Feeds:
Posts
Comments

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”. (QS.An-Nahl(16):36).

“Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa orang rasul sebelum kamu makaturunlah kepada orang yang mencemoohkan rasul-rasul itu azab yang selalu mereka perolok-olokkan”.(QS.Al-Anbiya (21):41).

“Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya”.(QS.Yunus(10):47).

“Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan danKami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu”.( QS.Yunus(10):73).

“Adapun kaum `Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum `Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon korma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka”.(QS.Al-Haqqah(69):6-8).

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Shaleh. Ia berkata. “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya, dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih.”(QS.Al-Araf(7):73).

“Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Syu`aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)”. (QS.Hud(11):84).

“Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu`aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya)”. (Hud(11):94).

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” ”Sesungguhnya kamumendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri”. ( QS.Al-Araf(7):80-82).

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim. )”. (QS.Hud(11):82-83).

“Kemudian Musa berdo`a kepada Tuhannya: “Sesungguhnya mereka ini adalah kaum yang berdosa (segerakanlah azab kepada mereka)”.(Allah berfirman): “Maka berjalanlah kamu dengan membawa hamba-hamba-Ku pada malam hari, sesungguhnya kamu akan dikejar dan biarkanlah laut itu tetap terbelah. Sesungguhnya mereka adalah tentara yang akanditenggelamkan”. (QS.Ad-Dukhan(44):22-24).

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,

dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik”. (QS.AL-Maidah (5):48-49).

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

” Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi atau Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari Muslim)

130. Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.
131. Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam”.
132. Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”.

133. Adakah kamu hadir ketika Ya`qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”
134. Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan.

135. Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah: “Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik”.

136. Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya`qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

137. Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
138. Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.

139. Katakanlah: “Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati,
140. ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya`qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah: “Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.
141. Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan.

142. Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.

143. Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.

144. Sungguh Kami (sering) melihat mukamu ( Muhammad) menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

145. Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim.

146. Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.
147. Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.

148. Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
149. Dan dari mana saja kamu ke luar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram; sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.
150. Dan dari mana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka janganlah kamu, takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Dan agar Kusempurnakan ni`mat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.

151. Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni`mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.

152. Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat) -Ku.

153. Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
(QS. Al-Baqarah(2): 130 -153).

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

PROLOG

1. HAK MANUSIA .

1.1. Mengenal diri

1.2. Mengenal Sang Pencipta melalui ayat2 / tanda2 di  alam semesta

1.3. Mengenal Sang Pencipta melalui ayat2 Al-Quran dan As-Sunnah

1.4. Mengenal Sang Pencipta melalui Asma dan sifat-Nya

1.5. Mengenal Sang Pencipta melalui Rasulullah Muhammad saw

2. KEWAJIBAN MANUSIA

2.1. Meyakini Rukun Iman

2.2. Menjalankan Rukun Islam

3. TUGAS MANUSIA

3.1. Menjaga hubungan dengan Sang Pencipta.

3.2. Menjaga hubungan antar sesama manusia.

3.3. Menjaga hubungan dengan alam semesta.

EPILOG

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS.Al-Hujurat(49):13).

Manusia adalah mahluk sosial; yang selalu membutuhkan perhatian, teman dan kasih sayang dari sesamanya. Setiap diri terikat dengan berbagai bentuk ikatan dan hubungan, diantaranya hubungan emosional, sosial, ekonomi dan hubungan kemanusiaan lainnya. Maka demi mencapai kebutuhan tersebut adalah fitrah untuk selalu berusaha berbuat baik terhadap sesamanya. Islam sangat memahami hal tersebut, oleh sebab itu silaturahmi harus dilaksanakan dengan baik. Silaturahmi dijalankannya antara lain dengan saling mengunjungi yang sakit, saling membantu, tidak berbuat fitnah dan juga saling menghormati.

Rasulullah bersabda: “Orang yang bangkrut ialah mereka yang datang di hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat tetapi sekaligus membawa (dosa) mencaci orang, memfitnah dan menganiaya serta menyiksa sesama semasa hidupnya” .

Dengan adanya hubungan dan silaturahmi yang baik antar manusia ini, maka ia akan mengantarkan manusia kepada kemudahan, ketenangan dan kedamaian di dunia.

“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu”. (QS.An-Nisa’(4):86).

“Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambungkanlah tali silaturahmi dan dirikanlah shalat pada malam hari ketika manusia tertidur niscaya kamu masuk surga dengan selamat.”(HR Bukhari – Muslim).

Allah SWT sangat murka melihat seorang yang tidak mau melaksanakan silaturahmi, apalagi bila orang itu memiliki kekuasaan.

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan…… dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dila`nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka”.(QS.Muhammad(47):22-23).

Bahkan Allah SWT mengingatkan bahwa membunuh satu orang manusia dengan tanpa alasan yang dapat dibenarkan agama adalah sama dengan membunuh seluruh manusia.

“……barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya……”.(QS.Al-Maidah(5):32).

Kebaikan sesungguhnya adalah sifat dasar (fitrah) manusia. Namun karena berbagai hal dan penyebab, fitrah tersebut dapat hilang. Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya aku diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak”.

Setiap manusia adalah pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri. Dan seorang laki-laki yang telah memutuskan menikah maka ia adalah pemimpin bagi keluarganya. Sebagai kepala keluarga ia wajib menafkahi, memperhatikan, menyayangi serta mengayomi anak dan istrinya. Seorang istri wajib mendidik dan memberikan kasih-sayang, perhatian dan kelembutannya kepada anak-anaknya, menjaga harta dan kesuciannya serta menyayangi sekaligus menghormati suaminya. Sedangkan bagi seorang anak, wajib baginya menghormati dan menyayangi kedua orang-tuanya. Masing-masing anggota keluarga memiliki tugas dan tanggung-jawabnya masing-masing.

“…… hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kalijanganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Danrendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS.Al-Isra’a(17):23-24).

Melalui perut seorang ibulah manusia dilahirkan. Dari Bahaz bin Hakim dari ayahnya dari neneknya ra, ia berkata, aku bertanya : “Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus baik?”. Beliau bersabda:”Ibumu”. Aku bertanya lagi: ”Kemudian siapa?. Beliau bersabda: ”Ibumu”. Aku bertanya lagi :”Kemudian siapa?”. Beliau bersabda: ”Ibumu”. Aku bertanya lagi : ”Kemudian siapa?”.Beliau bersabda : “Ayahmu, kemudian yang lebih dekat”. (HR Abu Dawud dan Tarmidzi).

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu”. (QS.Luqman(31): 14).

Namun demikian, bentuk ketaatan kepada kedua orang-tua ini sebatas mereka tidak memerintahkan untuk mempersekutukan-Nya walaupun bila ini terjadi harus tetap dijalankan dengan cara yang baik.

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan)”.(QS.Luqman(31):15).

Itu pula sebabnya mengapa Allah SWT melarang seseorang untuk mengangkat (adopsi) seorang anak dengan alasan apapun.

“Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; …… dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. …… Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS.Al-Ahzab(33):4-5).

Islam memang sangat menganjurkan seorang Muslim memelihara anak yatim, dalam arti menyantuni dan memberikan perhatian dan kasih sayang kepada mereka. Anas bin Malik ra berkata: “Sebaik-baik rumahadalah rumah yang didalamnya ada anak yatim yang diperlakukan secara baik dan sejelek-jelek rumah adalah rumah yang didalamnya ada anak yatim yang disia-siakan. Hamba Allah yang paling dicintai Allah adalah orang yang memperlakukan anak yatim dan janda dengan baik”.

Namun tetap harus menghargai kedua orang tua kandung mereka, yaitu dengan cara tetap menggunakan nama ayah mereka. Hal ini menunjukkan betapa hubungan antara anak dan kedua orang-tua kandung sangat penting. Disamping tentu banyak pertimbangan lain yang juga cukup penting, diantaranya adalah berkenaan dengan masalah perkawinan dan ahli waris. Dan hal ini juga berlaku atas diri Rasulullah SAW. Zaid bin Haritsah adalah bekas budak yang diangkat sebagai anak angkat oleh beliau. Sebelum turun ayat diatas Rasulullah memberinya nama Zaid bin Muhammad. Namun segera begitu turun ayat yang melarang hal tersebut, maka Zaid kembali menggunakan nama ayahnya yaitu, Zaid bin Haritsah.

