Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Sirah Nabawiyah ( Sejarah Hidup Rasulullah saw)’ Category

Perang yang terjadi pada tahun 3 H ini dipicu karena kekecewaan orang-orang Quraisy terhadap kekalahan mereka di perang Badar. Tak sampai setahun setelah perang tersebut orang-orang Quraisypun mengerahkan 3000 pasukannya untuk menyerang Madinah. Diantara pasukan ini terdapat  700 ratus tentara berbaju besi, 200 tentara berkuda (kavaleri) dan 17 orang perempuan. Seorang di antara perempuan tersebut adalah Hindun bin Utbah, isteri Abu Sufyan. Ayahnya yang bernama Utbah telah terbunuh pada perang Badar. Ia sangat bernafsu ikut berperang karena ingin balas dendam atas kematian ayahnya itu. Dalam perang ini suaminya sendiri yang menjadi pimpinan.

Sementara itu di Madinah, mendengar kabar tersebut Rasulullah segera mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah dan bertukar pendapat mengenai strategi yang akan digunakan melawan orang-orang Quraisy nanti. Rasulullah ingin mendengar pendapat para sahabat, mana yang lebih baik, bertahan di dalam kota dan menanti serangan atau menyambut musuh di luar Madinah.

Tokoh munafikun, Abdullah bin Ubay, yang merupakan tokoh senior dan konco-konconya termasuk kelompok yang memilih  bertahan. Sementara para sahabat yang tidak sempat berpartisipasi dalam perang Badar mengusulkan agar mereka menyambut musuh di luar kota. Rasulullah sendiri tampak bahwa sebenarnya lebih memilih bertahan di Madinah. Namun karena terus didesak tanpa banyak bicara maka Rasulullahpun masuk ke kamar dan segera keluar dengan memakai baju besi, tanda bahwa Rasulullah siap berangkat berperang.

Para sahabat muda yang semula mendesak Rasulullah menyambut musuh di luar Madinah belakangan menyadari sikap mereka. Dengan rasa menyesal mereka berkata : “Wahai Rasulullah, kami telah memaksamu keluar, dan itu tidak pantas kami lakukan. Jika Anda berkehendak, silakan Anda duduk kembali (tidak usah keluar dari Madinah), mudah-mudahan Allah memberi shalawat kepada Anda”. Namun Rasulullah saw hanya menjawab, “Tidak pantas bagi seorang Nabi yang sudah mengenakan baju besi untuk menanggalkannya kembali, hingga Allah menetapkan sesuatu baginya dan bagi musuh.”

Kemudian berangkatlah Rasulullah berserta lebih kurang 1.000 orang tentara. Dua ratus orang diantaranya memakai baju besi dan hanya dua orang tentara yang berkuda. Itupun di sepertiga perjalanan Abdulullah bin Ubay dan teman-temannya yang berjumlah 300 orang mengundurkan diri. Ia berkata: “Ia (Rasulullah) menuruti pendapat para sahabatnya dan tidak menuruti pendapatku. Wahai manusia, untuk apa kita membunuh diri kita sendiri di tempat ini “. Akibatnya pasukan Muslim hanya tinggal 700 orang saja.

Bukhari meriwayatkan bahwa kaum Muslimin berselisih pendapat mengenai tindakan desersi itu. Sebagian mengatakan, “Kita perangi mereka,” sedangkan sebagian yang lain mengatakan, “Biarkanlah mereka.” Lau turunlah firman Allah sebagai berikut :

“Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya”.(QS.An-Nisa’ (4): 88).

Mereka disesatkan Allah karena dari awal memang tidak memiliki niat kuat untuk mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Menghadapi kenyataan pahit ini maka sebagian sahabat mengusulkan supaya Rasulullah meminta bantuan orang-orang Yahudi, mengingat mereka terikat perjanjian untuk tolong-menolong dengan kaum Muslimin. Akan tetapi Rasulullah menjawab singkat,

“Kita tidak akan pernah meminta bantuan kepada orang-orang musyrik untuk menghadapi orang-orang musyrik (lainnya).”

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa sebelum peperangan berkecamuk Rasulullah bersabda : “Aku bermimpi mengayunkan pedang lalu pedang itu patah ujungnya. Itu musibah yang menimpa kaum Muslimin dalam Perang Uhud. Kemudian aku ayunkan lagi pedang itu lalu pedang itu baik lagi, lebih baik dari sebelumnya. Itulah kemenangan yang Allah Ta’ala anugerahkan dan persatuan kaum Muslimin. Dalam mimpi itu aku juga melihat sapi – Dan apa yang Allah lakukan itu adalah yang terbaik – Itu terhadap kaum Muslimin (yang menjadi korban) dalam perang Uhud. Kebaikan adalah kebaikan yang Allah Ta’ala anugerahkan dan balasan kejujuran yang Allah Ta’ala karuniakan setelah perang Badar”.

Rasulullah saw menakwilkan mimpi tersebut dengan kekalahan dan kematian yang akan terjadi dalam Perang Uhud. Selanjutnya Rasulullah kemudian mengambil posisi di sebuah dataran di lereng gunung bernama Uhud dan membentengi diri di balik gunung menghadap ke arah Madinah. Beliau menempatkan lima puluh pasukan pemanah di atas bukit yang terletak di belakang kaum Muslimin itu. Rasulullah menunjuk Abdullah bin Jubair sebagai pimpinan pasukan pemanah.

Kepada pasukan pemanah ini beliau berpesan : “Berjagalah di tempat kalian ini dan lindungilah pasukan kita dari belakang. Bila kalian melihat pasukan kita berhasil mendesak dan menjarah musuh, janganlah sekali-kali kalian turut menjarah. Demikian pula andai kalian melihat pasukan kita banyak yang gugur, janganlah kalian bergerak membantu”.

Setelah memberikan pengarahan Rasulullah mengangkat tinggi pedangnya seraya berkata:

“Siapa yang akan memegang pedang ini guna disesuaikan dengan tugasnya?”

Beberapa orang tampil menawarkan diri namun Rasulullah tetap memegang pedang tersebut. Hingga akhirnya Abu Dujana maju ke depan dan bertanya:

“Apa tugasnya, Ya Rasulullah?”

“Tugasnya ialah menghantamkannya kepada musuh sampai ia bengkok,” jawab Rasulullah.

Abu Dujana adalah seorang laki-laki yang sangat berani. Pada saat-saat tertentu ia mengenakan pita merah. Dan bila pita merah itu sudah diikatkannya di kepala, orang akan mengetahui, bahwa ia telah siap bertempur dan siap mati.

Itulah yang dilakukannya. Begitu pedang diterima iapun mengeluarkan pita merah mautnya. Kemudian ia berjalan di tengah-tengah barisan dengan gaya angkuh sebagaimana biasa apabila ia siap menghadapi pertempuran.

“Cara berjalan begini sangat dibenci Allah, kecuali dalam perang”, komentar Rasulullah melihat gaya Abu Dujana.

Selanjutnya Rasulullah menyerahkan panji perang kepada Mush’ab bin Umair. Maka meletuslah peperangan sengit antara dua pasukan yang amat jauh dari seimbang itu. Masing-masing pasukan dengan masing-masing latar belakangnya. Pasukan Quraisy dengan semangat dendamnya terhadap kekalahannya di perang sebelumnya. Sementara pasukan Muslimin dengan semangat takwa demi menjunjung kalimat tauhid sekaligus semangat mempertahankan tanah air. Rasulullah saw tak henti-hentinya memberikan semangat dengan menjanjikan kemenangan apabila mereka tabah.

Dengan gagah berani Mush’ab, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqas, Asim bin Tsabit, Ali dan Hamzah bin Abu Thalib beserta para sahabat lain mengayunkan pedang dengan gesitnya. Jumlah yang jauh lebih sedikit tampaknya tidak membuat mereka kehilangan semangat. Janji Rasulullah bahwa hanya dengan ketabahan dan kesabaran dalam rangka menjunjung kalimat tauhid yang bakal  mengantar kepada kemenangan membuat mereka begitu bersemangat menundukkan lawan. Kekafiran harus dienyahkan maka berkumandanglah “ Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar “ di sepanjang perang yang terjadi di suatu hari di bulan Syawal tahun ke 3 Hijriyah itu.

Beberapa sumber meriwayatkan bahwa ketika itu Rasulullah memberikan izin kepada Samurah bin Jundub al-Fazari dan Rafi’ bin Khudaij saudara Bani Haritsah untuk ikut berperang. Ketika itu keduanya baru berusia lima belas tahun. Sebelumnya beliau menyuruh keduanya kembali ke Madinah. Namun kemudian dikatakan : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Rafi’ adalah seorang pemanah yang hebat.” Maka Rasulullah pun mengizinkannya ikut berperang. Dikatakan pula kepada beliau: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Samurah pernah mengalahkan Rafi’.” Maka Rasulullah juga mengizinkannya ikut berperang. Sebaliknya Rasulullah memulangkan Usamah bin Zaid, Abdullah bin Umar bin al-Katthab, Zaid bin Tsabit salah seorang dari Bani Malik bin an-Najjar, al-Bara’ bin Azib dari Bani Haritsah, Amr bin Hazm dari Bani Malik bin an-Najjar dan Usaid bin Dhuhair dari bani Haritsah. Mereka baru diizinkan ikut serta dalam perang Khandaq ketika telah mencapai usia lima belas tahun.

Melihat semangat kaum Muslimin yang begitu tinggi dan korban terus berjatuhan di pihak Quraisy akhirnya pasukan Quraisy kehilangan rasa percaya diri. Mereka mundur dan berusaha melarikan diri. Pasukan Muslimin terus mengejarnya sambil memunguti harta benda yang ditinggalkan musuh. Sementara itu pasukan pemanah yang berjaga di atas bukit mulai tergiur oleh banyaknya harta benda yang tercecer dan dijadikan rebutan kawan-kawannya di bawah bukit sana. Bisikan syaitanpun mulai beraksi.

Peringatan Abdullah bin Jubair sebagai komandan pasukan pemanah agar mereka menepati janji kepada Rasulullah untuk tetap bertahan di atas bukit apapun yang terjadi tidak digubris. Mereka ikut berhamburan memperebutkan harta benda musuh yang tercecer. Hingga hanya Abdullah dan 9 anak buahnya saja yang bertahan di tempat strategis tersebut.

Sialnya, Khalid bin Walid, komandan pasukan kuda andalan Quraisy yang ketika itu belum memeluk Islam melihat peluang terbuka tersebut. Maka dengan segera ia memerintahkan pasukannya untuk merebut bukit itu dari arah belakang. Akibatnya dapat dibayangkan. Abdullah dan anak buahnya menjadi sasaran empuk. Setelah berhasil membuat ke 10 sahabat syahid mereka membantai pasukan Muslim yang sudah cerai berai di bawah bukit. Dengan cepat keadaan menjadi berbalik. Pasukan Muslim benar-benar dibuat terperanjat. Dalam keadaan panik dan kucar kacir mereka saling bunuh karena tidak menyadari mana kawan mana lawan.

Mush’ab sebagai pemegang panji merasa yang paling bersalah. Dengan sigap dan gagah perkasa ia menyerang dan mengibaskan pedangnya kesana kemari. Ia berusaha menarik perhatian musuh agar tidak menyerang Rasulullah. Berkata Ibnu Sa’ad, “Diceritakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-‘Abdari dari bapaknya, ia berkata :

“Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seorang musuh berkuda, Ibnu Qumaiah namanya, lalu menebas tangannya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan : “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”. Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush’ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambil mengucapkan : “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”. Lalu untuk ketiga kalinya orang berkuda itu menyerangnya dengan tombak dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mush’ab pun gugur, dan bendera jatuh.”

Mush’ab berseru demikian karena merasa tidak bakal dapat melindungi Rasulullah, sang kekasih Allah yang amat disayangi dan dihormatinya. Disamping itu ia juga ingin meyakinkan diri dan teman-teman bahwa bila Rasulullah wafat, itu bukan berarti bahwa perjuangan Islam dapat dihentikan. Ironisnya, Mush’ab sendiri syahid justru karena Qumaimah menyangka dirinya Rasulullah karena  Wajah Mush’ab memang mirip dengan Rasulullah. Kemudian dengan sesumbar Qumaiah mengatakan bahwa ia telah membunuh Rasulullah.

Umar bin Khattab berkata :”Kami terpisah dari Rasulullah saat perang Uhud. Aku naik ke gunung dan aku mendengar seorang Yahudi berkata : “Muhammad mati terbunuh!”. Akupun berseru, “ Aku akan memenggal leher orang yang mengatakan  bahwa Muhammad telah mati terbunuh”. Setelah itu aku melihat Rasulullah dan para sahabat kembali ke tempat semula. Lalu turunlah ayat 144 surat Ali Imran.( HR. Ibnu Mundzir).

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.(QS.Ali Imran(3):144).

( Bersambung ).

untuk kembali ke daftar isi buku ” Sirah Nabawiyah” click :

DAFTAR ISI SIRAH NABAWIYAH ( Sejarah Singkat Rasulullah saw) | Segala Amal Perbuatan Tergantung Niatnya

 

Read Full Post »

Tentu saja berita ini membuat pasukan Muslim makin panik. Panji segera berpindah ke tangan Ali bin Abu Thalib. Para sahabat dekat yang hanya tinggal beberapa itu segera berkumpul  melindungi Rasulullah. Mereka bertempur mati-matian demi keselamatan sang Rasul yang amat mereka cintai itu. Namun keadaan sungguh sulit hingga tidak mungkin bagi mereka untuk terus menerus berkumpul di sekeliling nabi. Pertempuran berdarah yang tidak seimbang terjadi di sekitar beliau. Dalam rangka menjaga keselamatan utusan Allah inilah satu persatu tujuh orang sahabat mati syahid dihadapan Rasul.

Anas bin Nadar syahid dengan tujuh puluh tusukan pada badannya. Saudarinya dapat mengenal badannya hanya dengan tanda di ujung jarinya. Talha bin Ubaidillah pada saat kritis dengan gagah berani menjadikan dadanya tameng bagi Rasulullah. Tirmidzi meriwayatkan, Nabi saw berkata, “Jika seseorang ingin melihat Syuhada berjalan di bumi ini, lihatlah Talha bin Ubaidullah.”

