Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Kumpulan kisah dan cerpen’ Category

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ustaz Yusuf Mansur

Diambil dari : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/kalam-ym/15/05/11/no5xxm-shalat

“Pak, boleh saya pinjam uang?” kata seorang yang miskin. Orang kaya ini mendengar, “750 ribu saja.” “Saya akan beri kamu Rp 1 juta. Enggak usah pinjam. Pukul 16.00 saya akan datang ke rumah kamu.”

Pukul 16.00, si kaya ini sudah ada di depan pintu rumah si miskin. Pintu dibuka. Seorang anak kecil, bertanya, “Mau ketemu siapa, Pak?”

“Bapakmu ada? Tadi beliau ke rumah saya. Mau pinjam Rp 750 ribu. Saya bawa Rp 1 juta. Kasih tahu ya, saya sudah datang. Bawa uang yang saya janjikan.”

Anak ini bergegas memberitau ayahnya. “Di depan ada seseorang yang ayah ada perlu dengannya? Dan katanya datang dengan membawa uang Rp 1 juta.” “Suruh orang itu tunggu Ayah, Nak.”

Anak itu memberitau si kaya. “Kata Ayah saya, mohon tunggu sebentar.” Lima menit berlalu. 10 menit berlalu. Dan, 30 menit berlalu. Tak ada tanda-tanda ayah miskin ini keluar menemuinya.

“Nak,” tanya si kaya. “Kamu udah ngasih tahu ayah kamu?” “Sudah.” “Apa katanya?” “Bapak suruh nunggu…” “Ayah kamu tahu saya janjian pukul 4 sore ini. Dan ayah kamu yang perlu bantuan. Tidakkah kamu sudah sampaikan? Saya sudah bawa bantuan yang diperlukannya? Maukah kamu kasih tahu lagi ayah kamu?”

Anak itu kembali kepada ayahnya. “Ayah, kasihan lho. Bapak itu baik sekali. Harusnya ayah yang menunggunya di depan pintu. Ayah sudah tahu bapak itu akan datang pukul 4 sore membawa bantuan yang ayah minta.” Ayah miskin ini menoleh sambil tersenyum dingin. “Beritahu bapak itu… Kalau mau membantu, kudu sabar…

Anak itu bingung. Sungguh ayah miskin itu enggak tahu diri. Enggak tahu bersyukur. Enggak ngerti posisi. Dan kiranya, ayah miskin itu adalah kita juga adanya. Tidakkah kita sadari? Betapa Allah Yang Maha Kaya sudahjanjian dengan kita? Atau kita tidak tahu? Lupa? Atau sengaja melupakan? “Sesungguhnya shalat itu kitaaban mauquutaa, sudah ditentukan waktu-waktunya.

Kita paham kita adalah manusia lemah yang selalu dan banyak keperluannya. Dan kita butuh itu, minta itu, dari Allah. Tapi saat Allah datang, di tiap-tiap waktu shalat, kita jarang sekali menunggu-Nya di pintu alias jarang sekali kita datang duluan ke Masjid, ke Rumah-Nya.

Alangkah indahnya jika si ayah miskin, yakni kita-kita ini, yang tahu bahwa Yang Maha Kaya bakal datang, lalu menunggu di muka.

Alangkah indahnya kita berposisi siap-siap menunggu kedatangan-Nya. Akan tetapi, kita enggak perhatian. Akhirnya, keanehanlah yang terjadi. Kita butuh dunia-Nya, tapi enggak tahu Pemilik Dunia sudah datang menemui kita.

Isra Mi’raj adalah peristiwa agung. Saat itu, perintah shalat diberikan langsung kepada Nabi Muhammad SAW, tanpa perantara Jibril dan siapa-siapa di antara malaikat-malaikat-Nya.

Carilah Allah. Tungguin Allah. Sebaiknya kita bersiap-siap menyambut kedatangan-Nya. Jika tidak, maka kita seperti ayah miskin yang bodoh lagi tidak ada bersyukurnya di hadapan Allah.

Benahilah shalat kita. Benerin yang wajib, idupin yang sunnah. Kalau bisa, sebelum Allah datang, kita sudah duluan standby menunggunya. Sebelum azan, kita sudah bersiap di atas sajadah, di masjid, untuk menyambut-Nya.

Masya Allah …

Jakarta, 17 May 2014.

Vien AM.

Read Full Post »

« Salut Fika, je suis Chole », tegur gadis tinggi semampai itu sambil mengulurkan tangannya. Ia mengenakan jeans merah tua ketat yang dimasukkan kedalam sepatu boot hitam runcing, atasannya blus kuning longgar kotak-kotak cerah. Rambutnya yang ikal sebahu berwarna coklat kemerahan dibiarkan tergerai menambah daya tariknya.

Fika segera menyambutnya, sambil berusaha keras mengingat-ingat siapa gadis itu dan dimana ia pernah bertemu.

« Aku kekasih Daniel, aku melihatmu di acara « Save Palestine » minggu lalu », kata gadis tersebut, seolah tahu apa yang ada di pikiran Fika.

« Oh iya betul, aku baru ingat, sorry », jawab Fika tersipu.

Beberapa bulan lalu Fika memang ikut dalam program kegiatan kampus berjudul “Save Palestine”. Dan Daniel adalah ketua kegiatan sosial tersebut. Kegiatan ini bertujuan menekan pemerintah Perancis agar peduli terhadap nasib Palestina. Di acara tersebut panitia memajang foto-foto kekejaman tentara Zionis Israel. Selanjutnya para pengunjung dipersilahkan memilih postcard dengan foto-foto yang sama, lalu menuliskan kata-kata menanggapi postcard yang dipilihnya itu. Kemudian postcard tersebut dimasukkan ke dalam kotak yang telah disiapkan panitia untuk selanjutnya diserahkan langsung ke presiden Perancis, Francois Holland. Uniknya, acara ini murni kegiatan sosial tidak ada kaitannya dengan agama apapun.

Fika teringat gadis seksi yang menjadi kekasih Daniel tersebut. Gadis tersebut sebenarnya sangat cantik dan menarik, sayang terkesan binal dan nakal. Itu kesan Fika sepintas. Mungkin karena ia sering bergonta-ganti pacar selain dandanannya yang terlalu mencolok, khususnya bagi seorang mahasiswi.

“Kamu dari Indonesia ya, Daniel yang mengatakan. Kebetulan aku memang ingin tahu banyak soal Indonesia”, kata Chole membuyarkan lamunan Fika.

Itulah awal perkenalan Fika dengan Chole, seorang gadis Iran. Ada kedekatan emosi yang membuat mereka bisa bersahabat erat.  Chole ternyata seorang Muslimah. “Jangan-jangan Chole itu dari kata sholeh”, pikir Fika dalam hati sambil tersenyum sendiri.

Dari persahabatan itu pulalah Fika menyadari adanya sesuatu yang membuat Chole terlihat ‘liar’. Fika melihat pada dasarnya Chole adalah seorang gadis yang baik.  Ia binal karena ada penyebabnya, meski Fika tidak tahu pasti apa penyebab tersebut. Oleh sebab itu ia bersyukur melihat sahabat barunya itu sedikt demi sedikit bisa mengurangi sikap buruk tersebut.

Orang-tua Chole adalah asli orang Iran. Awalnya mereka menetap di Teheran, ibu kota Iran. Namun 7 tahun silam, ketika Chole berumur 13 tahun, ibunya memutuskan untuk hijrah ke Paris. Hal ini terjadi tak lama setelah kedua orang-tuanya bercerai. Chole tidak tahu persis apa penyebab perceraian orang-tuanya, namun di kemudian hari ia menduga adanya perbedaan pandangan dalam agama.

Ia ingat benar ekspresi wajah ibunya tercinta setiap kali ada tamu yang datang, dan ia sebagai anak perempuan yang dilatih untuk selalu taat dan patuh pada orang-tua harus melayani tamu-tamu tersebut. Wajah ibu terlihat demikian terluka. Chole sendiri tidak ingat, atau tepatnya tidak ingin mengingat hari-hari pertama ia melayani mereka. Yang diingatnya justru jerit tangis adik perempuan satu-satunya yang ketika itu baru berumur 9 tahun. Ia tidak berani membayangkan apa yang terjadi di balik kamar terkunci tersebut, meski ia tahu persis apa yang dialami adiknya tercinta. Karena ia sendiri beberapa kali mengalaminya.

Seingatnya sejak itulah ibunya sering menangis diam-diam, hingga akhirnya sering bertengkar hebat dengan ayahnya. Maka terjadilah perceraian tersebut.  Tak lama kemudian ia dan adiknyapun ikut ibu mereka pindah ke Paris. Bergabung dengan keluarga besar ibu yang telah hijrah ke kota ini sejak pecahnya revolusi Iran di tahun 1979.

Saat ini Chole kuliah di fakultas Psikologi Universitas Sorbonne semester 5. Sedangkan Fika fakultas Hukum semester 5 di universitas yang sama. Fika sendiri tinggal di Paris sejak SMA, mengikuti ayahnya yang ketika itu mendapat tugas dari perusahaan. Namun kini ia tinggal sendiri di asrama mahasiswa karena kedua orang-tua dan satu-satunya adiknya telah kembali ke tanah air.

 ***

Fika, aku perhatikan kau suka shalat sambil duduk, kadang di kelas kadang di taman.  Mengapa tidak shalat di rumah saja sepulang kuliah ?”, tanya Chole suatu hari di bulan Ramadhan.

“Kalau kebetulan musim panas memang sempat, tapi kalau musim dingin kan tidak mungkin, tidak keburu, sampai rumah kan matahari sudah terbenam. Berarti lewat sudah waktu Zuhur maupun Asar”, jawab Fika.

“Hemm, begitu yaa … Apakah semua  orang Indonrsia alim seperti kamu ? “, kata Chole setelah hening beberapa saat.

“ Wah ini sih bukan soal alim atau tidak Shole. Shalat kan wajib”, potong Fika.

“ Iya siih, tapi kenapa ya aku malas sekali …”, keluh Chole.

“Oya, aku dengar kau suka berbuka puasa dan shalat di Mosquee de Paris yaa. Kapan-kapan aku ikut dong, rasanya sudah lama sekali aku tidak mengunjungi masjid », kata Chole beberapa saat setelah keduanya terdiam.

« Ayo aja. Rencananya Sabtu besok aku akan ke sana. Kalau mau kita bisa bertemu di sortie Place Monge metro no 7, kau tahu kan? », tanya Fika.

« D’accord, bisa aku cari. Jam berapa”, Chole balas tanya.

 “ Satu jam sebelum magrib, jam 19.00?”, jawab Fika.

Bulan Ramadhan tahun ini kebetulan jatuh pada musim gugur, jadi hari masih agak panjang.  Matahari sekitar pukul 5 sudah muncul, sedangkan pukul 20.00 matahari baru terbenam. Jadi pada musim tersebut puasa 2 jam lebih lama dari di Indonesia, yaitu sekitar 15 jam.

Maka jadilah Sabtu tersebut Chole dan Fika bertemu di tempat yang telah ditentukan.

“ Assalamualaykum Chole”, seru Fika. “Wah kamu cantik sekali dengan kerudung seperti itu”, puji Fika.

Chole sore itu memang terlihat berbeda. Ia mengenakan kerudung biru muda dan abaya biru tua dengan payet bunga dibagian bawahnya. Wajahnya hanya disentuh make up sederhana dan pemerah bibir secukupnya. Namun ia tetap terlihat cantik bahkan lebih anggun daripada penampilannya sehari-hari.

“Waalaykum salam, merci beaucoup Fika”, jawab Chole tersipu.

“Ini kerudung dan abaya ibuku, aku meminjamnya. Ibu tampak terkejut tapi senang melihatku”, aku Chole. “Kapan-kapan kau harus bertemu dengannya, pasti ia akan senang berkenalan denganmu. Berkatmu aku mau berubah. Tahukah kau, sudah beberapa hari ini aku berusaha untuk tidak merokok meski waktu berbuka puasa sudah tiba ”, lanjutnya sambil tersenyum.

Wah bravo, begitu dong. Dengan senang hati Chole. Tapi percayalah, itu bukan karena aku, tapi memang itulah jalanmu, karena tekadmu untuk berubah”, puji Fika sambil memandang kagum sahabatnya. Chole hanya manggut-manggut.

Kau masih puasa kaan, masih ada waktu 1 jam untuk berbuka. Kita beli kebab dulu ya,  take away, kita makan setelah shalat Magrib, oke?”, ajak Fika .

Tanpa menunggu jawaban Chole, Fika langsung menarik tangan Chole, dan segera menyelinap ke bagian tengah pelataran Place Monge yang ramai pengunjung. Tujuan mereka adalah stand kebab bertuliskan “HALAL”.Setiap hari di pelataran tak jauh dari Masjid Agung Paris ini memang digelar semacam pasar kaget. Dari buah-buah, sayur-sayuran, aneka makanan hingga pakaian dijajakan di tempat ini.

Tak lama kemudian keduanya sudah berada diantara orang-orang yang mengantri membeli kebab. Chole sempat terheran-heran karena banyak juga orang Perancis yang kebanyakan non Muslim itu terlihat diantara yang mengantri.

“Kalau kau suka makanan Perancis tak jauh dari sini ada restoran halal. Crepe asinnya enak sekali lho. Kalau kita tidak terburu-buru kapan-kapan aku ajak kau kesana Chole”, bisik Fika.

“Wah boleh juga tuh, aku suka sekali crepe asin, crepe isi daging asap dan bayam, nyaam ”, jawab Chole membayangkant. Namun tak urung ada sedikit rasa malu dan sesal di hatinya, karena selama ini ia tidak pernah memikirkan apakah makanan yang dibelinya itu halal atau tidak.

“Sebaliknya kalau kamu suka makanan khas Maroko seperti tajin, kuskus dll, disudut masjid ada sebuah restoran yang menyajikan masakan tersebut. Banyak orang asli Perancis berkunjung ke tempat itu”, lanjut Fika membuat Chole bertambah lapar membayangkan makanan.

Noted Fika, kapan-kapan akan aku ajak ibuku kesana. Kebetulan ibu sangat menyukai kuskus”, jawab Chole.

“ Bonjour mademoiselle, alors, quest-ce-que vous voulez”, tanya si penjual kebab. Tanpa terasa keduanya telah sampai di depan laki-laki asal Turki penjual kebab tersebut.

Maka keduanyapun segera menyebut pesanan mereka. Dan dalam hitungan menit keduanya sudah menggenggam pesanan masing-masing.

“Merci monsieur, au revoir”, kata Fika dan Chole bersamaan.

Dan beberapa saat kemudian keduanyapun telah larut bersama orang-orang yang berbondong-bondong menyebrang jalan. Belakangan Chole baru meyadari ternyata sebagian besar penyebrang jalan tersebut menuju tujuan yang sama, yaitu masjid de Paris.

 “ Jujur, aku tidak menyangka begitu banyak Muslim di kota ini”, bisik Chole terheran-heran. .

“ Ya Chole, Muslim di kota ini memang lumayan banyak. Itu sebabnya aku selalu datang ke sini paling sedikit 1 jam sebelum waktu shalat. Terlambat sedikit saja dijamin sulit mendapat tempat yang strategis di dalam sana”, jawab Fika.

“Dan ini bukan hanya dalam bulan puasa lho. Setiap Jumatan juga seperti ini, penuuh, baik musim panas maupun musim dingin, Allahuakbar”, lanjut Fika lagi.

Tak lama kemudian Fika dan Cholepun tiba di tujuan. Setelah celingukan kesana kemari akhirnya mereka menemukan tempat yang agak lowong yaitu di shaft bagian tengah masjid yang dibangun pada tahun 1926 sebagai penghargaan atas gugurnya 100 ribu prajurit Muslim Perancis melawan Jerman itu. Fika segera melaksanakan shalat tahiyatul masjid, setelah itu mengambil Alquran yang tersedia di rak tak jauh dari mereka duduk, lalu membacanya dengan suara pelan. Sementara Chole hanya diam mendengarkan sambil sekali-sekali memperhatikan masjid berarsitektur Maroko tersebut, dan jamaah yang ada di sekitarnya.

Hingga ketika azan menjelang tiba orang-orang sibuk berlomba membagikan kurma kepada sesama jamaah sebagai makanan pembuka puasa mereka hari itu. Sekitar setengah jam kemudian usai Magrib berjamaah Fikapun mengajak Chole keluar ruangan masjid untuk menyantap kebab yang tadi mereka beli. Dan beberapa lama kemudian keduanya telah larut kembali dalam lautan jamaah Isya dan Tarawih.

***

“Fika, ada hal yang sangat ingin kutanyakan padamu, yaitu tentang kaum perempuan dalam pandangan Islam”, tanya Chole suatu hari sepulang dari kampus.

“Kau pasti tahu bahwa mayoritas penduduk Iran adalah pengikut Syiah”, lanjut Chole lagi. Keduanya sekarang duduk di bangku taman kampus, agak jauh dari keramaian.

Fika hanya mengangguk, mencoba meraba kira-kira apa yang ingin ditanyakan sahabatnya itu. Meski ia tidak tahu terlalu banyak tentang Syiah namun tidak jarang juga ia mendengar ayah ibunya membicarakan hal tersebut

“Sebaliknya, aku mendengar bahwa mayoritas Islam di dunia adalah Sunni, termasuk orang Indonesia. Jangan khawatir Fika, aku tidak ingin membicarakan perbedaan tersebut, apalagi berdebat denganmu tentang hal ini”, lanjut Chole seolah bisa membaca jalan pikiran Fika.

“Aku hanya ingin tahu benarkah kaum perempuan yang bermut’ah mendapatkan pahala besar di sisi Allah?  Yang kedua, aapa bedanya mut’ah dengan pernikahan resmi?”berondongnya.

Fika tersentak, tidak menduga akan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Chole. Ia menghela nafas sejenak, berpikir keras jawaban apa sebaiknya yang ia berikan. Hingga akhirnya iapun berkata “Terus terang sebenarnya aku tidak begitu tahu apa itu mut’ah. Karena Sunni memang tidak mengenal mut’ah. Yang ada hanya pernikahan resmi atau perzinahan”.

Namun tanpa disangka, jawaban singkat tersebut telah mampu membuat Chole terkejut, “Yang benar ? ? Sunni tidak mengenal mut’ah? Maksud kamu bagaimana?”.

“Apa itu berarti dirimu masih suci?? Kamu tidak pernah disentuh lelaki manapun?  sekalipun?”, berondongnya.

“Tentu saja tidak. Haram Chole … Aku akan mempetahankan keperawananku, meski teman-teman disini menganggapnya aneh, hingga suatu hari nanti aku menemukan suami yang tepat. Seorang lelaki yang sholeh, yang takwa, yang mencintaiku sepenuh hati, yang mau menjaga dan melindungi aku dan anak-anakku kelak. Itu pasti Chole”, jawan Fika meyakinkan.

Chole terkesima mendengar jawaban tersebut. Ia diam seribu bahasa, dan selama beberapa detik hanya memandangi Fika seolah sahabatnya itu sudah hilang ingatan. Hingga tanpa bisa ditahan lagi tiba-tiba saja ia menangis histeris.

Fika segera mendekap Chole dan berusaha menenangkannya.

“Tenang Chole, tenang … Apa yang menyebabkan dirimu seperti ini? Kamu ingin menceritakannya padaku ? Ceritakan saja bila itu bisa membuatmu lega dan tenang”, hibur Fika.

Selang beberapa saat akhirnya Cholepun menjadi tenang. Ia mulai bercerita hari-hari menyakitkan yang selama ini telah dikuburnya dalam-dalam, meski ia tahu Allah akan mengganjarnya dengan pahala yang besar. Setidaknya itulah yang dikatakan ayahnya. Itu sebabnya ia begitu kecewa dan sakit hati mendengar jawaban Fika yang menganggap hal tersebut adalah haram, alias dosa besar !

Istri durhaka !”, desis ayah Chole kepada ibunya. Ketika itu ibu Chole berusaha menyembunyikan adik Chole  yang baru berumur 9 tahun, di dapur rumah mereka. Sementara Chole sendiri hanya tertunduk ketakutan, sadar bahwa ia harus melayani tamu kehormatan ayahnya. Dan ini bukan pertama kalinya ia  harus melakukan hal tersebut.

Tidak tahukah kau bahwa kunjungan pemuka Qom ke rumah kita ini adalah kehormatan. Mereka adalah orang-orang suci yang dapat membawa keberkahan kepada kita. Biarkan anak-anak kita melayani mereka. Allah sendiri yang akan memberi balasan pahala terbaik-Nya”.

Dengan nada pilu, Chole bercerita bahwa semua teman-teman perempuannya pernah mengalami hal tersebut. Bahkan ada diantara mereka yang sampai hamil, namun kemudian digugurkan, termasuk dirinya yang pernah hamil 2 kali. “Tidak sulit di negara kami menemukan praktek pengguguran kandungan. Dan itu bukan hal yang harus ditutup-tutupi”, jelas Chole.

Astaghfirullahaladzim”, pekik Fika tanpa sadar. “ Itu kan berarti kalian telah berbuat dosa dua kali lipat, perzinahan dan pembunuhan”.

“Ntahlah Fika, aku tidak mengerti mengapa bisa begitu. Malu aku sebenarnya menceritakan hal ini. Tidak jarang aku berpikir, alangkah sialnya menjadi perempuan”, isaknya.

“Dendamku benar-benar bertumpuk. Untuk itu aku melepaskannya dengan semua laki-laki yang menjadi kekasihku. Sungguh, aku tidak peduli apakah kekasihku hanya menginginkan kepuasan seksual atau karena betul-betul mencintaiku. Tidak ada bedanya. Bukankah perempuan hanya sampah yang dapat dicampakkan sesuka hati oleh laki-laki!”, teriaknya histeris.

Alangkah pilunya hati Fika mendengar pengakuan sahabatnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa.

“Sudah, tenanglah Chole. Bukankah itu bukan salahmu. Kau hanya korban ketidak-tahuan. Bertaubatlah segera, pasti Allah akan mengampunimu”, hibur Fika.

Chole terus terisak. Beberapa saat kemudian setelah Chole dapat menguasai dirinya kembali, ia kembali bertanya, “Bagaimana pula dengan hijab menurut Sunni, Fika?”.

“Kalau itu memang wajib, jelas ayatnya. Gimana menurutmu?”, kata Fika, balik bertanya.

“Hemmm, tapi apakah itu berarti polisi akan menangkapmu bila kedapatan kau berjalan-jalan tanpa hijab?”, tanyanya lagi.

“Yaa kalau di Indonesia ya tidak karena negara kami bukan negara Islam. Meski mayoritas penduduk adalah Muslim tapi Indonesia tidak menerapkan hukum Islam. Berhijab, seperti juga shalat 5 waktu, memang wajib, tapi itu tidak berarti polisi akan menangkap kita kalau kita tidak melakukannya”, jawab Fika diplomatis.

“ Sesuatu yang tidak mungkin terjadi di negaraku”, keluhnya.

Terus terang kami mengenakan hijab karena takut ditangkap polisi”, aku Chole tersipu.

