Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Kisah Keteladanan Rasullulah’ Category

Logo Muhammad sawPara sahabat sangat mencintai dan menghormati Nabi Muhammad SAW, mereka dapat menjaga sikap dan ahklak di hadapan Rosululloh SAW. Namun ada salah seorang sahabat bernama Nu’man bin Amru. Seluruh penduduk kota Madinah mengenal betul siapa Nu’man bin Amru. Pribadinya yang konyol suka bercanda dan mengerjai orang. kadang bercandanya Nu’man sangat keterlaluan.

Para sahabat sudah sering dikerjai oleh kekonyolan Nu’man ini. Bahkan Rosulullohpun diperlakukan dengan tidak hormat oleh Nu’man. Bedanya kalau para sahabat marah begitu dirinya dikerjai oleh kekonyolan Nu’man namun Rosululloh Saw tidak pernah marah akan perlakukan Nu’man tersebut.

Berulangkali para sahabat menasehati Nu’man agar tidak berbuat konyol kepada Rosululloh, karena Rosululloh adalah kekasih Alloh yang harus dihormati dan di muiakan. Tetap saja Nu’man selalu melakukan kekonyolan kepada Rosululloh dan sedikitpun nabi tidak marah kepada Nu’man. Bahkan Rosul membimbing Nu’man untuk meninggalkan sikap mengerjai orang.

Suatu hari dikota Madinah lewatlah pedagang madu yang menjajakan dagangannya. Sudah beberapa hari ini dagangannya tidak ada yang membeli. Pedagang madu tersebut begitu putus asa bercampur kesal. Wajahnya terlihat pucat, bajunya lusuh. Melihat hal itu Nu’man merasa ibah hatinya. Nu’man berniat menolongnya untuk membeli madu tersebut namun dia tidak memiliki uang.

Akhirnya muncullah sifat kekonyolannya untuk mengerjai seseorang. Dia panggil pedagang madu.

”Pak, sahabatku ingin membeli madu dan itu rumahnya”, sambil menunjuk rumah Rosululloh SAW. Lalu Nu’man mengetuk pintu rumah Rosullulloh sambil membawa madu. Rosulpun mempersilahkan Numan untuk masuk kedalam.

“Ya Rosul ini aku bawakan madu untukmu, sebagai hadiah dariku” kata Nu’man.

Setelah memberikan madu tersebut Numan pun pamit untuk pulang. Nu’man lalu menemui pedagang madu tersebut sambil berkata,

”Maaf saya mau pergi dulu ada urusan penting yang harus saya selesaikan, sahabatku sebentar lagi keluar dan membayar madumu”, lalu bergegas pergi.

Setelah sekian lama menunggu pedagang tersebut kesal, dan mengetuk dengan keras rumah Rosululloh SAW sambil berteriak,

”Wahai penghuni rumah, madu saya belum dibayar !!”.

Tentu saja Rosululloh kaget mendengar teriakan tersebut. Rosululloh tersenyum dan menyadari bahwa dirinya telah dikerjai oleh Nu’man bin Amru. Lalu Rosulpun memberikan uang pembayaran madu kepada si pedagang madu.

Hingga suatu hari Rosululloh bertemu dengan Nu’man bin Amru. Sambil tersenyum menahan tawa Rosul menegur Nu’man,

”Wahai Nu’man apa yang telah kau lakukan pada keluarga Nabi-Mu?”.

Dasar Nu’man seorang yang konyol mendengar teguran dari Rosul hanya nyengir dan berkata,

”Ya Rosululloh, saya tahu kau suka sekali madu. Saya ingin sekali membelikanmu madu dan menghadiahkannya padamu. Tapi waktu iti saya tidak punya uang sama sekali. Jadi saya hanya bisa mengantarkan madu itu ketanganmu. Semoga saya di beri hidayah Alloh atas kebaikan tersebut”, kata Nu’man.

Mendengar jawaban sahabatnya yang konyol tersebut, Rosululloh tidak marah bahkan mendo’akannya.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 26 Maret 2018.

Vien AM.

Diambil dari : https://sachrony.wordpress.com/2008/09/17/kisah-sahabat-rosululloh-yang-konyol/

Advertisements

Read Full Post »

cropped-p1010783.jpgDi Kota Syam (Syiria) ada seorang pendeta Yahudi yang sangat membenci Rasulullah Muhammad Saw. Pendeta tersebut mempunyai sebuah kegiatan kerohanian yang diadakan tiap Sabtu, dan dihadiri puluhan ribu jema’at.

Suatu saat ketika ia sedang mempersiapkan materi yang akan diajarkan, ia menemukan sejarah keagungan Nabi Muhammad saw dalam kitab Taurat yang dibacanya. Semula terdapat delapan tempat dimana sejarah Rasulullah tertulis dalam kitab agungnya orang Yahudi itu. Karena rasa bencinya kepada Rasulullah, ia merobek delapan tempat tersebut.

Pada hari Sabtu berikutnya (pekan kedua) di kesempatan yang sama ia menyiapkan materi kitab Taurat yang akan diajarkan kepada murid-muridnya. Ia kembali menemukan keterangan dalam kitab tersebut yang menjelaskan tentang sejarah Rasulullah saw pada 16 tempat dan semuanya itu juga ia robek. Kemudian pada pekan hari Sabtu berikutnya (pekan ketiga) saat ia mempersiapkan materi untuk pengajian kitab Tauratnya, kembali ia menemukan 24 tempat dalam kitab tersebut yang menceritakan tentang Rasulullah saw dan semuanya pun juga dirobeknya.

Namun apa yang telah ia lakukan membuat ia menjadi penasaran ingin bertemu dengan Rasulullah Muhammad saw. Ia berpikir jarak antara daerahnya (Syam) dan Kota Madinah adalah perjalanan selama 30 hari (menggunakan onta), sehingga perjalanan itu harus meninggalkan kegiatan rutinnya paling tidak 8 kali pertemuan.

Beberapa orang murid mencoba untuk mengingatkan sang pendeta Yahudi tersebut, “Sebaiknya tuan pendeta tidak menemui Muhammad, karena siapapun orang yang bertemu dengannya pasti akan tunduk padanya, kalau nanti anda tunduk kepada Muhammad, lalu siapa yang nantinya memimpin kami ?”. Mendengar nasehat tersebut pendetapun mengurungkan niatnya pergi ke Madinah untuk menemui Muhammad .

Namun karena penasaran, sepekan kemudian sang pendeta kembali mengutarakan keinginannya yang tertunda tersebut.  Tapi kembali murid-muridnya melarangnya. Hal tersebut terulang tiga kali. Hingga akhirnya pendetapun berkata: ”  Atas kebesaran Nabi Musa dan Kitab Taurat saya harap kalian memperkenankan saya bertemu Muhammad”. Dan para muridpun akhirnya merelakan pendetanya pergi menemui Nabi besar Muhammad saw.

Singkat cerita, berangkatlah sang pendeta ke Madinah. 30 hari kemudian, setiba di pintu gerbang kota, sang pendeta berjumpa seorang lelaki tampan, berkulit putih, berbadan tinggi dan berbaju serba putih. Ia mengira bahwa lelaki itu adalah Muhammad, iapun menyapanya : “Assalamu Alaika yaa Muhammad”.

Namun tanpa disangka, lelaki itu tiba-tiba menangis tersedu-sedu begitu mendengar sapaan tersebut. Si pendeta terheran-heran. Tak lama laki-laki itupun mendekati si pendeta dan menanyakan asal sang pendeta “Anda dari mana ?”. “Saya dari tempat yang jauh, dari Syam dan saya ingin bertemu Muhammad” jawab si pendeta.

Mendengar jawaban tersebut, laki-laki itupun segera mengantarkannya ke Masjid Nabawi.
Di depan pintu masjid pendeta yang sudah tak sabar lagi bertemu Rasulullah segera mengucapkan salam “Assalamu’alaikum, Assalamu Alaika Yaa Muhammad”.

Seketika semua sahabat yang berada di dalamnya menangis tersedu-sedu. Ia semakin kaget karena setiap ia mengucapkan salam kepada penduduk Madinah mereka langsung menangis. Ketika suasana masjid makin penuh disesaki isak suara tangis, sahabat Ali bin Abi Thalib segera menemuinya dan terjadilah percakapan :

Ali ra : “ Anda dari mana ?”
Pendeta : “ Saya dari tempat yang jauh, kota Syam”
Ali ra: “Ada keperluan apa anda kemari ?”
Pendeta : “Saya ingin bertemu Muhammad”,
Ali ra : “ Terlambat…! Seminggu yang lalu beliau wafat,”
Pendeta (sambil penuh penyesalan) : “Kalau begitu saya ingin melihat jubahnya!”

Ali ra lalu menyuruh sahabat Bilal bin Rabah untuk mengambilkan jubah Nabi di rumahnya. Sesampai di depan pintu rumah, Bilal berkata “ Wahai Sayyidah Fatimah, ada tamu ingin melihat jubah Rasulullah, saya disuruh sahabat Ali untuk mengambilkan jubah itu untuknya,”.

Sayyidah Fatimah segera membuka lemari tempat jubah disimpan. Putri bungsu Rasulullah itu langsung menangis teringat bau harum tubuh ayahandanya tercinta. Diciuminya jubah tersebut, sebelum beliau berikan kepada Bilal. Bilalpun kemudian menangis sambil membawanya ke masjid Nabawi. Dan begitu Bilal sampai di masjid, semua sahabat yang berada di dalam masjid menangis teringat Rasulullah saw.

Setelah Bilal menyerahkan jubah kepada Ali, Ali segera memberikan jubah tersebut kepada sang pendeta, yang segera menciuminya seraya berkata “ Ternyata benar, dialah utusan Allah, beginilah bau harum Nabi Muhammad saw seperti yang disampaikan dalam kitab Taurat !“.

Dan ketika jubah itu ia hamparkan, ia melihat dua belas tambalan pada jubah tersebut, sesuai dengan apa yang diterangkan dalam kitab Taurat. Sang pendetapun makin yakin bahwa orang yang baru seminggu meninggal dan ditangisi semua orang itu adalah Muhammad yang tertulis dalam kitabnya, dan ia adalah utusan Allah.

syahadat“ Wahai sahabat Ali, bagaimana cara saya bisa masuk Islam ?”, tanya pendeta.

Katakanlah, Asyhadu an Laa Ilaaha Illa Allah, Wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah” jawab Ali, lembut.

Sang pendeta segera mengikuti ucapan Ali ra. Maka resmilah ia menjadi seorang Muslim.

“ Wahai sahabat Ali! Aku ingin berziarah makam Rasulullah Muhammad Saw”, pintanya tak lama setelah ia bersyahadat.

Ali lalu menyuruh sahabat Bilal untuk mengantarkannya ke makam Rasul. Sesampainya di sana sang bekas pendeta mengangkat kedua tangannya seraya berkata :

Yaa Allah.. !  Aku ingin bertemu Nabi Muhammad, namun kini aku sudah terlambat, dan aku ingin agar engkau mempertemukanku dengannya di alam barzakh, mohon matikanlah aku !”.

masjid nabawiTiba-tiba iapun terjatuh dan langsung meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Para sahabat kemudian memakamkan mantan pendeta tersebut di pemakaman  Baqi, tak jauh dari masjid Nabawi dimana Nabi yang tadinya dibencinya itu dimakamkan.

Begitulah Allah berkehendak memberikan hidayah kepada seorang pendeta Yahudi yang sangat membenci Rasulullah saw, melalui ayat-ayat yang tertulis dalam kitab Taurat.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 13 Maret 2017.

Dikutip dari :

http://majelisdzikirtqnkampus.blogspot.co.id/2016/09/sepenggal-kisah-pendeta-yahudi-pembenci.html

Read Full Post »

muhammad sawAda pepatah yang mengatakan “tak kenal, maka tak sayang”. Hal ini juga berlaku dalam hal meneladani nabi-nabi kita yang senantiasa mengajarkan kita kebaikan. Dengan membaca kisahnya, kita dapat meneladani bagaimana sikap dan sifat, serta hikmah di setiap kisahnya. Nah, berikut ini adalah kisah keteladanan nabi kita, yakni Rasulullah Muhammad SAW. Yuk, simak kisah beliau berikut ini.

Suatu pagi Rasulullah mengamati bajunya dengan cermat, bajunya ternyata sudah usang dan perlu diganti, baju yang tidak pernah beristirahat. Meskipun saat itu Rasulullah hanya punya sedikit uang, Nabi Muhammad SAW dengan rida pergi ke pasar dengan hanya berbekal 8 dirham untuk berbelanja.

Di tengah perjalanannya menuju pasar, Rasulullah menemukan seorang wanita yang tengah menangis. Setelah ditanyakan kepada wanita itu kenapa dia menangis, wanita tersebut bilang bahwa dia kehilangan uang yang dia bawa. Mendengar hal itu, Rasulullah memberikan wanita itu uangnya sebanyak dua dirham, dan beliau berhenti sebentar untuk menenangkan wanita itu.

Setelah itu, Rasulullah kembali bergegas melanjutkan perjalanannya menuju pasar yang semakin ramai. Di sepanjang lorong pasar itu banyak sekali masyarakat yang menegur dan menyampaikan salam dengan hormat kepada beliau, beliau juga selalu menjawab dan memberikan mereka salam. Sesampainya di pasar, beliau langsung menuju tempat di mana penjual pakaian berada, lalu dibelinya sepasang baju dengan harga empat dirham.

Selepas membeli pakaian, di perjalanan pulang beliau bertemu dengan seorang tua yang compang-camping pakaiannya, dan benar-benar tidak layak untuk dikenakan. Orang tua tersebut dengan iba memohon kepada Rasulullah agar diberikan sepotong baju untuk dikenakannya. Rasulullah yang memang berhati lembut dan pengasih itu tidak tahan melihat keadaan orang tua tersebut, lalu diberikannyalah baju yang baru saja beliau beli. Rasulullah kemudian bergegas kembali ke pasar dan membeli sebuah pakaian lagi seharga 2 dirham, tentu saja kualitasnya lebih jelek dan kasar daripada baju sebelumnya. Namun, Rasulullah tetap pulang dengan gembira membawa pakaian barunya itu.

Tidak lama beliau berjalan pulang keluar pasar, ditemuinya lagi wanita yang menangis tadi, sekarang wanita itu terlihat kebingungan dan gelisah. Rasulullah lalu menghampirinya, dan bertanya kepada wanita itu. Wanita itu menjawab:

Ya Rasulullah, hamba merasa takut untuk pulang. Hamba terlambat pulang dari batas waktu yang majikan hamba berikan, hamba takut majikan hamba akan marah jika hamba pulang nanti.”

Mendengar hal tersebut, Rasulullah lalu menyatakan akan mengantarkannya. Wanita itu kemudian berjalan pulang, dan Rasulullah mengikutinya dari belakang. Hati wanita tersebut merasa tenang karena Rasulullah pasti akan melindungi dirinya. Wanita itu yakin majikannya akan memaafkannya karena kepulangannya, atau bahkan mungkin akan berterima kasih karena membawa kebaikan bersama dengan kedatangan Nabi dan Rasul mereka.

Sampailah beliau ke perkampungan kaum Anshar, dan segera menuju rumah majikan wanita tersebut.

Assalamu’alaikum warahmatullah” sapa beliau kepada orang-orang yang berada di rumah tersebut.

Namun, mereka semua diam tidak menjawab salam itu padahal mereka mendengarnya. Sebenarnya hati mereka diliputi rasa bahagia karena mendengar kedatangan Rasulullah, mereka merasa salam Rasulullah adalah berkah, dan mereka masih ingin mendengarkannya lagi. Ketika tidak terdengar jawaban, Rasulullah memberi salam lagi. Namun tetap tidak terdengar jawaban apapun, lalu Rasulullah mengulang salam untuk yang ketiga kalinya dengan suara agak lantang. Terdengar suara serentak menjawab salam beliau: “Wa’alaikumsalam warahmatullah.”.

Rasulullah merasa sangat heran dengan semua itu, beliau kemudian menanyakan pada mereka kenapa sebabnya. Lalu mereka mengatakan: Tidak ya Rasulullah. kami telah mendengar sejak tadi. Kami memang sengaja, kami ingin mendapat salam lebih banyak.”

Kemudian Rasulullah melanjutkan: Pembantumu ini mengatakan bahwa dia terlambat pulang, dan tidak berani pulang sendirian. Sekiranya dia harus menerima hukuman, akulah yang akan menerima hukuman sebagai penggantinya.”

Mendengar hal itu membuat mereka semua terkejut, kasih sayang serta budi pekerti Rasulullah begitu murni dan indah di hadapan mereka. Beliau ikhlas berjalan cukup jauh hanya untuk mengantarkan seorang hamba sahaya yang takut dimarahi oleh majikannya karena terlambat pulang, bahkan sampai memohonkan maaf baginya. Karena harunya, mereka pun berkata:

“Kami telah memaafkannya, bahkan berniat memerdekakannya saat ini juga. Kedatangannya kemari bersama Anda karena kami semata-mata mengharapkan rida Allah SWT.”

Budak itu merasa begitu senang, dan bersyukur atas karunia Allah SWT dan kebebasannya berkat Rasulullah. Setelah urusan tersebut selesai, Rasulullah SAW kemudian pulang dengan hati gembira. Beliau sibuk memikirkan peristiwa seharian itu, hari yang penuh berkah dan karunia Allah SWT. Rasulullah pun berkata:

Belum pernah ku temui berkah dan keanehan angka delapan sebagaimana hari ini. Uang delapan dirham yang sedikit ini mampu mengamankan seseorang dari ketakutan, dua orang yang membutuhkan, serta memerdekakan seorang hamba sahaya”.

Demikianlah kisah keteladannan Nabi Muhammad SAW. Dari kisah keteladanan Nabi di atas, kita diajarkan bagaimana meneladani Rasulullah dalam sikap dan sifat kesederhanaan, pandai bersyukur, mengasihi antara sesama, dan saling membantu meski di saat sulit sekalipun. Sekecil apapun kebaikan yang kita perbuat, sekecil apapun kemampuan yang kita sangka, ternyata bisa membawa manfaat yang besar bagi orang lain, dan tentunya menjadi amalan saleh bagi kita semua.

Read Full Post »

“Wahai saudaraku! Jangan engkau dekati Muhammad itu. Dia orang gila. Dia pembohong. Dia tukang sihir. Jika engkau mendekatinya, engkau akan dipengaruhinya dan engkau akan menjadi seperti dia,” kata seorang pengemis buta Yahudi berulang-ulang kali di satu sudut pasar di Madinah pada setiap pagi sambil tangannya menadah meminta belas orang yang lalu-lalang.

Orang yang lalu-lalang di pasar itu ada yang menghulurkan sedekah kerana kasihan malah ada juga yang tidak mempedulikannya langsung.

Pada setiap pagi, kata-kata menghina Rasulullah SAW itu tidak lekang daripada mulutnya seolah-olah mengingatkan kepada orang ramai supaya jangan terpedaya dengan ajaran Rasulullah SAW. Seperti biasa juga, Rasulullah SAW ke pasar Madinah. Apabila baginda sampai, baginda terus mendapatkan pengemis buta Yahudi itu lalu menyuapkan makanan ke mulutnya dengan lembut dan bersopan tanpa berkata apa-apa.

Pengemis buta Yahudi yang tidak pernah bertanya siapakah yang menyuapkan itu begitu berselera sekali apabila ada orang yang baik hati memberi dan menyuapkan makanan ke mulutnya.

Perbuatan baginda itu dilakukannya setiap hari sehinggalah baginda wafat. Sejak kewafatan baginda, tidak ada sesiapa yang sudi menyuapkan makanan ke mulut pengemis itu setiap pagi.

Pada satu pagi, Saidina Abu Bakar ra pergi ke rumah anaknya, Siti Aisyah yang juga merupakan isteri Rasulullah SAW untuk bertanyakan sesuatu kepadanya.

“Wahai anakku Aisyah, apakah kebiasaan yang Muhammad lakukan yang aku tidak lakukan?”, tanya Saidina Abu Bakar ra sebaik duduk di dalam rumah Aisyah.

“Ayahandaku, boleh dikatakan apa sahaja yang Rasulullah lakukan, ayahanda telah lakukan kecuali satu,” beritahu Aisyah sambil melayan ayahandanya dengan hidangan yang tersedia.

“Apakah dia wahai anakku, Aisyah?”

“Setiap pagi Rasulullah akan membawa makanan untuk seorang pengemis buta Yahudi di satu sudut di pasar Madinah dan menyuapkan makanan ke mulutnya. Sejak pemergian Rasulullah, sudah tentu tidak ada sesiapa lagi yang menyuapkan makanan kepada pengemis itu,” beritahu Aisyah kepada ayahandanya seolah-olah kasihan dengan nasib pengemis itu.

“Kalau begitu, ayahanda akan lakukan seperti apa yang Muhammad lakukan setiap pagi. Kamu sediakanlah makanan yang selalu dibawa oleh Muhammad untuk pengemis itu,” beritahu Saidina Abu Bakar ra kepada anaknya.

Pada keesokan harinya, Saidina Abu BAkar ra membawakan makanan yang sama seperti apa yang Rasulullah SAW bawakan untuk pengemis itu sebelum ini. Setelah puas mencari, akhirnya beliau bertemu juga dengan pengemis buta itu. Saidina Abu Bakar ra segera menghampiri dan terus menyuapkan makanan ke mulut pengemis itu.

“Hei… Siapakah kamu? Berani kamu menyuapku?” Pengemis buta itu mengherdik Saidina Abu Bakar ra. Pengemis buta itu terasa lain benar perbuatan Saidina Abu Bakar ra itu seperti kebiasaan.

“Akulah orang yang selalu menyuapmu setiap pagi,” jawab Saidina Abu Bakar ra sambil memerhatikan wajah pengemis buta itu yang nampak marah.

“Bukan! Kamu bukan orang yang selalu menyuapku setiap pagi. Perbuatan orang itu terlalu lembut dan bersopan. Aku dapat merasakannya, dia terlebih dahulu akan menghaluskan makanan itu kemudian barulah menyuap ke mulutku. Tapi kali ini aku terasa sangat susah aku hendak menelannya,” balas pengemis buta itu lagi sambil menolak tangan Saidina Abu Bakar ra yang masih memegang makanan itu.

“Ya, aku mengaku. Aku bukan orang yang biasa menyuapmu setiap pagi. Aku adalah sahabatnya. Aku menggantikan tempatnya,” beritahu Saidina Abu Bakar ra sambil mengesat air matanya yang sedih.

“Tetapi ke manakah perginya orang itu dan siapakah dia?”, tanya pengemis buta itu.

“Dia ialah Muhammad Rasulullah. Dia telah kembali ke rahmatullah. Sebab itulah aku yang menggantikan tempatnya,” jelas Saidina Abu Bakar ra dengan harapan pengemis itu berpuas hati.

“Dia Muhammad Rasulullah?”, kata pengemis itu dengan suara yang terkedu.

“Mengapa kamu terkejut? Dia insan yang sangat mulia,” beritahu Saidina Abu Bakar ra. Tidak semena-mena pengemis itu menangis sepuas-puasnya. Setelah agak reda, barulah dia bersuara.

“Benarkah dia Muhammad Rasulullah?”, pengemis buta itu mengulangi pertanyaannya seolah-olah tidak percaya dengan berita yang baru didengarnya itu.

“Ya benar. Kamu tidak percaya?”

“Selama ini aku menghinanya, aku memfitnahnya tetapi dia sedikit pun tidak pernah memarahiku malah dia terus juga menyuap makanan ke mulutku dengan sopan dan lembut. Sekarang aku telah kehilangannya sebelum sempat memohon ampun kepadanya,” ujar pengemis itu sambil menangis teresak-esak.

“Dia memang insan yang sangat mulia. Kamu tidak akan berjumpa dengan manusia semulia itu selepas ini kerana dia telah pun meninggalkan kita,” beritahu Saidina Abu Bakar ra.

“Kalau begitu, aku mahu kamu menjadi saksi. Aku ingin mengucapkan kalimah syahadah dan aku memohon keampunan Allah,” ujar pengemis buta itu.

Selepas peristiwa itu, pengemis itu telah memeluk Islam di hadapan Saidina Abu Bakar ra. Keperibadian Rasulullah SAW telah memikat jiwa pengemis itu untuk mengakui ke-Esaan Allah..

 

 

Read Full Post »