Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Perjalanan Sang Khalifah 2 – The True Game’ Category

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu”. (Terjemah QS.Al-Ahzab(33):21).

Sungguh beruntung kita, kaum Muslimin, karena Allah SWT telah menganugerahkan kita suatu buku petunjuk, yaitu Kitabullah, Al-Quranul-Karim. Kitab ini adalah kumpulan wahyu yang diturunkan Allah SWT dengan perantaraan malaikat Jibril selama kurang dari 23 tahun kepada nabi-Nya yang ummi, Muhammad SAW. Rasulullah ummi yaitu tidak mengenal dan tidak pernah belajar membaca dan menulis karena memang kondisi saat itu tidak begitu memerlukan kepandaian baca-tulis.

Namun demikian beliau adalah seorang yang amat bijaksana. Beliau adalah seorang yang dikenal luas sebagai seorang yang ber-akhlak mulia sejak jauh sebelum era kerasulan. Beliau adalah seorang yang amat bersahaja juga rendah hati. Sejak muda masyarakat sekitarnya telah sering menitipkan amanah kepada beliau karena mereka amat mempercayainya.

Menurut Ibnu Hisyam, salah seorang penulis kitab-klasik Shirah Nabawiyah ternama yang termasuk orang pertama yang menulis sejarah kehidupan Rasulullah yang hidup pada sekitar tahun 1100 M, Ka’bah sebelum zaman Islam telah mengalami pemugaran selama 4 kali. Pemugaran ke 4 terjadi ketika Rasulullah berusia 35 tahun. Ketika itu beliau belum diangkat menjadi rasul. Pada mulanya pemugaran berjalan lancar, masing-masing kelompok kabilah bekerja menurut pembagian tugas yang telah disepakati bersama. Demikian pula Rasulullah, beliau turut bekerja membantu paman beliau, Al Abbas bin Abdul–Mutthalib.

Namun setelah pemugaran sampai pada tahap peletakkan kembali batu Hajar Aswad terjadi perselisihan. Masing-masing kabilah merasa lebih berhak untuk melasanakan pekerjaan tersebut. Perselisihan berkembang menjadi pertikaian hingga nyaris terjadi pertumpahan darah. Hal ini terus memanas hingga berhari-hari. Beruntung akhirnya suasana mendingin setelah semua pihak mau berkumpul dan berembug. Diputuskan bahwa siapapun yang pertama kali memasuki pintu Ka’bah, ia berhak memutuskan perkara.

Tak lama kemudian, dalam suasana tegang tampak Rasulullah berjalan menuju pintu Ka’bah. Serentak merekapun berucap : “Nah, dialah Al-Amin (orang yang terpercaya), kita rela dan puas menerima keputusannya.!”. Kemudian setelah Rasulullah mengetahui duduk perkaranya, maka beliaupun meminta selembar kain, lalu setelah kain dihamparkan beliau meletakkan Hajar-Aswad ditengah-tengah kain tersebut. Kemudian beliau berujar :” Setiap kabilah hendaknya memegang pinggiran kain, lalu angkatlah bersama-sama!”. Setelah kain didekatkan ketempat penyimpanan Hajar-Aswad kemudian beliau mengangkat benda tersebut dan meletakkannya pada tempatnya. Dengan cara itu maka berakhirlah perselisihan dan semua pihak merasa puas.

Sifat amanah ini pula yang menjadi daya tarik utama bagi Siti Khadijah ra, istri sekaligus orang pertama yang mengakui ke-rasulan Nabi Muhammad SAW. Ketika itu Siti Khadijah ra sebagai seorang saudagar sedang memerlukan seseorang yang dapat dipercaya membawa barang dagangan untuk dibawa ke negeri Syam. Beliau memang telah lama mendengar bahwa ada seorang pemuda Mekah yang dijuluki Al-Amin.

Demikian pula halnya dengan Abu Bakar Sidik ra, sang Khulafaul Rashidin I. Sejak kecil Abu Bakar telah menjalin persahabatan dengan Muhammad kecil. Ia mengenalnya dengan amat baik. Itu sebabnya ketika sebagian besar orang Quraisy menyangsingkan kebenaran berita Rasulullah mengenai Isra’nya ke Yerusalem sekaligus Miraj’nya ke langit, Abu Bakar ra hanya berkomentar : “Bahkan yang lebih dasyat dari itupun aku pasti mempercayainya“. Ini merupakan sebuah tanda bahwa sejak kecil Muhammad SAW tidak pernah berbohong. Keimanan yang demikian tinggi ini pula yang menyebabkan Abu Bakar mendapat kedudukan yang tinggi, baik disisi Allah SWT maupun disisi Muhammad SAW. Rasulullah bersabda bahwa Abu Bakar adalah satu diantara sepuluh sahabat yang dijanjikan surga oleh Allah SWT.

Akhlak mulia tersebut tidak berubah sedikitpun walaupun beliau kemudian menjadi seorang pemimpin agung yang memiliki pengikut amat banyak dari berbagai kalangan dan lapisan. Anas bin Malik ra berkata: “Para sahabat yang akan berdiri menyambut kedatangan Rasululllah, tidak jadi berdiri ketika tahu bahwa Rasulullah tidak mau dihormati seperti itu”. Padahal bila beliau menghendaki apapun dapat beliau dapatkan.

“Demi Allah, wahai paman! sekiranya mereka letakkan matahari di sebelah kananku dan bulan disebelah kiriku dengan maksud agar aku tinggalkan pekerjaan ini (menyeru mereka kepada agama Allah) sehingga ia tersiar (dimuka bumi) atau aku akan binasa karenanya, namun aku tidak akan menghentikan pekerjaan ini”.

Itu yang diucapkan Muhammad Rasulullah ketika Abu Thalib, sang paman yang selama itu senantiasa melindunginya, menganjurkan agar beliau mau menghentikan syi’ar karena sang paman merasa tak mampu terus menerus melindungi keponakan tercinta karena ia sendiri terus ditekan para pemuka Quraisy. Hal ini menunjukkan betapa kuat dan kokohnya pendirian dan ketakwaan beliau demi terus melanjutkan perintah Allah swt.

Beliau juga adalah seorang yang mudah berkomunikasi dengan siapapun, senantiasa berlaku sopan, lemah-lembut, sabar dan tidak pernah marah walau disakiti. Namun wajah beliau akan berubah merah padam bila melihat atau mendengar kemungkaran atau hak-hak Allah diinjak-injak dan dihina. Ali bin Abi Thalib RA berkata: “Rasulullah tidak pernah marah untuk hal duniawi. Beliau marah karena kebenaran. Tidak seorangpun yang mengetahui kemarahannya. Kemarahannya terhadap sesuatu pasti mendatangkan kemenangan baginya.”

Beliau juga suka dan mau mendengar dan menghargai pendapat orang lain walaupun pendapat itu datang dari bawahannya. Apalagi bila pendapat itu benar dan lebih baik dari pendapat beliau sendiri, beliau bersedia merubah dan mengikuti pendapat tersebut. Rasulullah memang selalu bermusyawarah dalam memutuskan suatu masalah. Beliau tidak suka memaksakan kehendak. Sebagai contoh, ketika dalam perang Uhud sesungguhnya Rasulullah lebih suka menanti musuh di dalam kota (Madinah) namun berhubung sebagian besar sahabat lebih menginginkan menyambut musuh diluar kota maka Rasulullahpun mengurungkan keinginannya tersebut.

Aisyah RA berujar : “Ahlak beliau (Rasulullah) adalah Al-Quran” (HR Abu Dawud dan Muslim).

Yang juga tak kalah pentingnya adalah kecintaan Rasulullah yang begitu besar terhadap umatnya. Pada tahun ke 10 kenabian, Rasulullah pergi berdakwah menuju kota Thaif, sebuah kota di atas bukit tidak berapa jauh dari Mekah. Namun dakwah beliau tidak disambut dengan baik. Beliau bahkan dilempari batu sehingga Rasulullah terpaksa meninggalkan kota tersebut dengan rasa sedih yang amat sangat dan bersembunyi di suatu tempat di Qarn Al-Manazil, kurang lebih 10 km dari Mekah. Ketika itu datanglah malaikat Jibril dan mengabarkan bahwa Allah SWT telah mengutus malaikat gunung guna mengabulkan apa yang dikehendaki Rasulullah.

Wahai Muhammad, katakan apa yang kau mau. Jika engkau mau, akan aku timpakan kepada mereka Al-Akhsyabain (yakni gunung Abu Qubais dan gunung Qu’ayqa’an)”. Namun apa jawab Rasulullah ? “Aku justru berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka anak keturunan mereka yang menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun”.

Demikian pula ketika Rasulullah SAW tengah menghadapi sakratul maut 12 tahun kemudian. Beliau sempat bergumam: “Ummahku … ummahku … ingatlah yang menyebabkan durhakanya umat Yahudi adalah kaum perempuannya ”. Hal ini menggambarkan betapa Rasulullah amat peduli dan senantiasa memikirkan kelanjutan nasib umatnya. Beliau begitu khawatir jikalau umatnya kelak tersesat padahal beliau sendiri tengah dalam keadaan sakit keras. Begitu besarnya rasa cinta, kasih dan tanggung-jawab beliau terhadap kita, umat Islam.

Berikut pendapat sejumlah orang besar Barat mengenai Rasulullah saw :

1. Napoleon Bonaparte (Napoleon I), pendiri Empirium Perancis (1769-1821 M).

“Musa telah menerangkan adanya Tuhan kepada bangsanya, Yesus kepada dunia Romawi dan Muhammad kepada seluruh dunia…Enam abad sepeninggal Yesus bangsa Arab adalah bangsa penyembah berhala, yaitu ketika Muhammad memperkenalkan penyembahan kepada Tuhan yang disembah oleh Ibrahim, Ismail, Musa dan Isa. Sekte Arius dan sekte-sekte lainnya telah mengganggu kesentosaan Timur dengan jalan membangkit-bangkitkan persoalan tentang Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Roh Kudus. Muhammad mengatakan, tidak ada tuhan selain Allah yang tidak berbapa, tidak beranak dan “Trinitas” itu kemasukkan ide-ide sesat…Muhamad seorang bangsawan, ia mempersatukan semua patriot. Dalam beberapa tahun kaum Muslimin dapat menguasai separoh bola bumi…Muhammad memang seorang manusia besar. Sekiranya revolusi yang dibangkitkannya itu tidak dipersiapkan oleh keadaan, mungkin ia sudah dipandang sebagai “dewa”. Ketika ia muncul bangsa Arab telah bertahun-tahun terlibat dalam berbagai perang saudara”…..

(hal 105 dari “Bonaparte et L’Islam” oleh Cherfils).

2. Alphonso De Lamartine, sastrawan kenamaan Perancis (1790 – 1869 M).

“Tidak ada orang selain dia yang dapat menyelesaikan revolusi besar dan kekal di dunia. Sebab dalam waktu dua abad setelah kemunculan Muhammad, Islam menguasai seluruh tanah Arabia, menaklukan Persia, Khurasan, Transoxsania, India Barat, Syria, Mesir, Abesinia, seluruh Afrika Utara yang dikenal pada waktu masa itu, pulau-pulau di Laut Tengah, Spanyol dan sebagian Perancis. Lelaki itu tidak hanya mampu menggerakkan empirium-empirium dan dinasti-dinasti; tetapi iapun sanggup menghimpun berjuta-juta manusia di sepertiga bagian dunia yang dikenal orang pada masa hidupnya……Atas dasar sebuah kitab yang setiap hurufnya menjadi ketentuan hukum ia menciptakan kebangsaan spiritual yang mempersatukan manusia dari berbagai ras dan bahasa. Ia meninggalkan kepada kita karateristik kebangsaan muslimin yang tidak dapat dihapus dan kebencian akan tuhan-tuhan palsu serta kecintaan kepada Tuhan Yang Mha Esa lagi Ghaib…”.

(hal 276 – 277 dari “Histoire de la Turqui “jilid II oleh dirinya sendiri).

3. Goethe , filsuf Jerman. (1794 – 1832 M).

“Muhammad membangunkan Persia yang sedang tidur, menginsyafkan Rumawi Timur (Byzantium) dan kaum Nasrani di negeri-negeri Timur, agar mereka tidak terus-menerus asyik berdebat dan berpecah-belah akibat filsafat shopites Yunani. Tidak dapat disangkal lagi bahwa para Nabi di dunia ini serupa dengan kekuatan-kekuatan raksasa yang terdapat di alam wujud, yaitu kekuatan-kekuatan yang senantiasa mendatangkan kebajikan bagi umat manusia seperti matahari, hujan dan angin yang menghidupkan tanah kemudian membuat tanah yang tandus dan gersang menjadi penuh dengan tanam-tanaman berwarna hijau. Manusia wajib mengakui kenabian mereka. Tanda-tanda yang membuktikan kebaikan mereka dapat kita lihat dari kenyataan bahwa mereka itu hidup dengan keyakinan, berjiwa tenang dan tentram, bersemangat dan bertekad kuat, tabah dan sabar menghadapi berbagai macam cobaan, tangguh menghadapi kebobrokan mental dan moral masyarakatnya yang pasti akan lenyap bila terus-menerus diberantas dan kehidupan mereka sehari-hari yang tidak putus beribadah dan berdoa…Jika semuanya itu yang diajarkan agama Islam kita semua adalah orang-orang Islam”. (hal 38 dari “Hadhritul ‘Alamil-Islamiy” jilid I oleh Amir Syakib Arslan, dikutip dari pembicaraan antara Goethe dan sang penulis).

Melalui pribadi sempurna inilah Al-Quran diturunkan. Sebuah Kitab yang dijamin kesucian dan keasliannya, tidak ada perubahan sedikitpun dari awal diturunkannya hingga detik ini.

Namun begitu, tidak sedikit pula orang yang memusuhi Rasulullah SAW. Terutama para Orientalis, mereka sebenarnya mau tak mau terpaksa harus mengakui kebesaran beliau. Tetapi harus dicermati, sebenarnya sebagian dari mereka ini tengah berusaha mengarahkan pemikiran tentang kebesaran Muhammad SAW sebagai manusia biasa, sebagai panglima perang, sebagai pemimpin namun tidak sebagai utusan Allah. Seringkali mukjizat yang dimiliki Rasulullah tidak ditonjolkan. Padahal sebagai seorang utusan Allah mukjizat adalah bukan sesuatu yang mustahil bahkan mutlak.

Qatadah meriwayatkan dari Anas bin Malik, sesungguhnya Rasulullah SAW dan para sahabat membawa wadah air (dalam bepergiannya) lalu beliau meminta wadah tersebut yang didalamnya terisi air. Kemudian beliau meletakkan telapak tangannya didalam wadah tadi maka mengucurlah air diantara jari-jarinya sedangkan semua sahabat berwudhu dengan menggunakan air tersebut. Anas bertanya kepada Abu Hamzah ”Berapa para sahabat yang berwudhu (dengan menggunakan air yang memancar dari jari-jari Rasulullah itu) ?” Abu Hamzah menjawab ”Mereka yang berwudhu lebih kurang 300 orang ”.(HR Bukhari Muslim).

Disamping itu Rasulullah SAW juga diberi kelebihan dengan pandangan yang super tajam. Pandangannya dapat menembus batas langit dan bumi, termasuk apa yang terjadi di alam kubur.

Ibnu Abbas meriwayatkan. Ketika Rasulullah berjalan bersama para sahabat melewati dua kuburan, tiba-tiba beliau berkata “Orang yang berada didalam kedua kubur ini tengah disiksa oleh Allah STW. Yang satu berjalan (dimuka bumi ini) dengan suka mengadu domba, adapun yang satu lagi tidak pernah menutupi dari air kencingnya (artinya, percikan dari air kencingnya itu sering kali mengenai tubuh atau pakaiannya, lalu dipakainya pakaian tersebut untuk melakukan shalat tanpa mencuci atau menggantinya terlebih dahulu)”.

Beliau juga mampu menembus pandangan jauh ke masa depan. Itu sebabnya dalam perjalanan beliau menuju Sidratul Muntaha ketika Miraj’, beliau bertemu dan melihat para Rasul bahkan dapat berkomunikasi dengan Musa as di surga. Padahal ketika itu semua manusia termasuk para Rasul masih dalam penantian di alam kubur.

Sesungguhnya kelebihan dan mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Rasulullah SAW tak terhitung banyaknya namun bila dibandingkan dengan mukjizat Al-Quran memang nilainya tidak seberapa.

“Sesungguhnya Al Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia, dan Al Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya.Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu”.(Terjemah QS. Al-Haaqqah(69):40-47).

Maka sudah sepatutnya pula bila Allah SWT memerintahkan kita agar mengikuti sunnah Rasululullah sebagaimana tertuang dalam As-Sunnah atau Al-Hadis yaitu dengan meyakini segala ucapan serta mencontoh prilaku dan mengikuti keputusan yang ditetapkannya.

Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk dita`ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (Terjemah QS.An-Nisa(4):64).

“(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar”. ( Terjemah QS. An-Nisa (4):13).

“Barangsiapa yang menta`ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta`ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta`atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka“.( Terjemah QS. An-Nisa (4):80).

 

 

Advertisements

Read Full Post »

“Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata (Al-‘Aalimul Ghoib wa Syahaadah) , Dia-lah Yang Maha Pemurah (Ar-Rohmaan) lagi Maha Penyayang (Ar-Rohiim). Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja (Al-Maalik), Yang Maha Suci (Al-Quddus), Yang Maha Sejahtera (As-Salam) , Yang Mengaruniakan keamanan (Al-Mu’min), Yang Maha Memelihara (Al-Muhaimin), Yang Maha Perkasa(Al-Azis), Yang Maha Kuasa (Al-Jabbaar), Yang Memiliki segala keagungan (Al-Mutakabbir), Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan (Al-Khaaliq), Yang Mengadakan (Al-Baari’), Yang Membentuk Rupa (Al-Mushawwir), Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS.Al-Hasyr(59):22-24).

Ya, Dialah Allah SWT, yang memiliki 99 nama dan sifat sebagaimana yang ditunjukkan melalui kitab-Nya maupun yang disembunyikan-Nya. (lihat hadits di bab ”Mencintai Allah SWT melalui Asma dan sifat-Nya”). Dialah Yang Maha Kuasa, Yang Maha Besar, Yang Awal, Yang Akhir, Yang WTMaha Mengetahui, Yang Maha Melihat. Dialah yang menciptakan langit, bumi , bulan, matahari beserta cahayanya.

Ilmu Pengetahuan dan Sains menyatakan bahwa cahaya Matahari adalah sumber kehidupan bagi manusia, binatang dan tumbuhan yang ada di dunia ini. Tanpanya berbagai bakteri dan virus akan bebas menyerang dan mengancam kehidupan. Tidak ada keraguan didalamnya, setiap orang mengetahui dan meyakini hal tersebut. Cahaya matahari ini dipancarkan setiap hari dimulai sejak terbitnya hingga terbenamnya. Di pagi dan siang hari inilah manusia dan segala hewan serta tumbuhan memanfaatkan keberadaan matahari dan sinarnya secara maksimal. Tumbuhan memanfaatkan cahaya matahari agar terjadi proses pembentukan hijau daun yang berfungsi sebagai dapur umumnya.

Demikian pula manusia. Pada waktu itu manusia tidak hanya pergi bekerja mencari nafkah. Namun yang terpenting manusia tanpa disadari sesungguhnya sedang menyempurnakan proses perkembangan hidupnya. Pada saat itu dengan bantuan cahaya matahari, sel-sel manusia atas izin-Nya bekerja menyempurnakan perkembangan tubuhnya, tulang dan sendi adalah diantaranya. Betapa banyak penyakit yang disebabkan oleh kekurangan cahaya matahari.

Sebaliknya terus menerus dibawah sorotan cahaya matahari yang terik juga berbahaya bagi kesehatan. Cahaya matahari dapat dihindari, dapat terhalang dan dihalangi oleh sesuatu. Ketika matahari sedang terik-teriknya kita bisa menggunakan bantuan payung atau topi untuk melindungi diri kita. Cahaya matahari juga bisa terhalang oleh bangunan-bangunan tinggi di kota ataupun terhalang oleh gunung-gunung. Bahkan di kutub terutama kutub selatan, orang jarang sekali menerima cahaya matahari.

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.(QS.An-Nuur(24):35).

Namun tidak demikian dengan cahaya Allah. Cahaya Allah berlapis-lapis dan kekal. Cahaya ini menembus hingga ke segenap penjuru dan sudut jagat raya. Bumi, bulan, bintang, langit dan seluruh galaksi yang ada di jagat raya ini maupun jagat raya lain bila memang ada, semuanya menerima cahaya Allah. Demikian pula dengan benda-benda kecil yang tersembunyi seperti semut hitam yang bersembunyi di balik batu hitam di dalam gua di hutan rimba belantara ketika malam gelap gulitapun dapat ditembusnya. Demikian pula hati manusia. Oleh sebab itulah Allah mengetahui apa yang berada dibalik hati manusia dan apa yang dibisikkannya. Itulah Allah SWT, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Mendengar, Yang Maha Menyaksikan, Yang Maha Tinggi.

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (QS.Al-An’am (6):59).

Di bawah kekuatan Maha Dasyat inilah diatur dan ditata-Nya seluruh jagat raya ini hingga sedemikian rupa. Semua benda-benda ini tunduk patuh terhadap kemauan-Nya. Semua bertasbih dengan caranya masing-masing. Inilah kerajaan Allah, Yang Maha Cerdas, Yang Maha Agung, Yang Maha Mulia, Yang Maha Memiliki, Yang Maha Mengatur, Yang Maha Pemelihara, Yang Ghaib, Yang Maha Benar.

”Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”.(QS.Al-Isra’(17):44).

Cahaya Allah ini begitu sempurna dan indah. Namun sebagaimana sifat cahaya yang menyilaukan, bila cahaya matahari saja manusia tak sanggup menatapnya apalagi menatap Sang Maha Pemilik Cahaya. Inilah yang terjadi terhadap Nabi Musa as ketika ia memohon Allah SWT agar diizinkan menatap-Nya.

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”.Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (QS.Al-‘Araaf(7):143).

Allah, Dialah Yang Maha Bercahaya, Yang Maha Indah, Sang Pemancar Kasih Sayang, Sang Pembawa Kebaikan, Yang Maha Sabar, Yang Memberi Rezeki, Yang Maha Menentukan. Allah, Dialah yang menunjuki manusia cahaya kepada jalan yang lurus, jalan yang benar. Sesungguhnya mengenal dan menyembah hanya kepada-Nya adalah fitrah manusia namun bila hati manusia kotor maka cahaya-Nya tidak menampakkan diri, tertutup oleh kotoran yang menyelimutinya. Namun bila manusia mau bertobat dan membersihkan diri maka Dia akan mengampuni dan memaafkannya. Allah, Dialah Yang Maha Pengampun, Yang Maha Pemaaf, Yang Maha Memberi Petunjuk, Yang Maha Pemberi Taubat.

”Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. (QS.Al-Ikhlas(112):1-4).

Tiada kecintaan yang lebih dalam, lebih murni dan lebih suci daripada kecintaan terhadap Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Bukan hanya karena Dia telah memberikan segalanya kepada mahluknya namun terlebih karena Dialah kita menjadi ada. Dia yang memberi kehidupan hingga dengan demikian kitapun berkesempatan mengenal-Nya. Dia yang membuat kita mengenal dan mengetahui arti sebuah kehidupan, Dia yang mengajari segala kebaikan, kelembutan dan kasih sayang. Dia yang mengajari arti sebuah kesabaran sekaligus ketegasan serta kedisiplinan. Dia yang tidak pernah bosan merahmati mahluknya, membimbing serta menunjuki jalan yang benar, jalan yang lurus.

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husnaitu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”.(QS.Al-‘Araf(7):180).

Dia yang setia setiap waktu dan senantiasa mau menyediakan waktu-Nya untuk mendengar keluh kesah apapun dan dalam keadaan bagaimanapun hamba-Nya yang datang mengadu. Dan Dia yang selalu siap memberikan maaf-Nya betapapun besar kesalahan dan kotornya jiwa ini. Dia Yang Memiliki 99 nama yang disebut dan sejumlah nama yang tersembunyi. Hanya kepada-Mu lah semua mahluk kembali. Maka kembalikanlah kami kelak ke tempat kembali yang mulia, disisi-Mu Ya Allah, disisi kekasih-Mu Muhammad SAW, disisi para Rasul, disisi para hamba-Mu yang taqwa, Yang Memuliakan-Mu, Yang Meng-Agungkan Mu.Ya Allah kabulkanlah permohonan kami ini, amin Ya Robbal ’Alamin.

Sabda Rasulullah : “Allah SWT memiliki sembilan puluh sembilan nama – seratus kurang satu – tidaklah menghafalnya kecuali akan dimasukkan kedalam surga, Allah itu ganjil (tunggal ) dan menyukai yang ganjil”. (HR Bukhori –Muslim).

Rasulullah bersabda : “Barang siapa yang banyak kesedihan atau gundah gulana lalu berdo’a : “Yaa Allah sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu, ubun-ubunku ada pada tangan-Mu, keputusan-Mu berlaku atasku, ketentuan-Mu adil untukku, aku memohon kepada-Mu dengan semua nama-Mu yang engkau namakan kepada-Mu atau yang telah engkau ajarkan kepada seseorang dari mahluk-Mu atau yang telah Engkau turunkan didalam kitab-Mu atau nama yang Engkau rahasiakan didalam ilmu ghaib-Mu,jadikanlah Al-Quran sebagai pelipur lara hatiku dan cahaya dadaku dan penghapus kesedihan dan kerisauanku”, maka pastilah Allah SWT akan menghilangkan kegalauan dan kesedihannya dan diberikannya jalan keluar”. (HR Ahmad).

Read Full Post »

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.(QS.Al-Baqarah(2):186).

Mengenal Sang Pencipta hanya melalui tanda-tanda yang banyak tersebar di muka bumi ini(ayat ‘kauniyah’) tidak cukup membawa manusia menuju jalan yang benar. Karena sesungguhnya orang musyrikpun mengakui keberadaan Tuhan, mengakui bahwa Dia-lah yang menciptakan langit, bumi beserta isinya, yang menghidupkan dan mematikannya. Namun Allah SWT tetap tidak memasukkan mereka sebagai golongan mukminin. Ini disebabkan karena mereka tidak merealisasikan keyakinan tersebut dalam bentuk amal-ibadah. Padahal amal ibadah hanya dapat diketahui dan dipelajari melalui ayat-ayat Al-Quran atau ayat Kauliyah.

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”.……”. (QS.Al-Ankabuut(29):61).

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)? dan (Allah mengetahui) ucapan Muhammad: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman”.(QS.Az-Zurkuf(43):87-88).

Oleh sebab itu disamping mengenal Sang Pencipta melalui ayat-ayat kauniyah, seseorang harus pula mengenal ayat-ayat Al-Quran. Al-Quran adalah Kalamullah atau Firman Allah SWT yang disampaikan kepada Muhammad SAW melalui malaikat Jibril. Kumpulan Kalamullah ini disebut sebagai kitab suci Al-Quran. Ini adalah sebuah kitab petunjuk yang menerangkan apa hakikat hidup, yang mengajarkan secara garis besar bagaimana agar manusia dapat hidup bahagia baik di dunia maupun di akhirat kelak. Sedang As-Sunnah adalah segala sesuatu yang dikatakan dan dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW sebagai rincian dari Al-Quran untuk diterapkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Inilah satu-satunya bacaan di dunia yang dihafal oleh begitu banyak manusia secara tepat baik dari segi bahasa aslinya yaitu bahasa Arab, lengkap dengan tajwidnya (panjang, pendek dan cara pengucapannya yang benar dan tepat) maupun letak susunan surat-suratnya selama hampir 15 abad lamanya! Yang dengan demikian bila saja ada suatu perubahan sekecil apapun akan segera diketahui.

Ary Ginanjar Agustian, seorang pakar ESQ, menawarkan sebuah istilah ‘ Al-Quran Inter Locking System’ untuk angka ‘19’ sebagai salah satu kunci pengaman kesucian Al-Quran. Angka ini menunjukan jumlah huruf dalam ucapan “Bismillahirrohmanirrohim” dan juga ucapan “Laa haula wa laa quwwata illaa billah” dalam bahasa Arab yang masing-masing berarti : “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”dan “Tiada daya untuk memperoleh manfaat dan upaya untuk menolak kesukaran kecuali dengan bantuan Allah SWT”. Menurut Rasyad Khalifah, seorang ilmuwan Muslim, angka 19 memiliki rahasia yang berkaitan dengan Al-Quran. Jumlah masing-masing kata : Allah, Ar Rahman dan ArRahim yang merupakan dua sifat utama Allah SWT, yang tertulis di dalam Al-Quran, adalah merupakan angka yang habis dibagi angka 19. Kata ”Allah” 2698 kali (2698:19= 142), “ArRahman” 57 kali (57:19=3) dan “ArRahim” 114 kali (114:19=6).

Pertanyaannya, mungkinkah seorang manusia yang hidup pada abad ke 6 dimana komputer sama sekali belum dikenal, menulis sebuah buku panduan yang disamping memiliki kandungan yang benar dan masuk akal, yang selalu sesuai dengan hati nurani setiap manusia pada segala zaman, yang kemudian terbukti pula sesuai dan cocok dengan aturan penciptaan alam semesta dan seluruh isinya termasuk diri manusia, namun juga memperhatikan secara detil jumlah huruf dan katanya? Dan juga keajaiban-keajaiban lain dalam berbagai keseimbangan kata yang hanya mungkin dikerjakan dengan bantuan sebuah komputer?

Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.(QS.Al-Isra’(17):88).

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS.Luqman(31):27).

Oleh sebab itu manusia yang mau berpikir, dengan sadar akan sudi menggantungkan dan menyandarkan keingin-tahuan dirinya dengan mempelajari Al-Quran. Dari sini ia dapat belajar mengenal asal-muasal dirinya, siapa yang telah menciptakannya, apa tujuan ia diciptakan dsb.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan), atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka…” QS.Al-A’raaf(7):172-174).

Itulah janji yang diikrarkan manusia ketika ia masih berada di suatu alam sebelum ia memasuki alam dunia yang sekarang ini.

“Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan.” (QS.Az-Zumar (39):6).

Kehidupan alam rahim adalah suatu tahap kehidupan ketika manusia masih berada di perut seorang ibu. Di alam rahim ini manusia mengalami penyempurnaan bentuk fisiknya. Menurut tafsir Ibnu Katsir, yang dimaksud ‘tiga kegelapan’yaitu kegelapan rahim, kegelapan selaput yang menutupi rahim dan kegelapan perut.

Sedangkan Harun Yahya dalam tulisannya menyebut 3 daerah kegelapan tersebut adalah kegelapan di dalam saluran telur dimana telur dan sperma bersatu (Tuba Falopi), kemudian kegelapan di dalam dinding rahim dimana zigotmelekat dan yang ketiga adalah kegelapan di dalam rahim dimana embrio berkembang. Sedangkan ruh atau jiwa sebagai inti kehidupan baru ditiupkan kedalam janin pada sekitar akhir bulan ke tiga yang ditandai dengan mulai berfungsinya pernafasan sebagai bukti penyempurnaan atas ciptaan-Nya. (lihat bab “Penciptaan anak cucu Adam as”).

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan)-Nya”.(QS.As-Sajdah(32):9).

Namun demikian jiwa itu sendiri sesungguhnya telah diciptakan-Nya jauh sebelumnya, yaitu ketika sang nenek moyang, Adam AS masih berada di dalam alam surga. Jiwa-jiwa yang kemudian menanti saatnya untuk dilahirkan ke bumi inilah yang telah mengucapkan janji di alam ruh sebagaimana tercermin dalam ayat 172-174 surat Al-A’raaf di atas.

Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah bersabda: “Setelah Allah menciptakan Adam, maka Dia mengusap punggungnya,maka berjatuhanlah dari punggungnya itu setiap jiwa. Dialah Pencipta jiwa-jiwa dari keturunannya hingga hari kiamat”. (HR Tirmidzi).

Maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebelum dilahirkan ke dunia ini, manusia telah melewati suatu tahapan kehidupan lain yaitu kehidupan alam ruh dan kehidupan alam rahim.

Namun karena rahmatNya jua tidak satupun manusia ingat akan kehidupan di kedua alam sebelum alam dunia tersebut. Oleh sebab itu Allah SWT menurunkan ayat-ayat diatas agar manusia dapat mengetahui asal-usulnya sekaligus kembali mengingatkan akan janjinya untuk senantiasa meng-Esa-kanNya. Dalam firmanNya diterangkan pula bahwa setelah kematian, manusia akan tinggal di alam kubur hingga saat berbangkit.

“kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Diamembangkitkannya kembali” .(QS.’Abasa(80):21-22).

Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah sementara, dunia hanya tempat manusia untuk diuji, menerima cobaan dari Sang Maha Pencipta. Tujuan akhir adalah negeri akhirat. Maka bila umur manusia zaman sekarang rata-rata sekitar 60-70 tahun, berdasarkan ayat 47 surat Al-Hajj berikut maka umur tersebut tidak lebih dari hanya 1.5 jam saja dibandingkan hari akhirat!

“…Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”(QS.Al-Hajj(22):47).

Sebagai perumpamaan ; apa yang kita lakukan dalam suatu tes penerimaan sekolah yang lamanya hanya 1.5 jam? mungkinkah kita bersantai-santai saja dengan tidak menyelesaikan dan menjawab soal-soal yang diajukan para guru? Begitu pula dengan kehidupan, padahal taruhannya bukan saja masa depan duniawi namun masa depan kehidupan kekal di akhirat. Akankah kita membuang-buang waktu yang hanya sekejap mata tersebut dengan perbuatan sia-sia?

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.(QS.Ali Imraan(3):133-134).

Dialah Allah yang mempunyai nama-nama yang banyak sesuai dengan sifatnya, diantaranya adalah Ar-Rahman (Maha Pengasih), Ar-Rahim (Maha Penyayang), Al-Malik (Maha Menguasai), Al-Qudus (Maha Suci), As-Salam (Maha Keselamatan), Al-Khalik (Maha Pencipta), Al-Hadi (Maha Memberi Petunjuk), Al-Ghoffar (Maha Pengampun), Al-Alim(Maha Mengetahui), Al-Hakim (Maha Bijaksana) dan lain sebagainya.

“Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik)”.(QS. Thaahaa (20):8).

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi.Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”.(QS. Al-Baqarah (2):255).

“Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui”.(QS.Yaasiin(36):81).

“(yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, danYang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akanmengampuni kesalahanku pada hari kiamat”. (QS.Asy-Syuara (26): 78-82).

Salah satu sifat utama Allah SWT yang harus kita imani adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Ar-Rahman atau Maha Pengasih ini diberikan-Nya kepada seluruh mahluk ciptaannya tanpa kecuali baik manusia yang kafir maupun yang tidak termasuk juga mahluk selain manusia. Sedangkan Ar-Rahim atau Maha Penyayang hanya diperuntukkan bagi umatnya yang mau tunduk kepada perintah-Nya, yaitu kaum muslimin (kaum yang berserah–diri). Hukum alam atau Sunatullah yaitu berbagai aturan yang memperlihatkan hukum sebab-akibat yang memungkinkan terjadinya semua peristiwa dan fenomena alam di jagad raya sengaja diciptakan Allah SWT untuk memudahkan manusia agar dapat menaklukkan alam dan memanfaatkannya untuk kepentingan hidup manusia. Itulah bukti ke-ArRahman-anNya. Itu pula sebabnya semua orang, baik muslim atau bukan, yang mau berusaha mencari ilmu berdasarkan hukum alam yang banyak tersebar di muka bumi ini, atas izin-Nya, akan mendapatkan kemudahan dan kesenangan dunia.

Sebaliknya bagi seorang muslim, kemudahan dan kebahagiaan dunia adalah ‘bonus’ karena tujuan utama seorang muslim adalah kebahagiaan akhirat. Karena seorang muslim menyadari bahwa dunia adalah jembatan menuju suatu tujuan, sedang tujuan adalah akhirat yang mempunyai dua ujung yaitu surga dan neraka.

Dialah Tuhan, Allah SWT , Al-Alim yang mengetahui segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan apa yang ada diantara keduanya termasuk segala yang disembunyikan dalam hati.

“Dan sesungguhnya Tuhanmu, benar-benar mengetahui apa yang disembunyikan hati mereka dan apa yang mereka nyatakan”.(QS.An-Naml (27): 74).

Oleh sebab itu Allah SWT membalas niat baik seseorang dengan ganjaran satu kebaikan yang sama walaupun niat tersebut baru ada didalam hati dan belum sempat dikerjakan.

Allah berfirman: “Jika bermaksud hamba-Ku dengan satu kebaikan dan tidak dikerjakannya, maka Akutetapkan baginya sebagai satu kebaikan. Dan jika dikerjakannya maka Aku tulis (tetapkan) dengansepuluh kebaikan hingga 700 kali. Dan jika bermaksud untuk melakukan keburukan tidak dikerjakannya maka Aku tidak menetapkan baginya satu keburukan. Maka jika dia mengerjakan keburukan itu maka Aku tetapkan baginya dengan satu keburukan.”(HR. Bukhari Muslim.)

Namun karena sifat manusia yang pelupa dan cenderung selalu ingin membantah, pada setiap zaman Allah SWT senantiasa menurunkan para utusan, yaitu para nabi dan para rasul. Mulai Adam, Idris, Hud, Nuh dan lain-lain hingga Ibrahim, Yusuf, Ishak, Ismail, Musa, Daud, Sulaiman dan lain-lain hingga Isa dan yang terakhir yaitu Muhammad SAW. Diantara mereka ada yang membawa kitab ada pula yang tidak. Tugas mereka ini pada dasarnya adalah sama yaitu untuk mengingatkan janji manusia agar selalu menyembah, meng-Agung-kan dan meng-Esa-kanNya. Dialah Allah SWT, Tuhan yang satu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakan.

“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. (QS.Al-Ikhlaas(112):1-4).

Para rasul dan nabi tersebut adalah para manusia pilihan yang senantiasa berada dalam perlindunganNya, mereka tidak mungkin tersesat. Sebaliknya sebagai manusia biasa, mereka juga membutuhkan makan, minum, tempat berteduh dan juga mempunyai keinginan untuk berkeluarga dan berketurunan. Sebaliknya bila suatu ketika mereka khilaf Allah SWT berkenan langsung menegurnya dan mereka pun langsung bertaubat dan memohon ampunan-Nya.

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa) atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfa’at kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)!”(QS.’Abasa(80):1-11).

Mereka juga menyadari bahwa mereka hanyalah utusan Allah, apa yang kemudian menjadi mukjizat bagi mereka adalah atas kehendak Allah semata dan mereka tidak mungkin menyelewengkan kepercayaan mulia tersebut, dengan mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan ataupun malah menyeru kepada perbuatan-perbuatan tercela lainnya.

“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.”(QS.Ali Imraan(3):79).

“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai `Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” `Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya) “.(QS.Al-Maidah(5):116).

Sebagai para utusan Allah Yang Maha Esa maka Rasul yang datang kemudian, selalu membenarkan Rasul yang sebelumnya dan apa yang dibawanya.

“Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”.(QS.As-Shaaf(61):6).

Para rasul tersebut diutus untuk mengajarkan hakekat dan makna hidup ini, apa tujuan manusia diciptakan, siapa yang menciptakannya, bagaimana menjalani dan mengisi hidup ini, apa hak dan tanggung jawabnya. Karenanya sungguh mustahil bila agama-agama yang dibawa para rasul tersebut saling bertentangan.

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini,adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan.Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka(masing-masing).Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu.” (QS.Al Mu’minuun (23):52-54).

Yang berbeda, hanyalah cara beribadah atau syariatnya.

“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari`at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari`at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus”.(QS.Al-Hajj(22):67).

Jadi sebetulnya bila saat ini terlihat banyak orang yang tidak mau mengakui keberadaan Allah SWT alias kafir, mereka itu adalah orang-orang yang ingkar janji. Mereka adalah mahluk Allah yang terburuk.

“Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal didalamnya. Mereka itu adalah seburuk – buruk makhluk”.(QS.Al-Bayyinah(98):6).

Mereka hanya mengikuti apa yang orang-tua mereka ajarkan walaupun orang tua mereka itu telah sesat ataupun tidak tahu dan telah melupakan kodratnya dan fitrahnya.

“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?”. (QS.Al-Maidah(5):104).

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”.(QS.Ar-Ruum(30):30-32).

Mereka itu orang-orang yang benar-benar merugi, mereka adalah orang-orang yang tidak mau meyakini bahwa Al-Quran adalah benar-benar kalamullah, kitab yang diturunkan Allah SWT kepada Rasul terakhirNya, walaupun bukti-bukti telah nyata dihadapan mereka. Mereka bukan saja tidak mau menggunakan nuraninya namun juga malas dan enggan menggunakan akalnya untuk berpikir. Kehidupan bagi orang-orang seperti mereka hanya terbatas pada kehidupan yang ada didepan mata mereka. Mereka tidak mampu melihat apa yang ada dibelakang mereka. Bagi mereka kematian adalah akhir dari segalanya. Mereka hanya menurutkan hawa nafsunya untuk menentang suatu kebenaran yang hakiki.

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami…”.(QS.Al-Furqon(25):43-44).

Bahkan mereka menuduh Muhammad adalah orang yang sesat. Padahal para Rasul sebelumnyapun telah pernah menerima wahyu dengan cara sama pula.

“Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu)menampakkan diri dengan rupa yang asli sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya”.(QS.An-Najm(53):2-11).

“Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir”. (QS.Al-Mukminun(40):4).

“………Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu……………”.(QS.Al-Maidah(5):3).

Ayat diatas  diturunkan ketika Rasulullah tengah melaksanakan wukuf  di padang Arafah. Peristiwa ini dikenal dengan nama Haji Wada’ atau haji perpisahan karena tak lama setelah itu Rasululah wafat. Ayat tersebut termasuk ayat penutup, tidak ada lagi penambahan ayat dalam Al-Quran kecuali ayat 281  Al-Baqarah dan surah An-Nashr.(Surat ini mengisyaratkan tentang kemenangan yang akan dicapai Islam dengan berbondong-bondongnya orang memeluk Islam). Ayat diatas mengisyaratkan agar kita takut hanya kepada-Nya, patuh serta berjalan dibawah hukum-Nya sehingga dengan demikian kita semua akan terhindar dari murka Sang Khalik dan Dia pun akan senantiasa meridhoi hidup kita ini.

”Dia-lah Tuhan yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung. Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya”. (QS.Ar-Raad(13):12-13).

Beberapa bulan setelah itu Rasulullah dikabarkan menderita demam. Pada saat-saat terakhir ini Rasulullah memasukkan tangannya ke dalam air lalu mengusap wajahnya seraya berucap : ”Fir-Rafiiqil-A’laa… Fir-Rafiiqil-A’laa..” (Dalam naungan Mitra Tertinggi) berulang-kali hingga nafas terakhirnya. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un(Sesungguhnya kita ini milik Allah dan hanya kepada-Nya lah kita semua kembali). Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik disisi-Nya bagi Muhammad SAW, sang kekasih Allah yang telah berjuang dengan begitu gigih demi menegakkan din Allah dan telah menyampaikan dengan hak apa yang diamanatkan-Nya yaitu ayat-ayat suci Al-Quran yang mulia demi menyelamatkan umat manusia. Maha Benar Allah atas segala firman-Nya.

Read Full Post »

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):”Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS.Ali Imraan (3):190-191).

Malam dan siang adalah sebuah keadaan yang sama sekali bertolak-belakang. Dijadikannya siang terang-benderang sebagai sarana mencari dan memenuhi kebutuhan hidup di dunia. Disiang hari dijadikannya matahari menerangi bumi sehingga segalanya mudah terlihat. Namun sebaliknya di hari yang benderang tersebut penglihatan kita malah menjadi gelap dan kabur terhadap apa yang ada di langit; bulan, bintang dan benda-benda langit lainnya seolah sirna. Sebaliknya pada malam hari, ketika matahari enggan menampakkan dirinya, keadaan di sekitar kitapun menjadi gelap. Itulah waktu dimana kita dapat beristirahat sekaligus merenungkan diri.

” Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?”. Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”. Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamuberistirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya”.(QS.Al-Qashash (28):71-73).

Intensitas cahaya yang dikeluarkan bintang nun jauh disana begitu kecil namun yang demikian penglihatan malah menjadi lebih luas terbuka karena benda-benda langit menjadi terlihat jelas. Hanya pada malam hari melalui bulan kita dapat melihat bayangan bumi, tempat kita bernaung. Dalam keadaan yang demikian kita menjadi disadarkan betapa kecil dan tidak berartinya kita ini bila dibandingkan alam semesta yang kelihatan tak terbatas ini. Ironisnya, sesungguhnya justru inilah kehidupan yang lebih nyata. Perumpamaannya bagaikan seseorang yang melihat seekor gajah. Pada siang hari kita hanya melihat bagian-bagian tertentunya, seperti ekor, kaki atau belalainya dan pada malam harinya baru kita melihatnya dalam keadaan yang seutuhnya.

“… dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang. Danjanganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. …”. (QS.Thaahaa(20):130-131).

Dengan kata lain, orang yang hanya hidup pada siang hari dan tidak memperhatikan keadaan pada malam hari, ia telah menyia-nyiakan hal yang hakiki. Keadaan siang hari atau kehidupan yang melulu tentang dunia telah menyilaukan dan menyesatkan dirinya. Ia lupa bahwa di balik kehidupan dunia ada kehidupan akhirat. Dan kehidupan akhirat adalah lebih kekal daripada kehidupan dunia. Itulah salah satu hikmah yang diberikan dari pergantian malam dan siang pada ayat Ali-Imraan 190-191 diatas.

“Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”.(QS.Al-A’laa(87):17).

Begitu berlimpahnya ayat-ayat berserakan di alam semesta ini bila manusia mau memperhatikan dan mempelajarinya. Hal ini tak lain agar manusia dapat mengenal Sang Pencipta, Allah Azza wa jalla. Berbeda dengan manusia yang cenderung ‘pelit’ baik dalam hal harta maupun ilmu, Allah SWT berkehendak agar manusia dapat ikut memahami dan mempelajari sebagian kecil dari ilmu Allah, bagaimana caranya Ia menciptakan alam semesta, bagaimana Ia menghamparkan bumi dan isinya, bagaimana Ia menciptakan manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan, mengapa pula bisa terjadi berbagai kejadian alam seperti hujan, angin, petir, badai dan lain sebagainya. Allah SWT sengaja memperlihatkan proses tersebut tahapan demi tahapan selain untuk memperlihatkan kekuasaan-Nya juga agar mempermudah manusia mempelajarinya dan agar manusia mau mensyukurinya.

“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.”(QS.Al-Jatsiyah(45):13).

Padahal bila Ia berkehendak cukup Ia mengatakan “KUN FAYAKUN” maka terjadilah segalanya.

“……Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia.”(QS.Ali Imraan(3):47).

Maka bila demikian tak satupun manusia akan mempunyai kesempatan untuk mengetahui sedikitpun rahasia-Nya. Manusia bakal bagaikan robot-robot yang patuh dan tunduk tanpa kemauan apapun karena tanpa tanda-tanda yang ditinggalkan-Nya mustahil manusia dapat mengerti barang sedikitpun ilmu-Nya. Ia hanya dapat pasrah. Dan tentu semua manusia tanpa usaha akan masuk surga tanpa proses apapun. Alangkah tidak dinamisnya hidup ini dan bila demikian tentu saja tidak diperlukan adanya khalifah di bumi ini.

Namun syukurlah karena Allah SWT tidak menghendaki yang demikian. Dunia adalah permainan yang amat menarik dan dinamis. Manusia adalah pemeran utama sedangkan mahluk-mahluk lain seperti hewan, tumbuhan, gunung, sungai, bebatuan dan lain-lain adalah pemeran pembantu. Mereka tidak mempunyai kehendak apapun, selain patuh pada aturan-Nya, semua prilakunya persis sesuai skenario Sang Sutradara Yang Maha Cerdas. Mereka semua tahu kepada siapa harus memuja dan menyembah.

“Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”(QS.An-Nuur(24):41).

Allah SWT memerintahkan air selalu tertarik ke pusat bumi sebaliknya gas menjauh dari pusat bumi, bulan berputar mengelilingi bumi, bumi berputar mengelilingi matahari sambil berotasi terhadap dirinya sendiri demikian pula seluruh tatanan tata surya atau galaksi yang jumlahnya mencapai 300 milyar dimana masing-masing galaksinya memuat 300 bintang (termasuk matahari), demikian juga semua mahluk yang berada di alam semesta ini. Gravitasi dan berbagai macam teori yang ada itu hanya aturan main ciptaan-Nya agar manusia dapat ikut memahami permainan.

Sesungguhnya alam semesta ini hanya dapat pasrah, tunduk-patuh kepada perintah- Nya yaitu taat dalam menjalani ketetapan hukum alam atau sunatullah. Sesungguhnya keseimbangan alam semesta, daya tarik antara gravitasi yang cenderung menarik semua benda ke pusat dan daya tarik sentrifugal yang cenderung menarik semua benda menjauh dari pusat adalah suatu demonstrasi pengorganisasian yang amat sempurna oleh Sang Maha Pengatur (Al-Maalik), Sang Maha Sempurna (Al-Kaarim)!

“Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. (QS.Al-Fushilat (41):11).

Namun bila sekali-sekali Ia ingin tidak mengikuti aturan yang diciptakan-Nya tersebut, itu adalah hakNya. Tak satupun mahluk yang dapat mencegahnya. Sedangkan bagi pemeran utama yaitu manusia, mereka diberi kebebasan untuk berusaha dan menentukan arah langkahnya. Dan Allah SWT menghargai hambanya yang mau berusaha. Sabda Rasulullah: “Jika seorang hakim berijtihad kemudian ijtihadnya ternyata benar, maka baginya dua pahala, Jika ia menghukumi kemudian ijtihadnya ternyata salah, maka baginya satu pahala.”

Allah SWT menantang manusia untuk berlomba menuju kemenangan. Dan sebagai petunjuk Ia sebarkan ayat-ayat di segala penjuru alam semesta; Kauniyyah, itulah Sunatullah atau ilmuwan menyebutnya hukum alam. Sebagai imbalan Allah SWT menyediakan surga bagi para pemenang dan neraka bagi para pecundang. Siapa saja yang mampu memecahkan teka-teki tersebut, baik muslim ataupun bukan, ia akan menguasai dunia, alam akan ditaklukan atas kehendak-Nya, ia akan mendapatkan manfaat yang banyak darinya, dengan satu syarat tidak boleh merusak alam tersebut. Bila ia melanggar aturan tersebut ia akan merasakan akibatnya, itulah hukum sebab-akibat, aksi-reaksi.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi ……”(QS.Al-Qashash (28):77).

Itu adalah cerminan sifat ‘Ar-Rahman‘ atau Maha Pengasih yang diberikan-Nya bagi seluruh mahluk ciptaanNya. Sedangkan ‘Ar-Rahim’ atau Maha Penyayang hanya khusus diperuntukkan bagi umat yang mau berserah diri kepada-Nya, umat yang mau tunduk patuh, yaitu para muslimin dan muslimat. Imbalan bagi mereka adalah di akhirat kelak yaitu surga.

Rasulullah bersabda : “Barangsiapa menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka ia harus memiliki ilmunya; barangsiapa menghendaki (kebahagiaan) akhirat, ia harus memiliki ilmunya dan siapapun yang inginmeraih keduanya, maka ia harus memiliki ilmunya. (ilmu keduniaan dan ilmu akhirat)”.

Namun untuk memecahkan ayat-ayat yang tersebar di alam semesta ini tidak mudah, ia memerlukan ilmu yang tidak sederhana. Untuk itu manusia dituntut untuk berpikir, untuk menggunakan akalnya.

Mu’adz bin Jabal, salah seorang sahabat meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Pelajarilah ilmu, sebabmencari ilmu karena Allah adalah kebaikan, menuntutnya adalah ibadah, mempelajarinya tasbih,mengkajinya adalah jihad dan mengajarkannya adalah sedekah. Dengan ilmu seorang hamba sampai pada kedudukan orang-orang baik dan tingkatan paling tinggi. Memikirkannya setara dengan berpuasa dan mengkajinya sama dengan menegakkan shalat. Dengannya Allah ditaati, disembah, di-Esa-kan dan ditakuti. Dengannya pula tali silaturahmi diikatkan. Ilmu adalah pemimpin dan pengamalan adalah pengikutnya. Dengannya Allah mengangkat bangsa-bangsa lalu Dia menjadikan mereka pemimpin, penghulu dan pemberi petunjuk pada kebajikan karena ilmu adalah kehidupan hati dari kebutaan, cahaya dari kezaliman dan kekuatan tubuh dari kelemahan.”

Bahkan sesungguhnya untuk mengerjakan shalat lima waktu yang merupakan kewajiban Muslimpun, Allah SWT menentukan waktu-waktunya tidak dengan begitu mudahnya melainkan harus berdasarkan posisi matahari dan bayangannya. Sehingga dengan demikian mutlak hukumnya bagi kaum muslimin untuk mempelajari dan menguasai ilmu yang berhubungan dengan pergerakan matahari. Rasulullah juga bersabda : “Mencari ilmu adalah wajib bagi tiap pribadi muslim dan muslimah”.

Sedangkan Al-Khalil bin Ahmad berkata, “Manusia itu ada empat: Pertama, yang tahu dan tahu bahwa ia tahu.Ia adalah alim, maka ikutilah. Kedua, yang tahu tetapi tidak tahu bahwa ia tahu. Ia adalah orang yangtertidur, maka bangunkanlah. Ketiga, yang tidak tahu dan tahu bahwa ia tidak tahu. Ia adalah orang yangmencari bimbingan, maka ajarilah. Keempat, yang tidak tahu tetapi tidak tahu bahwa ia tidak tahu. Ia adalah orang bodoh, maka waspadailah”.

Al-Ghazali mengingatkan, seseorang hendaknya menuntut ilmu tidak hanya sekedar kebutuhan melainkan harus hingga tuntas, hingga sampai kepada hakekat atau inti ilmu tersebut. Karena hanya dengan inti ilmu inilah seseorang akan mencapai suatu tingkat penyingkapan akan rahasia dan kebesaran Sang Maha Pencipta, Allah azza wa jalla. Itulah keutamaan ilmu karena puncak ilmu adalah pengenalan Allah SWT.

Dengan ilmu manusia dapat lebih merasakan sekaligus mengagumi kekuasaan dan kebesaran-Nya. Ilmu yang hanya dimaksudkan untuk memperoleh kekuasaan, harta dan pangkat tidak akan sampai kepada hakekat hidup yang sebenarnya. Namun sebaliknya, bila dengan ilmunya tersebut ia tidak dapat menyaksikan ke-Besaran-Nya, ke-Agungan-Nya atau bahkan me-nafikkan-Nya, maka keberuntungan yang diperolehnya hanyalah sebatas dunia saja, imbalan yang utama yaitu akhirat tidak ia dapatkan. Dan ia termasuk orang yang merugi. Allah SWT amat membenci orang-orang yang demikian, orang-orang yang tidak bersyukur.

Rasulullah bersabda:”Barangsiapa yang bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah petunjuknya, maka ia akan bertambah jauh dari Allah.”

Namun sebaliknya, Allah SWT amat menyayangi mahluknya yang mempunyai hati yang bersih, yang mau menggunakan telinganya untuk mendengar, matanya untuk melihat , akalnya untuk berpikir.

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, merekamempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah).Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (QS.Al-Araf (7):179).

Namun sebaliknya bila sekarang ini ada temuan sains yang terlihat bertentangan dengan teks Al-Quran, sebenarnya ada dua kemungkinan. Yang pertama mungkin data atau informasi yang didapat para ilmuwan belum tepat, sedang yang kedua mungkin pemahaman kita terhadap Al-Quranlah yang kurang tepat. Karena tidak mungkin keduanya saling bertentangan.

Dengan makin majunya tehnologi, pengetahuan juga makin berkembang, oleh karenanya penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan ilmu ke-alam semestaan juga dapat berkembang. Karena Islam bukanlah sekedar agama yang menghubungkan antara manusia dengan Tuhannya sebagaimana kebanyakan agama, ia melainkan juga adalah nafas kehidupan yang memperlihatkan segala yang ada di alam semesta termasuk hubungan antar manusia dan hubungan antara manusia dengan alam semesta. Islam adalah juga sains. Harus diingat bahwa Sains berkembang dengan sangat pesat baru pada awal abad ini saja.

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”.(QS.Al-Anbiya(21):30).

“(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya “. (QS.Al-Anbiya(21):104).

Kedua ayat diatas membuktikan akan kebenaran teori “Big Bang” dan “Big Crunch” yaitu awal penciptaan alam semesta dan kebalikannya yaitu akhir dari alam semesta atau kiamat. Dengan adanya bantuan teleskop Hubble, Sains baru dapat membuktikan kebenaran ayat-ayat tersebut 14 abad kemudian! yaitu pada tahun 1940-an. Itu semua terjadi atas kehendak Allah SWT, atas izin-Nya.

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya”.(QS. Adz-Zaariyat (51) :47).

Bukankah “Big Bang” mengatakan bahwa alam semesta ini bermula dari “singularitas”,”kenihilan” yang kemudian ‘berdentum’ menjadi luas dan terus semakin luas dan mengembang sebelum akhirnya kembali mengkerut? Dan bukankah dari ilmu pengetahuan kita tahu bahwa hujan adalah suatu proses yang mempunyai hubungan erat antara awan, angin dan fenomena alam lainnya?

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus,………?” (QS.As-Sajdah(31):27).

“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan ke luar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira”.(QS.Ar-Rum(30):48).

Bila kita mau memperhatikan ayat-ayat Al-Quran sungguh banyak sekali ayat-ayat yang sesuai dengan penemuan sains akhir-akhir ini. Allah SWT tidak menciptakan alam semesta ini dengan sembarangan. Dialah Sang Pencipta yang Tunggal.

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS. Yaasiin (36) :40).

Para ilmuwan menyadari bahwa alam semesta ini tercipta dengan aturan-aturan dan rumus-rumus yang amat sangat akurat dan mendetail, bahkan sarat dengan perhitungan matematis.

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan……”. (QS. An-Naml(27):88).

“Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? dan gunung-gunung sebagai pasak?”. (QS. An-Naba’(78):6-7).

Belakangan ini Sains membuktikan bahwa terjadi pergeseran lempeng kerak bumi antara 5-12cm pertahun dan disimpulkan bahwa dalam sejuta tahun berpotensi dapat memindahkan sebuah benua antara 50-120 km!!. Para ahli geologi juga mengatakan bahwa gunung-gunung sebenarnya dapat dikatakan memiliki “kaki” yang tertanam kuat didalam lapisan Astenosfer yg membuat kedudukan suatu benua/daratan mantap.

Sejarah mencatat, bahwa bumi yang ada sekarang ini tidaklah sama dengan bumi pada masa awal pembentukan 12 milyar tahun yang lalu. Diperkirakan 300 juta tahun yang lalu, di bumi ini hanya ada satu daratan yang amat luas,“Pangea” yang terletak di lautan yang juga amat luas ”Panthalasea”. Kemudian 150 juta tahun kemudian daratan luas ini pecah menjadi “Gondwana” yang terdiri atas Antartika, Australia, Amerika Selatan serta Afrika dan “Laurasia”yang terdiri dari Asia, Eropa dan Amerika Utara. Baru 50 juta kemudian keduanya terpisah secara bertahap hingga akhirnya seperti yang tampak sekarang ini. Jadi begitulah agaknya cara gunung “berjalan”, ia tidak diam di tempat namun bergerak walaupun secara perlahan.

Bagaimana pula dengan ayat-ayat berikut?

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi……. .”(QS. AtThariq(65):12).

Sejak kapan manusia mengetahui bahwa bumi mempunyai tujuh lapisan atmosfer? Lapisan Troposfer, Stratosfer, Mesosfer, Termosfer, Ionosfer, Eksosfer dan Magnetosfer. Tepat tujuh lapis!

Dan pernahkah kita terpikir mengapa sungai yang bermuara kelaut airnya tidak asin sebagaimana air laut? Mengapa keduanya tidak menyatu dan bercampur, padahal tidak ada dinding pembatas diantara keduanya?

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.”(QS.Al-Furqan(25):53).

Pada tahun 1948, gambar-gambar satelit memperlihatkan dengan jelas adanya batas-batas air di laut Tengah yang panas lagi sangat asin dan di samudra Atlantik yang temperatur airnya relatif lebih dingin serta kadar garamnya lebih rendah dari laut Tengah. Batas-batas juga terlihat di antara Laut Merah dan Teluk Aden.

Bagaimana pula akibatnya bila air yang diturunkan dari langit atau air yang kita ambil dari dalam tanah untuk kita minum itu asin?

“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau Kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamutidak bersyukur?” (QS.Al-Waqiyah(56):68-70).

Apa yang dikatakan sains tentang gosokan-gosokan yang dapat menimbulkan percikan api?

“Maka terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dari gosokan-gosokan kayu).Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kamikah yang menjadikannya?” (QS.Al-Waqiyah(56):71-72).

Dan apapula yang kita ketahui hubungan antara bayang-bayang dan posisi matahari?

“Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang; dan kalau dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu, kemudian Kami menarik bayang-bayang itu kepada Kami dengan tarikan yang perlahan-lahan”.(QS.Al-Furqon(25):45-46).

Bagaimana dengan ayat 25 surat Al-Hadiid? Hikmah apakah yang ada di dalam ayat ini? “………Dan Kami ciptakan besiyang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia….” (QS.Al-Hadiid(57):25).

Besi adalah satu dari empat unsur yang berlimpah di bumi dan merupakan salah satu logam terpenting yang memberikan manfaat yang amat banyak bagi umat manusia. Kata Hadiid yang berarti besi, dalam sistim Abjad bahasa Arab memiliki nomor numerik 26. Dalam ilmu kimia diketahui bahwa setiap unsur pasti memiliki nomor massa dan nomor atom masing-masing. Dan dari ilmu ini diketahui bahwa nomor atom besi adalah 26 sedangkan nomor massanya adalah 57. Ini adalah nomor urutan surat Al-Hadiid dalam Al-Quran!

“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui”. (QS.Al-Anam(6):97).

“Demi langit yang mempunyai jalan-jalan,..”.(QS Adz-Dzaariyaat(51):7).

Pernahkah kita terpikir apa makna langit yang mempunyai jalan-jalan tersebut? Manusia pada zaman dahulu mungkin tidak dapat membayangkan hal ini bahkan memikirkannyapun mungkin tidak. Namun sekarang ini di zaman yang serba canggih, di zaman dimana hampir semua orang dapat menikmati fasilitas telekomunikasi serba modern seperti radio, televisi, komputer dan juga aneka telepon genggam hal tersebut menjadi mengejutkan. Bukankah berbagai jenis gelombang radio yang mampu memberikan frekwensi tertentu untuk memberikan informasinya melalui berbagai fasilitas modern dan canggih itu berjalan melalui udara di atas kita? Itukah maksud langit yang mempunyai jalan-jalan itu? Wallahu’alam.

Pertanyaannya dari mana nabi Muhammad SAW yang hidup lebih dari 14 abad yang lalu itu mengetahui semua ini? Padahal kenyataan membuktikan diperlukan waktu berpuluh-puluh bahkan ratusan tahun bagi para ilmuwan untuk mengetahui suatu rahasia alam walaupun dengan alat yang canggih sekalipun.

Namun demikian, tetap saja para Darwinisme bersikukuh menyimpulkan bahwa seluruh alam semesta beserta isinya adalah proses evolusi dari mahluk bersel satu menjadi mahluk yang bermacam-macam seperti sekarang ini karena proses seleksi alam. Mereka berkeras tidak mau mengakui keberadaan Sang Maha Pencipta.

“… Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain”.(QS. Al-Anam(6):133.

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka…” . (QS. Al-Qashash(28): 68).

Padahal kedua ayat diatas makin mempertegas keniscayaan bahwa Allahlah yang menciptakan segala macam dan jenis mahluk yang ada di alam semesta ini. Ia musnahkan segala apa yang tidak dikehendaki-Nya dan digantinya dengan apapun yang dikehendaki-Nya pula. Binatang purba yang di’ilustrasikan’ sebagai ‘dinosaurus’ berdasarkan temuan fosil yang telah berumur jutaan tahun beserta segala jenisnya, bila memang ia pernah ada, juga diciptakan oleh-Nya, bukan hasil evolusi dari satu jenis ke jenis yang lain.

Dan baru belakangan ini akhirnya para Ilmuwan sepakat bahwa kemungkinan binatang raksasa tersebut lenyap bersamaan dengan jatuhnya asteroid raksasa ke bumi sekitar 65 juta tahun yang lalu. Ilmu genetika yang muncul belakangan membuktikan bahwa setiap mahluk memiliki gen dan kombinasi DNA masing-masing yang tercipta ‘entah dari mana’.

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS. Al-Fushilat(41):53).

Jadi sungguh menyesatkan bila ada teori yang mengatakan segala penyebab kejadian alam di seputar kita itu adalah‘karena hukum alam tanpa menyebut kata Allah SWT’ atau ‘secara kebetulan’ ataupun ‘dengan sendirinya’ seperti apa yang dikatakan para pengikut Darwinisme mengenai proses penciptaan alam semesta dan evolusi. Ini jelas sebuah penolakan terhadap keberadaan Allah SWT, Sang Maha Pencipta. Alangkah congkaknya !

“Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!” (QS.Yaasin(36):77).

Namun sebaliknya bagi umat Muslim, sebagai bukti keyakinannya terhadap seluruh ayat-ayat Al-Quranul Karim, semestinya para ilmuwan mau melakukan penelitian ilmiah berdasarkan ayat-ayat yang berhubungan dengan Pengetahuan Alam dan Sains.

“Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mu`jizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus”. Danmereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya”.(QS.Al-Qamar(54):1-3).

Pada suatu ketika Ibn Mas’ud berkata bahwa suku Quraisy di Mekkah meminta bukti kepada Nabi Muhammad SAW atas kebenaran risalahnya dengan membelah bulan menjadi dua. Maka turunlah ayat diatas. Para sahabat , antara lain Anas Ibn Malik, Ibn Umar, Hudzaifah, Jubair Ibnn Muth’im, Ibn Abbas dan beberapa sahabat lain membenarkan bahwa mereka ikut menyaksikan bulan yang terbelah tersebut ; belahan pertama terlihat di sebelah kanan Gua Hira’ dan yang lainnya di sebelah kirinya. Kejadian tersebut hanya berlangsung beberapa saat dan sebagian kaum musryikin menganggapnya sebagai sihir.

Sampai saat ini memang tidak ada bukti atas mukjizat tersebut. Bagi kaum yang telah cukup kuat keimanannya tentu tidak menjadi masalah. Karena mereka yakin tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Namun Prof. Zaghul an-Najjar, seorang ilmuwan Mesir kontemporer, dalam penelitian ilmiahnya belum lama ini telah mampu membuktikan adanya keretakan pada bagian bulan yang tidak dapat terjadi kecuali kalau suatu ketika ia pernah terbelah!

Sebagaimana seluruh proses penciptaan alam semesta beserta isinya yang sungguh mengagumkan begitu pula bulan dan segala fenomenanya. Bukankah kita telah lama mengetahui bahwa pasang surut air laut, yang dimanfaatkan para nelayan sebagai sarana untuk mencari ikan adalah suatu peristiwa yang erat hubungannya antara daya tarik bulan dan matahari?

Peristiwa bulan purnama tampaknya juga memiliki hikmah yang tidak sedikit yang hingga saat ini kelihatannya baru sedikit bahkan mungkin belum terungkap. Kepolisian sebuah negara bagian Amerika Serikat belakangan ini melaporkan bahwa kejahatan pada malam bulan purnama meningkat dibandingkan hari-hari biasa. Demikian pula laporan dari bagian medis negara yang sama yang melaporkan bahwa pada malam bulan purnama unit gawat darurat menerima pasien dengan berbagai keluhan penyakit yang meningkat dibanding hari-hari biasa.

Memang belum ditemukan hubungan antara keduanya, namun Rasulullah SAW terbiasa berpuasa pada 3 hari pertengahan bulan (tahun Hijriyah), yaitu pada saat bulan purnama. Selain itu Rasulullah juga terbiasa melakukanbekam yaitu pengobatan secara Islam yang telah lama dikenal di dunia Islam yang bertujuan untuk mengeluarkan darah kotor yang belakangan ini dikenal dengan nama Detoxifikasi pada malam bulan purnama. Apa sesungguhnya hikmah dari semua ini? Tampaknya ini tugas bagi Ilmuwan Muslim untuk meneliti rahasia tersebut.

Read Full Post »

Manusia adalah mahluk Allah yang paling pandai. Itu adalah perbedaan yang paling mencolok antara manusia dan mahluk lain termasuk binatang. Meskipun struktur tubuh manusia tidak sebesar gajah, giginya tidak setajam gigi beruang ataupun gigi harimau dan larinyapun tidak secepat kancil, namun dengan akalnya manusia dapat melumpuhkan mereka dan juga mengalahkan mahluk-mahluk yang lain. Bahkan dibandingkan para malaikatpun manusia jauh lebih unggul dan pandai!

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!”. Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”………….”(QS.Al-Baqarah(2):31-33).

Pada umumnya nafsu atau kebutuhan manusia yang pertama kali harus dipenuhi adalah kebutuhan makan-minum, kebutuhan  tempat berlindung demi keamanan dirinya dan kemudian  kebutuhan seksual. Setelah hal ini terpenuhi, baru ia mulai mengfungsikan akalnya, bagaimana agar hidupnya lebih berkwalitas, agar lebih tenang, aman dan nyaman . Dan disebabkan sifat manusia yang selalu ingin mencari tahu, ia kemudian belajar dan mulai mengamati keadaan sekelilingnya. Ia ingin mengetahui siapa dirinya, siapa penciptanya, dari mana ia berasal, apa tujuan hidup ini dan kemana ia akan pergi setelah ia mati.

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.(QS.An-Nahl(16):78).

Sebagian   orang berpendapat bahwa  manusia  terdiri dari 2 unsur,  yaitu  jasmani  dan rohani/ruh/jiwa.  Atau  dengan kata lain     fisik/badan/materi dan  psikis/akal/pikiran.  Namun  sebagian  ada   yang berkeyakinan  bahwa  manusa bukan  terdiri  atas  2   unsur, melainkan   3  unsur   yaitu   jasmani,  rohani  dan  jiwa.  Yang jelas, bahkan para ahli kejiwaanpun kadang sering rancu memberikan   difinisi  antara   rohani  dan  jiwa  karena  keduanya sama-sama  non materi.  Al-Quran  memang tidak  memberikan definisi yang pasti tentang hal tersebut. Kadang ia dikatakan sebagai “An-Nafs” kadang “Ar-Ruh” dan ahli tafsir menterjemahkan kadang sebagai jiwa kadang sebagai ruh. Namun demikian sesuatu yang pasti bahwa  manusia tanpa jiwa adalah bagaikan robot sedangkan manusia tanpa jasmani tentu tidak dapat lagi dikategorikan sebagai manusia dan manusia tanpa ruh adalah mati.

Sebagai perbandingan mungkin kita dapat mengambil contoh mudah yang nyata yaitu sebuah pesawat televisi. Bentuk fisik televisi adalah jasad kita, program siaran yang dapat kita saksikan sehari-hari dan dapat diganti dan diperbarui sewaktu-waktu adalah akal atau jiwa sedangkan aliran listrik adalah ruh kita. Manusia dalam keadaan tidur adalah bagaikan pesawat televisi yang dimatikan, yang aliran listriknya tidak dicabut namun programnya tidak aktif, itulah sebabnya orang pada saat tidur tidak dapat menggunakan akalnya dan kesadarannyapun hilang. Dan ketika ia kembali terjaga, akal dan kesadarannyapun kembali. Sama halnya ketika kita kembali menghidupkan pesawat televisi dengan remote control, programpun kembali aktif dan kita dapat kembali menyaksikan program dan acaranya. Sedangkan manusia yang telah mati, yaitu manusia yang telah dicabut ruhnya adalah bagaikan televisi yang telah dicabut aliran listriknya sehingga otomatis programnya hilang, maka dengan demikian aktifitasnyapun terhenti.

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.(QS.Az-Zumar(39):42).

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, maka manusia merasa perlu mencari ilmu. Sungguh beruntung kita sebagai umat Islam, karena Allah SWT telah menurunkan kitab suci Al-Quranul Karim dan As-Sunnah yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan sempurna.

Secara umum, Islam mengajarkan bahwa sesungguhnya manusia selain terdiri dari jasmani, ruh dan akal, ia juga dibekali hati. Dengan jasmani dan akalnya ia memiliki kemampuan untuk mendengar dan melihat, sedang dengan hatinya ia mampu menilai dan merasakan apakah suatu perbuatan itu baik atau buruk dan dengan adanya ruh  ia hidup.

Hadist qudsi menyatakan: “Aku jadikan pada manusia itu ada istana (Qashr), didalam istana itu ada dada (Sadr) didalam sadr itu ada kalbu (Qalb), didalam Qalb itu ada Fu’ad, didalam Fu’ad itu ada Syaghr, didalam Syagr itu ada Lubb, didalam Lubb itu ada Sirr dan didalam Sirr itu ada Aku (Ana).”

Hadist qudsi ini menunjukkan bahwa Ana (Aku) adalah inti dari manusia. Ana didalam Hadist ini adalah Allah. Jadi inti manusia ialah sesuatu yang bersifat Ilahiyah, sesuatu yang bersih dan suci. Pada dasarnya semua manusia pada waktu dilahirkan ke muka bumi adalah suci; bersih, bebas dari segala sifat jahat dan kotor, bersih dari segala dosa. Itulah fitrah manusia.

Dari sebuah hadist : “Aku telah menciptakan hamba-hambaKu dalam keadaan hanif kemudian syaitan menggelincirkan mereka dari agama mereka”….”; Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda : “Tiada anak manusia yang dilahirkan kecuali dengan kecenderungan alamiahnya (fitrah). Maka orang-tuanyalah yang membuat anak manusia itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”.

Jadi fitrah manusia adalah bagaikan pelita yang bila dirawat dengan baik dapat memberikan cahaya kesekitarnya. Yang dapat memberikan kebaikan dan manfaat bagi manusia lain dan alam sekitarnya. Yang dapat memberikan kesejukan dan rasa aman bagi tetangganya. Hal ini dikarenakan cahaya Ilahi telah menembus hatinya. Tak seorangpun dapat mencegah cahaya Allah yang begitu indah dan terang ini kepada hati manusia. Dengan cahaya ini dibimbing-Nya siapa yang dikehendaki-Nya, yaitu siapapun yang mau menjaga hatinya agar tetap bersih dan jernih. Tidak ada buruk sangka dalam hatinya.

Namun demikian fitrah berke-Tuhanan Yang Esa ini sesungguhnya adalah kebutuhan manusia paling kecil yang ada dalam diri manusia. Fitrah terbesar adalah kebutuhan akan bernafas. Sebagai contoh manusia tidak mungkin dapat dihambat kebutuhan akan oksigennya kecuali beberapa menit bahkan beberapa detik saja. Sedangkan kebutuhan akan air sebagai minuman lebih besar daripada kebutuhan akan makanan. Itu sebabnya manusia lebih kuat menahan lapar daripada menahan haus. Selanjutnya adalah kebutuhan akan kasih-sayang dan kebutuhan hubungan seksual. Meskipun demikian kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat dan harus dilatih dengan baik. Itulah perbedaan terbesar antara manusia dan hewan.

Sedangkan kebutuhan berke-Tuhanan Yang Esa adalah kebutuhan yang paling akhir, yaitu hingga ketika dalam sakratul maut. Oleh sebab itu tidak seorangpun manusia dapat menghindar dari kebutuhan tersebut. Namun kebutuhan yang dilontarkan pada detik-detik terakhir seperti ini tidak diterima oleh-Nya. Ini yang sesungguhnya terjadi pada Firaun.

” …; hingga bila Fir`aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.(QS.Yunus(10):90).

Kembali kepada hadits qudsi diatas. Bila di’analogi’kan dengan pengetahuan jiwa modern mungkin Qashr dapat disejajarkan dengan jasad, jasmani atau fisik sedangkan Sadr (dada) dan Qalb (hati) adalah jiwa atau psikis. Sedangkan lapisan-lapisan dibawah Qalb kita tidak memiliki pengetahuan apapun.

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (QS.Al-Israa’(17):85).

Oleh karena itulah, manusia hanya diberi kemampuan memahami hakikat manusia hanya sampai sebatas kalbu atau hati saja. Sedangkan pengetahuan mengenai ruh hanya sedikit sekali bahkan hanya meraba-raba atau sekedar menduga-duga. Untuk merawat dan memelihara inti sebagai sumber cahaya tidaklah mudah karena letaknya yang sangat dalam dan terlindungi. Oleh sebab itu segala penghalang yang menyelubungi lapisan-lapisan tersebut harus disingkap terlebih dahulu. Lapisan Sadr dan Qalb adalah tempat bercokolnya segala macam jenis penyakit seperti penyakit sombong, riya, benci, iri, dengki, buruk sangka dan sebagainya. Ini yang harus dibersihkan terlebih dahulu. Pada mulanya, hati adalah bersih. Namun dalam perjalanan hidupnya, lama-kelamaan ia menjadi terkotori dan tercemar. Dan hati yang terus dibiarkan kotor lama kelamaan akan menimbulkan penyakit.

Alkisah pada zaman Nabi Syuaib a.s datanglah seseorang dan berkata :

“Tuhan telah melihat semua perbuatan buruk yang aku lakukan.Tetapi karena kasih-sayang Nya, ia tidak menghukumku”. Tuhan kemudian berkata kepada Syuaib melalui Jibril: ”Jawablah dia.”.“Kamu berkata Tuhan tidak menghukummu. Sebaliknyalah yang terjadi. Tuhan telah menjatuhkan hukuman, tetapi kamu tidak menyadarinya. Kamu sudah berputar-putar tanpa arah di rimba belantara.Tangan dan kakimu terbelenggu. Kamu adalah poci yang menumpuk karat. Makin lama kamu makin buta dari hal-hal ruhaniah. Ketika asap menjilati poci tembaga yang baru,orang akan segera melihat bekasnya. Tetapi dengan permukaan segelap kamu, siapa yang tahu kapan ia menjadi lebih hitam. Di kala kau berhenti takafur, tumpukan karat menembus masuk ke cermin jiwamu. Tak ada lagi gemerlap didalamnya. Jika kamu menulis diatas selembar kertas baru, tulisanmu terbaca jelas. Jika kamu terus-menerus mencoreti kertas yang sama, tulisanmu tak akan terbaca . Tenggelamkan dirimu dalam asam yang membersihkan tembaga . Kikis habis noda-noda hitammu”.

Sebaliknya ketika Sadr dan Qalb telah bebas dari segala macam penyakit, bebas dari segala prasangka buruk, hatipun kembali seperti sedia kala, menjadi bersih dan bening. Dengan demikian maka iman akan dengan sangat mudah masuk ke dalam hati. Dan ketika iman telah tertanam dengan sangat kuat di dalam hati (Qalb) maka inti akan menampakkan cahayanya, ia akan mampu menembus seluruh lapisan yang menyelimutinya. Maka prilaku mulianyapun akan muncul ke permukaan hingga ke lapisan terluar yaitu Qashr atau fisik manusia, karena disamping sifat-sifat buruk tersebut manusia memang dianugerahi berbagai sifat baik, yaitu sifat Ilahiah.

“Orang-orang Arab Badwi itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: “Kami telah tunduk”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu………”.(QS.Al-Hujurat(49):14).

“……yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: “Kami telah beriman”, padahalhati mereka belum beriman;……”(QS.Al-Maidah(5):41).

Dalam hadis qudsi dikatakan : “Bumi dan langit-Ku tidak dapat memuat-Ku. Tetapi hati hamba-Ku yang berimanlah, yang lemah-lembut, yang dapat memuat-Ku”.

Allah SWT memberikan kebebasan bagi manusia untuk memilih; bertakwa dengan membersihkan diri atau sebaliknya membantah dengan mengotorinya.

“dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kedurhakaan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (QS.Asy-Syams (91):7-10).

Al-Ghazali dalam tulisannya yang berjudul “Mutiara Ihya Ulumuddin’ mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda : “Hati ada empat, yaitu : Hati yang bersih, didalamnya ada pelita yang bersinar; itulah hati orang Mukmin. Hati yang hitam dan terbalik; itulah hati orang kafir. Hati yang tertutup dan tutupnya terikat, itulah hati orang munafik. Dan hati yang dilapis, didalamnya terdapat keimanan dan kemunafikan. Keimanannya ibarat sayuran yang menjadi panjang dengan disiram air yang baik dan perumpamaan kemunafikannya adalah seperti luka bernanah yang dipenuhi nanah. Mana saja dari keduanya yang lebih dominan, maka ialah yang memerintah”.

Allah SWT menganugerahi manusia berbagai nafsu; ada nafsu makan dan minum, nafsu syahwat, nafsu mencapai keberhasilan, nafsu mencari tahu dan mencari ilmu, dan nafsu-nafsu lain. Nafsu atau juga kemauan dan kebutuhan ini dapat bersifat kebaikan namun sebaliknya juga bisa bersifat keburukan.

Kebutuhan ini bila karena suatu hal tidak terpenuhi atau terhambat akan mengakibatkan timbulnya suatu reaksi emosi alamiah yang bersifta negatif. Emosi negatif ini bermacam- macam, ada emosi marah, kecewa, takut, ragu, benci dan juga cemas. Namun emosi negatif ini sesungguhnya diperlukan agar seseorang terdorong untuk melawan dan berjuang mengatasi hambatan yang merintangi terpenuhinya kebutuhan/ keinginan tersebut. Tingkat emosi negatif seseorang dapat diukur berdasarkan tingkat kebutuhan yang terhambat dan tujuannya dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Jika emosi negatif itu terjadi pada saat adanya hambatan yang menghalangi tercapainya suatu tujuan utama kehidupan maka reaksi tersebut adalah reaksi yang mulia bahkan merupakan suatu keharusan.

Rasulullah menganjurkan kepada para sahabat untuk menahan diri dari rasa marah dan saling memaafkan. Seseorang yang dapat menguasai rasa marah akan menemukan nilai kehidupan tertinggi. Nilai kehidupan ini sepadan dengan“jihad spiritual ”. Maka siapapun yang berhasil dalam jihad ini maka ia akan mampu menguasai diri dari nafsu dan segala godaan dunia yang mengepungnya. Abu Dzaarr RA meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda :” Jika salah seorang diantara kalian marah dan ia dalam posisi berdiri, maka hendaknya ia segera duduk, makakemarahannya akan hilang. Namun jika kemarahan itu tidak reda, maka hendaknya ia berbaring”.

Rasulullah juga menganjurkan para sahabat agar berwudhu’ untuk mengendalikan emosi kemarahan. Diriwayatkan dari Urwah bin Muhammad as-Sa’di RA, Rasulullah bersabda : “Marah itu berasal dari setan, setan itu diciptakan dari api. Adapun api dapat dipadamkan dengan air, maka jika seseorang diantara kalian marah, hendaknya segeraberwudhu’.

Hadis ini menguatkan kebenaran ilmu kedokteran yang menyatakan bahwa air dingin dapat meredakan tekanan darah karena emosi, sebagaimana air dapat meredakan ketegangan otot dan syaraf. Oleh karena itu, mandi dapat dijadikan penawar untuk mengobati penyakit kejiwaan. Disamping itu, Rasulullah juga terbiasa menganjurkan para sahabat yang sedang dikuasai rasa amarah untuk mengalihkan perhatian pada aktifitas lain yang memungkinkan seseorang lupa akan rasa amarahnya ataupun merasa lelah sehingga ia tidak lagi memiliki tenaga untuk melampiaskan kemarahannya.

Sebaliknya bila suatu kebutuhan dapat terpenuhi maka akan muncul emosi atau rasa puas, senang dan gembira. Sama halnya dengan emosi negatif, emosi positif inipun tidak boleh dibiarkan terlalu berkuasa, ia tetap perlu dikendalikan. Karena seseorang yang dalam kondisi emosi yang berlebihan dapat mengakibatkan daya pikir menjadi melemah.

Oleh karena itu Rasulullah melarang orang dalam kondisi seperti itu untuk memutuskan suatu perkara (hukum). Dari Abu Bakar RA, ia mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Janganlah seseorang diantara kalian menentukan suatu hukum pada kedua pihak yang sedang berselisih dalam keadaan marah”. Begitu pula dengan emosi cinta. Dari Abu Darda RA: “Kecintaanmu terhadap sesuatu dapat menyebabkan kamu buta dan tuli”.

Oleh sebab itu Allah SWT membekali diri manusia selain hati juga akal. Dengan akal dan hati yang bersih nafsu dapat dikendalikan dan diarahkan, agar ia tidak bersifat merusak. Abu Dzarr RA meriwayatkan, Rasulullah bersabda :”Makanlah, minumlah, berpakaianlah dan bersedekahlah dengan tidak berlebihan dan sombong”.

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.(QS.Al-Furqon(25):67).

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnyanerakalah tempat tinggal (nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya)”.(QS.An-Naziat(79))37-41).

Abdullah bin Mas’ud RA berkata bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian yang sudah mampu mencukupi untuk hidup, maka nikahlah! Karena nikah itu dapat menutup mata dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa karena puasa itu merupakan benteng bagi dirinya”.

Ilmu Psikologi Barat Psikoanalisa yang diprakasai oleh Sigmund Freud dan kawan-kawan mengajarkan bahwa nafsu syahwat adalah suatu emosi yang harus disalurkan yang bila terhambat dapat mengakibatkan suatu penyakit. Ajaran ini sebenarnya berdasarkan pengalaman Kristen masa lalu yang menganggap bahwa nafu syahwat adalah nafsu setan yang harus dihancurkan sehingga sebagai akibat dari pelarangan tersebut ditemukan banyak penderita kelainan syaraf. Pendapat inilah  sesungguhnya yang pada akhirnya melahirkan budaya ’kumpul kebo’ di dunia Barat, yaitu hubungan seksual tanpa ikatan perkawinan. Tidak demikian dengan Islam, Islam mengajarkan nafsu syahwat adalah nafsu alamiah yang bila disalurkan melalui suatu perkawinan yang diridhoi Allah SWT justru akan mampu melahirkan emosi cinta dan rasa kasih sayang yang suci.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.(QS.Ar-Ruum(30):21).

Namun sebaliknya bila seseorang belum mampu membina suatu perkawinan maka wajib baginya menahan nafsu syahwatnya, diantaranya yaitu dengan berpuasa. Karena dengan berpuasa seseorang akan termotivasi untuk selalu menahan diri dari hal-hal yang dilarang Sang Pencipta.

“Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri) nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya”.(QS.An-Nuur(24):33).

Islam begitu menghormati hubungan antara laki-laki dan perempuan, termasuk hubungan seksual. Laki-laki dan perempuan adalah mahluk Allah yang paling tinggi derajatnya. Mereka tidak sama dengan binatang yang bebas tanpa aturan dapat menyalurkan nafsu birahi mereka. Tidak demikian dengan manusia. Adalah fitrah manusia bahwa Allah swt menciptakan ketertarikan antara dua jenis kelamin berlainan ini. Namun untuk memagari agar ketertarikan tersebut tetap dalam bingkai yang terjaga baik, Allah memerintahkan agar keduanya menutup bagian yang dapat memancing nafsu lawan jenisnya. Dimulai  dari menahan pandangan, tidak menampakkan perhiasan, menutup aurat hingga menjaga kesuciannya, yaitu memelihara kemaluannya dari perbuatan yang tidak terhormat, yaitu perzinahan.

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, danmemelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, ……”.(QS.An-Nuur(24):30-31).

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu”.(QS.Al-Ahzab(33:59).

Dengan demikian jelas bahwa nafsu syahwat tidak untuk dihancurkan maupun dibinasakan, yang terpenting manusia harus mampu mengatur pemenuhan dan pengendaliannya. Tidak berdosa bagi manusia untuk menikmatinya selama dengan cara halal dan memenuhi syariat yang ditentukan-Nya.

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”.(QS.An-Nisa’(4):3).

Ayat diatas bukan anjuran agar seorang mukmin berpoligami. Ayat ini sebenarnya kelanjutan dari ayat sebelumnya yang bila diperhatikan dengan lebih seksama akan memberikan pengertian lain.

“Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar”.(QS.An-Nisaa(4):2).

Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud serta At-Turmuzy meriwayatkan bahwa Urwah ibn Zubair bertanya kepada Aisyah ra mengenai ayat tersebut diatas. Aisyah menjawab bahwa ayat tersebut berkaitan dengan anak yatim yang berada dalam pengawasan seorang wali, dimana hartanya bergabung dengan sang wali. Kemudian karena tertarik akan kecantikan dan terutama karena hartanya, sang wali bermaksud mengawininya dengan tujuan agar ia dapat menguasai hartanya. Ia juga bermaksud tidak memberikan mahar yang sesuai. Aisyah kemudian melanjutkan penjelasannya bahwa setelah itu beberapa sahabat bertanya kepada rasulullah saw mengenai perempuan. Maka turunlah ayat 127 surat An-Nisaa sebagai berikut:

“Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Qur’an (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu)supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. ……..”.

Perlu diketahui, pada waktu ayat ini diturunkan, dalam tradisi Arab Jahiliah, para wali anak yatim sering mengawini anak asuhnya disebabkan tertarik akan harta dan kecantikannya, namun bila si anak yatim tidak cantik ia menghalangi lelaki lain mengawini mereka karena khawatir harta mereka terlepas dari tangan para wali. Karena itulah Allah berfirman “jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya)”, (kamu dalam ayat ini maksudnya ditujukan kepada para wali anak yatim),” maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat….”

Allah swt memberikan batasan maksimal empat istri karena pada waktu itu (tidak hanya dunia Arab namun juga Eropa termasuk Romawi dan Yunani) hampir sebagian besar lelaki memiliki istri yang tidak terbatas. Namun Ia menegaskan bahwa satu adalah lebih baik bila seorang suami khawatir tidak dapat berbuat adil terhadap mereka. Karena tanggung-jawab seorang suami selain harus menanggung hidup istrinya juga harus mampu mengayomi, membahagiakan serta mendidiknya menjadi wanita shalehah. Dan kelak ia harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya.

Jadi tidak benar jika ada yang menyatakan bahwa Islamlah yang mengajarkan praktek Poligami. Islam  hanya mengaturnya.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telahmenafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta`at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)”. (QS.An-Nisaa(4):34).

Setiap manusia adalah pemimpin, minimal bagi dirinya sendiri. Dan bagi seorang lelaki setelah ia menikah ia adalah pemimpin bagi keluarganya. Salah satu tugas utama seorang suami adalah bekerja dan menafkahi istri dan keluarganya. Hal ini pula yang menyebabkan mengapa hukum waris Islam menyatakan bahwa bagian antara anak lelaki dan perempuan adalah 2 banding 1.

“Allah mensyari`atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan; ………Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.(QS.An-Nisa’(4):11).

Namun ini tidak berarti bahwa Allah SWT membeda-bedakan laki-laki dan perempuan, karena dimata Allah hanya ketakwaannyalah yang membedakan mereka. Karena sebuah keluarga idaman adalah bagaikan sebuah perahu kecil dengan satu tujuan yang pasti yang untuk itu diperlukan hanya satu nakhoda. Meskipun demikian mereka harus bekerja-sama, saling sayang-menyayangi, saling membantu dan saling mengingatkan. Perumpamaan mereka bagaikan dinding suatu bangunan yang mana bila diangkat salah satu batu batanya maka ambruklah seluruh bangunan tersebut.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma`ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mu’min lelaki dan perempuan, (akan mendapat) syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di syurga`Adn. …….”.(QS.At-Taubah(9):71-72).

Disamping itu Sang Khalik juga amat memahami bahwa manusia membutuhkan teman dan kawan dalam mengarungi hidupnya karena manusia adalah juga mahluk sosial. Oleh karenanya manusia cenderung selalu berkelompok dan membentuk masyarakat agar lebih memudahkan hidup mereka. Dan memang salah satu diantara keuntungan menjaga nafsu serta emosi adalah agar hubungan silaturahmi antara sesama manusia dapat terjaga dengan baik. Agar dapat saling menghormati dan menghargai pendapat orang lain hingga timbul rasa kasih-sayang dan keadilan. Itulah fungsi hati.

Read Full Post »

Dewasa ini dapat kita amati dengan jelas, ilmu pengetahuan dan sains telah berkembang dengan begitu pesatnya. Para ilmuwan dari berbagai negara berlomba-lomba mendapatkan kemenangan dan kemuliaan dalam bidang ini. Mereka adu cepat membuka tabir rahasia alam dan berusaha menaklukannya. Maka temuan demi temuanpun terus bermuncullan dan seringkali temuan tersebut sesuai dengan ayat-ayat Al-Quran yang diturunkan 14 abad silam! Ini makin membuktikan bahwa Al-Quran adalah kitab yang memang datang dari Sang Pemilik Alam Semesta, Allah Azza wa Jalla.

Temuan terbaru sains barat  mengatakan bahwa jagat raya kita ini adalah salah satu dari jagat raya yang jumlahnya tak terbatas. Menurut Teori Relativitas Umum Einstein, “Black Hole“ atau lubang hitam yang telah kita kenal selama ini, bisa jadi adalah merupakan “pintu” menuju pintu jagat raya lain dan semua yang tersedot olehnya akan lewat dan memasuki daerah  “external ” ruang waktu, ruang yang memiliki waktu yang sama sekali berbeda dengan waktu yang kita miliki di ruang yang kita diami ini. Uniknya, tak ada satupun benda atau materi apapun yang dapat kembali atau keluar lagi  dari  daerah  ‘external’ ini  bila  ia  telah  masuk atau sampai ke jagat raya lain tersebut. Lorong yang menghubungkan ruang antar jagat raya ini dinamai  “Worm Hole” atau lubang cacing. Dalam suatu riwayat, Ibnu Katsir pernah berkata bahwa langit terdiri atas  7 tingkatan. Luas setiap langitnya seluas langit dan bumi sementara diantara langit satu ke langit yang lain terdapat ruang hampa!  Pertanyaannya, mungkinkah ada kehidupan di alam ‘external’ tersebut?

“ Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS.Al-Baqarah(2):30).

Gbr 1.Ilustrasi  Jagat Raya dengan galaksinya ( The Universe ).

Dari ayat diatas mungkinkah apa yang dipertanyakan para malaikat menandakan bahwa sebelum kita diciptakan, Allah SWT telah menciptakan khalifah yang telah terbukti membuat kerusakan dan membuat pertumpah darah? Sebagian besar alim ulama mengatakan ‘tidak’ namun ada pula sebagian yang mengatakan ‘ya’. Maka bila ‘ya’ siapakah mereka dan  di bumi yang manakah mereka itu hidup?

Pada tahun 2001 sebuah pesawat luar angkasa yang diberi nama ‘Mars Odyssey’ mengorbit di orbit Mars selama 3 tahun untuk melakukan analisa keadaan planet tersebut dengan harapan ada kesesuaian dengan keadaan planet bumi sehingga manusia dapat menempati planet Mars. Kesimpulannya, ditemukan tanda-tanda bahwa  kira-kira 4 milyar tahun yang lalu di planet tersebut pernah terjadi erosi atau mungkin banjir besar hingga kemudian terbentuklah sejenis  danau atau laut. Meski demikian para ilmuwan tidak atau belum melihat  adanya tanda-tanda suatu kehidupan.

Ibnu  Katsir  dalam  tafsirnya berpendapat bahwa sesungguhnya yang dimaksud ‘orang/mahluk’ yang telah berbuat kerusakan di muka bumi sebelum diciptakannya Adam as adalah mahluk dari jenis jin!

“ (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu”.(QS.Al-Jin(72):26).

Para ilmuwan juga berpendapat bahwa  berdasarkan ilmu pengetahuan sains dan perhitungan yang mereka pelajari, pada saatnya nanti jagat raya ini dengan pasti akan menuju kehancurannya dan tak satupun yang akan tersisa. Namun dalam waktu yang teramat sangat sangat lama, hitungannya hingga ratusan juta tahunan! Sebaliknya para ilmuwan saat ini tidak dapat menjelaskan secara pasti apa yang menyebabkan seperempat abad terakhir ini, siklus matahari yang berdasarkan perhitungan seharusnya mengakibatkan  suhu bumi menjadi lebih dingin, namun yang terjadi justru sebaliknya.

Untuk sementara sebagian dari mereka berpendapat bahwa hal tersebut disebabkan oleh adanya “efek rumah kaca”. Hal inilah yang menjadi penyebab pemanasan global yang terjadi saat ini. Dan hal tersebut jelas akibat ulah manusia yang secara berlebihan dan tidak bertanggung-jawab meng’exploitasi’ alam. Celakanya, dampak dari pemanasan global ini sangat berbahaya. Berbagai bencana akan timbul dimana-mana, tidak hanya banjir bandang, badai ,  kekeringan serta  resiko hilangnya sebagian daratan sepanjang pantai saja namun juga wabah kelaparan karena terjadinya perubahan dan terganggunya iklim yang tidak beraturan dapat menyebabkan kacaunya hasil panen! Akankah ini akhir dari umur dunia tempat tinggal yang amat kita cintai ini ? Wallahu’alam.

Menurut pendapat penulis, kita sebagai umat Muslim, sebaiknya kita tidak begitu saja menelan mentah-mentah temuan-temuan sains tersebut namun juga tidak langsung secara semerta-merta menolaknya. Sebaiknya kita kembalikan semua itu kepada  Al-Qur’an, karena memang Dialah Sang Pencipta, Yang Menguasai Segala Ilmu, Dia Maha Mampu Berbuat SekehendakNya. Selama ilmu dan temuan tersebut tidak bertentangan dengan Al-Quran maupun As-Sunnah tentu tidak menjadi masalah. Karena sesungguhnya Allah swt sangat menghargai mahluk-Nya yang mau merenungkan dan memikirkan segala apa yang telah diciptakan-Nya.

Sabda Rasulullah : “Jika seorang hakim berijtihad kemudian ijtihadnya ternyata benar, maka baginya dua pahala, Jika ia menghukumi kemudian ijtihadnya ternyata salah, maka baginya satu pahala”.

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”.(QS.At-Taubah(9):122).

Pengertian tentang pengetahuan agama diatas adalah termasuk pengetahuan yang mempelajari alam semesta karena itu semua adalah ciptaan-Nya. Karena sesungguhnya Dia menjadikan segala  yang ada ini dengan hikmah tertentu. Jadi alangkah baiknya bila kita juga menyimak pendapat para ilmuwan Muslim untuk mengimbangi gagasan  barat tersebut Karena seharusnya apapun ilmu yang kita peroleh baik itu ilmu pengetahuan sains maupun bukan akan membuat kita lebih mengenal dan mencintai-Nya. Temuan-temuan sains yang begitu canggih mustinya membuat kita makin terpana, berdecak penuh kekaguman akan Kehendak dan Kekuasaan-Nya, yang membuat kita makin menyadari betapa kecil dan tidak berartinya kita dihadapan-Nya. Apalagi bila temuan tersebut dapat memberikan manfaat yang banyak kepada manusia. Allah swt menciptakan alam semesta beserta isinya termasuk manusia tidaklah secara kebetulan. Ia ciptakan semua ini dengan aturan dan ukuran yang sungguh serba rumit dan teliti namun serba tepat  serta cermat dan pas.

“…. dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya”.(QS.Al-Furqon(25):2).

Dan Ia tidak segan untuk memperlihatkan aturan yang sungguh rumit tersebut kepada yang berakal dan mau mempelajarinya.

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?”(QS.Al-Fushshilat (41):53).

Hal ini tak lain untuk memperlihatkan Keberadaan-Nya karena hanya dengan izin-Nya jua rahasia-rahasia itu terkuak yang dengan demikian sebagai akibatnya seharusnya akan membuat kita lebih mensyukuri nikmat yang begitu banyak yang telah dianugerahkan-Nya kepada manusia. Hingga pada akhirnya akan menjadikan  kita manusia-manusia  yang bertakwa, yang penuh keridhoan melaksanakan perintah dan menjauhi  larangan-Nya.

Sejumlah ilmuwan Muslim berpendapat bahwa jagat raya yang dikatakan dengan pasti akan menuju kehancuran namun dalam waktu yang sangat amat lama tersebut adalah kehancuran jagat raya secara keseluruhannya, jagat raya yang diperkirakan terdiri dari  300 milyar galaksi dimana masing-masing galaksinya terdiri pula atas 300 milyar bintang / matahari!  Karena sebagaimana kita ketahui dan yakini bahwa yang kekal untuk selamanya hanyalah Allah SWT sedangkan  yang selain-Nya pasti hancur. Sedangkan hari kiamat yang dimaksudkan dalam Al-Quranul Karim kemungkinan adalah ‘hanya’ kehancuran galaksi kita, Bima Sakti, dimana bumi sebagai tempat tinggal kita ini berada didalamnya. Jadi termasuk didalamnya adalah matahari dan ke 9 planet yang telah kita kenal selama ini. Wallahu’alam.

Pendapat  tersebut  berdasarkan  ayat berikut:

“ Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih). Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya”.(QS.Huud(11):106-108).

Jadi menurut pendapat mereka, ketika seseorang menjalani kehidupan di neraka maupun di  surga, langit dan bumi itu masih ada, terkecuali tentu saja bila Allah SWT menghendaki lain. Pertanyaannya langit dan bumi yang manakah itu ? Mungkinkah yang dimaksud ‘ bumi dan langit ‘ pada ayat diatas adalah jagat raya – jagat raya selain jagat raya kita dimana galaksi kita, yaitu Bima Sakti termasuk didalamnya? Suatu alam yang hanya mungkin diterobos melalui lorong-lorong ‘Worm Hole”, yang memiliki dimensi waktu yang samasekali berbeda dengan jagat raya kita, yang tidak mungkin bagi siapapun yang melewatinya untuk dapat kembali lagi?  Mungkinkah  ini yang dimaksud alam akhirat ? Wallahu’alam.

Disamping itu bukankah Al-Quran juga telah berulang kali menyatakan bahwa perhitungan waktu di dunia tidak sama dengan perhitungan waktu di akhirat ? Bukankah  waktu menurut perhitungan manusia tak sama dengan perhitungan waktu-Nya? Dan juga seseorang yang telah mati mustahil baginya untuk kembali ke dunia, kecuali tentu saja bila Allah menghendaki.

“ Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”. (QS.As-Sajjdah(32):5).

“ Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun”.   (QS.Al-Maarij(70):4).

Simak pula pernyataan para pemuda penghuni Gua yang telah “ditidurkan”Nya  selama lebih dari 300 tahun  berikut:

“Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)” Mereka menjawab: “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari“….(QS.Al-Kahfi(18):19).“Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi)”.(QS.Al-Kahfi(18):25).

Namun apapun pendapat dan gagasan para ilmuwan, baik ilmuwan Barat maupun ilmuwan Muslim,  yang penting kita sadari, untuk menentukan sebuah temuan ilmiah diperlukan ilmu yang tidak mudah dan waktu yang sangat lama namun ternyata Al-Quran yang diturunkan lebih 14 abad yang lampau telah meng-identifikasikannya. Pertanyaannya dari mana Al-Quran mengetahui hal-hal  tersebut? Lalu masihkah pantas bila kita masih saja malas dan enggan mempelajari ayat-ayat tersebut atau bahkan mungkin malah masih meragukan ke-orisinil-an kitab suci tersebut?

Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin(Jibril) ke dalam hatimu(Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar (tersebut) dalam Kitab-Kitab orang yang dahulu”.(QS Asy Syu`araa` (26):192-196).

Namun demikian mempelajari Al-Quran memang tidak mudah. Al-Quran adalah bagaikan intan berlian yang dapat menimbulkan pandangan dan persepsi yang beragam tergantung dari sudut mana seseorang melihat dan mengartikannya. Ia bagaikan sebuah berlian yang makin digosok dan diteliti makin memantulkan sinarnya yang begitu indah dan sempurna. Yang kesemuanya itu akan kembali hanya kepada satu, yaitu ke-Besar-an dan ke-Agung-anNya. Itulah  rahmat Allah SWT yang harus  kita syukuri.

Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”.(QS.Al-Israa’(17):82).

Uniknya, Al-Quran adalah rahmat hanya bagi orang-orang yang beriman, tidak bagi orang-orang yang zalim bahkan hanya kerugian saja bagi mereka yang enggan mengimani-Nya dan cenderung  gemar berburuk sangka dan  menuruti hawa nafsu negatifnya.

Yang juga penting diingat, mempelajari ilmu Pengetahuan dan Sains adalah sangat terpuji dan ini adalah hak kita sebagai manusia apalagi bila ilmu tersebut  kemudian dapat memberi manfaat yang banyak serta dapat menjadikan kita lebih mencintai-Nya, jadi bukan sekedar pemenuhan rasa keingin-tahuan semata. Namun  jangan dilupakan  bahwa  tugas maupun amanah yang dibebankan kepada kita sebagai khalifah hanya sebatas umur kita dan hanya terhadap bumi dimana kita tinggal saja. Bukankah dalam ayat-ayatNya Allah SWT berulang-kali mengatakan bahwa kehidupan manusia di dunia ini hanya bagaikan permainan belaka? The True Game….

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”.(QS.Al-Hadiidf(57):20).

Disamping itu bukankah untuk membuktikan kebenaran sebuah ayat terutama yang berhubungan dengan Sains diperlukan waktu yang jauh lebih panjang dari umur kita sendiri? Dengan kata lain, bila untuk meng-imani bahwa Al-Quran itu adalah benar dari sisiNya kita ingin menunggu bukti-bukti ilmiah, sudah pasti  akan  terlambat.

Gbr.2.Ilustrasi kedudukan Matahari di dalam galaksi Bima Sakti (Milky Way). Anak panah menunjukkan letak Matahari.

Oleh karenanya selagi masih ada waktu dan umur mari kita bersihkan diri kita ini dari segala prasangka buruk, bersihkan hati serta akal dan mari kita pelajari ayat-ayat Al-Quran, kita pahami dan kemudian kita amalkan ayat-ayat tersebut agar rahmat-Nya selalu mengiringi kita. Kita telah ditakdirkan-Nya sebagai pemimpin / khalifah bumi maka sudah seyogyanya bila  kita tidak menyia-nyiakan amanah tersebut diumur yang terbatas ini sehingga kita tidak termasuk kedalam golongan hamba-Nya yang menyesal dan merugi.

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”. (QS. Al-Mukminun(23):99-100).

Read Full Post »

Sebagaimana telah berulang kali diterangkan diatas, manusia itu dibekali akal untuk berpikir. Dengan akalnya ini manusia akan berhasil membuka tabir dan rahasia kehidupannya bila hak ini ia pergunakan semaksimal mungkin. Dengan mengambil dan memanfaatkan haknya ini pulalah seseorang akan mengerti mengapa ia harus melaksanakan kewajiban-kewajibannya dan dengan demikian iapun akan mengerti dan memahami tugasnya sebagai seorang khalifah bumi.

“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir ”. (QS.Al-Hasyr(59):21).

Rupanya telah menjadi takdir bahwa manusialah yang memegang tugas tertinggi dan termulia di muka bumi ini yaitu sebagai khalifah bumi. Namun jangan lupa tugas seorang khalifah adalah tugas yang amat berat, terbukti bahwa mahluk lain yang sebelumnya juga telah ditawari jabatan tersebut menolaknya.

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.(QS Al-Ahzab (33):72).

Amanat yang dimaksud dalam ayat diatas adalah amanat untuk bertakwa kepada Allah SWT, yaitu amanat atau tugas untuk menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dan sebagai imbalannya bila manusia melaksanakan perintah dengan baik maka bagi mereka kedudukan yang mulia baik di dunia maupun akhirat kelak yaitu surga sebaliknya bila manusia lalai maka tempat kembali mereka adalah neraka jahanam dan di duniapun hidup mereka tidaklah nyaman.

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya”. (QS. Ath-Thalaq(65):(2-3).

Dan sebagai konsekwensi atas diterimanya amanat tersebut maka seluruh manusia, yaitu anak-cucu Adam dan seluruh keturunannya, mulai dari zaman awal penciptaan hingga akhir zaman nanti tanpa kecuali, wajib melaksanakan amanat tersebut. Dan karena amanat ini selain berat juga sulit, maka Allah SWT mengatakan bahwa manusia sesungguhnya bodoh karena mau menerima amanat tersebut.

Untuk mengetahui apakah amanat tersebut, apa saja perintah dan larangan yang dimaksudkan akan menuju ketakwaan kepada-Nya itu maka sebaiknya kita terlebih dahulu memahami hak dan kewajiban kita sebagai manusia. Sebenarnya memang agak sulit untuk memisah dan memilah antara hak, kewajiban dan tugas tersebut. Namun demi mempermudah gambaran suatu tugas dan amanat yang amat berat ini, penulis berupaya untuk mengelompokkan tugas, hak dan kewajiban manusia sebagai berikut, semoga Allah SWT meridhoi upaya ini.

Hak adalah segala sesuatu yang bila dikerjakan akan memberi keuntungan bagi si pelaku namun bila tidak ia lakukan maka dirinya sendirilah yang akan merugi, namun walaupun begitu tidak ada paksaan dan sanksi baginya. Sebaliknya kewajiban, adalah segala sesuatu yang harus ia laksanakan yang bila tidak dilakukan ia akan menerima sanksi atau hukuman dari si pemberi kewajiban. Sebagai akibat dari terpenuhinya hak dan kewajiban, seseorang diharapkan mampu melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya, yaitu tugas kekhalifahan. Disini penulis membagi hak, kewajiban dan tugas sebagai berikut :

Hak dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu:

–     Hak mengenal diri.

–     Hak mengenal Sang Maha Pencipta melalui ayat-ayat yang tersebar dialam semesta ( ayat Kauniyah).

–     Hak mengenal Sang Maha Pencipta melalui Al-Quran ( ayat Kauliyah) dan As-Sunnah.

–     Hak mengenal Sang Maha Pencipta melalui Asma dan Sifat-SifatNya.

–     Hak mengenal Sang Maha Pencipta melalui pribadi Rasulullah, Muhammad SAW.

Kewajiban terbagi atas 2 kelompok:

–     Meyakini Rukun Iman dan

–     Menjalankan Rukun Islam.

Dan tugas manusia dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu :

–     Menjaga hubungan dengan Sang Khalik.

–     Menjaga hubungan antar sesama manusia.

–     Menjaga kelestarian alam.

Pengelompokkan diatas tentu saja tidak baku. Ini hanyalah  salah satu cara untuk memotivasi kita dalam  melaksanakan ketakwaan. Agar kita menyadari bahwa sesungguhnya segala perintah dan larangan Allah swt itu adalah demi kepentingan diri kita sendiri juga. Allah Azza wa Jalla tidak sedikitpun memiliki kebutuhan ataupun ketergantungan atas apa yang dikerjakan manusia. Allah hanya berjanji bahwa  bila hak, kewajiban dan tugas manusia dapat dipenuhi dengan baik maka ridho’ Allah akan selalu menyertai kita.

Dan dengan adanya ridho ini maka para malaikat kemudian  seluruh penduduk langit dan bumi  dan apa yang ada di alam semesta ini akan ridho’ pula kepada kita. Maka dengan demikian terbukalah semua pintu-pintu kemudahan di dunia. Itulah balasan Allah di muka bumi sedangkan balasan di akhirat nanti adalah jannah, surga yang dipenuhi taman-taman, yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Tentram kita di dalamnya.

Dari Abu Hurairah ra, dari Rasulullah saw, beliau bersabda : ” Jika Allah mencintai hamba-Nya, Allah akan memanggil Jibril. Sesungguhnya Allah mencintai seseorang maka cintailah orang tersebut. Maka Jibrilpun mencintainya. Lalu Jibril memanggil penduduk langit. Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan maka seluruh penduduk langit mencintai si Fulan. Kemudian baginya dihamparkan penerimaan di  bumi”. ( HR Bukhari  dan Muslim).

 

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »