Feeds:
Posts
Comments

BAB X : EPILOG

 “ dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Qur’an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya, dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus” . (QS.Al–Hajj(22):54).

Bersyukurlah  kita sebagai kaum Muslimin karena Allah swt telah berkenan memberikan kita ilmu yang benar, ilmu yang memberikan kita petunjuk kemana harus melangkah, kemana harus memohon pertolongan. Dengan adanya kitabullah, Al-Qur’anul Karim inilah kita menjadi tahu apa sesungguhnya hakekat hidup ini. Segala puji hanya bagi Allah yang telah begitu banyak memberikan kasih-sayangnya kepada kita semua. Dan Rasulullah Muhammad saw yang begitu gigih mengajak kaumnya untuk menuju kepada kebenaran sehingga hingga detik ini ajaran Islam bisa sampai kepada kita dengan izin-Nya, semoga Allah swt senantiasa memberikan balasan tertinggi baginya.

 Namun ilmu yang  benar, sekalipun itu ilmu yang berasal dari –Nya, bila  tidak membuat kita beriman, mempercayai dengan hati yang tunduk patuh serta ikhlas menyerahkan segala hajat keperluan serta mengerjakan perintah dan larangan-Nya, maka sia-sialah ilmu dan pengetahuan tersebut.  Jiwa manusia pada fitrahnya  adalah  bersih. Ini yang menyebabkannya  mampu bersumpah dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan hanya kepada-Nya ia menyembah dan mematuhi  segala  aturan-Nya. Namun dalam perjalanan hidupnya selama di dunia, dibutuhkan daya dan upaya agar ia tetap berada di jalan yang benar.

 Orang-tua dan keluarga adalah bagian terpenting dari perkembangan hidup seseorang. Berikutnya adalah lingkungan, termasuk sekolah serta pergaulannya. 

  Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Tiada anak manusia yang dilahirkan kecuali dengan kecenderungan alamiahnya (fitrah). Maka orang-tuanyalah yang membuat anak manusia itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”.

 Hidup di zaman sekarang memang berat. Padahal fasilitas dan segala kemudahan hidup telah jauh lebih baik dibanding tahun-tahun dimana orang-tua atau nenek-kakek kita hidup. Apalagi bila dibandingkan dengan masa dimana Rasulullah beserta para sahabat hidup. Namun sungguh ironis, bisa kita  lihat secara kasat mata justru mutu akhlak sebagian manusia kacau. Yang hidup berkecukupan dan berlimpah kekayaan tidak memiliki kepedulian sosial, sebaliknya yang hidup kekuranganpun enggan memohon kepada-Nya. Mereka mengerjakan shalat namun prilakunya tidak mencerminkan keislamannya yang mustinya rahmatan lilalamin. Bahkan belakangan ini tidak saja pergaulan bebas muda-mudi yang meraja-lela namun bahkan  pergaulan  sesama jenis  makin menggila!

 Iblis memang telah diberi tangguh siksanya dan ia diberi keleluasaan untuk mengganggu jalannya manusia menuju kebaikkan. Sifat Iblis memang demikian, ia keji dan mungkar. Ia tidak rela menjalani hukuman api neraka seorang diri. Dendam masa lalunya terhadap nenek moyang manusia, Adam as terus membakarnya. Itulah sebabnya ia berusaha sekuat tenaga menyesatkan manusia.

 “Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma`siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,”(QS.Al-Hijr(15):39).

 Sebaliknya bila manusia tetap berpegang teguh pada tali Allah, sesungguhnya Iblis dan bala tentaranya, yaitu syaitan baik dari jenis jin maupun dari jenis manusia tidak akan mampu menggoda dan menjerumuskan manusia. Sesungguhnya godaan syaitan hanya berhasil bila manusia memperturutkan hawa nafsu dan keinginan yang tidak didasari akal dan hati, bukan berdasarkan kebutuhan. Semakin seseorang mempercayai bisikan dan dugaan syaitan maka semakin besar pula pengaruh bisikan dan godaan syaitan tersebut. Allah mengikuti persangkaan hati manusia. Bila ia berburuk sangka pada-Nya dan berbaik sangka pada syaitan maka Allah akan mengabulkan persangkaannya tersebut. Begitupun sebaliknya.

  ”Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”.  (QS.Al-An’am (6):116).     

 Rasulullah saw diutus agar membebaskan manusia dari ketakutan dan ketaklukan kepada yang selain dari Allah swt. Pertolongan, manfaat maupun mudharat hanya bisa datang dan terjadi karena kehendak-Nya. Bahkan ahli sihir, dukun, mantera-mantera, obat-obatan, dokter, kesembuhan dan penyakit, kekayaan dan kemiskinan, rezeki, kebahagiaan maupun kecelakaan semua dapat terjadi karena izin Allah. Allah memberikan akal bagi manusia agar manusia mau mencari ilmu. Dan dengan ilmunya itu manusia harus berusaha bagaimana mencari rezeki, bagaimana agar kita hidup sehat, bagaimana agar hidup bahagia. Namun hasil dari usaha dan upayanya itu Allah yang menentukan.

 Rasulullah bersabda : “Barangsiapa menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka ia harus memiliki ilmunya; barangsiapa menghendaki (kebahagiaan) akhirat, ia harus memiliki ilmunya dan siapapun yang ingin meraih keduanya, maka ia harus memiliki ilmunya. (ilmu keduniaan dan ilmu akhirat)”.

Akhir kata, Rasulullah mengajarkan agar kita senantiasa memohon kepada-Nya agar dijauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat, ilmu yang akhirnya hanya menjadi penghancur diri manusia di akhirat kelak.

 ” Allahumma innii asaluka rizqon thoyyibaan  wa ’ilman naa fi’aan  wa ’amalaan maqbuulaan” 

  Artinya : “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada- Mu rizki yang baik dan  ilmu yang  bermanfa’at  dan amal yang diterima”.

  “Allahumma inni a’udzubika min ’ilmin laa yanfa’ wa qolbin laa yakhsya’ wa du’aain laa yusma’  wa nafsin laa tasyba’

 Artinya : ” Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang tidak berguna, hati yang tidak pernah khusu’(tenang),  doa yang  yang tidak  didengar  dan dari nafsu yang tidak pernah puas

“ Hanya  milik  Allah  asmaa-ul  husna,  maka   bermohonlah  kepada-Nya  dengan  menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran  dalam   ( menyebut )   nama-nama-Nya.  Nanti  mereka akan mendapat balasan  terhadap apa  yang telah mereka kerjakan”. (QS.Al-‘Araf(7):180).

 Tiada  kecintaan  yang  lebih  dalam,  lebih  murni  dan  lebih  suci  daripada  kecintaan terhadap Sang Maha Pencipta, Allah SWT.  Bukan  hanya  karena  Dia  telah  memberikan segalanya  kepada  mahluknya  namun  terlebih  karena  Dialah  kita  menjadi  ada. Dia  yang  memberi  kehidupan  hingga  dengan demikian kitapun berkesempatan mengenal-Nya. Dia yang membuat  kita  mengenal  dan  mengetahui  arti  sebuah  kehidupan, Dia  yang  mengajari  segala  kebaikan, kelembutan  dan kasih sayang. Dia yang  mengajari  arti  sebuah  kesabaran sekaligus  ketegasan serta kedisiplinan. Dia yang  tidak pernah bosan  merahmati  mahluknya,  membimbing  serta menunjuki jalan  yang  benar,  jalan  yang  lurus.

 Dia yang  setia setiap  waktu dan senantiasa mau menyediakan  waktu-Nya  untuk  mendengar  keluh  kesah  apapun dan dalam keadaan bagaimanapun hamba-Nya yang datang mengadu. Dan Dia yang  selalu siap  memberikan  maaf-Nya betapapun  besar  kesalahan  dan  kotornya jiwa  ini. Dia Yang Maha Pengasih, Yang Maha Penyayang, Yang Maha Berkuasa Atas  Segala Sesuatu, Yang Maha Perkasa, Yang Maha  Tinggi, Yang  Maha  Mengetahui,  Yang Maha Adil, Yang Maha Bijaksana, Yang Maha Mengetahui Yang Ghaib, Yang Maha Melihat , Yang  Maha  Mendengar, Yang  Maha  Kaya, Yang  Maha Mengampuni dan Maha Menerima Taubat. Dia  Yang Memiliki 99 nama yang disebut dan sejumlah nama yang tersembunyi.   Hanya  kepada-Mu lah  semua  mahluk  kembali. Maka  kembalikanlah  kami  kelak  ke  tempat  kembali  yang mulia,  disisi-Mu  Ya Allah,  disisi kekasih-Mu  Muhammad SAW, disisi  para Rasul,  disisi para hamba-Mu yang taqwa, Yang Memuliakan-Mu, Yang Meng-Agungkan Mu.Ya Allah kabulkanlah  permohonan  kami  ini, amin  Ya Robbal  ’Alamin.   

 Sabda Rasulullah : “ Allah SWT  memiliki  Sembilan  puluh Sembilan  nama –  seratus kurang satu  –  tidaklah  menghafalnya kecuali  akan  dimasukkan  kedalam  surga,  Allah  itu  ganjil       ( tunggal )  dan  menyukai  yang  ganjil”. (HR Bukhori –Muslim).

 Rasulullah bersabda : “ Barang siapa yang banyak kesedihan  atau gundah  gulana  lalu berdo’a : “ Yaa Allah sesungguhnya  aku  adalah  hamba-Mu,  anak  hamba-Mu , ubun-ubunku ada pada tangan-Mu, keputusan-Mu berlaku atasku, ketentuan-Mu  adil untukku, aku memohon kepada-Mu dengan semua  nama-Mu  yang  engkau  namakan  kepada-Mu  atau yang  telah  engkau  ajarkan  kepada  seseorang  dari  mahluk-Mu atau  yang  telah  Engka u turunkan  didalam  kitab-Mu  atau nama yang Engkau rahasiakan didalam ilmu ghaib-Mu, jadikanlah  Al-Quran  sebagia  pelipur  lara  hatiku  dan  cahaya dadaku  dan  penghapus  kesedihan  dan  kerisaunku”,  maka pastilah Allah SWT akan menghilangkan kegalauan dan kesedihannya  dan  diberikannya  jalan  keluar”. (HR Ahmad).