“Itu sebabnya kebanyakan perempuan Iran yang hijrah ke luar negri menanggalkan hijab mereka begitu tiba di negri tujuan mereka, termasuk aku, ibuku dan sebagian besar perempuan di keluarga besarku”, jelas Chole.

Fika tiba-tiba teringat acara tv beberapa waktu lalu yang menayangkan pengakuan perempuan Iran yang menanggalkan hijab begitu tiba di Perancis.

Pantas saja, orang Perancis doyan menyudutkan posisi perempuan Islam », keluh Fika dalam hati.

“Kalau begini caranya, alangkah sulitnya umat Islam melawan Islamophobia yang menyerang Barat secara bertubi-tubi. Tidak ada paksaan untuk memeluk Islam. Tapi begitu seseorang memutuskan masuk Islam otomatis ia harus melaksanakan hukum-hukum Islam. Itu adalah konsekwensinya. Hal yang lumrah saja sebenarnya”, batin Fika.

“Itu akibatnya kalau orang dipaksa berhijab, tanpa diberi bekal pengetahuan”,  kata Fika lembut kepada sahabatnya itu.

***

Jakarta, Maret 2015.

Vien AM.

Read Full Post »

Dimasa nabi Musa as suatu kali lama tidak turun hujan dan menyebabkan musim kemarau berpanjangan.  Orang-orang datang menghadap nabi Musa as dan mengatakan,

Dirikanlah shalat hujan bagi kami!”

Nabi Musa as mengajak kaumnya mendirikan shalat hujan dan memohon kepada Allah swt agar menurunkan rahmat-Nya bagi mereka. Orang yang shalat bersama nabi Musa as lebih dari 70.000 orang. Sekeras apapun mereka berusaha berdoa hujan tak kunjung turun.

Nabi Musapun bertanya pada Allah swt,

“ Ya Allah mengapa hujan tidak turun? Apakah kedudukanku di sisi-Mu tidak ada artinya ?”

Allah mewahyukan kepada nabi Musa as,

“Engkau mulia di sisi-Ku. Akan tetapi di tengah kalian terdapat seseorang yang  telah bermaksiat kepada-Ku selama 40 tahun. Katakanlah padanya agar ia keluar dari barisan shalat sehingga Aku menurunkan rahmat-Ku”.

Namun Musa as berkata,

“Ya Allah, suaraku amat lemah. Bagaimana mungkin suaraku dapat terdengar oleh 70.000 orang?” .

Allah swt berfirman,

“Wahai Musa, sampaikan apa yang Kuperintahkan padamu. Aku akan jadikan mereka semua mendengar suaramu”.

Dengar suara lantang, nabi Musa as menyampaikan,

“Barangsiapa di antara kalian yang telah bermaksiat kepada Allah swt selama 40 tahun maka hendaklah dia berdiri dan meninggalkan tempat ini. Dikarenakan perbuatan dosa dan keburukannya Allah swt enggan menurunkan rahmat-Nya kepada kita”.

Orang yang berbuat maksiat itu menoleh ke sekitarnya. Dia tidak melihat seorangpun yang keluar dari barisan shalat. Dia sadar dirinyalah yang dimaksud. Dia berkata pada diri sendiri,

Apa yang harus kulakukan ? Jika aku bangkit berdiri maka orang-orang akan melihatku dan mengenalku. Aku akan malu di hadapan mereka. Tetapi jika aku tidak keluar maka Allah tidak akan menurunkan hujan”.

Pada saat itulah orang itu benar-benar bertaubat kepada Allah swt dari kedalaman hatinya dan menyesali segala perbuatan dosanya.

Tiba-tiba awan mendung datang dan hujan turun dengan lebatnya. Dengan penuh keheranan nabi Musa as bertanya kepada Allah swt,

“ Ya Allah tak seorangpun yang keluar dari barisan namun mengapa hujan turun juga?”

Allah swt mewahyukan,

“Aku menurunkan hujan kepada kalian dikarenakan taubat orang yang telah menghalangi rahmat-Ku turun pada kalian”.

Nabi Musa as memohon,

“Ya Allah, tunjukkanlah padaku siapa orang itu?”

Allah swt mewahyukan,

Wahai Musa, ketika hamba itu bermaksiat pada-Ku, Aku menutupi dosa-dosanya. Dan ketika dia bertaubat pada-Ku maka Akupun merahasiakan dirinya”.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 6 Februari 2015.

Vien AM.

Diambil dari : “Kisah-kisah Allah”oleh Ahmad m Zadeh dan Oasem M Zadeh.

Read Full Post »

“Wahai saudaraku! Jangan engkau dekati Muhammad itu. Dia orang gila. Dia pembohong. Dia tukang sihir. Jika engkau mendekatinya, engkau akan dipengaruhinya dan engkau akan menjadi seperti dia,” kata seorang pengemis buta Yahudi berulang-ulang kali di satu sudut pasar di Madinah pada setiap pagi sambil tangannya menadah meminta belas orang yang lalu-lalang.

Orang yang lalu-lalang di pasar itu ada yang menghulurkan sedekah kerana kasihan malah ada juga yang tidak mempedulikannya langsung.

Pada setiap pagi, kata-kata menghina Rasulullah SAW itu tidak lekang daripada mulutnya seolah-olah mengingatkan kepada orang ramai supaya jangan terpedaya dengan ajaran Rasulullah SAW. Seperti biasa juga, Rasulullah SAW ke pasar Madinah. Apabila baginda sampai, baginda terus mendapatkan pengemis buta Yahudi itu lalu menyuapkan makanan ke mulutnya dengan lembut dan bersopan tanpa berkata apa-apa.

Pengemis buta Yahudi yang tidak pernah bertanya siapakah yang menyuapkan itu begitu berselera sekali apabila ada orang yang baik hati memberi dan menyuapkan makanan ke mulutnya.

Perbuatan baginda itu dilakukannya setiap hari sehinggalah baginda wafat. Sejak kewafatan baginda, tidak ada sesiapa yang sudi menyuapkan makanan ke mulut pengemis itu setiap pagi.

Pada satu pagi, Saidina Abu Bakar ra pergi ke rumah anaknya, Siti Aisyah yang juga merupakan isteri Rasulullah SAW untuk bertanyakan sesuatu kepadanya.

“Wahai anakku Aisyah, apakah kebiasaan yang Muhammad lakukan yang aku tidak lakukan?”, tanya Saidina Abu Bakar ra sebaik duduk di dalam rumah Aisyah.

“Ayahandaku, boleh dikatakan apa sahaja yang Rasulullah lakukan, ayahanda telah lakukan kecuali satu,” beritahu Aisyah sambil melayan ayahandanya dengan hidangan yang tersedia.

“Apakah dia wahai anakku, Aisyah?”

“Setiap pagi Rasulullah akan membawa makanan untuk seorang pengemis buta Yahudi di satu sudut di pasar Madinah dan menyuapkan makanan ke mulutnya. Sejak pemergian Rasulullah, sudah tentu tidak ada sesiapa lagi yang menyuapkan makanan kepada pengemis itu,” beritahu Aisyah kepada ayahandanya seolah-olah kasihan dengan nasib pengemis itu.

“Kalau begitu, ayahanda akan lakukan seperti apa yang Muhammad lakukan setiap pagi. Kamu sediakanlah makanan yang selalu dibawa oleh Muhammad untuk pengemis itu,” beritahu Saidina Abu Bakar ra kepada anaknya.

Pada keesokan harinya, Saidina Abu BAkar ra membawakan makanan yang sama seperti apa yang Rasulullah SAW bawakan untuk pengemis itu sebelum ini. Setelah puas mencari, akhirnya beliau bertemu juga dengan pengemis buta itu. Saidina Abu Bakar ra segera menghampiri dan terus menyuapkan makanan ke mulut pengemis itu.

“Hei… Siapakah kamu? Berani kamu menyuapku?” Pengemis buta itu mengherdik Saidina Abu Bakar ra. Pengemis buta itu terasa lain benar perbuatan Saidina Abu Bakar ra itu seperti kebiasaan.

“Akulah orang yang selalu menyuapmu setiap pagi,” jawab Saidina Abu Bakar ra sambil memerhatikan wajah pengemis buta itu yang nampak marah.

“Bukan! Kamu bukan orang yang selalu menyuapku setiap pagi. Perbuatan orang itu terlalu lembut dan bersopan. Aku dapat merasakannya, dia terlebih dahulu akan menghaluskan makanan itu kemudian barulah menyuap ke mulutku. Tapi kali ini aku terasa sangat susah aku hendak menelannya,” balas pengemis buta itu lagi sambil menolak tangan Saidina Abu Bakar ra yang masih memegang makanan itu.

“Ya, aku mengaku. Aku bukan orang yang biasa menyuapmu setiap pagi. Aku adalah sahabatnya. Aku menggantikan tempatnya,” beritahu Saidina Abu Bakar ra sambil mengesat air matanya yang sedih.

“Tetapi ke manakah perginya orang itu dan siapakah dia?”, tanya pengemis buta itu.

“Dia ialah Muhammad Rasulullah. Dia telah kembali ke rahmatullah. Sebab itulah aku yang menggantikan tempatnya,” jelas Saidina Abu Bakar ra dengan harapan pengemis itu berpuas hati.

“Dia Muhammad Rasulullah?”, kata pengemis itu dengan suara yang terkedu.

“Mengapa kamu terkejut? Dia insan yang sangat mulia,” beritahu Saidina Abu Bakar ra. Tidak semena-mena pengemis itu menangis sepuas-puasnya. Setelah agak reda, barulah dia bersuara.

“Benarkah dia Muhammad Rasulullah?”, pengemis buta itu mengulangi pertanyaannya seolah-olah tidak percaya dengan berita yang baru didengarnya itu.

“Ya benar. Kamu tidak percaya?”

“Selama ini aku menghinanya, aku memfitnahnya tetapi dia sedikit pun tidak pernah memarahiku malah dia terus juga menyuap makanan ke mulutku dengan sopan dan lembut. Sekarang aku telah kehilangannya sebelum sempat memohon ampun kepadanya,” ujar pengemis itu sambil menangis teresak-esak.

“Dia memang insan yang sangat mulia. Kamu tidak akan berjumpa dengan manusia semulia itu selepas ini kerana dia telah pun meninggalkan kita,” beritahu Saidina Abu Bakar ra.

“Kalau begitu, aku mahu kamu menjadi saksi. Aku ingin mengucapkan kalimah syahadah dan aku memohon keampunan Allah,” ujar pengemis buta itu.

Selepas peristiwa itu, pengemis itu telah memeluk Islam di hadapan Saidina Abu Bakar ra. Keperibadian Rasulullah SAW telah memikat jiwa pengemis itu untuk mengakui ke-Esaan Allah..

 

 

Read Full Post »

Martha duduk santai di teras rumahnya yang mewah di sebuah kota besar di Amerika serikat. Sebuah novel terbaru karangan Dan Brown, penulis favoritnya, berada di tangannya. Ia memang sangat menyukai karya penulis novel “The Da Vinci Code” yang kontroversial itu, yang suka mencampur-adukan kehidupan nyata dengan dunia mistis, begitu ia menyebut agama dan kepercayaan, maklum Martha adalah seorang atheis, secara mengesankan.

Awalnya Martha adalah seorang yang religius. Maklum ia dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat. Namun setelah menjelang usia belasan tahun. ia merasa jawaban tentang doktrin Trinitas yang sering ia ajukan, tidak bisa memuaskan batinnya.

Hidup adalah ya di dunia ini. Kebaikan adalah apa yang kita perbuat untuk sesama manusia agar dunia ini aman dan tentram. Hanya orang idiot yang mau mempercayai kehidupan setelah mati”. Pepatah ini yang sekarang menjadi pegangan Martha setelah ia dewasa.

Martha pernah bekerja  di kantor berita  kenamaan milik pemerintah setempat.  Akan tetapi sejak 2 tahun yang lalu ia memutuskan untuk keluar dari kantornya. Ia memilih untuk manjadi wartawati freelance. Ia mulai jenuh dengan profesi yang dibayar karena tuntutan kemauan si pemilik kantor berita. Hatinya lama kelamaan berontak, ia tidak ingin terus membohongi publik. Dan iapun tidak ingin menunggu hingga dipecat seperti yang terjadi pada rekannya. Ia dipecat gara-gara memberitakan apa yang dilihat di depan matanya padahal tidak sesuai dengan keinginan bosnya.

***

Gempuran Israel ke jalur Gaza menggerakkan Martha untuk ikut meliput peristiwa biadab tersebut. Dukungan Barat dengan alasan Israel berhak mempertahankan diri membuat dahi perempuan berumur 30 an ini berkerut.

Sungguh tidak masuk akal, masak mempertahankan diri sampai harus mengorbankan ratusan jiwa, sebagian besar perempuan dan anak pulak.  Apalagi ini kan kejadiannya di Gaza, rumah rakyat Palestina ??”, tanyanya.

Martha segera mempersiapkan diri keberangkatannya ke Gaza.  Ini bukan kali pertama ia pergi ke daerah pertempuran. Sebelumnya ia pernah ikut meliput ke Suriah ketika masih bekerja untuk perusahaannya, dan ke Mesir  serta Tunisia setelah berstatus freelance. Dengan modal pengalaman itulah ia bisa masuk ke Gaza tanpa kesulitan berarti. Ia juga berhasil merekrut seorang warga Gaza yang mampu berbahasa Inggris, yang akan membantunya menterjemahkan dari bahasa Arab yang tidak dikuasainya.

With pleasure madame, dengan senang hati,  saya akan mendampingi anda selama tugas anda. Dengan syarat anda harus jujur, gunakan nurani anda”, demikian ucap Abdullah, pemuda asli Gaza berusia sekitar 21 tahun yang ditemuinya di lokasi.

Soal bayaran itu terserah anda, saya sudah sangat bersyukur jika anda mau melaporkan apa yang anda lihat disini apa adanya, tanpa bumbu-bumbu », tegasnya lagi.

« Kalau mau, selama anda meliput di negri kami, anda boleh menginap di rumah kami. Anda bisa tidur berdua dengan adik perempuan saya yang berumur 15 tahun. Ia pasti sangat senang bisa berkesempatan menyaksikan bagaimana seorang wartawati bertugas. Sebagai imbalannya, anda dapat mengajarkannya bahasa Inggris », tambah Abdullah.

Tentu saja Martha tidak melepaskan kesempatan emas tersebut. Bagi seorang wartawati seperti dirinya, tinggal di rumah penduduk dimana ia sedang meliput adalah hal yang paling didambakan. Karena dengan demikian ia dapat merasakan nafas liputannya.

Itu ia rasakan sendiri ketika ia bertugas di Tunisia untuk meliput peristiwa Arab Spring yang terjadi pada tahun 2012 lalu. Ketika itu ia tinggal di sebuah keluarga Islam yang sangat taat menjalankan agama. Itulah kali pertama ia mengenal dunia Islam. Untuk menghormati keluarga tersebut ia bahkan berinisiatif mengenakan jilbab sebagaimana lazimnya perempuan Muslim di sana. Dan ia sangat menikmatinya.

Demikian pula saat ini. Ia sudah berniat akan melakukan hal yang sama meski Abdullah tidak menuntut itu. Ia bahkan berhasil membina hubungan yang baik dengan Yasmin, adik perempuan Abdullah. Gadis remaja tersebut terlihat sangat mengaguminya.

***

Martha masuk ke Gaza City pada hari ke 8 Israel menggempur kota tersebut. Ia menyaksikan kepanikan penduduk yang melanda hampir seluruh sudut kota yang terkena rudal di sana sini. Para perempuan berteriak histeris, anak-anak menangis ketakutan, para lelaki mondar-mandir menggotong korban dengan tubuh berlumuran darah, ambulans dengan susah payah berzig-zag melewati reruntuhan bangunan, sementara darah berceceran dimana-mana dengan bau anyir yang sungguh menyengat.

Ia memulai liputannya dengan mendekati seorang ibu muda yang sedang duduk memeluk erat bayinya sambil meratap di depan sebuah bangunan yang telah rata dengan tanah. Dengan bantuan Abdullah, Martha menjadi tahu bahwa perempuan itu tidak hanya kehilangan tempat tinggalnya, namun juga kedua anak sulungnya, ibu, adik perempuan serta tiga sepupunya. Kebetulan mereka tinggal di dalam satu kompleks apartemen yang selama 3 hari berturut-turut tanpa ampun dibombardir tentara Israel. Suaminya, seorang pejuang HAMAS, lolos dari serangan brutal tersebut karena saat itu sedang bertugas..

Ya Allah balaslah orang-orang yang menzalimi kami itu dengan balasan yang setimpal. Beri kami kesabaran atas segala cobaan ini”, mohon perempuan tersebut dengan air mata berlinang.

Tampaknya tak hanya apartemen dimana perempuan muda itu tinggal yang menjadi sasaran, namun juga masjid yang berada di depannya. Menara masjid tersebut ambruk menutup sebagian jalanan. Terlihat beberapa orang lelaki sedang shalat di antara puing-puing masjid yang sebagian besar juga telah rata dengan tanah.

Shalat adalah kewajiban. Jadi dalam kondisi dan keadaan bagaimanapun kami akan selalu melaksanakannya. Dengan shalat hati menjadi lebih tenang”, jelas Abdullah tanpa diminta.

Martha hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak habis pikir bagaimana rakyat Gaza bisa bertahan hidup dalam keadaan seperti ini. Apalagi ia tahu bahwa bulan ini adalah bulan puasa.

Tidak usah heran madame. kami sudah terbiasa menahan lapar dan dahaga. Tidak di bulan Ramadhanpun kami memang harus berpuasa. 8 tahun sudah zionis Israel memblokade kami”, begitu Abdullah menjawab keheranan Martha.

 “ Namun Barat mengatakan bahwa HAMASlah yang harus mempertanggung-jawabkan agresi ini. Menurut mereka Israel membombardir negri anda karena HAMAS telah menculik 3 remaja Israel, membunuhnya dan juga kemudian melempari kota-kota Israel dengan roket”, tanya Martha dengan hati-hati.

“Itulah jahatnya media. Mereka memberitakan sesuatu sesuai kehendak mereka”, sungut Abdullah

HAMAS tidak mungkin melakukan penculikan warga sipil, apalagi kemudian membunuhnya, pantang! Anda pasti ingat peristiwa penculikan seorang serdadu Israel di tahun 1996. Yang 3 tahun kemudian akhirnya dibebaskan dengan penukaran ribuan tahanan Palestina yang selama bertahun-tahun disekap zionis terkutuk tersebut.  TIga tahun, HAMAS menahan sabar, agar penculikan yang mereka lakukan ada manfaatnya. Mengerti arah pembicaraan saya madame Amerika?”, tanya Abdullah berusaha menahan emosi.

Coba anda pikirkan, apa gunanya HAMAS menculik kemudian membunuh tawanan, sementara di dalam sana ribuan tawanan Palestina disekap tanpa ada satupun yang peduli. Tidak juga Negara anda yang katanya menjunjung tinggi HAM, Demokrasi dan lain-lain itu”.

“Percayalah, ini adalah fitnah murahan.  HAMAS bagi kami adalah pahlawan. Tanpa mereka dunia akan terus diam bungkam membisu seolah kami ini tidak ada”.

Dengan bersatunya HAMAS dan FATAH kami menjadi lebih kuat. Itu sebabnya Israel kesal. Maka merekapun mencari-cari alasan agar dapat menghancurkan HAMAS. Tapi kami tidak takut. Allah selalu bersama orang yang benar. Lebih baik mati daripada kami harus tunduk kepada mereka. Kematian kami adalah syahid. Surga balasannya”, tegas Abdullah penuh percaya diri, membuat Martha terbengong-bengong.

Satu lagi yang harus anda catat, tentara Israel adalah tentara pengecut. Mereka hanya berani menyerang dari udara, paling banter dari dalam tank. Mereka menyerang secara membabi buta, mengorbankan sipil, kaum perempuan dan anak-anak. Tapi di darat?? Silahkan dibuktikan”, lanjut pemuda tersebut berapi-api.

***

Hari terus berganti. Gempuran Israel makin membabi buta. Memasuki minggu ke 3 korban meninggal telah mencapai lebih dari 1000 orang, 200 diantaranya adalah anak-anak. Ribuan rumah penduduk, belasan masjid, sekolah, pasar hingga pembangkit listrik tak luput dari amukan Israel. Puluhan ribu warga Gaza terpaksa mengungsi dari rumah-rumah mereka. Sementara para pejuang HAMAS juga tidak mau menurunkan frekwensi lemparan roket mereka ke kota-kota di wilayah Israel. Meski sering kali tidak mengenai target karena harus berhadapan dengan Iron dome.

Iron dome adalah sistim pertahanan udara Israel yang dididirikan khusus untuk menghalau roket-roket HAMAS. Proyek ini menerima suntikan dana besar dari Amerika Serikat yang merupakan sekutu terdekat Negara zionis tersebut.

Israel berhak mempertahankan diri”, demikian alasan Barrack Obama membantu Israel.

“ Sungguh aneh, kami ini yang ditindas dan dijajah di negri sendiri. Adalah hak kami untuk berontak dan menuntut kemerdekaan. Namun kami tetap disalahkan”, keluh Abdullah.

Martha diam tidak memberi komentar. Ia dapat mengerti perasaan partner barunya tersebut.  Diam-diam ia juga mengutuk agresi brutal Israel dan kecewa dengan sikap negaranya yang terang-terangan memihak Negara zionis itu.

Maka malam hari itu, Marthapun melampiaskan kekecewaannya melalui bait-bait berikut:

Adalah seorang anak tiri

Yang suka membangkang kepada kedua orang-tuanya yang zalim

Karena gara-gara merekalah

Orang-tua kandung dan keluarga besarnya terusir dari rumahnya

 

Ini membuat murka sang orang-tua

Maka disekap dan dikuncilah si anak di dalam kamarnya

Selama bertahun-tahun

Tanpa bekal makan minum serta pasokan dan kebutuhan dasar lainya

 

Hingga suat hari

Dengan mengumpulkan tenaga dan kekuatan yang dimilikinya

Si anak malang membuat lubang demi mencapai kebebasannya

Dari sana dilemparkannya sejumlah batu menuju rumah sang induk semang

 

Sialnya

Meski lemparan tidak sampai berakibat fatal

Karena tersangkut kubah besi yang sengaja diciptakan sang tirani

Siksapun makin menjadi-jadi

 

Alih-alih mendapat kebebasan yang didambakannya

Justru gempuran dan siksaan brutal yang diterimanya

Tangis dan raung kesakitanpun menggema

Tanpa seorangpun mau peduli derita itu

 

Inikah makna Demokrasi dan Toleransi?

Yang sering didengungkan Barat ?

Lalu apa arti semua ini

Wahai dunia yang diam membisu

 ***

Suatu hari Martha menemui seorang lelaki yang baru saja lolos dari rudal Israel. Orang tersebut adalah salah satu pendiri rumah tahfiz, rumah tempat anak-anak belajar Al-Quran, begitu yang ia tahu dari Abdullah.

Bangunan ini adalah bangunan sumbangan rakyat Indonesia, khusus untuk menghafal Al-Quran. Namanya rumah tahfiz”, jelas lelaki berkebangsaan Indonesia yang telah 10 tahun menetap Gaza itu. Istrinya asli penduduk Gaza.

Bangunan ini baru saja selesai minggu lalu. Namun mereka telah menghajarnya. “, lanjutnya.

Rumah kami persis di sebelah rumah tahfiz ini. Dua hari yang lalu rudal Israel mendarat di halaman rumah kami. Pagi tadi mereka kembali membombardirnya, hingga hancur bersama rumah ini.  Untung saya sudah mengungsikan keluarga besar saya”, keluhnya.

Ada apa menurut mereka di dalam sana ? Bom ? Persenjataan HAMAS ??  Lihatlah sendiri, apa yang ada di dalam sini”,  lanjut lelaki setengah baya tersebut dengan mata nanar dan suara bergetar.

Martha segera mengikuti langkah lelaki tersebut, dan masuk ke dalam bangunan yang hampir rata dengan tanah itu. Ia melihat buku-buku termasuk Al-Quran yang sering dilihatnya ketika ia berada di Suriah dan Tunisia, berserakan dimana-mana. Lemari yang porak poranda, kaca-kaca yang hancur, serta dinding dan atap yang berlobang-lobang.

“ Percayalah tidak ada bom atau persenjataan di dalam sini. Yang ada hanya Al-Quran dan buku-buku pelajaran Islam. Disinilah anak-anak berusia antara 6 sampai 13 tahun mustinya belajar menghafal ayat-ayat suci Al-Quran. Itulah jalan kami untuk mendekatkan diri pada-Nya, untuk memohon pertolongan keluar dari  kesulitan dan penderitaan », jelasnya.

Martha mendengarkan penjelasan yang diterjemahkan Abdullah, merekam sambil sekali-sekali memotret apa yang dianggapnya perlu. Namun belum selesai ia mengambil foto, tiba-tiba terdengar suara orang berteriak dari bagian dalam bangunan. Orang-orang segera berhamburan mencari asal suara keluar. Rupanya masih ada yang terjebak di dalam reruntuhan tersebut.

Akhirnya setelah dengan susah payah orang tersebut bisa diselamatkan. Ternyata korban adalah 2 orang anak sekitar usia 10 tahun dan satu orang dewasa. Tampak darah mengucur dari kepala mereka, membasahi muka dan baju yang dipenuhi debu. Orang-orang segera membantu dan memapah mereka keluar dari bangunan yang sebagian atapnya sudah roboh tersebut.

Begitulah Martha melewati hari-hari yang menegangkan di tengah-tengah rakyat Gaza. Di malam hari ia meng-edit tulisan dan foto-foto yang dibuatnya, kemudian langsung mengirimkannya ke beberapa kantor berita.

Ada satu hal yang tanpa disadari membuatnya betah berlama-lama di dalam kamarnya, yaitu bacaan ayat-ayat suci yang dibacakan penghuni rumah dimana ia tinggal. Setiap malam ia mendengar alunan merdu ayat-ayat yang dibacakan kalau tidak oleh ibu, nenek, kakak, adik atau Abdullah sendiri. Tak jarang pula ia mendengar sayup-sayup alunan tersebut dari rumah tetangga atau masjid di sekitarnya.

Hingga suatu malam, ketika Yasmin telah tidur, karena keingin-tahuan yang tinggi, diam-diam ia mengambil Al-Quran yang sering dibaca gadis itu. Namun ternyata bacaan itu ditulis dalam bahasa Arab yang sama sekali tidak difahaminya. Dalam hati Marthapun berjanji kepada diri sendiri bahwa ia akan mencari terjemahannya sekembalinya ke tanah airnya nanti.

Beberapa hari terakhir wartawati tersebut bahkan sempat ikut berpuasa. Ia penasaran ingin mengetahui bagaimana rasanya berpuasa di tengah mereka. Jujur, ia benar-benar kagum pada disiplin keluarga ini menjalankan ibadah mereka. Hampir setiap hari, di tengah gempuran senjata dan kepulan asap  tebal yang membumbung tinggi, ia melihat keluarga ini shalat dan sahur bersama seolah tidak ada masalah.

Belum lagi prilaku Abdullah juga adik-adiknya yang sangat menghormati ibu mereka. Hal yang tidak pernah dilihatnya di Barat. Disamping juga sikap hormat mereka terhadap dirinya selaku tamu.

***

Suatu hari ketika genjatan senjata sedang berlangsung, Martha berniat mengunjungi salah satu kamp pengungsian terdekat. Abdullah menawarkan pengungsian di Khan Yunis yang terletak di bagian selatan Jalur Gaza,  dekat perbatasan Rafah di Mesir. Mereka meninggalkan rumah pukul 10 pagi dengan sepeda motor.

Pagi itu, warga Gaza, kota berpenduduk 1.7 juta jiwa, sebelum genosida yang baru saja dilakukan zionis Israel, penuh dengan orang lalu lalang. Penduduk yang selama hampir satu bulan ini terpaksa mengungsi, demi menghindari bombardir Israel, berbondong-bondong pulang untuk melihat keadaan rumah mereka yang telah hancur.

Wajah-wajah pilu menahan kesedihan yang mendalam tidak dapat mereka sembunyikan. Mayat-mayat bergelimpangan, sebagian tidak utuh, yang belum sempat dimakamkan, bau darah yang anyir, antrian penduduk yang mengular menanti pembagian air bersih dan makanan. Begitulah pemandangan yang disaksikan Martha.

Satu-satunya pemandangan yang dapat membuatnya tersenyum hanyalah kelakuan ceria anak-anak usia 4-5 tahun yang berlarian di antara reruntuhan bangunan, seolah telah bertahun-tahun mereka tidak pernah bermain sebebas hari itu.

“Katakan Abdullah, apa yang harus dilakukan seseorang bila ingin memeluk Islam?”, tanya Martha mengejutkan Abdullah.

“ Mengapa kau bertanya begitu? Apakah kau tertarik masuk Islam ? », Abdullah balik bertanya.

“ Hanya ingin tahu saja”, jawab Martha sambil mengangkat bahunya.

Membaca 2 kalimat syahadat. Setelah itu melakukan kewajiban shalat 5x sehari dan berbuat baik kepada sesama. Itu yang utama”, jawab Abdullah singkat.

Martha mengangguk-anggukkan kepalanya sebelum akhirnya bertanya lagi, penasaran, “Apa itu kalimat syahadat?”

Namun belum sempat Abdullah menjawab pertanyaan tersebut, sebuah roket meluncur cepat tepat di atas kepala mereka. Dan sebelum Martha menyadari apa yang terjadi, desingan yang kemudian disusul ledakan dasyat terdengar menggelegar di depan mereka. Sebuah motor yang baru saja menyusul mereka langsung terpental. Asap tebal membumbung tinggi ke udara. Abdullah segera menghentikan motornya.

“Tiaraap, cepat tiaraaap”, perintahnya kepada Martha.

Beberapa menit berlalu dengan tegang. Setelah yakin tidak akan datang roket susulan barulah Abdullah dan Martha bangun berdiri. Kejadian ini berlangsung hanya beberapa puluh meter sebelum mereka memasuki kamp pengungsian Khan Yunis yang menjadi tujuan mereka. Para penghuni kamp yang padat itupun berhamburan keluar untuk memeriksa kerusakan sekaligus membantu korban.

“ Astaghfirullahaladzim … Lihat perbuatan mereka. Katanya genjatan senjata. Sungguh Zionis terlaknat  !”, terdengar orang-orang memaki-maki apa yang telah dilakukan penjajah Israel tersebut.

Ternyata bukan hanya kamp pengungsian ini yang menjadi sasaran Israel di tengah genjatan senjata yang telah dilanggarnya itu. Namun juga pengungsian Jabalia di Gaza utara. Puluhan orang tewas akibat serangan udara Israel menyebabkan warga lain di kota itu bergegas mengungsi dari lokasi karena khawatir jadi sasaran serangan berikutnya.

Sebuah sekolah milik PBB juga tak luput dari hantaman mortir yang dilontarkan dari tank Israel. Puluhan orang yang sedang mengungsi ke sekolah tersebut dan sedang antri makanan menjadi korban, sebagian tewas dan sebagian lagi luka-luka.

Kebrutalan Israel tidak hanya berhenti disitu, bahkan rumah sakitpun dihajarnya. Sebuah bom mendarat di salah satu sisi rumah sakit yang sarat pasien itu, menyebabkan kepanikan luar biasa.

Juga Lebaran, yang merupakan puncak kemenangan umat Islam selama 1 bulan berpuasa, tidak lolos dari sasaran serangan rudal Israel. Sejumlah wargapun syahid di beberapa lokasi shalat Ied yang digelar warga Gaza.  Dilaporkan 10 warga tewas, 8 diantaranya anak-anak, sementara puluhan lainnya terluka.

Benar-benar biadab”, kutuk Martha yang sempat merekam peristiwa mengenaskan tersebut. Hatinya benar-benar pilu menyaksikan betapa orang-orang yang dengan susah payah telah menjalankan perintah Tuhannya namun di saat hendak merayakan kemenangan tersebut harus menderita sedemikian beratnya. Padahal mereka hanya merayakannya dengan shalat bersama, demi meng-agung-kanNya.

“Ya Allah masukkan mereka kedalam surga-Mu”, tanpa sadar Martha berdoa, hal yang telah puluhan tahun tidak pernah dilakukannya. Hatinya bergetar kencang. Tiba-tiba ia merasakan gelombang keteduhan yang begitu dasyat, menyusup ke dalam sanubarinya. Tak kuasa ia menahan air matanya yang mengalir deras.

***

Malam itu Martha tidak dapat tidur nyenyak. Hatinya gelisah tanpa ia tahu apa penyebabnya. Ia melirik ke arah Yasmin yang sudah tertidur lelap satu jam yang lalu setelah membaca Al-Quran seperti biasa.

Pikiran Martha melayang-layang. Bayangan masa kecilnya bersama kedua-orangtua dan keluarga besarnya ketika sedang merayakan natal, menghadiri misa malam di gereja, masa remajanya yang mempertanyakan trinitas dan menyebabkannya menjadi apatis lalu ateis, kehidupan dewasanya yang sarat pesta dan mabuk-mabukkan hingga tahun-tahun sibuknya menjalani kehidupan sebagai wartawati perang. Bayangan tersebut terus berputar silih berganti memenuhi isi kepalanya.

Ditengah kegalauannya itu alunan ayat-ayat suci Al-Quran terdengar sayup-sayup memecah keheningan malam, membuat hatinya bergetar.

“Apa yang aku cari, siapa diriku, apa tujuan hidup ini”, keluhnya.

Tiba-tiba saja matanya tertumbuk pada sajadah indah milik Yasmin yang sering digunakan gadis belia itu sebagai alas shalat. Sajadah  itu terlihat begitu menantangnya. Dan ntah karena kekuatan apa Martha tahu-tahu sudah menggelar sajadah tersebut, setelah menutup kepalanya dengan kain kerudung yang selama hampir sebulan selalu ia kenakan. Secara reflek ia meniru sambil berusaha mengingat gerakan yang Yasmin sering lakukan ; berdiri, rukuk dan sujud. Itulah gerakan shalat.

Namun di tengah keasyikannya itu tiba-tiba terdengar bunyi sirene mengaung keras menandakan akan tibanya serangan udara Israel. Martha segera menghentikan kegiatannya, dan mengembalikan sajadah ke tempatnya kemudian membangunkan Yasmin. Suara Abdullah terdengar membangunkan seluruh isi rumah dan menyuruh mereka segera meninggalkan bangunan. Ia segera menarik lengan ibunya, menyambar adik bungsunya dari gendongan ibunya dan berlari menuju pintu utama.

Yasmin, Reza, Martha, cepat turun dan keluar dari bangunan ini!”,serunya.

Marthapun segera menarik Yasmin dan Reza, adik Yasmin, yang masih setengah mengantuk, dan lari menyusul Abdullah. Tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu, peralatan jurnalisnya.

Kalian turun duluan, aku menyusul”, katanya sambil berbalik masuk kamarnya lagi.

Dengan cepat ia mengumpulkan seluruh peralatan yang menjadi sumber penghidupannya itu, berkas-berkas, kamera dan laptopnya. Setelah itu ia bergegas menuju pintu.

Namun terlambat. Sebuah bom jatuh tepat di atas bangunan apartemen dimana ia tinggal selama ini. Terdengar suara menggelegar kencang, api dan asap tebal membumbung tinggi, Martha merasa tubuhnya terlempar keras, udara panas luar biasa menyergap sekelilingnya. Ia sempat melihat bangunan tempat tinggalnya runtuh sebelum akhirnya ia mendarat beberapa meter dari lokasi kejadian dengan sekujur tubuh yang sakit luar biasa.

Di tengah kegelapan malam itu, langitpun tampak memerah tercemar pijaran api yang begitu dasyat. Terdengar raungan, ratapan dan tangisan bercampur hirup pikuk suara orang berlarian kesana kemiri, sebelum akhirnya senyap. Martha tak sadarkan diri.

***

Paginya ketika ia tersadar,ia telah berada di ruang sebuah rumah sakit. Rumah sakit yang disesaki orang-orang yang terluka,  juga keluarga korban dan relawan yang keluar masuk membawa korban baru. Bau anyir darah langsung menyergap hidung Martha.  Ternyata itu bukan hanya darah korban lain namun telah bercampur dengan bau darahnya sendiri. Darah tersebut terus keluar dari pelipis dan bahunya yang terserempet pecahan rudal malam tadi. Kepalanya dirasanya begitu berat, perutnya terasa mual. Ingin rasanya ia berteriak meminta bantuan dokter. Namun ia begitu malu melihat banyaknya pasien yang keadaannya tidak lebih baik darinya.

Temanmu ini telah kehilangan terlalu banyak darah. Aku tidak yakin apakah dapat menyelamatkannya. Kau lihat sendiri, kami sangat kekurangan tenaga medis, persediaan obatpun sangar terbatas », jelas seorang dokter kulit putih kepada Abdullah yang berdiri disamping tempat Martha terbaring lemas.

Samar-samar Martha melihat bayangan Abdullah. Setengah tak sadar ia berusaha menjawil Abdullah, dengan suara lemah ia menanyakan keadaan ibu dan adik-adiknya.

Reza tak tertolong”, katanya singkat namun Martha dapat menangkap jelas suaranya yang bergetar hebat. Mata Abdullah terlihat sembab namun ia berusaha tegar.

Ya Tuhan”, keluh Martha tak kalah sedihnya.

Selanjutnya dengan susah payah ia berusaha berbicara dengan Abdullah.

“Abdullah, ajarkan aku bacaan syahadat. Aku ingin mati dalam keadaan Islam”, pintanya sambil menahan sakit.

“  Asyhadu an-laa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah”, jawab Abdullah tanpa banyak tanya.

Dengan terbata-bata Martha mengikutinya perlahan-lahan. .

“Abdullah dengar, aku tak tahu apakah aku bisa bertahan atau tidak. Namun satu permintaanku, bila aku harus mati disini, kuburkan aku secara Islam”, bisik Martha lirih,

Abdullah terdiam sesaat.

“ Aku tidak bisa janji karena biasanya wartawan-wartawati asing yang meninggal disini diurus dan dibawa pulang ke tanah airnya oleh tim dari PBB”, jawab Abdullah.

“Namun akan kuusahakan”, janjinya tak kuasa menghadapi tatapan Martha yang penuh harap.

Beberapa menit kemudian perempuan itupun lemah terkulai, sebuah senyum kemenangan terlihat menghiasi wajahnya yang makin pucat.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”, ucap Abdullah tertunduk.

***

Jakarta, 17Agustus 2014.

Vien AM.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »