Khadijah binti Khuwailid ra adalah satu-satunya istri Rasulullah saw yang dipercaya menjaga amanah dari Allah Azza wa Jala untuk mengandung benih Rasulullah dan melahirkannya dengan baik, kecuali Maryah Al-Qibthiyyah. Hamba sahaya Rasulullah pemberian Muqauqis, penguasa Iskandaria, yang dinikahi beberapa tahun setelah wafatnya Khadijah ini melahirkan seorang putra yang diberi nama Ibrahim, namun wafat pada usia 18 bulan.
Di dalam Islam, keluarga Rasulullah ﷺ memiliki kedudukan yang Istimewa, dan menyebut keluarga mulia ini dengan kata “ahlul bait”. “Dan terhadap ahli baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku.” (HR. Ahmad, No.18464).
Sebuah pesan yang dalam sehingga beliau merasa perlu mengulanginya tiga kali agar benar-benar diperhatikan.Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu: “Sungguh aku lebih senang menyambung tali kekerabatan kepada keluarga Rasulullah ﷺ daripada keluargaku sendiri.” (HR. Bukhari, No. 3712).
“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta`atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya“. (Terjemah QS. Al-Ahzab (33):33).
Allah swt mengaruniai pasangan Rasulullah dan Khadijah, 2 putra yaitu Qasim dan Abdullah serta 4 putri yaitu Zainab, Ruqayah, Ummi Kultsum dan Fathimah Az-Zahra. Keenam putra-putri tersebut lahir sebelum masa kenabian. Putra pertama adalah Qasim. Dari sinilah Rasulullah mendapat panggilan Abu Qasim yang artinya ayahnya Qasim. Namun pada usia 2 tahun Allah swt mengambil bocah yang sedang lucu-lucunya tersebut. Tapi tak lama kemudian Allah Azza wa Jala menggantikannya dengan kelahiran seorang putra yang diberi nama Abdullah ( Ath-Thayyib/ Ath-Thahir). Akan tetapi kemudian Allah pun memanggilnya dalam usia masih sangat kecil. Setelah itu Allah swt menggantikannya dengan 4 putri yang lahir secara berurutan yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fatimah.
Selama 15 tahun pernikahan Rasulullah beserta istri dan ke 4 putri hidup bahagia. Rasulullah menjalankan kehidupan sebagai sebagai seorang pedagang yang sukses dan dapat menjaga amanah dengan sangat baik hingga disukai banyak orang. Meski demikian beliau tetap rendah hati. Beliau tidak pernah sungkan membantu sang istri mengerjakan pekerjaan rumah tangga sehari-hari. Rasulullah juga dikenal sangat mencintai putri-putri mereka meski orang Quraisy mencemoohnya. Karena bagi mereka anak perempuan adalah aib.
Rasulullah bersabda, “Barang siapa memiliki tiga anak perempuan, lalu ia bersabar atas mereka, memberi mereka makan dan pakaian, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka”. Dalam riwayat lain, “… memiliki dua anak perempuan, … “.
Ketika Rasulullah berkhalwat di gua Hiro karena prihatin memikirkan prilaku dan kebiasaan masyarakat Mekah yang buruk, ketiga anak perempuan inilah yang mewakili ibunya membawakan masakan sang ibu ke gua yang letaknya tidak mudah itu. Peristiwa tersebut terjadi sebelum Rasulullah diangkat sebagai rasul.Fathimah ketika itu masih sangat kecil.
Sementara Khadijah yang telah menyerahkan segala urusan dagang kepada suami tercinta, menjalani peran istri dan ibu yang baik bagi suami dan putri-putrinya. Hingga suatu hari datang malaikat Jibril menyampaikan tugas kenabian dari Tuhannya, Allah swt. Khadijah ra sebagai seorang istri yang baik menyambut tugas mulia tersebut dengan penuh kesabaran. Melihat Rasulullah yang ketakutan melihat sosok asli malaikat Jibril yang tiba-tiba muncul di ufuk langit, mendatangi dan mengajak bicara, sang istri tercinta segera menyelimuti dan menghiburnya, hingga turun kemudian turun ayat 1-5 surat Al-Muzzamil berikut yang artinya,
“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat”.
Maka sejak itulah kehidupan mereka berubah terutama sejak turun perintah untuk berdakwah secara terbuka.
Putri-putri Rasulullah dan Pernikahan Mereka.
1.Zainab binti Muhammad.
