Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Perjalanan Sang Khalifah 2 – The True Game’ Category

  1. I. Meyakini Rukun Iman.

Rasulullah bersabda: “Keimanan itu ialah engkau akan percaya (beriman) pada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhirat dan engkau akan percaya kepada takdir baik dan buruk dari pada-Nya.”(HR. Muslim).

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya”. (QS.An-Nisaa’(4):136).

Perumpamaan orang  yang memiliki keimanan yang kuat adalah bagaikan sebuah pohon yang kokoh nan tegar, dimana  akar-akarnya mencengkeram  kuat jauh  kedalam  tanah,  demikian pula  batang, dahan dan rantingnya yang banyak dan kuat, daunnya rindang  sedangkan  buahnya  memberi  manfaat  yang  banyak  serta bunganyapun  harum  dan  sedap  untuk dipandang  mata.   Pohon yang  seperti  inilah  yang  layak untuk  dijadikan  tempat  berteduh dan  mencari  ketenangan. Ia kuat  dan tahan akan berbagai hantaman  yang  menerpanya.

“Tidakkah  kamu  perhatikan  bagaimana  Allah telah membuat  perumpamaan  kalimat  yang  baik  seperti  pohon  yang baik,  akarnya  teguh  dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon  itu  memberikan  buahnya pada setiap  musim  dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk  manusia supaya mereka selalu ingat.. Dan perumpamaan kalimat  yang  buruk  seperti  pohon  yang  buruk,  yang  telah dicabut  dengan  akar-akarnya  dari permukaan  bumi;  tidak dapat  tetap  (tegak)  sedikitpun;….…”.(QS.Ibrahim(14):24-27).

Sebaliknya  orang  yang lemah imannya adalah bagaikan pohon  yang  tidak  memiliki  akar,  mudah  patah, rusak dan ambruk, tidak memberi manfaat lagipula tidak sedap dipandang mata.

Dengan  demikian  keimanan  tidak  sebatas  hanya  pada  tahap  pengenalan  saja namun lebih  pentin g lagi pengamalannya. Karena Iman itu adalah bersatunya  antara ucapan  (lisan),  hati (meyakini)  dan  melaksanakannya  (perbuatan).

Rasulullah bersabda : “Iman  seorang  mukmin yang paling sempurna adalah yang paling sempurna akhlaknya”.

Orang-orang  yang beriman adalah  mereka yang ketika menemui perkara atau kesulitan mau tunduk atas apa yang diputuskan  para  rasul  dan  utusan-Nya.

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”.(QS.An-Nisa (4):65).

Sebaliknya amal orang yang tidak beriman samasekali tidak berguna dikarenakan apa yang mereka kerjakan itu tidak mendapatkan ridho’-Nya karena merekapun mengerjakan amal mereka itu tidak disebabkan oleh-Nya.

“Dan  orang-orang  yang kafir  amal-amal  mereka  adalah laksana  fatamorgana di  tanah  yang  datar, yang disangka air oleh  orang-orang  yang  dahaga,  tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan di dapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah  memberikan  kepadanya perhitungan  amal-amal  dengan  cukup  dan  Allah  adalah  sangat cepat  perhitungan-Nya.  Atau  seperti  gelap  gulita  di  lautan  yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun”.(QS.An-Nuur(24):39-40).

Rasulullah bersabda :”Barangsiapa yang mencintai karena Allah SWT, membenci karena Allah SWT, memberi karena Allah SWT dan melarang karena Allah SWT maka ia telah mencapaikesempurnaan Iman”.

Oleh sebab itu seorang yang telah sempurna imannya akan terlihat dari sikapnya, ia memiliki keberanian, ketenangan dan rasa percaya diri yang tinggi dalam menjalani kehidupan. Rasa optimis melekat erat dalam dirinya sebaliknya rasa pesimis hilang dari dirinya.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka”.(QS.Al-Anfal(8):2-3).

1. Iman kepada Allah.

“Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: “Kami dengar dan kami ta`ati”. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati (mu)”.(QS.Al-Maidah(5):7).

Keimanan ini yang mula-mula harus ditanamkan kuat di dalam hati seorang manusia. Keimanan berdasarkan aqidah Tauhid, Tuhan yang Esa,”Tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah”. Itulah ciri utama orang beriman atau mukminin. Ia percaya sepenuhnya akan adanya Tuhan, Allah Azza wa Jalla yang selalu siap membantunya bila manusia mau meminta dan memohon.

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya  dalam  penciptaan

langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, danpengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”. (QS.Al-Baqarah(2):163-164).

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.(QS.Al-Fushilat(41):30).

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (QS.Ar-Raad (13):28).

Sebagaimana telah diterangkan pada bab “Mengenal Sang Pencipta melalui ayat-ayat Al-Quran” hanya orang-orang yang tidak mau menggunakan akalnya saja yang tidak mau dan tidak sanggup mengimani keberadaan Tuhan Yang Satu, Allah SWT, walaupun tanda-tanda dan bukti-bukti begitu terang didepan mata mereka.

“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnyabukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”.(QS.Al-Hajj(22):46).

Sesungguhnya bahkan sebagian besar para Rasulpun tidak begitu saja langsung mengimani keberadaan Allah SWT,  melainkan

dengan jalan berpikir dan merenungi berbagai kejadian demi kejadian, peristiwa demi peristiwa yang terjadi dimuka bumi ini. Hingga akhirnya Dia ridho memberikan hidayah dan petunjuk-Nya kepada kebenaran yang sebenar-benarnya, kebenaran yang hakiki.

“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”.(QS.Al-An’am(6):75-79).

Keyakinan akan keberadaan Allah SWT inilah sesungguhnya yang menjadi pintu gerbang menuju kebenaran. Dan kemudian dengan ridho’Nya semata akan ditunjuki-Nya jalan yang lurus.

2. Iman kepada para Malaikat.

Malaikat adalah mahluk ghaib ciptaan Allah SWT. Mereka adalah para utusan yang senantiasa tunduk dan patuh atas perintah-Nya, yang senantiasa bertasbih, memuji dan mensucikan-Nya.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “……”. Mereka berkata: “…… padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”(QS.Al-Baqarah(2):30).

Allah SWT menciptakan manusia dari tanah, syaitan dari api sedangkan malaikat dari cahaya. Perbedaan inilah yang menjadikan syaitan tidak mau menurut kepada apa yang diperintahkan Allah SWT. Namun tidak demikian dengan malaikat. Hal itu tidak menjadikan alasan bagi para malaikat untuk menolak perintah-Nya.

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”; maka merekapun bersujud……”.(QS.Al-A’raaf(7):11).

Masing-masing malaikat memiliki tugas sendiri-sendiri dan mereka ini ada yang memiliki dua, tiga dan ada yang memiliki empat sayap. Bahkan Jibril dikabarkan memiliki 600 sayap !

“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat ……”.(QS.Faathir(35):1).

Jibril adalah salah satu dari para malaikat. Ialah yang bertugas menyampaikan wahyu dari Allah SWT kepada para utusan-Nya.

“Katakanlah: Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman”.(QS.Al-Baqarah(2):97).

“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha”.(QS.An-Najm (53):13-14).

“Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu”. (QS.Ali Imraan(3):42).

Masing-masing malaikat mengemban tugas masing-masing dan memiliki namanya masing-masing pula. Diantaranya yaitu, Rakib dan Atid bertugas mencatat amal baik dan buruk seseorang,

“………, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri”.(QS.Al-Ahqaaf(50):16-17).

Ridwan menjaga surga, Malik bertugas menjaga neraka.

“Mereka berseru: “Hai Malik, biarlah Tuhanmu membunuh kami saja”. Dia menjawab: “Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)”.(QS.Al-Zukhruf(43):-77).

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”.(QS.An-Nisa’(4):97).

“…Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu………”. (QS.Al-An’am(6):93).

Malaikat-malaikat ini atas perintah-Nya selalu menjaga dan mendampingi manusia. Maka barangsiapa tidak mau meyakini adanya para malaikat mereka adalah kafir.

“Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir”. (QS.Al-Baqarah(2):98).

3. Iman kepada Kitab-Kitab-Nya.

Seorang yang beriman adalah mereka yang juga meyakini bahwa Allah SWT telah menurunkan kitab-kitab kepada para Rasul selaku utusan-Nya. Sebelum Al-Quranul Karim Allah SWT telah menurunkan kitab Zabur kepada Daud as, Taurat kepada Musa as dan Injil kepada Isa as.

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,”(QS.Al-Maidah(5):48).

“Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya`qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.(QS.Al-Baqarah(2):136).

Namun sayangnya kitab-kitab tersebut telah diubah-ubah sehingga tidak lagi seperti aslinya.

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui”. (QS.Al-Baqarah(2):146).

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya.” Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima”.(QS.Ali Imran(3):187).

“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, `Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara”.(QS.An-Nisa’(4):171)

Allah SWT telah memperingatkan hal tersebut melalui sabda-Nya yang tertuang dalam kitab terakhir, Al-Quran, namun bila ternyata saat ini masih banyak manusia yang enggan mempercayai-Nya dan tetap meneruskan keyakinan yang sesat tersebut, Allah SWT berlepas tangan atas mereka.

“Al Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus”.(QS(At-Takwiir(81):27-28).

4. Iman kepada Rasul-Rasul-Nya.

Sebagai salah satu tanda kasih sayang-Nya, Allah SWT berkehendak menurunkan para utusan. Utusan-utusan tersebut adalah orang-orang yang amat tinggi ketakwaannya, mereka adalah hamba-hamba pilihan yang diutus untuk mengingatkan dan mengajarkan kebenaran sejati agar manusia tidak tersesat.

“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni`mat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis”.(QS.Maryam(19):58).

Dari Abu Dzarr : “Saya berkata, ”Wahai Rasulullah, berapa jumlah para nabi?”. Rasulullah menjawab, “Seratus dua puluh empat ribu”. Saya berkata, “Lalu berapa jumlah rasul dari antara mereka itu?”. Rasulullah menjawab,“Tiga ratus lima belas, jumlah yang banyak”. Saya katakan, “Siapa rasul pertamadiantara mereka ?”. Rasululah menjawab, “Adam”.

Namun di dalam Al-Quran itu sendiri, Allah SWT hanya menceritakan 25 diantara para Rasul-Nya. Para Rasul ini mengajarkan agar manusia pandai bersyukur atas nikmat yang telah dilimpahkan kepada mereka. Mereka mengajarkan bahwa Tuhan yang sebenarnya dan yang patut disembah hanya satu yaitu Allah SWT, inilah ajaran Tauhid. Dan kita wajib mengimani para Rasul tersebut tanpa kecuali dan membeda-bedakannya.

“…(Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami ta`at”……”.(QS.Al-Baqarah(2):285).

Walaupun para Rasul ini pada dasarnya membawa ajaran yang sebenarnya sama namun dalam syariatnya belum tentu demikian. Masing-masing memiliki kekhasannya sendiri-sendiri. Nabi Yusuf, nabi Musa, nabi Daud, nabi Sulaiman dan nabi Isa as misalnya, mereka diutus untuk menyampaikan ajaran khusus kepada bani Israel.

“Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): “Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku”.(QS.Al-Isra’(17):2).

Sebaliknya nabi Muhammad SAW, beliau diutus untuk menyampaikan ajaran kepada seluruh umat manusia.

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.(QS.Al-Anbiyya(21):107).

“(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami, bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”.(QS.Al-Nahl(16):89).

Beliau adalah seorang nabi penutup, nabi terakhir dari seluruh rangkaian nabi dan Rasul. Tidak akan ada lagi nabi sesudah itu.

” Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalahRasulullah dan penutup nabi-nabi”.(QS.Al-Ahzab(33):40).

Rasulullah bersabda : “Perumpamaanku dan seluruh nabi-nabi lainnya adalah seperti seorang yang mendirikan bangunan. ia telah memperbaiki dan memperindah bangunan itu seluruhnya kecuali hanyasebuah batu yang belum terpasang disalah satu sudut bangunan itu, maka orang-orang mengelilingi dan mengagumi bangunan seraya berkomentar :”Alangkah baiknya kalau batu bata itu diletakkan diletakkan ditempat yang kosong itu”. Akulah batu bata itu dan akulah penutup nabi-nabi itu”.

5. Iman kepada Hari Akhir.

“Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan. Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu”. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka. Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. Kemudian, dikatakan (kepada mereka): “Inilah azab yang dahulu selalu kamu dustakan”.(QS.Muthaffiffin(83):10-17).

Orang beriman meyakini bahwa suatu saat nanti akan datang suatu hari dimana manusia harus mempertanggung-jawabkan apa yang telah dikerjakannya selama hidup didunia. Itulah hari Kiamat, hari Pembalasan, hari dimana dihitung dan ditimbang mana perbuatan baik dan mana perbuatan buruk.

“Maka apabila sangkakala ditiup sekali tiup, dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat, dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)”.(QS.Al-Haaqqah(69):13-18).

“Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan ”.(QS.Al-Qariah(101):3-5).

“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat) dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (jadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya”. (QS.Al-Zalzalah(99):1-5).

Begitu banyak ayat yang menerangkan keadaan pada Hari Kiamat nanti. Dimulai dengan ditiupnya sangkakala, maka mati dan binasa semua yang berada di langit maupun di bumi. Kemudian terdengar sekali lagi sangkakala yang ditiup, kemudian semua manusia yang telah mati akan dibangunkan kembali untuk mempertanggung-jawabkan apa yang mereka telah lakukan di bumi ini.

“Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun,niscayadia akan melihat (balasan) nya pula”.(QS.Al-Zalzalah(99):6-8).

“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)”. (QS.Az-Zumar(39):68).

“Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan”. (QS.Al-Fushshilat(41):22).

Maka pada saat itu tejadi pengadilan akhirat. Tiada sedikitpun mereka didzalimi karena masing-masing bersaksi atas diri mereka sendiri. Tiada sedikitpun yang terlewati melainkan semua amal perbuatan akan diperlihatkan. Mereka bagaikan melihat rekaman kejadian sepanjang hidup mereka. Dan balasan bagi mereka yang berat timbangan amalnya adalah surga sedangkan yang berat timbangan kejahatan baginya neraka jahanam. Dan Dialah Sang Hakim Agung Yang Maha Bijaksana lagi Maha Pengampun yang berhak menentukan keputusan yang sebaik-baiknya. Dan Rasulullah Muhammad SAW berkenan memberikan syafaat bagi umat yang mencintainya dan dicintainya.

“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan(kebaikannya), maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?(Yaitu)api yang sangat panas”. (QS.Al-Qariah(101):6-11).

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”(QS.Ali Imraan (3):185).

Rasulullah bersabda : “Pertama kali yang akan diadili diantara manusia pada hari Kiamat ialah tentang perkara pembunuhan”.(HR Bukhari-Muslim).

Suatu saat, ketika para sahabat sedang berkumpul dan berbicang perihal hari Kiamat, datanglah Rasulullah. Segera mereka menanyakan hal tersebut, maka Rasulullahpun bersabda : “Tidak akan terjadi hari Kiamat sehingga kalian melihat sepuluh tanda : Terbit Matahari dari arah Barat, kabut, Binatang melata, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, keluarnya Isa putra Maryam, Dajjal dan tiga gerhana : gerhana di timur, di Barat, dan di jazirah Arab dan api yang keluar dari jurang Adn yang akan menggiring manusia atau mengumpulkan manusia. Api itu akan menginap bersama mereka di manapun mereka menginap dan akan beristirahat siang dengan mereka tatkala mereka tidur siang”.

“Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan. (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu. Tetapi mereka bermain-main dalam keragu-raguan. Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata, yang meliputi manusia.Inilah azab yang pedih”.(QS.Ad-Dukhan(44):8-11).

Apakah yang dimaksud dengan kabut yang nyata , yang menyelimuti manusia dalam ayat diatas?

Sebagaimana kita ketahui 2 tahun terakhir ini Indonesia mendapat gelar baru , yaitu negara ’pengexport asap’terbesar di dunia. Hal ini dikarenakan asap kebakaran hutan yang sering kali terjadi terutama di pulau Kalimantan dan Sumatra, bahkan tahun ini pulau Jawa tidak mau ‘ketinggalan’ menyumbangkan asapnya. Negara tetangga telah beberapa kali menyatakan perasaan kecewanya terhadap hal ini. Namun kebiasaan dan kelakuan buruk membuka lahan dengan cara membakar hutan ini terus saja diteruskan. Jelas hal ini sangat mengganggu bukan saja masyarakat negara tetangga namun juga bagi kita sendiri. Asap ini demikian hebatnya hingga mengganggu pernapasan dan pandangan. Rupanya asap tebal ini tidak hanya terjadi di negara kita walaupun dengan cara yang berbeda. Hutan di berbagai negara seperti di Italia, Australia dan Amerika baru-baru ini juga mengalami kebakaran hebat disebabkan iklim panas yang berlebihan.

”Apabila matahari digulung,apabila bintang-bintang berjatuhan dan apabila gunung-gunung dihancurkan”;”dan apabila lautan dipanaskan”.(QS.At-Takwiir(81):1-3,6)

Tentu saja kebakaran ini mengakibatkan asap dan kabut yang bila difoto dari udara bagaikan kabut tebal yang menyelimuti bumi. Belum lagi buangan CO2, sumbangan dari berbagai pabrik dan berbagai kendaraan di jalanan sebagai akibat kemacetan yang sungguh luar-biasa. The British Antartic Survey (BAS) menyatakan bahwa karbondioksida di atmosfir ternyata meningkat 35 persen lebih banyak dibanding tahun 1990. Berdasarkan penelitian yang mereka lakukan, didapati hampir 10 milyar ton karbon menutupi permukaan bumi!

lnikah yang dimaksud satu dari tanda-tanda kiamat dalam ayat dan hadis diatas? Namun sebagian mufassir mengatakan bahwa yang dimaksud kabut dalam ayat diatas adalah kabut yang disebabkan jatuhnya meteor menjelang akhir zaman nanti. Kabut yang akan menyebabkan terhalangnya matahari, yang menyebabkan berbagai penyakit dan menjadi penyebab mutilasi hingga akhirnya memunculkan ’wajah asli’ Sang Dajjal. Boris Shustov, direktur Institut Astronomi Rusia, pada forum internasional mengenai luar angkasa yang diselenggarakan pada 1/10/2007 lalu mengemukakan bahwa asteroid Apophis yang diperkirakan akan melintasi orbit Bumi pada 2029 dengan jarak 27 ribu kilometer berpotensi menghantam Bumi!

”Apabila langit terbelah, apabila bintang-bintang jatuh berserakan dan apabila lautan dijadikan meluap”.(QS.Al-Infithaar (82):2-3).

Dan beberapa waktu yang lalu sebagian penduduk Jakarta memang telah mengalami banjir yang disebabkan meluapnya laut di utara kota tersebut! Mungkinkah berbagai penyebab diatas telah membuat manusia menggali ‘kubangnya’ sendiri hingga mempercepat datangnya hari yang maha dasyat tersebut ? Wallahu’alam.

6. Iman kepada Takdir.

Kemudian yang terakhir, sebagai orang beriman, ia pasrahkan segala sesuatu kepada-Nya, tentu saja setelah ia berusaha keras mencapai apa yang diinginkannya. Itulah takdir dari Tuhannya sebagai ketetapan yang merupakan hak mutlak Sang Maha Khalik.

Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” .(QS.Al-Ahzab(33):17).

Takdir adalah segala sesuatu yang telah terjadi dengan ridho Allah SWT. Namun yang kemudian kerap menjadi pertanyaan adalah kapan takdir itu ditetapkan, sebelum atau sesudah penciptaan. Pendapat yang mengatakan bahwa takdir telah ditetapkan jauh sebelum manusia diciptakan atau faham Qadariyah adalah berdasarkan ayat berikut:

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi ini dan (tidak pula)pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab(Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah”. (QS. Al Hadid(57):22).

Akan tetapi ada pula sebagian pendapat yang mengatakan bahwa takdir dijatuhkan setelah manusia berusaha atau faham Jabariyah. Mereka menyatakan ini berdasarkan salah satunya dari ayat berikut :

“…. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…. ”. (QS. Ar Ra’d(13):11)

Dalam hal ini penulis lebih condong dan berpegang pada ayat (57:22) tetapi tentu saja tanpa mengabaikan adanya ayat2 lain termasuk ayat 13:11 diatas. Namun takdir tersebut tidak sesederhana yang kita bayangkan. Misalnya bahwa si A ditakdirkan lahir sebagai orang miskin atau si B telah ditakdirkan meninggal karena bunuh diri atau karena bencana alam dsb. Alangkah naifnya Allah bila ia menciptakan takdir sesederhana itu.

Bahkan pada permainan atau game seperti playstation atau komputer saja, si pembuat game mampu menciptakan permainan yang rumit yang memerlukan ketrampilan dan kecekatan si pemain bila ia menginginkan hasil yang memuaskan. Atau ambil contoh lain, sebagai ilustrasi, bayangkan kita sedang berada di dalam sebuah labirin. Untuk dapat keluar dari labirin tersebut, tidak ada jalan lain kecuali harus mencoba melalui segala jalan. Hal tersulit adalah pada saat kita menjumpai suatu persimpangan, dimana kita harus memutuskan untuk terus, belok kiri atau kanan tanpa mengetahui apa yang ada dihadapan kita. Dan bila ternyata jalan tersebut buntu kita harus kembali ke persimpangan terdekat dan kembali harus mencoba menempuh jalan lain.

Demikian pula perumpamaan takdir kehidupan. Takdir telah Allah persiapkan jauh sebelum kita dilahirkan ke muka bumi. Takdir diciptakan dalam sebuah rangkaian sejumlah program rumit yang disimpan dalam bentuk ‘chip’ bagaikan ‘chip’ dalam komputer, yang akan dibawanya serta ketika manusia dilahirkan. Setiap manusia memiliki ‘chip’ masing2 yang berbeda satu sama lain. Ada yang rumit dan ada pula yang sederhana. Semua atas kehendakNya.

“Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya(sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya ”. (QS. Al Israa’(17):13).

Nah, dengan bekal ‘chip’ inilah manusia harus menjalani kehidupannya. Perbedaannya dengan contoh diatas, dalam kehidupan kita tidak mungkin melangkah mundur. Roda kehidupan terus berlanjut hingga waktu yang telah ditetapkan dan tak satupun manusia mengetahui sampai kapan ia diberi kesempatan untuk menjalani hidupnya.

“Allah berfirman: “…….Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan”. “Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan”. (QS.Al-Araaf(7):24-25).

Labirin belum mencapai ‘finish’ selama hayat masih dikandung badan. Pada saat ini manusia dituntut untuk berpikir dan menggunakan akalnya. Manusia adalah mahluk ciptaan Allah yang paling tinggi derajatnya. Ia diberi akal, pikiran dan perasaan untuk dapat menentukan mana baik, mana buruk, mana yang disukai, mana yang tidak disukainya.

Bila dalam setiap permainan atau game komputer ataupun dalam pembuatan kendaraan misalnya, si pembuat menyertakan buku panduan maka apalagi Allah, Sang Maha Pencipta, yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang berada diantara keduanya. Pada setiap zaman Ia menurunkan petunjuk melalui kitab-kitabNya. Mungkin dapat kita bandingkan dengan adanya edisi 1,edisi2 pada setiap peluncuran buku-buku terbitan baru, dimana kandungan edisi terbarunya selalu lebih baik dan lebih sempurna, demikianlah dengan kitab-kitab Allah, kitab terakhir menerangkan dan memberi penjelasan akan kitab sebelumnya. Semuanya itu untuk kepentingan umatNya, umat yang amat dicintaiNya. Dengan bekal buku petunjuk inilah manusia akan dapat menentukan langkahnya. Selalu ada kemungkinan untuk berhasil ataupun gagal, tergantung pada usaha masing-masing. Allah berfirman:

“Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah(Allah), maka sesungguhnya dia berbuat ituuntuk(keselamatan) dirinya sendiri;dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi(kerugian) dirinya sendiri”. (QS. Al Israa’(17):15).

Akan tetapi yang perlu selalu diingat, kemungkinan-kemungkinan tersebut tetap berada dalam kerangka program pada masing-masing ‘chip’ yang telah disiapkan olehNya jauh sebelum ia dilahirkan. Oleh sebab itu tidaklah patut apabila seseorang mengatakan bahwa keberhasilannya adalah semata karena usahanya. Sebaliknya bahwa kegagalannya adalah karena ketidak-mampuannya semata.

“(Kami jelaskan yang demikian itu)supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu,dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”.(QS Al Hadid(57):23).

Keberadaan ‘chip’ ini mungkin dapat pula kita bandingkan dengan ‘black-box’ pada pesawat terbang. Namun bila Black-box hanya mampu merekam apa yang terjadi pada saat-saat terakhir perjalanan didalam sebuah pesawat terbang, maka chip pada diri manusia selain memiliki program ‘perjalanan hidup’ juga sekaligus memiliki kemampuan merekam segala kejadian yang dilaluinya sejak ia dilahirkan hingga kematiannya. Ia terus mendampinginya, merekam dan mencatat kejadian demi kejadian, yang besar maupun yang kecil dan baru berhenti merekam begitu manusia masuk kubur. Chip inilah yang akan memberikan kesaksian di hari Akhir nanti. Maka tak seorangpun kelak mampu menyembunyikan ataupun menghindar dari satu perkara betapapun kecil dan sepelenya suatu perkara.

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis) “.(QS.Al-Kahfi(18):49).

Chip ini bahkan mampu merekam apa yang dibisikkan dalam hati.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”.(QS.Qaaf(50):16-18).

Oleh sebab itu dikatakan pada hari pembalasan nanti Yang Maha Kuasa akan memperlihatkan kepada manusia segala amal perbuatannya.

“Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supayadiperlihatkan kepada mereka pekerjaan mereka. “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihatnya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihatnya pula”. (QS.Al-Zalzalah(99):7-8).

Bahkan Ia berfirman setiap anggota tubuh dirinya mampu melihat catatan perbuatannya sendiri. Cukup dirinya sendiri sebagai saksi, tidak ada kebohongan, kecurangan maupun kelalaian didalamnya.

“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.”(QS.Al-Israa’(17):14).

Tetapi seperti apakah bentuk dan dimanakah chip ini disimpan? Karena bukankah pada saat manusia mati jasadnya akan hancur menjadi tanah? Tak satupun manusia mengetahuinya. Namun dalam dunia komputer adalah hal biasa untuk mentransfer sejumlah data dari sebuah komputer ke pusat data komputer lain ditempat yang berjauhan sebagaimana lazimnya orang berkirim e-mail. Apakah pusat data tersebut adalah Kitab (Lauh Mahfuzh) sebagaimana tersirat dalam surat Al-Hadid (57) ayat 22 diatas ? Wallahu’alam. Itu adalah rahasia Allah. Kita sebagai manusia hanya mampu meyakini bahwa Ia Maha Berkuasa atas segala sesuatu.Yang terpenting adalah niat dan usaha kita, karena niat, usaha dan juga sikap akhir kita dalam menerima ketetapan Allah inilah yang akan diperhitungkan kelak di akhirat. Karena sesungguhnya dunia hanya permainan belaka sebagaimana firman Allah:

“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya;sedang apa yang disisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?”.(QS Al Qashash(28):60).

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang diusahakannya, dan bahwasanyausahanya itu kelak akan diperlihatkan(kepadanya)”. (An Najm(53):39-40).

Tetapi kita juga tidak perlu terlalu khawatir akan ketetapan-ketetapan tersebut karena Allah juga berfirman,

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya”. (QS Al Baqarah(2):286).

Oleh sebab itu agar kita dapat melalui takdir terbaik kita, disamping harus memiliki berbagai ilmu pengetahuan yang bermanfaat(termasuk mengenal fenomena alam, sebab dan akibatnya), kerja keras dalam pengamalan pengetahuan tersebut, kita juga harus selalu memohon petunjukNya.

“Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu dimuka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”.(QS Al Jumuah(62):10).

Dan agar supaya Ia berkenan mengabulkan doa dan memberikan petunjukNya, maka sudah sepatutnya bila kita wajib mengenalNya dengan baik, yaitu dengan cara menjalankan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya sesuai dengan apa yang telah diajarkan dalam kitab dan sunah rasulNya.

Kemudian apakah bencana, penyakit, kekurang-beruntungan kita dalam memperoleh rezeki bahkan jodoh yang kurang bertanggung-jawab misalnya apakah itu semua adalah suatu takdir? Semua yang telah terjadi sudah pasti adalah takdir. Akan tetapi yang perlu dipertanyakan adalah apakah sebelum terjadinya hal-hal tersebut kita telah berusaha menghindari dan mencegahnya dengan sungguh-sungguh? Bila tidak, ada kemungkinan sebetulnya ada jalan lain, takdir yang lebih baik yang memungkinkan kita terhindar dari takdir yang kurang menyenangkan tersebut. Akan tetapi sekali lagi kita tidak perlu terlalu khawatir, karena Allah menciptakan bumi dan langit dan segala isinya ini dengan penuh keseimbangan. Semua saling mengisi dan saling membutuhkan sebagaimana halnya cara kerja tubuh manusia, antara jantung, paru-paru, ginjal dsb yang masing-masing bekerja tetapi saling tergantung satu sama lain.

“Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kamilah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu”.(QS Al Hijr(15):21).

Dapatkah dibayangkan, bila didunia ini tidak ada seorangpun pekerja sampah, supir, pelayan dsb, apa yang bakal terjadi?

“Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia,dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat,agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS Az Zukhruf(43):32).

Read Full Post »

Setelah kita mengetahui dan mengenal siapa diri kita ini, dari mana asal-usul kita, siapa yang menciptakan kita dan telah pula meyakini Al-Quran sebagai kalamullah maka masih patutkah bila kita tetap tidak mau mengikuti petunjuk-petunjukNya, mencontoh prilaku dan mengikuti perkataan Rasulullah sebagaiman tertuang dalam As-Sunnah? Jadi sebagaimana hak yang telah kita ambil dan kita rasakan nikmat dan manfaatnya maka sebagai tanda syukur kita sudah sepantasnyalah bila kemudian kewajibanpun harus kita tunaikan. Kewajiban manusia terbagi atas 2 bagian utama, yaitu

1. Kewajiban meyakini Rukun Iman

2. Kewajiban menjalankan Rukun Islam.

Read Full Post »

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu”. (Terjemah QS.Al-Ahzab(33):21).

Sungguh beruntung kita, kaum Muslimin, karena Allah SWT telah menganugerahkan kita suatu buku petunjuk, yaitu Kitabullah, Al-Quranul-Karim. Kitab ini adalah kumpulan wahyu yang diturunkan Allah SWT dengan perantaraan malaikat Jibril selama kurang dari 23 tahun kepada nabi-Nya yang ummi, Muhammad SAW. Rasulullah ummi yaitu tidak mengenal dan tidak pernah belajar membaca dan menulis karena memang kondisi saat itu tidak begitu memerlukan kepandaian baca-tulis.

Namun demikian beliau adalah seorang yang amat bijaksana. Beliau adalah seorang yang dikenal luas sebagai seorang yang ber-akhlak mulia sejak jauh sebelum era kerasulan. Beliau adalah seorang yang amat bersahaja juga rendah hati. Sejak muda masyarakat sekitarnya telah sering menitipkan amanah kepada beliau karena mereka amat mempercayainya.

Menurut Ibnu Hisyam, salah seorang penulis kitab-klasik Shirah Nabawiyah ternama yang termasuk orang pertama yang menulis sejarah kehidupan Rasulullah yang hidup pada sekitar tahun 1100 M, Ka’bah sebelum zaman Islam telah mengalami pemugaran selama 4 kali. Pemugaran ke 4 terjadi ketika Rasulullah berusia 35 tahun. Ketika itu beliau belum diangkat menjadi rasul. Pada mulanya pemugaran berjalan lancar, masing-masing kelompok kabilah bekerja menurut pembagian tugas yang telah disepakati bersama. Demikian pula Rasulullah, beliau turut bekerja membantu paman beliau, Al Abbas bin Abdul–Mutthalib.

Namun setelah pemugaran sampai pada tahap peletakkan kembali batu Hajar Aswad terjadi perselisihan. Masing-masing kabilah merasa lebih berhak untuk melasanakan pekerjaan tersebut. Perselisihan berkembang menjadi pertikaian hingga nyaris terjadi pertumpahan darah. Hal ini terus memanas hingga berhari-hari. Beruntung akhirnya suasana mendingin setelah semua pihak mau berkumpul dan berembug. Diputuskan bahwa siapapun yang pertama kali memasuki pintu Ka’bah, ia berhak memutuskan perkara.

Tak lama kemudian, dalam suasana tegang tampak Rasulullah berjalan menuju pintu Ka’bah. Serentak merekapun berucap : “Nah, dialah Al-Amin (orang yang terpercaya), kita rela dan puas menerima keputusannya.!”. Kemudian setelah Rasulullah mengetahui duduk perkaranya, maka beliaupun meminta selembar kain, lalu setelah kain dihamparkan beliau meletakkan Hajar-Aswad ditengah-tengah kain tersebut. Kemudian beliau berujar :” Setiap kabilah hendaknya memegang pinggiran kain, lalu angkatlah bersama-sama!”. Setelah kain didekatkan ketempat penyimpanan Hajar-Aswad kemudian beliau mengangkat benda tersebut dan meletakkannya pada tempatnya. Dengan cara itu maka berakhirlah perselisihan dan semua pihak merasa puas.

Sifat amanah ini pula yang menjadi daya tarik utama bagi Siti Khadijah ra, istri sekaligus orang pertama yang mengakui ke-rasulan Nabi Muhammad SAW. Ketika itu Siti Khadijah ra sebagai seorang saudagar sedang memerlukan seseorang yang dapat dipercaya membawa barang dagangan untuk dibawa ke negeri Syam. Beliau memang telah lama mendengar bahwa ada seorang pemuda Mekah yang dijuluki Al-Amin.

Demikian pula halnya dengan Abu Bakar Sidik ra, sang Khulafaul Rashidin I. Sejak kecil Abu Bakar telah menjalin persahabatan dengan Muhammad kecil. Ia mengenalnya dengan amat baik. Itu sebabnya ketika sebagian besar orang Quraisy menyangsingkan kebenaran berita Rasulullah mengenai Isra’nya ke Yerusalem sekaligus Miraj’nya ke langit, Abu Bakar ra hanya berkomentar : “Bahkan yang lebih dasyat dari itupun aku pasti mempercayainya“. Ini merupakan sebuah tanda bahwa sejak kecil Muhammad SAW tidak pernah berbohong. Keimanan yang demikian tinggi ini pula yang menyebabkan Abu Bakar mendapat kedudukan yang tinggi, baik disisi Allah SWT maupun disisi Muhammad SAW. Rasulullah bersabda bahwa Abu Bakar adalah satu diantara sepuluh sahabat yang dijanjikan surga oleh Allah SWT.

Akhlak mulia tersebut tidak berubah sedikitpun walaupun beliau kemudian menjadi seorang pemimpin agung yang memiliki pengikut amat banyak dari berbagai kalangan dan lapisan. Anas bin Malik ra berkata: “Para sahabat yang akan berdiri menyambut kedatangan Rasululllah, tidak jadi berdiri ketika tahu bahwa Rasulullah tidak mau dihormati seperti itu”. Padahal bila beliau menghendaki apapun dapat beliau dapatkan.

“Demi Allah, wahai paman! sekiranya mereka letakkan matahari di sebelah kananku dan bulan disebelah kiriku dengan maksud agar aku tinggalkan pekerjaan ini (menyeru mereka kepada agama Allah) sehingga ia tersiar (dimuka bumi) atau aku akan binasa karenanya, namun aku tidak akan menghentikan pekerjaan ini”.

Itu yang diucapkan Muhammad Rasulullah ketika Abu Thalib, sang paman yang selama itu senantiasa melindunginya, menganjurkan agar beliau mau menghentikan syi’ar karena sang paman merasa tak mampu terus menerus melindungi keponakan tercinta karena ia sendiri terus ditekan para pemuka Quraisy. Hal ini menunjukkan betapa kuat dan kokohnya pendirian dan ketakwaan beliau demi terus melanjutkan perintah Allah swt.

Beliau juga adalah seorang yang mudah berkomunikasi dengan siapapun, senantiasa berlaku sopan, lemah-lembut, sabar dan tidak pernah marah walau disakiti. Namun wajah beliau akan berubah merah padam bila melihat atau mendengar kemungkaran atau hak-hak Allah diinjak-injak dan dihina. Ali bin Abi Thalib RA berkata: “Rasulullah tidak pernah marah untuk hal duniawi. Beliau marah karena kebenaran. Tidak seorangpun yang mengetahui kemarahannya. Kemarahannya terhadap sesuatu pasti mendatangkan kemenangan baginya.”

Beliau juga suka dan mau mendengar dan menghargai pendapat orang lain walaupun pendapat itu datang dari bawahannya. Apalagi bila pendapat itu benar dan lebih baik dari pendapat beliau sendiri, beliau bersedia merubah dan mengikuti pendapat tersebut. Rasulullah memang selalu bermusyawarah dalam memutuskan suatu masalah. Beliau tidak suka memaksakan kehendak. Sebagai contoh, ketika dalam perang Uhud sesungguhnya Rasulullah lebih suka menanti musuh di dalam kota (Madinah) namun berhubung sebagian besar sahabat lebih menginginkan menyambut musuh diluar kota maka Rasulullahpun mengurungkan keinginannya tersebut.

Aisyah RA berujar : “Ahlak beliau (Rasulullah) adalah Al-Quran” (HR Abu Dawud dan Muslim).

Yang juga tak kalah pentingnya adalah kecintaan Rasulullah yang begitu besar terhadap umatnya. Pada tahun ke 10 kenabian, Rasulullah pergi berdakwah menuju kota Thaif, sebuah kota di atas bukit tidak berapa jauh dari Mekah. Namun dakwah beliau tidak disambut dengan baik. Beliau bahkan dilempari batu sehingga Rasulullah terpaksa meninggalkan kota tersebut dengan rasa sedih yang amat sangat dan bersembunyi di suatu tempat di Qarn Al-Manazil, kurang lebih 10 km dari Mekah. Ketika itu datanglah malaikat Jibril dan mengabarkan bahwa Allah SWT telah mengutus malaikat gunung guna mengabulkan apa yang dikehendaki Rasulullah.

Wahai Muhammad, katakan apa yang kau mau. Jika engkau mau, akan aku timpakan kepada mereka Al-Akhsyabain (yakni gunung Abu Qubais dan gunung Qu’ayqa’an)”. Namun apa jawab Rasulullah ? “Aku justru berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka anak keturunan mereka yang menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun”.

Demikian pula ketika Rasulullah SAW tengah menghadapi sakratul maut 12 tahun kemudian. Beliau sempat bergumam: “Ummahku … ummahku … ingatlah yang menyebabkan durhakanya umat Yahudi adalah kaum perempuannya ”. Hal ini menggambarkan betapa Rasulullah amat peduli dan senantiasa memikirkan kelanjutan nasib umatnya. Beliau begitu khawatir jikalau umatnya kelak tersesat padahal beliau sendiri tengah dalam keadaan sakit keras. Begitu besarnya rasa cinta, kasih dan tanggung-jawab beliau terhadap kita, umat Islam.

Berikut pendapat sejumlah orang besar Barat mengenai Rasulullah saw :

1. Napoleon Bonaparte (Napoleon I), pendiri Empirium Perancis (1769-1821 M).

“Musa telah menerangkan adanya Tuhan kepada bangsanya, Yesus kepada dunia Romawi dan Muhammad kepada seluruh dunia…Enam abad sepeninggal Yesus bangsa Arab adalah bangsa penyembah berhala, yaitu ketika Muhammad memperkenalkan penyembahan kepada Tuhan yang disembah oleh Ibrahim, Ismail, Musa dan Isa. Sekte Arius dan sekte-sekte lainnya telah mengganggu kesentosaan Timur dengan jalan membangkit-bangkitkan persoalan tentang Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Roh Kudus. Muhammad mengatakan, tidak ada tuhan selain Allah yang tidak berbapa, tidak beranak dan “Trinitas” itu kemasukkan ide-ide sesat…Muhamad seorang bangsawan, ia mempersatukan semua patriot. Dalam beberapa tahun kaum Muslimin dapat menguasai separoh bola bumi…Muhammad memang seorang manusia besar. Sekiranya revolusi yang dibangkitkannya itu tidak dipersiapkan oleh keadaan, mungkin ia sudah dipandang sebagai “dewa”. Ketika ia muncul bangsa Arab telah bertahun-tahun terlibat dalam berbagai perang saudara”…..

(hal 105 dari “Bonaparte et L’Islam” oleh Cherfils).

2. Alphonso De Lamartine, sastrawan kenamaan Perancis (1790 – 1869 M).

“Tidak ada orang selain dia yang dapat menyelesaikan revolusi besar dan kekal di dunia. Sebab dalam waktu dua abad setelah kemunculan Muhammad, Islam menguasai seluruh tanah Arabia, menaklukan Persia, Khurasan, Transoxsania, India Barat, Syria, Mesir, Abesinia, seluruh Afrika Utara yang dikenal pada waktu masa itu, pulau-pulau di Laut Tengah, Spanyol dan sebagian Perancis. Lelaki itu tidak hanya mampu menggerakkan empirium-empirium dan dinasti-dinasti; tetapi iapun sanggup menghimpun berjuta-juta manusia di sepertiga bagian dunia yang dikenal orang pada masa hidupnya……Atas dasar sebuah kitab yang setiap hurufnya menjadi ketentuan hukum ia menciptakan kebangsaan spiritual yang mempersatukan manusia dari berbagai ras dan bahasa. Ia meninggalkan kepada kita karateristik kebangsaan muslimin yang tidak dapat dihapus dan kebencian akan tuhan-tuhan palsu serta kecintaan kepada Tuhan Yang Mha Esa lagi Ghaib…”.

(hal 276 – 277 dari “Histoire de la Turqui “jilid II oleh dirinya sendiri).

3. Goethe , filsuf Jerman. (1794 – 1832 M).

“Muhammad membangunkan Persia yang sedang tidur, menginsyafkan Rumawi Timur (Byzantium) dan kaum Nasrani di negeri-negeri Timur, agar mereka tidak terus-menerus asyik berdebat dan berpecah-belah akibat filsafat shopites Yunani. Tidak dapat disangkal lagi bahwa para Nabi di dunia ini serupa dengan kekuatan-kekuatan raksasa yang terdapat di alam wujud, yaitu kekuatan-kekuatan yang senantiasa mendatangkan kebajikan bagi umat manusia seperti matahari, hujan dan angin yang menghidupkan tanah kemudian membuat tanah yang tandus dan gersang menjadi penuh dengan tanam-tanaman berwarna hijau. Manusia wajib mengakui kenabian mereka. Tanda-tanda yang membuktikan kebaikan mereka dapat kita lihat dari kenyataan bahwa mereka itu hidup dengan keyakinan, berjiwa tenang dan tentram, bersemangat dan bertekad kuat, tabah dan sabar menghadapi berbagai macam cobaan, tangguh menghadapi kebobrokan mental dan moral masyarakatnya yang pasti akan lenyap bila terus-menerus diberantas dan kehidupan mereka sehari-hari yang tidak putus beribadah dan berdoa…Jika semuanya itu yang diajarkan agama Islam kita semua adalah orang-orang Islam”. (hal 38 dari “Hadhritul ‘Alamil-Islamiy” jilid I oleh Amir Syakib Arslan, dikutip dari pembicaraan antara Goethe dan sang penulis).

Melalui pribadi sempurna inilah Al-Quran diturunkan. Sebuah Kitab yang dijamin kesucian dan keasliannya, tidak ada perubahan sedikitpun dari awal diturunkannya hingga detik ini.

Namun begitu, tidak sedikit pula orang yang memusuhi Rasulullah SAW. Terutama para Orientalis, mereka sebenarnya mau tak mau terpaksa harus mengakui kebesaran beliau. Tetapi harus dicermati, sebenarnya sebagian dari mereka ini tengah berusaha mengarahkan pemikiran tentang kebesaran Muhammad SAW sebagai manusia biasa, sebagai panglima perang, sebagai pemimpin namun tidak sebagai utusan Allah. Seringkali mukjizat yang dimiliki Rasulullah tidak ditonjolkan. Padahal sebagai seorang utusan Allah mukjizat adalah bukan sesuatu yang mustahil bahkan mutlak.

Qatadah meriwayatkan dari Anas bin Malik, sesungguhnya Rasulullah SAW dan para sahabat membawa wadah air (dalam bepergiannya) lalu beliau meminta wadah tersebut yang didalamnya terisi air. Kemudian beliau meletakkan telapak tangannya didalam wadah tadi maka mengucurlah air diantara jari-jarinya sedangkan semua sahabat berwudhu dengan menggunakan air tersebut. Anas bertanya kepada Abu Hamzah ”Berapa para sahabat yang berwudhu (dengan menggunakan air yang memancar dari jari-jari Rasulullah itu) ?” Abu Hamzah menjawab ”Mereka yang berwudhu lebih kurang 300 orang ”.(HR Bukhari Muslim).

Disamping itu Rasulullah SAW juga diberi kelebihan dengan pandangan yang super tajam. Pandangannya dapat menembus batas langit dan bumi, termasuk apa yang terjadi di alam kubur.

Ibnu Abbas meriwayatkan. Ketika Rasulullah berjalan bersama para sahabat melewati dua kuburan, tiba-tiba beliau berkata “Orang yang berada didalam kedua kubur ini tengah disiksa oleh Allah STW. Yang satu berjalan (dimuka bumi ini) dengan suka mengadu domba, adapun yang satu lagi tidak pernah menutupi dari air kencingnya (artinya, percikan dari air kencingnya itu sering kali mengenai tubuh atau pakaiannya, lalu dipakainya pakaian tersebut untuk melakukan shalat tanpa mencuci atau menggantinya terlebih dahulu)”.

Beliau juga mampu menembus pandangan jauh ke masa depan. Itu sebabnya dalam perjalanan beliau menuju Sidratul Muntaha ketika Miraj’, beliau bertemu dan melihat para Rasul bahkan dapat berkomunikasi dengan Musa as di surga. Padahal ketika itu semua manusia termasuk para Rasul masih dalam penantian di alam kubur.

Sesungguhnya kelebihan dan mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Rasulullah SAW tak terhitung banyaknya namun bila dibandingkan dengan mukjizat Al-Quran memang nilainya tidak seberapa.

“Sesungguhnya Al Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia, dan Al Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya.Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu”.(Terjemah QS. Al-Haaqqah(69):40-47).

Maka sudah sepatutnya pula bila Allah SWT memerintahkan kita agar mengikuti sunnah Rasululullah sebagaimana tertuang dalam As-Sunnah atau Al-Hadis yaitu dengan meyakini segala ucapan serta mencontoh prilaku dan mengikuti keputusan yang ditetapkannya.

Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk dita`ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (Terjemah QS.An-Nisa(4):64).

“(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar”. ( Terjemah QS. An-Nisa (4):13).

“Barangsiapa yang menta`ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta`ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta`atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka“.( Terjemah QS. An-Nisa (4):80).

 

 

Read Full Post »

“Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata (Al-‘Aalimul Ghoib wa Syahaadah) , Dia-lah Yang Maha Pemurah (Ar-Rohmaan) lagi Maha Penyayang (Ar-Rohiim). Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja (Al-Maalik), Yang Maha Suci (Al-Quddus), Yang Maha Sejahtera (As-Salam) , Yang Mengaruniakan keamanan (Al-Mu’min), Yang Maha Memelihara (Al-Muhaimin), Yang Maha Perkasa(Al-Azis), Yang Maha Kuasa (Al-Jabbaar), Yang Memiliki segala keagungan (Al-Mutakabbir), Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan (Al-Khaaliq), Yang Mengadakan (Al-Baari’), Yang Membentuk Rupa (Al-Mushawwir), Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS.Al-Hasyr(59):22-24).

Ya, Dialah Allah SWT, yang memiliki 99 nama dan sifat sebagaimana yang ditunjukkan melalui kitab-Nya maupun yang disembunyikan-Nya. (lihat hadits di bab ”Mencintai Allah SWT melalui Asma dan sifat-Nya”). Dialah Yang Maha Kuasa, Yang Maha Besar, Yang Awal, Yang Akhir, Yang WTMaha Mengetahui, Yang Maha Melihat. Dialah yang menciptakan langit, bumi , bulan, matahari beserta cahayanya.

Ilmu Pengetahuan dan Sains menyatakan bahwa cahaya Matahari adalah sumber kehidupan bagi manusia, binatang dan tumbuhan yang ada di dunia ini. Tanpanya berbagai bakteri dan virus akan bebas menyerang dan mengancam kehidupan. Tidak ada keraguan didalamnya, setiap orang mengetahui dan meyakini hal tersebut. Cahaya matahari ini dipancarkan setiap hari dimulai sejak terbitnya hingga terbenamnya. Di pagi dan siang hari inilah manusia dan segala hewan serta tumbuhan memanfaatkan keberadaan matahari dan sinarnya secara maksimal. Tumbuhan memanfaatkan cahaya matahari agar terjadi proses pembentukan hijau daun yang berfungsi sebagai dapur umumnya.

Demikian pula manusia. Pada waktu itu manusia tidak hanya pergi bekerja mencari nafkah. Namun yang terpenting manusia tanpa disadari sesungguhnya sedang menyempurnakan proses perkembangan hidupnya. Pada saat itu dengan bantuan cahaya matahari, sel-sel manusia atas izin-Nya bekerja menyempurnakan perkembangan tubuhnya, tulang dan sendi adalah diantaranya. Betapa banyak penyakit yang disebabkan oleh kekurangan cahaya matahari.

Sebaliknya terus menerus dibawah sorotan cahaya matahari yang terik juga berbahaya bagi kesehatan. Cahaya matahari dapat dihindari, dapat terhalang dan dihalangi oleh sesuatu. Ketika matahari sedang terik-teriknya kita bisa menggunakan bantuan payung atau topi untuk melindungi diri kita. Cahaya matahari juga bisa terhalang oleh bangunan-bangunan tinggi di kota ataupun terhalang oleh gunung-gunung. Bahkan di kutub terutama kutub selatan, orang jarang sekali menerima cahaya matahari.

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.(QS.An-Nuur(24):35).

Namun tidak demikian dengan cahaya Allah. Cahaya Allah berlapis-lapis dan kekal. Cahaya ini menembus hingga ke segenap penjuru dan sudut jagat raya. Bumi, bulan, bintang, langit dan seluruh galaksi yang ada di jagat raya ini maupun jagat raya lain bila memang ada, semuanya menerima cahaya Allah. Demikian pula dengan benda-benda kecil yang tersembunyi seperti semut hitam yang bersembunyi di balik batu hitam di dalam gua di hutan rimba belantara ketika malam gelap gulitapun dapat ditembusnya. Demikian pula hati manusia. Oleh sebab itulah Allah mengetahui apa yang berada dibalik hati manusia dan apa yang dibisikkannya. Itulah Allah SWT, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Mendengar, Yang Maha Menyaksikan, Yang Maha Tinggi.

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (QS.Al-An’am (6):59).

Di bawah kekuatan Maha Dasyat inilah diatur dan ditata-Nya seluruh jagat raya ini hingga sedemikian rupa. Semua benda-benda ini tunduk patuh terhadap kemauan-Nya. Semua bertasbih dengan caranya masing-masing. Inilah kerajaan Allah, Yang Maha Cerdas, Yang Maha Agung, Yang Maha Mulia, Yang Maha Memiliki, Yang Maha Mengatur, Yang Maha Pemelihara, Yang Ghaib, Yang Maha Benar.

”Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”.(QS.Al-Isra’(17):44).

Cahaya Allah ini begitu sempurna dan indah. Namun sebagaimana sifat cahaya yang menyilaukan, bila cahaya matahari saja manusia tak sanggup menatapnya apalagi menatap Sang Maha Pemilik Cahaya. Inilah yang terjadi terhadap Nabi Musa as ketika ia memohon Allah SWT agar diizinkan menatap-Nya.

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”.Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (QS.Al-‘Araaf(7):143).

Allah, Dialah Yang Maha Bercahaya, Yang Maha Indah, Sang Pemancar Kasih Sayang, Sang Pembawa Kebaikan, Yang Maha Sabar, Yang Memberi Rezeki, Yang Maha Menentukan. Allah, Dialah yang menunjuki manusia cahaya kepada jalan yang lurus, jalan yang benar. Sesungguhnya mengenal dan menyembah hanya kepada-Nya adalah fitrah manusia namun bila hati manusia kotor maka cahaya-Nya tidak menampakkan diri, tertutup oleh kotoran yang menyelimutinya. Namun bila manusia mau bertobat dan membersihkan diri maka Dia akan mengampuni dan memaafkannya. Allah, Dialah Yang Maha Pengampun, Yang Maha Pemaaf, Yang Maha Memberi Petunjuk, Yang Maha Pemberi Taubat.

”Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. (QS.Al-Ikhlas(112):1-4).

Tiada kecintaan yang lebih dalam, lebih murni dan lebih suci daripada kecintaan terhadap Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Bukan hanya karena Dia telah memberikan segalanya kepada mahluknya namun terlebih karena Dialah kita menjadi ada. Dia yang memberi kehidupan hingga dengan demikian kitapun berkesempatan mengenal-Nya. Dia yang membuat kita mengenal dan mengetahui arti sebuah kehidupan, Dia yang mengajari segala kebaikan, kelembutan dan kasih sayang. Dia yang mengajari arti sebuah kesabaran sekaligus ketegasan serta kedisiplinan. Dia yang tidak pernah bosan merahmati mahluknya, membimbing serta menunjuki jalan yang benar, jalan yang lurus.

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husnaitu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”.(QS.Al-‘Araf(7):180).

Dia yang setia setiap waktu dan senantiasa mau menyediakan waktu-Nya untuk mendengar keluh kesah apapun dan dalam keadaan bagaimanapun hamba-Nya yang datang mengadu. Dan Dia yang selalu siap memberikan maaf-Nya betapapun besar kesalahan dan kotornya jiwa ini. Dia Yang Memiliki 99 nama yang disebut dan sejumlah nama yang tersembunyi. Hanya kepada-Mu lah semua mahluk kembali. Maka kembalikanlah kami kelak ke tempat kembali yang mulia, disisi-Mu Ya Allah, disisi kekasih-Mu Muhammad SAW, disisi para Rasul, disisi para hamba-Mu yang taqwa, Yang Memuliakan-Mu, Yang Meng-Agungkan Mu.Ya Allah kabulkanlah permohonan kami ini, amin Ya Robbal ’Alamin.

Sabda Rasulullah : “Allah SWT memiliki sembilan puluh sembilan nama – seratus kurang satu – tidaklah menghafalnya kecuali akan dimasukkan kedalam surga, Allah itu ganjil (tunggal ) dan menyukai yang ganjil”. (HR Bukhori –Muslim).

Rasulullah bersabda : “Barang siapa yang banyak kesedihan atau gundah gulana lalu berdo’a : “Yaa Allah sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu, ubun-ubunku ada pada tangan-Mu, keputusan-Mu berlaku atasku, ketentuan-Mu adil untukku, aku memohon kepada-Mu dengan semua nama-Mu yang engkau namakan kepada-Mu atau yang telah engkau ajarkan kepada seseorang dari mahluk-Mu atau yang telah Engkau turunkan didalam kitab-Mu atau nama yang Engkau rahasiakan didalam ilmu ghaib-Mu,jadikanlah Al-Quran sebagai pelipur lara hatiku dan cahaya dadaku dan penghapus kesedihan dan kerisauanku”, maka pastilah Allah SWT akan menghilangkan kegalauan dan kesedihannya dan diberikannya jalan keluar”. (HR Ahmad).

Read Full Post »

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.(QS.Al-Baqarah(2):186).

Mengenal Sang Pencipta hanya melalui tanda-tanda yang banyak tersebar di muka bumi ini(ayat ‘kauniyah’) tidak cukup membawa manusia menuju jalan yang benar. Karena sesungguhnya orang musyrikpun mengakui keberadaan Tuhan, mengakui bahwa Dia-lah yang menciptakan langit, bumi beserta isinya, yang menghidupkan dan mematikannya. Namun Allah SWT tetap tidak memasukkan mereka sebagai golongan mukminin. Ini disebabkan karena mereka tidak merealisasikan keyakinan tersebut dalam bentuk amal-ibadah. Padahal amal ibadah hanya dapat diketahui dan dipelajari melalui ayat-ayat Al-Quran atau ayat Kauliyah.

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”.……”. (QS.Al-Ankabuut(29):61).

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)? dan (Allah mengetahui) ucapan Muhammad: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman”.(QS.Az-Zurkuf(43):87-88).

Oleh sebab itu disamping mengenal Sang Pencipta melalui ayat-ayat kauniyah, seseorang harus pula mengenal ayat-ayat Al-Quran. Al-Quran adalah Kalamullah atau Firman Allah SWT yang disampaikan kepada Muhammad SAW melalui malaikat Jibril. Kumpulan Kalamullah ini disebut sebagai kitab suci Al-Quran. Ini adalah sebuah kitab petunjuk yang menerangkan apa hakikat hidup, yang mengajarkan secara garis besar bagaimana agar manusia dapat hidup bahagia baik di dunia maupun di akhirat kelak. Sedang As-Sunnah adalah segala sesuatu yang dikatakan dan dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW sebagai rincian dari Al-Quran untuk diterapkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Inilah satu-satunya bacaan di dunia yang dihafal oleh begitu banyak manusia secara tepat baik dari segi bahasa aslinya yaitu bahasa Arab, lengkap dengan tajwidnya (panjang, pendek dan cara pengucapannya yang benar dan tepat) maupun letak susunan surat-suratnya selama hampir 15 abad lamanya! Yang dengan demikian bila saja ada suatu perubahan sekecil apapun akan segera diketahui.

Ary Ginanjar Agustian, seorang pakar ESQ, menawarkan sebuah istilah ‘ Al-Quran Inter Locking System’ untuk angka ‘19’ sebagai salah satu kunci pengaman kesucian Al-Quran. Angka ini menunjukan jumlah huruf dalam ucapan “Bismillahirrohmanirrohim” dan juga ucapan “Laa haula wa laa quwwata illaa billah” dalam bahasa Arab yang masing-masing berarti : “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”dan “Tiada daya untuk memperoleh manfaat dan upaya untuk menolak kesukaran kecuali dengan bantuan Allah SWT”. Menurut Rasyad Khalifah, seorang ilmuwan Muslim, angka 19 memiliki rahasia yang berkaitan dengan Al-Quran. Jumlah masing-masing kata : Allah, Ar Rahman dan ArRahim yang merupakan dua sifat utama Allah SWT, yang tertulis di dalam Al-Quran, adalah merupakan angka yang habis dibagi angka 19. Kata ”Allah” 2698 kali (2698:19= 142), “ArRahman” 57 kali (57:19=3) dan “ArRahim” 114 kali (114:19=6).

Pertanyaannya, mungkinkah seorang manusia yang hidup pada abad ke 6 dimana komputer sama sekali belum dikenal, menulis sebuah buku panduan yang disamping memiliki kandungan yang benar dan masuk akal, yang selalu sesuai dengan hati nurani setiap manusia pada segala zaman, yang kemudian terbukti pula sesuai dan cocok dengan aturan penciptaan alam semesta dan seluruh isinya termasuk diri manusia, namun juga memperhatikan secara detil jumlah huruf dan katanya? Dan juga keajaiban-keajaiban lain dalam berbagai keseimbangan kata yang hanya mungkin dikerjakan dengan bantuan sebuah komputer?

Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.(QS.Al-Isra’(17):88).

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS.Luqman(31):27).

Oleh sebab itu manusia yang mau berpikir, dengan sadar akan sudi menggantungkan dan menyandarkan keingin-tahuan dirinya dengan mempelajari Al-Quran. Dari sini ia dapat belajar mengenal asal-muasal dirinya, siapa yang telah menciptakannya, apa tujuan ia diciptakan dsb.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan), atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka…” QS.Al-A’raaf(7):172-174).

Itulah janji yang diikrarkan manusia ketika ia masih berada di suatu alam sebelum ia memasuki alam dunia yang sekarang ini.

“Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan.” (QS.Az-Zumar (39):6).

Kehidupan alam rahim adalah suatu tahap kehidupan ketika manusia masih berada di perut seorang ibu. Di alam rahim ini manusia mengalami penyempurnaan bentuk fisiknya. Menurut tafsir Ibnu Katsir, yang dimaksud ‘tiga kegelapan’yaitu kegelapan rahim, kegelapan selaput yang menutupi rahim dan kegelapan perut.

Sedangkan Harun Yahya dalam tulisannya menyebut 3 daerah kegelapan tersebut adalah kegelapan di dalam saluran telur dimana telur dan sperma bersatu (Tuba Falopi), kemudian kegelapan di dalam dinding rahim dimana zigotmelekat dan yang ketiga adalah kegelapan di dalam rahim dimana embrio berkembang. Sedangkan ruh atau jiwa sebagai inti kehidupan baru ditiupkan kedalam janin pada sekitar akhir bulan ke tiga yang ditandai dengan mulai berfungsinya pernafasan sebagai bukti penyempurnaan atas ciptaan-Nya. (lihat bab “Penciptaan anak cucu Adam as”).

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan)-Nya”.(QS.As-Sajdah(32):9).

Namun demikian jiwa itu sendiri sesungguhnya telah diciptakan-Nya jauh sebelumnya, yaitu ketika sang nenek moyang, Adam AS masih berada di dalam alam surga. Jiwa-jiwa yang kemudian menanti saatnya untuk dilahirkan ke bumi inilah yang telah mengucapkan janji di alam ruh sebagaimana tercermin dalam ayat 172-174 surat Al-A’raaf di atas.

Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah bersabda: “Setelah Allah menciptakan Adam, maka Dia mengusap punggungnya,maka berjatuhanlah dari punggungnya itu setiap jiwa. Dialah Pencipta jiwa-jiwa dari keturunannya hingga hari kiamat”. (HR Tirmidzi).

Maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebelum dilahirkan ke dunia ini, manusia telah melewati suatu tahapan kehidupan lain yaitu kehidupan alam ruh dan kehidupan alam rahim.

Namun karena rahmatNya jua tidak satupun manusia ingat akan kehidupan di kedua alam sebelum alam dunia tersebut. Oleh sebab itu Allah SWT menurunkan ayat-ayat diatas agar manusia dapat mengetahui asal-usulnya sekaligus kembali mengingatkan akan janjinya untuk senantiasa meng-Esa-kanNya. Dalam firmanNya diterangkan pula bahwa setelah kematian, manusia akan tinggal di alam kubur hingga saat berbangkit.

“kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Diamembangkitkannya kembali” .(QS.’Abasa(80):21-22).

Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah sementara, dunia hanya tempat manusia untuk diuji, menerima cobaan dari Sang Maha Pencipta. Tujuan akhir adalah negeri akhirat. Maka bila umur manusia zaman sekarang rata-rata sekitar 60-70 tahun, berdasarkan ayat 47 surat Al-Hajj berikut maka umur tersebut tidak lebih dari hanya 1.5 jam saja dibandingkan hari akhirat!

“…Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”(QS.Al-Hajj(22):47).

Sebagai perumpamaan ; apa yang kita lakukan dalam suatu tes penerimaan sekolah yang lamanya hanya 1.5 jam? mungkinkah kita bersantai-santai saja dengan tidak menyelesaikan dan menjawab soal-soal yang diajukan para guru? Begitu pula dengan kehidupan, padahal taruhannya bukan saja masa depan duniawi namun masa depan kehidupan kekal di akhirat. Akankah kita membuang-buang waktu yang hanya sekejap mata tersebut dengan perbuatan sia-sia?

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.(QS.Ali Imraan(3):133-134).

Dialah Allah yang mempunyai nama-nama yang banyak sesuai dengan sifatnya, diantaranya adalah Ar-Rahman (Maha Pengasih), Ar-Rahim (Maha Penyayang), Al-Malik (Maha Menguasai), Al-Qudus (Maha Suci), As-Salam (Maha Keselamatan), Al-Khalik (Maha Pencipta), Al-Hadi (Maha Memberi Petunjuk), Al-Ghoffar (Maha Pengampun), Al-Alim(Maha Mengetahui), Al-Hakim (Maha Bijaksana) dan lain sebagainya.

“Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik)”.(QS. Thaahaa (20):8).

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi.Tiada yang dapat memberi syafa`at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”.(QS. Al-Baqarah (2):255).

“Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui”.(QS.Yaasiin(36):81).

“(yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, danYang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akanmengampuni kesalahanku pada hari kiamat”. (QS.Asy-Syuara (26): 78-82).

Salah satu sifat utama Allah SWT yang harus kita imani adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Ar-Rahman atau Maha Pengasih ini diberikan-Nya kepada seluruh mahluk ciptaannya tanpa kecuali baik manusia yang kafir maupun yang tidak termasuk juga mahluk selain manusia. Sedangkan Ar-Rahim atau Maha Penyayang hanya diperuntukkan bagi umatnya yang mau tunduk kepada perintah-Nya, yaitu kaum muslimin (kaum yang berserah–diri). Hukum alam atau Sunatullah yaitu berbagai aturan yang memperlihatkan hukum sebab-akibat yang memungkinkan terjadinya semua peristiwa dan fenomena alam di jagad raya sengaja diciptakan Allah SWT untuk memudahkan manusia agar dapat menaklukkan alam dan memanfaatkannya untuk kepentingan hidup manusia. Itulah bukti ke-ArRahman-anNya. Itu pula sebabnya semua orang, baik muslim atau bukan, yang mau berusaha mencari ilmu berdasarkan hukum alam yang banyak tersebar di muka bumi ini, atas izin-Nya, akan mendapatkan kemudahan dan kesenangan dunia.

Sebaliknya bagi seorang muslim, kemudahan dan kebahagiaan dunia adalah ‘bonus’ karena tujuan utama seorang muslim adalah kebahagiaan akhirat. Karena seorang muslim menyadari bahwa dunia adalah jembatan menuju suatu tujuan, sedang tujuan adalah akhirat yang mempunyai dua ujung yaitu surga dan neraka.

Dialah Tuhan, Allah SWT , Al-Alim yang mengetahui segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan apa yang ada diantara keduanya termasuk segala yang disembunyikan dalam hati.

“Dan sesungguhnya Tuhanmu, benar-benar mengetahui apa yang disembunyikan hati mereka dan apa yang mereka nyatakan”.(QS.An-Naml (27): 74).

Oleh sebab itu Allah SWT membalas niat baik seseorang dengan ganjaran satu kebaikan yang sama walaupun niat tersebut baru ada didalam hati dan belum sempat dikerjakan.

Allah berfirman: “Jika bermaksud hamba-Ku dengan satu kebaikan dan tidak dikerjakannya, maka Akutetapkan baginya sebagai satu kebaikan. Dan jika dikerjakannya maka Aku tulis (tetapkan) dengansepuluh kebaikan hingga 700 kali. Dan jika bermaksud untuk melakukan keburukan tidak dikerjakannya maka Aku tidak menetapkan baginya satu keburukan. Maka jika dia mengerjakan keburukan itu maka Aku tetapkan baginya dengan satu keburukan.”(HR. Bukhari Muslim.)

Namun karena sifat manusia yang pelupa dan cenderung selalu ingin membantah, pada setiap zaman Allah SWT senantiasa menurunkan para utusan, yaitu para nabi dan para rasul. Mulai Adam, Idris, Hud, Nuh dan lain-lain hingga Ibrahim, Yusuf, Ishak, Ismail, Musa, Daud, Sulaiman dan lain-lain hingga Isa dan yang terakhir yaitu Muhammad SAW. Diantara mereka ada yang membawa kitab ada pula yang tidak. Tugas mereka ini pada dasarnya adalah sama yaitu untuk mengingatkan janji manusia agar selalu menyembah, meng-Agung-kan dan meng-Esa-kanNya. Dialah Allah SWT, Tuhan yang satu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakan.

“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. (QS.Al-Ikhlaas(112):1-4).

Para rasul dan nabi tersebut adalah para manusia pilihan yang senantiasa berada dalam perlindunganNya, mereka tidak mungkin tersesat. Sebaliknya sebagai manusia biasa, mereka juga membutuhkan makan, minum, tempat berteduh dan juga mempunyai keinginan untuk berkeluarga dan berketurunan. Sebaliknya bila suatu ketika mereka khilaf Allah SWT berkenan langsung menegurnya dan mereka pun langsung bertaubat dan memohon ampunan-Nya.

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa) atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfa’at kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)!”(QS.’Abasa(80):1-11).

Mereka juga menyadari bahwa mereka hanyalah utusan Allah, apa yang kemudian menjadi mukjizat bagi mereka adalah atas kehendak Allah semata dan mereka tidak mungkin menyelewengkan kepercayaan mulia tersebut, dengan mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan ataupun malah menyeru kepada perbuatan-perbuatan tercela lainnya.

“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.”(QS.Ali Imraan(3):79).

“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai `Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” `Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya) “.(QS.Al-Maidah(5):116).

Sebagai para utusan Allah Yang Maha Esa maka Rasul yang datang kemudian, selalu membenarkan Rasul yang sebelumnya dan apa yang dibawanya.

“Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”.(QS.As-Shaaf(61):6).

Para rasul tersebut diutus untuk mengajarkan hakekat dan makna hidup ini, apa tujuan manusia diciptakan, siapa yang menciptakannya, bagaimana menjalani dan mengisi hidup ini, apa hak dan tanggung jawabnya. Karenanya sungguh mustahil bila agama-agama yang dibawa para rasul tersebut saling bertentangan.

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini,adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan.Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka(masing-masing).Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu.” (QS.Al Mu’minuun (23):52-54).

Yang berbeda, hanyalah cara beribadah atau syariatnya.

“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari`at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari`at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus”.(QS.Al-Hajj(22):67).

Jadi sebetulnya bila saat ini terlihat banyak orang yang tidak mau mengakui keberadaan Allah SWT alias kafir, mereka itu adalah orang-orang yang ingkar janji. Mereka adalah mahluk Allah yang terburuk.

“Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal didalamnya. Mereka itu adalah seburuk – buruk makhluk”.(QS.Al-Bayyinah(98):6).

Mereka hanya mengikuti apa yang orang-tua mereka ajarkan walaupun orang tua mereka itu telah sesat ataupun tidak tahu dan telah melupakan kodratnya dan fitrahnya.

“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?”. (QS.Al-Maidah(5):104).

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”.(QS.Ar-Ruum(30):30-32).

Mereka itu orang-orang yang benar-benar merugi, mereka adalah orang-orang yang tidak mau meyakini bahwa Al-Quran adalah benar-benar kalamullah, kitab yang diturunkan Allah SWT kepada Rasul terakhirNya, walaupun bukti-bukti telah nyata dihadapan mereka. Mereka bukan saja tidak mau menggunakan nuraninya namun juga malas dan enggan menggunakan akalnya untuk berpikir. Kehidupan bagi orang-orang seperti mereka hanya terbatas pada kehidupan yang ada didepan mata mereka. Mereka tidak mampu melihat apa yang ada dibelakang mereka. Bagi mereka kematian adalah akhir dari segalanya. Mereka hanya menurutkan hawa nafsunya untuk menentang suatu kebenaran yang hakiki.

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami…”.(QS.Al-Furqon(25):43-44).

Bahkan mereka menuduh Muhammad adalah orang yang sesat. Padahal para Rasul sebelumnyapun telah pernah menerima wahyu dengan cara sama pula.

“Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu)menampakkan diri dengan rupa yang asli sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya”.(QS.An-Najm(53):2-11).

“Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir”. (QS.Al-Mukminun(40):4).

“………Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu……………”.(QS.Al-Maidah(5):3).

Ayat diatas  diturunkan ketika Rasulullah tengah melaksanakan wukuf  di padang Arafah. Peristiwa ini dikenal dengan nama Haji Wada’ atau haji perpisahan karena tak lama setelah itu Rasululah wafat. Ayat tersebut termasuk ayat penutup, tidak ada lagi penambahan ayat dalam Al-Quran kecuali ayat 281  Al-Baqarah dan surah An-Nashr.(Surat ini mengisyaratkan tentang kemenangan yang akan dicapai Islam dengan berbondong-bondongnya orang memeluk Islam). Ayat diatas mengisyaratkan agar kita takut hanya kepada-Nya, patuh serta berjalan dibawah hukum-Nya sehingga dengan demikian kita semua akan terhindar dari murka Sang Khalik dan Dia pun akan senantiasa meridhoi hidup kita ini.

”Dia-lah Tuhan yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung. Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dia-lah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya”. (QS.Ar-Raad(13):12-13).

Beberapa bulan setelah itu Rasulullah dikabarkan menderita demam. Pada saat-saat terakhir ini Rasulullah memasukkan tangannya ke dalam air lalu mengusap wajahnya seraya berucap : ”Fir-Rafiiqil-A’laa… Fir-Rafiiqil-A’laa..” (Dalam naungan Mitra Tertinggi) berulang-kali hingga nafas terakhirnya. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un(Sesungguhnya kita ini milik Allah dan hanya kepada-Nya lah kita semua kembali). Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik disisi-Nya bagi Muhammad SAW, sang kekasih Allah yang telah berjuang dengan begitu gigih demi menegakkan din Allah dan telah menyampaikan dengan hak apa yang diamanatkan-Nya yaitu ayat-ayat suci Al-Quran yang mulia demi menyelamatkan umat manusia. Maha Benar Allah atas segala firman-Nya.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »