Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘khalifah bumi’

Manusia adalah mahluk yang paling pandai diantara semua mahluk yang pernah ada di dunia ini. Dengan akalnya ia berusaha agar kehidupannya menjadi aman, tenang, mudah dan menyenangkan. Berbeda dengan mahluk lain yang cenderung hanya mengandalkan apa yang ada  dan tersedia di muka bumi ini tanpa harus mengolahnya terlebih dahulu, maka manusia justru sebaliknya. Ia selalu ingin dan berusaha agar apa yang ada diolahnya, sehingga dapat memberikan hasil yang lebih optimal dan lebih berkwalitas. Dengan ambisinya ini manusia selalu ingin maju dan tidak pernah merasa puas atas segala apa yang telah diperolehnya. Dan dengan ambisinya ini pula manusia berhasil memanfaatkan kekuatan alam.

 Disamping itu, manusia juga mempunyai rasa keingin-tahuan yang sangat tinggi. Dengan menggunakan akalnya ia cenderung gemar memikirkan keadaan diri dan keadaan sekitarnya. Mengapa ia ada dan hidup di dunia ini, mengapa  manusia harus mati, kemana dan bagaimana  pula setelah terjadinya kematian, akankah semuanya kemudian berakhir begitu saja. Bila demikian apakah apa yang telah diusahakannya selama ia hidup menjadi sia-sia dan tidak memberikan manfaat? Bagaimana pula dengan kehidupan mahluk lain dan juga alam semesta ini, apakah ia terjadi dengan sendirinya ataukah ada kekuasaan yang menciptakan semua ini?

 Selain itu, manusia juga sering bertanya-tanya mengapa tidak semua yang diusahakannya dapat memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkannya. Berdasarkan pengalamannya, ia menyadari bahwa akal dan kepandaian bukanlah segalanya. Emosi atau keadaan hati juga dapat memberikan  pengaruh yang tidak sedikit bagi berhasil atau tidaknya suatu pekerjaan atau usaha. Meskipun begitu ia tetap  dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak dapat diterima hanya melalui akal saja walaupun emosi seseorang sedang dalam keadaan prima. Ia dapat merasakan ada ‘kekuatan lain’ yang berkuasa atas dirinya yang tidak sanggup dan tidak mungkin dilawannya.

 Dari sinilah kemudian tampak bahwa sesungguhnya disamping akal, manusia juga mempunyai hati / qolbu. Dan hanya dengan qolbunya inilah ia dapat melihat ‘kekuatan lain’ tersebut, yaitu mata hati. Selanjutnya, sebagaimana akal yang dapat diasah dan dipertajam, maka demikian pula hati. Jadi ternyata untuk membentuk manusia yang berkualitas, ternyata tidak cukup dengan hanya mengandalkan intelektual semata tetapi juga harus didukung oleh suatu kecerdasan emosi.

 Dari Abu Bakar RA, Rasulullah bersabda: “Janganlah seseorang diantara kalian menentukan suatu hukum pada kedua pihak yang sedang berselisih dalam keadaan marah”.  Sedangkan Abu Darda RA berkata bahwa Rasulullah suatu ketika bersabda: Kecintaanmu terhadap sesuatu dapat menyebabkan kamu buta dan tuli”.

 Dengan  kecerdasan emosi ini pula seseorang akan mampu mengendalikan segala perasaannya. Dan ketika perasaannya telah bersih dan terbebas dari segala macam prasangka buruk seperti iri, dengki maupun sombong, maka lahir kekuatan dan kesadaran  akan adanya kebenaran sejati yang kemudian mampu memberinya naluri  untuk merasakan, mendengar dan melihat ‘kekuatan lain’ yang tersembunyi, kekuatan  yang paling berhak menentukan berhasil tidaknya usaha seseorang.

 Faktor ini disebut SQ (Spiritual Quotient) atau kecerdasan spiritual. Dengan adanya keseimbangan antara ketiga faktor diatas ini, yaitu kecerdasan Intelektual, kecerdasan Emosi dan kecerdasan Spiritual, nantinya akan terbentuk suatu pribadi yang tangguh, pribadi yang memiliki pandangan yang tidak sempit yang tidak hanya tertuju kepada kepuasan duniawi namun juga memiliki dimensi keakhiratan, yang pandai bersyukur dan sabar menghadapi segala tantangan. Sikap inilah  yang nantinya akan memunculkan sikap pantang berputus asa yang pada akhirnya akan melahirkan  ketakwaan.

 Berdasarkan hasil survey di AS pada tahun 1918 tentang IQ (Intellectual Quotient), ternyata ditemukan semakin tinggi IQ seseorang  justru semakin  menurun kecerdasan emosi atau  EQ  (Emotional Quotient). Beberapa puluh tahun terakhir ini, banyak ditemukan kasus depresi di kalangan yang notabene berpendidikan tinggi yang semakin tahun semakin memarah hingga mengakibatkan kasus bunuh diri. Mereka pada umumnya adalah orang-orang yang memiliki IQ relatif tinggi namun memiliki masalah sosial, diantaranya tersumbatnya komunikasi baik dilingkungan keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Mereka ini rupanya hanya disibukkan dengan pengasahan terhadap IQ melulu hingga melupakan pentingnya peran EQ sehingga tidak sanggup menata emosi dan mengatasinya. Ironisnya, orang-orang seperti ini tidak hanya membahayakan dirinya sendiri namun juga membahayakan diri banyak orang, seperti peristiwa yang terjadi pada bulan April 2007 di Amerika Serikat yang lalu. Seorang mahasiswa menembaki puluhan rekan mahasiswa dan dosen universitas dimana ia kuliah sebelum akhirnya ia menembak dirinya sendiri. Fenomena ini tidak hanya terjadi di negara-negara maju seperti AS, Jepang dan  Eropa Barat tetapi juga di negara-negara berkembang.

 Tidak dapat dipungkiri, setinggi apapun pendidikan  seseorang, kemungkinan sebuah kegagalan selalu ada. Terdapat suatu faktor ‘x’ atau ‘luck’ yang tidak dapat diikuti oleh akal manusia. Disini berperan faktor spiritual. Dan hanya faktor inilah sebenarnya yang dapat mengatasi kekecewaan seseorang. Berdasarkan penelitian lain terbukti bahwa ternyata kasus depresi ini lebih disebabkan akibat tidak matangnya kecerdasan emosi dan spiritual seseorang. Hal ini tercermin dari bervariasinya korban depresi, mulai dari kalangan bawah sampai kalangan atas, mulai dari yang memiliki IQ rendah sampai yang memiliki IQ tinggi, dari yang tidak berpendidikan hingga yang berpendidikan. Dari sini tampak nyata bahwa  ketidak-seimbangan antara IQ, EQ dan SQ dapat berakibat fatal.

 “Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendakiNya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman”. (QS Az Zumar (39): 52).

 Seorang pakar psikologi pendidikan, Daniel Coleman dalam bukunya ‘Emotional Intelligence’ menuturkan bahwa yang disebut kecerdasan emosi antara lain adalah kemampuan mengendalikan impuls emosional, kemampuan membaca perasaan orang lain serta  kemampuan membina hubungan baik dengan orang lain. Menurut Daniel orang yang memiliki kecerdasan emosi tinggi ternyata hidupnya lebih sukses dibanding orang yang rendah kecerdasan emosinya. Kesimpulan ini diambil setelah ia melakukan tes ‘Marshmallow’, sebuah tes yang dikembangkan oleh Walter Mischel, seorang psikolog asal Austria. Pada intinya tes ini dilakukan untuk menguji kesabaran anak usia 4 tahunan. Setelah dilakukan pengamatan ternyata anak yang lulus kesabaran 14 tahun yang lalu tersebut lebih sukses dari pada anak yang tidak lulus tes. Anak-anak yang lulus setelah dewasa memiliki kepercayaan diri, kepekaan bahkan kemampuan akademik yang lebih baik dari anak yang tidak lulus.

 Danah Zohar, seorang lulusan Harvard University dan Ian Marshall dari Oxford Unversity adalah dua orang penggagas SQ. Dalam karya ilmiahnya, mereka menyatakan adanya ‘God Spot’ atau apa yang biasa disebut suara hati atau mata hati pada otak manusia. Dan berdasarkan penelitian beberapa ahli syaraf dari tim California University dan juga seorang ahli syaraf Austria terkemuka, terbukti bahwa ‘God Spot’ ini terletak diantara jaringan syaraf dan otak manusia yang berfungsi sebagai pusat spiritual seseorang. Pada ‘God Spot’ inilah sebenarnya terdapat fitrah manusia yang terdalam.

 Namun sayangnya temuan mereka ini baru sebatas pada apa yang nyata ada pada otak manusia. Sesuatu yang menunjukkan adanya proses syaraf dalam otak manusia yang terkonsentrasi pada usaha untuk mempersatukan segala pengalaman hidup manusia dan memberinya makna. Belum sampai pada tingkat ke-Ilahian. Jalaludin Rumi seorang tokoh  sufi besar Islam, mengatakan : ”Matahati punya kemampuan 70x lebih besar untuk melihat daripada dua indra penglihatan.”

 Saat ini, dimana isu ‘Global Warming’ atau Pemanasan Global telah menjadi topik pembicaraan yang  hangat, maka tampaknya sudah tiba saat yang tidak mungkin lagi dipungkiri bahwa dunia dan segala isinya harus menyerah pada ‘kekuatan ghaib’.  Bahkan dengan ilmu yang demikian canggihpun, penemuan demi penemuan yang terus berlanjut,  kekuatan  nuklir yang terus dikembangkan namun dalam kenyataannya tidak seorangpun saat ini dapat mengantisipasi apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini. Berbagai cabang ilmupun banyak dipelajari orang. Kita bahkan dapat dengan mudah mengikuti perkembangan dunia hanya dengan duduk didepan televisi.

 Namun apakah dengan adanya berbagai penemuan itu hidup menjadi mudah, tenang dan damai? Bukankah salah satu tujuan memperdalam ilmu agar kwalitas hidup meningkat? Kenyataannya dimana-mana masih terlihat berbagai kasus mulai kelaparan, kemiskinan, bunuh diri  hingga berbagai penyakit fisik seperti AIDS, kanker, chikungunya, flue burung, demam berdarah maupun penyakit mental seperti  penyimpangan prilaku seksual  seperti pemerkosaan, pedofili dan homoseksual. Juga munculnya berbagai masalah dunia seperti peperangan, isu nuklir, pemanasan global, krisis energi hingga adanya perubahan iklim, rusaknya lapisan Ozon, naiknya permukaan dasar laut yang semuanya itu sebagai akibat dari pencemaran udara disebabkan  gas buang kendaraan dan pabrik, diexploitasinya perut bumi secara berlebihan dan juga musibah banjir yang disebabkan penebangan liar dan pembuangan sampah yang sembarangan kemudian juga ekonomi yang tidak berpihak kepada kaum lemah.

 Perubahan musim yang tidak beraturan, peningkatan  suhu udara, berbagai badai dan berbagai perkiraan menakutkan seperti mencairnya gugusan salju di berbagai tempat diseluruh dunia, merupakan petunjuk akan hal tersebut. Belum lagi meningkatnya berbagai aktifitas sejumlah gunung yang begitu signifikan yang kemudian menyebabkan berbagai musibah seperti gempa dan  tsunami. Mengapa para ilmuwan dengan ilmunya yang super canggih sekalipun tidak juga dapat memperkirakan dimana dan kapan persisnya patahan-patahan lempeng dasar bumi tersebut bakal bergerak dan mengakibatkan terjadinya hal-hal diatas? 

Lalu dimana manfaat ilmu mereka itu? Tampaknya bumi benar-benar sedang menuju kehancurannya. Bencana demi bencana yang terus bersusulan seolah enggan untuk berhenti menyapa. Siapa sesungguhnya Sang “Kekuatan Ghaib “ tersebut?

 “Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur. Dan Dialah yang menciptakan serta mengembang-biakkan kamu di bumi ini dan kepadaNyalah kamu akan dihimpun.Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan dan Dialah yang(mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya?”.(QS Al Mu’minun (23):78-80).

Manusia diciptakan oleh Sang Maha Pencipta, suatu zat yang mustahil sama dengan ciptaannya. Pada umumnya semua manusia menyadari bahwa ia hidup di dunia ini pada suatu waktu yang amat terbatas. Pada saatnya nanti setiap diri akan kembali dan harus mempertanggung-jawabkan apa yang telah dikerjakannya selama hidup di dunia. Ketika manusia menyadari akan kenyataan ini, manusia akan lebih tenang karena ia mengetahui dengan pasti akan tujuan hidupnya. Ia akan mempersiapkan dirinya dengan mencari bekal di dunia berdasarkan tuntunanNya dengan mengharap ridho Allah SWT.

Maka dengan demikian, manusia yang menyadari akan hakekat hidup ini cara berpikirnya tidak lagi hanya  semata mengejar kebahagiaan dunia, kepuasan material, kepuasan yang hanya sesaat. Dengan bimbingan hati nurani atau ‘God Spot’ manusia akan berhasil menjadi seorang khalifah sesuai dengan fitrahnya. Karena sesungguhnya dengan meningkatnya kecerdasan spiritual maka kecerdasan emosi dan kecerdasan intelektualnyapun akan makin meningkat. Karena Al-Quran memang mengajarkan keseimbangan  diantara ketiga kecerdasan tersebut. Itu pula sebabnya mengapa ayat pertama yang diturunkan kepada manusia memerintahkan kita untuk membaca.

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.(QS Al ‘Alaq(96):1-5).

  “…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…”. (QS. Al-Mujadillah(58):11).

Read Full Post »

Sudah sejak zaman dahulu manusia berusaha mencari tahu asal-usul dan dimana pertama kali nenek-moyang mereka hidup. Berbagai mitologi berkembang di hampir semua tempat dan negara. Para arkeolog berbeda pendapat tentang tempat dimana manusia pertama kali hidup. Sebagian berpendapat bahwa manusia mula-mula hidup di daerah sekitar Afrika sebelah Timur  (sekarang Etiopia) kurang lebih 130 ribu tahun yang lalu. Sedangkan yang lain berkeyakinan bahwa manusia pertama hidup disekitar Timur-tengah (sekarang Palestina) kurang lebih 90 ribu tahun yang lalu.

Al-Quran memang tidak menyebutkan secara persis mengenai hal ini. Namun sebagian  sejarawan Muslim mengatakan bahwa manusia pertama hidup di sekitar Jabal Rahmah, sebuah gunung beberapa kilometer dari Mekah, Saudi Arabia. Manusia pertama itu adalah  Adam as dan Siti Hawa. Ditempat inilah  mereka bertemu kembali  setelah mereka diturunkan dari surga di tempat yang terpisah ribuan tahun yang lalu. Berdasarkan sebuah penelitian lapisan bumi disekitar jazirah Arab ternyata juga  lebih tua dibanding lapisan bumi di bagian lain. Dan hasil penelitian tersebut ternyata juga sungguh sesuai dengan ayat  Al-Quran yang  menyebut Mekah dengan sebutan ‘Ummul Qura’ atau ibu negeri yang dapat diartikan  bahwa Mekah adalah  asal muasal adanya negri-negri.

 “Dan ini (Al Qur’an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya……….” (QS.Al-Anam(6):92).

 Dengan demikian mungkin dapat disimpulkan bahwa kemungkinan besar Mekah memang  tempat  awal kehidupan manusia.

 Kemudian ketika jumlah manusia semakin banyak merekapun mulai meninggalkan tempat asal mereka dan bermigrasi ke berbagai tempat dan arah. Wilayah-wilayah yang dituju pada mulanya adalah :

1.   Timur Laut, yaitu Irak. Kemudian sebagian melanjutkan perjalanan hingga mencapai Asia dan Amerika.

2.   Utara, yaitu Syam (Palestina dan sekitarnya). Kemudian beberapa kelompok diantara mereka melanjutkan pengembaraan hingga ke Laut Tengah.

3.   Selatan, yaitu Yaman kemudian sebagian meneruskan perjalanan hingga ke Afrika dan India.      

Itu sebabnya pada saat ini ditemukan situs-situs peradaban kuno di sekitar daerah Irak dan Syam  yakni  peradaban-peradaban lama seperti Sumeria, Assyria dan Babylonia di Mesopotamia. Meski demikian karena peradaban-peradaban tersebut diperkirakan baru ada lebih kurang 2000-3000 tahun yang lalu padahal para pakar telah sepakat bahwa manusia pertama telah ada sekitar seratus ribuan tahun yang lalu maka tidak tertutup kemungkinan akan ditemukannya peradaban yang jauh lebih awal dan  lebih lama dari apa yang saat ini telah ditemukan.  

 1. Mitologi asal-usul manusia.

Hampir semua suku-suku di dunia ini memiliki mitos masing-masing mengenai asal muasal nenek moyang mereka. Diantaranya adalah Suku Keraki di Papua Nugini. Mereka percaya bahwa manusia pertama keluar dari sejenis suatu pohon Palma. Dikisahkan ketika itu dewa Gainji mendengar suara-suara dalam berbagai bahasa keluar dari batang pohon tersebut. Maka dewa Gainjipun membebaskan mereka. Sejak itulah kelompok-kelompok orang yang berbeda-beda bahasa itu berpencar hingga menjadi seperti keadaan sekarang ini.

Sedangkan bagi suku Sumu di Amerika Tengah, kehidupan menurut kepercayaan mereka dimulai ketika dua dewa bersaudara menciptakan dunia  yang indah ini. Kemudian saat mereka berperahu sambil mengagumi hasil ciptaan mereka, tiba-tiba perahu terbalik lalu merekapun menyelamatkan diri ke hutan. Disana mereka menemukan beberapa tongkol jagung yang kemudian dilemparkan ke tanah untuk menciptakan hewan darat dan lainnya dilemparkan ke air serta udara untuk menciptakan ikan dan burung. Kagum karena keberagaman kehidupan yang baru diciptakannya, kedua dewa bersaudara terjatuh kedalam perapian hingga terbakar. Percikan salah satu dewa itu kemudian menjadi bintang sementara yang satunya lagi menjadi matahari yang nantinya akan menurunkan seluruh suku Sumu.

Lain pula kisah dari salah satu suku Indian di California Selatan. Mereka sangat yakin bahwa manusia adalah keturunan dari hewan, yaitu coyote (anjing liar Amerika). Hewan yang dianggap sebagai leluhur mereka ini memiliki kebiasaan aneh menguburkan sanaknya yang mati. Kebiasaan tersebut lambat laun mengakibatkan perubahan pada diri mereka. Karena terbiasa duduk tegak ketika sedang melakukan penguburan maka lama-kelamaan ekor merekapun menghilang. Beberapa generasi setelah itu, coyote mulai berevolusi dengan mulai berdiri, kaki depan mereka berubah menjadi tangan manusia dan moncongnya secara bertahap memendek sehingga menjadi wajah manusia.   

Namun yang paling menarik adalah sebuah tulisan roman filsafat yang sangat terkenal berjudul “Hayy ibn Yaqzhan”, karya Ibnu Thufail, seorang dokter dan  penasehat pribadi seorang khalifah di Granada, Spanyol pada abad 12 M yang memiliki minat yang tinggi terhadap filsafat. Tulisan ini menceritakan tentang asal-usul lahirnya manusia ke dunia yang  dilanjutkan dengan perjalanan mencari dan mengenal Sang Pencipta serta mengenal hakikat arti kehidupan. Tetapi karena tulisan tersebut tidak terdokumentasi dengan baik akhirnya beredar dua versi awal penciptaan. Meskipun demikian, kelanjutan dari kisah itu tidak ada perbedaan sama sekali. Versi pertama adalah  gagasan yang menolak kelahiran sedangkan yang kedua adalah gagasan yang menerima kelahiran.

Dikisahkan adanya Hayy, sang tokoh utama. Menurut versi pertama, Hayy adalah bayi yang dilahirkan sepasang suami-istri yang tinggal di suatu daerah jauh dari bumi tempat tinggal kita sekarang ini. Namun karena perkawinan tersebut tidak direstui ayah sang mempelai  wanita, maka ketika bayi terlahir terpaksa dibuang kelaut. Bayi tersebut dimasukkan kedalam sebuah peti yang tertutup rapat dengan diberi sedikit lubang pernafasan agar ia tidak kehabisan oksigen. Singkat cerita, akhirnya peti terdampar di sebuah pulau di bumi kita sekarang ini. Kemudian dengan bantuan seekor rusa yang nantinya akan menjadi ibu angkatnya, bayi berusaha mendorong tutup peti agar terbuka. Dan ketika akhirnya ia berhasil keluar dari peti tersebut, maka disebutkan itulah awal adanya manusia di muka bumi ini.

Sedangkan menurut versi kedua; di pulau tersebut terdapat lempung yang sudah berfermentasi selama bertahun-tahun. Panas dan dingin serta lembab dan kering bercampur menjadi satu secara proporsional dan seimbang sehingga memiliki potensi untuk membentuk gamet/sel telur untuk pembuahan. Inilah bahan dasar manusia. Bagian tengah lempung tersebut kemudian mengeluarkan saripatinya dan terjadilah gelembung-gelembung mendidih akibat fusi yang maha dasyat. Selanjutnya terjadilah  proses fisika dan kimia yang rumit, yang mencerminkan suatu proses pembentukan demi pembentukan sebagaimana pengetahuan kita sekarang mengenai perkembangan janin dalam rahim ibunya yang kemudian disempurnakan dengan peniupan ruh oleh Sang Maha Pencipta. Setelah itu maka lahir seorang anak manusia pertama di bumi ini, yaitu Hayy, sang tokoh utama. Kemudian karena tangisannya menarik perhatian seekor rusa, maka bayi tersebut dipelihara dan dibesarkannya dengan penuh kasih-sayang. 

 2. Teori Darwin dan Temuan DNA.

Berbeda dengan mitos yang pada umumnya tidak memiliki dasar yang kuat, Charles Darwin, pada tahun 1859M  melalui berbagai pengamatan melahirkan teorinya yang terkenal “The Origin Of Species”, yang menyatakan bahwa manusia yang ada sekarang ini, ia menyebutnya manusia modern ( Homo sapiens sapiens) adalah merupakan hasil proses evolusi yang sangat panjang dan lambat dari  suatu mahluk hidup tertentu, yaitu  mahluk sejenis chimpanzee, gorilla alias kera (Homo Habilis). Pada prinsipnya, teori ini menyangkal adanya proses penciptaan. Semua yang ada di alam semesta ini ada karena kebetulan, karena proses seleksi alam. Teori ini bertahan hampir  satu abad lamanya setelah akhirnya dipatahkan pada tahun 1950an  dengan ditemukannya molekul DNA dalam sel tubuh manusia.

Melalui ilmu genetika, terbukti susunan molekul DNA tertentu (Diexyribose Nucleatida Acid) membentuk suatu struktur yang juga tertentu. Struktur tertentu inilah yang disebut gen, yang  berkemampuan menentukan dan menurunkan sifat dan struktur tubuh manusia. Gen ini tersimpan rapi di dalam inti sel. Berdasarkan penelitian jumlah rata-rata gen yang ada dalam setiap tubuh manusia mencapai 200 ribuan gen, sementara jumlah rata-rata sel yang terdapat dalam tubuh manusia adalah 100triliun!

DNA hanya ada 4 jenis, yaitu Adenine(A), Thymine(T), Cyitosine(C) dan G(Guanine) yang mana A hanya mungkin berpasangan dengan T dan C dengan G (‘tangan’ siapakah yang mengatur hal ini?). Jadi berdasarkan perhitungan matematis  jumlah kemungkinan terbentuknya variasi susunan DNA yang bakal terbentuk  amatlah sangat banyak. Ironisnya, bila kemungkinan itu muncul secara acak dan sembarang maka takkan terbayangkan alangkah  sangat kacau dan buruknya bentuk dan sifat manusia. Jumlah kemungkinan lahirnya generasi manusia cacat akan sangat fantastis. Padahal kenyataan membuktikan sebaliknya. Dapat dilihat secara kasat mata, secara umum susunan tubuh manusia adalah  sangat sempurna dan harmonis.

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (QS.At-Tiin (95):4).

Maka dapat dipastikan  tersusunnya DNA tertentu tersebut  bukan sesuatu yang kebetulan terjadi sebagaimana anggapan para Neo-Darwinisme, melainkan ada ‘tangan’ atau ‘kekuasaan’ yang secara sengaja menyusunnya, menciptakannya. Dengan satu kata, manusia adalah hasil ciptaan bukan hasil evolusi dari hewan atau mahluk apapun. Baik itu evolusi panjang maupun evolusi singkat atau pendek. Mustahil dengan sebab apapun gen monyet, gorilla ataupun zimpanze ber-evolusi menjadi gen manusia, demikian pula sebaliknya.

Mutasi yaitu perubahan struktur kimia gen memang dapat terjadi namun perubahan tersebut tidak sampai mengakibatkan perubahan total yang mapan dan berkesinambungan. Lagi pula pada peristiwa mutasi terparah pada umumnya akan mengakibatkan abnormalitas bahkan kematian sebagaimana yang terjadi pada peristiwa Chernobyl (Rusia) dan Hiroshima maupun Nagasaki di Jepang.

Disamping itu, bila memang manusia berevolusi, manusia saat ini yang mereka beri nama sebagai ’homo sapiens’ yang diperkirakan  ada sekitar seratus ribuan tahun yang lalu tersebut ternyata adalah mahluk yang sama dengan yang dimaksud manusia yang ada saat ini. Lalu mengapa hingga hari ini mereka tidak mengalami perubahan atau berevolusi setelah sekian lamanya ?

Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuh-mu”.(QS.Al-Infithar (82):7-8).

Lagipula  bila toh demikian, tidak ada satupun temuan ilmiah yang dapat membuktikan bahwa DNA adalah merupakan ruh kehidupan. Namun  demikian, para penganut Neo-Darwinisme ini berkeras tidak mau mengakui kenyataan ini. Mereka tetap terus berusaha mempertahankan teori ‘tidak ada penciptaan mutlak’; semua adalah kebetulan, terjadi secara acak.

Demi tujuan itu pula maka pada tahun 1904, seorang peneliti evolusianis di Kongo, menangkap seorang anggota suku Pigmi, sebuah suku di Afrika Tengah.  Orang tersebut bernama Ota Benga, bertinggi badan hanya 127 cm. Ia memiliki istri dan 2 orang anak. Dengan dirantai dan dikurung, Ota Benga dibawa ke Amerika. Disana, bersama beberapa spesies kera, para ilmuwan evolusianis memamerkannya pada Pekan Raya Dunia di St. Louis. Ia diperkenalkan sebagai ’mata rantai transisi keterdekatan dengan manusia’ alias manusia peralihan monyet.  Dua tahun kemudian Ota dimasukkan ke kebun binatang Bronx, New York. Disana ia dipamerkan dalam kelompok ’nenek moyang manusia’ bersama beberapa simpanse, gorilla dan orang utan! Tidak tahan diperlakukan demikian, Ota Benga yang memang asli manusia akhirnya bunuh diri. (lihat : http://www.nytimes.com/2006/08/06/nyregion/thecity/06zoo.html?pagewanted=1&_r=1)

Bila diperhatikan lebih mendalam, mengapa para Evolusianis begitu keras mempertahankan pendapat mereka, sebenarnya dapat ditemukan jawabnya. Saat-saat ketika Darwin melontarkan pendapatnya yang kontroversial tersebut, sesungguhnya ketika itu tengah terjadi perselisihan tajam antara gereja dan masyarakat ilmiah. Para ilmuwan yang berani mempublikasikan temuan ilmiah yang dianggap bertentangan dengan mitos gereja akan segera dihukum, dibakar bahkan dibunuh.

Ini yang terjadi pada diri Copernicus pada sekitar tahun 1543, Giordano Bruno pada tahun 1600an  maupun Galileo pada tahun 1642. Hal ini sebaliknya malah membuat para ilmuwan dan juga masyarakat yang muak dengan perlakuan gereja semakin berusaha keluar dari kekangan pendapat dan mitos gereja yang pada dasarnya mengagungkan kebesaran Tuhan dan proses penciptaan.

“Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfa`atnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara (mu)”.(QS.Al-An’am(6):104).

 3. Penciptaan Adam as dan ikhwal sumpah  Iblis.

 Para ilmuwan terus berdebat dan berusaha mencari tahu awal penciptaan manusia. Berbagai percobaan telah dan terus dilakukan. Namun tanpa  keimanan yang  tinggi  sangat sulit membuktikan hal tersebut. Padahal bila kita mau membuka, membaca dan meyakini bahwa Al-Quran itu adalah benar-benar Kalamullah, perkataan Illahi sebagai Sang Maha Pencipta, maka kita dapat mengetahui bahwa Al-Quran sesungguhnya telah menerangkan hal penciptaan awal manusia. Dari sana kita akan mengetahui siapa sebenarnya nenek moyang kita. Al-Quran juga menceritakan ihwal mengapa ia turun ke bumi, apa saja tugasnya dan bagaimana ia harus mempertanggung-jawabkan prilakunya selama ia hidup di dunia ini. Sebenarnya agama-agama samawi seperti Nasrani dan Yahudipun meyakini bahwa Adam adalah orang pertama yang diciptakan oleh-Nya.   

 “…………Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia”. (QS.Ali Imraan(3):59).

 Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”. (QS.Al-Hijr(15):28-29).

Kemudian karena kasih-sayang-Nya,  Allah SWT berkenan menciptakan pasangan bagi seluruh mahluk-Nya  sebagai teman dan kawan agar mereka senang dan tenang. Masing-masing dari jenisnya sendiri. Demikian pula dengan Adam, dari dirinya Allah SWT menjadikan Siti Hawa sebagai pasangan hidupnya yang akan memberinya keturunan yang banyak dan sebagai jalan berkembang biaknya umat suatu bangsa. Jadi Adam as dan Siti Hawalah nenek-moyang dari  seluruh manusia yang ada di bumi ini.

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak…….”(QS.An-Nisa(4):1).

Pada mulanya Adam dan Siti Hawa tinggal  dan hidup di alam surga.

 “Dan Kami berfirman: “Hai Adam diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim”. (QS.Al-Baqarah(2):35).

 Di surga tersebut telah ada mahluk lain ciptaan Allah yaitu para malaikat dan Iblis. Dalam tafsirnya Ibnu Katsir menyatakan bahwa Iblis mulanya bertempat tinggal di bumi. Ia adalah termasuk bangsa jin yang sangat takwa sebagaimana takwanya para malaikat. Dan atas izin Allah SWT kemudian Iblis ini tinggal di surga bersama  para malaikat. Hingga suatu ketika Allah SWT memerintahkan para malaikat termasuk Iblis agar sujud kepada Adam.  

 Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang”.(QS.Thaahaa(20):116).

 “Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”.”(QS.Al-A’raaf(7):12).

 ”Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka ke luarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”. Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan“. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.”. Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at).Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya”.(QS.Al-A’raaf(7):13-18).

 Itulah awal kebencian dan kedengkian Iblis terhadap bangsa manusia. Kesombongan telah memperdaya ketakwaan Iblis sebagai salah satu mahluk Allah. Iblis juga mengetahui bahwa Allah SWT bermaksud menjadikan Adam dan keturunannya sebagai khalifah bumi.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. ……..”.(QS.Al-Baqarah(2):30).

Oleh sebab itu maka Iblis mencari akal agar Adam mau berbuat suatu kesalahan agar murka Allah menimpanya sebagaimana murka yang telah diterimanya. Ia membujuk dengan mengatakan kerajaan bumi dan surga sangatlah berbeda, di bumi manusia tidak akan kekal sebagaimana di surga.

“Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)”.(QS.Al-Araaf(7):20).

“Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan“.(QS.Al-Baqarah(2):36).

Maka sejak itu keduanyapun turun dari surga. Mereka menempati bumi hingga  ajal mereka. Di bumi itu pula Adam dan Siti Hawa berketurunan hingga membentuk manusia yang banyak hingga saat ini. Dan sesuai dengan janji-Nya, Dialah yang Maha Pemberi Ampun bila manusia mau bertaubat. Begitupun Adam dan Siti Hawa, Allah SWT berkenan mengampuni kesalahan mereka

 “Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”.(QS.Al-Araaf (7):23).

”Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.(QS.Al-Baqarah(2):37)

 Sebaliknya dengan Iblis, karena ia tidak mau menyesali perbuatannya dan enggan bertaubat maka Allah SWT mengutuknya. Dan Diapun memperingatkan keturunan Adam agar selalu waspada terhadap godaan Iblis dan keturunannya, syaitan dari bangsa  jin terkutuk.

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya `auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman”.(QS.Al-Araaf(7):27).

 “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi `auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat “.(QS.Al-Araaf (7):26)

Dengan demikian sekarang dapat kita ketahui bahwa  Adam as dan Siti Hawa adalah nenek moyang kita. Sedangkan mengenai berapa lama Adam as hidup di dunia, terdapat beberapa perbedaan pendapat. Namun Ibnu Katsir dalam bukunya “Qishash al-Anbiya” menuturkan bahwa usia Adam antara 950 hingga 1000 tahun.

***

Read Full Post »