Zainab lahir di Mekah sekitar 23 tahun sebelum Hijrah (600 M). Ia dikenal sebagai perempuan yang cerdas, berbudi luhur dan penuh kasih sayang. Pernikahan Zainab terjadi sebelum masa kenabian, yaitu dengan Abul Ash bin ar-Rabi’, seorang pemuda Quraisy. Pada masa itu Abul Ash yang merupakan keponakan Khadijah, terkenal sebagai pribadi yang kaya, amanah dan pintar berdagang. Karenanya tak heran bila kemudian ibunda Khadijah membujuk sang suami, Rasulullah saw, agar menikahkan putri pertama mereka Zainab dengan keponakannya itu. Rasulullah saw pun setuju.
Paska kenabian, Zainab segera masuk Islam. Sementara suaminya, Abul Ash bin al-Rabi’, enggan mengikutinya. Namun demikian pasangan tersebut tidak otomatis bercerai karena ayat tentang perbedaan agama dalam pernikahan belum turun. Ayat tersebut baru turun pasca Perjanjian Hudaibiyah, tepatnya pada tahun ke-6 setelah hijrah Rasulullah saw ke Madinah sebagaimana ayat 10 surat Al-Mumtahanah berikut, “Wanita muslimah tidak halal bagi lelaki nonmuslim dan lelaki nonmuslim otomatis tidak boleh menikahi wanita Muslimah”.
Pada tahun ke 3 kenabian, setelah turun ayat yang memerintahkan agar Rasulullah saw berdakwah secara terang-terangan, orang-orang Quraisy segera menentangnya, bahkan mengintimidasinya. Di antaranya yang paling berat adalah dengan memutus seluruh hubungan pernikahan yang berkaitan dengan putri-putri Rasulullah saw, termasuk Abul Ash. Ia dibujuk agar menceraikan Zainab dengan iming-iming wanita lain, namun ia menolak. Ia teguh pada cintanya, “Mâ uhibbu anna li bimraati imra’atan min quraisy”, aku tak tergiur perempuan Quraisy satupun, sungguh aku sudah punya istri.”
Selanjutnya ketika terjadi perang Badar pada tahun ke-2 setelah hijrah, yang dimenangkan kaum Muslimin, Abul Ash yang berperang di pihak Quraisy tertawan, lalu dibawa ke Madinah. Kaum Quraisypun bergegas menebus para tawanan yang dibawa ke Madinah, termasuk juga Zainab. Ia menebus suaminya tercinta dengan sejumlah barang tebusan, diantara adalah kalung hadiah pernikahan dari ibunya ketika dinikahkan dengan Abul Ash.
Melihat kalung itu, tersentuhlah hati Rasulullah saw teringat istrinya, lalu menyarankan kepada para sahabatnya agar melepaskan Abul Ash tanpa tebusan dan mengembalikan kalung itu kepada Zainab putrinya yang tinggal jauh di Makkah, namun dengan syarat Abul Ash membebaskan Zainab untuk hijrah ke Madinah. Setelah bebas Abul Ash segera pulang ke Makkah dan mempersilakan istrinya untuk hijrah ke Madinah menyusul ayahnya, Rasulullah saw. Setelah melakukan persiapan yang cukup dengan menghadapi sedikit kendala, Zainab akhirnya sukses hijrah ke Madinah untuk hidup bersama ayahnya.
Sepeninggal Zainab, Abul Ash melakukan aktivitas seperti biasanya. Hingga menjelang terjadinya peristiwa Fathu Makkah di tahun ke 8 setelah hijrah, setelah sukses menjalankan perdagangan di Syam iapun pulang ke Mekkah. Namun di perjalanan ia terkena patroli tentara Madinah dan harta dagangannya dirampas. Namun ia masih bisa lari menyelamatkan diri.
Malamnya mantan suami Zainab ini menyelinap ke Madinah mencari Zainab untuk meminta perlindungan sekaligus melobinya untuk membantu mengambil kembali hartanya yang dirampas. Usahanya berhasil. Maka ia segera pulang membawa harta dagangannya ke Makkah. Setiba di Makkah ia segera membagikan keuntungannya kepada semua mitra bisnisnya, yaitu orang-orang Quraisy yang berhak menerima bagian.
Tanpa diduga, setelah semua amanah ditunaikan, Abul Ash tiba-tiba mendeklarasikan syahadat, masuk Islam di depan kaum Quraisy secara gagah dan terang terangan. “Sungguh aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sungguh Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Demi Allah, tidak ada yang menghalangiku untuk masuk Islam di sisi Muhammad (kemarin saat di Madinah), kecuali karena aku khawatir kalian akan menyangka bahwa maksudku masuk Islam hanyalah karena ingin memakan seluruh harta kalian (yang aku bawa). Setelah Allah takdirkan seluruh harta itu sampai pada kalian dan aku terlepas dari tanggung jawab menjaganya, maka aku masuk Islam sekarang.”
Setelah itu Abul Ash kembali lagi ke Madinah, hijrah menghadap Rasulullah saw. Alangkah bahagianya kaum Muslimin terutama Zainab hingga kemudian Rasullah saw pun menikahkan kembali Zainab dengan pujaan hatinya dengan mahar dan akad yang baru, sebagaimana diriwayatkan Amru bin Syu’iab, dari ayahnya, dari kakeknya, “ Sungguh Rasulullah saw mengembalikan putrinya sendiri yaitu Zainab ra kepada mantan suaminya Al-‘Ashi bin ar-Rabi’ dengan mahar dan akad nikah yang baru,” (HR At-Tirmidzi).
Zainab wafat pada tahun 8 H/ 629 M di Madinah pada usia 29 tahun dan dikuburkan di pemakaman Jannatul Baqi, kota Madinah. Zainab dan Abul Ash dikarunia dua orang anak.
2.Ruqayyah binti Muhammad.
Putri ke 2 Rasulullah ini lahir sekitar 20 tahun sebelum hijrah, saat Rasulullah berusia 33 tahun. Ketika Rasulullah diangkat sebagai nabi, ia segera memeluk Islam bersama Khadijah sang ibu, serta ke 3 putri Rasulullah yang lain. Ruqayyah adalah salah satu putri Rasulullah yang menjadi simbol ketegaran, kesetiaan dan kejujuran.
Saat Ruqayyah menginjak usia pernikahan Abu Thalib, paman Rasulullah datang kepada Rasul melamar Ruqayyah dan adiknya Ummu Kaltsum yang usia tidak terpaut jauh, untuk dinikahkan dengan putra-putra saudaranya yang tak lain adalah Abu Lahab. Rasulullah begitu pula Khadijah, Ruqayyah dan Ummi Kultsum terkejut karena mengetahui bagaimana buruknya dari keluarga Abu Lahab.
“Kami berharap engkau tak mempersulit pernikahan mereka dengan sepupu-sepupumu, Utbah dan Utaibah putra Abdul Uzza (Abu Lahab),” kata Abu Thalib.
Mendengar hal tersebut Rasulullah SAW menjawab, “Paman, berilah aku waktu agar bisa berbicara dengan putri-putriku.”
Namun akhirnya setelah berembug, dengan memohon petunjuk Allah swt dan demi menjaga hubungan kekeluargaan terutama paman yang sangat dihormatinya, Rasulullahpun menerimanya meski dengan berat hati.
Akan tetapi tak lama setelah nabi diangkat menjadi Rasul, Abu Lahab dan istrinya sangat marah. Mereka beranggapan bahwa Rasulullah telah merusak tatanan masyarakat Mekah dimana ia dan istrinya sebagai petinggi diperlakukan dengan hormat. Keduanya sangat khawatir kedudukan tersebut akan lepas dengan datangnya Islam.
Maka merekapun berusaha mencari jalan untuk mempermalukan Rasulullah. Mereka berpikir dengan menikahnya dua putri Rasulullah dengan dua putra mereka Rasulullah merasa aman dan nyaman karena sudah tidak menanggung biaya hidup ke dua putrinya tersebut. Maka dengan dicerai dan dikembalikannya Ruqayyah dan Ummu Kalstum, beban nabi akan bertambah selain adanya rasa malu.
Oleh sebab itu dengan iming-iming akan menggantinya dengan istri baru, petinggi Quraisy itu segera meminta putranya untuk membatalkan pernikahan dan mengembalikan Ruqayyah ke rumah orang-tuanya. Dan Uthbahpun menuruti keinginan sang ayah maka bercerailah keduanya.
