Feeds:
Posts
Comments

PENDAHULUAN 

Bab I.         Asal Muasal Tahun Gajah 

Bab II.       Silsilah Rasulullah

Bab III.      Kelahiran dan Masa Kecil 

Bab IV.       Masa Remaja 

Bab V.        Pernikahan dengan Khadijah dan Datangnya Wahyu Pertama

Bab VI.      Dakwah Secara Rahasia ( Sirriyatud -dakwah/

Bab VII.     Dakwah Secara Terang-terangan (Jahriyatud Dakwah)

Bab VIII.   Penolakan Orang-orang Musyrik Mekah Terhadap Islam

Bab IX.      Pengucilan dan Boikot Ekonomi Terhadap Kaum Muslimin ( Hijrah Pertama).

Bab X.        Tahun Duka Cita ( Amul Huzni dan Peristiwa di Thaif )

Bab XI.       Peristiwa Isra-Mi’raj dan Persiapan Madinah sebagai Tempat Hijrah

Bab XII.      Baiat Aqabah dan Hijrahnya Para Sahabat

Bab XIII.    Hijrah ke Madinah

Bab XIV.    Pembentukan Masyarakat  Madinah

Bab XV.      Perang Badar, Perang Pertama dalam Sejarah Islam

Bab XVI.     Pengkhianatan Pertama Yahudi dan Munculnya Tanda-tanda Kemunafikan

Bab XVII.   Perang Uhud dan Hikmah Diperintahkannya Berperang (bag-1)

Bab XVII.   Perang Uhud dan Hikmah Diperintahkannya Berperang (bag-2)

Bab XVIII.  Dakwah Kepada Ahli Kitab (bag-1)

Bab XVIII . Dakwah Kepada Ahli Kitab (bag-2)

Bab XIX.    Pengkhianatan Yahudi Bani Nadhir dan Dampaknya

Bab XX.      Jihad fi Sabilillah (1).

Bab XX.      Jihad fi Sabilillah (2)

Bab XX.      Jihad fi Sabilillah (3)

Bab XXI.     Perdamaian Hudaibiyah dan Baitur Ridwan

Bab XXII.    Perang Khaibar

Bab XXIII.   Dakwah Kepada Raja-raja

Bab XXIV.   Perang Mut’ah

Bab XXV.    Penaklukkan Mekah ( Fathu Makkah) (1)

Bab XXV.    Penaklukkan Mekah ( Fathu Makkah) (2)

Bab XXV.    Penaklukkan Mekah ( Fathu Makkah) (3)

Bab XXVI.   Perang Hunain

Bab XXVII.  Perang  Tabuk dan Kisah 3 Orang Sahabat

Bab XXVIII. Haji Wada, Khutbah Rasulullah dan Tanda Sempurnanya Islam

Bab XXIX.    Rasulullah dan Perkawinan

Bab XXX.     Hari-hari Akhir Rasulullah saw(1)

Bab XXX.     Hari-hari Akhir Rasulullah saw (2)

Bab XXX.     Hari-hari Akhir Rasulullah saw(3)

PENUTUP

« Salut Fika, je suis Chole », tegur gadis tinggi semampai itu sambil mengulurkan tangannya. Ia mengenakan jeans merah tua ketat yang dimasukkan kedalam sepatu boot hitam runcing, atasannya blus kuning longgar kotak-kotak cerah. Rambutnya yang ikal sebahu berwarna coklat kemerahan dibiarkan tergerai menambah daya tariknya.

Fika segera menyambutnya, sambil berusaha keras mengingat-ingat siapa gadis itu dan dimana ia pernah bertemu.

« Aku kekasih Daniel, aku melihatmu di acara « Save Palestine » minggu lalu », kata gadis tersebut, seolah tahu apa yang ada di pikiran Fika.

« Oh iya betul, aku baru ingat, sorry », jawab Fika tersipu.

Beberapa bulan lalu Fika memang ikut dalam program kegiatan kampus berjudul “Save Palestine”. Dan Daniel adalah ketua kegiatan sosial tersebut. Kegiatan ini bertujuan menekan pemerintah Perancis agar peduli terhadap nasib Palestina. Di acara tersebut panitia memajang foto-foto kekejaman tentara Zionis Israel. Selanjutnya para pengunjung dipersilahkan memilih postcard dengan foto-foto yang sama, lalu menuliskan kata-kata menanggapi postcard yang dipilihnya itu. Kemudian postcard tersebut dimasukkan ke dalam kotak yang telah disiapkan panitia untuk selanjutnya diserahkan langsung ke presiden Perancis, Francois Holland. Uniknya, acara ini murni kegiatan sosial tidak ada kaitannya dengan agama apapun.

Fika teringat gadis seksi yang menjadi kekasih Daniel tersebut. Gadis tersebut sebenarnya sangat cantik dan menarik, sayang terkesan binal dan nakal. Itu kesan Fika sepintas. Mungkin karena ia sering bergonta-ganti pacar selain dandanannya yang terlalu mencolok, khususnya bagi seorang mahasiswi.

“Kamu dari Indonesia ya, Daniel yang mengatakan. Kebetulan aku memang ingin tahu banyak soal Indonesia”, kata Chole membuyarkan lamunan Fika.

Itulah awal perkenalan Fika dengan Chole, seorang gadis Iran. Ada kedekatan emosi yang membuat mereka bisa bersahabat erat.  Chole ternyata seorang Muslimah. “Jangan-jangan Chole itu dari kata sholeh”, pikir Fika dalam hati sambil tersenyum sendiri.

Dari persahabatan itu pulalah Fika menyadari adanya sesuatu yang membuat Chole terlihat ‘liar’. Fika melihat pada dasarnya Chole adalah seorang gadis yang baik.  Ia binal karena ada penyebabnya, meski Fika tidak tahu pasti apa penyebab tersebut. Oleh sebab itu ia bersyukur melihat sahabat barunya itu sedikt demi sedikit bisa mengurangi sikap buruk tersebut.

Orang-tua Chole adalah asli orang Iran. Awalnya mereka menetap di Teheran, ibu kota Iran. Namun 7 tahun silam, ketika Chole berumur 13 tahun, ibunya memutuskan untuk hijrah ke Paris. Hal ini terjadi tak lama setelah kedua orang-tuanya bercerai. Chole tidak tahu persis apa penyebab perceraian orang-tuanya, namun di kemudian hari ia menduga adanya perbedaan pandangan dalam agama.

Ia ingat benar ekspresi wajah ibunya tercinta setiap kali ada tamu yang datang, dan ia sebagai anak perempuan yang dilatih untuk selalu taat dan patuh pada orang-tua harus melayani tamu-tamu tersebut. Wajah ibu terlihat demikian terluka. Chole sendiri tidak ingat, atau tepatnya tidak ingin mengingat hari-hari pertama ia melayani mereka. Yang diingatnya justru jerit tangis adik perempuan satu-satunya yang ketika itu baru berumur 9 tahun. Ia tidak berani membayangkan apa yang terjadi di balik kamar terkunci tersebut, meski ia tahu persis apa yang dialami adiknya tercinta. Karena ia sendiri beberapa kali mengalaminya.

Seingatnya sejak itulah ibunya sering menangis diam-diam, hingga akhirnya sering bertengkar hebat dengan ayahnya. Maka terjadilah perceraian tersebut.  Tak lama kemudian ia dan adiknyapun ikut ibu mereka pindah ke Paris. Bergabung dengan keluarga besar ibu yang telah hijrah ke kota ini sejak pecahnya revolusi Iran di tahun 1979.

Saat ini Chole kuliah di fakultas Psikologi Universitas Sorbonne semester 5. Sedangkan Fika fakultas Hukum semester 5 di universitas yang sama. Fika sendiri tinggal di Paris sejak SMA, mengikuti ayahnya yang ketika itu mendapat tugas dari perusahaan. Namun kini ia tinggal sendiri di asrama mahasiswa karena kedua orang-tua dan satu-satunya adiknya telah kembali ke tanah air.

 ***

Fika, aku perhatikan kau suka shalat sambil duduk, kadang di kelas kadang di taman.  Mengapa tidak shalat di rumah saja sepulang kuliah ?”, tanya Chole suatu hari di bulan Ramadhan.

“Kalau kebetulan musim panas memang sempat, tapi kalau musim dingin kan tidak mungkin, tidak keburu, sampai rumah kan matahari sudah terbenam. Berarti lewat sudah waktu Zuhur maupun Asar”, jawab Fika.

“Hemm, begitu yaa … Apakah semua  orang Indonrsia alim seperti kamu ? “, kata Chole setelah hening beberapa saat.

“ Wah ini sih bukan soal alim atau tidak Shole. Shalat kan wajib”, potong Fika.

“ Iya siih, tapi kenapa ya aku malas sekali …”, keluh Chole.

“Oya, aku dengar kau suka berbuka puasa dan shalat di Mosquee de Paris yaa. Kapan-kapan aku ikut dong, rasanya sudah lama sekali aku tidak mengunjungi masjid », kata Chole beberapa saat setelah keduanya terdiam.

« Ayo aja. Rencananya Sabtu besok aku akan ke sana. Kalau mau kita bisa bertemu di sortie Place Monge metro no 7, kau tahu kan? », tanya Fika.

« D’accord, bisa aku cari. Jam berapa”, Chole balas tanya.

 “ Satu jam sebelum magrib, jam 19.00?”, jawab Fika.

Bulan Ramadhan tahun ini kebetulan jatuh pada musim gugur, jadi hari masih agak panjang.  Matahari sekitar pukul 5 sudah muncul, sedangkan pukul 20.00 matahari baru terbenam. Jadi pada musim tersebut puasa 2 jam lebih lama dari di Indonesia, yaitu sekitar 15 jam.

Maka jadilah Sabtu tersebut Chole dan Fika bertemu di tempat yang telah ditentukan.

“ Assalamualaykum Chole”, seru Fika. “Wah kamu cantik sekali dengan kerudung seperti itu”, puji Fika.

Chole sore itu memang terlihat berbeda. Ia mengenakan kerudung biru muda dan abaya biru tua dengan payet bunga dibagian bawahnya. Wajahnya hanya disentuh make up sederhana dan pemerah bibir secukupnya. Namun ia tetap terlihat cantik bahkan lebih anggun daripada penampilannya sehari-hari.

“Waalaykum salam, merci beaucoup Fika”, jawab Chole tersipu.

“Ini kerudung dan abaya ibuku, aku meminjamnya. Ibu tampak terkejut tapi senang melihatku”, aku Chole. “Kapan-kapan kau harus bertemu dengannya, pasti ia akan senang berkenalan denganmu. Berkatmu aku mau berubah. Tahukah kau, sudah beberapa hari ini aku berusaha untuk tidak merokok meski waktu berbuka puasa sudah tiba ”, lanjutnya sambil tersenyum.

Wah bravo, begitu dong. Dengan senang hati Chole. Tapi percayalah, itu bukan karena aku, tapi memang itulah jalanmu, karena tekadmu untuk berubah”, puji Fika sambil memandang kagum sahabatnya. Chole hanya manggut-manggut.

Kau masih puasa kaan, masih ada waktu 1 jam untuk berbuka. Kita beli kebab dulu ya,  take away, kita makan setelah shalat Magrib, oke?”, ajak Fika .

Tanpa menunggu jawaban Chole, Fika langsung menarik tangan Chole, dan segera menyelinap ke bagian tengah pelataran Place Monge yang ramai pengunjung. Tujuan mereka adalah stand kebab bertuliskan “HALAL”.Setiap hari di pelataran tak jauh dari Masjid Agung Paris ini memang digelar semacam pasar kaget. Dari buah-buah, sayur-sayuran, aneka makanan hingga pakaian dijajakan di tempat ini.

Tak lama kemudian keduanya sudah berada diantara orang-orang yang mengantri membeli kebab. Chole sempat terheran-heran karena banyak juga orang Perancis yang kebanyakan non Muslim itu terlihat diantara yang mengantri.

“Kalau kau suka makanan Perancis tak jauh dari sini ada restoran halal. Crepe asinnya enak sekali lho. Kalau kita tidak terburu-buru kapan-kapan aku ajak kau kesana Chole”, bisik Fika.

“Wah boleh juga tuh, aku suka sekali crepe asin, crepe isi daging asap dan bayam, nyaam ”, jawab Chole membayangkant. Namun tak urung ada sedikit rasa malu dan sesal di hatinya, karena selama ini ia tidak pernah memikirkan apakah makanan yang dibelinya itu halal atau tidak.

“Sebaliknya kalau kamu suka makanan khas Maroko seperti tajin, kuskus dll, disudut masjid ada sebuah restoran yang menyajikan masakan tersebut. Banyak orang asli Perancis berkunjung ke tempat itu”, lanjut Fika membuat Chole bertambah lapar membayangkan makanan.

Noted Fika, kapan-kapan akan aku ajak ibuku kesana. Kebetulan ibu sangat menyukai kuskus”, jawab Chole.

“ Bonjour mademoiselle, alors, quest-ce-que vous voulez”, tanya si penjual kebab. Tanpa terasa keduanya telah sampai di depan laki-laki asal Turki penjual kebab tersebut.

Maka keduanyapun segera menyebut pesanan mereka. Dan dalam hitungan menit keduanya sudah menggenggam pesanan masing-masing.

“Merci monsieur, au revoir”, kata Fika dan Chole bersamaan.

Dan beberapa saat kemudian keduanyapun telah larut bersama orang-orang yang berbondong-bondong menyebrang jalan. Belakangan Chole baru meyadari ternyata sebagian besar penyebrang jalan tersebut menuju tujuan yang sama, yaitu masjid de Paris.

 “ Jujur, aku tidak menyangka begitu banyak Muslim di kota ini”, bisik Chole terheran-heran. .

“ Ya Chole, Muslim di kota ini memang lumayan banyak. Itu sebabnya aku selalu datang ke sini paling sedikit 1 jam sebelum waktu shalat. Terlambat sedikit saja dijamin sulit mendapat tempat yang strategis di dalam sana”, jawab Fika.

“Dan ini bukan hanya dalam bulan puasa lho. Setiap Jumatan juga seperti ini, penuuh, baik musim panas maupun musim dingin, Allahuakbar”, lanjut Fika lagi.

Tak lama kemudian Fika dan Cholepun tiba di tujuan. Setelah celingukan kesana kemari akhirnya mereka menemukan tempat yang agak lowong yaitu di shaft bagian tengah masjid yang dibangun pada tahun 1926 sebagai penghargaan atas gugurnya 100 ribu prajurit Muslim Perancis melawan Jerman itu. Fika segera melaksanakan shalat tahiyatul masjid, setelah itu mengambil Alquran yang tersedia di rak tak jauh dari mereka duduk, lalu membacanya dengan suara pelan. Sementara Chole hanya diam mendengarkan sambil sekali-sekali memperhatikan masjid berarsitektur Maroko tersebut, dan jamaah yang ada di sekitarnya.

Hingga ketika azan menjelang tiba orang-orang sibuk berlomba membagikan kurma kepada sesama jamaah sebagai makanan pembuka puasa mereka hari itu. Sekitar setengah jam kemudian usai Magrib berjamaah Fikapun mengajak Chole keluar ruangan masjid untuk menyantap kebab yang tadi mereka beli. Dan beberapa lama kemudian keduanya telah larut kembali dalam lautan jamaah Isya dan Tarawih.

***

“Fika, ada hal yang sangat ingin kutanyakan padamu, yaitu tentang kaum perempuan dalam pandangan Islam”, tanya Chole suatu hari sepulang dari kampus.

“Kau pasti tahu bahwa mayoritas penduduk Iran adalah pengikut Syiah”, lanjut Chole lagi. Keduanya sekarang duduk di bangku taman kampus, agak jauh dari keramaian.

Fika hanya mengangguk, mencoba meraba kira-kira apa yang ingin ditanyakan sahabatnya itu. Meski ia tidak tahu terlalu banyak tentang Syiah namun tidak jarang juga ia mendengar ayah ibunya membicarakan hal tersebut

“Sebaliknya, aku mendengar bahwa mayoritas Islam di dunia adalah Sunni, termasuk orang Indonesia. Jangan khawatir Fika, aku tidak ingin membicarakan perbedaan tersebut, apalagi berdebat denganmu tentang hal ini”, lanjut Chole seolah bisa membaca jalan pikiran Fika.

“Aku hanya ingin tahu benarkah kaum perempuan yang bermut’ah mendapatkan pahala besar di sisi Allah?  Yang kedua, aapa bedanya mut’ah dengan pernikahan resmi?”berondongnya.

Fika tersentak, tidak menduga akan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Chole. Ia menghela nafas sejenak, berpikir keras jawaban apa sebaiknya yang ia berikan. Hingga akhirnya iapun berkata “Terus terang sebenarnya aku tidak begitu tahu apa itu mut’ah. Karena Sunni memang tidak mengenal mut’ah. Yang ada hanya pernikahan resmi atau perzinahan”.

Namun tanpa disangka, jawaban singkat tersebut telah mampu membuat Chole terkejut, “Yang benar ? ? Sunni tidak mengenal mut’ah? Maksud kamu bagaimana?”.

“Apa itu berarti dirimu masih suci?? Kamu tidak pernah disentuh lelaki manapun?  sekalipun?”, berondongnya.

“Tentu saja tidak. Haram Chole … Aku akan mempetahankan keperawananku, meski teman-teman disini menganggapnya aneh, hingga suatu hari nanti aku menemukan suami yang tepat. Seorang lelaki yang sholeh, yang takwa, yang mencintaiku sepenuh hati, yang mau menjaga dan melindungi aku dan anak-anakku kelak. Itu pasti Chole”, jawan Fika meyakinkan.

Chole terkesima mendengar jawaban tersebut. Ia diam seribu bahasa, dan selama beberapa detik hanya memandangi Fika seolah sahabatnya itu sudah hilang ingatan. Hingga tanpa bisa ditahan lagi tiba-tiba saja ia menangis histeris.

Fika segera mendekap Chole dan berusaha menenangkannya.

“Tenang Chole, tenang … Apa yang menyebabkan dirimu seperti ini? Kamu ingin menceritakannya padaku ? Ceritakan saja bila itu bisa membuatmu lega dan tenang”, hibur Fika.

Selang beberapa saat akhirnya Cholepun menjadi tenang. Ia mulai bercerita hari-hari menyakitkan yang selama ini telah dikuburnya dalam-dalam, meski ia tahu Allah akan mengganjarnya dengan pahala yang besar. Setidaknya itulah yang dikatakan ayahnya. Itu sebabnya ia begitu kecewa dan sakit hati mendengar jawaban Fika yang menganggap hal tersebut adalah haram, alias dosa besar !

Istri durhaka !”, desis ayah Chole kepada ibunya. Ketika itu ibu Chole berusaha menyembunyikan adik Chole  yang baru berumur 9 tahun, di dapur rumah mereka. Sementara Chole sendiri hanya tertunduk ketakutan, sadar bahwa ia harus melayani tamu kehormatan ayahnya. Dan ini bukan pertama kalinya ia  harus melakukan hal tersebut.

Tidak tahukah kau bahwa kunjungan pemuka Qom ke rumah kita ini adalah kehormatan. Mereka adalah orang-orang suci yang dapat membawa keberkahan kepada kita. Biarkan anak-anak kita melayani mereka. Allah sendiri yang akan memberi balasan pahala terbaik-Nya”.

Dengan nada pilu, Chole bercerita bahwa semua teman-teman perempuannya pernah mengalami hal tersebut. Bahkan ada diantara mereka yang sampai hamil, namun kemudian digugurkan, termasuk dirinya yang pernah hamil 2 kali. “Tidak sulit di negara kami menemukan praktek pengguguran kandungan. Dan itu bukan hal yang harus ditutup-tutupi”, jelas Chole.

Astaghfirullahaladzim”, pekik Fika tanpa sadar. “ Itu kan berarti kalian telah berbuat dosa dua kali lipat, perzinahan dan pembunuhan”.

“Ntahlah Fika, aku tidak mengerti mengapa bisa begitu. Malu aku sebenarnya menceritakan hal ini. Tidak jarang aku berpikir, alangkah sialnya menjadi perempuan”, isaknya.

“Dendamku benar-benar bertumpuk. Untuk itu aku melepaskannya dengan semua laki-laki yang menjadi kekasihku. Sungguh, aku tidak peduli apakah kekasihku hanya menginginkan kepuasan seksual atau karena betul-betul mencintaiku. Tidak ada bedanya. Bukankah perempuan hanya sampah yang dapat dicampakkan sesuka hati oleh laki-laki!”, teriaknya histeris.

Alangkah pilunya hati Fika mendengar pengakuan sahabatnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa.

“Sudah, tenanglah Chole. Bukankah itu bukan salahmu. Kau hanya korban ketidak-tahuan. Bertaubatlah segera, pasti Allah akan mengampunimu”, hibur Fika.

Chole terus terisak. Beberapa saat kemudian setelah Chole dapat menguasai dirinya kembali, ia kembali bertanya, “Bagaimana pula dengan hijab menurut Sunni, Fika?”.

“Kalau itu memang wajib, jelas ayatnya. Gimana menurutmu?”, kata Fika, balik bertanya.

“Hemmm, tapi apakah itu berarti polisi akan menangkapmu bila kedapatan kau berjalan-jalan tanpa hijab?”, tanyanya lagi.

“Yaa kalau di Indonesia ya tidak karena negara kami bukan negara Islam. Meski mayoritas penduduk adalah Muslim tapi Indonesia tidak menerapkan hukum Islam. Berhijab, seperti juga shalat 5 waktu, memang wajib, tapi itu tidak berarti polisi akan menangkap kita kalau kita tidak melakukannya”, jawab Fika diplomatis.

“ Sesuatu yang tidak mungkin terjadi di negaraku”, keluhnya.

Terus terang kami mengenakan hijab karena takut ditangkap polisi”, aku Chole tersipu.

“Itu sebabnya kebanyakan perempuan Iran yang hijrah ke luar negri menanggalkan hijab mereka begitu tiba di negri tujuan mereka, termasuk aku, ibuku dan sebagian besar perempuan di keluarga besarku”, jelas Chole.

Fika tiba-tiba teringat acara tv beberapa waktu lalu yang menayangkan pengakuan perempuan Iran yang menanggalkan hijab begitu tiba di Perancis.

Pantas saja, orang Perancis doyan menyudutkan posisi perempuan Islam », keluh Fika dalam hati.

“Kalau begini caranya, alangkah sulitnya umat Islam melawan Islamophobia yang menyerang Barat secara bertubi-tubi. Tidak ada paksaan untuk memeluk Islam. Tapi begitu seseorang memutuskan masuk Islam otomatis ia harus melaksanakan hukum-hukum Islam. Itu adalah konsekwensinya. Hal yang lumrah saja sebenarnya”, batin Fika.

“Itu akibatnya kalau orang dipaksa berhijab, tanpa diberi bekal pengetahuan”,  kata Fika lembut kepada sahabatnya itu.

***

Jakarta, Maret 2015.

Vien AM.

Dimasa nabi Musa as suatu kali lama tidak turun hujan dan menyebabkan musim kemarau berpanjangan.  Orang-orang datang menghadap nabi Musa as dan mengatakan,

Dirikanlah shalat hujan bagi kami!”

Nabi Musa as mengajak kaumnya mendirikan shalat hujan dan memohon kepada Allah swt agar menurunkan rahmat-Nya bagi mereka. Orang yang shalat bersama nabi Musa as lebih dari 70.000 orang. Sekeras apapun mereka berusaha berdoa hujan tak kunjung turun.

Nabi Musapun bertanya pada Allah swt,

“ Ya Allah mengapa hujan tidak turun? Apakah kedudukanku di sisi-Mu tidak ada artinya ?”

Allah mewahyukan kepada nabi Musa as,

“Engkau mulia di sisi-Ku. Akan tetapi di tengah kalian terdapat seseorang yang  telah bermaksiat kepada-Ku selama 40 tahun. Katakanlah padanya agar ia k;euar dari barisan shalat sehingga Aku menurunkan rahmat-Ku”.

Namun Musa as berkata,

“Ya Allah, suaraku amat lemah. Bagaimana mungkin suaraku dapat terdengar oleh 70.000 orang?” .

Allah swt berfirman,

“Wahai Musa, sampaikan apa yang Kuperintahkan padamu. Aku akan jadikan mereka semua mendengar suaramu”.

Dengar suara lantang, nabi Musa as menyampaikan,

“Barangsiapa di antara kalian yang telah bermaksiat kepada Allah swt selama 40 tahun maka hendaklah dia berdiri dan meninggalkan tempat ini. Dikarenakan perbuatan dosa dan keburukannya Allah swt enggan menurunkan rahmat-Nya kepada kita”.

Orang yang berbuat maksiat itu menoleh ke sekitarnya. Dia tidak melihat seorangpun yang keluar dari barisan shalat. Dia sadar dirinyalah yang dimaksud. Dia berkata padadiri sendiri,

Apa yang harus kulakukan ? Jika aku bangkit berdiri maka orang-orang akan melihatku dan mengenalku. Aku akan malu di hadapan mereka.`Tetapi jika aku tidak keluar maka Allah tidak akan menurukan hujan”.

Pada saat itulah orang itu benar-benar bertaubat kepada Allah swt dari kedalaman hatinya dan menyesali segala perbuatan dosanya.

Tiba-tiba awan mendung datang dan hujan turun dengan lebatnya. Dengan penuh keheranan nabi Musa as bertanya kepada Allah swt,

“ Ya Allah tak seorangpun yang keluar dari barisan namun mengapa hujan turun juga?”

Allah swt mewahyukan,

“Aku menurunkan hujan kepada kalian dikarenakan taubat orang yang telah menghalangi rahmat-Ku turun pada kalian”.

Nabi Musa as memohon,

“Ya Allah, tunjukkanlah padaku siapa orang itu?”

Allah swt mewahyukan,

Wahai Musa, ketika hamba itu bermaksiat pada-Ku, Aku menutupi dosa-dosanya. Dan ketika dia bertaubat pada-Ku maka Akupun merahasiakan dirinya”.

Wallahu’alam bish shawwab.

Jakarta, 6 Februari 2015.

Vien AM.

Diambil dari : “Kisah-kisah Allah”oleh Ahmad m Zadeh dan Oasem M Zadeh.

“Wahai saudaraku! Jangan engkau dekati Muhammad itu. Dia orang gila. Dia pembohong. Dia tukang sihir. Jika engkau mendekatinya, engkau akan dipengaruhinya dan engkau akan menjadi seperti dia,” kata seorang pengemis buta Yahudi berulang-ulang kali di satu sudut pasar di Madinah pada setiap pagi sambil tangannya menadah meminta belas orang yang lalu-lalang.

Orang yang lalu-lalang di pasar itu ada yang menghulurkan sedekah kerana kasihan malah ada juga yang tidak mempedulikannya langsung.

Pada setiap pagi, kata-kata menghina Rasulullah SAW itu tidak lekang daripada mulutnya seolah-olah mengingatkan kepada orang ramai supaya jangan terpedaya dengan ajaran Rasulullah SAW. Seperti biasa juga, Rasulullah SAW ke pasar Madinah. Apabila baginda sampai, baginda terus mendapatkan pengemis buta Yahudi itu lalu menyuapkan makanan ke mulutnya dengan lembut dan bersopan tanpa berkata apa-apa.

Pengemis buta Yahudi yang tidak pernah bertanya siapakah yang menyuapkan itu begitu berselera sekali apabila ada orang yang baik hati memberi dan menyuapkan makanan ke mulutnya.

Perbuatan baginda itu dilakukannya setiap hari sehinggalah baginda wafat. Sejak kewafatan baginda, tidak ada sesiapa yang sudi menyuapkan makanan ke mulut pengemis itu setiap pagi.

Pada satu pagi, Saidina Abu Bakar ra pergi ke rumah anaknya, Siti Aisyah yang juga merupakan isteri Rasulullah SAW untuk bertanyakan sesuatu kepadanya.

“Wahai anakku Aisyah, apakah kebiasaan yang Muhammad lakukan yang aku tidak lakukan?”, tanya Saidina Abu Bakar ra sebaik duduk di dalam rumah Aisyah.

“Ayahandaku, boleh dikatakan apa sahaja yang Rasulullah lakukan, ayahanda telah lakukan kecuali satu,” beritahu Aisyah sambil melayan ayahandanya dengan hidangan yang tersedia.

“Apakah dia wahai anakku, Aisyah?”

“Setiap pagi Rasulullah akan membawa makanan untuk seorang pengemis buta Yahudi di satu sudut di pasar Madinah dan menyuapkan makanan ke mulutnya. Sejak pemergian Rasulullah, sudah tentu tidak ada sesiapa lagi yang menyuapkan makanan kepada pengemis itu,” beritahu Aisyah kepada ayahandanya seolah-olah kasihan dengan nasib pengemis itu.

“Kalau begitu, ayahanda akan lakukan seperti apa yang Muhammad lakukan setiap pagi. Kamu sediakanlah makanan yang selalu dibawa oleh Muhammad untuk pengemis itu,” beritahu Saidina Abu Bakar ra kepada anaknya.

Pada keesokan harinya, Saidina Abu BAkar ra membawakan makanan yang sama seperti apa yang Rasulullah SAW bawakan untuk pengemis itu sebelum ini. Setelah puas mencari, akhirnya beliau bertemu juga dengan pengemis buta itu. Saidina Abu Bakar ra segera menghampiri dan terus menyuapkan makanan ke mulut pengemis itu.

“Hei… Siapakah kamu? Berani kamu menyuapku?” Pengemis buta itu mengherdik Saidina Abu Bakar ra. Pengemis buta itu terasa lain benar perbuatan Saidina Abu Bakar ra itu seperti kebiasaan.

“Akulah orang yang selalu menyuapmu setiap pagi,” jawab Saidina Abu Bakar ra sambil memerhatikan wajah pengemis buta itu yang nampak marah.

“Bukan! Kamu bukan orang yang selalu menyuapku setiap pagi. Perbuatan orang itu terlalu lembut dan bersopan. Aku dapat merasakannya, dia terlebih dahulu akan menghaluskan makanan itu kemudian barulah menyuap ke mulutku. Tapi kali ini aku terasa sangat susah aku hendak menelannya,” balas pengemis buta itu lagi sambil menolak tangan Saidina Abu Bakar ra yang masih memegang makanan itu.

“Ya, aku mengaku. Aku bukan orang yang biasa menyuapmu setiap pagi. Aku adalah sahabatnya. Aku menggantikan tempatnya,” beritahu Saidina Abu Bakar ra sambil mengesat air matanya yang sedih.

“Tetapi ke manakah perginya orang itu dan siapakah dia?”, tanya pengemis buta itu.

“Dia ialah Muhammad Rasulullah. Dia telah kembali ke rahmatullah. Sebab itulah aku yang menggantikan tempatnya,” jelas Saidina Abu Bakar ra dengan harapan pengemis itu berpuas hati.

“Dia Muhammad Rasulullah?”, kata pengemis itu dengan suara yang terkedu.

“Mengapa kamu terkejut? Dia insan yang sangat mulia,” beritahu Saidina Abu Bakar ra. Tidak semena-mena pengemis itu menangis sepuas-puasnya. Setelah agak reda, barulah dia bersuara.

“Benarkah dia Muhammad Rasulullah?”, pengemis buta itu mengulangi pertanyaannya seolah-olah tidak percaya dengan berita yang baru didengarnya itu.

“Ya benar. Kamu tidak percaya?”

“Selama ini aku menghinanya, aku memfitnahnya tetapi dia sedikit pun tidak pernah memarahiku malah dia terus juga menyuap makanan ke mulutku dengan sopan dan lembut. Sekarang aku telah kehilangannya sebelum sempat memohon ampun kepadanya,” ujar pengemis itu sambil menangis teresak-esak.

“Dia memang insan yang sangat mulia. Kamu tidak akan berjumpa dengan manusia semulia itu selepas ini kerana dia telah pun meninggalkan kita,” beritahu Saidina Abu Bakar ra.

“Kalau begitu, aku mahu kamu menjadi saksi. Aku ingin mengucapkan kalimah syahadah dan aku memohon keampunan Allah,” ujar pengemis buta itu.

Selepas peristiwa itu, pengemis itu telah memeluk Islam di hadapan Saidina Abu Bakar ra. Keperibadian Rasulullah SAW telah memikat jiwa pengemis itu untuk mengakui ke-Esaan Allah..

 

 

Kutemukan Islam di Gaza 

Martha duduk santai di teras rumahnya yang mewah di sebuah kota besar di Amerika serikat. Sebuah novel terbaru karangan Dan Brown, penulis favoritnya, berada di tangannya. Ia memang sangat menyukai karya penulis novel “The Da Vinci Code” yang kontroversial itu, yang suka mencampur-adukan kehidupan nyata dengan dunia mistis, begitu ia menyebut agama dan kepercayaan, maklum Martha adalah seorang atheis, secara mengesankan.

Awalnya Martha adalah seorang yang religius. Maklum ia dibesarkan dalam keluarga Katolik yang taat. Namun setelah menjelang usia belasan tahun. ia merasa jawaban tentang doktrin Trinitas yang sering ia ajukan, tidak bisa memuaskan batinnya.

Hidup adalah ya di dunia ini. Kebaikan adalah apa yang kita perbuat untuk sesama manusia agar dunia ini aman dan tentram. Hanya orang idiot yang mau mempercayai kehidupan setelah mati”. Pepatah ini yang sekarang menjadi pegangan Martha setelah ia dewasa.

Martha pernah bekerja  di kantor berita  kenamaan milik pemerintah setempat.  Akan tetapi sejak 2 tahun yang lalu ia memutuskan untuk keluar dari kantornya. Ia memilih untuk manjadi wartawati freelance. Ia mulai jenuh dengan profesi yang dibayar karena tuntutan kemauan si pemilik kantor berita. Hatinya lama kelamaan berontak, ia tidak ingin terus membohongi publik. Dan iapun tidak ingin menunggu hingga dipecat seperti yang terjadi pada rekannya. Ia dipecat gara-gara memberitakan apa yang dilihat di depan matanya padahal tidak sesuai dengan keinginan bosnya.

***

Gempuran Israel ke jalur Gaza menggerakkan Martha untuk ikut meliput peristiwa biadab tersebut. Dukungan Barat dengan alasan Israel berhak mempertahankan diri membuat dahi perempuan berumur 30 an ini berkerut.

Sungguh tidak masuk akal, masak mempertahankan diri sampai harus mengorbankan ratusan jiwa, sebagian besar perempuan dan anak pulak.  Apalagi ini kan kejadiannya di Gaza, rumah rakyat Palestina ??”, tanyanya.

Martha segera mempersiapkan diri keberangkatannya ke Gaza.  Ini bukan kali pertama ia pergi ke daerah pertempuran. Sebelumnya ia pernah ikut meliput ke Suriah ketika masih bekerja untuk perusahaannya, dan ke Mesir  serta Tunisia setelah berstatus freelance. Dengan modal pengalaman itulah ia bisa masuk ke Gaza tanpa kesulitan berarti. Ia juga berhasil merekrut seorang warga Gaza yang mampu berbahasa Inggris, yang akan membantunya menterjemahkan dari bahasa Arab yang tidak dikuasainya.

With pleasure madame, dengan senang hati,  saya akan mendampingi anda selama tugas anda. Dengan syarat anda harus jujur, gunakan nurani anda”, demikian ucap Abdullah, pemuda asli Gaza berusia sekitar 21 tahun yang ditemuinya di lokasi.

Soal bayaran itu terserah anda, saya sudah sangat bersyukur jika anda mau melaporkan apa yang anda lihat disini apa adanya, tanpa bumbu-bumbu », tegasnya lagi.

« Kalau mau, selama anda meliput di negri kami, anda boleh menginap di rumah kami. Anda bisa tidur berdua dengan adik perempuan saya yang berumur 15 tahun. Ia pasti sangat senang bisa berkesempatan menyaksikan bagaimana seorang wartawati bertugas. Sebagai imbalannya, anda dapat mengajarkannya bahasa Inggris », tambah Abdullah.

Tentu saja Martha tidak melepaskan kesempatan emas tersebut. Bagi seorang wartawati seperti dirinya, tinggal di rumah penduduk dimana ia sedang meliput adalah hal yang paling didambakan. Karena dengan demikian ia dapat merasakan nafas liputannya.

Itu ia rasakan sendiri ketika ia bertugas di Tunisia untuk meliput peristiwa Arab Spring yang terjadi pada tahun 2012 lalu. Ketika itu ia tinggal di sebuah keluarga Islam yang sangat taat menjalankan agama. Itulah kali pertama ia mengenal dunia Islam. Untuk menghormati keluarga tersebut ia bahkan berinisiatif mengenakan jilbab sebagaimana lazimnya perempuan Muslim di sana. Dan ia sangat menikmatinya.

Demikian pula saat ini. Ia sudah berniat akan melakukan hal yang sama meski Abdullah tidak menuntut itu. Ia bahkan berhasil membina hubungan yang baik dengan Yasmin, adik perempuan Abdullah. Gadis remaja tersebut terlihat sangat mengaguminya.

***

Martha masuk ke Gaza City pada hari ke 8 Israel menggempur kota tersebut. Ia menyaksikan kepanikan penduduk yang melanda hampir seluruh sudut kota yang terkena rudal di sana sini. Para perempuan berteriak histeris, anak-anak menangis ketakutan, para lelaki mondar-mandir menggotong korban dengan tubuh berlumuran darah, ambulans dengan susah payah berzig-zag melewati reruntuhan bangunan, sementara darah berceceran dimana-mana dengan bau anyir yang sungguh menyengat.

Ia memulai liputannya dengan mendekati seorang ibu muda yang sedang duduk memeluk erat bayinya sambil meratap di depan sebuah bangunan yang telah rata dengan tanah. Dengan bantuan Abdullah, Martha menjadi tahu bahwa perempuan itu tidak hanya kehilangan tempat tinggalnya, namun juga kedua anak sulungnya, ibu, adik perempuan serta tiga sepupunya. Kebetulan mereka tinggal di dalam satu kompleks apartemen yang selama 3 hari berturut-turut tanpa ampun dibombardir tentara Israel. Suaminya, seorang pejuang HAMAS, lolos dari serangan brutal tersebut karena saat itu sedang bertugas..

Ya Allah balaslah orang-orang yang menzalimi kami itu dengan balasan yang setimpal. Beri kami kesabaran atas segala cobaan ini”, mohon perempuan tersebut dengan air mata berlinang.

Tampaknya tak hanya apartemen dimana perempuan muda itu tinggal yang menjadi sasaran, namun juga masjid yang berada di depannya. Menara masjid tersebut ambruk menutup sebagian jalanan. Terlihat beberapa orang lelaki sedang shalat di antara puing-puing masjid yang sebagian besar juga telah rata dengan tanah.

Shalat adalah kewajiban. Jadi dalam kondisi dan keadaan bagaimanapun kami akan selalu melaksanakannya. Dengan shalat hati menjadi lebih tenang”, jelas Abdullah tanpa diminta.

Martha hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak habis pikir bagaimana rakyat Gaza bisa bertahan hidup dalam keadaan seperti ini. Apalagi ia tahu bahwa bulan ini adalah bulan puasa.

Tidak usah heran madame. kami sudah terbiasa menahan lapar dan dahaga. Tidak di bulan Ramadhanpun kami memang harus berpuasa. 8 tahun sudah zionis Israel memblokade kami”, begitu Abdullah menjawab keheranan Martha.

 “ Namun Barat mengatakan bahwa HAMASlah yang harus mempertanggung-jawabkan agresi ini. Menurut mereka Israel membombardir negri anda karena HAMAS telah menculik 3 remaja Israel, membunuhnya dan juga kemudian melempari kota-kota Israel dengan roket”, tanya Martha dengan hati-hati.

“Itulah jahatnya media. Mereka memberitakan sesuatu sesuai kehendak mereka”, sungut Abdullah

HAMAS tidak mungkin melakukan penculikan warga sipil, apalagi kemudian membunuhnya, pantang! Anda pasti ingat peristiwa penculikan seorang serdadu Israel di tahun 1996. Yang 3 tahun kemudian akhirnya dibebaskan dengan penukaran ribuan tahanan Palestina yang selama bertahun-tahun disekap zionis terkutuk tersebut.  TIga tahun, HAMAS menahan sabar, agar penculikan yang mereka lakukan ada manfaatnya. Mengerti arah pembicaraan saya madame Amerika?”, tanya Abdullah berusaha menahan emosi.

Coba anda pikirkan, apa gunanya HAMAS menculik kemudian membunuh tawanan, sementara di dalam sana ribuan tawanan Palestina disekap tanpa ada satupun yang peduli. Tidak juga Negara anda yang katanya menjunjung tinggi HAM, Demokrasi dan lain-lain itu”.

“Percayalah, ini adalah fitnah murahan.  HAMAS bagi kami adalah pahlawan. Tanpa mereka dunia akan terus diam bungkam membisu seolah kami ini tidak ada”.

Dengan bersatunya HAMAS dan FATAH kami menjadi lebih kuat. Itu sebabnya Israel kesal. Maka merekapun mencari-cari alasan agar dapat menghancurkan HAMAS. Tapi kami tidak takut. Allah selalu bersama orang yang benar. Lebih baik mati daripada kami harus tunduk kepada mereka. Kematian kami adalah syahid. Surga balasannya”, tegas Abdullah penuh percaya diri, membuat Martha terbengong-bengong.

Satu lagi yang harus anda catat, tentara Israel adalah tentara pengecut. Mereka hanya berani menyerang dari udara, paling banter dari dalam tank. Mereka menyerang secara membabi buta, mengorbankan sipil, kaum perempuan dan anak-anak. Tapi di darat?? Silahkan dibuktikan”, lanjut pemuda tersebut berapi-api.

***

Hari terus berganti. Gempuran Israel makin membabi buta. Memasuki minggu ke 3 korban meninggal telah mencapai lebih dari 1000 orang, 200 diantaranya adalah anak-anak. Ribuan rumah penduduk, belasan masjid, sekolah, pasar hingga pembangkit listrik tak luput dari amukan Israel. Puluhan ribu warga Gaza terpaksa mengungsi dari rumah-rumah mereka. Sementara para pejuang HAMAS juga tidak mau menurunkan frekwensi lemparan roket mereka ke kota-kota di wilayah Israel. Meski sering kali tidak mengenai target karena harus berhadapan dengan Iron dome.

Iron dome adalah sistim pertahanan udara Israel yang dididirikan khusus untuk menghalau roket-roket HAMAS. Proyek ini menerima suntikan dana besar dari Amerika Serikat yang merupakan sekutu terdekat Negara zionis tersebut.

Israel berhak mempertahankan diri”, demikian alasan Barrack Obama membantu Israel.

“ Sungguh aneh, kami ini yang ditindas dan dijajah di negri sendiri. Adalah hak kami untuk berontak dan menuntut kemerdekaan. Namun kami tetap disalahkan”, keluh Abdullah.

Martha diam tidak memberi komentar. Ia dapat mengerti perasaan partner barunya tersebut.  Diam-diam ia juga mengutuk agresi brutal Israel dan kecewa dengan sikap negaranya yang terang-terangan memihak Negara zionis itu.

Maka malam hari itu, Marthapun melampiaskan kekecewaannya melalui bait-bait berikut:

Adalah seorang anak tiri

Yang suka membangkang kepada kedua orang-tuanya yang zalim

Karena gara-gara merekalah

Orang-tua kandung dan keluarga besarnya terusir dari rumahnya

 

Ini membuat murka sang orang-tua

Maka disekap dan dikuncilah si anak di dalam kamarnya

Selama bertahun-tahun

Tanpa bekal makan minum serta pasokan dan kebutuhan dasar lainya

 

Hingga suat hari

Dengan mengumpulkan tenaga dan kekuatan yang dimilikinya

Si anak malang membuat lubang demi mencapai kebebasannya

Dari sana dilemparkannya sejumlah batu menuju rumah sang induk semang

 

Sialnya

Meski lemparan tidak sampai berakibat fatal

Karena tersangkut kubah besi yang sengaja diciptakan sang tirani

Siksapun makin menjadi-jadi

 

Alih-alih mendapat kebebasan yang didambakannya

Justru gempuran dan siksaan brutal yang diterimanya

Tangis dan raung kesakitanpun menggema

Tanpa seorangpun mau peduli derita itu

 

Inikah makna Demokrasi dan Toleransi?

Yang sering didengungkan Barat ?

Lalu apa arti semua ini

Wahai dunia yang diam membisu

 ***

Suatu hari Martha menemui seorang lelaki yang baru saja lolos dari rudal Israel. Orang tersebut adalah salah satu pendiri rumah tahfiz, rumah tempat anak-anak belajar Al-Quran, begitu yang ia tahu dari Abdullah.

Bangunan ini adalah bangunan sumbangan rakyat Indonesia, khusus untuk menghafal Al-Quran. Namanya rumah tahfiz”, jelas lelaki berkebangsaan Indonesia yang telah 10 tahun menetap Gaza itu. Istrinya asli penduduk Gaza.

Bangunan ini baru saja selesai minggu lalu. Namun mereka telah menghajarnya. “, lanjutnya.

Rumah kami persis di sebelah rumah tahfiz ini. Dua hari yang lalu rudal Israel mendarat di halaman rumah kami. Pagi tadi mereka kembali membombardirnya, hingga hancur bersama rumah ini.  Untung saya sudah mengungsikan keluarga besar saya”, keluhnya.

Ada apa menurut mereka di dalam sana ? Bom ? Persenjataan HAMAS ??  Lihatlah sendiri, apa yang ada di dalam sini”,  lanjut lelaki setengah baya tersebut dengan mata nanar dan suara bergetar.

Martha segera mengikuti langkah lelaki tersebut, dan masuk ke dalam bangunan yang hampir rata dengan tanah itu. Ia melihat buku-buku termasuk Al-Quran yang sering dilihatnya ketika ia berada di Suriah dan Tunisia, berserakan dimana-mana. Lemari yang porak poranda, kaca-kaca yang hancur, serta dinding dan atap yang berlobang-lobang.

“ Percayalah tidak ada bom atau persenjataan di dalam sini. Yang ada hanya Al-Quran dan buku-buku pelajaran Islam. Disinilah anak-anak berusia antara 6 sampai 13 tahun mustinya belajar menghafal ayat-ayat suci Al-Quran. Itulah jalan kami untuk mendekatkan diri pada-Nya, untuk memohon pertolongan keluar dari  kesulitan dan penderitaan », jelasnya.

Martha mendengarkan penjelasan yang diterjemahkan Abdullah, merekam sambil sekali-sekali memotret apa yang dianggapnya perlu. Namun belum selesai ia mengambil foto, tiba-tiba terdengar suara orang berteriak dari bagian dalam bangunan. Orang-orang segera berhamburan mencari asal suara keluar. Rupanya masih ada yang terjebak di dalam reruntuhan tersebut.

Akhirnya setelah dengan susah payah orang tersebut bisa diselamatkan. Ternyata korban adalah 2 orang anak sekitar usia 10 tahun dan satu orang dewasa. Tampak darah mengucur dari kepala mereka, membasahi muka dan baju yang dipenuhi debu. Orang-orang segera membantu dan memapah mereka keluar dari bangunan yang sebagian atapnya sudah roboh tersebut.

Begitulah Martha melewati hari-hari yang menegangkan di tengah-tengah rakyat Gaza. Di malam hari ia meng-edit tulisan dan foto-foto yang dibuatnya, kemudian langsung mengirimkannya ke beberapa kantor berita.

Ada satu hal yang tanpa disadari membuatnya betah berlama-lama di dalam kamarnya, yaitu bacaan ayat-ayat suci yang dibacakan penghuni rumah dimana ia tinggal. Setiap malam ia mendengar alunan merdu ayat-ayat yang dibacakan kalau tidak oleh ibu, nenek, kakak, adik atau Abdullah sendiri. Tak jarang pula ia mendengar sayup-sayup alunan tersebut dari rumah tetangga atau masjid di sekitarnya.

Hingga suatu malam, ketika Yasmin telah tidur, karena keingin-tahuan yang tinggi, diam-diam ia mengambil Al-Quran yang sering dibaca gadis itu. Namun ternyata bacaan itu ditulis dalam bahasa Arab yang sama sekali tidak difahaminya. Dalam hati Marthapun berjanji kepada diri sendiri bahwa ia akan mencari terjemahannya sekembalinya ke tanah airnya nanti.

Beberapa hari terakhir wartawati tersebut bahkan sempat ikut berpuasa. Ia penasaran ingin mengetahui bagaimana rasanya berpuasa di tengah mereka. Jujur, ia benar-benar kagum pada disiplin keluarga ini menjalankan ibadah mereka. Hampir setiap hari, di tengah gempuran senjata dan kepulan asap  tebal yang membumbung tinggi, ia melihat keluarga ini shalat dan sahur bersama seolah tidak ada masalah.

Belum lagi prilaku Abdullah juga adik-adiknya yang sangat menghormati ibu mereka. Hal yang tidak pernah dilihatnya di Barat. Disamping juga sikap hormat mereka terhadap dirinya selaku tamu.

***

Suatu hari ketika genjatan senjata sedang berlangsung, Martha berniat mengunjungi salah satu kamp pengungsian terdekat. Abdullah menawarkan pengungsian di Khan Yunis yang terletak di bagian selatan Jalur Gaza,  dekat perbatasan Rafah di Mesir. Mereka meninggalkan rumah pukul 10 pagi dengan sepeda motor.

Pagi itu, warga Gaza, kota berpenduduk 1.7 juta jiwa, sebelum genosida yang baru saja dilakukan zionis Israel, penuh dengan orang lalu lalang. Penduduk yang selama hampir satu bulan ini terpaksa mengungsi, demi menghindari bombardir Israel, berbondong-bondong pulang untuk melihat keadaan rumah mereka yang telah hancur.

Wajah-wajah pilu menahan kesedihan yang mendalam tidak dapat mereka sembunyikan. Mayat-mayat bergelimpangan, sebagian tidak utuh, yang belum sempat dimakamkan, bau darah yang anyir, antrian penduduk yang mengular menanti pembagian air bersih dan makanan. Begitulah pemandangan yang disaksikan Martha.

Satu-satunya pemandangan yang dapat membuatnya tersenyum hanyalah kelakuan ceria anak-anak usia 4-5 tahun yang berlarian di antara reruntuhan bangunan, seolah telah bertahun-tahun mereka tidak pernah bermain sebebas hari itu.

“Katakan Abdullah, apa yang harus dilakukan seseorang bila ingin memeluk Islam?”, tanya Martha mengejutkan Abdullah.

“ Mengapa kau bertanya begitu? Apakah kau tertarik masuk Islam ? », Abdullah balik bertanya.

“ Hanya ingin tahu saja”, jawab Martha sambil mengangkat bahunya.

Membaca 2 kalimat syahadat. Setelah itu melakukan kewajiban shalat 5x sehari dan berbuat baik kepada sesama. Itu yang utama”, jawab Abdullah singkat.

Martha mengangguk-anggukkan kepalanya sebelum akhirnya bertanya lagi, penasaran, “Apa itu kalimat syahadat?”

Namun belum sempat Abdullah menjawab pertanyaan tersebut, sebuah roket meluncur cepat tepat di atas kepala mereka. Dan sebelum Martha menyadari apa yang terjadi, desingan yang kemudian disusul ledakan dasyat terdengar menggelegar di depan mereka. Sebuah motor yang baru saja menyusul mereka langsung terpental. Asap tebal membumbung tinggi ke udara. Abdullah segera menghentikan motornya.

“Tiaraap, cepat tiaraaap”, perintahnya kepada Martha.

Beberapa menit berlalu dengan tegang. Setelah yakin tidak akan datang roket susulan barulah Abdullah dan Martha bangun berdiri. Kejadian ini berlangsung hanya beberapa puluh meter sebelum mereka memasuki kamp pengungsian Khan Yunis yang menjadi tujuan mereka. Para penghuni kamp yang padat itupun berhamburan keluar untuk memeriksa kerusakan sekaligus membantu korban.

“ Astaghfirullahaladzim … Lihat perbuatan mereka. Katanya genjatan senjata. Sungguh Zionis terlaknat  !”, terdengar orang-orang memaki-maki apa yang telah dilakukan penjajah Israel tersebut.

Ternyata bukan hanya kamp pengungsian ini yang menjadi sasaran Israel di tengah genjatan senjata yang telah dilanggarnya itu. Namun juga pengungsian Jabalia di Gaza utara. Puluhan orang tewas akibat serangan udara Israel menyebabkan warga lain di kota itu bergegas mengungsi dari lokasi karena khawatir jadi sasaran serangan berikutnya.

Sebuah sekolah milik PBB juga tak luput dari hantaman mortir yang dilontarkan dari tank Israel. Puluhan orang yang sedang mengungsi ke sekolah tersebut dan sedang antri makanan menjadi korban, sebagian tewas dan sebagian lagi luka-luka.

Kebrutalan Israel tidak hanya berhenti disitu, bahkan rumah sakitpun dihajarnya. Sebuah bom mendarat di salah satu sisi rumah sakit yang sarat pasien itu, menyebabkan kepanikan luar biasa.

Juga Lebaran, yang merupakan puncak kemenangan umat Islam selama 1 bulan berpuasa, tidak lolos dari sasaran serangan rudal Israel. Sejumlah wargapun syahid di beberapa lokasi shalat Ied yang digelar warga Gaza.  Dilaporkan 10 warga tewas, 8 diantaranya anak-anak, sementara puluhan lainnya terluka.

Benar-benar biadab”, kutuk Martha yang sempat merekam peristiwa mengenaskan tersebut. Hatinya benar-benar pilu menyaksikan betapa orang-orang yang dengan susah payah telah menjalankan perintah Tuhannya namun di saat hendak merayakan kemenangan tersebut harus menderita sedemikian beratnya. Padahal mereka hanya merayakannya dengan shalat bersama, demi meng-agung-kanNya.

“Ya Allah masukkan mereka kedalam surga-Mu”, tanpa sadar Martha berdoa, hal yang telah puluhan tahun tidak pernah dilakukannya. Hatinya bergetar kencang. Tiba-tiba ia merasakan gelombang keteduhan yang begitu dasyat, menyusup ke dalam sanubarinya. Tak kuasa ia menahan air matanya yang mengalir deras.

***

Malam itu Martha tidak dapat tidur nyenyak. Hatinya gelisah tanpa ia tahu apa penyebabnya. Ia melirik ke arah Yasmin yang sudah tertidur lelap satu jam yang lalu setelah membaca Al-Quran seperti biasa.

Pikiran Martha melayang-layang. Bayangan masa kecilnya bersama kedua-orangtua dan keluarga besarnya ketika sedang merayakan natal, menghadiri misa malam di gereja, masa remajanya yang mempertanyakan trinitas dan menyebabkannya menjadi apatis lalu ateis, kehidupan dewasanya yang sarat pesta dan mabuk-mabukkan hingga tahun-tahun sibuknya menjalani kehidupan sebagai wartawati perang. Bayangan tersebut terus berputar silih berganti memenuhi isi kepalanya.

Ditengah kegalauannya itu alunan ayat-ayat suci Al-Quran terdengar sayup-sayup memecah keheningan malam, membuat hatinya bergetar.

“Apa yang aku cari, siapa diriku, apa tujuan hidup ini”, keluhnya.

Tiba-tiba saja matanya tertumbuk pada sajadah indah milik Yasmin yang sering digunakan gadis belia itu sebagai alas shalat. Sajadah  itu terlihat begitu menantangnya. Dan ntah karena kekuatan apa Martha tahu-tahu sudah menggelar sajadah tersebut, setelah menutup kepalanya dengan kain kerudung yang selama hampir sebulan selalu ia kenakan. Secara reflek ia meniru sambil berusaha mengingat gerakan yang Yasmin sering lakukan ; berdiri, rukuk dan sujud. Itulah gerakan shalat.

Namun di tengah keasyikannya itu tiba-tiba terdengar bunyi sirene mengaung keras menandakan akan tibanya serangan udara Israel. Martha segera menghentikan kegiatannya, dan mengembalikan sajadah ke tempatnya kemudian membangunkan Yasmin. Suara Abdullah terdengar membangunkan seluruh isi rumah dan menyuruh mereka segera meninggalkan bangunan. Ia segera menarik lengan ibunya, menyambar adik bungsunya dari gendongan ibunya dan berlari menuju pintu utama.

Yasmin, Reza, Martha, cepat turun dan keluar dari bangunan ini!”,serunya.

Marthapun segera menarik Yasmin dan Reza, adik Yasmin, yang masih setengah mengantuk, dan lari menyusul Abdullah. Tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu, peralatan jurnalisnya.

Kalian turun duluan, aku menyusul”, katanya sambil berbalik masuk kamarnya lagi.

Dengan cepat ia mengumpulkan seluruh peralatan yang menjadi sumber penghidupannya itu, berkas-berkas, kamera dan laptopnya. Setelah itu ia bergegas menuju pintu.

Namun terlambat. Sebuah bom jatuh tepat di atas bangunan apartemen dimana ia tinggal selama ini. Terdengar suara menggelegar kencang, api dan asap tebal membumbung tinggi, Martha merasa tubuhnya terlempar keras, udara panas luar biasa menyergap sekelilingnya. Ia sempat melihat bangunan tempat tinggalnya runtuh sebelum akhirnya ia mendarat beberapa meter dari lokasi kejadian dengan sekujur tubuh yang sakit luar biasa.

Di tengah kegelapan malam itu, langitpun tampak memerah tercemar pijaran api yang begitu dasyat. Terdengar raungan, ratapan dan tangisan bercampur hirup pikuk suara orang berlarian kesana kemiri, sebelum akhirnya senyap. Martha tak sadarkan diri.

***

Paginya ketika ia tersadar,ia telah berada di ruang sebuah rumah sakit. Rumah sakit yang disesaki orang-orang yang terluka,  juga keluarga korban dan relawan yang keluar masuk membawa korban baru. Bau anyir darah langsung menyergap hidung Martha.  Ternyata itu bukan hanya darah korban lain namun telah bercampur dengan bau darahnya sendiri. Darah tersebut terus keluar dari pelipis dan bahunya yang terserempet pecahan rudal malam tadi. Kepalanya dirasanya begitu berat, perutnya terasa mual. Ingin rasanya ia berteriak meminta bantuan dokter. Namun ia begitu malu melihat banyaknya pasien yang keadaannya tidak lebih baik darinya.

Temanmu ini telah kehilangan terlalu banyak darah. Aku tidak yakin apakah dapat menyelamatkannya. Kau lihat sendiri, kami sangat kekurangan tenaga medis, persediaan obatpun sangar terbatas », jelas seorang dokter kulit putih kepada Abdullah yang berdiri disamping tempat Martha terbaring lemas.

Samar-samar Martha melihat bayangan Abdullah. Setengah tak sadar ia berusaha menjawil Abdullah, dengan suara lemah ia menanyakan keadaan ibu dan adik-adiknya.

Reza tak tertolong”, katanya singkat namun Martha dapat menangkap jelas suaranya yang bergetar hebat. Mata Abdullah terlihat sembab namun ia berusaha tegar.

Ya Tuhan”, keluh Martha tak kalah sedihnya.

Selanjutnya dengan susah payah ia berusaha berbicara dengan Abdullah.

“Abdullah, ajarkan aku bacaan syahadat. Aku ingin mati dalam keadaan Islam”, pintanya sambil menahan sakit.

“  Asyhadu an-laa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah”, jawab Abdullah tanpa banyak tanya.

Dengan terbata-bata Martha mengikutinya perlahan-lahan. .

“Abdullah dengar, aku tak tahu apakah aku bisa bertahan atau tidak. Namun satu permintaanku, bila aku harus mati disini, kuburkan aku secara Islam”, bisik Martha lirih,

Abdullah terdiam sesaat.

“ Aku tidak bisa janji karena biasanya wartawan-wartawati asing yang meninggal disini diurus dan dibawa pulang ke tanah airnya oleh tim dari PBB”, jawab Abdullah.

“Namun akan kuusahakan”, janjinya tak kuasa menghadapi tatapan Martha yang penuh harap.

Beberapa menit kemudian perempuan itupun lemah terkulai, sebuah senyum kemenangan terlihat menghiasi wajahnya yang makin pucat.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”, ucap Abdullah tertunduk.

***

Jakarta, 17Agustus 2014.

Vien AM.

1. Al-Baqarah(2) : 67-73.

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina”.

Mereka berkata:

“Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” . Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil”.

Mereka menjawab:

“Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu.”

Musa menjawab:

“Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu”.

Mereka berkata:

“Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya”.

Musa menjawab:

“Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.”

Mereka berkata:

“Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).”

Musa berkata:

“Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.”

Mereka berkata:

“Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya”.

Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.

Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan. Lalu Kami berfirman:

“Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!”

Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.

2. Al-Baqarah(2): 92-93.

Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mu`jizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang zalim. Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman):

“Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!”

Mereka menjawab:

“Kami mendengarkan tetapi tidak menta`ati”.

Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah:

“Amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat)”.

3. An-Nisa(4):153.

Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata:

“Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata”.

Maka mereka disambar petir karena kezalimannya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami ma`afkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata.

4. Al-An-am(6):146.

Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku; dan dari sapi dan domba, Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang melekat di punggung keduanya atau yang di perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar.

5. Al-A’Araf(7): 148-154.

Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim.

Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa mereka telah sesat, merekapun berkata:

“Sungguh jika Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi”.

Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia:

“Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?”

Dan Musapun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. Harun berkata:

“Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim”.

Musa berdo`a:

“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang”.

Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kebohongan.

Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu, sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya (kembali) luh-luh (Taurat) itu; dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya.

6. Thoha(20):85-99.

Allah berfirman:

“Maka sesungguhnya kami telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri”.

Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Berkata Musa:

“Hai kaumku, bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Tuhanmu menimpamu, lalu kamu melanggar perjanjianmu dengan aku?”

Mereka berkata:

“Kami sekali-kali tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami disuruh membawa beban-beban dari perhiasan kaum itu, maka kami telah melemparkannya, dan demikian pula Samiri melemparkannya”,

Kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lobang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata:

“Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa”.

Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak dapat memberi kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan?

Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka sebelumnya:

“Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu itu dan sesungguhnya Tuhanmu ialah (Tuhan) Yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku dan ta`atilah perintahku”.

Mereka menjawab:

“Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami”.

Berkata Musa:

“Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?”

Harun menjawab:

“Hai putera ibuku janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku”.

Berkata Musa:

“Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) hai Samiri?”

Samiri menjawab:

“Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku”.

Berkata Musa:

“Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan: “Janganlah menyentuh (aku)”.

“Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya, dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan). Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu”.

Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Qur’an).

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

Jakarta, 1 Juli 2014.

Vien AM.

 

Napoleon dan Islam

Napoleon dan Islam

Mirna duduk manis di dalam bus kota Paris. Hatinya sungguh bahagia. Ia telah ditrima sebagai mahasiswi Sorbonne University.  Betapa tidak, Sorbonne University adalah salah satu universitas tertua di Perancis, dan tidak mudah untuk  ditrima sebagai mahasiswa disini, bahkan untuk penduduk asli sekalipun.

Matanya menerawang jauh. Kata-kata ibu beberapa bulan yang lalu masih terdengar mengiang kuat di telinganya. Ketika itu ayah dan ibunya mengantar dirinya ke bandara Sukarno Hatta, untuk melepas kepergiannya ke Paris, Perancis.

Hati-hati jauh dari tanah air, sanak saudara dan handai taulan. Jaga iman dan islammu. Jaga kesehatan. Juga pergaulanmu di tengah lingkungan barumu », bisik ibu sambil memeluk erat dirinya.

Ini memang bukan kali pertama Mirna menginjakkan kaki di kota pusat mode dunia ini. Selama 3 tahun ia pernah tinggal di Paris bersama ke dua orang-tuanya. Kebetulan ayah mendapat tugas di kota ini. Waktu itu dirinya masih berumur 7 tahun. Ia tidak pernah menyangka bahwa ia akan kembali menjejakkan kakinya di kota ini, sebagai mahasiswi Sorbonne pula !

«  Alhamdulillah », bisiknya dalam hati.

Mata Mirna tidak lepas dari jendela bus di sisinya. Ini adalah rute nostalgia yang dulu sering dijalaninya bersama ibu tercinta. Bus bernomor 73 ini berjalan melintasi Arch de Triomphes, tugu kemenangan bangsa Perancis, masuk ke Champs Elysees, boulevard terkenal di Paris dimana berjajar butik-butik kenamaan. Kemudian melewati Place de la Concorde, pelataran terkenal dimana sejumlah tokoh kenamaan Perancis di ‘guilotine’ alias di hukum pancung pada era revolusi Perancis di tahun 1793. Kabarnya 1300 an korban diguilotine dalam waktu 1 bulan, termasuk diantaranya raja Perancis Louis XVI dan permaisurinya yang berasal dari Austria ratu Marie Antoinette.

place de la concordeDi areal Place De La Concorde ini berdiri dua buah air mancur cantik yang mengapit Obelisk, tugu setinggi 23 meter, pemberian penguasa Ottoman di Mesir ( Pasha) Muhammad Ali. Tugu yang menjadi lambang perdamaian ini, di letakkan pada tahun 1836, di lokasi bekas eksekusi hukum pancung, tak lama setelah berakhirnya tragedi mengerikan tersebut. Konon, tugu yang ujungnya berbentuk lancip itu adalah menandakan jarum milik Cleopatra,  ratu legendaris Mesir yang terkenal kecantikannya itu. Tugu ini dipenuhi inskripsi zaman kejayaan raja Mesir Ramses II.

IMG_3478Pandangan Mirna terpaku lurus menatap tugu  Arc de Triomphes di ujung sana. Kebetulan ia duduk menghadap ke belakang. Inilah axe historis yang kontroversial itu, bisiknya dalam hati. Axe Historis adalah garis lurus dari Grand d’Árch,   Arc de Triomphes menyusuri Champs Elyses, Place De La Concorde,  Arc de Triomphes du Caroussel yang merupakan miniatur  Arc de Triomphes hingga jardin Tuleries.

Dikatakan kontroversial karena sumbu prestis kota Paris tersebut kabarnya menuju satu titik yang sangat dibenci Barat, yaitu Mekah, dimana Ka’bah berdiri ! Dapat dibayangkan alangkah kecewa dan marahnya orang-orang yang sangat membenci ajaran Islam, bila hal ini benar.

Itu semua bisa terjadi kabarnya karena besarnya perhatian dan simpati Napoleon Bonaparte, kaisar Perancis pendiri Emporium Perancis, terhadap Islam, khususnya terhadap nabi Muhammad saw. Mirna tiba-tiba teringat pertemuannya dengan Miriam gadis blasteran Perancis Rusia mualaf yang bernama asli Maria, beberapa waktu lalu. Dalam pertemuannya itu Miriam menunjukkan sebuah buku berjudul Journal de Sainte-Hélène yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Ini adalah  semacam buku harian milik sang kaisar selama di pengasingannya di pulau Santa Helena. Ditulis oleh salah satu jendral kepercayaannya, Baron Gourgaud, di tahun 1815-1818, dan dicetak untuk pertama kalinya pada tahun 1944.

Alinea yang telah diberi stabilo kuning oleh Miriam itu kembali terbayang di mata Mirna :

I like the Mohammedan religion best. It has fewer incredible things in it than ours” , dan “the Mohammedan religion is the finest of all”.

Dalam buku lain berjudul ‘Bonaparte et I’Islarn” oleh Cherlifs, yang juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Miriam memberi stabilo alinea berikut :

“I hope the time is not far off when I shall be able to unite all the wise and educated men of all the countries and establish a uniform regime based on the prinsiples of the Qur’an wich alone can lead men to happiness.”

 “Tahukah kau apa itu Napoleon Code? », tanya Miriam suatu hari. Mahasiswi kedokteran yang dikenalnya di Mosquee de Paris di suatu Jumat ini dengan penuh semangat.  Gadis ini memang sangat menyukai buku. Itu sebabnya ia memilih bekerja sambilan di sebuah toko buku Islam tidak jauh dari masjid terbesar di Paris tersebut. Toko tersebut milik seorang lelaki asal Suriah yang menikah dengan seorang perempuan asli Perancis. Mirna pernah bertemu dengan keduanya. Ia memang sering berkunjung ke toko buku yang memiliki banyak koleksi buku-buku Islam pelbagai bahasa itu.

 “ Napoleon Code adalah undang-undang Perancis yang disusun oleh Napoleon pada masa kekuasaannya”, lanjut Miriam membuyarkan lamunan Mirna.

“ Meski undang-undang ini bukan yang pertama di dunia, namun ia dianggap sebagai undang-undang sipil pertama yang berhasil dan sangat memengaruhi perundang-undangan di banyak Negara. Undang-undang ini diantaranya memuat aturan tentang toleransi beragama dan menghapuskan feodalisme yang tadinya sudah membudaya di negerinya”, ucap Miriam penuh semangat.

Namun tahukah kau darimana ide itu semua datang » ?, tanyanya.

Mirna menggeleng.

« Piagam Madinah yang disusun oleh Rasulullah Muhammad dan Al-Quran ! Ini berkat persahabatan sang kaisar dengan teman-teman Muslim yang dibinanya selama beberapa tahun di Mesir. Salah satu orang kepercayaannya yaitu jenderal Jacques Menou bahkan mendahuluinya bersyahadat”, lanjut Miriam lagi.

Mirna tiba-tiba terngiang cerita tantenya yang telah lama menetap di Paris. “ Di dindingnya tergantung lukisan beberapa orang sahabat Bonaparte dengan sorban mirip sorban orang Turki”, “ Yang lebih mengagetkan lagi, di langit-langit ruang tersebut ada kaligrafi yang sangat mirip tulisan La illaha illa Allah”. Itu adalah cerita tante Sofie, istri adik ibu Mirna yang asli Perancis itu, tentang kunjungannya ke rumah seorang duta besar Jerman di Paris beberapa waktu lalu. Tante Sofie yang masuk Islam sejak menikah dengan om Rahmat  ini memang rajin mengikuti kegiatan yang diselenggarakan asosiasi pendatang di Paris dimana ia tercatat sebagai anggotanya.

Bus berhenti di halte ujung pelataran yang saat ini sering dipakai untuk upacara kemerdekaan. Sepasang turis setengah umur yang tadi duduk di kursi paling belakang terlihat turun di halte tersebut. Tak lama kemudian buspun berjalan kembali, berbelok ke kanan, menyusuri sungai Seine. Di sebelah kiri tampak Jardin de Tulerie serta Musee du Louvre dimana dipajang koleksi barang-barang berharga terkenal manca Negara diantaranya yaitu lukisan Monalisa. Mirna tetap duduk di dalam bus hingga bus tiba di halte Pont Neuf, jembatan tertua kota Paris. Di  jembatan ini berdiri patung raja Perancis Henry IV yang sedang duduk di atas kudanya.

Mirnapun kemudian turun dari bus. Cuaca di awal musim gugur hari itu sangat cerah. Temperatur sekitar 18 derajat Celcius, temperatur yang sangat ideal untuk berjalan-jalan. Agak dingin mungkin bagi orang Indonesia, namun dengan jaket tipis atau sweater masih enak untuk dinikmati.

Mirna berjalan perlahan menyeberangi sungai yang terbelah dua, mengapit dataran kecil memanjang yang membentuk delta. Delta inilah yang dinamakan ile de la cite, yang pada abad pertengahan merupakan pusat kota. Bangunan-bangunan tua khas Perancis yang berdiri berjejer di sepanjang pulau kecil ini dengan jelas mencerminkan keadaan tersebut. Mirna berhenti di bawah patung Henry IV yang berdiri tepat di tengah, di antara dua sungai.

« S’íl vous plait mademoiselle » , ujar seorang turis Asia sambil menyodorkan kamera ke arah Mirna. Mirna mahfum bahwa turis tersebut meminta tolong agar Mirna memotret pasangan muda tersebut. Ia sudah sangat sering melakukan hal tersebut. Paris memang benar-benar pantas dijadikan tujuan bulan madu. Romantic city, kata orang.

IMG_4679Setelah puas memandang keindahan Seine dengan latar belakang Eiffel di kejauhan, Mirna berjalan menyusuri ile de la cite hingga tiba di Conciergeri. Bangunan tua abad pertengahan ini dulunya adalah istana yang kemudian berubah fungsi menjadi penjara bagi orang-orang kenamaan, diantaranya sang ratu sendiri, Mary Antoinette. Ini terjadi pada era revolusi Perancis yang memakan korban puluhan ribu orang.

Dari tempat inilah para penghuni penjara dijemput dengan kereta kuda, kemudian diarak di sepanjang jalan menuju lokasi eksekusi. Sebagian besar di Place de la Concorde yang baru dilalui Mirna tadi.

Mirna bergidik membayangkan peristiwa mengerikan tersebut. Ia segera melanjutkan langkahnya, melewati hotel de la justice hingga akhirnya tiba depan Notre Dame de Paris. Pelataran katedral yang menjadi salah tujuan utama turis ini penuh dijejali turis. Terlihat antrian panjang mengular menuju gerbang katedral.

Mirna terus mengayunkan langkahnya menyusuri pinggir sungai Seine. Sekali-sekali bersama turis lain, ia melambaikan tangan ke arah bateau mouche, kapal turis yang menyusuri Seine, yang penuh turis itu. Deretan kotak hijau sepanjang sungai, berisi barang-barang bekas, kebanyakan koleksi buku-buku lama, piringan hitam, poster dll, terlihat sedikit mengganggu pandangan kearah sungai. Namun bagi para pemburu barang kuno dan pecinta buku, bisa jadi mereka menemukan barang yang telah lama mereka cari.

Sampai di jembatan berikutnya, Mirna menyeberang jalan ke arah kiri jalan. Dari kejauhan terlihat mencolok kubah Pantheon, bekas gereja yang telah berubah fungsi menjadi mausoleum, yaitu makam orang-orang ternama seperti Voltaire, Victor Hugo dan Alexandre Dumas. Universitas Sorbonne terletak tidak jauh dari sana. Inilah yang disebut latin quarter yang menjadi tujuan turis. Area ini terletak di Paris 5.

Mirna tiba di Place St Michel. Terlihat kerumunan orang. Mirna bisa menebak pasti para turis itu sedang menonton para lulusan lyceen, alias murid SMA yang sedang menjajakan buku-buku mereka.

Kalo saja para anggota terhormat DPR mau datang ke Paris bukan cuma untuk mencari hiburan ke Moulin Rouge, belanja di Lafayette atau sekedar berjalan-jalan, namun juga ke tempat ini untuk melihat apa yang dilakukan para lulusan SMA ini, pasti mutu pendidikan kita akan jauh lebih daripada sekarang ini”, komentar ayah suatu hari.

Tidak seperti di tanah air, buku pelajaran di Perancis memang bisa turun menurun. Ini disebabkan kebijaksanaan  pemerintah yang tidak sering mengganti-ganti kurikulum. Jadi tidak heran bila tiap akhir tahun para lulusan SMA tersebut melelang bukunya. Karena memang bisa digunakan adik kelas. Itupun tidak semua buku karena justru sebagian besar dipinjamkan oleh pihak sekolah.

Di tempat ini pula beberapa waktu lalu teman-teman Mirna menyelenggarakan acara berjudul “ Save Palestine”.

« Mir, kami akan menyelenggarakan acara peduli Palestina. Kami ingin menggalang dana dan bantuan untuk rakyat Palestina, tanpa peduli apa ras dan agamanya. Kalau kamu tertarik bisa gabung dengan kami”, ucap Daniel, seorang mahasiswa asal Swiss yang merupakan aktifis kampus.

Tanpa banyak berpikir dan bertanya Mirna segera memutuskan mengikuti acara tersebut. Ia tahu mahasiswa Sorbonne memang banyak yang peduli terhadap nasib Palestina. Ini bukan untuk pertama kali mereka menggelar acara seperti ini.

Pagi itu pukul 9 pagi Mirna sudah berada di lokasi. Daniel terlihat sibuk memberi arahan teman-teman apa yang mereka harus lakukan. Dua buah meja panjang dipasang memanjang, lengkap dengan 6 kursinya. Di tengah meja disiapkan sebuah kotak surat dengan tulisan “ a messieur le president de la republique Francois Holland, a lÉlysee ».

« Boss, t-shirt pesanan kita sudah datang tuuh », lapor Ben, mahasiswa asal Amrik jurusan jurnalistik berkulit hitam itu kepada Daniel.  “Saya bagikan ya”, lanjutnya sambil membuka kotak berisi t-shirt hijau dengan tulisan besar “Save Palestine”di bagian depan, dan “Go to Hell Israel” di bagian belakang.

“ Kenapa kamu Mir”, tanya Rachel, mahasiswi asal Swedia melihat Mirna yang tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya melihat huruf-huruf besar di t-shirt tersebut. “ Mereka memang pantas go to hell koq”, lanjut Rachel tanpa menunggu jawaban Mirna. “ Lihat saja foto-foto tersebut”, sambil menunjuk ke papan yang terpasang di sisi kiri dan kanan meja panjang.

Panitia memang sengaja memajang foto-foto kekejaman tentara Israel terhadap rakyat Palestina. Masing-masing 2 papan penuh foto di kiri kanan meja. Bergidik Mirna menyaksikan foto-foto tersebut.

Tentu saja Mirna tahu persis kelakuan bejad tentara Israel yang doyan membantai rakyat Palestina, terutama Muslim Arab, dengan semena-mena, bahkan terhadap balita sekalipun! Cuma ia tidak menyangka saja teman-teman bulenya ternyata seberani itu mengexpresikan diri. Namun ia yakin kalau ini terjadi di Indonesia dan yang melakukan Muslim pasti sudah dicap terorisme. Duuh, sedihnya, batin Mirna.

Sekitar pukul 12 siang turis makin ramai memadati area pelataran. Udara cukup bersahabat, sekitar 22 derajat Celcius, matahari bersinar terang. Daniel tampaknya tidak salah memilih lokasi, turis yang lalu lalang mau tidak mau harus melewati lokasi acara mereka.

Ben dengan pengeras suara di tangan dan suaranya yang berat dan khas tidak perlu terlalu khawatir bersaing dengan suara musil break dance anak-anak muda tak jauh dari sana.

Hello dear brothers sisters, this is your chance to express your opinion about Palestine. Just take the postcard that you like, write on the other side what ever you want, and we will send it to the president of the republique, for free !”, teriaknya penuh semangat.

Ia mengulang ajakannya itu berselang-seling, bahasa Perancis dan bahasa Inggris.

Acara ini bisa dibilang sukses. Hingga acara ditutup pada pukul 8 malam, tercatat ribuan postcard siap dikirim. Daniel sebagai penanggung jawab acara dan beberapa mahasiswa lainnya akan membawanya langsung ke L’Elysee, istana kepresidenan Francois Hollande.

Pikiran Mirna melayang. Ia mencoba membayangkan bagaimana kira-kira reaksi sang presiden menerima surat tersebut. Bagimanapun masalah Palestina sangat berkaitan erat dengan dunia Islam. Islamophobia apalagi sejak peristiwa 11 September 2011 masih menghantui Barat. Sebaliknya banyak orang Barat yang akhirnya bersyahadat karena rasa penasaran dan mencari tahu kebenaran ajaran yang dibawa nabi Muhammad 14 abad silam itu.

Saat ini Islam di Barat termasuk Perancis berkembang begitu pesat, membuat pemerintah kebakaran jenggot. Hingga akhirnya keluarlah berbagai aturan yang merugikan Islam. Jilbab, pembangunan masjid dll adalah contohnya. Lupa bahwa negara ini berkoar-koar mengklaim sebagai negara yang menjunjung tinggi demokrasi dan toleransi. Sungguh ironis.

Bagaimana perasaan Napoleon ya sekiranya ia masih hidup”, pikir Mirna.

Tiba-tiba ia teringat perkataan dosen sejarah peradaban dunia di kampusnya, “ Sejarah mencatat ketika Islam memegang kekuasaan kaum minoritas jarang yang tertindas. Sebaliknya ketika Kristen mendominasi kaum minoritas hampir selalu tertindas. Penaklukan Yerusalem oleh sultan Salahuddin di abad 10 dan penaklukan kerajaan Andalusia di Spanyol di akhir abad 15 melalui peristiwa reconquista dibawah raja Ferdinand dan ratu Isabella, adalah contoh yang paling nyata”.

“Bagaimana dengan di Indonesia, aku dengar negaramu mulai diobok-obok seperti negaraku ya  ”, bisik Rukiyah, gadis Mesir yang duduk di sebelah Mirna.

“Alhamdulillah, tidak ada masalah. Kaum minoritas dapat leluasa menjalankan ajaran agama mereka. Rumah ibadah juga banyak, proposional tentunya ya, sesuai dengan  perbandingan pemeluknya. Tapi yaitulah, ada pihak yang tampaknya tidak senang dengan keadaan kami “, jawab Mirna setengah prihatin.

« Kriing », « Attention mademoiselle ! », terdengar bunyi bel sepeda dan teriakan si pengendara tepat di kiri telinga Mirna.

« Astaghfirullah », triak Mirna spontan membuyarkan lamunannya. Sebuah sepeda nyaris menyerempet dirinya. Mirna segera menepi. Namun tak urung sumpah serapah si pengendara sepeda tetap terdengar meski sepeda sudah agak jauh.

Mirna melirik jam tangan di pergelangannya, nyaris pukul 3. Pantas perutnya sudah terasa keroncongan, menandakan minta diisi. Mirna segera mengarahkan langkah kakinya menuju jalan setapak yang ramai dibanjiri turis yang ingin mencari makan.

C’est Halal mademoiselle”, seru para pelayan resto berlomba menawarkan resto mereka sambil memperlihatkan menu masakan yang mereka sajikan. Di tempat ini, restoran Halal memang banyak dijumpai. Tidak terbatas hanya resto cepat saji yang menjual kebab namun juga Tagine dan Kuskus, masakan traditional Maroko, selain masakan asli Perancis.

***

Jakarta, 16 Juni 2014.

Vien AM.

Natasya

Natasya adalah namanya.  Ia dilahirkan 16 tahun yang lalu di Grosny, ibu kota Chechnya.  Namun hingga saat ini Tasya, demikian nama panggilannya, belum pernah melihat kota kelahirannya. Ibunya  telah membawanya  pergi meninggalkan kota tersebut ketika usianya 5 tahun. Kini ia tinggal di Pau, sebuah kota di Perancis Selatan. Disanalah ia mengecap bangku SMA. Tasya amat mencintai kota ini, meski  sebenarnya kisah duka lebih banyak menyelimuti hidupnya dibanding sukanya. Sejarah panjang kota tua ini telah menginspirasi dirinya agar tetap survive.

pau2Pau adalah ibu kota departemen / propinsi Pyrene Atlantik, satu dari 96 departemen yang dimiliki Perancis. Dari kota ini deretan pegunungan Pirenia yang merupakan pegunungan tertinggi ke 2 di Eropa, setelah pegunungan Alpen, jelas terlihat.  Pegunungan ini menjadi batas sebelah selatan Perancis dengan tetangganya, Spanyol. Pau, meski statusnya adalah ibu kota propinsi namun Pau bukanlah kota besar. Maklumlah Perancis yang luasnya tidak lebih dari luas pulau Kalimantan ini membagi negaranya menjadi 100 propinsi atau departemen termasuk yang berada di luar daratan Eropa, yaitu Outre Mer.

Lamartine, penulis kenamaan sekaligus politikus Perancis, menyebut Pau « Pau est la plus belle vue de terre du monde comme Naples est la plus belle vue de mer ». Artinya, Pau adalah kota tercantik di dunia sebagaimana Napoli adalah  kota tercantik di dunia dilihat dari laut.

Mungkin agak berlebihan. Tapi tak dapat dipungkiri Pau dengan deretan pegunungan Pireneanya memang sangat cantik. Sejarah Pau memang unik. Di kota inilah lahir 2 tokoh besar Perancis.

Yang pertama Henry IV,  raja Perancis yang berkuasa pada tahun 1589 hingga 1610. Ia keturunan dari raja Louis IX. Henry IV diangkat menjadi raja ketika konflik antara pemeluk Kristen Katolik dan Kristen Protestan meraja lela. Bahkan untuk menjadi raja ia harus rela mengganti aliran kepercayaannya, dari Kristen Protestan menjadi Kristen Katolik, meski sebenarnya ketika lahir ia memang telah dibaptis sebagai Kristen Katolik.

Pada masa kekuasaannyalah Pakta Perjanjian Nantes ditanda-tangani. Ini adalah perjanjian toleransi antara ke dua aliran pemeluk Kristen yang telah berperang dan saling menumpahkan darah selama seratus tahun. Melalui perjanjian inilah akhirnya pemeluk Kristen Protestan bisa menjalankan ajarannya meski masih dibatasi.

Yang kedua adalah Jean-Baptiste Bernadotte, raja Swedia yang memerintah pada tahun 1818 hingga 1844. Laki-laki kelahiran Pau ini menjadi raja Swedia dengan gelar Charles XIV. Suatu hal yang teramat sangat langka dimana orang asing bisa diangkat sebagai raja suatu Negara. Apalagi Bernadotte sama sekali tidak memiliki darah Swedia dalam tubuhnya. Ia wafat dalam kedudukan masih sebagai raja.

Namun sejarah Pau sebenarnya jauh lebih tua dari ke 2 tokoh diatas. Bahkan lebih tua lagi dari chateau de Pau, kastil tempat tinggal  Henry IV sebelum menjadi raja Perancis. Ia menempati kastil gaya Mudejar ini ketika masih menjadi raja Navare. Kaum Mudejar adalah kaum Muslimin Spanyol  masa lalu, yang memilih tetap tinggal di tanah Andalusia pada masa-masa Reconquista (Penaklukan oleh kaum Kristen Katolik). Yaitu ketika kerajaan Islam Granada jatuh ke bawah kekuasaan raja Ferdinand II  dan ratu Isabel I.

Penguasa Kristen baru tersebut kemudian memaksa penduduk yang mayoritas Muslim itu untuk memilih satu diantara 3 pilihan, yaitu pergi meninggalkan tempat, dibunuh atau bertahan. Mereka yang bertahan ini kemudian dibagi atas 2 kelompok, Mudejar dan Mauris. Mudejar adalah mereka yang tetap Islam dan Mauris yang berhasil dipaksa masuk Kristen.

Mudejar sendiri  berasal dari kata Arab, Mudajjan, yang artinya bertahan. Orang-orang Mudejar kebanyakan adalah ahli seni. Mereka inilah yang kemudian dipaksa membangun bangunan-bangunan Kristen dengan gaya khas Islam Spanyol, itulah gaya Mudejar.

Disamping itu, jika ditilik dari posisinya yang sangat dekat dengan perbatasan Spanyol, Pau kemungkinan besar dulunya juga pernah menjadi bagian dari kerajaan Islam  Andalusia. Di masa ketika pasukan Islam hampir menaklukkan Poitier, kota di jantung Perancis, sekitar 300 km selatan Paris. Ini terjadi pada tahun 732M.

***

« Salut, je peux? », sapa Diva. Diva adalah murid baru di kelas Tasya. Pagi itu setelah memperkenalkan diri di depan kelas, wali kelas mempersilahkannya duduk di bangku yang dikehendakinya. Setelah sempat celingukan, akhirnya ia mendekati bangku Tasya. Ia meminta izin untuk duduk di bangku sebelah Tasya yang kebetulan memang kosong.  Tentu saja Tasya segera mengangguk dan menggeser duduknya.  Itulah awal persahabatan Tasya dengan Diva.

Diva berasal dari Indonesia. Gadis berjilbab ini pindah ke Pau karena ayahnya mendapat tugas di kota ini. Ia seorang gadis yang ceria dan cepat menyesuaikan diri.  Tidak heran bila dalam waktu relative singkat telah mempunyai banyak teman. Kebalikan dari Tasya yang cenderung tertutup dan pemalu. Namun ternyata hal ini tidak menghalangi persabatan mereka. Bahkan dari awal Tasya sudah dapat merasakan adanya kedekatan  emosi dengan teman barunya itu. Belakangan Tasya baru sadar bahwa persamaan tersebut adalah karena keduanya sama-sama Muslim. Hal yang sama sekali tak pernah diduga Tasya.

Oh jadi kamu orang Chenchen ?”, tanya Diva suatu hari begitu  tahu bahwa Tasya dari Chechnya.

Maaf, apakah kamu Muslim? Karena setahuku mayoritas penduduk Chechnya kan Muslim?”, tanya Diva lagi dengan mata berbinar.

Tasya hanya mengangguk pelan, tidak begitu yakin dengan dirinya sendiri, maklum ia jarang sekali shalat. Lingkungan tidak mendukung, itu yang selalu dijadikan alasan. Ibu Tasya memang shalat 5 kali sehari. Dulu ibu Tasya rajin mengingatkan putri satu-satunya itu untuk shalat, namun lama-lama ia tampak bosan karena ada saja alasan Tasya untuk menghindar kewajiban tersebut.

Sementara di sekolah, hal itu mustahil dilakukan.  Zuhur dan Ashar yang jatuh di jam sekolah otomatis Tasya lewatkan begitu saja, tanpa rasa bersalah sedikitpun. Tasya hanyalah pendatang, mungkin satu-satunya Muslim di lingkungan sekolah Kristen ini. Itu sebabnya terkejut Tasya mendengar niat Diva untuk shalat di jam-jam sekolah.

“Shalat adalah kewajiban Tas. G mungkin aku meninggalkan hal ini. Aku sudah terpaksa mengalah menanggalkam jilbabku yang sebenarnya juga wajib.  Namun apa boleh buat, daripada aku tidak sekolah  ”, ujar Diva suatu hari yang selalu membuka jilbabnya begitu turun dari bus atau mobil yang mengantarnya .

Perancis memang secara resmi melarang murid sekolah dari TK hingga SMA mengenakan jilbab. Pelarangan ini keluar pada tahun 2004, setelah adanya peristiwa September 2001.

“Itu sebabnya besok orang-tuaku akan datang menemui kepala sekolah, meminta secara resmi agar aku  diizinkan shalat di salah satu ruangan sekolah”, sambungnya.

Hal itu memang dilakukan kedua orang-tua Diva. Menurut keterangan Diva kepala sekolah bisa memahami keinginan tersebut. Ia menjanjikan jawaban secepatnya. Beberapa hari kemudian Divapun dipanggil  madame Boursier , wali kelas mereka. Ia mengizinkan Diva shalat di ruangannya.

“Alhamdulillah”, ucap Diva setelah menceritakan kabar gembira itu pada Tasya. Ia tampak begitu lega, sementara Tasya hanya terbengong-bengong.

Namun tak sampai 3 jam kemudian, ketika Diva sedang bersiap-siap melaksanakan shalat Zuhur, madame Boursier  kembali memanggilnya.

“Maafkan aku Diva. Aku mendapat laporan bahwa bila aku memberimu izin shalat di ruang ini, puluhan siswa Muslim yang ada di sekolah ini akan berbondong-bondong  shalat juga disini”, ujarnya tajam.

Dan aku tidak berani membayangkan apa  yang akan dikatakan orang. Jadi dengan terpaksa aku batalkan tawarkanku pagi tadi”, lanjutnya.

Namun bila kau tetap bersikukuh ingin shalat, kau bisa melakukannya di halaman sekolah, secara sembunyi-sembunyi”, tegasnya.

Diva hanya bisa terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Ia cukup terkejut ternyata ia tidak sendiri di sekolah ini.  Apakah itu berarti teman-teman Muslimnya selama ini juga tidak pernah shalat Zuhur dan Ashar ??

Sungguh mengerikan!”, begitu komentar ayah ibu Diva begitu mendengar laporan putrinya.

Selanjutnya Tasya melihat ibu Diva sering datang di waktu Zuhur. Diva melakukan shalatnya di dalam mobil. Sekali-sekali Diva bahkan pulang naik bus, untuk sekedar shalat, sekaligus  makan siang di rumah. Kebetulan ada beberapa hari dalam seminggu dimana jam istirahat berlangsung sekitar 2 jam.

***

Persahabatan antara Tasya dengan Diva  tanpa disadari telah membuat hidup Tasya lebih cerah dan berarti, sekaligus menantang. Tasya mulai membiasakan diri untuk shalat, dan berhati-hati dalam memilih makanan.

Kalau mau aman lebih baik memilih makanan laut”, bisik Diva suatu hari di kantin sekolah.

Selain pengetahuan mengenai keislaman, Diva yang supel juga berhasil membawa Tasya keluar dari sepinya kehidupan remajanya, masuk ke dalam pergaulan yang lebih luas. Berkatnya, Tasya jadi mengenal lebih baik Cecile, Francine dan Rukaya. Cecile adalah gadis asli Perancis, sedangkan Francine lahir dari ibu berdarah Vietnam dan ayah Perancis, sementara Rukaya adalah keturunan Mesir, Muslim, meski  jarang shalat.  Berlima mereka menjalin persahabatan.

Pernah suatu hari, Diva kelabakan mencari jilbabnya yang biasanya ia simpan di dalam tasnya. Kelima sahabat tersebut segera membantu Diva. Setelah mencari kesana kemari akhirnya mereka menemukan jilbab tersebut tergantung di kipas angin yang tergantung di atap kelas.

Pasti ini pekerjaan Kevin ! Awas, besok akan kuhajar dia !”, teriak Cecile kesal. Cecile memang seorang yang tomboy, ia jago bela diri.

Dan benar, besoknya Kevin memang ia hajar.

Jangan sekali lagi kamu berani mengerjai Diva yaa ! »bentaknya.

Sejak itu tidak ada satupun teman yang berani mengganggu Diva dan kelompok mereka.

Namun demikian Tasya belum mampu sepenuhnya membuka rahasia dirinya, terutama kepada Cecile, Francine dan Rukaya.  Diva tampaknya menyadari hal tersebut tapi tidak ingin memaksanya. Ketika mereka  ada janji untuk rendez-vous,  untuk nonton bioskop atau sekedar berkunjung ke rumah teman, misalnya, dan Diva ingin menjemput dan mengantarnya, Tasya selalu meminta untuk  tidak diantar-jemput di rumah,  melainkan di suatu tempat yang agak jauh. Padahal Tasya telah beberapa kali ke rumah Diva.

Tampaknya  Tasya tidak siap melihat reaksi dan tanggapan sahabat-sahabat barunya bila mereka mengetahui dimana Tasya tinggal selama ini. Hingga suatu hari, ketika pembagian raport, Diva menanyakan apakah ibu atau ayahnya akan datang mengambilnya.

“ Ibuku ingin berkenalan dengan ibumu Tas, datang g”?”, tanya Diva.

Ibuku tidak bisa berbahasa Perancis Div, tidak juga bahasa Inggris”, jawab Tasya pelan, sedikit malu.

“Disamping itu ibu juga kurang sehat. Biasanya ayah atau kakak lelakiku yang datang, tetapi saat ini mereka sedang tidak ada di tempat. Aku  tidak yakin apakah ibuku mau hadir atau tidak. Kalaupun mau,  berarti aku harus mendampinginya agar bisa menterjemahkan penjelasan madame Boursier nantinya”, jelas Tasya.

Diva hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Tasya, sebelum akhirnya bertanya “Kamu bicara bahasa apa di rumah, Chechnya?”, “ajari aku dong”, pintanya.

Begitulah akhirnya Tasyapun mulai bercerita banyak mengenai keluarga dan tanah airnya. Sebuah kenangan buruk  yang lama telah dikubur dalam-dalam.

***

« Terus terang aku sudah tidak ingat lagi seperti apa negriku.  Namun karena ayahibuku sering menceritakannya maka kadang timbul juga keinginanku untuk suatu hari mengunjunginya”, begitu Tasya membuka lembaran lamanya.

Chechnya, dengan Grosny sebagai ibukota,  adalah Negara pecahan Uni Sovyet.  Negara ini terletak di pegunungan Kaukasus utara, di antara laut Hitam dan danau Kaspia, berbatasan dengan Ukarina di barat laut, Dagestan di timur dan Georgia di selatan. Sama seperti Chechnya, Ukraina, Dagestan  dan Georgia, ketiganya adalah juga bekas bagian dari Uni Sovyet.

Sebelum abad 18, hubungan bangsa Chenchen yang mayoritas Muslim, dengan para tsar Moskow relative masih cukup baik. Namun setelah itu, Moskow meng-ekspansi Chechnya  secara militer. Di bawah pimpinan raja-rajanya, yaitu Peter I, kemudian Catherine II,  Chechnya yang dikenal memiliki pejuang-pejuang yang tangguh itu terpaksa takluk.

Pada tahun 1834, Imam Shamil berhasil meneruskan impian pendahulunya. Ia berhasil melawan dominasi Rusia dan mendirikan pemerintahan  Islam syariah, yang dikenal dengan nama Imamat, meski hanya bertahan   selama 27 tahun. Setelah itu Chechnya kembali jatuh. Rusia menyedot  Chechnya yang tanahnya subur dan memiliki kekayaan alam berlimpah, membiarkan rakyatnya tetap miskin.  Penjajahan juga terjadi terhadap kehidupan sosial budaya mereka.  Demi alasan persatuan, bahasa dan budaya tradisional dilarang penggunaannya. Demikian pula kehidupan beragama.  Perlawanan memang terus terjadi tetapi tanpa hasil memuaskan.

Hingga ketika PD I meletus , rakyat Chechnyapun bereaksi kembali. Namun pemerintahan kolonial tersebut menanggapinya secara kejam dan tidak berperikemanusiaan.  Mereka memerintahkan pembasmian ras alias genosida terhadap bangsa ini. Hampir 40% orang Chechnya  hilang atau tidak jelas keberadaannya.   Mereka dibunuh, diusir  atau diasingkan.

Ironisnya, mungkin karena rasa ketakutan yang amat sangat, rakyat justru terpecah. Sebagian ingin bergabung dan benar-benar takluk kepada pemerintah, sebagian lain ingin menggabungkan diri dengan Barat dan sisanya bersikukuh mempertahankan ke-islaman mereka dengan bergabung dengan Turki Ottoman. Akhirnya perang saudarapun tak terhindarkan.

Di masa pemerintahan Gorbachev yang terkenal dengan glasnost dan perestroikanya, Uni Sovyetpun hancur. Ini membuka peluang baru bagi kemerdekaan bangsa Chechen. Dipimpin oleh Jenderal Dzhokhar Dudayev, ibukota Grozny direbut pada tahun 1991. Proklamasi berhasil dikumandangkan, namun tetap tidak diakui presiden Rusia terpilih, Boris Yeltsin. Keadaan makin memanas. Pada masa-masa itulah Tasya lahir.

 “ Masa kecilku dipenuhi oleh ketakutan.  Hampir setiap hari aku mendengar berita hilangnya atau matinya saudara atau handai taulan. Ayah dan kakak lelakiku sering tidak berada di rumah karena ikut berperang. Bahkan adik kembarku yang baru berusia 3 tahunpun ikut menjadi korban”,  cerita Tasya.

Aku sedang tertidur lelap, ketika tiba-tiba terdengar suara tembakan tidak jauh dari rumahku”.

“ Bangun Tasya, bangun, cepat ! », terdengar teriakan ayah yang tiba-tiba sudah berada di depanku, dan langsung menyambarku. Ketika itu usiaku sekitar 5 tahun. Ibu segera menggendong salah satu adik kembarku, sementara kakak lelakiku, Gelayev,  menggendong kembaran yang lain.

Kami segera berlari ke belakang menuju garasi, dan bergegas masuk ke dalam mobil. Aku sempat melihat sebuah koper dan setumpuk barang di dalam mobil, tampaknya ayah memang sudah menyiapkannya sewaktu-waktu kami membutuhkannya . Ayah langsung duduk di belakang kemudi kendaraan setelah mendudukkanku  di kursi belakang, di sebelah ibu yang memangku adikku. Kakakku duduk di kursi depan di samping ayah, sambil memangku adikku yang lain.

Mobilpun cepat bergerak mundur, berputar arah dan meninggalkan rumah dengan kecepatan tinggi menembus kegelapan malam. Suara tembakan berkali-kali menggelegar di belakangku. Kedua adik kembarku terus menangis. Aku sendiri, mungkin saking  ketakutannya malah tidak bisa menangis. Aku  betul-betul merasa tegang.  Sambil memegang erat lengan ibu yang kulihat terus berdoa, berkali-kali aku menengok ke belakang , ingin memastikan tidak ada yang mengikuti kami. Aku sempat melihat bola api raksasa menjulur ke langit, kemudian terdengar ledakan dasyat.   Duuuaaar !!

“ Ya Allah, apa itu yang mereka ledakkan ? “, tanya ibu panik.

Itu tentara Mujahidin dalam serangan fajarnya”, sahut ayah, “ Kalian harus tenang.  Berdoalah semoga Allah membantu kita.  Ini saat yang sangat  genting.  Seperti  yang sudah kita rencanakan, kau, Natasya dan si kembar harus segera meninggalkan negri ini. Pasport dan semua surat-surat sudah siap. Perancis adalah tujuan kalian. Mudah-mudahan dalam waktu seminggu ini kalian sudah bisa terbang. Percayalah, ini hanya sementara. Aku dan Gelayev akan tetap bertahan disini, bersama para Mujahidin”, ayah berkata sambil terus menancapkan gas kendaraan menuju ke luar kota.

« Berapa usia Gelayev, kakakmu ketika itu  ? »potong Diva.

“ 11 tahun. Tapi penampilannya jauh lebih dewasa dari umurnya. Mungkin karena keadaan. Kami terpaut agak banyak karena ibuku pernah 2 kali keguguran”, jawab Tasya, memaklumi rasa penasaran Diva.

“ Aku tidak ingat berapa lama kami berada di dalam keadaan seperti itu. Tampaknya aku ketiduran. Tahu-tahu ketika aku terbangun sudah di berada di dalam sebuah bangunan tua, bersama beberapa orang yang tidak aku kenal, kecuali ibu dan adik kembarku.  Ayah dan Gelayev tidak terlihat”.

Ibu mengatakan bahwa kami hanya akan beberapa hari saja di tempat penampungan ini.

« Kita tunggu ayah disini, setelah itu akan pindah ke tempat yang lebih baik», begitu selalu jawaban ibu. Namun nyatanya kami cukup lama berada di tempat itu. Hingga suatu hari ketika aku sedang sibuk mengangkati jemuran pakaian, kami dikejutkan suara ledakan.  Suara itu terdengar dekat sekali. Orang-orang segera berhamburan keluar.

« Ada  ranjau meledak ! »teriak seseorang.

Disana !”, teriaknya lagi.

Tiba-tiba aku teringat bahwa adik kembarku tidak ada di dekatku. Padahal  tadi mereka sedang asik bermain tidak jauh dariku. Perasaanku segera saja menjadi tidak karuan. Bersama orang banyak aku segera ikut berlari mendekati lokasi ledakan.

“ Ya Allah, sungguh aku tidak akan bisa melupakan peristiwa tersebut. Aku melihat adikku tergeletak dalam keadaan bersimbah darah. Sementara kembarannya memandang bingung sambil memegang sesuatu di tapak tangannya. Namun sebelum aku sadar apa yang sebenarnya terjadi, seseorang segera merampas apa yang dipegang adikku dan melemparmya jauh-jauh.  Dooooaar !  Langsung benda tersebutpun meledak memekakkan telinga”.

Aku segera menarik adikku yang menangis kencang dan memeluknya erat-erat.  Tak lama kemudian orang-orangpun datang berkumpul dan melarikan adikku yang bersimbah darah tadi menuju pos P3K yang  letaknya tak jauh dari lokasi ledakan. Namun nyawanya tak tertolongkan, ranjau itu tampaknya meledak tepat ketika ia mengambilnya, menghancurkan tubuh kecilnya. Terdengas tangis ibu, yang sudah ada di sampingnya. Sekilas aku melihat pandangan ibu yang menyalahkanku. Ya Allah maafkan aku.

Kali ini Tasya benar-benar menangis, mengingat kejadian memilukan 11 tahun yang lalu. Diva segera menghibur Tasya, “Tentu ini bukan salahmu Tasya, bukankah umurmu ketika itu tidak lebih dari 5 tahun bukan?”

“Ibu memang tidak pernah menyalahkanku, tapi pandangan ibu yang hanya sekilas itu tetap saja sulit hilang dari ingatanku.  Apalagi ketika sebulan kemudian adikku meninggal karena kekurangan gizi. Maklum selama di pengungsian tersebut pasokan amat sangat terbatas. Maka ketika akhirnya ayah datang, ibu langsung setuju untuk segera pergi meninggalkan negri  kami menuju Perancis. Terlalu banyak kenangan pahit yang harus kami telan di negri kami ini ”, kata Tasya pelan, sambil mengusap air mata.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”, ucap Diva sambil mengelus pundak sahabatnya.

“Katakan aku untuk berhenti bila kau mulai bosan mendengar ceritaku Diva, tidak ada cerita yang menarik dari kehidupanku ”, kata Tasya pada Diva.

Sama sekali tidak, Tasya, justru sebaliknya.  Terus terang aku tidak mengira ada kejadian seperti dirimu di zaman modern ini”, ucap Diva.

Aku memang pernah mendengar cerita semacam itu, yaitu dari nenekku. Tapi itu di zaman negaraku  masih dijajah Belanda puluhan tahun lalu, sebelum kami merdeka », lanjut Diva lagi.

« Tapi terserah kamu Tasya, kita masih punya banyak waktu koq. Kalo kamu masih mau bercerita dengan senang hati aku mendengarkan. Tapi kalo tidak ya lain waktu saja. Mungkin ada baiknya kalo kita  refreshing dulu, kita jalan-jalan dulu yuuk ? », ajak Diva sambil menggandeng tangan Tasya.

Maka jadilah Diva dan Tasyapun berjalan-jalan.  Keduanya  menyusuri bulevard de Pyrene sambil menjilati es krim yang mereka beli di tukang es keliling yang berada di sudut taman. Udara musim semi yang mulai menghangat,  dengan aneka bunganya yang mulai berkembang indah membuat keduanya sejenak melupakan cerita kelam Tasya.

«Kami masuk ke negri ini melalui Afrika utara. Selama dua tahun kami berpindah-pindah tempat, mulai dari Malaga dan Valencia  di Spanyol, hingga akhirnya di Pau ini. Tapi jangan tanya aku mengapa kami memilih Perancis ya, aku tidak tahu sampai sekarang ini », tanpa diminta Tasya meneruskan ceritanya yang tadi terputus.

« Di pengungsian kami tidak sendiri, ada beberapa keluarga Chechnya lain selain keluarga Iran, Palestina dan lain-lain. Sementara ayah dan Gelayev  baru menyusul setelah kami 2 bulan berada di Malaga.  Namun ayah tak sampai 6 bulan sudah kembali ke Chechnya karena  pertempuran memang belum selesai. Gelayev sendiri terus bersama kami hingga kami menetap di Pau. Ia yang membantu kehidupan baru kami di kota ini. Ia benar-benar seorang anak sekaligus kakak yang patut dibanggakan. Ntah apa jadinya kalau ia tidak ada”, kenang Tasya.

Apakah setelah itu ayahmu tidak pernah menengok ibu dan dirimu lagi?”, tanya Diva penasaran.

 “ Tentu saja, tetapi setelah kami di Pau. Dan tidak pernah lama, bahkan Gelayevpun setelah itu sering kembali ke Chechnya, berjihad bersama ayah dan ribuan orang Chenchen lainnya. 3 tahun yang lalu Gelayev kehilangan salah satu kakinya, tertembak di dekat tempurung lututnya hingga terpaksa diamputasi . Namun dia tetap tegar. Ia tetap sering ikut ayah berperang, hingga detik ini», jelas Tasya dengan nada penuh kekaguman.

Bagaimana dengan ibu dan dirimu, bagaimana kalian hidup dan mencari penghasilan di tempat baru yang pasti masih asing bagi kalian?”, tanya Diva setelah lama termangu.

Mulanya kami masih bisa mengandalkan uang bekal yang dibawa. Namun setelah beberapa bulan berlalu bekal tersebutpun sudah pasti makin menipis. Gelayev segera berinisiatif untuk mencari pekerjaan. Ia mengerjakan apa saja yang ia bisa kerjakan untuk sekedar mendapat upah. Aku juga  sempat mengemis “, ujar Tasya pelan, pandangannya kosong jauh ke depan.

“ Selama beberapa tahun kami tinggal di tempat-tempat pengungsian illegal. Beberapa kali kami harus berpindah tempat karena diusir. Ibu sempat berpikir untuk kembali saja ke negri kami, namun ayah tidak setuju. Ayah meminta kami untuk bersabar. Keadaan di Chechnya benar-benar tidak kondusif. Begitu alasan ayah”, terus Tasya.

Hari mulai sore. Matahari telah condong ke barat, bersembunyi di balik awan di atas untaian pegunungan Pirene yang saljunya sudah mulai meleleh. Diva melirik ke jam tangan di pergelangan tangannya.

“Jam berapa ini Div ? Aku harus pulang nanti ibu khawatir bila aku pulang terlalu sore. Kapan-kapan aku teruskan lagi ceritaku,  kalau kau masih berminat   », kata Tasya.

Jam 5 kurang. Iya, kapan-kapan dilanjutkan ya . Kita belum shalat Ashar lho”, jawab Diva mengingatkan.

Kalo aku masih bisa di rumah, kamu gimana, mau ke rumahku dulu? Atau di sini aja? ”, tanya Diva lagi sambil celingukan mencari tempat yang agak tersembunyi untuk shalat.

Tasya termangu sejenak, sebelum akhirnya menjawab, “  Iya deh disini aja. Tapi wudhunya gimana ? »,tanyanya lagi.

« Hemm dimana yaa .. Tuuh, ada keran disana », jawab Diva lagi.

Seperti juga di kota-kota besar Eropa, Pau memiliki banyak keran air umum dengan berbagai bentuk yang indah. Airnya bisa diminum. Tapi tidak jarang pula anjing yang banyak dipelihara bule-bule itu dan diperlakukan layaknya seorang anak bahkan lebih mungkin, minum di tempat itu juga. Bahkan menjilatinya !

Eh g jadi deng, najiiiis ”, seru Diva yang tiba-tiba teringat hal itu.

Akhirmya Tasyapun hanya tayamum dan shalat sambil duduk di salah satu bangku yang ada di dekat situ. Kebetulan bangku itu agak tersembunyi, jadi gadis Checnya itu bisa tenang menjalankan shalatnya.

“ Terima-kasih ya Allah telah Kau pertemukan aku dengan Diva yang senantiasa mengingatkanku untuk shalat. Balaslah ia dengan balasan yang terbaik”, mohon Tasya pada Tuhannya, di akhir shalatnya.

Usai shalat kedua gadis tersebut meninggalkan taman dan segera menuju halte bus yang letaknya tidak jauh dari apartemen dimana Diva tinggal. Hingga di sebuah pertigaan, Tasya tiba-tiba bertanya ,

“ Ingatkah kau Div, kau pernah memergokiku di tempat ini?”.

« Tentu. Sebenarnya apa yang terjadi ketika itu? « , Diva balik bertanya.

Tentu saja ia tidak dapat melupakan kejadian beberapa bulan lalu tersebut.  Siang itu ia sedang berjalan kaki dengan ibunya  menuju pertokoan yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari kediamannya. Ketika itulah tiba-tiba ia mendengar suara kencang mobil bertabrakan. Orang-orang segera berlarian mendekati lokasi tabrakan.

Hei apa-apain ini, g bisa nyetir apa?”, teriak pengemudi Renault 407 keluaran terbaru sambil keluar dari mobil, membanting pintu dan menghampiri pengemudi  Peugeot  tua yang tampak ketakutan di dalam mobilnya.

Kalau saja orang-orang yang berada di dekat sana tidak segera melerai pasti si pengemudi Peugeot tua  sudah babak belur. Tampaknya pengemudi Peugeot tersebut adalah orang asing. Dengan terbata-bata ia meminta maaf dan berjanji akan menanggung seluruh biaya perbaikan mobil yang ditabraknya itu. Ia memohon supaya kejadian tersebut diselesaikan secara damai, tidak perlu dilaporkan ke polisi.

Namun yang mengejutkan Diva, orang yang berada di sebelah pengemudi Peugeot. Dia adalah Tasya !

Keduanya sempat beradu pandang. Tapi sebelum Diva menyadari bahwa itu sahabatnya, sahabatnya itu telah menyingkir ntah kemana.  Diva sempat berusaha mencarinya tapi tidak berhasil. Keesokan harinya ketika Diva ingin menanyakan kejadian tersebut, Tasya tampak tidak senang dan berusaha menghindar. Diva akhirnya diam saja dan berusaha melupakannya.

“ Itu ayahku  … Kami tidak mempunyai surat-surat penting, maklum kami imigran gelap, kau tahu kan sekarang”, jelas Tasya.

“ Ayah selalu memperingatkanku dan ibu untuk segera menyingkir bila harus berurusan dengan polisi. Apapun masalahnya, benar  apalagi salah, kami bisa di deportasi kalau sampai tertangkap aparat », keluh Tasya.

Diva hanya diam seribu bahasa, tidak tahu harus berkata apa. Menjadi pengungsi di negara manapun pasti tidaklah menyenangkan.  Dalam hati Diva berdoa semoga hal ini tidak akan terjadi terhadap diri, keluarga dan bangsa Indonesia.

Patut menjadi catatan, Perancis saat ini menjadi tuan rumah ribuan pengungsi dari berbagai negara. Kebanyakan mereka mengungsi karena negaranya mengalami peperangan. Dengan membawa bekal seadanya mereka rela meninggalkan kampung halaman, sanak keluarga, rumah dan harta benda mereka. Awalnya ada yang sanggup menginap di hotel selama beberapa minggu. Namun lama kelamaan bakal merekapun habis. Hingga akhirnya mereka terpaksa bertahan di kamp-kamp pengungsian yang sangat minim fasilitasnya.

Yang lebih menyedihkan lagi, mereka ini kebanyakan dari negara-negara Muslim, seperti Suriah, Mesir, Maroko dll. Dan yang paling menyakitkan lagi sebagian mereka ini adalah korban kekejaman para diktator Syiah yang memang menganggap bahwa orang-orang Sunni yang merupakan mayoritas Muslim dunia adalah musuh nomor satu mereka. Sungguh ironis !

Aku turut prihatin, alangkah beratnya penderitaanmu Tasya … “, ucap Diva akhirnya.

Tasya hanya diam. Keduanya terus berjalan hingga akhirnya tiba di halte bus dimana mereka harus berpisah.  Tak lama kemudian bus yang dinantipun tiba. Mereka segera berpelukan.

 “ A demain, sampai besok!”, seru keduanya hampir bersamaan.

Buspun berjalan meninggalkan Diva yang terus melambaikan tangannya hingga bus berbelok dan hilang dari pandangan gadis tersebut.

 ***

Di dalam bus Tasya tampak merenung.  Gadis ini sungguh merasa bersyukur bahwa Allah swt telah berkenan  mempertemukannya dengan Diva.  Hidup di rantau jauh dari akar dan budaya tempat ia dilahirkan, bukan berarti dapat menjauhkannya dari ajarannya.  Banyak yang dapat ia lakukan agar hidup ini tidak sia-sia, agar pengorbanan ayah ibu kakak dan adiknya tidak percuma.

Aku harus jadi orang yang berguna, bermanfaat bagi diri, keluarga, lingkungan, bangsa dan agama. Aku harus menjadi seorang Muslim yang teguh pendirian, yang tidak setengah-setengah, yang bisa menjadi teladan bagi orang lain”, begitu pikir Tasya.

Tak terasa bus telah tiba di tujuan, Tasya segera turun dan berjalan cepat menuju tempat tinggalnya yang masih agak jauh dari halte tempat ia turun. Setibanya di rumah, ia melihat ibunya sedang shalat Magrib.  Tasya segera menuju kamar mandi, mencuci kaki tangannya kemudian berwudhu. Setelah itu ia masuk ke kamarnya, membuka lemari dan mencari syal yang dapat ia gunakan sebagai jilbab pertamanya. Ia mematut-matut diri di depan kaca sebelum akhirnya keluar dan menemui ibunya yang baru saja selesai shalat.

Assalamualaykum,  maaf kemaleman ya bun Tasya pulang”, ujar Tasya sambil mencium tangan ibunya yang sudah mulai dipenuhi keriput itu.

Waalaykum salam”, jawab ibu sambil memandang putri satu-satunya itu.

“ Jadi kamu tadi pergi pakai jilbab ? »tanya ibu penuh tanda tanya.

“ Ngga sih, tapi Tasya janji mulai hari ini Tasya akan pakai jilbab kalau ke luar rumah. Insya Allah ini akan jadi tanda awal Tasya untuk istiqomah. Doain bun yaa ..”, pinta Tasya.

Ibu segera menarik dan memeluk erat Tasya ke pelukannya. Air mata menetes dari sudut mata yang menyimpan seribu derita tersebut.

Subhanallah Alhamdulillah”, hanya itu yang keluar dari bibir ibu yang terlihat gemetar menahan kebahagiaan yang sungguh tak terkira.

Tiba-tiba kata-kata ayah beberapa minggu yang lalu terngiang kembali di telinga Tasya.

Negri kita saat ini, terutama Grosny, memang sudah menjadi indah dan maju. Masjid agung yang besar nan megah menghiasi kota itu. Namun sayang, penduduknya yang sudah terkontaminasi dengan slogan demokrasi dan toleransi ala Barat, hanya menggunakan rumah Allah tersebut di hari Jumat.  Sekulerisasi di segala bidang sudah menguasai cara berpikir sebagian penduduk. Sungguh tepat sekali perkiraan  rasulullah seribu empat ratus tahun yang lalu bahwa umat Islam di akhir zaman banyak tapi hanya seperti buih. Artinya mereka tidak berkwalitas, lemah dan tunduk kepada orang kafir”.

“  Aku tidak boleh dan tidak mau jadi buih itu”, bisik Tasya dalam hati.

Aku ingin agar orang-orang di sekitar sini tahu dan mengenal apa itu sesungguhnya Islam. Bumi ini milik Allah, bukan milik satu bangsa tertentu. Kami bukan pengemis apalagi  teroris yang harus dibasmi », tegasnya lagi penuh percaya diri.

Ya disinilah, di Pau, kota di Perancis sebelah selatan yang berbatasan dengan Spanyol, dimana dulu kebesaran Islam pernah mencapai kejayaan, seorang gadis Muslim imigran bernama Natasya, berjanji akan memperkenalkan indahnya Islam.  Allahuakbar …

***

Jakarta, 10 Mei 2014.

Vien AM.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.