  

 

 

1

Ar- Rohmaan Yang Maha Pengasih The Beneficient

2

Ar-Rohiim Yang Maha Penyayang The Merciful

3

Al-Maalik Yang Maha Berkuasa The Sovereign Lord

4

Al-Quddus Yang Maha Suci The Holy

5

As Salam Sang Maha Keselamatan The Source of Peace

6

Al Mu’min Yang Maha Mengamankan Guardian of Faith               

7

Al Muhaimin Yang Maha Merawat  The Protector              

8

Al ‘Aziz Yang Maha Gagah The Mighty

9

Al Jabbaar Yang Maha Perkasa The Compeller

10

Al Mutakabbir Sang Maha Pembesar The Majestic

 

     

11

Al Khaaliq Sang Maha Pencipta The Creator

12

Al Baari’ Sang Maha Penata The Evolver

13

Al Mushawwir Sang Maha Pelukis The Fashioner

14

Al Ghoffar Yang Maha Pengampun The Forgiver

15

Al Qohhar Sang Maha Pengunjuk Kekuatan The Subduer

16

Al Wahhaab Yang Maha Penganugerah The Bestower

17

Ar Rozzaq Sang Maha Penabur Rezeki The Provider

18

Al Fattaah Yang Maha Membuka (Hati) The Opener

19

Al  ‘Alim Yang Maha Mengetahui ; Ilmu The All-Knowing

20

 

Al Qoobidi

 

Yang Maha Mengendalikan / Menahan The Constrictor

 

 

     

21

Al Baasith Yang Maha Memperluas The Expander

22

Al Khoofidi Yang Maha Merendahkan ; Demi Keadilan The Abaser

23

 

Ar Roofi’

 

Yang Maha Mengangkat ; Demi Keadilan The Exalter

 

24

Al Mu’izz Yang Maha Membeningkan The Honorer

25

Al Mudzill Yang Maha Menyesatkan ;

Demi Keadilan

The Dishonorer

26

As Saami’ Yang Maha Mendengar The All-Hearing

27

Al Bashir Yang Maha Melihat The All-Seeing 

28

Al Hakam Yang Maha Menilai The Judge

29

Al ‘Adl Yang Maha Adil The Just

30

Al Lathiif Yang Maha  Lembut The Subtle One

31

Al Khoobir Yang Maha Waspada The Aware

32

Al Haliim Sang Maha Penyantun The Forbearing One

 

     

33

Al ‘Adhiim  Yang Maha Agung The Great One

34

Al Ghofuur Yang Maha Pengampun The All-Forgiving

35

Asy Syakuur Yang Maha Mensyukuri The Appreciative

36

A ‘Aliyy Yang Maha Tinggi The Most High

37

Al Kabiir Yang Maha Besar The Most Great

38

Al Hafiidh Yang Maha Penjaga The Presever

39

Al Muqiit Yang Maha Pemelihara The Maintainer

40

Al Hasiib Yang Maha Membuat Perhitungan The Auditor

 

     

41

Al Jaliil Yang Maha Luhur The Sublime One

42

Al Kariim Yang Maha Mulia The Generous One

43

Ar Roqiib Sang Maha Pembaca Rahasia The Watchful 

44

Al Mujiib Sang Maha Pemenuh Doa The Responsive

45

A Waasi’  Yang Maha Luas The All-Embracing

46

Al Hakiim Yang Maha Bijaksana The Wise

47

Al Waduud Yang  Maha  Penyiram kesejukan The Loving

48

Al Majiid  Yang Maha Penyondong Kemegahan Most Glorious One

49

Al Baa’its Yang Maha Membangkitkan The Resurrector

50

Asy Syahiid Yang Maha Menyaksikan The Witness

 

     

51

Al Haqq  Yang Maha Benar The Truth

52

Al Wakiil  Yang Maha Pemanggul Amanat The Trustee

53

Al Qowiyy Sang Maha Sumber Kekuatan The Most Strong

54

 

Al Matiin

 

Yang Maha Menggenggam Kekuatan The Firm One

 

55

 

Al Waliyy

 

Yang  Maha Melindungi 

 

The Protecting Friend

56

Al Hamid Yang Maha Terpuji   The Praiseworthy

57

Al Muhshiy Yang Maha Menghitung The Reckoner

58

Al Mubdi’ Yang Maha Memulai  The Originator

59

Al Mu’iid Yang Maha Mengembalikan The Restorer

60

Al Muhyi Yang Maha Menghidupkan The Giver of Life

 

     

61

Al Mumiit Yang Maha Mematikan Creator of Death

62

Al Hayy  Yang Maha Hidup The Alive

63

Al Qoyyum Yang Maha Menegakkan The Self Subsisting

64

Al Waajid Yang Maha Menemukan The Finder

65

Al Maajid Yang Maha Mulia  The Noble

 

     

66

Al Waahid Yang Maha Tunggal  The Unique

67

Al Ahad Yang Maha  Esa The One

68

Ash Shomad Yang  Maha Tidak Bergantung The Eternal

69

Al Qodir Yang Maha Menentukan The Able

70

Al Muqtadir  Yang Maha Berkuasa The Powerful

 

     

71

Al Muqoddim Yang Maha Mendahulukan  The Expediter

72

Al Mu’akhkhir Yang Maha Mengakhirkan The Delayer

73

Al Awwal Yang Maha Permulaan The First

74

Al Aakhir Yang Maha Akhir The Last

75

 

Adh Dhohir

 

Yang Maha Jelas dan Menjelaskan The Manifest

 

76

Al Bathin Yang Maha Ghaib The Hidden

77

Al Waaliy  Yang Maha Memberikan The Governer

78

Al Muta’aaliy Yang Maha Meninggikan Most Exalted

79

 

Al Barr 

 

Sang Pembawa Kebaikan

 

Source of All Goodness

80

 

Al Tawwaab

 

Yang Maha Penerima Tobat

 

Acceptor of Repentance

 

     

81

 

Al Muntaqim

 

Yang Maha Menetapkan Batasan The Avenger

 

82

Al ‘Afuww Yang Maha Pemaaf The Pardonner

83

 

Ar Ro’uuf 

 

Sang  Maha Pemancar Kasih Sayang The Compassionate

84

 

Maalikul Mulk

 

Yang Maha Mempunyai Kerajaan Eternal Owner of Sovereignity

85

 

Dzul Jalaal wa wal ikrom Yang Maha Memiliki Kebesaran serta Kemuliaan Lord of Majesty and  Bounty

86

Al Muqsith Yang Maha Menyeimbangkan The Equitable

87

Al Jaami’ Yang Maha Menghimpun The Gatherer

88

Al Ghoniyy Yang Maha Kaya The Self Sufficient

89

 

Al Mughniy

 

Yang Maha Menganugerahi Kekayaan The Enricher

 

90

Al Maani’ Yang Maha Mencegah The Preventer

 

     

91

Adh Dhaarr Yang Maha Memberi Derita The Distresser

92

An Naafi’ Yang Maha Pemberi Manfaat The Propitious

93

An Nuur Yang Maha Bercahaya The Light

94

Al Haadii Yang Maha Pemberi Petunjuk The Guide

95

 

Al Badii’

 

Yang Maha Pencipta Keindahan  The Incomparable

 

96

Al Baaqi Yang Maha Kekal The Everlasting

97

 

Al Waarits

 

Yang Maha Mewarisi  Segala Hal Supreme Inheritor

 

98

Ar Rosyiid Sang Maha Penabur Petunjuk Guide to Right Path 

99

Ash Shobuur  Yang Maha Sabar The Patient

Daftar Referensi.

1.  Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir oleh M.Nasib Ar-Ri’fai.

2.  Tafsir Al Misbah oleh M.Quraish Shihab.

3.  Terjemah Departeman Agama : Quran Player 2.0.

4.  Minhajul Qashidin oleh Ibnu Qudamah.

5.  Kepribadian Dai oleh Dr Irwan Prayitno.

6.  Kepribadian Muslim oleh Dr Irwan Prayitno.

7.  Intisari  Ihya’ ‘Ulumuddin Al-Ghazali oleh Sa’id Hawwa. 

8. Sirah Nabawiyah oleh Dr. M. Sa’id Ramadhan Al-Buthy.

9. Al Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Alam oleh Prof.Achmad Baiquni, MSc.PhD.

10. Menyingkap Rahasia Alam Semesta  oleh Harun Yahya.

11.Jiwa Manusia dalam sorotan Al-Quranoleh  DR. Muhammad ‘Utsman Najati.

12. Kecerdasan Emosi dan Spiritual oleh Ary Ginanjar Agustian.

13. Sejarah Islam Sejak zaman Nabi Adam hingga Abad XX oleh Ahmad al-Usairy.

14.Teori Darwin dalam Pandangan Sains&Islam oleh Drs. Rosman Yunus, M.A.Ed dkk. 

15. Hegemoni Kristen-Barat (dalam studi Islam di perguruan tinggi) oleh Adian Husaini.

16.Yerusalem Satu kota tiga iman oleh Karen Amstrong.

17.Munculnya Ya’juj dan Ma’juj di Asia oleh Syaikh Hamdi bin Hamzah Abu Zaid.

18. Cassell’s Atlas of  World History  by Barry Cunliffe.   

19. Wikipedia, the free encyclopedia ; www.wikipedia.org

20. Berbagai media cetak seperti majalah dan surat kabar.

21. Kajian di STID Al-Hikmah Mampang, Jakarta.

22. Berbagai Majelis Taklim.

P R O L O G

Dewasa ini dapat kita amati dengan jelas, ilmu pengetahuan dan sains telah berkembang dengan begitu pesatnya. Para ilmuwan dari berbagai negara berlomba-lomba mendapatkan kemenangan dan kemuliaan dalam bidang ini. Mereka adu cepat membuka tabir rahasia alam dan berusaha menaklukannya. Maka temuan demi temuanpun terus bermuncullan dan seringkali temuan tersebut sesuai dengan ayat-ayat Al-Quran yang diturunkan 14 abad silam! Ini makin membuktikan bahwa Al-Quran adalah kitab yang memang datang dari Sang Pemilik Alam Semesta, Allah Azza wa Jalla.

Temuan terbaru sains barat  mengatakan bahwa jagat raya kita ini adalah salah satu dari jagat raya yang jumlahnya tak terbatas. Menurut Teori Relativitas Umum Einstein, “Black Hole“ atau lubang hitam yang telah kita kenal selama ini, bisa jadi adalah merupakan “pintu” menuju pintu jagat raya lain dan semua yang tersedot olehnya akan lewat dan memasuki daerah  “external ” ruang waktu, ruang yang memiliki waktu yang sama sekali berbeda dengan waktu yang kita miliki di ruang yang kita diami ini. Uniknya, tak ada satupun benda atau materi apapun yang dapat kembali atau keluar lagi  dari  daerah  ‘external’ ini  bila  ia  telah  masuk atau sampai ke jagat raya lain tersebut. Lorong yang menghubungkan ruang antar jagat raya ini dinamai  “Worm Hole” atau lubang cacing. Dalam suatu riwayat, Ibnu Katsir pernah berkata bahwa langit terdiri atas  7 tingkatan. Luas setiap langitnya seluas langit dan bumi sementara diantara langit satu ke langit yang lain terdapat ruang hampa!  Pertanyaannya, mungkinkah ada kehidupan di alam ‘external’ tersebut?

“ Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS.Al-Baqarah(2):30).

Gbr 1.Ilustrasi  Jagat Raya dengan galaksinya ( The Universe ).

Dari ayat diatas mungkinkah apa yang dipertanyakan para malaikat menandakan bahwa sebelum kita diciptakan, Allah SWT telah menciptakan khalifah yang telah terbukti membuat kerusakan dan membuat pertumpah darah? Sebagian besar alim ulama mengatakan ‘tidak’ namun ada pula sebagian yang mengatakan ‘ya’. Maka bila ‘ya’ siapakah mereka dan  di bumi yang manakah mereka itu hidup?

Pada tahun 2001 sebuah pesawat luar angkasa yang diberi nama ‘Mars Odyssey’ mengorbit di orbit Mars selama 3 tahun untuk melakukan analisa keadaan planet tersebut dengan harapan ada kesesuaian dengan keadaan planet bumi sehingga manusia dapat menempati planet Mars. Kesimpulannya, ditemukan tanda-tanda bahwa  kira-kira 4 milyar tahun yang lalu di planet tersebut pernah terjadi erosi atau mungkin banjir besar hingga kemudian terbentuklah sejenis  danau atau laut. Meski demikian para ilmuwan tidak atau belum melihat  adanya tanda-tanda suatu kehidupan.

Ibnu  Katsir  dalam  tafsirnya berpendapat bahwa sesungguhnya yang dimaksud ‘orang/mahluk’ yang telah berbuat kerusakan di muka bumi sebelum diciptakannya Adam as adalah mahluk dari jenis jin!

“ (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu”.(QS.Al-Jin(72):26).

Para ilmuwan juga berpendapat bahwa  berdasarkan ilmu pengetahuan sains dan perhitungan yang mereka pelajari, pada saatnya nanti jagat raya ini dengan pasti akan menuju kehancurannya dan tak satupun yang akan tersisa. Namun dalam waktu yang teramat sangat sangat lama, hitungannya hingga ratusan juta tahunan! Sebaliknya para ilmuwan saat ini tidak dapat menjelaskan secara pasti apa yang menyebabkan seperempat abad terakhir ini, siklus matahari yang berdasarkan perhitungan seharusnya mengakibatkan  suhu bumi menjadi lebih dingin, namun yang terjadi justru sebaliknya.

Untuk sementara sebagian dari mereka berpendapat bahwa hal tersebut disebabkan oleh adanya “efek rumah kaca”. Hal inilah yang menjadi penyebab pemanasan global yang terjadi saat ini. Dan hal tersebut jelas akibat ulah manusia yang secara berlebihan dan tidak bertanggung-jawab meng’exploitasi’ alam. Celakanya, dampak dari pemanasan global ini sangat berbahaya. Berbagai bencana akan timbul dimana-mana, tidak hanya banjir bandang, badai ,  kekeringan serta  resiko hilangnya sebagian daratan sepanjang pantai saja namun juga wabah kelaparan karena terjadinya perubahan dan terganggunya iklim yang tidak beraturan dapat menyebabkan kacaunya hasil panen! Akankah ini akhir dari umur dunia tempat tinggal yang amat kita cintai ini ? Wallahu’alam.

Menurut pendapat penulis, kita sebagai umat Muslim, sebaiknya kita tidak begitu saja menelan mentah-mentah temuan-temuan sains tersebut namun juga tidak langsung secara semerta-merta menolaknya. Sebaiknya kita kembalikan semua itu kepada  Al-Qur’an, karena memang Dialah Sang Pencipta, Yang Menguasai Segala Ilmu, Dia Maha Mampu Berbuat SekehendakNya. Selama ilmu dan temuan tersebut tidak bertentangan dengan Al-Quran maupun As-Sunnah tentu tidak menjadi masalah. Karena sesungguhnya Allah swt sangat menghargai mahluk-Nya yang mau merenungkan dan memikirkan segala apa yang telah diciptakan-Nya.

Sabda Rasulullah : “Jika seorang hakim berijtihad kemudian ijtihadnya ternyata benar, maka baginya dua pahala, Jika ia menghukumi kemudian ijtihadnya ternyata salah, maka baginya satu pahala”.

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”.(QS.At-Taubah(9):122).

Pengertian tentang pengetahuan agama diatas adalah termasuk pengetahuan yang mempelajari alam semesta karena itu semua adalah ciptaan-Nya. Karena sesungguhnya Dia menjadikan segala  yang ada ini dengan hikmah tertentu. Jadi alangkah baiknya bila kita juga menyimak pendapat para ilmuwan Muslim untuk mengimbangi gagasan  barat tersebut Karena seharusnya apapun ilmu yang kita peroleh baik itu ilmu pengetahuan sains maupun bukan akan membuat kita lebih mengenal dan mencintai-Nya. Temuan-temuan sains yang begitu canggih mustinya membuat kita makin terpana, berdecak penuh kekaguman akan Kehendak dan Kekuasaan-Nya, yang membuat kita makin menyadari betapa kecil dan tidak berartinya kita dihadapan-Nya. Apalagi bila temuan tersebut dapat memberikan manfaat yang banyak kepada manusia. Allah swt menciptakan alam semesta beserta isinya termasuk manusia tidaklah secara kebetulan. Ia ciptakan semua ini dengan aturan dan ukuran yang sungguh serba rumit dan teliti namun serba tepat  serta cermat dan pas.

“…. dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya”.(QS.Al-Furqon(25):2).

Dan Ia tidak segan untuk memperlihatkan aturan yang sungguh rumit tersebut kepada yang berakal dan mau mempelajarinya.

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?”(QS.Al-Fushshilat (41):53).

Hal ini tak lain untuk memperlihatkan Keberadaan-Nya karena hanya dengan izin-Nya jua rahasia-rahasia itu terkuak yang dengan demikian sebagai akibatnya seharusnya akan membuat kita lebih mensyukuri nikmat yang begitu banyak yang telah dianugerahkan-Nya kepada manusia. Hingga pada akhirnya akan menjadikan  kita manusia-manusia  yang bertakwa, yang penuh keridhoan melaksanakan perintah dan menjauhi  larangan-Nya.

Sejumlah ilmuwan Muslim berpendapat bahwa jagat raya yang dikatakan dengan pasti akan menuju kehancuran namun dalam waktu yang sangat amat lama tersebut adalah kehancuran jagat raya secara keseluruhannya, jagat raya yang diperkirakan terdiri dari  300 milyar galaksi dimana masing-masing galaksinya terdiri pula atas 300 milyar bintang / matahari!  Karena sebagaimana kita ketahui dan yakini bahwa yang kekal untuk selamanya hanyalah Allah SWT sedangkan  yang selain-Nya pasti hancur. Sedangkan hari kiamat yang dimaksudkan dalam Al-Quranul Karim kemungkinan adalah ‘hanya’ kehancuran galaksi kita, Bima Sakti, dimana bumi sebagai tempat tinggal kita ini berada didalamnya. Jadi termasuk didalamnya adalah matahari dan ke 9 planet yang telah kita kenal selama ini. Wallahu’alam.

Pendapat  tersebut  berdasarkan  ayat berikut:

“ Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih). Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya”.(QS.Huud(11):106-108).

Jadi menurut pendapat mereka, ketika seseorang menjalani kehidupan di neraka maupun di  surga, langit dan bumi itu masih ada, terkecuali tentu saja bila Allah SWT menghendaki lain. Pertanyaannya langit dan bumi yang manakah itu ? Mungkinkah yang dimaksud ‘ bumi dan langit ‘ pada ayat diatas adalah jagat raya – jagat raya selain jagat raya kita dimana galaksi kita, yaitu Bima Sakti termasuk didalamnya? Suatu alam yang hanya mungkin diterobos melalui lorong-lorong ‘Worm Hole”, yang memiliki dimensi waktu yang samasekali berbeda dengan jagat raya kita, yang tidak mungkin bagi siapapun yang melewatinya untuk dapat kembali lagi?  Mungkinkah  ini yang dimaksud alam akhirat ? Wallahu’alam.

Disamping itu bukankah Al-Quran juga telah berulang kali menyatakan bahwa perhitungan waktu di dunia tidak sama dengan perhitungan waktu di akhirat ? Bukankah  waktu menurut perhitungan manusia tak sama dengan perhitungan waktu-Nya? Dan juga seseorang yang telah mati mustahil baginya untuk kembali ke dunia, kecuali tentu saja bila Allah menghendaki.

“ Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”. (QS.As-Sajjdah(32):5).

“ Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun”.   (QS.Al-Maarij(70):4).

Simak pula pernyataan para pemuda penghuni Gua yang telah “ditidurkan”Nya  selama lebih dari 300 tahun  berikut:

“Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)” Mereka menjawab: “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari“….(QS.Al-Kahfi(18):19).“Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi)”.(QS.Al-Kahfi(18):25).

Namun apapun pendapat dan gagasan para ilmuwan, baik ilmuwan Barat maupun ilmuwan Muslim,  yang penting kita sadari, untuk menentukan sebuah temuan ilmiah diperlukan ilmu yang tidak mudah dan waktu yang sangat lama namun ternyata Al-Quran yang diturunkan lebih 14 abad yang lampau telah meng-identifikasikannya. Pertanyaannya dari mana Al-Quran mengetahui hal-hal  tersebut? Lalu masihkah pantas bila kita masih saja malas dan enggan mempelajari ayat-ayat tersebut atau bahkan mungkin malah masih meragukan ke-orisinil-an kitab suci tersebut?

Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin(Jibril) ke dalam hatimu(Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar (tersebut) dalam Kitab-Kitab orang yang dahulu”.(QS Asy Syu`araa` (26):192-196).

Namun demikian mempelajari Al-Quran memang tidak mudah. Al-Quran adalah bagaikan intan berlian yang dapat menimbulkan pandangan dan persepsi yang beragam tergantung dari sudut mana seseorang melihat dan mengartikannya. Ia bagaikan sebuah berlian yang makin digosok dan diteliti makin memantulkan sinarnya yang begitu indah dan sempurna. Yang kesemuanya itu akan kembali hanya kepada satu, yaitu ke-Besar-an dan ke-Agung-anNya. Itulah  rahmat Allah SWT yang harus  kita syukuri.

Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”.(QS.Al-Israa’(17):82).

Uniknya, Al-Quran adalah rahmat hanya bagi orang-orang yang beriman, tidak bagi orang-orang yang zalim bahkan hanya kerugian saja bagi mereka yang enggan mengimani-Nya dan cenderung  gemar berburuk sangka dan  menuruti hawa nafsu negatifnya.

Yang juga penting diingat, mempelajari ilmu Pengetahuan dan Sains adalah sangat terpuji dan ini adalah hak kita sebagai manusia apalagi bila ilmu tersebut  kemudian dapat memberi manfaat yang banyak serta dapat menjadikan kita lebih mencintai-Nya, jadi bukan sekedar pemenuhan rasa keingin-tahuan semata. Namun  jangan dilupakan  bahwa  tugas maupun amanah yang dibebankan kepada kita sebagai khalifah hanya sebatas umur kita dan hanya terhadap bumi dimana kita tinggal saja. Bukankah dalam ayat-ayatNya Allah SWT berulang-kali mengatakan bahwa kehidupan manusia di dunia ini hanya bagaikan permainan belaka? The True Game….

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”.(QS.Al-Hadiidf(57):20).

Disamping itu bukankah untuk membuktikan kebenaran sebuah ayat terutama yang berhubungan dengan Sains diperlukan waktu yang jauh lebih panjang dari umur kita sendiri? Dengan kata lain, bila untuk meng-imani bahwa Al-Quran itu adalah benar dari sisiNya kita ingin menunggu bukti-bukti ilmiah, sudah pasti  akan  terlambat.

Gbr.2.Ilustrasi kedudukan Matahari di dalam galaksi Bima Sakti (Milky Way). Anak panah menunjukkan letak Matahari.

Oleh karenanya selagi masih ada waktu dan umur mari kita bersihkan diri kita ini dari segala prasangka buruk, bersihkan hati serta akal dan mari kita pelajari ayat-ayat Al-Quran, kita pahami dan kemudian kita amalkan ayat-ayat tersebut agar rahmat-Nya selalu mengiringi kita. Kita telah ditakdirkan-Nya sebagai pemimpin / khalifah bumi maka sudah seyogyanya bila  kita tidak menyia-nyiakan amanah tersebut diumur yang terbatas ini sehingga kita tidak termasuk kedalam golongan hamba-Nya yang menyesal dan merugi.

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”. (QS. Al-Mukminun(23):99-100).

Manusia dibekali akal untuk berpikir. Dengan akalnya ini manusia akan berhasil membuka tabir dan rahasia kehidupannya bila hak ini ia pergunakan semaksimal mungkin. Dengan mengambil dan memanfaatkan haknya ini pulalah seseorang akan mengerti mengapa ia harus melaksanakan kewajiban-kewajibannya dan dengan demikian iapun akan mengerti dan memahami tugasnya sebagai seorang khalifah bumi.

“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir ”. (QS.Al-Hasyr(59):21).

Rupanya telah menjadi takdir bahwa manusialah yang memegang tugas tertinggi dan termulia di muka bumi ini yaitu sebagai khalifah bumi. Namun jangan lupa tugas seorang khalifah adalah tugas yang amat berat, terbukti bahwa mahluk lain yang sebelumnya juga telah ditawari jabatan tersebut menolaknya.

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.(QS Al-Ahzab (33):72).

Amanat yang dimaksud dalam ayat diatas adalah amanat untuk bertakwa kepada Allah SWT, yaitu amanat atau tugas untuk menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dan sebagai imbalannya bila manusia melaksanakan perintah dengan baik maka bagi mereka kedudukan yang mulia baik di dunia maupun akhirat kelak yaitu surga sebaliknya bila manusia lalai maka tempat kembali mereka adalah neraka jahanam dan di duniapun hidup mereka tidaklah nyaman.

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya”. (QS. Ath-Thalaq(65):(2-3).

Dan sebagai konsekwensi atas diterimanya amanat tersebut maka seluruh manusia, yaitu anak-cucu Adam dan seluruh keturunannya, mulai dari zaman awal penciptaan hingga akhir zaman nanti tanpa kecuali, wajib melaksanakan amanat tersebut. Dan karena amanat ini selain berat juga sulit, maka Allah SWT mengatakan bahwa manusia sesungguhnya bodoh karena mau menerima amanat tersebut.

Untuk mengetahui apakah amanat tersebut, apa saja perintah dan larangan yang dimaksudkan akan menuju ketakwaan kepada-Nya itu maka sebaiknya kita terlebih dahulu memahami hak dan kewajiban kita sebagai manusia. Sebenarnya memang agak sulit untuk memisah dan memilah antara hak, kewajiban dan tugas tersebut. Namun demi mempermudah gambaran suatu tugas dan amanat yang amat berat ini, penulis berupaya untuk mengelompokkan tugas, hak dan kewajiban manusia sebagai berikut, semoga Allah SWT meridhoi upaya ini.

Hak adalah segala sesuatu yang bila dikerjakan akan memberi keuntungan bagi si pelaku namun bila tidak ia lakukan maka dirinya sendirilah yang akan merugi, namun walaupun begitu tidak ada paksaan dan sanksi baginya. Sebaliknya kewajiban, adalah segala sesuatu yang harus ia laksanakan yang bila tidak dilakukan ia akan menerima sanksi atau hukuman dari si pemberi kewajiban. Sebagai akibat dari terpenuhinya hak dan kewajiban, seseorang diharapkan mampu melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya, yaitu tugas kekhalifahan. Disini penulis membagi hak, kewajiban dan tugas sebagai berikut :

Hak dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu:

–     Hak mengenal diri.

–     Hak mengenal Sang Maha Pencipta melalui ayat-ayat yang tersebar dialam semesta ( ayat Kauniyah).

–     Hak mengenal Sang Maha Pencipta melalui Al-Quran ( ayat Kauliyah) dan As-Sunnah.

–     Hak mengenal Sang Maha Pencipta melalui Asma dan Sifat-SifatNya.

–     Hak mengenal Sang Maha Pencipta melalui pribadi Rasulullah, Muhammad SAW.

Kewajiban terbagi atas 2 kelompok:

–     Meyakini Rukun Iman dan

–     Menjalankan Rukun Islam.

Dan tugas manusia dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu :

–     Menjaga hubungan dengan Sang Khalik.

–     Menjaga hubungan antar sesama manusia.

–     Menjaga kelestarian alam.

Pengelompokkan diatas tentu saja tidak baku. Ini hanyalah  salah satu cara untuk memotivasi kita dalam  melaksanakan ketakwaan. Agar kita menyadari bahwa sesungguhnya segala perintah dan larangan Allah swt itu adalah demi kepentingan diri kita sendiri juga. Allah Azza wa Jalla tidak sedikitpun memiliki kebutuhan ataupun ketergantungan atas apa yang dikerjakan manusia. Allah hanya berjanji bahwa  bila hak, kewajiban dan tugas manusia dapat dipenuhi dengan baik maka ridho’ Allah akan selalu menyertai kita.

Dan dengan adanya ridho ini maka para malaikat kemudian  seluruh penduduk langit dan bumi  dan apa yang ada di alam semesta ini akan ridho’ pula kepada kita. Maka dengan demikian terbukalah semua pintu-pintu kemudahan di dunia. Itulah balasan Allah di muka bumi sedangkan balasan di akhirat nanti adalah jannah, surga yang dipenuhi taman-taman, yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Tentram kita di dalamnya.

Dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah saw, beliau bersabda : ” Jika Allah mencintai hamba-Nya, Allah akan memanggil Jibril. Sesungguhnya Allah mencintai seseorang maka cintailah orang tersebut. Maka Jibrilpun mencintainya. Lalu Jibril memanggil penduduk langit. Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan maka seluruh penduduk langit mencintai si Fulan. Kemudian baginya dihamparkan penerimaan di  bumi”. ( HR Bukhari  dan Muslim).