Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Sirah Nabawiyah ( Sejarah Hidup Rasulullah saw)’ Category

Berikut peperangan yang terjadi antara tahun ke 4 H dan ke 6 H, yaitu  sebelum adanya Perjanjian Perdamaian Hudaibiyah.

1. Perang Dzatur Riqa’

Perang ini terjadi sebagai akibat dibunuhnya 70 orang dai oleh kabilah Najd. Padahal para dai tersebut datang atas permintaan pimpinan kabilah mereka sendiri untuk mengajarkan Islam. Sebagai balasannya, dengan mengendarai unta secara bergantian, 1 unta untuk 6 orang, Rasulullah mendatangi perkampungan mereka.

Abi Musa al Asy’ari meriwayatkan bahwa dalam perjalanan mengarungi padang pasir nan panas membara itu banyak sahabat yang telapak kakinya pecah-pecah dan kukunya terlepas. Kemudian mereka membalutnya dengan sobekan kain atau  Dzatur Riqa’. Itu sebabnya kemudian perang ini dinamakan Perang  Dzatur Riqa’ walaupun sebenarnya pertempuran tidak pernah terjadi.

Ada beberapa peristiwa penting yang patut dicatat pada perang ini. Yang pertama, Allah swt telah memasukkan rasa takut kepada orang-orang yang telah berbuat zalim tersebut. Tanpa sebab yang pasti, mereka melarikan diri dari kawasan Gathafan, kawasan yang telah disetujui sebagai tempat pertempuran. Padahal jumlah mereka sebenarnya amat sangat banyak bila dibanding pasukan Muslim.

Di tempat inilah kemudian Rasulullah memimpin shalat khauf. Rasulullah mengimami satu kelompok sementara kelompok satu lagi berjaga-jaga menghadap arah lawan. Kemudian pada rakaat berikutnya Rasulullah tetap berdiri sambil menanti makmum menyelesaikan shalat. Selanjutnya Rasulullah menyempurnakan shalat bersama kelompok yang tadi berjaga-jaga. Sementara pasukan yang telah shalat ganti berjaga-jaga menghadap musuh.

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka`at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. …”.(QS.An-Nisa(4):102).

Di tempat ini pula kisah seorang Badui yang datang secara tiba-tiba dan langsung mengancam Rasulullah terjadi.  Ketika itu Rasulullah dan para sahabat karena lelah maka jatuh tertidur. Para sahabat terbangun karena panggilan Rasulullah. Mereka melihat ada seorang Arab gunung  yang tidak mereka kenal sedang duduk terpekur di samping Rasulullah. Rasulullah kemudian bercerita,

“ Orang ini telah menyambar pedangku  pada waktu aku tidur. Seraya menghunus pedang tersebut  ia mengancamku “ Siapa yang dapat menyelamatkanmu dari pedangku ini?”. Lalu aku jawab, “ Allah Subhanallahu wa Ta’ala”.

2. Perang Bani Musthaliq.

Perang ini terjadi pada tahun ke 5 H. Adalah Harits bin Dhirar, pemimpin bani Musthaliq. Ia merencanakan menyerang Madinah. Namun Rasulullah segera menyambutnya di suatu tempat diluar Madinah, yaitu di telaga Muraisi’. Maka terjadilah pertempuran sengit hingga Allah swt memenangkan pasukan Islam.

Tidak seperti biasanya, kali ini sejumlah besar kaum Munafik banyak yang ikut serta. Hal ini dikarenakan mereka menyaksikan sendiri betapa pasukan Muslim sering memenangkan pertempuran dan berhasil membawa rampasan perang ( ghanimah) yang melimpah. Termasuk kaum perempuan yang menjadi tawanan dan kemudian dibagi-bagikan.

Dalam perang ini, usai perang Rasulullah memberi pilihan kepada Juwairiyah binti al-Harits, untuk menerima lamaran beliau atau dibebaskan. Ternyata putri pimpinan musuh yang dikalahkan ini memilih menerima lamaran Rasulullah. Maka jadilah ia sebagai salah satu Umirul Mukminin. “ Mereka kini menjadi keluarga Rasulullah”, kemudian seluruh bani Musthaliqpun dibebaskan.

Sayangnya, sepulang pasukan yang disambut gembira oleh penduduk Madinah, terjadi peristiwa fitnah terhadap diri Aisyah ra. Beliau dituduh berbuat tidak senonoh gara-gara kembali ke Madinah terlambat dan tidak bersama rombongan. Melainkan berdua, bersama salah seorang pasukan yang sama-sama tertinggal rombongan.

Abdulllah bin Ubay, si tokoh Munafikun Madinah itulah yang pertama kali menghembus-hembuskan fitnah. Padahal sebelumnya, di sekitar telaga dimana kedua pasukan bertempur, ia juga telah melemparkan kata hasutan. Ketika itu ia geram melihat pertengkaran yang terjadi antara seorang Anshar dan seorang  Muhajirin.

“ Apakah mereka ( Muhajirin) telah melakukannya? Mereka telah menyaingi dan mengungguli jumlah kita di negri sendiri. Demi Allah, antara kita dan orang-orang Quraisy ini ( kaum Muslimin Quraisy) tak ubahnya seperti apa yang dikatakan orang. “ Gemukkan anjingmu agar menerkammu”. Demi Allah, jika kita telah sampai di Madinah, orang yang mulia pasti akan mengusir kaum yang hina( Muhajirin)”.

Zaid bin Arqam, salah satu orang yang mendengar ucapan tersebut kemudian melaporkan ucapan ini kepada Rasulullah. Namun Rasulullah tidak berkata apa-apa. Allah swt memang melarang menghakimi orang Munafik. Karena hanya Sang Khalik sajalah yang mengetahui isi hati manusia dan berhak menghakimi mereka. Hingga akhirnya turun ayat berikut :

“Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya”. Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.”(QS.Al-Munafikun(63):8).

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”.(QS.An-Nisa(4):145).

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda : “Tanda-tanda orang munafik itu tiga ; bila berkata ia bohong, bila berjanji ia mengingkari dan bila ia dipercaya ia mengkhianati”.

Sementara Aisyah sendiri terbebas dari fitnah melalui ayat yang diturunkan Allah azza wa jalla sebulan kemudian.

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar … ( sampai dengan ayat 21)”. (QS.An-Nur(24):11-21).

Namun selama satu bulan itu fitnah benar-benar telah membuat gundah hati Rasulullah. Beliau tidak memiliki saksi seorangpun hingga hanya dapat membela sang istri tercinta dengan kata-kata yang diucapkan secara hati-hati :

“ Aku tidak mengetahui Aisyah kecuali sebagai orang baik-baik”.

Sebulan kemudian setelah berusaha mencari tahu dan meminta pendapat para sahabat, Rasulullah berujar :

«  Hai Aisyah, aku telah mendengar apa yang digunjingkan orang tentang dirimu. Jika engkau tidak bersalah Allah pasti akan membebaskan dirimu. Sebaliknya jika engkau telah melakukan dosa mintalah ampunan kepada Allah ».

Aisyah ra mengisahkan bahwa ucapan pertama yang dikeluarkan Rasulullah begitu ayat pembelaan tersebut turun adalah “ Bergembiralah wahai Aisyah, sesungguhnya Allah telah membebaskan kamu”. Ibukupun kemudian berkata kepadaku : “Berdirilah ( berterima-kasihlah) kepadanya ( Rasulullah saw)”. Aku jawab: “ Tidak! Demi Allah, aku tidak akan berdiri ( berterima-kasih) kepadanya ( Rasulullah ) dan aku tidak akan memuji kecuali Allah. Karena Dialah yang telah menurunkan pembebasanku”.

( Bersambung)

Paris, 21 Februari 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

3. Perang Khandaq ( Ahzab) atau Perang Parit.

Perang yang terjadi pada tahun ke 5 H ini disebabkan oleh adanya hasutan beberapa pemimpin Yahudi bani Nadhir kepada Quraisy Mekah agar mereka bersama-sama menyerang Madinah dan menghancurkan Islam. Orang-orang Yahudi berhasil meyakinkan bahwa ajaran Quraisy lebih baik dari pada ajaran Islam.

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman”.(QS.An-Nisa(4):51).

Setelah itu mereka membujuk suku Gathafan, bani Fuzarah dan bani Murrah untuk bersengkokol memusuhi Islam. Maka berangkatlah sepuluh ribu pasukan Ahzab yang berarti pasukan gabungan tersebut menuju Madinah. Sementara itu mendengar kabar bahwa Madinah akan diserang, Rasulullah segera mengumpulkan para sahabat untuk membicarakan strategi apa yang akan digunakan menghadapi pasukan tersebut.

