Kisah Zulkarnaen.

Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah:

“Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya”.

Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, maka diapun menempuh suatu jalan. Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat.

 Kami berkata:

“Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka”.

 Berkata Dzulqarnain:

“Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami”.

Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu, demikianlah. Dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya.

Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan.

Mereka berkata:

“Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?”

Dzulqarnain berkata:

 ”Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi”.

Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain:

“Tiuplah (api itu)”.

Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata:

 ”Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu”.

Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya.

Dzulqarnain berkata:

“Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar”.

Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya.

( QS.Al-Kahfi(18):83-99).

Catatan:

Dalam tafsir Ibnu Katsir, dikatakan bahwa Zulkarnaen adalah seorang hamba Allah yang hidup pada zaman nabi Ibrahim as. Ia dikabarkan pernah thawaf bersama bapak para nabi ini.  Zulkarnaen adalah seorang pemimpin sholeh yang menguasai belahan dunia barat dan timur. Itu sebabnya ia dijuluki Zulkarnaen yang artinya dua tanduk, maksudnya barat dan timur.

Ia diberi Allah swt kekuasaan untuk berjalan di bumi Allah yang luas ini dan menaklukkan musuh-musuh Allah. Hingga suatu ketika ia sampai di negri di antara dua buah gunung yang bahasanya amat sulit.  Disana hidup Ya’juj dan Ma’juj, orang-orang bengis yang selalu membuat kerusakan di muka bumi. Maka orang-orangpun meminta bantuan Zulkarnaen agar melindungi mereka dari perbuatan jahat keduanya. Yaitu dengan dibuatkannya dinding besi diantara dua gunung yang mereka tempati.

Zulkarnaen kemudian berujar bahwa dinding tersebut akan tetap berdiri kokoh hingga menjelang ditiupnya sangkakala, yaitu hari Kiamat. Ini akan terjadi setelah munculnya Dajjal. Dan ditandai dengan turunnya bangsa tersebut secara cepat dari seluruh tempat-tempat yang tinggi.

” Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi”. (QS. Al-Anbiya(21): 96).

Berdasarkan penafsiran ayat-ayat diatas, diantaranya ‘kaum  yang bahasanya sulit’ dan sejumah hadits diantaranya bahwa Ya’juj dan Ma’juj adalah bangsa bermata sipit, bertubuh pendek dan berprilaku kejam, sejumlah cendekiawan Muslim kontemporer mengaitkannya dengan kemajuan pesat bangsa Cina yang menyerbu seluruh pelosok dunia saat ini.

( Baca : http://vienmuhadisbooks.wordpress.com/2009/10/06/bab-viii-kepastian-janji-allah-swt/ bab raja Akhenaten IV dari Mesir dan dinasti Chou di Cina.).

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 18 Agustus 2011.

Vien AM.

Kisah Nabi Nuh Dalam Menghadapi Kaumnya.

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata):

“Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan.”

Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya:

“Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta”.

Berkata Nuh:

“Wahai kaumku, bagaimana pikiranmu, jika aku ada mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan diberi-Nya aku rahmat dari sisi-Nya, tetapi rahmat itu disamarkan bagimu. Apa akan kamu paksakankah kamu menerimanya, padahal kamu tiada menyukainya?”

Dan (Nuh berkata):

“Wahai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui”.

Dan ( Nuh berkata):

“Wahai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah jika aku mengusir mereka. Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran? Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa): “Aku mempunyai gudang-gudang rezeki dan kekayaan dari Allah, dan aku tiada mengetahui yang ghaib, dan tidak (pula) aku mengatakan: ” Bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat “, dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu: “Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka “. Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang zalim”.

Mereka berkata:

” Wahai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar “.

Nuh menjawab:

” Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri. Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan “.

Malahan kaum Nuh itu berkata:

” Dia cuma membuat-buat nasehatnya saja “.

Katakanlah ( Nuh) :

” Jika aku membuat-buat nasehat itu, maka hanya akulah yang memikul dosaku, dan aku berlepas diri dari dosa yang kamu perbuat “.

Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.

Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.

Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya.

Berkatalah Nuh:

“Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal. ”

Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman:

” Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman. “

Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.

Dan Nuh berkata:

” Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya–sedang anak itu berada di tempat terpencil–:

“Wahai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir. ”

Anaknya menjawab:

” Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah! “

Nuh berkata:

” Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang “.

Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.

Dan difirmankan:

“Wahai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah, “

dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan:

“Binasalah orang-orang yang zalim. ”

Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.”

Allah berfirman:

“Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.”

Nuh berkata:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.”

Difirmankan:

“Wahai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami.”

Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu ( Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.

QS. Hud (11)  : (25- 49)

Wallahuálam bish shawwab.

Jakarta, 7 Agustus 2011.

Vien AM.

P E N D A H U L U A N ( Sirah Nabawiyah)

Mempelajari Islam tidak cukup hanya dengan membaca kitab sucinya saja yaitu Al-Quranul Karim. Mengapa demikian? Ada beberapa penyebab mengapa untuk mengenal ajaran Islam tidak cukup hanya dengan membaca kitab suci agama tersebut.

Al-Quran adalah kitab suci yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad saw melalui perantaraan malaikat Jibril as. Sebelum kitab ini Allah swt pernah menurunkan beberapa kitab kepada para rasul, diantaranya kitab Zabur kepada nabi Daud as, kitab Taurat kepada nabi Musa as dan kitab Injil kepada nabi Isa as Kitab-kita tersebut diturunkan melalui malaikat yang sama, yaitu Jibril as.

Diantara kitab-kitab tersebut terdapat sejumlah perbedaan dan persamaan. Persamaan yang mendasar adalah perintah untuk menyembah hanya kepada Allah swt. Sedangkan perbedaan mencolok terletak dari cara turunnya. Al-Quran turun secara berangsur-angsur, yaitu selama 22 tahun 2 bulan dan 22 hari. Ayat –ayat tersebut turun tidak dengan urutan seperti yang kita lihat saat ini. Malaikat  Jibrillah  yang memberitahukan langsung kepada Rasulullah bagaimana letak dan susunan ayat dalam surat harus diletakkan.

Perumpamaannya adalah seperti rak lemari kosong yang telah diberi sekat, no dan tanda. Kemudian Rasulullah tinggal memasukkan dan menyelipkannya sesuai no dan tanda yang tertera. Susunan Al-Quran yang seperti  ini sesuai dengan kitab yang ada disisi-Nya dan dijaga ketat oleh para malaikat, yaitu yang ada  di Lauh-Mahfuz.

 “Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam. Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al Qur’an ini?” (QS.Al-Waqiyah(56):75-81).

Berkenaan dengan ayat diatas, Ad-Dhahak meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra : ”Al-Quran diturunkan secara keseluruhan dari sisi Allah, dari Lauh  Mahfuz, melalui duta-duta malaikat  penulis wahyu, ke langit dunia, lalu para malaikat tersebut menyampaikannya kepada Jibril secara berangsur-angsur selama 20 malam dan selanjutnya diturunkan pula oleh Jibril as kepada Rasulullah saw  secara berangsur-angsur  selama 23 tahun”. (22 tahun, 2 bulan 22 hari). Itu pula yang ditafsirkan Mujahid, Ikrimah, As-Sidi dan Abu Hazrah.

Ayat-ayat turun begitu saja tanpa penyebab tetapi tidak jarang pula  diturunkan sebagai jawaban suatu permasalahan atau keadaan tertentu dan  bahkan ada yang turun atas pertanyaan pribadi. Ini yang menjadi penyebab utama  mengapa kitab suci ini tidak dapat dibaca layaknya kitab-kitab lain, yaitu dibaca berurut dari depan ke belakang lalu memahaminya secara tekstual.

Untuk dapat  memahami dengan baik apa yang dimaksud ayat-ayat Al-Quran diperlukan pemahaman latar belakang, keadaan dan  suasana ketika ayat turun disamping memahami bahasa Arab, arti secara bahasa maupun secara istilah, khususnya yang berlaku umum pada masa itu. Itulah urgensi mengenal, mengetahui dan memahami  sejarah kehidupan  Muhammad saw, nabi yang mendapat kehormatan untuk menerima kitab suci ini. Itulah yang disebut Sirah Nabawiyah.

Muhammad saw adalah seorang hamba Allah yang sejak kecil bahkan calon ayah ibunyapun telah dipersiapkan secara matang oleh Sang Khalik. Beliau adalah seorang hamba pilihan yang telah ditunjuk secara terhornat untuk mengemban tugas maha berat, yaitu menerima wahyu Allah dan kemudian menyampaikannya kepada umat manusia.  Yang tak lama setelah menunaikan misi suci tersebut dengan sangat memuaskan maka Allahpun memanggilnya. Subhanallah …

Dengan mempelajari Sirah Nabawiyah inilah kita dapat mengetahui makna sebenarnya perintah dan maksud ayat-ayat suci al-Quran. Dengan mempelajari Sirah Nabawiyah kita dapat mengetahui bagaimana Rasulullah memahami dan merespons perintah-perintah Tuhannya. Uniknya, kadang perintah tersebut direspons Rasulullah tidak secara kontekstual. Contohnya  adalah cara berwudhu.

“ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki,… ”. (QS Al-Maidah (5): 6).

Dalam prakteknya Rasulullah menyempurnakan wudhu dengan membasuh tapak tangan, berkumur, memasukkan dan megeluarkan air dari hidung serta membasuk kedua telinga. Dan Allah swt  tidak melarang hal tersebut. Artinya Sang Khalik meridhoi apa yang dilakukan nabi. Jadi selama Allah swt  mendiamkan dan tidak menegur apa yang dilakukan Rasulullah, wajib kita mencontohnya.

Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (QS.An-Nisa(4):80).

Dari sini tampak jelas bahwa  untuk memahami  Al-Quran tidak cukup hanya dengan sekedar membacanya kemudian mengartikan dan  menafsirkannya sesuai pengetahuan dan pengertian akal kita.

Para sahabat yang ketika itu sedang berada di sisi Rasulullah adalah saksi turunnya ayat-ayat. Mereka tahu persis bunyi ayat yang turun karena Rasulullah memang selalu langsung menyampaikan apa yang diterimanya itu. Beliau bahkan memerintahkan mereka untuk segera menghafalnya. Meski demikian dalam penerapannya  mereka tetap mengerjakan apa yang dicontohkan junjungan mereka itu.

Sebaliknya, bila dalam perjalanannya ternyata ada sejumlah perbedaan penafsiran, ini harus dimaklumi. Karena Rasulullah pada awalnya memang  melarang  menuliskan apa yang dikatakan, dikerjakan dan diamnya Rasulullah  karena khawatir bercampur dengan ayat-ayat Al-Quran itu sendiri. Namun Rasulullah  tetap memerintahkan  para sahabat agar mengingat,  mencatat dalam  hati dan kemudian meneruskan serta menyampaikannya kepada yang lain. Yang juga harus diingat, ada saat-saat dalam  keadaan dan situasi tertentu dimana  Rasulullah menyikapinya dengan sikap dan cara berbeda.

Ini yang menjadi penyebab menambahnya perbedaan hadits. Beruntung beberapa tahun setelah wafatnya Rasulullah, sejumlah sahabat dan  para  tabi’in segera memutuskan untuk menuliskannya. Ini dilakukan  demi menjaga agar hadist tetap terjaga ( dengan bermacam perbedaannya) dan tidak makin sering dipalsukan baik sengaja maupun tidak.

Tampaknya ini sudah menjadi sunatullah. Perbedaan selama bukan mengenai hal-hal yang pokok dan masih mengikuti apa yang pernah dicontohkan Rasulullah tetap dibenarkan. Kita tidak boleh saling merasa bahwa kitalah yang benar dan pihak lain salah.

Perbedaan pendapat (di kalangan) umatku adalah rahmat”.(HR. Al-Baihaqi).

Sebaliknya orang  yang suka mencari-cari perbedaan secara sengaja, diantaranya dengan mentakwilkan ayat-ayat Mutasyabihat, Allah melaknatmya. Tempat mereka adalah neraka jahanam. ( Ayat  Mutasyabihat adalah  ayat-ayat yang samar, yang seringkali  membutuhkan pemikiran yang bahkan seringkali memang tidak dapat ditakwilkan. Contohnya adalah “Mim”, “ Nuun”, “ Alif Laam Miim” ) dan yang semacamnya.

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah”.(QS.Ali Imran(3):7).

Rasulullah saw telah lama meninggalkan kita. Demikian pula para sahabat dan para tabi’in beserta generasinya. Allah swt memerintahkan umat Islam tidak hanya mematuhi Allah dan rasul-Nya namun juga para ulil amri atau pemimpin yang menjunjung tinggi ayat-ayat-Nya. Demi mencegah perpecahan dan  memberi  manfaat yang banyak bagi umat, mereka diberi keleluasaan memaknai ayat-ayat suci Al-Quran  dan hadits. Inilah ijma dan istihad yang bisa menjadi rujukan umat.

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.(QS.An-Nisa’(4)59). 

Adalah tugas kita, umat Islam, saat ini,  untuk menjaga kesucian dan keutuhan Al-Quran, isi dan maknanya. Para hafidz adalah garda terdepannya. Sementara kaum Muslimin dan Muslimat, secara keseluruhan, wajib menjaganya minimal dengan mengetahui bagaimana Rasulullah menyikapi dan memaknai isi Al-Quran tersebut. Inilah urgensi mengenal Sirah Nabawiyah.

Wallahu’alam bish shawwab.

 Jakarta, 1 Agustus 2011.

Vien AM.

I. Asal muasal Tahun Gajah.

Adalah Abrahah, seorang penguasa Habasyah (Ethiopia)yang berhasil menguasai Yaman, sebuah negri yang sekarang ini  berada di semenanjung selatan Arabia. Di negri jajahan barunya ini ia membangun sebuah gereja besar yang dinamainya Qullais. Abrahah membangun gereja tersebut  bukan semata-mata sebagai tempat ibadah umat Nasrani.  Ia mempunyai maksud lain.

Hal ini terlihat jelas dalam surat yang dikirimkannya kepada raja Habasyah ketika itu yaitu Najasyi ( Negus).

“ Baginda, kami telah membangun sebuah gereja yang tiada taranya sebelum itu. Kami tidak akan berhenti sebelum dapat mengalihkan perhatian  orang-orang Arab kepadanya dalam  melakukan peribadatan yang selama ini mereka adakan di Ka’bah “.

Ketika itu Ka’bah di Mekkah memang sudah merupakan pusat peribadatan terbesar  di semenanjung Arabia. Mendengar berita ini, seorang Arab yang menjadi penjaga Ka’bah sengaja mendatangi Qullais dengan maksud mempermalukan Abrahah. Ia dikabarkan mengotori bagian-bagian penting gereja megah tersebut dengan tinja.

Tentu saja tindakan tersebut  membuat Abrahah marah besar. Ia bersumpah akan membalas perbuatan kotor tersebut dengan menghancurkan Ka’bah yang dari semula memang sudah dibencinya. Maka berangkatlah Abrahah dengan membawa pasukan gajahnya yang besar menuju Mekkah.

Pasukan Abrahah adalah pasukan yang amat kuat dan sangat  ditakuti musuh. Selama perjalanan pasukan ini berhasil menaklukan orang-orang yang berusaha melawannya. Hingga akhirnya sampailah ia di gerbang  kota  Mekkah tanpa perlawanan yang berarti.

Di tempat ini ia berhadapan dengan penguasa Mekkah yaitu Abdul Mutthalib bin Hasyim, seorang pemuka Quraisy yang disegani. Ialah yang selama ini bertanggung jawab terhadap Ka’bah termasuk pelaksanaan ibadat haji yang telah dikenal sejak dahulu kala. Abrahah mengatakan bahwa kedatangannya ke Mekkah bukan untuk memerangi penduduk Mekkah melainkan untuk menghancurkan Ka’bah. Ia juga menambahkan apabila mereka tidak melawan maka ia tidak akan menumpahkan darah.

 Kami tidak berniat hendak memerangi Abrahah karena kami tidak memiliki kekuatan untuk itu. Rumah suci itu ( Ka’bah) adalah milik Allah yang dibangun oleh nabi Ibrahim as.  Jika Allah  hendak mencegah penghancurannya itu adalah urusan Pemilik Rumah suci itu tetapi jika Allah hendak membiarkannya dihancurkan orang maka kami tidak sangggup mempertahankannya”, begitu jawaban diplomatis  Abdul Mutthalib.

Dengan demikian pasukan Abrahahpun mustinya tanpa hambatan dapat melaksanakan keinginan menggebu-gebu pemimpin mereka untuk menghancurkan bait Allah. Sementara itu Abdul Mutthalib sebagai pemimpin Mekkah hanya dapat memerintahkan penduduk untuk segera pergi dan berlindung.

Namun apa yang kemudian terjadi? Dari balik persembunyian di tebing-tebing tinggi batu cadas yang mengelilingi kota Mekkah, penduduk dengan mata kepala sendiri dapat menyaksikan betapa ribuan burung kecil bernama Ababil berterbangan cepat menuju Ka’bah. Sementara itu ada laporan bahwa gajah-gajah yang dibawa pasukan Abrahah itu mogok.  Ketika gajah dihadapkan kea rah Ka’bah, ia segera bersimpuh dan tidak mau berdiri. Dan ketika ia dihadapkan ke arah Yaman, ia segera lari tergopoh-gopoh.

Yang lebih mencengangkan lagi, burung-burung kecil tersebut masing-masing membawa 3 buah batu kecil. Satu di paruh  dua lainnnya di kaki kanan dan kiri mereka. Anehnya walaupun batu-batu tersebut sebenarnya hanya sebesar biji gandum namun ketika mengenai tubuh orang yang dijatuhinya iapun binasa!

Dalam keadaan panik pasukan Abrahah berlarian kian kemari. Banyak diantara mereka yang meninggal dunia.  Sementara Abrahah sendiri  dalam keadaan luka parah di gotong pasukannya kembali ke negrinya. Darah dan nanah terus mengucur dari sekujur tubuh dan kepalanya. Ia wafat begitu tiba d Shan’a karena jantungnya pecah hingga mengeluarkan banyak darah dari hidung dan mulutnya.

Beberapa tahun kemudian  peristiwa yang makin membuat harum nama bani Quraisy sebagai penjaga Ka’bah yang dilindungi Tuhannya ini diabadikan-Nya dalam salah satu surat Al- Quranul Karim, yaitu surat Al-Fiil yang berarti gajah. Surat ke 105 ini diturunkan di Mekkah.

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka`bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”.

Tahun di waktu terjadi peristiwa tersebut kemudian dinamakan tahun Gajah. Tahun ini bersamaan dengan tahun 571 M. Di tahun inilah Rasulullah Muhammad saw  dilahirkan.

( Bersambung )

II. Silsilah Rasulullah.

“ Allah senantiasa memindahkan diriku dari tulang-tulang sulbi yang baik ke dalam rahim-rahim yang suci, jernih dan terpelihara. Tiap tulang sulbi itu bercabang menjadi dua, aku berada di dalam yang terbaik dari dua tulang sulbi itu “. ( Hadits Syarif).

Muhammad saw lahir dari seorang ibu bernama Aminah binti Wahb. Hadist diatas adalah cerminan bahwa Aminah adalah seorang perempuan yang suci dan terpelihara.  Ayah Aminah adalah seorang terkemuka dari bani Zuhrah.  Moyangnya adalah berasal dari bani ‘Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Sementara moyang ibu Aminah adalah  ‘Abdu ‘Manaf bin Qushaiy bin Kilab. Jadi nasab mereka bertemu di Kilab.

Sementara itu ayah Muhammad saw adalah Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin ‘Abdu ‘Manaf bin Qushaiy bin Kilab. Dari sini dapat kita ketahui bahwa nasab Rasulullah dari pihak ayah dan ibu juga bertemu di Kilab. Mereka adalah  termasuk ke dalam kabilah Quraisy yang dikenal selain sebagai keluarga pedagang yang handal dan sukses juga dihormati sebagai penjaga Ka’bah yang baik dan bijaksana. Kilab sendiri adalah 15 generasi dibawah Adnan, keturunan Ismail as.

Untuk diketahui, menjadi penjaga Ka’bah termasuk menjaga sumber air zam-zam adalah merupakan suatu kehormatan. Itu sebabnya sejak wafatnya nabi Ismail as sekitar 4000 tahun silam perselisihan  dalam rangka merebut hak untuk menjaga rumah yang disucikan tersebut sering kali terjadi. Diantara tugas penting penjaga Ka’bah adalah bertanggung-jawab terhadap kelangsungan upacara haji seperti tawaf, sai, pembagian air zam-zam, pembagian makanan, keamanannya dll.

Tak seorangpun yang tak kenal Abdul Mutthalib. Ia adalah seorang kabilah Quraisy dari bani Hasyim sejati, penjaga Ka’bah yang amat dihormati. Abdul Mutthalib mempunyai 10 orang anak lelaki.  Abdullah adalah yang termuda.

Menurut kabar, tiga puluh tahun sebelum kelahiran Abdullah lelaki gagah ini pernah bernazar bahwa ia akan berkurban dengan menyembelih salah satu putranya bila ia memiliki 10 anak lelaki. Pada waktu itu masyarakat Arab memiliki keyakinan bahwa anak lelaki adalah lambang kehormatan. Sebaliknya anak perempuan adalah lambang kegagalan, kenistaan dan keterpurukan.

“ Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu”.(QS. An-Nahl(16):58-59).

Hingga saat itu nazar tokoh Quraisy ini memang belum dipenuhi walaupun ia telah memilki 10 anak lelaki. Namun orang yang mengenalnya dengan baik yakin bahwa suatu saat nanti pasti Abdul Mutthalib akan melaksanakan nazar tersebut. Bagi masyarakat Arab apalagi bila yang bernazar itu adalah pemuka Mekah dan penjaga Ka’bah, nazar baik itu untuk kebaikan atau keburukan adalah suatu janji tertinggi terhadap Sang Khalik. Menurut keyakinan mereka tidak memenuhi nazar adalah dosa besar. Sementara bagi pemuka masyarakat tidak memenuhi nazar sama dengan mencoreng muka sendiri. Kehormatan adalah taruhannya.

Itu sebabnya suatu hari Abdul Muttahlib mengumpulkan ke 10 anaknya untuk diundi siapa yang harus disembelih. Abdul Mutthalib sebenarnya bukanlah lelaki kasar dan jahat. Ia hanya terikat dengan nazarnya sendiri yang di belakang hari ternyata amat membuatnya tertekan. Ia amat berharap kalau saja undian itu tidak jatuh ke putra bungsunya, Abdullah yang sangat disayanginya itu sudah merupakan keberuntungan yang besar baginya.

Namun apa boleh buat undian justru jatuh kepada Abdullah. Walaupun kecewa, Abdul Mutthalib tetap terlihat tegar melaksanakan nazarnya. Tampak bahwa kecintaannya kepada  Sang Khalik dan harga dirinya lebih tinggi daripada hatinya yang hancur.

Di tengah suasana tegang itulah tiba-tiba terdengar bisik-bisik bahwa masyarakat tidak setuju terhadap perbuatannya itu. Seorang pemuka Quraisy lainnya akhirnya tampil dan mengingatkan bahwa perbuatan Abdul Mutthalib itu dapat menjadi contoh yang tidak baik. Bagaimanapun mereka tidak setuju, menyembelih  anak sendiri apalagi anak lelaki adalah suatu perbuatan yang tidak dapat dibenarkan. Mereka menganjurkan agar Abdul Muthalib segera pergi mencari seorang ahli nujum untuk menanyakan apa yang sebaiknya ia perbuat.

Beruntunglah, ternyata sang ahli nujum yang dipercaya masyarakat itu menganjurkan agar Abdul Mutthalib menebus anak lelaki kesayangannya itu dengan menyembelih 100 ekor unta. Dengan demikian maka Abdul Mutthalibpun bebas dari nazarnya.

Pernikahan dan kehidupan Abdullah bin  Abdul Mutthalib dengan  Aminah binti Wahb.

Abdul Muthalib telah bebas dari nazarnya. Sekarang ia dapat hidup dan berpikir lebih tenang. Abdullah, putra bungsunya telah cukup dewasa. Sudah waktunya ia menikah dan berkeluarga. Sebagai ayah yang baik ia tahu betul siapa jodoh yang paling tepat bagi putranya itu.

Sejak kecil Abdullah telah mengenal Aminah binti Juhra dengan sangat baik. Keluarga Aminah adalah keluarga yang memiliki reputasi baik di mata masyarakat Mekkah. Kedua keluarga telah menjalin hubungan sejak lama. Sebagai ayah yang penuh perhatian, walaupun ia sibuk dengan berbagai urusan kota Mekkah yang dipimpinnya, ia menyadari bahwa putranya itu memiliki perasaan khusus terhadap Aminah. Karena kebiasaan dan adat Arab, keduanya memang sejak lama tidak pernah bertemu lagi. Sesuai adat yang berlaku turun temurun, begitu Aminah menginjak usia remaja, ia tidak lagi dapat keluar rumah secara bebas. Ia dipingit hingga seorang lelaki melamarnya.

Itu sebabnya masyarakat tidak terkejut ketika suatu ketika Abdul Mutthalib datang menemui keluarga Aminah untuk melamarnya. Gayungpun bersambut. Dengan suka cita, atas persetujuan sang gadis, keluarga Aminahpun menerima lamaran tersebut. Maka tanpa menunggu lebih lama lagi menikahlah keduanya.  Tentu saja masyarakat kota Mekkah ikut berbahagia mendengar pernikahan dua anggota kabilah Quraisy dari bani Hasyim dan bani Zuhrah yang mereka hormati tersebut.

Sayangnya bulan madu yang dilalui pasangan muda tersebut amatlah singkat. Tak lebih dari sepuluh hari kemudian tugas telah menanti. Abdullah harus segera kembali bergabung dengan kafilah dagang keluarganya. Mereka akan mengadakan perjalanan jauh  yang telah lama dijalani keluarga besar Quraisy, yaitu ke Syam. Orang-orang Quraisy memang terbiasa pergi berdagang ke utara ( Syam)pada musim panas dan ke selatan ( Yaman ) pada musim dingin.

“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka`bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan”.(QS.Quraisy(106):1-4).

Namun waktu yang amat singkat tersebut bukannya berarti tidak memiliki makna penting. Karena beberapa hari setelah pernikahan Aminah sempat bercerita kepada suaminya tercinta bahwa ia bermimpi melihat sinar terang benderang memancar di sekeliling dirinya. Sinar itu begitu terang hingga seakan ia bisa melihat istana Buchara di Syam. Kemudian ia mendengar suara : “Engkau telah hamil dan akan melahirkan orang termulia di kalangan umat ini”.

Tampaknya mimpi inilah yang menjadi penyemangat hidup Aminah selama kepergian Abdullah. Ia benar-benar menyadari bahwa perjalanan dagang yang dijalani suaminya bakal memakan waktu berminggu-minggu bahkan mungkin bulanan. Ya Aminah harus sabar. Hingga suatu hari di bulan kedua ia mendengar kabar kedatangan rombongan dagang suaminya. Sungguh senang hati Aminah. Ia segera mempersiapkan diri menyambut kepulangan suami tercinta.

Namun kegembiraan itu segera sirna karena ternyata Abdullah tidak berada di antara rombongan tersebut. Abdul Mutthaliblah yang langsung datang mengabarkan bahwa Abdullah tiba-tiba menderita demam tinggi ketika dalam perjalanan pulang. Akhirnya ia terpaksa ditinggalkan di Yatsrib ( Madinah).

“ Tidak usah terlalu khawatir anakku. Suamimu akan segera kembali begitu ia pulih. Aku telah meminta Al-Harits, saudaranya, agar menjaganya selama ia sakit. Bersabarlah Aminah, berdoalah agar ia segera sehat ”, begitu hibur Abdul Mutthalib kepada menantunya.

Tetapi rupanya Allah berkehendak lain. Setelah menanti dua bulan lamanya akhirnya Al-Harits pulang ke Mekkah sendirian dengan membawa kabar duka bahwa adik bungsunya yang baru beberapa bulan lalu lolos dari nazar ayahnya yang mengerikan itu, telah meninggal dunia.

Betapa berdukanya Aminah. Dalam usianya yang masih demikian muda ia harus kehilangan suami yang telah memberinya kebahagiaan walau hanya sejenak. Dan dalam keadaan hamil pula.

( Bersambung )

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.