Feeds:
Posts
Comments

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfa’at kepadanya? “. (Terjemah QS.Abasa (80):1-4).

Ayat diatas turun di Mekkah sebelum hijrahnya Rasulullah saw. Ketika itu Rasulullah sedang menghadapi sekelompok pemuka Quraisy untuk menyampaikan ajaran Islam. Tiba-tiba datang seorang buta mendekati Rasulullah dan terus menanyakan sesuatu.

Tentu saja Rasulullah merasa terganggu karena Rasulullah sangat berharap para pemuka Quraisy itu mau mendengar paparan beliau mengenai Islam kemudian memeluk Islam dan memerintahkan kaumnya untuk mengikutinya. Tak heran ketika kemudian Rasulullah menanggapi orang tersebut dengan muka yang masam.

Namun ternyata Allah swt menegurnya melalui ayat 1-4 di atas. Dapat dibayangkan betapa terkejutnya Rasulullah. Pada ayat 3 di atas Allah swt menerangkan bahwa pemuda buta tersebut datang menemui Rasulullah untuk mempelajari Islam demi untuk membersihkan diri/hati dari segala dosa.   Rasulullahpun segera menyadari kekhilafan beliau. Membersihkan hari adalah hal yang sangat penting bahkan termasuk pokok Islam.

Rasulullah bersabda, “… Ketahuilah sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal darah. Apabila dia baik, maka menjadi baik pula semua anggota tubuhnya. Dan apabila rusak, maka menjadi rusak pula semua anggota tubuhnya. Ketahuilah dia itu adalah hati.’” (Muttafaq ‘alaihi)

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat”. ( Terjemah QS.Al-‘Ala(87):14-15).

Siapa sebenarnya pemuda buta yang dimaksud Allah swt pada surat Abasa diatas?? Ia adalah Abdullah bin Ummi Maktum, anak dari saudari Khadijah binti Walid, istri Rasulullah saw. Tidak banyak kisah tentang keponakan Rasul yang buta sejak lahir tersebut.

Namun sejak memeluk Islam ia dikenal sebagai pribadi yang taat. Buta tidak menjadi penghalang baginya untuk berperang menghadapi musuh-musuh Islam. Pada perang  Qadariyah yang dipimpin panglima Saad bin Abi Waqqash, ia menjadi salah satu pemegang panji Islam. Dengan membawa bendera hitam dan memakai baju perang Abdullah berperang dengan gagah berani. Namun setelah kepulangannya dari peperangan tersebut, di Madinah ia wafat.

Hebatnya lagi, Abdullah bin Ummi Maktum ternyata tidak hanya ditakuti musuh nyata tapi juga oleh Iblis. Diriwayatkan ketika  Abdullah bin Ummi Maktum dalam perjalanan menuju masjid, ia tersandung batu hingga terluka dan mengeluarkan darah yang cukup banyak. Akan tetapi Abdullah tetap melangkahkan kaki ke masjid.

Menariknya, setelah kejadian tersebut setiap hari ada orang yang selalu membantunya berjalan menuju masjid. Beberapa kali Abdullah menanyakan nama orang tersebut dengan maksud agar dapat ia mendoakannya. Namun tidak pernah dijawab. Hingga suatu hari orang tersebut menjawab, “Wahai Abdullah Ummi Maktum, ketahuilah sesungguhnya aku adalah Iblis.”

Abdullah tersentak, “Kalau memang iblis, mengapa engkau menolong dan mengantarku ke masjid? Bukankah seharusnya engkau mencegahku ke sana?”

Iblispun menerangkan bahwa ialah yang suatu hari menjegalnya hingga jatuh dan terluka, dengan harapan Abdullah membatalkan niatnya shalat di masjid. Namun nyatanya tidak. Oleh sebab itu Allah mengampuni separuh dosa Abdullah. Maka sejak itu ia bersumpah akan menjaganya agar tidak terjatuh karena khawatir Allah swt akan mengampuni dosanya yang separuh lagi. “ Maka, sia-sialah kami setan menggodamu selama ini,” lanjut iblis tersebut.

Selain diberi tugas Rasulullah sebagai muadzin Abdullah bin Ummi Maktum juga pernah mendapat kehormatan menjadi imam shalat, yaitu ketika Rasulullah berperang bersama sahabat yang lainnya. 

Kebersihan hati itulah kekuatan Abdullah bin Ummi Maktum. Buta matanya tidak menghalangi kemampuannya untuk melihat kebenaran. Yaitu melalui kebersihan hati yang telah dimilikinya sebelum Islam datang dan mengantarkannya melihat keindahan ajaran ini. Bagi Abdullah tidak ada yang lebih penting dan lebih indah daripada menemui Sang Khalik di surgaNya. Itu sebabnya tidak ada sedikitpun rasa takut mati dalam hatinya.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 30 Juli 2025.

Vien AM.

Kehidupan pernikahan.

Allah swt menganugerahi pasangan muda tersebut dua orang putra yaitu Hasan dan Husein, dan dua orang putri yaitu Zainab dan Ummu Kultsum. Keluarga tersebut hidup bahagia meski dalam kemiskinan. Fatimah tidak pernah mengurangi rasa hormat dan cintanya kepada sang suami. Kesetiaan dan perhatian yang ia berikan menggambarkan betapa ia menghargai peran Ali sebagai pemimpin keluarga.

Ada sebuah kisah menarik ketika suatu hari Fathimah menemui ayahnya untuk meminta bantuan. Ia tahu bahwa ayahnya sering memberikan tawanan perang kepada para sahabat untuk dijadikan sebagai pelayan rumah tangga. Fathimah yang merasa kelelahan karena banyak pekerjaan dan tugas rumah tangga yang harus dilakukan, berharap agar ayahnya berkenan memberinya pula seseorang yang dapat membantunya menyelesaikan pekerjaan di rumah.

Namun apa jawaban sang ayah ?? Alih-alih memberinya pelayan, Rasulullah malah mengajarkan putri tercintanya itu dzikir untuk dibaca di malam hari sebagai berikut:

Maukah kalian berdua aku ajari apa yang lebih baik dari apa yang kalian berdua minta kepadaku, jika kalian berdua hendak tidur, bertakbirlah tiga puluh empat kali, bertasbihlah tiga puluh tiga kali dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali, ia lebih baik bagi kalian berdua daripada pembantu.

Sebagai seorang ibu, tidak ada yang mampu menyangkal bahwa Fathimah adalah seorang ibu yang patut diteladani. Dengan kelembutannya ia membesarkan dan mendidik putra-putrinya. Ia menanamkan sikap qana’ah atau rasa cukup. Ia mengajarkan nilai-nilai keutamaan yang lebih berharga daripada harta, sehingga mereka tumbuh menjadi generasi yang teguh dalam iman dan akhlak. Di kemudian di hari terbukti ke empat putra-putrinya tercatat sebagai pribadi-pribadi yang mengagumkan.

Anak pertama yaitu Hasan, setelah sempat 6 bulan menggantikan ayahnya sebagai khalifah, memilih mengundurkan diri dari kedudukan tertinggi dari dunia Islam tersebut. Hal ini demi mencegah pertumpahan darah antar sesama umat Islam. Adik Hasan yaitu Husain, dikenal sebagai simbol keberanian dan keteguhan dalam membela kebenaran. Husain syahid dalam tragedi Karbala yang mengenaskan.

Sementara anak ke tiga, Zainab, dikenal sebagai perempuan  pemberani yang memainkan peran penting setelah tragedi Karbala. Dengan lantang ia menyuarakan kebenaran dan membongkar kezaliman Bani Umayyah di pengadilan Yazid bin Muawiyah. Selanjutnya bungsu Ummu Kultsum yang merupakan istri khalifah Umar bin Khattab dikenal sebagai seorang yang juga memiliki peran penting dalam menjaga warisan keluarga Rasulullah SAW.

Suatu hari Fathimah mendapat kabar bahwa suaminya telah meminang salah seorang putri Abu Jahal. Abu Jahal adalah seorang yang sangat memusuhi Islam dan Rasulullah.  Oleh sebab itu ketika Fathimah mengadukan hal tersebut Rasulullahpun terdiam kemudian bersabda: “Demi Allah tidak akan berkumpul putri Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam dan putri musuh Allah pada satu orang lelaki”.

Fathimah adalah bagian dari diriku, barang siapa yang menyakitinya maka ia telah menyakitiku”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mendengar itu Ali segera membatalkan lamarannya. Maka hingga akhir hayatnya Fathimah tetap menjadi satu-satunya istri Ali bin Abi Thalib. Anehnya orang-orang Syiah menjadikan hadist tersebut sebagai dalil bahwa Fathimah adalah seorang yang maksum ( tidak pernah melakukan kesalahan). Mereka mengartikan bahwa jika Fathimah sakit hati tidak saja Rasulullah yang sakit tapi juga Allah swt. Mereka menggunakan hadist tersebut untuk menyerang khalifah Abu Bakar ketika terjadi permasalah antara sang khalifah dengan Fathimah mengenai hal waris. Padahal itupun akhirnya telah selesai dengan baik.       

Fathimah dan wafatnya Rasulullah.

Fathimah adalah satu-satunya putri Rasulullah yang menjadi saksi wafatnya sang ayah tercinta. Ketika sakit Rasulullah makin hari makin bertambah Fathimah setiap hari datang menjenguk. Setiap kali datang menjenguk, diciumnya putri kesayangan tersebut. Namun ketika sakit Rasul makin berat, Fathimahlah yang mencium ayahnya tercinta.

Selamat datang, puteriku“, sambut Rasul. Dengan wajah menahan duka Fathimahpun duduk disamping ayahnya. Tak lama kemudian Rasul membisikkan sesuatu ke telinga Fathimah. Seketika Fathimah tertawa. Wajahnya langsung berubah cerah. Tetapi beberapa saat kemudian setelah  Rasulullah kembali membisikan sesuatu, Fathimahpun menangis sedih.

Aisyah kemudian bertanya, apa yang dikatakan ayahnya itu. Fatimah hanya menjawab pendek : ”Aku tidak akan membuka rahasia ayahku “.

Di kemudian hari, setelah Rasulullah wafat, Fathimah mengatakan, bahwa ayahnya membisikkan kata  bahwa dirinya adalah orang pertama dari pihak keluarga yang akan menyusul Rasulullah wafat. Itu sebabnya ia tertawa. Selanjutnya ketika Rasulullah berbisik bahwa beliau akan wafat disebabkan  sakitnya itu, iapun tak tahan untuk tidak menangis.

Enam bulan kemudian Fathimah wafat. Ia wafat pada tahun 11 Hijriyah pada bulan Ramadan kemudian dimakamkan di pemakaman Baqi’ di Madinah.

Kisah hidup  Fathimah Az-Zahra yang dipenuhi dengan tantangan dan pengorbanan, mengajarkan kita makna sejati dari keberanian, kesederhanaan, dan kasih sayang. Ia tidak hanya diingat sebagai putri Rasulullah Muhammad SAW, tetapi juga sebagai seorang pribadi yang mencerminkan cinta, keadilan, dan komitmen pada kebenaran.

Wallahu’alam bi shawwab.

Jakarta, 7 Juni 2025.

Vien AM.

Fathimah Az-Zahra adalah putri bungsu, putri ke 4 dari 6 bersaudara yang lahir dari rahim seorang perempuan mulia  Khadijah ra, istri tercinta Rasulullah Muhammad SAW. Putri Rasulullah ini makin istimewa kedudukannya di hati kaum Muslimin karena ia juga adalah istri dari Ali bin Abi Thalib, salah satu sahabat dekat dan sepupu Rasulullah.  

Sebaik-baik wanita penghuni surga adalah Khadijah binti Khuawilid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah binti Muzahim, istrinya Fir’aun.” (HR. Ahmad)

Fathimah lahir di Makkah pada sekitar tahun 605 Masehi dan wafat pada tahun 632 Masehi di Madinah. Fathimah memiliki akhlak dan kepribadian yang sangat mulia.  Ia adalah seorang yang rendah hati, murah hati dan penuh kasih sayang. Terhadap orang miskin ia sangat peduli dan selalu berusaha untuk membantu.  

Masa Kecil.

Sejak kecil Fathimah dikenal mampu mengisi rumah Rasulullah SAW dengan kegembiraan dan keceriaan. Tak salah bila sang ayah memberinya julukan az-Zahra yang artinya yang selalu harum berseri layaknya sekuntum bunga, meski sebenarya ia tumbuh dalam keadaan yang sulit.

Fathimah yang lahir tak lama setelah ayahnya diangkat menjadi Rasul, sejak kecil menyaksikan perjuangan dakwah Islam di Makkah yang penuh dengan pengorbanan dan tantangan. Ia bahkan melihat sendiri bagaimana pamannya sendiri memusuhi Islam dan ayahnya.

Fathimah yang ketika itu baru berusia 7 tahun begitu gusar, sedih dan kecewa melihat kepala ayahnya tercinta dilumuri kotoran unta ketika sedang sujud dalam shalatnya di depan Ka’bah.  Ia segera berlari mendekati ayahnya untuk membersihkan kotoran tersebut lalu dengan penuh keberanian menghampiri kerumunan dimana paman berada dan memarahi pamannya tersebut.

Fathimah kecil bersama ibu dan 3 kakak perempuannya juga menjadi saksi sekaligus korban boikot sosial dan ekonomi yang dilakukan orang-orang Quraisy terhadap bani Hasyim, bani Muthalib dan  pengikut Rasulullah yang waktu itu masih sangat sedikit jumlahnya. Boikot ini terjadi pada tahun ke-7 kenabian tak lama setelah Umar bin Khattab yang merupakan pemuka Quraisy, memeluk Islam. Itu sebabnya para pemuka Quraisy makin kesal melihat perkembangan Islam.  

Selama kurang lebih 3 tahun mereka dikucilkan dari pergaulan dan dipaksa tinggal di sebuah celah bukit sempit di Mekah. Selama itu pula demi mempertahankan hidup mereka terpaksa memakan dedaunan kering dan kulit pepohonan.

Memasuki bulan Muharram tahun ke-10 kenabian, warga Makkah mulai kasihan terhadap mereka dan merasa tindakan Abu Lahab dan kawan-kawan sudah di luar batas kemanusiaan. Pada saat yang sama naskah boikot yang digantung para pemuka Quraisy pada dinding Ka’bah koyak. Tampak bahwa Allah SWT telah mengutus pasukan rayap untuk memakan lembar perjanjian yang dazlim tersebut. Sayang tak lama boikot usia, Fathimah harus kehilangan sang ibu tercinta yang telah berusia 80 tahun. Tak lama kemudian  Allah swt memerintahkan umat Islam untuk hijah ke Madinah.

Keadaan ini membentuk Fathimah menjadi sosok perempuan yang tangguh, kuat, dan penuh kesabaran. Kepedulian dan perhatian Fatimah kepada ayahnya mencerminkan rasa cinta yang mendalam serta keteguhannya dalam mempertahankan kebenaran yang diajarkan oleh ayahnya.

Meski hidup dalam keterbatasan dan jauh dari kemewahan, Fatimah tetap bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah SWT. Kesabarannya dalam menghadapi kesulitan hidup menjadikannya teladan yang luar biasa bagi umat Muslim, mengajarkan bahwa kekuatan iman dan rasa syukur adalah kunci dalam menjalani kehidupan.

Fathimah dan Lamaran.

Ali bin Abi Thalib telah mengenal Fathimah sejak kecil karena Ali sejak kecil memang tinggal bersama pamannya itu. Fathimah dikenal sebagai sosok anak yang sangat berbakti kepada orang tua. Ali terketuk pertama kali saat Fathimah dengan sigap membasuh dan mengobati luka ayahnya yang luka parah karena berperang. Sejak itu ia bertekad akan menikahinya. Namun demikian ia berusaha menjaga hati dan pandangannya hingga Fathimah tidak menyadarinya.

Ketika keduanya beranjak dewasa, Ali berniat menghadap Rasulullah SAW untuk melamar Fathimah. Namun terbesit sedikit keraguan karena menyadari ia hanyalah pemuda miskin yang tidak memiliki sesuatu yang berharga untuk maharnya.

Di tengah kebimbangannya, terdengar kabar bahwa Abu Bakar RA mengajukan lamaran kepada Rasulullah SAW untuk Fathimah. Kemudian disusul pula oleh Umar bin Khattab RA yang juga datang untuk melamar sang putri tercinta.

Namun tanpa disangka secara halus ternyata Rasulullah menolak lamaran kedua sahabatnya tersebut. Tak dapat disangkal Ali merasakan adanya kesempatan emas baginya. Apalagi ketika  seorang temannya berkata, “Mengapa kamu tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, kamulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.”

Akhirnya Alipun memberanikan diri menemui Rasulullah. Siapa  tahu Rasulullah berkenan menerima baju besi senilai 400 dirham, sebilah pedang dan seekor unta yang dimilikinya itu sebagai mahar, begitu ia berpikir menenangkan diri.

Betapa leganya Ali begitu mengetahui Rasulullah hanya tersenyum. Rupanya Rasulullah mengetahui bahwa kemenakannya itu telah lama mencintai putrinya. Tentang mahar, setelah Rasulullah mengetahui bahwa Fathimah bersedia menerima lamaran Ali, beliau berkata, “Tentang pedangmu, kamu tetap memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah SWT, dan untamu kamu perlukan untuk mengambil air bagi keluargamu serta untuk perjalanan jauh. Karena itu, aku akan menikahkan kamu dengan mahar baju besi. Wahai Ali, kamu wajib bergembira karena Allah SWT sebenarnya sudah lebih dulu menikahkan kamu di langit sebelum aku menikahkanmu di bumi ini.”

(Bersambung).

Jakarta, 25 Mei 2025.

Vien AM.

Umar dan Surga.

Diriwayatkan dari Sa’id bin Zain bin Amr bin Nufail, Rasulullah saw bersabda, “Ada sepuluh orang dari kaum Quraisy yang akan berada di surga. Aku di surga, Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, az-Zubair di surga, Thalhah di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Sa’d bin Abi Waqash di surga,” Sa’id pun berhenti sejenak, hingga para sahabat yang menyimak bertanya, “Siapa yang kesepuluhnya?” Sa’id pun menjawab, “Aku.”

Diriwayatkan dari Said bin al-Musayyib bahwa Abu Hurairah berkata, ketika kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

“Sewaktu tidur aku bermimpi seolah-olah aku sedang berada di surga. Kemudian aku melihat seorang wanita sedang berwudhu di sebuah istana (surga), maka aku pun bertanya, ‘Milik siapakah istana ini?’ Wanita-wanita yang ada di sana menjawab, ‘Milik Umar.’ Lalu aku teringat dengan kecemburuan Umar, aku pun menjauh (tidak memasuki) istana itu.” Umar radhiallahu ‘anhu menangis dan berkata, “Mana mungkin aku akan cemburu kepadamu wahai Rasulullah.”

Meski telah dijamin masuk surga tidak berarti Umar lengah dan bersantai-santai dengan perbuatannya. Bukti-bukti begitu banyak akan keseriusan Umar dalam hal tersebut. Salah satu mengapa ia begitu serius dalam menjalankan pemerintahan tak lepas dari hadist berikut,

“Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi Muhammad SAW, ia bersabda, ‘Ada tujuh kelompok orang yang dinaungi oleh Allah pada hari tiada naungan selain naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang mengisi hari-harinya dengan ibadah, seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah di mana keduanya bertemu dan berpisah karena Allah, seorang yang dibujuk berzina oleh lawan jenis yang berpangkat dan rupawan lalu menjawab, ‘Aku takut kepada Allah,’ seseorang yang bersedekah diam-diam sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanannya, dan seseorang yang berzikir di kesunyian dengan menitikkan air mata,’” (HR Bukhari dan Muslim).

Juga kisah betapa sang khalifah mencari Uwais Al-Qarni, seorang pemuda biasa, demi mendapatkan doa darinya. Hal ini dilakukan karena Umar pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Apabila kalian bertemu dengan Uwais Al-Qarni, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan bumi. Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya.”

Dikisahkan dari hadis Riwayat Muslim dari Ishak bin Ibrahim, Uwais Al-Qarni adalah seorang pemuda fakir dan yatim, yang tinggal di negeri Yaman. Ia hidup pada zaman Rasulullah, bersama ibunya yang lumpuh dan buta. Sedangkan Uwais sendiri mempunyai penyakit sopak, penyakit semacam kekurangan pigmen yang membuat kulit sekujur tubuhnya belang-belang. 

Uwais bekerja sebagai penggembala domba dengan hasil usaha yang hanya cukup untuk makan ibunya sehari-hari. Namun demikian Uwais dikenal seorang yang taat beribadah dan sangat patuh pada ibunya. Bahkan demi memenuhi keinginan ibunya berhaji ia rela membopong ibunya dari Yaman ke Mekah. Selanjutnya sepulang haji Allah swt memberi kesembuhan penyakit sopaknya. Yang tertinggal hanya tanda putih di telapak tangannya.

Namun ada satu hal yang sangat didambakannya  yaitu bertemu Rasulullah yang amat dicintainya. Yang saking cintanya ketika mendengar gigi Rasulullah patah karena dilempari batu oleh kaum Thaif yang enggan diajak dalam dakwahnya, Uwaispun segera mematahkan giginya dengan batu. 

Hingga suatu hari karena rindu yang tak tertahankan, ia mendekati ibunya, memohon izin agar diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah. Ibunyapun mengizinkannya. Sayang ketika Uwais tiba di Madinah, Rasulullah sedang bepergian dan hanya bertemu umirul mukminin Aisyah ra. Ia sangat ingin menunggu namun teringat pesan ibunya agar tidak berlama-lama meninggalkannya dan cepat kembali ke Yaman. Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, Uwais memutuskan untuk pulang dan mengubur keinginan menggebunya berjumpa Rasulullah.

Sementara itu Umar tidak pernah melupakan pesan Rasulullah tentang Uwais. Setiap datang rombongan kafilah dagang dari Yaman Umar selalu menanyakan  keberadaan Uwais. Umar baru menemukan Uwais setelah beberapa waktu menjadi khalifah. Dan berkat tanda di tapak tangan yang disisakan Allah swt, Umar dapat mengenalinya dan memohonnya agar mau mendoakan dan mintakan ampunan Allah untuk dirinya. Umar tidak pernah merasa lebih baik dari pemuda biasa.     

Syahidnya Umar.

Umar wafat pada bulan Muharram tahun 644 M setelah 10 tahun berkuasa. Ia ditikam menjelang siap mengimami shalat Subuh di masjid tempat ia biasa shalat, di Madinah. Pembunuhnya adalah Abu Lukluk, orang Persia yang dibawa ke Madinah paska penaklukkan Persia. Padahal selama itu Umar memperlakukannya dengan sangat baik meski ia seorang budak. Abu Lukluk melarikan diri setelah menikam Umar sambil menikam siapa saja yang menghalanginya, hingga mengenai 13 jamaah, 7 diantaranya meninggal. Ada sumber yang mengatakan setelah itu ia bunuh diri dengan cara menikamkan belati beracun yang sama ke tubuhnya sendiri.     

Pembunuhan tersebut dilatar-belakangi rasa sakit hati atas kekalahan Persia yang kala itu merupakan negara adidaya. Namun sebagian sumber menyatakan pembunuhan tersebut adalah konspirasi yang dirancang musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi dan Persia. Diantaranya adalah Hormuzan, mantan panglima Persia yang masuk Islam di hadapan khalifah Umar paska kekalahan pasukannya, kemudian ia menetap di Madinah.   

Ubaidillah putra Umar kemudian membunuhnya sebagai balas kematian ayahnya. Namun ternyata tidak semua sahabat menyetujui perbuatan Ubaidillah, termasuk Ali bin Abi Thalib. Meski  sebenarnya kesaksian dari Abdur-Rahman bin Abu Bakar dan Abdur-Rahman bin Auf cukup untuk membela perbuatan Ubaidillah. Anehnya lagi, pemeluk Syiah, hingga detik ini, malah menjadikan si pembunuh sebagai pahlawan. 

Peristiwa pembunuhan Umar telah diprediksi Rasulullah dalam hadist berikut: “Nabi saw naik ke Uhud bersamanya Abu Bakar, Umar dan Utsman. Tiba-tiba gunung berguncang. “Tenanglah Uhud!”, lalu nabi menghentakkan kakinya, “Tidaklah di atasmu melainkan seorang Nabi, As-Siddiq dan dua orang syahid.” (HR Bukhari).

Dua orang syahid tersebut adalah Umar bin Khattab dan Ustman bin Affan, khalifah pengganti Umar. Umar sendiri pernah berdoa memohon agar ia mati syahid di tanah Arab.

Umar dikebumikan disamping makam Rasulullah dan Abu Bakar di Raudhah setelah mendapatkan izin dari umirul Mukminin Aisyah ra, yang sebenarnya menginginkan tempat terhormat tersebut untuk dirinya sendiri.

Umar meninggalkan wasiat agar kekhalifahan diambil dari hasil musyawarah 6 sahabat pilihan yaitu Ustman bin Affan, Ali bin Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurahman bin Auf serta Saad bin Waqqash.  Dan ternyata musyawarah memutuskan Ustman bin Affan sebagai khalifah ke 3, menggantikan Umar. Dunia Islam sungguh berduka atas kehilangan khalifah yang amat dicintai dan dihormati seluruh rakyatnya itu.  

Diriwayatkan dari Ibnu Mulaikah, dia pernah mendengar Abdullah bin Abbas berkata, “Umar radhiallahu ‘anhu ditidurkan di atas kasurnya (menjelang wafatnya), dan orang-orang yang berkumpul di sekitarnya mendoakan sebelum dipindahkan, ketika itu aku hadir di tengah orang-orang tersebut. Aku terkejut tatkala seseorang memegang kedua pundakku dan ternyata ia adalah Ali bin Abi Thalib. Kemudian Ali berkata (memuji dan mendoakan Umar seperti orang-orang lainnya), “Engkau tidak pernah meninggalkan seseorang yang dapat menyamai dirimu dan apa yang telah engkau lakukan. Aku berharap bisa menjadi sepertimu tatkala menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demi Allah, aku sangat yakin bahwa Allah akan mengumpulkanmu bersama dua orang sahabatmu (Rasulullah dan Abu Bakar)”.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 30 Desember 2024.

Vien AM.

Keutamaan dan Keteladanan Umar.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di antara orang-orang sebelum kalian terdapat sejumlah manusia yang mendapat ilham. Apabila salah seorang umatku mendapakannya, maka Umarlah orangnya.”

Zakaria bin Abi Zaidah menambahkan dari Sa’ad dari Abi Salamah dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari Bani Israil ada yang diberikan ilham walaupun mereka bukan nabi. Jika salah seorang dari umatku mendapatkannya, maka Umarlah orangnya.”

Selain keutamaan mendapatkan ilham sesuai hadist di atas, amirul mukminin Umar bin Khattab adalah seorang yang sangat rendah hati dan sederhana, namun keseriusan dan ketegasannya terutama dalam permasalahan agama adalah ciri khas yang kental melekat padanya. Umar jarang tertawa dan bercanda, di cincinnya terdapat tulisan “Cukuplah kematian menjadi peringatan bagimu hai Umar”.

Ia suka menambal bajunya dengan kulit, dan terkadang membawa ember di pundaknya, keledai yang digunakan sebagai kendaraanyapun bahkan tak berkelana. Namun itu semua sama sekali tak menghilangkan ketinggian wibawanya. Bahkan Sophronius, uskup gereja penguasa Yerusalem dan juga John bar Penkaye seorang pendeta Kristen Suriah, tak sanggup memungkirinya. Keduanya benar-benar terkagum-kagum melihat kedatangan Sang Khalifah yang sangat dihormati bawahan dan ditakuti musuh itu datang ke Yerusalem dengan jubah lusuh penuh jahitan.

Umar datang ke kota suci tersebut atas permintaan Sophronius untuk serah terima kunci gerbang Yerusalem yang baru saja ditaklukkan pasukan Islam. Umar datang  dengan menunggang unta ditemani seorang pembantunya.  

Di bawah kepemimpinannya, agama dan kekhalifahan Islam meluas, dari semenanjung Arabia hingga ke Suriah, Palestina bahkan Mesir. Tak pernah habis kisah mengenai keteladanan Umar sebagai khalifah yang sangat memerhatikan keadilan untuk rakyat kecil namun keras dan tegas kepada pejabat yang bertindak sewenang-wenang.

Diantaranya adalah kisah seorang Yahudi tua yang merasa keberatan dan terdzalimi karena rumahnya digusur gubernur Mesir demi berdirinya sebuah masjid. Yahudi tersebut kemudian pergi ke Madinah untuk mengadukan halnya kepada khalifah Umar.

Namun sesampai di Madinah ia hanya diberi sepotong tulang yang telah digores garis lurus oleh pedang sang khalifah. “Kembalilah ke Mesir, dan berikan tulang ini kepada gubernurmu”. Dengan penuh keheranan Yahudi tersebut hanya bisa mengangguk patuh.   

Tiba di Mesir iapun langsung memberikan tulang tersebut kepada Amr bin Ash, gubernur Mesir. Tapi alangkah terkejutnya ia melihat sang gubernur langsung gemetar memandang tajam tulang tersebut. Ia segera memanggil kepala proyek untuk membatalkan penggusuran gubuk Yahudi tersebut.

Ternyata tulang itu berisi ancaman. Seolah-olah berkata, ‘Hai Amr ibn al-Ash! Ingatlah, siapapun kamu sekarang dan betapa tinggi pangkat dan kekuasaanmu, suatu saat nanti kamu pasti berubah menjadi tulang yang busuk, karena itu bertindaklah adil seperti huruf alif yang lurus, adil ke atas dan adil ke bawah. Sebab jika kamu tidak bertindak demikian pedangku yang akan bertindak dan memenggal lehermu!”

Si Yahudi tertunduk, terharu mendengar penjelasan gubernurnya. Ia kagum atas sikap Khalifah yang tegas dan adil, juga sikap gubernur yang patuh dan taat kepada atasannya meski hanya dengan menerima sepotong tulang kering. Akhirnya Yahudi tersebut menyatakan memeluk Islam, lalu menyerahkan tanah dan gubuknya sebagai wakaf.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar dan yang paling tegas dalam menegakkan agama Allah adalah Umar.” (HR. Tirmidzi dalam al-Manaqib, hadits no. 3791)

Di antara tanda kesempurnaan agamanya, adalah sifat wara’ yang dimilikinya, yaitu meninggalkan sesuatu yang jelas keharamannya maupun yang masih samar atau belum jelas halal dan haramnya (syubhat).

Dikisahkan beliau dahulu memiliki unta yang biasa diperas susunya untuk diminum. Suatu hari, seorang pembantu yang kurang dikenalnya datang kepada beliau. Maka berkatalah Umar radhiyallahu ‘anhu,“Celaka engkau! Darimana kau dapatkan susu ini?”.

“Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya anak onta Anda lepas dari induknya, kemudian (setelah kembali) anak onta itu pun menyusu kepada induknya. Aku pun memeras susu untukmu dari unta lain yang merupakan harta Allah”, jawab pembantunya.

“Celaka engkau! Engkau memberiku minum dari api neraka”, tukas Umar.

Salah satu kebiasaan Umar yang juga patut dicontoh adalah sidak langsung turun ke bawah. Ini untuk memastikan bahwa keadaan rakyatnya baik-baik saja. Pada suatu hari di tengah paceklik yang melanda, Umar berpatroli dari satu rumah penduduk ke rumah lainnya. Hingga suatu malam di luar Madinah, tampak dari kejauhan sebuah cahaya redup dari sebuah gubug. Umar yang ditemani seorang pembantu diam-diam segera mendekatinya.

Mereka melihat seorang perempuan tua sedang memasak sesuatu di dalam panci. Ia dikelilingi oleh tiga anak kecil yang semuanya menangis. Sambil mengaduk-aduk isi panci perempuan tersebut bergumam, “Wahai Tuhanku, berilah balasan terhadap Umar. Ia telah berbuat dzalim. Enak saja, kami rakyatnya kelaparan sementara dia hidup serba berkecukupan”.

Mendengar itu Umar segera mengetuk pintu, memberi salam dan memohon izin untuk masuk. Setelah diizinkan masuk Umar bertanya mengapa ketiga anaknya menangis.

“Kami datang dari jauh. Aku dan anak-anakku kelaparan. Aku tidak punya apa-apa dan tidak bisa berbuat apa-apa”, jawab perempuan yang tidak tahu bahwa tamunya adalah Umar sang khalifah.

“Lalu, apa yang kau masak di panci ini?”

“Itu hanya air mendidih. Agar anak-anak mengira aku sedang memasak makanan. Dengan begitu mereka akan terhibur.”

Alangkah terkejut dan sedihnya Umar. Tak lama Umar pamit pulang, dan segera pergi menuju ke sebuah toko untuk membeli banyak sembako (riwayat lain menyebut ia menuju baitul mal). Lalu ia memanggulnya sendiri untuk menuju kembali ke gubug perempuan tadi.

“Wahai Amirul Mu’minin, turunkan bawaanmu, biar aku saja yang memikulnya,” pinta pembantunya.

“Jangan, biar aku saja yang membawanya. Anggap saja aku sedang memikul dosa-dosaku, juga semoga menjadi penghalang dikabulkannya doa perempuan tadi,” tegas Umar.

Sesampainya di gubug tersebut Umar memberikan bawaannya sambil berkata, “Ibu sekarang tidak perlu lagi mendoakan keburukan untuk Umar. Mungkin ia belum mendengar kabar ada kalian kelaparan di sini”.

Di lain hari Umar melarang rakyatnya mencampur laban (susu) dengan air. Suatu malam dia mengelilingi kota Madinah. Kemudian dia bersandar di sebuah dinding untuk beristirahat. Ternyata seorang wanita sedang berpesan kepada puterinya untuk mencampur laban dengan air.

Maka sang puteri tersebut berkata, ‘Bagaimana aku mencampurnya sedangkan Amirul Mukminin melarang hal tersebut.” Lalu wanita tersebut berkata, “Amirul Mukminin tidak mengetahuinya.” Maka sang anak menjawab, “Jika Umar tidak mengetahuinya, maka Tuhannya Umar mengetahuinya. Aku tidak akan melaksanakannya selama hal tersebut telah dilarang.”

Ucapan sang anak perempuan tersebut sangat berkesan di hati Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu. Maka di pagi harinya dia memanggil puteranya bernama Ashim, lalu dia ceritakan kejadiannya dan dia beritahu tempatnya, kemudian dia berkata, “Pergilah wahai anakku, nikahilah anak tersebut.” Maka akhirnya Ashim menikahi puteri tersebut, dan dari perkawinan tersebut, lahirlah Abdu Aziz bin Marwan bin Hakam, salah seorang gubernur terbaik pada masa Bani Umayah, kemudian darinya lahir khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Kisah lain, yaitu ketika putranya yang masih kecil meminta dibelikan baju baru karena bajunya sudah sobek dan diolok-olok teman-temannya. Semula Umar tidak menanggapinya tapi karena putranya terus merengek akhirnya Umar memutuskan untuk meminta baitulmal memberikan gajinya lebih awal.

Namun apa jawaban pegawai baitulmal? Ia mempertanyakan apakah ada jaminan Umar masih hidup sampai tiba waktunya menerima jatah gajinya?? Umar terkesiap dan langsung menangis menyadari kekhilafannya. 

( Bersambung)

Wallahu’alam bishawwab.

Jakarta, 21 Desember 2024.

Vien AM.