Sementara Abu Dujana membiarkan punggungnya menjadi sasaran panah demi melindungi Rasululllah. Sejumlah anak panah musuh menancap di punggungnya tetapi tak sejengkalpun ia  bergeming.  Seolah tak mau ketinggalan dengan kaum lelaki,  ummu Amara beserta suami dan dua orang putranya juga bertempur disekeliling Rasulullah ketika hanya beberapa sahabat saja yang berada di sekeliling beliau.

Dengan pedang terhunus bersama Rasul perempuan ini mempertahan diri dari serangan yang datang dari semua arah. Demikian pula suami dan kedua anaknya. Mereka mempertunjukkan keberanian yang sungguh luar biasa. Hingga dalam suatu kesempatan Rasul saw berkata, “Ya Allah, sayangilah keluarga ini.” Beliau juga mendoakan mereka, “Ya Allah jadikanlah mereka sekeluarga sahabatku di surga.”

Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. Pada hari itu, aku melihat Aisyah dan Ummu Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaiannya, untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb.

Abu Sa’id Al-Khudri berkata bahwa pada perang Uhud, “Utbah bin Abi Waqqash melempar Rasulullah hingga memecahkan gigi seri sebelah kanan bagian bawah dan juga melukai bibir beliau. Abdullah bin Syihab az-Zuhri melukai kening beliau. Ibnu Qami’ah melukai bagian atas pipi yang menonjol hingga dua buah mata rantai besi masuk ke bagian atas pipi beliau. Rasulullah terjatuh ke dalam salah satu lubang yang dibuat oleh Abu Amir agar kaum muslimin terperosok ke dalamnya tanpa mereka sadari. Kemudian Ali bin Abi Thalib memegang tangan beliau dan Thalhah bin Ubaidillah mengangkat beliau hingga bisa tegak berdiri. Malik bin Sinan yakni Abu Sa’id al-Khudri mengusap darah dari wajah beliau dan menelannya. Kemudian Rasulullah bersabda: “Barang-siapa yang darahnya menyentuh darahku, niscaya ia tidak akan disentuh api Neraka.”

Bukhari meriwayatkan, Saad bin Abi Waqas berkata, “Pada hari peperangan Uhud aku melihat dua orang berpakaian putih disekitar Nabi saw. Mereka sedang bertempur dengan dahsyat atas nama Nabi saw. Aku tidak pernah melihat mereka sebelum dan setelah kesempatan tersebut.” Dalam riwayat yang lain, dikatakan bahwa mereka adalah malaikat Jibril as dan Mikail as. Sementara itu tiga puluh orang sahabat mendatangi dengan cepat tempat tersebut …  Allahuakbar ..

“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim”. (QS. Ali Imran(3):151).

Dengan datangnya bala bantuan tersebut maka perangpun usai. Pasukan Quraisy pergi meninggalkan medan perang dengan rasa takut. ( sebagaimana diterangkan ayat di atas). Setelah itu Abu Obaida bin Jarrah dengan giginya mencoba mencabut cincin pengikat helm yang menancap di pipi Rasulullah hingga ia harus kehilangan gigi bawahnya. Berikutnya ia juga  kehilangan gigi bawah lainnya saat mencabut cincin pengikat helm kedua.

Selanjutnya tinggallah Rasulullah didampingi sisa sahabat yang masih hidup berkeliling melihat keadaan para sahabat yang syahid. Melalui firman-Nya, para mujahidin sejati tersebut mendapat pujian dan penghargaan dari Allah swt.

“ Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur.  …“.(QS.Al-Ahzab(33):23).

Ketika Rasulullah melihat jenazah Mush’ab dengan sedih beliau berucap : “ Ketika di Mekah dulu tak seorangpun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya dari padamu. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah”.

Bagi Handhalah bin Abu Amir, Rasulullah bersabda :  ”Sungguh sahabat kalian, Handhalah, pasti akan dimandikan para malaikat”. Itu sebabnya ia kemudian mendapat julukan Handhalah bin Abu Amir al-Ghasil  yang artinya yang dimandikan para malaikat. Lalu para sahabat menanyakan perihal Handhalah kepada istrinya: “Ada apa dengan Handhalah bin Abi Amir?” Istrinya menjawab bahwa Handhalah bin Abi Amir keluar dari rumah dalam keadaan junub ketika mendengar panggilan jihad. Mereka berdua memang pasangan pengantin baru.

Selanjutnya ketika Rasul melihat keadaan Hamzah bin Abu Thalib, wajah beliau berubah merah seketika itu juga. Betapa tidak .. perut paman Rasul ini telah di bedah dan diaduk-aduk !  Dengan menahan marah, beliau bersabda :

“Takkan pernah ada orang mengalami malapetaka seperti kau ini. Belum pernah aku menyaksikan suatu peristiwa yang begitu menimbulkan amarahku seperti kejadian ini.” Lalu katanya lagi: “Demi Allah, kalau pada suatu ketika Tuhan memberikan kemenangan kepada kami melawan mereka, niscaya akan kuaniaya mereka dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh orang Arab.”

Namun kemudian Allah swt menurunkan ayat berikut :

“Dan kalau kamu mengadakan pembalasan, balaslah seperti yang mereka lakukan terhadap kamu. Tetapi kalau kamu tabah hati, itulah yang paling baik bagi mereka yang berhati tabah (sabar). Dan hendaklah kau tabahkan hatimu, dan ketabahan hatimu itu hanyalah dengan berpegang kepada Tuhan. Jangan pula engkau bersedih hati terhadap mereka, jangan engkau bersesak dada menghadapi apa yang mereka rencanakan itu”.(QS.An-Nahl(16:):126-127).

Maka Rasulpun segera memaafkan mereka, ditabahkannya hatinya dan dilarangnya orang melakukan penganiayaan. Kemudian Rasulullah menyelimuti jenazah Hamzah dengan mantel beliau lalu men-sholat-kannya. Selanjutnya Rasulullah saw memerintahkan supaya jenazah para mujahidin yang mencapai 70 orang itu dikuburkan di tempat mereka menemui ajalnya. Setelah melayangkan pandangan duka ke arah medan perang serta para syuhada,  Rasulullah berseru :

“ Sungguh aku akan menjadi saksi di hari Kiamat nanti, bahwa kalian semua adalah syuhada di sisi Allah”

Kemudian sambil berpaling ke arah sahabat yang masih hidup, beliau bersabda,

“ Hai manusia, berziarahlah dan berkunjung kepada mereka serta ucapkanlah salam ! Demi Allah yang menguasai jiwaku, tak seorang Muslimpun sampai hari Kiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya”.

Sesudah itu Rasulullah diikuti para sahabat yang tersisa meninggalkan medan pertempuran  dan kembali ke Madinah. Kepedihan dan kehancuran yang dirasa pasukan Muslim kali ini sungguh terasa amat sangat memalukan. Kehancuran dan kekalahan yang mereka alami seharusnya tidak perlu terjadi kalau saja sebagian pasukan tidak silau oleh banyaknya harta benda yang ditinggalkan musuh yang sebenarnya telah mereka kalahkan dengan telak. Dengan kata lain, kekalahan ini adalah karena sebagian besar pasukan pemanah telah melanggar perintah nabinya.

Rasulullah memasuki rumah dalam keadaan galau. Pikiran beliau bercampur aduk membayangkan reaksi orang-orang Yahudi, orang-orang munafik dan musyrik Madinah menyaksikan kekalahan dan kehancuran pasukan Muslim yang dipimpinnya itu.

Jabir bin Abdullah menjelaskan bahwa ketika Rasulullah mengalami kekalahan perang Abdullah bin Ubay, si tokoh Munafik Madinah, berkata : “  Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak akan mati sia-sia di medan perang”. Ia menganggap Rasul tidak tahu strategi perang. Atas hal itu Allah menurunkan ayat 168 surat Ali Imran.(HR. Ibnu Ishaq).

“Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: “Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh”. Katakanlah: “Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar.” QS. Ali Imran(3):168).

“Sekiranya kami mengetahui ( bagaimana cara )berperang, tentulah kami mengikuti kamu”.

Itulah jawaban yang diberikan orang-orang Munafik ketika Rasullullah memerintahkan mereka untuk berperang di jalan Allah. Ucapan tersebut adalah sindiran bahwa Rasulullah tidak mengerti strategi perang karena memerintahkan berperang ketika jumlah pasukan hanya sedikit.

“dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”. Mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui (bagaimana cara), tentulah kami mengikuti kamu”. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan.Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan”. QS. Ali Imran(3):167).

Itulah ancaman Allah swt atas ucapan orang-orang yang mengaku Muslim namun menolak ketika diperintahkan berperang oleh Rasul-Nya. Perbuatan tersebut menunjukkan bahwa hati mereka lebih menyerupai orang kafir daripada orang yang mengaku telah beriman.

Ditengah kekecewaan pada sebagian pasukan yang tidak mematuhi perintah dan silau dengan harta benda ditambah lagi ejekan dan sindiran orang-orang Munafik itulah kemudian turun turun ayat 152 dan 153 surat Ali Imran. Ayat ini memberitahukan bahwa Allah swt telah memaafkan kesalahan dan kelalaian para sahabat yang menyebabkan pasukan Muslim kalah dalam perang kali ini. Allah ridho.

“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu dan sesungguhnya Allah telah mema`afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman. (Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput daripada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS. Ali Imran(3):152-153).

Dan sebagai bukti bahwa Allah swt ridho dan telah memaafkan kelalaian dan kecerobohan mereka Allah menganugerahkan rasa kantuk yang amat sangat. Malam itu Rasul dan para sahabat yang memiliki keimanan super tinggi tertidur dengan nyenyak hingga keesokan subuhnya bangun dalam keadaan segar bugar. Sebaliknya sebagian lainnya, yaitu golongan Muslim yang kurang kuat keimanannya tetap diselimuti keraguan dan tidak bisa tidur. Mereka ragu bila Muhammad saw memang utusan Allah mengapa Allah membiarkan nabinya kalah! Mereka terus menyesali diri mengapa mau menuruti perintah berperang hingga mereka harus terbunuh! Padahal kematian adalah rahasia Sang Khalik. Tak satu orangpun dapat menghindarinya sekalipun ia terus mengurung di dalam rumah. Sebaliknya mati ketika dalam keadaan menjalankan perintah-Nya seperti berjihad ( baik jihad dalam perang maupun berdakwah mengajak pada kebenaran) surga adalah balasannya.

“Kemudian setelah kamu berduka-cita Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan daripada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. … … … Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati”. (QS. Ali Imran(3):154).

Keesokan harinya, usai subuh berjamaah Rasulullah memerintahkan para sahabat yang kemarin baru saja kembali dari Perang Uhud untuk mengejar pasukan Quraisy yang mengalahkan mereka. Pasalnya, Rasulullah mendengar kabar bahwa para pemimpin Quraisy telah memanasi-manasi pasukannya agar kembali ke Madinah untuk membunuh beliau dan merampas gadis-gadis Madinah! Hal ini tidak boleh didiamkan begitu saja karena akan membuat orang-orang munafik Madinah dan Yahudi makin melecehkan beliau.

Maka tanpa banyak bicara, Ali bin Abu Thalib yang diserahi memimpin pasukan langsung melesat mengejar pasukan Quraisy yang pagi itu masih berpesta merayakan kemenangan mereka di perkemahan antara Madinah – Makkah. Sebaliknya, mendengar bahwa pasukan Muslim mengejar pasukan Quraisy, mereka segera meninggalkan perkemahan dan pulang menuju Makkah.

Pasukan pimpinan Ali baru kembali ke Madinah setelah 3 hari 2 malam bermalam di wilayah sekitar tersebut. Pasukan ini menyalakan obor besar untuk mengelabui musuh agar disangka membawa pasukan besar. Maka untuk menghargai keberanian mereka Allahpun menurunkan ayat berikut :

“ … Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang menta`ati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar”. QS. Ali Imran(3):171-172).

“ (Yaitu) orang-orang (yang menta`ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, makaperkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung“. QS. Ali Imran(3):173)

Wallahu’alam bish shawwab.

( Bersambung).

untuk kembali ke daftar isi buku ” Sirah Nabawiyah” click :

DAFTAR ISI SIRAH NABAWIYAH ( Sejarah Singkat Rasulullah saw) | Segala Amal Perbuatan Tergantung Niatnya

Paris, 23 Desember 2010.

Vien AM.

Read Full Post »

Meski Madinah dikatakan telah berada di bawah cahaya Islam dan Rasulpun berada di kota tersebut, namun tidak berarti bahwa dakwah dan tugas kerasulan usia sudah. Ayat-ayat suci Al-Quran yang selama kurang lebih 12 tahun turun di Mekkah tetap turun di kota yang dulunya bernama Yatsrib ini.

Ayat-ayat yang turun di kota ini biasa disebut dengan ayat-ayat Madaniyah. Ayat-ayat ini biasanya panjang-panjang dan berisi tentang hukum. Kebalikan dari ayat Makiyah, ayat yang turun di Mekkah yang biasanya pendek-pendek dan berisi tentang surga dan neraka.

Bila ketika di Mekkah Rasulullah harus lebih banyak menghadapi kaum Musrykin maka di Madinah ini para ahli kitablah yang menjadi tantangan berat. Disamping juga orang-orang Munafik yang tampaknya mau memeluk Islam karena terpaksa, demi menjaga kekuasaannya.

Dalam Al-Quran, kata Ahli kitab adalah ditujukan bagi orang-orang yang sebelum datangnya Islam telah pernah menerima kitab suci dari Sang Khalik yaitu Al-Injil dan At-Taurat. Itulah orang-orang Nasrani dan Yahudi. Merekalah sebenarnya yang menjadi pemicu mengapa penduduk Madinah berbondong-bondong mau memeluk Islam dan menerima kehadiran Rasul di tengah-tengah mereka.

Dulu, sebelum datangnya Islam, orang-orang suku Aus dan Khahraj selain sering berperang melawan orang-orang Yahudi juga saling berperang diantara keduanya. Lalu dengan congkaknya, orang-orang Yahudi sering berkata bahwa akan datang seorang nabi, utusan Allah yang akan memutuskan perkara dan perselisihan diantara mereka. Mereka bahkan mengatakan bahwa orang-orang yang tidak mau mengakui utusan Allah ini akan diazab sebagaimana Allah mengazab orang-orang yang durhaka di masa lalu.