Demikian pula kerabat, sanak saudara dan keluarga dekat yang dalam keadaan kekurangan, orang-orang miskin, orang yang dalam perjalanan (kemudian menemui kesulitan) Allah SWT menghendaki agar mereka itu dibantu. Namun sebaliknya Allah juga tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. Dialah, Al Azis, Al-Hakim, Ar-Rizik yang berkuasa mengatur dan Maha Mengetahui segala kebutuhan manusia.

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”.(QS.Al-Isra’a(17):26-27).

Demi menjaga silaturahmi pulalah maka Allah SWT melarang seseorang berbuat curang, yaitu orang-orang yang gemar mengurangi takaran dan timbangan demi kepentingan dirinya.

“… Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya,……”. (QS.Al-’raf(7):85).

Disamping itu, manusia seharusnya juga memperhatikan pergaulannya. Saat ini dapat kita lihat pergaulan antara lelaki dan perempuan, antar sesama lelaki dan antar sesama perempuan yang begitu bebas. Bukankah Allah SWT telah dengan jelas memberikan batasan-batasannya? Akibatnya bermuncullah berbagai masalah, seperti AIDS, kelahiran anak diluar nikah dengan segala dampaknya dan sebagainya.

Allah SWT juga mengharamkan riba yaitu, kelebihan atau penambahan pada modal uang yang dipinjamkan dan harus diterima oleh yang berpiutang sesuai dengan jangka waktu peminjaman dan persentase yang ditetapkan sebelumnya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”.(QS.Ali Imraan(3):130).

“…… Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya” . (QS.Al-Baqarah(2):275).

Karena riba pada dasarnya adalah pemerasan dan penganiayaan dari golongan ekonomi kuat terhadap golongan ekonomi lemah. Dan dimanapun segala bentuk pemerasan dan penganiayaan adalah termasuk kejahatan dan dapat merusak hubungan antar sesama manusia.. Bahkan sesungguhnya Allah SWT menganjurkan agar kita menolong seseorang yang sedang dalam kesulitan, misalnya sedang terbelit hutang untuk membebaskannya dari hutang tersebut.

“Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui..”. (QS.Al-Baqarah(2):280).

Perbedaan dimata Allah SWT hanyalah berdasarkan ketakwaan. Masing-masing berlomba berbuat baik, saling nasehat-menasehati dalam kebaikan dan mencegah kemungkaran.

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta`atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yangbersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.(QS.Al-Ahzab(33):35).

Berbuat baik kepada sesama manusia memang tidak mudah. Bahkan Allah SWT mengumpamakannya sebagai jalan yang mendaki lagi sukar. Namun itulah jalan bagi orang-orang golongan kanan, yaitu golongan orang-orang yang disayangi-Nya.

“Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan”.(QS.Al-Balaad(90):12-18).

Rasulullah ditanya; apa yang paling banyak mengantarkan manusia ke surga. Rasulullah menjawab :“Akhlak yang baik.”. Rasulullah ditanya; apa yang paling banyak mengantarkan manusia ke neraka.Rasulullah menjawab:” Mulut dan kemaluan”. (HR Tirmidzi).

“………Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi”.((QS.Al-Baqarah(2):26-27).

Allah SWT menciptakan alam semesta sebelum manusia ada. Semua itu bukan tanpa sebab dan perhitungan. Alam, termasuk didalamnya segala macam binatang dan tumbuhan, sengaja diciptakan-Nya sebagai sarana bagi kepentingan dan kelangsungan hidup manusia.

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu ni`mat-Nya lahir dan batin.” QS.Luqman(31):20).

Allah SWT menciptakan segala yang ada di alam ini serba seimbang dan saling berpasangan.

“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui”.(QS.Yaasin(36):36).

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah”.(QS.Adz-Dzaariyat(51):49).

Sains dan Ilmu Pengetahuan Alam membuktikan bahwa perputaran bumi dan matahari, pergantian siang dan malam, keseimbangan dan perpaduan segala yang ada di alam semesta ini termasuk seluruh unsur kimianya sungguh tepat dan pas. Dan bila keseimbangan dan keterpaduan itu terganggu maka akan rusaklah ia.

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya……”. (QS.Al-A’raf(7):56).

Maka manusia sebagai mahluk terpandai yang memiliki akal dan hati sudah sepatutnya bila ia mensyukuri keadaannya tersebut. Diantaranya yaitu dengan cara menjaga keseimbangannya serta sekaligus tidak berbuat kerusakan. Untuk mempermudah agar manusia dapat melaksanakan hal tersebut maka Allah SWT melengkapinya dengan aturan-aturan. Aturan-aturan tersebut sebenarnya diperlihatkan-Nya secara jelas dan nyata namun hanya orang yang mau memikirkannya saja yang dapat melihat aturan-aturan tersebut. Namun disamping itu Allah SWT juga berkehendak agar manusia mau memanfaatkan dan mengambil keuntungan dari alam yang diciptakann-Nya tersebut. Itulah salah satu tugas manusia sebagai seorang khalifah bumi. Oleh karena itu, Ia sangat murka bila seseorang mengabaikan tugas mulia tersebut apalagi bila ia adalah seorang penguasa.

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi …… Mereka itulah orang-orang yang dila`nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka”.(QS.Muhammad(47):22-23).

Jadi segala bencana seperti banjir, kebakaran hutan atau apa yang saat ini sedang menjadi isu hangat yaitu, pemanasan global yang disebabkan oleh adanya ‘efek rumah kaca’ beserta segala akibatnya yang terus terjadi susul menyusul belakangan ini sesungguhnya adalah akibat dari kelalaian manusia dalam menjalankan tugas memelihara alam ciptaan-Nya. Polusi udara yang sebagian besar disebabkan oleh kebakaran hutan, gas buangan kendaraan, pabrik, berbagai kegiatan industri dan lain sebagainya adalah sebagian contoh kerusakan alam.

Allah SWT tidak ridho’ apa yang telah diciptakan-Nya itu dirusak dan digunakan secara semena-mena. Hukum alam atau aturan yang sengaja diperlihatkan-Nya itu seharusnya digunakan dengan sebaik mungkin. Manusia diberi akal bagaimana mengatasi masalah yang dihadapinya. Dan seharusnya sebagai seorang yang berakal ia juga tahu hukum apa dan perintah orang yang bagaimanakah yang pantas ditaatinya dalam menjalankan perintah menjaga keseimbangan alam semesta ini.

“maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku; dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan”.(QS.Asy-Syu’ara(26):150-152).

Demikian pula halnya dengan munculnya berbagai penyakit akhir-akhir ini, seperti ‘sapi gila’,flue burung dan lain-lain. Bahkan terhadap penyakit ‘umum’ yang disebabkan oleh lalat dan nyamuk sekalipun, cukup membuat manusia menderita dan kewalahan.

“……Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembalidari lalat itu”.(QS.Al-Hajj(22):73).

Padahal Allah SWT menciptakan berbagai binatang seperti nyamuk dan lalat pasti ada hikmah dibalik semua itu. Bila saja manusia tidak merusak ekosistim suatu keadaan, bila saja manusia mau memperhatikan bagaimana sampah seharusnya dikelola, tentu masalah tidak akan terus bermunculan seperti sekarang ini. Sesungguhnya perbuatan tersebut merugikan dirinya sendiri.

Rasulullah bersabda : “Kebersihan adalah sebagian dari Iman”.

“Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan”. (QS.AsySyu’ara(26):183).

Beberapa penyebab terjadinya suatu bencana.

Karena kesalahan sendiri.

“Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubahsesuatu ni`mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri,….” ,(QS.Al-Anfal(8):53).

2. Sebagai cobaan.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”(QS.Al-Baqarah(2):155-156).

3. Sebagai teguran.

“Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (ni`mat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)”.QS.Al-Araaf(7):168).

4. Sebagai azab.

”……… Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik.(QS.Al-Baqarah(2):59).

Namun demikian penyebab suatu bencana hanya dapat dirasakan  oleh masing-masing diri. Bisa jadi dalam suatu bencana alam yang sama memiliki penyebab dan hikmah yang berbeda bagi tiap-tiap diri. Sayangnya, hanya manusia yang memiliki kesadaran tinggi saja yang mampu  merasakan penyebab bencana tersebut. Dan hanya orang-orang seperti inilah yang biasanya segera menyadari kekeliruan dan kesalahannya kemudian bertobat serta memperbaiki diri maka Sang Maha Kuasa akan mengampuni  dan menggantinya dengan yang lebih baik.