. Singkat kata, tanpa mata dan tentu saja penglihatannya hidup jadi kurang bermakna. Dan lebih jelasnya lagi bagiku, agar ayah dan ibu mau membelikan sepasang softlens berarti aku harus terlebih dahulu merubah kebiasaan-kebiasaan  burukku. Dalam hati aku berdoa semoga motivasi tersebut cukup kuat untuk merubahku.   

Tami.…bangun dong sayang…masa’ udah jam 10 gini masih tidur sih,  nak??”, terdengar suara ibu membangunkanku sambil mematikan pendingin ruang tidur. “Uuhh….”, kataku dalam hati, ” ibu mengganggu mimpiku saja nih……”

Namun bukannya bangun aku malah menarik selimut menutupi seluruh tubuh dan bahkan wajahku. Sepuluh menit kemudian terdengar kembali suara ibu memanggil dari  ruang makan : “ Tamiii…mie gorengnya udah siap tuh, dingin ntar  ngga enak lho… “, kali ini nada ibu terdengar jengkel.  Dengan masih menahan kantuk aku berusaha bangun dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi.

“ Kapan sih Tam, mau berubah?… koq setiap hari kalo ngga’ dibangunin ngga mau bangun… “, omel ibu.

Kadang-kadang aku berpikir koq ibu ngga’ bosen-bosennya ngebangunin dan ngomelin aku. Sebaliknya aku sendiri juga heran kenapa aku begitu bebal dan malas, rasanya nikmat bisa tiduur teruus sampai tengah hari. Sebenarnya bukan cuma urusan  itu yang sering menjadi  sumber kejengkelan ibu, namun juga kemalasanku untuk merapikan ruang  tidur dan segala isinya. Sering aku kerepotan mencari jilbab juga  kaos kaki ketika aku terburu-buru hendak berangkat sekolah. Kalau sudah begini tentu ibu akan kembali mengomeliku, ” Aduuh Tami….gimana kamu bisa nyari barang-barang kamu … lemari udah kayak   kapal pecah gini..”.

Kuakui lemariku memang penuh dan berantakan hingga sering  kali ketika aku mencari sesuatu selalu kesulitan menemukannya. Ibu sudah berulang kali mengingatkanku bahwa ibu hanya mau membelikanku baju baru bila aku mau menyingkirkan sebagian baju yang tak lagi terpakai untuk diberikan kepada anak-anak yatim yang membutuhkannya. Namun pada waktunya tetap saja akhirnya ibu yang menyeleksi baju-bajuku. Biasanya aku melepas baju-baju tersebut dengan merengut karena terpaksa. Karena meskipun aku jarang memakainya kadang aku masih ingin menyimpan dan sekali-sekali memandangnya. Tetapi ibu berkeras bahwa hal tersebut adalah mubazir, tidak ada gunanya sementara banyak orang yang lebih  membutuhkannya.

Hingga suatu saat di bulan Ramadhan, ibu mengajakku ke sebuah yayasan yatim piatu  dengan membawa beberapa kotak karton berisi baju-baju bekas layak pakai dan buku-buku  yang sudah tak terpakai . Dengan mengendarai mobil, ibu berputar-putar beberapa kali di sekitar kawasan elite Kemang. ”Ibu ngga salah, nyari yatim piatu di daerah ini ?”, tanyaku  penasaran.  ” Mana mungkin sih bu?”. ” Ibu juga baru sekali ini mau nyumbang ke tempat ini. Kata temen ibu di belakang rumah-rumah mewah ini  ada daerah miskin sekali.”, jawab ibu enteng.

Setelah ibu menjalankan mobil dengan perlahan akhirnya terlihat sebuah papan kecil bertuliskan ”Yayasan Yatim Piatu Al-Mukaromah”. Dibawah papan tersebut terlihat sebuah tanda panah yang menunjukkan  arah dan jarak tempat tersebut. Ibu segera berbelok dan berjalan mengikuti arah panah. Jalanan makin lama makin kecil dan menyempit. Melalui sebuah jembatan sungai kecil jalan tiba-tiba menikung ke arah kanan. Dihadapan kami terlihat jalanan rusak dan menurun tajam. Kami ragu apakah kendaraan bisa masuk atau tidak. Ibu memperlambat jalannya mobil sambil celingukan mencari papan nama yayasan. Kepada seorang penjaja sol sepatu yang kebetulan melintas di depan kami, ibu bertanya keberadaan yayasan yang kami cari tersebut.

