Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Kumpulan kisah’ Category

“Wahai saudaraku! Jangan engkau dekati Muhammad itu. Dia orang gila. Dia pembohong. Dia tukang sihir. Jika engkau mendekatinya, engkau akan dipengaruhinya dan engkau akan menjadi seperti dia,” kata seorang pengemis buta Yahudi berulang-ulang kali di satu sudut pasar di Madinah pada setiap pagi sambil tangannya menadah meminta belas orang yang lalu-lalang.

Orang yang lalu-lalang di pasar itu ada yang menghulurkan sedekah kerana kasihan malah ada juga yang tidak mempedulikannya langsung.

Pada setiap pagi, kata-kata menghina Rasulullah SAW itu tidak lekang daripada mulutnya seolah-olah mengingatkan kepada orang ramai supaya jangan terpedaya dengan ajaran Rasulullah SAW. Seperti biasa juga, Rasulullah SAW ke pasar Madinah. Apabila baginda sampai, baginda terus mendapatkan pengemis buta Yahudi itu lalu menyuapkan makanan ke mulutnya dengan lembut dan bersopan tanpa berkata apa-apa.

Pengemis buta Yahudi yang tidak pernah bertanya siapakah yang menyuapkan itu begitu berselera sekali apabila ada orang yang baik hati memberi dan menyuapkan makanan ke mulutnya.

Perbuatan baginda itu dilakukannya setiap hari sehinggalah baginda wafat. Sejak kewafatan baginda, tidak ada sesiapa yang sudi menyuapkan makanan ke mulut pengemis itu setiap pagi.

Pada satu pagi, Saidina Abu Bakar ra pergi ke rumah anaknya, Siti Aisyah yang juga merupakan isteri Rasulullah SAW untuk bertanyakan sesuatu kepadanya.

“Wahai anakku Aisyah, apakah kebiasaan yang Muhammad lakukan yang aku tidak lakukan?”, tanya Saidina Abu Bakar ra sebaik duduk di dalam rumah Aisyah.

“Ayahandaku, boleh dikatakan apa sahaja yang Rasulullah lakukan, ayahanda telah lakukan kecuali satu,” beritahu Aisyah sambil melayan ayahandanya dengan hidangan yang tersedia.

“Apakah dia wahai anakku, Aisyah?”

“Setiap pagi Rasulullah akan membawa makanan untuk seorang pengemis buta Yahudi di satu sudut di pasar Madinah dan menyuapkan makanan ke mulutnya. Sejak pemergian Rasulullah, sudah tentu tidak ada sesiapa lagi yang menyuapkan makanan kepada pengemis itu,” beritahu Aisyah kepada ayahandanya seolah-olah kasihan dengan nasib pengemis itu.

“Kalau begitu, ayahanda akan lakukan seperti apa yang Muhammad lakukan setiap pagi. Kamu sediakanlah makanan yang selalu dibawa oleh Muhammad untuk pengemis itu,” beritahu Saidina Abu Bakar ra kepada anaknya.

Pada keesokan harinya, Saidina Abu BAkar ra membawakan makanan yang sama seperti apa yang Rasulullah SAW bawakan untuk pengemis itu sebelum ini. Setelah puas mencari, akhirnya beliau bertemu juga dengan pengemis buta itu. Saidina Abu Bakar ra segera menghampiri dan terus menyuapkan makanan ke mulut pengemis itu.

“Hei… Siapakah kamu? Berani kamu menyuapku?” Pengemis buta itu mengherdik Saidina Abu Bakar ra. Pengemis buta itu terasa lain benar perbuatan Saidina Abu Bakar ra itu seperti kebiasaan.

“Akulah orang yang selalu menyuapmu setiap pagi,” jawab Saidina Abu Bakar ra sambil memerhatikan wajah pengemis buta itu yang nampak marah.

“Bukan! Kamu bukan orang yang selalu menyuapku setiap pagi. Perbuatan orang itu terlalu lembut dan bersopan. Aku dapat merasakannya, dia terlebih dahulu akan menghaluskan makanan itu kemudian barulah menyuap ke mulutku. Tapi kali ini aku terasa sangat susah aku hendak menelannya,” balas pengemis buta itu lagi sambil menolak tangan Saidina Abu Bakar ra yang masih memegang makanan itu.

“Ya, aku mengaku. Aku bukan orang yang biasa menyuapmu setiap pagi. Aku adalah sahabatnya. Aku menggantikan tempatnya,” beritahu Saidina Abu Bakar ra sambil mengesat air matanya yang sedih.

“Tetapi ke manakah perginya orang itu dan siapakah dia?”, tanya pengemis buta itu.

“Dia ialah Muhammad Rasulullah. Dia telah kembali ke rahmatullah. Sebab itulah aku yang menggantikan tempatnya,” jelas Saidina Abu Bakar ra dengan harapan pengemis itu berpuas hati.

“Dia Muhammad Rasulullah?”, kata pengemis itu dengan suara yang terkedu.

“Mengapa kamu terkejut? Dia insan yang sangat mulia,” beritahu Saidina Abu Bakar ra. Tidak semena-mena pengemis itu menangis sepuas-puasnya. Setelah agak reda, barulah dia bersuara.

“Benarkah dia Muhammad Rasulullah?”, pengemis buta itu mengulangi pertanyaannya seolah-olah tidak percaya dengan berita yang baru didengarnya itu.

“Ya benar. Kamu tidak percaya?”

“Selama ini aku menghinanya, aku memfitnahnya tetapi dia sedikit pun tidak pernah memarahiku malah dia terus juga menyuap makanan ke mulutku dengan sopan dan lembut. Sekarang aku telah kehilangannya sebelum sempat memohon ampun kepadanya,” ujar pengemis itu sambil menangis teresak-esak.

“Dia memang insan yang sangat mulia. Kamu tidak akan berjumpa dengan manusia semulia itu selepas ini kerana dia telah pun meninggalkan kita,” beritahu Saidina Abu Bakar ra.

“Kalau begitu, aku mahu kamu menjadi saksi. Aku ingin mengucapkan kalimah syahadah dan aku memohon keampunan Allah,” ujar pengemis buta itu.

Selepas peristiwa itu, pengemis itu telah memeluk Islam di hadapan Saidina Abu Bakar ra. Keperibadian Rasulullah SAW telah memikat jiwa pengemis itu untuk mengakui ke-Esaan Allah..

 

 

Read Full Post »

Seorang gadis kecil sedang berada di rumah sendirian. Ketika ia melongok keluar jendela, dilihatnya seorang lelaki agaktua menuju pintu rumahnya.

“Siapa gerangan?”, pikirnya.

“Sepertinya bukan orang dari lingkungan sekitar sini”.

Benar, tak lama kemudian terdengar ucapan,”Assalamualaykum “.

“Waálaykum salam”, jawab gadis itu. “Oh, mari silahkan masuk tuan.  Mungkin sebentar lagi orang tua kami juga akan pulang karena setiap Magrib kami selalu shalat berjamaah”.

Tamu itu terpana. Ia mundur selangkah seraya bertanya, « Dimana orang tuamu ? Mengapa gadis kecil sepertimu berani mempersilahkan aku masuk ? Padahal kamu mengenal siapa aku ? »

« Ayah pernah mengatakan bahwa siapa saja yang mengucapkan salam tentu itu orang yang baik. Demikian juga almarhumah ibuku mengatakan, bahwa salam itu berarti mendoakan keselamatan dan memohon berkah Tuhan », jawab gadis kecil itu.

Tamu itu kagum mendengar ucapan gadis kecil itu. Karenanya ia merasa malu dan merasa bertanggung jawab untuk berlaku sopan. Tetapi ia masih ingin menguji gadis kecil itu.

« Apakah engkau tidak merasa takut tinggal di rumah sendirian ? »

« Siapa bilang saya sendirian tuan. Saya dan begitu juga tuan tidak pernah sendirian. Kita semua selalu didampingi pengawal setia Kiraman Katibin, yang akan mencatat segala amal perbuatan kita yang harus kita pertanggung-jawabkan dihari kiamat nanti. Tentu saja tuan lebih tahu dari pada saya », potong gadis kecil itu.

Tamu itu menunduk dan berpikir, « Pantas kampung ini tampak nyaman, aman, bersih, segar karena hampir tiada gerak untuk iblis di sini », gumamnya dalam hati.

Ketika ayah gadis itu pulang, keduanya berjabat tangan dengan akrab. Tuan rumah mengizinkan sang tamu bermalam di rumahnya.

« Disini jauh dari kota.  Jadi yang bisa kami hidangkan hanya susu perasan sendiri. Silahkan tuan, » ucap orangtua tersebut mengeluarkan hidangan seadanya.

« Alhamdulillah !, ucap tamu itu.

« Mari diminim tuan ! », kata tuan rumah.

Setelah keduanya minum susu perahan itu, sang tamu kemudian bertanya, “Berapakah susu yang dapat diperah setiap hari dan berapa ongkosnya ? »

« Kira-kira tiga puluh liter setiap harinya dan tidak pakai ongkos karena rumputnya tinggal dicari dan kami menggembalakannya sendiri. Jadi tidak harus mengeluarkan upah untuk orang lain ».

Tamu itu mengerutkan dahi. “Seharusnya ada upeti buat raja disini karena hasilnya cukup lumayan banyak”, kata sang tamu.

“Tapii …”, sela gadis kecil yang sejak tadi duduk bersama ayahnya itu. “ Semua berkah Tuhan akan sirna jika raja selalu menarik upeti dari rakyat karena itu adalah kezaliman”.

Lagi-lagi sang tamu terperanjat mendengar ucapan gadis kecil itu. Ia merasa seolah-olah disindir.  Alangkah lancangnya mulut anak ini. Gadis yang sejak pertama dikaguminya itu seakan-akan telah membaca suara hati dan niatnya. Sehingga semalaman ia sulit memejamkan mata. Tetapi memang diakuinya betapa tenang dan sederhananya hidup bapak dan anak itu. Tentu saja semuanya ini karena keyakinannya  atas berkah Allah swt.

Pagi harinya seusai shalat Subuh, sang tamu diberi hidangan , makanan dan susu. Tapi tiba-tiba gadis kecil itu masuk dan berkata, “Tak seperti biasanya ayah! Si Bintik tak mau mengeluarkan susu. Biasanya ia yang paling banyak.  Apakah ada niat dari raja untuk menarik upeti kepada kita yang terpencil ini??  Sebab bila raja berbuat zalim, maka berkah Allah swt akan hilang !”, serunya.

Tamu itu amat terkejut. Ia segera keluar bersama gadis itu menuju tempat sapi-sapi diperas, seraya berkata, “Tenangkan hatimu nak, raja tidak akan berbuat zalim.  Aku akan pergi menghadap raja di istana. Akan kulaporkan kejadian disini agar raja menjadi sadar jika ia baik dan berusaha menyejahterakan rakyatnya tentu kita akan terus diberkahi Tuhan”.

“Baiklah,”, kata gadis itu sambil mengangguk.

Baru saja tamu menyelesaikan kalimatnya, dan gadis itu mulai mencoba lagi memerah susu.  Sungguh ajaib, susu itu keluar lagi dengan lancarnya. Ini karena raja telah membatalkan niatnya yang buruk untuk menuntut upeti.

Tanpa sepengetahuan gadis kecil dan ayahnya, ternyata tamu yang menginap semalam tadi tidak lain adalah sang raja yang sedang menyamar melihat-lihat keadaan rakyatnya. Pada mulanya ia memang berniat mencari sumber-sumber baru untuk menarik upeti. Tapi dengan kejadian tersebut sang raja akhirnya membatalkan niatnya.

Demikianlah kiranya kita dapat mengambil pelajaran. Kezaliman seorang pemimpin akan membawa kesengsaraan bagi rakyatnya dan dijauhkan dari berkah Allah swt .

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 6 Februari 2014.

Vien AM.

Diambil dari : « Kisah Keadilan Para Pemimpin Islam », karya Nasiruddin S, Ag,

Read Full Post »

Pada suatu hari, seorang pemburu memasang jaring perangkap untuk memancing burung yang akan ditangkapnya. Jaring yang dipenuhi biji-bijian makanan burung tersebut diletakkannya di tepi sebuah sungai. Sementara ia bersembunyi di balik pohon, menanti  mangsanya.

Tak lama kemudian, datang sekelompok burung dan mulai mematuki biji-bijian tersebut. Si pemburu segera bereaksi hendak menangkap mangsanya. Namun begitu melihat si pemburu datang, burung-burung tersebut segera terbang bersamaan,  membawa serta jaring perangkap milik si pemburu.

Tentu saja si pemburu sangat terkejut atas prilaku burung-burung yang kelihatan bersatu, kompak bekerja sama membawa jaring penuh  biji-bijian tersebut. Didorong rasa penasarannya, maka iapun memutuskan untuk mengejar burung-burung tersebut..

Di tengah jalan ia bersua dengan seseorang.

Hai pemburu, mengapa kamu begitu tergesa-gesa ? Ada apakah gerangan ? », tanyanya heran.

Sambil menunjuk ke arah burung-burung yang sedang terbang di udara, si pemburu menjawab bahwa ia akan menangkap burung-burung tersebut. Laki-laki tersebut langsung tersenyum geli : “” Allah menyertaimu ! Namun yakinkah kamu bisa menangkap mereka ? »

« Kalau saja ada seekor burung yang tertinggal di jaringku, tentu aku tidak akan bersusah payah mengejar mereka. Tapi, ini, lihatlah .. mereka terbang bersama membawa jaring itu ! », jawab si pemburu sambil terus berlari mengejar burung-burung tersebut.

Malampun tiba. Burung-burung tersebut tampak kelelahan dan masing-masing ingin kembali ke sarangnya. Ada yang ingin membawa jaring si pemburu  ke arah hutan. Ada yang ingin ke arah danau. Sebagian lain ingin membawanya ke arah gunung. Yang lain lagi ingin ke arah semak-semak.

Terjadi tarik menarik diantara mereka. Akhirnya jaring tersebutpun robek dan burung-burung tersebut berjatuhan,  terjerat di dalamnya. Si pemburu yang dari tadi bersembunyi dan memperhatikan tingkah laku merekapun segera memanfaatkan kesempatan emas tersebut. Ia cepat berlari dan menangkap burung-burung itu.

Oh betapa malangnya nasib burung-burung itu. Kalau saja mereka mengetahui sabda Rasulullah saw berikut, tentu mereka akan selalu terbang bersama menuju satu tujuan. Hingga tidak akan tertangkap si pemburu yang mengintainya itu.

“Tidaklah terdapat tiga orang dalam satu kampung atau satu pedalaman, dan mereka tidak melaksanakan shalat berjamaah, kecuali syetan menguasai mereka. Maka hendaklah kalian berjamaah, karena sesungguhnya seekor serigala akan memakan domba yang terpisah dari kelompoknya.” (Hr.Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban & Hakim-at Targhib).

Paris, 22 November 2012.

Vien AM.

Diterjemahkan secara bebas dari buku : “40 hadist destines aux enfants et agrementes de recits” oleh Prof Dr M Yasar Kandemir

Read Full Post »

« Newer Posts