Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Sirah Nabawiyah ( Sejarah Hidup Rasulullah saw)’ Category

“ Fir-Ar-Rafiqil A’la …  Fir-Ar-Rafiqil A’la … Fir-Ar-Rafiqil A’la …”.

Itulah kata terakhir yang terus menerus diucapkan Rasulullah Muhammad saw di atas pangkuan istri yang paling dicintainya, Aisyah, hingga ajal menjemput kekasih Allah ini. Kata ini memiliki beberapa pengertian namun sebagian besar sepakat mengartikannya dengan «  Handai Tertinggi’”. Demikianlah Rasulullah menemui Sang Khalik, Allah swt, yang telah mengutus hamba pilihan-Nya menyampaikan pesan-Nya kepada kita, umat manusia.

Betapa menyesalnya perasaan Abu Bakar karena tidak menunggui dan menemani detik-detik akhir sahabat sekaligus nabi Allah yang amat dicintainya itu. Ia sedang berada di rumah istrinya di luar kota ketika mendengar kabar wafatnya Rasulullah. Ia dan juga para sahabat sama sekali tidak pernah menduga bahwa kemunculan seraut wajah yang dipenuhi senyum kebahagiaan di saat Abu Bakar sedang memimpin shalat subuh dari balik tirai itu adalah merupakan tanda pamit Rasulullah kepada para sahabat. Senyum itu cerminan perasaan puas Sang Nabi bahwa umatnya telah dapat melaksanakan shalat dengan baik. Yang dengan demikian tidak ada alasan bagi beliau untuk khawatir meninggalkan umatnya.

Abu Bakar segera memacu kudanya menuju rumah Aisyah ra. Tanpa berbicara sedikitpun ia langsung masuk kamar dimana jenazah Rasulullah telah terbujur kaku. Perlahan disingkapnya kain yang menutup wajah Rasul, lalu didekap dan diciumnya sahabatnya itu. Dengan menangis, ia berkata:“ Ayah dan ibuku jadi tebusanmu. Allah tidak akan mengumpulkan pada dirimu dua kematian. Adapun kematian yang telah ditetapkan atasmu maka hal itu telah engkau jalani”.

Kemudian Abu Bakar keluar. Disana dilihatnya Umar bin Khattab tengah berbicara kepada orang-orang, meyakinkan bahwa Rasulullah saw tidak meninggal melainkan sedang pergi menemui Rabb-Nya sebagaimana Musa bin Imran dulu pernah dipanggil-Nya.

“Ada orang dari kaum munafik yang mengira bahwa Rasulullah s.a.w. telah wafat. Tetapi, demi Allah sebenarnya dia tidak meninggal, melainkan ia pergi kepada Tuhan, seperti Musa bin ‘Imran. Ia telah menghilang dari tengah-tengah masyarakatnya selama empat puluh hari, kemudian kembali lagi ke tengah mereka setelah dikatakan dia sudah mati. Sungguh, Rasulullah pasti akan kembali seperti Musa juga. Orang yang menduga bahwa dia telah meninggal, tangan dan kakinya harus dipotong!”

“ Tunggu sebentar, wahai Umar. Diamlah”, tegur Abu Bakar. Namun sahabatnya ini tidak menggubrisnya dan terus berbicara emosional. Melihat Umar tidak mau mendengarkannya, Abu Bakar kemudian pergi menemui orang-orang yang tampak kebingungan. Orang-orang ini lalu meninggalkan Umar dan ganti mengerumuni Abu Bakar.

“ Amma ba’du. Wahai manusia ! Barangsiapa diantara kalian menyembah Muhammad maka ketahuilah bahwa Muhammad telah meninggal dan barangsiapa menyembah Allah maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak mati. Allah berfirman:

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.(QS.Ali Imran (3):144).

Mendengar itu, serentak semua orang yang hadir ikut membaca ayat diatas. Demikian pula Umar bin Khattab. Suatu saat Umar bin Khattab berujar : “ Demi Allah, setelah kudengar Abu Bakar membaca ayat tersebut, aku merasa tidak berdaya. Kedua kakiku lemas sehingga aku jatuh terduduk ke tanah”. ( HR. Ibnu Ishaq, Bukhari).

Demikianlah Allah swt mengakhirkan hidup dan perjuangan nabi saw yang selama hampir 23 tahun mengajak seluruh masyarakatnya agar menyembah hanya kepada Tuhan Yang Satu yaitu , Allah swt. Rasulullah saw wafat pada tahun 11 H, tepat pada hari dan tanggal beliau dilahirkan yaitu pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awwal, dalam usia 63 tahun.

Bukhari meriwayatkan dari Amr ibnu Harits, ia berkata “ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meninggalkan satupun dinar atau budak lelaki ataupun budak perempuan selain dari bhagalnya yang putih yang biasa ditungganginya dan senjata serta tanah yang sudah diikrarkan menjadi sedekah bagi ibnus sabil”.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamtelah bersabda, “ Aku adalah pemimpin anak Adam di hari Kiamat dan yang pertama kali keluar dari bumi. Aku adalah pemberi syafaat pertama dan yang pertama diterima syafaatnya”. (HR.Muslim).

Seperti dikisahkan dalam kitab Daqaiq Al-Akhbar :

Ketika alam ini dalam keadaan sunyi karena semua makhluk Allah telah mati, maka Allah menghidupkan malaikat Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail. Mereka lalu diperintahkan Allah untuk mencari kuburan Muhammad saw. Setelah mereka menemukan makam beliau, maka malaikat Israil memanggilnya, ‘Wahai Muhammad, bangunlah untuk memutuskan hukum dan hisab serta untuk menghadap Zat Yang Maha Penyayang.’

Akhirnya pecahlah kubur tersebut, ketika itu, Rasulullah Saw duduk dalam kuburnya sedang membersihkan debu dari kepala dan jenggotnya. Lalu malaikat Jibril memberikan kepada beliau dua pakaian dan kendaraaan Buraq. Selanjutnya Rasulullah Saw bertanya kepada Jibril, ‘Wahai Jibril, hari apa ini?’Jibril menjawab, ‘Ini adalah hari kiamat, hari kerugian, hari penyesalan, hari Buraq, hari berpisah dan hari bertemu.’

Kemudian Rasulullah Saw berkata, “ Wahai Jibril, gembirakanlah aku”. Jibril berkata, ‘Surga benar-benar telah dihias karena kedatanganmu, neraka telah ditutup”. Rasulullah berkata kepada Jibril, ‘Aku tidak bertanya tentang hal tersebut tetapi aku meminta penjelasan kepadamu tentang umatku yang banyak berdosa, barangkali kamu meninggalkan mereka di Shirat (Jembatan penyebrangan yang ada diatas neraka)”. Israfil menjawab, ”Wahai Muhammad, demi kemuliaan Tuhanku, aku belum meniup Sangkakala untuk membangkitkan makhluk Allah sebelum kamu bangkit lebih dahulu”. Selanjutnya beliau berkata, ‘Sekarang hatiku bahagia dan menjadi segar mataku.’ Kemudian Rasulullah saw mengambil mahkota dan pakaian, setelah memakai mahkota dan pakaian beliau lalu naik Buraq.

Sungguh, betapa beruntungnya kita sebagai umat Islam. Karena nabinya sangat memikirkan umatnya. Menjelang wafat, meski dalam keadaan sakit keras, Rasulullah menyempatkan diri menengok umatnya. Begitupun ketika dibangunkan dari kubur. Yang pertama ditanyakan adalah nasib umatnya.  Maka dapat dibayangkan bagaimana kecewanya perasaan Rasulullah bila mendapati umat yang amat dicintainya itu ternyata tidak melaksanakan ajakan beliau.

Pemakaman Rasulullah dilakukan pada Rabu, 14 Rabiul’awwal. Ini berarti lewat 2 hari setelah wafatnya beliau. Sejumlah pihak, terutama musuh-musuh Islam memang mempermasalahkan hal yang diluar kelaziman ini. Namun ada beberapa alasan mengapa pemakaman tidak dilakukan sesegera mungkin, sebagaimana mustinya.

Sejarah menceritakan bahwa begitu kabar wafatnya Rasulullah tersiar terjadi kelompok-kelompok kerumunan massa yang masing-masing ingin menjadikan anggota kelompoknyalah yang menggantikan kedudukan Rasulullah. Nyaris terjadi perpecahan bila saja Abu Bakar ra tidak segera turun tangan. Kaum Anshar dan kaum Muhajirin akhirnya sepakat membaiat Abu Bakar sebagai pemimpin kaum Muslimin. Sebagai catatan, Rasulullah memang tidak pernah menunjuk seorangpun secara resmi, pasti dan jelas siapa yang berhak memimpin umat Islam sepeninggal beliau. Namun sejumlah tanda menunjukkan bahwa Rasulullah sebenarnya menghendaki Abu Bakar sebagai pemimpin kaum Muslimin. Beliau mengetahui bahwa inilah yang  bakal diterima oleh semua kalangan dan lapisan Muslimin.

Setelah hal ini dapat diatasi, muncul masalah baru, yaitu dimana Rasulullah harus dimakamkan. Ketika itu berkembang beberapa pendapat yaitu Mekah, Madinah atau  Baitul-Maqdis di Yerusalem, Palestina. Yang terakhir ini muncul dengan alasan karena para nabi sebelumnya dimakamkan di tempat tersebut.

Akhirnya Abu Bakar memberikan keputusannya dengan mengatakan: “Aku dengar Rasulullah saw berkata, setiap ada nabi meninggal, ia dimakamkan di tempat ia meninggal.”

“ Setiap Nabi yang diwafatkan oleh Allah pasti dikebumikan di lokasi yang beliau sukai dikubur padanya” .Maka kemudian para sahabat mengubur Rasulullah di tempat pembaringannya”. (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no:5649, dan Tirmidzi II : 242 no:1023).

Setelah tercapai kata sepakat,selanjutnya Rasulullah dimandikan. Ali bin Abi Thalib sebagai wakil keluarga yang bertindak memandikan Nabi saw. Ia dibantu oleh Abbas bin Abdul-Muttalib dan kedua puteranya, Fadzl dan Qutham serta Usama bin Zaid dan Syuqran, pembantu Nabi. Ketika itulah  mereka dapati betapa harumnya Nabi saw, sehingga Ali berkata: “Demi ibu bapaku! Alangkah harumnya engkau di waktu hidup dan di waktu mati”.

Selesai dimandikan dengan mengenakan baju yang dipakainya itu, Nabi saw dikafani dengan tiga lapis pakaian: dua Shuhari dan satu pakaian jenis burd hibara dengan sekali dilipatkan. Selesai penyelenggaraan dengan cara demikian, jenazah diletakkan tetap pada tempatnya. Pintu-pintu kemudian dibuka untuk memberikan kesempatan kepada kaum Muslimin, yang memasuki tempat itu dari jurusan mesjid, untuk mengelilingi serta melepaskan pandangan perpisahan dan memberikan doa shalawat kepada Nabi saw. Kemudian mereka keluar lagi dengan membawa perasaan duka dan kepahitan yang teramat sangat mendalam. Sungguh berat terasa perpisahan ini.

Selanjutnya, Abu Bakr dan Umar masuk untuk melakukan shalat jenazah bersama para sahabat, tanpa ada yang bertindak selaku imam dalam shalat tersebut. Setelah itu, kaum Muslimin kembali duduk mengelilingi jenazah Rasulullah saw. Dalam keadaan sunyi dan hening itu,  Abu Bakr kemudian berkata:

“Salam kepadamu ya Rasulullah, beserta rahmat dan berkah Allah swt. Kami bersaksi, bahwa Nabi dan Rasulullah telah menyampaikan risalah-Mu, telah berjuang di jalan Allah sampai Kau berikan pertolongan untuk kemenangan agama. Ia telah menunaikan janjinya dan menyuruh orang menyembah hanya kepada Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya.”

Dengan penuh syahdu dan khusyu’, maka kaum Musliminpun menyambut setiap ucapan yang keluar dari Abu Bakar itu dengan “  Amin … Amin … Amin  … !

Selanjutnya giliran kaum perempuan masuk untuk menshalati jenazah Rasulullah. Dengan khidmat mereka shalat dan mendoakan nabi yang begitu mereka cintai itu. Sungguh pilu perasaan mereka ditinggalkan orang yang selama ini menjadi panutan dan imam yang penuh kasih sayang, perhatian dan lembut. Tak ketinggalan anak-anakpun menshalati Rasulullah.

Sekarang tibalah saatnya untuk memakamkan jenazah Rasulullah saw, mahluk Allah yang paling mulia di muka bumi ini. Sungguh bukan hal yang mudah bagi keluarga maupun para sahabat dan kaum Muslimin untuk melakukan hal ini. Hingga  Fathimah ra, putri kesayangan satu-satunya nabi saw ini berkata kepada Anas bin Malik : Apakah jiwamu rela menaburkan tanah diatas jasad Rasulullah shallallahu’alayhiwasallam? [HR Bukhari].

Orang-orang diam membisu, tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Seolah jiwa mereka ikut pergi melayang bersama ruh orang yang begitu mereka cintai dan hormati itu. Tidak relakah mereka sang nabi pergi menemui Tuhannya ? Tuhan yang telah mengutus nabinya agar memberi peringatan sekaligus berita gembira kepada seluruh hamba di muka bumi ini ? Dan setelah tugas itu usai memberi nabi saw pilihan ;  untuk menemui Sang Pemberi Mandat atau tetap di dunia yang fana ini, bersama orang-orang yang dicintai dan mencintainya  dengan segenap jiwa dan raganya? Padahal sang nabi itu sendiri telah menjatuhkan  pilihan pada pilihan pertama, yaitu kembali kepada Sang Khalik yang begitu dirindukannya ?

Tampaknya, kalau saja Abu Bakar tidak mengingatkan ayat bahwa Muhammad hanyalah manusia biasa yang pada saatnya harus kembali kepada-Nya, kaum Muslimin ingin sekali lebih mempercayai perkataan Umar bin Khattab. Bahwa sang rasul hanya pergi untuk beberapa waktu dalam rangka menemui Tuhannya yang kemudian akan kembali lagi menemui para sahabat, seperti halnya nabi Musa as.

Di antara orang yang membisu diam adalah Utsman bin Affan yang terus mondar-mandir tanpa mampu bertutur kata. Sementara Ali bin Abi Thalib hanya bisa terduduk lesu, tidak mampu bergerak. Adapun Abdullah bin Unais, ia sakit parah hingga meninggal karena duka yang begitu mendalam.

Namun akhirnya Allah swt turun tangan. Dibukanya hati kaum Muslimin agar menerima kenyataan ini. Setelah melalui sedikit perselisihan cara menggali kubur bagaimana yang akan dipilih, akhirnya diputuskanlah cara Madinah. Yaitu menggali tanah kubur dengan dasarnya yang dilengkungkan. Orang Makkah menggalinya dengan dasar yang diratakan.

Dengan cara itulah maka dikebumikan jasad Rasulullah saw yang suci tersebut. Tepat di tempat Rasulullah menghembuskan nafas terakhir beliau dan dimandikan yaitu di kamar Aisyah. Umat Islam sekarang mengenalnya dengan apa yang disebut Raudhah yang berarti taman surga. Di atas makam tersebut lalu dipasang bata merah kemudian ditimbun dengan tanah. Upacara pemakaman itu terjadi pada malam Rabu 14 Rabiulawal, yakni dua hari setelah Rasul berpulang ke rahmatullah.

Aisyah berkata: “Kami mengetahui pemakaman Rasulullah saw setelah mendengar suara-suara sekop pada tengah malam itu“.  Fatimah juga berkata seperti itu.

Wallahu’alam bish shawwab.

untuk kembali ke daftar isi buku ” Sirah Nabawiyah” click :

DAFTAR ISI SIRAH NABAWIYAH ( Sejarah Singkat Rasulullah saw) | Segala Amal Perbuatan Tergantung Niatnya

Paris, 16 May 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

Rasulullah saw telah pergi meninggalkan para sahabat yang selama hampir 23 tahun menyaksikan dengan kepala sendiri, ayat demi ayat turun melalui malaikat Jibril as kepada hamba pilihan-Nya itu. Rasulullah kembali ke haribaan Sang Khalik Azza wa Jalla dengan perasaan puas. Sebuah senyum terukir di bibir Rasulullah. Bayangan Abu Bakar ra yang sedang memimpin kaum Muslimin shalat Subuh berjamaah menjadi kenangan terakhir yang ada di benak Rasulullah saw. Missi utama beliau dalam menyampaikan pesan Tuhannya, Tuhan semesta alam beserta seluruh isinya, untuk menyembah hanya kepada-Nya, melalui shalat, tampaknya telah terpenuhi.

Semoga kita, umat Islam yang hidup 14 abad setelah peristiwa fenomenal tersebut, mampu menjaga dan melaksanakan pesan penting tersebut. Yaitu shalat, shalat dan shalat ! Semoga kita tidak mengecewakan Rasulullah  saw dengan menghapus kenangan manis di detik-detik terakhir beliau.

“Salah satu batas (yang membedakan) antara Muslim dengan Kafir adalah Shalat.” (HR. Muslim).

“Amal yang pertama kali akan dihisab untuk seorang hamba nanti pada hari kiamat ialah shalat, apabila shalatnya baik maka baiklah seluruh amalnya yang lain, dan jika shalatnya itu rusak maka rusaklah segala amalan yang lain” (H.R. Thabrani).

Ibarat bangunan, shalat adalah tiangnya. Itu sebabnya Allah tidak menghitung amalan orang yang tidak mendirikan shalat. Shalat adalah rukun Islam kedua setelah syahadat. Syahadat dan shalat adalah 2 hal yang tak terpisahkan. Bila syahadat adalah pengakuan atas keberadaan Tuhan Yang Esa, Allah swt dan Muhammad adalah utusan-Nya maka shalat adalah bukti dari pengakuan tersebut.

Ajaran Tauhid, pengakuan akan Tuhan Yang Maha Esa adalah tugas utama yang diemban semua rasul, dari nabi  Adam as hingga nabi Muhammad saw. Inilah yang dilakukan Rasulullah terhadap orang-orang Quraisy. Orang-orang Quraisy adalah orang-orang yang mengakui bahwa Allah adalah Tuhan semesta alam. Ini adalah warisa ajaran nabi Ibrahim as dan putranya, nabi ismail as yang memang lahir di kota Mekah ribuan tahun lalu.

Namun dengan berlalunya waktu ajaran tersebut telah diselewengkan sedemikian rupa. Kesyirikan telah merasuk jauh ke dalam diri mereka. Penyembahan terhadap berhala-berhala  dianggap sebagai cara untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah swt. Padahal telah nyata bahwa sesembahan yang selain Allah itu jelas tidak mampu mendatangkan mudharat apalagi manfaat !

“Maka mengapa yang mereka sembah selain Allah sebagai Tuhan untuk mendekatkan diri (kepada Allah) tidak dapat menolong mereka. Bahkan tuhan-tuhan itu telah lenyap dari mereka? Itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-adakan”.(QS.Al-Ahqaf(46):28).

Sedangkan shalat dan syariat ( hukum ) setiap agama yang dibawa para rasul tidak sama. Inilah yang membedakan agama Yahudi yang dibawa nabi Musa as, Nasrani yang dibawa nabi Isa dan Islam yang dibawa Rasulullah Muhammad saw.

“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari`at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari`at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus”.(QS.Al-Hajj(22):67).

“ … … Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”.(QS.Al-Maidah(5):48).

Setiap umat mempunyai nabi yang harus dijadikan contoh dan suri teladan. Itu sebabnya kita, sebagai umat Islam,harus mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah Muhammad saw. Termasuk cara shalat, puasa dan haji yang juga sebenarnya telah dilakukan oleh umat para rasul terdahulu.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.(QS.Ahzab(33):21).

Selanjutnya agar bangunan memberikan manfaat dan indah dipandang, seorang Muslim harus menjalankan amal kebajikan. Orang yang paling takwa adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain. Jadi jelas, bahwa shalat saja tidaklah cukup. Shalat hanyalah tiang bangunan yang pasti amat diperlukan namun belum bisa memberikan manfaatnya. Pada detik-detik terakhir kehidupan Rasulullah, beliau tersenyum bahagia karena paling tidak dasar/tiang tersebut telah mampu berdiri. Sepeninggal Rasulullah, adalah tugas setiap kaum Muslimin untuk mengisi bangunan tersebut.

Namun dengan berlalunya waktu bahkan sebenarnya menjelang hari-hari akhir Rasulullahpun, keingkaran sudah mulai menampakkan diri. Sejumlah orang mengaku-ngaku sebagai nabi. Orang-orang Munafik yang memang telah ada sejak periode Madinah, begitu Rasulullah wafat, kemunafikannya makin menjadi-jadi. Orang-orang yang semenjak diwajibkannya perang sudah enggan melakukannya juga makin memperlihatkan karakter aslinya.

Kekhalifahan khalifah yang 4,yaitu Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra, Ustman bin Affan ra dan Ali bin Abu Thalib ra, yang notabene adalah sahabat-sahabat terbaik Rasulullah juga tidak luput dari kekisruhan dan berbagai fitnah. Beberapa perbedaan pendapat yang sebenarnya tidak terlalu mendasar, dipicu orang-orang yang tidak bertanggung-jawab, seperti si tokoh Munafikun Madinah, Muhammad bin Ubay bin Salul dkk maupun orang-orang Khawarij yang begitu memusuhi Ali Bin Thalib, menjadikan pecahnya persatuan dan persaudaraan dalam tubuh Islam yang sebenarnya masih relative rentan. Para sahabat yang merupakan saksi turunnya ayat-ayat Al-Quranpun tidak luput dari fitnah.

Demikian juga pembukuan Al-Quran yang dilakukan pada masa Ustman bin Affan. Padahal dalam firman-Nya Allah menjamin bahwa Al-Quran itu senantiasa dalam penjagaan dan pengawasan-Nya. Tak ada satupun yang dapat merubahnya , hingga kapanpun. Ini terbukti secara akal sehat bahwa sejak awal turunnya selalu ada kaum Muslimin yang hafal seluruh ayat-ayat suci, bahkan secara sempurna hingga bacaan panjang pendeknya! Sesuatu yang tidak pernah terjadi pada satupun buku di dunia ini.

“Katakanlah: “Al Qur’an itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. ….” (QS.Al-Furqon(25):6)

“ Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”.(QS.Al-Baqarah(2):23).

Maka tidaklah mengherankan bila dari hari ke hari. fenomena semacam itu tetap ada dan bahkan makin memarah. Jika ayat-ayat Al-Quran saja bisa menjadi bahan perdebatan apalagi hadist yang memang jumlahnya ribuan itu. Meski sebenarnya tidak semua hadits itu bisa dijadikan pegangan. Karena hadits ada berbagai tingkatan. Dari mutawatir, shahih, hasan, dhaif hingga maudhu’ atau palsu. Itupun masih dibagi dengan berbagai kriteria dan persyaratan yang sangat rumit.

“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni`mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”.(QS.Al-Baqarah(2):151).

Al-Quran dan Al-Hikmah ( As-Sunnah) adalah dua hal yang tidak mungkin dapat dipisahkan. Ayat-ayat suci Al-Quran adalah wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah saw melalui malaikat Jibril as. Para sahabat adalah saksinya. Meski mereka memang tidak mendengar sendiri namun mereka menyaksikan peristiwa tersebut. Rasulullahlah yang kemudian memberitahukan dan menyampaikan wahyu tersebut kepada mereka. Selanjutnya beliau memerintahkan para sahabat agar menghafal dan mencatatnya pada media apapun yang dapat ditulisi, seperti batu, kayu, tulang dan kulit binatang dsbnya.

Diluar itu, para sahabat juga terbiasa menghafal apa yang dikatakan, dilihat dan dirasakan Rasulullah saw. Termasuk juga mengamati apa dan bagaimana reaksi Rasulullah dan kaum Muslimin ketika ayat-ayat turun. Juga bagaimana situasi dan keadaan saat itu. Rasulullah bahkan juga menyuruh para sahabat menghafalnya. Tetapi beliau mewanti-wanti agar tidak mencatatnya karena khawatir akan rancu dan tercampur dengan ayat-ayat suci Al-Quran.

Bersabda Rasulullah SAW: Janganlah kalian tuliskan ucapan-ucapanku! Siapa yang (telanjur) menuliskan ucapanku selain al Qur’an hendaklah dihapuskan. Dan kamu boleh meriwayatkan (secara lisan) perkataan-perkataan ini. Siapa yang dengan sengaja berdusta terhadapku, maka tempatnya adalah di neraka. (HR Muslim dari Abu Al Khudri).

Ucapan, tindakan serta reaksi diam dan tidaknya Rasulullah itu baru dibukukan kurang lebih 50 tahun setelah beliau wafat, yaitu pada zaman khalifah Umar bin Abdul Azis (63 – 101 H) dan khalifah-khalifah penerusnya.  Ini dilakukan demi mencegah timbulnya kesalahan, kekhilafan ataupun kesalah-pahaman yang sangat mungkin terjadi akibat berjalannya waktu. Juga sebagai cara untuk menjaga musuh-musuh Islam dalam memanfaatkan kelemahan As-Sunnah bila tidak segera dituliskan. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan Al-Quran telah ditulis dan dibukukan secara sempurna. Mengingat inilah satu-satunya alasan mengapa Rasulullah semasa hidup beliau melarang para sahabat menuliskan ucapan-ucapan beliau. Apa yang kemudian dibukukan tersebut dinamakan Al-Hadits.

Ilmu hadits adalah ilmu yang sangat rumit dan luas. Tak ada satupun ilmu di dunia ini yang mempunyai ilmu seperti ini. Ilmu ini sangat menggantungkan pada akhlak dan pribadi seseorang, yaitu si perawi (orang yang menceritakan peristiwa yang terjadi). Salah satu contohnya, seorang perawi yang diketahui pernah berbohong, meski ia sholeh sekalipun, riwayatnya bisa tidak diterima!

Bukhari ( 194-256 H) dan Muslim ( 204-262 H) adalah 2 orang periwayat yang diakui paling baik meriwayatkan hadits. Selama puluhan tahun keduanya berkelana dari kota ke kota di berbagai negri untuk mencari jejak para sahabat. Mereka ingin mendapatkan berita apa yang para sahabat dengar dan ketahui mengenai apa yang dikatakan, dilihat dan dirasakan Rasulullah. Apa dan bagaimana reaksi Rasulullah ketika turun sebuah ayat. Apa dan bagaimana pula reaksi para sahabat dan bagaimana Rasulullah menanggapi prilaku para sahabat tersebut. Kemudian keduanya bekerja extra keras untuk menyaring dan mengelompokkan berita-berita tersebut.

Selain Bukhari dan Muslim, masih ada beberapa periwayat lain yang riwayatnya juga sering dijadikan pegangan para ulama. Diantaranya adalah Malik bin Anas (93-179 H), Abu Dawud (202-275 H), At-Turmudzi (209-279 H), An-Nasa’i (215-303 H), Ibnu Majah (209-273) dll. Sementara kaum Syiah hanya mengakui hadits yang diriwayatkan keluarga Rasulullah seperti putri Rasulullah, Fatimah az-Zahra ataupun sahabat yang dianggap tidak pernah memusuhi Ali bin Abi Thalib. Aisyah, Umirul Mukminin, adalah salah satu orang yang tidak diterima haditsnya oleh kaum Syiah karena memusuhi Ali, dalam perang Jamal. Begitupun sahabat-sahabat besar seperti Umar bin Khattab dan Ustman bin Affan. Namun apapun alasannya, sungguh tidak sepatutnya seorang Muslim itu, secara keseluruhan meninggalkan hadits, melecehkan apalagi tidak mengakuinya.

Orang-orang Anshar dan Muhajirin adalah orang-orang yang dikenal sangat mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Mereka senantiasa bersegera dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

“Bertasbih kepada Allah di rumah-rumah yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas”.(QS.An-Nuur(24):36-38).

‘Abdillah bin Umar menerangkan, bahwa ketiga ayat diatas diturunkan berkenaan dengan kebiasaan kaum Muslimin yang segera menutup toko mereka jika mendengar azan meskipun mereka sedang sibuk berniaga di pasar. Mereka pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah.( HR. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir).

Begitu pula ketika turun ayat yang melarang khamr (minuman keras). Kaum Muslimin segera menumpahkan minuman tersebut ke saluran-saluran got yang ada di kota Madinah. Anas meriwayat­kan bahwa sejumlah orang tengah minum khamr di rumah Abu Thalhah; begitu mendengar diharamkannya khamr, mereka langsung menumpahkan dan memecah­kan semua bejana khamr.  Jumhur ulama bersepakat bahwa khamr, banyak maupun sedikit, adalah haram. [Suryan A. Jamrah]

Sementara kaum perempuan Anshar langsung menyobek kain-kain gordein mereka untuk dijadikan kerudung begitu turun ayat 31 surat An-Nur.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, … … Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (QS.An-Nur(24):31).

Itulah yang dilakukan para sahabat yang hidup dan menjadi saksi turunnya ayat-ayat Al-Quran, 14 abad lalu. Kini, Rasulullah Muhammad saw telah tiada. Ayat-ayat Al-Quran telah sempurna diturunkan bahkan telah dibukukan dengan baik. Demikian pula As-sunnah yang telah selesai diabadikan menjadi Al-Hadits. Maka umat Islam sekarang ini sebenarnya tinggal menjalankan keduanya saja. Bahkan bila ternyata kini terjadi perbedaan pendapat, para alim ulama yang berkompetenpun telah diberi keleluasaan memberikan jalan keluar melalui Ijtihad.

 “ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”.(QS.Al-Bayyinah(98):5).

Semoga kita tidak menyia-nyiakan petunjuk tersebut dan semoga Allah swt ridho memberikan hidayah-Nya hingga kita mampu dan mau menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Shalawat dan salam sejahtera bagi Rasulullah Muhammad saw yang telah berjuang sepanjang hidup beliau demi menyampaikan perintah dan larangan-Nya, amiiin Ya Robbal ‘Alamin.

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 23 May 2011.

Vien AM.

Sumber :

1.  Sirah Nabawiyah oleh Dr. M. Sa’id Ramadhan Al-Buthy.

2. Sirah Nabi oleh Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfuri

3. Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad SAW oleh HMH Al Hamid Alhusaini

(Kembali ke daftar isi SIRAH NABAWIYAH :

untuk kembali ke daftar isi buku ” Sirah Nabawiyah” click :

DAFTAR ISI SIRAH NABAWIYAH ( Sejarah Singkat Rasulullah saw) | Segala Amal Perbuatan Tergantung Niatnya

https://vienmuhadisbooks.com/category/sirah-nabawiyah-sejarah-hidup-rasulullah-saw/).

Read Full Post »

« Newer Posts