Mobil ngga bisa masuk bu. Diparkir aja deket sini. Ibu jalan ke arah lapangan di sebelah sana. Dari sana ada jalan nanjak ,ibu tanya lagi aja ke orang di sana.”, terang orang tersebut sambil mengarahkan jari tangannya ke suatu arah. Maka ibupun mencari tempat parkir yang cukup aman di tepi jalan sementara aku menatap sekelilingku. Aku serasa berada di dunia yang berbeda. Di hadapanku terbentang tanah kosong dan agak jauh di ujung sana terlihat perkampungan yang kelihatan agak kumuh. Sementara ketika aku mendongakkan sedikit kepalaku ke atas terlihat atap-atap genteng  dan tembok-tembok  rumah mewah bertingkat mengelilinginya. ”Sungguh sebuah pemandangan yang sangat kontras”,  pikirku. 

Kami turun dari mobil sambil membawa bawaan kami. Segera sejumlah anak kecil berlarian menuju arah kami. Melewati sebuah lapangan kami berjalan menuju  jalan tanah menanjak, menjauh dari arah perkampungan yang tadi terlihat dari kejauhan. Anak-anak itu rupanya tahu tujuan kami. Merekalah yang menjadi penunjuk jalan. Setelah melewati tanjakan, kami memasuki  gang sempit dimana rumah-rumah petak  saling berdempetan  di kiri kanannya.

Tak lama kemudian kami tiba di sebuah rumah yang lebih besar dibanding  rumah-rumah disekitarnya. Bangunan tersebut tampak bersih dan terawat. Inilah yayasan yang dituju. Di tempat itu kami disambut oleh seorang anak muda berumur sekitar 3 atau 4 tahun diatasku, jadi  kira-kira sekitar 19-an tahun. Rupanya dialah yang menjadi penanggung jawab yayasan.     Penampilan pemuda tersebut bersih dan ramah serta kelihatan seperti pemuda terpelajar.

Tanpa diminta ia segera bercerita bahwa yayasan tersebut adalah yayasan milik keluarga. Ayah dan kakek buyutnya adalah para kyai yang disegani orang kampung disitu. Sejak puluhan tahun  mereka telah mengajari penduduk sekitar untuk belajar selain mengaji juga  belajar bagaimana caranya agar mereka dapat  hidup mandiri. Itu  sebabnya kini penduduk  kampung tersebut  walaupun miskin  tetapi tak satupun diantara mereka yang hidup dari meminta-minta apalagi mengemis. Mereka diajari bahwa tangan diatas adalah lebih baik daripada tangan di bawah. Bahwa agama adalah untuk menyempurnakan akhlak dan kebersihan adalah bagian dari keimanan. Oleh karenanya  orang tidak cukup hanya bisa mengaji dan mengerjakan shalat saja namun  juga harus jujur,  pandai menjaga kebersihan, mempererat tali silaturahmi serta disiplin dan gemar kerja keras.

Kakek buyut Lukman, demikian anak muda tersebut memperkenalkan dirinya, mendirikan yayasan Al-Mukaromah untuk membantu dan mendidik anak-anak di sekitar kampung yang telah ditinggal orang-tuanya. Yayasan memang tidak mampu menyediakan tempat berteduh bagi mereka namun yayasan berhasil membuka hati penduduk kampung yang miskin tersebut agar bersedia menampung anak-anak tersebut di gubuk-gubuk sempit mereka. Lalu bersama orang dewasa anak-anak tersebut diberi berbagai bekal ketrampilan seperti  menganyam tikar, menganyam keset, membuat sapu ijuk , sapu lidi dan sebagainya. Dengan hasil yang tidak seberapa itu sedikit demi sedikit anak-anak dapat membantu meringankan beban orang tua angkat mereka. Bahkan sekarang anak-anak tersebut mulai bisa pergi ke sekolah. Anak-anak juga dituntut supaya rajin belajar agar sekolah mau memberi mereka beasiswa.

Lukman sendiri saat ini  terdaftar sebagai mahasiswa sebuah universitas negri di Jakarta. Karena prestasinya sewaktu di pesantren ia mendapat beasiswa untuk kuliah di fakultas ekonomi yang sejak lama diminatinya. Dengan penuh semangat ia menceritakan impiannya yang menggebu-gebu agar kelak ia bersama generasinya dapat membangun sebuah masyarakat adil dan makmur dengan basis ekonomi syariah, sebuah sistim ekonomi yang berpihak kepada masyarakat kecil. Cita-cita besarnya adalah membangun rumah sakit, sekolah, lembaga penelitian, bank bahkan pusat perbelanjaan dan pom bensin lengkap dengan masjid atau musholanya yang semuanya berdasarkan atas  ekonomi syariah. Ia berkeyakinan dengan cara seperti itu negri  yang dicintainya ini tidak lagi akan terpuruk.

Karena menurutnya hutanglah yang menjadi penyebab utama kemiskinan negri ini. ” Dengan dana zakat dan wakaf yang dikumpulkan  dari seluruh penduduk yang mayoritas Muslim seharusnya kita tidak perlu lagi mengemis dan berhutang kepada negara-negara kaya dan adidaya ”, imbuhnya yakin dan penuh semangat.  Sayang zakat dan wakaf yang ada selama ini berjalan sendiri-sendiri. Seharusnya pemerintah ikut terlibat sehingga zakat dan wakaf tidak hanya bersifat konsumtif dan kurang terlihat pengaruhnya.      

Namun demikian ia mengaku bahwa ia tidak akan meninggalkan tugas dan tanggung-jawab yang diberikan orang-tuanya untuk terus mengurus yayasan yatim piatu yang saat ini dikelolanya. Ia mengingatkan bahwa yang dibutuhkan anak-anak tersebut bukan hanya makan, minum dan pakaian saja namun lebih lagi pendidikan baik pendidikan moral maupun pendidikan akademik.                 

Aku hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasannya. Tak lama kemudian setelah menyerahkan bawaan kami, kamipun berpamitan. Dalam perjalanan menuju mobil aku  baru sempat memperhatikan bahwa perkampungan miskin tersebut ternyata sebenarnya bersih dan asri. Disepanjang gang yang sempit itu terlihat berderet, sejajar dengan selokan yang relatif bersih, tanaman hijau yang mulai menampakkan bunganya yang berwarna-warni. Dalam hati aku merasa malu terhadap diriku sendiri sekaligus kagum terhadap kepedulian dan  perhatian masyarakat  yang begitu besar terhadap kebersihan lingkungannya. 

Aku tiba-tiba teringat betapa aku sering merengek kepada ayah-ibuku agar dibelikan segala macam tetek bengek yang kupikir sekarang sebenarnya tidak terlalu penting. Betapa jauhnya perbedaan antara rumah di perkampungan tadi dengan  rumahku. Betapa bedanya prilakuku dengan  prilaku Lukman, padahal ia hanya 3 tahun lebih tua dariku. Dalam usianya yang relatif masih muda, ia telah dapat memberikan manfaat yang begitu banyak terhadap masyarakatnya. Bahkan cita-citanyapun terdengar begitu agung dan mulia. Sungguh malu aku dibuatnya. Aku jadi berpikir alangkah kasihannya kedua orangtuaku terutama ibu yang setiap hari harus kesal melihat kemalasan dan kejorokanku.

Aku berniat dalam hati bahwa mulai detik ini aku harus berubah menjadi Tami yang berbeda. Tami yang rajin dan pembersih. Tami yang peduli terhadap lingkungan dan Tami yang dapat menyenangkan hati kedua orang-tuanya walaupun mereka  tidak mengabulkan rengekannya untuk dibelikan softlens. Karena bila Tami berubah menjadi pribadi yang baik tanpa diminta  ayahibu manapun  pasti akan dengan senang hati mengabulkan permintaan anaknya, tentu saja selama permintaan tersebut tidak mengada-ada dan mereka mampu mengabulkannya. Pasti…..

Eh, Tami… tumben pagi-pagi udah bangun…, mau kemana ?”, selidik ayah sambil menyikat roda motor Harley kesayangannya.  ” Mau basket yah..”, jawabku tersipu sambil tersenyum penuh arti ketika tatapanku bertabrakan dengan tatapan ibu.  ” Ini  baru awal perubahanku”,  janjiku dalam hati penuh tekad. Setelah mengencangkan pengikat  kacamatanya agar tidak mudah terjatuh  Tamipun segera menaikkan tubuhnya ke atas sepeda dan mengayuhnya  dengan rasa lebih optimis memandang perjalanan hidupnya yang masih panjang. ” Suatu hari nanti orang akan mengenangku sebagai seorang dokter perempuan yang gemar membantu rakyat miskin dan orang  kecil ”, bisikku. 

Jakarta, September 2008.

Sylvia  Nurhadi.

Pengantar

Pendahuluan

Bab I Tindak Kekerasan terhadap perempuan dan anak

Bab II Kenakalan anak dan krisis identitas

Bab III   Citra   Perempuan masa kini.

Bab IV Lahirnya gerakan Feminisme .

Bab V Perang Pemikiran, Westernisasi dan dampaknya

Bab VI Perkawinan dan Poligami

Bab VII Perempuan, keluarga dan perannya dalam Islam

Bab VIII Pengaruh dan keteladanan perempuan

Bab IX. Keteladanan Rasulullah SAW

Penutup

Daftar Referensi

KATA PENGANTAR

BAB   I.    PENDAHULUAN

BAB   II.   ASAL USUL MANUSIA

 1. Mitologi asal-usul manusia

2. Teori Darwin dan Temuan DNA

3. Penciptaan Adam as dan sumpah Iblis

BAB  III.   PERSIAPAN BUMI SEBAGAI CIKAL BAKAL TEMPAT TINGGAL MANUSIA

BAB  IV.   PENCIPTAAN ANAK CUCU ADAM AS DAN SUMPAH MANUSIA

BAB  V.    HAK, KEWAJIBAN DAN TUGAS MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH BUMI

BAB  VI. PELAKSANAAN SUMPAH IBLIS UNTUK MENYESATKAN MANUSIA

1.Pembunuhan pertama dimuka bumi

2. Pengkultusan dan penyembahan  dewa-dewa

3. Perang Pemikiran (Al Ghazwl Fikri)

4. Serangan kaum  Munafik

5. Munculnya perpecahan dan nabi-nabi palsu

BAB VII. MENGANTISIPASI GODAAN IBLIS DAN SYAITAN TERKUTUK

1. Jihad psikis / spiritual

2. Jihad fisik / jiwa

BAB VIII  KEPASTIAN JANJI ALLAH SWT

I. ATAS KAUM YANG TAKWA

1.Kekuasaan Yusuf as

2. Kerajaan Fir’aun Akhenaten

3. Dinasti Chou

4. Kerajaan Daud dan  Sulaiman

5. Kerajaan Ratu  Bilqis

6. Kerajaan Axumite, Habasyah-Ethiopia

7. Kekhilafahan Islamiyah

 II. ATAS KAUM YANG MENDUSTAKAN AYAT-AYAT ALLAH SWT

1. Kaum Nabi Nuh as

2. Kaum ’Aad

3. Kaum Tsamud

4. Kaum Madyan

5. Kaum Nabi Luth as

6. Kaum Fir’aun

7. Kaum Tubba’

BAB IX  PERTANGGUNGAN-JAWABAN MANUSIA KEPADA SANG PEMBERI MANDAT

1. Alam Kubur

2. Alam Perhitungan

3. Alam Surga dan Neraka

4. Keluasan Rahmat Allah

BAB X  EPILOG

Lampiran Al ASMAA-ULHUSNA

DAFTAR REFERENSI