Feeds:
Posts
Comments
” Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi atau Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari Muslim)

130. Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.
131. Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam”.
132. Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”.

133. Adakah kamu hadir ketika Ya`qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”
134. Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan.

135. Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah: “Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik”.

136. Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya`qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

137. Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
138. Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.

139. Katakanlah: “Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati,
140. ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya`qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah: “Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.
141. Itu adalah umat yang telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan.

142. Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.

143. Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.

144. Sungguh Kami (sering) melihat mukamu ( Muhammad) menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

145. Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim.

146. Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.
147. Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.

148. Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
149. Dan dari mana saja kamu ke luar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram; sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.
150. Dan dari mana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka janganlah kamu, takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Dan agar Kusempurnakan ni`mat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.

151. Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni`mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.

152. Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat) -Ku.

153. Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
(QS. Al-Baqarah(2): 130 -153).

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

PROLOG

1. HAK MANUSIA .

1.1. Mengenal diri

1.2. Mengenal Sang Pencipta melalui ayat2 / tanda2 di  alam semesta

1.3. Mengenal Sang Pencipta melalui ayat2 Al-Quran dan As-Sunnah

1.4. Mengenal Sang Pencipta melalui Asma dan sifat-Nya

1.5. Mengenal Sang Pencipta melalui Rasulullah Muhammad saw

2. KEWAJIBAN MANUSIA

2.1. Meyakini Rukun Iman

2.2. Menjalankan Rukun Islam

3. TUGAS MANUSIA

3.1. Menjaga hubungan dengan Sang Pencipta.

3.2. Menjaga hubungan antar sesama manusia.

3.3. Menjaga hubungan dengan alam semesta.

EPILOG

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS.Al-Hujurat(49):13).

Manusia adalah mahluk sosial; yang selalu membutuhkan perhatian, teman dan kasih sayang dari sesamanya. Setiap diri terikat dengan berbagai bentuk ikatan dan hubungan, diantaranya hubungan emosional, sosial, ekonomi dan hubungan kemanusiaan lainnya. Maka demi mencapai kebutuhan tersebut adalah fitrah untuk selalu berusaha berbuat baik terhadap sesamanya. Islam sangat memahami hal tersebut, oleh sebab itu silaturahmi harus dilaksanakan dengan baik. Silaturahmi dijalankannya antara lain dengan saling mengunjungi yang sakit, saling membantu, tidak berbuat fitnah dan juga saling menghormati.

Rasulullah bersabda: “Orang yang bangkrut ialah mereka yang datang di hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat tetapi sekaligus membawa (dosa) mencaci orang, memfitnah dan menganiaya serta menyiksa sesama semasa hidupnya” .

Dengan adanya hubungan dan silaturahmi yang baik antar manusia ini, maka ia akan mengantarkan manusia kepada kemudahan, ketenangan dan kedamaian di dunia.

“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu”. (QS.An-Nisa’(4):86).

“Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambungkanlah tali silaturahmi dan dirikanlah shalat pada malam hari ketika manusia tertidur niscaya kamu masuk surga dengan selamat.”(HR Bukhari – Muslim).

Allah SWT sangat murka melihat seorang yang tidak mau melaksanakan silaturahmi, apalagi bila orang itu memiliki kekuasaan.

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan…… dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dila`nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka”.(QS.Muhammad(47):22-23).

Bahkan Allah SWT mengingatkan bahwa membunuh satu orang manusia dengan tanpa alasan yang dapat dibenarkan agama adalah sama dengan membunuh seluruh manusia.

“……barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya……”.(QS.Al-Maidah(5):32).

Kebaikan sesungguhnya adalah sifat dasar (fitrah) manusia. Namun karena berbagai hal dan penyebab, fitrah tersebut dapat hilang. Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya aku diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak”.

Setiap manusia adalah pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri. Dan seorang laki-laki yang telah memutuskan menikah maka ia adalah pemimpin bagi keluarganya. Sebagai kepala keluarga ia wajib menafkahi, memperhatikan, menyayangi serta mengayomi anak dan istrinya. Seorang istri wajib mendidik dan memberikan kasih-sayang, perhatian dan kelembutannya kepada anak-anaknya, menjaga harta dan kesuciannya serta menyayangi sekaligus menghormati suaminya. Sedangkan bagi seorang anak, wajib baginya menghormati dan menyayangi kedua orang-tuanya. Masing-masing anggota keluarga memiliki tugas dan tanggung-jawabnya masing-masing.

“…… hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kalijanganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Danrendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS.Al-Isra’a(17):23-24).

Melalui perut seorang ibulah manusia dilahirkan. Dari Bahaz bin Hakim dari ayahnya dari neneknya ra, ia berkata, aku bertanya : “Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus baik?”. Beliau bersabda:”Ibumu”. Aku bertanya lagi: ”Kemudian siapa?. Beliau bersabda: ”Ibumu”. Aku bertanya lagi :”Kemudian siapa?”. Beliau bersabda: ”Ibumu”. Aku bertanya lagi : ”Kemudian siapa?”.Beliau bersabda : “Ayahmu, kemudian yang lebih dekat”. (HR Abu Dawud dan Tarmidzi).

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu”. (QS.Luqman(31): 14).

Namun demikian, bentuk ketaatan kepada kedua orang-tua ini sebatas mereka tidak memerintahkan untuk mempersekutukan-Nya walaupun bila ini terjadi harus tetap dijalankan dengan cara yang baik.

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan)”.(QS.Luqman(31):15).

Itu pula sebabnya mengapa Allah SWT melarang seseorang untuk mengangkat (adopsi) seorang anak dengan alasan apapun.

“Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; …… dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. …… Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS.Al-Ahzab(33):4-5).

Islam memang sangat menganjurkan seorang Muslim memelihara anak yatim, dalam arti menyantuni dan memberikan perhatian dan kasih sayang kepada mereka. Anas bin Malik ra berkata: “Sebaik-baik rumahadalah rumah yang didalamnya ada anak yatim yang diperlakukan secara baik dan sejelek-jelek rumah adalah rumah yang didalamnya ada anak yatim yang disia-siakan. Hamba Allah yang paling dicintai Allah adalah orang yang memperlakukan anak yatim dan janda dengan baik”.

Namun tetap harus menghargai kedua orang tua kandung mereka, yaitu dengan cara tetap menggunakan nama ayah mereka. Hal ini menunjukkan betapa hubungan antara anak dan kedua orang-tua kandung sangat penting. Disamping tentu banyak pertimbangan lain yang juga cukup penting, diantaranya adalah berkenaan dengan masalah perkawinan dan ahli waris. Dan hal ini juga berlaku atas diri Rasulullah SAW. Zaid bin Haritsah adalah bekas budak yang diangkat sebagai anak angkat oleh beliau. Sebelum turun ayat diatas Rasulullah memberinya nama Zaid bin Muhammad. Namun segera begitu turun ayat yang melarang hal tersebut, maka Zaid kembali menggunakan nama ayahnya yaitu, Zaid bin Haritsah.

Demikian pula kerabat, sanak saudara dan keluarga dekat yang dalam keadaan kekurangan, orang-orang miskin, orang yang dalam perjalanan (kemudian menemui kesulitan) Allah SWT menghendaki agar mereka itu dibantu. Namun sebaliknya Allah juga tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. Dialah, Al Azis, Al-Hakim, Ar-Rizik yang berkuasa mengatur dan Maha Mengetahui segala kebutuhan manusia.

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”.(QS.Al-Isra’a(17):26-27).

Demi menjaga silaturahmi pulalah maka Allah SWT melarang seseorang berbuat curang, yaitu orang-orang yang gemar mengurangi takaran dan timbangan demi kepentingan dirinya.

“… Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya,……”. (QS.Al-’raf(7):85).

Disamping itu, manusia seharusnya juga memperhatikan pergaulannya. Saat ini dapat kita lihat pergaulan antara lelaki dan perempuan, antar sesama lelaki dan antar sesama perempuan yang begitu bebas. Bukankah Allah SWT telah dengan jelas memberikan batasan-batasannya? Akibatnya bermuncullah berbagai masalah, seperti AIDS, kelahiran anak diluar nikah dengan segala dampaknya dan sebagainya.

Allah SWT juga mengharamkan riba yaitu, kelebihan atau penambahan pada modal uang yang dipinjamkan dan harus diterima oleh yang berpiutang sesuai dengan jangka waktu peminjaman dan persentase yang ditetapkan sebelumnya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”.(QS.Ali Imraan(3):130).

“…… Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya” . (QS.Al-Baqarah(2):275).

Karena riba pada dasarnya adalah pemerasan dan penganiayaan dari golongan ekonomi kuat terhadap golongan ekonomi lemah. Dan dimanapun segala bentuk pemerasan dan penganiayaan adalah termasuk kejahatan dan dapat merusak hubungan antar sesama manusia.. Bahkan sesungguhnya Allah SWT menganjurkan agar kita menolong seseorang yang sedang dalam kesulitan, misalnya sedang terbelit hutang untuk membebaskannya dari hutang tersebut.

“Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui..”. (QS.Al-Baqarah(2):280).

Perbedaan dimata Allah SWT hanyalah berdasarkan ketakwaan. Masing-masing berlomba berbuat baik, saling nasehat-menasehati dalam kebaikan dan mencegah kemungkaran.

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta`atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yangbersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.(QS.Al-Ahzab(33):35).

Berbuat baik kepada sesama manusia memang tidak mudah. Bahkan Allah SWT mengumpamakannya sebagai jalan yang mendaki lagi sukar. Namun itulah jalan bagi orang-orang golongan kanan, yaitu golongan orang-orang yang disayangi-Nya.

“Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan”.(QS.Al-Balaad(90):12-18).

Rasulullah ditanya; apa yang paling banyak mengantarkan manusia ke surga. Rasulullah menjawab :“Akhlak yang baik.”. Rasulullah ditanya; apa yang paling banyak mengantarkan manusia ke neraka.Rasulullah menjawab:” Mulut dan kemaluan”. (HR Tirmidzi).

“………Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi”.((QS.Al-Baqarah(2):26-27).

Allah SWT menciptakan alam semesta sebelum manusia ada. Semua itu bukan tanpa sebab dan perhitungan. Alam, termasuk didalamnya segala macam binatang dan tumbuhan, sengaja diciptakan-Nya sebagai sarana bagi kepentingan dan kelangsungan hidup manusia.

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu ni`mat-Nya lahir dan batin.” QS.Luqman(31):20).

Allah SWT menciptakan segala yang ada di alam ini serba seimbang dan saling berpasangan.

“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui”.(QS.Yaasin(36):36).

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah”.(QS.Adz-Dzaariyat(51):49).

Sains dan Ilmu Pengetahuan Alam membuktikan bahwa perputaran bumi dan matahari, pergantian siang dan malam, keseimbangan dan perpaduan segala yang ada di alam semesta ini termasuk seluruh unsur kimianya sungguh tepat dan pas. Dan bila keseimbangan dan keterpaduan itu terganggu maka akan rusaklah ia.

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya……”. (QS.Al-A’raf(7):56).

Maka manusia sebagai mahluk terpandai yang memiliki akal dan hati sudah sepatutnya bila ia mensyukuri keadaannya tersebut. Diantaranya yaitu dengan cara menjaga keseimbangannya serta sekaligus tidak berbuat kerusakan. Untuk mempermudah agar manusia dapat melaksanakan hal tersebut maka Allah SWT melengkapinya dengan aturan-aturan. Aturan-aturan tersebut sebenarnya diperlihatkan-Nya secara jelas dan nyata namun hanya orang yang mau memikirkannya saja yang dapat melihat aturan-aturan tersebut. Namun disamping itu Allah SWT juga berkehendak agar manusia mau memanfaatkan dan mengambil keuntungan dari alam yang diciptakann-Nya tersebut. Itulah salah satu tugas manusia sebagai seorang khalifah bumi. Oleh karena itu, Ia sangat murka bila seseorang mengabaikan tugas mulia tersebut apalagi bila ia adalah seorang penguasa.

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi …… Mereka itulah orang-orang yang dila`nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka”.(QS.Muhammad(47):22-23).

Jadi segala bencana seperti banjir, kebakaran hutan atau apa yang saat ini sedang menjadi isu hangat yaitu, pemanasan global yang disebabkan oleh adanya ‘efek rumah kaca’ beserta segala akibatnya yang terus terjadi susul menyusul belakangan ini sesungguhnya adalah akibat dari kelalaian manusia dalam menjalankan tugas memelihara alam ciptaan-Nya. Polusi udara yang sebagian besar disebabkan oleh kebakaran hutan, gas buangan kendaraan, pabrik, berbagai kegiatan industri dan lain sebagainya adalah sebagian contoh kerusakan alam.

Allah SWT tidak ridho’ apa yang telah diciptakan-Nya itu dirusak dan digunakan secara semena-mena. Hukum alam atau aturan yang sengaja diperlihatkan-Nya itu seharusnya digunakan dengan sebaik mungkin. Manusia diberi akal bagaimana mengatasi masalah yang dihadapinya. Dan seharusnya sebagai seorang yang berakal ia juga tahu hukum apa dan perintah orang yang bagaimanakah yang pantas ditaatinya dalam menjalankan perintah menjaga keseimbangan alam semesta ini.

“maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku; dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan”.(QS.Asy-Syu’ara(26):150-152).

Demikian pula halnya dengan munculnya berbagai penyakit akhir-akhir ini, seperti ‘sapi gila’,flue burung dan lain-lain. Bahkan terhadap penyakit ‘umum’ yang disebabkan oleh lalat dan nyamuk sekalipun, cukup membuat manusia menderita dan kewalahan.

“……Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembalidari lalat itu”.(QS.Al-Hajj(22):73).

Padahal Allah SWT menciptakan berbagai binatang seperti nyamuk dan lalat pasti ada hikmah dibalik semua itu. Bila saja manusia tidak merusak ekosistim suatu keadaan, bila saja manusia mau memperhatikan bagaimana sampah seharusnya dikelola, tentu masalah tidak akan terus bermunculan seperti sekarang ini. Sesungguhnya perbuatan tersebut merugikan dirinya sendiri.

Rasulullah bersabda : “Kebersihan adalah sebagian dari Iman”.

“Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan”. (QS.AsySyu’ara(26):183).

Beberapa penyebab terjadinya suatu bencana.

Karena kesalahan sendiri.

“Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubahsesuatu ni`mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri,….” ,(QS.Al-Anfal(8):53).

2. Sebagai cobaan.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”(QS.Al-Baqarah(2):155-156).

3. Sebagai teguran.

“Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (ni`mat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)”.QS.Al-Araaf(7):168).

4. Sebagai azab.

”……… Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik.(QS.Al-Baqarah(2):59).

Namun demikian penyebab suatu bencana hanya dapat dirasakan  oleh masing-masing diri. Bisa jadi dalam suatu bencana alam yang sama memiliki penyebab dan hikmah yang berbeda bagi tiap-tiap diri. Sayangnya, hanya manusia yang memiliki kesadaran tinggi saja yang mampu  merasakan penyebab bencana tersebut. Dan hanya orang-orang seperti inilah yang biasanya segera menyadari kekeliruan dan kesalahannya kemudian bertobat serta memperbaiki diri maka Sang Maha Kuasa akan mengampuni  dan menggantinya dengan yang lebih baik.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.(QS.Azd-Dzariyat(51):56).

Pada  hakekatnya, tugas  manusia  di bumi ini  adalah  untuk hanya menyembah kepada-Nya. Tugas  kekhalifahan  yang dibebankan  kepada manusia  sesungguhnya merupakan  bentuk penyembahan  kepada-Nya.  Segala  sesuatu  yang  dikerjakan  dalam rangka dan hanya dikarenakan-Nya  adalah  ibadah. Ibadah inilah  yang  nantinya  akan  diperhitungkan di hari  akhir kelak, surga  atau   neraka.  Karena  tempat   kembali   memang  hanya  dua yaitu, surga atau neraka. Sebaliknya segala perbuatan, walaupun perbuatan  itu  baik di mata  manusia  pada  umumnya  sekalipun, bila  niatnya  tidak  karena-Nya,  maka  di  akhirat  kelak  hal tersebut  tidak  akan diperhitungkan.

Dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata : Saya bertanya kepada Rasulullah saw, “Dosa apakah yang paling besar?”. Beliau bersabda:”Engkau membuat sekutu bagi Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu”. Aku bertanya lagi : “Kemudian apa?”. Beliau bersabda :”Engkau membunuh anakmu karena takut ia akan makan bersamamu”. Aku bertanya lagi :”Kemudian apa?”. Beliau bersabda: ”Engkau berzina dengan istri tetanggamu”.

Bahkan perbuatan seperti shalat, zakat dan puasa bila tidak disebabkan oleh-Nya maka akan menjadi sia-sia belaka. Ibadah apapun yang dilakukan karena keterpaksaan tidak memiliki arti dalam pandangan Allah SWT. Yang diinginkan-Nya hanyalah keikhlasan dan ketulusan. Jadi sesungguhnya kunci ibadah adalah hati, karena hanya di hati adanya niat.

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya”.(QS.Al-Maa’un(107):4-6).

Rasulullah bersabda :”Barangsiapa yang mencintai karena Allah SWT, membenci karena Allah SWT,memberi karena Allah SWT dan melarang karena Allah SWT maka ia telah mencapai kesempurnaan Iman”.

Manusia  adalah  mahluk yang lemah. Ia  cenderung  bersifat tergesa-gesa,  tidak sabar  dan ingin  selalu  senang  dalam   hidup. Padahal kenyataan membuktikan bahwa tidak selalu yang diusahakan  dan  diinginkannya  past i akan terwujud. Namun dengan  adanya  kesadaran  bahwa ia diciptakan  di dunia  ini  untuk waktu  yang  tidak  kekal, hanya sementara dan bahwa hidup di dunia  adalah  ujian  untuk  memasuki tahap selanjutnya ke kehidupan  akhirat yang lebih  kekal, ia akan  menjadi  sabar  dan hidupnyapun  akan lebih  tenang. Ia  menyadari  dengan  melakukan hubungan secara langsung kepada Tuhannya yaitu dengan melaksanakan shalat dan berzikir, ia akan mendapatkan pertolongan. Dengan shalat ia dapat berkeluh-kesah, mengadukan segala kesulitan maupun segala keinginannya.

“ Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat)–Ku”.(QS.Al-Baqarah(2):152).

Ia yakin hanya kepada-Nya saja ia dapat memohon pertolongan dan juga ampunan apabila ia khilaf. Ia memohon ridho dari-Nya agar ia dapat melalui kehidupan dunianya dengan sabar. Ia sadar bahwa segala kebaikan dan keburukan adalah dari-Nya, hanya Dia sendiri, tidak ada yang disamping-Nya. Demikian pula segala kesembuhan dari segala penyakit dan kesusahan. Dokter, obat, ramuan maupun apapun yang lain hanya dapat menyembuhkan bila Dia berkehendak, bila Dia mengizinkannya. Semua berada dibawah kekuasaan-Nya.

“Janganlah kamu adakan tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah)”.QS.Al-Isra’a(17):22).

Dan Allah SWT mengetahui apa yang yang ada didalam hati bahkan secuil keraguan yang muncul dari dalamnya, keyakinan bahwa ada sesuatu yang lain yang menyembuhkan, yang membuatnya bebas dari penderitaan, yang mana hal tersebut bakal menyeretnya kedalam kesyirikan. Suatu hal yang benar-benar dibenci-Nya. Maka bila hal ini terjadi sebaiknya bersegeralah menuju pengampunan karena Dia Maha Pengampun bila kita mau segera bertaubat dan tidak mengulanginya lagi.

Bila kita amati ayat-ayat Al-Quran dengan lebih seksama, perintah dzikir yang berarti ‘mengingat nama Allah’adalah sebuah perintah yang paling banyak dan paling sering diulang. Begitu pula perintah shalat. Karena shalat sesungguhnya adalah puncak dari prosesi dzikir yang bertujuan membesarkan dan mengagungkan nama Allah sebagai Sang Khalik, Yang Maha Agung. Hal ini menunjukkan betapa tinggi dan pentingnya kedudukan shalat. Disamping itu, sebagaimana telah dijelaskan pada bab mengenai shalat, shalat adalah satu-satunya perintah yang diterima Rasulullah Muhammad saw langsung dari Sang Khalik di singgasana-Nya di Arsy’.

Masih berkenaan dengan shalat. Berdasarkan kajian jadwal waktu shalat di 403 kota dari 203 negara di dunia dimana didalamnya  terdapat  masyarakat  muslim (baik mayoritas maupun minoritas), yang dilakukan sejumlah   cendekiawan  muslim, ditarik  kesimpulan sebagai  berikut :

1.   Setidaknya ¼ bagian  waktu  dalam 1 hari, atau sekitar  6 jam dalam  1 hari 1 malam ada  sebagian  penduduk  bumi  yang melaksanakan  shalat  subuh, zuhur, ashar, magrib dan isya dalam waktu yang bersamaan secara serentak. Hal ini disimpulkan  dengan  asumsi  shalat  dilakukan  pada awal waktu, yaitu begitu azan dikumandangkan karena memang begitulah keutamaan shalat.

2.   Selama 24 jam penuh di bumi ini selalu ada kelompok masyarakat  muslim yang sedang  melaksanakan shalat wajib secara  berkesinambungan. Apalagi bila  shalat  dilaksanakan secara berjamaah karena shalat berjamaah memang sangat ditekankan.  Ini disimpulkan  karena  walaupun keutamaan  shalat adalah pada awal waktu namun tidak mustahil dengan berbagai alasan ada sekelompok muslim yang melakukannya tidak  secara  demikian.

Dari hasil kajian diatas ditambah dengan asumsi bahwa Islam sejak  500-600 tahun  yang lalu telah  tersebar hampir  ke seluruh  penjuru dan  pelosok bumi, dari  jazirah  Arab hingga negri Cina, dari benua Australia hingga  ke  kutub  utara, dari Eropa  hingga Amerika  (baik karena menyebarnya ajaran Islam itu sendiri maupun karena tersebarnya  kaum  Muslimin yang  bekerja dan menuntut ilmu di berbagai  belahan bumi) maka dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya  bumi dengan dipimpin kaum Muslimin telah lama ikut melengkapi simphoni  zikir akbar  alam semesta. Sebuah simphoni zikir akbar yang telah dimulai  sejak terjadinya ’ Big Bang’ milyaran tahun yang lalu.

“Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. (QS.Al-Fushilat (41):11).

Simphoni inilah yang merupakan ruh/inti  penggerak berputarnya sistim alam semesta, yaitu dengan membesarkan asma Allah, Sang Maha Cerdas Sang Pemilik Yang Maha Berkuasa atas segala yang ada dilangit, bumi dan apa yang ada diantara keduanya. Subhanallah.

“Hai  orang-orang  yang beriman, sukakah  kamu Aku tunjukkan  suatu   perniagaan  yang   dapat  menyelamatkan   kamu  dari  azab  yang  pedih? (yaitu ) kamu  beriman  kepada Allah  dan  Rasul-Nya  dan   berjihad   di jalan  Allah   dengan  harta   dan   jiwamu.  ……………..”. (QS.Ash-Shaff(61):10-11).

Hampir semua manusia dimanapun berada, pada umumnya akan tergiur bila ditawari transaksi jual beli dengan jumlah keuntungan yang besar. Allah swt sebagai pemilik manusia dan jiwanya, tentu saja mengetahui hal ini. Oleh sebab itulah  Allah  menawarkan hal tersebut kepada manusia. Allah swt menawarkan suatu perniagaan yang pasti menguntungkan bagi siapa yang mau bertransaksi  dengan-Nya yaitu  dengan menukar atau menjual jiwa dan harta para mu’min dengan surga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya. Ini adalah sebuah perniagaan terhormat menuju kebahagiaan hakiki yang sungguh tinggi nilainya.

“Maka  bergembiralah  dengan jual beli  yang  telah  kamu lakukan  itu, dan  itulah  kemenangan  yang  besar.  Mereka  itu adalah  orang-orang  yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji (Allah), yang melawat, yang ruku`, yang sujud, yang menyuruh berbuat  ma`ruf  dan  mencegah  berbuat  mungkar  dan  yang  memelihara  hukum-hukum  Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu’min itu”. (QS.At-Taubah (9:111-112).

Perniagaan dan jual beli ini juga berlaku bagi orang-orang yang melakukan kesalahan namun segera bertaubat begitu menyadari kesalahannya. Juga bagi orang yang selalu mengingat kebesaran Penciptanya dengan banyak melakukan shalat, mengerjakan kebaikan dan mencegah kejahatan. Sungguh beruntung manusia yang mau bersegera mengambil penawaran istimewa tersebut.

Namun sayang, tidak banyak orang yang menyadari hal ini karena pandangan manusia yang terlalu silau dan hanya sibuk oleh kekayaan duniawi. Padahal kekayaan akhirat jauh lebih berharga daripada kekayaan duniawi. Mereka adalah orang-orang yang merugi. Mereka adalah orang-orang yang tidak mempunyai ilmu yang bermanfaat hingga mudah disesatkan oleh bisikan syaitan dan sibuk menuruti hawa nafsu keserakahan duniawi yang sebenarnya hanya sesaat.

“Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah  mereka  mendapat  petunjuk. Perumpamaan  mereka adalah  sepertiorang  yang  menyalakan  api,  maka   setelah  api itu menerangi sekelilingnya Allah  hilangkan cahaya   (yang menyinari)  mereka,  dan  membiarkan  mereka  dalam  kegelapan, tidak  dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka  tidaklah mereka  akan kembali  (ke jalan  yang  benar)  atau   seperti   (orang-orang   yang  ditimpa)   hujan  lebat  dari   langit   disertai  gelap  gulita,   guruh dan kilat;  mereka  menyumbat   telinganya  dengan  anak  jarinya,  karena  (mendengar  suara)   petir,   sebab   takut   akan mati. Dan Allah  meliputi  orang-orang  yang  kafir. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihata   mereka. Setiap   kali    kilat  itu   menyinari   mereka,   mereka   berjalan   di  bawah  sinar  itu,  dan  bila gelap  menimpa  mereka,  mereka   berhenti.Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu”.(QS.Al-Baqarah(2):16-20).