Feeds:
Posts
Comments

Rasulullah saw telah pergi meninggalkan para sahabat yang selama hampir 23 tahun menyaksikan dengan kepala sendiri, ayat demi ayat turun melalui malaikat Jibril as kepada hamba pilihan-Nya itu. Rasulullah kembali ke haribaan Sang Khalik Azza wa Jalla dengan perasaan puas. Sebuah senyum terukir di bibir Rasulullah. Bayangan Abu Bakar ra yang sedang memimpin kaum Muslimin shalat Subuh berjamaah menjadi kenangan terakhir yang ada di benak Rasulullah saw. Missi utama beliau dalam menyampaikan pesan Tuhannya, Tuhan semesta alam beserta seluruh isinya, untuk menyembah hanya kepada-Nya, melalui shalat, tampaknya telah terpenuhi.

Semoga kita, umat Islam yang hidup 14 abad setelah peristiwa fenomenal tersebut, mampu menjaga dan melaksanakan pesan penting tersebut. Yaitu shalat, shalat dan shalat ! Semoga kita tidak mengecewakan Rasulullah  saw dengan menghapus kenangan manis di detik-detik terakhir beliau.

“Salah satu batas (yang membedakan) antara Muslim dengan Kafir adalah Shalat.” (HR. Muslim).

“Amal yang pertama kali akan dihisab untuk seorang hamba nanti pada hari kiamat ialah shalat, apabila shalatnya baik maka baiklah seluruh amalnya yang lain, dan jika shalatnya itu rusak maka rusaklah segala amalan yang lain” (H.R. Thabrani).

Ibarat bangunan, shalat adalah tiangnya. Itu sebabnya Allah tidak menghitung amalan orang yang tidak mendirikan shalat. Shalat adalah rukun Islam kedua setelah syahadat. Syahadat dan shalat adalah 2 hal yang tak terpisahkan. Bila syahadat adalah pengakuan atas keberadaan Tuhan Yang Esa, Allah swt dan Muhammad adalah utusan-Nya maka shalat adalah bukti dari pengakuan tersebut.

Ajaran Tauhid, pengakuan akan Tuhan Yang Maha Esa adalah tugas utama yang diemban semua rasul, dari nabi  Adam as hingga nabi Muhammad saw. Inilah yang dilakukan Rasulullah terhadap orang-orang Quraisy. Orang-orang Quraisy adalah orang-orang yang mengakui bahwa Allah adalah Tuhan semesta alam. Ini adalah warisa ajaran nabi Ibrahim as dan putranya, nabi ismail as yang memang lahir di kota Mekah ribuan tahun lalu.

Namun dengan berlalunya waktu ajaran tersebut telah diselewengkan sedemikian rupa. Kesyirikan telah merasuk jauh ke dalam diri mereka. Penyembahan terhadap berhala-berhala  dianggap sebagai cara untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah swt. Padahal telah nyata bahwa sesembahan yang selain Allah itu jelas tidak mampu mendatangkan mudharat apalagi manfaat !

“Maka mengapa yang mereka sembah selain Allah sebagai Tuhan untuk mendekatkan diri (kepada Allah) tidak dapat menolong mereka. Bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka? Itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-adakan”.(QS.Al-Ahqaf(46):28).

Sedangkan shalat dan syariat ( hukum ) setiap agama yang dibawa para rasul tidak sama. Inilah yang membedakan agama Yahudi yang dibawa nabi Musa as, Nasrani yang dibawa nabi Isa dan Islam yang dibawa Rasulullah Muhammad saw.

“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari`at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari`at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus”.(QS.Al-Hajj(22):67).

“ … … Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”.(QS.Al-Maidah(5):48).

Setiap umat mempunyai nabi yang harus dijadikan contoh dan suri teladan. Itu sebabnya kita, sebagai umat Islam,harus mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah Muhammad saw. Termasuk cara shalat, puasa dan haji yang juga sebenarnya telah dilakukan oleh umat para rasul terdahulu.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(QS.Ahzab(33):21).

Selanjutnya agar bangunan memberikan manfaat dan indah dipandang, seorang Muslim harus menjalankan amal kebajikan. Orang yang paling takwa adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain. Jadi jelas, bahwa shalat saja tidaklah cukup. Shalat hanyalah tiang bangunan yang pasti amat diperlukan namun belum bisa memberikan manfaatnya. Pada detik-detik terakhir kehidupan Rasulullah, beliau tersenyum bahagia karena paling tidak dasar/tiang tersebut telah mampu berdiri. Sepeninggal Rasulullah, adalah tugas setiap kaum Muslimin untuk mengisi bangunan tersebut.

Namun dengan berlalunya waktu bahkan sebenarnya menjelang hari-hari akhir Rasulullahpun, keingkaran sudah mulai menampakkan diri. Sejumlah orang mengaku-ngaku sebagai nabi. Orang-orang Munafik yang memang telah ada sejak periode Madinah, begitu Rasulullah wafat, kemunafikannya makin menjadi-jadi. Orang-orang yang semenjak diwajibkannya perang sudah enggan melakukannya juga makin memperlihatkan karakter aslinya.

Kekhalifahan khalifah yang 4,yaitu Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra, Ustman bin Affan ra dan Ali bin Abu Thalib ra, yang notabene adalah sahabat-sahabat terbaik Rasulullah juga tidak luput dari kekisruhan dan berbagai fitnah. Beberapa perbedaan pendapat yang sebenarnya tidak terlalu mendasar, dipicu orang-orang yang tidak bertanggung-jawab, seperti si tokoh Munafikun Madinah, Muhammad bin Ubay bin Salul dkk maupun orang-orang Khawarij yang begitu memusuhi Ali Bin Thalib, menjadikan pecahnya persatuan dan persaudaraan dalam tubuh Islam yang sebenarnya masih relative rentan. Para sahabat yang merupakan saksi turunnya ayat-ayat Al-Quranpun tidak luput dari fitnah.

Demikian juga pembukuan Al-Quran yang dilakukan pada masa Ustman bin Affan. Padahal dalam firman-Nya Allah menjamin bahwa Al-Quran itu senantiasa dalam penjagaan dan pengawasan-Nya. Tak ada satupun yang dapat merubahnya , hingga kapanpun. Ini terbukti secara akal sehat bahwa sejak awal turunnya selalu ada kaum Muslimin yang hafal seluruh ayat-ayat suci, bahkan secara sempurna hingga bacaan panjang pendeknya! Sesuatu yang tidak pernah terjadi pada satupun buku di dunia ini.

“Katakanlah: “Al Qur’an itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. ….” (QS.Al-Furqon(25):6)

“ Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”.(QS.Al-Baqarah(2):23).

Maka tidaklah mengherankan bila dari hari ke hari. fenomena semacam itu tetap ada dan bahkan makin memarah. Jika ayat-ayat Al-Quran saja bisa menjadi bahan perdebatan apalagi hadist yang memang jumlahnya ribuan itu. Meski sebenarnya tidak semua hadits itu bisa dijadikan pegangan. Karena hadits ada berbagai tingkatan. Dari mutawatir, shahih, hasan, dhaif hingga maudhu’ atau palsu. Itupun masih dibagi dengan berbagai kriteria dan persyaratan yang sangat rumit.

“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni`mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”.(QS.Al-Baqarah(2):151).

Al-Quran dan Al-Hikmah ( As-Sunnah) adalah dua hal yang tidak mungkin dapat dipisahkan. Ayat-ayat suci Al-Quran adalah wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah saw melalui malaikat Jibril as. Para sahabat adalah saksinya. Meski mereka memang tidak mendengar sendiri namun mereka menyaksikan peristiwa tersebut. Rasulullahlah yang kemudian memberitahukan dan menyampaikan wahyu tersebut kepada mereka. Selanjutnya beliau memerintahkan para sahabat agar menghafal dan mencatatnya pada media apapun yang dapat ditulisi, seperti batu, kayu, tulang dan kulit binatang dsbnya.

Diluar itu, para sahabat juga terbiasa menghafal apa yang dikatakan, dilihat dan dirasakan Rasulullah saw. Termasuk juga mengamati apa dan bagaimana reaksi Rasulullah dan kaum Muslimin ketika ayat-ayat turun. Juga bagaimana situasi dan keadaan saat itu. Rasulullah bahkan juga menyuruh para sahabat menghafalnya. Tetapi beliau mewanti-wanti agar tidak mencatatnya karena khawatir akan rancu dan tercampur dengan ayat-ayat suci Al-Quran.

Bersabda Rasulullah SAW: Janganlah kalian tuliskan ucapan-ucapanku! Siapa yang (telanjur) menuliskan ucapanku selain al Qur’an hendaklah dihapuskan. Dan kamu boleh meriwayatkan (secara lisan) perkataan-perkataan ini. Siapa yang dengan sengaja berdusta terhadapku, maka tempatnya adalah di neraka. (HR Muslim dari Abu Al Khudri).

Ucapan, tindakan serta reaksi diam dan tidaknya Rasulullah itu baru dibukukan kurang lebih 50 tahun setelah beliau wafat, yaitu pada zaman khalifah Umar bin Abdul Azis (63 – 101 H) dan khalifah-khalifah penerusnya.  Ini dilakukan demi mencegah timbulnya kesalahan, kekhilafan ataupun kesalah-pahaman yang sangat mungkin terjadi akibat berjalannya waktu. Juga sebagai cara untuk menjaga musuh-musuh Islam dalam memanfaatkan kelemahan As-Sunnah bila tidak segera dituliskan. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan Al-Quran telah ditulis dan dibukukan secara sempurna. Mengingat inilah satu-satunya alasan mengapa Rasulullah semasa hidup beliau melarang para sahabat menuliskan ucapan-ucapan beliau. Apa yang kemudian dibukukan tersebut dinamakan Al-Hadits.

Ilmu hadits adalah ilmu yang sangat rumit dan luas. Tak ada satupun ilmu di dunia ini yang mempunyai ilmu seperti ini. Ilmu ini sangat menggantungkan pada akhlak dan pribadi seseorang, yaitu si perawi (orang yang menceritakan peristiwa yang terjadi). Salah satu contohnya, seorang perawi yang diketahui pernah berbohong, meski ia sholeh sekalipun, riwayatnya bisa tidak diterima!

Bukhari ( 194-256 H) dan Muslim ( 204-262 H) adalah 2 orang periwayat yang diakui paling baik meriwayatkan hadits. Selama puluhan tahun keduanya berkelana dari kota ke kota di berbagai negri untuk mencari jejak para sahabat. Mereka ingin mendapatkan berita apa yang para sahabat dengar dan ketahui mengenai apa yang dikatakan, dilihat dan dirasakan Rasulullah. Apa dan bagaimana reaksi Rasulullah ketika turun sebuah ayat. Apa dan bagaimana pula reaksi para sahabat dan bagaimana Rasulullah menanggapi prilaku para sahabat tersebut. Kemudian keduanya bekerja extra keras untuk menyaring dan mengelompokkan berita-berita tersebut.

Selain Bukhari dan Muslim, masih ada beberapa periwayat lain yang riwayatnya juga sering dijadikan pegangan para ulama. Diantaranya adalah Malik bin Anas (93-179 H), Abu Dawud (202-275 H), At-Turmudzi (209-279 H), An-Nasa’i (215-303 H), Ibnu Majah (209-273) dll. Sementara kaum Syiah hanya mengakui hadits yang diriwayatkan keluarga Rasulullah seperti putri Rasulullah, Fatimah az-Zahra ataupun sahabat yang dianggap tidak pernah memusuhi Ali bin Abi Thalib. Aisyah, Umirul Mukminin, adalah salah satu orang yang tidak diterima haditsnya oleh kaum Syiah karena memusuhi Ali, dalam perang Jamal. Begitupun sahabat-sahabat besar seperti Umar bin Khattab dan Ustman bin Affan. Namun apapun alasannya, sungguh tidak sepatutnya seorang Muslim itu, secara keseluruhan meninggalkan hadits, melecehkan apalagi tidak mengakuinya.

Orang-orang Anshar dan Muhajirin adalah orang-orang yang dikenal sangat mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Mereka senantiasa bersegera dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

“Bertasbih kepada Allah di rumah-rumah yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas”.(QS.An-Nuur(24):36-38).

‘Abdillah bin Umar menerangkan, bahwa ketiga ayat diatas diturunkan berkenaan dengan kebiasaan kaum Muslimin yang segera menutup toko mereka jika mendengar azan meskipun mereka sedang sibuk berniaga di pasar. Mereka pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah.( HR. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir).

Begitu pula ketika turun ayat yang melarang khamr (minuman keras). Kaum Muslimin segera menumpahkan minuman tersebut ke saluran-saluran got yang ada di kota Madinah. Anas meriwayat­kan bahwa sejumlah orang tengah minum khamr di rumah Abu Thalhah; begitu mendengar diharamkannya khamr, mereka langsung menumpahkan dan memecah­kan semua bejana khamr.  Jumhur ulama bersepakat bahwa khamr, banyak maupun sedikit, adalah haram. [Suryan A. Jamrah]

Sementara kaum perempuan Anshar langsung menyobek kain-kain gordein mereka untuk dijadikan kerudung begitu turun ayat 31 surat An-Nur.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, … … Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (QS.An-Nur(24):31).

Itulah yang dilakukan para sahabat yang hidup dan menjadi saksi turunnya ayat-ayat Al-Quran, 14 abad lalu. Kini, Rasulullah Muhammad saw telah tiada. Ayat-ayat Al-Quran telah sempurna diturunkan bahkan telah dibukukan dengan baik. Demikian pula As-sunnah yang telah selesai diabadikan menjadi Al-Hadits. Maka umat Islam sekarang ini sebenarnya tinggal menjalankan keduanya saja. Bahkan bila ternyata kini terjadi perbedaan pendapat, para alim ulama yang berkompetenpun telah diberi keleluasaan memberikan jalan keluar melalui Ijtihad.

 “ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”.(QS.Al-Bayyinah(98):5).

Semoga kita tidak menyia-nyiakan petunjuk tersebut dan semoga Allah swt ridho memberikan hidayah-Nya hingga kita mampu dan mau menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Shalawat dan salam sejahtera bagi Rasulullah Muhammad saw yang telah berjuang sepanjang hidup beliau demi menyampaikan perintah dan larangan-Nya, amiiin Ya Robbal ‘Alamin.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 23 May 2011.

Vien AM.

Sumber :

1.  Sirah Nabawiyah oleh Dr. M. Sa’id Ramadhan Al-Buthy.

2. Sirah Nabi oleh Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfuri

3. Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad SAW oleh HMH Al Hamid Alhusaini

(Kembali ke daftar isi SIRAH NABAWIYAH :

https://vienmuhadisbooks.com/category/sirah-nabawiyah-sejarah-hidup-rasulullah-saw/).

(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya:

“Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?”

Mereka menjawab:

“Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya”.

Ibrahim berkata:

“Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata”.

Mereka menjawab:

“Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?” 

Ibrahim berkata:

“Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu”.

Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.  Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.

Mereka berkata:

“Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim”.

Mereka berkata:

“Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”.

Mereka berkata:

“(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan”.

Mereka bertanya:

“Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?”

Ibrahim menjawab:

“Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”.

Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata:

Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)”,

kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata):

“Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara”.

Ibrahim berkata:

“Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfa`at sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu? Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?”

Mereka berkata:

“Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”.

Kami berfirman:

“Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”.

Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishaq dan Ya`qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang saleh.

Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.

(QS.Anbiyya(21):52-73).

( Madyan adalah sebuah  wilayah di barat laut jazirah Arab, antara Tabuk dan selatan Yordania.)

Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu`aib.

Ia berkata:

“Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman”.

Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.

Jika ada segolongan daripada kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.

Pemuka-pemuka dari kaum Syu`aib yang menyombongkan diri berkata:

“Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu`aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami”.

Berkata Syu`aib:

” Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?”

Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami daripadanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki (nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakkal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.

Pemuka-pemuka kaum Syu`aib yang kafir berkata (kepada sesamanya):

“Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu`aib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi”.

Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka, (yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu`aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu`aib mereka itulah orang-orang yang merugi.

Maka Syu`aib meninggalkan mereka seraya berkata:

“Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasehat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?”

Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri. Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak, dan mereka berkata:

“Sesungguhnya nenek moyang kamipun telah merasai penderitaan dan kesenangan”,

maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan sekonyong-konyong sedang mereka tidak menyadarinya.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?

Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.

Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?

Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu. Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang kafir.

Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.

(QS.Al-Araf(7):85-102).

Wallahu’alam bish shawwab.

 Ya Allah, berilah kami kemampuan untuk mengambil hikmah kejadian di atas.

Lembutkan hati kami, jangan Kau kunci mati penglihatan bathin kami.

Paris, 2 May 2011.

Vien AM.

Nabi Sulaiman as  dan semut.

Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut:

” Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”.

Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo`a:

“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni`mat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.

Nabi Sulaiman as dan burung-brung Hud-Hud.

Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata:

“Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang”.

Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata:

“Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar”.

“Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai `Arsy yang besar”.

Berkata Sulaiman:

“Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan”.

Ratu Balqis dan para pembesarnya.

Berkata ia (Balqis):

“Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang berserah diri”.

Berkata dia (Balqis):

Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis (ku)”.

Mereka menjawab:

Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”.

Dia berkata:

“Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu”.

Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata:

“Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu. Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina”.

Nabi Sulaiman, Jin Ifrit dan orang Mukmin.

Berkata Sulaiman:

“Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”.

Berkata `Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin:

“Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”.

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab:

“Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”.

Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata:

“Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan ni`mat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.

Dia berkata:

“Robahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal (nya)”.

Nabi Sulaiman as dan Ratu Balqis.

Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya:

Serupa inikah singgasanamu?”

Dia menjawab:

“Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri”.

Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir.

Dikatakan kepadanya:

“Masuklah ke dalam istana”.

Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya.

Berkatalah Sulaiman:

“Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”.

Berkatalah Balqis:

Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”.

(QS.An-Naml(27):17-44).

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; Dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata:

Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran“.

Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk di sembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka?) Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?

Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu. (Terjemah QS.Al-Kahfi(18):13-16).

(Ingatlah) Tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo`a:

“Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. (Terjemah QS.Al-Kahfi(18):10).

Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu). (Terjemah QS.Al-Kahfi(18):11-12).

Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan:

“(Jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjingnya”, sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(Jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya”.

Katakanlah:

“Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit“.

Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka. (Terjemah QS.Al-Kahfi(18):22).

Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).

Katakanlah:

“Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain daripada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan”.(Terjemah QS.Al-Kahfi(18):25-26).

Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka.

Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka:

“Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)”.

Mereka menjawab:

“Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari”.

Berkata (yang lain lagi):

“Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seseorangpun. Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya”.

Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya.

dsc06445dsc06453Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata:

“Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka”.

Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata:

“Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya”.(Terjemah QS.Al-Kahfi(18):18-21).

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 7 Februari 2011.

Vien AM.