Feeds:
Posts
Comments

Dimasa nabi Musa as suatu kali lama tidak turun hujan dan menyebabkan musim kemarau berpanjangan.  Orang-orang datang menghadap nabi Musa as dan mengatakan,

Dirikanlah shalat hujan bagi kami!”

Nabi Musa as mengajak kaumnya mendirikan shalat hujan dan memohon kepada Allah swt agar menurunkan rahmat-Nya bagi mereka. Orang yang shalat bersama nabi Musa as lebih dari 70.000 orang. Sekeras apapun mereka berusaha berdoa hujan tak kunjung turun.

Nabi Musapun bertanya pada Allah swt,

“ Ya Allah mengapa hujan tidak turun? Apakah kedudukanku di sisi-Mu tidak ada artinya ?”

Allah mewahyukan kepada nabi Musa as,

“Engkau mulia di sisi-Ku. Akan tetapi di tengah kalian terdapat seseorang yang  telah bermaksiat kepada-Ku selama 40 tahun. Katakanlah padanya agar ia keluar dari barisan shalat sehingga Aku menurunkan rahmat-Ku”.

Namun Musa as berkata,

“Ya Allah, suaraku amat lemah. Bagaimana mungkin suaraku dapat terdengar oleh 70.000 orang?” .

Allah swt berfirman,

“Wahai Musa, sampaikan apa yang Kuperintahkan padamu. Aku akan jadikan mereka semua mendengar suaramu”.

Dengar suara lantang, nabi Musa as menyampaikan,

“Barangsiapa di antara kalian yang telah bermaksiat kepada Allah swt selama 40 tahun maka hendaklah dia berdiri dan meninggalkan tempat ini. Dikarenakan perbuatan dosa dan keburukannya Allah swt enggan menurunkan rahmat-Nya kepada kita”.

Orang yang berbuat maksiat itu menoleh ke sekitarnya. Dia tidak melihat seorangpun yang keluar dari barisan shalat. Dia sadar dirinyalah yang dimaksud. Dia berkata pada diri sendiri,

Apa yang harus kulakukan ? Jika aku bangkit berdiri maka orang-orang akan melihatku dan mengenalku. Aku akan malu di hadapan mereka. Tetapi jika aku tidak keluar maka Allah tidak akan menurunkan hujan”.

Pada saat itulah orang itu benar-benar bertaubat kepada Allah swt dari kedalaman hatinya dan menyesali segala perbuatan dosanya.

Tiba-tiba awan mendung datang dan hujan turun dengan lebatnya. Dengan penuh keheranan nabi Musa as bertanya kepada Allah swt,

“ Ya Allah tak seorangpun yang keluar dari barisan namun mengapa hujan turun juga?”

Allah swt mewahyukan,

“Aku menurunkan hujan kepada kalian dikarenakan taubat orang yang telah menghalangi rahmat-Ku turun pada kalian”.

Nabi Musa as memohon,

“Ya Allah, tunjukkanlah padaku siapa orang itu?”

Allah swt mewahyukan,

Wahai Musa, ketika hamba itu bermaksiat pada-Ku, Aku menutupi dosa-dosanya. Dan ketika dia bertaubat pada-Ku maka Akupun merahasiakan dirinya”.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 6 Februari 2015.

Vien AM.

Diambil dari : “Kisah-kisah Allah”oleh Ahmad m Zadeh dan Oasem M Zadeh.

“Wahai saudaraku! Jangan engkau dekati Muhammad itu. Dia orang gila. Dia pembohong. Dia tukang sihir. Jika engkau mendekatinya, engkau akan dipengaruhinya dan engkau akan menjadi seperti dia,” kata seorang pengemis buta Yahudi berulang-ulang kali di satu sudut pasar di Madinah pada setiap pagi sambil tangannya menadah meminta belas orang yang lalu-lalang.

Orang yang lalu-lalang di pasar itu ada yang menghulurkan sedekah kerana kasihan malah ada juga yang tidak mempedulikannya langsung.

Pada setiap pagi, kata-kata menghina Rasulullah SAW itu tidak lekang daripada mulutnya seolah-olah mengingatkan kepada orang ramai supaya jangan terpedaya dengan ajaran Rasulullah SAW. Seperti biasa juga, Rasulullah SAW ke pasar Madinah. Apabila baginda sampai, baginda terus mendapatkan pengemis buta Yahudi itu lalu menyuapkan makanan ke mulutnya dengan lembut dan bersopan tanpa berkata apa-apa.

Pengemis buta Yahudi yang tidak pernah bertanya siapakah yang menyuapkan itu begitu berselera sekali apabila ada orang yang baik hati memberi dan menyuapkan makanan ke mulutnya.

Perbuatan baginda itu dilakukannya setiap hari sehinggalah baginda wafat. Sejak kewafatan baginda, tidak ada sesiapa yang sudi menyuapkan makanan ke mulut pengemis itu setiap pagi.

Pada satu pagi, Saidina Abu Bakar ra pergi ke rumah anaknya, Siti Aisyah yang juga merupakan isteri Rasulullah SAW untuk bertanyakan sesuatu kepadanya.

“Wahai anakku Aisyah, apakah kebiasaan yang Muhammad lakukan yang aku tidak lakukan?”, tanya Saidina Abu Bakar ra sebaik duduk di dalam rumah Aisyah.

“Ayahandaku, boleh dikatakan apa sahaja yang Rasulullah lakukan, ayahanda telah lakukan kecuali satu,” beritahu Aisyah sambil melayan ayahandanya dengan hidangan yang tersedia.

“Apakah dia wahai anakku, Aisyah?”

“Setiap pagi Rasulullah akan membawa makanan untuk seorang pengemis buta Yahudi di satu sudut di pasar Madinah dan menyuapkan makanan ke mulutnya. Sejak pemergian Rasulullah, sudah tentu tidak ada sesiapa lagi yang menyuapkan makanan kepada pengemis itu,” beritahu Aisyah kepada ayahandanya seolah-olah kasihan dengan nasib pengemis itu.

“Kalau begitu, ayahanda akan lakukan seperti apa yang Muhammad lakukan setiap pagi. Kamu sediakanlah makanan yang selalu dibawa oleh Muhammad untuk pengemis itu,” beritahu Saidina Abu Bakar ra kepada anaknya.

Pada keesokan harinya, Saidina Abu BAkar ra membawakan makanan yang sama seperti apa yang Rasulullah SAW bawakan untuk pengemis itu sebelum ini. Setelah puas mencari, akhirnya beliau bertemu juga dengan pengemis buta itu. Saidina Abu Bakar ra segera menghampiri dan terus menyuapkan makanan ke mulut pengemis itu.

“Hei… Siapakah kamu? Berani kamu menyuapku?” Pengemis buta itu mengherdik Saidina Abu Bakar ra. Pengemis buta itu terasa lain benar perbuatan Saidina Abu Bakar ra itu seperti kebiasaan.

“Akulah orang yang selalu menyuapmu setiap pagi,” jawab Saidina Abu Bakar ra sambil memerhatikan wajah pengemis buta itu yang nampak marah.

“Bukan! Kamu bukan orang yang selalu menyuapku setiap pagi. Perbuatan orang itu terlalu lembut dan bersopan. Aku dapat merasakannya, dia terlebih dahulu akan menghaluskan makanan itu kemudian barulah menyuap ke mulutku. Tapi kali ini aku terasa sangat susah aku hendak menelannya,” balas pengemis buta itu lagi sambil menolak tangan Saidina Abu Bakar ra yang masih memegang makanan itu.

“Ya, aku mengaku. Aku bukan orang yang biasa menyuapmu setiap pagi. Aku adalah sahabatnya. Aku menggantikan tempatnya,” beritahu Saidina Abu Bakar ra sambil mengesat air matanya yang sedih.

“Tetapi ke manakah perginya orang itu dan siapakah dia?”, tanya pengemis buta itu.

“Dia ialah Muhammad Rasulullah. Dia telah kembali ke rahmatullah. Sebab itulah aku yang menggantikan tempatnya,” jelas Saidina Abu Bakar ra dengan harapan pengemis itu berpuas hati.

“Dia Muhammad Rasulullah?”, kata pengemis itu dengan suara yang terkedu.

“Mengapa kamu terkejut? Dia insan yang sangat mulia,” beritahu Saidina Abu Bakar ra. Tidak semena-mena pengemis itu menangis sepuas-puasnya. Setelah agak reda, barulah dia bersuara.

“Benarkah dia Muhammad Rasulullah?”, pengemis buta itu mengulangi pertanyaannya seolah-olah tidak percaya dengan berita yang baru didengarnya itu.

“Ya benar. Kamu tidak percaya?”

“Selama ini aku menghinanya, aku memfitnahnya tetapi dia sedikit pun tidak pernah memarahiku malah dia terus juga menyuap makanan ke mulutku dengan sopan dan lembut. Sekarang aku telah kehilangannya sebelum sempat memohon ampun kepadanya,” ujar pengemis itu sambil menangis teresak-esak.

“Dia memang insan yang sangat mulia. Kamu tidak akan berjumpa dengan manusia semulia itu selepas ini kerana dia telah pun meninggalkan kita,” beritahu Saidina Abu Bakar ra.

“Kalau begitu, aku mahu kamu menjadi saksi. Aku ingin mengucapkan kalimah syahadah dan aku memohon keampunan Allah,” ujar pengemis buta itu.

Selepas peristiwa itu, pengemis itu telah memeluk Islam di hadapan Saidina Abu Bakar ra. Keperibadian Rasulullah SAW telah memikat jiwa pengemis itu untuk mengakui ke-Esaan Allah..

 

 

Kutemukan Islam di Gaza 

Martha duduk santai di teras rumahnya yang mewah di sebuah kota besar di Amerika serikat. Sebuah novel terbaru karangan Dan Brown, penulis favoritnya, berada di tangannya. Ia memang sangat menyukai karya penulis novel “The Da Vinci Code” yang kontroversial itu, yang suka mencampur-adukan kehidupan nyata dengan dunia mistis, begitu ia menyebut agama dan kepercayaan, maklum Martha adalah seorang atheis, secara mengesankan.

Awalnya Martha adalah seorang yang religius. Maklum ia dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat. Namun setelah menjelang usia belasan tahun. ia merasa jawaban tentang doktrin Trinitas yang sering ia ajukan, tidak bisa memuaskan batinnya.

Hidup adalah ya di dunia ini. Kebaikan adalah apa yang kita perbuat untuk sesama manusia agar dunia ini aman dan tentram. Hanya orang idiot yang mau mempercayai kehidupan setelah mati”. Pepatah ini yang sekarang menjadi pegangan Martha setelah ia dewasa.

Martha pernah bekerja  di kantor berita  kenamaan milik pemerintah setempat.  Akan tetapi sejak 2 tahun yang lalu ia memutuskan untuk keluar dari kantornya. Ia memilih untuk manjadi wartawati freelance. Ia mulai jenuh dengan profesi yang dibayar karena tuntutan kemauan si pemilik kantor berita. Hatinya lama kelamaan berontak, ia tidak ingin terus membohongi publik. Dan iapun tidak ingin menunggu hingga dipecat seperti yang terjadi pada rekannya. Ia dipecat gara-gara memberitakan apa yang dilihat di depan matanya padahal tidak sesuai dengan keinginan bosnya.

***

Gempuran Israel ke jalur Gaza menggerakkan Martha untuk ikut meliput peristiwa biadab tersebut. Dukungan Barat dengan alasan Israel berhak mempertahankan diri membuat dahi perempuan berumur 30 an ini berkerut.

Sungguh tidak masuk akal, masak mempertahankan diri sampai harus mengorbankan ratusan jiwa, sebagian besar perempuan dan anak pulak.  Apalagi ini kan kejadiannya di Gaza, rumah rakyat Palestina ??”, tanyanya.

Martha segera mempersiapkan diri keberangkatannya ke Gaza.  Ini bukan kali pertama ia pergi ke daerah pertempuran. Sebelumnya ia pernah ikut meliput ke Suriah ketika masih bekerja untuk perusahaannya, dan ke Mesir  serta Tunisia setelah berstatus freelance. Dengan modal pengalaman itulah ia bisa masuk ke Gaza tanpa kesulitan berarti. Ia juga berhasil merekrut seorang warga Gaza yang mampu berbahasa Inggris, yang akan membantunya menterjemahkan dari bahasa Arab yang tidak dikuasainya.

With pleasure madame, dengan senang hati,  saya akan mendampingi anda selama tugas anda. Dengan syarat anda harus jujur, gunakan nurani anda”, demikian ucap Abdullah, pemuda asli Gaza berusia sekitar 21 tahun yang ditemuinya di lokasi.

Soal bayaran itu terserah anda, saya sudah sangat bersyukur jika anda mau melaporkan apa yang anda lihat disini apa adanya, tanpa bumbu-bumbu », tegasnya lagi.

« Kalau mau, selama anda meliput di negri kami, anda boleh menginap di rumah kami. Anda bisa tidur berdua dengan adik perempuan saya yang berumur 15 tahun. Ia pasti sangat senang bisa berkesempatan menyaksikan bagaimana seorang wartawati bertugas. Sebagai imbalannya, anda dapat mengajarkannya bahasa Inggris », tambah Abdullah.

Tentu saja Martha tidak melepaskan kesempatan emas tersebut. Bagi seorang wartawati seperti dirinya, tinggal di rumah penduduk dimana ia sedang meliput adalah hal yang paling didambakan. Karena dengan demikian ia dapat merasakan nafas liputannya.

Itu ia rasakan sendiri ketika ia bertugas di Tunisia untuk meliput peristiwa Arab Spring yang terjadi pada tahun 2012 lalu. Ketika itu ia tinggal di sebuah keluarga Islam yang sangat taat menjalankan agama. Itulah kali pertama ia mengenal dunia Islam. Untuk menghormati keluarga tersebut ia bahkan berinisiatif mengenakan jilbab sebagaimana lazimnya perempuan Muslim di sana. Dan ia sangat menikmatinya.

Demikian pula saat ini. Ia sudah berniat akan melakukan hal yang sama meski Abdullah tidak menuntut itu. Ia bahkan berhasil membina hubungan yang baik dengan Yasmin, adik perempuan Abdullah. Gadis remaja tersebut terlihat sangat mengaguminya.

***

Martha masuk ke Gaza City pada hari ke 8 Israel menggempur kota tersebut. Ia menyaksikan kepanikan penduduk yang melanda hampir seluruh sudut kota yang terkena rudal di sana sini. Para perempuan berteriak histeris, anak-anak menangis ketakutan, para lelaki mondar-mandir menggotong korban dengan tubuh berlumuran darah, ambulans dengan susah payah berzig-zag melewati reruntuhan bangunan, sementara darah berceceran dimana-mana dengan bau anyir yang sungguh menyengat.

Ia memulai liputannya dengan mendekati seorang ibu muda yang sedang duduk memeluk erat bayinya sambil meratap di depan sebuah bangunan yang telah rata dengan tanah. Dengan bantuan Abdullah, Martha menjadi tahu bahwa perempuan itu tidak hanya kehilangan tempat tinggalnya, namun juga kedua anak sulungnya, ibu, adik perempuan serta tiga sepupunya. Kebetulan mereka tinggal di dalam satu kompleks apartemen yang selama 3 hari berturut-turut tanpa ampun dibombardir tentara Israel. Suaminya, seorang pejuang HAMAS, lolos dari serangan brutal tersebut karena saat itu sedang bertugas..

Ya Allah balaslah orang-orang yang menzalimi kami itu dengan balasan yang setimpal. Beri kami kesabaran atas segala cobaan ini”, mohon perempuan tersebut dengan air mata berlinang.

Tampaknya tak hanya apartemen dimana perempuan muda itu tinggal yang menjadi sasaran, namun juga masjid yang berada di depannya. Menara masjid tersebut ambruk menutup sebagian jalanan. Terlihat beberapa orang lelaki sedang shalat di antara puing-puing masjid yang sebagian besar juga telah rata dengan tanah.

Shalat adalah kewajiban. Jadi dalam kondisi dan keadaan bagaimanapun kami akan selalu melaksanakannya. Dengan shalat hati menjadi lebih tenang”, jelas Abdullah tanpa diminta.

Martha hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak habis pikir bagaimana rakyat Gaza bisa bertahan hidup dalam keadaan seperti ini. Apalagi ia tahu bahwa bulan ini adalah bulan puasa.

Tidak usah heran madame. kami sudah terbiasa menahan lapar dan dahaga. Tidak di bulan Ramadhanpun kami memang harus berpuasa. 8 tahun sudah zionis Israel memblokade kami”, begitu Abdullah menjawab keheranan Martha.

 “ Namun Barat mengatakan bahwa HAMASlah yang harus mempertanggung-jawabkan agresi ini. Menurut mereka Israel membombardir negri anda karena HAMAS telah menculik 3 remaja Israel, membunuhnya dan juga kemudian melempari kota-kota Israel dengan roket”, tanya Martha dengan hati-hati.

“Itulah jahatnya media. Mereka memberitakan sesuatu sesuai kehendak mereka”, sungut Abdullah

HAMAS tidak mungkin melakukan penculikan warga sipil, apalagi kemudian membunuhnya, pantang! Anda pasti ingat peristiwa penculikan seorang serdadu Israel di tahun 1996. Yang 3 tahun kemudian akhirnya dibebaskan dengan penukaran ribuan tahanan Palestina yang selama bertahun-tahun disekap zionis terkutuk tersebut.  TIga tahun, HAMAS menahan sabar, agar penculikan yang mereka lakukan ada manfaatnya. Mengerti arah pembicaraan saya madame Amerika?”, tanya Abdullah berusaha menahan emosi.

Coba anda pikirkan, apa gunanya HAMAS menculik kemudian membunuh tawanan, sementara di dalam sana ribuan tawanan Palestina disekap tanpa ada satupun yang peduli. Tidak juga Negara anda yang katanya menjunjung tinggi HAM, Demokrasi dan lain-lain itu”.

“Percayalah, ini adalah fitnah murahan.  HAMAS bagi kami adalah pahlawan. Tanpa mereka dunia akan terus diam bungkam membisu seolah kami ini tidak ada”.

Dengan bersatunya HAMAS dan FATAH kami menjadi lebih kuat. Itu sebabnya Israel kesal. Maka merekapun mencari-cari alasan agar dapat menghancurkan HAMAS. Tapi kami tidak takut. Allah selalu bersama orang yang benar. Lebih baik mati daripada kami harus tunduk kepada mereka. Kematian kami adalah syahid. Surga balasannya”, tegas Abdullah penuh percaya diri, membuat Martha terbengong-bengong.

Satu lagi yang harus anda catat, tentara Israel adalah tentara pengecut. Mereka hanya berani menyerang dari udara, paling banter dari dalam tank. Mereka menyerang secara membabi buta, mengorbankan sipil, kaum perempuan dan anak-anak. Tapi di darat?? Silahkan dibuktikan”, lanjut pemuda tersebut berapi-api.

***

Hari terus berganti. Gempuran Israel makin membabi buta. Memasuki minggu ke 3 korban meninggal telah mencapai lebih dari 1000 orang, 200 diantaranya adalah anak-anak. Ribuan rumah penduduk, belasan masjid, sekolah, pasar hingga pembangkit listrik tak luput dari amukan Israel. Puluhan ribu warga Gaza terpaksa mengungsi dari rumah-rumah mereka. Sementara para pejuang HAMAS juga tidak mau menurunkan frekwensi lemparan roket mereka ke kota-kota di wilayah Israel. Meski sering kali tidak mengenai target karena harus berhadapan dengan Iron dome.

Iron dome adalah sistim pertahanan udara Israel yang dididirikan khusus untuk menghalau roket-roket HAMAS. Proyek ini menerima suntikan dana besar dari Amerika Serikat yang merupakan sekutu terdekat Negara zionis tersebut.

Israel berhak mempertahankan diri”, demikian alasan Barrack Obama membantu Israel.

“ Sungguh aneh, kami ini yang ditindas dan dijajah di negri sendiri. Adalah hak kami untuk berontak dan menuntut kemerdekaan. Namun kami tetap disalahkan”, keluh Abdullah.

Martha diam tidak memberi komentar. Ia dapat mengerti perasaan partner barunya tersebut.  Diam-diam ia juga mengutuk agresi brutal Israel dan kecewa dengan sikap negaranya yang terang-terangan memihak Negara zionis itu.

Maka malam hari itu, Marthapun melampiaskan kekecewaannya melalui bait-bait berikut:

Adalah seorang anak tiri

Yang suka membangkang kepada kedua orang-tuanya yang zalim

Karena gara-gara merekalah

Orang-tua kandung dan keluarga besarnya terusir dari rumahnya

Ini membuat murka sang orang-tua

Maka disekap dan dikuncilah si anak di dalam kamarnya

Selama bertahun-tahun

Tanpa bekal makan minum serta pasokan dan kebutuhan dasar lainya

Hingga suat hari

Dengan mengumpulkan tenaga dan kekuatan yang dimilikinya

Si anak malang membuat lubang demi mencapai kebebasannya

Dari sana dilemparkannya sejumlah batu menuju rumah sang induk semang

Sialnya

Meski lemparan tidak sampai berakibat fatal

Karena tersangkut kubah besi yang sengaja diciptakan sang tirani

Siksapun makin menjadi-jadi

Alih-alih mendapat kebebasan yang didambakannya

Justru gempuran dan siksaan brutal yang diterimanya

Tangis dan raung kesakitanpun menggema

Tanpa seorangpun mau peduli derita itu

Inikah makna Demokrasi dan Toleransi?

Yang sering didengungkan Barat ?

Lalu apa arti semua ini

Wahai dunia yang diam membisu

 ***

Suatu hari Martha menemui seorang lelaki yang baru saja lolos dari rudal Israel. Orang tersebut adalah salah satu pendiri rumah tahfiz, rumah tempat anak-anak belajar Al-Quran, begitu yang ia tahu dari Abdullah.

Bangunan ini adalah bangunan sumbangan rakyat Indonesia, khusus untuk menghafal Al-Quran. Namanya rumah tahfiz”, jelas lelaki berkebangsaan Indonesia yang telah 10 tahun menetap Gaza itu. Istrinya asli penduduk Gaza.

Bangunan ini baru saja selesai minggu lalu. Namun mereka telah menghajarnya. “, lanjutnya.

Rumah kami persis di sebelah rumah tahfiz ini. Dua hari yang lalu rudal Israel mendarat di halaman rumah kami. Pagi tadi mereka kembali membombardirnya, hingga hancur bersama rumah ini.  Untung saya sudah mengungsikan keluarga besar saya”, keluhnya.

Ada apa menurut mereka di dalam sana ? Bom ? Persenjataan HAMAS ??  Lihatlah sendiri, apa yang ada di dalam sini”,  lanjut lelaki setengah baya tersebut dengan mata nanar dan suara bergetar.

Martha segera mengikuti langkah lelaki tersebut, dan masuk ke dalam bangunan yang hampir rata dengan tanah itu. Ia melihat buku-buku termasuk Al-Quran yang sering dilihatnya ketika ia berada di Suriah dan Tunisia, berserakan dimana-mana. Lemari yang porak poranda, kaca-kaca yang hancur, serta dinding dan atap yang berlobang-lobang.

“ Percayalah tidak ada bom atau persenjataan di dalam sini. Yang ada hanya Al-Quran dan buku-buku pelajaran Islam. Disinilah anak-anak berusia antara 6 sampai 13 tahun mustinya belajar menghafal ayat-ayat suci Al-Quran. Itulah jalan kami untuk mendekatkan diri pada-Nya, untuk memohon pertolongan keluar dari  kesulitan dan penderitaan », jelasnya.

Martha mendengarkan penjelasan yang diterjemahkan Abdullah, merekam sambil sekali-sekali memotret apa yang dianggapnya perlu. Namun belum selesai ia mengambil foto, tiba-tiba terdengar suara orang berteriak dari bagian dalam bangunan. Orang-orang segera berhamburan mencari asal suara keluar. Rupanya masih ada yang terjebak di dalam reruntuhan tersebut.

Akhirnya setelah dengan susah payah orang tersebut bisa diselamatkan. Ternyata korban adalah 2 orang anak sekitar usia 10 tahun dan satu orang dewasa. Tampak darah mengucur dari kepala mereka, membasahi muka dan baju yang dipenuhi debu. Orang-orang segera membantu dan memapah mereka keluar dari bangunan yang sebagian atapnya sudah roboh tersebut.

Begitulah Martha melewati hari-hari yang menegangkan di tengah-tengah rakyat Gaza. Di malam hari ia meng-edit tulisan dan foto-foto yang dibuatnya, kemudian langsung mengirimkannya ke beberapa kantor berita.

Ada satu hal yang tanpa disadari membuatnya betah berlama-lama di dalam kamarnya, yaitu bacaan ayat-ayat suci yang dibacakan penghuni rumah dimana ia tinggal. Setiap malam ia mendengar alunan merdu ayat-ayat yang dibacakan kalau tidak oleh ibu, nenek, kakak, adik atau Abdullah sendiri. Tak jarang pula ia mendengar sayup-sayup alunan tersebut dari rumah tetangga atau masjid di sekitarnya.

Hingga suatu malam, ketika Yasmin telah tidur, karena keingin-tahuan yang tinggi, diam-diam ia mengambil Al-Quran yang sering dibaca gadis itu. Namun ternyata bacaan itu ditulis dalam bahasa Arab yang sama sekali tidak difahaminya. Dalam hati Marthapun berjanji kepada diri sendiri bahwa ia akan mencari terjemahannya sekembalinya ke tanah airnya nanti.

Beberapa hari terakhir wartawati tersebut bahkan sempat ikut berpuasa. Ia penasaran ingin mengetahui bagaimana rasanya berpuasa di tengah mereka. Jujur, ia benar-benar kagum pada disiplin keluarga ini menjalankan ibadah mereka. Hampir setiap hari, di tengah gempuran senjata dan kepulan asap  tebal yang membumbung tinggi, ia melihat keluarga ini shalat dan sahur bersama seolah tidak ada masalah.

Belum lagi prilaku Abdullah juga adik-adiknya yang sangat menghormati ibu mereka. Hal yang tidak pernah dilihatnya di Barat. Disamping juga sikap hormat mereka terhadap dirinya selaku tamu.

***

Suatu hari ketika genjatan senjata sedang berlangsung, Martha berniat mengunjungi salah satu kamp pengungsian terdekat. Abdullah menawarkan pengungsian di Khan Yunis yang terletak di bagian selatan Jalur Gaza,  dekat perbatasan Rafah di Mesir. Mereka meninggalkan rumah pukul 10 pagi dengan sepeda motor.

Pagi itu, warga Gaza, kota berpenduduk 1.7 juta jiwa, sebelum genosida yang baru saja dilakukan zionis Israel, penuh dengan orang lalu lalang. Penduduk yang selama hampir satu bulan ini terpaksa mengungsi, demi menghindari bombardir Israel, berbondong-bondong pulang untuk melihat keadaan rumah mereka yang telah hancur.

Wajah-wajah pilu menahan kesedihan yang mendalam tidak dapat mereka sembunyikan. Mayat-mayat bergelimpangan, sebagian tidak utuh, yang belum sempat dimakamkan, bau darah yang anyir, antrian penduduk yang mengular menanti pembagian air bersih dan makanan. Begitulah pemandangan yang disaksikan Martha.

Satu-satunya pemandangan yang dapat membuatnya tersenyum hanyalah kelakuan ceria anak-anak usia 4-5 tahun yang berlarian di antara reruntuhan bangunan, seolah telah bertahun-tahun mereka tidak pernah bermain sebebas hari itu.

“Katakan Abdullah, apa yang harus dilakukan seseorang bila ingin memeluk Islam?”, tanya Martha mengejutkan Abdullah.

“ Mengapa kau bertanya begitu? Apakah kau tertarik masuk Islam ? », Abdullah balik bertanya.

“ Hanya ingin tahu saja”, jawab Martha sambil mengangkat bahunya.

Membaca 2 kalimat syahadat. Setelah itu melakukan kewajiban shalat 5x sehari dan berbuat baik kepada sesama. Itu yang utama”, jawab Abdullah singkat.

Martha mengangguk-anggukkan kepalanya sebelum akhirnya bertanya lagi, penasaran, “Apa itu kalimat syahadat?”

Namun belum sempat Abdullah menjawab pertanyaan tersebut, sebuah roket meluncur cepat tepat di atas kepala mereka. Dan sebelum Martha menyadari apa yang terjadi, desingan yang kemudian disusul ledakan dasyat terdengar menggelegar di depan mereka. Sebuah motor yang baru saja menyusul mereka langsung terpental. Asap tebal membumbung tinggi ke udara. Abdullah segera menghentikan motornya.

“Tiaraap, cepat tiaraaap”, perintahnya kepada Martha.

Beberapa menit berlalu dengan tegang. Setelah yakin tidak akan datang roket susulan barulah Abdullah dan Martha bangun berdiri. Kejadian ini berlangsung hanya beberapa puluh meter sebelum mereka memasuki kamp pengungsian Khan Yunis yang menjadi tujuan mereka. Para penghuni kamp yang padat itupun berhamburan keluar untuk memeriksa kerusakan sekaligus membantu korban.

“ Astaghfirullahaladzim … Lihat perbuatan mereka. Katanya genjatan senjata. Sungguh Zionis terlaknat  !”, terdengar orang-orang memaki-maki apa yang telah dilakukan penjajah Israel tersebut.

Ternyata bukan hanya kamp pengungsian ini yang menjadi sasaran Israel di tengah genjatan senjata yang telah dilanggarnya itu. Namun juga pengungsian Jabalia di Gaza utara. Puluhan orang tewas akibat serangan udara Israel menyebabkan warga lain di kota itu bergegas mengungsi dari lokasi karena khawatir jadi sasaran serangan berikutnya.

Sebuah sekolah milik PBB juga tak luput dari hantaman mortir yang dilontarkan dari tank Israel. Puluhan orang yang sedang mengungsi ke sekolah tersebut dan sedang antri makanan menjadi korban, sebagian tewas dan sebagian lagi luka-luka.

Kebrutalan Israel tidak hanya berhenti disitu, bahkan rumah sakitpun dihajarnya. Sebuah bom mendarat di salah satu sisi rumah sakit yang sarat pasien itu, menyebabkan kepanikan luar biasa.

Juga Lebaran, yang merupakan puncak kemenangan umat Islam selama 1 bulan berpuasa, tidak lolos dari sasaran serangan rudal Israel. Sejumlah wargapun syahid di beberapa lokasi shalat Ied yang digelar warga Gaza.  Dilaporkan 10 warga tewas, 8 diantaranya anak-anak, sementara puluhan lainnya terluka.

Benar-benar biadab”, kutuk Martha yang sempat merekam peristiwa mengenaskan tersebut. Hatinya benar-benar pilu menyaksikan betapa orang-orang yang dengan susah payah telah menjalankan perintah Tuhannya namun di saat hendak merayakan kemenangan tersebut harus menderita sedemikian beratnya. Padahal mereka hanya merayakannya dengan shalat bersama, demi meng-agung-kanNya.

“Ya Allah masukkan mereka kedalam surga-Mu”, tanpa sadar Martha berdoa, hal yang telah puluhan tahun tidak pernah dilakukannya. Hatinya bergetar kencang. Tiba-tiba ia merasakan gelombang keteduhan yang begitu dasyat, menyusup ke dalam sanubarinya. Tak kuasa ia menahan air matanya yang mengalir deras.

***

Malam itu Martha tidak dapat tidur nyenyak. Hatinya gelisah tanpa ia tahu apa penyebabnya. Ia melirik ke arah Yasmin yang sudah tertidur lelap satu jam yang lalu setelah membaca Al-Quran seperti biasa.

Pikiran Martha melayang-layang. Bayangan masa kecilnya bersama kedua-orangtua dan keluarga besarnya ketika sedang merayakan natal, menghadiri misa malam di gereja, masa remajanya yang mempertanyakan trinitas dan menyebabkannya menjadi apatis lalu ateis, kehidupan dewasanya yang sarat pesta dan mabuk-mabukkan hingga tahun-tahun sibuknya menjalani kehidupan sebagai wartawati perang. Bayangan tersebut terus berputar silih berganti memenuhi isi kepalanya.

Ditengah kegalauannya itu alunan ayat-ayat suci Al-Quran terdengar sayup-sayup memecah keheningan malam, membuat hatinya bergetar.

“Apa yang aku cari, siapa diriku, apa tujuan hidup ini”, keluhnya.

Tiba-tiba saja matanya tertumbuk pada sajadah indah milik Yasmin yang sering digunakan gadis belia itu sebagai alas shalat. Sajadah  itu terlihat begitu menantangnya. Dan ntah karena kekuatan apa Martha tahu-tahu sudah menggelar sajadah tersebut, setelah menutup kepalanya dengan kain kerudung yang selama hampir sebulan selalu ia kenakan. Secara reflek ia meniru sambil berusaha mengingat gerakan yang Yasmin sering lakukan ; berdiri, rukuk dan sujud. Itulah gerakan shalat.

Namun di tengah keasyikannya itu tiba-tiba terdengar bunyi sirene mengaung keras menandakan akan tibanya serangan udara Israel. Martha segera menghentikan kegiatannya, dan mengembalikan sajadah ke tempatnya kemudian membangunkan Yasmin. Suara Abdullah terdengar membangunkan seluruh isi rumah dan menyuruh mereka segera meninggalkan bangunan. Ia segera menarik lengan ibunya, menyambar adik bungsunya dari gendongan ibunya dan berlari menuju pintu utama.

Yasmin, Reza, Martha, cepat turun dan keluar dari bangunan ini!”,serunya.

Marthapun segera menarik Yasmin dan Reza, adik Yasmin, yang masih setengah mengantuk, dan lari menyusul Abdullah. Tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu, peralatan jurnalisnya.

Kalian turun duluan, aku menyusul”, katanya sambil berbalik masuk kamarnya lagi.

Dengan cepat ia mengumpulkan seluruh peralatan yang menjadi sumber penghidupannya itu, berkas-berkas, kamera dan laptopnya. Setelah itu ia bergegas menuju pintu.

Namun terlambat. Sebuah bom jatuh tepat di atas bangunan apartemen dimana ia tinggal selama ini. Terdengar suara menggelegar kencang, api dan asap tebal membumbung tinggi, Martha merasa tubuhnya terlempar keras, udara panas luar biasa menyergap sekelilingnya. Ia sempat melihat bangunan tempat tinggalnya runtuh sebelum akhirnya ia mendarat beberapa meter dari lokasi kejadian dengan sekujur tubuh yang sakit luar biasa.

Di tengah kegelapan malam itu, langitpun tampak memerah tercemar pijaran api yang begitu dasyat. Terdengar raungan, ratapan dan tangisan bercampur hirup pikuk suara orang berlarian kesana kemiri, sebelum akhirnya senyap. Martha tak sadarkan diri.

***

Paginya ketika ia tersadar,ia telah berada di ruang sebuah rumah sakit. Rumah sakit yang disesaki orang-orang yang terluka,  juga keluarga korban dan relawan yang keluar masuk membawa korban baru. Bau anyir darah langsung menyergap hidung Martha.  Ternyata itu bukan hanya darah korban lain namun telah bercampur dengan bau darahnya sendiri. Darah tersebut terus keluar dari pelipis dan bahunya yang terserempet pecahan rudal malam tadi. Kepalanya dirasanya begitu berat, perutnya terasa mual. Ingin rasanya ia berteriak meminta bantuan dokter. Namun ia begitu malu melihat banyaknya pasien yang keadaannya tidak lebih baik darinya.

Temanmu ini telah kehilangan terlalu banyak darah. Aku tidak yakin apakah dapat menyelamatkannya. Kau lihat sendiri, kami sangat kekurangan tenaga medis, persediaan obatpun sangar terbatas », jelas seorang dokter kulit putih kepada Abdullah yang berdiri disamping tempat Martha terbaring lemas.

Samar-samar Martha melihat bayangan Abdullah. Setengah tak sadar ia berusaha menjawil Abdullah, dengan suara lemah ia menanyakan keadaan ibu dan adik-adiknya.

Reza tak tertolong”, katanya singkat namun Martha dapat menangkap jelas suaranya yang bergetar hebat. Mata Abdullah terlihat sembab namun ia berusaha tegar.

Ya Tuhan”, keluh Martha tak kalah sedihnya.

Selanjutnya dengan susah payah ia berusaha berbicara dengan Abdullah.

“Abdullah, ajarkan aku bacaan syahadat. Aku ingin mati dalam keadaan Islam”, pintanya sambil menahan sakit.

“  Asyhadu an-laa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah”, jawab Abdullah tanpa banyak tanya.

Dengan terbata-bata Martha mengikutinya perlahan-lahan. .

“Abdullah dengar, aku tak tahu apakah aku bisa bertahan atau tidak. Namun satu permintaanku, bila aku harus mati disini, kuburkan aku secara Islam”, bisik Martha lirih,

Abdullah terdiam sesaat.

“ Aku tidak bisa janji karena biasanya wartawan-wartawati asing yang meninggal disini diurus dan dibawa pulang ke tanah airnya oleh tim dari PBB”, jawab Abdullah.

“Namun akan kuusahakan”, janjinya tak kuasa menghadapi tatapan Martha yang penuh harap.

Beberapa menit kemudian perempuan itupun lemah terkulai, sebuah senyum kemenangan terlihat menghiasi wajahnya yang makin pucat.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”, ucap Abdullah tertunduk.

***

Jakarta, 17Agustus 2014.

Vien AM.

1. Al-Baqarah(2) : 67-73.

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina”.

Mereka berkata:

“Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” . Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil”.

Mereka menjawab:

“Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu.”

Musa menjawab:

“Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu”.

Mereka berkata:

“Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya”.

Musa menjawab:

“Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.”

Mereka berkata:

“Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).”

Musa berkata:

“Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.”

Mereka berkata:

“Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya”.

Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.

Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan. Lalu Kami berfirman:

“Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!”

Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.

2. Al-Baqarah(2): 92-93.

Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mu`jizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang zalim. Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman):

“Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!”

Mereka menjawab:

“Kami mendengarkan tetapi tidak menta`ati”.

Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah:

“Amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat)”.

3. An-Nisa(4):153.

Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata:

“Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata”.

Maka mereka disambar petir karena kezalimannya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami ma`afkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata.

4. Al-An-am(6):146.

Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku; dan dari sapi dan domba, Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang melekat di punggung keduanya atau yang di perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar.

5. Al-A’Araf(7): 148-154.

Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim.

Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa mereka telah sesat, merekapun berkata:

“Sungguh jika Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi”.

Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia:

“Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?”

Dan Musapun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata:

“Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim”.

Musa berdo`a:

“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang”.

Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kebohongan.

Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu, sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya (kembali) luh-luh (Taurat) itu; dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya.

6. Thoha(20):85-99.

Allah berfirman:

“Maka sesungguhnya kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri”.

Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Berkata Musa:

“Hai kaumku, bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Tuhanmu menimpamu, lalu kamu melanggar perjanjianmu dengan aku?”

Mereka berkata:

“Kami sekali-kali tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami disuruh membawa beban-beban dari perhiasan kaum itu, maka kami telah melemparkannya, dan demikian pula Samiri melemparkannya”,

Kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lobang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata:

“Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa”.

Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak dapat memberi kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan?

Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka sebelumnya:

“Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu itu dan sesungguhnya Tuhanmu ialah (Tuhan) Yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku dan ta`atilah perintahku”.

Mereka menjawab:

“Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami”.

Berkata Musa:

“Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?”

Harun menjawab:

“Hai putera ibuku janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku”.

Berkata Musa:

“Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) hai Samiri?”

Samiri menjawab:

“Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku”.

Berkata Musa:

“Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan: “Janganlah menyentuh (aku)”.

“Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya, dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan). Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu”.

Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Qur’an).

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

Jakarta, 1 Juli 2014.

Vien AM.

 

Mirna duduk manis di dalam bus kota Paris. Hatinya sungguh bahagia. Ia telah ditrima sebagai mahasiswi Sorbonne University.  Betapa tidak, Sorbonne University adalah salah satu universitas tertua di Perancis, dan tidak mudah untuk  ditrima sebagai mahasiswa disini, bahkan untuk penduduk asli sekalipun.

Matanya menerawang jauh. Kata-kata ibu beberapa bulan yang lalu masih terdengar mengiang kuat di telinganya. Ketika itu ayah dan ibunya mengantar dirinya ke bandara Sukarno Hatta, untuk melepas kepergiannya ke Paris, Perancis.

Hati-hati jauh dari tanah air, sanak saudara dan handai taulan. Jaga iman dan islammu. Jaga kesehatan. Juga pergaulanmu di tengah lingkungan barumu », bisik ibu sambil memeluk erat dirinya.

Ini memang bukan kali pertama Mirna menginjakkan kaki di kota pusat mode dunia ini. Selama 3 tahun ia pernah tinggal di Paris bersama ke dua orang-tuanya. Kebetulan ayah mendapat tugas di kota ini. Waktu itu dirinya masih berumur 7 tahun. Ia tidak pernah menyangka bahwa ia akan kembali menjejakkan kakinya di kota ini, sebagai mahasiswi Sorbonne pula !

«  Alhamdulillah », bisiknya dalam hati.

Mata Mirna tidak lepas dari jendela bus di sisinya. Ini adalah rute nostalgia yang dulu sering dijalaninya bersama ibu tercinta. Bus bernomor 73 ini berjalan melintasi Arch de Triomphes, tugu kemenangan bangsa Perancis, masuk ke Champs Elysees, boulevard terkenal di Paris dimana berjajar butik-butik kenamaan. Kemudian melewati Place de la Concorde, pelataran terkenal dimana sejumlah tokoh kenamaan Perancis di ‘guilotine’ alias di hukum pancung pada era revolusi Perancis di tahun 1793. Kabarnya 1300 an korban diguilotine dalam waktu 1 bulan, termasuk diantaranya raja Perancis Louis XVI dan permaisurinya yang berasal dari Austria ratu Marie Antoinette.

place de la concordeDi areal Place De La Concorde ini berdiri dua buah air mancur cantik yang mengapit Obelisk, tugu setinggi 23 meter, pemberian penguasa Ottoman di Mesir ( Pasha) Muhammad Ali. Tugu yang menjadi lambang perdamaian ini, di letakkan pada tahun 1836, di lokasi bekas eksekusi hukum pancung, tak lama setelah berakhirnya tragedi mengerikan tersebut. Konon, tugu yang ujungnya berbentuk lancip itu adalah menandakan jarum milik Cleopatra,  ratu legendaris Mesir yang terkenal kecantikannya itu. Tugu ini dipenuhi inskripsi zaman kejayaan raja Mesir Ramses II.

IMG_3478Pandangan Mirna terpaku lurus menatap tugu  Arc de Triomphes di ujung sana. Kebetulan ia duduk menghadap ke belakang. Inilah axe historis yang kontroversial itu, bisiknya dalam hati. Axe Historis adalah garis lurus dari Grand d’Árch,   Arc de Triomphes menyusuri Champs Elyses, Place De La Concorde,  Arc de Triomphes du Caroussel yang merupakan miniatur  Arc de Triomphes hingga jardin Tuleries.

Dikatakan kontroversial karena sumbu prestis kota Paris tersebut kabarnya menuju satu titik yang sangat dibenci Barat, yaitu Mekah, dimana Ka’bah berdiri ! Dapat dibayangkan alangkah kecewa dan marahnya orang-orang yang sangat membenci ajaran Islam, bila hal ini benar.

Itu semua bisa terjadi kabarnya karena besarnya perhatian dan simpati Napoleon Bonaparte, kaisar Perancis pendiri Emporium Perancis, terhadap Islam, khususnya terhadap nabi Muhammad saw. Mirna tiba-tiba teringat pertemuannya dengan Miriam gadis blasteran Perancis Rusia mualaf yang bernama asli Maria, beberapa waktu lalu. Dalam pertemuannya itu Miriam menunjukkan sebuah buku berjudul Journal de Sainte-Hélène yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Ini adalah  semacam buku harian milik sang kaisar selama di pengasingannya di pulau Santa Helena. Ditulis oleh salah satu jendral kepercayaannya, Baron Gourgaud, di tahun 1815-1818, dan dicetak untuk pertama kalinya pada tahun 1944.

Alinea yang telah diberi stabilo kuning oleh Miriam itu kembali terbayang di mata Mirna :

I like the Mohammedan religion best. It has fewer incredible things in it than ours” , dan “the Mohammedan religion is the finest of all”.

Dalam buku lain berjudul ‘Bonaparte et I’Islarn” oleh Cherlifs, yang juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Miriam memberi stabilo alinea berikut :

“I hope the time is not far off when I shall be able to unite all the wise and educated men of all the countries and establish a uniform regime based on the prinsiples of the Qur’an wich alone can lead men to happiness.”

 “Tahukah kau apa itu Napoleon Code? », tanya Miriam suatu hari. Mahasiswi kedokteran yang dikenalnya di Mosquee de Paris di suatu Jumat ini dengan penuh semangat.  Gadis ini memang sangat menyukai buku. Itu sebabnya ia memilih bekerja sambilan di sebuah toko buku Islam tidak jauh dari masjid terbesar di Paris tersebut. Toko tersebut milik seorang lelaki asal Suriah yang menikah dengan seorang perempuan asli Perancis. Mirna pernah bertemu dengan keduanya. Ia memang sering berkunjung ke toko buku yang memiliki banyak koleksi buku-buku Islam pelbagai bahasa itu.

 “ Napoleon Code adalah undang-undang Perancis yang disusun oleh Napoleon pada masa kekuasaannya”, lanjut Miriam membuyarkan lamunan Mirna.

“ Meski undang-undang ini bukan yang pertama di dunia, namun ia dianggap sebagai undang-undang sipil pertama yang berhasil dan sangat memengaruhi perundang-undangan di banyak Negara. Undang-undang ini diantaranya memuat aturan tentang toleransi beragama dan menghapuskan feodalisme yang tadinya sudah membudaya di negerinya”, ucap Miriam penuh semangat.

Namun tahukah kau darimana ide itu semua datang » ?, tanyanya.

Mirna menggeleng.

« Piagam Madinah yang disusun oleh Rasulullah Muhammad dan Al-Quran ! Ini berkat persahabatan sang kaisar dengan teman-teman Muslim yang dibinanya selama beberapa tahun di Mesir. Salah satu orang kepercayaannya yaitu jenderal Jacques Menou bahkan mendahuluinya bersyahadat”, lanjut Miriam lagi.

Mirna tiba-tiba terngiang cerita tantenya yang telah lama menetap di Paris. “ Di dindingnya tergantung lukisan beberapa orang sahabat Bonaparte dengan sorban mirip sorban orang Turki”, “ Yang lebih mengagetkan lagi, di langit-langit ruang tersebut ada kaligrafi yang sangat mirip tulisan La illaha illa Allah”. Itu adalah cerita tante Sofie, istri adik ibu Mirna yang asli Perancis itu, tentang kunjungannya ke rumah seorang duta besar Jerman di Paris beberapa waktu lalu. Tante Sofie yang masuk Islam sejak menikah dengan om Rahmat  ini memang rajin mengikuti kegiatan yang diselenggarakan asosiasi pendatang di Paris dimana ia tercatat sebagai anggotanya.

P1020434blogicon1Bus berhenti di halte ujung pelataran yang saat ini sering dipakai untuk upacara kemerdekaan. Sepasang turis setengah umur yang tadi duduk di kursi paling belakang terlihat turun di halte tersebut. Tak lama kemudian buspun berjalan kembali, berbelok ke kanan, menyusuri sungai Seine. Di sebelah kiri tampak Jardin de Tulerie serta Musee du Louvre dimana dipajang koleksi barang-barang berharga terkenal manca Negara diantaranya yaitu lukisan Monalisa. Di dalam musium ini terdapat pula divisi Islam yang memajang berbagai koleski peninggalan Islam.

Mirna tetap duduk di dalam bus hingga bus tiba di halte Pont Neuf, jembatan tertua kota Paris. Di  jembatan ini berdiri patung raja Perancis Henry IV yang sedang duduk di atas kudanya.

Mirnapun kemudian turun dari bus. Cuaca di awal musim gugur hari itu sangat cerah. Temperatur sekitar 18 derajat Celcius, temperatur yang sangat ideal untuk berjalan-jalan. Agak dingin mungkin bagi orang Indonesia, namun dengan jaket tipis atau sweater masih enak untuk dinikmati.

Mirna berjalan perlahan menyeberangi sungai yang terbelah dua, mengapit dataran kecil memanjang yang membentuk delta. Delta inilah yang dinamakan ile de la cite, yang pada abad pertengahan merupakan pusat kota. Bangunan-bangunan tua khas Perancis yang berdiri berjejer di sepanjang pulau kecil ini dengan jelas mencerminkan keadaan tersebut. Mirna berhenti di bawah patung Henry IV yang berdiri tepat di tengah, di antara dua sungai.

« S’íl vous plait mademoiselle » , ujar seorang turis Asia sambil menyodorkan kamera ke arah Mirna. Mirna mahfum bahwa turis tersebut meminta tolong agar Mirna memotret pasangan muda tersebut. Ia sudah sangat sering melakukan hal tersebut. Paris memang benar-benar pantas dijadikan tujuan bulan madu. Romantic city, kata orang.

IMG_4679Setelah puas memandang keindahan Seine dengan latar belakang Eiffel di kejauhan, Mirna berjalan menyusuri ile de la cite hingga tiba di Conciergeri. Bangunan tua abad pertengahan ini dulunya adalah istana yang kemudian berubah fungsi menjadi penjara bagi orang-orang kenamaan, diantaranya sang ratu sendiri, Mary Antoinette. Ini terjadi pada era revolusi Perancis yang memakan korban puluhan ribu orang.

Dari tempat inilah para penghuni penjara dijemput dengan kereta kuda, kemudian diarak di sepanjang jalan menuju lokasi eksekusi. Sebagian besar di Place de la Concorde yang baru dilalui Mirna tadi.

Mirna bergidik membayangkan peristiwa mengerikan tersebut. Ia segera melanjutkan langkahnya, melewati hotel de la justice hingga akhirnya tiba depan Notre Dame de Paris. Pelataran katedral yang menjadi salah tujuan utama turis ini penuh dijejali turis. Terlihat antrian panjang mengular menuju gerbang katedral.

Mirna terus mengayunkan langkahnya menyusuri pinggir sungai Seine. Sekali-sekali bersama turis lain, ia melambaikan tangan ke arah bateau mouche, kapal turis yang menyusuri Seine, yang penuh turis itu. Deretan kotak hijau sepanjang sungai, berisi barang-barang bekas, kebanyakan koleksi buku-buku lama, piringan hitam, poster dll, terlihat sedikit mengganggu pandangan kearah sungai. Namun bagi para pemburu barang kuno dan pecinta buku, bisa jadi mereka menemukan barang yang telah lama mereka cari.

Sampai di jembatan berikutnya, Mirna menyeberang jalan ke arah kiri jalan. Dari kejauhan terlihat mencolok kubah Pantheon, bekas gereja yang telah berubah fungsi menjadi mausoleum, yaitu makam orang-orang ternama seperti Voltaire, Victor Hugo dan Alexandre Dumas. Universitas Sorbonne terletak tidak jauh dari sana. Inilah yang disebut latin quarter yang menjadi tujuan turis. Area ini terletak di Paris 5.

Mirna tiba di Place St Michel. Terlihat kerumunan orang. Mirna bisa menebak pasti para turis itu sedang menonton para lulusan lyceen, alias murid SMA yang sedang menjajakan buku-buku mereka.

Kalo saja para anggota terhormat DPR mau datang ke Paris bukan cuma untuk mencari hiburan ke Moulin Rouge, belanja di Lafayette atau sekedar berjalan-jalan, namun juga ke tempat ini untuk melihat apa yang dilakukan para lulusan SMA ini, pasti mutu pendidikan kita akan jauh lebih daripada sekarang ini”, komentar ayah suatu hari.

Tidak seperti di tanah air, buku pelajaran di Perancis memang bisa turun menurun. Ini disebabkan kebijaksanaan  pemerintah yang tidak sering mengganti-ganti kurikulum. Jadi tidak heran bila tiap akhir tahun para lulusan SMA tersebut melelang bukunya. Karena memang bisa digunakan adik kelas. Itupun tidak semua buku karena justru sebagian besar dipinjamkan oleh pihak sekolah.

Di tempat ini pula beberapa waktu lalu teman-teman Mirna menyelenggarakan acara berjudul “ Save Palestine”.

« Mir, kami akan menyelenggarakan acara peduli Palestina. Kami ingin menggalang dana dan bantuan untuk rakyat Palestina, tanpa peduli apa ras dan agamanya. Kalau kamu tertarik bisa gabung dengan kami”, ucap Daniel, seorang mahasiswa asal Swiss yang merupakan aktifis kampus.

Tanpa banyak berpikir dan bertanya Mirna segera memutuskan mengikuti acara tersebut. Ia tahu mahasiswa Sorbonne memang banyak yang peduli terhadap nasib Palestina. Ini bukan untuk pertama kali mereka menggelar acara seperti ini.

Pagi itu pukul 9 pagi Mirna sudah berada di lokasi. Daniel terlihat sibuk memberi arahan teman-teman apa yang mereka harus lakukan. Dua buah meja panjang dipasang memanjang, lengkap dengan 6 kursinya. Di tengah meja disiapkan sebuah kotak surat dengan tulisan “ a messieur le president de la republique Francois Holland, a lÉlysee ».

« Boss, t-shirt pesanan kita sudah datang tuuh », lapor Ben, mahasiswa asal Amrik jurusan jurnalistik berkulit hitam itu kepada Daniel.  “Saya bagikan ya”, lanjutnya sambil membuka kotak berisi t-shirt hijau dengan tulisan besar “Save Palestine”di bagian depan, dan “Go to Hell Israel” di bagian belakang.

“ Kenapa kamu Mir”, tanya Rachel, mahasiswi asal Swedia melihat Mirna yang tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya melihat huruf-huruf besar di t-shirt tersebut. “ Mereka memang pantas go to hell koq”, lanjut Rachel tanpa menunggu jawaban Mirna. “ Lihat saja foto-foto tersebut”, sambil menunjuk ke papan yang terpasang di sisi kiri dan kanan meja panjang.

Panitia memang sengaja memajang foto-foto kekejaman tentara Israel terhadap rakyat Palestina. Masing-masing 2 papan penuh foto di kiri kanan meja. Bergidik Mirna menyaksikan foto-foto tersebut.

Tentu saja Mirna tahu persis kelakuan bejad tentara Israel yang doyan membantai rakyat Palestina, terutama Muslim Arab, dengan semena-mena, bahkan terhadap balita sekalipun! Cuma ia tidak menyangka saja teman-teman bulenya ternyata seberani itu mengexpresikan diri. Namun ia yakin kalau ini terjadi di Indonesia dan yang melakukan Muslim pasti sudah dicap terorisme. Duuh, sedihnya, batin Mirna.

Sekitar pukul 12 siang turis makin ramai memadati area pelataran. Udara cukup bersahabat, sekitar 18 derajat Celcius, matahari bersinar terang. Daniel tampaknya tidak salah memilih lokasi, turis yang lalu lalang mau tidak mau harus melewati lokasi acara mereka.

Ben dengan pengeras suara di tangan dan suaranya yang berat dan khas tidak perlu terlalu khawatir bersaing dengan suara musil break dance anak-anak muda tak jauh dari sana.

Hello dear brothers sisters, this is your chance to express your opinion about Palestine. Just take the postcard that you like, write on the other side what ever you want, and we will send it to the president of the republique, for free !”, teriaknya penuh semangat.

Ia mengulang ajakannya itu berselang-seling, bahasa Perancis dan bahasa Inggris.

Acara ini bisa dibilang sukses. Hingga acara ditutup pada pukul 8 malam, tercatat ribuan postcard siap dikirim. Daniel sebagai penanggung jawab acara dan beberapa mahasiswa lainnya akan membawanya langsung ke L’Elysee, istana kepresidenan Francois Hollande.

Pikiran Mirna melayang. Ia mencoba membayangkan bagaimana kira-kira reaksi sang presiden menerima surat tersebut. Bagimanapun masalah Palestina sangat berkaitan erat dengan dunia Islam. Islamophobia apalagi sejak peristiwa 11 September 2001 masih menghantui Barat. Sebaliknya banyak orang Barat yang akhirnya bersyahadat karena rasa penasaran dan mencari tahu kebenaran ajaran yang dibawa nabi Muhammad 14 abad silam itu.

Saat ini Islam di Barat termasuk Perancis berkembang begitu pesat, membuat pemerintah kebakaran jenggot. Hingga akhirnya keluarlah berbagai aturan yang merugikan Islam. Jilbab, pembangunan masjid dll adalah contohnya. Lupa bahwa negara ini berkoar-koar mengklaim sebagai negara yang menjunjung tinggi demokrasi dan toleransi. Sungguh ironis.

Bagaimana perasaan Napoleon ya sekiranya ia masih hidup”, pikir Mirna.

Tiba-tiba ia teringat perkataan dosen sejarah peradaban dunia di kampusnya, “ Sejarah mencatat ketika Islam memegang kekuasaan kaum minoritas jarang yang tertindas. Sebaliknya ketika Kristen mendominasi kaum minoritas hampir selalu tertindas. Penaklukan Yerusalem oleh sultan Salahuddin di abad 10 dan penaklukan kerajaan Andalusia di Spanyol di akhir abad 15 melalui peristiwa reconquista dibawah raja Ferdinand dan ratu Isabella, adalah contoh yang paling nyata”.

“Bagaimana dengan di Indonesia, aku dengar negaramu mulai diobok-obok seperti negaraku ya  ”, bisik Rukiyah, gadis Mesir yang duduk di sebelah Mirna.

“Alhamdulillah, tidak ada masalah. Kaum minoritas dapat leluasa menjalankan ajaran agama mereka. Rumah ibadah juga banyak, proposional tentunya ya, sesuai dengan  perbandingan pemeluknya. Tapi yaitulah, ada pihak yang tampaknya tidak senang dengan keadaan kami “, jawab Mirna setengah prihatin.

« Kriing », « Attention mademoiselle ! », terdengar bunyi bel sepeda dan teriakan si pengendara tepat di kiri telinga Mirna.

« Astaghfirullah », triak Mirna spontan membuyarkan lamunannya. Sebuah sepeda nyaris menyerempet dirinya. Mirna segera menepi. Namun tak urung sumpah serapah si pengendara sepeda tetap terdengar meski sepeda sudah agak jauh.

Mirna melirik jam tangan di pergelangannya, nyaris pukul 3. Pantas perutnya sudah terasa keroncongan, menandakan minta diisi. Mirna segera mengarahkan langkah kakinya menuju jalan setapak yang ramai dibanjiri turis yang ingin mencari makan.

C’est Halal mademoiselle”, seru para pelayan resto berlomba menawarkan resto mereka sambil memperlihatkan menu masakan yang mereka sajikan. Di tempat ini, restoran Halal memang banyak dijumpai. Tidak terbatas hanya resto cepat saji yang menjual kebab namun juga Tagine dan Kuskus, masakan traditional Maroko, selain masakan asli Perancis.

***

Jakarta, 16 Juni 2014.

Vien AM.