Tentu saja Rasulullah sangat terpukul. Namun dengan dikembalikannya Ruqayyah kepada orang-tuanya bukan menjadi suatu aib bagi Rasulullah, beliau justru sangat bersyukur. Bahkan, Allah SWT telah memilihkan suami yang lebih terhormat untuk Ruqayyah. Dia adalah Utsman bin Affan ra, seorang sahabat senior yang memeluk Islam ( orang ke 8 masuk Islam) di awal keislaman yang dikemudian hari diangkat menjadi Khulaur Rasyidin ke 3. Ustman adalah keturunan bangsawan Quraisy yang sangat baik akhlaknya, santun, dermawan, tampan, kaya dan sangat setia pada agama, Rasul dan Tuhannya. Ruqayyah sangat bahagia dengan pernikahan barunya dan dengan segera dapat melupakan luka hatinya. Suaminya sangat mencintai dan memperlakukannya dengan sangat baik.
Dan ketika gangguan Abu Lahab dan istrinya yaitu Ummu Jamil bertambah keras, diantaranya dengan menyebarkan duri di jalan-jalan tempat Rasulullah lewat, turunlah surat Al-Lahab yang artinya sebagai berikut,
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan memasuki api yang bergejolak (neraka), (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal.“
Selanjutnya pada tahun ke 5 dakwah ketika kebencian kaum Quraisy terhadap kaum Muslimin yang ketika itu masih sedikit makin menjadi-jadi, Rasulullah mengizinkan kaum Muslimin untuk hijrah ke Habasyah/Abyssinia (sekarang Ethiopia dan Sudan) yang ketika itu berada dibawah pimpinan raja Najasi, seorang pemeluk Kristen yang dikenal adil. Dibawah pimpinan Ustman bin Affan sekelompok kecil Muslimin yang terdiri dari 12 orang laki-laki dan 4 orang perempuan termasuk Ruqqayah berhijrah ke negri tersebut. Tanpa berbekal apapun secara diam-diam agar tidak diketahui orang-orang Quraisy mereka meninggalkan tanah kelahiran dan keluarga yang mereka cintai. Mereka menyebrangi laut Merah dengan perahu demi dapat menjalankan agama dengan baik.
Di Habasyah, mereka mendapatkan perlakuan yang baik dan hidup dengan damai. Namun sekitar 3 tahun kemudian, setelah mendengar kabar bahwa keadaan di Mekkah membaik, pasangan muda tersebut memutuskan untuk kembali. Sayangnya, kabar tersebut tidak benar. Setiba di Mekah penindasan terhadap kaum Muslimin ternyata malah makin parah. Akan tetapi yang membuat Ruqayah makin berduka adalah wafatnya sang ibunda tercinta. Tahun tersebut di kemudian hari dinamakan Tahun Kesedihan ( Amul Huzn) karena selain Khadijah paman Rasulullah yang selama ini selalu melindungi Rasulullah dan keluarga, yaitu Abu Thalib juga meninggal dunia.
Pada tahun 622 M ketika Rasulullah mengizinkan kaum Muslimin untuk hijrah ke Madinah, pasangan Ruqayyah dan Ustman yang telah dianugerahi seorang putra ikut pula berhijrah. Itu sebabnya Ruqayyah mendapat julukan Dzu Hijratain yang artinya dua kali berhijrah. Di Madinah pasangan muda tersebut hidup bahagia diantara kaum Muhajirin ( pendatang dari Mekah) dan Anshar (penduduk asli Madinah). Namun tak lama kebahagiaan tersebut sirna. Allah swt menguji mereka dengan dipanggilnya Abdullah, putra satu-satunya yang ketika itu menginjak usia 6 tahun.
Ruqayyah kembali mengalami kesedihan yang sangat mendalam. Kepergian Abdullah membuat Ruqayyah jatuh sakit. Padahal ketika itu Rasulullah sedang mempersiapkan diri untuk Perang Badar. Rasulullahpun meminta Utsman untuk tetap tinggal di Madinah agar dapat merawat istrinya. Ustman mematuhinya dan iapun merawat istrinya tercinta dengan penuh kesabaran.
Namun, takdir berkata lain. Sakit Ruqayyah bertambah parah hingga akhirnya wafat ketika ayahnya masih di medan perang. Ia wafat di pangkuan suaminya. Zaid bin Haritsah segera menyampaikan berita duka tersebut langsung kepada ayahnya. Alangkah sedihnya Rasulullah mendengar kabar tersebut. Kemenangan kaum Muslimin di Badar disambut dengan berita duka yang tak terkira. Seluruh kaum Muslimin turut merasa kehilangan.
Saat kabar kemenangan dari medan perang tiba, beliau justru berduka. Tangis Rasulullah bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kasih sayang dan kemanusiaan beliau sebagai seorang ayah. Namun demikian Rasulullah tetap menunjukkan ketegaran luar biasa. Beliau tidak mengeluh atas takdir, melainkan menerima dengan lapang dada dan menjadikan duka itu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah.
Ruqayyah wafat pada tahun 2H, pada usia 22 tahun. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Baqi’ al-Gharqad, Madinah.
3. Ummu Kultsum binti Muhammad.
Ummu Kultsum adalah putri ke 3 Rasulullah saw dan Khadijah binti Khuwailid ra. Ia dikenal sebagai seorang perempuan yang cantik dan sabar. la sangat senang memakai jubah sutra yang bergaris.
Seperti juga ibunda dan saudari-saudarinya yang lain ia memeluk Islam begitu Rasulullah diangkat menjadi nabi. Taksiran selisih umur dengan Ruqayyah tidak jauh sehingga kerap disebut sebagai saudara kembar. Hubungan keduanya sangat akrab hingga ketika Ruqayyah dipersunting Utsman bin Affan ia harus ikhlas melepas kepergian sang kakak.
Ketika Ruqayyah, kakandanya yang sangat dicintai dan mencintainya wafat pada tahun 2 H, ia dinikahi mantan suami saudarinya tersebut, yaitu Ustman bin Affan ra. Pernikahan agung tersebut terjadi atas perintah Allah swt sebagaimana hadist berikut,
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada Utsman, “Hai Utsman, ini Jibril. Ia mengabarkan kepadaku bahwa Allah menikahkanmu dengan Ummu Kultsum dengan mahar yang sama dengan Ruqayyah. Sama dengan pergaulanmu dengan Ruqayyah.”
Said bin Al-Musayab mengatakan, “Utsman bin Affan ditinggal wafat Ruqayah binti Rasulullah dan Hafshah binti Umar ditinggal wafat suaminya. Umar datang kepada Utsman dan berkata, “Apakah kamu mau menikah dengan Hafshah?” Utsman telah mendengar Rasulullah yang menyebut Hafshah. Karena itu, Utsman tidak menanggapi tawaran Umar ini.
Umar kemudian menuturkan hal ini kepada Rasulullah, lalu beliau bersabda, “Apakah kamu menginginkan yang lebih baik daripada itu? Aku menikahi Hafshah dan aku menikahkan Utsman dengan perempuan yang lebih baik daripada Hafshah, (yakni) Ummu Kultsum.”
Ummu Kultsum dinikahi Utsman bin Affan ra pada tahun ke-3 Hijriah setelah Ruqayyah meninggal dunia. Itu sebabnya Utsman digelari Dzun-Nurain (pemilik dua cahaya) yaitu kakak beradik putri-putri Rasulullah, Ruqayyah dan Ummu Kultsum.
Saat menikahkan putrinya, Ummu Kultsum, dengan Utsman, Rasulullah berkata kepada putrinya itu, “Sungguh suamimu adalah orang yang paling mirip dengan kakekmu, Ibrahim. Dan ayahmu, Muhammad.”
Namun sebelumnya yaitu sebelum masa kenabian, Ummu Kultsum pernah menikah dengan Utaibah bin Abu Lahab bin Abdul Muthalib. Akan tetapi belum sempat keduanya tinggal serumah, Rasulullah diutus menjadi Rasul. Sama dengan yang dialami saudarinya yaitu Ruqqayah, Abu Lahab memerintahkan anaknya agar segera menceraikan putri Rasulullah tersebut.
“Kepalaku tidak halal bagi kepalamu selama kamu tidak menceraikan putri Nabi“. Maka dia pun menceraikan Ummu Kultsum begitu saja. Utaibah mendatangi Nabi dan mengatakan kata-kata yang menyakitkan hati Rasulullah. Atas perilaku itu maka Rasulullah berdoa kepada Allah agar mengirimkan anjing-anjing-Nya untuk membinasakan Utaibah. Dan hal itu itu benar-benar teriadi. Dalam suatu perjalanan seekor singa yang ganas telah memilih Utaibah di antara teman-temannya untuk diterkam kepalanya. Utaibah mati dalam keadaan yang sangat mengerikan.
Setelah bercerai Ummu Kultsum kembali tinggal bersama Rasulullah di Mekkah. Ia ikut hijrah ke Madinah ketika Rasulullah berhijrah dan kemudian tinggal bersama Rasulullah. Ummu Kultsum dan Ruqayyah adalah dua orang saudara yang perjalanan hidup mereka hampir sama. Mereka berdua terlahir dari bapak yang sama, ibu yang sama, suami mereka pun kakak beradik yang namanya mempunyai arti yang sama yaitu Utbah dan Utaibah, mempunyai mertua yang sama, masuk Islam pada hari yang sama, bercerai pada hari yang sama dalam keadaan suci ( perawan) dan setelah perceraian mereka mempunyai suami yang sama pula.
Ummu Kultsum dan Utsman bin Affan menjalani kehidupan rumah tangga dengan baik hingga 6 tahun lamanya meski tanpa satupun anak. Hingga akhirnya maut memisahkan keduanya. Ummu Kultsum wafat pada bulan Sya’ban tahun 9 H/630 M di Madinah. Utsman merasa terpukul dengan kematiannya dan merasa sangat sedih karena berpisah dari belahan hatinya. Rasulullah dapat melihat Utsman berjalan dengan kesedihan. Kesedihan yang dapat terbaca dengan jelas dari raut wajahnya.
Maka beliau mendekati Utsman dan bersabda, “Jika kami memiliki putri yang ketiga, maka kami akan menikahkannya denganmu wahai Utsman”. Redaksi lain mengatakan “Seandainya aku mempunyai sepuluh orang putri maka aku akan tetap menikahkan mereka dengan Utsman”.
Namun ketika itu putri bungsu Rasulullah yaitu Fathimah, telah menikah dengan Ali bin Thalib. Yang pasti hal tersebut untuk menunjukkan kecintaan Rasulullah SAW terhadap Utsman dan menunjukkan kesetiaan serta penghormatan Utsman terhadap beliau.
Pada hari wafatnya, jenazahnya dimandikan oleh Asma’ binti Umais dan Shafiah binti Abdul Muthalib. Jenazahnya ditempatkan di atas sebuah keranda yang terbuat dari batang pohon palem yang baru dipotong. Dan pada saat penguburannya Rasulullah duduk di dekat makamnya dengan berlinangan air mata. Beliau berkata, “Siapa di antara kalian yang tidak bercampur dengan istrinya tadi malam?’ Abu Thalhah ra. berkata, Aku, ya Rasulullah lalu beliau menyuruhnya, “Turunlah kamu.” Maka Abu Thalhah turun dan menguburkan Ummu Kultsum.
Dari Abu Umamah berkata, “Saat Jinazah Ummu Kultsum binti Rasulullah berbaring di kubur. Rasulullah membacakan ayat: “Dari situlah Kami menciptakan kamu, dan ke situlah Kami akan mengembalikan kamu, dan dari situlah Kami akan mengeluarkan kamu kembali”.
“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang polos”. ( Terjemah QS. Thaha (20):55).
4. Fathimah binti Muhammad.
Fathimah, putri bungsu pasangan Rasulullah dan Khadijah adalah satu-satunya putra-putri Rasulullah yang masih hidup ketika Rasullah wafat. Ia lahir sekitar lima tahun sebelum Nabi menerima wahyu dan meninggal dunia 6 bulan setelah Rasulullah wafat.
Sejak usia belia, Fathimah telah menyaksikan perjuangan ayahnya dalam menyebarkan pesan Islam. Perjuangan ini mengajarkan Fatimah makna sejati dari keberanian dan keteguhan menghadapi tantangan. Ia dikenal sebagai sosok dengan kepribadiannya yang lembut, sederhana, ketaatan yang mendalam terhadap ajaran agama Islam serta kepemimpinan yang luar biasa hingga memperoleh julukan indah Az-Zahra (yang Cemerlang) dan At-Thahirah (Perempuan Suci).
Ketika masih kecil Fathimah dengan penuh keberanian ia memarahi orang-orang Quraisy yang tega menaruh kotoran binatang ke kepala ayahnya tercinta ketika sedang shalat posisi sujud di depan Ka’bah. Ia pulalah yang sambil menangis membersihkan kotoran tersebut.
Pada usia 15 tahun ketika ke 3 kakak perempuannya telah menikah semua Fathimah kembali harus menunjukkan ketabahannya. Yaitu dengan wafatnya ibundanya tercinta. Bahkan ketika ibundanya itu merasakan ajalnya semakin dekat ia memanggilnya dan berbisik, “Wahai Fathimah puteriku, aku yakin ajalku hampir tiba dan aku takut akan siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu agar beliau memberikan kain sorbannya untuk dijadikan kain kafanku”.
Betapa sedihnya Fathimah mendengar itu. Tak lama ibunyapun menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Rasulullah yang mendekapnya dengan perasaan pilu yang teramat sangat.
Selanjutnya ia ikut hijrah ke Madinah bersama kaum Muslimin. Sekitar 2 tahun setelah hijrah (623M), 4 bulan setelah perang Badar, Rasulullah menikahkan Fathimah dengan Ali bin Abi Thalib yang dikemudian hari menjadi khalifah Rasyidin ke 4. Ali bukan orang asing bagi Fathimah karena ia adalah sepupu Rasulullah yang sejak kecil telah tinggal satu rumah dengan Rasulullah dan keluarga. Ali bukan orang berharta, mas kawinnya hanyalah baju perang yang merupakan harta satu-satunya sekaligus senjatanya dalam menerjuni berbagai macam peperangan.
Namun Rasulullah sangat mencintainya bagai anak sendiri. Ali adalah seorang mujahid sejati, orang pertama yang masuk Islam dari kalangan pemuda, seorang yang mencintai Allah dan rasulNya dan dicintai oleh Allah dan rasulNya hingga masuk dalam daftar 10 orang yang dijamin masuk surga (Al-‘Asyratul Mubasysyirin bil-Jannah). Seperti juga kakak iparnya yaitu Ustman biun Affan ra.
Dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada sepuluh orang yang dijamin masuk surga: Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman, ‘Ali, Az-Zubair, Thalhah, ‘Abdurrahman (bin ‘Auf), Abu Ubaidah (bin Al-Jarrah), dan Sa’ad (bin Abi Waqqash).”
Meski hidup dalam keadaan serba kekurangan, pasangan muda tersebut menjalani kehidupan bahagia dengan 2 orang putra yaitu Hasan dan Husein serta 2 putri yaitu Zaenab dan Ummu Kultsum. Hingga suatu hari Fathimah memberanikan diri mengadukan halnya kepada Aisyah, istri Rasulullah. Ketika itu Rasulullah sedang sibuk membagikan harta rampasan perang termasuk para budak bagi kaum Muslimin yang memerlukan.
“Maukah kalian berdua aku ajari apa yang lebih baik dari apa yang kalia berdua minta kepadaku, jika kalian berdua hendak tidur, bertakbirlah tiga puluh empat kali, bertasbihlah tiga puluh tiga kali dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali, ia lebih baik bagi kalian berdua daripada pembantu.”
Namun itulah jawaban tegas Rasulullah atas permintaan putri tercintanya. Sesuatu yang hingga hari ini masih dijadikan pegangan bagi kaum Muslimin yang merasa kekurangan.
Rasulullah sangat menyayangi Fathimah. Pulang bepergian, Rasulullah lebih dulu menemui putri bungsunya sebelum menemui istri istrinya. Aisyah berkata,” Aku tidak melihat seseorang yang perkataannya dan pembicaraannya yang menyerupai Rasulullah selain Fathimah, jika ia datang mengunjungi Rasulullah, Rasulullah berdiri lalu menciumnya dan menyambut dengan hangat, begitu juga sebaliknya yang diperbuat Fathimah bila Rasulullah datang mengunjunginya”.
Jika tiba dari safar atau pulang dari suatu peperangan, pertama kali yang dilakukan Rasulullah adalah shalat dua rakaat di masjid kemudian menemui Fathimah. Setelah itu baru menemui istri-istrinya. Rasulullah bersabda,“Wanita-wanita terbaik di surga yaitu; Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam bintu Imran, dan Asiyah binti Muzahim istri Firaun.” (HR. Ibnu Abdil Bar, al-Isti’ab 2/113).
Rasulullah bersabda:”Sungguh Fathimah bagian dariku, siapa yang membuatnya marah berarti membuat aku marah”. Dan dalam riwayat lain disebutkan, “Fathimah bagian dariku, aku merasa terganggu bila ia diganggu dan aku merasa sakit jika ia disakiti”.
Fathimah juga dikenal karena keberaniannya. Ketika perang Uhud berkecamuk, Fathimah bersama Aisyah dan kaum Muslimah ikut membantu dalam pertempuran. Mereka mendapat tugas memenuhi kebutuhan prajurit diantaranya yaitu membantu mengangkat air, memberi minum dan merawat prajurit yang terluka.
Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun berkata, telah menceritakan kepada mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Sa’ad berkata, telah menceritakan kepada kami Ayahku dari Urwah bin Az Zubair dari Aisyah berkata, “Ketika Rasulullah ﷺ sakit, beliau memanggil putrinya, Fathimah lalu beliau membisikkan sesuatu kepadanya dan ia pun menangis. Kemudian beliau membisikkan sesuatu lalu ia tertawa. Aku pun bertanya akan hal itu; ia menjawab, “Aku menangis karena beliau memberitahuku bahwasanya beliau akan meninggal. Kemudian beliau memberitahuku bahwasanya aku adalah keluarganya yang pertama kali menyusul beliau, aku pun tertawa”.
Perkataan Rasulullah terbukti benar. Berselang enam bulan setelah Rasulullah wafat, Fathimahpun wafat. Ia wafat dalam usia 27 tahun. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Baqi’Madinah.
5. Ibrahim bin Muhammad.
Ibrahim bin Muhammad adalah satu-satunya putra Rasulullah yang lahir dari selain Khadijah binti Khuwailid. Ia lahir di Madinah dari istri nabi yang bernama Mariyah al-Qibthiyah. Saat Ibrahim lahir tidak seperti Khadijah yang menyusui dan merawat sendiri semua putra-putrinya, Rasulullah mencarikan ibu susu bagi bayi tersebut, yaitu Khualah binti Mundzir bin Zaid dari Najjar, istri Barra’ bin Aus dan ibu Bardah. Ini adalah tradisi Arab pada saat itu meski Khadijah tidak melakukannya.
Sejak itu Ibrahim tinggal terpisah dari ayahnya. Rasulullah disamping Masjid Nabawi, ditengah kota Madinah sedangkan Ibrahim bersama ibu susuannya di dataran tinggi Madinah. Namun setiap hari Rasulullah mengunjungi putranya itu. Beliau singgah beberapa saat di rumah Khaulah, mengajak Ibrahim bercanda dan berbicara lembut. Namun ternyata Allah berkehendak lain, Ibrahim wafat pada tahun 10 H ketika usia dua tahun.
“Sungguh mata ini meneteskan air mata dan hati ini sedang dirundung duka. Namun, kami tidak mengatakan sesuatu yang tidak diridhai Rabb kami. Sungguh, kami bersedih atas kepergianmu, wahai Ibrahim.” (HR Bukhari)
Kebetulan wafatnya Ibrahim bersamaan dengan terjadinya gerhana matahari. Hal tersebut membuat heboh para sahabat. Mereka kemudian menghubungkannya dengan wafatnya Ibrahim. Namun kemudian Rasulullah menjelaskan kepada mereka bahwa peristiwa tersebut murni fenomena alam yang menjadi tanda-tanda kekuasaan Allah swt tidak ada hubungannya dengan wafatnya putranya tercinta atau siapapun juga.
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari).
Dari kisah nyata di atas dapat kita ketahui betapa beratnya cobaan yang dialami Rasulullah. Bukan hanya penolakan dan permusuhan dari orang-orang Quraisy dan Yahudi namun juga dengan diwafatkannya satu-satunya istri tercinta, putra-putri bahkan cucu-cucu ketika usia mereka sangat muda. Namun Rasulullah tidak pernah sekalipun memprotes ketentuan Allah swt tersebut bahkan sebaliknya makin tunduk dan patuh kepada-Nya.
Sementara itu para ulama berusaha menjelaskan hikmah dibalik wafatnya semua putra-putra Rasulullah pada saat masih balita adalah agar setelah Rasulullah wafat tidak ada seorangpun dari keturunan beliau yang dapat dikultuskan sebagai pewaris kenabian, hal yang sangat mungkin akan terjadi jika Allah swt beri mereka hidup.
Allah Azza wa Jala telah menetapkan bahwa Rasulullah Muhammad saw adalah nabi terakhir, beliaulah penutup para nabi sebagimana tertulis pada ayat 40 surat Al-Ahzab yang artinya sebagai berikut,“ Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.
Shalawat dan salam sejahtera senantiasa kita curahkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad shalallahu alaihi wasallam yang telah menjadi suri teladan bagi umat manusia sepanjang masa, membawa risalah Islam sebagai petunjuk hidup menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Dan juga kepada keluarga Rasulullah dan semua yang meneladani beliau hingga akhir zaman nanti.
**************
untuk kembali ke daftar isi buku ” Sirah Nabawiyah” click : DAFTAR ISI SIRAH NABAWIYAH ( Sejarah Singkat Rasulullah saw) | Segala Amal Perbuatan Tergantung Niatnya
Leave a comment