Feeds:
Posts
Comments

Perang ini adalah perang yang pertama dilakukan umat Islam. Beberapa sejarahwan Muslim memasukkan perang ini sebagai Perang Defensif atau perang yang dilaksanakan dalam rangka membela diri. Sebagaimana kita ketahui permusuhan dan kebencian Musrikin Mekah terhadap Islam dari hari ke hari semakin memuncak. Hingga akhirnya umat Islam yang ketika itu  masih sedikit terpaksa meninggalkan Mekah, kota kelahiran mereka. Termasuk Rasulullah sendiri. Mereka meninggalkan kota secara diam-diam hingga tak secuilpun harta benda yang dapat dibawa.

Maka pada tahun kedua Hijriyah, ketika Rasulullah mendengar kabar bahwa rombongan kafilah dagang Abu Sufyan, pembesar Quraisy yang ketika itu amat memusuhi Islam,  akan melewati Madinah, beliaupun memerintahkan para sahabat untuk mencegatnya. Abu Sufyan yang mendengar kabar tersebut kemudian mengirim utusan ke Mekah agar segera melindunginya.

Namun Allah swt berkehendak lain. Sebelum bala bantuan Quraisy datang, Abu Sufyan telah berhasil meloloskan diri dan kembali ke Mekah, lengkap dengan kafilah perniagaannya, secara utuh dan selamat. Sementara itu Abu Jahal, pemimpin Quraisy yang kejam itu, meski telah dikabari bahwa Abu Sufyan dan rombongan telah kembali dengan selamat, tetap berkeras memberangkatkan pasukannya. Tak seoranpun pemimpin Quraisy yang mau tertinggal kecuali Abu Lahab. Mereka membawa sekitar 1000 orang personil, lengkap dengan peralatan perang dan perempuan-perempuannya. Adalah sudah menjadi tradisi orang Arab jahiliyah bahwa ketika berperang mereka membawa sejumlah besar kaum perempuannya. Tujuannya tak lain adalah sebagai penyemangat.

Demi Allah, kami tidak akan pulang sebelum tiba di Badr. Di sana kami akan tinggal selama tiga hari memotong ternak, makan beramai-ramai dan minum arak sambil menyaksikan perempuan-perempuan menyanyikan lagu-lagu hiburan. Biarlah seluruh orang Arab mendengar tentang perjalanan kita semua dan biarlah mereka tetap gentar kepada kita selama-lamanya.“ Demikian Abu Jahal dengan congkak berujar.

Tampak disini bahwa Allah menghendaki adanya perang. Karena perang adalah jauh lebih terhormat daripada  pencegatan atau perampokan, apapun alasannya.

Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Rasulullah saw disertai 314 sahabat meninggalkan Madinah dengan membawa 70 ekor unta. Setiap ekor unta ditunggangi secara bergantian oleh dua atau tiga orang. Ini terjadi di suatu malam di bulan Ramadhan.

Pada suatu tempat di lembah Badr, Rasulullah kemudian memerintahkan pasukannya untuk berhenti. Habbab bin Mundzir, salah satu sahabat yang dikenal menguasai strategi dalam berperang kemudian bertanya : ”Ya Rasulullah, apakah dalam memilih tempat ini anda menerima wahyu dari Allah swt, yang tidak dapat diubah lagi? Ataukah berdasarkan tipu muslihat peperangan?”Rasulullah saw menjawab: “Tempat ini kupilih berdasarkan pendapatku pribadi”.

Mendengar itu Al-Habbab mengusulkan: “Ya Rasulullah saw, jika demikian, ini bukan tempat yang tepat. Ajaklah pasukan pindah ke tempat air yang terdekat dengan musuh, kita membuat kubu pertahanan di sana dan menggali sumur-sumur di belakangnya. Kita membuat kubangan dan kita isi dengan air hingga penuh. Dengan demikian kita akan berperang dalam keadaan mempunyai persediaan air minum yang cukup, sedangkan musuh tidak akan memperoleh air minum.“ berpikir Setelah berpikir sejenak kemudian Rasulullah saw menjawab: “Pendapatmu sungguh baik.“

Singkat cerita, maka bertemulah kedua pasukan tersebut di lembah Badr. Rasulullah memulai pertempuran tersebut dengan mengambil segenggam pasir dan meniupkannya ke arah muka musuh seraya berkata : “Hancurlah wajah-wajah mereka.“

Rasulullah kemudian mengawasi pertempuran tersebut dari balik kemah yang didirikan tidak jauh dari medan pertempuran. Pada Jum‘at 17-Ramadhan itu, dengan khusyu’ Rasulullah  terus berdoa. Memohon kepada Allah swt agar pasukan Muslim yang hanya berjumlah 1/3 musuh dan tanpa perlengkapan senjata memadai itu dapat memenangkan pertempuran.  Diantara doa tersebut adalah sebagai berikut :

“Ya, Allah. Inilah kaum Quraisy yang datang dengan segala kecongkakan dan kesombongan untuk memerangi Engkau dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, tunaikanlah janji kemenangan yang telah Engkau berikan kepadaku. Ya, Allah kalahkanlah mereka esok hari.“

Beliau terus memanjatkan do’a kepada Allah swt, dengan merendahkan diri seraya menengadahkan kedua telapak tangannya ke atas. Air mata menetes dari sudut kedua mata beliau hingga membasahi jenggot hingga Abu Bakarpun trenyuh  melihatnya. “ Ya Rasulullah, demi diriku yang berada di tangan-Nya, bergembiralah. Sesungguhnya Allah pasti akan memenuhi janji yang telah diberikan kepadamu”.

Ibnu Hisyam meriwayatkan bahwa Rasulullah sempat pingsan beberapa saat di dalam kemahnya. Namun begitu sadar kembali beliau berujar kepada Abu Bakar: ” Hai, Abu Bakar, gembiralah, pertolongan Allah swt telah datang kepadamu. Itulah Jibril memegang tali kekang dan menuntun kudanya.“

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”. Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(QS.Al-Anfal(8):9-10).

Allah swt mendukung kaum Muslimin dengan mengirim bala bantuan tentara Malaikat yang tak terlihat oleh mata biasa. Akhirnya peperangan dimenangkan oleh kaum Muslimin dengan suatu kemenangan yang besar. Dari pihak kaum Musyrikin, terbunuh 70 orang dan yang tertawan 70 orang. Abu Jahal, yang sering dijuluki sebagai Fir’aun oleh Rasulullah, termasuk diantaranya. Sementara Abu Lahab, meninggal begitu mendengar kekalahan tersebut. Ia diberitakan meninggal dalam keadaan mengenaskan dengan penyebab yang tak jelas di kotanya sendiri, Mekah. Sedangkan dari pihak Muslimin 14 orang syahid.

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mu’min: “Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?”. Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda”.(QS.Ali Imran(3):123-125).

Tiba saatnya sekarang bagi Rasulullah untuk memutuskan nasib para tawanan yang masih hidup dan selamat. Rasulullah meminta pendapat para sahabatnya. Abu Bakar ra, mengusulkan agar Rasulullah membebaskan para tawanan tersebut dengan syarat memakai tebusan. Dengan harapan agar tebusan tersebut dapat menjadi pemasok kekuatan material bagi kaum Muslimin yang memang masih lemah. Disamping itu juga dimaksudkan agar para tawanan luluh hatinya hingga mau memeluk Islam.

Sebaliknya Umar Bin Khathab ra, mengusulkan agar mereka dibunuh saja, karena mereka adalah tokoh dan gembong kekafiran. Setelah mempertimbangkan kedua masukan tersebut akhirnya Rasulullah memilih pendapat dan usulan Abu Bakar ra. Maka para tawananpun dibebaskan. Tetapi beberapa saat kemudian turun ayat berikut :

“Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil“. (QS Al-Anfal (8) : 67-68).

Imam Muslim meriwayatkan dari Umar bin Khathab ra, ia berkata : “Aku masuk menemui Rasulullah saw, setelah beliau memutuskan penebusan tawanan. Tiba-tiba aku dapati Rasulullah saw bersama Abu Bakar ra sedang menangis. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah saw ceritakanlah kepadaku kenapakah anda dan sahabat anda menagis? Jika aku dapati alasan untuk menangis maka aku akan menangis. Jika tidak ada alasan untuk menangis maka aku akan memaksakan diri untuk menangis karena tangis anda berdua.” Jawab Rasulullah saw: “Aku menangis karena usulan pengambilan tebusan yang diajukan oleh sahabatmu kepadaku, padahal siksa mereka telah diajukan kepadaku lebih dekat dari pohon ini(pohon di dekat Nabi saw) .. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya :
“Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi..“, sampai firman Allah :“Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu ….“

Artinya, Allah swt sebenarnya tidak meridhoi keputusan Rasulullah membebaskan para tawanan dan mengambil tebusan. Namun kemudian Allah memaafkan tindakan tersebut dengan turunnya ayat 69 :

Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS Al-Anfal (8) : 69).

Sementara di luar sana para sahabat berebut harta perang yang ditinggalkan musuh dan jumlahnya sangat banyak. Ketika itu ayat tentang cara pembagian harta tersebut memang belum turun. Ini adalah perang pertama bagi umat Islam. Merekapun akhirnya bertanya kepada Rasulullah bagaimana cara pembagiannya. Maka turunlah ayat berikut :

“Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan ta`atlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman”. Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” (QS Al-Anfal (8) :1-2).

Itulah jawabnya. Allah swt menyerahkan keputusan tentang hal ini kepada Rasulullah. Umat Islam diperintahkan untuk lebih dahulu bertakwa kepada Allah swt dan memperbaiki silaturahmi. Kemudian taat kepada keputusan Rasullullah.

( Bersambung)

Wallahu’alam bish shawwab.

Paris, 6 Desember 2010.

Vien AM.

Ibnu Hisyam meriwayatkan dari Abdullah bin Ja’far bahwa seorang perempuan Arab datang membawa perhiasannya ke pasar Yahudi Bani Qainuqa. Ia mendatangi tukang sepuh (Yahudi) untuk menyepuh perhiasannya. Sambil menunggu tukang sepuh menyelesaikan pekerjaannya, ia pun duduk. Tiba-tiba datang sekelompok pemuda Yahudi ke dekatnya seraya memintanya untuk membuka penutup wajahnya. Tentu saja perempuan itu menolak.

Namun tanpa diketahuinya, si tukang sepuh itu kemudian secara diam-diam menyangkutkan ujung pakaian yang menutupi tubuh perempuan itu ke bagian punggungnya. Akibatnya, tatkala ia berdiri, tersingkaplah aurat bagian belakangnya. Orang-orang Yahudi itu pun tertawa terbahak-bahak. Secara spontan perempuan tersebut kemudian menjerit meminta tolong. Mendengar jeritan itu, salah seorang Muslim yang ada di pasar tersebut segera menyerang tukang sepuh itu dan membunuhnya. Namun orang-orang Yahudi tadi berbalik membunuh pemuda Muslim tadi.

Selanjutnya kejadian yang terjadi pada pertengahan bulan Syawal tahun kedua Hijriah ini memicu peperangan antara Yahudi Bani Qainuqa dan kaum Muslimin. Inilah peristiwa pengkhianatan pertama kaum Yahudi terhadap Piagam Madinah. Namun sebelum terjadinya peristiwa diatas, Ibnu Ishaq meriwayatkan:

”Pada suatu kesempatan Rasulullah saw mengumpulkan Banu Qainuqa, kemudian bersabda: “Wahai kaum Yahudi, takutlah kalian kepada murka Allah yang pernah ditimpahkan-Nya kepada kaum Quraisy. Masuklah kalian ke dalam Islam karena sesungguhnya kalian telah mengetahui bahwa aku adalah Nabi yang diutus (Allah), sebagaimana kalian dapati di dalam Kitab kalian dan Janji Allah kepada kalian!“

Mereka menjawab, “Wahai Muhammad, apakah engkau mengira kami ini seperti kaummu? Janganlah engkau membanggakan kemenangan atas suatu kaum yang tidak mengerti ilmu peperangan. Demi Allah, seandainya kami yang engkau hadapi dalam peperangan, niscaya engkau akan mengetahui siapa kami ini sebenarnya.”

Perang yang dimaksud oleh Yahudi tersebut adalah Perang Badar yang berlangsung tidak lama sebelum terjadinya pelecehan Muslimah di pasar diatas. Perang melawan pasukan Musrikin Mekah ini memang dimenangkan oleh Muslimin. Padahal jumlah Muslimin ketika itu hanya 1/3 dari musuh, yaitu 314 : 1000.

Ini tampaknya yang membuat kebencian dan kedengkian Yahudi terhadap Islam makin menjadi-jadi. Mereka sengaja memancing perpecahan dan permusuhan. Orang-orang ini sebenarnya tidak ridho Rasulullah memegang tampuk pimpinan di Madinah. Dengan cara ini mereka ingin menunjukkan bahwa Piagam Madinah tidak perlu dihormati. (Lihat : http://vienmuhadi.com/2010/11/22/xiv-pembentukan-masyarakat-madinah/ )

Hukum harus ditegakkan. Rasulullahpun segera memerintahkan salah seorang sahabat untuk mengepung perkampungan bani Qainuqa. Karena ketakutan dua minggu kemudian orang-orang Yahudi tersebut akhirnya menyerah. Mereka pasrah terhadap hukuman yang bakal diputuskan Rasulullah. Dalam keadaan itulah tiba-tiba datang Abdullah bin Ubay seraya berkata:

“Hai Muhammad, perlakukanlah para sahabatku itu dengan baik.“

Melihat Rasulullah tidak mengacuhkannya, pemuka Madinah inipun mengulang lagi perkataannya beberapa kali hingga akhirnya dengan wajah merah menahan kemarahan, Rasulullahpun menjawab ketus: Celaka engkau, tinggalkan aku!“.

Namun Abdullah bin Ubay tetap bersikeras : “Tidak, demi Allah, aku tidak akan melepaskan anda sebelum anda mau memperlakukan para sahabatku itu dengan baik. Empat ratus orang tanpa perisai dan tiga ratus orang bersenjata lengkap telah membelaku terhadap semua musuhku itu, apakah hendak anda habisi nyawanya dalam waktu sehari? Demi Allah, aku betul-betul mengkhawatirkan terjadinya bencana itu!“.

Mendengar itu Rasulullah akhirnya berkata: “Mereka itu kuserahkan padamu dengan syarat mereka harus keluar meninggalkan Madinah dan tidak boleh hidup berdekatan dengan kota ini !”.

Maka bebas dan pergilah orang-orang Yahudi Banu Qainuqa‘ itu meninggalkan Madinah menuju sebuah pedusunan bernama ‘Adzara‘at di daerah Syam. Namun belum berapa lama orang-orang ini menetap disana, terdengar kabar bahwa sebagian besar dari mereka mati ditimpa bencana. Itulah balasan bagi orang-orang yang mendurhakai utusan Allah swt. Allahuakbar !

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu), sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Siapa saja di antara kamu mengambil mereka menjadi pimpinan, sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafiq) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani) seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana“. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Oleh sebab itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.“QS.Al-Maidah(5):51-52.

Perlu mendapat catatan, prilaku Abdullah bin Ubay sebagai seorang yang telah menyatakan ke-islamannya namun berani melawan, berkata kasar bahkan menentang keputusan Rasulullah karena ke-loyal-annya terhadap sahabat-sahabat non Muslimnya  adalah masuk kategori Munafik. Tanda-tanda kemunafikan sebenarnya telah terlihat sejak awal perkembangan Islam. Allah swt pernah menegur kaum Muslimin Mekah yang tidak berani pindah meninggalkan Mekah ( hijrah) ke Madinah karena takut dianiaya keluarga besarnya di Mekah. Padahal mereka jelas-jelas tidak dapat melaksanakan ajaran dengan baik. Hanya dengan alasan-alasan tertentu sajalah Allah dapat memaafkan orang-orang yang tidak berhijrah, yaitu orang yang tertindas yang tidak mampu berdaya upaya ( para budak) dan orang yang tidak mengetahui jalan (untuk hijrah).

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah) mereka itu, mudah-mudahan Allah mema`afkannya. Dan adalah Allah Maha Pema`af lagi Maha Pengampun” (QS.An-Nisa( 4):100).

Allah swt sendiri yang memberitakan bahwa orang-orang munafik masuk Islam karena terpaksa, hanya demi melindungi harta dan jiwa mereka. Mereka adalah pendusta.

“ Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendustaMereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan”.(QS.Al-Munafikun(63):1-2).

Abdullah bin Ubay sendiri adalah gembong orang Munafik padahal ia adalah pemuka Madinah. Ia sering kali menghasut orang agar tidak mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya.  Qatadah memaparkan bahwa suatu ketika datang seseorang kepadanya seraya mengusulkan : “ Andai kau menghadap Rasulullah tentu dia akan memintakan ampunan untukmu”. Namun dengan congkak ia menolak.( HR. Ibnu Jarir). Kemudian turun ayat berikut :

Dan apabila dikatakan kepada mereka: Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri. ”.(QS.Al-Munafikun(63):5).

Zaid bin Arqam juga pernah berkata, usai perang Tabuk, ia mendengar Abdullah bin Ubay berkata kepada teman-temannya, orang-orang Anshar : “ Kalian jangan menafkahi orang-orang yang dekat dengan Muhammad sebelum mereka keluar dari agama mereka”. Tak lama kemudian turun ayat berikut :

Mereka orang-orang yang mengatakan :”Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah)”. Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami”.(QS.Al-Munafikun(63):7).

Terlihat jelas bahwa pemuka Madinah ini amat tidak menyukai Rasulullah. Ia merasa kedatangan Islam telah membuatnya kehilangan gengsi dan kekuasaan. Itu sebabnya ia amat berharap agar orang Muhajirin yang dianggapnya sebagai orang lemah dan miskin itu kalah dan terusir dari Madinah.

Mereka berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari sana”. Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui”.(QS.Al-Munafikun(63):8).

Beberapa kali ia menolak pergi berperang. Parahnya lagi, ia mengajak teman-temannya untuk melakukan hal yang sama. Maka dengan berbagai dalih dan alasan para Munafikun itu tidak mau mengangkat senjata. Dari udara yang panas, tidak ada kendaraan hingga takut tergoda oleh perempuan musuh yang cantik rupawan adalah dalih yang mereka ajukan.

Ibnu ‘Abbas menuturkan bahwa kala akan berangkat menuju medan perang Tabuk, Rasulullah bertanya kepada Jadd bin Qais: “ Hai Jadd bin Qais! Bagaimana pendapatmu tentang memerangi orang-orang Bani Ashfar (kulit kuning/orang-orang Romawi.” Maka Jadd bin Qais menjawab, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku adalah seorang lelaki yang banyak memiliki wanita (istri). Bilamana saya melihat wanita orang-orang kulit kuning saya pasti terfitnah oleh mereka, maka janganlah engkau menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah.” Kemudian Allah swt. menurunkan firman-Nya, “Di antara mereka ada orang yang berkata, ‘Berilah saya keizinan tidak pergi berperang dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah.’..” (Q.S. At-Taubah 49).

Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas (nya)”, jikalau mereka mengetahui”.(QS.At-Taubah(9):81).

Kemunafikan juga terlihat jelas ketika turun ayat yang memerintahkan Rasululah berpindah arah kiblat yaitu ke arah Masjidil Haram. Padahal bahkan orang-orang Yahudi dan Nasranipun tahu bahwa itu adalah perintah Tuhan.

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”. (QS.Al-Baqarah(2):144).

Al Barra’ berkata, “ Rasulullah shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan. Saat shalat, beliau sering memandang langit menanti perintah Allah. Kemudian Allah menurunkan ayat ini”. (HR Bukhari).

“Dan dari mana saja kamu ke luar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram; sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan”. (QS.Al-Baqarah(2):149).

Ayat yang bunyinya memerintahkan agar Rasulullah berpindah kiblat tidak hanya 1 ayat namun hingga beberapa kali. Tetapi orang-orang Munafik bukan saja tetap meragukan perintah tersebut namun juga mencemoohkan. Rasulullah kemudian memerintahkan para sahabat agar memindahkan arah kiblat ketika mereka sedang shalat di masjid Qubba.

Ibnu Umar berkata: Ketika orang-orang sedang melakukan salat di Qubba, tiba-tiba datang orang yang membawa kabar bahwa semalam Rasulullah saw. mendapat wahyu berupa perintah untuk menghadap Kabah. Seketika itu mereka menghadap ke Kabah. Sebelumnya mereka menghadap ke arah Syam, kemudian mereka berputar menghadap ke Kakbah. (Shahih Muslim No.820).

Dan dari mana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka janganlah kamu, takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Dan agar Kusempurnakan ni`mat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk”. (QS.Al-Baqarah(2):150).

As-Suddi berkata, “ Ketika Rasulullah diperintahkan memidahkan kiblat dari Baitul Maqdis ke arah Ka’bah, orang-orang musyrik Mekah berkata, “ Muhammad bingung dengan agamanya. Sekarang ia menghadap ke arah kiblat yang sama dengan kalian. Ia sadar bahwa kalian lebih benar. Ia bingung dan ingin masuk agama kalian”. Lalu turunlah ayat diatas”.(HR. Ibnu Jarir).

Banyak sekali ayat-ayat yang menceritakan betapa murkanya Allah swt terhadap orang munafik. ( Lihat surat At-Taubah  dan Al-Munafikun). Namun demikian Rasulullah tidak pernah menghukum orang-orang yang seperti ini. Para ulama berpendapat bahwa ini untuk mengajarkan bahwa adalah bukan hak kita sebagai manusia untuk menghukum hati seseorang. Biarlah Sang Khalik yang menentukannya. Wallahu’alam ..

Bahkan ketika salah satu anak Abdullah bin Ubay meminta Rasulullah agar mensholati almarhum ayahnya, Rasulullahpun menyanggupinya!  Walaupun setelah itu barulah turun ayat yang melarang seseorang menshalati orang Munafik yang meninggal dunia.

“Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendo`akan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik”.(QS.At-Taubah(9):84).

Wallahu’alam bish shawwab.

( Bersambung)

Paris, 10 Desember 2010.

Vien AM.

Perang yang terjadi pada tahun 3 H ini dipicu karena kekecewaan orang-orang Quraisy terhadap kekalahan mereka di perang Badar. Tak sampai setahun setelah perang tersebut orang-orang Quraisypun mengerahkan 3000 pasukannya untuk menyerang Madinah. Diantara pasukan ini terdapat  700 ratus tentara berbaju besi, 200 tentara berkuda (kavaleri) dan 17 orang perempuan. Seorang di antara perempuan tersebut adalah Hindun bin Utbah, isteri Abu Sufyan. Ayahnya yang bernama Utbah telah terbunuh pada perang Badar. Ia sangat bernafsu ikut berperang karena ingin balas dendam atas kematian ayahnya itu. Dalam perang ini suaminya sendiri yang menjadi pimpinan.

Sementara itu di Madinah, mendengar kabar tersebut Rasulullah segera mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah dan bertukar pendapat mengenai strategi yang akan digunakan melawan orang-orang Quraisy nanti. Rasulullah ingin mendengar pendapat para sahabat, mana yang lebih baik, bertahan di dalam kota dan menanti serangan atau menyambut musuh di luar Madinah.

Tokoh munafikun, Abdullah bin Ubay, yang merupakan tokoh senior dan konco-konconya termasuk kelompok yang memilih  bertahan. Sementara para sahabat yang tidak sempat berpartisipasi dalam perang Badar mengusulkan agar mereka menyambut musuh di luar kota. Rasulullah sendiri tampak bahwa sebenarnya lebih memilih bertahan di Madinah. Namun karena terus didesak tanpa banyak bicara maka Rasulullahpun masuk ke kamar dan segera keluar dengan memakai baju besi, tanda bahwa Rasulullah siap berangkat berperang.

Para sahabat muda yang semula mendesak Rasulullah menyambut musuh di luar Madinah belakangan menyadari sikap mereka. Dengan rasa menyesal mereka berkata : “Wahai Rasulullah, kami telah memaksamu keluar, dan itu tidak pantas kami lakukan. Jika Anda berkehendak, silakan Anda duduk kembali (tidak usah keluar dari Madinah), mudah-mudahan Allah memberi shalawat kepada Anda”. Namun Rasulullah saw hanya menjawab, “Tidak pantas bagi seorang Nabi yang sudah mengenakan baju besi untuk menanggalkannya kembali, hingga Allah menetapkan sesuatu baginya dan bagi musuh.”

Kemudian berangkatlah Rasulullah berserta lebih kurang 1.000 orang tentara. Dua ratus orang diantaranya memakai baju besi dan hanya dua orang tentara yang berkuda. Itupun di sepertiga perjalanan Abdulullah bin Ubay dan teman-temannya yang berjumlah 300 orang mengundurkan diri. Ia berkata: “Ia (Rasulullah) menuruti pendapat para sahabatnya dan tidak menuruti pendapatku. Wahai manusia, untuk apa kita membunuh diri kita sendiri di tempat ini “. Akibatnya pasukan Muslim hanya tinggal 700 orang saja.

Bukhari meriwayatkan bahwa kaum Muslimin berselisih pendapat mengenai tindakan desersi itu. Sebagian mengatakan, “Kita perangi mereka,” sedangkan sebagian yang lain mengatakan, “Biarkanlah mereka.” Lau turunlah firman Allah sebagai berikut :

“Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya”.(QS.An-Nisa’ (4): 88).

Mereka disesatkan Allah karena dari awal memang tidak memiliki niat kuat untuk mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Menghadapi kenyataan pahit ini maka sebagian sahabat mengusulkan supaya Rasulullah meminta bantuan orang-orang Yahudi, mengingat mereka terikat perjanjian untuk tolong-menolong dengan kaum Muslimin. Akan tetapi Rasulullah menjawab singkat,

“Kita tidak akan pernah meminta bantuan kepada orang-orang musyrik untuk menghadapi orang-orang musyrik (lainnya).”

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa sebelum peperangan berkecamuk Rasulullah bersabda : “Aku bermimpi mengayunkan pedang lalu pedang itu patah ujungnya. Itu musibah yang menimpa kaum Muslimin dalam Perang Uhud. Kemudian aku ayunkan lagi pedang itu lalu pedang itu baik lagi, lebih baik dari sebelumnya. Itulah kemenangan yang Allah Ta’ala anugerahkan dan persatuan kaum Muslimin. Dalam mimpi itu aku juga melihat sapi – Dan apa yang Allah lakukan itu adalah yang terbaik – Itu terhadap kaum Muslimin (yang menjadi korban) dalam perang Uhud. Kebaikan adalah kebaikan yang Allah Ta’ala anugerahkan dan balasan kejujuran yang Allah Ta’ala karuniakan setelah perang Badar”.

Rasulullah saw menakwilkan mimpi tersebut dengan kekalahan dan kematian yang akan terjadi dalam Perang Uhud. Selanjutnya Rasulullah kemudian mengambil posisi di sebuah dataran di lereng gunung bernama Uhud dan membentengi diri di balik gunung menghadap ke arah Madinah. Beliau menempatkan lima puluh pasukan pemanah di atas bukit yang terletak di belakang kaum Muslimin itu. Rasulullah menunjuk Abdullah bin Jubair sebagai pimpinan pasukan pemanah.

Kepada pasukan pemanah ini beliau berpesan : “Berjagalah di tempat kalian ini dan lindungilah pasukan kita dari belakang. Bila kalian melihat pasukan kita berhasil mendesak dan menjarah musuh, janganlah sekali-kali kalian turut menjarah. Demikian pula andai kalian melihat pasukan kita banyak yang gugur, janganlah kalian bergerak membantu”.

Setelah memberikan pengarahan Rasulullah mengangkat tinggi pedangnya seraya berkata:

“Siapa yang akan memegang pedang ini guna disesuaikan dengan tugasnya?”

Beberapa orang tampil menawarkan diri namun Rasulullah tetap memegang pedang tersebut. Hingga akhirnya Abu Dujana maju ke depan dan bertanya:

“Apa tugasnya, Ya Rasulullah?”

“Tugasnya ialah menghantamkannya kepada musuh sampai ia bengkok,” jawab Rasulullah.

Abu Dujana adalah seorang laki-laki yang sangat berani. Pada saat-saat tertentu ia mengenakan pita merah. Dan bila pita merah itu sudah diikatkannya di kepala, orang akan mengetahui, bahwa ia telah siap bertempur dan siap mati.

Itulah yang dilakukannya. Begitu pedang diterima iapun mengeluarkan pita merah mautnya. Kemudian ia berjalan di tengah-tengah barisan dengan gaya angkuh sebagaimana biasa apabila ia siap menghadapi pertempuran.

“Cara berjalan begini sangat dibenci Allah, kecuali dalam perang”, komentar Rasulullah melihat gaya Abu Dujana.

Selanjutnya Rasulullah menyerahkan panji perang kepada Mush’ab bin Umair. Maka meletuslah peperangan sengit antara dua pasukan yang amat jauh dari seimbang itu. Masing-masing pasukan dengan masing-masing latar belakangnya. Pasukan Quraisy dengan semangat dendamnya terhadap kekalahannya di perang sebelumnya. Sementara pasukan Muslimin dengan semangat takwa demi menjunjung kalimat tauhid sekaligus semangat mempertahankan tanah air. Rasulullah saw tak henti-hentinya memberikan semangat dengan menjanjikan kemenangan apabila mereka tabah.

Dengan gagah berani Mush’ab, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqas, Asim bin Tsabit, Ali dan Hamzah bin Abu Thalib beserta para sahabat lain mengayunkan pedang dengan gesitnya. Jumlah yang jauh lebih sedikit tampaknya tidak membuat mereka kehilangan semangat. Janji Rasulullah bahwa hanya dengan ketabahan dan kesabaran dalam rangka menjunjung kalimat tauhid yang bakal  mengantar kepada kemenangan membuat mereka begitu bersemangat menundukkan lawan. Kekafiran harus dienyahkan maka berkumandanglah “ Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar “ di sepanjang perang yang terjadi di suatu hari di bulan Syawal tahun ke 3 Hijriyah itu.

Beberapa sumber meriwayatkan bahwa ketika itu Rasulullah memberikan izin kepada Samurah bin Jundub al-Fazari dan Rafi’ bin Khudaij saudara Bani Haritsah untuk ikut berperang. Ketika itu keduanya baru berusia lima belas tahun. Sebelumnya beliau menyuruh keduanya kembali ke Madinah. Namun kemudian dikatakan : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Rafi’ adalah seorang pemanah yang hebat.” Maka Rasulullah pun mengizinkannya ikut berperang. Dikatakan pula kepada beliau: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Samurah pernah mengalahkan Rafi’.” Maka Rasulullah juga mengizinkannya ikut berperang. Sebaliknya Rasulullah memulangkan Usamah bin Zaid, Abdullah bin Umar bin al-Katthab, Zaid bin Tsabit salah seorang dari Bani Malik bin an-Najjar, al-Bara’ bin Azib dari Bani Haritsah, Amr bin Hazm dari Bani Malik bin an-Najjar dan Usaid bin Dhuhair dari bani Haritsah. Mereka baru diizinkan ikut serta dalam perang Khandaq ketika telah mencapai usia lima belas tahun.

Melihat semangat kaum Muslimin yang begitu tinggi dan korban terus berjatuhan di pihak Quraisy akhirnya pasukan Quraisy kehilangan rasa percaya diri. Mereka mundur dan berusaha melarikan diri. Pasukan Muslimin terus mengejarnya sambil memunguti harta benda yang ditinggalkan musuh. Sementara itu pasukan pemanah yang berjaga di atas bukit mulai tergiur oleh banyaknya harta benda yang tercecer dan dijadikan rebutan kawan-kawannya di bawah bukit sana. Bisikan syaitanpun mulai beraksi.

Peringatan Abdullah bin Jubair sebagai komandan pasukan pemanah agar mereka menepati janji kepada Rasulullah untuk tetap bertahan di atas bukit apapun yang terjadi tidak digubris. Mereka ikut berhamburan memperebutkan harta benda musuh yang tercecer. Hingga hanya Abdullah dan 9 anak buahnya saja yang bertahan di tempat strategis tersebut.

Sialnya, Khalid bin Walid, komandan pasukan kuda andalan Quraisy yang ketika itu belum memeluk Islam melihat peluang terbuka tersebut. Maka dengan segera ia memerintahkan pasukannya untuk merebut bukit itu dari arah belakang. Akibatnya dapat dibayangkan. Abdullah dan anak buahnya menjadi sasaran empuk. Setelah berhasil membuat ke 10 sahabat syahid mereka membantai pasukan Muslim yang sudah cerai berai di bawah bukit. Dengan cepat keadaan menjadi berbalik. Pasukan Muslim benar-benar dibuat terperanjat. Dalam keadaan panik dan kucar kacir mereka saling bunuh karena tidak menyadari mana kawan mana lawan.

Mush’ab sebagai pemegang panji merasa yang paling bersalah. Dengan sigap dan gagah perkasa ia menyerang dan mengibaskan pedangnya kesana kemari. Ia berusaha menarik perhatian musuh agar tidak menyerang Rasulullah. Berkata Ibnu Sa’ad, “Diceritakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al-‘Abdari dari bapaknya, ia berkata :

“Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seorang musuh berkuda, Ibnu Qumaiah namanya, lalu menebas tangannya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan : “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”. Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush’ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambil mengucapkan : “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”. Lalu untuk ketiga kalinya orang berkuda itu menyerangnya dengan tombak dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mush’ab pun gugur, dan bendera jatuh.”

Mush’ab berseru demikian karena merasa tidak bakal dapat melindungi Rasulullah, sang kekasih Allah yang amat disayangi dan dihormatinya. Disamping itu ia juga ingin meyakinkan diri dan teman-teman bahwa bila Rasulullah wafat, itu bukan berarti bahwa perjuangan Islam dapat dihentikan. Ironisnya, Mush’ab sendiri syahid justru karena Qumaimah menyangka dirinya Rasulullah karena  Wajah Mush’ab memang mirip dengan Rasulullah. Kemudian dengan sesumbar Qumaiah mengatakan bahwa ia telah membunuh Rasulullah.

Umar bin Khattab berkata :”Kami terpisah dari Rasulullah saat perang Uhud. Aku naik ke gunung dan aku mendengar seorang Yahudi berkata : “Muhammad mati terbunuh!”. Akupun berseru, “ Aku akan memenggal leher orang yang mengatakan  bahwa Muhammad telah mati terbunuh”. Setelah itu aku melihat Rasulullah dan para sahabat kembali ke tempat semula. Lalu turunlah ayat 144 surat Ali Imran.( HR. Ibnu Mundzir).

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.(QS.Ali Imran(3):144).

( Bersambung )

Tentu saja berita ini membuat pasukan Muslim makin panik. Panji segera berpindah ke tangan Ali bin Abu Thalib. Para sahabat dekat yang hanya tinggal beberapa itu segera berkumpul  melindungi Rasulullah. Mereka bertempur mati-matian demi keselamatan sang Rasul yang amat mereka cintai itu. Namun keadaan sungguh sulit hingga tidak mungkin bagi mereka untuk terus menerus berkumpul di sekeliling nabi. Pertempuran berdarah yang tidak seimbang terjadi di sekitar beliau. Dalam rangka menjaga keselamatan utusan Allah inilah satu persatu tujuh orang sahabat mati syahid dihadapan Rasul.

Anas bin Nadar syahid dengan tujuh puluh tusukan pada badannya. Saudarinya dapat mengenal badannya hanya dengan tanda di ujung jarinya. Talha bin Ubaidillah pada saat kritis dengan gagah berani menjadikan dadanya tameng bagi Rasulullah. Tirmidzi meriwayatkan, Nabi saw berkata, “Jika seseorang ingin melihat Syuhada berjalan di bumi ini, lihatlah Talha bin Ubaidullah.”

Sementara Abu Dujana membiarkan punggungnya menjadi sasaran panah demi melindungi Rasululllah. Sejumlah anak panah musuh menancap di punggungnya tetapi tak sejengkalpun ia  bergeming.  Seolah tak mau ketinggalan dengan kaum lelaki,  ummu Amara beserta suami dan dua orang putranya juga bertempur disekeliling Rasulullah ketika hanya beberapa sahabat saja yang berada di sekeliling beliau.

Dengan pedang terhunus bersama Rasul perempuan ini mempertahan diri dari serangan yang datang dari semua arah. Demikian pula suami dan kedua anaknya. Mereka mempertunjukkan keberanian yang sungguh luar biasa. Hingga dalam suatu kesempatan Rasul saw berkata, “Ya Allah, sayangilah keluarga ini.” Beliau juga mendoakan mereka, “Ya Allah jadikanlah mereka sekeluarga sahabatku di surga.”

Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. Pada hari itu, aku melihat Aisyah dan Ummu Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaiannya, untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb.

Abu Sa’id Al-Khudri berkata bahwa pada perang Uhud, “Utbah bin Abi Waqqash melempar Rasulullah hingga memecahkan gigi seri sebelah kanan bagian bawah dan juga melukai bibir beliau. Abdullah bin Syihab az-Zuhri melukai kening beliau. Ibnu Qami’ah melukai bagian atas pipi yang menonjol hingga dua buah mata rantai besi masuk ke bagian atas pipi beliau. Rasulullah terjatuh ke dalam salah satu lubang yang dibuat oleh Abu Amir agar kaum muslimin terperosok ke dalamnya tanpa mereka sadari. Kemudian Ali bin Abi Thalib memegang tangan beliau dan Thalhah bin Ubaidillah mengangkat beliau hingga bisa tegak berdiri. Malik bin Sinan yakni Abu Sa’id al-Khudri mengusap darah dari wajah beliau dan menelannya. Kemudian Rasulullah bersabda: “Barang-siapa yang darahnya menyentuh darahku, niscaya ia tidak akan disentuh api Neraka.”

Bukhari meriwayatkan, Saad bin Abi Waqas berkata, “Pada hari peperangan Uhud aku melihat dua orang berpakaian putih disekitar Nabi saw. Mereka sedang bertempur dengan dahsyat atas nama Nabi saw. Aku tidak pernah melihat mereka sebelum dan setelah kesempatan tersebut.” Dalam riwayat yang lain, dikatakan bahwa mereka adalah malaikat Jibril as dan Mikail as. Sementara itu tiga puluh orang sahabat mendatangi dengan cepat tempat tersebut …  Allahuakbar ..

“Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim”. (QS. Ali Imran(3):151).

Dengan datangnya bala bantuan tersebut maka perangpun usai. Pasukan Quraisy pergi meninggalkan medan perang dengan rasa takut. ( sebagaimana diterangkan ayat di atas). Setelah itu Abu Obaida bin Jarrah dengan giginya mencoba mencabut cincin pengikat helm yang menancap di pipi Rasulullah hingga ia harus kehilangan gigi bawahnya. Berikutnya ia juga  kehilangan gigi bawah lainnya saat mencabut cincin pengikat helm kedua.

Selanjutnya tinggallah Rasulullah didampingi sisa sahabat yang masih hidup berkeliling melihat keadaan para sahabat yang syahid. Melalui firman-Nya, para mujahidin sejati tersebut mendapat pujian dan penghargaan dari Allah swt.

“ Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur.  …“.(QS.Al-Ahzab(33):23).

Ketika Rasulullah melihat jenazah Mush’ab dengan sedih beliau berucap : “ Ketika di Mekah dulu tak seorangpun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya dari padamu. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah”.

Bagi Handhalah bin Abu Amir, Rasulullah bersabda :  ”Sungguh sahabat kalian, Handhalah, pasti akan dimandikan para malaikat”. Itu sebabnya ia kemudian mendapat julukan Handhalah bin Abu Amir al-Ghasil  yang artinya yang dimandikan para malaikat. Lalu para sahabat menanyakan perihal Handhalah kepada istrinya: “Ada apa dengan Handhalah bin Abi Amir?” Istrinya menjawab bahwa Handhalah bin Abi Amir keluar dari rumah dalam keadaan junub ketika mendengar panggilan jihad. Mereka berdua memang pasangan pengantin baru.

Selanjutnya ketika Rasul melihat keadaan Hamzah bin Abu Thalib, wajah beliau berubah merah seketika itu juga. Betapa tidak .. perut paman Rasul ini telah di bedah dan diaduk-aduk !  Dengan menahan marah, beliau bersabda :

“Takkan pernah ada orang mengalami malapetaka seperti kau ini. Belum pernah aku menyaksikan suatu peristiwa yang begitu menimbulkan amarahku seperti kejadian ini.” Lalu katanya lagi: “Demi Allah, kalau pada suatu ketika Tuhan memberikan kemenangan kepada kami melawan mereka, niscaya akan kuaniaya mereka dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh orang Arab.”

Namun kemudian Allah swt menurunkan ayat berikut :

Dan kalau kamu mengadakan pembalasan, balaslah seperti yang mereka lakukan terhadap kamu. Tetapi kalau kamu tabah hati, itulah yang paling baik bagi mereka yang berhati tabah (sabar). Dan hendaklah kau tabahkan hatimu, dan ketabahan hatimu itu hanyalah dengan berpegang kepada Tuhan. Jangan pula engkau bersedih hati terhadap mereka, jangan engkau bersesak dada menghadapi apa yang mereka rencanakan itu”.(QS.An-Nahl(16:):126-127).

Maka Rasulpun segera memaafkan mereka, ditabahkannya hatinya dan dilarangnya orang melakukan penganiayaan. Kemudian Rasulullah menyelimuti jenazah Hamzah dengan mantel beliau lalu men-sholat-kannya. Selanjutnya Rasulullah saw memerintahkan supaya jenazah para mujahidin yang mencapai 70 orang itu dikuburkan di tempat mereka menemui ajalnya. Setelah melayangkan pandangan duka ke arah medan perang serta para syuhada,  Rasulullah berseru :

“ Sungguh aku akan menjadi saksi di hari Kiamat nanti, bahwa kalian semua adalah syuhada di sisi Allah”

Kemudian sambil berpaling ke arah sahabat yang masih hidup, beliau bersabda,

“ Hai manusia, berziarahlah dan berkunjung kepada mereka serta ucapkanlah salam ! Demi Allah yang menguasai jiwaku, tak seorang Muslimpun sampai hari Kiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya”.

Sesudah itu Rasulullah diikuti para sahabat yang tersisa meninggalkan medan pertempuran  dan kembali ke Madinah. Kepedihan dan kehancuran yang dirasa pasukan Muslim kali ini sungguh terasa amat sangat memalukan. Kehancuran dan kekalahan yang mereka alami seharusnya tidak perlu terjadi kalau saja sebagian pasukan tidak silau oleh banyaknya harta benda yang ditinggalkan musuh yang sebenarnya telah mereka kalahkan dengan telak. Dengan kata lain, kekalahan ini adalah karena sebagian besar pasukan pemanah telah melanggar perintah nabinya.

Rasulullah memasuki rumah dalam keadaan galau. Pikiran beliau bercampur aduk membayangkan reaksi orang-orang Yahudi, orang-orang munafik dan musyrik Madinah menyaksikan kekalahan dan kehancuran pasukan Muslim yang dipimpinnya itu.

Jabir bin Abdullah menjelaskan bahwa ketika Rasulullah mengalami kekalahan perang Abdullah bin Ubay, si tokoh Munafik Madinah, berkata : “  Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak akan mati sia-sia di medan perang”. Ia menganggap Rasul tidak tahu strategi perang. Atas hal itu Allah menurunkan ayat 168 surat Ali Imran.(HR. Ibnu Ishaq).

“Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: “Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh”. Katakanlah: “Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar.” QS. Ali Imran(3):168).

“Sekiranya kami mengetahui ( bagaimana cara )berperang, tentulah kami mengikuti kamu”.

Itulah jawaban yang diberikan orang-orang Munafik ketika Rasullullah memerintahkan mereka untuk berperang di jalan Allah. Ucapan tersebut adalah sindiran bahwa Rasulullah tidak mengerti strategi perang karena memerintahkan berperang ketika jumlah pasukan hanya sedikit.

“dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)”. Mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui (bagaimana cara), tentulah kami mengikuti kamu”. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan.Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan”. QS. Ali Imran(3):167).

Itulah ancaman Allah swt atas ucapan orang-orang yang mengaku Muslim namun menolak ketika diperintahkan berperang oleh Rasul-Nya. Perbuatan tersebut menunjukkan bahwa hati mereka lebih menyerupai orang kafir daripada orang yang mengaku telah beriman.

Ditengah kekecewaan pada sebagian pasukan yang tidak mematuhi perintah dan silau dengan harta benda ditambah lagi ejekan dan sindiran orang-orang Munafik itulah kemudian turun turun ayat 152 dan 153 surat Ali Imran. Ayat ini memberitahukan bahwa Allah swt telah memaafkan kesalahan dan kelalaian para sahabat yang menyebabkan pasukan Muslim kalah dalam perang kali ini. Allah ridho.

“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu dan sesungguhnya Allah telah mema`afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman. (Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput daripada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS. Ali Imran(3):152-153).

Dan sebagai bukti bahwa Allah swt ridho dan telah memaafkan kelalaian dan kecerobohan mereka Allah menganugerahkan rasa kantuk yang amat sangat. Malam itu Rasul dan para sahabat yang memiliki keimanan super tinggi tertidur dengan nyenyak hingga keesokan subuhnya bangun dalam keadaan segar bugar. Sebaliknya sebagian lainnya, yaitu golongan Muslim yang kurang kuat keimanannya tetap diselimuti keraguan dan tidak bisa tidur. Mereka ragu bila Muhammad saw memang utusan Allah mengapa Allah membiarkan nabinya kalah! Mereka terus menyesali diri mengapa mau menuruti perintah berperang hingga mereka harus terbunuh! Padahal kematian adalah rahasia Sang Khalik. Tak satu orangpun dapat menghindarinya sekalipun ia terus mengurung di dalam rumah. Sebaliknya mati ketika dalam keadaan menjalankan perintah-Nya seperti berjihad ( baik jihad dalam perang maupun berdakwah mengajak pada kebenaran) surga adalah balasannya.

“Kemudian setelah kamu berduka-cita Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan daripada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. … … … Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati”. (QS. Ali Imran(3):154).

Keesokan harinya, usai subuh berjamaah Rasulullah memerintahkan para sahabat yang kemarin baru saja kembali dari Perang Uhud untuk mengejar pasukan Quraisy yang mengalahkan mereka. Pasalnya, Rasulullah mendengar kabar bahwa para pemimpin Quraisy telah memanasi-manasi pasukannya agar kembali ke Madinah untuk membunuh beliau dan merampas gadis-gadis Madinah! Hal ini tidak boleh didiamkan begitu saja karena akan membuat orang-orang munafik Madinah dan Yahudi makin melecehkan beliau.

Maka tanpa banyak bicara, Ali bin Abu Thalib yang diserahi memimpin pasukan langsung melesat mengejar pasukan Quraisy yang pagi itu masih berpesta merayakan kemenangan mereka di perkemahan antara Madinah – Makkah. Sebaliknya, mendengar bahwa pasukan Muslim mengejar pasukan Quraisy, mereka segera meninggalkan perkemahan dan pulang menuju Makkah.

Pasukan pimpinan Ali baru kembali ke Madinah setelah 3 hari 2 malam bermalam di wilayah sekitar tersebut. Pasukan ini menyalakan obor besar untuk mengelabui musuh agar disangka membawa pasukan besar. Maka untuk menghargai keberanian mereka Allahpun menurunkan ayat berikut :

“ … Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang menta`ati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar”. QS. Ali Imran(3):171-172).

“ (Yaitu) orang-orang (yang menta`ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, makaperkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung“. QS. Ali Imran(3):173)

Wallahu’alam bish shawwab.

( Bersambung).

Paris, 23 Desember 2010.

Vien AM.

Meski Madinah dikatakan telah berada di bawah cahaya Islam dan Rasulpun berada di kota tersebut, namun tidak berarti bahwa dakwah dan tugas kerasulan usia sudah. Ayat-ayat suci Al-Quran yang selama kurang lebih 12 tahun turun di Mekkah tetap turun di kota yang dulunya bernama Yatsrib ini.

Ayat-ayat yang turun di kota ini biasa disebut dengan ayat-ayat Madaniyah. Ayat-ayat ini biasanya panjang-panjang dan berisi tentang hukum. Kebalikan dari ayat Makiyah, ayat yang turun di Mekkah yang biasanya pendek-pendek dan berisi tentang surga dan neraka.

Bila ketika di Mekkah Rasulullah harus lebih banyak menghadapi kaum Musrykin maka di Madinah ini para ahli kitablah yang menjadi tantangan berat. Disamping juga orang-orang Munafik yang tampaknya mau memeluk Islam karena terpaksa, demi menjaga kekuasaannya.

Dalam Al-Quran, kata Ahli kitab adalah ditujukan bagi orang-orang yang sebelum datangnya Islam telah pernah menerima kitab suci dari Sang Khalik yaitu Al-Injil dan At-Taurat. Itulah orang-orang Nasrani dan Yahudi. Merekalah sebenarnya yang menjadi pemicu mengapa penduduk Madinah berbondong-bondong mau memeluk Islam dan menerima kehadiran Rasul di tengah-tengah mereka.

Dulu, sebelum datangnya Islam, orang-orang suku Aus dan Khahraj selain sering berperang melawan orang-orang Yahudi juga saling berperang diantara keduanya. Lalu dengan congkaknya, orang-orang Yahudi sering berkata bahwa akan datang seorang nabi, utusan Allah yang akan memutuskan perkara dan perselisihan diantara mereka. Mereka bahkan mengatakan bahwa orang-orang yang tidak mau mengakui utusan Allah ini akan diazab sebagaimana Allah mengazab orang-orang yang durhaka di masa lalu.

Namun nyatanya ketika utusan itu datang justru sebagian besar orang-orang Yahudi dan Nasrani inilah yang mendustakannya. Mereka bukan saja enggan mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah bahkan merekapun menganggap bahwa Muhammad dan apa yang dibawanya adalah sihir !

“Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata“. (QS.Ash-Shaaf(61):6).

Adalah sebuah mukjizat bahwa Rasulullah dapat hijrah dan diterima penduduk Madinah pada umumnya. Bahkan menjadikan Rasulullah pemimpin pula ! Dibawah kepimpinan beliau inilah  sebuah piagam kota yang isinya mengatur berbagai hal disusun. Itulah Piagam Madinah. Padahal orang-orang Yahudi yang amat membenci dan memusuhi Islam sebenarnya telah mendiami kota ini jauh sebelum hijrahnya Rasulullah dan para sahabat. Allah, Ya … Dialah Yang Maha Memiliki Rencana.

Al-Barra’ menjelaskan bahwa suatu hari, Rasulullah berpapasan dengan orang-orang Yahudi. Mereka membawa seseorang dari kalangan mereka yang dihukum jemur dan cambuk. Beliaupun bertanya : ” Apakah seperti ini hukuman bagi pezina di dalam Kitab kalian?” “Ya” jawab mereka. Lalu Rasul memanggil seorang pendeta mereka dan bertanya, “ Demi Allah yang menurunkan Taurat kepada Musa. Apakah benar-benar seperti ini hukuman  bagi pezina di dalam Kitab kalian?” Pendeta itu menjawab, “ Sesungguhnya tidak seperti itu. Jika kau tadi tidak bersumpah terlebih dahulu aku takkan menjelaskan yang sebenarnya. Di dalam Kitab kami, hukuman zina adalah rajam. Namun karena banyak dari kalangan pembesar melakukannya, kamipun membiarkannya. Jika pelakunya adalah dari kalangan rakyat kami menerapkan hukuman itu atasnya. Karena itu, berdasarkan hasil musyawarah, kami menerapkan atas kalangan pembesar dan rakyat, hukuman jemur dan cambuk”. Rasulpun bersabda, “ Ya Allah, aku adalah orang pertama yang menghidupkan kembali perintah-Mu setelah dihapus mereka”. Rasulpun melakukan perajaman atas orang Yahudi yang berzina itu. Kemudian turun ayat 41 surat Al-Maidah.(HR. Ahmad dan Muslim).

“ … … … dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah dirobah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah”. … … … ”.(QS.Al-Maidah(5):41).

Ibnu ‘Abbas memaparkan bahwa pada zaman jahiliyah, bani Nadhir lebih mulia dari pada bani Quraizhah. Jika seseorang dari Quraidzah membunuh  seseorang dari  bani Nadhir, baginya qishash ( balasannya dibunuh juga). Namun bila sebaliknya, hukumannya cukup membayar tebusan seratus wasaq tamar. Saat Muhammad telah menjadi Rasulullah terjadi pembunuhan di antara mereka, yaitu seorang lelaki bani Nadhir membunuh seorang lelaki dari bani Quraizhah. Saat hukuman akan ditegakkan diantara mereka ada yang berkata, “ Diantara kita ada utusan Allah. Mari kita minta fatwa kepada Muhammad”. Lalu turun ayat 42 surat Al-Maidah. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i dan Ibnu Jarir).

“Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil”.  (QS.Al-Maidah(5):42).

Demikian pula halnya dengan pengikut Nasrani, umat nabi Isa yang menuhankan sang utusan. Nabi Allah yang oleh umatnya disebut Yesus ini kadang dianggap sebagai anak Tuhan kadang dianggap sebagai Tuhan itu sendiri. Beliau diutus kepada kaum Yahudi pada awal abad Masehi, setelah orang-orang Yahudi lama tenggelam dalam kesesatan.

“Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israil) dengan `Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.”.(QS.Al-Maidah(5):46).

Tanpa mengenal rasa lelah, bosan apalagi takut, berulang kali Rasulullah menyampaikan ayat-ayat Al-Quran yang khusus ditujukan kepada mereka itu. Rasulullah sama sekali tidak memaksa mereka untuk berpindah agama dan mengikuti syariat Islam. Karena yang dikehendaki-Nya adalah kembali ke jalan yang benar, mendudukkan hukum Taurat dan Injil sesuai aslinya sekaligus mengamalkannya.

Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”.(QS.Al-Maidah(5):47).

“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS.Al-Baqarah(2):62).

As-Suddi menjelaskan bahwa ayat ini diturunkan sehubungan dengan para sahabat Salman Al-Farisi. Mereka masih memeluk agama Nasrani dan belum sempat memeluk agama yang dibawa Rasulullah. Mereka sungguh beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, meski tetap memeluk agama semula, ibadah mereka tetap diterima dan mendapat pahala dari Allah swt.(HR.Ibnu Abi Hatim dan Al-Adni).

Tiap umat memiliki aturan dan syariat masing-masing. Kita disuruh berlomba dalam berbuat kebaikan dengan dasar keimanan yang benar, yaitu menyembah hanya kepada Allah Yang Satu, Allah swt, Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tiada satupun sekutu dan mitra bagi-Nya.

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”.(QS.Al-Maidah(5):48).

“dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” .(5):49-50)

Ibnu ‘Abbas memaparkan bahwa kedua ayat di atas turun berkenaan dengan Ka’ab bin Usaid, Abdullah bin Shuriya dan Syasy bin Qais yang suatu saat mendatangi Rasulullah dan berkata, “ Muhammad sesungguhnya kau mengetahui bahwa kami adalah para pendeta yang terhormat dan dihargai. Jika kami mengikuti engkau, orang-orang Yahudi juga akan mengikuti dan tidak akan menentang kami. Sesungguhnya antara kami dan kaum kami telah terjadi perbedaan pendapat. Karena itu, sekarang kami minta keputusan darimu atas perselisihan yang terjadi. Berilah kemenangan kepada kami dan kami akan beriman kepadamu. Namun rasul enggan melakukan itu.(HR.Ibnu Ishaq).

Dari hadits-hadits diatas dapat dilihat bahwa kaum Nasrani, orang-orang Yahudi bahkan para pendetanya itu sebenarnya percaya bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Sayangnya mereka hanya mau tunduk dan mematuhi beliau bila mereka mendapat keuntungan.

Melalui surat Al-Fatihah, sehari 17 kali kita, umat Islam, diwajibkan memohon kepada Allah swt agar diberikan petunjuk ke jalan yang lurus. Jalan yang lurus tersebut bukan jalan yang ditempuh orang-orang yang sesat yaitu jalannya kaum Nasrani yang tersesat karena menganggap Isa as adalah Tuhan. Mereka beramal tapi tidak bedasarkan ilmu/pengetahuan yang benar. Dan bukan juga jalannya orang-orang Yahudi yang dimurkai karena mereka sengaja tidak mau menjalankan isi Taurat dan bahkan menyembunyikannya. Mereka berilmu tapi tidak mengamalkannya.

Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?”. (QS.Ali Imran(3):71).

Dengan kata lain, umat Islam wajib beramal ibadah sesuai ilmu yang dicontohkan Rasulullah ( berdasarkan Al-Quran dan hadist).

(Bersambung).