Salman Al-Farisi, sahabat kelahiran Persia, mengusulkan agar mereka menggali parit untuk melindungi Madinah dari serangan musuh. Strategi yang ketika itu belum dikenal masyarakat Arab ini tak urung membuat mereka terkagum-kagum. Rasulullahpun segera menerima usulan tersebut. Maka secara bergotong-royong paritpun digali.

Suatu ketika sejumlah sahabat melaporkan bahwa mereka menemui kesulitan. Sebongkah batu besar tidak berhasil mereka pecahkan. Segera Rasulullah turun tangan. Berkata nabi saw, “ Biarkan aku yang turun”. Dalam keadaan perut diganjal dengan batu, beliau segera bangkit. Karena tidak adanya sesuatu yang dapat dimakan selama tiga hari itu Rasulullah dan para sahabat memang terpaksa mengganjal perut mereka dengan batu. Rasulullah segera mengambil martil dan dipukulkannya ke atas batu. Maka seketika itu juga hancur luluhlah bongkahan batu tadi hingga menyerupai pasir.

Dalam sebuah riwayat diceritakan dengan mengucap takbir Rasulullah memecahkan batu besar tersebut dalam 3 kali pukulan hingga cahaya terang memenuhil angit. Pada pukulan pertama Jibril menerangkan bahwa kerajaan Persia akan ditaklukan umat Islam. Pukulan kedua, tanah Romawi dan pukulan terakhir Yaman yang akan jatuh. Di kemudian hari sejarah membuktikan Persia ( Irak, Iran dan sekitarnya), Romawi Timur ( Turki dan sekitarnya) serta Yaman adalah bagian dari Islam !

Sementara itu Jabir meminta izin pulang. Ia bermaksud menanyakan istrinya apakah mereka memiliki sesuatu untuk dimasak. Namun istrinya menerangkan bahwa mereka hanya memilki satu ekor anak kambing dan sedikit gandum. Segera Jabir menyembelih anak kambing tersebut dan menumbuk gandum yang ada. Kemudian memasaknya. Setelah itu ia segera kembali menemui Rasulullah dan mengajak beliau untuk makan di rumahnya.

“ Berapa banyakkah makanan itu”, tanya Rasulullah.

Setelah Jabir menyebutkan jumlah makanan itu beliau berkata, “ Itu cukup banyak dan baik. Katakan pada istrimu jangan diangkat dari atas tungku dan roti itu jangan pula sampai dikeluarkan dari tempat pembakarannya sebelum aku datang ke sana”.

Selanjutnya begitu Rasulullah tiba di rumah Jabir, beliau segera memotong-motong roti dan dicampurkannya pada daging serta kuah yang ada di periuk. Tak lama kemudian para sahabat yang jumlahnya tak hingga banyaknya itu makan dengan puas sampai kenyang.

“ Makanlah ini dan bagikanlah kepada orang banyak karena saat ini sedang musim paceklik”, sabda Rasulullah kepada Jabir dan istrinya, setelah semua usai makan.

Di dalam riwayat lain, Jabir menuturkan, “ Aku bersumpah dengan nama Allah. Mereka telah makan hingga mereka pergi dan meninggalkannya, sedangkan daging di dalam periuk kami masih tetap utuh, demikian pula roti kami”. ( HR Bukhari).

Dua kejadian diatas ( terpecahnya batu dan periuk yang tak habis-habis ) adalah bukan kejadian biasa. Ini adalah salah satu mukjizat Rasulullah dari Sang Khalik sebagaimana juga mukjizat yang diterima para nabi Allah. Seperti tongkat nabi Musa as, unta nabi Shalih as dll.

Di lain pihak, orang-orang Munafik yang ikut serta dalam penggalian tampak setengah hati mengerjakan tugas tersebut. Mereka berpura-pura lemas. Bahkan banyak yang tanpa meminta izin Rasulullah, diam-diam meninggalkan lokasi dan pulang ke Madinah. Itu sebabnya kemudian Allah swt menurunkan ayat berikut :

“Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mu’min ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS.An-Nur(24):62).

Sementara itu pasukan Musyrikin bergerak makin mendekati kota. Mereka dikejutkan akan keberadaan parit yang melindungi kota ini.” Sungguh, ini merupakan tipu daya yang tidak pernah dilakukan oleh bangsa Arab”. Mereka kemudian mengambil posisi dan berkemah di sekitar parit mengepung kaum Muslimin. Jumlah mereka ketika itu sekitar 10 ribu sedangkan kaum Muslimin 3 ribu orang.

Tidak terjadi pertempuran kecuali beberapa orang Musyrik yang berusaha menyeberangi parit di bagian-bagian yang sempit namun berhasil dicegat pasukan Muslimin. Sebulan lamanya Madinah dalam keadaan demikian. Selama itu pula Rasulullah tidak henti-hentinya ber-istighatsah, yaitu  merendahkan diri seraya berdoa memohon kepada Allah swt agar kaum Muslimin dimenangkan.

Hingga suatu hari tersiar berita bahwa Yahudi bani Quraidzah yang merupakan bagian dari penduduk Madinah telah membelot. Ia ikut bersengkokol dengan musuh untuk menjatuhkan kaum Muslimin. Sementara orang-orang Munafikpun gencar menyebarkan bisa racun berbahaya yang menimbulkan keraguan dan perpecahan diantara umat Muslim.

“ Dulu Muhammad menjanjikan bahwa kita akan memakan harta kekayaan Kisra dan Kaisar. Tetapi sekarang bahkan untuk pergi membuang hajatpun kita tidak aman”.

Akhirnya datanglah pertolongan Allah swt. Pertama dengan masuk Islamnya Nu’aim bin Mas’ud. Kedua dengan didatangkannya angin topan yang sangat kencang. Nu’aim yang disangka kaumnya masih Musrik, ditugaskan Rasulullah untuk mengadu domba musuh. Ini adalah sebuah taktik perang yang diperbolehkan. Dengan kelihaiannya ia berhasil meyakinkan orang-orang bani Quraidzah dan orang-orang Quraisy untuk tidak saling mempercayai dan saling curiga. Maka merekapun akhirnya saling ragu untuk memulai serangan.

Ditambah dengan angin topan yang bertiup kencang pada suatu malam yang teramat dingin maka bubarlah pasukan gabungan tersebut.

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan ni`mat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan”.(QS.Al-Ahzab(33):9).

Hudzaifah berkata : «  Peristiwa ini terjadi saat Perang Ahzab dan di malam gulita. Pasukan Abu Sufyan berada diatas bukit. Pasukan bani Quraidzah berada di bagian lembah. Kami khawatir atas keluarga kami. Angin terasa berembus lebih kencang sehingga kaum Munafikin minta izin pulang dengan alasan rumah mereka kosong. Mereka mendapat izin dan kemudian lari menyembunyikan diri. Rasul memeriksa pasukan lalu berkata kepadaku, “ Coba selidiki keadaan musuh”. Aku berangkat dan aku melihat perkemahan musuh beterbangan dihantam angin yang sangat kencang. Merekapun lari mundur. Aku kembali dan menghadap Rasul untuk menceritakan kejadian itu. Atas hal itu turunlah ayat ini” ( HR. Baihaqi).

“Wahai kaum Quraisy, demi Allah, kalian tidak mungkin lagi berada di tempat ini ! Banyak ternak kita yang telah mati ! Orang-orang bani Quraidzah telah mencederai janji dan kita mendengar berita yang tidak menyenangkan tentang sikap mereka ! Kalian tahu kita sekarang menghadapi angin topan yang hebat .. Karena itu, pulang sajalah kalian dan akupun akan berangkat pulang!”, begitu Abu Sufyan, pemimpin Quraisy berkata menyerah.

4. Perang bani Quraidzah.

Disebutkan dalam ash-Shahihain bahwa ketika nabi saw kembali dari Khandaq, tidak lama setelah meletakkan senjata dan mandi, Jibril as datang lalu berkata, “ Apakah kamu sudah meletakkan senjata ?”. “ Demi Allah, kami belum meletakkannya”. “ Berangkatlah kepada mereka !”. “ Kemana?”. Jibril menjawab :” Ke sana”, seraya menunjuk kearah perkampungan bani  Quraidzah. Nabi saw lalu berangkat mendatangi mereka.

Demikianlah para sahabat, tanpa mengenal lelah dan takut, segera melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Padahal baru saja mereka meninggalkan keluarga selama 1 bulan untuk berperang. Jihad, berperang di jalan Allah adalah bukti ketinggian cinta, iman dan kesetiaan mereka kepada Sang Khalik dan Rasul-Nya.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(.QS.At-Taubah(9):16).

Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. ”(.QS.At-Taubah(9):24).

Selama 25 malam, ada yang mengatakan 15 malam, Rasulullah mengepung perkampungan bani  Quraidzah hingga akhirnya mereka menyerah dan Allah swt melemparkan rasa takut ke dalam hati mereka. Ka’ab bin Asad, pemimpin mereka memberikan 3 pilihan.

“Kita mengikuti Muhammad dan membenarkannya. Demi Allah, tentu telah jelas bagi kalian bahwa dia adalah Rasul yang diutus dan kalianpun dapat menemukan dalam kitab suci kalian. Dengan demikian nyawa, hak, kaum wanita dan anak-anak kalian akan selamat”.

Mereka menjawab, “ Kami tidak akan melepas hukum-hukum Taurat”.

“ Kalau begitu, marilah kita habisi nyawa istri dan anak-anak kita lalu kita hadapi Muhammad dan para sahabatnya dengan pedang terhunus”.

Mereka menjawab, “ Apakah dosa mahluk-mahluk kesayangan ini ?”.

“ Baiklah, bila demikian. Malam ini adalah malam Sabtu ( Sabbath). Bisa jadi Muhammad dan sahabat-sahabatnya merasa aman dari gangguan kita. Karena itu mari kita turun dan menyergap mereka secara tiba-tiba », ajak Ka’ab lagi semangat.

«  Haruskah kita mengotori Sabbath dan melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang sebelum kita hingga kemudian dijadikan kera?? », jawab mereka ketus.

« Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina”.(QS.Al-Baqarah(2) :65).

« Tak seorangpun diantara kalian, sejak hari lahir kalian, yang bisa melewati satu malam untuk memecahkan masalah yang seharusnya », sahut Ka’ab kesal campur putus asa.

Akhirnya merekapun menyerah. Dan karena Yahudi bani Quraidzah itu sekutu suku A’us maka Rasulullah menyerahkan ketetapan hukum mereka kepada Sa’ad bin Mu’adz, salah satu pemimpin A’us.

“ Orang-orang yang menerjunkan diri dalam perang harus dihukum bunuh dan keluarga mereka ditawan”, demikian keputusan Sa’ad yang langsung disambut baik Rasulullah.

Dalam perang ini ada beberapa kejadian penting yang patut dijadikan renungan. Salah satunya adalah perintah Rasulullah untuk tidak melaksanakan shalat ashar sebelum pasukan sampai di perkampungan yang dituju.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa di tengah perjalanan, tibalah waktu ashar. Maka sebagian berkata, “ Kami tidak akan shalat sehingga kami sampai sana”. Sedangkan sebagian lain mengatakan, “ Kami akan melakukan shalat karena bukan itu yang dimaksud Rasulullah”.

Sepulang dari perang kemudian para sahabat mengadukan hal tersebut. Namun ternyata Rasulullah tidak mengecam ataupun menegur satupun kelompok tersebut. Hal ini menandakan bahwa umat Islam itu diizinkan berijtihad. Perbedaan dalam penafsiran adalah tidak dilarang selama tidak keluar dari jalur.

5. Perang Bani Asad dan beberapa pelajaran bagi musuh Islam.

Sebenarnya tidak terjadi kontak senjata antara pasukan Muslim dengan bani Asad maupun orang-orang yang membenci Islam. Pada perang bani Asad, pemimpin bani ini yaitu Thulaihan bin Khuwailid bermaksud menyerang Madinah. Rasulullah segera mengirim pasukan untuk melawan mereka. Ternyata mereka malah melarikan diri sebelum perang terjadi. Bahkan mereka meninggalkan harta mereka begitu saja hingga kaum Musliminpun dengan leluasa dapat menguasainya.

Demikian pula orang-orang Hudzail yang datang dari sebuah tempat dekat Mekah. DIbawah pimpinan  Khalid al-Hudzali, mereka berusaha menyerang Madinah. Namun sebelum perang terbuka berlangsung ia telah terbunuh. Maka pasukannyapun bubar sebelum perang benar-benar terjadi.

Juga Abu Sufyan, pemimpin Quraisy yang kalah pada perang Badar beberapa tahun sebelumnya. Dengan penuh semangat balas dendam ia membawa 3000 pasukannya untuk menggempur Madinah. Namun pasukan ini segera melarikan diri begitu melihat sambutan 1500 pasukan Muslim yang dikerahkan Rasulullah untuk menghadapi mereka.

Kemudian setelah berhasil melepaskan diri dari ancaman Yahudi, Quraisy dan orang-orang tersebut Rasulullahpun berinisiatif mengirimkan sejumlah ekspedisi kepada orang-orang Arab Badui. Misi ini berhasil karena setelah itu orang-orang Badui tersebut tidak lagi berani berbuat macam-macam. Maka sejak akhir tahun ke 5 H Madinah tidak pernah menerima serangan dan ancaman lagi. Kaum Muslimin kini telah menjadi kuat dan disegani musuh. Allahuakbar ..

“ Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. ”(.QS.At-Taubah(9):20).

( Bersambung)

Paris, 22 Februari 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat. )”.(QS.Al-Fath(48):27).

Berdasarkan mimpi bahwa Rasulullah akan memasuki Masjidil Haram, maka pada suatu hari di bulan Dzulqa’idah tahun ke 6 H, Rasulullah mengumumkan keinginan beliau untuk  menunaikan ibadah umrah. Pengumuman ini langsung disambut antusias oleh sekitar 1400 sahabat Anshar dan Muhajirin.  Dengan mengenakan kain ihram serta membawa sejumlah binatang kurban ( al-hadyu) maka berangkatlah rombongan besar ini menuju Mekah yang ketika itu masih berada dibawah kekuasaan kaum Musryik Quraisy.

Setiba di Dzul Hulaifah, Rasulullah saw mengutus seseorang untuk mengintai keadaan kota Mekah. Rasulullah juga mengutus Ustman bin Affan ra pergi ke kota tersebut untuk mengabarkan kedatangan rombongan kepada kaum Muslimin yang ada di Mekah. Semula Rasulullah menginginkan  Umar bin Khattab ra yang melakukan tugas tersebut. Namun karena Umar mempunyai hubungan yang kurang baik dengan keluarga besarnya akhirnya Ustman yang diutus.

Sementara itu Rasulullah dan rombongan terus berjalan perlahan meneruskan perjalanan. Hingga di suatu tempat utusan pengintai tadi kembali dan melaporkan bahwa orang-orang Quraisy telah menyiapkan bala tentara untuk memerangi dan mencegah kaum Muslimin memasuki Mekah dan thawaf di Baitullah.

“ Bagaimana pendapat kalian”, tanya Rasulullah begitu menerima laporan tersebut.

“ Wahai Rasulullah, engkau keluar untuk maksud ziarah ke Baitullah bukan untuk membunuh atau memerangi seseorang. Berangkatlah terus ! Jika ada orang yang menghalangi, kita akan memeranginya”, jawab Abu Bakar ra.

“ Berangkatlah dengan nama Allah”, sambut Rasulullah.

Lalu Rasulullah dan rombonganpun melanjutkan perjalanan. Namun untuk menghalangi hal-hal yang tidak diinginkan Rasulullah menunjuk salah seorang sahabat yang menguasai jalan pintas yang tidak biasa digunakan umum agar memimpin didepan.

Maka jadilah rombongan ini menyusuri jalan terjal, naik-turun lereng-lereng berbatu tajam. Hingga di suatu tempat di sebuah jalan ke arah Hudaibiyah, unta Rasulullah tiba-tiba berhenti dan tidak mau berjalan. Para sahabat terperanjat. “ Si Qushwa mogok”, seru mereka.

Rasulullah saw menyahut, “ Ia tidak mogok. Ia tidak berwatak demikian. Ia dihentikan oleh Allah swt seperti dahulu Allah menghentikan pasukan gajah. Demi Allah jika mereka memintaku suatu langkah (persyaratan) yang akan menghormati Tanah Haram, pasti akan aku kabulkan”.

Selanjutnya Rasulullah mengarahkan untanya untuk mundur dan berhenti di ujung Hudaibiyah. Para sahabat kemudian turun dan minum serta berwudhu di sebuah parit yang tidak begitu banyak airnya hingga akhirnya kering sama sekali. Dalam sebuah hadits diceritakan bahwa setelah mendengar pengaduan para sahabat bahwa mereka kehabisan air, Rasulullah kemudian menancapkan sebatang anak panah di parit tersebut. Maka tak lama kemudian paritpun terisi air kembali. Para sahabat lalu berebutan menggunakan sumber air tersebut untuk berbagai keperluan.

Dalam suasana demikian inilah tiba-tiba datang seorang utusan Quraisy. Ia menyatakan bahwa pasukan Quraisy sedang dalam perjalanan untuk mengusir Rasulullah dan rombongan. Dengan tenang Rasulullah menjawab, “ Kami datang hanya untuk melaksanakan umrah. Sekalipun orang-orang Quraisy telah memutuskan untuk berperang, tetapi jika mereka suka, aku minta untuk menangguhkannya. Jika mereka enggan, demi Allah, aku siap memerangi mereka sampai orang-orang yang ada di belakangku tinggal sendirian. Dan Allah pasti akan menyelesaikan urusan-Nya”.

Utusan tersebut kemudian kembali ke kaumnya dan melaporkan apa yang dikatakan Rasulullah. Sementara itu Ustman bin Affan yang sebelumnya diutus ke Mekah tidak juga kunjung kembali. Berita yang sampai ke telinga Rasulullah, Ustman telah dibunuh oleh Quraisy !.

Maka Rasulpun bersabda “ Kami tidak akan tinggal diam hingga kami berhasil menumpas kaum Quraisy”.

Kemudian Rasulullah segera mengumpulkan para sahabat dan mengajak mereka berbaiat. Berbait kepada Rasulullah untuk tidak lari meninggalkan medan perang. Baiat ini berlangsung di bawah sebuah pohon dan kemudian dikenal sebagai Baiat Ridwan. Dalam kesempatan itu, Rasulullah mengambil tangan para sahabat satu bersatu sambil berkata : «  Pembai’atan ini untuk Ustman ».

Namun tak berapa lama kemudian ternyata Ustman kembali dalam keadaan aman. Rupanya beberapa orang Quraisy sempat menahannya beberapa hari tetapi kemudian melepaskannya kembali. Betapa leganya Rasulullah mengetahui hal tersebut.

Selanjutnya dengan utusan Quraisy yang melaporkan hasil pertemuannya dengan Rasulullah. Setelah berembug, mereka kembali mengutus seseorang untuk menemui Rasulullah. Di tempat ini, Urwah bin Mas’ud, utusan kedua Quraisy, mendapati betapa para sahabat menghormati sang pimpinan, Rasulullah Muhammad saw.

“ Wahai kaum. Demi Allah, aku pernah menjadi tamu para raja, kaisar, kisra dan najasi. Akan tetapi, demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang raja yang diagungkan oleh pengikutnya sebagaimana penghormatan yang dilakukan oleh para pengikut Muhammad. Sesungguhnya, dia telah menawarkan suatu langkah yang baik buat kalian. Karena itu, terimalah!”, demikian ucap Urwah, melaporkan hasil pertemuannya dengan Rasulullah kepada para pembesar Quraisy.

Langkah selanjutnya, para pemuka Quraisy memutuskan mengutus Suhail bin Amr sebagai wakil mereka untuk membuat perjanjian dengan kaum Muslimin. Sementara Rasulullah menunjuk Ali bin Abu Thalib ra sebagai juri tulis perjanijian yang di kemudian hari dikenal dengan nama Perjanjian Hudaibiyah ini.

“ Silahkan”, kata Suhail, “ Tuliskan suatu perjanjian antara kami dan kalian”.

“ Tulislah Bismilahir rahmanir rahim”, sabda Rasulullah kepada Ali.

“ Demi Allah, kami tidak tahu apa itu ‘ar-Rahman’. Tulislah Bismikallahumma », tukas Suhail.

« Demi Allah, kami tidak mau menulis kecuali  Bismilahir rahmanir rahim”, kaum Muslimin berkata.

«Tulislah Bismikallahumma. Ini adalah perjanjian yang dibuat oleh Muhammad Rasul Allah », sabda Rasul lagi.

Mendengar ini Suhail sontak menolak, «  Demi Allah, seandainya kami mengakui bahwa engkau adalah Rasul Allah, niscaya kami tidak menahanmu untuk datang ke Baitullah dan memerangimu. Tulislah Muhammad bin Abdullah ».

Rasul kembali mengalah, «  Demi Allah, aku adalah Rasul Allah sekalipun kalian mendustakanku ! Tulislah Muhammad bin Abdullah ».

Di dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa nabi saw memerintahkan Ali agar menghapuskannya lalu Ali berkata, « Demi Allah, aku tidak akan menghapusnya». Rasulullah lalu bersabda, «  Tunjukkan kepadaku mana tempatnya ». Ali lalu menunjukkan dan Rasulullahpun menghapusnya sendiri.

Selanjutnya Rasulullah bersabda kepada Suhail, «  Kalian harus membiarkan kami melaksanakan thawaf di Baitullah ». Namun Suhail menjawab, « Demi  Allah supaya orang-orang tidak mengatakan bahwa kami mendapat tekanan dari kalian … engkau boleh thawaf tahun depan namun tidak boleh membawa senjata kecuali pedang dalam sarungnya ».

Selanjutnya utusan Quraisy tersebut juga mensyaratkan bahwa jika ada anggota keluarga Quraisy yang masuk Islam kemudian lari dan meminta perlindungan Madinah, mereka harus dikembalikan kepada kaumnya. Sebaliknya bila ada kaum Muslimin yang lari dari Madinah dan meminta perlindungan Makkah, mereka tidak harus dikembalikan.

«  Subhanallah, bagaimana mungkin seseorang yang telah beriman akan dikembalikan kepada kaum Musyrikin ? », protes para sahabat. «  Apakah kita akan menulis butir ini, wahai Rasulullah ? »

« Ya, sesungguhnya siapa saja diantara kita yang pergi kepada mereka maka semoga Allah menjauhkannya dan barangsiapa diantara mereka datang kepada kita maka Allah akan memberikan jalan keluar baginya », jawab Rasulullah saw.

Itulah sebagian dari isi perjanjian perdamaian Hudaibiyah. Perjanjian ini berlaku untuk 10 tahun. Selama itu tidak boleh terjadi peperangan antara ke dua belah pihak. Masing-masing pihak boleh memilih dan mempunyai sekutu. Maka suku Khuza’ahpun mengumumkan persekutuannya dengan kaum Muslimin. Sedangkan bani Bakar memilih bersekutu dengan kaum Quraisy.

Bahkan disebutkan ketika kaum Muslimin berthawaf tahun depan nanti, kaum Musyrikin tidak diperbolehkan mengganggu. Mereka akan pergi ke lereng-lereng gunung,menyaksikan dari kejauhan.

Namun demikian, sebagian besar sahabat tetap merasa kecewa terhadap isi perjanjian yang dianggap merendahkan umat Islam yang dirasa mulai menguat itu. Umar bin Khattab ra adalah satu diantaranya.

“ Bukankah engkau Nabi Allah?” tanya Umar.

“ Ya, benar”, jawab Rasul.

“ Bukankah orang-orang kita yang terbunuh akan masuk surga dan orang-orang yang mereka bunuh akan masuk neraka?” tanya Umar lagi.

“ Ya, benar”, jawab Rasul tenang.

«  Lalu, mengapa kita menyetujui agama kita direndahkan ? », tanya Umar bertambah penasaran.

“Sesungguhnya aku adalah Rasul Allah. Aku tidak akan menyalahi perintah-Nya dan Dia pasti akan membelaku”, jawab Rasul sabar.

«  Bukankah engkau telah menjanjikan bahwa kita akan datang ke Baitullah untuk melakukan thawaf ? », cecar Umar.

« Ya, benar. Tetapi apakah aku mengatakan bahwa engkau akan datang ke sana tahun ini ? Engkau pasti akan datang dan thawaf di Baitullah », tegas Rasul.

Umar tetap bimbang. Maka iapun mendatangi Abu Bakar ra. Namun Abu Bakar menjawab pertanyaan Umar persis seperti apa yang dikatakan Rasulullah.

“ Rasulullah tidak akan menyalahi perintah Rabbnya dan Allahpun tidak akan membiarkannya”,  jawab Abu Bakar.

Tak lama kemudian Rasulullah memanggil Umar dan membacakan ayat yang baru saja diturunkan-Nya.

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni`mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak)”.(QS.Al-Fath(48):1-3).

Ya, perjanjian Hudaibiyah sebenarnya adalah sebuah kemenangan besar bagi umat Islam. Ini adalah pengakuan pertama Quraisy terhadap keberadaan kaum Muslimin. Allah, Yang Maha Cerdas dan Maha Teliti  yang menuntun Rasulullah agar bertindak demikian. Ini adalah cara Allah mempersiapkan pembukaan pintu Mekah agar Islam dapat masuk tanpa perang ; secara damai dan merasuk ke dalam hati sanubari semua penduduk Mekah yang lama dalam keadaan kesyirikannya.

Di kemudian hari Umar berkata, “ Aku terus berpuasa, shalat, bersedekah dan membebaskan budak ( sebagai karafat) dari apa yang pernah aku lakukan karena takut akan ucapan yang pernah aku lontarkan pada hari itu”.

Namun demikian kekecewaan sebagian besar sahabat yang belum dapat menerima bahwa perjanjiian tersebut sebenarnya adalah kemenangan tetap masih terlihat. Karena ketika Rasulullah memerintahkan agar mereka bercukur dan menyembelih hewan kurban yang mereka bawa sebagai tanda selesainya umrah, tidak mereka indahkan.

Akhirnya Rasulullah, atas usul Ummu Salamah, umirul Mukminin yang ketika itu menyertai Rasulullah,  tanpa banyak kata, langsung bercukur dan menyembelih kurban yang dibawanya. Maka para sahabatpun, tanpa kecuali, langsung mengikuti apa yang diperbuat Rasulullah. ( Baca juga : http://vienmuhadi.com/2009/03/16/keteladanan-rasulullah-saw-dalam-memperlakukan-perempuan/ ).

Setahun kemudian yaitu pada bulan Dzulqai’dah tahun ke 7 H, Allah swt memenuhi janji-Nya. Rasulullah beserta 2000 umat Islam memasuki Mekah dan melaksanakan umrah.  Seluruh sahabat yang ikut dalam perjanjian Hudaibiyah tak satupun yang tertinggal kecuali yang wafat dalam perang Khaibar sekembali dari perjanjian tersebut.

” Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada orang yang hari ini menyaksikan kekuatan yang datang dari hadirat-Nya”, begitu bunyi doa Rasulullah ketika tawaf sambil mengangkat tangan kanannya.  Kemudian mencium hajar aswad lalu berjalan cepat sambil mengelilingi Ka’bah.

Sebelumnya Rasulullah dan para sahabat memang sempat khawatir bahwa kedatangan mereka kali inipun akan tetap dihalangi orang-orang Quraisy. Namun Allah swt segera menurunkan ayat-ayat yang isinya  mengizinkan Rasulullah memerangi orang-orang tersebut meski di tanah Mekah sekalipun. Karena menghalangi seseorang menjalankan ibadah sama dengan menyebar fitnah.

” Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir. Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“.(QS.Al-Baqarah(2):191-192).

Dan atas tekad kuat kaum Muslimin, Allah swt memberikan ridho-Nya hingga Rasulullah dan para sahabat dapat menjalankan ibadah tersebut tanpa hambatan. Tampak bahwa Allah telah memasukkan rasa gentar dan takut kepada orang-orang Quraisy untuk mengganggu kedatangan kaum Muslimin.

(Bersambung)

Paris, 7 Maret 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

“Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil, maka disegerakan-Nya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan) mu (agar kamu mensyukuri-Nya) dan agar hal itu menjadi bukti bagi orang-orang mu’min dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus”.(QS.Al-Fath(48):20).

Ayat di atas turun ketika Rasulullah dalam perjalanan pulang dari Hudaibiyah menuju Madinah, beberapa saat setelah ditanda-tanganinya perjanjian Hudaibiyah. Yang dimaksud harta rampasan perang yang banyak pada ayat di atas itu adalah kemenangan Muslimin pada perang Khaibar. Khaibar adalah kota terbesar Yahudi yang banyak memiliki benteng dan ladang-ladang kurma. Tanah kota tersebut memang dikenal amat subur, airnya berlimpah dan berbagai buah tumbuh dengan mudah di tanah ini. Kota yang merupakan  benteng utama Yahudi ini terletak sekitar 165 km utara Madinah arah Syam.

Janji Allah swt sendiri akan harta rampasan yang banyak itu adalah sebagai bentuk kasih sayang dan penghargaan-Nya akan kesabaran kaum Muslimin dalam menghadapi kebencian dan permusuhan musuh-musuh Islam seperti kaum Musryik Mekah dan Yahudi selama ini. Dan puncaknya adalah perang Hudaibiyah. ( Click  http://vienmuhadi.com/2011/03/07/xxi-perdamaian-hudaibiyah-dan-baitur-ridwan/ untuk baca Perjanjian Hudaibiyah ).

Mendengar janji tersebut, orang-orang Munafik Madinah yang selama ini tidak pernah ikut terlibat dalam peperangan Islam, tiba-tiba meminta izin untuk ikut berperang. Namun Rasulullah tidak mengabulkan permohonan tersebut. Rasulullah hanya mengizinkan berperang para sahabat yang pernah ikut berperang membela Islam dan tujuannya bukan untuk mencari harta rampasan saja.

Orang-orang Badwi yang tertinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil barang rampasan: “Biarkanlah kami, niscaya kami mengikuti kamu; mereka hendak merubah janji Allah. Katakanlah: “Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami: demikian Allah telah menetapkan sebelumnya”; mereka akan mengatakan: “Sebenarnya kamu dengki kepada kami”. Bahkan mereka tidak mengerti melainkan sedikit sekali. ”.(QS.Al-Fath(48):15).

Maka pada tahun 629 M, dengan membawa 1400 pasukan, mereka adalah para sahabat yang ikut dalam perjanjian Hudaibiyah, berangkatlah Rasulullah memimpin pasukannya memasuki Khaibar. Mereka berangkat dengan berjalan kaki dan berkuda. Ini adalah perang pertama kaum Muslimin yang terjadi setelah adanya perjanjian Hudaibiyah. Ini juga adalah perang pertama dimana kaum Muslimin datang menyerang terlebih dahulu. Karena sebelumnya pasukan Muslim hanya bertahan.

Rasulullah sengaja memilih jalur melalui Ar-Raji’, daerah antara perkampungan kaum Gathafan dan Khaibar. Kaum Gathafan adalah sekutu Yahudi yang selama ini selalu membantu Yahudi dalam memusuhi Islam. Dan kali inipun mereka sebenarnya memang telah berniat hendak membantu sekutunya itu. Namun nyatanya begitu mendengar kabar bahwa pasukan Rasulullah melewati perkampungan mereka, nyali merekapun jadi menciut. Akhirnya mereka membatalkan pertolongan mereka.

Dari Abu Muattib bin Amr ia berkata, ‘Ketika Rasulullah melihat Khaibar, beliau berkata kepada para sahabat –ketika itu aku bersama mereka–, ‘Berdirilah kalian!’. Rasulullah berkata, ‘Ya Allah, Rabb langit dan Rabb segala yang dinaunginya, Rabb bumi dan Rabb apa saja yang diangkutnya, Rabb setan dan apa saja yang dianutnya, Rabb angin dan Rabb apa saja yang diterbangkannya, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu kebaikan kampung ini, penduduknya, dan apa yang ada di dalamnya. Aku berlindung diri kepadaMu dari keburukan kampung ini, penduduknya, dan yang ada di dalamnya. Majulah kalian dengan nama Allah!’ Doa tersebut selalu diucapkan beliau setiap kali beliau memasuki per-kampungan”.

Tidak mudah menaklukkan Khaibar. Kota benteng ini memiliki sistim pertahanan berlapis-lapis. Setiap benteng memiliki fungsi masing-masing. Perempuan dan anak-anak ditempatkan di sebuah benteng bernama  Watih. Harta benda disimpan di benteng Sulaim. Sementara persediaan makanan dan pasukan perang yang jumlahnya ribuan itu menempati benteng lain. Bahkan Yahudi Madinahpun melecehkan kemampuan pasukan Islam melumpuhkan Yahudi Khaibar. Namun bagi para sahabat kemenangan bukanlah banyak atau sedikitnya jumlah pasukan atau canggih tidaknya peralatan. Kemenangan adalah pertolongan Allah, Sang Penguasa Langit dan Bumi.

“Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala-bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan) mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(QS.Ali Imran(3):126).

“Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”.(QS.Al-Baqarah(2):249).

Mulanya Rasulullah menempatkan Abu Bakar ra sebagai pemegang panji. Namun pasukan ini tidak berhasil membobol pertahanan Yahudi. Kemudian Rasulullah mengutus Umar bin Khattab ra untuk menggantikan Abu Bakar. Tidak berhasil juga. Akhirnya Rasulullah memerintahkan Ali bin Abu Thalib ra  untuk keluar.

“ Dimana Ali?”, tanya Rasulullah ketika Ali tidak dilihatnya diantara para sahabat.

“ Wahai Rasulullah, Ali sedang sakit mata”, jawab para sahabat.

«  Panggil dia », perintah Rasulullah.

Setelah Ali tiba dengan mengucap doa, Rasulullah segera meniup mata Ali yang sedang sakit itu dengan kedua ludah beliau. Seketika itu sembuhlah mata Ali. Allahuakbar ..

Kemudian Rasulullah menyerahkan panji perang kepada Ali.

“ Wahai Rasulullah, apakah aku harus memerangi mereka sampai mereka menjadi seperti kita ( Muslim) ?”, tanya Ali.

“ Kerjakanlah ! Tetapi jangan tergesa-gesa. Tunggu sampai engkau tiba di halaman mereka. Setelah itu, ajaklah mereka memeluk Islam dulu dan beritahukan kepada mereka kewajiban-kewajiban apa yang harus mereka lakukan terhadap Allah. Demi Allah, jika Allah memberi hidayah kepada seorang diantara mereka melalui engkau, itu lebih baik daripada engkau memperoleh nikmat berupa unta merah », tegas Rasulullah.

( Unta merah bagi masyarakat Mekah ketika itu adalah suatu dambaan).

Begitulah prinsip perang dalam Islam. Perang bukan cara mendapatkan kemenangan dan kemegahan. Perang adalah hal terakhir yang dilakukan ketika orang tetap berkeras menolak menyembah Sang Khalik. Itupun bila mereka selalu menghalangi dan menghambat kemajuan Islam. Dan setelah dikalahpun tidak ada paksaan bagi mereka untuk berpindah agama selama mereka mau tunduk terhadap hukum Islam tentunya.

Semula pertempuran terjadi kurang seru karena pasukan Yahudi tidak mau keluar dari bentengnya. Mereka tetap bertahan didalam benteng-benteng kokohnya. Hingga akhirnya benteng demi benteng berhasil direbut pasukan Muslimin kecuali benteng Watih dan Sulaim yang merupakan benteng terakhir dan terkuat.  Maka merekapun terpaksa keluar dan perang satu lawan satupun tak dapat dihindarkan lagi.

Pertempuran berkecamuk hebat. Sepuluh hari lamanya benteng Watih dan Sulaim dikepung. Kedua benteng ini akhirnya jatuh setelah pasukan dibawah pimpinan Ali ini berhasil memotong saluran air ke dalam benteng. Penduduk Khaibar terpaksa menyerah dan berbondong-bondong keluar dari benteng pertahanan terakhir mereka. Dengan perasaan suka rela mereka menyerahkan seluruh harta benda yang mereka miliki termasuk ladang-ladang kurma yang luas, selama permohonan mereka untuk diampuni dikabulkan.

Rasulullah mengabulkan permohonan tersebut bahkan juga permohonan mereka agar diberi kesempatan untuk tetap menggarap dan mengelola ladang dan kebun-kebun tersebut dengan imbalan separuh dari hasil panen. “ Dengan syarat, kalau kami hendak mengusir kalian, kalian harus bersedia kami usir”, tegas Rasulullah.

Sungguh, betapa mulianya akhlak Rasulullah. Bandingkan dengan apa yang terjadi ketika Islam dikalahkan di Andalusia, Spanyol. Ketika itu kaum Muslimin dipaksa berpindah agama dan bila menolak mereka akan dibunuh atau diusir tanpa boleh membawa apapun. Begitu juga yang dilakukan pasukan Romawi ketika mereka mengalahkan musuh. Juga fenomena tanah Palestina di abad 21 ini. Kita dapat menyaksikan bagaimana keji dan tidak adilnya perlakuan zionis Israel terhadap kaum Muslimin di negri tersebut. Sungguh ironis

Selanjutnya kaum Yahudi tetap tinggal di Khaibar dan menggarap ladang tersebut. Rasulullah membebaskan mereka menjalankan kepercayaan dan hukum mereka sendiri. Mereka baru diusir dari tanah tersebut pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab. Itupun karena mereka berbuat kesalahan.

Usia perang, Rasulullah tinggal selama beberapa hari di Khaibar. Disinilah beliau menikahi seorang perempuan Yahudi bernama  Shafiyah binti Huyaiy bin Akhtab, putri seorang pemimpin Yahudi yang tertawan. Pembebasannya sebagai tawanan perang menjadi mahar perkawinannya. Ketika itu ia diberi dua pilihan ; dibebaskan kemudian diserahkan kembali kepada kaumnya atau dibebaskan kemudian menjadi isteri Rasulullah. Ternyata Safiyah memilih pilihan kedua yaitu, menjadi isteri Rasulullah.

Diceritakan bahwa Rasulullah melihat bekas kebiruan di pipi Shafiyah, “Apa ini?”Shafiyah menjawab, “Ya Rasul, suatu malam aku bermimpi melihat bulan muncul di Yastrib, kemudian jatuh di kamarku. Lalu aku ceritakan mimpi itu kepada suamiku, Kinanah. Dia berkata, ‘Apakah engkau suka menjadi pengikut raja yang datang dari Madinah?’ Kemudian dia menampar wajahku.”

Shafiyah menceritakan bahwa sejak kecil ia telah mempelajari Taurat, kitab suci nenek moyangnya. Ia mendengar bahwa suatu ketika akan datang seorang Rasul. Itu sebabnya ia tidak ragu bahwa Muhammad adalah rasul yang diceritakan dalam kitab tersebut. Itu pula sebabnya ia ridho menjadi istri beliau meski ayah dan suaminya terbunuh dalam perang yang dipimpin Rasulullah itu.

Sementara dalam riwayat lain, diceritakan bahwa seorang perempuan Yahudi bernama Zainab binti Harith berusaha meracuni Rasulullah. Ia melakukan hal ini karena dendamnya terhadap kematian suaminya yang terbunuh dalam perang Khaibar. Perempuan ini mengirimkan sepotong daging domba yang telah dipoles dengan racun. Rasulullah sempat mencicipinya namun kemudian memuntahkannya kembali. Sebaliknya seorang sahabat bernama Bisyri bin Bara langsung menelannya hingga iapun meninggal dunia, terkena racun yang sebenarnya ditujukan kepada Rasulullah.

Dengan usainya perang Khaibar, setelah ghanimah dibagi-bagikan dengan adil dan semua merasa puas maka usai pula sejarah perlawanan Yahudi terhadap Islam. Pasukan Yahudi lain yang tinggal di Wadil Qura, tidak jauh dari Madinah, memang sempat melakukan pencegatan ketika rombongan Rasulullah melewati wilayah tersebut sepulang dari penaklukkan Khaibar. Namun pasukan Islam berhasil mematahkan serangan tersebut. Sebaliknya Yahudi Taima’ malah mengulurkan tawaran damai tanpa melalui peperangan.

Dalam sebuah riwayat diceritakan ; Suatu ketika dalam perjalanan dari Khaibar menuju Madinah, di salah satu akhir malamnya, Rasulullah bersabda, ‘Siapa orang yang siap menunggu Shubuh untuk kita sehingga kita bisa tidur?’. Bilal berkata, ‘Aku siap menunggu Shubuh untukmu, wahai Rasulullah’.

Maka Rasulullahpun berhenti. Demikian pula para sahabat, kemudian tidur. Sementara itu Bilal mengerjakan shalat beberapa raka’at. Usai shalat, ia bersandar pada untanya untuk menunggu waktu Shubuh, namun rasa kantuk menyerangnya dan ia pun tertidur.

Akibatnya tidak ada seorangpun yang membangunkan Rasulullah dan kaum muslimin melainkan sengatan sinar matahari. Beliau orang yang pertama kali bangun. Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Apa yang engkau perbuat terhadap kita, hai Bilal?’ Bilal menjawab, ‘Wahai Rasulullah, aku tertidur sepertimu’. Rasulullah bersabda, ‘Engkau berkata benar’.

Rasulullah kemudian menuntun untanya tidak terlalu jauh kemudian menghentikannya. Beliau berwudhu diikuti kaum muslimin, lalu menyuruh Bilal mengumandangkan iqamah shalat dan mengerjakan shalat bersama kaum muslimin. Setelah salam, Rasulullah menghadap kepada para sahabat dan bersabda, ‘Jika kalian lupa shalat, shalatlah jika kalian telah ingat karena Allah swt berfirman, ‘Shalatlah karena ingat kepadaKu’.”

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 25 Maret 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

Pada masa Rasulullah saw perang dibagi atas 2 jenis perang, yaitu Ghazwah dan Sariyah. Ghazwah adalah perang yang dipimpin langsung oleh Nabi saw sedangkan Sariyah adalah perang yang dipimpin oleh sahabat atas penunjukan Nabi saw.

Para ulama sirah menyepakati bahwa Sariyah dimulai pada tahun 7 H. Namun dlam shahihnya, Imam Bukhari menuturkan bahwa Sariyah baru dimulai pada tahun 9 H yaitu setelah di tanda-tanganinya Perjanjian Hudaibiyah pada bulan Dzulqa’idah tahun ke 6 H. Pengiriman pasukan kecil ke berbagai daerah sekitar Jazirah Arab dan dipimpin para sahabat ini bertujuan tidak lain hanya mengajak kepada Islam. Perang baru dilakukan bila mereka menolak.

Dengan kata lain, perang hanya boleh diterapkan setelah suatu masyarakat telah diberi kesempatan untuk mengenal ajaran Islam namun kemudian tetap menolak. Jadi perang dalam Islam bukan demi memuaskan nafsu keduniawian untuk memperoleh kemenangan apalagi kebesaran. Baik itu kebesaran perorangan maupun kelompok. Melainkan demi menegakkan hukum dan kehendak Allah swt sebagai pemilik alam semesta ini. Karena kebesaran itu hanya milik Sang Khalik, Al Malikul Kuddus, Allah Azza wa Jalla.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. …”.(QS.Al-Baqarah(2:30).

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”(QS.Adz-Dzariyat(51):56).

Itulah tujuan Allah swt menciptakan manusia di muka bumi ini. Manusia diberi hak untuk menggunakan dan mengolah apapun yang ada di bumi ini namun harus mempertanggung-jawabkannya. Kepada siapa ? Tentu saja kepada Sang Pemilik ! Jadi takut, tunduk dan patuh itu hanya kepada-Nya bukan kepada sesama manusia apapun bangsa, warna dan rasnya.

Perang seperti ini bukan hanya dikenal pada era Rasulullah. Namun juga seluruh utusan-Nya termasuk nabi Sulaiman as, nabi Allah sekaligus raja Yahudi yang memerintah pada tahun 970 SM. Al-Quran menceritakan bagaimana nabi ini menaklukkan kerajaan ratu Bilqis di Afrika yang  menjadikan matahari sebagai sesembahan disamping Allah swt.

“Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, “.(QS.An-Naml(27):24).

“Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina”.(QS.An-Naml(27):37).

Perang dalam Islam adalah demi menegakkan kebenaran yang hakiki, bukan kebenaran palsu. Bukan kebenaran dari sudut pandang manusia karena manusia mempunyai kepentingan dan kebutuhan. Baik itu kepentingan dan kebutuhan pribadi atau keluarga maupun kepentingan dan kebutuhan kelompok. Kebenaran hakiki adalah kebenaran dari Allah swt yang berdiri di luar lingkaran keduniawian.

Rasulullah baru menerapkan Sariyah setelah berdakwah 21 tahun lamanya (12 tahun di Makkah dan 9 tahun di Madinah ). Selama itu umat Islam berperang secara defensive karena diserang. Perang babak baru ini dijalankan setelah umat Islam mempunyai keimanan yang tinggi dan mempunyai cukup kekuatan material. Juga setelah Islam diakui secara resmi oleh Musryik Quraisy yang sebelumnya sangat anti Islam.

Pada periode ini Rasulullah mengirimkan beberapa surat kepada para raja dan pemimpin dunia agar meninggalkan agama kebathilan yang mereka anut dan kembali ke pelukan Islam, kembali ke fitrahnya.

Dari Abu Hurairah RAia berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Tiada anak manusia yang dilahirkan kecuali dengan kecenderungan alamiahnya (fitrah). Maka orang-tuanyalah yang membuat anak manusia itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”.

Namun sebelum itu Rasulullah mendapat informasi bahwa para raja tidak mau membaca surat yang tidak distempel. Untuk keperluan itulah maka Rasulullahpun memerintahkan agar segera dibuatkan stempel khusus bagi Rasulullah. Stempel khusus milik Rasulullah tersebut adalah sebuah cincin yang terbuat dari perak dengan tiga kata terukir di atasnya. Tiga kata tersebut adalah : «  Muhammad Rasul Allah ». Dengan stempel itulah selanjutnya Rasulullah sebagai utusan Allah sekaligus pemimpin tertinggi umat Islam mengirim berbagai surat resmi.

Rasulullah mengirimkan surat untuk pertama kalinya pada tahun 9 H atau 631 M. Dalam satu yang hari yang sama itu Rasulullah, dengan bantuan sahabat terpercaya menulis 6 surat sekaligus. Surat-surat tersebut dibawa para sahabat pilihan yang tidak saja menguasai bahasa kaum yang akan didatanginya tetapi juga mengerti kultur dan kebiasaan mereka.

Berikut utusan-utusan tersebut.

1. Amr bin Umaiyyah adh-Dhamri.

Rasulullah mengutus Amr bin Umaiyah adh-Dhamri menemui Najasyi. Najasyi adalah raja negri Habasyah di benua Afrika. Raja yang nama aslinya  Ashhamah bin Abjar ini dikenal sebagai penganut Nasrani yang taat dan alim. Najasyi sebenarnya telah mendengar kabar bahkan pernah berhubungan dengan masalah ke-Islam-an beberapa tahun sebelum ini. Yaitu ketika Rasulullah mengizinkan beberapa sahabat untuk hijrah ke Habasyah.

Ketika itu Najasyi menerima keterangan Ja’far bin Abu Thalib yang berusaha disudutkan oleh orang-orang Quraisy agar dikembalikan ke Mekah.

(Baca:http://umatterbaik.wordpress.com/2008/11/08/raja-najasyi/).

Oleh karena itu ketika raja yang terkenal bijaksana ini menerima surat dari Rasulullah, ia langsung menyatakan ke-Islam-annya.

“ Seandainya aku bisa datang menemuinya ( Rasulullah saw) niscaya aku berangkat menemuinya”, begitu ucapnya.

Bahkan setelah itu dengan senang hati sang rajapun mengabulkan permintaan Rasulullah agar menjadi wakil dalam pernikahan Rasulullah dengan Ramlah binti Abi Sufyan yang ketika itu memang tinggal di Habasyah. Putri Abi Sufyan ini tinggal di negri Najasyi sejak hijrah pertama kaum Muslimin ke Habasyah. Dalam perantauan inilah suaminya kemudian murtad dan tak lama kemudian meninggal dunia. Rasulullah meminang Ramlah yang dikenal dengan sebutan Ummu Habibah ( ibunya Habibah) sebagai penghargaan atas kesabarannya dalam ber-Islam.

Sayangnya, tidak lama setelah memeluk Islam, raja Najasy ini wafat. Rasulullah kemudian menyelenggarkan shalat ghaib baginya. Ini adalah hal yang sebelumnya belum pernah dilakukan Rasulullah.

2. Dahyah bin Khalifah al-Kalbi.

Rasulullah mengutus Dahyah kepada Heraklius, raja Romawi Timur ( Byzantium).  Heraklius memerintah kerajaan Nasrani ini selama 31 tahun yaitu dari tahun 610 M hingga 641 M. Dibawah pemerintahannya peperangan banyak terjadi. Diantara sekian banyak musuh, kerajaan Sasanid ( Persia) yang dikenal beragama Majusi ( penyembah api) adalah musuh yang paling sengit. Perang bebuyutan antara kedua kerajan besar ini telah berlangsung sejak tahun 602 M, jauh sebelum Heraklius menjadi raja.

Beberapa tahun sebelum Rasulullah mengirimkan utusan kepada raja ini, yaitu pada tahun 626 M, kerajaan Persia berhasil mengalahkan Romawi. Pada saat itulah turun ayat 2 hingga 6 surat Rum. Ayat ini menerangkan bahwa setelah kekalahan tersebut pasukan Romawi akan kembali menang. Ternyata terbukti benar, 2 tahun kemudian Romawi berhasil memaksa Persia bertekuk lutut hingga akhirnya kerajaan ini runtuh untuk selamanya. Padahal ketika itu Konsantinopel, ibu kota Romawi Timur, nyaris direbut Persia.

“Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). …”. QS.Ar-Rum(30:2-4).

Namun kemenangan ini hanya sesaat karena beberapa tahun kemudian yaitu pada tahun 634 M, 2 tahun setelah wafatnya Rasulullah, pasukan Islam dibawah khalifah Abu Bakar ra berhasil menaklukkan Persia yang baru saja direbut Romawi itu. Bahkan Syria, Palestina dan Mesir yang tadinya berada dibawah Romawipun jatuh ke tangan Muslim.

“ Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahu”’.(QS.Ar-Rum(30:4-6).

Dahyah menyampaikan surat Rasulullah kepada Heraklius melalui gubernur Bashra. Surat tersebut bunyinya adalah sebagai berikut :

“Dari Muhammad Rasul Allah kepada Heraklius raja Romawi. Keselamatan atas orang yang hidup mengikuti hidayah Ilahi. Amma ba’du. Anda kuajak supaya memeluk Islam. Peluklah Islam anda akan selamat dan Allah akan melimpahkam dua kali lipat imbalan pahala kepada Anda. Akan tetapi jika anda menolak, anda akan memikul dosa para petani ( rakyat). Dan «  Wahai Ahli Kitab, marilah kita bersatu kata, antara kalian dan kami bahwa kita tidak akan bersembah sujud selain kepada Allah dan bahwa kita tidak akan menjadikan siapapun diantara kita sendiri Tuhan-Tuhan selain Allah. Apabila mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka «  Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Mukmin ». ( HR Bukhari Muslim).

Usai membaca surat Rasulullah, Heraklius memerintahkan para menterinya agar mencari orang yang dapat dipercaya untuk memberikan informasi mengenai sifat-sifat Rasululah.  Kebetulan Abu Sufyan sedang berada di kota tersebut dalam rangka urusan dagangnya. Tak lama kemudian, dibantu seorang penterjemah, terjadilah percakapan antara keduanya.

Di kemudian hari, setelah memeluk Islam, Abu Sufyan mengisahkan tanggapan Heraklius atas percakapan tersebut.

“Aku bertanya kepadamu tentang silsilah keluarganya dan kau menjawab dia adalah keturunan bangsawan terhormat. Nabi-nabi terdahulu pun berasal dari keluarga terhormat di antara kaumnya.
Aku bertanya kepadamu apakah ada di antara keluarganya yang menjadi nabi, jawabannya tidak ada. Dari sini aku menyimpulkan bahwa orang ini memang tidak dipengaruhi oleh siapa pun dalam hal kenabian yang diikrarkannya dan tidak meniru siapa pun dalam keluarganya.

Aku bertanya kepadamu apakah ada keluarganya yang menjadi raja atau kaisar. Jawabannya tidak ada. Jika ada leluhurnya yang menjadi penguasa, aku beranggapan dia sedang berusaha mendapatkan kembali kekuasaan leluhurnya.

Aku bertanya kepadamu apakah dia pernah berdusta dan ternyata menurutmu tidak pernah. Orang yang tidak pernah berdusta kepada sesamanya tentu tidak akan berdusta kepada Allah.
Aku bertanya kepadamu mengenai golongan orang-orang yang menjadi pengikutnya dan menurutmu pengikutnya adalah orang miskin dan hina. Demikian pula halnya dengan orang-orang terdahulu yang mendapat panggi
lan kenabian.

Aku bertanya kepadamu apakah jumlah pengikutnya bertambah atau berkurang. Jawabanmu, terus bertambah. Hal ini juga terjadi pada iman sampai keimanan itu lengkap. Aku bertanya kepadamu apakah ada pengikutnya yang meninggalkannya setelah menerima agamanya dan menurutmu tidak ada. Itulah yang terjadi jika keimanan sejati telah mengisi hati seseorang. Aku bertanya kepadamu apakah dia pernah ingkar janji dan menurutmu tidak pernah. Sifat dapat dipercaya adalah ciri kerasulan sejati.

Aku bertanya kepadamu apakah engkau pernah berperang dengannya dan bagaimana hasilnya. Menurutmu engkau berperang dengannya, kadang engkau yang menang dan kadang dia yang menang dalam urusan duniawi. Para nabi tidak pernah selalu menang, tetapi mereka mampu mengatasi masa-masa sulit perjuangan, pengorbanan dan kerugiannya sampai akhirnya mereka memperoleh kemenangan.

Aku bertanya kepadamu apa yang diperintahkannya, engkau menjawab dia memerintahkanmu untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya, serta melarangmu untuk menyembah berhala, dan dia menyuruhmu shalat, bicara jujur, serta penuh perhatian. Jika apa yang kaukatakan itu benar, dia akan segera berkuasa di tempat aku memijakkan kakiku saat ini.

Aku tahu bahwa orang ini akan lahir, tetapi aku tidak tahu bahwa dia akan lahir dari kaummu (orang Arab). Jika aku tahu aku bisa mendekatinya, aku akan pergi menemuinya. Jika dia ada di sini, aku akan membasuh kedua kakinya dan agamanya akan menguasa tempat dua telapak kakiku!”

Selanjutnya, Heraklius berkata kepada Dihyah Al-Kalbi, “Sungguh, aku tahu bahwa sahabatmu itu seorang nabi yang akan diutus, yang kami tunggu-tunggu dan kami ketahui berita kedatangannya dalam kitab kami. Namun, aku takut orang-orang Romawi akan melakukan sesuatu kepadaku. Kalau bukan karena itu, aku akan mengikutinya!”

Untuk membuktikan perkataannya tersebut, Heraklius memerintahkan orang-orangnya untuk mengumumkan, “Sesungguhnya kaisar telah mengikuti Muhammad dan meninggalkan agama Nasrani!” Seluruh pasukannya dengan persenjataan lengkap serentak menyerbu ke dalam ruangan tempat Kaisar berada, lalu mengepungnya.

Kemudian Kaisar Romawi itu berkata, “Engkau telah melihat sendiri bagaimana bangsaku. Sungguh, aku takut kepada rakyatku!”

Heraklius membubarkan pasukannya dengan menyuruh pengawalnya mengumumkan berita, “Sesungguhnya kaisar lebih senang bersama kalian. Tadi ia sedang menguji kalian untuk mengetahui kesabaran kalian dalam agama kalian. Sekarang pergilah!”

Mendengar pengumuman tersebut, bubarlah pasukan yang hendak menyerang Kaisar tadi. Sang Kaisar pun menulis surat untuk Rasulullah saw yang berisi,“Sesungguhnya aku telah masuk Islam.” Kaisar juga menitipkan hadiah beberapa dinar kepada Rasulullah saw.

Ketika Dihyah menyampaikan pesan Raja Heraklius kepada Rasulullah saw, beliau berkata, “Musuh Allah itu dusta! Dia masih beragama Nasrani”. Rasulullah saw pun kemudian membagi-bagikan hadiah dari raja tadi kepada kaum muslimin.

3. Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi.

Abdullah diutus Rasulullah saw agar menyampaikan surat kepada Kisra, raja Persia. Surat tersebut berisi ajakan agar mau memeluk Islam. Kisra adalah sebutan atau gelar bagi para raja negri yang sekarang ini dinamakan Iran. Ketika itu penduduk negri mayoritas menganut kepercayaan Majusi ( penyembah api) dan penyembah berhala. Itu sebabnya Rasulullah mengajak mereka agar kembali ke jalan yang benar.

Namun belum juga surat selesai dibaca sang raja telah menyobek-sobeknya. Menanggapi pengaduan tersebut Rasulullah hanya berkata : “Semoga Allah merobek-robek kerajaannya”.

Selanjutnya, dengan geram kemudian ia menulis surat kepada gubernur Yaman agar segera menangkap Rasulullah. Maka berangkatlah dua utusan ke Madinah. Rasulullah sendiri yang menyambut utusan gubernur Yaman tersebut. Dengan tersenyum Rasulullah bersabda : “ Kembalilah dulu hari ini. Besok saja kalian menghadapku karena aku ingin mengabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang aku inginkan”.

Keesokan harinya,kedua utusan tersebut menghadap kembali. “ Sampaikan kepada gubernur kalian bahwa Rabbku telah membunuh tuannya, Kisra, pada malam ini, tepatnya enam jam yang lalu”, sambut Rasulullah tenang.

Ibnu Sa’ad berkata, “ Yaitu pada malam selasa, 10 Jumadil ‘Ula tahun kesembilan. Allah menggerakkan Syirawaih, anak Kisra, untuk membunuhnya”. Akhirnya, kedua orang itu kembali menemui Badzan, sang gubernur, guna menyampaikan berita ini. Selanjutnya Badzan bersama anak buahnyapun masuk Islam.

4. Harits bin Umair al-Adzi.

Rasulullah mengutus Harits bin Umair al-Adzi kepada Syurabil bin Amr al-Ghassani, penguasa Bushra. Namun pemimpin ini menolak bahkan kemudian mengikat serta membunuh Harits. “ Tidak ada utusan Rasulullah saw yang dibunuh selain al-Harits bin Umair al-Adzi”.

Rasulullah juga mengutus beberapa utusan kepada para pemimpin Arab di berbagai wilayah. Diantara mereka ada yang menolak ada yang menerima. Tetapi sebagian besar menerima.  Khalid bin Walid, panglima Quraisy yang di kemudian hari mendapat julukan Saifullah al-Maslul ( pedang Allah yang terhunus) dan selalu menang dalam pertempuran adalah salah satu diantaranya.

Rasulullah begitu berbahagia melihat masuknya Khalid. Karena Khalid adalah seorang panglima perang yang amat disegani baik musuh maupun anak buahnya. Dengan masuknya Khalid ke jajaran Islam diharapkan ia mampu menarik sebanyak mungkin pengikut. Menurut riwayat ia masuk Islam bersamaan dengan Amr bin Ash, panglima perang yang di kemudian hari menaklukkan Baitul Maqdis dan Mesir dari cengkeraman Romawi.

( Youtube  Surat2 asli Rasulullah saw:

http://www.youtube.com/watch?v=JB5R1a4bSUM&NR=1&feature=fvwp ).

Paris, 4 April 2011.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »