Feeds:
Posts
Comments

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. (QS.Al-An-Nahl(16):90).

Harus diakui manusia adalah bagian kecil dari jagat raya ini. Ia adalah awak kapal angkasa bernama Bumi yang melaju sepanjang tahun mengelilingi Matahari dengan kecepatan 107.275 kilometer perjam! Selama 4.5 milyar tahun jagat raya telah menunjukkan kepatuhannya terhadap sistim yang diciptakan Sang Maha Kuasa yang Maha Cerdas, Dialah Allah Azza wa Jalla. Dan kita tahu tak satupun diantara anggota yang berada di jagat tersebut berusaha melawan dan keluar dari aturan-aturan tersebut. Tampaknya hanya manusia satu-satunya anggota yang ingin melepaskan diri dari keterikatan tersebut. Hal ini dapat dipahami karena Allah SWT memang mengizinkannya. Manusia memang diciptakan sebagai mahluk bebas, sebagai pemimpin, sebagai khalifah walaupun hanya sebatas di muka bumi.

Tidak seperti mahluk atau benda langit seperti matahari, bulan, bintang maupun mahluk bumi lain seperti tumbuhan dan binatang, manusia diberi kebebasan untuk memilih, yaitu bertakwa atau menentang. Bila manusia memilih untuk bertakwa maka atas izin Allah SWT bumi dan seluruh isinya akan berada dalam ketenangan, keadilan dam kemakmurannya. Sebuah keadilan yang hakiki, yang berlaku bagi seluruh umat manusia apapun warna kulitnya, status ekonominya, laki-laki maupun perempuan, anak-anak maupun dewasa. Demikian pula flora dan faunanya. Dan bila Allah menghendaki ia akan tetap menjadi bagian dari simphoni zikir jagat raya yang telah dan akan meneruskan perjalanannya yang berdasarkan pengamatan para astronom, bersama milyaran matahari dan planet-planetnya sedang menuju Konstelasi Lyra dan akan menggenapi revolusi mengelilingi pusat Galaksi dalam tempo 200-250 juta tahun! Wallahu’alam.

Sebaliknya bila manusia memilih menentang aturan-Nya dan memutuskan untuk keluar dari sistim yang diciptakan-Nya maka bumi beserta isinyapun akan terlepas dari sistim tersebut. Bumi dan seluruh isinya akan mengalami kehancuran dan porak poranda. Dan manusia dengan segera harus mempertanggung-jawabkan keputusannya tersebut.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.(QS.Al-Ashr(103:1-3).

Itu sebabnya Islam berkali-kali mengingatkan bahwa manusia adalah umat yang satu. Dalam rangka menjalankan tugas kekhalifahan manusia harus bersatu, saling mengingatkan, saling menasehati, agar manusia selalu ingat apa sesungguhnya tujuan dan tugas manusia. Tugas kekhalifahan adalah tugas yang maha berat. Tugas ini bukan sekedar tugas dan tanggung-jawab perorangan melainkan tugas dan tanggung-jawab semua manusia secara gotong-royong. Ini pula yang menjadi salah satu hikmah mengapa Islam sangat menganjurkan shalat berjamaah, terutama bagi kaum laki-laki. Itu pula sebabnya mengapa setiap Muslim sebagai manusia yang telah memiliki ilmu yang benar wajib berdakwah, mengajak dan mengingatkan orang lain apa sebenarnya tugas manusia.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, …….”.(QS.Al-A’raf(7):96).

Tugas manusia terbagi atas 3 kelompok utama, yaitu :

1. Menjaga hubungan dengan Sang Pencipta.

2. Menjaga hubungan antar sesama manusia.

3. Menjaga hubungan dengan alam semesta.

Rasulullah bersabda:”Bersegeralah kepada amal dimana kalian tidak menunggu-nunggu kecuali tujuh hal : Kemiskinan yang melalaikan, kekayaan yang menjadikan melampaui batas, sakit yang merusak, masa tua yang melumpuhkan segala tenaga, kematian yang menghabiskan segala-galanya atau Dajjal paling buruk ditunggu-tunggu dan hari kiamat. Dan Hari Kiamat itu lebih dasyat dan lebih pahit”.

E P I L O G

Tiada kebenaran yang hakiki selain kebenaran yang berasal dan datang dari-Nya karena memang Dialah yang menciptakan, dari yang tiada menjadi ada dan dari yang ada menjadi tiada. Bukti-bukti begitu berlimpah bila manusia mau berpikir dan memperhatikan sehingga tidak mungkin bagi kita sebagai manusia, sebagai salah satu mahluk ciptaan-Nya, untuk menyangkal keberadaan dan ke-Esaan-Nya.  Begitu pula dengan kitab suci-Nya, Al-Quranul Karim yang telah demikian banyak menerangkan dan membuktikan kekuasaan-Nya secara meyakinkan.  Oleh sebab itu  tiada jalan lain bagi kita selain harus menjadikan kitab tersebut sebagai satu-satunya petunjuk dan pedoman bagi hidup ini bila kita ingin selamat dan memenangkan permainan. Dan kemenangan tersebut hanya dapat dicapai dengan berpegang teguh pada agama yang benar, agama yang lurus,  yaitu Islam.

“Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus”.(QS.Al-Zurkhuf(43):43).

Ilmu pengetahuan dan sains serta  segala ilmu yang berhubungan langsung dengan kehidupan duniawi jelas memang diperlukan. Namun pengetahuan tersebut hendaknya dapat menjadikan kita makin sadar bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara, bagai sebuah permainan namun dengan taruhan yang bukan lagi hanya nyawa  akan tetapi kehidupan kekal yang tak terbatas. Suatu kehidupan yang berada di luar jangkauan pemikiran duniawi. Kehidupan ghaib, yang tidak dapat dibuktikan dengan akal semata melainkan dibutuhkan adanya  keyakinan dan keimanan.

Namun bila ilmu pengetahuan dan sains saat ini telah berhasil membuka berbagai tabir rahasia yang 14 abad silam tidak pernah terpikirkan dan terbayangkan, itu semua berkat Allah swt, Sang Khalik Yang Maha Cerdas memang telah berkenan  memperlihatkan sistim serta aturan kerja-Nya kepada kita, manusia yang diciptakan-Nya. Dan sebagai konsekwensinya, mustinya kita menyadari pula betapa hebat dan canggihnya ilmu Allah.

Kemudian menyatu dengan  pemahaman Al-Quranul Karim serta pemahaman ilmu hadis yang baik, seharusnya kitapun menyadari bahwa saat ini kita semua sedang menuju kepada sebuah  akhir dari sebuah  perjalanan, perjalanan Sang Khalifah dalam menjalankan misinya. Misi perorangan yang diawali dengan adanya perjanjian manusia di alam ruh hingga berakhirnya kehidupan di dunia menuju alam kubur serta misi universal yang diawali dengan adanya peristiwa pembentukan alam semesta ”Big Bang ” hingga hancurnya alam semesta ” Big Crunch”. Maka dimulailah kehidupan akhirat yang diawali dengan pelaksanaan mahkamah peradilan akhirat untuk mempertanggung-jawabkan apa yan telah dilakukan manusia selama hidupnya di muka bumi ini sebagai khalifah.

Tugas sebagai khalifah di muka bumi yang dibebankan kepada manusia memang bukan tugas mudah. Untuk itulah maka pada setiap zaman Allah swt menurunkan para Rasul dan kitab kepada manusia. Semua ini dimaksudkan agar manusia mempunyai pegangan dan landasan yang jelas bagaimana menjalani kehidupan ini. Inilah agama yang benar. Akan tetapi orang yang menyatakan bahwa dirinya telah menjalankan agamanya dengan benar namun ternyata prilakunya tidak baik, tidak dapat dikatakan ia telah beragama dengan benar.  Karena dengan beragama seharusnya lingkungannya, baik lingkungan antar sesama manusia maupun alam sekitarnya akan menjadi aman dan tentram, bukan malah sebaliknya.

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”; “Agama adalah akhlak yang baik”; “Seorang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling sempurna ahklaknya”; “Rasulullah ditanya: “Apa yang paling banyak mengantarkan manusia ke surga ?”. Rasulullah menjawab : “Akhlak yang baik”; “Apa yang paling banyak mengantarkan manusia ke neraka?”. Rasulullah menjawab: “Mulut dan kemaluan”. (HR Tarmidzi).

Jadi orang yang menjalankan agamanya dengan baik semestinya tercermin dari prilakunya. Mereka pandai menjaga kehormatan dan menjaga lisannya. Mereka tidak mau menyakiti hati orang lain serta mudah meminta maaf sekaligus memaafkan kesalahan orang lain. Mereka juga tidak suka menggunjing dan menyebar fitnah. Mereka adalah juga orang-orang yang sabar dalam menghadapi segala cobaan. Mereka adalah orang-orang yang pandai menjaga amanah dan menepati janji.

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna dan orang-orang yang menunaikan zakat dan orang-orang yang menjaga kemaluannya kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi,(ya`ni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya”.(QS.Al-Mukminun(23):1-11).

Mereka juga gemar membantu meringankan kesulitan orang lain, saling nasehat menasehati dalam kebaikan  serta tidak dengki maupun sombong. Kita harus selalu ingat bahwa kemurkaan Allah SWT yang menyebabkan diturunkannya hukuman dan kutukan Allah SWT terhadap Iblis adalah dikarenakan kesombongannya padahal mulanya Iblis adalah seorang hamba yang shaleh dan takwa.  Ringkas kata, orang yang menjalankan agama dengan penuh ketaatan dan menyempurnakannya, hidup dan kehadirannya benar-benar  terasa manfaatnya bagi orang lain.

Dalam kehidupan ini dapat kita lihat sebenarnya  ada beberapa macam prilaku manusia  pada saat seseorang meninggal dunia. Yang pertama, begitu banyak orang yang merasa bersedih dan merasa kehilangan atas dirinya. Yang kedua, hanya keluarganya saja yang merasa sedih dan berduka ketika ditinggalkannya. Yang ketiga, tak seorangpun merasa kehilangan akan dirinya. Artinya, orang ini baik ketika hidup maupun mati tidak memberikan pengaruh apa-apa kepada orang lain. Tak seorangpun yang merasa ia pernah ada. Dan yang terakhir adalah seseorang yang ketika ia meninggal dunia semua orang merasa senang, bersuka cita dan lega atas kepergiannya. Orang seperti ini tidak saja tidak bermanfaat namun justru selalu membuat keonaran, kejengkelan bahkan kebencian. Keberadaannya sungguh tidak diharapkan.

Sebaliknya, untuk menjadi orang yang selalu diharapkan kehadirannya, tentu saja harus memiliki prilaku yang baik. Dan prilaku  tersebut sebenarnya akan muncul dengan sendirinya ketika seseorang menjalankan agamanya berdasarkan ilmu yang benar. Kemudian ditambah dengan kemauan yang kuat dan kemampuan yang terus diusahakan dan ditingkatkan maka  akan lahir akhlak yang mulia dan terpuji. Satu hal yang harus dicatat, agama Islam tidak hanya semata-mata menekankan tercapainya tujuan yang baik, namun niat dan caranyapun harus baik dan benar. Sebagai contoh : seseorang yang memberikan hartanya kepada orang miskin. Tujuannya sudah baik, namun bila harta yang diberikan tersebut tidak halal atau ia memberikan harta tersebut karena ingin dipuji orang lain, maka Allah SWT tidak akan memberikan balasan atau pahala baginya.

Jadi tindakan dan perbuatan apapun dalam Islam harus berdasarkan kecintaan dan ketaatan kepada-Nya semata. Shalat, zakat dan infak, puasa, patuh dan taat kepada Rasul, hormat dan taat kedua orang-tua, kepada suami, kepada para pemimpin bahkan belajar, menuntut ilmu, bekerja dan berusaha serta saling mencinta diantara suami-istri, saling menyayangi diantara sesama manusia dan bahkan peduli terhadap alam semesta beserta seluruh isinya, bila itu semua dikarenakan oleh-Nya  maka Allah SWT akan menghitungnya sebagai ibadah dan baginya  pahala yang tak terkira. Oleh sebab itu, apapun tindakannya harus berlandaskan perintahNya. Hukum yang berlakupun adalah hukumNya. Ini adalah bagian dari sistim yang diciptakan-Nya.

Maka dengan demikian alam semesta akan terus berputar dengan segala keteraturan dan kesempurnaannya mengikuti sistim yang telah berjalan sejak milyaran tahun yang lalu hingga waktu yang telah ditentukan-Nya.

Akhir kata, semoga ilmu pengetahuan yang kita peroleh tidak menjadikan kita malah menjadi sombong serta congkak dan semoga kita tidak termasuk hambanya yang menyesal kelak di kemudian hari,  amin.

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.” Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab (ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an ketika Al Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia”.(QS.Al-Furqon(25):27-29).

Wallahu’alam bishshawab.

Ibnu Al Jauzi berkata: ”Anak laki-laki dianggap sudah baligh apabila sudah pernah ’mimpi basah’, berumur  15 tahun dan tumbuh rambut di sekitar kemaluannya. Sedangkan perempuan diangggap baligh apabila telah mengalami hal yang sama dengan laki-laki ditambah dengan haid dan hamil. Oleh karenanya apabila perempuan telah mengalami salah satu keadaan tadi maka ia telah dianggap dewasa dan sebagai konsekwensinya apabila ia meninggalkan kewajiban maka ia berdosa. Inilah arti kedewasaan seseorang”.

Sementara itu undang-undang no 4 tahun 1979 menyebutkan bahwa anak adalah mereka yang berumur sampai dengan 21 tahun. Sedangkan kenakalan remaja yang dimaksud dalam bab ini adalah kenakalan anak berusia13 – 21 tahun atau mereka yang masuk kategori dewasa berdasarkan perkataan Ibnu Al Jauzi diatas. Namun ini tidak berarti bahwa anak dibawah kriteria diatas bebas dari permasalahan. Bahkan belakangan ini diberitakan  anak-anak usia tersebutpun  banyak yang telah terjerat masalah rokok, penganiayaan dan pelecehan ringan.

Sebut saja ’ Smack Down’ misalnya,   pertunjukkan adu otot  ini ternyata telah menimbulkan korban yang tidak sedikit dari kalangan anak usia taman kanak-kanak. Juga menjamurnya rental ’Play station’ yang dituduh banyak menyumbangkan  penyebab anak malas ke sekolah. Belum lagi acara-acara TV yang dinilai sangat kurang memberikan pendidikan, seperti sinetron yang banyak menampilkan adegan kekerasan, saling bentak, pacaran, perselingkuhan dan sebagainya.

Kenakalan remaja dapat dikategorikan ke dalam perilaku menyimpang.  Perilaku menyimpang dapat dianggap sebagai sumber masalah karena dapat membahayakan tegaknya sistem hukum. Prilaku menyimpang ini ada  yang tidak disengaja dan ada yang disengaja, diantaranya mungkin karena si pelaku kurang memahami aturan-aturan yang ada. Remaja inilah yang pada umumnya mengalami berbagai masalah dan krisis diantaranya; krisis identitas, kecanduan narkotika dan obat-obatan/narkoba, kenakalan remaja, tidak dapat menyesuaikan diri di sekolah, konflik mental dan puncaknya adalah keterlibatan dalam kejahatan.

Kenakalan remaja terbagi atas 3 tingkatan. Pertama : kenakalan umum, seperti suka berbohong, menyontek, suka berkelahi, suka keluyuran, membolos sekolah, pergi dari rumah tanpa pamit. Kedua, kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan seperti tawuran, mengendarai mobil tanpa SIM, mengambil barang orang tua tanpa izin, nonton video porno dan yang terakhir adalah  kenakalan khusus seperti minum-minuman keras, penyalahgunaan narkotika,  hubungan seks diluar nikah, pemerkosaan dll.

Menurut data statistik setiap hari ada 40 orang meninggal akibat narkoba. Padahal dampak pemakaian obat2an terlarang ini bermacam-macam, tidak hanya kematian semata. Cacat mental seperti hilangnya fungsi tubuh dan otak adalah hanya satu diantaranya. Di sisi lain, pengobatan dan penyembuhan kecanduan narkoba sangat sulit karena narkoba membuat korbannya kecanduan. Mereka harus masuk rehabilitasi dan dijauhkan dari lingkungan lamanya.

Hal lain yang juga memprihatinkan adalah adanya  beberapa laporan tentang  ditemukannya sejumlah remaja yang telah berani ’kumpul kebo’, istilah bagi mereka yang hidup bersama tanpa ikatan penikahan! Sebuah fenomena yang jika terus didiamkan akan membahayakan baik bagi pelaku, keluarga, maupun masyarakat. Karena disamping bakal meningkatkan kemungkinan terjangkitnya virus HIV/AID, di kemudian hari juga dapat menimbulkan masalah sosial yang semakin kompleks.

Menurut dr Boyke Dian Nugroho, SpOG MARS jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia saat ini mencapai 500-600 ribu orang dimana 40% diantaranya adalah remaja. Ada dua penyebab utama terjadinya percepatan penularan HIV/AIDS yaitu perilaku seks bebas (30%) dan peredaran narkoba terutama yang menggunakan jarum suntik (50%). Badan Narkotika Nasional bahkan mengatakan bahwa pada tahun 2003 hampir 10 juta orang Indonesia telah menjadi korban barang haram ini.

Namun mengapa  dampak terbesar terjadi pada remaja? Secara kejiwaan usia remaja memang mengalami fase ketidakstabilan emosional. Sifat agresif dan tingkat emosional yang tinggi menyebabkan remaja cenderung sering mengambil tindakan cepat tanpa pertimbangan yang matang.  Dan akibat kelemahan prinsip hidup dan keterbatasan bekal hidup yang dimiliki,  remaja ketika menghadapi permasalahan, ia  mengalami kebingungan. Mereka merasa lebih aman bersama teman-temannya dan tinggal di luar rumah dari pada bercengkrama dengan keluarga di rumah. Lingkungan negatif inilah yang rentan membawa remaja kepada pergaulan bebas, seks bebas, narkoba dan tertularnya penyakit HIV/AIDS.

Ironisnya, gejala tersebut tidak hanya terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya misalnya, namun juga ke pelosok-pelosok daerah. Malah tahun-tahun belakangan ini banyak kita dengar berita mengenai maraknya kasus bunuh diri di kalangan remaja.

Penyebabnyapun rata-rata hanya masalah sepele, seperti dilarang pergi keluar malam, orang-tua tidak mampu membayar SPP, tidak memilki HP dll.  Berdasarkan penelitian, seorang pecandu narkoba memiliki kecenderungan dan keinginan untuk juga melakukan tindakan bunuh diri. Tampaknya remaja sekarang telah terjatuh dalam krisis identitas akut. Rasa percaya diri mereka dan terutama keimanan mereka patut dipertanyakan.

Pertanyaannya mengapa dan siapakah yang bersalah dan harus bertanggung-jawab? Tegakah  kita menyaksikan anak-anak yang dititipkan-Nya kepada kita, yang hadir  dari buah kasih sayang ayah ibunya dan bahkan dilahirkan melalui sebuah perjuangan yang tidak mudah  melangkah ke jurang kehancuran di depan mata  kita?

Diriwayatkan oleh Ahmad, Ath-Thabrani, Ibnu Hibban dan Al Baihaqi, Rasululah bersabda : ” Pendidikan seseorang diantara kalian terhadap anaknya lebih baik daripada ia bersedekah setengah sha’ setiap harinya kepada orang miskin”.

Dari Ibnu Umar ra, ia berkata, Rasulullah bersabda : ” Didiklah anakmu karena kamu akan dimintai pertanggung-jawaban : bagaimana kamu mendidiknya dan apa saja yang kamu ajarkan kepadanya. Dia juga akan dimintai pertanggung-jawaban seberapa jauh seorang anak berbakti dan taat kepadamu”.

Namaku Mada. Sebenarnya wajahku biasa-biasa saja. Namun orang bilang aku memiliki kepribadian menarik hingga banyak orang senang berteman denganku. Aku dilahirkan 18 tahun yang lalu di sebuah kota kecil di pulau Dewata sebagai anak tunggal. Ibuku adalah seorang putri asli Bali. Sedangkan ayahku seorang warga Indonesia keturunan Cina.

Waktu aku kecil ayahku sering bercerita dengan penuh kebanggaan tentang kakek moyangnya. Kakek moyangnya tersebut adalah seorang pelaut andal. Lebih dari seratus tahun yang lalu dengan hanya mengandalkan perahu tongkang sederhana ia bersama kawan-kawannya mengarungi samudra Cina Selatan nan luas menuju ke kepulauan Indonesia selama berbulan-bulan lamanya.

Setelah mengalami beberapa kali badai dan topan akhirnya mereka terdampar di salah satu kepulauan kecil di Filipina. Dari pulau tersebut mereka kemudian berpencar. Kakek memilih melanjutkan petualangan berbahayanya hingga akhirnya dengan selamat tiba di pesisir Bali. Ia adalah hanya 3 diantara 8 kawannya yang selamat dari perjalanan maut tersebut. Di pulau inilah kakek kemudian memulai kehidupan barunya. Di tanah ini pula kakek  kemudian  menikahi seorang gadis Bali sebagaimana juga ayah yang menikah dengan ibu 18 tahun yang lalu.

Kakeklah yang mengajari ayah bagaimana caranya berbisnis.hingga akhirnya ayah seperti sekarang ini. Ayahku saat ini adalah seorang bos  perusahaan penghasil  makanan laut yang sukses. Aku sangat mengaguminya. Namun bersamaan dengan kesuksesannya  itu sesungguhnya aku justru mulai kehilangan dirinya. Dulu, ketika masih di Bali ayah sering mengajakku bermain-main air, pasir dan mencari kerang-kerangan di pantai. Bahkan pada hari-hari pertama kepindahan kami ke Jakartapun ayah masih sering mengajakku  jalan-jalan ke pasar ikan di Kamal. Kadang kami memancing kemudian  berdua kami membakar ikan-ikan hasil tangkapan kami tersebut sebelum akhirnya menyantapnya dengan lahap. Namun makin hari ayah makin sibuk sehingga akhirnya yang tertinggal hanyalah kenangan manisnya saja.

Sementara ibu, ia adalah seorang penasehat ekonomi di sebuah perusahaan swasta Perancis. Ia seorang pekerja yang tekun dan rajin. Seingatku sejak aku kecil bahkan hingga saat inipun hampir sepanjang waktu ibu dihabiskan di tempatnya bekerja. Itu sebabnya aku tidak begitu akrab dengannya. Kadang aku berpikir apakah ibu tidak menyayangiku? Beruntung  aku masih mempunyai  tante  yang amat memperhatikanku.

Tante Rani adalah adik ayah. Ia adalah tipe perempuan setia yang menjunjung tinggi arti sebuah cinta sejati. Sayang suaminya meninggal hanya beberapa bulan setelah pernikahan mereka. Ia meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat terbang. Sejak itu tante Rani tidak pernah lagi mau menikah. Waktunya hanya dihabiskannya dengan membaca dan bermain piano kesayangannya. Ia tinggal bersama kami sejak orangtuaku pindah ke Jakarta. Ketika itu aku berumur 4 tahun. Ialah yang  menemaniku melalui hari-hari pertamaku di TK. Ia pulalah yang mengajariku pentingnya arti sebuah kejujuran dan kebersihan hati. Seperti halnya kebanyakan keturunan Cina yang masih memegang teguh ajaran leluhur, tante Rani adalah seorang pemeluk agama Kong Hu Chu yang taat. Hampir setiap hari Senin dan Kamis  ia berpuasa. Itu sebabnya orangtuaku  mempercayakan pendidikan spiritualku padanya.

Darinya pula, ketika aku sudah agak besar, aku tahu bahwa ayah adalah seorang pecandu minuman keras dan doyan mabuk-mabukan. Kebiasaan buruk ini mulai  merasuki dirinya setahun sebelum ibu melahiranku. Inilah yang menyebabkan ibu lebih betah di tempatnya bekerja daripada di rumah. Aku memang sering memergoki ayah dan  ibu bertengkar, ntah apa yang diributkan. Namun dihadapanku mereka selalu berusaha menutupinya.

***

Pada suatu hari di awal tahun 2000, ibu mendapat tawaran untuk melanjutkan program pendidikan S2 di universitas Sorbonne, Paris, Perancis. Tentu saja ibu tidak menyiakan-nyiakan kesempatan emas tersebut. Ibu mengajakku untuk menemaninya selama ia menuntut ilmu di kota pusat mode dunia tersebut. Sementara ayah tetap di Jakarta.  Namun ia janji  akan sering-sering menengok kami berdua. Maka dengan penuh semangat berangkatlah kami menuju kota yang terkenal dengan menara Eiffelnya itu. Sedih juga aku terpaksa berpisah dengan ayah  terutama dengan tante Rani. Tapi itulah hidup. Dengan mata berkaca-kaca tante Rani menasehatiku banyak-banyak agar selalu berhati-hati di negri orang terutama dalam menghadapi pergaulan bebas anak-anak muda di negri yang begitu mendewakan azas demokrasi ini.

Ingatlah selalu Mada…kita ini masyarakat Timur yang masih dan senantiasa menjunjung tinggi agama, budaya dan sopan santun. Hormatilah aturan dan orang yang lebih tua”, begitu ia mewanti-wantiku.

Pesawat yang kami tumpangi menjejakkan rodanya di  Charles de Gaulle Airport Paris pada pagi hari bulan Agustus  yang cerah. Temperatur sekitar 34 derajat Celcius di siang hari. Jadi kurang lebih sama dengan  Jakarta. Di airport kami dijemput oleh sebuah kendaraan milik perusahaan dimana ibu bekerja. Kami langsung menuju apartemen dimana kami akan tinggal selama di Paris. Dengan suka cita melalui jendela mobil kami menikmati pemandangan kota yang begitu mempesona ini.

Bangunan-bangunan kuno dengan arsitektur cantik  khas Eropa berjajar dalam blok-blok yang teratur rapi. Restoran dengan meja dan kursinya yang ditata dibawah payung-payung lebar di pedestrian, jalan bagi pejalan kaki yang lebar terlihat dimana-mana. Yang juga tak kalah menarik dalam pandanganku sebagai seorang anak laki adalah mobil-mobil yang berseliweran di sepanjang jalan. Aku perhatikan rupanya sedan-sedan  mewah berbagai merk yang di Jakarta   hanya dipakai orang-orang kaya saja di kota ini dijadikan taxi!  Berbagai merek mobil mewah seperti Mercedes, Peugeout, BMW, Honda keluaran baru memenuhi jalanan, woow…

Di kota ini  aku sekolah di sebuah sekolah swasta dengan 2 bahasa pengantar yaitu Inggris dan Perancis. Ketika itu usiaku 15 tahun. Jadi aku dimasukkan ke kelas troisieme atau setingkat kelas 3 SMP di Indonesia. Di Perancis, menuntut ilmu di sekolah adalah wajib bagi seluruh warga dan gratis pula kecuali tentu saja sekolah swasta. Jadi tidak ada alasan seorang anak tidak sekolah karena alasan tidak mampu atau tidak lulus tes. Umurlah yang menentukan kelas setiap anak yang baru pindah sekolah.

Agak berbeda dengan sekolah di Indonesia, tingkat pendidikan SD atau disebut Ecole Primer lamanya hanya 5 tahun. SMP yang mereka namakan College diselesaikan dalam waktu 4 tahun dan SMA atau Lycee 3 tahun. Jadi totalnya tetap 12 tahun sama dengan di Indonesia. Namun penyebutan kelasnya sendiri tidak dibedakan antara SD, SMP atau SMA. Klas 1 SD disebut onzieme yang berarti ke 11 , klas 2 SD disebut dixieme yang berarti ke 10. Demikian seterusnya  hingga klas 2 SMA yang disebut premiere yang berarti ke 1 dan yang terakhir adalah klas terminal atau klas 3 SMA.

Sebagian besar murid sekolah yang dikenal dengan nama Ecole Active Bilingue ini adalah warga non Perancis. Bahkan di kelasku hampir setengahnya  adalah dari Asia namun sayang tak satupun yang berasal dari Indonesia. Hari-hari pertama sekolahku tak terlalu istimewa. Aku diminta memperkenalkan diri dalam bahasa Perancis namun setelah aku katakan bahwa aku tidak bisa berbahasa tersebut maka akupun memperkenalkan diriku dalam bahasa Inggris yang agak kacau. Mulanya aku agak tak percaya diri dengan kekuranganku itu. Namun setelah kusadari bahwa sebagian teman-temankupun tidak  berbahasa Inggris dengan sempurna akupun menjadi lebih tenang dan santai.

Aku selalu merasa penasaran menebak identitas diri orang asing yang baru aku temui atau aku kenal “, begitu kata wali kelasku yang asli Perancis. “ Untuk sekedar berkomunikasi dengan orang lain seseorang  tidak  harus berbicara dengan logat sesempurna orang yang menggunakan bahasa asing  tersebut sebagai bahasa ibunya. Justru disitu letak daya tariknya”, lanjut guru tersebut dengan logat bahasa Inggris yang agak aneh. Belakangan aku baru tahu bahwa logat seperti itu sangat khas logat orang Perancis berbahasa Inggris.  Maka sejak saat itu aku jadi tertarik untuk  memperhatikan logat bicara orang-orang di sekitarku terutama ketika aku harus berdesak-desakan di dalam Metro, angkutan umum masal bawah tanah Perancis.

Di  kota Paris ini kesempatan bertemu dengan orang asing sangatlah  besar. Hampir semua lapisan masyarakat kota ini baik penduduk asli maupun wisatawan asing dan lokal, pejabat maupun rakyat biasa memilih Metro sebagai alat transportasi. Karena selain lebih cepat dan tepat waktu juga lebih murah. Jadi lebih effisien dari pada menggunakan kendaraan pribadi. Di dalam metro inilah aku paling sering berjumpa wisatawan mancanegara. Mereka berbicara dalam berbagai bahasa dan logat. Dalam waktu beberapa bulan saja aku sudah dapat mengenali asal negara seseorang berdasarkan logat bahasa Inggris ataupun  Perancis yang diucapkannya.

Aku sendiri di sekolah lebih sering menggunakan bahasa Inggris. Namun untuk mempercepat kelancaran bahasa Perancisku aku memilih lebih sering berpergian ke berbagai tempat dan  bertemu dengan orang banyak daripada harus khusus mengambil kursus bahasa yang menurut banyak orang terdengar manja di telinga ini. Disamping itu dengan  banyak berkunjung ke berbagai tempat umum banyak pengalaman yang kudapat.

Museum adalah tempat yang paling menarik perhatianku. Sekolahlah yang pertama kali memperkenalkan tempat yang menyimpan bergudang-gudang  cerita dan sejarah ini. Aku mengunjungi museum untuk pertama kalinya bersama rombongan sekolah. Dengan didampingi seorang guru sejarah kami melakukan kunjungan ke museum terbesar dan  terlengkap di Paris, yaitu Musee’ Du Louvre. Sejak itu hampir sebulan sekali aku selalu pergi mengunjungi museum yang jumlahnya banyak sekali  di kota ini. Beruntung aku mempunyai  2 teman baru yang punya minat yang sama denganku.  Yaitu Kaori, seorang  gadis  Jepang  dan satu lagi  Hans, seorang pemuda Yahudi asal Jerman- Austria. Bertiga kami pergi menjelajahi museum satu ke museum yang lain. Namun tetap museum Du Louvre adalah pilihan terbaik.

Mueum ini terletak di jantung kota Paris, di sisi utara sungai Seine yang membelah kota, dengan akses yang sangat mudah. Bangunan ini  pada tahun 1190 aslinya adalah sebuah benteng kota. Beberapa ratus tahun kemudian bangunan ini kemudian berubah fungsi menjadi galeri pribadi kerajaan. Baru pada tahun 1855 museum ini akhirnya resmi dijadikan  museum Negara. Itupun pada awalnya hanya dibuka untuk umum seminggu sekali yaitu pada hari Minggu. Bangunan bergaya arsitektur Renaissance yang menempati areal seluas 210 ribu meter persegi ini belakangan diperkaya dengan sentuhan arsitektur modern di tengah arealnya. Sebuah bangunan kaca raksasa dengan bentuk piramida, karya seorang arsitek Cina-Amerika,   sejak tahun 1988   menjadi pintu masuk utama menuju museum.

Banyak koleksi terkenal yang dipajang di museum ini. Salah satunya adalah lukisan Monalisa dengan senyumnya yang misterius itu. Di museum ini pula film Da Vinci Code yang diambil dari buku karangan Dan Brown yang kontroversial itu mengambil lokasi shooting. Beberapa tema menarik yang digelar museum ini menarik perhatianku. Diantaranya adalah pameran  kapal pesiar super mewah Titanic dan pameran tentang Yerusalem yang diberi judul “ Yerusalem dan  Sultan Salahuddin Al-Ayubi, Sang Penakluk “.

Awalnya adalah Hans yang sering menceritakan kekagumannya pada kakeknya yang lama menetap di kota Yerusalem yang merupakan kota suci bagi umat Islam, Nasrani dan Yahudi tersebut. Ketika itu kami bertiga sedang bingung menentukan museum mana yang akan kami kunjungi pada hari Minggu itu. Ketika itulah Hans menemukan brosur tentang pameran Yerusalem. Maka dengan penuh antusias ia membujuk kami agar mau mengunjungi pameran tersebut.

Pameran ini diselenggarakan di ruang utama museum Du Louvre dan akan berlangsung selama 1 bulan. lamanya. Museum ini memang dikenal terbiasa menyelenggarakan pameran dengan tema-tema tertentu yang banyak menarik perhatian umum. Tokoh-tokoh terkenal manca Negara mulai pelukis kenamaan Pablo Picasso,  Salvador Dali,  janda mantan presiden AS Kennedy, Jacquelin Kenneddy Onasis dengan koleksi ribuan pakaiannya hingga tokoh-tokoh besar peradaban sejarah masa lalu seperti Ramses Sang Fir’aun dari Mesir, Harun Ar-Rasyid dengan kisah 1001 malamnya hingga  Hittler dengan nazinya pernah dijadikan  tema pameran di museum yang setiap hari dikunjungi ribuan wisatawan mancanegara ini.  Sejak pulang dari pameran tentang Yerusalem inilah aku mulai tertarik pada masalah keagamaan dan perbedaannya.

***

Suatu pagi hari di bulan September tahun berikutnya, yaitu pada tahun 2001, tiba-tiba kami dikejutkan berita heboh tentang ditabraknya menara kembar WTC di New York. Berita ini sontak selama beberapa hari menjadi berita utama bahkan hingga beberapa minggu ke depan. Hampir setiap hari semua kantor berita dan surat kabar di kota ini secara berulang-ulang menyiarkan berita nahas tersebut. Rata-rata mereka  memberitakan bahwa hal tersebut adalah peristiwa pembajakan yang dilakukan orang-orang Islam radikal. Dalam hati aku bertanya-tanya alangkah cepatnya  mereka menemukan biang kerok peristiwa biadab tersebut. Bayangkan tak sampai  24 jam bahkan mungkin hanya dalam waktu 18 jam setelah kejadian menggegerkan tersebut, dengan sangat mudah pelakunya telah dapat  teridentifikasi dan langsung tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Celakanya, kami sebagai warga negara Indonesia yang dikenal sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia terpaksa kena getah pahit peritiwa biadab tersebut. Untuk pertama kalinya aku menyesal mengapa tipe wajah dan kulitku yang sawo matang dan khas Indonesia ini tidak mampu menyembunyikan identitasku. Dimanapun  ada kesempatan, hampir setiap orang yang kujumpai selalu  menanyakan hal yang sama.

Terpaksa berkali-kali aku terangkan bahwa meskipun aku orang Indonesia aku bukan pemeluk agama Islam, jadi aku tidak tahu menahu soal itu. Orang-orang itu mengajukan berbagai pertanyaan, ya jihadlah, ya jilbablah, ya kebebasanlah…pokoknya segala macam yang berhubungan dengan Islam. Jengkel dan kesal aku dibuatnya. Namun di balik itu semua, terus terang rasanya aku tak  percaya ada agama di dunia ini yang mengajarkan kekerasan apalagi pembunuhan masal seperti itu.

Aku yakin ini pasti fitnah atau paling tidak ini perbuatan sekelompok orang yang tidak mewakili agamanya. Walau bagaimanapun sebagai orang yang tinggal di negri yang mayoritas Islam, aku punya banyak kenalan muslim, sebutan pemeluk agama Islam. Bahkan sepupuku yang tinggal di Balipun ada beberapa yang beragama Islam. Aku pikir di setiap agama pasti ada saja orang-orang atau oknum yang sesat. Sebut saja Klux Klux Clan yang sering dijadkan latar belakang film-film Holywood. Mustinya memang harus dipisahkan antara ajaran murni sebuah agama dengan orang yang memeluknya. Maka tanpa kusadari akupun mulai simpatik dan jatuh kasihan pada agama ini.

***

Dua tahun aku bersekolah di Perancis. Tak terasa ibu telah menyelesaikan program S2 nya. Bahkan ia berhasil menyandang predikat ‘Cum Laude’. “ Felicitation maman, ibu memang hebat! ”,  pujiku sambil memberinya ciuman selamat.

Sekembali dari Paris, ibu menyekolahkanku ke sebuah sekolah swasta Nasrani bergengsi di selatan Jakarta. Sementara itu aku mendapat laporan dari tante Rani bahwa sejak aku dan ibu menetap di Paris, kebiasaan minum dan bermabuk-mabukan ayah makin parah. Lebih dari itu menurut tante Rani ayah bahkan berani membawa perempuan nakal ke rumah dan tidur di kamar ayah ibu!  Aku kasihan pada ibu namun mungkin karena ketidak eratan hubunganku dengannya disamping tentu saja karena aku tidak tega, aku tidak berani mengatakan hal tersebut padanya. Jadi aku putuskan untuk menutup rapat-rapat rahasia tersebut  begitu pula tante Rani. Ada sedikit penyesalan di dalam hati mengapa 2 tahun hidup hanya berdua di negri orang tidak mampu membangun kedekatan hubungan antara aku dan ibu. Aku rasa penyebabnya adalah karena waktu itu ibu terlalu sibuk belajar.

***

Di sekolah baruku aku masuk di kelas II IPS 1. Ini sesuai dengan pilihanku. Aku memang menyenangi  masalah–masalah sosial. Di kelas inilah aku mengenal Kira, seorang gadis cantik yang menjadi rebutan cowok-cowok.

Biiip … Biiip …. Biiip…..”. Begitu suara yang keluar dari Hpku. Ada SMS masuk. Aku menggeliat dan melirik Hpku namun mataku kembali tertutup  rapat. Tak lama kemudian ” Kriiing ….. Kriiiing …” kali ini bel Hpku yang berbunyi kencang. ”Aduuh… jam berapa sih ini?” keluhku. Jam setengah 11 siang !! ”Waah kacau, tadi pasti sms dari Kira..”.  ” Mad, jangan lupa  jam  11 lho, aku tunggu di depan halte Indomaret ..” , begitu bunyi sms Kira.

Aku segera masuk kamar mandi. Dan 20 menit kemudian aku sudah berada di Honda Jazz biru kesayanganku. Tanpa sarapan aku langsung menuju tempat yang dijanjikan, yaitu halte dimana Kira katanya menunggu. Aku tak tahu mengapa Kira tak mau dijemput di rumahnya. Namun aku tak begitu peduli, biarlah ia menyimpan alasannya sendiri. Setelah celingak-celinguk ke kanan-kiri tidak melihatnya, akupun  keluar dari mobil untuk  membeli tahu sumedang di depan tempat itu. Sambil melahap sarapanku, ingatanku kembali ke hari-hari pertama aku mengenal Kira, cewek yang sekarang berstatus pacarku itu.

” Hei anak baru, kenalin gue, nama gue Kira.”, serunya lantang. Kaget juga aku melihat serombongan cewek mendekatiku. Ketika itu aku baru saja keluar dari toilet dan akan menuju kantin sekolah. ” Gue  Lani”, ” Gue Thea”, ” Mira”. Begitu berondong ke  4 cewek yang aku dengar katanya cewek –cewek top sekolah ini.

” Katanya elo pindahan dari Perancus  ya, ajarin kita bahasa Perancis dong …” seru mereka. Oh..itu, aku tersenyum. Pantas koq ujug-ujug cewek-cewek ini pada datang mengeroyokku. Udah GR aja, kataku dalam hati kecut.

Sejak itu akupun akrab dengan Kira. Ia bercerita bahwa ia bercita-cita ingin jadi super model dan berangan-angan suatu hari nanti bisa melihat Paris dengan mata kepalanya sendiri. Itu sebabnya ia sering minta diceritakan dan diajari bahasa negri itu. Ia memang gadis yang agak agresif kalau tidak mau dibilang  kelewat agresif. Ia yang ’menembak’ ku. Kami baru jadian  beberapa hari yang  lalu. Ini adalah hari pertama kencanku.

Hoy…ngelamun ya…”, seru suara seseorang sambil menggedor pintu mobilku.  Kaget aku dibuatnya, tiba-tiba gadis itu muncul di samping mobilku. Mataku agak melotot ketika memandangnya. Kira tampil mengenakan celana  jeans super pendek dipadu T-Shirt ketat buntung alias tanpa lengan berwarna kuning menyala. Wajah cantiknya tertutup polesan tebal kosmetik hingga terlihat tidak alami. Ini adalah kali pertama aku melihatnya berpenampilan  bebas tanpa seragam sekolah. Nyaris aku tidak mengenalinya.

” Koq  bengong sih, ouvre la porte, s’il te plait…!, serunya.  ” oh iya, iya…”, jawabku tergagap ” Sori..”. Tanpa mengucap kata maaf sedikitpun Kira langsung duduk dan terus nyerocos dalam bahasa gado-gado Perancis-Indonesia yang lumayan kacau. Mungkin saking menggebunya ingin mempraktekkan bahasa asing yang baru dikuasainya ia sampai lupa bahwa ia telah membuatku lama menunggu, begitu pikirku menghibur.

” Kemana kita nih, Kir?” tanyaku begitu mendapat kesempatan berbicara.  ” Oh iya,  ke studio foto di Arteri Pondok Indah. Kemarin gue ditelpon katanya gue terpilih untuk cover sebuah majalah. Katanya gue ngalahin 500 gadis yang ngelamar jadi foto model… wuuh asyik, akhirnya kesampaian juga nih… kayaknya mimpi gue bisa jalan-jalan ke Paris udah di depan mata nih…asyik, keren kan?”. Aku hanya manggut-manggut saja.

***

Hari ini adalah hari Senin. Pada upacara  sekolah yang diadakan 2 minggu sekali ini kepala sekolah mengumumkan bahwa mulai tahun ini ada tambahan mata pelajaran baru. Namanya pelajaran Kebersamaan. Ini sebuah proyek uji coba yang diterapkan di beberapa sekolah swasta pilihan. Pelajaran ini menggantikan pelajaran agama Nasrani yang telah bertahun-tahun menjadi pelajaran tetap di hampir semua sekolah Nasrani.

Tujuan pelajaran ini katanya untuk menyamakan visi keberagamaan di Indonesia agar dikemudian hari tidak ada lagi perbedaan-perbedaan yang berpotensi menimbulkan kekacauan, perpecahan dan keributan. Aku tiba-tiba teringat kejadian September 2001 ketika aku masih berada di Paris. Aku pikir ini sebuah terobosan yang sangat bagus dan masuk di akal. Mengapa orang harus ribut hanya gara-gara membela sebuah agama dan kepercayaan.  Aku sangat menyukai pelajaran baru ini. Paling tidak aku jadi tahu apa itu Nasrani, Islam, Yahudi, Hindu, Budha dan lain-lain walau hanya sedikit-sedikit, tidak detail.

Sebaliknya, diluar perkiraanku, aku malah mulai tidak pede pada keyakinanku sendiri. Aku merasa agamaku sama sekali tidak memilki keterikatan dengan agama lain. Agama-agama besar seperti Islam, Nasrani dan Yahudi yang menurut guruku disebut agama Samawi  ternyata mempunyai banyak sekali persamaan.  Pada dasarnya mereka mempunyai nabi-nabi dan rasul-rasul, yaitu utusan Tuhan, yang sama dan saling mengakuinya. Bahkan sebagian besar riwayat para nabi dan rasul merekapun hampir sama dan itu semua tertulis di dalam kitab suci masing-masing. Uniknya lagi, ketiganya mengakui bahwa malaikat Jibril sebagai malaikat yang menyampaikan wahyu, yaitu perintah Tuhan, adalah malaikat yang sama !

Namun ketika suatu hari  aku ingin mendiskusikan hal ini dengan tanteku, ia tampak marah dan kecewa. Dia bilang ia tidak ingin dan tidak akan bersedia membicarakan ajaran agama diluar ajaran yang diketahuinya. ” Agama untuk dipraktekkan bukan untuk didiskusikan apalagi hanya dijadikan wacana dan perdebatan ”, begitu katanya. Menurutnya agama adalah akhlak, budi pekerti serta  kebaikan. Tanpa itu semua, agama adalah percuma dan sia-sia belaka. Dalam hati aku setuju padanya. Akan tetapi sejak itu tante Ranipun mulai menjaga jarak dan menjauh dariku. Aku sungguh merasa kehilangan orang sekaligus teman tempat aku bisa mengadu dan curhat.

***

” Mad, besok anter gue ke tempat pemotretan kayak waktu itu dong …” terdengar suara manja Kira. Ketika itu aku sedang menyelesaikan catatan Ekonomiku yang berantakan. Heran, aku tidak pernah bisa menyukai pelajaran yang satu ini. Aku segera meletakkan bolpen dan memandangnya tajam. Kirapun cepat menyadari kesalahannya. ” Sori Mad, sori ..”, katanya sambil mengangkat jari tengah dan telunjuknya. ” Promi…. g lama deh. Atau gue di drop aja gimana…tapi jemput gue lagi dong.”, rengeknya. Aku diam saja dan tidak menjawabnya.

Aku teringat waktu itu, aku harus menunggu berjam-jam lamanya selama Kira menjalani pemotretan. Dengan berbagai pose yang menurutku tak pantas, dengan senang hati Kira menuruti saja  apa yang diinginkan sang pemotret. Bahkan orang itu dengan santai enak saja menyentuh dan memegang tubuh Kira.  Risih aku melihatnya. Aku merasa bahwa tak pantas seorang perempuan diperlakukan seperti itu. Bahkan seandainya perempuan itu bukan pacarku sekalipun, aku tak suka melihatnya. Namun Kira menganggap aku  cemburu. Ia marah dan merasa aku tak berhak mengaturnya.

Beruntung tak lama kemudian terdengar bel berbunyi.  Pak Tigor masuk. Ia guru pelajaran Kebersamaan. Kira segera kembali ke tempat duduknya semula. Untuk sementara aku merasa  lega.

” Siapa yang hari ini mendapat giliran presentasi ?” tanyanya. Rino, Tika dan Thea segera maju ke depan dan membagi-bagikan makalah. Hari ini kelompoknya kebagian tugas menerangkan bab  tentang kedudukan rukun Islam dalam Islam. Pak Tigor sekali-sekali menyela dan menerangkan bagian-bagian yang dianggap kurang jelas dan kurang tepat. Dengan serius aku mendengarkan dan mencatatnya baik-baik.

Diam-diam aku kagum pada disiplin ajaran ini. Jadi orang Islam harus melaksanakan shalat 5 kali dalam sehari. Itupun pada waktu-waktu yang ditentukan dan dengan cara yang khusus pula. Namun sebaliknya aku heran. Teman-temanku sebagian besar katanya adalah pemeluk Islam. Tetapi rasanya aku tidak pernah sekalipun melihat ada temanku yang mengerjakan shalat. Sekali lagi aku melihat sebagus apapun  teori bila tidak dikerjakan percuma saja. Aku juga mendengar bahwa orang Islam dilarang minum minuman beralkohol dan mabuk-mabukan. Nyatanya aku mempunyai beberapa teman yang setiap malam minggu doyan mabuk-mabukan dan berdugem ria. Malah ada yang bercerita bahwa perempuan Islam wajib menutup seluruh tubuh dan  lekuk-lekuknya kecuali wajah.  Lalu bagaimana dengan Kira dan banyak temanku yang lain? Kalau begitu memang benar sekali apa yang dikatakan tante Rani tempo hari.

***

Sebulan kemudian aku dan kelompokku mendapat giliran presentasi. Kami mendapat tugas menerangkan persamaan antara ajaran Nasrani dan Islam. Kami sepakat untuk mengangkat  masalah tentang seorang perempuan yang dikabarkan hamil tanpa sedikitpun sentuhan laki-laki. Perempuan ini adalah Bunda Maria yang kelak melahirkan Yesus Kristus, Tuhannya orang Nasrani. Sebelumnya Maria dikenal sebagai perempuan suci. Maka begitu tersebar berita bahwa gadis ini hamil padahal ia belum menikah, maka ia segera dikucilkan. Ia dibuang dan dicap sebagai seorang pezinah yang hina.

Namun ternyata bayi yanng dilahirkan gadis ini dikemudian hari terbukti mempunyai banyak mukjizat. Bahkan sejak di buaian bayi ini telah dapat berbicara! Menurut kepercayaan umat Nasrani, bayi ini adalah Tuhan Yesus. Selama di dunia Yesus berwujud manusia. Ia digambarkan sebagai manusia yang penuh kewibawaan. Sayangnya, Yesus yang datang diantara umat Yahudi ini tidak diakui. Ia bahkan secara kejam disalib oleh pemuka Rumawi akibat fitnah yang dsebarkan umat Yahudi.

Sedang menurut versi Islam, Al- Quran menuturkan bahwa perempuan tersebut adalah Mariam anak Imran, seorang shalih yang lama menantikan kehadiran anak. Ketika istri Imran yang sudah tua itu akhirnya hamil, saking gembiranya ia bernazar akan menyerahkan  anak yang bakal dilahirkannya kepada gereja. Dibawah  asuhan pamannya, seorang utusan Allah yang bernama Zakaria, Maria tumbuh menjadi gadis yang shalih.

Allahlah yang meniupkan ruh langsung ke rahim Mariam hingga walaupun tanpa sedikitpun sentuhan lelaki ia dapat menjadi hamil. Sampai disini kepercayaan kedua agama besar ini masih bisa disamakan. Namun selanjutnya orang Islam berkeyakinan bahwa anak yang dilahirkan Mariam tersebut, yang kelak disebut Isa Al-Masih,  bukanlah Tuhan. Ia adalah manusia biasa yang kemudian terpilih  menjadi utusan Tuhan. Ini bukan hal istimewa karena sebelum Isa, Tuhan telah mengirim sejumlah utusan yang mereka sebut Rasul atau Nabi. Dan sebagaimana rasul-rasul lain, Allah membekalinya dengan sejumlah mukjizat.

Bila pemeluk Nasrani berkeyakinan bahwa Yesus telah disalib maka pemeluk  Islam berkeyakinan bahwa Isa baru akan disalib. Namun beberapa saat sebelum penyaliban terlaksana, Tuhan menyerupakan Yudas, salah satu murid Isa yang membelot, dengan rupa Isa hingga Isapun terselamatkan dari penyaliban. Jadi orang yang disalib di tiang gantungan sebenarnya bukan Isa, sang Rasul namun orang lain yaitu muridnya sendiri. Isa sendiri kemudian diselamatkan dan diangkat oleh-Nya ke langit.

***