Feeds:
Posts
Comments

Inspirasi Hadits

Suatu ketika, ada seorang sahabat yang mengalami kemiskinan luar biasa. Beberapa hari terlewat tanpa ada sesuatu yang bisa diberikan kepada anak atau istrinya.

Keadaan ini membuat si istri menyarankan agar meminta bantuan Rasulullah saw. Siapa tahu beliau memberikan jalan keluar. Toh, selama ini tak ada seorangpun pernah ditolak permintaannya.

Sahabat tersebutpun kemudian membenarkan perkataan istrinya. Karena itu, ia bergegas pergi menuju rumah Rasulullah saw.

Di tengah jalan, tiba-tiba ia teringat hadits Rasulullah saw “Barangsiapa memohon pertolongan kepadaku akan kuberi ia pertolongan. Dan barangsiapa yang mencukupkan diri maka Allah swt akan mencukupkan dirinya”.

Entah mengapa dengan teringat hadits ini, sahabat tersebut mengurungkan niatnya untuk pergi ke rumah Rasulullah saw. Ia kembali ke rumah.

Namun sesampainya di rumah, sahabat ini mendapati dirinya diliputi kemelaratan dan ketidak berdayaan. Tak ada jalan pemecahan. Karena itu, ia kembali bermaksud menemui Rasulullah saw untuk minta bantuan.

Tetapi di tengah jalan ia kembali berhenti. Ia urung menghadap Rasulullah saw. Ingatannya kembali ke hadits tadi. Tiba-tiba dalam perenungannya, terbersit ketenangan melanda batinnya, ada kesadaran baru menghinggapi jiwanya. Sebenarnya kunci pembuka keluar dari kemiskinan hidup sudah ada di tangannya sendiri.

Pantang diriku untuk meminta tolong kepada sesama manusia. Satu-satunya tempat bersandar adalah Allah swt. Aku mesti minta tolong pada-Nya. Cukuplah Dia sebagai tempatku mengadu. Allah swt telah memberikan kekuatan dan menyediakan alam, tinggal diriku berjuang mengatasi masalah yang kuhadapi. Tiada pemberi kekuatan kecuali Allah swt”, tekad sahabat itu di dalam hati.

Lantas pertanyaan lain menggelayut di pikirannya. « Apa pekerjaan yang bisa aku lakukan ? »

DSC04074Setelah lama berpikir apa yang dibutuhkan masyarakat dan kemampuan yang dimiliki, sabahat itupun memilih pekerjaan mencari kayu bakar. Yang dimulainya dengan meminjam kapak tetangga, ia berangkat ke padang, dikumpulkannya sejumlah kayu, selanjutnya dibawanya ke kota untuk dijual.

Lama-kelamaan usaha ini mengalami perkembangan yang tak terduga. Mula-mula hasil penjualan kayu bakar itu bisa mencukupi kebutuhan keluarga, kemudian bisa digunakan membeli unta dan memperkerjakan orang, dan akhirnya kekayaannya terus bertambah berlipat-lipat. Iapun menjadi orang terkaya.

Hingga pada suatu hari ia bertemu Rasulullah saw. Maka diceritakannya bagaimana dulu ia dalam keadaan miskin, berniat minta bantuan beliau namun urung dilakukannya karena teringat hadits.

Sabda Rasulullah saw, « Memang aku pernah berkata seperti itu, siapa saja yang memohon kepadaku akan kutolong dia. Dan siapa saja yang mencukupkan dirinya maka Allah swt akan mencukupinya ».

Jakarta, 2 April 2013.

Vien AM.

Diambil dari « Kisah paling menggugah Inspirasi Istimewa Rasulullah saw”, oleh Ma’ruf Ismail.

Katakanlah:

“Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”.

Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka:

“Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

” Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir? “

Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah-membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui?; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.”

” Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman”.

Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya.

” Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya)”.

” Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?”

Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya):

“Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mu’min) kembali (kepada kekafiran)”.

” Dan Janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu”.

Katakanlah:

“Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”;

Allah menentukan rahmat-Nya (kenabian) kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar”.

Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu Dinar, tidak dikembalikannya padamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya.

Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan:

“Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi”.

Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui.  (Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.

Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.

Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan:

“Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”,

padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia:

“Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.”

Akan tetapi (dia berkata):

“Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”.

Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi:

“Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”.

Allah berfirman:

“Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?”

Mereka menjawab:

“Kami mengakui”.

Allah berfirman:

“Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”.

Barangsiapa yang berpaling sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.  Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan”.

Katakanlah:

“Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma`il, Ishaq, Ya`qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, `Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri.”

(QS.Ali Imran(3):64-84).

Maha Benar Allah Dengan Segala Firman-Nya.

 

Jakarta, 3 Januari 2013.

Vien AM.

Pada suatu hari, seorang pemburu memasang jaring perangkap untuk memancing burung yang akan ditangkapnya. Jaring yang dipenuhi biji-bijian makanan burung tersebut diletakkannya di tepi sebuah sungai. Sementara ia bersembunyi di balik pohon, menanti  mangsanya.

Tak lama kemudian, datang sekelompok burung dan mulai mematuki biji-bijian tersebut. Si pemburu segera bereaksi hendak menangkap mangsanya. Namun begitu melihat si pemburu datang, burung-burung tersebut segera terbang bersamaan,  membawa serta jaring perangkap milik si pemburu.

Tentu saja si pemburu sangat terkejut atas prilaku burung-burung yang kelihatan bersatu, kompak bekerja sama membawa jaring penuh  biji-bijian tersebut. Didorong rasa penasarannya, maka iapun memutuskan untuk mengejar burung-burung tersebut..

Di tengah jalan ia bersua dengan seseorang.

Hai pemburu, mengapa kamu begitu tergesa-gesa ? Ada apakah gerangan ? », tanyanya heran.

Sambil menunjuk ke arah burung-burung yang sedang terbang di udara, si pemburu menjawab bahwa ia akan menangkap burung-burung tersebut. Laki-laki tersebut langsung tersenyum geli : “” Allah menyertaimu ! Namun yakinkah kamu bisa menangkap mereka ? »

« Kalau saja ada seekor burung yang tertinggal di jaringku, tentu aku tidak akan bersusah payah mengejar mereka. Tapi, ini, lihatlah .. mereka terbang bersama membawa jaring itu ! », jawab si pemburu sambil terus berlari mengejar burung-burung tersebut.

Malampun tiba. Burung-burung tersebut tampak kelelahan dan masing-masing ingin kembali ke sarangnya. Ada yang ingin membawa jaring si pemburu  ke arah hutan. Ada yang ingin ke arah danau. Sebagian lain ingin membawanya ke arah gunung. Yang lain lagi ingin ke arah semak-semak.

Terjadi tarik menarik diantara mereka. Akhirnya jaring tersebutpun robek dan burung-burung tersebut berjatuhan,  terjerat di dalamnya. Si pemburu yang dari tadi bersembunyi dan memperhatikan tingkah laku merekapun segera memanfaatkan kesempatan emas tersebut. Ia cepat berlari dan menangkap burung-burung itu.

Oh betapa malangnya nasib burung-burung itu. Kalau saja mereka mengetahui sabda Rasulullah saw berikut, tentu mereka akan selalu terbang bersama menuju satu tujuan. Hingga tidak akan tertangkap si pemburu yang mengintainya itu.

“Tidaklah terdapat tiga orang dalam satu kampung atau satu pedalaman, dan mereka tidak melaksanakan shalat berjamaah, kecuali syetan menguasai mereka. Maka hendaklah kalian berjamaah, karena sesungguhnya seekor serigala akan memakan domba yang terpisah dari kelompoknya.” (Hr.Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban & Hakim-at Targhib).

Paris, 22 November 2012.

Vien AM.

Diterjemahkan secara bebas dari buku : “40 hadist destines aux enfants et agrementes de recits” oleh Prof Dr M Yasar Kandemir

Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa;

“Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul”.

nabi musa dibuangMaka dipungutlah ia oleh keluarga Fir`aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir`aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. Dan berkatalah isteri Fir`aun:

“(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfa`at kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari.

Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah).  Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan:

“Ikutilah dia”

Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya, dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui (nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa:

“Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?”.

Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

( Terjemah QS, Al-Qashash(28): 7 – 13).

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya,

Jakarta, 9 Agustus 2012.

Vien AM.

Kemudian sesudah rasul-rasul itu, Kami utus Musa dan Harun kepada Fir`aun dan pemuka-pemuka kaumnya, dengan (membawa) tanda-tanda (mu`jizat-mu`jizat) Kami, maka mereka menyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.

Dan tatkala telah datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata:

“Sesungguhnya ini adalah sihir yang nyata”.

Musa berkata:

“Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran waktu ia datang kepadamu, sihirkah ini? padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah mendapat kemenangan”.

Mereka berkata:

“Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? kami tidak akan mempercayai kamu berdua.”

Fir`aun berkata (kepada pemuka kaumnya):

“Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai!”

Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka:

“Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan.”

Maka setelah mereka lemparkan, Musa berkata:

“Apa yang kamu lakukan itu, itulah yang sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan ketidak benarannya”.

Sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan. Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukai (nya).

Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir`aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir`aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.

Berkata Musa:

“Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri ( Muslim).

Lalu mereka berkata:

“Kepada Allah-lah kami bertawakkal! Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim,  dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu daya) orang-orang yang kafir.”

Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya:

“Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah olehmu shalat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman”.

(QS.Yunus(10): 75-87).

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

Jakarta, 11 Juni 2012.

Vien AM.