Namun nyatanya ketika utusan itu datang justru sebagian besar orang-orang Yahudi dan Nasrani inilah yang mendustakannya. Mereka bukan saja enggan mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah bahkan merekapun menganggap bahwa Muhammad dan apa yang dibawanya adalah sihir !

“Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata“. (QS.Ash-Shaaf(61):6).

Adalah sebuah mukjizat bahwa Rasulullah dapat hijrah dan diterima penduduk Madinah pada umumnya. Bahkan menjadikan Rasulullah pemimpin pula ! Dibawah kepimpinan beliau inilah  sebuah piagam kota yang isinya mengatur berbagai hal disusun. Itulah Piagam Madinah. Padahal orang-orang Yahudi yang amat membenci dan memusuhi Islam sebenarnya telah mendiami kota ini jauh sebelum hijrahnya Rasulullah dan para sahabat. Allah, Ya … Dialah Yang Maha Memiliki Rencana.

Al-Barra’ menjelaskan bahwa suatu hari, Rasulullah berpapasan dengan orang-orang Yahudi. Mereka membawa seseorang dari kalangan mereka yang dihukum jemur dan cambuk. Beliaupun bertanya : ” Apakah seperti ini hukuman bagi pezina di dalam Kitab kalian?” “Ya” jawab mereka. Lalu Rasul memanggil seorang pendeta mereka dan bertanya, “ Demi Allah yang menurunkan Taurat kepada Musa. Apakah benar-benar seperti ini hukuman  bagi pezina di dalam Kitab kalian?” Pendeta itu menjawab, “ Sesungguhnya tidak seperti itu. Jika kau tadi tidak bersumpah terlebih dahulu aku takkan menjelaskan yang sebenarnya. Di dalam Kitab kami, hukuman zina adalah rajam. Namun karena banyak dari kalangan pembesar melakukannya, kamipun membiarkannya. Jika pelakunya adalah dari kalangan rakyat kami menerapkan hukuman itu atasnya. Karena itu, berdasarkan hasil musyawarah, kami menerapkan atas kalangan pembesar dan rakyat, hukuman jemur dan cambuk”. Rasulpun bersabda, “ Ya Allah, aku adalah orang pertama yang menghidupkan kembali perintah-Mu setelah dihapus mereka”. Rasulpun melakukan perajaman atas orang Yahudi yang berzina itu. Kemudian turun ayat 41 surat Al-Maidah.(HR. Ahmad dan Muslim).

“ … … … dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah dirobah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah”. … … … ”.(QS.Al-Maidah(5):41).

Ibnu ‘Abbas memaparkan bahwa pada zaman jahiliyah, bani Nadhir lebih mulia dari pada bani Quraizhah. Jika seseorang dari Quraidzah membunuh  seseorang dari  bani Nadhir, baginya qishash ( balasannya dibunuh juga). Namun bila sebaliknya, hukumannya cukup membayar tebusan seratus wasaq tamar. Saat Muhammad telah menjadi Rasulullah terjadi pembunuhan di antara mereka, yaitu seorang lelaki bani Nadhir membunuh seorang lelaki dari bani Quraizhah. Saat hukuman akan ditegakkan diantara mereka ada yang berkata, “ Diantara kita ada utusan Allah. Mari kita minta fatwa kepada Muhammad”. Lalu turun ayat 42 surat Al-Maidah. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i dan Ibnu Jarir).

“Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil”.  (QS.Al-Maidah(5):42).

Demikian pula halnya dengan pengikut Nasrani, umat nabi Isa yang menuhankan sang utusan. Nabi Allah yang oleh umatnya disebut Yesus ini kadang dianggap sebagai anak Tuhan kadang dianggap sebagai Tuhan itu sendiri. Beliau diutus kepada kaum Yahudi pada awal abad Masehi, setelah orang-orang Yahudi lama tenggelam dalam kesesatan.

“Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israil) dengan `Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.”.(QS.Al-Maidah(5):46).

Tanpa mengenal rasa lelah, bosan apalagi takut, berulang kali Rasulullah menyampaikan ayat-ayat Al-Quran yang khusus ditujukan kepada mereka itu. Rasulullah sama sekali tidak memaksa mereka untuk berpindah agama dan mengikuti syariat Islam. Karena yang dikehendaki-Nya adalah kembali ke jalan yang benar, mendudukkan hukum Taurat dan Injil sesuai aslinya sekaligus mengamalkannya.

“Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”.(QS.Al-Maidah(5):47).

“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS.Al-Baqarah(2):62).

As-Suddi menjelaskan bahwa ayat ini diturunkan sehubungan dengan para sahabat Salman Al-Farisi. Mereka masih memeluk agama Nasrani dan belum sempat memeluk agama yang dibawa Rasulullah. Mereka sungguh beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, meski tetap memeluk agama semula, ibadah mereka tetap diterima dan mendapat pahala dari Allah swt.(HR.Ibnu Abi Hatim dan Al-Adni).

Tiap umat memiliki aturan dan syariat masing-masing. Kita disuruh berlomba dalam berbuat kebaikan dengan dasar keimanan yang benar, yaitu menyembah hanya kepada Allah Yang Satu, Allah swt, Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tiada satupun sekutu dan mitra bagi-Nya.

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”.(QS.Al-Maidah(5):48).

“dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” .(5):49-50)

Ibnu ‘Abbas memaparkan bahwa kedua ayat di atas turun berkenaan dengan Ka’ab bin Usaid, Abdullah bin Shuriya dan Syasy bin Qais yang suatu saat mendatangi Rasulullah dan berkata, “ Muhammad sesungguhnya kau mengetahui bahwa kami adalah para pendeta yang terhormat dan dihargai. Jika kami mengikuti engkau, orang-orang Yahudi juga akan mengikuti dan tidak akan menentang kami. Sesungguhnya antara kami dan kaum kami telah terjadi perbedaan pendapat. Karena itu, sekarang kami minta keputusan darimu atas perselisihan yang terjadi. Berilah kemenangan kepada kami dan kami akan beriman kepadamu. Namun rasul enggan melakukan itu.(HR.Ibnu Ishaq).

Dari hadits-hadits diatas dapat dilihat bahwa kaum Nasrani, orang-orang Yahudi bahkan para pendetanya itu sebenarnya percaya bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Sayangnya mereka hanya mau tunduk dan mematuhi beliau bila mereka mendapat keuntungan.

Melalui surat Al-Fatihah, sehari 17 kali kita, umat Islam, diwajibkan memohon kepada Allah swt agar diberikan petunjuk ke jalan yang lurus. Jalan yang lurus tersebut bukan jalan yang ditempuh orang-orang yang sesat yaitu jalannya kaum Nasrani yang tersesat karena menganggap Isa as adalah Tuhan. Mereka beramal tapi tidak bedasarkan ilmu/pengetahuan yang benar. Dan bukan juga jalannya orang-orang Yahudi yang dimurkai karena mereka sengaja tidak mau menjalankan isi Taurat dan bahkan menyembunyikannya. Mereka berilmu tapi tidak mengamalkannya.

“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?”. (QS.Ali Imran(3):71).

Dengan kata lain, umat Islam wajib beramal ibadah sesuai ilmu yang dicontohkan Rasulullah ( berdasarkan Al-Quran dan hadist).

(Bersambung).

untuk kembali ke daftar isi buku ” Sirah Nabawiyah” click :

DAFTAR ISI SIRAH NABAWIYAH ( Sejarah Singkat Rasulullah saw) | Segala Amal Perbuatan Tergantung Niatnya

Read Full Post »

Dakwah kepada Ahli Kitab dalam rangka memurnikan penyembahan, yaitu menyembah hanya kepada  Allah Yang Esa tidak lebih ringan dari pada dakwah kepada kaum Musyrikin. Sungguh berat perjuangan Rasulullah. Hanya berkat pertolongan Allah swt jua Rasulullah bisa tetap bersabar terhadap hinaan, cemoohan, kebencian hingga rasa permusuhan yang mendalam dari orang-orang Nasrani dan Yahudi Madinah yang notabene sebenarnya telah berada di bawah kekuasaan Islam. Karena nyatanya mereka tetap enggan untuk tunduk terhadap hukum dan keputusan Rasulullah. Padahal mereka telah terikat dalam Piagam Madinah yang disusun beliau. Tampak bahwa mereka benar-benar keras kepala.

“Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu Dinar, tidak dikembalikannya padamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: “Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui”.(QS.Ali Imran(3):75).

Mereka merasa bahwa kedudukan mereka lebih tinggi dari kaum Muslimin. Bahkan ada diantara mereka yang beranggapan bahwa tidak ada dosa bagi mereka bila mereka tidak ingin mengembalikan apa-apa yang mereka pinjam dari Muslimin.

Orang-orang ini juga suka berbohong tentang isi kitab suci mereka. Secara sengaja mereka memelintir ayat-ayat dan memutar-mutar maknanya hingga pas dan sesuai dengan apa yang diinginkan mereka. Hal ini terjadi karena Rasulullah memang memberi kebebasan kepada Ahli Kitab untuk menerapkan sendiri hukum agama mereka. Inilah bukti nyata betapa tingginya toleransi Islam terhadap pemeluk agama lain.

“Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui”.(QS.Ali Imran(3):78).

Sebagai seorang utusan Allah sekaligus pemimpin yang baik, Muhammad saw selalu menyediakan waktu untuk berkumpul, berbincang dan bertukar pendapat dengan seluruh warganya. Baik itu kaum Muslimin  maupun bukan.

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu)”. (QS.Al-Maidah(5):18).

Ibnu ‘Abbas memaparkan bahwa ayat di atas diturunkan berkenaan dengan Nu’man bin Qushay, Bahr bin ‘Umar dan Syasy bin Adi, yang suatu hari mendatangi Rasulullah dan berbincang-bincang. Rasul kemudian mengajak mereka untuk mengesakan Allah dan memperingatkan mereka dari siksaan-Nya. Merekapun berkata, “ Hai Muhammad, kau tidak perlu menakut-nakuti kami. Demi Allah, kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-Nya”. (HR. Ibnu Ishaq).

“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari`at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan: “Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.(QS.Al-Maidah(5):19).

Ibnu ‘Abbas menuturkan bahwa suatu saat Rasulullah berdakwah kepada orang-orang Yahudi agar mereka memeluk Islam. Namun mereka menolak. Dalam kesempatan itu Mu’adz bin Jabal dan Sa’ad bin ‘Ubadah, dua sahabat Anshar, berkata kepada mereka, : “ Wahai Yahudi, bertakwalah kepada Allah. Demi Allah, sesungguhnya kamu mengetahui bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Karena zaman dahulu kamu pernah menjelaskan sifat-sifat beliau sebelum diutus menjadi Rasul, dan itu ternyata sesuai dengan Muhammad”. Rafi’ bin Huraimalah dan Wahab bin Yahudza berkata , “ Kami tidak pernah menjelaskan seperti apa yang kamu jelaskan itu. Allah tidak menurunkan kitab lagi setelah Taurat dan tidak pernah mengutus nabi lagi setelah Musa.” (HR. Ibnu Ishaq).

Disamping penolakan yang dilontarkan secara terang-terangan, tidak jarang pula mereka menunjukkan ketaatan. Namun sayangnya, ketaatan tersebut hanyalah ketaatan palsu. Di siang hari mereka berpura-pura percaya kepada apa yang dikatakan Rasulullah. Tetapi malamnya mereka kembali mengingkarinya atau menyampaikannya kepada orang lain namun setelah di putar balikkan. Tujuannya tak lain tak bukan yaitu agar orang-orang yang tadinya telah beriman menjadi ragu, bimbang dan akhirnya murtad !

“Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mu’min) kembali (kepada kekafiran)”.(QS.Ali Imran (3):72).

Namun demikian Rasulullah tetap menahan diri. Dengan penuh kesabaran, layaknya seorang bapak terhadap anak-anaknya, beliau terus mengajak agar Ahli Kitab menyadari kekhilafan dan kesalahan mereka.

Ibnu ‘Abbas berkata, “ Suatu hari para pendeta Yahudi dan Nasrani Najran berkumpul dihadapan Rasulullah. Beliau lalu mengajak mereka untuk memeluk Islam. Abu Rafi Quraidhi berkata, “ Hai, Muhammad, apakah kau ingin agar kami menyembahmu seperti kaum Nasrani menyembah Isa?”. “Aku berlindung kepada Allah dari perbuatan itu”, jawab Rasul. Kemudian turun kedua ayat ini” (HR.Ibnu Ishaq dan Baihaqi).

Ayat yang dimaksud hadits adalah ayat 79 dan 80 surat Ali Imran berikut :

“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?”

“Katakanlah ( Muhammad) : “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma`il, Ishaq, Ya`qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, `Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri”.(QS.Ali Imran(3):84).

Tidak semua Ahli Kitab menolak ajakan Rasulullah untuk ber-Islam. Salman Al-Farisi, sahabat kelahiran Isfahan di Persia adalah salah satu contohnya. ( click:http://vienmuhadi.com/2009/01/19/perjuangan-salman-al-farisiy-dalam-rangka-menjemput-hidayah/ ). Bahkan bagi orang-orang yang dibukakan pintu hatinya ini Allah swt memuliakannya dengan turunnya ayat berikut :

“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad)”.(QS.Al-Maidah(5):83).

Ironisnya, ada juga sebagian Ahli Kitab yang mengakui kebenaran Islam, bahkan merasa bahwa merekapun Islam namun tetap tidak mau menyatakan dan mempratekkannya. Salah satunya adalah pada kewajiban haji. Kewajiban ini sebenarnya telah ada sejak nabi Ibrahim diutus menjadi Rasul. Dan terus berlaku bagi pemeluk Nasrani dan Yahudi yang diwasiatkan melalui nabi Isa as dan Musa as.

“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”. (QS.Ali Imran(3):97).

Ikramah berkata, Saat turun ayat 85 surat Ali Imran, kaum Yahudi menjawab, “ Kami juga termasuk golongan Muslim”. Rasulullahpun bersabda, “ Sesungguhnya Allah mewajibkan orang Islam melaksanakan ibadah haji”. Kaum Yahudi menolak dan berkata, “ Kami tidak tidak wajib beribadah haji”. Atas penolakan mereka, Allahpun menurunkan ayat ini”. (HR. Sa’id bin Manshur).

Penolakan Ahli Kitab terhadap dakwah Rasulullah ini sebenarnya telah ada sejak Rasulullah masih di Mekah. Ketika itu orang-orang Musrik Mekkah mengadukan tentang Rasulullah kepada orang Yahudi yang datang ke Mekah. Orang-orang ini merasa lebih baik dari pada Rasulullah. Maka dengan serta merta kedua orang Yahudi ini mengatakan bahwa orang Musrik Mekah memang lebih baik dan benar daripada Muhammad saw. Padahal mereka beriman kepada berhala-berhala ( Jibt dan Thaghut).

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya”. (QS.An-Nisa(4):51).

Ibnu ‘Abbas menjelaskan bahwa kedua ayat ini diturunkan berkenaan dengan perkataan orang-orang Quraisy kala Ka’ab bin Asyraf dan Hayy bin Akhtab, dua tokoh Yahudi, yang datang ke Mekah. “Apakah kalian tidak melihat orang yang berpura-pura sabar dan terputus dari kaumnya dan menganggapnya lebih baik daripada kami? Padahal kami menerima orang-orang yang beribadah haji, menjadi pelayan Ka’bah dan memberi mereka minum”. Mereka berduapun berkata, “ Ya, kalian lebih baik daripadanya ( Muhammad)”. (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Hatim).

Hingga akhir hayatnya Rasulullah saw tidak pernah putus asa mengajak Ahli Kitab agar kembali ke jalan yang benar. Ayat demi ayat yang turun beliau sampaikan dengan tegas. Isa as adalah manusia biasa seperti juga para nabi yang diutus-Nya. Kelebihan dan segala macam mukjizat yang diberikan Allah kepada para Rasul adalah dalam rangka men-Agungkan-Nya, untuk menunjukkan betapa hebat dan mulianya Sang Khalik. Tiada yang tidak mungkin bagi Allah swt.

“(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai `Isa putra Maryam, ingatlah ni`mat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah), waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.”(QS.Al-Maidah(5):110).

Ayat ini menerangkan dengan jelas bahwa kelebihan dan kemampuan Isa as adalah atas izin Allah swt. Rasul ke 24 yang dinamakan Yesus oleh pemeluknya ini adalah putra Maryam bin Imran. Seorang perempuan sholehah yang diberi kepercayaan oleh Sang Khalik untuk mengandung tanpa sentuhan seorangpun lelaki. Perempuan yang disebut Rasulullah sebagai salah satu perempuan calon penghuni surga inilah yang  melahirkan, merawat dan mendidik Isa hingga dewasa.

( baca surat Maryam atau click : http://www.youtube.com/watch?v=T5aIi3OqOJU )

Semua manusia adalah sama disisi-Nya kecuali tingkatan ketakwaannya.Tingkat ketakwaan para nabi inilah yang menjadikan mereka lebih mulia dari manusia biasa. Adalah kebencian dan kedengkian orang-orang Yahudi yang menjadikan mereka ingin membunuh para nabi, tak terkecuali Isa as. Namun dengan izin Allah swt nabi ini selamat dari kekejaman penyaliban para pemuka Yahudi di Yerusalem. Berkat ‘tipu daya’ Sang Khalik yang diluar jangkauan pikiran manusia, diserupakannya wajah salah seorang pengikut Nasrani yang berkhianat dengan wajah nabi Isa as. Jadi sebenarnya yang disalib pemuka Yahudi itu bukanlah Isa as. Hukuman salib dalam masyarakat Yahudi ( Romawi) ketika itu adalah suatu hal yang biasa.

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai `Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”.(QS.Ali Imran (3):54-55).

Ironisnya, saat ini pemeluk Nasrani meyakini bahwa peristiwa penyaliban yang terjadi 2000 tahun silam itu adalah bentuk pengurbanan Tuhan mereka untuk membebaskan kesalahan dan dosa-dosa orang-orang yang mau menjadikan Yesus sebagai Tuhan mereka.

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?” Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.(QS.Al-Maidah(5):17).

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi “.(QS.Ali Imran(3):85).

Bersambung.

untuk kembali ke daftar isi buku ” Sirah Nabawiyah” click :

DAFTAR ISI SIRAH NABAWIYAH ( Sejarah Singkat Rasulullah saw) | Segala Amal Perbuatan Tergantung Niatnya

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 22 Januari 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

Pada tahun ke 4 Hijriyah, Rasulullah mengabulkan permintaan Amir bin Malik, seorang pemimpin bani Amir, agar mengirimkan utusan ke Najd untuk mendakwahi kaumnya. Mulanya Rasululah ragu : “ Aku khawatir penduduk Najd akan menyerang mereka”. Namun Amir meyakinkan : “ Aku yang akan melindungi mereka dan menjamin mereka. Biarlah mereka mengajak kepada agamamu”. Maka Rasulullahpun memberangkatkan 70 orang sahabat ke negri tersebut.

Setiba di sebuah desa bernama Bi’ru Ma’unah, salah seorang utusan menemui Amir bin Thufail, pemimpin Najd, untuk menyerahkan surat dari Rasulullah. Namun utusan tersebut langsung dibunuh, bahkan tanpa membaca surat yang dibawanya. Selanjutnya Amir mengajak warganya agar menghabisi seluruh utusan. Namun mereka menolak karena tidak ingin mengkhianati perjanjian Amir bin Malik dengan Rasulullah.  Amir bin Thufail yang memang dikenal kejam tersebut tidak putus asa. Ia mencari dukungan kabilah lain. Keinginannya tercapai. Maka dengan bantuan beberapa kabilah yang menjadi sekutunya, ke 69 dai tersebut dibantai beramai-ramai.

Beruntung Amir bin Umaiyyah, satu-satunya dai yang lolos dari pembunuhan, dapat menyelamatkan diri dan kembali ke Madinah. Tetapi ditengah perjalanan, Amir bertemu dengan dua orang yang disangkanya dari bani Amir dan sedang mengejarnya. Maka iapun membunuhnya. Setiba di Madinah ia segera menceritakan apa yang terjadi pada diri para sahabat.

Betapa berdukanya Rasulullah dan para sahabat mendengar berita buruk tersebut. Belum juga genap setahun ketika 10 orang sahabat mengalami hal yang sama. Saat itu mereka diserang, sebagian dibunuh sebagian lagi dijual dan dijadikan budak oleh musuh.

( Lihat : http://vienmuhadi.com/2011/01/14/khubaib-bin-adi-mujahid-yang-syahid-di-tiang-salib/)

Maka demi menghargai jerih payah mereka, selama satu bulan penuh, Rasulullah membacakan doa qunut pada setiap shalat subuh berjamaah yang dilakukan bersama para sahabat. Beliau memohon agar Allah swt membalas perbuatan terkutuk itu dengan balasan yang setimpal.

Sebaliknya, setelah diusut, dua orang yang dibunuh Amir Umaiyyah di perjalanan menuju Madinah, ternyata bukan dari bani Amir. Melainkan orang dari bani Kilab yang telah mendapat jaminan keamanan dari Rasulullah.

“ Aku harus membayat diyat kedua orang tersebut”, begitu Rasulullah berujar, menyesal.

Bagi kabilah-kabilah Arab, persekutuan, perjanjian dan jaminan keselamatan antar kabilah adalah hal yang umum terjadi. Ini adalah kebiasaan nenek moyang yang telah lama dipegang. Bagi mereka, ini adalah harga diri kabilah. Itu sebabnya mereka sangat menghargai dan menghormati perjanjian seperti itu.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema`afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema`afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma`af) membayar (diat) kepada yang memberi ma`af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih”.(QS.Al-Baqarah(2):178).

Sebelum Islam datang, barang siapa melanggar perjanjian maka balasnya adalah kematian. Namun sejak datangnya Islam, Allah swt memberi keringanan, yaitu membayar diyat bagi pihak yang membunuh tanpa sengaja atau yang dimaafkan oleh keluarga yang dibunuh. Dan perbuatan memaafkan adalah perbuatan yang amat mulia.

Sayangnya, ketika itu keadaan keuangan pihak Islam sedang dalam kesulitan. Sementara orang-orang Yahudi yang dikenal kaya raya itu terikat perjanjian dengan Rasulullah sebagaimana tertuang dalam piagam Madinah. Itu sebabnya Rasulullah mendatangi Yahudi bani Nadhir untuk meminta bantuan keuangan dalam rangka membayar diyat kepada keluarga bani Kilab.

“ Kami akan melakukan apa yang engkau inginkan, wahai Abul Qashim”, janji pemuka bani Nadhir kepada Rasulullah. Kemudian salah seorang diantara Yahudi itu berbisik kepadanya, “ Aku akan naik ke bagian atas rumah kemudian menjatuhkan batu besar kepadanya”. Namun salah seorang Yahudi lainnya berkata, “ Janganlah kalian melakukannya ! Demi Allah, dia pasti akan diberi tahu tentang apa yang kalian rencanakan. Sesungguhnya perbuatan itu merupakan pelanggaran terhadap perjanjian antara kita dan dia “.

Belum sempat rencana jahat itu terjadi, tiba-tiba Rasulullah meninggalkan tempat, seolah ada suatu keperluan mendadak. Walaupun dengan terheran-heran, para sahabatpun segera mengikuti langkah beliau. « Engkau berangkat, sedangkan kami tidak menyadari .. ».

Setelah agak jauh, Rasulullah berujar : « Orang-orang Yahudi itu merencanakan pengkhianatan lalu Allah mengabarkan hal itu maka aku segera berangkat ».

Betapa sedih hati Rasulullah. Beliau diutus untuk menegakkan kalimat takwa, Tiada Tuhan yang dipatut disembah selain Allah. Beliau tidak memaksa orang-orang Yahudi itu untuk meninggalkan agama mereka. Beliau hanya menyampaikan pesan Sang Khalik agar mereka menegakkan ajaran Taurat dengan benar, tidak membelok-belokannya. Namun jawaban mereka malah hendak membunuhnya !

“Sesungguhnya, Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah”. (QS.Al-An’am(6):33).

Selanjutnya Rasulullah mengutus seseorang untuk menyampaikan pesan singkat sebagai berikut : “ Keluarlah  kalian dari negriku karena kalian telah merencanakan pengkhianatan. Aku beri tempo sepuluh hari. Kalau setelah itu masih ada yang terlihat akan kupenggal batang lehernya ».

Maka dengan penuh ketakutan orang-orang Yahudi tersebut bersiap-siap meninggalkan rumah. Namun, Abdullah bin Ubay bin Salul, pemuka munafik Madinah yang selalu berbuat keonaran, mengirim pesan bahwa mereka tidak perlu menuruti perintah Rasulullah. Ia dan dua ribu tentaranya akan melindungi mereka. Akhirnya orang-orang Yahudi tersebut tetap bertahan di benteng-benteng mereka sambil mempersenjatai diri dengan panah dan batu.

Sepuluh hari kemudian, Rasulullah menepati janjinya. Beliau mengirim para sahabat untuk memerangi orang-orang yang dari dulu selalu menentang perintah. Tampaknya bisikan syaitan untuk tidak memperdulikan ayat-ayat Allah lebih kuat dari bisikan untuk kembali ke jalan yang benar.

Berkali-kali sejarah mencatat betapa orang-orang Yahudi selalu menjadi duri dan onak dalam suatu masyarakat. Berapa banyak nabi dan Rasul yang mereka nistakan dan bunuh, hanya karena mengajak mereka untuk bertobat. Orang-orang Yahudi memang keras kepala. Kita lihat saat ini, ketika Yahudi memegang kendali pemerintahan di Palestina, betapa tidak adilnya mereka terhadap rakyatnya. Keberpihakkan terhadap kaumnya sendiri begitu terlihat kental. Tingkat kesejahteraan antara penduduk Yahudi dan penduduk lainnya, terutama Muslim, seperti langit dan bumi. Perasaan bahwa mereka adalah bangsa yang superior tampaknya tidak bisa ditanggalkan begitu saja.. Padahal di sisi Allah, perbedaan antar hamba hanya terletak pada ketakwaannya. Bukan bangsanya, bukan kulitnya, bukan hartanya, bukan kedudukannya.

Akhirnya setelah dikepung, para sahabat lalu membabat habis semua kebun dan ladang kurma milik mereka. Sementara janji si Munafikun Abdullah bin Ubay bin Salul tidak kunjung tiba. Tampak bahwa Allah melemahkan keinginan orang yang membenci hukum-hukum-Nya.

” Hai Muhammad, kamu dulu melarang kerusakan dan mencela orang yang melakukannya. Mengapa sekarang kamu membabat dan membakar habis ladang kurma kami ? ” protes Yahudi.

« Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik ».(QS.Al-Hasyr(59) :5).

Itulah jawaban Allah swt, Sang Khalik. Perbuatan mereka sudah keterlaluan. Tampaknya Allah sudah tidak ingin lagi memberi mereka tenggang waktu. Akhirnya orang-orang Yahudi bani Nadhir menyerah dan meninggalkan kota. “Kalian boleh membawa harta yang dapat dibawa oleh unta kecuali senjata”, ujar Rasulullah.

Ibnu Hisyam menceritakan, “Sebagian mereka ada yang mencopot peralatan rumah mereka untuk dibawa keluar Madinah. Mereka mengungsi antara Khaibar dan Syam. Diantara orang-orang Yahudi itu hanya ada dua orang yang masuk Islam, yaitu Yamin bin Umair bin Ka’ab, anak paman Amr bin Jihasy dan Abu Sa’ad bin Wahab. Kedua orang ini kemudian mendapatkan kembali hartanya”.

“Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya”.(QS.Al-Hasyr(59) :7).

Demikianlah Rasulullah membagi harta rampasan orang-orang Yahudi Nadhir yang terusir karena kedurhakaan mereka.

(Bersambung).

untuk kembali ke daftar isi buku ” Sirah Nabawiyah” click :

DAFTAR ISI SIRAH NABAWIYAH ( Sejarah Singkat Rasulullah saw) | Segala Amal Perbuatan Tergantung Niatnya

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 27 Januari 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »