Feeds:
Posts
Comments

Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah seorang sahabat terdekat Rasulullah saw yang memeluk Islam pada awal ke-Islam-an (Assabiqunal awwalun) dan termasuk satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga ((Asratul Kiraam) berdasarkan hadist berikut :

“Abu Bakar di surga, ‘Umar di surga, ‘Utsman di surga, ‘Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, ‘Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga, Sa’id (bin Zaid) di surga, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah di surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3747 dan Ahmad, 1:193. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).

Silsilah Keluarga.

Nama lengkap Abu Bakar adalah ‘Abdullah bin ‘Utsman bin Amir bin Amru bin Ka’ab bin Sa’ad bin Tayyim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Quraisy. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah saw pada kakeknya yaitu Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai. Ibu Abu Bakar, ummu al-Khair Salma, seperti ayah Abu Bakar, juga berasal dari kabilah bani Taim.

Masa muda dan perkenalannya dengan Muhammad muda.

Abu Bakar lahir di Makkah tahun 573 M, sekitar 2-3 tahun setelah kelahiran Rasulullah. Abu Bakar dikenal sebagai pedagang yang sukses dan dikenal sebagai orang yang jujur dan amanah. Beberapa catatan sejarawan Islam  bahkan mengatakan Abu Bakar juga adalah seorang hakim dengan kedudukan tinggi.

Abu Bakar mengenal Muhammad muda yang ketika itu telah menjadi pedagang yang sukses dan kemudian menikahi Khadijah yang merupakan tetangga Abu Bakar. Ketika itu Rasulullah berusia 25 tahun. Sejak itu mereka sering bertemu dan berteman baik.

Masuk Islamnya Abu Bakar.

Di usianya yang ke 37 tahun, begitu mendengar sahabatnya itu menerima wahyu dan menyatakan bahwa Allah swt telah mengangkatnya sebagai salah seorang Rasul, tanpa ragu Abu Bakarpun langsung mengimaninya. Rasulullah kemudian mengganti nama asli Abu Bakar yang tadinya Abdul Ka’bah yang artinya “hamba Ka’bah” menjadi Abdullah yang artinya ‘hamba Allah”. Dan sejak itulah, Abu Bakar selalu setia mendampingi Rasulullah saw. Iapun membenarkan dan melakukan segala apa yang disabdakan dan dicontohkan Rasulullah.

Dengan penuh keyakinan dan semangat Abu Bakar kemudian mengajak teman-teman dekatnya diantaranya adalah Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam dan Sa’ad bin Abi Waqas untuk memeluk Islam. Ajakannya tersebut diterima dengan baik bahkan di kemudian hari teman-temannya tersebut menjadi tokoh penting dalam Islam. Contohnya Utsman bin Affan yang menjadi khalifah ke 3 setelah Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Sayangnya salah seorang stri dan seorang anak Abu Bakar tidak mau mendengar ajakannya hingga Abu Bakar terpaksa menceraikannya dan berpisah dengan keduanya.

Abu Bakar dengan hartanya yang berlimpah  juga dikenal sering sekali membebaskan dan menebus para budak Muslim yang disiksa tuannya karena keislamannya. Diantaranya adalah Bilal sang Muadzin. 

Paska peristiwa Isra Mi’raj di tahun ke 10  kenabian, sebagian orang yang telah menyatakan Islam tetapi dengan keimanan yang masih lemah, menjadi murtad. Mereka merasa dibohongi karena perjalanan dari Masjidil Haram di Mekah menuju Masjidil Aqsho di Palestina di masa itu, tidak mungkin dilakukan dalam 1 malam. Apalagi untuk pulang pergi. Merekapun mentertawakan dan melecehkan Rasulullah.

Namun tidak demikian dengan Abu Bakar. Ketika orang-orang menanyainya apakah ia mempercayainya, dengan tenang ia menjawab, “ Ya, bahkan aku membenarkannya yang lebih jauh dari itu. Aku percaya tentang wahyu langit yang turun pagi dan petang”. Untuk itu Rasulullah kemudian memberinya gelar As-Shiddiq yang artinya Pembenar Kebenaran ( jujur).

Abu Bakar Al-Muzani , seorang ulama besar dari kalangan tabi’in, berkomentar tentang sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu, “Tidaklah Abu Bakar itu melampaui batas bagi sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (semata-mata) karena (banyaknya) mengerjakan puasa atau shalat, akan tetapi karena iman yang bersemayam di dalam hati.”

Hijrah menemani Rasulullah saw.

Selanjutnya pada persiapan hijah ke Madinah, yaitu pada tahun ke 12 kenabian, secara khusus Rasulullah datang ke rumah Abu Bakar dan memintanya untuk menemani berhijrah.  Abu Bakarpun segera menyanggupi dan menyiapkan 2 unta terbaiknya. Maka pada malam  hari itu bersama Rasulullah Abu Bakar secara diam-diam meninggalkan Mekah melalui jalan berputar yang tidak biasa dilakukan orang. Tujuannya untuk mengecoh orang yang ingin menangkap Rasulullah. Mereka harus extra hati-hati karena penguasa Makkah membuat sayembara siapapun yang bisa menyerahkan Rasulullah dalam keadaan hidup atau mati akan diganjar dengan seratus ekor unta!

Untuk itu Abu Bakar tak lupa menyuruh putranya, Abdullah, untuk mengawasi dan melaporkan pergerakan orang-orang Quraisy di Mekah. Abdullah juga ditugasi untuk mengantar makanan yang disiapkan dua putri Abu Bakar yaitu Asma’ dan Aisyah. Sementara Amir bin Fuhaira, pembantu setianya, bertugas menghapus jejak Abdullah dengan berpura-pura menggembalakan ternak. Selama 3 malam keduanya bersembunyi di sebuah gua kecil di bukit Tsur, di sisi timur kota Makkah.

Ayat 40 surat At-Taubah mengabadikan peristiwa menegangkan tersebut sebagai berikut, Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Dua orang yang dimaksud pada ayat diatas tak lain adalah Rasulullah saw dan Abu Bakar ra yang ketika itu sedang bersembunyi di dalam gua. Mereka dikejar oleh orang-orang Quraisy hingga di gua tempat keduanya bersembunyi. Dari persembunyiannya itulah Abu Bakar melihat kaki orang-orang Qurasy tersebut hingga berkata “Wahai Rasulullah, sekiranya mereka melihat ke bawah telapak kakinya, pasti akan melihat kita”. Namun dengan tenang Rasulullah menjawab: “Wahai Abu Bakar apa yang kamu kira bahwa kita ini hanya berdua; ketahuilah, yang ketiganya adalah Allah yang melindungi kita”.

Sedangkan yang dimaksud tentara yang tidak terlihat pada ayat diatas adalah sarang laba-laba yang menutupi gua dan seekor burung Merpati yang mengerami telurnya persis di mulut gua, tak lama setelah keduanya memasuki gua. Inilah yang menyebabkan orang-orang Quraisy tersebut mengurungkan niatnya untuk memeriksa isi gua.

Pada peristiwa Hijrah tersebut Rasulullah juga dapat merasakan kecintaan Abu Bakar yang amat sangat terhadap diri beliau. Ketika Rasulullah tertidur di atas pangkuan Abu Bakar seekor ular berbisa datang hendak memasuki gua. Abu Bakar melihatnya namun tidak tega membangunkan Rasulullah. Ia segera menjulurkan kakinya di mulut gua dengan maksud menghalangi ular tersebut masuk gua.

Ular tersebut memang tidak jadi masuk gua namun ia mengigit kaki Abu Bakar. Abu Bakar tidak bergerak seraya menahan sakitnya gigitan tersebut. Namun tak urung air matanya menetes dan menjatuhi Rasulullah yang kemudian terbangun.

“Apakah engkau sudah tidak tahan bersamaku?“, tanya Rasulullah terkejut mendapati sahabatnya menangis. “Bukan begitu ya Rasulullah tapi gigitan ular telah membuat kakiku bengkak dan tubuhku serasa sakit”, jawab Abu Bakar.

Segera Rasulullahpun meludahkan air liurnya ke kaki Abu Bakar yang digit ular sambil mendoakannya. Maka seketika itu pula kakinya yang membengkak menjadi kempes dan rasa sakitnyapun hilang.

Sekiranya aku diijinkan oleh Allah untuk menjadikan seseorang sebagai khalil (kekasih), niscaya aku jadikan Abu Bakar sebagai khalilku (kekasihku), akan tetapi ia adalah saudara dan sahabatku, sedangkan Allah yang menjadikan sahabat kalian ini (diriku) sebagai khalilnya”. (HR. Bukhari, no. 3656 dan Muslim, no. 2383).

( Bersambung).

“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang petama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dengan mereka dan mereka ridho kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (Qs At-Taubah : 100)

Berikut 10 orang sahabat Rasul yang dijamin masuk surga (Asratul Kiraam).

1. Abu Bakar Siddiq ra.

Beliau adalah khalifah pertama sesudah wafatnya Rasulullah Saw. Selain itu Abu bakar juga merupakan laki-laki pertama yang masuk Islam, pengorbanan dan keberanian beliau tercatat dalam sejarah, bahkan juga didalam Quran (Surah At-Taubah ayat ke-40) sebagaimana berikut : “Jikalau tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seseorang dari dua orang (Rasulullah dan Abu Bakar) ketika keduanya berada dalam gua, diwaktu dia berkata kepada temannya:”Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita”.

Maka Allah menurunkan ketenangan kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Abu Bakar Siddiq meninggal dalam umur 63 tahun, dari beliau diriwayatkan 142 hadiets.

2. Umar Bin Khatab ra.

Beliau adalah khalifah ke-dua sesudah Abu Bakar, dan termasuk salah seorang yang sangat dikasihi oleh Nabi Muhammad Saw semasa hidupnya. Sebelum memeluk Islam, Beliau merupakan musuh yang paling ditakuti oleh kaum Muslimin. Namun semenjak ia bersyahadat dihadapan Rasul (tahun keenam sesudah Muhammad diangkat sebagai Nabi Allah), ia menjadi salah satu benteng Islam yang mampu menyurutkan perlawanan kaum Quraish terhadap diri Nabi dan sahabat. Dijaman kekhalifaannya, Islam berkembang seluas-luasnya dari Timur hingga ke Barat, kerajaan Persia dan Romawi Timur dapat ditaklukkannya dalam waktu hanya satu tahun. Beliau meninggal dalam umur 64 tahun karena dibunuh, dikuburkan berdekatan dengan Abu Bakar dan Rasulullah dibekas rumah Aisyah yang sekarang terletak didalam masjid Nabawi di Madinah.

3. Usman Bin Affan ra.

Khalifah ketiga setelah wafatnya Umar, pada pemerintahannyalah seluruh tulisan-tulisan wahyu yang pernah dicatat oleh sahabat semasa Rasul hidup dikumpulkan, kemudian disusun menurut susunan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Saw sehingga menjadi sebuah kitab (suci) sebagaimana yang kita dapati sekarang. Beliau meninggal dalam umur 82 tahun (ada yang meriwayatkan 88 tahun) dan dikuburkan di Baqi’.

4. Ali Bin Abi Thalib ra.

Merupakan khalifah keempat, beliau terkenal dengan siasat perang dan ilmu pengetahuan yang tinggi. Selain Umar bin Khatab, Ali bin Abi Thalib juga terkenal keberaniannya didalam peperangan. Beliau sudah mengikuti Rasulullah sejak kecil dan hidup bersama Beliau sampai Rasul diangkat menjadi Nabi hingga wafatnya. Ali Bin Abi Thalib meninggal dalam umur 64 tahun dan dikuburkan di Koufah, Irak sekarang.

5. Thalhah Bin Abdullah ra.

Masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar Siddiq ra, selalu aktif disetiap peperangan selain Perang Badar. Didalam perang Uhud, beliaulah yang mempertahankan Rasulullah Saw sehingga terhindar dari mata pedang musuh, sehingga putus jari-jari beliau. Thalhah Bin Abdullah gugur dalam Perang Jamal dimasa pemerintahan Ali Bin Abi Thalib dalam usia 64 tahun, dan dimakamkan di Basrah.

6. Zubair Bin Awaam

Memeluk Islam juga karena Abu Bakar Siddiq ra, ikut berhijrah sebanyak dua kali ke Habasyah dan mengikuti semua peperangan. Beliau pun gugur dalam perang Jamal dan dikuburkan di Basrah pada umur 64 tahun.

7. Sa’ad bin Abi Waqqas

Mengikuti Islam sejak umur 17 tahun dan mengikuti seluruh peperangan, pernah ditawan musuh lalu ditebus oleh Rasulullah dengan ke-2 ibu bapaknya sendiri sewaktu perang Uhud. Meninggal dalam usia 70 (ada yang meriwayatkan 82 tahun) dan dikuburkan di Baqi’.

8. Sa’id Bin Zaid

Sudah Islam sejak kecilnya, mengikuti semua peperangan kecuali Perang Badar. Beliau bersama Thalhah Bin Abdullah pernah diperintahkan oleh rasul untuk memata-matai gerakan musuh (Quraish). Meninggal dalam usia 70 tahun dikuburkan di Baqi’.

9. Abdurrahman Bin Auf

Memeluk Islam sejak kecilnya melalui Abu Bakar Siddiq dan mengikuti semua peperangan bersama Rasul. Turut berhijrah ke Habasyah sebanyak 2 kali. Meninggal pada umur 72 tahun (ada yang meriwayatkan 75 tahun), dimakamkan di baqi’.

10. Abu Ubaidillah Bin Jarrah

Masuk Islam bersama Usman bin Math’uun, turut berhijrah ke Habasyah pada periode kedua dan mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah Saw. Meninggal pada tahun 18 H di urdun (Syam) karena penyakit pes, dan dimakamkan di Urdun yang sampai saat ini masih sering diziarahi oleh kaum Muslimin.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 7 Juli 2024.

Vien AM.

Sumber : dakwatuna.com

Thalhah bin Ubaidillah ra adalah 1 dari 10 sahabat  yang disebut Rasulullah saw sebagai calon penghuni surga sebagaimana hadist berikut,

“Abu Bakar masuk surga, Umar masuk surga, Utsman masuk surga, Ali masuk surga, Thalhah masuk surga, Zubeir masuk surga, Abdurrahman bin ‘Auf masuk surga, Sa’ad masuk surga, Sa’id masuk surga dan Abu Ubaidah bin Jarrah masuk surga.” [HR At Tirmidzi (3747), hadits shahih.]

Thalhah bersama ke 9 sahabat yang dijamin masuk surga tersebut di atas, dan sejumlah sahabat lain juga termasuk dalam golongan As-Sabiqunal Al-Awwalun atau orang-orang yang pertama kali masuk Islam. Bahkan masuk dalam 8 orang pertama yang memeluk Islam. Melalui ayat 100 surat At-Taubah Allah swt secara gamblang menyebutkan bahwa Allah swt menyediakan surga bagi mereka. 

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”

Masuk islamnya Thalhah.

Thalhah adalah seorang pemuda Quraisy dengan nasab Thalhah bin Ubaidillah bin Ustman bin Amru bin Ka’ab hingga sampai pada Ka’ab bin Lu’ai yang merupakan leluhur Rasulullah saw. Kisah keislaman Thalhah yang ketika itu baru berusia 15 tahun dimulai ketika ia sebagai seorang pedagang  muda pergi ke Syam bersama rombongan kafilah dagangnya. Di kota Bushra, Thalhah mengalami peristiwa menarik yang mengubah garis hidupnya.

Ia melihat seorang pendeta berteriak-teriak,”Wahai para pedagang, adakah di antara tuan-tuan yang berasal dari kota Makkah?”.

Ya, aku penduduk Makkah,” sahut Thalhah.

“Sudah munculkah orang di antara kalian orang bernama Ahmad?” tanyanya.

“Ahmad siapa?”, tanya Thalhah keheranan.

Ahmad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Bulan ini pasti muncul sebagai Nabi penutup para Nabi. Kelak ia akan hijrah dari negerimu ke negeri berbatu-batu hitam yang banyak pohon kurmanya. Ia akan pindah ke negeri yang subur makmur, memancarkan air dan garam. Sebaiknya engkau segera menemuinya wahai anak muda”, sambung pendeta itu.

Ucapan pendeta itu begitu membekas di hati Thalhah bin Ubaidillah, hingga tanpa menghiraukan kafilah dagang di pasar ia langsung pulang ke Makkah. Setibanya di Makkah, ia langsung bertanya kepada keluarganya,”Ada peristiwa apa sepeninggalku?”. “Muhammad bin Abdullah mengatakan dirinya Nabi dan Abu Bakar As Siddiq telah mempercayai dan mengikuti apa yang dikatakannya,” jawab mereka.

Aku kenal Abu Bakar. Dia seorang yang lapang dada, penyayang dan lemah lembut. Dia pedagang yang berbudi tinggi dan teguh. Kami berteman baik, banyak orang menyukai majelisnya, karena dia ahli sejarah Quraisy,” gumam Thalhah bin Ubaidillah.

Segera Thalhah mencari Abu Bakar As Siddiq. “Benarkah Muhammad bin Abdullah telah menjadi Nabi dan engkau mengikutinya?” “Betul.” Abu Bakar As Siddiq menceritakan kisah Muhammad sejak peristiwa di gua Hira’ sampai turunnya ayat pertama. Abu Bakarpun mengajak Thalhah untuk masuk Islam. Usai Abu Bakar bercerita, Thalhah menceritakan pertemuannya dengan pendeta Bushra. Abu Bakar tercengang. Lalu ia mengajak Thalhah untuk segera menemui Muhammad dan menceritakan peristiwa yang dialaminya dengan pendeta Bushra. Di hadapan Rasulullah, Thalhah bin Ubaidillah langsung mengucapkan dua kalimat syahadat.

Masuk Islamnya Thalhah di lingkungan keluarganya bagai petir di siang hari bolong. Mereka terutama sang ibu  tidak mengira putranya yang dikenal santun tersebut secepat itu mengakui Muhammad sebagai seorang rasul bahkan langsung mengikutinya. Ibu dan seluruh keluarga besar beserta seluruh anggota  sukunya berusaha mengeluarkan Thahlah dari Islam.

Mulanya mereka bertindak dengan cara halus. Namun karena Thalhah tak sedikitpun goyah merekapun bertindak kasar. Mereka menyiksanya dengan berbagai cara. Dengan tangan terbelenggu di leher, Thalhah digiring, dan disepanjang jalan orang-orang mendorong, memecut dan memukuli kepalanya. Tak terkecuali ibunya yang sudah tua, terus berteriak mencaci makinya. Tentu saja Thalhah sangat sedih dan kecewa namun ia tetap bertahan. Walau akhirnya dalam waktu yang tak terlalu jauh, sang ibu dan saudara-saudaranya juga memeluk Islam.

Suatu hari pernah seorang lelaki Quraisy menyeret Abu Bakar As Siddiq dan Thalhah bin Ubaidillah. Kemudian mengikat keduanya menjadi satu dan seorang algojo mengeksekusi keduanya hingga darah mengalir dari tubuh sahabat yang mulia ini. Peristiwa menyedihkan ini di kemudian hari menjadikan keduanya digelari Al-Qarinain atau sepasang sahabat yang mulia.

Keteguhan iman dan keberanian Thalhah.

Selain itu berkat keteguhan dan perjuangannya dalam menegakkan Islam Thalhah yang gagah berani mendapat banyak gelar, diantaranya yaitu Assyahidul Hayy yang artinya syahid yang hidup. Gelar kehormatan tersebut didapat pemuda berbadan tegap dan kekar tersebut berkat perjuangan dalam perang Uhud. Ketika itu ia bersama sejumlah sahabat berusaha mati-matian melindungi Rasulullah dari kepungan musuh yang penuh rasa dendam ingin melumat Rasulullah dan tentara Muslimin karena  kekalahan musuh pada perang sebelumnya, yaitu perang Badar. 

Perang yang terjadi pada tahun ke 3H itu nyaris dimenangkan pasukan Islam. Padahal jumlah tentara musuh jauh lebih besar ( 3000 personil) dibanding pasukan Muslim yang hanya 700 orang. Sayang kemudian berbalik akibat kelalaian 43 dari 50 pemanah yang bertugas melindungi kaum Muslimin di atas bukit tergiur oleh harta milik musuh yang tercecer di hadapan mereka. Padahal berkali-kali Rasulullah mengingatkan mereka untuk tetap berjaga pada tempatnya apapun yang terjadi.

Pasukan Quraisy dibawah panglima Khalid bin Walid yang ketika itu belum memeluk Islam berhasil menyerang balik dari arah belakang pasukan panah yang sibuk memunguti harta musuh. Keadaan menjadi kacau balau hingga membahayakan posisi Rasulullah yang berada di atas bukit. Para sahabat segera berusaha menyelamatkan Rasulullah. Akan tetapi sangat sulit bagi para sahabat untuk berkumpul di satu posisi.  Akhirnya mereka terpaksa berpencaran.

Dalam keadaan genting, Thalhah yang berada paling dekat dengan Rasulullah melihat Rasulullah bersimbah darah. Dua mata besi menancap pada pipi Rasulullah hingga mematahkan gigi dan merobek bibir bawah dan kening Rasulullah. Thalhah segera melompat ke arah Rasul. Dipeluknya Rasulullah dengan tangan kiri dan dadanya. Sementara pedang yang ada ditangan kanannya ia ayunkan ke arah lawan yang mengepungnya dari segala arah.

Akhirnya Rasulullah dapat diselamatkan dari amukan musuh. Thalhah memapahnya ke tempat yang aman dan bersembunyi di atas bukit Uhud. Tapi tak urung lebih dari tujuh puluh tikaman pedang dan panah melukai Thalhah, dan satu jari tangannya putus. Karena inilah, ia mendapat gelar Asy-Syahidu Hayyu atau seorang syahid yang hidup akibat banyak yang mengira bahwa Thalhah telah syahid, namun ternyata masih hidup.

Sementara di medan pertempuran pasukan Muslim bertempur mati-matian. Saking kacaunya, ada pasukan muslim yang membunuh muslim lainnya. Hal itu lantaran terjadi penyerangan dari depan dan belakang. Pada saat itu terlihat Mushab bin Umair yang mempunyai perawakan dan wajah mirip Rasulullah terbunuh dengan bendera perang d tangan.

Rupanya begitulah cara Allah swt menyelamatkan pasukan Muslimin. Yaitu dengan dimasukkannya persangkaan ke hati pasukan Musyirik bahwa Rasulullah telah tewas hingga merekapun kegirangan dan pulang meninggalkan medan perang.

Sementara itu di atas bukit, dalam keadaan luka parah Thalhah terus menciumi tangan, tubuh dan kaki Rasulullah seraya berkata, “Aku tebus engkau Ya Rasulullah saw dengan ayah ibuku.” Nabi SAW tersenyum dan berkata, ” Engkau adalah Thalhah kebajikan.” Di hadapan para sahabat Nabi SAW bersabda, “Keharusan bagi Thalhah adalah memperoleh.” Yang dimaksud nabi SAW adalah memperoleh surga.

Sejak peristiwa Uhud itulah Thalhah mendapat julukan selain Assyahidul Hayy, juga “Burung elang hari Uhud” dan “Sang Perisai Rasulullah”. Terlihat jelas betapa tinggi keimanan, keikhlasan, pengorbanan serta  dan kecintaan Thalahah pada Islam dan Rasulnya.  Thalhah tercatat merupakan salah seorang sahabat yang selalu ikut berperang bersama Rasulullah. Kecuali dalam Perang Badar karena Rasulullah menugaskannya bersama Sa’id bin Zaid menuju Syam.

Kedermawanan Thalhah.

Selain dikarunia Allah swt kekuatan dan badan yang kekar, wajah yang tampan menyerupai Rasulullah, Allah swt juga menganugerahi Thalhah kemampuan berdagang yang mumpuni. Kekayaan Thalhah tidak kalah dengan Abdurahman bin Auf yang dikenal kaya raya.  Sama dengan Abdurrahman, Thalhah dikenal sebagai seorang yang sangat dermawan hingga dijuluki  Thalhah Al-Jaud (Thalhah yang pemurah) serta Thalhah Al-Fayyadh atau Thalhah yang dermawan. Gelar ini diberikan langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Salah satu contohnya adalah ketika suatu hari ia membawa keuntungan dagang yang sangat besar yaitu 700 ribu dirham (setara dengan Rp 35 milyar sekarang). Malamnya bukannya tidur nyenyak seperti kebanyakan orang, Thalhah justru merasa tidak tenang dan gelisah. Melihat hal itu, istri Thalhah pun bingung dan menanyakan apa gerangan yang terjadi hingga kemudian bertanya, “Mengapa begitu gelisah, apakah aku melakukan suatu kesalahan?”

Thalhah menjawab, “Engkau tidak melakukan kesalahan apapun, hanya saja terdapat sesuatu yang mengganggu pikiranku. Pikiran yang tidak tenang sebagai hamba karena ada harta yang tertumpuk di rumahnya.”

Istri Thalhahpun menjawab, “Mengapa sampai risau begitu, bukankah masih banyak yang membutuhkan pertolongan melaluimu?” Dia melanjutkan, “Bagikanlah saja uang tersebut esok hari pada orang-orang yang membutuhkan.”

Thalhah begitu bahagia mendapati jawaban penuh bijak dari istrinya itu. Dia berkata, “Semoga Allah selalu merahmatimu. Sungguh, kau adalah wanita yang mendapatkan taufik Allah.

Esoknya Thalhah membagikan keuntungan perniagaannya tersebut pada fakir miskin. Selain itu ia juga menggunakan uangnya untuk pernikahan anak-anak muda di keluarganya dan mencukupi kebutuhan keluarga yang tidak mampu.

Kedermawanan Thalhah juga terlihat ketika terjadi masalah dengan Abdurrahman bin Auf, salah satu sahabat dari 10 sahabat yang juga dijamin masuk surga.  Alkisah Abdurrahman dan Thalhah mempunyai sebidang tanah yang letaknya bersebelahan. Suatu hari Abdurrahman bermaksud mengairi tanahnya lewat tanah Thalhah. Tapi oleh suatu sebab Thalhah tidak mengizinkannya. Abdurrahmanpun mengadukan hal tersebut kepada Rasulullah saw. Namun apa jawaban Rasulullah ?

“Bersabarlah, Thalhah adalah seseorang yang telah wajib baginya surga”. 

Abdurahmanpun menahan diri. Ia lalu mendatangi Thalhah dan mengabarkan apa yang disampaikan Rasulullah. Medengar itu, dengan suka cita Thalhah berseru, “Aku bersaksi kepada Allah, dan kepada Rasullulah  bahwa harta itu menjadi milikmu wahai saudaraku”.

Wafatnya Thalhah bin Ubaidillah.

Paska wafatnya Rasulullah saw, apalagi setelah wafatnya khalifah Abu Bakar ra dan terbunuhnya khalifah Umar bin Khattab ra, kondisi kehidupan kaum muslimin menjadi sangat kacau. Terjadi kerusuhan besar akibat fitnah mengerikan yang mengakibatkan terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan ra yang menggantikan Umar.  Ali bin Abi Thalib ra kemudian diangkat menggantikan Ustman.

Namun orang-orang munafik terus menebar fitnah dan hasutan, mereka mengadu domba umat Islam sehingga terjadilah peperangan yang dinamakan perang Jamal yang membuat umat terpecah menjadi 2, yaitu antara yang memihak Aisyah ra dan yang memihak Ali bin Thalib ra. Dengan suatu alasan yang diyakininya, Thalhah memilih berada di pihak Aisyah ra.

Dalam perang tersebut banyak korban berjatuhan. Khalifah Ali menangis dan menghentikan peperangan meskipun saat itu dalam keadaan menang. Ali selain meminta Aisyah yang kemudian menyesal mengapa harus berperang dengan Ali untuk berdamai, , juga meminta Thalhah dan Zubair yang juga berpihak kepada Aisyah ra, untuk hadir melakukan perdamaian. Ali mengingatkan Thalhah dan Zubair akan berbagai hal termasuk sabda-sabda Rasulullah tentang mereka bertiga. Thalhah dan Zubair menangis mendengarkan perkataan Ali.

Thalhah dan Zubair akhirnya memutuskan untuk mundur dan menghentikan pertempuran. Kemudian keduanya menemui pasukannya. Akan tetapi, orang-orang munafik tidak puas dengan keputusan ini. Maka merekapun membunuh kedua sahabat tersebut dengan cara memanah mereka. Karena luka yang sangat dalam dan darah yang terus mengalir deras Thalhah bin Abu Ubaidillah, Sang Perisai Rasul akhirnya meninggal dunia. Ia wafat  dalam usia 64 tahun, dan dimakamkan di Basrah. Tragedi memilukan tersebut menambah kedukaan yang amat mendalam bagi kaum Muslimin.  

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 31 Agustus 2023.

Vien AM.

Saad bin Abi Waqqash adalah 1 dari 10 sahabat yang dijamin surga. Ia lahir dari keluarga bangsawan Quraisy yang kaya raya. Sa’ad bin Abi Waqqash bin Wuhaib bin Abdi Manaf adalah paman Rasulullah SAW meski usianya jauh lebih muda, ia lahir di Mekkah pada tahun 595 M. Wuhaib adalah kakek Sa’ad sekaligus paman dari Aminah binti Wahab, ibunda Rasulullah. 

Aku adalah orang ketiga yang paling dulu masuk Islam, dan aku adalah orang yang pertama kali memanah musuh di jalan Allah”, demikianlah Sa’ad yang sejak muda belia hobby memanah memperkenalkan dirinya dengan bangga. Hobby yang mampu mengajarkan bahwa hidup harus mempunyai target dan tujuan yang jelas. Dengan tepat Sa’ad mampu melepas 8 anak panah sekaligus ke 8 sasaran yang berbeda. Tak salah bila ia dikenal sebagai pemuda yang serius, cerdas dan tenang. Sungguh benar apa yang dikatakan Rasulullah saw,

Rasulullah SAW bersabda, “Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang, dan memanah”. (HR Bukhari dan Muslim). Sementara, dalam kesempatan lain, Rasullullah bersabda, “Lemparkanlah (panah) dan tunggangilah (kuda).”(HR Muslim).

Karakternya inilah yang berhasil membukakan pintu Islam baginya. Disamping tentunya karena ia telah mengenal pamannya yang dikenal jujur dan amanah. Sa’ad sudah sering bertemu Rasulullah sebelum beliau diutus menjadi nabi. Abu Bakar yang memperkenalkan Islam padanya. Ia langsung menerima ajakan sahabat nabi tersebut. Padahal ketika itu ia baru berusia 17 tahun, usia dimana jiwa sering memberontak demi menunjukkan jati dirinya. Sa’ad menyatakan keislamannya bersama beberapa orang sahabat lainnya yaitu Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam yang ketika itu berusia 16 tahun serta Thalhah bin Ubaidillah di usia 14 tahun.

Sa’ad adalah seorang pemuda yang sangat patuh dan taat kepada ibu yang sangat ia cintai dan hormati. Dan ibunya, seorang pemeluk setia agama nenek moyangnya yang menjadikan berhala sebagai sesembahan, tahu benar hal tersebut. Itu sebabnya ketika mengetahui Sa’ad memeluk Islam ia mogok makan  dengan harapan putranya luluh dan mau membatalkan keislamannya demi sang ibu tercinta.

Namun apa yg dikatakan Saad?

Wahai Ibu, demi Allah, andai engkau memiliki tujuh  puluh nyawa yang keluar satu demi satu, maka aku tetap tidak akan meninggalkan agamaku untuk selama-lamanya.”

Mendengar keteguhannya, akhirnya ibunyapun pasrah. Tak salah bila kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan Sa’ad sebagai orang yang menyebabkan turunnya  ayat 15 surat Lukman sbb:

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.”

Setelah memeluk Islam, dengan kekuatan fisiknya Saad berjuang gigih membela ajarannya. Ditambah dengan akal yang selalu diasah mengantarkannya ke puncak karirnya, dengan izin Allah swt tentunya. Rasulullah SAW sangat bangga atas keberanian, kekuatan serta ketulusan iman keponakannya tersebut. Tak jarang nabi bersabda, “Ini adalah pamanku, perlihatkan kepadaku paman kalian!” “Lepaskanlah panahmu, wahai Sa’ad! Tebusanmu adalah ayah dan ibuku!” kata Rasulullah saat Perang Uhud.

Sa’ad bin Abi Waqqash juga dikenal sebagai seorang sahabat yang doanya senantiasa dikabulkan Allah SWT. Qais meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Ya Allah, kabulkanlah Sa’ad jika dia berdoa.” “Ya Allah, tepatkanlah lemparan panahnya dan kabulkanlah doanya,”. Abdurrahman bin Auf menjuluki Sa’ad bin Abi Waqqash dengan singa yang menyembunyikan kukunya.

Meski demikian, Sa’ad adalah orang yang sering menangis karena takut kepada Allah. Setiap kali mendengar Rasulullah memberi nasihat dan berkhutbah di hadapan para sahabat, maka air matanya selalu berlinang.

Ia tergolong ke dalam orang-orang yang pertama masuk Islam atau Assabiqunal Awwalun. Suatu hari di hadapan para sahabat, Rasulullah  berujar, “ Sesaat lagi akan datang kepada kalian seorang laki-laki penduduk surga,” tutur Rasulullah.

Tak lama, muncul Sa’ad bin Abi Waqqash bergabung dengan para sahabat. Abdullah bin Amr bin ‘Ash suatu hari meminta Sa’ad agar mau menunjukkan ibadah dan amalan istimewa apa yang kira-kira dapat menyebabkan Rasulullah menyebutnya sebagai penghuni surga.

“Tidak lebih dari amal ibadah yang biasa kita lakukan. Namun, aku tidak pernah menyimpan dendam maupun niat jahat kepada siapapun,” kata Sa’ad.

Sa’ad pernah menjabat sebagai penglima perang bersama Khalid bin Walid ra dalam penaklukan Persia dan membebaskan ibu kotanya, Kisra. Ia juga pernah menjadi amir (gubernur) di Kufah Persia. Pada tahun 651M, khalifah Ustman bin Affan ra mempercayakan Sa’ad sebagai duta negara untuk tanah Tiongkok. Ia menjalankan tugas tersebut dengan sangat baik hingga ajaran Islampun mampu menyebar di negri tirai bambu tersebut. Sa’ad diterima kaisar Gaozong, penguasa Dinasti Tang saat itu dengan tangan terbuka.

Lui Tschih seorang penulis Muslim China yang hidup pada abad 18 , dalam karyanya Chee Chea Sheehuzoo (Perihal Kehidupan Nabi) menuliskan bahwa Islam dibawa ke China oleh rombongan yang dipimpin Saad bin Abi Waqqas.

Catatan lain menyebutkan, Islam pertama kali datang ke China dibawa oleh Sa’ad bin Abi Waqqas yang datang dari Abyssinia (sekarang Etiopia), bersama 3 sahabat lainnya pada 616 M. Sa’ad kemudian kembali lagi ke China 21 tahun kemudian, pada masa pemerintahan Utsman bin Affan. Ia datang dengan membawa salinan Alquran.

Utsman pada masa kekhalifahannya memang menyalin Alquran dan menyebarkannya ke berbagai tempat, demi menjaga kemurnian kitab suci tersebut. Pada kedatangannya yang kedua tersebut, Sa’ad berlayar melalui Samudera Hindia ke Laut China menuju pelabuhan laut di Guangzhou. Dari sana kemudian ia berlayar ke Xi’an melalui rute yang kemudian dikenal sebagai Jalur Sutera.

Sa’ad datang dengan membawa hadiah dan diterima dengan hangat oleh kaisar Dinasti Tang, Gaozong (650-683). Namun Islam sebagai agama tidak langsung diterima oleh sang kaisar. Setelah melalui proses penyelidikan, sang kaisar kemudian memberikan izin bagi pengembangan Islam yang dirasanya cocok dengan ajaran Konfusius.  

Namun sang kaisar merasa bahwa kewajiban shalat lima kali sehari dan puasa sebulan penuh terlalu keras baginya hingga akhirnya ia tidak jadi memeluk Islam. Meski demikian, ia mengizinkan Sa’ad bin Abi Waqqas dan para sahabat untuk mengajarkan Islam kepada masyarakat di Guangzhou.

Sa’ad kemudian menetap di Guangzhou dan ia mendirikan Masjid Huaisheng yang menjadi salah satu tonggak sejarah Islam paling berharga di China. Masjid ini menjadi masjid tertua yang ada di daratan China dan usianya sudah melebihi 1300 tahun. Masjid ini terus bertahan melewati berbagai momen sejarah China dan saat ini masih berdiri tegak dan masih seindah dahulu setelah diperbaiki dan direstorasi.

Masjid Huaisheng ini kemudian dijadikan Masjid Raya Guangzhou Remember the Sage, atau masjid untuk mengenang Nabi Muhammad SAW. Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Guangta, karena masjid dengan menara elok ini letaknya di jalan Guangta.

Sejarah mencatat, hari-hari terakhir Sa’ad bin Abi Waqqash adalah ketika ia memasuki usia 80 tahun. Dalam keadaan sakit, Sa’ad berpesan kepada para sahabatnya agar ia dikafani dengan jubah yang digunakannya dalam Perang Badar, perang kemenangan pertama untuk kaum Muslimin.

Sa’ad menghembuskan nafas yang terakhir pada tahun 55 H di Madinah, dengan meninggalkan kenangan indah dan nama yang harum. Ia dimakamkan di pemakaman Baqi’, makamnya para syuhada. Namun pendapat lain mengatakan bahwa Saad meninggal di Guangzhou, China dimana ia menghabiskan sisa hidupnya, Sebuah pusara di kota tersebut diyakini sebagai makamnya.

Meski tidak diketahui secara pasti dimana Saad bin Abi Waqqas meninggal dan dimakamkan dimana, namun dipastikan ia memiliki peranan penting terhadap perkembangan Islam di China. Hikmah yang dapat kita ambil dari keberhasilan dakwah Sa’ad, yaitu pentingnya menguasai Bahasa dan adat kebiasaan penduduk negara yang dituju. Tak pelak lagi, Sa’ad bin Abi Waqqash ra selain seorang panglima besar juga adalah seorang diplomat ulung sejati.  

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 3 Juni 2023.

Vien AM.

Disarikan dari :

https://www.republika.co.id/berita/lxy715/kisah-sahabat-nabi-saad-bin-abi-waqqash-lelaki-penghuni-surga

https://republika.co.id/berita/qezroi320/selain-saad-diduga-banyak-sahabat-yang-wafat-di-china

Bahagiakah anda ??? Pertanyaan yang mudah namun ternyata tidak mudah menjawabnya.

Tiap orang berbeda dalam mempersepsikan rasa bahagia yang dialaminya. Sebagian orang menjadikan tolok ukur kebahagiaan dengan apa yang terlihat secara kasat mata/materi, seperti harta yang melimpah, karir yang melejit, ketenaran nama, anak yang pintar, dan yang semacamnya. Sebagian lain berpendapat bahagia itu sehat dan punya banyak teman.

Sementara ada juga berpendapat bahagia itu letaknya di hati. Yaitu hati yang tenang, senang dan damai, bisa menolong dan berbagi dengan orang lain. Dan ada juga sebagian orang yang memaknai bahagia  itu dengan membandingkan antara bayaknya kejadian yang menyenangkan dengan kejadian yang menyedihkan. Ada juga yang ketika cita-cita atau tujuan hidup sudah tercapai, itulah bahagia.

Yang pasti semua orang dapat dipastikan ingin hidupnya bahagia. Dengan kata lain kebahagiaan adalah tujuan utama manusia. Untuk itu manusia berusaha keras agar tujuan tersebut bisa tercapai.

Beberapa tahun belakangan ini bermunculan berbagai lembaga survey tentang kebahagiaan yang dicapai tiap negara. Ide tersebut pertama kali digagas pada tahun 1972 oleh Raja Bhutan ke 4, yang memasukan kebahagiaan rakyat atau Gross National Happiness (GNH) sebagai target pencapaian pemerintah. Ia berpendapat bahwa pembangunan suatu negara sebaiknya tidak hanya fokus kepada pencapaian produk domestik bruto ( PDB/GDP) semata.

Selanjutnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan resolusi berjudul “Kebahagiaan, Menuju pendekatan holistik untuk pembangunan yang menyatakan bahwa “mengejar kebahagiaan adalah tujuan dasar manusia”, dan, “Mengakui bahwa indikator produk domestik bruto secara alami tidak dirancang untuk dan tidak cukup mencerminkan kebahagiaan dan kesejahteraan orang-orang di suatu Negara”.

Selama ini memang PDB yang bertujuan menghitung pendapatan nasional dijadikan standard kebahagiaan. Namun pada kenyataannya tidak sedikit ditemukan kasus paradox bahwa negara dengan PDB tinggi masyarakatnya tidak bahagia.

Selain itu ditemukan bahwa kebahagiaan penduduk pedesaan lebih tinggi dibanding kebahagiaan penduduk perkotaan. Namun minat penduduk desa untuk pindah ke kota tetap tinggi karena harapan akan kesempatan kerja dan upah yang lebih tinggi. Meski pada akhirnya ada titik di mana peningkatan pendapatan tidak mampu lagi meningkatkan kesejahteraan. Studi pengukuran tingkat kebahagiaan berbagai negara menemukan kebahagiaan bervariasi tergantung kondisi sosial ekonomi saat itu.

Happiness Research Institute, sebuah survei yang bertugas menilai tingkat kebahagiaan dan kepuasan hidup masyarakat suatu negara, pada 2021 menetapkan Finlandia, Denmark, Swiss dan Islandia di urutan 1 sd 4 dari 156 negara yang diteliti. Indonesia berada di urutan ke 82. Sedangkan jajak pendapat yang dilakukan oleh perusahaan riset pasar yang berbasis di Prancis, Ipsos, dengan mengukur tingkat kebahagiaan di 27 negara di seluruh dunia, pada tahun 2020 lalu menetapkan bahwa Arab Saudi menempati peringkat negara paling bahagia ketiga, setelah China dan Belanda.

Seorang tenaga ahli Indonesia di Jeddah, Saudi Arabia, menceritakan bahwa ada 2 hal yang membuatnya terheran-heran atas sikap rekan-rekan kerjanya yang asli Arab, yang sering dikatakan orang malas dll. Yang pertama, begitu azan berkumandang mereka akan segera meninggalkan kantor untuk shalat. Tidak peduli sedang meeting ataupun pekerjaan penting lainnya.  Yang kedua, mereka sangat patuh pada ibu mereka. Mereka akan segera pulang begitu mendengar kabar ibu mereka sakit atau ada keperluan penting. Dua hal yang memang diajarkan Islam agar menjadi orang yang takwa.

Mereka terlihat begitu percaya diri, seolah tidak memerlukan pekerjaan dan tidak takut di pecat. Dan hal tersebut ternyata dilakukan mayoritas penduduk Arab Saudi. Toko-toko tutup begitu adzan terdengar. Ayat berikut tampaknya yang membuat mereka seperti itu,

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya”.  ( Terjemah QS. At-Tholaq (65):2-3).

Dapat kita saksikan betapa kayanya Arab Saudi yang hingga hari ini masih mampu bertahan menggunakan syariat Islam dalam sistim pemerintahannya. Bagaimana mewah dan megahnya Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah yang setiap saat selalu ramai didatangi jamaah dari seluruh penjuru dunia. Tanah mereka yang kering dan tandus atas izin-Nya ternyata menyimpan kekayaan minyak bumi yang berlimpah mampu membuatnya rakyatnya bahagia.

Sementara Indeks Kebahagiaan yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2019 menyatakan Yogyakarta berada di peringkat delapan sebagai provinsi paling bahagia se-Indonesia. Padahal pada saat yang sama BPS menyatakan bahwa Yogyakarta berada di urutan 12 angka kemiskinan tertinggi se Indonesia, termiskin di Pulau Jawa. Ini disebabkan propinsi tersebut sejak lama menjadikan upah rendah sebagai daya tarik investasi. Dan ini diterima warganya dengan lapang dada.

“Nrima ing pandum” yang artinya menerima segala pemberian memang adalah falsafah Jawa yang sejak lama dianut masyarakat Jawa. Falsafah ini mengajarkan bahwa setiap manusia sebaiknya bisa ikhlas atas apa yang diterima dalam kehidupan atau legowo dalam menghadapi setiap lika-liku kehidupan.

Pertanyaan menggelitik, bagaimana definisi bahagia dalam Islam? Samakah dengan standar umum manusia di dunia ini??

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram ( sakinah) kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih (mawaddah)  dan sayang (rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”  (Terjemah QS. Ar-Rum(30):21).

Islam mengajarkan awal kebahagiaan hidup adalah menikah, sesuai syariah, karena Allah swt. Maka Ialah nanti yang akan mendatangkan rasa tentram/damai (sakinah), kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah). Rasa tentram dan damai akan datang ketika ada perasaan aman dari segala gangguan, baik fisik maupun mental. Apalagi bila tercukupi pangan, sandang dan papan yang merupakan kebutuhan dasar manusia. Sedangkan rasa kasih dan sayang akan muncul diawali dengan adanya rasa saling memiliki, saling memberi dan saling memahami diantara keduanya.

Namun kebahagiaan tertinggi yang seharusnya dimiliki manusia adalah adanya rasa syukur sebagai manusia yang diciptakan Allah swt, dengan segala keunikannya. Yang menyadari bahwa dirinya adalah mahluk yang sangat istimewa. Perumpamaannya adalah sebuah jam tangan Swiss edisi khusus yang diciptakan penciptanya khusus bagi dirinya semata, yang tidak memiliki persamaan sedikitpun dengan jam tangan milik orang lain.

Harus diakui manusia adalah memang mahluk istimewa. Tak satupun manusia dari zaman nabi Adam as hingga akhir zaman nanti yang memiliki sidik jari yang sama. Manusia diciptakan atas dasar kasih sayang yang sangat besar dari Tuhannya, Allah Azza wa Jala. Maka sebagai manusia yang tahu diri harusnya ia akan rela menjalankan perintah dan larangan-Nya, yang dengan demikian Sang Pencipta kelak akan memasukannya ke surga-Nya. Orang yang demikian tidak akan takut menghadapi hidupnya betapapun sulit hidupnya.

“Yang namanya kaya bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ (kaya) adalah hati yang selalu merasa cukup” (HR. Bukhari dan Muslim).

Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya. Sebaliknya selama harta dipergunakan untuk kebaikan, untuk menolong orang yang kesulitan, berinfak dan berjihad di jalan Allah, untuk menjaga silaturahim dll, ini lebih utama.  Ustman bin Affan ra dan Abdurahman bin Auf ra adalah 2 contoh tokoh Muslim takwa dan kaya raya yang hartanya bermanfaat bagi manusia hingga hari ini.

Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4/69).

Hebatnya lagi, kebahagiaan dalam Islam bukan milik perorangan tapi juga tanggung jawab pemimpin/penguasa. Itu sebabnya zakat yang bertujuan agar harta tidak hanya beredar di antara kelompok tertentu, penguasalah yang harus mengambilnya. Penguasa juga diberi tanggung-jawab mengatur agar riba yang merupakan dosa besar dan merugikan rakyat kecil untuk dicegah.  

Demikian pula pengadaan lembaga pendidikan dan pesantren, rumah sakit, penyelenggaraan shalat Jumat yang sekaligus sebagai ajang silaturahim mingguan, pengadaan pemakaman Islam dll. Ini yang terjadi pada ke-khalifahan dan kesultanan Islam pada masa keemasannya berabad-abad silam yang terkenal dengan Baitul Maalnya yang berfungsi semacam lembaga keuangan negara.

Syukur Alhmdulillah Uni Emirat Arab (UEA) baru-baru ini membawa kabar gembira. Yaitu bahwa hanya dengan menunjukkan kartu penduduk negara bersangkutan, mereka akan mendapatkan berbagai fasilitas seperti tanah/rumah, pendidikan, kesehatan, bahkan upacara pernikahan dan pemakaman. Dan itu semua gratiiis !!!

Namun apabila warga negara tersebut menikah dengan warga negara lain semua fasilitas istimewa tersebut tidak berlaku. Harap maklum, pendatang asing di UEA jauh lebih banyak dibanding penduduk asli. Di Dubai yang merupakan kota terpadat dan termodern di negara tersebut pendatang asing mencapai 85% dari total penduduk.

Dubai kaya berkat kekayaan minyak bumi yang melimpah. Namun sejak tahun 2000, sektor property, industry penerbangan, pelabuhan serta parawisata menjadi penyumbang pendapatan terbesar negara. Produksi minyak bumi tercata hanya 7 persen dari total pendapatan negara.

Gedung-gedung megahnya seperti, Burj Khalifa yang merupakan salah satu bangunan tertinggi di dunia,  Burj Al-Arab hotel super mewah termahal di dunia,  Museum of the Future yang sangat futuristic serta Jumeirah Village sebuah kompleks kepulauan mewah berbentuk  kelapa yang dibangun di atas laut yang dikeruk berhasil memancing turis mancanegara untk berdatangan ke negara tersebut.

Namun yang lebih menarik lagi adalah adanya monument berbentuk kepalan dengan 3 jari terangkat yaitu ibu jari, telunjuk serta jari tengah. Monumen yang terletak di depan museum of the Future ini melambangkan bahwa UEA sangat menghargai agamanya yaitu Islam. Monumen ini menunjukkan hadist Rasulullah tentang makan dengan 3 jari.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Sunnahnya adalah makan dengan tiga jari, sekalipun lebih dari tiga jari dibolehkan”. (Fathul Bari).

Pemerintahan UEA memang kurang berhasil mempertahankan kota-kota besarnya dari serangan kultur Barat. Tapi Sarjah yang merupakan kota ke 3 terbesar UEA berhasil mempertahankannya, yaitu dengan larangan alohol, hari libur tetap Jumat dan Sabtu, tidak seperti kebijakan pemerintah baru-baru ini bahw Sabtu dan Minggu adalah hari libur resmi.

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. … “ (Terjemah QS. Az-Zumar (39):23).

Jadi bahagia dalam kamus Islam adalah orang yang mampu mengenal Tuhannya hingga rela menjalankan perintah dan larangan-Nya, termasuk di dalamnya membaca ayat-ayat suci Al-Quran dan juga menjaga silaturahim dengan saudaranya.

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang biasa membantu hajat saudaranya, maka Allah akan senantiasa menolongnya dalam hajatnya.” (HR. Bukhari no. 6951 dan Muslim no. 2580).

Sedangkan sehat, makmur, tenang bersama  keluarga yang harmonis, dalam lingkungan yang aman dan nyaman, adalah sempurnanya kebahagiaan yang sifatnya duniawi.  

Itulah dasyatnya Islam, Buthan sebagai negara pertama di dunia memelopori berdirinya negara yang rakyatnya bahagia pada tahun 1972, Islam telah melakukannya sejak datangnya Islam 15 abad lalu!  

Semoga tidak lama lagi negara-negara mayoritas berpenduduk Islam termasuk negara kita tercinta Indonesia, mampu bangun dari tidur panjang mereka demi terbentuknya negara dengan rakyat yang bahagia sesuai syariat Islam.  Yaitu diawali dengan kesadaran rakyat dalam  memilih pemimpin yang takwa yang benar-benar memahami syariat Islam dan mengamalkanya secara kaffah, aamiin yaa robbal ‘aalamiin …

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 21 November 2022.

Vien AM.