Feeds:
Posts
Comments

PENDAHULUAN 

Bab I.         Asal Muasal Tahun Gajah 

Bab II.       Silsilah Rasulullah

Bab III.      Kelahiran dan Masa Kecil 

Bab IV.       Masa Remaja 

Bab V.        Pernikahan dengan Khadijah dan Datangnya Wahyu Pertama

Bab VI.      Dakwah Secara Rahasia ( Sirriyatud -dakwah/

Bab VII.     Dakwah Secara Terang-terangan (Jahriyatud Dakwah)

Bab VIII.   Penolakan Orang-orang Musyrik Mekah Terhadap Islam

Bab IX.      Pengucilan dan Boikot Ekonomi Terhadap Kaum Muslimin ( Hijrah Pertama).

Bab X.        Tahun Duka Cita ( Amul Huzni dan Peristiwa di Thaif )

Bab XI.       Peristiwa Isra-Mi’raj dan Persiapan Madinah sebagai Tempat Hijrah

Bab XII.      Baiat Aqabah dan Hijrahnya Para Sahabat

Bab XIII.    Hijrah ke Madinah

Bab XIV.    Pembentukan Masyarakat  Madinah

Bab XV.      Perang Badar, Perang Pertama dalam Sejarah Islam

Bab XVI.     Pengkhianatan Pertama Yahudi dan Munculnya Tanda-tanda Kemunafikan

Bab XVII.   Perang Uhud dan Hikmah Diperintahkannya Berperang (bag-1)

Bab XVII.   Perang Uhud dan Hikmah Diperintahkannya Berperang (bag-2)

Bab XVIII.  Dakwah Kepada Ahli Kitab (bag-1)

Bab XVIII . Dakwah Kepada Ahli Kitab (bag-2)

Bab XIX.    Pengkhianatan Yahudi Bani Nadhir dan Dampaknya

Bab XX.      Jihad fi Sabilillah (1).

Bab XX.      Jihad fi Sabilillah (2)

Bab XX.      Jihad fi Sabilillah (3)

Bab XXI.     Perdamaian Hudaibiyah dan Baitur Ridwan

Bab XXII.    Perang Khaibar

Bab XXIII.   Dakwah Kepada Raja-raja

Bab XXIV.   Perang Mut’ah

Bab XXV.    Penaklukkan Mekah ( Fathu Makkah) (1)

Bab XXV.    Penaklukkan Mekah ( Fathu Makkah) (2)

Bab XXV.    Penaklukkan Mekah ( Fathu Makkah) (3)

Bab XXVI.   Perang Hunain

Bab XXVII.  Perang  Tabuk dan Kisah 3 Orang Sahabat

Bab XXVIII. Haji Wada, Khutbah Rasulullah dan Tanda Sempurnanya Islam

Bab XXIX.    Rasulullah dan Perkawinan

Bab XXX.     Hari-hari Akhir Rasulullah saw(1)

Bab XXX.     Hari-hari Akhir Rasulullah saw (2)

Bab XXX.     Hari-hari Akhir Rasulullah saw(3)

PENUTUP

Berkah Raja Yang Adil.

Seorang gadis kecil sedang berada di rumah sendirian. Ketika ia melongok keluar jendela, dilihatnya seorang lelaki agaktua menuju pintu rumahnya.

“Siapa gerangan?”, pikirnya.

“Sepertinya bukan orang dari lingkungan sekitar sini”.

Benar, tak lama kemudian terdengar ucapan,”Assalamualaykum “.

“Waálaykum salam”, jawab gadis itu. “Oh, mari silahkan masuk tuan.  Mungkin sebentar lagi orang tua kami juga akan pulang karena setiap Magrib kami selalu shalat berjamaah”.

Tamu itu terpana. Ia mundur selangkah seraya bertanya, « Dimana orang tuamu ? Mengapa gadis kecil sepertimu berani mempersilahkan aku masuk ? Padahal kamu mengenal siapa aku ? »

« Ayah pernah mengatakan bahwa siapa saja yang mengucapkan salam tentu itu orang yang baik. Demikian juga almarhumah ibuku mengatakan, bahwa salam itu berarti mendoakan keselamatan dan memohon berkah Tuhan », jawab gadis kecil itu.

Tamu itu kagum mendengar ucapan gadis kecil itu. Karenanya ia merasa malu dan merasa bertanggung jawab untuk berlaku sopan. Tetapi ia masih ingin menguji gadis kecil itu.

« Apakah engkau tidak merasa takut tinggal di rumah sendirian ? »

« Siapa bilang saya sendirian tuan. Saya dan begitu juga tuan tidak pernah sendirian. Kita semua selalu didampingi pengawal setia Kiraman Katibin, yang akan mencatat segala amal perbuatan kita yang harus kita pertanggung-jawabkan dihari kiamat nanti. Tentu saja tuan lebih tahu dari pada saya », potong gadis kecil itu.

Tamu itu menunduk dan berpikir, « Pantas kampung ini tampak nyaman, aman, bersih, segar karena hampir tiada gerak untuk iblis di sini », gumamnya dalam hati.

Ketika ayah gadis itu pulang, keduanya berjabat tangan dengan akrab. Tuan rumah mengizinkan sang tamu bermalam di rumahnya.

« Disini jauh dari kota.  Jadi yang bisa kami hidangkan hanya susu perasan sendiri. Silahkan tuan, » ucap orangtua tersebut mengeluarkan hidangan seadanya.

« Alhamdulillah !, ucap tamu itu.

« Mari diminim tuan ! », kata tuan rumah.

Setelah keduanya minum susu perahan itu, sang tamu kemudian bertanya, “Berapakah susu yang dapat diperah setiap hari dan berapa ongkosnya ? »

« Kira-kira tiga puluh liter setiap harinya dan tidak pakai ongkos karena rumputnya tinggal dicari dan kami menggembalakannya sendiri. Jadi tidak harus mengeluarkan upah untuk orang lain ».

Tamu itu mengerutkan dahi. “Seharusnya ada upeti buat raja disini karena hasilnya cukup lumayan banyak”, kata sang tamu.

“Tapii …”, sela gadis kecil yang sejak tadi duduk bersama ayahnya itu. “ Semua berkah Tuhan akan sirna jika raja selalu menarik upeti dari rakyat karena itu adalah kezaliman”.

Lagi-lagi sang tamu terperanjat mendengar ucapan gadis kecil itu. Ia merasa seolah-olah disindir.  Alangkah lancangnya mulut anak ini. Gadis yang sejak pertama dikaguminya itu seakan-akan telah membaca suara hati dan niatnya. Sehingga semalaman ia sulit memejamkan mata. Tetapi memang diakuinya betapa tenang dan sederhananya hidup bapak dan anak itu. Tentu saja semuanya ini karena keyakinannya  atas berkah Allah swt.

Pagi harinya seusai shalat Subuh, sang tamu diberi hidangan , makanan dan susu. Tapi tiba-tiba gadis kecil itu masuk dan berkata, “Tak seperti biasanya ayah! Si Bintik tak mau mengeluarkan susu. Biasanya ia yang paling banyak.  Apakah ada niat dari raja untuk menarik upeti kepada kita yang terpencil ini??  Sebab bila raja berbuat zalim, maka berkah Allah swt akan hilang !”, serunya.

Tamu itu amat terkejut. Ia segera keluar bersama gadis itu menuju tempat sapi-sapi diperas, seraya berkata, “Tenangkan hatimu nak, raja tidak akan berbuat zalim.  Aku akan pergi menghadap raja di istana. Akan kulaporkan kejadian disini agar raja menjadi sadar jika ia baik dan berusaha menyejahterakan rakyatnya tentu kita akan terus diberkahi Tuhan”.

“Baiklah,”, kata gadis itu sambil mengangguk.

Baru saja tamu menyelesaikan kalimatnya, dan gadis itu mulai mencoba lagi memerah susu.  Sungguh ajaib, susu itu keluar lagi dengan lancarnya. Ini karena raja telah membatalkan niatnya yang buruk untuk menuntut upeti.

Tanpa sepengetahuan gadis kecil dan ayahnya, ternyata tamu yang menginap semalam tadi tidak lain adalah sang raja yang sedang menyamar melihat-lihat keadaan rakyatnya. Pada mulanya ia memang berniat mencari sumber-sumber baru untuk menarik upeti. Tapi dengan kejadian tersebut sang raja akhirnya membatalkan niatnya.

Demikianlah kiranya kita dapat mengambil pelajaran. Kezaliman seorang pemimpin akan membawa kesengsaraan bagi rakyatnya dan dijauhkan dari berkah Allah swt .

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 6 Februari 2014.

Vien AM.

Diambil dari : « Kisah Keadilan Para Pemimpin Islam », karya Nasiruddin S, Ag,

Dakwah dan Ukhuwah

( Oleh uztazd HM Arifin Ilham)

Dikisahkan dalam sebuah sirah bahwa nabi hari itu terlihat sumringah. Meluncur dari lisan fasihnya, untaian cinta yang menghangatkan telinga si pendengarnya,

« Selamat datang duhai orang yang karenanya aku ditegur oleh Rabbku !»

Sang nabi sendiri selalu tersenyum ketika melafalkan kalimat itu. Dan, orang yang dimaksudpun juga tersipu. Padahal ia berpenghalang dengan penglihatannya alias buta. Ke arah Majelis Nabawi itu  Abdullah ibn Ummi Maktub, pemilik nama itu, tertatih mendekat. Lalu, Rasulullah bersegera mengulurkan tangan, menggandengnya, menggenggam jemari lelaki ini erat-erat, dan mendudukannya di sebelah beliau.

Teguran Allah pada beliau itu sudah lama sekali. Tetapi sang nabi tak pernah melupakannya. Beliau pernah bermasam muka, merasa enggan dan mengalihkan wajah dari   Abdullah ibn Ummi Maktub. Tak sepenuhnya abai sebenarnya. Hanya saja,saat itu Rasulullah saw sedang berada dihadapan para pembesar Quraisy, dan sedang membacakan ayat-ayat Allah pada mereka. Saat itu teramat tinggi hasrat sang nabi agar para pemuka itu mau menerima dakwah beliau.

Maka kedatangan  Abdullah ibn Ummi Maktub yang buta, yang lemah, yang pinggiran, dan tanpa kuasa itu terasa seperti usikan kecil bagi asa dakwah beliau. Kehadirannya seolah menjadi citra bahwa yang mengikuti Muhammad adalah orang-orang dhuafa dan fakir, orang-orang belakang dan pandir. Itu pasti akan membuat para pemuka Quraisy tak nyaman dan makin enggan. Jadi beliau bermasam muka dan berpaling. Lalu Allah menegurnya : “

 “ Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya”. (QS.Abasa (80):1-2).

Tak ada yang salah dengan hasrat kuat sang nabi agar pembesar Quraisy itu segera beriman. Allah memang telah mengamanahi beliau untuk menyeru mereka kepada hidayah. Dan secara pribadi, sang nabipun sama sekali tak punya benci, jijik, atau risih kepada Ibn Ummi Maktub ini. Beliau hanya merasa kemunculannya terjadi pada saat yang tak tepat.

Antara dakwah dan ukhuwah. Ya, kedua materi ini seprti dua mata perkuliahan yang hendak Allah hendak sampaikan kepada nabi-Nya supaya lebih bijak mendudukannya. Hari itu, nabi seperti merasakan gelombang hikmah dari teguran Allah. Gelombang keinsyafan dari untaian salam nabi kepada Abdullah ibn Ummi Maktub di atas begitu terasa.

Beliau seperti sedang dididik untuk lebih adil dan tak membeda-bedakan sikap. Baik kepada pemuka kaya atau kepada yang buta papa. Sikap cinta dan mesra beliau harus serupa. Begitulah seharusnya kita, para juru dakwah. Ikhtiar dalam dakwah dan tetap berupaya melebarkan ukhuwah.

 Wallahu’alam.

Diambil dari kolom Hikmah, Khazanah –  Republika, Jumat 8 November 2013/ 4 Muharam 1435 H.

Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (Al Qur’an), lalu mereka berkata:

“Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang menakjubkan,  (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorangpun dengan Tuhan kami, dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak”.

“Dan bahwasanya: orang yang kurang akal daripada kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah, dan sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah”

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. Dan sesungguhnya mereka (jin) menyangka sebagaimana persangkaan kamu (orang-orang kafir Mekah), bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (rasul) pun”

” Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya)”.

“Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka”.

“Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. Dan sesungguhnya kami mengetahui, bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (daripada) Nya dengan lari”.

“Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al Qur’an), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan”.

“Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang ta`at dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang ta`at, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api neraka Jahannam”.

Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak).  Untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat.

Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.

QS. Al-Jin (72):1-19).

Inspirasi Hadits

Suatu ketika, ada seorang sahabat yang mengalami kemiskinan luar biasa. Beberapa hari terlewat tanpa ada sesuatu yang bisa diberikan kepada anak atau istrinya.

Keadaan ini membuat si istri menyarankan agar meminta bantuan Rasulullah saw. Siapa tahu beliau memberikan jalan keluar. Toh, selama ini tak ada seorangpun pernah ditolak permintaannya.

Sahabat tersebutpun kemudian membenarkan perkataan istrinya. Karena itu, ia bergegas pergi menuju rumah Rasulullah saw.

Di tengah jalan, tiba-tiba ia teringat hadits Rasulullah saw “Barangsiapa memohon pertolongan kepadaku akan kuberi ia pertolongan. Dan barangsiapa yang mencukupkan diri maka Allah swt akan mencukupkan dirinya”.

Entah mengapa dengan teringat hadits ini, sahabat tersebut mengurungkan niatnya untuk pergi ke rumah Rasulullah saw. Ia kembali ke rumah.

Namun sesampainya di rumah, sahabat ini mendapati dirinya diliputi kemelaratan dan ketidak berdayaan. Tak ada jalan pemecahan. Karena itu, ia kembali bermaksud menemui Rasulullah saw untuk minta bantuan.

Tetapi di tengah jalan ia kembali berhenti. Ia urung menghadap Rasulullah saw. Ingatannya kembali ke hadits tadi. Tiba-tiba dalam perenungannya, terbersit ketenangan melanda batinnya, ada kesadaran baru menghinggapi jiwanya. Sebenarnya kunci pembuka keluar dari kemiskinan hidup sudah ada di tangannya sendiri.

Pantang diriku untuk meminta tolong kepada sesama manusia. Satu-satunya tempat bersandar adalah Allah swt. Aku mesti minta tolong pada-Nya. Cukuplah Dia sebagai tempatku mengadu. Allah swt telah memberikan kekuatan dan menyediakan alam, tinggal diriku berjuang mengatasi masalah yang kuhadapi. Tiada pemberi kekuatan kecuali Allah swt”, tekad sahabat itu di dalam hati.

Lantas pertanyaan lain menggelayut di pikirannya. « Apa pekerjaan yang bisa aku lakukan ? »

DSC04074Setelah lama berpikir apa yang dibutuhkan masyarakat dan kemampuan yang dimiliki, sabahat itupun memilih pekerjaan mencari kayu bakar. Yang dimulainya dengan meminjam kapak tetangga, ia berangkat ke padang, dikumpulkannya sejumlah kayu, selanjutnya dibawanya ke kota untuk dijual.

Lama-kelamaan usaha ini mengalami perkembangan yang tak terduga. Mula-mula hasil penjualan kayu bakar itu bisa mencukupi kebutuhan keluarga, kemudian bisa digunakan membeli unta dan memperkerjakan orang, dan akhirnya kekayaannya terus bertambah berlipat-lipat. Iapun menjadi orang terkaya.

Hingga pada suatu hari ia bertemu Rasulullah saw. Maka diceritakannya bagaimana dulu ia dalam keadaan miskin, berniat minta bantuan beliau namun urung dilakukannya karena teringat hadits.

Sabda Rasulullah saw, « Memang aku pernah berkata seperti itu, siapa saja yang memohon kepadaku akan kutolong dia. Dan siapa saja yang mencukupkan dirinya maka Allah swt akan mencukupinya ».

Jakarta, 2 April 2013.

Vien AM.

Diambil dari « Kisah paling menggugah Inspirasi Istimewa Rasulullah saw”, oleh Ma’ruf Ismail.

Katakanlah:

“Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”.

Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka:

“Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

” Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir? “

Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah-membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui?; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.”

” Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman”.

Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya.

” Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya)”.

” Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?”

Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya):

“Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mu’min) kembali (kepada kekafiran)”.

” Dan Janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu”.

Katakanlah:

“Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”;

Allah menentukan rahmat-Nya (kenabian) kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar”.

Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu Dinar, tidak dikembalikannya padamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya.

Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan:

“Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi”.

Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui.  (Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.

Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.

Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan:

“Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”,

padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia:

“Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.”

Akan tetapi (dia berkata):

“Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”.

Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi:

“Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”.

Allah berfirman:

“Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?”

Mereka menjawab:

“Kami mengakui”.

Allah berfirman:

“Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”.

Barangsiapa yang berpaling sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.  Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan”.

Katakanlah:

“Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma`il, Ishaq, Ya`qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, `Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri.”

(QS.Ali Imran(3):64-84).

Maha Benar Allah Dengan Segala Firman-Nya.

 

Jakarta, 3 Januari 2013.

Vien AM.

Pada suatu hari, seorang pemburu memasang jaring perangkap untuk memancing burung yang akan ditangkapnya. Jaring yang dipenuhi biji-bijian makanan burung tersebut diletakkannya di tepi sebuah sungai. Sementara ia bersembunyi di balik pohon, menanti  mangsanya.

Tak lama kemudian, datang sekelompok burung dan mulai mematuki biji-bijian tersebut. Si pemburu segera bereaksi hendak menangkap mangsanya. Namun begitu melihat si pemburu datang, burung-burung tersebut segera terbang bersamaan,  membawa serta jaring perangkap milik si pemburu.

Tentu saja si pemburu sangat terkejut atas prilaku burung-burung yang kelihatan bersatu, kompak bekerja sama membawa jaring penuh  biji-bijian tersebut. Didorong rasa penasarannya, maka iapun memutuskan untuk mengejar burung-burung tersebut..

Di tengah jalan ia bersua dengan seseorang.

Hai pemburu, mengapa kamu begitu tergesa-gesa ? Ada apakah gerangan ? », tanyanya heran.

Sambil menunjuk ke arah burung-burung yang sedang terbang di udara, si pemburu menjawab bahwa ia akan menangkap burung-burung tersebut. Laki-laki tersebut langsung tersenyum geli : “” Allah menyertaimu ! Namun yakinkah kamu bisa menangkap mereka ? »

« Kalau saja ada seekor burung yang tertinggal di jaringku, tentu aku tidak akan bersusah payah mengejar mereka. Tapi, ini, lihatlah .. mereka terbang bersama membawa jaring itu ! », jawab si pemburu sambil terus berlari mengejar burung-burung tersebut.

Malampun tiba. Burung-burung tersebut tampak kelelahan dan masing-masing ingin kembali ke sarangnya. Ada yang ingin membawa jaring si pemburu  ke arah hutan. Ada yang ingin ke arah danau. Sebagian lain ingin membawanya ke arah gunung. Yang lain lagi ingin ke arah semak-semak.

Terjadi tarik menarik diantara mereka. Akhirnya jaring tersebutpun robek dan burung-burung tersebut berjatuhan,  terjerat di dalamnya. Si pemburu yang dari tadi bersembunyi dan memperhatikan tingkah laku merekapun segera memanfaatkan kesempatan emas tersebut. Ia cepat berlari dan menangkap burung-burung itu.

Oh betapa malangnya nasib burung-burung itu. Kalau saja mereka mengetahui sabda Rasulullah saw berikut, tentu mereka akan selalu terbang bersama menuju satu tujuan. Hingga tidak akan tertangkap si pemburu yang mengintainya itu.

“Tidaklah terdapat tiga orang dalam satu kampung atau satu pedalaman, dan mereka tidak melaksanakan shalat berjamaah, kecuali syetan menguasai mereka. Maka hendaklah kalian berjamaah, karena sesungguhnya seekor serigala akan memakan domba yang terpisah dari kelompoknya.” (Hr.Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban & Hakim-at Targhib).

Diterjemahkan dari buku : “40 hadist destines aux enfants et agrementes de recits” oleh Prof Dr M Yasar Kandemir

Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa;

“Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul”.

Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir`aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir`aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. Dan berkatalah isteri Fir`aun:

“(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfa`at kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari.

Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah).  Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan:

“Ikutilah dia”

Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya, dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui (nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa:

“Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?”.

Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya,

( QS, Al-Qashash(28): 7 – 13)

Jakarta, 9 Agustus 2012.

Vien AM.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.